P. 1
Revitalisasi BPR Dalam Krisis Keuangan Global

Revitalisasi BPR Dalam Krisis Keuangan Global

|Views: 58|Likes:

More info:

Published by: Marsuki, SE., DEA. Ph.D on Jun 22, 2011
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

01/25/2012

Tribun Timur Rabu, 22-10-2008

Revitalisasi BPR dalam Krisis Keuangan Global
Oleh Marsuki Ekonom Unhas Meskipun kompetisi dalam industri pembiayaan memiliki efek positip namun kompetisi yang tidak seimbang akan dapat mengancam kelangsungan hidup BPR. Untuk itu kerangka aturan perlu dibuat untuk mengatasi masalah tersebut DI tengah upaya pemerintah meningkatkan kualitas pembangunan ekonomi Indonesia terutama saat turbulansi atau krisis keuangan global, jelas peran Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sangat penting dan strategis dibenahi. Sebab BPR adalah lembaga keuangan mikro formal yang secara spesifik dianggap mampu menjangkau dan melayani kebutuhan jasa keuangan masyarakat kebanyakan karena fokus pelayanannya berdasarkan asas kemanusiaan dan keadilan. Secara umum peran strategis BPR dalam perekonomian masyarakat dapat : (i) memperbaiki alokasi sumberdaya yang selama ini cenderung mengabaikan aspek pemerataan; (ii) membantu dan memberdayakan kegiatan ekonomi masyarakat kebanyakan (UMKM); dan (iii) berkontribusi membangun sistem keuangan yang adil. Hanya masalahnya, diakui atau tidak, kebanyakan BPR saat ini belum sepenuhnya mampu mewujudkan ketiga hal tersebut. Khusus melayani kebutuhan pendanaan pelaku kegiatan masyarakat kebanyakan (UMKM) apalagi masyarakat miskin. Dikenal kedua lembaga ekonomi ini seperti dua sisi mata uang tidak terpisahkan, tapi khususnya BPR masih mempunyai banyak kendala melayani UMKM. Karena UMKM dicikan oleh risiko usaha tinggi, transaksi kecil dengan biaya tinggi, profitabilitas rendah dan ketidakmampuan memberikan jaminan fisik. Sehingga untuk praktisnya, BPR umumnya menyiasati usahanya dengan menetapkan tingkat suku bunga kredit tinggi, hingga ada mencapai 45 persen per tahun, yang kemudian memunculkan kesan seakan BPR rentenir yang diformalkan. Walau demikian, masyarakat kecil tetap memanfaatkan jasa pelayanan keuangan BPR dan tetap mampu menyelesaikan segala kewajibannya dengan baik. Namun bagaimanapun juga jelas perlu dilakukan program reformasi yang serius guna mengatasi masalah yang ada dengan tetap mengedepankan aspek kebijakan bagi keberlangsungan BPR. Kebijakan penetapan suku bunga tinggi bukan merupakan jalan keluar baik, sebab hal itu akan membatasi kemampuan BPR dalam memberikan akses permanen bagi sektor UMKM dan terutama rumah tangga miskin. Kebijakan subsidi suku bunga cenderung mendistorsi pasar dan merangsang sektor swasta spekulan untuk masuk ke industri BPR memanfaatkan peluang memperoleh dana-dana murah dari program pemerintah yang sebenarnya ditanggung masyarakat. Sehingga idealnya, program reformasi BPR harus bermuara pada pembenahan dari sisi supply dan penguatan kapasitas nasabah mengakses layanan (demand). Dari sisi supply, strategi perlu difokuskan pada pembangunan industri BPR yang dapat tumbuh dan memberikan layanan keuangan secara berkelanjutan bagi sektor UMKM dan masyarakat miskin sebagai target utamanya. Sedangkan dari sisi demand, strategi difokuskan mendukung sektor UMKM yang produktif agar dapat menghasilkan multifier effect yang baik bagi masyarakat, yakni memperluas kesempatan kerja, mengurangi penduduk miskin dan memeratakan pendapatan masyarakat. Strategi Pengembangan Berikut ini diuraikan rangkuman pemikiran tentang strategi pengembangan BPR yang mungkin berguna membantu mewujudkan BPR menjadi institusi yang dapat berperan dalam proses peningkatan kualitas pembangunan ekonomi bangsa. Pertama, melakukan reformasi kebijakan, melalui pembenahan aturan serta sistem pengawasan terhadap lembaga atau pasar keuangan. Jumlah lembaga pembiayaan formal baik dalam bentuk BPR maupun bank umum sudah demikian banyak jumlahnya, sehingga pengaturan segmentasi pasar nampaknya diperlukan untuk menghindari persaingan yang tidak seimbang antara BPR dan bank umum. Meskipun kompetisi dalam industri pembiayaan memiliki efek positip namun kompetisi yang tidak

seimbang akan dapat mengancam kelangsungan hidup BPR. Untuk itu kerangka aturan perlu dibuat untuk mengatasi masalah tersebut. Misalnya, aturan yang memberikan pemisahan yang tegas antara target pembiayaan BPR dengan bank umum. Secara umum perlu dibuat aturan yang menetapkan BPR fokus melayani sektor ekonomi kecil yang menjadi tumpuan hidup masyarakat kebanyakan, misalnya pertanian, industri dan perdagangan rakyat. Sedangkan bank umum difokuskan melayani sektor menengah-besar bidang pertanian, perdagangan dan jasa. Dengan demikian, akan terjalin pola hubungan antara BPR dan bank umum bukan dalam bentuk persaingan bebas melainkan kerjasama saling menguntungkan. BPR umumnya dihadapkan pada kendala kurangnya sumber-sumber pendanaan. Data statistik mempertegas bahwa penghimpunan dana BPR relatif tumbuh dalam kisaran rendah. Kesulitan dalam menghimpun dana ini bukan karena dana yang dihimpun tidak ada, melainkan sebab rendahnya insentif bagi masyarakat penyimpan dana di BPR. Padahal di lain pihak sudah menjadi rahasia umum bila sebagian besar pemerintah daerah (pemda) di Indonesia memiliki banyak kelebihan dana karena rendahnya penyerapan anggaran belanja daerahnya. Tapi sayangnya disimpan dalam SBI yang justru menimbulkan biaya moneter yang besar bagi Bank Indonesia atau pemerintah. Sehingga, akan sangat baik seandainya dibuatkan perangkat hukum yang mampu menyelesaikan persoalan ini, agar pemda mau menyimpan kelebihan dananya di BPR. Dengan aturan tersebut, BPR diharapkan akan memiliki sumber pendanaan lain di luar tabungan masyarakat yang akan berujung pada meningkatnya supply kredit bagi masyarakat kebanyakan. Kedua, penguatan kelembagaan industri BPR, diyakini tidak akan berkembang tanpa adanya kebijakan khusus. Hal ini dapat dilakukan diantaranya dengan penguatan struktur permodalan maupun peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Permodalan bagi BPR merupakan prasyarat menjaga keberlangsungan usahanya, sebab upaya pengembangan BPR tidak cukup hanya meningkatkan kuantitas BPR. Dengan struktur permodalan yang kuat, BPR akan lebih siap menghadapi persaingan. Kecukupan modal juga akan menentukan kemampuan BPR mengembangkan sumber daya, kemampuan dan infrastrukturnya Sebenarnya kebijakan atau program meningkatkan kualitas SDM BPR sudah ada tapi masih dipandang belum memadai. Telah ditetapkan bahwa direksi BPR harus memiliki sertifikat profesional dari lembaga sertifikasi. Program sertifikasi tersebut bertujuan menetapkan standar untuk meningkatkan kinerja manajemen BPR, meningkatkan keahlian dan kompetensi SDM dan manajemen, memperkuat daya saing dan tingkat kepercayaan pada BPR, serta mendukung penilaian kemampuan dan kepatutan direktur dan calon direktur BPR. Penyaluran Kredit Sasaran program ini adalah mewujudkan industri BPR yang sehat, kuat, dan efisien. Akan tetapi, untuk menjaga kelangsungannya, program ini tidak cukup hanya dilakukan secara mandiri oleh BPR, karena manfaat terbesar dari program pendidikan dan pelatihan tidak hanya dinikmati BPR. Oleh karena itu, dana untuk pelaksanaan program dimaksud sebaiknya tidak hanya berasal dari dana pendidikan dan pelatihan BPR sebagaimana dipersyaratkan BI, tetapi juga diberikan subsidi dari pemerintah atau perbankan lainnya yang dikoordinasi oleh BI. Ketiga, perlunya penyempurnaan sistem penyaluran kredit. Masih relatif tingginya tingkat bunga kredit yang ditawarkan BPR menyebabkan BPR sebenarnya tidak menjadi kompetitif. Untuk itu penyaluran kredit dapat dilakukan dalam bentuk pengelompokkan nasabah dengan cara plafonisasi jumlah kredit yang didistribusikan. Pengelompokkan dapat didasarkan pada lokasi atau jenis usaha yang dibiayai. Dengan pengelompokkan tersebut, tanggung jawab dipikul secara bersama, sehingga jika ada gagal bayar dari satu nasabah akan berdampak pada reputasi nasabah lainnya. Sistem ini sangat berguna karena tiga hal. Satu, dapat menghindari tingginya risiko gagal bayar. Dua, dapat menekan tingginya biaya operasional karena mampu meningkatkan skala ekonomi (economic of scale). Tiga, dapat meningkatkan akses masyarakat kebanyakan pada sumber pembiayaan BPR. Akhirnya, peran BPR sebagai lembaga pembiayaan bagi kegiatan ekonomi masyarakat kebanyakan (UMKM) dan masyarakat miskin jelas sangat penting guna merealisasikan kebijakan pembangunan ekonomi pemerintah yang berkualitas di tengah krisis keuangan saat ini. Untuk itu pengembangan BPR memerlukan kebijakan khusus dan berencana dari pemerintah dan BI dengan mempartisipasikan peran para stake holder pembangunan ekonomi utama lainnya secara besinergi dan saling menguntungkan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->