P. 1
transformasi-laplace

transformasi-laplace

|Views: 47|Likes:
Published by Darwinz Galipatz

More info:

Published by: Darwinz Galipatz on Jun 23, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/04/2012

pdf

text

original

Oleh

:
Kelompok IV

CICI NARTIKA 2007 121 159
RELA SEPTIANI 2007 121 433
RIKA OCTALISA 2007 121 447
ULPA ARISANDI 2007 121 450
RIRIN BRILLIANTI 2007 121 467

KELAS : 6.L
MATA KULIAH : MATEMATIKA LANJUTAN
DOSEN PENGASUH : FADLI, S.Si



FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
2010


Transformasi Laplace merupakan klas dari transformasi integral yang dimanfaatkan :
• Untuk merubah bentuk persamaan diferensial biasa menjadi bentuk persamaan
aljabar.
• Untuk merubah persamaan diferensial parsial menjadi persamaan diferensial biasa.

1. Definisi
Misal fungsi f(t) terdefinisi untuk t ≥0. Maka transformasi Laplace (satu sisi atau
unilateral) dari f(t) didefinisikan sebagai:
L(f(t)) =


0
e
-st
f(t) dt ............................................................................(1.1)
Integral (1.1) merupakan fungsi dalam parameter s, maka notasi lain yang biasa
digunakan adalah F(s) = L (f(t)). Sedangkan fungsi asal f(t) dapat diperoleh dari
Transformasi invers
f(t) =
L
1 −
(F(s)).

Agar transformasi Laplace F(s) ada maka integral tak wajar (1.1) haruslah konvergen dan
ini dapat dicetak dengan mencari limit :


0
e
-st
f(t) dt =

∞ →
b
b
0
lim
e
-st
f(t) dt ...........................................................(1.2)
Bila kita coba untuk beberapa nilai bilangan bulat n, secara induktif didapatkan
transformasi Laplace untuk f(t) = t
n
yaitu :
F(s) =
s
n
n
1
!
+
(s >0) ...................................................................................(1.3)
Maka didapatkan transformasi invers,
)! 1 (
1
1
1

=
|
|
¹
|

\
|


n
t
s
L
n
n

Contoh :
Tentukan transformasi Laplace dari f(t) = e
at
.
Jawab :
Dengan menggunakan definisi (1.1) didapatkan,
F(S) =

∞ →
b
b
0
lim
e
(-s + a) t
dt =
lim
1
∞ →
+ −
b
a s
e
(-s + a) t
b
0
=
a s −
1

(s > a) ....(1.4)
Dari bentuk (1.4) didapatkan transformasi invers,
= |
¹
|

\
|


a s
L
1 1
e
at





Beberapa sifat :
Sifat keberadaan transformasi, sifat ketunggalan dan sifat linear dari transfomasi
Laplace namun sebelumnya, perhatikan beberapa definisi berikut.
Fungsi f(t) disebut kontinu bagian demi bagian pada interval [a,b] bila :
i. Interval [a,b] dapat dibagi menjadi sub-sub interval yang berhingga banyaknya yang
menyebabkan f(t) kontinu pada sub-sub interval tersebut.
ii. Limit dari f(t) pada setiap ujung sub interval bernilai hingga.

Fungsi f(t) disebut terbatas eksponensial pada interval [a,b] bila terdapat bilangan real
M dan r sehingga berlaku M t f ≤ ) ( e
rt
untuk setiap t∈[a,b].

Sifat Keberadaan Transformasi Laplace :
Transformasi Laplace dari f(t) dengan t ≥0 ada bila f(t) kontinu bagian demi bagian dan
terbatas eksponensial untuk t ≥0.

Sifat Ketunggalan Transformasi Laplace :
Transformasi lalace dari suatu fungsi adalah tunggal yaitu bila F
1
(s) dan F
2
(s) merupakan
transformasi Laplace dari f(t) maka F
1
(s) = F
2
(s) .

Sifat Linear Transformasi Laplace :
Dengan menggumakan definisi (1.1), didapat bahwa Transformasi Laplace mempunyai
sifat linear,
L( ) ( )dt t bg t af t bg t af
e
st
) ( ) ( ) ( ) (
0
+ = +




= dt t g b dt t f a
e e
st st
) ( ) (
0 0
∫ ∫




+ ...........................................(1.5)
= ) ( ) ( s bG s aF +

Invers dari transformasi Laplace juga mempunyai sifat linear, karena :
L
1 −
(c F(s) + d G(s)) =
L
1 −
(L(cf(t) + dg(t) ))
= cf(t) + dg(t) ...............................(1.6)
= c
L
1 −
(F(s)) + d
L
1 −
(G(s))

Contoh :
Tentukan transfomasi Laplace dari f(t) = (t + 2)
2

Jawab :
Dengan menggunakan sifat (1.5) dan rumus umum untuk transformasi Laplace dari
fungsi polinom (1.3) didapatkan transformasi Laplace dari fungsi
f(t) = (t + 2)
2
= t
2
+ 4 t + 4 , yaitu :
F(s) =
s
s
s s
s
s
3
2
2 3
4 4 2 4 4 2 + +
= + +

2. Transformasi Laplace dari Turunan Fungsi Tingkat – n

Misal f(t) dan turunannya f ‘ (t) kontinu dan terbatas eksponensial, maka f(t) dan
f ‘ (t) mempunyai transformasi Laplace. Dengan menggunakan integral parsial dan sifat
terbatas eksponensial dari f(t) maka diperoleh :
L(f ‘ (t)) =



0
e
st
f ‘ (t) dt = e
-st
f(t) ) (
0
0
t f s
e
st




+ dt .............................................(1.7)
Dengan menggunakn notasi (1.7) didapatkan transformasi Laplace dari turunan orde 2
dan orde 3 dari fungsi f(t) yaitu:

L(f ‘ “(t)) = s
2
F(s) – sf (0) – f ‘ (0)
Dan
L(f ‘ “(t)) = s
3
F(s) – s
2
f (0) – sf ‘ (0) – f (0)

Secara induktif dapat diperoleh transformasi Laplace dari turunan orde n fungsi f (t),

L(f
(n)
(t)) = s
n
F(s) – s
n -1
f(0) – s
n – 2
f ‘ (0) - ... – f
(n – 1)
(0) .................................(1.8)

Metode penurunan fungsi (1.8) akan lebih mudah diterapkan untuk menentukan
transformasi Laplace dari fungsi yang apabila diturunkan sampai tingkat-n akan kembali
ke bentuk semula. Untuk jelasnya diberikan contoh berikut.

Tentukan transformasi Laplace dari f (t) = sin at
Jawab :
Dilakukan penurunan sampai tingkat ke-2 didapatkan,
f(t) = sin at f (0) = 0
f ‘ (t) = a cos at f ‘ (0) = a
f “ (t) = -a
2
sin at f “ (0) = 0

Pada penurunan tingkat-2 sudah dihasilkan bentuk asal, sehingga digunakan :

L(f “(t)) = s
2
F(s) – sf (0) – f ‘ (0)

L(-a
2
sin at) = s
2
L(sin at) – sf (0) – f ‘ (0)
L(sin at) =
a s
a
2 2
+


Dari hasil yang didapatkan pada contoh (1.5) didapatkan transformasi invers,
a
at
a s
L
sin 1
2 2
1
=
|
|
¹
|

\
|
+






3. Transformasi Laplace dari Integral Fungsi
Pada metode penurunan fungsi (1.8) diperlihatkan bahwa transformasi Laplace
dari turunan fungsi didapatkan dengan mengalikan hasil transformasi fungsi dengan s.
Karena integral merupakan anti turunan maka dapat diturunkan transformasi Laplace dari
integral fungsi yang merupakan pembagian dari hasil transformasi fungsi oleh s. Misal
F(s) = L (f(t)) ada. Maka :
) (
1
) (
0
s F
s
dx x f L
t
=
)
`
¹
¹
´
¦

.................................................................................(1.15)
Dengan s > 0. Sedang dengan menggunakan transformasi invers didapatkan :
= |
¹
|

\
| −
s
s F
L
) ( 1

t
dx x f
0
) ( ...................................................................................(1.16)
Contoh :
Tentukan invers dari : G(s) =
s
s
2
4
2
+

Jawab :
Menggunakan sifat (1.11), G(s) dapat dituliskan sebagai : G(s) =
s
s F ) (
dengan
F(s) =
2
4
− s
. Invers dari F(s) adalah f(t) = 4e
2t
.

Oleh karena itu, invers dari G(s) adalah
g(t) =

t
0
4e
2x
dx = 2(e
2t
- 1)
Berikut diberikan tabel pasangan transformasi Laplace untuk beberapa fungsi
yang bisa diselesaikan menggunakan metode yang diberikan sebelumnya.

Tabel 1.1 Transformasi Laplace

f(t) F(s) = L(f(t)) Domain dari F(s)
T
n
(n
B
+
∈ )
s
n
n
1
!
+

S > 0
e
at

a s −
1
S > a
Sin bt
b s
b
2 2
+

S > 0
Cos bt
b s
s
2 2
+

S > 0
Sinh bt
b s
b
2 2


S > b
Cosh bt
b s
s
2 2


S > b

4. Pergeseran Terhadap Sumbu S
Misal fungsi f(t) mempunyai transformasi Laplace, F(s) = L (f(t)). Maka grafik
hasil transformasi Laplace dari g(t) = e
at
f(t), dengan menggeser grafik hasil transformasi
dari f(t) atau grafik F(s) sepanjang a satuan kea rah kanan (bila a>0) atau kea rah kiri
(bila a<0).Maka didapatkan transformasi Laplace :
L( ) ) (t f e
at
= ( )dt t f e e
at st
) (
0




= dt t f e
t a s
) (
0
) (


− −
………………1.17
=F(s – a)

Sehingga transformasi invers

L
-1
(F(s- a)) = e
at
f(t) …….1.18

Contoh 1.
Tentukan transformasi Laplace dari : g(t) = e
2t
sin 3t

Penyelesaiaian :
Misal f(t) = sin 3t. Maka g(t) = e
2t
f(t)
Transformasi laplace dari f(t) yaitu F(s) =
9
3
2
+ s
.Oleh karena itu,
G(s) = F(s – 2) =
9 ) 2 (
3
2
+ − s

Contoh 2.
Tentukan invers Dari G(s) =
2 2
2
+ + s s
s

Penyelesaian :
G(S) =
2 2
2
+ + s s
s
+
( )

+ +
+
=
1 1
1
2
s
s
( ) 1 1
1
2
+ + s


Misal F
1
(s) =
1
2
+ s
s
dan F
2
(s) =
1
1
2
+

s
, maka keduanya mempunyai invers berturut –
turut f
1
(t) = cost t dan f
2
(t) = -sint, sehingga G(s) = F1 (s+1) + F2(s+1). Oleh karena itu
invers dari G(s) adalah g(t) = e
-t
(cost – sint)

5. Pergeseran terhadap sumbu t
Misal F(s) = L(f(t)) ada dan didefinisikan fungsi tangga g (t) = {
a t
a t
a t f
<
>

;
;
0
) (
dengan
a≥0. Untuk mencari transformasi laplace dari fungsi tangga g(t) yang terdefinisi
untuk t>0 dapat diselesaikan dengan memperkenalakan fungsi tangga satuan

Fungsi tangga satuan atau fungsi Heaviside didefinisikan sebagai berikut





Dengan a > 0
Garafik fungsi tangga satuan (1,19) ditunjukan pada gambar 1.2 berikut











L(g(T)) = L (f(t-a)u(t-a)
= dt a t u a t f e
st
) ( ) (
0
− −


ω

= dy a y u a y f e
st
) ( ) (
0
− −


ω

= dy a y f e
a
st
0 ) (
0



+ dy a y f e
a
st
) ( −


ω

= dy a y f e
a
st
) ( −


ω

= dt t f e
a
T A s
) (
) (

+ −
ω

= e
-as



0
) (t f e
st


= e
-as
F (s)

Sehingga diperoleh transformasi laplace untuk g(t) = f(t – a) u ( t – a)

U (t-a) = ) 19 , 1 .........( .......... .......... .......... .......... ..........
, 1
, 0
¹
´
¦
>
<
a t
a t


1


a
Gambar 12

L(g(t)) = L(f(t – a)u(t – a)) = e
-as
F(s) …………………1.20

Sedangkan transformasi invers

L
-1 ( ) ) (s F e
as −
= f(t – a)u(t – a) = g(t) …………………..1.21

Misal f(t – a) = 1 maka f(t) = 1 dan F(s) =
S
1
, maka didapatkan transformasi Laplace dari
fungsi tangga satuan

L ( ) [ ] a t u − =
s
e
as −
……………………………1.22
Dan Transformasi Invers :

L
-1
|
|
¹
|

\
|

s
e
as
=
u(t – a) ……………………………1.23

Contoh :
Tentukan transformasi Laplace dari fungsi g(t) = t u(t – 2)
Penyelesaian :
Bila kita padankan dengan pasangan transformasi Laplace, g(t) = f(t – a)u(t – a) ↔G(s)
= e
-as
F(s), maka dimisalkan f ( t- 2) = t. Oleh karena itu, f(t) = t + 2 dan F(s) =
s s
2 1
2
+ .Jadi Transformasi Laplace dari fungsi g(t) adalah G(s) = e
-2as
F(s) = e
-2as
s s
2 1
2
+

Contoh :
Tentukan Invers dari transformasi, G(s) =
4
2
+

s
e
s π

Penyelesaian :
Misal : F(s) =
4
1
2
+ s

Maka invers dari F(s) adalah f(t) = t 2 sin
2
1

Dengan menggunakan bentuk 1.21 maka didapatkan invers dari G(s), g(t) =
( ) ) ( 2 sin
2
1
π π − − t u t







¦
¹
¦
´
¦
− t
t
2
3
2
6. Transformasi Laplace dari Fungsi Tangga
Misal diberikan fungsi f(t) = 2 u(t) + (3t – 2) u (t – 1) – 5t u (t – 2). Maka nilai
fungsi f(t) untuk beberapa interval :
• Interval t< 0,
Pada interval ini, nilai u (t) = u (t – 1) = u (t – 2) = 0, sehingga f(t) = 0
• Interval 0< t <1

Pada interval ini, nilai u (t) =1 dan u (t – 1) = u (t – 2) = 0, sehingga f(t) =2

• Interval 1 < t < 2

Pada interval ini, nilai u (t) = u (t – 1) =1 dan u (t – 2) = 0, sehingga
f(t) =2 + (3t – 2) = 3t
• Interval t > 2

Pada interval ini, nilai u (t) = u (t – 2) = 1, sehingga f(t) =2 + (3t – 2)- 5t = 2t


Grafik fungsi f(t) ditunjukan pada gambar 1.3. Sehingga bila fungsi f(t) dinyatakan dalam
fungsi tangga maka f(t) :

;t < 0
; 0 < t < 1
F(t) = ;1 < t < 2
; t > 2


Bila dikaitkan dengan transformasi laplace, maka hanya akan di perhatikan nilai fungsi
f(t) untuk t ≥ 0, sehingga fungsi f(t) :

; 0 < t < 1
;1 < t < 2
F(t)= ; t > 2

¦
¦
¹
¦
¦
´
¦
− t
t
2
3
2
0
¦
¹
¦
´
¦
− t
t
2
3
2
¦
¹
¦
´
¦
t
1
0
¦
¹
¦
´
¦
0
2
0
t
Misal dihadapkan permasalahan untuk mendapatkan trnsformasi Laplace terhadap dua
fungsi yang sama yaitu fungsi :

F(t) = 2 u(t) + (3t – 2) u ( t – 1 ) – 5t

; 0 < t < 1
U (t – 2) dan fungsi f(t) = ; 1 < t < 2
; t > 2
Langkah – langkah untuk menentukan transformasi laplace dari fungsi tangga g(t) :
(i) Ubahlah g(t) ke dalam bentuk suku – suku dengan factor fungsi tangga satuan
u (t – a) dengan cara berikut :
a) Nilai a pada u(t – a) diambil dari batas masing – masing sub interval fungsi
g(t).
b) Nilai suatu suku dari g(t) akan merupakan perkalian antara u(t – a) dan nilai
fungsi bersesuaian dengan a yang diambil tanda positif dan tanda negative
ditentukan dari perbandingan antara t dan a. Untuk a < t diambil tanda positif (
+ ) dan untuk t < a diambil tanda negative (-)
(ii) Transformasikan masing –masing suku yang didapatkan dari (i) menggunakan
metode 1.20.

Contoh :
; t < 0
Dik : g(t) = ; 0 < t < 2
; t > 2

1. Nyatakan g(t) ke dalam susku – suku dari u(t – a)
2. Tentukan transformasi Laplace dari g(t)


Penyelesaian :
1. Batas sub interval dari g(t) adalah 0 dan 2, sehingga g(t) dapat dinyatakan dalam
suku- suku dengan factor u(t) dan (t – 2) jadi :
G(t) = u(t) – u(t – 2) + t.u (t – 2) = 1 + u ( t – 2) + (t -2) u (t – 2)
2. Dengan menerapakan bentuk 1.15 didapatkan transformasi Laplace dari g(t) yaitu
:
G(t) =
2
2 2
1
s
e
s
e
s
s s − −
+ +
Contoh masalah nilai awal yang berkaitan dengan pemakaian fungsi tangga satuan
diberikan contoh berikut :

; t < 0
y
’’
+ 4y’ + 4y = r(t) ; r(t) = 0 ≤ t ≤ 1 ; y(0) = y’ (0) = 0
; t > 1



1. Tentukan transformasi laplace r(t)
2. Tentukan solusi masalah nilai awal tersebut.

Penyelesaian :
1. Batas sub interval dari fungsi r(t) adalah 0 dan 1, maka bentuk fungsi tangga
satuan yang akan menjadi factor di dalam tiap suku dari fungsi r(t) adalah u(t) dan
u(t -!), jadi
r (t) = 2t – 2 t.u (t – 1) = 2t – 2 (t-1)u (t – 1) – 2u (t – 1)

diperoleh hasil transformasinya :
L ( ) [ ]
s
e
s
s
s
t r

+
− =
2 2
2 2 2

2. Dengan memisahkan L ( y(t)) = Y (s) dan dengan mengambil transformasi pada
kedua ruas didapatkan :
Y(s) =
s
e
s s
s
s s

+
+

+ +
2 2 2 2
) 2 (
2 2
) 2 (
2

Misal
F(s) =
( )
2 2 2 2
2
3
3
2 2
1
2
) 2 (
2
+
+
+
+

=
+ + s
s
s
s
s s

Dan
G(s) =
s s
e
s s
e
s s
s
− −

+
− =

+
+
2 2 2 2
) 2 (
2
1
2
1
) 2 (
2 2

Maka berturut – turut invers dari F(s) dan G(s) adalah
F(t) = ) 1 (
2 2 2
1
2
t
e t
t
+ + +




Dan
G(t) = u (t – 1)
( )

− + −
− − − − ) 1 2 ) 1 ( 2
2
1
2
1
2 2
1
t t
e te
t



Oleh karena itu solusi masalah nilai awal adalah :
Y(t) = f(t) – g(t)
= ) 1 (
2 2 2
1
2
t
e t
t
+ + +


- u (t – 1)
( )

− + −
− − − − ) 1 2 ) 1 ( 2
2
1
2
1
2 2
1
t t
e te
t







( )
¹
´
¦
= −
0
1
a t δ
7. Fungsi Delta Diract
Diperkenalkan fungsi impuls satuan atau fungsi delta direct. Fungsi delta direct atau
fungsi impuls satuan didefinisikan :
,t = a
t ≠ a

Transformasi laplace dari fungsi delta direct diperoleh dari perhitungan langsung atau
menggunakan fakta bahwa fungsi delta direct merupakan turunan dari fungsi tangga :

L ( ) [ ] a t − δ = L ( ) [ ] a t u − '
= sL ( ) [ ] a t u − ' - u(0)
= e
-as
Sedangakan transformasi invers

L
-1
( )
as
e

= ( ) a t − δ

Contoh :
Tentukan nilai masalah awal : y; + 2y’ + 2y = ( ) π δ − t ; y(0) = y’ (0) = 0

Penyelesaian :
Dengan melakukan transformasi pada kedua ruas dan menggunakn (1.119) didapatkan,
Y(s) =
1 ) 1 (
2
+ +

s
e
s π
.Solusi masalah nilai awal merupakan invers dari y(s) yaitu y(t) =
) ( ) sin(
) (
π π
π
− −
− −
t u t e
t

Diberikan table Dario pasangan transformasi laplace yang berkaitan dengan pergeseran
sumbu dan fungsi tangga satuan.

Tabel 1.2
Pasangan Transformasi Laplace Berkaitan Dengan Pergeseran Sumbu

f(t) f (s) = L (f(t)) Domain dari F(s)
( )
+
∈B n e t
at n

( )
1
!
+

n
a s
n

S > a
e
at
sin bt
( )
2 2
b a s
b
+ −

S > a
e
at
cos bt
( )
2 2
b a s
a s
+ −


S >a
e
at
sinh bt
( )
2 2
b a s
b
− −

S > a + b
e
at
cosh bt
( )
2 2
b a s
a s
− −


S > a + b
Tabel 1.3
Pasangan Transformasi Laplace Berkaitan dengan Fungsi Tangga Satuan

No F(t) F(s)
1 Au(t – a)
as
e
s
A


2 Atu (t – a)
as
e
s
Aa
s
A

|
¹
|

\
|
+
2

3 A t
2
u(t – a)
as
e
s
Aa
s
A
s
A

|
|
¹
|

\
|
+ +
2
2 3
2 2

4 Ae
bt
u (t – a)
as
ba
e
b s
Ae


+

5 A cos bt u(t – a)
( )
as
e
b s
ba Ab
b s
s ba A

+

+
2 2 2 2
) (sin cos

6 A sin bt u(t – a)
( )
as
e
b s
ba Ab
b s
b ba A

+
+
+
2 2 2 2
) (sin cos

7 Ae
-ct
cos bt u (t – a)
( )( )
) (
2 2 2 2
) (
) (sin
) (
cos
c s a
e
b c s
ba Ab
b c s
c s ba A
+ −

+ +

+ +
+

8 Ae
-ct
sin bt u (t – a)
( )
) (
2 2 2 2
) (
) )( (sin
) (
cos
c s a
e
b c s
c s ba A
b c s
b ba A
+ −

+ +
+
+
+ +



8. Metode Penurunan dan Integrasi Transformasi
a. Penurunan Transformasi
Misal ( ) [ ] ( )dt t f e t f L
st



=
0
. Bila F(s) diturunkan terhadap s maka ruas kanan juga
diturunkan terhadap s yaitu integran diturunkan terhadap s dengan memandang peubah
lain (t) sebagai konstanta.
Turunan Pertama : ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) t tf L dt t tf '
0
− = − =


−st
e s F
Turunan Kedua : ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) t f t L dt t f t ' '
2 2
0
= =


−st
e s F
Turunan Ketiga : ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) t f t L dt t f t -
3 3
0
) 3 (
− = =


−st
e s F
Maka secara induktif dapat diperoleh transformasi dari turunan fungsi tingkat-n yaitu:
( ) ( ) ( )
( )
( ) s F t f t L
n n n
1 − = .......................................................... (1)
Sedang transformasi invers,
( ) ( ) ( ) ( ) t f t s F L
n n n
1
1
− =

.......................................................... (2)
Contoh:
Tentukan transformasi Laplace dari fungsi ( ) |
¹
|

\
|
− π
4
1
sin t t t g !
Jawab:
Misal:
( ) t t t t f cos
2
1
sin
2
1
4
sin − = |
¹
|

\
|
− =
π

Maka didapatkan hasil transformasi dari f(t),
( )
( ) ( ) 1 2 1 2
1
2 2
+

+
=
s
s
s
s F

Sehingga transformasi laplace dari g(t) yaitu:
( ) ( )
( ) 1 2
1 2
'
2
2
+
+ + −
= − =
s
s s
s F s G

b. Pengintegralan Transformasi
Misal L(f(t)) = F(s) dan
( )
t
t f
t
+
→0
lim
ada, maka:
( ) ( ) ( )
∫ ∫ ∫ ∫ ∫
∞ ∞

∞ ∞


|
|
¹
|

\
|
=
|
|
¹
|

\
|
=
0 0
dt dx e t f dx dt t f e dx x F
s
xt
s
xt
s

( )
( )
dt
t
t f
e dt e
t
t f
st
s
xt
∫ ∫




= |
¹
|

\
| −
=
0 0
1
................................. (3)
( )
|
¹
|

\
|
=
t
t f
L
Transformasi Laplace invers.
( )
( )
t
t f
dx x F L
s
=



−1
.......................................................... (4)
Metode pengintegralan transformasi akan lebih mudah diterapkan untuk menentukan
invers transformasi bila bentuk transformasi berupa fungsi logaritma atau fungsi invers
trigonometri. Misal diberikan transformasi G(s).
Maka dapat dituliskan:
( ) ( ) . dx x F s G
s


=
Sehingga G’(s) dan invers dari G(s) . g(t) =
( )
t
t f

Contoh:
Tentukan invers dari ( )
|
¹
|

\
|
+
+
=
b a
a s
s G ln !

Jawab:
Fungsi G(s) dapat dinyatakan, G(s) = ln (s + a) – ln (s + b). hasil turunan pertama dari
G(s), G’(s) =
b s a s +
+
+
1 1

Misal F(x) = - G’ (s) = -
b s a s +
+
+
1 1
, maka invers dari F(s) adalah:
( )
bt at
e e t f
− −
+ − =
.
Didapatkan invers:
( )
t
e e
t g
at bt − −

=


9. Konvolusi
Definisi:
Konvolusi dari dua fungsi f(x) dan g(t) didefinisikan sebagai berikut:
( ) ( ) ( )( ) ( ) ( )dx x t g x f t g f t g t f − = =

* * ......................................... (1)
Sifat-sifat dasar (aljabar) dari konvolusi fungsi antara lain: komutatif, distributif, dan
asosiatif.
1. f * g = g * f (komutatif)
2. f * (g + h) = f * g + f * h (distributif)
3. (f * g) * h = f * (g * h) (asosiatif)
4. f * 0 = 0 * f = 0

Contoh:
Tentukan f(t) * g (t) bila :
1. f (t) = t ; g (t) = sin t
2. f (t) = 1 ; g (t) = sin t

Jawab:
1. ( )( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )
∫ ∫ ∫
− = − = − =
t t t
x t xd dx x t x dx x t g x f t g f
0 0 0
cos sin *
( ) ( ) ( ) t t x t x t x t x
t
sin sin sin cos
0
− = − + − + − =
2. ( )( ) 1 cos cos sin *
0
0
+ − = − = =

t x xdx t g f
t
t


Metode Konvolusi
Kadang-kadang hasil transformasi Laplace H(s) dapat dinyatakans ebagai hasil kali dua
buah transformasi F(s) dan G(s) yang bersesuaian dengan transformasi invers f(t) dan
g(t). invers dari H(s), h(t) dapat diperoleh dari konvolusi f(t) dan g(t), sebagaimana
dijelaskan berikut.


Misal : L (f(t)) = F(s)
L (h(t)) = H(s) dan
H (s) = F(s). G(s),
Maka :
( ) ( ) ( ) ( )
∫ ∫



=
0 0
. dy y g e dx x f s G s F
xy

( )
( )
( ) dx dy y g e x f
y x s
|
|
¹
|

\
|
=
∫ ∫

+ −

0 0

( ) ( ) dx dt x t g e x f
s
st
|
|
¹
|

\
|
− =
∫ ∫



0

( ) ( ) ( ) dt dx x t g x f x f
t
s
|
|
¹
|

\
|
− =
∫ ∫

0

( ) ( ) ( ) ( ) ( ) t g t f L dx x t g x f L
t
*
0
=
|
|
¹
|

\
|
− =



Jadi diperoleh pasangan transformasi Laplace,
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) s G s F s H t g t f t h = ↔ = * .............................................. 1.30

Contoh:
Tentukan invers dari transformasi: ( )
2 4
1
s s
s H
+
=
Jawab:
Misal H(s) = F (s) G(s) dengan F(s) =
2
1
s
dan G(s) =
1
1
2
+ s

Maka didapatkan berturut-turut invers dari F(s) dan G(s) yaitu f(t) = t dan G(t) = sin t.
Kemudian didapatkan h(t) = f(t) * g(t) = t – sin t.

10. Gerak Harmonik
Trayektori x(t) dari gerak harmonik suatu benda dengan massa m yang tergantung pada
talu dengan konstanta tli k dan b sebgai damping term serta gaya yang bekerja pada
benda adalah f(t) dinyatakan dengan persaamaan diferensial tidak homogen.

) ( ) ( ) ( ' ) ( ' ' t f t kx t bx t mx = + + .......................................................... 1.31

Transformasi Laplace

( ) ( ) ( ) [ ] ( ) ( ) [ ] ( ) ( ) s f s kx x s sx b x sx s x s m = + − + − − 0 0 ' 0
2
..................... 1.32

Bila benda mulai dari diam maka x(0) = 0 dam x’(0) = 0.
Sehingga persamaan 1.32 dituliskan menjadi

k bs ms
s f
s x
+ +
=
2
) (
) ( .......................................................... 1.33
Misal
m
b
2
= α ;
m
k
=
0
ω dan
2 2
0 1
α ω ω − = maka persamaan 1.33 menjadi:
m
k
s
m
b
s
m
s f
s x
+ +
× =
2
1 ) (
) (

2
0
2
2
1 ) (
ω α + +
× =
s s m
s f



( )
2 2
0
2
1 ) (
α ω α − + −
× =
s m
s f


( )
2
1
2
1
1 ) (
ω α ω + −
× =
s m
s f

Dengan metode konvolusi didapatkan solusi persamaan diferensial (1.34) , yaitu:
( ) [ ] t e t f
m
t x
t
1
1
sin *
1
) ( ω
ω
α −
=

11. Persamaan Integral

Bentuk persamaan integral diberikan sebagai berikut:
( ) ( )dx x t y x g t f t y
t
− + =

0
) ( ) (
Dengan fungsi f(t) dan g(t) diberkan. Bentuk integral di ruas kanan dapat diubah menjadi
bentuk konvolusi antara fungsi g(t) dan y(t), sehingga persamaa integral dapat dituliska:

y (t) = f (t) + g (t) * y (t)

solusi persamaan integral dapat dicari dengan mengambil transformasi Laplace untuk
kedua ruas sehingga didapatkan fungsi y(t) merupakan transformasi invers dari Y(s).

contoh:
carilah solusi persamaan integral ( ) ( ) dx e x y t y t e t y
t x
t
t −

− − + =
0
2
) (
jawab:
dengan menggunakan notasi konvolusi fungsi y(t) dapat dituliskan menjadi
( )
1 2
* ) (

− + = e t y t e t y
t

Transformasikan kedua ruas, didapatkan:
1
) ( 1
2
1
) (
2
+
− +

=
s
s Y
s s
s Y

Dinyatakan secara eksplisit fungsi Y(s)
2
4
3
2
1
4
) 4 (
2 2
) (
2 2 2
2 3

+
+
=

− − +
=
s s
s
s s
s s s
s Y
Solusi persamaan integral merupakan invers dari Y(s) yaitu:

t
e t y
2
4
3
2
1
4
1
) ( + + =


Tabel 1.4
Sifat Transformasi Laplace

No Sifat Transformasi
1 Linear
• ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) s bG s aF t bg t af L + = +
• ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) t dg t cf t dG t cF L + = +
−1

2 Pergeseran sumbu t
( ) ( ) ( ) s f e a t f L
as −
= −
3 Pergeseran sumbu s
( ) ( ) ( ) a s F t f e L
at
− =
4 Skala
( ) ( )
|
¹
|

\
|
=
a
s
F
a
at f L
1

5 Turunan
• ( ) ( ) 0 f s sF
dt
df
L − =
|
¹
|

\
|

• ( ) ( ) ( ) 0 ' 0
2
2
2
f sf s F s
dt
f d
L − − =
|
|
¹
|

\
|

• ( ) ( ) ( )( ) 0 1 ... 0
1
− − − − =
|
|
¹
|

\
|

n f f s s F s
dt
f d
L
n n
n
n

6 Integral
( )
( )
( )
∫ ∫
∞ − ∞ −
+ =
|
|
¹
|

\
|
0
dx x f
s
s F
dx x f L
t

7 Perkalian dengan t
• ( ) ( )
( )
ds
s dF
t tf L − =
• ( ) ( )
( )
2
2
2
ds
s F d
t f t L − =
• ( ) ( ) ( )
( )
n
n
n n
ds
s F d
t f t L − =
8 Pembagian oleh t
( )
( )


= |
¹
|

\
|
s
dy y F
t
t f
L
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) s G s F t g t f L = *
LATIHAN KERJA MAHASISWA

Tentukan transformasi Laplace dari :
1. f(t) = t
2
+ 1

2. f(t) = e
2t + 1

Carilah invers dari :
3. F(s) =
1
2

s
s

Gunakan metode Transformasi turunan atau integral untuk mencari transformasi
Laplace dari:
4. f(t) = Sin
2
t
5. f(t) = t sin 2t

Tentukan f(t) bila diketahui F(s):
6.
as
s
+
2
1

7.
|
¹
|

\
|
+

4
4 1
2
s
s
s


Gambarkan grafik fungsi berikut dan tentukan transformasinya:
8. f(t) = t u (t-1)
9. f(t) = u
|
¹
|

\
|
− π
2
1
t sin t

fungsi berikut didefinisikan bernilai 0 untuk nilai di luar interval yang diberikan. Gambar
grafik dan tentukan transformasi Laplacenya:
10. t ( 0 < t < 2)
11. Sin t (2π < t < 4π)

Tentukan gambar dan invers transformasi Laplace berikut:
12.
2
4 2


− −
s
e e
s s


Gunakan metode Penurunan Transformasi untuk menentukan transformasi Laplace
dari fungsi berikut:
13. 4 t e
2t

14. f(t) = t
2
e
-2t
sin 2t

carilah invers dari transformasi Laplace berikut:
15. F(s) = ln
( ) b s
a s
+
+
2

Selesaikan konvolusi berikut:
16. t * e
at

17. cos t * cos t

tentukan h(t) bila H(s) =
18.
( )
2
2
2
4 + s
s

19.
( )
2
2
2
1
1

+
s
s


Gunakan transformasi Laplace untuk menyelesaikan persamaan integral berikut:
20. ( ) ( )dx x y t y
t

+ =
0
1
21. ( ) ( ) ( )dx x t x y t t y
t

− + =
0
2 sin 2 sin

Gunakan metode yang tepat untuk menentukan f(t) bila F(s) =
( ) 1
3
2


s
s

22.
( )
2
2
2
2 2
2
+ +
+
s s
s

23.
13 4
1
2
+ +
+
s s
s

24.
6 11 6
26 26 6
2 3
2
− + −
+ −
s s s
s s

25.
( ) ( )
3 2
2 3
2 1
9 14 7
− −
− + −
s s
s s s


PEMBAHASAN

1. f(t) = t
2
+ 1 =
s s s
s
3 2 3
2 1 2 +
= +
2. f(t) = e
2t + 1 =
1 2
1
+ − t s

3. F(s) =
1
2

s
s
1
2
1
1
2
1

=
+ s s

4. ( ) t t f
2
sin =
( ) tdt t f
2
sin ' =
du
t
u
cos
2
=
du u t . 2 . cos =
( ) ( ) t t t f sin 2 . cos ' =
5. ( ) t t t f 2 sin . =
u v v u ' ' + =
( )( ) ( ) t t t 2 cos 2 2 sin 1 + =
t t t 2 cos 2 2 sin + =
6. ( )
t
te t f
2
4 =
' 4 4 u t u = → =
' . 2
2 2
v e t e v
t t
= → =
( ) u v v u t f ' ' ' + =
( ) ( ) ( ) t e t e t f
t t
4 . 2 4 '
2 2
+ =
( )
t t
e t e t f
2 2 2
. 8 . 4 ' + =
7. ( ) t e t t f
t
2 sin .
2 2 −
=
t u t u 2 '
2
= → =
t t
e t v e v
2 2
. 2 '
− −
− = → =
t t w 2 cos 2 2 sin = =
( ) uv w uw v vwt u t f ' ' ' ' + + =
( ) ( )( )( ) ( )( )( )
t t t
e t te t e t t f
2 2 2 2
2 2 sin 2 '
− − −
− + =
( ) t e t t e t t e t t f
t t t
2 cos . . 2 2 sin . . 2 2 sin . . 2 '
2 2 2 3 2 − − −
+ − =


You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->