P. 1
ANALISIS RISIKO

ANALISIS RISIKO

|Views: 1,509|Likes:
Published by inti_novitasari

More info:

Published by: inti_novitasari on Jun 23, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/18/2013

pdf

text

original

Pengertian Risiko Risiko adalah hal yang tidak akan pernah dapat dihindari pada suatu kegiatan / aktivitas

yang idlakukan manusia, termasuk aktivitas proyek pembangunan dan proyek konstyruksi. Karena dalam setiap kegiatan, seperti kegiatan konstruksi, pasti ada berbagai ketidakpastian (uncertainty). Faktor ketidakpastian inilah yang akhirnya menyebabkan timbulnya risiko pada suatu kegiatan. Para ahli mendefinisikan risiko sebagai berikut : 1. Risiko adalah suatu variasi dari hasil – hasil yang dapat terjadi selama periode tertentu pada kondisi tertentu (William & Heins, 1985). 2. Risiko adalah sebuah potensi variasi sebuah hasil (William, Smith, Young, 1995). 3. Risiko adalah kombinasi probabilita suatu kejadian dengan konsekuensi atau akibatnya (Siahaan, 2007). Macam Risiko Risiko adalah buah dari ketidakpastian, dan tentunya ada banyak sekali faktor – faktor ketidakpastian pada sebuah proyek yang tentunya dapat menghasilkan berbagai macam risiko. Risiko dapat dikelompokkan menjadi beberapa macam menurut karakteristiknya, yaitu lain: 1. Risiko berdasarkan sifat a. Risiko Spekulatif (Speculative Risk), yaitu risiko yang memang sengaja diadakan, agar dilain pihak dapat diharapkan hal – hal yang menguntungkan. Contoh: Risiko yang disebabkan dalam hutang piutang, membangun proyek, perjudian, menjual produk, dan sebagainya. b. Risiko Murni (Pure Risk), yaitu risiko yang tidak disengaja, yang jika terjadi dapat menimbulkan kerugian secara tiba – tiba. Contoh : Risiko kebakaran, perampokan, pencurian, dan sebagainya. 2. Risiko berdasarkan dapat tidaknya dialihkan a. Risiko yang dapat dialihkan, yaitu risiko yang dapat dipertanggungkan sebagai obyek yang terkena risiko kepada perusahaan asuransi dengan membayar sejumlah premi. Dengan demikian kerugian tersebut menjadi tanggungan (beban) perusahaan asuransi. b. Risiko yang tidak dapat dialihkan, yaitu semua risiko yang termasuk dalam risiko spekulatif yang tidak dapat dipertanggungkan pada perusahaan asuransi. 3. Risiko berdasarkan asal timbulnya a. Risiko Internal, yaitu risiko yang berasal dari dalam perusahaan itu sendiri. Misalnya risiko kerusakan peralatan kerja pada proyek karena kesalahan operasi, risiko kecelakaan kerja, risiko mismanagement, dan sebagainya. b. Risiko Eksternal, yaitu risiko yang berasal dari luar perusahaan atau lingkungan luar perusahaan. Misalnya risiko pencurian, penipuan, fluktuasi harga, perubahan politik, dan sebagainya. Selain macam – macam risiko diatas, Trieschman, Gustavon, Hoyt, (2001), juga mengemukakan beberapa macam risiko yang lain, diantaranya : 1. Risiko Statis dan Risiko Dinamis (berdasarkan sejauh mana ketidakpastian berubah karena perubahan waktu) a. Risiko Statis. Yaitu risiko yang asalnya dari masyarakat yang tidak berubah yang berada dalam keseimbangan stabil. Risiko statis dapat bersifat murni ataupun spekulatif. Contoh risiko spekulasi statis : Menjalankan bisnis dalam ekonomi stabil. Contoh risiko murni statis : Ketidakpastian dari terjadinya sambaran petir, angin topan, dan kematian secara acak (secara random).

2. menganalisa. antara lain : a. dalam hal mengeliminasi risiko atau kontrol risiko Manajemen risiko merupakan suatu aplikasi dari manajemen umum yang mencoba untuk mengidentifikasi. Risiko Subyektif dan Risiko Obyektif a. dapat dilihat pada Tabel 2. . Risiko yang timbul karena terjadi perubahan dalam masyarakat. Smith. Young. dan perlakuan terhadap kerugian dari kemungkinan kecelakaan yang muncul Manajemen risiko merupakan sebuah proses untuk mengidentifikasi terjadinya kerugian yang dialami oleh suatu organisasi dan memilih teknik yang paling tepat untuk menangani kejadian tersebut Manajemen risiko adalah sebuah proses formal untuk mengidentifikasi. Risiko dinamis dapat bersifat murni ataupun spekulatif. Risiko Subyektif Risiko yang berkaitan dengan kondisi mental seseorang yang mengalami ragu – ragu atau cemas akan terjadinya kejadian tertentu. perkembangan teknologi. sepanjang jalannya proyek. dan perubahan undang – undang atau perubahan peraturan pemerintah. Manajemen Risiko Untuk dapat menanggulangi semua risiko yang mungkin terjadi.b. Manajemen risiko. 1990 Williams. mengukur. untuk mendapatkan tingkatan tertinggi atau yang bias diterima. diperlukan sebuah proses yang dinamakan sebagai manajemen risiko. adalah seni dan pengetahuan dalam mengidentifikasi. pengukuran. dan merespon sebuah risiko secara sistematis. Risiko Dinamis.rata) sesuai pengalaman. dalam konteks proyek. dan dicari b. Manajemen risiko merupakan metoda penanganan sistematis formal dimana dikonsentrasikan pada pengientifikasian dan pengontrolan peristiwa atau kejadian yang memiliki kemungkinan perubahan yang tidak diinginkan. 1985 Redja. diukur. dan menangani sebab dan akibat dari ketidakpastian pada sebuah organisasi Sumber Referensi Williams dan Heins. Terdapat beberapa ahli yang mengemukakan pendapat mengenai tahapan – tahapan dalam manajemen risiko. dan menjawab faktor – faktor risiko sepanjang masa proyek. terdapat beberapa tahapan dalam manajemen risiko. Risiko Obyektif Probabilita penyimpangan aktual dari yang diharapkan (dari rata . b. Untuk lebih jelasnya. 2008 Al Bahar dan Crandall. c. Manajemen risiko merupakan proses formal dimana faktor – faktor risiko secara sistematis diidentifikasi. menganalisa. Contoh sumber risiko dinamis : urbanisasi. Adapun beberapa definisi manajemen risiko dari berbagai literatur yang didapat. 1995 Dalam pelaksanaannya. Tabel 1. Definisi manajemen risiko Definisi Manajemen Risiko Manajemen risiko merupakan pengenalan.

Mengontrol risiko d. Proses identifikasi risiko ini mungkin adalah proses yang terpenting. Respon manajemen 3. Menafsir kerugian yang dapat terjadi (menentukan probabilitas dan dampaknya) c. semua risiko yang ada atau yang mungkin terjadi pada suatu proyek. Menganalisa risiko (menentukan probabilitas konsekuensinya) c. Raftery. Identifikasi dan Analisa Risiko Tahapan pertama dalam proses manajemen risiko adalah tahap identifikasi risiko. . Identifikasi misi b. Identifikasi risiko b.Tabel 2. 1995 Kerzner. Administrasi sistem Redja. Identifikasi risiko b. Identifikasi dan Analisa Risiko 2. Respon manajemen d. Identifikasi risiko merupakan suatu proses yang secara sistematis dan terus menerus dilakukan untuk mengidentifikasi kemungkinan timbulnya risiko atau kerugian terhadap kekayaan. Identifikasi risiko b. Memilih teknik pengangan yang tepat (mengontrol risiko dan membiayai risiko) d. Hoyt. karena dari proses inilah. Mengimplementasikan dan meninjau kembali keputusan yang dibuat a. Pengadministrasian program a. 1985 Williams. Mengontrol risiko a. Memonitor dan mengevaluasi pengimplementasiannya a. Reilly. 1995 Smith. Tahapan manajemen risiko Tahapan Manajemen Risiko a. Menangani risiko d. Membiayai risiko e. Evaluasi risiko c. 1990 dan Selanjutnya. Menafsir risiko dan ketidakpastian c. Pengimplementasian e. dan personil perusahaan. Menafsir risiko b. Trieschmann. 1995 a. dalam penelitian ini akan dipakai tahapan – tahapan manajemen risiko yang dikemukakan oleh Al Bahar dan Crandall (1990). 2008 Loosemore. Analisa risiko dan proses evaluasi c. Mengidentifikasi kerugian b. Administrasi system. Menganalisa kerugian c. Higgon. 2006 Al Bahar Crandall. harus diidentifikasi. Mengimplementasikan dan memonitor program manajemen risiko a. dengan sedikit modifikasi. Menafsir dan menganalisa risiko c. Gustavon. hutang. sehingga menjadi sebagai berikut : 1. Young. Mengidentifikasi risiko b. Memilih teknik manajemen risiko d. Mendokumentasikan proses manajemen risiko dan Sumber Referensi Williams dan Heins. Menangani risiko d.

dan sebagainya. Risiko kontraktual dan legal d. c. • Kekayaan langsung yang dihubungkan dengan kebutuhan untuk mengganti kekayaan yang hilang atau rusak. antara lain: a. Kategori risiko Kategori Risiko a. 1997 Shen. 2. Auditing h. karena kerusakan kekayaan atau cideranya pribadi orang lain. identifikasi risiko dapat dilakukan dengan beberapa teknik. sakit. ketidakmampuan. Risiko fisik c. 2001 . pengangguran. Dalam pelaksanaannya. Misalnya akibat kematian. Kerugian atas personil perusahaan. Kerugian atas kekayaan (property). Kerugian atas hutang piutang. Industry benchmarking d. Dalam checklist ini dibuat daftar kerugian dan peringkat kerugian yang terjadi. usia tua. Risiko legal a. dan sebagainya. image perusahaan. Incident investigation g. Membuat checklist kerugian potensial. Risk assessment workshop f. Risiko teknis Sumber Referensi Kerzner. HAZOP (Hazard and Operability Studies) k. • Kekayaan yang tidak langsung. Risiko manajemen d. Risiko yang berhubungan dengan konstruksi b. Questionnaire c. a. Risiko ekonomi f. Wu.Adapun proses identifikasi harus dilakukan secara cermat dan komprehensif. Risiko finansial b. Risiko politik dan umum a. misalnya penurunan permintaan. Risiko legal c. b. 1995 Fisk. 3. Risiko teknis d. diantaranya : Tabel 3. Risiko pasar e. Checklist j. Risiko internal c. Ng. dan sebagainya Adapun cara – cara pelaksanaan identifikasi risiko secara nyata dalam sebuah proyek. Risiko eksternal b. Inspection i. adalah : 1. Brainstorming b. sehingga tidak ada risiko yang terlewatkan atau tidak teridentifikasi. Membuat klasifikasi kerugian. Risiko pelaksanaan e. Scenario analysis e. beberapa ahli membaginya menjadi beberapa kategori. Membuat daftar bisnis yang dapat menimbulkan kerugian. Dalam mengidentifikasi risiko. Risiko politik dan kebijakan f.

Reilly. 2001 3. Higgon. yaitu dari risiko yang dipandang dari sudut pandang kontraktor dan yang sering terjadi pada proyek – proyek pemerintah. perubahan desain. 3. Al Bahar dan Crandall. Keppres RI no 80 tahun 2003 4. dan lain sebagainya. Risiko yang berhubungan dengan konstruksi e. Kenaikan upah pekerja 2. Politik & Lingkungan. dan sebagainya. proses identifikasi risiko dikembangkan menjadi beberapa jenis risiko yang didapat dari berbagai sumber. Keterlambatan pembayaran dari klien 5. Risiko ekonomi dan finansial g. Risiko politik a. Risiko finansial dan ekonomi b. perubahan nilai tukar. 2006 Tabel 4. Persediaan dana klien 4. Wu. 2. Risiko fisik f. Yang termasuk dalam kategori ini misalnya fluktuasi tingkat inflasi dan suku bunga. Adapun kategori risiko tersebut dimodifikasi sehingga menjadi sebagai berikut : 1. Risiko desain c. Kemungkinan kekurangan modal 7. Dari ketiga kategori risiko tersebut. Risiko manusia c. bencana alam. perang. antara lain : 1. Kemungkinan kebangkrutan partner 6. Risiko teknologi b. Kesalahan estimasi Katego ri Risiko 1 Jenis Risiko 2 3 4 . Matriks sumber identifikasi risiko Sumber Finansial dan Ekonomi 1. Risiko bencana alam Loosemore.a. Loosemore. Higgon. Risiko manajemen f. Risiko lingkungan d. Risiko komersial dan legal e. dan lain sebagainya. pencurian. Raftery. kategori – kategori risiko yang dikemukakan oleh Al Bahar dan Crandall (1990). Finansial & Ekonomi. 1990 dan Untuk kepentingan tugas akhir ini. Shen. Risiko partner bisnis h. Risiko politik dan lingkungan d. embargo. perubahan politik. 1990 2. Kenaikan harga material 3. Ng. Reilly. Raftery. kenaikan upah pekerja. Konstruksi Yang termasuk dalam kategori ini misalnya kecelakaan kerja. 2006 Al Bahar Crandall. dimodifikasi sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kondisi yang diinginkan. Yang termasuk dalam kategori ini misalnya perubahan dalam hukum dan peraturan. Sanksi keterlambatan 8.

Kompetisi dengan proyek sejenis 10. peraturan dan politik 5. Kecelakaan di lapangan 13. sebelum risiko – risiko tersebut dibawa memasuki tahapan respon manajemen. Korupsi dan penyuapan 7. Kontaminasi terhadap lingkungan Konstruksi 1. Kegagalan pada peralatan 11. Pelarangan mensub-kontrakkan 6. Perubahan hukum. Perselisihan dengan industri 2. Persaingan yang tidak sehat 6. Keterbatasan pengadaan material dan pekerja ahli 5.Fluktuasi nilai tukar mata uang Politik dan Lingkungan 1. yang dibutuhkan adalah menentukan signifikansi atau dampak dari risiko tersebut. Bencana alam 12. Menurut Al Bahar dan Crandall (1990). Fluktuasi suku bunga 13. Akurasi dan kelengkapan spesifikasi teknis 14. Kebakaran / pencurian material dan peralatan 10. Perubahan kebijakan 4. Buruknya kualitas material 4. Perselisihan dengan pekerja 3. analisa risiko didefinisikan sebagai sebuah proses yang menggabungkan ketidakpastian dalam bentuk quantitatif. Pekerjaan yang tidak sempurna 8. Lamanya perizinan birokrasi 9. Kondisi fisik lapangan yang tidak diketahui 12. Perubahan desain Setelah proses identifikasi semua risiko – risiko yang mungkin terjadi pada suatu proyek dilakukan. Fluktuasi tingkat inflasi 12. Kurangnya hubungan dengan departemen pemerintah 3. untuk mengevaluasi dampak potensial suatu risiko. menggunakan teori probabilitas. melalui suatu analisa probabilitas. Al Bahar dan Crandall (1990) mengemukakan bahwa. Perang dan kekacauan 10. Aturan polusi dan keselamatan 14. Embargo 11. Peraturan lingkungan 13. Rintangan dari pemerintah 2. Produktivitas pekerja dan peralatan 7. Klaim dari klien 11. .9. diperlukan suatu tindak lanjut untuk menganalisa risiko – risiko tersebut. Sabotase pada properti dan peralatan 9. Pelanggaran kontrak 8.

Setelah data yang dibutuhkan terkumpul. Cedera parah. Peristiwa ini jarang terjadi. Menurut Loosemore. Higgon. Raftery. Proses evaluasi dampak risiko dilakukan dengan mengkombinasikan antara probabilitas (sebagai bentuk quantitatif dari faktor ketidakpastian / uncertainty) dan dampak / konsekuensi dari terjadinya sebuah risiko. kerugian finansial sangat besar. Strategi ini didasarkan kepada sifat dan dampak potensial / konsekuensi dari risiko itu sendiri. Risk Management in Projects Tabel 6. Peristiwa ini kadang terjadi pada suatu waktu. Respon Manajemen Setelah risiko – risiko yang mungkin terjadi diidentifikasi dan dianalisa. Pertolongan pertama. (2006). kontraktor akan mulai memformulasikan strategi penanganan risiko yang tepat. Raftery. Risk Management in Projects Setelah risiko – risiko yang mungkin terjadi dievaluasi dengan menggunakan parameter – parameter probabilitas dan konsekuensi risiko diatas. Sumber : Loosemore. Peristiwa ini pernah terjadi dan mungkin terjadi lagi. Higgon. Reilly. seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pada bagian lain bab ini. Ada lima strategi alternatif untuk menangani risiko. kerugian finansial kecil. (2006). dapat dilakukan teknik identifikasi risiko yang lain. Adapun tujuan dari strategi ini adalah untuk memindahkan dampak potensial risiko sebanyak mungkin dan meningkatkan kontrol terhadap risiko. kerugian finansial cukup besar. kerugian finansial besar. beberapa parameter untuk proses evaluasi risiko seperti pada Tabel 5 dan 6. Perlu perawatan medis. Raftery. Untuk melakukan proses evaluasi tersebut. dengan menggunakan matriks evaluasi risiko. Jika data historis tersebut kurang memadai. Reilly dan Higgon (2006).Langkah pertama untuk melakukan tahapan ini adalah pengumpulan data yang relevan terhadap risiko yang akan dianalisa. kerugian finansial medium. Peristiwa ini sering muncul pada berbagai keadaan. Parameter konsekuensi risiko Parameter Tidak signifikan Kecil Sedang Besar Sangat signifikan Deskripsi Tidak ada yang terluka. Data – data ini dapat diperoleh dari data historis perusahaan atau dari pengalaman proyek pada masa lalu. dibutuhkan suatu parameter yang jelas untuk dapat mengukur dampak dari suatu risiko dengan tepat. Tabel 5. Reilly. selanjutnya dilakukan proses evaluasi dampak dari sebuah risiko. yaitu : . selanjutnya dapat dilakukan suatu analisa untuk mengevaluasi dampak risiko secara keseluruhan. Kematian. Sumber : Loosemore. Parameter probabilitas risiko Parameter Jarang terjadi Agak jarang terjadi Mungkin terjadi Sering terjadi Hampir pasti terjadi Deskripsi Peristiwa ini hanya muncul pada keadaan yang luar biasa jarang.

apabila gedung tersebut mengalami kebakaran. dan juga kapabilitas finansial dari kontraktor itu sendiri. kebutuhan khusus. Menghindari risiko 2. Mengurangi kemungkinan terjadinya risiko. 2. kapanpun kontraktor menjalani perencanaan kontraktual dengan banyak pihak seperti pemilik. Transfer risiko bukanlah asuransi. Karakeristik esensial dari transfer risiko ini adalah dampak dari suatu risiko. Biasanya. apabila risiko tersebut benar – benar terjadi. Retensi risiko yang tidak terencana (unplanned) terjadi ketika kontraktor tidak mengenali atau mengidentifikasi kberadaan dari suatu risiko dan secara tidak sadar mengasumsi kerugian yang akan muncul. Mentransfer risiko Pada dasarnya. Mentransfer risiko 5. maka kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan dari proyek tersebut juga ikut menghilang. baik secara utuh maupun sebagian. Namun demikian. Meretensi risiko 4.1. Dengan menghindari risiko. Meretensi risiko Retensi risiko telah menjadi aspek penting dari manajemen risiko ketika perusahaan menghadapi risiko proyek. Mencegah risiko dan mengurangi kerugian Alternatif strategi yang kedua adalah mencegah risiko dan mengurangi kerugian. Contohnya : pemasangan alarm atau alat anti – maling pada peralatan di proyek. perlu dibedakan antara 2 jenis retensi yang berbeda. kontraktor juga akan kehilangan sebuah peluang untuk mendapatkan keuntungan yang mungkin didapatkan dari asumsi risiko tersebut. 1. Strategi ini secara langsung mengurangi potensi risiko kontraktor dengan 2 cara. 4. Mengurangi dampak finansial dari risiko. kontraktor dapat mengetahui bahwa perusahaannya tidak akan mengalami kerugian akibat risiko yang telah ditafsir. transfer risiko ini dilakukan melalui syarat atau pasal – pasal dalam kontrak seperti : hold – harmless aggrement dan klausul jaminan atau penyesuaian kontrak. transfer risiko dapat dilakukan. strategi ini merupakan strategi yang umum digunakan untuk menangani risiko. Contohnya : seorang kontraktor yang ingin menghindari risiko politik dan finansial berkaitan dengan proyek pada negara dengan kondisi politik yang tidak stabil. subkontraktor ataupun supplier material dan peralatan. tergantung pada filosofi. akan mengurangi dampak finansial. melalui negosiasi. Retensi risiko yang terencana (planned) adalah asumsi yang secara sadar dan sengaja dilakukan oleh kontraktor untuk mengenali atau mengidentifikasi risiko. dari dampak finansial suatu risiko yang akan dialami oleh perusahaan. Dalam mengadopsi strategi retensi risiko ini. Dengan strategi seperti itu. Menghindari risiko Menghindari risiko merupakan strategi yang sangat penting. Di sisi lain. 2. 2. apabila risiko . Mencegah risiko dan mengurangi kerugian 3. Retensi risiko adalah perkiraan secara internal. apabila kontraktor tersebut menolak untuk melakukan tender. Asuransi 1. dapat menolak melakukan tender proyek pada negara tersebut. akan mengurangi kemungkinan terjadinya pencurian. 3. yaitu : 1. Sebuah gedung yang dilengkapi dengan sprinkler system. risiko dapat ditahan dengan berbagai cara.

2. Manajemen informasi . baik untuk sebuah organisasi ataupun untuk individu. dan mengevaluasi program manajemen risiko. dimana pihak asuransi setuju untuk menerima beban finansial yang muncul dari adanya kerugian. Asuransi juga termasuk di dalam strategi transfer risiko. pengasuransi (insured) harus membayar sejumlah premi tiap periodenya. Manajemen kontrak dan kontrak portfolio. Contohnya : penyesuaian pada harga penawaran. Tantangan untuk menyusun prosedur dan kebijakan manajemen risiko. memonitor. akan sangat mudah untuk terjadinya miskomunikasi. yang menjelaskan mengenai prosedur. Asuransi Asuransi menjadi bagian penting dari program manajemen risiko. 2. Oleh karena itu. Smith. Menurut William. dimana kompensasi ekstra akan diberikan kepada kontraktor apabila terjadi perbedaan kondisi tanah pada suatu proyek. 1. dan juga kegiatan – kegiatan yang akan dilakukan untuk program manajemen risiko. 5. Namun. yang sesuai dengan misi atau tujuan dari program manajemen risiko dan sejalan dengan misi organisasi tersebut. untuk menyusun kebijakan dan prosedur program manajemen risiko tersbut. mengorganisasi. Manajer risiko harus mengandalkan kemampuan manajerialnya untuk mengkoordinasi. Proses mengkaji ulang. Young (1995). 4. Administrasi sistem Administrasi sistem adalah tahapan terakhir dari program manajemen risiko. asuransi dapat didefinisikan sebagai kontrak persetujuan antara 2 pihak yang terkait yaitu : pengasuransi (insured) dan pihak asuransi (insurer). Pengawasan klaim. yaitu : 1. Secara formal. dibutuhkan beberapa tahapan. baik secara organisasi maupun personal. 5. 3. memotivasi. Statement kebijakan manajemen risiko Perusahaan harus menyusun statement kebijakan manajemen risiko yang berisi tentang misi dan tujuan dari program manajemen risiko. Menurut William. yang menangani masalah manajemen risiko. ada 5 hal manajerial penting yang dihadapi oleh seorang manajer risiko. Young (1995). memfasilitasi dan menjalankan organisasi menuju rencana penanganan risiko yang rasional dan terintegrasi. ditanggung bersama atau ditanggung secara utuh oleh pihak lain selain kontraktor. yaitu : 1. metode. Dengan adanya persetujuan tersebut. Smith. Organisasi Perusahaan sebaiknya menyusun sebuah organisasi atau departemen khusus. dengan demikian banyaknya pihak yang terlibat. 3.tersebut benar – benar terjadi. pihak asuransi (insurer) setuju untuk mengganti rugi kerugian yang terjadi (seperti yang tercantum dalam kontrak) dengan balasan. Pengkomunikasian risiko. Manual (rencana kegiatan) Perusahaan sedianya menyiapkan rencana kegiatan operasional manajemen risiko. mengarahkan. Kebijakan dan prosedur Proses manajemen risiko harus dilakukan oleh semua pihak dalam suatu organisasi. dibutuhkan sebuah kebijakan dan prosedur pelaksanaan proses manajemen risiko yang formal. 2.

asuransi. Karena pentingnya informasi risiko ini. harus dilakukan dengan lancar pula. 2. dan sebagainya. Memberikan garansi atau menjamin rencana pembiayaan risiko dengan pihak ke tiga. Ruang lingkup manajemen informasi pada program manajemen risiko : 1. yaitu suatu proses untuk mengatur semua perkara mengenai kontrak. Sistem informasi manajemen risiko Penggunaan teknologi masa kini yang dapat membantu jalannya proses manajemen informasi dalam rangka melakukan manajemen risiko pada suatu proyek. Young (1995). Apabila suatu kejadian yang tidak diinginkan terjadi pada suatu proyek. risiko) yang mengalir dari dan menuju ke manajer risiko. Manajemen informasi dapat digunakan sebagai basis dari segala buku text mengenai komunikasi dalam organisasi. manajemen risiko juga membutuhkan system manajemen kontrak. 3. 3. Mengatur dokumen dan sertifikat asuransi. 3. Klaim pertanggungjawaban atau klaim dari pihak ketiga Klaim yang terjadi akibat kecelakaan yang dialami oleh pihak ketiga (misalnya : konsumen jatuh di tempat parkir yang licin). Sistem alokasi sumber daya Mekanisme pembiayaan proses manajemen risiko. 2. maka manajemen informasi juga berperan sangat penting untuk kelangsungan proses manajemen risiko. Ada beberapa macam klaim yang harus ditangani oleh manajer risiko. manajer risiko mempunyai tanggungjawab untuk bernegosiasi dengan utusan dari pihak asuransi dan mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan klaim tersebut. seperti : penawaran. dan pihak kontraktor mengajukan klaim pada perusahaan asuransi. juga harus dapat berperan dalam manajemen atau pengawasan klaim. Manajemen kontrak Dalam pelaksanaannya. Mempersiapkan dokumen atau kontrak penawaran untuk layanan jasa pihak ketiga. William. Memonitor dan mengkaji ulang program . Proses pelaporan manajemen risiko Isi dan bentuk formal dari proses pelaporan risiko yang dilakukan oleh pihak – pihak yang terkait dalam proses manajemen risiko. memaparkan bahwa. Pengawasan klaim Seorang manajer risiko. manajemen kontrak harus dapat menguasai atau menangani. Mengatur hubungan dan kontrak – kontrak dengan agen asuransi dan broker. antara lain : 1. Smith. 4. 4. 3. setidaknya 4 hal. yaitu : 1. 2. Klaim yang berkaitan dengan sumber daya manusia Klaim yang berhubungan dengan kesehatan dan keselamatan pekerja dalam sebuah perusahaan. 5.Supaya proses manajemen risiko dapat berlajan secara lancar. 4. proses pengkomunikasian risiko yang terjadi pada suatu proyek. Komunikasi risiko Proses pengkomunikasian informasi (dalam hal ini. Klaim yang berkaitan dengan properti Klaim yang terjadi apabila ada suatu kerugian pada suatu proyek dan kontraktor mengajukan klaim pada pihak asuransi.

sehingga terdapat kesinambungan antara data – data yang didapatkan. Dengan adanya proses pemantauan dan penkajian ulang ini. beberapa hal harus dilakukan : 1. perlu dilakukan suatu proses untuk memonitor dan mengkaji ulang program manajemen risiko yang telah dijalankan. kontraktor dapat melihat kesalahan – keslahan atau kekurangan – kekurangan yang terjadi selama proses manajemen risiko. Untuk melakukan proses pemantuan kegiatan manajemen risiko. Audit program Proses audit program manajemen risiko harus dijalankan untuk memverifikasi sistem pemantauan dan pelaporan berkala. Selain itu. 2.menerus Pemantauan akan proses manajemen risiko yang dijalankan harus dilakukan secara terus – menerus. serta menyediakan masukan yang obyektif untuk pengembangan program. Audit program dapat digunakan sebagai evaluasi untuk manajer risiko dan fungsi manajemen risiko. . sehingga kontraktor dapat memperbaiki kekurangannya dan tidak melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya. manajemen risiko yang telah dijalankan. kontraktor dapat mengetahui sejauh manaproses manajemen risiko yang telah dijalankan. dengan proses tersebut.Untuk mengetahui seberapa berhasil. Pemantauan secara terus .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->