1

PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP PENYALAHGUNAAN IZIN KEIMIGRASIAN MENURUT UNDANG-UNDANG RI NO. 9 TAHUN 1992 TENTANG KEIMIGRASIAN (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan) SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas Dan Memenuhi Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum O L E H YOYOK ADI SYAHPUTRA NIM : 030200015 Departemen Hukum Pidana

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2007
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

2

DAFTAR ISI Kata Pengantar ..............................................................................................................i Daftar Isi .......................................................................................................................ii Abstraksi ......................................................................................................................iii BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1 A. Latar Belakang ....................................................................................... 1 B. Perumusan Masalah ............................................................................... 6 C. Tujuan dan Manfaat ............................................................................... 6 D. Keaslian Penulisan ................................................................................. 7 E. Tinjauan Kepustakaan ............................................................................ 8 1. Pengertian Penegakan Hukum ............................................................ 8 2. Pengertian Pidana ............................................................................. 11 3. Pengertian Keimigrasian................................................................... 16 F. Metode Penelitian ................................................................................ 16 G. Sistematika Penulisan .......................................................................... 19

BAB II

TINJAUAN UMUM ................................................................................. 21 A. Keimigrasian dalam Sistem Hukum Indonesia ...................................... 21 1. Pengertian Keimigrasian................................................................... 21 2. Fungsi Keimigrasian ........................................................................ 24 3. Ruang Lingkup Keimigrasian ........................................................... 29 B. Jenis-jenis Izin Keimigrasian................................................................ 35 C. Hukum Keimigrasian Indonesia Dalam Sistem Hukum Nasional .......... 40

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

3

BAB III

PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP PENYALAHGUNAAN IZIN KEIMIGRASIAN ................................... 45 A. Ketentuan Keberadaan Warga Negara Asing (WNA) di Indonesia Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian ............................................. 45 B. Faktor-faktor Penyebab terjadinya Penyalahgunaan Izin Keimigrasian................................................................................ 53 C. Upaya Penanggulangan Tidak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian ................................................................................ 61

D. Peranan Aparatur Penegak Hukum dalam Menanggulangi Tindak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian ..................... 73

BAB IV

KASUS DAN ANALISIS KASUS ............................................................ 91

A. Kasus Posisi ................................................................................................ 92 B. Analisis Kasus............................................................................................ 99 C. BAB V PENUTUP .............................................................................................. 104 A. Kesimpulan ........................................................................................ 104 B. Saran.................................................................................................. 106

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Tidak jarang persoalan kewarganegaraan suatu negara akan berkembang menjadi persoalam besar akibat kelengahan dari bagian keimigrasian negara tersebut. menjadikan tindak pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian sebagai suatu tindakpidana memerlukan penangan khusus. serta faktor-faktor yang menjadi penyebab dalam tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasianadan upaya-upaya apa saja yang dapat dilakukan sebagai upaya dalam menangani tindak pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian. Tahap selanjutnya penulis melakukan penelitian dengan menggunakan teknik wawancara dan mengumpulkan bahan dari narasumber yaitu dari Kantor Imigrasi Polinia Medan. masalah minimnya pengetahuan masayrakat. mengingat tugas dan tanggung jawab yang diembannya sangat menentukan keberadaan dan dan kekuatan negara yang bersangkutan.4 ABSTRAKSI Keimingrasian merupakan salah satu bagian terpenting bagisuatu negara. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian juga masih berpedoman dengan KUHP. B/2002/PN.pada tahap awal penulis terlebih dahulu melakukan penelitian terhadap bahan hukum yang berkaitan dengan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. dan salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam penegakan hukum dalam tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian adalah dengan meningkatkan profesionalitas aparatur penegak hukum. USU Repository © 2009 . dan ketegasan aparatur penegak hukum serta memajukan sarana dan prasarana dalam menunjang penegakan hukum tersebut. Kompleksnya masalah dalam tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. B/2002/PN. Skripisi yang berjudul “penegakan hukum pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian (studi kasus Pengadilan Negeri Medan dengan Putusan No. Berdasarkan penelitian tersebut diketahui bahwa pengaturan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian dalam hukum positif Indonesia diatur dalam Undang-undang No. Mdn) disebabkan masih kurangnya ketegasan aparatur penegak hukum dalam memberikan hukuman kepda warga negara asing yang melakukan tindak pidana penyalhgunaan izin keimigrasian. Mdn)” mengetangahkan permasalahan tersendiri mengenai pengaturan tindak pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian. Hukum pidana masih belum berfungsi secara maksimal terhadap kasus penyalahgunaan izin keimigrasian (Putusan No. mulai dari penggunaan visa yang tidak sesuai. dan Pengadilan Negeri Medan yang bertujuan untuk mengetahui pengaturan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian serta mengetahui peranan aparatur penegak hukum dalam menggulangi tindak pidana penyalhgunaan izin keimigrasian. 2493/Pid. sampai peranan aparat penegak hukum. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2493/Pid. Kantor Kepolisian Kota Besar Medan dan Sekitarnya (Poltabes). Penulis menggunakan metode penelitian dengan metode hukum normative dan empiris. 2007. Seluruh warga negara Indonesia maupun warga negara asing setiap kali keluar-masuk wilayah Indonesia pasti berurusan terlebih dahulu dengan bagian keimigrasian.

aparatur penegak hukum itu diperkenankan untuk menggunakan daya paksa. Jadi. “reformasi http://www. maka reformasi penegakan hukum tampaknya memerlukan peninjauan dan penataan kembali seluruh struktur kekuasaan/kewenangan penegakan hukum. berarti dia menjalankan atau menegakkan aturan hukum. 2007.5 BAB I PENDAHULUAN A. 30 Mei 2006) Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. dari segi subyeknya itu. Siapa saja yang menjalankan aturan normatif atau melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dengan mendasarkan diri pada norma aturan hukum yang berlaku.solusihukum. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 1 Mengingat demikian banyaknya instansi (struktur kelembagaan) dan pejabat (kewenangan) yang terkait di bidang penegakan hukum. penegakan hukum itu dapat dilakukan oleh subyek yang luas dan dapat pula diartikan sebagai upaya penegakan hukum itu melibatkan semua subyek hukum dalam setiap hubungan hukum. Dalam arti sempit. Ditinjau darui sudut subyeknya. Latar Belakang Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam lalulintas atau hubungan–hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. apabila diperlukan.php?id=49 yang direkam pada 1 Mar 2007 03:28:22 GMT (“Penegakan Hukum”. penegakan hukum itu hanya diartikan sebagai upaya aparatur penegakan hukum tertentu untuk menjamin dan memastikan tegaknya hukum itu. USU Repository © 2009 1 .com/artikel.

Dikatakan demikian karena ketentuan keimigrasian masih tersebar dalam beberapa ketentuan perundangundangan dan masih kuat dipengaruhi oleh hukum kolonial. 4 4 M. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Disamping Barda Nawawi Arief. hukum keimigrasian di Indonesia telah ada sejak pemerintahan kolonial Belanda 4. 2007. 1 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. bahkan merupakan subsistem dari Hukum Administrasi Negara. “Persfektif Imigrasi dalam Pembangunan Ekonomi dan Ketahanan Nasional”. 3 Hukum keimigrasian merupakan bagian dari sistem hukum yang berlaku di Indonesia. 3. PT. berhubungan erat dengan reformasi di bidang “budaya hukum dan pengetahuan/pendidikan hukum”. Ketentuan hukum keimigrasian di Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945 hingga 1991 secara formal tidak mengalami perkembangan berarti. hal. bahkan juga di bidang perundang-undangan (substansi hukum). Sebagai sebuah subsistem hukum. Masalah-masalah yang mendapat sorotan masyarakat luas saat ini (seperti kolusi. hal. 2 Reformasi di bidang penegakan hukum dan struktur hukum. Iman Santoso. mafia peradilan dan bentuk-bentk penyalahgunaan kekuasaan atau persekongkolan lainnya di bidang prosedur/penegakan hukum).6 penegakan hukum” mengandung di dalamnya “reformasi kekuasaan/kewenangan di bidang penegakan hukum”. UI Press Jakarta. 3 Ibid. hal. “Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan”. Citra Aditya Bakti. Semarang. jelas sangat terkait dengan masalah budaya hukum dan pengetahuan/pendidikan hukum. USU Repository © 2009 2 . Disamping tidak seseuai lagi dengan perkembangan kehidupan nasional. sebagian dari ketentuan tersebut masih merupakan ketentuan bentukan pemerintah kolonial. korupsi. 2004. 2001.

sebagian dari ketentuan tersebut masih merupakan bentukan pemerintah kolonial Belanda yang diserap ke dalam hukum keimigrasian nasional. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian (selanjutnya disebut UU No. seperti Toelatingsbesluit Staatsblad 1916 Nomor 47 (Penetapan Izin Masuk/PIM). dan pertahanan pemerintah kolonial. 2007. Undang-undang tentang keimigrasian yang berjiwa nasional dilahirkan. 5. yang sebelumnya tersebar dalam beberapa ketentuan perundang-undangan. serta Toelatingsordonnantie Staatsblad 1949 Nomor 33 (Ordonansi Izin Masuk/OIM).7 tidak sesuai lagi dengan perkembangan kehidupan nasional. USU Repository © 2009 . Demikian pula dalam pengaturan Penetapan Izin Masuk. hal. sekaligus juga diberi izin menetap. ekonomi. yang tentu saja kehadirannya ditujukan untuk mendukung kepentingan pemerintah kolonial. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Hal tersebut tentu saja merupakan kemudahan di bidang keimigrasian karena membuka pintu selebar-lebarnya bagi pendatang dari berbagai negara demi kepentingan politik. pada tanggal 31 Maret 1992. Misalnya disebutkan dalam Ordonansi Izin Masuk bahwa orang asing yang telah diberi izin masuk. 2 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. barang. 9 Tahun 1992) merupakan unifikasi beberapa ketentuan yang berkaitan dengan keimigrasian. keberadaan pendatang ilegal dapat menjadi legal hanya dengan membayar sejumlah denda. Barulah kemudian. diubah dan ditambah terakhir dengan Staatsblad 1949 Nomor 330. Secara faktual harus diakui bahwa peningkatan arus lalu-lintas orang. jasa dari dan ke wilayah Indonesia dapat mendorong dan memacu 5 Ibid.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007. serta meningkatnya aktivitas perdagangan yang akan meningkatkan penerimaan devisa. b. seperti: a. Munculnya Transnational Organized Crimes (TOC). informasi dan orang juga dapat mengandung pengaruh negative. pencucian uang. Dampak negatif ini akan semakin meluas ke pola kehidupan serta tatanan sosial budaya yang dapat berpengaruh pada aspek pemeliharaan keamanan dan ketahanan nasional secara makro. jasa. Namun peningkatan arus lalu-lintas barang. Dominasi perekonomian nasional oleh perusahaan transnasional yang bergabung dengan perusahaan Indonesia (melalui Penanaman Modal Asing dan/ atau Penanaman Modal Dalam Negeri. imigran gelap. narkotika. Penetapan politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif (selective policy) membuat institusi imigrasi Indonesia memiliki landasan operasional dalam menolak atau mengizinkan orang asing. USU Repository © 2009 . yang keluar. baik warga negara Indonesia maupun orang asing. dan tinggal di wilayah Indonesia. dan obat terlarang. mulai dari perdagangan wanita dan anak-anak.8 pertumbuhan ekonomi serta proses modernisasi masyarakat. Untuk meminimalisasikan dampak negatif yang timbul akibat mobolitas manusia. modal. keimigrasian harus mempunyai peranan yang semakin besar. meningkatnya investasi yang dilakukan. pembelian saham atau kontrak lisensi). Peningkatan arus orang asing ke wilayah RI tentunya akan meningkatkan penerimaan uang yang dibelanjakan di Indonesia. baik Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. masuk. sampai ke perbuatan terorisme internasional.

USU Repository © 2009 . Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan di atas. diizinkan masuk dan dibolehkan berada di wilayah Indonesia. serta diberi izin tinggal sesuai dengan maksud dan tujuan kedatangannya di Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). peran penting aspek keimigrasian dalam tatanan kehidupan kenegaraan akan dapat terlihat dalam pengaturan keluar-masuk orang dari dan ke dalam wilayah Indonesia. bangsa. ditetapkan bahwa hanya orang asing yang: a. hal. maka dari itu penulis mengambil judul skripsi “Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut UndangUndang RI No. dan pemberian izin tinggal serta pengawasan terhadap orang asing selama berada di wilayah Indonesia. maka perlulah kiranya penulis untuk membahas lebih jauh mengenai tindak pidana di bidang keimigrasian ini khususnya hal-hal yang berkaitan dengan penyalahgunaan izin keimigrasian. 4 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. serta c. Berdasarkan politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif. bangsa. keberadaannya. Tidak membahayakan keamanan dan ketertiban umum. Memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat.9 dari segi masuknya. maupun kegiatannya di Indonesia 6. dan negara Republik Indonesia. Tidak bermusuhan dengan rakyat. dan negara Republik Indonesia. 2007. 6 Ibid. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian”. b. Dengan demikian.

USU Repository © 2009 . 2007. Tujuan Penulisan Berdasarkan identifikasi permasalahan yang telah penulis utarakan. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2) Untuk mengetahui bagaiman upaya penganggulangan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. maka perlu di rumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. Apa saja yang menjadi faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian? 2. Bagaimana upaya penanggulangan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian? 3. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana di uraikan diatas. Tujuan dan Manfaat Penulisan 1.10 B. maka dapat disimpulkan bahwa tujuan yang ingin dicapai melalui penulisan ini adalah sebagai berikut : 1) Untuk Mengetahui apa saja yang menjadi faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. Bagaimanakah peranan aparatur penegak hukum dalam penegakan hukum terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian? C.

Manfaat Penulisan Selain tujuan-tujuan tersbut diatas. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). masyarakat. Manfaaat teoritis Pembahasan terhadap masalah-masalah dalam skripsi ini tentu akan menambah pemahaman kepada semua pihak baik masyarakat pada umumnya maupun para pihak yang berhubungan dengan dunia hukum pada khususnya. Manfaaat praktis Dengan penulisan skripsi ini diharapkan dapat menjadi pedoman dan bahan rujukan bagi rekan mahasiswa. penulisan skripsi ini juga diharapkan bermanfaat untuk berbagai hal diantaranya: a.11 3) Untuk mengetahui dan meneliti lebih jauh bagaimana peranan aparatur penegak hukum dalam menanggulangi tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. praktisi hukum. Keaslian Penulisan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 . dan juga aparat penegak hukum/pemerintah dalam menghadapi atau mengusut tuntas suatu peristiwa pidana terutama hal-hal yang berkaitan dengan tindakan yang menyalahgunakan izin keimigrasian. 2007. b. D. 2. Skripsi ini juga diharapkan dapat memberikan masukan bagi penyempurnaan perangkat peraturan perundang-undangan terhadap tindak pidana yang terkait erat dengan izin keimigrasian ini.

Pengertian penegakan hukum Hukum adalah sarana yang di dalamnya terkandung nilai-nilai atau konsep-konsep tentang keadilan. kemanfaatan sosial dan kandungan hukum ini bersifat abstrak. E. Penegakan hukum secara konkret merupakan berlakunya hukum positif dalam praktek sebagaimana seharusnya dipatuhi.12 Sepanjang yang telah ditelusuri dan diketahui di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara bahwa penulisan skripsi tentang “Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang RI No. Oleh karena itu memberikan keadilan dalam suatu perkara berarti memutuskan perkara dengan menerapkan hukum dan menemukan hukum secara nyata dalam mempertahankan dan menjamin dipatuhinya hukum materiel Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Tinjauan Kepustakaan 1. 2007. Skripsi juga didasarkan pada referensi dari buku-buku. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). informasi dari media cetak dan elektronik serta fakta yang diperoleh dai data berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh penulis. Penegakan hukum pada hakekatnya merupakan penegakan ide-ide atau konsep-konsep yang abstrak itu. USU Repository © 2009 . kebenaran. Permasalahan maupun penyajiannya merupakan hasil dari pemikiran dan ide penulis sendiri. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian” belum pernah disajikan sebelumnya baik dalam bentuk tulisan maupun sub pembahasan permasalahan dalam suatu skripsi. Berdasarkan alasan tersebut di atas maka dapat disimpilkan bahwa skripsi adalah asli.

(4) Faktor masyarakat. Dapatlah dikatakan bahwa ketiga tahap kebijakan penegakan hukum pidana tersebut terkandung didalamnya tiga kekuasaan atau kewenangan. USU Repository © 2009 7 . Tahap Eksekusi. b. Oleh karena itu keberhasilan penegakan hukum akan dipengaruhi oleh hal-hal tersebut. Pada dasarnya ada 5 (lima) faktor yang mempengaruhi penegakan hukum. yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku dan diterapkan. yaitu : a. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Tahap Formulasi. c. yaitu : (1) Faktor hukumnya sendiri.13 dengan menggunakan cara prosedural yang ditetapkan oleh hukum formal. 1983). yaitu pihak-pihak yang membentuk maupun yang menerapkan hukum. 7 Penegakan hukum khususnya hukum pidana apabila dilihat dari suatu proses kebijakan maka penegakan hukum pada hakekatnya merupakan penegakan kebijakan melalui beberapa tahap. yakni sebagai hasil karya. (2) Faktor penegak hukum. 2007. cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia dalam pergaulan hidup. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). (Jakarta : Rajawali Press. yaitu Soerjono Seokanto. (5) Faktor kebudayaan. “Faktor-faktor yang mempengaruhi Penegakan Hukum”. (3) Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum. Penegakan hukum merupakan suatu proses yang melibatkan banyak hal. 4-5. hal. Tahap Aplikasi.

8 Penegakan hukum dalam negara dilakukan secara preventif dan represif. Penegakan hukum represif pada tingkat operasional didukung dan melalui berbagai lembaga yang secara organisatoris terpisah satu dengan yang lainnya. “Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan Hukum dan Pengembangan Hukum Pidana. “Politik Hukum Pidana”. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. dapat ditunjuk pula pengadilan seperti dalam yurisdiksi volunter. namun tetap berada dalam kerangka penegakan hukum. hal. Pada tahap pertama. Dalam hal ini hukum harus ditegakkan secara represif oleh alat-alat penegak hukum yang diberi tugas yustisionil. 30. yaitu kekuasaan legeslatif dalam menetapkan atau merumuskan perbuatan apa yang dapat dipidana dan sanksi apa yang dapat dikenakan. dan kekuasaan Eksekutif pada tahap Eksekusi dalam hal melaksanakan hukum pidana. Pada tahap ini kebijakan legeslatif ditetapkan sistem pemidanaan. penegakan hukum represif 8 Barda Nawani Arief. USU Repository © 2009 . Pustaka Pelajar. dan Kejaksaan misalnya dengan tugas PAKEM-nya. 2005). 9 Penegakan secara preventif diadakan untuk mencegah agar tidak dilakukan pelanggaran hukum oleh warga masyarakat dan tugas ini pada umumnya diberikan pada badan-badan eksekutif dan kepolisian. melakukan penegakan hukum preventif. 111. 2007. Yang kedua adalah kekuasaan Yudikatif pada tahap aplikasi dalam menerapkan hukum pidana. hal.” (Bandung : PT. 2005).14 kekuasaan Legislatif pada tahap formulasi. Walaupun adakalanya dengan Undang-Undang. (Yogyakarta. Citra Aditya Bakti. Sedangkan penegakan hukum represif dilakukan apabila usaha preventif telah dilakukan ternyata masih juga terdapat usaha pelanggaran hukum. pada hakekatnya sistem pemidanaan itu merupakan sistem kewenangan atau kekuasaan menjatuhkan pidana. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 9 Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah.

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. kemudian diteruskan ke Lembaga Pengadilan dan berakhir pada Lembaga Pemasyarakatan. dapat mempunyai arti yang luas dan berubah-ubah karena istilah itu dapat mempunyai arti dapat berkonotasi dengan bidang yang cukup luas. USU Repository © 2009 10 . berikutnya Kejaksaan. (Jurnal Equality : 2006).15 diawali dari Lembaga Kepolisian. faktor moral sangat berperan dalam menentukan corak hukum suatu bangsa. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Penegakan hukum yang berkeadilan sarat dengan landasan etis dan moral. selama kurun waktu lebih dari empat Dasawarsa bangsa ini hidup dalam ketakutan. “Moral dan Keadilan Sebagai Landasan Penegakan Hukum Yang Responsif”. Istilah tersebut tidak hanya M. 2007. Pidana a) Pengertian pidana Istilah “hukuman” yang merupakan istilah umum konvensional. Apa yang sesungguhnya dialami tidak lain adalah pencabikan moral bangsa sebagai akibat dari kegagalan bangsa ini dalam menata manajemen Pemerintahannya yang berlandaskan hukum. 1. Penegasan ini bukanlah tidak beralasan. ketidakpastian hukum dan hidup dalam intimitas yang tidak sempurna antara sesamanya. hal. Husni. karena di dalamnya terlibat subjek hukum yang mempersepsikan hukum menurut kepentingan masing-masing. Penegakan hukum adalah proses yang tidak sederhana. Hukum dibuat tanpa landasan moral dapat dipastikan tujuan hukum yang berkeadilan tidak mungkin akan terwujud. 10 2.

1998) hal. Cetakan Ke-2 (Bandung: Alumni. maka perlu ada pembatasan pengertian atau makna sentral yang dapat menunjukkan ciri-ciri atau sifat-sifat yang khas. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Prof. Untuk memberikan gambaran yang lebih luas. Prof. 2007. Muladi dan Barda Nawawi Arif. Dari definisi di atas dapatlah disimpulkan bahwa pidana mengandung unsur-unsur atau ciri-ciri sebagai berikut : 1) pidana itu pada hakekatnya merupakan suatu pengenaan penderitaan atau nestapa atau akibat-akibat lain yang tidak menyenangkan. agama dan sebagainya. dan ini berwujud suatu nestapa yang dengan sengaja ditimpakan negara pada pembuat delik. 2 – 4. 2. Sudarto. Oleh karena “pidana” merupakan istilah yang lebih khusus. tetapi juga dalam istilah sehari-hari di bidang pendidikan. USU Repository © 2009 11 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). berikut ini dikemukakan beberapa pendapat atau defenisi dari para sarjana sebagai berikut: 11 1.16 sering digunakan dalam bidang hukum. “Teori-teori dan Kebijakan Pidana”. moral. Roeslan Saleh : Pidana adalah reaksi atas delik. SH : Yang dimaksud dengan pidana ialah penderitaan yang sengaja diberikan kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu.

yaitu : 1) pidana mati 2) pidana penjara 3) pidana kurungan 4) pidana denda 5) pidana tutupan (ditambah berdasarkan UU No. pidana tambahan. dibagi dalam dua jenis 12 : a. Soesilo. b) Jenis-jenis Pidana 1. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentar Lengkap Pasal Demi Pasal (Bogor: Politeia. 2) perampasan barang-barang tertentu. seperti terdapat dalam pasal 10. R. yaitu : 1) pencabutan hak-hak tertentu. Menurut hukum pidana positif (KUHP dan di luar KUHP) Jenis pidana menurut KUHP. 2007. 1988) hal. pidana pokok.17 2) pidana itu diberikan dengan sengaja oleh orang atau badan yang mempunyai kekuasaan (oleh yang berwenang). 34 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 3) pidana itu dikenakan kepada seseorang yang telah melakukan tindak pidana menurut undang-undang. 3) pengumuman putusan hakim. USU Repository © 2009 12 . 20 tahun 1946) b.

b. Stb. walinya atau pemelihatanya atau 2) memerintahkan agar anak tersebut diserahkan kepada pemerintah. 741) yang sekarang telah diganti dengan Undang-undang No. c. Dalam hal yang ke-2. penempatan di rumah sakit jiwa bagi orang yang tidak dapat dipertanggungjawabkan karena jiwanya cacat dalam tubuhnya atau terganggu karena penyakit (lihat Pasal 44 ayat 2 KUHP). 12 Tahun 1995 tentang Permasyarakatan. tindakan tata-tertib dalam hal tindak pidana ekonomi (Pasal 8 UU No. penempatan di tempat kerja Negara (Landswerkinrichting) bagi pengenggur yang malas bekerja dan tidak mempunyai mata pencaharian. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 1916 no. d. 2007. 1) mengembalikan kepada orang tuanya. misalnya : a. bagi anak yang sebelum umur 16 tahun melakukan tidak pidana. 7 Drt. 1955) dapat berupa : 1) penempatan perusahaan si terhukukm di bawah pengampuan untuk selama waktu tertentu (3 tahun untuk kejahatan TPE dan 2 tahun untuk pelanggaran TPE). 160). anak tersebut dimasukkan dalam rumah pendidikan negara yang penyelenggaraannya diatur dalam Peraturan Pendidikan Paksa (Dwangopvoedingregeling. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).18 Disamping jenis sanksi yang berupa pidana dalam hukum pidana positif dikenal juga sanksi yang berupa tindakan. bergelandangan atau perbuatan asosial (Stb. serta mengganggu ketertiban umum dengan melakukan pengemisan. USU Repository © 2009 . Hakim dapat mengenakan tindakan berupa (lihat Pasal 45 KUHP). 1936 no.

Pembagian jenis pidanannya sebagai berikut : a. 2007. yang terdiri dari : a) pidana pengawasan. b) pidana permasyarakatan khusus (untuk yang melakukan tindak pidana karena kebiasaan).19 2) pembayaran uang jaminan selama waktu tertentu. mulai Pasal 43 s. Pasal 82. 3) pembayaran sejumlah uang sebagai pencabutan keuntungan menurut taksiran yang diperoleh dari tindak pidana yang dilakukan. 3) pidana pembimbingan. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. yang terdiri dari : a) pidana permasyarakatan istimewa (utuk yang melakukan tindak pidana karena terdorong oleh maksud yang patut dihormati). 2. Pidana pokok: 1) pidana mati 2) pidana permasyarakatan. Menurut Konsep Rancangan KUHP tahun 1972. 4) kewajiban mengerjakan apa yang dilakukan tanpa hak.d. USU Repository © 2009 . Ketentuan tentang “pidana” dalam konsep terdapat dalam Bab V. semua atas biaya si terhukum sekedar Hakim tidak menentukan lain. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). dan melakukan jasa-jasa untuk memperbaiki akibat-akibat satu sama lain. c) pidana permasyarakatan biasa (untuk yang melakukan tindak pidana karena kesempatan).

5) pengenaan kewajiban agama. c) penempatan usaha di bawah pengawasan pemerintah untuk jangka waktu yang ditentukan oleh Hakim. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 3. c) pidana latihan kerja. yang terdiri dari : a) pidana perserikatan. Pidana tambahan: 1) pencabutan hak tertentu. 2) penempatan barang tertentu. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 6) pengenaan kewajiban adat. b. d) pembayaran uang jaminan yang jumlahnya ditentukan oleh Hakim. 4) pengenaan kewajiban ganti rugi. d) pidana kerja bakti. 3) pengumuman keputusan Hakim. 4) pidana perserikatan. : penutupan) usaha sebagian atau seluruhnya. USU Repository © 2009 . e) penyitaan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana. Pengertian Keimigrasian Istilah imigrasi berasal dari bahasa Latin migratio yang artinya perpindahan orang dari suatu tempat atau negara menuju ke tempat negara lain.20 b) pidana penentuan tempat tinggal. 2007. f) perbaikan akibat-akibat dari tindak pidana. b) penuntutan (sic.

yakni untuk tinggal menetap dan mencari nafkah di suatu tempat baru. Metode Penelitian 1. 2007. Oleh karena itu.13 F. atau mengunjungi suatu konferensi internasional. Untuk menunjang pembahasan demi pembahasan masalah. atau merupakan rombongan misi kesenian atau olahraga. Penelitian yuridis – normatif merupakan penelitian yang dilakukan dan ditujukan pada Peraturan-peraturan tertulis atau bahan-bahan lain. orang asing yang bertamasya. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.21 Oxford Dictionary of Law juga memberikan defenisi sebagai berikut: “Immigration is the act of entering a country other than one’s native country with the intention of living there permanently”. penulis melakukan studi 13 Lihat Pasal 1 butir 1 Undang-undang no. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). serta menelaah peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini. Sedangkan menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1992 dalam pasal 1 butir 1 disebutkan: “Keimigrasian adalah hal ikhwal lalu lintas orang yang masuk atau keluar wilayah Negara Republik Indonesia dan pengawasan orang asing di wilayah Negara Republik Indonesia”. Dari defenisi ini dipahami bahwa perpindahan itu mempunyai maksud yang pasti. Jenis Penelitian Metode Penelitian yang digunakan untuk menjawab persoalan-persoalan dalam skripsi ini adalah menggunakan metode yuridis – normatif. atau juga menjadi diplomat tidak dapat disebut sebagai seorang imigran. USU Repository © 2009 .

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2. Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Medan dan sekitarnya. Dalam hal penelitian lapangan penulis melakukannya di Kantor Imigrasi Polnia Medan. Lokasi penelitian Dalam hal peneltian yang berkaitan dengan bahan bacaan. “Pengantar Penelitian Hukum”.). dilakukan di Perpustakaan Univesitas Sumatera Utara maupun yang di-download melalui internet ataupun situs-situs berkaitan dengan bahan-bahan yang sifatnya skunder (tulisan. 12 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Kantor Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Medan Sekitarnya. responden dari narasumber atau lembaga di tempat penelitian dilakukan yang berkaitan dengan permasalahan dalam penulisan skripsi ini.22 langsung untuk mendapatkan data-data seperti di Kantor Imigrasi Polnia Medan. serta Pengadilan Negeri Medan untuk mendapatkan gambaran ataupun bahan akurat berkaitan dengan penulisan skripsi ini. 2007. hal. UI-Press Jakarta. 3. Sumber dan pengumpulan data Data-data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah bersumber dari : a. 1984. Data Primer yaitu data pokok yang diperoleh atau bersumber dari hasil penelitian langsung di lapangan 14. skripsi. Studi lapangan ini dilakukan melalui wawancara dengan 14 Soerjono Soekamto. USU Repository © 2009 . tesis. serta di Pengadilan Negeri Medan. berita dsb.

pendapat sarjana dan bahan-bahan kuliah lainnya yang berkaitan erat dengan pokok bahasan atau permasalahan dalam skripsi ini. Penelitian kepustakaan (Library Research) Yakni melakukan penelitian dengan berbagai sumber bacaan atau tulisan seperti: buku.23 menggunakan pedoman wawancara (interview guide) kepada para informan. artikel ataupun majalah-majalah serta data lain yang diperoleh melalui internet yang berhubungan dengan permasalahan dalam penulisan skripsi ini. majalah. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). internet. USU Repository © 2009 . Metode Pengumpulan Data Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut : a. 2007. Data Skunder yaitu data-data yang diperoleh dari peraturan-peraturan. b. bukubuku literatur. Informan yang dipilih adalah mempunyai keterkaitan erat dengan pokok bahasan pada skripsi ini yaitu: 1) Petugas Keimigrasian Polonia Medan 2) Kepolisian kota Medan b. Penelitian lapangan (Field Research) Yakni dengan melakukan penelitian langsung ke lapangan baik berupa wawancara langsung kepada pihak-pihak yang terkait dalam proses Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 4.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 5. Sistematika Penulisan Untuk mempermudah penulisan atau penyajiannya. dan apa saja yang termasuk dalam jenis-jenis izin keimigrasian. 2007. perumusan permasalahan. keaslian penulisan. USU Repository © 2009 .24 penyidikan kasus ini serta dengan memperoleh salinan data-data yang lebih lengkap dan menunjang pembahasan permasalahan yang disusun penulis. penulis menjabarkan materi ataupun isi dari skripsi ini menjadi lima bab dengan sistematika sebagai berikut : BAB I : Bab ini memuat latarbelakang. metode penulisan dan sistematika penulisan. G. tujuan dan manfaat penulisan. baik itu mengenai keimigrasian dalam sistem hukum Indonesia dan nasional. Analisis Data Analisis data yang dilakukan dalam penulisan skripsi ini adalah dengan cara kualitatif. tinjaun kepustakaan. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. BAB II : Bab ini menjelaskan tentang tinjauan umum mengenai keimigrasian. yaitu jawaban dari responden dan data-data yang diperoleh dilapangan diedit dan dianalisis sehingga diperoleh data yang dapat menjawab permasalahan demi permasalahan yang dikemukakan dalam skripsi ini. BAB III : Bab ini nerupakan bab yang membahas bagaimana penegakan hukum terhadap tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). BAB V : Kesimpulan dan Saran Bab ini merupakan bab terakhir. B/2002/PN. BAB II Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Mdn. yaitu sebagai bab penutup yang berisi kesimpulan dan saran-saran mengenai permasalahan yang telah dibahas. USU Repository © 2009 .2493/Pid.25 BAB IV : Bab yang membahas Kasus dan Analisis Kasus Putusan No. 2007.

9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Undang-undang No. namun baru pada tanggal 26 Januari 1950 Immigratie Dienst ditimbang terimakan dari H. Keimigrasian Dalam Sistem Hukum Indonesia 1) Keimigrasian di Indonesia Di Indonesia pemeriksaan keimigrasian telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. 2007. menjadi politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif didasarkan pada kepentingan nasional Indonesia. USU Repository © 2009 . Sejak Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Pada saat itu. yaitu perubahan dari politik hukum keimigrasian yang bersifat terbuka (open door policy) untuk kepentingan pemerintahan kolonial. tetapi yang lebih penting adalah peralihan tersebut merupakan titik mula dari era baru dalam politik hukum keimigrasian Indonesia. dalam pasal 1 menyebutkan: “Keimigrasian adalah hal-ikwal lalu lintas orang yang masuk atau keluar wilayah Indonesia dan pengawasan orang asing di wilayah Republik Indonesia.26 TINJAUAN UMUM A. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Breekland kepada Kepala Jawatan Imigrasi dari tangan Pemerintah Belanda ke tangan Pemerintah Indonesia.” Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. terdapat badan pemerintah kolonial Belanda bernama Immigratie Dienst yang bertugas menangani masalah keimigrasian untuk seluruh kawasan Hindia Belanda.

2001 Lihat Penjelasan Umum Undang-undang No. yaitu: 1) Pengaturan tentang berbagai hal mengenai lalu-lintas orang keluar. defenisi keimigrasian dapat kita jabarkan sebagai berikut: Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. perihal. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2) Pengaturan tentang berbagai hal mengenai pengawasan orang asing di wilayah Republik Indonesia. peristiwa. masuk. hal-ihwal diartikan berbagai-bagai keadaan. bolak-balik. pengaturan lalu-lintas keluar masuk wilayah Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Sementara itu kata ihwal diartikan hal. Dengan demikian. peristiwa. kejadian (sesuatu yang terjadi). 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. kata lalu-lintas diartikan sebagai hubungan antara suatu tempat dan tempat lain. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian terdapat dua unsur pengaturan yang penting.27 Dengan menggunakan pendekatan gramatikal (tata bahasa) dan pendekatan semantik (ilmu tentang arti kata). kejadian. dan tinggal dari dan ke dalam wilayah negara Republik Indonesia. Berdasarkan hukum internasional pengaturan hal ini merupakan hak dan wewenang suatu negara serta merupakan salah satu perwujudan dan kedaulatan sebagai negara hukum yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 15 16 Kamus Besar Bahasa Indonesia. menurut Undang-undang No. Jakarta: Balai Pustaka. hilir-mudik. 2007. 16 Unsur pertama. USU Repository © 2009 . kata hal diartikan sebagai keadaan. 15 Dengan demikian.

2007. Unsur kedua dari pengertian keimigrasian yaitu pengawasan orang asing di wilayah Indonesia. Dalam rangka ini “pengawasan” adalah keseluruhan proses kegiatan untuk mengontrol atau mengawasi apakah proses pelaksanaan tugas telah sesuai dengan rencana atau aturan yang telah ditentukan. Bandar udara. Pelanggaran atas ketentuan ini dikategorikan sebagai tindakan memasuki wilayah negara Indonesia secara tidak sah. merupakan tindakan yang dapt dipidana. hal. dan keberadaan serta kegiatan orang asing di wilayah Iman Santoso. atau tempat tertentu atau daratan lain yang ditetapkan Menteri Kehakiman sebagai tempat masuk atau keluar wilayah Indonesia (entry point). USU Repository © 2009 17 . Selanjutnya. “Persfektif Imigrasi dalam Pembangunan Ekonomi dan Ketahanan Nasional”. Pengawasan orang asing meliputi masuk dan keluarnya orang asing ke dan dari wilayah Indonesia.28 1945. 20 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2004. yaitu di pelabuhan laut. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian tidak membedakan antara emigrasi dan imigrasi. artinya setiap tindakan keluar-masuk wilayah tidak melalui TPI. 17 Maka pengertian pengawasan orang asing adalah seluruh rangkaian kegiatan yang ditujukan untuk mengontrol apakah keluar-masuknya serta keberadaan orang asing di Indonesia telah atau tidak sesuai dengan ketentuan keimigrasian yang berlaku. Undang-undang No. pengaturan lalu-lintas keluar-masuk wilayah Indonesia ditetapkan harus melewati Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI). UI-Press Jakarta.

2007. Pengawasan orang asing sebagai suatu rangkaian kegiatan pada dasarnya telah dimulai dan dilakukan oleh perwakilan RI di luar negeri ketika menerima permohonan pengajuan visa. 1) Fungsi Keimigrasian Dari uraian mengenai pengertian umum. selanjutnya pengawasan beralih ke kantor imigrasi yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal waraga asing tersebut. baiak ditinjau dari budaya hukum 18 Ibid. Dari keseluruhan prosedur keimigrasin yang ditetapkan. Pengawasan selanjutnya dilaksanakan oleh pejabat imigrasi di Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) ketika pejabat imigrasi dengan kewenangannya yang otonom memutuskan menolak atau memberikan izin tinggal yang sesuai dengan visa yang dimilikinya. hal.”18 Dari pernyataan tersebut. 21 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. maka secara operasional peran keimigrasian dapat diterjemahkan ke dalam konsep Trifungsi Imigrasi. dapat dinyatakan juga bahwa pada hakikatnya keimigrasian merupakan: “suatu rangkaian kegiatan dalam pemberian pelayanan dan penegakan hukum serta pengamanan terhadap lalu lintas keluar masuknya setiap orang dari dank e dalam wilayah RI. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).29 Indonesia. Dimana konsep ini hendak menyatakan bahwa sistem keimigrasian. USU Repository © 2009 . serta pengawasan terhadap keberadaan warga negara asing di wilayah Republik Indonesia. perlu dipahami bahwa operasionalisasinya dilaksanakan berdasarkan politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif.

organisasi. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Fungsi pelayanan masyarakat Salah satu fungsi keimigrasian adalah fungsi penyelenggaraan pemerintahan atau administrasi negara yang mencerminkan aspek pelayanan. aparatur. imigrasi dituntut untuk memberi pelayanan prima di bidang keimigrasian. 2007. yaitu: dalam operasionalisasinya harus selau mengandung Trifungsi. Pelayanan bagi Warga Negara Indonesia terdiri dari: 1) Pemberian paspor/ pemberian Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP)/Pas lalu lintas Batas (PLB). Kemudahan Khusus Keimigrasian (DAHSUSKIM). USU Repository © 2009 . sarana dan prasarana hukum keimigrasian.30 keimigrasian. baik kepada Warga negara Indonesia (WNI) atau Warga Negara Asing). 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Kartu Izin Tinggal Tetap (KITAP). lembaga. materi hukum (peraturan hukum) keimigrasian. a. dan 2) Pemberian Tanda bertolak/ masuk Pelayanan bagi Warga Negara Asing terdiri dari: 1. Dari aspek itu. mekanisme hukum keimigrasian. Pemberian Dokumen Keimigrasian (DOKIM) berupa: Kartu Izin Tinggal Terbatas Keimigrasian (KITAS).

Visa Kunjungan Usaha (VKU). Penegakan hukum keimigrasian terhadap Warga Negara Indonesia (WNI). Pemberian Tanda Bertolak dan Masuk. keseluruhan aturan hukum keimigrasian itu ditegakkan kepada setiap orang yang berada di dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia baik itu Warga Negara Indonesia (WNI) atau Warga Negara Indonesia (WNA). Fungsi penegakan hukum Dalam Pelaksanaan tugas keimigrasian. b.31 2. Pemalsuan identitas 2. 3. Kepemilikan paspor ganda 4. Perpanjangan DOKIM meliputi KITAS. 2007. DAHSUSKIM 4. Perpanjangan izin tinggal meliputi: Visa Kunjungan Wisata (VKM). Keterlibatan dalam pelaksanaan aturan keimigrasian Penegakan hukum kepada Warga Negara Asing (WNA) ditujukan pada permasalahan: Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Pemberian Izin Masuk Kembali. Izin Bertolak 5. KITAP. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Visa Kunjungan Sosial Budaya (VKSB). Pertanggungjawaban sponsor 3. ditujukan pada permasalahan: 1.

Pendaftaran orang asing dan pemberian buku pengawasan orang asing 3. Secara operasional fungsi penegakan hukum yang dilaksanakan oleh institusi Imigrasi Indonesia juga mencakup penolakan pemberian izin masuk. USU Repository © 2009 . Penyalahgunaan izin tinggal 4. pemberkasan perkara. izin keimigrasian. serta pengajuan berkas perkara ke penuntut umum. penangkapan. yaitu kewenangan penyidikan. Masuk secara ilegal atau berada secara ilegal 5. pemeriksaan. dan tindakan keimigrasian. Pemantauan/razia 6. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). c. Semua itu merupakan bentuk penegakan hukum yang bersifat administratif. penggeledahan. Sementara itu. Kerawanan keimigrasian secara geografis dalam pelintasan. dalam hal penegakan hukum yang bersifat proyustisia.32 1. pemyitaan). penahanan. Pelaksanaan fungsi keamanan yang ditujukan kepada Warga Negara Indonesia dijabarkan melalui tindakan pencegahan ke luar negeri bagi Warga Negara Indonesia atas permintaan Menteri Keuangan dan Kejasksaan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. izin bertolak. tercakup tugas penyidikan (pemanggilan. Fungsi keamanan Imigrasi berfungsi secara penjaga pintu gerbang negara. 2007. Dikatakan demikian karena imigrasi merupakan institusi pertama dan terakhir yang menyaring kedatangan dan keberangkatan orang asing ke dan dari wilayah Republik Indonesia. Pemalsuan identitas Warga Negara Asing (WNA) 2.

industri. perdagangan. terutama di bidang perekonomian. perlu menata atau mengubah peraturan perundangan. USU Repository © 2009 . demi peningkatan kesejahteraan. Melaksanakan pencegahan dan penangkalan. secara sinergi baik di bidang ekonomi. 3. Melakukan kerjasama dengan aparatur keamanan negara lainnya khususnya di dalam memberikan supervisi perihal penegakan hukum keimigrasian. harus diingat bahwa di era globalisasi aspek hubungan kemanusiaan yang selama ini bersifat nasional berkembang menjadi bersifat internasional. Khusus untuk Warga Negara Indonesia (WNI) tidak dapat dilakukan pencegahan karena alasan-alasan keimigrasian belaka. Untuk mengantisipasinya.33 Agung. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut. Melakukan operasi intelijen keimigrasian bagi kepentingan keamanan negara 4. ketenagakerjaan. yaitu larangan bagi seseorang untuk meninggalkan wilayah Indonesia dalam jangka waktu tertentu dan/atau larangan untuk memasuki wilayah Indonesia dalam waktu tertentu. transportasi. Melakukan seleksi terhadap setiap maksud kedatangan orang asing melalui pemeriksaan permohonan visa 2. Pelaksanaan fungsi keamanan yang ditujukan kepada Warga Negara Asing (WNA) adalah: 1. 2007. maupun peraturan di bidang lalu-lintas orang dan barang yang dapat memfasilitasi pertumbuhan ekonomi. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Perubahan itu diperlukan guna meningkatkan intensitas hubungan negara Republik Indonesia dengan dunia Internasional yang mempunyai dampak sangat Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

Tuntutan perubahan Trifungsi Imigrasi dipertegas oleh pernyataan Prof. semula menggunakan pendekatan kewilayahan (territory) yang hanya meliputi keamanan nasional (national security) berubah menjadi pendekatan yang komprehensif selain keamanan nasioanal juga keamanan warga masyarakat (human security) dengan menggunakan pendekatan Ibid. USU Repository © 2009 . Sedangkan fungsi baru yaitu sebagai fasilisator pembagunan ekonomi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan fungsi keimigrasian lainnya. Paradigma konsepsi keamanan saat ini mulai bergeser. Hal ini terlihat ketika jasa keimigrasian telah menjadi bagian dari infrastruktur perekomian. Di dalam rangka memelihara kondisi keamanan yang kondusif secara otomatis fungsi penegakan hukum keimigrasian harus dilakasanakan secara terus-menerus dan konsekuen. 20 19 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. dalam sambutan tertulis pada upacara Hari Bhakti Imigrasi ke-52 tanggal 26 Januari 2002. Dr. 2007.34 besar pada pelaksanaan fungsi dan tugas keimigrasian serta menghindari adanya tumpang tindih peraturan. yang menyatakan: 20 “Trifungsi Imigrasi yang merupakan ideologi atau pandangan hidup bagi setiap kebijakan dan pelayanan keimigrasian harus diubah karena tutntutan zaman. Di dalam perkembangan Trifungsi Imigrasi dapat dikatakan mengalami suatu pergeseran bahwa pengertian fungsi keamanan dan penegakan hukum merupakan satu bagian yang tak terpisahkan karena penerapan penegakan hukum dibidang keimigrasian berarti sama atau identik dengan menciptakan kondisi keamanan yang kondusif atau sebaliknya 19. hal. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 24 Prof. Yusril Ihza Mahendra. Yusril Ihza Mahendra selaku Menteri Kehakiman dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia. Dr.

sebagai bagian dari sistem hukum administrasi negara. Mendukung konsepsi tersebut. hukum keimigrasian sering disertai dengan sanksi pidana Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. penengak hukum. Bidang Politik Ada berbagai pendapat yang menyatakan di mana sebenarnya fungsi keimigrasian itu berada. Hal ini lebih disebabkan karena dunia telah menjadi semakin kecil dan bahwa subjek masalah keimigrasian adalah manusia yang bersifat dinamis. agar menjadi apratur yang dapat memberikan kepastian hukum. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). dan sekuriti. Di satu sisi. 3. penegak hukum. sudah waktunya kita membuka cakrawala berpikir yang semula hanya dalam cara pandang ke dalam (inward looking) menjadi cara pandang ke luar (outward looking) dan mulai mencoba untuk mengubah paradigma Trifungsi Imigrasi yang pada mulanya sebagai pelayan masyarakat.35 hukum. Sebaliknya. dan fasilisator pembangunan ekonomi”. saya memberi pesan agar insane imigrasi mengubah cara pandang mengenai konsep keamanan yang semula hanya sebagai alat kekuasaan. Bertitik tolak dari berbagai tantangan itu. 2007. Ruang Lingkup Fungsi Keimigrasian Paradigma lama hanya melihat esensi keimigrasian sebatas hal-ihwal orang asing. agar diubah menjadi Trifungsi Imigrasi baru yaitu sebagai pelayan masyarakat. paradigma baru melihat bahwa keimigrasian itu bersifat multidimensional. Hal itu dapat dijelaskan dalam uraian sebagai berikut: a. sehingga muncul pendapat seolah-olah masalah keimigrasian sebatas masalah yang berporos pada atau paling tidak bertalian dengan negara asing. dan dapat memberikan perlindungan kepada masyarakat. baik itu dalam tatanan nasional maupun internasional. mampu melaksanakan penegakan hukum.

serta faktor lain yang berkaitan dengan komposisi atau struktur kependudukan di dalam suatu negara. Hal itu terkait dalam Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Seorang assign dapat bertempat tinggal di suatu negara tanpa mengikuti ketentuan umum mengenai keimigrasian. Di Bidang politik sering fungsi keimigrasian ditempatkan pada hubungan hubungan internasional. Di samping itu hukum keimigrasian mempunyai kaitan yang sangat erat dengan hubungan internasional. Itu berarti bahwa ia mendapatkan suatu perlakuan khusus di bidang keimigrasian. disisi lain hak seseorang untuk melintasi batas negara dan bertempat tinggal di suatu negara dilihat sebagai hak asasi manusia. 2007. Di sisi lain. b. Berbagai konvensi internasional. Bidang Ekonomi Di bidang ekonomi tampak jelas sekali keterkaitan fungsi imigrasi dalam rangka melaksanakan politik perekonomian suatu negara. Pada kesempatan ini sering hukum keimigrasian digunakan untuk melindungi kepentingan politik suatu negara. USU Repository © 2009 . kedaulatan negara penerima juga tidak dapat di abaikan.36 yang kadangkala terasa janggal. Berbagai pendapat tersebut ada benarnya karena segalanya bergantung pada cara memandang fungsi keimigrasian itu. seperti yang menyangkut masalah sentimen ras. hukum keimigrasian juga mengatur kewarganegaraan seseorang. Pencari Suaka politik(asylum seekers) akan mendapatkan hak-hak hidupnya dan perlindungan atas dirinya di negara terakhir ia berada. agama. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Meskipun demikian. seperti United Nations Convention 1951 Concerning of Refugees Status (selanjutnya disebut konvensi PBB Tahun 1951) menyebutkan hak-hak seorang pengungsi serta kewajiban negara penerima.

2007. mengalirkan teknologi baru. izin tinggal tetap) merupakan bagian dari infrastruktur perekonomian. dan akan meningkatkan arus manusia ke kawasan tersebut. ke mana investasi ditanamke sana pula arus manusia mengikutinya. izin masuk kembali (re-entry permit). seperti pemberian izin masuk.. izin kunjungan.37 kerangka pertumbuhan dan perkembangan perekonomian global yang ditandai dengan peningkatan arus investasi sehingga menciptakan lapangan kerja. Sektor peronomian membutuhkan jas infrastruktur lain. izin tinggal terbatas. Sebagai infrastruktur perekonomian. Di dalam kaitan ini sangatlah jelas bahwa jasa keimigrsian di suatu negara merupakan bagaian yang tidak dapat dipisahkan dari kepentingan ekonominya. yang dimaksudkan untuk merlindungi warga negaranya dari sisi perekonomian dalam menghadapi persaingan hidup. pembentukan pola-pola keimigrasian dengan alasan perekonomian dalam memberikan izin masuk dan bertempat Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. sudah dapat dipastikan bahwa kini jasa fasilitas keimigrasian merupakan bagian dari infrastruktur perekonomian. seperti jasa fasilitas tranportasi . Pemberian fasilitas jasa keimigrasian. jasa fasilitas komunikasi. termasuk pembatasan yang diberlakukan terhadap seorang asing untuk meperoleh izin masuk atau tinggal di suatui negara baik sebagai pencari kerja maupun investor. jasa fasilitas pengelolaan sumber daya alam dan manusia serta jasa fasilitas perbankan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). serta bermacam-macam izin tinggal (izin singgah. izin masuk beberapa kali perjalanan (multiple re-entry permit). Begitu pula dengan aspek pengawasan orang asing. atau dengan kata lain. USU Repository © 2009 . Maka.

38

tinggal bagi warga negara asing ke negaranya, tentu saja memliki persyaratan yang ketat dan menguntungkan negara tersebut. Begitu pula negara yang termasuk dalam kategori migrant country. Sebagai contoh, Australia, dengan alasan perekonomian, mensyaratkan bahwa orang asing yang mengajukan permohonan untuk masuk dan bertempat tinggal disana harus memiliki rumah dan dana dalam jumlah tertentu sebagai modal kerja yang ditanam dalam suatu perusahaan. Kemudian, kinerja perusahaan akan dinilai setiap tahun sebelum pihak imigrasi Australia memutuskan untuk memberikan izin tinggal tetap bagi orang asing tersebut. c. Bidang Sosial Budaya Pergerakan dan perpindahan manusia sebagai individu atau kelompok akan mempunyai dampak, baik yang bersifat positif maupun negatif pada individu atau kelompok penerima. Pengaruh sosial dan budaya terjadi karena ada interaksi diantara mereka, baik di lingkungan pendatang maupun penerima. Negara berkepentingan, melalui fungsi keimigrasian, untuk tetap menjaga kondisi sosial dan budaya yang ada di dalam masyarakat agar pengaruh dari luar tidak merusak struktur sosial budaya masyarakatnya. Fungsi keimigrasian, melalui kebijakan yang diberlakukan oleh pemerintah, harus mampu menyaring serta mengatur halhal dimaksud diatas. Sebagai contoh, terjadinya peningkatan jumlah pengungsi Afghanistan yang masuk ke Indonesia beberapa waktu yang lalu, sedikit banyak telah mempengaruhi kondisi sosial dan budaya penduduk Indonesia yang tinggal di
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

39

sekitar tempat penampungan orang Afghanistan tersebut. Berbagai hal dapat terjadi, misalnya konflik sosial, perkawinan antara pengungsi dan penduduk lokal yang berdampak pada status kewarganegaraan anak mereka, serta pertikaian akibat kecemburuan sosial dari suatu kelompok kepada kelompok lain. Sekalipun tempat penampungan pengungsi tersebut diklelola oleh International

Organization for Migration (IOM), keberadaan dan kegiatan orang-orang Afghanistan itu terus diawasi imigrasi setempat. Satu kasus pernah diungkap oleh Direktorat Jendral Imigrasi ketika warga Afghanistan pemegang status pengungsi tertangkap tangan dalam sebuah operasi pengawasan keimigrasian ketika bekerja sebagai gigolo atau pria tuna susila. d. Bidang Keamanan Permasalahan yang timbul dan berkaitan dengan aspek politis, ekonomis, sosial, dan budaya pada masyarakat akan sangat berpengaruh pada stabilitas keamanan negara tersebut. Fungsi keimigrasian yang mengatur serta mengawasi keberadaan orang di negara tersebut akan memiliki peran yang signifikan. Secara universal imigrasi dijadikan sebagai penjuru (vocal point). Kebijakan yang salah atau tidak tepat di dalam menangani masalah ini akan mempunyai dampak yang sangat besar pada bidang lain. Sebagai contoh, kebijakan keimigrasian untuk mengatasi kejahatan terorganisasi lintas negara, harus dapat menjangkau juga bidang lain seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya, baik yang berskala nasional, regional, maupun internasional. Oleh karena itu, kebijakan keimigrasian mempunyai keterkaitan substansial yang berdampak beruntun (multiplier effect).
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

40

Contoh lainnya setelah terjadi insiden pemboman di Bali pada tanggal 12 November 2002 tengah malam. Pada esok harinya telah terjadi suatu evakuasi korban dan eksodus para wisatawan asing meninggalkan Bali secara besar-besaran ke Australia dengan menggunakan penerbangan pesawat tambahan. Pada saat itu imigrasi Indonesia telah menetapkan suatu kebijakan dalam keadaan force mayeur untuk mengizinkan dokumen (paspor kebangsaan) karena kebanyakan dari mereka telah kehilangan paspor. Namun demikian dari segi keamanan, petugas imigrasi melakukan pencatatan (fotokopi) dokumen yang ada dan pengambilan gambar diri (potret) secara langsung bagi mereka yang tidak memiliki dokumen keimigrasian. Hal ini dimaksud sebagi tindakan antisipatif sekiranya diantara mereka terdapat pelaku pengeboman yang hendak melarikan diri. e. Bidang Kependudukan Demikian pula kependudukan yang merupakan salah satu gatra di dalam konsep ketahanan nasional. Kependudukan merupakan aset bangsa. Struktur dan komposisi penduduk negara memiliki hubungan yang sangat erat dengan kondisi politis, ekonomis, sosial, budaya, serta keamanan nasional. Isu SARA sering menjadi pemicu stabilitas keamanan yang akan berkaitan erat atau berdampak pada situasi perekonomian baik perekonomian wilayah maupun nasional. Bahkan, lebih luas daripada itu, isu SARA dapat berpengaruh pada situasi perekonomian dan keamanan secara regional ataupun internasional. Di sini tampak secara jelas bahwa fungsi keimigrasian di berbagai lini kehidupan, walaupun pengaruhnya tidak begitu signifikan, terlihat keterkaitannya.
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

9 tahun 1992 tentang keimigrasian. B. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).41 Dibeberapa negara seperti Brunei Darussalam dan Singapura. (2) Izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). d. USU Repository © 2009 . 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian disebutkan: 21 “(1) setiap orang yang berada di wilayah Indonesia wajib memiliki izin keimigrasian. 2007. Izin Tinggal Tetap. c. Izin Tinggal Terbatas.” a) Izin Singgah Izin singgah diberikan untuk orang asing yang memerlukan singgah di wilayah Indonesia guna dapat meneruskan perjalanan ke negara lain atau kembali ke negara asal. dilakukan oleh pihak imigrasi. terdiri atas: a. Di Amerika Serikat. 21 Lihat pasal 24 Undang-undang no. Hal ini memang tepat karena sejak kedatangan orang asing pada saat pertam kali sampai ia mempunyai hak menurut ketentuan yang berlaku untuk mengajukan perwarganegaraan seluruh catatan keberadaan orang tersebut ada pada pihak imigrasi. masalah naturalisasi atau pewarganegaraan. Jenis-Jenis Izin Keimigrasian Dalam pasal 24 Undang-undang no. Izin singgah diberikan kepada orang asing pemegang visa singgah yang telah memperoleh izin masuk dan orang asing pemegang visa singgah saat kedatangan yang telah memperoleh izin masuk. Izin Singgah. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. b. Izin Kunjungan. fungsi keimigrasian juga disatukan dengan fungsi pelaksanaan registrasi kependudukan.

Izin kunjungan diberikan dalam rangka: 1. Tugas pemerintahan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Memiliki visa singgah dan telah memperoleh izin masuk. Adapun persyaratan untuk memperoleh izin singgah adalah: 1. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007.42 Izin singgah diberikan untuk jangka waktu 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan tidak dapat diperpanjang. dan orang asing pemegang visa kunjungan. sakit dan lain sebagainya dapat diberikan batas waktu izin untuk tetap singgah oleh kepala kantor inigrasi dengan setiap kali pemberian 14 (empat belas) hari sampai paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk. Tidak termasuk dalam daftar pencegahan/penagkalan 4. Memliki surat perjalanan (paspor) yang sah dan masih berlaku minimal 6 (enam) bulan. Dalam hal jangka waktu 14 (empatbelas) hari izin singgah terlampaui oarng asing belum dapat melanjutkan perjalanan karena suatu keadaan memaksa diluar kemampuannya atau keadaan darurat seperti kerusakan alat angkutm cuaca buruk. Memiliki trough ticket atau return ticket yang masih berlaku 3. 2. USU Repository © 2009 . b) Izin Kunjungan Izin kunjungan diberikan oleh pejabat imigrasi di tempat pemeriksaan imigrasi kepada orang asing mancanegara yang dibebaskan keharusan memiliki visa kunjungan.

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Izin kunjungan ex visa kunjungan saat kedatangan diberikan selam 30 (tiga puluh) hari dan tidak dapat diperpanjang 4. Izin kunjungan untuk keperluan tugas pemerintahan tugas pemerintahan. 3. Pemintaan perpanjangan ijin kunjungan diajukan oleh orang asing kuasanya atau sponsornya kepada kepala kantor imigrasi yang di wilayah kerjanya meliput i tempat tinggal pemohon. Izin kunjungan ex visa kunjungan diplomatik (dinas) diberikan sesuai dengan visanya. 2007. kegiatan sosial budaya atau usaha diberikan selama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan dapat diperpanjang paling banyak 5 (lima) kali berturut-turut. Izin kunjungan ex bebas visa kunjungan singkat diberikan selama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan tidak dapat diperpanjang. 2. Kegiatan sosial budaya 4. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). untuk setiap kali perpanjangan selama 30 (tiga puluh) hari .43 2. 5. Usaha 3. USU Repository © 2009 . Izin kunjungan untuk keperluan pariwisata diberikan selama 60 (enam) puluh hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan tidak dapat diperpanjang. Kepariwisataan Izin kunjungan diberikan untuk jangka waktu: 1.

USU Repository © 2009 22 . c) Izin Tinggal Terbatas Izin tinggal terbatas diberikan kepada: 1) Orang asing pemegang izin masuk dengan visa tinggal terbatas 2) Anak yang lahir dan berada di wilayah Indonesia yang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum kawin dari orang tua pemegang izin tinggal terbatas. Memliki surat perjalanan (paspor) yang sah dan masih berlaku minimal 6 (enam) bulan 2. Visa tinggal terbatas diberikan kepada mereka yang bermaksud untuk: 22 1) Menanamkan modal. 2007. kecuali yang dibebaskan dari keharusan memiliki visa dan telah memperoleh izin masuk. Memiliki through ticket atau return ticket yang masih berlaku 3. dan Izin Keimigrasian. Lihat Pasal 1 ayat (2) huruf e Peraturan Pemerintah RI no.44 Persayaratan untuk memperoleh izin kunjungan adalah: 1. Memiliki visa kunjungan. 32 tahun 1994 tentang Visa. 3) Anak yang lahir dan berada di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum kawin dari ibu warga negara Indonesia dan ayahnya tidak memiliki ijin tinggal terbatas 4) Orang asing yang mendapat alih status izin kunjungan menjadi izin tinggal terbatas. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Tidak termasuk dalam daftar pencegahan/penangkalan 4. Izin masuk.

C. 7) Repatriasi. angka 2. d) Izin Tinggal Tetap Izin tingal tetap diberikan kepada orang asing untuk tinggal menetap di Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). angka 3. 5) Menggabungkan diri dengan suami dan atau orang tua bagi isteri dan atau anak sah dari seorang Warga Negara Indonesia.45 2) Bekerja. 2007. USU Repository © 2009 . Hukum Keimigrasian Indonesia Dalam Sistem Hukum Nasional Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Perpanjangan izin tinggal tetap diajukan paling lama 60 (enam puluh) hari sebelum izin tinggal tetap berakhir. 6) Menggabungkan diri dengan suami dan atau orang tua bagi istri dan anak-anak sah di bawah umur dari Orang Asing sebagaimana dimaksud dalam huruf e angka 1. 4) Mengikuti pendidikan dan latihan atau melakukan penelitian ilmiah. Dalam hal izin tinggal tetap berakhir sedangkan keputusan Direktur jenderal Imigrasi yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal orang asing yang bersangkutan dapat memberikan perpanjangan sementara izin tinggal tetap paling lama (90) hari terhitung sejak izin tinggal tetap berakhir. dan angak 4. 3) Malaksanakan tugas sebagai rohaniwan.

keimigrasian dapat dilihat dalam persfektif hukum administrasi negara. Jika dikaitkan dengan ilmu hukum yang menjadi induknya. Hal itu terlihat dari fungsi keimigrasian yang dilaksanakannya. dan ilmu hukum internasional 23. USU Repository © 2009 23 . hukum pajak. telah tumbuh pula berbagai cabang ilmu hukum sebagai disiplin hukum baru. ilmu hukum keperdataan. Sesungguhnya. kewenangan imigrasi untuk menangkal dan mencegah orang yang hendak masuk atau keluar wilayah Indonesia. hukum lingkungan. hukum keimigrasian adalah bagian dari ilmu hukum kenegaraan. yaitu fungsi penyelenggara pemerintahan atau administrasi negara (bestuur) dan pelayanan masyarakat (publiek dienst). Sejalan dengan perkembangan zaman. 24 Iman Santoso. Flora Liman Mangestu. hal. hlm. 2007. Jakarta: UKI.46 Dalam ilmu hukum terdapat beberapa ilmu hukum positif sebagai induk. Ridwan Halim . Kebijakan yang dimaksud adalah gambaran dari perbuatan hukum pemerintah (overheads handeling). . “Persoalan Praktis Filsafat Hukum dalam Himpunan Distingsi”. 1992. Op. Contoh. yaitu ilmu hukum kepidanaan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). bukan pembentuk undang-undang (wetgever) dan bukan juga fungsi peradilan (rechtspraak). dan hukum keimigrasian. cit. 39 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Dengan demikian. hukum agrarian. khususnya merupakan cabang ilmu dari hukum administrasi negara 24. seperti hukum administrasi negara. ilmu hukum kenegaraan. masalah keimigrasian justru merupakan sebagian kebijakan oragan administrasi negara yang melaksanakan kegiatan pemerintahan (administrasi negara). 22. hukum ekonomi. A.

hukum objek immaterial. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).47 Dalam ilmu pengetahuan hukum dikenal istilah pembidangan hukum. hal. USU Repository © 2009 25 . 15 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Jakarta: Rajawali. Bidang hukum formil 1) Hukum tata negara formil atau hukum acara tata negara 2) Hukum administrasi negara formil atau hukum acara administrasi negara 3) Hukum perdata formil atau hukum acara perdata 4) Hukum pidana formil atau hukum acara pidana c. pemyelenggaraan keluar-masuk orang dari dan ke dalan wilayah Indonesia. khusus mengatur penyelesaian perkara yang mengandung pertemuan antara dua atau lebih sistem hukum (HATAH intern dan HATAH ekstern). Bidang Hukum Hubungan Antar Tata Hukum (HATAH). hukum perjanjian. dan hukum penyelewengan perdata dan sikap tindak lain 3) Hukum pidana b. dan hukum administrasi negara 2) Hukum perdata yang mencakup: hukum pribadi. terdiri atas: 1) Hukum negara yang mencakup: hukum tata negara. Pembidangan hukum tersebut dalam praktiknya dapat dijabarkan sebagai berikut: 25 a. Luas lingkup keimigrasian tidak lagi hanya mencakup pengaturan. 2007. serta Purmadi Purbacaraka. yang secara khusus terbagi menurut fungsi pengaturannya. Bidang hukum materil. hukum waris. hukum benda. 1987. hukum keluarga. “Penggarapan Disiplin Hukum dan Filsafat Hukum bagi Pendidikan Hukum”.

2007. “Hukum Keimigrasian dalam Sistem Hukum Nasional”. mengatur tata cara melindungi masyarakat da ri pelanggaran hak warga negara ataupun dari bahaya yang ditimbukan atau berkaitan dengan orang asing. sebagai bagian dari penyelenggaraan kekuasaan eksekutif. Iman Santoso. pemberian izin masuk ke dalam negeri. Hukum administrasi negara mengatur tata cara menjalankan pemerintahan atau administrasi negara serta mengatur hubungan antara aparatur administrasi negara dan masyarakat yang mencakup dua hal pokok. dan izin bertempat tinggal di Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). dapat dikatakan bahwa fungsi keimigrasian merupakan fungsi penyelenggaraan administrasi negara atau penyelenggaraan administrasi pemerintahan (besturr) 26. Jakarta. USU Repository © 2009 . penyidikan atas dugaan terjadinya tindak pidana keimigrasian. 41 Bagir Manan. 14 Januari 2000. Op. seperti tata cara bepergian ke luar negeri. Pertama.cit. serta pengaturan prosedur keimigrasian dan mekanisme pemberian izin keimigrasian. 7 27 26 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Oleh karena itu. mengatur tata cara administrasi negara (diperkenankan atau diwajibkan) yang mencampuri kehidupan masyarakat. disampaikan dalam Rapat Kerja Nasional Keimigrasian. hal. tetapi telah bertalian juga dengan pencegahan orang keluar wilayah Indonesia dan penangkalan orang masuk wilayah Indonesia demi kepentingan umum.48 pengawasan orang asing yang berada di wilayah Indonesia. hlm. Kedua. Berhubung hukum keimigrasian harus mengikuti dan tunduk pada asasasas dan kaidah hukum administrasi negara umum (algemene administratiefrecht). maka Hukum Keimigrasian dapat dikatakan merupakan bagian dari bidang hukum administrasi negara 27. Maka. yaitu fungsi administrasi negara dan pemerintahan.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 9 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007. sebab tindakan atau keputusan yang bertentangan dengan asas legalitas dapat mengakibatkan tindakan atau keputusan yang bersangkutan batal demi hukum. yaitu setiap tindakan pejabat administrasi negara dilaksanakan menurut ukuran hukum yang berlaku mencakup ukuran kewenangan. asas larangan melampaui wewenang. Oleh karena itu setiap tindakan yang bertentangan dengan asas penyelenggaraan pemerintahan yang baik dapat dijadikan dasar tuntutan bagi koreksi dan pelaksanaan kewajiban hukum apratur keimigrasian atau ganti rugi apabila sudah tidak mungkin lagi dipulihkan. asas kepastian hukum. ukuran isi tindakan atau isi keputusan. disertai ganti rugi. asas keseimbangan. asas motivasi yang benar. asas legalitas.49 terdapat dua asas umum yang harus diterapkan dalam setiap implementasi peran keimigrasian. yaitu: 1. asas-asas umum penyelengaraan administrasi yang baik (general principles of good administration) yang mencakup asas persamaan perlakuan. 2. USU Repository © 2009 . asas dapat dipercaya. hal. ukuran tata cara melakukan tindakan atau membuat keputusan. asas tidak sewenang-wenang. dan asas keterbukaan. Setiap keputusan yang bertentangan dengan asas penyelenggaraan pemerintahan yang baik dapat dijadikan dasar tuntutan atau pembatalan. 28 28 Ibid.

Dalam perspektif pembangunan nasional. dan pembicaraan traksaksi bisnis. Karena semakin banyak peraturan yang mengatur bidang perekonomian dengan menggunakan kaidah hukum administrasi negara ini. dapat dikatakan bahwa hukum keimigrasian merupakan bagian dari hukum ekonomi. yang dikaitkan dengan investasi pekerjaan. 2007. USU Repository © 2009 . yang diberi nama droit economique.50 Dalam perspektif yang lebih besar lagi. selain ditetapkan hak dan kewajiban. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). izin tinggal terbatas. proses. Demikian pula dengan pemberian izin keimigrasian. terbentuklah bidang hukum baru yang disebut hukum ekonomi dalam arti sempit. KITAS ini merupakan produk administrasi negara yang berasal dari kaidah keimigrasian. aktivitas perdagangan. hukum mempunyai peranan yang penting bagi keberhasilan pembangunan ekonomi. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Hal yang membuktikan bahwa kaidah hukum keimigrasian merupakan bagian dari hukum ekonomi dalam arti sempit adalah ketika kepemilikan hak orang asing atas satuan rumah susun (apartemen dan kondominium) di Indonesia hanya diberikan apabila orang asing tersebut adalah pemegang KITAS (Kartu Izin Tinggal Terbatas). sebab melalui hukum. ataupun tetap. seperti izin kunjungan. serta kelembagaan dari setiap kegiatan interaksi ekonomi. juga diberikan kepastian mengenai subjek dan objek hukum dalam setiap kegiatan ekonomi.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian 1. 2007. 1996. Oleh karena itu. USU Repository © 2009 29 . Hukum Kewarganegaraan dan Keimigrasian Indonesia. Gramedia Jakarta. hal.51 BAB III PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PENYALAHGUNAAN IZIN KEIMIGRASIAN A. yaitu warga Negara Indonesia (WNI) dan orang asing atau warga negara asing (WNA). Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Visa sebagai izin masuk Penduduk Indonesia pada hakikatnya terdiri atas dua golongan. 29 Pasal 2 sampai 9 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) mengatur mengenai batas-batas berlakunya perundang-undangan hokum pidana menurut Koerniatmanto Soetoprawiro. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Indonesia merasa perlu untuk mengatur permasalahan orang asing yang berada di Indonesia. Ketentuan Keberadaan Warga Negara Asing (WNA) di Indonesia Menurut Undang-undang RI No. 74.

dimana saja. dalam pasal 6 ayat 1 disebutkan bahwa “setiap orang asing yang masuk wilayah Indonesia wajib membawa Visa”. yaitu: 30 1. 2000. juga diluar wilayah negara (asas personal atau juga dinamakan prinsip nasional aktif). 33 Direktorat Jendral Imigrasi. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Tugas Pokok dan Fungsi Direktorat Jendral Imigrasi. Di dalam Buku Petunjuk Keimigrasian Republik Indonesia Bagian I Visa dan Izin Tinggal disebutkan: 33 Moeljatno. 38. Jakarta. Asas-asas Hukum Pidana. 2007. ada dua kemungkinan pendirian. Rineka Cipta. baik dilakukan oleh warga negaranya sendiri maupun oleh negara asing (asas teritorial). 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Sesuai dengan ketentuan ketentuan Undang-undang RI Nomor 9 tahun 1992 tentang keimigrasian. 2. Jakarta. Departemen Kehakiman RI. 32 Hadi Kiswanto. hal. Lihat Pasal 6 ayat (1) Undang-undang RI No. Jakarta. Perundang-undangan hukum pidana berlaku bagi semua perbuatan pidana yang terjadi dalam wilayah negara. 2. Ditinjau dari sudut negara. 31 30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Perundang-undangan hukum pidana berlaku bagi semua perbuatan pidana yang dilakukan oleh waraga negara. 1982. USU Repository © 2009 . Buku Petunjuk Keimigrasian RI Bagian I Visa Izin Tinggal. hal. antara lain: Menurut Hadi Kiswanto:32 “Visa adalah izin tertulisuntuk masuk ke suatu negara yang tercantum dalam surat perjalanan”.52 tempat terjadinya perbuatan. 1983. hal. 31 Oleh karena itu setiap orang asing yang masuk wilayah Indonesia wajib memiliki visa. 10. ada beberapa pengertian visa yang dapat dikemukakan.

” 35 Maksud dan tujuan pemberian visa menurut petunjuk Pusdiklat Departemen Kehakiman Republik Indonesia yaitu untuk dapt mengendalikan serta mengawasi lalu lintas orang asing yang keluar nasuk (ke dan dari) wilayah Indonesia. dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan: 34 “Visa adalah izin untuk keluar atau masuk ke sesuatu negara. Kamus Besar Bahasa Indonesia. USU Repository © 2009 . Balai Pustaka.29. hal. Jakarta. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 35 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 07. 2007.04 Tahun 1981 yang menyatakan sebagai berikut: “Tugas Pokok Direktorat Jendral Imigrasi adalah mengtaur dan mengawasi lalu lintas antar Republik Indonesia dengan negara lain serta menyelenggarakan pengawasan orang asing dalam wilayah negara 34 WJS Poerwadarninta.53 “Visa adalah izin tertulis yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang di dalam papor kebangsaan yang menyatakan bahwa yang bersangkutan dapat mengadakan perjalanan ke negara yang dituju”. Hal ini sejalan dengan tugas pokok Direktorat Jendaral Imigrasi yang tertuang dalam keputusan Menteri Kehakiman RI No. WJS Poerwadarnita. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian menyebutkan: “Visa adalah izin tertulis yang diberikan oleh pejabat yang berwenang pada Perwakilan Republik Indonesia atau di tempat lainnya yang ditetapkan olah Pemerintah Republik Indonesia yang memuat persetujuan bagi orang asing untuk masuk dan melakukan perjalanan ke wilayah Indonesia. 142. 1986. PR. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. M. Lihat Pasal 1 butir 7 Undang-Undang RI No.” Sedangkan menurut Undang-undang RI No.

38 Lihat Pasal 1-17 PP No. Izin Masuk dan Izin Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. dan keamanan nasional. 2007. juga tidak bermusuhan baik terhadap rakyat. diberikan kepada orang asing pemegang Paspor Dinas yang hendak bepergian ke Indonesia untuk melaksanakan tugas resmi dari Pemerintah asing yang bersangkutan atau diutus oleh Organisasi Internasional. Visa Dinas.54 Republik Indonesia demi menjamin ketertiban. hanya orang asing yang dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Visa ini diberikan kepada orang asing yang maksud dan tujuan kedatangannya di Indonesia tidak menimbulkan gangguan terhadap ketertiban dan keamanan nasional. maupun negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang diizinkan masuk ke wilayah Indonesia. Berdasarkan prinsip ini. ketentraman. diberikan kepada orang asing pemegang Paspor Diplomatik yang hendak bepergian ke Indonesia dengan tugas Diplomatik. Hal ini sejalan dengan prinsip yang bersifat “selekrif” (selective policy). 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 1982. Visa Diplomatik. 6. Beberapa Pedoman dan Ketentuan Tentang Imigrasi dan Ketatalaksanaan: Bahan Penataran Administrasi Apratur Kehakiman. b. ada lima jenis visa: 38 a. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian. Jakarta. hal. 32 Tahun 1994 tentang Visa.” 36 Menurut Undang-undang No. 32 Tahun 1994 tentang Visa. bangsa dan negara Republik Indonesi serta tidak membahayakan keamanan dan ketertiban. 37 Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. Izin masuk dan Izin Keimigrasian. Pusdiklat Pegawai Departemen Kehakiman. tetapi tugas tersebut tidak bersifat Diplomatik. 37 Lihat dalam Penjelasan Umum Undang-undang RI No. USU Repository © 2009 36 .

dapat diberikan kepada orang asing untuk singgah di wilayah Negara Republik Indonesia untuk meneruskan perjalanan ke negara lain atau kembali ke negara asal. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Bebas visa kunjungan singkat (BVKS) Pada dasarnya setiap orang yang akan memasuki suatu negara harus memiliki visa. dapat diberikan kepada orang asing untuk tinggal di wilayah Negara Republik Indonesia paling lama satu tahun terhitung sejak tanggal diberikannya izin masuk di wilayah Negara Republik Indonesia. 2007. Visa ini diberikan untuk singgah di wilayah Negara Indonesia paling lama 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal diberikannya izin masuk di wilayah Negara Republik Indonesia. USU Repository © 2009 .55 c. Visa Singgah. tetapi dalam pasal 7 Undang-undang No. yaitu visa Kunjungan untuk beberapa kali melakukan perjalanan dari dan ke wilayah Negara Republik Indonesia. d. Visa Kunjungan. Visa Tinggal Terbatas. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian dinyatakan: 39 “dikecualikan dari kewajiban memiliki visa bagi orang asing yang masuk wilayah Indonesia adalah: 39 Lihat Pasal 7 Undang-undang RI No. Dalam hal ini orang asing dapat menggunakan Multipel Visa. dapat diberikan kepada orang asing untuk berkunjung di wilayah Negara Republik Indonesia paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikannya Izin Masuk di wilayah Negara Indonesia. e. 2.

warga negara ASEAN dapat saling masuk ke negara-negara ASEAN lainnya tanpa terlebih dahulu meminta visa. Jakarta. dkk). Dalam hal tertentu. Orang asing yang memiliki Ijin masuk kembali c. Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. Sebagai contoh. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN).56 a. Biasanya kemudahan ini diberikan untuk kepentingan negara tersebut yaitu agar orang asing lebih banyak masuk ke negaranya dan ini akan menghasilkan devisa. maka waraga negara dari negara tersebut juga mendapatkan pembebasan visa apabila akan ke negara asing tertentu. terdapat negara-negara yang diberikan kemudahan kepada orang asing untuk masuk ke suatu negra Indonesia dengan tidak memerlukan visa. Penumpang transit di Pelabuhan atau Bandar Udara diwilayah Indonesia sepanjang tidak keluar dari tempat transit yang berada di daerah tempat Pemeriksaan Imigrasi. Orang asing warga negara dari negara yang berdasarkan keputusan Presiden tidak diwajibkan memilki visa b. USU Repository © 2009 40 . 9. “Analisa dan Evaluasi tentang Pengaturan Fasilitas Bebas Visa wisata bagi Orang Asing yang Berkunjung ke Indonesia” (Laporan Penelitian). 1984. 2007. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. hal. 40 Selain itu juga pemberian kemudahan tersebut juga didasarkan kepada azas resiprositas yaitu negara yang memberikan kemudahan bebas visa terhadap waraga asing tertentu. Kapten atau Nakoda kapal dan awak yang bertugas pada alat angkut yang berlabuh dipelabuhan atau mendarat di Bandar Udara di wilayah Indonesia d. seperti yang disebutkan pada huruf (a) diatas.

01 tahun 1993 tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS). 44. Amerika Serikat 2. Mexico 30. Chili 41 41 24. Argentina 4. Malta 27. Arab Saudi 3. Kunjungan wisata adalah perjalanan mengunjungi Indonesia untuk berlibur. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Maldive 26. menikmati objek-objek wisata dan lain-lain. melakukan penelitian dan kunjungan yang bersifat sosial budaya. Orang asing yang diberi fasilitas BVKS dapat melakukan kegiatan seperti kunjungan wisata. Mesir 29. Belanda 7. memberikan kemudahan kepada waraga negara dari + 46 negara dapat masuk ke wilayah Indonesia selama 2 (dua) bulan. Austria 6. 2007. adalah: 42 1. Nepai 33. Belgia 8. Malaysia 25. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.57 Pemerintah Republik Indonesia dengan peraturan perundang-undangan berupa Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. Brunai Darussalam 10. Kunjungan sosial budaya adalah kunjungan dalam rangak mengunjungi family. sedangkan kunjungan usaha adalah kunjungan dalam rangaka membina hubungan bisnis. Australia 5. 2002. Direktorat Jendral Imigrasi. Brazil 9. “Aspek Ilmu Perundang-undangan BVKS Bagian I”. Adapun negara-negara penerima BVKS. 24-25 42 Berdasarkan Data Kantor Imigrasi Polonia Medan Tahun 2001. Monaco 31. Maroko 28. USU Repository © 2009 . hal. pembicaraan bisnis dan penjajakan memperluas usaha bisinis di Indonesia. social budaya dan usaha. Pintu Gerbang No. Jakarta.01. M.02. Myanmar 32. Norwegia Lukman Bratamidjaja. Orang asing yang diberikan BVKS ini dapat melakukn kegiatan-kegiatan sebagaimana tersebut diatas dengan catatan dilarang melakukan kegiatan yang sifatnya bekerja.

dan memasuki dan meninggalkan negara lain yang mempunyai hubungan diplomatik dengan negara yang mengeluarkan paspor tersebut. Denmark 12. Gramedia Pustaka. Irlandia 17. Tanzania 43. Jepang 20. Selandia Baru 37. Philipina 36. Italia 19. Imigrasi. dan Karantina. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. 39. Thailand 44. 2007. Hungaria 15. PT. Prancis 35. Hongkong 14. Jakarta.58 11. Felix Hadi Mulyatno dan Endar Sugiarto. Luxemburg 34. 1997. Jerman 21. Israel 18. Spanyol 38. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Finlandia 13. Yunani 3. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Swiss 41. hal. 43 Sedangkan menurut Undang-undang RI No. USU Repository © 2009 43 . Korea Selatan 23. 44 Lihat Pasal 1 angka 3 Undang-undang RI no. Uni Emirat Arab 46. Swedia 40. Surat perjalanan republik Indonesia (Paspor) Paspor adalah sebuah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh suatu badan pemerintah yang berwenang untuk bangsanya atau untuk penduduk asing. Kanada 22. Inggris 16. Turki 45. 44 Paspor berfungsi sebagai surat perjalanan yang digunakan untuk meninggalkan dan memasuki kembali negara yang bersangkutan. Taiwan 42. Orang yang ingin mengunjungi negara lain harus mengetahui apakah paspornya berlaku untuk negara yang akan dituju R. Singapura 39. Pabean. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian menyatakan: “surat perjalanan adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang dari suatu negara yang memuat identitas pemegangnya dan berlaku untuk melakukan perjalanan antar negara”.

kita juga harus mengetahui apakah paspor berlaku untuk negara transit yang akan disinggahi dalam perjalanan menuju ke negara tujuan atau tidak. Op. 40 47 Lihat Pasal 29 Undang-undang No. b. Paspor Haji. Kebangsaan seseorang bisa dilihat pada kartu identitasnya. USU Repository © 2009 . dan mereka boleh menggunakan kedua paspor mereka. diberikan kepada waraga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dalam rangka menunaikan inbadah haji. misalnya dipaspor atau kartu penduduk. d. hal. Disamping itu. Itu bukan berarti bahwa pemegang paspor dari negara yang mengeluarkan paspor tersebut adalah warga negaranya. Papor biasa. Felix Hadi Mulyatno dan Endar Sugiarto. hal. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian disebutkan Surat Perjalanan Republik Indonesia terdiri atas: 47 a. diberikan kepada warga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dalam rangka penamatan atau tugas yang bersifat diplomatik c. diberikan kepada orang asing yang pada saat diberlakukannya undang-undang ini telah memliki izin tinggal tetap akan 45 46 R.59 atau tidak 45. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. 2007. misalnya Cina dan Indonesia. Paspor diplomatik. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 46 Dalam pasal 29 Undang-undang No. Paspor untuk orang asing. 40. Ibid. Itu sebabnya kita dulu mengenal “Dwi Warga Negara”. diberikan kepada warga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar negeri (keluar wilayah Indonesia) secara normal. yang artinya seseorang bias mempunyai dua warga negara. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). cit.

h. 2007. yang bukan bersifat diplomatik. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). diberikan dalam keadaan khusus apabila paspor biasa tidak diberikan. Surat perjalanan laksana paspor untuk orang asing. dapat diberikan kepada orang asing yang tidak mempunyai surat perjalanan yang sah dan atas kehendak sendiri keluar dari wilayah Indonesia sejauh dia tidak terkena pencegahan. B.60 melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dan tidak mempunyai surat perjalanan serta dalam waktu yang dianggap layak tidak dapat memperolehnya dari negaranya atau negara lain. Paspor dinas. e. diberikan kepada warga negara Indonesia dalam keadaan khusus apabila tidak mendapatkan paspor dinas. f. Surat perjalanan laksana paspor untuk warga negara Indonesia. menggunakan fasilitas BVKS maupun menggunakan visa Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. g. dan dikenakan tindakan pengusiran atau deportasi atau dalam keadaan tertentu yang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional diberi izin untuk masuk ke wilayah Indonesia. USU Repository © 2009 . Surat perjalanan laksana paspor dinas. diberikan kepada warga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dalam rangka dinas/tugas dari pemerintah. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Warga negara asing (WNA) yang masuk ke Indonesia pada umumnya atau kota medan khususnya. Masa berlakunya paspor adalah 5 (lima) tahun. Sedangkan untuk WNI yang berdomisili di luar negeri masa berlakunya paspor adalah 2 tahun.

01. Kunjungan wisata b. USU Repository © 2009 . 48 1.01-12. Ruang lingkup fasilitas bebas visa Menurut Keputusan Menteri Kehakiman No. Hal ini dimannfaatkan oleh warga negara asing untuk menyalahgunakan izin keimigrasian. M. yang meliputi: a. Kantor Imigrasi Polonia Medan. Di dalam izin kunjungan tersebut dijelaskan bahwa izin kunjungan digunakan penggunaannya untuk berwisata. tetapi kenyataannya ada juga wisatawan yang menyalahgunakannya untuk keperluan lain sebagai sampingan bahkan ada juga wisatawan yang sama sekali tidak berwisata. Kunjungan sosial budaya c.02 tahun 1993 tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS). dan pemberian tenggang waktu pada izin kunjungan wisata yang terlalu lama atau karena faktor petugas imigrasi sendiri.61 wisata akan mendapat izin kunjungan wisata sesuai dengan izin masuk baik dengan visa atau bebas visa. Kunjungan usaha Kunjungan wisata adalah perjalanan mengunjungi Indonesia untuk berlibur. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. menikmati objek-objek wisata dan lain-lain. Keputusan Menteri Kehakiman tersebut mengatur pelaksanaan teknis bebas visa. Penyalahgunaan tersebut bisa terjadi karena faktor-faktor ruang lingkup fasilitas bebas visa yang dinilai terlalu luas. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Kunjungan sosial budaya 48 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim. 2007.

misalnya bekerja atau berusaha atau bahkan ada yang mengedarkan ganja atau narkotika. yang merupakan fasilitas untk kunjungan khusus wisata. sedangkan kunjungan usaha adalah kunjungan dalam rangaka membina hubungan bisnis. Kantor Imigrasi Polonia Medan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.01-12.02 tahun 1983 tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS). masih saja ditemukan penyalahgunaan oleh warga negara asing (WNA) yang melakukan perjalanan wisata atau yang biasa disebut wisatawan asing. 9 51 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim.01-12. 51 Hasil penelitian Timi Evaluasi dan Analisa dari Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) yang dilakukan sejak tahun 1992-1993 disejumlah daerah 49 50 Lukman Bratamidjaja. hal. M. Namun.02 tahun 1983 tentang Pelaksanaan Pembebasan Keharusan memiliki visa bagi wisatawan asing. USU Repository © 2009 . Op. pembicaraan bisnis dan penjajakan memperluas usaha bisnis di Indonesia. dkk). tujuan pemberian fasilitas Bebas Visa Wisata (BVW) sudah diatur secara tegas.01. cit.62 adalah kunjungan dalam rangak mengunjungi family.01. 25 Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. Keputusan Menteri ini bertujuan memperjelas kepastian dan batasan fasilitas bebas visa. hal. melakukan penelitian dan kunjungan yang bersifat sosial budaya. cit. 49 Keputusan Menteri Kehakiman ini merupakan suatu kebijaksanaan pemerintah yang memperluas pemberian fasilitas bebas visa jika dibandingkan dengan ketentuan yang diatur dalam Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. M. 50 Oleh karena itu. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007. Op. Hal ini yang mendasari diterbitkan Keputusan Menteri Kehakiman No.

26 tahun 1970 tentang Koordinasi Pengawasan Orang Asing yang Berkunjung ke Indonesia SKB Menteri Luar Negeri dan Menteri Kehakiman tentang Peraturan Visa Keputusan Menteri Kehakiman Bebas Visa Wisata (BVW) tentang Tahun 1970 Tenggang Waktu 7 (tujuh) hari 1979 30 (tiga puluh) hari + 15 (lima belas) hari 60 (enam puluh ) hari atau 2 (dua) bulan 60 (enam puluh) hari atau 2 (dua) bulan 1983 Keputusan Kehakiman tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS) 1993 Sumber: Hasil Investarisasi Peraturan Perundang-undangan Bebas Visa Wisata Tahun 1970-1993 I Wayan Tangun Susila. Laporan Penelitian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 1. yaitu dalam: Tabel. Masa Tenggang Waktu Pemebrian Fasilitas Bebas Visa Bentuk Peraturan PP No. kegagalan ini telah dimanfaatkan orang asing sebagai salah satu cara masuknya imigran gelap ke Indonesia. menyebutkan adanya pelanggaran terhadap pemberian fasilitas Bebas Visa Wisata (BVW) yang telah diatur dalam Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No.01. 52 2. USU Repository © 2009 52 . Denpasar. setelah ruang lingkup fasilitas bebas visa dalam BVKS diperluas tetap saja ditemukan pelanggaran yang sama.63 wisata di Indonesia mengenai Pengaturan Fasilitas Bebas Visa Wisata (BVW) bagi orang asing yang berkunjung ke Indonesia. “Usaha Penaggulangan Tindak Pidana Imigrasi dan Imigrasi Gelap di Kota Madya Denpasar”. Tenggang waktu fasilitas bebas visa Sebagaimana telah diketahui mengenai tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa untuk wisata telah beberapa kali diatur. dkk. 1993. 2007.02 tahun 1983. hal. Olah karena itu. Universitas Udayana dan PDII LIPI (Jakarta). Kemudian.01-12. 23 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. M.

16-17 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. S. 6-8. 2007. Lamanya jangka waktu ini ternyata dapat memberikan peluang bagi wisatawan asing untuk melakukan pelanggaran dengan berbagai motivasi. Sjarif. 1996. Tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa untuk wisata yang paling ideal adalah 1 (satu) bulan dan dapat diperpanjang selama 30 (tiga puluh) hari. dkk). yaitu mempunyai Izin Tinggal Terbatas dan memiliki Izin Kerja yang diberikan oleh Menteri Tenaga Kerja. USU Repository © 2009 53 .64 Perkembangan tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa bagi wisatawan dimaksudkan untuk mendukung pertumbuhan kepariwisataan dan meningkatkan arus wisatawan. cit. Sedangkan bagi orang asing yang akan bekerja di Indonesia sudah ad pengaturannya. Hal ini dikarenakanjarang sekali wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia selama 2 (dua) bulan untuk berwisata saja. hal. Pedoman Penggunaan Tenaga Kerja Asing di Indonesia dan Peraturanperaturannya. hal. Tenggang waktu wisatawan di Indonesia selama 2 (dua) bulan merupakan pendapatan bagi pengelola wisata. Sinar Grafika. Alasan-alasan yang dikemukakan adalah: H. 53 Berdasarkan hasil penelitian oleh Tim Evaluasi dan Analisa terhadap responden yaitu para wisatawan asing tentang waktu pemberian fasilitas bebas visa adalah sebagai berikut: 54 1. seperti disalahgunakan untuk bekerja. Op. Tetapi tenggang waktu 2 (dua) bulan ini dirasakan terlalu panjang atau lam. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Jakarta. 54 Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting.

Pemberian fasilitas bebas visa selam 1 (satu) bulan dirasakan masih kurang bagi sebagian besar wisatawan asing. Petugas Imigrasi Peranan petugas imigrasi dalam hal pengawasan sangat besar. Tidak dapat dipungkiri. sebab: a.65 a. Terutama para petugas yang bertugas di Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. d. b. meskipun ataruan tentang keimigrasian telah baik. Pemasukan devisa dapat memenuhi target yang diharapakan. 2. Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa lama masa kunjungan wisatawan asing ke Indonesia rata-rata antara 3 (tiga) sampai 4 (empat) minggu saja. Terlalu lama. Pengawasan terhadap orang asing memerlukan perhatian yang lebih seksama. c. sebab objek wisata di Indonesia sangat banyak dan menarik. 2007. C. USU Repository © 2009 . harus didukung oleh mental petugas yang baik pula. c. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). d. Jarang sekali wisatawan asing yang berwisata sampai 3 (tiga) bulan. b. Pengawasan terhadap orang asing bisa terkendali. Bisa disalahgunakan untuk tujuan lain selain berwisata. Tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa selama2 (dua) bulan apalagi 3 (tiga) bulan dipandang tidak ideal.

Op. 21 Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. hal. hal. Tahap pengawasan. khususnya yang menggunakan fasilitas bebas visa untuk wisata menunjukkan perlu adanya pemantauan kegiatan-kegiatan yang dilakukan. wawancara/ilicting untuk mencari mengetahui kebenaran materil terhadap keberadaan orang asing yang berkunjung. apabila mereka bertindak masa bodoh. Mekanisme pengawasan tersebut adalah sebagai berikut: 56 1. dkk). System pelaporan. dan juga membuat daftar terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh orang aing yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi penindakan imigrasi. dan diadakan peninjauan ke lokasi. 2007. cit. Hal ini bertujuan untuk mengetahui secara dini setiap peristiwa yang dapat diduga mengandung unsureunsur pelanggaran keimigrasian. yaitu secara administrarif tentang perizinannya. cit. 3. sebaiknya memiliki satu sistem database diseluruh Indonesia yang dapat diakses oleh semua petugas imigrasi dimanapun berada. kemudian saat orang asing tersebut mendarat di wilayah Republik Indonesia harus juga diperiksa dan ketika orang asing tersebut berada tinggal di Indonesia. Op. yaitu dilakukan mulai pada saat orang asing mengurus izin masuk ke Indonesia di luar negeri. 55 Hasil pengawasan terhadap orang asing yang berkunjung. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . dkk. Tekhnik pengawasan.66 pintu-pintu masuknya orang asing ke Indonesia. 2. maka orang asing tersebut akan leluasa berkeliaran di Indonesia. 55 56 I Wayan Tangun Susila. 25-30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

hal. Artis Asing. Tenaga kerja. Pos dan Telekomunikasi 2) Departemen Luar Negeri 3) Departemen Dalam Negeri 4) Polri c.67 4. USU Repository © 2009 . 2007. Koordinasi dengan instansi terkait. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). maka harus melakukan koordinasi dengan instansi pemerintah lainnya. Pos dan Telekomunikasi 2) BAKIN (BIN) 57 Ibid. 19-30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Departemen KEhakiman bekerja sama dengan: 1) Departemen Pariwisata. sepanjang yang menyangkut masalah: 57 a. karena dari segi kauntitas petugas imigrasi sangat kurang untuk mengawasi keadaan setiap oarng asing dalam segala kegiatan mereka di Indonesia. Departemen Kehakiman c. Departemen Kehakiman bekerja sama dengan: 1) Departemen Pariwisata. maka Menteri Kehakiman sebagai yang bertanggung jawab dalam pengawasan orang asing dan dalam dalam hal ini lebih dititik beratkan kepad imigrasi. Tourist. q Direktorat Jenderal Imigrasi melakukan kerja sama dengan: 1) Departemen Tenaga Kerja 2) Departemen Luar Negeri 3) Badan Koordinasi Penanaman Modal 4) Polri 5) Pemda dan Departemen Tekhnis b.

namun dalam pelaksanaannya masih saja terdapar orang asing yang melakukan pelanggaran atau penyalahgunaan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Awak Kapal. Departemen Kehakiman bekerja sama dengan: 1) Departemen Perhubungan 2) Departemen Luar Negeri 3) Departemen Pertanian 4) TNI Angkatan Laut e. Departemen Kehakiman melakukan koordinasi dengan: 1) BAKN 2) BIN 3) Polri 4) Kejaksaan Agung 5) Departemen Tenaga Kerja 6) Pemda Meskipun pengawasan terhadap orang asing yang berkunjung ke Indonesia sudah diatur dan mekanismenya sudah sedemikian rupa. 2007. Masalah khusus.68 3) Departemen Luar Negeri 4) Departemen Tenaga Kerja 5) Polri 6) Pemda/Departemen Luar Negeri d. USU Repository © 2009 . Hal ini terjadi karena pengawasan yang kurang efektif dari Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. misalnya mengenai Cletering house mengenai masalah izin masuk warga RRC dan lain-lain.

C. Upaya Penanggulangan Tindak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Penanggulangan adalah cara mengatasi terjadinya sesuatu tindak pidana keimigrasian. Upaya preventif Terjadinya tindak pidana keimigrasian tidak terlepas dari masalah pengawasan orang asing. 59 58 59 I Wayan Tangun Susila. hal. Karena itu. yaitu: 1. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). cit. 2007. 28 Ibid. Karena salah satu faktor penyebab terjadinya penyalahgunaan izin keimigrasian adalah kurangnya koordinasi petugas keimigrasian dengan instansi lain. hal. Op. Pengawasan yang kurang terhadap orang asing yang masuk ke Indonesia dapat menimbulkan tindakan yang mengarah kepada kejahatan maupun pelanggaran. USU Repository © 2009 . 28 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 58 Usaha penanggulangan terjadinya pelanggaran ketentuan keimigrasian dibedakan atas dua upuya. sangata penting koordinasi dengan instansi lain.69 Petugas Imigrasi yang terbatas. Satu diantaranya adalah penyalahgunaan izin masuk ke Indonesia yaitu izin kunjungan wisata yang pada dasarnya telah melanggar ketentuan Undang-undang keimigrasian. dkk.

70

Dalam bagian Penjelasan Umum UU no. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian ditegaskan bahwa terhadap orang asing, pelayanan, dan pengawasan di bidang keimigrasian dilakukan dengan prinsip yang bersifat “selektif” (selective policy) . 60 berdasarkan prinsip ini, hanya orang asing yang diizinkan masuk ke Indonesia adalah orang asing yang memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat, bangsa dan negara Republik Indonesia serta tidak membahayakan keamanan dan ketertiban, juga tidak bermusuhan baik terhadp rakyat, maupun terhadp negra Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Dengan demikian orang asing yang ingin masuk dan menetap di wilayah Indonesia harus dipertimbangkan dari berbagai segi, baik dari segi politik, ekonomi maupun sosial budaya bangsa dan negara Indonesia. Sikap dan cara pandang seperti ini merupakan hal yang wajar, terutama bila dikaitkan dengan pembangunan nasional, kemajuan ilmu dan teknologi, perkembangan kerja sama regional meupun internasional, dan meningkatnya arus orang asing yang masuk dan keluar wilayah Indonesia. Untuk menjamin kemanfaatan orang asing tersebut dan dalam rangka menunjang tetap terpeliharanya stabilitas dan kepentingannasioanl, kedaulatan negara, keamanan dan ketertiban umum serta kewaspadaan terhadap dampak negatif yang timbul akibat perlintasan orang antar negara, keberadaan dan

Arief Rahman Kunjono, “Illegal Migrants dan Sisitem Keimigrasian Indonesia: suatu tinjauan Analisis”, Pintu Gerbang No. 44, Direktorat Jendral Imigrasi, Jakarta, 2002, hal. 27
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

60

71

kegiatan orang asing di wilayah Indonesia, dipandang perlu melakukan pengawasan bagi orang asing dan tindakan keimigrasian keimigrasian secara tepat, cepat, teliti dan terkoordinir tanpa mengabaikan keterbukaan dalam memberikan pelayanan orang asing. Makna dari pengawasan mempunyai pengertian yang luas dan mengandung pengertian yang positif. Pengawasan berarti juga mengadakan pengendalian serta bimbingan penyuluhan yang ditujukan untuk mengadakan perbaikan yang diikuti dengan pemecahannya. 61 Dapat dikatakan, proses pengamatan dan penghayatan seluruh kegiatan dilakukan sesuai dengan peraturan-peraturan, instruksi, dan kebijaksanaanyang berlaku. Di dalam pengawasan yang penting adalah mengetahui apakah dalam pelaksanaan tugas-tugas terjadi penyimpangan atau kesalahan. Hal ini secara preventif agar dilaksanakan sedini mungkin supaya tidak terjadi adanya pelanggaran-pelanggaran yang bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku. Sistem pengawasan keimigrasian adalah suatu sistem pengawasan terhadp orang asing, sisitam itu meliputi pengamatan dan pemeriksaan segala kegiatannya mulai dari rencan dan beradanya orang asing di Indonesia sampai dengan meninggalkan Indonesia (the equality of service and security.) 62 Hal ini ditegaskan Pasal 38 ayat (1), Undang-undang No. 9 tahun 1992, yaitu: 63 (1) Pengawasan terhadap orang asing di Indonesia meliputi:

61 62

I Wayan Tangun Susila, dkk, Loc, cit. Arief Rahman Kunjono, Loc, cit. 63 Lihat pasal 38 ayat (1) Undang-undang RI no. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian.
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

72

a. Masuk dan keluarnya orang asing ke dan dari wilayah Indonesia b. Keberadaan serta kegiatan orang asing di wilayah Indonesia. Perihal pengawasan orang asing diatur dalam Undang-undang no. 9 tahun 1992, seperti pada Bab VI tentang pengawasan terhadap orang asing dan tindakan keimigrasian. Pelaksanaan pengawasan terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia dilakukan oleh Menteri Kehakiman dan HAM dengan koordinasi bersama badan dan instansi yang terkait (Pasal 41 UU No. 9 tahun 1992). Dalam hal ini diadakan pemantapan mekanisme koordinasi dan operasi antara instansi yang terkait dalam rangka pengawasan orang asing, instansiinstansi tersebut akan melakukan tugas dan wewenangnya masing-masing sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Koordinasi dimaksudkan untuk memaksimalkan daya guna dan hasil guna pengawasan terhadap orang asing. Tujuan pengawasan tersebut untuk mewujudkan prinsip selective policy yang dipandang perlu dalam mengawasi orang asing. 64 Untuk kelancaran dan ketertiban dalam mengawasi orang asing, pemerintah telah menyelenggarakan pendaftaran orang asing yang berada di wilayah Indonesia sehingga dapat dihimpun data mengenai orang asing. Seperti disebutkan, Direktorat Jendral Imigrasi Departemen Kehakiman dan HAM

64

Koerniatmanto Soetoprawiro, Op. cit, hal. 90-91

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

Direktorat Jenderal Imigrasi. serta perubahan alamatnya. USU Repository © 2009 65 . 9 tahun 1992 disebutkan bahwa dalam menyelenggarakan pendaftaran orang asing yang ada di Indonesia berkewajiban untuk: 66 a. Memberikan segala keterangan yang perlu mengenai identitas diri dan /atau keluarganya. 42. perubahan status sipil dan kewarganegaraan. 2007. Masuk atau keluar wilayah negara Republik Indonesia. Memperlihatkan Surat Perjalanan atau dokumen keimigrasian yang dimilikinya pada waktu diperlukan dalam angka pengawasan. 2. “Imigrasi Daftar Ulang Warga Negara Asing”. hal. c. Melakukan kegiatan di wilayah negara Republik Indonesia.73 Republik Indonesia mengadakn pendaftaran ulang warga negara assign secara serentak di seluruh wilayah RI sejak tanggal 10 Agustus-31 Oktober 2001. Pengumpulan data dengan cara pengawasan orang asing ini dilaksanakan bagi setiap orang asing yang: 1. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. Berada di wilayah negara Republik Indonesia. 3. Jakarta. b. 13 66 Lihat pasal 39 Undang-undang no. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 tahun 1992 berlaku dan akan dilakukan setiap lima tahun sekaliberdasarkan peraturan keimigrasian yang berlaku. Pintu Gerbang No. Mendaftarkan diri jika berada di Indonesia lebih dari Sembilan puluh hari. Pada pasal 39 Undang-undang no. 200. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 65 Pendaftaran ulang pada tahun 2001 lalu adalah untuk pertama kalinya sejak Undang-undang no.

Setiap orang asing yang akan datang atau masuk ke wilayah Indonesia haruslah memiliki visa yang merupakan izin masuk ke Indonesia. “Langkah-langkah Baru Menunjang Peningkatan Profesionalisme Keimigrasian”.74 1. hal. 2 Pengawasan orang asing ketika berada di wilayah negara RI Pada saat orang asing sedang menuju atau sudah di pelabuhan pendaratan. 21 69 I Wayan Tangun Susila. baik Bandar udara maupun pelabuhan laut. Op. cit. 67 Pengawasan terhadap orang asing sebelum memasuki Indonesia dilakukan oleh para atase imigrasi pada setiap perwakilan Indonesia di luar negeri pada saat orang asing bersangkutan mengajukan permohonan unutk mendapatkan visa. USU Repository © 2009 . dkk. Hal itu bertujuan untuk mencegah orang asing tersebut meninggalkan Indonesia karena mereka telah menimbulkan suatu permasalahan selama berada di Indonesia. cit. 2002. 68 Tahap akhir pengawasan adalah saat meninggalkan Indonesia. 2007. 69 1. Direktorat Jenderal Imigrasi. 1 Pengawasan orang asing yang masuk atau keluar wilayah RI Pengawasan orang asing sebelum memasuki wilayah Indonesia berhubungan dengan konsulat atau kedutaan RI khusus atas imigrasi untuk melayani dan meneliti secara selektif setiap permohonan visa ke Indonesi. 45. Pintu Gerbang No. serta memuttuskan apakah dapat diberikan atau tidak berdasarkan pertimbangan kepentingan Ipoleksosbudhankamnas. Op. 29 Saleh Wiramiharja. Jakarta. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). hal. Oleh karena itu sebaliknya setiap atase atau KBRI dsetiap negara terdapat aparatur imigrasi yang bertugas disana. dkk. diadakan pengawasan yang dilakukan 67 68 I Wayan Tangun Susila. 31 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. hal.

yaitu: 70 a. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . yaitu mengawasi apakah orang asing tersebut melakukan kegiatan. yaitu pengawasan untuk mencegah masuknya orang-orang assign yang akan menimbulkan permasalahn setelah berada di Indonesia. Dari segi keimigrasian. dan apakah lamanya tinggal sesuai dengan izin keimigrasian yang diberikan kepadanya. 1. yaitu tindakan yang dilakukan dalam usaha untuk mencegah atau menjaga kemungkinan terjadinya tindak pidana imigrasi dalam hal ini yaitu tindak 70 Ibid. yaitu mengawasi apakah kegiatan yang dilakukan oleh orang asing tersebut menimbulkan benturan-benturan yang mengganggu kepentingan ketahanan dan keamanan nasional atau tiadak. baik yang mendarat melalui udara maupun laut. hal. Dari segi Ipoleksosbudhankamnas. 3 Pengawasan orang asing yang melakukan kegiatan di wilayah RI Pengawasan yang dimaksudkan disini merupakan tindak lanjut dari pengawasan setelah orang asing mendapatkan izin tinggal di Indonesia. Fungsi pengawasan ini sama juga dengan pengawasan sewaktu hendak mengajukan permohonan mendapatkan visa. 30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Dengan kegiatan diatas.75 ileh petugas imigrasi. b. jelaslah apa yang dimaksud dengan tindakan preventif ini. Pengawasan terhadap orang asing yang telah mendapatkan izin masuk di Indonesia dapat dilihat dari dua segi. 2007.

hal. losmen atau tempat kediaman teman. Pejabat pendaftaran dibekali pengetahuan tentang kerahasian/ciri-ciri khusus dari paspor-paspor negara lain dan dilengkapi dengan alat sinar ultraviolet dan kaca pembesar maupun dengan teknologi modern. Bandung. USU Repository © 2009 . Upaya Represif Menurut Soedarto yang dimaksud dengan tindakan represif adalah segala tindakan yang dilakukan aparatur penegak hukum sesudah terjadi kejahatan atau tindak pidana. 72 Dalam kaitannya dengan penggulangan terhadap orang asing yang menyalagunakan izin keimigrasian dilakukan sesudah terjadinya atau terbukti 71 72 Ibid. 2. 110 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Alumni. hal. yang berwenang menandatangani visa. 2. Melakukan pengecekan data yang diperoleh dari tempat-tempat wisatawan menginap. baik hotel. 2007. motel. Kapita Selekta Hukum Pidana. Beberapa usaha preventif sehubungan dengan hal tersebut antara lain sebagai berikut: 71 1. 3. Setiap pelabuhan pendaratan memilki contoh-contoh tanda tangan dari pejabat konsuler pada perwakilan Republik Indonesia di luar negeri. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Meneliti setiap orang asing atau wisatawan yang hendak masuk lewat wawancara singkat di setiap tempat pemeriksaan imigrasi. 31-32 Soedarto.76 pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. 4. 1984.

2. 1. atau tidak menghormati atau menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku.. 25.(dua puluh lima juta rupiah). (2) Tindakan keimigrasian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa: 73 Lihat pasal 50 Undang-undang no. 9 tahun 1992 yang mengatur mengenai tindakan keimigrasian terhadap orang asing di wilayah Indonesia. 2. 9 tahun 1992 tenang keimgrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.000. 2007. 2. Tindakan administrative Menurut pasal 42 Undang-undang no.000. Tindakan ini bisa bersifat yuridis. yaitu: (1) Tindakan keimigrasian dilakukan terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia yang melakukan kegiatan yang berbahaya dan patut akan diduga berbahaya bagi keamanan dan ketertiban umum.” Jadi tindakan yuridis adalah orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan maksud pemberian izin keimigrasian dan harus dibuktikan di pengadilan oleh hakim dan kemudian dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.77 adanya penyalahgunaan izn keimigrasian. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 9 tahun 1992 disebutkan: 73 “orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan pemberian izin keimigrasin yang diberikan kepadanya dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. dan bisa juga bersifat administrasi. Tindakan yuridis Dalam pasal 50 undang-undang no.

Larangan untuk berada di suatu atau beberapa tempat tertentu di wilyah Indonesia c. Berdasarkan uraian diatas tindakan-tindakan represif yang dapat diambil adalah pemidanaan. a. Keharusan untuk bertempat tinggal disuatu tempat tertentu di wilayah Indonesia d. perubahan atau pembatalan izin keberadaan b. RUU keimigrasian yang berbunyi: 74 “Dipidana dengan pidana paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. pada RUU keimigrasian terdapat perubahn dalam hal ancaman sanksi pidana. 2007. 25. Pengusiran atau deportasi dari wilayah Indonesia atau penolakan masuk ke wilayah Indonesia.(dua puluh lima juta rupiah).000. Pembatasan. Pemidanaan Fungsi pemidanaan adalah sebagai penjeraan.. begitu juga tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian yang diberikan kepadanya. Dengan demikian penyalahgunaan izin keimigrasian dapat dilakukan dengan 4 (empat) alternative seperti disebutkan diatas dengan alasan bahwa orang asing yang bersangkutan tidak mengindahkan peraturan yang mengatur keberadaan orang asing di wilayah Republik Indonesia. yaitu diatur pada pasal 110.000. orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang 74 Lihat Pasal 10 RUU Keimigrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).78 a. USU Repository © 2009 . pengusiran (deportasi) dan memasukkan orang asing yang terlibat ke dalam daftar pencegahan dan penangkalan atau cekal (black list).

Selain itu. atau kesejahteraan umum. USU Repository © 2009 .79 bertentangan dengan maksud dan tujuan pemberian izin tinggal yang diberikan kepadanya. khususnya pada ayat (2) point d. Pengusiran Pengusiran atau deportasi (deportation) adalah suatu tindakan sepihak dari pemerintah berupa tindakan mengeluarkan orang asing dari wilayah Republik Indonesia karena berbahaya bagi ketentraman. cit. 9 tahun 1992. Menurut Sri Setianingsih bahwa: 75 “Deportasi adalah pengusiran orang asing keluar wilayah Indonesia (keluar wilayah suatu negara) dengan alasan bahwa orang asing tersebut wilayahnya tidak dikendaki oleh negara yang bersangkutan. 2007.” Sedangkan menurut I Wayan Parthiana. Black list (daftar cekal) Black list adalah istilah yang dipakai dalam bahasa sehari-hari untuk menggantikan daftar orang-orang yang tidak diperbolehkan meninggalkan Indonesia dan orang-orang yang tidak diperbolehkan memasuki wilayah Indonesia. dkk. Ketentuan mengenai deportasi ini dapat dilihat pada pasal 42 Undang-undang no. hal. bagi orang asing yang masuk serta berada di wilayah Republik Indonesia dapat juga diusir.” c. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Op. Di dalam keimigrasian daftar ini disebut “daftar pencegahan dan 75 76 I Wayan Tangun Susila. bahwa: 76 “Hak suatu negara untuk mengusir orang asing yang berada di negaranya dikenal dengan pengusiran atau deportasi explution. Jadi tidak ada sangkut pautnya dengan negara asal atau negara dari mana dia semula datang. kesusilaan. pengusiran tersebut semata-mata berdasarkan kepentingan negara itu sendiri. 37 Ibid Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.” b.

d. orang asing yang berusaha menghindarkan diri dari ancaman dan pelaksanaan hukuman di suatu negara tersebut karana melakukan kejahatan yang juga diancam pidana menurut hukum yang berlaku di Indonesia. 2007. e. disebutkan pengertian dari: “Pencegahan adalah larangan yang bersifat sementara terhadap orangorang tertentu untuk keluar dari wilayah Indonesia berdasarlan alasan tertentu. Di dalam pasal 1 angka 13 dan 14 Undang-undang no. agama dan adat kebiasaan masyarakat Indonesia.80 penangkalan”. c. Pernah diusir atau dideportasi dari wilayah Indonesia.” Berdasarkan pasal 17 Undang-undang no. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Diduga melakukan perbuatan yang bertentangan dengan keamanan dan ketertiban umum. dan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. b. Diketahui atau diduga terlibat dengan kegitan sindikasi kejahatan internasional. penangkalan terhadap orang asing dilakukan karena: a. USU Repository © 2009 . kesusilaan. Atas permintaan suatu negara. 9 tahun 1992. 9 tahun 1992. Pada saat berada di negaranya sendiri atau di negara lain bersikap bermusuhan terhadap pemerintah Indonesia atau melakukan perbuatan yang mencemarkan nama baik bangsa dan negara Indonesia.” “Penangkalan adalah larangan yang bersifat sementara terhadap orangorang tertentu untuk masuk ke wilayah Indonesia berdasarkan alasan tertentu.

USU Repository © 2009 . keimigrasian. baik masalah politik. Di dalam pasal disebutkan bahwa: (1) Pencegahan ditetapkan dengan keputusan tertulis. (2) Keputusan sebagaimana didalam ayat (1) memuat sekurang-kurangnya: a. Dari uraian di atas dapat ditegaskan bahwa pencegahan ditujukan kepada orang asing yang masih memiliki masalah di Indonesia.81 f. 2007. ekonomi. Identitas orang yang terkena pencegahan b. Alasan-alasanlain yang berkaitan dengan keimigrasian yang diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. sosial budaya. 13. perdata dan lain sebagainya yang dapat mengganggu dan mengancam stabilitas nasional. 12. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Mengenai pencegahan orang asing untuk memasuki wilayah RI diatur di dalam pasal 11. pidana. Jangka waktu pencegahan (3) Keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan dengan surat tercatat kepada orang-orang yang terkena pencegahan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal penetapan. dan 14 Undang-undang no. orang asing mana pernah terlibat masalah-masalah sebagaimana disebutkan diatas. pertahanan dan keamanan. Sedangkan penangkalan ditujukan hanya kepada orang asing yang hendak masuk ke wilayah Indonesia. Alasan pencegahan c. 9 tahun 1992.

Peranan Aparatur Penegak Hukum dalam Menanggulangi Tindak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Aparatur penegak hukummencakup pengertian mengenai institusi penegak hukum dan aparat (orangnya) penegak hukum. sehingga proses penegakan hukum dan keadilan itu sendiri secara internal dapat terwujud secara nyata. termasuk mengenai kesejahteraan aparatnya. 2007. hakim dan petugas-petugas sipir permastarakatan. penyelidikan. baik hukum materilnya maupun hukum acaranya. Dalam proses bekerjanya aparatur penegak hukum itu.82 D. USU Repository © 2009 . terdapat 3 (tiga) elemen penting yang mempengaruhi. jaksa. dimulai dari saksi. pembuktian. polisi. aparatur penegak hukum yang terlibat tegaknya hukum itu. Dalam arti sempit. penyidikan. Setiap aparat dan aparatur terkait mencakup pula pihak-pihak yang bersangkutan dengan tugas atau perannya yaitu terkait dengan kegiatan pelaporan atau pengaduan. penasehat hukum. (2) Budaya kerja yang terkait dengan aparatnya. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. yaitu: (1) Institusi penegak hukum beserta berbagai prangkat sarana dan prasarana pendukung dan mekanisme kerja kelembagaannya. serta upaya permasyarakatan kembali (resosialisasi) terpidana. penjatuhan.vonis dan pemberian sanksi. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Upaya penegakan hukum yang sistematik haruslah memperhatikan ketiga aspek itu secara simultan. dan (3) Perangkat peraturan yang mendukung baik kinerja kelembagaannya maupun yang mengatur materi hukum yang dijadikan standar kerja. penuntutan.

Dalam rangka mewujudkan prinsip “selective policy” diperlukan pengawasan terhadap orang asing. tetapi selama mereka berada di Wilayah Indonesia termasuk kegiatankegiatannya. Berdasarkan prinsip ini hanya orang asing yang dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat. 1999. 77 Dalam mewujudkan kebijaksanaan dimaksud serta mengantisipasi era globalisasi dan informasi yang semakin meningkat selaras dengan peningkatan arus lalu lintas orang asing. pelayanan dan pengawasandi bidang keimigrasiandilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip yang bersifat selektif (selective policy). 2. Pengawasan keimigrasian Sesuai dengan undang-undang no. USU Repository © 2009 77 . maka pelaksanaan pengawasan orang asing perlu diberikan prioritas utama. keimigrasian keimigrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007. “Petunjuk Pemantauan Operasional Keimigrasian No.1044” tentang Keradaan dan Kegiatan Orang Asing Di Indonesia. Pengawasan orang asing dimulai dari pemantauan Pengawasan baik yang Keimigrasian bersifat mencakup penegakan tindak hukum pidana administratif maupun Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian. hal. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. 01.83 1. ketertiban serta bermusuhan baik terhadap rakyat maupun Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 yang diizinkan masuk atau keluar wilayah Indonesia.: F4-IL. Pengawasan ini tidak hanya pada saat mereka masuk. 10-1. bangsa dan Negara Indonesia serta tidak membahayakan keamanan.

Amarja Press. 2 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. pengumpulan dan penilaian bahan keterangan dari tempat-tempat pemeriksaan keimigrsian. 2005. Keberhasilan pengawasan orang asing sangat tergantung kepada berhasil tidaknya pelaksanaan pemantauan dilapangan. Operasi adalah suaru kegiatan suatu objek tertentu terhadap yang dibatasi oleh tempat. hal. “Manajemen Keimigrasian”. 80 Unutk mengetahui setiap peristiwa yan diduga 78 79 Ibid. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 3) Mengumpulkan bahan keterangan tetnang suatu peristiwa terjadinnya pelanggaran keimgrasian. 55 80 Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian. waktu serta dana. Pemantauan keimigrasian dan operasional keimigrasian Pemantauan merupakan salah saru cara atau kegiatan/upaya yang dilakukan untuk mengetahui secara dini setiap peristiwa yang diduga mengandung unsur-unsur pelanggaran/kejahatan. USU Repository © 2009 . hal. 78 a. abaik mengenai keberadaan maupun kegiatan orang asing.84 terhadap keberadaan dan kegiatannya serta operasi-operasi baik operasi khusus maupun rutin. Pemantauan keimigrasian dapat berupa: 79 1) Memantau terhadap setiap peristiwa yang dapat diduga dan atau mengandung unsur-unsur terjadinya pelanggaran keimigrasian seperti penyalahgunaan izin tinggal sesuai visa yang bersangkutan. 2 Ibnu Suud. hal. Op. cit. 2) Menginventarisir bahan keterangan berdasarkan modus operandi terjadinya pelanggaran keimigrasian serta pembinaan teknis tempat-tempat pemeriksaan keimigrasian.

upaya dalam mencari dan menemukan bahan keterangan perlu perencanaan melalui mekanisme adanya perencanaan yang matang. dapat diperoleh dari setiap bahan keterangan yang mempunyai kaitan dengan perbuatan orang asing baik lalu lintas. 2007. keberadaan maupun kegiatannya. tepat. hal. Upaya/ cara pemantauan dan operasi keimigrasian dapat berupa: 81 81 Ibid. 3 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. organisasi serta pengawasan dan koordinasi dengan memperhatikan situasi dan kondisi medan. Keberhasilan penyelenggaraan. baik berupa pembangunan phisik maupun non phisik. sangat ditenteukan oleh kwalitas dan kwantitas pelaksanaan dalam menghadapi jenis dan macam pelanggaran kejahatan seperi halnya bentuk dan sifat pelanggaran politik ataupun pekerja terselubung. Dalam mencari dan menemukan keterangan yang berkaitan dengan peristiwa dimaksud agar diupayakan pelaksanaanya disesuaikan dengan jenis dan macam pelanggaran dalam bidang pembangunan. USU Repository © 2009 . dengan memperhatikan hak-hak azasi manusia dan senantiasa disertai dengan dasar hukum dalam artian dilengkapi dengan sudut perintah. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan cermat. berhasil guna dan berdaya guna.85 mengandung unsur pelanggaran/kejahatan terhadap ketentuan yang berlaku dibidangkeimigrasian. Oleh karena itu.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 5 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 4) Melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang mengetahui atau patut diduga mengetahui terjadinya peristiwa pelanggaran/kejahatan keimigrasian dengan memperhatikan sumber dan nilai keterangan. benda dan tempat kejadian untuk dapat gambaran yang lebih jelas baik secara keseluruhan atau lebih rinci. Adapun sasaran pemantauan adalah: 82 a. Orang asing 1) Orang asing pemegang izin singgah 2) Orang asing pemegang izin kunjung  Wisata  Sosial budaya  Usaha/beberapa kali perjalanan 3) Orang asing pemegang izin tinggal terbatas 4) Orang asing pemegang izin tinggal tetap 5) Orang asing tanpa izin keimigrasian 6) Orang asing yang over stay 82 Ibid. 2007. 2) Pembuntutan terhadp objek yang kaitan atau hubungan dengan peristiwaperistiwa yang akan. USU Repository © 2009 .86 1) Pengamatan dengan panca indera secara teliti. cermat terhadap surat-surat. hal. sedang atau telah terjadinya unsur pelanggaran. sedang dan atau telah terjadi 3) Penyusupan dalam ruang lingkup peristiwa atau golongan kegiatan peristiwa yang akan.

2.87 7) Orang asing imigran gelap 8) Orang asing yang melakukan kegiatan tidak sesuai dengan izin yang diberikan. 2007. 3. 83 Ibid. Mendatangi orang/tempat yang telah ditentukan. hostel dan sebagainya 2) Kantor-kantor/perusahaan yang mempekerjakan dan menampung tenaga kerja/orang asing 3) Rumah/asrama tempat orang asing bertempat tinggal Pelaksanaan pemantauan dilakukan baik secara terbuka maupun secara tertutup (undercover) dengan tahapan sebagai berikut:83 1. Alat angkut 1) Niaga 2) Non niaga 3) Alat apung c. 6 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. wisma. Melakukan pemerikasaan terhadap orang asing tersebut beserta dokumen yang dimilikinya selanjutnya dilanjutkan dengan pemeriksaan di lapangan. apabila ditemukan bukti-bukti permulaan atau patut diduga telah terjadi pelanggaran/kejahatan keimigrasian. Bangunan-bangunan 1) Hotel. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). hal. Menindaklanjuti dari hasil pemeriksaan. USU Repository © 2009 . b.

Dan orang asing yang karena peraturan perundang-undangan telah dideportasi keluar Indonesia namun karena sesuatu dan lain hal belum dapat berangkat. penyalahgunaan perizinan dan pemberian perizinan keimigrasian serta pengawasan atas imigran gelap. jajaran Direktorat Jenderal Imigrasi harus bekerjasama dan berkoordinasi dengan aparat keamanan lainnya seperti pemerintah daerah. cit. Pengawasan yang tertuju terhadap kemungkinan terjadinya pelanggaran. Lingkup tugas ini meliputi: 84 a. 56 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 .88 4. 2007. Melakukan pemeriksaan terhadap orang asing yang diduga melakukan pelanggaran/kejahatan yang diutangkan dalam berita Acara Pemeriksaan dan Berita Acara Pendapat. Kerjasama ini secara fungsi masing-masing tanpa mengganggu dan mencampuri teknis tugas instansi masing-masing. b. Op. Imigran gelap Mengawasi masuknya orang asing secara gelap (illegal) ke wilayah Indonesia yagn tidak didukung oleh dokumen resmi yang sah dan masih berlaku. 84 Ibnu Suud. b. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Pengawasan Mendeteksi kemungkinan terjadinya penyalahgunaan perijinan dan pemberian perijinan keimigrasian serta evaluasi dan laporan. hal. Kerjasama pengawasan Untuk mensukseskan tugas pengawasan ini. polisi atau aparat yang terkait lainnya.

9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. tepat. Pengawasan perlintasan Mengawasi lau-lalangnya orang asing maupun warganegara Indonesia yang melintasi tempat (pos) lintas batas dengan tetangga atas kemungkinan terjadinya pelanggaran keimigrasian. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian disebutkan: 85 ”selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. Penyidikan keimigrasian Dalam pasal 47 ayat (1) Undang-undang no. 2007. Pengawasan orang asing Adanya kerjasama antar instansi terkait dalam pengawasan orang asing di dalam wadah koordinasi pengawasan orang asing (SIPORA). 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). untuk melakukan penyidikan tindak pidana keimigrasian”. Pelaksanaan kerjasama pengawasan ini diupayakan tanpa mengurangi tugas. juga Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Departemen yang lingkup tugas dan tangung jawabnya meliputi pembinaan keimigrasian diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undangundang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. 85 Lihat pasal 47 ayat (1) Undang-undang no. fungsi dan wewenang masing-masing instansi dan dilakukan dengan cepat . Penindakan keimigrasian a. lengkap terpadu dan aman.89 c. 2. USU Repository © 2009 . d.

memeriksa. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Menerima laporan tentang adanya tindak pidana keimigrasian. dokumen-dokumen. 152.90 Di dalam Undang-undang no. Surat Perjalanan. Dengan demikian penyidikan hanya dapat dilakukan oleh kedua pejabat yang telah disebutkan di atas. c. penyidikan keimigrasian adalah suatu proses penyidikan yang dilakukan oleh Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia juga PPNS imigrasi terhadap setiap orang yang melakukan perbuatan sebagai tindak pidana keimigrasian. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. hal. Ramadhan K. menahan sesorang yang disangka melakukan tindak pidana keimigrasian. Memeriksa dan/atau menyita surat-surat. “Lintas Sejarah Imigrasi Indonesia”. Memanggil orang untuk didengar keterangannya sebagai saksi. Dalam pasal 47 ayat (2) disebutkan: 87 “Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang: a. 9 tahun 1992 diatas. 2007. 2005. H dan Abrar Yusra. USU Repository © 2009 86 . atau benda-benda yang ada hubungannya dengan tindak pidana keimigrasian. Dirjen Imigrasi Hukum dan HAM RI. d. Memanggil. b. menggeledah. Dengan demikian disamping menjalankan tugas sebagai aparat pelayanan keimigrasian. menangkap. aparat imigrasi juga bertugas sebagai aparat penegak hukum 86. 87 Lihat pasal 47 ayat (2) Undang-undang No.

Mengatur dan menerangkan lebih lanjut dalam keputusan instansi bersama. dokumen-dokumen. 2007. Wewenang ini sudah sesuai dengan ketetuan dari pasal 7 ayat (2) Undangundang no. SK Markas Besar Kepolisian RI No. atau benda-benda lain yang ada hubungannya dengan tindak pidana keimigrasian. Pejabat Pegawai Negeri Sipil mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah tangan koordinasi dan pengawasan penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. Melakukan pemeriksaan di tempat-tempat tertentu yagn diduga terdapat suratsurat. 8 tahun 1981 (KUHAP) yang menyebutkan bahwa penyidik sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf b mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah koordinasi dan pengawasan penyidik tersebut dalam pasal 6 ayat (1) huruf a. SKep/369/X/1985 yang menyatakan bahwa kooradinasi adalah suatu bentuk hubungan kerja antara penyidik Polri dengan Pegawai Negeri Sipil dalam rangka pelaksanaan penyidikan tindak pidana yang menyangkut bidang tertentu. Mengadakan rapat-rapat berkala pada waktu-waktu yang dipandang perlu. Adapun wujud koordinasi dapat berupa: 1. Surat Perjalanan. Mengambil sidik jari dan memotret tersangka. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 . 2. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). f. Pol S.91 e.

Menunjuk sesorang atau lebih pejabat dari masing-masing Departemen/instansi yang secara fungsionl dan menangani penyidik Pegawai Negeri Sipil dengan penghubung 4. 2. 2007. pengevaluasian tindak pidana pelanggaran dan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Pengawasan kegiatan penyidik yang sedang dilakukan oleh penyidik Pegawai Negeri Sipil serta memberikan pengawasan teknis. USU Repository © 2009 . Menyelenggarakan pendidikan dan latihan penyidik Pegawai Negeri Sipil dengan penekanan dibidang pendidikan. 8 tahun 1981 (KUHAP) dan juga merupakan bantuan yang dapat diberikan oleh penyidik sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf a KUHAP kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil seperti yang diatur oleh pasal 47 UU No. pemilahan. Proses penyidikan ini dilakukan sebagai Pro Justisia yang akan segera diajukan ke Pengadilan untuk diadili. dan bertugas melakukan identifikasi pengumpulan. Sedangkan yang dimaksud dengan “pengawasan” adalah proses pengamatan pelaksanaan penyidikan yang dilakukan dapat dibenarkan secara materil maupun formal dan berjalan sesuai dengan yang berlaku. Keseluruhan ini merupakan penjabaran dari pasal 7 ayat (1) UU No. adapun wujud pengawasan ini meliputi: 1.92 3. Pengawasan teknis dalam rangka pembinaan dan peningkatan kemampuan penyidik Pegawai Negeri Sipil dan memberikan petunjuk bila terdapat kekurangan-kekurangan untuk disempurnakan. 9 tahun 1992.

akan sangat 88 Ibnu Suud. Membuat berkas hasil penyelidikan sesuai dengan ketentuan yagn berlaku. d. 57 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Sanksi hukum terhadap pelaku tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian Sanksi hukum terhadap pelaku tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian dapat dilakukan dengan cara: 1) Pro justitia Apabila kasus terhadap tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian yang ditangani oleh pihak keimigrasian ingin ditempuh dengan cara pro justitia. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. cit. Hal ini dikarenakan apabila kasus tersebut diajukan ke pengadilan akan menggunakan upaya hukum mulai dari banding. Tetapi jalan ini jarang sekali ditempuh oleh pihak keimigrasian dalam kasus penyalahgunaan izin keimigrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). koordinasi dengan Lembaga Pemasyarakatan untuk proses pemulangan. Op. b. USU Repository © 2009 . Mengikuti perkembangan persidangan. Menyampaikan hasil pemberkasan kepada Penuntut Umum melalui polisi. 2007. maka hal harus dilakukan oleh petuga keimigrasin adalah: a. kasasi dan jika perlu grasi yang akan digunakan oleh warga negara asing yang terlibat tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. hal.93 kejahatan keimigrasian yang diatur dalam Undang-undang no. 88 b. c. Bila telah selesai melaksanakan keputusan Pengadilan.

Maka akan lebih efektif apabila dilakukan dengan cara non pro justitia. Tindakan keimigrasian dilakukan sebagai sanksi administratif terhadap orang asing yang melanggar peraturan keimigrasian dan ketentuan-ketentuan lainnya mengenai orang asing sesuai dengan dimaksud dalam pasal 19 keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor: M. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).09. 3) Keharusan untuk bertempat tinggal di suatu tempat tertentu di wilayah Indonesia. serta sosial dan budaya serta kemananan. perubahan atau pembatalan izin keberdaan. ekonomis. 4) Pengusiran atau deportasi dari wilayah Indonesia atau penolakan masuk ke wilayah Indonesia. 89 2) Non pro justitia Menurut pertimbangan polits.94 merugikan negara. Tindakan Keimigrasian adalah tindakan administratif dibidang keimigrasian yang dilakukan oleh pejabat imigrasi berupa: 1) Pembatasan. Kantor Imigrasi Polonia Medan. 2) Larangan untuk berada disuatu atau beberapa tempat tertentu di wilayah Indonesia. USU Repository © 2009 .02-PW. 2007. maka akan lebih efektif apabila dilakukan tindakan keimigrasian. karena dalam hal ini negara akan mengeluarkan biaya besar untuk menjalani proses pro justitia tersebut.02 tanggal 14 89 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim. Ditambah lagi orang asing tersebut tidak memiliki uang untuk membayar ongkos biaya perkara. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

USU Repository © 2009 90 . 2007. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. jika dibandingkan dengan pro justitia. Hal ini bukan menandakan bahwa kasus tentang penyalahgunaan izin keimigrasian sangat sedikit. Pengajuan Keberatan Orang Asing dan Tindakan Keimigrasian. yaitu penanganan suatu kasus dengan cara pendeportasian tidak memakan waktu yagn lama atau berlarut-larut. maka berdasarkan data yang diperoleh baik dari kantor kepolisian maupun kantor imigrasi sangat sedikit yang ditindaklanjuti secara pro justitia. Masalah kepraktisan. Tindakan Keimigrasian dapat dilakukan terhadap oaring asing pemegang izin Keimigrasian atau tanpa izin keimigrasian. Dalam hal terjadi tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. yaitu: a. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). tetapi karena kedua instansi ini lebih banyak melakukan tindakan keimigrasian yaitu berupa pendeportasian ke negara asal tanpa melalui proses pro justitia walaupun telah ada pengaturannya dalam Undang-undang no.95 Maret tahun 1995 tentang Tata Cara Pengawasan. berada dan akan meninggalkan wilayah Indonesia. Ancaman hukuman penjara maksimum Hasil wawancara dengan Kanit Pengawasan Orang Asing (POA) Poltabes Medan Sekitarnya Pada tanggal 9 Agustus 2007 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. mulai saat masuk. 90 Pihak Kepolisian dan Keimigrasian menyebutkan beberapa alasan dan pertimbangan melakukan tindakan keimigrasian yang berupa pendeportasian yang oleh pihak keimigrasian (walupun penangkapan dilakuakn oleh pejabat imigrasi).

Karena itu yagn dihasilkan tidak sesuai dengan yagn diharapkan. Masalah sumber daya manusia khususnya petugas imigrasi. peredaran narkoba. maka sanksi hukum yang harus dijalankan adalah dengan cara pro-justitia. hal ini dikarenakan tindakan tersebut sudah sangat mengancam keamanan negara serta stabilitas nasional. Apabila penanganan masalah ini untuk dilakukan secara pro justitia masih sedikit yang dilengkapi pengetahuan sebagai PPNS. USU Repository © 2009 . terorisme atau perdangan manusia (trafficking). Masalah anggaran dana yang dialokasikan untuk melakukan tindakan hukum di kantor Imigrasi sangat terbatas. c. Hal ini tentu saja menghambat tugas para pejabat imigrasi atau PPNS dalam penyidikan.96 hanya lima tahun sehingga hukuman akan selesai jika dikurangi dengan masa penahanan. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. baik dari segi kualitas maupun kwntitas yang sangat kurang. Kantor Imigrasi Polonia Medan. b. Tetapi apabila masalah penyalahgunaan izin keimigrasian tersebut menyangkut masalah permpokan bersenjata. Selain itu jenis hukuman yang diancamkan berupa pidana alternative atau jika didenda belum tentu mereka memiliki uang. 91 91 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

2493/Pid. Lahir Jenis Kelamin : Dr.97 BAB IV KASUS DAN ANALISIS KASUS A. Nama Lengkap Tempat Lahir Umur/ Tgl.Mdn Identitas Terdakwa Pengadilan Negeri Medan yang meemriksa dan mengadili perkara-perkara Pidana Biasa/ Singkat/ Cepat telah menyatakan bahwa terdakwa : 1. USU Repository © 2009 . K. Perkara Pidana No.B/2002/PN. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Mathiya HMBS als Raja : Malaysia : 59 Tahun/ 21 Desember 1943 : Laki-laki Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

5 Komp.B. Mathiya H. RRI Medan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Karya Wisata No. Binjai Km 5. K. Dr.30 Wib atau setidak-tidaknya pada suatu waktu dalam tahun 2002. Binjai Km 5. RRI Medan : Hindu : Dokter Homeopati : Sarjana Bahwa mereka terdakwa I.M. bertempat di Jl. Karya Wisata No. Lahir Jenis Kelamin Kebangsaan Tempat Tinggal Agama Pekerjaan Pendidikan Kasus Posisi : Malaysia : Jl. Dr.S alias Raja dan terdakwa II. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 47 Medan dan di Jl.98 Kebangsaan Tempat Tinggal Agama Pekerjaan Pendidikan 2. Kali Mutu Kumar Marimutu : Kedah Malaysia : 26 Tahun/ 04 Desember 1976 : Laki-laki : Malaysia : Jl. 2007. Kalimutu Kumar Marimutu secara bersama-sama atau bertindak secara sendiri-sendiri pada hari Jumat tanggal 16 Agustus 2002 sekitar pukul 14. 47 Medan : Hindu : Dokter : Sarjana : Dr. Nama Lengkap Tempat Lahir Umur/ Tgl.5 Komp.

Karya Wisata No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 50. RRI Medan telah membuka Klinik Homeopati dengan menerima pasien yang berobat dan rawat inap kliniknya dengan biaya sekali berkunjung antara Rp. orang asing yang dengan sengaja menyalahdunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud pemberian izin keimigrasian yang diberikan kepadanya. sedangkan dalam Pasport terdakwaterdakwa menggunakan Visa hanay selama 60 (enam puluh) hari selaku Visa Turis dan Pelancong namun ternyata terdakwa-terdakwa selaku Dokter pada Klinik Homeopati di Jl.000.(tiga puluh ribu rupiah) s/d Rp. Binjai Km 5.. 47 Medan dan di Jl. 2007. perbuatan mana dilakukan terdakwaterdakwa dengan cara sebagai berikut : Mula-mula terdakwa-terdakwa selaku Warga Negara Malaysia datang berkunjung ke Indonesia melakukan perjalanan kunjungan praktek yaitu terdakwa I dengan Visa Sosial Budaya sedangkan terdakwa II menggunakan Pasport Malaysia dengan Visa Turis selama 2 (dua) bulan.99 atau setidak-tidaknya disuatu tempat yang masih termasuk daerah hukum Pengadilan Negeri Medan. namun ternyata setelah tiba di Indonesia yaitu kota Medan ternyata terdakwa-terdakwa membuka Klinik Homeopati di Medan dan bekerja selaku Dokter Homeopati pada klinik tersebut di kota Medan. USU Repository © 2009 .5 Komp.000. sedangkan terdakwa-terdakwa datang ke Indonesia hanya diperbolehkan untuk wisata namun ternyata terdakwa-terdakwa bekerja maupun mengajar yang sifatnya mencari keuntungan. 30.(lima puluh ribu rupiah) dimana terdakwa-terdakwa dalam membuka Klinik Homeopati tersebut tidak berubah Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No..

Keterangan izin lokasi/ Denah. Sedangkan Izin Rekomendasi dari Dinas Kesehatan Tingkat I Propinsi dan Izin dari Menteri Kesehatan.00 Wib s/d pukul 20. Adanya penanggung jawab klinik.(tiga juta rupiah rupiah) persiswa. sedangkan waktu kuliah/belajar pada hari kamis san jumat dari pukul 19..000. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. oleh karena terdakwa-terdakwa dalam membuka Klinik Hemeopati tersebut tidak memiliki Badan Hukum dan tidak memiliki izin lalu kemudian terdakwa-terdakwapun ditangkap petugas Kepolisian Poltabes Medan. 2007. Adanya izin/keterangan ketenagakerjaan medis dan Para Medis. Keterangan adanya obat-obatan/alat yang dipergunakan. 3. KTP yang berdomisili di Kota Medan.100 Hukum dan tidak memiliki Izin dari Menteri Kesehatan sesuai dengan persyaratan mendirikan Klinik/Balai pengobatan yang harus memiliki.00 Wib. serta Izin-izin lainya yang menyangkut tentang usaha dan Bidang Kesehatan. yaitu : Adanya permohonan yang ditujukan ke Dinas Kesehatan Kota Medan. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). dan terdakwa-terdakwa dalam memberikan obat-obatan kepada para pasien yang datang berobat ke Klinik Homeopati tersebut tidak memiliki izin untuk memproduksi obat-obatan dan komposisi dari obat-obatan tidak ada dibuatkan dalam labelnya.000. selain itu terdakwa-terdakwa juga telah menerima siswa/ murid sebanyak 20 (dua puluh) orang dengan menerima biaya pendidikan selama 6 (enam) bulan sebesar Rp.

2. Putusan Perkara Pidana No. K. Menyatakan terdakwa Dr. bersalah melakukan tindak pidana menyalahgunakan izin sebagaimana diatur dalam Pasal 50 UU RI No.101 Dalam surat tuntutannya Jaksa Penuntut Umum menguraikan berbagai tuntutannya sebagai berikut : 1. Menetapkan supaya terpidana dibebani biaya perkara sebesar Rp.Mdn Hakim Pertama yang mengadili perkara ini dalam putusannya memberikan pertimbangan hukum sebagai berikut : Bahwa dari keterangan saksi-saksi dan terdakwa dihubungkan dengan barang bukti yang diajukan di persidangan. 25.B/2002/PN. majelis telah menemukan adanya fakta-fakta yuridis sebagai berikut. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.000. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Dr. dengan pidana denda masing-masing Rp. Menyatakan barang bukti berupa obat-obatan dirampas untuk dimusnahkan dan Pasport An. USU Repository © 2009 . 3. 4. 9 Tahun 1992 dalam dakwaan kesatu. K. 2007.000. 1. Mathiya HMBS dkk.. Mathiya HMBS dkk. Terdakwa-terdakwa dikembalikan kepada terdakwaterdakwa. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).(dua puluh lima juta rupiah) subsider 3 (tiga) bulan kurungan dengan perintah terdakwa tetap ditahan/terdakwa supaya ditahan (jika terdakwa tidak ditahan).(seribu rupiah). 2493/Pid.000.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 23 tahun 1992 tentang Kesehatan jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 50 UU RI No. K. Unsur-unsur Objektif a. Tentang Kesehatan : 1. Menyelenggarakan Kesehatan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.5 Medan atau di Komp.Mathiya H. Mathiya H.M.102 Terdakwa didakwakan Jaksa Penuntut Umum melakukan tindak pidana yang diatur dan diancam dalam pasal 80 ayat (2) UU RI No.B. c. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. USU Repository © 2009 . sebagai subjek hukum yang dapat dipertanggung jawabkan perbuatannya adalah keterangan terdakwa Dr. Barang Siapa Berdasarkan Fakta-fakta dan keterangan para saksi serta keterangan terdakwa sendiri didukung alat bukti yang telah disita.S serta Dr. RRI Cabang Medan. Dengan Sengaja Jelas perbuatan yang dilakukan terdakwa-terdakwa Dr. Kali Mutu Kumar Marimutu b.B.S dan Dr. Kali Mutu Kumar Malimutu dengan sengaja menghimpun dana untuk kesehatan yang diambil dari para mahasiswa yang mengikuti pendidikan Homeopati yang dilakukan di Rumah Sakit Homeopati yang terletak di jalan Binjai Km 5. 2007.M. K.

2007. tentang pendirian Klinik Homeopati Megawati Sukarno Putri tersebut b.103 Kedua terdakwa Dr. USU Repository © 2009 . Dibuktikan dengan tidak adanya suratsurat yang sah tentang adanya Klinik serta Rumah Sakit Homeopati Megawati Sukarno Putri tersebut serta Rumah Sakit Keimigrasian : 1. Kalimutu Kumar Marimutu telah melakukan pengobatan secara alternatif dengan cara mendirikan klinik serta Rumah Sakit Homeopati tanpa memiliki izinnya.S dan Dr. Tidak memiliki Izin operasional Klinik serta Rumah Sakit Homeopati Megawati Sukarno Putri tidak mempunyai izin operasionalnya. Unsur-Unsur Subjektif a. Unsur-unsur Objektif a.B. dan menerima pasien untuk rawat jalan serta rawat nginap bagi setiap pasien yang berobat kepada terdakwa. Mathiya H.M. Tidak berbentuk badan hukum Klinik serta Rumah Sakit Homeopati Megawati Sukarno Putri didirikan kedua terdakwa tersebut jelas tidak berbentuk badan hukum karena tidak mempunyai izinnya. K. 2. Orang asing Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

M. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian.S dan Dr. K. subsidair kedua sesuai pasal undang-undang dimaksud pasal 80 ayat (2) Sub Pasal 84 ayat (5) UU RI No. USU Repository © 2009 . bahwa oleh karena dakwaan kesatu primair. maka ia terdakwa harus dinyatakan bersalah tentang hal ini. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Mathiya H. dan oleh karenanya dijatuhi hukuman. b. K. Kalimutu Kumar Marimutu adalah orang asing atau warga Negara asing atau warga Negara Malaysia.104 Benar keduan terdakwa tersebut yaitu Dr. Unsur-unsur Subjektif Melakukan kegiatan tidak sesuai izinnya Benar kedua terdakwa tersebut melakukan kegiatannya tidak sesuai dengan izin yang ada dimana ia datang ke Indonesia seharusnya hanya sebagai wisata saja akan tetapi visa tersebut ia gunakan untuk kepentingan mencari suatu pekerjaan atau keuntungan.S dan Dr.B.B. Meninbang. Mathiya H. terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut HUKUM. 2007.M. Kalimutu Kumar Marimutu dengan sengaja datang ke Indonesia telah menyalahgunakan passport yang ada padanya. 23 tahun 1992 tentang kesehatan dan Pasal 50 UU RI No. 2. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Dengan Sengaja Benar kedua terdakwa tersebut yaitu Dr.

2007. Memberikan keterangan yang jelas dan terang dipersidangan dan menyatakan menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu dikemudian hari yang akan datang/ tobat dan mempunyai tanggungan istri dan anak yang masih memerlukan pertanggungjawaban sebagai kepala keluarganya. Menimbang. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Menimbang. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian dan ketentuan perundang-undangan yang berhubungan dengan perkara ini. 23 tahun 1992 tentang kesehatan jo Pasal 50 UU RI No. USU Repository © 2009 . bahwa sebelum menjatuhkan hukuman . Hal-hal yang meringankan : Ia terdakwa-terdakwa belum pernah dihukum. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Memperhatikan ketentuan pasal 80 ayat (2) sub Pasal 84 ayat (5) UU RI No. bahwa oleh karena terdakwa dihukum maka dipandang perlu untuk tetap menahannya.105 Menimbang bahwa oleh karena terdakwa dijatuhi hukuman maka terdakwa dihukum pula untuk membayar biaya perkara. maka majelis akan memperimbangkan hal-hal yang memberatkan maupun yang meringankan hukumannya terdakwa sebagai berikut: Hal-hal yang memberatkan : Bahwa perbuatan dari terdakwa-terdakwa dapat merugikan pemerintah republik Indonesia.

1. maka dapat diketahui bahwasannya telah terjadi suatu tindak pidana di bidang Imigrasi yakni telah terjadinya penyalahgunaan ijin keimigrasian yang dilakukan oleh Terdakwa-terdakwa Dr.M.(seribu rupiah) Menyatakan barang bukti berupa obat-obatan diarmpas untuk dimusnahkan dan pasport atas nama terdakwa dikembalikan kepada terdakwa. KALIMUTU KUMAR MARIMUTU tersebut diatas telah trbukti dengan sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan Menyalahgunakan Izin.106 MENGADILI Menyatakan Terdakwa : 1. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).(tujuh juta lima ratus ribu rupiah) dengan ketentuan jika denda tersebut tidak dibayar harus diganti dengan hukuman kurungan selama 2 (dua) bulan. Menghukum Terdakwa-terdakwa dengan hukuman denda sebesar Rp.B..M. Mathiya H. K. USU Repository © 2009 . Menghukum terdakwa-terdakwa lagi membayar ongkos perkara sebanyak Rp.B. 2007.500. Dr. Kalimutu Kumar marimutu keduanya berkebangsaan Malaysia Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.000.. 7. Analisis Putusan Setelah penulis mempelajari dan membaca pertimbangan hukum putusan Pengadilan Negeri Medan. B.S alias Raja dan Dr.S alias RAJA 2. Dr.000. K. MATHIYA H.

dikelola secara terpadu untuk tujuan meningkatkan derajat kesehatan.107 yang telah mendirikan usaha atau praktek tanpa memiliki ijin untuk melakukan hal tersebut. USU Repository © 2009 .” Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Pasal 80 ayat (2) UU RI No.00 (lima ratus juta rupiah). Oleh karena itu keduanya dikenakan pidana karena telah melanggar ketentuan undang-undang yang berlaku di indonesia yakni Pasal 80 ayat (2) Sub Pasal 84 ayat (5) UU RI No. wajib dilaksanakan oleh setiap penyelenggara. 2007. berdasarkan pemeriksaan di persidangan menunjukkan bahwa Terdakwa-terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).000. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian.000. 500. 23 tahun 1992 tentang kesehatan menyatakan bahwa : ”Barangsiapa dengan sengaja menghimpun dana dari masyarakat untuk menyelenggaraakan pemeliharaan kesehatan.” Dari ketentuan Pasal ini perbuatan terdakwa-terdakwa telah terbukti tidka memiliki izin operasional dengan demikian secara otomatis tidak melaksanakan ketentuan jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat sebagai mana yang dimaksud Pasal 66 yang menyatakan : Ayat (2) : ” Jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat merupakan cara penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan dan pembiayaannya. yang tidak berbentuk badan hukum dan tidak memiliki izin operasional serta tidak melaksanakan ketentuan tentang jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 Ayat (2) dan Ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 23 tahun 1992 tentang kesehatan dan Pasal 50 UU RI No.

00 (lima belas juta rupiah). 23 tahun 1992 tentang kesehatan yang menyatakan Barang siapa : ”Menyelenggarakan sarana kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 Ayat (1) atau tidak memilki izin sebagaimana dimaksud dalam pasal 59 Ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp.000. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007.000. 15.” Pasal 59 Ayat (1) menyatakan bahwa : “Semua penyelenggaraan sarana kesehatan harus memiliki izin. Dan juga bisa saja tidak ada jaminan kesehatan masyarakat di klinik yang mereka dirikan hal ini seharusnya menjadi pertimbangan hal yang memberatkan karena dapat dikatakan suatu hal yang penting jika dikaitkan dengan masalah kesehatan.” Pasal 58 Ayat (1) menyatakan bahwa : ”Sarana kesehatan tertentu yang diselenggarakan masyarakat harus berbentuk badan hukum.” Berdasarkan ketentuan tersebut. Hal mana dinyatakan juga dalam sub Pasal 84 point 5 UU RI No. ”Penyelenggara jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat harus berbentuk badan hukum dan memiliki izin operasional serta kepesertaannya bersifat aktif.000.-“ Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.” Pasal 50 UU RI No.108 Ayat (3) .000. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian menyatakan bahwa : “Orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud pemberian izin keimigrasian yang diberikan kepadanya. selain merugikan keuangan negara dimana dengan adanya izin usaha seharusnya ada pemasukan kas negara baik dari pajak maupun biaya pengurusan izin pada umumnya. USU Repository © 2009 . dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 25.

maka akan mengalami hukuman yang serupa (generale preventie). 2005.109 Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan hukum yang ada yang ditemukan dari keterangan para saksi dan keterangan para terdakwa telah terbukti dan meyakinkan melanggar ketentuan pasal-pasal yang dimaksud di atas. USU Repository © 2009 92 . Jakarta. diharapkan si pelaku atau terpidana menjadi jera dan tidak mengulangi lagi perbuatannya (speciale preventie) serta masyarakat umum mengetahui bahwa jika melakukan perbuatan sebagaimana dilakukan terpidana. yang dimaksud dengan menjerakan disini adalah dengan penjatuhan hukuman.Sinar Grafika. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Menurut penulis penentuan pasal-pasal terhadap tindakan para terdakwa telah benar. Hal mana menurut penulis tidak memberikan sifat penjeraan terhadap tindakan semacam ini sedangkan menurut teori telatif (Doeltheorie) 92 tujuan hukum pidana salah satunya adalah menjerakan. Tuntutan yang diajukan Jaksa Penuntut Umum menurut penulis kurang menekankan kepada unsur pemidanaan terhadap tindakan pelaku demikian juga vonis majelis hakim. hanya ditekankan pada pengenaan hukuman denda sejumlah uang. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007. hal. Bisa saja dilain waktu para pelaku mengulangi perbuatannya dan yang ditakutkan banyak bermunculan tindakan-tindakan serupa baik itu dibidang Leden Marpaung. Hukuman yang dijatuhkan hanya sebatas denda sejumlah uang yang apabila kita lihat jumlahnya relative tidak memberatkan terdakwa-terdaka (para pelaku). “Asas – Teori – Praktik Hukum Pidana “. 4.

kesehatan maupun keamanan masyarakat. namun kadang kala pelaksanaan dilapangan kebanyakan tidak sejalan dengna peraturan yang ada. Hal ini tujuannya adalah tidak lain untuk menciptakan dan membudayakan adanya sinkronisasi antara peraturan hukum yang ada dengan pelaksanaan di lapangan. USU Repository © 2009 . hal mana akan dapat merugikan keuangan negara. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007. Kasus-kasus semacam ini sebenarnya harus mendapat perhatian yang serius dari apart penegak hukum dengan segala kelengkapannya. tidak hanya dalam bidang keimigrasian dan kesehatan saja tetapi juga bidang-bidang lain yang menyangkut kepentingan publik atau masyarakat luas. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.110 kesehatan atau bidang lainnya. Oleh karena itu sebenarnya yang perlu ditingkatkan adalah pemahaman dan kesadaran hukum serta tanggung jawab hukum para aparat penegak hukum dalam menjalankan tugasnya.

Ruang lingkup fasilitas bebas visa yang terlalu luas yang mencakup kegiatan wisata. Adanya perkembangan tenggang waktu dalam pemberian fasilitas bebas visa bagi wisata. karena fakta di Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007. Sehingga maksud dan tujuan dari BVKS sebagai pengganti BVW tidak tercapai. Kesimpulan Berdasarkan uraian-uraian penulisan skripsi ini. malah dipergunakan oleh orang asing sebagi salah satu cara masuknya imigran gelap ke Indonesia. USU Repository © 2009 .sosial budaya dan usaha. Faktor penyebab terjadinya penyalahgunaan izin keimigrasian adalah: a. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu: 1.111 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. b. yang pada awalnya dimaksudkan untuk mengatur secar tegas fasilitas bebas visa. Dimana wisatawan tersebut dapat menikmati wisata di Indonesia dalam kurun waktu 2 (dua) bulan. tetapi setalah pemberian fasilitas bebas visa dalam BVKS yang lebih luas ruang lingkupnya tetap ditemukan pelanggaran terhadap fasilitas bebas visa tesebut. Tetapi tenggang waktu 2 (dua) bulan ini dirasakan terlalu panjang atau lama.

dan melakukan kegiatan di wilayah Negara Republik Indonesia. Terutama sekali para petugas yang bertugas di pintu-pintu masuknya orang asing ke Indonesia. Penanggulangan secara preventif b. Dan tidak dipungkiri. maka aturan itu tidak aka nada artinya. 2007.112 lapangan menunjukkan bahwa wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia pada umumnya dan Medan pad khusunya jarang yang tinggal sampai 2 (dua) bulan. jika para petugasnya bermental yang kurang baik. Penanggulangan secara represif Dalam hal penanggulangan ini sangat erat kaitannya dengan hal pengawasan baik wisatawan yang masuk atau keluar wilayah Negara Republik Indonesia. jika mereka bertindak masa bodoh terhadap orang asing tersebut. USU Repository © 2009 . Penanggulangan secara preventif adalah tindakan penanggulangan yang dilakukan dalam usaha untuk mencegah atau menjga kemungkinan yang terjadinya tindak Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). c. Peranan petugas/pejabat/aparatur imigrasi sangat besar. Upaya menanggulangi terjadinya suatu tindakan yang melanggar ketentuan izin keimigrasian dibedakan atas dua cara yaitu: a. maka orang asing yang dapat dengan leluasanya berkeliaran di Indonesia. Panjang atau lamanya jangka waktu ini ternyata dapat memberikan peluang bagi wisatawan asing untuk melakukan pelanggaran dengan berbagi motivasi. seperi disalahgunakan untuk bekerja. bahwa betapapun baiknya aturantntangkeimigrasian. 2.

Kecuali masalah penyalahgunaan izin tersebut menyangkut masalah peredaran narkoba. atau grasi yang dimiliki oleh warga negara asing apabila ditempuh dengan cara pro justitia. Hal ini tentu saja membuthkan biaya operasional yang cukup tinggi. khususnya penyalahgunaan izin keimgrasian. Hal ini dikarenakan mengingat adanya upaya hukum banding. agar menimbulkan efek jera bagi warga negara asing yang melakukan tindak pidana di bidang keimigrasian.113 pidana imigrasi dalam hal ini yaitu tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. Saran Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. bahwa sanksi yang dijatuhkan oleh aparatur penegak hukum dalam kasus tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian adalah lebih sering bersifat non pro justitia. yang juga tidak terlepas dengan ketentuan yang diatur dalam pasal-pasal KUHAP tentang penyidikan. Dari data yang diperoleh. Yang dapat berupa tindakan keimigrasian yang salah satunya pendeportasian. dan ekonomis cara tindakan keimigrasian dianggap lebih praktis dan efisien. USU Repository © 2009 . terorisme. kasasi. mengingata dana orasional dari negara yang sangat terbatas. B. deportasi maupun black list. Dalam proses penyidikan terhadap tersangka yang melakukan tindak pidana dibidang keimigrasian. 2007. dan perdagangan manusia (trafickking). Karena menurut politis. 3. maka jalan pro justitialah yang harus ditempuh. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. Sedangkan dalam penaggulangan represif ini dapat dilakukan dengan cara pemidanaan. maka tunduk pada Undang-undang no. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 4.

agar nantinya walaupun telah disahakan menjadi Undang-undang tidak menambah kerancuan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).114 1. 2007. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. tetapi juga menunjukkan martabat bangsa. sedangkan rata-rata masa kunjungan wisatawan asing ke Indonesia pada umunya dan kota Medan khususnya adalah 3-4 (tiga sampai empat) minggu saja. karena masih banyak celah yang memungkinkan untuk warga negara asing melakukan tindak pidana di bidang keimigrasian. 2. Karena Undang-undang sebelumnya dianggap masih belum sempurna. hal ini juga menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya mengharapkan faktor ekonomi saja dari keunjungan wisatwan asing . sebaiknya Tim melakukan koreksi. Dan juga pemberian fasilitas tersebut sebaiknya dilakukan secara reciprocal atau prinsip timabal balik. Sebaiknya pemberian fasilitas bebas visa ditinjau ulang kembali dan dikembalikan kepada latar belakang pemberian fasilitas tersebut. USU Repository © 2009 . dan koreksi yang patut untuk diperhatikan yaitu mengenai tata urutan peraturan-peraturan perundang-undangan tentang keimigrasian. Pada saat sekarang ini sedang disusun RUU tentang keimigrasian yang telah disosialisasikan oleh Tim dari Direktorat Jenrak Imigrasi. yaitu hanya unutk wisata. Tenggang waktu pemeberian fasilitas bebas visa untuk wisata sebaiknya adalah 1 (satu) bulan dan dapt diperpanjang selam 30 (tiga puluh) hari. dengan adanya berbagai kritikan dan tanggapan terhadap RUU tersebut. Sehingga hal ini jangan sampai dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan yang lain yang tidak sesuai dengan izin keimigrasiannya. hal ini disebabkan karena penberian fasilitas bebas visa sekarang adalah 2 (dua) bulan dan ini terlalu lama.

Demikian juga yang penting adalah diperlengkapinya peralatan dengan kemajuan teknologi seperti sistem komputerisasi sehingga dapat melayani maupun memantau orang asing yang ada di wilayah Indonesia. USU Repository © 2009 . karena itu perlu para petugas/pejabat imigrasi dilengkapi dengan peningkatan kemampuan sumber daya manusia baik lewat pendidikan foramal meupun pendidikan latihan mengenai pelayanan dan pengawasan bagi orang asing atau wisatawan asing yang datang. 4. 2007. Dan juga diadakan penindakan secara hukum bagi petugas/pejabat imigrasi sendiri yang membantu stsu melakukan tindak pidana keimigrasian. maka peralatn komunikasi sangat diperlukan dan semua instansi dapat selalu memonitor setiap orang yang terkena daftar cekal apakah sudah habis waktunya atau belum. Penegakan hukum di Indonesia terlihat lemah dan hanya mengandalkan tindakan pendeportasian. tidak berdasarkan kekuasaan belaka. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Dan juga dalam mengkoordinasikan tindakan cekal agar dapat dengan cepat dilaksanakan sebelum orang yang dimaksud melarkan diri.115 3. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Dalam hal penanggulangan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian khsusnya black list atau cekal hendaknya mencerminkan prinsip-prinsip negara yang berdasarkan hukum.

2000. Flora Liman Mangestu. Pedoman Penggunaan Tenaga Kerja Asing di Indonesia dan Peraturan-peraturannya. Muladi & Barda Nawawi Arif. Jakarta. 1992. Jakarta. Departemen Kehakiman RI. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Jakarta. Sinar Grafika. Tugas Pokok dan Fungsi Direktorat Jendral Imigrasi. 1996. 1996. Asas-asas Hukum Pidana. 1983. Soetoprawiro. Direktorat Jendral Imigrasi. Jakarta: Balai Pustaka. Bandung Moeljatno. 2005. 1998. Alumni. Hukum Keimigrasian Indonesia. Jakarta. Rineka Cipta. UKI: Jakarta. Persoalan Praktis Filsafat Hukum dalam Himpunan Distingsi. Gramedia. Buku Petunjuk Keimigrasian RI Bagian I Visa Izin Tinggal. Asas Teori Praktik Hukum Pidana. Jakarta. Jakarta. Teori-teori dan Kebijakan Pidana. 2001 Koerniatmanto. 2007. S. Cetakan Ke-2. Ridwan Halim . Hadi Kiswanto. Sinar Grafika. Kewarganegaraan dan Leden Marpaung.116 DAFTAR PUSTAKA A. Sjarif. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . H. 1982. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

2005. Citra Aditya Bakti. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA PERATURAN PEMERINTAH RI NO. Soerjono. 2004. PT. 32 TAHUN 1994 TENTANG VISA. UI Press. dan Karantina. Barda. Soesilo. Soekamto. Yogyakarta. 1987. Jakarta. Jakarta : Rajawali Press. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Peraturan Perundang-undangan : KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA. 2005. Jakarta. Ibnu. Kapita Selekta Hukum Pidana. Jakarta Suud. 1987. DAN IZIN KEIMIGRASIAN. Purbacaraka.. Pabean. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentar Lengkap Pasal Demi Pasal . Jakarta. 2005 “Lintas Sejarah Imigrasi Indonesia”.117 Nawani Arief. Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan. Purmadi. Perspektif Imigrasi dalam Pembangunan Ekonomi dan Ketahanan Nasional. R. Pengantar Penelitian Hukum. . Jakarta Teguh Prasetyo & Abdul Halim Barkatullah. Soedarto. Dirjen Imigrasi Hukum dan HAM RI. “Faktor-faktor yang mempengaruhi Penegakan Hukum. Ramadhan K. Politeia : Bogor. Semarang. 1988. H dan Abrar Yusra. Jakarta. Amarja Press. UI-Press. Jakarta. Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan Hukum dan Pengembangan Hukum Pidana.1984. Bandung. Santoso Imam. . Bandung. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. IZIN MASUK. Penggarapan Disiplin Hukum dan Filsafat Hukum bagi Pendidikan Hukum. 1984. 2001. Rajawali. Manajemen Keimigrasian. Pustaka Pelajar. Felix Hadi Mulyatno dan Endar Sugiarto. Gramedia Pustaka. 2007. 1983. R. 2005. PT. Politik Hukum Pidana. Alumni. Imigrasi. Citra Aditya Bakti. M. PT. USU Repository © 2009 .

dkk. “Usaha Penanggulangan Tindak Pidana Imigrasi dan Imigrasi Gelap di Kota Madya Denpasar”. Jakarta.com http://www. disampaikan dalam Rapat Kerja Nasional Keimigrasian. Pintu Gerbang No. 2002.: F4-IL. “Imigrasi Daftar Ulang Warga Negara Asing”. 10-1. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Pintu Gerbang No. 42. 2000. Universitas Udayana dan PDII LIPI (Jakarta). Pintu Gerbang No. Jakarta.com Arief Rahman Kunjono. Saleh Wiramiharja. hlm. 2002. I Wayan Tangun Susila. 1993. Denpasar. Pintu Gerbang No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Direktorat Jenderal Imigrasi. 45. USU Repository © 2009 .118 UNDANG-UNDANG NOMOR KEIMIGRASIAN. 2002 Direktorat Jenderal Imigrasi. Lukman Bratamidjaja. Laporan : Bagir Manan. Jakarta. 7 Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian. 44. “Petunjuk Pemantauan Operasional Keimigrasian No. Laporan Penelitian.google. “Langkah-langkah Baru Menunjang Peningkatan Profesionalisme Keimigrasian”. Hukum Keimigrasian dalam Sistem Hukum Nasional. 14 Januari 2000. 2007. 2002. “Illegal Migrants dan Sisitem Keimigrasian Indonesia: suatu tinjauan Analisis”. 44. 9 TAHUN 1992 TENTANG Media Cetak dan Elektronik : http://www. 1999. Jakarta.solusihukum. “Aspek Ilmu Perundang-undangan BVKS Bagian I”. Direktorat Jendral Imigrasi. Direktorat Jendral Imigrasi.1044” tentang Keradaan dan Kegiatan Orang Asing Di Indonesia. Jakarta. 01.

119 Pusdiklat Pegawai Departemen Kehakiman. Beberapa Pedoman dan Ketentuan Tentang Imigrasi dan Ketatalaksanaan: Bahan Penataran Administrasi Apratur Kehakiman. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. “Analisa dan Evaluasi tentang Pengaturan Fasilitas Bebas Visa wisata bagi Orang Asing yang Berkunjung ke Indonesia” (Laporan Penelitian). Jakarta. Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN). 1984. dkk). 2007. 1982. Jakarta. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).