1

PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP PENYALAHGUNAAN IZIN KEIMIGRASIAN MENURUT UNDANG-UNDANG RI NO. 9 TAHUN 1992 TENTANG KEIMIGRASIAN (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan) SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas Dan Memenuhi Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum O L E H YOYOK ADI SYAHPUTRA NIM : 030200015 Departemen Hukum Pidana

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2007
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

2

DAFTAR ISI Kata Pengantar ..............................................................................................................i Daftar Isi .......................................................................................................................ii Abstraksi ......................................................................................................................iii BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1 A. Latar Belakang ....................................................................................... 1 B. Perumusan Masalah ............................................................................... 6 C. Tujuan dan Manfaat ............................................................................... 6 D. Keaslian Penulisan ................................................................................. 7 E. Tinjauan Kepustakaan ............................................................................ 8 1. Pengertian Penegakan Hukum ............................................................ 8 2. Pengertian Pidana ............................................................................. 11 3. Pengertian Keimigrasian................................................................... 16 F. Metode Penelitian ................................................................................ 16 G. Sistematika Penulisan .......................................................................... 19

BAB II

TINJAUAN UMUM ................................................................................. 21 A. Keimigrasian dalam Sistem Hukum Indonesia ...................................... 21 1. Pengertian Keimigrasian................................................................... 21 2. Fungsi Keimigrasian ........................................................................ 24 3. Ruang Lingkup Keimigrasian ........................................................... 29 B. Jenis-jenis Izin Keimigrasian................................................................ 35 C. Hukum Keimigrasian Indonesia Dalam Sistem Hukum Nasional .......... 40

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

3

BAB III

PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP PENYALAHGUNAAN IZIN KEIMIGRASIAN ................................... 45 A. Ketentuan Keberadaan Warga Negara Asing (WNA) di Indonesia Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian ............................................. 45 B. Faktor-faktor Penyebab terjadinya Penyalahgunaan Izin Keimigrasian................................................................................ 53 C. Upaya Penanggulangan Tidak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian ................................................................................ 61

D. Peranan Aparatur Penegak Hukum dalam Menanggulangi Tindak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian ..................... 73

BAB IV

KASUS DAN ANALISIS KASUS ............................................................ 91

A. Kasus Posisi ................................................................................................ 92 B. Analisis Kasus............................................................................................ 99 C. BAB V PENUTUP .............................................................................................. 104 A. Kesimpulan ........................................................................................ 104 B. Saran.................................................................................................. 106

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

Hukum pidana masih belum berfungsi secara maksimal terhadap kasus penyalahgunaan izin keimigrasian (Putusan No. Berdasarkan penelitian tersebut diketahui bahwa pengaturan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian dalam hukum positif Indonesia diatur dalam Undang-undang No. 2493/Pid. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian juga masih berpedoman dengan KUHP. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Kompleksnya masalah dalam tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. dan ketegasan aparatur penegak hukum serta memajukan sarana dan prasarana dalam menunjang penegakan hukum tersebut. mengingat tugas dan tanggung jawab yang diembannya sangat menentukan keberadaan dan dan kekuatan negara yang bersangkutan. Kantor Kepolisian Kota Besar Medan dan Sekitarnya (Poltabes). Tidak jarang persoalan kewarganegaraan suatu negara akan berkembang menjadi persoalam besar akibat kelengahan dari bagian keimigrasian negara tersebut. sampai peranan aparat penegak hukum. Mdn) disebabkan masih kurangnya ketegasan aparatur penegak hukum dalam memberikan hukuman kepda warga negara asing yang melakukan tindak pidana penyalhgunaan izin keimigrasian. Skripisi yang berjudul “penegakan hukum pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian (studi kasus Pengadilan Negeri Medan dengan Putusan No. Seluruh warga negara Indonesia maupun warga negara asing setiap kali keluar-masuk wilayah Indonesia pasti berurusan terlebih dahulu dengan bagian keimigrasian. Mdn)” mengetangahkan permasalahan tersendiri mengenai pengaturan tindak pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian. masalah minimnya pengetahuan masayrakat. dan Pengadilan Negeri Medan yang bertujuan untuk mengetahui pengaturan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian serta mengetahui peranan aparatur penegak hukum dalam menggulangi tindak pidana penyalhgunaan izin keimigrasian. USU Repository © 2009 .pada tahap awal penulis terlebih dahulu melakukan penelitian terhadap bahan hukum yang berkaitan dengan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian.4 ABSTRAKSI Keimingrasian merupakan salah satu bagian terpenting bagisuatu negara. serta faktor-faktor yang menjadi penyebab dalam tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasianadan upaya-upaya apa saja yang dapat dilakukan sebagai upaya dalam menangani tindak pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian. Tahap selanjutnya penulis melakukan penelitian dengan menggunakan teknik wawancara dan mengumpulkan bahan dari narasumber yaitu dari Kantor Imigrasi Polinia Medan. 2007. menjadikan tindak pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian sebagai suatu tindakpidana memerlukan penangan khusus. B/2002/PN. 2493/Pid. Penulis menggunakan metode penelitian dengan metode hukum normative dan empiris. dan salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam penegakan hukum dalam tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian adalah dengan meningkatkan profesionalitas aparatur penegak hukum. mulai dari penggunaan visa yang tidak sesuai. B/2002/PN.

30 Mei 2006) Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Dalam arti sempit. dari segi subyeknya itu.com/artikel. maka reformasi penegakan hukum tampaknya memerlukan peninjauan dan penataan kembali seluruh struktur kekuasaan/kewenangan penegakan hukum. USU Repository © 2009 1 . aparatur penegak hukum itu diperkenankan untuk menggunakan daya paksa.solusihukum.5 BAB I PENDAHULUAN A. Ditinjau darui sudut subyeknya. “reformasi http://www. penegakan hukum itu dapat dilakukan oleh subyek yang luas dan dapat pula diartikan sebagai upaya penegakan hukum itu melibatkan semua subyek hukum dalam setiap hubungan hukum. Latar Belakang Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam lalulintas atau hubungan–hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Jadi.php?id=49 yang direkam pada 1 Mar 2007 03:28:22 GMT (“Penegakan Hukum”. 1 Mengingat demikian banyaknya instansi (struktur kelembagaan) dan pejabat (kewenangan) yang terkait di bidang penegakan hukum. berarti dia menjalankan atau menegakkan aturan hukum. Siapa saja yang menjalankan aturan normatif atau melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dengan mendasarkan diri pada norma aturan hukum yang berlaku. penegakan hukum itu hanya diartikan sebagai upaya aparatur penegakan hukum tertentu untuk menjamin dan memastikan tegaknya hukum itu. apabila diperlukan.

Citra Aditya Bakti. hukum keimigrasian di Indonesia telah ada sejak pemerintahan kolonial Belanda 4. 2007. korupsi. “Persfektif Imigrasi dalam Pembangunan Ekonomi dan Ketahanan Nasional”. hal. 4 4 M. UI Press Jakarta. berhubungan erat dengan reformasi di bidang “budaya hukum dan pengetahuan/pendidikan hukum”. Ketentuan hukum keimigrasian di Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945 hingga 1991 secara formal tidak mengalami perkembangan berarti. USU Repository © 2009 2 . Iman Santoso. bahkan merupakan subsistem dari Hukum Administrasi Negara. bahkan juga di bidang perundang-undangan (substansi hukum).6 penegakan hukum” mengandung di dalamnya “reformasi kekuasaan/kewenangan di bidang penegakan hukum”. Sebagai sebuah subsistem hukum. hal. sebagian dari ketentuan tersebut masih merupakan ketentuan bentukan pemerintah kolonial. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). hal. 2 Reformasi di bidang penegakan hukum dan struktur hukum. 2004. Masalah-masalah yang mendapat sorotan masyarakat luas saat ini (seperti kolusi. Semarang. Disamping tidak seseuai lagi dengan perkembangan kehidupan nasional. Dikatakan demikian karena ketentuan keimigrasian masih tersebar dalam beberapa ketentuan perundangundangan dan masih kuat dipengaruhi oleh hukum kolonial. 2001. 3. jelas sangat terkait dengan masalah budaya hukum dan pengetahuan/pendidikan hukum. 3 Ibid. Disamping Barda Nawawi Arief. mafia peradilan dan bentuk-bentk penyalahgunaan kekuasaan atau persekongkolan lainnya di bidang prosedur/penegakan hukum). PT. 3 Hukum keimigrasian merupakan bagian dari sistem hukum yang berlaku di Indonesia. “Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan”. 1 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

ekonomi. yang sebelumnya tersebar dalam beberapa ketentuan perundang-undangan. pada tanggal 31 Maret 1992. barang. dan pertahanan pemerintah kolonial. Hal tersebut tentu saja merupakan kemudahan di bidang keimigrasian karena membuka pintu selebar-lebarnya bagi pendatang dari berbagai negara demi kepentingan politik. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian (selanjutnya disebut UU No.7 tidak sesuai lagi dengan perkembangan kehidupan nasional. diubah dan ditambah terakhir dengan Staatsblad 1949 Nomor 330. sekaligus juga diberi izin menetap. 2 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. seperti Toelatingsbesluit Staatsblad 1916 Nomor 47 (Penetapan Izin Masuk/PIM). 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Demikian pula dalam pengaturan Penetapan Izin Masuk. 5. Barulah kemudian. yang tentu saja kehadirannya ditujukan untuk mendukung kepentingan pemerintah kolonial. keberadaan pendatang ilegal dapat menjadi legal hanya dengan membayar sejumlah denda. hal. Secara faktual harus diakui bahwa peningkatan arus lalu-lintas orang. sebagian dari ketentuan tersebut masih merupakan bentukan pemerintah kolonial Belanda yang diserap ke dalam hukum keimigrasian nasional. USU Repository © 2009 . 2007. serta Toelatingsordonnantie Staatsblad 1949 Nomor 33 (Ordonansi Izin Masuk/OIM). Misalnya disebutkan dalam Ordonansi Izin Masuk bahwa orang asing yang telah diberi izin masuk. Undang-undang tentang keimigrasian yang berjiwa nasional dilahirkan. jasa dari dan ke wilayah Indonesia dapat mendorong dan memacu 5 Ibid. 9 Tahun 1992) merupakan unifikasi beberapa ketentuan yang berkaitan dengan keimigrasian.

seperti: a. Peningkatan arus orang asing ke wilayah RI tentunya akan meningkatkan penerimaan uang yang dibelanjakan di Indonesia. USU Repository © 2009 . sampai ke perbuatan terorisme internasional. imigran gelap. Untuk meminimalisasikan dampak negatif yang timbul akibat mobolitas manusia. Munculnya Transnational Organized Crimes (TOC). yang keluar. Dominasi perekonomian nasional oleh perusahaan transnasional yang bergabung dengan perusahaan Indonesia (melalui Penanaman Modal Asing dan/ atau Penanaman Modal Dalam Negeri. jasa. serta meningkatnya aktivitas perdagangan yang akan meningkatkan penerimaan devisa. Penetapan politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif (selective policy) membuat institusi imigrasi Indonesia memiliki landasan operasional dalam menolak atau mengizinkan orang asing. masuk. meningkatnya investasi yang dilakukan. Namun peningkatan arus lalu-lintas barang. modal. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). baik Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. dan tinggal di wilayah Indonesia. b. pencucian uang.8 pertumbuhan ekonomi serta proses modernisasi masyarakat. keimigrasian harus mempunyai peranan yang semakin besar. narkotika. informasi dan orang juga dapat mengandung pengaruh negative. Dampak negatif ini akan semakin meluas ke pola kehidupan serta tatanan sosial budaya yang dapat berpengaruh pada aspek pemeliharaan keamanan dan ketahanan nasional secara makro. baik warga negara Indonesia maupun orang asing. pembelian saham atau kontrak lisensi). mulai dari perdagangan wanita dan anak-anak. 2007. dan obat terlarang.

Tidak bermusuhan dengan rakyat. dan negara Republik Indonesia. keberadaannya. Tidak membahayakan keamanan dan ketertiban umum. 2007. maka dari itu penulis mengambil judul skripsi “Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut UndangUndang RI No. USU Repository © 2009 . peran penting aspek keimigrasian dalam tatanan kehidupan kenegaraan akan dapat terlihat dalam pengaturan keluar-masuk orang dari dan ke dalam wilayah Indonesia. bangsa. maka perlulah kiranya penulis untuk membahas lebih jauh mengenai tindak pidana di bidang keimigrasian ini khususnya hal-hal yang berkaitan dengan penyalahgunaan izin keimigrasian. bangsa. maupun kegiatannya di Indonesia 6. Berdasarkan politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 4 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian”. serta c. Memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat. Dengan demikian. hal. dan pemberian izin tinggal serta pengawasan terhadap orang asing selama berada di wilayah Indonesia. Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan di atas. dan negara Republik Indonesia. diizinkan masuk dan dibolehkan berada di wilayah Indonesia. b. ditetapkan bahwa hanya orang asing yang: a. serta diberi izin tinggal sesuai dengan maksud dan tujuan kedatangannya di Indonesia.9 dari segi masuknya. 6 Ibid.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana di uraikan diatas. USU Repository © 2009 . Tujuan Penulisan Berdasarkan identifikasi permasalahan yang telah penulis utarakan. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007.10 B. 2) Untuk mengetahui bagaiman upaya penganggulangan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. Bagaimana upaya penanggulangan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian? 3. Bagaimanakah peranan aparatur penegak hukum dalam penegakan hukum terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian? C. maka dapat disimpulkan bahwa tujuan yang ingin dicapai melalui penulisan ini adalah sebagai berikut : 1) Untuk Mengetahui apa saja yang menjadi faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. maka perlu di rumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. Apa saja yang menjadi faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian? 2. Tujuan dan Manfaat Penulisan 1.

Manfaaat praktis Dengan penulisan skripsi ini diharapkan dapat menjadi pedoman dan bahan rujukan bagi rekan mahasiswa. penulisan skripsi ini juga diharapkan bermanfaat untuk berbagai hal diantaranya: a. Manfaaat teoritis Pembahasan terhadap masalah-masalah dalam skripsi ini tentu akan menambah pemahaman kepada semua pihak baik masyarakat pada umumnya maupun para pihak yang berhubungan dengan dunia hukum pada khususnya. D. praktisi hukum. 2007. Keaslian Penulisan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.11 3) Untuk mengetahui dan meneliti lebih jauh bagaimana peranan aparatur penegak hukum dalam menanggulangi tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. 2. b. Skripsi ini juga diharapkan dapat memberikan masukan bagi penyempurnaan perangkat peraturan perundang-undangan terhadap tindak pidana yang terkait erat dengan izin keimigrasian ini. masyarakat. USU Repository © 2009 . Manfaat Penulisan Selain tujuan-tujuan tersbut diatas. dan juga aparat penegak hukum/pemerintah dalam menghadapi atau mengusut tuntas suatu peristiwa pidana terutama hal-hal yang berkaitan dengan tindakan yang menyalahgunakan izin keimigrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

12 Sepanjang yang telah ditelusuri dan diketahui di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara bahwa penulisan skripsi tentang “Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang RI No. Tinjauan Kepustakaan 1. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian” belum pernah disajikan sebelumnya baik dalam bentuk tulisan maupun sub pembahasan permasalahan dalam suatu skripsi. informasi dari media cetak dan elektronik serta fakta yang diperoleh dai data berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh penulis. USU Repository © 2009 . 2007. Berdasarkan alasan tersebut di atas maka dapat disimpilkan bahwa skripsi adalah asli. kebenaran. Oleh karena itu memberikan keadilan dalam suatu perkara berarti memutuskan perkara dengan menerapkan hukum dan menemukan hukum secara nyata dalam mempertahankan dan menjamin dipatuhinya hukum materiel Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Penegakan hukum pada hakekatnya merupakan penegakan ide-ide atau konsep-konsep yang abstrak itu. kemanfaatan sosial dan kandungan hukum ini bersifat abstrak. Penegakan hukum secara konkret merupakan berlakunya hukum positif dalam praktek sebagaimana seharusnya dipatuhi. Skripsi juga didasarkan pada referensi dari buku-buku. E. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Pengertian penegakan hukum Hukum adalah sarana yang di dalamnya terkandung nilai-nilai atau konsep-konsep tentang keadilan. Permasalahan maupun penyajiannya merupakan hasil dari pemikiran dan ide penulis sendiri.

Tahap Aplikasi. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. yaitu : (1) Faktor hukumnya sendiri. 1983). yaitu : a. Tahap Formulasi. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). (2) Faktor penegak hukum. (4) Faktor masyarakat. (Jakarta : Rajawali Press.13 dengan menggunakan cara prosedural yang ditetapkan oleh hukum formal. yaitu pihak-pihak yang membentuk maupun yang menerapkan hukum. yaitu Soerjono Seokanto. Penegakan hukum merupakan suatu proses yang melibatkan banyak hal. yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku dan diterapkan. USU Repository © 2009 7 . Dapatlah dikatakan bahwa ketiga tahap kebijakan penegakan hukum pidana tersebut terkandung didalamnya tiga kekuasaan atau kewenangan. 2007. cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia dalam pergaulan hidup. (3) Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum. 7 Penegakan hukum khususnya hukum pidana apabila dilihat dari suatu proses kebijakan maka penegakan hukum pada hakekatnya merupakan penegakan kebijakan melalui beberapa tahap. Oleh karena itu keberhasilan penegakan hukum akan dipengaruhi oleh hal-hal tersebut. Tahap Eksekusi. Pada dasarnya ada 5 (lima) faktor yang mempengaruhi penegakan hukum. c. yakni sebagai hasil karya. (5) Faktor kebudayaan. b. “Faktor-faktor yang mempengaruhi Penegakan Hukum”. 4-5. hal.

Walaupun adakalanya dengan Undang-Undang. Pada tahap ini kebijakan legeslatif ditetapkan sistem pemidanaan. 8 Penegakan hukum dalam negara dilakukan secara preventif dan represif.14 kekuasaan Legislatif pada tahap formulasi. Dalam hal ini hukum harus ditegakkan secara represif oleh alat-alat penegak hukum yang diberi tugas yustisionil. yaitu kekuasaan legeslatif dalam menetapkan atau merumuskan perbuatan apa yang dapat dipidana dan sanksi apa yang dapat dikenakan. 2007. 30. pada hakekatnya sistem pemidanaan itu merupakan sistem kewenangan atau kekuasaan menjatuhkan pidana. Penegakan hukum represif pada tingkat operasional didukung dan melalui berbagai lembaga yang secara organisatoris terpisah satu dengan yang lainnya. “Politik Hukum Pidana”. 2005). hal. hal. (Yogyakarta. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). melakukan penegakan hukum preventif. Pada tahap pertama.” (Bandung : PT. 111. Sedangkan penegakan hukum represif dilakukan apabila usaha preventif telah dilakukan ternyata masih juga terdapat usaha pelanggaran hukum. Pustaka Pelajar. dan Kejaksaan misalnya dengan tugas PAKEM-nya. “Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan Hukum dan Pengembangan Hukum Pidana. 9 Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah. 2005). dapat ditunjuk pula pengadilan seperti dalam yurisdiksi volunter. 9 Penegakan secara preventif diadakan untuk mencegah agar tidak dilakukan pelanggaran hukum oleh warga masyarakat dan tugas ini pada umumnya diberikan pada badan-badan eksekutif dan kepolisian. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. namun tetap berada dalam kerangka penegakan hukum. Citra Aditya Bakti. dan kekuasaan Eksekutif pada tahap Eksekusi dalam hal melaksanakan hukum pidana. Yang kedua adalah kekuasaan Yudikatif pada tahap aplikasi dalam menerapkan hukum pidana. USU Repository © 2009 . penegakan hukum represif 8 Barda Nawani Arief.

dapat mempunyai arti yang luas dan berubah-ubah karena istilah itu dapat mempunyai arti dapat berkonotasi dengan bidang yang cukup luas. Pidana a) Pengertian pidana Istilah “hukuman” yang merupakan istilah umum konvensional. Husni. Hukum dibuat tanpa landasan moral dapat dipastikan tujuan hukum yang berkeadilan tidak mungkin akan terwujud. selama kurun waktu lebih dari empat Dasawarsa bangsa ini hidup dalam ketakutan. Penegakan hukum yang berkeadilan sarat dengan landasan etis dan moral. kemudian diteruskan ke Lembaga Pengadilan dan berakhir pada Lembaga Pemasyarakatan. Penegasan ini bukanlah tidak beralasan. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. faktor moral sangat berperan dalam menentukan corak hukum suatu bangsa. USU Repository © 2009 10 . Istilah tersebut tidak hanya M. 10 2. 1. berikutnya Kejaksaan. ketidakpastian hukum dan hidup dalam intimitas yang tidak sempurna antara sesamanya. Penegakan hukum adalah proses yang tidak sederhana. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). hal. “Moral dan Keadilan Sebagai Landasan Penegakan Hukum Yang Responsif”. karena di dalamnya terlibat subjek hukum yang mempersepsikan hukum menurut kepentingan masing-masing. 2007. (Jurnal Equality : 2006).15 diawali dari Lembaga Kepolisian. Apa yang sesungguhnya dialami tidak lain adalah pencabikan moral bangsa sebagai akibat dari kegagalan bangsa ini dalam menata manajemen Pemerintahannya yang berlandaskan hukum.

Oleh karena “pidana” merupakan istilah yang lebih khusus. “Teori-teori dan Kebijakan Pidana”. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Muladi dan Barda Nawawi Arif. Sudarto. SH : Yang dimaksud dengan pidana ialah penderitaan yang sengaja diberikan kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Roeslan Saleh : Pidana adalah reaksi atas delik. tetapi juga dalam istilah sehari-hari di bidang pendidikan. maka perlu ada pembatasan pengertian atau makna sentral yang dapat menunjukkan ciri-ciri atau sifat-sifat yang khas. Prof. Prof. Dari definisi di atas dapatlah disimpulkan bahwa pidana mengandung unsur-unsur atau ciri-ciri sebagai berikut : 1) pidana itu pada hakekatnya merupakan suatu pengenaan penderitaan atau nestapa atau akibat-akibat lain yang tidak menyenangkan. 1998) hal. 2. Cetakan Ke-2 (Bandung: Alumni. 2007. Untuk memberikan gambaran yang lebih luas. 2 – 4. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). agama dan sebagainya. dan ini berwujud suatu nestapa yang dengan sengaja ditimpakan negara pada pembuat delik.16 sering digunakan dalam bidang hukum. berikut ini dikemukakan beberapa pendapat atau defenisi dari para sarjana sebagai berikut: 11 1. USU Repository © 2009 11 . moral.

17 2) pidana itu diberikan dengan sengaja oleh orang atau badan yang mempunyai kekuasaan (oleh yang berwenang). Menurut hukum pidana positif (KUHP dan di luar KUHP) Jenis pidana menurut KUHP. 2) perampasan barang-barang tertentu. seperti terdapat dalam pasal 10. b) Jenis-jenis Pidana 1. 3) pengumuman putusan hakim. R. USU Repository © 2009 12 . yaitu : 1) pidana mati 2) pidana penjara 3) pidana kurungan 4) pidana denda 5) pidana tutupan (ditambah berdasarkan UU No. Soesilo. 34 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 20 tahun 1946) b. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentar Lengkap Pasal Demi Pasal (Bogor: Politeia. dibagi dalam dua jenis 12 : a. 1988) hal. pidana tambahan. pidana pokok. 3) pidana itu dikenakan kepada seseorang yang telah melakukan tindak pidana menurut undang-undang. yaitu : 1) pencabutan hak-hak tertentu. 2007.

160). 1936 no. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Dalam hal yang ke-2. misalnya : a. serta mengganggu ketertiban umum dengan melakukan pengemisan.18 Disamping jenis sanksi yang berupa pidana dalam hukum pidana positif dikenal juga sanksi yang berupa tindakan. bagi anak yang sebelum umur 16 tahun melakukan tidak pidana. 1916 no. c. anak tersebut dimasukkan dalam rumah pendidikan negara yang penyelenggaraannya diatur dalam Peraturan Pendidikan Paksa (Dwangopvoedingregeling. Hakim dapat mengenakan tindakan berupa (lihat Pasal 45 KUHP). Stb. 2007. USU Repository © 2009 . penempatan di rumah sakit jiwa bagi orang yang tidak dapat dipertanggungjawabkan karena jiwanya cacat dalam tubuhnya atau terganggu karena penyakit (lihat Pasal 44 ayat 2 KUHP). 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). tindakan tata-tertib dalam hal tindak pidana ekonomi (Pasal 8 UU No. 1) mengembalikan kepada orang tuanya. 7 Drt. 1955) dapat berupa : 1) penempatan perusahaan si terhukukm di bawah pengampuan untuk selama waktu tertentu (3 tahun untuk kejahatan TPE dan 2 tahun untuk pelanggaran TPE). d. 741) yang sekarang telah diganti dengan Undang-undang No. 12 Tahun 1995 tentang Permasyarakatan. penempatan di tempat kerja Negara (Landswerkinrichting) bagi pengenggur yang malas bekerja dan tidak mempunyai mata pencaharian. walinya atau pemelihatanya atau 2) memerintahkan agar anak tersebut diserahkan kepada pemerintah. b. bergelandangan atau perbuatan asosial (Stb.

c) pidana permasyarakatan biasa (untuk yang melakukan tindak pidana karena kesempatan). mulai Pasal 43 s. dan melakukan jasa-jasa untuk memperbaiki akibat-akibat satu sama lain.d. Pasal 82. 4) kewajiban mengerjakan apa yang dilakukan tanpa hak. USU Repository © 2009 . Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. b) pidana permasyarakatan khusus (untuk yang melakukan tindak pidana karena kebiasaan). Ketentuan tentang “pidana” dalam konsep terdapat dalam Bab V. 2. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007. yang terdiri dari : a) pidana permasyarakatan istimewa (utuk yang melakukan tindak pidana karena terdorong oleh maksud yang patut dihormati).19 2) pembayaran uang jaminan selama waktu tertentu. semua atas biaya si terhukum sekedar Hakim tidak menentukan lain. Pidana pokok: 1) pidana mati 2) pidana permasyarakatan. 3) pembayaran sejumlah uang sebagai pencabutan keuntungan menurut taksiran yang diperoleh dari tindak pidana yang dilakukan. 3) pidana pembimbingan. Menurut Konsep Rancangan KUHP tahun 1972. Pembagian jenis pidanannya sebagai berikut : a. yang terdiri dari : a) pidana pengawasan.

c) penempatan usaha di bawah pengawasan pemerintah untuk jangka waktu yang ditentukan oleh Hakim. 4) pengenaan kewajiban ganti rugi. 3) pengumuman keputusan Hakim. Pidana tambahan: 1) pencabutan hak tertentu. 4) pidana perserikatan. b) penuntutan (sic. USU Repository © 2009 . 6) pengenaan kewajiban adat. f) perbaikan akibat-akibat dari tindak pidana. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). : penutupan) usaha sebagian atau seluruhnya. 2) penempatan barang tertentu. Pengertian Keimigrasian Istilah imigrasi berasal dari bahasa Latin migratio yang artinya perpindahan orang dari suatu tempat atau negara menuju ke tempat negara lain. 2007. c) pidana latihan kerja. b. d) pembayaran uang jaminan yang jumlahnya ditentukan oleh Hakim. d) pidana kerja bakti. 5) pengenaan kewajiban agama. yang terdiri dari : a) pidana perserikatan. e) penyitaan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana. 3. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.20 b) pidana penentuan tempat tinggal.

Sedangkan menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1992 dalam pasal 1 butir 1 disebutkan: “Keimigrasian adalah hal ikhwal lalu lintas orang yang masuk atau keluar wilayah Negara Republik Indonesia dan pengawasan orang asing di wilayah Negara Republik Indonesia”.21 Oxford Dictionary of Law juga memberikan defenisi sebagai berikut: “Immigration is the act of entering a country other than one’s native country with the intention of living there permanently”. serta menelaah peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini. Dari defenisi ini dipahami bahwa perpindahan itu mempunyai maksud yang pasti. Metode Penelitian 1. Penelitian yuridis – normatif merupakan penelitian yang dilakukan dan ditujukan pada Peraturan-peraturan tertulis atau bahan-bahan lain.13 F. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Oleh karena itu. orang asing yang bertamasya. Untuk menunjang pembahasan demi pembahasan masalah. yakni untuk tinggal menetap dan mencari nafkah di suatu tempat baru. Jenis Penelitian Metode Penelitian yang digunakan untuk menjawab persoalan-persoalan dalam skripsi ini adalah menggunakan metode yuridis – normatif. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 . atau mengunjungi suatu konferensi internasional. penulis melakukan studi 13 Lihat Pasal 1 butir 1 Undang-undang no. atau merupakan rombongan misi kesenian atau olahraga. atau juga menjadi diplomat tidak dapat disebut sebagai seorang imigran. 2007.

1984. responden dari narasumber atau lembaga di tempat penelitian dilakukan yang berkaitan dengan permasalahan dalam penulisan skripsi ini. Kantor Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Medan Sekitarnya. 3. 2. Dalam hal penelitian lapangan penulis melakukannya di Kantor Imigrasi Polnia Medan. Lokasi penelitian Dalam hal peneltian yang berkaitan dengan bahan bacaan. Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Medan dan sekitarnya. skripsi. berita dsb. hal. tesis. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). UI-Press Jakarta. serta Pengadilan Negeri Medan untuk mendapatkan gambaran ataupun bahan akurat berkaitan dengan penulisan skripsi ini.22 langsung untuk mendapatkan data-data seperti di Kantor Imigrasi Polnia Medan. dilakukan di Perpustakaan Univesitas Sumatera Utara maupun yang di-download melalui internet ataupun situs-situs berkaitan dengan bahan-bahan yang sifatnya skunder (tulisan. 2007. Data Primer yaitu data pokok yang diperoleh atau bersumber dari hasil penelitian langsung di lapangan 14. “Pengantar Penelitian Hukum”. serta di Pengadilan Negeri Medan. 12 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 . Sumber dan pengumpulan data Data-data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah bersumber dari : a. Studi lapangan ini dilakukan melalui wawancara dengan 14 Soerjono Soekamto.).

USU Repository © 2009 . bukubuku literatur.23 menggunakan pedoman wawancara (interview guide) kepada para informan. Penelitian kepustakaan (Library Research) Yakni melakukan penelitian dengan berbagai sumber bacaan atau tulisan seperti: buku. artikel ataupun majalah-majalah serta data lain yang diperoleh melalui internet yang berhubungan dengan permasalahan dalam penulisan skripsi ini. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). b. 4. pendapat sarjana dan bahan-bahan kuliah lainnya yang berkaitan erat dengan pokok bahasan atau permasalahan dalam skripsi ini. Informan yang dipilih adalah mempunyai keterkaitan erat dengan pokok bahasan pada skripsi ini yaitu: 1) Petugas Keimigrasian Polonia Medan 2) Kepolisian kota Medan b. Metode Pengumpulan Data Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut : a. Penelitian lapangan (Field Research) Yakni dengan melakukan penelitian langsung ke lapangan baik berupa wawancara langsung kepada pihak-pihak yang terkait dalam proses Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Data Skunder yaitu data-data yang diperoleh dari peraturan-peraturan. internet. majalah. 2007.

perumusan permasalahan. baik itu mengenai keimigrasian dalam sistem hukum Indonesia dan nasional. tinjaun kepustakaan. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. yaitu jawaban dari responden dan data-data yang diperoleh dilapangan diedit dan dianalisis sehingga diperoleh data yang dapat menjawab permasalahan demi permasalahan yang dikemukakan dalam skripsi ini. 2007.24 penyidikan kasus ini serta dengan memperoleh salinan data-data yang lebih lengkap dan menunjang pembahasan permasalahan yang disusun penulis. dan apa saja yang termasuk dalam jenis-jenis izin keimigrasian. BAB III : Bab ini nerupakan bab yang membahas bagaimana penegakan hukum terhadap tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. Analisis Data Analisis data yang dilakukan dalam penulisan skripsi ini adalah dengan cara kualitatif. 5. tujuan dan manfaat penulisan. penulis menjabarkan materi ataupun isi dari skripsi ini menjadi lima bab dengan sistematika sebagai berikut : BAB I : Bab ini memuat latarbelakang. Sistematika Penulisan Untuk mempermudah penulisan atau penyajiannya. G. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). metode penulisan dan sistematika penulisan. USU Repository © 2009 . keaslian penulisan. BAB II : Bab ini menjelaskan tentang tinjauan umum mengenai keimigrasian.

BAB V : Kesimpulan dan Saran Bab ini merupakan bab terakhir.25 BAB IV : Bab yang membahas Kasus dan Analisis Kasus Putusan No. 2007.2493/Pid. B/2002/PN. yaitu sebagai bab penutup yang berisi kesimpulan dan saran-saran mengenai permasalahan yang telah dibahas. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . Mdn. BAB II Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

26 TINJAUAN UMUM A. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Keimigrasian Dalam Sistem Hukum Indonesia 1) Keimigrasian di Indonesia Di Indonesia pemeriksaan keimigrasian telah ada sejak zaman penjajahan Belanda.” Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. yaitu perubahan dari politik hukum keimigrasian yang bersifat terbuka (open door policy) untuk kepentingan pemerintahan kolonial. 2007. Sejak Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Undang-undang No. namun baru pada tanggal 26 Januari 1950 Immigratie Dienst ditimbang terimakan dari H. Pada saat itu. menjadi politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif didasarkan pada kepentingan nasional Indonesia. tetapi yang lebih penting adalah peralihan tersebut merupakan titik mula dari era baru dalam politik hukum keimigrasian Indonesia. terdapat badan pemerintah kolonial Belanda bernama Immigratie Dienst yang bertugas menangani masalah keimigrasian untuk seluruh kawasan Hindia Belanda. USU Repository © 2009 . dalam pasal 1 menyebutkan: “Keimigrasian adalah hal-ikwal lalu lintas orang yang masuk atau keluar wilayah Indonesia dan pengawasan orang asing di wilayah Republik Indonesia. Breekland kepada Kepala Jawatan Imigrasi dari tangan Pemerintah Belanda ke tangan Pemerintah Indonesia. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian.

2) Pengaturan tentang berbagai hal mengenai pengawasan orang asing di wilayah Republik Indonesia. 16 Unsur pertama. peristiwa. peristiwa. Berdasarkan hukum internasional pengaturan hal ini merupakan hak dan wewenang suatu negara serta merupakan salah satu perwujudan dan kedaulatan sebagai negara hukum yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 15 16 Kamus Besar Bahasa Indonesia. pengaturan lalu-lintas keluar masuk wilayah Indonesia. kejadian (sesuatu yang terjadi). Sementara itu kata ihwal diartikan hal. hilir-mudik. kejadian. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. perihal. hal-ihwal diartikan berbagai-bagai keadaan.27 Dengan menggunakan pendekatan gramatikal (tata bahasa) dan pendekatan semantik (ilmu tentang arti kata). 2007. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. defenisi keimigrasian dapat kita jabarkan sebagai berikut: Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. dan tinggal dari dan ke dalam wilayah negara Republik Indonesia. Dengan demikian. masuk. menurut Undang-undang No. bolak-balik. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). kata lalu-lintas diartikan sebagai hubungan antara suatu tempat dan tempat lain. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian terdapat dua unsur pengaturan yang penting. yaitu: 1) Pengaturan tentang berbagai hal mengenai lalu-lintas orang keluar. USU Repository © 2009 . kata hal diartikan sebagai keadaan. 2001 Lihat Penjelasan Umum Undang-undang No. Jakarta: Balai Pustaka. 15 Dengan demikian.

Selanjutnya. 2004. merupakan tindakan yang dapt dipidana. 17 Maka pengertian pengawasan orang asing adalah seluruh rangkaian kegiatan yang ditujukan untuk mengontrol apakah keluar-masuknya serta keberadaan orang asing di Indonesia telah atau tidak sesuai dengan ketentuan keimigrasian yang berlaku. Pelanggaran atas ketentuan ini dikategorikan sebagai tindakan memasuki wilayah negara Indonesia secara tidak sah. 20 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 17 . 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian tidak membedakan antara emigrasi dan imigrasi. pengaturan lalu-lintas keluar-masuk wilayah Indonesia ditetapkan harus melewati Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI). artinya setiap tindakan keluar-masuk wilayah tidak melalui TPI. hal. atau tempat tertentu atau daratan lain yang ditetapkan Menteri Kehakiman sebagai tempat masuk atau keluar wilayah Indonesia (entry point). UI-Press Jakarta. Dalam rangka ini “pengawasan” adalah keseluruhan proses kegiatan untuk mengontrol atau mengawasi apakah proses pelaksanaan tugas telah sesuai dengan rencana atau aturan yang telah ditentukan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). dan keberadaan serta kegiatan orang asing di wilayah Iman Santoso. Undang-undang No. Bandar udara. yaitu di pelabuhan laut. Unsur kedua dari pengertian keimigrasian yaitu pengawasan orang asing di wilayah Indonesia.28 1945. Pengawasan orang asing meliputi masuk dan keluarnya orang asing ke dan dari wilayah Indonesia. “Persfektif Imigrasi dalam Pembangunan Ekonomi dan Ketahanan Nasional”. 2007.

21 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.”18 Dari pernyataan tersebut. maka secara operasional peran keimigrasian dapat diterjemahkan ke dalam konsep Trifungsi Imigrasi. Pengawasan selanjutnya dilaksanakan oleh pejabat imigrasi di Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) ketika pejabat imigrasi dengan kewenangannya yang otonom memutuskan menolak atau memberikan izin tinggal yang sesuai dengan visa yang dimilikinya. perlu dipahami bahwa operasionalisasinya dilaksanakan berdasarkan politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif. USU Repository © 2009 . selanjutnya pengawasan beralih ke kantor imigrasi yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal waraga asing tersebut. serta pengawasan terhadap keberadaan warga negara asing di wilayah Republik Indonesia.29 Indonesia. baiak ditinjau dari budaya hukum 18 Ibid. 1) Fungsi Keimigrasian Dari uraian mengenai pengertian umum. Dari keseluruhan prosedur keimigrasin yang ditetapkan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). dapat dinyatakan juga bahwa pada hakikatnya keimigrasian merupakan: “suatu rangkaian kegiatan dalam pemberian pelayanan dan penegakan hukum serta pengamanan terhadap lalu lintas keluar masuknya setiap orang dari dank e dalam wilayah RI. 2007. Dimana konsep ini hendak menyatakan bahwa sistem keimigrasian. hal. Pengawasan orang asing sebagai suatu rangkaian kegiatan pada dasarnya telah dimulai dan dilakukan oleh perwakilan RI di luar negeri ketika menerima permohonan pengajuan visa.

Fungsi pelayanan masyarakat Salah satu fungsi keimigrasian adalah fungsi penyelenggaraan pemerintahan atau administrasi negara yang mencerminkan aspek pelayanan. Kartu Izin Tinggal Tetap (KITAP). aparatur.30 keimigrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). materi hukum (peraturan hukum) keimigrasian. lembaga. yaitu: dalam operasionalisasinya harus selau mengandung Trifungsi. Pemberian Dokumen Keimigrasian (DOKIM) berupa: Kartu Izin Tinggal Terbatas Keimigrasian (KITAS). organisasi. Kemudahan Khusus Keimigrasian (DAHSUSKIM). 2007. USU Repository © 2009 . mekanisme hukum keimigrasian. Dari aspek itu. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. baik kepada Warga negara Indonesia (WNI) atau Warga Negara Asing). a. sarana dan prasarana hukum keimigrasian. imigrasi dituntut untuk memberi pelayanan prima di bidang keimigrasian. dan 2) Pemberian Tanda bertolak/ masuk Pelayanan bagi Warga Negara Asing terdiri dari: 1. Pelayanan bagi Warga Negara Indonesia terdiri dari: 1) Pemberian paspor/ pemberian Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP)/Pas lalu lintas Batas (PLB).

keseluruhan aturan hukum keimigrasian itu ditegakkan kepada setiap orang yang berada di dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia baik itu Warga Negara Indonesia (WNI) atau Warga Negara Indonesia (WNA). Keterlibatan dalam pelaksanaan aturan keimigrasian Penegakan hukum kepada Warga Negara Asing (WNA) ditujukan pada permasalahan: Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 . Visa Kunjungan Sosial Budaya (VKSB). KITAP. Perpanjangan izin tinggal meliputi: Visa Kunjungan Wisata (VKM). 3. Pemalsuan identitas 2. 2007. Pemberian Izin Masuk Kembali. Pemberian Tanda Bertolak dan Masuk. Fungsi penegakan hukum Dalam Pelaksanaan tugas keimigrasian. ditujukan pada permasalahan: 1. b. Kepemilikan paspor ganda 4. Penegakan hukum keimigrasian terhadap Warga Negara Indonesia (WNI). DAHSUSKIM 4. Perpanjangan DOKIM meliputi KITAS.31 2. Visa Kunjungan Usaha (VKU). 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Pertanggungjawaban sponsor 3. Izin Bertolak 5.

Kerawanan keimigrasian secara geografis dalam pelintasan. penggeledahan. dan tindakan keimigrasian. Secara operasional fungsi penegakan hukum yang dilaksanakan oleh institusi Imigrasi Indonesia juga mencakup penolakan pemberian izin masuk. pemeriksaan. Pemantauan/razia 6. penahanan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). serta pengajuan berkas perkara ke penuntut umum.32 1. dalam hal penegakan hukum yang bersifat proyustisia. Sementara itu. Semua itu merupakan bentuk penegakan hukum yang bersifat administratif. Pemalsuan identitas Warga Negara Asing (WNA) 2. USU Repository © 2009 . Pendaftaran orang asing dan pemberian buku pengawasan orang asing 3. Pelaksanaan fungsi keamanan yang ditujukan kepada Warga Negara Indonesia dijabarkan melalui tindakan pencegahan ke luar negeri bagi Warga Negara Indonesia atas permintaan Menteri Keuangan dan Kejasksaan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. pemyitaan). izin keimigrasian. Penyalahgunaan izin tinggal 4. penangkapan. pemberkasan perkara. Dikatakan demikian karena imigrasi merupakan institusi pertama dan terakhir yang menyaring kedatangan dan keberangkatan orang asing ke dan dari wilayah Republik Indonesia. Fungsi keamanan Imigrasi berfungsi secara penjaga pintu gerbang negara. c. Masuk secara ilegal atau berada secara ilegal 5. izin bertolak. tercakup tugas penyidikan (pemanggilan. 2007. yaitu kewenangan penyidikan.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Melakukan kerjasama dengan aparatur keamanan negara lainnya khususnya di dalam memberikan supervisi perihal penegakan hukum keimigrasian. Perubahan itu diperlukan guna meningkatkan intensitas hubungan negara Republik Indonesia dengan dunia Internasional yang mempunyai dampak sangat Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. yaitu larangan bagi seseorang untuk meninggalkan wilayah Indonesia dalam jangka waktu tertentu dan/atau larangan untuk memasuki wilayah Indonesia dalam waktu tertentu. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut. Melakukan operasi intelijen keimigrasian bagi kepentingan keamanan negara 4. secara sinergi baik di bidang ekonomi. demi peningkatan kesejahteraan. Khusus untuk Warga Negara Indonesia (WNI) tidak dapat dilakukan pencegahan karena alasan-alasan keimigrasian belaka. Melaksanakan pencegahan dan penangkalan. ketenagakerjaan. Pelaksanaan fungsi keamanan yang ditujukan kepada Warga Negara Asing (WNA) adalah: 1. harus diingat bahwa di era globalisasi aspek hubungan kemanusiaan yang selama ini bersifat nasional berkembang menjadi bersifat internasional. maupun peraturan di bidang lalu-lintas orang dan barang yang dapat memfasilitasi pertumbuhan ekonomi.33 Agung. 2007. perlu menata atau mengubah peraturan perundangan. Untuk mengantisipasinya. USU Repository © 2009 . 3. industri. transportasi. perdagangan. Melakukan seleksi terhadap setiap maksud kedatangan orang asing melalui pemeriksaan permohonan visa 2. terutama di bidang perekonomian.

24 Prof. Sedangkan fungsi baru yaitu sebagai fasilisator pembagunan ekonomi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan fungsi keimigrasian lainnya. Yusril Ihza Mahendra selaku Menteri Kehakiman dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Hal ini terlihat ketika jasa keimigrasian telah menjadi bagian dari infrastruktur perekomian. Dr.34 besar pada pelaksanaan fungsi dan tugas keimigrasian serta menghindari adanya tumpang tindih peraturan. Di dalam rangka memelihara kondisi keamanan yang kondusif secara otomatis fungsi penegakan hukum keimigrasian harus dilakasanakan secara terus-menerus dan konsekuen. USU Repository © 2009 . yang menyatakan: 20 “Trifungsi Imigrasi yang merupakan ideologi atau pandangan hidup bagi setiap kebijakan dan pelayanan keimigrasian harus diubah karena tutntutan zaman. Tuntutan perubahan Trifungsi Imigrasi dipertegas oleh pernyataan Prof. hal. 2007. Paradigma konsepsi keamanan saat ini mulai bergeser. Yusril Ihza Mahendra. Di dalam perkembangan Trifungsi Imigrasi dapat dikatakan mengalami suatu pergeseran bahwa pengertian fungsi keamanan dan penegakan hukum merupakan satu bagian yang tak terpisahkan karena penerapan penegakan hukum dibidang keimigrasian berarti sama atau identik dengan menciptakan kondisi keamanan yang kondusif atau sebaliknya 19. semula menggunakan pendekatan kewilayahan (territory) yang hanya meliputi keamanan nasional (national security) berubah menjadi pendekatan yang komprehensif selain keamanan nasioanal juga keamanan warga masyarakat (human security) dengan menggunakan pendekatan Ibid. 20 19 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. dalam sambutan tertulis pada upacara Hari Bhakti Imigrasi ke-52 tanggal 26 Januari 2002. Dr.

dan sekuriti. dan fasilisator pembangunan ekonomi”. Hal ini lebih disebabkan karena dunia telah menjadi semakin kecil dan bahwa subjek masalah keimigrasian adalah manusia yang bersifat dinamis. hukum keimigrasian sering disertai dengan sanksi pidana Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. sehingga muncul pendapat seolah-olah masalah keimigrasian sebatas masalah yang berporos pada atau paling tidak bertalian dengan negara asing. penengak hukum. dan dapat memberikan perlindungan kepada masyarakat. paradigma baru melihat bahwa keimigrasian itu bersifat multidimensional. Mendukung konsepsi tersebut. Hal itu dapat dijelaskan dalam uraian sebagai berikut: a. penegak hukum. saya memberi pesan agar insane imigrasi mengubah cara pandang mengenai konsep keamanan yang semula hanya sebagai alat kekuasaan. Sebaliknya. agar diubah menjadi Trifungsi Imigrasi baru yaitu sebagai pelayan masyarakat. agar menjadi apratur yang dapat memberikan kepastian hukum. Bidang Politik Ada berbagai pendapat yang menyatakan di mana sebenarnya fungsi keimigrasian itu berada. sudah waktunya kita membuka cakrawala berpikir yang semula hanya dalam cara pandang ke dalam (inward looking) menjadi cara pandang ke luar (outward looking) dan mulai mencoba untuk mengubah paradigma Trifungsi Imigrasi yang pada mulanya sebagai pelayan masyarakat. 2007.35 hukum. sebagai bagian dari sistem hukum administrasi negara. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Ruang Lingkup Fungsi Keimigrasian Paradigma lama hanya melihat esensi keimigrasian sebatas hal-ihwal orang asing. USU Repository © 2009 . baik itu dalam tatanan nasional maupun internasional. Di satu sisi. Bertitik tolak dari berbagai tantangan itu. mampu melaksanakan penegakan hukum. 3.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007. Berbagai pendapat tersebut ada benarnya karena segalanya bergantung pada cara memandang fungsi keimigrasian itu. Bidang Ekonomi Di bidang ekonomi tampak jelas sekali keterkaitan fungsi imigrasi dalam rangka melaksanakan politik perekonomian suatu negara. serta faktor lain yang berkaitan dengan komposisi atau struktur kependudukan di dalam suatu negara. Meskipun demikian. Hal itu terkait dalam Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.36 yang kadangkala terasa janggal. b. Pencari Suaka politik(asylum seekers) akan mendapatkan hak-hak hidupnya dan perlindungan atas dirinya di negara terakhir ia berada. Seorang assign dapat bertempat tinggal di suatu negara tanpa mengikuti ketentuan umum mengenai keimigrasian. hukum keimigrasian juga mengatur kewarganegaraan seseorang. kedaulatan negara penerima juga tidak dapat di abaikan. seperti yang menyangkut masalah sentimen ras. agama. disisi lain hak seseorang untuk melintasi batas negara dan bertempat tinggal di suatu negara dilihat sebagai hak asasi manusia. USU Repository © 2009 . Berbagai konvensi internasional. seperti United Nations Convention 1951 Concerning of Refugees Status (selanjutnya disebut konvensi PBB Tahun 1951) menyebutkan hak-hak seorang pengungsi serta kewajiban negara penerima. Itu berarti bahwa ia mendapatkan suatu perlakuan khusus di bidang keimigrasian. Di sisi lain. Di Bidang politik sering fungsi keimigrasian ditempatkan pada hubungan hubungan internasional. Di samping itu hukum keimigrasian mempunyai kaitan yang sangat erat dengan hubungan internasional. Pada kesempatan ini sering hukum keimigrasian digunakan untuk melindungi kepentingan politik suatu negara.

izin kunjungan. 2007. serta bermacam-macam izin tinggal (izin singgah. dan akan meningkatkan arus manusia ke kawasan tersebut.37 kerangka pertumbuhan dan perkembangan perekonomian global yang ditandai dengan peningkatan arus investasi sehingga menciptakan lapangan kerja. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). jasa fasilitas pengelolaan sumber daya alam dan manusia serta jasa fasilitas perbankan. mengalirkan teknologi baru.. izin masuk kembali (re-entry permit). termasuk pembatasan yang diberlakukan terhadap seorang asing untuk meperoleh izin masuk atau tinggal di suatui negara baik sebagai pencari kerja maupun investor. yang dimaksudkan untuk merlindungi warga negaranya dari sisi perekonomian dalam menghadapi persaingan hidup. jasa fasilitas komunikasi. pembentukan pola-pola keimigrasian dengan alasan perekonomian dalam memberikan izin masuk dan bertempat Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 . izin tinggal tetap) merupakan bagian dari infrastruktur perekonomian. izin masuk beberapa kali perjalanan (multiple re-entry permit). seperti pemberian izin masuk. Maka. izin tinggal terbatas. atau dengan kata lain. ke mana investasi ditanamke sana pula arus manusia mengikutinya. Sektor peronomian membutuhkan jas infrastruktur lain. seperti jasa fasilitas tranportasi . Begitu pula dengan aspek pengawasan orang asing. sudah dapat dipastikan bahwa kini jasa fasilitas keimigrasian merupakan bagian dari infrastruktur perekonomian. Pemberian fasilitas jasa keimigrasian. Di dalam kaitan ini sangatlah jelas bahwa jasa keimigrsian di suatu negara merupakan bagaian yang tidak dapat dipisahkan dari kepentingan ekonominya. Sebagai infrastruktur perekonomian.

38

tinggal bagi warga negara asing ke negaranya, tentu saja memliki persyaratan yang ketat dan menguntungkan negara tersebut. Begitu pula negara yang termasuk dalam kategori migrant country. Sebagai contoh, Australia, dengan alasan perekonomian, mensyaratkan bahwa orang asing yang mengajukan permohonan untuk masuk dan bertempat tinggal disana harus memiliki rumah dan dana dalam jumlah tertentu sebagai modal kerja yang ditanam dalam suatu perusahaan. Kemudian, kinerja perusahaan akan dinilai setiap tahun sebelum pihak imigrasi Australia memutuskan untuk memberikan izin tinggal tetap bagi orang asing tersebut. c. Bidang Sosial Budaya Pergerakan dan perpindahan manusia sebagai individu atau kelompok akan mempunyai dampak, baik yang bersifat positif maupun negatif pada individu atau kelompok penerima. Pengaruh sosial dan budaya terjadi karena ada interaksi diantara mereka, baik di lingkungan pendatang maupun penerima. Negara berkepentingan, melalui fungsi keimigrasian, untuk tetap menjaga kondisi sosial dan budaya yang ada di dalam masyarakat agar pengaruh dari luar tidak merusak struktur sosial budaya masyarakatnya. Fungsi keimigrasian, melalui kebijakan yang diberlakukan oleh pemerintah, harus mampu menyaring serta mengatur halhal dimaksud diatas. Sebagai contoh, terjadinya peningkatan jumlah pengungsi Afghanistan yang masuk ke Indonesia beberapa waktu yang lalu, sedikit banyak telah mempengaruhi kondisi sosial dan budaya penduduk Indonesia yang tinggal di
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

39

sekitar tempat penampungan orang Afghanistan tersebut. Berbagai hal dapat terjadi, misalnya konflik sosial, perkawinan antara pengungsi dan penduduk lokal yang berdampak pada status kewarganegaraan anak mereka, serta pertikaian akibat kecemburuan sosial dari suatu kelompok kepada kelompok lain. Sekalipun tempat penampungan pengungsi tersebut diklelola oleh International

Organization for Migration (IOM), keberadaan dan kegiatan orang-orang Afghanistan itu terus diawasi imigrasi setempat. Satu kasus pernah diungkap oleh Direktorat Jendral Imigrasi ketika warga Afghanistan pemegang status pengungsi tertangkap tangan dalam sebuah operasi pengawasan keimigrasian ketika bekerja sebagai gigolo atau pria tuna susila. d. Bidang Keamanan Permasalahan yang timbul dan berkaitan dengan aspek politis, ekonomis, sosial, dan budaya pada masyarakat akan sangat berpengaruh pada stabilitas keamanan negara tersebut. Fungsi keimigrasian yang mengatur serta mengawasi keberadaan orang di negara tersebut akan memiliki peran yang signifikan. Secara universal imigrasi dijadikan sebagai penjuru (vocal point). Kebijakan yang salah atau tidak tepat di dalam menangani masalah ini akan mempunyai dampak yang sangat besar pada bidang lain. Sebagai contoh, kebijakan keimigrasian untuk mengatasi kejahatan terorganisasi lintas negara, harus dapat menjangkau juga bidang lain seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya, baik yang berskala nasional, regional, maupun internasional. Oleh karena itu, kebijakan keimigrasian mempunyai keterkaitan substansial yang berdampak beruntun (multiplier effect).
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

40

Contoh lainnya setelah terjadi insiden pemboman di Bali pada tanggal 12 November 2002 tengah malam. Pada esok harinya telah terjadi suatu evakuasi korban dan eksodus para wisatawan asing meninggalkan Bali secara besar-besaran ke Australia dengan menggunakan penerbangan pesawat tambahan. Pada saat itu imigrasi Indonesia telah menetapkan suatu kebijakan dalam keadaan force mayeur untuk mengizinkan dokumen (paspor kebangsaan) karena kebanyakan dari mereka telah kehilangan paspor. Namun demikian dari segi keamanan, petugas imigrasi melakukan pencatatan (fotokopi) dokumen yang ada dan pengambilan gambar diri (potret) secara langsung bagi mereka yang tidak memiliki dokumen keimigrasian. Hal ini dimaksud sebagi tindakan antisipatif sekiranya diantara mereka terdapat pelaku pengeboman yang hendak melarikan diri. e. Bidang Kependudukan Demikian pula kependudukan yang merupakan salah satu gatra di dalam konsep ketahanan nasional. Kependudukan merupakan aset bangsa. Struktur dan komposisi penduduk negara memiliki hubungan yang sangat erat dengan kondisi politis, ekonomis, sosial, budaya, serta keamanan nasional. Isu SARA sering menjadi pemicu stabilitas keamanan yang akan berkaitan erat atau berdampak pada situasi perekonomian baik perekonomian wilayah maupun nasional. Bahkan, lebih luas daripada itu, isu SARA dapat berpengaruh pada situasi perekonomian dan keamanan secara regional ataupun internasional. Di sini tampak secara jelas bahwa fungsi keimigrasian di berbagai lini kehidupan, walaupun pengaruhnya tidak begitu signifikan, terlihat keterkaitannya.
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

dilakukan oleh pihak imigrasi. Di Amerika Serikat. 2007.” a) Izin Singgah Izin singgah diberikan untuk orang asing yang memerlukan singgah di wilayah Indonesia guna dapat meneruskan perjalanan ke negara lain atau kembali ke negara asal. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Hal ini memang tepat karena sejak kedatangan orang asing pada saat pertam kali sampai ia mempunyai hak menurut ketentuan yang berlaku untuk mengajukan perwarganegaraan seluruh catatan keberadaan orang tersebut ada pada pihak imigrasi. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian disebutkan: 21 “(1) setiap orang yang berada di wilayah Indonesia wajib memiliki izin keimigrasian. Izin Tinggal Terbatas. Izin Singgah. Jenis-Jenis Izin Keimigrasian Dalam pasal 24 Undang-undang no. terdiri atas: a. c. fungsi keimigrasian juga disatukan dengan fungsi pelaksanaan registrasi kependudukan. (2) Izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).41 Dibeberapa negara seperti Brunei Darussalam dan Singapura. Izin Kunjungan. Izin singgah diberikan kepada orang asing pemegang visa singgah yang telah memperoleh izin masuk dan orang asing pemegang visa singgah saat kedatangan yang telah memperoleh izin masuk. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian. 21 Lihat pasal 24 Undang-undang no. Izin Tinggal Tetap. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). B. b. masalah naturalisasi atau pewarganegaraan. d. USU Repository © 2009 .

Memliki surat perjalanan (paspor) yang sah dan masih berlaku minimal 6 (enam) bulan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Memiliki trough ticket atau return ticket yang masih berlaku 3. b) Izin Kunjungan Izin kunjungan diberikan oleh pejabat imigrasi di tempat pemeriksaan imigrasi kepada orang asing mancanegara yang dibebaskan keharusan memiliki visa kunjungan. dan orang asing pemegang visa kunjungan. Memiliki visa singgah dan telah memperoleh izin masuk. Tidak termasuk dalam daftar pencegahan/penagkalan 4. Izin kunjungan diberikan dalam rangka: 1. Dalam hal jangka waktu 14 (empatbelas) hari izin singgah terlampaui oarng asing belum dapat melanjutkan perjalanan karena suatu keadaan memaksa diluar kemampuannya atau keadaan darurat seperti kerusakan alat angkutm cuaca buruk. Adapun persyaratan untuk memperoleh izin singgah adalah: 1. USU Repository © 2009 . sakit dan lain sebagainya dapat diberikan batas waktu izin untuk tetap singgah oleh kepala kantor inigrasi dengan setiap kali pemberian 14 (empat belas) hari sampai paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk. 2007. 2. Tugas pemerintahan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.42 Izin singgah diberikan untuk jangka waktu 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan tidak dapat diperpanjang.

Izin kunjungan ex visa kunjungan saat kedatangan diberikan selam 30 (tiga puluh) hari dan tidak dapat diperpanjang 4. untuk setiap kali perpanjangan selama 30 (tiga puluh) hari .43 2. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 5. 2007. Izin kunjungan ex visa kunjungan diplomatik (dinas) diberikan sesuai dengan visanya. Pemintaan perpanjangan ijin kunjungan diajukan oleh orang asing kuasanya atau sponsornya kepada kepala kantor imigrasi yang di wilayah kerjanya meliput i tempat tinggal pemohon. Kepariwisataan Izin kunjungan diberikan untuk jangka waktu: 1. Izin kunjungan untuk keperluan pariwisata diberikan selama 60 (enam) puluh hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan tidak dapat diperpanjang. 3. Izin kunjungan untuk keperluan tugas pemerintahan tugas pemerintahan. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. kegiatan sosial budaya atau usaha diberikan selama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan dapat diperpanjang paling banyak 5 (lima) kali berturut-turut. 2. Izin kunjungan ex bebas visa kunjungan singkat diberikan selama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan tidak dapat diperpanjang. Usaha 3. Kegiatan sosial budaya 4.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Tidak termasuk dalam daftar pencegahan/penangkalan 4. Visa tinggal terbatas diberikan kepada mereka yang bermaksud untuk: 22 1) Menanamkan modal. USU Repository © 2009 22 . 2007. kecuali yang dibebaskan dari keharusan memiliki visa dan telah memperoleh izin masuk. 3) Anak yang lahir dan berada di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum kawin dari ibu warga negara Indonesia dan ayahnya tidak memiliki ijin tinggal terbatas 4) Orang asing yang mendapat alih status izin kunjungan menjadi izin tinggal terbatas. Memiliki visa kunjungan. Lihat Pasal 1 ayat (2) huruf e Peraturan Pemerintah RI no. dan Izin Keimigrasian. Memliki surat perjalanan (paspor) yang sah dan masih berlaku minimal 6 (enam) bulan 2. Izin masuk. 32 tahun 1994 tentang Visa. Memiliki through ticket atau return ticket yang masih berlaku 3. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.44 Persayaratan untuk memperoleh izin kunjungan adalah: 1. c) Izin Tinggal Terbatas Izin tinggal terbatas diberikan kepada: 1) Orang asing pemegang izin masuk dengan visa tinggal terbatas 2) Anak yang lahir dan berada di wilayah Indonesia yang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum kawin dari orang tua pemegang izin tinggal terbatas.

d) Izin Tinggal Tetap Izin tingal tetap diberikan kepada orang asing untuk tinggal menetap di Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Dalam hal izin tinggal tetap berakhir sedangkan keputusan Direktur jenderal Imigrasi yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal orang asing yang bersangkutan dapat memberikan perpanjangan sementara izin tinggal tetap paling lama (90) hari terhitung sejak izin tinggal tetap berakhir. 3) Malaksanakan tugas sebagai rohaniwan. Perpanjangan izin tinggal tetap diajukan paling lama 60 (enam puluh) hari sebelum izin tinggal tetap berakhir.45 2) Bekerja. 7) Repatriasi. USU Repository © 2009 . Hukum Keimigrasian Indonesia Dalam Sistem Hukum Nasional Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. angka 3. dan angak 4. 6) Menggabungkan diri dengan suami dan atau orang tua bagi istri dan anak-anak sah di bawah umur dari Orang Asing sebagaimana dimaksud dalam huruf e angka 1. 4) Mengikuti pendidikan dan latihan atau melakukan penelitian ilmiah. C. angka 2. 5) Menggabungkan diri dengan suami dan atau orang tua bagi isteri dan atau anak sah dari seorang Warga Negara Indonesia. 2007.

Kebijakan yang dimaksud adalah gambaran dari perbuatan hukum pemerintah (overheads handeling). hukum keimigrasian adalah bagian dari ilmu hukum kenegaraan. keimigrasian dapat dilihat dalam persfektif hukum administrasi negara. khususnya merupakan cabang ilmu dari hukum administrasi negara 24. Flora Liman Mangestu. ilmu hukum keperdataan. “Persoalan Praktis Filsafat Hukum dalam Himpunan Distingsi”. yaitu fungsi penyelenggara pemerintahan atau administrasi negara (bestuur) dan pelayanan masyarakat (publiek dienst). Hal itu terlihat dari fungsi keimigrasian yang dilaksanakannya. Jika dikaitkan dengan ilmu hukum yang menjadi induknya. 24 Iman Santoso. dan ilmu hukum internasional 23. hukum pajak. 2007. masalah keimigrasian justru merupakan sebagian kebijakan oragan administrasi negara yang melaksanakan kegiatan pemerintahan (administrasi negara). . Jakarta: UKI. ilmu hukum kenegaraan. hal.46 Dalam ilmu hukum terdapat beberapa ilmu hukum positif sebagai induk. kewenangan imigrasi untuk menangkal dan mencegah orang yang hendak masuk atau keluar wilayah Indonesia. USU Repository © 2009 23 . dan hukum keimigrasian. bukan pembentuk undang-undang (wetgever) dan bukan juga fungsi peradilan (rechtspraak). hlm. Sesungguhnya. Op. seperti hukum administrasi negara. hukum ekonomi. 1992. 39 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 22. hukum lingkungan. hukum agrarian. Ridwan Halim . Contoh. Sejalan dengan perkembangan zaman. cit. telah tumbuh pula berbagai cabang ilmu hukum sebagai disiplin hukum baru. Dengan demikian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). yaitu ilmu hukum kepidanaan. A.

pemyelenggaraan keluar-masuk orang dari dan ke dalan wilayah Indonesia.47 Dalam ilmu pengetahuan hukum dikenal istilah pembidangan hukum. khusus mengatur penyelesaian perkara yang mengandung pertemuan antara dua atau lebih sistem hukum (HATAH intern dan HATAH ekstern). Luas lingkup keimigrasian tidak lagi hanya mencakup pengaturan. hukum waris. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Bidang hukum materil. Jakarta: Rajawali. terdiri atas: 1) Hukum negara yang mencakup: hukum tata negara. “Penggarapan Disiplin Hukum dan Filsafat Hukum bagi Pendidikan Hukum”. USU Repository © 2009 25 . 2007. dan hukum administrasi negara 2) Hukum perdata yang mencakup: hukum pribadi. hukum objek immaterial. Bidang Hukum Hubungan Antar Tata Hukum (HATAH). 1987. hal. hukum keluarga. dan hukum penyelewengan perdata dan sikap tindak lain 3) Hukum pidana b. yang secara khusus terbagi menurut fungsi pengaturannya. Pembidangan hukum tersebut dalam praktiknya dapat dijabarkan sebagai berikut: 25 a. 15 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. hukum benda. hukum perjanjian. Bidang hukum formil 1) Hukum tata negara formil atau hukum acara tata negara 2) Hukum administrasi negara formil atau hukum acara administrasi negara 3) Hukum perdata formil atau hukum acara perdata 4) Hukum pidana formil atau hukum acara pidana c. serta Purmadi Purbacaraka.

dapat dikatakan bahwa fungsi keimigrasian merupakan fungsi penyelenggaraan administrasi negara atau penyelenggaraan administrasi pemerintahan (besturr) 26. USU Repository © 2009 . Iman Santoso. Hukum administrasi negara mengatur tata cara menjalankan pemerintahan atau administrasi negara serta mengatur hubungan antara aparatur administrasi negara dan masyarakat yang mencakup dua hal pokok.cit. Jakarta. mengatur tata cara administrasi negara (diperkenankan atau diwajibkan) yang mencampuri kehidupan masyarakat. yaitu fungsi administrasi negara dan pemerintahan. hlm. dan izin bertempat tinggal di Indonesia. seperti tata cara bepergian ke luar negeri. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). maka Hukum Keimigrasian dapat dikatakan merupakan bagian dari bidang hukum administrasi negara 27.48 pengawasan orang asing yang berada di wilayah Indonesia. Pertama. tetapi telah bertalian juga dengan pencegahan orang keluar wilayah Indonesia dan penangkalan orang masuk wilayah Indonesia demi kepentingan umum. 2007. hal. Kedua. mengatur tata cara melindungi masyarakat da ri pelanggaran hak warga negara ataupun dari bahaya yang ditimbukan atau berkaitan dengan orang asing. 14 Januari 2000. Op. pemberian izin masuk ke dalam negeri. Maka. serta pengaturan prosedur keimigrasian dan mekanisme pemberian izin keimigrasian. Oleh karena itu. “Hukum Keimigrasian dalam Sistem Hukum Nasional”. Berhubung hukum keimigrasian harus mengikuti dan tunduk pada asasasas dan kaidah hukum administrasi negara umum (algemene administratiefrecht). penyidikan atas dugaan terjadinya tindak pidana keimigrasian. sebagai bagian dari penyelenggaraan kekuasaan eksekutif. disampaikan dalam Rapat Kerja Nasional Keimigrasian. 7 27 26 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 41 Bagir Manan.

9 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Oleh karena itu setiap tindakan yang bertentangan dengan asas penyelenggaraan pemerintahan yang baik dapat dijadikan dasar tuntutan bagi koreksi dan pelaksanaan kewajiban hukum apratur keimigrasian atau ganti rugi apabila sudah tidak mungkin lagi dipulihkan. asas legalitas. asas larangan melampaui wewenang. USU Repository © 2009 . 28 28 Ibid. hal. asas motivasi yang benar.49 terdapat dua asas umum yang harus diterapkan dalam setiap implementasi peran keimigrasian. ukuran isi tindakan atau isi keputusan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2. asas-asas umum penyelengaraan administrasi yang baik (general principles of good administration) yang mencakup asas persamaan perlakuan. disertai ganti rugi. asas tidak sewenang-wenang. asas keseimbangan. sebab tindakan atau keputusan yang bertentangan dengan asas legalitas dapat mengakibatkan tindakan atau keputusan yang bersangkutan batal demi hukum. dan asas keterbukaan. Setiap keputusan yang bertentangan dengan asas penyelenggaraan pemerintahan yang baik dapat dijadikan dasar tuntutan atau pembatalan. yaitu setiap tindakan pejabat administrasi negara dilaksanakan menurut ukuran hukum yang berlaku mencakup ukuran kewenangan. 2007. asas kepastian hukum. ukuran tata cara melakukan tindakan atau membuat keputusan. asas dapat dipercaya. yaitu: 1.

seperti izin kunjungan. USU Repository © 2009 . yang dikaitkan dengan investasi pekerjaan. proses. dan pembicaraan traksaksi bisnis. yang diberi nama droit economique. ataupun tetap. hukum mempunyai peranan yang penting bagi keberhasilan pembangunan ekonomi. izin tinggal terbatas. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Demikian pula dengan pemberian izin keimigrasian. dapat dikatakan bahwa hukum keimigrasian merupakan bagian dari hukum ekonomi. Karena semakin banyak peraturan yang mengatur bidang perekonomian dengan menggunakan kaidah hukum administrasi negara ini. KITAS ini merupakan produk administrasi negara yang berasal dari kaidah keimigrasian. Hal yang membuktikan bahwa kaidah hukum keimigrasian merupakan bagian dari hukum ekonomi dalam arti sempit adalah ketika kepemilikan hak orang asing atas satuan rumah susun (apartemen dan kondominium) di Indonesia hanya diberikan apabila orang asing tersebut adalah pemegang KITAS (Kartu Izin Tinggal Terbatas). 2007. sebab melalui hukum. Dalam perspektif pembangunan nasional. juga diberikan kepastian mengenai subjek dan objek hukum dalam setiap kegiatan ekonomi. aktivitas perdagangan. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. selain ditetapkan hak dan kewajiban. serta kelembagaan dari setiap kegiatan interaksi ekonomi.50 Dalam perspektif yang lebih besar lagi. terbentuklah bidang hukum baru yang disebut hukum ekonomi dalam arti sempit.

USU Repository © 2009 29 . Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 1996. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian 1. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Ketentuan Keberadaan Warga Negara Asing (WNA) di Indonesia Menurut Undang-undang RI No. 2007. 29 Pasal 2 sampai 9 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) mengatur mengenai batas-batas berlakunya perundang-undangan hokum pidana menurut Koerniatmanto Soetoprawiro. Gramedia Jakarta. Indonesia merasa perlu untuk mengatur permasalahan orang asing yang berada di Indonesia. 74.51 BAB III PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PENYALAHGUNAAN IZIN KEIMIGRASIAN A. yaitu warga Negara Indonesia (WNI) dan orang asing atau warga negara asing (WNA). hal. Oleh karena itu. Hukum Kewarganegaraan dan Keimigrasian Indonesia. Visa sebagai izin masuk Penduduk Indonesia pada hakikatnya terdiri atas dua golongan.

USU Repository © 2009 . Lihat Pasal 6 ayat (1) Undang-undang RI No. Tugas Pokok dan Fungsi Direktorat Jendral Imigrasi. 2007. Jakarta. Jakarta. 1982. Buku Petunjuk Keimigrasian RI Bagian I Visa Izin Tinggal. 2000. yaitu: 30 1. 2. Perundang-undangan hukum pidana berlaku bagi semua perbuatan pidana yang dilakukan oleh waraga negara. baik dilakukan oleh warga negaranya sendiri maupun oleh negara asing (asas teritorial). 32 Hadi Kiswanto. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. 1983. 31 Oleh karena itu setiap orang asing yang masuk wilayah Indonesia wajib memiliki visa. Ditinjau dari sudut negara. 33 Direktorat Jendral Imigrasi. juga diluar wilayah negara (asas personal atau juga dinamakan prinsip nasional aktif). ada beberapa pengertian visa yang dapat dikemukakan. Perundang-undangan hukum pidana berlaku bagi semua perbuatan pidana yang terjadi dalam wilayah negara. antara lain: Menurut Hadi Kiswanto:32 “Visa adalah izin tertulisuntuk masuk ke suatu negara yang tercantum dalam surat perjalanan”. dimana saja. Departemen Kehakiman RI. Di dalam Buku Petunjuk Keimigrasian Republik Indonesia Bagian I Visa dan Izin Tinggal disebutkan: 33 Moeljatno. Sesuai dengan ketentuan ketentuan Undang-undang RI Nomor 9 tahun 1992 tentang keimigrasian. hal. hal. dalam pasal 6 ayat 1 disebutkan bahwa “setiap orang asing yang masuk wilayah Indonesia wajib membawa Visa”.52 tempat terjadinya perbuatan. hal. Rineka Cipta. 10. ada dua kemungkinan pendirian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 31 30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2. Asas-asas Hukum Pidana. 38. Jakarta.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. 35 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.29.53 “Visa adalah izin tertulis yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang di dalam papor kebangsaan yang menyatakan bahwa yang bersangkutan dapat mengadakan perjalanan ke negara yang dituju”. 142.” Sedangkan menurut Undang-undang RI No. Balai Pustaka. WJS Poerwadarnita. M. Jakarta. Lihat Pasal 1 butir 7 Undang-Undang RI No. 1986. 07. Hal ini sejalan dengan tugas pokok Direktorat Jendaral Imigrasi yang tertuang dalam keputusan Menteri Kehakiman RI No. hal. PR. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian menyebutkan: “Visa adalah izin tertulis yang diberikan oleh pejabat yang berwenang pada Perwakilan Republik Indonesia atau di tempat lainnya yang ditetapkan olah Pemerintah Republik Indonesia yang memuat persetujuan bagi orang asing untuk masuk dan melakukan perjalanan ke wilayah Indonesia.04 Tahun 1981 yang menyatakan sebagai berikut: “Tugas Pokok Direktorat Jendral Imigrasi adalah mengtaur dan mengawasi lalu lintas antar Republik Indonesia dengan negara lain serta menyelenggarakan pengawasan orang asing dalam wilayah negara 34 WJS Poerwadarninta. USU Repository © 2009 . 2007.” 35 Maksud dan tujuan pemberian visa menurut petunjuk Pusdiklat Departemen Kehakiman Republik Indonesia yaitu untuk dapt mengendalikan serta mengawasi lalu lintas orang asing yang keluar nasuk (ke dan dari) wilayah Indonesia. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan: 34 “Visa adalah izin untuk keluar atau masuk ke sesuatu negara.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).” 36 Menurut Undang-undang No.54 Republik Indonesia demi menjamin ketertiban. dan keamanan nasional. Visa Dinas. ketentraman. Beberapa Pedoman dan Ketentuan Tentang Imigrasi dan Ketatalaksanaan: Bahan Penataran Administrasi Apratur Kehakiman. bangsa dan negara Republik Indonesi serta tidak membahayakan keamanan dan ketertiban. Jakarta. juga tidak bermusuhan baik terhadap rakyat. diberikan kepada orang asing pemegang Paspor Dinas yang hendak bepergian ke Indonesia untuk melaksanakan tugas resmi dari Pemerintah asing yang bersangkutan atau diutus oleh Organisasi Internasional. ada lima jenis visa: 38 a. Berdasarkan prinsip ini. b. 6. Hal ini sejalan dengan prinsip yang bersifat “selekrif” (selective policy). maupun negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang diizinkan masuk ke wilayah Indonesia. hanya orang asing yang dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat. hal. Izin Masuk dan Izin Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 32 Tahun 1994 tentang Visa. Izin masuk dan Izin Keimigrasian. USU Repository © 2009 36 . 1982. Pusdiklat Pegawai Departemen Kehakiman. 37 Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 37 Lihat dalam Penjelasan Umum Undang-undang RI No. 32 Tahun 1994 tentang Visa. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian. 38 Lihat Pasal 1-17 PP No. diberikan kepada orang asing pemegang Paspor Diplomatik yang hendak bepergian ke Indonesia dengan tugas Diplomatik. Visa Diplomatik. 2007. tetapi tugas tersebut tidak bersifat Diplomatik. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Visa ini diberikan kepada orang asing yang maksud dan tujuan kedatangannya di Indonesia tidak menimbulkan gangguan terhadap ketertiban dan keamanan nasional.

dapat diberikan kepada orang asing untuk singgah di wilayah Negara Republik Indonesia untuk meneruskan perjalanan ke negara lain atau kembali ke negara asal. dapat diberikan kepada orang asing untuk berkunjung di wilayah Negara Republik Indonesia paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikannya Izin Masuk di wilayah Negara Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). dapat diberikan kepada orang asing untuk tinggal di wilayah Negara Republik Indonesia paling lama satu tahun terhitung sejak tanggal diberikannya izin masuk di wilayah Negara Republik Indonesia. USU Repository © 2009 .55 c. e. Visa Tinggal Terbatas. 2007. tetapi dalam pasal 7 Undang-undang No. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian dinyatakan: 39 “dikecualikan dari kewajiban memiliki visa bagi orang asing yang masuk wilayah Indonesia adalah: 39 Lihat Pasal 7 Undang-undang RI No. Visa Singgah. Dalam hal ini orang asing dapat menggunakan Multipel Visa. Bebas visa kunjungan singkat (BVKS) Pada dasarnya setiap orang yang akan memasuki suatu negara harus memiliki visa. Visa Kunjungan. 2. yaitu visa Kunjungan untuk beberapa kali melakukan perjalanan dari dan ke wilayah Negara Republik Indonesia. Visa ini diberikan untuk singgah di wilayah Negara Indonesia paling lama 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal diberikannya izin masuk di wilayah Negara Republik Indonesia. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. d.

Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN). Jakarta. Sebagai contoh. 1984. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). “Analisa dan Evaluasi tentang Pengaturan Fasilitas Bebas Visa wisata bagi Orang Asing yang Berkunjung ke Indonesia” (Laporan Penelitian). 9. Biasanya kemudahan ini diberikan untuk kepentingan negara tersebut yaitu agar orang asing lebih banyak masuk ke negaranya dan ini akan menghasilkan devisa. 2007. USU Repository © 2009 40 . Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. seperti yang disebutkan pada huruf (a) diatas. terdapat negara-negara yang diberikan kemudahan kepada orang asing untuk masuk ke suatu negra Indonesia dengan tidak memerlukan visa. 40 Selain itu juga pemberian kemudahan tersebut juga didasarkan kepada azas resiprositas yaitu negara yang memberikan kemudahan bebas visa terhadap waraga asing tertentu. Dalam hal tertentu. Penumpang transit di Pelabuhan atau Bandar Udara diwilayah Indonesia sepanjang tidak keluar dari tempat transit yang berada di daerah tempat Pemeriksaan Imigrasi. Orang asing yang memiliki Ijin masuk kembali c. hal. Orang asing warga negara dari negara yang berdasarkan keputusan Presiden tidak diwajibkan memilki visa b. dkk). Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. maka waraga negara dari negara tersebut juga mendapatkan pembebasan visa apabila akan ke negara asing tertentu. Kapten atau Nakoda kapal dan awak yang bertugas pada alat angkut yang berlabuh dipelabuhan atau mendarat di Bandar Udara di wilayah Indonesia d. warga negara ASEAN dapat saling masuk ke negara-negara ASEAN lainnya tanpa terlebih dahulu meminta visa.56 a.

menikmati objek-objek wisata dan lain-lain. Belanda 7. Australia 5. melakukan penelitian dan kunjungan yang bersifat sosial budaya. 44. Arab Saudi 3. Direktorat Jendral Imigrasi. Mexico 30.01. Kunjungan sosial budaya adalah kunjungan dalam rangak mengunjungi family.01 tahun 1993 tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS). Orang asing yang diberikan BVKS ini dapat melakukn kegiatan-kegiatan sebagaimana tersebut diatas dengan catatan dilarang melakukan kegiatan yang sifatnya bekerja. Amerika Serikat 2. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Austria 6. Malta 27. Nepai 33.02. Maldive 26. Norwegia Lukman Bratamidjaja. 2007. 24-25 42 Berdasarkan Data Kantor Imigrasi Polonia Medan Tahun 2001. Maroko 28. Mesir 29. “Aspek Ilmu Perundang-undangan BVKS Bagian I”. M. Malaysia 25. hal. social budaya dan usaha. memberikan kemudahan kepada waraga negara dari + 46 negara dapat masuk ke wilayah Indonesia selama 2 (dua) bulan. Chili 41 41 24. Argentina 4. USU Repository © 2009 . sedangkan kunjungan usaha adalah kunjungan dalam rangaka membina hubungan bisnis. Brunai Darussalam 10. pembicaraan bisnis dan penjajakan memperluas usaha bisinis di Indonesia. Brazil 9. Myanmar 32. Orang asing yang diberi fasilitas BVKS dapat melakukan kegiatan seperti kunjungan wisata. adalah: 42 1. Jakarta. Monaco 31. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Belgia 8. Kunjungan wisata adalah perjalanan mengunjungi Indonesia untuk berlibur. Pintu Gerbang No. 2002.57 Pemerintah Republik Indonesia dengan peraturan perundang-undangan berupa Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. Adapun negara-negara penerima BVKS.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 43 . hal. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. Kanada 22. Jakarta. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Surat perjalanan republik Indonesia (Paspor) Paspor adalah sebuah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh suatu badan pemerintah yang berwenang untuk bangsanya atau untuk penduduk asing. Jerman 21. Finlandia 13. Pabean. Luxemburg 34. Korea Selatan 23. 1997. Thailand 44. Spanyol 38. Taiwan 42. dan memasuki dan meninggalkan negara lain yang mempunyai hubungan diplomatik dengan negara yang mengeluarkan paspor tersebut. dan Karantina. Swedia 40. Felix Hadi Mulyatno dan Endar Sugiarto. Turki 45. Denmark 12. Hungaria 15. 44 Paspor berfungsi sebagai surat perjalanan yang digunakan untuk meninggalkan dan memasuki kembali negara yang bersangkutan. Prancis 35. Irlandia 17.58 11. Italia 19. 44 Lihat Pasal 1 angka 3 Undang-undang RI no. Imigrasi. Inggris 16. Selandia Baru 37. Philipina 36. Singapura 39. 2007. Hongkong 14. 43 Sedangkan menurut Undang-undang RI No. Tanzania 43. Swiss 41. Orang yang ingin mengunjungi negara lain harus mengetahui apakah paspornya berlaku untuk negara yang akan dituju R. Gramedia Pustaka. Jepang 20. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian menyatakan: “surat perjalanan adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang dari suatu negara yang memuat identitas pemegangnya dan berlaku untuk melakukan perjalanan antar negara”. PT. Yunani 3. Uni Emirat Arab 46. Israel 18. 39.

Felix Hadi Mulyatno dan Endar Sugiarto. diberikan kepada orang asing yang pada saat diberlakukannya undang-undang ini telah memliki izin tinggal tetap akan 45 46 R. dan mereka boleh menggunakan kedua paspor mereka. Papor biasa. Paspor Haji. diberikan kepada warga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dalam rangka penamatan atau tugas yang bersifat diplomatik c. misalnya dipaspor atau kartu penduduk. cit. b. Itu sebabnya kita dulu mengenal “Dwi Warga Negara”. yang artinya seseorang bias mempunyai dua warga negara. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 40 47 Lihat Pasal 29 Undang-undang No. d. hal. Disamping itu. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Paspor untuk orang asing. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian disebutkan Surat Perjalanan Republik Indonesia terdiri atas: 47 a. diberikan kepada waraga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dalam rangka menunaikan inbadah haji. hal. 40.59 atau tidak 45. Paspor diplomatik. kita juga harus mengetahui apakah paspor berlaku untuk negara transit yang akan disinggahi dalam perjalanan menuju ke negara tujuan atau tidak. diberikan kepada warga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar negeri (keluar wilayah Indonesia) secara normal. Kebangsaan seseorang bisa dilihat pada kartu identitasnya. Op. Itu bukan berarti bahwa pemegang paspor dari negara yang mengeluarkan paspor tersebut adalah warga negaranya. 46 Dalam pasal 29 Undang-undang No. Ibid. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. USU Repository © 2009 . 2007. misalnya Cina dan Indonesia.

dan dikenakan tindakan pengusiran atau deportasi atau dalam keadaan tertentu yang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional diberi izin untuk masuk ke wilayah Indonesia. 2007. f. Paspor dinas. Masa berlakunya paspor adalah 5 (lima) tahun. yang bukan bersifat diplomatik. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Warga negara asing (WNA) yang masuk ke Indonesia pada umumnya atau kota medan khususnya. Surat perjalanan laksana paspor untuk warga negara Indonesia. diberikan dalam keadaan khusus apabila paspor biasa tidak diberikan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . menggunakan fasilitas BVKS maupun menggunakan visa Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Surat perjalanan laksana paspor dinas. dapat diberikan kepada orang asing yang tidak mempunyai surat perjalanan yang sah dan atas kehendak sendiri keluar dari wilayah Indonesia sejauh dia tidak terkena pencegahan. diberikan kepada warga negara Indonesia dalam keadaan khusus apabila tidak mendapatkan paspor dinas. g.60 melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dan tidak mempunyai surat perjalanan serta dalam waktu yang dianggap layak tidak dapat memperolehnya dari negaranya atau negara lain. h. Sedangkan untuk WNI yang berdomisili di luar negeri masa berlakunya paspor adalah 2 tahun. e. B. diberikan kepada warga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dalam rangka dinas/tugas dari pemerintah. Surat perjalanan laksana paspor untuk orang asing.

Ruang lingkup fasilitas bebas visa Menurut Keputusan Menteri Kehakiman No. USU Repository © 2009 . menikmati objek-objek wisata dan lain-lain. tetapi kenyataannya ada juga wisatawan yang menyalahgunakannya untuk keperluan lain sebagai sampingan bahkan ada juga wisatawan yang sama sekali tidak berwisata. Kunjungan sosial budaya 48 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim. Kunjungan usaha Kunjungan wisata adalah perjalanan mengunjungi Indonesia untuk berlibur. Di dalam izin kunjungan tersebut dijelaskan bahwa izin kunjungan digunakan penggunaannya untuk berwisata. Kunjungan sosial budaya c. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Hal ini dimannfaatkan oleh warga negara asing untuk menyalahgunakan izin keimigrasian. 48 1.02 tahun 1993 tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS).01. Penyalahgunaan tersebut bisa terjadi karena faktor-faktor ruang lingkup fasilitas bebas visa yang dinilai terlalu luas.01-12. M. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007. Kantor Imigrasi Polonia Medan. yang meliputi: a. dan pemberian tenggang waktu pada izin kunjungan wisata yang terlalu lama atau karena faktor petugas imigrasi sendiri.61 wisata akan mendapat izin kunjungan wisata sesuai dengan izin masuk baik dengan visa atau bebas visa. Kunjungan wisata b. Keputusan Menteri Kehakiman tersebut mengatur pelaksanaan teknis bebas visa.

49 Keputusan Menteri Kehakiman ini merupakan suatu kebijaksanaan pemerintah yang memperluas pemberian fasilitas bebas visa jika dibandingkan dengan ketentuan yang diatur dalam Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No.01-12.62 adalah kunjungan dalam rangak mengunjungi family. 25 Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. hal. sedangkan kunjungan usaha adalah kunjungan dalam rangaka membina hubungan bisnis. Kantor Imigrasi Polonia Medan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Keputusan Menteri ini bertujuan memperjelas kepastian dan batasan fasilitas bebas visa. Op. dkk). masih saja ditemukan penyalahgunaan oleh warga negara asing (WNA) yang melakukan perjalanan wisata atau yang biasa disebut wisatawan asing. yang merupakan fasilitas untk kunjungan khusus wisata. pembicaraan bisnis dan penjajakan memperluas usaha bisnis di Indonesia. Namun. 50 Oleh karena itu. M. 2007. melakukan penelitian dan kunjungan yang bersifat sosial budaya. 9 51 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim. 51 Hasil penelitian Timi Evaluasi dan Analisa dari Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) yang dilakukan sejak tahun 1992-1993 disejumlah daerah 49 50 Lukman Bratamidjaja.02 tahun 1983 tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS). misalnya bekerja atau berusaha atau bahkan ada yang mengedarkan ganja atau narkotika.01-12. M. Hal ini yang mendasari diterbitkan Keputusan Menteri Kehakiman No.01. USU Repository © 2009 . Op. cit. tujuan pemberian fasilitas Bebas Visa Wisata (BVW) sudah diatur secara tegas.02 tahun 1983 tentang Pelaksanaan Pembebasan Keharusan memiliki visa bagi wisatawan asing.01. hal. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). cit.

26 tahun 1970 tentang Koordinasi Pengawasan Orang Asing yang Berkunjung ke Indonesia SKB Menteri Luar Negeri dan Menteri Kehakiman tentang Peraturan Visa Keputusan Menteri Kehakiman Bebas Visa Wisata (BVW) tentang Tahun 1970 Tenggang Waktu 7 (tujuh) hari 1979 30 (tiga puluh) hari + 15 (lima belas) hari 60 (enam puluh ) hari atau 2 (dua) bulan 60 (enam puluh) hari atau 2 (dua) bulan 1983 Keputusan Kehakiman tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS) 1993 Sumber: Hasil Investarisasi Peraturan Perundang-undangan Bebas Visa Wisata Tahun 1970-1993 I Wayan Tangun Susila. menyebutkan adanya pelanggaran terhadap pemberian fasilitas Bebas Visa Wisata (BVW) yang telah diatur dalam Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. M. 52 2. Masa Tenggang Waktu Pemebrian Fasilitas Bebas Visa Bentuk Peraturan PP No. hal.01. Tenggang waktu fasilitas bebas visa Sebagaimana telah diketahui mengenai tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa untuk wisata telah beberapa kali diatur. dkk. 1993.01-12. setelah ruang lingkup fasilitas bebas visa dalam BVKS diperluas tetap saja ditemukan pelanggaran yang sama. 23 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. kegagalan ini telah dimanfaatkan orang asing sebagai salah satu cara masuknya imigran gelap ke Indonesia.63 wisata di Indonesia mengenai Pengaturan Fasilitas Bebas Visa Wisata (BVW) bagi orang asing yang berkunjung ke Indonesia. Olah karena itu. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Laporan Penelitian. 1. USU Repository © 2009 52 . “Usaha Penaggulangan Tindak Pidana Imigrasi dan Imigrasi Gelap di Kota Madya Denpasar”.02 tahun 1983. 2007. Universitas Udayana dan PDII LIPI (Jakarta). Kemudian. Denpasar. yaitu dalam: Tabel.

64 Perkembangan tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa bagi wisatawan dimaksudkan untuk mendukung pertumbuhan kepariwisataan dan meningkatkan arus wisatawan. 2007. Hal ini dikarenakanjarang sekali wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia selama 2 (dua) bulan untuk berwisata saja. cit. USU Repository © 2009 53 . Op. Jakarta. yaitu mempunyai Izin Tinggal Terbatas dan memiliki Izin Kerja yang diberikan oleh Menteri Tenaga Kerja. hal. dkk). Alasan-alasan yang dikemukakan adalah: H. Sedangkan bagi orang asing yang akan bekerja di Indonesia sudah ad pengaturannya. 6-8. 1996. 16-17 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Tetapi tenggang waktu 2 (dua) bulan ini dirasakan terlalu panjang atau lam. 53 Berdasarkan hasil penelitian oleh Tim Evaluasi dan Analisa terhadap responden yaitu para wisatawan asing tentang waktu pemberian fasilitas bebas visa adalah sebagai berikut: 54 1. S. Pedoman Penggunaan Tenaga Kerja Asing di Indonesia dan Peraturanperaturannya. Sinar Grafika. Tenggang waktu wisatawan di Indonesia selama 2 (dua) bulan merupakan pendapatan bagi pengelola wisata. Sjarif. Lamanya jangka waktu ini ternyata dapat memberikan peluang bagi wisatawan asing untuk melakukan pelanggaran dengan berbagai motivasi. 54 Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). hal. seperti disalahgunakan untuk bekerja. Tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa untuk wisata yang paling ideal adalah 1 (satu) bulan dan dapat diperpanjang selama 30 (tiga puluh) hari.

C. Pengawasan terhadap orang asing memerlukan perhatian yang lebih seksama. Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa lama masa kunjungan wisatawan asing ke Indonesia rata-rata antara 3 (tiga) sampai 4 (empat) minggu saja. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa selama2 (dua) bulan apalagi 3 (tiga) bulan dipandang tidak ideal. Pemasukan devisa dapat memenuhi target yang diharapakan. sebab objek wisata di Indonesia sangat banyak dan menarik. Terlalu lama. meskipun ataruan tentang keimigrasian telah baik. sebab: a. 2. Petugas Imigrasi Peranan petugas imigrasi dalam hal pengawasan sangat besar. Pemberian fasilitas bebas visa selam 1 (satu) bulan dirasakan masih kurang bagi sebagian besar wisatawan asing. b. d. b.65 a. Pengawasan terhadap orang asing bisa terkendali. Jarang sekali wisatawan asing yang berwisata sampai 3 (tiga) bulan. c. 2007. Tidak dapat dipungkiri. c. harus didukung oleh mental petugas yang baik pula. d. USU Repository © 2009 . Terutama para petugas yang bertugas di Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Bisa disalahgunakan untuk tujuan lain selain berwisata.

Tekhnik pengawasan. apabila mereka bertindak masa bodoh. Op. 21 Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. cit. Tahap pengawasan. System pelaporan. hal. wawancara/ilicting untuk mencari mengetahui kebenaran materil terhadap keberadaan orang asing yang berkunjung. dkk). Mekanisme pengawasan tersebut adalah sebagai berikut: 56 1. hal. maka orang asing tersebut akan leluasa berkeliaran di Indonesia. Op. cit. 55 Hasil pengawasan terhadap orang asing yang berkunjung. dkk. dan juga membuat daftar terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh orang aing yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi penindakan imigrasi. sebaiknya memiliki satu sistem database diseluruh Indonesia yang dapat diakses oleh semua petugas imigrasi dimanapun berada. 2007. khususnya yang menggunakan fasilitas bebas visa untuk wisata menunjukkan perlu adanya pemantauan kegiatan-kegiatan yang dilakukan. 2. Hal ini bertujuan untuk mengetahui secara dini setiap peristiwa yang dapat diduga mengandung unsureunsur pelanggaran keimigrasian. USU Repository © 2009 . dan diadakan peninjauan ke lokasi. 3. kemudian saat orang asing tersebut mendarat di wilayah Republik Indonesia harus juga diperiksa dan ketika orang asing tersebut berada tinggal di Indonesia. 25-30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. yaitu secara administrarif tentang perizinannya.66 pintu-pintu masuknya orang asing ke Indonesia. yaitu dilakukan mulai pada saat orang asing mengurus izin masuk ke Indonesia di luar negeri. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 55 56 I Wayan Tangun Susila.

maka Menteri Kehakiman sebagai yang bertanggung jawab dalam pengawasan orang asing dan dalam dalam hal ini lebih dititik beratkan kepad imigrasi.67 4. Departemen Kehakiman c. hal. sepanjang yang menyangkut masalah: 57 a. Departemen Kehakiman bekerja sama dengan: 1) Departemen Pariwisata. maka harus melakukan koordinasi dengan instansi pemerintah lainnya. 19-30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Koordinasi dengan instansi terkait. USU Repository © 2009 . karena dari segi kauntitas petugas imigrasi sangat kurang untuk mengawasi keadaan setiap oarng asing dalam segala kegiatan mereka di Indonesia. Pos dan Telekomunikasi 2) Departemen Luar Negeri 3) Departemen Dalam Negeri 4) Polri c. q Direktorat Jenderal Imigrasi melakukan kerja sama dengan: 1) Departemen Tenaga Kerja 2) Departemen Luar Negeri 3) Badan Koordinasi Penanaman Modal 4) Polri 5) Pemda dan Departemen Tekhnis b. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Departemen KEhakiman bekerja sama dengan: 1) Departemen Pariwisata. Pos dan Telekomunikasi 2) BAKIN (BIN) 57 Ibid. 2007. Artis Asing. Tenaga kerja. Tourist.

namun dalam pelaksanaannya masih saja terdapar orang asing yang melakukan pelanggaran atau penyalahgunaan. misalnya mengenai Cletering house mengenai masalah izin masuk warga RRC dan lain-lain. Departemen Kehakiman bekerja sama dengan: 1) Departemen Perhubungan 2) Departemen Luar Negeri 3) Departemen Pertanian 4) TNI Angkatan Laut e. Departemen Kehakiman melakukan koordinasi dengan: 1) BAKN 2) BIN 3) Polri 4) Kejaksaan Agung 5) Departemen Tenaga Kerja 6) Pemda Meskipun pengawasan terhadap orang asing yang berkunjung ke Indonesia sudah diatur dan mekanismenya sudah sedemikian rupa. USU Repository © 2009 . 2007.68 3) Departemen Luar Negeri 4) Departemen Tenaga Kerja 5) Polri 6) Pemda/Departemen Luar Negeri d. Masalah khusus. Awak Kapal. Hal ini terjadi karena pengawasan yang kurang efektif dari Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

dkk. yaitu: 1. Satu diantaranya adalah penyalahgunaan izin masuk ke Indonesia yaitu izin kunjungan wisata yang pada dasarnya telah melanggar ketentuan Undang-undang keimigrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Pengawasan yang kurang terhadap orang asing yang masuk ke Indonesia dapat menimbulkan tindakan yang mengarah kepada kejahatan maupun pelanggaran. cit.69 Petugas Imigrasi yang terbatas. 28 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 58 Usaha penanggulangan terjadinya pelanggaran ketentuan keimigrasian dibedakan atas dua upuya. USU Repository © 2009 . Karena salah satu faktor penyebab terjadinya penyalahgunaan izin keimigrasian adalah kurangnya koordinasi petugas keimigrasian dengan instansi lain. Upaya preventif Terjadinya tindak pidana keimigrasian tidak terlepas dari masalah pengawasan orang asing. Upaya Penanggulangan Tindak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Penanggulangan adalah cara mengatasi terjadinya sesuatu tindak pidana keimigrasian. 59 58 59 I Wayan Tangun Susila. Karena itu. Op. hal. 2007. 28 Ibid. hal. sangata penting koordinasi dengan instansi lain. C.

70

Dalam bagian Penjelasan Umum UU no. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian ditegaskan bahwa terhadap orang asing, pelayanan, dan pengawasan di bidang keimigrasian dilakukan dengan prinsip yang bersifat “selektif” (selective policy) . 60 berdasarkan prinsip ini, hanya orang asing yang diizinkan masuk ke Indonesia adalah orang asing yang memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat, bangsa dan negara Republik Indonesia serta tidak membahayakan keamanan dan ketertiban, juga tidak bermusuhan baik terhadp rakyat, maupun terhadp negra Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Dengan demikian orang asing yang ingin masuk dan menetap di wilayah Indonesia harus dipertimbangkan dari berbagai segi, baik dari segi politik, ekonomi maupun sosial budaya bangsa dan negara Indonesia. Sikap dan cara pandang seperti ini merupakan hal yang wajar, terutama bila dikaitkan dengan pembangunan nasional, kemajuan ilmu dan teknologi, perkembangan kerja sama regional meupun internasional, dan meningkatnya arus orang asing yang masuk dan keluar wilayah Indonesia. Untuk menjamin kemanfaatan orang asing tersebut dan dalam rangka menunjang tetap terpeliharanya stabilitas dan kepentingannasioanl, kedaulatan negara, keamanan dan ketertiban umum serta kewaspadaan terhadap dampak negatif yang timbul akibat perlintasan orang antar negara, keberadaan dan

Arief Rahman Kunjono, “Illegal Migrants dan Sisitem Keimigrasian Indonesia: suatu tinjauan Analisis”, Pintu Gerbang No. 44, Direktorat Jendral Imigrasi, Jakarta, 2002, hal. 27
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

60

71

kegiatan orang asing di wilayah Indonesia, dipandang perlu melakukan pengawasan bagi orang asing dan tindakan keimigrasian keimigrasian secara tepat, cepat, teliti dan terkoordinir tanpa mengabaikan keterbukaan dalam memberikan pelayanan orang asing. Makna dari pengawasan mempunyai pengertian yang luas dan mengandung pengertian yang positif. Pengawasan berarti juga mengadakan pengendalian serta bimbingan penyuluhan yang ditujukan untuk mengadakan perbaikan yang diikuti dengan pemecahannya. 61 Dapat dikatakan, proses pengamatan dan penghayatan seluruh kegiatan dilakukan sesuai dengan peraturan-peraturan, instruksi, dan kebijaksanaanyang berlaku. Di dalam pengawasan yang penting adalah mengetahui apakah dalam pelaksanaan tugas-tugas terjadi penyimpangan atau kesalahan. Hal ini secara preventif agar dilaksanakan sedini mungkin supaya tidak terjadi adanya pelanggaran-pelanggaran yang bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku. Sistem pengawasan keimigrasian adalah suatu sistem pengawasan terhadp orang asing, sisitam itu meliputi pengamatan dan pemeriksaan segala kegiatannya mulai dari rencan dan beradanya orang asing di Indonesia sampai dengan meninggalkan Indonesia (the equality of service and security.) 62 Hal ini ditegaskan Pasal 38 ayat (1), Undang-undang No. 9 tahun 1992, yaitu: 63 (1) Pengawasan terhadap orang asing di Indonesia meliputi:

61 62

I Wayan Tangun Susila, dkk, Loc, cit. Arief Rahman Kunjono, Loc, cit. 63 Lihat pasal 38 ayat (1) Undang-undang RI no. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian.
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

72

a. Masuk dan keluarnya orang asing ke dan dari wilayah Indonesia b. Keberadaan serta kegiatan orang asing di wilayah Indonesia. Perihal pengawasan orang asing diatur dalam Undang-undang no. 9 tahun 1992, seperti pada Bab VI tentang pengawasan terhadap orang asing dan tindakan keimigrasian. Pelaksanaan pengawasan terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia dilakukan oleh Menteri Kehakiman dan HAM dengan koordinasi bersama badan dan instansi yang terkait (Pasal 41 UU No. 9 tahun 1992). Dalam hal ini diadakan pemantapan mekanisme koordinasi dan operasi antara instansi yang terkait dalam rangka pengawasan orang asing, instansiinstansi tersebut akan melakukan tugas dan wewenangnya masing-masing sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Koordinasi dimaksudkan untuk memaksimalkan daya guna dan hasil guna pengawasan terhadap orang asing. Tujuan pengawasan tersebut untuk mewujudkan prinsip selective policy yang dipandang perlu dalam mengawasi orang asing. 64 Untuk kelancaran dan ketertiban dalam mengawasi orang asing, pemerintah telah menyelenggarakan pendaftaran orang asing yang berada di wilayah Indonesia sehingga dapat dihimpun data mengenai orang asing. Seperti disebutkan, Direktorat Jendral Imigrasi Departemen Kehakiman dan HAM

64

Koerniatmanto Soetoprawiro, Op. cit, hal. 90-91

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

3. Memperlihatkan Surat Perjalanan atau dokumen keimigrasian yang dimilikinya pada waktu diperlukan dalam angka pengawasan. 9 tahun 1992 disebutkan bahwa dalam menyelenggarakan pendaftaran orang asing yang ada di Indonesia berkewajiban untuk: 66 a. 13 66 Lihat pasal 39 Undang-undang no. Pengumpulan data dengan cara pengawasan orang asing ini dilaksanakan bagi setiap orang asing yang: 1. Jakarta. 65 Pendaftaran ulang pada tahun 2001 lalu adalah untuk pertama kalinya sejak Undang-undang no. Direktorat Jenderal Imigrasi. “Imigrasi Daftar Ulang Warga Negara Asing”. 9 tahun 1992 berlaku dan akan dilakukan setiap lima tahun sekaliberdasarkan peraturan keimigrasian yang berlaku. Memberikan segala keterangan yang perlu mengenai identitas diri dan /atau keluarganya. b. 42. 200. USU Repository © 2009 65 . 2007. Berada di wilayah negara Republik Indonesia. c. Pintu Gerbang No. serta perubahan alamatnya. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Pada pasal 39 Undang-undang no. hal. Mendaftarkan diri jika berada di Indonesia lebih dari Sembilan puluh hari.73 Republik Indonesia mengadakn pendaftaran ulang warga negara assign secara serentak di seluruh wilayah RI sejak tanggal 10 Agustus-31 Oktober 2001. 2. Masuk atau keluar wilayah negara Republik Indonesia. Melakukan kegiatan di wilayah negara Republik Indonesia. perubahan status sipil dan kewarganegaraan. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

21 69 I Wayan Tangun Susila. Pintu Gerbang No. Direktorat Jenderal Imigrasi. cit. Oleh karena itu sebaliknya setiap atase atau KBRI dsetiap negara terdapat aparatur imigrasi yang bertugas disana. USU Repository © 2009 . 2007. diadakan pengawasan yang dilakukan 67 68 I Wayan Tangun Susila. hal. Setiap orang asing yang akan datang atau masuk ke wilayah Indonesia haruslah memiliki visa yang merupakan izin masuk ke Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 29 Saleh Wiramiharja. 1 Pengawasan orang asing yang masuk atau keluar wilayah RI Pengawasan orang asing sebelum memasuki wilayah Indonesia berhubungan dengan konsulat atau kedutaan RI khusus atas imigrasi untuk melayani dan meneliti secara selektif setiap permohonan visa ke Indonesi. serta memuttuskan apakah dapat diberikan atau tidak berdasarkan pertimbangan kepentingan Ipoleksosbudhankamnas. Op. 45. dkk. 69 1. Jakarta. “Langkah-langkah Baru Menunjang Peningkatan Profesionalisme Keimigrasian”. Op. 2 Pengawasan orang asing ketika berada di wilayah negara RI Pada saat orang asing sedang menuju atau sudah di pelabuhan pendaratan. baik Bandar udara maupun pelabuhan laut. dkk. hal. 31 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. cit. 2002. 67 Pengawasan terhadap orang asing sebelum memasuki Indonesia dilakukan oleh para atase imigrasi pada setiap perwakilan Indonesia di luar negeri pada saat orang asing bersangkutan mengajukan permohonan unutk mendapatkan visa. 68 Tahap akhir pengawasan adalah saat meninggalkan Indonesia.74 1. Hal itu bertujuan untuk mencegah orang asing tersebut meninggalkan Indonesia karena mereka telah menimbulkan suatu permasalahan selama berada di Indonesia. hal.

dan apakah lamanya tinggal sesuai dengan izin keimigrasian yang diberikan kepadanya. Pengawasan terhadap orang asing yang telah mendapatkan izin masuk di Indonesia dapat dilihat dari dua segi. Dengan kegiatan diatas. 2007. yaitu pengawasan untuk mencegah masuknya orang-orang assign yang akan menimbulkan permasalahn setelah berada di Indonesia. Dari segi Ipoleksosbudhankamnas. baik yang mendarat melalui udara maupun laut. 3 Pengawasan orang asing yang melakukan kegiatan di wilayah RI Pengawasan yang dimaksudkan disini merupakan tindak lanjut dari pengawasan setelah orang asing mendapatkan izin tinggal di Indonesia. yaitu mengawasi apakah kegiatan yang dilakukan oleh orang asing tersebut menimbulkan benturan-benturan yang mengganggu kepentingan ketahanan dan keamanan nasional atau tiadak. yaitu: 70 a. Fungsi pengawasan ini sama juga dengan pengawasan sewaktu hendak mengajukan permohonan mendapatkan visa. Dari segi keimigrasian. yaitu mengawasi apakah orang asing tersebut melakukan kegiatan. USU Repository © 2009 . 1. yaitu tindakan yang dilakukan dalam usaha untuk mencegah atau menjaga kemungkinan terjadinya tindak pidana imigrasi dalam hal ini yaitu tindak 70 Ibid. hal. 30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. jelaslah apa yang dimaksud dengan tindakan preventif ini.75 ileh petugas imigrasi. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). b.

31-32 Soedarto. Alumni. 2. 3. Melakukan pengecekan data yang diperoleh dari tempat-tempat wisatawan menginap. USU Repository © 2009 . 2. yang berwenang menandatangani visa. losmen atau tempat kediaman teman. motel. Upaya Represif Menurut Soedarto yang dimaksud dengan tindakan represif adalah segala tindakan yang dilakukan aparatur penegak hukum sesudah terjadi kejahatan atau tindak pidana. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). hal. 110 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Meneliti setiap orang asing atau wisatawan yang hendak masuk lewat wawancara singkat di setiap tempat pemeriksaan imigrasi. Bandung. Kapita Selekta Hukum Pidana. 1984. 2007. hal. Pejabat pendaftaran dibekali pengetahuan tentang kerahasian/ciri-ciri khusus dari paspor-paspor negara lain dan dilengkapi dengan alat sinar ultraviolet dan kaca pembesar maupun dengan teknologi modern. Setiap pelabuhan pendaratan memilki contoh-contoh tanda tangan dari pejabat konsuler pada perwakilan Republik Indonesia di luar negeri.76 pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. 72 Dalam kaitannya dengan penggulangan terhadap orang asing yang menyalagunakan izin keimigrasian dilakukan sesudah terjadinya atau terbukti 71 72 Ibid. baik hotel. 4. Beberapa usaha preventif sehubungan dengan hal tersebut antara lain sebagai berikut: 71 1.

9 tahun 1992 disebutkan: 73 “orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan pemberian izin keimigrasin yang diberikan kepadanya dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. yaitu: (1) Tindakan keimigrasian dilakukan terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia yang melakukan kegiatan yang berbahaya dan patut akan diduga berbahaya bagi keamanan dan ketertiban umum. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Tindakan yuridis Dalam pasal 50 undang-undang no. 2.000. 25. dan bisa juga bersifat administrasi. atau tidak menghormati atau menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tindakan ini bisa bersifat yuridis. USU Repository © 2009 . 9 tahun 1992 tenang keimgrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No..” Jadi tindakan yuridis adalah orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan maksud pemberian izin keimigrasian dan harus dibuktikan di pengadilan oleh hakim dan kemudian dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 9 tahun 1992 yang mengatur mengenai tindakan keimigrasian terhadap orang asing di wilayah Indonesia.77 adanya penyalahgunaan izn keimigrasian. 1. Tindakan administrative Menurut pasal 42 Undang-undang no.(dua puluh lima juta rupiah).000. (2) Tindakan keimigrasian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa: 73 Lihat pasal 50 Undang-undang no. 2. 2.

Berdasarkan uraian diatas tindakan-tindakan represif yang dapat diambil adalah pemidanaan. perubahan atau pembatalan izin keberadaan b. begitu juga tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian yang diberikan kepadanya. pengusiran (deportasi) dan memasukkan orang asing yang terlibat ke dalam daftar pencegahan dan penangkalan atau cekal (black list). Pengusiran atau deportasi dari wilayah Indonesia atau penolakan masuk ke wilayah Indonesia. 2007. Pembatasan. Dengan demikian penyalahgunaan izin keimigrasian dapat dilakukan dengan 4 (empat) alternative seperti disebutkan diatas dengan alasan bahwa orang asing yang bersangkutan tidak mengindahkan peraturan yang mengatur keberadaan orang asing di wilayah Republik Indonesia. a. Pemidanaan Fungsi pemidanaan adalah sebagai penjeraan. Keharusan untuk bertempat tinggal disuatu tempat tertentu di wilayah Indonesia d.000. USU Repository © 2009 .000. yaitu diatur pada pasal 110. Larangan untuk berada di suatu atau beberapa tempat tertentu di wilyah Indonesia c. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 25. RUU keimigrasian yang berbunyi: 74 “Dipidana dengan pidana paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. pada RUU keimigrasian terdapat perubahn dalam hal ancaman sanksi pidana.. orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang 74 Lihat Pasal 10 RUU Keimigrasian. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.(dua puluh lima juta rupiah).78 a.

atau kesejahteraan umum. dkk. Selain itu. pengusiran tersebut semata-mata berdasarkan kepentingan negara itu sendiri.” c. khususnya pada ayat (2) point d. Black list (daftar cekal) Black list adalah istilah yang dipakai dalam bahasa sehari-hari untuk menggantikan daftar orang-orang yang tidak diperbolehkan meninggalkan Indonesia dan orang-orang yang tidak diperbolehkan memasuki wilayah Indonesia.” Sedangkan menurut I Wayan Parthiana. hal. Ketentuan mengenai deportasi ini dapat dilihat pada pasal 42 Undang-undang no. Di dalam keimigrasian daftar ini disebut “daftar pencegahan dan 75 76 I Wayan Tangun Susila. 2007. bagi orang asing yang masuk serta berada di wilayah Republik Indonesia dapat juga diusir. cit. Menurut Sri Setianingsih bahwa: 75 “Deportasi adalah pengusiran orang asing keluar wilayah Indonesia (keluar wilayah suatu negara) dengan alasan bahwa orang asing tersebut wilayahnya tidak dikendaki oleh negara yang bersangkutan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Pengusiran Pengusiran atau deportasi (deportation) adalah suatu tindakan sepihak dari pemerintah berupa tindakan mengeluarkan orang asing dari wilayah Republik Indonesia karena berbahaya bagi ketentraman. 9 tahun 1992. bahwa: 76 “Hak suatu negara untuk mengusir orang asing yang berada di negaranya dikenal dengan pengusiran atau deportasi explution. Op. Jadi tidak ada sangkut pautnya dengan negara asal atau negara dari mana dia semula datang. USU Repository © 2009 . 37 Ibid Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.” b.79 bertentangan dengan maksud dan tujuan pemberian izin tinggal yang diberikan kepadanya. kesusilaan.

2007. Diketahui atau diduga terlibat dengan kegitan sindikasi kejahatan internasional. Pada saat berada di negaranya sendiri atau di negara lain bersikap bermusuhan terhadap pemerintah Indonesia atau melakukan perbuatan yang mencemarkan nama baik bangsa dan negara Indonesia. orang asing yang berusaha menghindarkan diri dari ancaman dan pelaksanaan hukuman di suatu negara tersebut karana melakukan kejahatan yang juga diancam pidana menurut hukum yang berlaku di Indonesia.” “Penangkalan adalah larangan yang bersifat sementara terhadap orangorang tertentu untuk masuk ke wilayah Indonesia berdasarkan alasan tertentu. agama dan adat kebiasaan masyarakat Indonesia. Pernah diusir atau dideportasi dari wilayah Indonesia.80 penangkalan”. dan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.” Berdasarkan pasal 17 Undang-undang no. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . Diduga melakukan perbuatan yang bertentangan dengan keamanan dan ketertiban umum. kesusilaan. Di dalam pasal 1 angka 13 dan 14 Undang-undang no. e. disebutkan pengertian dari: “Pencegahan adalah larangan yang bersifat sementara terhadap orangorang tertentu untuk keluar dari wilayah Indonesia berdasarlan alasan tertentu. 9 tahun 1992. 9 tahun 1992. penangkalan terhadap orang asing dilakukan karena: a. b. d. c. Atas permintaan suatu negara.

2007. 13. Alasan pencegahan c. (2) Keputusan sebagaimana didalam ayat (1) memuat sekurang-kurangnya: a. Jangka waktu pencegahan (3) Keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan dengan surat tercatat kepada orang-orang yang terkena pencegahan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal penetapan. orang asing mana pernah terlibat masalah-masalah sebagaimana disebutkan diatas. Mengenai pencegahan orang asing untuk memasuki wilayah RI diatur di dalam pasal 11. keimigrasian. 9 tahun 1992. Identitas orang yang terkena pencegahan b. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 12. Di dalam pasal disebutkan bahwa: (1) Pencegahan ditetapkan dengan keputusan tertulis. dan 14 Undang-undang no. pertahanan dan keamanan. USU Repository © 2009 . perdata dan lain sebagainya yang dapat mengganggu dan mengancam stabilitas nasional. Dari uraian di atas dapat ditegaskan bahwa pencegahan ditujukan kepada orang asing yang masih memiliki masalah di Indonesia.81 f. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Alasan-alasanlain yang berkaitan dengan keimigrasian yang diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. sosial budaya. ekonomi. pidana. baik masalah politik. Sedangkan penangkalan ditujukan hanya kepada orang asing yang hendak masuk ke wilayah Indonesia.

penuntutan. dimulai dari saksi. termasuk mengenai kesejahteraan aparatnya. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). sehingga proses penegakan hukum dan keadilan itu sendiri secara internal dapat terwujud secara nyata.82 D. jaksa. baik hukum materilnya maupun hukum acaranya. hakim dan petugas-petugas sipir permastarakatan. Setiap aparat dan aparatur terkait mencakup pula pihak-pihak yang bersangkutan dengan tugas atau perannya yaitu terkait dengan kegiatan pelaporan atau pengaduan. Dalam arti sempit. penyelidikan. Dalam proses bekerjanya aparatur penegak hukum itu. Upaya penegakan hukum yang sistematik haruslah memperhatikan ketiga aspek itu secara simultan. pembuktian.vonis dan pemberian sanksi. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. (2) Budaya kerja yang terkait dengan aparatnya. dan (3) Perangkat peraturan yang mendukung baik kinerja kelembagaannya maupun yang mengatur materi hukum yang dijadikan standar kerja. aparatur penegak hukum yang terlibat tegaknya hukum itu. yaitu: (1) Institusi penegak hukum beserta berbagai prangkat sarana dan prasarana pendukung dan mekanisme kerja kelembagaannya. penjatuhan. Peranan Aparatur Penegak Hukum dalam Menanggulangi Tindak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Aparatur penegak hukummencakup pengertian mengenai institusi penegak hukum dan aparat (orangnya) penegak hukum. polisi. 2007. serta upaya permasyarakatan kembali (resosialisasi) terpidana. penyidikan. penasehat hukum. terdapat 3 (tiga) elemen penting yang mempengaruhi.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). “Petunjuk Pemantauan Operasional Keimigrasian No. Pengawasan orang asing dimulai dari pemantauan Pengawasan baik yang Keimigrasian bersifat mencakup penegakan tindak hukum pidana administratif maupun Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian. ketertiban serta bermusuhan baik terhadap rakyat maupun Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 yang diizinkan masuk atau keluar wilayah Indonesia. Pengawasan ini tidak hanya pada saat mereka masuk. keimigrasian keimigrasian. 2. 77 Dalam mewujudkan kebijaksanaan dimaksud serta mengantisipasi era globalisasi dan informasi yang semakin meningkat selaras dengan peningkatan arus lalu lintas orang asing. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.: F4-IL. 10-1. tetapi selama mereka berada di Wilayah Indonesia termasuk kegiatankegiatannya. 1999. 2007. 01. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. pelayanan dan pengawasandi bidang keimigrasiandilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip yang bersifat selektif (selective policy). Dalam rangka mewujudkan prinsip “selective policy” diperlukan pengawasan terhadap orang asing. Berdasarkan prinsip ini hanya orang asing yang dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat. USU Repository © 2009 77 . bangsa dan Negara Indonesia serta tidak membahayakan keamanan.1044” tentang Keradaan dan Kegiatan Orang Asing Di Indonesia. Pengawasan keimigrasian Sesuai dengan undang-undang no.83 1. hal. maka pelaksanaan pengawasan orang asing perlu diberikan prioritas utama.

84 terhadap keberadaan dan kegiatannya serta operasi-operasi baik operasi khusus maupun rutin. cit. Keberhasilan pengawasan orang asing sangat tergantung kepada berhasil tidaknya pelaksanaan pemantauan dilapangan. 80 Unutk mengetahui setiap peristiwa yan diduga 78 79 Ibid. Operasi adalah suaru kegiatan suatu objek tertentu terhadap yang dibatasi oleh tempat. Amarja Press. 3) Mengumpulkan bahan keterangan tetnang suatu peristiwa terjadinnya pelanggaran keimgrasian. hal. Op. 2 Ibnu Suud. “Manajemen Keimigrasian”. 2 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2005. USU Repository © 2009 . hal. 2007. 78 a. 2) Menginventarisir bahan keterangan berdasarkan modus operandi terjadinya pelanggaran keimigrasian serta pembinaan teknis tempat-tempat pemeriksaan keimigrasian. waktu serta dana. Pemantauan keimigrasian dan operasional keimigrasian Pemantauan merupakan salah saru cara atau kegiatan/upaya yang dilakukan untuk mengetahui secara dini setiap peristiwa yang diduga mengandung unsur-unsur pelanggaran/kejahatan. 55 80 Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian. pengumpulan dan penilaian bahan keterangan dari tempat-tempat pemeriksaan keimigrsian. abaik mengenai keberadaan maupun kegiatan orang asing. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). hal. Pemantauan keimigrasian dapat berupa: 79 1) Memantau terhadap setiap peristiwa yang dapat diduga dan atau mengandung unsur-unsur terjadinya pelanggaran keimigrasian seperti penyalahgunaan izin tinggal sesuai visa yang bersangkutan.

upaya dalam mencari dan menemukan bahan keterangan perlu perencanaan melalui mekanisme adanya perencanaan yang matang. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . Keberhasilan penyelenggaraan. Oleh karena itu. Upaya/ cara pemantauan dan operasi keimigrasian dapat berupa: 81 81 Ibid. berhasil guna dan berdaya guna. sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan cermat. dapat diperoleh dari setiap bahan keterangan yang mempunyai kaitan dengan perbuatan orang asing baik lalu lintas. 3 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. dengan memperhatikan hak-hak azasi manusia dan senantiasa disertai dengan dasar hukum dalam artian dilengkapi dengan sudut perintah.85 mengandung unsur pelanggaran/kejahatan terhadap ketentuan yang berlaku dibidangkeimigrasian. 2007. organisasi serta pengawasan dan koordinasi dengan memperhatikan situasi dan kondisi medan. hal. keberadaan maupun kegiatannya. tepat. sangat ditenteukan oleh kwalitas dan kwantitas pelaksanaan dalam menghadapi jenis dan macam pelanggaran kejahatan seperi halnya bentuk dan sifat pelanggaran politik ataupun pekerja terselubung. Dalam mencari dan menemukan keterangan yang berkaitan dengan peristiwa dimaksud agar diupayakan pelaksanaanya disesuaikan dengan jenis dan macam pelanggaran dalam bidang pembangunan. baik berupa pembangunan phisik maupun non phisik.

hal. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). sedang dan atau telah terjadi 3) Penyusupan dalam ruang lingkup peristiwa atau golongan kegiatan peristiwa yang akan. 5 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. benda dan tempat kejadian untuk dapat gambaran yang lebih jelas baik secara keseluruhan atau lebih rinci. cermat terhadap surat-surat.86 1) Pengamatan dengan panca indera secara teliti. Orang asing 1) Orang asing pemegang izin singgah 2) Orang asing pemegang izin kunjung  Wisata  Sosial budaya  Usaha/beberapa kali perjalanan 3) Orang asing pemegang izin tinggal terbatas 4) Orang asing pemegang izin tinggal tetap 5) Orang asing tanpa izin keimigrasian 6) Orang asing yang over stay 82 Ibid. 4) Melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang mengetahui atau patut diduga mengetahui terjadinya peristiwa pelanggaran/kejahatan keimigrasian dengan memperhatikan sumber dan nilai keterangan. sedang atau telah terjadinya unsur pelanggaran. USU Repository © 2009 . Adapun sasaran pemantauan adalah: 82 a. 2) Pembuntutan terhadp objek yang kaitan atau hubungan dengan peristiwaperistiwa yang akan.

hostel dan sebagainya 2) Kantor-kantor/perusahaan yang mempekerjakan dan menampung tenaga kerja/orang asing 3) Rumah/asrama tempat orang asing bertempat tinggal Pelaksanaan pemantauan dilakukan baik secara terbuka maupun secara tertutup (undercover) dengan tahapan sebagai berikut:83 1. Menindaklanjuti dari hasil pemeriksaan. 2007. apabila ditemukan bukti-bukti permulaan atau patut diduga telah terjadi pelanggaran/kejahatan keimigrasian. wisma. hal. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . Bangunan-bangunan 1) Hotel. 83 Ibid. 2. Alat angkut 1) Niaga 2) Non niaga 3) Alat apung c. b. Mendatangi orang/tempat yang telah ditentukan. 3. Melakukan pemerikasaan terhadap orang asing tersebut beserta dokumen yang dimilikinya selanjutnya dilanjutkan dengan pemeriksaan di lapangan. 6 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.87 7) Orang asing imigran gelap 8) Orang asing yang melakukan kegiatan tidak sesuai dengan izin yang diberikan.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). b. Pengawasan Mendeteksi kemungkinan terjadinya penyalahgunaan perijinan dan pemberian perijinan keimigrasian serta evaluasi dan laporan. cit. Kerjasama ini secara fungsi masing-masing tanpa mengganggu dan mencampuri teknis tugas instansi masing-masing. Lingkup tugas ini meliputi: 84 a. Imigran gelap Mengawasi masuknya orang asing secara gelap (illegal) ke wilayah Indonesia yagn tidak didukung oleh dokumen resmi yang sah dan masih berlaku. hal.88 4. Kerjasama pengawasan Untuk mensukseskan tugas pengawasan ini. 84 Ibnu Suud. USU Repository © 2009 . Dan orang asing yang karena peraturan perundang-undangan telah dideportasi keluar Indonesia namun karena sesuatu dan lain hal belum dapat berangkat. polisi atau aparat yang terkait lainnya. 2007. b. Pengawasan yang tertuju terhadap kemungkinan terjadinya pelanggaran. Op. Melakukan pemeriksaan terhadap orang asing yang diduga melakukan pelanggaran/kejahatan yang diutangkan dalam berita Acara Pemeriksaan dan Berita Acara Pendapat. jajaran Direktorat Jenderal Imigrasi harus bekerjasama dan berkoordinasi dengan aparat keamanan lainnya seperti pemerintah daerah. penyalahgunaan perizinan dan pemberian perizinan keimigrasian serta pengawasan atas imigran gelap. 56 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

USU Repository © 2009 . 2. Penindakan keimigrasian a. 85 Lihat pasal 47 ayat (1) Undang-undang no. fungsi dan wewenang masing-masing instansi dan dilakukan dengan cepat . d. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian disebutkan: 85 ”selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. juga Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Departemen yang lingkup tugas dan tangung jawabnya meliputi pembinaan keimigrasian diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undangundang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. untuk melakukan penyidikan tindak pidana keimigrasian”. Pelaksanaan kerjasama pengawasan ini diupayakan tanpa mengurangi tugas. Penyidikan keimigrasian Dalam pasal 47 ayat (1) Undang-undang no. lengkap terpadu dan aman. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007. Pengawasan perlintasan Mengawasi lau-lalangnya orang asing maupun warganegara Indonesia yang melintasi tempat (pos) lintas batas dengan tetangga atas kemungkinan terjadinya pelanggaran keimigrasian. Pengawasan orang asing Adanya kerjasama antar instansi terkait dalam pengawasan orang asing di dalam wadah koordinasi pengawasan orang asing (SIPORA). 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.89 c. tepat.

Dirjen Imigrasi Hukum dan HAM RI. penyidikan keimigrasian adalah suatu proses penyidikan yang dilakukan oleh Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia juga PPNS imigrasi terhadap setiap orang yang melakukan perbuatan sebagai tindak pidana keimigrasian. b. c. Memanggil orang untuk didengar keterangannya sebagai saksi. d. 87 Lihat pasal 47 ayat (2) Undang-undang No. Menerima laporan tentang adanya tindak pidana keimigrasian. Ramadhan K. 2007. Dengan demikian penyidikan hanya dapat dilakukan oleh kedua pejabat yang telah disebutkan di atas. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). menahan sesorang yang disangka melakukan tindak pidana keimigrasian. USU Repository © 2009 86 . Dalam pasal 47 ayat (2) disebutkan: 87 “Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang: a. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Memeriksa dan/atau menyita surat-surat. 152. atau benda-benda yang ada hubungannya dengan tindak pidana keimigrasian. memeriksa. menggeledah. H dan Abrar Yusra. Dengan demikian disamping menjalankan tugas sebagai aparat pelayanan keimigrasian. Surat Perjalanan. dokumen-dokumen. “Lintas Sejarah Imigrasi Indonesia”. Memanggil. 2005. menangkap. aparat imigrasi juga bertugas sebagai aparat penegak hukum 86. hal.90 Di dalam Undang-undang no. 9 tahun 1992 diatas.

Adapun wujud koordinasi dapat berupa: 1. SK Markas Besar Kepolisian RI No. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007. Surat Perjalanan. 8 tahun 1981 (KUHAP) yang menyebutkan bahwa penyidik sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf b mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah koordinasi dan pengawasan penyidik tersebut dalam pasal 6 ayat (1) huruf a. Melakukan pemeriksaan di tempat-tempat tertentu yagn diduga terdapat suratsurat. SKep/369/X/1985 yang menyatakan bahwa kooradinasi adalah suatu bentuk hubungan kerja antara penyidik Polri dengan Pegawai Negeri Sipil dalam rangka pelaksanaan penyidikan tindak pidana yang menyangkut bidang tertentu. Mengatur dan menerangkan lebih lanjut dalam keputusan instansi bersama. Wewenang ini sudah sesuai dengan ketetuan dari pasal 7 ayat (2) Undangundang no. USU Repository © 2009 . Mengambil sidik jari dan memotret tersangka. Pejabat Pegawai Negeri Sipil mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah tangan koordinasi dan pengawasan penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. atau benda-benda lain yang ada hubungannya dengan tindak pidana keimigrasian. Mengadakan rapat-rapat berkala pada waktu-waktu yang dipandang perlu. 2. dokumen-dokumen.91 e. Pol S. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). f.

9 tahun 1992. Keseluruhan ini merupakan penjabaran dari pasal 7 ayat (1) UU No. Menyelenggarakan pendidikan dan latihan penyidik Pegawai Negeri Sipil dengan penekanan dibidang pendidikan.92 3. 2007. Proses penyidikan ini dilakukan sebagai Pro Justisia yang akan segera diajukan ke Pengadilan untuk diadili. Pengawasan kegiatan penyidik yang sedang dilakukan oleh penyidik Pegawai Negeri Sipil serta memberikan pengawasan teknis. Pengawasan teknis dalam rangka pembinaan dan peningkatan kemampuan penyidik Pegawai Negeri Sipil dan memberikan petunjuk bila terdapat kekurangan-kekurangan untuk disempurnakan. pengevaluasian tindak pidana pelanggaran dan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 8 tahun 1981 (KUHAP) dan juga merupakan bantuan yang dapat diberikan oleh penyidik sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf a KUHAP kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil seperti yang diatur oleh pasal 47 UU No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). adapun wujud pengawasan ini meliputi: 1. USU Repository © 2009 . dan bertugas melakukan identifikasi pengumpulan. 2. pemilahan. Menunjuk sesorang atau lebih pejabat dari masing-masing Departemen/instansi yang secara fungsionl dan menangani penyidik Pegawai Negeri Sipil dengan penghubung 4. Sedangkan yang dimaksud dengan “pengawasan” adalah proses pengamatan pelaksanaan penyidikan yang dilakukan dapat dibenarkan secara materil maupun formal dan berjalan sesuai dengan yang berlaku.

93 kejahatan keimigrasian yang diatur dalam Undang-undang no. cit. Tetapi jalan ini jarang sekali ditempuh oleh pihak keimigrasian dalam kasus penyalahgunaan izin keimigrasian. koordinasi dengan Lembaga Pemasyarakatan untuk proses pemulangan. Membuat berkas hasil penyelidikan sesuai dengan ketentuan yagn berlaku. 88 b. kasasi dan jika perlu grasi yang akan digunakan oleh warga negara asing yang terlibat tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. Op. akan sangat 88 Ibnu Suud. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. b. Bila telah selesai melaksanakan keputusan Pengadilan. d. Sanksi hukum terhadap pelaku tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian Sanksi hukum terhadap pelaku tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian dapat dilakukan dengan cara: 1) Pro justitia Apabila kasus terhadap tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian yang ditangani oleh pihak keimigrasian ingin ditempuh dengan cara pro justitia. Hal ini dikarenakan apabila kasus tersebut diajukan ke pengadilan akan menggunakan upaya hukum mulai dari banding. maka hal harus dilakukan oleh petuga keimigrasin adalah: a. hal. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . Menyampaikan hasil pemberkasan kepada Penuntut Umum melalui polisi. c. Mengikuti perkembangan persidangan. 2007. 57 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

02-PW.09.02 tanggal 14 89 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim.94 merugikan negara. 4) Pengusiran atau deportasi dari wilayah Indonesia atau penolakan masuk ke wilayah Indonesia. USU Repository © 2009 . 89 2) Non pro justitia Menurut pertimbangan polits. 3) Keharusan untuk bertempat tinggal di suatu tempat tertentu di wilayah Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Ditambah lagi orang asing tersebut tidak memiliki uang untuk membayar ongkos biaya perkara. Kantor Imigrasi Polonia Medan. karena dalam hal ini negara akan mengeluarkan biaya besar untuk menjalani proses pro justitia tersebut. 2007. Tindakan keimigrasian dilakukan sebagai sanksi administratif terhadap orang asing yang melanggar peraturan keimigrasian dan ketentuan-ketentuan lainnya mengenai orang asing sesuai dengan dimaksud dalam pasal 19 keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor: M. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2) Larangan untuk berada disuatu atau beberapa tempat tertentu di wilayah Indonesia. Maka akan lebih efektif apabila dilakukan dengan cara non pro justitia. maka akan lebih efektif apabila dilakukan tindakan keimigrasian. Tindakan Keimigrasian adalah tindakan administratif dibidang keimigrasian yang dilakukan oleh pejabat imigrasi berupa: 1) Pembatasan. ekonomis. perubahan atau pembatalan izin keberdaan. serta sosial dan budaya serta kemananan.

maka berdasarkan data yang diperoleh baik dari kantor kepolisian maupun kantor imigrasi sangat sedikit yang ditindaklanjuti secara pro justitia. Masalah kepraktisan. Dalam hal terjadi tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. berada dan akan meninggalkan wilayah Indonesia. jika dibandingkan dengan pro justitia. Hal ini bukan menandakan bahwa kasus tentang penyalahgunaan izin keimigrasian sangat sedikit. USU Repository © 2009 90 . mulai saat masuk. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). tetapi karena kedua instansi ini lebih banyak melakukan tindakan keimigrasian yaitu berupa pendeportasian ke negara asal tanpa melalui proses pro justitia walaupun telah ada pengaturannya dalam Undang-undang no. yaitu: a. Ancaman hukuman penjara maksimum Hasil wawancara dengan Kanit Pengawasan Orang Asing (POA) Poltabes Medan Sekitarnya Pada tanggal 9 Agustus 2007 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Pengajuan Keberatan Orang Asing dan Tindakan Keimigrasian. yaitu penanganan suatu kasus dengan cara pendeportasian tidak memakan waktu yagn lama atau berlarut-larut.95 Maret tahun 1995 tentang Tata Cara Pengawasan. 90 Pihak Kepolisian dan Keimigrasian menyebutkan beberapa alasan dan pertimbangan melakukan tindakan keimigrasian yang berupa pendeportasian yang oleh pihak keimigrasian (walupun penangkapan dilakuakn oleh pejabat imigrasi). Tindakan Keimigrasian dapat dilakukan terhadap oaring asing pemegang izin Keimigrasian atau tanpa izin keimigrasian. 2007.

peredaran narkoba. Karena itu yagn dihasilkan tidak sesuai dengan yagn diharapkan. Kantor Imigrasi Polonia Medan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Selain itu jenis hukuman yang diancamkan berupa pidana alternative atau jika didenda belum tentu mereka memiliki uang. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. c. baik dari segi kualitas maupun kwntitas yang sangat kurang. terorisme atau perdangan manusia (trafficking). Apabila penanganan masalah ini untuk dilakukan secara pro justitia masih sedikit yang dilengkapi pengetahuan sebagai PPNS. USU Repository © 2009 . Hal ini tentu saja menghambat tugas para pejabat imigrasi atau PPNS dalam penyidikan. 91 91 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim. Masalah anggaran dana yang dialokasikan untuk melakukan tindakan hukum di kantor Imigrasi sangat terbatas. b. Tetapi apabila masalah penyalahgunaan izin keimigrasian tersebut menyangkut masalah permpokan bersenjata. maka sanksi hukum yang harus dijalankan adalah dengan cara pro-justitia.96 hanya lima tahun sehingga hukuman akan selesai jika dikurangi dengan masa penahanan. 2007. Masalah sumber daya manusia khususnya petugas imigrasi. hal ini dikarenakan tindakan tersebut sudah sangat mengancam keamanan negara serta stabilitas nasional.

Nama Lengkap Tempat Lahir Umur/ Tgl. Lahir Jenis Kelamin : Dr. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).97 BAB IV KASUS DAN ANALISIS KASUS A. USU Repository © 2009 . Mathiya HMBS als Raja : Malaysia : 59 Tahun/ 21 Desember 1943 : Laki-laki Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Perkara Pidana No. 2007.B/2002/PN.Mdn Identitas Terdakwa Pengadilan Negeri Medan yang meemriksa dan mengadili perkara-perkara Pidana Biasa/ Singkat/ Cepat telah menyatakan bahwa terdakwa : 1. K. 2493/Pid.

2007. Karya Wisata No.S alias Raja dan terdakwa II.5 Komp.98 Kebangsaan Tempat Tinggal Agama Pekerjaan Pendidikan 2.5 Komp. Dr. bertempat di Jl. USU Repository © 2009 . Lahir Jenis Kelamin Kebangsaan Tempat Tinggal Agama Pekerjaan Pendidikan Kasus Posisi : Malaysia : Jl. Mathiya H. Kalimutu Kumar Marimutu secara bersama-sama atau bertindak secara sendiri-sendiri pada hari Jumat tanggal 16 Agustus 2002 sekitar pukul 14. 47 Medan : Hindu : Dokter : Sarjana : Dr.B. RRI Medan : Hindu : Dokter Homeopati : Sarjana Bahwa mereka terdakwa I. Karya Wisata No. Dr. 47 Medan dan di Jl. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).M. Kali Mutu Kumar Marimutu : Kedah Malaysia : 26 Tahun/ 04 Desember 1976 : Laki-laki : Malaysia : Jl.30 Wib atau setidak-tidaknya pada suatu waktu dalam tahun 2002. K. Binjai Km 5. Nama Lengkap Tempat Lahir Umur/ Tgl. RRI Medan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Binjai Km 5.

sedangkan terdakwa-terdakwa datang ke Indonesia hanya diperbolehkan untuk wisata namun ternyata terdakwa-terdakwa bekerja maupun mengajar yang sifatnya mencari keuntungan.5 Komp. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Binjai Km 5. 2007.99 atau setidak-tidaknya disuatu tempat yang masih termasuk daerah hukum Pengadilan Negeri Medan. Karya Wisata No. namun ternyata setelah tiba di Indonesia yaitu kota Medan ternyata terdakwa-terdakwa membuka Klinik Homeopati di Medan dan bekerja selaku Dokter Homeopati pada klinik tersebut di kota Medan. USU Repository © 2009 . 50. 47 Medan dan di Jl..000.. orang asing yang dengan sengaja menyalahdunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud pemberian izin keimigrasian yang diberikan kepadanya.(tiga puluh ribu rupiah) s/d Rp. sedangkan dalam Pasport terdakwaterdakwa menggunakan Visa hanay selama 60 (enam puluh) hari selaku Visa Turis dan Pelancong namun ternyata terdakwa-terdakwa selaku Dokter pada Klinik Homeopati di Jl. perbuatan mana dilakukan terdakwaterdakwa dengan cara sebagai berikut : Mula-mula terdakwa-terdakwa selaku Warga Negara Malaysia datang berkunjung ke Indonesia melakukan perjalanan kunjungan praktek yaitu terdakwa I dengan Visa Sosial Budaya sedangkan terdakwa II menggunakan Pasport Malaysia dengan Visa Turis selama 2 (dua) bulan.(lima puluh ribu rupiah) dimana terdakwa-terdakwa dalam membuka Klinik Homeopati tersebut tidak berubah Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. RRI Medan telah membuka Klinik Homeopati dengan menerima pasien yang berobat dan rawat inap kliniknya dengan biaya sekali berkunjung antara Rp.000. 30.

Keterangan izin lokasi/ Denah. selain itu terdakwa-terdakwa juga telah menerima siswa/ murid sebanyak 20 (dua puluh) orang dengan menerima biaya pendidikan selama 6 (enam) bulan sebesar Rp. Sedangkan Izin Rekomendasi dari Dinas Kesehatan Tingkat I Propinsi dan Izin dari Menteri Kesehatan. 2007.000. 3. Adanya izin/keterangan ketenagakerjaan medis dan Para Medis.00 Wib s/d pukul 20. sedangkan waktu kuliah/belajar pada hari kamis san jumat dari pukul 19.00 Wib.000.. serta Izin-izin lainya yang menyangkut tentang usaha dan Bidang Kesehatan. yaitu : Adanya permohonan yang ditujukan ke Dinas Kesehatan Kota Medan. oleh karena terdakwa-terdakwa dalam membuka Klinik Hemeopati tersebut tidak memiliki Badan Hukum dan tidak memiliki izin lalu kemudian terdakwa-terdakwapun ditangkap petugas Kepolisian Poltabes Medan. Keterangan adanya obat-obatan/alat yang dipergunakan.100 Hukum dan tidak memiliki Izin dari Menteri Kesehatan sesuai dengan persyaratan mendirikan Klinik/Balai pengobatan yang harus memiliki. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Adanya penanggung jawab klinik.(tiga juta rupiah rupiah) persiswa. dan terdakwa-terdakwa dalam memberikan obat-obatan kepada para pasien yang datang berobat ke Klinik Homeopati tersebut tidak memiliki izin untuk memproduksi obat-obatan dan komposisi dari obat-obatan tidak ada dibuatkan dalam labelnya. USU Repository © 2009 . KTP yang berdomisili di Kota Medan.

Menyatakan terdakwa Dr. Mathiya HMBS dkk. bersalah melakukan tindak pidana menyalahgunakan izin sebagaimana diatur dalam Pasal 50 UU RI No.101 Dalam surat tuntutannya Jaksa Penuntut Umum menguraikan berbagai tuntutannya sebagai berikut : 1. majelis telah menemukan adanya fakta-fakta yuridis sebagai berikut. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Mathiya HMBS dkk. K. 3.(seribu rupiah). USU Repository © 2009 .000.(dua puluh lima juta rupiah) subsider 3 (tiga) bulan kurungan dengan perintah terdakwa tetap ditahan/terdakwa supaya ditahan (jika terdakwa tidak ditahan). 2007. 1. Terdakwa-terdakwa dikembalikan kepada terdakwaterdakwa.B/2002/PN.000. 2493/Pid.. 4.000.Mdn Hakim Pertama yang mengadili perkara ini dalam putusannya memberikan pertimbangan hukum sebagai berikut : Bahwa dari keterangan saksi-saksi dan terdakwa dihubungkan dengan barang bukti yang diajukan di persidangan. Menyatakan barang bukti berupa obat-obatan dirampas untuk dimusnahkan dan Pasport An. dengan pidana denda masing-masing Rp. K. Menetapkan supaya terpidana dibebani biaya perkara sebesar Rp. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 25. Putusan Perkara Pidana No. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Dr. 9 Tahun 1992 dalam dakwaan kesatu. 2.

9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Menyelenggarakan Kesehatan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.B.M. c. Mathiya H. Kali Mutu Kumar Malimutu dengan sengaja menghimpun dana untuk kesehatan yang diambil dari para mahasiswa yang mengikuti pendidikan Homeopati yang dilakukan di Rumah Sakit Homeopati yang terletak di jalan Binjai Km 5. Dengan Sengaja Jelas perbuatan yang dilakukan terdakwa-terdakwa Dr. USU Repository © 2009 . 23 tahun 1992 tentang Kesehatan jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 50 UU RI No. K. Kali Mutu Kumar Marimutu b.102 Terdakwa didakwakan Jaksa Penuntut Umum melakukan tindak pidana yang diatur dan diancam dalam pasal 80 ayat (2) UU RI No.Mathiya H.S dan Dr. RRI Cabang Medan. Tentang Kesehatan : 1. K.M. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). sebagai subjek hukum yang dapat dipertanggung jawabkan perbuatannya adalah keterangan terdakwa Dr.B. Barang Siapa Berdasarkan Fakta-fakta dan keterangan para saksi serta keterangan terdakwa sendiri didukung alat bukti yang telah disita.5 Medan atau di Komp.S serta Dr. 2007. Unsur-unsur Objektif a.

Dibuktikan dengan tidak adanya suratsurat yang sah tentang adanya Klinik serta Rumah Sakit Homeopati Megawati Sukarno Putri tersebut serta Rumah Sakit Keimigrasian : 1.S dan Dr. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2. Mathiya H. Tidak berbentuk badan hukum Klinik serta Rumah Sakit Homeopati Megawati Sukarno Putri didirikan kedua terdakwa tersebut jelas tidak berbentuk badan hukum karena tidak mempunyai izinnya. 2007.103 Kedua terdakwa Dr. Kalimutu Kumar Marimutu telah melakukan pengobatan secara alternatif dengan cara mendirikan klinik serta Rumah Sakit Homeopati tanpa memiliki izinnya. tentang pendirian Klinik Homeopati Megawati Sukarno Putri tersebut b. K. Orang asing Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 . Tidak memiliki Izin operasional Klinik serta Rumah Sakit Homeopati Megawati Sukarno Putri tidak mempunyai izin operasionalnya.B. Unsur-unsur Objektif a. Unsur-Unsur Subjektif a.M. dan menerima pasien untuk rawat jalan serta rawat nginap bagi setiap pasien yang berobat kepada terdakwa.

23 tahun 1992 tentang kesehatan dan Pasal 50 UU RI No.B. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian.S dan Dr. maka ia terdakwa harus dinyatakan bersalah tentang hal ini. K.M. Unsur-unsur Subjektif Melakukan kegiatan tidak sesuai izinnya Benar kedua terdakwa tersebut melakukan kegiatannya tidak sesuai dengan izin yang ada dimana ia datang ke Indonesia seharusnya hanya sebagai wisata saja akan tetapi visa tersebut ia gunakan untuk kepentingan mencari suatu pekerjaan atau keuntungan. Kalimutu Kumar Marimutu adalah orang asing atau warga Negara asing atau warga Negara Malaysia. 2. b.B. Meninbang. Mathiya H. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. bahwa oleh karena dakwaan kesatu primair.S dan Dr. dan oleh karenanya dijatuhi hukuman. K. Dengan Sengaja Benar kedua terdakwa tersebut yaitu Dr. USU Repository © 2009 . subsidair kedua sesuai pasal undang-undang dimaksud pasal 80 ayat (2) Sub Pasal 84 ayat (5) UU RI No. Kalimutu Kumar Marimutu dengan sengaja datang ke Indonesia telah menyalahgunakan passport yang ada padanya. Mathiya H.M. terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut HUKUM.104 Benar keduan terdakwa tersebut yaitu Dr.

maka majelis akan memperimbangkan hal-hal yang memberatkan maupun yang meringankan hukumannya terdakwa sebagai berikut: Hal-hal yang memberatkan : Bahwa perbuatan dari terdakwa-terdakwa dapat merugikan pemerintah republik Indonesia.105 Menimbang bahwa oleh karena terdakwa dijatuhi hukuman maka terdakwa dihukum pula untuk membayar biaya perkara. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Hal-hal yang meringankan : Ia terdakwa-terdakwa belum pernah dihukum. Memberikan keterangan yang jelas dan terang dipersidangan dan menyatakan menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu dikemudian hari yang akan datang/ tobat dan mempunyai tanggungan istri dan anak yang masih memerlukan pertanggungjawaban sebagai kepala keluarganya. Menimbang. Menimbang. 23 tahun 1992 tentang kesehatan jo Pasal 50 UU RI No. Memperhatikan ketentuan pasal 80 ayat (2) sub Pasal 84 ayat (5) UU RI No. bahwa oleh karena terdakwa dihukum maka dipandang perlu untuk tetap menahannya. USU Repository © 2009 . bahwa sebelum menjatuhkan hukuman . 2007. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian dan ketentuan perundang-undangan yang berhubungan dengan perkara ini. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

B. Analisis Putusan Setelah penulis mempelajari dan membaca pertimbangan hukum putusan Pengadilan Negeri Medan. Dr.000.(tujuh juta lima ratus ribu rupiah) dengan ketentuan jika denda tersebut tidak dibayar harus diganti dengan hukuman kurungan selama 2 (dua) bulan. maka dapat diketahui bahwasannya telah terjadi suatu tindak pidana di bidang Imigrasi yakni telah terjadinya penyalahgunaan ijin keimigrasian yang dilakukan oleh Terdakwa-terdakwa Dr.. Mathiya H. MATHIYA H. 1. USU Repository © 2009 .S alias RAJA 2.(seribu rupiah) Menyatakan barang bukti berupa obat-obatan diarmpas untuk dimusnahkan dan pasport atas nama terdakwa dikembalikan kepada terdakwa.B. K. B. KALIMUTU KUMAR MARIMUTU tersebut diatas telah trbukti dengan sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan Menyalahgunakan Izin.S alias Raja dan Dr.000. Dr. Menghukum terdakwa-terdakwa lagi membayar ongkos perkara sebanyak Rp. Menghukum Terdakwa-terdakwa dengan hukuman denda sebesar Rp.106 MENGADILI Menyatakan Terdakwa : 1.. Kalimutu Kumar marimutu keduanya berkebangsaan Malaysia Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.M. 2007. 7.500. K. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).M.

000.107 yang telah mendirikan usaha atau praktek tanpa memiliki ijin untuk melakukan hal tersebut. USU Repository © 2009 . dikelola secara terpadu untuk tujuan meningkatkan derajat kesehatan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Pasal 80 ayat (2) UU RI No.000.00 (lima ratus juta rupiah). 23 tahun 1992 tentang kesehatan menyatakan bahwa : ”Barangsiapa dengan sengaja menghimpun dana dari masyarakat untuk menyelenggaraakan pemeliharaan kesehatan.” Dari ketentuan Pasal ini perbuatan terdakwa-terdakwa telah terbukti tidka memiliki izin operasional dengan demikian secara otomatis tidak melaksanakan ketentuan jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat sebagai mana yang dimaksud Pasal 66 yang menyatakan : Ayat (2) : ” Jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat merupakan cara penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan dan pembiayaannya. wajib dilaksanakan oleh setiap penyelenggara. 2007. 500.” Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Oleh karena itu keduanya dikenakan pidana karena telah melanggar ketentuan undang-undang yang berlaku di indonesia yakni Pasal 80 ayat (2) Sub Pasal 84 ayat (5) UU RI No. berdasarkan pemeriksaan di persidangan menunjukkan bahwa Terdakwa-terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum. 23 tahun 1992 tentang kesehatan dan Pasal 50 UU RI No. yang tidak berbentuk badan hukum dan tidak memiliki izin operasional serta tidak melaksanakan ketentuan tentang jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 Ayat (2) dan Ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp.

USU Repository © 2009 .000. 23 tahun 1992 tentang kesehatan yang menyatakan Barang siapa : ”Menyelenggarakan sarana kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 Ayat (1) atau tidak memilki izin sebagaimana dimaksud dalam pasal 59 Ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp. dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 25. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian menyatakan bahwa : “Orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud pemberian izin keimigrasian yang diberikan kepadanya. 15.” Pasal 59 Ayat (1) menyatakan bahwa : “Semua penyelenggaraan sarana kesehatan harus memiliki izin.000. Dan juga bisa saja tidak ada jaminan kesehatan masyarakat di klinik yang mereka dirikan hal ini seharusnya menjadi pertimbangan hal yang memberatkan karena dapat dikatakan suatu hal yang penting jika dikaitkan dengan masalah kesehatan. 2007.-“ Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.000.” Pasal 58 Ayat (1) menyatakan bahwa : ”Sarana kesehatan tertentu yang diselenggarakan masyarakat harus berbentuk badan hukum. ”Penyelenggara jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat harus berbentuk badan hukum dan memiliki izin operasional serta kepesertaannya bersifat aktif. Hal mana dinyatakan juga dalam sub Pasal 84 point 5 UU RI No.108 Ayat (3) . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).000.” Pasal 50 UU RI No.00 (lima belas juta rupiah).” Berdasarkan ketentuan tersebut. selain merugikan keuangan negara dimana dengan adanya izin usaha seharusnya ada pemasukan kas negara baik dari pajak maupun biaya pengurusan izin pada umumnya.

Bisa saja dilain waktu para pelaku mengulangi perbuatannya dan yang ditakutkan banyak bermunculan tindakan-tindakan serupa baik itu dibidang Leden Marpaung. Jakarta. Menurut penulis penentuan pasal-pasal terhadap tindakan para terdakwa telah benar. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 92 . diharapkan si pelaku atau terpidana menjadi jera dan tidak mengulangi lagi perbuatannya (speciale preventie) serta masyarakat umum mengetahui bahwa jika melakukan perbuatan sebagaimana dilakukan terpidana. 2005. hal. 2007. yang dimaksud dengan menjerakan disini adalah dengan penjatuhan hukuman. “Asas – Teori – Praktik Hukum Pidana “.Sinar Grafika. Hal mana menurut penulis tidak memberikan sifat penjeraan terhadap tindakan semacam ini sedangkan menurut teori telatif (Doeltheorie) 92 tujuan hukum pidana salah satunya adalah menjerakan. hanya ditekankan pada pengenaan hukuman denda sejumlah uang. maka akan mengalami hukuman yang serupa (generale preventie). Hukuman yang dijatuhkan hanya sebatas denda sejumlah uang yang apabila kita lihat jumlahnya relative tidak memberatkan terdakwa-terdaka (para pelaku).109 Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan hukum yang ada yang ditemukan dari keterangan para saksi dan keterangan para terdakwa telah terbukti dan meyakinkan melanggar ketentuan pasal-pasal yang dimaksud di atas. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Tuntutan yang diajukan Jaksa Penuntut Umum menurut penulis kurang menekankan kepada unsur pemidanaan terhadap tindakan pelaku demikian juga vonis majelis hakim. 4.

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. namun kadang kala pelaksanaan dilapangan kebanyakan tidak sejalan dengna peraturan yang ada. 2007. Hal ini tujuannya adalah tidak lain untuk menciptakan dan membudayakan adanya sinkronisasi antara peraturan hukum yang ada dengan pelaksanaan di lapangan. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Kasus-kasus semacam ini sebenarnya harus mendapat perhatian yang serius dari apart penegak hukum dengan segala kelengkapannya. kesehatan maupun keamanan masyarakat. Oleh karena itu sebenarnya yang perlu ditingkatkan adalah pemahaman dan kesadaran hukum serta tanggung jawab hukum para aparat penegak hukum dalam menjalankan tugasnya. hal mana akan dapat merugikan keuangan negara.110 kesehatan atau bidang lainnya. tidak hanya dalam bidang keimigrasian dan kesehatan saja tetapi juga bidang-bidang lain yang menyangkut kepentingan publik atau masyarakat luas.

b. Tetapi tenggang waktu 2 (dua) bulan ini dirasakan terlalu panjang atau lama. tetapi setalah pemberian fasilitas bebas visa dalam BVKS yang lebih luas ruang lingkupnya tetap ditemukan pelanggaran terhadap fasilitas bebas visa tesebut. 2007. Faktor penyebab terjadinya penyalahgunaan izin keimigrasian adalah: a. dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu: 1. Sehingga maksud dan tujuan dari BVKS sebagai pengganti BVW tidak tercapai.111 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Adanya perkembangan tenggang waktu dalam pemberian fasilitas bebas visa bagi wisata. malah dipergunakan oleh orang asing sebagi salah satu cara masuknya imigran gelap ke Indonesia. Ruang lingkup fasilitas bebas visa yang terlalu luas yang mencakup kegiatan wisata.sosial budaya dan usaha. Kesimpulan Berdasarkan uraian-uraian penulisan skripsi ini. Dimana wisatawan tersebut dapat menikmati wisata di Indonesia dalam kurun waktu 2 (dua) bulan. karena fakta di Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. yang pada awalnya dimaksudkan untuk mengatur secar tegas fasilitas bebas visa. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

c. Panjang atau lamanya jangka waktu ini ternyata dapat memberikan peluang bagi wisatawan asing untuk melakukan pelanggaran dengan berbagi motivasi. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). bahwa betapapun baiknya aturantntangkeimigrasian.112 lapangan menunjukkan bahwa wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia pada umumnya dan Medan pad khusunya jarang yang tinggal sampai 2 (dua) bulan. 2007. dan melakukan kegiatan di wilayah Negara Republik Indonesia. Dan tidak dipungkiri. 2. Penanggulangan secara preventif b. jika mereka bertindak masa bodoh terhadap orang asing tersebut. USU Repository © 2009 . Peranan petugas/pejabat/aparatur imigrasi sangat besar. Penanggulangan secara preventif adalah tindakan penanggulangan yang dilakukan dalam usaha untuk mencegah atau menjga kemungkinan yang terjadinya tindak Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. seperi disalahgunakan untuk bekerja. maka orang asing yang dapat dengan leluasanya berkeliaran di Indonesia. maka aturan itu tidak aka nada artinya. Upaya menanggulangi terjadinya suatu tindakan yang melanggar ketentuan izin keimigrasian dibedakan atas dua cara yaitu: a. Terutama sekali para petugas yang bertugas di pintu-pintu masuknya orang asing ke Indonesia. jika para petugasnya bermental yang kurang baik. Penanggulangan secara represif Dalam hal penanggulangan ini sangat erat kaitannya dengan hal pengawasan baik wisatawan yang masuk atau keluar wilayah Negara Republik Indonesia.

maka jalan pro justitialah yang harus ditempuh.113 pidana imigrasi dalam hal ini yaitu tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. 4. USU Repository © 2009 . 2007. Saran Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. 3. Hal ini dikarenakan mengingat adanya upaya hukum banding. dan ekonomis cara tindakan keimigrasian dianggap lebih praktis dan efisien. maka tunduk pada Undang-undang no. bahwa sanksi yang dijatuhkan oleh aparatur penegak hukum dalam kasus tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian adalah lebih sering bersifat non pro justitia. mengingata dana orasional dari negara yang sangat terbatas. Sedangkan dalam penaggulangan represif ini dapat dilakukan dengan cara pemidanaan. Dalam proses penyidikan terhadap tersangka yang melakukan tindak pidana dibidang keimigrasian. yang juga tidak terlepas dengan ketentuan yang diatur dalam pasal-pasal KUHAP tentang penyidikan. terorisme. B. khususnya penyalahgunaan izin keimgrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Hal ini tentu saja membuthkan biaya operasional yang cukup tinggi. Yang dapat berupa tindakan keimigrasian yang salah satunya pendeportasian. atau grasi yang dimiliki oleh warga negara asing apabila ditempuh dengan cara pro justitia. Kecuali masalah penyalahgunaan izin tersebut menyangkut masalah peredaran narkoba. dan perdagangan manusia (trafickking). deportasi maupun black list. Karena menurut politis. agar menimbulkan efek jera bagi warga negara asing yang melakukan tindak pidana di bidang keimigrasian. Dari data yang diperoleh. kasasi.

hal ini disebabkan karena penberian fasilitas bebas visa sekarang adalah 2 (dua) bulan dan ini terlalu lama. sedangkan rata-rata masa kunjungan wisatawan asing ke Indonesia pada umunya dan kota Medan khususnya adalah 3-4 (tiga sampai empat) minggu saja. USU Repository © 2009 . Tenggang waktu pemeberian fasilitas bebas visa untuk wisata sebaiknya adalah 1 (satu) bulan dan dapt diperpanjang selam 30 (tiga puluh) hari. agar nantinya walaupun telah disahakan menjadi Undang-undang tidak menambah kerancuan. Dan juga pemberian fasilitas tersebut sebaiknya dilakukan secara reciprocal atau prinsip timabal balik. dan koreksi yang patut untuk diperhatikan yaitu mengenai tata urutan peraturan-peraturan perundang-undangan tentang keimigrasian. karena masih banyak celah yang memungkinkan untuk warga negara asing melakukan tindak pidana di bidang keimigrasian. yaitu hanya unutk wisata.114 1. tetapi juga menunjukkan martabat bangsa. Karena Undang-undang sebelumnya dianggap masih belum sempurna. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007. Sebaiknya pemberian fasilitas bebas visa ditinjau ulang kembali dan dikembalikan kepada latar belakang pemberian fasilitas tersebut. sebaiknya Tim melakukan koreksi. Sehingga hal ini jangan sampai dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan yang lain yang tidak sesuai dengan izin keimigrasiannya. 2. hal ini juga menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya mengharapkan faktor ekonomi saja dari keunjungan wisatwan asing . dengan adanya berbagai kritikan dan tanggapan terhadap RUU tersebut. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Pada saat sekarang ini sedang disusun RUU tentang keimigrasian yang telah disosialisasikan oleh Tim dari Direktorat Jenrak Imigrasi.

maka peralatn komunikasi sangat diperlukan dan semua instansi dapat selalu memonitor setiap orang yang terkena daftar cekal apakah sudah habis waktunya atau belum. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). karena itu perlu para petugas/pejabat imigrasi dilengkapi dengan peningkatan kemampuan sumber daya manusia baik lewat pendidikan foramal meupun pendidikan latihan mengenai pelayanan dan pengawasan bagi orang asing atau wisatawan asing yang datang. USU Repository © 2009 . Dan juga diadakan penindakan secara hukum bagi petugas/pejabat imigrasi sendiri yang membantu stsu melakukan tindak pidana keimigrasian. Dalam hal penanggulangan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian khsusnya black list atau cekal hendaknya mencerminkan prinsip-prinsip negara yang berdasarkan hukum. 2007.115 3. 4. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Demikian juga yang penting adalah diperlengkapinya peralatan dengan kemajuan teknologi seperti sistem komputerisasi sehingga dapat melayani maupun memantau orang asing yang ada di wilayah Indonesia. tidak berdasarkan kekuasaan belaka. Penegakan hukum di Indonesia terlihat lemah dan hanya mengandalkan tindakan pendeportasian. Dan juga dalam mengkoordinasikan tindakan cekal agar dapat dengan cepat dilaksanakan sebelum orang yang dimaksud melarkan diri.

2000. Gramedia. Cetakan Ke-2. 2007. USU Repository © 2009 . Ridwan Halim . Alumni. Buku Petunjuk Keimigrasian RI Bagian I Visa Izin Tinggal. 1996. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 1996. Sinar Grafika. Teori-teori dan Kebijakan Pidana. 1992. 2001 Koerniatmanto. Departemen Kehakiman RI. Rineka Cipta. Jakarta. Tugas Pokok dan Fungsi Direktorat Jendral Imigrasi. Soetoprawiro. Kewarganegaraan dan Leden Marpaung. Bandung Moeljatno. S. Hukum Keimigrasian Indonesia. Jakarta. 1982. UKI: Jakarta. Asas Teori Praktik Hukum Pidana.116 DAFTAR PUSTAKA A. 1983. Sjarif. 2005. Jakarta. Persoalan Praktis Filsafat Hukum dalam Himpunan Distingsi. Jakarta. H. Asas-asas Hukum Pidana. Jakarta. Jakarta: Balai Pustaka. Sinar Grafika. Muladi & Barda Nawawi Arif. Pedoman Penggunaan Tenaga Kerja Asing di Indonesia dan Peraturan-peraturannya. Jakarta. Flora Liman Mangestu. Direktorat Jendral Imigrasi. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Hadi Kiswanto. 1998. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

PT. USU Repository © 2009 . Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 1984. R. Felix Hadi Mulyatno dan Endar Sugiarto. Semarang. UI-Press. UI Press. Pabean. Dirjen Imigrasi Hukum dan HAM RI. R. Purmadi. Jakarta. Politeia : Bogor. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentar Lengkap Pasal Demi Pasal . 2004. Yogyakarta. . Citra Aditya Bakti. Purbacaraka. Imigrasi. Jakarta : Rajawali Press. Jakarta. Manajemen Keimigrasian. Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan Hukum dan Pengembangan Hukum Pidana. Penggarapan Disiplin Hukum dan Filsafat Hukum bagi Pendidikan Hukum. Gramedia Pustaka. Peraturan Perundang-undangan : KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA. 1988. Perspektif Imigrasi dalam Pembangunan Ekonomi dan Ketahanan Nasional. dan Karantina. Ibnu. Santoso Imam. PT. 2007. Soekamto. 2005 “Lintas Sejarah Imigrasi Indonesia”. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Ramadhan K. Soedarto. 32 TAHUN 1994 TENTANG VISA. Bandung. Pengantar Penelitian Hukum. H dan Abrar Yusra. Rajawali. . Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan. Jakarta Teguh Prasetyo & Abdul Halim Barkatullah. Kapita Selekta Hukum Pidana. “Faktor-faktor yang mempengaruhi Penegakan Hukum. 1987. 1983. Soesilo. Soerjono. 2005. Amarja Press. Jakarta Suud. 1987. M. DAN IZIN KEIMIGRASIAN. 2005. Jakarta. Jakarta. Alumni. Jakarta. IZIN MASUK. PT. Pustaka Pelajar.117 Nawani Arief. 2005. 2001. Citra Aditya Bakti.. Bandung.1984. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA PERATURAN PEMERINTAH RI NO. Politik Hukum Pidana. Barda.

Saleh Wiramiharja.com http://www. I Wayan Tangun Susila. 01. Laporan : Bagir Manan. Pintu Gerbang No. 44. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. dkk.google.com Arief Rahman Kunjono. Jakarta. 1999. 7 Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian. disampaikan dalam Rapat Kerja Nasional Keimigrasian. Pintu Gerbang No. Denpasar. 9 TAHUN 1992 TENTANG Media Cetak dan Elektronik : http://www. Lukman Bratamidjaja. 45. “Usaha Penanggulangan Tindak Pidana Imigrasi dan Imigrasi Gelap di Kota Madya Denpasar”. Direktorat Jenderal Imigrasi. “Petunjuk Pemantauan Operasional Keimigrasian No. Hukum Keimigrasian dalam Sistem Hukum Nasional. Jakarta. Direktorat Jendral Imigrasi. “Langkah-langkah Baru Menunjang Peningkatan Profesionalisme Keimigrasian”. “Illegal Migrants dan Sisitem Keimigrasian Indonesia: suatu tinjauan Analisis”. Jakarta.: F4-IL. 2002. 2000. Laporan Penelitian. Pintu Gerbang No. 2002. 1993.solusihukum.118 UNDANG-UNDANG NOMOR KEIMIGRASIAN. Universitas Udayana dan PDII LIPI (Jakarta). Jakarta. Direktorat Jendral Imigrasi. Pintu Gerbang No. USU Repository © 2009 . 2007. 42. hlm. 10-1. 44. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2002 Direktorat Jenderal Imigrasi. 2002. Jakarta.1044” tentang Keradaan dan Kegiatan Orang Asing Di Indonesia. “Aspek Ilmu Perundang-undangan BVKS Bagian I”. “Imigrasi Daftar Ulang Warga Negara Asing”. 14 Januari 2000.

Jakarta. dkk).119 Pusdiklat Pegawai Departemen Kehakiman. Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN). 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). “Analisa dan Evaluasi tentang Pengaturan Fasilitas Bebas Visa wisata bagi Orang Asing yang Berkunjung ke Indonesia” (Laporan Penelitian). Beberapa Pedoman dan Ketentuan Tentang Imigrasi dan Ketatalaksanaan: Bahan Penataran Administrasi Apratur Kehakiman. 2007. Jakarta. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. 1982. 1984. USU Repository © 2009 .