http://smartsains.blogspot.com/2008/09/perbedaan-senyawa-polar-dengan-non.

html

Thursday, September 11, 2008
PERBEDAAN SENYAWA POLAR DENGAN NON POLAR
Senyawa polar dan non polar Ciri-ciri senyawa polar :
• •

dapat larut dalam air dan pelarut polar lain memiliki kutub + dan kutub - , akibat tidak

meratanya distribusi elektron -memiliki pasangan elektron bebas (bila bentuk molekul diketahui) atau memiliki perbedaan keelektronegatifan Contoh : alkohol, HCl, PCl3, H2O, N2O5 Senyawa polar digambarkan sebagai Ciri-ciri senyawa non polar :
• •

tidak larut dalam air dan pelarut polar lain Tidak memiliki kutub + dan kutub - , akibat

meratanya distribusi elektron -tidak memiliki pasangan elektron bebas (bila bentuk molekul diketahui) atau keelektronegatifannya sama Contoh : Cl2, PCl5, H2, N2 Senyawa non polar digambarkan sebagai UKURAN KUANTITATIF TITIK DIDIH SENYAWA KOVALEN * Senyawa polar titik didihnya lebih tinggi daripada senyawa non polar
• •

Urutan titik didih, ikatan hidrogen > dipol-dipol > non polar-non polar atau ikatan hidrogen > Van der Waals > gaya london Bila sama-sama polar/non polar, yang Mr besar titik didihnya lebih besar

Untuk senyawa karbon Mr sama, rantai C memanjang titik didih > rantai bercabang (bulat)

Cl2. F2 atau N2 ? CH4 atau C3H8? H2O atau H2S? NH3 atau XeF4? HF atau HI? PCl5 atau PCl3? n-pentana atau 2. N2O5. I2. Cl2O5 SENYAWA NON POLAR • • • Tdk dapat larut dalam air Tdk memiliki pasangan elektron bebas (bentuk simetris) Berakhir genap Cth : F2. kecuali BX3 dan PX5 Cth : NH3. 5. Br2. SF6. HCl. 6. CH4. 2. PCl5.sakti personal blog at 5:55 AM 2 comments: . H2O. 3. BCl3 Manakah yang titik didihnya lebih tinggi ? 1. PCl3. HBr. 7. N2.PERBEDAAN SENYAWA POLAR DENGAN NON POLAR SENYAWA POLAR • • • dapat larut dalam air Memiliki pasangan elektron bebas (bentuk tdk simetris) Berakhir ganjil. O2. H2. SO3.2-dimetil propana? Posted by arss. 4.

PEMISAHAN SENYAWA METABOLIT SEKUNDER DENGAN KROMATOGRAFI VAKUM CAIR (KVC) (LAPORAN PRATIKUM) SEA DRAGON | 15:58 ABSTRAK 0 Kromatografi vakum cair (KVC) merupakan kromatografi yang dilakukan untuk memisahkan golongan senyawa metabolit sekunder secara kasar dengan menggunakan silika gel sebagai adsorben dan berbagai perbandingan pelarut n-heksana : etil asetat : metanol (elusi gradien) dan menggunakan pompa vakum untuk memudahkan penarikan eluen. mencoba memisahkan pigmen-pigmen dari daun dengan menggunakan suatu kolom yang barisi kapur (CaSO4). Istilah kromatografi diciptakan oleh Tswett untuk melukiskan daerah-daerah yang berwarna yang bergerak kebawah kolom. dimasukkan langsung pada bagian atas kolom dan dihisap perlahan-lahan ke dalam kemasan dengan mengvakumkannya. Latar Belakang Alat Kromatografi adalah suatu alat umum yang digunakan untuk bermacam-macam teknik pemisahan yang didasarkan atas partisi sampel diantara suatu fasa gerak yang bisa berupa gas ataupun cair dan fasa diam yang juga bisa berupa cairan ataupun suatu padatan. Pada waktu yang hampir bersamaan. Sampel yang digunakan adalah ekstrak kulit batang nangka yang terlebih dahulu telah dilakukan penarikan ekstraknya dengan menggunakan alat soklet. mulai dengan pelarut yang kepolarannya rendah (n-heksana) lalu kepolaran ditingkatkan perlahan-lahan dengan cara elusi gradien antara n-heksana:etil asetat:metanol.1. Day juga menggukan alat kromatografi untuk . Adapun cara kerja kromatografi cair vakum yaitu kolom kromatografi dikemas kering dengan penjerap silika gel KL 254 dalam keadaan vakum agar diperoleh kerapatan kemasan maksimum. Kolom dipisah sampai kering dan sekarang siap dipakai. BAB I PENDAHULUAN 1. Penemu Alat Kromatografi adalah Tswett yang pada tahun 1930. kolom dihisap sampai kering pada setiap pengumpulan fraksi. Sampel dilarutkan dalam pelarut yang cocok. pelarut yang kepolarannya rendah (n-heksana) dituangkan ke permukaan penjerap lalu divakumkan lagi. Kolom. D. Vakum dihentikan. dielusi dengan campuran pelarut yang cocok.T.

. sudah ditemukan teknologi pembuatan partikel fase diam m. 1. Sekarang ini telah ditemukan alat kromatografi cair yang digunakan dalam kondisi vakum. alat ini disebut kromatografi vakum cair (KVC). Untuk keberhasilan praktikan di dalam bekerja dengan menggunakan kromatografi kolom vakum cair.memisahkan fraksi-fraksi peroleum. Hal ini jelas kurang menguntungkan. Sejak tahun 1960. sehingga lebih cepat dan evisien. Pada tahun 19671969. oleh karena itu syarat utama adalah mengetahui gambaran pemisahan cuplikan pada kromatografi lapis tipis (Harris. Dengan fase diam dengan diameter kecil sampai 10 partikelpartikelnya kecil memerlukan tekanan yang tinggi agar laju alir menjadi besar. Usaha tersebut adalah dengan menggunakan pompa untuk mengalirkan fase gerak. namun Tswett lah yang pertama diakui sebagai penemu alat dan yang menjelaskan tentang proses kromatografi. maka diusahakan caracara mempercepat pemisahan. sehingga pemisahan sering sampai berapa jam bahkan ½ hari.2. Laju alir sangat lambat. Tujuan Percobaan Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mendapatkan senyawa-senyawa metabolit sekunder melalui metode isolasi menggunakan KVC BAB II TINJAUAN PUSTAKA Kromatografi kolom cair dapat dilakukan pada tekanan atmosfer atau pada tekanan lebih besar dari atmosfer dengan menggunakan bantuan tekanan luar misalnya gas nitrogen. Pada tahap awal alat kromatografi cair menggunakan kolom dari gelas dengan diameter 1 sampat 5 cm dengan panjang 50 sampai 500 cm dan phase diam berdiameter 150-200 m. Kirland. Penyelidikan tentang kromatografi kendor untuk beberapa tahun sampai digunakan suatu teknik dalam bentuk kromatografi padatan cair (LSC). ternyata efisiensi pemisahan menjadi turun dan hal ini dapat diatasi dengan memperkecil ukuran partikel fase diam. Huber dan Havarth memperkenalkan prinsip serta alat kromatografi cair dengan tekanan 5000 psi (300 atm). 1982).

Kromatografi merupakan salah satu metode pemisahan komponen-komponen campuran dimana cuplikan berkesetimbangan di antara dua fasa.1. 1994). Vakum dihentikan. Alat dan Bahan Alat yang digunakan adalah :    Seperangkat alat KVC.Kromatografi vakum cair dilakukan untuk memisahkan golongan senyawa metabolit sekunder secara kasar dengan menggunakan silika gel sebagai absorben dan berbagai perbandingan pelarut n-heksana : etil asetat : metanol (elusi gradien) dan menggunakan pompa vakum untuk memudahkan penarikan eluen (Helfman. 1983). 1978). Kolom dipisah sampai kering dan sekarang siap dipakai (Hostettman. Adapun cara kerja kromatografi cair vakum yaitu kolom kromatografi dikemas kering (biasanya dengan penjerap mutu KLT 10-40 μm) dalam keadaan vakum agar diperoleh kerapatan kemasan maksimum. fasa gerak yang membawa cuplikan dan fasa diam yang menahan cuplikan secara selektif. disebut kromatografi gas. Erlemeyer rotary evaporator . Kromatografi kolom lazim digunakan untuk pemisahan dan pemurnian senyawa (Schill. BAB III METODE PERCOBAAN 1. 1986). Kromatografi ialah cara pemisahan berdasarkan perbedaan kecepatan zat-zat terlarut yang bergerak bersama-sama dengan pelarutnya pada permukaan suatu benda penyerap. pelarut yang kepolarannya rendah dituangkan ke permukaan penjerap lalu divakumkan lagi. Kromatografi kolom merupakan suatu metode pemisahan campuran larutan dengan perbandingan pelarut dan kerapatan dengan menggunakan bahan kolom. Cara ini umum dilakukan pada pemisahan zat-zat berwarna (bahasa Yunani: chromos = warna) (Kennedy. disebut kromatografi cair (Hendayana. Bila fasa gerak berupa gas. 1990). dan sebaliknya kalau fasa gerak berupa zat cair. Kromatografi vakum cair merupakan salah satu jenis dari kromatografi kolom.

64 K. Tb/oC = -95 oC.7 K.2.18 g/mol.47 K. Tb/K = 337. Tc/K = 512.3. Tm/oC = 69 oC. Vc/cm3/mol = 118  etil asetat (C2H5COOH) BM = 72. batang pengaduk Bahan yang digunakan adalah : silika gel n-heksana etil asetat metanol Sampel yang digunakan adalah : ekstrak n-heksana kulit batang nangka. Td = 68 oC. Konstanta fisik Konstanta fisik dari bahan yang digunakan adalah sebagai berikut :  n-heksana (C6H14) BM = 86. Valve = 11 mg/L  metanol (CH3OH) BM = 32 g/mol. ρc/Mρa = 8. Sampel dimasukkan ke dalam kolom yang telah berisi fasa diam kemudian dielusi dengan fasa gerak dengan perbandingan sebagai berikut : n-heksana Etil asetat 100 % 90 % 10 % 80 % 20 %      . 1.092. Cara Kerja Sebanyak 5 gram n-heksana kulit batang nangka dipisahkan menggunakan kolom kromatografi vakum dengan silika gel GF254 sebagai fasa diam dan eluen n-heksana:etil asetat(elusi gradien) dengan komposisi eluen yang terlebih dahulu dianalisis dengan kromatografi lapis tipis (KLT).08 g/mol 1. Tm/K = 175.

Setiap perbandingan eluen ditampung di dalam wadah yang sama. dan dihisap pelarutnya dengan mesin vakum. Pembahasan Kromatografi adalah pemisahan berdasarkan distribusi dua fase yaitu fase diam dan fase gerak. Salah satu contoh kromatografi adalah kromatografi vakum cair (KVC) dan kromatografi gas (KG). lalu dituangkan kedalam kolom. Catatan : pada eluen selanjutnya tidak dilakukan lagi percobaan. dan untuk mengaktifkannya sebaiknya setelah dicampurkan dengan n-heksana lalu dipanaskan pada suhu diatas 45oC. jadi percobaan ini tidak dilanjutkan lagi mengingat waktu yang tidak memungkinkan lagi. yaitu silika halus. Fraksi yang diperoleh diuji fitokimia untuk menentukan kandungan senyawa yang terdapat pada masing-masing fraksi. Silika yang digunakan adalah silika KL 254. karena pada saat percobaan terjadi kesalahan pada arus listrik (mati lampu).Silika gel ini Pada mulanya silika gel masih belum aktif. fase diamnya menggunakan silika gel yang diletakkan di dalam kolom kromatografi. Pada KVC. Ada dua cara melapisi kolom dengan silika gel yaitu proses basah dan proses kering.1. Sedangkan kromatografi vakum cair sampel itu dipaksa atau dihisap dengan menggunakan silang dan tanpa tekanan dalam kondisi vakum. Kemudian dilakukan penggabungan fraksi yang mempunyai pola noda yang sama melalui Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Proses basah yaitu silika gel ditambahkan dengan n-heksana hingga berbentuk seperti bubur. Namun. 4. Data Hasil Pengamatan Dari percobaan yang dilakukan didapatkan fraksi I pada eluen perbandingan (elusi eluen) 80 % : 20 % yang pada kolom kromatografi terlihat pita berwarna kuning. Perbedaan dari kedua kromatografi ini yaitu pada proses kromatografi gas itu menggunakan gaya grafitasi untuk menarik sampel artinya sampel akan keluar dengan sendirinya atau tanpa paksaan. pada percobaan ini tidak dilakukan pemanasan. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. dan dihentikan sampai panjang kolom sesuai dengan yang diinginkan. maka diperoleh silika gel yang padat pada kolom.2. Yang kedua proses kering yaitu memasukkan silika gel yang .

dielusi dengan campuran pelarut yang cocok. dan . Adapun cara kerja kromatografi cair vakum yaitu kolom kromatografi dikemas kering dengan penjerap silika gel KL 254 dalam keadaan vakum agar diperoleh kerapatan kemasan maksimum. yaitu n-heksana merupakan non polar dan silika gel polar. pelarut yang kepolarannya rendah (n-heksana) dituangkan ke permukaan penjerap lalu divakumkan lagi. hal ini dikarenakan didalam sampel itu terdapat senyawa yang berbeda kepolarannya. Kolom. Sampel dilarutkan dalam pelarut yang cocok. Pada saat silika gel dicampurkan dengan n-heksana terlihat bahwa kedua senyawa ini tidak bercampur. dan bila pelarutnya telah habis maka harus dibuat pelarut dengan kosentrasi sama. Sebelum fraksi itu diturunkan. kita akan melihat pita-pita warna pada kolom kromatografi. pada mulanya pelarut non polar dicampur dengan pelarut semi polar dengan perbandingan tertentu. sedangkan senyawa polar tidak turun karena tidak larut dengan pelarut n-heksana. mulai dengan pelarut yang kepolarannya rendah (nheksana) lalu kepolaran ditingkatkan perlahan-lahan dengan cara elusi gradien antara nheksana:etil asetat:metanol. Pengaruh lebarnya kolom pada KVC mengakibatkan fraksi sampel turun satu persatu. Kolom dipisah sampai kering dan sekarang siap dipakai. Sampel atau fraksi yang turun itu sesuai dengan kepolaran pelarut yang digunakan.heksana dan silika gel berbeda kepolarannya. Adapun KVC ini merupakan pemisahan fraksi berdasarkan pelarutnya. Dari percobaan yang dilakukan didapatkan fraksi I pada eluen perbandingan (elusi eluen) 80 % : 20 % yang pada kolom kromatografi terlihat pita berwarna kuning.dalam bentuk padat langsung kekolom lalu dipadatkan. Agar fraksi tertentu turun. dan dapat mengakibatkan semua senyawa akan turun. pembuatan kolom dengan silika gel dilakukan dengan cara proses basah. kolom dihisap sampai kering pada setiap pengumpulan fraksi. dan sampai nanti pelarut semipolar dicampur dengan pelarut polar dengan perbandingan tertentu. Untuk meningkatkan kepolaran pelarut dilakukan perbandingan campuran pelarut. Pada percobaan ini. hal ini dikarenakan n. Bila pelarut yang digunakan adalah n-heksana (non polar) maka fraksi yang akan turun adalah senyawa non polar. agak polar sampai 100% polar. semi polar. dimasukkan langsung pada bagian atas kolom dan dihisap perlahan-lahan ke dalam kemasan dengan mengvakumkannya. sedikit polar. Vakum dihentikan. maka harus ditingkatkan kepolarannya dari non polar. Kita tidak menggunakan metanol (CH3OH) karena senyawa ini polar.

. KVC merupakan pemisahan fraksi berdasarkan pelarutnya. Sedangkan panjang kolom. kita uji fitokimia dari senyawa tersebut (ekstraks n.heksana kulit batang nangka). Agar fraksi tertentu turun. 3. mengakibatkan semakin panjang kolom maka waktu atau cepat lambatnya turun fraksi senyawa. Holt-Savders Japan. Kromatografi vakum cair sampel beserta eluen itu dipaksa atau ditarik dengan menggunakan pompa dan tanpa tekanan karena dilakukan dalam kondisi vakum. semi polar. 2. agak polar sampai 100% polar. sedikit polar. DAFTAR PUSTAKA Harris.al. dimana bila didapat senyawa yang Rfnya sama atau pola nodanya sama. Pada KVC. fase diamnya menggunakan silika gel yang diletakkan di dalam kolom kromatografi. Dan terakhir. 1982. maka harus ditingkatkan kepolarannya dari non polar. maka kemungkinan senyawa itu adalah sama. Dari percobaan yang dilakukan didapatkan fraksi I pada eluen perbandingan (elusi eluen) 80 % : 20 % yang pada kolom kromatografi terlihat pita berwarna kuning.diturunkan kembali fraksinya. Savders College Publishing Philadelpia. Silika yang digunakan adalah silika KL 254. yaitu silika halus yang ditambahkan dengan n-heksana sampai menjadi bubur kemudian dimampatkan ke dalam kolom kromatografi. hal ini dikarenakan didalam sampel itu terdapat senyawa yang berbeda kepolarannya. BAB V KESIMPULAN Dari percobaan ini dapatlah disimpulkan bahwa : 1. Setelah fraksi senyawa didapatkan. selanjutnya dengan menggunakan KLT kita menghitung Rf (retention fraksion). AN INTRODUCTION TO CHEMICAL ANALYSIS. 4. Namun langkah ini tidak dapat dilakukan karena waktu yang tidak mengizinkan lagi. et.

1986.blogspot. Saponin ada pada seluruh tanaman dengan konsentrasi tinggi pada bagian-bagian tertentu. KIMIA ANALITIK INSTRUMENTASI. IKIP Semarang Press. Schill. Fundamentals and Aplication. John.com/2011/03/pemisahan-senyawa-metabolitsekunder. dan dipengaruhi oleh varietas tanaman dan tahap pertumbuhan. New York. 1978. Kennedy. Semarang.html http://www. Hendayana. Stockholm. mungkin sebagai bentuk penyimpanan karbohidrat.Heftmann. SEPARATION METHODS. Sifat-sifat Saponin adalah: 1) Mempunyai rasa pahit 2) Dalam larutan air membentuk busa yang stabil 3) Menghemolisa eritrosit 4) Merupakan racun kuat untuk ikan dan amfibi 5) Membentuk persenyawaan dengan kolesterol dan hidroksisteroid lainnya 6) Sulit untuk dimurnikan dan diidentifikasi 7) Berat molekul relatif tinggi. CARA KROMATOGRAFI PREPARATIF.pdf/58_10_ZatZatToksikAlamiah. dan analisis hanya menghasilkan formula empiris yang mendekati. http://kuliahitukeren. ITB. Fungsi dalam tumbuh-tumbuhan tidak diketahui. Hostettmenn. dkk. Bandung. E. atau merupakan waste product dari metabolisme tumbuh-tumbuhan. 1990. 1983. Kemungkinan lain adalah sebagai pelindung terhadap serangan serangga.html saponin. 1994. ANALYTICAL CHEMISTRY PRINCIPLES. dkk. Dengan hidrolisa lengkap akan dihasilkan sapogenin (aglikon) dan karbohidrat (hexose. STEROIDS DALAM KROMATOGRAFI. Goran. Swedish Phasma Centrical Press.kalbe. Sumar. .co. Toksisitasnya mungkin karena dapat merendahkan tegangan permukaan (surface tension). Amsterdam. K. Sounders College Publishing.12-5-11 Saponin Saponin adalah suatu glikosida yang mungkin ada pada banyak macam tanaman.id/files/cdk/files/58_10_Zat-ZatToksikAlamiah.

dengan 30 C atom. Macam-macam saponin berbeda sekali komposisi kimiawinya.I. 2) Triterpenoids. Literatuuroverzlcht. Tidak toksiknya untuk manusia dapat diketahui dari minuman seperti bir yang busanya disebabkan oleh saponin. atau karbohidratnya. saponin dapat dibagi dalam dua kelompok: 1) Steroids dengan 27 C atom. yaitu berbeda pada aglikon (sapogenin) dan juga karbohidratnya. Toxische stoffen die van nature in voedingsmiddelen voorkomen. 3. Oey Kam Nio Mantan Peneliti Ahli Unit Diponegoro -..074/350445. Departemen Kesehatan R. Rome. 2. 1981. CIVO Instituten--TNO. Bila dihidrolisa dengan enzim menghasilkan tiosianat. Berdasarkan atas sifat kimiawinya.Pusat Penelitian Penyakit Menular Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. (ed). Liener IE. seperti: · Quillage saponin : campuran dari 3 atau 4 saponin · Alfalfa saponin : campuran dari paling sedikit 5 saponin · Soy bean saponin : terdiri dari 5 fraksi yang berbeda dalam sapogenin. FAO. Traditional and non-traditional foods. atau dalam kedua-duanya.pentose dan saccharic acid). Jakarta 1. tidak toksik untuk manusia bila dimakan. Contoh glikosida lain adalah tioglikosida dan bensiltioglikosida. mungkin disebabkan oleh gangguan pernafasan. Zat-zat toksik tersebut ada pada Zat-zat Toksik yang Secara Alamiah Ada pada Bahan Makanan Nabati Dra. Ikan yang mati karena racun saponin. Ferrando R. De Groot AP. Report No.. V 85. sehingga tumbuh-tumbuhan tertentu dapat mempunyai macam-macam saponin yang berlainan. isotiosianat dan bensilsianat yang merupakan racun dan mempunyai sifat antitiroid. New York. Kematian pada ikan. 1969. Academic Press. Toxic constituents of plant foodstuffs. The Netherlands .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful