1

PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP PENYALAHGUNAAN IZIN KEIMIGRASIAN MENURUT UNDANG-UNDANG RI NO. 9 TAHUN 1992 TENTANG KEIMIGRASIAN (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan) SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas Dan Memenuhi Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum O L E H YOYOK ADI SYAHPUTRA NIM : 030200015 Departemen Hukum Pidana

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2007
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

2

DAFTAR ISI Kata Pengantar ..............................................................................................................i Daftar Isi .......................................................................................................................ii Abstraksi ......................................................................................................................iii BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1 A. Latar Belakang ....................................................................................... 1 B. Perumusan Masalah ............................................................................... 6 C. Tujuan dan Manfaat ............................................................................... 6 D. Keaslian Penulisan ................................................................................. 7 E. Tinjauan Kepustakaan ............................................................................ 8 1. Pengertian Penegakan Hukum ............................................................ 8 2. Pengertian Pidana ............................................................................. 11 3. Pengertian Keimigrasian................................................................... 16 F. Metode Penelitian ................................................................................ 16 G. Sistematika Penulisan .......................................................................... 19

BAB II

TINJAUAN UMUM ................................................................................. 21 A. Keimigrasian dalam Sistem Hukum Indonesia ...................................... 21 1. Pengertian Keimigrasian................................................................... 21 2. Fungsi Keimigrasian ........................................................................ 24 3. Ruang Lingkup Keimigrasian ........................................................... 29 B. Jenis-jenis Izin Keimigrasian................................................................ 35 C. Hukum Keimigrasian Indonesia Dalam Sistem Hukum Nasional .......... 40

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

3

BAB III

PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP PENYALAHGUNAAN IZIN KEIMIGRASIAN ................................... 45 A. Ketentuan Keberadaan Warga Negara Asing (WNA) di Indonesia Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian ............................................. 45 B. Faktor-faktor Penyebab terjadinya Penyalahgunaan Izin Keimigrasian................................................................................ 53 C. Upaya Penanggulangan Tidak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian ................................................................................ 61

D. Peranan Aparatur Penegak Hukum dalam Menanggulangi Tindak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian ..................... 73

BAB IV

KASUS DAN ANALISIS KASUS ............................................................ 91

A. Kasus Posisi ................................................................................................ 92 B. Analisis Kasus............................................................................................ 99 C. BAB V PENUTUP .............................................................................................. 104 A. Kesimpulan ........................................................................................ 104 B. Saran.................................................................................................. 106

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

Seluruh warga negara Indonesia maupun warga negara asing setiap kali keluar-masuk wilayah Indonesia pasti berurusan terlebih dahulu dengan bagian keimigrasian. 2493/Pid. Hukum pidana masih belum berfungsi secara maksimal terhadap kasus penyalahgunaan izin keimigrasian (Putusan No. Penulis menggunakan metode penelitian dengan metode hukum normative dan empiris. serta faktor-faktor yang menjadi penyebab dalam tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasianadan upaya-upaya apa saja yang dapat dilakukan sebagai upaya dalam menangani tindak pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian. mengingat tugas dan tanggung jawab yang diembannya sangat menentukan keberadaan dan dan kekuatan negara yang bersangkutan. sampai peranan aparat penegak hukum. B/2002/PN. menjadikan tindak pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian sebagai suatu tindakpidana memerlukan penangan khusus. B/2002/PN. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. dan ketegasan aparatur penegak hukum serta memajukan sarana dan prasarana dalam menunjang penegakan hukum tersebut.pada tahap awal penulis terlebih dahulu melakukan penelitian terhadap bahan hukum yang berkaitan dengan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. dan Pengadilan Negeri Medan yang bertujuan untuk mengetahui pengaturan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian serta mengetahui peranan aparatur penegak hukum dalam menggulangi tindak pidana penyalhgunaan izin keimigrasian. Kantor Kepolisian Kota Besar Medan dan Sekitarnya (Poltabes). 2007. Mdn) disebabkan masih kurangnya ketegasan aparatur penegak hukum dalam memberikan hukuman kepda warga negara asing yang melakukan tindak pidana penyalhgunaan izin keimigrasian. Kompleksnya masalah dalam tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. mulai dari penggunaan visa yang tidak sesuai. USU Repository © 2009 . 2493/Pid. Mdn)” mengetangahkan permasalahan tersendiri mengenai pengaturan tindak pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian.4 ABSTRAKSI Keimingrasian merupakan salah satu bagian terpenting bagisuatu negara. Berdasarkan penelitian tersebut diketahui bahwa pengaturan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian dalam hukum positif Indonesia diatur dalam Undang-undang No. Tahap selanjutnya penulis melakukan penelitian dengan menggunakan teknik wawancara dan mengumpulkan bahan dari narasumber yaitu dari Kantor Imigrasi Polinia Medan. dan salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam penegakan hukum dalam tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian adalah dengan meningkatkan profesionalitas aparatur penegak hukum. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). masalah minimnya pengetahuan masayrakat. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian juga masih berpedoman dengan KUHP. Tidak jarang persoalan kewarganegaraan suatu negara akan berkembang menjadi persoalam besar akibat kelengahan dari bagian keimigrasian negara tersebut. Skripisi yang berjudul “penegakan hukum pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian (studi kasus Pengadilan Negeri Medan dengan Putusan No.

2007. penegakan hukum itu hanya diartikan sebagai upaya aparatur penegakan hukum tertentu untuk menjamin dan memastikan tegaknya hukum itu.5 BAB I PENDAHULUAN A. 1 Mengingat demikian banyaknya instansi (struktur kelembagaan) dan pejabat (kewenangan) yang terkait di bidang penegakan hukum. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). maka reformasi penegakan hukum tampaknya memerlukan peninjauan dan penataan kembali seluruh struktur kekuasaan/kewenangan penegakan hukum.solusihukum. Ditinjau darui sudut subyeknya. apabila diperlukan. aparatur penegak hukum itu diperkenankan untuk menggunakan daya paksa. Dalam arti sempit. berarti dia menjalankan atau menegakkan aturan hukum.com/artikel. Siapa saja yang menjalankan aturan normatif atau melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dengan mendasarkan diri pada norma aturan hukum yang berlaku. “reformasi http://www. dari segi subyeknya itu. penegakan hukum itu dapat dilakukan oleh subyek yang luas dan dapat pula diartikan sebagai upaya penegakan hukum itu melibatkan semua subyek hukum dalam setiap hubungan hukum. Latar Belakang Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam lalulintas atau hubungan–hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.php?id=49 yang direkam pada 1 Mar 2007 03:28:22 GMT (“Penegakan Hukum”. Jadi. USU Repository © 2009 1 . 30 Mei 2006) Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

Sebagai sebuah subsistem hukum. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). korupsi. 3. 2001. 3 Ibid. Iman Santoso. 1 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Disamping tidak seseuai lagi dengan perkembangan kehidupan nasional. hal. hal. Dikatakan demikian karena ketentuan keimigrasian masih tersebar dalam beberapa ketentuan perundangundangan dan masih kuat dipengaruhi oleh hukum kolonial. 4 4 M. USU Repository © 2009 2 . 2004. Semarang. hal. Citra Aditya Bakti. “Persfektif Imigrasi dalam Pembangunan Ekonomi dan Ketahanan Nasional”. 2007. Masalah-masalah yang mendapat sorotan masyarakat luas saat ini (seperti kolusi. “Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan”. bahkan merupakan subsistem dari Hukum Administrasi Negara. hukum keimigrasian di Indonesia telah ada sejak pemerintahan kolonial Belanda 4. jelas sangat terkait dengan masalah budaya hukum dan pengetahuan/pendidikan hukum. PT. Ketentuan hukum keimigrasian di Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945 hingga 1991 secara formal tidak mengalami perkembangan berarti. 3 Hukum keimigrasian merupakan bagian dari sistem hukum yang berlaku di Indonesia. berhubungan erat dengan reformasi di bidang “budaya hukum dan pengetahuan/pendidikan hukum”. bahkan juga di bidang perundang-undangan (substansi hukum). sebagian dari ketentuan tersebut masih merupakan ketentuan bentukan pemerintah kolonial.6 penegakan hukum” mengandung di dalamnya “reformasi kekuasaan/kewenangan di bidang penegakan hukum”. Disamping Barda Nawawi Arief. mafia peradilan dan bentuk-bentk penyalahgunaan kekuasaan atau persekongkolan lainnya di bidang prosedur/penegakan hukum). UI Press Jakarta. 2 Reformasi di bidang penegakan hukum dan struktur hukum.

2007. 9 Tahun 1992) merupakan unifikasi beberapa ketentuan yang berkaitan dengan keimigrasian. Misalnya disebutkan dalam Ordonansi Izin Masuk bahwa orang asing yang telah diberi izin masuk. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. yang sebelumnya tersebar dalam beberapa ketentuan perundang-undangan. serta Toelatingsordonnantie Staatsblad 1949 Nomor 33 (Ordonansi Izin Masuk/OIM). 5. USU Repository © 2009 .7 tidak sesuai lagi dengan perkembangan kehidupan nasional. Barulah kemudian. jasa dari dan ke wilayah Indonesia dapat mendorong dan memacu 5 Ibid. keberadaan pendatang ilegal dapat menjadi legal hanya dengan membayar sejumlah denda. Demikian pula dalam pengaturan Penetapan Izin Masuk. barang. sebagian dari ketentuan tersebut masih merupakan bentukan pemerintah kolonial Belanda yang diserap ke dalam hukum keimigrasian nasional. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian (selanjutnya disebut UU No. yang tentu saja kehadirannya ditujukan untuk mendukung kepentingan pemerintah kolonial. diubah dan ditambah terakhir dengan Staatsblad 1949 Nomor 330. Hal tersebut tentu saja merupakan kemudahan di bidang keimigrasian karena membuka pintu selebar-lebarnya bagi pendatang dari berbagai negara demi kepentingan politik. Secara faktual harus diakui bahwa peningkatan arus lalu-lintas orang. pada tanggal 31 Maret 1992. Undang-undang tentang keimigrasian yang berjiwa nasional dilahirkan. sekaligus juga diberi izin menetap. ekonomi. hal. seperti Toelatingsbesluit Staatsblad 1916 Nomor 47 (Penetapan Izin Masuk/PIM). dan pertahanan pemerintah kolonial.

baik Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Peningkatan arus orang asing ke wilayah RI tentunya akan meningkatkan penerimaan uang yang dibelanjakan di Indonesia. Munculnya Transnational Organized Crimes (TOC). sampai ke perbuatan terorisme internasional. 2007. yang keluar. jasa. Dominasi perekonomian nasional oleh perusahaan transnasional yang bergabung dengan perusahaan Indonesia (melalui Penanaman Modal Asing dan/ atau Penanaman Modal Dalam Negeri. masuk. Namun peningkatan arus lalu-lintas barang. Dampak negatif ini akan semakin meluas ke pola kehidupan serta tatanan sosial budaya yang dapat berpengaruh pada aspek pemeliharaan keamanan dan ketahanan nasional secara makro. meningkatnya investasi yang dilakukan. narkotika. keimigrasian harus mempunyai peranan yang semakin besar. serta meningkatnya aktivitas perdagangan yang akan meningkatkan penerimaan devisa. pembelian saham atau kontrak lisensi). baik warga negara Indonesia maupun orang asing. Penetapan politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif (selective policy) membuat institusi imigrasi Indonesia memiliki landasan operasional dalam menolak atau mengizinkan orang asing. pencucian uang. mulai dari perdagangan wanita dan anak-anak. Untuk meminimalisasikan dampak negatif yang timbul akibat mobolitas manusia. seperti: a. informasi dan orang juga dapat mengandung pengaruh negative. imigran gelap.8 pertumbuhan ekonomi serta proses modernisasi masyarakat. dan tinggal di wilayah Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). b. dan obat terlarang. modal. USU Repository © 2009 .

maka dari itu penulis mengambil judul skripsi “Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut UndangUndang RI No. Memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat. b. peran penting aspek keimigrasian dalam tatanan kehidupan kenegaraan akan dapat terlihat dalam pengaturan keluar-masuk orang dari dan ke dalam wilayah Indonesia. dan negara Republik Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). maka perlulah kiranya penulis untuk membahas lebih jauh mengenai tindak pidana di bidang keimigrasian ini khususnya hal-hal yang berkaitan dengan penyalahgunaan izin keimigrasian. 2007. ditetapkan bahwa hanya orang asing yang: a. diizinkan masuk dan dibolehkan berada di wilayah Indonesia. dan negara Republik Indonesia. Dengan demikian. serta diberi izin tinggal sesuai dengan maksud dan tujuan kedatangannya di Indonesia. Tidak membahayakan keamanan dan ketertiban umum. serta c. hal. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian”. dan pemberian izin tinggal serta pengawasan terhadap orang asing selama berada di wilayah Indonesia. USU Repository © 2009 . bangsa. 6 Ibid. Berdasarkan politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif. Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan di atas. Tidak bermusuhan dengan rakyat. 4 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.9 dari segi masuknya. bangsa. keberadaannya. maupun kegiatannya di Indonesia 6.

10 B. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). maka dapat disimpulkan bahwa tujuan yang ingin dicapai melalui penulisan ini adalah sebagai berikut : 1) Untuk Mengetahui apa saja yang menjadi faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. Apa saja yang menjadi faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian? 2. maka perlu di rumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. Bagaimanakah peranan aparatur penegak hukum dalam penegakan hukum terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian? C. 2) Untuk mengetahui bagaiman upaya penganggulangan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. Tujuan Penulisan Berdasarkan identifikasi permasalahan yang telah penulis utarakan. Tujuan dan Manfaat Penulisan 1. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana di uraikan diatas. Bagaimana upaya penanggulangan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian? 3. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 .

masyarakat. Keaslian Penulisan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Manfaat Penulisan Selain tujuan-tujuan tersbut diatas. USU Repository © 2009 . dan juga aparat penegak hukum/pemerintah dalam menghadapi atau mengusut tuntas suatu peristiwa pidana terutama hal-hal yang berkaitan dengan tindakan yang menyalahgunakan izin keimigrasian. penulisan skripsi ini juga diharapkan bermanfaat untuk berbagai hal diantaranya: a. D. Manfaaat teoritis Pembahasan terhadap masalah-masalah dalam skripsi ini tentu akan menambah pemahaman kepada semua pihak baik masyarakat pada umumnya maupun para pihak yang berhubungan dengan dunia hukum pada khususnya. 2. Manfaaat praktis Dengan penulisan skripsi ini diharapkan dapat menjadi pedoman dan bahan rujukan bagi rekan mahasiswa. b.11 3) Untuk mengetahui dan meneliti lebih jauh bagaimana peranan aparatur penegak hukum dalam menanggulangi tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. praktisi hukum. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Skripsi ini juga diharapkan dapat memberikan masukan bagi penyempurnaan perangkat peraturan perundang-undangan terhadap tindak pidana yang terkait erat dengan izin keimigrasian ini. 2007.

E. Penegakan hukum pada hakekatnya merupakan penegakan ide-ide atau konsep-konsep yang abstrak itu. Skripsi juga didasarkan pada referensi dari buku-buku. Permasalahan maupun penyajiannya merupakan hasil dari pemikiran dan ide penulis sendiri. 2007. Oleh karena itu memberikan keadilan dalam suatu perkara berarti memutuskan perkara dengan menerapkan hukum dan menemukan hukum secara nyata dalam mempertahankan dan menjamin dipatuhinya hukum materiel Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian” belum pernah disajikan sebelumnya baik dalam bentuk tulisan maupun sub pembahasan permasalahan dalam suatu skripsi. Berdasarkan alasan tersebut di atas maka dapat disimpilkan bahwa skripsi adalah asli. Pengertian penegakan hukum Hukum adalah sarana yang di dalamnya terkandung nilai-nilai atau konsep-konsep tentang keadilan. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Tinjauan Kepustakaan 1. kebenaran. kemanfaatan sosial dan kandungan hukum ini bersifat abstrak. Penegakan hukum secara konkret merupakan berlakunya hukum positif dalam praktek sebagaimana seharusnya dipatuhi. informasi dari media cetak dan elektronik serta fakta yang diperoleh dai data berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh penulis.12 Sepanjang yang telah ditelusuri dan diketahui di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara bahwa penulisan skripsi tentang “Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang RI No.

(3) Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum. yaitu Soerjono Seokanto. Dapatlah dikatakan bahwa ketiga tahap kebijakan penegakan hukum pidana tersebut terkandung didalamnya tiga kekuasaan atau kewenangan. (2) Faktor penegak hukum. yaitu : a. yakni sebagai hasil karya. c. cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia dalam pergaulan hidup. 4-5. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Tahap Eksekusi. (Jakarta : Rajawali Press. USU Repository © 2009 7 . b. 7 Penegakan hukum khususnya hukum pidana apabila dilihat dari suatu proses kebijakan maka penegakan hukum pada hakekatnya merupakan penegakan kebijakan melalui beberapa tahap. 2007.13 dengan menggunakan cara prosedural yang ditetapkan oleh hukum formal. (5) Faktor kebudayaan. “Faktor-faktor yang mempengaruhi Penegakan Hukum”. Oleh karena itu keberhasilan penegakan hukum akan dipengaruhi oleh hal-hal tersebut. 1983). (4) Faktor masyarakat. Tahap Aplikasi. yaitu pihak-pihak yang membentuk maupun yang menerapkan hukum. Pada dasarnya ada 5 (lima) faktor yang mempengaruhi penegakan hukum. yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku dan diterapkan. hal. Tahap Formulasi. Penegakan hukum merupakan suatu proses yang melibatkan banyak hal. yaitu : (1) Faktor hukumnya sendiri.

Pada tahap pertama. 8 Penegakan hukum dalam negara dilakukan secara preventif dan represif. Pada tahap ini kebijakan legeslatif ditetapkan sistem pemidanaan. 9 Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah.14 kekuasaan Legislatif pada tahap formulasi. Sedangkan penegakan hukum represif dilakukan apabila usaha preventif telah dilakukan ternyata masih juga terdapat usaha pelanggaran hukum. Dalam hal ini hukum harus ditegakkan secara represif oleh alat-alat penegak hukum yang diberi tugas yustisionil. USU Repository © 2009 . 2005). dan Kejaksaan misalnya dengan tugas PAKEM-nya. (Yogyakarta. 9 Penegakan secara preventif diadakan untuk mencegah agar tidak dilakukan pelanggaran hukum oleh warga masyarakat dan tugas ini pada umumnya diberikan pada badan-badan eksekutif dan kepolisian. 30. pada hakekatnya sistem pemidanaan itu merupakan sistem kewenangan atau kekuasaan menjatuhkan pidana. melakukan penegakan hukum preventif. “Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan Hukum dan Pengembangan Hukum Pidana. 2007. Walaupun adakalanya dengan Undang-Undang. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Penegakan hukum represif pada tingkat operasional didukung dan melalui berbagai lembaga yang secara organisatoris terpisah satu dengan yang lainnya. 111. hal. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). “Politik Hukum Pidana”. Pustaka Pelajar. Yang kedua adalah kekuasaan Yudikatif pada tahap aplikasi dalam menerapkan hukum pidana. Citra Aditya Bakti. 2005). penegakan hukum represif 8 Barda Nawani Arief. dapat ditunjuk pula pengadilan seperti dalam yurisdiksi volunter. yaitu kekuasaan legeslatif dalam menetapkan atau merumuskan perbuatan apa yang dapat dipidana dan sanksi apa yang dapat dikenakan. hal. dan kekuasaan Eksekutif pada tahap Eksekusi dalam hal melaksanakan hukum pidana.” (Bandung : PT. namun tetap berada dalam kerangka penegakan hukum.

Husni. selama kurun waktu lebih dari empat Dasawarsa bangsa ini hidup dalam ketakutan. “Moral dan Keadilan Sebagai Landasan Penegakan Hukum Yang Responsif”. Penegasan ini bukanlah tidak beralasan. Hukum dibuat tanpa landasan moral dapat dipastikan tujuan hukum yang berkeadilan tidak mungkin akan terwujud. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Penegakan hukum yang berkeadilan sarat dengan landasan etis dan moral.15 diawali dari Lembaga Kepolisian. Penegakan hukum adalah proses yang tidak sederhana. USU Repository © 2009 10 . ketidakpastian hukum dan hidup dalam intimitas yang tidak sempurna antara sesamanya. 1. faktor moral sangat berperan dalam menentukan corak hukum suatu bangsa. karena di dalamnya terlibat subjek hukum yang mempersepsikan hukum menurut kepentingan masing-masing. Pidana a) Pengertian pidana Istilah “hukuman” yang merupakan istilah umum konvensional. 10 2. Apa yang sesungguhnya dialami tidak lain adalah pencabikan moral bangsa sebagai akibat dari kegagalan bangsa ini dalam menata manajemen Pemerintahannya yang berlandaskan hukum. Istilah tersebut tidak hanya M. dapat mempunyai arti yang luas dan berubah-ubah karena istilah itu dapat mempunyai arti dapat berkonotasi dengan bidang yang cukup luas. kemudian diteruskan ke Lembaga Pengadilan dan berakhir pada Lembaga Pemasyarakatan. 2007. berikutnya Kejaksaan. hal. (Jurnal Equality : 2006).

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2 – 4.16 sering digunakan dalam bidang hukum. Muladi dan Barda Nawawi Arif. Oleh karena “pidana” merupakan istilah yang lebih khusus. Sudarto. agama dan sebagainya. Roeslan Saleh : Pidana adalah reaksi atas delik. “Teori-teori dan Kebijakan Pidana”. USU Repository © 2009 11 . maka perlu ada pembatasan pengertian atau makna sentral yang dapat menunjukkan ciri-ciri atau sifat-sifat yang khas. SH : Yang dimaksud dengan pidana ialah penderitaan yang sengaja diberikan kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu. 2007. Prof. Dari definisi di atas dapatlah disimpulkan bahwa pidana mengandung unsur-unsur atau ciri-ciri sebagai berikut : 1) pidana itu pada hakekatnya merupakan suatu pengenaan penderitaan atau nestapa atau akibat-akibat lain yang tidak menyenangkan. 2. Prof. 1998) hal. berikut ini dikemukakan beberapa pendapat atau defenisi dari para sarjana sebagai berikut: 11 1. Cetakan Ke-2 (Bandung: Alumni. Untuk memberikan gambaran yang lebih luas. dan ini berwujud suatu nestapa yang dengan sengaja ditimpakan negara pada pembuat delik. moral. tetapi juga dalam istilah sehari-hari di bidang pendidikan.

34 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Soesilo. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentar Lengkap Pasal Demi Pasal (Bogor: Politeia. pidana pokok. pidana tambahan. USU Repository © 2009 12 . dibagi dalam dua jenis 12 : a. yaitu : 1) pencabutan hak-hak tertentu. 20 tahun 1946) b. 3) pidana itu dikenakan kepada seseorang yang telah melakukan tindak pidana menurut undang-undang. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). R. yaitu : 1) pidana mati 2) pidana penjara 3) pidana kurungan 4) pidana denda 5) pidana tutupan (ditambah berdasarkan UU No. 1988) hal. Menurut hukum pidana positif (KUHP dan di luar KUHP) Jenis pidana menurut KUHP. 2007. seperti terdapat dalam pasal 10. b) Jenis-jenis Pidana 1.17 2) pidana itu diberikan dengan sengaja oleh orang atau badan yang mempunyai kekuasaan (oleh yang berwenang). 2) perampasan barang-barang tertentu. 3) pengumuman putusan hakim.

misalnya : a. 1916 no. 741) yang sekarang telah diganti dengan Undang-undang No. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 1936 no. Dalam hal yang ke-2. Stb. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Hakim dapat mengenakan tindakan berupa (lihat Pasal 45 KUHP).18 Disamping jenis sanksi yang berupa pidana dalam hukum pidana positif dikenal juga sanksi yang berupa tindakan. anak tersebut dimasukkan dalam rumah pendidikan negara yang penyelenggaraannya diatur dalam Peraturan Pendidikan Paksa (Dwangopvoedingregeling. bergelandangan atau perbuatan asosial (Stb. 2007. 160). 7 Drt. bagi anak yang sebelum umur 16 tahun melakukan tidak pidana. walinya atau pemelihatanya atau 2) memerintahkan agar anak tersebut diserahkan kepada pemerintah. d. tindakan tata-tertib dalam hal tindak pidana ekonomi (Pasal 8 UU No. penempatan di tempat kerja Negara (Landswerkinrichting) bagi pengenggur yang malas bekerja dan tidak mempunyai mata pencaharian. 12 Tahun 1995 tentang Permasyarakatan. 1955) dapat berupa : 1) penempatan perusahaan si terhukukm di bawah pengampuan untuk selama waktu tertentu (3 tahun untuk kejahatan TPE dan 2 tahun untuk pelanggaran TPE). penempatan di rumah sakit jiwa bagi orang yang tidak dapat dipertanggungjawabkan karena jiwanya cacat dalam tubuhnya atau terganggu karena penyakit (lihat Pasal 44 ayat 2 KUHP). b. 1) mengembalikan kepada orang tuanya. c. USU Repository © 2009 . serta mengganggu ketertiban umum dengan melakukan pengemisan.

Pembagian jenis pidanannya sebagai berikut : a. Pasal 82. mulai Pasal 43 s. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). yang terdiri dari : a) pidana pengawasan. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. b) pidana permasyarakatan khusus (untuk yang melakukan tindak pidana karena kebiasaan). USU Repository © 2009 . 4) kewajiban mengerjakan apa yang dilakukan tanpa hak. 3) pembayaran sejumlah uang sebagai pencabutan keuntungan menurut taksiran yang diperoleh dari tindak pidana yang dilakukan. yang terdiri dari : a) pidana permasyarakatan istimewa (utuk yang melakukan tindak pidana karena terdorong oleh maksud yang patut dihormati). c) pidana permasyarakatan biasa (untuk yang melakukan tindak pidana karena kesempatan).d. Pidana pokok: 1) pidana mati 2) pidana permasyarakatan. dan melakukan jasa-jasa untuk memperbaiki akibat-akibat satu sama lain. Menurut Konsep Rancangan KUHP tahun 1972. 2007.19 2) pembayaran uang jaminan selama waktu tertentu. Ketentuan tentang “pidana” dalam konsep terdapat dalam Bab V. 2. semua atas biaya si terhukum sekedar Hakim tidak menentukan lain. 3) pidana pembimbingan.

: penutupan) usaha sebagian atau seluruhnya. Pengertian Keimigrasian Istilah imigrasi berasal dari bahasa Latin migratio yang artinya perpindahan orang dari suatu tempat atau negara menuju ke tempat negara lain. 3. 2) penempatan barang tertentu. e) penyitaan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana. b) penuntutan (sic. 3) pengumuman keputusan Hakim. yang terdiri dari : a) pidana perserikatan. 5) pengenaan kewajiban agama. d) pidana kerja bakti. b. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007. f) perbaikan akibat-akibat dari tindak pidana. USU Repository © 2009 . c) pidana latihan kerja. 4) pengenaan kewajiban ganti rugi.20 b) pidana penentuan tempat tinggal. 4) pidana perserikatan. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 6) pengenaan kewajiban adat. Pidana tambahan: 1) pencabutan hak tertentu. d) pembayaran uang jaminan yang jumlahnya ditentukan oleh Hakim. c) penempatan usaha di bawah pengawasan pemerintah untuk jangka waktu yang ditentukan oleh Hakim.

USU Repository © 2009 . Sedangkan menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1992 dalam pasal 1 butir 1 disebutkan: “Keimigrasian adalah hal ikhwal lalu lintas orang yang masuk atau keluar wilayah Negara Republik Indonesia dan pengawasan orang asing di wilayah Negara Republik Indonesia”. Penelitian yuridis – normatif merupakan penelitian yang dilakukan dan ditujukan pada Peraturan-peraturan tertulis atau bahan-bahan lain. atau merupakan rombongan misi kesenian atau olahraga. 2007.13 F. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Untuk menunjang pembahasan demi pembahasan masalah. penulis melakukan studi 13 Lihat Pasal 1 butir 1 Undang-undang no. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.21 Oxford Dictionary of Law juga memberikan defenisi sebagai berikut: “Immigration is the act of entering a country other than one’s native country with the intention of living there permanently”. orang asing yang bertamasya. Oleh karena itu. serta menelaah peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini. yakni untuk tinggal menetap dan mencari nafkah di suatu tempat baru. atau juga menjadi diplomat tidak dapat disebut sebagai seorang imigran. Jenis Penelitian Metode Penelitian yang digunakan untuk menjawab persoalan-persoalan dalam skripsi ini adalah menggunakan metode yuridis – normatif. atau mengunjungi suatu konferensi internasional. Dari defenisi ini dipahami bahwa perpindahan itu mempunyai maksud yang pasti. Metode Penelitian 1.

Data Primer yaitu data pokok yang diperoleh atau bersumber dari hasil penelitian langsung di lapangan 14. serta Pengadilan Negeri Medan untuk mendapatkan gambaran ataupun bahan akurat berkaitan dengan penulisan skripsi ini. berita dsb. “Pengantar Penelitian Hukum”. 2. Studi lapangan ini dilakukan melalui wawancara dengan 14 Soerjono Soekamto. 1984. UI-Press Jakarta. USU Repository © 2009 . hal. responden dari narasumber atau lembaga di tempat penelitian dilakukan yang berkaitan dengan permasalahan dalam penulisan skripsi ini. Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Medan dan sekitarnya. Lokasi penelitian Dalam hal peneltian yang berkaitan dengan bahan bacaan. 3. Sumber dan pengumpulan data Data-data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah bersumber dari : a. Kantor Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Medan Sekitarnya.). dilakukan di Perpustakaan Univesitas Sumatera Utara maupun yang di-download melalui internet ataupun situs-situs berkaitan dengan bahan-bahan yang sifatnya skunder (tulisan. 12 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Dalam hal penelitian lapangan penulis melakukannya di Kantor Imigrasi Polnia Medan. tesis.22 langsung untuk mendapatkan data-data seperti di Kantor Imigrasi Polnia Medan. skripsi. serta di Pengadilan Negeri Medan.

Data Skunder yaitu data-data yang diperoleh dari peraturan-peraturan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). majalah. artikel ataupun majalah-majalah serta data lain yang diperoleh melalui internet yang berhubungan dengan permasalahan dalam penulisan skripsi ini. 4. internet. Penelitian lapangan (Field Research) Yakni dengan melakukan penelitian langsung ke lapangan baik berupa wawancara langsung kepada pihak-pihak yang terkait dalam proses Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. b. Metode Pengumpulan Data Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut : a. USU Repository © 2009 .23 menggunakan pedoman wawancara (interview guide) kepada para informan. pendapat sarjana dan bahan-bahan kuliah lainnya yang berkaitan erat dengan pokok bahasan atau permasalahan dalam skripsi ini. Informan yang dipilih adalah mempunyai keterkaitan erat dengan pokok bahasan pada skripsi ini yaitu: 1) Petugas Keimigrasian Polonia Medan 2) Kepolisian kota Medan b. bukubuku literatur. 2007. Penelitian kepustakaan (Library Research) Yakni melakukan penelitian dengan berbagai sumber bacaan atau tulisan seperti: buku.

penulis menjabarkan materi ataupun isi dari skripsi ini menjadi lima bab dengan sistematika sebagai berikut : BAB I : Bab ini memuat latarbelakang. keaslian penulisan. Analisis Data Analisis data yang dilakukan dalam penulisan skripsi ini adalah dengan cara kualitatif.24 penyidikan kasus ini serta dengan memperoleh salinan data-data yang lebih lengkap dan menunjang pembahasan permasalahan yang disusun penulis. yaitu jawaban dari responden dan data-data yang diperoleh dilapangan diedit dan dianalisis sehingga diperoleh data yang dapat menjawab permasalahan demi permasalahan yang dikemukakan dalam skripsi ini. perumusan permasalahan. USU Repository © 2009 . baik itu mengenai keimigrasian dalam sistem hukum Indonesia dan nasional. tinjaun kepustakaan. BAB II : Bab ini menjelaskan tentang tinjauan umum mengenai keimigrasian. metode penulisan dan sistematika penulisan. BAB III : Bab ini nerupakan bab yang membahas bagaimana penegakan hukum terhadap tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). dan apa saja yang termasuk dalam jenis-jenis izin keimigrasian. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Sistematika Penulisan Untuk mempermudah penulisan atau penyajiannya. tujuan dan manfaat penulisan. 2007. G. 5.

Mdn. yaitu sebagai bab penutup yang berisi kesimpulan dan saran-saran mengenai permasalahan yang telah dibahas. B/2002/PN. BAB II Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007.25 BAB IV : Bab yang membahas Kasus dan Analisis Kasus Putusan No.2493/Pid. BAB V : Kesimpulan dan Saran Bab ini merupakan bab terakhir.

9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). namun baru pada tanggal 26 Januari 1950 Immigratie Dienst ditimbang terimakan dari H. Pada saat itu. USU Repository © 2009 .” Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Undang-undang No. terdapat badan pemerintah kolonial Belanda bernama Immigratie Dienst yang bertugas menangani masalah keimigrasian untuk seluruh kawasan Hindia Belanda. Breekland kepada Kepala Jawatan Imigrasi dari tangan Pemerintah Belanda ke tangan Pemerintah Indonesia. Keimigrasian Dalam Sistem Hukum Indonesia 1) Keimigrasian di Indonesia Di Indonesia pemeriksaan keimigrasian telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. yaitu perubahan dari politik hukum keimigrasian yang bersifat terbuka (open door policy) untuk kepentingan pemerintahan kolonial. dalam pasal 1 menyebutkan: “Keimigrasian adalah hal-ikwal lalu lintas orang yang masuk atau keluar wilayah Indonesia dan pengawasan orang asing di wilayah Republik Indonesia.26 TINJAUAN UMUM A. menjadi politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif didasarkan pada kepentingan nasional Indonesia. Sejak Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. tetapi yang lebih penting adalah peralihan tersebut merupakan titik mula dari era baru dalam politik hukum keimigrasian Indonesia. 2007.

Sementara itu kata ihwal diartikan hal. perihal. Berdasarkan hukum internasional pengaturan hal ini merupakan hak dan wewenang suatu negara serta merupakan salah satu perwujudan dan kedaulatan sebagai negara hukum yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 15 16 Kamus Besar Bahasa Indonesia. pengaturan lalu-lintas keluar masuk wilayah Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). peristiwa. hilir-mudik. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian terdapat dua unsur pengaturan yang penting. masuk.27 Dengan menggunakan pendekatan gramatikal (tata bahasa) dan pendekatan semantik (ilmu tentang arti kata). peristiwa. kejadian (sesuatu yang terjadi). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. hal-ihwal diartikan berbagai-bagai keadaan. dan tinggal dari dan ke dalam wilayah negara Republik Indonesia. bolak-balik. kata lalu-lintas diartikan sebagai hubungan antara suatu tempat dan tempat lain. yaitu: 1) Pengaturan tentang berbagai hal mengenai lalu-lintas orang keluar. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 15 Dengan demikian. USU Repository © 2009 . Jakarta: Balai Pustaka. 2007. kata hal diartikan sebagai keadaan. defenisi keimigrasian dapat kita jabarkan sebagai berikut: Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2001 Lihat Penjelasan Umum Undang-undang No. 16 Unsur pertama. kejadian. Dengan demikian. 2) Pengaturan tentang berbagai hal mengenai pengawasan orang asing di wilayah Republik Indonesia. menurut Undang-undang No.

atau tempat tertentu atau daratan lain yang ditetapkan Menteri Kehakiman sebagai tempat masuk atau keluar wilayah Indonesia (entry point). Bandar udara. yaitu di pelabuhan laut. 2007. pengaturan lalu-lintas keluar-masuk wilayah Indonesia ditetapkan harus melewati Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI). Pelanggaran atas ketentuan ini dikategorikan sebagai tindakan memasuki wilayah negara Indonesia secara tidak sah.28 1945. Dalam rangka ini “pengawasan” adalah keseluruhan proses kegiatan untuk mengontrol atau mengawasi apakah proses pelaksanaan tugas telah sesuai dengan rencana atau aturan yang telah ditentukan. dan keberadaan serta kegiatan orang asing di wilayah Iman Santoso. Selanjutnya. Undang-undang No. UI-Press Jakarta. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian tidak membedakan antara emigrasi dan imigrasi. 20 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. hal. USU Repository © 2009 17 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). merupakan tindakan yang dapt dipidana. Pengawasan orang asing meliputi masuk dan keluarnya orang asing ke dan dari wilayah Indonesia. “Persfektif Imigrasi dalam Pembangunan Ekonomi dan Ketahanan Nasional”. 2004. 17 Maka pengertian pengawasan orang asing adalah seluruh rangkaian kegiatan yang ditujukan untuk mengontrol apakah keluar-masuknya serta keberadaan orang asing di Indonesia telah atau tidak sesuai dengan ketentuan keimigrasian yang berlaku. Unsur kedua dari pengertian keimigrasian yaitu pengawasan orang asing di wilayah Indonesia. artinya setiap tindakan keluar-masuk wilayah tidak melalui TPI.

dapat dinyatakan juga bahwa pada hakikatnya keimigrasian merupakan: “suatu rangkaian kegiatan dalam pemberian pelayanan dan penegakan hukum serta pengamanan terhadap lalu lintas keluar masuknya setiap orang dari dank e dalam wilayah RI. Dimana konsep ini hendak menyatakan bahwa sistem keimigrasian. serta pengawasan terhadap keberadaan warga negara asing di wilayah Republik Indonesia. hal. Pengawasan orang asing sebagai suatu rangkaian kegiatan pada dasarnya telah dimulai dan dilakukan oleh perwakilan RI di luar negeri ketika menerima permohonan pengajuan visa. Pengawasan selanjutnya dilaksanakan oleh pejabat imigrasi di Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) ketika pejabat imigrasi dengan kewenangannya yang otonom memutuskan menolak atau memberikan izin tinggal yang sesuai dengan visa yang dimilikinya. 21 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . selanjutnya pengawasan beralih ke kantor imigrasi yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal waraga asing tersebut. baiak ditinjau dari budaya hukum 18 Ibid.29 Indonesia. Dari keseluruhan prosedur keimigrasin yang ditetapkan. maka secara operasional peran keimigrasian dapat diterjemahkan ke dalam konsep Trifungsi Imigrasi. 1) Fungsi Keimigrasian Dari uraian mengenai pengertian umum.”18 Dari pernyataan tersebut. perlu dipahami bahwa operasionalisasinya dilaksanakan berdasarkan politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif. 2007.

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. mekanisme hukum keimigrasian. materi hukum (peraturan hukum) keimigrasian. 2007. Fungsi pelayanan masyarakat Salah satu fungsi keimigrasian adalah fungsi penyelenggaraan pemerintahan atau administrasi negara yang mencerminkan aspek pelayanan. yaitu: dalam operasionalisasinya harus selau mengandung Trifungsi. USU Repository © 2009 . Kemudahan Khusus Keimigrasian (DAHSUSKIM). organisasi. Pelayanan bagi Warga Negara Indonesia terdiri dari: 1) Pemberian paspor/ pemberian Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP)/Pas lalu lintas Batas (PLB). aparatur. imigrasi dituntut untuk memberi pelayanan prima di bidang keimigrasian. baik kepada Warga negara Indonesia (WNI) atau Warga Negara Asing). sarana dan prasarana hukum keimigrasian. lembaga. a. Kartu Izin Tinggal Tetap (KITAP). Pemberian Dokumen Keimigrasian (DOKIM) berupa: Kartu Izin Tinggal Terbatas Keimigrasian (KITAS). dan 2) Pemberian Tanda bertolak/ masuk Pelayanan bagi Warga Negara Asing terdiri dari: 1.30 keimigrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Dari aspek itu.

DAHSUSKIM 4. 3. Penegakan hukum keimigrasian terhadap Warga Negara Indonesia (WNI). keseluruhan aturan hukum keimigrasian itu ditegakkan kepada setiap orang yang berada di dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia baik itu Warga Negara Indonesia (WNI) atau Warga Negara Indonesia (WNA). Keterlibatan dalam pelaksanaan aturan keimigrasian Penegakan hukum kepada Warga Negara Asing (WNA) ditujukan pada permasalahan: Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007. Visa Kunjungan Sosial Budaya (VKSB). Perpanjangan izin tinggal meliputi: Visa Kunjungan Wisata (VKM). Perpanjangan DOKIM meliputi KITAS.31 2. Izin Bertolak 5. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). b. Pemalsuan identitas 2. Pemberian Tanda Bertolak dan Masuk. ditujukan pada permasalahan: 1. Fungsi penegakan hukum Dalam Pelaksanaan tugas keimigrasian. Pertanggungjawaban sponsor 3. Visa Kunjungan Usaha (VKU). Kepemilikan paspor ganda 4. Pemberian Izin Masuk Kembali. KITAP.

Pemantauan/razia 6. Masuk secara ilegal atau berada secara ilegal 5. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007. penahanan. pemberkasan perkara. yaitu kewenangan penyidikan. penangkapan. Pendaftaran orang asing dan pemberian buku pengawasan orang asing 3. Sementara itu.32 1. Penyalahgunaan izin tinggal 4. Pemalsuan identitas Warga Negara Asing (WNA) 2. Fungsi keamanan Imigrasi berfungsi secara penjaga pintu gerbang negara. Dikatakan demikian karena imigrasi merupakan institusi pertama dan terakhir yang menyaring kedatangan dan keberangkatan orang asing ke dan dari wilayah Republik Indonesia. pemyitaan). penggeledahan. c. serta pengajuan berkas perkara ke penuntut umum. dalam hal penegakan hukum yang bersifat proyustisia. izin keimigrasian. pemeriksaan. Secara operasional fungsi penegakan hukum yang dilaksanakan oleh institusi Imigrasi Indonesia juga mencakup penolakan pemberian izin masuk. Semua itu merupakan bentuk penegakan hukum yang bersifat administratif. izin bertolak. dan tindakan keimigrasian. tercakup tugas penyidikan (pemanggilan. Pelaksanaan fungsi keamanan yang ditujukan kepada Warga Negara Indonesia dijabarkan melalui tindakan pencegahan ke luar negeri bagi Warga Negara Indonesia atas permintaan Menteri Keuangan dan Kejasksaan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Kerawanan keimigrasian secara geografis dalam pelintasan. USU Repository © 2009 .

maupun peraturan di bidang lalu-lintas orang dan barang yang dapat memfasilitasi pertumbuhan ekonomi. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Melakukan kerjasama dengan aparatur keamanan negara lainnya khususnya di dalam memberikan supervisi perihal penegakan hukum keimigrasian. Melaksanakan pencegahan dan penangkalan. Pelaksanaan fungsi keamanan yang ditujukan kepada Warga Negara Asing (WNA) adalah: 1. perdagangan. Khusus untuk Warga Negara Indonesia (WNI) tidak dapat dilakukan pencegahan karena alasan-alasan keimigrasian belaka. perlu menata atau mengubah peraturan perundangan. 2007. Perubahan itu diperlukan guna meningkatkan intensitas hubungan negara Republik Indonesia dengan dunia Internasional yang mempunyai dampak sangat Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.33 Agung. Melakukan seleksi terhadap setiap maksud kedatangan orang asing melalui pemeriksaan permohonan visa 2. Untuk mengantisipasinya. 3. Melakukan operasi intelijen keimigrasian bagi kepentingan keamanan negara 4. terutama di bidang perekonomian. USU Repository © 2009 . ketenagakerjaan. yaitu larangan bagi seseorang untuk meninggalkan wilayah Indonesia dalam jangka waktu tertentu dan/atau larangan untuk memasuki wilayah Indonesia dalam waktu tertentu. demi peningkatan kesejahteraan. transportasi. secara sinergi baik di bidang ekonomi. industri. harus diingat bahwa di era globalisasi aspek hubungan kemanusiaan yang selama ini bersifat nasional berkembang menjadi bersifat internasional.

2007. USU Repository © 2009 . Di dalam perkembangan Trifungsi Imigrasi dapat dikatakan mengalami suatu pergeseran bahwa pengertian fungsi keamanan dan penegakan hukum merupakan satu bagian yang tak terpisahkan karena penerapan penegakan hukum dibidang keimigrasian berarti sama atau identik dengan menciptakan kondisi keamanan yang kondusif atau sebaliknya 19. Yusril Ihza Mahendra selaku Menteri Kehakiman dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia. 20 19 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Tuntutan perubahan Trifungsi Imigrasi dipertegas oleh pernyataan Prof. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Dr.34 besar pada pelaksanaan fungsi dan tugas keimigrasian serta menghindari adanya tumpang tindih peraturan. hal. Di dalam rangka memelihara kondisi keamanan yang kondusif secara otomatis fungsi penegakan hukum keimigrasian harus dilakasanakan secara terus-menerus dan konsekuen. yang menyatakan: 20 “Trifungsi Imigrasi yang merupakan ideologi atau pandangan hidup bagi setiap kebijakan dan pelayanan keimigrasian harus diubah karena tutntutan zaman. Yusril Ihza Mahendra. semula menggunakan pendekatan kewilayahan (territory) yang hanya meliputi keamanan nasional (national security) berubah menjadi pendekatan yang komprehensif selain keamanan nasioanal juga keamanan warga masyarakat (human security) dengan menggunakan pendekatan Ibid. Dr. Paradigma konsepsi keamanan saat ini mulai bergeser. 24 Prof. Sedangkan fungsi baru yaitu sebagai fasilisator pembagunan ekonomi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan fungsi keimigrasian lainnya. Hal ini terlihat ketika jasa keimigrasian telah menjadi bagian dari infrastruktur perekomian. dalam sambutan tertulis pada upacara Hari Bhakti Imigrasi ke-52 tanggal 26 Januari 2002.

dan fasilisator pembangunan ekonomi”. penegak hukum. paradigma baru melihat bahwa keimigrasian itu bersifat multidimensional. penengak hukum. Di satu sisi. Bidang Politik Ada berbagai pendapat yang menyatakan di mana sebenarnya fungsi keimigrasian itu berada. Hal itu dapat dijelaskan dalam uraian sebagai berikut: a. 3. dan dapat memberikan perlindungan kepada masyarakat. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Mendukung konsepsi tersebut. saya memberi pesan agar insane imigrasi mengubah cara pandang mengenai konsep keamanan yang semula hanya sebagai alat kekuasaan. hukum keimigrasian sering disertai dengan sanksi pidana Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. mampu melaksanakan penegakan hukum. 2007. dan sekuriti. agar menjadi apratur yang dapat memberikan kepastian hukum. Ruang Lingkup Fungsi Keimigrasian Paradigma lama hanya melihat esensi keimigrasian sebatas hal-ihwal orang asing. sebagai bagian dari sistem hukum administrasi negara.35 hukum. sudah waktunya kita membuka cakrawala berpikir yang semula hanya dalam cara pandang ke dalam (inward looking) menjadi cara pandang ke luar (outward looking) dan mulai mencoba untuk mengubah paradigma Trifungsi Imigrasi yang pada mulanya sebagai pelayan masyarakat. sehingga muncul pendapat seolah-olah masalah keimigrasian sebatas masalah yang berporos pada atau paling tidak bertalian dengan negara asing. Bertitik tolak dari berbagai tantangan itu. USU Repository © 2009 . Sebaliknya. Hal ini lebih disebabkan karena dunia telah menjadi semakin kecil dan bahwa subjek masalah keimigrasian adalah manusia yang bersifat dinamis. agar diubah menjadi Trifungsi Imigrasi baru yaitu sebagai pelayan masyarakat. baik itu dalam tatanan nasional maupun internasional.

USU Repository © 2009 . agama. disisi lain hak seseorang untuk melintasi batas negara dan bertempat tinggal di suatu negara dilihat sebagai hak asasi manusia. Berbagai konvensi internasional. hukum keimigrasian juga mengatur kewarganegaraan seseorang. kedaulatan negara penerima juga tidak dapat di abaikan. Di Bidang politik sering fungsi keimigrasian ditempatkan pada hubungan hubungan internasional. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Pada kesempatan ini sering hukum keimigrasian digunakan untuk melindungi kepentingan politik suatu negara. Berbagai pendapat tersebut ada benarnya karena segalanya bergantung pada cara memandang fungsi keimigrasian itu. b. Di sisi lain. Seorang assign dapat bertempat tinggal di suatu negara tanpa mengikuti ketentuan umum mengenai keimigrasian. Hal itu terkait dalam Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. seperti yang menyangkut masalah sentimen ras.36 yang kadangkala terasa janggal. Meskipun demikian. Bidang Ekonomi Di bidang ekonomi tampak jelas sekali keterkaitan fungsi imigrasi dalam rangka melaksanakan politik perekonomian suatu negara. serta faktor lain yang berkaitan dengan komposisi atau struktur kependudukan di dalam suatu negara. Pencari Suaka politik(asylum seekers) akan mendapatkan hak-hak hidupnya dan perlindungan atas dirinya di negara terakhir ia berada. Di samping itu hukum keimigrasian mempunyai kaitan yang sangat erat dengan hubungan internasional. seperti United Nations Convention 1951 Concerning of Refugees Status (selanjutnya disebut konvensi PBB Tahun 1951) menyebutkan hak-hak seorang pengungsi serta kewajiban negara penerima. 2007. Itu berarti bahwa ia mendapatkan suatu perlakuan khusus di bidang keimigrasian.

termasuk pembatasan yang diberlakukan terhadap seorang asing untuk meperoleh izin masuk atau tinggal di suatui negara baik sebagai pencari kerja maupun investor. izin tinggal tetap) merupakan bagian dari infrastruktur perekonomian. USU Repository © 2009 . izin kunjungan. Sektor peronomian membutuhkan jas infrastruktur lain. jasa fasilitas pengelolaan sumber daya alam dan manusia serta jasa fasilitas perbankan. Di dalam kaitan ini sangatlah jelas bahwa jasa keimigrsian di suatu negara merupakan bagaian yang tidak dapat dipisahkan dari kepentingan ekonominya. Begitu pula dengan aspek pengawasan orang asing. Maka. Sebagai infrastruktur perekonomian. sudah dapat dipastikan bahwa kini jasa fasilitas keimigrasian merupakan bagian dari infrastruktur perekonomian. jasa fasilitas komunikasi. pembentukan pola-pola keimigrasian dengan alasan perekonomian dalam memberikan izin masuk dan bertempat Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.37 kerangka pertumbuhan dan perkembangan perekonomian global yang ditandai dengan peningkatan arus investasi sehingga menciptakan lapangan kerja. 2007. serta bermacam-macam izin tinggal (izin singgah. yang dimaksudkan untuk merlindungi warga negaranya dari sisi perekonomian dalam menghadapi persaingan hidup.. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). izin tinggal terbatas. izin masuk beberapa kali perjalanan (multiple re-entry permit). ke mana investasi ditanamke sana pula arus manusia mengikutinya. seperti jasa fasilitas tranportasi . dan akan meningkatkan arus manusia ke kawasan tersebut. Pemberian fasilitas jasa keimigrasian. atau dengan kata lain. seperti pemberian izin masuk. izin masuk kembali (re-entry permit). mengalirkan teknologi baru.

38

tinggal bagi warga negara asing ke negaranya, tentu saja memliki persyaratan yang ketat dan menguntungkan negara tersebut. Begitu pula negara yang termasuk dalam kategori migrant country. Sebagai contoh, Australia, dengan alasan perekonomian, mensyaratkan bahwa orang asing yang mengajukan permohonan untuk masuk dan bertempat tinggal disana harus memiliki rumah dan dana dalam jumlah tertentu sebagai modal kerja yang ditanam dalam suatu perusahaan. Kemudian, kinerja perusahaan akan dinilai setiap tahun sebelum pihak imigrasi Australia memutuskan untuk memberikan izin tinggal tetap bagi orang asing tersebut. c. Bidang Sosial Budaya Pergerakan dan perpindahan manusia sebagai individu atau kelompok akan mempunyai dampak, baik yang bersifat positif maupun negatif pada individu atau kelompok penerima. Pengaruh sosial dan budaya terjadi karena ada interaksi diantara mereka, baik di lingkungan pendatang maupun penerima. Negara berkepentingan, melalui fungsi keimigrasian, untuk tetap menjaga kondisi sosial dan budaya yang ada di dalam masyarakat agar pengaruh dari luar tidak merusak struktur sosial budaya masyarakatnya. Fungsi keimigrasian, melalui kebijakan yang diberlakukan oleh pemerintah, harus mampu menyaring serta mengatur halhal dimaksud diatas. Sebagai contoh, terjadinya peningkatan jumlah pengungsi Afghanistan yang masuk ke Indonesia beberapa waktu yang lalu, sedikit banyak telah mempengaruhi kondisi sosial dan budaya penduduk Indonesia yang tinggal di
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

39

sekitar tempat penampungan orang Afghanistan tersebut. Berbagai hal dapat terjadi, misalnya konflik sosial, perkawinan antara pengungsi dan penduduk lokal yang berdampak pada status kewarganegaraan anak mereka, serta pertikaian akibat kecemburuan sosial dari suatu kelompok kepada kelompok lain. Sekalipun tempat penampungan pengungsi tersebut diklelola oleh International

Organization for Migration (IOM), keberadaan dan kegiatan orang-orang Afghanistan itu terus diawasi imigrasi setempat. Satu kasus pernah diungkap oleh Direktorat Jendral Imigrasi ketika warga Afghanistan pemegang status pengungsi tertangkap tangan dalam sebuah operasi pengawasan keimigrasian ketika bekerja sebagai gigolo atau pria tuna susila. d. Bidang Keamanan Permasalahan yang timbul dan berkaitan dengan aspek politis, ekonomis, sosial, dan budaya pada masyarakat akan sangat berpengaruh pada stabilitas keamanan negara tersebut. Fungsi keimigrasian yang mengatur serta mengawasi keberadaan orang di negara tersebut akan memiliki peran yang signifikan. Secara universal imigrasi dijadikan sebagai penjuru (vocal point). Kebijakan yang salah atau tidak tepat di dalam menangani masalah ini akan mempunyai dampak yang sangat besar pada bidang lain. Sebagai contoh, kebijakan keimigrasian untuk mengatasi kejahatan terorganisasi lintas negara, harus dapat menjangkau juga bidang lain seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya, baik yang berskala nasional, regional, maupun internasional. Oleh karena itu, kebijakan keimigrasian mempunyai keterkaitan substansial yang berdampak beruntun (multiplier effect).
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

40

Contoh lainnya setelah terjadi insiden pemboman di Bali pada tanggal 12 November 2002 tengah malam. Pada esok harinya telah terjadi suatu evakuasi korban dan eksodus para wisatawan asing meninggalkan Bali secara besar-besaran ke Australia dengan menggunakan penerbangan pesawat tambahan. Pada saat itu imigrasi Indonesia telah menetapkan suatu kebijakan dalam keadaan force mayeur untuk mengizinkan dokumen (paspor kebangsaan) karena kebanyakan dari mereka telah kehilangan paspor. Namun demikian dari segi keamanan, petugas imigrasi melakukan pencatatan (fotokopi) dokumen yang ada dan pengambilan gambar diri (potret) secara langsung bagi mereka yang tidak memiliki dokumen keimigrasian. Hal ini dimaksud sebagi tindakan antisipatif sekiranya diantara mereka terdapat pelaku pengeboman yang hendak melarikan diri. e. Bidang Kependudukan Demikian pula kependudukan yang merupakan salah satu gatra di dalam konsep ketahanan nasional. Kependudukan merupakan aset bangsa. Struktur dan komposisi penduduk negara memiliki hubungan yang sangat erat dengan kondisi politis, ekonomis, sosial, budaya, serta keamanan nasional. Isu SARA sering menjadi pemicu stabilitas keamanan yang akan berkaitan erat atau berdampak pada situasi perekonomian baik perekonomian wilayah maupun nasional. Bahkan, lebih luas daripada itu, isu SARA dapat berpengaruh pada situasi perekonomian dan keamanan secara regional ataupun internasional. Di sini tampak secara jelas bahwa fungsi keimigrasian di berbagai lini kehidupan, walaupun pengaruhnya tidak begitu signifikan, terlihat keterkaitannya.
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

Izin Tinggal Tetap. c. B. (2) Izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dilakukan oleh pihak imigrasi. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian. Hal ini memang tepat karena sejak kedatangan orang asing pada saat pertam kali sampai ia mempunyai hak menurut ketentuan yang berlaku untuk mengajukan perwarganegaraan seluruh catatan keberadaan orang tersebut ada pada pihak imigrasi. d. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Izin Singgah. masalah naturalisasi atau pewarganegaraan. Izin singgah diberikan kepada orang asing pemegang visa singgah yang telah memperoleh izin masuk dan orang asing pemegang visa singgah saat kedatangan yang telah memperoleh izin masuk. terdiri atas: a. 21 Lihat pasal 24 Undang-undang no. Izin Kunjungan. Jenis-Jenis Izin Keimigrasian Dalam pasal 24 Undang-undang no. Izin Tinggal Terbatas. Di Amerika Serikat. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007.” a) Izin Singgah Izin singgah diberikan untuk orang asing yang memerlukan singgah di wilayah Indonesia guna dapat meneruskan perjalanan ke negara lain atau kembali ke negara asal. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian disebutkan: 21 “(1) setiap orang yang berada di wilayah Indonesia wajib memiliki izin keimigrasian.41 Dibeberapa negara seperti Brunei Darussalam dan Singapura. b. fungsi keimigrasian juga disatukan dengan fungsi pelaksanaan registrasi kependudukan. USU Repository © 2009 .

2007. Tugas pemerintahan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.42 Izin singgah diberikan untuk jangka waktu 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan tidak dapat diperpanjang. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Memliki surat perjalanan (paspor) yang sah dan masih berlaku minimal 6 (enam) bulan. Adapun persyaratan untuk memperoleh izin singgah adalah: 1. dan orang asing pemegang visa kunjungan. Memiliki visa singgah dan telah memperoleh izin masuk. Memiliki trough ticket atau return ticket yang masih berlaku 3. sakit dan lain sebagainya dapat diberikan batas waktu izin untuk tetap singgah oleh kepala kantor inigrasi dengan setiap kali pemberian 14 (empat belas) hari sampai paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk. b) Izin Kunjungan Izin kunjungan diberikan oleh pejabat imigrasi di tempat pemeriksaan imigrasi kepada orang asing mancanegara yang dibebaskan keharusan memiliki visa kunjungan. Izin kunjungan diberikan dalam rangka: 1. Tidak termasuk dalam daftar pencegahan/penagkalan 4. USU Repository © 2009 . 2. Dalam hal jangka waktu 14 (empatbelas) hari izin singgah terlampaui oarng asing belum dapat melanjutkan perjalanan karena suatu keadaan memaksa diluar kemampuannya atau keadaan darurat seperti kerusakan alat angkutm cuaca buruk.

kegiatan sosial budaya atau usaha diberikan selama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan dapat diperpanjang paling banyak 5 (lima) kali berturut-turut. USU Repository © 2009 . Izin kunjungan ex visa kunjungan saat kedatangan diberikan selam 30 (tiga puluh) hari dan tidak dapat diperpanjang 4. 3. Kepariwisataan Izin kunjungan diberikan untuk jangka waktu: 1. Pemintaan perpanjangan ijin kunjungan diajukan oleh orang asing kuasanya atau sponsornya kepada kepala kantor imigrasi yang di wilayah kerjanya meliput i tempat tinggal pemohon. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2. 2007.43 2. 5. Kegiatan sosial budaya 4. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Izin kunjungan untuk keperluan pariwisata diberikan selama 60 (enam) puluh hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan tidak dapat diperpanjang. Usaha 3. untuk setiap kali perpanjangan selama 30 (tiga puluh) hari . Izin kunjungan ex bebas visa kunjungan singkat diberikan selama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan tidak dapat diperpanjang. Izin kunjungan untuk keperluan tugas pemerintahan tugas pemerintahan. Izin kunjungan ex visa kunjungan diplomatik (dinas) diberikan sesuai dengan visanya.

c) Izin Tinggal Terbatas Izin tinggal terbatas diberikan kepada: 1) Orang asing pemegang izin masuk dengan visa tinggal terbatas 2) Anak yang lahir dan berada di wilayah Indonesia yang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum kawin dari orang tua pemegang izin tinggal terbatas. Memiliki through ticket atau return ticket yang masih berlaku 3. Memliki surat perjalanan (paspor) yang sah dan masih berlaku minimal 6 (enam) bulan 2. kecuali yang dibebaskan dari keharusan memiliki visa dan telah memperoleh izin masuk. Lihat Pasal 1 ayat (2) huruf e Peraturan Pemerintah RI no. Izin masuk. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. dan Izin Keimigrasian.44 Persayaratan untuk memperoleh izin kunjungan adalah: 1. 32 tahun 1994 tentang Visa. 3) Anak yang lahir dan berada di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum kawin dari ibu warga negara Indonesia dan ayahnya tidak memiliki ijin tinggal terbatas 4) Orang asing yang mendapat alih status izin kunjungan menjadi izin tinggal terbatas. Visa tinggal terbatas diberikan kepada mereka yang bermaksud untuk: 22 1) Menanamkan modal. USU Repository © 2009 22 . Memiliki visa kunjungan. Tidak termasuk dalam daftar pencegahan/penangkalan 4.

angka 3. angka 2. 7) Repatriasi. 3) Malaksanakan tugas sebagai rohaniwan.45 2) Bekerja. C. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . dan angak 4. 5) Menggabungkan diri dengan suami dan atau orang tua bagi isteri dan atau anak sah dari seorang Warga Negara Indonesia. 6) Menggabungkan diri dengan suami dan atau orang tua bagi istri dan anak-anak sah di bawah umur dari Orang Asing sebagaimana dimaksud dalam huruf e angka 1. Perpanjangan izin tinggal tetap diajukan paling lama 60 (enam puluh) hari sebelum izin tinggal tetap berakhir. Hukum Keimigrasian Indonesia Dalam Sistem Hukum Nasional Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. d) Izin Tinggal Tetap Izin tingal tetap diberikan kepada orang asing untuk tinggal menetap di Indonesia. 4) Mengikuti pendidikan dan latihan atau melakukan penelitian ilmiah. 2007. Dalam hal izin tinggal tetap berakhir sedangkan keputusan Direktur jenderal Imigrasi yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal orang asing yang bersangkutan dapat memberikan perpanjangan sementara izin tinggal tetap paling lama (90) hari terhitung sejak izin tinggal tetap berakhir.

. 2007. “Persoalan Praktis Filsafat Hukum dalam Himpunan Distingsi”. cit. USU Repository © 2009 23 . Ridwan Halim . Hal itu terlihat dari fungsi keimigrasian yang dilaksanakannya. hal.46 Dalam ilmu hukum terdapat beberapa ilmu hukum positif sebagai induk. Flora Liman Mangestu. hukum keimigrasian adalah bagian dari ilmu hukum kenegaraan. keimigrasian dapat dilihat dalam persfektif hukum administrasi negara. ilmu hukum kenegaraan. dan hukum keimigrasian. bukan pembentuk undang-undang (wetgever) dan bukan juga fungsi peradilan (rechtspraak). Jika dikaitkan dengan ilmu hukum yang menjadi induknya. hukum pajak. masalah keimigrasian justru merupakan sebagian kebijakan oragan administrasi negara yang melaksanakan kegiatan pemerintahan (administrasi negara). seperti hukum administrasi negara. kewenangan imigrasi untuk menangkal dan mencegah orang yang hendak masuk atau keluar wilayah Indonesia. yaitu fungsi penyelenggara pemerintahan atau administrasi negara (bestuur) dan pelayanan masyarakat (publiek dienst). 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Sesungguhnya. 24 Iman Santoso. khususnya merupakan cabang ilmu dari hukum administrasi negara 24. 22. hukum lingkungan. Contoh. Sejalan dengan perkembangan zaman. hlm. A. Jakarta: UKI. 39 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 1992. Kebijakan yang dimaksud adalah gambaran dari perbuatan hukum pemerintah (overheads handeling). yaitu ilmu hukum kepidanaan. ilmu hukum keperdataan. dan ilmu hukum internasional 23. Dengan demikian. Op. telah tumbuh pula berbagai cabang ilmu hukum sebagai disiplin hukum baru. hukum agrarian. hukum ekonomi.

1987. 15 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. yang secara khusus terbagi menurut fungsi pengaturannya. hukum objek immaterial. Bidang hukum formil 1) Hukum tata negara formil atau hukum acara tata negara 2) Hukum administrasi negara formil atau hukum acara administrasi negara 3) Hukum perdata formil atau hukum acara perdata 4) Hukum pidana formil atau hukum acara pidana c. hukum waris. hukum keluarga. dan hukum penyelewengan perdata dan sikap tindak lain 3) Hukum pidana b. hukum perjanjian. 2007. hukum benda. Jakarta: Rajawali. khusus mengatur penyelesaian perkara yang mengandung pertemuan antara dua atau lebih sistem hukum (HATAH intern dan HATAH ekstern). Bidang Hukum Hubungan Antar Tata Hukum (HATAH). Pembidangan hukum tersebut dalam praktiknya dapat dijabarkan sebagai berikut: 25 a. serta Purmadi Purbacaraka. hal. terdiri atas: 1) Hukum negara yang mencakup: hukum tata negara. dan hukum administrasi negara 2) Hukum perdata yang mencakup: hukum pribadi. “Penggarapan Disiplin Hukum dan Filsafat Hukum bagi Pendidikan Hukum”. pemyelenggaraan keluar-masuk orang dari dan ke dalan wilayah Indonesia. USU Repository © 2009 25 . Bidang hukum materil.47 Dalam ilmu pengetahuan hukum dikenal istilah pembidangan hukum. Luas lingkup keimigrasian tidak lagi hanya mencakup pengaturan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

yaitu fungsi administrasi negara dan pemerintahan. mengatur tata cara melindungi masyarakat da ri pelanggaran hak warga negara ataupun dari bahaya yang ditimbukan atau berkaitan dengan orang asing. penyidikan atas dugaan terjadinya tindak pidana keimigrasian. pemberian izin masuk ke dalam negeri. Hukum administrasi negara mengatur tata cara menjalankan pemerintahan atau administrasi negara serta mengatur hubungan antara aparatur administrasi negara dan masyarakat yang mencakup dua hal pokok. Maka. Jakarta.cit. Pertama. 7 27 26 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 41 Bagir Manan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Berhubung hukum keimigrasian harus mengikuti dan tunduk pada asasasas dan kaidah hukum administrasi negara umum (algemene administratiefrecht).48 pengawasan orang asing yang berada di wilayah Indonesia. tetapi telah bertalian juga dengan pencegahan orang keluar wilayah Indonesia dan penangkalan orang masuk wilayah Indonesia demi kepentingan umum. seperti tata cara bepergian ke luar negeri. hal. Iman Santoso. serta pengaturan prosedur keimigrasian dan mekanisme pemberian izin keimigrasian. Op. 14 Januari 2000. “Hukum Keimigrasian dalam Sistem Hukum Nasional”. disampaikan dalam Rapat Kerja Nasional Keimigrasian. mengatur tata cara administrasi negara (diperkenankan atau diwajibkan) yang mencampuri kehidupan masyarakat. USU Repository © 2009 . dapat dikatakan bahwa fungsi keimigrasian merupakan fungsi penyelenggaraan administrasi negara atau penyelenggaraan administrasi pemerintahan (besturr) 26. dan izin bertempat tinggal di Indonesia. Oleh karena itu. Kedua. maka Hukum Keimigrasian dapat dikatakan merupakan bagian dari bidang hukum administrasi negara 27. 2007. sebagai bagian dari penyelenggaraan kekuasaan eksekutif. hlm.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). asas legalitas. 9 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. hal. asas-asas umum penyelengaraan administrasi yang baik (general principles of good administration) yang mencakup asas persamaan perlakuan. USU Repository © 2009 . 28 28 Ibid. disertai ganti rugi. sebab tindakan atau keputusan yang bertentangan dengan asas legalitas dapat mengakibatkan tindakan atau keputusan yang bersangkutan batal demi hukum. Setiap keputusan yang bertentangan dengan asas penyelenggaraan pemerintahan yang baik dapat dijadikan dasar tuntutan atau pembatalan. 2007. asas larangan melampaui wewenang. Oleh karena itu setiap tindakan yang bertentangan dengan asas penyelenggaraan pemerintahan yang baik dapat dijadikan dasar tuntutan bagi koreksi dan pelaksanaan kewajiban hukum apratur keimigrasian atau ganti rugi apabila sudah tidak mungkin lagi dipulihkan. 2. asas motivasi yang benar.49 terdapat dua asas umum yang harus diterapkan dalam setiap implementasi peran keimigrasian. yaitu: 1. asas kepastian hukum. asas keseimbangan. ukuran tata cara melakukan tindakan atau membuat keputusan. dan asas keterbukaan. ukuran isi tindakan atau isi keputusan. asas dapat dipercaya. yaitu setiap tindakan pejabat administrasi negara dilaksanakan menurut ukuran hukum yang berlaku mencakup ukuran kewenangan. asas tidak sewenang-wenang.

Demikian pula dengan pemberian izin keimigrasian. juga diberikan kepastian mengenai subjek dan objek hukum dalam setiap kegiatan ekonomi. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). terbentuklah bidang hukum baru yang disebut hukum ekonomi dalam arti sempit. KITAS ini merupakan produk administrasi negara yang berasal dari kaidah keimigrasian. sebab melalui hukum. dapat dikatakan bahwa hukum keimigrasian merupakan bagian dari hukum ekonomi. selain ditetapkan hak dan kewajiban. aktivitas perdagangan. USU Repository © 2009 . Karena semakin banyak peraturan yang mengatur bidang perekonomian dengan menggunakan kaidah hukum administrasi negara ini.50 Dalam perspektif yang lebih besar lagi. 2007. seperti izin kunjungan. Dalam perspektif pembangunan nasional. serta kelembagaan dari setiap kegiatan interaksi ekonomi. hukum mempunyai peranan yang penting bagi keberhasilan pembangunan ekonomi. ataupun tetap. proses. yang dikaitkan dengan investasi pekerjaan. izin tinggal terbatas. dan pembicaraan traksaksi bisnis. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Hal yang membuktikan bahwa kaidah hukum keimigrasian merupakan bagian dari hukum ekonomi dalam arti sempit adalah ketika kepemilikan hak orang asing atas satuan rumah susun (apartemen dan kondominium) di Indonesia hanya diberikan apabila orang asing tersebut adalah pemegang KITAS (Kartu Izin Tinggal Terbatas). yang diberi nama droit economique.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian 1. Hukum Kewarganegaraan dan Keimigrasian Indonesia. 2007. 74. 29 Pasal 2 sampai 9 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) mengatur mengenai batas-batas berlakunya perundang-undangan hokum pidana menurut Koerniatmanto Soetoprawiro.51 BAB III PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PENYALAHGUNAAN IZIN KEIMIGRASIAN A. Indonesia merasa perlu untuk mengatur permasalahan orang asing yang berada di Indonesia. 1996. yaitu warga Negara Indonesia (WNI) dan orang asing atau warga negara asing (WNA). Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 29 . Gramedia Jakarta. Visa sebagai izin masuk Penduduk Indonesia pada hakikatnya terdiri atas dua golongan. Ketentuan Keberadaan Warga Negara Asing (WNA) di Indonesia Menurut Undang-undang RI No. Oleh karena itu. hal. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

2000. 31 30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. hal. Jakarta. Lihat Pasal 6 ayat (1) Undang-undang RI No. Jakarta. dimana saja. Buku Petunjuk Keimigrasian RI Bagian I Visa Izin Tinggal. Departemen Kehakiman RI. 1983. USU Repository © 2009 . yaitu: 30 1. Tugas Pokok dan Fungsi Direktorat Jendral Imigrasi. ada dua kemungkinan pendirian. hal. 2007. dalam pasal 6 ayat 1 disebutkan bahwa “setiap orang asing yang masuk wilayah Indonesia wajib membawa Visa”. 2. juga diluar wilayah negara (asas personal atau juga dinamakan prinsip nasional aktif).52 tempat terjadinya perbuatan. 2. Ditinjau dari sudut negara. Perundang-undangan hukum pidana berlaku bagi semua perbuatan pidana yang terjadi dalam wilayah negara. 33 Direktorat Jendral Imigrasi. hal. Perundang-undangan hukum pidana berlaku bagi semua perbuatan pidana yang dilakukan oleh waraga negara. 38. Rineka Cipta. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 10. Jakarta. baik dilakukan oleh warga negaranya sendiri maupun oleh negara asing (asas teritorial). 1982. Asas-asas Hukum Pidana. 31 Oleh karena itu setiap orang asing yang masuk wilayah Indonesia wajib memiliki visa. antara lain: Menurut Hadi Kiswanto:32 “Visa adalah izin tertulisuntuk masuk ke suatu negara yang tercantum dalam surat perjalanan”. Sesuai dengan ketentuan ketentuan Undang-undang RI Nomor 9 tahun 1992 tentang keimigrasian. ada beberapa pengertian visa yang dapat dikemukakan. 32 Hadi Kiswanto. Di dalam Buku Petunjuk Keimigrasian Republik Indonesia Bagian I Visa dan Izin Tinggal disebutkan: 33 Moeljatno.

04 Tahun 1981 yang menyatakan sebagai berikut: “Tugas Pokok Direktorat Jendral Imigrasi adalah mengtaur dan mengawasi lalu lintas antar Republik Indonesia dengan negara lain serta menyelenggarakan pengawasan orang asing dalam wilayah negara 34 WJS Poerwadarninta.” 35 Maksud dan tujuan pemberian visa menurut petunjuk Pusdiklat Departemen Kehakiman Republik Indonesia yaitu untuk dapt mengendalikan serta mengawasi lalu lintas orang asing yang keluar nasuk (ke dan dari) wilayah Indonesia. PR. 1986. Jakarta. Hal ini sejalan dengan tugas pokok Direktorat Jendaral Imigrasi yang tertuang dalam keputusan Menteri Kehakiman RI No.29. Lihat Pasal 1 butir 7 Undang-Undang RI No. WJS Poerwadarnita. dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan: 34 “Visa adalah izin untuk keluar atau masuk ke sesuatu negara. 2007. 142. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian menyebutkan: “Visa adalah izin tertulis yang diberikan oleh pejabat yang berwenang pada Perwakilan Republik Indonesia atau di tempat lainnya yang ditetapkan olah Pemerintah Republik Indonesia yang memuat persetujuan bagi orang asing untuk masuk dan melakukan perjalanan ke wilayah Indonesia. M. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). hal.” Sedangkan menurut Undang-undang RI No. Balai Pustaka. 35 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.53 “Visa adalah izin tertulis yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang di dalam papor kebangsaan yang menyatakan bahwa yang bersangkutan dapat mengadakan perjalanan ke negara yang dituju”. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 07. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian.

9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Visa ini diberikan kepada orang asing yang maksud dan tujuan kedatangannya di Indonesia tidak menimbulkan gangguan terhadap ketertiban dan keamanan nasional.” 36 Menurut Undang-undang No. 32 Tahun 1994 tentang Visa. Beberapa Pedoman dan Ketentuan Tentang Imigrasi dan Ketatalaksanaan: Bahan Penataran Administrasi Apratur Kehakiman. 37 Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian. hal.54 Republik Indonesia demi menjamin ketertiban. ketentraman. bangsa dan negara Republik Indonesi serta tidak membahayakan keamanan dan ketertiban. Jakarta. dan keamanan nasional. 32 Tahun 1994 tentang Visa. tetapi tugas tersebut tidak bersifat Diplomatik. maupun negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang diizinkan masuk ke wilayah Indonesia. ada lima jenis visa: 38 a. Izin Masuk dan Izin Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. diberikan kepada orang asing pemegang Paspor Dinas yang hendak bepergian ke Indonesia untuk melaksanakan tugas resmi dari Pemerintah asing yang bersangkutan atau diutus oleh Organisasi Internasional. 2007. Visa Dinas. 38 Lihat Pasal 1-17 PP No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Berdasarkan prinsip ini. juga tidak bermusuhan baik terhadap rakyat. Pusdiklat Pegawai Departemen Kehakiman. 1982. Izin masuk dan Izin Keimigrasian. USU Repository © 2009 36 . 6. diberikan kepada orang asing pemegang Paspor Diplomatik yang hendak bepergian ke Indonesia dengan tugas Diplomatik. Visa Diplomatik. 37 Lihat dalam Penjelasan Umum Undang-undang RI No. b. hanya orang asing yang dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat. Hal ini sejalan dengan prinsip yang bersifat “selekrif” (selective policy).

9 tahun 1992 tentang Keimigrasian dinyatakan: 39 “dikecualikan dari kewajiban memiliki visa bagi orang asing yang masuk wilayah Indonesia adalah: 39 Lihat Pasal 7 Undang-undang RI No. Dalam hal ini orang asing dapat menggunakan Multipel Visa. d. dapat diberikan kepada orang asing untuk singgah di wilayah Negara Republik Indonesia untuk meneruskan perjalanan ke negara lain atau kembali ke negara asal. Visa Tinggal Terbatas. tetapi dalam pasal 7 Undang-undang No. e. 2007. yaitu visa Kunjungan untuk beberapa kali melakukan perjalanan dari dan ke wilayah Negara Republik Indonesia. Visa ini diberikan untuk singgah di wilayah Negara Indonesia paling lama 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal diberikannya izin masuk di wilayah Negara Republik Indonesia. dapat diberikan kepada orang asing untuk tinggal di wilayah Negara Republik Indonesia paling lama satu tahun terhitung sejak tanggal diberikannya izin masuk di wilayah Negara Republik Indonesia. dapat diberikan kepada orang asing untuk berkunjung di wilayah Negara Republik Indonesia paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikannya Izin Masuk di wilayah Negara Indonesia. Visa Kunjungan.55 c. Visa Singgah. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . 2. Bebas visa kunjungan singkat (BVKS) Pada dasarnya setiap orang yang akan memasuki suatu negara harus memiliki visa. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 40 . terdapat negara-negara yang diberikan kemudahan kepada orang asing untuk masuk ke suatu negra Indonesia dengan tidak memerlukan visa. Penumpang transit di Pelabuhan atau Bandar Udara diwilayah Indonesia sepanjang tidak keluar dari tempat transit yang berada di daerah tempat Pemeriksaan Imigrasi. maka waraga negara dari negara tersebut juga mendapatkan pembebasan visa apabila akan ke negara asing tertentu. 9. Dalam hal tertentu. “Analisa dan Evaluasi tentang Pengaturan Fasilitas Bebas Visa wisata bagi Orang Asing yang Berkunjung ke Indonesia” (Laporan Penelitian). Kapten atau Nakoda kapal dan awak yang bertugas pada alat angkut yang berlabuh dipelabuhan atau mendarat di Bandar Udara di wilayah Indonesia d. 1984. Orang asing warga negara dari negara yang berdasarkan keputusan Presiden tidak diwajibkan memilki visa b. Orang asing yang memiliki Ijin masuk kembali c.56 a. Jakarta. Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Sebagai contoh. Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN). warga negara ASEAN dapat saling masuk ke negara-negara ASEAN lainnya tanpa terlebih dahulu meminta visa. dkk). hal. 40 Selain itu juga pemberian kemudahan tersebut juga didasarkan kepada azas resiprositas yaitu negara yang memberikan kemudahan bebas visa terhadap waraga asing tertentu. seperti yang disebutkan pada huruf (a) diatas. Biasanya kemudahan ini diberikan untuk kepentingan negara tersebut yaitu agar orang asing lebih banyak masuk ke negaranya dan ini akan menghasilkan devisa.

USU Repository © 2009 . Austria 6. Brazil 9.01 tahun 1993 tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS). Belanda 7. Kunjungan sosial budaya adalah kunjungan dalam rangak mengunjungi family. Orang asing yang diberi fasilitas BVKS dapat melakukan kegiatan seperti kunjungan wisata. Chili 41 41 24. memberikan kemudahan kepada waraga negara dari + 46 negara dapat masuk ke wilayah Indonesia selama 2 (dua) bulan. Malta 27. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). “Aspek Ilmu Perundang-undangan BVKS Bagian I”. Monaco 31. Mexico 30. Orang asing yang diberikan BVKS ini dapat melakukn kegiatan-kegiatan sebagaimana tersebut diatas dengan catatan dilarang melakukan kegiatan yang sifatnya bekerja. Arab Saudi 3. Belgia 8. Kunjungan wisata adalah perjalanan mengunjungi Indonesia untuk berlibur.01. social budaya dan usaha. 2007. Pintu Gerbang No. Mesir 29.57 Pemerintah Republik Indonesia dengan peraturan perundang-undangan berupa Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. Malaysia 25. Jakarta. 44. menikmati objek-objek wisata dan lain-lain. Brunai Darussalam 10.02. Direktorat Jendral Imigrasi. Australia 5. Norwegia Lukman Bratamidjaja. adalah: 42 1. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. melakukan penelitian dan kunjungan yang bersifat sosial budaya. pembicaraan bisnis dan penjajakan memperluas usaha bisinis di Indonesia. Maldive 26. M. Nepai 33. sedangkan kunjungan usaha adalah kunjungan dalam rangaka membina hubungan bisnis. hal. Adapun negara-negara penerima BVKS. 2002. Myanmar 32. Maroko 28. Amerika Serikat 2. 24-25 42 Berdasarkan Data Kantor Imigrasi Polonia Medan Tahun 2001. Argentina 4.

1997. Israel 18. Gramedia Pustaka. Kanada 22. Jerman 21. Finlandia 13. USU Repository © 2009 43 . Luxemburg 34. Spanyol 38. Italia 19. PT. Felix Hadi Mulyatno dan Endar Sugiarto. Tanzania 43. Inggris 16. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Philipina 36. 44 Lihat Pasal 1 angka 3 Undang-undang RI no.58 11. Turki 45. Pabean. Singapura 39. Swiss 41. Swedia 40. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. hal. Korea Selatan 23. Denmark 12. 2007. Surat perjalanan republik Indonesia (Paspor) Paspor adalah sebuah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh suatu badan pemerintah yang berwenang untuk bangsanya atau untuk penduduk asing. Taiwan 42. Selandia Baru 37. Hungaria 15. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Uni Emirat Arab 46. Jakarta. Imigrasi. 43 Sedangkan menurut Undang-undang RI No. 39. dan memasuki dan meninggalkan negara lain yang mempunyai hubungan diplomatik dengan negara yang mengeluarkan paspor tersebut. 44 Paspor berfungsi sebagai surat perjalanan yang digunakan untuk meninggalkan dan memasuki kembali negara yang bersangkutan. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian menyatakan: “surat perjalanan adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang dari suatu negara yang memuat identitas pemegangnya dan berlaku untuk melakukan perjalanan antar negara”. Yunani 3. dan Karantina. Prancis 35. Orang yang ingin mengunjungi negara lain harus mengetahui apakah paspornya berlaku untuk negara yang akan dituju R. Hongkong 14. Irlandia 17. Jepang 20. Thailand 44.

Papor biasa. Itu sebabnya kita dulu mengenal “Dwi Warga Negara”. dan mereka boleh menggunakan kedua paspor mereka. Paspor untuk orang asing. 2007. cit. Felix Hadi Mulyatno dan Endar Sugiarto. diberikan kepada waraga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dalam rangka menunaikan inbadah haji. Kebangsaan seseorang bisa dilihat pada kartu identitasnya. Ibid.59 atau tidak 45. 40 47 Lihat Pasal 29 Undang-undang No. kita juga harus mengetahui apakah paspor berlaku untuk negara transit yang akan disinggahi dalam perjalanan menuju ke negara tujuan atau tidak. diberikan kepada orang asing yang pada saat diberlakukannya undang-undang ini telah memliki izin tinggal tetap akan 45 46 R. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian disebutkan Surat Perjalanan Republik Indonesia terdiri atas: 47 a. diberikan kepada warga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dalam rangka penamatan atau tugas yang bersifat diplomatik c. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. 46 Dalam pasal 29 Undang-undang No. Disamping itu. misalnya Cina dan Indonesia. misalnya dipaspor atau kartu penduduk. hal. b. hal. Paspor Haji. USU Repository © 2009 . Op. 40. d. yang artinya seseorang bias mempunyai dua warga negara. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Paspor diplomatik. diberikan kepada warga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar negeri (keluar wilayah Indonesia) secara normal. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Itu bukan berarti bahwa pemegang paspor dari negara yang mengeluarkan paspor tersebut adalah warga negaranya.

Surat perjalanan laksana paspor untuk warga negara Indonesia. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Warga negara asing (WNA) yang masuk ke Indonesia pada umumnya atau kota medan khususnya.60 melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dan tidak mempunyai surat perjalanan serta dalam waktu yang dianggap layak tidak dapat memperolehnya dari negaranya atau negara lain. f. dapat diberikan kepada orang asing yang tidak mempunyai surat perjalanan yang sah dan atas kehendak sendiri keluar dari wilayah Indonesia sejauh dia tidak terkena pencegahan. g. dan dikenakan tindakan pengusiran atau deportasi atau dalam keadaan tertentu yang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional diberi izin untuk masuk ke wilayah Indonesia. diberikan kepada warga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dalam rangka dinas/tugas dari pemerintah. diberikan dalam keadaan khusus apabila paspor biasa tidak diberikan. Sedangkan untuk WNI yang berdomisili di luar negeri masa berlakunya paspor adalah 2 tahun. USU Repository © 2009 . yang bukan bersifat diplomatik. e. Surat perjalanan laksana paspor dinas. 2007. Masa berlakunya paspor adalah 5 (lima) tahun. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). menggunakan fasilitas BVKS maupun menggunakan visa Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. B. Surat perjalanan laksana paspor untuk orang asing. Paspor dinas. h. diberikan kepada warga negara Indonesia dalam keadaan khusus apabila tidak mendapatkan paspor dinas.

Penyalahgunaan tersebut bisa terjadi karena faktor-faktor ruang lingkup fasilitas bebas visa yang dinilai terlalu luas. Kantor Imigrasi Polonia Medan. 2007. Ruang lingkup fasilitas bebas visa Menurut Keputusan Menteri Kehakiman No. USU Repository © 2009 . Keputusan Menteri Kehakiman tersebut mengatur pelaksanaan teknis bebas visa. dan pemberian tenggang waktu pada izin kunjungan wisata yang terlalu lama atau karena faktor petugas imigrasi sendiri. M. Kunjungan usaha Kunjungan wisata adalah perjalanan mengunjungi Indonesia untuk berlibur. menikmati objek-objek wisata dan lain-lain. Kunjungan wisata b. Hal ini dimannfaatkan oleh warga negara asing untuk menyalahgunakan izin keimigrasian. Kunjungan sosial budaya 48 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. yang meliputi: a.01. 48 1.01-12. tetapi kenyataannya ada juga wisatawan yang menyalahgunakannya untuk keperluan lain sebagai sampingan bahkan ada juga wisatawan yang sama sekali tidak berwisata.61 wisata akan mendapat izin kunjungan wisata sesuai dengan izin masuk baik dengan visa atau bebas visa. Kunjungan sosial budaya c. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Di dalam izin kunjungan tersebut dijelaskan bahwa izin kunjungan digunakan penggunaannya untuk berwisata.02 tahun 1993 tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS).

melakukan penelitian dan kunjungan yang bersifat sosial budaya. cit. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).02 tahun 1983 tentang Pelaksanaan Pembebasan Keharusan memiliki visa bagi wisatawan asing. Namun.01. hal.62 adalah kunjungan dalam rangak mengunjungi family. Op. cit. 25 Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. M. 9 51 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim. hal.02 tahun 1983 tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS). 2007.01-12. Op. M. tujuan pemberian fasilitas Bebas Visa Wisata (BVW) sudah diatur secara tegas.01-12. Hal ini yang mendasari diterbitkan Keputusan Menteri Kehakiman No. 50 Oleh karena itu. masih saja ditemukan penyalahgunaan oleh warga negara asing (WNA) yang melakukan perjalanan wisata atau yang biasa disebut wisatawan asing. Kantor Imigrasi Polonia Medan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. sedangkan kunjungan usaha adalah kunjungan dalam rangaka membina hubungan bisnis. USU Repository © 2009 . Keputusan Menteri ini bertujuan memperjelas kepastian dan batasan fasilitas bebas visa. 51 Hasil penelitian Timi Evaluasi dan Analisa dari Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) yang dilakukan sejak tahun 1992-1993 disejumlah daerah 49 50 Lukman Bratamidjaja. yang merupakan fasilitas untk kunjungan khusus wisata. misalnya bekerja atau berusaha atau bahkan ada yang mengedarkan ganja atau narkotika. dkk).01. 49 Keputusan Menteri Kehakiman ini merupakan suatu kebijaksanaan pemerintah yang memperluas pemberian fasilitas bebas visa jika dibandingkan dengan ketentuan yang diatur dalam Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. pembicaraan bisnis dan penjajakan memperluas usaha bisnis di Indonesia.

1993.63 wisata di Indonesia mengenai Pengaturan Fasilitas Bebas Visa Wisata (BVW) bagi orang asing yang berkunjung ke Indonesia. 1. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). menyebutkan adanya pelanggaran terhadap pemberian fasilitas Bebas Visa Wisata (BVW) yang telah diatur dalam Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. dkk. yaitu dalam: Tabel. Laporan Penelitian. kegagalan ini telah dimanfaatkan orang asing sebagai salah satu cara masuknya imigran gelap ke Indonesia. Masa Tenggang Waktu Pemebrian Fasilitas Bebas Visa Bentuk Peraturan PP No. “Usaha Penaggulangan Tindak Pidana Imigrasi dan Imigrasi Gelap di Kota Madya Denpasar”.01. hal. 23 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 26 tahun 1970 tentang Koordinasi Pengawasan Orang Asing yang Berkunjung ke Indonesia SKB Menteri Luar Negeri dan Menteri Kehakiman tentang Peraturan Visa Keputusan Menteri Kehakiman Bebas Visa Wisata (BVW) tentang Tahun 1970 Tenggang Waktu 7 (tujuh) hari 1979 30 (tiga puluh) hari + 15 (lima belas) hari 60 (enam puluh ) hari atau 2 (dua) bulan 60 (enam puluh) hari atau 2 (dua) bulan 1983 Keputusan Kehakiman tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS) 1993 Sumber: Hasil Investarisasi Peraturan Perundang-undangan Bebas Visa Wisata Tahun 1970-1993 I Wayan Tangun Susila. Olah karena itu. setelah ruang lingkup fasilitas bebas visa dalam BVKS diperluas tetap saja ditemukan pelanggaran yang sama. Kemudian.01-12. USU Repository © 2009 52 . Universitas Udayana dan PDII LIPI (Jakarta). 2007. M. Denpasar. Tenggang waktu fasilitas bebas visa Sebagaimana telah diketahui mengenai tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa untuk wisata telah beberapa kali diatur. 52 2.02 tahun 1983.

Tetapi tenggang waktu 2 (dua) bulan ini dirasakan terlalu panjang atau lam. Lamanya jangka waktu ini ternyata dapat memberikan peluang bagi wisatawan asing untuk melakukan pelanggaran dengan berbagai motivasi. Alasan-alasan yang dikemukakan adalah: H. Tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa untuk wisata yang paling ideal adalah 1 (satu) bulan dan dapat diperpanjang selama 30 (tiga puluh) hari. Pedoman Penggunaan Tenaga Kerja Asing di Indonesia dan Peraturanperaturannya. hal. Sedangkan bagi orang asing yang akan bekerja di Indonesia sudah ad pengaturannya. 16-17 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Sinar Grafika. cit. 6-8. Op. S. 53 Berdasarkan hasil penelitian oleh Tim Evaluasi dan Analisa terhadap responden yaitu para wisatawan asing tentang waktu pemberian fasilitas bebas visa adalah sebagai berikut: 54 1. Tenggang waktu wisatawan di Indonesia selama 2 (dua) bulan merupakan pendapatan bagi pengelola wisata. dkk). USU Repository © 2009 53 . seperti disalahgunakan untuk bekerja. hal. Hal ini dikarenakanjarang sekali wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia selama 2 (dua) bulan untuk berwisata saja. 54 Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. Sjarif. yaitu mempunyai Izin Tinggal Terbatas dan memiliki Izin Kerja yang diberikan oleh Menteri Tenaga Kerja. 2007. Jakarta.64 Perkembangan tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa bagi wisatawan dimaksudkan untuk mendukung pertumbuhan kepariwisataan dan meningkatkan arus wisatawan. 1996. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

Jarang sekali wisatawan asing yang berwisata sampai 3 (tiga) bulan. Pengawasan terhadap orang asing memerlukan perhatian yang lebih seksama. Pemberian fasilitas bebas visa selam 1 (satu) bulan dirasakan masih kurang bagi sebagian besar wisatawan asing. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). c. Terlalu lama. harus didukung oleh mental petugas yang baik pula. 2. b. c. Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa lama masa kunjungan wisatawan asing ke Indonesia rata-rata antara 3 (tiga) sampai 4 (empat) minggu saja. sebab: a. USU Repository © 2009 . Terutama para petugas yang bertugas di Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Pengawasan terhadap orang asing bisa terkendali. Petugas Imigrasi Peranan petugas imigrasi dalam hal pengawasan sangat besar. d. meskipun ataruan tentang keimigrasian telah baik. Pemasukan devisa dapat memenuhi target yang diharapakan. sebab objek wisata di Indonesia sangat banyak dan menarik. Tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa selama2 (dua) bulan apalagi 3 (tiga) bulan dipandang tidak ideal. Tidak dapat dipungkiri. Bisa disalahgunakan untuk tujuan lain selain berwisata. d. b. C. 2007.65 a.

System pelaporan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui secara dini setiap peristiwa yang dapat diduga mengandung unsureunsur pelanggaran keimigrasian. cit. wawancara/ilicting untuk mencari mengetahui kebenaran materil terhadap keberadaan orang asing yang berkunjung. Op. Op. USU Repository © 2009 . 21 Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. apabila mereka bertindak masa bodoh. 2007. sebaiknya memiliki satu sistem database diseluruh Indonesia yang dapat diakses oleh semua petugas imigrasi dimanapun berada. hal. yaitu secara administrarif tentang perizinannya. dan diadakan peninjauan ke lokasi. 2. 55 Hasil pengawasan terhadap orang asing yang berkunjung. Mekanisme pengawasan tersebut adalah sebagai berikut: 56 1. 25-30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Tekhnik pengawasan. 3. cit. dan juga membuat daftar terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh orang aing yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi penindakan imigrasi. dkk.66 pintu-pintu masuknya orang asing ke Indonesia. khususnya yang menggunakan fasilitas bebas visa untuk wisata menunjukkan perlu adanya pemantauan kegiatan-kegiatan yang dilakukan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Tahap pengawasan. 55 56 I Wayan Tangun Susila. maka orang asing tersebut akan leluasa berkeliaran di Indonesia. kemudian saat orang asing tersebut mendarat di wilayah Republik Indonesia harus juga diperiksa dan ketika orang asing tersebut berada tinggal di Indonesia. hal. dkk). yaitu dilakukan mulai pada saat orang asing mengurus izin masuk ke Indonesia di luar negeri.

Departemen Kehakiman bekerja sama dengan: 1) Departemen Pariwisata. USU Repository © 2009 . Pos dan Telekomunikasi 2) BAKIN (BIN) 57 Ibid. Tourist.67 4. hal. sepanjang yang menyangkut masalah: 57 a. maka Menteri Kehakiman sebagai yang bertanggung jawab dalam pengawasan orang asing dan dalam dalam hal ini lebih dititik beratkan kepad imigrasi. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). q Direktorat Jenderal Imigrasi melakukan kerja sama dengan: 1) Departemen Tenaga Kerja 2) Departemen Luar Negeri 3) Badan Koordinasi Penanaman Modal 4) Polri 5) Pemda dan Departemen Tekhnis b. Pos dan Telekomunikasi 2) Departemen Luar Negeri 3) Departemen Dalam Negeri 4) Polri c. karena dari segi kauntitas petugas imigrasi sangat kurang untuk mengawasi keadaan setiap oarng asing dalam segala kegiatan mereka di Indonesia. Departemen Kehakiman c. Koordinasi dengan instansi terkait. Departemen KEhakiman bekerja sama dengan: 1) Departemen Pariwisata. 19-30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Tenaga kerja. Artis Asing. 2007. maka harus melakukan koordinasi dengan instansi pemerintah lainnya.

2007. misalnya mengenai Cletering house mengenai masalah izin masuk warga RRC dan lain-lain. Hal ini terjadi karena pengawasan yang kurang efektif dari Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Departemen Kehakiman melakukan koordinasi dengan: 1) BAKN 2) BIN 3) Polri 4) Kejaksaan Agung 5) Departemen Tenaga Kerja 6) Pemda Meskipun pengawasan terhadap orang asing yang berkunjung ke Indonesia sudah diatur dan mekanismenya sudah sedemikian rupa. Masalah khusus. USU Repository © 2009 . Awak Kapal. namun dalam pelaksanaannya masih saja terdapar orang asing yang melakukan pelanggaran atau penyalahgunaan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Departemen Kehakiman bekerja sama dengan: 1) Departemen Perhubungan 2) Departemen Luar Negeri 3) Departemen Pertanian 4) TNI Angkatan Laut e.68 3) Departemen Luar Negeri 4) Departemen Tenaga Kerja 5) Polri 6) Pemda/Departemen Luar Negeri d.

58 Usaha penanggulangan terjadinya pelanggaran ketentuan keimigrasian dibedakan atas dua upuya.69 Petugas Imigrasi yang terbatas. hal. sangata penting koordinasi dengan instansi lain. 2007. Op. 59 58 59 I Wayan Tangun Susila. Upaya preventif Terjadinya tindak pidana keimigrasian tidak terlepas dari masalah pengawasan orang asing. yaitu: 1. Upaya Penanggulangan Tindak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Penanggulangan adalah cara mengatasi terjadinya sesuatu tindak pidana keimigrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Pengawasan yang kurang terhadap orang asing yang masuk ke Indonesia dapat menimbulkan tindakan yang mengarah kepada kejahatan maupun pelanggaran. cit. USU Repository © 2009 . Karena salah satu faktor penyebab terjadinya penyalahgunaan izin keimigrasian adalah kurangnya koordinasi petugas keimigrasian dengan instansi lain. C. hal. dkk. Satu diantaranya adalah penyalahgunaan izin masuk ke Indonesia yaitu izin kunjungan wisata yang pada dasarnya telah melanggar ketentuan Undang-undang keimigrasian. 28 Ibid. 28 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Karena itu.

70

Dalam bagian Penjelasan Umum UU no. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian ditegaskan bahwa terhadap orang asing, pelayanan, dan pengawasan di bidang keimigrasian dilakukan dengan prinsip yang bersifat “selektif” (selective policy) . 60 berdasarkan prinsip ini, hanya orang asing yang diizinkan masuk ke Indonesia adalah orang asing yang memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat, bangsa dan negara Republik Indonesia serta tidak membahayakan keamanan dan ketertiban, juga tidak bermusuhan baik terhadp rakyat, maupun terhadp negra Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Dengan demikian orang asing yang ingin masuk dan menetap di wilayah Indonesia harus dipertimbangkan dari berbagai segi, baik dari segi politik, ekonomi maupun sosial budaya bangsa dan negara Indonesia. Sikap dan cara pandang seperti ini merupakan hal yang wajar, terutama bila dikaitkan dengan pembangunan nasional, kemajuan ilmu dan teknologi, perkembangan kerja sama regional meupun internasional, dan meningkatnya arus orang asing yang masuk dan keluar wilayah Indonesia. Untuk menjamin kemanfaatan orang asing tersebut dan dalam rangka menunjang tetap terpeliharanya stabilitas dan kepentingannasioanl, kedaulatan negara, keamanan dan ketertiban umum serta kewaspadaan terhadap dampak negatif yang timbul akibat perlintasan orang antar negara, keberadaan dan

Arief Rahman Kunjono, “Illegal Migrants dan Sisitem Keimigrasian Indonesia: suatu tinjauan Analisis”, Pintu Gerbang No. 44, Direktorat Jendral Imigrasi, Jakarta, 2002, hal. 27
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

60

71

kegiatan orang asing di wilayah Indonesia, dipandang perlu melakukan pengawasan bagi orang asing dan tindakan keimigrasian keimigrasian secara tepat, cepat, teliti dan terkoordinir tanpa mengabaikan keterbukaan dalam memberikan pelayanan orang asing. Makna dari pengawasan mempunyai pengertian yang luas dan mengandung pengertian yang positif. Pengawasan berarti juga mengadakan pengendalian serta bimbingan penyuluhan yang ditujukan untuk mengadakan perbaikan yang diikuti dengan pemecahannya. 61 Dapat dikatakan, proses pengamatan dan penghayatan seluruh kegiatan dilakukan sesuai dengan peraturan-peraturan, instruksi, dan kebijaksanaanyang berlaku. Di dalam pengawasan yang penting adalah mengetahui apakah dalam pelaksanaan tugas-tugas terjadi penyimpangan atau kesalahan. Hal ini secara preventif agar dilaksanakan sedini mungkin supaya tidak terjadi adanya pelanggaran-pelanggaran yang bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku. Sistem pengawasan keimigrasian adalah suatu sistem pengawasan terhadp orang asing, sisitam itu meliputi pengamatan dan pemeriksaan segala kegiatannya mulai dari rencan dan beradanya orang asing di Indonesia sampai dengan meninggalkan Indonesia (the equality of service and security.) 62 Hal ini ditegaskan Pasal 38 ayat (1), Undang-undang No. 9 tahun 1992, yaitu: 63 (1) Pengawasan terhadap orang asing di Indonesia meliputi:

61 62

I Wayan Tangun Susila, dkk, Loc, cit. Arief Rahman Kunjono, Loc, cit. 63 Lihat pasal 38 ayat (1) Undang-undang RI no. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian.
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

72

a. Masuk dan keluarnya orang asing ke dan dari wilayah Indonesia b. Keberadaan serta kegiatan orang asing di wilayah Indonesia. Perihal pengawasan orang asing diatur dalam Undang-undang no. 9 tahun 1992, seperti pada Bab VI tentang pengawasan terhadap orang asing dan tindakan keimigrasian. Pelaksanaan pengawasan terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia dilakukan oleh Menteri Kehakiman dan HAM dengan koordinasi bersama badan dan instansi yang terkait (Pasal 41 UU No. 9 tahun 1992). Dalam hal ini diadakan pemantapan mekanisme koordinasi dan operasi antara instansi yang terkait dalam rangka pengawasan orang asing, instansiinstansi tersebut akan melakukan tugas dan wewenangnya masing-masing sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Koordinasi dimaksudkan untuk memaksimalkan daya guna dan hasil guna pengawasan terhadap orang asing. Tujuan pengawasan tersebut untuk mewujudkan prinsip selective policy yang dipandang perlu dalam mengawasi orang asing. 64 Untuk kelancaran dan ketertiban dalam mengawasi orang asing, pemerintah telah menyelenggarakan pendaftaran orang asing yang berada di wilayah Indonesia sehingga dapat dihimpun data mengenai orang asing. Seperti disebutkan, Direktorat Jendral Imigrasi Departemen Kehakiman dan HAM

64

Koerniatmanto Soetoprawiro, Op. cit, hal. 90-91

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

hal. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. 9 tahun 1992 disebutkan bahwa dalam menyelenggarakan pendaftaran orang asing yang ada di Indonesia berkewajiban untuk: 66 a. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Memperlihatkan Surat Perjalanan atau dokumen keimigrasian yang dimilikinya pada waktu diperlukan dalam angka pengawasan. 3. Mendaftarkan diri jika berada di Indonesia lebih dari Sembilan puluh hari. perubahan status sipil dan kewarganegaraan. 13 66 Lihat pasal 39 Undang-undang no. 200. 42. serta perubahan alamatnya. Pintu Gerbang No. Direktorat Jenderal Imigrasi.73 Republik Indonesia mengadakn pendaftaran ulang warga negara assign secara serentak di seluruh wilayah RI sejak tanggal 10 Agustus-31 Oktober 2001. “Imigrasi Daftar Ulang Warga Negara Asing”. b. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). c. Memberikan segala keterangan yang perlu mengenai identitas diri dan /atau keluarganya. Berada di wilayah negara Republik Indonesia. 65 Pendaftaran ulang pada tahun 2001 lalu adalah untuk pertama kalinya sejak Undang-undang no. Melakukan kegiatan di wilayah negara Republik Indonesia. 2007. Pengumpulan data dengan cara pengawasan orang asing ini dilaksanakan bagi setiap orang asing yang: 1. USU Repository © 2009 65 . 2. Pada pasal 39 Undang-undang no. 9 tahun 1992 berlaku dan akan dilakukan setiap lima tahun sekaliberdasarkan peraturan keimigrasian yang berlaku. Jakarta. Masuk atau keluar wilayah negara Republik Indonesia.

diadakan pengawasan yang dilakukan 67 68 I Wayan Tangun Susila.74 1. 29 Saleh Wiramiharja. USU Repository © 2009 . 2007. Op. hal. Direktorat Jenderal Imigrasi. Oleh karena itu sebaliknya setiap atase atau KBRI dsetiap negara terdapat aparatur imigrasi yang bertugas disana. 21 69 I Wayan Tangun Susila. Setiap orang asing yang akan datang atau masuk ke wilayah Indonesia haruslah memiliki visa yang merupakan izin masuk ke Indonesia. 2002. Pintu Gerbang No. dkk. cit. 45. Hal itu bertujuan untuk mencegah orang asing tersebut meninggalkan Indonesia karena mereka telah menimbulkan suatu permasalahan selama berada di Indonesia. Jakarta. baik Bandar udara maupun pelabuhan laut. hal. 67 Pengawasan terhadap orang asing sebelum memasuki Indonesia dilakukan oleh para atase imigrasi pada setiap perwakilan Indonesia di luar negeri pada saat orang asing bersangkutan mengajukan permohonan unutk mendapatkan visa. “Langkah-langkah Baru Menunjang Peningkatan Profesionalisme Keimigrasian”. serta memuttuskan apakah dapat diberikan atau tidak berdasarkan pertimbangan kepentingan Ipoleksosbudhankamnas. 2 Pengawasan orang asing ketika berada di wilayah negara RI Pada saat orang asing sedang menuju atau sudah di pelabuhan pendaratan. 31 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 69 1. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Op. cit. 68 Tahap akhir pengawasan adalah saat meninggalkan Indonesia. 1 Pengawasan orang asing yang masuk atau keluar wilayah RI Pengawasan orang asing sebelum memasuki wilayah Indonesia berhubungan dengan konsulat atau kedutaan RI khusus atas imigrasi untuk melayani dan meneliti secara selektif setiap permohonan visa ke Indonesi. hal. dkk.

Dari segi keimigrasian. yaitu: 70 a. 1. yaitu pengawasan untuk mencegah masuknya orang-orang assign yang akan menimbulkan permasalahn setelah berada di Indonesia. dan apakah lamanya tinggal sesuai dengan izin keimigrasian yang diberikan kepadanya. jelaslah apa yang dimaksud dengan tindakan preventif ini. USU Repository © 2009 . baik yang mendarat melalui udara maupun laut. Pengawasan terhadap orang asing yang telah mendapatkan izin masuk di Indonesia dapat dilihat dari dua segi. Fungsi pengawasan ini sama juga dengan pengawasan sewaktu hendak mengajukan permohonan mendapatkan visa. 2007. 3 Pengawasan orang asing yang melakukan kegiatan di wilayah RI Pengawasan yang dimaksudkan disini merupakan tindak lanjut dari pengawasan setelah orang asing mendapatkan izin tinggal di Indonesia. b. 30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). yaitu mengawasi apakah kegiatan yang dilakukan oleh orang asing tersebut menimbulkan benturan-benturan yang mengganggu kepentingan ketahanan dan keamanan nasional atau tiadak. hal. yaitu mengawasi apakah orang asing tersebut melakukan kegiatan. Dari segi Ipoleksosbudhankamnas. Dengan kegiatan diatas. yaitu tindakan yang dilakukan dalam usaha untuk mencegah atau menjaga kemungkinan terjadinya tindak pidana imigrasi dalam hal ini yaitu tindak 70 Ibid.75 ileh petugas imigrasi.

Upaya Represif Menurut Soedarto yang dimaksud dengan tindakan represif adalah segala tindakan yang dilakukan aparatur penegak hukum sesudah terjadi kejahatan atau tindak pidana. motel. 2. Melakukan pengecekan data yang diperoleh dari tempat-tempat wisatawan menginap. 4. Alumni. USU Repository © 2009 . Bandung. Pejabat pendaftaran dibekali pengetahuan tentang kerahasian/ciri-ciri khusus dari paspor-paspor negara lain dan dilengkapi dengan alat sinar ultraviolet dan kaca pembesar maupun dengan teknologi modern. baik hotel. hal. Meneliti setiap orang asing atau wisatawan yang hendak masuk lewat wawancara singkat di setiap tempat pemeriksaan imigrasi. 110 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Kapita Selekta Hukum Pidana. yang berwenang menandatangani visa. Beberapa usaha preventif sehubungan dengan hal tersebut antara lain sebagai berikut: 71 1.76 pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. 3. losmen atau tempat kediaman teman. 31-32 Soedarto. Setiap pelabuhan pendaratan memilki contoh-contoh tanda tangan dari pejabat konsuler pada perwakilan Republik Indonesia di luar negeri. 1984. hal. 2007. 72 Dalam kaitannya dengan penggulangan terhadap orang asing yang menyalagunakan izin keimigrasian dilakukan sesudah terjadinya atau terbukti 71 72 Ibid.

Tindakan yuridis Dalam pasal 50 undang-undang no.” Jadi tindakan yuridis adalah orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan maksud pemberian izin keimigrasian dan harus dibuktikan di pengadilan oleh hakim dan kemudian dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.(dua puluh lima juta rupiah). atau tidak menghormati atau menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tindakan administrative Menurut pasal 42 Undang-undang no. 2. 9 tahun 1992 disebutkan: 73 “orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan pemberian izin keimigrasin yang diberikan kepadanya dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. 2. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 9 tahun 1992 tenang keimgrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. yaitu: (1) Tindakan keimigrasian dilakukan terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia yang melakukan kegiatan yang berbahaya dan patut akan diduga berbahaya bagi keamanan dan ketertiban umum.000. 9 tahun 1992 yang mengatur mengenai tindakan keimigrasian terhadap orang asing di wilayah Indonesia.. 2.000. dan bisa juga bersifat administrasi. 25. USU Repository © 2009 .77 adanya penyalahgunaan izn keimigrasian. 2007. Tindakan ini bisa bersifat yuridis. (2) Tindakan keimigrasian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa: 73 Lihat pasal 50 Undang-undang no. 1.

Pengusiran atau deportasi dari wilayah Indonesia atau penolakan masuk ke wilayah Indonesia. perubahan atau pembatalan izin keberadaan b. pada RUU keimigrasian terdapat perubahn dalam hal ancaman sanksi pidana. begitu juga tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian yang diberikan kepadanya. Keharusan untuk bertempat tinggal disuatu tempat tertentu di wilayah Indonesia d. yaitu diatur pada pasal 110.. a. Pembatasan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Berdasarkan uraian diatas tindakan-tindakan represif yang dapat diambil adalah pemidanaan. 25.000. 2007.000.(dua puluh lima juta rupiah). Dengan demikian penyalahgunaan izin keimigrasian dapat dilakukan dengan 4 (empat) alternative seperti disebutkan diatas dengan alasan bahwa orang asing yang bersangkutan tidak mengindahkan peraturan yang mengatur keberadaan orang asing di wilayah Republik Indonesia. Pemidanaan Fungsi pemidanaan adalah sebagai penjeraan. Larangan untuk berada di suatu atau beberapa tempat tertentu di wilyah Indonesia c. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. pengusiran (deportasi) dan memasukkan orang asing yang terlibat ke dalam daftar pencegahan dan penangkalan atau cekal (black list).78 a. RUU keimigrasian yang berbunyi: 74 “Dipidana dengan pidana paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang 74 Lihat Pasal 10 RUU Keimigrasian. USU Repository © 2009 .

atau kesejahteraan umum. 2007. Pengusiran Pengusiran atau deportasi (deportation) adalah suatu tindakan sepihak dari pemerintah berupa tindakan mengeluarkan orang asing dari wilayah Republik Indonesia karena berbahaya bagi ketentraman. Ketentuan mengenai deportasi ini dapat dilihat pada pasal 42 Undang-undang no. cit. Menurut Sri Setianingsih bahwa: 75 “Deportasi adalah pengusiran orang asing keluar wilayah Indonesia (keluar wilayah suatu negara) dengan alasan bahwa orang asing tersebut wilayahnya tidak dikendaki oleh negara yang bersangkutan. Selain itu.” Sedangkan menurut I Wayan Parthiana. Black list (daftar cekal) Black list adalah istilah yang dipakai dalam bahasa sehari-hari untuk menggantikan daftar orang-orang yang tidak diperbolehkan meninggalkan Indonesia dan orang-orang yang tidak diperbolehkan memasuki wilayah Indonesia. USU Repository © 2009 . bahwa: 76 “Hak suatu negara untuk mengusir orang asing yang berada di negaranya dikenal dengan pengusiran atau deportasi explution. hal. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 37 Ibid Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. bagi orang asing yang masuk serta berada di wilayah Republik Indonesia dapat juga diusir.79 bertentangan dengan maksud dan tujuan pemberian izin tinggal yang diberikan kepadanya. kesusilaan.” c. Jadi tidak ada sangkut pautnya dengan negara asal atau negara dari mana dia semula datang.” b. pengusiran tersebut semata-mata berdasarkan kepentingan negara itu sendiri. 9 tahun 1992. Di dalam keimigrasian daftar ini disebut “daftar pencegahan dan 75 76 I Wayan Tangun Susila. khususnya pada ayat (2) point d. dkk. Op.

Pada saat berada di negaranya sendiri atau di negara lain bersikap bermusuhan terhadap pemerintah Indonesia atau melakukan perbuatan yang mencemarkan nama baik bangsa dan negara Indonesia. Diduga melakukan perbuatan yang bertentangan dengan keamanan dan ketertiban umum. 2007.” Berdasarkan pasal 17 Undang-undang no.” “Penangkalan adalah larangan yang bersifat sementara terhadap orangorang tertentu untuk masuk ke wilayah Indonesia berdasarkan alasan tertentu. dan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Di dalam pasal 1 angka 13 dan 14 Undang-undang no. orang asing yang berusaha menghindarkan diri dari ancaman dan pelaksanaan hukuman di suatu negara tersebut karana melakukan kejahatan yang juga diancam pidana menurut hukum yang berlaku di Indonesia. agama dan adat kebiasaan masyarakat Indonesia.80 penangkalan”. 9 tahun 1992. Atas permintaan suatu negara. d. USU Repository © 2009 . kesusilaan. penangkalan terhadap orang asing dilakukan karena: a. disebutkan pengertian dari: “Pencegahan adalah larangan yang bersifat sementara terhadap orangorang tertentu untuk keluar dari wilayah Indonesia berdasarlan alasan tertentu. e. Pernah diusir atau dideportasi dari wilayah Indonesia. Diketahui atau diduga terlibat dengan kegitan sindikasi kejahatan internasional. b. c. 9 tahun 1992.

Alasan pencegahan c. pertahanan dan keamanan. pidana.81 f. USU Repository © 2009 . 12. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Mengenai pencegahan orang asing untuk memasuki wilayah RI diatur di dalam pasal 11. 9 tahun 1992. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). perdata dan lain sebagainya yang dapat mengganggu dan mengancam stabilitas nasional. orang asing mana pernah terlibat masalah-masalah sebagaimana disebutkan diatas. 13. Dari uraian di atas dapat ditegaskan bahwa pencegahan ditujukan kepada orang asing yang masih memiliki masalah di Indonesia. (2) Keputusan sebagaimana didalam ayat (1) memuat sekurang-kurangnya: a. baik masalah politik. Jangka waktu pencegahan (3) Keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan dengan surat tercatat kepada orang-orang yang terkena pencegahan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal penetapan. ekonomi. Identitas orang yang terkena pencegahan b. Di dalam pasal disebutkan bahwa: (1) Pencegahan ditetapkan dengan keputusan tertulis. Alasan-alasanlain yang berkaitan dengan keimigrasian yang diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. keimigrasian. dan 14 Undang-undang no. Sedangkan penangkalan ditujukan hanya kepada orang asing yang hendak masuk ke wilayah Indonesia. sosial budaya. 2007.

terdapat 3 (tiga) elemen penting yang mempengaruhi. pembuktian. aparatur penegak hukum yang terlibat tegaknya hukum itu. Peranan Aparatur Penegak Hukum dalam Menanggulangi Tindak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Aparatur penegak hukummencakup pengertian mengenai institusi penegak hukum dan aparat (orangnya) penegak hukum. penjatuhan. Dalam arti sempit. USU Repository © 2009 . sehingga proses penegakan hukum dan keadilan itu sendiri secara internal dapat terwujud secara nyata. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).82 D. termasuk mengenai kesejahteraan aparatnya. penuntutan. penyidikan. penyelidikan. polisi. penasehat hukum. Upaya penegakan hukum yang sistematik haruslah memperhatikan ketiga aspek itu secara simultan.vonis dan pemberian sanksi. Dalam proses bekerjanya aparatur penegak hukum itu. serta upaya permasyarakatan kembali (resosialisasi) terpidana. 2007. baik hukum materilnya maupun hukum acaranya. dan (3) Perangkat peraturan yang mendukung baik kinerja kelembagaannya maupun yang mengatur materi hukum yang dijadikan standar kerja. (2) Budaya kerja yang terkait dengan aparatnya. yaitu: (1) Institusi penegak hukum beserta berbagai prangkat sarana dan prasarana pendukung dan mekanisme kerja kelembagaannya. hakim dan petugas-petugas sipir permastarakatan. dimulai dari saksi. Setiap aparat dan aparatur terkait mencakup pula pihak-pihak yang bersangkutan dengan tugas atau perannya yaitu terkait dengan kegiatan pelaporan atau pengaduan. jaksa.

2. 10-1. USU Repository © 2009 77 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). ketertiban serta bermusuhan baik terhadap rakyat maupun Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 yang diizinkan masuk atau keluar wilayah Indonesia. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. maka pelaksanaan pengawasan orang asing perlu diberikan prioritas utama. Pengawasan keimigrasian Sesuai dengan undang-undang no. tetapi selama mereka berada di Wilayah Indonesia termasuk kegiatankegiatannya. hal. Pengawasan ini tidak hanya pada saat mereka masuk.1044” tentang Keradaan dan Kegiatan Orang Asing Di Indonesia. 2007. Dalam rangka mewujudkan prinsip “selective policy” diperlukan pengawasan terhadap orang asing. keimigrasian keimigrasian. 1999. 77 Dalam mewujudkan kebijaksanaan dimaksud serta mengantisipasi era globalisasi dan informasi yang semakin meningkat selaras dengan peningkatan arus lalu lintas orang asing.83 1. Pengawasan orang asing dimulai dari pemantauan Pengawasan baik yang Keimigrasian bersifat mencakup penegakan tindak hukum pidana administratif maupun Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian. bangsa dan Negara Indonesia serta tidak membahayakan keamanan. 01. Berdasarkan prinsip ini hanya orang asing yang dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. pelayanan dan pengawasandi bidang keimigrasiandilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip yang bersifat selektif (selective policy). “Petunjuk Pemantauan Operasional Keimigrasian No.: F4-IL.

55 80 Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian. Op. 78 a. “Manajemen Keimigrasian”. 80 Unutk mengetahui setiap peristiwa yan diduga 78 79 Ibid. hal. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Keberhasilan pengawasan orang asing sangat tergantung kepada berhasil tidaknya pelaksanaan pemantauan dilapangan.84 terhadap keberadaan dan kegiatannya serta operasi-operasi baik operasi khusus maupun rutin. Amarja Press. Pemantauan keimigrasian dapat berupa: 79 1) Memantau terhadap setiap peristiwa yang dapat diduga dan atau mengandung unsur-unsur terjadinya pelanggaran keimigrasian seperti penyalahgunaan izin tinggal sesuai visa yang bersangkutan. 2 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2) Menginventarisir bahan keterangan berdasarkan modus operandi terjadinya pelanggaran keimigrasian serta pembinaan teknis tempat-tempat pemeriksaan keimigrasian. 2007. Operasi adalah suaru kegiatan suatu objek tertentu terhadap yang dibatasi oleh tempat. USU Repository © 2009 . cit. pengumpulan dan penilaian bahan keterangan dari tempat-tempat pemeriksaan keimigrsian. hal. waktu serta dana. 2005. 3) Mengumpulkan bahan keterangan tetnang suatu peristiwa terjadinnya pelanggaran keimgrasian. Pemantauan keimigrasian dan operasional keimigrasian Pemantauan merupakan salah saru cara atau kegiatan/upaya yang dilakukan untuk mengetahui secara dini setiap peristiwa yang diduga mengandung unsur-unsur pelanggaran/kejahatan. abaik mengenai keberadaan maupun kegiatan orang asing. hal. 2 Ibnu Suud.

Keberhasilan penyelenggaraan. 3 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. upaya dalam mencari dan menemukan bahan keterangan perlu perencanaan melalui mekanisme adanya perencanaan yang matang.85 mengandung unsur pelanggaran/kejahatan terhadap ketentuan yang berlaku dibidangkeimigrasian. tepat. Oleh karena itu. sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan cermat. USU Repository © 2009 . 2007. sangat ditenteukan oleh kwalitas dan kwantitas pelaksanaan dalam menghadapi jenis dan macam pelanggaran kejahatan seperi halnya bentuk dan sifat pelanggaran politik ataupun pekerja terselubung. hal. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). organisasi serta pengawasan dan koordinasi dengan memperhatikan situasi dan kondisi medan. Dalam mencari dan menemukan keterangan yang berkaitan dengan peristiwa dimaksud agar diupayakan pelaksanaanya disesuaikan dengan jenis dan macam pelanggaran dalam bidang pembangunan. dapat diperoleh dari setiap bahan keterangan yang mempunyai kaitan dengan perbuatan orang asing baik lalu lintas. berhasil guna dan berdaya guna. dengan memperhatikan hak-hak azasi manusia dan senantiasa disertai dengan dasar hukum dalam artian dilengkapi dengan sudut perintah. baik berupa pembangunan phisik maupun non phisik. keberadaan maupun kegiatannya. Upaya/ cara pemantauan dan operasi keimigrasian dapat berupa: 81 81 Ibid.

Adapun sasaran pemantauan adalah: 82 a. cermat terhadap surat-surat.86 1) Pengamatan dengan panca indera secara teliti. 4) Melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang mengetahui atau patut diduga mengetahui terjadinya peristiwa pelanggaran/kejahatan keimigrasian dengan memperhatikan sumber dan nilai keterangan. hal. Orang asing 1) Orang asing pemegang izin singgah 2) Orang asing pemegang izin kunjung  Wisata  Sosial budaya  Usaha/beberapa kali perjalanan 3) Orang asing pemegang izin tinggal terbatas 4) Orang asing pemegang izin tinggal tetap 5) Orang asing tanpa izin keimigrasian 6) Orang asing yang over stay 82 Ibid. benda dan tempat kejadian untuk dapat gambaran yang lebih jelas baik secara keseluruhan atau lebih rinci. USU Repository © 2009 . sedang atau telah terjadinya unsur pelanggaran. 2) Pembuntutan terhadp objek yang kaitan atau hubungan dengan peristiwaperistiwa yang akan. 2007. sedang dan atau telah terjadi 3) Penyusupan dalam ruang lingkup peristiwa atau golongan kegiatan peristiwa yang akan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 5 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

hal. wisma.87 7) Orang asing imigran gelap 8) Orang asing yang melakukan kegiatan tidak sesuai dengan izin yang diberikan. Bangunan-bangunan 1) Hotel. apabila ditemukan bukti-bukti permulaan atau patut diduga telah terjadi pelanggaran/kejahatan keimigrasian. USU Repository © 2009 . 2007. 83 Ibid. Alat angkut 1) Niaga 2) Non niaga 3) Alat apung c. 2. b. Mendatangi orang/tempat yang telah ditentukan. 6 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Melakukan pemerikasaan terhadap orang asing tersebut beserta dokumen yang dimilikinya selanjutnya dilanjutkan dengan pemeriksaan di lapangan. 3. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). hostel dan sebagainya 2) Kantor-kantor/perusahaan yang mempekerjakan dan menampung tenaga kerja/orang asing 3) Rumah/asrama tempat orang asing bertempat tinggal Pelaksanaan pemantauan dilakukan baik secara terbuka maupun secara tertutup (undercover) dengan tahapan sebagai berikut:83 1. Menindaklanjuti dari hasil pemeriksaan.

Pengawasan Mendeteksi kemungkinan terjadinya penyalahgunaan perijinan dan pemberian perijinan keimigrasian serta evaluasi dan laporan. b. Melakukan pemeriksaan terhadap orang asing yang diduga melakukan pelanggaran/kejahatan yang diutangkan dalam berita Acara Pemeriksaan dan Berita Acara Pendapat. 84 Ibnu Suud. Kerjasama ini secara fungsi masing-masing tanpa mengganggu dan mencampuri teknis tugas instansi masing-masing. Pengawasan yang tertuju terhadap kemungkinan terjadinya pelanggaran. 56 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. penyalahgunaan perizinan dan pemberian perizinan keimigrasian serta pengawasan atas imigran gelap. Dan orang asing yang karena peraturan perundang-undangan telah dideportasi keluar Indonesia namun karena sesuatu dan lain hal belum dapat berangkat. Op. USU Repository © 2009 . Kerjasama pengawasan Untuk mensukseskan tugas pengawasan ini. cit. Imigran gelap Mengawasi masuknya orang asing secara gelap (illegal) ke wilayah Indonesia yagn tidak didukung oleh dokumen resmi yang sah dan masih berlaku. b. jajaran Direktorat Jenderal Imigrasi harus bekerjasama dan berkoordinasi dengan aparat keamanan lainnya seperti pemerintah daerah. Lingkup tugas ini meliputi: 84 a. polisi atau aparat yang terkait lainnya. hal. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).88 4. 2007.

juga Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Departemen yang lingkup tugas dan tangung jawabnya meliputi pembinaan keimigrasian diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undangundang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Pengawasan orang asing Adanya kerjasama antar instansi terkait dalam pengawasan orang asing di dalam wadah koordinasi pengawasan orang asing (SIPORA). 2. d. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. untuk melakukan penyidikan tindak pidana keimigrasian”. tepat. Penindakan keimigrasian a.89 c. lengkap terpadu dan aman. 85 Lihat pasal 47 ayat (1) Undang-undang no. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian disebutkan: 85 ”selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Pelaksanaan kerjasama pengawasan ini diupayakan tanpa mengurangi tugas. USU Repository © 2009 . fungsi dan wewenang masing-masing instansi dan dilakukan dengan cepat . 2007. Pengawasan perlintasan Mengawasi lau-lalangnya orang asing maupun warganegara Indonesia yang melintasi tempat (pos) lintas batas dengan tetangga atas kemungkinan terjadinya pelanggaran keimigrasian. Penyidikan keimigrasian Dalam pasal 47 ayat (1) Undang-undang no.

87 Lihat pasal 47 ayat (2) Undang-undang No. H dan Abrar Yusra. 152. “Lintas Sejarah Imigrasi Indonesia”. d. Memanggil orang untuk didengar keterangannya sebagai saksi. atau benda-benda yang ada hubungannya dengan tindak pidana keimigrasian. memeriksa. menggeledah. 2005. Dengan demikian disamping menjalankan tugas sebagai aparat pelayanan keimigrasian. dokumen-dokumen. Ramadhan K. Menerima laporan tentang adanya tindak pidana keimigrasian. 2007. Dalam pasal 47 ayat (2) disebutkan: 87 “Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang: a. 9 tahun 1992 diatas. c. Dengan demikian penyidikan hanya dapat dilakukan oleh kedua pejabat yang telah disebutkan di atas. hal. b. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Dirjen Imigrasi Hukum dan HAM RI. aparat imigrasi juga bertugas sebagai aparat penegak hukum 86. penyidikan keimigrasian adalah suatu proses penyidikan yang dilakukan oleh Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia juga PPNS imigrasi terhadap setiap orang yang melakukan perbuatan sebagai tindak pidana keimigrasian. menangkap. Memanggil. menahan sesorang yang disangka melakukan tindak pidana keimigrasian.90 Di dalam Undang-undang no. Surat Perjalanan. USU Repository © 2009 86 . Memeriksa dan/atau menyita surat-surat. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Mengadakan rapat-rapat berkala pada waktu-waktu yang dipandang perlu. Mengambil sidik jari dan memotret tersangka. dokumen-dokumen. Wewenang ini sudah sesuai dengan ketetuan dari pasal 7 ayat (2) Undangundang no. 8 tahun 1981 (KUHAP) yang menyebutkan bahwa penyidik sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf b mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah koordinasi dan pengawasan penyidik tersebut dalam pasal 6 ayat (1) huruf a. Adapun wujud koordinasi dapat berupa: 1. Pol S. SKep/369/X/1985 yang menyatakan bahwa kooradinasi adalah suatu bentuk hubungan kerja antara penyidik Polri dengan Pegawai Negeri Sipil dalam rangka pelaksanaan penyidikan tindak pidana yang menyangkut bidang tertentu. f. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2. SK Markas Besar Kepolisian RI No. Melakukan pemeriksaan di tempat-tempat tertentu yagn diduga terdapat suratsurat. Surat Perjalanan. Mengatur dan menerangkan lebih lanjut dalam keputusan instansi bersama.91 e. USU Repository © 2009 . atau benda-benda lain yang ada hubungannya dengan tindak pidana keimigrasian. Pejabat Pegawai Negeri Sipil mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah tangan koordinasi dan pengawasan penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia.

2007. 9 tahun 1992. Sedangkan yang dimaksud dengan “pengawasan” adalah proses pengamatan pelaksanaan penyidikan yang dilakukan dapat dibenarkan secara materil maupun formal dan berjalan sesuai dengan yang berlaku. Pengawasan kegiatan penyidik yang sedang dilakukan oleh penyidik Pegawai Negeri Sipil serta memberikan pengawasan teknis. adapun wujud pengawasan ini meliputi: 1. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Keseluruhan ini merupakan penjabaran dari pasal 7 ayat (1) UU No. USU Repository © 2009 . Menyelenggarakan pendidikan dan latihan penyidik Pegawai Negeri Sipil dengan penekanan dibidang pendidikan.92 3. 8 tahun 1981 (KUHAP) dan juga merupakan bantuan yang dapat diberikan oleh penyidik sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf a KUHAP kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil seperti yang diatur oleh pasal 47 UU No. Pengawasan teknis dalam rangka pembinaan dan peningkatan kemampuan penyidik Pegawai Negeri Sipil dan memberikan petunjuk bila terdapat kekurangan-kekurangan untuk disempurnakan. Proses penyidikan ini dilakukan sebagai Pro Justisia yang akan segera diajukan ke Pengadilan untuk diadili. Menunjuk sesorang atau lebih pejabat dari masing-masing Departemen/instansi yang secara fungsionl dan menangani penyidik Pegawai Negeri Sipil dengan penghubung 4. pengevaluasian tindak pidana pelanggaran dan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. pemilahan. 2. dan bertugas melakukan identifikasi pengumpulan.

b. koordinasi dengan Lembaga Pemasyarakatan untuk proses pemulangan. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. Op. cit. Hal ini dikarenakan apabila kasus tersebut diajukan ke pengadilan akan menggunakan upaya hukum mulai dari banding.93 kejahatan keimigrasian yang diatur dalam Undang-undang no. Membuat berkas hasil penyelidikan sesuai dengan ketentuan yagn berlaku. Sanksi hukum terhadap pelaku tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian Sanksi hukum terhadap pelaku tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian dapat dilakukan dengan cara: 1) Pro justitia Apabila kasus terhadap tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian yang ditangani oleh pihak keimigrasian ingin ditempuh dengan cara pro justitia. 88 b. maka hal harus dilakukan oleh petuga keimigrasin adalah: a. kasasi dan jika perlu grasi yang akan digunakan oleh warga negara asing yang terlibat tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). hal. Mengikuti perkembangan persidangan. 57 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 . Bila telah selesai melaksanakan keputusan Pengadilan. c. 2007. Menyampaikan hasil pemberkasan kepada Penuntut Umum melalui polisi. Tetapi jalan ini jarang sekali ditempuh oleh pihak keimigrasian dalam kasus penyalahgunaan izin keimigrasian. d. akan sangat 88 Ibnu Suud.

2007. karena dalam hal ini negara akan mengeluarkan biaya besar untuk menjalani proses pro justitia tersebut. USU Repository © 2009 .94 merugikan negara. Tindakan Keimigrasian adalah tindakan administratif dibidang keimigrasian yang dilakukan oleh pejabat imigrasi berupa: 1) Pembatasan.02-PW. Ditambah lagi orang asing tersebut tidak memiliki uang untuk membayar ongkos biaya perkara. serta sosial dan budaya serta kemananan. 4) Pengusiran atau deportasi dari wilayah Indonesia atau penolakan masuk ke wilayah Indonesia. 3) Keharusan untuk bertempat tinggal di suatu tempat tertentu di wilayah Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). maka akan lebih efektif apabila dilakukan tindakan keimigrasian. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2) Larangan untuk berada disuatu atau beberapa tempat tertentu di wilayah Indonesia. 89 2) Non pro justitia Menurut pertimbangan polits.02 tanggal 14 89 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim. ekonomis.09. Tindakan keimigrasian dilakukan sebagai sanksi administratif terhadap orang asing yang melanggar peraturan keimigrasian dan ketentuan-ketentuan lainnya mengenai orang asing sesuai dengan dimaksud dalam pasal 19 keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor: M. Maka akan lebih efektif apabila dilakukan dengan cara non pro justitia. Kantor Imigrasi Polonia Medan. perubahan atau pembatalan izin keberdaan.

Dalam hal terjadi tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. Hal ini bukan menandakan bahwa kasus tentang penyalahgunaan izin keimigrasian sangat sedikit. yaitu: a. 2007. yaitu penanganan suatu kasus dengan cara pendeportasian tidak memakan waktu yagn lama atau berlarut-larut. Pengajuan Keberatan Orang Asing dan Tindakan Keimigrasian. Tindakan Keimigrasian dapat dilakukan terhadap oaring asing pemegang izin Keimigrasian atau tanpa izin keimigrasian.95 Maret tahun 1995 tentang Tata Cara Pengawasan. jika dibandingkan dengan pro justitia. berada dan akan meninggalkan wilayah Indonesia. mulai saat masuk. maka berdasarkan data yang diperoleh baik dari kantor kepolisian maupun kantor imigrasi sangat sedikit yang ditindaklanjuti secara pro justitia. Masalah kepraktisan. tetapi karena kedua instansi ini lebih banyak melakukan tindakan keimigrasian yaitu berupa pendeportasian ke negara asal tanpa melalui proses pro justitia walaupun telah ada pengaturannya dalam Undang-undang no. USU Repository © 2009 90 . Ancaman hukuman penjara maksimum Hasil wawancara dengan Kanit Pengawasan Orang Asing (POA) Poltabes Medan Sekitarnya Pada tanggal 9 Agustus 2007 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 90 Pihak Kepolisian dan Keimigrasian menyebutkan beberapa alasan dan pertimbangan melakukan tindakan keimigrasian yang berupa pendeportasian yang oleh pihak keimigrasian (walupun penangkapan dilakuakn oleh pejabat imigrasi). 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

terorisme atau perdangan manusia (trafficking). Selain itu jenis hukuman yang diancamkan berupa pidana alternative atau jika didenda belum tentu mereka memiliki uang. Tetapi apabila masalah penyalahgunaan izin keimigrasian tersebut menyangkut masalah permpokan bersenjata. Masalah sumber daya manusia khususnya petugas imigrasi. peredaran narkoba.96 hanya lima tahun sehingga hukuman akan selesai jika dikurangi dengan masa penahanan. Kantor Imigrasi Polonia Medan. baik dari segi kualitas maupun kwntitas yang sangat kurang. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Hal ini tentu saja menghambat tugas para pejabat imigrasi atau PPNS dalam penyidikan. hal ini dikarenakan tindakan tersebut sudah sangat mengancam keamanan negara serta stabilitas nasional. USU Repository © 2009 . Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 91 91 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim. c. Masalah anggaran dana yang dialokasikan untuk melakukan tindakan hukum di kantor Imigrasi sangat terbatas. maka sanksi hukum yang harus dijalankan adalah dengan cara pro-justitia. b. Apabila penanganan masalah ini untuk dilakukan secara pro justitia masih sedikit yang dilengkapi pengetahuan sebagai PPNS. Karena itu yagn dihasilkan tidak sesuai dengan yagn diharapkan. 2007.

K.Mdn Identitas Terdakwa Pengadilan Negeri Medan yang meemriksa dan mengadili perkara-perkara Pidana Biasa/ Singkat/ Cepat telah menyatakan bahwa terdakwa : 1. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . Nama Lengkap Tempat Lahir Umur/ Tgl. Perkara Pidana No. Lahir Jenis Kelamin : Dr. Mathiya HMBS als Raja : Malaysia : 59 Tahun/ 21 Desember 1943 : Laki-laki Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.B/2002/PN. 2493/Pid.97 BAB IV KASUS DAN ANALISIS KASUS A. 2007.

5 Komp.98 Kebangsaan Tempat Tinggal Agama Pekerjaan Pendidikan 2. K. Mathiya H. 2007. Kalimutu Kumar Marimutu secara bersama-sama atau bertindak secara sendiri-sendiri pada hari Jumat tanggal 16 Agustus 2002 sekitar pukul 14.S alias Raja dan terdakwa II. Kali Mutu Kumar Marimutu : Kedah Malaysia : 26 Tahun/ 04 Desember 1976 : Laki-laki : Malaysia : Jl. bertempat di Jl. Karya Wisata No. USU Repository © 2009 . 47 Medan dan di Jl. 47 Medan : Hindu : Dokter : Sarjana : Dr. Dr. Nama Lengkap Tempat Lahir Umur/ Tgl.30 Wib atau setidak-tidaknya pada suatu waktu dalam tahun 2002. Karya Wisata No. Binjai Km 5. RRI Medan : Hindu : Dokter Homeopati : Sarjana Bahwa mereka terdakwa I.B. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).M. Dr. Lahir Jenis Kelamin Kebangsaan Tempat Tinggal Agama Pekerjaan Pendidikan Kasus Posisi : Malaysia : Jl.5 Komp. Binjai Km 5. RRI Medan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

.99 atau setidak-tidaknya disuatu tempat yang masih termasuk daerah hukum Pengadilan Negeri Medan.(lima puluh ribu rupiah) dimana terdakwa-terdakwa dalam membuka Klinik Homeopati tersebut tidak berubah Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.000. sedangkan dalam Pasport terdakwaterdakwa menggunakan Visa hanay selama 60 (enam puluh) hari selaku Visa Turis dan Pelancong namun ternyata terdakwa-terdakwa selaku Dokter pada Klinik Homeopati di Jl. 47 Medan dan di Jl. 50. Karya Wisata No. orang asing yang dengan sengaja menyalahdunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud pemberian izin keimigrasian yang diberikan kepadanya. sedangkan terdakwa-terdakwa datang ke Indonesia hanya diperbolehkan untuk wisata namun ternyata terdakwa-terdakwa bekerja maupun mengajar yang sifatnya mencari keuntungan. namun ternyata setelah tiba di Indonesia yaitu kota Medan ternyata terdakwa-terdakwa membuka Klinik Homeopati di Medan dan bekerja selaku Dokter Homeopati pada klinik tersebut di kota Medan. 30.(tiga puluh ribu rupiah) s/d Rp.. Binjai Km 5. perbuatan mana dilakukan terdakwaterdakwa dengan cara sebagai berikut : Mula-mula terdakwa-terdakwa selaku Warga Negara Malaysia datang berkunjung ke Indonesia melakukan perjalanan kunjungan praktek yaitu terdakwa I dengan Visa Sosial Budaya sedangkan terdakwa II menggunakan Pasport Malaysia dengan Visa Turis selama 2 (dua) bulan. 2007. RRI Medan telah membuka Klinik Homeopati dengan menerima pasien yang berobat dan rawat inap kliniknya dengan biaya sekali berkunjung antara Rp. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 .5 Komp.000.

00 Wib. dan terdakwa-terdakwa dalam memberikan obat-obatan kepada para pasien yang datang berobat ke Klinik Homeopati tersebut tidak memiliki izin untuk memproduksi obat-obatan dan komposisi dari obat-obatan tidak ada dibuatkan dalam labelnya. Sedangkan Izin Rekomendasi dari Dinas Kesehatan Tingkat I Propinsi dan Izin dari Menteri Kesehatan.. Adanya izin/keterangan ketenagakerjaan medis dan Para Medis.100 Hukum dan tidak memiliki Izin dari Menteri Kesehatan sesuai dengan persyaratan mendirikan Klinik/Balai pengobatan yang harus memiliki.(tiga juta rupiah rupiah) persiswa.000.00 Wib s/d pukul 20. Keterangan adanya obat-obatan/alat yang dipergunakan. yaitu : Adanya permohonan yang ditujukan ke Dinas Kesehatan Kota Medan. selain itu terdakwa-terdakwa juga telah menerima siswa/ murid sebanyak 20 (dua puluh) orang dengan menerima biaya pendidikan selama 6 (enam) bulan sebesar Rp. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Adanya penanggung jawab klinik. KTP yang berdomisili di Kota Medan. serta Izin-izin lainya yang menyangkut tentang usaha dan Bidang Kesehatan. oleh karena terdakwa-terdakwa dalam membuka Klinik Hemeopati tersebut tidak memiliki Badan Hukum dan tidak memiliki izin lalu kemudian terdakwa-terdakwapun ditangkap petugas Kepolisian Poltabes Medan.000. sedangkan waktu kuliah/belajar pada hari kamis san jumat dari pukul 19. Keterangan izin lokasi/ Denah. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 3. USU Repository © 2009 . 2007.

(dua puluh lima juta rupiah) subsider 3 (tiga) bulan kurungan dengan perintah terdakwa tetap ditahan/terdakwa supaya ditahan (jika terdakwa tidak ditahan). 1.000.000. 3. Mathiya HMBS dkk. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2.101 Dalam surat tuntutannya Jaksa Penuntut Umum menguraikan berbagai tuntutannya sebagai berikut : 1.. Menyatakan terdakwa Dr. 2493/Pid. Putusan Perkara Pidana No. Menyatakan barang bukti berupa obat-obatan dirampas untuk dimusnahkan dan Pasport An. 2007.B/2002/PN.(seribu rupiah). 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . Terdakwa-terdakwa dikembalikan kepada terdakwaterdakwa. Menetapkan supaya terpidana dibebani biaya perkara sebesar Rp. K. K.000. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Dr. dengan pidana denda masing-masing Rp. 9 Tahun 1992 dalam dakwaan kesatu. bersalah melakukan tindak pidana menyalahgunakan izin sebagaimana diatur dalam Pasal 50 UU RI No. 4. 25. Mathiya HMBS dkk.Mdn Hakim Pertama yang mengadili perkara ini dalam putusannya memberikan pertimbangan hukum sebagai berikut : Bahwa dari keterangan saksi-saksi dan terdakwa dihubungkan dengan barang bukti yang diajukan di persidangan. majelis telah menemukan adanya fakta-fakta yuridis sebagai berikut.

B. 2007.5 Medan atau di Komp. USU Repository © 2009 . sebagai subjek hukum yang dapat dipertanggung jawabkan perbuatannya adalah keterangan terdakwa Dr.S dan Dr. RRI Cabang Medan.102 Terdakwa didakwakan Jaksa Penuntut Umum melakukan tindak pidana yang diatur dan diancam dalam pasal 80 ayat (2) UU RI No. Menyelenggarakan Kesehatan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. K.S serta Dr. Kali Mutu Kumar Malimutu dengan sengaja menghimpun dana untuk kesehatan yang diambil dari para mahasiswa yang mengikuti pendidikan Homeopati yang dilakukan di Rumah Sakit Homeopati yang terletak di jalan Binjai Km 5.M. Mathiya H. c. Kali Mutu Kumar Marimutu b. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 50 UU RI No. Tentang Kesehatan : 1. Barang Siapa Berdasarkan Fakta-fakta dan keterangan para saksi serta keterangan terdakwa sendiri didukung alat bukti yang telah disita. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Dengan Sengaja Jelas perbuatan yang dilakukan terdakwa-terdakwa Dr. K. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Unsur-unsur Objektif a.M.Mathiya H.B.

dan menerima pasien untuk rawat jalan serta rawat nginap bagi setiap pasien yang berobat kepada terdakwa. Unsur-unsur Objektif a.S dan Dr.B. Unsur-Unsur Subjektif a.103 Kedua terdakwa Dr.M. K. 2. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Tidak memiliki Izin operasional Klinik serta Rumah Sakit Homeopati Megawati Sukarno Putri tidak mempunyai izin operasionalnya. Orang asing Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007. tentang pendirian Klinik Homeopati Megawati Sukarno Putri tersebut b. Tidak berbentuk badan hukum Klinik serta Rumah Sakit Homeopati Megawati Sukarno Putri didirikan kedua terdakwa tersebut jelas tidak berbentuk badan hukum karena tidak mempunyai izinnya. Dibuktikan dengan tidak adanya suratsurat yang sah tentang adanya Klinik serta Rumah Sakit Homeopati Megawati Sukarno Putri tersebut serta Rumah Sakit Keimigrasian : 1. USU Repository © 2009 . Kalimutu Kumar Marimutu telah melakukan pengobatan secara alternatif dengan cara mendirikan klinik serta Rumah Sakit Homeopati tanpa memiliki izinnya. Mathiya H.

dan oleh karenanya dijatuhi hukuman. b. Dengan Sengaja Benar kedua terdakwa tersebut yaitu Dr. 2007. terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut HUKUM. bahwa oleh karena dakwaan kesatu primair. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).S dan Dr. Meninbang. Mathiya H. 2. Kalimutu Kumar Marimutu dengan sengaja datang ke Indonesia telah menyalahgunakan passport yang ada padanya. USU Repository © 2009 . Unsur-unsur Subjektif Melakukan kegiatan tidak sesuai izinnya Benar kedua terdakwa tersebut melakukan kegiatannya tidak sesuai dengan izin yang ada dimana ia datang ke Indonesia seharusnya hanya sebagai wisata saja akan tetapi visa tersebut ia gunakan untuk kepentingan mencari suatu pekerjaan atau keuntungan. K. subsidair kedua sesuai pasal undang-undang dimaksud pasal 80 ayat (2) Sub Pasal 84 ayat (5) UU RI No.S dan Dr. maka ia terdakwa harus dinyatakan bersalah tentang hal ini. 23 tahun 1992 tentang kesehatan dan Pasal 50 UU RI No.B.104 Benar keduan terdakwa tersebut yaitu Dr. Mathiya H.B. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. K.M.M. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Kalimutu Kumar Marimutu adalah orang asing atau warga Negara asing atau warga Negara Malaysia.

Memperhatikan ketentuan pasal 80 ayat (2) sub Pasal 84 ayat (5) UU RI No. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). bahwa oleh karena terdakwa dihukum maka dipandang perlu untuk tetap menahannya. Memberikan keterangan yang jelas dan terang dipersidangan dan menyatakan menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu dikemudian hari yang akan datang/ tobat dan mempunyai tanggungan istri dan anak yang masih memerlukan pertanggungjawaban sebagai kepala keluarganya. 23 tahun 1992 tentang kesehatan jo Pasal 50 UU RI No. Menimbang. maka majelis akan memperimbangkan hal-hal yang memberatkan maupun yang meringankan hukumannya terdakwa sebagai berikut: Hal-hal yang memberatkan : Bahwa perbuatan dari terdakwa-terdakwa dapat merugikan pemerintah republik Indonesia.105 Menimbang bahwa oleh karena terdakwa dijatuhi hukuman maka terdakwa dihukum pula untuk membayar biaya perkara. Menimbang. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian dan ketentuan perundang-undangan yang berhubungan dengan perkara ini. Hal-hal yang meringankan : Ia terdakwa-terdakwa belum pernah dihukum. 2007. bahwa sebelum menjatuhkan hukuman .

M. K.(seribu rupiah) Menyatakan barang bukti berupa obat-obatan diarmpas untuk dimusnahkan dan pasport atas nama terdakwa dikembalikan kepada terdakwa. Menghukum Terdakwa-terdakwa dengan hukuman denda sebesar Rp. Dr. Kalimutu Kumar marimutu keduanya berkebangsaan Malaysia Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.(tujuh juta lima ratus ribu rupiah) dengan ketentuan jika denda tersebut tidak dibayar harus diganti dengan hukuman kurungan selama 2 (dua) bulan. Dr. Mathiya H. 1.500. Menghukum terdakwa-terdakwa lagi membayar ongkos perkara sebanyak Rp. K.106 MENGADILI Menyatakan Terdakwa : 1.M. B.. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).B. Analisis Putusan Setelah penulis mempelajari dan membaca pertimbangan hukum putusan Pengadilan Negeri Medan. 2007.000.S alias RAJA 2.B. KALIMUTU KUMAR MARIMUTU tersebut diatas telah trbukti dengan sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan Menyalahgunakan Izin. MATHIYA H.000. 7..S alias Raja dan Dr. maka dapat diketahui bahwasannya telah terjadi suatu tindak pidana di bidang Imigrasi yakni telah terjadinya penyalahgunaan ijin keimigrasian yang dilakukan oleh Terdakwa-terdakwa Dr.

Oleh karena itu keduanya dikenakan pidana karena telah melanggar ketentuan undang-undang yang berlaku di indonesia yakni Pasal 80 ayat (2) Sub Pasal 84 ayat (5) UU RI No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). wajib dilaksanakan oleh setiap penyelenggara.” Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 . 23 tahun 1992 tentang kesehatan dan Pasal 50 UU RI No.000. 2007. yang tidak berbentuk badan hukum dan tidak memiliki izin operasional serta tidak melaksanakan ketentuan tentang jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 Ayat (2) dan Ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. Pasal 80 ayat (2) UU RI No.” Dari ketentuan Pasal ini perbuatan terdakwa-terdakwa telah terbukti tidka memiliki izin operasional dengan demikian secara otomatis tidak melaksanakan ketentuan jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat sebagai mana yang dimaksud Pasal 66 yang menyatakan : Ayat (2) : ” Jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat merupakan cara penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan dan pembiayaannya.00 (lima ratus juta rupiah).000.107 yang telah mendirikan usaha atau praktek tanpa memiliki ijin untuk melakukan hal tersebut. berdasarkan pemeriksaan di persidangan menunjukkan bahwa Terdakwa-terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. 500. dikelola secara terpadu untuk tujuan meningkatkan derajat kesehatan. 23 tahun 1992 tentang kesehatan menyatakan bahwa : ”Barangsiapa dengan sengaja menghimpun dana dari masyarakat untuk menyelenggaraakan pemeliharaan kesehatan.

” Pasal 59 Ayat (1) menyatakan bahwa : “Semua penyelenggaraan sarana kesehatan harus memiliki izin.108 Ayat (3) . dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 25.” Pasal 50 UU RI No. ”Penyelenggara jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat harus berbentuk badan hukum dan memiliki izin operasional serta kepesertaannya bersifat aktif. Dan juga bisa saja tidak ada jaminan kesehatan masyarakat di klinik yang mereka dirikan hal ini seharusnya menjadi pertimbangan hal yang memberatkan karena dapat dikatakan suatu hal yang penting jika dikaitkan dengan masalah kesehatan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007.” Berdasarkan ketentuan tersebut. 15.000. Hal mana dinyatakan juga dalam sub Pasal 84 point 5 UU RI No.000. selain merugikan keuangan negara dimana dengan adanya izin usaha seharusnya ada pemasukan kas negara baik dari pajak maupun biaya pengurusan izin pada umumnya.-“ Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.000.00 (lima belas juta rupiah). USU Repository © 2009 .000. 23 tahun 1992 tentang kesehatan yang menyatakan Barang siapa : ”Menyelenggarakan sarana kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 Ayat (1) atau tidak memilki izin sebagaimana dimaksud dalam pasal 59 Ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp.” Pasal 58 Ayat (1) menyatakan bahwa : ”Sarana kesehatan tertentu yang diselenggarakan masyarakat harus berbentuk badan hukum. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian menyatakan bahwa : “Orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud pemberian izin keimigrasian yang diberikan kepadanya.

Jakarta. “Asas – Teori – Praktik Hukum Pidana “. Tuntutan yang diajukan Jaksa Penuntut Umum menurut penulis kurang menekankan kepada unsur pemidanaan terhadap tindakan pelaku demikian juga vonis majelis hakim. Bisa saja dilain waktu para pelaku mengulangi perbuatannya dan yang ditakutkan banyak bermunculan tindakan-tindakan serupa baik itu dibidang Leden Marpaung. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Hukuman yang dijatuhkan hanya sebatas denda sejumlah uang yang apabila kita lihat jumlahnya relative tidak memberatkan terdakwa-terdaka (para pelaku). Hal mana menurut penulis tidak memberikan sifat penjeraan terhadap tindakan semacam ini sedangkan menurut teori telatif (Doeltheorie) 92 tujuan hukum pidana salah satunya adalah menjerakan.109 Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan hukum yang ada yang ditemukan dari keterangan para saksi dan keterangan para terdakwa telah terbukti dan meyakinkan melanggar ketentuan pasal-pasal yang dimaksud di atas. 2005. USU Repository © 2009 92 . diharapkan si pelaku atau terpidana menjadi jera dan tidak mengulangi lagi perbuatannya (speciale preventie) serta masyarakat umum mengetahui bahwa jika melakukan perbuatan sebagaimana dilakukan terpidana. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). maka akan mengalami hukuman yang serupa (generale preventie). hanya ditekankan pada pengenaan hukuman denda sejumlah uang.Sinar Grafika. yang dimaksud dengan menjerakan disini adalah dengan penjatuhan hukuman. Menurut penulis penentuan pasal-pasal terhadap tindakan para terdakwa telah benar. 2007. hal. 4.

110 kesehatan atau bidang lainnya. Hal ini tujuannya adalah tidak lain untuk menciptakan dan membudayakan adanya sinkronisasi antara peraturan hukum yang ada dengan pelaksanaan di lapangan. Kasus-kasus semacam ini sebenarnya harus mendapat perhatian yang serius dari apart penegak hukum dengan segala kelengkapannya. hal mana akan dapat merugikan keuangan negara. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. tidak hanya dalam bidang keimigrasian dan kesehatan saja tetapi juga bidang-bidang lain yang menyangkut kepentingan publik atau masyarakat luas. 2007. kesehatan maupun keamanan masyarakat. Oleh karena itu sebenarnya yang perlu ditingkatkan adalah pemahaman dan kesadaran hukum serta tanggung jawab hukum para aparat penegak hukum dalam menjalankan tugasnya. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). namun kadang kala pelaksanaan dilapangan kebanyakan tidak sejalan dengna peraturan yang ada.

Sehingga maksud dan tujuan dari BVKS sebagai pengganti BVW tidak tercapai.sosial budaya dan usaha. dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu: 1. Dimana wisatawan tersebut dapat menikmati wisata di Indonesia dalam kurun waktu 2 (dua) bulan. malah dipergunakan oleh orang asing sebagi salah satu cara masuknya imigran gelap ke Indonesia. tetapi setalah pemberian fasilitas bebas visa dalam BVKS yang lebih luas ruang lingkupnya tetap ditemukan pelanggaran terhadap fasilitas bebas visa tesebut. yang pada awalnya dimaksudkan untuk mengatur secar tegas fasilitas bebas visa. Ruang lingkup fasilitas bebas visa yang terlalu luas yang mencakup kegiatan wisata. USU Repository © 2009 . 2007. Kesimpulan Berdasarkan uraian-uraian penulisan skripsi ini.111 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Tetapi tenggang waktu 2 (dua) bulan ini dirasakan terlalu panjang atau lama. karena fakta di Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Faktor penyebab terjadinya penyalahgunaan izin keimigrasian adalah: a. b. Adanya perkembangan tenggang waktu dalam pemberian fasilitas bebas visa bagi wisata.

Penanggulangan secara represif Dalam hal penanggulangan ini sangat erat kaitannya dengan hal pengawasan baik wisatawan yang masuk atau keluar wilayah Negara Republik Indonesia. c. maka orang asing yang dapat dengan leluasanya berkeliaran di Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). seperi disalahgunakan untuk bekerja. dan melakukan kegiatan di wilayah Negara Republik Indonesia. 2. Terutama sekali para petugas yang bertugas di pintu-pintu masuknya orang asing ke Indonesia. USU Repository © 2009 . Penanggulangan secara preventif b. bahwa betapapun baiknya aturantntangkeimigrasian. 2007. Dan tidak dipungkiri. Upaya menanggulangi terjadinya suatu tindakan yang melanggar ketentuan izin keimigrasian dibedakan atas dua cara yaitu: a. jika para petugasnya bermental yang kurang baik. Peranan petugas/pejabat/aparatur imigrasi sangat besar. Panjang atau lamanya jangka waktu ini ternyata dapat memberikan peluang bagi wisatawan asing untuk melakukan pelanggaran dengan berbagi motivasi.112 lapangan menunjukkan bahwa wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia pada umumnya dan Medan pad khusunya jarang yang tinggal sampai 2 (dua) bulan. maka aturan itu tidak aka nada artinya. jika mereka bertindak masa bodoh terhadap orang asing tersebut. Penanggulangan secara preventif adalah tindakan penanggulangan yang dilakukan dalam usaha untuk mencegah atau menjga kemungkinan yang terjadinya tindak Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

terorisme. Saran Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. maka tunduk pada Undang-undang no. Yang dapat berupa tindakan keimigrasian yang salah satunya pendeportasian. yang juga tidak terlepas dengan ketentuan yang diatur dalam pasal-pasal KUHAP tentang penyidikan. Sedangkan dalam penaggulangan represif ini dapat dilakukan dengan cara pemidanaan. dan ekonomis cara tindakan keimigrasian dianggap lebih praktis dan efisien. USU Repository © 2009 . Kecuali masalah penyalahgunaan izin tersebut menyangkut masalah peredaran narkoba. 4.113 pidana imigrasi dalam hal ini yaitu tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. atau grasi yang dimiliki oleh warga negara asing apabila ditempuh dengan cara pro justitia. agar menimbulkan efek jera bagi warga negara asing yang melakukan tindak pidana di bidang keimigrasian. 3. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Dari data yang diperoleh. Dalam proses penyidikan terhadap tersangka yang melakukan tindak pidana dibidang keimigrasian. kasasi. mengingata dana orasional dari negara yang sangat terbatas. maka jalan pro justitialah yang harus ditempuh. bahwa sanksi yang dijatuhkan oleh aparatur penegak hukum dalam kasus tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian adalah lebih sering bersifat non pro justitia. B. dan perdagangan manusia (trafickking). deportasi maupun black list. Hal ini tentu saja membuthkan biaya operasional yang cukup tinggi. Hal ini dikarenakan mengingat adanya upaya hukum banding. 2007. khususnya penyalahgunaan izin keimgrasian. Karena menurut politis.

Pada saat sekarang ini sedang disusun RUU tentang keimigrasian yang telah disosialisasikan oleh Tim dari Direktorat Jenrak Imigrasi. Dan juga pemberian fasilitas tersebut sebaiknya dilakukan secara reciprocal atau prinsip timabal balik. Sehingga hal ini jangan sampai dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan yang lain yang tidak sesuai dengan izin keimigrasiannya. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 .114 1. hal ini juga menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya mengharapkan faktor ekonomi saja dari keunjungan wisatwan asing . Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Tenggang waktu pemeberian fasilitas bebas visa untuk wisata sebaiknya adalah 1 (satu) bulan dan dapt diperpanjang selam 30 (tiga puluh) hari. dengan adanya berbagai kritikan dan tanggapan terhadap RUU tersebut. sebaiknya Tim melakukan koreksi. Sebaiknya pemberian fasilitas bebas visa ditinjau ulang kembali dan dikembalikan kepada latar belakang pemberian fasilitas tersebut. dan koreksi yang patut untuk diperhatikan yaitu mengenai tata urutan peraturan-peraturan perundang-undangan tentang keimigrasian. sedangkan rata-rata masa kunjungan wisatawan asing ke Indonesia pada umunya dan kota Medan khususnya adalah 3-4 (tiga sampai empat) minggu saja. yaitu hanya unutk wisata. agar nantinya walaupun telah disahakan menjadi Undang-undang tidak menambah kerancuan. Karena Undang-undang sebelumnya dianggap masih belum sempurna. hal ini disebabkan karena penberian fasilitas bebas visa sekarang adalah 2 (dua) bulan dan ini terlalu lama. 2. tetapi juga menunjukkan martabat bangsa. karena masih banyak celah yang memungkinkan untuk warga negara asing melakukan tindak pidana di bidang keimigrasian.

Demikian juga yang penting adalah diperlengkapinya peralatan dengan kemajuan teknologi seperti sistem komputerisasi sehingga dapat melayani maupun memantau orang asing yang ada di wilayah Indonesia. Dan juga diadakan penindakan secara hukum bagi petugas/pejabat imigrasi sendiri yang membantu stsu melakukan tindak pidana keimigrasian. Dan juga dalam mengkoordinasikan tindakan cekal agar dapat dengan cepat dilaksanakan sebelum orang yang dimaksud melarkan diri. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. maka peralatn komunikasi sangat diperlukan dan semua instansi dapat selalu memonitor setiap orang yang terkena daftar cekal apakah sudah habis waktunya atau belum.115 3. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). tidak berdasarkan kekuasaan belaka. 2007. Dalam hal penanggulangan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian khsusnya black list atau cekal hendaknya mencerminkan prinsip-prinsip negara yang berdasarkan hukum. Penegakan hukum di Indonesia terlihat lemah dan hanya mengandalkan tindakan pendeportasian. 4. karena itu perlu para petugas/pejabat imigrasi dilengkapi dengan peningkatan kemampuan sumber daya manusia baik lewat pendidikan foramal meupun pendidikan latihan mengenai pelayanan dan pengawasan bagi orang asing atau wisatawan asing yang datang.

Sinar Grafika. Flora Liman Mangestu. Jakarta: Balai Pustaka. Jakarta. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Soetoprawiro.116 DAFTAR PUSTAKA A. Rineka Cipta. 2005. Kewarganegaraan dan Leden Marpaung. Bandung Moeljatno. Muladi & Barda Nawawi Arif. Sinar Grafika. 1996. S. Asas Teori Praktik Hukum Pidana. Tugas Pokok dan Fungsi Direktorat Jendral Imigrasi. Asas-asas Hukum Pidana. 1982. 1998. Alumni. 1992. Cetakan Ke-2. UKI: Jakarta. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Jakarta. Sjarif. Pedoman Penggunaan Tenaga Kerja Asing di Indonesia dan Peraturan-peraturannya. Buku Petunjuk Keimigrasian RI Bagian I Visa Izin Tinggal. 2001 Koerniatmanto. 1996. Departemen Kehakiman RI. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Direktorat Jendral Imigrasi. Hukum Keimigrasian Indonesia. 2007. Teori-teori dan Kebijakan Pidana. Gramedia. 2000. Jakarta. Hadi Kiswanto. H. Jakarta. Ridwan Halim . Jakarta. Jakarta. Persoalan Praktis Filsafat Hukum dalam Himpunan Distingsi. 1983.

1987. 32 TAHUN 1994 TENTANG VISA. PT. Jakarta. Jakarta : Rajawali Press. Citra Aditya Bakti. Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan. 1984. Purbacaraka. Politik Hukum Pidana. Jakarta. PT. H dan Abrar Yusra. Gramedia Pustaka. M. Kapita Selekta Hukum Pidana. 1987. Yogyakarta. Amarja Press. R. Peraturan Perundang-undangan : KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA.117 Nawani Arief. dan Karantina. Alumni. Soerjono. Dirjen Imigrasi Hukum dan HAM RI. Semarang. Ibnu. Jakarta. Bandung. Soedarto. IZIN MASUK. UI Press. 1988. Santoso Imam. “Faktor-faktor yang mempengaruhi Penegakan Hukum. PT. Manajemen Keimigrasian. . Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan Hukum dan Pengembangan Hukum Pidana. UI-Press. Pustaka Pelajar. 2007. Soekamto. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Purmadi. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA PERATURAN PEMERINTAH RI NO. Citra Aditya Bakti. Soesilo.1984. Perspektif Imigrasi dalam Pembangunan Ekonomi dan Ketahanan Nasional. Jakarta Suud. 2004. Politeia : Bogor. 2005. USU Repository © 2009 . R. Jakarta. Ramadhan K. 2005. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Felix Hadi Mulyatno dan Endar Sugiarto. Penggarapan Disiplin Hukum dan Filsafat Hukum bagi Pendidikan Hukum. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentar Lengkap Pasal Demi Pasal . . Barda. DAN IZIN KEIMIGRASIAN. 2001. 1983. Pabean. 2005 “Lintas Sejarah Imigrasi Indonesia”. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta. Rajawali. Bandung.. Jakarta Teguh Prasetyo & Abdul Halim Barkatullah. Imigrasi. 2005.

Universitas Udayana dan PDII LIPI (Jakarta). Denpasar. Saleh Wiramiharja. “Illegal Migrants dan Sisitem Keimigrasian Indonesia: suatu tinjauan Analisis”. Jakarta. 2002. 45. “Langkah-langkah Baru Menunjang Peningkatan Profesionalisme Keimigrasian”. “Petunjuk Pemantauan Operasional Keimigrasian No. 2007. “Imigrasi Daftar Ulang Warga Negara Asing”. Lukman Bratamidjaja. 2002 Direktorat Jenderal Imigrasi. 2002.118 UNDANG-UNDANG NOMOR KEIMIGRASIAN. 42.solusihukum. Direktorat Jenderal Imigrasi. dkk. “Aspek Ilmu Perundang-undangan BVKS Bagian I”. Jakarta. 14 Januari 2000. 44. 9 TAHUN 1992 TENTANG Media Cetak dan Elektronik : http://www. Hukum Keimigrasian dalam Sistem Hukum Nasional. Laporan : Bagir Manan. Direktorat Jendral Imigrasi. 01. USU Repository © 2009 . “Usaha Penanggulangan Tindak Pidana Imigrasi dan Imigrasi Gelap di Kota Madya Denpasar”.com Arief Rahman Kunjono. disampaikan dalam Rapat Kerja Nasional Keimigrasian. Jakarta. Pintu Gerbang No.google. hlm. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 1993. Direktorat Jendral Imigrasi. 44. 7 Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian. Pintu Gerbang No. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.: F4-IL. 10-1. 2002. 2000. Pintu Gerbang No. Pintu Gerbang No. Jakarta.com http://www.1044” tentang Keradaan dan Kegiatan Orang Asing Di Indonesia. Laporan Penelitian. Jakarta. I Wayan Tangun Susila. 1999.

Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN). Beberapa Pedoman dan Ketentuan Tentang Imigrasi dan Ketatalaksanaan: Bahan Penataran Administrasi Apratur Kehakiman. “Analisa dan Evaluasi tentang Pengaturan Fasilitas Bebas Visa wisata bagi Orang Asing yang Berkunjung ke Indonesia” (Laporan Penelitian). 1982.119 Pusdiklat Pegawai Departemen Kehakiman. Jakarta. Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. 2007. dkk). 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Jakarta. 1984.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful