MOLA HIDATIDOSA

MOLA HIDATIDOSA

PENDAHULUAN Mola Hidatidosa merupakan salah satu penyakit trofoblas gestasional (PTG), yang meliputi berbagai penyakit yang berasal dari plasenta, yaitu mola hidatidosa parsial dan komplit, koriokarsinoma, mola invasif, dan placental site trophoblastic tumors. Mola hidatidosa adalah neoplasma jinak dari sel trofoblast. Pada mola hidatidosa kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang sempurna, melainkan berkembang menjadi keadaan patologik. Kehamilan mola secara histologis ditandai dengan kelainan vili khorionik yang terdiri dari proliferasi trofoblas dengan derajat bervariasi dan edema stroma vilus. Mola biasanya terletak di rongga uterus, tetapi kadang-kadang terletak di tuba fallopi dan bahkan ovarium. Mola hidatidosa merupakan penyakit yang terjadi pada wanita dalam masa reproduksi, yakni antara umur 15 tahun sampai 45 tahun. Insidensinya lebih banyak ditemukan di negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika latin jika dibandingkan dengan insidensi pada negara-negara barat. Angka kejadian mola hidatidosa pada bagian barat Amerika Serikat ialah terjadi 1 kejadian kehamilan mola dari 1.000 ± 1.500 kehamilan. Mola hidatidosa ditemukan kurang lebih 1 dari 600 kasus abortus medisinalis. Di Asia, insidensi mola 15 kali lebih tinggi daripada di Amerika Serikat, dengan Jepang yang melaporkan bahwa terjadi 2 kejadian kehamilan mola dari 1000 kehamilan. Di negara-negara Timur Jauh beberapa sumber memperkirakan insidensi mola lebih tinggi lagi, yakni 1:120 kehamilan.

DEFINISI Mola Hidatidosa adalah kehamilan abnormal, dimana seluruh villi korialisnya mengalami perubahan hidrofobik. Mola hidatidosa juga dihubungkan dengan edema vesikular dari vili khorialis plasenta dan biasanya tidak disertai fetus yang intak. Secara histologist, ditemukan proliferasi trofoblast dengan berbagai tingkatan hiperplasia dan displasia. Vili khorialis terisi cairan, membengkak, dan hanya terdapat sedikit pembuluh darah.

1

di mana wanita pada umur remaja muda atau premenopausal yang paling beresiko.MOLA HIDATIDOSA Mola hidatidosa dapat dibagi menjadi dua kategori. Cipto Mangunkusumo. Afrika.dan terdapat hiperplasia tropoblastik. Semua kromosomnya berasal dari sisi paternal. Pada mola yang komplit. EPIDEMIOLOGI Prevalensi mola hidatidosa lebih tinggi di Asia. Jakarta sebesar 1:31 persalinan dan 1:49 kehamilan. kontrasepsi oral. invasi uterus terjadi pada 15% pasien dan metastasis terjadi pada 4% kasus. Eritrosit fetus dan pembuluh darah di vili khorialis masih sering didapatkan. Sedangkan. walaupun pada 4% pasien. pada mola hidatidosa parsial. faktor reproduksi lain. sedangkan di negara-negara berkembang sebesar 1:100 atau 600 kehamilan. di mana 90% biasanya terdiri dari kariotipe 46. Wanita dengan usia lebih dari 40 tahun mengalami peningkatan sebanyak 7 kali lipat jika dibandingkan dengan wanita yang lebih muda. 20% kasus berkembang menjadi keganasan trophoblastik. atau satu telur dibuahi oleh dua sperma. terdapat jaringan fetus. Setelah mola sempurna berkembang. Insiden kehamilan mola beragam diantara kelompok-kelompok etnis dan biasanya tertinggi pada negara-negara Amerika Latin. mola parsial dapat berkembang menjadi penyakit trofoblastik gestasional persisten nonmetastatik yang membutuhkan kemoterapi.XX dan 10% terdiri dari kariotipe 46. Insidensi di Indonesia dilaporkan mencapai 1:85 kehamilan (Soejonoes) dan di RS Dr. Ovum yang tidak bernukleus akan mengalami fertilisasi oleh sperma haploid yang kemudian berduplikasi sendiri. Kekambuhan mola hidatidosa dijumpai pada sekitar 1 ± 2% kasus. vili khoriales memiliki ciri seperti buah angur. Di negara-negara barat dilaporkan 1:200 atau 2000 kehamilan. Timur Tengah. Mola hidatidosa biasanya lebih sering dijumpai pada wanita usia reproduksi. paritas. dan Amerika Latin jika dibandingkan dengan negara-negara barat.XY. Dalam suatu 2 . antara lain mola hidatidosa komplit dan mola hidatidosa parsial. Mola hidatidosa komplit tidak berisi jaringan fetus. yakni usia 15 hingga 45 tahun. dan Asia Timur. Peran graviditas. Tidak ada kasus koriokarsinoma yang dilaporkan berasal dari mola parsial. status estrogen. Vili khorialis terdiri dari berbagai ukuran dan bentuk dengan stroma tropoblastik yang menonjol dan berkelok-kelok . Wanita dengan umur 35 tahun keatas memiliki peningkatan resiko 3 kali lipat. dan faktor makanan dalam resiko penyakit trofoblastik gestasional masih belum jelas. Pada pasien dengan mola hidatidosa.

000 persalinan. Tetapi dalam kenyataannya tidak selalu demikian. Demikian pula dengan penyakit trofoblast. berupa degenerasi hidrofik dari jonjot karion.MOLA HIDATIDOSA kajian terhadap 12 penelitian yang total mencakup hampir 5. Kekurangan protein 6. antara lain: 1. tetapi faktor-faktor yang mungkin dapat menyebabkan dan mendukung terjadinya mola. yang merupakan kegagalan reproduksi. tapi dindingnya menjadi lebih tipis tetapi lebih kuat dan membesar sampai keluar pelvis. frekuensi mola rekuren adalah 1. ETIOLOGI Penyebab pasti mola hidatidosa tidak diketahui. uterus bertambah besar. di mana ovum memang sudah patologik sehingga mati. Imunoselektif dari trofoblast 3. Faktor ovum. Bisa juga terjadi kehamilan ganda mola. sehingga menyerupai gelembung yang disebut ´mola hidatidosa´. Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas PATOFISIOLOGI Untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan sebutir ovum. Sering kali perkembangan kehamilan mendapat gangguan. Gelembung mola besarnya bervariasi. mulai dari yang kecil sampai yang 3 . tetapi terlambat dikeluarkan 2. Sebagian dari villi berubah menjadi gelembung ± gelembung berisi cairan jernih merupakan kista ± kista kecil seperti anggur dan dapat mengisi seluruh cavum uteri. Pada umumnya setiap kehamilan berakhir dengan lahirnya bayi yang sempurna. melainkan berkembang menjadi keadaan patologik yang terjadi pada minggu-minggu pertama kehamilan. yaitu satu jenis tumbuh dan yang satu lagi menjadi mola hidatidosa. sesudah keluar dari overium diantarkan melalui tuba uterin ke uterus (pembuahan ovum secara normal terjadi dalam tuba uterin) sewaktu hamil yang secara normal berlangsung selama 40 minggu. Di sini kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang sempurna. masuk ke dalam rongga abdomen pada masa fetus.3% (Lorret de mola dan Goldfarb). Secara histopatologik kadang-kadang ditemukan jaringan mola pada plasenta dengan bayi normal. Paritas tinggi 5. Keadaan sosioekonomi yang rendah 4.

Teori terjadinya penyakit trofoblas ada 2.MOLA HIDATIDOSA berdiameter lebih dari 1 cm 5.YY tidak pernah ditemukan 4 . Teori neoplasma menyatakan bahwa yang abnormal adalah sel-sel trofoblas dan juga fungsinya dimana terjadi resorbsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehingga timbul gelembung. yaitu teori missed abortion dan teori neoplasma. tetapi ada diantaranya yang kemudian mengalami degenerasi keganasan yang berupa karsinoma. Pada ummnya penderita ´mola hidatidosa akan menjadi baik kembali. Teori missed abortion menyatakan bahwa mudigah mati pada kehamilan 3-5 minggu (missed abortion) karena itu terjadi gangguan peredaran darah sehingga terjadi penimbunan cairan dalam jaringan mesenkim dari villi dan akhirnya terbentuklah gelembunggelembung. Ukuran vesikel bervariasi dari yang sulit dilihat. Mola sempurna dapat dibagi atas 2 jenis. yaitu : Mola Sempurna Androgenetic Homozygous Merupakan 80% dari kejadian mola sempurna. Dua komplemen kromosom paternal identik. Hal ini menyebabkan gangguan peredaran darah dan kematian mudigah. KLASIFIKASI MOLA HIDATIDOSA SEMPURNA Villi korionik berubah menjadi suatu massa vesikel ± vesikel jernih. 90% merupakan genotip 46XX dan sisanya 46XY. antara lain: y y y y Degenerasi hidrofobik dan pembengkakan stroma vilus Tidak adanya pembuluh darah di vilus yang membengkak Proliferasi epitel tropoblas dengan derajat bervariasi Tidak adanya janin dan amnion Mola sempurna tidak memiliki jaringan fetus. didapatkan dari duplikasi kromosom haploid seluruhnya dari ayah. Selalu perempuan. berdiameter sampai beberapa sentimeter dan sering berkelompok-kelompok menggantung pada tangkai kecil. Vili korionik berubah menjadi suatu massa vesikel-vesikel jernih. 46. Temuan Histologik ditandai oleh adanya.

Mola sempurna biparental jarang ditemukan. dan kulit hangat. Ini diakibatkan dari fertilisasi ovum haploid dan duplikasi kromosom haploid paternal atau akibat 5 . Komplemen kromosomnya yaitu 69. MOLA HIDATIDOSA PARSIAL Apabila perubahan hidatidosa bersifat fokal dan kurang berkembang. Pada mola parsial. Semua kromosom berasal dari kedua orang tua. Bentuk rekuren mola biparental (yang merupakan familial dan sepertinya diturunkan sebagai autosomal resesif) pernah ditemukan. dan mungkin tampak sebagai jaringan janin. Dapat laki-laki atau perempuan. Ini diakibatkan peningkatan kadar human chorionic gonadotropin (HCG). Pasien juga melaporkan mual dan muntah yang hebat. Terjadi perkembangan hidatidosa yang berlangsung lambat pada sebagian villi yang biasanya avaskular. sementara villi-villi berpembuluh lainnya dengan sirkulasi janin plasenta yang masih berfungsi tidak terkena. jaringan fetus biasanya didapatkan. tremor. tetapi gen maternal gagal mempengaruhi janin sehingga hanya gen paternal yang terekspresi. Jaringan mola terpisah dari desidua dan menyebabkan perdarahan.MOLA HIDATIDOSA Heterozygous Merupakan 20% dari kejadian mola sempurna. Pasien ini biasanya datang dengan tanda dan gejala yang mirip dengan aborsi inkomplit atau missed abortion yakni Perdarahan vagina dan hilangnya denyut jantung janin. Mola Sempurna Biparental Genotip ayah dan ibu terlihat. Sekitar 7% pasien juga datang dengan takikardia. Gejala ini terjadi pada 97% kasus mola hidatidosa. eritrosit dan pembuluh darah fetus pada villi merupakan penemuan yang seringkali ada. Presentasi klinis yang tipikal pada kehamilan mola sempurna dapat didiagnosis pada trimester pertama sebelum onset gejala dan tanda muncul. kemungkinan besar terjadi karena pembuahan dua sperma.XXY. Telah ditemukan daerah kromosom yang menjadi calon yaitu 19q13. Uterus dapat menjadi membesar akibat darah yang jumlahnya besar dan cairan merah gelap dapat keluar dari vagina.XXX atau 69. Gejala yang paling sering terjadi pada mola sempurna yaitu perdarahan vagina. Pasien dengan mola parsial tidak memiliki manifestasi klinis yang sama pada mola sempurna.

MANIFESTASI KLINIS a. Hal ini merupakan akibat dari peningkatan secara tajam hormon -HCG. Penderita juga mengeluhkan mual dan muntah yang berat. Jaringan mola terpisah dari desidua. Setidaknya 7% penderita memiliki gejala seperti takikardi. Hiperemesis. Amenorrhoe dan tanda-tanda kehamilan. Keluar jaringan mola seperti buah anggur. merupakan gejala utama dari mola hidatidosa. Tidak dirasakan tanda-tanda adanya gerakan janin maupun ballottement. menyebabkan perdarahan.MOLA HIDATIDOSA pembuahan dua sperma. Kebanyakan mola sudah dapat dideteksi lebih awal pada trimester awal sebelum terjadi onset gejala klasik tersebut. pemeriksaan fisik. yang merupakan diagnosa pasti h. Uterus sering membesar lebih cepat dari biasanya tidak sesuai dengan usia kehamilan. dan cairan gelap bisa mengalir melalui vagina. b. akibat terdapatnya alat penunjang USG yang beresolusi 6 . c. Hiperemesis. Uterus membesar (distensi) oleh karena jumlah darah yang banyak. USG dan histologis. Gejala ini terdapat dalam 97% kasus. ditemukan jaringan trofoblastik hyperplasia dan pembengkakan villi chorionic. Preklampsi dan eklampsi sebelum minggu ke-24 g. d. Gejala Tirotoksikosis DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan dari anamnesis. pemeriksaan penunjang seperti laboratorium. tremor dan kulit yang hangat. Seperti pada mola sempurna. Perdarahan vaginal. Tetraploidi juga biasa didapatkan. c. pasien dapat mengalami mual dan muntah cukup berat. sifat perdarahan bisa intermiten selama berapa minggu sampai beberapa bulan sehingga dapat menyebabkan anemia defisiensi besi. e. b. Perdarahan pervaginam dari bercak sampai perdarahan berat. Pada mola hidatidosa yang komplet terdapat tanda dan gejala klasik yakni: a. Hipertiroid. f. Gejala klasik yang paling sering pada mola komplet adalah perdarahan vaginal.

termasuk c-myc. dan edema dengan hiperefleksia. terdapat proliferasi trofoblastik. Kista ini tidak selalu dapat teraba pada pemeriksaan bimanual melainkan hanya dapat diidentifikasi dengan USG. Gejala mola parsial tidak sama seperti komplet mola. Dilakukan juga pemeriksaan tes fungsi hati. BUN dan kreatinin serta thyroxin dan serum inhibin A dan activin. epidermal growth factor. Pemeriksaan ultrasonografi merupakan pemeriksaan standar untuk mengidentifikasi kehamilan mola. Dengan resolusi yang tinggi didapatkan massa intra uterin yang kompleks dengan banyak kista yang kecil-kecil.dl). Pemeriksaan histologis memperlihatkan pada mola komplet tidak terdapat jaringan fetus. Pembesaran uterus yang tidak konsisten ini disebabkan oleh pertumbuhan trofoblastik yang eksesif dan tertahannya darah dalam uterus. Kista ini berkembang sebagai respon terhadap tingginya kadar beta HCG dan akan langsung regresi bila mola telah dievakuasi.sehingga pemeriksaan darah lengkap dan tes koagulasi dilakukan. Dari gambaran USG tampak gambaran badai salju (snowstorm) yang mengindikasikan vili khoriales yang hidropik. Didapatkan pula adanya gejala preeklamsia yang terjadi pada 27% kasus dengan karakteristik hipertensi ( TD > 140/90 mmHg). Sebagai tambahan pada mola komplet memperlihatkan peningkatan faktor pertumbuhan.MOLA HIDATIDOSA tinggi. Pada mola parsial terdapat jaringan fetus beserta amnion dan eritrosit fetus. serta kromosom 46. vili yang hidropik. yakni kista ovarii yang diameternya berukuran > 6 cm yang diikuti oleh pembesaran ovarium. Anemia merupakan komplikasi yang sering terjadi disertai dengan kecenderungan terjadinya koagulopati. dibandingkan pada plasenta yang normal. maka pemeriksaan rontgen pulmo harus dilakukan karena paru paru merupakan tempat metastasis pertama bagi PTG. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan antara lain kadar beta HCG yang normal. protenuria (> 300 mg. seperti adanya perdarahan vaginal dan tidak adanya denyut jantung janin. Penderita biasanya hanya mengeluhkan gejala seperti terjadinya abortus inkomplet atau missed abortion. dan c-erb B-2.000 mIU/mL merupakan indikasi dari pertumbuhan trofoblastik yang banyak sekali dan kecurigaan terhadap kehamilan mola harus disingkirkan. Bila didapatkan > 100.XY.XX atau 46. Dari pemeriksaan fisik pada kehamilan mola komplet didapatkan umur kehamilan yang tidak sesuai dengan besarnya uterus (tinggi fundus uteri). Kejadian kejang jarang didapatkan. Kista theca lutein. Bila telah ditegakkan diagnosis mola hidatidosa. 7 .

y Preeklampsia. proteinuria (> 300 mg/d). Pasien biasanya mengeluhkan nyeri pelvis. Auskultasi : tidak terdengar bunyi denyut jantung janin. Namun. Karena adanya peningkatan ukuran ovarium. Kejang jarang terjadi. y Kista teca lutein: Merupakan kista ovarium dengan diameter lebih besar dari 6cm dan diikuti dengan pembesaran ovarium. Pembesaran uterus lebih besar daripada biasanya pada usia gestasi tertentu merupakan tanda yang klasik dari mola sempurna. uterus terasa lembek. Kista ini biasanya tidak dapat dipalpasi pada pemeriksaan bimanual namun dapat teridentifikasi dengan USG. 8 . Pemeriksaam Dalam : memastikan besarnya uterus. pasien yang datang dengan ukuran sesuai dengan umur kehamilan bahkan lebih kecil tidak jarang ditemukan. terdapat resiko torsi.MOLA HIDATIDOSA KLINIS Anamnesis Ada kehamilan disertai gejala dan tanda kehamilan cenderung muda yang coklat berlebihan. teraba lembek Tidak teraba bagian-bagian janin dan ballotement dan gerakan janin. Pemeriksaan Fisik y Inspeksi : muka dan kadang-kadang badan kelihatan kekuningan yang disebut muka mola (mola face) Palpasi : uterus membesar tidak sesuai dengan tuanya kehamilan. Pembesaran tidak diharapkan disebabkan oleh pertumbuhan trofoblastik berlebih dan darah yang tertampung. terdapat perdarahan dalam kanalis servikalis y y y Hasil Penemuan Fisik Mola Sempurna y Ukuran yang tidak sesuai dengan umur gestasi. Sekitar 27% pasien dengan mola sempurna mengalami toxemia ditandai oleh adanya hipertensi (BP >140/90 mm Hg). dan edema dengan hiperreflexia. perdarahan pervaginam berulang berwarna dan kadang bergelembung seperti busa. Kista ini berkembang akibat adanya kadar beta-HCG yang tinggi dan kadarnya biasanya menurun setelah mola.

thyrotoxikosis. and hiperthyroidism jarang terjadi. tanpa perdarahan. Pasien sebaiknya diberi tahu mengenai resiko dari morbiditas maternal akibat komplikasi mola kembar. Paling sering ditemukan dengan USG. Pembesaran uterus dan preeklampsia dilaporkan terjadi hanya pada 3% kasus Kista Theca lutein. y Wanita dengan gestasi normal dan mola beresiko untuk menjadi persisten dan cenderung dapat bermetastasis. atau hipertensi berat. Mengakhiri kehamilan merupakan pilihan yang direkomendasikan. Radiologik y y Plain foto abdomen-pelvis : tidak ditemukan tulang janin USG : ditemukan gambaran snow strom atau gambaran seperti badai salju. hiperemesis. biasanya dilakukan sebagai tindakan awal kuretase 9 . PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium Pengukuran kadar Hormon Karionik Ganadotropin (HCG) yang tinggi maka uji biologik dan imunologik (Galli Mainini dan Plano test) akan positif setelah titrasi (pengeceran) : Galli Mainini 1/300 (+) maka suspek molahidatidosa. y Diagnosis genetik prenatal melalui sampling chorionic villus atau amniosentesis direkomendasikan untuk mengevaluasi kariotype fetus. Mola Kembar y Gestasi kembar dengan mola sempurna dan janin dengan plasenta normal telah dilaporkan. y Kehamilan dapat dilanjutkan selama status maternal stabil. Uji Sonde Tidak rutin dikerjakan. Kasus bayi lahir dengan sehat (dengan kembar mola) pada keadaan seperti ini juga pernah dilaporkan.MOLA HIDATIDOSA Mola Parsial y y y Lebih sering tidak memperlihatkan tanda fisik.

perdarahan b. Bila Kanalis servikalis belum terbuka dipasang laminaria dan 12 jam kemudian dilakukan kuret. Pemeriksaan dalam : keadaan serviks. Kalau hasil reaksi titer masih (+) maka harus dicurigai adanya keganasan 4. paritas 4 atau lebih.MOLA HIDATIDOSA Histopatologik Dari gelembung-gelembung yang keluar. Laboratorium : Reaksi biologis dan imunologis : 1x seminggu sampai hasil negatif. Ibu dianjurkan untuk tidak hamil dan dianjurkan memakai kontrasepsi oral pil. Mematuhi jadwal periksa ulang selama 2-3 tahun. setiap 2 minggu pada Triwulan kedua. setiap bulan pada 6 bulan berikutnya. 3. Bila mola sudah keluar spontan dilakukan kuret atau kuret isap. 2. 1x per 3 bulan selama tahun berikutnya. 5. Setiap pemeriksaan ulang perlu diperhatikan : a. 7 ± 10 hari setelah kerokan pertama. TATA LAKSANA Evakuasi 1. uterotonika dan perbaiki keadaan umum penderita. Memberikan obat-obatan antibiotik. Histerektomi total dilakukan pada mola resiko tinggi usia lebih dari 30 tahun. setiap 2 bulan pada tahun berikutnya. 1x per 2 minggu selama Triwulan selanjutnya. dilakukan kerokan ke dua untuk membersihkan sisa-sisa jaringan. Sitostatika Profilaksis : Metoreksat 3x 5mg selama 5 hari 10 . 1x sebulan dalam 6 bulan selanjutnya. Perbaiki keadaan umum. dikirim ke laboratorium PA. Gejala klinis : keadaan umum. uterus bertambah kecil atau tidak c. dan uterus yang sangat besar yaitu setinggi pusat atau lebih. yaitu setiap minggu pada Triwulan pertama. 2. dan selanjutnya setiap 3 bulan. 4. 3. Pengawasan Lanjutan 1.

Mola hidatidosa merupakan penyakit yang terjadi pada wanita dalam masa reproduksi. Mola hidatidosa adalah neoplasma jinak dari sel trofoblast. dan placental site trophoblastic tumors. mola invasif.MOLA HIDATIDOSA KESIMPULAN Mola Hidatidosa merupakan salah satu penyakit trofoblas gestasional (PTG). dan Amerika latin jika dibandingkan dengan insidensi pada negara-negara barat.000 ± 1. tetapi kadang-kadang terletak di tuba fallopi dan bahkan ovarium. insidensi mola 15 kali lebih tinggi daripada di Amerika Serikat. 11 . Pada mola hidatidosa kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang sempurna. Di Asia. melainkan berkembang menjadi keadaan patologik. Kehamilan mola secara histologis ditandai dengan kelainan vili khorionik yang terdiri dari proliferasi trofoblas dengan derajat bervariasi dan edema stroma vilus. tetapi juga membutuhkan penanganan lebih lanjut berupa monitoring untuk memastikan prognosis penyakit tersebut. Mola hidatidosa ditemukan kurang lebih 1 dari 600 kasus abortus medisinalis. Mola biasanya terletak di rongga uterus. yakni antara umur 15 tahun sampai 45 tahun. Afrika.500 kehamilan. dengan Jepang yang melaporkan bahwa terjadi 2 kejadian kehamilan mola dari 1000 kehamilan. Angka kejadian mola hidatidosa pada bagian barat Amerika Serikat ialah terjadi 1 kejadian kehamilan mola dari 1. yaitu mola hidatidosa parsial dan komplit. Di negara-negara Timur Jauh beberapa sumber memperkirakan insidensi mola lebih tinggi lagi. Penanganan mola hidatidosa tidak terbatas pada evakuasi kehamilan mola saja. Insidensinya lebih banyak ditemukan di negara-negara Asia. yakni 1:120 kehamilan. yang meliputi berbagai penyakit yang berasal dari plasenta. koriokarsinoma.

Mola Hidatidosa.. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta. Ayurai. EGG Jakarta. Sastrawinata. 2008. Penyakit Serta Kelainan Plasenta & Selaput Janin. available from: http://harnawatiaj. Hal38-42 12 . 262-264 11. Harnawatiaj. 2009.e-medicine. Jakarta. Ilmu Kandungan. M. Elstar Offset. 2009.2002 Hal 341-348. S. Yayasan Bina Pustaka SARWONO PRAWIROHADJO. Penyakit Trofoblas. dkk. Jilid I. Hal 930938. 2009 12.blogspot. Download at 20 september 2009. 10.com/2008/01/mola-hidatidosa. Jilid I.D. 2008. Diyah Metta Ningrum dan Ova Emilia. Cuninngham.N. R. Hal . Askep Mola Hidatidosa. Abdullah. Hal 25-28. 1999.com/2008/05/10/askep-mola-hidatidosa/ 6. Edisi 21. Downloaded from www. 9. Ross S. Rsud dokter soetomo surabaya. Hal. Mochtar.2001. dkk. S. D.org on September 16. 1981. A. Molar Pregnancy. Bandung. ECG. 2006. Hydatidiform Mole. Download at 22 september 2009 from : http://ayurai. Download tanggal 14 september 2009 dari : http://theeyebrow. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran. Ilmu Kebidanan. Mola Hidatidosa. Martaadisoebrata. Kebidanan dan penyakit kandungan. Goldstein. dkk. 238-243. and Donald P. Edisi2.D. Mola Hidatidosa. M. Mola Hidatidosa. Obsetetri Patologik. Jakarta.R. 2008.G. Mola Hidatidosa. Hal 265-267 8. F.com 7. 4.wordpress. 1998. Diagnosis Dan Manajemen Mola Hidatidosa. Download at 15 september 2009 available from: www.wordpress. Pedoman diagnosis dan terapi lab/upf. Kapita Selekta Kedokteran. ³Mola Hidatidosa´ Penyakit Trofoblastik Gestasional Obstetri Williams. S. Prawirohadjo. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. Berkowitz. Yayasan Bina pustaka SARWONO PRAWIROHARDJO.com/2009/06/26/mola-hidatidosa/ 3. Vol 2. Media Aesculapius. Mansjoer. H. Sinopsis Obstetri. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.MOLA HIDATIDOSA DAFTAR PUSTAKA 1.nejm. & Wiknjosastro. 2. M.html 5. 1994. & Sumapraja. Lisa E Moore.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful