P. 1
Kelas 12 Sosiologi 3 Suhardi Sri Sunarti

Kelas 12 Sosiologi 3 Suhardi Sri Sunarti

|Views: 39,340|Likes:
Published by iyuskokod

More info:

Published by: iyuskokod on Jun 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/06/2015

pdf

text

original

Agama memiliki peran penting dalam

masyarakat. Bahkan para pakar ilmu sosial

dari kalangan sekuler sekalipun mengakui hal

itu. Mereka mengakui nilai-nilai agama senan-

tiasa memengaruhi berbagi aspek lain dalam

masyarakat. Untuk memahami suatu masya-

rakat, kita tidak bisa terlepas dari mempelajari

agama yang dianut dalam masyarakat ter-

sebut. Oleh karena itu, hakikat agama dan

fungsinya di masyarakat akan kita bicarakan

berikut ini.

a.Hakikat Lembaga Agama

Apabila Anda membaca berbagai buku

Sosiologi yang membicarakan agama, tentu

banyak definisi yang mencoba menjelaskan

tentang hakikat agama. Secara umum mereka

menjelaskan dari sudut sosiologi yang nadanya

juga cenderung sekuler. Itu berbeda dengan

definisi teologis (ilmu ketuhanan) yang men-

jelaskan hakikat agama dari segi kebenaran

isi ajarannya.

Secara sosiologis, agama merupakan sa-

lah satu subsistem sosial, atau hanya sekedar

salah satu unsur yang ada dalam masyarakat.

Namun demikian, para pakar ilmu sosial juga

menempatkan agama sebagai faktor yang

sangat penting. Tanpa mempersoalkan per-

bedaan keyakinannya, setiap agama ternyata

memengaruhi semua aspek dalam masyarakat

(ekonomi, politik, kebudayaan, keluarga, dan

pemerintahan). Oleh karena itu, dalam ilmu

sosial ada cabang khusus yang disebut Sosio-

logi Agama, yaitu cabang sosiologi yang mem-

pelajari pengaruh ajaran agama terhadap

perilaku pemeluknya dalam kehidupan sehari-

hari. Pengaruh itu dapat diketahui dari pene-

rapan nilai-nilai dan norma-norna agama

dalam interaksi sosial.

Infososio

DE.INISI AGAMA

1. Lembaga agama merupakan

sistem keyakinan dan praktik

keagamaan yang penting

dari masyarakat yang telah

dibakukan dan dirumuskan

serta yang dianut secara luas

dan dipandang sebagai perlu

dan benar (Horton dan Hunt,

1991)

2. Agama adalah sebuah sistem

keyakinan dan praktik sebagai

sarana bagi sekelompok

orang untuk menafsirkan dan

menanggapi apa yang mere-

ka rasakan sebagai pengada

adikodrati (supranatural) dan

kudus (Johnstone, 1975)

3. Agama adalah sebuah sistem

kepercayaan dan tingkah

laku yang berhubungan de-

ngan hal-hal yang dianggap

sakral, yaitu hal-hal yang

dipisahkan dan dilarang. Aga-

ma juga merupakan perilaku

dan kepercayaan yang mem-

persatukan semua penganut-

nya menjadi satu komunitas

moral, yaitu berdasarkan ni-

lai-nilai bersama yang disebut

umat (Emile Durkheim).

4. Agama adalah seperangkat

aturan dan peraturan yang

mengatur hubungan manusia

dengan dunia gaib, khusus-

nya dengan Tuhannya, me-

ngatur hubungan manusia

dengan manusia lainnya, dan

mengatur hubungan manusia

dengan lingkungannya

(Mustain Mashud, 2004)

134Sosiologi SMA/MA Kelas XII

Infososio

MAGI ATAU

SANTET

Seseorang menyantet seseorang

yang lain dengan cara-cara

tertentu. Misalnya dengan mela-

falkan mantra-mantra, sambil

menggunakan benda-benda ter-

tentu yang dianggap bertuah.

Orang yang menjadi sasaran lalu

jatuh sakit setelah mengetahui

dirinya disantet. Padahal penye-

bab sakit orang itu mungkin kare-

na takut atau sebab lain. Jadi,

tidak masuk akal. Kalau magi

memang benar, seharusnya dulu

Belanda yang menjajah disantet

saja satu per satu. Mengapa me-

nunggu dijajah selama 350 ta-

hun?

Setiap agama mengajak pemeluknya untuk hidup bermoral. Moral merupa-

kan ukuran baik atau buruknya perilaku seseorang. Setiap agama mengajarkan

moral yang baik, dan bahkan lebih dari sekedar moral. Agama mampu mem-

berikan jawaban atas berbagai hal yang misterius. Artinya, banyak hal yang

tidak mampu dijelaskan oleh ilmu pengetahuan namun agama mampu men-

jawabnya. Dan jawaban itu memuaskan bagi orang-orang yang meyakininya.

Salah satu ajaran moral agama adalah mendorong manusia untuk tidak hidup

sekadar mementingkan dirinya sendiri, tetapi juga harus mempedulikan

kepentingan orang lain. Semua agama pada dasarnya mengajarkan moral seperti

itu.

Ajaran itulah yang tersosialisasi dan terinternalisasi dalam jiwa pemeluknya.

Sejak kecil dalam keluarga, kita sudah diajari dan dibiasakan hidup menurut

ajaran agama atau kepercayaan orang tua kita. Nilai-nilai agama tertanam dan

membentuk kepribadian kita. Selanjutnya, corak kepribadian itu memengaruhi

perilaku kita sehari-hari. Apabila perilaku kita dikendalikan oleh nilai-nilai agama,

tentu saja interaksi kita dengan orang lain akan dipengaruhi nilai-nilai agama.

Padahal semua aspek dalam masyarakat pada umumnya adalah hasil interaksi

manusia. Interaksi itu menghasilkan kelompok-kelompok sosial, lembaga-

lembaga sosial, norma-norma sosial, dan kebudayaan secara umum. Oleh karena

itu, agama merupakan kenyataan yang sangat penting dalam masyarakat.

Agama sebagai suatu lembaga sosial telah

berkembang sejak masyarakat primitif hingga

masyarakat modern. Secara umum, agama

bermula dari kepercayaan yang disebut ani-

misme, dinamisme, totemisme, dan magi.

Kemudian, berkembang menjadi politeisme

dan akhirnya mencapai bentuk agama ter-

tinggi yang disebut monoteisme.

Agar lebih jelas, berikut ini dijelaskan

pendapat beberapa pakar yang mencoba

menjelaskan proses evolusi agama.

1) Animisme menurut Edward Taylor (1871)

adalah kepercayaan terhadap arwah-

arwah leluhur dan makhluk halus.

2) Dinamisme menurut Robert Marret

(1899) adalah kepercayaan terhadap ke-

kuatan gaib yang tak terwujud. Kekuatan

itu menghuni benda mati atau manusia,

namun bukan roh dan makhluk halus. Ke-

kuatan itu disebut mana (kesaktian atau

karomah).

3) Totemisme menurut Mac Lennan (1827-1881) adalah suatu kepercayan

dan sistem ritual yang mengaitkan suatu kelompok masyarakat dengan

135

Bentuk-bentuk Lembaga Sosial dan .ungsinya

binatang atau tumbuhan. Misalnya, orang Hindu memuja atau menganggap

suci seekor sapi. Oleh Lennan, kepercayaan tersebut dianggap sebagai

sisa-sisa totemisme.

4) Magi menurut .razer, adalah bentuk kepercayaan dan praktik peribadatan

primitif berdasarkan proses pemikiran rasional yang salah. Dikatakan

rasional karena mencoba mengaitkan suatu hal dengan hal lainnya (seolah-

olah seperti hukum sebab akibat atau kausalitas). Magi tidak mengaitkan

kepercayaan dengan hal-hal gaib atau makhluk halus. Magi di tanah air

kita antara lain santet, tenung atau guna-guna, dan sebagainya.

5) Politeisme adalah bentuk kepercayaan terhadap banyak dewa. Politeisme

dapat kita jumpai pada kehidupan bangsa Yunani kuno. Bangsa Yunani

kuno percaya bahwa dunia ini dikendalikan oleh dewa-dewi. Dewa-dewi

yang menjadi kepercayaan mereka misalnya Zeus, Hera, dan sebagainya.

