1

PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP PENYALAHGUNAAN IZIN KEIMIGRASIAN MENURUT UNDANG-UNDANG RI NO. 9 TAHUN 1992 TENTANG KEIMIGRASIAN (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan) SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas Dan Memenuhi Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum O L E H YOYOK ADI SYAHPUTRA NIM : 030200015 Departemen Hukum Pidana

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2007
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

2

DAFTAR ISI Kata Pengantar ..............................................................................................................i Daftar Isi .......................................................................................................................ii Abstraksi ......................................................................................................................iii BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1 A. Latar Belakang ....................................................................................... 1 B. Perumusan Masalah ............................................................................... 6 C. Tujuan dan Manfaat ............................................................................... 6 D. Keaslian Penulisan ................................................................................. 7 E. Tinjauan Kepustakaan ............................................................................ 8 1. Pengertian Penegakan Hukum ............................................................ 8 2. Pengertian Pidana ............................................................................. 11 3. Pengertian Keimigrasian................................................................... 16 F. Metode Penelitian ................................................................................ 16 G. Sistematika Penulisan .......................................................................... 19

BAB II

TINJAUAN UMUM ................................................................................. 21 A. Keimigrasian dalam Sistem Hukum Indonesia ...................................... 21 1. Pengertian Keimigrasian................................................................... 21 2. Fungsi Keimigrasian ........................................................................ 24 3. Ruang Lingkup Keimigrasian ........................................................... 29 B. Jenis-jenis Izin Keimigrasian................................................................ 35 C. Hukum Keimigrasian Indonesia Dalam Sistem Hukum Nasional .......... 40

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

3

BAB III

PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP PENYALAHGUNAAN IZIN KEIMIGRASIAN ................................... 45 A. Ketentuan Keberadaan Warga Negara Asing (WNA) di Indonesia Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian ............................................. 45 B. Faktor-faktor Penyebab terjadinya Penyalahgunaan Izin Keimigrasian................................................................................ 53 C. Upaya Penanggulangan Tidak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian ................................................................................ 61

D. Peranan Aparatur Penegak Hukum dalam Menanggulangi Tindak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian ..................... 73

BAB IV

KASUS DAN ANALISIS KASUS ............................................................ 91

A. Kasus Posisi ................................................................................................ 92 B. Analisis Kasus............................................................................................ 99 C. BAB V PENUTUP .............................................................................................. 104 A. Kesimpulan ........................................................................................ 104 B. Saran.................................................................................................. 106

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

2007. Tidak jarang persoalan kewarganegaraan suatu negara akan berkembang menjadi persoalam besar akibat kelengahan dari bagian keimigrasian negara tersebut.4 ABSTRAKSI Keimingrasian merupakan salah satu bagian terpenting bagisuatu negara. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). menjadikan tindak pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian sebagai suatu tindakpidana memerlukan penangan khusus. Kantor Kepolisian Kota Besar Medan dan Sekitarnya (Poltabes). dan Pengadilan Negeri Medan yang bertujuan untuk mengetahui pengaturan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian serta mengetahui peranan aparatur penegak hukum dalam menggulangi tindak pidana penyalhgunaan izin keimigrasian. dan ketegasan aparatur penegak hukum serta memajukan sarana dan prasarana dalam menunjang penegakan hukum tersebut. Mdn)” mengetangahkan permasalahan tersendiri mengenai pengaturan tindak pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian. B/2002/PN. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian juga masih berpedoman dengan KUHP. Tahap selanjutnya penulis melakukan penelitian dengan menggunakan teknik wawancara dan mengumpulkan bahan dari narasumber yaitu dari Kantor Imigrasi Polinia Medan. Berdasarkan penelitian tersebut diketahui bahwa pengaturan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian dalam hukum positif Indonesia diatur dalam Undang-undang No. masalah minimnya pengetahuan masayrakat. serta faktor-faktor yang menjadi penyebab dalam tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasianadan upaya-upaya apa saja yang dapat dilakukan sebagai upaya dalam menangani tindak pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian. dan salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam penegakan hukum dalam tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian adalah dengan meningkatkan profesionalitas aparatur penegak hukum.pada tahap awal penulis terlebih dahulu melakukan penelitian terhadap bahan hukum yang berkaitan dengan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. Mdn) disebabkan masih kurangnya ketegasan aparatur penegak hukum dalam memberikan hukuman kepda warga negara asing yang melakukan tindak pidana penyalhgunaan izin keimigrasian. mengingat tugas dan tanggung jawab yang diembannya sangat menentukan keberadaan dan dan kekuatan negara yang bersangkutan. B/2002/PN. USU Repository © 2009 . 2493/Pid. Penulis menggunakan metode penelitian dengan metode hukum normative dan empiris. Kompleksnya masalah dalam tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Hukum pidana masih belum berfungsi secara maksimal terhadap kasus penyalahgunaan izin keimigrasian (Putusan No. mulai dari penggunaan visa yang tidak sesuai. sampai peranan aparat penegak hukum. Skripisi yang berjudul “penegakan hukum pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian (studi kasus Pengadilan Negeri Medan dengan Putusan No. Seluruh warga negara Indonesia maupun warga negara asing setiap kali keluar-masuk wilayah Indonesia pasti berurusan terlebih dahulu dengan bagian keimigrasian. 2493/Pid.

Jadi. 30 Mei 2006) Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. aparatur penegak hukum itu diperkenankan untuk menggunakan daya paksa. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). penegakan hukum itu dapat dilakukan oleh subyek yang luas dan dapat pula diartikan sebagai upaya penegakan hukum itu melibatkan semua subyek hukum dalam setiap hubungan hukum. Siapa saja yang menjalankan aturan normatif atau melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dengan mendasarkan diri pada norma aturan hukum yang berlaku. USU Repository © 2009 1 . 1 Mengingat demikian banyaknya instansi (struktur kelembagaan) dan pejabat (kewenangan) yang terkait di bidang penegakan hukum.com/artikel.php?id=49 yang direkam pada 1 Mar 2007 03:28:22 GMT (“Penegakan Hukum”. Latar Belakang Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam lalulintas atau hubungan–hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. “reformasi http://www. maka reformasi penegakan hukum tampaknya memerlukan peninjauan dan penataan kembali seluruh struktur kekuasaan/kewenangan penegakan hukum. berarti dia menjalankan atau menegakkan aturan hukum.solusihukum. apabila diperlukan. Ditinjau darui sudut subyeknya. dari segi subyeknya itu. Dalam arti sempit. penegakan hukum itu hanya diartikan sebagai upaya aparatur penegakan hukum tertentu untuk menjamin dan memastikan tegaknya hukum itu. 2007.5 BAB I PENDAHULUAN A.

4 4 M.6 penegakan hukum” mengandung di dalamnya “reformasi kekuasaan/kewenangan di bidang penegakan hukum”. Citra Aditya Bakti. 2004. 3. PT. Disamping Barda Nawawi Arief. bahkan merupakan subsistem dari Hukum Administrasi Negara. Masalah-masalah yang mendapat sorotan masyarakat luas saat ini (seperti kolusi. 2007. sebagian dari ketentuan tersebut masih merupakan ketentuan bentukan pemerintah kolonial. hukum keimigrasian di Indonesia telah ada sejak pemerintahan kolonial Belanda 4. 2 Reformasi di bidang penegakan hukum dan struktur hukum. hal. “Persfektif Imigrasi dalam Pembangunan Ekonomi dan Ketahanan Nasional”. “Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan”. 1 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. hal. korupsi. Iman Santoso. hal. mafia peradilan dan bentuk-bentk penyalahgunaan kekuasaan atau persekongkolan lainnya di bidang prosedur/penegakan hukum). 3 Ibid. berhubungan erat dengan reformasi di bidang “budaya hukum dan pengetahuan/pendidikan hukum”. Ketentuan hukum keimigrasian di Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945 hingga 1991 secara formal tidak mengalami perkembangan berarti. 3 Hukum keimigrasian merupakan bagian dari sistem hukum yang berlaku di Indonesia. Dikatakan demikian karena ketentuan keimigrasian masih tersebar dalam beberapa ketentuan perundangundangan dan masih kuat dipengaruhi oleh hukum kolonial. jelas sangat terkait dengan masalah budaya hukum dan pengetahuan/pendidikan hukum. USU Repository © 2009 2 . Sebagai sebuah subsistem hukum. Semarang. Disamping tidak seseuai lagi dengan perkembangan kehidupan nasional. bahkan juga di bidang perundang-undangan (substansi hukum). 2001. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). UI Press Jakarta.

keberadaan pendatang ilegal dapat menjadi legal hanya dengan membayar sejumlah denda. USU Repository © 2009 . yang tentu saja kehadirannya ditujukan untuk mendukung kepentingan pemerintah kolonial. 2007. Hal tersebut tentu saja merupakan kemudahan di bidang keimigrasian karena membuka pintu selebar-lebarnya bagi pendatang dari berbagai negara demi kepentingan politik. 9 Tahun 1992) merupakan unifikasi beberapa ketentuan yang berkaitan dengan keimigrasian. Misalnya disebutkan dalam Ordonansi Izin Masuk bahwa orang asing yang telah diberi izin masuk. sebagian dari ketentuan tersebut masih merupakan bentukan pemerintah kolonial Belanda yang diserap ke dalam hukum keimigrasian nasional. yang sebelumnya tersebar dalam beberapa ketentuan perundang-undangan. 5. Demikian pula dalam pengaturan Penetapan Izin Masuk. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Undang-undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian (selanjutnya disebut UU No. hal. Barulah kemudian. Undang-undang tentang keimigrasian yang berjiwa nasional dilahirkan. pada tanggal 31 Maret 1992. dan pertahanan pemerintah kolonial. jasa dari dan ke wilayah Indonesia dapat mendorong dan memacu 5 Ibid.7 tidak sesuai lagi dengan perkembangan kehidupan nasional. ekonomi. diubah dan ditambah terakhir dengan Staatsblad 1949 Nomor 330. seperti Toelatingsbesluit Staatsblad 1916 Nomor 47 (Penetapan Izin Masuk/PIM). sekaligus juga diberi izin menetap. 2 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Secara faktual harus diakui bahwa peningkatan arus lalu-lintas orang. barang. serta Toelatingsordonnantie Staatsblad 1949 Nomor 33 (Ordonansi Izin Masuk/OIM).

pembelian saham atau kontrak lisensi). Munculnya Transnational Organized Crimes (TOC). meningkatnya investasi yang dilakukan. masuk. imigran gelap. Namun peningkatan arus lalu-lintas barang. Dampak negatif ini akan semakin meluas ke pola kehidupan serta tatanan sosial budaya yang dapat berpengaruh pada aspek pemeliharaan keamanan dan ketahanan nasional secara makro. Dominasi perekonomian nasional oleh perusahaan transnasional yang bergabung dengan perusahaan Indonesia (melalui Penanaman Modal Asing dan/ atau Penanaman Modal Dalam Negeri. b.8 pertumbuhan ekonomi serta proses modernisasi masyarakat. baik warga negara Indonesia maupun orang asing. dan obat terlarang. serta meningkatnya aktivitas perdagangan yang akan meningkatkan penerimaan devisa. Peningkatan arus orang asing ke wilayah RI tentunya akan meningkatkan penerimaan uang yang dibelanjakan di Indonesia. yang keluar. pencucian uang. sampai ke perbuatan terorisme internasional. baik Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. informasi dan orang juga dapat mengandung pengaruh negative. seperti: a. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). narkotika. mulai dari perdagangan wanita dan anak-anak. USU Repository © 2009 . keimigrasian harus mempunyai peranan yang semakin besar. dan tinggal di wilayah Indonesia. modal. Untuk meminimalisasikan dampak negatif yang timbul akibat mobolitas manusia. jasa. 2007. Penetapan politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif (selective policy) membuat institusi imigrasi Indonesia memiliki landasan operasional dalam menolak atau mengizinkan orang asing.

maupun kegiatannya di Indonesia 6. bangsa. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian”. Tidak bermusuhan dengan rakyat. hal. keberadaannya. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). b. Tidak membahayakan keamanan dan ketertiban umum. Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan di atas. Berdasarkan politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif. dan negara Republik Indonesia. USU Repository © 2009 . Memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat. 4 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007.9 dari segi masuknya. 6 Ibid. bangsa. serta c. peran penting aspek keimigrasian dalam tatanan kehidupan kenegaraan akan dapat terlihat dalam pengaturan keluar-masuk orang dari dan ke dalam wilayah Indonesia. serta diberi izin tinggal sesuai dengan maksud dan tujuan kedatangannya di Indonesia. ditetapkan bahwa hanya orang asing yang: a. Dengan demikian. diizinkan masuk dan dibolehkan berada di wilayah Indonesia. maka perlulah kiranya penulis untuk membahas lebih jauh mengenai tindak pidana di bidang keimigrasian ini khususnya hal-hal yang berkaitan dengan penyalahgunaan izin keimigrasian. maka dari itu penulis mengambil judul skripsi “Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut UndangUndang RI No. dan pemberian izin tinggal serta pengawasan terhadap orang asing selama berada di wilayah Indonesia. dan negara Republik Indonesia.

USU Repository © 2009 .10 B. maka perlu di rumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. maka dapat disimpulkan bahwa tujuan yang ingin dicapai melalui penulisan ini adalah sebagai berikut : 1) Untuk Mengetahui apa saja yang menjadi faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. 2007. Tujuan Penulisan Berdasarkan identifikasi permasalahan yang telah penulis utarakan. Apa saja yang menjadi faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian? 2. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Tujuan dan Manfaat Penulisan 1. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2) Untuk mengetahui bagaiman upaya penganggulangan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. Bagaimanakah peranan aparatur penegak hukum dalam penegakan hukum terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian? C. Bagaimana upaya penanggulangan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian? 3. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana di uraikan diatas.

b. dan juga aparat penegak hukum/pemerintah dalam menghadapi atau mengusut tuntas suatu peristiwa pidana terutama hal-hal yang berkaitan dengan tindakan yang menyalahgunakan izin keimigrasian. D. praktisi hukum. masyarakat. Manfaaat praktis Dengan penulisan skripsi ini diharapkan dapat menjadi pedoman dan bahan rujukan bagi rekan mahasiswa. Manfaat Penulisan Selain tujuan-tujuan tersbut diatas. 2. Skripsi ini juga diharapkan dapat memberikan masukan bagi penyempurnaan perangkat peraturan perundang-undangan terhadap tindak pidana yang terkait erat dengan izin keimigrasian ini.11 3) Untuk mengetahui dan meneliti lebih jauh bagaimana peranan aparatur penegak hukum dalam menanggulangi tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. USU Repository © 2009 . 2007. Keaslian Penulisan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Manfaaat teoritis Pembahasan terhadap masalah-masalah dalam skripsi ini tentu akan menambah pemahaman kepada semua pihak baik masyarakat pada umumnya maupun para pihak yang berhubungan dengan dunia hukum pada khususnya. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). penulisan skripsi ini juga diharapkan bermanfaat untuk berbagai hal diantaranya: a.

Oleh karena itu memberikan keadilan dalam suatu perkara berarti memutuskan perkara dengan menerapkan hukum dan menemukan hukum secara nyata dalam mempertahankan dan menjamin dipatuhinya hukum materiel Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Berdasarkan alasan tersebut di atas maka dapat disimpilkan bahwa skripsi adalah asli. Skripsi juga didasarkan pada referensi dari buku-buku. informasi dari media cetak dan elektronik serta fakta yang diperoleh dai data berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh penulis. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Penegakan hukum pada hakekatnya merupakan penegakan ide-ide atau konsep-konsep yang abstrak itu. Tinjauan Kepustakaan 1. Permasalahan maupun penyajiannya merupakan hasil dari pemikiran dan ide penulis sendiri. 2007. kebenaran. kemanfaatan sosial dan kandungan hukum ini bersifat abstrak. Penegakan hukum secara konkret merupakan berlakunya hukum positif dalam praktek sebagaimana seharusnya dipatuhi.12 Sepanjang yang telah ditelusuri dan diketahui di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara bahwa penulisan skripsi tentang “Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang RI No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian” belum pernah disajikan sebelumnya baik dalam bentuk tulisan maupun sub pembahasan permasalahan dalam suatu skripsi. USU Repository © 2009 . Pengertian penegakan hukum Hukum adalah sarana yang di dalamnya terkandung nilai-nilai atau konsep-konsep tentang keadilan. E.

Tahap Eksekusi. yaitu pihak-pihak yang membentuk maupun yang menerapkan hukum.13 dengan menggunakan cara prosedural yang ditetapkan oleh hukum formal. yakni sebagai hasil karya. cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia dalam pergaulan hidup. b. Oleh karena itu keberhasilan penegakan hukum akan dipengaruhi oleh hal-hal tersebut. Tahap Aplikasi. “Faktor-faktor yang mempengaruhi Penegakan Hukum”. Tahap Formulasi. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. (2) Faktor penegak hukum. yaitu : a. yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku dan diterapkan. yaitu : (1) Faktor hukumnya sendiri. (5) Faktor kebudayaan. c. 4-5. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 7 . 2007. 7 Penegakan hukum khususnya hukum pidana apabila dilihat dari suatu proses kebijakan maka penegakan hukum pada hakekatnya merupakan penegakan kebijakan melalui beberapa tahap. (Jakarta : Rajawali Press. 1983). hal. (4) Faktor masyarakat. Penegakan hukum merupakan suatu proses yang melibatkan banyak hal. (3) Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum. yaitu Soerjono Seokanto. Dapatlah dikatakan bahwa ketiga tahap kebijakan penegakan hukum pidana tersebut terkandung didalamnya tiga kekuasaan atau kewenangan. Pada dasarnya ada 5 (lima) faktor yang mempengaruhi penegakan hukum.

penegakan hukum represif 8 Barda Nawani Arief. 9 Penegakan secara preventif diadakan untuk mencegah agar tidak dilakukan pelanggaran hukum oleh warga masyarakat dan tugas ini pada umumnya diberikan pada badan-badan eksekutif dan kepolisian. melakukan penegakan hukum preventif. 2005). 30. Penegakan hukum represif pada tingkat operasional didukung dan melalui berbagai lembaga yang secara organisatoris terpisah satu dengan yang lainnya. dan Kejaksaan misalnya dengan tugas PAKEM-nya. USU Repository © 2009 . 2007. Citra Aditya Bakti. Pada tahap pertama. 9 Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah. 2005). namun tetap berada dalam kerangka penegakan hukum. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Pustaka Pelajar. dan kekuasaan Eksekutif pada tahap Eksekusi dalam hal melaksanakan hukum pidana. Pada tahap ini kebijakan legeslatif ditetapkan sistem pemidanaan. Walaupun adakalanya dengan Undang-Undang. pada hakekatnya sistem pemidanaan itu merupakan sistem kewenangan atau kekuasaan menjatuhkan pidana. Sedangkan penegakan hukum represif dilakukan apabila usaha preventif telah dilakukan ternyata masih juga terdapat usaha pelanggaran hukum.” (Bandung : PT. (Yogyakarta. 111. yaitu kekuasaan legeslatif dalam menetapkan atau merumuskan perbuatan apa yang dapat dipidana dan sanksi apa yang dapat dikenakan. hal. “Politik Hukum Pidana”.14 kekuasaan Legislatif pada tahap formulasi. Yang kedua adalah kekuasaan Yudikatif pada tahap aplikasi dalam menerapkan hukum pidana. dapat ditunjuk pula pengadilan seperti dalam yurisdiksi volunter. 8 Penegakan hukum dalam negara dilakukan secara preventif dan represif. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). hal. Dalam hal ini hukum harus ditegakkan secara represif oleh alat-alat penegak hukum yang diberi tugas yustisionil. “Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan Hukum dan Pengembangan Hukum Pidana.

Apa yang sesungguhnya dialami tidak lain adalah pencabikan moral bangsa sebagai akibat dari kegagalan bangsa ini dalam menata manajemen Pemerintahannya yang berlandaskan hukum. Penegasan ini bukanlah tidak beralasan. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. karena di dalamnya terlibat subjek hukum yang mempersepsikan hukum menurut kepentingan masing-masing. Istilah tersebut tidak hanya M.15 diawali dari Lembaga Kepolisian. berikutnya Kejaksaan. USU Repository © 2009 10 . dapat mempunyai arti yang luas dan berubah-ubah karena istilah itu dapat mempunyai arti dapat berkonotasi dengan bidang yang cukup luas. 1. (Jurnal Equality : 2006). ketidakpastian hukum dan hidup dalam intimitas yang tidak sempurna antara sesamanya. Penegakan hukum adalah proses yang tidak sederhana. Hukum dibuat tanpa landasan moral dapat dipastikan tujuan hukum yang berkeadilan tidak mungkin akan terwujud. kemudian diteruskan ke Lembaga Pengadilan dan berakhir pada Lembaga Pemasyarakatan. 10 2. Pidana a) Pengertian pidana Istilah “hukuman” yang merupakan istilah umum konvensional. selama kurun waktu lebih dari empat Dasawarsa bangsa ini hidup dalam ketakutan. faktor moral sangat berperan dalam menentukan corak hukum suatu bangsa. 2007. hal. “Moral dan Keadilan Sebagai Landasan Penegakan Hukum Yang Responsif”. Penegakan hukum yang berkeadilan sarat dengan landasan etis dan moral. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Husni.

Dari definisi di atas dapatlah disimpulkan bahwa pidana mengandung unsur-unsur atau ciri-ciri sebagai berikut : 1) pidana itu pada hakekatnya merupakan suatu pengenaan penderitaan atau nestapa atau akibat-akibat lain yang tidak menyenangkan. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. moral. USU Repository © 2009 11 . Muladi dan Barda Nawawi Arif. 1998) hal. tetapi juga dalam istilah sehari-hari di bidang pendidikan. maka perlu ada pembatasan pengertian atau makna sentral yang dapat menunjukkan ciri-ciri atau sifat-sifat yang khas. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Prof. SH : Yang dimaksud dengan pidana ialah penderitaan yang sengaja diberikan kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Oleh karena “pidana” merupakan istilah yang lebih khusus. Untuk memberikan gambaran yang lebih luas. 2. Sudarto. Prof. 2007. dan ini berwujud suatu nestapa yang dengan sengaja ditimpakan negara pada pembuat delik. 2 – 4. berikut ini dikemukakan beberapa pendapat atau defenisi dari para sarjana sebagai berikut: 11 1. agama dan sebagainya. “Teori-teori dan Kebijakan Pidana”. Roeslan Saleh : Pidana adalah reaksi atas delik. Cetakan Ke-2 (Bandung: Alumni.16 sering digunakan dalam bidang hukum.

3) pidana itu dikenakan kepada seseorang yang telah melakukan tindak pidana menurut undang-undang. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentar Lengkap Pasal Demi Pasal (Bogor: Politeia. 20 tahun 1946) b. 3) pengumuman putusan hakim. yaitu : 1) pidana mati 2) pidana penjara 3) pidana kurungan 4) pidana denda 5) pidana tutupan (ditambah berdasarkan UU No. USU Repository © 2009 12 . 34 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. seperti terdapat dalam pasal 10. Menurut hukum pidana positif (KUHP dan di luar KUHP) Jenis pidana menurut KUHP. dibagi dalam dua jenis 12 : a.17 2) pidana itu diberikan dengan sengaja oleh orang atau badan yang mempunyai kekuasaan (oleh yang berwenang). Soesilo. R. 2) perampasan barang-barang tertentu. pidana pokok. 1988) hal. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). pidana tambahan. b) Jenis-jenis Pidana 1. yaitu : 1) pencabutan hak-hak tertentu. 2007.

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 . 1955) dapat berupa : 1) penempatan perusahaan si terhukukm di bawah pengampuan untuk selama waktu tertentu (3 tahun untuk kejahatan TPE dan 2 tahun untuk pelanggaran TPE).18 Disamping jenis sanksi yang berupa pidana dalam hukum pidana positif dikenal juga sanksi yang berupa tindakan. 12 Tahun 1995 tentang Permasyarakatan. anak tersebut dimasukkan dalam rumah pendidikan negara yang penyelenggaraannya diatur dalam Peraturan Pendidikan Paksa (Dwangopvoedingregeling. c. Stb. 1) mengembalikan kepada orang tuanya. d. bergelandangan atau perbuatan asosial (Stb. penempatan di tempat kerja Negara (Landswerkinrichting) bagi pengenggur yang malas bekerja dan tidak mempunyai mata pencaharian. 741) yang sekarang telah diganti dengan Undang-undang No. Dalam hal yang ke-2. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). bagi anak yang sebelum umur 16 tahun melakukan tidak pidana. serta mengganggu ketertiban umum dengan melakukan pengemisan. 7 Drt. 2007. 160). tindakan tata-tertib dalam hal tindak pidana ekonomi (Pasal 8 UU No. 1916 no. b. Hakim dapat mengenakan tindakan berupa (lihat Pasal 45 KUHP). 1936 no. penempatan di rumah sakit jiwa bagi orang yang tidak dapat dipertanggungjawabkan karena jiwanya cacat dalam tubuhnya atau terganggu karena penyakit (lihat Pasal 44 ayat 2 KUHP). walinya atau pemelihatanya atau 2) memerintahkan agar anak tersebut diserahkan kepada pemerintah. misalnya : a.

yang terdiri dari : a) pidana permasyarakatan istimewa (utuk yang melakukan tindak pidana karena terdorong oleh maksud yang patut dihormati). Pidana pokok: 1) pidana mati 2) pidana permasyarakatan. 2. c) pidana permasyarakatan biasa (untuk yang melakukan tindak pidana karena kesempatan). Menurut Konsep Rancangan KUHP tahun 1972. USU Repository © 2009 . Pembagian jenis pidanannya sebagai berikut : a. 2007. mulai Pasal 43 s. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).d. dan melakukan jasa-jasa untuk memperbaiki akibat-akibat satu sama lain. Ketentuan tentang “pidana” dalam konsep terdapat dalam Bab V. 3) pidana pembimbingan. b) pidana permasyarakatan khusus (untuk yang melakukan tindak pidana karena kebiasaan). Pasal 82. 4) kewajiban mengerjakan apa yang dilakukan tanpa hak. 3) pembayaran sejumlah uang sebagai pencabutan keuntungan menurut taksiran yang diperoleh dari tindak pidana yang dilakukan. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.19 2) pembayaran uang jaminan selama waktu tertentu. yang terdiri dari : a) pidana pengawasan. semua atas biaya si terhukum sekedar Hakim tidak menentukan lain.

d) pidana kerja bakti. 3) pengumuman keputusan Hakim. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2) penempatan barang tertentu. f) perbaikan akibat-akibat dari tindak pidana. 3. e) penyitaan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana. Pidana tambahan: 1) pencabutan hak tertentu. d) pembayaran uang jaminan yang jumlahnya ditentukan oleh Hakim. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . b) penuntutan (sic. Pengertian Keimigrasian Istilah imigrasi berasal dari bahasa Latin migratio yang artinya perpindahan orang dari suatu tempat atau negara menuju ke tempat negara lain. b. 2007. 4) pengenaan kewajiban ganti rugi. 4) pidana perserikatan. 5) pengenaan kewajiban agama. c) penempatan usaha di bawah pengawasan pemerintah untuk jangka waktu yang ditentukan oleh Hakim. : penutupan) usaha sebagian atau seluruhnya. 6) pengenaan kewajiban adat. yang terdiri dari : a) pidana perserikatan. c) pidana latihan kerja.20 b) pidana penentuan tempat tinggal.

Sedangkan menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1992 dalam pasal 1 butir 1 disebutkan: “Keimigrasian adalah hal ikhwal lalu lintas orang yang masuk atau keluar wilayah Negara Republik Indonesia dan pengawasan orang asing di wilayah Negara Republik Indonesia”. Oleh karena itu. Jenis Penelitian Metode Penelitian yang digunakan untuk menjawab persoalan-persoalan dalam skripsi ini adalah menggunakan metode yuridis – normatif. penulis melakukan studi 13 Lihat Pasal 1 butir 1 Undang-undang no. USU Repository © 2009 . 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. yakni untuk tinggal menetap dan mencari nafkah di suatu tempat baru.13 F. atau mengunjungi suatu konferensi internasional. Penelitian yuridis – normatif merupakan penelitian yang dilakukan dan ditujukan pada Peraturan-peraturan tertulis atau bahan-bahan lain. orang asing yang bertamasya. Untuk menunjang pembahasan demi pembahasan masalah. atau juga menjadi diplomat tidak dapat disebut sebagai seorang imigran. Metode Penelitian 1. atau merupakan rombongan misi kesenian atau olahraga. serta menelaah peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini.21 Oxford Dictionary of Law juga memberikan defenisi sebagai berikut: “Immigration is the act of entering a country other than one’s native country with the intention of living there permanently”. Dari defenisi ini dipahami bahwa perpindahan itu mempunyai maksud yang pasti. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

Lokasi penelitian Dalam hal peneltian yang berkaitan dengan bahan bacaan. “Pengantar Penelitian Hukum”. 2. dilakukan di Perpustakaan Univesitas Sumatera Utara maupun yang di-download melalui internet ataupun situs-situs berkaitan dengan bahan-bahan yang sifatnya skunder (tulisan. Sumber dan pengumpulan data Data-data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah bersumber dari : a. berita dsb. serta Pengadilan Negeri Medan untuk mendapatkan gambaran ataupun bahan akurat berkaitan dengan penulisan skripsi ini. USU Repository © 2009 . 2007. hal. 3. Dalam hal penelitian lapangan penulis melakukannya di Kantor Imigrasi Polnia Medan. Data Primer yaitu data pokok yang diperoleh atau bersumber dari hasil penelitian langsung di lapangan 14.). UI-Press Jakarta. Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Medan dan sekitarnya. tesis. 1984.22 langsung untuk mendapatkan data-data seperti di Kantor Imigrasi Polnia Medan. serta di Pengadilan Negeri Medan. 12 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Studi lapangan ini dilakukan melalui wawancara dengan 14 Soerjono Soekamto. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). responden dari narasumber atau lembaga di tempat penelitian dilakukan yang berkaitan dengan permasalahan dalam penulisan skripsi ini. skripsi. Kantor Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Medan Sekitarnya.

Data Skunder yaitu data-data yang diperoleh dari peraturan-peraturan. internet. pendapat sarjana dan bahan-bahan kuliah lainnya yang berkaitan erat dengan pokok bahasan atau permasalahan dalam skripsi ini. 2007. Penelitian lapangan (Field Research) Yakni dengan melakukan penelitian langsung ke lapangan baik berupa wawancara langsung kepada pihak-pihak yang terkait dalam proses Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Informan yang dipilih adalah mempunyai keterkaitan erat dengan pokok bahasan pada skripsi ini yaitu: 1) Petugas Keimigrasian Polonia Medan 2) Kepolisian kota Medan b. b. Penelitian kepustakaan (Library Research) Yakni melakukan penelitian dengan berbagai sumber bacaan atau tulisan seperti: buku. bukubuku literatur.23 menggunakan pedoman wawancara (interview guide) kepada para informan. 4. artikel ataupun majalah-majalah serta data lain yang diperoleh melalui internet yang berhubungan dengan permasalahan dalam penulisan skripsi ini. majalah. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Metode Pengumpulan Data Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut : a.

tujuan dan manfaat penulisan. perumusan permasalahan. dan apa saja yang termasuk dalam jenis-jenis izin keimigrasian. metode penulisan dan sistematika penulisan. BAB II : Bab ini menjelaskan tentang tinjauan umum mengenai keimigrasian. keaslian penulisan. Analisis Data Analisis data yang dilakukan dalam penulisan skripsi ini adalah dengan cara kualitatif. 2007. baik itu mengenai keimigrasian dalam sistem hukum Indonesia dan nasional.24 penyidikan kasus ini serta dengan memperoleh salinan data-data yang lebih lengkap dan menunjang pembahasan permasalahan yang disusun penulis. penulis menjabarkan materi ataupun isi dari skripsi ini menjadi lima bab dengan sistematika sebagai berikut : BAB I : Bab ini memuat latarbelakang. tinjaun kepustakaan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). G. yaitu jawaban dari responden dan data-data yang diperoleh dilapangan diedit dan dianalisis sehingga diperoleh data yang dapat menjawab permasalahan demi permasalahan yang dikemukakan dalam skripsi ini. USU Repository © 2009 . Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 5. Sistematika Penulisan Untuk mempermudah penulisan atau penyajiannya. BAB III : Bab ini nerupakan bab yang membahas bagaimana penegakan hukum terhadap tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian.

BAB II Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007. USU Repository © 2009 .25 BAB IV : Bab yang membahas Kasus dan Analisis Kasus Putusan No. Mdn.2493/Pid. BAB V : Kesimpulan dan Saran Bab ini merupakan bab terakhir. B/2002/PN. yaitu sebagai bab penutup yang berisi kesimpulan dan saran-saran mengenai permasalahan yang telah dibahas.

Breekland kepada Kepala Jawatan Imigrasi dari tangan Pemerintah Belanda ke tangan Pemerintah Indonesia. 2007. USU Repository © 2009 . tetapi yang lebih penting adalah peralihan tersebut merupakan titik mula dari era baru dalam politik hukum keimigrasian Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). menjadi politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif didasarkan pada kepentingan nasional Indonesia. terdapat badan pemerintah kolonial Belanda bernama Immigratie Dienst yang bertugas menangani masalah keimigrasian untuk seluruh kawasan Hindia Belanda.” Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Sejak Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Keimigrasian Dalam Sistem Hukum Indonesia 1) Keimigrasian di Indonesia Di Indonesia pemeriksaan keimigrasian telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. yaitu perubahan dari politik hukum keimigrasian yang bersifat terbuka (open door policy) untuk kepentingan pemerintahan kolonial. Pada saat itu. dalam pasal 1 menyebutkan: “Keimigrasian adalah hal-ikwal lalu lintas orang yang masuk atau keluar wilayah Indonesia dan pengawasan orang asing di wilayah Republik Indonesia. Undang-undang No. namun baru pada tanggal 26 Januari 1950 Immigratie Dienst ditimbang terimakan dari H.26 TINJAUAN UMUM A.

kata lalu-lintas diartikan sebagai hubungan antara suatu tempat dan tempat lain. peristiwa. kata hal diartikan sebagai keadaan. hal-ihwal diartikan berbagai-bagai keadaan. Jakarta: Balai Pustaka. perihal. USU Repository © 2009 . kejadian. Sementara itu kata ihwal diartikan hal. defenisi keimigrasian dapat kita jabarkan sebagai berikut: Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. pengaturan lalu-lintas keluar masuk wilayah Indonesia. peristiwa. 2001 Lihat Penjelasan Umum Undang-undang No. dan tinggal dari dan ke dalam wilayah negara Republik Indonesia. 2) Pengaturan tentang berbagai hal mengenai pengawasan orang asing di wilayah Republik Indonesia. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian terdapat dua unsur pengaturan yang penting. kejadian (sesuatu yang terjadi). Dengan demikian. Berdasarkan hukum internasional pengaturan hal ini merupakan hak dan wewenang suatu negara serta merupakan salah satu perwujudan dan kedaulatan sebagai negara hukum yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 15 16 Kamus Besar Bahasa Indonesia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. hilir-mudik. bolak-balik. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. masuk.27 Dengan menggunakan pendekatan gramatikal (tata bahasa) dan pendekatan semantik (ilmu tentang arti kata). yaitu: 1) Pengaturan tentang berbagai hal mengenai lalu-lintas orang keluar. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 16 Unsur pertama. 15 Dengan demikian. menurut Undang-undang No. 2007.

Selanjutnya. Dalam rangka ini “pengawasan” adalah keseluruhan proses kegiatan untuk mengontrol atau mengawasi apakah proses pelaksanaan tugas telah sesuai dengan rencana atau aturan yang telah ditentukan. yaitu di pelabuhan laut. UI-Press Jakarta. Undang-undang No. 17 Maka pengertian pengawasan orang asing adalah seluruh rangkaian kegiatan yang ditujukan untuk mengontrol apakah keluar-masuknya serta keberadaan orang asing di Indonesia telah atau tidak sesuai dengan ketentuan keimigrasian yang berlaku. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). atau tempat tertentu atau daratan lain yang ditetapkan Menteri Kehakiman sebagai tempat masuk atau keluar wilayah Indonesia (entry point). 2007. artinya setiap tindakan keluar-masuk wilayah tidak melalui TPI. USU Repository © 2009 17 .28 1945. hal. Bandar udara. merupakan tindakan yang dapt dipidana. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian tidak membedakan antara emigrasi dan imigrasi. Unsur kedua dari pengertian keimigrasian yaitu pengawasan orang asing di wilayah Indonesia. “Persfektif Imigrasi dalam Pembangunan Ekonomi dan Ketahanan Nasional”. Pelanggaran atas ketentuan ini dikategorikan sebagai tindakan memasuki wilayah negara Indonesia secara tidak sah. dan keberadaan serta kegiatan orang asing di wilayah Iman Santoso. Pengawasan orang asing meliputi masuk dan keluarnya orang asing ke dan dari wilayah Indonesia. 20 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. pengaturan lalu-lintas keluar-masuk wilayah Indonesia ditetapkan harus melewati Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI). 2004.

dapat dinyatakan juga bahwa pada hakikatnya keimigrasian merupakan: “suatu rangkaian kegiatan dalam pemberian pelayanan dan penegakan hukum serta pengamanan terhadap lalu lintas keluar masuknya setiap orang dari dank e dalam wilayah RI. Pengawasan selanjutnya dilaksanakan oleh pejabat imigrasi di Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) ketika pejabat imigrasi dengan kewenangannya yang otonom memutuskan menolak atau memberikan izin tinggal yang sesuai dengan visa yang dimilikinya. Pengawasan orang asing sebagai suatu rangkaian kegiatan pada dasarnya telah dimulai dan dilakukan oleh perwakilan RI di luar negeri ketika menerima permohonan pengajuan visa. serta pengawasan terhadap keberadaan warga negara asing di wilayah Republik Indonesia. 21 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. selanjutnya pengawasan beralih ke kantor imigrasi yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal waraga asing tersebut. 2007. Dari keseluruhan prosedur keimigrasin yang ditetapkan. hal.”18 Dari pernyataan tersebut. Dimana konsep ini hendak menyatakan bahwa sistem keimigrasian. 1) Fungsi Keimigrasian Dari uraian mengenai pengertian umum. baiak ditinjau dari budaya hukum 18 Ibid. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). maka secara operasional peran keimigrasian dapat diterjemahkan ke dalam konsep Trifungsi Imigrasi. perlu dipahami bahwa operasionalisasinya dilaksanakan berdasarkan politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif.29 Indonesia. USU Repository © 2009 .

Fungsi pelayanan masyarakat Salah satu fungsi keimigrasian adalah fungsi penyelenggaraan pemerintahan atau administrasi negara yang mencerminkan aspek pelayanan. Pemberian Dokumen Keimigrasian (DOKIM) berupa: Kartu Izin Tinggal Terbatas Keimigrasian (KITAS). baik kepada Warga negara Indonesia (WNI) atau Warga Negara Asing). Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Kartu Izin Tinggal Tetap (KITAP). 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Dari aspek itu. 2007. Kemudahan Khusus Keimigrasian (DAHSUSKIM). USU Repository © 2009 . mekanisme hukum keimigrasian.30 keimigrasian. yaitu: dalam operasionalisasinya harus selau mengandung Trifungsi. materi hukum (peraturan hukum) keimigrasian. Pelayanan bagi Warga Negara Indonesia terdiri dari: 1) Pemberian paspor/ pemberian Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP)/Pas lalu lintas Batas (PLB). imigrasi dituntut untuk memberi pelayanan prima di bidang keimigrasian. a. lembaga. sarana dan prasarana hukum keimigrasian. organisasi. dan 2) Pemberian Tanda bertolak/ masuk Pelayanan bagi Warga Negara Asing terdiri dari: 1. aparatur.

DAHSUSKIM 4. Pemalsuan identitas 2. b. Visa Kunjungan Sosial Budaya (VKSB). Perpanjangan izin tinggal meliputi: Visa Kunjungan Wisata (VKM). 2007. Fungsi penegakan hukum Dalam Pelaksanaan tugas keimigrasian. USU Repository © 2009 . Pemberian Tanda Bertolak dan Masuk.31 2. Visa Kunjungan Usaha (VKU). Kepemilikan paspor ganda 4. 3. KITAP. Pertanggungjawaban sponsor 3. Pemberian Izin Masuk Kembali. ditujukan pada permasalahan: 1. keseluruhan aturan hukum keimigrasian itu ditegakkan kepada setiap orang yang berada di dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia baik itu Warga Negara Indonesia (WNI) atau Warga Negara Indonesia (WNA). Perpanjangan DOKIM meliputi KITAS. Penegakan hukum keimigrasian terhadap Warga Negara Indonesia (WNI). Keterlibatan dalam pelaksanaan aturan keimigrasian Penegakan hukum kepada Warga Negara Asing (WNA) ditujukan pada permasalahan: Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Izin Bertolak 5. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

penangkapan. Masuk secara ilegal atau berada secara ilegal 5. Dikatakan demikian karena imigrasi merupakan institusi pertama dan terakhir yang menyaring kedatangan dan keberangkatan orang asing ke dan dari wilayah Republik Indonesia. Fungsi keamanan Imigrasi berfungsi secara penjaga pintu gerbang negara. izin bertolak. Semua itu merupakan bentuk penegakan hukum yang bersifat administratif. dan tindakan keimigrasian. dalam hal penegakan hukum yang bersifat proyustisia. Pemalsuan identitas Warga Negara Asing (WNA) 2. Pendaftaran orang asing dan pemberian buku pengawasan orang asing 3. izin keimigrasian. pemberkasan perkara. Secara operasional fungsi penegakan hukum yang dilaksanakan oleh institusi Imigrasi Indonesia juga mencakup penolakan pemberian izin masuk. serta pengajuan berkas perkara ke penuntut umum. Penyalahgunaan izin tinggal 4. Sementara itu. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Kerawanan keimigrasian secara geografis dalam pelintasan. yaitu kewenangan penyidikan. Pelaksanaan fungsi keamanan yang ditujukan kepada Warga Negara Indonesia dijabarkan melalui tindakan pencegahan ke luar negeri bagi Warga Negara Indonesia atas permintaan Menteri Keuangan dan Kejasksaan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007. Pemantauan/razia 6. c.32 1. penahanan. penggeledahan. pemeriksaan. tercakup tugas penyidikan (pemanggilan. pemyitaan). USU Repository © 2009 .

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). harus diingat bahwa di era globalisasi aspek hubungan kemanusiaan yang selama ini bersifat nasional berkembang menjadi bersifat internasional. ketenagakerjaan. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut. demi peningkatan kesejahteraan. Melakukan seleksi terhadap setiap maksud kedatangan orang asing melalui pemeriksaan permohonan visa 2. Melakukan kerjasama dengan aparatur keamanan negara lainnya khususnya di dalam memberikan supervisi perihal penegakan hukum keimigrasian. maupun peraturan di bidang lalu-lintas orang dan barang yang dapat memfasilitasi pertumbuhan ekonomi. Melaksanakan pencegahan dan penangkalan. perdagangan. transportasi. Khusus untuk Warga Negara Indonesia (WNI) tidak dapat dilakukan pencegahan karena alasan-alasan keimigrasian belaka. Untuk mengantisipasinya. perlu menata atau mengubah peraturan perundangan.33 Agung. industri. yaitu larangan bagi seseorang untuk meninggalkan wilayah Indonesia dalam jangka waktu tertentu dan/atau larangan untuk memasuki wilayah Indonesia dalam waktu tertentu. 2007. secara sinergi baik di bidang ekonomi. 3. terutama di bidang perekonomian. Melakukan operasi intelijen keimigrasian bagi kepentingan keamanan negara 4. Pelaksanaan fungsi keamanan yang ditujukan kepada Warga Negara Asing (WNA) adalah: 1. USU Repository © 2009 . Perubahan itu diperlukan guna meningkatkan intensitas hubungan negara Republik Indonesia dengan dunia Internasional yang mempunyai dampak sangat Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

USU Repository © 2009 . hal. Dr. Hal ini terlihat ketika jasa keimigrasian telah menjadi bagian dari infrastruktur perekomian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Sedangkan fungsi baru yaitu sebagai fasilisator pembagunan ekonomi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan fungsi keimigrasian lainnya. Yusril Ihza Mahendra. Tuntutan perubahan Trifungsi Imigrasi dipertegas oleh pernyataan Prof. 24 Prof. yang menyatakan: 20 “Trifungsi Imigrasi yang merupakan ideologi atau pandangan hidup bagi setiap kebijakan dan pelayanan keimigrasian harus diubah karena tutntutan zaman. Paradigma konsepsi keamanan saat ini mulai bergeser. dalam sambutan tertulis pada upacara Hari Bhakti Imigrasi ke-52 tanggal 26 Januari 2002. Di dalam perkembangan Trifungsi Imigrasi dapat dikatakan mengalami suatu pergeseran bahwa pengertian fungsi keamanan dan penegakan hukum merupakan satu bagian yang tak terpisahkan karena penerapan penegakan hukum dibidang keimigrasian berarti sama atau identik dengan menciptakan kondisi keamanan yang kondusif atau sebaliknya 19. Di dalam rangka memelihara kondisi keamanan yang kondusif secara otomatis fungsi penegakan hukum keimigrasian harus dilakasanakan secara terus-menerus dan konsekuen. 2007. semula menggunakan pendekatan kewilayahan (territory) yang hanya meliputi keamanan nasional (national security) berubah menjadi pendekatan yang komprehensif selain keamanan nasioanal juga keamanan warga masyarakat (human security) dengan menggunakan pendekatan Ibid. Dr. 20 19 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Yusril Ihza Mahendra selaku Menteri Kehakiman dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia.34 besar pada pelaksanaan fungsi dan tugas keimigrasian serta menghindari adanya tumpang tindih peraturan.

agar diubah menjadi Trifungsi Imigrasi baru yaitu sebagai pelayan masyarakat. baik itu dalam tatanan nasional maupun internasional. agar menjadi apratur yang dapat memberikan kepastian hukum. 3. Bertitik tolak dari berbagai tantangan itu. sebagai bagian dari sistem hukum administrasi negara. sehingga muncul pendapat seolah-olah masalah keimigrasian sebatas masalah yang berporos pada atau paling tidak bertalian dengan negara asing. penengak hukum. 2007. mampu melaksanakan penegakan hukum. sudah waktunya kita membuka cakrawala berpikir yang semula hanya dalam cara pandang ke dalam (inward looking) menjadi cara pandang ke luar (outward looking) dan mulai mencoba untuk mengubah paradigma Trifungsi Imigrasi yang pada mulanya sebagai pelayan masyarakat. USU Repository © 2009 . Ruang Lingkup Fungsi Keimigrasian Paradigma lama hanya melihat esensi keimigrasian sebatas hal-ihwal orang asing. Mendukung konsepsi tersebut. Di satu sisi. penegak hukum. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Hal itu dapat dijelaskan dalam uraian sebagai berikut: a. dan sekuriti. dan fasilisator pembangunan ekonomi”. Bidang Politik Ada berbagai pendapat yang menyatakan di mana sebenarnya fungsi keimigrasian itu berada. hukum keimigrasian sering disertai dengan sanksi pidana Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Hal ini lebih disebabkan karena dunia telah menjadi semakin kecil dan bahwa subjek masalah keimigrasian adalah manusia yang bersifat dinamis. Sebaliknya. paradigma baru melihat bahwa keimigrasian itu bersifat multidimensional. saya memberi pesan agar insane imigrasi mengubah cara pandang mengenai konsep keamanan yang semula hanya sebagai alat kekuasaan. dan dapat memberikan perlindungan kepada masyarakat.35 hukum.

disisi lain hak seseorang untuk melintasi batas negara dan bertempat tinggal di suatu negara dilihat sebagai hak asasi manusia. hukum keimigrasian juga mengatur kewarganegaraan seseorang. Berbagai konvensi internasional. serta faktor lain yang berkaitan dengan komposisi atau struktur kependudukan di dalam suatu negara. Itu berarti bahwa ia mendapatkan suatu perlakuan khusus di bidang keimigrasian. Pada kesempatan ini sering hukum keimigrasian digunakan untuk melindungi kepentingan politik suatu negara. seperti United Nations Convention 1951 Concerning of Refugees Status (selanjutnya disebut konvensi PBB Tahun 1951) menyebutkan hak-hak seorang pengungsi serta kewajiban negara penerima. USU Repository © 2009 . seperti yang menyangkut masalah sentimen ras. Seorang assign dapat bertempat tinggal di suatu negara tanpa mengikuti ketentuan umum mengenai keimigrasian. Di Bidang politik sering fungsi keimigrasian ditempatkan pada hubungan hubungan internasional. Meskipun demikian. 2007. Di samping itu hukum keimigrasian mempunyai kaitan yang sangat erat dengan hubungan internasional. b. Pencari Suaka politik(asylum seekers) akan mendapatkan hak-hak hidupnya dan perlindungan atas dirinya di negara terakhir ia berada. Hal itu terkait dalam Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Bidang Ekonomi Di bidang ekonomi tampak jelas sekali keterkaitan fungsi imigrasi dalam rangka melaksanakan politik perekonomian suatu negara. kedaulatan negara penerima juga tidak dapat di abaikan. agama.36 yang kadangkala terasa janggal. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Di sisi lain. Berbagai pendapat tersebut ada benarnya karena segalanya bergantung pada cara memandang fungsi keimigrasian itu.

izin tinggal terbatas.. ke mana investasi ditanamke sana pula arus manusia mengikutinya. USU Repository © 2009 .37 kerangka pertumbuhan dan perkembangan perekonomian global yang ditandai dengan peningkatan arus investasi sehingga menciptakan lapangan kerja. pembentukan pola-pola keimigrasian dengan alasan perekonomian dalam memberikan izin masuk dan bertempat Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Sebagai infrastruktur perekonomian. jasa fasilitas pengelolaan sumber daya alam dan manusia serta jasa fasilitas perbankan. 2007. serta bermacam-macam izin tinggal (izin singgah. izin masuk kembali (re-entry permit). seperti pemberian izin masuk. dan akan meningkatkan arus manusia ke kawasan tersebut. termasuk pembatasan yang diberlakukan terhadap seorang asing untuk meperoleh izin masuk atau tinggal di suatui negara baik sebagai pencari kerja maupun investor. seperti jasa fasilitas tranportasi . Begitu pula dengan aspek pengawasan orang asing. Pemberian fasilitas jasa keimigrasian. Di dalam kaitan ini sangatlah jelas bahwa jasa keimigrsian di suatu negara merupakan bagaian yang tidak dapat dipisahkan dari kepentingan ekonominya. izin kunjungan. sudah dapat dipastikan bahwa kini jasa fasilitas keimigrasian merupakan bagian dari infrastruktur perekonomian. izin masuk beberapa kali perjalanan (multiple re-entry permit). Sektor peronomian membutuhkan jas infrastruktur lain. mengalirkan teknologi baru. yang dimaksudkan untuk merlindungi warga negaranya dari sisi perekonomian dalam menghadapi persaingan hidup. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). izin tinggal tetap) merupakan bagian dari infrastruktur perekonomian. atau dengan kata lain. jasa fasilitas komunikasi. Maka.

38

tinggal bagi warga negara asing ke negaranya, tentu saja memliki persyaratan yang ketat dan menguntungkan negara tersebut. Begitu pula negara yang termasuk dalam kategori migrant country. Sebagai contoh, Australia, dengan alasan perekonomian, mensyaratkan bahwa orang asing yang mengajukan permohonan untuk masuk dan bertempat tinggal disana harus memiliki rumah dan dana dalam jumlah tertentu sebagai modal kerja yang ditanam dalam suatu perusahaan. Kemudian, kinerja perusahaan akan dinilai setiap tahun sebelum pihak imigrasi Australia memutuskan untuk memberikan izin tinggal tetap bagi orang asing tersebut. c. Bidang Sosial Budaya Pergerakan dan perpindahan manusia sebagai individu atau kelompok akan mempunyai dampak, baik yang bersifat positif maupun negatif pada individu atau kelompok penerima. Pengaruh sosial dan budaya terjadi karena ada interaksi diantara mereka, baik di lingkungan pendatang maupun penerima. Negara berkepentingan, melalui fungsi keimigrasian, untuk tetap menjaga kondisi sosial dan budaya yang ada di dalam masyarakat agar pengaruh dari luar tidak merusak struktur sosial budaya masyarakatnya. Fungsi keimigrasian, melalui kebijakan yang diberlakukan oleh pemerintah, harus mampu menyaring serta mengatur halhal dimaksud diatas. Sebagai contoh, terjadinya peningkatan jumlah pengungsi Afghanistan yang masuk ke Indonesia beberapa waktu yang lalu, sedikit banyak telah mempengaruhi kondisi sosial dan budaya penduduk Indonesia yang tinggal di
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

39

sekitar tempat penampungan orang Afghanistan tersebut. Berbagai hal dapat terjadi, misalnya konflik sosial, perkawinan antara pengungsi dan penduduk lokal yang berdampak pada status kewarganegaraan anak mereka, serta pertikaian akibat kecemburuan sosial dari suatu kelompok kepada kelompok lain. Sekalipun tempat penampungan pengungsi tersebut diklelola oleh International

Organization for Migration (IOM), keberadaan dan kegiatan orang-orang Afghanistan itu terus diawasi imigrasi setempat. Satu kasus pernah diungkap oleh Direktorat Jendral Imigrasi ketika warga Afghanistan pemegang status pengungsi tertangkap tangan dalam sebuah operasi pengawasan keimigrasian ketika bekerja sebagai gigolo atau pria tuna susila. d. Bidang Keamanan Permasalahan yang timbul dan berkaitan dengan aspek politis, ekonomis, sosial, dan budaya pada masyarakat akan sangat berpengaruh pada stabilitas keamanan negara tersebut. Fungsi keimigrasian yang mengatur serta mengawasi keberadaan orang di negara tersebut akan memiliki peran yang signifikan. Secara universal imigrasi dijadikan sebagai penjuru (vocal point). Kebijakan yang salah atau tidak tepat di dalam menangani masalah ini akan mempunyai dampak yang sangat besar pada bidang lain. Sebagai contoh, kebijakan keimigrasian untuk mengatasi kejahatan terorganisasi lintas negara, harus dapat menjangkau juga bidang lain seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya, baik yang berskala nasional, regional, maupun internasional. Oleh karena itu, kebijakan keimigrasian mempunyai keterkaitan substansial yang berdampak beruntun (multiplier effect).
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

40

Contoh lainnya setelah terjadi insiden pemboman di Bali pada tanggal 12 November 2002 tengah malam. Pada esok harinya telah terjadi suatu evakuasi korban dan eksodus para wisatawan asing meninggalkan Bali secara besar-besaran ke Australia dengan menggunakan penerbangan pesawat tambahan. Pada saat itu imigrasi Indonesia telah menetapkan suatu kebijakan dalam keadaan force mayeur untuk mengizinkan dokumen (paspor kebangsaan) karena kebanyakan dari mereka telah kehilangan paspor. Namun demikian dari segi keamanan, petugas imigrasi melakukan pencatatan (fotokopi) dokumen yang ada dan pengambilan gambar diri (potret) secara langsung bagi mereka yang tidak memiliki dokumen keimigrasian. Hal ini dimaksud sebagi tindakan antisipatif sekiranya diantara mereka terdapat pelaku pengeboman yang hendak melarikan diri. e. Bidang Kependudukan Demikian pula kependudukan yang merupakan salah satu gatra di dalam konsep ketahanan nasional. Kependudukan merupakan aset bangsa. Struktur dan komposisi penduduk negara memiliki hubungan yang sangat erat dengan kondisi politis, ekonomis, sosial, budaya, serta keamanan nasional. Isu SARA sering menjadi pemicu stabilitas keamanan yang akan berkaitan erat atau berdampak pada situasi perekonomian baik perekonomian wilayah maupun nasional. Bahkan, lebih luas daripada itu, isu SARA dapat berpengaruh pada situasi perekonomian dan keamanan secara regional ataupun internasional. Di sini tampak secara jelas bahwa fungsi keimigrasian di berbagai lini kehidupan, walaupun pengaruhnya tidak begitu signifikan, terlihat keterkaitannya.
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

Izin Tinggal Terbatas. d. B.” a) Izin Singgah Izin singgah diberikan untuk orang asing yang memerlukan singgah di wilayah Indonesia guna dapat meneruskan perjalanan ke negara lain atau kembali ke negara asal. Jenis-Jenis Izin Keimigrasian Dalam pasal 24 Undang-undang no. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). (2) Izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). c. b. USU Repository © 2009 . Hal ini memang tepat karena sejak kedatangan orang asing pada saat pertam kali sampai ia mempunyai hak menurut ketentuan yang berlaku untuk mengajukan perwarganegaraan seluruh catatan keberadaan orang tersebut ada pada pihak imigrasi. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian disebutkan: 21 “(1) setiap orang yang berada di wilayah Indonesia wajib memiliki izin keimigrasian. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian. terdiri atas: a. Izin Kunjungan. dilakukan oleh pihak imigrasi.41 Dibeberapa negara seperti Brunei Darussalam dan Singapura. 21 Lihat pasal 24 Undang-undang no. Izin Singgah. fungsi keimigrasian juga disatukan dengan fungsi pelaksanaan registrasi kependudukan. Izin singgah diberikan kepada orang asing pemegang visa singgah yang telah memperoleh izin masuk dan orang asing pemegang visa singgah saat kedatangan yang telah memperoleh izin masuk. Izin Tinggal Tetap. Di Amerika Serikat. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. masalah naturalisasi atau pewarganegaraan. 2007.

2007. 2. USU Repository © 2009 . Tugas pemerintahan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Dalam hal jangka waktu 14 (empatbelas) hari izin singgah terlampaui oarng asing belum dapat melanjutkan perjalanan karena suatu keadaan memaksa diluar kemampuannya atau keadaan darurat seperti kerusakan alat angkutm cuaca buruk. dan orang asing pemegang visa kunjungan. sakit dan lain sebagainya dapat diberikan batas waktu izin untuk tetap singgah oleh kepala kantor inigrasi dengan setiap kali pemberian 14 (empat belas) hari sampai paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk.42 Izin singgah diberikan untuk jangka waktu 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan tidak dapat diperpanjang. b) Izin Kunjungan Izin kunjungan diberikan oleh pejabat imigrasi di tempat pemeriksaan imigrasi kepada orang asing mancanegara yang dibebaskan keharusan memiliki visa kunjungan. Memiliki trough ticket atau return ticket yang masih berlaku 3. Izin kunjungan diberikan dalam rangka: 1. Memiliki visa singgah dan telah memperoleh izin masuk. Adapun persyaratan untuk memperoleh izin singgah adalah: 1. Tidak termasuk dalam daftar pencegahan/penagkalan 4. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Memliki surat perjalanan (paspor) yang sah dan masih berlaku minimal 6 (enam) bulan.

untuk setiap kali perpanjangan selama 30 (tiga puluh) hari . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Izin kunjungan ex visa kunjungan diplomatik (dinas) diberikan sesuai dengan visanya. USU Repository © 2009 . Pemintaan perpanjangan ijin kunjungan diajukan oleh orang asing kuasanya atau sponsornya kepada kepala kantor imigrasi yang di wilayah kerjanya meliput i tempat tinggal pemohon. kegiatan sosial budaya atau usaha diberikan selama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan dapat diperpanjang paling banyak 5 (lima) kali berturut-turut. 3. 5. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Kepariwisataan Izin kunjungan diberikan untuk jangka waktu: 1. Izin kunjungan ex bebas visa kunjungan singkat diberikan selama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan tidak dapat diperpanjang. Izin kunjungan untuk keperluan tugas pemerintahan tugas pemerintahan. 2007. Izin kunjungan untuk keperluan pariwisata diberikan selama 60 (enam) puluh hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan tidak dapat diperpanjang.43 2. Izin kunjungan ex visa kunjungan saat kedatangan diberikan selam 30 (tiga puluh) hari dan tidak dapat diperpanjang 4. Usaha 3. 2. Kegiatan sosial budaya 4.

c) Izin Tinggal Terbatas Izin tinggal terbatas diberikan kepada: 1) Orang asing pemegang izin masuk dengan visa tinggal terbatas 2) Anak yang lahir dan berada di wilayah Indonesia yang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum kawin dari orang tua pemegang izin tinggal terbatas. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Izin masuk. USU Repository © 2009 22 . Tidak termasuk dalam daftar pencegahan/penangkalan 4. 2007. kecuali yang dibebaskan dari keharusan memiliki visa dan telah memperoleh izin masuk. Visa tinggal terbatas diberikan kepada mereka yang bermaksud untuk: 22 1) Menanamkan modal. Memiliki through ticket atau return ticket yang masih berlaku 3. dan Izin Keimigrasian.44 Persayaratan untuk memperoleh izin kunjungan adalah: 1. Memiliki visa kunjungan. 32 tahun 1994 tentang Visa. Memliki surat perjalanan (paspor) yang sah dan masih berlaku minimal 6 (enam) bulan 2. 3) Anak yang lahir dan berada di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum kawin dari ibu warga negara Indonesia dan ayahnya tidak memiliki ijin tinggal terbatas 4) Orang asing yang mendapat alih status izin kunjungan menjadi izin tinggal terbatas. Lihat Pasal 1 ayat (2) huruf e Peraturan Pemerintah RI no. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

C.45 2) Bekerja. 6) Menggabungkan diri dengan suami dan atau orang tua bagi istri dan anak-anak sah di bawah umur dari Orang Asing sebagaimana dimaksud dalam huruf e angka 1. angka 3. 5) Menggabungkan diri dengan suami dan atau orang tua bagi isteri dan atau anak sah dari seorang Warga Negara Indonesia. 3) Malaksanakan tugas sebagai rohaniwan. dan angak 4. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 4) Mengikuti pendidikan dan latihan atau melakukan penelitian ilmiah. Dalam hal izin tinggal tetap berakhir sedangkan keputusan Direktur jenderal Imigrasi yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal orang asing yang bersangkutan dapat memberikan perpanjangan sementara izin tinggal tetap paling lama (90) hari terhitung sejak izin tinggal tetap berakhir. USU Repository © 2009 . angka 2. d) Izin Tinggal Tetap Izin tingal tetap diberikan kepada orang asing untuk tinggal menetap di Indonesia. 2007. Perpanjangan izin tinggal tetap diajukan paling lama 60 (enam puluh) hari sebelum izin tinggal tetap berakhir. 7) Repatriasi. Hukum Keimigrasian Indonesia Dalam Sistem Hukum Nasional Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

ilmu hukum kenegaraan. hukum ekonomi. ilmu hukum keperdataan. “Persoalan Praktis Filsafat Hukum dalam Himpunan Distingsi”.46 Dalam ilmu hukum terdapat beberapa ilmu hukum positif sebagai induk. hukum agrarian. A. USU Repository © 2009 23 . Jakarta: UKI. Flora Liman Mangestu. Ridwan Halim . keimigrasian dapat dilihat dalam persfektif hukum administrasi negara. Contoh. yaitu ilmu hukum kepidanaan. bukan pembentuk undang-undang (wetgever) dan bukan juga fungsi peradilan (rechtspraak). cit. telah tumbuh pula berbagai cabang ilmu hukum sebagai disiplin hukum baru. hlm. Dengan demikian. 24 Iman Santoso. dan ilmu hukum internasional 23. hukum lingkungan. Jika dikaitkan dengan ilmu hukum yang menjadi induknya. hukum pajak. seperti hukum administrasi negara. hal. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). masalah keimigrasian justru merupakan sebagian kebijakan oragan administrasi negara yang melaksanakan kegiatan pemerintahan (administrasi negara). dan hukum keimigrasian. hukum keimigrasian adalah bagian dari ilmu hukum kenegaraan. Sesungguhnya. Sejalan dengan perkembangan zaman. 39 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 1992. 22. khususnya merupakan cabang ilmu dari hukum administrasi negara 24. Kebijakan yang dimaksud adalah gambaran dari perbuatan hukum pemerintah (overheads handeling). 2007. . yaitu fungsi penyelenggara pemerintahan atau administrasi negara (bestuur) dan pelayanan masyarakat (publiek dienst). Hal itu terlihat dari fungsi keimigrasian yang dilaksanakannya. Op. kewenangan imigrasi untuk menangkal dan mencegah orang yang hendak masuk atau keluar wilayah Indonesia.

yang secara khusus terbagi menurut fungsi pengaturannya. 15 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Jakarta: Rajawali. hukum waris. Bidang hukum materil. Bidang Hukum Hubungan Antar Tata Hukum (HATAH). dan hukum penyelewengan perdata dan sikap tindak lain 3) Hukum pidana b. hukum objek immaterial. serta Purmadi Purbacaraka. Bidang hukum formil 1) Hukum tata negara formil atau hukum acara tata negara 2) Hukum administrasi negara formil atau hukum acara administrasi negara 3) Hukum perdata formil atau hukum acara perdata 4) Hukum pidana formil atau hukum acara pidana c. “Penggarapan Disiplin Hukum dan Filsafat Hukum bagi Pendidikan Hukum”. 1987.47 Dalam ilmu pengetahuan hukum dikenal istilah pembidangan hukum. pemyelenggaraan keluar-masuk orang dari dan ke dalan wilayah Indonesia. dan hukum administrasi negara 2) Hukum perdata yang mencakup: hukum pribadi. hukum perjanjian. hal. hukum benda. hukum keluarga. terdiri atas: 1) Hukum negara yang mencakup: hukum tata negara. USU Repository © 2009 25 . khusus mengatur penyelesaian perkara yang mengandung pertemuan antara dua atau lebih sistem hukum (HATAH intern dan HATAH ekstern). 2007. Pembidangan hukum tersebut dalam praktiknya dapat dijabarkan sebagai berikut: 25 a. Luas lingkup keimigrasian tidak lagi hanya mencakup pengaturan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

disampaikan dalam Rapat Kerja Nasional Keimigrasian.cit. Op. penyidikan atas dugaan terjadinya tindak pidana keimigrasian. maka Hukum Keimigrasian dapat dikatakan merupakan bagian dari bidang hukum administrasi negara 27. seperti tata cara bepergian ke luar negeri. Jakarta. Hukum administrasi negara mengatur tata cara menjalankan pemerintahan atau administrasi negara serta mengatur hubungan antara aparatur administrasi negara dan masyarakat yang mencakup dua hal pokok. hal. mengatur tata cara administrasi negara (diperkenankan atau diwajibkan) yang mencampuri kehidupan masyarakat. dan izin bertempat tinggal di Indonesia. hlm. yaitu fungsi administrasi negara dan pemerintahan.48 pengawasan orang asing yang berada di wilayah Indonesia. USU Repository © 2009 . pemberian izin masuk ke dalam negeri. 2007. dapat dikatakan bahwa fungsi keimigrasian merupakan fungsi penyelenggaraan administrasi negara atau penyelenggaraan administrasi pemerintahan (besturr) 26. 41 Bagir Manan. serta pengaturan prosedur keimigrasian dan mekanisme pemberian izin keimigrasian. 14 Januari 2000. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Pertama. 7 27 26 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Maka. “Hukum Keimigrasian dalam Sistem Hukum Nasional”. tetapi telah bertalian juga dengan pencegahan orang keluar wilayah Indonesia dan penangkalan orang masuk wilayah Indonesia demi kepentingan umum. Berhubung hukum keimigrasian harus mengikuti dan tunduk pada asasasas dan kaidah hukum administrasi negara umum (algemene administratiefrecht). Oleh karena itu. mengatur tata cara melindungi masyarakat da ri pelanggaran hak warga negara ataupun dari bahaya yang ditimbukan atau berkaitan dengan orang asing. sebagai bagian dari penyelenggaraan kekuasaan eksekutif. Iman Santoso. Kedua.

ukuran tata cara melakukan tindakan atau membuat keputusan. yaitu setiap tindakan pejabat administrasi negara dilaksanakan menurut ukuran hukum yang berlaku mencakup ukuran kewenangan. ukuran isi tindakan atau isi keputusan. yaitu: 1. USU Repository © 2009 . dan asas keterbukaan. asas motivasi yang benar. 9 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007. 28 28 Ibid. disertai ganti rugi. asas tidak sewenang-wenang. asas-asas umum penyelengaraan administrasi yang baik (general principles of good administration) yang mencakup asas persamaan perlakuan. asas legalitas. asas keseimbangan.49 terdapat dua asas umum yang harus diterapkan dalam setiap implementasi peran keimigrasian. hal. 2. Setiap keputusan yang bertentangan dengan asas penyelenggaraan pemerintahan yang baik dapat dijadikan dasar tuntutan atau pembatalan. asas larangan melampaui wewenang. sebab tindakan atau keputusan yang bertentangan dengan asas legalitas dapat mengakibatkan tindakan atau keputusan yang bersangkutan batal demi hukum. asas kepastian hukum. Oleh karena itu setiap tindakan yang bertentangan dengan asas penyelenggaraan pemerintahan yang baik dapat dijadikan dasar tuntutan bagi koreksi dan pelaksanaan kewajiban hukum apratur keimigrasian atau ganti rugi apabila sudah tidak mungkin lagi dipulihkan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). asas dapat dipercaya.

aktivitas perdagangan. seperti izin kunjungan. dan pembicaraan traksaksi bisnis. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. terbentuklah bidang hukum baru yang disebut hukum ekonomi dalam arti sempit. sebab melalui hukum. selain ditetapkan hak dan kewajiban. ataupun tetap. Demikian pula dengan pemberian izin keimigrasian. Dalam perspektif pembangunan nasional. USU Repository © 2009 . izin tinggal terbatas. yang dikaitkan dengan investasi pekerjaan. KITAS ini merupakan produk administrasi negara yang berasal dari kaidah keimigrasian. juga diberikan kepastian mengenai subjek dan objek hukum dalam setiap kegiatan ekonomi. hukum mempunyai peranan yang penting bagi keberhasilan pembangunan ekonomi. proses. Karena semakin banyak peraturan yang mengatur bidang perekonomian dengan menggunakan kaidah hukum administrasi negara ini. yang diberi nama droit economique. Hal yang membuktikan bahwa kaidah hukum keimigrasian merupakan bagian dari hukum ekonomi dalam arti sempit adalah ketika kepemilikan hak orang asing atas satuan rumah susun (apartemen dan kondominium) di Indonesia hanya diberikan apabila orang asing tersebut adalah pemegang KITAS (Kartu Izin Tinggal Terbatas).50 Dalam perspektif yang lebih besar lagi. serta kelembagaan dari setiap kegiatan interaksi ekonomi. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). dapat dikatakan bahwa hukum keimigrasian merupakan bagian dari hukum ekonomi. 2007.

51 BAB III PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PENYALAHGUNAAN IZIN KEIMIGRASIAN A. Gramedia Jakarta. Indonesia merasa perlu untuk mengatur permasalahan orang asing yang berada di Indonesia. Visa sebagai izin masuk Penduduk Indonesia pada hakikatnya terdiri atas dua golongan. USU Repository © 2009 29 . yaitu warga Negara Indonesia (WNI) dan orang asing atau warga negara asing (WNA). 2007. Hukum Kewarganegaraan dan Keimigrasian Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 29 Pasal 2 sampai 9 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) mengatur mengenai batas-batas berlakunya perundang-undangan hokum pidana menurut Koerniatmanto Soetoprawiro. Ketentuan Keberadaan Warga Negara Asing (WNA) di Indonesia Menurut Undang-undang RI No. hal. 1996. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Oleh karena itu. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian 1. 74.

dalam pasal 6 ayat 1 disebutkan bahwa “setiap orang asing yang masuk wilayah Indonesia wajib membawa Visa”. 2007. Rineka Cipta. juga diluar wilayah negara (asas personal atau juga dinamakan prinsip nasional aktif). Perundang-undangan hukum pidana berlaku bagi semua perbuatan pidana yang terjadi dalam wilayah negara. hal. 33 Direktorat Jendral Imigrasi. 32 Hadi Kiswanto. Jakarta. 1982. yaitu: 30 1. dimana saja. Asas-asas Hukum Pidana. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Perundang-undangan hukum pidana berlaku bagi semua perbuatan pidana yang dilakukan oleh waraga negara. ada beberapa pengertian visa yang dapat dikemukakan. 2000. USU Repository © 2009 . baik dilakukan oleh warga negaranya sendiri maupun oleh negara asing (asas teritorial). Buku Petunjuk Keimigrasian RI Bagian I Visa Izin Tinggal. Departemen Kehakiman RI. antara lain: Menurut Hadi Kiswanto:32 “Visa adalah izin tertulisuntuk masuk ke suatu negara yang tercantum dalam surat perjalanan”. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 10. Sesuai dengan ketentuan ketentuan Undang-undang RI Nomor 9 tahun 1992 tentang keimigrasian. hal. 1983. 31 30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Lihat Pasal 6 ayat (1) Undang-undang RI No. 2.52 tempat terjadinya perbuatan. Jakarta. 2. ada dua kemungkinan pendirian. hal. Jakarta. Tugas Pokok dan Fungsi Direktorat Jendral Imigrasi. Di dalam Buku Petunjuk Keimigrasian Republik Indonesia Bagian I Visa dan Izin Tinggal disebutkan: 33 Moeljatno. 38. Ditinjau dari sudut negara. 31 Oleh karena itu setiap orang asing yang masuk wilayah Indonesia wajib memiliki visa.

PR.” Sedangkan menurut Undang-undang RI No. Jakarta.” 35 Maksud dan tujuan pemberian visa menurut petunjuk Pusdiklat Departemen Kehakiman Republik Indonesia yaitu untuk dapt mengendalikan serta mengawasi lalu lintas orang asing yang keluar nasuk (ke dan dari) wilayah Indonesia. WJS Poerwadarnita.53 “Visa adalah izin tertulis yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang di dalam papor kebangsaan yang menyatakan bahwa yang bersangkutan dapat mengadakan perjalanan ke negara yang dituju”.04 Tahun 1981 yang menyatakan sebagai berikut: “Tugas Pokok Direktorat Jendral Imigrasi adalah mengtaur dan mengawasi lalu lintas antar Republik Indonesia dengan negara lain serta menyelenggarakan pengawasan orang asing dalam wilayah negara 34 WJS Poerwadarninta. hal. 142. 2007. 07. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian menyebutkan: “Visa adalah izin tertulis yang diberikan oleh pejabat yang berwenang pada Perwakilan Republik Indonesia atau di tempat lainnya yang ditetapkan olah Pemerintah Republik Indonesia yang memuat persetujuan bagi orang asing untuk masuk dan melakukan perjalanan ke wilayah Indonesia. 1986. M. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Lihat Pasal 1 butir 7 Undang-Undang RI No.29. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Hal ini sejalan dengan tugas pokok Direktorat Jendaral Imigrasi yang tertuang dalam keputusan Menteri Kehakiman RI No. 35 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan: 34 “Visa adalah izin untuk keluar atau masuk ke sesuatu negara. Balai Pustaka.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Izin masuk dan Izin Keimigrasian. Berdasarkan prinsip ini. b. hanya orang asing yang dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat. diberikan kepada orang asing pemegang Paspor Dinas yang hendak bepergian ke Indonesia untuk melaksanakan tugas resmi dari Pemerintah asing yang bersangkutan atau diutus oleh Organisasi Internasional. 6. juga tidak bermusuhan baik terhadap rakyat. ketentraman. bangsa dan negara Republik Indonesi serta tidak membahayakan keamanan dan ketertiban.” 36 Menurut Undang-undang No. 32 Tahun 1994 tentang Visa. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Visa ini diberikan kepada orang asing yang maksud dan tujuan kedatangannya di Indonesia tidak menimbulkan gangguan terhadap ketertiban dan keamanan nasional. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian. 37 Lihat dalam Penjelasan Umum Undang-undang RI No. maupun negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang diizinkan masuk ke wilayah Indonesia. Visa Dinas. diberikan kepada orang asing pemegang Paspor Diplomatik yang hendak bepergian ke Indonesia dengan tugas Diplomatik. hal. Izin Masuk dan Izin Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. dan keamanan nasional. Jakarta. 37 Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. tetapi tugas tersebut tidak bersifat Diplomatik. 32 Tahun 1994 tentang Visa. USU Repository © 2009 36 .54 Republik Indonesia demi menjamin ketertiban. 2007. 1982. ada lima jenis visa: 38 a. Beberapa Pedoman dan Ketentuan Tentang Imigrasi dan Ketatalaksanaan: Bahan Penataran Administrasi Apratur Kehakiman. 38 Lihat Pasal 1-17 PP No. Visa Diplomatik. Hal ini sejalan dengan prinsip yang bersifat “selekrif” (selective policy). Pusdiklat Pegawai Departemen Kehakiman.

9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. d. 2. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian dinyatakan: 39 “dikecualikan dari kewajiban memiliki visa bagi orang asing yang masuk wilayah Indonesia adalah: 39 Lihat Pasal 7 Undang-undang RI No.55 c. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Dalam hal ini orang asing dapat menggunakan Multipel Visa. Visa ini diberikan untuk singgah di wilayah Negara Indonesia paling lama 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal diberikannya izin masuk di wilayah Negara Republik Indonesia. tetapi dalam pasal 7 Undang-undang No. Visa Kunjungan. Bebas visa kunjungan singkat (BVKS) Pada dasarnya setiap orang yang akan memasuki suatu negara harus memiliki visa. USU Repository © 2009 . 2007. yaitu visa Kunjungan untuk beberapa kali melakukan perjalanan dari dan ke wilayah Negara Republik Indonesia. dapat diberikan kepada orang asing untuk tinggal di wilayah Negara Republik Indonesia paling lama satu tahun terhitung sejak tanggal diberikannya izin masuk di wilayah Negara Republik Indonesia. Visa Singgah. Visa Tinggal Terbatas. dapat diberikan kepada orang asing untuk singgah di wilayah Negara Republik Indonesia untuk meneruskan perjalanan ke negara lain atau kembali ke negara asal. dapat diberikan kepada orang asing untuk berkunjung di wilayah Negara Republik Indonesia paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikannya Izin Masuk di wilayah Negara Indonesia. e.

Dalam hal tertentu. 40 Selain itu juga pemberian kemudahan tersebut juga didasarkan kepada azas resiprositas yaitu negara yang memberikan kemudahan bebas visa terhadap waraga asing tertentu. 2007. Biasanya kemudahan ini diberikan untuk kepentingan negara tersebut yaitu agar orang asing lebih banyak masuk ke negaranya dan ini akan menghasilkan devisa. USU Repository © 2009 40 . Orang asing warga negara dari negara yang berdasarkan keputusan Presiden tidak diwajibkan memilki visa b. Penumpang transit di Pelabuhan atau Bandar Udara diwilayah Indonesia sepanjang tidak keluar dari tempat transit yang berada di daerah tempat Pemeriksaan Imigrasi. Orang asing yang memiliki Ijin masuk kembali c. Jakarta. warga negara ASEAN dapat saling masuk ke negara-negara ASEAN lainnya tanpa terlebih dahulu meminta visa. hal. “Analisa dan Evaluasi tentang Pengaturan Fasilitas Bebas Visa wisata bagi Orang Asing yang Berkunjung ke Indonesia” (Laporan Penelitian). maka waraga negara dari negara tersebut juga mendapatkan pembebasan visa apabila akan ke negara asing tertentu. dkk). Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Sebagai contoh.56 a. 1984. Kapten atau Nakoda kapal dan awak yang bertugas pada alat angkut yang berlabuh dipelabuhan atau mendarat di Bandar Udara di wilayah Indonesia d. 9. Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN). seperti yang disebutkan pada huruf (a) diatas. Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. terdapat negara-negara yang diberikan kemudahan kepada orang asing untuk masuk ke suatu negra Indonesia dengan tidak memerlukan visa.

USU Repository © 2009 . Mesir 29. Brazil 9. menikmati objek-objek wisata dan lain-lain. Australia 5. Malaysia 25. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).57 Pemerintah Republik Indonesia dengan peraturan perundang-undangan berupa Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. Belgia 8. Monaco 31. social budaya dan usaha. Norwegia Lukman Bratamidjaja. 44. Austria 6. Orang asing yang diberi fasilitas BVKS dapat melakukan kegiatan seperti kunjungan wisata. memberikan kemudahan kepada waraga negara dari + 46 negara dapat masuk ke wilayah Indonesia selama 2 (dua) bulan.02. Maroko 28. Adapun negara-negara penerima BVKS.01. hal. Malta 27. Myanmar 32. Jakarta. sedangkan kunjungan usaha adalah kunjungan dalam rangaka membina hubungan bisnis. Maldive 26. Pintu Gerbang No. Brunai Darussalam 10. Direktorat Jendral Imigrasi. M. “Aspek Ilmu Perundang-undangan BVKS Bagian I”. Mexico 30. Kunjungan sosial budaya adalah kunjungan dalam rangak mengunjungi family. 24-25 42 Berdasarkan Data Kantor Imigrasi Polonia Medan Tahun 2001. 2002. Amerika Serikat 2.01 tahun 1993 tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS). Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Kunjungan wisata adalah perjalanan mengunjungi Indonesia untuk berlibur. 2007. Argentina 4. Belanda 7. Orang asing yang diberikan BVKS ini dapat melakukn kegiatan-kegiatan sebagaimana tersebut diatas dengan catatan dilarang melakukan kegiatan yang sifatnya bekerja. melakukan penelitian dan kunjungan yang bersifat sosial budaya. Arab Saudi 3. adalah: 42 1. Chili 41 41 24. Nepai 33. pembicaraan bisnis dan penjajakan memperluas usaha bisinis di Indonesia.

Selandia Baru 37. Swiss 41. Pabean. 39. Kanada 22. Israel 18. Imigrasi. hal. Korea Selatan 23. Jerman 21. Inggris 16. Uni Emirat Arab 46. Hongkong 14. PT. 43 Sedangkan menurut Undang-undang RI No. Gramedia Pustaka. dan memasuki dan meninggalkan negara lain yang mempunyai hubungan diplomatik dengan negara yang mengeluarkan paspor tersebut. Spanyol 38. Philipina 36. 2007. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian menyatakan: “surat perjalanan adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang dari suatu negara yang memuat identitas pemegangnya dan berlaku untuk melakukan perjalanan antar negara”. Singapura 39. dan Karantina. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 44 Paspor berfungsi sebagai surat perjalanan yang digunakan untuk meninggalkan dan memasuki kembali negara yang bersangkutan. Luxemburg 34. 1997. Prancis 35. Taiwan 42. Finlandia 13. Tanzania 43. Denmark 12. Jepang 20.58 11. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. Felix Hadi Mulyatno dan Endar Sugiarto. Irlandia 17. 44 Lihat Pasal 1 angka 3 Undang-undang RI no. Jakarta. Orang yang ingin mengunjungi negara lain harus mengetahui apakah paspornya berlaku untuk negara yang akan dituju R. Thailand 44. USU Repository © 2009 43 . Hungaria 15. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Surat perjalanan republik Indonesia (Paspor) Paspor adalah sebuah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh suatu badan pemerintah yang berwenang untuk bangsanya atau untuk penduduk asing. Yunani 3. Italia 19. Swedia 40. Turki 45.

Paspor diplomatik. Papor biasa. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. Paspor untuk orang asing. 40. cit. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Kebangsaan seseorang bisa dilihat pada kartu identitasnya. 46 Dalam pasal 29 Undang-undang No. d. misalnya Cina dan Indonesia. Itu bukan berarti bahwa pemegang paspor dari negara yang mengeluarkan paspor tersebut adalah warga negaranya. diberikan kepada warga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar negeri (keluar wilayah Indonesia) secara normal. Felix Hadi Mulyatno dan Endar Sugiarto. yang artinya seseorang bias mempunyai dua warga negara. dan mereka boleh menggunakan kedua paspor mereka. Op. USU Repository © 2009 . Ibid. 40 47 Lihat Pasal 29 Undang-undang No. hal. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.59 atau tidak 45. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian disebutkan Surat Perjalanan Republik Indonesia terdiri atas: 47 a. b. hal. diberikan kepada waraga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dalam rangka menunaikan inbadah haji. misalnya dipaspor atau kartu penduduk. kita juga harus mengetahui apakah paspor berlaku untuk negara transit yang akan disinggahi dalam perjalanan menuju ke negara tujuan atau tidak. Paspor Haji. diberikan kepada warga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dalam rangka penamatan atau tugas yang bersifat diplomatik c. 2007. diberikan kepada orang asing yang pada saat diberlakukannya undang-undang ini telah memliki izin tinggal tetap akan 45 46 R. Itu sebabnya kita dulu mengenal “Dwi Warga Negara”. Disamping itu.

Masa berlakunya paspor adalah 5 (lima) tahun. Surat perjalanan laksana paspor dinas. g. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Sedangkan untuk WNI yang berdomisili di luar negeri masa berlakunya paspor adalah 2 tahun. Surat perjalanan laksana paspor untuk orang asing. yang bukan bersifat diplomatik. USU Repository © 2009 . Surat perjalanan laksana paspor untuk warga negara Indonesia. f. diberikan kepada warga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dalam rangka dinas/tugas dari pemerintah. diberikan dalam keadaan khusus apabila paspor biasa tidak diberikan. Paspor dinas. e. diberikan kepada warga negara Indonesia dalam keadaan khusus apabila tidak mendapatkan paspor dinas. B. menggunakan fasilitas BVKS maupun menggunakan visa Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. dan dikenakan tindakan pengusiran atau deportasi atau dalam keadaan tertentu yang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional diberi izin untuk masuk ke wilayah Indonesia. h.60 melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dan tidak mempunyai surat perjalanan serta dalam waktu yang dianggap layak tidak dapat memperolehnya dari negaranya atau negara lain. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Warga negara asing (WNA) yang masuk ke Indonesia pada umumnya atau kota medan khususnya. 2007. dapat diberikan kepada orang asing yang tidak mempunyai surat perjalanan yang sah dan atas kehendak sendiri keluar dari wilayah Indonesia sejauh dia tidak terkena pencegahan.

Ruang lingkup fasilitas bebas visa Menurut Keputusan Menteri Kehakiman No.01-12. Di dalam izin kunjungan tersebut dijelaskan bahwa izin kunjungan digunakan penggunaannya untuk berwisata. 48 1. Hal ini dimannfaatkan oleh warga negara asing untuk menyalahgunakan izin keimigrasian.61 wisata akan mendapat izin kunjungan wisata sesuai dengan izin masuk baik dengan visa atau bebas visa.01. Keputusan Menteri Kehakiman tersebut mengatur pelaksanaan teknis bebas visa. USU Repository © 2009 . Kunjungan usaha Kunjungan wisata adalah perjalanan mengunjungi Indonesia untuk berlibur. Kantor Imigrasi Polonia Medan. tetapi kenyataannya ada juga wisatawan yang menyalahgunakannya untuk keperluan lain sebagai sampingan bahkan ada juga wisatawan yang sama sekali tidak berwisata. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Kunjungan sosial budaya 48 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Kunjungan wisata b. Penyalahgunaan tersebut bisa terjadi karena faktor-faktor ruang lingkup fasilitas bebas visa yang dinilai terlalu luas.02 tahun 1993 tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS). 2007. dan pemberian tenggang waktu pada izin kunjungan wisata yang terlalu lama atau karena faktor petugas imigrasi sendiri. M. menikmati objek-objek wisata dan lain-lain. Kunjungan sosial budaya c. yang meliputi: a.

Op. 2007. misalnya bekerja atau berusaha atau bahkan ada yang mengedarkan ganja atau narkotika. cit. Op. 25 Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. yang merupakan fasilitas untk kunjungan khusus wisata.01. cit. M. hal.01-12. Kantor Imigrasi Polonia Medan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 50 Oleh karena itu. 9 51 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim. tujuan pemberian fasilitas Bebas Visa Wisata (BVW) sudah diatur secara tegas. pembicaraan bisnis dan penjajakan memperluas usaha bisnis di Indonesia. 51 Hasil penelitian Timi Evaluasi dan Analisa dari Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) yang dilakukan sejak tahun 1992-1993 disejumlah daerah 49 50 Lukman Bratamidjaja. 49 Keputusan Menteri Kehakiman ini merupakan suatu kebijaksanaan pemerintah yang memperluas pemberian fasilitas bebas visa jika dibandingkan dengan ketentuan yang diatur dalam Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. Hal ini yang mendasari diterbitkan Keputusan Menteri Kehakiman No.02 tahun 1983 tentang Pelaksanaan Pembebasan Keharusan memiliki visa bagi wisatawan asing. dkk).62 adalah kunjungan dalam rangak mengunjungi family. M.02 tahun 1983 tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS). melakukan penelitian dan kunjungan yang bersifat sosial budaya. masih saja ditemukan penyalahgunaan oleh warga negara asing (WNA) yang melakukan perjalanan wisata atau yang biasa disebut wisatawan asing. Namun. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . sedangkan kunjungan usaha adalah kunjungan dalam rangaka membina hubungan bisnis.01.01-12. Keputusan Menteri ini bertujuan memperjelas kepastian dan batasan fasilitas bebas visa. hal.

Kemudian.02 tahun 1983. M. 2007.01-12. 1. Tenggang waktu fasilitas bebas visa Sebagaimana telah diketahui mengenai tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa untuk wisata telah beberapa kali diatur. 23 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.01. Masa Tenggang Waktu Pemebrian Fasilitas Bebas Visa Bentuk Peraturan PP No. kegagalan ini telah dimanfaatkan orang asing sebagai salah satu cara masuknya imigran gelap ke Indonesia. Universitas Udayana dan PDII LIPI (Jakarta). 1993. Laporan Penelitian. 52 2. Denpasar. USU Repository © 2009 52 . yaitu dalam: Tabel. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).63 wisata di Indonesia mengenai Pengaturan Fasilitas Bebas Visa Wisata (BVW) bagi orang asing yang berkunjung ke Indonesia. dkk. “Usaha Penaggulangan Tindak Pidana Imigrasi dan Imigrasi Gelap di Kota Madya Denpasar”. hal. menyebutkan adanya pelanggaran terhadap pemberian fasilitas Bebas Visa Wisata (BVW) yang telah diatur dalam Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. Olah karena itu. setelah ruang lingkup fasilitas bebas visa dalam BVKS diperluas tetap saja ditemukan pelanggaran yang sama. 26 tahun 1970 tentang Koordinasi Pengawasan Orang Asing yang Berkunjung ke Indonesia SKB Menteri Luar Negeri dan Menteri Kehakiman tentang Peraturan Visa Keputusan Menteri Kehakiman Bebas Visa Wisata (BVW) tentang Tahun 1970 Tenggang Waktu 7 (tujuh) hari 1979 30 (tiga puluh) hari + 15 (lima belas) hari 60 (enam puluh ) hari atau 2 (dua) bulan 60 (enam puluh) hari atau 2 (dua) bulan 1983 Keputusan Kehakiman tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS) 1993 Sumber: Hasil Investarisasi Peraturan Perundang-undangan Bebas Visa Wisata Tahun 1970-1993 I Wayan Tangun Susila.

1996.64 Perkembangan tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa bagi wisatawan dimaksudkan untuk mendukung pertumbuhan kepariwisataan dan meningkatkan arus wisatawan. Sjarif. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Op. USU Repository © 2009 53 . Lamanya jangka waktu ini ternyata dapat memberikan peluang bagi wisatawan asing untuk melakukan pelanggaran dengan berbagai motivasi. Jakarta. Sinar Grafika. hal. cit. Sedangkan bagi orang asing yang akan bekerja di Indonesia sudah ad pengaturannya. Hal ini dikarenakanjarang sekali wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia selama 2 (dua) bulan untuk berwisata saja. Pedoman Penggunaan Tenaga Kerja Asing di Indonesia dan Peraturanperaturannya. hal. 16-17 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 53 Berdasarkan hasil penelitian oleh Tim Evaluasi dan Analisa terhadap responden yaitu para wisatawan asing tentang waktu pemberian fasilitas bebas visa adalah sebagai berikut: 54 1. Tetapi tenggang waktu 2 (dua) bulan ini dirasakan terlalu panjang atau lam. 6-8. Tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa untuk wisata yang paling ideal adalah 1 (satu) bulan dan dapat diperpanjang selama 30 (tiga puluh) hari. 54 Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. S. 2007. dkk). yaitu mempunyai Izin Tinggal Terbatas dan memiliki Izin Kerja yang diberikan oleh Menteri Tenaga Kerja. Alasan-alasan yang dikemukakan adalah: H. Tenggang waktu wisatawan di Indonesia selama 2 (dua) bulan merupakan pendapatan bagi pengelola wisata. seperti disalahgunakan untuk bekerja.

Petugas Imigrasi Peranan petugas imigrasi dalam hal pengawasan sangat besar. Pemasukan devisa dapat memenuhi target yang diharapakan. Pemberian fasilitas bebas visa selam 1 (satu) bulan dirasakan masih kurang bagi sebagian besar wisatawan asing. d. sebab: a. Pengawasan terhadap orang asing bisa terkendali. sebab objek wisata di Indonesia sangat banyak dan menarik. harus didukung oleh mental petugas yang baik pula. 2007. meskipun ataruan tentang keimigrasian telah baik. Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa lama masa kunjungan wisatawan asing ke Indonesia rata-rata antara 3 (tiga) sampai 4 (empat) minggu saja. Jarang sekali wisatawan asing yang berwisata sampai 3 (tiga) bulan.65 a. b. USU Repository © 2009 . Terutama para petugas yang bertugas di Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Pengawasan terhadap orang asing memerlukan perhatian yang lebih seksama. 2. Tidak dapat dipungkiri. c. c. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). C. Terlalu lama. Bisa disalahgunakan untuk tujuan lain selain berwisata. Tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa selama2 (dua) bulan apalagi 3 (tiga) bulan dipandang tidak ideal. d. b.

dkk. cit.66 pintu-pintu masuknya orang asing ke Indonesia. 21 Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. yaitu secara administrarif tentang perizinannya. 55 Hasil pengawasan terhadap orang asing yang berkunjung. maka orang asing tersebut akan leluasa berkeliaran di Indonesia. khususnya yang menggunakan fasilitas bebas visa untuk wisata menunjukkan perlu adanya pemantauan kegiatan-kegiatan yang dilakukan. hal. 55 56 I Wayan Tangun Susila. Tahap pengawasan. hal. kemudian saat orang asing tersebut mendarat di wilayah Republik Indonesia harus juga diperiksa dan ketika orang asing tersebut berada tinggal di Indonesia. sebaiknya memiliki satu sistem database diseluruh Indonesia yang dapat diakses oleh semua petugas imigrasi dimanapun berada. 25-30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. dan diadakan peninjauan ke lokasi. Op. dan juga membuat daftar terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh orang aing yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi penindakan imigrasi. 2. wawancara/ilicting untuk mencari mengetahui kebenaran materil terhadap keberadaan orang asing yang berkunjung. USU Repository © 2009 . yaitu dilakukan mulai pada saat orang asing mengurus izin masuk ke Indonesia di luar negeri. System pelaporan. apabila mereka bertindak masa bodoh. cit. Op. 3. 2007. Hal ini bertujuan untuk mengetahui secara dini setiap peristiwa yang dapat diduga mengandung unsureunsur pelanggaran keimigrasian. Tekhnik pengawasan. Mekanisme pengawasan tersebut adalah sebagai berikut: 56 1. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). dkk).

Tourist. Tenaga kerja. 2007. Pos dan Telekomunikasi 2) BAKIN (BIN) 57 Ibid. maka Menteri Kehakiman sebagai yang bertanggung jawab dalam pengawasan orang asing dan dalam dalam hal ini lebih dititik beratkan kepad imigrasi. Pos dan Telekomunikasi 2) Departemen Luar Negeri 3) Departemen Dalam Negeri 4) Polri c. 19-30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Departemen KEhakiman bekerja sama dengan: 1) Departemen Pariwisata. hal. sepanjang yang menyangkut masalah: 57 a. Departemen Kehakiman bekerja sama dengan: 1) Departemen Pariwisata. q Direktorat Jenderal Imigrasi melakukan kerja sama dengan: 1) Departemen Tenaga Kerja 2) Departemen Luar Negeri 3) Badan Koordinasi Penanaman Modal 4) Polri 5) Pemda dan Departemen Tekhnis b. Departemen Kehakiman c.67 4. karena dari segi kauntitas petugas imigrasi sangat kurang untuk mengawasi keadaan setiap oarng asing dalam segala kegiatan mereka di Indonesia. Koordinasi dengan instansi terkait. USU Repository © 2009 . maka harus melakukan koordinasi dengan instansi pemerintah lainnya. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Artis Asing.

Departemen Kehakiman melakukan koordinasi dengan: 1) BAKN 2) BIN 3) Polri 4) Kejaksaan Agung 5) Departemen Tenaga Kerja 6) Pemda Meskipun pengawasan terhadap orang asing yang berkunjung ke Indonesia sudah diatur dan mekanismenya sudah sedemikian rupa. Departemen Kehakiman bekerja sama dengan: 1) Departemen Perhubungan 2) Departemen Luar Negeri 3) Departemen Pertanian 4) TNI Angkatan Laut e. USU Repository © 2009 . Masalah khusus. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Hal ini terjadi karena pengawasan yang kurang efektif dari Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. misalnya mengenai Cletering house mengenai masalah izin masuk warga RRC dan lain-lain. Awak Kapal.68 3) Departemen Luar Negeri 4) Departemen Tenaga Kerja 5) Polri 6) Pemda/Departemen Luar Negeri d. 2007. namun dalam pelaksanaannya masih saja terdapar orang asing yang melakukan pelanggaran atau penyalahgunaan.

Satu diantaranya adalah penyalahgunaan izin masuk ke Indonesia yaitu izin kunjungan wisata yang pada dasarnya telah melanggar ketentuan Undang-undang keimigrasian. Karena itu. sangata penting koordinasi dengan instansi lain. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). yaitu: 1. hal. 58 Usaha penanggulangan terjadinya pelanggaran ketentuan keimigrasian dibedakan atas dua upuya. Upaya preventif Terjadinya tindak pidana keimigrasian tidak terlepas dari masalah pengawasan orang asing. hal. 28 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 28 Ibid. C. 2007. USU Repository © 2009 . Pengawasan yang kurang terhadap orang asing yang masuk ke Indonesia dapat menimbulkan tindakan yang mengarah kepada kejahatan maupun pelanggaran. cit. dkk. Upaya Penanggulangan Tindak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Penanggulangan adalah cara mengatasi terjadinya sesuatu tindak pidana keimigrasian. Karena salah satu faktor penyebab terjadinya penyalahgunaan izin keimigrasian adalah kurangnya koordinasi petugas keimigrasian dengan instansi lain. Op. 59 58 59 I Wayan Tangun Susila.69 Petugas Imigrasi yang terbatas.

70

Dalam bagian Penjelasan Umum UU no. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian ditegaskan bahwa terhadap orang asing, pelayanan, dan pengawasan di bidang keimigrasian dilakukan dengan prinsip yang bersifat “selektif” (selective policy) . 60 berdasarkan prinsip ini, hanya orang asing yang diizinkan masuk ke Indonesia adalah orang asing yang memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat, bangsa dan negara Republik Indonesia serta tidak membahayakan keamanan dan ketertiban, juga tidak bermusuhan baik terhadp rakyat, maupun terhadp negra Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Dengan demikian orang asing yang ingin masuk dan menetap di wilayah Indonesia harus dipertimbangkan dari berbagai segi, baik dari segi politik, ekonomi maupun sosial budaya bangsa dan negara Indonesia. Sikap dan cara pandang seperti ini merupakan hal yang wajar, terutama bila dikaitkan dengan pembangunan nasional, kemajuan ilmu dan teknologi, perkembangan kerja sama regional meupun internasional, dan meningkatnya arus orang asing yang masuk dan keluar wilayah Indonesia. Untuk menjamin kemanfaatan orang asing tersebut dan dalam rangka menunjang tetap terpeliharanya stabilitas dan kepentingannasioanl, kedaulatan negara, keamanan dan ketertiban umum serta kewaspadaan terhadap dampak negatif yang timbul akibat perlintasan orang antar negara, keberadaan dan

Arief Rahman Kunjono, “Illegal Migrants dan Sisitem Keimigrasian Indonesia: suatu tinjauan Analisis”, Pintu Gerbang No. 44, Direktorat Jendral Imigrasi, Jakarta, 2002, hal. 27
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

60

71

kegiatan orang asing di wilayah Indonesia, dipandang perlu melakukan pengawasan bagi orang asing dan tindakan keimigrasian keimigrasian secara tepat, cepat, teliti dan terkoordinir tanpa mengabaikan keterbukaan dalam memberikan pelayanan orang asing. Makna dari pengawasan mempunyai pengertian yang luas dan mengandung pengertian yang positif. Pengawasan berarti juga mengadakan pengendalian serta bimbingan penyuluhan yang ditujukan untuk mengadakan perbaikan yang diikuti dengan pemecahannya. 61 Dapat dikatakan, proses pengamatan dan penghayatan seluruh kegiatan dilakukan sesuai dengan peraturan-peraturan, instruksi, dan kebijaksanaanyang berlaku. Di dalam pengawasan yang penting adalah mengetahui apakah dalam pelaksanaan tugas-tugas terjadi penyimpangan atau kesalahan. Hal ini secara preventif agar dilaksanakan sedini mungkin supaya tidak terjadi adanya pelanggaran-pelanggaran yang bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku. Sistem pengawasan keimigrasian adalah suatu sistem pengawasan terhadp orang asing, sisitam itu meliputi pengamatan dan pemeriksaan segala kegiatannya mulai dari rencan dan beradanya orang asing di Indonesia sampai dengan meninggalkan Indonesia (the equality of service and security.) 62 Hal ini ditegaskan Pasal 38 ayat (1), Undang-undang No. 9 tahun 1992, yaitu: 63 (1) Pengawasan terhadap orang asing di Indonesia meliputi:

61 62

I Wayan Tangun Susila, dkk, Loc, cit. Arief Rahman Kunjono, Loc, cit. 63 Lihat pasal 38 ayat (1) Undang-undang RI no. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian.
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

72

a. Masuk dan keluarnya orang asing ke dan dari wilayah Indonesia b. Keberadaan serta kegiatan orang asing di wilayah Indonesia. Perihal pengawasan orang asing diatur dalam Undang-undang no. 9 tahun 1992, seperti pada Bab VI tentang pengawasan terhadap orang asing dan tindakan keimigrasian. Pelaksanaan pengawasan terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia dilakukan oleh Menteri Kehakiman dan HAM dengan koordinasi bersama badan dan instansi yang terkait (Pasal 41 UU No. 9 tahun 1992). Dalam hal ini diadakan pemantapan mekanisme koordinasi dan operasi antara instansi yang terkait dalam rangka pengawasan orang asing, instansiinstansi tersebut akan melakukan tugas dan wewenangnya masing-masing sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Koordinasi dimaksudkan untuk memaksimalkan daya guna dan hasil guna pengawasan terhadap orang asing. Tujuan pengawasan tersebut untuk mewujudkan prinsip selective policy yang dipandang perlu dalam mengawasi orang asing. 64 Untuk kelancaran dan ketertiban dalam mengawasi orang asing, pemerintah telah menyelenggarakan pendaftaran orang asing yang berada di wilayah Indonesia sehingga dapat dihimpun data mengenai orang asing. Seperti disebutkan, Direktorat Jendral Imigrasi Departemen Kehakiman dan HAM

64

Koerniatmanto Soetoprawiro, Op. cit, hal. 90-91

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

9 tahun 1992 disebutkan bahwa dalam menyelenggarakan pendaftaran orang asing yang ada di Indonesia berkewajiban untuk: 66 a. 13 66 Lihat pasal 39 Undang-undang no. Berada di wilayah negara Republik Indonesia. Pada pasal 39 Undang-undang no. 65 Pendaftaran ulang pada tahun 2001 lalu adalah untuk pertama kalinya sejak Undang-undang no. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.73 Republik Indonesia mengadakn pendaftaran ulang warga negara assign secara serentak di seluruh wilayah RI sejak tanggal 10 Agustus-31 Oktober 2001. USU Repository © 2009 65 . b. Memperlihatkan Surat Perjalanan atau dokumen keimigrasian yang dimilikinya pada waktu diperlukan dalam angka pengawasan. 2007. Jakarta. Direktorat Jenderal Imigrasi. “Imigrasi Daftar Ulang Warga Negara Asing”. Pengumpulan data dengan cara pengawasan orang asing ini dilaksanakan bagi setiap orang asing yang: 1. Melakukan kegiatan di wilayah negara Republik Indonesia. c. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 9 tahun 1992 berlaku dan akan dilakukan setiap lima tahun sekaliberdasarkan peraturan keimigrasian yang berlaku. serta perubahan alamatnya. perubahan status sipil dan kewarganegaraan. 2. 3. hal. 200. Mendaftarkan diri jika berada di Indonesia lebih dari Sembilan puluh hari. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. Memberikan segala keterangan yang perlu mengenai identitas diri dan /atau keluarganya. 42. Masuk atau keluar wilayah negara Republik Indonesia. Pintu Gerbang No.

31 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 45. 2007. 1 Pengawasan orang asing yang masuk atau keluar wilayah RI Pengawasan orang asing sebelum memasuki wilayah Indonesia berhubungan dengan konsulat atau kedutaan RI khusus atas imigrasi untuk melayani dan meneliti secara selektif setiap permohonan visa ke Indonesi. diadakan pengawasan yang dilakukan 67 68 I Wayan Tangun Susila. Hal itu bertujuan untuk mencegah orang asing tersebut meninggalkan Indonesia karena mereka telah menimbulkan suatu permasalahan selama berada di Indonesia. hal. Setiap orang asing yang akan datang atau masuk ke wilayah Indonesia haruslah memiliki visa yang merupakan izin masuk ke Indonesia. 68 Tahap akhir pengawasan adalah saat meninggalkan Indonesia. 67 Pengawasan terhadap orang asing sebelum memasuki Indonesia dilakukan oleh para atase imigrasi pada setiap perwakilan Indonesia di luar negeri pada saat orang asing bersangkutan mengajukan permohonan unutk mendapatkan visa. baik Bandar udara maupun pelabuhan laut. 21 69 I Wayan Tangun Susila. hal. 29 Saleh Wiramiharja. 2 Pengawasan orang asing ketika berada di wilayah negara RI Pada saat orang asing sedang menuju atau sudah di pelabuhan pendaratan. USU Repository © 2009 . Oleh karena itu sebaliknya setiap atase atau KBRI dsetiap negara terdapat aparatur imigrasi yang bertugas disana. Pintu Gerbang No. hal. dkk. dkk.74 1. 69 1. “Langkah-langkah Baru Menunjang Peningkatan Profesionalisme Keimigrasian”. Op. serta memuttuskan apakah dapat diberikan atau tidak berdasarkan pertimbangan kepentingan Ipoleksosbudhankamnas. Jakarta. Direktorat Jenderal Imigrasi. 2002. cit. cit. Op.

Fungsi pengawasan ini sama juga dengan pengawasan sewaktu hendak mengajukan permohonan mendapatkan visa. 3 Pengawasan orang asing yang melakukan kegiatan di wilayah RI Pengawasan yang dimaksudkan disini merupakan tindak lanjut dari pengawasan setelah orang asing mendapatkan izin tinggal di Indonesia.75 ileh petugas imigrasi. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). baik yang mendarat melalui udara maupun laut. dan apakah lamanya tinggal sesuai dengan izin keimigrasian yang diberikan kepadanya. Dari segi Ipoleksosbudhankamnas. b. yaitu: 70 a. Pengawasan terhadap orang asing yang telah mendapatkan izin masuk di Indonesia dapat dilihat dari dua segi. jelaslah apa yang dimaksud dengan tindakan preventif ini. yaitu mengawasi apakah orang asing tersebut melakukan kegiatan. hal. Dengan kegiatan diatas. yaitu tindakan yang dilakukan dalam usaha untuk mencegah atau menjaga kemungkinan terjadinya tindak pidana imigrasi dalam hal ini yaitu tindak 70 Ibid. 1. USU Repository © 2009 . 2007. Dari segi keimigrasian. 30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. yaitu pengawasan untuk mencegah masuknya orang-orang assign yang akan menimbulkan permasalahn setelah berada di Indonesia. yaitu mengawasi apakah kegiatan yang dilakukan oleh orang asing tersebut menimbulkan benturan-benturan yang mengganggu kepentingan ketahanan dan keamanan nasional atau tiadak.

baik hotel. 2. USU Repository © 2009 . 2007. Meneliti setiap orang asing atau wisatawan yang hendak masuk lewat wawancara singkat di setiap tempat pemeriksaan imigrasi. Bandung.76 pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. hal. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 1984. Melakukan pengecekan data yang diperoleh dari tempat-tempat wisatawan menginap. Kapita Selekta Hukum Pidana. Setiap pelabuhan pendaratan memilki contoh-contoh tanda tangan dari pejabat konsuler pada perwakilan Republik Indonesia di luar negeri. motel. losmen atau tempat kediaman teman. yang berwenang menandatangani visa. 4. 3. Pejabat pendaftaran dibekali pengetahuan tentang kerahasian/ciri-ciri khusus dari paspor-paspor negara lain dan dilengkapi dengan alat sinar ultraviolet dan kaca pembesar maupun dengan teknologi modern. 110 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Alumni. Upaya Represif Menurut Soedarto yang dimaksud dengan tindakan represif adalah segala tindakan yang dilakukan aparatur penegak hukum sesudah terjadi kejahatan atau tindak pidana. 72 Dalam kaitannya dengan penggulangan terhadap orang asing yang menyalagunakan izin keimigrasian dilakukan sesudah terjadinya atau terbukti 71 72 Ibid. 31-32 Soedarto. Beberapa usaha preventif sehubungan dengan hal tersebut antara lain sebagai berikut: 71 1. 2. hal.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Tindakan yuridis Dalam pasal 50 undang-undang no. 25. 9 tahun 1992 tenang keimgrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Tindakan ini bisa bersifat yuridis. 9 tahun 1992 disebutkan: 73 “orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan pemberian izin keimigrasin yang diberikan kepadanya dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. Tindakan administrative Menurut pasal 42 Undang-undang no. (2) Tindakan keimigrasian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa: 73 Lihat pasal 50 Undang-undang no.000.000. yaitu: (1) Tindakan keimigrasian dilakukan terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia yang melakukan kegiatan yang berbahaya dan patut akan diduga berbahaya bagi keamanan dan ketertiban umum.77 adanya penyalahgunaan izn keimigrasian. atau tidak menghormati atau menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku.” Jadi tindakan yuridis adalah orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan maksud pemberian izin keimigrasian dan harus dibuktikan di pengadilan oleh hakim dan kemudian dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 1. 2007.. 2. 9 tahun 1992 yang mengatur mengenai tindakan keimigrasian terhadap orang asing di wilayah Indonesia. dan bisa juga bersifat administrasi. 2.(dua puluh lima juta rupiah). USU Repository © 2009 . 2.

2007. Keharusan untuk bertempat tinggal disuatu tempat tertentu di wilayah Indonesia d.78 a. Pemidanaan Fungsi pemidanaan adalah sebagai penjeraan.000. Pembatasan. Pengusiran atau deportasi dari wilayah Indonesia atau penolakan masuk ke wilayah Indonesia. orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang 74 Lihat Pasal 10 RUU Keimigrasian.. Berdasarkan uraian diatas tindakan-tindakan represif yang dapat diambil adalah pemidanaan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). perubahan atau pembatalan izin keberadaan b. a. Dengan demikian penyalahgunaan izin keimigrasian dapat dilakukan dengan 4 (empat) alternative seperti disebutkan diatas dengan alasan bahwa orang asing yang bersangkutan tidak mengindahkan peraturan yang mengatur keberadaan orang asing di wilayah Republik Indonesia. yaitu diatur pada pasal 110. pada RUU keimigrasian terdapat perubahn dalam hal ancaman sanksi pidana.000. RUU keimigrasian yang berbunyi: 74 “Dipidana dengan pidana paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. 25. USU Repository © 2009 . pengusiran (deportasi) dan memasukkan orang asing yang terlibat ke dalam daftar pencegahan dan penangkalan atau cekal (black list). begitu juga tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian yang diberikan kepadanya. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.(dua puluh lima juta rupiah). Larangan untuk berada di suatu atau beberapa tempat tertentu di wilyah Indonesia c.

USU Repository © 2009 .” c. Black list (daftar cekal) Black list adalah istilah yang dipakai dalam bahasa sehari-hari untuk menggantikan daftar orang-orang yang tidak diperbolehkan meninggalkan Indonesia dan orang-orang yang tidak diperbolehkan memasuki wilayah Indonesia. Menurut Sri Setianingsih bahwa: 75 “Deportasi adalah pengusiran orang asing keluar wilayah Indonesia (keluar wilayah suatu negara) dengan alasan bahwa orang asing tersebut wilayahnya tidak dikendaki oleh negara yang bersangkutan.” b. Selain itu. cit. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). pengusiran tersebut semata-mata berdasarkan kepentingan negara itu sendiri. Di dalam keimigrasian daftar ini disebut “daftar pencegahan dan 75 76 I Wayan Tangun Susila. 37 Ibid Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. khususnya pada ayat (2) point d. dkk.79 bertentangan dengan maksud dan tujuan pemberian izin tinggal yang diberikan kepadanya. Jadi tidak ada sangkut pautnya dengan negara asal atau negara dari mana dia semula datang. bagi orang asing yang masuk serta berada di wilayah Republik Indonesia dapat juga diusir. atau kesejahteraan umum. 9 tahun 1992. kesusilaan. Ketentuan mengenai deportasi ini dapat dilihat pada pasal 42 Undang-undang no. 2007. hal.” Sedangkan menurut I Wayan Parthiana. Op. Pengusiran Pengusiran atau deportasi (deportation) adalah suatu tindakan sepihak dari pemerintah berupa tindakan mengeluarkan orang asing dari wilayah Republik Indonesia karena berbahaya bagi ketentraman. bahwa: 76 “Hak suatu negara untuk mengusir orang asing yang berada di negaranya dikenal dengan pengusiran atau deportasi explution.

Atas permintaan suatu negara. Diduga melakukan perbuatan yang bertentangan dengan keamanan dan ketertiban umum. Diketahui atau diduga terlibat dengan kegitan sindikasi kejahatan internasional. 9 tahun 1992. b. c.” Berdasarkan pasal 17 Undang-undang no. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). disebutkan pengertian dari: “Pencegahan adalah larangan yang bersifat sementara terhadap orangorang tertentu untuk keluar dari wilayah Indonesia berdasarlan alasan tertentu. dan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. kesusilaan.80 penangkalan”.” “Penangkalan adalah larangan yang bersifat sementara terhadap orangorang tertentu untuk masuk ke wilayah Indonesia berdasarkan alasan tertentu. e. Pada saat berada di negaranya sendiri atau di negara lain bersikap bermusuhan terhadap pemerintah Indonesia atau melakukan perbuatan yang mencemarkan nama baik bangsa dan negara Indonesia. 9 tahun 1992. Di dalam pasal 1 angka 13 dan 14 Undang-undang no. Pernah diusir atau dideportasi dari wilayah Indonesia. penangkalan terhadap orang asing dilakukan karena: a. agama dan adat kebiasaan masyarakat Indonesia. orang asing yang berusaha menghindarkan diri dari ancaman dan pelaksanaan hukuman di suatu negara tersebut karana melakukan kejahatan yang juga diancam pidana menurut hukum yang berlaku di Indonesia. USU Repository © 2009 . d.

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Jangka waktu pencegahan (3) Keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan dengan surat tercatat kepada orang-orang yang terkena pencegahan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal penetapan. 9 tahun 1992. dan 14 Undang-undang no. perdata dan lain sebagainya yang dapat mengganggu dan mengancam stabilitas nasional. Identitas orang yang terkena pencegahan b. baik masalah politik. sosial budaya. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Di dalam pasal disebutkan bahwa: (1) Pencegahan ditetapkan dengan keputusan tertulis.81 f. pidana. Mengenai pencegahan orang asing untuk memasuki wilayah RI diatur di dalam pasal 11. USU Repository © 2009 . pertahanan dan keamanan. 12. ekonomi. keimigrasian. Alasan pencegahan c. 2007. orang asing mana pernah terlibat masalah-masalah sebagaimana disebutkan diatas. 13. (2) Keputusan sebagaimana didalam ayat (1) memuat sekurang-kurangnya: a. Alasan-alasanlain yang berkaitan dengan keimigrasian yang diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Sedangkan penangkalan ditujukan hanya kepada orang asing yang hendak masuk ke wilayah Indonesia. Dari uraian di atas dapat ditegaskan bahwa pencegahan ditujukan kepada orang asing yang masih memiliki masalah di Indonesia.

serta upaya permasyarakatan kembali (resosialisasi) terpidana. Upaya penegakan hukum yang sistematik haruslah memperhatikan ketiga aspek itu secara simultan. Setiap aparat dan aparatur terkait mencakup pula pihak-pihak yang bersangkutan dengan tugas atau perannya yaitu terkait dengan kegiatan pelaporan atau pengaduan. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. penasehat hukum. termasuk mengenai kesejahteraan aparatnya. penyelidikan. polisi.vonis dan pemberian sanksi. penjatuhan. hakim dan petugas-petugas sipir permastarakatan. yaitu: (1) Institusi penegak hukum beserta berbagai prangkat sarana dan prasarana pendukung dan mekanisme kerja kelembagaannya. Peranan Aparatur Penegak Hukum dalam Menanggulangi Tindak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Aparatur penegak hukummencakup pengertian mengenai institusi penegak hukum dan aparat (orangnya) penegak hukum. dan (3) Perangkat peraturan yang mendukung baik kinerja kelembagaannya maupun yang mengatur materi hukum yang dijadikan standar kerja. 2007. sehingga proses penegakan hukum dan keadilan itu sendiri secara internal dapat terwujud secara nyata. USU Repository © 2009 . (2) Budaya kerja yang terkait dengan aparatnya. Dalam proses bekerjanya aparatur penegak hukum itu. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).82 D. penyidikan. terdapat 3 (tiga) elemen penting yang mempengaruhi. penuntutan. Dalam arti sempit. baik hukum materilnya maupun hukum acaranya. jaksa. aparatur penegak hukum yang terlibat tegaknya hukum itu. pembuktian. dimulai dari saksi.

maka pelaksanaan pengawasan orang asing perlu diberikan prioritas utama. Pengawasan orang asing dimulai dari pemantauan Pengawasan baik yang Keimigrasian bersifat mencakup penegakan tindak hukum pidana administratif maupun Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian. hal.83 1. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 01. keimigrasian keimigrasian. tetapi selama mereka berada di Wilayah Indonesia termasuk kegiatankegiatannya. bangsa dan Negara Indonesia serta tidak membahayakan keamanan. Berdasarkan prinsip ini hanya orang asing yang dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat. Pengawasan keimigrasian Sesuai dengan undang-undang no.1044” tentang Keradaan dan Kegiatan Orang Asing Di Indonesia. ketertiban serta bermusuhan baik terhadap rakyat maupun Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 yang diizinkan masuk atau keluar wilayah Indonesia. 1999. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. Dalam rangka mewujudkan prinsip “selective policy” diperlukan pengawasan terhadap orang asing. USU Repository © 2009 77 . “Petunjuk Pemantauan Operasional Keimigrasian No.: F4-IL. 2007. 2. Pengawasan ini tidak hanya pada saat mereka masuk. 77 Dalam mewujudkan kebijaksanaan dimaksud serta mengantisipasi era globalisasi dan informasi yang semakin meningkat selaras dengan peningkatan arus lalu lintas orang asing. 10-1. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). pelayanan dan pengawasandi bidang keimigrasiandilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip yang bersifat selektif (selective policy).

cit.84 terhadap keberadaan dan kegiatannya serta operasi-operasi baik operasi khusus maupun rutin. waktu serta dana. Keberhasilan pengawasan orang asing sangat tergantung kepada berhasil tidaknya pelaksanaan pemantauan dilapangan. pengumpulan dan penilaian bahan keterangan dari tempat-tempat pemeriksaan keimigrsian. 2 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 78 a. 3) Mengumpulkan bahan keterangan tetnang suatu peristiwa terjadinnya pelanggaran keimgrasian. Amarja Press. Pemantauan keimigrasian dan operasional keimigrasian Pemantauan merupakan salah saru cara atau kegiatan/upaya yang dilakukan untuk mengetahui secara dini setiap peristiwa yang diduga mengandung unsur-unsur pelanggaran/kejahatan. 2) Menginventarisir bahan keterangan berdasarkan modus operandi terjadinya pelanggaran keimigrasian serta pembinaan teknis tempat-tempat pemeriksaan keimigrasian. Operasi adalah suaru kegiatan suatu objek tertentu terhadap yang dibatasi oleh tempat. 80 Unutk mengetahui setiap peristiwa yan diduga 78 79 Ibid. 2 Ibnu Suud. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). abaik mengenai keberadaan maupun kegiatan orang asing. “Manajemen Keimigrasian”. 2005. hal. hal. Pemantauan keimigrasian dapat berupa: 79 1) Memantau terhadap setiap peristiwa yang dapat diduga dan atau mengandung unsur-unsur terjadinya pelanggaran keimigrasian seperti penyalahgunaan izin tinggal sesuai visa yang bersangkutan. Op. 2007. hal. 55 80 Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian. USU Repository © 2009 .

tepat. dapat diperoleh dari setiap bahan keterangan yang mempunyai kaitan dengan perbuatan orang asing baik lalu lintas. Upaya/ cara pemantauan dan operasi keimigrasian dapat berupa: 81 81 Ibid. organisasi serta pengawasan dan koordinasi dengan memperhatikan situasi dan kondisi medan. keberadaan maupun kegiatannya. hal. sangat ditenteukan oleh kwalitas dan kwantitas pelaksanaan dalam menghadapi jenis dan macam pelanggaran kejahatan seperi halnya bentuk dan sifat pelanggaran politik ataupun pekerja terselubung. Keberhasilan penyelenggaraan. 2007. Dalam mencari dan menemukan keterangan yang berkaitan dengan peristiwa dimaksud agar diupayakan pelaksanaanya disesuaikan dengan jenis dan macam pelanggaran dalam bidang pembangunan. upaya dalam mencari dan menemukan bahan keterangan perlu perencanaan melalui mekanisme adanya perencanaan yang matang. sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan cermat. USU Repository © 2009 . dengan memperhatikan hak-hak azasi manusia dan senantiasa disertai dengan dasar hukum dalam artian dilengkapi dengan sudut perintah. 3 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).85 mengandung unsur pelanggaran/kejahatan terhadap ketentuan yang berlaku dibidangkeimigrasian. baik berupa pembangunan phisik maupun non phisik. berhasil guna dan berdaya guna. Oleh karena itu.

sedang dan atau telah terjadi 3) Penyusupan dalam ruang lingkup peristiwa atau golongan kegiatan peristiwa yang akan. 5 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 4) Melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang mengetahui atau patut diduga mengetahui terjadinya peristiwa pelanggaran/kejahatan keimigrasian dengan memperhatikan sumber dan nilai keterangan. USU Repository © 2009 . sedang atau telah terjadinya unsur pelanggaran. Orang asing 1) Orang asing pemegang izin singgah 2) Orang asing pemegang izin kunjung  Wisata  Sosial budaya  Usaha/beberapa kali perjalanan 3) Orang asing pemegang izin tinggal terbatas 4) Orang asing pemegang izin tinggal tetap 5) Orang asing tanpa izin keimigrasian 6) Orang asing yang over stay 82 Ibid.86 1) Pengamatan dengan panca indera secara teliti. cermat terhadap surat-surat. 2) Pembuntutan terhadp objek yang kaitan atau hubungan dengan peristiwaperistiwa yang akan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Adapun sasaran pemantauan adalah: 82 a. hal. benda dan tempat kejadian untuk dapat gambaran yang lebih jelas baik secara keseluruhan atau lebih rinci. 2007.

hostel dan sebagainya 2) Kantor-kantor/perusahaan yang mempekerjakan dan menampung tenaga kerja/orang asing 3) Rumah/asrama tempat orang asing bertempat tinggal Pelaksanaan pemantauan dilakukan baik secara terbuka maupun secara tertutup (undercover) dengan tahapan sebagai berikut:83 1. 2. 83 Ibid. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). b. Mendatangi orang/tempat yang telah ditentukan. Melakukan pemerikasaan terhadap orang asing tersebut beserta dokumen yang dimilikinya selanjutnya dilanjutkan dengan pemeriksaan di lapangan. Alat angkut 1) Niaga 2) Non niaga 3) Alat apung c. wisma. Menindaklanjuti dari hasil pemeriksaan. 3. USU Repository © 2009 . 6 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Bangunan-bangunan 1) Hotel. apabila ditemukan bukti-bukti permulaan atau patut diduga telah terjadi pelanggaran/kejahatan keimigrasian. hal. 2007.87 7) Orang asing imigran gelap 8) Orang asing yang melakukan kegiatan tidak sesuai dengan izin yang diberikan.

b. Melakukan pemeriksaan terhadap orang asing yang diduga melakukan pelanggaran/kejahatan yang diutangkan dalam berita Acara Pemeriksaan dan Berita Acara Pendapat. Kerjasama ini secara fungsi masing-masing tanpa mengganggu dan mencampuri teknis tugas instansi masing-masing. Op. Dan orang asing yang karena peraturan perundang-undangan telah dideportasi keluar Indonesia namun karena sesuatu dan lain hal belum dapat berangkat. Pengawasan Mendeteksi kemungkinan terjadinya penyalahgunaan perijinan dan pemberian perijinan keimigrasian serta evaluasi dan laporan. 56 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Lingkup tugas ini meliputi: 84 a. cit. b. Kerjasama pengawasan Untuk mensukseskan tugas pengawasan ini. penyalahgunaan perizinan dan pemberian perizinan keimigrasian serta pengawasan atas imigran gelap. jajaran Direktorat Jenderal Imigrasi harus bekerjasama dan berkoordinasi dengan aparat keamanan lainnya seperti pemerintah daerah. polisi atau aparat yang terkait lainnya. hal. Imigran gelap Mengawasi masuknya orang asing secara gelap (illegal) ke wilayah Indonesia yagn tidak didukung oleh dokumen resmi yang sah dan masih berlaku. USU Repository © 2009 . Pengawasan yang tertuju terhadap kemungkinan terjadinya pelanggaran. 84 Ibnu Suud. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).88 4. 2007.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).89 c. juga Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Departemen yang lingkup tugas dan tangung jawabnya meliputi pembinaan keimigrasian diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undangundang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. fungsi dan wewenang masing-masing instansi dan dilakukan dengan cepat . Pengawasan perlintasan Mengawasi lau-lalangnya orang asing maupun warganegara Indonesia yang melintasi tempat (pos) lintas batas dengan tetangga atas kemungkinan terjadinya pelanggaran keimigrasian. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. untuk melakukan penyidikan tindak pidana keimigrasian”. lengkap terpadu dan aman. 2. tepat. Pelaksanaan kerjasama pengawasan ini diupayakan tanpa mengurangi tugas. USU Repository © 2009 . Pengawasan orang asing Adanya kerjasama antar instansi terkait dalam pengawasan orang asing di dalam wadah koordinasi pengawasan orang asing (SIPORA). 2007. 85 Lihat pasal 47 ayat (1) Undang-undang no. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian disebutkan: 85 ”selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. Penyidikan keimigrasian Dalam pasal 47 ayat (1) Undang-undang no. d. Penindakan keimigrasian a.

aparat imigrasi juga bertugas sebagai aparat penegak hukum 86. Surat Perjalanan. dokumen-dokumen. 87 Lihat pasal 47 ayat (2) Undang-undang No. 9 tahun 1992 diatas. USU Repository © 2009 86 . b. “Lintas Sejarah Imigrasi Indonesia”. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). penyidikan keimigrasian adalah suatu proses penyidikan yang dilakukan oleh Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia juga PPNS imigrasi terhadap setiap orang yang melakukan perbuatan sebagai tindak pidana keimigrasian. hal. d. Memanggil orang untuk didengar keterangannya sebagai saksi. 2005. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007. memeriksa. menahan sesorang yang disangka melakukan tindak pidana keimigrasian.90 Di dalam Undang-undang no. c. Memeriksa dan/atau menyita surat-surat. Ramadhan K. Memanggil. atau benda-benda yang ada hubungannya dengan tindak pidana keimigrasian. Dengan demikian disamping menjalankan tugas sebagai aparat pelayanan keimigrasian. 152. Menerima laporan tentang adanya tindak pidana keimigrasian. H dan Abrar Yusra. menangkap. Dengan demikian penyidikan hanya dapat dilakukan oleh kedua pejabat yang telah disebutkan di atas. menggeledah. Dirjen Imigrasi Hukum dan HAM RI. Dalam pasal 47 ayat (2) disebutkan: 87 “Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang: a.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Mengatur dan menerangkan lebih lanjut dalam keputusan instansi bersama. 8 tahun 1981 (KUHAP) yang menyebutkan bahwa penyidik sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf b mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah koordinasi dan pengawasan penyidik tersebut dalam pasal 6 ayat (1) huruf a. SK Markas Besar Kepolisian RI No. Pol S.91 e. Pejabat Pegawai Negeri Sipil mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah tangan koordinasi dan pengawasan penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. f. dokumen-dokumen. SKep/369/X/1985 yang menyatakan bahwa kooradinasi adalah suatu bentuk hubungan kerja antara penyidik Polri dengan Pegawai Negeri Sipil dalam rangka pelaksanaan penyidikan tindak pidana yang menyangkut bidang tertentu. USU Repository © 2009 . Mengadakan rapat-rapat berkala pada waktu-waktu yang dipandang perlu. 2. 2007. Surat Perjalanan. Adapun wujud koordinasi dapat berupa: 1. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Wewenang ini sudah sesuai dengan ketetuan dari pasal 7 ayat (2) Undangundang no. atau benda-benda lain yang ada hubungannya dengan tindak pidana keimigrasian. Mengambil sidik jari dan memotret tersangka. Melakukan pemeriksaan di tempat-tempat tertentu yagn diduga terdapat suratsurat.

8 tahun 1981 (KUHAP) dan juga merupakan bantuan yang dapat diberikan oleh penyidik sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf a KUHAP kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil seperti yang diatur oleh pasal 47 UU No. 2007. 9 tahun 1992. pemilahan. 2. dan bertugas melakukan identifikasi pengumpulan. USU Repository © 2009 . Proses penyidikan ini dilakukan sebagai Pro Justisia yang akan segera diajukan ke Pengadilan untuk diadili. Keseluruhan ini merupakan penjabaran dari pasal 7 ayat (1) UU No.92 3. Sedangkan yang dimaksud dengan “pengawasan” adalah proses pengamatan pelaksanaan penyidikan yang dilakukan dapat dibenarkan secara materil maupun formal dan berjalan sesuai dengan yang berlaku. adapun wujud pengawasan ini meliputi: 1. Menunjuk sesorang atau lebih pejabat dari masing-masing Departemen/instansi yang secara fungsionl dan menangani penyidik Pegawai Negeri Sipil dengan penghubung 4. Menyelenggarakan pendidikan dan latihan penyidik Pegawai Negeri Sipil dengan penekanan dibidang pendidikan. Pengawasan kegiatan penyidik yang sedang dilakukan oleh penyidik Pegawai Negeri Sipil serta memberikan pengawasan teknis. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Pengawasan teknis dalam rangka pembinaan dan peningkatan kemampuan penyidik Pegawai Negeri Sipil dan memberikan petunjuk bila terdapat kekurangan-kekurangan untuk disempurnakan. pengevaluasian tindak pidana pelanggaran dan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

Tetapi jalan ini jarang sekali ditempuh oleh pihak keimigrasian dalam kasus penyalahgunaan izin keimigrasian. Hal ini dikarenakan apabila kasus tersebut diajukan ke pengadilan akan menggunakan upaya hukum mulai dari banding. maka hal harus dilakukan oleh petuga keimigrasin adalah: a. Mengikuti perkembangan persidangan. 57 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Op. c. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. kasasi dan jika perlu grasi yang akan digunakan oleh warga negara asing yang terlibat tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. akan sangat 88 Ibnu Suud. b. koordinasi dengan Lembaga Pemasyarakatan untuk proses pemulangan. USU Repository © 2009 .93 kejahatan keimigrasian yang diatur dalam Undang-undang no. Bila telah selesai melaksanakan keputusan Pengadilan. cit. 2007. 88 b. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Membuat berkas hasil penyelidikan sesuai dengan ketentuan yagn berlaku. Menyampaikan hasil pemberkasan kepada Penuntut Umum melalui polisi. hal. d. Sanksi hukum terhadap pelaku tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian Sanksi hukum terhadap pelaku tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian dapat dilakukan dengan cara: 1) Pro justitia Apabila kasus terhadap tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian yang ditangani oleh pihak keimigrasian ingin ditempuh dengan cara pro justitia.

Kantor Imigrasi Polonia Medan. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Tindakan Keimigrasian adalah tindakan administratif dibidang keimigrasian yang dilakukan oleh pejabat imigrasi berupa: 1) Pembatasan. 89 2) Non pro justitia Menurut pertimbangan polits. ekonomis. 2) Larangan untuk berada disuatu atau beberapa tempat tertentu di wilayah Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).94 merugikan negara. karena dalam hal ini negara akan mengeluarkan biaya besar untuk menjalani proses pro justitia tersebut.02 tanggal 14 89 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim. 4) Pengusiran atau deportasi dari wilayah Indonesia atau penolakan masuk ke wilayah Indonesia. perubahan atau pembatalan izin keberdaan. 3) Keharusan untuk bertempat tinggal di suatu tempat tertentu di wilayah Indonesia.09. maka akan lebih efektif apabila dilakukan tindakan keimigrasian. Tindakan keimigrasian dilakukan sebagai sanksi administratif terhadap orang asing yang melanggar peraturan keimigrasian dan ketentuan-ketentuan lainnya mengenai orang asing sesuai dengan dimaksud dalam pasal 19 keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor: M. USU Repository © 2009 . Maka akan lebih efektif apabila dilakukan dengan cara non pro justitia. serta sosial dan budaya serta kemananan.02-PW. 2007. Ditambah lagi orang asing tersebut tidak memiliki uang untuk membayar ongkos biaya perkara.

9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. tetapi karena kedua instansi ini lebih banyak melakukan tindakan keimigrasian yaitu berupa pendeportasian ke negara asal tanpa melalui proses pro justitia walaupun telah ada pengaturannya dalam Undang-undang no. maka berdasarkan data yang diperoleh baik dari kantor kepolisian maupun kantor imigrasi sangat sedikit yang ditindaklanjuti secara pro justitia. mulai saat masuk. Masalah kepraktisan. yaitu penanganan suatu kasus dengan cara pendeportasian tidak memakan waktu yagn lama atau berlarut-larut. Tindakan Keimigrasian dapat dilakukan terhadap oaring asing pemegang izin Keimigrasian atau tanpa izin keimigrasian. Hal ini bukan menandakan bahwa kasus tentang penyalahgunaan izin keimigrasian sangat sedikit. USU Repository © 2009 90 . yaitu: a.95 Maret tahun 1995 tentang Tata Cara Pengawasan. jika dibandingkan dengan pro justitia. 2007. Dalam hal terjadi tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. Pengajuan Keberatan Orang Asing dan Tindakan Keimigrasian. Ancaman hukuman penjara maksimum Hasil wawancara dengan Kanit Pengawasan Orang Asing (POA) Poltabes Medan Sekitarnya Pada tanggal 9 Agustus 2007 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 90 Pihak Kepolisian dan Keimigrasian menyebutkan beberapa alasan dan pertimbangan melakukan tindakan keimigrasian yang berupa pendeportasian yang oleh pihak keimigrasian (walupun penangkapan dilakuakn oleh pejabat imigrasi). berada dan akan meninggalkan wilayah Indonesia.

2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Masalah sumber daya manusia khususnya petugas imigrasi. b. Selain itu jenis hukuman yang diancamkan berupa pidana alternative atau jika didenda belum tentu mereka memiliki uang. Karena itu yagn dihasilkan tidak sesuai dengan yagn diharapkan. Hal ini tentu saja menghambat tugas para pejabat imigrasi atau PPNS dalam penyidikan. Apabila penanganan masalah ini untuk dilakukan secara pro justitia masih sedikit yang dilengkapi pengetahuan sebagai PPNS. 91 91 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim. c. baik dari segi kualitas maupun kwntitas yang sangat kurang. Tetapi apabila masalah penyalahgunaan izin keimigrasian tersebut menyangkut masalah permpokan bersenjata. terorisme atau perdangan manusia (trafficking). hal ini dikarenakan tindakan tersebut sudah sangat mengancam keamanan negara serta stabilitas nasional. peredaran narkoba.96 hanya lima tahun sehingga hukuman akan selesai jika dikurangi dengan masa penahanan. Masalah anggaran dana yang dialokasikan untuk melakukan tindakan hukum di kantor Imigrasi sangat terbatas. USU Repository © 2009 . maka sanksi hukum yang harus dijalankan adalah dengan cara pro-justitia. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Kantor Imigrasi Polonia Medan.

Mathiya HMBS als Raja : Malaysia : 59 Tahun/ 21 Desember 1943 : Laki-laki Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Lahir Jenis Kelamin : Dr. K. 2007.B/2002/PN. 2493/Pid. Perkara Pidana No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).Mdn Identitas Terdakwa Pengadilan Negeri Medan yang meemriksa dan mengadili perkara-perkara Pidana Biasa/ Singkat/ Cepat telah menyatakan bahwa terdakwa : 1. USU Repository © 2009 .97 BAB IV KASUS DAN ANALISIS KASUS A. Nama Lengkap Tempat Lahir Umur/ Tgl.

bertempat di Jl. K.M. Binjai Km 5. RRI Medan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Kalimutu Kumar Marimutu secara bersama-sama atau bertindak secara sendiri-sendiri pada hari Jumat tanggal 16 Agustus 2002 sekitar pukul 14. Kali Mutu Kumar Marimutu : Kedah Malaysia : 26 Tahun/ 04 Desember 1976 : Laki-laki : Malaysia : Jl. USU Repository © 2009 . RRI Medan : Hindu : Dokter Homeopati : Sarjana Bahwa mereka terdakwa I. Karya Wisata No. Lahir Jenis Kelamin Kebangsaan Tempat Tinggal Agama Pekerjaan Pendidikan Kasus Posisi : Malaysia : Jl. Binjai Km 5.B.30 Wib atau setidak-tidaknya pada suatu waktu dalam tahun 2002. 47 Medan dan di Jl. Nama Lengkap Tempat Lahir Umur/ Tgl. Karya Wisata No.98 Kebangsaan Tempat Tinggal Agama Pekerjaan Pendidikan 2.5 Komp. Dr.5 Komp. Mathiya H.S alias Raja dan terdakwa II. 47 Medan : Hindu : Dokter : Sarjana : Dr. Dr. 2007.

5 Komp. 2007. namun ternyata setelah tiba di Indonesia yaitu kota Medan ternyata terdakwa-terdakwa membuka Klinik Homeopati di Medan dan bekerja selaku Dokter Homeopati pada klinik tersebut di kota Medan. Karya Wisata No. 47 Medan dan di Jl.. USU Repository © 2009 . Binjai Km 5. sedangkan terdakwa-terdakwa datang ke Indonesia hanya diperbolehkan untuk wisata namun ternyata terdakwa-terdakwa bekerja maupun mengajar yang sifatnya mencari keuntungan.. 50. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). sedangkan dalam Pasport terdakwaterdakwa menggunakan Visa hanay selama 60 (enam puluh) hari selaku Visa Turis dan Pelancong namun ternyata terdakwa-terdakwa selaku Dokter pada Klinik Homeopati di Jl. 30. orang asing yang dengan sengaja menyalahdunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud pemberian izin keimigrasian yang diberikan kepadanya.(lima puluh ribu rupiah) dimana terdakwa-terdakwa dalam membuka Klinik Homeopati tersebut tidak berubah Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.000. perbuatan mana dilakukan terdakwaterdakwa dengan cara sebagai berikut : Mula-mula terdakwa-terdakwa selaku Warga Negara Malaysia datang berkunjung ke Indonesia melakukan perjalanan kunjungan praktek yaitu terdakwa I dengan Visa Sosial Budaya sedangkan terdakwa II menggunakan Pasport Malaysia dengan Visa Turis selama 2 (dua) bulan.(tiga puluh ribu rupiah) s/d Rp.000. RRI Medan telah membuka Klinik Homeopati dengan menerima pasien yang berobat dan rawat inap kliniknya dengan biaya sekali berkunjung antara Rp.99 atau setidak-tidaknya disuatu tempat yang masih termasuk daerah hukum Pengadilan Negeri Medan.

Keterangan izin lokasi/ Denah. oleh karena terdakwa-terdakwa dalam membuka Klinik Hemeopati tersebut tidak memiliki Badan Hukum dan tidak memiliki izin lalu kemudian terdakwa-terdakwapun ditangkap petugas Kepolisian Poltabes Medan. serta Izin-izin lainya yang menyangkut tentang usaha dan Bidang Kesehatan. sedangkan waktu kuliah/belajar pada hari kamis san jumat dari pukul 19. Adanya izin/keterangan ketenagakerjaan medis dan Para Medis.000. dan terdakwa-terdakwa dalam memberikan obat-obatan kepada para pasien yang datang berobat ke Klinik Homeopati tersebut tidak memiliki izin untuk memproduksi obat-obatan dan komposisi dari obat-obatan tidak ada dibuatkan dalam labelnya.00 Wib s/d pukul 20. Sedangkan Izin Rekomendasi dari Dinas Kesehatan Tingkat I Propinsi dan Izin dari Menteri Kesehatan.00 Wib.(tiga juta rupiah rupiah) persiswa. yaitu : Adanya permohonan yang ditujukan ke Dinas Kesehatan Kota Medan. Keterangan adanya obat-obatan/alat yang dipergunakan. 2007. KTP yang berdomisili di Kota Medan. selain itu terdakwa-terdakwa juga telah menerima siswa/ murid sebanyak 20 (dua puluh) orang dengan menerima biaya pendidikan selama 6 (enam) bulan sebesar Rp. USU Repository © 2009 .000. Adanya penanggung jawab klinik. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.100 Hukum dan tidak memiliki Izin dari Menteri Kesehatan sesuai dengan persyaratan mendirikan Klinik/Balai pengobatan yang harus memiliki. 3.. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

25.000. Mathiya HMBS dkk.(seribu rupiah). Mathiya HMBS dkk. 2.101 Dalam surat tuntutannya Jaksa Penuntut Umum menguraikan berbagai tuntutannya sebagai berikut : 1.000. Menyatakan barang bukti berupa obat-obatan dirampas untuk dimusnahkan dan Pasport An. 2007.(dua puluh lima juta rupiah) subsider 3 (tiga) bulan kurungan dengan perintah terdakwa tetap ditahan/terdakwa supaya ditahan (jika terdakwa tidak ditahan).B/2002/PN. Menyatakan terdakwa Dr. 1.. Terdakwa-terdakwa dikembalikan kepada terdakwaterdakwa. Putusan Perkara Pidana No. Menetapkan supaya terpidana dibebani biaya perkara sebesar Rp. majelis telah menemukan adanya fakta-fakta yuridis sebagai berikut. USU Repository © 2009 . K. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).Mdn Hakim Pertama yang mengadili perkara ini dalam putusannya memberikan pertimbangan hukum sebagai berikut : Bahwa dari keterangan saksi-saksi dan terdakwa dihubungkan dengan barang bukti yang diajukan di persidangan.000. 4. 3. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Dr. 9 Tahun 1992 dalam dakwaan kesatu. dengan pidana denda masing-masing Rp. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. K. 2493/Pid. bersalah melakukan tindak pidana menyalahgunakan izin sebagaimana diatur dalam Pasal 50 UU RI No.

B. Kali Mutu Kumar Malimutu dengan sengaja menghimpun dana untuk kesehatan yang diambil dari para mahasiswa yang mengikuti pendidikan Homeopati yang dilakukan di Rumah Sakit Homeopati yang terletak di jalan Binjai Km 5. sebagai subjek hukum yang dapat dipertanggung jawabkan perbuatannya adalah keterangan terdakwa Dr. Mathiya H. 2007.M.B.5 Medan atau di Komp. USU Repository © 2009 . RRI Cabang Medan. K. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Kali Mutu Kumar Marimutu b. K. Barang Siapa Berdasarkan Fakta-fakta dan keterangan para saksi serta keterangan terdakwa sendiri didukung alat bukti yang telah disita. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).S serta Dr. Dengan Sengaja Jelas perbuatan yang dilakukan terdakwa-terdakwa Dr. c.102 Terdakwa didakwakan Jaksa Penuntut Umum melakukan tindak pidana yang diatur dan diancam dalam pasal 80 ayat (2) UU RI No. Tentang Kesehatan : 1.Mathiya H.S dan Dr.M. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 50 UU RI No. Unsur-unsur Objektif a. Menyelenggarakan Kesehatan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

Unsur-Unsur Subjektif a. USU Repository © 2009 . K. Unsur-unsur Objektif a. Tidak berbentuk badan hukum Klinik serta Rumah Sakit Homeopati Megawati Sukarno Putri didirikan kedua terdakwa tersebut jelas tidak berbentuk badan hukum karena tidak mempunyai izinnya. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).103 Kedua terdakwa Dr. 2.S dan Dr. Mathiya H. tentang pendirian Klinik Homeopati Megawati Sukarno Putri tersebut b. Kalimutu Kumar Marimutu telah melakukan pengobatan secara alternatif dengan cara mendirikan klinik serta Rumah Sakit Homeopati tanpa memiliki izinnya. Orang asing Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007. Tidak memiliki Izin operasional Klinik serta Rumah Sakit Homeopati Megawati Sukarno Putri tidak mempunyai izin operasionalnya. dan menerima pasien untuk rawat jalan serta rawat nginap bagi setiap pasien yang berobat kepada terdakwa.M.B. Dibuktikan dengan tidak adanya suratsurat yang sah tentang adanya Klinik serta Rumah Sakit Homeopati Megawati Sukarno Putri tersebut serta Rumah Sakit Keimigrasian : 1.

Meninbang. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. subsidair kedua sesuai pasal undang-undang dimaksud pasal 80 ayat (2) Sub Pasal 84 ayat (5) UU RI No. dan oleh karenanya dijatuhi hukuman. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 23 tahun 1992 tentang kesehatan dan Pasal 50 UU RI No.B. 2007. bahwa oleh karena dakwaan kesatu primair. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.S dan Dr. Mathiya H. maka ia terdakwa harus dinyatakan bersalah tentang hal ini. Dengan Sengaja Benar kedua terdakwa tersebut yaitu Dr. 2.M. K. Unsur-unsur Subjektif Melakukan kegiatan tidak sesuai izinnya Benar kedua terdakwa tersebut melakukan kegiatannya tidak sesuai dengan izin yang ada dimana ia datang ke Indonesia seharusnya hanya sebagai wisata saja akan tetapi visa tersebut ia gunakan untuk kepentingan mencari suatu pekerjaan atau keuntungan.M. USU Repository © 2009 . Kalimutu Kumar Marimutu adalah orang asing atau warga Negara asing atau warga Negara Malaysia.S dan Dr.104 Benar keduan terdakwa tersebut yaitu Dr. Mathiya H.B. terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut HUKUM. K. b. Kalimutu Kumar Marimutu dengan sengaja datang ke Indonesia telah menyalahgunakan passport yang ada padanya.

9 tahun 1992 tentang Keimigrasian dan ketentuan perundang-undangan yang berhubungan dengan perkara ini. bahwa sebelum menjatuhkan hukuman . bahwa oleh karena terdakwa dihukum maka dipandang perlu untuk tetap menahannya. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Menimbang. maka majelis akan memperimbangkan hal-hal yang memberatkan maupun yang meringankan hukumannya terdakwa sebagai berikut: Hal-hal yang memberatkan : Bahwa perbuatan dari terdakwa-terdakwa dapat merugikan pemerintah republik Indonesia. Hal-hal yang meringankan : Ia terdakwa-terdakwa belum pernah dihukum. USU Repository © 2009 . Memperhatikan ketentuan pasal 80 ayat (2) sub Pasal 84 ayat (5) UU RI No. Menimbang. 2007. 23 tahun 1992 tentang kesehatan jo Pasal 50 UU RI No. Memberikan keterangan yang jelas dan terang dipersidangan dan menyatakan menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu dikemudian hari yang akan datang/ tobat dan mempunyai tanggungan istri dan anak yang masih memerlukan pertanggungjawaban sebagai kepala keluarganya.105 Menimbang bahwa oleh karena terdakwa dijatuhi hukuman maka terdakwa dihukum pula untuk membayar biaya perkara. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

K. 2007. Dr. Menghukum Terdakwa-terdakwa dengan hukuman denda sebesar Rp. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 7.106 MENGADILI Menyatakan Terdakwa : 1.S alias RAJA 2.(tujuh juta lima ratus ribu rupiah) dengan ketentuan jika denda tersebut tidak dibayar harus diganti dengan hukuman kurungan selama 2 (dua) bulan. 1. Kalimutu Kumar marimutu keduanya berkebangsaan Malaysia Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. B. Dr.M.B.(seribu rupiah) Menyatakan barang bukti berupa obat-obatan diarmpas untuk dimusnahkan dan pasport atas nama terdakwa dikembalikan kepada terdakwa.B. maka dapat diketahui bahwasannya telah terjadi suatu tindak pidana di bidang Imigrasi yakni telah terjadinya penyalahgunaan ijin keimigrasian yang dilakukan oleh Terdakwa-terdakwa Dr..M. USU Repository © 2009 .000. Menghukum terdakwa-terdakwa lagi membayar ongkos perkara sebanyak Rp.S alias Raja dan Dr. MATHIYA H.500..000. Analisis Putusan Setelah penulis mempelajari dan membaca pertimbangan hukum putusan Pengadilan Negeri Medan. Mathiya H. K. KALIMUTU KUMAR MARIMUTU tersebut diatas telah trbukti dengan sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan Menyalahgunakan Izin.

500.000. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).00 (lima ratus juta rupiah). Pasal 80 ayat (2) UU RI No. USU Repository © 2009 .107 yang telah mendirikan usaha atau praktek tanpa memiliki ijin untuk melakukan hal tersebut.” Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.” Dari ketentuan Pasal ini perbuatan terdakwa-terdakwa telah terbukti tidka memiliki izin operasional dengan demikian secara otomatis tidak melaksanakan ketentuan jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat sebagai mana yang dimaksud Pasal 66 yang menyatakan : Ayat (2) : ” Jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat merupakan cara penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan dan pembiayaannya. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. berdasarkan pemeriksaan di persidangan menunjukkan bahwa Terdakwa-terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum. Oleh karena itu keduanya dikenakan pidana karena telah melanggar ketentuan undang-undang yang berlaku di indonesia yakni Pasal 80 ayat (2) Sub Pasal 84 ayat (5) UU RI No. 2007. 23 tahun 1992 tentang kesehatan dan Pasal 50 UU RI No. dikelola secara terpadu untuk tujuan meningkatkan derajat kesehatan. wajib dilaksanakan oleh setiap penyelenggara. 23 tahun 1992 tentang kesehatan menyatakan bahwa : ”Barangsiapa dengan sengaja menghimpun dana dari masyarakat untuk menyelenggaraakan pemeliharaan kesehatan.000. yang tidak berbentuk badan hukum dan tidak memiliki izin operasional serta tidak melaksanakan ketentuan tentang jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 Ayat (2) dan Ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp.

000.” Pasal 50 UU RI No.” Pasal 58 Ayat (1) menyatakan bahwa : ”Sarana kesehatan tertentu yang diselenggarakan masyarakat harus berbentuk badan hukum. USU Repository © 2009 . 15. 2007. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian menyatakan bahwa : “Orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud pemberian izin keimigrasian yang diberikan kepadanya. dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 25.” Pasal 59 Ayat (1) menyatakan bahwa : “Semua penyelenggaraan sarana kesehatan harus memiliki izin. selain merugikan keuangan negara dimana dengan adanya izin usaha seharusnya ada pemasukan kas negara baik dari pajak maupun biaya pengurusan izin pada umumnya.000. 23 tahun 1992 tentang kesehatan yang menyatakan Barang siapa : ”Menyelenggarakan sarana kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 Ayat (1) atau tidak memilki izin sebagaimana dimaksud dalam pasal 59 Ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp.-“ Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.000. Dan juga bisa saja tidak ada jaminan kesehatan masyarakat di klinik yang mereka dirikan hal ini seharusnya menjadi pertimbangan hal yang memberatkan karena dapat dikatakan suatu hal yang penting jika dikaitkan dengan masalah kesehatan.” Berdasarkan ketentuan tersebut. ”Penyelenggara jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat harus berbentuk badan hukum dan memiliki izin operasional serta kepesertaannya bersifat aktif.000.108 Ayat (3) . Hal mana dinyatakan juga dalam sub Pasal 84 point 5 UU RI No.00 (lima belas juta rupiah). 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Hal mana menurut penulis tidak memberikan sifat penjeraan terhadap tindakan semacam ini sedangkan menurut teori telatif (Doeltheorie) 92 tujuan hukum pidana salah satunya adalah menjerakan.Sinar Grafika. Tuntutan yang diajukan Jaksa Penuntut Umum menurut penulis kurang menekankan kepada unsur pemidanaan terhadap tindakan pelaku demikian juga vonis majelis hakim. Jakarta.109 Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan hukum yang ada yang ditemukan dari keterangan para saksi dan keterangan para terdakwa telah terbukti dan meyakinkan melanggar ketentuan pasal-pasal yang dimaksud di atas. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. maka akan mengalami hukuman yang serupa (generale preventie). “Asas – Teori – Praktik Hukum Pidana “. 2005. hal. 4. Hukuman yang dijatuhkan hanya sebatas denda sejumlah uang yang apabila kita lihat jumlahnya relative tidak memberatkan terdakwa-terdaka (para pelaku). 2007. yang dimaksud dengan menjerakan disini adalah dengan penjatuhan hukuman. Menurut penulis penentuan pasal-pasal terhadap tindakan para terdakwa telah benar. Bisa saja dilain waktu para pelaku mengulangi perbuatannya dan yang ditakutkan banyak bermunculan tindakan-tindakan serupa baik itu dibidang Leden Marpaung. diharapkan si pelaku atau terpidana menjadi jera dan tidak mengulangi lagi perbuatannya (speciale preventie) serta masyarakat umum mengetahui bahwa jika melakukan perbuatan sebagaimana dilakukan terpidana. hanya ditekankan pada pengenaan hukuman denda sejumlah uang. USU Repository © 2009 92 .

namun kadang kala pelaksanaan dilapangan kebanyakan tidak sejalan dengna peraturan yang ada. 2007. tidak hanya dalam bidang keimigrasian dan kesehatan saja tetapi juga bidang-bidang lain yang menyangkut kepentingan publik atau masyarakat luas. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).110 kesehatan atau bidang lainnya. hal mana akan dapat merugikan keuangan negara. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 . kesehatan maupun keamanan masyarakat. Kasus-kasus semacam ini sebenarnya harus mendapat perhatian yang serius dari apart penegak hukum dengan segala kelengkapannya. Oleh karena itu sebenarnya yang perlu ditingkatkan adalah pemahaman dan kesadaran hukum serta tanggung jawab hukum para aparat penegak hukum dalam menjalankan tugasnya. Hal ini tujuannya adalah tidak lain untuk menciptakan dan membudayakan adanya sinkronisasi antara peraturan hukum yang ada dengan pelaksanaan di lapangan.

Dimana wisatawan tersebut dapat menikmati wisata di Indonesia dalam kurun waktu 2 (dua) bulan. Kesimpulan Berdasarkan uraian-uraian penulisan skripsi ini. Faktor penyebab terjadinya penyalahgunaan izin keimigrasian adalah: a. b. malah dipergunakan oleh orang asing sebagi salah satu cara masuknya imigran gelap ke Indonesia. Adanya perkembangan tenggang waktu dalam pemberian fasilitas bebas visa bagi wisata. tetapi setalah pemberian fasilitas bebas visa dalam BVKS yang lebih luas ruang lingkupnya tetap ditemukan pelanggaran terhadap fasilitas bebas visa tesebut. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . Sehingga maksud dan tujuan dari BVKS sebagai pengganti BVW tidak tercapai. karena fakta di Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. yang pada awalnya dimaksudkan untuk mengatur secar tegas fasilitas bebas visa. Ruang lingkup fasilitas bebas visa yang terlalu luas yang mencakup kegiatan wisata.111 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. 2007. Tetapi tenggang waktu 2 (dua) bulan ini dirasakan terlalu panjang atau lama. dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu: 1.sosial budaya dan usaha.

Penanggulangan secara preventif b. maka aturan itu tidak aka nada artinya. Penanggulangan secara represif Dalam hal penanggulangan ini sangat erat kaitannya dengan hal pengawasan baik wisatawan yang masuk atau keluar wilayah Negara Republik Indonesia. Upaya menanggulangi terjadinya suatu tindakan yang melanggar ketentuan izin keimigrasian dibedakan atas dua cara yaitu: a. 2. Peranan petugas/pejabat/aparatur imigrasi sangat besar. c. dan melakukan kegiatan di wilayah Negara Republik Indonesia. Dan tidak dipungkiri. Panjang atau lamanya jangka waktu ini ternyata dapat memberikan peluang bagi wisatawan asing untuk melakukan pelanggaran dengan berbagi motivasi.112 lapangan menunjukkan bahwa wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia pada umumnya dan Medan pad khusunya jarang yang tinggal sampai 2 (dua) bulan. jika mereka bertindak masa bodoh terhadap orang asing tersebut. seperi disalahgunakan untuk bekerja. maka orang asing yang dapat dengan leluasanya berkeliaran di Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Terutama sekali para petugas yang bertugas di pintu-pintu masuknya orang asing ke Indonesia. 2007. bahwa betapapun baiknya aturantntangkeimigrasian. Penanggulangan secara preventif adalah tindakan penanggulangan yang dilakukan dalam usaha untuk mencegah atau menjga kemungkinan yang terjadinya tindak Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. jika para petugasnya bermental yang kurang baik. USU Repository © 2009 .

Saran Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. atau grasi yang dimiliki oleh warga negara asing apabila ditempuh dengan cara pro justitia. khususnya penyalahgunaan izin keimgrasian. yang juga tidak terlepas dengan ketentuan yang diatur dalam pasal-pasal KUHAP tentang penyidikan. dan perdagangan manusia (trafickking). maka tunduk pada Undang-undang no.113 pidana imigrasi dalam hal ini yaitu tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. Sedangkan dalam penaggulangan represif ini dapat dilakukan dengan cara pemidanaan. maka jalan pro justitialah yang harus ditempuh. B. agar menimbulkan efek jera bagi warga negara asing yang melakukan tindak pidana di bidang keimigrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Dari data yang diperoleh. 4. kasasi. Hal ini tentu saja membuthkan biaya operasional yang cukup tinggi. Karena menurut politis. bahwa sanksi yang dijatuhkan oleh aparatur penegak hukum dalam kasus tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian adalah lebih sering bersifat non pro justitia. dan ekonomis cara tindakan keimigrasian dianggap lebih praktis dan efisien. mengingata dana orasional dari negara yang sangat terbatas. Dalam proses penyidikan terhadap tersangka yang melakukan tindak pidana dibidang keimigrasian. terorisme. USU Repository © 2009 . deportasi maupun black list. Kecuali masalah penyalahgunaan izin tersebut menyangkut masalah peredaran narkoba. Yang dapat berupa tindakan keimigrasian yang salah satunya pendeportasian. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. Hal ini dikarenakan mengingat adanya upaya hukum banding. 3. 2007.

Dan juga pemberian fasilitas tersebut sebaiknya dilakukan secara reciprocal atau prinsip timabal balik. Pada saat sekarang ini sedang disusun RUU tentang keimigrasian yang telah disosialisasikan oleh Tim dari Direktorat Jenrak Imigrasi. Sebaiknya pemberian fasilitas bebas visa ditinjau ulang kembali dan dikembalikan kepada latar belakang pemberian fasilitas tersebut. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Sehingga hal ini jangan sampai dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan yang lain yang tidak sesuai dengan izin keimigrasiannya. dan koreksi yang patut untuk diperhatikan yaitu mengenai tata urutan peraturan-peraturan perundang-undangan tentang keimigrasian. sebaiknya Tim melakukan koreksi. Tenggang waktu pemeberian fasilitas bebas visa untuk wisata sebaiknya adalah 1 (satu) bulan dan dapt diperpanjang selam 30 (tiga puluh) hari. 2007. USU Repository © 2009 .114 1. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). tetapi juga menunjukkan martabat bangsa. hal ini disebabkan karena penberian fasilitas bebas visa sekarang adalah 2 (dua) bulan dan ini terlalu lama. hal ini juga menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya mengharapkan faktor ekonomi saja dari keunjungan wisatwan asing . sedangkan rata-rata masa kunjungan wisatawan asing ke Indonesia pada umunya dan kota Medan khususnya adalah 3-4 (tiga sampai empat) minggu saja. karena masih banyak celah yang memungkinkan untuk warga negara asing melakukan tindak pidana di bidang keimigrasian. 2. Karena Undang-undang sebelumnya dianggap masih belum sempurna. dengan adanya berbagai kritikan dan tanggapan terhadap RUU tersebut. yaitu hanya unutk wisata. agar nantinya walaupun telah disahakan menjadi Undang-undang tidak menambah kerancuan.

2007. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. karena itu perlu para petugas/pejabat imigrasi dilengkapi dengan peningkatan kemampuan sumber daya manusia baik lewat pendidikan foramal meupun pendidikan latihan mengenai pelayanan dan pengawasan bagi orang asing atau wisatawan asing yang datang. Dan juga diadakan penindakan secara hukum bagi petugas/pejabat imigrasi sendiri yang membantu stsu melakukan tindak pidana keimigrasian. USU Repository © 2009 . tidak berdasarkan kekuasaan belaka. maka peralatn komunikasi sangat diperlukan dan semua instansi dapat selalu memonitor setiap orang yang terkena daftar cekal apakah sudah habis waktunya atau belum. Penegakan hukum di Indonesia terlihat lemah dan hanya mengandalkan tindakan pendeportasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Dalam hal penanggulangan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian khsusnya black list atau cekal hendaknya mencerminkan prinsip-prinsip negara yang berdasarkan hukum. Demikian juga yang penting adalah diperlengkapinya peralatan dengan kemajuan teknologi seperti sistem komputerisasi sehingga dapat melayani maupun memantau orang asing yang ada di wilayah Indonesia. 4. Dan juga dalam mengkoordinasikan tindakan cekal agar dapat dengan cepat dilaksanakan sebelum orang yang dimaksud melarkan diri.115 3.

Hadi Kiswanto. 1983. USU Repository © 2009 . Jakarta. Asas Teori Praktik Hukum Pidana. 1992. Jakarta. Buku Petunjuk Keimigrasian RI Bagian I Visa Izin Tinggal. Departemen Kehakiman RI. Direktorat Jendral Imigrasi. Rineka Cipta. H. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Pedoman Penggunaan Tenaga Kerja Asing di Indonesia dan Peraturan-peraturannya. 2007. Jakarta. Flora Liman Mangestu. 1996. S. Teori-teori dan Kebijakan Pidana. 2005. Bandung Moeljatno. Hukum Keimigrasian Indonesia. Muladi & Barda Nawawi Arif. Jakarta. Sinar Grafika. 1982. Sjarif.116 DAFTAR PUSTAKA A. Sinar Grafika. Alumni. Asas-asas Hukum Pidana. 2001 Koerniatmanto. 1998. Kewarganegaraan dan Leden Marpaung. 1996. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Jakarta. Jakarta. Jakarta: Balai Pustaka. Soetoprawiro. Gramedia. Cetakan Ke-2. Ridwan Halim . Persoalan Praktis Filsafat Hukum dalam Himpunan Distingsi. 2000. UKI: Jakarta. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tugas Pokok dan Fungsi Direktorat Jendral Imigrasi.

Peraturan Perundang-undangan : KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA. 32 TAHUN 1994 TENTANG VISA. Soedarto. DAN IZIN KEIMIGRASIAN. M. Ramadhan K. . PT. 2007. Rajawali. Imigrasi. Felix Hadi Mulyatno dan Endar Sugiarto. Perspektif Imigrasi dalam Pembangunan Ekonomi dan Ketahanan Nasional. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA PERATURAN PEMERINTAH RI NO. Politik Hukum Pidana. Santoso Imam. Jakarta. Pabean. Kapita Selekta Hukum Pidana. 2005.1984.117 Nawani Arief. dan Karantina. Barda. . IZIN MASUK. UI Press.. Purbacaraka. Pustaka Pelajar. Citra Aditya Bakti. Semarang. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentar Lengkap Pasal Demi Pasal . R. Politeia : Bogor. 2005 “Lintas Sejarah Imigrasi Indonesia”. PT. Amarja Press. 2004. Dirjen Imigrasi Hukum dan HAM RI. Alumni. Jakarta. Yogyakarta. Jakarta. Bandung. Soerjono. “Faktor-faktor yang mempengaruhi Penegakan Hukum. Citra Aditya Bakti. Jakarta. Manajemen Keimigrasian. Pengantar Penelitian Hukum. Ibnu. Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan Hukum dan Pengembangan Hukum Pidana. Penggarapan Disiplin Hukum dan Filsafat Hukum bagi Pendidikan Hukum. Jakarta. Jakarta Teguh Prasetyo & Abdul Halim Barkatullah. Purmadi. 1987. 2001. PT. 1984. 1988. Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2005. Soesilo. R. 2005. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 . 1983. Jakarta : Rajawali Press. Bandung. H dan Abrar Yusra. Gramedia Pustaka. 1987. Jakarta Suud. UI-Press. Soekamto.

Lukman Bratamidjaja.google.: F4-IL. 1993. disampaikan dalam Rapat Kerja Nasional Keimigrasian. 2002 Direktorat Jenderal Imigrasi. 2002. 01. Denpasar. Direktorat Jendral Imigrasi. Laporan Penelitian. Jakarta. USU Repository © 2009 . Pintu Gerbang No. Direktorat Jenderal Imigrasi. 44. Pintu Gerbang No. hlm.com Arief Rahman Kunjono. Pintu Gerbang No. Pintu Gerbang No. 2002. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Jakarta. 14 Januari 2000.solusihukum. Jakarta. dkk. Jakarta. 7 Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian.118 UNDANG-UNDANG NOMOR KEIMIGRASIAN. 2000. “Petunjuk Pemantauan Operasional Keimigrasian No. 1999. Laporan : Bagir Manan. 2002.com http://www.1044” tentang Keradaan dan Kegiatan Orang Asing Di Indonesia. 45. 2007. 9 TAHUN 1992 TENTANG Media Cetak dan Elektronik : http://www. 42. “Langkah-langkah Baru Menunjang Peningkatan Profesionalisme Keimigrasian”. Direktorat Jendral Imigrasi. Hukum Keimigrasian dalam Sistem Hukum Nasional. Saleh Wiramiharja. I Wayan Tangun Susila. Jakarta. “Imigrasi Daftar Ulang Warga Negara Asing”. 44. 10-1. Universitas Udayana dan PDII LIPI (Jakarta). “Usaha Penanggulangan Tindak Pidana Imigrasi dan Imigrasi Gelap di Kota Madya Denpasar”. “Aspek Ilmu Perundang-undangan BVKS Bagian I”. “Illegal Migrants dan Sisitem Keimigrasian Indonesia: suatu tinjauan Analisis”. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. dkk). Jakarta. 1984. 1982. USU Repository © 2009 . “Analisa dan Evaluasi tentang Pengaturan Fasilitas Bebas Visa wisata bagi Orang Asing yang Berkunjung ke Indonesia” (Laporan Penelitian). Jakarta. Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN). 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Beberapa Pedoman dan Ketentuan Tentang Imigrasi dan Ketatalaksanaan: Bahan Penataran Administrasi Apratur Kehakiman.119 Pusdiklat Pegawai Departemen Kehakiman.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful