P. 1
Askep Anemia

Askep Anemia

|Views: 941|Likes:
Published by qeebot

More info:

Published by: qeebot on Jun 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/14/2013

pdf

text

original

LANDASAN TEORI I. Konsep dasar Anemia Aplastik 1.

Pengertian Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta hemoglobin dalam 1 mm3 darah atau berkurangnya volume sel yang dipadatkan (packed red cells volume) dalam 100 ml darah. (Ngastiyah.1997.Hal : 358) Anemia aplastik adalah anemia yang disebabkan terhentinya pembuatan sel darah oleh sumsum tulang (kerusakan susum tulang). (Ngastiyah.1997.Hal:359) Anemia aplastik merupaka keadaan yang disebabkan bekurangnya sel hematopoetik dalam darah tepi seperti eritrosit, leukosit dan trombosit sebagai akibat terhentinya pembentukan sel hemopoetik dalam sumsum tulang. (Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI.2005.Hal:451) Anemia aplastik adalah kegagalan anatomi dan fisiologi dari sumsum tulang yang mengarah pada suatu penurunan nyata atau tidak adanya unsur pembentukan darah dalam sumsum. (Sacharin.1996.Hal:412) 2. Etiologi a. Faktor congenital : sindrom fanconi yang biasanya disertai kelainan bawaan lain seperti

mikrosefali, strabismus, anomali jari, kelainan ginjal dan lain sebagainya. b. Faktor didapat · Bahan kimia : benzene, insektisida, senyawa As, Au, Pb. · Obat : kloramfenikol, mesantoin (antikonvulsan), piribenzamin (antihistamin), santonin kalomel, obat sitostatika (myleran, methrotrexate, TEM, vincristine, rubidomycine dan

sebagainya), obat anti tumor (nitrogen mustard), anti microbial. · Radiasi : sinar roentgen, radioaktif. · Faktor individu : alergi terhadap obat, bahan kimia dan lain ± lain. · Infeksi : tuberculosis milier , hepatitis dan lain ± lain. · Keganasan , penyakit ginjal, gangguan endokrin, dan idiopatik.

(Mansjoer.2005.Hal:494) 3. Manifestasi Klinis

a. Lemah dan mudah lelah b. Granulositopenia dan leukositopenia menyebabkan lebih mudah terkena infeksi bakteri c. Trombositopenia menimbulkan perdarahan mukosa dan kulit d. Pucat e. Pusing f. Anoreksia g. Peningkatan tekanan sistolik h. Takikardia i. Penurunan pengisian kapler j. Sesak k. Demam l. Purpura m. Petekie n. Hepatosplenomegali o. Limfadenopati (Tierney,dkk.2003.Hal:95) Iktisar gejala klinis dan hematologis Anemia Aplastik Sumsum Tulang Darah tepi Gejala klinis

leucopenia Panas (demam) · Panas terjadi karena infeksi sekunder akibat granulositopenia. fibrosit. perdarahan gusi. banyak jaringan penyokong dan lemak .Ht dan eritrosit rendah · Akibat anemia : anoreksia.osteoklas. Aplasia granulopesis Granulositopenia. Aplasia trombopoetik Trombositopenia Diatesis hemoragi · Perdarahan dapat berupa ekimosis. monosit bertambah ±Gambaran umum : sel sangat kurang.Keterangan Aplasia eritropoesis Retikulositopenia Anemia (pucat) · Akibat retikulositopenia : kadar Hb. epistaksis. Relatif aktif limfopoesis Limfositosisa ±· Limfositosis biasanya tidak lebih dari 80% Relatif aktif RES (sel plasma.sel endotel) Mungkin terdapat sel plasma. pusing.

Pemeriksaan diagnostic a. Infeksi organ c. idiopatik) Faktor congenital (sindroma fanconi yang disertai mikrosefali dan kelainan ginjal) Penurunan sel precursor dalam sumsum tulang Sumber : (Smeltzer. radiasi. bahan kimia.2005.2005. Akibatnya terjadi pansitopenia (defisiensi semua elemen sel darah).limpa. Parestesia e.Hal:453) 5. Biopsi sumsum tulang : menentukan beratnya penurunan elemen sumsum normal dan penggantian oleh lemak.2001. Patofisiologi Faktor didapat (obat-obatan. eritrosit dan trombosit. Kejang (Nelson.Hal:938) (Staf pengajar ilmu kesehatan anak FKUI.· Tambahan : hepar.1999. Perdarahan b. precursor granulosit. Gambaran darah tepi menunjukkan pansitopenia dan limfositosis relatif.kelenjar getah bening tidak membesar dan tidak ada ikterus (Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI.Hal:453) 4. Abnormalitas mungkin terjadi pada sel stem. Gagal jantung d. (Smeltzer.Hal:1724) 6. Komplikasi a.Hal:939) b. (Staf pengajar Ilmu . infeksi.2001.

testoteron diganti dengan oksimetolon yang mempunyai daya anabolic dan merangsang system hemopoetik lebih kuat. Implikasi keperawatan · Pencegahan infeksi silang · Istirahat untuk mencegah perdarahan. testoteron dengan dosis 1 ± 2 mg/kgBB/hari secara parenteral .2002. Penatalaksanaan a. (Ngastiyah.Hal:364) Untuk pasien dengan neutropenia sebagai abnormalitas dominant. (Tierney. .2005.Kesehatan Anak FKUI.Hal:246) b. pengobatan dan kemajuan kesehatan anak serta bimbingan untuk perawatan dirumah. dosis diberikan 1 ± 2 mg/kgBB/hari per oral. Tindakan Kolaborasi · Medikamentosa : Prednisolon (kortikosteroid) dosis 2 ± 5 mg/kgBB/hari per oral . Kloramfenikol tidak boleh diberikan. Pemberian obat antbiotika dipilih yang tidak menyebabkan depresi sumsum tulang.1997.2003.Hal:96) · Transfusi darah : diberikan jika diperlukan saja karena pemberian transfusi darah terlampau sering akan menimbulkan depresi sumsum tulang atau akan menimbulkan reaksi hemolitik sebagai akibat dibentuknya antibodi terhadap sel ± sel darah tersebut.Hal:452) 7. efektif diberikan myeloid growth factors GCSF (filgastrim) dengan dosis 5µg/kg/hari atau GM-CSF (sargramostim) dengan dosis 250 µg/m2/hari untuk meningkatkan angka neutrofil dan menurunkan infeksi. terutama perdarahan otak · Tempatkan anak pada posisi terlentang untuk meningkatkan sirkulasi serebral · Pertahankan suhu tubuh dengan memberikan selimut dan mengatur suhu ruangan · Berikan dukungan emosional kepada orang tua dan anak · Berikan pendidikan kesehatan yang dibutuhkan orang tua dan anak Berikan informasi adekuat mengenai keadaan. (Pillitteri. · Pengobatan terhadap infeksi sekunder Untuk mencegah infeksi sebaiknya anak diisolasi dalam ruangan yang steril.

apatis. mis : perdarahan GI · Palpitasi (takikardia kompensasi) .1997. Konsep dasar Asuhan Keperawatan Anemia Aplastik 1. Aktivitas / Istirahat · Keletihan.1995. lesu dan kurang tertarik pada sekitarnya · Ataksia. (Sodeman. malaise umum · Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak · Takikardia. postur lunglai. takipnea . menarik diri. Pengkajian a.Hal:278) II. Jika harus menggunakan NGT harus hati ± hati karena dapat menimbulkan luka / perdarahan pada waktu pemasangan. (Ngastiyah. kelemahan otot. Keberhasilan pencangkokan terjadi dalam waktu 2 hingga 3 minggu. dipsnea pada saat beraktivitas atau istirahat · Letargi. tubuh tidak tegak · Bahu menurun.Hal:365) Transplantasi sumsum tulang : sumsum tulang diambil dari donor dengan beberapa kali pungsi hingga mendapatkan sedikitnya 5 x 108 sel berinti / kgBB resipien.· Makanan : umumnya diberikan dalam bentuk lunak. berjalan lambat dan tanda ± tanda lain yang menunjukkan keletihan b. Sirkulasi · Riwayat kehilangan darah kronis.

Integritas Ego · Keyakinan agama / budaya mempengaruhi pilihan pengobatan mis transfusi darah · Depresi d. feses dengan darah segar.· Hipotensi postural · Disritmia : abnormalitas EKG mis : dep resi segmen ST dan pendataran atau depresi gelombang T· Bunyi jantung murmur sistolik · Ekstremitas : pucat pada kulit dan membrane mukosa (konjungtiva. Eliminasi · Riwayat pielonefritis. melena · Diare atau konstipasi · Penurunan haluaran urine · Distensi abdomen e. Makanan / cairan · Penurunan masukan diet · Nyeri mulut atau lidah. faring. gagal ginjal · Flatulen. berbentuk seperti sendok (koilonikia) · Rambut kering. sindrom malabsorpsi · Hematemesis. mulut. menipis c. mudah putus. kesulitan menelan (ulkus pada faring) . bibir) dan dasar kuku · Sclera biru atau putih seperti mutiara · Pengisian kapiler melambat (penurunan aliran darah ke perifer dan vasokonsriksi kompensasi) · Kuku mudah patah.

· Mual/muntah. penurunan penglihatan dan bayangan pada mata · Kelemahan. anoreksia · Adanya penurunan berat badan · Membrane mukusa kering. tidak elastis · Stomatitis · Inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah f. ortopnea dan dispnea i. apatis · Tidak mampu berespon lambat dan dangkal · Hemoragis retina · Epistaksis · Gangguan koordinasi. Neurosensori · Sakit kepala. kering. keseimbangan buruk.pucat · Turgor kulit buruk. tinnitus. parestesia tangan / kaki · Peka rangsang. depresi. ataksia g. dyspepsia. ketidakmampuan berkonsentrasi · Insomnia. pusing. vertigo. Nyeri/kenyamanan · Nyeri abdomen samar. gelisah. naftalen . Pernapasan · Napas pendek pada istirahat dan aktivitas · Takipnea. Keamanan · Riwayat terpajan terhadap bahan kimia mis : benzene. berdenyut. sakit kepala h. fenilbutazon. insektisida.

d. Perubahan perusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen / nutrisi ke sel. c. Konstipasi atau diare berhubungan dengan penurunan masukan diet. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam anak menunjukkan perfusi yang adekuat Kriteria Hasil : · Tanda-tanda vital stabil . Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh sekunder leucopenia. menggigil. penurunan granulosit (respons inflamasi tertekan). Diagnosa Keperawatan a. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan / absorpsi nutrisi yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah (SDM) normal. sering infeksi · Demam rendah. Dx 1 : Perubahan perusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen / nutrisi ke sel. berkeringat malam · Limfadenopati umum · Petekie dan ekimosis 2. b. perubahan proses pencernaan. e. Intoleran aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan. Intervensi Keperawatan a.· Tidak toleran terhadap dingin dan / atau panas · Transfusi darah sebelumnya · Gangguan penglihatan · Penyembuhan luka buruk. 3.

bingung. pertahankan suhu lingkungan dan tubuh supaya tetap hangat. gangguan memori. 4) Evaluasi respon verbal melambat. palpitasi. . dasar kuku. agitasi. warna kulit/membrane mukosa. R/ dapat mengindikasikan gangguan perfusi serebral karena hipoksia 5) Evaluasi keluhan dingin. 2) Auskultasi bunyi napas. observasi pengisian kapiler. R/ iskemia seluler mempengaruhi jaringan miokardial/potensial resiko infark. R/ memberikan informasi tentang keadekuatan perfusi jaringan dan membantu kebutuhan intervensi. R/ vasokonstriksi (ke organ vital) menurunkan sirkulasi perifer. gemericik menunjukkan CHF karena regangan jantung lama/peningkatan kopensasi curah jantung. Kolaborasi 6) Observasi hasil pemeriksaan laboratorium darah lengkap R/ mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan/respons terhadap terapi. 3) Observasi keluhan nyeri dada.· Membran mukosa berwarna merah muda · Pengisian kapiler · Haluaran urine adekuat Intervensi : 1) Ukur tanda-tanda vital. R/ dispnea.

R/ transplantasi sumsum tulang dilakukan pada kegagalan sumsum tulang/ anemia aplastik.7) Berikan transfusi darah lengkap/packed sesuai indikasi R/ meningkatkan jumlah sel pembawa oksigen. R/ memaksimalkan transpor oksigen ke jaringan.5 x 1012 Intervensi : .000 µL Eritrosit : 3. memperbaiki defisiensi untuk mengurangi resiko perdarahan.000 ± 400. Dx. Berikan oksigen sesuai indikasi. b. 9) Siapkan intervensi pembedahan sesuai indikasi.8 ± 5.8 g/dL Hb : 11 ± 16 g/dL Ht : 31 ± 43 % Trombosit : 150.2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan / absorpsi nutrisi yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah (SDM) normal. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam anak mampu mempertahankan berat badan yang stabil Kriteria hasil : · Asupan nutrisi adekuat · Berat badan normal · Nilai laboratorium dalam batas normal : Albumin : 4 ± 5.

3 : Konstipasi atau diare berhubungan dengan penurunan masukan diet. R/ mengetahui efektivitas program pengobatan. R/ gajala GI menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ. 4) Bantu anak melakukan oral higiene. Ht. Isocal. Albumin. R/ bila ada lesi oral. Dx. nyeri membatasi tipe makanan yang dapat ditoleransi anak.1) Observasi dan catat masukan makanan anak. hindari makanan pedas atau terlalu asam sesuai indikasi. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam anak menunjukan perubahan pola defekasi yang normal. Trombosit. 6) Berikan diet halus rendah serat. Kriteria hasil : · Frekuensi defekasi 1x setiap hari . 2) Berikan makanan sedikit dan frekuensi sering R/ makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan asupan nutrisi. flatus. gunakan sikat gigi yang halus dan lakukan penyikatan yang lembut. R/ mengawasi masukan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan. meminimalkan kemungkinan infeksi. Menurunkan pertumbuhan bakteri. 3) Observasi mual / muntah. Eritrosit. 7) Berikan suplemen nutrisi mis : ensure. R/ meningkatkan masukan protein dan kalori. mengetahui sumber diet nutrisi yang dibutuhkan. R/ meningkatkan napsu makan dan pemasukan oral. perubahan proses pencernaan. Teknik perawatan mulut diperlukan bila jaringan rapuh/luak/perdarahan. c. Kolaborasi 5) Observasi pemeriksaan laboratorium : Hb.

R/ mempermudah defekasi bila konstipasi terjadi. konsistensi. R/ menurunkan motilitas usus bila diare terjadi. 5) Berikan pelembek feces.4 : Intoleran aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan. 6) Berikan obat antidiare mis : difenoxilat hidroklorida dengan atropine (lomotil) dan obat pengabsorpsi air mis Metamucil. R/ membantu mengidentifikasi penyebab / factor pemberat dan intervensi yang tepat. stimulant ringan.· Konsistensi feces lembek. Dx. laksatif sesuai indikasi. Kolaborasi 4) Berikan diet tinggi serat R/ serat menahan enzim pencernaan dan mengabsorpsi air dalam alirannya sepanjang traktus intestinal. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam anak melaporkan peningkatan . tidak ada lender / darah · Bising usus dalam batas normal Intervensi : 1) Observasi warna feces. R/ bunyi usus secara umum meningkat pada diare dan menurun pada konstipasi. R/menurunkan distensi abdomen. frekuensi dan jumlah. d. 2) Auskultasi bunyi usus. 3) Hindari makanan yang menghasilkan gas.

penurunan granulosit (respons inflamasi tertekan). 3) Bantu anak dalam aktivitas diluar batas toleransi anak. palpitasi. Dx. gerakan lambat dan tegang. pusing. mencegah kebosanan dan menarik diri. Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam infek tidak terjadi. dispnea. lemas. kunang ± kunang. R/ mencegah kelelahan. Kriteria Hasil : · Tanda ± tanda vital dalam batas normal .5 : Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh sekunder leucopenia.toleransi aktivitas. Kriteria hasil : · Tanda ± tanda vital dalam batas normal · Anak bermain dan istirahat dengan tenang · Anak melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuan · Anak tidak menunjukkan tanda ± tanda keletihan Intervensi : 1) Ukur tanda ± tanda vital setiap 8 jam R/ manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan. R/ meningkatkan istirahat. postur loyo. 4) Berikan aktivitas bermain pengalihan sesuai toleransi anak. e. R/ membantu menetukan intervensi yang tepat. 2) Observasi adanya tanda ± tanda keletihan ( takikardia.

Mempertahankan perfusi jaringan adekuat b. Implementasi Implementasi disesuaikan dengan intervensi yang telah dibuat. R/ demam mengindikasikan terjadinya infeksi. 2) Tempatkan anak di ruang isolasi bila memungkinkan dan beri tahu keluarga supaya menggunakan masker saat berkunjung.· Leukosit dalam batas normal · Keluarga menunjukkan perilaku pencegahan infeksi pada anak Intervensi 1) Ukur tanda ± tanda vital setiap 8 jam. 3) Pertahankan teknik aseptik pada setiap prosedur perawatan. Menunjukkan pola defekasi normal . R/ mencegah infeksi nosokomial. Mempertahankan asupan nutrisi adekuat dan berat badan stabil c. R/ mengurangi resiko penularan mikroorganisme kepada anak. 5. Evaluasi Keperawatan a. R/lekositosis mengidentifikasikan terjadinya infeksi dan leukositopenia mengidentifikasikan penurunan daya tahan tubuh dan beresiko untuk terjadi infeksi 4. Kolaborasi 4) Observasi hasil pemeriksaan leukosit.

Infeksi tidak terjadi . Mengalami peningkatan toleransi aktivitas e.d.

Penyebab umum dari anemia: y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y Perdarahan hebat Akut (mendadak) Kecelakaan Pembedahan Persalinan Pecah pembuluh darah Penyakit Kronik (menahun) Perdarahan hidung Wasir (hemoroid) Ulkus peptikum Kanker atau polip di saluran pencernaan Tumor ginjal atau kandung kemih Perdarahan menstruasi yang sangat banyak Berkurangnya pembentukan sel darah merah Kekurangan zat besi Kekurangan vitamin B12 Kekurangan asam folat Kekurangan vitamin C Penyakit kronik Meningkatnya penghancuran sel darah merah Pembesaran limpa Kerusakan mekanik pada sel darah merah Reaksi autoimun terhadap sel darah merah . Etiologi Penyebab tersering dari anemia adalah kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk sintesis eritrosit. kualitas hemoglobin dan volume packed red bloods cells (hematokrit) per 100 ml darah (Price. elemen tak adekuat atau kurangnya nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah. antara lain besi. Selebihnya merupakan akibat dari beragam kondisi seperti perdarahan. keracunan obat. 2006 : 256). Anemia adalah berkurangnya hingga di bawah nilai normal sel darah merah. 2002 : 935). dan sebagainya.ANEMIA A. Pengertian Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari. B. penyakit kronik. melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit atau gangguan fungsi tubuh dan perubahan patotisiologis yang mendasar yang diuraikan melalui anemnesis yang seksama. seperti kehilangan komponen darah. yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah (Doenges. 1999). vitamin B12 dan asam folat. kelainan genetik. Dengan demikian anemia bukan merupakan suatu diagnosis atau penyakit. Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitungan sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah normal (Smeltzer. pemeriksaan fisik dan informasi laboratorium.

Jika suplai ini kurang. Anemia merupakan penyakit kurang darah yang ditandai rendahnya kadar hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit). serta perkembangan kognitif yang abnormal pada anak. Sering pula terjadi abnormalitas pertumbuhan. Manifestasi klinis Gejala klinis yang muncul merefleksikan gangguan fungsi dari berbagai sistem dalam tubuh antara lain penurunan kinerja fisik. gangguan neurologik (syaraf) yang dimanifestasikan dalam perubahan perilaku. Jika anemia bertambah berat. pajanan toksik. jantung juga menjadi gampang lelah. dan berkurangnya keasaman lambung. Otak terdiri dari 2. Pada kasus ibu hamil dengan anemia. inuasi tumor. kurang tenaga dan kepala terasa melayang. pica. kelemahan. Jika kapasitasnya kurang. maka otak akan seperti komputer yang memorinya lemah. Kalau muncul 5 gejala ini. 1998). atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui. lesu.y y y y y y y y y Hemoglobinuria nokturnal paroksismal Sferositosis herediter Elliptositosis herediter Kekurangan G6PD Penyakit sel sabit Penyakit hemoglobin C Penyakit hemoglobin S-C Penyakit hemoglobin E Thalasemia (Burton. Patofisiologi Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sum-sum tulang atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Cara mudah mengenal anemia dengan 5L. Salah satunya otak. karena harus memompa darah lebih kuat. jika lambat ditangani dan berkelanjutan dapat . Fungsi darah adalah membawa makanan dan oksigen ke seluruh organ tubuh. letih. Anemia bisa menyebabkan kelelahan. 1990). atau gampang terkena infeksi saluran napas. bisa dipastikan seseorang terkena anemia. Dan kalau sudah rusak. lelah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direpleksikan dengan meningkatkan bilirubin plasma (konsentrasi normalnya 1 mg/dl atau kurang . Akibatnya. kadar 1. 1998). yakni lemah. maka asupan oksigen pun akan kurang.5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera. gampang flu.5 miliar sel bioneuron. tidak bisa diperbaiki (Sjaifoellah. masalah dapat akibat efek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah normal atau akibat beberapa factor diluar sel darah merah yang menyebabkan destruksi sel darah merah. Sebagai hasil samping proses ini bilirubin yang sedang terbentuk dalam fagosit akan masuk dalam aliran darah. gangguan fungsi epitel. lalai. Komplikasi Anemia juga menyebabkan daya tahan tubuh berkurang. Kegagalan sum-sum tulang dapt terjadi akibat kekurangan nutrisi. penderita anemia akan mudah terkena infeksi. Akibatnya dapat menghambat kerja organ-organ penting. D. Gejala lain adalah munculnya sklera (warna pucat pada bagian kelopak mata bawah). C. Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi) pada kasus yang disebut terakhir. Gampang batuk-pilek. Lambat menangkap. anorexia (badan kurus kerempeng). bisa menyebabkan stroke atau serangan jantung(Sjaifoellah. Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam system fagositik atau dalam system retikuloendotelial terutama dalam hati dan limpa. E.

lemak sumsum dengan penurunan sel darah (aplastik). F. misal: peningkatan megaloblas (AP). Pewarna sel darah merah : mendeteksi perubahan warna dan bentuk (dapat mengindikasikan tipe khusus anemia). misal : menurun (AP). Aspirasi sumsum tulang/pemeriksaan/biopsi : sel mungkin tampak berubah dalam jumlah. Penatalaksanaan Medis Tindakan umum : Penatalaksanaan anemia ditunjukan untuk mencari penyebab dan mengganti darah yang hilang. 6. meningkat (respons sumsum tulang terhadap kehilangan darah/hemolisis). tinggi (hemolitik) TBC serum : meningkat (DB) Feritin serum : meningkat (DB) Masa perdarahan : memanjang (aplastik) LDH serum : menurun (DB) Tes schilling : penurunan eksresi vitamin B12 urine (AP) Guaiak : mungkin positif untuk darah pada urine. 1. Pemeriksaan andoskopik dan radiografik : memeriksa sisi perdarahan : perdarahan GI (Doenges. peningkatan (AP). Bilirubin serum (tak terkonjugasi): meningkat (AP. G. Suplemen asam folat dapat merangsang pembentukan sel darah merah. feses. 1999). sel darah merah mempunyai waktu hidup lebih pendek. dan bentuk. dan isi gaster. Pemeriksaan penunjang Jumlah darah lengkap (JDL) : hemoglobin dan hemalokrit menurun. Selain bayi lahir dengan berat badan rendah. Tes kerapuhan eritrosit : menurun (DB). membedakan tipe anemia. Folat serum dan vitamin B12 membantu mendiagnosa anemia sehubungan dengan defisiensi masukan/absorpsi Besi serum : tak ada (DB). misal : pada tipe anemia tertentu. Jumlah eritrosit : menurun (AP). menunjukkan perdarahan akut / kronis (DB). Obati penyebab perdarahan abnormal bila ada. Diet kaya besi yang mengandung daging dan sayuran hijau. 4. hemolitik). 3. Transpalasi sel darah merah. dan berisiko bagi janin. Menghindari situasi kekurangan oksigen atau aktivitas yang membutuhkan oksigen 5. . Jumlah trombosit : menurun caplastik. anemia bisa juga mengganggu perkembangan organ-organ tubuh. SDP : jumlah sel total sama dengan sel darah merah (diferensial) mungkin meningkat (hemolitik) atau menurun (aplastik). 1998). membentuk. Antibiotik diberikan untuk mencegah infeksi. normal atau tinggi (hemolitik) Hemoglobin elektroforesis : mengidentifikasi tipe struktur hemoglobin. termasuk otak (Sjaifoellah. LED : Peningkatan menunjukkan adanya reaksi inflamasi. Analisa gaster : penurunan sekresi dengan peningkatan pH dan tak adanya asam hidroklorik bebas (AP). ukuran. Jumlah retikulosit : bervariasi. misal : peningkatan kerusakan sel darah merah : atau penyakit malignasi. 2. menurun berat (aplastik). meningkat (DB). MCV (molume korpuskular rerata) dan MCH (hemoglobin korpuskular rerata) menurun dan mikrositik dengan eritrosit hipokronik (DB).menyebabkan kematian. Masa hidup sel darah merah : berguna dalam membedakan diagnosa anemia. Pansitopenia (aplastik).

Disritmia : abnormalitas EKG. Anemia asam folat : asam folat 5 mg/hari/oral 4. Kulit seperti berlilin. postur lunglai. mudah putus. mulut. Ekstremitas (warna) : pucat pada kulit dan membrane mukosa (konjuntiva. Letargi. bibir) dan dasar kuku. kelemahan. lesu. Tanda : takikardia/ takipnae . dispnea pada waktu bekerja atau istirahat. tumbuh uban secara premature (AP). Pengisian kapiler melambat (penurunan aliran darah ke kapiler dan vasokontriksi kompensasi) kuku : mudah patah. menipis. menarik diri. telur dan sayur. apatis. 1999) meliputi : 1) Aktivitas / istirahat Gejala : keletihan. Penurunan haluaran urine. usahakan makanan yang diberikan seperti ikan. Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak. Anemia pernisiosa : pemberian vitamin B12 3. Pengkajian pasien dengan anemia (Doenges. berbentuk seperti sendok (koilonikia) (DB). Kelemahan otot. berjalan lambat. Hematemesis. Tanda : depresi.Pengobatan (untuk pengobatan tergantung dari penyebabnya) : 1. AP) atau kuning lemon terang (AP). masukan diet protein hewani rendah/masukan produk . Anemia karena perdarahan : mengatasi perdarahan dan syok dengan pemberian cairan dan transfusi darah. pucat dapat tampak sebagai keabu-abuan). misalnya penolakan transfusi darah. gagal ginjal. Rambut : kering. Anemia defisiensi besi Penatalaksanaan : Mengatur makanan yang mengandung zat besi. 2) Sirkulasi Gejala : riwayat kehilangan darah kronik. depresi segmen ST dan pendataran atau depresi gelombang T. tubuh tidak tegak. Ataksia. 1994). hipotensi postural. feses dengan darah segar. dan kurang tertarik pada sekitarnya. Pemberian preparat fe Perrosulfat 3x 200mg/hari/per oral sehabis makan Peroglukonat 3x 200 mg/hari /oral sehabis makan. malaise umum. menstruasi berat (DB). Bahu menurun. Palpitasi (takikardia kompensasi). Sklera : biru atau putih seperti mutiara (DB). takikardia. 4) Eleminasi Gejala : riwayat pielonefritis. Kehilangan produktivitas . misalnya perdarahan GI kronis. 3) Integritas ego Gejala : keyakinanan agama/budaya mempengaruhi pilihan pengobatan. 2. faring. pucat (aplastik. Toleransi terhadap latihan rendah. Pengkajian Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluru(Boedihartono. Diare atau konstipasi. Riwayat endokarditis infektif kronis. Tanda : TD : peningkatan sistolik dengan diastolik stabil dan tekanan nadi melebar. melena. sindrom malabsorpsi (DB). penurunan semangat untuk bekerja. angina. Bunyi jantung : murmur sistolik (DB). (catatan: pada pasien kulit hitam. 5) Makanan/cairan Gejala : penurunan masukan diet. Flatulen. dan tanda-tanda lain yang menunujukkan keletihan. dan penurunan kekuatan. daging. CHF (akibat kerja jantung berlebihan). MANAJEMEN KEPERAWATAN A. Tanda : distensi abdomen.

penurunan penglihatan. keseimbangan buruk. Epitaksis : perdarahan dari lubang-lubang (aplastik). tinnitus. depresi cenderung tidur. menggigil. dan sebagainya (DB). AP). kering. baik terhadap pengobatan atau kecelekaan. Sensasi manjadi dingin. ataksia. 1999) meliputi : 1. dan bayangan pada mata. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan sirkulasi dan neurologist. 6. Nyeri mulut atau lidah. Adanya penurunan berat badan. Tanda : peka rangsang. berdenyut. Turgor kulit : buruk. dan posisi. abses paru. pusing. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Boedihartono.sereal tinggi (DB). limfadenopati umum. ketidak mampuan berkonsentrasi. vertigo. Konstipasi atau Diare berhubungan dengan penurunan masukan diet. Stomatitis dan glositis (status defisiensi). Ptekie dan ekimosis (aplastik). penurunan rasa getar. sering infeksi. anoreksia. dan dispnea. kaki goyah . pucat. Tidak toleran terhadap dingin dan panas. Mental : tak mampu berespons. Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan anemia (Doenges. cat. efek samping terapi obat. Membrane mukosa kering. penyembuhan luka buruk. Tanda : demam rendah. kesulitan menelan (ulkus pada faring). Tanda : lidah tampak merah daging/halus (AP. dyspepsia. tampak kisut/hilang elastisitas (DB). Imppoten. parestesia tangan/kaki (AP) . gelisah. ortopnea. B. misalnya inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah. 1994). 6) Neurosensori Gejala : sakit kepala.. tanda Romberg positif. Oftalmik : hemoragis retina (aplastik. tepung jagung. atau penurunan granulosit (respons inflamasi tertekan)). misalnya menoragia atau amenore (DB). Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel. Kelemahan. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan. klaudikasi. 10) Seksualitas Gejala : perubahan aliran menstruasi. 3. Tanda : serviks dan dinding vagina pucat. Tidak pernah puas mengunyah atau peka terhadap es. Hilang libido (pria dan wanita). kotoran. apatis. Tanda : takipnea. Gangguan koordinasi. terapi kanker. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan sekunder (penurunan hemoglobin leucopenia. Riwayat terpajan pada radiasi. paralysis (AP). (DB). Bibir : selitis. 2. 7) Nyeri/kenyamanan Gejala : nyeri abdomen samara : sakit kepala (DB) 8) Pernapasan Gejala : riwayat TB. 4. . tanah liat. Transfusi darah sebelumnya. Napas pendek pada istirahat dan aktivitas. defisiensi asam folat dan vitamin B12). Gangguan penglihatan. 9) Keamanan Gejala : riwayat pekerjaan terpajan terhadap bahan kimia. lambat dan dangkal. 5. Mual/muntah. Insomnia. berkeringat malam. Riwayat kanker. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah. perubahan proses pencernaan.

Pantau/batasi pengunjung. Kriteria hasil : .mengidentifikasi perilaku untuk mencegah/menurunkan risiko infeksi. Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurang terpajan/mengingat . mengidentifikasi pathogen khusus dan mempengaruhi pilihan pengobatan. Ambil specimen untuk kultur/sensitivitas sesuai indikasi (kolaborasi)š Rasional : membedakan adanya infeksi. dan demam.š Rasional : membatasi pemajanan pada bakteri/infeksi.menunujukkan peningkatan/mempertahankan berat badan dengan nilai . Pantau suhu tubuh. bila respons imun sangat terganggu. 1994) Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi. Catatan : pasien dengan anemia berat/aplastik dapat berisiko akibat flora normal kulit.š Rasional : meningkatkan ventilasi semua segmen paru dan membantu memobilisasi sekresi untuk mencegah pneumonia. Amati eritema/cairan luka. 1999) adalah : 1) Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan sekunder (penurunan hemoglobin leucopenia.š Rasional : menurunkan risiko kerusakan kulit/jaringan dan infeksi. . INTERVENSI & IMPLEMENTASI Tingkatkan cuci tangan yang baik .š Rasional : indikator infeksi lokal. 2) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah. Berikan isolasi bila memungkinkan. atau penurunan granulosit (respons inflamasi tertekan)). Tujuan : Infeksi tidak terjadi. C.š Rasional : mencegah kontaminasi silang/kolonisasi bacterial. Perlindungan isolasi dibutuhkan pada anemia aplastik. Berikan perawatan kulit. Berikan antiseptic topical . latihan batuk dan napas dalam.meningkatkan penyembuhan luka. bebas drainase purulen atau eritema.š Rasional : adanya proses inflamasi/infeksi membutuhkan evaluasi/pengobatan. Pertahankan teknik aseptic ketat pada prosedur/perawatan luka. Tingkatkan masukkan cairan adekuat. salah interpretasi informasi . tidak mengenal sumber informasi. antibiotic sistemik (kolaborasi).š Rasional : menurunkan risiko kolonisasi/infeksi bakteri.7. Intervensi/Implementasi keperawatan Intervensi adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan (Boedihartono. Motivasi perubahan posisi/ambulasi yang sering. perianal dan oral dengan cermat.š Rasional : membantu dalam pengenceran secret pernapasan untuk mempermudah pengeluaran dan mencegah stasis cairan tubuh misalnya pernapasan dan ginjal. Intervensi dan implementasi keperawatan pasien dengan anemia (Doenges. oleh pemberi perawatan dan pasien.š Rasional : mungkin digunakan secara propilaktik untuk menurunkan kolonisasi atau untuk pengobatan proses infeksi local. Catat adanya menggigil dan takikardia dengan atau tanpa demam. 1995). Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria hasil : . Catatan : pembentukan pus mungkin tidak ada bila granulosit tertekan.

Kolaborasi pada ahli gizi untuk rencana diet. Berikan makan sedikit dengan frekuensi sering dan atau makan diantara waktu makan. Kriteria hasil : .melaporkan peningkatan toleransi aktivitas (termasuk aktivitas sehari-hari) . Observasi dan catat kejadian mual/muntah.š Rasional : meningkatakan efektivitas program pengobatan. š Rasional : menurunkan kelemahan. Teknik perawatan mulut khusus mungkin diperlukan bila jaringan rapuh/luka/perdarahan dan nyeri berat.š Rasional : mengawasi penurunan berat badan atau efektivitas intervensi nutrisi. Observasi dan catat masukkan makanan pasien. INTERVENSI & IMPLEMENTASI Kaji kemampuan ADL pasien. . Rasional : meningkatkan nafsu makan dan pemasukkan oral. termasuk sumber diet nutrisi yang dibutuhkan.š Rasional : mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan. termasuk makan yang disukai.laboratorium normal. Timbang berat badan setiap hari.š Rasional : manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan. pernapasan.š Rasional : gejala GI dapat menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ.š Rasional : mengidentifikasi defisiensi. Kolaborasi . š Berikan dan Bantu hygiene mulut yang baik . Kaji kehilangan atau gangguan keseimbangan.š Rasional : kebutuhan penggantian tergantung pada tipe anemia dan atau adanyan masukkan oral yang buruk dan defisiensi yang diidentifikasi. sebelum dan sesudah makan. gaya jalan dan kelemahan otot. gunakan sikat gigi halus untuk penyikatan yang lembut. misalnya nadi.š Rasional : mengawasi masukkan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan. flatus dan dan gejala lain yang berhubungan. INTERVENSI & IMPLEMENTASI Kaji riwayat nutrisi. memudahkan intervensi. berikan obat sesuai indikasi. dan tekanan darah masih dalam rentang normal. perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan atau mempertahankan berat badan yang sesuai.š Rasional : menunjukkan perubahan neurology karena defisiensi vitamin B12 mempengaruhi keamanan pasien/risiko cedera. 3) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan.tidak mengalami tanda mal nutrisi. Menurunkan pertumbuhan bakteri. Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah aktivitas.Menununjukkan perilaku. . Tujuan : dapat mempertahankan/meningkatkan ambulasi/aktivitas.š Rasional : membantu dalam rencana diet untuk memenuhi kebutuhan individual. Kolaborasi . Berikan pencuci mulut yang di encerkan bila mukosa oral luka. . meningkatkan pemasukkan dan mencegah distensi gaster. pantau hasil pemeriksaan laboraturium.menunjukkan penurunan tanda intolerasi fisiologis. meminimalkan kemungkinan infeksi.

misalnya tanda vital stabil. š Gunakan teknik menghemat energi.š Rasional : meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh dan menurunkan regangan jantung dan paru. pertahankan tirah baring bila di indikasikan. Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi. Kriteria hasil : . hangat local. Awasi upaya pernapasan . Catatan : kontraindikasi bila ada hipotensi.š Rasional : termoreseptor jaringan dermal dangkal karena gangguan oksigen. gangguan warna. dan kurangi suara bising.š Rasional : mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan /respons terhadap terapi. gemericik menununjukkan gangguan jajntung karena regangan jantung lama/peningkatan kompensasi curah jantung. warna kulit/membrane mukosa.menunjukkan perfusi adekuat. dasar kuku. Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi.š .š Rasional : kondisi kulit dipengaruhi oleh sirkulasi. Tujuan : dapat mempertahankan integritas kulit. catat perubahan pada turgor. auskultasi bunyi napas perhatikan bunyi adventisius.š Rasional : memaksimalkan transport oksigen ke jaringan. INTERVENSI & IMPLEMENTASI Awasiš tanda vital kaji pengisian kapiler. Hindari penggunaan botol penghangat atau botol air panas. nutrisi dan imobilisasi. ekskoriasi.Berikan lingkungan tenang. anjurkan pasien istirahat bila terjadi kelelahan dan kelemahan.mengidentifikasi factor risiko/perilaku individu untuk mencegah cedera dermal. Rasional : meningkatkan aktivitas secara bertahap sampai normal dan memperbaiki tonus otot/stamina tanpa kelemahan. batasi pengunjung. Tujuan : peningkatan perfusi jaringan Kriteria hasil : . INTERVENSI & IMPLEMENTASI Kaji integritas kulit. Meingkatkan harga diri dan rasa terkontrol. Ukur suhu air mandi dengan thermometer. Kolaborasi pengawasan hasil pemeriksaan laboraturium. 5) Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan sirkulasi dan neurologist. Selidiki keluhan nyeri dada/palpitasi. Berikan sel darah merah lengkap/packed produk darah sesuai indikasi. Reposisi secara periodic dan pijat permukaan tulang apabila pasien tidak bergerak atau ditempat tidur.š Rasional : meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan seluler. Rasional : memberikan informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menetukan kebutuhan intervensi.š Rasional : iskemia seluler mempengaruhi jaringan miokardial/ potensial risiko infark. Jaringan dapat menjadi rapuh dan cenderung untuk infeksi dan rusak. eritema. 4) Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel.š Rasional : dispnea. anjurkan pasien melakukan aktivitas semampunya (tanpa memaksakan diri).

Dorong masukkan cairan 2500-3000 ml/hari dalam toleransi jantung. kasur tekanan udara/air. š Gunakan alat pelindung. Lakukan perawatan perianal setiap defekasi bila terjadi diare. frekuensi dan jumlah. Berikan pelembek feses. Anjurkan pemukaan kulit kering dan bersih. yang bekerja sebagai perangsang untuk defekasi.š Rasional : membantu dalam memperbaiki konsistensi feses bila konstipasi. Pelindung tumit/siku dan bantal sesuai indikasi. factor pemberat. Tujuan : pasien mengerti dan memahami tentang penyakit. kehilangan berlebihan atau alat dalam mengidentifikasi defisiensi diet. 7) Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurang terpajan/mengingat .pasien menyatakan pemahamannya proses penyakit dan penatalaksanaan .menunjukkan perubahan perilaku/pola hidup. Kolaborasi ahli gizi untuk diet siembang dengan tinggi serat dan bulk. Pantau keefektifan.š Rasional : meningkatkan sirkulasi jaringan. Batasi penggunaan sabun. Kriteria hasil : .Rasional : meningkatkan sirkulasi kesemua kulit. membatasi iskemia jaringan/mempengaruhi hipoksia seluler. stimulant ringan. konsistensi.š Rasional : bunyi usus secara umum meningkat pada diare dan menurun pada konstipasi. yang diperlukan sebagai penyebab. Rasional : mencegah ekskoriasi kulit dan kerusakan. memberikan media yang sangat baik untuk pertumbuhan organisme patogenik. (kolaborasi) Rasional : menghindari kerusakan kulit dengan mencegah /menurunkan tekanan terhadap permukaan kulit. laksatif pembentuk bulk atau enema sesuai indikasi. tidak mengenal sumber informasi.š Rasional : menurunkan distress gastric dan distensi abdomen š Kaji kondisi kulit perianal dengan sering. Auskultasi bunyi usus. INTERVENSI & IMPLEMENTASI Observasi warna feses. mencegah stasis.š Rasional : area lembab.š Rasional : membantu mengidentifikasi penyebab /factor pemberat dan intervensi yang tepat. Awasi intake dan output (makanan dan cairan). salah interpretasi informasi . efek samping terapi obat. š Berikan obat antidiare. misalnya kulit domba. Tujuan : membuat/kembali pola normal dari fungsi usus. š Rasional : serat menahan enzim pencernaan dan mengabsorpsi air dalam alirannya sepanjang traktus intestinal dan dengan demikian menghasilkan bulk. catat perubahan kondisi kulit atau mulai kerusakan. (kolaborasi)š Rasional : mempermudah defekasi bila konstipasi terjadi. misalnya Metamucil. Sabun dapat mengeringkan kulit secara berlebihan. Akan membantu memperthankan status hidrasi pada diare. terkontaminasi. misalnya Defenoxilat Hidroklorida dengan atropine (Lomotil) dan obat mengabsorpsi air. prosedur diagnostic dan rencana pengobatan. keranjang. Rasional : menurunkan motilitas usus bila diare terjadi. Bantu untuk latihan rentang gerak.š Rasional : dapat mengidentifikasi dehidrasi. perubahan proses pencernaan. Kriteria hasil : . (kolaborasi). 6) Konstipasi atau Diare berhubungan dengan penurunan masukan diet. Hindari makanan yang membentuk gas.

Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian pasien.org/wiki/Anemia . Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang. EGC : Jakarta Doenges. Jakarta.š Rasional : diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan.š Rasional : megetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya. selanjutnya meningkatkan beban jantung.L. Segi Praktis Ilmu Penyakit Dalam. 6) Membuat/kembali pola normal dari fungsi usus. Marilynn E. 3) Pasien dapat mempertahankan/meningkatkan ambulasi/aktivitas. ed. Proses Keperawatan di Rumah Sakit. FKUI : Jakarta http://id.3. Hassa. D. Ilmu Kesehatan Anak jilid 1. DAFTAR PUSTAKA y y y y y y y Boedihartono.š Rasional : mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan. EGC : Jakarta Effendi .š Rasional : dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang. 1990. Rencana Asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan. (Lynda Juall Capenito. Evaluasi Evaluasi adalah perbandingan yang sistemik atau terencana tentang kesehatan pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan.wikipedia. ed. EGC : Jakarta. 7) Pasien mengerti dan memahami tentang penyakit. Burton. Tinjau tujuan dan persiapan untuk pemeriksaan diagnostic. dengan melibatkan pasien. . Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya. 1999:28) Evaluasi pada pasien dengan anemia adalah : 1) Infeksi tidak terjadi. 5) Dapat mempertahankan integritas kulit. J. 4) Peningkatan perfusi jaringan. Diagnosis Keperawatan dan Masalah Kolaboratif. INTERVENSI & IMPLEMENTASI Berikan informasi tentang anemia spesifik. Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanan nya. 2) Kebutuhan nutrisi terpenuhi.mengidentifikasi factor penyebab. Menurunkan ansietas dan dapat meningkatkan kerjasama dalam program terapi.š Rasional : memberikan dasar pengetahuan sehingga pasien dapat membuat pilihan yang tepat. prosedur diagnostic dan rencana pengobatan. J.Melakukan tiindakan yang perlu/perubahan pola hidup.penyakit. 2. Binarupa Aksara : Jakarta Carpenito. Diskusikan kenyataan bahwa terapi tergantung pada tipe dan beratnya anemia. L. 1985.š Rasional : ansietas/ketakutan tentang ketidaktahuan meningkatkan stress. Pengetahuan menurunkan ansietas. 1999. Pengantar Proses Keperawatan. 1999. 1994. keluarga dan tenaga kesehatan lainnya. . dilakukan dengan cara berkesinambungan. Nasrul. 1995. klien dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas. Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan.

edisi 7. Sjaifoellah.com/ver1/Kesehatan/0611/30/104458. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Monica Ester : Jakarta.kompas. . 2006. EGC : Jakarta. Judith M.y y y http://www. Standar Perawatan Pasien. 1998.htm Noer. Wilkinson.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->