6) Monoteisme adalah bentuk kepercayaan terhadap satu dewa atau satu

Tuhan. Masyarakat modern pada umumnya menganut monoteisme

Baik kepercayaan primitif, politeisme, maupun agama monoteis, terdiri

dari unsur keyakinan, praktik, simbol, dan penganut (umat). Keyakinan mengacu

kepada adanya suatu sumber kebaikan dan kebenaran yang suci. Setiap agama

memiliki simbol dan praktik peribadatan atau upacara tertentu yang di dalamnya

terkandung nilai-nilai dan norma-norma yang dianggap penting oleh masyarakat

pemeluknya. Masyarakat pemeluk disebut umat, yaitu sekelompok orang yang

mempercayai ajaran suatu agama dan mempraktikkan tata cara peribadatannya.

Agama sebagai sebuah lembaga sosial tidak bisa dilepaskan dari keberadaan

lembaga sosial lain dalam masyarakat. Sebab, pada dasarnya setiap lembaga

sosial saling berkaitan dan saling memengaruhi. Corak semua lembaga sosial

dalam suatu masyarakat selalu diwarnai oleh keyakinan atau agama yang dianut

warga masyarakatnya. Sistem perkawinan (keluarga) dalam masyarakat Bali

tidak akan sama dengan sistem perkawinan masyarakat Aceh, karena mereka

menganut agama yang berbeda. Demikian juga, kebudayaan, sistem pemerintah-

an, pendidikan, hukum, dan lembaga-lembaga lainnya.

Secara umum agama mengatur hubungan manusia dengan Sang Pencipta,

hubungan manusia dengan sesamanya, dan hubungan manusia dengan

lingkungannya. Ajaran moral dan kaidah yang ada di masyarakat bersumber

dari agama. Nilai-nilai agama yang dianggap suci (sakral) menjadi dasar

pembentukan sistem hukum dan norma sosial. Dengan demikian, corak setiap

masyarakat akan senantiasa diwarnai nilai-nilai dan norma-norma yang berasal

dari agama.

b..ungsi Agama dalam Masyarakat

Agama mengandung nilai dan norma-norma sosial yang telah melembaga.

Sebagaimana lembaga sosial lain, agama memiliki banyak fungsi baik manifes

maupun laten. .ungsi manifes agama adalah mengajak manusia melaksanakan

ajarannya yang dilandasi oleh keyakinan dan nilai-nilai moral tertentu, sedangkan

136Sosiologi SMA/MA Kelas XII

fungsi latennya adalah menciptakan suasana pergaulan yang akrab di antara

pemeluknya, menciptakan mobilitas sosial, mendorong terbentuknya kelas-kelas

dan kelompok-kelompok sosial, dan mengembangkan nilai-nilai ekonomi.

Selain fungsi-fungsi tersebut agama juga memiliki fungsi-fungsi lain sebagai

berikut.

1) Alat Pemersatu

Setiap agama memiliki umat yang

dipersatukan oleh kesamaan iman. Iman

adalah kepercayaan dalam hati yang

menjiwai amal perbuatan. Dengan demi-

kian, agama mampu mempersatukan

umat dengan langsung mengendalikan-

nya dari dalam jiwa setiap manusia.

Misalnya, dalam agama Islam ada ajaran

yang menganggap bahwa setiap orang

Islam adalah bersaudara, tanpa meman-

dang golongan dan suku bangsanya. Ini

merupakan fungsi yang diharapkan.

Agama lain juga memiliki keyakinan

tersendiri dalam menyatukan umatnya.

Keyakinan ini difungsikan secara khusus

secara internal dalam suatu umat agama, sehingga sangat mungkin keyakinan

ini berbeda dengan keyakinan umat agama lainnya. Apabila tidak ada rasa

saling menghormati, bertoleransi, dan menghargai antarumat beragama muncul

gesekan dalam bentuk konflik bernuansa agama seperti yang terjadi di Poso

dan Ambon. Konflik seperti ini merupakan fungsi laten yang tidak diharapkan.

2) Benteng Moral

Agama mengajarkan nilai-nilai dan moral-moral yang baik kepada

pemeluknya. Orang yang benar-benar mengahayati nilai-nilai moral keagamaan

akan selalu mampu mengendalikan perilakunya sendiri. Dia akan selalu ingat

bahwa segala tindakannya harus sesuai dengan ukuran moral agama yang

dipeluknya. Oleh karena itu, seorang pemeluk agama yang baik seharusnya

tidak melakukan perbuatan yang dilarang agama seperti korupsi, mencuri,

membunuh, dan sebagainya.

3) Sumber Tatanan Masyarakat

Agama pada dasarnya berisi norma-norma kehidupan yang sangat luas.

Hidup manusia secara pribadi maupun sebagai anggota masyarakat terikat oleh

norma-norma tersebut. Masyarakat yang menjiwai ajaran agama dan menerima

norma agama tersebut tidak akan membuat tatatan sosial yang menyimpang.

Misalnya, masyarakat yang mayoritas beragama Hindu seperti di Bali tentu

tidak akan membuat tatanan yang menyalahi norma-norma agama Hindu.

Gambar 4.11 Agama mempersatukan berbagai bang-
sa ke dalam satu kesatuan yang disebut umat.

Sumber: Gatra, 8 April 2006

137

Bentuk-bentuk Lembaga Sosial dan .ungsinya

4) Pembentuk Kehidupan yang Beradab

Kehidupan yang beradab ditandai dengan sistem pergaulan yang penuh

solidaritas dan saling menghargai, sehingga setiap orang dapat mengembangkan

kreativitasnya tanpa mengganggu dan diganggu orang lain. Untuk tercipta

kondisi seperti itu diperlukan nilai dan norma sosial yang melembaga, salah

satunya dalam bentuk agama. Selama agama tidak dijadikan bibit permusuhan

dan sumber perbedaan antarkelompok dapat mengatur kehidupan yang aman,

tenteram, dan damai. Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk me-

rusak pihak lain, namun pergesekan sering terjadi apabila keseimbangan dan

keadilan sosial tidak terjaga. Agama dengan keragaman nilai dan norma serta

sensitifitasnya dalam masyarakat dianggap paling potensial bagi kelompok yang

tidak menginginkan ketenteraman sosial untuk dijadikan sumber pemicu

pecahnya konflik. Para provokator cukup menggunakan isu agama untuk

memecah solidaritas sosial yang sudah terbangun di suatu wilayah.

5) Media Sosialisasi

Agama dapat menjadi media yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai

dan norma-norma keagaman. Melalui kotbah-kotbah, pengajian, dan kegiatan

peribadatan, sebenarnya umat beragama sedang mengalami proses sosialisasi

nilai-nilai. Lewat kotbah dan pengajian, umat beragama menerima banyak

pengetahuan dan ajaran penting sebagai pedoman hidup, sedangkan melalui

peribadatan, umat selalu diingatkan akan kehadiran Sang Pencipta dalam

hidupnya. Selain itu, forum-forum keagamaan yang diadakan oleh kelompok-

kelompok agama menempatkan seseorang dalam lingkungan sosial yang harus

saling berinteraksi. .orum seperti ini menjadi media efektif untuk saling bertukar

pikiran, pengalaman, dan memunculkan gagasan-gagasan baru.

6) Identitas Kebangsaan dan Kedaerahan

.ungsi ini jelas sekali apabila kita mengaitkan suatu bangsa atau daerah

tertentu dengan agama yang dipeluk oleh mayoritas warga masyarakatnya.

Kita sering mengindentifikasi negara-negara Arab sebagai negara muslim,

Gambar 4.12 Proses sosialisasi terjadi pada saat umat beribadah bersama.

Sumber: Haryana dan Robert

138Sosiologi SMA/MA Kelas XII

sedangkan negara Israel sebagai negara Yahudi. Demikian juga kalau kita

mengidentifikasi daerah Bali dan Aceh, ada identitas khusus yang mengaitkan

kedua daerah itu dengan agama mayoritas yang dipeluk warga masyarakatnya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->