P. 1
Kelas 12 Sosiologi 3 Suhardi Sri Sunarti

Kelas 12 Sosiologi 3 Suhardi Sri Sunarti

|Views: 39,286|Likes:
Published by iyuskokod

More info:

Published by: iyuskokod on Jun 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/06/2015

pdf

text

original

Penjelasan mengenai hakikat dan proses pelembagaan di atas selalu

melibatkan norma perilaku, dan nilai sosial. Norma-norma sosial yang telah

melembaga akhirnya membentuk suatu pola perilaku yang diatur oleh norma

104Sosiologi SMA/MA Kelas XII

tersebut. Pola perilaku seperti ini telah mengalami standarisasi (pembakuan).

Nilai-nilai sosial yang mendasari perilaku yang melembaga, kemudian

membentuk sikap tertentu yang melembaga juga. Nilai-nilai sosial itu juga dapat

berkembang menjadi keyakinan tertentu yang akhirnya dapat menjadi ideologi

lembaga.

Suatu pola perilaku berdasarkan norma yang melembaga dengan didasari

oleh nilai dan sikap yang melembaga, akhirnya melahirkan ciri-ciri khusus

lembaga tersebut. Ciri-ciri itu dapat berbentuk ritual dan upacara (lembaga

agama), atau pakaian-pakaian khas dan simbol-simbol tertentu. Semua hal

tersebut merupakan unsur-unsur yang membentuk suatu lembaga sosial. Dengan

kata lain, lembaga sosial mencakup tiga unsur, yaitu seperangkat pola perilaku

yang telah distandarisasi, serangkaian tata kelakuan, sikap, dan nilai-nilai yang

mendukung, dan adanya perlengkapan tertentu berupa tradisi, ritual dan

upacara, simbol dan pakaian khas, dan simbol-simbol lainnya.

Semua unsur tersebut di atas (norma, sikap, nilai, simbol, ritual, dan ideologi)

dapat dikelompokkan menjadi tiga unsur. Ketiganya diuraikan satu per satu

berikut ini.

a.Kode Perilaku

Setiap lembaga sosial senantiasa

memiliki nilai dan norma dasar yang

mengatur perilaku orang-orang yang

berinteraksi sebagai pengikut lembaga

tersebut. Misalnya, para pemeluk agama

memiliki tuntunan tingkah laku yang

sesuai dengan ajaran agama masing-

masing. Pemeluk agama Islam dituntut

berperilaku sesuai dengan tuntunan

akhlaq yang baik sesuai ajaran agama

Islam. Demikian juga agama-agama lain

tentu memiliki hal yang sama.

Tidak hanya agama yang menuntut

pengikutnya berperilaku sesuai norma

tertentu. Lembaga pemerintahan me-

nuntut para aparat untuk bersumpah setia terhadap negara. Para prajurit dituntut

mematuhi norma perilaku yang tercantum dalam janji kesetiaan prajurit.

Singkatnya, setiap profesi dan lembaga sosial yang bukan profesi senantiasa

memiliki kode etik (kode perilaku). Kode perilaku menjadi ciri khas dan patokan

interaksi orang-orang yang terlibat dalam lembaga tersebut. Bahkan, Anda

sebagai anggota pramuka memiliki Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka. Begitu

pula guru-guru, mereka diikat oleh norma perilaku yang disebut Kode Etik

Guru. Tanyakanlah kepada guru Anda, aturan-aturan apa saja yang tercakup

dalam Kode Etik Guru.

Gambar 3.7 Setiap kali upacara bendera di hari Senin,
pembina upacara membacakan teks Pancasila. Apa
maksud dan tujuannya?

Sumber: Haryana

105

Hakikat Lambaga Sosial

b.Simbol Kebudayaan

Suatu hari mungkin Anda menonton pertandingan bola voli tingkat SMA

di daerah Anda. Banyak tim pemain tampil secara bergantian. Bagaimana cara

Anda mengenali tim sekolah Anda? Tentu dari corak, warna, atau aksesori

tertentu pada kaos tim yang mereka kenakan. Kaos tim menjadi simbol identitas

tim sekolah Anda yang tentu sengaja dibuat agar berbeda dengan tim sekolah

lain. Kira-kira seperti itulah makna dan fungsi simbol kebudayaan bagi setiap

lembaga sosial.

Simbol kebudayaan sebenarnya merupakan konsekuensi adanya nilai dan

norma perilaku yang kemudian menimbulkan kekhasan pada lembaga tersebut.

Sebagai sebuah ciri khas, simbol merupakan tanda pengenal yang mewakili

sebuah lembaga sosial. Wujud simbol lembaga sosial dapat berupa benda,

pakaian khas, lambang, maupun lagu. Simbol-simbol lembaga keagamaan misal-

nya bulan sabit, salib, atau patung. Simbol negara dapat berupa bendera dan

lagu kebangsaan. Simbol suatu lembaga ekonomi (perusahaan) dapat berupa

logo atau lagu himne perusahaan. Dengan melihat atau mendengar simbol-

simbol tersebut kita dapat mengenali lembaga yang diwakilinya.

c.Ideologi

Seperti yang telah dijelaskan sebelum-

nya, bahwa setiap lembaga sosial pada

dasarnya merupakan perwujudan dari nor-

ma tertentu. Norma tersebut menjadi

pedoman perilaku orang-orang yang men-

jalankan peran tertentu dalam lembaga

yang diikutinya. Setiap norma berakar

pada nilai-nilai yang diyakini dan dijunjung

dalam lembaga itu. Nilai-nilai itu tidak lain

berupa gagasan-gagasan yang saling

berkaitan sehingga membentuk suatu

sistem. .ungsi sistem gagasan (ideologi)

adalah untuk memberi penjelasan atau

dasar hukum bagi norma-norma yang

diyakini.

Misalnya, pemerintahan Republik Indonesia merupakan perwujudan sebuah

lembaga pemerintahan. Salah satu norma yang mengatur kehidupan ber-

masyarakat di Indonesia adalah norma kehidupan beragama. Secara rinci antara

lain diatur keharusan warga negara menganut agama tertentu, hubungan

antaragama, dan lain-lain. Apabila dipertanyakan, mengapa itu semua perlu

diatur, maka dasar hukum atau alasan rasionalnya diambil dari sila pertama

Pancasila. Pancasila merupakan ideologi lembaga pemerintahan di Indonesia.

Setiap norma yang mengatur interaksi sosial dalam kerangka fungsi

pemerintahan harus berdasarkan Pancasila sebagai ideologi.

Gambar 3.8 Ideologi yang mendasari pe-
nyelenggaraan lembaga pemerintahan RI adalah
Pancasila. Pancasila adalah suatu sistem
gagasan yang dirumuskan oleh Bung Karno.

Sumber: 30 Tahun Indonesia Merdeka

106Sosiologi SMA/MA Kelas XII

Selain lembaga pemerintahan, ideologi juga dimiliki oleh semua lembaga

sosial. Agama Islam dan Kristen memiliki sistem keyakinan yang dapat

menjelaskan proses penciptaan alam semesta. Lembaga perekonomian kapitalis

memiliki asumsi-asumsi (anggapan dasar) yang dapat menjelaskan pentingnya

pasar bebas. Asumsi-asumsi itu juga merupakan ideologi.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa ideologi adalah suatu sistem

gagasan yang didasarkan pada asumsi, kepercayaan, dan penjelasan mengenai

tatanan sosial, struktur sosial, atau cara berperilaku orang-orang terlibat dalam

lembaga sosial. Ideologi dapat berisi gagasan dalam bidang ekonomi, politik,

filsafat, atau agama. Apabila seseorang telah menganut dan meyakini suatu

ideologi, maka segala sesuatu yang dihadapinya selalu didasarkan kepada ideologi

yang diyakininya. Pandangan-pandangan lain yang tidak sejalan dengan

keyakinan ideologinya aka ditolak. Oleh karena itu, sebuah lembaga sosial yang

memiliki ideologi tertentu akan berjalan sesuai dengan ideologi yang

mendasarinya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->