1

PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP PENYALAHGUNAAN IZIN KEIMIGRASIAN MENURUT UNDANG-UNDANG RI NO. 9 TAHUN 1992 TENTANG KEIMIGRASIAN (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan) SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas Dan Memenuhi Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum O L E H YOYOK ADI SYAHPUTRA NIM : 030200015 Departemen Hukum Pidana

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2007
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

2

DAFTAR ISI Kata Pengantar ..............................................................................................................i Daftar Isi .......................................................................................................................ii Abstraksi ......................................................................................................................iii BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1 A. Latar Belakang ....................................................................................... 1 B. Perumusan Masalah ............................................................................... 6 C. Tujuan dan Manfaat ............................................................................... 6 D. Keaslian Penulisan ................................................................................. 7 E. Tinjauan Kepustakaan ............................................................................ 8 1. Pengertian Penegakan Hukum ............................................................ 8 2. Pengertian Pidana ............................................................................. 11 3. Pengertian Keimigrasian................................................................... 16 F. Metode Penelitian ................................................................................ 16 G. Sistematika Penulisan .......................................................................... 19

BAB II

TINJAUAN UMUM ................................................................................. 21 A. Keimigrasian dalam Sistem Hukum Indonesia ...................................... 21 1. Pengertian Keimigrasian................................................................... 21 2. Fungsi Keimigrasian ........................................................................ 24 3. Ruang Lingkup Keimigrasian ........................................................... 29 B. Jenis-jenis Izin Keimigrasian................................................................ 35 C. Hukum Keimigrasian Indonesia Dalam Sistem Hukum Nasional .......... 40

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

3

BAB III

PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP PENYALAHGUNAAN IZIN KEIMIGRASIAN ................................... 45 A. Ketentuan Keberadaan Warga Negara Asing (WNA) di Indonesia Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian ............................................. 45 B. Faktor-faktor Penyebab terjadinya Penyalahgunaan Izin Keimigrasian................................................................................ 53 C. Upaya Penanggulangan Tidak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian ................................................................................ 61

D. Peranan Aparatur Penegak Hukum dalam Menanggulangi Tindak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian ..................... 73

BAB IV

KASUS DAN ANALISIS KASUS ............................................................ 91

A. Kasus Posisi ................................................................................................ 92 B. Analisis Kasus............................................................................................ 99 C. BAB V PENUTUP .............................................................................................. 104 A. Kesimpulan ........................................................................................ 104 B. Saran.................................................................................................. 106

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Tidak jarang persoalan kewarganegaraan suatu negara akan berkembang menjadi persoalam besar akibat kelengahan dari bagian keimigrasian negara tersebut. 2493/Pid.4 ABSTRAKSI Keimingrasian merupakan salah satu bagian terpenting bagisuatu negara. masalah minimnya pengetahuan masayrakat. Hukum pidana masih belum berfungsi secara maksimal terhadap kasus penyalahgunaan izin keimigrasian (Putusan No. Skripisi yang berjudul “penegakan hukum pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian (studi kasus Pengadilan Negeri Medan dengan Putusan No. B/2002/PN. serta faktor-faktor yang menjadi penyebab dalam tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasianadan upaya-upaya apa saja yang dapat dilakukan sebagai upaya dalam menangani tindak pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian. dan ketegasan aparatur penegak hukum serta memajukan sarana dan prasarana dalam menunjang penegakan hukum tersebut. Kantor Kepolisian Kota Besar Medan dan Sekitarnya (Poltabes). dan Pengadilan Negeri Medan yang bertujuan untuk mengetahui pengaturan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian serta mengetahui peranan aparatur penegak hukum dalam menggulangi tindak pidana penyalhgunaan izin keimigrasian. USU Repository © 2009 . Seluruh warga negara Indonesia maupun warga negara asing setiap kali keluar-masuk wilayah Indonesia pasti berurusan terlebih dahulu dengan bagian keimigrasian. mengingat tugas dan tanggung jawab yang diembannya sangat menentukan keberadaan dan dan kekuatan negara yang bersangkutan. Tahap selanjutnya penulis melakukan penelitian dengan menggunakan teknik wawancara dan mengumpulkan bahan dari narasumber yaitu dari Kantor Imigrasi Polinia Medan. Kompleksnya masalah dalam tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. Berdasarkan penelitian tersebut diketahui bahwa pengaturan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian dalam hukum positif Indonesia diatur dalam Undang-undang No. Mdn) disebabkan masih kurangnya ketegasan aparatur penegak hukum dalam memberikan hukuman kepda warga negara asing yang melakukan tindak pidana penyalhgunaan izin keimigrasian. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007. sampai peranan aparat penegak hukum. 2493/Pid. mulai dari penggunaan visa yang tidak sesuai. dan salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam penegakan hukum dalam tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian adalah dengan meningkatkan profesionalitas aparatur penegak hukum. B/2002/PN.pada tahap awal penulis terlebih dahulu melakukan penelitian terhadap bahan hukum yang berkaitan dengan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. Penulis menggunakan metode penelitian dengan metode hukum normative dan empiris. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian juga masih berpedoman dengan KUHP. menjadikan tindak pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian sebagai suatu tindakpidana memerlukan penangan khusus. Mdn)” mengetangahkan permasalahan tersendiri mengenai pengaturan tindak pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian.

1 Mengingat demikian banyaknya instansi (struktur kelembagaan) dan pejabat (kewenangan) yang terkait di bidang penegakan hukum. Jadi. Siapa saja yang menjalankan aturan normatif atau melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dengan mendasarkan diri pada norma aturan hukum yang berlaku. maka reformasi penegakan hukum tampaknya memerlukan peninjauan dan penataan kembali seluruh struktur kekuasaan/kewenangan penegakan hukum. “reformasi http://www. Latar Belakang Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam lalulintas atau hubungan–hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. USU Repository © 2009 1 .5 BAB I PENDAHULUAN A. berarti dia menjalankan atau menegakkan aturan hukum. Ditinjau darui sudut subyeknya.php?id=49 yang direkam pada 1 Mar 2007 03:28:22 GMT (“Penegakan Hukum”. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). aparatur penegak hukum itu diperkenankan untuk menggunakan daya paksa. penegakan hukum itu hanya diartikan sebagai upaya aparatur penegakan hukum tertentu untuk menjamin dan memastikan tegaknya hukum itu. apabila diperlukan. 30 Mei 2006) Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. dari segi subyeknya itu. Dalam arti sempit.solusihukum. penegakan hukum itu dapat dilakukan oleh subyek yang luas dan dapat pula diartikan sebagai upaya penegakan hukum itu melibatkan semua subyek hukum dalam setiap hubungan hukum. 2007.com/artikel.

Disamping tidak seseuai lagi dengan perkembangan kehidupan nasional. Semarang. hal. Iman Santoso. berhubungan erat dengan reformasi di bidang “budaya hukum dan pengetahuan/pendidikan hukum”. 2 Reformasi di bidang penegakan hukum dan struktur hukum. hal. sebagian dari ketentuan tersebut masih merupakan ketentuan bentukan pemerintah kolonial. 2001. Citra Aditya Bakti. 4 4 M.6 penegakan hukum” mengandung di dalamnya “reformasi kekuasaan/kewenangan di bidang penegakan hukum”. 3. 2004. hal. hukum keimigrasian di Indonesia telah ada sejak pemerintahan kolonial Belanda 4. bahkan merupakan subsistem dari Hukum Administrasi Negara. 1 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Ketentuan hukum keimigrasian di Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945 hingga 1991 secara formal tidak mengalami perkembangan berarti. Sebagai sebuah subsistem hukum. UI Press Jakarta. 3 Hukum keimigrasian merupakan bagian dari sistem hukum yang berlaku di Indonesia. korupsi. PT. 3 Ibid. “Persfektif Imigrasi dalam Pembangunan Ekonomi dan Ketahanan Nasional”. 2007. “Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan”. bahkan juga di bidang perundang-undangan (substansi hukum). USU Repository © 2009 2 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). mafia peradilan dan bentuk-bentk penyalahgunaan kekuasaan atau persekongkolan lainnya di bidang prosedur/penegakan hukum). Dikatakan demikian karena ketentuan keimigrasian masih tersebar dalam beberapa ketentuan perundangundangan dan masih kuat dipengaruhi oleh hukum kolonial. Masalah-masalah yang mendapat sorotan masyarakat luas saat ini (seperti kolusi. jelas sangat terkait dengan masalah budaya hukum dan pengetahuan/pendidikan hukum. Disamping Barda Nawawi Arief.

seperti Toelatingsbesluit Staatsblad 1916 Nomor 47 (Penetapan Izin Masuk/PIM). Misalnya disebutkan dalam Ordonansi Izin Masuk bahwa orang asing yang telah diberi izin masuk. 2007. Demikian pula dalam pengaturan Penetapan Izin Masuk. Barulah kemudian. keberadaan pendatang ilegal dapat menjadi legal hanya dengan membayar sejumlah denda. 5. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). yang sebelumnya tersebar dalam beberapa ketentuan perundang-undangan. Hal tersebut tentu saja merupakan kemudahan di bidang keimigrasian karena membuka pintu selebar-lebarnya bagi pendatang dari berbagai negara demi kepentingan politik. Secara faktual harus diakui bahwa peningkatan arus lalu-lintas orang. pada tanggal 31 Maret 1992. dan pertahanan pemerintah kolonial. yang tentu saja kehadirannya ditujukan untuk mendukung kepentingan pemerintah kolonial. 2 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. barang. serta Toelatingsordonnantie Staatsblad 1949 Nomor 33 (Ordonansi Izin Masuk/OIM). diubah dan ditambah terakhir dengan Staatsblad 1949 Nomor 330. ekonomi. sekaligus juga diberi izin menetap. Undang-undang tentang keimigrasian yang berjiwa nasional dilahirkan. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian (selanjutnya disebut UU No. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992) merupakan unifikasi beberapa ketentuan yang berkaitan dengan keimigrasian. hal. sebagian dari ketentuan tersebut masih merupakan bentukan pemerintah kolonial Belanda yang diserap ke dalam hukum keimigrasian nasional. jasa dari dan ke wilayah Indonesia dapat mendorong dan memacu 5 Ibid.7 tidak sesuai lagi dengan perkembangan kehidupan nasional.

Munculnya Transnational Organized Crimes (TOC). Untuk meminimalisasikan dampak negatif yang timbul akibat mobolitas manusia. dan obat terlarang. 2007. yang keluar. sampai ke perbuatan terorisme internasional. mulai dari perdagangan wanita dan anak-anak. Dampak negatif ini akan semakin meluas ke pola kehidupan serta tatanan sosial budaya yang dapat berpengaruh pada aspek pemeliharaan keamanan dan ketahanan nasional secara makro. b. informasi dan orang juga dapat mengandung pengaruh negative. pembelian saham atau kontrak lisensi). seperti: a. masuk. Dominasi perekonomian nasional oleh perusahaan transnasional yang bergabung dengan perusahaan Indonesia (melalui Penanaman Modal Asing dan/ atau Penanaman Modal Dalam Negeri. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Penetapan politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif (selective policy) membuat institusi imigrasi Indonesia memiliki landasan operasional dalam menolak atau mengizinkan orang asing. Peningkatan arus orang asing ke wilayah RI tentunya akan meningkatkan penerimaan uang yang dibelanjakan di Indonesia. serta meningkatnya aktivitas perdagangan yang akan meningkatkan penerimaan devisa. baik Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.8 pertumbuhan ekonomi serta proses modernisasi masyarakat. pencucian uang. meningkatnya investasi yang dilakukan. narkotika. dan tinggal di wilayah Indonesia. keimigrasian harus mempunyai peranan yang semakin besar. imigran gelap. USU Repository © 2009 . Namun peningkatan arus lalu-lintas barang. baik warga negara Indonesia maupun orang asing. jasa. modal.

serta diberi izin tinggal sesuai dengan maksud dan tujuan kedatangannya di Indonesia. keberadaannya. Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan di atas. dan pemberian izin tinggal serta pengawasan terhadap orang asing selama berada di wilayah Indonesia.9 dari segi masuknya. bangsa. maka perlulah kiranya penulis untuk membahas lebih jauh mengenai tindak pidana di bidang keimigrasian ini khususnya hal-hal yang berkaitan dengan penyalahgunaan izin keimigrasian. serta c. hal. peran penting aspek keimigrasian dalam tatanan kehidupan kenegaraan akan dapat terlihat dalam pengaturan keluar-masuk orang dari dan ke dalam wilayah Indonesia. Tidak membahayakan keamanan dan ketertiban umum. maupun kegiatannya di Indonesia 6. dan negara Republik Indonesia. 4 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Berdasarkan politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif. diizinkan masuk dan dibolehkan berada di wilayah Indonesia. b. Tidak bermusuhan dengan rakyat. Memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat. ditetapkan bahwa hanya orang asing yang: a. Dengan demikian. dan negara Republik Indonesia. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). bangsa. 6 Ibid. maka dari itu penulis mengambil judul skripsi “Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut UndangUndang RI No. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian”.

10 B. 2) Untuk mengetahui bagaiman upaya penganggulangan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. Apa saja yang menjadi faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian? 2. maka dapat disimpulkan bahwa tujuan yang ingin dicapai melalui penulisan ini adalah sebagai berikut : 1) Untuk Mengetahui apa saja yang menjadi faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. maka perlu di rumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. Bagaimana upaya penanggulangan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian? 3. USU Repository © 2009 . Bagaimanakah peranan aparatur penegak hukum dalam penegakan hukum terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian? C. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana di uraikan diatas. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Tujuan Penulisan Berdasarkan identifikasi permasalahan yang telah penulis utarakan. Tujuan dan Manfaat Penulisan 1.

masyarakat. penulisan skripsi ini juga diharapkan bermanfaat untuk berbagai hal diantaranya: a. Manfaat Penulisan Selain tujuan-tujuan tersbut diatas.11 3) Untuk mengetahui dan meneliti lebih jauh bagaimana peranan aparatur penegak hukum dalam menanggulangi tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. Skripsi ini juga diharapkan dapat memberikan masukan bagi penyempurnaan perangkat peraturan perundang-undangan terhadap tindak pidana yang terkait erat dengan izin keimigrasian ini. Keaslian Penulisan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Manfaaat teoritis Pembahasan terhadap masalah-masalah dalam skripsi ini tentu akan menambah pemahaman kepada semua pihak baik masyarakat pada umumnya maupun para pihak yang berhubungan dengan dunia hukum pada khususnya. praktisi hukum. 2. D. b. USU Repository © 2009 . Manfaaat praktis Dengan penulisan skripsi ini diharapkan dapat menjadi pedoman dan bahan rujukan bagi rekan mahasiswa. dan juga aparat penegak hukum/pemerintah dalam menghadapi atau mengusut tuntas suatu peristiwa pidana terutama hal-hal yang berkaitan dengan tindakan yang menyalahgunakan izin keimigrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007.

Tinjauan Kepustakaan 1. kemanfaatan sosial dan kandungan hukum ini bersifat abstrak. informasi dari media cetak dan elektronik serta fakta yang diperoleh dai data berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh penulis. Permasalahan maupun penyajiannya merupakan hasil dari pemikiran dan ide penulis sendiri. Oleh karena itu memberikan keadilan dalam suatu perkara berarti memutuskan perkara dengan menerapkan hukum dan menemukan hukum secara nyata dalam mempertahankan dan menjamin dipatuhinya hukum materiel Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Pengertian penegakan hukum Hukum adalah sarana yang di dalamnya terkandung nilai-nilai atau konsep-konsep tentang keadilan. Penegakan hukum secara konkret merupakan berlakunya hukum positif dalam praktek sebagaimana seharusnya dipatuhi. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007.12 Sepanjang yang telah ditelusuri dan diketahui di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara bahwa penulisan skripsi tentang “Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang RI No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian” belum pernah disajikan sebelumnya baik dalam bentuk tulisan maupun sub pembahasan permasalahan dalam suatu skripsi. kebenaran. USU Repository © 2009 . Berdasarkan alasan tersebut di atas maka dapat disimpilkan bahwa skripsi adalah asli. Penegakan hukum pada hakekatnya merupakan penegakan ide-ide atau konsep-konsep yang abstrak itu. E. Skripsi juga didasarkan pada referensi dari buku-buku.

7 Penegakan hukum khususnya hukum pidana apabila dilihat dari suatu proses kebijakan maka penegakan hukum pada hakekatnya merupakan penegakan kebijakan melalui beberapa tahap. (5) Faktor kebudayaan. (4) Faktor masyarakat. Tahap Eksekusi. yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku dan diterapkan. yaitu : (1) Faktor hukumnya sendiri. (3) Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum. Penegakan hukum merupakan suatu proses yang melibatkan banyak hal. Tahap Aplikasi.13 dengan menggunakan cara prosedural yang ditetapkan oleh hukum formal. (Jakarta : Rajawali Press. Tahap Formulasi. (2) Faktor penegak hukum. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. yaitu Soerjono Seokanto. yakni sebagai hasil karya. USU Repository © 2009 7 . Pada dasarnya ada 5 (lima) faktor yang mempengaruhi penegakan hukum. 1983). 4-5. Oleh karena itu keberhasilan penegakan hukum akan dipengaruhi oleh hal-hal tersebut. c. yaitu : a. hal. cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia dalam pergaulan hidup. b. Dapatlah dikatakan bahwa ketiga tahap kebijakan penegakan hukum pidana tersebut terkandung didalamnya tiga kekuasaan atau kewenangan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007. yaitu pihak-pihak yang membentuk maupun yang menerapkan hukum. “Faktor-faktor yang mempengaruhi Penegakan Hukum”.

2005). USU Repository © 2009 . (Yogyakarta. 2005). Walaupun adakalanya dengan Undang-Undang.” (Bandung : PT. Yang kedua adalah kekuasaan Yudikatif pada tahap aplikasi dalam menerapkan hukum pidana. hal. dapat ditunjuk pula pengadilan seperti dalam yurisdiksi volunter. 30. 111. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 9 Penegakan secara preventif diadakan untuk mencegah agar tidak dilakukan pelanggaran hukum oleh warga masyarakat dan tugas ini pada umumnya diberikan pada badan-badan eksekutif dan kepolisian. 8 Penegakan hukum dalam negara dilakukan secara preventif dan represif. namun tetap berada dalam kerangka penegakan hukum. Dalam hal ini hukum harus ditegakkan secara represif oleh alat-alat penegak hukum yang diberi tugas yustisionil. penegakan hukum represif 8 Barda Nawani Arief. yaitu kekuasaan legeslatif dalam menetapkan atau merumuskan perbuatan apa yang dapat dipidana dan sanksi apa yang dapat dikenakan. 9 Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah. Citra Aditya Bakti. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007. “Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan Hukum dan Pengembangan Hukum Pidana. hal. Sedangkan penegakan hukum represif dilakukan apabila usaha preventif telah dilakukan ternyata masih juga terdapat usaha pelanggaran hukum. Pustaka Pelajar. Pada tahap pertama.14 kekuasaan Legislatif pada tahap formulasi. Penegakan hukum represif pada tingkat operasional didukung dan melalui berbagai lembaga yang secara organisatoris terpisah satu dengan yang lainnya. “Politik Hukum Pidana”. Pada tahap ini kebijakan legeslatif ditetapkan sistem pemidanaan. dan Kejaksaan misalnya dengan tugas PAKEM-nya. dan kekuasaan Eksekutif pada tahap Eksekusi dalam hal melaksanakan hukum pidana. melakukan penegakan hukum preventif. pada hakekatnya sistem pemidanaan itu merupakan sistem kewenangan atau kekuasaan menjatuhkan pidana.

“Moral dan Keadilan Sebagai Landasan Penegakan Hukum Yang Responsif”. (Jurnal Equality : 2006). Penegakan hukum yang berkeadilan sarat dengan landasan etis dan moral. USU Repository © 2009 10 . kemudian diteruskan ke Lembaga Pengadilan dan berakhir pada Lembaga Pemasyarakatan. dapat mempunyai arti yang luas dan berubah-ubah karena istilah itu dapat mempunyai arti dapat berkonotasi dengan bidang yang cukup luas. selama kurun waktu lebih dari empat Dasawarsa bangsa ini hidup dalam ketakutan. Penegakan hukum adalah proses yang tidak sederhana. 10 2. karena di dalamnya terlibat subjek hukum yang mempersepsikan hukum menurut kepentingan masing-masing. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Apa yang sesungguhnya dialami tidak lain adalah pencabikan moral bangsa sebagai akibat dari kegagalan bangsa ini dalam menata manajemen Pemerintahannya yang berlandaskan hukum. berikutnya Kejaksaan.15 diawali dari Lembaga Kepolisian. Pidana a) Pengertian pidana Istilah “hukuman” yang merupakan istilah umum konvensional. Hukum dibuat tanpa landasan moral dapat dipastikan tujuan hukum yang berkeadilan tidak mungkin akan terwujud. hal. Husni. 1. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Penegasan ini bukanlah tidak beralasan. 2007. faktor moral sangat berperan dalam menentukan corak hukum suatu bangsa. Istilah tersebut tidak hanya M. ketidakpastian hukum dan hidup dalam intimitas yang tidak sempurna antara sesamanya.

Dari definisi di atas dapatlah disimpulkan bahwa pidana mengandung unsur-unsur atau ciri-ciri sebagai berikut : 1) pidana itu pada hakekatnya merupakan suatu pengenaan penderitaan atau nestapa atau akibat-akibat lain yang tidak menyenangkan. 2. 2 – 4. Muladi dan Barda Nawawi Arif. agama dan sebagainya. Cetakan Ke-2 (Bandung: Alumni. Untuk memberikan gambaran yang lebih luas. Prof. moral. tetapi juga dalam istilah sehari-hari di bidang pendidikan. Sudarto. Prof. “Teori-teori dan Kebijakan Pidana”. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 11 . SH : Yang dimaksud dengan pidana ialah penderitaan yang sengaja diberikan kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu. dan ini berwujud suatu nestapa yang dengan sengaja ditimpakan negara pada pembuat delik. 1998) hal. 2007. Oleh karena “pidana” merupakan istilah yang lebih khusus. maka perlu ada pembatasan pengertian atau makna sentral yang dapat menunjukkan ciri-ciri atau sifat-sifat yang khas. berikut ini dikemukakan beberapa pendapat atau defenisi dari para sarjana sebagai berikut: 11 1. Roeslan Saleh : Pidana adalah reaksi atas delik.16 sering digunakan dalam bidang hukum.

2) perampasan barang-barang tertentu. 34 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. R. 2007. yaitu : 1) pidana mati 2) pidana penjara 3) pidana kurungan 4) pidana denda 5) pidana tutupan (ditambah berdasarkan UU No. 3) pengumuman putusan hakim. yaitu : 1) pencabutan hak-hak tertentu. USU Repository © 2009 12 . Menurut hukum pidana positif (KUHP dan di luar KUHP) Jenis pidana menurut KUHP. seperti terdapat dalam pasal 10. b) Jenis-jenis Pidana 1. dibagi dalam dua jenis 12 : a. Soesilo.17 2) pidana itu diberikan dengan sengaja oleh orang atau badan yang mempunyai kekuasaan (oleh yang berwenang). 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 20 tahun 1946) b. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentar Lengkap Pasal Demi Pasal (Bogor: Politeia. pidana tambahan. 1988) hal. pidana pokok. 3) pidana itu dikenakan kepada seseorang yang telah melakukan tindak pidana menurut undang-undang.

2007. b. USU Repository © 2009 . tindakan tata-tertib dalam hal tindak pidana ekonomi (Pasal 8 UU No. c. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 7 Drt. d. walinya atau pemelihatanya atau 2) memerintahkan agar anak tersebut diserahkan kepada pemerintah. misalnya : a. 160). bagi anak yang sebelum umur 16 tahun melakukan tidak pidana. bergelandangan atau perbuatan asosial (Stb. Hakim dapat mengenakan tindakan berupa (lihat Pasal 45 KUHP). 1936 no. 741) yang sekarang telah diganti dengan Undang-undang No.18 Disamping jenis sanksi yang berupa pidana dalam hukum pidana positif dikenal juga sanksi yang berupa tindakan. 1) mengembalikan kepada orang tuanya. anak tersebut dimasukkan dalam rumah pendidikan negara yang penyelenggaraannya diatur dalam Peraturan Pendidikan Paksa (Dwangopvoedingregeling. 12 Tahun 1995 tentang Permasyarakatan. Dalam hal yang ke-2. 1955) dapat berupa : 1) penempatan perusahaan si terhukukm di bawah pengampuan untuk selama waktu tertentu (3 tahun untuk kejahatan TPE dan 2 tahun untuk pelanggaran TPE). penempatan di rumah sakit jiwa bagi orang yang tidak dapat dipertanggungjawabkan karena jiwanya cacat dalam tubuhnya atau terganggu karena penyakit (lihat Pasal 44 ayat 2 KUHP). Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 1916 no. Stb. serta mengganggu ketertiban umum dengan melakukan pengemisan. penempatan di tempat kerja Negara (Landswerkinrichting) bagi pengenggur yang malas bekerja dan tidak mempunyai mata pencaharian.

2007. yang terdiri dari : a) pidana pengawasan. Ketentuan tentang “pidana” dalam konsep terdapat dalam Bab V. Pembagian jenis pidanannya sebagai berikut : a. 2. c) pidana permasyarakatan biasa (untuk yang melakukan tindak pidana karena kesempatan). Pidana pokok: 1) pidana mati 2) pidana permasyarakatan. 3) pembayaran sejumlah uang sebagai pencabutan keuntungan menurut taksiran yang diperoleh dari tindak pidana yang dilakukan. yang terdiri dari : a) pidana permasyarakatan istimewa (utuk yang melakukan tindak pidana karena terdorong oleh maksud yang patut dihormati). semua atas biaya si terhukum sekedar Hakim tidak menentukan lain. 3) pidana pembimbingan. Pasal 82. b) pidana permasyarakatan khusus (untuk yang melakukan tindak pidana karena kebiasaan). dan melakukan jasa-jasa untuk memperbaiki akibat-akibat satu sama lain.19 2) pembayaran uang jaminan selama waktu tertentu.d. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 4) kewajiban mengerjakan apa yang dilakukan tanpa hak. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Menurut Konsep Rancangan KUHP tahun 1972. mulai Pasal 43 s. USU Repository © 2009 .

2) penempatan barang tertentu. e) penyitaan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana. Pidana tambahan: 1) pencabutan hak tertentu. : penutupan) usaha sebagian atau seluruhnya. yang terdiri dari : a) pidana perserikatan. d) pembayaran uang jaminan yang jumlahnya ditentukan oleh Hakim. b) penuntutan (sic.20 b) pidana penentuan tempat tinggal. 6) pengenaan kewajiban adat. f) perbaikan akibat-akibat dari tindak pidana. 2007. b. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 3. USU Repository © 2009 . Pengertian Keimigrasian Istilah imigrasi berasal dari bahasa Latin migratio yang artinya perpindahan orang dari suatu tempat atau negara menuju ke tempat negara lain. 3) pengumuman keputusan Hakim. 4) pidana perserikatan. c) penempatan usaha di bawah pengawasan pemerintah untuk jangka waktu yang ditentukan oleh Hakim. 4) pengenaan kewajiban ganti rugi. c) pidana latihan kerja. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. d) pidana kerja bakti. 5) pengenaan kewajiban agama.

13 F. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Penelitian yuridis – normatif merupakan penelitian yang dilakukan dan ditujukan pada Peraturan-peraturan tertulis atau bahan-bahan lain. atau juga menjadi diplomat tidak dapat disebut sebagai seorang imigran.21 Oxford Dictionary of Law juga memberikan defenisi sebagai berikut: “Immigration is the act of entering a country other than one’s native country with the intention of living there permanently”. penulis melakukan studi 13 Lihat Pasal 1 butir 1 Undang-undang no. Untuk menunjang pembahasan demi pembahasan masalah. yakni untuk tinggal menetap dan mencari nafkah di suatu tempat baru. Oleh karena itu. Metode Penelitian 1. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). orang asing yang bertamasya. Dari defenisi ini dipahami bahwa perpindahan itu mempunyai maksud yang pasti. Jenis Penelitian Metode Penelitian yang digunakan untuk menjawab persoalan-persoalan dalam skripsi ini adalah menggunakan metode yuridis – normatif. 2007. USU Repository © 2009 . serta menelaah peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini. Sedangkan menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1992 dalam pasal 1 butir 1 disebutkan: “Keimigrasian adalah hal ikhwal lalu lintas orang yang masuk atau keluar wilayah Negara Republik Indonesia dan pengawasan orang asing di wilayah Negara Republik Indonesia”. atau mengunjungi suatu konferensi internasional. atau merupakan rombongan misi kesenian atau olahraga.

USU Repository © 2009 . berita dsb. 3. dilakukan di Perpustakaan Univesitas Sumatera Utara maupun yang di-download melalui internet ataupun situs-situs berkaitan dengan bahan-bahan yang sifatnya skunder (tulisan.). serta Pengadilan Negeri Medan untuk mendapatkan gambaran ataupun bahan akurat berkaitan dengan penulisan skripsi ini. skripsi. responden dari narasumber atau lembaga di tempat penelitian dilakukan yang berkaitan dengan permasalahan dalam penulisan skripsi ini. Studi lapangan ini dilakukan melalui wawancara dengan 14 Soerjono Soekamto. Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Medan dan sekitarnya. Lokasi penelitian Dalam hal peneltian yang berkaitan dengan bahan bacaan. “Pengantar Penelitian Hukum”. 12 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. serta di Pengadilan Negeri Medan. 1984. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). hal. Dalam hal penelitian lapangan penulis melakukannya di Kantor Imigrasi Polnia Medan.22 langsung untuk mendapatkan data-data seperti di Kantor Imigrasi Polnia Medan. 2. Kantor Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Medan Sekitarnya. Data Primer yaitu data pokok yang diperoleh atau bersumber dari hasil penelitian langsung di lapangan 14. tesis. 2007. UI-Press Jakarta. Sumber dan pengumpulan data Data-data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah bersumber dari : a.

majalah. 4. Metode Pengumpulan Data Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut : a. pendapat sarjana dan bahan-bahan kuliah lainnya yang berkaitan erat dengan pokok bahasan atau permasalahan dalam skripsi ini. Penelitian lapangan (Field Research) Yakni dengan melakukan penelitian langsung ke lapangan baik berupa wawancara langsung kepada pihak-pihak yang terkait dalam proses Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Informan yang dipilih adalah mempunyai keterkaitan erat dengan pokok bahasan pada skripsi ini yaitu: 1) Petugas Keimigrasian Polonia Medan 2) Kepolisian kota Medan b. internet.23 menggunakan pedoman wawancara (interview guide) kepada para informan. b. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Data Skunder yaitu data-data yang diperoleh dari peraturan-peraturan. 2007. bukubuku literatur. Penelitian kepustakaan (Library Research) Yakni melakukan penelitian dengan berbagai sumber bacaan atau tulisan seperti: buku. artikel ataupun majalah-majalah serta data lain yang diperoleh melalui internet yang berhubungan dengan permasalahan dalam penulisan skripsi ini.

keaslian penulisan. BAB II : Bab ini menjelaskan tentang tinjauan umum mengenai keimigrasian. baik itu mengenai keimigrasian dalam sistem hukum Indonesia dan nasional.24 penyidikan kasus ini serta dengan memperoleh salinan data-data yang lebih lengkap dan menunjang pembahasan permasalahan yang disusun penulis. dan apa saja yang termasuk dalam jenis-jenis izin keimigrasian. penulis menjabarkan materi ataupun isi dari skripsi ini menjadi lima bab dengan sistematika sebagai berikut : BAB I : Bab ini memuat latarbelakang. BAB III : Bab ini nerupakan bab yang membahas bagaimana penegakan hukum terhadap tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. USU Repository © 2009 . Analisis Data Analisis data yang dilakukan dalam penulisan skripsi ini adalah dengan cara kualitatif. Sistematika Penulisan Untuk mempermudah penulisan atau penyajiannya. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007. yaitu jawaban dari responden dan data-data yang diperoleh dilapangan diedit dan dianalisis sehingga diperoleh data yang dapat menjawab permasalahan demi permasalahan yang dikemukakan dalam skripsi ini. tinjaun kepustakaan. 5. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. tujuan dan manfaat penulisan. G. perumusan permasalahan. metode penulisan dan sistematika penulisan.

Mdn. BAB V : Kesimpulan dan Saran Bab ini merupakan bab terakhir.2493/Pid. 2007. B/2002/PN. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). yaitu sebagai bab penutup yang berisi kesimpulan dan saran-saran mengenai permasalahan yang telah dibahas. USU Repository © 2009 . BAB II Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.25 BAB IV : Bab yang membahas Kasus dan Analisis Kasus Putusan No.

Sejak Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. tetapi yang lebih penting adalah peralihan tersebut merupakan titik mula dari era baru dalam politik hukum keimigrasian Indonesia. Pada saat itu. 2007. Keimigrasian Dalam Sistem Hukum Indonesia 1) Keimigrasian di Indonesia Di Indonesia pemeriksaan keimigrasian telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).26 TINJAUAN UMUM A. terdapat badan pemerintah kolonial Belanda bernama Immigratie Dienst yang bertugas menangani masalah keimigrasian untuk seluruh kawasan Hindia Belanda. Undang-undang No. namun baru pada tanggal 26 Januari 1950 Immigratie Dienst ditimbang terimakan dari H. USU Repository © 2009 . Breekland kepada Kepala Jawatan Imigrasi dari tangan Pemerintah Belanda ke tangan Pemerintah Indonesia. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. yaitu perubahan dari politik hukum keimigrasian yang bersifat terbuka (open door policy) untuk kepentingan pemerintahan kolonial. menjadi politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif didasarkan pada kepentingan nasional Indonesia.” Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. dalam pasal 1 menyebutkan: “Keimigrasian adalah hal-ikwal lalu lintas orang yang masuk atau keluar wilayah Indonesia dan pengawasan orang asing di wilayah Republik Indonesia.

peristiwa. bolak-balik. peristiwa. Jakarta: Balai Pustaka. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Sementara itu kata ihwal diartikan hal. 16 Unsur pertama. defenisi keimigrasian dapat kita jabarkan sebagai berikut: Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. kejadian (sesuatu yang terjadi). dan tinggal dari dan ke dalam wilayah negara Republik Indonesia. Berdasarkan hukum internasional pengaturan hal ini merupakan hak dan wewenang suatu negara serta merupakan salah satu perwujudan dan kedaulatan sebagai negara hukum yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 15 16 Kamus Besar Bahasa Indonesia. pengaturan lalu-lintas keluar masuk wilayah Indonesia. hal-ihwal diartikan berbagai-bagai keadaan. 2007. kata lalu-lintas diartikan sebagai hubungan antara suatu tempat dan tempat lain. perihal. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian terdapat dua unsur pengaturan yang penting. masuk. 15 Dengan demikian.27 Dengan menggunakan pendekatan gramatikal (tata bahasa) dan pendekatan semantik (ilmu tentang arti kata). hilir-mudik. kejadian. 2) Pengaturan tentang berbagai hal mengenai pengawasan orang asing di wilayah Republik Indonesia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. menurut Undang-undang No. Dengan demikian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). yaitu: 1) Pengaturan tentang berbagai hal mengenai lalu-lintas orang keluar. USU Repository © 2009 . kata hal diartikan sebagai keadaan. 2001 Lihat Penjelasan Umum Undang-undang No.

Dalam rangka ini “pengawasan” adalah keseluruhan proses kegiatan untuk mengontrol atau mengawasi apakah proses pelaksanaan tugas telah sesuai dengan rencana atau aturan yang telah ditentukan. 2007. UI-Press Jakarta. Selanjutnya. artinya setiap tindakan keluar-masuk wilayah tidak melalui TPI. Undang-undang No. hal. USU Repository © 2009 17 . 17 Maka pengertian pengawasan orang asing adalah seluruh rangkaian kegiatan yang ditujukan untuk mengontrol apakah keluar-masuknya serta keberadaan orang asing di Indonesia telah atau tidak sesuai dengan ketentuan keimigrasian yang berlaku. atau tempat tertentu atau daratan lain yang ditetapkan Menteri Kehakiman sebagai tempat masuk atau keluar wilayah Indonesia (entry point). merupakan tindakan yang dapt dipidana. Pelanggaran atas ketentuan ini dikategorikan sebagai tindakan memasuki wilayah negara Indonesia secara tidak sah. dan keberadaan serta kegiatan orang asing di wilayah Iman Santoso. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian tidak membedakan antara emigrasi dan imigrasi. 2004. Pengawasan orang asing meliputi masuk dan keluarnya orang asing ke dan dari wilayah Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). yaitu di pelabuhan laut. pengaturan lalu-lintas keluar-masuk wilayah Indonesia ditetapkan harus melewati Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI).28 1945. 20 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Bandar udara. Unsur kedua dari pengertian keimigrasian yaitu pengawasan orang asing di wilayah Indonesia. “Persfektif Imigrasi dalam Pembangunan Ekonomi dan Ketahanan Nasional”.

USU Repository © 2009 . serta pengawasan terhadap keberadaan warga negara asing di wilayah Republik Indonesia. Pengawasan selanjutnya dilaksanakan oleh pejabat imigrasi di Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) ketika pejabat imigrasi dengan kewenangannya yang otonom memutuskan menolak atau memberikan izin tinggal yang sesuai dengan visa yang dimilikinya. Dari keseluruhan prosedur keimigrasin yang ditetapkan. 1) Fungsi Keimigrasian Dari uraian mengenai pengertian umum. baiak ditinjau dari budaya hukum 18 Ibid.29 Indonesia. 2007. dapat dinyatakan juga bahwa pada hakikatnya keimigrasian merupakan: “suatu rangkaian kegiatan dalam pemberian pelayanan dan penegakan hukum serta pengamanan terhadap lalu lintas keluar masuknya setiap orang dari dank e dalam wilayah RI.”18 Dari pernyataan tersebut. 21 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. hal. Dimana konsep ini hendak menyatakan bahwa sistem keimigrasian. maka secara operasional peran keimigrasian dapat diterjemahkan ke dalam konsep Trifungsi Imigrasi. perlu dipahami bahwa operasionalisasinya dilaksanakan berdasarkan politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Pengawasan orang asing sebagai suatu rangkaian kegiatan pada dasarnya telah dimulai dan dilakukan oleh perwakilan RI di luar negeri ketika menerima permohonan pengajuan visa. selanjutnya pengawasan beralih ke kantor imigrasi yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal waraga asing tersebut.

Kemudahan Khusus Keimigrasian (DAHSUSKIM). materi hukum (peraturan hukum) keimigrasian. USU Repository © 2009 . sarana dan prasarana hukum keimigrasian.30 keimigrasian. yaitu: dalam operasionalisasinya harus selau mengandung Trifungsi. organisasi. Kartu Izin Tinggal Tetap (KITAP). 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). lembaga. baik kepada Warga negara Indonesia (WNI) atau Warga Negara Asing). dan 2) Pemberian Tanda bertolak/ masuk Pelayanan bagi Warga Negara Asing terdiri dari: 1. mekanisme hukum keimigrasian. a. Fungsi pelayanan masyarakat Salah satu fungsi keimigrasian adalah fungsi penyelenggaraan pemerintahan atau administrasi negara yang mencerminkan aspek pelayanan. Pelayanan bagi Warga Negara Indonesia terdiri dari: 1) Pemberian paspor/ pemberian Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP)/Pas lalu lintas Batas (PLB). Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Dari aspek itu. aparatur. imigrasi dituntut untuk memberi pelayanan prima di bidang keimigrasian. 2007. Pemberian Dokumen Keimigrasian (DOKIM) berupa: Kartu Izin Tinggal Terbatas Keimigrasian (KITAS).

Fungsi penegakan hukum Dalam Pelaksanaan tugas keimigrasian. USU Repository © 2009 . ditujukan pada permasalahan: 1. Pemberian Tanda Bertolak dan Masuk. DAHSUSKIM 4. Penegakan hukum keimigrasian terhadap Warga Negara Indonesia (WNI). Izin Bertolak 5. KITAP. 2007. Pemalsuan identitas 2.31 2. Visa Kunjungan Usaha (VKU). 3. Visa Kunjungan Sosial Budaya (VKSB). Pertanggungjawaban sponsor 3. Kepemilikan paspor ganda 4. Keterlibatan dalam pelaksanaan aturan keimigrasian Penegakan hukum kepada Warga Negara Asing (WNA) ditujukan pada permasalahan: Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). b. keseluruhan aturan hukum keimigrasian itu ditegakkan kepada setiap orang yang berada di dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia baik itu Warga Negara Indonesia (WNI) atau Warga Negara Indonesia (WNA). Perpanjangan izin tinggal meliputi: Visa Kunjungan Wisata (VKM). Perpanjangan DOKIM meliputi KITAS. Pemberian Izin Masuk Kembali.

pemyitaan). izin keimigrasian. Penyalahgunaan izin tinggal 4. izin bertolak. Secara operasional fungsi penegakan hukum yang dilaksanakan oleh institusi Imigrasi Indonesia juga mencakup penolakan pemberian izin masuk. USU Repository © 2009 . Fungsi keamanan Imigrasi berfungsi secara penjaga pintu gerbang negara. pemeriksaan. Semua itu merupakan bentuk penegakan hukum yang bersifat administratif. pemberkasan perkara. penggeledahan. 2007. Pelaksanaan fungsi keamanan yang ditujukan kepada Warga Negara Indonesia dijabarkan melalui tindakan pencegahan ke luar negeri bagi Warga Negara Indonesia atas permintaan Menteri Keuangan dan Kejasksaan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Sementara itu. yaitu kewenangan penyidikan. Masuk secara ilegal atau berada secara ilegal 5. serta pengajuan berkas perkara ke penuntut umum. penahanan. Pemantauan/razia 6. Pemalsuan identitas Warga Negara Asing (WNA) 2. Dikatakan demikian karena imigrasi merupakan institusi pertama dan terakhir yang menyaring kedatangan dan keberangkatan orang asing ke dan dari wilayah Republik Indonesia. Kerawanan keimigrasian secara geografis dalam pelintasan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). dalam hal penegakan hukum yang bersifat proyustisia. c. tercakup tugas penyidikan (pemanggilan. penangkapan. Pendaftaran orang asing dan pemberian buku pengawasan orang asing 3.32 1. dan tindakan keimigrasian.

yaitu larangan bagi seseorang untuk meninggalkan wilayah Indonesia dalam jangka waktu tertentu dan/atau larangan untuk memasuki wilayah Indonesia dalam waktu tertentu.33 Agung. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). secara sinergi baik di bidang ekonomi. Khusus untuk Warga Negara Indonesia (WNI) tidak dapat dilakukan pencegahan karena alasan-alasan keimigrasian belaka. Perubahan itu diperlukan guna meningkatkan intensitas hubungan negara Republik Indonesia dengan dunia Internasional yang mempunyai dampak sangat Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. maupun peraturan di bidang lalu-lintas orang dan barang yang dapat memfasilitasi pertumbuhan ekonomi. industri. ketenagakerjaan. terutama di bidang perekonomian. Melakukan operasi intelijen keimigrasian bagi kepentingan keamanan negara 4. 2007. demi peningkatan kesejahteraan. Pelaksanaan fungsi keamanan yang ditujukan kepada Warga Negara Asing (WNA) adalah: 1. transportasi. perlu menata atau mengubah peraturan perundangan. 3. perdagangan. USU Repository © 2009 . Melaksanakan pencegahan dan penangkalan. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut. Untuk mengantisipasinya. Melakukan kerjasama dengan aparatur keamanan negara lainnya khususnya di dalam memberikan supervisi perihal penegakan hukum keimigrasian. harus diingat bahwa di era globalisasi aspek hubungan kemanusiaan yang selama ini bersifat nasional berkembang menjadi bersifat internasional. Melakukan seleksi terhadap setiap maksud kedatangan orang asing melalui pemeriksaan permohonan visa 2.

Yusril Ihza Mahendra. hal.34 besar pada pelaksanaan fungsi dan tugas keimigrasian serta menghindari adanya tumpang tindih peraturan. 20 19 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Paradigma konsepsi keamanan saat ini mulai bergeser. Hal ini terlihat ketika jasa keimigrasian telah menjadi bagian dari infrastruktur perekomian. dalam sambutan tertulis pada upacara Hari Bhakti Imigrasi ke-52 tanggal 26 Januari 2002. Di dalam rangka memelihara kondisi keamanan yang kondusif secara otomatis fungsi penegakan hukum keimigrasian harus dilakasanakan secara terus-menerus dan konsekuen. Dr. 24 Prof. semula menggunakan pendekatan kewilayahan (territory) yang hanya meliputi keamanan nasional (national security) berubah menjadi pendekatan yang komprehensif selain keamanan nasioanal juga keamanan warga masyarakat (human security) dengan menggunakan pendekatan Ibid. 2007. Dr. USU Repository © 2009 . Sedangkan fungsi baru yaitu sebagai fasilisator pembagunan ekonomi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan fungsi keimigrasian lainnya. Tuntutan perubahan Trifungsi Imigrasi dipertegas oleh pernyataan Prof. Yusril Ihza Mahendra selaku Menteri Kehakiman dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). yang menyatakan: 20 “Trifungsi Imigrasi yang merupakan ideologi atau pandangan hidup bagi setiap kebijakan dan pelayanan keimigrasian harus diubah karena tutntutan zaman. Di dalam perkembangan Trifungsi Imigrasi dapat dikatakan mengalami suatu pergeseran bahwa pengertian fungsi keamanan dan penegakan hukum merupakan satu bagian yang tak terpisahkan karena penerapan penegakan hukum dibidang keimigrasian berarti sama atau identik dengan menciptakan kondisi keamanan yang kondusif atau sebaliknya 19.

3.35 hukum. Di satu sisi. USU Repository © 2009 . sebagai bagian dari sistem hukum administrasi negara. paradigma baru melihat bahwa keimigrasian itu bersifat multidimensional. Hal ini lebih disebabkan karena dunia telah menjadi semakin kecil dan bahwa subjek masalah keimigrasian adalah manusia yang bersifat dinamis. dan sekuriti. baik itu dalam tatanan nasional maupun internasional. saya memberi pesan agar insane imigrasi mengubah cara pandang mengenai konsep keamanan yang semula hanya sebagai alat kekuasaan. Sebaliknya. dan dapat memberikan perlindungan kepada masyarakat. mampu melaksanakan penegakan hukum. sudah waktunya kita membuka cakrawala berpikir yang semula hanya dalam cara pandang ke dalam (inward looking) menjadi cara pandang ke luar (outward looking) dan mulai mencoba untuk mengubah paradigma Trifungsi Imigrasi yang pada mulanya sebagai pelayan masyarakat. Bertitik tolak dari berbagai tantangan itu. Ruang Lingkup Fungsi Keimigrasian Paradigma lama hanya melihat esensi keimigrasian sebatas hal-ihwal orang asing. Hal itu dapat dijelaskan dalam uraian sebagai berikut: a. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Mendukung konsepsi tersebut. dan fasilisator pembangunan ekonomi”. 2007. penegak hukum. Bidang Politik Ada berbagai pendapat yang menyatakan di mana sebenarnya fungsi keimigrasian itu berada. agar menjadi apratur yang dapat memberikan kepastian hukum. hukum keimigrasian sering disertai dengan sanksi pidana Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. agar diubah menjadi Trifungsi Imigrasi baru yaitu sebagai pelayan masyarakat. sehingga muncul pendapat seolah-olah masalah keimigrasian sebatas masalah yang berporos pada atau paling tidak bertalian dengan negara asing. penengak hukum.

Bidang Ekonomi Di bidang ekonomi tampak jelas sekali keterkaitan fungsi imigrasi dalam rangka melaksanakan politik perekonomian suatu negara. Seorang assign dapat bertempat tinggal di suatu negara tanpa mengikuti ketentuan umum mengenai keimigrasian.36 yang kadangkala terasa janggal. Di sisi lain. b. seperti yang menyangkut masalah sentimen ras. Itu berarti bahwa ia mendapatkan suatu perlakuan khusus di bidang keimigrasian. Pencari Suaka politik(asylum seekers) akan mendapatkan hak-hak hidupnya dan perlindungan atas dirinya di negara terakhir ia berada. agama. Di samping itu hukum keimigrasian mempunyai kaitan yang sangat erat dengan hubungan internasional. serta faktor lain yang berkaitan dengan komposisi atau struktur kependudukan di dalam suatu negara. Berbagai konvensi internasional. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). disisi lain hak seseorang untuk melintasi batas negara dan bertempat tinggal di suatu negara dilihat sebagai hak asasi manusia. USU Repository © 2009 . Berbagai pendapat tersebut ada benarnya karena segalanya bergantung pada cara memandang fungsi keimigrasian itu. Hal itu terkait dalam Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007. hukum keimigrasian juga mengatur kewarganegaraan seseorang. kedaulatan negara penerima juga tidak dapat di abaikan. seperti United Nations Convention 1951 Concerning of Refugees Status (selanjutnya disebut konvensi PBB Tahun 1951) menyebutkan hak-hak seorang pengungsi serta kewajiban negara penerima. Meskipun demikian. Pada kesempatan ini sering hukum keimigrasian digunakan untuk melindungi kepentingan politik suatu negara. Di Bidang politik sering fungsi keimigrasian ditempatkan pada hubungan hubungan internasional.

atau dengan kata lain. termasuk pembatasan yang diberlakukan terhadap seorang asing untuk meperoleh izin masuk atau tinggal di suatui negara baik sebagai pencari kerja maupun investor. izin masuk beberapa kali perjalanan (multiple re-entry permit). Sebagai infrastruktur perekonomian. izin kunjungan. seperti jasa fasilitas tranportasi . 2007. yang dimaksudkan untuk merlindungi warga negaranya dari sisi perekonomian dalam menghadapi persaingan hidup. Sektor peronomian membutuhkan jas infrastruktur lain. Pemberian fasilitas jasa keimigrasian. jasa fasilitas komunikasi. USU Repository © 2009 . izin tinggal tetap) merupakan bagian dari infrastruktur perekonomian. ke mana investasi ditanamke sana pula arus manusia mengikutinya. izin tinggal terbatas. Begitu pula dengan aspek pengawasan orang asing. seperti pemberian izin masuk.37 kerangka pertumbuhan dan perkembangan perekonomian global yang ditandai dengan peningkatan arus investasi sehingga menciptakan lapangan kerja. Maka. jasa fasilitas pengelolaan sumber daya alam dan manusia serta jasa fasilitas perbankan. mengalirkan teknologi baru. dan akan meningkatkan arus manusia ke kawasan tersebut. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). izin masuk kembali (re-entry permit). serta bermacam-macam izin tinggal (izin singgah. Di dalam kaitan ini sangatlah jelas bahwa jasa keimigrsian di suatu negara merupakan bagaian yang tidak dapat dipisahkan dari kepentingan ekonominya.. pembentukan pola-pola keimigrasian dengan alasan perekonomian dalam memberikan izin masuk dan bertempat Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. sudah dapat dipastikan bahwa kini jasa fasilitas keimigrasian merupakan bagian dari infrastruktur perekonomian.

38

tinggal bagi warga negara asing ke negaranya, tentu saja memliki persyaratan yang ketat dan menguntungkan negara tersebut. Begitu pula negara yang termasuk dalam kategori migrant country. Sebagai contoh, Australia, dengan alasan perekonomian, mensyaratkan bahwa orang asing yang mengajukan permohonan untuk masuk dan bertempat tinggal disana harus memiliki rumah dan dana dalam jumlah tertentu sebagai modal kerja yang ditanam dalam suatu perusahaan. Kemudian, kinerja perusahaan akan dinilai setiap tahun sebelum pihak imigrasi Australia memutuskan untuk memberikan izin tinggal tetap bagi orang asing tersebut. c. Bidang Sosial Budaya Pergerakan dan perpindahan manusia sebagai individu atau kelompok akan mempunyai dampak, baik yang bersifat positif maupun negatif pada individu atau kelompok penerima. Pengaruh sosial dan budaya terjadi karena ada interaksi diantara mereka, baik di lingkungan pendatang maupun penerima. Negara berkepentingan, melalui fungsi keimigrasian, untuk tetap menjaga kondisi sosial dan budaya yang ada di dalam masyarakat agar pengaruh dari luar tidak merusak struktur sosial budaya masyarakatnya. Fungsi keimigrasian, melalui kebijakan yang diberlakukan oleh pemerintah, harus mampu menyaring serta mengatur halhal dimaksud diatas. Sebagai contoh, terjadinya peningkatan jumlah pengungsi Afghanistan yang masuk ke Indonesia beberapa waktu yang lalu, sedikit banyak telah mempengaruhi kondisi sosial dan budaya penduduk Indonesia yang tinggal di
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

39

sekitar tempat penampungan orang Afghanistan tersebut. Berbagai hal dapat terjadi, misalnya konflik sosial, perkawinan antara pengungsi dan penduduk lokal yang berdampak pada status kewarganegaraan anak mereka, serta pertikaian akibat kecemburuan sosial dari suatu kelompok kepada kelompok lain. Sekalipun tempat penampungan pengungsi tersebut diklelola oleh International

Organization for Migration (IOM), keberadaan dan kegiatan orang-orang Afghanistan itu terus diawasi imigrasi setempat. Satu kasus pernah diungkap oleh Direktorat Jendral Imigrasi ketika warga Afghanistan pemegang status pengungsi tertangkap tangan dalam sebuah operasi pengawasan keimigrasian ketika bekerja sebagai gigolo atau pria tuna susila. d. Bidang Keamanan Permasalahan yang timbul dan berkaitan dengan aspek politis, ekonomis, sosial, dan budaya pada masyarakat akan sangat berpengaruh pada stabilitas keamanan negara tersebut. Fungsi keimigrasian yang mengatur serta mengawasi keberadaan orang di negara tersebut akan memiliki peran yang signifikan. Secara universal imigrasi dijadikan sebagai penjuru (vocal point). Kebijakan yang salah atau tidak tepat di dalam menangani masalah ini akan mempunyai dampak yang sangat besar pada bidang lain. Sebagai contoh, kebijakan keimigrasian untuk mengatasi kejahatan terorganisasi lintas negara, harus dapat menjangkau juga bidang lain seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya, baik yang berskala nasional, regional, maupun internasional. Oleh karena itu, kebijakan keimigrasian mempunyai keterkaitan substansial yang berdampak beruntun (multiplier effect).
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

40

Contoh lainnya setelah terjadi insiden pemboman di Bali pada tanggal 12 November 2002 tengah malam. Pada esok harinya telah terjadi suatu evakuasi korban dan eksodus para wisatawan asing meninggalkan Bali secara besar-besaran ke Australia dengan menggunakan penerbangan pesawat tambahan. Pada saat itu imigrasi Indonesia telah menetapkan suatu kebijakan dalam keadaan force mayeur untuk mengizinkan dokumen (paspor kebangsaan) karena kebanyakan dari mereka telah kehilangan paspor. Namun demikian dari segi keamanan, petugas imigrasi melakukan pencatatan (fotokopi) dokumen yang ada dan pengambilan gambar diri (potret) secara langsung bagi mereka yang tidak memiliki dokumen keimigrasian. Hal ini dimaksud sebagi tindakan antisipatif sekiranya diantara mereka terdapat pelaku pengeboman yang hendak melarikan diri. e. Bidang Kependudukan Demikian pula kependudukan yang merupakan salah satu gatra di dalam konsep ketahanan nasional. Kependudukan merupakan aset bangsa. Struktur dan komposisi penduduk negara memiliki hubungan yang sangat erat dengan kondisi politis, ekonomis, sosial, budaya, serta keamanan nasional. Isu SARA sering menjadi pemicu stabilitas keamanan yang akan berkaitan erat atau berdampak pada situasi perekonomian baik perekonomian wilayah maupun nasional. Bahkan, lebih luas daripada itu, isu SARA dapat berpengaruh pada situasi perekonomian dan keamanan secara regional ataupun internasional. Di sini tampak secara jelas bahwa fungsi keimigrasian di berbagai lini kehidupan, walaupun pengaruhnya tidak begitu signifikan, terlihat keterkaitannya.
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

21 Lihat pasal 24 Undang-undang no. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian disebutkan: 21 “(1) setiap orang yang berada di wilayah Indonesia wajib memiliki izin keimigrasian. Jenis-Jenis Izin Keimigrasian Dalam pasal 24 Undang-undang no. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian. b.41 Dibeberapa negara seperti Brunei Darussalam dan Singapura. 2007. Izin Tinggal Terbatas. Izin singgah diberikan kepada orang asing pemegang visa singgah yang telah memperoleh izin masuk dan orang asing pemegang visa singgah saat kedatangan yang telah memperoleh izin masuk. terdiri atas: a. Di Amerika Serikat. Izin Tinggal Tetap. Izin Singgah. c. Hal ini memang tepat karena sejak kedatangan orang asing pada saat pertam kali sampai ia mempunyai hak menurut ketentuan yang berlaku untuk mengajukan perwarganegaraan seluruh catatan keberadaan orang tersebut ada pada pihak imigrasi. d. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. fungsi keimigrasian juga disatukan dengan fungsi pelaksanaan registrasi kependudukan. Izin Kunjungan. dilakukan oleh pihak imigrasi. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).” a) Izin Singgah Izin singgah diberikan untuk orang asing yang memerlukan singgah di wilayah Indonesia guna dapat meneruskan perjalanan ke negara lain atau kembali ke negara asal. B. masalah naturalisasi atau pewarganegaraan. USU Repository © 2009 . (2) Izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).

sakit dan lain sebagainya dapat diberikan batas waktu izin untuk tetap singgah oleh kepala kantor inigrasi dengan setiap kali pemberian 14 (empat belas) hari sampai paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk. Tugas pemerintahan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Memliki surat perjalanan (paspor) yang sah dan masih berlaku minimal 6 (enam) bulan. 2. b) Izin Kunjungan Izin kunjungan diberikan oleh pejabat imigrasi di tempat pemeriksaan imigrasi kepada orang asing mancanegara yang dibebaskan keharusan memiliki visa kunjungan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).42 Izin singgah diberikan untuk jangka waktu 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan tidak dapat diperpanjang. USU Repository © 2009 . Dalam hal jangka waktu 14 (empatbelas) hari izin singgah terlampaui oarng asing belum dapat melanjutkan perjalanan karena suatu keadaan memaksa diluar kemampuannya atau keadaan darurat seperti kerusakan alat angkutm cuaca buruk. dan orang asing pemegang visa kunjungan. Izin kunjungan diberikan dalam rangka: 1. Adapun persyaratan untuk memperoleh izin singgah adalah: 1. Memiliki trough ticket atau return ticket yang masih berlaku 3. Memiliki visa singgah dan telah memperoleh izin masuk. 2007. Tidak termasuk dalam daftar pencegahan/penagkalan 4.

43 2. Izin kunjungan untuk keperluan tugas pemerintahan tugas pemerintahan. Izin kunjungan untuk keperluan pariwisata diberikan selama 60 (enam) puluh hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan tidak dapat diperpanjang. Kegiatan sosial budaya 4. Izin kunjungan ex visa kunjungan diplomatik (dinas) diberikan sesuai dengan visanya. 5. Pemintaan perpanjangan ijin kunjungan diajukan oleh orang asing kuasanya atau sponsornya kepada kepala kantor imigrasi yang di wilayah kerjanya meliput i tempat tinggal pemohon. Usaha 3. Kepariwisataan Izin kunjungan diberikan untuk jangka waktu: 1. Izin kunjungan ex visa kunjungan saat kedatangan diberikan selam 30 (tiga puluh) hari dan tidak dapat diperpanjang 4. 3. USU Repository © 2009 . untuk setiap kali perpanjangan selama 30 (tiga puluh) hari . Izin kunjungan ex bebas visa kunjungan singkat diberikan selama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan tidak dapat diperpanjang. 2. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). kegiatan sosial budaya atau usaha diberikan selama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan dapat diperpanjang paling banyak 5 (lima) kali berturut-turut. 2007. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

3) Anak yang lahir dan berada di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum kawin dari ibu warga negara Indonesia dan ayahnya tidak memiliki ijin tinggal terbatas 4) Orang asing yang mendapat alih status izin kunjungan menjadi izin tinggal terbatas. Tidak termasuk dalam daftar pencegahan/penangkalan 4. dan Izin Keimigrasian. Izin masuk. Visa tinggal terbatas diberikan kepada mereka yang bermaksud untuk: 22 1) Menanamkan modal. c) Izin Tinggal Terbatas Izin tinggal terbatas diberikan kepada: 1) Orang asing pemegang izin masuk dengan visa tinggal terbatas 2) Anak yang lahir dan berada di wilayah Indonesia yang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum kawin dari orang tua pemegang izin tinggal terbatas. 32 tahun 1994 tentang Visa. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. kecuali yang dibebaskan dari keharusan memiliki visa dan telah memperoleh izin masuk. Lihat Pasal 1 ayat (2) huruf e Peraturan Pemerintah RI no. Memiliki visa kunjungan. Memliki surat perjalanan (paspor) yang sah dan masih berlaku minimal 6 (enam) bulan 2. 2007.44 Persayaratan untuk memperoleh izin kunjungan adalah: 1. Memiliki through ticket atau return ticket yang masih berlaku 3. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 22 .

Dalam hal izin tinggal tetap berakhir sedangkan keputusan Direktur jenderal Imigrasi yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal orang asing yang bersangkutan dapat memberikan perpanjangan sementara izin tinggal tetap paling lama (90) hari terhitung sejak izin tinggal tetap berakhir. 5) Menggabungkan diri dengan suami dan atau orang tua bagi isteri dan atau anak sah dari seorang Warga Negara Indonesia. Hukum Keimigrasian Indonesia Dalam Sistem Hukum Nasional Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 6) Menggabungkan diri dengan suami dan atau orang tua bagi istri dan anak-anak sah di bawah umur dari Orang Asing sebagaimana dimaksud dalam huruf e angka 1.45 2) Bekerja. Perpanjangan izin tinggal tetap diajukan paling lama 60 (enam puluh) hari sebelum izin tinggal tetap berakhir. 3) Malaksanakan tugas sebagai rohaniwan. 2007. 7) Repatriasi. d) Izin Tinggal Tetap Izin tingal tetap diberikan kepada orang asing untuk tinggal menetap di Indonesia. USU Repository © 2009 . dan angak 4. C. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). angka 2. 4) Mengikuti pendidikan dan latihan atau melakukan penelitian ilmiah. angka 3.

“Persoalan Praktis Filsafat Hukum dalam Himpunan Distingsi”. hal. Jika dikaitkan dengan ilmu hukum yang menjadi induknya. . 2007. seperti hukum administrasi negara. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). hukum agrarian. Jakarta: UKI. hukum pajak. hlm. kewenangan imigrasi untuk menangkal dan mencegah orang yang hendak masuk atau keluar wilayah Indonesia. bukan pembentuk undang-undang (wetgever) dan bukan juga fungsi peradilan (rechtspraak). USU Repository © 2009 23 . khususnya merupakan cabang ilmu dari hukum administrasi negara 24. A. Sejalan dengan perkembangan zaman. 22. Op. keimigrasian dapat dilihat dalam persfektif hukum administrasi negara. 24 Iman Santoso. Contoh. dan ilmu hukum internasional 23. masalah keimigrasian justru merupakan sebagian kebijakan oragan administrasi negara yang melaksanakan kegiatan pemerintahan (administrasi negara). Flora Liman Mangestu. 39 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. cit. yaitu ilmu hukum kepidanaan. ilmu hukum kenegaraan.46 Dalam ilmu hukum terdapat beberapa ilmu hukum positif sebagai induk. Kebijakan yang dimaksud adalah gambaran dari perbuatan hukum pemerintah (overheads handeling). hukum keimigrasian adalah bagian dari ilmu hukum kenegaraan. hukum ekonomi. 1992. Hal itu terlihat dari fungsi keimigrasian yang dilaksanakannya. Dengan demikian. Ridwan Halim . telah tumbuh pula berbagai cabang ilmu hukum sebagai disiplin hukum baru. dan hukum keimigrasian. Sesungguhnya. hukum lingkungan. yaitu fungsi penyelenggara pemerintahan atau administrasi negara (bestuur) dan pelayanan masyarakat (publiek dienst). ilmu hukum keperdataan.

Jakarta: Rajawali. “Penggarapan Disiplin Hukum dan Filsafat Hukum bagi Pendidikan Hukum”. dan hukum administrasi negara 2) Hukum perdata yang mencakup: hukum pribadi. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Bidang Hukum Hubungan Antar Tata Hukum (HATAH). terdiri atas: 1) Hukum negara yang mencakup: hukum tata negara. dan hukum penyelewengan perdata dan sikap tindak lain 3) Hukum pidana b. Luas lingkup keimigrasian tidak lagi hanya mencakup pengaturan. khusus mengatur penyelesaian perkara yang mengandung pertemuan antara dua atau lebih sistem hukum (HATAH intern dan HATAH ekstern). hukum benda. 1987. 15 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.47 Dalam ilmu pengetahuan hukum dikenal istilah pembidangan hukum. hukum waris. hukum keluarga. Bidang hukum materil. hukum objek immaterial. Bidang hukum formil 1) Hukum tata negara formil atau hukum acara tata negara 2) Hukum administrasi negara formil atau hukum acara administrasi negara 3) Hukum perdata formil atau hukum acara perdata 4) Hukum pidana formil atau hukum acara pidana c. Pembidangan hukum tersebut dalam praktiknya dapat dijabarkan sebagai berikut: 25 a. USU Repository © 2009 25 . yang secara khusus terbagi menurut fungsi pengaturannya. hal. serta Purmadi Purbacaraka. pemyelenggaraan keluar-masuk orang dari dan ke dalan wilayah Indonesia. hukum perjanjian.

tetapi telah bertalian juga dengan pencegahan orang keluar wilayah Indonesia dan penangkalan orang masuk wilayah Indonesia demi kepentingan umum. disampaikan dalam Rapat Kerja Nasional Keimigrasian. 2007. 7 27 26 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. hal. USU Repository © 2009 . “Hukum Keimigrasian dalam Sistem Hukum Nasional”. maka Hukum Keimigrasian dapat dikatakan merupakan bagian dari bidang hukum administrasi negara 27. Oleh karena itu. dapat dikatakan bahwa fungsi keimigrasian merupakan fungsi penyelenggaraan administrasi negara atau penyelenggaraan administrasi pemerintahan (besturr) 26. Op. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Pertama. sebagai bagian dari penyelenggaraan kekuasaan eksekutif. pemberian izin masuk ke dalam negeri. mengatur tata cara administrasi negara (diperkenankan atau diwajibkan) yang mencampuri kehidupan masyarakat. yaitu fungsi administrasi negara dan pemerintahan.48 pengawasan orang asing yang berada di wilayah Indonesia. Maka. hlm. serta pengaturan prosedur keimigrasian dan mekanisme pemberian izin keimigrasian. 41 Bagir Manan. 14 Januari 2000. Iman Santoso. Hukum administrasi negara mengatur tata cara menjalankan pemerintahan atau administrasi negara serta mengatur hubungan antara aparatur administrasi negara dan masyarakat yang mencakup dua hal pokok. mengatur tata cara melindungi masyarakat da ri pelanggaran hak warga negara ataupun dari bahaya yang ditimbukan atau berkaitan dengan orang asing. Kedua. seperti tata cara bepergian ke luar negeri.cit. Berhubung hukum keimigrasian harus mengikuti dan tunduk pada asasasas dan kaidah hukum administrasi negara umum (algemene administratiefrecht). Jakarta. dan izin bertempat tinggal di Indonesia. penyidikan atas dugaan terjadinya tindak pidana keimigrasian.

Setiap keputusan yang bertentangan dengan asas penyelenggaraan pemerintahan yang baik dapat dijadikan dasar tuntutan atau pembatalan. asas dapat dipercaya.49 terdapat dua asas umum yang harus diterapkan dalam setiap implementasi peran keimigrasian. USU Repository © 2009 . disertai ganti rugi. asas legalitas. asas kepastian hukum. 28 28 Ibid. hal. ukuran isi tindakan atau isi keputusan. yaitu setiap tindakan pejabat administrasi negara dilaksanakan menurut ukuran hukum yang berlaku mencakup ukuran kewenangan. ukuran tata cara melakukan tindakan atau membuat keputusan. 9 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). asas larangan melampaui wewenang. Oleh karena itu setiap tindakan yang bertentangan dengan asas penyelenggaraan pemerintahan yang baik dapat dijadikan dasar tuntutan bagi koreksi dan pelaksanaan kewajiban hukum apratur keimigrasian atau ganti rugi apabila sudah tidak mungkin lagi dipulihkan. asas tidak sewenang-wenang. asas keseimbangan. yaitu: 1. sebab tindakan atau keputusan yang bertentangan dengan asas legalitas dapat mengakibatkan tindakan atau keputusan yang bersangkutan batal demi hukum. dan asas keterbukaan. 2. asas motivasi yang benar. asas-asas umum penyelengaraan administrasi yang baik (general principles of good administration) yang mencakup asas persamaan perlakuan.

dan pembicaraan traksaksi bisnis. Demikian pula dengan pemberian izin keimigrasian. 2007. izin tinggal terbatas. Dalam perspektif pembangunan nasional. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. aktivitas perdagangan. juga diberikan kepastian mengenai subjek dan objek hukum dalam setiap kegiatan ekonomi. yang diberi nama droit economique. proses. ataupun tetap. sebab melalui hukum. yang dikaitkan dengan investasi pekerjaan. serta kelembagaan dari setiap kegiatan interaksi ekonomi. dapat dikatakan bahwa hukum keimigrasian merupakan bagian dari hukum ekonomi.50 Dalam perspektif yang lebih besar lagi. seperti izin kunjungan. hukum mempunyai peranan yang penting bagi keberhasilan pembangunan ekonomi. Hal yang membuktikan bahwa kaidah hukum keimigrasian merupakan bagian dari hukum ekonomi dalam arti sempit adalah ketika kepemilikan hak orang asing atas satuan rumah susun (apartemen dan kondominium) di Indonesia hanya diberikan apabila orang asing tersebut adalah pemegang KITAS (Kartu Izin Tinggal Terbatas). Karena semakin banyak peraturan yang mengatur bidang perekonomian dengan menggunakan kaidah hukum administrasi negara ini. selain ditetapkan hak dan kewajiban. terbentuklah bidang hukum baru yang disebut hukum ekonomi dalam arti sempit. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). KITAS ini merupakan produk administrasi negara yang berasal dari kaidah keimigrasian.

Visa sebagai izin masuk Penduduk Indonesia pada hakikatnya terdiri atas dua golongan. Indonesia merasa perlu untuk mengatur permasalahan orang asing yang berada di Indonesia. Gramedia Jakarta. 29 Pasal 2 sampai 9 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) mengatur mengenai batas-batas berlakunya perundang-undangan hokum pidana menurut Koerniatmanto Soetoprawiro. hal. 74. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian 1. 1996. Oleh karena itu. yaitu warga Negara Indonesia (WNI) dan orang asing atau warga negara asing (WNA). Hukum Kewarganegaraan dan Keimigrasian Indonesia. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.51 BAB III PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PENYALAHGUNAAN IZIN KEIMIGRASIAN A. Ketentuan Keberadaan Warga Negara Asing (WNA) di Indonesia Menurut Undang-undang RI No. USU Repository © 2009 29 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

ada beberapa pengertian visa yang dapat dikemukakan. Lihat Pasal 6 ayat (1) Undang-undang RI No. 31 30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007. hal. 2. hal. baik dilakukan oleh warga negaranya sendiri maupun oleh negara asing (asas teritorial). Rineka Cipta. dimana saja. Buku Petunjuk Keimigrasian RI Bagian I Visa Izin Tinggal. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. ada dua kemungkinan pendirian. 33 Direktorat Jendral Imigrasi. 1983. 2000. juga diluar wilayah negara (asas personal atau juga dinamakan prinsip nasional aktif). Jakarta. 2. 32 Hadi Kiswanto. Sesuai dengan ketentuan ketentuan Undang-undang RI Nomor 9 tahun 1992 tentang keimigrasian. 1982. 38. Perundang-undangan hukum pidana berlaku bagi semua perbuatan pidana yang terjadi dalam wilayah negara. 31 Oleh karena itu setiap orang asing yang masuk wilayah Indonesia wajib memiliki visa.52 tempat terjadinya perbuatan. Jakarta. yaitu: 30 1. Perundang-undangan hukum pidana berlaku bagi semua perbuatan pidana yang dilakukan oleh waraga negara. Ditinjau dari sudut negara. Tugas Pokok dan Fungsi Direktorat Jendral Imigrasi. antara lain: Menurut Hadi Kiswanto:32 “Visa adalah izin tertulisuntuk masuk ke suatu negara yang tercantum dalam surat perjalanan”. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Di dalam Buku Petunjuk Keimigrasian Republik Indonesia Bagian I Visa dan Izin Tinggal disebutkan: 33 Moeljatno. Jakarta. Asas-asas Hukum Pidana. Departemen Kehakiman RI. dalam pasal 6 ayat 1 disebutkan bahwa “setiap orang asing yang masuk wilayah Indonesia wajib membawa Visa”. hal. 10.

” Sedangkan menurut Undang-undang RI No. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1986. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian menyebutkan: “Visa adalah izin tertulis yang diberikan oleh pejabat yang berwenang pada Perwakilan Republik Indonesia atau di tempat lainnya yang ditetapkan olah Pemerintah Republik Indonesia yang memuat persetujuan bagi orang asing untuk masuk dan melakukan perjalanan ke wilayah Indonesia. hal.” 35 Maksud dan tujuan pemberian visa menurut petunjuk Pusdiklat Departemen Kehakiman Republik Indonesia yaitu untuk dapt mengendalikan serta mengawasi lalu lintas orang asing yang keluar nasuk (ke dan dari) wilayah Indonesia.53 “Visa adalah izin tertulis yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang di dalam papor kebangsaan yang menyatakan bahwa yang bersangkutan dapat mengadakan perjalanan ke negara yang dituju”. 2007. Lihat Pasal 1 butir 7 Undang-Undang RI No. WJS Poerwadarnita. dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan: 34 “Visa adalah izin untuk keluar atau masuk ke sesuatu negara.04 Tahun 1981 yang menyatakan sebagai berikut: “Tugas Pokok Direktorat Jendral Imigrasi adalah mengtaur dan mengawasi lalu lintas antar Republik Indonesia dengan negara lain serta menyelenggarakan pengawasan orang asing dalam wilayah negara 34 WJS Poerwadarninta.29. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 35 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 07. USU Repository © 2009 . 142. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. M. Hal ini sejalan dengan tugas pokok Direktorat Jendaral Imigrasi yang tertuang dalam keputusan Menteri Kehakiman RI No. PR. Balai Pustaka. Jakarta.

37 Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. Pusdiklat Pegawai Departemen Kehakiman. 1982. ada lima jenis visa: 38 a. 32 Tahun 1994 tentang Visa. Hal ini sejalan dengan prinsip yang bersifat “selekrif” (selective policy). Visa Dinas. 32 Tahun 1994 tentang Visa. diberikan kepada orang asing pemegang Paspor Dinas yang hendak bepergian ke Indonesia untuk melaksanakan tugas resmi dari Pemerintah asing yang bersangkutan atau diutus oleh Organisasi Internasional. b. bangsa dan negara Republik Indonesi serta tidak membahayakan keamanan dan ketertiban. ketentraman. Berdasarkan prinsip ini. hanya orang asing yang dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Visa ini diberikan kepada orang asing yang maksud dan tujuan kedatangannya di Indonesia tidak menimbulkan gangguan terhadap ketertiban dan keamanan nasional. hal.54 Republik Indonesia demi menjamin ketertiban. tetapi tugas tersebut tidak bersifat Diplomatik. Visa Diplomatik. 37 Lihat dalam Penjelasan Umum Undang-undang RI No. diberikan kepada orang asing pemegang Paspor Diplomatik yang hendak bepergian ke Indonesia dengan tugas Diplomatik. Jakarta. 6. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian. dan keamanan nasional. maupun negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang diizinkan masuk ke wilayah Indonesia.” 36 Menurut Undang-undang No. USU Repository © 2009 36 . Izin Masuk dan Izin Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 38 Lihat Pasal 1-17 PP No. juga tidak bermusuhan baik terhadap rakyat. Izin masuk dan Izin Keimigrasian. Beberapa Pedoman dan Ketentuan Tentang Imigrasi dan Ketatalaksanaan: Bahan Penataran Administrasi Apratur Kehakiman. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

e. dapat diberikan kepada orang asing untuk singgah di wilayah Negara Republik Indonesia untuk meneruskan perjalanan ke negara lain atau kembali ke negara asal. yaitu visa Kunjungan untuk beberapa kali melakukan perjalanan dari dan ke wilayah Negara Republik Indonesia. 2007. Visa ini diberikan untuk singgah di wilayah Negara Indonesia paling lama 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal diberikannya izin masuk di wilayah Negara Republik Indonesia. Visa Kunjungan.55 c. USU Repository © 2009 . 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian dinyatakan: 39 “dikecualikan dari kewajiban memiliki visa bagi orang asing yang masuk wilayah Indonesia adalah: 39 Lihat Pasal 7 Undang-undang RI No. Dalam hal ini orang asing dapat menggunakan Multipel Visa. d. Bebas visa kunjungan singkat (BVKS) Pada dasarnya setiap orang yang akan memasuki suatu negara harus memiliki visa. tetapi dalam pasal 7 Undang-undang No. dapat diberikan kepada orang asing untuk berkunjung di wilayah Negara Republik Indonesia paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikannya Izin Masuk di wilayah Negara Indonesia. dapat diberikan kepada orang asing untuk tinggal di wilayah Negara Republik Indonesia paling lama satu tahun terhitung sejak tanggal diberikannya izin masuk di wilayah Negara Republik Indonesia. Visa Tinggal Terbatas. 2. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Visa Singgah. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

Jakarta. 40 Selain itu juga pemberian kemudahan tersebut juga didasarkan kepada azas resiprositas yaitu negara yang memberikan kemudahan bebas visa terhadap waraga asing tertentu. USU Repository © 2009 40 . hal. Dalam hal tertentu. Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN). 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Orang asing warga negara dari negara yang berdasarkan keputusan Presiden tidak diwajibkan memilki visa b. 9. Orang asing yang memiliki Ijin masuk kembali c. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Kapten atau Nakoda kapal dan awak yang bertugas pada alat angkut yang berlabuh dipelabuhan atau mendarat di Bandar Udara di wilayah Indonesia d. seperti yang disebutkan pada huruf (a) diatas. warga negara ASEAN dapat saling masuk ke negara-negara ASEAN lainnya tanpa terlebih dahulu meminta visa. 1984. Penumpang transit di Pelabuhan atau Bandar Udara diwilayah Indonesia sepanjang tidak keluar dari tempat transit yang berada di daerah tempat Pemeriksaan Imigrasi. Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. terdapat negara-negara yang diberikan kemudahan kepada orang asing untuk masuk ke suatu negra Indonesia dengan tidak memerlukan visa. dkk). 2007.56 a. Biasanya kemudahan ini diberikan untuk kepentingan negara tersebut yaitu agar orang asing lebih banyak masuk ke negaranya dan ini akan menghasilkan devisa. “Analisa dan Evaluasi tentang Pengaturan Fasilitas Bebas Visa wisata bagi Orang Asing yang Berkunjung ke Indonesia” (Laporan Penelitian). Sebagai contoh. maka waraga negara dari negara tersebut juga mendapatkan pembebasan visa apabila akan ke negara asing tertentu.

Brunai Darussalam 10. Brazil 9. Norwegia Lukman Bratamidjaja. Mesir 29. USU Repository © 2009 . Adapun negara-negara penerima BVKS. sedangkan kunjungan usaha adalah kunjungan dalam rangaka membina hubungan bisnis. Argentina 4. Australia 5. “Aspek Ilmu Perundang-undangan BVKS Bagian I”. pembicaraan bisnis dan penjajakan memperluas usaha bisinis di Indonesia. Monaco 31. memberikan kemudahan kepada waraga negara dari + 46 negara dapat masuk ke wilayah Indonesia selama 2 (dua) bulan. Kunjungan wisata adalah perjalanan mengunjungi Indonesia untuk berlibur.57 Pemerintah Republik Indonesia dengan peraturan perundang-undangan berupa Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. social budaya dan usaha. M.01 tahun 1993 tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS). Jakarta. melakukan penelitian dan kunjungan yang bersifat sosial budaya. menikmati objek-objek wisata dan lain-lain. Nepai 33. adalah: 42 1. Mexico 30. Belanda 7. Chili 41 41 24. Amerika Serikat 2. Pintu Gerbang No. Maroko 28. Belgia 8. Malaysia 25. hal. Austria 6. Orang asing yang diberi fasilitas BVKS dapat melakukan kegiatan seperti kunjungan wisata. Direktorat Jendral Imigrasi. Maldive 26. Kunjungan sosial budaya adalah kunjungan dalam rangak mengunjungi family. 2002. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007. 24-25 42 Berdasarkan Data Kantor Imigrasi Polonia Medan Tahun 2001. Malta 27. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Orang asing yang diberikan BVKS ini dapat melakukn kegiatan-kegiatan sebagaimana tersebut diatas dengan catatan dilarang melakukan kegiatan yang sifatnya bekerja.02. 44. Myanmar 32.01. Arab Saudi 3.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Singapura 39. 44 Lihat Pasal 1 angka 3 Undang-undang RI no. Imigrasi. 2007. Orang yang ingin mengunjungi negara lain harus mengetahui apakah paspornya berlaku untuk negara yang akan dituju R. PT. hal. 1997. Taiwan 42. Swiss 41. Jakarta. Italia 19. Denmark 12. Hongkong 14. Yunani 3. Prancis 35. Philipina 36. dan Karantina. Selandia Baru 37. 39. Jepang 20. Korea Selatan 23. Pabean. Irlandia 17. Tanzania 43. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Finlandia 13. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian menyatakan: “surat perjalanan adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang dari suatu negara yang memuat identitas pemegangnya dan berlaku untuk melakukan perjalanan antar negara”. Uni Emirat Arab 46. Kanada 22. 43 Sedangkan menurut Undang-undang RI No. Felix Hadi Mulyatno dan Endar Sugiarto. Turki 45. 44 Paspor berfungsi sebagai surat perjalanan yang digunakan untuk meninggalkan dan memasuki kembali negara yang bersangkutan. Israel 18. Surat perjalanan republik Indonesia (Paspor) Paspor adalah sebuah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh suatu badan pemerintah yang berwenang untuk bangsanya atau untuk penduduk asing. USU Repository © 2009 43 . Jerman 21. Gramedia Pustaka. Spanyol 38. Swedia 40. Inggris 16. Thailand 44. dan memasuki dan meninggalkan negara lain yang mempunyai hubungan diplomatik dengan negara yang mengeluarkan paspor tersebut. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. Hungaria 15. Luxemburg 34.58 11.

9 tahun 1992 tentang Keimigrasian disebutkan Surat Perjalanan Republik Indonesia terdiri atas: 47 a. Itu bukan berarti bahwa pemegang paspor dari negara yang mengeluarkan paspor tersebut adalah warga negaranya. 46 Dalam pasal 29 Undang-undang No. Disamping itu. diberikan kepada orang asing yang pada saat diberlakukannya undang-undang ini telah memliki izin tinggal tetap akan 45 46 R. diberikan kepada warga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dalam rangka penamatan atau tugas yang bersifat diplomatik c. 2007. diberikan kepada waraga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dalam rangka menunaikan inbadah haji. 40 47 Lihat Pasal 29 Undang-undang No. USU Repository © 2009 . 40. b.59 atau tidak 45. hal. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). cit. Felix Hadi Mulyatno dan Endar Sugiarto. dan mereka boleh menggunakan kedua paspor mereka. hal. Paspor Haji. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. Paspor untuk orang asing. misalnya dipaspor atau kartu penduduk. Papor biasa. d. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. yang artinya seseorang bias mempunyai dua warga negara. Op. diberikan kepada warga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar negeri (keluar wilayah Indonesia) secara normal. misalnya Cina dan Indonesia. Ibid. Kebangsaan seseorang bisa dilihat pada kartu identitasnya. kita juga harus mengetahui apakah paspor berlaku untuk negara transit yang akan disinggahi dalam perjalanan menuju ke negara tujuan atau tidak. Paspor diplomatik. Itu sebabnya kita dulu mengenal “Dwi Warga Negara”.

dan dikenakan tindakan pengusiran atau deportasi atau dalam keadaan tertentu yang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional diberi izin untuk masuk ke wilayah Indonesia. f. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . Surat perjalanan laksana paspor dinas. Surat perjalanan laksana paspor untuk orang asing. diberikan kepada warga negara Indonesia dalam keadaan khusus apabila tidak mendapatkan paspor dinas. Surat perjalanan laksana paspor untuk warga negara Indonesia. diberikan kepada warga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dalam rangka dinas/tugas dari pemerintah. Sedangkan untuk WNI yang berdomisili di luar negeri masa berlakunya paspor adalah 2 tahun. h. dapat diberikan kepada orang asing yang tidak mempunyai surat perjalanan yang sah dan atas kehendak sendiri keluar dari wilayah Indonesia sejauh dia tidak terkena pencegahan. menggunakan fasilitas BVKS maupun menggunakan visa Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Masa berlakunya paspor adalah 5 (lima) tahun. e. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Warga negara asing (WNA) yang masuk ke Indonesia pada umumnya atau kota medan khususnya. diberikan dalam keadaan khusus apabila paspor biasa tidak diberikan. g. yang bukan bersifat diplomatik. B. Paspor dinas.60 melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dan tidak mempunyai surat perjalanan serta dalam waktu yang dianggap layak tidak dapat memperolehnya dari negaranya atau negara lain.

Di dalam izin kunjungan tersebut dijelaskan bahwa izin kunjungan digunakan penggunaannya untuk berwisata. Kunjungan usaha Kunjungan wisata adalah perjalanan mengunjungi Indonesia untuk berlibur. Keputusan Menteri Kehakiman tersebut mengatur pelaksanaan teknis bebas visa. Hal ini dimannfaatkan oleh warga negara asing untuk menyalahgunakan izin keimigrasian. USU Repository © 2009 . Ruang lingkup fasilitas bebas visa Menurut Keputusan Menteri Kehakiman No. 48 1.01-12. M.02 tahun 1993 tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS). 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Penyalahgunaan tersebut bisa terjadi karena faktor-faktor ruang lingkup fasilitas bebas visa yang dinilai terlalu luas. tetapi kenyataannya ada juga wisatawan yang menyalahgunakannya untuk keperluan lain sebagai sampingan bahkan ada juga wisatawan yang sama sekali tidak berwisata. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Kantor Imigrasi Polonia Medan. Kunjungan wisata b. dan pemberian tenggang waktu pada izin kunjungan wisata yang terlalu lama atau karena faktor petugas imigrasi sendiri.01. yang meliputi: a.61 wisata akan mendapat izin kunjungan wisata sesuai dengan izin masuk baik dengan visa atau bebas visa. Kunjungan sosial budaya 48 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim. menikmati objek-objek wisata dan lain-lain. Kunjungan sosial budaya c. 2007.

masih saja ditemukan penyalahgunaan oleh warga negara asing (WNA) yang melakukan perjalanan wisata atau yang biasa disebut wisatawan asing. dkk). yang merupakan fasilitas untk kunjungan khusus wisata. tujuan pemberian fasilitas Bebas Visa Wisata (BVW) sudah diatur secara tegas. M. Hal ini yang mendasari diterbitkan Keputusan Menteri Kehakiman No. 50 Oleh karena itu. cit. Keputusan Menteri ini bertujuan memperjelas kepastian dan batasan fasilitas bebas visa. Kantor Imigrasi Polonia Medan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 49 Keputusan Menteri Kehakiman ini merupakan suatu kebijaksanaan pemerintah yang memperluas pemberian fasilitas bebas visa jika dibandingkan dengan ketentuan yang diatur dalam Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. sedangkan kunjungan usaha adalah kunjungan dalam rangaka membina hubungan bisnis. 9 51 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim. melakukan penelitian dan kunjungan yang bersifat sosial budaya.62 adalah kunjungan dalam rangak mengunjungi family. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007.01-12. cit. 51 Hasil penelitian Timi Evaluasi dan Analisa dari Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) yang dilakukan sejak tahun 1992-1993 disejumlah daerah 49 50 Lukman Bratamidjaja. hal.02 tahun 1983 tentang Pelaksanaan Pembebasan Keharusan memiliki visa bagi wisatawan asing.01. misalnya bekerja atau berusaha atau bahkan ada yang mengedarkan ganja atau narkotika. Namun.01-12. Op. USU Repository © 2009 . 25 Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. pembicaraan bisnis dan penjajakan memperluas usaha bisnis di Indonesia.02 tahun 1983 tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS). M.01. hal. Op.

01-12. 1. 2007. 26 tahun 1970 tentang Koordinasi Pengawasan Orang Asing yang Berkunjung ke Indonesia SKB Menteri Luar Negeri dan Menteri Kehakiman tentang Peraturan Visa Keputusan Menteri Kehakiman Bebas Visa Wisata (BVW) tentang Tahun 1970 Tenggang Waktu 7 (tujuh) hari 1979 30 (tiga puluh) hari + 15 (lima belas) hari 60 (enam puluh ) hari atau 2 (dua) bulan 60 (enam puluh) hari atau 2 (dua) bulan 1983 Keputusan Kehakiman tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS) 1993 Sumber: Hasil Investarisasi Peraturan Perundang-undangan Bebas Visa Wisata Tahun 1970-1993 I Wayan Tangun Susila. kegagalan ini telah dimanfaatkan orang asing sebagai salah satu cara masuknya imigran gelap ke Indonesia. “Usaha Penaggulangan Tindak Pidana Imigrasi dan Imigrasi Gelap di Kota Madya Denpasar”. menyebutkan adanya pelanggaran terhadap pemberian fasilitas Bebas Visa Wisata (BVW) yang telah diatur dalam Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. Masa Tenggang Waktu Pemebrian Fasilitas Bebas Visa Bentuk Peraturan PP No. Kemudian.02 tahun 1983. Tenggang waktu fasilitas bebas visa Sebagaimana telah diketahui mengenai tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa untuk wisata telah beberapa kali diatur. setelah ruang lingkup fasilitas bebas visa dalam BVKS diperluas tetap saja ditemukan pelanggaran yang sama. 1993. hal. dkk.01. USU Repository © 2009 52 . 23 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. yaitu dalam: Tabel. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Olah karena itu. 52 2. Laporan Penelitian. Denpasar. Universitas Udayana dan PDII LIPI (Jakarta). M.63 wisata di Indonesia mengenai Pengaturan Fasilitas Bebas Visa Wisata (BVW) bagi orang asing yang berkunjung ke Indonesia.

S. 16-17 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Pedoman Penggunaan Tenaga Kerja Asing di Indonesia dan Peraturanperaturannya. yaitu mempunyai Izin Tinggal Terbatas dan memiliki Izin Kerja yang diberikan oleh Menteri Tenaga Kerja. Alasan-alasan yang dikemukakan adalah: H. 6-8. Sinar Grafika. Sjarif. 2007. 53 Berdasarkan hasil penelitian oleh Tim Evaluasi dan Analisa terhadap responden yaitu para wisatawan asing tentang waktu pemberian fasilitas bebas visa adalah sebagai berikut: 54 1. cit. Op. Hal ini dikarenakanjarang sekali wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia selama 2 (dua) bulan untuk berwisata saja. 54 Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. Tenggang waktu wisatawan di Indonesia selama 2 (dua) bulan merupakan pendapatan bagi pengelola wisata. USU Repository © 2009 53 . seperti disalahgunakan untuk bekerja. hal.64 Perkembangan tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa bagi wisatawan dimaksudkan untuk mendukung pertumbuhan kepariwisataan dan meningkatkan arus wisatawan. Sedangkan bagi orang asing yang akan bekerja di Indonesia sudah ad pengaturannya. Tetapi tenggang waktu 2 (dua) bulan ini dirasakan terlalu panjang atau lam. hal. Tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa untuk wisata yang paling ideal adalah 1 (satu) bulan dan dapat diperpanjang selama 30 (tiga puluh) hari. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Lamanya jangka waktu ini ternyata dapat memberikan peluang bagi wisatawan asing untuk melakukan pelanggaran dengan berbagai motivasi. dkk). 1996. Jakarta.

2. meskipun ataruan tentang keimigrasian telah baik. C. Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa lama masa kunjungan wisatawan asing ke Indonesia rata-rata antara 3 (tiga) sampai 4 (empat) minggu saja. c.65 a. d. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). c. Terlalu lama. 2007. d. Jarang sekali wisatawan asing yang berwisata sampai 3 (tiga) bulan. Pemberian fasilitas bebas visa selam 1 (satu) bulan dirasakan masih kurang bagi sebagian besar wisatawan asing. Tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa selama2 (dua) bulan apalagi 3 (tiga) bulan dipandang tidak ideal. Terutama para petugas yang bertugas di Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. b. sebab: a. harus didukung oleh mental petugas yang baik pula. sebab objek wisata di Indonesia sangat banyak dan menarik. Pemasukan devisa dapat memenuhi target yang diharapakan. Pengawasan terhadap orang asing bisa terkendali. Petugas Imigrasi Peranan petugas imigrasi dalam hal pengawasan sangat besar. Bisa disalahgunakan untuk tujuan lain selain berwisata. Pengawasan terhadap orang asing memerlukan perhatian yang lebih seksama. b. Tidak dapat dipungkiri.

cit. kemudian saat orang asing tersebut mendarat di wilayah Republik Indonesia harus juga diperiksa dan ketika orang asing tersebut berada tinggal di Indonesia. hal. apabila mereka bertindak masa bodoh. Mekanisme pengawasan tersebut adalah sebagai berikut: 56 1. 55 56 I Wayan Tangun Susila. 2. dkk. wawancara/ilicting untuk mencari mengetahui kebenaran materil terhadap keberadaan orang asing yang berkunjung. Hal ini bertujuan untuk mengetahui secara dini setiap peristiwa yang dapat diduga mengandung unsureunsur pelanggaran keimigrasian. maka orang asing tersebut akan leluasa berkeliaran di Indonesia. hal. USU Repository © 2009 . yaitu dilakukan mulai pada saat orang asing mengurus izin masuk ke Indonesia di luar negeri. sebaiknya memiliki satu sistem database diseluruh Indonesia yang dapat diakses oleh semua petugas imigrasi dimanapun berada. Op. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 21 Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. Op. dan diadakan peninjauan ke lokasi. cit. yaitu secara administrarif tentang perizinannya. Tekhnik pengawasan. khususnya yang menggunakan fasilitas bebas visa untuk wisata menunjukkan perlu adanya pemantauan kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Tahap pengawasan. System pelaporan. 3. 25-30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. dkk). dan juga membuat daftar terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh orang aing yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi penindakan imigrasi. 2007. 55 Hasil pengawasan terhadap orang asing yang berkunjung.66 pintu-pintu masuknya orang asing ke Indonesia.

hal. sepanjang yang menyangkut masalah: 57 a. maka Menteri Kehakiman sebagai yang bertanggung jawab dalam pengawasan orang asing dan dalam dalam hal ini lebih dititik beratkan kepad imigrasi. 19-30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. maka harus melakukan koordinasi dengan instansi pemerintah lainnya. Departemen Kehakiman c. USU Repository © 2009 . Tourist. Departemen KEhakiman bekerja sama dengan: 1) Departemen Pariwisata. Tenaga kerja.67 4. Pos dan Telekomunikasi 2) Departemen Luar Negeri 3) Departemen Dalam Negeri 4) Polri c. karena dari segi kauntitas petugas imigrasi sangat kurang untuk mengawasi keadaan setiap oarng asing dalam segala kegiatan mereka di Indonesia. Artis Asing. Departemen Kehakiman bekerja sama dengan: 1) Departemen Pariwisata. 2007. q Direktorat Jenderal Imigrasi melakukan kerja sama dengan: 1) Departemen Tenaga Kerja 2) Departemen Luar Negeri 3) Badan Koordinasi Penanaman Modal 4) Polri 5) Pemda dan Departemen Tekhnis b. Pos dan Telekomunikasi 2) BAKIN (BIN) 57 Ibid. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Koordinasi dengan instansi terkait.

68 3) Departemen Luar Negeri 4) Departemen Tenaga Kerja 5) Polri 6) Pemda/Departemen Luar Negeri d. namun dalam pelaksanaannya masih saja terdapar orang asing yang melakukan pelanggaran atau penyalahgunaan. Masalah khusus. Departemen Kehakiman melakukan koordinasi dengan: 1) BAKN 2) BIN 3) Polri 4) Kejaksaan Agung 5) Departemen Tenaga Kerja 6) Pemda Meskipun pengawasan terhadap orang asing yang berkunjung ke Indonesia sudah diatur dan mekanismenya sudah sedemikian rupa. Departemen Kehakiman bekerja sama dengan: 1) Departemen Perhubungan 2) Departemen Luar Negeri 3) Departemen Pertanian 4) TNI Angkatan Laut e. misalnya mengenai Cletering house mengenai masalah izin masuk warga RRC dan lain-lain. Awak Kapal. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Hal ini terjadi karena pengawasan yang kurang efektif dari Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 .

Satu diantaranya adalah penyalahgunaan izin masuk ke Indonesia yaitu izin kunjungan wisata yang pada dasarnya telah melanggar ketentuan Undang-undang keimigrasian. sangata penting koordinasi dengan instansi lain. 2007. 58 Usaha penanggulangan terjadinya pelanggaran ketentuan keimigrasian dibedakan atas dua upuya. Upaya preventif Terjadinya tindak pidana keimigrasian tidak terlepas dari masalah pengawasan orang asing.69 Petugas Imigrasi yang terbatas. 28 Ibid. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Op. hal. yaitu: 1. cit. 59 58 59 I Wayan Tangun Susila. C. Karena salah satu faktor penyebab terjadinya penyalahgunaan izin keimigrasian adalah kurangnya koordinasi petugas keimigrasian dengan instansi lain. hal. Pengawasan yang kurang terhadap orang asing yang masuk ke Indonesia dapat menimbulkan tindakan yang mengarah kepada kejahatan maupun pelanggaran. 28 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Upaya Penanggulangan Tindak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Penanggulangan adalah cara mengatasi terjadinya sesuatu tindak pidana keimigrasian. Karena itu. dkk. USU Repository © 2009 .

70

Dalam bagian Penjelasan Umum UU no. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian ditegaskan bahwa terhadap orang asing, pelayanan, dan pengawasan di bidang keimigrasian dilakukan dengan prinsip yang bersifat “selektif” (selective policy) . 60 berdasarkan prinsip ini, hanya orang asing yang diizinkan masuk ke Indonesia adalah orang asing yang memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat, bangsa dan negara Republik Indonesia serta tidak membahayakan keamanan dan ketertiban, juga tidak bermusuhan baik terhadp rakyat, maupun terhadp negra Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Dengan demikian orang asing yang ingin masuk dan menetap di wilayah Indonesia harus dipertimbangkan dari berbagai segi, baik dari segi politik, ekonomi maupun sosial budaya bangsa dan negara Indonesia. Sikap dan cara pandang seperti ini merupakan hal yang wajar, terutama bila dikaitkan dengan pembangunan nasional, kemajuan ilmu dan teknologi, perkembangan kerja sama regional meupun internasional, dan meningkatnya arus orang asing yang masuk dan keluar wilayah Indonesia. Untuk menjamin kemanfaatan orang asing tersebut dan dalam rangka menunjang tetap terpeliharanya stabilitas dan kepentingannasioanl, kedaulatan negara, keamanan dan ketertiban umum serta kewaspadaan terhadap dampak negatif yang timbul akibat perlintasan orang antar negara, keberadaan dan

Arief Rahman Kunjono, “Illegal Migrants dan Sisitem Keimigrasian Indonesia: suatu tinjauan Analisis”, Pintu Gerbang No. 44, Direktorat Jendral Imigrasi, Jakarta, 2002, hal. 27
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

60

71

kegiatan orang asing di wilayah Indonesia, dipandang perlu melakukan pengawasan bagi orang asing dan tindakan keimigrasian keimigrasian secara tepat, cepat, teliti dan terkoordinir tanpa mengabaikan keterbukaan dalam memberikan pelayanan orang asing. Makna dari pengawasan mempunyai pengertian yang luas dan mengandung pengertian yang positif. Pengawasan berarti juga mengadakan pengendalian serta bimbingan penyuluhan yang ditujukan untuk mengadakan perbaikan yang diikuti dengan pemecahannya. 61 Dapat dikatakan, proses pengamatan dan penghayatan seluruh kegiatan dilakukan sesuai dengan peraturan-peraturan, instruksi, dan kebijaksanaanyang berlaku. Di dalam pengawasan yang penting adalah mengetahui apakah dalam pelaksanaan tugas-tugas terjadi penyimpangan atau kesalahan. Hal ini secara preventif agar dilaksanakan sedini mungkin supaya tidak terjadi adanya pelanggaran-pelanggaran yang bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku. Sistem pengawasan keimigrasian adalah suatu sistem pengawasan terhadp orang asing, sisitam itu meliputi pengamatan dan pemeriksaan segala kegiatannya mulai dari rencan dan beradanya orang asing di Indonesia sampai dengan meninggalkan Indonesia (the equality of service and security.) 62 Hal ini ditegaskan Pasal 38 ayat (1), Undang-undang No. 9 tahun 1992, yaitu: 63 (1) Pengawasan terhadap orang asing di Indonesia meliputi:

61 62

I Wayan Tangun Susila, dkk, Loc, cit. Arief Rahman Kunjono, Loc, cit. 63 Lihat pasal 38 ayat (1) Undang-undang RI no. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian.
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

72

a. Masuk dan keluarnya orang asing ke dan dari wilayah Indonesia b. Keberadaan serta kegiatan orang asing di wilayah Indonesia. Perihal pengawasan orang asing diatur dalam Undang-undang no. 9 tahun 1992, seperti pada Bab VI tentang pengawasan terhadap orang asing dan tindakan keimigrasian. Pelaksanaan pengawasan terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia dilakukan oleh Menteri Kehakiman dan HAM dengan koordinasi bersama badan dan instansi yang terkait (Pasal 41 UU No. 9 tahun 1992). Dalam hal ini diadakan pemantapan mekanisme koordinasi dan operasi antara instansi yang terkait dalam rangka pengawasan orang asing, instansiinstansi tersebut akan melakukan tugas dan wewenangnya masing-masing sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Koordinasi dimaksudkan untuk memaksimalkan daya guna dan hasil guna pengawasan terhadap orang asing. Tujuan pengawasan tersebut untuk mewujudkan prinsip selective policy yang dipandang perlu dalam mengawasi orang asing. 64 Untuk kelancaran dan ketertiban dalam mengawasi orang asing, pemerintah telah menyelenggarakan pendaftaran orang asing yang berada di wilayah Indonesia sehingga dapat dihimpun data mengenai orang asing. Seperti disebutkan, Direktorat Jendral Imigrasi Departemen Kehakiman dan HAM

64

Koerniatmanto Soetoprawiro, Op. cit, hal. 90-91

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

Direktorat Jenderal Imigrasi. Berada di wilayah negara Republik Indonesia. Jakarta. “Imigrasi Daftar Ulang Warga Negara Asing”. perubahan status sipil dan kewarganegaraan. 200. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. 9 tahun 1992 berlaku dan akan dilakukan setiap lima tahun sekaliberdasarkan peraturan keimigrasian yang berlaku. 3. Masuk atau keluar wilayah negara Republik Indonesia. Pada pasal 39 Undang-undang no. b. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 65 . Pengumpulan data dengan cara pengawasan orang asing ini dilaksanakan bagi setiap orang asing yang: 1. 65 Pendaftaran ulang pada tahun 2001 lalu adalah untuk pertama kalinya sejak Undang-undang no. 42. 9 tahun 1992 disebutkan bahwa dalam menyelenggarakan pendaftaran orang asing yang ada di Indonesia berkewajiban untuk: 66 a. 2.73 Republik Indonesia mengadakn pendaftaran ulang warga negara assign secara serentak di seluruh wilayah RI sejak tanggal 10 Agustus-31 Oktober 2001. Mendaftarkan diri jika berada di Indonesia lebih dari Sembilan puluh hari. c. Melakukan kegiatan di wilayah negara Republik Indonesia. 13 66 Lihat pasal 39 Undang-undang no. Memberikan segala keterangan yang perlu mengenai identitas diri dan /atau keluarganya. Pintu Gerbang No. hal. serta perubahan alamatnya. Memperlihatkan Surat Perjalanan atau dokumen keimigrasian yang dimilikinya pada waktu diperlukan dalam angka pengawasan.

2 Pengawasan orang asing ketika berada di wilayah negara RI Pada saat orang asing sedang menuju atau sudah di pelabuhan pendaratan. cit. serta memuttuskan apakah dapat diberikan atau tidak berdasarkan pertimbangan kepentingan Ipoleksosbudhankamnas. Jakarta. Oleh karena itu sebaliknya setiap atase atau KBRI dsetiap negara terdapat aparatur imigrasi yang bertugas disana. dkk. 67 Pengawasan terhadap orang asing sebelum memasuki Indonesia dilakukan oleh para atase imigrasi pada setiap perwakilan Indonesia di luar negeri pada saat orang asing bersangkutan mengajukan permohonan unutk mendapatkan visa. Setiap orang asing yang akan datang atau masuk ke wilayah Indonesia haruslah memiliki visa yang merupakan izin masuk ke Indonesia. “Langkah-langkah Baru Menunjang Peningkatan Profesionalisme Keimigrasian”. 2007. 1 Pengawasan orang asing yang masuk atau keluar wilayah RI Pengawasan orang asing sebelum memasuki wilayah Indonesia berhubungan dengan konsulat atau kedutaan RI khusus atas imigrasi untuk melayani dan meneliti secara selektif setiap permohonan visa ke Indonesi. diadakan pengawasan yang dilakukan 67 68 I Wayan Tangun Susila. baik Bandar udara maupun pelabuhan laut. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 68 Tahap akhir pengawasan adalah saat meninggalkan Indonesia. USU Repository © 2009 .74 1. 69 1. Op. Hal itu bertujuan untuk mencegah orang asing tersebut meninggalkan Indonesia karena mereka telah menimbulkan suatu permasalahan selama berada di Indonesia. 45. 31 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2002. hal. Direktorat Jenderal Imigrasi. 21 69 I Wayan Tangun Susila. Pintu Gerbang No. cit. Op. hal. 29 Saleh Wiramiharja. dkk. hal.

yaitu: 70 a. 30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. yaitu pengawasan untuk mencegah masuknya orang-orang assign yang akan menimbulkan permasalahn setelah berada di Indonesia. 1. Dari segi Ipoleksosbudhankamnas. yaitu mengawasi apakah orang asing tersebut melakukan kegiatan. yaitu mengawasi apakah kegiatan yang dilakukan oleh orang asing tersebut menimbulkan benturan-benturan yang mengganggu kepentingan ketahanan dan keamanan nasional atau tiadak. baik yang mendarat melalui udara maupun laut. hal. Dengan kegiatan diatas.75 ileh petugas imigrasi. USU Repository © 2009 . jelaslah apa yang dimaksud dengan tindakan preventif ini. 3 Pengawasan orang asing yang melakukan kegiatan di wilayah RI Pengawasan yang dimaksudkan disini merupakan tindak lanjut dari pengawasan setelah orang asing mendapatkan izin tinggal di Indonesia. dan apakah lamanya tinggal sesuai dengan izin keimigrasian yang diberikan kepadanya. 2007. b. yaitu tindakan yang dilakukan dalam usaha untuk mencegah atau menjaga kemungkinan terjadinya tindak pidana imigrasi dalam hal ini yaitu tindak 70 Ibid. Dari segi keimigrasian. Pengawasan terhadap orang asing yang telah mendapatkan izin masuk di Indonesia dapat dilihat dari dua segi. Fungsi pengawasan ini sama juga dengan pengawasan sewaktu hendak mengajukan permohonan mendapatkan visa. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

Upaya Represif Menurut Soedarto yang dimaksud dengan tindakan represif adalah segala tindakan yang dilakukan aparatur penegak hukum sesudah terjadi kejahatan atau tindak pidana. 4. Beberapa usaha preventif sehubungan dengan hal tersebut antara lain sebagai berikut: 71 1. losmen atau tempat kediaman teman. 2. 3.76 pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. motel. Setiap pelabuhan pendaratan memilki contoh-contoh tanda tangan dari pejabat konsuler pada perwakilan Republik Indonesia di luar negeri. hal. 31-32 Soedarto. Kapita Selekta Hukum Pidana. 2007. 2. 1984. yang berwenang menandatangani visa. 72 Dalam kaitannya dengan penggulangan terhadap orang asing yang menyalagunakan izin keimigrasian dilakukan sesudah terjadinya atau terbukti 71 72 Ibid. USU Repository © 2009 . Bandung. hal. Pejabat pendaftaran dibekali pengetahuan tentang kerahasian/ciri-ciri khusus dari paspor-paspor negara lain dan dilengkapi dengan alat sinar ultraviolet dan kaca pembesar maupun dengan teknologi modern. Alumni. Meneliti setiap orang asing atau wisatawan yang hendak masuk lewat wawancara singkat di setiap tempat pemeriksaan imigrasi. 110 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. baik hotel. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Melakukan pengecekan data yang diperoleh dari tempat-tempat wisatawan menginap.

Tindakan yuridis Dalam pasal 50 undang-undang no. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).(dua puluh lima juta rupiah). 9 tahun 1992 tenang keimgrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2.77 adanya penyalahgunaan izn keimigrasian.000. yaitu: (1) Tindakan keimigrasian dilakukan terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia yang melakukan kegiatan yang berbahaya dan patut akan diduga berbahaya bagi keamanan dan ketertiban umum.. 2. 2007.000.” Jadi tindakan yuridis adalah orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan maksud pemberian izin keimigrasian dan harus dibuktikan di pengadilan oleh hakim dan kemudian dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. USU Repository © 2009 . Tindakan ini bisa bersifat yuridis. 9 tahun 1992 yang mengatur mengenai tindakan keimigrasian terhadap orang asing di wilayah Indonesia. Tindakan administrative Menurut pasal 42 Undang-undang no. 25. 9 tahun 1992 disebutkan: 73 “orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan pemberian izin keimigrasin yang diberikan kepadanya dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. atau tidak menghormati atau menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. 1. 2. dan bisa juga bersifat administrasi. (2) Tindakan keimigrasian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa: 73 Lihat pasal 50 Undang-undang no.

pengusiran (deportasi) dan memasukkan orang asing yang terlibat ke dalam daftar pencegahan dan penangkalan atau cekal (black list). 2007. Pengusiran atau deportasi dari wilayah Indonesia atau penolakan masuk ke wilayah Indonesia. Pemidanaan Fungsi pemidanaan adalah sebagai penjeraan. begitu juga tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian yang diberikan kepadanya. Larangan untuk berada di suatu atau beberapa tempat tertentu di wilyah Indonesia c. Pembatasan.000. Keharusan untuk bertempat tinggal disuatu tempat tertentu di wilayah Indonesia d. perubahan atau pembatalan izin keberadaan b. a. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang 74 Lihat Pasal 10 RUU Keimigrasian. RUU keimigrasian yang berbunyi: 74 “Dipidana dengan pidana paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp.000.78 a. pada RUU keimigrasian terdapat perubahn dalam hal ancaman sanksi pidana.(dua puluh lima juta rupiah). 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 25. yaitu diatur pada pasal 110. Berdasarkan uraian diatas tindakan-tindakan represif yang dapat diambil adalah pemidanaan. USU Repository © 2009 . Dengan demikian penyalahgunaan izin keimigrasian dapat dilakukan dengan 4 (empat) alternative seperti disebutkan diatas dengan alasan bahwa orang asing yang bersangkutan tidak mengindahkan peraturan yang mengatur keberadaan orang asing di wilayah Republik Indonesia..

2007. Pengusiran Pengusiran atau deportasi (deportation) adalah suatu tindakan sepihak dari pemerintah berupa tindakan mengeluarkan orang asing dari wilayah Republik Indonesia karena berbahaya bagi ketentraman. Menurut Sri Setianingsih bahwa: 75 “Deportasi adalah pengusiran orang asing keluar wilayah Indonesia (keluar wilayah suatu negara) dengan alasan bahwa orang asing tersebut wilayahnya tidak dikendaki oleh negara yang bersangkutan. Selain itu.” c. 9 tahun 1992. Di dalam keimigrasian daftar ini disebut “daftar pencegahan dan 75 76 I Wayan Tangun Susila. Black list (daftar cekal) Black list adalah istilah yang dipakai dalam bahasa sehari-hari untuk menggantikan daftar orang-orang yang tidak diperbolehkan meninggalkan Indonesia dan orang-orang yang tidak diperbolehkan memasuki wilayah Indonesia. atau kesejahteraan umum. Jadi tidak ada sangkut pautnya dengan negara asal atau negara dari mana dia semula datang. USU Repository © 2009 . bahwa: 76 “Hak suatu negara untuk mengusir orang asing yang berada di negaranya dikenal dengan pengusiran atau deportasi explution.” Sedangkan menurut I Wayan Parthiana. hal. Op. pengusiran tersebut semata-mata berdasarkan kepentingan negara itu sendiri.” b. dkk. cit. bagi orang asing yang masuk serta berada di wilayah Republik Indonesia dapat juga diusir. 37 Ibid Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). khususnya pada ayat (2) point d. kesusilaan.79 bertentangan dengan maksud dan tujuan pemberian izin tinggal yang diberikan kepadanya. Ketentuan mengenai deportasi ini dapat dilihat pada pasal 42 Undang-undang no.

agama dan adat kebiasaan masyarakat Indonesia. e. 9 tahun 1992. Di dalam pasal 1 angka 13 dan 14 Undang-undang no. d. USU Repository © 2009 . Pada saat berada di negaranya sendiri atau di negara lain bersikap bermusuhan terhadap pemerintah Indonesia atau melakukan perbuatan yang mencemarkan nama baik bangsa dan negara Indonesia. 9 tahun 1992. Diketahui atau diduga terlibat dengan kegitan sindikasi kejahatan internasional. dan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).” “Penangkalan adalah larangan yang bersifat sementara terhadap orangorang tertentu untuk masuk ke wilayah Indonesia berdasarkan alasan tertentu. penangkalan terhadap orang asing dilakukan karena: a.80 penangkalan”. disebutkan pengertian dari: “Pencegahan adalah larangan yang bersifat sementara terhadap orangorang tertentu untuk keluar dari wilayah Indonesia berdasarlan alasan tertentu. b. Diduga melakukan perbuatan yang bertentangan dengan keamanan dan ketertiban umum. orang asing yang berusaha menghindarkan diri dari ancaman dan pelaksanaan hukuman di suatu negara tersebut karana melakukan kejahatan yang juga diancam pidana menurut hukum yang berlaku di Indonesia. kesusilaan.” Berdasarkan pasal 17 Undang-undang no. Atas permintaan suatu negara. c. Pernah diusir atau dideportasi dari wilayah Indonesia.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). sosial budaya. 2007. Identitas orang yang terkena pencegahan b. Alasan pencegahan c. ekonomi. (2) Keputusan sebagaimana didalam ayat (1) memuat sekurang-kurangnya: a. keimigrasian. pidana.81 f. Sedangkan penangkalan ditujukan hanya kepada orang asing yang hendak masuk ke wilayah Indonesia. orang asing mana pernah terlibat masalah-masalah sebagaimana disebutkan diatas. Alasan-alasanlain yang berkaitan dengan keimigrasian yang diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. dan 14 Undang-undang no. baik masalah politik. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Jangka waktu pencegahan (3) Keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan dengan surat tercatat kepada orang-orang yang terkena pencegahan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal penetapan. Dari uraian di atas dapat ditegaskan bahwa pencegahan ditujukan kepada orang asing yang masih memiliki masalah di Indonesia. 12. USU Repository © 2009 . 13. Mengenai pencegahan orang asing untuk memasuki wilayah RI diatur di dalam pasal 11. 9 tahun 1992. pertahanan dan keamanan. Di dalam pasal disebutkan bahwa: (1) Pencegahan ditetapkan dengan keputusan tertulis. perdata dan lain sebagainya yang dapat mengganggu dan mengancam stabilitas nasional.

penyidikan.82 D. Setiap aparat dan aparatur terkait mencakup pula pihak-pihak yang bersangkutan dengan tugas atau perannya yaitu terkait dengan kegiatan pelaporan atau pengaduan. aparatur penegak hukum yang terlibat tegaknya hukum itu. yaitu: (1) Institusi penegak hukum beserta berbagai prangkat sarana dan prasarana pendukung dan mekanisme kerja kelembagaannya. Peranan Aparatur Penegak Hukum dalam Menanggulangi Tindak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Aparatur penegak hukummencakup pengertian mengenai institusi penegak hukum dan aparat (orangnya) penegak hukum. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Dalam arti sempit. penjatuhan. Upaya penegakan hukum yang sistematik haruslah memperhatikan ketiga aspek itu secara simultan.vonis dan pemberian sanksi. (2) Budaya kerja yang terkait dengan aparatnya. 2007. USU Repository © 2009 . dimulai dari saksi. pembuktian. hakim dan petugas-petugas sipir permastarakatan. penuntutan. sehingga proses penegakan hukum dan keadilan itu sendiri secara internal dapat terwujud secara nyata. penyelidikan. baik hukum materilnya maupun hukum acaranya. jaksa. terdapat 3 (tiga) elemen penting yang mempengaruhi. penasehat hukum. serta upaya permasyarakatan kembali (resosialisasi) terpidana. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). termasuk mengenai kesejahteraan aparatnya. Dalam proses bekerjanya aparatur penegak hukum itu. dan (3) Perangkat peraturan yang mendukung baik kinerja kelembagaannya maupun yang mengatur materi hukum yang dijadikan standar kerja. polisi.

: F4-IL. tetapi selama mereka berada di Wilayah Indonesia termasuk kegiatankegiatannya.83 1. pelayanan dan pengawasandi bidang keimigrasiandilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip yang bersifat selektif (selective policy). 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Pengawasan keimigrasian Sesuai dengan undang-undang no.1044” tentang Keradaan dan Kegiatan Orang Asing Di Indonesia. keimigrasian keimigrasian. bangsa dan Negara Indonesia serta tidak membahayakan keamanan. 2. Pengawasan ini tidak hanya pada saat mereka masuk. USU Repository © 2009 77 . maka pelaksanaan pengawasan orang asing perlu diberikan prioritas utama. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 77 Dalam mewujudkan kebijaksanaan dimaksud serta mengantisipasi era globalisasi dan informasi yang semakin meningkat selaras dengan peningkatan arus lalu lintas orang asing. hal. 01. Pengawasan orang asing dimulai dari pemantauan Pengawasan baik yang Keimigrasian bersifat mencakup penegakan tindak hukum pidana administratif maupun Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian. Berdasarkan prinsip ini hanya orang asing yang dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat. ketertiban serta bermusuhan baik terhadap rakyat maupun Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 yang diizinkan masuk atau keluar wilayah Indonesia. Dalam rangka mewujudkan prinsip “selective policy” diperlukan pengawasan terhadap orang asing. 2007. “Petunjuk Pemantauan Operasional Keimigrasian No. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. 10-1. 1999.

3) Mengumpulkan bahan keterangan tetnang suatu peristiwa terjadinnya pelanggaran keimgrasian. waktu serta dana. hal. 80 Unutk mengetahui setiap peristiwa yan diduga 78 79 Ibid. Op. Amarja Press. 55 80 Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian. 2 Ibnu Suud. Operasi adalah suaru kegiatan suatu objek tertentu terhadap yang dibatasi oleh tempat.84 terhadap keberadaan dan kegiatannya serta operasi-operasi baik operasi khusus maupun rutin. 2005. cit. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 78 a. Pemantauan keimigrasian dan operasional keimigrasian Pemantauan merupakan salah saru cara atau kegiatan/upaya yang dilakukan untuk mengetahui secara dini setiap peristiwa yang diduga mengandung unsur-unsur pelanggaran/kejahatan. Keberhasilan pengawasan orang asing sangat tergantung kepada berhasil tidaknya pelaksanaan pemantauan dilapangan. “Manajemen Keimigrasian”. hal. pengumpulan dan penilaian bahan keterangan dari tempat-tempat pemeriksaan keimigrsian. hal. 2007. Pemantauan keimigrasian dapat berupa: 79 1) Memantau terhadap setiap peristiwa yang dapat diduga dan atau mengandung unsur-unsur terjadinya pelanggaran keimigrasian seperti penyalahgunaan izin tinggal sesuai visa yang bersangkutan. 2) Menginventarisir bahan keterangan berdasarkan modus operandi terjadinya pelanggaran keimigrasian serta pembinaan teknis tempat-tempat pemeriksaan keimigrasian. USU Repository © 2009 . abaik mengenai keberadaan maupun kegiatan orang asing.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan cermat. 3 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.85 mengandung unsur pelanggaran/kejahatan terhadap ketentuan yang berlaku dibidangkeimigrasian. sangat ditenteukan oleh kwalitas dan kwantitas pelaksanaan dalam menghadapi jenis dan macam pelanggaran kejahatan seperi halnya bentuk dan sifat pelanggaran politik ataupun pekerja terselubung. Keberhasilan penyelenggaraan. upaya dalam mencari dan menemukan bahan keterangan perlu perencanaan melalui mekanisme adanya perencanaan yang matang. organisasi serta pengawasan dan koordinasi dengan memperhatikan situasi dan kondisi medan. hal. berhasil guna dan berdaya guna. keberadaan maupun kegiatannya. baik berupa pembangunan phisik maupun non phisik. dapat diperoleh dari setiap bahan keterangan yang mempunyai kaitan dengan perbuatan orang asing baik lalu lintas. Upaya/ cara pemantauan dan operasi keimigrasian dapat berupa: 81 81 Ibid. 2007. Oleh karena itu. dengan memperhatikan hak-hak azasi manusia dan senantiasa disertai dengan dasar hukum dalam artian dilengkapi dengan sudut perintah. Dalam mencari dan menemukan keterangan yang berkaitan dengan peristiwa dimaksud agar diupayakan pelaksanaanya disesuaikan dengan jenis dan macam pelanggaran dalam bidang pembangunan. tepat. USU Repository © 2009 .

sedang dan atau telah terjadi 3) Penyusupan dalam ruang lingkup peristiwa atau golongan kegiatan peristiwa yang akan. sedang atau telah terjadinya unsur pelanggaran. 2007. Orang asing 1) Orang asing pemegang izin singgah 2) Orang asing pemegang izin kunjung  Wisata  Sosial budaya  Usaha/beberapa kali perjalanan 3) Orang asing pemegang izin tinggal terbatas 4) Orang asing pemegang izin tinggal tetap 5) Orang asing tanpa izin keimigrasian 6) Orang asing yang over stay 82 Ibid. 4) Melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang mengetahui atau patut diduga mengetahui terjadinya peristiwa pelanggaran/kejahatan keimigrasian dengan memperhatikan sumber dan nilai keterangan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). hal. Adapun sasaran pemantauan adalah: 82 a. 5 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. benda dan tempat kejadian untuk dapat gambaran yang lebih jelas baik secara keseluruhan atau lebih rinci. USU Repository © 2009 . cermat terhadap surat-surat. 2) Pembuntutan terhadp objek yang kaitan atau hubungan dengan peristiwaperistiwa yang akan.86 1) Pengamatan dengan panca indera secara teliti.

2. hal. 2007. 83 Ibid.87 7) Orang asing imigran gelap 8) Orang asing yang melakukan kegiatan tidak sesuai dengan izin yang diberikan. USU Repository © 2009 . Alat angkut 1) Niaga 2) Non niaga 3) Alat apung c. Melakukan pemerikasaan terhadap orang asing tersebut beserta dokumen yang dimilikinya selanjutnya dilanjutkan dengan pemeriksaan di lapangan. Mendatangi orang/tempat yang telah ditentukan. hostel dan sebagainya 2) Kantor-kantor/perusahaan yang mempekerjakan dan menampung tenaga kerja/orang asing 3) Rumah/asrama tempat orang asing bertempat tinggal Pelaksanaan pemantauan dilakukan baik secara terbuka maupun secara tertutup (undercover) dengan tahapan sebagai berikut:83 1. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). wisma. 3. b. Menindaklanjuti dari hasil pemeriksaan. apabila ditemukan bukti-bukti permulaan atau patut diduga telah terjadi pelanggaran/kejahatan keimigrasian. 6 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Bangunan-bangunan 1) Hotel.

Lingkup tugas ini meliputi: 84 a. Melakukan pemeriksaan terhadap orang asing yang diduga melakukan pelanggaran/kejahatan yang diutangkan dalam berita Acara Pemeriksaan dan Berita Acara Pendapat. polisi atau aparat yang terkait lainnya. 2007. jajaran Direktorat Jenderal Imigrasi harus bekerjasama dan berkoordinasi dengan aparat keamanan lainnya seperti pemerintah daerah.88 4. penyalahgunaan perizinan dan pemberian perizinan keimigrasian serta pengawasan atas imigran gelap. 56 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Imigran gelap Mengawasi masuknya orang asing secara gelap (illegal) ke wilayah Indonesia yagn tidak didukung oleh dokumen resmi yang sah dan masih berlaku. 84 Ibnu Suud. Dan orang asing yang karena peraturan perundang-undangan telah dideportasi keluar Indonesia namun karena sesuatu dan lain hal belum dapat berangkat. hal. b. USU Repository © 2009 . Pengawasan Mendeteksi kemungkinan terjadinya penyalahgunaan perijinan dan pemberian perijinan keimigrasian serta evaluasi dan laporan. Op. Kerjasama pengawasan Untuk mensukseskan tugas pengawasan ini. b. Pengawasan yang tertuju terhadap kemungkinan terjadinya pelanggaran. cit. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Kerjasama ini secara fungsi masing-masing tanpa mengganggu dan mencampuri teknis tugas instansi masing-masing.

2. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. d. 85 Lihat pasal 47 ayat (1) Undang-undang no. Penindakan keimigrasian a. tepat. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian disebutkan: 85 ”selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. USU Repository © 2009 . Pelaksanaan kerjasama pengawasan ini diupayakan tanpa mengurangi tugas. 2007. juga Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Departemen yang lingkup tugas dan tangung jawabnya meliputi pembinaan keimigrasian diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undangundang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.89 c. lengkap terpadu dan aman. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). fungsi dan wewenang masing-masing instansi dan dilakukan dengan cepat . Pengawasan perlintasan Mengawasi lau-lalangnya orang asing maupun warganegara Indonesia yang melintasi tempat (pos) lintas batas dengan tetangga atas kemungkinan terjadinya pelanggaran keimigrasian. Pengawasan orang asing Adanya kerjasama antar instansi terkait dalam pengawasan orang asing di dalam wadah koordinasi pengawasan orang asing (SIPORA). Penyidikan keimigrasian Dalam pasal 47 ayat (1) Undang-undang no. untuk melakukan penyidikan tindak pidana keimigrasian”.

menahan sesorang yang disangka melakukan tindak pidana keimigrasian. Menerima laporan tentang adanya tindak pidana keimigrasian. 87 Lihat pasal 47 ayat (2) Undang-undang No. Dengan demikian disamping menjalankan tugas sebagai aparat pelayanan keimigrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).90 Di dalam Undang-undang no. 9 tahun 1992 diatas. 152. c. hal. 2007. dokumen-dokumen. aparat imigrasi juga bertugas sebagai aparat penegak hukum 86. penyidikan keimigrasian adalah suatu proses penyidikan yang dilakukan oleh Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia juga PPNS imigrasi terhadap setiap orang yang melakukan perbuatan sebagai tindak pidana keimigrasian. “Lintas Sejarah Imigrasi Indonesia”. 2005. Dirjen Imigrasi Hukum dan HAM RI. H dan Abrar Yusra. menggeledah. Memanggil. Surat Perjalanan. menangkap. d. atau benda-benda yang ada hubungannya dengan tindak pidana keimigrasian. Dalam pasal 47 ayat (2) disebutkan: 87 “Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang: a. b. memeriksa. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Memeriksa dan/atau menyita surat-surat. Dengan demikian penyidikan hanya dapat dilakukan oleh kedua pejabat yang telah disebutkan di atas. Ramadhan K. Memanggil orang untuk didengar keterangannya sebagai saksi. USU Repository © 2009 86 .

Pejabat Pegawai Negeri Sipil mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah tangan koordinasi dan pengawasan penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. Surat Perjalanan. dokumen-dokumen. SKep/369/X/1985 yang menyatakan bahwa kooradinasi adalah suatu bentuk hubungan kerja antara penyidik Polri dengan Pegawai Negeri Sipil dalam rangka pelaksanaan penyidikan tindak pidana yang menyangkut bidang tertentu.91 e. Mengadakan rapat-rapat berkala pada waktu-waktu yang dipandang perlu. atau benda-benda lain yang ada hubungannya dengan tindak pidana keimigrasian. SK Markas Besar Kepolisian RI No. Adapun wujud koordinasi dapat berupa: 1. Mengambil sidik jari dan memotret tersangka. 2007. 2. Wewenang ini sudah sesuai dengan ketetuan dari pasal 7 ayat (2) Undangundang no. Pol S. Mengatur dan menerangkan lebih lanjut dalam keputusan instansi bersama. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Melakukan pemeriksaan di tempat-tempat tertentu yagn diduga terdapat suratsurat. 8 tahun 1981 (KUHAP) yang menyebutkan bahwa penyidik sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf b mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah koordinasi dan pengawasan penyidik tersebut dalam pasal 6 ayat (1) huruf a. f. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 .

dan bertugas melakukan identifikasi pengumpulan. adapun wujud pengawasan ini meliputi: 1. 2. 2007. USU Repository © 2009 . Sedangkan yang dimaksud dengan “pengawasan” adalah proses pengamatan pelaksanaan penyidikan yang dilakukan dapat dibenarkan secara materil maupun formal dan berjalan sesuai dengan yang berlaku. Proses penyidikan ini dilakukan sebagai Pro Justisia yang akan segera diajukan ke Pengadilan untuk diadili. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Pengawasan teknis dalam rangka pembinaan dan peningkatan kemampuan penyidik Pegawai Negeri Sipil dan memberikan petunjuk bila terdapat kekurangan-kekurangan untuk disempurnakan.92 3. Keseluruhan ini merupakan penjabaran dari pasal 7 ayat (1) UU No. Menunjuk sesorang atau lebih pejabat dari masing-masing Departemen/instansi yang secara fungsionl dan menangani penyidik Pegawai Negeri Sipil dengan penghubung 4. Pengawasan kegiatan penyidik yang sedang dilakukan oleh penyidik Pegawai Negeri Sipil serta memberikan pengawasan teknis. Menyelenggarakan pendidikan dan latihan penyidik Pegawai Negeri Sipil dengan penekanan dibidang pendidikan. 8 tahun 1981 (KUHAP) dan juga merupakan bantuan yang dapat diberikan oleh penyidik sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf a KUHAP kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil seperti yang diatur oleh pasal 47 UU No. pemilahan. 9 tahun 1992. pengevaluasian tindak pidana pelanggaran dan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

93 kejahatan keimigrasian yang diatur dalam Undang-undang no. akan sangat 88 Ibnu Suud. Menyampaikan hasil pemberkasan kepada Penuntut Umum melalui polisi. Membuat berkas hasil penyelidikan sesuai dengan ketentuan yagn berlaku. cit. b. 57 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. d. Hal ini dikarenakan apabila kasus tersebut diajukan ke pengadilan akan menggunakan upaya hukum mulai dari banding. maka hal harus dilakukan oleh petuga keimigrasin adalah: a. c. koordinasi dengan Lembaga Pemasyarakatan untuk proses pemulangan. 2007. 88 b. Op. USU Repository © 2009 . Tetapi jalan ini jarang sekali ditempuh oleh pihak keimigrasian dalam kasus penyalahgunaan izin keimigrasian. Sanksi hukum terhadap pelaku tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian Sanksi hukum terhadap pelaku tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian dapat dilakukan dengan cara: 1) Pro justitia Apabila kasus terhadap tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian yang ditangani oleh pihak keimigrasian ingin ditempuh dengan cara pro justitia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). hal. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. Bila telah selesai melaksanakan keputusan Pengadilan. Mengikuti perkembangan persidangan. kasasi dan jika perlu grasi yang akan digunakan oleh warga negara asing yang terlibat tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian.

Maka akan lebih efektif apabila dilakukan dengan cara non pro justitia. perubahan atau pembatalan izin keberdaan. USU Repository © 2009 . Kantor Imigrasi Polonia Medan. maka akan lebih efektif apabila dilakukan tindakan keimigrasian.02-PW. 3) Keharusan untuk bertempat tinggal di suatu tempat tertentu di wilayah Indonesia. 2) Larangan untuk berada disuatu atau beberapa tempat tertentu di wilayah Indonesia. Tindakan keimigrasian dilakukan sebagai sanksi administratif terhadap orang asing yang melanggar peraturan keimigrasian dan ketentuan-ketentuan lainnya mengenai orang asing sesuai dengan dimaksud dalam pasal 19 keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor: M. Ditambah lagi orang asing tersebut tidak memiliki uang untuk membayar ongkos biaya perkara. ekonomis.02 tanggal 14 89 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. karena dalam hal ini negara akan mengeluarkan biaya besar untuk menjalani proses pro justitia tersebut. Tindakan Keimigrasian adalah tindakan administratif dibidang keimigrasian yang dilakukan oleh pejabat imigrasi berupa: 1) Pembatasan. 89 2) Non pro justitia Menurut pertimbangan polits. 2007. serta sosial dan budaya serta kemananan.94 merugikan negara. 4) Pengusiran atau deportasi dari wilayah Indonesia atau penolakan masuk ke wilayah Indonesia.09.

yaitu: a. berada dan akan meninggalkan wilayah Indonesia. Pengajuan Keberatan Orang Asing dan Tindakan Keimigrasian. yaitu penanganan suatu kasus dengan cara pendeportasian tidak memakan waktu yagn lama atau berlarut-larut. Ancaman hukuman penjara maksimum Hasil wawancara dengan Kanit Pengawasan Orang Asing (POA) Poltabes Medan Sekitarnya Pada tanggal 9 Agustus 2007 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Masalah kepraktisan. Dalam hal terjadi tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. Hal ini bukan menandakan bahwa kasus tentang penyalahgunaan izin keimigrasian sangat sedikit. USU Repository © 2009 90 . Tindakan Keimigrasian dapat dilakukan terhadap oaring asing pemegang izin Keimigrasian atau tanpa izin keimigrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. maka berdasarkan data yang diperoleh baik dari kantor kepolisian maupun kantor imigrasi sangat sedikit yang ditindaklanjuti secara pro justitia. tetapi karena kedua instansi ini lebih banyak melakukan tindakan keimigrasian yaitu berupa pendeportasian ke negara asal tanpa melalui proses pro justitia walaupun telah ada pengaturannya dalam Undang-undang no. mulai saat masuk. jika dibandingkan dengan pro justitia. 90 Pihak Kepolisian dan Keimigrasian menyebutkan beberapa alasan dan pertimbangan melakukan tindakan keimigrasian yang berupa pendeportasian yang oleh pihak keimigrasian (walupun penangkapan dilakuakn oleh pejabat imigrasi).95 Maret tahun 1995 tentang Tata Cara Pengawasan.

baik dari segi kualitas maupun kwntitas yang sangat kurang. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).96 hanya lima tahun sehingga hukuman akan selesai jika dikurangi dengan masa penahanan. c. 2007. Kantor Imigrasi Polonia Medan. b. Hal ini tentu saja menghambat tugas para pejabat imigrasi atau PPNS dalam penyidikan. maka sanksi hukum yang harus dijalankan adalah dengan cara pro-justitia. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. hal ini dikarenakan tindakan tersebut sudah sangat mengancam keamanan negara serta stabilitas nasional. peredaran narkoba. Tetapi apabila masalah penyalahgunaan izin keimigrasian tersebut menyangkut masalah permpokan bersenjata. USU Repository © 2009 . Masalah anggaran dana yang dialokasikan untuk melakukan tindakan hukum di kantor Imigrasi sangat terbatas. Karena itu yagn dihasilkan tidak sesuai dengan yagn diharapkan. Selain itu jenis hukuman yang diancamkan berupa pidana alternative atau jika didenda belum tentu mereka memiliki uang. Masalah sumber daya manusia khususnya petugas imigrasi. Apabila penanganan masalah ini untuk dilakukan secara pro justitia masih sedikit yang dilengkapi pengetahuan sebagai PPNS. 91 91 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim. terorisme atau perdangan manusia (trafficking).

2493/Pid. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).B/2002/PN. K. 2007.97 BAB IV KASUS DAN ANALISIS KASUS A. Perkara Pidana No. USU Repository © 2009 . Lahir Jenis Kelamin : Dr.Mdn Identitas Terdakwa Pengadilan Negeri Medan yang meemriksa dan mengadili perkara-perkara Pidana Biasa/ Singkat/ Cepat telah menyatakan bahwa terdakwa : 1. Nama Lengkap Tempat Lahir Umur/ Tgl. Mathiya HMBS als Raja : Malaysia : 59 Tahun/ 21 Desember 1943 : Laki-laki Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

bertempat di Jl. RRI Medan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.M. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).5 Komp. Karya Wisata No. Karya Wisata No. Nama Lengkap Tempat Lahir Umur/ Tgl. Kalimutu Kumar Marimutu secara bersama-sama atau bertindak secara sendiri-sendiri pada hari Jumat tanggal 16 Agustus 2002 sekitar pukul 14.98 Kebangsaan Tempat Tinggal Agama Pekerjaan Pendidikan 2. Lahir Jenis Kelamin Kebangsaan Tempat Tinggal Agama Pekerjaan Pendidikan Kasus Posisi : Malaysia : Jl. RRI Medan : Hindu : Dokter Homeopati : Sarjana Bahwa mereka terdakwa I. 2007. Kali Mutu Kumar Marimutu : Kedah Malaysia : 26 Tahun/ 04 Desember 1976 : Laki-laki : Malaysia : Jl.5 Komp.S alias Raja dan terdakwa II. Dr.30 Wib atau setidak-tidaknya pada suatu waktu dalam tahun 2002. Binjai Km 5. Mathiya H. 47 Medan dan di Jl. Dr. 47 Medan : Hindu : Dokter : Sarjana : Dr. K. USU Repository © 2009 .B. Binjai Km 5.

USU Repository © 2009 .000. orang asing yang dengan sengaja menyalahdunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud pemberian izin keimigrasian yang diberikan kepadanya. 30. Karya Wisata No.. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). namun ternyata setelah tiba di Indonesia yaitu kota Medan ternyata terdakwa-terdakwa membuka Klinik Homeopati di Medan dan bekerja selaku Dokter Homeopati pada klinik tersebut di kota Medan. Binjai Km 5. perbuatan mana dilakukan terdakwaterdakwa dengan cara sebagai berikut : Mula-mula terdakwa-terdakwa selaku Warga Negara Malaysia datang berkunjung ke Indonesia melakukan perjalanan kunjungan praktek yaitu terdakwa I dengan Visa Sosial Budaya sedangkan terdakwa II menggunakan Pasport Malaysia dengan Visa Turis selama 2 (dua) bulan. 47 Medan dan di Jl.5 Komp. sedangkan dalam Pasport terdakwaterdakwa menggunakan Visa hanay selama 60 (enam puluh) hari selaku Visa Turis dan Pelancong namun ternyata terdakwa-terdakwa selaku Dokter pada Klinik Homeopati di Jl. RRI Medan telah membuka Klinik Homeopati dengan menerima pasien yang berobat dan rawat inap kliniknya dengan biaya sekali berkunjung antara Rp.. sedangkan terdakwa-terdakwa datang ke Indonesia hanya diperbolehkan untuk wisata namun ternyata terdakwa-terdakwa bekerja maupun mengajar yang sifatnya mencari keuntungan. 2007.(lima puluh ribu rupiah) dimana terdakwa-terdakwa dalam membuka Klinik Homeopati tersebut tidak berubah Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.(tiga puluh ribu rupiah) s/d Rp.99 atau setidak-tidaknya disuatu tempat yang masih termasuk daerah hukum Pengadilan Negeri Medan. 50.000.

Keterangan izin lokasi/ Denah. 2007.000. 3. dan terdakwa-terdakwa dalam memberikan obat-obatan kepada para pasien yang datang berobat ke Klinik Homeopati tersebut tidak memiliki izin untuk memproduksi obat-obatan dan komposisi dari obat-obatan tidak ada dibuatkan dalam labelnya. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). selain itu terdakwa-terdakwa juga telah menerima siswa/ murid sebanyak 20 (dua puluh) orang dengan menerima biaya pendidikan selama 6 (enam) bulan sebesar Rp. Adanya penanggung jawab klinik. Adanya izin/keterangan ketenagakerjaan medis dan Para Medis.000.(tiga juta rupiah rupiah) persiswa. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Keterangan adanya obat-obatan/alat yang dipergunakan. serta Izin-izin lainya yang menyangkut tentang usaha dan Bidang Kesehatan.00 Wib s/d pukul 20.100 Hukum dan tidak memiliki Izin dari Menteri Kesehatan sesuai dengan persyaratan mendirikan Klinik/Balai pengobatan yang harus memiliki. oleh karena terdakwa-terdakwa dalam membuka Klinik Hemeopati tersebut tidak memiliki Badan Hukum dan tidak memiliki izin lalu kemudian terdakwa-terdakwapun ditangkap petugas Kepolisian Poltabes Medan. Sedangkan Izin Rekomendasi dari Dinas Kesehatan Tingkat I Propinsi dan Izin dari Menteri Kesehatan. yaitu : Adanya permohonan yang ditujukan ke Dinas Kesehatan Kota Medan. KTP yang berdomisili di Kota Medan. USU Repository © 2009 .00 Wib. sedangkan waktu kuliah/belajar pada hari kamis san jumat dari pukul 19..

1. 2007. K. Mathiya HMBS dkk. 25. majelis telah menemukan adanya fakta-fakta yuridis sebagai berikut. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Dr.(dua puluh lima juta rupiah) subsider 3 (tiga) bulan kurungan dengan perintah terdakwa tetap ditahan/terdakwa supaya ditahan (jika terdakwa tidak ditahan).101 Dalam surat tuntutannya Jaksa Penuntut Umum menguraikan berbagai tuntutannya sebagai berikut : 1. bersalah melakukan tindak pidana menyalahgunakan izin sebagaimana diatur dalam Pasal 50 UU RI No. 9 Tahun 1992 dalam dakwaan kesatu.000. dengan pidana denda masing-masing Rp. Putusan Perkara Pidana No. Mathiya HMBS dkk.Mdn Hakim Pertama yang mengadili perkara ini dalam putusannya memberikan pertimbangan hukum sebagai berikut : Bahwa dari keterangan saksi-saksi dan terdakwa dihubungkan dengan barang bukti yang diajukan di persidangan. Menyatakan barang bukti berupa obat-obatan dirampas untuk dimusnahkan dan Pasport An.000. Menetapkan supaya terpidana dibebani biaya perkara sebesar Rp. USU Repository © 2009 ..000. 4. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).B/2002/PN. Menyatakan terdakwa Dr. K. 3. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Terdakwa-terdakwa dikembalikan kepada terdakwaterdakwa. 2493/Pid. 2.(seribu rupiah).

USU Repository © 2009 .M.5 Medan atau di Komp. Unsur-unsur Objektif a. sebagai subjek hukum yang dapat dipertanggung jawabkan perbuatannya adalah keterangan terdakwa Dr.Mathiya H. K. K. Barang Siapa Berdasarkan Fakta-fakta dan keterangan para saksi serta keterangan terdakwa sendiri didukung alat bukti yang telah disita. 2007. Kali Mutu Kumar Malimutu dengan sengaja menghimpun dana untuk kesehatan yang diambil dari para mahasiswa yang mengikuti pendidikan Homeopati yang dilakukan di Rumah Sakit Homeopati yang terletak di jalan Binjai Km 5. Menyelenggarakan Kesehatan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Kali Mutu Kumar Marimutu b. c.102 Terdakwa didakwakan Jaksa Penuntut Umum melakukan tindak pidana yang diatur dan diancam dalam pasal 80 ayat (2) UU RI No.M. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian.B.S serta Dr. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 50 UU RI No. Mathiya H. Tentang Kesehatan : 1.B. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Dengan Sengaja Jelas perbuatan yang dilakukan terdakwa-terdakwa Dr. RRI Cabang Medan.S dan Dr.

Orang asing Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.S dan Dr.B.M. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).103 Kedua terdakwa Dr. Mathiya H. dan menerima pasien untuk rawat jalan serta rawat nginap bagi setiap pasien yang berobat kepada terdakwa. Unsur-Unsur Subjektif a. Tidak memiliki Izin operasional Klinik serta Rumah Sakit Homeopati Megawati Sukarno Putri tidak mempunyai izin operasionalnya. 2007. tentang pendirian Klinik Homeopati Megawati Sukarno Putri tersebut b. K. 2. Kalimutu Kumar Marimutu telah melakukan pengobatan secara alternatif dengan cara mendirikan klinik serta Rumah Sakit Homeopati tanpa memiliki izinnya. Unsur-unsur Objektif a. Dibuktikan dengan tidak adanya suratsurat yang sah tentang adanya Klinik serta Rumah Sakit Homeopati Megawati Sukarno Putri tersebut serta Rumah Sakit Keimigrasian : 1. USU Repository © 2009 . Tidak berbentuk badan hukum Klinik serta Rumah Sakit Homeopati Megawati Sukarno Putri didirikan kedua terdakwa tersebut jelas tidak berbentuk badan hukum karena tidak mempunyai izinnya.

Mathiya H. 2. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. maka ia terdakwa harus dinyatakan bersalah tentang hal ini.M. Kalimutu Kumar Marimutu dengan sengaja datang ke Indonesia telah menyalahgunakan passport yang ada padanya. 2007. subsidair kedua sesuai pasal undang-undang dimaksud pasal 80 ayat (2) Sub Pasal 84 ayat (5) UU RI No. Kalimutu Kumar Marimutu adalah orang asing atau warga Negara asing atau warga Negara Malaysia.B. USU Repository © 2009 . Mathiya H.104 Benar keduan terdakwa tersebut yaitu Dr. Unsur-unsur Subjektif Melakukan kegiatan tidak sesuai izinnya Benar kedua terdakwa tersebut melakukan kegiatannya tidak sesuai dengan izin yang ada dimana ia datang ke Indonesia seharusnya hanya sebagai wisata saja akan tetapi visa tersebut ia gunakan untuk kepentingan mencari suatu pekerjaan atau keuntungan. bahwa oleh karena dakwaan kesatu primair.S dan Dr. dan oleh karenanya dijatuhi hukuman.B. K. K.S dan Dr. Dengan Sengaja Benar kedua terdakwa tersebut yaitu Dr. Meninbang. 23 tahun 1992 tentang kesehatan dan Pasal 50 UU RI No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. b. terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut HUKUM.M.

23 tahun 1992 tentang kesehatan jo Pasal 50 UU RI No. maka majelis akan memperimbangkan hal-hal yang memberatkan maupun yang meringankan hukumannya terdakwa sebagai berikut: Hal-hal yang memberatkan : Bahwa perbuatan dari terdakwa-terdakwa dapat merugikan pemerintah republik Indonesia. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Memberikan keterangan yang jelas dan terang dipersidangan dan menyatakan menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu dikemudian hari yang akan datang/ tobat dan mempunyai tanggungan istri dan anak yang masih memerlukan pertanggungjawaban sebagai kepala keluarganya.105 Menimbang bahwa oleh karena terdakwa dijatuhi hukuman maka terdakwa dihukum pula untuk membayar biaya perkara. USU Repository © 2009 . bahwa oleh karena terdakwa dihukum maka dipandang perlu untuk tetap menahannya. Hal-hal yang meringankan : Ia terdakwa-terdakwa belum pernah dihukum. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian dan ketentuan perundang-undangan yang berhubungan dengan perkara ini. Menimbang. Memperhatikan ketentuan pasal 80 ayat (2) sub Pasal 84 ayat (5) UU RI No. 2007. bahwa sebelum menjatuhkan hukuman . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Menimbang.

. B.S alias RAJA 2.500. 7. KALIMUTU KUMAR MARIMUTU tersebut diatas telah trbukti dengan sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan Menyalahgunakan Izin.M. Mathiya H.M. 1.B. Menghukum terdakwa-terdakwa lagi membayar ongkos perkara sebanyak Rp. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . 2007.(seribu rupiah) Menyatakan barang bukti berupa obat-obatan diarmpas untuk dimusnahkan dan pasport atas nama terdakwa dikembalikan kepada terdakwa. MATHIYA H.000.106 MENGADILI Menyatakan Terdakwa : 1. K. K.B.000. Kalimutu Kumar marimutu keduanya berkebangsaan Malaysia Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.. Menghukum Terdakwa-terdakwa dengan hukuman denda sebesar Rp. maka dapat diketahui bahwasannya telah terjadi suatu tindak pidana di bidang Imigrasi yakni telah terjadinya penyalahgunaan ijin keimigrasian yang dilakukan oleh Terdakwa-terdakwa Dr.S alias Raja dan Dr.(tujuh juta lima ratus ribu rupiah) dengan ketentuan jika denda tersebut tidak dibayar harus diganti dengan hukuman kurungan selama 2 (dua) bulan. Dr. Dr. Analisis Putusan Setelah penulis mempelajari dan membaca pertimbangan hukum putusan Pengadilan Negeri Medan.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).” Dari ketentuan Pasal ini perbuatan terdakwa-terdakwa telah terbukti tidka memiliki izin operasional dengan demikian secara otomatis tidak melaksanakan ketentuan jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat sebagai mana yang dimaksud Pasal 66 yang menyatakan : Ayat (2) : ” Jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat merupakan cara penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan dan pembiayaannya. berdasarkan pemeriksaan di persidangan menunjukkan bahwa Terdakwa-terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum. yang tidak berbentuk badan hukum dan tidak memiliki izin operasional serta tidak melaksanakan ketentuan tentang jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 Ayat (2) dan Ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. Pasal 80 ayat (2) UU RI No.000. Oleh karena itu keduanya dikenakan pidana karena telah melanggar ketentuan undang-undang yang berlaku di indonesia yakni Pasal 80 ayat (2) Sub Pasal 84 ayat (5) UU RI No.00 (lima ratus juta rupiah). USU Repository © 2009 . 500.107 yang telah mendirikan usaha atau praktek tanpa memiliki ijin untuk melakukan hal tersebut. 2007.000.” Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. dikelola secara terpadu untuk tujuan meningkatkan derajat kesehatan. wajib dilaksanakan oleh setiap penyelenggara. 23 tahun 1992 tentang kesehatan dan Pasal 50 UU RI No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan menyatakan bahwa : ”Barangsiapa dengan sengaja menghimpun dana dari masyarakat untuk menyelenggaraakan pemeliharaan kesehatan.

” Berdasarkan ketentuan tersebut. 2007. 23 tahun 1992 tentang kesehatan yang menyatakan Barang siapa : ”Menyelenggarakan sarana kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 Ayat (1) atau tidak memilki izin sebagaimana dimaksud dalam pasal 59 Ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp. USU Repository © 2009 .” Pasal 50 UU RI No. 15. selain merugikan keuangan negara dimana dengan adanya izin usaha seharusnya ada pemasukan kas negara baik dari pajak maupun biaya pengurusan izin pada umumnya.” Pasal 58 Ayat (1) menyatakan bahwa : ”Sarana kesehatan tertentu yang diselenggarakan masyarakat harus berbentuk badan hukum.” Pasal 59 Ayat (1) menyatakan bahwa : “Semua penyelenggaraan sarana kesehatan harus memiliki izin.00 (lima belas juta rupiah).000. dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 25.000. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian menyatakan bahwa : “Orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud pemberian izin keimigrasian yang diberikan kepadanya. ”Penyelenggara jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat harus berbentuk badan hukum dan memiliki izin operasional serta kepesertaannya bersifat aktif. Hal mana dinyatakan juga dalam sub Pasal 84 point 5 UU RI No.000.000. Dan juga bisa saja tidak ada jaminan kesehatan masyarakat di klinik yang mereka dirikan hal ini seharusnya menjadi pertimbangan hal yang memberatkan karena dapat dikatakan suatu hal yang penting jika dikaitkan dengan masalah kesehatan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).108 Ayat (3) .-“ Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

2005. Hal mana menurut penulis tidak memberikan sifat penjeraan terhadap tindakan semacam ini sedangkan menurut teori telatif (Doeltheorie) 92 tujuan hukum pidana salah satunya adalah menjerakan.Sinar Grafika. hal. 2007. diharapkan si pelaku atau terpidana menjadi jera dan tidak mengulangi lagi perbuatannya (speciale preventie) serta masyarakat umum mengetahui bahwa jika melakukan perbuatan sebagaimana dilakukan terpidana. Jakarta. Menurut penulis penentuan pasal-pasal terhadap tindakan para terdakwa telah benar. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Bisa saja dilain waktu para pelaku mengulangi perbuatannya dan yang ditakutkan banyak bermunculan tindakan-tindakan serupa baik itu dibidang Leden Marpaung. maka akan mengalami hukuman yang serupa (generale preventie). yang dimaksud dengan menjerakan disini adalah dengan penjatuhan hukuman. 4. Tuntutan yang diajukan Jaksa Penuntut Umum menurut penulis kurang menekankan kepada unsur pemidanaan terhadap tindakan pelaku demikian juga vonis majelis hakim. Hukuman yang dijatuhkan hanya sebatas denda sejumlah uang yang apabila kita lihat jumlahnya relative tidak memberatkan terdakwa-terdaka (para pelaku). USU Repository © 2009 92 . “Asas – Teori – Praktik Hukum Pidana “. hanya ditekankan pada pengenaan hukuman denda sejumlah uang.109 Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan hukum yang ada yang ditemukan dari keterangan para saksi dan keterangan para terdakwa telah terbukti dan meyakinkan melanggar ketentuan pasal-pasal yang dimaksud di atas. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). hal mana akan dapat merugikan keuangan negara. 2007. Hal ini tujuannya adalah tidak lain untuk menciptakan dan membudayakan adanya sinkronisasi antara peraturan hukum yang ada dengan pelaksanaan di lapangan. tidak hanya dalam bidang keimigrasian dan kesehatan saja tetapi juga bidang-bidang lain yang menyangkut kepentingan publik atau masyarakat luas. kesehatan maupun keamanan masyarakat.110 kesehatan atau bidang lainnya. namun kadang kala pelaksanaan dilapangan kebanyakan tidak sejalan dengna peraturan yang ada. Kasus-kasus semacam ini sebenarnya harus mendapat perhatian yang serius dari apart penegak hukum dengan segala kelengkapannya. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Oleh karena itu sebenarnya yang perlu ditingkatkan adalah pemahaman dan kesadaran hukum serta tanggung jawab hukum para aparat penegak hukum dalam menjalankan tugasnya.

USU Repository © 2009 . Faktor penyebab terjadinya penyalahgunaan izin keimigrasian adalah: a. yang pada awalnya dimaksudkan untuk mengatur secar tegas fasilitas bebas visa. Dimana wisatawan tersebut dapat menikmati wisata di Indonesia dalam kurun waktu 2 (dua) bulan. Tetapi tenggang waktu 2 (dua) bulan ini dirasakan terlalu panjang atau lama. dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu: 1. Sehingga maksud dan tujuan dari BVKS sebagai pengganti BVW tidak tercapai. karena fakta di Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Ruang lingkup fasilitas bebas visa yang terlalu luas yang mencakup kegiatan wisata. malah dipergunakan oleh orang asing sebagi salah satu cara masuknya imigran gelap ke Indonesia. Adanya perkembangan tenggang waktu dalam pemberian fasilitas bebas visa bagi wisata. Kesimpulan Berdasarkan uraian-uraian penulisan skripsi ini. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).sosial budaya dan usaha. 2007. b.111 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. tetapi setalah pemberian fasilitas bebas visa dalam BVKS yang lebih luas ruang lingkupnya tetap ditemukan pelanggaran terhadap fasilitas bebas visa tesebut.

Upaya menanggulangi terjadinya suatu tindakan yang melanggar ketentuan izin keimigrasian dibedakan atas dua cara yaitu: a. jika mereka bertindak masa bodoh terhadap orang asing tersebut. jika para petugasnya bermental yang kurang baik. maka aturan itu tidak aka nada artinya. Penanggulangan secara preventif b.112 lapangan menunjukkan bahwa wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia pada umumnya dan Medan pad khusunya jarang yang tinggal sampai 2 (dua) bulan. Peranan petugas/pejabat/aparatur imigrasi sangat besar. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Penanggulangan secara preventif adalah tindakan penanggulangan yang dilakukan dalam usaha untuk mencegah atau menjga kemungkinan yang terjadinya tindak Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. c. USU Repository © 2009 . 2. dan melakukan kegiatan di wilayah Negara Republik Indonesia. Dan tidak dipungkiri. 2007. bahwa betapapun baiknya aturantntangkeimigrasian. Terutama sekali para petugas yang bertugas di pintu-pintu masuknya orang asing ke Indonesia. maka orang asing yang dapat dengan leluasanya berkeliaran di Indonesia. seperi disalahgunakan untuk bekerja. Penanggulangan secara represif Dalam hal penanggulangan ini sangat erat kaitannya dengan hal pengawasan baik wisatawan yang masuk atau keluar wilayah Negara Republik Indonesia. Panjang atau lamanya jangka waktu ini ternyata dapat memberikan peluang bagi wisatawan asing untuk melakukan pelanggaran dengan berbagi motivasi.

Hal ini dikarenakan mengingat adanya upaya hukum banding. dan perdagangan manusia (trafickking).113 pidana imigrasi dalam hal ini yaitu tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. bahwa sanksi yang dijatuhkan oleh aparatur penegak hukum dalam kasus tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian adalah lebih sering bersifat non pro justitia. maka tunduk pada Undang-undang no. Hal ini tentu saja membuthkan biaya operasional yang cukup tinggi. terorisme. atau grasi yang dimiliki oleh warga negara asing apabila ditempuh dengan cara pro justitia. Saran Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Dalam proses penyidikan terhadap tersangka yang melakukan tindak pidana dibidang keimigrasian. 2007. Dari data yang diperoleh. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Sedangkan dalam penaggulangan represif ini dapat dilakukan dengan cara pemidanaan. mengingata dana orasional dari negara yang sangat terbatas. khususnya penyalahgunaan izin keimgrasian. Yang dapat berupa tindakan keimigrasian yang salah satunya pendeportasian. deportasi maupun black list. Kecuali masalah penyalahgunaan izin tersebut menyangkut masalah peredaran narkoba. kasasi. yang juga tidak terlepas dengan ketentuan yang diatur dalam pasal-pasal KUHAP tentang penyidikan. B. maka jalan pro justitialah yang harus ditempuh. 3. USU Repository © 2009 . 4. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. agar menimbulkan efek jera bagi warga negara asing yang melakukan tindak pidana di bidang keimigrasian. Karena menurut politis. dan ekonomis cara tindakan keimigrasian dianggap lebih praktis dan efisien.

Tenggang waktu pemeberian fasilitas bebas visa untuk wisata sebaiknya adalah 1 (satu) bulan dan dapt diperpanjang selam 30 (tiga puluh) hari. karena masih banyak celah yang memungkinkan untuk warga negara asing melakukan tindak pidana di bidang keimigrasian. dan koreksi yang patut untuk diperhatikan yaitu mengenai tata urutan peraturan-peraturan perundang-undangan tentang keimigrasian. 2007. sebaiknya Tim melakukan koreksi. Sehingga hal ini jangan sampai dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan yang lain yang tidak sesuai dengan izin keimigrasiannya.114 1. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2. dengan adanya berbagai kritikan dan tanggapan terhadap RUU tersebut. Dan juga pemberian fasilitas tersebut sebaiknya dilakukan secara reciprocal atau prinsip timabal balik. agar nantinya walaupun telah disahakan menjadi Undang-undang tidak menambah kerancuan. sedangkan rata-rata masa kunjungan wisatawan asing ke Indonesia pada umunya dan kota Medan khususnya adalah 3-4 (tiga sampai empat) minggu saja. yaitu hanya unutk wisata. hal ini disebabkan karena penberian fasilitas bebas visa sekarang adalah 2 (dua) bulan dan ini terlalu lama. Sebaiknya pemberian fasilitas bebas visa ditinjau ulang kembali dan dikembalikan kepada latar belakang pemberian fasilitas tersebut. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. hal ini juga menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya mengharapkan faktor ekonomi saja dari keunjungan wisatwan asing . Karena Undang-undang sebelumnya dianggap masih belum sempurna. Pada saat sekarang ini sedang disusun RUU tentang keimigrasian yang telah disosialisasikan oleh Tim dari Direktorat Jenrak Imigrasi. tetapi juga menunjukkan martabat bangsa.

2007. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Dalam hal penanggulangan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian khsusnya black list atau cekal hendaknya mencerminkan prinsip-prinsip negara yang berdasarkan hukum.115 3. 4. Penegakan hukum di Indonesia terlihat lemah dan hanya mengandalkan tindakan pendeportasian. Dan juga diadakan penindakan secara hukum bagi petugas/pejabat imigrasi sendiri yang membantu stsu melakukan tindak pidana keimigrasian. USU Repository © 2009 . tidak berdasarkan kekuasaan belaka. Dan juga dalam mengkoordinasikan tindakan cekal agar dapat dengan cepat dilaksanakan sebelum orang yang dimaksud melarkan diri. maka peralatn komunikasi sangat diperlukan dan semua instansi dapat selalu memonitor setiap orang yang terkena daftar cekal apakah sudah habis waktunya atau belum. Demikian juga yang penting adalah diperlengkapinya peralatan dengan kemajuan teknologi seperti sistem komputerisasi sehingga dapat melayani maupun memantau orang asing yang ada di wilayah Indonesia. karena itu perlu para petugas/pejabat imigrasi dilengkapi dengan peningkatan kemampuan sumber daya manusia baik lewat pendidikan foramal meupun pendidikan latihan mengenai pelayanan dan pengawasan bagi orang asing atau wisatawan asing yang datang.

Ridwan Halim . Hukum Keimigrasian Indonesia. Sjarif. Tugas Pokok dan Fungsi Direktorat Jendral Imigrasi. H. Hadi Kiswanto. Asas Teori Praktik Hukum Pidana. Jakarta. 1982. Jakarta. 1983. Direktorat Jendral Imigrasi. Sinar Grafika. Cetakan Ke-2. Muladi & Barda Nawawi Arif. S. Jakarta: Balai Pustaka. 1992. Flora Liman Mangestu. Alumni. Jakarta. Persoalan Praktis Filsafat Hukum dalam Himpunan Distingsi. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sinar Grafika. 2000. Bandung Moeljatno. Kewarganegaraan dan Leden Marpaung. Teori-teori dan Kebijakan Pidana. Jakarta. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Rineka Cipta. Asas-asas Hukum Pidana. Buku Petunjuk Keimigrasian RI Bagian I Visa Izin Tinggal. UKI: Jakarta. Pedoman Penggunaan Tenaga Kerja Asing di Indonesia dan Peraturan-peraturannya. 1998. Jakarta. Jakarta. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Soetoprawiro. 2007. Departemen Kehakiman RI.116 DAFTAR PUSTAKA A. Gramedia. 1996. 2001 Koerniatmanto. 2005.

Soerjono. 2005 “Lintas Sejarah Imigrasi Indonesia”. Santoso Imam. R. . Gramedia Pustaka. Bandung. Ramadhan K. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Politeia : Bogor. 2005. 1987. Jakarta : Rajawali Press. 2001. UI-Press. Barda. H dan Abrar Yusra. PT. UI Press. Pengantar Penelitian Hukum. USU Repository © 2009 . DAN IZIN KEIMIGRASIAN. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan. Jakarta.1984. Ibnu. Bandung. 1988. Yogyakarta. Pabean. Perspektif Imigrasi dalam Pembangunan Ekonomi dan Ketahanan Nasional. . PT.117 Nawani Arief. “Faktor-faktor yang mempengaruhi Penegakan Hukum. Purmadi. Pustaka Pelajar. Semarang. dan Karantina. Jakarta Suud. 2005. Citra Aditya Bakti.. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA PERATURAN PEMERINTAH RI NO. Politik Hukum Pidana. Purbacaraka. Jakarta. 2004. PT. Manajemen Keimigrasian. Jakarta. Jakarta. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentar Lengkap Pasal Demi Pasal . Soesilo. Felix Hadi Mulyatno dan Endar Sugiarto. Soekamto. 1987. R. IZIN MASUK. Kapita Selekta Hukum Pidana. 1984. Soedarto. 32 TAHUN 1994 TENTANG VISA. Penggarapan Disiplin Hukum dan Filsafat Hukum bagi Pendidikan Hukum. 2007. Jakarta. Alumni. M. Dirjen Imigrasi Hukum dan HAM RI. Rajawali. Citra Aditya Bakti. 1983. Jakarta Teguh Prasetyo & Abdul Halim Barkatullah. Imigrasi. Amarja Press. Peraturan Perundang-undangan : KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA. 2005. Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan Hukum dan Pengembangan Hukum Pidana.

com Arief Rahman Kunjono. “Illegal Migrants dan Sisitem Keimigrasian Indonesia: suatu tinjauan Analisis”. Denpasar. Lukman Bratamidjaja. Jakarta. I Wayan Tangun Susila. Pintu Gerbang No. “Imigrasi Daftar Ulang Warga Negara Asing”. Jakarta.google. 1999. Laporan Penelitian. 44. 2007. 44. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Pintu Gerbang No. Hukum Keimigrasian dalam Sistem Hukum Nasional. Pintu Gerbang No. Direktorat Jendral Imigrasi. 01. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. “Petunjuk Pemantauan Operasional Keimigrasian No. disampaikan dalam Rapat Kerja Nasional Keimigrasian. Laporan : Bagir Manan. 2000.: F4-IL. Direktorat Jenderal Imigrasi. 9 TAHUN 1992 TENTANG Media Cetak dan Elektronik : http://www. Jakarta. 10-1. hlm. 2002 Direktorat Jenderal Imigrasi. 7 Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian. 42. USU Repository © 2009 . “Langkah-langkah Baru Menunjang Peningkatan Profesionalisme Keimigrasian”. 2002. Direktorat Jendral Imigrasi. “Aspek Ilmu Perundang-undangan BVKS Bagian I”. Jakarta. Jakarta.1044” tentang Keradaan dan Kegiatan Orang Asing Di Indonesia. 2002. 2002. 14 Januari 2000. Pintu Gerbang No. 1993. “Usaha Penanggulangan Tindak Pidana Imigrasi dan Imigrasi Gelap di Kota Madya Denpasar”.solusihukum. 45. Universitas Udayana dan PDII LIPI (Jakarta).118 UNDANG-UNDANG NOMOR KEIMIGRASIAN. Saleh Wiramiharja. dkk.com http://www.

Beberapa Pedoman dan Ketentuan Tentang Imigrasi dan Ketatalaksanaan: Bahan Penataran Administrasi Apratur Kehakiman. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Jakarta. 2007.119 Pusdiklat Pegawai Departemen Kehakiman. Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN). 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). dkk). 1982. 1984. “Analisa dan Evaluasi tentang Pengaturan Fasilitas Bebas Visa wisata bagi Orang Asing yang Berkunjung ke Indonesia” (Laporan Penelitian). Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. Jakarta. USU Repository © 2009 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful