P. 1
Bin Tang

Bin Tang

|Views: 541|Likes:
Published by Oni Arlitasari

More info:

Published by: Oni Arlitasari on Jun 23, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/22/2012

pdf

text

original

Sections

  • 11.1. EVOLUSI BINTANG
  • 11.2. ROTASI BINTANG
  • 11.3. TEKANAN RADIASI (SOLAR WIND)
  • 11.4. GERAK SEJATI BINTANG
  • 11.5. BINTANG GANDA
  • 11.6. SPEKTRUM ADSORBSI PADA BINTANG
  • 11.7. KLASIFIKASI BINTANG
  • 11.8. KURVA CAHAYA

BINTANG

11.1. EVOLUSI BINTANG Bintang adalah benda angkasa berupa bola gas raksasa yang memancarkan energinya sendiri dari reaksi inti dalam bintang, baik berupa panas, cahaya maupun berbagai radiasi lainnya. Berikut ini adalah diagram sederhana dari evolusi bintang.

PROTO BINTANG

RAKSASA BIRU (>1,44 M)

KATAI KUNING (<1,44 M)

KATAI PUTIH (<0,5 M)

KATAI COKELAT
(BINTANG GAGAL) (<0,08 Mo)

MAHARAK SASA BIRU

RAKSASA MERAH

MAHARAK SASA MERAH

HELIUM FLASH
(PLANETARY NEBULAE)

SUPERNOVA I (1,44 ± 6 M ) 

SUPERNOVA II (>10 M ) 

KATAI PUTIH

KATAI PUTIH

BINTANG NEUTRON (SISA MASSA<3M ) 

LUBANG HITAM
(SISA MASSA>3 M ) 

KATAI HITAM

NOVA (TAMBAHAN MASSA >1,44M ) 

SUPERNOVA II (6 ± 10 M ) 

Diagram 11.1 Diagram evolusi bintang.
HANCUR

Bintang-bintang lahir di nebula dari hasil pengerutan, kemudian terjadi fragmentasi sehingga membentuk kelompok-kelompok. Inilah yang disebut proto bintang. Bintang yang bermassa besar dan panas umumnya membentuk raksasa biru dan bintang yang relatif kecil membentuk katai kuning, seperti Matahari. Bintangbintang besar dan panas memiliki inti konvektif dan lapisan selubung yang radiatif. Lain halnya pada bintang-bintang kecil seperti Matahari yang memiliki inti radiatif dan

lapisan selubung konvektif. Bintang tersebut terus berevolusi seiring dengan waktu. Bintang bermassa besar jauh lebih terang dan lebih singkat umurnya daripada bintang bermassa sedang. Begitu pula nasib suatu bintang ditentukan oleh massanya. OBYEK LANGIT 1) Proto bintang (Protostar) Ada banyak teori tentang pembentukan bintang, tetapi yang paling mantap adalah teori yang menyatakan bahwa bintang bermula dari molekul-molekul nebula dingin. Pancaran energi molekul ini mengakibatkan daerah nebula menjadi dingin, mengerut sehingga kerapatannya bertambah dan membentuk bola gas. Apabila bola gas ini sudah cukup rapat, maka akan terjadi tarikan gravitasi yang menyebabkan tekanan gravitasional yang membuat bola gas terus mengerut, sehingga terus menarik materi disekitarnya dan terus mengerut sampai terjadi perubahan energi potensial gravitasi menjadi energi radiasi. Massa minimal awan gas yang diperlukan untuk memulai pembentukan bintang disebut massa Jeans yang diberikan dalam fungsi:
3

M J ! 1,23 v 10 10

1 ¨ T ¸2 © ¹ © ¹ V ªQº

(11.1)

MJ dalam M, = massa jenis awan (g/cm3), = massa molekul rata-rata, T = temperatur awan. Kerapatan awan yang cukup besar sehingga tidak bisa ditembus oleh gelombang elektromagnet menyebabkan energi terperangkap sehingga memanaskan bagian dalam bola gas dan menaikkan tekanannya. Sampai suatu saat terjadi kesetimbangan tekanan termal dan pengerutan gravitasi tercapai sehingga terjadi kesetimbangan hidrostatik. Pada mulanya keseimbangan hidrostatik hanya terjadi pada pusat bola gas dan membentuk bakal bintang, sedangkan bagian luarnya terus mengerut dan menyelubungi pusatnya. Energi yang dihasilkan dari pengerutan ini menyebankan bola gas ini menjadi bercahaya sehingga lahirlah bintang muda yang dinamakan proto bintang. Sebagian energinya digunakan untuk memanaskan bagian dalam bintang sehingga menaikkan suhu dan tekanannya untuk menahan pengerutan lebih jauh. Pada awal pengerutannya, perpindahan energi internal tidak secara radiasi, melainkan secara konveksi. Pada fase ini protobintang terus mengerut sampai akhirnya tekanan radiasi bintang cukup tinggi. Tekanan gas inilah yang menahan pengerutan sehingga terbentuklah bintang yang stabil. Energi ini juga memanasi bagian dalam bintang sehingga akhirnya suhu pusat bintang cukup tinggi untuk mendukung reksi fusi hidrogen yakni reaksi penggabungan hidrogen menjadi helium. Ada tiga kemungkinan siklus ini yakni:

Energi hasil fusi ini memanasi bagian dalam bintang secepat energi dipancarkan keluar sehingga tekanan di pusat bintang menjadi tetap dan pengerutan berhenti. Bintang kini telah stabil dan ada di deret utama usia nol (zero-age main squence).

2) Raksasa merah (Red giant) Bila suatu bintang telah mulai menghabiskan bahan bakar hidrogennya sehingga bintang itu sendiri terdiri dari kebanyakan helium, maka fusi hidrogen tidak dapat berlangsung lagi. Akibatnya tekanan radiasi tak mampu lagi menahan keruntuhan gravitasi. Oleh karena itu pusat helium mulai runtuh sehingga terjadi lagi perubahan energi potensial gravitasi menjadi energi kinetik termal sehingga pusat bintang bertambah panas, kerapatan bintang meningkat dari sekitar 100 gr/cm3 menjadi 105 gr/cm3 dan suhu naik menjadi 108 K. Pada tingkat suhu ini mulai terjadi fusi helium menjadi unsur-unsur yang lebih berat seperti karbon, oksigen dan neon. Proses ini disebut pembakaran helium. Di samping itu, meningkatnya suhu pusat bintang akibat keruntuhan mengakibatkan tekanan radiasi dari pusat meningkat pula. Tekanan radiasi ini mendorong lapisan luar dan selubung bintang ke arah luar sehingga bintang menjadi mengembang dan jejarinya menjadi ratusan bahkan ribuan kali lebih besar. Menurut Hukum Stefan-Boltzmann, peningkatan luas menyebabkan energi pancaran per satuan luas semakin berkurang, sehingga suhu lapisan luar bintang menurun dan mengakibatkan warna bintang berubah menjadi merah sehingga disebut raksasa merah. Bintang pada tahapan raksasa merah akan terus membakar helium dan unsur lain yang lebih berat sampai terhenti pada pembentukan inti besi 56Fe sehingga pusat bintang menjadi semakin berat dan materi di sekitarnya mulai kehabisan hidrogen dan mengumpul di pusat bintang. Hal ini mengakibatkan pusat bintang makin kecil dan makin panas sampai suhunya cukup tinggi untuk memenuhi terjadinya reaksi triple alpha yang menghasilkan energi tambahan yang kemudian memanaskan seluruh helium di sana sehingga terjadi akselerasi pembakaran helium

Gejala seperti ini dinamakan helium flash.2) Dengan me massa elektron. Dalam keadaan yang mampat ini. sehingga total energi rata-rata elektron adalah: Et ! ´ N 0 E F ( N ' ) dN ' ! 3 N e EF 5 (11. yaitu: 2 J ¨ 3T 2 N e © EF ! 2me © V ª 2 ¸3 ¹ ¹ º (11. Kini bintang telah mantap menjadi raksasa merah. kemudian bintang mengerut dan melepaskan energi potensialnya.3) Distribusi energi elektron berkisar dari E = 0 hingga E = EF. atom-atom sangat rapat yang satu dengan yang lain sehingga terjadi degenerasi energi elektron. Adanya energi degenerasi elektron menahan keruntuhan gravitasi lebih jauh sehingga bintang mencapai kesetimbangan hidrostatis. Akhirnya bintang mengerut sampai mencapai kerapatan yang luar biasa dan menjadi bintang yang kecil dengan rapat massa mencapai 103 kg/cm3 dan suhu permukaannya mencapai 104 K. Ne/V rapat elektron. Energi degenerasi ini menghasilkan gaya tolakan yang cenderung melawan tumpang tindih elektron tersebut. dan di lapisan lebih luar masih terjadi pembakaran hidrogen. Energi degenerasi ini dapat dinyatakan dengan fungsi energi Fermi. Berdasarkan asas ekslusi Pauli. 3) Katai putih (White dwarf) Cepat atau lambat bintang akan kehabisan energi nuklirnya.4) Oleh karena itu. Bintang seperti ini dinamakan katai putih atau white dwarf. Inti besi yang paling berat dan stabil berkumpul di pusat dan bintang masih melakukan pembakaran oksigen dan karbon di pusatnya. sehingga terjadi penolakan akibat energi degenerasi elektron ini.dan menghasilkan energi yang sangat besar dalam waktu singkat. energi rata-rata elektron diberikan oleh: . dikelilingi lapisan dimana pembakaran helium masih terjadi. tidak ada elektron (fermion) dalam satu atom yang memiliki bilangan kuantum yang sama. N jumlah nukleon (proton atau neutron) dan J ! h 2T (11. Akibat pelepasan energi ini pusat bintang mengerut dan suhu permukaannya meningkat.

Selain potensial gravitasi.5) ¸ 3 3 GM 2 3 ¹   N e kT  4TR 2WT 4 t ¹ 5 R 2 º (11.el ! Energi total dalam suatu bintang dapat kita nyatakan dalam fungsi berikut. dan suku keempat menyatakan total energi radiasi. 2 2 J ¨ 3T 2 N e 3 © Ne 5 2me © V ª 2 JN e 2me ¨ 9T 2 N e © © 4TR 3 ª Katai putih hampir tidak lagi mengandung hidrogen sehingga sebagian besar terdiri dari helium dan unsur berat. maka: 2 4 2 R ! 2v 4 2 3 3 T 3 JN 3 R! 2 3 Gme mn 2   3 5   F (11.7) ¸ 3 GN 2 mn 2 ¹ ! ¹ R º 2 33 T 3 2 2 7 3 2 JN e 3 5 2 N 2 Gm e m n  1 (11. semuanya memberikan tekanan ke arah luar. Kita ambil perkiraan dengan atom netral 1 4 N e } N (contoh: 2 He memiliki 2 elektron dan 4 nukleon). suku ketiga energi termal. Dari persamaan 11.6 didapatkan dE/dR = 2. Dengan mengabaikan suku ketiga dan keempat (nilainya lebih kecil dibanding energi elektron dan potensial gravitasi) didapatkan jejari yang mantap untuk bintang katai putih ketika dE/dR = 0.6) ¸ 3 3 GM 2 ¹ ! ¹ 5 R º (11. 2 2 J ¨ 3T 2 N e 3 © ! Ne 5 2me © V ª Etot Suku pertama menyatakan energi elektron. kemudian. suku kedua menyatakan energi potensial gravitasi.8) .

Mengingat massa nukleon 1.10 57 butir . namun massanya menyerupai massa Matahari. maka terdapat sekitar N ! 1. Oleh sebab itu. Jika massa sisa bintang lebih besar daripada batas nilai tertentu.44 M. Apabila massa bintang lebih besar dari 1.2. Untuk campuran gas unsur berat yang terionisasi sempurna harga e = 2.1030 kg .44 kali massa Matahari maka keruntuhan gravitasi menjadi semakin besar dan energi degenerasi tak mampu lagi menahan keruntuhan bintang. makin kecil radiusnya setelah menjadi katai putih. sehingga bintang neutron dapat dipandang sebagai nukleon raksasa yang terdiri atas neutron. Dengan begitu terbentuklah gas yang kaya akan neutron yang hanya ada sedikit campuran proton. bintang ini disebut bintang neutron. Berdasarkan persamaan 11.9) Dengan e adalah berat molekul rata-rata per elektron.10 6 meter. maka ukuran bintang menjadi semakin kecil lagi. Pada keadaan sangat mampat ini neutron terdegenerasi yang memberikan tekanan balik untuk melawan pengerutan. Kerapatan bintang neutron setara dengan kerapatan inti atom. maka energi elektron tidak akan sanggup melawan pengerutan gravitasinya lagi sehingga bintang tidak akan stabil. . sehingga makin kompak. katai putih akan berubah menjadi katai merah. yaitu: M C ! 5. dan akhirnya akan berhenti bersinar menjadi katai hitam. sehingga kita dapatkan massa maksimum katai putih: M C ! 1. Batas massa ini ditemukan oleh Subrahmanyan Chandrasekhar.8 kita dapatkan R ! 9.Sebagai contoh tinjau suatu bintang dengan massa sekitar massa matahari M ! 2.66.10 27 kg. Akibat terus menerus memancarkan energinya. Akhirnya banyak elektron ( 0 e ) yang menembus inti 1 1 dan menyatu dengan proton ( 1 p ) membentuk neutron ( 01 n ).756Q e M. 4) Bintang neutron dan Pulsar Lubang hitam dan bintang neutron sering disebut bintang kompak (compact) karena kepadatannya yang luar biasa akibat keruntuhannya. Tekanan ini akan setimbang (mantap) jika jari-jarinya sekitar 10 kilometer saja. 2 (11.10) Makin besar massa bintang awal. (11. elektron dan inti berat. Pusat bintang yang runtuh mengalami pemampatan sehingga elektron di pusat bintang akan terimpitkan hingga makin dekat ke inti.

seperti halnya elektron. maka N ! N n . Bintang akan menjadi semakin mampat. 5) Lubang hitam Lubang hitam terjadi apabila suatu bintang neutron yang bermassa lebih besar daripada 3 M maka tekanan degenerasi elektron dan neutron tak akan mampu menghentikan keruntuhan gravitasi bintang.11) Karena hampir seluruh bintang terdiri atas neutron. Ingat bahwa p } n } 1 sma .13 Anda dapat mengetahui bahwa Bumi dapat berubah menjadi lubang hitam seandainya ada yang bisa memadatkannya sampai sebesar kelereng. Dari persamaan 11. Dengan begitu kelengkungan ruang-waktu di sekitar bintang pun makin besar sehingga cahaya pun tak dapat lolos. medan gravitasi di permukaannya semakin kuat. Dengan menggunakan persamaan energi Fermi didapatkan: 3 3 GM 2 J ¨ 3T N ¸ ¹ ! © Nn 5 2m n © V ¹ 5 R º ª 2 2 2 3 (11.Pada bintang neutron. 2 3 3 T 3 JN R! Adapun pulsar adalah bintang neutron yang berputar sangat cepat akibat ukurannya yang kecil dan memancarkan gelombang radio kuat akibat intensitas medan magnetik bintang yang sangat kuat dan menjerat pertikel bermuatan yang dipancarkannya.13) Jari-jari ini dinamakan jejari Schwarzchild. neutron yang semakin memampat akibat tekanan gravitasi akan mengalami degenerasi neutron. Perhatikan bahwa kecepatan lepas pada lubang hitam lebih besar atau sama dengan laju cahaya. dan lingkarannya disebut horizon peristiwa atau event horizon. sehingga cahaya pun tidak dapat lepas setelah memasuki event horizon. ¡ ¡ 4 2  1 3 2 4 3 Gm n 3 (11. Radius maksimal bintang agar dapat menjadi lubang hitam adalah: Rs ! 2GM c2 (11.12) .

11. . Rotasi bintang menyebabkan pergeseran Doppler pada spektrum.2. Ilustrasi suatu blackhole titik yang melengkungkan ruang. Cahaya yang mendekatinya akan dibelokkan. dan jika cahaya itu melewati horizon peristiwa (lingkaran putus-putus).3. garis spektrumnya menunjukkan pelebaran Doppler.Gambar 11. Perhatikan gambar berikut: Gambar 11. ROTASI BINTANG Kalau bintang berotasi. cahaya itu akan ditarik sehingga tidak dapat lolos.2.

Jika kita menggunakan salah satu spektrum (misal di sebelah kanan) dan menghitung pergeseran panjang gelombangnya. P0 Kecepatan linier bintang dapat dicari dengan hubungan v! vr ! D t dan K T ! .14) = kecepatan rotasi .108 m/s periode rotasi bintang ini dapat dihitung dari persamaan P! 2T R v (11.15) dengan R adalah jari-jari bintang ¢ v! (11. maka kecepatan radialnya adalah (P vr ! c. Jadi kecepatan rotasi di ekuator bintang tersebut dinyatakan oleh 2t 2t T (P c 2 P0 dimana v (P = pelebaran Doppler P0 = panjang gelombang garis spektrum laboratorium (garis pembanding) c = kecepatan cahaya 3.

dapat dinyatakan dengan FRP ! L5 TR 2 4Tr 2 c (11. FG. Gaya dari tekanan radiasi ini. FRP. Besarnya fluks yang diterima oleh suatu partikel bergantung dari luminositas Matahari L5 ! 3.3. Radiasi ini memberikan tekanan pada benda-benda angkasa maupun satelit di Bumi.8 v 10 26 W dan diberikan dengan persamaan L5 (TR 2 ) 4Tr 2 Foton-foton yang dipancarkan membawa momentum dan memberikan gaya searah dengan arah radiasi. TEKANAN RADIASI (SOLAR WIND) Matahari merupakan sebuah bintang yang memancarkan radiasinya ke segala arah dengan kecepatan cahaya. FG = FRP ¸ ¨4 GM 5 © TR 3 ¹ V 2 º ! L5 TR ª3 4Tr 2 c r2 Maka gaya gravitasi Matahari dan gaya dari tekanan radiasi akan setimbang jika radius linear partikel.16) Karena gaya gravitasi yang didapatkan partikel akibat pengaruh Matahari. R sebesar R! L5 3 GM 5 c 16TV (11. jika rapat massa partikel adalah V yaitu ¸ ¨4 GM 5 © TR 3 ¹ V º ª3 FG ! 2 r Pada keadaan setimbang.11. meskipun pengaruhnya terhadap benda besar seperti planet dapat diabaikan.17) .

sehingga terjadi peristiwa pergeseran panjang gelombang. sebagian besar karena mengitari pusat galaksi. Walaupun begitu. KECEPATAN RADIAL Kecepatan radial. seperti telah dijelaskan sebelumnya. . c  vr (P 1 (11. namun pada tahun berikutnya posisinya berubah. Kecepatan ini biasanya cukup besar. Misalkan pada suatu tahun.11. GERAK SEJATI BINTANG Bila diamati. bintang benar-benar bergerak. bintang tersebut berada pada E . 2. adalah kecepatan bintang menjauhi atau mendekati pengamat. baik itu tiap jam maupun tiap hari akibat pergerakan Bumi relatif terhadap bintang (rotasi dan revolusi Bumi).4. bintang selalu bergerak di langit malam. Gerak semacam inilah yang disebut geral sejati bintang. yaitu: 1. Kecepatan radial : kecepatan bintang menjauhi atau mendekati pengamat (sejajar garis pandang). Kecepatan radial bintang dapat diukur dengan metode Efek Doppler. H sekian. Perubahan koordinat dalam tiap tahun ini disebut proper motion ( ) yang merupakan kecepatan sudut bintang (perubahan sudut per perubahan waktu). Sedangkan kecepatan total adalah kecepatan gerak sejati bintang yang sebenarnya (semua komponen).19) KECEPATAN TANGENSIAL Kecepatan tangensial adalah kecepatan gerak bintang pada bola langit.18) ! P0 c  vr atau dengan pendekatan untuk vr<<c dapat diperoleh (P vr ! c P0 (11. namun pergerakannya itu sangat kecil sehingga hanya dapat dilihat dalam pengamatan berabad-abad. Kecepatan tangensial : kecepatan bintang bergerak di bola langit (pada bidang pandang). Gerak sejati bintang dibedakan menjadi dua berdasarkan arah geraknya.

Kecepatan linier inilah yang dikatakan kecepatan tangensial. yaitu sebesar Q (detik busur) setiap tahunnya.21) maka: v! Q 2T v parsek / tahun 1 296 000 p Q 2T 3. Perhatikan gambar: d (parsek) dan (" ) 1 d! p Keliling = 360 r = 1 296 000" 2T Keliling = 2T d = p x ± x¶ = s ! v ![vd Q (" ) v Keliling 1 296 000 (11. yang dapat dicari dengan menggunakan rumus keliling lingkaran. Misal perubahan posisi bintang dari x ke x¶.20) (11.086 v 1013 km v! v v 1 296 000 p .Kecepatan liniernya dinyatakan dalam satuan kilometer per detik.

365. 25 v 24 v 60 v 60 s 4.74Q v! km/s p .

(11.22) Komponen proper motion .

Gerak diri ini sendiri dibedakan menjadi dua berdasarkan arahnya yaitu komponen asensiorekta (Q E ) dan komponen deklinasi (Q H ) .74 Q vt ! p dengan dalam detik busur per tahun dan p adalah paralaks (dalam detik busur).23) Q E cos H ! Q sin U Q Q! H cos U QE ! tan U QH (11.24) (11. KECEPATAN TOTAL v vr vt P .26) Sedangkan rumus kecepatan tangensial yang didapatkan dari penurunan tadi adalah: 4.P (pengamat) Kecepatan tangensial dihitung dari gerak diri bintang (proper motion) yang diberi symbol Q (harap bedakan dengan Q ! G ( M  m ) dalam mekanika). Rumus yang digunakan untuk mencari komponen-komponen tersebut adalah: Q H ! Q cos U (11. yang merupakan kecepatan sudut bintang .25) (11.

x vr b D P Gambar 11.28) (11.x .v 2 ! vt  v r v r ! v cos F 2 2 vt ! v sin F Komponen gerak bintang Y B (11.1 Komponen gerak bintang pada langit C H G D E F C .27) (11.29) A Z v vt X .

214.348 dan paralaksnya 0´.10  5 cm P0 ! 6563 Å vt ! vt ! 4.B(bintang) A P Gambar 11.71 km s 1 (P ! P  P0 P0 ! 6565  6563 ! 2 Å .74 Q p 4.74 ( 0" .348) (0" . Penyeleaian: 1 1 ¸ ¨ 1 !R© 2  2¹ P0 n º ªm 1 1 ¸ ¨ 1 ! 109678© 2  2 ¹ P0 3 º ª2 P0 ! 6.563. Jika spektrum H deret Balmer bintang tersebut teramati pada panjang gelombang 6565 Å. Diketahui proper motion sebuah bintang 0´. Tentukanlah kecepatan total bintang itu.214 ) vt ! 7.74 p proper motion komponen asensiorekta proper motion komponen deklinasi komponen total proper motion sudut antara dan sudut antara v dan vt kecepatan radial bintang kecepatan tangensial bintang kecepatan total bintang CONTOH: 1.2 Diagram balok gerak bintang b P sumbu X sumbu Y sumbu Z ABCD x : : : : : : : : : : : : vr (BC) vt (BE) v (BH) : : : bintang pengamat garis tegak lurus garis pandang sejajar asensiorekta garis tegak lurus garis pandang sejajar deklinasi (X tegak lurus Y) garis pandang pengamat bidang pandang 4.

4 2  7. Diketahui: = 0s.152 Tentukanlah proper motion totalnya! Penyelesaian: = 0s.5.152 tan U ! = 1.10 8 ! 9.036 = -0´.10-4° = 4.10-5° .4 km s-1 v 2 ! vt  v r 2 2 v ! 91.72 km s-1 2.036 = -0´.712 v ! 91.10 4 ms 1 6563 vr = 91.14.vr ! vr ! (P vc P0 2 v 3.2.

2.10  4 ! 0" .10  5 QH U ! 74.5.2. 1 h ! 15r ! 3 600 s Q E 1.56 3. kecepatan tangensial dan jaraknya dari Bumi jika proper motion bintang tersebut 0´.369 km s-1 vt ! v sin F vt ! 23 v sin 37r = 23 km s-1 = 37° .358r Q ! 1r.10 4 ! ! 3.558. Kecepatan total suatu bintang adalah 23 km s-1 dan arah kecepatan totalnya membentuk sudut 37° dari garis pandamg. Tentukanlah kecepatan radial.358 r Q! QH 4.75 .57r 4. Penyelesaian: Diketahui v v r ! v cos F v r ! 23 v cos 37r ! 18.10 5 ! cosU cos 74.

342 pc d! JARAK TERDEKAT BINTANG Telah kita ketahui bahwa bintang bergerak di langit. Perhatikan bahwa jarak s (XX¶) = vt . Bintang bergerak di angkasa dengan vektor kecepatan v (arah sudut dari garis pandang). Tentunya pergerakan ini membuat perubahan jarak antara bintang dengan Bumi.3 Jarak terdekat bintang yang bergerak. dapat kita cari kapan suatu bintang bintang mencapai jarak terdekatnya drngan Bumi.74 Q d 13. 1) Jarak terdekat (d¶) Jarak terdekat dapat dicari dengan rumus trigonometri sederhana. Titik terdekat bintang berada di X¶.35 d ! 8. X v vr vt X¶ d XX¶ = s v = kecepatan total t = waktu dari X ke X¶ d¶ P Gambar 11. Dengan perumusan di atas. Titik terdekat (X¶) . yaitu saat sudut PX¶X sebesar 90° (mengapa?).74 v 0" .84 4.-1 ! 13.84 km s vt ! 4.

Paralaks saat jarak terdekat (p¶) 1 p' ! d' (11.d' ! sin F . Perbandingan energi radiasinya adalah: L L : E : E'! 2 4Td 4Td ' 2 (11.30) 1.31) t! v tan F d cos F t! v dengan t dimasa datang untuk pergeseran biru dan dimasa lalu untuk pergeseran merah. 2. d ' ! d sin F d d' ! tan F sedangkan s d' ! tan F vt d ' ! vt tan F s ! vt (11.33) 1 1 ! 2 : 2 d d' Perbandingan magnitudonya adalah : .32) 3. maka luminositasnya juga sama. Perbandingan magnitudo saat jarak terdekat (m-m¶) Karena bintangnya sama. Waktu untuk jarak terdekat (t) d'! d' d sin F ! vt tan F d sin F (11.

E E' 1/ d 2 m  m' ! 2.5 log 1/ d '2 m  m' ! 2.5 log .

.

(11.5 © 2 log ¹ dº ª d sin F m  m' ! 5 log d m  m' ! 5 log.34) d '2 d2 d' ¸ ¨ m  m' ! 2.

y Bintang ganda gerhana. maka bintang itu akan saling mengitari.sin F m  m' ! 2. jika massa bintang satu jauh lebih besar dari bintang pasangannya. maka bintang pasangannya akan berevolusi mengitari bintang besar itu. Adapun penggolongan bintang ganda berdasarkan bintang penyusunnya antara lain sebagai berikut: . yaitu bintang ganda yang terlihat terpisah oleh mata bugil atau teleskop lemah karena radius orbit gabungannya cukup besar. y Spektroskopi bergaris ganda. Bintang ganda ini saling berinteraksi. y Spektroskopi bergaris tunggal. Bintang primer maupun sekunder sama-sama mengorbit pusat massa gabungannya. yaitu bintang ganda yang salah satu pasangannya terlampau lemah untuk dilihat. Ada juga bintang yang berpasangan. dan sudut inklinasinya terus berubah secara teratur. BINTANG GANDA Tidak semua bintang merupakan bintang tunggal yang berdiri sendiri atau hanya dengan planet-planetnya. jika hanya salah satu bintang yang terlihat spektrumnya. sehingga tak dapat dipisahkan oleh teleskop kuat sekalipun. bintang yang lebih massif disebut bintang primer dan bintang yang kurang massif disebut bintang sekunder. bintang bertiga. Namun jika massa kedua bintang hampir sama. sehingga dapat saling menutupi satu sama lain (terokultasi). Pada materi ini hanya akan dijabarkan tentang bintang ganda. yaitu bintang ganda. bintang berempat dan seterusnya.5. jika kedua bintang terlihat spektrumnya. 2. Penggolongan umum: 1. Bintang ganda visual.5 log 11. jika jaraknya begitu dekat dan inklinasinya sekitar 90°. 3. Biasanya. yaitu bintang ganda dengan jarak yang sangat berdekatan. Bintang ganda spektroskopi. Bintang ganda astrometri.

Cataclismyc Variable. High Massive X-Ray Binary. yaitu pasangan bintang deret utama dan katai putih. = kedudukan garis node [ = bujur periastron (perifocus latitude) E = sudut sumbu semi mayor garis node = perpotongan antara bidang orbit bintang dan bidang langit pengamat Utara orbit(Uo) Utara langit(Ul) X bidang langit bidang orbit pe garis node f i U l f B Pf U o f B Xf ap P . 3. Pada bintang ini terjadi transport materi dari bintang raksasa ke bintang kompaknya dan menghasilkan radiasi sinar-X yang besar. Algol Binary Star.1. 2. Bintang primer adalah bintang yang berusia lanjut. Unsur-unsur suatu orbit: a = sumbu semi mayor e atau I = eksentrisitas orbit P = periode orbit = inklinasi orbit i . yaitu pasangan bintang raksasa dan bintang kompak (bintang neutron atau blackhole). yaitu system bintang ganda yang terdiri dari bintang raksasa dan bintang katai.

X i Untuk memudahkan Anda. P orbit (tampak samping) 1) Hubungan antara massa bintang dan sumbu semi-mayornya Makin massif suatu bintang. semakin kecil radius orbitnya.4 Diagram orbit bintang ganda.Gambar 11.35) 2) Sudut sumbu semi mayor (E ) Adalah radius sudut orbit suatu sistem bintang ganda jika dilihat dari Bumi. komponen bidang orbit diberi warna biru-hijau dan komponen bidang langit diberi warna merah. P d a a ! tan U d a ! d tan U atau untuk dalam radian a d . E!ap E! . M 1 a1 ! M 2 a 2 M 1 a2 ! M 2 a1 (11. untuk d (pc) dan p (³). f Gambar 11.5 Orientasi orbit.

massa dapat dicari dengan ¨E ¸ © ¹ ! .3) Massa total bintang ganda Dengan rumus Hukum Keppler III a3 ! M1  M 2 P2 Jika diketahui sudut sumbu semi mayor ( ).

36) .M 1  M 2 P 2 © p¹ ª º M tot ! 3 (11.

39) 5) Hubungan kecepatan orbit dan sumbu semi-mayor Pada sistem bintang ganda.1 L3 M3 Dan magnitude bolometriknya adalah M  4. PP ! PS .1 log M3 (11. Ini menyebabkan vektor penghubung antara kedua bintang selalu melewati pusat massa gabungannya. perhatikan gambar 11.6 berikut: .1 log  0. periode kedua bintang relatif terhadap pusat massa gabungannya adalah sama.38) (11.E / p P2 (11.37) 3 Dengan: Mtot dalam satuan M (massa Matahari) dalam satuan detik busur p (paralaks) dalam satuan detik busur P (periode) dalam satuan tahun 4) Hubungan luminositas dan massa Hubungan luminositas dan massa dapat dinyatakan sebagai berikut L M log ! 4.9 M bol ! 10. Untuk lebih jelas.

44) . bahwa bintang primer dengan sumbu semimayor yang lebih pendek daripada sumbu semi-mayor bintang sekunder ternyata memiliki periode yang sama dengan bintang sekundernya. Gambar 11. Dengan menggunakan Hukum Keppler III. vP 2 aP Q ! (a P  a S ) 3 2 (11.27 dan 11. Untuk bintang primer berlaku: PP ! 2 T aP vP (11. yaitu 4T 2 a 3 !Q .41) Dengan menggunakan persamaan 11.28 didapatkan.43) Sehingga didapatkan perbandingan vP aP ! vS aS Perbandingan periode bintang primer dan sekunder adalah (11.42) Dengan cara yang sama didapatkan vS 2 aS Q ! (a P  a S ) 3 2 (11.40) dengan a adalah sumbu semi-mayor gabungan.5 Orientasi orbit. a ! a P  a S dan Q ! G(mP  mS ) . P2 (11.Sekilas memang tampak aneh.

63 E1 E2 0. saat bintang primer menutupi total bintang sekunder c.34 . didapatkan PP ! PS .7 ! 2.8  7. Jika jari-jari bintang 2 delapan kali jari-jari bintang 1.52 E 2 E2 dan Etotal = 1 + 0.45) Dengan menggunakan persamaan 11.1.8  2.PP : PS ! 2T a P 2T a S : vP vS (11.44 dan 11.1 m1 = 7.52 = 1.7 ! E 2  2.52 E2 E 7.5 log 1 E2 0.52 ! 7.8  mtot ! 2. Perbandingan energinya adalah : E m1  m 2 ! 2.8 r2 = 8 r1 Bintang 2 merupakan bintang primer karena lebih terang daripada bintang pasangannya. magnitudo saat bintang tidak saling menutupi berarti energi totalnya sama dengan jumlah energi kedua bintang.5 log 1 jadi E1 ! 0.5 log mtot mtot ! 6.1 ! 2.45. saat bintang sekunder menutupi bintang primer (seluruh permukaannya di depan bintang primer) Penyelesaian: Diketahui : m2 = 7.5 log 7.52 1.52 E2 a. m1  mtot ! 2.8 dan magnitudo semu bintang 2 adalah 7. Diketahui sistem bintang ganda dengan inklinasi orbit 90° dengan magnitudo semu bintang 1 adalah 7.5 log log E1 E2 E1 0.5 log 0. tentukanlah magnitudo total bintang ganda tersebut pada: a. saat kedua bintang tidak saling menutupi b. CONTOH: 1.5 E1 ! 0.

984 Energi totalnya adalah: L2 v E 2  L1 v E1 .016 kali luas bintang primer. r2 = 8 r1 . mtot ! 7. dengan demikian magnitudo totalnya sama dengan magnitudo bintang primer. magnitudo saat bintang sekunder menutupi bintang primer (seluruh permukaannya di depan bintang primer) berarti energi totalnya adalah energi bintang sekunder ditambah energi bintang primer yang tidak tertutupi bintang sekunder. berarti luas (L) bintang sekunder = 64 Luas bintang primer (bintang 2) yang tidak tertutupi = 1  0. magnitudo total saat bintang primer menutupi total bintang sekunder jelas bahwa bintang sekunder tak akan nampak (bintang primer lebih besar daripada bintang sekunder).1 c. Luas permukaan bintang primer yang tidak tertutupi adalah: 1 ! 0.b.016 ! 0.

984 v 1  .0.

b) jarak terdekat bintang tersebut dari Bumi c) perbandingan magnitudo pada saat jarak terdekat. Hitunglah : a) waktu yang diperlukan bintang untuk berada pada jarak terdekat.8  2. jika magnitudonya saat ini = 1.1013 km v = 74 km/s = 30° . Sudut antara vektor kecepatan tangensial dan kecepatan radialnya ( ) = 30°.5 log 7.984 ! 7.984 magnitudonya totalnya adalah m1  mtot ! 2.8  mtot ! 2.0.113 2.52 0. Penyelesaian: Diketahui d = 3 pc = 9.5 log 0.531 mtot ! 7.016 v 0.258.52 Etot ! 0.5 log mtot E1 E tot 0. Diketahui sebuah bintang dekat yang berjarak 3 pc mengalami pergeseran biru pada spektrumnya memiliki kecepatan gerak sejati total sebesar 74 km/s.

d cos F cos 30 9.083.10 s ! 34 333 tahun .1013 ! a) t ! v 74 12 t ! 1.258.

1012 s )(tan 30) c) m  m ' ! 5 log .083. b) d ' ! vt tan F ! (74 km s 1 )(1.

sin F 1  m ' ! 5 log .

92 tahun.74 . tentukanlah massa masing-masing bintang tersebut dan magnitudo mutlak bolometrik gabungannya! Penyelesaian: Diketahui P = 79.627.5 pc 3.22. Diketahui Bintang ganda Centaury memiliki periode orbit 79.66 dan paralaksnya 0" .66 p = 0" .505 m' ! 0.505 d '! 4.74 M tot ! .1013 km ! 1. Sudut sumbu semi-mayor gabungannya 17" .92 tahun = 17" . Jika perbandingan sumbu semi mayor antara Centaury A dan Centaury B = 1.sin 30 1  m' ! 1.

74 ¹ ª º ! 2 .E / p P 2 3 ¨17" .66 ¸ © 0" .

218 ! 1.22 M1 ! v 2.1 log.1 log M bol M  4.219 M 1  1.22 1 M2 ! v 2.92 3 M tot ! 2.79.9 M3 ! 10.218 M     M 1 a2 ! M 2 a1 1.218 ! 1 M 1  1.22 M bol ! 10.

9 M bol ! 1.218  4.406 .2.

cair atau gas yang panas dan bertekanan tinggi akan menghasilkan spektrum kontinu. dan jika cahayanya dilewatkan pada gas yang bertekanan rendah akan menghasilkan spektrum adsorbsi. Beberapa garis Fraunhofer beserta elemen yang diindikasinnya dapat dilihat pada tabel. Pada bintang seperti Matahari. 11. sesuai dengan nama penemunya. Garis-garis serapan akibat atmosfer Matahari ini (meskipun ada juga akibat adsorbsi atmosfer Bumi) dinamakan garis Fraunhover.6. Garis Fraunhover A B C D1 D2 E F G H K Tabel 11. lapisan atmosfer yang lebih renggang (bertekanan rendah) akan membentuk garis-garis serapan pada spektrum pancaran Matahari. . jika suatu zat padat.7 (Å) 7594 6867 6563 5896 5890 5270 4861 4340 3968 3933 unsur Oksigen dari atmosfer Bumi Oksigen dari atmosfer Bumi Hidrogen (H ) Natrium Natrium Besi Hidrogen (H ) Hidrogen (H ) Kalsium Kalsium Garis-garis Franhoufer kuat.Gambar 11. Garis serapan ini berguna unutk menentukan komposisi atmosfer Matahari. SPEKTRUM ADSORBSI PADA BINTANG Berdasarkan hukum Kirchoff.7 Pembentukan garis serapan pada spektrum bintang yang beratmosfer (b).

11. 2) Sinar-X dengan frekuensi  H . Spektrum sinar tampak ini adalah sinar yang dapat dilihat oleh mata ± manusia. atau sekitar Å 4) Sinar tampak (visual) dengan frekuensi v Å. seperti gelombang radar dan  gelombang televisi. KLASIFIKASI BINTANG SPEKTRUM GELOMBANG ELEKTROMAGNET Spektrum gelombang elektromagnet.  6) Gelombang mikro dengan frekuensi . 3) Sinar ultraviolet dengan frekuensi . hijau. atau biasa disebut spektrum cahaya umumnya dapat dibagi sebagai berikut: 1) Sinar gamma. kuning. 7) Gelombang radio dengan frekuensi  Untuk lebih jelas.  v . jingga.6 Spekrum gelombang elektromagnetik. dengan frekuensi  H . biru. perhatikan gambar berikut: Gambar 11. dan terbagi menjadi spektrum merah. ) Sinar inframerah dengan frekuensi . nila dan ungu.7.      "  ¤£ !  #  ¨§ ¦¥ © .

Garis hidrogen lebih jelas daripada kelas O. Contoh : Bintang 10 Lacerta dan Alnitak 2. B1. Garis magnesium. Kelas Spektrum A Warna : putih kebiruan Temperatur : 7 500 ± 11 000 K Ciri utama : Garis hidrogen tampak sangat kuat. Tiap kelas dapat pula dibagi menjadi subkelas 0 sampai 9... misalnya B0...KELAS SPEKTRUM BINTANG Klasifikasi bintang berdasarkan kelas spektrumnya didasarkan pada temperatur bintang. tapi lemah. 1. B2. begitu pula makin dingin suatu bintang akan makin merah warnanya (ingat Hukum Wien). Garis logam netral tampak lemah. Garis nitrogen terionisasi dua kali. sehingga terjadi perbedaan spektrum yang dipancarkan. F. Perbedaan temperatur menyebabkan perbedaan tingkat energi pada atom-atom dalam bintang yang menyebabkan perbedaan tingkat ionisasi. tapi lemah. K dan M. Adapun warna bintang akan makin biru bila suhu makin panas akibat panjang gelombang maksimum yang dipancarkan berada pada panjang gelombang pendek (biru). Kelas Spektrum O Warna : biru Temperatur : > 30 000 K Ciri utama : Garis adsorbsi yang tampak sangat sedikit.. Garis hidrogen juga tampak. Garis helium terionisasi.. Contoh : Sirius dan Vega . garis silikon terionisasi tiga kali dan garis atom lain yang terionisasi beberapa kali tampak. silikon. B. dan kalsium terionisasi satu kali mulai tampak. Contoh : Rigel dan Spica 3. besi. garis silikon terionisasi satu kali dan dua kali serta garis oksigen terionisasi terlihat. B9. Kelas Spektrum B Warna : biru Temperatur : 11 000 ± 30 000 K Ciri utama : Garis helium netral. G. A. Kelas spektrum itu dibagi menjadi kelas O.

Contoh : Canopus dan Procyon 5. garis logam netral juga tampak dengan jelas. Garis hidrogen lemah sekali. besi dan kromium terionisasi satu kali dan juga garis besi dan kromium netral serta garis-garis logam lainnya mulai terlihat. Kelas Spektrum K Warna : jingga Temperatur : 3 500 ± 5 000 K Ciri utama : Garis logam netral tampak mendominasi. Kelas Spektrum G Warna : putih kekuningan Temperatur : 5 000 ± 6 000 K Ciri utama : Garis hidrogen lebih lemah daripada kelas F. Contoh : Matahari dan Capella 6. Pita molekul CH (G-Band) tampak sangat kuat. Garis-garis kalsium. Kelas Spektrum F Warna : putih Temperatur : 6 000 ± 7 500 K Ciri utama : Garis hidrogen tampak lebih lemah daripada kelas A. Garis kalsium terionisasi terlihat. Kelas Spektrum M Warna : merah Temperatur : 2 500 ± 3 000 K Ciri utama : Pita molekul TiO terlihat sangat mendominasi. Contoh : Betelgeuse dan Antares . tapi masih jelas. Contoh : Arcturus dan Aldebaran 7.4. Garis-garis logam terionisasi dan logam netral tampak. Pita molekul Titanium Oksida (TiO) mulai tampak.

Bintang ini adalah bintang deret utama yang kelas spektrumnya G2. Makin besar luminositas suatu bintang (magnitido absolutnya kecil) makin di atas letaknya dan makin kecil luminositas bintang (M-nya besar) makin di bawah letaknya dalam diagram. Pada tahun 1913 Adams dan Kohlschutter di Observatorium Mount Wilson menunjukkan ketebalan beberapa garis spektrum dapat digunakan untuk menunjukkan luminositas bintang. Keenan dan beberapa rekannya di Observatorium Yerkes membagi bintang dalam kelas luminositas yaitu: kelas Ia : maharaksasa yang sangat terang kelas Ib : maharaksasa yang kurang terang kelas II : raksasa yang terang kelas III : raksasa kelas IV : subraksasa kelas V : deret utama Penggolongan ini disebut penggolongan Morgan-Keenan atau penggolongan MK. Betelgeuse dengan kelas M2 I. Bintang yang kelas spektrumnya sama dapat mempunyai kelas luminositas yang berbeda. dan Arcturus kelasnya K1 III. Harap dibedakan antara bintang katai dan bintang katai putih. Contoh kelas spektrum dan kelas luminositas suatu bintang misalkan bintang kelas G2 V. Contoh lain misalnya Deneb dengan kelas A2 Ia. Makin panas suatu bintang. Selain kelas di atas ada bintang subkatai (subdwarf) ditulis ¶Sd¶.KELAS LUMINOSITAS Kelas luminositas adalah penggolongan bintang berdasarkan luminositas atau dayanya. makin ke kiri letaknya. yaitu bintang yang terletak sedikit di bawah deret utama dalam diagram HR. Ada garis kuat pada bintang raksasa dan garis lemah pada bintang katai. dan makin dingin suatu bintang makin ke kanan letaknya. Bintang katai putih ditulis sebagai kelas ¶D¶ (white dwarf). DIAGRAM HERTZSPRUNG ± RUSSEL (DIAGRAM HR) Diagram HR merupakan diagram yang menggambarkan kelas bintang dimana kelas spektrum (temperatur efektif) pada absis dan kelas luminositas (energi) pada ordinatnya. Bintang deret utama seringkali juga disebut bintang katai. Berdasarkan kenyataan ini pada tahun 1943 Morgan. Matahari adalah bintang kelas G2 V. sehingga temperatur efektifnya kecil sesuai dengan hubungan . Adapun bintang yang luminositasnya besar namun karena jejarinya besar.

Hubungan ini dapat dilihat sebagai fungsi garis y = x terhadap radius bintang. begitu juga makin ke kiri-bawah makin kecil jari-jarinya. Diagram HR Tef ! 4 T (K) 30 000 L(L) 10 6 10 000 7 500 6000 5 000 3 500 103 Ia 2500 -10 Ia 105 Ib 104 -5 II 103 102 102 0 III 10 Mfot IV 10 1 10-1 10-1 10-2 1 +5 V 10-2 +10 +10 D . Itu sebabnya bintang katai putih dengan luminositas yang kecil namun karena jejarinya juga sangat kecil.L eW 4T R 2 Akibatnya bintang dengan luminositas sama namun memiliki radius yang berbeda akan memiliki temperatur efektif yang berbeda. Makin ke kanan-atas makin besar jari-jarinya. sehingga suhu bintang katai putih cukup tinggi untuk berpendar putih ( 6 200 K).

L. . dan Teff. L dan Teff masing-masing dinyatakan dalam R.47) dengan R. Magnitudo mutlak bintang dapat dicari dengan menggunakan standar magnitudo Matahari: M ! 4.10-3 10-4 +15 R(R) O B A F G K M Gambar 11.48) Dengan L dalam satuan L.74  2.46) hubungan radius dalam diagram HR dapat dicari dengan persamaan: r! L T2 (11. (11. Mengingat persamaan luminositas R2 ! L e W 4 T Teff 4 .5 log L (11.7 Diagram Hertzprung ± Russel.

sedangkan di titik b mencapai harga terbesar positif (bintang menjauh) serta di titik d kecepatan radial mencapai harga terbesar negatif (bintang mendekat). KURVA CAHAYA KURVA KECEPATAN RADIAL Telah kita ketahui kecepatan radial bintang (komponen kecepatan searah dengan garis pandang) dapat ditentukan dari pergeseran Doppler-nya. Di titik a dan c kecepatan radial nol. . Bentuk kurva kecepatan radial tergantung pada eksentrisitas orbit e dan bujur periastron [ . kurva kecepatan radialnya berbentuk sinusoidal seperti pada gambar. Gambar di bawah ini menunjukkan bentuk kurva kecepatan radial untuk orbit dengan berbagai harga e dan [ . Kurva yang menunjukkan perubahan kecepatan radial terhadap waktu disebut kurva kecepatan radial. Akibat gerak mengorbitnya. Di sini digambarkan orbit salah satu komponen terhadap titik pusat massanya (G) dan kurva kecepatan radial komponen tersebut. Vr selalu berubah terhadap waktu (telah dibahas dalam Bab 4 pasal 3).8. Bila orbit bintang ganda berbentuk berupa lingkaran sempurna.11.

Untuk memudahkan dalam analisis kurva cahaya . dan d berlawanan jarum jam. $ . r dan r .8 Orbit dan kurva kecepatan radial komponen bintang ganda. Namun ada pula sumber lain yang menggunakan ketentuan yang berbeda. Perubahan kecemerlangan total ini adalah karena kedua bintang saling menutupi dalam proses revolusinya mengelilingi pusat massa. hanya akan dibahas kurva cahaya sederhana.Gambar 11. diharapkan pembaca memahami betul titik-titik mana yang dimaksud dalam penjelasan. pada sistem bintang ganda ini dianggap hanya bintang sekunderlah yang bergerak mengelilingi bintang primer (kecepatan dan jarak bintang sekunder adalah kecepatan dan jarak relatif bintang sekunder terhadap bintang primer). r. kenudian b. bukannya menghafalkan nama titiknya. KURVA CAHAYA Kurva cahaya adalah grafik yang menggambarkan perubahan kecemerlangan (magnitudo) suatu sistem bintang ganda. Selain itu buku ini mengambil ketentuan titik a merupakan titik sumbu terdekat orbit dengan pengamat. c. dan grafik dari kurva cahaya selalu dimulai dari titik a. Oleh karena itu. Didalam buku ini. yaitu untuk ! r.

mVprimer < mVsekunder (bintang primer lebih terang). mVprimer < mVsekunder . Namun perlu diingat juga bahwa bintang yang kecil tak dapat menutupi seluruh bagian bintang yang besar. 1. Jika bintang yang lebih terang tertutupi. lebih masif. sehingga pengurangan kecerlangan tidak terlalu besar. pengurangan magnitudonya lebih besar daripada jika bintang redup yang tertutupi. lebih terang dan lebih renggang daripada bintang pasangannya. radius bintang Rprimer = Rsekunder dan 0 e 1 .Pada umumnya bintang primer lebih besar. a) jika [ ! 270r . Beberapa contoh kurva cahaya dengan [ ! 90r atau 270r dengan i ! 90r . Rprimer > Rsekunder dan 0 e 1 . E m t a b c d a . b ke pengamat c a d E m t b) a b c d a jika [ ! 270r .

maka kelajuan relatif bintang sekunder terhadap bintang primer yang digunakan (dibahas pada Bab 9). Telah dijelaskan di atas.Untuk [ ! 90r atau 270r Ciri-cirinya adalah selang waktu dari A ke C (AC) = selang waktu dari C ke A (CA).c) jika [ ! 90r (lihat gambar orbit pada gambar kurva kecepatan radial di atas). bahwa biasanya untuk mempermudah perhitungan. Kecepatan gerhana (V) yang merupakan kecepatan radial ini didapat dari periode orbit (P) dan sumbu semi mayor gabungan (a) yang diperoleh dari pengamatan periode gerhana dan radius sudut dengan rumus 2 V ' ! vr 2  vr 1 dan v r ! vlinier orbit (11.49) T 1. bintang sekunder sajalah yang bergerak mengelilingi bintang primer. E m t a b c d a 2. Sehingga jika diketahui kelajuan masing-masing bintang. E m t a b c d a ANALISIS KURVA CAHAYA DAN LAJU ORBIT. e p 1 . Beberapa contoh kurva cahaya dengan [ ! 90r atau 270r dengan i ! 90r dan e ! 0 . . mVprimer < mVsekunder dan radius Rprimer > Rsekunder.

Untuk [ ! 0r atau 180 r Ciri-cirinya adalah selang waktu dari A ke C (AC) = selang waktu dari C ke A (CA).d a c a c ke pengamat di Bumi b b2 E c1 c2 d1 m t a b c d a y y y dari kurva cahaya di atas diperoleh analisis sumbu semi mayor V ' t ( C  A) a! 2 aphelium Ra ! V ' t ( C  B ) atau Ra ! V ' t ( D C ) perihelium eksentrisitas QQ e! qq R p ! V ' t ( B  A) atau R p ! V ' t ( A D ) 2. c d b d b a .

ke pengamat di Bumi b2 c1 E c2 d1 m t a b c d a y dari kurva cahaya di atas diperoleh analisis sumbu semi mayor V ' t( DB ) a! 2 aphelium y Ra ! V ' t ( B  A ) atau Ra ! V ' t ( C  B ) y perihelium R p ! V ' t ( D  C ) atau R p ! V ' t ( A D ) y eksentrisitas e! Qq Qq Untuk e mendekati nol dapat pula ditentukan diameter bintang primer dan diameter bintang sekunder. Perhatikan gambar berikut : .

tentukanlah kecepatan linier bintang tersebut.00/tahun. (OSN Astronomi 2008) .b2 c1 c2 d1 Pada gambar tampak bahwa diameter bintang sekunder (bintang yang kecil) sama dengan jarak dari c1 ke b2 dan diameter bintang primer sama dengan jarak dari d1 ke c1. maka : a) diameter bintang primer D primer ! V ' t ( c1 d1) (11. dapat kita tentukan diameter masing-masing bintang. mungkinkah Matahari menjadi sebuah lubang hitam? Jelaskan jawaban Anda! 2. Jika kecepatan radial bintang adalah 40 km/s. Sebuah bintang mempunyai paralaks 0´.51) SOAL LATIHAN 4 1. Karena radius bintang jauh lebih kecil daripada jarak antar bintang. Berapakah jari-jari maksimal Matahari agar dapat berubah menjadi lubang hitam? Menurut Anda. Dengan begitu.474 dan gerak diri (proper motion) bintang tersebut adalah 3´.50) b) diameter bintang sekunder Dsekunder ! V ' t (c1 b 2) (11.

sedangkan dari titik B sampai titik C yatu saat gerhana total. Jika perbandingan radius Bintang A dan Bintang B adalah 3:1. Buktikan bahwa nilai vq ! p ini sama dengan a 8. Diketahui spektrum sebuah bintang menunjukkan panjang gelombang H deret Balmernya 2500Å dan proper motion-nya 0" . 6. c) eksentrisitas orbit (e). lamanya adalah 2 jam. Dari spektrumnya diperoleh bahwa kecepatan % .23 MHz. tampak bahwa bintang kedua menggerhanai bintang pertama (dari titik A sampai D) dalam waktu 8 jam (saat kontak pertama sampai kontak terakhir). maka tentukanlah lintasan minimum yang mungkin dilalui kapal itu! (Untuk memudahkan. b) bintang primer menutupi bintang sekunder. Tentukanlah : a) panjang sumbu semi-mayornya (a). Jika sebuah kapal laut berangkat dari kota A ke kota B.2. dan orbitnya berupa lingkaran. Sebuah bintang ganda gerhana mempunyai periode 65 hari.3. a) Hitunglah kecepatan awan ini dan apakah awan ini bergerak menuju atau menjauhi kita.5 dan 5S. Dari kurva cahayanya seperti yang diperlihatkan pada gambar di bawah. b) aphelium dan periheliumnya.6 dan magnitudo semu Bintang B (sekunder) adalah 5. d) gambarlah sketsa lengkapnya pada kertas grafik dengan skala 1 AU: 5 cm. Jika arah gerak bintang 27° dari garis pandang.2. Parameter ini menunjukkan radius orbit planet pada orbit elips dengan v = 90°. y dalam AU. Pengamatan pada panjang gelombang radio pada suatu awan gas yang berputar disekeliling sebuah lubang hitam (black hole) yang berada di pusat galaksi X memperlihatkan bahwa radiasi yang berasal dari transisi hidrogen (frekuensi diamnya = 1420 MHz) terdeteksi pada frekuensi 1421.2 pc dari lubang hitam. c) seluruh permukaan bintang sekunder berada di depan bintang primer.45 dan 12U sedangkan kota B terletak pada 121B.5174 2  0. 7. tentukanlah magnitudo total sistem saat: a) kedua bintang tidak saling menutupi.74 . b) Jika awan gas ini berada 0. Parameter kerucut sebuah orbit dirumuskan dengan p ! a(1  e 2 ) . Diketahui bintang ganda dengan inklinasi orbit 90° dengan magnitudo semu Bintang A (primer) adalah 4. tentukanlah kecepatan gerak bintang tersebut! 4. Kota A terletak pada 19B. dengan x. Orbit sebuah planet yang beredar mengelilingi Matahari dapat dinyatakan dengan persamaan kuadrat y 2 ! 1. hitunglah massa lubang hitam (OSN Astronomi 2009) 5.99135x 2 . buatlah sketsanya terlebih dahulu) 9.

tentukanlah radius bintang 4a . radiusnya sama. Apabila orbitnya dianggap lingkaran dan inklinasinya i = 90o.radial bintang pertama adalah 25 km/s dan bintang kedua adalah 50 km/s. dan inklinasi orbit 90o. (untuk kecepatan radial. temperaturnya sama. Bila ditilik kurva cahaya (grafik magnitudo terhadap waktu) bintang ganda itu. berapakah perbedaan magnitudo antara keadaan paling terang dan keadaan paling redup? (OSP Astronomi 2008) . v r ! T dengan periode kedua bintang sama) 10. Ada sebuah bintang ganda gerhana yang kedua bintang anggotanya sama persis. pertama dan kedua dan juga massa kedua bintang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->