PENGUASAAN DAERAH ATAS BAHAN GALIAN/PERTAMBANGAN DALAM PERSPEKTIF OTONOMI DAERAH1

I. PENDAHULUAN. Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 merupakan sumber hukum tertinggi dalam melakukan pengelolaan dan pengusahaan terhadap sumber daya alam (SDA) di Indonesia. Di dalam pasal tersebut diirumuskan bahwa “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Mengenai rumusan tersebut tidak pernah ada penjelasan atau kejelasan resmi tentang makna “dikuasai oleh negara”. Namun satu hal yang telah disepakati bahwa makna dikuasai oleh negara tidak sama dengan dimiliki negara. Konsep penguasaan negara atas SDA ini merupakan suatu bentuk reaksi dari sistem pemilikan atas tanah oleh negara berdasarkan “domein verklaring” (Pasal 1 Agrarisch Besluit) yang diterapkan pada masa kolonial Hindia Belanda. Berdasarkan konsep atau lebih dikenal dengan “asas domein” ini negara adalah pemilik atas tanah. Oleh karena itu negara memiliki segala wewenang melakukan tindakan yang bersifat kepemilikan (eigensdaad).1 Dengan mengacu pada ketentuan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Agraria (UUPA) merumuskan makna “hak menguasai negara” sebagai wewenang untuk : a. mengatur dan menyelenggarakan perubahan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa tersebut; b. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orangorang dengan bumi, air dan ruang agkasa; c. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum mengenai bumi, air dan ruang angkasa. 2 Selanjutnya disebutkan wewenang menguasai tersebut digunakan untuk mencapai sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dan pelaksanaannya dapat dikuasakan kepada daerah dan masyarakat hukum adat.3 Dalam penjelasan umum lebih ditegaskan bahwa negara tidak memiliki, melainkan bertindak selaku pemegang kekuasaan. Jadi bersifat publik atau kepemerintahan belaka (bestuursdaad). Yang seringkali dilupakan adalah tujuan dari dikuasai negara. Baik dalam UUD 1945 maupun UUPA ditegaskan bahwa hak menguasai negara adalah untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Berdasarkan tujuan tersebut, setidak-tidaknya ada larangan-larangan yang tidak boleh dilanggar, yaitu: a. Apabila dengan itikad baik tanah-tanah telah dikuasai dan dimanfaatkan oleh rakyat, maka kenyataan itu harus dihormati dan dilindungi. Keberadaan rakyat di tanah-tanah tersebut merupakan salah satu penjelmaan dari tujuan kemakmuran rakyat. Rakyat harus mendapat hak didahulukan dari pada occupant baru yang menyalahgunakan formalitasformalitas hukum yang berlaku;
Sri Nur Hari Susanto, Disampaikan pada Seminar Nasional Aspek Hukum Penguasaan Daerah atas Bahan Galian, di Fakultas Hukum Undip pada 2 Desember 2009.
1

harus dijamin tidak akan menurunkan status atau kualitas hidup mereka karena hubungan mereka dengan tanah tersebut. semata-mata untuk kepentingan umum. Dalam bumi diartikan sebagai di permukaan atau di bawah bumi. maka semestinya makna “dikuasai oleh negara” mengandung arti : 1. danau. rawa). Bahan galian tambang merupakan salah satu kekayaan yang terkandung dalam bumi dan dalam air. OTONOMI DAERAH DAN PENGUASAAN DAERAH ATAS BAHAN GALIAN Di dalam UU No. . air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dapat dikuasakan kepada daerah. penguasaan negara dan pengaturannya dilakukan oleh Pemerintah Daerah Tingkat I. Terhadap bahan galian golongan c pelaksanaan. Berdasarkan logika di atas. air dan kekayaan alam di dalamnya. Di dalam air diartikan berada di bawah air yaitu di atas atau di bawah bumi yang berair (sungai. 5 Tahun 1960 (UUPA) telah disebutkan bahwa pelaksanaan penguasaan negara atas bumi. Hak kepunyaan didasarkan pada asas komunal dan penguasa hanya sebagai pengatur belaka. Walaupun ketentuan ini memungkinkan daerah turut serta menyelenggarakan hak menguasai oleh negara atas bumi.4 c. tetapi tidak cukup jelas terutama mengenai makna “dikuasakan”. Setiap pencabutan atau pemutusan hubungan hukum atau hubungan konkrit yang diduduki atau dimanfaatkan rakyat dengan itikad baik. Apakah dikuasakan itu dalam arti diserahkan sebagai urusan rumah tangga daerah atau sebagai tugas pembantuan atau sebagai tugas dekonsentrasi ? Hal ini baru nampak jelas dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan sebagaimana telah diganti dengan Undangundang Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Bahan galian tambang untuk sebagian didapati di atas permukaan bumi atau bagian permukaan bumi yang berada di bawah air. II. laut. yaitu untuk kepentingan sosial dan atau kepentingan negara. Hak (negara) itu harus dilihat sebagai antitesis dari asas domein yang memberi wewenang kepada negara untuk melakukan tindakan kepemilikan yang bertentangan dengan asas kepunyaan menurut adat istiadat. Dalam undang-undang ini disebutkan : a. 2. Hak menguasai oleh negara tidak boleh dilepaskan dari tujuan yaitu demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Tanah yang dikuasai negara tetapi telah dimanfaatkan rakyat dengan itikad baik (ter geode trouw) hanya dapat dicabut atau diasingkan dari mereka. Negara harus memberikan hak terdahulu kepada rakyat yang telah secara nyata dan dengan itikad baik memanfaatkan tanah. Oleh karena itu pengertian bahan galian harus diartikan baik yang diperoleh dengan menggali maupun dengan cara-cara mengambil di bagian permukaan bumi termasuk permukaan bumi yang ada di bawah air.b.

pengelolaan dan pemanfaatan bahan galian golongan c sepenuhnya diserahkan kepada daerah (dalam hal ini Daerah Tingkat I). Ketentuan di atas menunjukkan : (1) Pengaturan. yustisi. pertahanan. kewenangan urusan pertambangan bukan merupakan kewenangan “wajib” yang dilakukan oleh pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota. Bagaimanakah keadaan setelah ada Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah? Sejak berlakunya undang-undang tersebut. politik luar negeri. Tugas-tugas pengelolaan di bidang pertambangan bukanlah tugas yang bersifat kedaerahan. e. Urusan yang dapat diserahkan kepada daerah adalah urusan yang bersifat lokal. Di dalam Pasal 10 dinyatakan : Ayat (1) Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. Ayat (3) Urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. Dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 didapati ketentuan sebagai berikut: (1) Kewenangan daerah meliputi seluruh kewenangan bidang pemerintahan kecuali dalam bidang politik luar negeri. moneter dan fiskal nasional. agama Memperhatikan ketentuan di atas. Akan tetapi berdasarkan ketentuan Pasal 13. yaitu urusan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. artinya mempunyai nilai yang bersifat kedaerahan. (2) Pengaturan. c. Terhadap bahan galian golongan b dapat diserahkan kepada Pemerintah Daerah Tingkat I. tidak serta merta kewenangan dan urusan pertambangan dapat diserahkan seluruhnya kepada pemerintah daerah secara otomatis. Bidang urusan pertambangan termasuk dalam urusan yang bersifat “pilihan” . kekhasan dan potensi . keamanan. d. sesuai dengan kondisi daerah dan tidak menyangkut kepentingan nasional. pengelolaan dan pemanfaatan bahan galian golongan b dapat dilakukan pusat atau daerah. kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang Undang ini ditentukan menjadi urusan Pemerintah. pertahanan. secara a contrario maka pada asasnya urusan pemerintahan di bidang bahan galian tambang mesti masuk menjadi urusan rumah tangga daerah.b. yustisi. Dalam konteks otonomi daerah. Wewenang daerah tergantung pada kebijakan pusat. serta f. keamanan. sehingga tidak dapat diserahkan kepada pemerintah daerah. moneter dan fiskal nasional serta agama. b. pemberian otonomi kepada pemerintah daerah kabupaten dan kota “secara luas” (Penjelasan Umum Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004) telah dipersepsikan secara keliru bahwa semua kewenangan pertambangan secara otomatis menjadi kewenangan pemerintah daerah.

Namun harus tetap melihat karakter lokalitas dari daerah yang bersangkutan yang menerima kewenangan urusan pertambangan Oleh karena itu pemegang “hak milik” atas kekayaan alam berupa aneka ragam bahan galian yang terkandung di dalam bumi dan air di wilayah hukum (pertambangan) Indonesia adalah hak milik bangsa Indonesia (mineral right). Dalam pelaksanaannya di era otonomi daerah saat ini. maka melalui lembagalembaga yang dibentuknya dapat melakukan kerjasama pengusahaan pertambangan dengan pihak lain (investor) sebagai pelaksana “pengusahaan” pertambangan (mining right). mengingat negara tidak mungkin menyelenggarakan sendiri. Selanjutnya dalam penyelenggaraan atas penguasaan kekayaan alam tersebut. 2005). Kemudian untuk penyelenggaraan selanjutnya. Ada pemerintah daerah yang memiliki persepsi bahwa bahan galian atau sumber daya alam yang terdapat di daerahnya seolah-olah adalah milik rakyat di daerah tersebut. persepsi tentang konsep “penguasaan” dan “pengusahaan” sering bercampur aduk dalam penafsiran yang salah. Hal ini berarti pula negara diberikan “hak penguasaan” (authority right) atas kekayaan alam milik bangsa Indonesia. Dalam konteks penerapan hak penguasaan negara (HPN) atas bahan galian. mengurus (besturen) dan mengawasi (toezichthouden). Padahal seharusnya pengertiannya adalah dimanapun bahan galian tersebut berada adalah milik seluruh rakyat Indonesia secara bersama-sama. maka HPN ini dilaksanakan oleh pemerintah sebagai penyelenggara pemerintahan sehari-hari. kewenangan di bidang pertambangan semestinya dibagi dalam kewenangan yang bersifat mengatur (regelen). (2) Penerimaan daerah dari penerimaan negara di sektor pertambangan diperoleh melalui dana perimbangan. . tidak berarti negara sebagai pemilik. agar dapat dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. sesuai dengan kewenangan pemerintah. toezichthouden) terhadap kegiatan pengusahaan pertambangan. maka HPN harus dilihat dalam konteks hak dan kewajiban negara yang mengandung pengertian bahwa negara diberi kewenangan penuh (volldige bevoegheid) untuk menentukan kebijaksanaan yang diperlukan semata-mata dalam bentuk ketiga kewenangan di atas (regelen.unggulan daerah yang bersangkutan. Oleh karena itu. menurut Soepomo (dikutip oleh Ismail Suny. Di sinilah keterkaitan dengan pembentukan kebijakan yang menyangkut kerjasama pengusahaan di bidang pertambangan di mana paradigma telah berubah secara tajam. Namun apabila dilihat dari “hak eksklusif” yang melekat pada negara. besturen. Bangsa Indonesia sebagai pemilik bahan galian tersebut memberikan kekuasaan kepada negara untuk mengatur dan mengurus serta memanfaatkan kekayaan alam tersebut dengan sebaik-baiknya untuk kemakmuran rakyat. Jadi pemerintah sebagai pemegang kuasa pertambangan (KP). Hal ini yang dalam pelaksanaannya akhirnya sering menjadi permasalahan dalam kaitannya dengan pemberian perijinan di bidang pertambangan.

(3) UU No. PERGANTIAN UU No. Lihat lebih lanjut Pasal 14 huruf f.5 % (provinsi 3 %. Pasal 20 Ayat (1) UU No. Pasal 17 Ayat (1). c. Sektor Pertambangan Umum (iuran tetap/land-rent & iuran eksplorasi dan eksploitasi/royalty) : pemerintah 20 % dan daerah 80 %.5 % dan daerah 30. . Pasal 19 Ayat (2).5 % (provinsi 6 %. III. tetapi daerah yang bersangkutan tidak bisa menampakkan diri kepada daerah lainnya sebagai daerah yang kaya.11 TAHUN 1967 (UUPP) OLEH UU N0. maka dapat digarisbawahi bahwa meskipun daerah memiliki kekayaan alam yang melimpah.Berdasarkan ketentuan yang diatur dalam UU No.4 TAHUN 2009 (UU MINERBA). 6 % sisanya untuk kabupaten/kota lainnya yang berada dalam provinsi yang bersangkutan. (2). daerah penghasil 32 % dan 32 % sisanya untuk kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan. kabupaten/kota penghasil 6 %. 0. Di sisi lain undang-undang telah menempatkan posisi pemerintah memperoleh pembagian hasil yang besar. Sektor pertambangan Gas Bumi : pemerintah 69. Berdasarkan deskripsi pembagian atas hasil pertambangan di atas. pembagian besarnya penerimaan dari sektor pertambangan antara Pemerintah dan pemerintah daerah adalah : a. Hal ini dikarenakan undang-undang telah mengatur adanya pembagian hasil yang diperoleh dari pengelolaan sumber daya alam tersebut. Sektor pertambangan Minyak Bumi : pemerintah 84.33 Tahun 2004.33 Tahun 2004. sehingga hasil yang diperoleh dari pengelolaaan sektor pertambangan bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia dan bukan semata-mata oleh daerah yang didapati memiliki kekayaan sumber daya alam . 12 % sisanya untuk kabupaten/kota lainnya yang ada dalam provinsi yang bersangkutan.5 % untuk menambah anggaran pendidikan dasar). Pasal 20 Ayat (1) UU No.5 % dan daerah 15.33 Tahun 2004. b. Pasal 19 Ayat (3). Lihat lebih lanjut Pasal 14 huruf c. kabupaten/kota penghasil 12 %. Ini berarti diperlukan adanya campur tangan pemerintah di sektor pertambangan untuk tujuan kepentingan nasional. *) Penerimaan iuran tetap (land-rent) : pemerintah 20 % dan daerah 80 % (provinsi 16 % dan kabupaten/kota penghasil 64 %) *) Penerimaan iuran eksplorasi dan eksploitasi (royalty) : pemerintah 20 % dan daerah 80 % (provinsi 16 %.5 % untuk menambah anggaran pendidikan dasar) Lihat lebih lanjut Pasal 14 huruf e. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah. 0.

Di samping itu UU Minerba juga mewajibkan pemerintah untuk menetapkan “tata ruang nasional” wilayah pertambangan dengan ditunjang data geologis secara tepat. Implementasi UU Minerba juga tidak berdiri sendiri tetapi harus dikaitkan dengan undang-undang lainnya seperti UU Kehutanan dan UU Lingkungan hidup yang berlaku. akan diatur dengan peraturan daerah. Yang penting di antaranya adalah dihapuskannya sistem kontrak karya (KK) bagi pengusahaan pertambangan dan diganti dengan sistem ijin usaha pertambangan (IUP).4 Tahun 2009 Pertambangan Mineral dan Batubara * Penguasaan Minerba oleh negara. pengelolaan. maka tidak boleh ada pengeluaran ijin penambangan oleh pemerintah daerah sehingga bisa terjadi moratorium (jeda) tambang sampai ditetapkan tata ruang nasional pertambangan. Indikasi dari hal tersebut.Dinamika lingkungan yang berubah. Namun demikian. UU Minerba cenderung masih memuat ketentuan yang bersifat sangat umum sehingga tidak operasional. Penerapan undang-undang lainnya terkait dengan masalah perlindungan masyarakat korban yang terkena dampak usaha tambang.4/2009 No Materi Pokok 1 Judul 2 Prinsip Hak Penguasaan Negara /HPN UU No. kondisi. setidaknya 22 pasal menyebutkan “ketentuan sebagaimana dimaksud pada pasal ini.11/1967 dan UU No. kebijakan dan strategi pertambangan nasional yang akan dituju.11 Tahun 1967 Ketentuan Ketentuan Pokok Pertambangan Penguasaan Bahan Galian diselenggarakan negara (Pasal 1) UU No. UU Minerba memang telah memuat beberapa perbaikan yang cukup mendasar. Ini berarti sejauh penetapan itu belum dilakukan. akan sangat tergantung pada situasi. Hal tersebut berarti bagaimana nanti implementasi yang lebih pasti dari UU Minerba ini dan bagimana arah serta gambaran pengelolaan sektor pertambangan ke depan yang lebih pasti. dan kepentingan pengambil kebijakan pada saat peraturan pemerintah (PP) dan Perda dibuat. TABEL 1 Perbandingan UU No. Dalam banyak aspek. diselenggarakan oleh Pemerintah dan atau Pemda (Pasal 4) * Pemerintah dan DPR menetapkan kebijakan . dari 175 pasal yang terdapat dalam UU Minerba. Jika dibandingkan dengan UU No. akan diatur dengan peraturan pemerintah”. termasuk diterapkannya otonomi daerah merupakan konteks yang melatarbelakangi lahirnya sejumlah perubahan dalam UU Minerba yang baru (disahkan pada 12 Januari 2009 dan sebelumnya pada 16 Desember 2008 telah disetujui bersama antara DPR dan Pemerintah). Berikut ini akan diperbandingkan sisi perubahan yang terkandung dalam undang-undang baru.11 Tahun 1967. dan 3 pasal menyebutkan “ketentuan sebagaimana dimaksud pada pasal ini. meski telah memuat beberapa perubahan UU Minerba dapat dikatakan masih sangat minim dalam hal yang berkaitan dengan kejelasan perencanaan. provinsi/kabupaten/kota”.

15).pengutamaan minerba bagi kepentingan nasional (Pasal 5) 3 Penggolongan/Pengelompokan Penggolongan bahan galian strategis. dll koordinasi dengan Pemda (Pasal 16 ayat 3) dan DPR (Pasal 10) * Wilayah pertambangan tdr : wilayah usaha pertambangan (WUP). pemerintah setelah kuburan. batuan (Pasal 34) 4 Kewenangan Pengelolaan * Bahan galian strategis (gol. logam. wilayah pertambangan rakyat (WPR) dan wilayah pencadangan nasional (WPN) – Pasal 14 s/d 33 6 Legalitas Usaha Sistem/Rezim Kontrak (Pasal 10. * Wilayah pertambangan kecuali bahwa usaha adalah bagian dari tata pertambangan tidak ruang nasional. terdiri atas: * Ijin Usaha Pertambangan (IUP) * Ijin Pertambangan Rakyat (IPR) * Surat Ijin Pertambangan * Ijin Usaha Pertambangan Daerah (SIPD) Khusus (IUPK) . vital. terdiri atas: * Kontrak Karya (KK) * Kuasa Pertambangan (KP) Sistem/Rezim Perijinan (Pasal 35).B) oleh Pemerintah * 21 kewenangan berada di tangan Pusat * 14 kewenangan berada di * Bahan galian non tangan provinsi strategis non vital (gol C) oleh Pemda Tkt. I * 12 kewenangan berada di /Provinsi (Pasal 4) tangan kabupaten/kota (Pasal 6-8) 5 Wilayah Pertambangan Secara terinci tidak diatur. bukan strattegis bukan vital (Pasal 3) * Pengelompokan usaha pertambangan : mineral dan batubara * Penggolongan tambang mineral : radioaktif. bangunan. ditetapkan berlokasi di tempat suci.A) dan vital (gol. bukan logam.

partisipasi * Minimal. PKP2B * IUP bagi badan usaha (PMA/PMDN) . studi kelayakan (Pasal 14) * Operasi produksi.75/1996 Ttg Ketentuan PKP2B) * Pemanfaatan tenaga kerja setempat.KP sesuai aturan yang pembayaran 10 % dari keuntungan bersih berlaku : iuran tetap & royalty (merujuk PP No. * Eksplorasi yang meliputi : pengolahan & pemurnian. yang meliputi : konstruksi. eksploitasi. program 8 Klasifikasi Investor & Jenis Legalitas Usaha . pengolahan & pemurnian. perseorangan (Pasal 38) * IPR bagi penduduk local.45/2003 Ttg PNBP * Pemeliharaa lingkungan : DESDM) konservasi. koperasi (Pasal 67) * IUPK. PKP2B * Investor Asing (PMA). berupa : KK. penambangan. penyelidikan umum. Tambahan bagi IUPK . koperasi. pengangkutan. eksplorasi. pengangkutan dan penjualan (Pasal 36) * Investor Nasional/domestic (PMDN). bagi badan usaha berbadan hukum Indonesia dengan prioritas pada BUMN/BUMD (Pasal 75) 9 Kewajiban Pelaku Usaha * Kewajiban keuangan bagi negara: * Kewajiban keuangan bagi negara: pajak dan PNBP.KK/PKP2B sesuai kontrak : untuk KK iuran * kepentingan nasional : tetap & royalty. SIPD. penjualan eksplorasi. reklamasi (Pasal 96 s/d 100) . berupa : KP. bahkan tdk pengusaha lokal pada tahap diatur kewajiban soal produksi . untuk pengolahan dan pemurnian PKP2B : iuran tetap & di dalam negeri (Pasal 103DIIPB (merujuk pada 104) Keppres No.* Surat Ijin Pertambangan Rakyat (SIPR) 7 Tahapan Usaha Terdiri 6 tahapan yang Terdiri 2 tahapan yang berkonsekuensi pada berkonse-kuensi pada adanya 6 jenis kuasa adanya 2 tingkatan perijinan pertambangan : : penyelidikan umum.

KP . kecuali ada penetapan lain menurut PP yang dikeluarkan berdasarkan UU ini . pemanfaatan tenaga kerja setempat. provinsi. tetap dijalankan sampai sejauh masa berlakunya. maka dalam terjemahannya pada tingkat konstruksi pasal-pasal terdapat beberapa point maju meski disertai dengan cukup banyaknya klausul yang masih membutuhkan klarifikasi. swasta. Dengan sejumlah prinsip tersebut. 4 Tahun 2009 berusaha menggunakan arah baru kebijakan pertambangan yang mengakomodasikan prinsip kepentingan nasional (national interest). jaminan berusaha. desentralisasi pengelolaan dan pengelolaan pertambangan yang baik (good mining practies). tampak substansi UU No.lingku-ngan .” Pasal 169. kecuali mengenai penerimaan negara. kabupaten/kota sesuai kewenang-an terhadp pemegang IUP dilakukan * Kabupaten/Kota terhadap IPR (Pasal 139-142) 10 Pembinaan & Pengawasan Terpusat di tangan pemerintah atas pemegang KK. Berdasarkan sejumlah perbedaan di atas. program pengembangan masyarakat pengembangan masyarakat (Pasal 106-108) * Penggunaan perusahaan jasa pertambangan local dan/atau nasional (Pasal 124) * Pusat : terhadap provinsi dan kabupaten/kota terkait penyeleng-garaan pengelolaan pertambangan * Pusat. kemanfaatan untuk masyarakat. KK & PKP2B yang telah ada sebelum berlakunya UU ini tetap diberlakukan sampai jangka waktu berakhirnya kontrak / perjanjian b. badan lain atau perseorangan berdasarkan peraturan yang ada sebelum saat berlakunya UU ini. Ketentuan yang tercantum dalam pasal KK dan PKP2B dimaksud disesuaikan selambatlambatnya 1 tahun sejak UU ini diundangkan . . pada saat UU ini mulai berlaku : a. kemitraan dgn usaha lokal. PKP2B 11 Ketentuan Peralihan (terkait Palal 35 :” Semua hak status hukum investasi existing pertambangan dan KP perusahaan negara.

Pilihan Hukum 4. instrumen administrasi negara 2. Sumber Hukum Peraturan Perundang-undangan Kontrak/Perjanjian itu sendiri Prinsip desentralisasi yang dianut dalam UU No. Oleh sebab itu implikasi hukum perubahan sistem/rezim dalam undangundang yang baru (UU Minerba) ini adalah mengembalikan asas HPN pada posisi secara ketatanegaraan. Pembuatan peraturan perundang-undangan. termasuk penguasaan SDA. jenis-jenis kewenangan terutama perijinan antar pusat. mengurus dan mengawasi pengelolaan usaha tambang. pedoman dan kriteria. Untuk itu dimulai dari perubahan sistem/rezim kontrak menjadi sistem/rezim perijinan. Penetapan wilayah pertambangan setelah berkonsultasi dengan Pemda dan DPR. kabupaten/kota) dapat teridentifikasi dalam undangundang ini. 11 Tahun 1967.4 Tahun 2009 (UU Minerba) dapat dikatakan sebagai langkah maju. 4 Thun 2009 menggariskan kewenangan eksklusif pemerintah (pusat) dalam hal sebagai berikut : a.Penyelesaian sengketa Tidak Berlaku Pilihan Hukum Sepihak PTUN 6. Hal ini bisa dilihat pada tabel di bawah ini.4 tahun 2009. Kepastian Hukum Lebih Terjamin 7. aspek pembagian kewenangan antar pemerintahan (pusat dan daerah) jika merujuk UUD 1945 dan UU No. Di luar hal-hal tersebut di atas. tetapi secara mendasar juga merendahkan posisi negara setara (level) kontraktor. Hak dan Kewajiban Hak dan Kewajiban Pemerintah Lebih Hak dan Kewajiban relatif setara Besar Antar Pihak 8. Penetapan kebijakan nasional. Penerapan Hukum Oleh Pemerintah 3. Secara umum. Dalam sistem/rezim kontrak sebagaimana diterapkan selama ini berdasarkan UU No. Penetapan sistem perijinan pertambangan minerba nasional. d. maka substansi yang terkandung dalam UU No.Menguatnya hak penguasaan negara (HPN). Akibat Hukum 5. Hubungan Hukum Bersifat publik. provinsi dan kabupaten/kota bersubstansi sama dan hanya berbeda dalam skala . TABEL 2 Perbandingan Sistem/rezim Perijinan dan Sistem/rezim Kontrak Subyek Sistem/rezim Perijinan Sistem/rezim Kontrak hukum Bersifat perdata Oleh Kedua belah pihak Berlaku Pilihan Hukum Kesepakatan Dua Belah Pihak Arbitrase Kesepakatan Dua Belah Pihak 1. Sebagian ruang bagi peran daerah (provinsi. tetapi masih dipenuhi dengan tantangan. Pemerintah menyelenggarakan asas tersebut lewat kewenangan mengatur. Penetapan standard. b.32 tahun 2004 yang menjadi landasan dalam penyusunan UU No. c. e. posisi pemerintah tidak saja mendua yaitu sebagai regulator dan pihak yang melakukan kontrak.

PENUTUP Sebagai catatan akhir dari tulisan ini perlu dikemukakan beberapa kelemahan/ kekurangan yang terkandung dalam UU No. pembinaan. penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan usaha pertambangan yang berdampak lingkungan langsung lintas kab/kota dan atau wilayah laut 4 mil sampai dengan 12 mil IV. Kewenangan Pusat 1 Pemberian IUP. Dalam penetapan wilayah usaha pertambangan (WUP). Sebagai rincian dalam hal pembagian kewenangan antara pusat. pembinaan. 3 Pemberian IUP. pembi-naan. provinsi dan kabupaten/kota dapat dilihat pada table di bawah ini./Kota Pemberian IUP dan ijin pertambangan rakyat (IPR). penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan usaha pertambangan operasi produksi yang kegiatannya berada pada lintas wilayah kab/kota dan atau wilayah laut 4 mil sampai dengan 12 mil Kewenangan Kab. pembinaan./kota dan atau wilayah laut 4 mil sampai dengan 12 mil Pemberian IUP. pembinaan. pembinaan. penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan usaha pertambangan pada lintas wilayah kab. Hal ini jelas berseberangan dengan semangat otonomi daerah (Pasal 15).4 Tahun 2009 dan mungkin akan menjadi permasalahan dalam implementasinya sebagai berikut : 1. penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan usaha pertambangan yang berada pada lintas wilayah provinsi dan atau wilayah laut lebih dari 12 mil dari garis pantai Kewenangan Provinsi Pemberian IUP. . penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan usaha pertambangan operasi produksi yang kegiatannya berada di wilayah kab/kota dan atau wilayah laut sampai dengan 4 mil. TABEL 3 Kewenangan Pengelolaan Minerba No. penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan usaha pertambangan operasi produksi yang berdampak lingkungan langsung lintas provinsi dan atau dalam wilayah laut lebih dari 12 mil dari garis pantai. Pemberian IUP. pembinaan. penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan usaha pertambangan yg lokasi penambangannya berada pada batas wilayah provinsi dan atau wilayah laut lebih dari 12 mil dari garis pantai Pemberian IUP dan IPR.cakupan wililayah. penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan usaha pertambangan di wilayah kab/kota dan atau wilayah laut sampai dengan 4 mil 2 Pemberian IUP. kewenangan menetapkan hanya sampai pada level provinsi sementara kabupaten/kota tidak dilibatkan. pembinaan.

sebab dibebaskannya perusahaan tambang dalam menggunakan sarana publik akan merugikan masyarakat maupun pemerintah daerah sendiri. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. Hal yang perlu untuk diperhatikan adalah bahwa pemberian otonomi kepada daerah tidak mengalami distorsi tujuan. Kewenangan melakukan riset bidang pertambangan hanya sampai pada provinsi. Hal ini jelas merugikan masyarakat.000. REFERENCE : Abrar Saleng. Adanya pengaturan bahwa pemegang ijin usaha pertambangan (IUP) dan ijin usaha pertambangan khusus (IUPK).2. Di samping itu pemahaman HPN terhadap pertambangan Minerba perlu dijadikan referensi untuk meluruskan primordialisme” dalam menumbuhkan budaya hukum (legal culture) yang mencerminkan NKRI. 2004. padahal wilayah usaha pertambangan dan bahan tambang ada pada wilayah kabupaten/kota (Pasal 87) 4. 2004. 5. Pengoperasian dalam usaha pertambangan senantiasa menggunakan sarana alat dan transportasi berat (Pasal 91). 27 % jalan-jalan yang dilewati oleh truk mengalami rusak berat.000. Dalam banyak kasus yang terjadi di Kalimantan. Artinya undang-undang ini memberi ruang terhadap keburukan-keburukan dan yang menanggung biaya adalah masyarakat local dan APBD. Hubungan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah Menurut UUD1945. Untuk itu penataan kelembagaan dan kinerja lembaga (structure) dalam pemerintahan daerah. UII Press. Bagir Manan. Pengaturan besarnya luas ijin usaha pertambangan (IUP) dengan penetapan minimal 5. pembenahan regulasi (substance).000 hektar akan bertentangan dengan kebijakan daerah yang memiliki lahan terbatas (Pasal 52-62). jelas akan menghalangi masyarakat dalam memperjuangkan hak-haknya akibat adanya kegiatan usaha pertambangan (Pasal 162). dapat memanfaatkan prasarana dan sarana umum untuk keperluan pertambangan (Pasal 91). . Otonomi tidak semata-mata hanya dipersepsikan sebagai kewenangan saja tetapi juga tanggung jawab yang harus dijalankan. Pustaka Sinar Harapan.4 tahun 2009. sebaiknya dilakukan secara terpadu (integrated) walaupun bertahap (incremental). Ha-hal yang dikemukakan di atas merupakan contoh dari sekian banyak kelemahan yang dikandung dalam UU No. Yogyakarta. Jakarta. 3. Bagir Manan. belum lagi efek pemakaian jalan tersebut bisa menimbulkan kecelakaan atau infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Pusat Studi Hukum UII.Adanya pengaturan bahwa setiap orang yang merintangi atau mengganggu kegiatan usaha pertambangan diancam dengan sanksi pidana kurungan paling lama 1 tahun atau denda paling banyak Rp 100. 1994. Yogyakarta. Hukum Pertambangan.

Pound. Djambatan. Roscoe. 1966. New Haven.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Undang-undang No. Hukum Agraria Indonesia. Yale University Press. Isi Dan Pelaksanaannya. Paul. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. De Haan. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN : UNDANG UNDANG DASAR NKRI 1945 Undang-undang No. Sejarah Penyusunan . Jakarta.Boedi Harsono. . 1986. deel 1.11 Tahun 1967 tentang Ketentuan Ketentuan Pokok Pertambangan UUndang-undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah dan Pemeritahan Daerah Undang-undang No. Kluwer-Deventer. An Introduction to the Philosophy of Law. Bestuursrecht in de Sociale Rechtsstaat. 1995.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful