EDISI 2010 

PERKEMBANGAN KURIKULUM SMP
( DARI MASA HINDIA BELANDA, PENDUDUKAN JEPANG DAN ZAMAN KEMERDEKAAN )

SAID HAMID HASAN

2010

EDISI 2010 

Reviewers:
1. Benny Karyadi 2. Mujiyem 3. Achmad Riyanto 4. Agus Suhardono 5. Juandanilsyah

UCAPAN TERIMAKASIH

Buku ini mencapai bentuknya seperti sekarang melalui banyak uluran tangan dan kebijakan. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada pengambil kebijakan dan pemberi uluran tangan dalam menyempurnakan buku yang ada di hadapaan pembaca. Pengambil kebijakan yang sangat menentukan kehadiran buku ini adalah pimpinan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Mansyur Ramly. Buku ini dimunginkan hadir karena program kerja Balitbang yang beliau pimpin . Oleh karena itu ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada beliau disertai harapan semoga buku ini memenuhi tujuan program yang dikembangkan. Pengambil kebijakan yang juga sangat menentukan kehadiran buku ini adalah pimpinan Pusat Kurikulum (PUSKUR) yaitu Ibu Dra Diah Harianti, M.Pd. Secara programatik keberadaan buku ini disebabkan oleh program langsung yang dikembangkan Puskur. Dalam proses penulisan kebijakan pimpinan Puskur dalam mengendalikan kegiatan penulisan baik pada pertemuan awal ketika

memformulasikan pokok pikiran, pengendalian waktu penulisan dan pertemuan agar penulisan dapat selesai pada waktunya, dan pengendalian berbentuk masukan selama masa penulisan. Oleh karenanya, ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada beliau dengan penuh hormat dan dari hati penulis yang paling dalam. Selain Ketua Puskur, pimpinan Puskur lainnya banyak berkontribusi dalam penulisan ini. Mereka adalah Dr Herry Widyastono yang secara langsung

mengatur pertemuan untuk kepentingan penulisan, Erry Utomo, Ph.D, Drs Sutjipto, M.Pd, Drs.N.S.Vijaya,M.Ed., dan ibu Dr Sumiyati. Nama yang

terakhir ini bahkan secara teknis mengatur segala keperluan penulisan baik dalam bentuk pertemuan, melengkapi dokumen yang diperlukan, serta hal-hal lain yang sangat membantu memperlancar pekerjaan penulisan. Staf Puskur lain yang banyak memberikan bantuan dalam kegiatan ini adalah Dra Neda Kasim dan Dra Veronika. Secara khusus pak Ujang yang telah banyak membantu penulis dalam

i

proses menemukan naskah/dokumen kurikulum. Kepada mereka semua penulis ingin menyampikan ucapan terimakasih dan penghargaan yang tulus. Kepada tema-teman sesama penulis untuk kurikulum SD, SMA, SMK, PAUD yang telah bahu membahu membantu mengatasi berbagai kesulitan penulisan, penulis ucapkan banyak terimakasih dari hati yang paling dalam. Demikian pula dengan teman di Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS-UPI yang telah membantu mencarikan, meminjamkan, dan mengkopikan berbagai sumber penulis

sampaikan ucapan terima kasih. Secara khusus mereka adalah Prof. Dr Rochiati Wiraatmadja, Prof. Dr. Helius Sjamsuddin, Prof. Dr. Dadang Supardan, M.Pd., Dra. Murdiyah Winarti, M.Hum, Drs Sjarief Moeis, Dr Nana Supriatna, Dra. Erlina ,M.Pd, Dra. Yani Kusmarni, M.Pd. Kepada teman dari Nagoya University, Jepang yaitu Prof. Dr Mina Hattori dan Dr Murni Ramly penulis menyampaikan terimakasih yang mendalam. Mereka yang banyak membantu dalam penyediaan dokumen pendidikan di masa Pendudukan Jepang yaitu dokumen yang diberi nama “Jawa ni okeru Bunkyô no Gaikyô, Kurasawa” sangat berharga dalam penulisan ini. Teman-teman yang mereviu tulisan awal yaitu Benny Karyadi, Mujiyem, Achmad Riyanto, Agus Suhardono dan Juandanilsyah memberikan sumbangan yang berharga untuk penyempurnaan penulisan buku ini. Kepada mereka penulis sampaikan rasa hormat dan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya. Kepada mereka yang namanya tak tersebutkan tetapi banyak memberikan kontribusi dalam penyempurnaan buku, penulis menyampaikan rasa hormat dan terimakasih yang sama nilainya dengan yang telah disebutkan di atas. Semoga amal dan bantuan tersebut mendapatkan limpahan rahmatNya. Amin.

Bandung, Desember 2010

Penulis

ii

KATA SAMBUTAN KEPALA BALITBANG

iii

KATA SAMBUTAN KEPALA PUSAT KURIKULUM

iv

KATA PENGANTAR

Buku ini disusun sebagai upaya untuk memberikan gambaran perkembangan pemikiran kurikulum SMP yang pernah dilakukan selama masa Penjajahan Belanda, Pendudukan Jepang, dan Masa Kemerdekaan. Masa Kemerdekaan adalah masa yang paling panjang dilihat dari kurun waktu dan jumlah naskah kurikulum SMP yang pernah dikembangkan. Pengembangan Kurikulum pada Masa Kemerdekaan yang dikaji dimulai dari awal kemerdekaan bangsa Indonesia ketika suasana kehidupan kenegaraan Indonesia masih berada dibawah ancaman agresi meliter Belanda, dilanjutkan dengan pengembangan kurikulum SMP pada masa Pemerintahan Parlementer, Masa Orde Lama, Masa Orde Baru, dan diakhiri pada masa Reformasi. Kerangka perkembangan kehidupan kebangsaan Indonesia digunakan sebagai periodesasi kajian pengembangan kurikulum SMP karena pengembangan keberlakuan suatu kurikulum selalu dipengaruhi oleh kebijakan politik selain faktor-faktor yang bersifat akademik dan perkembangan di bidang ilmu dan teknologi. Gambaran perkembangan kurikulum selama masa yang dikemukakan di atas terutama diutamakan pada kajian terhadap dokumen kurikulum. Kajian ini paling dimungkinkan mengingat ketersediaan sumber informasi dalam hal ini dokumen kurikulum. Dimensi kurikulum yang lain yaitu implementasi kurikulum yang disebut juga dengan istilah “implemented curriculum”, “observed curriculum” atau “taught curriculum” tidak dikaji mengingat ketersediaan sumber yang dapat dikatakan sangat tidak memungkinkan membangun rekonstruksi yang dapat memberikan gambaran yang adil. Laporan, hasil evaluasi, atau pun hasil penelitian tentang implementasi kurikulum hanya berkenaan dengan kejadian yang terbatas pada suatu wilayah tertentu. Untuk menghindari gambaran yang tidak adil maka buku ini tidak melakukan kajian mengenai dimensi implementasi kurikulum. Dimensi kurikulum yang ketiga yaitu hasil tidak pula dikaji dalam buku ini sehingga gambaran mengenai kualitas tamatan SMP dari setiap dokumen kurikulum yang dikaji tidak direkonstruksi dalam buku ini. Alasan yang sama

v

dengan ketiadaan kajian terhadap dimensi kedua kurikulum, implementasi kurikulum, berlaku pula bagi ketiadaan kajian dimensi hasil kurikulum. Hasilhasil yang diperoleh peserta didik dari ujian nasional baik yang dinamakan Evaluasi Belajar Tahap Akhir (EBTA), Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS), Ujian Akhir Nasional (UAN) mau pun Ujian Nasional (UN) memiliki kelemahan mendasar dalam validitas kurikulum. Soal-soal ujian yang dikembangkan untuk evaluasi nasional tersebut tidak memiliki validitas kurikulum yang dapat dipertanggungjawabkan walau pun memiliki validitas isi yang dapat dipertanggungjawabkan. 1 Dalam analisis yang dilakukan untuk setiap kurikulum diupayakan untuk mengungkapkan landasan filosofis dan teoritik yang digunakan dalam

pengembangan kurikulum. Keberlanjutan dan perubahan yang terjadi dalam landasan filosofis dan teoritik memberikan gambaran tentang terjadinya perbedaan dalam struktur, organisasi konten kurikulum, beban belajar, dan juga format dokumen kurikulum yang dikembangkan. Dari analisis yang dilakukan tersebut berbagai hal yang terkait dengan masalah miskonsepsi diungkapkan agar pembaca buku dapat mengambil makna dan memberikan penilaian yang lebih baik terhadap kurikulum. Dilihat dari aspek kelembagaan yang telah mengembangkan kurikulum pada masa kemerdekaan, pengembangan kurikulum pada masa kemerdekaan dapat dibagi atas tiga periode yaitu periode pengembangan oleh lembaga teknis, periode pengembangan lembaga pengembang kurikulum khusus yaitu Puskur, dan periode dimana pengembangan kurikulum menjadi wewenang satuan pendidikan . Sampai tahun 1968, kurikulum SMP dikembangkan oleh lembaga teknis yang sekarang bernama Direktorat SMP. Kurikulum SMP 1975 adalah kurikulum pertama yang dikembangkan oleh lembaga yang didirikan dengan tugas khusus untuk pengembangan kurikulum yang sekarang dikenal dengan nama Pusat Kurikulum
1

Validitas kurikulum berkenaan dengan pengukuran kualitas tamatan yang dinyatakan dalam tujuan kurikulum, bukan hanya terbatas pada aspek pengetahuan. Kualitas dalam kemampuan intelektual, afektif dan psikomotor yang tercantum dalam tujuan kurikulum tidak terujikan dalam ujian nasional yang disebutkan di atas. Validitas konten dalam ujian nasional yang disebutkan di atas terbatas pada pokok bahasan yang diujikan dan pada tujuan dlam aspek pengetahuan dari pokok bahasan terkait.

vi

(PUSKUR). Pada masa Reformasi pengembangan kurikulum menjadi tanggungjawab Pemerintah. Kurikulum lengkap dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan dan diberi nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). vii . Periode ini berlangsung sampai tahun 2004 yaitu ketika pusat ini berhasil mengembangkan kurikulum yang awalnya bernama Kurikulum Berbasis Kompetensi pada tahun 2001 dan naskah terakhir dinamakan Kurikulum 2004. Kurikulum tingkat nasional yang dikembangkan Pemerintah berbentuk Struktur Kurikulum berlaku secara nasional. pemerintah daerah. Pemerintah daerah memiliki kewenangan mengawasi dan memberikan arahan terhdap pengembangan kurikulum di tingkat satuan pendidikan. dan satuan pendidikan.

.................................................. Kata Pengantar ......................... viii xi xii xiii BAB I PENDAHULUAN . Shoto Chu Gakko.... Sambutan Kabalitang....................................... Kelahiran MULO Dalam Sistem Persekolahan Zaman Hindia Belanda......................................... Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Pengembangan Kurikulum .......................................................................................... Sambutan Ka Puskur .. C..... SLTP............................................................................................................................................................................................................................................ Istilah Kurikulum Sebagai Pengganti Leerpla .... A................... B................... DAFTAR GAMBAR ................................. B................................... D...................... i iii iv v DAFTAR ISI.....................................................................................................................................DAFTAR ISI Halaman Ucapan Terimakasih................................................................................................................. C........ Mata Pelajaraan dalam Leerplan MULO........... 15 21 21 15 viii ... DAFTAR TABEL........................................................ .......................... 1 1 4 6 9 BAB II KURIKULUM SMP (MULO) PADA MASA HINDIA BELANDA ........................ Perubahan Nama SMP dari MULO........... Kurikulum Sebagai “Public Policy” dan “Academic/ Educational Innovation”.................................. DAFTAR FOTO .................. A.......................................................................... SMP ..................... Tujuan Pendidikan MULO ..

............................ Kurikulum SMP Gaya Baru........... Mata Pelajaran Kurikulum SMP Gaya Baru .............................................................................. Daftar Pelajaran ................ B............................................................BAB III KURIKULUM SMP (SHOTO CHU GAKKO) PADA MASA PENDUDUKAN JEPANG .. B............... B................................................ E..... Struktur dan Mata Pelajaran Kurikulum Shoto Chu Gakko ............. Filsafat Kurikulum SMP 1954...................... Kebijakan Pendidikan Masa Pemerintahan Pendudukan Jepang............................. 49 49 52 53 63 65 A.................................................. 33 33 43 A.......................................... 71 71 74 81 81 A.. 27 26 BAB IV KURIKULUM SMP PADA MASA AWAL KEMERDEKAAN........................................................................................... Tujuan Pendidikan SMP ................ ix ................ D............... BAB V KURIKULUM SMP PADA MASA PEMERINTAHAN KABINET PARLEMENTER ..................................................................... B... Perkembangan Kebijakan Pendidikan .. C............... 26 A............................ C................. Rencana Pelajaran SMP 1954........................................... D............... Perkembangan dalam Kebijakan Pendidikan ............................. Tujuan Kurikulum SMP 1954 .. Perkembangan Kebijakan Pendidikan ................... BAB VI KURIKULUM SMP PADA MASA PEMERINTAHAN ORDE LAMA ..................... Komponen Rencana Pelajaran SMP 1954 .............

.... KTSP........ B......................... B....................... A..................................................................................................................................................................................... Perkembangan Kebijakan Pendidikan .......................................... Kurikulum 2004..................... E........................ Kurikulum SMP 19841............................................. Kurikulum SMP 19941........................................ Perkembangan Kebijakan Pendidikan .......... C.... 193 x ........ 85 85 87 95 26 44 A...........................BAB VII KURIKULUM SMP PADA MASA PEMERINTAHAN ORDE BARU ....................... Kurikulum SMP 1968. D.................................................................................. BAB VIII KURIKULUM SMP PADA MASA REFORMASI......... C... 187 DAFTAR BACAAN................... Kurikulum SMP 1975............... 155 155 157 156 BAB IX MENATAP KURIKULUM SMP MASA DEPAN.....

..................3 Buku Pelajaran Untuk Shoto Chu Gakko di Jakarta ........................................ Tabel 4......................................1 Struktur dan Mata Pelajaran Rencana Pelajaran SMP 19471950............................1 Leerplan MULO...........DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2............... Tabel 8...........3 Struktur dan Mata Pelajaran Kurikulum SMP 1984 ............. Tabel 6..........3 Struktur Kurikulum SMP/MTs dalam Standar Isi .............. Tabel 5......1 Struktur dan Mata Pelajaran Rencana Pelajaran SMP 1968 ................. Tabel 8........4 Struktur dan Mata Pelajaran Kurikulum SMP 1994 .. 22 29 30 32 45 57 63 82 91 114 133 151 169 171 180 xi ..1 Struktur Program Kurikulum SMP/Madrasah Tsanawiyah 2001 .. Tabel 7...................................................................1 Mata Pelajaran dan Jam Pelajaran Kuriku Shoto Chu Gakko Tabel 3............2 Hari Libur Sekolah........... Tabel 8............1 Struktur dan Mata Pelajaran Rencana Pelajaran SMP 1962 ..........1 Kelompok dan Tujuan Mata Pelajaran Rencana Pelajaran SMP 1954............. Tabel 3..... Tabel 7........... Tabel 7.........2 Struktur dan Mata Pelajaran Rencana Pelajaran SMP 1954 ............................2 Struktur dan Mata Pelajaran Kurikulum SMP 1975 .................. Tabel 7.......................... Tabel 5......2 Struktur Kurikulum SMP dan Madrasah Tsanawiyah 2004 ... Tabel 3.....

.......DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Sistem Pendidikan dan Persekolahan Hindia-Belanda........................ 22 100 xii ............. Gambar 2 Heirarki Tujuan Pendidikan ...............

..................................DAFTAR FOTO Foto 1 Gedung MULO............................................... 15 26 43 150 xiii ............................................................ Foto 2 Gedung Shoto Chu Gakko ................................................................................... Foto 4 Sekolah Menengah Pertama ......................... Foto 3 Gedung Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama .....

Istilah kurikulum baru digunakan di Inggeris pada awal abad ke 19 (1820) oleh Galsgow University dari bahasa Latin curere ( Tanner dan Tanner. 1980:4) setelah mengalami perubahan makna yang sangat berbeda dari pengertian kurikulum sebagai daftar mata pelajaran. 2007:2) yang secara harfiah artinya adalah lari tetapi pada awal abad ke 19 tersebut berubah maknanya menjadi daftar mata pelajaran. 1980. Menurut Longstreet dan Shane (1993:21) istilah kurikulum di Amerika baru dikenal umum pada awal abad ke 20 walau pun seperti mereka akui bahwa filosof Jerman Johann Friedrich Herbatt telah mengembangkan pikiran tentang kurikulum sebagai “a systematic approach to the organization and selection of content as well as to instructional delivery” pada pertengahan abad ke 19. Istilah kurikulum mulai mendapatkan tempat yang luas pada awal abad ke 20 1 (Tanner dan Tanner. Di Amerika Serikat. Istilah yang digunakan pada awal kemerdekaan sampai dengan tahun enampuluhan adalah rencana pelajaran dan daftar mata pelajaran sebagai terjemahan dari istilah bahasa Belanda leerplan dan leervak. pemikiran tentang kurikulum pada mulanya berkembang pada akhir abad ke 19                                                              1  Sebelum istilah kurikulum digunakan istilah paedagogy atau pedagogiek adalah  istilah umum  yang digunakan  bersamaan dengan istilah didaktik. ISTILAH KURIKULUM SEBAGAI PENGGANTI LEERPLAN (RENCANA PELAJARAN) Istilah kurikulum merupakan istilah baru dalam dunia pendidikan di Indonesia.PENDAHULUAN     A. Henderson dan Gornik. Memang tidak dapat disangkal bahwa literatur kurikulum menyebutkan daftar mata pelajaran (list of courses) sebagai salah satu makna awal dari istilah kurikulum. Ketika bangsa Indonesia baru merdeka dan menyatakan dirinya berdaulat atas wilayah yang dulunya dinamakan Hindia Belanda dunia pendidikan di Indonesia belum menggunakan istilah kurikulum. Istilah kurikulum mulai masuk ke dalam dunia pendidikan Indonesia dari literatur kependidikan Amerika Serikat menjelang akhir tahun 60-an abad ke 20.    1 .

buku pertama yang menggunakan judul kurikulum. dan (3) menentukan organisasi dan tata urut materi dan aktivitas (Longstreet dan Shane. Meski pun Bobbitt dianggap bapak kurikulum di Amerika Serikat. 1993:29). organisasi konten. dan penilaian hasil belajar. Harold Rugg sebagai editor menyatakan tugas pengembangan kurikulum adalah (1) menentukan objektif kurikulum. Pada tahun 1918 tokoh pendidikan Amerika Serikat yang bernama Franklin Bobbitt dari University of Chicago menerbitkan buku yang berjudul The Curriculum. Tyler mengubah makna kurikulum secara mendasar dan membedakannya secara mendasar pula dari pengertian kurikulum sebagai daftar mata pelajaran atau pun sebagai pengalaman belajar. 1993:32). Dalam bukunya yang berjudul Basic Principles of Curriculum and Instruction. 1993: 22-23). Komponen penilaian hasil belajar merupakan penyempurnaan yang dilakukan Tyler terhadap pemikiran Harold Rugg. konten.dengan pembentukan Committee of Ten yang antara lain diketuai oleh Charles Eliot dari Harvard University (Longstreet dan Shane. tokoh pendidikan seperti John Dewey (1916) dan terutama Ralph Tyler (1942) dianggap oleh banyak akhli sebagai pelopor pemikir kurikulum modern dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat. Tyler (1942) memperbaiki komponen kurikulum yang dikembangkan oleh Harold Rugg dengan mengemukakan empat komponen yang terkait dengan kurikulum yaitu tujuan. Sejak itu berbagai definisi kurikulum dirumuskan oleh mereka yang secara khusus mendalami dan mengembangkan bidang studi kurikulum   2 . 1993:32) kebangkitan awal bidang studi kurikulum sebagai suatu pekerjaan profesional. Pada tahun 1924 Bobbitt menerbitkan buku baru yang diberi judul How to Make a Curriculum (Longstreet dan Shane. (2) seleksi materi dan aktivitas yang sesuai. Dalam buku tahunan NSSE. Pada tahun 1927 National Society for the Study of Education (NSSE) menerbitkan buku tahunan ke 26 organisasi ini dengan nama Curriculum Making:Past and Present yang menurut kedua penulis tadi (Longsreet dan Shane. Secara implisit buku tersebut menuntut adanya studi yang ilmiah dalam pengembangan rencana dan evaluasi menjadi bagian yang tak terpisahkan untuk menentukan efektivitas kurikulum.

Sejak 1968. Dalam realita pengembangan kurikulum dan kebijakan kurikulum seringkali masih dikungkung oleh makna kurikulum sebagai daftar mata pelajaran walau pun ada usaha nyata yang dilakukan dalam kurikulum 1954. istilah kurikulum di Indonesia baru digunakan pada tahun 1968 (Dokumen Kurikulum 1968) ketika pemerintah mengumumkan adanya kurikulum 1968 menggantikan kurikulum yang berlaku sebelum 1964 yang masih berjudul Rencana Pelajaran (Dokumen Rencana Pelajaran SMP Gaya Baru).tetapi keempat komponen yang dikemukakan Tyler tetap menjadi fokus pengembangan utama kurikulum dalam setiap konstruksi dokumen kurikulum. istilah kurikulum digunakan secara meluas dalam berbagai kebijakan pendidikan dan literatur pendidikan di Indonesia. perlu kesadaran tinggi tentang makna baru secara konsisten dan membangun pola tindakan baru yang sesuai dengan makna baru itu   3 . Memang mengubah sebuah kerangka berpikir dan pola tindakan bukan merupakan sesuatu yang mudah. Berbagai akhli kurikulum yang secara akademik belajar tentang bidang ini mulai dimiliki bangsa Indonesia memperkaya kelompok yang telah berpengalaman dalam mengembangkan Rencana Pelajaran (kurikulum). harus diakui bahwa meninggalkan makna kurikulum sebagai daftar mata pelajaran bukanlah sesuatu yang mudah. Kehadiran Pusat Pengembangan Kurikulum dan Alat Pendidikan. serta kehadiran program studi Kurikulum di berbagai IKIP memperkuat kelompok yang bekerja dan melakukan studi akademik dalam bidang kurikulum. Meski pun demikian. Istilah kurikulum mulai masuk menjadi istilah teknis dalam literatur dunia pendidikan Indonesia tetapi secara resmi. Dalam pelaksanaan atau implementasi kurikulum di sekolah. Mereka membaca buku-buku dari belahan dunia yang berbahasa Inggeris tersebut dan berkenalan dengan istilah kurikulum. Pada tahun 50-an dan 60-an banyak akhli pendidikan Indonesia belajar buku-buku pendidikan dari Amerika Serikat dan Inggeris dan banyak pula di antara mereka melanjutkan studi di bidang pendidikan di Amerika Serikat. kurikulum masih diperlakukan sebagai daftar mata pelajaran. yang ketika naskah ini ditulis bernama Pusat Kurikulum.

 bahasa pengantar Bahasa  Belanda  5  HBS = Hogere Burger School (Sekolah Lanjutan Tinggi) untuk mereka yang akan melanjutkan ke  perguruan tinggi dikembangkan dari seksi B Gymnasium Koning Willem III pada tahun 1867 di  Jakarta (Nasution. document) dan dimensi proses (implementasi) dan kurikulum sebagai hasil (product) dalam satu kesinambungan. dan ELS 4 ). SHOTO CHU GAKKO. HCS. Pada zaman penjajahan Belanda ada sekolah yang bernama MULO 2 (untuk mereka yang sudah menyelesaikan pendidikan di HIS 3 . Meski pun demikian. Pasal 1 ayat (19)). nama Sekolah Menengah Pertama (SMP) mengalami perubahan nama beberapa kali. Jakarta. serta HBS 5 (untuk lanjutan tamatan ELS dan HCS).1983:130. planned. 1974:128). Shoto Chu Gakko adalah sekolah yang dianggap sederajat dengan MULO dan yang pada masa awal kemerdekaan dan sekarang dikenal dengan nama SMP. secara resmi kurikulum diartikan sebagai “seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan. SLTP. Kebijakan‐Kebijakan Pendidikan di Indonesia. Pada masa Pendudukan Meliter Jepang dikenal adanya Shoto Chu Gakko 6 . bahasa pengantar Bahasa  Belanda  4  ELS = Europesche Lagere School (Sekolah Dasar untuk orang Eropa). PERUBAHAN NAMA SMP DARI MULO. SMP Sejak kemerdekaan. Bina Aksara    4 .merupakan perubahan yang seringkali baru terjadi dalam waktu yang panjang apabila diupayakan secara konsisten. Djumhur dan Danasaputra. bahasa  pengantar Bahasa Belanda  3  HIS = Hollandsch Inlandsche School (Sekolah Dasar untuk pribumi). Pada saat sekarang. dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu” (UU RI nomor 20 tahun 2003.   B. Perbedaan yang mendasar dengan Mulo adalah Shoto Chu Gakko boleh menggunakan bahasa Indonesia tetapi bahasa Belanda dilarang. Rumusan pengertian kurikulum yang digunakan dalam UU RI nomor 20 tahun 2003 tersebut menyatukan tiga dimensi utama kurikulum yaitu dimensi rencana (curriculum as intended. nama                                                              2  MULO = Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (Pendidikan Rendah yang Diperluas). isi.  6  Gunawan (1986).

sudah tidak lagi menggunakan kata umum di dalam nama penuhnya. sekolah yang disebut dengan istilah Mulo atau pun Shoto Chu Gakko. Dalam UU RI nomor 20 tahun 2003 Pasal 17 ayat (2) SMP adalah singkatan dari Sekolah Menengah Pertama. dan sekolah menengah keguruan yaitu Sekolah Guru B (SGB). Kata atau istilah umum pada nama SMP digunakan karena sampai tahun 1973 Indonesia masih mengenal adanya sekolah kejuruan seperti Sekolah Teknik Tingkat Pertama (STP). nama Sekolah Menengah Pertama (SMP) mengalami berbagai pergantian. Sekolah Menengah Pertanian Pertama (SMPP). disebut dengan nama Sekolah Menengah Umum Tingkat Pertama disingkat SMP. Nama-nama sekolah kejuruan dan keguruan tersebut sangat eksplisit sehingga sangat kecil menimbulkan salah persepsi bahwa sekolah-sekolah tersebut berkenaan dengan persiapan peserta didik dalam satu vokasi tertentu. Pewarisan sistem persekolahan dari zaman penjajahan Belanda yang kemudian diteruskan oleh pendudukan meliter Jepang dan diformalkan dalam berbagai ketetapan legal di Indonesia memberikan dasar hukum yang kuat bagi esksistensi SMP sebagai satuan pendidikan yang mandiri. Barangkali dapat dikatakan bahwa perubahan nama SMP yang terjadi di Indonesia menunjukkan dinamika yang lebih tinggi dibandingkan negara mana pun di dunia. Berdasarkan Undang-Undang nomor 4 tahun 1950.MULO tetap tercantum dalam salah satu dokumen Jepang tentang pendidikan di pulau Jawa yang berjudul “Jawa ni okeru Bunkyô no Gaikyô”. Sekolah Menengah Ekonomi tingkat Pertama (SMEP). Berdasarkan Undang-Undang nomor 2 tahun 1989 nama SMP diubah menjadi Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) walau pun pada waktu Indonesia   5 . apalagi jika diingat bahwa SMP sebagai suatu satuan pendidikan yang berdiri sendiri merupakan suatu yang unik Indonesia. Sekolah Kepandaian Keputrian Pertama (SKKP). Setelah Indonesia berdiri sebagai negara merdeka. Untuk SMP adanya kata umum memperjelas posisi sekolah tersebut sebagai sekolah yang tidak dirancang untuk mengembangkan pendidikan dalam vokasi.

KURIKULUM SEBAGAI “PUBLIC POLICY” DAN “ACADEMIC/ EDUCATIONAL INNOVATION ” Kurikulum adalah suatu kebijakan publik karena kurikulum yang dinyatakan berlaku oleh pemerintah berdampak kepada kehidupan sebagian terbesar masyarakat langsung atau tidak langsung. Aspek ini menyatakan secara filosofis kualitas generasi muda bangsa yang akan dikembangkan melalui pengembangan potensi setiap individu peserta didik. berdampak kepada kehidupan bangsa di masa mendatang. Sedangkan sekolah dibawah Departemen Agama yang sederajat dengan SMP dan diakui oleh Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 adalah Madrasah Tsanawiyah (MTs). dan bukan nama kelompok sekolah/satuan pendidikan di jenjang lanjutan pertama. Perubahan nama SLTP terjadi lagi sebagaimana ditetapkan dalam UndangUndang nomor 20 tahun 2003 yaitu ketika SLTP kembali menjadi SMP. C. Jadi. berdampak kepada pembiayaan (cost) yang harus dikeluarkan pemerintah dan masyarakat.hanya memiliki satu jenis sekolah pada jenjang ini. SLTP adalah nama diri sekolah seperti halnya SMP. Anggota lain dari SLTA adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).   6 . Oleh karena itu kurikulum tidak mungkin menjadi suatu keputusan/kebijakan pendidikan apabila tidak mendapat dukungan politik (politically viable) bangsa. dan memiliki keterikatan dengan tata kehidupan masyarakat yang dilayani kurikulum secara langsung. singkatan dari Sekolah Menengah Pertama (UU nomor 20 tahun 2003. Pasal 17) tanpa ada kata umum. Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional tidak memberikan nama kelompok satuan baik untuk jenjang menengah pertama mau pun menengah atas. SMA yang dalam undang-undang yang sama diubah menjadi SMU (Sekolah Menengah Umum) sebagai anggota dari SLTA atau Sekolah Lanjutan Tingkat Atas sebagai nama kelompok satuan pendidikan. Aspek kurikulum yang paling banyak berkenaan dengan unsur politik adalah aspek ide kurikulum.

dalam kehidupan pribadi yang bersangkutan dan bangsa di berbagai dimensi kehidupan pribadi. Kegagalan dalam upaya mengembangkan potensi menjadi kualitas yang diperlukan akan menimbulkan dampak yang sangat mungkin tidak diinginkan. menjadikan kurikulum SD/MI dan SMP/MTs sebagai suatu kebijakan pendidikan yang kritikal dan fundamental. jika pendidikan untuk seluruh bangsa Indonesia adalah pendidikan dasar 9 tahun (Wajib Belajar 9 Tahun) maka kualitas minimal yang harus dimiliki setiap anak bangsa Indonesia mereka miliki setelah mengikuti proses pendidikan selama 9 tahun (SD/MI dan SMP/MTs). dan kebangsaan. kualitas lanjutan. a written   7 . Oleh karenanya. direalisasikan dalam bentuk dimensi proses kurikulum yaitu pembelajaran. Artinya. kemasyarakatan. Tentu saja suatu bangsa memerlukan warga yang memiliki kualitas dasar. dan diwujudkan dalam bentuk hasil belajar. Pendidikan menengah apalagi pendidikan tinggi tidak dalam posisi yang kritikal dan fundamental sebagaimana kurikulum pendidikan dasar karena pendidikan menengah dan tinggi tidak dalam posisi untuk mengembangkan kualitas minimal yang dipersyaratkan bagi seluruh bangsa Indonesia tapi bagi mereka yang terpilih berdasarkan kemampuan dan minat yang dimiliki seseorang warganegara.Aspek ide kurikulum merupakan ketentuan tentang filosofi. Keempat dimensi kurikulum tersebut yaitu sebagai “curriculum ideas.    Kurikulum sebagai kebijakan publik dituangkan dalam bentuk dokumen. Posisi yang menempatkan kurikulum pendidikan dasar menyandang peran penting dalam mengembangkan potensi peserta didik menjadi kualitas dasar bagi seluruh manusia Indonesia. dan kualitas tinggi dan karenanya secara keseluruhan pendidikan menengah dan pendidikan tinggi sangat diperlukan bangsa. Dimensi dokumen dikembangkan sebagai rancangan bagi landasan pengembangan dimensi proses kurikulum sedangkan dimensi hasil adalah bentuk kemampuan yang dimiliki peserta didik sebagai hasil langsung dari pengalaman belajar mereka dalam dimensi proses pembelajaran. teori serta model kurikulum untuk mengembangkan potensi peserta didik. kurikulum pendidikan dasar harus mampu mengembangkan materi dan proses pendidikan dimana setiap peserta didik memiliki kesempatan dan kemampuan mengembangkan potensi dirinya menjadi kualitas yang dimaksudkan.

Seperti dikemukakan Oliva (1992) curriculum is a product of its time. outcomes or the competencies the students have as the direct result from the experiences ( Hasan. dapat berkenaan dengan sesuatu yang besar dan meliputi aspek filosofis. Dalam jawaban tersebut yaitu kurikulum baru selalu terkandung suatu inovasi. Kurikulum adalah jawaban atau hipotesis pendidikan terhadap kebutuhan pengembangan potensi peserta didik menjadi kualitas baru yang diperlukan untuk kehidupan dirinya sebagai warganegara.   8 . Ruang lingkup atau “magnitude” inovasi suatu kurikulum baru beragam. and the product. accumulating knowledge. psychological principles. 2009) merupakan satu keseluruhan proses pengembangan kurikulum (curriculum development). the experiences the students have as teachers realize the ideas in the document into reality or learning process. Semakin rumit dan luas kualitas baru yang dibutuhkan masyarakat maka semakin besar pula ruang lingkup inovasi suatu kurikulum baru. teoritik. . Kurikulum adalah suatu hasil pemikiran inovatif para pengembang sebagai jawaban terhadap apa yang diperlukan masyarakat (hasil dari “need analysis”). philosophical positions. . Oleh karena setiap terjadi perkembangan dalam masyarakat yang berdampak luas dan menghendaki adanya kualitas baru dari anggota masyarakatnya maka diperlukan suatu kurikulum baru. Curriculum responds to and is changed by social forced. Ruang lingkup inovasi kurikulum baru tersebut dapat pula merupakan sesuatu yang sangat kecil dan hanya berkenaan dengan satu komponen kurikulum tapi memiliki nilai pendidikan yang signifikan.plan where the ideas are planned and documented. model sampai ke berbagai komponen dokumen kurikulum. and educational leadership at its moment in history.

demokrasi terpimpin dan ekonomi terpimpin yang dianggap sudah tidak sesuai untuk kehidupan masyarakat Indonesia pada masa pemerintahan Orde Baru. 2000:54) dan oleh karena itu kekuatan yang mampu mempengaruhi kurikulum berarti mampu menguasai proses pendidikan dan hasil pendidikan. Ketiga faktor tersebut adalah perubahan politik. dan ketika salah satu dari ketiga faktor tersebut berubah terutama faktor politik maka kurikulum sebagai suatu kebijakan publik/ pendidikan akan berubah. Penggantian kurikulum Gaya Baru menjadi kurikulum 1968 bersifat sementara untuk mengatasi masalah ideologi komunis. Kurikulum adalah isi dan jantungnya pendidikan (Klein. FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PENGEMBANGAN KURIKULUM Suatu kurikulum diganti. Faktor Politik Sebagaimana telah dikemukakan di bagian atas. Perubahan tersebut memang membuktikan adanya pengaruh politik yang sangat jelas dan tak mungkin dipungkiri terhadap kurikulum (Appel. 1981: 20). 1981: 21-22. kurikulum di Indonesia mengalami perubahan mendasar pada tahun 1966 karena adanya perubahan kekuatan politik dari kehidupan politik yang semulanya didominasi oleh kekuatan komunis ke kekuatan politik yang didominasi kekuatan anti komunis. 1979: 13. 1. Ketika terjadi perubahan kekuatan politik tersebut maka pemerintah segera mengeluarkan kurikulum baru yang dinamakan Kurikulum 1968 menggantikan kurikulum sebelumnya yaitu Rencana Pelajaran SMP Gaya Baru tahun 1964. Pada dasarnya secara teknis perubahan tersebut terjadi hanya dengan menghapus bagian-bagian tertentu konten kurikulum yang berkenaan dengan ajaran komunisme. Waring. diubah atau dipertahankan tergantung pada tiga kelompok utama faktor yang berpengaruh terhadap kebijakan kurikulum.D. Giroux. Ketiga kelompok faktor tersebut berpengaruh terhadap kebijakan kurikulum sebagai kebijakan publik/pendidikan di negara mana pun. dan perkembangan sosial-budaya-ekonomi. perkembangan ilmu dan teknologi. Kepedulian kekuatan politik dapat berupa   9 .

daerah) tetapi juga dapat berupa kekuatan politik yang riil di masyarakat dan secara langsung berpengaruh terhadap kurikulum sebagai suatu proses pendidikan. Kekuatan politik dikembangkan menjadi kemauan politik. Sekelompok orang yang berhasil mempengaruhi pengambil kebijakan itu mungkin para politisi. di berbagai negara kurikulum perekolahan dikembangkan oleh perguruan tinggi. Pengaruh politik dan masyarakat paling kecil adalah dalam bentuk apa yang tidak boleh dikembangkan kurikulum baik terutama dalam komponen konten. “pressure groups”. Pengaruh tersebut menyebabkan suatu kurikulum hanya dapat digunakan oleh satuan pendidikan jika   10 . menteri. BSNP. Pengaruh politik atau kekuatan politik paling kecil adalah pengaruh terhadap kurikulum akademik perguruan tinggi karena lembaga perguruan tinggi dilindungi dan dikembangkan sebagai lembaga yang memiliki otonomi penuh di bidang akademik. atau komunitas tertentu di masyarakat. Pengaruh politik atau kekuatan politik (termasuk tekanan sosial) tidak dapat dilepaskan atau pun diabaikan dalam proses pengembangan kurikulum mana pun dan di negara mana pun. Kemauan politik dimiliki pula oleh sejumlah orang yang berhasil mempengaruhi pengambil kebijakan dalam menentukan kurikulum. kurikulum profesi dan vokasional yang dikembangkan di perguruan tinggi sangat dipengaruhi oleh kekuatan masyarakat yang menjadi pemegang profesi dan tergabung dalam organisasi profesi. Untuk mengurangi pengaruh politik dan masyarakat terhadap pengembangan kurikulum di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Kebijakan tersebut tidak menyebabkan para pengembang kurikulum dapat melepaskan diri dari pengaruh politik dan kekuatan masyarakat. Berbeda dari kurikulum akademik. orang tua. Kemauan politik dimiliki oleh sekelompok orang yang memiliki wewenang sebagai pengambil kebijakan di bidang kurikulum (presiden. proses pendidikan atau pun penilaian hasil belajar. akademisi. kepala sekolah/komite sekolah).kekuatan resmi yang dipegang oleh pemerintah (pusat.

Filosofi kurikulum sebagaimana dikatakan   11 . geografi. Taba. Ilmu Tubuh Manusia digabungkan menjadi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). sosiologi. Teknologi informasi dan komunikasi memberikan peluang besar dalam penerapannya dalam kurikulum untuk memudahkan peserta didik mengakses sumber informasi. ekonomi. matematika. 1967. Termasuk dalam disiplin ilmu yang dimaksudkan di sini adalah disiplin ilmu seperti biologi. perkembangan ilmu selalu berpengaruh terhadap kurikulum (Benjamin. Ilmu Hewan. Sudah sejak awal. Mata pelajaran yang dulunya namanya aljabar. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi akhir-akhir ini menunjukkan kebutuhan akan pentingnya perubahan kurikulum. Perkembangan dalam dunia ilmu pendidikan termasuk filsafat berpengaruh terhadap perubahan kurikulum.antropologi. kimia. 1962. ilmu ukur dan ilmu pasti menjadi matematik. 2. 2004) Perkembangan materi suatu disiplin ilmu baik materi substantif mau pun materi ketrampilan. 1965. Henderson dan Kesson.kurikulum tersebut tidak bertentangan dengan kepentingan politik dan masyarakat (politically viable). Contoh dalam dunia pendidikan Indonesia misalnya adalah ketika matematika memperkenalkan apa yang dinamakan matematika modern. Perkembangan dalam teknologi mengubah kurikulum baik dalam konten mau pun dalam proses pembelajaran. 1939. fisika. Pengaruh ilmu dan teknologi Ilmu dan teknologi merupakan faktor kuat yang banyak berpengaruh terhadap perubahan kurikulum. sejak istilah kurikulum belum digunakan. sejarah. Ilmu Tumbuh-tumbuhan. politik dan ilmu pendidikan. terutama materi disiplin ilmu yang langsung menjadi materi mata pelajaran tentu akan mengharuskan terjadinya perubahan kurikulum. berbagai jenis informasi tetapi juga menuntut agar peserta didik menguasai berbagai ketrampilan teknis yang terkait dengan aplikasi alat-alat teknologi informasi dan komunikasi. Kliebard. Saylor dan Alexander.

for curriculum is a response to the question of how to live a good life. menganalisis. generalisasi atau juga teori merupakan persyaratan awal untuk mengenal dan memahami ketrampilan atau pun nilai yang akan dikembangkan. . Atas dasar filosofi ini. Kemampuan kognitif seperti memahami. Ketika filosofi lain seperti eksperimentalisme. menggunakan/ menerapkan. Pengetahuan dari disiplin ilmu berupa fakta.   12 . humanisme dan rekonstruksi sosial menjadi landasan pengembangan kurikulum maka pengetahuan dan ketrampilan yang berasal dari disiplin ilmu tetap diperlukan. . Sedangkan Oliva (1997:190) mengatakan bahwa setiap pengembang kurikulum harus sadar filosofi yang berpengaruh pada dirinya ketika mereka mengembangkan ide dan dokumen kurikulum. John Dewey (1916) supported this emphasis when he suggested that education is the testing ground of philosophy itself Pendapat serupa dikemukakan oleh Tanner dan Tanner (1980) dan Oliva (1997). Sebagai contoh. Ia mengatakan: Philosophy lies at the heart of educational endeavor. dan mengevaluasi menjadi dasar kuat bagi seseorang untuk mengembangkan kemampuan kognitif tertinggi yaitu menghasilkan suatu pengetahuan baru atau produk baru dalam berbagai bentuk. konsep. . This is perhaps more evident in curriculum domain than in any other. Tanner dan tanner (1980: 103) bahkan menyatakan bahwa filosofi kurikulum berpengaruh dan menjadi sumber dalam proses pengembangan kurikulum. filosofi kurikulum essensialisme dan perenialisme sangat menekankan pada pandangan bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu mengembangkan kemampuan intelektual dan berpikir rasional.oleh Schubert (1986:113) adalah jantung pengembangan kurikulum. Pengetahuan merupakan sesuatu yang diperlukan otak untuk mengembangkan kemampuan kognitif tetapi juga kegiatan kognitif memberikan hasil berupa pengetahuan baru. kurikulum harus mengembangkan pendidikan disiplin ilmu sehingga konten kurikulum adalah konten disiplin ilmu dan tentu saja setiap perkembangan yang terjadi dalam konten disiplin ilmu menghendaki perubahan kurikulum.

Dinamika masyarakat adalah dinamika kurikulum dan masyarakat berkembang jika kurikulum memberikan hasil dengan kualitas peserta didik yang mampu mengembangkan masyarakat. dan teknologi akan lebih mempercepat perubahan yang terjadi dalam kehidupan sosial-budaya-ekonomi suatu masyarakat. Pengaruh politik. dan Shores. Perubahan yang terjadi melahirkan berbagai kebutuhan akan kemampuan baru yang harus dimiliki anggota masyarakat. ketrampilan kognitif baru. penyempurnaan atau bahkan mengganti hal-hal lama yang sudah ada. Perkembangan sosial-budaya-ekonomi Sosial-budaya adalah landasan pengembangan suatu kurikulum. Taba. Saylor dan Alexander.3. ilmu. Perkembangan fokus dan unsur nilai yang harus diwariskan pendidikan kepada generasi muda akan memberikan dasar yang kuat untuk suatu kurikulum berubah. Kurikulum mempunyai peran yang sangat penting untuk melayani kepentingan masyarakat (Taba. masyarakat memerlukan kualitas baru akibat dari kemajuan atau perkembangan yang mereka miliki. 1962. 1962). 1974). Pewarisan nilai-nilai budaya adalah salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan kurikulum sebab pada dasarnya kurikulum adalah salah satu landasan pengembangan kurikulum (Smith. Hal-hal baru itu merupakan tambahan. Perubahan yang dipengaruhi oleh perubahan dalam kehidupan sosial-budayaekonomi tak bisa dihindari kurikulum. Kemampuan baru yang dituntut oleh perubahan kehidupan sosial-budaya-ekonomi berkaitan dengan penguasaan pengetahuan baru. Stanley. 1957. Oleh karena itu apa yang terjadi di   13 . nilai baru. dan kebiasaan baru. sikap baru. Kehidupan sosial-budaya-ekonomi suatu masyarakat selalu berubah. Pada saat itu maka adanya perubahan kurikulum semakin tinggi pula. Pada gilirannya. Ketrampilan baru yang dihasilkan oleh hal-hal baru merupakan dorongan atau faktor yang kuat untuk mengubah kurikulum. Ketika fokus dan unsur nilai berhimpit dengan kepentingan politik maka perubahan pada fokus dan unsur nilai semakin tinggi frekuensinya.

masyarakat akan berpengaruh terhadap kurikulum dan sebaliknya apa yang diberikan kurikulum kepada masyarakat akan menimbulkan perubahanperubahan baru dalam masyarakat.       14 .

Djumhur dan Danasaputra. tersedia pada http://djawatempodoeloe. 2008:4.com/photos/album/190 A.multiply. Tujuan dari pendirian sekolah itu adalah untuk menyebarkan agama Katolik. glory. sesuai dengan semboyan “gold. Pendidikan   15 . and gospel” ketika bangsa Portugis menjelajah dan menjajah wilayah di luar benua Eropa. KELAHIRAN MULO DALAM SISTEM PERSEKOLAHAN ZAMAN HINDIA BELANDA Pendidikan barat di Indonesia sudah diperkenalkan sejak masa awal kekuasaan Portugis di Indonesia yaitu dengan pendirian sekolah seminari di Ternate pada tahun 1536 (Nasution.KURIKULUM SMP (MULO) PADA ZAMAN HINDIA BELANDA     Foto 1: MULO di Bandung pada tahun 1919 Sumber: Foto dari Priambodo. 1976: 115).

2008:6. dasardasar agama Kristen. berdo’a. bernyanyi. 1976:116) yang ditujukan kepada anak Indonesia 7 . dan menjadi daerah tujuan utama Portugis dan Belanda ke Indonesia. 2008:5). pergi ke gereja.    16 . mematuhi orang tua. Untuk itu VOC memerlukan tenaga kerja trampil terutama di bidang administrasi. Ajaran agama yang diperkenalkan adalah Kristen Protestan (Calvinisme. Lutherian) yang telah berkembang di Eropa sejak awal abad ke 16 termasuk Belanda dan di Indonesia secara resmi dinamakan Kristen untuk membedakannya dari Katolik. penguasa dan guru” (Nasution. Setelah VOC menduduki Jayakarta. Kurikulum pada waktu itu mengembangkan proses pembelajaran yang berkenaan dengan ajaran-ajaran agama. menulis. VOC mulai membangun sistem administrasi pemerintahan dan perdagangan. mengubah namanya menjadi Batavia. Mereka bersekolah bersama terutama disebabkan karena jumlah anak-anak Eropa masih terbatas dan misi untuk menyebarkan agama Kristen (Nasution. Djumhur dan Danasaputra. Pada tahun 1630 VOC membuka sekolah di Jakarta dengan pelajaran yang utama adalah membaca. Kurikulum seperti itu adalah sesuatu yang umum pada masa itu dan untuk sekolah VOC ditetapkan oleh lembaga pimpinan tertinggi VOC yang dinamakan De Heeren XVII. kongsi dagang Belanda yang bernama “Vereenigde diperkenalkan Oost-Indische Compagnie” (VOC) di Ambon pada tahun 1607 (Nasution.barat dalam skala yang lebih luas dari sekolah seminari. Djumhur dan Danasuparta. Pada bulan Desember 1799 VOC dibubarkan dan kekuasaan di Indonesia langsung berada                                                              7  Nama Indonesia dan pribumi digunakan silih berganti dengan pengertian yang sama karena  pada masa VOC nama Indonesia belum dikenal/digunakan. Baik Portugis mau pun Belanda (VOC) berkonsentrasi mendirikan sekolah di daerah Maluku di masa awal kekuasaan mereka karena Maluku adalah daerah penghasil rempah-rempah yang terkenal di Eropa pada masa itu. berhitung ditambah dengan pendidikan agama Kristen seperti “memupuk rasa takut kepada Tuhan. Kebijakan pendidikan VOC pada masa itu tidak sepenuhnya memisahkan sekolah untuk anak-anak Eropa dengan pribumi terpilih. 1976:116). 2008:4.

Pendidikan untuk anak pribumi (inlands onderwijs) dikembangkan khusus dengan jenis sekolah yang berbeda dari anak-anak keturunan Eropa yang bersekolah di dalam sistem pendidikan Eropa (Europees Onderwijs) (Poeze. Beberapa anak priyayi tinggi dan terpilih memang dibolehkan melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah. Pada jenjang pendidikan dasar terjadi pemisahan pendidikan untuk anak pribumi (inlands onderwijs). dan pribumi dengan sekolah yang berbeda pula. Berbagai kebijakan pendidikan baru pun dikembangkan oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk anak-anak keturunan Eropa. Anak Indonesia yang cerdas dan jumlah mereka semakin banyak tetapi mereka tidak memiliki melanjutkan studinya ke jenjang pendidikan menengah.di bawah parlemen Belanda. dan Sekolah Rakyat (Vervolgschool). Sedangkan untuk anak Indonesia didirikan sekolah Kelas Dua (Tweede Klasse-school = sekolah ongko loro). dan anak Eropa (Europees onderwijs) dan anak Cina. Cina.   17 . Tekanan politik dalam negeri menyebabkan Pemerintah Hindia Belanda membuka kesempatan kepada anak Indonesia untuk mendapatkan pendidikan yang lebih luas tetapi baik politik Etis mau pun faham liberal tidak memberikan kesempatan yang sama antara anak Indonesia dengan anak Belanda. 1982: xx). Sekolah Desa (Dessa-school). 2008:9). Secara keseluruhan sistem persekolahan tingkat dasar dan menengah tergambarkan pada Gambar 1 sebagaimana dikemukakan oleh Poeze (1982:xx) Politik Etis dan pengaruh faham liberal yang berkembang di Belanda membuka kesempatan pendidikan barat yang lebih besar bagi anak Indonesia. Pemerintahan Belanda di Indonesia dinamakan Pemerintahan Hindia Belanda (Nederlandsch-Indie). Pada tahun 1817 sekolah pertama bagi anak-anak Belanda dan Eropa lainnya dibuka di Jakarta diikuti dengan pendirian sekolah serupa di berbagai kota di pulau Jawa (Nasution. Pemisahan pendidikan terjadi pada jalur dan jenjang. Dalam jangka waktu yang cukup panjang bagi anak Indonesia hanya tersedia sekolah pada jenjang pendidikan dasar sedangkan bagi anak Belanda tersedia sekolah pada jenjang pendidikan menengah. Ketiganya adalah dalam kelompok sekolah dasar (lager onderwijs).

M.U.L.S 3/5 jr Lager Onderwijs Schakel‐ school 5 jr H.  KKKK 3 jr Stovia  6 jr H. 7 jr Tweede‐ Klasse‐ School 5/6 jr Vervolg‐ school 2/3 jr Dessa‐ School 3 jr Inlands Onderwijs Sumber: Poeze (1982:xx) Europese Onderwijs Mulo atau Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (Pendidikan Dasar yang Diperluas) didirikan pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1914 (Djumhur   18 . 2 jr Inheemse M.S 3 jr Kw Rechtsch. Gambar 1: Sistem Pendidikan dan PersekolahanHindia-Belanda Hoger Onderwijs Midd.L.school  3 jr Bestuursscchool  2 jrl Middelbaar Onderwijs Hoogere  Kweek.Landb.S 7 jr E.L.S EE.Kesempatan itu baru terbuka ketika Pemerintah Hindia Belanda membuka Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO).O 3 jr M. 3 jr Kweeksch.O 4 jr Opl.L. Volkson‐ opl Derwijzer 2 jr Normaal‐ School 3 jr M. Voorklas  1 jr Mosvia  MM 2jr  A.U.B.U.I.L. pendidikan dasar yang diperluas.

1963:224). Pendirian MULO tersebut dikukuhkan berdasarkan Ind. van der Wal.  Stbl  adalah  singkatan  Indische  Staatblad  yang  masih  berlaku  dalam  sistem  hukum  Indonesia. Istilah meer uitgebreid (lanjutan lebih luas) memberikan indikasi tentang kedudukan                                                               Dalam kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda dipisahkan sekolah untuk orang Eropa. 8 Pada tahun 1914 kursus-kursus tersebut disetujui untuk dikembangkan menjadi Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (MULO) sebagai sekolah yang berdiri sendiri. G.1982:xx)  9   Ind. 1909-1916) pada tanggal 17 Maret 1913.  Lembar Negara ditandatangani oleh Sekertaris Negara (dulu oleh Menteri Kehakiman) dan diberi  nomor khusus. Idenburg menjadi Menteri Tanah Jajahan (1902-1905. Adanya keinginan yang besar di kalangan pribumi tamatan HIS yang cerdas untuk melanjutkan studi lebih lanjut setelah menyelesaikan studi HIS mereka merupakan salah satu pertimbangan yang dikemukakan dalam surat Direktur Pendidikan dan Agama Hazeu kepada Gubernur Jenderal Idenburg untuk membuka MULO sebagai lembaga yang berdiri sendiri (als een zelfstandig instituut).  Sebuah  undang‐ undang baru dinyatakan resmi berlaku setelah tercatat dan diundangkan dalam Lembar Negara.W. 1963:228) dan tergabung pada ELS (sekolah dasar untuk orang Belanda) untuk mereka yang bersekolah di ELS.F. Sebelum menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda.dan Danasuparta. Stbl. karena keduanya diperuntukkan bagi orang Eropa.A. Sebelumnya sudah ada bentuk kursus lanjutan yang dinamakan mulocursussen (Van der Wal.W. Van der Wal (1963:224) menyebutkan bahwa pendirian MULO didasarkan atas surat Direktur Pendidikan dan Agama ( Directeur van onderwijs en eredienst. Idenburg.  Cina. A. lepas dari ELS. Pribumi tamatan HIS yang cerdas tersebut tidak mungkin melanjutkan ke mulocursussen yang bagian ELS dan tidak pula ke HBS. 1959:137. 1963:230).   8   19 .  dinamakan  Lembar  Negara  yang  mencatat  sebuah  undang‐undang. 9 1914 nomor 447 junto nomor 672 dan 687 tentang Reglement op de openbare scholen van voortgezet en uitgebreid lager onderwijs in Netherlands Indie” (Van der Waal. 1908-1909) dan sesudah menjadi Gubernur Jenderal kembali menjadi Menteri Tanah Jajahan (1918-1919).F. Untuk anak pribumi disediakan inlands onderwijs sedangkan untuk Eropa disediakan  europees onderwijs (Poeze.  dan  Indonesia  yang  dinamakan  pribumi  (istilah  orang  atau  bangsa  Indonesia  belum  digunakan).J Hazeu) kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda (A.

Dalam struktur persekolahan di Belanda dan di banyak negara Eropa. tamatan MULO dapat melanjutkan pelajaran ke sekolah kejuruan tingkat menengah (hogere vakscholen) dan ke AMS (Algemeene Middlebare School) 3 tahun. sekolah menengah diorganisasikan dalam satu manajemen dan terdiri atas program menengah junior (setara SMP) dan menengah senior (setara SMA). menurut Poeze AMS merupakan bentuk khusus sekolah menengah (awal) di daerah Hindia Belanda (de specifiek Indische vorm van voorbereidend hoger onderwijs). 1982:XIX). 2008:123. Rechtschool (Sekolah Hukum 3 tahun). seolah-olah pelaksanaan pendidikan dilakukan bukan oleh lembaga pendidikan yang dinamakan sekolah. dikembangkan menjadi 3 tahun setelah menjadi MULO yang lepas dari ELS 10 . Lama belajar MULO yang semula 2 tahun ketika masih menjadi kursus dan bagian dari ELS.sekolah yang semula kursus dan bagian dari sekolah dasar tersebut. Sejak berdiri sendiri. Pada masa kemudian.                                                                Menurut  Poeze    (1982:  20)  ada  MULO  yang  merupakan  sekolah  dalam  sistem  pendidikan  Belanda  (3  tahun)  dan  ditambah  satu  tahun    bagi  anak  Indonesia  yang  melanjutkan sekolah  ini  dari  Schakel‐school  dan  ada  MULO  Pribumi  (Imheese  MULO)  yang  masuk  dalam  sistem  pendidikan pribumi (Inlands Onderwijs) yang lamanya 4 tahun. MULO terbuka bagi anak Indonesia yang sudah menyelesaikan HIS (Hollandsch Inlandsche School = Sekolah Pribumi berbahasa Belanda). Berbeda dari ELS. Seperti juga MULO. Mulo menjadi lembaga/sekolah resmi sesudah sekolah dasar dan menjadi persyaratan untuk memasuki AMS (Algemeene Middlebare School) yang setelah Indonesia merdeka disebut SMA. HIS. Mosvia (Middlebare Opleidingsschool vor Indische Ambtenaaren = Sekolah Menegah Pamong Praja Pribumi 2 tahun). demikian pula dengan istilah onderwijs (pendidikan) dan bukan school yang digunakan.  10   20 . apalagi HBS. tidak ada sekolah pada jenjang menengah yang berdiri sendiri seperti MULO. MULO tidak didasarkan pada model sekolah Eropa (Nasution. Poeze. Tamatan MULO dapat juga melanjutkan studi mereka ke Stovia (School tot Opleiding van Indische Artsen 6 tahun = Sekolah Dokter Jawa). Di berbagai negara Eropa.

Sekolah Kedokteran). bahasa Belanda adalah mata pelajaran yang harus dipelajari setiap peserta didik.   C. melanjutkan pendidikan ke sekolah kejuruan (Sekolah Pertanian. dan ke sekolah menengah umum yang lebih tinggi (AMS). MATA PELAJARAN DAN LEERPLAN MULO  Bahasa instruksional yang digunakan dalam proses belajar di MULO adalah bahasa Belanda. Vaderlanse geschiedenis) Sejarah Umum (Algemene geschiedenis) 1 3 5 6 2 3 3 1 KELAS DAN JAM II 3 4 7 2 3 3 1 III 2 4 5 2 4 3 2 1 1   21 . Oleh karena itu tamatan HIS diterima di MULO karena HIS menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa instruksional. Stereometri) Ilmu Alam (Natuurkunde) Ilmu Hayat (Plant-en Dierkunde) Sejarah (Volks geschiedenis. Sekolah Hukum. dan Middle Landsbouw School (Sekolah Menengah Pertukangan 3 tahun). Sekolah Guru. Leerplan (Rencana Pelajaran) MULO MATA PELAJARAN I Membaca Bahasa Belanda (Taal) Aljabar (Algebra) Ilmu Ukur (Geometri.1. Sekolah Pamong Praja.Kweekschool (Sekolah Guru 3 tahun). TUJUAN PENDIDIKAN MULO Tujuan pendidikan MULO adalah untuk menghasilkan tamatan yang mampu bekerja dalam administrasi pemerintahan Kolonial Belanda. Selain digunakan sebagai bahasa instruksional. B. Keseluruhan mata pelajaran yang terdapat pada Rencana Pelajaran Mulo adalah: Tabel 2.

nama dan letak kota (peta buta). Eropa. dan sedikit mengenai Hindia-Belanda (Indonesia). Pengetahuan hafalan (paratekennis) adalah pengetahuan yang harus dimiliki peserta didik dan mereka harus selalu siap dengan jawaban di luar kepala apabila ditanyakan.MATA PELAJARAN I Ilmu Bumi (Aarderijkskunde) Olahraga (Gymnastik) Menggambar (Tekenen) Bahasa Perancis 11 Bahasa Inggeris (Engels) Bahasa Jerman (Deutsch) Bahasa Melayu (elektif) Menyanyi (Zingen)(elektif) 3 2 2 2 4 4 1 1 KELAS DAN JAM II 3 2 2 2 4 3 1 1 III 3 2 2 4 3 4 1 1 Sumber: Pelaku (peserta didik) dan Nasution (2004) Dalam ilmu bumi peserta didik MULO belajar terutama geografi negara Belanda. keunggulan Belanda sebagai bangsa serta perjuangan bangsa Belanda                                                              11  Bahasa Perancis nantinya dihapus ketika Belanda tidak lagi dikuasai Louis Bonaparte. walau pun nama pengetahuan siap sudah tidak digunakan. dunia pendidikan Indonesia masih mengandalkan pengetahuan siap. perjuangan bangsa Belanda dalam percaturan kekuatan politik negara-negara Eropa. Pengetahuan sejarah yang diutamakan adalah pengetahuan sejarah tentang kerajaan Belanda dan dinasti Oranye. Soal-soal yang dibuat untuk ulangan dan ujian berpijak pada pemikiran dasar bahwa peserta didik harus memiliki pengetahuan siap untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Pada saat sekarang. bentuk dan karakteristik permukaan tanah.    22 . Pengetahuan tentang letak negara. Sama halnya dengan ilmu bumi adalah mata pelajaran sejarah. dan bahkan nama-nama gedung penting serta alamatnya di berbagai kota di Belanda merupakan pengetahuan penting dan harus menjadi pengetahuan siap (paratekennis) yaitu pengetahuan hafalan. asal-usul dinasti Oranye beserta raja dan ratu yang berkuasa.

Politik Etis (Etische Politiek) pemerintah Hindia Belanda menjadi pokok bahasan penting karena melalui pokok bahasan poliitik etis yang dianggap sebagai program kemanusiaan. Peradaban bangsa Belanda dan bangsa-bangsa Eropa lainnya yang mereka miliki sekarang memang banyak dipengaruhi kebudayaan Yunani dan Romawi.   23 . pendirian VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie).memerdekakan dirinya dari kekuasaan Jerman. usaha pemerintah Hindia Belanda mengembangkan kekuasaan dan pengaruh di wilayah Nusantara (Indonesia) terutama dalam memepertahankan kekuasaan dari para “pemberontak” (pemimpin Indonesia yang melawan pemerintahan Hindia Belanda dalam mempertahankan wilayah kekuasaan para pemimpin/raja tersebut ). seni dan pemerintahan serta kekuasaan sampai kepada dongeng dan mitologi para dewa yang dikenal dalam teologi kepercayaan Yunani dan Romawi sangat penting. pembentukan kekuasaan dan pemerintah Belanda di Nederlandsche Indie (Hindia Belanda = Indonesia). Mata pelajaran sejarah umum untuk MULO mengajarkan mengenai asal-usul peradaban dunia yang dimulai dengan asal-usul peradaban bangsa-bangsa Eropa yaitu peradaban bangsa Yunani dan Romawi. Pelajaran tentang kebudayaan bangsa Yunani dan Romawi berkenaan dengan budaya. oleh karena itu mempelajari kedua kebudayaan tersebut memiliki makna yang penting bagi orang Belanda dan Eropa lainnya. tokoh-tokoh VOC yang berjasa dalam membangun kekuasaan Belanda di Indonesia. Para tokoh yang berkedudukan sebagai gubernur jenderal (wakil pemerintah Belanda di wilayah Hindia-Belanda). Peserta didik MULO sangat hapal mengenai pengaruh kedua peradaban tua tersebut terhadap peradaban Eropa dan dunia barat. Pengetahuan sejarah juga mencakup pengetahuan tentang pelayaran bangsa Belanda ke Indonesia. Pemerintah Belanda membangun kehidupan masyarakat Indonesia yang “lebih baik” terutama dalam membangun sekolah untuk menghasilkan golongan terpelajar dan tenaga terlatih bangsa Indonesia. Sejarah kekuasaan Belanda di Indonesia diikuti dengan berbagai tindakan pemerintah Hindia Belanda dalam membangun berbagai aspek kehidupan lain seperti budaya dan ekonomi termasuk programprogram kemanusiaan untuk masyarakat pribumi (Indonesia).

dan sebagainya) berkongres di Jakarta.2008:123). Bahasa Melayu tidak diajarkan pada waktu kursus MULO didirikan pada tahun 1910. Jong Celebes. Ketika para pemuda yang tergabung dalam berbagai organisasi pemuda daerah (Jong Java. Jong Ambon. Jong Sunda. aspirasi para pemuda tersebut dikukuhkan dalam bentuk keputusan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa instruksional dalam setiap jenjang pendidikan di Indonesia. Pada waktu Indonesia mengeluarkan undang-undang pendidikan pertama dan dikokohkan dalam undang-undang pendidikan sesudahnya. dan tidak juga ketika MULO sudah memiliki status sebagai sekolah menengah (lanjutan) yang berdiri sendiri (Nasution.         24 . peserta didik MULO mengenal dan dilatih dalam cara berpikir empirik dan rasional. Selanjutnya Nasution (2008:124) mengatakan bahwa mata pelajaran Bahasa Melayu baru ada dalam kurikulum MULO pada tahun 1919. Tokoh-tokoh ilmu pengetahuan dari belahan dunia lain apalagi dari dunia Asia tak tersentuhkan bahkan hingga saat kini ketika Indonesia sudah merdeka selama 65 tahun materi pelajaran IPA masih tidak banyak berubah dari apa yang telah diperkenalkan Belanda. Berbagai teori yang sampai sekarang masih dibahas dalam khasanah ilmu alam seperti hukum Archimedes. Dari pelajaran Ilmu Alam. mereka menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan untuk bangsa yang mereka cita-citakan. Halhal yang tidak terkait dengan alam nyata dan tidak dapat dibuktikan secara empirik dinyatakan sebagai tahayul dan dianggap bertentangan dengan cara berpikir manusia modern.Mata pelajaran Ilmu Alam berkenaan dengan berbagai hukum alam yang telah dihasilkan oleh para sarjana Eropa dan menjadi dasar dari ilmu pengetahuan modern. Boyle dan sebagainya merupakan pelajaran penting dalam Ilmu Alam. Pembelajaran bahasa Melayu dalam kurikulum MULO memberikan pengaruh yang kuat terhadap pada kelompok terpelajar Indonesia dalam membangun dan mengembangkan semangat kebangsaan. Jong Sumatra Bond.

Dari pendidikan Pemerintahan Pendudukan Militer Jepang mempersiapkan generasi baru Indonesia yang mendukung kekuasaan Jepang dan menghasilkan mereka yang terlatih dalam kemiliteran.KURIKULUM SHOTO CHU GAKKO (SMP) PADA MASA PENDUDUKAN JEPANG Foto 2: SMPN 1 Yogya. pada tanggal 11 September 1942 didirikan oleh Pemerintah Pendudukan Militer Jepang sebagai Shoto Chu Gakko (SMP) Sumber: Website SMP N 1 Yogyakarta A. pemerintahan militer Jepang memberikan perhatian kepada pendidikan. Sumatera. wilayah Indonesia dibagi atas 3 wilayah administratif yang terpisah dan memiliki jurisdiksi sendiri yaitu pulau Jawa. Meski pun bukan pemerintahan sipil. Kebijakan Jepang tentang pendidikan. terutama kebijakan pendidkan di pulau Jawa dapat diketahui dari berbagai sumber tetapi yang utama adalah dokumen yang dinamakan Jawa ni okeru Bunkyô no Gaikyô (Kebijakan Pendidikan Jepang   25 . dan wilayah Indonesia lainnya (termasuk Kalimantan dan Sulawesi). KEBIJAKAN PENDIDIKAN PENDUDUKAN JEPANG Pada masa pendudukan militer Jepang.

Magelang (1 sekolah).di pulau Jawa)(Kurasawa. dan berisikan doktrin. Mata pelajaran bahasa Belanda dihapus dan digantikan oleh mata pelajaran Bahasa Jepang. Jogja (2 sekolah). Kediri (1 sekolah). Garut (1 sekolah). B. MULO diganti dengan Sekolah Menengah Pertama (Shoto Chu GakkO) dan didirikan di banyak kota di Indonesia. Di pulau Jawa terdapat Shoto Chu Gakko di Serang (1 sekolah). Malang (1 sekolah). Pekalongan (1 sekolah). dan Surabaya (2 sekolah). Bogor (1 sekolah). Selain mengganti bahasa Belanda dengan bahasa Jepang. Bojonegoro (1 sekolah). Jakarta (3 sekolah). sekolah-sekolah untuk rakyat yang didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda (volks school dan vervolg school) dihapus. Bandung. Pamekasan (1 sekolah). Bandung (1 sekolah). Purwokerto (1 sekolah). Semarang (2 sekolah). Selain mata pelajaran yang bersifat eksakta materi mata pelajaran lain disesuaikan dengan kepentingan pendudukan Jepang di Indonesia termasuk menarik hati bangsa Indonesia. dalam kurikulum Shoto Chu Gakko ditambahkan mata pelajaran Pendidikan Semangat (Moral) dan bahasa   26 . Madiun (1 sekolah). dan Madiun. Jember (1 sekolah). digantikan dengan sekolah bergaya Jepang yang dinamakan kokumin gakkô dengan masa belajar 6 tahun. MATA PELAJARAN Mata pelajaran yang terdapat dalam kurikulum Shoto Chu Gakko mencerminkan kebijakan pendidikan Pemerintahan Pendudukan Militer Jepang untuk menjepangkan bangsa Indonesia. ideologi. Cirebon (1 sekolah). Pada masa kekuasaan Pemerintah Pendudukan Militer Jepang. prinsip dasar serta petunjuk pelaksanaan kebijakan pendidikan Jepang di pulau Jawa. Menurut Kurasawa dokumen tersebut adalah dokumen rahasia yang dikumpulkan oleh personil militer Jepang. 1991:16). Sekolah Menengah Pertama Putri menerima siswa khusus putri dan memiliki kurikulum yang sedikit berbeda dari Sekolah Menengah Pertama biasa (Jawa ni okeru Bunkyô no Gaikyô). Semarang. Selain itu ada Sekolah Menengah Pertama Poetri di Jakarta. Pati (1 sekolah). Solo (2 sekolah). Malang. Solo. Jogja. Dokumen serupa berkenaan dengan wilayah lain di Indonesia merupakan sesuatu yang masih perlu ditelusuri untuk dapat membandingkan kebijakan pendidikan Pemerintahan Pendudukan Militer Jepang.

Tabel 3. Kedudukan penting Latihan Badan ini mudah dipahami karena militer Jepang memerlukan pemuda dengan badan yang sehat dan terlatih secara fisik.  Tulisan  ini  berkembang  di  Cina  dengan    nama   hanzi. Selain latihan fisik mereka juga diajar lagu kebangsaan Jepang (Kimigayo) serta berbagai doktrin mengenai kedudukan Jepang sebagai pemimpin dunia (Hakko ichi U) dan pemimpin Asia.  Korea  dan  Jepang  bahkan  seluruh  negara  Cina  yang  memiliki banyak bahasa dipersatukan  dalam komunikasi tulisan melalui huruf Hanzi.: Mata Pelajaran dan Jam Pelajaran Dalam Kurikulum                                                                Pictograph  adalah  huruf    yang    menggunakan  gambar  (picto)  untuk  mewakili  suatu    pokok  pikiran/ide  karena  itu  disebut  juga  ideograph. di  Mesir dengan  nama hieroglyph. Olahraga atau Latihan Badan mendapatkan tempat yang penting sehingga diberikan jam pelajaran yang cukup besar yaitu 5 jam per minggu. Tulisan Hanzi  masih  digunakan  sampai  hari  ini  di  Cina. mencantumkan mata pelajaran.1.Indonesia menjadi mata pelajaran resmi.1. Tulisan indah huruf Arab telah berkembang sejak awal Islam masuk ke Indonesia dan oleh karena itu adanya mata pelajaran kaligrafi dalam kurikulum Shoto Chu Gakko bukan sesuatu yang baru bagi bangsa Indonesia. di Sumeria dengan  nama  tulisan  paku.  12   27 . Unsur barunya adalah kalau sebelumnya yang digunakan untuk tulisan indah itu huruf Arab maka pada masa ini huruf yang ditulis indah itu huruf kanji yang masuk dalam kelompok huruf gambar (pictograph) 12 . Huruf Hanzi   di Jepang dinamakan Kanji. Senam pagi dilakukan sebelum sekolah dimulai dengan menghadap ke arah matahari terbit. Tambahan mata pelajaran dalam kurikulum adalah Kaligrafi. Kedudukan tulisan indah (kaligrafi) huruf kanji sangat dihargai oleh masyarakat dan budaya Jepang. kelas dan jam pelajaran untuk masingmasing mata pelajaran di setiap kelas. Tabel 3. Tradisi yang turun temurun dalam kaligrafi dimaksudkan untuk diwariskan juga bagi bangsa Indonesia yang juga tidak asing dengan tradisi kaligrafi huruf Arab.

kerjasama militer dalam perang antara pemerintah Jerman dan Jepang di masa Perang Dunia II tidak berpengaruh terhadap kebijakan pendidikan SMP di masa pendudukan militer   28 . Bahasa Indonesia 6 jam per minggu serta Ilmu Pasti juga 6 jam per minggu menunjukkan pikiran pokok kurikulum yang ingin menghasilkan “manusia baru” yang bebas dari pengaruh pendidikan Belanda. Penghapusan bahasa Inggeris dan bahasa Jerman memperkuat ide kurikulum yang ingin menhapuskan pengaruh budaya Belanda khususnya dan barat umumnya. Jasmani) Sejarah Gambar Tangan (Menggambar) Ilmu Alam Kesenian Kaligrafi (Jepang) Jumlah jam pelajaran 1 1 9 6 6 2 5 2 2 1 2 36 2 1 9 6 6 2 5 1 2 2 1 2 37 3 1 9 6 6 1 5 1 2 3 1 2 37 Sumber: diadaptasi dari Ramli.Shoto Chu Gakko Kelas dan Jam pelajaran Mata Pelajaran Pendidikan Semangat (Moral) Bahasa Jepang (Nippon) Bahasa Indonesia Ilmu Pasti Ilmu Bumi Latihan Badan (Pend. 2010. Memang menarik bahwa bahasa Jerman dihapus sedangkan bangsa Jepang pada waktu itu bersekutu dengan bangsa Jerman. halaman 70 Dari beban belajar atau jam belajar untuk mata pelajaran Bahasa Jepang 9 jam per minggu. Memang jam belajar Ilmu Pasti sedikit berkurang dari kurikulum MULO tetapi pengurangan tersebut tidak membawa dampak yang berarti bagi kualitas manusia tamatan SMP yang diinginkan Pemerintah Pendudukan Militer Jepang. Tampaknya.

Pada umumnya sekolah libur pada hari besar agama Islam sebagaimana dikemukakan dalam tabel 3.2 berikut ini: Tabel 3. Berdasarkan dokumen Jawa ni okeru Bunkyô no Gaikyô. Surakarta dan Cirebon berkenaan dengan Maulud Nabi Muhammad dan oleh karenanya ditetapkan secara menjadi hari libur.2. Berdasarkan dokumen yang sama. Sementara itu hari libur puasa dan perayaan   29 . sekolah dimulai setiap tanggal 1 April setiap tahun. Pentingnya pelajaran bahasa yang mengajarkan ketrampilan berkomunikasi dan cara berpikir berdasarkan nilai-nilai budaya yang menghasilkan bahasa tersebut disadari benar Pemerintah Pendudukan Militer Jepang.Jepang di Indonesia. Hari besar agama mendapatkan porsi utama sebagai hari libur sekolah. p 38 1 hari 40 hari 7 hari 1 hari 14 hari 1 hari LAMANYA LIBUR Dari ketetapan mengenai hari libur di atas ada kesan kuat bahwa kekuasaan pendudukan Jepang di pulau Jawa sangat memperhatikan agama mayoritas penduduk. Mayoritas penduduk pulau Jawa beragama Islam dan oleh karenanya hari libur sekolah adalah hari besar yang terkait dengan agama Islam termasuk perayaan Grebeg Besar. Selain itu cara berpikir barat akan menimbulkan masalah politik bagi misi pendudukan Jepang di Indonesia.: Hari Libur Sekolah HARI LIBUR Mi’raj Nabi Puasa Grebeg Besar (pulau Jawa) Asyura Maulud Nabi Tahun Baru Cina Jawa ni okeru Bunkyô no Gaikyô. hari libur untuk sekolah ditetapkan untuk jangka waktu satu tahun ajaran. Perayaan Grebeg Besar di Yogyakarta. Oleh karena itu adanya pelajaran bahasa Jerman apalagi bahasa Belanda akan menjadikan generasi muda Indonesia berpikir seperti orang barat dan mereka akan tercabut dari akar budayanya. Kantor Pengajaran (Bunkyo Kyoku) setiap Syuu berwewenang menetapkan buku pelajaran yang digunakan untuk setiap mata pelajaran dan hari libur sekolah.

Idul Fitri ditetapkan selama 40 hari. Kebijakan tersebut sukar diukur keberhasilannya mengingat masa pendudukan Jepang yang singkat tetapi libur bulan Ramadhan dan idul Fitri selama 40 hari berlangsung sampai masa pemerintahan Orde Baru. Buku Pelajaran untuk kurikulum Shoto Chu Gakko di Jakarta Mata pelajaran Bahasa Indonesia Ilmu Tumbuh-tumbuhan Ilmu Alam Ilmu Aljabar Buku Yang Digunakan Matahari Terbit Ilmu Tumbuh-tumbuhan I Ilmu Alam I Ilmu Aljabar I. kelas 1 dan 2 Ilmu Ukur 2. hari raya Idul Adha tidak ditetapkan sebagai hari libur. Buku merupakan sumber materi pelajaran yang penting dan ditetapkan oleh Kepala Bagian Buku-buku pada Kantor Pengajaran (Bunkyô Kyoku). Penetapan tahun baru Cina sebagai hari libur tidak terlepas dari upaya untuk menarik simpati masyarakat Cina di Indonesia. Kepala bagian Buku-buku. kelas 2 Ilmu Aljabar 3. 13 Perhatian yang sangat besar terhadap hari besar agama Islam tersebut bukan saja bersifat realistik karena pendidikan berakar pada budaya dan agama serta lingkungan terdekat peserta didik tetapi juga merupakan upaya politis Pemerintah Pendudukan Jepang untuk menarik simpati masyarakat. Hal ini mungkin saja terkait dengan pandangan budaya di banyak tempat di pulau Jawa yang beranggapan bahwa Idul Adha adalah hari raya bagi orangorang yang sudah melaksanakan ibadah haji. Sadarjoen pada tanggal 11 Desember 2603 (1944) mengeluarkan daftar buku pelajaran sebagai berikut: Tabel 3. kelas 1 Ilmu Aljabar 2. Untuk Kantor Pengajaran Jakarta. Dengan adanya pandangan budaya yang demikian maka tentu saja idul adha bukan hari libur bagi anak sekolah yang pada umumnya belum melaksanakan ibadah haji. Masyarakat yang mendapatkan keleluasaan merayakan hari-hari besar tersebut akan merasa senang. kelas 3 Ilmu Ukur 1. dan baru disesuaikan pada tahun 80-an. kelas 2 dan 3 Ilmu Ukur Jawa ni okeru Bunkyô no Gaikyô                                                               13  Pandangan masyarakat yang beranggapan bahwa Idul Adha adalah hari raya bagi mereka yang  sudah haji masih terdapat di banyak kelompok tertentu di pulau Jawa.       30 .3.

  Sayangnya daftar buku di atas tidak disertai dengan nama pengarangnya. Suatu yang jelas, buku Matahari Terbit digunakan untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia sampai pada masa awal pemerintahan Orde Baru walau pun penulis buku sudah berbeda dari buku dengan judul yang sama pada tahun 50-an. Kebijakan tentang buku pelajaran memberikan keuntungan bagi pemerintah

Pendudukan Militer Jepang untuk mengontrol kualitas bahan pelajaran dan isi dari materi pelajaran. Pemerintah Pendudukan Militer Jepang harus mengawasi apa yang terjadi di sekolah dan jangan sampai materi pelajaran menjadi “boomerang” bagi kekuasaan mereka di Indonesia pada waktu itu. Isi buku pelajaran tidak boleh memuat bahan yang mengecam atau menimbulkan permusuhan kepada Pemerintah Pendudukan Militer Jepang. Hal ini wajar dan berlaku di banyak negara sampai hari ini tetapi keadaannya tentu lebih sensitif untuk pemerintah pendudukan dan penjajahan dibandingkan untuk pemerintah nasional.

 

31

KURIKULUM SMP PADA MASA AWAL KEMERDEKAAN     A. PERKEMBANGAN DALAM KEBIJAKAN PENDIDIKAN Perhatian pemerintah Indonesia terhadap pendidikan diberikan terus menerus sejak awal kemerdekaan. Kedudukan pendidikan yang dianggap teramat penting oleh para pendiri bangsa, mereka adalah sekelompok kecil anak bangsa yang beruntung dapat mengenyam pendidikan di masa penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang, menyebabkan mereka berpandangan bahwa pendidikan adalah sesuatu yang tak boleh ditelantarkan dan harus menjadi hak setiap warganegara. Oleh karena itu selang beberapa bulan setelah kemerdekaan diproklamasikan walau pun bangsa yang muda ini masih menghadapi tantangan agresi militer Belanda, Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BPKNIP) mengusulkan adanya pembaharuan pendidikan (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996:73). Berbagai pikiran dikemukakan BP-KNIP kepada Kementrian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan (PPK) agar ada perubahan pikiran dan visi yang mendasar dari pendidikan pada zaman Belanda ke pendidikan untuk bangsa Indonesia yang baru merdeka. Diantara pikiran yang dikemukakan dalam pandangan BP-KNIP dinyatakan bahwa pendidikan liberal yang mengagungkan kemampuan intelektual semata harus diubah menjadi pendidikan yang mengutamakan “kesusilaan dan peri kemanusiaan yang tinggi” (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996:73). Pengertian kesusilaan pada waktu itu sangat luas dan mencakup apa yang pada saat sekarang dikenal dengan istilah karakter. Dengan tujuan ini maka diharapkan pendidikan mengembangkan kepribadian yang berdasarkan kemanusiaan yang tinggi dan warganegara yang bertanggungjawab. Pikiran bahwa pendidikan adalah hak setiap warganegara dan nantinya dikenal dengan istilah demokratisasi pendidikan tertuang dalam usulan agar hanya ada satu macam sekolah yang

 

32

terbuka untuk setiap orang tanpa ada perbedaan dalam gender, latar belakang budaya, sosial dan ekonomi. Dalam usulan itu dihendaki agar pendidikan pesantren diakui sebagai bagian dari pendidikan nasional walau pun kurikulumnya berbeda dari sekolah pemerintah dan swasta (non pesantren). Posisi pesantren tersebut baru nantinya mendapat pengakuan hukum yang lebih tegas pada tahun 2003 setelah pemerintah mengesahkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Berdasarkan usulan BP-KNIP agar ada peraturan tentang pendidikan dan pengajaran, Menteri PPK, Mr Soewardi membentuk Penitia Penyelidik

Pendidikan Pengajaran (Sjamsuddin, Kosoh, dan Hasan, 1993:11) yang diketuai oleh Ki Hajar Dewantara dengan sekertaris Soegarda Poerbakawatja pada tahun 1946. Tugas panitya adalah untuk meninjau ulang “dasar-dasar, isi, susunan dan seluruh usaha pendidikan/pengajaran (Djumhur dan Danasuparta, 1959:202). Berdasarkan hasil kerja panitya, ditetapkan pedoman dasar-dasar pengajaran bagi guru-guru di Indonesia (Pewarta PPK nomor 2 tahun 1951): 1. Perasaan bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. Perasaan cinta kepada alam 3. Perasaan cinta kepada negara 4. Perasaan cinta dan hormat kepada ibu dan bapak 5. Perasaan cinta kepada bangsa dan kebudayaan 6. Perasaan berhak dan wajib ikut memajukan negaranya menurut pembawaan dan kekuatannya 7. Keyakinan bahwa orang menjadi bagian yang tak terpisah dari keluarga dan masyarakat 8. Keyakinan bahwa orang hidup dalam masyarakat harus tunduk pada tata tertib

 

33

9. Keyakinan bahwa pada dasarnya manusia itu sama derajatnya sehingga sesama anggota masyarakat harus saling menghormati, berdasarkan rasa keadilan dengan berpegang teguh pada harga diri 10. Keyakinan bahwa negara memerlukan warganegara yang rajin bekerja, mengetahui kewajiban, dan jujur dalam pikiran dan tindakan. Jelas bahwa pandangan pendidikan Ki Hajar Dewantara dan Soegarda Poerbakawatja sangat berpengaruh dalam kesepuluh rumusan yang telah dihasilkan. Pemahaman keduanya yang mendalam tentang pendidikan telah diterjemahkan dengan baik dalam posisi seorang peserta didik sebagai dirinya, anggota keluarga, anggota masyarakat, warganegara, dan ummat manusia. Oleh karena itu, kesepuluh prinsip yang dirumuskan tersebut sangat menekankan pada karaktervorming yang meliputi seluruh potensi kemanusiaan seorang peserta didik. Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan yang dikeluarkan pada tahun 1946 oleh Menteri Mr Soewandi yang memuat 10 tujuan pendidikan yang telah dikemukakan di atas, dapat dikatakan sebagai keputusan awal yang berkenaan dengan kurikulum. Tentu saja keputusan itu lebih banyak berkenaan dengan dimensi ide kurikulum dan dinyatakan dalam istilah pedoman dasar-dasar pengajaran. Pedoman dasar-dasar pengajaran yang ditetapkan Menteri PPK memuat berbagai landasan pendidikan yang masih aktual bahkan untuk masa sekarang walau pun harus diakui bahwa dalam kenyataan kurikulum pada masamasa akhir abad ke- 20 dan awal abad ke-21 banyak dasar-dasar pengajaran yang telah dikemukakan tersebut dilupakan. Perubahan yang semakin lama semakin memperkuat kedudukan filosofi pendidikan disiplin ilmu (esensialisme dan perenialisme) sebagai ide dari kurikulum, menyebabkan kurikulum makin meninggalkan dasar-dasar pengajaran yang tercantum dalam pedoman tahun 1946 tersebut. Hal ini memang sangat disayangkan karena sebagaimana dirumuskan dalam pedoman pengajaran tahun 1946 pendidikan seharusnya berkenaan dengan memanusiakan manusia, membudayakan manusia, menjadikan manusia sebagai

 

34

Hasil Kongres dijadikan masukan untuk memperkaya hasil kerja tim yang dipimpin Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara   35 . ilmu. ekonomi. Mr Ali Sostroamidjojo. Dalam keadaan negara dan bangsa yang terancam. Ki Hajar Dewantara dan panitya yang dibentuk oleh Menteri Pendidikan. Kongres mengeluarkan rekomendasi agar pemerintah memiliki undang-undang pendidikan sebagai landasan bagi kebijakan pendidikan dalam masa-masa mendatang. Pengajaran dan Kebudayaan berhasil menyelesaikan pekerjaan mereka dengan penuh pikiran dan visi yang mendalam mengenai pendidikan bangsa. Kongres Pendidikan ini dapat dikatakan sebagai kongres pendidikan pertama yang diadakan pada tingkat nasional. Sebagai jawaban atas perhatian rakyat terhadap pendidikan dan sebagai tindak lanjut dari hasil Kongres Nasional Pendidikan maka pada tahun 1948 Menteri PPK. Kesepuluh ketetapan yang telah dikemukakan di atas menunjukkan kerja panitya yang sangat sungguh-sungguh dan mengena pada hakiki pendidikan. Pada tanggal 4-7 Maret 1947 diadakan Kongres Pendidikan Indonesia di bawah pimpinan Prof. Kedua kemampuan ranah kognitif tersebut penting tetapi manusia tidak bisa hidup hanya dengan kedua kemampuan kognitif itu. dan teknologi.   Meski pun situasi negara penuh dengan peperangan melawan agresi militer Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan. bukan sekedar hanya mengembangkan kemampuan ingatan dan pemahaman semata. membentuk “Panitia Pembentukan Rencana Undang-Undang Pokok Pendidikan dan Pengajaran”. kepeduliaan pemerintah dan bangsa Indonesia terhadap pendidikan tak pernah terputus. Sunaryo Kolopaking (Djumhur dan Danasuparta. hasil kerja panitya yang dipimpin Ki Hajar Dewantara tidak dapat langsung dinikmati oleh bangsa Indonesia karena situasi kehidupan bangsa yang masih belum aman dari ancaman agresi militer Belanda. Hasil kerja itu.mahluk religious. politik. 1959: 202) untuk mengkaji berbagai masalah pendidikan nasional yang muncul di masyarakat. sebagaimana telah dinyatakan sebelumnya telah disahkan dengan Keputusan Menteri PKK untuk digunakan di sekolah. sosial. Sayangnya. seni.

Oleh karena itu tindak lanjut dari hasil rapat BP-KNIP ditunda untuk sementara dan ibukota negara dipindahkan ke Yogyakarta. Sidang pertama dihadiri oleh 22 orang anggota diketuai oleh Mr Assaat serta Menteri PP dan K yaitu S. Pada tahun 1949 diadakan Kongres Pendidikan di Yogyakarta (Djumhur dan Danasuparta. Berbagai pemikiran yang telah dikembangkan dalam kerja paniitia pada tahun 1946 dan berbagai masukan dari kongres dijadikan dasar untuk mengembangkan naskah undangundang pendidikan. Pada tanggal 17 Oktober 1949 rapat pertama membahas kembali naskah undang-undang pokok pendidikan dimulai oleh BP-KNIP. 1974:203) . Pembahasan dalam sidang BP-KNIP dilakukan secara rutin dalam semangat kebangsaan dan kepedulian terhadap pendidikan yang tinggi. sebagaimana halnya kongres yang pertama. Semangat dan harapan bangsa yang besar terhadap pendidikan tidak mengendur dan menyebabkan keinginan membahas dunia pendidikan dalam satu kongres nasional dilaksanakan.   36 . Mangunsarkoro yang menggantikan Mr Ali Sostroamidjojo. Pada tahun 1948 pembahasan naskah dasar pendidikan dan pengajaran sudah hampir selesai tetapi terhalang oleh kondisi bangsa dalam menghadapi agresi militer Belanda. Ini adalah kongres pendidikan kedua yang dilakukan ketika suasana negara masih belum aman. hasilnya dijadikan naskah dasar untuk dibahas dalam rapat BP-KNIP. Pemerintah memasukan naskah yang sudah direvisi berdasarkan masukan-masukan dari anggota BP-KNIP sebelumnya dan kongres. Pada tahun 1948 itu juga panitia telah dapat menyelesaikan tugasnya menyusun rancangan undang-undang pokok pendidikan dan pengajaran. Serangan militer Belanda ke Yogya menyebabkan hasil kerja kongres tidak langsung dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah.kembali dimintakan jasanya untuk memimpin panitia baru ini. Ketika keadaan sudah memungkinkan maka BP-KNIP melanjutkan pembahasan mengenai hasil kerja Panitia Pembentukan Rencana Undang-Undang Pokok Pendidikan dan Pengajaran di Yogyakarta ditambah dengan masukan dari hasil Kongres Pendidikan Yogya.

Diapari. ialah peribudi dan akhlak pada umumnya dan bukan kepintaran” (ejaan disesuaikan dengan EYD. Ketidaksepahaman mengenai pengertian manusia susila. mereka tidak beranggapan bahwa intelektualitas semata menjadi kualitas utama yang harus dimiliki bangsa Indonesia. misalnya. dianggap sangat penting dan demikian pula dengan kualitas sebagai warganegara yang demokratis. dan penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar. status pendidikan agama. sebagian mempertanyakan kejelasan pengertian manusia susila dan sebagian lain menentang. Penekanan tujuan pendidikan pada pembentukan manusia susila.                                                              14  KNIP adalah  lembaga yang dibentuk berdasarkan Pasal IV Aturan Peralihan UUD 1945 sebelum  DPR yang sesungguhnya terbentuk. Berbagai isu yang dianggap penting untuk kemajuan pendidikan dibahas dengan berbagai argumentasi. salah seorang anggota KNIP dari Serikat Sekerja Indonesia mendukung manusia susila menjadi tujuan pendidikan bahkan mengatakan ”bahwa untuk pembangunan negara yang terutama sekali. Selain perdebatan mengenai tujuan untuk menghasilkan manusia yang susila.    37 .Pembahasan yang dilakukan anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) 14 terhadap rancangan yang telah dihasilkan panitia yang dipimpin Ki Hajar sangat kritis. Sekelompok anggota setuju bahwa pendidikan menghasilkan manusia susila.S. demokratis. ketidaksetujuan mengenai kehadiran pendidikan agama dan penggunaan bahasa daerah diperdebatkan dan dipertanyakan oleh beberapa anggota BP KNIP. Dr D. Dalam tujuan yang mereka namakan karaktervorming maka susila. Perhatian terhadap tujuan pendidikan menghasilkan perdebatan yang amat menarik untuk masa itu karena para pemimpin tersebut adalah mereka yang mempunyai latar belakang pendidikan yang jauh di atas rata-rata anggota masyarakat kebanyakan. dan bertanggungjawab terhadap kesejahteraan masyarakat adalah kualitas yang penting untuk dimiliki setiap warganegara. perdebatan yang sengit mengenai Rencana Undang-Undang Pendidikan dan Pengajaran terjadi pula mengenai tujuan pendidikan dan pengajaran menghasilkan warganegara yang demokratis. Meski pun mereka adalah golongan yang dinamakan intelekktual.

anggota dari Buruh tidak setuju dengan tujuan menghasilkan manusia susila karena ketidakjelasan pengertian susila yang dimaksudkan. Hasil pemilihan suara adalah 6 suara setuju tujuan menghasilkan manusia susila dihapus sedangkan 15 suara setuju untuk dipertahankan. 1954). Asarudin menolaknya. sebelum Konperensi Meja Bundar.L. Ketika itu. Ada beberapa orang menyatakan dukungannya dan ada beberapa yang menolak pandangan Kobarsih sehingga Ketua Sidang memberikan kesempatan kepada anggota BP-KNIP lainnya menyatakan pendapat mereka. Sadjarwo.dokumen notulen pembicaraan rapat. Republik Indonesia menjadi salah satu negara bagian di dalam negara yang dinamakan   38 . Pembahasan rencana undang-undang yang dilakukan di Yogya dimulai pada bulan Oktober tahun 1949. menyetujui tujuan pendidikan yang menghasilkan manusia susila tetapi ia mengingatkan bahwa pekerjaan itu bukanlah pekerjaan mudah dan memerlukan biaya besar. tokoh pendidik yang terkenal dengan sekolah Kayu Tanamnya. Untuk menyelesaikan perbedaan pendapat tersebut. Mr Kasman Singodimedjo yang mendukung dicantumkannya kata susila. Ketua Sidang. Latjuba. Tanggapan kemudian diberikan oleh M. Mr Assaat melakukan pemilihan suara pada tanggal 26 Oktober 1949. dan keputusankeputusan kesepakatan BP-KNIP baru dapat diselesaikan pada bulan Desember 1949. Perbedaan pendapat tersebut berlangsung lama dan Kobarsih tetap mempertahankan pendapatnya sehingga tampaknya tidak akan mencapai kata sepakat. dan ditetapkan sebagai undang-undang di Jogjakarta pada tanggal 2 April 1950. Mohd. Oleh karena itu tujuan pendidikan menghasilkan manusia susila menjadi keputusan sidang. Mr Sartono. berdasarkan persetujuan Konperensi Meja Bundar. Kobarsih. Kobarsih beranggapan bahwa pengertian susila bersifat multi makna dan tidak seharusnya menjadi tujuan pendidikan persekolahan. Sjafei. Hal inilah yang menyebabkan Ketua Sidang menanyakan kepada anggota yang hadir apakah ada yang mendukung pendapat Kobarsih yang tidak setuju pendidikan menghasilkan manusia susila. demikian pula dengan Kobarsih tetap menolak pencantuman kata susila.

Pada tanggal 12 Maret tahun 1954. pada tanggal 5 April 1950 serta dinyatakan berlaku untuk seluruh wilayah Republik Indonesia (yang hanya meliputi pulau Sumatera. Diundangkan dalam Lembaran Negara nomor 38 tahun 1954 tanggal 18 Maret 1954 dan ditandatangani Menteri Kehakiman Djody Gondokoesoemo. Oleh karena itu. sebagai Undang-Undang nomor 12 tahun 1954 tentang Pernyataan Berlakunya UndangUndang No. dan Madura).Republik Indonesia Serikat. Setelah disahkan dengan nama Undang-Undang nomor 4 tahun 1950 tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah maka undang-undang itu dimasukkan ke dalam Lembaran Negara dan diundangkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia. 4 Tahun 1950 Dari Republik Indonesia Dahulu Tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran Disekolah Untuk Seluruh Indonesia                                                               Pada waktu Undang‐Undang ini mulai dirancang oleh Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia  Pusat  (BP‐KNIP)  pada  pertengahan  bulan  Oktober  1949. UU pendidikan tahun 1950 itu ditandatangi oleh Presiden Republik Indonesia Soekarno dan Menteri PP dan K Muhammad Yamin di ibukota negara yang sudah kembali ke Jakarta.  Pengajaran  dan  Kebudayaan  pada  waktu  itu  S.  Mr  Assaat  adalah  ketua  BP‐KNIP.  Mangunsarkoro  berdasarkan  ingatan  pada  draft  yang  telah  dibuat  dan  dibahas  setahun  sebelumnya  tetapi  hilang  ketika  terjadi  aksi  meliter  Belanda  15   39 . di ibukota negara RI di Yogyakarta. Pringgodigdo.G.  Rancangan  Undang‐Undang  itu  adalah  draft  baru  yang  diusulkan  oleh  Menteri  Pendidikan. Jawa. Mangunsarkoro. 1950 bertepatan dengan perayaan kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1950. Undang-Undang nomor 4 tahun 1950 yang dihasilkan oleh negara ‘Republik Indonesia Dahulu” dan dinyatakan berlaku untuk wilayah “republik Indonesia Dahulu” dibahas oleh DPR-RI dan disetujui untuk diberlakukan sebagai undang-undang pendidikan bagi seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 27 Januari 1954. A. Dengan bubarnya RIS tidak ada lagi negara bagian yang bernama Republik Indonesia atau pun negara bagian lainnya karena semuanya menjadi satu negara kembali yaitu Republik Indonesia. RIS dibubarkan dan negara Indonesia kembali kepada bentuk negara kesatuan. Pada tahun itu juga. Pengajaran dan Kebudayaan Republik Indonesia S. Undang-Undang ini ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia Mr Assaat 15 dan Menteri Pendidikan.

diberikan pada segala jenis sekolah”. baik lahir maupun bathin 3. mendidik tenaga-tenaga ahli dalam pelbagai lapangan khusus sesuai dengan bakat masing-masing dan kebutuhan masyarakat dan/atau mempersiapkannya bagi pendidikan dan pengajaran tinggi. Pasal 20 menyatakan ”dalam sekolah-sekolah Negeri diadakan pelajaran agama. Ketetapan dalam pasal 7 dalam UU nomor 4 1950 junto UU nomor 12 tahun 1954 menyebutkan : 1. Tertulis pada pasal ini ”pendidikan jasmani yang menuju kepada keselarasan antara tumbuhnya badan dan perkembangan jiwa dan merupakan suatu usaha untuk membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang sehat dan kuat lahir bathin. dan 3 Sekolah Dasar (Sekolah Rakyat). Selain pendidikan jasmani yang secara tegas menjadi mata pelajaran dalam kurikulum di setiap sekolah mata pelajaran lain yang dinyatakan secara tegas adalah pendidikan agama. dan ketangkasannya. Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa pengantar terkecuali di TK dan kelas 1. kecakapannya. Pendidikan dan pengajaran taman kanak-kanak bermaksud menuntun tumbuhnya rokhani dan jasmani kanak-kanak sebelum ia masuk sekolah rendah 2. orang tua murid menetapkan apakah anaknya   40 . dan memberikan dasar-dasar pengetahuannya. 2. 4. Pendidikan dan pengajaran luar biasa bermaksud memberi pendidikan dan pengajaran kepada orang-orang yang dalam keadaan kekurangan baik jasmani maupun rokhaninya supaya mereka dapat memiliki kehidupan lahir bathin yang layak. Pasal 9 secara tegas mencantumkan mengenai pendidikan jasmani.Undang-undang tentang dasar-dasar pendidikan dan kebudayaan menetapkan tentang tujuan lembaga pendidikan. Pendidikan dan pengajaran menengah (umum dan vak) bermaksud melanjutkan dan meluaskan pendidikan dan pengajaran yang diberikan disekolah rendah untuk mengembangkan cita-cita hidup serta membimbing kesanggupan murid sebagai anggota masyarakat. Pendidikan dan pengajaran tinggi bermaksud memberi kesempatan kepada pelajar untuk mendjadi orang yang dapat memberi pimpinan didalam masyarakat dan yang memelihara kemajuan ilmu dan kemajuan hidup kemasyarakatan. 5. TK dan ketiga kelas awal SD boleh menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar. Pendidikan dan pengajaran rendah bermaksud menuntun tumbuhnya rokhani dan jasmani kanak-kanak memberikan kesempatan kepadanya guna mengembangkan bakat dan kesukaannya masing-masing.

Tahun 1947.akan mengikuti pelajaran tersebut”. Dasar pemikiran demokratisasi pendidikan masih tetap diberlakukan dalam kebijakan pendidikan pemerintah sampai saat kini. Pendidikan campuran (co-education) diterima sebagai suatu keharusan untuk sekolah negeri terkecuali sekolah khusus yang menghendaki hanya peserta didik laki-laki atau perempuan saja maka pendidikan campuran tidak dilakukan (separated education). Undang-undang tentang dasar-dasar pendidikan dan pengajaran menetapkan pula mengenai wajib belajar. Meski pun demikian adanya ketetapan ini memperlihatkan semangat demokratisasi pendidikan yaitu pendidikan bagi semua warganegara dan bukan bagi sekelompok orang yang dianggap memiliki keistimewaan untuk mendapatkan pendidikan. sedikitnya 6 tahun lamanya”. EERSTE SCHOOL D merupakan sekolah milik pemerintah Hindia-Belanda untuk orang pribumi pertama yang ada di Batavia. Pengertian wajib belajar dalam pasal ini lebih dekat dengan pengertian “compulsory education” dan bukan kepada pengertian pendidikan minimal (basic education) yang ddigunakan dalam Wajib Belajar 9 Tahun. Pemerintah Republik Indonesia   41 . Foto 3: SMP Negeri 1 Jakarta berdiri pada tahun 1947. Dalam Bab VII Pasal 10 ayat (1) ditetapkan “semua anakanak yang sudah berumur 6 tahun berhak dan yang sudah berumur 8 tahun diwajibkan belajar di sekolah. sedangkan bangunan yang digunakan merupakan bangunan bekas EERSTE SCHOOL D yang dibangun pada tahun 1907.

Bahasa Inggeris kembali diajarkan. Selain ada mata pelajaran sejarah (Indonesia) di SMP dikenal ada mata pelajaran sejarah dunia yang befokus pada sejarah Eropa dan Asia. Mata pelajaran yang terdapat dalam Daftar Pelajaran tersebut tidak jauh berbeda dari SMP pada masa Jepang terkecuali bahasa Jepang tidak lagi diajarkan. Sejarah diajarkan dengan menghilangkan peristiwa yang terkait dengan sejarah bangsa Jepang dan digantikan dengan peristiwa pendudukan Jepang di Indonesia. Bahasa Melayu tidak lagi diajarkan karena Indonesia sudah secara resmi menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi. MATA PELAJARAN DALAM RENCANA PELAJARAN SMP 1947 . Mata pelajaran moral diganti dengan mata pelajaran budi pekerti sedangkan mata pelajaran seperti pekerjaan tangan. menggantikan istilah Rencana Pelajaran sejalan dengan berlakunya Undang-Undang nomor 4 tahun 1950.   42 .mengambil alih gedung tersebut untuk digunakan sebagai Sekolah yang bernama SMP Negeri 1 Djakarta (ejaan pada saat itu). Apa yang terjadi dengan mata pelajaran sejarah terjadi pula dengan mata pelajaran geografi dimana bagian-bagian dari geografi Jepang dihilangkan sedangkan materi pelajaran wilayah geografis Indonesia ditambah dari yang sudah ada pada masa Jepang. olahraga dan kesenian tetap dipertahankan. Sumber: available at http://blog-smpn1. diperbesar dengan berbagai peristiwa sejarah Indonesia yang dinyatakan sebagai peristiwa dalam sejarah nasional. Sebaliknya materi sejarah yang terkait dengan peristiwa sejarah Indonesia dan sudah diajarkan pada Rencana Pelajaran SMP di masa Jepang.blogspot. Menulis indah yang semulanya diarahkan untuk menulis indah huruf kanji digantikan dengan menulis indah huruf latin.com/ B.1950 Daftar Pelajaran adalah istilah yang digunakan untuk kurikulum. Bahasa Melayu yang terkadang pada dokumen lain disebutkan dengan bahasa Indonesia diganti dengan bahasa Indonesia.

Tabel 4. Selain Daftar Pelajaran (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.1: STRUKTUR DAN MATA PELAJARAN RENCANA PELAJARAN SMP 1947-1950 Kelompok Mata Pelajaran I I Bahasa Bahasa Indonesia Bahasa Inggeris Bahasa Daerah Sub Jumlah II Ilmu Pasti Berhitung dan Aljabar Ilmu Ukur Sub Jumlah III Ilmu Alam/Kimia 5 4 2 11 4 4 8 2 2 4 2 Kelas dan JamPelajaran II 5 4 2 11 3 3 6 3 2 5 2 IIIA 6 4 2 12 2 2 2 2 4 3 IIIB 5 4 1 10 4 4 8 2 2 4 3 Pengetahuan Ilmu Hayat Alam Sub Jumlah IV Ilmu Bumi   43 . sejak Kurikulum 1975 filosofi perenialisme lebih banyak digunakan dibandingkan filosofi esensialisme. Sejak kurikulum 1954 terlebihlebih sejak kurikulum 1975. filosofi esensialisme dan perenialisme mendominasi raancangan kurikulum di Indonesia. Untuk SMP.Hakekat kurikulum tetap berorientasi pada aplikasi dan pemanfaatan apa yang sudah dipelajari untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Pandangan filosofi rekonstruksi sosial dan humanisme untuk kurikulum tetap digunakan sampai pada kurikulum tahun 1954 dan kemudian digantikan oleh filosofi kurikulum yang lebih berorientasi pada pengembangan kemampuan intelektual dan kemampuan berpikir rasional (esensialisme dan perenialisme). kurikulum SMP pada masa ini mengenal pembagian jurusan di kelas III yaitu bagian A (sosial-ekonomi) dan bagian B (Ilmu Pasti). 1996:99). Pembagian jurusan di kelas III SMP tersebut berjalan terus sampai tahun 1962 ketika ada pandangan atau ide baru mengenai tujuan pendidikan SMP.

1996:100) Daftar Pelajaran di atas menampilkan karakteristik kurikulum yang berbeda dari kurikulum MULO atau pun Shoto Chu Gakko. dan SMA pada masa itu sudah sejak awal dibedakan dalam jurusan sehingga dikenal adanya SMA-A. Tangan/Ker.Kelompok Mata Pelajaran I Kelas dan JamPelajaran II 2 4 1 1 1 2 2 5 3 IIIA 2 5 2 2 4 1 2 2 5 3 IIIB 2 5 1 2 2 5 3 Pengetahuan Sejarah Sosial Sub Jumlah V Pelajaran Ekonomi VI Pelajaran Ekspresi Hitung Dagang Pengetahuan Dagang Sub Jumlah Seni Suara Menggambar Pek. Pendidikan SMP pada masa kemerdekaan mengenal adanya penjurusan pada kelas terakhir yaitu jurusan A (sosial-ekoonomi) dan B (ilmu Pasti). SMA-B. Pembagian ini memposisikan kurikulum SMP sebagai dasar untuk melanjutkan pelajaran ke SMA. dan SMA-C. Wanita Sub Jumlah VII VIII Pendidikan Jasmani Budi Pekerti (bukan mata pelajaran berdiri sendiri tapi terintegrasi dalam kegiatan semua mata pelajaran dan kegiatan sekolah) 2 4 1 2 2 5 3 IX Agama Jumlah 2 37 2 37 2 37 2 37 Sumber: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Mereka yang lulus dari jurusan A di kelas III SMP boleh melanjutkan pelajaran ke SMA A (Bahasa) atau ke SMA C (ekonomi) sedangkan mereka yang lulus dari jurusan B (Ilmu Pasti) boleh masuk ke SMA B (Ilmu Pasti) dan pada masa kemudian boleh pula melanjutkan ke SMA C. Pada masa tersebut nama jurusan yang sebenarnya merupakan jalur program studi menjadi nama unik sekolah   44 .

Penguatan-penguatan itu dilakukan baik dalam proses interaksi di kelas tetapi juga dalam proses interaksi sesama teman. Materi pelajaran Budi Pekerti bukan hanya sekedar pengetahuan tetapi sarat dengan nilai/moral/sikap yang harus dikembangkan dalam cara berpikir. Konsep pendidikan nilai yang demikian telah diterapkan dalam mata pelajaran Budi Pekerti pada kurikulum SMP di awal masa kemerdekaan. Tentu saja pemisahan SMA yang demikian sudah tidak dikenal pada masa sekarang karena juruan-jurusan yang ada (IPA. harus dikembangkan secara konsisten dan berkelanjutan selama seorang peserta didik belajar di sebuah satuan pendidikan atau jenjang pendidikan. SMA-C). Materi pelajaran yang demikian. sosial) dan nilai/moral/sikap. berkomunikasi. sebagaimana halnya dengan materi ketrampilan. Konten/materi kurikulum terdiri atas pengetahuan. bertindak. IPS.karena satu SMA dibedakan dari SMA lainnya berdasarkan jurusan yang dibinanya (SMA-A. Bahasa) adalah program dalam satu SMA dan penjurusan baru dilakukan di tahun kedua ketika peserta didik naik kelas XI. materi pelajaran dalam ranah nilai/moral/sikap memerlukan penguatan yang terus menerus baik secara sekuensial dari suatu mata pelajaran mau pun penguatan horizontal dari berbagai mata pelajaran. ketrampilan (intelektual. motorik. SMA-B. Konsep kurikulum yang menarik dari Daftar Pelajaran SMP pada masa ini adalah pelajaran Budi Pekerti yang tidak diajarkan sebagai suatu mata pelajaran terpisah tapi diintegrasikan ke dalam semua kegiatan mata pelajaran lain dan kegiatan sekolah. Penjurusan pun sudah dilakukan pada waktu peserta didik mendaftar untuk masuk ke SMA. dengan guru dan pegawai sekolah di lingkungan sekolah (luar kelas). Tidak seperti pengetahuan yang dapat dipelajari dan dikuasai dalam setiap pertemuan kelas. dan melakukan kegiatan sehari-hari seorang peserta didik. Pemahaman mengenai prinsip pendidikan nilai/moral/sikap dan karakteristik materi nilai/moral/sikap tersebut dirancang dan diterapkan dengan baik untuk   45 . Konsep ini menggambarkan pemahaman materi kurikulum yang mendalam dan penerapannya dalam suatu desain kurikulum yang sesuai dengan karakteristik materi kurikulum.

Kondisi yang ada pada masa itu adalah pendidikan agama bukan wajib bagi seluruh peserta didik (Bab XII Pasal 20 undang-undang pendidikan nomor 12 tahun 1954) dan materi pendidikan agama dikembangkan oleh Kementerian Agama. Pada saat sekarang kebijakan tentang pendidikan agama sudah berubah dan pendidikan agama menjadi pendidikan wajib bagi seluuruh peserta didik. materi pelajaran agama yang juga sarat dengan nilai/moral/sikap dikembangkan dengan tidak menggunakan prinsip untuk materi nilai/moral/sikap tersebut sehingga pendidikan agama cenderung menjadi mata pelajaran tentang pengetahuan agama. Kedua hal ini kiranya menjadi penyebab perilaku beragama tidak menjadi materi mata pelajaran lain di luar mata pelajaran agama. perencanaan kurikulum SMP masa kini sudah dapat menerapkan prinsip pengembangan konten kurikulum yang membedakan organisasi konten pengetahuan. kaedah dan ketrampilan dalam menjalan ibadah dikembangkan melalui mata pelajaran agama sedangkan aspek perilaku beragama dikembangkan melalui mata pelajaran agama dan mata pelajaran lainnya. terpisah dari pengembangan materi mata pelajaran lain. nilai dan ketrampilan. Sayangnya. Semestinya.             46 . Materi mata pelajaran agama yang didominasi oleh materi pengetahuan menjadikan pelajaran agama lebih mengutamakan hafalan dan kurang pada pengembangan perilaku beragama.berbagai mata pelajaran dalam Daftar Pelajaran SMP tahun 1950. Kondisi pendidikan agama yang terjadi pada masa awal kemerdekaan masih berlanjut sampai masa kini. Kiranya. prinsip yang sama sebagaimana digunakan untuk pendidikan Budi Pekerti dapat juga diterapkan pada pendidikan agama sehingga materi pelajaran mengenai pengetahuan tentang berbagai ajaran.

Republik Indonesia Serikat terdiri atas Republik Indonesia dan berbagai kerajaan yang ada di Nusantara dan yang dibentuk Belanda. negara Republik Indonesia kembali menjadi negara kesatuan tetapi dasar hukum negara yaitu Undang-Undang Dasar 1945 diganti dengan UndangUndang Dasar 1950. Nomor baru yaitu Nomor 12 tahun 1954 diberikan untuk menyatakan berlakunya Undang-undang nomor 4 tahun 1950 di wilayah seluruh Indonesia setelah melalui proses persetujuan di DPR RI dan ditandatangani oleh Presiden Sukarno pada tanggal 12 Maret 1954. Pada masa pemerintahan parlementer ini. Dalam sistem parlementer. Pemimpin pemerintahan adalah perdana menteri. Negara Republik Indonesia Serikat tidak bertahan lama dan dalam bulan Agustus 1950. Pemerintah Belanda mengakui kedaulatan negara Republik Indonesia dan tidak lagi melakukan agresi militer tetapi Indonesia menjadi negara serikat dengan nama Republik Indonesia Serikat (RIS). Pada masa antara 1954 – 1959 adalah masa di mana bangsa Indonesia mulai menerapkan Undang-undang nomor 20 tahun 1954 tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah yang merupakan pemberlakuan kembali Undang-undang nomor 4 tahun 1950. negara Republik Indonesia Serikat dibubarkan. Presiden adalah kepala negara dengan wewenang pemerintahan yang sangat terbatas. bangsa Indonesia berhasil melaksanakan pemilihan umum pertama yang dianggap sebagai pemilihan umum yang paling demokratis dan bersih. Pada masa ini juga bangsa Indonesia berhasil menyelenggarakan konperensi yang bertarap Internasional yaitu Konperensi Asia Afrika yang sangat besar pengaruhnya terhadap gerakan kemerdekaan di banyak negara di benua Asia dan Afrika. Oleh karena   47 .KURIKULUM SMP PADA MASA PEMERINTAHAN KABINET PARLEMENTER A. Berdasarkan UUD 1950. sistem pemerintahan berubah dari pemerintahan presidensiil ke pemerintahan parlementer. PERKEMBANGAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN Di akhir tahun 1949 terjadi persetujuan antara pemerintah Belanda dengan pemerintah Republik Indonesia dalam pertemuan yang dinamakan Konperensi Meja Bundar (KMB).

Pengajaran. Rencana Pelajaran SMP 1954 diterbitkan dan diundangkan oleh Jawatan Pendidikan Umum.   48 . Ketiadaan lembaga khusus yang memiliki tugas resmi mengembangkan kurikulum. Walau pun dilaksanakan mulai tahun ajaran 1954/1955 karena diundangkan pada tahun 1954 kurikulum ini dikenal dengan nama Rencana Pelajaran 1954. Kebebasan berpikir yang dipayungi oleh kehidupan politik parlementer masa itu menyebabkan para inspektur memiliki kebebasan dalam memikirkan dan merencanakan rencana pelajaran yang baru. Kurikulum SMP 1954 yang dihasilkan pada masa ini yaitu Rencana Pelajaran SMP 1954 dikembangkan dan dihasilkan oleh para inspektur SMP. Kurikulum yang sudah digunakan pada tahun 1947 untuk SMP (Departemen Pendidikan Nasional. Kementerian PP dan K. seperti Pusat Kurikulum (PUSKUR) pada masa kini. dan Kebudayaan (PP dan K) baru memiliki bagian-bagian yang berkenaan dengan pelayanan tetapi belum memiliki bagian yang berkenaan dengan penelitian dan pengembangan. Pengalaman mereka yang panjang dalam dunia pendidikan menjadi dasar kuat dalam wawasan dan kemampuan pengembangan kurikulum. Pada masa antara 1954 – 1959 Kementerian Pendidikan.itu masa antara 1954 – 1959 adalah masa yang penting bagi kehidupan pendidikan di Indonesia dan bagi perkembangan kurikulum. Pada masa itu para inspektur dianggap orang yang paling berpengalaman dalam dunia pendidikan (SMP) dan oleh karenanya dianggap kelompok yang paling mampu untuk mengembangkan rencana pelajaran baru sesuai dengan undang-undang pendidikan yang baru. tidak harus berarti mereka memiliki keterbatasan dalam wawasan teoritik pengembangan kurikulum. 2009) diganti dengan kurikulum baru yang dilaksanakan sejak 1954/1955 tetapi diundangkan secara resmi pada tahun 1954 yaitu setelah dilaksanakan selama 3 tahun. Kelompok pengembang tersebut bebas dari pengarahan dari para atasan termasuk dari menteri PP dan K. sebagai hasil kerja mereka dalam sebuah konperensi yang dilaksanakan di Bandung pada tahun 1953. Oleh karena itu tidak ada lembaga/kantor khusus yang bertugas untuk penelitian dan pengembangan kurikulum (istilah yang digunakan masih Rencana Pelajaran).

Rancangan tersebut memiliki keterbacaan yang tinggi. Buku yang harus digunakan guru sebagai pegangan dalam pembelajaran dan buku yang harus dibaca peserta didik untuk setiap kelas ditetapkan di bagian bawah tabel. Oleh karenanya. Pokok-pokok bahasan setiap mata pelajaran diirinci dalam bentuk suatu tabel yang berisikan kolom mengenai informasi tentang jumlah jam pelajaran dalam satu minggu untuk suatu pokok bahasan. Hal lain yang jelas ialah apa yang telah dirumuskan dalam rencana pelajaran sangat mewakili kualitas pemahaman para pengembang Rencana Pelajaran tentang suatu ide serta tradisi pendidikan yang berlaku saat itu. Keuntungan lain dari rencana pelajaran yang dikembangkan oleh para inspektur adalah kemudahan dalam sosialisasi dan implementasi. Ide tentang pembelajaran setiap mata pelajaran dirumuskan dalam maksud dan tujuan. kesederhanaan dalam pemikiran dan format/model adalah kecenderungan masa itu. Tampaknya. Meski pun demikian. dasar-dasar dan komponen penting yang harus dimiliki sebuah dokumen kurikulum sebagai rencana telah tertuang dalam rumusan yang singkat dan padat. kesederhanaan dalam format dianggap sebagai standar yang baik pula. Keterpautan emosional para inspektur terhadap kelompok yang telah menghasilkan kurikulum tersebut. petunjuk didaktik (cara mengajar) serta pokok bahasan yang terpisah.Kurikulum yang dikembangkan dalam Rencana Pelajaran 1954 dapat dikatakan memang masih terbatas baik dalam dimensi ide mau pun dalam pengembangan rincian komponen serta format/model yang digunakan. Lagipula dapat dikatakan bahwa kesederhanaan mencerminkan nilai yang tinggi dalam sistem nilai budaya bangsa Indonesia pada waktu itu. Apalagi inspektur adalah mereka yang memiliki wewenang formal dan “kekuasaan” untuk memonitor dan membantu kesulitan guru dalam pelaksanaan implementasi rencana pelajaran. pelajaran yang merupakan rincian materi pokok bahasan (pokok/bagian). didukung oleh penggunaan istilah yang umum dan dikenal dengan baik oleh guru. pokok bahasan yang dinamakan pokok/bagian. menyebabkan mereka memiliki dedikasi yang tinggi untuk menjaga keberhasilan pelaksanaan rencana pelajaran yang telah dihasilkan kelompok inspektur menjadi suatu kenyataan di kelas. dan keterangan.   49 .

Dari tujuan yang dirumuskan untuk setiap mata pelajaran dapat dikatakan adanya indikasi yang kuat bahwa filosofi kurikulum yang dianut adalah gabungan antara filosofi experimentalisme-rekonstruksi sosial (Tanner dan Tanner. Dalam Rencana Pelajaran SMP 1954. Pelajaran pengetahuan alam   50 . pelajaran bahasa Indonesia ditujukan untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan menimbulkan keinsyafan peserta didik sebagai bangsa warga bangsa Indonesia. ilmu pasti untuk membentuk jiwa yang kritis serta memupuk kebiasaan bersih. bahasa Inggeris ditujukan untuk mampu menggunakan bahasa tersebut dalam hubungan dengan dunia luar baik secara aktif mau pun pasif.B. teliti. Setiap tujuan yang dirumuskan menekankan pada kegunaan praktis dari materi mata pelajaran bagi peserta didik agar dapat digunakan ketika mereka masuk menjadi anggota masyarakat yang aktif. dan oleh anggota DPR-RI ketika UU nomor 4 tahun 1950 ditelaah kembali dan kemudian diundangkan sebagai UU nomor 12 tahun 1954. yang nota bene adalah generasi pertama pendiri bangsa ini. 1980). tabah. Pendidikan yang hanya berfokus pada pengembangan intelektual atau pun kemampuan berpikir rasional semata ditolak oleh para penentu undang-undang tersebut yaitu anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP). Pemerintah Indonesia menghasilkan kurikulum yang dikenal dengan nama Rencana Pelajaran SMP 1954. FILOSOFI KURIKULUM SMP 1954 Pada masa pemerintahan Kabinet Parlementer. dan tanggungjawab dalam kehidupan sehari-hari dan dalam menyelesaikan pekerjaan. Posisi filosofi gabungan antara experimentalisme-rekonstruksi dan essensialisme adalah sesuatu yang wajar dan mudah dipahami jika diingat bahwa kurikulum SMP 1954 dihasilkan berdasarkan undang-undang pertama pendidikan Indonesia yang sangat kuat dalam pandangan bahwa pendidikan adalah alat untuk mensejahterakan masyarakat. suatu kenyataan yang harus diingat bahwa orientasi praktis tersebut tidak mengabaikan pengembangan aspek intelektualitas peserta didik. Walau pun berorientasi pada pemanfaatan praktis yaitu digunakan dalam kehidupan sehari-hari. ketika merumuskan UU nomor 4 tahun 1950.

sebelum rincian materi ajar (pokok bahasan) suatu mata pelajaran untuk setiap kelas. Kedua kata tersebut menjadi satu istilah teknis yang digunakan kurikulum 1954 dan sebelumnya untuk menggambarkan apa yang dimaksudkan dengan istilah tujuan yang dipakai kurikulum pada masa kini. Sedangkan tujuan pelajaran ekonomi adalah mempersiapkan peserta didik untuk melanjutkan pelajaran dan untuk hidup di masyarakat dengan pengetahuan yang berguna dalam pembangunan ekonomi nasional. dan kemudian rincian bahan ajar untuk setiap kelas. Rencana Pelajaran SMP 1954 tidak mencantumkan tujuan yang akan dicapai oleh kurikulum. Maksud menggambarkan apa yang diinginkan sedangkan tujuan menyatakan apa yang akan dicapai/dimiliki. C.   51 .ditujukan untuk mengenal dan memperhatikan alam di sekitar peserta didik dan menambah pengetahuan mereka tentang gejala-gejala alam serta menggunakan pengetahuan tersebut dalam praktek kehidupan keseharian. Dokumen Rencana Pelajaran SMP 1954 diterbitkan oleh Jawatan Pendidikan Umum Kementerian PP dan K pada tahun 1958. Dokumen kurikulum terdiri dari hanya satu buku yang berisikan struktur mata pelajaran dan dinamakan ikhtisar daftar jam pelajaran diikuti dengan ide/pikiran kurikulum untuk setiap mata pelajaran. bebas dari segala perasaan kebangsaan yang sempit. Rencana Pelajaran atau kurikulum 1954 tersebut disusun berdasarkan Konperensi Inspektur-inspektur SMP tahun 1953 di Bandung. Ide kurikulum belum tampak sebagai kesatuan tetapi sudah ada dalam bentuk pikiran tentang setiap mata pelajaran. Untuk kelompok Pengetahuan Sosial ( mata pelajaran ilmu bumi dan sejarah) tujuannya adalah agar dapat membangun keinsyafan pada peserta didik sebagai warganegara yang demokratis. TUJUAN MATA PELAJARAN Istilah tujuan yang digunakan dalam Rencana Pelajaran 1954 adalah Maksud dan Tujuan. Kurikulum 1954 atau lebih tepatnya dinamakan Rencana Pelajaran SMP yang diimplementasikan pada 1954/1955 untuk kelas I SMP (tahun 1955/1956 untuk kelas II dan tahun 1956/1957 untuk kelas III.

tahun kedua. ilmu pasti.Ide kurikulum (mata pelajaran) berisikan pokok-pokok pikiran tentang tujuan (diistilahkan dengan maksud dan tujuan). agama. dan petunjuk didaktik (istilah yang diwarisi dari bahasa Belanda). ekonomi. dan pokok-pokok materi pelajaran. sosial) atau ke kelas III B (Ilmu Pasti dan Pengetahuan Alam). budi pekerti. Petunjuk didaktik terdiri atas strategi dan proses pencapaian tujuan (bagaimanakah mencapai tujuan). pelajaran ekonomi. Mereka yang memiliki nilai rapor yang memenuhi syarat untuk mata pelajaran kelompok bahasa. Dalam struktur kurikulum ditentukan pula jumlah jam pelajaran untuk tahun pertama. Sedangkan mata pelajaran yang tidak membentuk kelompok dan berdiri sendiri adalah mata pelajaran pendidikan jasmani.Dalam strategi dan proses pencapaian tujuan dikemukakan peran guru. Dalam kurikulum 1954 mata pelajaran dibagi dalam 6 kelompok dan 3 mata pelajaran berdiri sendiri (tidak masuk kelompok). pengetahuan sosial. pelajaran ekspresi. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya. pengetahuan alam. aspek-aspek kemampuan belajar peserta didik yang harus diperhatikan guru. Peserta didik harus mengikuti pelajaran yang sama selama 2 tahun dan pada kenaikan ke kelas 3 ditentukan apakah seseorang naik ke kelas III A (bahasa. Kelompok-kelompok tersebut adalah kelompok bahasa. Kurikulum SMP tahun 1954 memiliki jalur atau jurusan. ekonomi dan sosial akan naik ke kelas III A sedangkan mereka yang memiliki nilai yang memenuhi syarat untuk mata pelajaran kelompok Ilmu Pasti dan Pengetahuan Alam naik ke kelas III B. Mata pelajaran agama bukan mata pelajaran wajib karena Undang-Undang nomor 12 tahun 1954 pasal 20 ayat (1) menyebutkan bahwa pelajaran agama diberikan di sekolah negeri tetapi orang tua memiliki hak menentukan apakah anaknya ikut pelajaran agama atau tidak. dan kegiatan yang harus dilakukan peserta didik (istilah yang digunakan pada waktu itu adalah murid). dan tahun ketiga. Nilai rapor peserta didik dalam mata pelajaran terkait menentukan apakah seseorang naik ke kelas A atau B. dalam dokumen Rencana Pelajaran SMP 1954 tidak merumuskan tujuan kurikuler atau pun tujuan instruksional   52 .

Disamping tujuan mata pelajaran. ilmu hayat. Tampaknya hal tersebut disebabkan karena posisi dan karakter materi pelajaran bahasa Indonesia berbeda dari bahasa Inggeris sebagai bahasa asing. Sedangkan mata pelajaran berhitung. Ketidakajegan dalam merumuskan tujuan tampaknya disebabkan karena masingmasing kelompok dikembangkan oleh kelompok inspektur yang khusus dan   53 . Mata pelajaran lah yang memiki materi pelajaran dan dengan demikian maka mata pelajaran pulalah yang memiliki tujuan. Hakekat pengelompokkan ini adalah adanya kesamaan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain. Pada masa itu pengertian kurikulum sebagai daftar mata pelajaran masih sangat kuat dan oleh karenanya istilah yang dikenal adalah tujuan mata pelajaran. Pengetahuan Alam. Untuk kelompok Pengetahuan Sosial yang terdiri dari mata pelajaran ilmu bumi dan sejarah ada tujuan kelompok dan tujuan masing-masing mata pelajaran. Bahasa Indonesia. dan bahasa daerah yang berlaku hanya untuk daerah tertentu. Rencana pelajaran adalah rencana dari setiap mata pelajaran dan bukan merupakan satu kesatuan rencana yang ditopang oleh berbagai materi yang dikemas dalam mata pelajaran. dan Pengetahuan Sosial. Jadi terdapat ketidakajegan (inkonsistensi) dalam konseptualisasi rencana pelajaran. aljabar. ilmu kimia. Beberapa mata pelajaran dijadikan satu dalam kelompok seperti kelompok Ilmu Pasti.umum. Model (kurikulum) yang berlaku pada masa itu belum mengenal “nomenclature” tujuan rencana pelajaran (tujuan kurikulum) . Rencana Pelajaran SMP 1954 juga memiliki tujuan kelompok mata pelajaran. dan ilmu ukur dalam kelompok ilmu pasti karena memiliki persamaan posisi teoritik keilmuan dan karakter materi pelajaran sehingga ada tujuan kelompok mata pelajaran sedangkan tujuan mata pelajaran disebut dengan istilah tujuan khusus. sebagaimana yang dikenal dalam pengembangan kurikulum (modern). dan bahasa daerah masing-masing mata pelajaran memiliki tujuan dan tidak ada rumusan tujuan untuk kelompok bahasa. Dalam kelompok Pengetahuan Alam ada mata pelajaran ilmu alam. bahasa Inggeris. dan hanya ada tujuan kelompok pengetahuan alam sedangkan tujuan khusus untuk setiap mata pelajaran tidak ada.

Dari dokumen yang diterbitkan oleh Jawatan Pendidikan Umum Kementerian PP dan K. kebudayaan. Meski pun demikian. sesuatu yang disepakati ialah adanya komponen tujuan yang dinamakan maksud dan tujuan. materi pelajaran yang diistilahkan dengan pelajaran dan keterangan dalam suatu bangunan tabel atau matriks.Tujuan khusus pelajaran bahasa Inggeris pada sekolah menengah pertama ialah supaya murid dapat mempergunakan bahasa Inggeris yang sederhana baik pasif mau pun aktif. yang harus dipelihara sebaik-baiknya dan dihargai setinggi-tingginya A. ketelitian.1: Kelompok. B. pengetahuan.Tujuan umum mempelajari bahasa Inggeris ialah memperoleh suatu alat hubungan dengan dunia luar (dalam lapangan politik. maka pentinglah bagi kita untuk menguasai bahasa ini sebaik-baiknya. ekonomi. Mengajar berpikir secara logis. Keseragaman hanya terjadi bahwa mereka (tim inspektur) merumuskan rencana pelajaran dalam aspek kelas. jam per minggu. maksud dan tujuan setiap mata pelajaran dirumuskan sebagai berikut: Tabel 5. Maksud dan Tujuan Rencana Pelajaran SMP 1954 Kelompok Mata Pelajaran dan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Maksud dan Tujuan Bahasa Inggeris A. Memupuk kebiasaan untuk menyelesaikan tiap pekerjaan dengan kebersihan. harus menimbulkan di hati murid2 keinsyafan sebagai warga negara Indonesia yang mempunyai bahasa persatuan dan bahasa resmi yaitu Bahasa Indonesia.masing-masing kelompok inspektur memiliki kebebasan dalam mengembangkan rencana pelajaran untuk kelompoknya. Oleh karena bagian besar di dunia mempergunakan bahasa Inggeris. agar terbentuklah jiwa yang kritis 2. ketabahan hati serta penuh   54 . Bahasa Daerah Kelompok Pasti Ilmu 1.membentuk penguasaan bahasa yang sedemikian hingga murid2 dengan teliti dan lancar dapat mengeluarkan pikiran dan perasaan mereka serta dengan teliti dan lancar pula dapat memahami orang lain B. pokok/bagian mata pelajaran. dan sebagainya).

Menggambar. singkat dan tepat Kelompok 1. Mengajar mempergunakan segala kecakapan dan kebiasaan itu dalam kehidupan sehari-hari ----------------------------------------------------------------------a.memberikan pengertian tentang alat-alat dan sebagainya yang dipergunakan dalam praktek hidup sehari-hari yang kerjanya berdasarkan hukum-hukum alam tersebut.Memelihara dan mempertinggi ketangkasan dan ketelitian terutama mengenai berhitung angka b. Ilmu Ukur rasa tanggung jawab 3.Memberi pengetahuan dasar tentang Ilmu Aljabar dan penggunaannya berhubung dengan Ilmu Ukur. bangsa dan negara Indonesia khususya.umumnya bertujuan mengenal dan memperhatikan alam di Pengetahuan Alam sekitar kita dan menambah pengetahuan dan pengertian tentang gejala-gejala dalam alam.Meletakkan dasar-dasar pengertian dan pokok pengetahuan tentang aljabar agar murid2 dapat mengikuti pelajaran sebaik-baiknya di SLA ------------------------------------------------------------------------a.Belajar menyusun suatu uraian yang logis.pada umumnya untuk menarik perhatian murid-murid akan alam di sekitar kita dan memberi dasar untuk pelajaran pada SLA Kelompok 1. Ilmu Bumi. berdasarkan sifat-sifatnya dan hukum-hukunya yang tertentu 2.Kelompok Mata Pelajaran dan Mata Pelajaran Maksud dan Tujuan 1.Meletakkan dasar-dasar pengertian dan pokok pengetahuan tentang Ilmu Ukur. Ilmu Hayat. 3. Membantu pelajaran Aljabar dan Ilmu Ukur -----------------------------------------------------------------------a.Memberi pengetahuan dasar tentang Ilmu Ukur dan penggunaannya berhubung dengan Ilmu Bumi. Ilmu Hayat.Memberi pengetahuan dasar tentang kebudayaan bangsa   55 .Aljabar 3. dan lain-lain b. dan negara-negara lain umumnya 2.Memberi pengetahuan dan pengertian dasar tentang cara Pengetahuan hidup manusia berhubung dngan keadaan alam Sosial sekelilingnya.Berhitung 2. dan lain-lain b. agar murid2 dapat mengikuti pelajaran sebaik-baiknya di SLA c. perkembangan dan susunan masyarakat.

Kelompok Mata Pelajaran dan Mata Pelajaran Maksud dan Tujuan Ilmu Bumi Sejarah Indonesia dan bangsa lain 3. bebas dari segala kebangsaan yang sempit 4. grafik-grafik) agar dapat memberi manfaat kepadanya dalam kehidupannya sehari-hari ------------------------------------------------------------------------1.Membangun akan keinsyafan kewarganegaraan dalam suatu negara yang demokratis dan membangun keinsyafan nasional.Mempertinggi budi-pekerti murid2 dengan jalan menunjukkan kejadian yang telah terjadi di waktu yang lampau 4. atau dengan kata-kata lain: memberi sekedar pengertian tentang terjadinya masyarakat dan susunannya dewasa ini 2.Memberi pengertian elementer tentang pertumbuhan dan perkembangan di dalam kehidupan manusia pada umumnya dan bangsa sendiri pada khususnya.Memperbesar kecakapan murid-murid untuk mempergunakan alat-alat Ilmu Bumi (peta.Memberi pengetahuan pokok tentang hal yang tersebut di atas dan ketangkasan2 di dalam soal-soal hitung dagang untuk mempersiapkan murid:   56 . angkaangka.Membangkitkan dan memelihara serta memupuk rasa cinta akan bangsa dan tanah air 5. statistik. gambar2.Menarik pelajaran-pelajaran yang berguna dari peristiwaperistiwa luhuran budi dan sifat dari pada orang-orang yang besar yang berjasa dalam sejarah 3.Memberi pengertian tentang perhubungan antara bangsa dengan bangsa yang lain yang menjadi syarat mutlak untuk menuju ke arah pelaksanaan kemakmuran dan kesejahteraan bersama ------------------------------------------------------------------------1.Memberi pengetahuan dan pengertian tentang keadaan geografis indonesia dan negara-negara lain di dunia ini yang menentukan keadaan dan perkembangan cara hidup manusia dalam segala lapangan 2.Memperkenalkan murid-murid dengan gejala-gejala dalam lapangan ekonomi yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari 2.Memahami cara dan susunan pemerintahan di negeri kita dan di samping itu juga di negeri lain Kelompok Pelajaran Ekonomi 1. globe.

Menambah kecakapan berhitung terutama untuk keperluan Perdagangan -----------------------------------------------------------------------Pengetahuan 1. apa yang terjadi dalam dunia ekonomi di sekitar mereka Kelompok Mata 1.memasuki masyarakat di hari kelak dengan pengetahuan yang berguna dalam pembangunan ekonomi nasional -----------------------------------------------------------------------Hitung Dagang 1.Mengembangkan perasaan tentang perbandingan antara benda-benda dan bagian-bagiannya 3.Mengembangkan perasaan dan membangun minat terhadap Seni-Suara (vokal dan instrumental).Melatih murid dalam ketangkasan -----------------------------------------------------------------------Seni Suara a.Memberi pengetahuan dan pengertian pokok tentang halhal yang terdapat dalam dunia ekonomi dan perdagangan. perasaan (emosi) dan jasmani 4.Mendidik dan membimbing murid-murid untuk Pelajaran Ekspresi menyetakan perasaan dan fikiran dengan bebas dan untuk mencipta sesuatu yang sesuai dengan kewajibannya (aktif kreatif) 2.Sedapat mungkin murid harus dapat mempergunakan alat musik atau gamelan ------------------------------------------------------------------------Menggambar 1.Memberi pendidikan yang menjamin keseimbangan antara pendidikan fikiran (intelek). supaya murid dapat mengerti dalam garis besar.Melatih murid dalam ketangkasan   57 .Membangun dan mengembangkan rasa keindahan dan mendidik murid menghargai ciptaan orang lain khusus karena sifat keindahannya 3.Mendidik mengamat-amati alam sekitarnya dengan teliti 2.Kelompok Mata Pelajaran dan Mata Pelajaran Maksud dan Tujuan a.Mempersiapkan murid untuk melanjutkan pelajaran ke Dagang jurusan ekonomi 2.melanjutkan pelajaran ke jurusan ekonomi b. dapat menghargai dan mengikuti ciptaan seni suara b.Memberikan perintang waktu 5.Memberi pengetahuan dasar dan melatih murid menyanyi lagu-lagu sederhana dengan tepat dan suara murni c.Memberi pengetahuan dasar tentang menghitung hal-hal yang terpenting dalam transaksi perdagangan 2. persatuan dan persaudaraan d.Turut menghidupkan perasaan kebangsaan.

Mendidik murid2 menjadi manusia yang berakhlak baik 3.1 di atas terdapat petunjuk yang jelas bahwa apa yang sudah dipelajari peserta didik di sekolah harus berguna bagi kehidupan sehari-hari peserta didik. Membangunkan dan mengembangkan aktivitas dan daya cipta murid2 3. Masalah yang terjadi di masyarakat digunakan sebagai pokok kajian/bahasan.   58 . dan sebagainya) 5.Kelompok Mata Pelajaran dan Mata Pelajaran Maksud dan Tujuan Pekerjaan Tangan 4. Mendidik murid untuk mewujudkan perasaan dan fikiran dalam rupa yang berukuran tiga 2. Ilmu Hayat. Ilmu Alam. Memperkuat rasa tata tertib dan susunan teratur 6. Mendidik murid-murid agar menjadi anggota masyarakat yang bersifat dan berperasaan sosial 2. Sejarah. Mengadakan keseimbangan (harmoni) antara rohani dan jasmani 7. Mendidik murid2 menjadi warganegara yang baik dan Bertanggungjwab Dibuat oleh Kementerian Agama Keterangan: Hasrat = kemauan Keinsyafan = kesadaran Ketangkasan=Ketrampilan Perintang waktu = penggunaan waktu senggang Ilmu Alam = Fisika Ilmu Bumi = Geografi Ilmu Hayat = Biologi Dari setiap rumusan maksud dan tujuan pada kurikulum SMP 1954 yang dikemukakan dalam Tabel 5. Memupuk rasa indah 4. Menghidupkan hasrat kerja praktis 5. Memberikan perintang waktu yang berfaedah bagi murid2 Budi (terjalin dalam semua mata pelajaran dan dalam semua usaha sekolah) Agama Pekerti 1.Mengembangkan perasaan keindahan dan keseimbangan warna dan bentuk -----------------------------------------------------------------------1.menggambar untuk mata pelajaran lain (Ilmu Bumi.

Sedangkan mata pelajaran hanyalah sekedar organisasi materi kurikulum yang karena terlalu luas maka diikat dalam suatu kesatuan organisasi yang dinamakan mata pelajaran. untuk mempersiapkan peserta didik bagi kehidupannya sebagai anggota masyarakat/bangsa dan sebagai dirinya. Oleh karena itu. dan fisika. selain mencerminkan pemahaman yang mendalam dari para pengembang Rencana Pelajaran SMP 1954 tetapi juga mencerminkan konsep kurikulum modern. Pemahaman yang mendalam mengenai karaktersitik materi nilai ditunjukkan oleh pernyataan mengenai budi pekerti dimana disebutkan pendidikan budi pekerti “terjalin dalam semua mata pelajaran dan dalam semua usaha sekolah”. secara hakiki setiap mata pelajaran adalah bagian integral kurikulum dan bersifat saling menunjang antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. Konsep keterkaitan ketrampilan yang dikembangkan oleh satu mata pelajaran dan terkait dengan mata pelajaran lain memberikan petunjuk bahwa para pengembang rencana pelajaran tersebut memahami secara mendalam karakteristik materi kurikulum/pelajaran yang dinamakan ketrampilan. Jadi walau pun istilah yang digunakan adalah Rencana Pelajaran tetapi pengertian kurikulum yang digunakan adalah pengertian modern kurikulum. misalnya. Dari apa yang tersurat pada maksud dan tujuan. Sementara penguasaan pengetahuan yang bersifat berbeda dari materi ketrampilan dan nilai tidak dijalin dengan mata pelajaran lain karena memang sifat dari pengetahuan yang spesifik dan sulit digunakan untuk mempelajari materi pengetahuan mata pelajaran lain yang juga bersifat spesifik. Organisasi konten kurikulum dalam kemasan mata-mata pelajaran itu menyebabkan proses pembelajaran menjadi terkendali (manageable) dan terencana dengan baik.Pemanfaatan suatu ketrampilan untuk mata pelajaran lain dinyatakan secara eksplisit. Indikasi yang ditunjukkan oleh maksud dan tujuan pada Rencana Pelajaran tersebut mencerminkan pengertian kurikulum bukan lagi sekedar daftar mata pelajaran. kurikulum adalah suatu rancangan pendidikan yang dikembangkan dalam bentuk rencana.   59 . Ketrampilan dalam ilmu ukur. biologi. digunakan untuk menggambar. sejarah. geografi dan biologi sedangkan kemampuan menggambar digunakan untuk geografi. dilaksanakan dalam berbagai proses interaksi. Dalam pengertian modern.

Prinsip yang digunakan dalam rumusan tujuan dan maksud pada tabel 5. prinsip. berkomunikasi. Format lain yang dapat digunakan adalah merumuskan keterkaitan itu dalam elemen pengorganisasian (organizing element) seperti konsep. cara-cara.Perlu dikemukakan bahwa dalam setiap mata pelajaran terdapat materi kurikulum yang sifatnya spesifik untuk suatu mata pelajaran dan materi kurikulum yang sifatnya umum dan untuk semua mata pelajaran. Pendekatan yang digunakan untuk menyatakan keterkaitan itu dapat dilakukan dengan berbagai cara. D. Berbagai ketrampilan dan nilai diterapkan pada berbagai mata pelajaran sedangkan pengetahuan yang spesifik mata pelajaran menjadi materi kajian untuk mata pelajaran terkait. STRUKTUR RENCANA PELAJARAN DAN MATA PELAJARAN Struktur dan mata pelajaran yang terdapat dalam Rencana Pelajaran SMP tahun 1954 tercantum pada tabel berikut: Tabel 5. strukture. kategori atau klasifikasi. pendapat. prosedur. serta kebiasaan (Airasian. tema. teori. cara kerja. ketrampilan dan nilai. istilah. dan menggunakan sesuatu. Materi kurikulum yang bersifat spesifik adalah pengetahuan. menerapkan ketrampilan. 2001).2: Ikhtisar Daftar Jam Pelajaran Rencana Pelajaran SMP Tahun 1954   60 . Pendekatan yang dilakukan oleh Rencana Pelajaran SMP 1954 menempatkan keterkaitan antar mata pelajaran dalam rumusan maksud dan tujuan. generalisasi. atau lainnya.Materi kurikulum yang bersifat umum dan menjadi milik semua mata pelajaran berkenaan dengan kemampuan berpikir. model.1 di atas jelas memperlihatkan penerapan kedua kelompok materi kurikulum yang dikemukakan sebelumnya dengan baik. Pengetahuan terdiri atas pengetahuan tentang fakta. nilai dan sikap.

Kelompok Mata Pelajaran I Kelas dan JamPelajaran II 5 4 2 11 3 3 6 4 2 6 2 2 4 1 1 1 2 2 5 3 IIIA 6 5 2 13 2 2 2 2 4 3 3 6 2 2 4 1 2 2 5 3 IIIB 5 4 1 10 4 4 8 5 2 7 2 2 4 1 2 2 5 3 I Bahasa Bahasa Indonesia Bahasa Inggeris Bahasa Daerah Sub Jumlah 5 5 2 12 4 3 7 2 2 4 2 2 4 1 2 2 5 3 II Ilmu Pasti Berhitung dan Aljabar Ilmu Ukur Sub Jumlah III Pengetahuan Alam IV Pengetahuan Sosial V Pelajaran Ekonomi VI Pelajaran Ekspresi Ilmu Alam/Kimia Ilmu Hayat Sub Jumlah Ilmu Bumi Sejarah Sub Jumlah Hitung Dagang Pengetahuan Dagang Sub Jumlah Seni Suara Menggambar Pek. Tangan/Ker. Alokasi waktu untuk bahasa Indonesia dan bahasa Inggeris bahkan lebih tinggi dari mata pelajaran lainnya. Wanita Sub Jumlah VII VIII Pendidikan Jasmani Budi Pekerti (bukan mata pelajaran berdiri sendiri tapi terintegrasi dalam kegiatan semua mata pelajaran dan kegiatan sekolah) Agama Jumlah IX 2 37 2 37 2 39 2 39 Rencana pelajaran SMP 1954 menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa mendapatkan alokasi waktu yang paling banyak (46 jam). lebih dari dua kali dari kelompok   61 . Ekspresi (20 jam) dan Pengetahuan Sosial (18 jam). Ilmu Alam (21 jam). diikuti oleh kelompok Ilmu Pasti (23 jam).

Bahasa Inggeris digunakan untuk memberi kesempatan kepada peserta didik berkomunikasi dengan bangsa lain. Kelompok mata pelajaran ilmu pasti. ekspresi. Berdasarkan prinsip pendidikan yang dikemukakan Ki Hajar Dewantara (1977) maka pendidikan harus berakar pada budaya dan agama. budaya dan nilai) menjadi nama mata pelajaran menggntikn nama bahasa daerah. Artinya. secara tradisional berkenaan dengan pengembangan kemampuan intelektual walau pun   62 . Alokasi waktu tersebut dapat dimaknai sebagai prioritas yang diberikan terhadap pendidikan bahasa terutama bahasa Indonesia dan bahasa Inggeris. rasa indah serta membangun keseimbangan antara ketiganya dengan kemampuan intelektual. Mata pelajaran bahasa daerah memang tidak berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia tetapi bahasa daerah adalah wahana bagi peserta didik untuk mengenal dirinya dan masyarakat terdekat lebih baik. Oleh karena itu kelompok ekspresi mendapat alokasi waktu yang cukup. Suatu yang mengundang pertanyaan adalah posisi bahasa daerah. kecerdasan emosional. Posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional amat penting dalam mengembangkan jati diri bangsa peserta didik dan oleh karenanya mereka harus memiliki kesempatan yang luas dalam menguasai bahasa persatuan tersebut.lainnya. dan pengetahuan sosial diberikan alokasi waktu yang berimbang. kessimbangan antara perkembangan jasmani dan rokhani. Perbedaan antara satu dengan lainnya dalam keempat kelompok tersebut tidak terlalu mencolok jika dibandingkan dengan perbedaan keempatnya dengan kelompok mata pelajaran bahasa. memberi kesempatan bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan vokasional dan menggunakan waktu dengan kegiatan yang berguna. Memang jika prinsip pendidikan yang dikemukakan Ki Hajar Dewantara ingin diterapkan maka pelajaran kebudayaan daerah yang didalamnya terdapat bahasa daerah. peserta didik seharusnya mendapatkan keleluasaan belajar bahasa daerah lebih besar dari alokasi waktu yang tercantum dalam struktur kurikulum SMP 1954.. pengetahuan alam. Ketiga kelompok lainnya. Posisi kelompok ekspresi memang menarik karena kelompok ini diharapkan dapat mengembangkan kreativitas.

Di kelas III dikenal ada jurusan A (sosial-ekonomi) dan B (Ilmu Pasti). Untuk jurusan A (Sosialekonomi) ada penambahan mata mata pelajaran Pengetahuan Dagang sedangkan pada jurusan B (Ilmu Pasti) ada penambahan mata pelajaran Ilmu Kimia yang di kelas I dan II dimasukkan dalam pelajaran Pengetahuan Alam tetapi di kelas III B ilmu Kimia diajarkan sebagai mata pelajaran berdiri sendiri. Berdasarkan pandangan tersebut pula maka untuk setiap jurusan diberikan tambahan mata pelajaran baru yang dianggap perlu untuk memperkuat kemampuan peserta didik di masing-masing jurusan. Demikian pula pelajaran sejarah untuk jurusan A ditambah dari 2 menjadi 3 jam. pendidikan SMP di kelas I dan II adalah pendidikan dasar tingkat menengah pertama kemudian dilanjutkan di kelas III dengan pendidikan spesialisasi yang dinamakan jurusan. sama seperti Rencana Pelajaran sebelumnya. pendidikan spesialisasi dipandang sebagai pendidikan yang memerlukan pendalaman tertentu yang terkait dengan jurusan tersebut.pandangan itu tidak lagi dianut secara ketat oleh para pengembang kurikulum SMP 1954. Perbedaan yang mendasar terutama dalam pemberian makna terhadap pendidikan jurusan dan konsekuensinya dalam beban belajar jurusan. Sebagaimana sebelumnya. Pandangan mengenai   63 . KOMPONEN RENCANA PELAJARAN SMP 1954 Struktur Rencana Pelajaran SMP 1954 mirip dengan Rencana Pelajaran 1950. Sementara itu untuk jurusan B dirasakan perlu penambahan jam pelajaran untuk bidang terkait dengan jurusan B (Pasti-Alam) yaitu Ilmu Alam/Kimia ditambah dari 2 menjadi 5 jam sedangkan materi ilmu bumi dianggap tidak perlu terlalu banyak sehingga dikurangi dari 3 menjadi 2 jam. Perubahan dalam ide kurikulum sangat sedikit. Tampaknya bagi para pengembang kurikulum. Dalam pandangan tersebut untuk jurusan A diperlukan penguasaan bahasa Inggeris yang lebih baik sehingga jam pelajaran bahasa Inggeris untuk jurusan A ditambah dari 4 menjadi 5 jam. Konsekuensi dari pandangan yang berbeda tentang pendidikan jurusan menyebabkan beban belajar untuk kelas III lebih besar dibandingkan dari pendidikan dasar di kelas I dan II SMP. E.

hari Kamis dan Sabtu 6 jam pelajaran. Dalam petunjuk tersebut dikemukakan apa yang diharapkan dilakukan oleh para peserta didik dan bagaimana guru harus berbuat sehingga perilaku yang diharapkan dari peserta didik tadi dapat diwujudkan. Untuk itu guru harus memimpin prose belajar di kelas dengan: a. Latihan ini hendaklah berisi pula latihan percaya akan diri sendiri dan berani mengucapkan sesuatu sehingga tumbuh suatu peribadi yang bebas dan tahu harga diri c.P dan K. Isi daripada yang diucapkan itu hendaklah tersusun secara logis sehingga ucapan itu menjadi teliti dan jelas. Memberikan kesempatan kepada murid untuk berlatih mengeluarkan pikiran dan perasaan secara lisan b. menilpon dan sebagainya”. Hal yang dijadikan pokok pembicaraan dapat diambil dari lapangan kehidupan masyarakat. bercerita. Dalam Rencana Pelajaran SMP 1954 ditetapkan jam belajar sebagai berikut: jumlah jam belajar satu minggu untuk untuk kelas I dan II adalah 37 jam pelajaran terdiri atas hari Senin – Rabu diberikan 7 jam pelajaran. ialah bercakap-cakap. masing-masing 15 menit kecuali pada hari Jum’at hanya disediakan satu kali jam istirahat. menguraikan sesuatu. Setiap hari disediakan 2 kali jam istirahat. Rencana Pelajaran SMP 1954 menyediakan petunjuk pelaksanaan pembelajaran setiap kelompok mata pelajaran dan mata pelajaran.perlunya kajian yang lebih mendalam untuk beberapa mata pelajaran dan perlu adanya mata pelajaran baru menyebabkan jumlah jam belajar di kelas III menjadi lebih besar dibandingkan di kelas I dan II. Sedangkan jumlah jam belajar untuk kelas III adalah 39 jam terdiri atas 7 jam pelajaran untuk hari Senin – Kamis dan Sabtu sedangkan untuk hari Jum’at tetap 4 jam pelajaran. berpidato. Syarat yang harus dipenuhi ialah bahwa murid tahu betul-betul seluk-beluknya. 1954:6)   64 . Misalkan untuk kelompok bahasa maka peserta didik diharapkan dapat “mengeluarkan pikiran dan perasaan secara lisan. Lancar atau tidak keluarnya ucapan itu tergantung pada latihan yang cukup e. Bentuk ucapan itu (susunan kalimat dan pemakaian kata-kata) seperti yang lazim dalam Bahasa Indonesia d. sehingga murid biasa mengucapkan pikiran dan perasaan secara teliti dan lancar (Djawatan Pendidikan Umum Kementerian P. bersoal-jawab. sedangkan hari Jum’at hanya diberikan 4 jam pelajaran. dan dinamakan Petunjuk Didaktik.

Dalam pelajaran bahasa Inggeris ada 9 petunjuk didaktik yaitu “intonation”. Isi karangan hendaklah logis dan tersusun baik sehingga terang segala yang dimakud untuk membaca. membuat ikhtisar. dan berdasarkan kepercayaan diri yang dimilikinya   yang  bersangkutan  menata  pikirannya  dalam    struktur  kalimat  yang  sesuai  dengan  kaedah  bahasa  terkait. Secara teliti dan lekas menuliskan buah pikiran. yang terdiri dari membuat ceritera pendek. Setiap orang yang mau  mengungkapkan pikirannya dalam bahasa asing  harus diawali dengan kepercayaan diri. penggunaan gambar. dan sebagainya”.  Dengan  kepercayaan  diri  itu  pula  yang  bersangkutan  memiliki  “keberanian”  untuk  mengucapkan kalimat  yang  ada  pada  pikirannya. cerita pendek. “pronounciation”.  Oleh  karena  itu  membangun  kepercayaan diri  peserta  didik  untuk  mampu  berbahasa  Inggeris  adalah  petunjuk  didaktik  yang  sangat  fundamental. a. Jelas 9 petunjuk tersebut menekankan pada pemanfaatan bahasa dan kemampuan berbahasa keseharian. membuat surat. Berikan murid2 kesempatan yang cukup untuk berlatih b. membuat laporan sesuatu kejadian. menyusun iklan.Petunjuk didaktik untuk ketrampilan berbahasa tulis dikemukakan adalah sebagai berikut: “mengeluarkan pikiran dan perasaan secara tulisan ialah pada hakekatnya mengarang. Pakailah kalimat yag sederhana c. perbendaharaan kata yang terkait dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Orientasi kurikulum pada kehidupan keseharian dan pemanfaatan apa yang sudah dipelajari terungkapkan dengan jelas dalam petunjuk didaktik setiap kelompok/ mata pelajaran. dan perlu diberlakukan bagi setiap orang yang belajar bahasa di luar bahasa ibunya. Banyak peserta didik yang sudah merasa tidak mampu ketika diminta membaca atau berbicara dalam                                                                Kepercayaan  diri  dalam  berbahasa  asing  adalah  modal  dasar  untuk  mampu  berkomunikasi  dalam bahasa tersebut. terjemahan dilakukan dari bahasa Inggeris ke bahasa Indonesia. baru dapat setelah melewati latihan yang banyak. Dalam pelajaran bahasa Indonesia kegiatan belajar membuat surat. kepercayaan diri peserta didik 16 . menyusun tilgram. dan pengenalan budaya. kata digunakaan dalam konteks dan demikian juga tes. Lagipula kepercayaan peserta didik bahwa mereka mampu berbahasa Inggeris menjadi suatu dasar didaktik yang sangat kuat dan masih perlu dikembangkan pada masa kini. Bentuknya harus menurut jalan Bahasa Indonesia dan tertulis dalam ejaan yang teratur. menyusun iklan dan menyusun telegram (pada masa itu telegram adalah komunikasi tertulis tercepat) menunjukkan orientasi kurikulum terhadap kehidupan keseharian.  16   65 .

Tidak seperti mata pelajaran kelompok bahasa. Tampaknya istilah “hubungan yang erat” sama maksdunya dengan “correlated curriculum content”. Petunjuk Ilmu Bumi yang pertama berkenaan dengan keeterkaitan antara Ilmu Bumi dan Sejarah dimana dikatakan “ilmu sejarah mempelajari riwayat hidup manusia. Dalam petunjuk didaktik mengenai Aljabar dikemukakan 4 pedoman.bahasa Inggeris dan tentu saja sikap yang demikian penjadi penghambat dalam belajar bahasa dan belajar mata pelajaran mana pun. menimbulkan minat terutama untuk pengamatan dan penyelidikan sendiri”. Hendaklah dipilih soal-soal yang mengenai kehidupan sehari-hari dengan tidak terlalu hipotetis”. Dalam kelompok Pengetahuan Sosial terdapat petunjuk didaktik yang terpisah untuk mata pelajaran Ilmu Bumi dan Sejarah. ilmu Bumi mempelajari keadaan manusia pada suatu waktu. hal40). Tidak ada pernyataan eksplisit tentang hal tersebut dan mungkin hal ini disebabkan karena dalam makksud dan tujuan sudah dinyatakan   66 . Sedangkan dalam petunjuk didaktik keempat (d) dikemukakan “hendaknya ada hubungan yang rapat antara aljabar dengan matapelajaran2 lainnya (umpamanya membaca grafik dalam aljabar merupakan suatu soal yang penting. Petunjuk didaktik kedua menyebutkan “bahan pelajaran disusun sedemikian rupa sehingga murid-murid mengetahui penggunaannya dalam prraktek hidup seharihari”. ilmu pasti dan ilmu alam yang menyatakan secara keterkaitan dan pemanfaatan mata pelajaran dalam kehidupan sehari-hari peserta didik secara eksplisit. karena besar hubungannya dengan matapelajaran2 lainnya). Ilmu Bumi memiliki petunjuk sebanyak 4 buah sedangkan sejarah memiliki petunjuk sebanyak 13 buah. Tujuh petunjuk berkenaan dengan cara belajar akkti dimana peserta didik belajar menemukan dalam suasana “mmenarik perhatian. Oleh karena itu kedua mata pelajaran ini harus diajarkan dalam hubungan yang erat”. Orientasi pada kehidupan keseharian juga jelas terungkap pada petunjuk didaktik kelompok Pengetahuan Alam yang mengemukakan 8 petunjuk. tidak demikian halnya dengan petunjuk didaktik ilmu bumi. Pedoman nomor 3 menyebutkan “taraf terakhir dalam pelajaran aljabar adalah pemecahan persamaan2 tersamar. (Dokumen Rencana Pelajaran SMP.

Dalam kolom keterangan terdapat informasi mengenai buku yang digunakan untuk pokok/bagian dan pelajaran tertentu. pelajaran dan keterangan. Pernyataan ini tampaknya sudah cukup mewakili orientasi pelajaraan sosial kepada kehidupan keseharian. pokok/bagian dari pelajaran.   67 . Oleh karena itu pendekatan rekonstruksi yang selalu mengkaitkan pendidikan dengan masalah sosial dan kehidupan peserta didik di masyarakat sangat kental digunakan dalam kurikulum SMP 1954. bebas dari segala perasaan kebangsaan yang sempit”. Dalam petunjuk didaktik nomor 2 disebutkan “harus diinsyafi oleh murid2 bahwa nasib dan kebahagiaan tanah air dan bangsa kita bergantung kepada sifat-sifat dan cita2 mereka (pelaku sejarah. pen. dan pada petunjuk didaktik nomor 5 dikatakan “sejarah bukan rentetan fakta-fakta belaka. 1984 dan 1994.bahwa kelompok Pengetahuan Sosial “membangun akan keinsyafan kewarganegaraan dalam suatu negara yang demokratis dan membangun keinsyafan nasional. dengan kata-kata lain: kita bertanggung jawab dan ikut serta dalam pembentukan masyaraat dikemudian hari”. Walau pun berbeda dan terutama ketiadaan kolom evaluasi atau asesmen hasil belajar pada dasarnya format ini mirip dengan format Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) yaang digunakan kurikulum 1975. diikuti dengan tabel atau matriks yang berisikan kolom kelas. jumlah jam pelajaran per minggu. Dalam petunjuk didaktik mata pelajaran sejarah terdapat pernyataan yang menunjukkan perlunya keterkaitan mata pelajaran sejarah dengan kehidupan sehari-hari. tetapi harus diinsyafi sebab-musabab dan akibatnya bagi masyarakat”.). Setiap kelompok mata pelajaran atau mata pelajaran memiliki tujuan dan petunjuk didaktik.

dan Kepribadian Indonesia). Selanjutnya dikatakan bahwa “para pendidik harus sanggup menjadi pelopor dari perubahan jiwa dan sikap bangsa”.KURIKULUM SMP PADA MASA PEMERINTAHAN ORDE LAMA (1959 – 1965) A. Demokrasi Terpimpin. Dengan Manipol Usdek maka semua aspek kehidupan sosial.P. Bersamaan dengan kembali ke UUD 1945 Presiden Soekarno memperkenalkan konsep kehidupan bangsa yang baru yaitu Manipol Usdek (Manipol = Manifesto Politik . USDEK = Undang-Undang Dasar 1945.   68 . maka sudah sewajarnyalah. Ekonomi Terpimpin. yang saya namakan SAPTA USAHA TAMA. dan K. Sosialisme Indonesia. Dalam konsideran instruksi Sapta Usaha Tama disebutkan “sesudah Presiden/Panglima Tertinggi pada tanggal 5 Juli 1959 mendekritkan. bahwa bangsa Indonesia kembali kepada Undang-undang Dasar ’45. dan dalam masyarakat. dan kebudayaan haruslah disesuaikan dengan konsep baru itu termasuk pendidikan. Pengajaran dan Kebudayaan. PERKEMBANGAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN Pada tahun 1959 Indonesia mengalami perubahan politik yang sangat mendasar ketika UUD tahun 1950 dinyatakan tidak lagi berlaku dan Indonesia kembali menggunakan UUD 1945. bahwa kaum pendidik dan para pelajarnya wajib memiliki kembali semangat dan jiwa proklamasi untuk dapat memberi contoh kepada seluruh masyarakat” (Sastradinata. Kemudian ditetapkan “untuk menjelmakan maksud di atas saya umumkan tindakan-tindakan jangka pendek yang segera harus dikerjakan dalam lingkungan Kementerian P. ekonomi. Hasan. Menanggapi perubahan politik yang terjadi maka Menteri Muda Pendidikan. 1993:200). penertiban aparatur dan usaha-usaha Kementerian P. politik. Sjamsuddin.P. sebagai berikut: 1. Dr Prijono (Priyono) mengeluarkan instruksi pada tanggal 17 Agustus 1959 yang terkenal dengan nama Sapta Usaha Tama (Tujuh Usaha Utama). dan K. Proses pengembalian penggunaan UUD 1945 tersebut dinyatakan dalam dekrit Presiden Soekarno pada tahun 1959.

  Dr  Prijono  adalah  Menteri  Pendidikan  Dasar  dan  Kebudayaan  sedangkan  Prof. Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan 17 Dr Prijono mengeluarkan instruksi baru yang dinamakan yaitu Instruksi Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan nomor 2 yang dikenal dengan nama Panca Wardhana (Pantja Wardhana) pada tanggal 17 Agustus 1961. Sjamsuddin.  Thajib  Hadiwidjaja  adalah  Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan. sebagai asas pendidikan nasional (2) Menetapkan Pantja Wardhana sebagai sistem pendidikan yang berisikan prinsip-prinsip:                                                              17   Pada  waktu    itu  terdapat  2  kementerian  yaitu    Kementerian  Pendididkan  Dasar  dan  Kebudayaan  dan  Kementerian  Perguruan  Tinggi  dan  Ilmu  Pengetahuan. mengharuskan “usaha halaman”. Dua tahun setelah itu terjadi perubahan kabinet dan Dr Prijono menjadi Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan. 6. 1993:200-201) Sapta Usaha Tama adalah program jangka pendek Menteri. Pengajaran dan Kebudayaan menjadi Kementerian Pendidikan Dasar dan Kebudayaan dengan Prof Dr Prijono sebagai menterinya. Panca Wardhana adalah tindak lanjut dari instruksi Sapta Usaha Tama. 4 dan 5 untuk SD dan SMP sedangkan SMA dan universitas ditambah dengan Usaha Tama nomor tujuh. Dalam instruksi tentang Panca Wardhana tahun 1961 tersebut. Sekolah sudah harus menerapkan kegiatan nomor 2. 4. mengadakan “Klas masyarakat” 7. Selanjutnya. mewajibkan usaha-usaha koperasi. Hasan. 5. Kementerian Pendidikan. menggiatkan kesenian dan olah raga 3. 3.Dr. Dalam Kabinet Kerja III.2.  Ir. membentuk “Regu Kerja” di kalangan SLA dan universitas (Sastradinata. mengharuskan penabungan. Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan (PDK) menegaskan: (1) Pantjasila dengan Manipol sebagai pelengkapnja.    69 .

e instruksi tersebut merupakan inti ketetapan yang sarat dengan pemikiran pendidikan. perkembangan djasmani. dan 2. d. b. dan karsa yang dianjurkan Ki Hajar Dewantara. ketaqwaan.d. perkembangan ketjerdasan. 2. ketrampilan.b.c.a.   70 . budaya. sikap dan nilai-nilai yang diperoleh peserta didik dari kegiatan seni. perkembangan keprigelan atau keradjinan tangan. e. dan kesegaran jasmani) menjadi kepedulian pendidikan. rasa. c. 2. Sedangkan ketetapan dalam titik 3 memberikan kesempatan yang luas kepada peserta didik untuk mengembangkan minat mereka dalam seni. peraturan. Berbagai potensi peserta didik (kecerdasan. (3) Menjelenggarakan ”hari Krida” atau hari untuk kegiatan-kegiatan dalam lapangan kebudayaan. dan cara main. emosional. moral nasional/internasional/ keagamaan. olahraga dan permainan pada tiap-tiap hari Sabtu.a. perkembangan tjinta bangsa dan tanah-air. kesenian. budaya dan permainan (sebagai produk budaya) akan berpengaruh terhadap kegiatan belajar mereka di kelas dan sekolah. dan berbagai permainan tetapi juga memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menerapkan berbagai ketrampilan dan sikap yang diperoleh di kelas. Sebaliknya. Antara kedua wilayah tersebut terjadi kesinambungan yang saling memperkuat yang memperkuat pengembangan sikap dan nilai serta ketrampilan seni dan pengetahuan tentang nama. 2. bersesuaian pula dengan konsep cipta. perkembangan emosil-artistik atau rasa keharuan dan keindahan lahirbatin. Terlepas dari suasana dan pengaruh politik yang melahirkan instruksi Pantja Wardhana tersebut tetapi apa yang dinyatakan dalam ketetapan titik 2. Cinta tanah air dan bangsa pada generasi baru bangsa dan yang nantinya menjadi warganegara sudah seharusnya menjadi tugas pendidikan yang sama dengan tugas mengembangkan potensi peserta didik dalam ranah lainnya.

Pertemuan terakhir di Tugu dianggap menghasilkan naskah final kurikulum baru (1962) untuk SMP dan wajib dilaksanakan di seluuruh Indonesia mulai tanggal 1 Agustus 1962.B. saran dari para pengawas SMP. 1964) Selain perubahan politik. Pada tanggal 7 – 13 Juli 1963 dilakukan Rapat Kerja Pengawas SMP seluruh Indonesia di Tawangmangu. dan saran dari berbagai urusan di lingkungan Jawatan Pendidikan Umum. 1964). Pertemuan para pengawas SMP seluruh Indonesia tersebut dilakukan di Yogya (19 Oktober 1961). Rapat kerja Tawangmangu membahas Rencana Pelajaran baru SMP dan pelaksanaannya di seluruh Indonesia selama tahun ajaran 1962/1963. RENCANA PELAJARAN SMP GAYA BARU Sejalan dengan perubahan politik dan kebijakan pendidikan yang telah dikemukakan di atas maka terjadi perubahan kurikulum SMP (juga kurikulum SD dan SMA). Selain membahas laporan pelaksanaan kurikulum SMP yang dihasilkan di Tugu pada tahun 1962. Kurikulum SMP tahun 1962 dihasilkan oleh Rapat Kerja Para Pengawas SMP seluruh Indonesia di Tugu dari tanggal 3 – 10 Juli 1962 (Dokumen Rentjana Pelajaran SMP Gaya Baru. Rapat Kerja Para Pengawas SMP di Tawangmangu masukan dari Pembantu Menteri bidang Pendidikan. gagasan dari Urusan Pendidikan Menengah Umum Tingkat Pertama. Tentu tidak dapat disangkal bahwa perubahan politik memberikan pengaruh terhadap pandangan pendidikan yang harus   71 . Direktorium Jawatan Pendidikan Umum. Pada bulan Agustus 1962 pemerintah menetapkan kurikulum baru untuk SMP menggantikan kurikulum SMP 1954. Zainuddin. Kata Pengantar Dokumen Rencana Pelajaran SMP Gaya Baru ditandatangani oleh Kepala Urusan Pendidikan Menengah Umum Tingkat Pertama. di Jakarta pada tanggal 13 Juli 1963 (Dokumen Rentjana Pelajaran SMP Gaya Baru. perubahan dalam pandangan mengenai fungsi pendidikan yang dilaksanakan suatu sekolah pada jenjang tertentu turut menentukan perubahan kurikulum. Rapat Kerja para pengawas SMP seluruh Indonesia di Tawangmangu tersebut menghasilkan dokumen Rencana Pelajaran SMP Gaya Baru. pertemuan ketiga di Yogya (15 -25 Januari 1962) dan pertemuan keempat di Tugu (3 – 10 Juli 1962). pertemuan kedua di Tugu (21 Nopember – 4 Desember 1961).

dan sebagainya). adanya jurusan tersebut tidak memberikan nilai apa pun bagi peserta didik baik dari segi keilmuan mau pun dari pemanfaatan di masyarakat. Lagipula. Tamatan SMP yang bekerja tidak ditempatkan berdasarkan jurusan yang mereka ikuti pada waktu SMP.   72 . Dalam Dokumen Rentjana Pelajaran SMP Gaya Baru. Sekolah Menengah Ekonomi Pertama = SMEP.dikembangkan dan pada gilirannya kedua faktor tersebut berpengaruh terhadap kurikulum. Perubahan pertama adalah penghapusan terhadap penjurusan yang dikenal dalam kurikulum SMP 1954 dan sebelumnya. Kurikulum SMP 1962 dan kemudian diperbaiki menjadi Kurikulum SMP Gaya Baru berubah dalam struktur kurikulum dibandingkan Kurikulum SMP 1954. instruksi Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan tentang Sapta Usaha Tama dan Panca Wardhana. Sekolah Teknik = ST. dan Haluan Negara. pada tingkat SMP dikenal adanya berbagai sekolah kejuruan yang memberikan berbagai ketrampilan vokasional yang diperlukan masyarakat (Sekolah Kepandaian Keputrian Pertama = SKKP. (Kosoh. Pembagian jurusan di kelas III SMP yang terbagi atas jurusan A (sosial-budaya) dan B (ilmu Pasti) pada kurikulum SMP 1954. ditiadakan oleh kurikulum SMP Gaya Baru. Sjamsuddin. Hasan. 1993:96). 1964 disebutkan bahwa perubahan kurikulum tersebut disebabkan adanya TAP MPRS nomor II/MPRS/1960. Oleh karena itu kenyataan perubahan politik dan perubahan pandangan pendidikan berpengaruh terhadap perubahan kurikulum adalah suatu keadaan yang tak mungkin dihindari dalam konteks politik mana pun di negara mana pun. Oleh karena itu. Penghapusan jurusan A dan B pada kelas III SMP didasarkan pada pandangan pedagogik bahwa pendidikan SMP bukan pendidikan disiplin ilmu dan lagipula masyarakat belum memerlukan tenaga kerja tamatan SMP yang memiliki spesialisasi yang dikembangkan pada jurusan di kelas III SMP. Hampir dapat dikatakan bahwa tidak ada kejadian dimana faktor politik tidak berpengaruh terhadap pandangan pendidikan dan kedua faktor tersebut (politik dan pandangan pendidikan) secara bersama-sama tidak memberikan dampak terhadap terjadinya perubahan kurikulum.

kelompok krida untuk mengembangkan wardhana keprigelan atau kerajinan tangan. Pendidikan Agama/Budi Pekerti (Sejarah Nasional Indonesia jilid VI:278. dikelompokkan dalam kelompok wardhana pertama yaitu perkembangan cinta bangsa dan tanah air. kelompok cipta untuk mengembangkan wardhana kecerdasan. Masa antara 1959 – 1965 atau disebut juga Masa Orde Lama adalah awal pengaruh politik yang semakin kuat dalam pendidikan di Indonesia. 1993:96. Sjamsuddin. Struktur kurikulum terdiri atas kelompok dasar. Sejarah Kebangsaan. Mata pelajaran Pendidikan Jasmani/Kesehatan dimasukkan sebagai bagian dari Kelompok Dasar walau pun pendidikan jasmani berkenaan dengan pengembangan wardhana kelima. dan Hasan. kelompok rasa/karya untuk mengembangkan wardhana emosional-artistik atau rasa keharuan dan keindahan lahir-batin. Departemen Pendidikan Nasional. 1996:129). cipta. dalam kelompok wardhana pertama yang disebut Kelompok Dasar. terdapat mata pelajaran Bahasa Indonesia. Jelas tujuan kelompok   73 . sedangkan pendidikan jasmani untuk mengembaangkan wardhana perkembangan jasmani.Struktur kurikulum SMP Gaya Baru didasarkan pada konsep Panca Wardhana. rasa/karya. Kelompok dasar adalah untuk mengembangkan wardhana pertama yaitu pengembangan cinta bangsa dan tanah air. dan krida. moral nasiona/internasional/keagamaan. melebihi pengaruh politik terhadap kurikulum yang terjadi pada masa sebelumnya. Selain mata pelajaran Civics. Ilmu Bumi Indonesia. Dalam mata pelajaran civics dibahas ideologi politik pemerintah sebagai landasan manusia baru Indonesia sehingga civics harus ditempatkan dalam wardhana pertama dan menjadi mata pelajaran bagi seluruh peserta didik (dari SD sampai ke sekolah di atas SMP). moral nasional/ internasional/ keagamaan. Mata pelajaran civics diperkenalkan dan menjadi mata pelajaran utama. Pada masa ini ideologi negara menjadi mata pelajaran dalam kurikulum setiap sekolah dengan tujuan untuk membekali peserta didik dengan dasar-dasar filosofi bangsa dan ideologi politik yang dianut oleh pemerintah. Kosoh. Pengelompokkan ini diikuti dengan pengelompokkan mata pelajaran. menjadi mata pelajaran yang memiliki tugas untuk mengemban amanat pendidikan ideologi bangsa.

Secara tradisional. menilai. Pemikiran bahwa pendidikan haruslah berdasarkan disiplin ilmu dan diberi label sebagaimana label disiplin ilmu (menurut pandangan filosofi esensialisme) belum berkembang sepenuhnya. Dalam kelompok Cipta mata pelajaran matematika tidak dikenal. Mungkin ada kekhawatiran pengembangan bahwa pengajaran Bahasa Daerah disalahgunakan sehingga untuk dapat perasaan kedaerahan yang berlebihan membahayakan persatuan nasional. Bangsa baru haarus memperhatikan generasi muda yang akan meneruskan perjuangan ideologi para pemimpin bangsa pada waktu itu. sebagaimana diwariskan Belanda yang dikenal adalah kelompok ilmu Pasti bukan matematika. Dalam Kelompok Cipta terdapat mata pelajaran Bahasa Daerah. Ilmu Ukur. menganalisis. memahami.pertama wardhana yaitu Kelompok Dasar adalah untuk membangun kesadaran sebagai satu bangsa dan pengetahuan serta kesadaran akan ideologi bangsa. Ilmu Aljabar. Pertimbangan lainnya mungkin karena hanya beberapa daerah saja di Indonesia yang menghendaki adanya pengajaran Bahasa Daerah sehingga akan sangat janggal apabila Bahasa Daerah ada dalam Kelompok Dasar yang berlaku untuk seluruh peserta didik dan di wilayah atau komunitas masyarakat mana pun. Bahasa Inggeris. mengaplikasi. dan menciptakan pengetahuan baru). Pengetahuan yang dipelajari dalam berbagai mata pelajaran dalam Kelompok Cipta merupakan bahan utama untuk menggerakkan kemampuan otak dalam ranah kognitif (mengingat. Suatu hal yang tidak jelas adalah alasan mengapa mata pelajaran Bahasa Daerah masuk dalam Kelompok Citra dan bukan dalam kelompok Dasar padahal bahasa Daerah merupakan medium pendidikan yang dapat mengembangkan rasa kebangsaan menjadi lebih kuat. Apalagi jika diingat bahwa SMP di daerah perkotaan melayani masyarakat yang berasal dari berbagai kelompok etnis dan pemakai bahasa daerah yang beragam sehingga akan menimbulkan banyak kesulitan teknis. Pada masa belakangan   74 . Dalam kelompok ini terdapat mata pelajaran ilmu Aljabar dan ilmu Ukur. Ilmu Hayat. Kelompok Cipta adalah kelompok yang memberikan pengetahuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik. dan ilmu Administrasi. Sejarah Dunia. Ilmu Bumi Dunia.

Banyak nilai yang dapat dikembangkan dalam mata pelajaran Krida. Kesenian. Perbedaan ide kurikulum yang berbeda antara kurikulum SMP Gaya Baru dengan kurikulum SMP tahun 1950 dan 1954 adalah mengenai posisi mata pelajaran dalam kurikulum. Pendekatan perenialisme yang memperkenankan penggabungan berbagai disiplin melahirkan label mata pelajaran seperti IPA dan IPS. tidak lagi dianut dalam kurikulum SMP Gaya Baru atau terkadang disebut juga dengan   75 . Dalam kelompok wardhana keempat yaitu Ketrampilan terdaapat mata pelajaran Krida. Prakarya. Keejahteraan Keluarga tidak terbatas pada kesejahteraan ekonomi tetapi teutama pada kesejahteraan batin. Oleh karena itu suatu mata pelajaran dapat mengembangkan materi ajar dari mata pelajaran lain seperti materi budi pekerti yang tidak dijadikan mata pelajaran tetapi materi budi pekerti dikembangkan dalam setiap mata pelajaran lain. Prakarya dalam kelompok Rasa/Karsa adalah amat jelas. Sedangkan kedudukan mata pelajaran lain seperti Menggambar. Dalam kurikulum sebelumnya kurikulum tidak dianggap identik dengan daftar mata pelajaran dan mata pelajaran adalah organisasi konten kuurikulum berdasarkan kedekatan materi/bahan ajar. kesehatan. Sesuai dengan pandangan perenialisme maka label untuk pendidikan disiplin ilmu tidak perlu menggunakan nama resmi disiplin ilmu yang bersangkutan dan penggabungan beberapa disiplin ilmu diperkenankan.ketika pandangan filosofis perenialisme semakin kuat pengaruhnya dalam pengembangan kurikulum maka pemikiran pendidikan disiplin ilmu semakin menjadi andalan sejak dari SD sampaai ke SMA. dan Kesejahteraan Keluarga. Pemikiran yang mmendasari ide kurikulum SMP tahun 1954 mencerminkan pandangan kurikulum modern. Dalam kelompok Rasa/Karsa terdapat mata pelajaran Menggambar. Oleh karena itu adalah wajar jika Kesejahteraan Keluarga menjadi mata pelajaran dalam kelompok Rasa/Karsa. Mata pelajaran Krida memberikan kesempatan yang luas kepada peserta didik SMP untuk mengembangkan diri dan kepribadiannya. dan pembinaan generasi muda dalam membentuk kperibadian. Kelompok mata pelajaran ini jelas bertujuan mengembangkan perasaan yang halus dan kemampuan berkreasi yang tinggi. Kesenian.

Dengan konten kurikulum seperti itu menjadikan peserta didik manusia yang mampu mengembangkan segala potensi kemanusiaannya dan bukan mesin penghapal pengetahuan. dan kemampuan psikomotorik tidak mendapat perlakuan yang seimbang. Konten kurikulum yang demikian memberikan kemampuan kepada peserta didik mengolah berbagai informasi yang terdapat pada pengetahuan dan menghasilkan pengetahuan baru dari hasil olahan kemampuan kognitif. kemampuan afektif. kebiasaan membaca dan belajar. Konten kurikulum yang mendaptkan pertimbangan utama adalah konten pengetahuan ( tentang fakta. prosedur. Konten yang bersifat ketrampilan (kognitif. Setiap mata pelajaran memiliki materi pelajaran yang hanya dikembangkan oleh mata pelajaran tersebut dan tidak berbagi dengan mata pelajaran lain. Materi kesehatan yang seharusnya dapat dikembangkan dalam berbagai mata pelajaran menjadi tanggungjawab mata pelajaran pendidikan Jasmani sehingga dinamakan Pendidikan Jasmani/Kesehatan. berpikir kritis dan kreatif. Konten kurikulum yang demikian memberikan pula dorongan kepada peserta didik untuk mengembangkan rasa ingin tahu. Padahal. kemampuan kognitif. dan menjadi kemampuan dasar yang mampu mendorong seseorang untuk mengembangkan potensi dirinya sepanjang hayat. kemampuan.   76 . afektif. nilai. sikap dan sebagainya) dan bersifat sangat spesifik milik suatu disiplin ilmu atau gabungan disiplin ilmu yang dijadikan mata pelajaran. lambang. dan psikomotorik) yang bersifat dasar/fundamental dan tidak spesifik milik disiplin ilmu tidak mendapatkan perlakuan yang selayaknya.nama kurikulum Panca Wardhana. Materi pelajaran budi pekerti yang dekat dengan pendidikan Agama digabungkan menjadi satu mata pelajaran dengan menggunakan label Pendidikan Agama/Budi Pekerti. pada hakekatnya konten kurikulum yang bersifat ketrampilan akan menyebabkan peserta didik mampu belajar sepanjang hayat. istilah. Konten kurikulum yang terdiri atas pengetahuan. Tampaknya pandangan kurikulum yang demikian masih berlaku sampai kini. memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. sikap yang positif dan produktif. kebiasaan belajar yang tinggi.

kemampuan memecahkan masalah. dan sikap bukan pada perilaku yang didasarkan pada sikap yang harus dikembangkaan kurikulum mau pun pada ketrampilan dalam menerapkan berbagai prosedur. C. berkomunikasi. Revolusi masih dianggap belum selesai dan dalam suasana yang demikian maka tujuan pendidikan sebagaimana yang dirumuskan di atas merupakan suatu yang sangat beralasan. dan ketrampilan belajar. 1964). ketrampilan. Pengaruh lebih lanjut adalah pada pengertian hasil belajar yang terkerdilkan menjadi hapalan tentang pengetahuan. bertanggungjawab. mata pelajaran dalam kurikulum SMP Gaya Baru dikelompokkan berdasarkan kelompok ranah wardhana yang terdapat pada Panca Wardhana kecuali kesehatan jasmani yang disatukan dalam kelompok Dasar atau cinta bangsa tanah air. masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. MATA PELAJARAN RENCANA PELAJARAN SMP GAYA BARU Sebagaimana telah dikemukakan di atas. D. kebiasaan membaca.Oleh karena perubahan ide kurikulum yang terjadi pada kurikulum SMP Gaya Baru terkait pada pengaruh aspek politik dan juga berkenaan dengan aspek akademis ide kurikulum. 1964 disebutkan tujuan pendidikan SMP adalah sebagai berikut: Pendidikan di SMP harus menyiapkan anak-didik menjadi warganegara patriotik. supaya menjadi potensi pembangunan masyarakat Sosialis Indonesia. selain kelompok Dasar dikenal adanya kelompok   77 . manusia susila. Dasar idiologis tujuan pendidikan di atas adalah bahwa “pendidikan harus berazaskan Pancasila dengan pelengkapnya Manipol” (Dokumen Rentjana Pelajaran SMP Gaya Baru. Penciutan pengertian konten kurikulum hanya pada aspek pengetahuan menyebabkan desain dan organisasi konten kurikulum menjadi terbatas pada desain kurikulum akademik dan organisasi konten yang teoritik keilmuan. moral nasional/internasional/keagamaan. Sesuai dengan Panca Wardhana. rasa ingin tahu. TUJUAN PENDIDIKAN SMP Dalam Dokumen Rentjana Pelajaran SMP Gaya Baru.

Selengkapnya. Kelompok Dasar adalah kelompok kedua terbesar sedangkan kelompok krida adalah kelompok yang memiliki mata pelajaran tunggal. Kelompok Cipta merupakan kelompok paling besar baik dalam pengertian jumlah mata pelajaran mau pun dalam beban belajar.1: Struktur dan Mata Pelajaran Rencana Pelajaran SMP Gaya Baru Kelompok Mata Pelajaran Kelas dan JamPelajaran I A Kelompok Dasar Civics Bahasa Indonesia Sejarah Kebangsaan Ilmu Bumi Indonesia Pendidikan Agama/Budi Pekerti Pendidikan Jasmani/Kesehatan Sub Jumlah B Bahasa Daerah Bahasa Inggeris Kelompok Cipta Ilmu Aljabar Ilmu Ukur Ilmu Alam Ilmu Hayat Ilmu Bumi Dunia Sejarah Dunia Ilmu Administrasi Sub Jumlah C Kelompok 2 5 1 1 2 2 13 2 4 3 3 2 2 1 1 1 19 II 2 5 1 1 2 2 13 2 4 3 3 2 2 1 1 1 19 III 2 5 1 1 2 2 12 2 4 3 3 2 2 1 1 1 19 Menggambar 2 2 2   78 . struktur dan pesebaran mata pelajaran serta beban belajar kurikulum SMP Gaya Baru adalah sebagai berikut: Tabel 6.Cipta dan kelompok Krida.

Pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berpikir intelektual dan kemampuan berpikir rasional. 1984).   79 .Kelompok Mata Pelajaran Kelas dan JamPelajaran I II 1 2 1 6 2 III 1 2 1 6 2 Rasa/Karya Kesenian Prakarya Kesejahteraan Keluarga Sub Jumlah 1 2 1 6 2 D Krida Krida Jumlah 40 40 40 Orientasi kurikulum yang kuat pada kepentingan politik telah menyebabkan kurikulum tidak mampu mengembangkan berbagai prinsip pendidikan yang dasar dan telah diggunakan serta dikembangkan dalam kurikulum sebelumnya (Rencana Pelajaran SMP 1954). 1980. Pendekatan konten kurikulum suatu mata pelajaran yang khusus dan terpisah dari mata pelajaran lainnya yang dilakukan kurikulum SMP 1962 menjadi awal dalam sejarah pengembangan kurikulum SMP. Keterkaitan antar materi pelajaran. terutama materi kelompok ketrampilan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain sudah tidak lagi menjadi pendekatan yang digunakan dalam kurikulum SMP 1962. Unruh dan Unruh. Pendekatan yang demikian dianggap sebagai pendekatan terbaik oleh banyak para akhli ilmu pengetahuan (Tanner dan Tanner. Disiplin ilmu pula yang dapat membebaskan orang dari cara berpikir dan orientasi berpikir yang tidak logis. Kedua kemampuan ini hanya dapat dikembangkan melalui pendidikan disiplin ilmu karena disiplin ilmu memiliki cara berpikir intelektual yang rasional dan sistematis. Materi suatu mata pelajaran dirancang hanya untuk mata kuliah tersebut dan tidak dikaitkan dengan mata pelajaran lainnya.

Pengaruh politik yang kuat terlihat pada mata pelajaran kelompok dasar terutama mata pelajaran civics. materi pelajaran ilmu bumi Indonesia bertujuan mewujudkan masyarakat sosialisme Indonesia.Filosofi esensialisme yang menyatakan bahwa pendidikan disiplin ilmu dalam dunia pendidikan harus dilaksanakan sesuai dengan hakekat ilmu itu sendiri. Penggabungan beberapa disiplin ilmu menjadi nama satu mata pelajaran sangat ditentang oleh filosofi esensialisme walau pun diperkenankan oleh filosofi perenialisme. revolusi Indonesia termasuk musuh-musuh revolusi. sejarah.sentris dan (b) ber-eskatologi masyarakat sosialis Indonesia. ilmu aljabar.   80 . Nama mata pelajaran pun harus disesuaikan dengan nama disiplin ilmu. Dalam kewajiban untuk mewujudkan dan memperteguh cita-cita revolusi Indonesia. ilmu alam. Untuk mata pelajaran Civics peserta didik mempelajari berbagai pidato Presiden. manusia sosialisme Indonesia. Materi mata pelajaran sejarah berkewajiban untuk “mewujudkan dan memperteguh cita-cita revolusi bangsa Indonesia. Oleh karena itu pengajaran Sejarah Kebangsaan haruslah (a) Proklamasi. ilmu bumi. Nama-nama mata pelajaran yang terdapat dalam Kurikulum SMP 1962 sseperti sejarah. ilmu hayat dan sebagainya jelas menunjukkan orientasi kurikulum pada filosofi esensialisme. Manipol. ilmu bumi.

Beberapa perubahan dalam pendekatan kurikulum terjadi tetapi masih menyesisakan berbagai masalah terkait jika dilihat dari organisasi konten kurikulum yang menggunakan pendekatan integrated dan posisi pendidikan ketrampilan (skills) masih belum mendapatkan tempat yang sesuai dengan karakteristik materi ketrampilan yang bersifat “developmental”. Perkembangan politik dan akademik yang demikian menghasilkan berbagai kurikulum selama masa hampir 30 tahun tersebut. dilanjutkan dengan kurikulum 1975 yang merupakan kurikulum pertama di Indonesia yang secara resmi memperkenalkan istilah pendekatan “integrated curriculum” yang melahirkan mata pelajaran IPA sebagai pengganti kelompok Ilmu Alam dan mata pelajaran IPS yang menggantikan mata pelajaran Pengetahuan Sosial dalam Rencana Pelajaran 1954. kurikulum SMP diganti dengan kurikulum baru yang dinamakan Kurikulum 1994.KURIKULUM SMP PADA MASA PEMERINTAHAN ORDE BARU (1967 – 1994) A. pendekatan kurikulum yaang digabungkan dengan model desain instruksional. Sepuluh tahun kemudian yakni pada tahun 1994. perkembangaan dalam teori belajar yang menekankan pada kegiatan ssiwa yaang aktif dalam belajar. Dimulai dengan kurikulum 1968 sebagai kurikulum yang dirancang untuk mengikis pengaruh komunisme dalam dunia pendidikan dan merupakan awal penggunaan istilah kurikulum dalam dunia pendidikan Indonesia. Pada kurun waktu hampir 10 tahun Kurikulum 1975 digantikan oleh Kurikulum 1984 yang menggunakan model kurikulum yang sama dengan kurikulum SMP sebelumnya tetapi mengalami perubahan pada kurikulum SMA dimana pendekatan “discrete disciplinary approach diperkenalkan kembali. Demikian pula halnya dengan materi yang termasuk kategori nilai/sikap masih belum berhasil dikembangkan sesuai dengan hakekat nilai/sikap yang juga termasuk kelompok “developmental content”. PERKEMBANGAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN Masa Pemerintahan Orde Baru adalah masa yang ditandai oleh berbagai kebijakan pendidikan yang disesuaikan dengan tuntutan politik Orde Baru yang anti komunisme.   81 .

Hampir menjadi tradisi bahwa setiap 10 tahun terjadi perubahan kurikulum. Dilihat dari ruang lingkup pengembangan kurikulum (curriculum development) yang meliputi pengembangan ide dan rancangan pembelajaran (curriculum construction) yang terwujud dalam bentuk dokumen kurikulum. sosialisasi dan implementasi kurikulum (curriculum implementation) serta evaluasi kurikulum (curriculum evaluation) maka sangat adekuat untuk dikatakan bahwa tidak keseluruhan pekerjaan pengembangan kurikulum tersebut terlaksana. Implementasi kurikulum yang merupakan pekerjaan yang rumit dan memerlukan strategi implementasi yang harus meliputi keragaman kualitas dan kesiapan sekolah merupakan aspek pengembangan yang sangat terabaikan.Dalam kurun waktu kurang lebih 30 tahun.   82 . Sama halnya dengan implementasi adalah pekerjaan evaluasi kurikulum yang sistematis dan terus-menerus (kontinyu) memberikan informasi baik kepada pengembangan kurikulum ketika dokumen disiapkan apalagi pada waktu implementasi merupakan dimensi pekerjaan pengembangan kurikulum yang tidak terlaksana sebagaimana seharusnya maka waaktu sepuluh tahun untuk perubahan kurikulum terasa amat singkat. 1984 dan 1994. Kenyataan semacam itu dapat dikatakan sebagai suatu kejadian yang berlangsung sampai akhir Pemerintahan Orde Baru. 1975. pemahaman. Kelemahan dalam sosialisasi dan pelatihan yang harus diterima guru dalam pengetahuan. dan ketrampilan melaksanakan kurikulum menyebabkan mereka berada dalam posisi yang tidak siap melaksanakan kurikulum baru. Upaya untuk menjadikan kurikulum responsi terhadap perkembangan kehidupan mayarakat di bidang sosial-budaya-politik-ilmu-teknologi-seni- ekonomi menyebabkan masa sepuluh tahun merupakan masa yang cukup panjang untuk menjawab tantangan perkembangan kehidupan masyarakat. Pemerintahan Orde Baru telah berhasil mengembangkan 4 kurikulum untuk SMP dan sekolah lainnya. Keempat kurikulum yaitu Kurikulum 1968. Berdasarkan laporan yang tersedia terjadi suatu kenyataan yang cukup memperihatinkan karena belum lagi suatu rancangan kurikulum (dokumen) terlaksana maka sekolah sudah harus melaksanakan kurikulum baru yang nota bene tidak juga mampu mereka laksanakan.

model dan orientasi kurikulum.30. faktor lain yang juga berpengaruh terhadap perubahan kurikulum pada masa ini adalah perkembangan dalam berbagai teori belajar. Oleh karena itu masa Pemerintahan Orde Baru merupakan masa yang sangat penting dalam sejarah perkembangan kurikulum di Indonesia bukan saja dilihat dari banyaknya kurikulum yang dihasilkan pada masa ini tetapi terlebih dari pemikiran-pemikiran baru pendidikan yang diperkenalkan dalam setiap kurikulum. Kurikulum SMP 1968 dikeluarkan oleh   83 . KURIKULUM SMP 1968 Perkembangan kehidupan politik dan ketatanegaraan Indonesia pada tahun 1968 sudah mulai membaik. demikian memang disayangkan menyebabkan pengurangan nilai responsif para pemikir kurikulum.S/PKI dianggap sudah dianggap mencapai titik yang dapat memberikan peluang bagi bangsa untuk memikirkan berbagai hal yang terkait dengan berbagai aspek kehidupan lain di luar keamanan. B. Untuk itu. Generasi muda harus mendapatkan perlindungan dari ancaman bahaya “latent” komunisme. Inovasi berbagai aspek kurikulum dilakukan dalam setiap perubahan kurikulum tersebut terutama sejak Kurikulum 1975. Dalam penataan kehidupan kebangsaan pendidikan dianggap menjadi ujung tombak untuk mengikis pengaruh dan penyebaran paham komunisme. Pemerintah mengeluarkan kurikulum baru untuk SMP yang dikenal dengan nama Kurikulum SMP 1968 sebagai pengganti Kurikulum SMP 1964. Upaya penumpasan gerakan yang secara resmi dikenal dengan nama G. serta kemajuan dalam teknologi yang berdampak pada aplikasinya dalam dunia pendidikan membawa berbagai pemikiran baru dalam kurikulum. Pada masa ini dapat dikatakan Indonesia mengalami dinamika pengembangan kurikulum yang cukup signifikan dalam menjawab perkembangan masyarakat walau pun ada jurang yang cukup luas antara pemikiran kependidikan pengelola yang dan dikembangkan pelaksana dan para pengembangan Kesenjangan kurikulum yang dengan kurikulum.Selain faktor politik. pemerintahan sudah mulai stabil walau pun bahaya komunis masih dianggap pemerintah dan rakyat masih sebagai bahaya “latent” .

Peralihan kekuasaan dari pemerintah Presiden Soekarno kepada mandataris Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) kepada Major Jenderal Soeharto dan kemudian pengangkatan beliau sebagai presiden Republik Indonesia oleh MPRS mengubah banyak kebijakan pendidikan masa sebelumnya. TAP MPRS ini memang merupakan manifestasi adanya pengaruh politik yang kuat sebagai reaksi pengaruh politik Orde Lama. dan dengan demikian kurikulum sekolah harus bebas dari upaya memperkenalkan dan menyebarkan ajaran-ajaran tersebut. 1. Perubahan ini sangat fundamental dilihat dari pandangan pendidikan karena tujuan pendidikan sebelumnya adalah untuk menghasilkan manusia revolusioner berdasarkan ajaran MANIPOL-USDEK sedangkan tujuan yang ditetapkan oleh MPRS adalah untuk mengikis tujuan tersebut.Perkembangan Kebijakan Pendidikan Perubahan politik yang mendasar terjadi pada tahun 1965 terutama diakibatkan oleh peristiwa yang dikenal dengan nama Pemberontakan G30S/PKI.Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah.   84 . Pada tahun 1966. Oleh karena itu perubahan kurikulum adalah sesuatu yang tak terhindarkan. MPRS mengeluarkan ketetapan TAP XXVII/MPRS/1966. Ajaran Manipol dan ajaran komunis dilarang. Meski pun demikian. Dengan adanya TAP tersebut maka arah dan tujuan pendidikan Indonesia berubah dari menghasilkan ”manusia susila yang cakap dan warganegara yang demokratis” menjadi manusia Pancasila sejati. haruslah diingat bahwa pengaruh politik terhadap pendidikan bukan merupakan sesuatu yang unik dan ekslusif Indonesia tetapi sesuatu yang terjadi di berbagai negara di dunia lagipula perubahan politik yang terjadi sangat fundamental dan dapat dianggap sebagai suatu tuntutan kebutuhan masyarakat (politik) yang baru. Dalam TAP tersebut dinyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk ”menghasilkan manusia Pancasila sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan seperti yang dikehendaki oleh Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan isi UndangUndang Dasar 1945”. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Berdasarkan TAP MPRS itu maka disusunlah kurikulum baru yang dinamakan Kurikulum 1968 menggantikan Kurikulum 1964.2. dan Kelompok Pembinaan Kecakapan Khusus. menggantikan Kelompok Dasar yang ditetapkan dalam Kurikulum SMP Gaya Baru. Struktur Dan Mata Pelajaran Kurikulum SMP 1968 Sebagaimana telah dikemukakan di atas. Dalam sejarah kurikulum di Indonesia. Kelompok Pembinaan Pengetahuan Dasar. (2) Mempertinggi kecerdasan dan ketrampilan. Jumlah mata pelajaran dalam kelompok Pembinaan Jiwa Pancasila lebih sedikit dibandingkan jumlah mata pelajaran Kelompok Dasar Kurikulum SMP Gaya Baru. (3) Membina/memperkembangkan physik yang kuat dan sehat. Struktur Kurikulum SMP 1968 berbeda dari Kurikulum SMP Gaya Baru (1962) atau pun dari Kurikulum SMP 1954. MPRS menetapkan perubahan kebijakan pendidikan di Indonesia yang menghapus pendidikan tentang Manipol-Usdek dari kurikulum sekolah. Mata Pelajaran Sejarah Kebangsaan dan Ilmu Bumi Indonesia dihilangkan dari kelompok Pembinaan Jiwa Pancasila   85 . Adanya kelompok Pembinaan Jiwa Pancasila disesuaikan dengan tujuan pendidikan ”menghasilkan manusia Pancasila sejati” yang telah ditetapkan oleh MPRS. Demikian pula dengan beban belajar untuk kelompok Pembinaan Jiwa Pancasila lebih sedikit yaitu 11 jam dibandingkan 13 jam pada kelompok Dasar Kurikulum SMP Gaya Baru. Kurikulum 1964 dapat dikatakan sebagai kurikulum yang paling singkat masa berlakunya. Struktur Kurikulum SMP 1968 terdiri atas Kelompok Pembinaan Jiwa Pancasila. Struktur Kurikulum SMP 1968 lebih sederhana dibandingkan kedua kurikulum yang mendahuluinya. TAP MPRS nomor XXVII tahun 1966 Bab II Pasal 4 menetapkan isi pendidikan sebagai berikut: (1) Mempertinggi mental modal budi pekerti dan memperkuat keyakinan beragama. Isi pendidikan di atas dapat dianggap sebagai rincian dari manusia Pancasila sejati yang dinyatakan sebagai tujuan pendidikan Indonesia dan dinyatakan dalam Pasal 3 pada Bab II dari TAP MPRS tersebut.

dan pengetahuan sosial. Politik dan Tata Hukum Indonesia.1. ilmu pasti. mata pelajaran.1: Struktur dan Mata Pelajaran   86 .sementara itu mata pelajaran Civics (Kewargaan Negara) diantikan oleh Pendidikan Kewargaan Negara yang didalamnya terdapat unsur Sejarah Indonesia. Pada dasarnya Kelompok Pembinaan Kecakapan Khusus dalam Kurikulum SMP 1968 mirip atau bahkan dapat dikatakan sama dengan kelompok Rasa/Karsa dalam Kurikulum SMP Gaya Baru. Sebagaimana kurikulum sebelumnya masa belajar belajar satu tahun akademik dibagi dalam kuartal dan beban belajar untuk setiap kuartal sama. Kelompok Pembinaan Pengetahuan Dasar adalah kelompok mata pelajaran yang memberikan pengetahuan dasar dalam bahasa. beban belajar serta distribusinya untuk setiap kelas. Distribusi beban belajar nantinya berbeda ketika sistem semester digunakan menggantikan sistem kuartal. Ideologi Negara Pancasila. Sebagaimana dengan kurikulum Kurikulum SMP Gaya Baru. Tabel 7. Tabel 7. Kurikulum SMP 1968 tidak mengenal adanya penjurusan pada kelas III SMP. ilmu alam. Pendidikan SMP adalah pendidikan umum dan oleh karenanya kurikulum SMP tidak perlu menyiapkan peserta didik dalam spesialisasi pendidikan keilmuan (disiplin ilmu) yang khusus. Pada kelompok ketiga yaitu Kelompok Pembinaan Kecakapan Khusus adalah kelompok untuk mengembangkan keckapan khusus yang diperlukan untuk memasuki dunia kerja tertentu tetapi juga untuk mengembangkan minat seseorang yang dapat digunakan dalam mengembangkan pekerjaan yang lepas dari “formal vocation” di pemerintah mau pun swasta. Kelompok ini menjadi dasar bagi mereka yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (SMA) dan dasar untuk berbagai ketrampilan yang diperlukan masyarakat. Pandangan bahwa pendidikan di jenjang SMP ini merupakan bagian dari pendidikan umum bagi banga Indonesia dianut sampai sekarang bahkan diperkuat posisinya dalam program Wajib Belajar 9 Tahun (WAJAR 9 Tahun) yang dicanangkan Pemerintah sejak 1984. di bawah ini menggambarkan keseluruhan struktur kurikulum.

Rencana Pelajaran SMP Tahun 1968 KELAS I A Pembinaan Jiwa Pancasila 1.Pendidikan Agama 2.Pendidikan Kewargaan Negara 3.Bahasa Indonesia (I) 4.Olahraga Sub Jumlah B Pembinaan Pengetahuan Dasar 1.Bahasa Indonesia (II) 2.Bahasa Daerah 3.Bahasa Inggeris 4.Ilmu Aljabar 5.Ilmu Ukur 6.Ilmu Alam 7.Ilmu Hayat 8.Ilmu Bumi 9.Sejarah 10.Menggambar Sub Jumlah C Pembinaan Kecakapan Khusus 1.Administrasi 2.Kesenian 3.Prakarya 4.Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Sub Jumlah Jumlah 3 3 3 2 11 2 2 3 3 3 3 2 2 2 2 24 1 2 2 1 6 41 II 3 3 3 2 11 2 2 3 3 3 3 2 2 2 2 24 1 2 2 1 6 41 III 3 3 3 2 11 2 2 3 3 3 3 2 2 2 2 24 1 2 2 1 6 41

KELOMPOK

MATA PELAJARAN

Jumlah mata pelajaran dalam Kurikulum SMP 1968 (18) lebih sedikit dibandingkan kurikulum SMP Gaya Baru.(19). Perbedaan jumlah satu mata pelajaran tidak menyebabkan beban belajar peerta didik berkurang. Pada

 

87

kurikulum SMP Gaya Baru jumlah beban belajar keseluruhan peserta didik 40 jam seminggu sedangkan dalam kurikulum SMP 1968 dengan jumlah mata pelajaran lebih sedikit tetapi jumlah jam belajar lebih banyak yaitu 41 jam seminggu. Penambahan jam terjadi dengan memberikan jam belajar yang lebih besar kepada Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewargaan Negara masingmasing dari 2 jam menjadi 3 jam. Dalam kelompok kedua, penambahan jam belajar terjadi pada mata pelajaran bahasa Inggeris dan Ilmu Alam masing satu jam. Sedangkan mata pelajaran lain tidak bertambah atau pun tidak berkurang. Organisasi konten yang dinamakan mata pelajaran pun berubah terutama untuk mata pelajaran bahasa Indonesia, Sejarah, dan Ilmu Bumi. Mata pelajaran Bahasa Indonesia yang semula terdiri atas satu mata pelajaran dalam kurikulum SMP Gaya Baru dalam kurikulum SMP 1968 dipecah menjadi 2 yaitu bahasa Indonesia I dan bahasa Indonesia II dan keduanya ditempatkan dalam kelompok yang berbeda. Bahasa Indonesia I masuk dalam kelompok Pembinaan Jiwa Paancasila sedangkan Bahasa Indonesia II masuk dalam kelompok Pembinaan Pengetahuan Dasar. Berbeda dari mata pelajaran Bahasa Indonesia, mata pelajaran Sejarah dan Ilmu Bumi yang dalam kurikulum SMP Gaya Baru terpisah dalam dua mata pelajaran, dalam kurikulum SMP 1968 masing-masing dijadikan satu mata pelajaran. Mata Pelajaran Sejarah Kebangsaan dan Sejarah Dunia digabungkan menjadi mata pelajaran Sejarah. Mata pelajaran Ilmu Bumi Indonesia dan Ilmu Bumi Dunia digabungkan menjadi satu dengan nama mata pelajaran Ilmu Bumi.

Penggabungan kedua mata pelajaran tersebut tidak mengubah jam pelajaran karena jika sebelumnya terdiri atas 1 jam masing-masing untuk Sejarah Kebangsaan dan Sejaarah Dunia sekarang menjadi 2 jam pelajaran untuk mata pelajaran Sejarah. Demikian pula dengan mata pelajaran Ilmu Bumi Indonesia yang digabungkan dengan Ilmu Bumi Dunia menjadi Ilmu Bumi dengan jam belajar yang juga digabungkan sehingga menjadi 2 jam.

 

88

Perbedaan lain untuk kedua mata pelajaran tersebut yaitu penempatannya dalam kelompok. Jika dalam kurikulum SMP Gaya Baru mata pelajaran Sejarah Kebangsaan dan Ilmu Bumi Indonesia dimasukkan dalam kelompok Dasar sedangkan Sejarah Dunia dan Ilmu Bumi Dunia dalam kelompok Cipta maka setelah digabungkan mata pelajaran Sejarah dan Ilmu Bumi masuk dalam kelompok Pembinaan Pengetahuan Dasar. Hal ini mencerminkan adanya pemikiran kurikulum yang berbeda antara pengembang kurikulum SMP Gaya Baru dengan SMP 1968. Ide para pengembang kurikulum SMP 1968 tidak lagi memandang mata pelajaran Sejarah Kebangsaan dan mata pelajaran Ilmu Bumi Indonesia sebagai bagian dari dasar pembentukan kebangsaan atau Jiwa Pancasila. Tampaknya penggabungan itu didasarkan pada pemikiran bahwa materi Sejarah Kebangsaan dan Ilmu Bumi Indonesia tidak berbeda dari materi Sejarah Dunia dan Ilmu Bumi Dunia yaitu bagian dari pendidikan akademik. Oleh karenanya, materi masing-masing kedua mata pelajaran tersebut dapat digabungkan dan fungsinya menjadi mata pelajaran akademik semata. Para pengembang kurikulum SMP 1968 mungkin saja lupa bahwa persyaratan untuk menjadi warganegara Indonesia adalah memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai sejarah nasional, ilmu bumi (geografi) Indonesia, bahasa Indonesia dan ideologi negara. Oleh karena itu menjadikan materi Sejarah Kebangsaan (nasional) dan Ilmu Bumi Indonesia menjadi materi kajian akademik tampaknya melupakan persyaratan warganegara tersebut. Tentu saja orang dapat berargumentasi bahwa yang terpenting adalah peserta didik dapat mempelajari dan memiliki pengetahuan mengenai materi Sejarah kebangsaan dan Ilmu Bumi Indonesia bagaimana pun keduanya diorganisasikan dan ditempatkan dalam struktur kurikulum. Pandangan demikian melemahkan makna dan fungsi dari kelompok mata pelajaran dalam struktur kurikulum karena pembagian mata pelajaran dalam kelompok tidak memberikan gambaran yang jelas mengenai tujuan dan fungsi struktur yang ada.

 

89

Perubahan kelompok terjadi dengan mata pelajaran Ilmu Administrasi yang dalam kurikulum SMP Gaya Baru masuk dalam kelompok Cipta sedangkan dalam kurikulum SMP 1968 dimasukkan dalam kelompok Pembinaan Kecakapan Khusus. Berbeda dari mata pelajaran Sejarah dan Ilmu Bumi, perubahan kelompok menyebabkan nama mata pelajaran nya pun berbeda yaitu dari Ilmu Administrasi yang masuk kelompok Cipta menjadi Administrasi yang masuk kelompok Pembinaan Kecakapan Khusus. Dalam hal ini, perubahan kelompok tidak menimbulkan permasalahan dalam struktur kurikulum karena mater pelajaran administrasi sebagai ilmu berbeda dari materi pelajaran administrasi sebagai ketrampilan. C. KURIKULUM SMP 1975 Kurikulum 1968 dianggap sudah mulai usang. Perkembangan kehidupan politik, sosial, budaya, teknologi dan terutama ekonomi dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan kurikulum yang ada. Sementara itu keberadaan lembaga resmi di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yaitu Badan Pengembangan Pendidikan dimana ada bagian Pengembangan Kurikulum memberikan arahan pengembangan kurikulum yang lebih fokus, sistematis, dan sesuai dengan perkembangan ilmu pendidikan terutama kurikulum. Pakar yang belajar khusus dalam kurikulum menambah kekuatan bangsa Indonesia dalam memikirkan kurikulum lebih serius. Pada tahun 1975 Pemerintah mensyahkan kurikulum baru untuk SMP yang diberi nama Kurikulum SMP 1975. Hasil kajian penilaian telah menunjukkan bahwa kualitas tamatan SMP sebagaimana yang dikembangkan dalam Kurikulum SMP 1968 sudah dianggap tidak lagi sesuai dengan tuntutan masyarakat. Masyarakat menghendaki tamatan SMP yang mampu belajar aktif, menjadi manusia yang mampu mencari, mengolah, dan mengembangkan pengetahuan baru. Untuk itu peserta didik tidak lagi menjadi orang yang pasif menerima berbagai informasi yang disajikan guru dan buku teks tetapi sudah harus menjadi subjek yang mampu membelajrkan dirinya dengan cara belajar aktif.

 

90

dan sikap yang harus mereka miliki. Inovasi pembelajaran dengan menggunakan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional dianggap lebih efisien dan efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran.Untuk mendukung posisi peserta didik sebagai subjek dalam belajar berbagai inovasi pendidikan telah tersedia. Inovasi dalam proses pembelajaran yang mengarah kepada pendekatan teknologi pembelajaran yang terencana.” (Dokumen TAP MPRS No. Istilah manusia Pancasila sejati tidak lagi digunakan. 1. dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur. nilai. IV Tahun 1973. mencintai bangsanya dan mencintai sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945. kemampuan. Selain itu Pemerintah telah menyelesaikan penulisan buku-buku pelajaran yang memerlukan kurikulum baru karena berbagai pokok bahasan dan informasi baru yang terdapat pada buku-buku tersebut. Dalam bagian mengenai Pendidikan. 1986: 52). dapat menyuburkan sikap demokrasi dan penuh tenggang rasa. Dapat dikatakan hampir pada setiap sidang MPR lima tahunan menghasilkan tujuan pendidikan baru.Perkembangan Kebijakan Pendidikan Perubahan dalam tujuan pendidikan pada masa pemerintahan Orde Baru terus berkembang. Gunawan. Dalam Sidang Umum MPRS pada tahun 1973 MPRS menghasilkan TAP MPR Nomor IV/MPR/1973 yaitu mengenai Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Teknologi dan Pembinaan Generasi Muda dinyatakan bahwa “pembangunan dibidang pendidikan didasarkan atas Falsafah Negara Pancasila dan diarahkan untuk membentuk manusia-manusia pembangunan yang berPancasila dan untuk membentuk manusia Indonesia yang sehat jasmani dan rokhaninya. dapat mengembangkan kreaktivitas dan tanggung-jawab. terarah dan jelas memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk menguasai pengetahuan. memiliki pengetahuan dan ketrampilan. Situasi politik pada tahun 1973 kiranya sudah lebih stabil dibandingkan tahun 1966 dalam menangkal   91 . Ilmu Pengetahuan.

memiliki pengetahuan dan ketrampilan tetapi memiliki pula berbagai kualitas afektif yang   92 . Tujuan pendidikan yang dirumuskan TAP MPRS IV tahun 1973 memperlihatkan tugas pendidikan yang cukup mendasar dalam mengembangkan potensi peserta didik di berbagai bidang untuk menjadi manusia yang “sehat jasmani dan rokhaninya. Semua kegiatan diarahkan untuk pembangunan dan suasana pembangunan fisik dan non fisik mendominasi kehidupan kebangsaan. dapat menyuburkan sikap demokrasi dan penuh tenggang rasa. Pembentukan manusia pembangunan sesuai dengan kebijakan politik pada waktu itu yang menempatkan pembangunan sebagai jargon politik penting dalam kehidupan bangsa. Oleh karena itu katakata Pancasila sejati dalam tujuan pendidikan tidak perlu dinyatakan secara ekspilisit. dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur. Penempatan posisi pengetahuan dan ketrampilan memang sudah sewajarnya karena adalah suatu kenyataan yang tak dapat disangkal bahwa manusia memang tidak mungkin hidup tanpa ilmu pengetahuan. Sesuai dengan arah pembangunan bangsa maka pendidikan sebagai salah satu upaya pembangunan bangsa harus menghasilkan manusia sesuai dengan ciri kehidupan bangsa pada waktu itu. memiliki pengetahuan dan ketrampilan. Sebagai gantinya jargon politik yang populer pada waktu itu adalah manusia pembangunan. mencintai bangsanya dan mencintai sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945. Perubahan lain yang cukup menonjol dari rumusan tujuan dalam TAP MPRS IV tahun 1973 dibandingkan TAP MPR sebelumnya adalah pada TAP MPRS IV tahun 1973 posisi pengetahuan dan ketrampilan cukup penting dibandingkan rumusan TAP MPRS nomor XXVII/MPRS/1966. dapat mengembangkan kreaktivitas dan tanggung-jawab.” Dalam tujuan yang dirumuskan TAP MPRS nomor IV Tahun 1973 manusia Indonesia adalah manusia yang selain sehat jasmani dan rokhani.pengaruh negatif faham dan gerakan komunis di Indonesia.

Dalam titik 2 itu dirumuskan sebagai berikut: “untuk mencapai cita-cita tersebut maka kurikulum disemua tingkat pendidikan. sesuatu yang tidak saja dominan tetapi juga menjadi alternatif terbaik dalam kehidupan kebangsaan. Disamping perubahan politik yang terutama dalam keputusan mengenai tujuan pendidikan nasional terjadi pula berbagai pemikiran baru tentang kurikulum. Kedudukan mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila sebagai mata pelajaran wajib berlaku sampai saat kini walau pun nama mata pelajaran ini mengalami perubahan nama beberapa kali. Kualitas kognitif yaitu kecerdasan yang tinggi diseimbangkan dengan kualitas afektif yaitu budi pekerti yang luhur. Ilmu Pengetahuan. Tenologi dan Pembinaan Generasi Muda titik 2 TAP MPRS tersebut dirumuskan arah bagi kurikulum TK sampai Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMTA). Pada bagian Pendidikan. Cara merumuskan yang memberikan keseimbangan antara kemampuan kognitif dan afektif (demokrasi dan bertanggungjawab) digunakan pula dalam rumusan berikutnya. TAP MPRS Nomor IV tahun 1973 telah pula menetapkan mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila sebagai pengganti Civics atau Kewargaan Negara pada kurikulum sebelumnya. Kehadiran beberapa sarjana yang memfokuskan dirinya pada bidang   93 . Sikap demokrasi dan tanggungjawab adalah sesuatu yang masih diperlukan hingga saat kini dan untuk masa panjang selama negara Indonesia dan bangsa Indonesia menegakkan kehidupan kebangsaannya atas dasar demokrasi. Prinsip keseimbangan digunakan pula dalam rumusan mengenai usaha pendidikan untuk menghasilkan manusia yang mencintai bangsanya dan juga sesama manusia untuk tidak menimbulkan sikap chauvinistis atau nasionalisme yang sempit.masih tetap aktual untuk masa kini. Untuk merealisasikan tujuan pendidikan yang telah dirumuskan. disesuaikan dengan TAP-TAP MPR pada masa berikutnya. mulai dari Taman kanak-kanak sampai perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta harus berisikan Pendidikan Moral Pancasila dan unsur unsur yang cukup untuk meneruskan Jiwa dan Nilai-nilai 1945 kepada Generasi Muda”.

Kurikulum SMP 1975 memperlihatkan keterkaitan yang jelas antara Tujuan Kurikuler. Berbagai teoori dan pemikiran mengenai pengembangan kurikulum (curriculum development) yang mereka pelajari dan dianggap bermanfaat bagi dunia pendidikan Indonesia mereka aplikasikan dalam pekerjaan pengembangan Kurikulum 1975. Selain itu. Tujuan Instruksional Umum. posisi peserta didik dalam belajar. dan evaluasi atau asesmen hasil belajar. tujuan pendidikan instruksional umum. tujuan pendidikan kurikuler. Desain kurikulum yang mengarah kepada model pendekatan tujuan menghasilkan struktur tujuan lebih jelas dan keterkaitan antara berbagai jenjang tujuan dinyatakan secara eksplisit. Kurikulum sebelumnya tidak memperlihatkan keterkaitan berbagai komponen itu dalam satu matriks. materi. dan tujuan pendidikan instruksional   94 . Diantara pikiran-pikiran itu penggunaan model Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI) dan sistem penilaian yang berkelanjutan merupakan aspek inovasi. dan penilaian hasil belajar. proses pembelajaran. Sebagian dari pemikiran inovatif yaitu pengunaan filosofi perenialisme masih dipertahankan untuk jenjang pendidikaan dasar sedangkan penerapan filosofi perenialisme untuk kurikulum SMA mendapatkan tantangan politis yang kuat sehingga pada tahun 1984 Kurikulum SMA kembali dikembangkan berdasarkan filosofi esensialisme sampai hari ini. Kurikulum 1975 menggunakan pendekatan hierarkis antara tujuan pendidikan nasional. Pemikiran inovatif yang juga dikembangkan dalam Kurikulum SMP 1975 adalah adanya penjelasan mengenai berbagai hal yang dianggap inovatif atau pun yang merupakan kelanjutan dari apa yang sudah dilaksanakan seebelumnya. tujuan pendidikan institusional. Jika dalam Kurikulum SMP 1954 tujuan setiap mata pelajaran dirumuskan terpisah dari materi yang dipelajari maka pada Kurikulum SMP 1975 dirumuskan dalam sebuah matriks sehingga jelas keterkaitan antara tujuan kurikuler dan tujuan instruksional. Mereka memperkenalkan pikiran inovatif mengenai desain kurikulum. pedoman pelaksanaan kurikulum banyak berpengaruh terhadap pengembangan kurikulum berikutnya. Tentang tujuan.pengembangan kurikulum dan bidang studi kurikulum memperkenalkan berbagai pemikiran baru untuk kurikulum 1975. metode.

Artinya. Jika berbagai kualitas hasil   95 . Secara diagramatik keterkaitan itu digambarkan sebagai berikut: Gambar 2: Heirarki Tujuan Pendidikan     TUJUAN  PENDIDIKAN     NASIONAL    TUJUAN INSTITUSIONAL  (LEMBAGA)  TUJUAN  KURIKULER  TUJUAN  KURIKULER  TUJUAN  KURIKULER        TIU       TIU        TIU        TIU        TIU        TIU  Di bawah setiap TIU terdapat sejumlah TIK yang harus dirumuskan guru. Hierarchi keterkaitan tujuan pendidikan tersebut berdasarkan asumsi bahwa apabila tujuan pendidikan di bawah dirumuskan dengan benar dan tercapai maka tujuan pendidikan di atasnya akan tercapai. Keterkaitan antar tujuan tersebut masih berlangsung sampai kurikulum 1994 dan menjadi petunjuk kuat mengenai keterkaitan antara apa yang dikehendaki bangsa Indonesia dengan apa yang dikembangkan kurikulum.khusus. jika kualitas hasil belajar yang dirumuskan guru dalam TIK tercapai maka TIU yang menjadi dasar pengembangan TIK tersebut diasumsikan tercapai.

kuat lahir dan batin. Ketiganya adalah menjadi “warganegara yang baik sebagai manusia yang utuh. 2. Jika kualitas hasil belajar yang dirumuskan dalam berbagai Tujuan Kurikuler dimiliki peserta didik maka tamatan SMP akan memiliki kualitas hasil belajar yang dirumuskan dalam Tujuan Institusional (SMP) tersebut. Sedangkan tujuan ketiga menggambarkan apa yang dapat dilakukan peserta didik dari hasil yang dirumuskan pada tujuan pertama dan kedua yaitu peserta didik dapat menggunakan kemampuan yang sudah dimiliki untuk melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi atau menjadi anggota masyarakat yang memiliki keutuhan kemampuan serta sehat lahir-batin. sehat. Tujuan nomor satu jelas merupakan tujuan yang dirancang untuk menjadi kualitas peserta didik yang belajar dari kurikulum SMP sehingga kurikulum SMP diharapkan mampu mengembangkan berbagai pengetahuan.belajar yang dirumuskan dalam berbagai TIU tercapai maka Tujuan Kurikuler untuk bidang tudi tersebut tercapai. dan memiliki bekal untuk melanjutkan pelajarannya ke Sekolah Lanjutan Tingkat Atas dan untuk terjun ke masyarakat”. menguasai hasil pendidikan umum yang merupakan kelanjutan dari hasil pendidikan di Sekolah Dasar. Apabila semua tujuan institusional semua lembaga pendidikan tercapai maka kualitas manusia Indonesia yang dirumuskan dalam Tujuan Pendidikan Nasional tercapai pula. Tujuan Institusional SMP Dalam bab III Buku I Kurikulum SMP 1975 ditetapkan adanya Tujuan Umum dan Tujuan Khusus. Tujuan khusus pendidikan SMP menjadi tujuan yang secara operasional harus terjamin ketercapaiannya dalam rancangan dokumen kurikulum. Tujuan Umum menggambarkan tujuan pendidikan SMP yang terdiri atas tiga tujuan yang mencakup wewenang yang dimiliki seorang tamatan pendidikan SMP. ketrampilan dan nilai untuk menjadi warganegara yang baik. Tujuan nomor dua menggambarkan keterkaitan antara kurikulum SD – SMP sehingga ketiga kualitas yang dirumuskan dalam tujuan pertama merupakan suatu upaya lanjutan dari apa yang sudah dikembangkan dalam kurikulum SD. dalam proses   96 .

kemanusiaan. disiplin dan patuh. kreativitas. agama. belajar aktif. ketrampilan. jujur. rasa ingin tahu (minat). kritis. berpikir. percaya diri. dan nilai. sikap demokratis dan tenggang rasa. dan terbukti dalam informasi yang dikumpulkan oleh asesmen hasil belajar dan bahkan evaluasi kurikulum. dan vokasional). berinisiatif. serta tujuan. produktif. Dari tujuan khusus yang dirumuskan dalam Buku I Bab III Pasal 5 jelas menunjukkan pemahaman para pengembang kurikulum dalam berbagai teori tentang intelegensia. Tujuan khusus tersebut mencakup bidang pengetahuan. menghargai waktu. kebiasan hidup hemat. Ranah kemampuan/ketrampilan yang meliputi berbagai aspek inteleligensia yang lebih luas dibandingkan “multiple intelligences” Howard Gardner tidak mendapatkan perhatian dan pengembangan yang seharusnya. Kedua ranah yang disebutkan belakangan ini diperlakukan seperti ranah pengetahuan sehingga proses belajar dan materi pelajaran kedua ranah tersebut dikerdilkan menjadi ranah pengetahuan. mandiri-   97 . tanggungjawab. Ketiga ranah ini merupakan ranah penting karena pengetahuan adalah landasan untuk mengembangkan ketrampilan (belajar. dan untuk mengembangkan nilai yang berkenaan dengan ideologi dan dasar hukum/ filosofi negara. Ranah sikap dan nilai terabaikan dalam kadar yang sama dengan ranah kemampuan/ketrampilan. Pada masa belakangan para pelaksana kurikulum dan pengambil kebijakan dalam kurikulum tidak memberikan perhatian yang sungguh dalam mengembangkan ranah kemampuan/ketrampilan serta sikap dan nilai tetapi terfokuskan pada pengembangan pengetahuan. Ketrampilan dan nilai serta sikap yang dikembangkan Kurikulum 1975 masih relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia masa kini dan masih relevan dengan kebijakan pendidikan Pemerintah akhir-akhir ini yang diterjemahkan dalam kebijakan pendidikan budaya dan karakter bangsa. objektif. sehat dan berolahraga. mandiri. sikap dan nilai.implementasi kurikulum berupa kegiatan proses belajar-mengajar. Rumusan tujuan khusus tersebut jelas membedakan ranah pengetahuan dari kemampuan/ketrampilan dan nilai. kesehatan. menghargai pekerjaan . apresiasi budaya dan karya. estetika. kinestetik. kepemimpinan. rasional.

Pelajaran yang muncul dari pengalaman Kurikulum SMP 1975 adalah kekurangan dalam perhatian dan kemampuan mengembangkan proses belajar yang dapat membangun kemampuan. Sekolah harus menentukan proram pendidikan mana yang akan dikembangkan disesuaikan dengan fasilitas yang   98 . Kelemahan lain adalah dalam penilaian hasil belajar peserta didik yang sebagaimana halnya dengan proses pembelajaran terfokuskan dan terpuruk pada upaya mencari informasi tentang kemampuan peserta didik dalam ranah pengetahuan.kreatif dan kewirausahaan. Kenyataan ini merupakan pelajaran terbaik agar bangsa ini tidak lagi dan lagi mengulang kesalahan yang sama. kelemahan ini berlanjut pada kurikulum SMP berikutnya. Pengaruh dari asesmen hasil belajar yang terpuruk pada pengetahuan maka proses pembelajaran semakin memusatkan perhatiannya pada upaya pengembangan pengetahuan. Prinsip fleksibilitas program memberikan kemungkinan bagi sekolah untuk menyelenggarakan pendidikan ketrampilan yang berbeda baik pendidikan ketrampilan wajib mau pun pilihan. 3. Prinsip Yang Melandasi Pengembangan Kurikulum SMP 1975 Prinsip yang digunakan dalam mengembangkan Kurikulum SMP 1975 adalah sebagai berikut: Prinsip Fleksibilitas Program Prinsip efisiensi dan efektivitas Prinsip berorientasi pada Tujuan Prinsip Kontinuitas Prinsip Pendidikan Seumur Hidup Kelima prinsip tersebut digunakan dalam aspek pengembangan kurikulum yang berbeda. sikap dan nilai yang telah dirumuskan sebagai tujuan menjadi perilaku peserta didik. sikap dan nilai yang dibahas di kelas tapi mereka tidak mampu melakukannya dalam perilaku keseharian mereka di sekolah dan masyarakat. Kelemahan dalam mengembangkan proses pembelajaran dan keterpurukaa proses pembelajaran kemampuan (skills). Sayangnya. sikap dan nilai menyebabkan pengembangan ranah ketrampilan intelektual dan afektif tersebut menjadi pengembangan pengetahuan sehingga peserta didik mengenai apa yang dimaksudkan dengan berbagai ketrampilan.

Prinsip kontinuitas dirancang dan dikembangkan dalam pengertian bahwa adanya kontinuitas antara apa yang sudah dipelajari di SD dengan apa yang dipelajari di SMP dan juga dasar untuk melanjutkan belajar ke jenjang yang lebih tinggi. Sekolah harus menghindari kejenuhan yang terjadi di masyarakat akan kebutuhan suatu ketrampilan tertentu sehingga peserta didik dapat memanfaatkan ketrampilannya untuk mencari pekerjaan. dan memungkinkan peserta didik menggunakan waktu untuk mengembangkan kreativitas di luar kegiatan kelas. Berdasarkan tujuan yang akan dicapai dan materi pelajaran maka guru haru dapat menentukan proses belajar yang paling efektif. Prinsip efisiensi dan efektivitas digunakan untuk memanfaatkan waktu yang tersedia di kelas dengan sebaik-baiknya dan kemampuan belajar peserta didik diukur dari beban tugas yang harus dilakukannya. psikomotorik) dan materi afekti (nilai dan sikap) dari kelas/sekolah ke kelas/sekolah yang lebih tinggi. Prinsip ini merapakan prinsip kurikulum yang cukup penting yang sering diistilahkan dengan “vertical organization”. Kontinuitas dalam “vertical organization” tidak saja berkenaan dengan materi pengetahuan (knowledge) yang sudah dipelajari di sebuah jenjang pendidikan tetapi juga kontinuitas antara materi ketrampilan (intelektual. Penerapan prinsip efisiensi dan efektiitas kedua adalah dengan cara mengurangi jam belajar per minggu dari 42 jam menjadi 36. sosial. Prinsip berorientasi pada tujuan digunakan untuk mengembangkan proe belajarmengajar sehingga setiap guru dan peserta didik memahami apa yang akan mereka capai dengan materi pelajaran yang ada. Prinsip pendidikan seumur hidup menyatakan bahwa apa yang sudah dipelajari di sekolah dapat digunakan dan dikembangkan lebih lanjut ketika eseorang sudah   99 . emosional. Kurikulum mendesain agar proses belajar-mengajar di kelas tidak menghabiskan waktu belajar untuk menyalin materi pelajaran dari papan tulis. Pengurangan jam belajar tersebut dilakukan dengan landasan pikiran bahwa jam belajaar yang terlalu padat tidak memberikan peluang bagi peserta didik untuk mencernakan materi pelajaran dengan baik karena jenuh.dimiliki sekolah dan kebutuhan masyarakat akan ketrampilan yang ada pada program yang ditawarkan kurikulum.

melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 008-D/U/1975. Kurikulum 1975 merupakan kurikulum pertama di Indonesia yang dikembangkan berdasarkan teori. rasa ingin tahu yang tinggi serta disiplin. nilai-nilai ini yang juga dinatakan dalam tujuan kurikulum tidak dikembangkan sebagaimana seharusnya. Pemerintah menetapkan kurikulum baru untuk SMP dan dinamakan Kurikulum 1975. Rancangan pembelajaran yang dinamakan Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) untuk setiap mata pelajaran dikembangkan dalam Buku II. Untuk melaksanakan Kurikulum 1975 dikembangkan Pedoman Pelaksanaan Kurikulum berkenaan dengan hal khusus dan model satuan pelajaran. bimbingan dan   100 . proses pembelajaran. kebiasaan dan ketrampilan membaca. Tneu saja dengan demikian. Dapat dikatakan bahwa Kurikulum 1975 memberikan landasan baru bagi kebijakan pengembangan kurikulum di Indonesia. Ia memiliki kemandirian untuk belajar terus bagi pengembangan kemampuan dan kepribadian dirinya. 4. Sayangnya. dan desain kurikulum modern. sesuai dengan tahun penetapan berlakunya kurikulum tersebut. Model pembelajaran yang dikenal dengan nama Perencanaan Sistem Instruksional menjadi model baru dalam dunia pendidikan Indonesia. Dalam kegiatan pengembangan kurikulum 1975 pikiran teoritik dan prosedur pengembangan kurikulum modern dilaksanakan dalam pengembangan ide kurikulum. Pikiran teoritik tentang peserta didik. Ide kurikulum tersebut dirancang sedemikian rupa dan ditulis dalam Buku I dokumen kurikulum yang dinamakan Ketentuan-ketentuan Pokok. belajar sepanjang hidup tidak tampak dalam realita kehidupan peserta didik di sekolah dan masyarakat. penilaian. model.tidak lagi belajar di jalur sekolah atau pun luar sekolah. Ide kurikulum memuat landasan filosofis. penilaian hasil belajar dijadikan dasar-dasar utama dalam pemikiran pengembangan kurikulum. teoritis dan model kurikulum dan sebenarnya adalah jawaban kependidikan Pemerintah terhadap kebutuhan masyarakat sebagaimana yang dipersepsi oleh para pengambil keputusan dalam bidang pendidikan dan terjemahan dari kebijakan tersebut oleh para pengembang kurikulum secara teknis. Pikiran Pokok Kurikulum 1975 Pada tanggal 17 Januari tahun 1975. Sebetulnya untuk bisa belajar sepanjang hiddup seseorang memerlukan ketrampilan belajar. rancangan pembelajaran dan pedoman pelaksanaan.

memiliki makna yang penting. pendidikan ketrampilan pilihan bebas. guru dan pengawas sehingga terjadi kesamaan bahasa dalam komunikasi antara para pelaksana kurikulum dengan pengembang kurikulum. Dalam bagian umum dirumuskan berbagai istilah yang digunakan dalam kurikulum seperti GBPP. Kesamaan bahasa antara para pengembang dan pelaksana dipersyaratkan dalam banyak literatur tentang pengembang kurikulum karena kesamaan bahasa tersebut menjadi satu kunci   101 . dan masyarakat. susunan kurikulum (struktur kurikulum). tujuan umum dan tujuan khusus pendidikan SMP. Model pengembangan dokumen kurikulum yang terdiri atas 3 buku ini nantinya dilanjutkan terus pada pengembangan kurikulum berikutnya dan baru berubah ketika kebijakan pendidikan memberikan wewenang pengembangan kurikulum kepada daerah dan sekolah. Pikiran pokok tersebut berisikan ketentuan umum. Rumusan istilah-istilah yang digunakan dalam kurikulum baik yang sudah umum mau pun yang baru. Buku I Kurikulum 1975 memuat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 008-D/U/1975 tentang pikiran-pikiran pokok (curriculum ideas) dari Kurikulum 1975. jam pelajaran. dan strategi implementasi yang dinyatakan dalam bagian lain-lain/ penutup. semester. program pendidikan akademis. pendidikan ketrampilan pilihan terikat. Beberapa istilah adalah istilah baru yang dikembangkan dan digunakan oleh Kurikulum 1975. susunan program pengajaran dan metode penyampaian. program pendidikan umum. dan guru bidang studi (Kurikulum SMP 1975 menggunakan istilah bidang studi dan bukan mata pelajaran dan oleh karena itu maka guru pun adalah guru bidang studi dan bukan lagi guru mata pelajaran. guru. lama waktu belajar di SMP.penyuluhan. model satuan pelajaran. serta administrasi dan supervisi dalam Buku III. Beberapa dari istilah tersebut merupakan istilah yang sudah dikenal dan diartikan sama dengan pengertian yang sudah dikenal kepala sekolah. Pengertian tersebut mengikat dan menjadi patokan bagi kepala sekolah. dasar dan tujuan pendidikan . Rumusan itu menyampaikan pengertian yang digunakan oleh para pengembang ketika mereka mendesain dan mengembangkan dokumen kurikulum (curriculum as a written plan).

  102 . menjadi faktor yang cukup menentukan kelemahan kalau tidak dapat disebut sebagai kegagalan implementasi Kurikulum SMP 1975. Sayangnya. Pelatihan yang dilakukan tidak sampai kepada setiap guru dan tidak mampu mengembangkan ketrampilan yang diperlukan guru.keberhasilan pelaksanaan kurikulum. Lagipula. merumuskan tujuan instruksional khusus berdasarkan kaategori atau taksonomi tujuan pendidikan Bloom (Taxonomy of Educational Objectives). model satuan pelajaran yang nantinya menggunakan model Program Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Garis Besar Program Pengajaran dirumuskan sebagai “ikhtisar dari pada keseluruhan program pengajaran yang terdiri atas tujuan-tujuan kurikuler. Dalam Ketentuan Umum Kurikulum 1975 istilah baru yang diperkenalkan Kurikulum SMP 1975 yaitu Garis Besar Program Pengajaran (GBPP). pengembangan tes objektif. Secara khusus GBPP dikembangkan sebagai dokumen khusus untuk setiap bidang studi yang ada dalam struktur Kurikulum 1975 berisikan rumusan tujuan kurikuler. dan bahkan ketrampilan dalam belajar dengan Cara Belajar Siswa Aktif serta pengembangan strategi dan proses pembelajaran yang menyebabkan peserta didik belajar aktif. kelemahan dalam sosialisasi untuk implementasi terutama berkenaan dengan aspek ketrampilan yang harus dimiliki guru seperti pengembangan PPSI. Lagipula. Rumusan yang telah dikembangkan menjadi titik berangkat dalam membangun persamaan bahasa dalam sosialisasi. tujuan instruksional (umum dan khusus). tujuan-tujuan instruksionil (sic!) dengan ruang lingkup bahan-bahan pengajaran yang diatur dan disusun secara berurutan menurut semester dan kelas”. banyak dari pelatihan tersebut dilakukan sepanjang perjalanan implementasi dan bukan di awal tahun sebelum implementasi di kelas I dilakukan. sosialisasi mempunyai fungsi untuk membangun pemahaman dan mengembangkan ketrampilan baru yang diperlukan guru bidang studi. guru bidang studi sebagai pengganti guru mata pelajaran. Meski pun demikian harus diingat bahwa adanya rumusan istilah yang telah dilakukan para pengembang kurikulum bukanlah pengganti sosialisasi sebagai salah satu strategi implementasi kurikulum. semester sebagai pengganti sistem kuartalan.

alat/media pelajaran.tujuan isntruksional umum (TIU). Model satuan pelajaran dirumuskan sebagai “pedoman tentang proses belajarmengajar yang meliputi tujuan-tujuan instruksionil (khusus). afektual. Setiap rumusan TIU mengandung komponen peserta didik.  Dengan  pendekatan tujuan  maka  seharusnya  TIK  dirumuskan  sebagai  operasionalisasi  TIU  terutama  yang  berkenaan  aspek  kemampuan  intelektual. Kedua proses tersebut bersifat timbal balik dan menyebabkan terjadinya proses belajar bermakna. Meski pun demikian. alat  evaluasi  yang  perlu  disusun  untuk  mengukur  tingkat  pencapaian  tujuan  para  siswa.    18   103 . dan dari satu semester ke semester berikutnya. kemampuan/ketrampilan (intelektual. Aspek substantif dipelajari dan digunakan untuk melatih peserta didik dalam menguasai aspek kemampuan tetapi aspek kemampuan/ketrampilan juga digunakan dalam mempelajari aspek substantif sehingga peserta didik mencapai tingkat mahir dalam menggunakan kemampuan/ketrampilan. psikomotorik).  perincian  pokok‐pokok  bahasan.  alat‐alat  pelajaran  yang  harus  disediakan  dan  digunakan. dan alat evaluasi yang digunakan”. PPSI cukup efektif untuk mengimplementasi kurikulum sebagai dokumen menjadi kurikulum sebagai suatu proses. Model PPSI dikembangkan dari wilayah Desain Instruksional (Instructional Design) dan bukan bidang kurikulum.  dan  psikomotorik  dan  rincian  materi  pembelajaran  dari  materi  TIU  yang  sesuai dengan materi pokok bahasan. Sebagaimana dikemukakan di atas model satuan pelajaran yang diperkenalkan Kurikulum SMP 1975 dinamakan Program Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). uraian kegiatan belajar-mengajar murid dan guru.3  di  halaman 21  dikatakan  bahwa  “pokok  bahasan  yang telah disusun secara berurutan ini selanjutnya perlu dikembangkan menjadi suatu program  instruksionil  yang  jelas  sasarannya  (dalam  bentuk  rumusan  tujuan  instruksionil  yang  lebih  khusus). pokok-pokok bahasan. cara mengajar dan belajar yang harus ditempuh. Guru berkewajiban mengembangkan GBPP menjadi satuan pelajaran untuk setiap TIU dan pokok bahasan yang perlu dipelajari untuk menguasai kemampuan yang tertuang dalam rumusan TIU 18 .  Petunjuk  tersebut  agak  “menyesatkan”    karena  model  yang  digunakan  adalah  pendekatan  tujuan  sebagaimana  dinyatakan  dalam  buku  yang  sama  di  halam  17  (prinsip berorientasi  pada  tujuan)  dan  pada  halaman  21  tentang  kedudukan  tujuan. dan tata urut penyampaian bahasan (sequence) di setiap semester. Pemanfaatan PPSI sebagai salah satu aspek inovatif yang diperkenalkan Kurikulum SMP 1975                                                                Dalam  Buku  I  Kurikulum  SMP  1975  titik  2.  afektif. lamanya pelajaran itu diadakan. dan aspek substantif yang harus dipelajari dan dikuasai peserta didik. pokok-bahasan.

memiliki dampak yang cukup positif dalam perkembangan pendidikan di Indonesia. degree). Tujuan kurikuler merumuskankan kualitas hasil belajar/kemampuan yang akan dicapai peserta didik dari sebuah bidang studi. penggunaan istilah instruksional umum dan khusus memberikan landasan pengembangan yang lebih jelas. Lagipula. rumusan ABCD ini merupakan salah satu aspek inovatif yang diperkenalkan oleh Kurikulum SMP 1975 dalam merumuskan TIK. Memang harus diakui bahwa model PPSI memberikan keterbatasan dalam arti pencapaian tujuan yang sangat terbatas tetapi hal tersebut dapat dihindari jika rumusan TIU dan terutama rumusan TIK tidak diarahkan kepada persyaratan pandangan behavioristik Mager yang dikenal dengan persyaratan ABCD (audience. conditions. ketika asesmen itu dilakukan pada setiap saat peserta didik membahas suatu pokok bahasan maka daya ingat akan lebih kuat dan segar dibandingkan apabila tes atau ulangan itu dilakukan pada beberapa saat setelah materi pelajaran itu dikaji. Bersamaan dengan penerapan PPSI maka diperkenalkan pula istilah instruksional umum (TIU) dan instruksional khusus (TIK) sebagai upaya membedakan dengan pengertian tujuan kurikuler yang digunakan dalam Garis Besar Program Pengajaran. Konsekuensi dari pemikiran ini adalah frekuensi pengukuran pencapaian hasil belajar menjadi lebih sering sehingga peserta didik mengikuti tes atau ulangan untuk ruang lingkup materi yang lebih terbatas.   104 . Kurikulum SMP 1975 menghendaki adanya perubahan dari pandangan lama bahwa penilaian hanya dapat dilakukan pada akhir catur wulan/kuartalan atau pada akhir tahun maka Kurikulum SMP 1975 dilaksanakan pada akhir setiap satuan pelajaran. Selain sebagai pembeda yang disebabkan oleh fungsi dan ruang lingkup yang berbeda antara tujuan kurikuler. tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus. tujuan instruksional umum merumuskan kualitas hasil hasil belajar/kemampuan yang akan dicapai peserta didik dari beberapa pokok bahasan sebuah bidang studi sedangkan TIK merumuskan kualitas hasil belajar/kemampuan peserta didik setelah mempelajari suatu pokok bahasan. behavior. Sayangnya. Pikiran pokok lain yaang dikembangkan Kurikulum SMP 1975 mengenai sistem penilaian.

Penilaian formatif dilakukan untuk memperbaiki kemampuan peserta didik sedangkan penilaian sumatif digunakan untuk menentukan tingkat keberhasilan belajar peserta didik. Dalam bidang penilaian hail belajar Kurikulum SMP 1975 memperkenalkan dua jenis penilaian yaitu penilaian formatif dan sumatif. Jika alat asesmen hasil belajar digunakan tidak saja untuk mengumpulkan informasi tentang kemampuan peserta didik tetapi juga menjadi fasilitas bagi peserta didik untuk mengakses pengetahuan dan menggunakannya maka semakin sering diadakan ulangan/tes semakin tinggi tingkat pemanfaatan pengetahuan dan pada gilirannya semakin mudah memanggil pengetahuan yang bersangkutan. Pengetahuan yang digunakan setiap hari menjadi pengetahuan yang selalu siap dipanggil setiap saat dan dengan demikian ia akan tersimpan dalam memori di tempat yang mudah terjangkau. Semakin sering sebuah pengetahuan digunakan maka semakin mudah tinggi tingkat kemampuan untuk memanggilnya. Istilah formatif dan sumatif diperkenalkan oleh Michael Scriven tahun 1967 untuk bidang evaluasi kurikulum dan oleh Benjamin Bloom dan kawan-kawannya untuk bidang evaluasi hasil belajar.Semakin lama suatu pengetahuan bersifat asing atau tidak menjadi bagian integral dari schema seseorang dan semakin lama jarak waktu antara saat ketika materi tersebut dipelajari dengan saat ulangan/tes maka semakin banyak pengetahuan itu tersimpan dalam memori dan sukar dipanggil untuk menjawab pertanyaan yang ada dalam tes/ulangan. Dari suudut pandang teoritis ini maka pikiran yang dikembangkan Kurikulum SMP 1975 merupakan suatu pendekatan yang memiliki kemampuan tinggi dalam mengatasi kelemahan peserta didik dalam menghafal. Sejak diperkenalkan oleh Kurikulum SMP 1975 kedua istilah itu menjadi nomenclature yang dikenal oleh guru. dan juga orang tua terkadang dalam penggunaan makna yang salah. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Kesalahan yang terjadi ialah penilaian formatif tidak digunakan untuk memperbaiki kemampuan peserta didik yang rendah baik kemampuan kelas (dengan adanya ketentuan lebih dari 75% peserta didik di suatu kelas menguasai kurang dari 75% kemampuan yang dirumuskan dalam tujuan   105 . masyarakat pendidik.

Pendekatan belajar tuntas   106 . Prinsip menyeluruh dalam asesmen hasil belajar diaplikasikan oleh Kurikulum SMP 1975 dan ini hanya dapat dilakukan jika guru paham dan memiliki ketrampilan menerapkannya. Prinsip belajar tuntas merupakan pikiran pokok yang dikembangkan dalam Kurikulum SMP 1975 adalah mengenai pendekatan belajar tuntas. dan juga psikomotor. asesmen yang dilakukan tidak boleh hanya membatasi diri pada upaya mendapatkan informasi mengenai penguasaan pengetahuan semata tetapi juga aspek lain dari kemampuan yang harus dimiliki peserta didik. Asesmen harus berkenaan dengan kemampuan/ ketrampilan intelektual. Artinya. Penerapan prinsip dan pendekatan belajar tuntas tidak saja memerlukan perubahan kemampuan pada diri guru tetapi terlebih lagi perubahan dalam cara pandang mengenai belajar dan posisi peserta didik dalam belajar. Hal lain yang berkenaan dengan asesmen hasil belajar ialah asesmen itu harus menckup keseluruhan aspek tingkah laku.instruksional khusus) apalagi secara individual dimana guru harus melakukan analisis jawaban peserta didik secara khusus untuk menentukan kelemahan yang masih dimiliki seorang peserta didik. Kembali masalah sosialisasi jadi masalah sehingga guru tidak memiliki ketrampilan yang cukup untuk melaksanakan kurikulum. Kalaulah tradisi penilaian formatif ini berjalan sebagaimana seharusnya dan berkelanjutan sampai masa kini banyak kelemahan proses pembelajaran dapat diperbaiki dan peserta didik akan selalu mendapatkan bantuan belajar yang diperlukannya. Dalam pedoman dinyatakan bahwa apabila 75% peserta didik tidak menguasai 75% kemampuan yang dirumuskan dalam TIK maka guru harus mengulang pembelajaran pokok bahasan tersebut. afeksi. Metode mengajar dapat membantu peserta didik dapat memperpendek waktu untuk menguasai kemampuan dan pengetahuan asalkan dilakukan dalam suatu proses pembelajaran yang tepat bagi seorang peserta didik. Prinsip belajar tuntas mengatakan bahwa setiap peserta didik dapat menguasai kemampuan dan pengetahuan apa pun yang dikehendaki kurikulum asalkan mereka diberi waktu yang sesuai dengan tingkat kecepatan belajar mereka.

Struktur Kurikulum dan Bidang Studi Buku I Pasal 6 dan 7 menetapkan struktur Kurikulum SMP 1975 terdiri atas program pendidikan umum. Model kurikulum yang berorientasi pada tujuan. 5. Demikian pula dengan program Pendidikan Akademis yang akan menjadi dasar bagi mereka yang akan melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi. dan program pendidikan ketrampilan.menhendaki suatu keyakinan pada diri guru bahwa setiap peserta didik akan mampu menguasai kemampuan yang dirumuskan dalam tujuan. Keterkaitan dengan TAP MPRS tahun 1973 yang memberikan perhatian khusus kepada ketrampilan diterjemahkan dalam bentuk kedua pilihan ketrampilan ini. Kurikulum 1975 dikembangkan untuk mengubah berbagai tradisi dengan hal-hal baru. model penerapan proses pembelajaran yang juga berorientasi pada tujuan serta asesmen yang mengukur pencapaian kemampuan yang terumuskan dalam tujuan menjadikan Kurikulum 1975 sebagai tonggak pengembangan kurikulum modern di Indonesia. Program Ketrampilan terdiri atas dua kelompok yaitu Program Ketrampilan pilihan terikat yang berkenaan dengan berbagai ketrampilan vokasional dan Program Ketrampilan pilihan bebas yang berkenaan dengan berbagai kegiatan keilmuan. program pendidikan akademis. olahraga. Pikiran pokok yang dikembangkan Kurikulum 1975 yang telah dikemukakan di atas memberi petunjuk yang kuat bahwa Kurikulum 1975 mencoba mengubah banyak tradisi yang sudah berakar dalam dunia pendidikan Indonesia.   107 . Mengubah cara pandang guru lebih sulit dibandingkan dengan mengembangkan ketrampilan baru dan tentu saja lebih sulit lagi dibandingkan dengan penguasaan pengetahuan. Dua kelompok proram Ketrampilan yang dikembangkan Kurikulum SMP 1975 memberikan keleluasaan kepada peserta didik untuk mendapatkan ketrampilan yang berguna untuk mengembangkan minat mereka untuk memasuki dunia kerja berbekal ketrampilan vokasional yang bersifat pilihan terikat dan ketrampilan untuk memperdalam suatu bidang minat tertentu. kesenian dan kesehatan. Program Pendidikan Umum harus diikuti oleh eluruh peserta didik.

Bahasa Indonesia 6.Ilmu Pengetahuan Alam Pendidikan Ketrampilan 11.Pendidikan Kesenian Pendidikan Akademis 5.Pendidikan Moral Pancasila 3.2 Struktur dan Bidang Studi Kurikulum SMP 1975 No. Perubahan nama atau label ini jelas memperlihatkan orientasi keilmuan yang lebih kuat pada Kurikulum 1975 dibandingkan Kurikulum 1968.Pilihan terikat 12. Matematika 10. Penggantian nama yang sangat bersifat politis dan sensitif tersebut tentu saja sudah berdasarkan analisis kondisi masyarakat dan pemerintahan pada waktu itu yang sudah lebih dapat menerima tidak digunakannya istilah Pancasila.Pilihan bebas I Semester 1 2 2 3 2 5 2 2 2 3 2 5 K E L A S II 3 2 2 3 2 5 4 2 2 3 2 5 III 5 2 2 3 2 5 4 4 5 4 6 6 2 2 3 2 5 4 4 5 4 6 (2) (2) (2) (2) 4 4 5 4 6 4 4 5 4 6 4 4 5 4 6 4 4 5 4 6 37 Jumlah jam pelajaran per minggu 37 37 37 37 37 (39) (39) (39) (39) Struktur dan bidang studi Kurikulum 1975 memiliki beberapa perubahan dari Kurikulum 1968 SMP. Bahasa Inggeris 8. Kajian terhadap rumusan tujuan pendidikan dalam TAP MPRS nomor IV tahun 1973 yang sudah mengganti istilah manusia   108 . Bidang Studi Program Pendidikan Pendidikan Umum 1. Ilmu Pengetahuan Sosial 9.Pendidikan Agama 2. Bahasa Daerah 7.Olahraga dan Kesehatan 4.Tabel 7. Perubahan pertama adalah pada label nama kelompok yaitu nama Pembinaan Jiwa Pancasila sudah tidak digunakan dan digantikan dengan Pendidikan Umum.

Padahal untuk menjadi warganegara seseorang harus mengetahui ideologi negaranya. ada hal yang rancu yaitu bidang studi Bahasa Daerah yang dimasukkan sebagai bidang kajian akademis. bersikap. bersamaan dengan Pendidikan Agama dan Pancasila. Bahasa Daerah dalam kurikulum diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa dan apresiasi terhadap karya sastra yang dihasilkan dalam bahasa daerah. dengan perubahan posisi ini maka pendidikan Bahasa Indonesia bukan lagi merupakan salah satu landasan pokok. 1964 dan 1968 dimana mata pelajaran sejarah Indonesia diubah posisinya menjadi menjadi mata pelajaran akademis semata. Untuk warganegara yang dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia pendidikan.Pancasila sejati (TAP MPRS XXVII tahun 1966) menjadi manusia pembangunan yang ber-Pancasila menunjukkan adanya sikap yang lebih akomodatif terhadap penggunaan istilah lain selain Pancasila. tatanegara dan bahasa nasional/bahasa resmi. Meski pun demikian. wilayah. dalam hal ini kurikulum.annya. Penggantian nama kelompok ini jelas menunjukkan konsep Kurikulum 1975 yang didasarkan pada pemikiran kurikulum pendidikan disiplin ilmu. rasa ingin tahu. Dalam kelompok ini maka bidang studi yang tercantum memiliki fungi utama untuk mengembangkan kemampuan akademis peserta didik dalam cara berpikir. Dengan memaukkan Bahasa Daerah sebagai bidang studi dalam kelompok   109 . Oleh karena itu perubahan posisi Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 1975 dan mata pelajaran Sejarah Indonesia serta Ilmu Bumi/Geografi Indonesia menjadi bidang kajian akademis jelas didasarkan pada pertimbangan ilmu dan bukan didasarkan pada konsep kewargaannegaraan yang dimaksudkan. untuk pendidikan kewargaannegara. dan belajar. Kelompok Pengetahuan Dasar dalam Kurikulum 1968 diganti namanya menjadi kelompok Pendidikan Akademis. Artinya. Kebijakan serupa terjadi ketika Kurikulum 1954 digantikan oleh Kurikulum 1962. adalah upaya untuk mengembangkan wawasan dan kesadaran kewarganegara. sejarah bangsanya. Dalam kelompok Pendidikan Umum bahasa Indonesia tidak lagi menjadi anggotanya karena Bahasa Indonesia menjadi bidang studi dalam kelompok Pendidikan Akademis. Sebagaimana halnya dengan Bahasa Indonesia.

dan mungkin ini yang memberikan justifikasi memasukkan bidang studi Bahasa Daerah sebagai anggota kelompok Pendidikan Akademis. 1999. apa yang sudah diperkenalkan Kurikulum 1975 merupakan titik awal sejarah perkembangan   110 . Meskipun disadari bahwa pada waktu Kurikulum 1975 digunakan. O’Donnel dkk. Longstreet dan Shane. Walau pun di Indonesia terjadi perkembangan baru dalam pemikiran pengembang kurikulum dan pengambil kebijakan pendidikan di Indonesia dengan membatasi penerapan organisasi “broad-fields” terbatas pada jenjang pendidikan dasar (SD dan SMP). Suatu kenyataan menarik dalam kelompok Pendidikan Akademis adalah pemikiran para pengembang kurikulum untuk menggunakan organisasi “broadfields” yaitu dengan menggabungkan mata pelajaran Aljabar dan Ilmu Ukur menjadi bidang studi Matematika. 2002). Perkembangan pemikiran kurikulum sekolah menengah ketika upaya memperkenalkan pendekatan ini untuk kurikulum perguruan tinggi dianggap berhasil mengembangkan kemampuan berpikir mahasiswa yang lebih luas dan tidak terkotak-kotak (Tanner dan Tanner. 1993:82).Pendidikan Akademis tentu saja mengurangi tujuan yang dimaksudkan. 1993:82) dan pada saat sekarang dunia menyaksikan bahwa organisasi “broad-fields” menjadi pendekatan yang banyak dilakukan untuk kurikulum sekolah dasar dan menengah di berbagai negara (NIER. SMP belum menjadi bagian dari pendidikan dasar karena pendidikan dasar 9 tahun (SD dan SMP) baru ditetapkan dalam Undang-Undang nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu pada Penjelasan Pasal 13 ayat (1) sedangkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1954 tentang Pernyataan Berlakunya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1950 Dari Republik Indonesia Terdahulu Tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran Disekolah Untuk Seluruh Indonesia menetapkan SMP sebagai pendidikan menengah dan bukan bagian dari pendidikan dasar. 1980:428. mata pelajaran Ilmu Alam dan Ilmu Hayat menjadi Ilmu Pengetahuan Alam serta mata Ilmu Bumi dan mata pelajaran Sejarah menjadi bidang studi Ilmu Pengetahuan Sosial. Keberhasilan tersebut menarik perhatian para pengembang kurikulum sekolah menengah dan sekolah dasar di Amerika Serikat (Longstreet dan Shane.

 Dalam revisi ini kemampuan synthesis ditetapkan sebagai kemampuan kognitif tertinggi. Pada saat sekarang pendekatan ini telah berkembang sedemikian rupa dan dianggap merupakan titik berangkat untuk mengembangkan kemampuan berpikir komprehensif. Hal yang sama terjadi pula dengan bidang studi IPA yang terdiri atas komponen materi terutama berasal dari biologi dan fisika. analitik.kurikulum di Indonesia dalam menerapkan pemikiran organisasi konten “broadfields”.  Istilah  sinthesis  diganti  menjadi  “create” kemampuan menciptakan yang merupakan kemampuan untuk menghasilkan kreativitas. guru yang ada di sekolah dididik untuk mengembangkan materi dan proses pembelajaran berdasarkan pendekatan “discrete disiciplinary”. 19 Oleh karena itu pendekatan “broad-fields” mengubah tradisi kurikulum di Indonesia yang sebelumnya selalu berdasarkan pendekatan “discrete disciplinary” sesuai dengan pandangan essensialisme.  di atas kemampuan evaluasi yang ditetapkan sebagai kemampuan di bawah sintesis tetapi yang  hasil  evaluasi  itu  diperlukan  untuk  membangun  sinthesis. Keleluasaan dalam berpikir dan melihat masalah yang tidak terbatasi oleh dinding-dinding ilmu yang “discrete” memberikan dasar yang kuat untuk mengembangkan kreativitas. evaluatif dan sintesis/mencipta sehingga memberikan kemungkinan untuk mengembangkan kreativitas peserta didik. guru yang terdidik dalam sejarah tetap mengajar sejarah. Guru yang terdidik dalam bidang geografi mengajar geografi. dan guru yang terdidik dalam ekonomi mengajarkan materi pelajaran ekonomi.     111 .                                                              19  Dalam revisi yang dilakukan oleh Airisian dan kawan‐kawan terjadi pemberian makna baru dan  restrukturisasi taksonomi tujuan pendidikan ranah kogniti yang dikembangkan Bloom dan kawan‐ kawan. Permasalahan yang muncul adalah ketika pendekatan ini diperkenalkan Kurikulum SMP 1975. Masing-masing guru biologi dan fisika mengajar bidang studi IPA dengan cara mengajar materi masing-masing disiplin ilmu secara terpisah. Pada tahun-tahun awal implementasi kurikulum dan bahkan untuk waktu 5 tahun setelah Kurikulum SMP 1975 dinyatakan resmi berlaku masih banyak di antara guru yang mengajar bidang studi Ilmu Pengetahuan Sosial Pengetahuan Alam (IPS) dan Ilmu (IPA) secara terpisah. Organisasi “broad-fields” pada dasarnya adalah pendekatan dalam pendidikan disiplin ilmu.

Satuan pelajaran yang harus dikembangkan guru masih terbatas pada pengembangan satu pokok bahasan yang terdapat pada GBPP dan belum menjadi rencana pembelajaran guru untuk satu semester. Satuan pelajaran pada dasarnya adalah rencana guru dalam mengembangkan Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) menjadi kurikulum guru dalam bentuk rencana tertulis guru.Satuan Pelajaran dan Taksonomi Tujuan Pendidikan Implementasi atau penerapan Kurikulum SMP 1975 di sekolah melalui perenanaan yang dilakukan guru yaitu dengan mengembangkan Satuan Pelajaran (Satpel). Matemateka. Pada waktu pertemuan di Musyawarah Kerja Guru Bidang Studi mereka berkelompok pada   112 . Oleh karena itu Satuan Pelajaran dibuat oleh guru bidang studi tersebut baik yang dilakukan guru secara individual mau pun dalam kelompok Musyawarah Kerja Guru Bidang Studi.Kenyataan bahwa guru IPS dan IPA masih mengajar dengan menggunakan pendekatan “discrete disciplinary” dapat dikatakan sebagai indikator yang menyebabkan ketidakberhasilan upaya Kurikulum SMP 1975 memperkenalkan pendekatan ini. Bahasa Inggeris dan seterusnya. Guru bidang studi IPS mengembangkan Satuan pelajaran untuk kelas yang diajarnya demikian pula guru bidang studi IPA. sosialisasi kurikulum yang kurang mampu mempersiapkan lapangan dalam melaksanakan pendekatan ini dan kurangnya koordinasi yang lebih baik dan terarah antara para pengembang kurikulum dan pengambil kebijakan kurikulum dengan lembaga pendidikan tenaga kependidikan kurang berhasil. 6. Tampaknya. Pemikiran bahwa implementasi kurikulum dilakukan melalui perencanaan guru dalam bidang studi secara terpisah masih mendominasi pemikiran para pengembang kurikulum. Pikiran-pikiran baru yang akan dikembangkan oleh sebuah kurikulum baru sudah sepatutnya dikomunikasikan dan mesti dibicarakan dengan lembaga penghasil tenaga kependidikan secara menyeluruh dan mendalam sehingga lembaga pendidikan tenaga kependidikan dapat mengembangkan wawasan baru dan ketrampilan baru yang dikehendaki kurikulum dalam program pendidikan calon guru yang dibina dalam bentuk pendidikan pra-jabatan dan kepada guru yang sudah ada di lapangan dalam bentuk pendidikan dalam jabatan.

Konsekuensi dari pemikiran bahwa kurikulum adalah kurikulum sekolah menghendaki perencanaan dokumen kurikulum yang menggambarkan adanya keutuhan tersebut. afektif. Sebagaimana kurikulum sebelumnya.kelas yang diajar oleh guru dari berbagai sekolah dan menghasilkan Satuan Pelajaran untuk bidang studi kelas yang menjadi tanggungjawab mereka. Oleh karena itu materi kurikulum yang masuk dalam kategori ketrampilan (ketrampilan kognitif. antara nilai dan sikap dengan jenjang afektif. Pemikiran semacam itu pernah dimunculkan dalam rancangan kurikulum berbasis kompetensi dengan label kompetensi lintas kurikulum. ketrampilan kinestetik. Sejalan dengan kebijakan mengenai Satuan Pelajaran dan penggunaan tes objektif yang bersifat terukur.   113 . pemikiran bahwa kurikulum adalah kurikulum sekolah dan bidang studi atau pun mata pelajaran adalah bagian dari kurikulum sekolah belum menjadi fokus perhatian para pengembang kurikulum. dan kawan-kawan (1957). ketrampilan sosial. Istilah teknis ini berkembang sampai saat kini walau pun dalam penggunaannya banyak kalangan yang mencampuradukkan antara pengetahuan dengan kognitif. dan antara gerak motorik dengan ketrampilan psikomotorik. Label itu salah nama karena tidak ada kurikulum mata pelajaran tetapi label itu dapat dimengerti karena tradisi ebelumnya memperlakukan mata pelajaran sebagai kurikulum. dan psikomotor sesuai dengan istilah yang digunakan. rumusan Tujuan Instruksional Khusus (TIK) yang terukur dan spesifik dengan persyaratan ABCD yang dikemukakan Mager maka diperkenalkan juga taksonomi tujuan pendidikan yang dikembangkan oleh Benjamin Bloom. dan materi kurikulum yang masuk dalam kategori nilai dan sikap harus diorganisasikan sebagai materi kurikulum yang dikembangkan melalui materi pengetahuan yang diorganisasikan dalam label mata pelajaran atau bidang studi. Tidak jarang terdengar para pengambil keputusan atau pelaksana pendidikan menyamakan pengetahuan dengan kognitif. Istilah teknis yang mulai diberlakukan adalah kognitif. dan sebagainya).Sayangnya pendekatan yang digunakan dalam mengembangkan kompetensi lintas kurikulum adalah pendekatan induktif padahal seharusnya dilakukan di awal proses pengembangan/konstruksi dokumen kurikulum.

menilai. memahami (understand). Demikian pula menyamakan nilai/moral/sikap dengan jenjang afektif padahal nilai/moral/sikap adalah materi yang dikembangkan dalam berbagai jenjang afektif (menerima. nilai. Rumusan TIK yang dikembangkan guru dalam menyusun TIK dan butir soal menggunakan kata kerja yang terkait dengan kemampuan kognitif. ketrampilan (intelektual dan motorik). Gerak motorik adalah gerak yang harus dilakukan otot dengan kendali psikologis dan kognitif untuk mencapai jenjang psikomotorik yang paling tinggi. dan  kawan‐kawan dimana  untuk menghilangkan kesalahpahaman maaka pengetahuan digambarkan secara terpisah dari  kognitif. moral. Kata kerja tersebut dikenal dengan istilah Kata Kerja Operasional (KKO) digunakan untuk merinci perilaku terukur dalam rumusan TIK dari kata kerja yang masih bersifat umum yang terdapat pada rumusan Tujuan Instruksional Umum (TIU). Pertama diperkenalkan adanya asesmen formatif                                                              20  Jenjang kognitif yang dikembangkan Bloom dan kawan dan diterbitkan dalam buku yang  berjudul Taxonomy of Educational Objectives direvisi oleh Airasian. mencipta (create). dan label untuk setiap jenjang  diganti menjadi mengingat (remember). prosedur. merespon. dan psikomotor. sintesis ditempatkan sebagai jenjang  kognitif tertinggi.Pengetahuan adalah unsur subtantif yang dihasilkan oleh ilmu dan kegiatan lainnya terdiri atas pengetahuan tentang istilah.       114 . konsep. Kognitif adalah kemampuan akal dalam memeroses pengetahuan dalam berbagai jenjang kemampuan kognitif 20 sehingga menghasilkan pengetahuan baru. menilai   (evaluate). Orientasi pengukuran dalam penilaian hasil belajar masih cukup dominan dan oleh karena itu rumusan TIK yang terukur dan butir soal yang terkait dengan keterukuran perilaku peserta didik masih merupakan tuntutan yang harus dipenuhi guru dalam melaksanakan kurikulum. afektif. Asesmen Hasil Belajar Ada beberapa prinsip yang diperkenalkan oleh Kurikulum SMP 1975 berkenaan dengan asesmen hasil belajar. mengorganisasikan. menerapkan (apply). teori. Pemanfaatan Kata Kerja Operasional (KKO) dalam mengembangkan tujuan masih menjadi tradisi dalam penerapan kurikulum masa kini. 7. dan menjadikan kebiasaan).

Sayangnya. Asesmen sumatif berfungsi untuk menentukan tingkat keberhasilan peserta didik baik dalam bentuk kenaikan kelas atau pun keberhasilan menyelesaikan pendidikannya di sebuah satuan pendidikan. Perpindahan kajian dari satu pokok bahasan ke pokok bahasan berikutnya dapat dilanjutkan tanpa ada akumulasi ketidakmampuan yang dimiliki peserta didik pada akhir satu semester. Melalui penerapan fungsi formatif maka dari hasil tes atau ulangan guru dan juga peserta didik mendapat informasi tentang materi pelajaran yang belum mereka kuasai dan guru serta peserta didik dapat menggunakan informasi tersebut untuk memperbaiki tingkat penguasaan. Kedua adanya kebijakan mengenai frekuensi asesmen yang dilakukan terus menerus setiap suatu pokok bahasan selesai dipelajari sehingga prinsip asesmen modern yaitu asesmen dilakukan secara kontinu diperkenalkan oleh Kurikulum SMP 1975. dalam pelaksanaan kurikulum asesmen sumati lebih dominan dibandingkan asesmen formatif. Tentu saja praktek yang lebih mementingkan asesmen sumatif kesan tersebut tidak menguntungkan karena dengan menerapkan fungsi formatif dalam asesmen hasil belajar maka guru dan peserta didik memiliki banyak kesempatan untuk memperbaiki penguasaannya.dan sumatif. Kedua fungsi asesmen ini saling melengkapi tetapi asesmen formatif lebih penting bagi membantu peserta didik dalam keberhasilan belajar. Secara teoretik.   115 . Berdasarkan informasi mengenai kelemahan yang dimiliki peserta didik guru melakukan berbagai tindakan perbaikan (remedial) sehingga peserta didik yang bersangkutan dapat memiliki pengetahuan dan kemampuan yang diharapkan. Memang kebijakan ini memberikan tugas yang tidak ringan kepada para guru tetapi memberikan keuntungan edukatif yang tinggi kepada peserta didik. asesmen formatif adalah asesmen untuk mengenal kekuatan dan kelemahan peserta didik dalam menguasai pengetahuan dan kemampuan tertentu. Melalui penerapan prinsip ini maka dapat dikatakan peserta didik selalu berada dalam keadaan siap belajar dan mengikuti asesmen bahkan ada kesan bahwa peserta didik belajar untuk tes.

Perubahan dari tes uraian yang dianggap terlalu banyak mengandung hal-hal yang subjektif ke tes objektif menghendaki ketrampilan baru yang harus dimiliki guru. Konstruksi soal-soal dalam kelompok butir soal objektif. Guru yang akan melaksanakan Kurikulum 1975 sudah harus memiliki ketrampilan yang diperlukan dalam mekonstruksi butir soal objektif sebelum mereka mengimplementasikan kurikulum tersebut. apa yang terjadi terutama terkait dalam kemampuan guru dalam menyusun kisi-kisi soal secara teknis dan memenuhi berbagai persyaratan dari sudut pandang tes tetapi tidak dari sudut pandang pedagogis kependidikan. Sayangnya. Penentuan setiap komponen yang tercantum dalam kisi-kisi memerlukan pertimbangan pedagogis dan profesional guru yang hanya diperoleh jika guru mendapatkan pelatihan dalam jabatan (inservice). Guru harus memiliki kemampuan dalam menyusun kisi-kisi soal yang didalamnya melibatkan berbagai keputusan mengenai tingkat kesulitan butir soal dan tes. benar – salah (true-false). Pengembangan butir soal objektif merupakan sesuatu yang baru karena sebelumnya guru menggunakan soal uraian.Dalam Buku III B tentang Pedoman Penilaian. Akibatnya. karena mereka tidak mendapatkan pelatihan. Kiranya tak perlu dikatakan bahwa ketidakmampuan guru dalam merekonstruksi butir soal dan tes objektif. menyebabkan keampuhan alat   116 . pelatihan yang diterima guru dalam mengembagkan tes objekti dan menyusun soal objektif hanya berkenaan dengan aspek teknis- administratif tetapi tidak cukup adekuat untuk memberikan ketrampilan terlatih dalam mnentukan pertimbangan pedagogis. Kurikulum SMP 1975 memperkenalkan inovasi lain yaitu tes objektif dan pendekatan norms-referenced pada pengolahan data asesmen. Kemampuan lain yang mendasar dan diperlukan guru adalah kemampuan mengkontruksi butir soal objektif dalam ragam yang banyak digunakan yaitu pilihan ganda (multiple choice). dan menjodohkan (matching). bentuk-bentuk butir soal serta kemampuan yang diukur soal tersebut. dan proporsi kemampuan yang diukur oleh tes. baik dalam merekonstruksi pernyataan (statement) mau pun dalam pilihan (options) memerlukan ketrampilan khusus yang hanya diperoleh melalui pelatihan yang cukup.

Strategi implementasi yang lemah dan yang menyebabkan guru sebagai pelaksana utama kurikulum dalam posisi yang tidak siap untuk merealisasikan rancangan yang tercantum dalam dokumen menjadi suatu kenyataan atau proses pembelajaran yang diharapkan akan menimbulkan berbagai masalah kurikulum. Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Inovasi lain yang tak kalah pentingnya yang diperkenalkan Kurikulum SMP 1975 adalah buku khusus yang disebut Buku II Garis-Garis Besar Program Pengajaran   117 . Kebijakan lain mengenai asesmen hasil belajar yang dianjurkan Kurikulum SMP 1975 yaitu penerapan prosedur norms-referenced dalam menentukan nilai bagi peserta didik. Atas dasar hitungan angka rata-rata dan simpangan baku guru harus membangun tabel sigma untuk mengkonversikan skor individu yang diperoleh seorang peserta didik menjadi nilai peserta didik yang bersangkutan. 8.asesmen ini dalam menghasilkan informasi yang diperlukan dan valid menjadi masalah besar. Oleh karena itu nilai seseorang peserta didik dari suatu kelas atau sekolah tertentu yang sama dengan seseorang peserta didik dari suatu kelas atau sekolah lain tidak memiliki makna bahwa kualitas hasil belajar kedua peserta didik tersebut sama atau “comparable”. Melalui pendekatan “norms-referenced assessment”. Pendekatan “norms-referenced assessment” menyebabkan guru harus menghitung angka rata-rata matematis kelas (means) dan simpangan baku (standar deviasi) kelas yang dijadikan kelompok “norms”. Cara ini pula menyebabkan seorang peserta didik di suatu kelas atau sekolah menjadi mudah mendapatkan nilai baik jika kelompok “norms”nya terdiri atas peserta didik dengan kemampuan rendah. Butir soal yang dikonstruksi tanpa mengindahkan persyaratan yang standar akan menghasilkan informasi yang menyesatkan. nilai seorang peserta didik ditentukan berdasarkan posisi skornya dibandingkan kelompok “norms”nya yaitu teman sekelasnya. guru dan masyarakat/bangsa yang menggunakan kurikulum tersebut. Cara ini menyebabkan seorang peserta didik di suatu kelas atau sekolah menjadi sangat sulit mendapatkan nilai baik jika kelompok “norms”nya adalah kelompok peserta didik yang cemerlang.

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Perbedaan kedua adalah jika pada Renana Pelajaran SMP 1954 petunjuk yang diberi judul Rencana Pelajaran bersatu dengan struktur kurikulum dan mata pelajaran yang dinamakan Ikhtisar Daftar Jam Pelajaran maka pada Kurikulum SMP 1975 GBPP yang diberi judul Buku II terpisah dari Buku I yang berisikan ketentuan-ketentuan pokok dan di dalamnya terdapat struktur dan mata pelajaran. sarana/sumber. Kerajinan. program (kelas. jam pelajaran). Bahasa (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggeris). Secara prinsip GBPP adalah pengembangan lebih lanjut dari pedoman dalam Rencana Pelajaran SMP 1954 meski pun format yang digunakan berbeda. semester. penilaian dan kolom keterangan. GBPP yang merupakan tabel yang lebih mudah untuk digunakan guru tetapi karena ide kurikulum dalam Buku I tidak dipelajari dan dipahami guru maka kurikulum tidak   118 . Guru dengan mudah dapat mengembangkan Satuan Pelajaran dari GBPP masing-masing bidang studi. Kristen-Protestan. Buku II berkenaan dengan aspek didaktik dari suatu mata pelajaran. Dalam GBPP setiap bidang studi dan mata pelajaran terdapat komponen tujuan kurikuler. metode. Hindu). Pertanian. Budha. tujuan instruksional. Pendidikan Kesejahteraan Keluarga. Seni Rupa. dan Maritim). Olahraga dan Kesehatan. Ketrampilan (Jasa. Seni Musik). GBPP yang digunakan Kurikulum SMP 1975 sepenuhnya berbentuk matriks sedangkan untuk rencana Pelajaran SMP 1954 terdiri atas deskripsi dan matriks. Untuk SMP ada GBPP bidang studi Pendidikan Agama (Islam. Teknik. Kesenian (Seni Tari. Inovasi GBPP dirancang agar rincian program pengajaran untuk setiap bidang studi dan mata pelajaran menjadi lebih jelas. Aspek ide kurikulum sangat penting untuk memahami dan mengembangkan wawasan mengenai GBPP. Sayangnya. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Pendidikan Moral Pancasila. Ketrampilan Maritim merupakan ketrampilan baru yang diperkenalkan oleh Kurikulum SMP 1975 dan merupakan ketrampilan penting bagi masyarakat dan peserta didik di banyak wilayah Indonesia yang terdiri dari banyak pulau dan memiliki garis pantai terpanjang di dunia . bahan pengajaran (pokok bahasan dan uraian). Katolik. Matematika. guru kemudian terpaku pada GBPP sehingga mereka melupakan Buku I yang merupakan aspek ide dari kurikulum.(GBPP).

ilmu yang berkembang di masyarakat. Dasar yang digunakan adalah Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0461/U/1983 tertanggal 22 Oktober 1983 tentang perlunya perbaikan Kurikulum SMP 1975 disebabkan adanya kebijakan tentang Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa. Perkembangan yang terjadi di masyarakat tersebut menyebabkan terjadinya kesenjangan antara “program kurikulum dengan kebutuhan masyarakat dan   119 . dan program studi baru untuk memenuhi kebutuhan lapangan kerja masa kini dan masa mendatang (Dokumen Kurikulum 1975: Landasan. bukan lagi GBPP bidang studi yang mencakup program pengajaran kelas I – III (7 – 9) SMP. afektif dan psikomotorik. Ketika guru mengembangkan GBPP menjadi Satuan Pelajaran mereka mampu menterjemahkannya secara teknis tetapi kehilangan roh kurikulum. dan keserasian antara matra kognitif. enggantian ini disebabkan adanya berbagai faktor yang bersifat eksternal atau makro. penyesuaian tujuan dan struktur program. Program. KURIKULUM SMP 1984 Adanya berbagai perkembangan baru dalam masyarakat dan dunia pendidikan menyebabkan pada tahun 1984 Pemerintah mengganti Kurikulum SMP 1975 dengan Kurikulum SMP 1984. D. Kenyataan yang demikian berlanjut untuk kurikulum yang menggantikan Kurikulum SMP 1975. pemilihan kemampuan dasar. budaya. pembelajaran yang mengarah kepada belajar tuntas.berhasil diterjemahkan dengan baik. Posisi GBPP yang demikian terfokus pada hal teknis menyebabkan banyak guru yang bahkan hanya memperhatikan GBPP untuk kelas yang diajarkannya. keterpaduan. dan Pengembangan. sosial. Faktor eksternal atau makro adalah faktor politik. halaman 2) Selain disebabkan oleh berbagai kebijakan yang dinyatakan dalam keputusan menteri di atas. keberlakuan Kurikulum SMP 1984 tidak berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. ekonomi. teknologi. Berbeda dari Kurikulum SMP 1975 yang diberlakukan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Program. baik di bidang ekonomi maupun di bidang politik. Keadaan negara pada waktu itu dianggap sudah lebih baik sebagaimana dinyatakan dalam TAP MPR nomor IV/MPR/1978 bahwa “Setelah Pemberontakan G-30-S/PKI pada tahun 1965 dapat digagalkan. MPR menghasilkan TAP MPR nomor IV/MPR/1978 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) untuk Pembangunan Lima Tahun (PELITA) Ketiga.Perubahan Kebijakan Pendidikan Ketika suasana politik sudah lebih kondusif. dan bukan pada program politik atau ekonomi pemerintah semata. Dalam sidang tahun 1978 di bawah pimpinan Adam Malik sebagai ketua didampingi oleh wakil ketua yang terdiri atas K. mempertinggi budi pekerti. sebagai satu-satunya jalan untuk mengisi kemerdekaan serta mencapai tujuan Nasional”. R. 1. dan Pengembangan: hal 1).Achmad Lamo.H. H. terarah dan terpadu. memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa”. ketrampilan. Mh Isnaeni. kecerdasan. Dibandingkan dengan rumusan tujuan pendidikan dalam TAP sebelumnya rumusan tujuan pendidikan dalam TAP MPR nomor   120 . bertahap dan berencana. Dalam TAP MPR nomor IV/MPR/1978 tujuan pendidikan dirumuskan sesuai dengan nilai kehidupan bangsa yang didasarkan pada Pancasila.pembangunan” (Kurikulum 1984 SMP: Landasan. perwakilan daerah. menyeluruh. untuk selanjutnya melakukan serangkaian Pembangunan Nasional yang harus dilaksanakan secara terus-menerus. TAP MPR nomor IV/MPR/1978 menetapkan tujuan pendidikan adalah untuk ”meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. berkat lindungan dan Rakhmat Tuhan Yang Maha Esa serta berkat kesadaran dan keteguhan Rakyat pada landasan Falsafah Pancasila. Masykur. Kartidjo. dan perwakilan golongan/profesi. MPRS sudah diganti dengan MPR sebagai lembaga tertinggi negara yang anggotanya terdiri atas anggota DPR. maka Orde Baru dengan perjuangan yang sungguh-sungguh telah berhasil menciptakan stabilitas Nasional.

Amir Machmud. Selain merumuskan tujuan pendidikan nasional. Drs. Hardjantho Sumodisastro. kecerdasan. TAP MPR nomor IV/MPR/1978 memutuskan pula tentang Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Moral Pancasila. Rumusan yang sama kemudian digunakan ketika lima tahun kemudian MPR menghasilkan TAP MPR nomor II/MPR/1983. Tap tentang GBHN berubah nomornya dari IV menjadi II yaitu TAP MPR nomor II/MPR/1983. Kharis Suhud. Nuddin Lubis. mulai dari Taman Kanakkanak sampai universitas. Dalam bagian Agama dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pada tahun 1983 itu yang menjadi Ketua MPR adalah H. mempertinggi budi pekerti. Ketetapan ini tentu saja membawa konsekuensi adanya mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila sebagai bagian dari Pendidikan Pancasila dalam kurikulum dan tentu saja termasuk kurikulum SMP. dibantu Wakil Ketua M.baik negeri maupun swasta”. H. Sebagaimana telah dikemukakan di ata rumuan tujuan pendidikan nasional dalam TAP MPR nomor II/MPR/1983 tidak berbeda dari TAP MPR nomor IV/MPR/1978 yaitu “pendidikan nasional berdasarkan atas Pancasila dan bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sosial. dan H. Haji Amir Murtono. Selanjutnya ditetapkan “Pendidikan Pancasila termasuk pendidikan moral Pancasila dan unsur unsur yang dapat meneruskan dan mengembangkan jiwa dan nilai-nilai 1945 kepada generasi muda dimaksudkan ke dalam kurikulum di sekolah-sekolah. memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-   121 .IV/MPR/1978 ini lebih sederhana tetapi idealisme bahwa pendidikan adalah untuk menghasilkan manusia yang dicita-citakan oleh bangsa masih terpelihara. Budaya ditetapkan bahwa “dalam rangka melaksanakan pendidikan nasional perlu diambil langkah-langkah yang memungkinkan penghayatan dan pengamalan Pancasila oleh seluruh lapisan masyarakat”. keterampilan. SH. Soenandar Prijosoedarmo. Lima tahun kemudian yaitu pada tahun 1983 MPR kembali melakukan sidang lima tahunan sebagai awal dari sidang MPR baru yang terpilih dari hasil pemilihan umum.

2. Pemikiran demikian memang dirasakan perlu mengingat pada jenjang sekolah menengah sistem persekolahan Indonesia sudah tidak lagi mengenal adanya sekolah-sekolah kejuruan sehingga SMP harus mengambil alih fungsi mengembangkan pendidikan vokasional tersebut. Kedua. khususnya bagi siswa yang tidak melanjutkan pendidikannya setelah tamat SMP. dan Pengembangan maka terjadi perubahan tujuan institusional SMP. sesuai dengan tujuan pendidikan nasional menjadi kepedulian utama pendidikan SMP selainmemberikan bekal untuk melanjutkan studi dan bekerja di masyarakat. Pertama.manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersamasama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa”. sejak Kurikulum 1975 pendidikan di SMP selalu menempatkan lembaga pendidikan ini sebagai lembaga pendidikan dengan model “comprehensive school” dan bukan lagi sekedar pendidikan umum. Berikut adalah tujuan yang dinyatakan dalam dokumen yang disebutkan di atas. Program. Sekolah Menengah Umum Tingkat Pertama bertujuan memberikan bekal kemampuan dasar untuk memasuki kehidupan di masyarakat. Ketiga. Sekolah Menengah Umum Tingkat Pertama bertujuan mendidik siswa untuk menjadi manusia pembangunan sebagai warganegara Indonesia yang berpedoman pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Penekanan pada menghasilkan manusia pembangunan.   122 . Tujuan Institusional SMP Berdasarkan ketentuan yang tercantum dalam dokumen kurikulum tentang Landasan. Sekolah Menengah Umum Tingkat Pertama bertujuan memberikan bekal kemampuan yang diperlukan siswa untuk dapat melanjutkan pendidikannya ke lembaga pendidikan yang lebih tinggi. Secara konseptual.

Penyesuaian tujuan dan struktur program kurikulum yang berpola Program Inti dan program Pilihan c.3. dan akademik. afektif. Ketetapan MPR adalah suatu keputusan politik yang lebih tinggi bahkan dari keputusan pada tingkat presiden apalagi menteri. Pemilihan kemampuan dasar. Faktor kedua yang menyebabkan terjadinya perubahan kurikulum adalah hasil evaluasi makro terhadap perkembangan kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia pada awal dekade delapanpuluhan itu. Ketetapan (TAP) MPR merupakan perwujudan dari suara rakyat Indonesia. Perubahan dalam kebijakan politik ditetapkan oleh TAP MPR nomor II/MPR/1983 dimana dinyatakan adanya Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa sebagai mata pelajaran wajib di semua jenjang dan jalur pendidikan menyebabkan kurikulum 1975 harus diubah untuk menampung keputusan politik tersebut. dan keserasian antara matra kogniti. Perkembangan kehidupan yang   123 . Mengadakan program studi baru yang merupakan usaha untuk memenuhi kebutuhan lapangan kerja masa kini mau pun masa mendatang. Secara operasional TAP MPR 1983 tersebut dijabarkan dalam Keputusan Menteri nomor 0461/U/1983 tertanggal 22 Oktober 1983 yang menyatakan perlunya perbaikan kurikulum dan perbaikan tersebut harus mencakup: a. dan psikomotorik d. Pikiran Pokok Kurikulum SMP 1984 Kurikulum SMP 1984 dikembangkan sebagai penyempurnaan dari Kurikulum 1975 berdasarkan tiga pertimbangan yaitu politik. keterpaduan. Secara politis dan hukum ketatanegaraan.. perkembangan sosial. Melaksanakan pengajaran yang mengarah pada belajar tuntas dan disesuaikan dengan kecepatan belajar masing-masing anak didik e. Pelaksanaan Pendidikan Sejarah dan Perjuangan Bangsa b.

Sayangnya.   124 . kedua pendekatan itu memiliki langkah-langkah yang tidak jauh berbeda karena keduanya menghendaki peran aktif peserta didik dalam mencari. dan terlalu beratnya materi pelajaran untuk beberapa mata pelajaran tertentu. Hasil evaluasi tersebut menunjukkan “ belum sesuainya materi kurikulum berbagai mata pelajaran dengan taraf kemampuan belajar siswa. Kemampuan untuk memeroses perolehan tersebut dikenal dengan nama Ketrampilan Proses. Melalui pendekatan ini peserta didik diposisikan sebagai subjek dalam belajar dan mereka mengembangkan kemampuan belajar melalui kegiatan merumuskan masalah yang diidentifikasikan dari suatu pokok bahasan. Faktor ketiga yang menyebabkan terjadinya perubahan kurikulum adalah hasil evaluasi terhadap kurikulum 1975 yang dilakukan pada tahun 1981. Pendekatan Ketrampilan Proses menggantikan pendekatan yang dikenal dengan nama Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) yang diperkenalkan oleh Kurikulum SMP 1975. Dengan demikian pengembangan kurikulum SMP (Sekolah Menengah Umum Pertama) perlu berorientasi pada landasan pada pendekatan proses belajar-mengajar yang diarahkan agar siswa memiliki kemampuan untuk memeroses perolehannya” (Dokumen Kurikulum 1984:1). dan mengkomunikasikan hasil belajarnya. Perkembangan lain yang cepat dalam masyarakat terutama dalam bidang ilmu dan teknologi menghendaki adanya berbagai penyempurnaan terhadap Kurikulum SMP 1975. mengolah. pendekatan Ketrampilan Proses sebagaimana pendekatan CBSA tidak terlaksana dengan baik di lapangan. Pada dasarnya. mengolah informasi yang telah dikumpulkan dari sumber.mulai memanfaatkan teknologi informasi. melakukan analisis sumber untuk mendapatkan informasi yang diperlukan. menyebabkan kurikulum SMP 1975 dianggap sudah tidak lagi sesuai dengan perkembangan masyarakat Indonesia pada awal dekade delapanpuluhan. mencari berbagai sumber informasi yang diperlukan. dan merekonstruksi hasil olahan informasi sehingga menghasilkan pengetahuan (baru bagi peserta didik). perkembangan kehidupan politik yang sudah mulai tidak lagi sensitif terhadap bahaya komunisme.

Meski pun demikian. Faktor ketiga. beban belajar setiap semester berbeda karena Kurikulum SMP 1984 menggunakan pemikiran bahwa beban belajar di kelas lebih tinggi harus lebih rendah dibandingkan kelas sebelumnya (kelas I 38/40. mengolah informasi untuk menjawab pertanyaan/masalah yang diajukan.Struktur Dan Mata Pelajaran Kurikulum SMP 1984 Struktur Kurikulum SMP 1984 sama dengan struktur Kurikulum SMP 1975 yaitu terdiri dari Pendidikan Umum. mempelajari sumber informasi untuk mendapatkan inormasi yang diperlukan. 4. Tabel 7. Ketrampilan yang perlu dipelajari dan dikuasai peserta didik untuk mampu memeroses informasi tidak dianggap konten kurikulum dan tidak diajarkan pada peserta didik.3 Struktur Kurikulum dan Bidang Studi Kurikulum SMP 1984 JAM PELAJARAN PROGRAM BIDANG STUDI 1 I KELAS/SEMESTER II 2 3 2 2 4 5 III 6 JUMLAH PENDIDIKAN UMUM 1. Faktor pertama adalah kemampuan guru yang tidak terlatih untuk melaksanakan pendekatan tersebut.Pendidikan Moral Pancasila 3.Ketidakberhasilan pelaksanaan Ketrampilan Proses. Pendidikan Akademis.Pendidikan Agama 2.Pendidikan Sejarah Perjuang- 2 2 - 2 2 2 2 2 2 2 2 - 2 2 2 12 12 6   125 . fasilitas belajar yang diperlukan seperti buku dan sumber lainnya tidak tersedia di sekolah. mencari dan mengumpulkan sumber informasi. peerta didik tidak memiliki ketrampilan yang diperlukan bagi dirinya untuk merumuskan pertanyaan/masalah. Dalam keadaan demikian. dan Pendidikan Ketrampilan. kelas II 37/39. kelas III 36/38). Faktor kedua. dan juga CBSA. dan untuk menyusun inormasi menjadi sebuah bentuk komunikasi. di lapangan disebabkan oleh paling tidak tiga faktor. pengertian konten kurikulum yang dianut masih terpaku pada pengertian tradisional dan hanya menganggap pengetahuan sebagai konten kurikulum.

Bahasa Inggeris 9. Biologi b. Fisika 5 (2) 4 4 6 5 (2) 4 4 4 5 (2) 4 4 6 5 (2) 4 4 4 5 (2) 4 3 6 5 (2) 4 3 4 30 (12) 24 22 30 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 2 3 14 18 PENDIDIKAN KETRAMPILAN 12. Ilmu Pengetahuan Sosial 10.Matematika 11. Adanya bidang studi Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa didasarkan pada TAP MPR Nomor II/MPR/1983 dan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 0461/U/1983. Berdasarkan TAP MPR nomor II/MPR/1983 bidang studi ini adalah bagian dari Pendidikan Pancasila bersama-sama dengan   126 . Bahasa Daerah*) 8.Ilmu Pengetahuan Alam a. Bahasa Indonesia 7.JAM PELAJARAN PROGRAM BIDANG STUDI an Bangsa 4.Pendidikan Olahraga dan Kesehatan 5.Pendidikan Kesenian 2 3 1 I KELAS/SEMESTER II 2 3 3 4 5 III 6 JUMLAH 3 3 3 3 18 2 2 2 2 2 12 PENDIDIKAN AKADEMIS 6.Pendidikan Ketrampilan**) 4 4 4 4 4 4 24 JUMLAH JAM PELAJARAN PER MINGGU 38 40 38 40 37 39 37 39 36 38 36 38 222 234 *) Bagi daerah atau sekolah yang memberikan pelajaran Bahasa Daerah **) Pada setiap semester dipilih 1 (satu) Paket Bahan Pengajaran Ada dua bidang studi yang membedakan antara Kurikulum SMP 1975 dengan Kurikulum SMP 1984 yaitu Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa dan pemisahan Ilmu Pengetahuan Alam menjadi mata pelajaran Biologi dan Fisika.

Oleh karena itu bidang studi Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa bukan dianggap sebagai pendidikan akademis sejarah tetapi sebagai pendidikan kewargaannegara. dan geografi Indonesia. ideologi dan tatanegara. Konsep Program Pendidikan Umum sebagai pendidikan kewargaannegara sangat menarik tetapi tampaknya tidak dikembangkan dalam satu kesatuan yang utuh.   127 . Kata sejarah dalam bidang studi ini menggambarkan bahwa materi utama sebagai bahan ajar terdiri atas berbagai peristiwa sejarah nasional yang dimulai dengan kebangkitan perjuangan kebangsaan. Tampaknya. Jika Program Pendidikan Umum dimaksudkan sebagai pendidikan kewargaannegara. ide kurikulum tersebut tidak diterjemahkan secara utuh dalam struktur kurikulum dan pengelompokkan bidang studi. Oleh karena itu maka Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa dikelompokkan sebagai bidang studi dan Program Pendidikan Umum. keberadaan bidang studi ini didasarkan pada pertimbangan bahwa dipersyaratkan setiap warganegara memiliki pengetahuan mengenai sejarah kelahiran dan perkembangan kehidupan bangsanya untuk membentuk memori kolektif sebagai warganegara.Pendidikan Moral Pancasila. bahasa Indonesia. pernah dikembangkan maka bahasa Indonesia dan Geografi Indonesia seharusnya dimaksukkan ke dalam kelompok Program Pendidikan Umum. Dengan demikian maka bidang studi Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa adalah bagian dari pendidikan kewargaan negara dan bukan kajian akademis. Materi sejarah dalam Program Pendidikan Akademis yang diorganisasikan dalam bidang studi Ilmu Pengetahuan Sosial tampaknya dianggap belum cukup untuk memenuhi persyaratan tersebut. Apabila materi pendidikan Geografi Indonesia dikemas dalam bidang studi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) bersamaan dengan materi Sejarah Indonesia maka sudah sepantasnya jika IPS menjadi bagian dari kelompok Pendidikan Umum ebagaimana ditetapkan dalam Dasar dan Tujuan Pendidikan yang tercantum dalam Buku I tentang Ketentuan Pokok. Tampaknya.

bukan pendidikan kewargaannegara (bukan kewarganegaraan yang menjadi label mata pelajaran). mencerminkan adanya tarik ulur dalam konsep pendidikan ilmu alamiah (science). Sikap mendua dalam organisasi konten kurikulum yang diberi label bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam tetapi dipecah menjadi dua yaitu biologi dan fisika dengan masing-masing beban belajar berbeda.Kedudukan IPS sebagai bidang studi dalam kelompok Program Pendidikan Akademis memang tidak diarahkan untuk pendidikan kewargaannegara walau pun terjadi ketidaksinambungan antara tujuan dan fungsi bidang studi IPS sebagaimana dinyatakan dalam GBPP Bidang Studi Ilmu Pengetahuan Sosial. Secara filosofis tampak ada tarik ulur antara pengembang kurikulum yang beraliran perenialisme yang memperkenankan adanya pendidikan disiplin ilmu yang terintegrasi dengan label   128 . IPS dalam posisi sebagai bidang studi dalam kelompok Program Pendidikan Akademis memang dirancang sebagai pendidikan akademis. Artinya. Landasan berpikir demikian menyebabkan kelahiran bidang studi Sejarah Pendidikan Perjuangan Bangsa dalam kelompok Program Pendidikan Umum merupakan sesuatu yang wajar walau pun menimbulkan masalah dalam ide kurikulum tentang pendidikan kewargaannegara. Warna akademik yang dinyatakan dalam tujuan bidang studi IPS bersesuaian dengan pendekatan yang dirumuskan dalam dua pendekatan yaaitu (1) “pendekatan integratif sesuai dengan realita kehidupan”. Dalam GBPP disebutkan bahwa bidang studi IPS bertujuan “untuk mengembangkan cara berpikir kritis dan kreatif siswa dalam melihat hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya”. Rumusan tujuan tersebut jelas memperlihatkan posisi bidang kajian akademis yaitu kemampuan berpikir dalam melihat fenomena bidang kajian (hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya). Terlepas dari adanya konflik dalam berpikir antara pendekatan integrati dan pendekatan struktural tetapi kedua pendekatan tersebut merupakan aplikasi kurikulum dari pendidikan disiplin ilmu. dan (2) “pendekatan struktural untuk meningkatkan pengertian konsep-konsep dari generalisasi secara luas dan mendalam”.

Garis-garis Besar Program Pengajaran IPA tidak merinci mengenai pendekatan sebagaimana yang tercantum dalam Struktur Program dan Bidang Studi Kurikulum SMP 1984. Kurikulum SMP 1984 tidak lebih sederhana dibandingkan Kurikulum SMP 1975. Menurut pandangan perenialisme pendidikan biologi. Memang sangat disayangkan ketiadaan informasi mengenai proses yang menyebabkan terjadinya keputusan tersebut untuk lebih dapat memahami ide kurikulum pengembangan bidang studi IPA. kimia dapat disatukan dalam sebuah organisasi konten kurikulum yang dinamakan IPA (science). fisika. Penyelesaian yang dilakukan dengan mencantumkan nama bidang studi IPA dalam tradisi perenialisme (IPA) dan yang kemudian untuk memenuhi filosofi esensialisme dibagi atas biologi dan fisika mungkin dianggap sebagai penyelesaian terbaik. Dengan adanya mata pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa dan IPA yang terbagi dua atas Biologi dan Fisika maka jumlah mata pelajaran dalam Kurikulum SMP 1984 menjadi dua lebih banyak dari Kurikulum SMP 1975. Kesederhanaan Kurikulum SMP 1984 dibandingkan Kurikulum SMP 1975 hanya tejadi pada mata pelajaran Ketrampilan yang hanya mengenal satu jenis dibandingkan dua jenis pada Kurikulum SMP 1975 (pilihan wajib dan bebas). dan Pengembangan dikemukakan bahwa mata pelajaran ketrampilan diarahkan pada ketrampilan yang terkait dengan perkembangan terakhir yang terjadi di sekitar lingkungan sekolah.berbeda dari label disiplin ilmu dengan mereka yang beraliran esensialisme yang kokoh dalam posisi bahwa pendidikan disiplin ilmu harus sesuai dengan kaedah disiplin ilmu termasuk nama mata pelajaran. apalgi hal tersebut tidak terjadi dalam bidang studi IPS. Jadi. Program. Dalam konteks banyaknya mata pelajaran untuk Kelompok Umum dan Akademis. Oleh   129 . Bagi pengikut esensialisme penggabungan dengan label seperti IPA sedangkan bagi pengikut perenialisme penggabungan eperti IPA adalah sesuatu yang wajar dan dapat diterima. Dalam Buku I tentang Landasan. terjadi perbedaan ide kurikulum yang cukup mendasar antara pengembang bidang studi IPA dan IPS yaitu bidang studi IPA menggunakan pemikiran “discrete disciplinary approach” sedangkan IPS menggunakan pendekatan “integrated approach”.

Sedangkan untuk daerah pedesaan disarankan ketrampilan dalam bidang bioteknologi. Prinsip yang mirip. 1986:4).   130 . Hal yang terjadi pada bidang studi IPS dalam inkonsistensi antara pengertian dan pemecahan subbidang studi tidak terjadi pada bidang studi IPA karena GBPP IPA tidak menyebutkan IPA sebagai suatu bidang studi terpadu. Dalam Buku II Ilmu Pengetahuan Sosial Kurikulum SMP 1984 disebutkan “bidang studi Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan gabungan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang terintegrasi atau terpadu.karena itu disarankan ketrampilan untuk perkotaan dalam bidang perbengkelan otomotif dan elektronika karena semakin banyaknya mobil dan pemakaian komputer. Penyelesaian dua GBPP yaitu IPS dan Sejarah tentu saja menyebabkan persoalan konseptual yang cukup mengganggu mengenai pendidikan IPS yang menjadi komponen materi Kurikulum SMP 1984. kelistrikan. IPS melakukannya dalam cara yang berbeda. ekonomi. dan sejarah sebagai subbidang studi. Pelaksanaan Subbidang Studi Sejarah mengambil waktu dari jatah waktu yang tersedia untuk Bidang Studi Ilmu Pengetahuan Sosial sebanyak 1 jam pelajaran (sic!) per minggu dan diberikan mulai dari kelas I sampai dengan kelas III” (Buku II. tentu saja terjadi ketidaksinambungan (inkonsistensi) atau bahkan dapat dikatakan sebagai suatu “contradictio in terminis” bidang studi IPS yaitu antara definisi IPS dengan ketentuan menjadikan sejarah sebagai sub-bidang studi dengan GBPP yang terpisah dari GBPP IPS yang berisikan materi geografi. walau pun tidak sama. pembangunan desa. dan penyuluhan pertanian. Jika dalam bidang studi IPA struktur kurikulum secara eksplisit memecah IPA dalam dua subbidang studi yaitu Biologi dan Fisika. sosiologi dan anthropologi. Kiranya adanya pengaruh pengambil kebijakan kurikulum yang cukup dominan dalam bidang sejarah dan menginginkan pendidikan sejarah dalam konsep pendidikan esensialisme menyebabkan terjadinya keputusan kurikulum yang demikian. Akibat dari adanya kebijakan atau ide kurikulum yang demikian. kependudukan. perkoperasian. dengan kebijakan tentang bidang studi IPA diterapkan juga untuk IPS.

sebagaimana kurikulum sebelumnya dan sesudahnya. kesenian. Kebijakan kurikulum yang tidak didukung oleh kebijakan pengadaan fasilitas belajar berkelanjutan sampai masa kini menyebab sekolah sebenarnya tidak dalam keadaan siap untuk melaksanakan kurikulum. apabila dukungan dana operasional dan pemeliharaan. Kurikulum SMP 1975 menerapkan konsep penawaran antar semester untuk bidang studi ketrampilan pilihan terikat dan pilihan bebas sedangkan untuk Kurikulum SMP 1984 penawaran antar semester diberlakukan untuk bidang studi Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa. sekolah tidak mungkin melaksanakan apa yang telah direncanakan dalam dokumen kurikulum (curriculum as plan) menjadi suatu realita kurikulum (implemented.Ketentuan kurikulum tentang adanya mata pelajaran ketrampilan tentu memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan diri dalam berbagai bidang kesenian. Perbedaan mata pelajaran ketrampilan yang disarankan untuk lingkungan pendidikan yang berbeda adalah kebijakan yang mengarah kepada diversifikasi kurikulum. Sayangnya. observed. olahraga. kenyataan menunjukkan bahwa SMP tidak memiliki fasilitas olahraga. tidak diikuti dengan kewajiban penyelenggara pendidikan dan pemilik sekolah (dalam hal ini terutama pemerintah) untuk melengkapi fasilitas yang diperlukan dalam mata kuliah pilihan. dan vokasional yang mungkin dimaksukinya setelah yang bersangkutan menyelesaikan pendidikan SMP dan tidak melanjutkan pada pendidikan di atasnya. konsep penawaran antar semester untuk bidang studi Ketrampilan   131 . Dengan perkataan lain. Hal lain yang membedakan antara Kurikulum SMP 1975 dan sebelumnya dengan Kurikulum SMP 1984 adalah dalam memberikan penawaran mata pelajaran antar semester (alternate semester offering). kebijakan tentang mata pelajaran ketrampilan dalam Kurikulum SMP 1984. Keterkaitan kurikulum dengan lingkungan menjadi suatu yang didukung oleh mata pelajaran pilihan. Dalam konsep ini suatu mata pelajaran tertentu diberikan pada semester tertentu dan tidak pada tiap semester. dan ketrampilan yang memadai sampai hari ini sebagaimana halnya dengan biaya operasional dan pemeliharaan. Walau pun keduanya menerapkan konsep antar semester. Sayangnya. atau taught curriculum).

Kurikulum SMP 1984 tidak menggunakan prinsip di atas dalam mengembangkan bidang studi Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa walau pun ditawarkan dalam model antar semester.   132 . Memang harus diakui bahwa untuk unit kelas atau tahun akademik penawaran materi pembelajaran yang bersifat selang semester mungkin bukan masalah besar tetapi harus pula diingat bahwa kurikulum bukan berkenaan dengan kelas tapi sekolah dan keberhasilan penguasaan materi pembelajaran bersifat menyeluruh. materi bidang studi Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa semester 4 adalah kelanjutan semester 2 dan materi semester 6 adalah kelanjutan materi semester 4 dan 2. Konsep demikian banyak digunakan dalam kurikulum perguruan tinggi karena hakekat materi satu mata kuliah yang sepenuhnya dikemas secara utuh dalam Sistem Credit System (SKS) sehingga materi satu semester suatu mata kuliah merupakan satu kesatuan utuh (terkecuali mata kuliah prasyarat) dan tersedianya banyaknya mata kuliah pilihan pengganti mata kuliah yang tidak ditawarkan pada semester terkait. Penawaran antar semester dalam Kurikulum SMP 1975 didasarkan pada pemikiran bahwa bidang studi Ketrampilah Pilihan Terikat dan Ketrampilan Pilihan Bebas memiliki materi pelajaran ketrampilan yang dapat diselesaikan dalam satu semester sebagai satu kesatuan utuh dan tidak berlanjut pada semester lain.Terikat dan Ketrampilan Pilihan (Kurikulum SMP 1975) memiliki perbedaan dengan penawaran antar semester bidang studi Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (Kurikulum SMP 1984). Sebagaimana bidang studi lainnya. Kembali ketiadaan dokumen mengenai proses pengembangan ide kurikulum dan dalam hal ini berkenaan dengan ide kurikulum bidang studi Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa menyebabkan kesulitan kita memahami ide kurikulum yang digunakan. Suatu hal yang jelas bahwa materi bidang studi Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa semester 2 berkaitan dengan materi semester 4 dan materi semester 6 sehingga penawaran pembelajaran yang bersifat selang semester (alternate) semester mengundang masalah yang berkaitan dengan prinsip (sequence) dalam pengembangan materi kurikulum dan tata urut proses dalam pembelajaran.

3. dan 6). Pertimbangan mengenai beban belajar semester ini berakibat pada alokasi beban belajar bidang studi Matematika. Bidang studi Matematika menggunakan alokasi beban belajar yang tidak sama antara semester ganjil (1. Kebijakan kurikulum di SMP tidaklah demikian karena materi bidang studi Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa yang dipelajari di semester 2 dan 4 akan masuk dalam ujian akhir sekolah. Suatu mata kuliah diakhiri dengan penilaian hasil belajar yang menentukan keberhasilan seorang mahasiswa dalam mata kuliah tersebut dan tidak lagi terkait dengan mata kuliah lain yang akan dikontrak oleh mahasiswa yang bersangkutan.dan 5) dengan semester genap (2. Ada pertimbangan yang cukup kuat agar beban belajar setiap semester tidak melebihi 38 jam untuk kelas I. 37 jam untuk kelas II. Oleh karena itu sistem penawaran selang semester (alternate semester) tidak sesuai dengan prinsip kurikulum tingkat persekolahan. Di setiap semester ganjil dimana Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa tidak ditawarkan maka bidang studi Matematika memiliki beban belajar 6 sedangkan di setiap semester genap ketika bidang studi Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa ditawarkan dengan beban belajar 2 jam maka beban belajar bidang studi Matematika berkurang dari 6 menjadi 4 jam.4. Akibatnya.Penilaian hasil belajar bidang studi yang digunakan Kurikulum SMP 1984 dalam bidang studi Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa tidak sama dengan kurikulum perguruan tinggi yang menggunakan SKS.   133 . dan 36 jam untuk kelas III sehingga beban belajar keseluruhan Kurikulum SMP 1984 sama dengan Kurikulum SMP 1975 yaitu 222 jam atau 234 bagi sekolah yang memberikan pelajaran Bahasa Daerah. distribusi jam belajar bidang studi Matematika Kurikulum SMP 1984 berbeda dari Kuurikulum SMP 1975 yang memiliki beban belajar sama di setiap semester yaitu masing-masing 5 jam. Pertimbangan yang mungkin digunakan untuk mengembangkan pembelajaran yang bersifat selang semester untuk bidang studi Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa adalah beban belajar keseluruhan per semester.

  21   134 . Oleh karena peserta didik yang akan menempuh ujian pada jamaknya harus memiliki jam belajar yang lebih banyak dan intensif dibandingkan sebelumnya. Pengembangan materi nasional kurikulum untuk memenuhi kepentingan bangsa secara keseluruhan. berlaku untuk seluruh lapisan masyarakat dan komunitas yang berdiam di mana pun di Indonesia bahkan di luar negeri. Peserta didik yang terlalu lelah tidak mungkin menghasilkan kualitas belajar yang baik. Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mendapatkan masukan dari Kantor Departemen Kabupaten dan Kotamadya 21 . III cukup mengundang permasalahan jika pengurangan beban belajar dilakukan hanya untuk mempersiapkan peserta didik untuk Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS). Muatan lokal dalam Kurikulum SMP 1984 dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan masyarakat setempat.  Di  setiap  propinsi  ada  perwakilan  Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang dinamakan Kantor Wilayah untuk tingkat propinsi   dan Kantor Departemen untuk tingkat Kabupaten dan Kotamadya. Banyak studi yang menunjukkan bahwa kelelahan merupakan faktor mediasi (mediating variable) yang berpengaruh terhadap unjuk kerja seseorang. Pemikiran tentang materi muatan lokal didasarkan pada pemikiran bahwa kurikulum harus relevan dengan masyarakat yang dilayani kurikulum. Pikiran baru yang dikembangkan oleh Kurikulum SMP 1984 adalah materi muatan lokal. Berdasarkan pertimbangan kepentingan daerah kabupaten dan kotamadya maka Kantor Wilayah Departemen                                                                Pada  masa  itu  sistem  pemerintahan  bersifat  sentralistis. pemikiran bahwa beban belajar yang berbeda antara kelas I. Sedangkan kebutuhan masyarakat setempat yang dilayani kurikulum harus diberi alokasi dan program dalam bentuk kurikulum muatan lokal.Dalam pemikiran kurikulum beban belajar adalah sesuatu yang harus dipertimbangkan secara serius. Dalam kebijakan kurikulum mengenai materi muatan lokal ditentukan bahwa keputusan mengenai mata pelajaran muatan lokal ditetapkan oleh Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi. Meski pun demikian. II. Kotamadya adalah istilah yang  digunakan pada masa itu dan sekarang berubah menjadi Kota.

Dengan adanya materi muatan lokal. Kebijakan mengenai materi muatan lokal yang diperkenalkan Kurikulum SMP 1984 sebenarnya dapat memberikan orientasi baru kurikulum. Pada umumnya penetapan Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk materi muatan lokal adalah bahasa daerah dan kesenian. Konsekuensi dari materi muatan lokal ini tentu saja sekolah harus melakukan kajian kebutuhan (need analysis) masyarakat. sekolah memerlukan fasilitas belajar yang cukup dan dari jenis yang digunakan di masyarakat. Kajian tersebut untuk melihat ketersediaan vokasi yang memerlukan tenaga kerja dan kemampuan yang diperlukan oleh vokasi tersebut. Selain itu mata pelajaran materi muatan lokal lainnya berkenaan dengan kemampuan vokasional yang berkenaan dengan pekerjaan yang banyak di masyarakat seperti pertanian. Artinya. perikanan. sekolah memerlukan dana khusus untuk pengadaan fasilitas   135 . Untuk mampu melakukan kajian kebutuhan (need analysis) maka bagian kurikulum di setiap sekolah atau yang bertanggungjawab dalam mengembangkan materi muatan lokal harus terlatih untuk melalukan kajian kebutuhan. peternakan. dan jasa.Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan mata pelajaran untuk materi muatan lokal. Adanya ketetapan mengenai bahasa dan kesenian daerah sebagai mata pelajaran dalam muatan lokal memberikan dasar pendidikan yang kuat karena peserta didik tidak tercabut dari akar budaya masyarakat darimana mereka berasal. Kajian kebutuhan ini penting agar kurikulum tidak menyediakan tenaga kerja di bidang vokasi yang sudah jenuh atau dengan ketrampilan yang tidak sesuai dengan tuntutan vokasi. Konsekuensi lain dari kebijakan tentang muatan lokal terutama berkenaan dengan mata pelajaran yang sifatnya mengembangkan ketrampilan vokasional tertentu. terlebih materi yang berkenaan dengan ketrampilan vokasional. Kurikulum SMP 1984 memberikan kemungkinan kepada tamatan SMP untuk memasuki dunia kerja dengan bekal kemampuan vokasional yang cukup sehingga dunia kerja mendapatkan tenaga kerja yang siap untuk melaksanakan pekerjaannya.

kurikulum baru yang diberlakukan mulai tahun 1994 dinamakan Kurikulum SMP 1994. Mengenai                                                                Berdasarkan  ketetapan  dalam    Undang‐undang  Republik  Indonesia  nomor  2  Tahun  1989  Tentang Sistem Pendidikan Nasional. TAP MPR nomor II/MPR/1988 dan TAP MPR nomor II/MPR/1993.belajar bagi vokasional tertentu karena sebelumnya SMP tidak dilengkapi dengan fasilitas demikian. Pemberlakuan kurikulum baru ini disebabkan paling tidak oleh tuntutan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menggantikan Undang-Undang Nomor 12 tahun 1954. E.Perubahan Kebijakan Pendidikan Pada tahun 1988 MPR bersidang untuk menetapkan Garis-garis Besar Haluan Negara yang tercantum dalam TAP MPR nomor II/MPR/1988. Konsekuensi dari pengertian pendidikan dasar yang ditetapkan UU nomor 20 tahun 1989 maka pemikiran kurikulum untuk Pendidikan Dasar berubah. Istilah SLTP tidk digunakan dalam pasal‐pasal yang terdapat  pada Ketetapan. KURIKULUM SLTP 22 1994 Pada tahun 1994 Pemerintah memberlakukan kurikulum baru menggantikan Kurikulum SMP 1984. Pengertian Pendidikan Dasar 9 tahun sebagaimana yang ditetapkan dalam UU nomor 2 tahun 2003 digunakan sampai saat sekarang. penjelasan Pasal 13  Ayat (1) disebutkan “Pendidikan dasar  merupakan pendidikan yang lamanya 9 (sembilan) tahun yang diselenggarakan selama 6 (enam)  tahun di Sekolah Dasar (SD) dan 3 (tiga) tahun di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) atau  satuan pendidikan yang sederajat”. Undang-Undang nomor 2 tahun 1989. Ketersediaan fasilitas belajar untuk materi muatan lokal yang berorientasi vokasional merupakan masalah besar bagi pemerintah. yaitu undang-undang kedua mengenai pendidikan yang dihasilkan bangsa Indonesia. Dana yang tersedia untuk itu dapat dikatakan terbatas sedangkan kebijakan materi muatan lokal dalam Kurikulum SMP 1984 bersifat nasional. meliputi kurikulum untuk SD dan kurikulum SLTP. 1.   22   136 . memperkenalkan jenjang pendidikan dasar yang terdiri atas pendidikan Sekolah Dasar (6 tahun) dan pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (3 tahun). Sesuai dengan tradisi penamaan kurikulum di Indonesia.

Pendidikan dirumuskan untuk: mewujudkan manusia yang beriman dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila. PMP dan pendidikan sejarah perjuangan bangsa. cerdas. g.pendidikan TAP MPR nomor II/MPR/1988 merumuskan tujuan pendidikan sebagai berikut: a. kreatif. produktif dan profesional. tangguh. Dalam Pendidikan Pancasila terdapat materi P4. dilanjutkan dan makin ditingkatkan di semua jenis dan jenjang pendidikan mulaai daari taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi. tangguh. dan memperkuat jati diri dan kepribadian bangsa. baik negeri maupun swasta Titik (g) jelas menunjukkan apa yang harus ada dalam kurikulum yaitu Pendidikan Pancasila. Lima tahun kemudian ketika MPR bersidang pada tahun 1993 maka TAP MPR nomor II/MPR/1993 tentang GBHN telah merumuskan tujuan pendidikan nasional berbeda dari apa yang telah ditetapkan dalam TAP nomor II/MPR/1988. bekerja keras. berbudi pekerti luhur. mandiri. cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani.Pendidikan Pancasila termasuk Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). sehat. bertanggung jawab. Diantara perbedaan kualitas antara keduanya adalah   137 . berdisiplin. Pendidikan nasional juga harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta pada Tanah Air. patriotik. berbudi pekerti luhur. harkat dan martabat manusia Indonesia. bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia. semangat dan nilai-nilai kejuangan khususnya nilai-nilai 1945 kepada generasi muda. yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Ada perbedaan yang cukup konseptual dan bukan hanya sekedar redaksional antara tujuan yang dirumuskan TAP MPR nomor II/MPR/1988 dan TAP MPR nomor II/MPR/1993. pendidikan sejarah perjuangan bangsa serta unsur-unsur yang dapat meneruskan dan mengembangkan jiwa. mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial.makin mantapnya budaya bangsa yang tercermin dalam meningkatnya peradaban. Pendidikan Moral Pancasila. berkepribadian. berdisiplin.

nama pendidikan sejarah perjuangan bangsa masih disebutkan. Dalam kedua TAP MPR yang disebutkan terkait dengan pendidikan. kerja keras. Pada masa Prof.semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial. Dr. Dalam TAP MPR nomor II/MPR/1988 sebagaimana dikutip di atas telah secara jelas menunjukkan bahwa pendidikan sejarah perjuangan bangsa adalah bagian dari Pendidikan Pancasila. pendidikan moral Pancasila. Pembangunan ekoonomi menjadi semakin kuat walau pun fokus pada pembangunan pada bidang lainnya tetap menjadi perhatian. dan nilai kejuangan. serta bertanggungjawab tidak lagi menjadi tujuan pendidikan nasional yang dirumuskan dalam TAP MPR nomor II/MPR/1993. Perbedaan kualitas yang diinginkan sebagai tujuan pendidikan nasional antara kedua TAP tersebut mencerminkan adanya perubahan suasana politik yang cukup mendasar. Dr Nugroho Notosusanto yang menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan maka pendidikan sejarah perjuangan bangsa menjadi bidang studi dan kemudian dicantumkan dalam Kurikulum SMP 1984. dan pendidikan adalah salah satu fokus penting Pemerintah dalam pembangunan. semangat. dan memantapkan usaha penghayatan dan pengamalan Pancasila serta membudayakan nilai-nilai Pancasila agar diamalkan dalam kehidupan sehari-hari di segenap lapisan masyarakat. khususnya nilai 1945. dinyatakan sebagai berikut: Penyelenggaraan pendidikan nasional harus mampu meningkatkan memperluas. pendidikan kewarganegaraan. pendidikan moral Pancasila. bertanggungjawab. Dalam TAP MPR nomor II/MPR/1993 pendidikan sejarah perjuangan bangsa juga dinyatakan yaitu titik e pada bagian Pendidikan. dan pendidikan sejarah perjuangan bangsa sebagai bidang studi atau pun mata pelajaran. mandiri. pendidikan sejarah perjuangan bangsa serta unsur unsur yang dapat meneruskan dan mengembangkan jiwa. kebijakan tentang   138 . dilanjutkan dan ditingkatkan di semua jalur. TAP MPR nomor II/MPR/1988 dan TAP MPR nomor II/MPR/1993 di atas. Setelah beliau wafat dan digantikan Prof. pendidikan kewarganegaraan. danjenjang pendidikan termasuk prasekolah. pendidikan Pancasila termasuk pendidikan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Oleh karena itu. jenis. Ketetapan tersebut tidak menyatakan bahwa Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Fuad Hassan.

Dengan hilangnya unssur pendidikan sejarah perjuangan bangsa dan unssur lain dari mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan terjadi diskontinuitas antara TAP MPR dengan kebijakan kurikulum. memiliki pengetahuan dan ketrampilan. Dokumen itu jelas menunjukkan bahwa tujuan pendidikan berkonsentrasi pada pengembangan potensi peserta didik sedangkan dalam UU nomor 2 tahun 1989 pendidikan memiliki dua tujuan yaitu berkenaan dengan kehidupan bangsa dan manusia. kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan” 23 (UU nomor 2 tahun 1989).Pendidikan Pancasila berbeda dari kebijakan sebelumnya. Dari rumusan ini jelas bahwa pendidikan tidak hanya memiliki tujuan untuk mengembangkan kualitas peserta didik semata sebagaimana yang dinyatakan dalam Undang-Undang nomor 4 tahun 1950 atau pun Undang-Undang nomor 12 tahun 1954 atau TAP MPRS XXVI/MPRS/1966. yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur. kesehatan jasmani dan rohani. Memang materi Pendidikan Pancasila tidak perlu selalu menjadi nama mata pelajaran tetapi kebijakan yang tercantum dalam TAP MPR adalah suatu keharusan politik untuk memuat unsur-unsur Pendidikan Pancasila sebagai materi suatu mata pelajaran (Pendidikan Pancasila).     139 . Unsur pendidikan moral Pancasila dimasukkan ke dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan tetapi unsur pendidikan sejarah perjuangan bangsa tidak menjadi bagian dari mata pelajaran tersebut dan tidak pula menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri walau pun TAP MPR tentang Pendidikan Pancasila tidak berubah. Pendidikan Pancasila tercantum dalam mata pelajaran di Kurikulum SMP 1994 sebagai mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Pendidikan dipandang sebagai suatu upaya yang memiliki tujuan ”mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Entah bagaimana caranya                                                              23  Rumusan  tujuan pendidikan nasional yang ada dalam UU nomor 2 tahun 2003 berbeda dari  rumusan  tujuan dalam TAP MPR nomor  II/MPR/1988 . Pada tahun 1989 ketika pemerintah memberlakukan Undang-Undang nomor 2 tentang Sistem Pendidikan Nasional tahun 1989 maka tujuan pendidikan nasional mempunyai arah baru.

berpengetahuan dan berktrampilan. Ujian Akhir Nasional (UAN) atau pun Ujian Nasional (UN) adalah untuk menentukan kelulusan seorang siswa. Oleh karena itu pada tujuan pendidikan kedua yang berkenaan dengan manusia tidak dirangkumkan sebagai kualitas kehidupan bangsa yang diinginkan. Manusia Indonesia seutuhnya yaitu yang menyangkut kualitas keimanan dan ketakwaan. Soal-soal yang dikembangkan untuk Evaluasi Belajar Tahap Akhir (EBTA). sehat jasmani dan rohani. Tampaknya.pendidikan dapat mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa mengembangkan kehidupan manusia yang cerdas. rumusan itu menganut faham bahwa kualitas kehidupan bangsa yang cerdas menjadi sesuatu yang terpisah dari kualitas manusia yang ingin dihasilkan oleh proses pendidikan. Pada dasarnya. Oleh karena itu sifat tujuan pendidikan yang mendua itu pun seolah-olah tidak menimbulkan masalah kependidikan. budi pekerti. Materi Pendidikan Moral Pancasila dan pendidikan sejarah perjuangan bangsa serta unsur-unsur lain yang terantum dalam TAP MPR nomor II/MPR/1988 tidak tercantum dalam undang-undang tersebut. Undang-Undang nomor 2 tahun 1989 tidak menganut paham bahwa kecerdasan kehidupan bangsa hanya dapat dikembangkan melalui kehidupan manusianya. Evaluasi terhadap pencapaian hasil pendidikan lebih diarahkan pada ketentuan mengenai kelulusan seseorang dari suatu unit atau lembaga pendidikan tertentu. Dalam Penjelasan Pasal 39 ayat (2) dan   140 . hanya kehidupan manusia yang cerdas yang dapat membawa pada kehidupan bangsa yang cerdas. Pada kenyataannya. Dalam ketetapan pada Pasal 39 ayat (2) dan (3) Undang-undang nomor 2 tahun 1989 tentang Isi Kurikulum maka dicantumkan materi pendidikan Pancasila dan pendidikan Kewarganegaraan sebagai materi wajib dan bahan kajian wajib. tujuan pendidikan yang dirumuskan dalam UU nomor 2 tahun 1989 ini tidak pernah pula diketahui pencapaiannya. Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS). berkepribadian yang mantap dan mandiri tidak harus menjadikan kualitas kehidupan bangsa berkembang. bukan untuk mengukur pencapaian tujuan pendidikan nasioanal. Kualitas yang harus dikuasai seorang peserta didik tidak pula didasarkan pada tujuan pendidikan nasional sehingga alat evaluasi nya pun tidak dikembangkan untuk mengumpulkan informasi mengenai pencapaian tujuan pendidikan.

Dengan demikian terjadi disharmoniasasi ketetapan antara TAP MPR.(3) tidak tercantum unsur pendidikan Moral Pancasila. pendidikan sejarah perjuangan bangsa dan unsur-unsur lainnya sebagai materi Pendidikan Pancasila atau pun pneididkan Kewarganegaraan. menggantikan SMP. dan kebijakan kurikulum.  Nama SLTP adalah nama yang digunakan UU nomor 2 tahun 1989.  Sumber: Website SMPN 8 Yogyakarta  2. Kebijakan kurikulum hanya memperdulikan ketentuan dari UU Sisdiknas tapi tidak TAP MPR Foto 4: Nama Sekolah ini Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). UU Sisdiknas.Struktur Kurikulum SLTP 1994   141 .

3. 10.Struktur Kurikulum SLTP 1994 lebih sederhana dibandingkan struktur kurikulum sebelumnya. Tabel berikut. Biasanya dalam struktur kurikulum   142 .4 Struktur dan Mata Pelajaran Kurikulum SLTP 1994 Kelas I 1. 6. 8. 2. 4. Mata Pelajaran Kesederhanaan struktur Kurikulum SMP 1994 terlihat pada penempatan semua mata pelajaran dalam satu kelompok dan dengan demikian mata pelajaran yang satu sama dengan mata pelaajaran lain dalam fungsinya. Mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan bersama-sama dengan mata pelajaran Pendidikan Agama yang dalam kurikulum sebelumnya dimasukkan dalam kelompok dasar atau pembinaan jiwa Pancasila. tabel 7. Kurikulum SMP 1994 tidak mengenal kelompok dan dengan demikian tidak memisahkan posisi kedua mata pelajaran tersebut dari mata pelajaran lainnya. 7. 5. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Pendidikan Agama Bahasa Indonesia Matematika Ilmu Pengetahuan Alam Ilmu Pengetahuan Sosial Kerajinan Tangan dan Kesenian Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Bahasa Inggeris Muatan Lokal (sejumlah mata pelajaran) Jumlah 2 2 6 6 6 6 2 2 4 6 42 II 2 2 6 6 6 6 2 2 4 6 42 III 2 2 6 6 6 6 2 2 4 6 42 No. 9.4 memperlihatkan Struktur Kurikulum SMP 1994 Tabel 7.

Pendekatan mata pelajaran untuk organisasi konten kurikulum memang lebih umum dan melalui Kurikulum SMP 1994 pendekatan   143 . lebih sedikit dibandingkan Kurikulum SMP 1984 (yang terbanyak dalam bidang studi) dan Kurikulum SMP 1975. Perubahan yang ditunjukkan oleh Kurikulum SMP 1994 adalah pendekatan mata pelajaran.mata pelajaran dikelompokkan berdasarkan perbedaan dalam fungsi dan tujuan yang hendak dicapai oleh sejumlah mata pelajaran. Kurikulum SMP 1994 memberikan beban belajar yang lebih tinggi kepada peserta didik. Kesederhanaan struktur Kurikulum SMP 1994 ditunjukkan pula oleh penggabungan mata pelajaran/bidang studi PMP dan PSPB menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. jam belajar peserta didik dalam Kurikulum SMP 1994 lebih tinggi yaitu 42 jam setiap semester dibandingkan Kurikulum SMP 1975 yang 37 jam setiap semester dan Kurikulum SMP 1984 yang dimulai dengan 38 jam di kelas I kemudian menurun ke 37 jam di kelas II dan menurun lagi menjadi 36 jam di kelas III. bukan bidang studi. Dengan pendekatan mata pelajaran maka pendekatan bidang studi hanya digunakan oleh Kurikulum SMP 1975 dan Kurikulum SMP 1984. Kurikulum SMP 1994 tetap menggunakan filosofi perenialisme yang masih dalam kelompok pendidikan disiplin ilmu tetapi memperoleh organisasi “broadfield” yaitu mata pelajaran IPS dan IPA. Dengan jumlah mata pelajaran sebanyak 10. Dalam Kurikulum SMP 1994 mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam tidak dipecah menjadi Biologi dan Fisika seperti yangg dilakukan Kurikulum SMP 1984. Penggabungan dalam Kurikulum SMP 1994 dilakukan juga terhadap mata pelajaran kesenian dan mata pelajaran ketrampilan menjadi mata pelajaran Kesenian dan Kerajinan Tangan. Penggabungan juga dilakukan antara biologi dan fisika yang dijadikan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dengan alokasi waktu yang satu yaitu 6 jam belajar. Terlepas dari kesederhanaan yang ditunjuk dalam struktur. Artinya secara filosofis tidak ada perubahan antara Kurikulum SMP 1994 dari Kurikulum SMP 1984 walaupun haru diakui bahwa Kurikulum SMP 1994 menerapkan filosofi perenialisme lebih utuh dibndingkan Kurikulum SMP 1984.

Guru sebagai pelaksana tahu secara tepat apa yang dimaksudkan pengembang kurikulum sehingga ketika guru mengembangkan dokumen kurikulum menjadi kurikulum sebagai suatu realita atau “observed curriculum” maka ide pengembang kurikulum dapat dilaksanakan dengan tepat pula.mata pelajaran yang digunakan kurikulum SMP sebelum Kurikulum 1975 dihidupkan kembali oleh Kurikulum 1994. mengembangkan sistem penawaran setiap semester dan beban belajar setiap semester untuk setiap mata pelajaran. Sedangkan untuk kesenian dan   144 . Baik mata pelajaran Matematika mau pun IPS memiliki jam pelajaran yang sama untuk setiap tahun untuk masing-masing mata pelajaran. Pemaknaan yang sama dalam istilah kurikulum antara pengembang dan pelaksana kurikulum sangat penting untuk keberhasilan implementasi kurikulum. Kuurikulum 1994 memiliki beban belajar/jam belajar yang lebih besar yaitu 42 jam tanpa menghitung mata pelajaran Bahasa Daerah yaitu 42 jam per semester. Maatematika. Kurikulum SMP 1994. Kurikulum SMP 1994 tidak menganut paham penawaran selang semester (alternate semester). Mata pelajaran lebih sederhana dan tidak mengundang tafsiran yang berbeda antara pengembang dan pelaksana kurikulum. Jumlah jam 42 untuk Kurikulum SMP 1994 sama untuk seluruh kelas dan tidak ada pengurangan jam belajar untuk mata pelajaran tertentu sebagaimana yang ada pada Kurikulum SMP 1984. Konstruksi struktur kurikulum yang demikian memang memberikan kemudahan kepada sekolah dalam merencanakan implementasi terutama dalam mengatur jam pelajaran. Kesamaan beban belajar setiap semester menyebabkan guru lebih mudah memberikan pertimbangan mengenai kedalam materi yang akan dipelajari peserta didik setiap semester. Kurikulum SMP 1994 memandang mata pelajaran Bahasa Indonesia. sebagai kurikulum sebelum 1984. Beban belajar ini lebih tinggi dari Kurikulum SMP 1984 yang memiliki jam belajar tertinggi 38 jam dan kemudian menurun pada tahun berikutnya. perbedaan beban belajar semester atau kelas sebagaimana yang digunakan Kurikulum SMP 1984. IPA dan IPS dalam kedudukan yang sama dan mendapatkan alokasi jam belajar yang sama yaitu masing-masing 6 jam.

Kebijakan bahwa keputusan tentang mata pelajaran muatan lokal oleh Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan masih tetap dipertahankan.ketrampilan tangan digabungkan dalam satu mata pelajaran dengan label mata pelajaran Kesenian dan Kerajinan Tangan. Mata pelajaran muatan lokal yang diperkenalkan sejak Kurikulum SMP 1984 masih tetap dipertahankan dalam Kurikulum SMP 1994. Pendekatan mata pelajaran untuk materi muatan lokal pun masih digunakan.             145 . Tampaknya pikiran (ide) kurikulum para pengembang Kurikulum SMP 1994 tidak memandang pendidikan Kesenian dan Kerajinan Tangan sama pentingnya dibandingkan pikiran (ide) para pengembang Kurikulum SMP 1975 dan Kurikulum SMP 1984. penetapan materi muatan lokal sebagai mata pelajaran wajib yang terjadi hampir di setiap daerah tidak berbeda yaitu bahasa daerah dan kesenian daerah. Sebagaimana yang terjadi pada Kurikulum SMP 1984. Alokasi jam untuk mata pelajaran ini sangat rendah dibandingkan alokasi dalam Kurikulum SMP 1975 dan Kurikulum SMP 1984. Posisi mata pelajaran bahasa daerah dan kesenian daerah sebagai mata pelajaran wajib dalam Keadaan seperti ini masih dipertahankan pada saat pemerintah memberikan wewenang yang lebih besar kepada sekolah untuk mengembangkan kurikulum sekolah masing-masing dan dikenal dengan istilah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Pendidikan tidak lagi menjadi wewenang Pemerintah (Pusat) tetapi dilimpahkan sebagai bagian dari Pemerintah   146 . Presiden Megawati adalah presiden terakhir yang diangkat oleh MPR dan bukan dipilih langsung oleh rakyat. Gelombang unjuk rasa dan tuntutan agar Presiden Soeharto mundur semakin gencar dan masif setelah terjadi pembunuhan beberapa mahasiswa Trisakti pada tanggal 13 Mei 1998. Pada masa pemerintahan Presiden Megawati dibentuk tim Reformasi Pendidikan yang merancang berbagai reformasi di sejumlah aspek pendidikan yang dirasakan harus disesuaikan dengan kebijakan nasional mengenai otonomi daerah. Kepemimpinan Presiden Soeharto mendapat tantangan dari masyarakat dan terutama mahasiswa.J. Tidak sampai dua tahun menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto mengundurkan diri sebagai presiden dan Wakil Presiden B. Masa pemerintahan Presiden Habibie ditandai dengan upaya mengembalikan kehidupan demokrasi di Indonesia yang dianggap sudah tercabikcabik pada masa pemerintaha Orde Baru dan upaya membangun kehidupan kenegaraan yang didasarkan pada otonomi daerah yang lebih nyata. SESUAI DENGAN UndangUndang Dasar 1945 sebelum dilakukan amandemen. Pemerintahan Presiden Habibie digantikan oleh Presiden Abdurrachman Wahid (20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001) pada tahun. Presiden Abdurachman Wahid dimakzulkan oleh MPR dan digantikan oleh Presiden Megawati (223 Juli 2001 – 20 September 2004). Habibie dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia. dan beberapa pimpinan masyarakat menolak untuk membantu menyelesaikan kemelut politik.KURIKULUM SMP PADA MASA REFORMASI (OTONOMI DAERAH) A. Pergantian kepala pemerintahan dan kepala negara tersebut terjadi karena Presiden Soeharto mengundurkan diri mendapatkan tekanan mahasiswa dan masyarakat yang tidak puas lagi atas kepemimpinan Presiden Soeharto dan ketika beberapa anggota kabinet yang melihat suasana politik yang tidak menguntungkan mengundurkan diri. PERUBAHAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN Pada tahun 1997 Indonesia mengalami krisis moneter yang kemudian diikuti dengan krisis politik.

sehat. Pada tahun 2003 Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas tahun 2003) disyahkan. Dalam mengembangkan potensi tersebut proses pendidikan memiliki kemampuan mengarahkannya kepada suatu kualitas tertentu seperti keimanan. kemuliaan akhlak. dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggungjawab” . posisi peserta didik dalam pendidikan dan proses pembelajaran menyebabkan pengertian pendidikan dirumuskan sesuai dengan perkembangan baru tersebut. Perubahan tujuan pendidikan nasional yang dirumuskan Undang-undang Sisdiknas tahun 2003 dapat dikatakan merupakan koreksi terhadap tujuan pendidikan sebelumnya. Pemikiran baru tentang pendidikan. cakap. Undang-undang Sisdiknas 2003 membawa perubahan tujuan pendidikan dan konsep pendidikan. kesehatan fisik. ketaqwaan. berilmu.Daerah. Koreksi ini sangat fundamental karena menyangkut hakiki kegiatan pendidikan. Perubahan sistem pemerintahan dari sentralistis ke otonomi membawa pemikiran baru mengenai wewenang pengembangan kurikulum. Rancangan tim Reformasi Pendidikan ini kemudian dijadikan dasar dalam pengembangan undang-undang baru tentang pendidikan nasional. berakhlak mulia. Sedangkan tujuan pendidikan dirumuskan untuk ”berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu perkembangan tujuan pendidikan di Indonesia   147 . kreatif. baik potensi pengembangan pengetahuan. Dengan diberlakukannya Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional maka pendidikan fungsi pendidikan dirumuskan untuk ”mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”. ketrampilan intelektual. mandiri. dan sebagainya. Dalam pikiran baru ini. nilai dan sikap dan fisik. kegiatan pendidikan berfungsi untuk mengembangkan potensi yang ada pada peserta didik.

insinyur. KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KURIKULUM 2004) Pada awal tahun 2000. Di program pendidikan profesi seperti kedokteran. Meski pun demikian sesuatu yang dapat  dipertanggungjawabkan secara politk bukanlah jaminan dapat dipertanggungjawabkan secara  akademik atau pun pedagogic. SLTA dan SMK. Di jenjang pendidikan menengah. Sebelumnya. sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah yang menyempurnakan Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. dan sebagainya kurikulum berbasis kompetensi telah pula digunakan. Beberapa sarjana kurikulum yang memiliki kemampuan tinggi dalam bidang studi kurikulum dan diantaranya baru kembali dari pendidikan di luar negeri dengan gelar tertinggi (S3) di bidang kurikulum. Kurikulum berbasis kompetensi direncanakan untuk menggantikan kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum SMP 1994 walau pun rencana tersebut tidak dapat direalisasikan karena adanya perubahan kebijakan mengenai wewenang penyelenggaraan pendidikan yang diberikan kepada pemerintah daerah.mencapai titik yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. SLTP. pedagogik. B. psikolog. Di jenjang pendidikan tinggi pemikiran kurikulum berbasis kompetensi telah dikembangkan untuk program pendidikan guru pada tahun 70an. Meski pun demikian. pemikiran kurikulum berbasis kompetensi bukan sesuatu yang baru di Indonesia. kurikulum di lembaga pendidikan perhotelah telah menerapkan kurikulum berbasis kompetensi untuk berbagai program studi yang dimilikinya. kurikulum berbasis kompetensi telah diterapkan untuk                                                              24  Pertanggungjawaban politik (political viability and accountability) dibuktikan oleh semua  rumusan tujuan yang telah dibicarakan sejak 1950 yaitu dengan pencantuman tujuan tersebut  dalam suatu ketetapan resmi seperti undang‐undang. dan politik 24 . Mereka belajar tentang kurikulum berbasis kompetensi dan landasan pemikiran kurikulum berbasis kompetensi untuk kurikulum SD. apoteker. Pemerintah mulai merintis pengembangan kurikulum baru yang diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi. Sebenarnya.    148 . Kurikulum Berbasis Kompetensi perlu dikemukakan sebagai suatu peristiwa dalam sejarah pengembangan kurikulum di Indonesia.

Pada tahun akademik 2001/2002 dilakukan “mini piloting” di beberapa sekolah di Sidoarjo. dan SLTA memang penerapan kurikulum berbasis kompetensi masih merupakan barang baru. SLTP. dan sebagainya. Bandung. hal 4). Sekolah yang ikut serta dalam “mini piloting” harus memenuhi kriteria-kriteria antara lain: 1. tahun terakhir abad ke 20. intrapersonal. Pada tahun 2002 melalui Surat Keputusan Mendiknas nomor 045/U/2002 tentang Kurikulum Inti Perguruan Tinggi mengemukakan pengertian kompetensi. yaitu tahun 2001. Kompetensi dapat dicapai melalui pengalaman belajar yang dikaitkan dengan bahan kajian dan bahan pelajaran secara kontekstual”. Kompetensi dapat dikenali melalui sejumlah hasil belajar dan indikatornya yang dapat diukur dan diamati. Lebih lanjut dikemukakan bahwa “kompetensi dikembangkan secara berkesinambungan sejak Taman Kanak-kanak dan Raudhatul Athfal. orang tua dan pembina yang terdiri atas buku untuk setiap mata pelajaran. sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Walau pun tidak dinyatakan secara eksplisit. sosial. Pada tahun pertama abad berikutnya. Memiliki sarana pendidikan yang lengkap 3. keterampilan. kompetensi diartikan sebagai “pengetahuan. emosional. pengertian ketrampilan mencakup ketrampilan intelektual. Dalam SK tersebut dikemukakan "Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas. penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu". Kurikulum Berbasis Kompetensi mulai dikembangkan pada tahun 2000. Memiliki dana yang cukup   149 . tim pengembang sudah berhasil mengembangkan draft pertama sampai kepada buku acuan untuk guru. kinestetik. dan DKI Jakarta. berkelanjutan. Untuk sekolah umum seperti SD. dan konsisten seiring dengan perkembangan psikologis peserta didik” (Dokumen power point. Depdiknas. komunikasi. Memiliki sumber daya manusia yang lengkap 2. DI Yogyakarta.sekolah kejuruan. Kelas I sampai dengan Kelas XII yang menggambarkan suatu rangkaian kemampuan yang bertahap. Dalam kurikulum yang dikenal dengan nama Kurikulum 2004. Serang.

Sayangnya lagi. Sayangnya keberhasilan konstruksi kurikulum (curriculum construction) baru sebagian keberhasilan pengembangan kurikulum (curriculum development) karena masih ada satu dimensi kurikulum yang sama pentingnya dengan konstruksi kurikulum yaitu implementasi kurikulum.4. Hal yang demikian sering dilakukan dalam sejarah pengembangan kurikulum di Indonesia sehingga pada waktu terjadi desiminasi secara nasional maka kegagalan implementasi kurikulum secara nasional sudah dapat diprediksi. prosedur yang dilakukan dalam mengembangkan dokumen kurikulum sudah memenuhi standar prosedur. sejalan dengan banyaknya sekolah yang memiliki persyaratan di bawah kriteria sekolah “piloting”. Dengan pemenuhan standar prosedur tersebut tidak pula diragukan bahwa dokumen kurikulum yang dihasilkan adalah dokumen kurikulum yang baik dan berkualitas. Dokumen Kurikulum 2004 tidak pernah menjadi “implemented curriculum” atau “taught curriculum” karena kebijakan pendidikan   150 . suatu dokumen kurikulum baru dapat memberikan hasil dengan kualitas tamatan sebagaimana yang direncanakannya hanya apabila dokumen kurikulum berhasil dilaksanakan dengan baik dalam bentuk proses atau implementasi kurikulum atau “taught curricculum”. Keadaan yang demikian sangat disayangkan karena akibatnya kurikulum yang telah dikembangkan dengan baik tidak terlaksana dengan baik sehingga tidak mampu menghasilkan tamatan sesuai dengan kualitas yang direncanakan dalam dokumen kurikulum. Memiliki nara sumber dari luar sekolah Dalam “piloting” tersebut menggunakan sekolah yang termasuk kriteria ideal. Dilihat dari prosedur dalam mengkonstruksi kurikulum (curriculum construction) untuk menghasilkan suatu dokumen kurikulum yang baik. pendekatan yang demikian hanya dapat menggambarkan kurikulum bekerja dalam kondisi yang seharusnya sedangkan demikian banyak sekolah yang tidak memiliki kondisi yang sama dengan kondisi sekolah “mini piloting”. Melalui “piloting” dengan kriteria sekolah yang demikian dapat diamati kemampuan kurikulum bekerja secara maksimal sehingga berbagai masalah dapat segera diidentifikasi sebagai masalah yang sudah “exhausted”. Sayangny.

modal sosial dan kredibilitas” (Dokumen Kurikulum Berbasis Kompetensi. dan kerumitan dalam kehidupan. tetapi bersumber pada modal intelektual. Untuk menjawab keperluan tersebut maka diperlukan pendidikan dengan standar mutu yang tinggi agar bangsa Indonesia memiliki warganegara dengan keunggulan kompetitif dan komparatif pada tingkat nasional dan bahkan internasional (Dokumen Kurikulum Berbasis Kompetensi. Untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas diperlukan kurikulum yang bersifat lebih fleksibel. ketidakmenenentuan. perkembangan IPTEK. Atas dasar pemikiran demikian maka perlu dikembangkan kurikulum baru untuk masa depan yaitu kurikulum berbasis kompetensi. Kebutuhan itu disebabkan oleh kenyataan bahwa “kesejahteraan bangsa bukan lagi bersumber pada sumber daya alam dan modal yang bersifat fisik.yang memberikan wewenang pegembangan kurikulum tingkat sekolah kepada pemerintah daerah. Kemudian dikatakan lebih lanjut dokumen tersebut bahwa kompetensi dikembangkan untuk memberikan keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam perubahan. 1. ketidakpastian.   151 . Perkembangan industri dan masyarakat menuntur adanya sumber daya manusia dengan kemampuan atau kompetensi tinggi pula. 2001). Lebih lanjut dikemukakan bahwa perkembangan yang pesat di masyarakat telah menyebabkan tumbuhnya industri baru berbasis kompetensi tinggi. mampu mengakomodasi keanekaragaman kemampuan peserta didik. dinamis. Kurikulum berbasis kompetensi ditujukan untuk menciptakan tamatan yang kompeten dan cerdas dalam membangun identitas budaya dan bangsanya. pertentangan. Oleh karena itu dirasakan adanya keperluan untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia dalam berbagai dimensi kehidupan sebagai sumber daya manusia yang berkualitas dan berbudi luhur. dan globalisasi telah menyebabkan dan menuntut perubahan besar dalam kehidupan masyarakat.Pemikiran Kurikulum Berbasis Kompetensi Dalam rasional pengembangan kurikulum berbasis kompetensi dikemukakan bahwa tuntutan GBHN 1999. 2001).

Buku tersebut diberi judul Kurikulum Berbasis Kompetensi dan diikuti dengan nama mata pelajaran untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama.Selanjutnya dikemukakan bahwa kurikulum berbasis kompetensi harus menjamin pertumbuhan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dalam setiap buku terdapat nama-nama tim pengembang. Dalam rasional buku Kurikulum Berbasis Kompetensi disebutkan bahwa pengembangan kurikulum dilakukan pada dua jenjang yaitu Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. dan rambu yang menjadi bagian dari bab I Pendahuluan buku. Berdasarkan TAP dan UU maka Buku Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan realisasi dari wewenang pemerintah pusat dalam “menentukan kompetensi umum secara nasional yang berlaku di seluruh daerah” (Buku Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dalam proses pengembangan dokumen kurikulum (curriculum construction) tingkat nasional maka dikembangkan buku untuk setiap mata pelajaran. Berdasarkan kompetensi umum nasional yang telah ditetapkan Pemerintah maka pemerintah daerah berkewajiban mengembangkan kurikulum sesuai dengan potensi dan karakteristik daerah masing-masing. Adanya kewenangan yang diberikan kepada pemerintah daerah dikarenakan adanya TAP MPR No. Berdasarkan rambu-rambu yang ada daerah pada dasarnya diberi wewenang mengembangkan silabus yang akan digunakan guru dalam mengelola proses pembelajaran. 2001). Pencantuman nama tim pengembang tampaknya merupakan suatu kebijakan baru untuk memberikan tanggungjawab yang lebih besar kepada tim pengembang. IV/MPR/1999 dan UU nomor 22/1999 tentang otonomi pemerintahan. pengembangan kepribadian Indonesia yang kuat dan berakhlak mulia (Dokumen Kurikulum Berbasis Kompetensi. seni. akademik. penguasaan ketrampilan hidup. fungsi dan tujuan. 2001). Materi Pokok. materi pokok. kompetensi umum. Dalam Bab 2 terdapat Kompetensi Dasar. pendekatan dan organisasi penyajian. rasional. pengertian mata pelajaran. dan Indikator Pencapaian Hasil belajar untuk setiap kelas dan catur wulan.   152 .

estetika. dan IX. Dalam struktur persekolahan yang dikemukakan dalam Materi Diskusi KBK berkenaan dengan kebijakan umum penamaan kelas yaitu “ (1) Kelas 0 untuk pendidikan prasekolah. Kajian antara buku-buku Kurikulum Berbasis Kompetensi menunjukkan adanya inkonsistensi dalam penamaan kelas: pada beberapa dokumen kurikulum disebutkan kelas I. estetika. dan (3) Kelas VII sampai dengan Kelas XII untuk pendidikan menengah”. Tampaknya ada kegalauan mengenai konsep kelas yang disebabkan kegalauan dalam menempatkan posisi SLTP yang dalam UU nomor 2 tahun 1989 adalah bagian dari pendidikan dasar 9 tahun. (2) Kelas I sampai dengan Kelas VI untuk pendidikan dasar.Dalam bagian kedua. Keseimbangan etika. Prinsip Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi Dalam dokumen pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi dikemukakan ada 12 prinsip yang digunakan dalam mengembangkan Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun 2001 dan prinsip yang sama tetap digunakan dalam revisi terakhir kurikulum yang dilakukan pada akhir tahun 2003. VIII. logika. 2. VIII dan IX.Pengembangan etika dilaksanakan dalam rangka penanaman nilai-nilai sosial dan moral termasuk menghargai dan   153 . Keduabelas prinsip tersebut adalah sebagai berikut: a. dan kinestika. dan kinestika Kurikulum merupakan input instrumental yang digunakan untuk menyeimbangkan pengalaman belajar yang mengembangkan etika. II. materi pokok. logika. Jika SLTP merupakan bagian dari pendidikan dasar 9 tahun maka adalah wajar apabila penamaan kelas di SLTP merupakan kelanjutan dari kelas di SD yaitu kelas VII. buku Kurikulum Berbasis Kompetensi memuat kompetensi dasar. dan III tetapi di beberapa dokumen kurikulum lain disebutkan kelas VII. Dalam satu tahun/ kelas terdapat beberapa kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik kelas tersebut. dan indikator pencapaian hasil belajar. Istilah kelas tidak secara konsisten digunakan dalam dokumen Kurikulum SLTP Berbasis Kompetensi. Walau pun bahan diskusi tersebut belum bersifat final tampaknya para pengembang kurikulum KBK tahun 2001 tidak sepenuhnya mengikuti apa yang tercantum dalam materi tersebut.

Memperkuat Identitas Nasional Kurikulum harus menanamkan dan mempertahankan kebanggaan menjadi bangsa Indonesia melalui pemahaman terhadap pentumbuhan peradaban bangsa Indonesia dan sumbangan bangsa Indonesia terhadap peradaban dunia. d. semangat. Dengan demikian kunikulum harus mempertahankan keberlanjutan tradisi budaya yang bermanfaat dan mengembangkan kesadaran. Pasar bebas.mengangkat nilai-nilai pluralitas dan nilai-nilai universal.   154 . Kesamaan Memperoleh Kesempatan Setiap orang berhak menerima pendidikan yang tepat sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya. dan unggul. sikap nonsektarian. Menghadapi Abad Pengetahuan Globalisasi dalam bidang informasi. Pada abad pengetahuan ini dipenlukan masyarakat yang berpengetahuan yang diperoleh dengan cara belajar sepanjang hayat. rasa. komunikasi. dan mengatasi situasi yang membingungkan dan penuh ketidakpastian.bahasa. wilayah. dan jender perlu diperhatikan dalam kurikulum. sosial. pengetahuan. serta penguasaan pengetahuan dan teknologi menjadi makin penting untuk kemajuan suatu bangsa. memilih. dan teknologi menyebabkan semakin meningkatnya fenomena perkembangan ekonomi berbasis pengetahuan. sehingga diperlukan kunikulum yang mendorong untuk meningkatkan 4/18 kemampuan metakognitif dan kemampuan berpikir dan belajar dalam mengakses. yang memerlukan bantuan khusus. Sumber daya alam yang makin terbatas tidak lagi dapat menjadi tumpuan modal karena sumber kesejahteraan suatu bangsa telah bergeser dan modal fisik ke modal intelektual. dan kesatuan nasional. Materi tentang pemeliharaan identitas nasionat patriotisme. menilai pengetahuan. b. dan karsa. kemampuan bersaing. Hal tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan upaya untuk menjamin persamaan memperoleh kesempatan pendidikan. Logika yang dikembangkan termasuk berpikir kreatif dan inovatif dengan keseimbangan yang nyata antara kognisi dan emosi dapatmemberikan keterampilan kognitif sekaligus dengan keterampilan interpersonal. Untuk itu perlu adanya jaminan keberpihakan kepada peserta didik yang kurang beruntung dan segi ekonomi dan sosial. c.Pengembangan estetika menempatkan pengalaman belajar dalam konteks holistik dan total untuk memberikan ruang bagi pengalaman estetik dengan melalui berbagai kegiatan yang dapat mengekspresikan gagasan. berbakat. kemampuan untuk bertoleransi terhadap perbedaan yang ditimbulkan oleh agama. dan kredibilitas. Sifat pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai oleh masyarakat sangat beragam dan berkualitas. ideologi.

pemecahan masalah. Menyongsong Tantangan Teknologi Informasi dan Komunikasi Revolusi dalam teknologi informasi dan komunikasi merupakan tantangan fundamental yang dapat mengubah masyarakat biasa ke dalam masyarakat informasi dan masyarakat pengetahuan. f. membuat keputusan. Oleh karena itu diperlukan kurikulum yang luwes dan adaptif terhadap berbagai pengetahuan baru sesuai dengan keadaan zaman. menghindari stres. dan peningkatan konsensus pada nilai-nilai universal. pariwisata. Berpusat Pada Anak Sebagai Pembangun Pengetahuan   155 . Pendidikan Alternatif Pendidikan tidak hanya terjadi sccara formal di sekolah tetapi juga harus terjadi di mana saja. pencegahan konsumerisme. Teknologi informasi dan komunikasi berpotensi untuk menyediakan kemudahan belajar elektronik atau belajar dengan kabel on-line yang memperrnudah akses ke dalam informasi dan ilmu pengetahuan baru yang tidak tertulis dalam kunikulum. pendidikan jarak jauh. komunikasi. lingkungan hidup dan kependudukan. Pendidikan alternatif meliputi antara lain pendidikan non-formal. Hal itu sangat penting terutama dalam rangka mencapai universalisasi dan demokratisasi pendidikan. Oleh karena itu. Beberapa aspek utama keterampilan hidup antara lain kerurnahtanggaan. kesadaran diri.e. g. Mengembangkan Keterampilan Hidup Pendidikan perlu menyiapkan peserta didik agar mampu mengembangkan keterampilan hidup untuk menghadapi tantangan hidup yang terjadi di masyarakatnya. demokrasi. pendidikan terbuka. sistem lain yang lentur yang diselenggarakan oleh pemenintah atau organisasi non-pemerintah. pencegahan HIV/AIDS. home economics. hak asasi manusia. berpikir kreatif. penangkalan penyalahgunaan narkoba. perdamaian. kehutanan. Mengintegrasikan Unsur-unsur Penting ke Dalam Kurikuler Kurikulum perlu memuat dan mengintegrasikan pengetahuan dan sikap tentang budi pekerti. Pengintegrasian unsur-unsur tensebut perlu disesuaikan dengan sifat rnata pelajaran pokok yang relevan dan perkembangan kernampuan peserta didik. hubungan interpersonal dan pemahaman tentang berbagai bentuk pekerjaan serta kemampuan vokasional disertai sikap positif terhadap kerja. h. berpikir kritis. di dalam kunikulum perlu dimasukan ketenampilan hidup agar peserta didik memiliki kemampuan bersikap dan berpenilaku adaptif dalam menghadapi tantangan dan tuntutan kehidupan sehari-hari secara efektif. i.

reliabilitas. Dengan demikian pandangan baru akan diperoleh melalui pengalaman langsung secana lebih efektif. Hassil belajar dipandang sebagai umpan balik untuk perbaikan lebih lanjut terhadap segala kekurangan dan kelebihan peserta didik selama belajar dalam kurun waktu tertentu. dan selalu belajar tentang dunia yang berubah dalam segala bidang. Pendidikan Sepanjang Hayat Pendidikan harus berlanjut sepanjang hidup manusia dalam rangka untuk mengembangkan. Implikasi dari hal tersebut yaitu bahwa dalam pendidikan perlu menerapkan metodik yang produktif dan kontekstual untuk mengakomodasikan sifat dan sikap masyarakat pluraristik dalam kerangka pembentukan jati diri bangsa. tetapi juga kepentingannya di masa yang akan datang dengan memberikan fondasi yang kuat untuk inkuiri dan memecahkan masalah yang merupakan titik awal untuk menguasai cara berpikir bagaimana berpikir dan belajar sepanjang hidupnya. kerusakan dan keusangan pengetahuan dapat dihindari. dan agama. dan validitas penilaian merupakan prosedur yang menentukan kualitas umpan balik. Oleh karenanya penilaian berkelanjutan dan komprehensif menjadi sangat penting dalam dunia pendidikan. j. membantu teman. Pendidikan Multikultur dan Multibahasa Indonesia terdiri atas masyarakat dengan beragam budaya. kritenia penilaian. peran utama guru adalah sebagai fasilitator belajar. mengadakan pengamatan. k. Penilaian Berkelanjutan dan Komprehensif Kurikulum harus menanggapi kebutuhan belajar peserta didik untuk mengetahui hasil belajarnya. kurikulum harus menyediakan kompetensi dan materi yang berguna bagi peserta didik bukan hanya untuk kepentingannya di masa sekarang. dan interpretasi hasil. benkolaborasi.   156 . menambah kesadaran. Dengan demikian. Hasil dan suatu penilaian umumnya tergantung pada identifikasi jenis dan alat penilaian yang digunakan serta tujuan. Penilaian berkelanjutan mengacu kepada penilaian yang dilaksanakan oleh guru itu sendiri dengan proses penilaian yang dilakukan secara transparan. j. bahasa. Relevansi. Dalam hal ini. Dalam hal ini. Penilaian harus dilakukan secara komprehensif yang mencakup aspek kompetensi akademik dan keterampilan hidup.Upaya untuk memandinikan peserta didik untuk belajar. dan penilaian din untuk suatu refleksi akan mendonong rnereka untuk membangun pengetahuannya sendiri.

3. pendidikan multikultur dan multibahasa. logika. Ada diantaranya berupa tantangan yang harus dijawab oleh kurikulum seperti mengembangkan keterampilan hidup. keseimbangan etika. menyongsong tantangan teknologi informasi dan komunikasi. menghadapi abad pengetahuan. estetika. Sedangkan yang dinamakan prinsip pendidikan alternatif bukan prinsip pengembangan kurikulum tetapi lebih mengarah kepada prinsip pengembangan pendidikan. Tentu saja visi dan misi lembaga menjadi bagian penting dalam pengembangan kurikulum karena kurikulum harus mendukung pencapaian visi dan misi tersebut. berpusat pada anak sebagai pembangun pengetahuan. Beberapa yang lain memang merupakan prinsip yang harus digunakan dalam mengembangkan kurikulum seperti penilaian berkelanjutan dan komprehensif. Pekerjaan yang tertinggal demikian digunakan juga dalam Kurikulum SMP 1975 sebagai prinsip walau pun seharusnya pengembang kurikulum tidak seharusnya memberikan pekerjaan yang mendasar dalam pengembangan materi dan organisasi materi kurikulum kepada para guru. Mengintegrasikan unsur-unsur penting ke dalam kurikuler bukan prinsip dan bukan pula tantangan tetapi merupakan pekerjaan yang harus diselesaikan oleh para pengembang kurikulum. pendidikan sepanjang hayat dan memperkuat identitas nasional. Visi dan Misi SMP Kurikulum Berbasis Kompetensi memperkenalkan adanya visi dan misi yang harus dinyatakan dalam kurikulum.Memang harus diakui bahwa beberapa dari yang dikemukakan sebagai prinsip di atas pada dasarnya bukanlah prinsip pengembangan kurikulum. Visi untuk pendidikan dasar dirumuskan sebagai berikut:   157 . Pikiran ini dikembangkan terus sampai pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Untuk SMP (isitlah ini digunakan walau pun berdasarkan UU nomor 2 tahun 2003 seharusnya istilah yang digunakan adalah SLTP) yang menjadi bagian dari pendidikan dasar maka visi dan misinya adalah visi dan misi pendidikan dasar. dan kinestika.

tanggung jawab. dan berkemampuan untuk mengembangkan diri sepanjang hayatnya. kritis. dan kreatif. dan pengetahuan yang kuat dan memadai untuk mengembangkan potensi dirinya secara optimal sehingga memiliki ketahanan dan keberhasilan dalam pendidikan lanjutan atau dalam kehidupan yang selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman. kewirausahaan. Visi dan misi yang dikembangkan untuk pendidikan dasar sangat fundamental sebagai kualifikasi minimal bangsa Indonesia. bertanggungjawab. • Membentuk rasa cinta terhadap tanah air Indonesia. Kurikulum sebelumnya tidak mengembangkannya dalam bentuk visi dan misi tetapi dalam rumusan yang dinamakan tujuan yang memiliki kualitas serupa atau mirip dengan visi dan misi Kurikulum Berbasis Kompetensi. dan etos kerja. menulis. Seyogyanya warganegara Indonesia yang memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan minimal 9 tahun memiliki kualitas yang menjadi visi dan misi pendidikan dasar sehingga mereka dapat dan mampu berpartisipasi sebagai warganegara yang produktif. • Menumbuhkan dasar-dasar kemahiran membaca. • Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dan kemampuan berpikir logis. kemandirian dan kecakapan emosional.   158 . keterampilan. Sedangkan misi pendidikan dasar dirumuskan sebagaimana tercantum di bawah ini: • Menanamkan dasar-dasar perilaku berbudi pekerti dan berakhlak mulia. • Menumbuhkan sikap toleran.Penyelenggaraan pendidikan dasar adalah dalam rangka menghasilkan lulusan yang mempunyai dasar-dasar karakter. • Memberikan dasar-dasar keterampilan hidup. kecakapan. Jadi terdapat kontinuitas dalam upaya kurikulum untuk mengembangkan kualitas manusia Indonesia walaupun terdapat pula berbagai perubahan yang disebabkan oleh adanya untuk kehidupan di suatu periode waktu dan proyeksi kehidupan pada periode waktu mendatang. dan berhitung.

Struktur Kurikulum Berbasis Kompetensi SMP Naskah awal Kurikulum Berbasis Kompetensi SMP yang dikembangkan pada tahun 2001 memiliki struktur kurikulum sebagai berikut: Tabel 8. Struktur Program Kurikulum Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah Jenis dan Jumlah Mata pelajaran Pokok 1.Sains 6.Ilmu Sosial 7.Matematika 5.1 sangat sederhana dan banyak mengurangi beban belajar.4. Kenyataan   159 .Kewarganegaraan dan Sejarah 3.1. Sejarah pendidikan kompetensi yang awalnya adalah mempersiapkan peserta didik untuk memiliki ketrampilan atau kemampuan yang diperlukan dunia kerja menyebabkan pengaruh pandangan filosofi pendidikan disiplin ilmu tidak menonjol.Pendidikan Jasmani 9.Bahasa dan Sastera Indonesia 4.Bahasa Inggeris 8.Kesenian dan Kerajinan Tangan Jumlah Alokasi Waktu Kelas VII 2 3 6 6 6 3 4 2 2 34 Kelas VIII 2 3 6 6 6 3 4 2 2 34 Kelas IX 2 3 6 6 6 3 4 2 2 34 Struktur Kurikulum Bebrasis Kompetensi yang ditunukkan dalam tabel 8. Jika pada Kurikulum SMP 1994 beban belajar setiap semester Dominasi pandangan filosofis esensialisme pada para pengembang Kurikulum Berbasis Kompetensi sangat kuat walau pun fenomena tersebut agak mengherankan karena pada umumnya kurikulum berbasis kompetensi tidak mendasarkan diri pada pendidikan disiplin ilmu.Agama 2.

Setelah dilakukan “mini piloting” dan taggapan masyarakat maka struktur Kurikulum Berbasis Kompetensi sebagaimana yang tercantum pada tabel 8.   160 . Tentu saja dominasi pendidikan disiplin ilmu agak kurang sesuai dengan tujuan dan misi kelembagaan SMP dan Madrasah Tsanawiyah kecuali untuk misi yang berkenaan dengan pengembangan kemampuan berpikir logis. hasil “mini piloting” dan uji publik meredam pandangan pendidikan disiplin ilmu yang terasa dominan pada struktur tabel 8. Pandangan pendidikan disiplin ilmu yang didasarkan pada filosofi esensialis juga mendapat koreksi yang cukup kuat sehingga mata pelajaran sains dan ilmu sosial diubah menjadi label bidang studi dan mata pelajaran yang lebih menyesuaikan diri dengan pandangan filosofis perenialisme. Hasil dari penyempurnaan struktur Kurikulum Berbasis Kompetensi tercantum pada tabel 8. mengalami penyempurnaan.1 di atas berbeda dari tradisi umum kurikulum berbasis kompetensi.yang ditunjukkan dalam struktur Kurikulum Berbasis Kompetensi pada tabel 8. kritis dan kreatif. sains menambah kuatnya kesan ketidakajegan antara kurikulum sebagaimana yang dinyatakan dalam struktur dengan misi kelembagaan.2. Tampaknya. Alokasi waktu yang sangat besar untuk mata pelajaran yang dikenal sebagai mata pelajaran yang melatih peserta didik dalam berpikir logis. berikut ini. dan kreatif seperti matematika. kritis. Nama-nama mata pelajaran seperti Sains dan Ilmu Sosial menggambarkan pengaruh pendidikan disiplin ilmu yang sangat kuat.1. Jumlah SKS yang sudah lebih merata dengan mengurangi sks untuk mata pelajaran matematika dan pengetahuan alam memberi indikasi adanya perubahan dalam ide kurikulum para pengembang.1.

Masyarakat Indonesia yang sudah sangat mengenal komputer sebagai produk teknologi informasi sudah sepantasnya mendapat tanggapan dari kurikulum. mereka tidak memiliki fasilitas yang diperlukan sedangkan peserta didik tidak mungkin dapat dinyatakan telah menyelesaikan program belajar di SMP jika   161 .Pembiasaan C.2. mampu dan mahir menggunakan komputer beserta fasilitas internet terutama untuk SMP dan masyarakat kota.Muatan Lokal Jumlah Kegiatan pembiasaan Kegiatan atau Mata pelajaran 2 2 5 4 5 4 5 2 3 2 2 2 5 4 5 4 5 2 3 2 2 2 5 4 5 4 5 2 3 2 2 36 2 36 2 36 Adanya mata pelajaran baru yaitu Ketrampilan dalam teknologi informasi dan komunikasi memberikan warna inovasi yang kuat pada Kurikulum SMP 2004. Untuk masyarakat dan SMP di daerah pedalamam keberadaan mata pelajaran khusus dalam kurikulum mengundang masalah yang cukup serius.Tabel 8.Mata Pelajaran Pendidikan Agama Pendidikan Kewarganegaraan Bahasa dan Sastra Indonesia Bahasa Inggeris Matematika Pengetahuan Sosial Pengetahuan Alam Kesenian Pendidikan Jasmani Ketrampilan/Teknologi Informasi dan Komunikasi B. Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Pertama Dan Madrasah Tsanawiyah Kelas VII Alokasi Waktu VIII IX A. Sudah saatnya sekolah mempersiapkan calon warganegara produktif untuk mengenal. Pertama.

Sayangnya. Kedua. berbakat. Ini adalah sesuatu yang bersifat berbahaya bagi kurikulum karena dengan demikian kurikulum sudah memberikan perlakuan yang tidak “fair” kepada seluruh peserta didik. ketimpangan dan ketidakajegan kurikulum dalam prinsip serta perlakuan kurikulum yang berbeda terhadap peserta didik tidak hanya terjadi pada mata pelajaran ketrampilan Teknologi Informasi dan Komunikasi. jika Standar Kompetensi Lulusan untuk setiap mata pelajaran yang diberlakukan   162 . Kalau pun mereka yang tidak mengikuti mata pelajaran ketrampilan Teknologi Informasi dan Komunikasi boleh dinyatakan telah menyelesaikan pendidikan mereka di SMP tetapi terjadi diskriminasi karena mereka tidak memiliki kemampuan yang sama dengan sebaya mereka yang mengikuti mata pelajaran tersebut padahal ketidakikutsertaan mereka bukan disebabkan oleh kemampuan mereka yang tidak sesuai dengan materi pelajaran. Kurikulum telah mengkianati prinsipnya dan peserta didik diperlakukan tidak adil. kurikulum dikembangkan berdasarkan keberpihakan kepada kelompok peserta didik yang beruntung. Sejujurnya. dan unggul”. yang memerlukan bantuan khusus. mereka yang tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengikuti pelajaran ketrampilan Teknologi Informasi dan Komunikasi tidak akan pernah dapat menyelesaikan pendidikan mereka di SMP. kita tidak belajar dari pengalaman ini dan kejadian seperti ini masih juga diulangi oleh Kurikulum KTSP dalam struktur Kurikulum yang dinyatakan dalam Standar Isi (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2003 tentang Standar Isi). Artinya. Dengan demikian.mereka tidak pernah mengikuti pelajaran ketrampilan Teknologi Informasi dan Komunikasi. kurikulum melanggar prinsip yang diletakkan untuk mengembangkan kurikulum itu sendiri yaitu “perlu adanya jaminan keberpihakan kepada peserta didik yang kurang beruntung dan segi ekonomi dan sosial. Demikian pula dengan mata pelajaran kesenian dan pendidikan olahraga dan kesehatan dimana banyak SMP yang tak mungkin melaksanakan sesuai dengan apa yang dikehendaki kurikulum karena ketiadaan fasilitas belajar. Lebih lanjut. Kenyataan seperti ini merupakan pelajaran berharga dari sejarah kurikulum.

5. Buku Standar Kompetensi Mata Pelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004 untuk SMP dan MTs terdiri atas Buku Kerangka Dasar. Buku Standar kompetensi Mata Pelajaran. mahal. dan sarat teknologi. Ketimpangan ini tentu saja merugikan mereka karena mereka telah kehilangan daya saing dan berada dalam posisi yang tidak menguntungkan ketika dunia kerja menghendaki kemampuan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi sebagai persyaratan. SMA dengan MA. SMK dengan MAK). Keseluruhan dokumen kurikulum ini menunjukkan pengembangan pikiran kurikulum yang berbeda dari kurikulum sebelumnya walau pun secara materiil Buku Standar Kompetensi Mata   163 . Sukar untuk diingkari bahwa dengan demikian maka hasil belajar yang dimiliki peserta didik di SMP yang demikian adalah mereka yang dinyatakan berhasil dengan kemampuan yang kurang dari apa yang dipersyaratkan kurikulum. Buku Standar Kompetensi Bahan Kajian. dan Buku-Buku Pedoman. Suatu kenyataan yang menyenangkan dari struktur kurikulum di atas ialah Kurikulum SMP 2004 (dan kurikulum lainnya) telah mampu menyatukan SMP dengan Madrasah Tsanawiyah karena secara hitam di atas putih dinyatakan bahwa kurikulum adalah Kurikulum Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah.melalui Peraturan Menteri Pendidikan dikaji maka kita akan menemui ketimpangan yang sama yaitu adanya Standar Kompetensi Lulusan yang tidak mungkin dikuasai peserta didik karena ketiadaan fasilitas di SMP dimana mereka belajar. Permasalahan kurikulum yang dikemukakan di atas dapat dikatakan masalah menahun yang terjadi pada setiap penggantian kurikulum baik yag menggunakan buku sebagai sumber belajar apalagi yang memerlukan fasilitas belajar lain yang canggih. Tentu saja untuk Madrasah Tsanawiyah yang memiliki misi berbeda dari SMP struktur kurikulum tersebut perlu disesuaikan. Penyatuan ini senafas dengan berbagai pasal dalam Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengakui kesejajaran antara SMP dengan MTs (SD dengan MI. Hal yang sama ditemukan pula dalam Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) pada mata pelajaran tertentu.

Jadi terjadi perubahan yang mendasar dalam judul buku tidak saja berkenaan dengan nama kurikulum dari Kurikulum Berbasis Kompetensi menjadi Kurikulum 2004 tetapi juga secara eksplisit dinyatakan isi buku yaitu standar kompetensi. sesuai dengan ketetapan pada Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Kementerian Pendidikan Nasional setelah ada Peraturan Pemerintah  nomor 19 tahun 2005 yang memberikan wewenang mengembangkan sstruktur kurikulum kepada  Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) . standar kompetensi mata pelajaran. standar kompetensi bahan ajar. ruang lingkup. Buku Pedoman berisikan pedoman pengelolaan KBK. Buku baru diberi judul Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Mata Pelajaran (nama mata pelajaran) Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah. standar kompetensi lintas kurikulum. 1984. pengertian. dan rambu-rambu                                                              25  Ini juga menjadi kurikulum terakhirr yang dihasilkan Pusat Kurikulum. Buku Kerangka Dasar berisikan landasan pengembangan. Buku Standar Kompetensi Mata Pelajaran edisi Agustus 2001 yang berjudul “Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran (nama mata pelajaran) Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama” mengalami revisi setelah melalui piloting (istilah yang digunakan dalam dokumen). dan penilaian berbasis kelas. Badan Penelitian dan  Pengembangan Pendidikan. dan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. dan 1994. tujuan dan fungsi. Ini untuk pertama kali Pusat Kurikulum menghasilkan kurikulum yang secara eksplisit mencantumkan sekolah Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama dalam sebuah dokumen kurikulum. uji publik dan penyesuaian dengan UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 25 Buku Standar Kompetensi ditandatangani oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Buku Standar Kompetensi Bahan Kajian dan Mata pelajaran berisikan struktur kompetensi.pelajaran dapat dikatakan sama dengan GBPP pada Kurikulum SMP 1975. Juga secara eksplisit dinyatakan bahwa kurikulum diberlakukan untuk dua jenis sekolah yaitu SMP (nama yang digunakan dalam UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas) dan Madrasah Tsanawiyah. kegiatan belajar-mengajar.     164 . Dalam buku ini dikemukakan mengenai rasional mengenai pentingnya mata pelajaran yang dimaksud.

Satu Kompetensi Standar memiliki sejumlah indikator yang merupakan rincian perilaku dan pengetahuan yang harus dimiliki peserta didik. Indikator. Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 20 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. Berdasarkan indikator maka dikembangkan Materi Pokok. indikator. “proses sosialisasi” atau dapat pula dirumuskan dalam suatu pernyataan yang menyatakan keterkaitan antara dua konsep atau lebih seperti ‘keanekaragaman hidup dan upaya pelestariannya”. dan Materi Pokok yang terdapat pada buku Standar Kompetensi. Bagian II menguraikan kompetensi dasar. Dalam Buku Standar Kompetensi terdapat 9 Standar Kompetensi Lintas Kurikulum. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2000 tentang   165 . dan IX. Seharusnya nama standar ini adalah standar lintas mata pelajaran atau standar kurikulum karena kurikulum hanya ada satu untuk satu satuan pendidikan. materi pokok mata pelajaran yang dimaksud untuk kelas VII. “atmosfer dan pengaruhnya terhadap kehidupan”. Kompetensi Dasar. Setiap Kompetensi Dasar memiliki satu materi pokok yang dirumuskan dalam bentuk pernyataan tunggal seperti “penggunaan mikroskop” . Naskah terakhir Kurikulum 2004 telah mencoba mengakomodasi perubahan tersebut tetapi upaya yang dimaksudkan tidak cukup kuat. jumlahnya beragam tergantung keluasan dari Standar Kompetensi.pada bagian I Pendahuluan. KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN Kurikulum 2004 atau yang semula bernama Kurikulum Berbasis Kompetensi tidak pernah diimplementasikan secara nasional. VIII. Standar Kompetensi Lintas Kurikulum adalah standar yang berlaku untuk seluruh mata pelajaran. Kurikulum 2004 tidk mendapat dukungan politis karena terjadi perubahan dalam kehidupan ketatanegaraan Indonesia dari sentralistik ke otononomi daerah. Sedangkan pada bagian II Buku yang sama terdapat Standar Kompetensi yang harus diselesaikan untuk kelas tertentu. Guru dan sekolah mengembangkan silabus berdasarkan Standar Kompetensi. beragam dalam jumlah untuk setiap kelas dan setiap mata pelajaran. C. bukan untuk setiap mata pelajaran. Setiap Standar Kompetensi dirinci dalam beberapa Kompetensi Dasar. Setiap kelas memilikilebih dari satu Standar Kompetensi.

potensi daerah. Dalam kewenangan mengenai pengembangan kurikulum Pasal 36 ayat (2) UU nomor 20 tahun 2003 menyebutkan “kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan. Untuk memenuhi ayat ini kurikulum tidak lagi mungkin dikembangkan pada tingkat nasional karena adalah sangat tidak mungkin bagi pengembang kurikulum di tingkat nasional untuk menyesuaikan dengan satuan pendidikan. Ketika Kurikulum 2004 mencapai dinyatakan sebagai kurikulum yang sudah siap dilaksanakan. dan pesert didik di satu satuan pendidikan. Proses pengembangan Kurikulum 2004 dilakukan bersamaan dengan masa pengembangan UndangUndang nomor 20 tahun 2000 dan masa proses Undang-Undang nomor 20 tahun 2003. Pendidikan dasar dan menengah adalah wewenang yang dilimpahkan dari Pemerintah ke Pemerintah Daerah. dan Undang-Undang Nomor 20 thun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebabkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tidak mempunyai pilihan lain terkecuali melaksanakan ketetapan dalamundang-undang tersebut. Keragaman yang dimiliki oleh setiap satuan pendidikan dan daerah memberikan ruang yang sangat tipis dan hampir dapat dikatakan tidak mungkin untuk menyusun satu kurikulum nasional. Perubahan Kebijakan Pendidikan Sebagaimana telah dikemukakan di atas sejak 1999 telah terjadi perubahan kewenangan pemerintah yang dikenal dengan nama Otonomi PemerintahDaerah.Kewenangan Pemerintah dan Pemerintah Daerah. dan peserta didik”. Oleh karenanya kementerian yang paling terdepan dalam melaksanakan undang-undang tersebut tidak memiliki pilihan lain terkecuali tidak mengimplementasikan Kurikulum 2004 yang baru selesai dikembangkannya. Pasal 38 ayat (2) Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memperjelas dan memperkuat wewenang pengembangan   166 . 1. potensi daerah. dinyatakan dapat diimplementasikan oleh evaluasi sumatif. Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sudah dinyatakan berlaku dan Departemen Pendidikan Nasional adalah kementerian yang paling bertanggungjawab dalam keberhasilan pelaksanaan undang-undang tersebut.

Ketentuan ini menyebabkan Kurikulum 2004 yang telah dikembangkan Pemerintah (Dediknas-Puskur) tidak mungkin dilaksanakan di satuan-satuan pendidikan. Dalam hal ini terjadi kerancuan penetapan karena Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum bukan Standar Isi dan berdasarkan UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Oleh karena itu ide-ide tersebut dimasukkan dalam berbagai ketentuan seperti Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dimasukkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional mengenai Standar Isi. Berdasarkan kebijakan baru maka kurikulum dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan dan dikenal dengan nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Demikian pula halnya dengan Standar Kompetensi Lulusan. Standar Kompetensi Lintas Kurikulum. dan Standar Kompetensi Mata Pelajaran dikemas dalam bentuk Peraturan Menteri Pendidikan Nasional. Sedangkan Struktur Kurikulum untuk SMP dan Madrasah Tsanawiyah dikemas dalam bentuk Standar Isi. Standar dikembangkan oleh lembaga independen yang dinamakan Badan Standar Nasional Pendidikan sedangkan kerangka dasar dan struktur kurikulum dikembangkan oleh lembaga yang diberi wewenang secara institusional yaitu   167 . Struktur KTSP mengacu kepada Struktur Kurikulum yang ditetapkan oleh PeraturanMenteri Pendidikan Nasional. Ayat (2) ini didahului oleh ayat (1) yang menegaskaan bahwa “kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh Pemerintah”.kurikulum. Pasal tersebut menyebutkan “kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar dan Propinsi untuk pendidikan menengah”. wewenang mengembangkan standar dan kurikulum dilakukan oleh lembaga yang berbeda. Pemerintah mengambil kebijakan untuk menyelamatkan pikiran kurikulum kompetensi yang telah dikembangkan dalam Kurikulum 2004 dan biaya besar yang telah dikeluarkan untuk pengembangan naskah atau dokumen kurikulum.

Pengertian di atas merupakan turunan dari apa yang telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005. beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan menengah. dan 4. Seperti yang telah dikemukakan di atas sebenarnya ketetapan dalam PP nomor 19 tahun 2005 tersebut bertentangan dengan Undang-Undang nomor 20 Tahun 2003 dimana dinyatakan bahwa struktur kurikulum adalah taggungjawab Pemerintah dan bukan BSNP. Kedua produk dari kedua lembaga tersebut dinyatakan berlaku resmi melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional. kalender pendidikan untuk penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah. 3. Struktur Kurikulum SMP/Madrasah Tsanawiyah ditetapkan sebagai berikut yang ditetapkan dalam Standar Isi adalah sebagai berikut:   168 .Pusat Kurikulum.Struktur Kurikulum KTSP untuk SMP/MTs Berdasarkan Peraturan Menteri nomor 22 tahun 2005 yang dimaksudkan dengan Standar Isi adalah: 1. 2. 2. kerangka dasar dan struktur kurikulum yang merupakan pedoman dalam penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan. Standar Isi dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005. berdasarkan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan adalah tanggung jawab dan dikembangkan BSNP. kurikulum tingkat satuan pendidikan yang akan dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan panduan penyusunan kurikulum sebagai bagian tidak terpisahkan dari standar isi. ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional.

Pendidikan Jasmani. Mata Pelajaran 1. Matematika 6. Pendidikan Kewarganegaraan 3. Keterampilan/Teknologi Informasi dan Komunikasi B. Olahraga dan Kesehatan 10. Pendidikan Agama 2. Bahasa Indonesia 4. Muatan Lokal C.Tabel 8. Seni Budaya 9. Pengembangan Diri Jumlah 2*) Ekuivalen 2 jam pembelajaran 2 2 4 4 4 4 4 2 2 2 2 4 4 4 4 4 2 2 2 2 4 4 4 4 4 2 2 VII VIII IX 2 2 2 2 2*) 32 2 2*) 32 2 2*) 32   169 .3 Struktur Kurikulum SMP /MTs dalam Standar Isi Kelas dan Alokasi Waktu  Komponen A. Ilmu Pengetahuan Alam 7. Bahasa Inggris 5. Ilmu Pengetahuan Sosial 8.

Semangat filosofi perenialisme dikembangkan lagi dalam struktur kurikulum pada tabel 8. Dalam pengelompokkan struktur kurikulum SMP/MTs Standar Isi mengenal Pengembangan Diri sedangkan sturktur pada Kurikulum 2004 tidak ada tetapi ada kelompok Pembiasaan yang dalam struktur di atas tidak dikenal. Walau pun Pengembangan Diri diberi sks 2 tetapi pada pelaksanaannya Pengembangan Diri yang dimaksudkan pada Struktur Kurikulum SMP/MTs Standar Isi di atas sama dengan Pembiasaan yang tercantum dalam Struktur Kurikulum 2004.Ada ketidaksamaan antara struktur kurikulum SMP/Madrasah Tsanawiyah yang ditetapkan dalam Standar Isi dengan struktur kurikulum yang ditetapkan dalam Kuurikulum SMP/MTs 2004. Tampaknya nama Pengembangan Diri dianggap lebih sesuai dibandingkan Pembiasaan. Sebagaimana dikemukakan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2005   170 .3 di atas dibandingkan struktur kurikulum 2004 pada tabel 8. Selain itu terjadi perubahan dalam beban belajar untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia (5 menjadi 4). maatematika (5 menjadi 4).2. Pemikiran tentang adanya Pengembangan Diri yang dinyatakan secara eksplisit dan terpisah dari mata pelajaran lain dalam Struktur Kurikulum SMP/MTs berdasarkan Standar Isi memang mengundang masalah kurikulum. Oleh karena itu beban belajar keseluruhan pun menjadi lebih sedikit pada Struktur Kurikulum Standar Isi dibandingkan Kurikulum 2004 yaitu dari 36 menjadi 32 walau pun Standar Isi memberi kelonggaran bagi satuan pendidikan untuk menambah 4 sks setip semester jika dianggap penting. Oleh karena itu nama mata pelajaran Pengetahuan Sosial diganti menjadi Ilmu Pengetahuan Sosial. IPA (5 menjadi 4). Pendidikan Jasmani (3 menjadi 2). Pengembangan Diri merupakan sesuatu yang baru dari Struktur Kurikulum SMP/MTs yang ditetapkan dalam Standar Isi. Bahasa dan Sastra Indonesia diganti menjadi Bahasa Indonesia. Pengetahuan Alam diganti menjadi Ilmu Pengetahuan Alam.

  dan  pengembangan karir peserta didik. Ketujuh prinsip tersebut tidak khusus untuk KTSP SMP/MTs tetapi juga untuk sekolah lainnya.  Permasalahan pertama adalah adanya istilah Pengembangan Diri merupakan “contradictio in terminis” karena keseluruhan kurikulum harus merupakan pengembangan potensi peserta didik dan setiap kuriulum harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan minat.Pengembangan  diri  bukan  merupakan  mata  pelajaran  yang  harus  diasuh  oleh  guru.  bakat. dan   171 . keunggulannya serta berbagai karakter yang berkenaan dengan nilai umum dan pribadi.  dan  minat  setiap  peserta  didik  sesuai  dengan  kondisi  sekolah.  guru. Selanjutnya dikemukakan “Kurikulum tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP. 3. sikap umum dan pribadi serta berbagai kemampuan pribadi yang diperlukan dirinya sebagai seorang mahluk. Kegiatan pengembangan diri yang dibatasi pada kegiatan ekstrakurikuler dan konseling memberi keterbatasan yang tidak seharusnya terhadap pengembangan diri peserta didik oleh kurikulum.  Kegiatan  pengembangan  diri  difasilitasi  dan  atau  dibimbing  oleh  konselor.  Pengembangan  diri  bertujuan  memberikan  kesempatan  kepada  peserta  didik  untuk  mengembangkan  dan  mengekspresikan  diri  sesuai  dengan  kebutuhan.” (Permendiknas nomor 22 tahun 2005) Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip berikut: a.  Kegiatan  pengembangan  diri  dilakukan  melalui  kegiatan  pelayanan  konseling  yang  berkenaan  dengan  masalah  diri  pribadi  dan  kehidupan  sosial. Berpusat pada potensi. perkembangan.  atau  tenaga  kependidikan  yang  dapat  dilakukan  dalam  bentuk  kegiatan  ekstrakurikuler. Prinsip Pengembangan KTSP untuk SMP/MTs Standar Isi memuat tujuh prinsip pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.  belajar. kepentingan peserta didik dan lingkungannya kebutuhan. bakat.

Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan pengembangan diri secara terpadu. serta status sosial ekonomi dan gender. kreatif. perkembangan. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum. berilmu. dan jenjang serta jenis pendidikan. dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan. kondisi daerah. serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi. kebutuhan. b. cakap. muatan lokal. budaya dan adat istiadat. mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. tanpa membedakan agama. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi. Beragam dan terpadu Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik. sehat.   172 . suku. berakhlak mulia.

Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat. berbangsa dan bernegara. termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan. keterampilan akademik. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal. nonformal dan informal. teknologi. Menyeluruh dan berkesinambungan Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi. keterampilan berpikir.   173 . Belajar sepanjang hayat Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan. teknologi. g. dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan. dan seni Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan. dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya. keterampilan sosial. d. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.c. dunia usaha dan dunia kerja. bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan. e. Oleh karena itu. Relevan dengan kebutuhan kehidupan Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan. dan seni. pengembangan keterampilan pribadi. pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan. f. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. teknologi dan seni berkembang secara dinamis.

ekonomi. dan apabila pengertian keseimbangan dipatok dengan ukuran sks maka sks yang telah ditetapkan pusat lebih besar dari alokasi sks untuk muatan lokal. konsep Belajar Sepanjang Hayat sebaiknya menjadi landasan kriteria. dan geografis masyarakat Indonesia. historis. Pertama. kemauan. Oleh karena itu. untuk mengembangkan materi kurikulum. Prinsip ini sangat bagus dan harus menerus menjadi prinsip pengembangan kurikulum di Indonesia mengingat keragaman budaya. dari tujuh yang dinyatakan dalam pedoman tersebut. sosial. Apabila kepentingan nasional diartikan sebagai apa yang telah ditetapkan dalam struktur dan isi kurikulum dan kepentingan daerah dikembangkan dalam mata pelajaran muatan lokal sebagaimana yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2005. dalam konteks Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan permasalahan muncul pada pengertian keseimbangan. materi muatan lokal yang dikembangkan satuan pendidikan dikemas tidak hanya menjadi materi mata pelajaran-mata pelajaran muatan lokal   174 . Selain jumlahnya yang lebih sedikit tetapi juga ketujuh ketetapan tersebut lebih menggambarkan pengertian suatu prinsip pengembangan kurikulum terkecuali prinsip belajar sepanjang hayat. Sayangnya. Dalam pengertian jumlah sks maka prinsip keeimbangan tidak pernah dapat dilaksanakan satuan pendidikan dalam mengembangan KTSP. bukan prinsip. Belajar sepanjang hayat adalah suatu tujuan dalam mengembangkan perhatian. Prinsip keseimbangan kurikulum akan dapat dilaksanakan dengan baik melalui dua cara.Ada penyempurnaan prinsip pengembangan kurikulum yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2005 di atas dibandingkan dengan prinsip pengembangan Kurikulum 2004. Salah satu prinsip pengembangan kurikulum yang baik. kemampuan untuk dapat belajar sepanjang hayat dan oleh karenanya lebih kepada tujuan pendidikan dibandingkan prinsip pengembangan kurikulum. tapi tampaknya akan sangat sulit dilakukan yaitu keseimbangan antara kepentingan nasional dan daerah.

menempuh kebijakan tentang materi muatan lokal Apabila Pemerintah sebagaimana yang dikemukakan disini maka baik Pemerintah mau pun satuan pendidikan memiliki kemungkinan untuk menerapkan prinsip keseimbangan antara kepentingan nasional dan daerah. bukan semua materi yang harus dikuasai peserta didik untuk suatu mata pelajaran. dalam menetapkan materi Standar Isi Pemerintah mengembangkan materi yang dipandang penting dari sudut kepentingan nasional. Jika satuan pendidikan berpendapat bahwa kompetensi tidak perlu atau perlu ditambah dan untuk menguasai kompetensi tersebut dapat ditambah dengan materi dari lokal maka satuan pendidikan dapat memberikan pertimbangan edukatif mengenai keseimbangan antara kepentingan nasional dan daerah. Kedua.           175 .yang berdiri sendiri tetapi jugadikembangkan sebagai materi pelajaran untuk mata pelajaran lain yang telah ditetapkan dalam struktur kurikulum. Orientasi lingkungan dan penerapan prinsip pendidikan yang dimulai dari lingkungan terdekat (Ki Hajar Dewantara) dapat diterapkan dengan pendekatan pengembangan materi lokal yang dimasukkan ke dalam mata pelajaran yang sudah ditetapkan Pemerintah. Pemerintah dapat menerapkan isi dan kompetensi minimal untuk setiap mata pelajaran sedangkan satuan pendidikan dapat menambah isi dan kalau perlu kompetensi baru untuk mata pelajaran yang dimaksudkan.

Apa yang dialami masa kini dan bagaimana persepsi tentang masa depan membangun berbagai kegiatan yang akan memberikan arah kehidupan masa depan. Keberlanjutan dan perubahan pemikiran (ide) kurikulum yang disebabkan oleh berbagai faktor eksternal seperti keputusan politik.MENATAP MASA DEPAN Sejarah selalu terkait dengan masa lampau. Peristiwa dalam pengelaman pengembangan kurikulum di Indonesia terutama sesudah masa kemerdekaan merupakan kekayaan intelektual bangsa yang tak ternilaikan. analisis mengenai kekuatan yang berpengaruh terhadap kehidupan bangsa dan kurikulum masa kini dapat dijadikan landasan untuk membangun kurikulum yang tinggi tingkat relevansinya dan tinggi tingkat prediksi kualitas yang diperlukan bangsa di masa depan. Kurikulum yang telah dikembangkan memberikan hasil berupa warganegara yang memiliki kualitas sesuai dengan yang   176 . Semakin jauh masa yang dapat diperkirakan pengembang kurikulum dan semakin akurat prediksi kuaitas manusia yang diperlukan semakin tinggi tingkat relevansi suatu kurikulum. dari jenjang paling tinggi hingga jenjang yang operasional. Setiap pengembang kurikulum selalu didasarkan pada visi tentang kualitas masyarakat bangsa yang diperlukan 12 tahun mendatang atau paling pendek untuk masa 6 tahun mendatang. Masa lalu adalah masa dimana berbagai peristiwa sejarah terjadi. masa kini. dan masa kini memiliki potensi menentukan masa yang akan datang. menjadi dasar bagi lahirnya kehidupan masa kini. Oleh karena itu berbagai pengalaman di masa lampau memberikan pelajaran yang berharga untuk pengembangan kurikulum masa kini dan masa mendatang. Pengalaman masa lampau dalam pengembangan kurikulum. Pengembangan kurikulum selalu berorientasi ke masa depan. dan masa yang akan datang. serta berbagai faktor internal yang bersifat filosofis dan teoritis pendidikan dan kurikulum menghasilkan masyarakat Indonesia yang ada pada saat kini. Jatuh bangun dalam pengalaman pengembangan kurikulum adalah pelajaran yang dapat digunakan untuk pengembangan kurikulum pada masa-masa berikutnya. Tiga dimensi waktu sejarah dengan demikian akan terus berlangsung.

kebiasaan dan kemampuan belajar. Kualitas akhir masyarakat Indonesia adalah hasil pertarungan berbagai kelompok generasi kurikulum dan kekuasaan. nilai dan sikap. rasa ingin tahu. Dari segi filosofi dan teori pengembangan kurikulum di masa depan tampaknya akan lebih bijaksana apabila konseptualisasi kurikulum didasarkan pada kebijakan pemerintah mengenai tujuan dan fungsi serta tujuan setiap pendidikan. cinta tanah air dan rasa kebangsaan. Walau pun demikian. Kiranya pada masa mendatang kurikulum untuk pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs) perlu dikembangkan dalam satu kesatuan dan berdasarkan visi pendidikan umum yang berlaku untuk semua warganegara. Ketrampilan membaca. mampu   177 . kemampuan berpikir logis-kritis-analitis-kreatif.dikembangkan oleh kurikulum tertentu bertemu dengan warganegara dengan kualitas yang dihasilkan. Kualitas yang akan dihasilkan kurikulum adalah kualitas minimal warganegara Indonesia pendidikan dalam pengetahuan. dan kebiasaan yang memberi bekal kuat kepada setiap warganegara untuk mengembangkan diri. Visi pendidikan umum yang dimaksudkan adalah pendidikan dasar bukan pendidikan untuk menghasilkan manusia dalam bidang ilmu tertentu atau beberapa jalur bidang keilmuan tetapi untuk pengmbangan potensi kemanusiaannya. Kualitas yang diharapkan bukanlah mereka yang unggul dalam satu bidang studi atau disiplin ilmu tetapi mereka yang mampu mengembangkan dirinya untuk belajar sepanjang hayat dan berkonstribusi terhadap kehidupan bangsa dalam kapasitasnya sebagai warganegara. kebiasaan membaca. faktor eksternal sering kali menjadi faktor yang lebih dominan sehingga upaya untuk melakukan kajian tersebut tidak boleh melepaskan diri dari kajian terhadap faktor kekuasaan (power atau pun social pressure) yang dominan pada saat kajian dilakukan dan pada masa ketika kurikulum akan memberikan hasilnya berupa warganegara yang berkualitas. berbagai ketrampilan motorik. Tentu saja dalam kesempatan saling memberi tersebut ada yang memiliki pengaruh yang besar terhadap lainnya tetapi sayangnya belum ada pengetahuan dan cara untuk mendapatkan pengetahuan mengenai interaksi tersebut. kemampuan kognitif. Interaksi antar generasi yang dihasilkan kurikulum memberikan kesempatan kepada masing-masing untuk belajar satu sama lainnya dan memperkaya kualitas masing-masing yang sudah dipunyai.

dan asesmen hasil belajar. emosional dan ketrampilan mereka. biologis) dan negaranya (filosofi. bangsa. Kurikulum SMP melanjutkan. sistem dan   178 . Pengembangan potensi-potensi tersebut tidak lagi terbatas pada pengetahuan dan jenjang pemahaman tetapi sudah harus dikembangkan menjadi kebiasaan yang mereka implementasikan dalam kehidupan mereka sehari-hari. masyarakat. religiusitas. seni dan manusia yang menjadi kekayaan bangsa kiranya harus dimiliki peserta didik yang telah menyelesaikan pendidikan di SMP/MTs. potensi alam. Desain konten kurikulum harus pula mengalami perubahan sesuai dengan hakekat tujuan. tanah airnya (geografis. Eklektisme filosofi dalam pengembangan kurikulum adalah suatu praktek yang umum dilakukan dan pendekatan yang demikian memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan potensi intelektual.hidup dalam perbedaan (bhineka). Tujuan didasarkan pada tujuan pendidikan nasional dan tujuan kelembagaan secara seimbang. Konseptualisasi kurikulum pendidikan dasar yang demikian menghendaki penerapan berbagai filsofi kurikulum dan tidak lagi terbatas pada perenialisme. kebiasaan membaca. Pengetahuan dasar yang mampu mengembangkan memori bersama (collective memory) sebagai bangsa. tentang wilayah tanah air. rasa kebangsaan serta pengetahuan dasar yang berkenaan dengan dirinya. Kurikulum SMP masa mendatang sudah seharusnya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menguasai pengetahuan dasar tersebut. memantapkan. dan mengembangkan lebih lanjut kebiasaan yang sudah dikuasai peserta didik dari kurikulum SD dan memberikan kesempatan untuk menerapkan hasil belajar tersebut dalam prilaku keseharian mereka. proses belajar. rasa ingin tahu. Kedua kualitas itu memiliki ruang singgung yang luas terutama berkenaan dengan kualitas manusia yang memiliki kemampuan dasar berupa kemampuan belajar. karakteristik konten. religious dalam menjalankan agama merupakan kualitas dasar bagi setiap warganegara setelah mereka menyelesaikan pendidikan 9 tahun. suku dan kelompok budaya yang membentuk bangsa. Untuk tujuan kelembagaan SMP maka kualitas yang diperlukan bagi mereka yang akan langsung menjadi warganegara aktif dan produktif berimbang dengan kualitas yang diperlukan bagi mereka yang akan melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah.

Prinsip pertama menghendaki pengembangan konten kurikulum untuk satu mata pelajaran dengan mata pelajaran dalam satu kaitan yang saling memperkuat. Konten pengetahuan bersifat “mastery” yaitu konten yang dapat dikuasai pada akhir suatu pertemuan kelas. manual. nilai. nilai. nilai. Konten dan organisasi konten untuk kurikulum masa mendatang perlu memperhatikan karakteristik konten. Hasil ini menggambarkan kualitas dan keberhasilan pendidikan/kurikulum untuk satuan pendidikan SMP. Prinsip saling memperkuat ini sudah harus tercermin dalam dokumen kurikulum secara jelas. kemampuan intelektual dan manual. Kurikulum SMP masa mendatang didasarkan pada dua prinsip yaitu kurikulum bukan daftar mata pelajaran dan setiap peserta didik dapat memiliki pengetahuan dasar. kemampuan dasar dan nilai serta sikap dasar yang merupakan kualitas minimal bangsa Indonesia. Sedangkan kualitas penguasaan konten yang bersifat kemampuan intelektual. Jenjang tertinggi yang dimiliki seorang peserta didik adalah hasil belajar dalam aspek kemampuan.   179 .struktur pemerintahan. Oleh karena itu pengukuran keberhasilan belajar dalam kemampuan. terlaksana dalam proses pembelajaran. Apabila kualitas pengetahuan diukur dari banyaknya pengetahuan yang harus dimiliki seorang peserta didik dari setiap mata pelajaran dan satu satuan atau jenjang pendidikan. dan negaranya (memori kolektif bangsa) sebagai hasil perkembangan yang dialami oleh generasi terdahulu. sikap bersifat selalu meningkat dari satu jenjang kemampuan ke jenjang kemampuan yang lebih tinggi. dan penilaian hasil belajar. cara dan prosedur untuk berkontribusi dalam kehidupan kenegaraan). bangsanya. nilai dan sikap. aturan/hukum. nilai serta sikap bersifat “developmental” dan hanya dapat dikuasai melalui suatu proses panjang dan saling menunjang antara satu pertemuan kelas dengan pertemuan kelas lainnya antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. dan sikap. Secara kategorial konten kurikulum terbagi atas pengetahuan. Konten kemampuan intelektual dan manual. Pengetahuan dasar ini yang akan memberikan jawaban mengenai siapa dirinya. dan sikap tidak diukur sebagai hasil tambah sebagaimana yang dilakukan terhadap hasil belajar pengetahuan. Dalam dokumen kurikulum SMP keterkaitan konten satu mata pelajaran dinyatakan secara eksplisit dengan mata pelajaran lainnya.

Kepala sekolah dan guru duduk bersama sebagai komunitas pendidik (community of educators) dalam pengembangan rencana induk pada setiap awal tahun untuk setiap angkatan. seni. Dalam rencana bersama yang dapat disebut sebagai rencana induk (grand design) satuan pendidikan. ekonomi. kabupaten/kota di lokasi suatu SMP akan memberikan pengetahuan yang lebih mendalam tentang kehadiran wilayah. Pengenalan wilayah sendiri yang mendalam dibandingkan wilayah lainnya akan memberikan dasar untuk mengenal berbagai fenomena alam. kualitas tamatan satuan pendidikan tersebut sudah terumuskan. bahasa. Pengetahuan yang dikembangkan dalam konten kurikulum SMP terdiri atas pengetahuan tingkat nasional.   180 . daerah dan satuan pendidikan. karakteristik wilayah. budaya. bertemu dan berkomunikasi dengan sesama warganegara Indonesia lainnya.Dalam proses pelaksanaan. nilai dan sikap sudah terencana dan tertulis. hasil-hasil tambang dan pertanian yang menjadi keunggulan daerah dan memberikan kontribusi terhadap kehidupan bangsa dan negara. Pengetahuan tingkat nasional adalah pengetahuan dasar yang harus dimiliki oleh setiap warganegara di mana pun mereka bertempat tinggal. Pengetahuan tentang daerah akan mampu membangun wawasan kebangsaan yang lebih baik karena mereka akan bangga pada wilayahnya dan memhami kontribusi wilayahnya terhadap kehidupan kebangsaan. kultur yang berbeda akan memberikan kenyamanan ketika berkomunikasi dengan sesama warganegara dan memberik kemudahan untuk mencari kehidupan di wilayah di luar propinsi. Pengetahuan nasional ini memberikan dasar bagi pengembangan memori kolektif sebagai bangsa dan kemudahan bagi yang bersangkutan untuk bepergian ke berbagai wilayah di negaranya. Pengetahuan tentang wilayah. Pengetahuan tentang daerah propinsi. perencanaan pembelajaran dilakukan dalam suatu rencana bersama di masing-masing SMP sebagai rencana induk satuan pendidikan dalam pengembangan kurikulum. manual. penduduk. dan ekonomi sehingga peserta didik SMP akan memiliki kemampuan untuk berkontribusi dalam pembangunan daerahnya lebih baik lagi. budaya. kaitan pengembangan konten kemampuan intelektual.

  181 . Sedangkan konten yang bersifat nilai dan sikap dikembangkan berdasarkan nilai. hasil-hasil tambang dan pertanian yang menjadi keunggulan daerah di mana peserta didik tersebut tinggal. moral. ekonomi. dan budaya bangsa Indonesia. karakteristik wilayah. Nilai dan sikap itu kemudian dikembangkan kepada wilayah yang lebih luas yaitu kota/kabupaten. Konten kemampuan intelektual dan manual dapat dikembangkan pada tingkat nasional tetapi penerapan kemampuan pada lingkungan terdekat. propinsi. bahasa. budaya. Nilai dan sikap nasional pada dasarnya adalah nilai dan sikap yang hidup di setiap komunitas etnis. memelihara dan mengembangkan lingkungan di sekitarnya. propinsi dan nasional. seni. Pengetahuan tentang lingkungan terdekat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menyayangi. dan sikap yang berlaku di masyarakat di sekitarnya sehingga tidak terjadi konflik antara apa yang dipelajari di sekolah dengan masyarakat. transportasi. sosial. Mereka akan memiliki pengetahuan yang baik tentang kehadiran komunitas/masyarakat bahkan keluarganya.Pengetahuan yang berkenaan dengan lingkungan terdekat SMP dimana peserta didik belajar akan sangat bermanfaat untuk mengenal komunitasnya. dan nasional.

Bandung: CV Ilmu Bandung Gay. Kebijakan-Kebijakan Pendidikan di Indonesia. (2009). (1956). dkk (2001). Columbia University Giroux. The Use of Project-Based Learning in the Implementation of the Senior Secondary Social Studies Curriculum. Research. I dan Danasaputra (1976). Yogyakarta Benjamin. Guru dan Pembina SMP dan SMA seluruh Indonesia. Teaching. Culturally Responsive Teaching: Theory. Design & Development. S. dalam The Curriculum: Context. Jakarta: Balitbang Depdikbud (1983).DAFTAR BACAAN Airasian. Culture. Suffolk: The Open University Depdikbud (1965). and Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives. (1981). Lima Puluh Tahun Perkembangan Pendidikan Indonesia. (1939). (1986). H. Philadelphia: Temple University Press Gunawan. P. Abridges Edition.(1971)( Editor Richard Hooper). Hasil Rapat Kerja Nasional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1983.W. Jakarta: Depdiknas Depdikbud (1989). and the Process of Schooling. Pendidikan Indonesia 1900 – 1970.A. Ideology. Bungay. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Dinas Sejarah TNI – AD (1976). London: Routledge and Kegan Paul. Bandung: Angkasa Offset Djumhur. 20 tahun Indonesia Merdeka. Jakarta Depdikbud (1976). S.H. VIII. A. Jakarta: Ditjen Dikdasmen Depdikbud (1996). Sedjarah Pendidikan Indonesia. (2000). The Saber-tooth Curriculum. and Practice. A Taxonomy for Learning. New York and London: Teachers College. (1979). Sumbangan TNI Angkatan Darat Dalam Pemantapan Orde Baru. Ideology and Curriculum. G. Sedjarah Pendidikan. Makalah dipresentasi   182 . New York: Longman Apple. Jakarta: Bina Aksara Hasan. Statistik Pendidikan Menengah Umum: Sekolah.W. Bradjanegara.H. Murid. M. H.

Kimball Wiles. dan Kesson. Curriculum Wisdom: Educational Decisions in Democratic Society. Sejarah Pendidikan Indonesia. J. Politiek-Politioneele Overzichten van Nederlandsch-Indie. H. (1979). S. dalam Readings in Curriculum.G. International Review of Curriculum and Assessment Frameworks: Comparative tables and factual summaries – 2002. dkk. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa Kliebard. (2002) (Eighth ed. VI. (1965). Bandung. Curriculum for a New Millennium. Ohio: Pearson Prentice-Hall. Jakarta: Balai Pustaka Ki Hadjar Dewantara (1977). Structure of the Disciplines as an Educational Slogan. (1977). Deel I 1927 – 1928. Bandung: Jenmars NIER (1999): An International Comparative Study of School Curriculum. S. R.W. J. Bagian Pertama: Pendidikan. dan Shane. London: National Foundation for Educational Research Poerbakawatja. (2007).). K. PPS-UPI. Mestoko. H.M. Jakarta: Depdikbud Nasution. Kartodirjo. Transformative Curriculum Leadership.(editor Glen Hass. Tokyo: NIER O’Donnell.R. MA: Allyn & Bacon. S. The Hague: Martinus Nijhoff   183 . January 15. New York and London: Teachers College. M. Curriculum Reform in the Elementary School: Creating Your Own Agenda. (2008). S. Third edition. 2009 Henderson. dan Joseph Bondi) Klein. Jakarta: Gunung Agung Poeze. (1989). (1982). (Second edition). H.G. (2004). Needham Heights.pada Seminar International tentang Social Studies Education.G. dkk. Pendidikan Dalam Alam Terbuka. Pendidikan di Indonesia dari Jaman ke Jaman. (1970).S.F.A. Karya Ki Hadjar Dewantara. Columbus. Sejarah Nasional Indonesia. dan Gornik. (1993). S. New Jersey: Prentice-Hall Henderson. Columbia University. Longstreet.

Landasan Historis Pendidikan Indonesia. (1997). Jakarta: CV Haji Masagung Saylor. Jakarta: PT Tira Indonesia Simandjuntak. Muhd (1954). Rinehart. H. dalam The Curriculum: Context. Curriculum Development: Problems.O. Inc. Jakarta: Manggala Bhakti Smith. Said Hamid Hasan (1993). H. A.Post. Pendidikan dari Zaman ke Zaman..O. W. M.N (1980).(1971)( Editor Richard Hooper). Design & Development. (1983). L. Dasar Pendidikan dan Pengadjaran.G. Surabaya: Usaha Nasional Taba. New York: Hardcourt Brace and World Tanner. dan Alexander.G. W. Pendidikan Abad Ke Duapuluh dengan Latar Belakang Kebudayaannya. J. D dan Tanner.Inc. Cultural Roots o the Currciulum. Berkeley. Slamet Imam (1987). Sejarah Pendidikan di Indonesia: Zaman Kemerdekaan (1945-1966). Interdisciplinary Approaches to Curriculum: Themes for Teaching. Jakarta: Mutiara Said. (1984).H. Unruh. Ohio: Prentice Hall. G. (1957). J. Bungay. dan Dahlan Mansyur (1953). M. and Progress. Pendidikan di Indonesia dari Masa ke Masa. I. Yamin. T. (1962). (1981).R. Banddung: Angkasa Sjamsuddin. Curriculum Development: Theory into Practice. dkk. Suffolk: The Open University Soemanto. Stanley. California: McCutchan Publishing Corporation. dan Shores. Perkembangan Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Pustaka Rakyat Santoso.W. Planning Curriculum for Schools. dan Unruh. 30 Tahun Indonesia Merdeka. Said. The Development of Curriculum: Theory into Practice. New York: Macmillan Publishing Co.   184 . B.M... Processes. New York: Holt. Columbus. Kosoh Sastradinata. and Winston. Inc Sekertariat Negara (1984). (1972).P. (1974).

London: Methuen       185 . Jakarta: Mutiara Sumber Widya Waring. (1979). M.Yunus. M. Sejarah Pendidikan di Indonesia. Social Pressures and Curriculum Innovation: A Study of the Nuffield Foundation Science Teaching Project. (1992).

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2005 13. Dokumen Kurikulum 1968 7. Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional 4. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 5. TAP MPR Nomor IV/MPR/1978 19. Dokumen Kurikulum 1975 8. TAP MPR Nomor II/MPR/1978 18. Dokumen Kurikulum 2004 11.DOKUMEN 1. Dokumen Kurikulum 1984 9. TAP MPR Nomor II/MPR/1988 21. Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 15. Dokumen Kurikulum 1964 6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 23 tahun 2005 14. Undang-Undang Nomor 4 tahun 1950 tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengadjaran di Sekolah 2. Dokumen Kurikulum 1994 10. Kurasawa 1991   186 . Undang-Undang Nomor 12 tahun 1954 tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengadjaran Disekolah untuk Seluruh Indonesia 3. Jawa ni okeru Bunkyô no Gaikyô. TAP MPRS Nomor XXVI/MPRS/1966 16. TAP MPR Nomor II/MPR/1983 20. TAP MPR Nomor IV/MPR/1973 17. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0461/U/1983 12.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful