1

PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP PENYALAHGUNAAN IZIN KEIMIGRASIAN MENURUT UNDANG-UNDANG RI NO. 9 TAHUN 1992 TENTANG KEIMIGRASIAN (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan) SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas Dan Memenuhi Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum O L E H YOYOK ADI SYAHPUTRA NIM : 030200015 Departemen Hukum Pidana

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2007
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

2

DAFTAR ISI Kata Pengantar ..............................................................................................................i Daftar Isi .......................................................................................................................ii Abstraksi ......................................................................................................................iii BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1 A. Latar Belakang ....................................................................................... 1 B. Perumusan Masalah ............................................................................... 6 C. Tujuan dan Manfaat ............................................................................... 6 D. Keaslian Penulisan ................................................................................. 7 E. Tinjauan Kepustakaan ............................................................................ 8 1. Pengertian Penegakan Hukum ............................................................ 8 2. Pengertian Pidana ............................................................................. 11 3. Pengertian Keimigrasian................................................................... 16 F. Metode Penelitian ................................................................................ 16 G. Sistematika Penulisan .......................................................................... 19

BAB II

TINJAUAN UMUM ................................................................................. 21 A. Keimigrasian dalam Sistem Hukum Indonesia ...................................... 21 1. Pengertian Keimigrasian................................................................... 21 2. Fungsi Keimigrasian ........................................................................ 24 3. Ruang Lingkup Keimigrasian ........................................................... 29 B. Jenis-jenis Izin Keimigrasian................................................................ 35 C. Hukum Keimigrasian Indonesia Dalam Sistem Hukum Nasional .......... 40

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

3

BAB III

PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP PENYALAHGUNAAN IZIN KEIMIGRASIAN ................................... 45 A. Ketentuan Keberadaan Warga Negara Asing (WNA) di Indonesia Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian ............................................. 45 B. Faktor-faktor Penyebab terjadinya Penyalahgunaan Izin Keimigrasian................................................................................ 53 C. Upaya Penanggulangan Tidak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian ................................................................................ 61

D. Peranan Aparatur Penegak Hukum dalam Menanggulangi Tindak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian ..................... 73

BAB IV

KASUS DAN ANALISIS KASUS ............................................................ 91

A. Kasus Posisi ................................................................................................ 92 B. Analisis Kasus............................................................................................ 99 C. BAB V PENUTUP .............................................................................................. 104 A. Kesimpulan ........................................................................................ 104 B. Saran.................................................................................................. 106

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

9 tahun 1992 tentang Keimigrasian juga masih berpedoman dengan KUHP. B/2002/PN. 2493/Pid. mengingat tugas dan tanggung jawab yang diembannya sangat menentukan keberadaan dan dan kekuatan negara yang bersangkutan. 2493/Pid.pada tahap awal penulis terlebih dahulu melakukan penelitian terhadap bahan hukum yang berkaitan dengan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. Skripisi yang berjudul “penegakan hukum pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian (studi kasus Pengadilan Negeri Medan dengan Putusan No. Berdasarkan penelitian tersebut diketahui bahwa pengaturan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian dalam hukum positif Indonesia diatur dalam Undang-undang No. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. menjadikan tindak pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian sebagai suatu tindakpidana memerlukan penangan khusus. USU Repository © 2009 . masalah minimnya pengetahuan masayrakat. Mdn)” mengetangahkan permasalahan tersendiri mengenai pengaturan tindak pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian. Tidak jarang persoalan kewarganegaraan suatu negara akan berkembang menjadi persoalam besar akibat kelengahan dari bagian keimigrasian negara tersebut. Seluruh warga negara Indonesia maupun warga negara asing setiap kali keluar-masuk wilayah Indonesia pasti berurusan terlebih dahulu dengan bagian keimigrasian. Mdn) disebabkan masih kurangnya ketegasan aparatur penegak hukum dalam memberikan hukuman kepda warga negara asing yang melakukan tindak pidana penyalhgunaan izin keimigrasian. Tahap selanjutnya penulis melakukan penelitian dengan menggunakan teknik wawancara dan mengumpulkan bahan dari narasumber yaitu dari Kantor Imigrasi Polinia Medan. dan ketegasan aparatur penegak hukum serta memajukan sarana dan prasarana dalam menunjang penegakan hukum tersebut.4 ABSTRAKSI Keimingrasian merupakan salah satu bagian terpenting bagisuatu negara. Penulis menggunakan metode penelitian dengan metode hukum normative dan empiris. dan salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam penegakan hukum dalam tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian adalah dengan meningkatkan profesionalitas aparatur penegak hukum. Hukum pidana masih belum berfungsi secara maksimal terhadap kasus penyalahgunaan izin keimigrasian (Putusan No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Kantor Kepolisian Kota Besar Medan dan Sekitarnya (Poltabes). dan Pengadilan Negeri Medan yang bertujuan untuk mengetahui pengaturan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian serta mengetahui peranan aparatur penegak hukum dalam menggulangi tindak pidana penyalhgunaan izin keimigrasian. 2007. mulai dari penggunaan visa yang tidak sesuai. serta faktor-faktor yang menjadi penyebab dalam tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasianadan upaya-upaya apa saja yang dapat dilakukan sebagai upaya dalam menangani tindak pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian. B/2002/PN. sampai peranan aparat penegak hukum. Kompleksnya masalah dalam tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian.

2007. penegakan hukum itu hanya diartikan sebagai upaya aparatur penegakan hukum tertentu untuk menjamin dan memastikan tegaknya hukum itu. Ditinjau darui sudut subyeknya. maka reformasi penegakan hukum tampaknya memerlukan peninjauan dan penataan kembali seluruh struktur kekuasaan/kewenangan penegakan hukum. Jadi. berarti dia menjalankan atau menegakkan aturan hukum. penegakan hukum itu dapat dilakukan oleh subyek yang luas dan dapat pula diartikan sebagai upaya penegakan hukum itu melibatkan semua subyek hukum dalam setiap hubungan hukum.com/artikel.5 BAB I PENDAHULUAN A. dari segi subyeknya itu. 30 Mei 2006) Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.php?id=49 yang direkam pada 1 Mar 2007 03:28:22 GMT (“Penegakan Hukum”. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Siapa saja yang menjalankan aturan normatif atau melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dengan mendasarkan diri pada norma aturan hukum yang berlaku. “reformasi http://www. USU Repository © 2009 1 .solusihukum. Latar Belakang Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam lalulintas atau hubungan–hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. aparatur penegak hukum itu diperkenankan untuk menggunakan daya paksa. apabila diperlukan. 1 Mengingat demikian banyaknya instansi (struktur kelembagaan) dan pejabat (kewenangan) yang terkait di bidang penegakan hukum. Dalam arti sempit.

Semarang. 2007. hukum keimigrasian di Indonesia telah ada sejak pemerintahan kolonial Belanda 4. 3 Ibid. 4 4 M. jelas sangat terkait dengan masalah budaya hukum dan pengetahuan/pendidikan hukum. Sebagai sebuah subsistem hukum. Ketentuan hukum keimigrasian di Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945 hingga 1991 secara formal tidak mengalami perkembangan berarti. 3. Dikatakan demikian karena ketentuan keimigrasian masih tersebar dalam beberapa ketentuan perundangundangan dan masih kuat dipengaruhi oleh hukum kolonial. UI Press Jakarta. 2004. hal. sebagian dari ketentuan tersebut masih merupakan ketentuan bentukan pemerintah kolonial. Iman Santoso. PT. “Persfektif Imigrasi dalam Pembangunan Ekonomi dan Ketahanan Nasional”. Citra Aditya Bakti. bahkan merupakan subsistem dari Hukum Administrasi Negara. 2001. korupsi. 2 Reformasi di bidang penegakan hukum dan struktur hukum. 1 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 2 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 3 Hukum keimigrasian merupakan bagian dari sistem hukum yang berlaku di Indonesia. hal.6 penegakan hukum” mengandung di dalamnya “reformasi kekuasaan/kewenangan di bidang penegakan hukum”. Masalah-masalah yang mendapat sorotan masyarakat luas saat ini (seperti kolusi. Disamping tidak seseuai lagi dengan perkembangan kehidupan nasional. bahkan juga di bidang perundang-undangan (substansi hukum). berhubungan erat dengan reformasi di bidang “budaya hukum dan pengetahuan/pendidikan hukum”. mafia peradilan dan bentuk-bentk penyalahgunaan kekuasaan atau persekongkolan lainnya di bidang prosedur/penegakan hukum). Disamping Barda Nawawi Arief. hal. “Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan”.

Secara faktual harus diakui bahwa peningkatan arus lalu-lintas orang. Undang-undang tentang keimigrasian yang berjiwa nasional dilahirkan. jasa dari dan ke wilayah Indonesia dapat mendorong dan memacu 5 Ibid. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 5. Barulah kemudian. Demikian pula dalam pengaturan Penetapan Izin Masuk. keberadaan pendatang ilegal dapat menjadi legal hanya dengan membayar sejumlah denda. 9 Tahun 1992) merupakan unifikasi beberapa ketentuan yang berkaitan dengan keimigrasian. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian (selanjutnya disebut UU No. sekaligus juga diberi izin menetap. barang. yang tentu saja kehadirannya ditujukan untuk mendukung kepentingan pemerintah kolonial. ekonomi. USU Repository © 2009 . hal. sebagian dari ketentuan tersebut masih merupakan bentukan pemerintah kolonial Belanda yang diserap ke dalam hukum keimigrasian nasional. 2007. Hal tersebut tentu saja merupakan kemudahan di bidang keimigrasian karena membuka pintu selebar-lebarnya bagi pendatang dari berbagai negara demi kepentingan politik. yang sebelumnya tersebar dalam beberapa ketentuan perundang-undangan. pada tanggal 31 Maret 1992. dan pertahanan pemerintah kolonial. diubah dan ditambah terakhir dengan Staatsblad 1949 Nomor 330. serta Toelatingsordonnantie Staatsblad 1949 Nomor 33 (Ordonansi Izin Masuk/OIM). Misalnya disebutkan dalam Ordonansi Izin Masuk bahwa orang asing yang telah diberi izin masuk. 2 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.7 tidak sesuai lagi dengan perkembangan kehidupan nasional. seperti Toelatingsbesluit Staatsblad 1916 Nomor 47 (Penetapan Izin Masuk/PIM).

mulai dari perdagangan wanita dan anak-anak. 2007. baik warga negara Indonesia maupun orang asing. serta meningkatnya aktivitas perdagangan yang akan meningkatkan penerimaan devisa. baik Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. dan obat terlarang. yang keluar. b. Peningkatan arus orang asing ke wilayah RI tentunya akan meningkatkan penerimaan uang yang dibelanjakan di Indonesia. Penetapan politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif (selective policy) membuat institusi imigrasi Indonesia memiliki landasan operasional dalam menolak atau mengizinkan orang asing. Untuk meminimalisasikan dampak negatif yang timbul akibat mobolitas manusia. Munculnya Transnational Organized Crimes (TOC). meningkatnya investasi yang dilakukan. narkotika. seperti: a. pencucian uang. jasa. keimigrasian harus mempunyai peranan yang semakin besar. Dampak negatif ini akan semakin meluas ke pola kehidupan serta tatanan sosial budaya yang dapat berpengaruh pada aspek pemeliharaan keamanan dan ketahanan nasional secara makro. sampai ke perbuatan terorisme internasional. Dominasi perekonomian nasional oleh perusahaan transnasional yang bergabung dengan perusahaan Indonesia (melalui Penanaman Modal Asing dan/ atau Penanaman Modal Dalam Negeri.8 pertumbuhan ekonomi serta proses modernisasi masyarakat. pembelian saham atau kontrak lisensi). Namun peningkatan arus lalu-lintas barang. modal. dan tinggal di wilayah Indonesia. informasi dan orang juga dapat mengandung pengaruh negative. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). imigran gelap. USU Repository © 2009 . masuk.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian”. Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan di atas. maka perlulah kiranya penulis untuk membahas lebih jauh mengenai tindak pidana di bidang keimigrasian ini khususnya hal-hal yang berkaitan dengan penyalahgunaan izin keimigrasian. Dengan demikian. USU Repository © 2009 . diizinkan masuk dan dibolehkan berada di wilayah Indonesia. hal. bangsa. dan negara Republik Indonesia. dan pemberian izin tinggal serta pengawasan terhadap orang asing selama berada di wilayah Indonesia. dan negara Republik Indonesia. Memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat. ditetapkan bahwa hanya orang asing yang: a. maupun kegiatannya di Indonesia 6. serta c. 4 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. serta diberi izin tinggal sesuai dengan maksud dan tujuan kedatangannya di Indonesia. b. bangsa. 2007. Berdasarkan politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif. maka dari itu penulis mengambil judul skripsi “Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut UndangUndang RI No.9 dari segi masuknya. 6 Ibid. peran penting aspek keimigrasian dalam tatanan kehidupan kenegaraan akan dapat terlihat dalam pengaturan keluar-masuk orang dari dan ke dalam wilayah Indonesia. Tidak membahayakan keamanan dan ketertiban umum. Tidak bermusuhan dengan rakyat. keberadaannya. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana di uraikan diatas. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007. Tujuan dan Manfaat Penulisan 1. Bagaimanakah peranan aparatur penegak hukum dalam penegakan hukum terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian? C. maka perlu di rumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. Apa saja yang menjadi faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian? 2. maka dapat disimpulkan bahwa tujuan yang ingin dicapai melalui penulisan ini adalah sebagai berikut : 1) Untuk Mengetahui apa saja yang menjadi faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian.10 B. Bagaimana upaya penanggulangan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian? 3. Tujuan Penulisan Berdasarkan identifikasi permasalahan yang telah penulis utarakan. 2) Untuk mengetahui bagaiman upaya penganggulangan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. USU Repository © 2009 . Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

penulisan skripsi ini juga diharapkan bermanfaat untuk berbagai hal diantaranya: a. D. Keaslian Penulisan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. b. 2007. dan juga aparat penegak hukum/pemerintah dalam menghadapi atau mengusut tuntas suatu peristiwa pidana terutama hal-hal yang berkaitan dengan tindakan yang menyalahgunakan izin keimigrasian. USU Repository © 2009 . Manfaaat teoritis Pembahasan terhadap masalah-masalah dalam skripsi ini tentu akan menambah pemahaman kepada semua pihak baik masyarakat pada umumnya maupun para pihak yang berhubungan dengan dunia hukum pada khususnya. Skripsi ini juga diharapkan dapat memberikan masukan bagi penyempurnaan perangkat peraturan perundang-undangan terhadap tindak pidana yang terkait erat dengan izin keimigrasian ini. 2. Manfaaat praktis Dengan penulisan skripsi ini diharapkan dapat menjadi pedoman dan bahan rujukan bagi rekan mahasiswa. Manfaat Penulisan Selain tujuan-tujuan tersbut diatas. masyarakat. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). praktisi hukum.11 3) Untuk mengetahui dan meneliti lebih jauh bagaimana peranan aparatur penegak hukum dalam menanggulangi tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian” belum pernah disajikan sebelumnya baik dalam bentuk tulisan maupun sub pembahasan permasalahan dalam suatu skripsi. Tinjauan Kepustakaan 1. kebenaran. Penegakan hukum secara konkret merupakan berlakunya hukum positif dalam praktek sebagaimana seharusnya dipatuhi. informasi dari media cetak dan elektronik serta fakta yang diperoleh dai data berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh penulis.12 Sepanjang yang telah ditelusuri dan diketahui di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara bahwa penulisan skripsi tentang “Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang RI No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Penegakan hukum pada hakekatnya merupakan penegakan ide-ide atau konsep-konsep yang abstrak itu. Permasalahan maupun penyajiannya merupakan hasil dari pemikiran dan ide penulis sendiri. E. Skripsi juga didasarkan pada referensi dari buku-buku. Pengertian penegakan hukum Hukum adalah sarana yang di dalamnya terkandung nilai-nilai atau konsep-konsep tentang keadilan. Berdasarkan alasan tersebut di atas maka dapat disimpilkan bahwa skripsi adalah asli. kemanfaatan sosial dan kandungan hukum ini bersifat abstrak. USU Repository © 2009 . Oleh karena itu memberikan keadilan dalam suatu perkara berarti memutuskan perkara dengan menerapkan hukum dan menemukan hukum secara nyata dalam mempertahankan dan menjamin dipatuhinya hukum materiel Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007.

13 dengan menggunakan cara prosedural yang ditetapkan oleh hukum formal. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. (3) Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum. yaitu : (1) Faktor hukumnya sendiri. yaitu pihak-pihak yang membentuk maupun yang menerapkan hukum. “Faktor-faktor yang mempengaruhi Penegakan Hukum”. 2007. yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku dan diterapkan. yakni sebagai hasil karya. b. Dapatlah dikatakan bahwa ketiga tahap kebijakan penegakan hukum pidana tersebut terkandung didalamnya tiga kekuasaan atau kewenangan. yaitu : a. yaitu Soerjono Seokanto. Tahap Aplikasi. USU Repository © 2009 7 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Tahap Eksekusi. Oleh karena itu keberhasilan penegakan hukum akan dipengaruhi oleh hal-hal tersebut. (2) Faktor penegak hukum. (Jakarta : Rajawali Press. 7 Penegakan hukum khususnya hukum pidana apabila dilihat dari suatu proses kebijakan maka penegakan hukum pada hakekatnya merupakan penegakan kebijakan melalui beberapa tahap. Tahap Formulasi. (5) Faktor kebudayaan. 4-5. hal. (4) Faktor masyarakat. cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia dalam pergaulan hidup. Pada dasarnya ada 5 (lima) faktor yang mempengaruhi penegakan hukum. 1983). Penegakan hukum merupakan suatu proses yang melibatkan banyak hal. c.

Sedangkan penegakan hukum represif dilakukan apabila usaha preventif telah dilakukan ternyata masih juga terdapat usaha pelanggaran hukum. 9 Penegakan secara preventif diadakan untuk mencegah agar tidak dilakukan pelanggaran hukum oleh warga masyarakat dan tugas ini pada umumnya diberikan pada badan-badan eksekutif dan kepolisian. “Politik Hukum Pidana”. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. dapat ditunjuk pula pengadilan seperti dalam yurisdiksi volunter. 9 Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah. melakukan penegakan hukum preventif. (Yogyakarta. 111. USU Repository © 2009 . yaitu kekuasaan legeslatif dalam menetapkan atau merumuskan perbuatan apa yang dapat dipidana dan sanksi apa yang dapat dikenakan. Dalam hal ini hukum harus ditegakkan secara represif oleh alat-alat penegak hukum yang diberi tugas yustisionil. hal. 2005). Walaupun adakalanya dengan Undang-Undang.14 kekuasaan Legislatif pada tahap formulasi. “Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan Hukum dan Pengembangan Hukum Pidana. Penegakan hukum represif pada tingkat operasional didukung dan melalui berbagai lembaga yang secara organisatoris terpisah satu dengan yang lainnya. Yang kedua adalah kekuasaan Yudikatif pada tahap aplikasi dalam menerapkan hukum pidana. hal. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Pustaka Pelajar. dan Kejaksaan misalnya dengan tugas PAKEM-nya. pada hakekatnya sistem pemidanaan itu merupakan sistem kewenangan atau kekuasaan menjatuhkan pidana. Pada tahap pertama. 2005). 30. dan kekuasaan Eksekutif pada tahap Eksekusi dalam hal melaksanakan hukum pidana. Pada tahap ini kebijakan legeslatif ditetapkan sistem pemidanaan.” (Bandung : PT. 2007. 8 Penegakan hukum dalam negara dilakukan secara preventif dan represif. penegakan hukum represif 8 Barda Nawani Arief. namun tetap berada dalam kerangka penegakan hukum. Citra Aditya Bakti.

Istilah tersebut tidak hanya M. karena di dalamnya terlibat subjek hukum yang mempersepsikan hukum menurut kepentingan masing-masing.15 diawali dari Lembaga Kepolisian. 1. (Jurnal Equality : 2006). “Moral dan Keadilan Sebagai Landasan Penegakan Hukum Yang Responsif”. Penegasan ini bukanlah tidak beralasan. Hukum dibuat tanpa landasan moral dapat dipastikan tujuan hukum yang berkeadilan tidak mungkin akan terwujud. dapat mempunyai arti yang luas dan berubah-ubah karena istilah itu dapat mempunyai arti dapat berkonotasi dengan bidang yang cukup luas. 10 2. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Apa yang sesungguhnya dialami tidak lain adalah pencabikan moral bangsa sebagai akibat dari kegagalan bangsa ini dalam menata manajemen Pemerintahannya yang berlandaskan hukum. 2007. Husni. Penegakan hukum adalah proses yang tidak sederhana. Penegakan hukum yang berkeadilan sarat dengan landasan etis dan moral. USU Repository © 2009 10 . berikutnya Kejaksaan. Pidana a) Pengertian pidana Istilah “hukuman” yang merupakan istilah umum konvensional. selama kurun waktu lebih dari empat Dasawarsa bangsa ini hidup dalam ketakutan. hal. kemudian diteruskan ke Lembaga Pengadilan dan berakhir pada Lembaga Pemasyarakatan. faktor moral sangat berperan dalam menentukan corak hukum suatu bangsa. ketidakpastian hukum dan hidup dalam intimitas yang tidak sempurna antara sesamanya. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

Prof. Untuk memberikan gambaran yang lebih luas. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Oleh karena “pidana” merupakan istilah yang lebih khusus. dan ini berwujud suatu nestapa yang dengan sengaja ditimpakan negara pada pembuat delik. 2 – 4. Sudarto. 2007. agama dan sebagainya. Muladi dan Barda Nawawi Arif. SH : Yang dimaksud dengan pidana ialah penderitaan yang sengaja diberikan kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Dari definisi di atas dapatlah disimpulkan bahwa pidana mengandung unsur-unsur atau ciri-ciri sebagai berikut : 1) pidana itu pada hakekatnya merupakan suatu pengenaan penderitaan atau nestapa atau akibat-akibat lain yang tidak menyenangkan. Roeslan Saleh : Pidana adalah reaksi atas delik. “Teori-teori dan Kebijakan Pidana”. berikut ini dikemukakan beberapa pendapat atau defenisi dari para sarjana sebagai berikut: 11 1. Prof.16 sering digunakan dalam bidang hukum. moral. USU Repository © 2009 11 . Cetakan Ke-2 (Bandung: Alumni. tetapi juga dalam istilah sehari-hari di bidang pendidikan. maka perlu ada pembatasan pengertian atau makna sentral yang dapat menunjukkan ciri-ciri atau sifat-sifat yang khas. 2. 1998) hal.

pidana tambahan. 20 tahun 1946) b. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Soesilo. 3) pengumuman putusan hakim. 2007. 34 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.17 2) pidana itu diberikan dengan sengaja oleh orang atau badan yang mempunyai kekuasaan (oleh yang berwenang). R. 2) perampasan barang-barang tertentu. 1988) hal. yaitu : 1) pidana mati 2) pidana penjara 3) pidana kurungan 4) pidana denda 5) pidana tutupan (ditambah berdasarkan UU No. yaitu : 1) pencabutan hak-hak tertentu. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentar Lengkap Pasal Demi Pasal (Bogor: Politeia. seperti terdapat dalam pasal 10. Menurut hukum pidana positif (KUHP dan di luar KUHP) Jenis pidana menurut KUHP. dibagi dalam dua jenis 12 : a. USU Repository © 2009 12 . pidana pokok. 3) pidana itu dikenakan kepada seseorang yang telah melakukan tindak pidana menurut undang-undang. b) Jenis-jenis Pidana 1.

741) yang sekarang telah diganti dengan Undang-undang No. c. b. 1955) dapat berupa : 1) penempatan perusahaan si terhukukm di bawah pengampuan untuk selama waktu tertentu (3 tahun untuk kejahatan TPE dan 2 tahun untuk pelanggaran TPE). USU Repository © 2009 . Stb. d. anak tersebut dimasukkan dalam rumah pendidikan negara yang penyelenggaraannya diatur dalam Peraturan Pendidikan Paksa (Dwangopvoedingregeling. penempatan di rumah sakit jiwa bagi orang yang tidak dapat dipertanggungjawabkan karena jiwanya cacat dalam tubuhnya atau terganggu karena penyakit (lihat Pasal 44 ayat 2 KUHP). 1936 no. Dalam hal yang ke-2. 2007. 160). walinya atau pemelihatanya atau 2) memerintahkan agar anak tersebut diserahkan kepada pemerintah. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). misalnya : a. serta mengganggu ketertiban umum dengan melakukan pengemisan. 7 Drt. 1916 no. bagi anak yang sebelum umur 16 tahun melakukan tidak pidana.18 Disamping jenis sanksi yang berupa pidana dalam hukum pidana positif dikenal juga sanksi yang berupa tindakan. bergelandangan atau perbuatan asosial (Stb. tindakan tata-tertib dalam hal tindak pidana ekonomi (Pasal 8 UU No. Hakim dapat mengenakan tindakan berupa (lihat Pasal 45 KUHP). Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 1) mengembalikan kepada orang tuanya. penempatan di tempat kerja Negara (Landswerkinrichting) bagi pengenggur yang malas bekerja dan tidak mempunyai mata pencaharian. 12 Tahun 1995 tentang Permasyarakatan.

4) kewajiban mengerjakan apa yang dilakukan tanpa hak. mulai Pasal 43 s. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). semua atas biaya si terhukum sekedar Hakim tidak menentukan lain. 3) pidana pembimbingan.d. c) pidana permasyarakatan biasa (untuk yang melakukan tindak pidana karena kesempatan). Pasal 82. Ketentuan tentang “pidana” dalam konsep terdapat dalam Bab V. yang terdiri dari : a) pidana permasyarakatan istimewa (utuk yang melakukan tindak pidana karena terdorong oleh maksud yang patut dihormati). Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.19 2) pembayaran uang jaminan selama waktu tertentu. 2. dan melakukan jasa-jasa untuk memperbaiki akibat-akibat satu sama lain. b) pidana permasyarakatan khusus (untuk yang melakukan tindak pidana karena kebiasaan). 2007. USU Repository © 2009 . yang terdiri dari : a) pidana pengawasan. Pembagian jenis pidanannya sebagai berikut : a. Menurut Konsep Rancangan KUHP tahun 1972. 3) pembayaran sejumlah uang sebagai pencabutan keuntungan menurut taksiran yang diperoleh dari tindak pidana yang dilakukan. Pidana pokok: 1) pidana mati 2) pidana permasyarakatan.

e) penyitaan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana. 4) pidana perserikatan. 2007. 5) pengenaan kewajiban agama. c) pidana latihan kerja. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. d) pembayaran uang jaminan yang jumlahnya ditentukan oleh Hakim. 4) pengenaan kewajiban ganti rugi. USU Repository © 2009 . 2) penempatan barang tertentu. d) pidana kerja bakti. : penutupan) usaha sebagian atau seluruhnya. Pidana tambahan: 1) pencabutan hak tertentu. 3) pengumuman keputusan Hakim. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). yang terdiri dari : a) pidana perserikatan. Pengertian Keimigrasian Istilah imigrasi berasal dari bahasa Latin migratio yang artinya perpindahan orang dari suatu tempat atau negara menuju ke tempat negara lain. 3. 6) pengenaan kewajiban adat.20 b) pidana penentuan tempat tinggal. f) perbaikan akibat-akibat dari tindak pidana. b. b) penuntutan (sic. c) penempatan usaha di bawah pengawasan pemerintah untuk jangka waktu yang ditentukan oleh Hakim.

9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. penulis melakukan studi 13 Lihat Pasal 1 butir 1 Undang-undang no. orang asing yang bertamasya. Dari defenisi ini dipahami bahwa perpindahan itu mempunyai maksud yang pasti.21 Oxford Dictionary of Law juga memberikan defenisi sebagai berikut: “Immigration is the act of entering a country other than one’s native country with the intention of living there permanently”. atau merupakan rombongan misi kesenian atau olahraga. Penelitian yuridis – normatif merupakan penelitian yang dilakukan dan ditujukan pada Peraturan-peraturan tertulis atau bahan-bahan lain. atau juga menjadi diplomat tidak dapat disebut sebagai seorang imigran. atau mengunjungi suatu konferensi internasional. serta menelaah peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini. Metode Penelitian 1. Untuk menunjang pembahasan demi pembahasan masalah.13 F. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). yakni untuk tinggal menetap dan mencari nafkah di suatu tempat baru. 2007. USU Repository © 2009 . Jenis Penelitian Metode Penelitian yang digunakan untuk menjawab persoalan-persoalan dalam skripsi ini adalah menggunakan metode yuridis – normatif. Oleh karena itu. Sedangkan menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1992 dalam pasal 1 butir 1 disebutkan: “Keimigrasian adalah hal ikhwal lalu lintas orang yang masuk atau keluar wilayah Negara Republik Indonesia dan pengawasan orang asing di wilayah Negara Republik Indonesia”.

serta Pengadilan Negeri Medan untuk mendapatkan gambaran ataupun bahan akurat berkaitan dengan penulisan skripsi ini. responden dari narasumber atau lembaga di tempat penelitian dilakukan yang berkaitan dengan permasalahan dalam penulisan skripsi ini. Sumber dan pengumpulan data Data-data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah bersumber dari : a. skripsi. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 3. “Pengantar Penelitian Hukum”. berita dsb. 2. Data Primer yaitu data pokok yang diperoleh atau bersumber dari hasil penelitian langsung di lapangan 14. USU Repository © 2009 . Lokasi penelitian Dalam hal peneltian yang berkaitan dengan bahan bacaan. Dalam hal penelitian lapangan penulis melakukannya di Kantor Imigrasi Polnia Medan.22 langsung untuk mendapatkan data-data seperti di Kantor Imigrasi Polnia Medan. serta di Pengadilan Negeri Medan. tesis. UI-Press Jakarta. Kantor Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Medan Sekitarnya. 12 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007. Studi lapangan ini dilakukan melalui wawancara dengan 14 Soerjono Soekamto.). hal. dilakukan di Perpustakaan Univesitas Sumatera Utara maupun yang di-download melalui internet ataupun situs-situs berkaitan dengan bahan-bahan yang sifatnya skunder (tulisan. 1984. Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Medan dan sekitarnya.

Informan yang dipilih adalah mempunyai keterkaitan erat dengan pokok bahasan pada skripsi ini yaitu: 1) Petugas Keimigrasian Polonia Medan 2) Kepolisian kota Medan b. Metode Pengumpulan Data Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut : a. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). pendapat sarjana dan bahan-bahan kuliah lainnya yang berkaitan erat dengan pokok bahasan atau permasalahan dalam skripsi ini. internet.23 menggunakan pedoman wawancara (interview guide) kepada para informan. bukubuku literatur. Penelitian lapangan (Field Research) Yakni dengan melakukan penelitian langsung ke lapangan baik berupa wawancara langsung kepada pihak-pihak yang terkait dalam proses Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Penelitian kepustakaan (Library Research) Yakni melakukan penelitian dengan berbagai sumber bacaan atau tulisan seperti: buku. 2007. Data Skunder yaitu data-data yang diperoleh dari peraturan-peraturan. USU Repository © 2009 . majalah. 4. artikel ataupun majalah-majalah serta data lain yang diperoleh melalui internet yang berhubungan dengan permasalahan dalam penulisan skripsi ini. b.

perumusan permasalahan. USU Repository © 2009 .24 penyidikan kasus ini serta dengan memperoleh salinan data-data yang lebih lengkap dan menunjang pembahasan permasalahan yang disusun penulis. BAB III : Bab ini nerupakan bab yang membahas bagaimana penegakan hukum terhadap tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. yaitu jawaban dari responden dan data-data yang diperoleh dilapangan diedit dan dianalisis sehingga diperoleh data yang dapat menjawab permasalahan demi permasalahan yang dikemukakan dalam skripsi ini. Sistematika Penulisan Untuk mempermudah penulisan atau penyajiannya. 2007. dan apa saja yang termasuk dalam jenis-jenis izin keimigrasian. tinjaun kepustakaan. Analisis Data Analisis data yang dilakukan dalam penulisan skripsi ini adalah dengan cara kualitatif. 5. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. keaslian penulisan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). penulis menjabarkan materi ataupun isi dari skripsi ini menjadi lima bab dengan sistematika sebagai berikut : BAB I : Bab ini memuat latarbelakang. BAB II : Bab ini menjelaskan tentang tinjauan umum mengenai keimigrasian. baik itu mengenai keimigrasian dalam sistem hukum Indonesia dan nasional. tujuan dan manfaat penulisan. metode penulisan dan sistematika penulisan. G.

USU Repository © 2009 . B/2002/PN.25 BAB IV : Bab yang membahas Kasus dan Analisis Kasus Putusan No. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).2493/Pid. yaitu sebagai bab penutup yang berisi kesimpulan dan saran-saran mengenai permasalahan yang telah dibahas. BAB V : Kesimpulan dan Saran Bab ini merupakan bab terakhir. BAB II Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Mdn.

yaitu perubahan dari politik hukum keimigrasian yang bersifat terbuka (open door policy) untuk kepentingan pemerintahan kolonial. Keimigrasian Dalam Sistem Hukum Indonesia 1) Keimigrasian di Indonesia Di Indonesia pemeriksaan keimigrasian telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Breekland kepada Kepala Jawatan Imigrasi dari tangan Pemerintah Belanda ke tangan Pemerintah Indonesia. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. dalam pasal 1 menyebutkan: “Keimigrasian adalah hal-ikwal lalu lintas orang yang masuk atau keluar wilayah Indonesia dan pengawasan orang asing di wilayah Republik Indonesia.26 TINJAUAN UMUM A. USU Repository © 2009 . tetapi yang lebih penting adalah peralihan tersebut merupakan titik mula dari era baru dalam politik hukum keimigrasian Indonesia.” Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). namun baru pada tanggal 26 Januari 1950 Immigratie Dienst ditimbang terimakan dari H. Sejak Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Undang-undang No. 2007. Pada saat itu. terdapat badan pemerintah kolonial Belanda bernama Immigratie Dienst yang bertugas menangani masalah keimigrasian untuk seluruh kawasan Hindia Belanda. menjadi politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif didasarkan pada kepentingan nasional Indonesia.

Berdasarkan hukum internasional pengaturan hal ini merupakan hak dan wewenang suatu negara serta merupakan salah satu perwujudan dan kedaulatan sebagai negara hukum yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 15 16 Kamus Besar Bahasa Indonesia. hilir-mudik. kata lalu-lintas diartikan sebagai hubungan antara suatu tempat dan tempat lain. pengaturan lalu-lintas keluar masuk wilayah Indonesia. Dengan demikian. 16 Unsur pertama. bolak-balik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia.27 Dengan menggunakan pendekatan gramatikal (tata bahasa) dan pendekatan semantik (ilmu tentang arti kata). dan tinggal dari dan ke dalam wilayah negara Republik Indonesia. hal-ihwal diartikan berbagai-bagai keadaan. defenisi keimigrasian dapat kita jabarkan sebagai berikut: Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian terdapat dua unsur pengaturan yang penting. kejadian. Jakarta: Balai Pustaka. 2001 Lihat Penjelasan Umum Undang-undang No. yaitu: 1) Pengaturan tentang berbagai hal mengenai lalu-lintas orang keluar. menurut Undang-undang No. 2) Pengaturan tentang berbagai hal mengenai pengawasan orang asing di wilayah Republik Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 15 Dengan demikian. kejadian (sesuatu yang terjadi). Sementara itu kata ihwal diartikan hal. peristiwa. peristiwa. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. masuk. perihal. 2007. kata hal diartikan sebagai keadaan.

atau tempat tertentu atau daratan lain yang ditetapkan Menteri Kehakiman sebagai tempat masuk atau keluar wilayah Indonesia (entry point). Dalam rangka ini “pengawasan” adalah keseluruhan proses kegiatan untuk mengontrol atau mengawasi apakah proses pelaksanaan tugas telah sesuai dengan rencana atau aturan yang telah ditentukan. Selanjutnya. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian tidak membedakan antara emigrasi dan imigrasi. 17 Maka pengertian pengawasan orang asing adalah seluruh rangkaian kegiatan yang ditujukan untuk mengontrol apakah keluar-masuknya serta keberadaan orang asing di Indonesia telah atau tidak sesuai dengan ketentuan keimigrasian yang berlaku. pengaturan lalu-lintas keluar-masuk wilayah Indonesia ditetapkan harus melewati Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI). Pengawasan orang asing meliputi masuk dan keluarnya orang asing ke dan dari wilayah Indonesia. yaitu di pelabuhan laut.28 1945. Pelanggaran atas ketentuan ini dikategorikan sebagai tindakan memasuki wilayah negara Indonesia secara tidak sah. “Persfektif Imigrasi dalam Pembangunan Ekonomi dan Ketahanan Nasional”. merupakan tindakan yang dapt dipidana. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 20 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Unsur kedua dari pengertian keimigrasian yaitu pengawasan orang asing di wilayah Indonesia. Undang-undang No. 2007. artinya setiap tindakan keluar-masuk wilayah tidak melalui TPI. UI-Press Jakarta. hal. 2004. dan keberadaan serta kegiatan orang asing di wilayah Iman Santoso. Bandar udara. USU Repository © 2009 17 .

”18 Dari pernyataan tersebut. maka secara operasional peran keimigrasian dapat diterjemahkan ke dalam konsep Trifungsi Imigrasi. USU Repository © 2009 . Dari keseluruhan prosedur keimigrasin yang ditetapkan. serta pengawasan terhadap keberadaan warga negara asing di wilayah Republik Indonesia. Pengawasan selanjutnya dilaksanakan oleh pejabat imigrasi di Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) ketika pejabat imigrasi dengan kewenangannya yang otonom memutuskan menolak atau memberikan izin tinggal yang sesuai dengan visa yang dimilikinya. 21 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007. selanjutnya pengawasan beralih ke kantor imigrasi yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal waraga asing tersebut. dapat dinyatakan juga bahwa pada hakikatnya keimigrasian merupakan: “suatu rangkaian kegiatan dalam pemberian pelayanan dan penegakan hukum serta pengamanan terhadap lalu lintas keluar masuknya setiap orang dari dank e dalam wilayah RI. perlu dipahami bahwa operasionalisasinya dilaksanakan berdasarkan politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif. hal. 1) Fungsi Keimigrasian Dari uraian mengenai pengertian umum. Dimana konsep ini hendak menyatakan bahwa sistem keimigrasian. baiak ditinjau dari budaya hukum 18 Ibid. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).29 Indonesia. Pengawasan orang asing sebagai suatu rangkaian kegiatan pada dasarnya telah dimulai dan dilakukan oleh perwakilan RI di luar negeri ketika menerima permohonan pengajuan visa.

30 keimigrasian. Dari aspek itu. a. sarana dan prasarana hukum keimigrasian. yaitu: dalam operasionalisasinya harus selau mengandung Trifungsi. Kemudahan Khusus Keimigrasian (DAHSUSKIM). organisasi. dan 2) Pemberian Tanda bertolak/ masuk Pelayanan bagi Warga Negara Asing terdiri dari: 1. Fungsi pelayanan masyarakat Salah satu fungsi keimigrasian adalah fungsi penyelenggaraan pemerintahan atau administrasi negara yang mencerminkan aspek pelayanan. aparatur. Pelayanan bagi Warga Negara Indonesia terdiri dari: 1) Pemberian paspor/ pemberian Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP)/Pas lalu lintas Batas (PLB). mekanisme hukum keimigrasian. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. lembaga. Pemberian Dokumen Keimigrasian (DOKIM) berupa: Kartu Izin Tinggal Terbatas Keimigrasian (KITAS). materi hukum (peraturan hukum) keimigrasian. imigrasi dituntut untuk memberi pelayanan prima di bidang keimigrasian. Kartu Izin Tinggal Tetap (KITAP). USU Repository © 2009 . baik kepada Warga negara Indonesia (WNI) atau Warga Negara Asing).

Pemberian Izin Masuk Kembali. keseluruhan aturan hukum keimigrasian itu ditegakkan kepada setiap orang yang berada di dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia baik itu Warga Negara Indonesia (WNI) atau Warga Negara Indonesia (WNA). 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Kepemilikan paspor ganda 4. ditujukan pada permasalahan: 1. USU Repository © 2009 . Pemalsuan identitas 2. Perpanjangan izin tinggal meliputi: Visa Kunjungan Wisata (VKM). Fungsi penegakan hukum Dalam Pelaksanaan tugas keimigrasian. Visa Kunjungan Usaha (VKU). KITAP. Keterlibatan dalam pelaksanaan aturan keimigrasian Penegakan hukum kepada Warga Negara Asing (WNA) ditujukan pada permasalahan: Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 3. Visa Kunjungan Sosial Budaya (VKSB). Penegakan hukum keimigrasian terhadap Warga Negara Indonesia (WNI). Izin Bertolak 5. DAHSUSKIM 4. 2007. Perpanjangan DOKIM meliputi KITAS. b. Pertanggungjawaban sponsor 3. Pemberian Tanda Bertolak dan Masuk.31 2.

Kerawanan keimigrasian secara geografis dalam pelintasan. dan tindakan keimigrasian. penangkapan. Sementara itu. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Pendaftaran orang asing dan pemberian buku pengawasan orang asing 3. pemberkasan perkara. Fungsi keamanan Imigrasi berfungsi secara penjaga pintu gerbang negara. dalam hal penegakan hukum yang bersifat proyustisia. Penyalahgunaan izin tinggal 4. Secara operasional fungsi penegakan hukum yang dilaksanakan oleh institusi Imigrasi Indonesia juga mencakup penolakan pemberian izin masuk. c. penahanan. yaitu kewenangan penyidikan. pemyitaan). tercakup tugas penyidikan (pemanggilan. pemeriksaan. izin keimigrasian. Pemantauan/razia 6. 2007. Masuk secara ilegal atau berada secara ilegal 5. izin bertolak. Pelaksanaan fungsi keamanan yang ditujukan kepada Warga Negara Indonesia dijabarkan melalui tindakan pencegahan ke luar negeri bagi Warga Negara Indonesia atas permintaan Menteri Keuangan dan Kejasksaan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.32 1. serta pengajuan berkas perkara ke penuntut umum. Pemalsuan identitas Warga Negara Asing (WNA) 2. Dikatakan demikian karena imigrasi merupakan institusi pertama dan terakhir yang menyaring kedatangan dan keberangkatan orang asing ke dan dari wilayah Republik Indonesia. penggeledahan. Semua itu merupakan bentuk penegakan hukum yang bersifat administratif. USU Repository © 2009 .

secara sinergi baik di bidang ekonomi. 3. perlu menata atau mengubah peraturan perundangan. perdagangan. Melakukan seleksi terhadap setiap maksud kedatangan orang asing melalui pemeriksaan permohonan visa 2. terutama di bidang perekonomian. Perubahan itu diperlukan guna meningkatkan intensitas hubungan negara Republik Indonesia dengan dunia Internasional yang mempunyai dampak sangat Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. demi peningkatan kesejahteraan.33 Agung. maupun peraturan di bidang lalu-lintas orang dan barang yang dapat memfasilitasi pertumbuhan ekonomi. ketenagakerjaan. industri. Pelaksanaan fungsi keamanan yang ditujukan kepada Warga Negara Asing (WNA) adalah: 1. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . harus diingat bahwa di era globalisasi aspek hubungan kemanusiaan yang selama ini bersifat nasional berkembang menjadi bersifat internasional. Melaksanakan pencegahan dan penangkalan. yaitu larangan bagi seseorang untuk meninggalkan wilayah Indonesia dalam jangka waktu tertentu dan/atau larangan untuk memasuki wilayah Indonesia dalam waktu tertentu. Melakukan operasi intelijen keimigrasian bagi kepentingan keamanan negara 4. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut. Melakukan kerjasama dengan aparatur keamanan negara lainnya khususnya di dalam memberikan supervisi perihal penegakan hukum keimigrasian. Khusus untuk Warga Negara Indonesia (WNI) tidak dapat dilakukan pencegahan karena alasan-alasan keimigrasian belaka. 2007. Untuk mengantisipasinya. transportasi.

hal. 24 Prof. Dr. Sedangkan fungsi baru yaitu sebagai fasilisator pembagunan ekonomi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan fungsi keimigrasian lainnya. Tuntutan perubahan Trifungsi Imigrasi dipertegas oleh pernyataan Prof. semula menggunakan pendekatan kewilayahan (territory) yang hanya meliputi keamanan nasional (national security) berubah menjadi pendekatan yang komprehensif selain keamanan nasioanal juga keamanan warga masyarakat (human security) dengan menggunakan pendekatan Ibid.34 besar pada pelaksanaan fungsi dan tugas keimigrasian serta menghindari adanya tumpang tindih peraturan. Di dalam perkembangan Trifungsi Imigrasi dapat dikatakan mengalami suatu pergeseran bahwa pengertian fungsi keamanan dan penegakan hukum merupakan satu bagian yang tak terpisahkan karena penerapan penegakan hukum dibidang keimigrasian berarti sama atau identik dengan menciptakan kondisi keamanan yang kondusif atau sebaliknya 19. Dr. 2007. Di dalam rangka memelihara kondisi keamanan yang kondusif secara otomatis fungsi penegakan hukum keimigrasian harus dilakasanakan secara terus-menerus dan konsekuen. Yusril Ihza Mahendra. yang menyatakan: 20 “Trifungsi Imigrasi yang merupakan ideologi atau pandangan hidup bagi setiap kebijakan dan pelayanan keimigrasian harus diubah karena tutntutan zaman. 20 19 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Paradigma konsepsi keamanan saat ini mulai bergeser. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Hal ini terlihat ketika jasa keimigrasian telah menjadi bagian dari infrastruktur perekomian. dalam sambutan tertulis pada upacara Hari Bhakti Imigrasi ke-52 tanggal 26 Januari 2002. USU Repository © 2009 . Yusril Ihza Mahendra selaku Menteri Kehakiman dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia.

saya memberi pesan agar insane imigrasi mengubah cara pandang mengenai konsep keamanan yang semula hanya sebagai alat kekuasaan. sebagai bagian dari sistem hukum administrasi negara. 2007. agar diubah menjadi Trifungsi Imigrasi baru yaitu sebagai pelayan masyarakat. dan fasilisator pembangunan ekonomi”. agar menjadi apratur yang dapat memberikan kepastian hukum. dan sekuriti. dan dapat memberikan perlindungan kepada masyarakat. Bidang Politik Ada berbagai pendapat yang menyatakan di mana sebenarnya fungsi keimigrasian itu berada. Di satu sisi. penengak hukum. Sebaliknya. mampu melaksanakan penegakan hukum.35 hukum. Mendukung konsepsi tersebut. penegak hukum. paradigma baru melihat bahwa keimigrasian itu bersifat multidimensional. USU Repository © 2009 . Hal itu dapat dijelaskan dalam uraian sebagai berikut: a. Hal ini lebih disebabkan karena dunia telah menjadi semakin kecil dan bahwa subjek masalah keimigrasian adalah manusia yang bersifat dinamis. sudah waktunya kita membuka cakrawala berpikir yang semula hanya dalam cara pandang ke dalam (inward looking) menjadi cara pandang ke luar (outward looking) dan mulai mencoba untuk mengubah paradigma Trifungsi Imigrasi yang pada mulanya sebagai pelayan masyarakat. Ruang Lingkup Fungsi Keimigrasian Paradigma lama hanya melihat esensi keimigrasian sebatas hal-ihwal orang asing. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). baik itu dalam tatanan nasional maupun internasional. sehingga muncul pendapat seolah-olah masalah keimigrasian sebatas masalah yang berporos pada atau paling tidak bertalian dengan negara asing. hukum keimigrasian sering disertai dengan sanksi pidana Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Bertitik tolak dari berbagai tantangan itu. 3.

Bidang Ekonomi Di bidang ekonomi tampak jelas sekali keterkaitan fungsi imigrasi dalam rangka melaksanakan politik perekonomian suatu negara. kedaulatan negara penerima juga tidak dapat di abaikan. agama. Di sisi lain. hukum keimigrasian juga mengatur kewarganegaraan seseorang.36 yang kadangkala terasa janggal. Pada kesempatan ini sering hukum keimigrasian digunakan untuk melindungi kepentingan politik suatu negara. Di samping itu hukum keimigrasian mempunyai kaitan yang sangat erat dengan hubungan internasional. USU Repository © 2009 . b. Itu berarti bahwa ia mendapatkan suatu perlakuan khusus di bidang keimigrasian. seperti United Nations Convention 1951 Concerning of Refugees Status (selanjutnya disebut konvensi PBB Tahun 1951) menyebutkan hak-hak seorang pengungsi serta kewajiban negara penerima. Berbagai konvensi internasional. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). disisi lain hak seseorang untuk melintasi batas negara dan bertempat tinggal di suatu negara dilihat sebagai hak asasi manusia. 2007. Meskipun demikian. Di Bidang politik sering fungsi keimigrasian ditempatkan pada hubungan hubungan internasional. Berbagai pendapat tersebut ada benarnya karena segalanya bergantung pada cara memandang fungsi keimigrasian itu. Seorang assign dapat bertempat tinggal di suatu negara tanpa mengikuti ketentuan umum mengenai keimigrasian. Hal itu terkait dalam Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. seperti yang menyangkut masalah sentimen ras. serta faktor lain yang berkaitan dengan komposisi atau struktur kependudukan di dalam suatu negara. Pencari Suaka politik(asylum seekers) akan mendapatkan hak-hak hidupnya dan perlindungan atas dirinya di negara terakhir ia berada.

ke mana investasi ditanamke sana pula arus manusia mengikutinya. izin tinggal tetap) merupakan bagian dari infrastruktur perekonomian. mengalirkan teknologi baru. dan akan meningkatkan arus manusia ke kawasan tersebut. izin masuk beberapa kali perjalanan (multiple re-entry permit). Di dalam kaitan ini sangatlah jelas bahwa jasa keimigrsian di suatu negara merupakan bagaian yang tidak dapat dipisahkan dari kepentingan ekonominya. izin masuk kembali (re-entry permit).. seperti jasa fasilitas tranportasi . Sebagai infrastruktur perekonomian. atau dengan kata lain. izin tinggal terbatas. USU Repository © 2009 . Maka. 2007. Begitu pula dengan aspek pengawasan orang asing. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). sudah dapat dipastikan bahwa kini jasa fasilitas keimigrasian merupakan bagian dari infrastruktur perekonomian. pembentukan pola-pola keimigrasian dengan alasan perekonomian dalam memberikan izin masuk dan bertempat Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. jasa fasilitas pengelolaan sumber daya alam dan manusia serta jasa fasilitas perbankan. jasa fasilitas komunikasi. termasuk pembatasan yang diberlakukan terhadap seorang asing untuk meperoleh izin masuk atau tinggal di suatui negara baik sebagai pencari kerja maupun investor. serta bermacam-macam izin tinggal (izin singgah. izin kunjungan. Sektor peronomian membutuhkan jas infrastruktur lain. Pemberian fasilitas jasa keimigrasian. seperti pemberian izin masuk. yang dimaksudkan untuk merlindungi warga negaranya dari sisi perekonomian dalam menghadapi persaingan hidup.37 kerangka pertumbuhan dan perkembangan perekonomian global yang ditandai dengan peningkatan arus investasi sehingga menciptakan lapangan kerja.

38

tinggal bagi warga negara asing ke negaranya, tentu saja memliki persyaratan yang ketat dan menguntungkan negara tersebut. Begitu pula negara yang termasuk dalam kategori migrant country. Sebagai contoh, Australia, dengan alasan perekonomian, mensyaratkan bahwa orang asing yang mengajukan permohonan untuk masuk dan bertempat tinggal disana harus memiliki rumah dan dana dalam jumlah tertentu sebagai modal kerja yang ditanam dalam suatu perusahaan. Kemudian, kinerja perusahaan akan dinilai setiap tahun sebelum pihak imigrasi Australia memutuskan untuk memberikan izin tinggal tetap bagi orang asing tersebut. c. Bidang Sosial Budaya Pergerakan dan perpindahan manusia sebagai individu atau kelompok akan mempunyai dampak, baik yang bersifat positif maupun negatif pada individu atau kelompok penerima. Pengaruh sosial dan budaya terjadi karena ada interaksi diantara mereka, baik di lingkungan pendatang maupun penerima. Negara berkepentingan, melalui fungsi keimigrasian, untuk tetap menjaga kondisi sosial dan budaya yang ada di dalam masyarakat agar pengaruh dari luar tidak merusak struktur sosial budaya masyarakatnya. Fungsi keimigrasian, melalui kebijakan yang diberlakukan oleh pemerintah, harus mampu menyaring serta mengatur halhal dimaksud diatas. Sebagai contoh, terjadinya peningkatan jumlah pengungsi Afghanistan yang masuk ke Indonesia beberapa waktu yang lalu, sedikit banyak telah mempengaruhi kondisi sosial dan budaya penduduk Indonesia yang tinggal di
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

39

sekitar tempat penampungan orang Afghanistan tersebut. Berbagai hal dapat terjadi, misalnya konflik sosial, perkawinan antara pengungsi dan penduduk lokal yang berdampak pada status kewarganegaraan anak mereka, serta pertikaian akibat kecemburuan sosial dari suatu kelompok kepada kelompok lain. Sekalipun tempat penampungan pengungsi tersebut diklelola oleh International

Organization for Migration (IOM), keberadaan dan kegiatan orang-orang Afghanistan itu terus diawasi imigrasi setempat. Satu kasus pernah diungkap oleh Direktorat Jendral Imigrasi ketika warga Afghanistan pemegang status pengungsi tertangkap tangan dalam sebuah operasi pengawasan keimigrasian ketika bekerja sebagai gigolo atau pria tuna susila. d. Bidang Keamanan Permasalahan yang timbul dan berkaitan dengan aspek politis, ekonomis, sosial, dan budaya pada masyarakat akan sangat berpengaruh pada stabilitas keamanan negara tersebut. Fungsi keimigrasian yang mengatur serta mengawasi keberadaan orang di negara tersebut akan memiliki peran yang signifikan. Secara universal imigrasi dijadikan sebagai penjuru (vocal point). Kebijakan yang salah atau tidak tepat di dalam menangani masalah ini akan mempunyai dampak yang sangat besar pada bidang lain. Sebagai contoh, kebijakan keimigrasian untuk mengatasi kejahatan terorganisasi lintas negara, harus dapat menjangkau juga bidang lain seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya, baik yang berskala nasional, regional, maupun internasional. Oleh karena itu, kebijakan keimigrasian mempunyai keterkaitan substansial yang berdampak beruntun (multiplier effect).
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

40

Contoh lainnya setelah terjadi insiden pemboman di Bali pada tanggal 12 November 2002 tengah malam. Pada esok harinya telah terjadi suatu evakuasi korban dan eksodus para wisatawan asing meninggalkan Bali secara besar-besaran ke Australia dengan menggunakan penerbangan pesawat tambahan. Pada saat itu imigrasi Indonesia telah menetapkan suatu kebijakan dalam keadaan force mayeur untuk mengizinkan dokumen (paspor kebangsaan) karena kebanyakan dari mereka telah kehilangan paspor. Namun demikian dari segi keamanan, petugas imigrasi melakukan pencatatan (fotokopi) dokumen yang ada dan pengambilan gambar diri (potret) secara langsung bagi mereka yang tidak memiliki dokumen keimigrasian. Hal ini dimaksud sebagi tindakan antisipatif sekiranya diantara mereka terdapat pelaku pengeboman yang hendak melarikan diri. e. Bidang Kependudukan Demikian pula kependudukan yang merupakan salah satu gatra di dalam konsep ketahanan nasional. Kependudukan merupakan aset bangsa. Struktur dan komposisi penduduk negara memiliki hubungan yang sangat erat dengan kondisi politis, ekonomis, sosial, budaya, serta keamanan nasional. Isu SARA sering menjadi pemicu stabilitas keamanan yang akan berkaitan erat atau berdampak pada situasi perekonomian baik perekonomian wilayah maupun nasional. Bahkan, lebih luas daripada itu, isu SARA dapat berpengaruh pada situasi perekonomian dan keamanan secara regional ataupun internasional. Di sini tampak secara jelas bahwa fungsi keimigrasian di berbagai lini kehidupan, walaupun pengaruhnya tidak begitu signifikan, terlihat keterkaitannya.
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

Jenis-Jenis Izin Keimigrasian Dalam pasal 24 Undang-undang no. Izin singgah diberikan kepada orang asing pemegang visa singgah yang telah memperoleh izin masuk dan orang asing pemegang visa singgah saat kedatangan yang telah memperoleh izin masuk. b. terdiri atas: a. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. dilakukan oleh pihak imigrasi. Izin Tinggal Terbatas. masalah naturalisasi atau pewarganegaraan. Izin Tinggal Tetap.41 Dibeberapa negara seperti Brunei Darussalam dan Singapura. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). B. fungsi keimigrasian juga disatukan dengan fungsi pelaksanaan registrasi kependudukan. (2) Izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Hal ini memang tepat karena sejak kedatangan orang asing pada saat pertam kali sampai ia mempunyai hak menurut ketentuan yang berlaku untuk mengajukan perwarganegaraan seluruh catatan keberadaan orang tersebut ada pada pihak imigrasi. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian disebutkan: 21 “(1) setiap orang yang berada di wilayah Indonesia wajib memiliki izin keimigrasian. USU Repository © 2009 . 21 Lihat pasal 24 Undang-undang no. d. 2007.” a) Izin Singgah Izin singgah diberikan untuk orang asing yang memerlukan singgah di wilayah Indonesia guna dapat meneruskan perjalanan ke negara lain atau kembali ke negara asal. c. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian. Izin Kunjungan. Izin Singgah. Di Amerika Serikat.

dan orang asing pemegang visa kunjungan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2. Tidak termasuk dalam daftar pencegahan/penagkalan 4. Adapun persyaratan untuk memperoleh izin singgah adalah: 1.42 Izin singgah diberikan untuk jangka waktu 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan tidak dapat diperpanjang. USU Repository © 2009 . Memiliki trough ticket atau return ticket yang masih berlaku 3. Memiliki visa singgah dan telah memperoleh izin masuk. 2007. Tugas pemerintahan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Izin kunjungan diberikan dalam rangka: 1. sakit dan lain sebagainya dapat diberikan batas waktu izin untuk tetap singgah oleh kepala kantor inigrasi dengan setiap kali pemberian 14 (empat belas) hari sampai paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk. Dalam hal jangka waktu 14 (empatbelas) hari izin singgah terlampaui oarng asing belum dapat melanjutkan perjalanan karena suatu keadaan memaksa diluar kemampuannya atau keadaan darurat seperti kerusakan alat angkutm cuaca buruk. Memliki surat perjalanan (paspor) yang sah dan masih berlaku minimal 6 (enam) bulan. b) Izin Kunjungan Izin kunjungan diberikan oleh pejabat imigrasi di tempat pemeriksaan imigrasi kepada orang asing mancanegara yang dibebaskan keharusan memiliki visa kunjungan.

3. Izin kunjungan ex visa kunjungan saat kedatangan diberikan selam 30 (tiga puluh) hari dan tidak dapat diperpanjang 4. Pemintaan perpanjangan ijin kunjungan diajukan oleh orang asing kuasanya atau sponsornya kepada kepala kantor imigrasi yang di wilayah kerjanya meliput i tempat tinggal pemohon. Izin kunjungan untuk keperluan pariwisata diberikan selama 60 (enam) puluh hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan tidak dapat diperpanjang. USU Repository © 2009 . Usaha 3. Izin kunjungan untuk keperluan tugas pemerintahan tugas pemerintahan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 5. kegiatan sosial budaya atau usaha diberikan selama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan dapat diperpanjang paling banyak 5 (lima) kali berturut-turut. Izin kunjungan ex bebas visa kunjungan singkat diberikan selama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan tidak dapat diperpanjang. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Izin kunjungan ex visa kunjungan diplomatik (dinas) diberikan sesuai dengan visanya. untuk setiap kali perpanjangan selama 30 (tiga puluh) hari . 2007. Kepariwisataan Izin kunjungan diberikan untuk jangka waktu: 1. Kegiatan sosial budaya 4. 2.43 2.

Tidak termasuk dalam daftar pencegahan/penangkalan 4. Memiliki through ticket atau return ticket yang masih berlaku 3. 32 tahun 1994 tentang Visa. USU Repository © 2009 22 . 2007. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Visa tinggal terbatas diberikan kepada mereka yang bermaksud untuk: 22 1) Menanamkan modal. Memliki surat perjalanan (paspor) yang sah dan masih berlaku minimal 6 (enam) bulan 2. c) Izin Tinggal Terbatas Izin tinggal terbatas diberikan kepada: 1) Orang asing pemegang izin masuk dengan visa tinggal terbatas 2) Anak yang lahir dan berada di wilayah Indonesia yang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum kawin dari orang tua pemegang izin tinggal terbatas. dan Izin Keimigrasian. kecuali yang dibebaskan dari keharusan memiliki visa dan telah memperoleh izin masuk. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Memiliki visa kunjungan. 3) Anak yang lahir dan berada di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum kawin dari ibu warga negara Indonesia dan ayahnya tidak memiliki ijin tinggal terbatas 4) Orang asing yang mendapat alih status izin kunjungan menjadi izin tinggal terbatas.44 Persayaratan untuk memperoleh izin kunjungan adalah: 1. Izin masuk. Lihat Pasal 1 ayat (2) huruf e Peraturan Pemerintah RI no.

5) Menggabungkan diri dengan suami dan atau orang tua bagi isteri dan atau anak sah dari seorang Warga Negara Indonesia. USU Repository © 2009 . angka 3. 3) Malaksanakan tugas sebagai rohaniwan. 6) Menggabungkan diri dengan suami dan atau orang tua bagi istri dan anak-anak sah di bawah umur dari Orang Asing sebagaimana dimaksud dalam huruf e angka 1. d) Izin Tinggal Tetap Izin tingal tetap diberikan kepada orang asing untuk tinggal menetap di Indonesia. 7) Repatriasi.45 2) Bekerja. Hukum Keimigrasian Indonesia Dalam Sistem Hukum Nasional Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 4) Mengikuti pendidikan dan latihan atau melakukan penelitian ilmiah. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). dan angak 4. Perpanjangan izin tinggal tetap diajukan paling lama 60 (enam puluh) hari sebelum izin tinggal tetap berakhir. Dalam hal izin tinggal tetap berakhir sedangkan keputusan Direktur jenderal Imigrasi yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal orang asing yang bersangkutan dapat memberikan perpanjangan sementara izin tinggal tetap paling lama (90) hari terhitung sejak izin tinggal tetap berakhir. angka 2. C. 2007.

yaitu fungsi penyelenggara pemerintahan atau administrasi negara (bestuur) dan pelayanan masyarakat (publiek dienst). telah tumbuh pula berbagai cabang ilmu hukum sebagai disiplin hukum baru. 2007. dan ilmu hukum internasional 23. Sejalan dengan perkembangan zaman. Hal itu terlihat dari fungsi keimigrasian yang dilaksanakannya. 39 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. hukum pajak. 22. Contoh. cit. USU Repository © 2009 23 . Jika dikaitkan dengan ilmu hukum yang menjadi induknya. yaitu ilmu hukum kepidanaan. 24 Iman Santoso. ilmu hukum keperdataan. dan hukum keimigrasian. 1992. “Persoalan Praktis Filsafat Hukum dalam Himpunan Distingsi”. Kebijakan yang dimaksud adalah gambaran dari perbuatan hukum pemerintah (overheads handeling). seperti hukum administrasi negara. Flora Liman Mangestu. A. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). keimigrasian dapat dilihat dalam persfektif hukum administrasi negara. bukan pembentuk undang-undang (wetgever) dan bukan juga fungsi peradilan (rechtspraak). hukum lingkungan. Op. Sesungguhnya. hukum ekonomi. kewenangan imigrasi untuk menangkal dan mencegah orang yang hendak masuk atau keluar wilayah Indonesia. hukum agrarian. Jakarta: UKI. ilmu hukum kenegaraan.46 Dalam ilmu hukum terdapat beberapa ilmu hukum positif sebagai induk. Ridwan Halim . Dengan demikian. . hukum keimigrasian adalah bagian dari ilmu hukum kenegaraan. hal. khususnya merupakan cabang ilmu dari hukum administrasi negara 24. hlm. masalah keimigrasian justru merupakan sebagian kebijakan oragan administrasi negara yang melaksanakan kegiatan pemerintahan (administrasi negara).

Bidang hukum formil 1) Hukum tata negara formil atau hukum acara tata negara 2) Hukum administrasi negara formil atau hukum acara administrasi negara 3) Hukum perdata formil atau hukum acara perdata 4) Hukum pidana formil atau hukum acara pidana c. hukum objek immaterial. 1987. pemyelenggaraan keluar-masuk orang dari dan ke dalan wilayah Indonesia. hukum perjanjian.47 Dalam ilmu pengetahuan hukum dikenal istilah pembidangan hukum. hal. Jakarta: Rajawali. terdiri atas: 1) Hukum negara yang mencakup: hukum tata negara. 2007. khusus mengatur penyelesaian perkara yang mengandung pertemuan antara dua atau lebih sistem hukum (HATAH intern dan HATAH ekstern). serta Purmadi Purbacaraka. “Penggarapan Disiplin Hukum dan Filsafat Hukum bagi Pendidikan Hukum”. yang secara khusus terbagi menurut fungsi pengaturannya. Luas lingkup keimigrasian tidak lagi hanya mencakup pengaturan. hukum waris. hukum benda. USU Repository © 2009 25 . Bidang Hukum Hubungan Antar Tata Hukum (HATAH). Bidang hukum materil. dan hukum penyelewengan perdata dan sikap tindak lain 3) Hukum pidana b. 15 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Pembidangan hukum tersebut dalam praktiknya dapat dijabarkan sebagai berikut: 25 a. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). hukum keluarga. dan hukum administrasi negara 2) Hukum perdata yang mencakup: hukum pribadi.

mengatur tata cara administrasi negara (diperkenankan atau diwajibkan) yang mencampuri kehidupan masyarakat. Pertama. 41 Bagir Manan. Op. Iman Santoso. Maka. Hukum administrasi negara mengatur tata cara menjalankan pemerintahan atau administrasi negara serta mengatur hubungan antara aparatur administrasi negara dan masyarakat yang mencakup dua hal pokok. Oleh karena itu. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). dan izin bertempat tinggal di Indonesia. Jakarta. seperti tata cara bepergian ke luar negeri. maka Hukum Keimigrasian dapat dikatakan merupakan bagian dari bidang hukum administrasi negara 27. yaitu fungsi administrasi negara dan pemerintahan. Berhubung hukum keimigrasian harus mengikuti dan tunduk pada asasasas dan kaidah hukum administrasi negara umum (algemene administratiefrecht). tetapi telah bertalian juga dengan pencegahan orang keluar wilayah Indonesia dan penangkalan orang masuk wilayah Indonesia demi kepentingan umum.cit. disampaikan dalam Rapat Kerja Nasional Keimigrasian.48 pengawasan orang asing yang berada di wilayah Indonesia. pemberian izin masuk ke dalam negeri. 14 Januari 2000. dapat dikatakan bahwa fungsi keimigrasian merupakan fungsi penyelenggaraan administrasi negara atau penyelenggaraan administrasi pemerintahan (besturr) 26. hal. USU Repository © 2009 . penyidikan atas dugaan terjadinya tindak pidana keimigrasian. mengatur tata cara melindungi masyarakat da ri pelanggaran hak warga negara ataupun dari bahaya yang ditimbukan atau berkaitan dengan orang asing. 7 27 26 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Kedua. serta pengaturan prosedur keimigrasian dan mekanisme pemberian izin keimigrasian. sebagai bagian dari penyelenggaraan kekuasaan eksekutif. “Hukum Keimigrasian dalam Sistem Hukum Nasional”. hlm. 2007.

Setiap keputusan yang bertentangan dengan asas penyelenggaraan pemerintahan yang baik dapat dijadikan dasar tuntutan atau pembatalan. asas kepastian hukum. asas keseimbangan. ukuran isi tindakan atau isi keputusan. USU Repository © 2009 . yaitu setiap tindakan pejabat administrasi negara dilaksanakan menurut ukuran hukum yang berlaku mencakup ukuran kewenangan. asas larangan melampaui wewenang. asas-asas umum penyelengaraan administrasi yang baik (general principles of good administration) yang mencakup asas persamaan perlakuan. asas tidak sewenang-wenang. sebab tindakan atau keputusan yang bertentangan dengan asas legalitas dapat mengakibatkan tindakan atau keputusan yang bersangkutan batal demi hukum. 28 28 Ibid. yaitu: 1. disertai ganti rugi. asas legalitas. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2. asas dapat dipercaya. dan asas keterbukaan. Oleh karena itu setiap tindakan yang bertentangan dengan asas penyelenggaraan pemerintahan yang baik dapat dijadikan dasar tuntutan bagi koreksi dan pelaksanaan kewajiban hukum apratur keimigrasian atau ganti rugi apabila sudah tidak mungkin lagi dipulihkan. asas motivasi yang benar. hal.49 terdapat dua asas umum yang harus diterapkan dalam setiap implementasi peran keimigrasian. 9 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. ukuran tata cara melakukan tindakan atau membuat keputusan.

terbentuklah bidang hukum baru yang disebut hukum ekonomi dalam arti sempit. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). proses. serta kelembagaan dari setiap kegiatan interaksi ekonomi. ataupun tetap. hukum mempunyai peranan yang penting bagi keberhasilan pembangunan ekonomi. KITAS ini merupakan produk administrasi negara yang berasal dari kaidah keimigrasian. yang diberi nama droit economique. USU Repository © 2009 . Demikian pula dengan pemberian izin keimigrasian. aktivitas perdagangan. izin tinggal terbatas. Dalam perspektif pembangunan nasional. dan pembicaraan traksaksi bisnis. seperti izin kunjungan. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. yang dikaitkan dengan investasi pekerjaan. dapat dikatakan bahwa hukum keimigrasian merupakan bagian dari hukum ekonomi. Karena semakin banyak peraturan yang mengatur bidang perekonomian dengan menggunakan kaidah hukum administrasi negara ini. juga diberikan kepastian mengenai subjek dan objek hukum dalam setiap kegiatan ekonomi. selain ditetapkan hak dan kewajiban. 2007.50 Dalam perspektif yang lebih besar lagi. Hal yang membuktikan bahwa kaidah hukum keimigrasian merupakan bagian dari hukum ekonomi dalam arti sempit adalah ketika kepemilikan hak orang asing atas satuan rumah susun (apartemen dan kondominium) di Indonesia hanya diberikan apabila orang asing tersebut adalah pemegang KITAS (Kartu Izin Tinggal Terbatas). sebab melalui hukum.

Gramedia Jakarta. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Indonesia merasa perlu untuk mengatur permasalahan orang asing yang berada di Indonesia. yaitu warga Negara Indonesia (WNI) dan orang asing atau warga negara asing (WNA). 74. hal. Visa sebagai izin masuk Penduduk Indonesia pada hakikatnya terdiri atas dua golongan. Oleh karena itu. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian 1. Hukum Kewarganegaraan dan Keimigrasian Indonesia. Ketentuan Keberadaan Warga Negara Asing (WNA) di Indonesia Menurut Undang-undang RI No. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 29 Pasal 2 sampai 9 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) mengatur mengenai batas-batas berlakunya perundang-undangan hokum pidana menurut Koerniatmanto Soetoprawiro. 2007. USU Repository © 2009 29 . 1996.51 BAB III PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PENYALAHGUNAAN IZIN KEIMIGRASIAN A.

Jakarta. Sesuai dengan ketentuan ketentuan Undang-undang RI Nomor 9 tahun 1992 tentang keimigrasian. Jakarta. dalam pasal 6 ayat 1 disebutkan bahwa “setiap orang asing yang masuk wilayah Indonesia wajib membawa Visa”. 38. 2. 2. 32 Hadi Kiswanto. 1982. Tugas Pokok dan Fungsi Direktorat Jendral Imigrasi. Departemen Kehakiman RI. 1983. USU Repository © 2009 . Jakarta. 31 30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. hal. Rineka Cipta. antara lain: Menurut Hadi Kiswanto:32 “Visa adalah izin tertulisuntuk masuk ke suatu negara yang tercantum dalam surat perjalanan”. 2007. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Asas-asas Hukum Pidana. 2000. hal. 10. dimana saja. baik dilakukan oleh warga negaranya sendiri maupun oleh negara asing (asas teritorial). 33 Direktorat Jendral Imigrasi. ada beberapa pengertian visa yang dapat dikemukakan.52 tempat terjadinya perbuatan. Perundang-undangan hukum pidana berlaku bagi semua perbuatan pidana yang dilakukan oleh waraga negara. ada dua kemungkinan pendirian. Perundang-undangan hukum pidana berlaku bagi semua perbuatan pidana yang terjadi dalam wilayah negara. hal. Buku Petunjuk Keimigrasian RI Bagian I Visa Izin Tinggal. yaitu: 30 1. Di dalam Buku Petunjuk Keimigrasian Republik Indonesia Bagian I Visa dan Izin Tinggal disebutkan: 33 Moeljatno. Lihat Pasal 6 ayat (1) Undang-undang RI No. juga diluar wilayah negara (asas personal atau juga dinamakan prinsip nasional aktif). 31 Oleh karena itu setiap orang asing yang masuk wilayah Indonesia wajib memiliki visa. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Ditinjau dari sudut negara.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). WJS Poerwadarnita. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2007. Lihat Pasal 1 butir 7 Undang-Undang RI No. Jakarta. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian menyebutkan: “Visa adalah izin tertulis yang diberikan oleh pejabat yang berwenang pada Perwakilan Republik Indonesia atau di tempat lainnya yang ditetapkan olah Pemerintah Republik Indonesia yang memuat persetujuan bagi orang asing untuk masuk dan melakukan perjalanan ke wilayah Indonesia. hal. M. Balai Pustaka. 35 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.53 “Visa adalah izin tertulis yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang di dalam papor kebangsaan yang menyatakan bahwa yang bersangkutan dapat mengadakan perjalanan ke negara yang dituju”. 07. PR. 1986.04 Tahun 1981 yang menyatakan sebagai berikut: “Tugas Pokok Direktorat Jendral Imigrasi adalah mengtaur dan mengawasi lalu lintas antar Republik Indonesia dengan negara lain serta menyelenggarakan pengawasan orang asing dalam wilayah negara 34 WJS Poerwadarninta. USU Repository © 2009 .29. dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan: 34 “Visa adalah izin untuk keluar atau masuk ke sesuatu negara. Hal ini sejalan dengan tugas pokok Direktorat Jendaral Imigrasi yang tertuang dalam keputusan Menteri Kehakiman RI No. 142.” Sedangkan menurut Undang-undang RI No.” 35 Maksud dan tujuan pemberian visa menurut petunjuk Pusdiklat Departemen Kehakiman Republik Indonesia yaitu untuk dapt mengendalikan serta mengawasi lalu lintas orang asing yang keluar nasuk (ke dan dari) wilayah Indonesia. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian.

hal. Jakarta. diberikan kepada orang asing pemegang Paspor Diplomatik yang hendak bepergian ke Indonesia dengan tugas Diplomatik. tetapi tugas tersebut tidak bersifat Diplomatik. Berdasarkan prinsip ini. ketentraman. 37 Lihat dalam Penjelasan Umum Undang-undang RI No. dan keamanan nasional. Izin masuk dan Izin Keimigrasian. Pusdiklat Pegawai Departemen Kehakiman.” 36 Menurut Undang-undang No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian. Visa Diplomatik. 32 Tahun 1994 tentang Visa. 6. 37 Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. Visa Dinas. 1982. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Visa ini diberikan kepada orang asing yang maksud dan tujuan kedatangannya di Indonesia tidak menimbulkan gangguan terhadap ketertiban dan keamanan nasional. Hal ini sejalan dengan prinsip yang bersifat “selekrif” (selective policy). bangsa dan negara Republik Indonesi serta tidak membahayakan keamanan dan ketertiban. maupun negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang diizinkan masuk ke wilayah Indonesia. Izin Masuk dan Izin Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. ada lima jenis visa: 38 a. Beberapa Pedoman dan Ketentuan Tentang Imigrasi dan Ketatalaksanaan: Bahan Penataran Administrasi Apratur Kehakiman. 32 Tahun 1994 tentang Visa. 38 Lihat Pasal 1-17 PP No.54 Republik Indonesia demi menjamin ketertiban. b. hanya orang asing yang dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). juga tidak bermusuhan baik terhadap rakyat. 2007. diberikan kepada orang asing pemegang Paspor Dinas yang hendak bepergian ke Indonesia untuk melaksanakan tugas resmi dari Pemerintah asing yang bersangkutan atau diutus oleh Organisasi Internasional. USU Repository © 2009 36 .

d. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). dapat diberikan kepada orang asing untuk tinggal di wilayah Negara Republik Indonesia paling lama satu tahun terhitung sejak tanggal diberikannya izin masuk di wilayah Negara Republik Indonesia. dapat diberikan kepada orang asing untuk singgah di wilayah Negara Republik Indonesia untuk meneruskan perjalanan ke negara lain atau kembali ke negara asal. 2. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian dinyatakan: 39 “dikecualikan dari kewajiban memiliki visa bagi orang asing yang masuk wilayah Indonesia adalah: 39 Lihat Pasal 7 Undang-undang RI No. Bebas visa kunjungan singkat (BVKS) Pada dasarnya setiap orang yang akan memasuki suatu negara harus memiliki visa. Visa Kunjungan. tetapi dalam pasal 7 Undang-undang No. USU Repository © 2009 .55 c. Visa ini diberikan untuk singgah di wilayah Negara Indonesia paling lama 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal diberikannya izin masuk di wilayah Negara Republik Indonesia. 2007. Visa Tinggal Terbatas. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. yaitu visa Kunjungan untuk beberapa kali melakukan perjalanan dari dan ke wilayah Negara Republik Indonesia. dapat diberikan kepada orang asing untuk berkunjung di wilayah Negara Republik Indonesia paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikannya Izin Masuk di wilayah Negara Indonesia. e. Visa Singgah. Dalam hal ini orang asing dapat menggunakan Multipel Visa.

Penumpang transit di Pelabuhan atau Bandar Udara diwilayah Indonesia sepanjang tidak keluar dari tempat transit yang berada di daerah tempat Pemeriksaan Imigrasi. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 1984. Jakarta. 2007. Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN). Sebagai contoh.56 a. Kapten atau Nakoda kapal dan awak yang bertugas pada alat angkut yang berlabuh dipelabuhan atau mendarat di Bandar Udara di wilayah Indonesia d. hal. “Analisa dan Evaluasi tentang Pengaturan Fasilitas Bebas Visa wisata bagi Orang Asing yang Berkunjung ke Indonesia” (Laporan Penelitian). USU Repository © 2009 40 . seperti yang disebutkan pada huruf (a) diatas. Dalam hal tertentu. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9. Orang asing yang memiliki Ijin masuk kembali c. 40 Selain itu juga pemberian kemudahan tersebut juga didasarkan kepada azas resiprositas yaitu negara yang memberikan kemudahan bebas visa terhadap waraga asing tertentu. Biasanya kemudahan ini diberikan untuk kepentingan negara tersebut yaitu agar orang asing lebih banyak masuk ke negaranya dan ini akan menghasilkan devisa. warga negara ASEAN dapat saling masuk ke negara-negara ASEAN lainnya tanpa terlebih dahulu meminta visa. dkk). terdapat negara-negara yang diberikan kemudahan kepada orang asing untuk masuk ke suatu negra Indonesia dengan tidak memerlukan visa. maka waraga negara dari negara tersebut juga mendapatkan pembebasan visa apabila akan ke negara asing tertentu. Orang asing warga negara dari negara yang berdasarkan keputusan Presiden tidak diwajibkan memilki visa b. Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting.

Mesir 29. Argentina 4. 2002. Australia 5.57 Pemerintah Republik Indonesia dengan peraturan perundang-undangan berupa Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. social budaya dan usaha. Maroko 28. Belanda 7. Mexico 30. Chili 41 41 24. Brunai Darussalam 10. Kunjungan sosial budaya adalah kunjungan dalam rangak mengunjungi family. Orang asing yang diberi fasilitas BVKS dapat melakukan kegiatan seperti kunjungan wisata. Jakarta. adalah: 42 1. sedangkan kunjungan usaha adalah kunjungan dalam rangaka membina hubungan bisnis. Norwegia Lukman Bratamidjaja.02. Maldive 26. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 .01 tahun 1993 tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS). Brazil 9. Austria 6. Malaysia 25. 2007. Amerika Serikat 2. melakukan penelitian dan kunjungan yang bersifat sosial budaya. Orang asing yang diberikan BVKS ini dapat melakukn kegiatan-kegiatan sebagaimana tersebut diatas dengan catatan dilarang melakukan kegiatan yang sifatnya bekerja. Direktorat Jendral Imigrasi. Pintu Gerbang No. pembicaraan bisnis dan penjajakan memperluas usaha bisinis di Indonesia. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Myanmar 32. 24-25 42 Berdasarkan Data Kantor Imigrasi Polonia Medan Tahun 2001.01. M. menikmati objek-objek wisata dan lain-lain. 44. Belgia 8. Monaco 31. “Aspek Ilmu Perundang-undangan BVKS Bagian I”. Adapun negara-negara penerima BVKS. Malta 27. Nepai 33. hal. memberikan kemudahan kepada waraga negara dari + 46 negara dapat masuk ke wilayah Indonesia selama 2 (dua) bulan. Kunjungan wisata adalah perjalanan mengunjungi Indonesia untuk berlibur. Arab Saudi 3.

44 Lihat Pasal 1 angka 3 Undang-undang RI no. Italia 19. Jerman 21. Swiss 41. Jepang 20. Yunani 3. Korea Selatan 23. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). hal. Taiwan 42. Selandia Baru 37. Denmark 12. Pabean. PT. Prancis 35. Turki 45.58 11. Israel 18. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Finlandia 13. dan memasuki dan meninggalkan negara lain yang mempunyai hubungan diplomatik dengan negara yang mengeluarkan paspor tersebut. Tanzania 43. Singapura 39. Irlandia 17. Surat perjalanan republik Indonesia (Paspor) Paspor adalah sebuah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh suatu badan pemerintah yang berwenang untuk bangsanya atau untuk penduduk asing. Inggris 16. Luxemburg 34. 1997. Kanada 22. 43 Sedangkan menurut Undang-undang RI No. 2007. dan Karantina. Felix Hadi Mulyatno dan Endar Sugiarto. 44 Paspor berfungsi sebagai surat perjalanan yang digunakan untuk meninggalkan dan memasuki kembali negara yang bersangkutan. Imigrasi. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian menyatakan: “surat perjalanan adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang dari suatu negara yang memuat identitas pemegangnya dan berlaku untuk melakukan perjalanan antar negara”. Thailand 44. Uni Emirat Arab 46. Hungaria 15. Orang yang ingin mengunjungi negara lain harus mengetahui apakah paspornya berlaku untuk negara yang akan dituju R. Spanyol 38. Jakarta. Philipina 36. USU Repository © 2009 43 . Swedia 40. Gramedia Pustaka. Hongkong 14. 39. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian.

59 atau tidak 45. Paspor Haji. hal. hal. 46 Dalam pasal 29 Undang-undang No. Op. Kebangsaan seseorang bisa dilihat pada kartu identitasnya. diberikan kepada waraga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dalam rangka menunaikan inbadah haji. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Papor biasa. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Paspor untuk orang asing. 2007. 40. diberikan kepada warga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dalam rangka penamatan atau tugas yang bersifat diplomatik c. 40 47 Lihat Pasal 29 Undang-undang No. cit. misalnya dipaspor atau kartu penduduk. b. diberikan kepada orang asing yang pada saat diberlakukannya undang-undang ini telah memliki izin tinggal tetap akan 45 46 R. Itu bukan berarti bahwa pemegang paspor dari negara yang mengeluarkan paspor tersebut adalah warga negaranya. diberikan kepada warga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar negeri (keluar wilayah Indonesia) secara normal. kita juga harus mengetahui apakah paspor berlaku untuk negara transit yang akan disinggahi dalam perjalanan menuju ke negara tujuan atau tidak. dan mereka boleh menggunakan kedua paspor mereka. Ibid. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian disebutkan Surat Perjalanan Republik Indonesia terdiri atas: 47 a. misalnya Cina dan Indonesia. d. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. Felix Hadi Mulyatno dan Endar Sugiarto. Itu sebabnya kita dulu mengenal “Dwi Warga Negara”. USU Repository © 2009 . yang artinya seseorang bias mempunyai dua warga negara. Paspor diplomatik. Disamping itu.

e. USU Repository © 2009 . Masa berlakunya paspor adalah 5 (lima) tahun. dan dikenakan tindakan pengusiran atau deportasi atau dalam keadaan tertentu yang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional diberi izin untuk masuk ke wilayah Indonesia. Surat perjalanan laksana paspor untuk warga negara Indonesia. diberikan kepada warga negara Indonesia dalam keadaan khusus apabila tidak mendapatkan paspor dinas. Sedangkan untuk WNI yang berdomisili di luar negeri masa berlakunya paspor adalah 2 tahun. Surat perjalanan laksana paspor untuk orang asing. g. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). menggunakan fasilitas BVKS maupun menggunakan visa Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. B. yang bukan bersifat diplomatik. Paspor dinas. f.60 melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dan tidak mempunyai surat perjalanan serta dalam waktu yang dianggap layak tidak dapat memperolehnya dari negaranya atau negara lain. h. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Warga negara asing (WNA) yang masuk ke Indonesia pada umumnya atau kota medan khususnya. dapat diberikan kepada orang asing yang tidak mempunyai surat perjalanan yang sah dan atas kehendak sendiri keluar dari wilayah Indonesia sejauh dia tidak terkena pencegahan. diberikan kepada warga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dalam rangka dinas/tugas dari pemerintah. Surat perjalanan laksana paspor dinas. 2007. diberikan dalam keadaan khusus apabila paspor biasa tidak diberikan.

Kunjungan wisata b.02 tahun 1993 tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS). Hal ini dimannfaatkan oleh warga negara asing untuk menyalahgunakan izin keimigrasian. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Kunjungan sosial budaya c. Ruang lingkup fasilitas bebas visa Menurut Keputusan Menteri Kehakiman No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). menikmati objek-objek wisata dan lain-lain.01. Kunjungan usaha Kunjungan wisata adalah perjalanan mengunjungi Indonesia untuk berlibur. M. Di dalam izin kunjungan tersebut dijelaskan bahwa izin kunjungan digunakan penggunaannya untuk berwisata.61 wisata akan mendapat izin kunjungan wisata sesuai dengan izin masuk baik dengan visa atau bebas visa. yang meliputi: a. USU Repository © 2009 . tetapi kenyataannya ada juga wisatawan yang menyalahgunakannya untuk keperluan lain sebagai sampingan bahkan ada juga wisatawan yang sama sekali tidak berwisata. Penyalahgunaan tersebut bisa terjadi karena faktor-faktor ruang lingkup fasilitas bebas visa yang dinilai terlalu luas. dan pemberian tenggang waktu pada izin kunjungan wisata yang terlalu lama atau karena faktor petugas imigrasi sendiri. Kunjungan sosial budaya 48 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim. 48 1.01-12. 2007. Keputusan Menteri Kehakiman tersebut mengatur pelaksanaan teknis bebas visa. Kantor Imigrasi Polonia Medan.

cit. hal. melakukan penelitian dan kunjungan yang bersifat sosial budaya.01-12. Namun. Kantor Imigrasi Polonia Medan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 .02 tahun 1983 tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS). M. M.62 adalah kunjungan dalam rangak mengunjungi family. yang merupakan fasilitas untk kunjungan khusus wisata. 49 Keputusan Menteri Kehakiman ini merupakan suatu kebijaksanaan pemerintah yang memperluas pemberian fasilitas bebas visa jika dibandingkan dengan ketentuan yang diatur dalam Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. 51 Hasil penelitian Timi Evaluasi dan Analisa dari Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) yang dilakukan sejak tahun 1992-1993 disejumlah daerah 49 50 Lukman Bratamidjaja.01-12. dkk).01. hal.02 tahun 1983 tentang Pelaksanaan Pembebasan Keharusan memiliki visa bagi wisatawan asing. 25 Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. tujuan pemberian fasilitas Bebas Visa Wisata (BVW) sudah diatur secara tegas. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Op. Op. 2007. masih saja ditemukan penyalahgunaan oleh warga negara asing (WNA) yang melakukan perjalanan wisata atau yang biasa disebut wisatawan asing. pembicaraan bisnis dan penjajakan memperluas usaha bisnis di Indonesia.01. Keputusan Menteri ini bertujuan memperjelas kepastian dan batasan fasilitas bebas visa. 50 Oleh karena itu. 9 51 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim. misalnya bekerja atau berusaha atau bahkan ada yang mengedarkan ganja atau narkotika. cit. sedangkan kunjungan usaha adalah kunjungan dalam rangaka membina hubungan bisnis. Hal ini yang mendasari diterbitkan Keputusan Menteri Kehakiman No.

menyebutkan adanya pelanggaran terhadap pemberian fasilitas Bebas Visa Wisata (BVW) yang telah diatur dalam Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. Laporan Penelitian. kegagalan ini telah dimanfaatkan orang asing sebagai salah satu cara masuknya imigran gelap ke Indonesia. 23 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 1993.01. Denpasar. Masa Tenggang Waktu Pemebrian Fasilitas Bebas Visa Bentuk Peraturan PP No.63 wisata di Indonesia mengenai Pengaturan Fasilitas Bebas Visa Wisata (BVW) bagi orang asing yang berkunjung ke Indonesia.02 tahun 1983. 2007.01-12. yaitu dalam: Tabel. M. Universitas Udayana dan PDII LIPI (Jakarta). Kemudian. hal. USU Repository © 2009 52 . setelah ruang lingkup fasilitas bebas visa dalam BVKS diperluas tetap saja ditemukan pelanggaran yang sama. 1. Olah karena itu. dkk. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Tenggang waktu fasilitas bebas visa Sebagaimana telah diketahui mengenai tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa untuk wisata telah beberapa kali diatur. 26 tahun 1970 tentang Koordinasi Pengawasan Orang Asing yang Berkunjung ke Indonesia SKB Menteri Luar Negeri dan Menteri Kehakiman tentang Peraturan Visa Keputusan Menteri Kehakiman Bebas Visa Wisata (BVW) tentang Tahun 1970 Tenggang Waktu 7 (tujuh) hari 1979 30 (tiga puluh) hari + 15 (lima belas) hari 60 (enam puluh ) hari atau 2 (dua) bulan 60 (enam puluh) hari atau 2 (dua) bulan 1983 Keputusan Kehakiman tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS) 1993 Sumber: Hasil Investarisasi Peraturan Perundang-undangan Bebas Visa Wisata Tahun 1970-1993 I Wayan Tangun Susila. “Usaha Penaggulangan Tindak Pidana Imigrasi dan Imigrasi Gelap di Kota Madya Denpasar”. 52 2.

S. 54 Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting.64 Perkembangan tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa bagi wisatawan dimaksudkan untuk mendukung pertumbuhan kepariwisataan dan meningkatkan arus wisatawan. cit. 16-17 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Pedoman Penggunaan Tenaga Kerja Asing di Indonesia dan Peraturanperaturannya. Sjarif. USU Repository © 2009 53 . Jakarta. Sinar Grafika. Sedangkan bagi orang asing yang akan bekerja di Indonesia sudah ad pengaturannya. dkk). 6-8. Tetapi tenggang waktu 2 (dua) bulan ini dirasakan terlalu panjang atau lam. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 53 Berdasarkan hasil penelitian oleh Tim Evaluasi dan Analisa terhadap responden yaitu para wisatawan asing tentang waktu pemberian fasilitas bebas visa adalah sebagai berikut: 54 1. 1996. hal. seperti disalahgunakan untuk bekerja. Alasan-alasan yang dikemukakan adalah: H. yaitu mempunyai Izin Tinggal Terbatas dan memiliki Izin Kerja yang diberikan oleh Menteri Tenaga Kerja. hal. 2007. Tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa untuk wisata yang paling ideal adalah 1 (satu) bulan dan dapat diperpanjang selama 30 (tiga puluh) hari. Lamanya jangka waktu ini ternyata dapat memberikan peluang bagi wisatawan asing untuk melakukan pelanggaran dengan berbagai motivasi. Tenggang waktu wisatawan di Indonesia selama 2 (dua) bulan merupakan pendapatan bagi pengelola wisata. Hal ini dikarenakanjarang sekali wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia selama 2 (dua) bulan untuk berwisata saja. Op.

b. 2007. Pemasukan devisa dapat memenuhi target yang diharapakan. 2.65 a. Pengawasan terhadap orang asing memerlukan perhatian yang lebih seksama. Bisa disalahgunakan untuk tujuan lain selain berwisata. d. C. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Terlalu lama. USU Repository © 2009 . d. c. harus didukung oleh mental petugas yang baik pula. Pemberian fasilitas bebas visa selam 1 (satu) bulan dirasakan masih kurang bagi sebagian besar wisatawan asing. b. c. sebab: a. sebab objek wisata di Indonesia sangat banyak dan menarik. Tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa selama2 (dua) bulan apalagi 3 (tiga) bulan dipandang tidak ideal. Tidak dapat dipungkiri. Terutama para petugas yang bertugas di Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Pengawasan terhadap orang asing bisa terkendali. Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa lama masa kunjungan wisatawan asing ke Indonesia rata-rata antara 3 (tiga) sampai 4 (empat) minggu saja. meskipun ataruan tentang keimigrasian telah baik. Petugas Imigrasi Peranan petugas imigrasi dalam hal pengawasan sangat besar. Jarang sekali wisatawan asing yang berwisata sampai 3 (tiga) bulan.

cit. maka orang asing tersebut akan leluasa berkeliaran di Indonesia. cit. 55 56 I Wayan Tangun Susila. apabila mereka bertindak masa bodoh. System pelaporan. Tekhnik pengawasan. Mekanisme pengawasan tersebut adalah sebagai berikut: 56 1. 25-30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. dkk. khususnya yang menggunakan fasilitas bebas visa untuk wisata menunjukkan perlu adanya pemantauan kegiatan-kegiatan yang dilakukan. hal. Op. Tahap pengawasan. 21 Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. 2. Hal ini bertujuan untuk mengetahui secara dini setiap peristiwa yang dapat diduga mengandung unsureunsur pelanggaran keimigrasian. dan diadakan peninjauan ke lokasi. yaitu secara administrarif tentang perizinannya. 55 Hasil pengawasan terhadap orang asing yang berkunjung. 3. yaitu dilakukan mulai pada saat orang asing mengurus izin masuk ke Indonesia di luar negeri.66 pintu-pintu masuknya orang asing ke Indonesia. dkk). hal. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). sebaiknya memiliki satu sistem database diseluruh Indonesia yang dapat diakses oleh semua petugas imigrasi dimanapun berada. kemudian saat orang asing tersebut mendarat di wilayah Republik Indonesia harus juga diperiksa dan ketika orang asing tersebut berada tinggal di Indonesia. wawancara/ilicting untuk mencari mengetahui kebenaran materil terhadap keberadaan orang asing yang berkunjung. 2007. Op. dan juga membuat daftar terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh orang aing yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi penindakan imigrasi. USU Repository © 2009 .

19-30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007. Departemen Kehakiman bekerja sama dengan: 1) Departemen Pariwisata. maka Menteri Kehakiman sebagai yang bertanggung jawab dalam pengawasan orang asing dan dalam dalam hal ini lebih dititik beratkan kepad imigrasi. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Tenaga kerja. karena dari segi kauntitas petugas imigrasi sangat kurang untuk mengawasi keadaan setiap oarng asing dalam segala kegiatan mereka di Indonesia. sepanjang yang menyangkut masalah: 57 a. Artis Asing. maka harus melakukan koordinasi dengan instansi pemerintah lainnya.67 4. Departemen KEhakiman bekerja sama dengan: 1) Departemen Pariwisata. hal. Pos dan Telekomunikasi 2) BAKIN (BIN) 57 Ibid. Pos dan Telekomunikasi 2) Departemen Luar Negeri 3) Departemen Dalam Negeri 4) Polri c. q Direktorat Jenderal Imigrasi melakukan kerja sama dengan: 1) Departemen Tenaga Kerja 2) Departemen Luar Negeri 3) Badan Koordinasi Penanaman Modal 4) Polri 5) Pemda dan Departemen Tekhnis b. Tourist. Departemen Kehakiman c. Koordinasi dengan instansi terkait.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . Masalah khusus.68 3) Departemen Luar Negeri 4) Departemen Tenaga Kerja 5) Polri 6) Pemda/Departemen Luar Negeri d. Hal ini terjadi karena pengawasan yang kurang efektif dari Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Departemen Kehakiman bekerja sama dengan: 1) Departemen Perhubungan 2) Departemen Luar Negeri 3) Departemen Pertanian 4) TNI Angkatan Laut e. Departemen Kehakiman melakukan koordinasi dengan: 1) BAKN 2) BIN 3) Polri 4) Kejaksaan Agung 5) Departemen Tenaga Kerja 6) Pemda Meskipun pengawasan terhadap orang asing yang berkunjung ke Indonesia sudah diatur dan mekanismenya sudah sedemikian rupa. misalnya mengenai Cletering house mengenai masalah izin masuk warga RRC dan lain-lain. Awak Kapal. 2007. namun dalam pelaksanaannya masih saja terdapar orang asing yang melakukan pelanggaran atau penyalahgunaan.

58 Usaha penanggulangan terjadinya pelanggaran ketentuan keimigrasian dibedakan atas dua upuya. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Upaya preventif Terjadinya tindak pidana keimigrasian tidak terlepas dari masalah pengawasan orang asing.69 Petugas Imigrasi yang terbatas. USU Repository © 2009 . cit. 28 Ibid. Pengawasan yang kurang terhadap orang asing yang masuk ke Indonesia dapat menimbulkan tindakan yang mengarah kepada kejahatan maupun pelanggaran. C. yaitu: 1. sangata penting koordinasi dengan instansi lain. Karena itu. 2007. Upaya Penanggulangan Tindak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Penanggulangan adalah cara mengatasi terjadinya sesuatu tindak pidana keimigrasian. 59 58 59 I Wayan Tangun Susila. Karena salah satu faktor penyebab terjadinya penyalahgunaan izin keimigrasian adalah kurangnya koordinasi petugas keimigrasian dengan instansi lain. dkk. Op. Satu diantaranya adalah penyalahgunaan izin masuk ke Indonesia yaitu izin kunjungan wisata yang pada dasarnya telah melanggar ketentuan Undang-undang keimigrasian. hal. hal. 28 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

70

Dalam bagian Penjelasan Umum UU no. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian ditegaskan bahwa terhadap orang asing, pelayanan, dan pengawasan di bidang keimigrasian dilakukan dengan prinsip yang bersifat “selektif” (selective policy) . 60 berdasarkan prinsip ini, hanya orang asing yang diizinkan masuk ke Indonesia adalah orang asing yang memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat, bangsa dan negara Republik Indonesia serta tidak membahayakan keamanan dan ketertiban, juga tidak bermusuhan baik terhadp rakyat, maupun terhadp negra Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Dengan demikian orang asing yang ingin masuk dan menetap di wilayah Indonesia harus dipertimbangkan dari berbagai segi, baik dari segi politik, ekonomi maupun sosial budaya bangsa dan negara Indonesia. Sikap dan cara pandang seperti ini merupakan hal yang wajar, terutama bila dikaitkan dengan pembangunan nasional, kemajuan ilmu dan teknologi, perkembangan kerja sama regional meupun internasional, dan meningkatnya arus orang asing yang masuk dan keluar wilayah Indonesia. Untuk menjamin kemanfaatan orang asing tersebut dan dalam rangka menunjang tetap terpeliharanya stabilitas dan kepentingannasioanl, kedaulatan negara, keamanan dan ketertiban umum serta kewaspadaan terhadap dampak negatif yang timbul akibat perlintasan orang antar negara, keberadaan dan

Arief Rahman Kunjono, “Illegal Migrants dan Sisitem Keimigrasian Indonesia: suatu tinjauan Analisis”, Pintu Gerbang No. 44, Direktorat Jendral Imigrasi, Jakarta, 2002, hal. 27
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

60

71

kegiatan orang asing di wilayah Indonesia, dipandang perlu melakukan pengawasan bagi orang asing dan tindakan keimigrasian keimigrasian secara tepat, cepat, teliti dan terkoordinir tanpa mengabaikan keterbukaan dalam memberikan pelayanan orang asing. Makna dari pengawasan mempunyai pengertian yang luas dan mengandung pengertian yang positif. Pengawasan berarti juga mengadakan pengendalian serta bimbingan penyuluhan yang ditujukan untuk mengadakan perbaikan yang diikuti dengan pemecahannya. 61 Dapat dikatakan, proses pengamatan dan penghayatan seluruh kegiatan dilakukan sesuai dengan peraturan-peraturan, instruksi, dan kebijaksanaanyang berlaku. Di dalam pengawasan yang penting adalah mengetahui apakah dalam pelaksanaan tugas-tugas terjadi penyimpangan atau kesalahan. Hal ini secara preventif agar dilaksanakan sedini mungkin supaya tidak terjadi adanya pelanggaran-pelanggaran yang bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku. Sistem pengawasan keimigrasian adalah suatu sistem pengawasan terhadp orang asing, sisitam itu meliputi pengamatan dan pemeriksaan segala kegiatannya mulai dari rencan dan beradanya orang asing di Indonesia sampai dengan meninggalkan Indonesia (the equality of service and security.) 62 Hal ini ditegaskan Pasal 38 ayat (1), Undang-undang No. 9 tahun 1992, yaitu: 63 (1) Pengawasan terhadap orang asing di Indonesia meliputi:

61 62

I Wayan Tangun Susila, dkk, Loc, cit. Arief Rahman Kunjono, Loc, cit. 63 Lihat pasal 38 ayat (1) Undang-undang RI no. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian.
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

72

a. Masuk dan keluarnya orang asing ke dan dari wilayah Indonesia b. Keberadaan serta kegiatan orang asing di wilayah Indonesia. Perihal pengawasan orang asing diatur dalam Undang-undang no. 9 tahun 1992, seperti pada Bab VI tentang pengawasan terhadap orang asing dan tindakan keimigrasian. Pelaksanaan pengawasan terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia dilakukan oleh Menteri Kehakiman dan HAM dengan koordinasi bersama badan dan instansi yang terkait (Pasal 41 UU No. 9 tahun 1992). Dalam hal ini diadakan pemantapan mekanisme koordinasi dan operasi antara instansi yang terkait dalam rangka pengawasan orang asing, instansiinstansi tersebut akan melakukan tugas dan wewenangnya masing-masing sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Koordinasi dimaksudkan untuk memaksimalkan daya guna dan hasil guna pengawasan terhadap orang asing. Tujuan pengawasan tersebut untuk mewujudkan prinsip selective policy yang dipandang perlu dalam mengawasi orang asing. 64 Untuk kelancaran dan ketertiban dalam mengawasi orang asing, pemerintah telah menyelenggarakan pendaftaran orang asing yang berada di wilayah Indonesia sehingga dapat dihimpun data mengenai orang asing. Seperti disebutkan, Direktorat Jendral Imigrasi Departemen Kehakiman dan HAM

64

Koerniatmanto Soetoprawiro, Op. cit, hal. 90-91

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

Pengumpulan data dengan cara pengawasan orang asing ini dilaksanakan bagi setiap orang asing yang: 1. “Imigrasi Daftar Ulang Warga Negara Asing”. Melakukan kegiatan di wilayah negara Republik Indonesia. Jakarta. 2. perubahan status sipil dan kewarganegaraan. b. c. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Masuk atau keluar wilayah negara Republik Indonesia. Direktorat Jenderal Imigrasi.73 Republik Indonesia mengadakn pendaftaran ulang warga negara assign secara serentak di seluruh wilayah RI sejak tanggal 10 Agustus-31 Oktober 2001. hal. Pintu Gerbang No. Memberikan segala keterangan yang perlu mengenai identitas diri dan /atau keluarganya. 9 tahun 1992 berlaku dan akan dilakukan setiap lima tahun sekaliberdasarkan peraturan keimigrasian yang berlaku. 42. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). serta perubahan alamatnya. Mendaftarkan diri jika berada di Indonesia lebih dari Sembilan puluh hari. 13 66 Lihat pasal 39 Undang-undang no. 2007. Memperlihatkan Surat Perjalanan atau dokumen keimigrasian yang dimilikinya pada waktu diperlukan dalam angka pengawasan. USU Repository © 2009 65 . 65 Pendaftaran ulang pada tahun 2001 lalu adalah untuk pertama kalinya sejak Undang-undang no. Pada pasal 39 Undang-undang no. 200. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. Berada di wilayah negara Republik Indonesia. 9 tahun 1992 disebutkan bahwa dalam menyelenggarakan pendaftaran orang asing yang ada di Indonesia berkewajiban untuk: 66 a. 3.

USU Repository © 2009 . 67 Pengawasan terhadap orang asing sebelum memasuki Indonesia dilakukan oleh para atase imigrasi pada setiap perwakilan Indonesia di luar negeri pada saat orang asing bersangkutan mengajukan permohonan unutk mendapatkan visa. baik Bandar udara maupun pelabuhan laut. diadakan pengawasan yang dilakukan 67 68 I Wayan Tangun Susila. Hal itu bertujuan untuk mencegah orang asing tersebut meninggalkan Indonesia karena mereka telah menimbulkan suatu permasalahan selama berada di Indonesia. 68 Tahap akhir pengawasan adalah saat meninggalkan Indonesia. hal. Direktorat Jenderal Imigrasi. serta memuttuskan apakah dapat diberikan atau tidak berdasarkan pertimbangan kepentingan Ipoleksosbudhankamnas. 69 1. Setiap orang asing yang akan datang atau masuk ke wilayah Indonesia haruslah memiliki visa yang merupakan izin masuk ke Indonesia. 29 Saleh Wiramiharja. Op. 2002. 31 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Oleh karena itu sebaliknya setiap atase atau KBRI dsetiap negara terdapat aparatur imigrasi yang bertugas disana. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 1 Pengawasan orang asing yang masuk atau keluar wilayah RI Pengawasan orang asing sebelum memasuki wilayah Indonesia berhubungan dengan konsulat atau kedutaan RI khusus atas imigrasi untuk melayani dan meneliti secara selektif setiap permohonan visa ke Indonesi. dkk. 2007. “Langkah-langkah Baru Menunjang Peningkatan Profesionalisme Keimigrasian”. Jakarta. Pintu Gerbang No. 21 69 I Wayan Tangun Susila. 2 Pengawasan orang asing ketika berada di wilayah negara RI Pada saat orang asing sedang menuju atau sudah di pelabuhan pendaratan. cit. hal. dkk.74 1. hal. 45. Op. cit.

jelaslah apa yang dimaksud dengan tindakan preventif ini. 30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007. dan apakah lamanya tinggal sesuai dengan izin keimigrasian yang diberikan kepadanya. Dengan kegiatan diatas. USU Repository © 2009 . Dari segi Ipoleksosbudhankamnas. Pengawasan terhadap orang asing yang telah mendapatkan izin masuk di Indonesia dapat dilihat dari dua segi. yaitu: 70 a. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 3 Pengawasan orang asing yang melakukan kegiatan di wilayah RI Pengawasan yang dimaksudkan disini merupakan tindak lanjut dari pengawasan setelah orang asing mendapatkan izin tinggal di Indonesia.75 ileh petugas imigrasi. 1. b. yaitu pengawasan untuk mencegah masuknya orang-orang assign yang akan menimbulkan permasalahn setelah berada di Indonesia. hal. yaitu mengawasi apakah orang asing tersebut melakukan kegiatan. Dari segi keimigrasian. Fungsi pengawasan ini sama juga dengan pengawasan sewaktu hendak mengajukan permohonan mendapatkan visa. yaitu mengawasi apakah kegiatan yang dilakukan oleh orang asing tersebut menimbulkan benturan-benturan yang mengganggu kepentingan ketahanan dan keamanan nasional atau tiadak. yaitu tindakan yang dilakukan dalam usaha untuk mencegah atau menjaga kemungkinan terjadinya tindak pidana imigrasi dalam hal ini yaitu tindak 70 Ibid. baik yang mendarat melalui udara maupun laut.

2. Alumni. 110 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Melakukan pengecekan data yang diperoleh dari tempat-tempat wisatawan menginap. Meneliti setiap orang asing atau wisatawan yang hendak masuk lewat wawancara singkat di setiap tempat pemeriksaan imigrasi. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 31-32 Soedarto. 1984. losmen atau tempat kediaman teman. 3. hal. Upaya Represif Menurut Soedarto yang dimaksud dengan tindakan represif adalah segala tindakan yang dilakukan aparatur penegak hukum sesudah terjadi kejahatan atau tindak pidana. 2. Setiap pelabuhan pendaratan memilki contoh-contoh tanda tangan dari pejabat konsuler pada perwakilan Republik Indonesia di luar negeri.76 pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. Kapita Selekta Hukum Pidana. 2007. Pejabat pendaftaran dibekali pengetahuan tentang kerahasian/ciri-ciri khusus dari paspor-paspor negara lain dan dilengkapi dengan alat sinar ultraviolet dan kaca pembesar maupun dengan teknologi modern. baik hotel. yang berwenang menandatangani visa. 72 Dalam kaitannya dengan penggulangan terhadap orang asing yang menyalagunakan izin keimigrasian dilakukan sesudah terjadinya atau terbukti 71 72 Ibid. Beberapa usaha preventif sehubungan dengan hal tersebut antara lain sebagai berikut: 71 1. Bandung. hal. USU Repository © 2009 . motel. 4.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). atau tidak menghormati atau menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2. 1. 9 tahun 1992 disebutkan: 73 “orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan pemberian izin keimigrasin yang diberikan kepadanya dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. 9 tahun 1992 tenang keimgrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.000.(dua puluh lima juta rupiah). 2007.77 adanya penyalahgunaan izn keimigrasian. yaitu: (1) Tindakan keimigrasian dilakukan terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia yang melakukan kegiatan yang berbahaya dan patut akan diduga berbahaya bagi keamanan dan ketertiban umum. 25. Tindakan ini bisa bersifat yuridis.. 2. Tindakan yuridis Dalam pasal 50 undang-undang no. (2) Tindakan keimigrasian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa: 73 Lihat pasal 50 Undang-undang no. 9 tahun 1992 yang mengatur mengenai tindakan keimigrasian terhadap orang asing di wilayah Indonesia.” Jadi tindakan yuridis adalah orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan maksud pemberian izin keimigrasian dan harus dibuktikan di pengadilan oleh hakim dan kemudian dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2. USU Repository © 2009 .000. dan bisa juga bersifat administrasi. Tindakan administrative Menurut pasal 42 Undang-undang no.

(dua puluh lima juta rupiah). Keharusan untuk bertempat tinggal disuatu tempat tertentu di wilayah Indonesia d. begitu juga tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian yang diberikan kepadanya.78 a. RUU keimigrasian yang berbunyi: 74 “Dipidana dengan pidana paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. Dengan demikian penyalahgunaan izin keimigrasian dapat dilakukan dengan 4 (empat) alternative seperti disebutkan diatas dengan alasan bahwa orang asing yang bersangkutan tidak mengindahkan peraturan yang mengatur keberadaan orang asing di wilayah Republik Indonesia.000. USU Repository © 2009 . pengusiran (deportasi) dan memasukkan orang asing yang terlibat ke dalam daftar pencegahan dan penangkalan atau cekal (black list).. yaitu diatur pada pasal 110. Berdasarkan uraian diatas tindakan-tindakan represif yang dapat diambil adalah pemidanaan. perubahan atau pembatalan izin keberadaan b. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Pemidanaan Fungsi pemidanaan adalah sebagai penjeraan. Larangan untuk berada di suatu atau beberapa tempat tertentu di wilyah Indonesia c. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).000. Pengusiran atau deportasi dari wilayah Indonesia atau penolakan masuk ke wilayah Indonesia. a. pada RUU keimigrasian terdapat perubahn dalam hal ancaman sanksi pidana. Pembatasan. orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang 74 Lihat Pasal 10 RUU Keimigrasian. 25.

Black list (daftar cekal) Black list adalah istilah yang dipakai dalam bahasa sehari-hari untuk menggantikan daftar orang-orang yang tidak diperbolehkan meninggalkan Indonesia dan orang-orang yang tidak diperbolehkan memasuki wilayah Indonesia. Jadi tidak ada sangkut pautnya dengan negara asal atau negara dari mana dia semula datang.” c. dkk. Pengusiran Pengusiran atau deportasi (deportation) adalah suatu tindakan sepihak dari pemerintah berupa tindakan mengeluarkan orang asing dari wilayah Republik Indonesia karena berbahaya bagi ketentraman. khususnya pada ayat (2) point d. atau kesejahteraan umum. bagi orang asing yang masuk serta berada di wilayah Republik Indonesia dapat juga diusir. USU Repository © 2009 .” b. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Op.79 bertentangan dengan maksud dan tujuan pemberian izin tinggal yang diberikan kepadanya. pengusiran tersebut semata-mata berdasarkan kepentingan negara itu sendiri. Di dalam keimigrasian daftar ini disebut “daftar pencegahan dan 75 76 I Wayan Tangun Susila. hal. Menurut Sri Setianingsih bahwa: 75 “Deportasi adalah pengusiran orang asing keluar wilayah Indonesia (keluar wilayah suatu negara) dengan alasan bahwa orang asing tersebut wilayahnya tidak dikendaki oleh negara yang bersangkutan. Ketentuan mengenai deportasi ini dapat dilihat pada pasal 42 Undang-undang no. Selain itu. 9 tahun 1992.” Sedangkan menurut I Wayan Parthiana. bahwa: 76 “Hak suatu negara untuk mengusir orang asing yang berada di negaranya dikenal dengan pengusiran atau deportasi explution. 2007. kesusilaan. cit. 37 Ibid Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

Diduga melakukan perbuatan yang bertentangan dengan keamanan dan ketertiban umum. dan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Pada saat berada di negaranya sendiri atau di negara lain bersikap bermusuhan terhadap pemerintah Indonesia atau melakukan perbuatan yang mencemarkan nama baik bangsa dan negara Indonesia. orang asing yang berusaha menghindarkan diri dari ancaman dan pelaksanaan hukuman di suatu negara tersebut karana melakukan kejahatan yang juga diancam pidana menurut hukum yang berlaku di Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).” “Penangkalan adalah larangan yang bersifat sementara terhadap orangorang tertentu untuk masuk ke wilayah Indonesia berdasarkan alasan tertentu. b. USU Repository © 2009 . agama dan adat kebiasaan masyarakat Indonesia.80 penangkalan”. Pernah diusir atau dideportasi dari wilayah Indonesia. 2007. 9 tahun 1992. penangkalan terhadap orang asing dilakukan karena: a. kesusilaan. d. e. Diketahui atau diduga terlibat dengan kegitan sindikasi kejahatan internasional. 9 tahun 1992. c.” Berdasarkan pasal 17 Undang-undang no. Di dalam pasal 1 angka 13 dan 14 Undang-undang no. disebutkan pengertian dari: “Pencegahan adalah larangan yang bersifat sementara terhadap orangorang tertentu untuk keluar dari wilayah Indonesia berdasarlan alasan tertentu. Atas permintaan suatu negara.

Sedangkan penangkalan ditujukan hanya kepada orang asing yang hendak masuk ke wilayah Indonesia. (2) Keputusan sebagaimana didalam ayat (1) memuat sekurang-kurangnya: a. Dari uraian di atas dapat ditegaskan bahwa pencegahan ditujukan kepada orang asing yang masih memiliki masalah di Indonesia. pertahanan dan keamanan. Mengenai pencegahan orang asing untuk memasuki wilayah RI diatur di dalam pasal 11. keimigrasian. Alasan pencegahan c. Identitas orang yang terkena pencegahan b. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 .81 f. 13. perdata dan lain sebagainya yang dapat mengganggu dan mengancam stabilitas nasional. pidana. Jangka waktu pencegahan (3) Keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan dengan surat tercatat kepada orang-orang yang terkena pencegahan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal penetapan. sosial budaya. 9 tahun 1992. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). ekonomi. dan 14 Undang-undang no. Alasan-alasanlain yang berkaitan dengan keimigrasian yang diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. 12. baik masalah politik. orang asing mana pernah terlibat masalah-masalah sebagaimana disebutkan diatas. 2007. Di dalam pasal disebutkan bahwa: (1) Pencegahan ditetapkan dengan keputusan tertulis.

Dalam proses bekerjanya aparatur penegak hukum itu. aparatur penegak hukum yang terlibat tegaknya hukum itu. penuntutan.82 D. penjatuhan. USU Repository © 2009 . 2007. yaitu: (1) Institusi penegak hukum beserta berbagai prangkat sarana dan prasarana pendukung dan mekanisme kerja kelembagaannya. Peranan Aparatur Penegak Hukum dalam Menanggulangi Tindak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Aparatur penegak hukummencakup pengertian mengenai institusi penegak hukum dan aparat (orangnya) penegak hukum. (2) Budaya kerja yang terkait dengan aparatnya. termasuk mengenai kesejahteraan aparatnya. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. penyidikan. jaksa. Upaya penegakan hukum yang sistematik haruslah memperhatikan ketiga aspek itu secara simultan. polisi. hakim dan petugas-petugas sipir permastarakatan. sehingga proses penegakan hukum dan keadilan itu sendiri secara internal dapat terwujud secara nyata. dan (3) Perangkat peraturan yang mendukung baik kinerja kelembagaannya maupun yang mengatur materi hukum yang dijadikan standar kerja. Dalam arti sempit. terdapat 3 (tiga) elemen penting yang mempengaruhi. Setiap aparat dan aparatur terkait mencakup pula pihak-pihak yang bersangkutan dengan tugas atau perannya yaitu terkait dengan kegiatan pelaporan atau pengaduan. baik hukum materilnya maupun hukum acaranya.vonis dan pemberian sanksi. pembuktian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). serta upaya permasyarakatan kembali (resosialisasi) terpidana. penasehat hukum. dimulai dari saksi. penyelidikan.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). tetapi selama mereka berada di Wilayah Indonesia termasuk kegiatankegiatannya.: F4-IL. Pengawasan orang asing dimulai dari pemantauan Pengawasan baik yang Keimigrasian bersifat mencakup penegakan tindak hukum pidana administratif maupun Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian.1044” tentang Keradaan dan Kegiatan Orang Asing Di Indonesia. “Petunjuk Pemantauan Operasional Keimigrasian No. hal. Pengawasan ini tidak hanya pada saat mereka masuk. ketertiban serta bermusuhan baik terhadap rakyat maupun Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 yang diizinkan masuk atau keluar wilayah Indonesia. 2007. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 77 Dalam mewujudkan kebijaksanaan dimaksud serta mengantisipasi era globalisasi dan informasi yang semakin meningkat selaras dengan peningkatan arus lalu lintas orang asing. 1999. keimigrasian keimigrasian.83 1. Berdasarkan prinsip ini hanya orang asing yang dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat. Dalam rangka mewujudkan prinsip “selective policy” diperlukan pengawasan terhadap orang asing. maka pelaksanaan pengawasan orang asing perlu diberikan prioritas utama. USU Repository © 2009 77 . 01. pelayanan dan pengawasandi bidang keimigrasiandilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip yang bersifat selektif (selective policy). 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. Pengawasan keimigrasian Sesuai dengan undang-undang no. 10-1. bangsa dan Negara Indonesia serta tidak membahayakan keamanan. 2.

Operasi adalah suaru kegiatan suatu objek tertentu terhadap yang dibatasi oleh tempat. 2005. hal. hal. “Manajemen Keimigrasian”. Amarja Press. Pemantauan keimigrasian dan operasional keimigrasian Pemantauan merupakan salah saru cara atau kegiatan/upaya yang dilakukan untuk mengetahui secara dini setiap peristiwa yang diduga mengandung unsur-unsur pelanggaran/kejahatan. 2007. 55 80 Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian. cit. hal. 2) Menginventarisir bahan keterangan berdasarkan modus operandi terjadinya pelanggaran keimigrasian serta pembinaan teknis tempat-tempat pemeriksaan keimigrasian.84 terhadap keberadaan dan kegiatannya serta operasi-operasi baik operasi khusus maupun rutin. waktu serta dana. Pemantauan keimigrasian dapat berupa: 79 1) Memantau terhadap setiap peristiwa yang dapat diduga dan atau mengandung unsur-unsur terjadinya pelanggaran keimigrasian seperti penyalahgunaan izin tinggal sesuai visa yang bersangkutan. pengumpulan dan penilaian bahan keterangan dari tempat-tempat pemeriksaan keimigrsian. Op. 78 a. abaik mengenai keberadaan maupun kegiatan orang asing. 2 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Keberhasilan pengawasan orang asing sangat tergantung kepada berhasil tidaknya pelaksanaan pemantauan dilapangan. 80 Unutk mengetahui setiap peristiwa yan diduga 78 79 Ibid. USU Repository © 2009 . 3) Mengumpulkan bahan keterangan tetnang suatu peristiwa terjadinnya pelanggaran keimgrasian. 2 Ibnu Suud. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

Upaya/ cara pemantauan dan operasi keimigrasian dapat berupa: 81 81 Ibid.85 mengandung unsur pelanggaran/kejahatan terhadap ketentuan yang berlaku dibidangkeimigrasian. USU Repository © 2009 . tepat. 3 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Dalam mencari dan menemukan keterangan yang berkaitan dengan peristiwa dimaksud agar diupayakan pelaksanaanya disesuaikan dengan jenis dan macam pelanggaran dalam bidang pembangunan. berhasil guna dan berdaya guna. sangat ditenteukan oleh kwalitas dan kwantitas pelaksanaan dalam menghadapi jenis dan macam pelanggaran kejahatan seperi halnya bentuk dan sifat pelanggaran politik ataupun pekerja terselubung. upaya dalam mencari dan menemukan bahan keterangan perlu perencanaan melalui mekanisme adanya perencanaan yang matang. dapat diperoleh dari setiap bahan keterangan yang mempunyai kaitan dengan perbuatan orang asing baik lalu lintas. 2007. keberadaan maupun kegiatannya. dengan memperhatikan hak-hak azasi manusia dan senantiasa disertai dengan dasar hukum dalam artian dilengkapi dengan sudut perintah. Keberhasilan penyelenggaraan. baik berupa pembangunan phisik maupun non phisik. sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan cermat. organisasi serta pengawasan dan koordinasi dengan memperhatikan situasi dan kondisi medan. Oleh karena itu. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). hal.

Orang asing 1) Orang asing pemegang izin singgah 2) Orang asing pemegang izin kunjung  Wisata  Sosial budaya  Usaha/beberapa kali perjalanan 3) Orang asing pemegang izin tinggal terbatas 4) Orang asing pemegang izin tinggal tetap 5) Orang asing tanpa izin keimigrasian 6) Orang asing yang over stay 82 Ibid. benda dan tempat kejadian untuk dapat gambaran yang lebih jelas baik secara keseluruhan atau lebih rinci. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007. Adapun sasaran pemantauan adalah: 82 a. USU Repository © 2009 . 4) Melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang mengetahui atau patut diduga mengetahui terjadinya peristiwa pelanggaran/kejahatan keimigrasian dengan memperhatikan sumber dan nilai keterangan. 5 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2) Pembuntutan terhadp objek yang kaitan atau hubungan dengan peristiwaperistiwa yang akan. cermat terhadap surat-surat. hal. sedang atau telah terjadinya unsur pelanggaran. sedang dan atau telah terjadi 3) Penyusupan dalam ruang lingkup peristiwa atau golongan kegiatan peristiwa yang akan.86 1) Pengamatan dengan panca indera secara teliti.

Melakukan pemerikasaan terhadap orang asing tersebut beserta dokumen yang dimilikinya selanjutnya dilanjutkan dengan pemeriksaan di lapangan. hostel dan sebagainya 2) Kantor-kantor/perusahaan yang mempekerjakan dan menampung tenaga kerja/orang asing 3) Rumah/asrama tempat orang asing bertempat tinggal Pelaksanaan pemantauan dilakukan baik secara terbuka maupun secara tertutup (undercover) dengan tahapan sebagai berikut:83 1. wisma. b. USU Repository © 2009 . Bangunan-bangunan 1) Hotel. hal. Alat angkut 1) Niaga 2) Non niaga 3) Alat apung c. apabila ditemukan bukti-bukti permulaan atau patut diduga telah terjadi pelanggaran/kejahatan keimigrasian.87 7) Orang asing imigran gelap 8) Orang asing yang melakukan kegiatan tidak sesuai dengan izin yang diberikan. 83 Ibid. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 3. Mendatangi orang/tempat yang telah ditentukan. 6 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Menindaklanjuti dari hasil pemeriksaan. 2. 2007.

cit. Op. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). jajaran Direktorat Jenderal Imigrasi harus bekerjasama dan berkoordinasi dengan aparat keamanan lainnya seperti pemerintah daerah. b. Lingkup tugas ini meliputi: 84 a. Melakukan pemeriksaan terhadap orang asing yang diduga melakukan pelanggaran/kejahatan yang diutangkan dalam berita Acara Pemeriksaan dan Berita Acara Pendapat. Pengawasan yang tertuju terhadap kemungkinan terjadinya pelanggaran.88 4. 2007. USU Repository © 2009 . 56 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Pengawasan Mendeteksi kemungkinan terjadinya penyalahgunaan perijinan dan pemberian perijinan keimigrasian serta evaluasi dan laporan. Imigran gelap Mengawasi masuknya orang asing secara gelap (illegal) ke wilayah Indonesia yagn tidak didukung oleh dokumen resmi yang sah dan masih berlaku. Kerjasama ini secara fungsi masing-masing tanpa mengganggu dan mencampuri teknis tugas instansi masing-masing. b. Dan orang asing yang karena peraturan perundang-undangan telah dideportasi keluar Indonesia namun karena sesuatu dan lain hal belum dapat berangkat. penyalahgunaan perizinan dan pemberian perizinan keimigrasian serta pengawasan atas imigran gelap. 84 Ibnu Suud. hal. polisi atau aparat yang terkait lainnya. Kerjasama pengawasan Untuk mensukseskan tugas pengawasan ini.

2. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Pengawasan perlintasan Mengawasi lau-lalangnya orang asing maupun warganegara Indonesia yang melintasi tempat (pos) lintas batas dengan tetangga atas kemungkinan terjadinya pelanggaran keimigrasian. untuk melakukan penyidikan tindak pidana keimigrasian”.89 c. 2007. Pelaksanaan kerjasama pengawasan ini diupayakan tanpa mengurangi tugas. d. lengkap terpadu dan aman. Penyidikan keimigrasian Dalam pasal 47 ayat (1) Undang-undang no. Penindakan keimigrasian a. tepat. fungsi dan wewenang masing-masing instansi dan dilakukan dengan cepat . juga Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Departemen yang lingkup tugas dan tangung jawabnya meliputi pembinaan keimigrasian diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undangundang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Pengawasan orang asing Adanya kerjasama antar instansi terkait dalam pengawasan orang asing di dalam wadah koordinasi pengawasan orang asing (SIPORA). 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 85 Lihat pasal 47 ayat (1) Undang-undang no. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian disebutkan: 85 ”selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. USU Repository © 2009 .

Memanggil. menahan sesorang yang disangka melakukan tindak pidana keimigrasian. penyidikan keimigrasian adalah suatu proses penyidikan yang dilakukan oleh Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia juga PPNS imigrasi terhadap setiap orang yang melakukan perbuatan sebagai tindak pidana keimigrasian. 152. 2007. menggeledah. memeriksa. Memeriksa dan/atau menyita surat-surat. H dan Abrar Yusra. Dalam pasal 47 ayat (2) disebutkan: 87 “Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang: a. Dengan demikian disamping menjalankan tugas sebagai aparat pelayanan keimigrasian. b. menangkap. Memanggil orang untuk didengar keterangannya sebagai saksi. Dengan demikian penyidikan hanya dapat dilakukan oleh kedua pejabat yang telah disebutkan di atas. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. dokumen-dokumen. atau benda-benda yang ada hubungannya dengan tindak pidana keimigrasian.90 Di dalam Undang-undang no. d. 9 tahun 1992 diatas. Menerima laporan tentang adanya tindak pidana keimigrasian. Ramadhan K. USU Repository © 2009 86 . Dirjen Imigrasi Hukum dan HAM RI. 87 Lihat pasal 47 ayat (2) Undang-undang No. Surat Perjalanan. “Lintas Sejarah Imigrasi Indonesia”. 2005. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). aparat imigrasi juga bertugas sebagai aparat penegak hukum 86. c. hal.

f. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . SK Markas Besar Kepolisian RI No. 8 tahun 1981 (KUHAP) yang menyebutkan bahwa penyidik sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf b mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah koordinasi dan pengawasan penyidik tersebut dalam pasal 6 ayat (1) huruf a. Adapun wujud koordinasi dapat berupa: 1. Mengambil sidik jari dan memotret tersangka. SKep/369/X/1985 yang menyatakan bahwa kooradinasi adalah suatu bentuk hubungan kerja antara penyidik Polri dengan Pegawai Negeri Sipil dalam rangka pelaksanaan penyidikan tindak pidana yang menyangkut bidang tertentu. atau benda-benda lain yang ada hubungannya dengan tindak pidana keimigrasian. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2. Mengatur dan menerangkan lebih lanjut dalam keputusan instansi bersama. Pol S.91 e. Mengadakan rapat-rapat berkala pada waktu-waktu yang dipandang perlu. Surat Perjalanan. Melakukan pemeriksaan di tempat-tempat tertentu yagn diduga terdapat suratsurat. Wewenang ini sudah sesuai dengan ketetuan dari pasal 7 ayat (2) Undangundang no. dokumen-dokumen. Pejabat Pegawai Negeri Sipil mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah tangan koordinasi dan pengawasan penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia.

8 tahun 1981 (KUHAP) dan juga merupakan bantuan yang dapat diberikan oleh penyidik sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf a KUHAP kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil seperti yang diatur oleh pasal 47 UU No. Keseluruhan ini merupakan penjabaran dari pasal 7 ayat (1) UU No. adapun wujud pengawasan ini meliputi: 1. 9 tahun 1992. Proses penyidikan ini dilakukan sebagai Pro Justisia yang akan segera diajukan ke Pengadilan untuk diadili. pengevaluasian tindak pidana pelanggaran dan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Pengawasan kegiatan penyidik yang sedang dilakukan oleh penyidik Pegawai Negeri Sipil serta memberikan pengawasan teknis. Pengawasan teknis dalam rangka pembinaan dan peningkatan kemampuan penyidik Pegawai Negeri Sipil dan memberikan petunjuk bila terdapat kekurangan-kekurangan untuk disempurnakan.92 3. dan bertugas melakukan identifikasi pengumpulan. USU Repository © 2009 . 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2. Menunjuk sesorang atau lebih pejabat dari masing-masing Departemen/instansi yang secara fungsionl dan menangani penyidik Pegawai Negeri Sipil dengan penghubung 4. Menyelenggarakan pendidikan dan latihan penyidik Pegawai Negeri Sipil dengan penekanan dibidang pendidikan. pemilahan. Sedangkan yang dimaksud dengan “pengawasan” adalah proses pengamatan pelaksanaan penyidikan yang dilakukan dapat dibenarkan secara materil maupun formal dan berjalan sesuai dengan yang berlaku.

88 b. akan sangat 88 Ibnu Suud. cit. Tetapi jalan ini jarang sekali ditempuh oleh pihak keimigrasian dalam kasus penyalahgunaan izin keimigrasian. USU Repository © 2009 . c. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. koordinasi dengan Lembaga Pemasyarakatan untuk proses pemulangan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007. 57 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Op. b. maka hal harus dilakukan oleh petuga keimigrasin adalah: a. Menyampaikan hasil pemberkasan kepada Penuntut Umum melalui polisi. d. kasasi dan jika perlu grasi yang akan digunakan oleh warga negara asing yang terlibat tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. hal. Mengikuti perkembangan persidangan. Hal ini dikarenakan apabila kasus tersebut diajukan ke pengadilan akan menggunakan upaya hukum mulai dari banding. Membuat berkas hasil penyelidikan sesuai dengan ketentuan yagn berlaku.93 kejahatan keimigrasian yang diatur dalam Undang-undang no. Bila telah selesai melaksanakan keputusan Pengadilan. Sanksi hukum terhadap pelaku tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian Sanksi hukum terhadap pelaku tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian dapat dilakukan dengan cara: 1) Pro justitia Apabila kasus terhadap tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian yang ditangani oleh pihak keimigrasian ingin ditempuh dengan cara pro justitia.

Maka akan lebih efektif apabila dilakukan dengan cara non pro justitia. perubahan atau pembatalan izin keberdaan.09. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. maka akan lebih efektif apabila dilakukan tindakan keimigrasian. 3) Keharusan untuk bertempat tinggal di suatu tempat tertentu di wilayah Indonesia. Tindakan Keimigrasian adalah tindakan administratif dibidang keimigrasian yang dilakukan oleh pejabat imigrasi berupa: 1) Pembatasan.02 tanggal 14 89 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim. karena dalam hal ini negara akan mengeluarkan biaya besar untuk menjalani proses pro justitia tersebut. serta sosial dan budaya serta kemananan. USU Repository © 2009 . Kantor Imigrasi Polonia Medan. 89 2) Non pro justitia Menurut pertimbangan polits.94 merugikan negara. Ditambah lagi orang asing tersebut tidak memiliki uang untuk membayar ongkos biaya perkara. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).02-PW. 2) Larangan untuk berada disuatu atau beberapa tempat tertentu di wilayah Indonesia. 4) Pengusiran atau deportasi dari wilayah Indonesia atau penolakan masuk ke wilayah Indonesia. Tindakan keimigrasian dilakukan sebagai sanksi administratif terhadap orang asing yang melanggar peraturan keimigrasian dan ketentuan-ketentuan lainnya mengenai orang asing sesuai dengan dimaksud dalam pasal 19 keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor: M. 2007. ekonomis.

Masalah kepraktisan. Hal ini bukan menandakan bahwa kasus tentang penyalahgunaan izin keimigrasian sangat sedikit.95 Maret tahun 1995 tentang Tata Cara Pengawasan. berada dan akan meninggalkan wilayah Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). yaitu penanganan suatu kasus dengan cara pendeportasian tidak memakan waktu yagn lama atau berlarut-larut. 90 Pihak Kepolisian dan Keimigrasian menyebutkan beberapa alasan dan pertimbangan melakukan tindakan keimigrasian yang berupa pendeportasian yang oleh pihak keimigrasian (walupun penangkapan dilakuakn oleh pejabat imigrasi). tetapi karena kedua instansi ini lebih banyak melakukan tindakan keimigrasian yaitu berupa pendeportasian ke negara asal tanpa melalui proses pro justitia walaupun telah ada pengaturannya dalam Undang-undang no. Ancaman hukuman penjara maksimum Hasil wawancara dengan Kanit Pengawasan Orang Asing (POA) Poltabes Medan Sekitarnya Pada tanggal 9 Agustus 2007 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. maka berdasarkan data yang diperoleh baik dari kantor kepolisian maupun kantor imigrasi sangat sedikit yang ditindaklanjuti secara pro justitia. USU Repository © 2009 90 . mulai saat masuk. 2007. Dalam hal terjadi tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. Tindakan Keimigrasian dapat dilakukan terhadap oaring asing pemegang izin Keimigrasian atau tanpa izin keimigrasian. Pengajuan Keberatan Orang Asing dan Tindakan Keimigrasian. yaitu: a. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. jika dibandingkan dengan pro justitia.

Tetapi apabila masalah penyalahgunaan izin keimigrasian tersebut menyangkut masalah permpokan bersenjata. Masalah sumber daya manusia khususnya petugas imigrasi. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Masalah anggaran dana yang dialokasikan untuk melakukan tindakan hukum di kantor Imigrasi sangat terbatas. Apabila penanganan masalah ini untuk dilakukan secara pro justitia masih sedikit yang dilengkapi pengetahuan sebagai PPNS. terorisme atau perdangan manusia (trafficking). Selain itu jenis hukuman yang diancamkan berupa pidana alternative atau jika didenda belum tentu mereka memiliki uang. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). c. 2007. 91 91 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim. Karena itu yagn dihasilkan tidak sesuai dengan yagn diharapkan. hal ini dikarenakan tindakan tersebut sudah sangat mengancam keamanan negara serta stabilitas nasional. Kantor Imigrasi Polonia Medan. b. USU Repository © 2009 .96 hanya lima tahun sehingga hukuman akan selesai jika dikurangi dengan masa penahanan. maka sanksi hukum yang harus dijalankan adalah dengan cara pro-justitia. baik dari segi kualitas maupun kwntitas yang sangat kurang. peredaran narkoba. Hal ini tentu saja menghambat tugas para pejabat imigrasi atau PPNS dalam penyidikan.

Nama Lengkap Tempat Lahir Umur/ Tgl. USU Repository © 2009 .B/2002/PN. Mathiya HMBS als Raja : Malaysia : 59 Tahun/ 21 Desember 1943 : Laki-laki Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).97 BAB IV KASUS DAN ANALISIS KASUS A.Mdn Identitas Terdakwa Pengadilan Negeri Medan yang meemriksa dan mengadili perkara-perkara Pidana Biasa/ Singkat/ Cepat telah menyatakan bahwa terdakwa : 1. 2493/Pid. 2007. Perkara Pidana No. K. Lahir Jenis Kelamin : Dr.

RRI Medan : Hindu : Dokter Homeopati : Sarjana Bahwa mereka terdakwa I. USU Repository © 2009 .S alias Raja dan terdakwa II. 47 Medan : Hindu : Dokter : Sarjana : Dr. Karya Wisata No. bertempat di Jl. 47 Medan dan di Jl. 2007. Lahir Jenis Kelamin Kebangsaan Tempat Tinggal Agama Pekerjaan Pendidikan Kasus Posisi : Malaysia : Jl. Kali Mutu Kumar Marimutu : Kedah Malaysia : 26 Tahun/ 04 Desember 1976 : Laki-laki : Malaysia : Jl. Mathiya H.5 Komp.M. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Karya Wisata No.B.30 Wib atau setidak-tidaknya pada suatu waktu dalam tahun 2002.98 Kebangsaan Tempat Tinggal Agama Pekerjaan Pendidikan 2. Dr. Kalimutu Kumar Marimutu secara bersama-sama atau bertindak secara sendiri-sendiri pada hari Jumat tanggal 16 Agustus 2002 sekitar pukul 14.5 Komp. RRI Medan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Nama Lengkap Tempat Lahir Umur/ Tgl. K. Binjai Km 5. Binjai Km 5. Dr.

perbuatan mana dilakukan terdakwaterdakwa dengan cara sebagai berikut : Mula-mula terdakwa-terdakwa selaku Warga Negara Malaysia datang berkunjung ke Indonesia melakukan perjalanan kunjungan praktek yaitu terdakwa I dengan Visa Sosial Budaya sedangkan terdakwa II menggunakan Pasport Malaysia dengan Visa Turis selama 2 (dua) bulan. Binjai Km 5. 47 Medan dan di Jl. Karya Wisata No. 2007.5 Komp.99 atau setidak-tidaknya disuatu tempat yang masih termasuk daerah hukum Pengadilan Negeri Medan. namun ternyata setelah tiba di Indonesia yaitu kota Medan ternyata terdakwa-terdakwa membuka Klinik Homeopati di Medan dan bekerja selaku Dokter Homeopati pada klinik tersebut di kota Medan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 .(tiga puluh ribu rupiah) s/d Rp.000. 50.. orang asing yang dengan sengaja menyalahdunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud pemberian izin keimigrasian yang diberikan kepadanya.. sedangkan terdakwa-terdakwa datang ke Indonesia hanya diperbolehkan untuk wisata namun ternyata terdakwa-terdakwa bekerja maupun mengajar yang sifatnya mencari keuntungan.(lima puluh ribu rupiah) dimana terdakwa-terdakwa dalam membuka Klinik Homeopati tersebut tidak berubah Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. sedangkan dalam Pasport terdakwaterdakwa menggunakan Visa hanay selama 60 (enam puluh) hari selaku Visa Turis dan Pelancong namun ternyata terdakwa-terdakwa selaku Dokter pada Klinik Homeopati di Jl. 30.000. RRI Medan telah membuka Klinik Homeopati dengan menerima pasien yang berobat dan rawat inap kliniknya dengan biaya sekali berkunjung antara Rp.

USU Repository © 2009 .00 Wib. 2007. Keterangan izin lokasi/ Denah. Keterangan adanya obat-obatan/alat yang dipergunakan. sedangkan waktu kuliah/belajar pada hari kamis san jumat dari pukul 19. dan terdakwa-terdakwa dalam memberikan obat-obatan kepada para pasien yang datang berobat ke Klinik Homeopati tersebut tidak memiliki izin untuk memproduksi obat-obatan dan komposisi dari obat-obatan tidak ada dibuatkan dalam labelnya.000.(tiga juta rupiah rupiah) persiswa. Adanya izin/keterangan ketenagakerjaan medis dan Para Medis. yaitu : Adanya permohonan yang ditujukan ke Dinas Kesehatan Kota Medan.100 Hukum dan tidak memiliki Izin dari Menteri Kesehatan sesuai dengan persyaratan mendirikan Klinik/Balai pengobatan yang harus memiliki. oleh karena terdakwa-terdakwa dalam membuka Klinik Hemeopati tersebut tidak memiliki Badan Hukum dan tidak memiliki izin lalu kemudian terdakwa-terdakwapun ditangkap petugas Kepolisian Poltabes Medan. serta Izin-izin lainya yang menyangkut tentang usaha dan Bidang Kesehatan..00 Wib s/d pukul 20. Adanya penanggung jawab klinik. Sedangkan Izin Rekomendasi dari Dinas Kesehatan Tingkat I Propinsi dan Izin dari Menteri Kesehatan.000. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). KTP yang berdomisili di Kota Medan. selain itu terdakwa-terdakwa juga telah menerima siswa/ murid sebanyak 20 (dua puluh) orang dengan menerima biaya pendidikan selama 6 (enam) bulan sebesar Rp. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 3.

majelis telah menemukan adanya fakta-fakta yuridis sebagai berikut.B/2002/PN. Menyatakan barang bukti berupa obat-obatan dirampas untuk dimusnahkan dan Pasport An. 25. 3.000. dengan pidana denda masing-masing Rp.000. bersalah melakukan tindak pidana menyalahgunakan izin sebagaimana diatur dalam Pasal 50 UU RI No. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Dr.Mdn Hakim Pertama yang mengadili perkara ini dalam putusannya memberikan pertimbangan hukum sebagai berikut : Bahwa dari keterangan saksi-saksi dan terdakwa dihubungkan dengan barang bukti yang diajukan di persidangan. Terdakwa-terdakwa dikembalikan kepada terdakwaterdakwa. 4. 2. Mathiya HMBS dkk. 2493/Pid. Menetapkan supaya terpidana dibebani biaya perkara sebesar Rp. Putusan Perkara Pidana No.(seribu rupiah). K. 2007.000. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Menyatakan terdakwa Dr. 1.. 9 Tahun 1992 dalam dakwaan kesatu. Mathiya HMBS dkk.(dua puluh lima juta rupiah) subsider 3 (tiga) bulan kurungan dengan perintah terdakwa tetap ditahan/terdakwa supaya ditahan (jika terdakwa tidak ditahan). USU Repository © 2009 . K. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.101 Dalam surat tuntutannya Jaksa Penuntut Umum menguraikan berbagai tuntutannya sebagai berikut : 1.

9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian.B. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). sebagai subjek hukum yang dapat dipertanggung jawabkan perbuatannya adalah keterangan terdakwa Dr. Unsur-unsur Objektif a. K.M. Dengan Sengaja Jelas perbuatan yang dilakukan terdakwa-terdakwa Dr. K. Kali Mutu Kumar Marimutu b.Mathiya H. Kali Mutu Kumar Malimutu dengan sengaja menghimpun dana untuk kesehatan yang diambil dari para mahasiswa yang mengikuti pendidikan Homeopati yang dilakukan di Rumah Sakit Homeopati yang terletak di jalan Binjai Km 5.M. 2007. Barang Siapa Berdasarkan Fakta-fakta dan keterangan para saksi serta keterangan terdakwa sendiri didukung alat bukti yang telah disita.5 Medan atau di Komp. Menyelenggarakan Kesehatan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.S dan Dr.S serta Dr. USU Repository © 2009 . c.B. RRI Cabang Medan. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 50 UU RI No. Tentang Kesehatan : 1.102 Terdakwa didakwakan Jaksa Penuntut Umum melakukan tindak pidana yang diatur dan diancam dalam pasal 80 ayat (2) UU RI No. Mathiya H.

dan menerima pasien untuk rawat jalan serta rawat nginap bagi setiap pasien yang berobat kepada terdakwa.S dan Dr. Tidak berbentuk badan hukum Klinik serta Rumah Sakit Homeopati Megawati Sukarno Putri didirikan kedua terdakwa tersebut jelas tidak berbentuk badan hukum karena tidak mempunyai izinnya. Kalimutu Kumar Marimutu telah melakukan pengobatan secara alternatif dengan cara mendirikan klinik serta Rumah Sakit Homeopati tanpa memiliki izinnya.103 Kedua terdakwa Dr. K. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Unsur-unsur Objektif a. Dibuktikan dengan tidak adanya suratsurat yang sah tentang adanya Klinik serta Rumah Sakit Homeopati Megawati Sukarno Putri tersebut serta Rumah Sakit Keimigrasian : 1. Unsur-Unsur Subjektif a. USU Repository © 2009 . Orang asing Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Tidak memiliki Izin operasional Klinik serta Rumah Sakit Homeopati Megawati Sukarno Putri tidak mempunyai izin operasionalnya. tentang pendirian Klinik Homeopati Megawati Sukarno Putri tersebut b. 2.B. Mathiya H.M.

Mathiya H.M. Meninbang. b. 23 tahun 1992 tentang kesehatan dan Pasal 50 UU RI No.B. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Kalimutu Kumar Marimutu adalah orang asing atau warga Negara asing atau warga Negara Malaysia. bahwa oleh karena dakwaan kesatu primair.104 Benar keduan terdakwa tersebut yaitu Dr.S dan Dr. 2. Dengan Sengaja Benar kedua terdakwa tersebut yaitu Dr. K. Unsur-unsur Subjektif Melakukan kegiatan tidak sesuai izinnya Benar kedua terdakwa tersebut melakukan kegiatannya tidak sesuai dengan izin yang ada dimana ia datang ke Indonesia seharusnya hanya sebagai wisata saja akan tetapi visa tersebut ia gunakan untuk kepentingan mencari suatu pekerjaan atau keuntungan. Kalimutu Kumar Marimutu dengan sengaja datang ke Indonesia telah menyalahgunakan passport yang ada padanya. 2007. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Mathiya H. terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut HUKUM. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). K.B.S dan Dr. subsidair kedua sesuai pasal undang-undang dimaksud pasal 80 ayat (2) Sub Pasal 84 ayat (5) UU RI No. USU Repository © 2009 . dan oleh karenanya dijatuhi hukuman. maka ia terdakwa harus dinyatakan bersalah tentang hal ini.M.

9 tahun 1992 tentang Keimigrasian dan ketentuan perundang-undangan yang berhubungan dengan perkara ini. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Hal-hal yang meringankan : Ia terdakwa-terdakwa belum pernah dihukum. maka majelis akan memperimbangkan hal-hal yang memberatkan maupun yang meringankan hukumannya terdakwa sebagai berikut: Hal-hal yang memberatkan : Bahwa perbuatan dari terdakwa-terdakwa dapat merugikan pemerintah republik Indonesia. USU Repository © 2009 . 2007. 23 tahun 1992 tentang kesehatan jo Pasal 50 UU RI No. Memperhatikan ketentuan pasal 80 ayat (2) sub Pasal 84 ayat (5) UU RI No. Memberikan keterangan yang jelas dan terang dipersidangan dan menyatakan menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu dikemudian hari yang akan datang/ tobat dan mempunyai tanggungan istri dan anak yang masih memerlukan pertanggungjawaban sebagai kepala keluarganya. Menimbang. bahwa oleh karena terdakwa dihukum maka dipandang perlu untuk tetap menahannya. bahwa sebelum menjatuhkan hukuman . Menimbang. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).105 Menimbang bahwa oleh karena terdakwa dijatuhi hukuman maka terdakwa dihukum pula untuk membayar biaya perkara.

7. K.000. Kalimutu Kumar marimutu keduanya berkebangsaan Malaysia Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.M. Menghukum Terdakwa-terdakwa dengan hukuman denda sebesar Rp. B. 2007.B. Menghukum terdakwa-terdakwa lagi membayar ongkos perkara sebanyak Rp.S alias Raja dan Dr. K. KALIMUTU KUMAR MARIMUTU tersebut diatas telah trbukti dengan sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan Menyalahgunakan Izin. USU Repository © 2009 . 1. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).(seribu rupiah) Menyatakan barang bukti berupa obat-obatan diarmpas untuk dimusnahkan dan pasport atas nama terdakwa dikembalikan kepada terdakwa.106 MENGADILI Menyatakan Terdakwa : 1.000. maka dapat diketahui bahwasannya telah terjadi suatu tindak pidana di bidang Imigrasi yakni telah terjadinya penyalahgunaan ijin keimigrasian yang dilakukan oleh Terdakwa-terdakwa Dr. Mathiya H. MATHIYA H. Analisis Putusan Setelah penulis mempelajari dan membaca pertimbangan hukum putusan Pengadilan Negeri Medan..M.S alias RAJA 2. Dr. Dr.500.(tujuh juta lima ratus ribu rupiah) dengan ketentuan jika denda tersebut tidak dibayar harus diganti dengan hukuman kurungan selama 2 (dua) bulan.B..

” Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. wajib dilaksanakan oleh setiap penyelenggara. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. yang tidak berbentuk badan hukum dan tidak memiliki izin operasional serta tidak melaksanakan ketentuan tentang jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 Ayat (2) dan Ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. berdasarkan pemeriksaan di persidangan menunjukkan bahwa Terdakwa-terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum. 500. 23 tahun 1992 tentang kesehatan dan Pasal 50 UU RI No. USU Repository © 2009 . dikelola secara terpadu untuk tujuan meningkatkan derajat kesehatan.107 yang telah mendirikan usaha atau praktek tanpa memiliki ijin untuk melakukan hal tersebut. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 23 tahun 1992 tentang kesehatan menyatakan bahwa : ”Barangsiapa dengan sengaja menghimpun dana dari masyarakat untuk menyelenggaraakan pemeliharaan kesehatan. Oleh karena itu keduanya dikenakan pidana karena telah melanggar ketentuan undang-undang yang berlaku di indonesia yakni Pasal 80 ayat (2) Sub Pasal 84 ayat (5) UU RI No.00 (lima ratus juta rupiah). 2007.000. Pasal 80 ayat (2) UU RI No.” Dari ketentuan Pasal ini perbuatan terdakwa-terdakwa telah terbukti tidka memiliki izin operasional dengan demikian secara otomatis tidak melaksanakan ketentuan jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat sebagai mana yang dimaksud Pasal 66 yang menyatakan : Ayat (2) : ” Jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat merupakan cara penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan dan pembiayaannya.000.

00 (lima belas juta rupiah).” Pasal 59 Ayat (1) menyatakan bahwa : “Semua penyelenggaraan sarana kesehatan harus memiliki izin. 15. 2007.000. ”Penyelenggara jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat harus berbentuk badan hukum dan memiliki izin operasional serta kepesertaannya bersifat aktif. 23 tahun 1992 tentang kesehatan yang menyatakan Barang siapa : ”Menyelenggarakan sarana kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 Ayat (1) atau tidak memilki izin sebagaimana dimaksud dalam pasal 59 Ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp.-“ Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Hal mana dinyatakan juga dalam sub Pasal 84 point 5 UU RI No.” Berdasarkan ketentuan tersebut. dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 25. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian menyatakan bahwa : “Orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud pemberian izin keimigrasian yang diberikan kepadanya.” Pasal 50 UU RI No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 .108 Ayat (3) .” Pasal 58 Ayat (1) menyatakan bahwa : ”Sarana kesehatan tertentu yang diselenggarakan masyarakat harus berbentuk badan hukum.000. Dan juga bisa saja tidak ada jaminan kesehatan masyarakat di klinik yang mereka dirikan hal ini seharusnya menjadi pertimbangan hal yang memberatkan karena dapat dikatakan suatu hal yang penting jika dikaitkan dengan masalah kesehatan.000.000. selain merugikan keuangan negara dimana dengan adanya izin usaha seharusnya ada pemasukan kas negara baik dari pajak maupun biaya pengurusan izin pada umumnya.

Hal mana menurut penulis tidak memberikan sifat penjeraan terhadap tindakan semacam ini sedangkan menurut teori telatif (Doeltheorie) 92 tujuan hukum pidana salah satunya adalah menjerakan. Jakarta.109 Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan hukum yang ada yang ditemukan dari keterangan para saksi dan keterangan para terdakwa telah terbukti dan meyakinkan melanggar ketentuan pasal-pasal yang dimaksud di atas. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007. maka akan mengalami hukuman yang serupa (generale preventie). yang dimaksud dengan menjerakan disini adalah dengan penjatuhan hukuman. hal. Tuntutan yang diajukan Jaksa Penuntut Umum menurut penulis kurang menekankan kepada unsur pemidanaan terhadap tindakan pelaku demikian juga vonis majelis hakim. Bisa saja dilain waktu para pelaku mengulangi perbuatannya dan yang ditakutkan banyak bermunculan tindakan-tindakan serupa baik itu dibidang Leden Marpaung. 2005. diharapkan si pelaku atau terpidana menjadi jera dan tidak mengulangi lagi perbuatannya (speciale preventie) serta masyarakat umum mengetahui bahwa jika melakukan perbuatan sebagaimana dilakukan terpidana. Menurut penulis penentuan pasal-pasal terhadap tindakan para terdakwa telah benar. USU Repository © 2009 92 . Hukuman yang dijatuhkan hanya sebatas denda sejumlah uang yang apabila kita lihat jumlahnya relative tidak memberatkan terdakwa-terdaka (para pelaku).Sinar Grafika. 4. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. hanya ditekankan pada pengenaan hukuman denda sejumlah uang. “Asas – Teori – Praktik Hukum Pidana “.

tidak hanya dalam bidang keimigrasian dan kesehatan saja tetapi juga bidang-bidang lain yang menyangkut kepentingan publik atau masyarakat luas. kesehatan maupun keamanan masyarakat.110 kesehatan atau bidang lainnya. namun kadang kala pelaksanaan dilapangan kebanyakan tidak sejalan dengna peraturan yang ada. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. hal mana akan dapat merugikan keuangan negara. 2007. Oleh karena itu sebenarnya yang perlu ditingkatkan adalah pemahaman dan kesadaran hukum serta tanggung jawab hukum para aparat penegak hukum dalam menjalankan tugasnya. Hal ini tujuannya adalah tidak lain untuk menciptakan dan membudayakan adanya sinkronisasi antara peraturan hukum yang ada dengan pelaksanaan di lapangan. Kasus-kasus semacam ini sebenarnya harus mendapat perhatian yang serius dari apart penegak hukum dengan segala kelengkapannya.

tetapi setalah pemberian fasilitas bebas visa dalam BVKS yang lebih luas ruang lingkupnya tetap ditemukan pelanggaran terhadap fasilitas bebas visa tesebut. malah dipergunakan oleh orang asing sebagi salah satu cara masuknya imigran gelap ke Indonesia. Ruang lingkup fasilitas bebas visa yang terlalu luas yang mencakup kegiatan wisata. 2007. dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu: 1. USU Repository © 2009 . Adanya perkembangan tenggang waktu dalam pemberian fasilitas bebas visa bagi wisata. Kesimpulan Berdasarkan uraian-uraian penulisan skripsi ini. karena fakta di Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.111 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. b. yang pada awalnya dimaksudkan untuk mengatur secar tegas fasilitas bebas visa. Tetapi tenggang waktu 2 (dua) bulan ini dirasakan terlalu panjang atau lama. Dimana wisatawan tersebut dapat menikmati wisata di Indonesia dalam kurun waktu 2 (dua) bulan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).sosial budaya dan usaha. Faktor penyebab terjadinya penyalahgunaan izin keimigrasian adalah: a. Sehingga maksud dan tujuan dari BVKS sebagai pengganti BVW tidak tercapai.

seperi disalahgunakan untuk bekerja. jika para petugasnya bermental yang kurang baik. maka orang asing yang dapat dengan leluasanya berkeliaran di Indonesia. Panjang atau lamanya jangka waktu ini ternyata dapat memberikan peluang bagi wisatawan asing untuk melakukan pelanggaran dengan berbagi motivasi. Peranan petugas/pejabat/aparatur imigrasi sangat besar. Penanggulangan secara represif Dalam hal penanggulangan ini sangat erat kaitannya dengan hal pengawasan baik wisatawan yang masuk atau keluar wilayah Negara Republik Indonesia. Penanggulangan secara preventif b.112 lapangan menunjukkan bahwa wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia pada umumnya dan Medan pad khusunya jarang yang tinggal sampai 2 (dua) bulan. USU Repository © 2009 . bahwa betapapun baiknya aturantntangkeimigrasian. Dan tidak dipungkiri. 2007. 2. dan melakukan kegiatan di wilayah Negara Republik Indonesia. Upaya menanggulangi terjadinya suatu tindakan yang melanggar ketentuan izin keimigrasian dibedakan atas dua cara yaitu: a. c. Terutama sekali para petugas yang bertugas di pintu-pintu masuknya orang asing ke Indonesia. Penanggulangan secara preventif adalah tindakan penanggulangan yang dilakukan dalam usaha untuk mencegah atau menjga kemungkinan yang terjadinya tindak Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). maka aturan itu tidak aka nada artinya. jika mereka bertindak masa bodoh terhadap orang asing tersebut.

Yang dapat berupa tindakan keimigrasian yang salah satunya pendeportasian. B. maka tunduk pada Undang-undang no.113 pidana imigrasi dalam hal ini yaitu tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. Saran Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Hal ini dikarenakan mengingat adanya upaya hukum banding. 2007. maka jalan pro justitialah yang harus ditempuh. deportasi maupun black list. dan perdagangan manusia (trafickking). terorisme. Dari data yang diperoleh. Karena menurut politis. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 3. USU Repository © 2009 . 4. agar menimbulkan efek jera bagi warga negara asing yang melakukan tindak pidana di bidang keimigrasian. dan ekonomis cara tindakan keimigrasian dianggap lebih praktis dan efisien. yang juga tidak terlepas dengan ketentuan yang diatur dalam pasal-pasal KUHAP tentang penyidikan. khususnya penyalahgunaan izin keimgrasian. atau grasi yang dimiliki oleh warga negara asing apabila ditempuh dengan cara pro justitia. kasasi. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. bahwa sanksi yang dijatuhkan oleh aparatur penegak hukum dalam kasus tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian adalah lebih sering bersifat non pro justitia. mengingata dana orasional dari negara yang sangat terbatas. Hal ini tentu saja membuthkan biaya operasional yang cukup tinggi. Kecuali masalah penyalahgunaan izin tersebut menyangkut masalah peredaran narkoba. Dalam proses penyidikan terhadap tersangka yang melakukan tindak pidana dibidang keimigrasian. Sedangkan dalam penaggulangan represif ini dapat dilakukan dengan cara pemidanaan.

yaitu hanya unutk wisata. sebaiknya Tim melakukan koreksi. agar nantinya walaupun telah disahakan menjadi Undang-undang tidak menambah kerancuan. Karena Undang-undang sebelumnya dianggap masih belum sempurna. 2. dan koreksi yang patut untuk diperhatikan yaitu mengenai tata urutan peraturan-peraturan perundang-undangan tentang keimigrasian. Sehingga hal ini jangan sampai dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan yang lain yang tidak sesuai dengan izin keimigrasiannya. USU Repository © 2009 . karena masih banyak celah yang memungkinkan untuk warga negara asing melakukan tindak pidana di bidang keimigrasian.114 1. dengan adanya berbagai kritikan dan tanggapan terhadap RUU tersebut. Pada saat sekarang ini sedang disusun RUU tentang keimigrasian yang telah disosialisasikan oleh Tim dari Direktorat Jenrak Imigrasi. hal ini juga menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya mengharapkan faktor ekonomi saja dari keunjungan wisatwan asing . Sebaiknya pemberian fasilitas bebas visa ditinjau ulang kembali dan dikembalikan kepada latar belakang pemberian fasilitas tersebut. sedangkan rata-rata masa kunjungan wisatawan asing ke Indonesia pada umunya dan kota Medan khususnya adalah 3-4 (tiga sampai empat) minggu saja. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Dan juga pemberian fasilitas tersebut sebaiknya dilakukan secara reciprocal atau prinsip timabal balik. hal ini disebabkan karena penberian fasilitas bebas visa sekarang adalah 2 (dua) bulan dan ini terlalu lama. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). tetapi juga menunjukkan martabat bangsa. Tenggang waktu pemeberian fasilitas bebas visa untuk wisata sebaiknya adalah 1 (satu) bulan dan dapt diperpanjang selam 30 (tiga puluh) hari.

karena itu perlu para petugas/pejabat imigrasi dilengkapi dengan peningkatan kemampuan sumber daya manusia baik lewat pendidikan foramal meupun pendidikan latihan mengenai pelayanan dan pengawasan bagi orang asing atau wisatawan asing yang datang. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Penegakan hukum di Indonesia terlihat lemah dan hanya mengandalkan tindakan pendeportasian. USU Repository © 2009 .115 3. tidak berdasarkan kekuasaan belaka. maka peralatn komunikasi sangat diperlukan dan semua instansi dapat selalu memonitor setiap orang yang terkena daftar cekal apakah sudah habis waktunya atau belum. Dan juga diadakan penindakan secara hukum bagi petugas/pejabat imigrasi sendiri yang membantu stsu melakukan tindak pidana keimigrasian. 2007. Dan juga dalam mengkoordinasikan tindakan cekal agar dapat dengan cepat dilaksanakan sebelum orang yang dimaksud melarkan diri. Demikian juga yang penting adalah diperlengkapinya peralatan dengan kemajuan teknologi seperti sistem komputerisasi sehingga dapat melayani maupun memantau orang asing yang ada di wilayah Indonesia. Dalam hal penanggulangan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian khsusnya black list atau cekal hendaknya mencerminkan prinsip-prinsip negara yang berdasarkan hukum. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 4.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Rineka Cipta. H. S. Bandung Moeljatno. Ridwan Halim . Alumni. Jakarta. 2007. Jakarta. 2005. Sinar Grafika. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Tugas Pokok dan Fungsi Direktorat Jendral Imigrasi. Jakarta. Hukum Keimigrasian Indonesia. 2000. 1982. Gramedia. Jakarta. USU Repository © 2009 . Sinar Grafika. 1996. Persoalan Praktis Filsafat Hukum dalam Himpunan Distingsi. 2001 Koerniatmanto. Direktorat Jendral Imigrasi. Buku Petunjuk Keimigrasian RI Bagian I Visa Izin Tinggal. UKI: Jakarta. Teori-teori dan Kebijakan Pidana. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Muladi & Barda Nawawi Arif. 1996. Jakarta. Soetoprawiro. Asas Teori Praktik Hukum Pidana. Jakarta. Sjarif.116 DAFTAR PUSTAKA A. Jakarta: Balai Pustaka. Departemen Kehakiman RI. Hadi Kiswanto. 1983. Kewarganegaraan dan Leden Marpaung. 1998. Cetakan Ke-2. 1992. Asas-asas Hukum Pidana. Flora Liman Mangestu. Pedoman Penggunaan Tenaga Kerja Asing di Indonesia dan Peraturan-peraturannya.

. dan Karantina. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan. USU Repository © 2009 . 1987. Soerjono. “Faktor-faktor yang mempengaruhi Penegakan Hukum. Barda. R. DAN IZIN KEIMIGRASIAN. Jakarta Teguh Prasetyo & Abdul Halim Barkatullah. Peraturan Perundang-undangan : KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA. Purmadi. Bandung. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Alumni. Rajawali. Gramedia Pustaka. 1987. Felix Hadi Mulyatno dan Endar Sugiarto. UI Press. Amarja Press. Soedarto. Citra Aditya Bakti. Perspektif Imigrasi dalam Pembangunan Ekonomi dan Ketahanan Nasional. PT. R. . 2005. IZIN MASUK. Jakarta. 2005 “Lintas Sejarah Imigrasi Indonesia”. 2007. 1988. 1984. PT. 2004.. Politik Hukum Pidana. Jakarta. UI-Press. 2005. Jakarta : Rajawali Press. Soekamto. PT. Pabean. Pengantar Penelitian Hukum. Semarang. Bandung. Ramadhan K. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentar Lengkap Pasal Demi Pasal . Citra Aditya Bakti. 32 TAHUN 1994 TENTANG VISA. Politeia : Bogor. Jakarta.1984. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan Hukum dan Pengembangan Hukum Pidana. Dirjen Imigrasi Hukum dan HAM RI.117 Nawani Arief. H dan Abrar Yusra. Soesilo. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA PERATURAN PEMERINTAH RI NO. 2001. Ibnu. Santoso Imam. 2005. Manajemen Keimigrasian. Purbacaraka. Jakarta. Penggarapan Disiplin Hukum dan Filsafat Hukum bagi Pendidikan Hukum. 1983. Imigrasi. Kapita Selekta Hukum Pidana. Jakarta Suud. M. Jakarta.

“Imigrasi Daftar Ulang Warga Negara Asing”. 10-1. Pintu Gerbang No. Jakarta. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Laporan Penelitian. 2007. 44. Jakarta. “Illegal Migrants dan Sisitem Keimigrasian Indonesia: suatu tinjauan Analisis”. Direktorat Jenderal Imigrasi. Pintu Gerbang No. Saleh Wiramiharja. Pintu Gerbang No.1044” tentang Keradaan dan Kegiatan Orang Asing Di Indonesia.: F4-IL. Lukman Bratamidjaja. Laporan : Bagir Manan. Pintu Gerbang No. disampaikan dalam Rapat Kerja Nasional Keimigrasian. “Aspek Ilmu Perundang-undangan BVKS Bagian I”. 7 Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian. 1999. “Usaha Penanggulangan Tindak Pidana Imigrasi dan Imigrasi Gelap di Kota Madya Denpasar”. Denpasar.com Arief Rahman Kunjono. 44. Jakarta.solusihukum. 14 Januari 2000. 01. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2002. 1993. 2002. USU Repository © 2009 . 2002 Direktorat Jenderal Imigrasi. 45. 42. dkk. “Langkah-langkah Baru Menunjang Peningkatan Profesionalisme Keimigrasian”. Jakarta.com http://www. hlm.google. Hukum Keimigrasian dalam Sistem Hukum Nasional.118 UNDANG-UNDANG NOMOR KEIMIGRASIAN. Jakarta. 9 TAHUN 1992 TENTANG Media Cetak dan Elektronik : http://www. Direktorat Jendral Imigrasi. 2002. I Wayan Tangun Susila. Direktorat Jendral Imigrasi. 2000. Universitas Udayana dan PDII LIPI (Jakarta). “Petunjuk Pemantauan Operasional Keimigrasian No.

Jakarta. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 . Jakarta. dkk). Beberapa Pedoman dan Ketentuan Tentang Imigrasi dan Ketatalaksanaan: Bahan Penataran Administrasi Apratur Kehakiman. 2007.119 Pusdiklat Pegawai Departemen Kehakiman. “Analisa dan Evaluasi tentang Pengaturan Fasilitas Bebas Visa wisata bagi Orang Asing yang Berkunjung ke Indonesia” (Laporan Penelitian). Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. 1982. 1984. Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful