Makalah Platyhelminthes

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hewan yang tidak bertulang belakang atau invertebrata terdiri atas beberapa jenis dan golongan. Jika ada yang memiliki rangka, maka rangka itu berbeda dengan rangka biasa yang kita kenal. Umumnya rangka invertebrata tersebut ada di luar menyelubungi tubuhnya. Hewan-hewan yang tidak bertulang belakang semuanya memiliki struktur morfologi dan anatomi lebih sederhana dibandingkan dengan kelompok hewan bertulang belakang. Misalnya untuk peredaran darahnya bila kita amati, peredaran darah pada hewan bertulang belakang telah sempurna dengan jantung yang memiliki kamar-kamar dan pembuluh yang mempunyai tugas masing-masing. Jika ada hewan yang tidak bertulang belakang memiliki peredaran darah tertutup, peredaran darah itu tidak sesempurna peredaran darah katak dan ikan atau hewan bertulang belakang lainnya. Selain peredaran darahnya, sistem pernafasan, pencernaan, dan pengeluarannya pun lebih sederhana. Hal ini berkaitan dengan struktur tubuh vertebrata yang jauh lebih rumit dibandingkan dengan struktur tubuh invertebrata. Pada makalah ini saya akan menyajikan satu dari filum yang ada pada hewan tidak bertulang belakang atau invertebrata. Filum yang akan dibahas ini adalah filum platyhelminthes, di mana kita akan membahas mulai dari karakteristik umum dari platyhelminthes hingga peran platyhelminthes dalam kehidupan manusia.

FILUM PLATYHELMINTHES A. Pengertian dan Karakteristik Filum Platyhelminthes Platyhelminthes, asal kata : platy = pipih dan helmins = cacing. Pada platyhelminthes sudah tedapat alat atau organ sederhana seperti pharynx yang bersifat musculer, ocelli dan alat-alat yang lebih kompleks misalnya organ genitalia dan organ excretoria. Namun mereka masih mempunyai systema gastrovasculare seperti diketemukan pada Coelenterata dengan hanya satu muara keluar yang berfungsi baik sebagai mulut maupaun sebagai anus. Platyhelminthes memiliki tubuh pipih, lunak dan epidermis bersilia. Cacing pipih ini merupakan hewan tripoblastik yang tidak mempunyai rongga tubuh (acoelomata). Hidup biasanya di air tawar, air laut dan tanah lembab. Ada pula yang hidup sebagai parasit pada hewan dan manusia. Cacing parasit ini mempunyai lapisan kutikula dan silia yang hilang setelah dewasa. Hewan ini mempunyai alat pengisap yang mungkin disertai dengan kait untuk menempel. Cacing pipih belum mempunyai sistem peredaran darah dan sistem pernafasan. Sedangkan sistem pencernaannya tidak sempurna, tanpa anus. Contoh Platyhelmintes adalah Planaria. Planaria mempunyai sistem pencernaan yang terdiri dari mulut, faring, usus (intestine) yang bercabang 3 yakni satu cabang ke arah anterior dan 2 cabang lagi ke bagian samping tubuh. Percabangan ini berfungsi untuk peredaran bahan makanan dan memperluas bidang penguapan. Planaria tidak memiliki anus pada saluran pencernaan makanan sehingga buangan yang tidak tercerna dikeluarkan melalui mulut. Perhatikan gambar susunan saluran pencernaan Planaria berikut ini.

Gambar 1. Kedua saluran eksresi tersebut bercabang-cabang dan berakhir pada sel-sel api (flame cell). Sistem Eksresi Sistem ekskresi pada cacing pipih terdiri atas dua saluran eksresi yang memanjang bermuara ke pori-pori yang letaknya berderet-deret pada bagian dorsal (punggung). yaitu berturut-turut dari luar ke dalam: o Ectiderm o Mesoderm o Entoderm . Perhatikan gambar sistem eksresi dan sel api Planaria di bawah ini. b) Sel api (flame cell) Platyhelminthes adalah merupakan sebagian besar acelomata yang mempunyai 3 (tiga) lapisan dermoblast. Gambar 2 a) Susunan saluran eksresi pada Planaria. Susunan saluran pencernaan Planaria 1.

Kedua ganglia ini dihubungkan oleh serabut-serabut saraf melintang dan dari masingmasing ganglion membentuk tangga tali saraf yang memanjang ke arah posterior. Sedangkan reproduksi seksual (generatif) dengan peleburan dua sel kelamin pada hewan yang bersifat hemafrodit. Pada sistem tersebut. Pada cacing pipih yang lebih tinggi tingkatannya. sel saraf motor (sel pembawa dari otak ke efektor). Sedangkan reproduksi jantan terdiri atas testis. jaringan pengikat dan alat reproduksi. Sistem reproduksi seksual pada Planaria terdiri atas sistem reproduksi betina meliputi ovum. kelenjar kuning telur. pori genital dan penis. Perhatikan gambar sistem saraf Planaria berikut! Ada beberapa macam sistem syaraf pada cacing pipih : Sistem syaraf tangga tali merupakan sistem syaraf yang paling sederhana. Kedua tali saraf ini bercabang-cabang ke seluruh tubuh. Mesoderm membentuk lapisan-lapisan otot. Sistem Saraf Sistem saraf berupa tangga tali yang terdiri dari sepasang ganglion otak di bagian anterior tubuh. Dan entoderm akan terbentuk gastrodermis. Perhatikan gambar sistem reproduksi Planaria. Reproduksi aseksual (vegetatif) dengan regenerasi yakni memutuskan bagian tubuh. 2. . sistem saraf dapat tersusun dari sel saraf (neuron) yang dibedakan menjadi sel saraf sensori (sel pembawa sinyal dari indera ke otak). Sistem Reproduksi Reproduksi pada cacing pipih seperti Planaria dapat secara aseksual dan secara seksual. Dari kedua ganglion otak tersebut keluar tali saraf sisi yang memanjang di bagian kiri dan kanan tubuh yang dihubungkan dengan serabut saraf melintang.Pada Platyhelminthes dari lapisan-lapisan tersebut akan terbentuk alat-alat yaitu dari ectoderm misalnya membentuk epidermis yang selanjutnya akan terbentuk cuticula. pusat susunan saraf yang disebut sebagai ganglion otak terdapat di bagian kepala dan berjumlah sepasang. saluran ovum. dan sel asosiasi 3.

5 ± 1.0 cm dan Bipalium yang mempunyai panjang tubuh sampai 60 cm dan hanya keluar di malam hari. Reproduksi aseksual Planaria A. Hewan ini biasanya hidup di air tawar yang jernih. air laut atau tempat lembab dan jarang sebagai parasit. Sistem reproduksi Planaria Selanjutnya perhatikan gambar reproduksi aseksual Planaria di bawah ini! Gambar 5. Permukaan tubuh Planaria bersilia dan kira-kira di tengah mulut terdapat proboscis . Trematoda dan Cestoda. Kelas Turbellaria Hewan dari kelas Turbellaria memiliki tubuh bentuk tongkat atau bentuk rabdit (Yunani : rabdit = tongkat). Tubuh memiliki dua mata dan tanpa alat hisap.Terpotong secara alami B.Gambar 4. Hewan ini mempunyai kemampuan yang besar untuk beregenerasi dengan cara memotong tubuhnya seperti tampak pada gambar 5 di atas.Dibelah dua C. Contoh Turbellaria antara lain Planaria dengan ukuran tubuh kira-kira 0. 1. Berikut akan dijelaskan satu-persatu. Klasifikasi Filum Platyhelminthes Platyhelminthes (cacing pipih) dibedakan menjadi 3 kelas yaitu Turbellaria. Dibelah tiga C.

Contoh hewan Trematoda adalah : a) Fasciola hepatica Cacing hati atau Fasciola hepatica (parasit pada hati domba). Gambar 6. Tubuh dengan panjang lebih kurang 2. Perhatikan gambar anatomi cacing hati (Fasciola hepatica) berikut! . Proboscis pada Planaria Planaria tubuhnya bersifat fleksibel. panjangnya sampai 30 mm. sungai dan rawa. dapat memanjang atau memendek atau membelok dalam tiap arah. 2. babi dan kadang-kadang dalam manusia. dalam keadaan dewasa cacing hati hidup di dalam hepar domba. Fasciola hepatica menyerupai Planaria baik dalam bentuk tubuh maupun strukturnya.dan sebagai parasit pada Vertebrata baik berupa ektoparasit (pada ikan) maupun sebagai endoparasit. b) Fasciola gigantica Fasciola gigantica (parasit pada hati sapi) dan cacing hati parasit pada manusia (Chlonorchis sinensis) serta Schistosoma japonicum (cacingdarah).(tenggorok yang dapat ditonjolkan keluar) seperti pada gambar berikut. sapi. Mereka menghindari sinar matahari dengan melekat di bawah permukaan batu atau sepotong kayu.5 cm dan lebar 1cm serta simetris bilateral. Kelas Trematoda Hewan Trematoda memiliki tubuh yang diliputi kutikula dan tak bersilia. cacing ini juga dapat menyebabkan banyak kerugian dalam bidang peternakan. Trematoda termasuk hewan hemafrodit. Tubuhnya berbentuk daun. Planaria hidup di air tawar dalam danau. Pada ujung anterior terdapat mulut dengan alat penghisap yang dilengkapi kait.

larva dapat menempel pada rumput untuk beberapa lama. mirasidium tumbuh menjadi sporokista (menetap dalam tubuh siput selama + 2 minggu). saluran empedu dan dewasa di sana untuk beberapa bulan.Gambar 7. Hal ini berlangsung secara partenogenesis. Dengan ekornya serkaria dapat menembus jaringan tubuh siput dan keluar berenang dalam air. Anatomi Fasciola hepatica Daur Hidup Kelas Trematoda Berikut ini diuraikan mengenai daur hidup beberapa jenis cacing yang termasuk kelas Trematoda. Metaserkaria membungkus diri berupa kista yang dapat bertahan lama menempel pada rumput atau tumbuhan air sekitarnya. Cacing dewasa bertelur kembali dan siklus ini terulang lagi. Perhatikan tahap perkembangan larva Fasciola hepatica. ‡ Di dalam tubuh siput ini. telur ini akan menetas menjadi larva bersilia yang disebut mirasidium. maka kista dapat menembus dinding ususnya. ‡ Apabila rumput tersebut termakan oleh domba. ‡ Sporokista akan menjadi larva berikutnya yang disebut Redia. kemudian masuk ke dalam hati. ‡ Redia akan menuju jaringan tubuh siput dan berkembang menjadi larva berikutnya yang disebut serkaria yang mempunyai ekor. ‡ Di luar tubuh siput. Bila mencapai tempat basah. Serkaria melepaskan ekornya dan menjadi metaserkaria. . Kemudian telur keluar ke alam bebas bersama feses domba. ‡ Cacing dewasa bertelur di dalam saluran empedu dan kantong empedu sapi atau domba. Mirasidium akan mati bila tidak masuk ke dalam tubuh siput air tawar (Lymnea auricularis-rubigranosa).

kucing dan binatang pengerat lainnya. Daur hidup Schistosoma japonicum (cacing darah) Cacing darah ini parasit pada manusia. Daur hidup Chlonorchis sinensis Daur hidup Chlonorchis sinensis sama seperti Fasciola hepatica. Perhatikan gambar daur hidup Fasciola hepatica berikut: Gambar 9. Inang perantara yaitu siput air 2.yaitu hewan bertulang belakang pemakan rumput seperti sapi dan domba. Struktur tubuh Chlonorchis sinensis sama seperti tubuh pada Fasciola hepatica hanya berbeda pada cabang usus lateral yang tidak beranting. hanya saja serkaria pada cacing ini masuk ke dalam daging ikan air tawar yang berperan sebagai inang sementara.Gambar 8. babi. Daur hidup Fasciola hepatica a. Tahap perkembangan larva Fasciola hepatica Dalam daur hidup cacing hati ini mempunyai dua macam tuan rumah yaitu: 1. Inang menetap. biri-biri. Tubuh cacing jantan . b.Cacing dewasa dapat hidup dalam pembuluh balik (vena) perut.

Kemudian dalam tubuh siput akan berkembang menjadi serkaria yang berekor bercabang. Cacing jantan panjangnya 9 ± 22 mm. Species dari genus Taenia hidup sebagai bentuk dewasa di dalam tractus digestivus manusia. tetapi kurang berkembang. 3.3m dan terdiri dari bagian kepala (skoleks) dan tubuh (strobila). Makin ke posterior segmen makin melebar dan setiap segmen (proglotid) merupakan satu individu dan bersifat hermafrodit. Sedangkan setiap segmen yang menyusun strobila mengandung alat perkembangbiakan. Kepala (skoleks) dilengkapi dengan lebih dari dua alat pengisap. Serkaria dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan dan minuman atau menembus kulit dan dapat menimbulkan penyakit Schistomiasis (banyak terdapat di Afrika dan Asia). Schistosoma japonicum jantan dan betina Selanjutnya diuraikan tentang daur hidup Schistosoma japonicum. tidak berpigmen. lalu telur keluar bersama tinja dan urine. Kelas Cestoda Cacing pita (Cestoda) memiliki tubuh bentuk pipih. . Sistem saraf sama seperti Planaria dan cacing hati. sedangkan panjang cacing betina adalah 14 ± 26 cm. limpa. ‡ Telur akan berkembang menjadi mirasidium dan masuk ke dalam tubuh siput. Gambar 10. Banyak tipe-tipe cacing pita hidup di dalam intestinum dari hampir semua hewan-hewan Vertebrata. ‡ Cacing darah ini bertelur pada pembuluh balik (vena) manusia kemudian menuju ke poros usus (rektum) dan ke kantong air seni (vesica urinaria). tidak mempunyai tractus digestivus atau alat indera dalam bentuk dewasanya. jantung. Penyakit ini menyebabkan kerusakan dan kelainan fungsi pada hati. Tubuhnya satu strobila tertutup oleh cuticula yang tebal. Sistem eksresi terdiri dari saluran pengeluaran yang berakhir dengan sel api. panjang antara 2 . Cacing ini biasanya hidup sebagai parasit dalam usus vertebrata dan tanpa alat pencernaan.lebih lebar dan dapat menggulung sehingga menutupi tubuh betina yang lebih ramping. kantong urine dan ginjal.

Manusia akan tertular cacing ini apabila memakan daging sapi mentah atau setengah matang. Selanjutnya telur yang berisi embrio tadi dalam usus sapi akan menetas menjadi larva onkoster. Setelah itu larva akan tumbuh dan . Contoh Cestoda yaitu: a) Taenia saginata (dalam usus manusia) b) Taenia solium (dalam usus manusia) c) Choanotaenia infudibulum (dalam usus ayam) d) Echinococcus granulosus (dalam usus anjing) e) Dipylidium latum (menyerang manusia melalui inang protozoa) Selanjutnya akan diuraikan beberapa dari cacing parasit tersebut. Perbedaannya dengan Taenia solium hanya terletak pada alat pengisap dan inang perantaranya.Ciri-ciri Cacing pita (Cestoda) memiliki tubuh bentuk pipih. dan sampai pada usus akan tumbuh dan berkembang menjadi larva onkoster. antara lain: a. Sistem saraf sama seperti Planaria dan cacing hati. Larva onkoster menembus usus dan masuk ke dalam pembuluh darah atau pembuluh limpa. kemudian sampai ke otot lurik dan membentuk kista yang disebut Cysticercus bovis (larva cacing). Kemudian larva akan tumbuh membentuk proglotid yang dapat menghasilkan telur. tetapi kurang berkembang. Kepala (skoleks) dilengkapi dengan lebih dari dua alat pengisap. Sistem eksresi terdiri dari saluran pengeluaran yang berakhir dengan sel api. Cacing ini biasanya hidup sebagai parasit dalam usus vertebrata dan tanpa alat pencernaan. Daur hidup Taenia saginata Dalam usus manusia terdapat proglotid yang sudah masak yakni yang mengandung sel telur yang telah dibuahi (embrio). Sedangkan Taenia solium memiliki alat pengisap dengan kait pada skoleksnya dan inang perantaranya adalah babi. Sedangkan setiap segmen yang menyusun strobila mengandung alat perkembangbiakan. Taenia saginata Cacing ini parasit dalam usus halus manusia. Makin ke posterior segmen makin melebar dan setiap segmen (proglotid) merupakan satu individu dan bersifat hermafrodit. Bila telur ini termakan sapi. Bila proglotid masak akan keluar bersama feses. Telur yang berisi embrio ini keluar bersama feses. kemudian termakan oleh sapi. Kista akan membesar dan membentuk gelembung yang disebut Cysticercus (sistiserkus). panjang antara 2 3m dan terdiri dari bagian kepala (skoleks) dan tubuh (strobila). Dinding Cysticercus akan dicerna di lambung sedangkan larva dengan skoleks menempel pada usus manusia. Taenia saginata pada skoleksnya terdapat alat pengisap tanpa kait dan inang perantaranya adalah sapi.

berkembang mengikuti siklus hidup seperti di atas. Planaria dapat dimanfaatkan untuk makanan ikan. Penyakit Pada Manusia Akibat Cestoda Nama Ilmiah Tempat Infeksi Distribusi Diphylllobothrium latum Small Intestine Argentina. sebab parasit pada manusia maupun hewan. hanya saja inang perantaranya adalah babi. c. Siberia. Europe. kecuali Planaria. Peranan Platyhelminthes bagi Kehidupan Manusia Pada umumnya Platyhelminthes merugikan. Taenia solium Daur hidup Taenia solium sama dengan daur hidup Taenia saginata. Coanotaenia infudibulum Cacing pita lainnya adalah Coanotaenia infudibulum yang parasit pada usus ayam tetapi inang perantaranya adalah Arthropoda antara lain kumbang atau tungau. Agar terhindar dari . Great Lakes area USA Taenia saginata Small Intestine Di seluruh dunia Taenia solium Small Intestine Di seluruh dunia Hymenolepis nana Small Intestine Di seluruh dunia E. Daur hidup Taenia saginata b. Perhatikan gambar daur hidup Taenia saginata berikut! Gambar 21. Sedangkan kista yang sampai di otot lurik babi disebut Cysticercus sellulose. Japan.

menghindari infeksi dari larva cacing tidak membuang tinja sembarangan (sesuai dengan syarat-syarat hidup sehat). antara lain: memutuskan daur hidupnya.infeksi cacing parasit (cacing pita) sebaiknya dilakukan beberapa cara.dan tidak memakan daging mentah atau setengah matang (masak daging sampai matang .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful