Budidaya Ikan Nilem (Osteochilus hasselti

)
Morfologi Ikan Nilem Ikan nilem (Osteochilus hasselti) merupakan ikan endemik (asli) Indonesia yang hidup di sungai – sungai dan rawa – rawa. Ciri – ciri ikan nilem hampir serupa dengan ikan mas. Ciri – cirinya yaitu pada sudut – sudut mulutnya terdapat dua pasang sungut – sungut peraba. Sirip punggung disokong oleh tiga jari – jari keras dan 12 – 18 jari – jari lunak. Sirip ekor berjagak dua, bentuknya simetris. Sirip dubur disokong oleh 3 jari – jari keras dan 5 jari – jari lunak. Sirip perut disokong oleh 1 jari – jari keras dan 13 – 15 jari – jari lunak. Jumlah sisik – sisik gurat sisi ada 33 – 36 keping, bentuk tubuh ikan nilem agak memenjang dan piph, ujung mulut runcing dengan moncong (rostral) terlipat, serta bintim hitam besar pada ekornya merupakan ciri utama ikan nilem. Ikan ini termasuk kelompok omnivora, makanannya berupa ganggang penempel yang disebut epifition dan perifition (Djuhanda, 1985).

Klasifikasi Ikan Nilem Ikan nilem (Osteochilus hasselti) menurut Saanin (1968) diklasifikasikan dalam: Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Subphylum : Craniata Class : Pisces Subclass : Actinopterygi Ordo : Ostariophysi Subordo : Cyprinoidae

1999). hipofisis – gonad. untuk kandungan ammonia yang disarankan adalah 0. 1981). Sedangkan menurut PBIAT Muntilan (2007). cuaca yang diterima oleh reseptor dan kemudian diteruskan ke sistem syaraf kemudian hipotalamus melepaskan hormon gonad yang merangsang kelenjar hipofisa serta mengontrol perkembangan dan kematangan gonad dalam pemijahan (Sumantadinata.7 – 8.6. karbondioksida bebas yang optimum untuk kelangsungan hidup ikan yaitu ≤ 1 ppm (Willoughby.5 ppm. dan untuk pH berkisar antara 6. Reproduksi Ikan Nilem Reproduksi pada ikan dikontrol oleh kelenjar pituitari yaitu kelenjar hipotalamus. hal tersebut dipengaruhi oleh adanya pengaruh dari lingkungan yaitu temperatur.5 ppm. Menurut Susanto (2001) suhu yang optimum untuk kelangsungan hidup ikan nilem berkisar antara 18 – 280C. karbondioksida bebas yang optimum untuk kelangsungan hidup ikan yaitu ≤ 1 ppm (Willoughby. Ikan memiliki ukuran dan jumlah telur yang .6. 1999). Ikan nilem akan melakukan pemijahan pada kondisi oksigen berkisar antara 5 – 6 ppm.Famili : Cyprinidae Genus : Osteochilus Species : Osteochilus hasselti Kualitas air Ikan nilem akan melakukan pemijahan pada kondisi oksigen berkisar antara 5 – 6 ppm. Reproduksi merupakan kemampuan indivudu untuk menghasilkan keturunan sebagai upaya untuk melestarikan jenisnya atau kelompoknya.7 – 8. untuk kandungan ammonia yang disarankan adalah 0. Sedangkan menurut PBIAT Muntilan (2007). cahaya. dan untuk pH berkisar antara 6. Menurut Susanto (2001) suhu yang optimum untuk kelangsungan hidup ikan nilem berkisar antara 18 – 280C.

ukurannya besar. 2008).berbeda. Pemijahan ikan secara alami. dari lubang genital keluar cairan jernih kekuningan. terjadi secara alamiah (tanpa pemberian rangsangan hormon). yaitu: 1. teknik pemijahan ikan dapat dilakukan dengan tiga macam cara. yaitu pemijahan ikan yang terjadi dengan memberikan rangsangan hormon untuk mempercepat kematangan gonad. Sebaliknya ikan memiliki telur sedikit. Pemijahan adalah proses perkawinan antara ikan jantan dan ikan betina yang mengeluarkan sel telur dari betina. 2. tergantung tingkah laku dan habitatnya. Induk Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) Menurut Sumantadinata (1981) ikan betina matang kelamin dicirikan dengan perut yang relatif membesar dan lunak bila diraba. Pemijahan ikan secara intensif. tergantung kondisi lingkungnya (Fujaya. namun ukurannya kecil. sel sperma dari jantan dan terjadi di luar tubuh ikan (eksternal). naluri . Sebagian ikan memiliki jumlah telur banyak. yaitu pemijahan ikan tanpa campur tangan manusia. warna tubuh kelabu kekuningan. tetapi proses ovulasinya terjadi secara alamiah di kolam. Dalam budidaya ikan. postur tubuh gemuk. naluri gerakan lambat. 3. Pemijahan secara semi intensif. sehingga sintasan rendah. 2004). Sedangkan ciri ikan jantan yang sudah matang kelamin yaitu mudah mengeluarkan sperma (milt) jika perutnya diurut (stripping). dan lubang genital berbentuk bulat telur agak melebar dan membengkak. yaitu pemijahan ikan yang terjadi dengan memberikan rangsangan hormon untuk mempercepat kematangan gonad serta proses ovulasinya dilakukan secara buatan dengan teknik stripping atau pengurutan (Gusrina. Kegiatan reproduksi pada setiap jenis hewan air berbeda-beda.

Ovulasi adalah proses keluarnya sel telur (oosit) yang telah matang dari folikel dan masuk ke dalam rongga ovarium atau rongga perut (Nagahama. 2008). postur tubuh dan perut ramping. Menurut Cassie dan Effendie (1979) berat rata – rata dan panjang total untuk ikan nilem diantaranya: 1. 3.7 gram. Ditambahkan pula oleh Djajareja dkk (1977) dalam Triyani (2002) warna telur ikan ini transparan dan bersifat demersal (terbenam di dasar perairan). Adanya kontraksi aktif dari folikel (bertindak sebagai otot halus) yang menekan sel telur keluar. lubang urogenital agak menonjol serta sirip dada kasar dan perutnya keras. 1981). membentuk benjolan hingga pecah dan terbentuk lubang pelepasan hingga telur keluar (enzim yang berperan dalam pemecahan diding folikel: protease iplasmin kemudian diikuti oleh hormon prostaglandin F2a (PGF2a) atau chotecholamin yang merangsang kontraksi aktif dari folikel). Telur ikan nilem (Osteochilus hasselti) banyak mengandung kuning telur yang mengumpul pada suatu kutub. 2. Sementara menurut Soeminto dkk (1995) dalam Triyani (2002) telur ikan ini diameter berkisar antara 0. warna tubuh kehijauan dan kadang gelap. Daerah tertentu pada folikel melemah. Telur membesar. panjang total rata – rata induk betina 28.gerakkannya lincah. dan . Menurut Gusrina (2008) pelepasan telur terjadi akibat: 1. Berat rata – rata induk betina 200.7 cm.2 mm. tipe telur yang demikian dinamakan Telolechital (Sumantadinata.8 mm – 1. 1990 dalam Gusrina.

Keberhasilan pemijahan sangat ditentukan pada faktor induk dan pengaturan lingkungan pemijahan. . 2. Kebiasaan berkembang biak Biasanya. ikan ini akan memijah di akhir musim penghujan. Ciri induk yang berkualitas: a. Berat rata – rata induk jantan 187. Oleh karena itu. pemilihan induk ikan nilem yang hendak dipijahkan barns memenuhi persyaratan sebagai berikut.Berat badan sekitar 100 g. ikan ini dapat ditemukan di sungai-sungai.3 gram.2 cm. Memilih Induk Ikan nilem termasuk ikan yang produktif karena bisa dipijahkan 3-4 kali dalam setahun. Untuk itu. 1. Kebiasaan makan Nilem tergolong ikan pemakan tumbuh-tumbuhan (herbivore).Bila diurut pelanpelan ke arah lubang alat genital. Kebiasaan Hidup di Alam Nilem hidup di lingkungan yang jernih.5 tahun. Di tempat budi daya. ikan nilem dapat dipijahkan sepanjang tahun dengan mengatur kondisi lingkungan. panjang total rata – rata induk jantan 28. Betina Umurnya mencapai 1-1.2. di daerah yang berpasir dan berair jernih. induk betina akan mengeluarkan cairan berwarna kekuning-kuningan.

induk jantan akan mengeluarkan cairan seperti susu. Jantan Perutnya mengembang dan terasa empuk ketika diraba. Bila dipijat perut ke arah alat genital. Pemijahan di Kolam Untuk memijahkan ikan di kolam. persiapan kolam. Dasar kolam penetasan harus berpasir dan bebas dari lumpur agar tidak mengganggu proses penetasan telur. Jarak permukaan air dengan pintu pemasukan air sekitar 15 cm. Pemijahan . 1. 3. perlu mempersiapkan konstruksi kolam. Di antara kedua kolam tersebut dipasang saringan agar induk nilem tidak hanyut ke kolam penetasan.b. 2. Persiapan kolam Kedalaman air di kolam pemijahan 50 cm. dan proses pemijahan. Berumur 8 bulan Berat badan sekitar 100 g. Kolam pemijahan juga terhubung dengan kolam pendederan. Konstruksi kolam Kolam pemijahan ikan nilem berukuran 2 m2 yang terhubung dengan kolam penetasan seluas 20 M2. tetapi tidak menghalangi air yang membawa telur ke kolam penetasan. Beberapa petani memasang bebatuan dan menanam rumput kakawatan (Cynodon dactylon) untuk menghalangi lolosnya induk ke kolam penetasan. Adapun debit air yang masuk ke dalam kolam diperbesar untuk merangsang pemijahan induk nilem. Sementara kolam penetasan telur yang ada di bawahnya diisi air sedalam 30-40 cm.

Ikan ini akan memijah di bagian dangkal dekat pipa pembuangan air. Menurut Fujaya (2004) yang menyatakan bahwa kondisi lingkungan (eksternal) seperti hujan.Ikan diberok (dipuasakan) terlebih dahulu selama 3-7 hari untuk membuang kotoran dari dalam perutnya. Telur tersebut kemudian akan hanyut terbawa air dan masuk ke dalam kolam penetasan. gonadotropin pra ovulasi dan respon ovarium terhadap GtH (Gonadotropin Hormon). Ditambahkan pula oleh Stacey (1984) bahwa faktor internal yang mempengaruhi pemijahan adalah pendorong dan penghambat hormon gonadotropin.5 ppm. untuk kandungan ammonia yang disarankan adalah 0. cahaya. waktu (malam hari) dan lain – lain. Kondisi lingkungan ini mempengaruhi kontrol endokrin untuk menghasilkan hormon – hormon yang mendukung proses perkembangan gonad dan pemijahan. karbondioksida bebas yang optimum untuk kelangsungan hidup ikan yaitu ≤ 1 ppm (Willoughby. 1999). Telur-telur yang dikeluarkan. Menurut Susanto (2001) suhu yang optimum untuk kelangsungan hidup ikan nilem berkisar antara 18 – 280C. Menurut Gusrina (2008) pelepasan telur terjadi akibat: . Pemberokan sebaiknya dilakukan di dalam kolam yang terpisah agar tidak terjadi pemijahan yang tidak diharapakan atau `mijah maling'. oksigen terlarut. Setelah itu. Usahakan pemasukkan induk dilakukan pada sore hari karena nilem menyukai memijah pada malam hari. Ikan nilem akan melakukan pemijahan pada kondisi oksigen berkisar antara 5 – 6 ppm. Sedangkan menurut PBIAT Muntilan (2007).6. kimia dan fisika air. pagi harinya induk-induk ditangkap dan dikembalikan ke kolam pemeliharaan induk masing-masing. daya hantar listrik. Menjelang subuh. biasanya nilem akan memijah. suhu. habitat. dan untuk pH berkisar antara 6. Bila persiapan kolam pemijahan dan kolam penetasan sudah selesai maka 20 pasang induk dimasukkan ke dalam kolam pemijahan.7 – 8. lalu dibuahi.

Pelepasan ini disebabkan oleh kenaikan tekanan hydrostatik didalam lobul untuk mengeluarkan cairan – cairan oleh sel – sel sertoli dibawah rangsangan gonadotropin. Proses spermiasi berhubungan dengan pelepasan spermatozoa dari lumen lobulus masuk kedalam saluran sperma. Penetasan Telur dan Perawatan Benih Telur yang bertumpuk di dekat pintu pemasukan kolam penetasan diratakan dengan sapu lidi atau pun garu.1. Lima hari kemudian benih nilem bisa dipanen untuk dijual. 2. ditebarkan ke sawah. akan banyak telur yang tidak menetas. atau dipelihara di kolam pendederan. Telur membesar. 3. Bila dibiarkan menumpuk. membentuk benjolan hingga pecah dan terbentuk lubang pelepasan hingga telur keluar (enzim yang berperan dalam pemecahan diding folikel: protease iplasmin kemudian diikuti oleh hormon prostaglandin F2a (PGF2a) atau chotecholamin yang merangsang kontraksi aktif dari folikel). disini akan bercampur dengan cairan sperma (milt) (Fujaya. Kolam penetasan sebaiknya diberi daundaun pisang untuk mengurangi intensitas sinar matahari yang masuk ataupun air hujan. Spermatozoa kemudian didorong kedalam sistem pengeluaran. lalu memindahkannya secara bertahap ke hapa yang telah . Daerah tertentu pada folikel melemah. 2004). Cara penangkapannya dengan menampung ikan di saluran pembuangan yang dipasang kain halus. Adanya kontraksi aktif dari folikel (bertindak sebagai otot halus) yang menekan sel telur keluar.

benih nilem akan berpindah ke kolam pendederan yang lebih lugs. Pembesaran ikan nilem dapat dilakukan di kolam ataupun keramba. Ikan nilem yang dibesarkan tidak boleh semuanya dikonsumsi atau dijual. maka pintu air yang terhubung dengan kolam pendederan dibuka. Benih yang dihasilkan dari sepasang nilem berukuran 100-150 g sebanyak 15-000-30. Dengan demikian. Sebagian ikan yang dibesarkan harus dipergunakan untuk peremajaan induk sebab induk nilem biasanya dianggap sudah tidak produktif lagi setelah 2 tahun atau sekitar 6-8 kali telah dipijahkan.000 ekor. . Pendederan dan Pembesaran Bila benih akan didederkan ke dalam kolam pendederan.dipasang dengan menggunakan ember.

PBIAT Muntilan.com/2008/08/budidayaikan-nilem. Siklus Reproduksi Ikan. Jakarta. Ambas. Jakarta. Budidaya Ikan di Pekarangan. Fisiologi Ikan. Bogor. . 2007. Bandung. Artikel Penelitian Biologi. 1995.html (20 Oktober 2010 Sutisna. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan Cetakan I. Jakarta. Budidaya Ikan Nilem. Armico. Jakarta. H. 2001. dan H. 2004. Biologi Perikanan Cetakan I. 1979. Heru. 1968. Y. Muhammad. J. 1981. Penerbit Rineka Cipta. Fakultas Perikanan. Perkembangbiakan Ikan – Ikan Peliharaan Indonesia. H. Bogor. Saanin. Sutarmanto. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Departemen Pendidikan Nasional. 2001. http://hobiikan.blogspot. H.DAFTAR PUSTAKA Djuhanda dan Tatang. Kanisius.I. Feromon Sex dan Kebutuhan Lingkungan untuk Memijah. dan R. Effendie. Pusat Budidaya Ikan Air Tawar. Sains dan Teknologi Vol. Gusrina. Yogyakarta. Sumantadinata.H. Fujaya. 2008. Bina Cipta. 3 No. 2005. Susanto. Penebar Swadaya. 2008. Sanusi. M. 3:87-94 Musida. Muntilan. Budidaya Ikan untuk SMK. Pembenihan Ikan Air Tawar. K. D. Dunia Ikan. 1981. Susanto. Dasar Pengembangan Teknologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri. Pengaruh Donor dan Dosis Kelenjar Hipofisa Terhadap Ovulasi dan Daya Tetas Telur Ikan Betok (Anabas testudineus).

G. Academic Press. R. and Wootion. Manual of Salmonid Farming. London. (Eds).E. N. Willougbhy. London. Pots. Black Well Science. Control of Timing of Ovulation by Exogenous and Endogenous Factors from Fish Reproduction.J.W. BUDIDAYA IKAN NILEM (Osteochilus hasselti) (disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Akuakultur Tawar) Disusun Oleh: Sabillah Kurnia Putri K2B 008 057 . 1984.Stacey. S. 1999.

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2010 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful