P. 1
skripsi imigrasi

skripsi imigrasi

|Views: 3,004|Likes:
Published by Suryo W Mandhasia

More info:

Published by: Suryo W Mandhasia on Jun 23, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/20/2013

pdf

text

original

1

PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP PENYALAHGUNAAN IZIN KEIMIGRASIAN MENURUT UNDANG-UNDANG RI NO. 9 TAHUN 1992 TENTANG KEIMIGRASIAN (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan) SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas Dan Memenuhi Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum O L E H YOYOK ADI SYAHPUTRA NIM : 030200015 Departemen Hukum Pidana

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2007
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

2

DAFTAR ISI Kata Pengantar ..............................................................................................................i Daftar Isi .......................................................................................................................ii Abstraksi ......................................................................................................................iii BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1 A. Latar Belakang ....................................................................................... 1 B. Perumusan Masalah ............................................................................... 6 C. Tujuan dan Manfaat ............................................................................... 6 D. Keaslian Penulisan ................................................................................. 7 E. Tinjauan Kepustakaan ............................................................................ 8 1. Pengertian Penegakan Hukum ............................................................ 8 2. Pengertian Pidana ............................................................................. 11 3. Pengertian Keimigrasian................................................................... 16 F. Metode Penelitian ................................................................................ 16 G. Sistematika Penulisan .......................................................................... 19

BAB II

TINJAUAN UMUM ................................................................................. 21 A. Keimigrasian dalam Sistem Hukum Indonesia ...................................... 21 1. Pengertian Keimigrasian................................................................... 21 2. Fungsi Keimigrasian ........................................................................ 24 3. Ruang Lingkup Keimigrasian ........................................................... 29 B. Jenis-jenis Izin Keimigrasian................................................................ 35 C. Hukum Keimigrasian Indonesia Dalam Sistem Hukum Nasional .......... 40

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

3

BAB III

PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP PENYALAHGUNAAN IZIN KEIMIGRASIAN ................................... 45 A. Ketentuan Keberadaan Warga Negara Asing (WNA) di Indonesia Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian ............................................. 45 B. Faktor-faktor Penyebab terjadinya Penyalahgunaan Izin Keimigrasian................................................................................ 53 C. Upaya Penanggulangan Tidak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian ................................................................................ 61

D. Peranan Aparatur Penegak Hukum dalam Menanggulangi Tindak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian ..................... 73

BAB IV

KASUS DAN ANALISIS KASUS ............................................................ 91

A. Kasus Posisi ................................................................................................ 92 B. Analisis Kasus............................................................................................ 99 C. BAB V PENUTUP .............................................................................................. 104 A. Kesimpulan ........................................................................................ 104 B. Saran.................................................................................................. 106

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

dan ketegasan aparatur penegak hukum serta memajukan sarana dan prasarana dalam menunjang penegakan hukum tersebut. Tahap selanjutnya penulis melakukan penelitian dengan menggunakan teknik wawancara dan mengumpulkan bahan dari narasumber yaitu dari Kantor Imigrasi Polinia Medan. Hukum pidana masih belum berfungsi secara maksimal terhadap kasus penyalahgunaan izin keimigrasian (Putusan No. dan salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam penegakan hukum dalam tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian adalah dengan meningkatkan profesionalitas aparatur penegak hukum. Kantor Kepolisian Kota Besar Medan dan Sekitarnya (Poltabes). Seluruh warga negara Indonesia maupun warga negara asing setiap kali keluar-masuk wilayah Indonesia pasti berurusan terlebih dahulu dengan bagian keimigrasian. menjadikan tindak pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian sebagai suatu tindakpidana memerlukan penangan khusus. B/2002/PN. mengingat tugas dan tanggung jawab yang diembannya sangat menentukan keberadaan dan dan kekuatan negara yang bersangkutan. Kompleksnya masalah dalam tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. masalah minimnya pengetahuan masayrakat. Mdn)” mengetangahkan permasalahan tersendiri mengenai pengaturan tindak pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Tidak jarang persoalan kewarganegaraan suatu negara akan berkembang menjadi persoalam besar akibat kelengahan dari bagian keimigrasian negara tersebut. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).pada tahap awal penulis terlebih dahulu melakukan penelitian terhadap bahan hukum yang berkaitan dengan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. sampai peranan aparat penegak hukum. B/2002/PN. 2493/Pid. dan Pengadilan Negeri Medan yang bertujuan untuk mengetahui pengaturan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian serta mengetahui peranan aparatur penegak hukum dalam menggulangi tindak pidana penyalhgunaan izin keimigrasian. 2007. USU Repository © 2009 .4 ABSTRAKSI Keimingrasian merupakan salah satu bagian terpenting bagisuatu negara. 2493/Pid. Skripisi yang berjudul “penegakan hukum pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian (studi kasus Pengadilan Negeri Medan dengan Putusan No. Berdasarkan penelitian tersebut diketahui bahwa pengaturan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian dalam hukum positif Indonesia diatur dalam Undang-undang No. Mdn) disebabkan masih kurangnya ketegasan aparatur penegak hukum dalam memberikan hukuman kepda warga negara asing yang melakukan tindak pidana penyalhgunaan izin keimigrasian. serta faktor-faktor yang menjadi penyebab dalam tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasianadan upaya-upaya apa saja yang dapat dilakukan sebagai upaya dalam menangani tindak pidana terhadap penyalahgunaan izin keimigrasian. mulai dari penggunaan visa yang tidak sesuai. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian juga masih berpedoman dengan KUHP. Penulis menggunakan metode penelitian dengan metode hukum normative dan empiris.

penegakan hukum itu hanya diartikan sebagai upaya aparatur penegakan hukum tertentu untuk menjamin dan memastikan tegaknya hukum itu. penegakan hukum itu dapat dilakukan oleh subyek yang luas dan dapat pula diartikan sebagai upaya penegakan hukum itu melibatkan semua subyek hukum dalam setiap hubungan hukum.com/artikel. aparatur penegak hukum itu diperkenankan untuk menggunakan daya paksa.php?id=49 yang direkam pada 1 Mar 2007 03:28:22 GMT (“Penegakan Hukum”.solusihukum. 2007. USU Repository © 2009 1 . Ditinjau darui sudut subyeknya.5 BAB I PENDAHULUAN A. apabila diperlukan. Dalam arti sempit. dari segi subyeknya itu. 1 Mengingat demikian banyaknya instansi (struktur kelembagaan) dan pejabat (kewenangan) yang terkait di bidang penegakan hukum. berarti dia menjalankan atau menegakkan aturan hukum. Jadi. 30 Mei 2006) Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. “reformasi http://www. Latar Belakang Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam lalulintas atau hubungan–hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. maka reformasi penegakan hukum tampaknya memerlukan peninjauan dan penataan kembali seluruh struktur kekuasaan/kewenangan penegakan hukum. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Siapa saja yang menjalankan aturan normatif atau melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dengan mendasarkan diri pada norma aturan hukum yang berlaku.

Sebagai sebuah subsistem hukum. hal. 1 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Iman Santoso. 2 Reformasi di bidang penegakan hukum dan struktur hukum. jelas sangat terkait dengan masalah budaya hukum dan pengetahuan/pendidikan hukum. PT. “Persfektif Imigrasi dalam Pembangunan Ekonomi dan Ketahanan Nasional”. “Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan”. hal. Dikatakan demikian karena ketentuan keimigrasian masih tersebar dalam beberapa ketentuan perundangundangan dan masih kuat dipengaruhi oleh hukum kolonial. Disamping tidak seseuai lagi dengan perkembangan kehidupan nasional. 3 Ibid. hal. Disamping Barda Nawawi Arief. Citra Aditya Bakti. bahkan juga di bidang perundang-undangan (substansi hukum).6 penegakan hukum” mengandung di dalamnya “reformasi kekuasaan/kewenangan di bidang penegakan hukum”. Masalah-masalah yang mendapat sorotan masyarakat luas saat ini (seperti kolusi. 2001. Semarang. USU Repository © 2009 2 . mafia peradilan dan bentuk-bentk penyalahgunaan kekuasaan atau persekongkolan lainnya di bidang prosedur/penegakan hukum). 4 4 M. hukum keimigrasian di Indonesia telah ada sejak pemerintahan kolonial Belanda 4. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). berhubungan erat dengan reformasi di bidang “budaya hukum dan pengetahuan/pendidikan hukum”. 2004. 3 Hukum keimigrasian merupakan bagian dari sistem hukum yang berlaku di Indonesia. 2007. UI Press Jakarta. Ketentuan hukum keimigrasian di Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945 hingga 1991 secara formal tidak mengalami perkembangan berarti. sebagian dari ketentuan tersebut masih merupakan ketentuan bentukan pemerintah kolonial. 3. bahkan merupakan subsistem dari Hukum Administrasi Negara. korupsi.

serta Toelatingsordonnantie Staatsblad 1949 Nomor 33 (Ordonansi Izin Masuk/OIM). 5. Demikian pula dalam pengaturan Penetapan Izin Masuk.7 tidak sesuai lagi dengan perkembangan kehidupan nasional. 2 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. barang. Undang-undang tentang keimigrasian yang berjiwa nasional dilahirkan. jasa dari dan ke wilayah Indonesia dapat mendorong dan memacu 5 Ibid. 9 Tahun 1992) merupakan unifikasi beberapa ketentuan yang berkaitan dengan keimigrasian. Barulah kemudian. sebagian dari ketentuan tersebut masih merupakan bentukan pemerintah kolonial Belanda yang diserap ke dalam hukum keimigrasian nasional. yang sebelumnya tersebar dalam beberapa ketentuan perundang-undangan. pada tanggal 31 Maret 1992. dan pertahanan pemerintah kolonial. yang tentu saja kehadirannya ditujukan untuk mendukung kepentingan pemerintah kolonial. sekaligus juga diberi izin menetap. hal. 2007. Secara faktual harus diakui bahwa peningkatan arus lalu-lintas orang. ekonomi. Misalnya disebutkan dalam Ordonansi Izin Masuk bahwa orang asing yang telah diberi izin masuk. seperti Toelatingsbesluit Staatsblad 1916 Nomor 47 (Penetapan Izin Masuk/PIM). diubah dan ditambah terakhir dengan Staatsblad 1949 Nomor 330. Hal tersebut tentu saja merupakan kemudahan di bidang keimigrasian karena membuka pintu selebar-lebarnya bagi pendatang dari berbagai negara demi kepentingan politik. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . keberadaan pendatang ilegal dapat menjadi legal hanya dengan membayar sejumlah denda. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian (selanjutnya disebut UU No.

Peningkatan arus orang asing ke wilayah RI tentunya akan meningkatkan penerimaan uang yang dibelanjakan di Indonesia. sampai ke perbuatan terorisme internasional. jasa. 2007. imigran gelap. baik Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. seperti: a.8 pertumbuhan ekonomi serta proses modernisasi masyarakat. informasi dan orang juga dapat mengandung pengaruh negative. serta meningkatnya aktivitas perdagangan yang akan meningkatkan penerimaan devisa. modal. Dominasi perekonomian nasional oleh perusahaan transnasional yang bergabung dengan perusahaan Indonesia (melalui Penanaman Modal Asing dan/ atau Penanaman Modal Dalam Negeri. Untuk meminimalisasikan dampak negatif yang timbul akibat mobolitas manusia. Penetapan politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif (selective policy) membuat institusi imigrasi Indonesia memiliki landasan operasional dalam menolak atau mengizinkan orang asing. meningkatnya investasi yang dilakukan. pencucian uang. mulai dari perdagangan wanita dan anak-anak. USU Repository © 2009 . baik warga negara Indonesia maupun orang asing. masuk. b. dan obat terlarang. Munculnya Transnational Organized Crimes (TOC). keimigrasian harus mempunyai peranan yang semakin besar. narkotika. pembelian saham atau kontrak lisensi). Dampak negatif ini akan semakin meluas ke pola kehidupan serta tatanan sosial budaya yang dapat berpengaruh pada aspek pemeliharaan keamanan dan ketahanan nasional secara makro. Namun peningkatan arus lalu-lintas barang. yang keluar. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). dan tinggal di wilayah Indonesia.

hal.9 dari segi masuknya. bangsa. dan negara Republik Indonesia. USU Repository © 2009 . serta c. 6 Ibid. peran penting aspek keimigrasian dalam tatanan kehidupan kenegaraan akan dapat terlihat dalam pengaturan keluar-masuk orang dari dan ke dalam wilayah Indonesia. Memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat. Berdasarkan politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif. Tidak membahayakan keamanan dan ketertiban umum. dan negara Republik Indonesia. bangsa. ditetapkan bahwa hanya orang asing yang: a. maupun kegiatannya di Indonesia 6. b. maka perlulah kiranya penulis untuk membahas lebih jauh mengenai tindak pidana di bidang keimigrasian ini khususnya hal-hal yang berkaitan dengan penyalahgunaan izin keimigrasian. diizinkan masuk dan dibolehkan berada di wilayah Indonesia. serta diberi izin tinggal sesuai dengan maksud dan tujuan kedatangannya di Indonesia. keberadaannya. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian”. maka dari itu penulis mengambil judul skripsi “Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut UndangUndang RI No. Dengan demikian. Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan di atas. Tidak bermusuhan dengan rakyat. 4 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007. dan pemberian izin tinggal serta pengawasan terhadap orang asing selama berada di wilayah Indonesia.

Apa saja yang menjadi faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian? 2. Bagaimanakah peranan aparatur penegak hukum dalam penegakan hukum terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian? C. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana di uraikan diatas. maka dapat disimpulkan bahwa tujuan yang ingin dicapai melalui penulisan ini adalah sebagai berikut : 1) Untuk Mengetahui apa saja yang menjadi faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. maka perlu di rumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. USU Repository © 2009 .10 B. 2007. Tujuan dan Manfaat Penulisan 1. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Tujuan Penulisan Berdasarkan identifikasi permasalahan yang telah penulis utarakan. 2) Untuk mengetahui bagaiman upaya penganggulangan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Bagaimana upaya penanggulangan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian? 3.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . Skripsi ini juga diharapkan dapat memberikan masukan bagi penyempurnaan perangkat peraturan perundang-undangan terhadap tindak pidana yang terkait erat dengan izin keimigrasian ini. Manfaat Penulisan Selain tujuan-tujuan tersbut diatas.11 3) Untuk mengetahui dan meneliti lebih jauh bagaimana peranan aparatur penegak hukum dalam menanggulangi tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. b. D. praktisi hukum. masyarakat. penulisan skripsi ini juga diharapkan bermanfaat untuk berbagai hal diantaranya: a. 2007. Manfaaat teoritis Pembahasan terhadap masalah-masalah dalam skripsi ini tentu akan menambah pemahaman kepada semua pihak baik masyarakat pada umumnya maupun para pihak yang berhubungan dengan dunia hukum pada khususnya. Keaslian Penulisan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Manfaaat praktis Dengan penulisan skripsi ini diharapkan dapat menjadi pedoman dan bahan rujukan bagi rekan mahasiswa. 2. dan juga aparat penegak hukum/pemerintah dalam menghadapi atau mengusut tuntas suatu peristiwa pidana terutama hal-hal yang berkaitan dengan tindakan yang menyalahgunakan izin keimigrasian.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian” belum pernah disajikan sebelumnya baik dalam bentuk tulisan maupun sub pembahasan permasalahan dalam suatu skripsi. 2007. informasi dari media cetak dan elektronik serta fakta yang diperoleh dai data berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh penulis.12 Sepanjang yang telah ditelusuri dan diketahui di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara bahwa penulisan skripsi tentang “Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang RI No. Oleh karena itu memberikan keadilan dalam suatu perkara berarti memutuskan perkara dengan menerapkan hukum dan menemukan hukum secara nyata dalam mempertahankan dan menjamin dipatuhinya hukum materiel Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. E. Pengertian penegakan hukum Hukum adalah sarana yang di dalamnya terkandung nilai-nilai atau konsep-konsep tentang keadilan. USU Repository © 2009 . kebenaran. Penegakan hukum secara konkret merupakan berlakunya hukum positif dalam praktek sebagaimana seharusnya dipatuhi. Permasalahan maupun penyajiannya merupakan hasil dari pemikiran dan ide penulis sendiri. Skripsi juga didasarkan pada referensi dari buku-buku. Berdasarkan alasan tersebut di atas maka dapat disimpilkan bahwa skripsi adalah asli. kemanfaatan sosial dan kandungan hukum ini bersifat abstrak. Penegakan hukum pada hakekatnya merupakan penegakan ide-ide atau konsep-konsep yang abstrak itu. Tinjauan Kepustakaan 1.

Penegakan hukum merupakan suatu proses yang melibatkan banyak hal. Tahap Aplikasi.13 dengan menggunakan cara prosedural yang ditetapkan oleh hukum formal. (Jakarta : Rajawali Press. Pada dasarnya ada 5 (lima) faktor yang mempengaruhi penegakan hukum. yaitu : (1) Faktor hukumnya sendiri. (4) Faktor masyarakat. 7 Penegakan hukum khususnya hukum pidana apabila dilihat dari suatu proses kebijakan maka penegakan hukum pada hakekatnya merupakan penegakan kebijakan melalui beberapa tahap. c. USU Repository © 2009 7 . cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia dalam pergaulan hidup. (5) Faktor kebudayaan. yaitu : a. (3) Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum. b. yaitu pihak-pihak yang membentuk maupun yang menerapkan hukum. Dapatlah dikatakan bahwa ketiga tahap kebijakan penegakan hukum pidana tersebut terkandung didalamnya tiga kekuasaan atau kewenangan. (2) Faktor penegak hukum. Tahap Formulasi. yakni sebagai hasil karya. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). hal. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Oleh karena itu keberhasilan penegakan hukum akan dipengaruhi oleh hal-hal tersebut. 4-5. 2007. yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku dan diterapkan. Tahap Eksekusi. 1983). “Faktor-faktor yang mempengaruhi Penegakan Hukum”. yaitu Soerjono Seokanto.

dan kekuasaan Eksekutif pada tahap Eksekusi dalam hal melaksanakan hukum pidana. Citra Aditya Bakti. Penegakan hukum represif pada tingkat operasional didukung dan melalui berbagai lembaga yang secara organisatoris terpisah satu dengan yang lainnya. namun tetap berada dalam kerangka penegakan hukum. 30. Pustaka Pelajar. Yang kedua adalah kekuasaan Yudikatif pada tahap aplikasi dalam menerapkan hukum pidana. dan Kejaksaan misalnya dengan tugas PAKEM-nya. Pada tahap pertama. 8 Penegakan hukum dalam negara dilakukan secara preventif dan represif. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).14 kekuasaan Legislatif pada tahap formulasi.” (Bandung : PT. “Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan Hukum dan Pengembangan Hukum Pidana. USU Repository © 2009 . (Yogyakarta. 2007. yaitu kekuasaan legeslatif dalam menetapkan atau merumuskan perbuatan apa yang dapat dipidana dan sanksi apa yang dapat dikenakan. penegakan hukum represif 8 Barda Nawani Arief. 2005). hal. melakukan penegakan hukum preventif. dapat ditunjuk pula pengadilan seperti dalam yurisdiksi volunter. 111. hal. 9 Penegakan secara preventif diadakan untuk mencegah agar tidak dilakukan pelanggaran hukum oleh warga masyarakat dan tugas ini pada umumnya diberikan pada badan-badan eksekutif dan kepolisian. Dalam hal ini hukum harus ditegakkan secara represif oleh alat-alat penegak hukum yang diberi tugas yustisionil. Walaupun adakalanya dengan Undang-Undang. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Pada tahap ini kebijakan legeslatif ditetapkan sistem pemidanaan. “Politik Hukum Pidana”. 9 Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah. pada hakekatnya sistem pemidanaan itu merupakan sistem kewenangan atau kekuasaan menjatuhkan pidana. 2005). Sedangkan penegakan hukum represif dilakukan apabila usaha preventif telah dilakukan ternyata masih juga terdapat usaha pelanggaran hukum.

15 diawali dari Lembaga Kepolisian. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. hal. USU Repository © 2009 10 . Penegasan ini bukanlah tidak beralasan. (Jurnal Equality : 2006). dapat mempunyai arti yang luas dan berubah-ubah karena istilah itu dapat mempunyai arti dapat berkonotasi dengan bidang yang cukup luas. “Moral dan Keadilan Sebagai Landasan Penegakan Hukum Yang Responsif”. Apa yang sesungguhnya dialami tidak lain adalah pencabikan moral bangsa sebagai akibat dari kegagalan bangsa ini dalam menata manajemen Pemerintahannya yang berlandaskan hukum. faktor moral sangat berperan dalam menentukan corak hukum suatu bangsa. Husni. Istilah tersebut tidak hanya M. 1. Hukum dibuat tanpa landasan moral dapat dipastikan tujuan hukum yang berkeadilan tidak mungkin akan terwujud. berikutnya Kejaksaan. selama kurun waktu lebih dari empat Dasawarsa bangsa ini hidup dalam ketakutan. ketidakpastian hukum dan hidup dalam intimitas yang tidak sempurna antara sesamanya. Penegakan hukum yang berkeadilan sarat dengan landasan etis dan moral. Pidana a) Pengertian pidana Istilah “hukuman” yang merupakan istilah umum konvensional. karena di dalamnya terlibat subjek hukum yang mempersepsikan hukum menurut kepentingan masing-masing. Penegakan hukum adalah proses yang tidak sederhana. kemudian diteruskan ke Lembaga Pengadilan dan berakhir pada Lembaga Pemasyarakatan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007. 10 2.

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). berikut ini dikemukakan beberapa pendapat atau defenisi dari para sarjana sebagai berikut: 11 1. Cetakan Ke-2 (Bandung: Alumni. moral. 1998) hal. 2. Sudarto. agama dan sebagainya. dan ini berwujud suatu nestapa yang dengan sengaja ditimpakan negara pada pembuat delik. Roeslan Saleh : Pidana adalah reaksi atas delik. Prof. Dari definisi di atas dapatlah disimpulkan bahwa pidana mengandung unsur-unsur atau ciri-ciri sebagai berikut : 1) pidana itu pada hakekatnya merupakan suatu pengenaan penderitaan atau nestapa atau akibat-akibat lain yang tidak menyenangkan. tetapi juga dalam istilah sehari-hari di bidang pendidikan. USU Repository © 2009 11 . SH : Yang dimaksud dengan pidana ialah penderitaan yang sengaja diberikan kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu. 2007. maka perlu ada pembatasan pengertian atau makna sentral yang dapat menunjukkan ciri-ciri atau sifat-sifat yang khas. 2 – 4. Prof.16 sering digunakan dalam bidang hukum. Oleh karena “pidana” merupakan istilah yang lebih khusus. “Teori-teori dan Kebijakan Pidana”. Untuk memberikan gambaran yang lebih luas. Muladi dan Barda Nawawi Arif.

3) pidana itu dikenakan kepada seseorang yang telah melakukan tindak pidana menurut undang-undang. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). dibagi dalam dua jenis 12 : a. 20 tahun 1946) b. 2007. 3) pengumuman putusan hakim. Menurut hukum pidana positif (KUHP dan di luar KUHP) Jenis pidana menurut KUHP. yaitu : 1) pidana mati 2) pidana penjara 3) pidana kurungan 4) pidana denda 5) pidana tutupan (ditambah berdasarkan UU No. pidana pokok. b) Jenis-jenis Pidana 1. yaitu : 1) pencabutan hak-hak tertentu. 1988) hal. Soesilo. R.17 2) pidana itu diberikan dengan sengaja oleh orang atau badan yang mempunyai kekuasaan (oleh yang berwenang). seperti terdapat dalam pasal 10. pidana tambahan. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentar Lengkap Pasal Demi Pasal (Bogor: Politeia. USU Repository © 2009 12 . 2) perampasan barang-barang tertentu. 34 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

1) mengembalikan kepada orang tuanya. 2007. 160).18 Disamping jenis sanksi yang berupa pidana dalam hukum pidana positif dikenal juga sanksi yang berupa tindakan. penempatan di tempat kerja Negara (Landswerkinrichting) bagi pengenggur yang malas bekerja dan tidak mempunyai mata pencaharian. b. bergelandangan atau perbuatan asosial (Stb. anak tersebut dimasukkan dalam rumah pendidikan negara yang penyelenggaraannya diatur dalam Peraturan Pendidikan Paksa (Dwangopvoedingregeling. walinya atau pemelihatanya atau 2) memerintahkan agar anak tersebut diserahkan kepada pemerintah. Stb. c. d. bagi anak yang sebelum umur 16 tahun melakukan tidak pidana. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. penempatan di rumah sakit jiwa bagi orang yang tidak dapat dipertanggungjawabkan karena jiwanya cacat dalam tubuhnya atau terganggu karena penyakit (lihat Pasal 44 ayat 2 KUHP). serta mengganggu ketertiban umum dengan melakukan pengemisan. 741) yang sekarang telah diganti dengan Undang-undang No. 12 Tahun 1995 tentang Permasyarakatan. Hakim dapat mengenakan tindakan berupa (lihat Pasal 45 KUHP). misalnya : a. Dalam hal yang ke-2. 1916 no. 1936 no. 1955) dapat berupa : 1) penempatan perusahaan si terhukukm di bawah pengampuan untuk selama waktu tertentu (3 tahun untuk kejahatan TPE dan 2 tahun untuk pelanggaran TPE). tindakan tata-tertib dalam hal tindak pidana ekonomi (Pasal 8 UU No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . 7 Drt.

19 2) pembayaran uang jaminan selama waktu tertentu. yang terdiri dari : a) pidana permasyarakatan istimewa (utuk yang melakukan tindak pidana karena terdorong oleh maksud yang patut dihormati). c) pidana permasyarakatan biasa (untuk yang melakukan tindak pidana karena kesempatan). 2007. Menurut Konsep Rancangan KUHP tahun 1972. Pasal 82. 4) kewajiban mengerjakan apa yang dilakukan tanpa hak. Ketentuan tentang “pidana” dalam konsep terdapat dalam Bab V. 2. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. b) pidana permasyarakatan khusus (untuk yang melakukan tindak pidana karena kebiasaan). Pidana pokok: 1) pidana mati 2) pidana permasyarakatan. dan melakukan jasa-jasa untuk memperbaiki akibat-akibat satu sama lain. mulai Pasal 43 s. USU Repository © 2009 . semua atas biaya si terhukum sekedar Hakim tidak menentukan lain. 3) pembayaran sejumlah uang sebagai pencabutan keuntungan menurut taksiran yang diperoleh dari tindak pidana yang dilakukan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 3) pidana pembimbingan. Pembagian jenis pidanannya sebagai berikut : a. yang terdiri dari : a) pidana pengawasan.d.

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007. b) penuntutan (sic. Pengertian Keimigrasian Istilah imigrasi berasal dari bahasa Latin migratio yang artinya perpindahan orang dari suatu tempat atau negara menuju ke tempat negara lain.20 b) pidana penentuan tempat tinggal. 4) pengenaan kewajiban ganti rugi. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Pidana tambahan: 1) pencabutan hak tertentu. : penutupan) usaha sebagian atau seluruhnya. b. c) pidana latihan kerja. yang terdiri dari : a) pidana perserikatan. 4) pidana perserikatan. 3. d) pidana kerja bakti. 2) penempatan barang tertentu. e) penyitaan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana. c) penempatan usaha di bawah pengawasan pemerintah untuk jangka waktu yang ditentukan oleh Hakim. 5) pengenaan kewajiban agama. d) pembayaran uang jaminan yang jumlahnya ditentukan oleh Hakim. USU Repository © 2009 . 3) pengumuman keputusan Hakim. 6) pengenaan kewajiban adat. f) perbaikan akibat-akibat dari tindak pidana.

9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.21 Oxford Dictionary of Law juga memberikan defenisi sebagai berikut: “Immigration is the act of entering a country other than one’s native country with the intention of living there permanently”. yakni untuk tinggal menetap dan mencari nafkah di suatu tempat baru. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). atau merupakan rombongan misi kesenian atau olahraga. 2007. Jenis Penelitian Metode Penelitian yang digunakan untuk menjawab persoalan-persoalan dalam skripsi ini adalah menggunakan metode yuridis – normatif. Metode Penelitian 1. atau juga menjadi diplomat tidak dapat disebut sebagai seorang imigran. atau mengunjungi suatu konferensi internasional.13 F. Sedangkan menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1992 dalam pasal 1 butir 1 disebutkan: “Keimigrasian adalah hal ikhwal lalu lintas orang yang masuk atau keluar wilayah Negara Republik Indonesia dan pengawasan orang asing di wilayah Negara Republik Indonesia”. orang asing yang bertamasya. USU Repository © 2009 . Dari defenisi ini dipahami bahwa perpindahan itu mempunyai maksud yang pasti. Penelitian yuridis – normatif merupakan penelitian yang dilakukan dan ditujukan pada Peraturan-peraturan tertulis atau bahan-bahan lain. Untuk menunjang pembahasan demi pembahasan masalah. Oleh karena itu. serta menelaah peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini. penulis melakukan studi 13 Lihat Pasal 1 butir 1 Undang-undang no.

). berita dsb. serta di Pengadilan Negeri Medan. UI-Press Jakarta. dilakukan di Perpustakaan Univesitas Sumatera Utara maupun yang di-download melalui internet ataupun situs-situs berkaitan dengan bahan-bahan yang sifatnya skunder (tulisan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). skripsi. Dalam hal penelitian lapangan penulis melakukannya di Kantor Imigrasi Polnia Medan. Sumber dan pengumpulan data Data-data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah bersumber dari : a. serta Pengadilan Negeri Medan untuk mendapatkan gambaran ataupun bahan akurat berkaitan dengan penulisan skripsi ini. Lokasi penelitian Dalam hal peneltian yang berkaitan dengan bahan bacaan. Studi lapangan ini dilakukan melalui wawancara dengan 14 Soerjono Soekamto. USU Repository © 2009 . Data Primer yaitu data pokok yang diperoleh atau bersumber dari hasil penelitian langsung di lapangan 14. responden dari narasumber atau lembaga di tempat penelitian dilakukan yang berkaitan dengan permasalahan dalam penulisan skripsi ini. 3. tesis. 2. 1984. Kantor Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Medan Sekitarnya. Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Medan dan sekitarnya. 2007. “Pengantar Penelitian Hukum”.22 langsung untuk mendapatkan data-data seperti di Kantor Imigrasi Polnia Medan. hal. 12 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

internet. Informan yang dipilih adalah mempunyai keterkaitan erat dengan pokok bahasan pada skripsi ini yaitu: 1) Petugas Keimigrasian Polonia Medan 2) Kepolisian kota Medan b.23 menggunakan pedoman wawancara (interview guide) kepada para informan. USU Repository © 2009 . Penelitian kepustakaan (Library Research) Yakni melakukan penelitian dengan berbagai sumber bacaan atau tulisan seperti: buku. Metode Pengumpulan Data Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut : a. Penelitian lapangan (Field Research) Yakni dengan melakukan penelitian langsung ke lapangan baik berupa wawancara langsung kepada pihak-pihak yang terkait dalam proses Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. bukubuku literatur. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). majalah. Data Skunder yaitu data-data yang diperoleh dari peraturan-peraturan. 4. 2007. artikel ataupun majalah-majalah serta data lain yang diperoleh melalui internet yang berhubungan dengan permasalahan dalam penulisan skripsi ini. pendapat sarjana dan bahan-bahan kuliah lainnya yang berkaitan erat dengan pokok bahasan atau permasalahan dalam skripsi ini. b.

Sistematika Penulisan Untuk mempermudah penulisan atau penyajiannya. penulis menjabarkan materi ataupun isi dari skripsi ini menjadi lima bab dengan sistematika sebagai berikut : BAB I : Bab ini memuat latarbelakang. USU Repository © 2009 . yaitu jawaban dari responden dan data-data yang diperoleh dilapangan diedit dan dianalisis sehingga diperoleh data yang dapat menjawab permasalahan demi permasalahan yang dikemukakan dalam skripsi ini. 2007. BAB III : Bab ini nerupakan bab yang membahas bagaimana penegakan hukum terhadap tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. metode penulisan dan sistematika penulisan. tinjaun kepustakaan. baik itu mengenai keimigrasian dalam sistem hukum Indonesia dan nasional. perumusan permasalahan. keaslian penulisan. Analisis Data Analisis data yang dilakukan dalam penulisan skripsi ini adalah dengan cara kualitatif. G. tujuan dan manfaat penulisan.24 penyidikan kasus ini serta dengan memperoleh salinan data-data yang lebih lengkap dan menunjang pembahasan permasalahan yang disusun penulis. BAB II : Bab ini menjelaskan tentang tinjauan umum mengenai keimigrasian. dan apa saja yang termasuk dalam jenis-jenis izin keimigrasian. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 5. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

Mdn. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).25 BAB IV : Bab yang membahas Kasus dan Analisis Kasus Putusan No. yaitu sebagai bab penutup yang berisi kesimpulan dan saran-saran mengenai permasalahan yang telah dibahas. B/2002/PN. 2007. BAB II Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 . BAB V : Kesimpulan dan Saran Bab ini merupakan bab terakhir.2493/Pid.

menjadi politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif didasarkan pada kepentingan nasional Indonesia. yaitu perubahan dari politik hukum keimigrasian yang bersifat terbuka (open door policy) untuk kepentingan pemerintahan kolonial. 2007. Pada saat itu. Undang-undang No. dalam pasal 1 menyebutkan: “Keimigrasian adalah hal-ikwal lalu lintas orang yang masuk atau keluar wilayah Indonesia dan pengawasan orang asing di wilayah Republik Indonesia. USU Repository © 2009 . Breekland kepada Kepala Jawatan Imigrasi dari tangan Pemerintah Belanda ke tangan Pemerintah Indonesia.26 TINJAUAN UMUM A. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Sejak Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. terdapat badan pemerintah kolonial Belanda bernama Immigratie Dienst yang bertugas menangani masalah keimigrasian untuk seluruh kawasan Hindia Belanda. Keimigrasian Dalam Sistem Hukum Indonesia 1) Keimigrasian di Indonesia Di Indonesia pemeriksaan keimigrasian telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. tetapi yang lebih penting adalah peralihan tersebut merupakan titik mula dari era baru dalam politik hukum keimigrasian Indonesia.” Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. namun baru pada tanggal 26 Januari 1950 Immigratie Dienst ditimbang terimakan dari H.

9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. bolak-balik. 2007. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian terdapat dua unsur pengaturan yang penting. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). kejadian. USU Repository © 2009 . kata lalu-lintas diartikan sebagai hubungan antara suatu tempat dan tempat lain. Dengan demikian. defenisi keimigrasian dapat kita jabarkan sebagai berikut: Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. yaitu: 1) Pengaturan tentang berbagai hal mengenai lalu-lintas orang keluar. hal-ihwal diartikan berbagai-bagai keadaan. 16 Unsur pertama. kejadian (sesuatu yang terjadi). peristiwa. 2) Pengaturan tentang berbagai hal mengenai pengawasan orang asing di wilayah Republik Indonesia. hilir-mudik. perihal. masuk. dan tinggal dari dan ke dalam wilayah negara Republik Indonesia. menurut Undang-undang No. Berdasarkan hukum internasional pengaturan hal ini merupakan hak dan wewenang suatu negara serta merupakan salah satu perwujudan dan kedaulatan sebagai negara hukum yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 15 16 Kamus Besar Bahasa Indonesia. peristiwa. 2001 Lihat Penjelasan Umum Undang-undang No. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. 15 Dengan demikian.27 Dengan menggunakan pendekatan gramatikal (tata bahasa) dan pendekatan semantik (ilmu tentang arti kata). Jakarta: Balai Pustaka. Sementara itu kata ihwal diartikan hal. pengaturan lalu-lintas keluar masuk wilayah Indonesia. kata hal diartikan sebagai keadaan.

Bandar udara. Selanjutnya. Pengawasan orang asing meliputi masuk dan keluarnya orang asing ke dan dari wilayah Indonesia. 17 Maka pengertian pengawasan orang asing adalah seluruh rangkaian kegiatan yang ditujukan untuk mengontrol apakah keluar-masuknya serta keberadaan orang asing di Indonesia telah atau tidak sesuai dengan ketentuan keimigrasian yang berlaku. yaitu di pelabuhan laut. Dalam rangka ini “pengawasan” adalah keseluruhan proses kegiatan untuk mengontrol atau mengawasi apakah proses pelaksanaan tugas telah sesuai dengan rencana atau aturan yang telah ditentukan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). artinya setiap tindakan keluar-masuk wilayah tidak melalui TPI. UI-Press Jakarta. USU Repository © 2009 17 .28 1945. atau tempat tertentu atau daratan lain yang ditetapkan Menteri Kehakiman sebagai tempat masuk atau keluar wilayah Indonesia (entry point). 2007. 20 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. hal. merupakan tindakan yang dapt dipidana. pengaturan lalu-lintas keluar-masuk wilayah Indonesia ditetapkan harus melewati Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI). 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian tidak membedakan antara emigrasi dan imigrasi. Undang-undang No. 2004. dan keberadaan serta kegiatan orang asing di wilayah Iman Santoso. Unsur kedua dari pengertian keimigrasian yaitu pengawasan orang asing di wilayah Indonesia. “Persfektif Imigrasi dalam Pembangunan Ekonomi dan Ketahanan Nasional”. Pelanggaran atas ketentuan ini dikategorikan sebagai tindakan memasuki wilayah negara Indonesia secara tidak sah.

2007. baiak ditinjau dari budaya hukum 18 Ibid.29 Indonesia. Pengawasan selanjutnya dilaksanakan oleh pejabat imigrasi di Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) ketika pejabat imigrasi dengan kewenangannya yang otonom memutuskan menolak atau memberikan izin tinggal yang sesuai dengan visa yang dimilikinya. Pengawasan orang asing sebagai suatu rangkaian kegiatan pada dasarnya telah dimulai dan dilakukan oleh perwakilan RI di luar negeri ketika menerima permohonan pengajuan visa. maka secara operasional peran keimigrasian dapat diterjemahkan ke dalam konsep Trifungsi Imigrasi. dapat dinyatakan juga bahwa pada hakikatnya keimigrasian merupakan: “suatu rangkaian kegiatan dalam pemberian pelayanan dan penegakan hukum serta pengamanan terhadap lalu lintas keluar masuknya setiap orang dari dank e dalam wilayah RI. Dari keseluruhan prosedur keimigrasin yang ditetapkan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). serta pengawasan terhadap keberadaan warga negara asing di wilayah Republik Indonesia. selanjutnya pengawasan beralih ke kantor imigrasi yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal waraga asing tersebut. USU Repository © 2009 .”18 Dari pernyataan tersebut. 21 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Dimana konsep ini hendak menyatakan bahwa sistem keimigrasian. 1) Fungsi Keimigrasian Dari uraian mengenai pengertian umum. hal. perlu dipahami bahwa operasionalisasinya dilaksanakan berdasarkan politik hukum keimigrasian yang bersifat selektif.

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007. Pemberian Dokumen Keimigrasian (DOKIM) berupa: Kartu Izin Tinggal Terbatas Keimigrasian (KITAS). Dari aspek itu. a. Kartu Izin Tinggal Tetap (KITAP). baik kepada Warga negara Indonesia (WNI) atau Warga Negara Asing). mekanisme hukum keimigrasian. Fungsi pelayanan masyarakat Salah satu fungsi keimigrasian adalah fungsi penyelenggaraan pemerintahan atau administrasi negara yang mencerminkan aspek pelayanan. Kemudahan Khusus Keimigrasian (DAHSUSKIM). yaitu: dalam operasionalisasinya harus selau mengandung Trifungsi. dan 2) Pemberian Tanda bertolak/ masuk Pelayanan bagi Warga Negara Asing terdiri dari: 1. sarana dan prasarana hukum keimigrasian. materi hukum (peraturan hukum) keimigrasian. lembaga. aparatur. organisasi. Pelayanan bagi Warga Negara Indonesia terdiri dari: 1) Pemberian paspor/ pemberian Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP)/Pas lalu lintas Batas (PLB). imigrasi dituntut untuk memberi pelayanan prima di bidang keimigrasian.30 keimigrasian.

Fungsi penegakan hukum Dalam Pelaksanaan tugas keimigrasian. DAHSUSKIM 4. Pemberian Tanda Bertolak dan Masuk. Visa Kunjungan Usaha (VKU). Visa Kunjungan Sosial Budaya (VKSB). ditujukan pada permasalahan: 1. Keterlibatan dalam pelaksanaan aturan keimigrasian Penegakan hukum kepada Warga Negara Asing (WNA) ditujukan pada permasalahan: Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Perpanjangan DOKIM meliputi KITAS. USU Repository © 2009 . Perpanjangan izin tinggal meliputi: Visa Kunjungan Wisata (VKM). Penegakan hukum keimigrasian terhadap Warga Negara Indonesia (WNI). 3.31 2. Pemberian Izin Masuk Kembali. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Kepemilikan paspor ganda 4. Pemalsuan identitas 2. Pertanggungjawaban sponsor 3. Izin Bertolak 5. keseluruhan aturan hukum keimigrasian itu ditegakkan kepada setiap orang yang berada di dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia baik itu Warga Negara Indonesia (WNI) atau Warga Negara Indonesia (WNA). 2007. KITAP. b.

Sementara itu. Semua itu merupakan bentuk penegakan hukum yang bersifat administratif. serta pengajuan berkas perkara ke penuntut umum. izin keimigrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). yaitu kewenangan penyidikan. 2007. pemeriksaan. Penyalahgunaan izin tinggal 4. dan tindakan keimigrasian. Pelaksanaan fungsi keamanan yang ditujukan kepada Warga Negara Indonesia dijabarkan melalui tindakan pencegahan ke luar negeri bagi Warga Negara Indonesia atas permintaan Menteri Keuangan dan Kejasksaan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. c. penangkapan. penggeledahan. Kerawanan keimigrasian secara geografis dalam pelintasan. izin bertolak. dalam hal penegakan hukum yang bersifat proyustisia. Pemalsuan identitas Warga Negara Asing (WNA) 2. Secara operasional fungsi penegakan hukum yang dilaksanakan oleh institusi Imigrasi Indonesia juga mencakup penolakan pemberian izin masuk. Fungsi keamanan Imigrasi berfungsi secara penjaga pintu gerbang negara. Dikatakan demikian karena imigrasi merupakan institusi pertama dan terakhir yang menyaring kedatangan dan keberangkatan orang asing ke dan dari wilayah Republik Indonesia. tercakup tugas penyidikan (pemanggilan. USU Repository © 2009 . pemyitaan). Pemantauan/razia 6. pemberkasan perkara. Masuk secara ilegal atau berada secara ilegal 5.32 1. penahanan. Pendaftaran orang asing dan pemberian buku pengawasan orang asing 3.

Pelaksanaan fungsi keamanan yang ditujukan kepada Warga Negara Asing (WNA) adalah: 1. USU Repository © 2009 . maupun peraturan di bidang lalu-lintas orang dan barang yang dapat memfasilitasi pertumbuhan ekonomi. Melakukan operasi intelijen keimigrasian bagi kepentingan keamanan negara 4. Untuk mengantisipasinya. Melakukan seleksi terhadap setiap maksud kedatangan orang asing melalui pemeriksaan permohonan visa 2. Khusus untuk Warga Negara Indonesia (WNI) tidak dapat dilakukan pencegahan karena alasan-alasan keimigrasian belaka. secara sinergi baik di bidang ekonomi. harus diingat bahwa di era globalisasi aspek hubungan kemanusiaan yang selama ini bersifat nasional berkembang menjadi bersifat internasional.33 Agung. terutama di bidang perekonomian. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut. 2007. yaitu larangan bagi seseorang untuk meninggalkan wilayah Indonesia dalam jangka waktu tertentu dan/atau larangan untuk memasuki wilayah Indonesia dalam waktu tertentu. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). transportasi. Melakukan kerjasama dengan aparatur keamanan negara lainnya khususnya di dalam memberikan supervisi perihal penegakan hukum keimigrasian. Perubahan itu diperlukan guna meningkatkan intensitas hubungan negara Republik Indonesia dengan dunia Internasional yang mempunyai dampak sangat Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. perdagangan. Melaksanakan pencegahan dan penangkalan. ketenagakerjaan. industri. perlu menata atau mengubah peraturan perundangan. 3. demi peningkatan kesejahteraan.

Sedangkan fungsi baru yaitu sebagai fasilisator pembagunan ekonomi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan fungsi keimigrasian lainnya. dalam sambutan tertulis pada upacara Hari Bhakti Imigrasi ke-52 tanggal 26 Januari 2002. 24 Prof. yang menyatakan: 20 “Trifungsi Imigrasi yang merupakan ideologi atau pandangan hidup bagi setiap kebijakan dan pelayanan keimigrasian harus diubah karena tutntutan zaman. 2007. Paradigma konsepsi keamanan saat ini mulai bergeser. Di dalam rangka memelihara kondisi keamanan yang kondusif secara otomatis fungsi penegakan hukum keimigrasian harus dilakasanakan secara terus-menerus dan konsekuen. Yusril Ihza Mahendra. Hal ini terlihat ketika jasa keimigrasian telah menjadi bagian dari infrastruktur perekomian. 20 19 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Tuntutan perubahan Trifungsi Imigrasi dipertegas oleh pernyataan Prof.34 besar pada pelaksanaan fungsi dan tugas keimigrasian serta menghindari adanya tumpang tindih peraturan. semula menggunakan pendekatan kewilayahan (territory) yang hanya meliputi keamanan nasional (national security) berubah menjadi pendekatan yang komprehensif selain keamanan nasioanal juga keamanan warga masyarakat (human security) dengan menggunakan pendekatan Ibid. Yusril Ihza Mahendra selaku Menteri Kehakiman dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . Dr. Di dalam perkembangan Trifungsi Imigrasi dapat dikatakan mengalami suatu pergeseran bahwa pengertian fungsi keamanan dan penegakan hukum merupakan satu bagian yang tak terpisahkan karena penerapan penegakan hukum dibidang keimigrasian berarti sama atau identik dengan menciptakan kondisi keamanan yang kondusif atau sebaliknya 19. Dr. hal.

Ruang Lingkup Fungsi Keimigrasian Paradigma lama hanya melihat esensi keimigrasian sebatas hal-ihwal orang asing. Bidang Politik Ada berbagai pendapat yang menyatakan di mana sebenarnya fungsi keimigrasian itu berada. agar menjadi apratur yang dapat memberikan kepastian hukum. sehingga muncul pendapat seolah-olah masalah keimigrasian sebatas masalah yang berporos pada atau paling tidak bertalian dengan negara asing. penegak hukum. mampu melaksanakan penegakan hukum. hukum keimigrasian sering disertai dengan sanksi pidana Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. dan fasilisator pembangunan ekonomi”. Di satu sisi. Sebaliknya. Bertitik tolak dari berbagai tantangan itu. saya memberi pesan agar insane imigrasi mengubah cara pandang mengenai konsep keamanan yang semula hanya sebagai alat kekuasaan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). agar diubah menjadi Trifungsi Imigrasi baru yaitu sebagai pelayan masyarakat. Hal itu dapat dijelaskan dalam uraian sebagai berikut: a. sudah waktunya kita membuka cakrawala berpikir yang semula hanya dalam cara pandang ke dalam (inward looking) menjadi cara pandang ke luar (outward looking) dan mulai mencoba untuk mengubah paradigma Trifungsi Imigrasi yang pada mulanya sebagai pelayan masyarakat. dan sekuriti. dan dapat memberikan perlindungan kepada masyarakat. USU Repository © 2009 . baik itu dalam tatanan nasional maupun internasional. paradigma baru melihat bahwa keimigrasian itu bersifat multidimensional. Mendukung konsepsi tersebut. penengak hukum.35 hukum. 2007. Hal ini lebih disebabkan karena dunia telah menjadi semakin kecil dan bahwa subjek masalah keimigrasian adalah manusia yang bersifat dinamis. sebagai bagian dari sistem hukum administrasi negara. 3.

USU Repository © 2009 . seperti United Nations Convention 1951 Concerning of Refugees Status (selanjutnya disebut konvensi PBB Tahun 1951) menyebutkan hak-hak seorang pengungsi serta kewajiban negara penerima. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Berbagai konvensi internasional. Pencari Suaka politik(asylum seekers) akan mendapatkan hak-hak hidupnya dan perlindungan atas dirinya di negara terakhir ia berada. Hal itu terkait dalam Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. b. kedaulatan negara penerima juga tidak dapat di abaikan. Seorang assign dapat bertempat tinggal di suatu negara tanpa mengikuti ketentuan umum mengenai keimigrasian. Meskipun demikian. disisi lain hak seseorang untuk melintasi batas negara dan bertempat tinggal di suatu negara dilihat sebagai hak asasi manusia. Itu berarti bahwa ia mendapatkan suatu perlakuan khusus di bidang keimigrasian. Di Bidang politik sering fungsi keimigrasian ditempatkan pada hubungan hubungan internasional. Di sisi lain. Berbagai pendapat tersebut ada benarnya karena segalanya bergantung pada cara memandang fungsi keimigrasian itu. Bidang Ekonomi Di bidang ekonomi tampak jelas sekali keterkaitan fungsi imigrasi dalam rangka melaksanakan politik perekonomian suatu negara. hukum keimigrasian juga mengatur kewarganegaraan seseorang. Di samping itu hukum keimigrasian mempunyai kaitan yang sangat erat dengan hubungan internasional. seperti yang menyangkut masalah sentimen ras.36 yang kadangkala terasa janggal. 2007. serta faktor lain yang berkaitan dengan komposisi atau struktur kependudukan di dalam suatu negara. agama. Pada kesempatan ini sering hukum keimigrasian digunakan untuk melindungi kepentingan politik suatu negara.

serta bermacam-macam izin tinggal (izin singgah. Sektor peronomian membutuhkan jas infrastruktur lain. izin masuk beberapa kali perjalanan (multiple re-entry permit). 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). atau dengan kata lain. ke mana investasi ditanamke sana pula arus manusia mengikutinya. izin kunjungan. Begitu pula dengan aspek pengawasan orang asing. USU Repository © 2009 . sudah dapat dipastikan bahwa kini jasa fasilitas keimigrasian merupakan bagian dari infrastruktur perekonomian. jasa fasilitas komunikasi.37 kerangka pertumbuhan dan perkembangan perekonomian global yang ditandai dengan peningkatan arus investasi sehingga menciptakan lapangan kerja. izin tinggal tetap) merupakan bagian dari infrastruktur perekonomian. seperti pemberian izin masuk. Maka. dan akan meningkatkan arus manusia ke kawasan tersebut. seperti jasa fasilitas tranportasi . yang dimaksudkan untuk merlindungi warga negaranya dari sisi perekonomian dalam menghadapi persaingan hidup. pembentukan pola-pola keimigrasian dengan alasan perekonomian dalam memberikan izin masuk dan bertempat Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Sebagai infrastruktur perekonomian. termasuk pembatasan yang diberlakukan terhadap seorang asing untuk meperoleh izin masuk atau tinggal di suatui negara baik sebagai pencari kerja maupun investor. izin masuk kembali (re-entry permit). mengalirkan teknologi baru.. jasa fasilitas pengelolaan sumber daya alam dan manusia serta jasa fasilitas perbankan. 2007. Di dalam kaitan ini sangatlah jelas bahwa jasa keimigrsian di suatu negara merupakan bagaian yang tidak dapat dipisahkan dari kepentingan ekonominya. Pemberian fasilitas jasa keimigrasian. izin tinggal terbatas.

38

tinggal bagi warga negara asing ke negaranya, tentu saja memliki persyaratan yang ketat dan menguntungkan negara tersebut. Begitu pula negara yang termasuk dalam kategori migrant country. Sebagai contoh, Australia, dengan alasan perekonomian, mensyaratkan bahwa orang asing yang mengajukan permohonan untuk masuk dan bertempat tinggal disana harus memiliki rumah dan dana dalam jumlah tertentu sebagai modal kerja yang ditanam dalam suatu perusahaan. Kemudian, kinerja perusahaan akan dinilai setiap tahun sebelum pihak imigrasi Australia memutuskan untuk memberikan izin tinggal tetap bagi orang asing tersebut. c. Bidang Sosial Budaya Pergerakan dan perpindahan manusia sebagai individu atau kelompok akan mempunyai dampak, baik yang bersifat positif maupun negatif pada individu atau kelompok penerima. Pengaruh sosial dan budaya terjadi karena ada interaksi diantara mereka, baik di lingkungan pendatang maupun penerima. Negara berkepentingan, melalui fungsi keimigrasian, untuk tetap menjaga kondisi sosial dan budaya yang ada di dalam masyarakat agar pengaruh dari luar tidak merusak struktur sosial budaya masyarakatnya. Fungsi keimigrasian, melalui kebijakan yang diberlakukan oleh pemerintah, harus mampu menyaring serta mengatur halhal dimaksud diatas. Sebagai contoh, terjadinya peningkatan jumlah pengungsi Afghanistan yang masuk ke Indonesia beberapa waktu yang lalu, sedikit banyak telah mempengaruhi kondisi sosial dan budaya penduduk Indonesia yang tinggal di
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

39

sekitar tempat penampungan orang Afghanistan tersebut. Berbagai hal dapat terjadi, misalnya konflik sosial, perkawinan antara pengungsi dan penduduk lokal yang berdampak pada status kewarganegaraan anak mereka, serta pertikaian akibat kecemburuan sosial dari suatu kelompok kepada kelompok lain. Sekalipun tempat penampungan pengungsi tersebut diklelola oleh International

Organization for Migration (IOM), keberadaan dan kegiatan orang-orang Afghanistan itu terus diawasi imigrasi setempat. Satu kasus pernah diungkap oleh Direktorat Jendral Imigrasi ketika warga Afghanistan pemegang status pengungsi tertangkap tangan dalam sebuah operasi pengawasan keimigrasian ketika bekerja sebagai gigolo atau pria tuna susila. d. Bidang Keamanan Permasalahan yang timbul dan berkaitan dengan aspek politis, ekonomis, sosial, dan budaya pada masyarakat akan sangat berpengaruh pada stabilitas keamanan negara tersebut. Fungsi keimigrasian yang mengatur serta mengawasi keberadaan orang di negara tersebut akan memiliki peran yang signifikan. Secara universal imigrasi dijadikan sebagai penjuru (vocal point). Kebijakan yang salah atau tidak tepat di dalam menangani masalah ini akan mempunyai dampak yang sangat besar pada bidang lain. Sebagai contoh, kebijakan keimigrasian untuk mengatasi kejahatan terorganisasi lintas negara, harus dapat menjangkau juga bidang lain seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya, baik yang berskala nasional, regional, maupun internasional. Oleh karena itu, kebijakan keimigrasian mempunyai keterkaitan substansial yang berdampak beruntun (multiplier effect).
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

40

Contoh lainnya setelah terjadi insiden pemboman di Bali pada tanggal 12 November 2002 tengah malam. Pada esok harinya telah terjadi suatu evakuasi korban dan eksodus para wisatawan asing meninggalkan Bali secara besar-besaran ke Australia dengan menggunakan penerbangan pesawat tambahan. Pada saat itu imigrasi Indonesia telah menetapkan suatu kebijakan dalam keadaan force mayeur untuk mengizinkan dokumen (paspor kebangsaan) karena kebanyakan dari mereka telah kehilangan paspor. Namun demikian dari segi keamanan, petugas imigrasi melakukan pencatatan (fotokopi) dokumen yang ada dan pengambilan gambar diri (potret) secara langsung bagi mereka yang tidak memiliki dokumen keimigrasian. Hal ini dimaksud sebagi tindakan antisipatif sekiranya diantara mereka terdapat pelaku pengeboman yang hendak melarikan diri. e. Bidang Kependudukan Demikian pula kependudukan yang merupakan salah satu gatra di dalam konsep ketahanan nasional. Kependudukan merupakan aset bangsa. Struktur dan komposisi penduduk negara memiliki hubungan yang sangat erat dengan kondisi politis, ekonomis, sosial, budaya, serta keamanan nasional. Isu SARA sering menjadi pemicu stabilitas keamanan yang akan berkaitan erat atau berdampak pada situasi perekonomian baik perekonomian wilayah maupun nasional. Bahkan, lebih luas daripada itu, isu SARA dapat berpengaruh pada situasi perekonomian dan keamanan secara regional ataupun internasional. Di sini tampak secara jelas bahwa fungsi keimigrasian di berbagai lini kehidupan, walaupun pengaruhnya tidak begitu signifikan, terlihat keterkaitannya.
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

fungsi keimigrasian juga disatukan dengan fungsi pelaksanaan registrasi kependudukan. B. dilakukan oleh pihak imigrasi. (2) Izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). b. 2007.” a) Izin Singgah Izin singgah diberikan untuk orang asing yang memerlukan singgah di wilayah Indonesia guna dapat meneruskan perjalanan ke negara lain atau kembali ke negara asal. 21 Lihat pasal 24 Undang-undang no. Hal ini memang tepat karena sejak kedatangan orang asing pada saat pertam kali sampai ia mempunyai hak menurut ketentuan yang berlaku untuk mengajukan perwarganegaraan seluruh catatan keberadaan orang tersebut ada pada pihak imigrasi. Di Amerika Serikat. Izin Tinggal Tetap. terdiri atas: a. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian. masalah naturalisasi atau pewarganegaraan. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian disebutkan: 21 “(1) setiap orang yang berada di wilayah Indonesia wajib memiliki izin keimigrasian. Izin Singgah. Izin Kunjungan. USU Repository © 2009 . Izin Tinggal Terbatas.41 Dibeberapa negara seperti Brunei Darussalam dan Singapura. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Jenis-Jenis Izin Keimigrasian Dalam pasal 24 Undang-undang no. Izin singgah diberikan kepada orang asing pemegang visa singgah yang telah memperoleh izin masuk dan orang asing pemegang visa singgah saat kedatangan yang telah memperoleh izin masuk. d. c.

Dalam hal jangka waktu 14 (empatbelas) hari izin singgah terlampaui oarng asing belum dapat melanjutkan perjalanan karena suatu keadaan memaksa diluar kemampuannya atau keadaan darurat seperti kerusakan alat angkutm cuaca buruk.42 Izin singgah diberikan untuk jangka waktu 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan tidak dapat diperpanjang. Adapun persyaratan untuk memperoleh izin singgah adalah: 1. 2007. Memiliki trough ticket atau return ticket yang masih berlaku 3. b) Izin Kunjungan Izin kunjungan diberikan oleh pejabat imigrasi di tempat pemeriksaan imigrasi kepada orang asing mancanegara yang dibebaskan keharusan memiliki visa kunjungan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Memliki surat perjalanan (paspor) yang sah dan masih berlaku minimal 6 (enam) bulan. Tugas pemerintahan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Tidak termasuk dalam daftar pencegahan/penagkalan 4. sakit dan lain sebagainya dapat diberikan batas waktu izin untuk tetap singgah oleh kepala kantor inigrasi dengan setiap kali pemberian 14 (empat belas) hari sampai paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk. USU Repository © 2009 . dan orang asing pemegang visa kunjungan. Izin kunjungan diberikan dalam rangka: 1. 2. Memiliki visa singgah dan telah memperoleh izin masuk.

kegiatan sosial budaya atau usaha diberikan selama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan dapat diperpanjang paling banyak 5 (lima) kali berturut-turut. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Izin kunjungan ex visa kunjungan saat kedatangan diberikan selam 30 (tiga puluh) hari dan tidak dapat diperpanjang 4. 2007. 5. USU Repository © 2009 . 3. untuk setiap kali perpanjangan selama 30 (tiga puluh) hari . Izin kunjungan ex visa kunjungan diplomatik (dinas) diberikan sesuai dengan visanya. Izin kunjungan untuk keperluan tugas pemerintahan tugas pemerintahan. Pemintaan perpanjangan ijin kunjungan diajukan oleh orang asing kuasanya atau sponsornya kepada kepala kantor imigrasi yang di wilayah kerjanya meliput i tempat tinggal pemohon. Kegiatan sosial budaya 4. Izin kunjungan untuk keperluan pariwisata diberikan selama 60 (enam) puluh hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan tidak dapat diperpanjang. Izin kunjungan ex bebas visa kunjungan singkat diberikan selama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikan izin masuk dan tidak dapat diperpanjang. Kepariwisataan Izin kunjungan diberikan untuk jangka waktu: 1.43 2. Usaha 3. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2.

dan Izin Keimigrasian. 3) Anak yang lahir dan berada di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum kawin dari ibu warga negara Indonesia dan ayahnya tidak memiliki ijin tinggal terbatas 4) Orang asing yang mendapat alih status izin kunjungan menjadi izin tinggal terbatas. 2007. Memliki surat perjalanan (paspor) yang sah dan masih berlaku minimal 6 (enam) bulan 2. Memiliki visa kunjungan. kecuali yang dibebaskan dari keharusan memiliki visa dan telah memperoleh izin masuk. Izin masuk. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Memiliki through ticket atau return ticket yang masih berlaku 3. Tidak termasuk dalam daftar pencegahan/penangkalan 4. c) Izin Tinggal Terbatas Izin tinggal terbatas diberikan kepada: 1) Orang asing pemegang izin masuk dengan visa tinggal terbatas 2) Anak yang lahir dan berada di wilayah Indonesia yang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum kawin dari orang tua pemegang izin tinggal terbatas. Lihat Pasal 1 ayat (2) huruf e Peraturan Pemerintah RI no. USU Repository © 2009 22 . 32 tahun 1994 tentang Visa. Visa tinggal terbatas diberikan kepada mereka yang bermaksud untuk: 22 1) Menanamkan modal.44 Persayaratan untuk memperoleh izin kunjungan adalah: 1.

Hukum Keimigrasian Indonesia Dalam Sistem Hukum Nasional Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 6) Menggabungkan diri dengan suami dan atau orang tua bagi istri dan anak-anak sah di bawah umur dari Orang Asing sebagaimana dimaksud dalam huruf e angka 1. Dalam hal izin tinggal tetap berakhir sedangkan keputusan Direktur jenderal Imigrasi yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal orang asing yang bersangkutan dapat memberikan perpanjangan sementara izin tinggal tetap paling lama (90) hari terhitung sejak izin tinggal tetap berakhir. 2007. 3) Malaksanakan tugas sebagai rohaniwan. 7) Repatriasi. C.45 2) Bekerja. 4) Mengikuti pendidikan dan latihan atau melakukan penelitian ilmiah. angka 3. d) Izin Tinggal Tetap Izin tingal tetap diberikan kepada orang asing untuk tinggal menetap di Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . dan angak 4. 5) Menggabungkan diri dengan suami dan atau orang tua bagi isteri dan atau anak sah dari seorang Warga Negara Indonesia. angka 2. Perpanjangan izin tinggal tetap diajukan paling lama 60 (enam puluh) hari sebelum izin tinggal tetap berakhir.

khususnya merupakan cabang ilmu dari hukum administrasi negara 24. masalah keimigrasian justru merupakan sebagian kebijakan oragan administrasi negara yang melaksanakan kegiatan pemerintahan (administrasi negara). dan ilmu hukum internasional 23. hukum ekonomi. USU Repository © 2009 23 . keimigrasian dapat dilihat dalam persfektif hukum administrasi negara. yaitu fungsi penyelenggara pemerintahan atau administrasi negara (bestuur) dan pelayanan masyarakat (publiek dienst). hal. telah tumbuh pula berbagai cabang ilmu hukum sebagai disiplin hukum baru. Sejalan dengan perkembangan zaman. “Persoalan Praktis Filsafat Hukum dalam Himpunan Distingsi”. cit. yaitu ilmu hukum kepidanaan.46 Dalam ilmu hukum terdapat beberapa ilmu hukum positif sebagai induk. ilmu hukum kenegaraan. Contoh. ilmu hukum keperdataan. Dengan demikian. bukan pembentuk undang-undang (wetgever) dan bukan juga fungsi peradilan (rechtspraak). Flora Liman Mangestu. seperti hukum administrasi negara. Op. 1992. . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Hal itu terlihat dari fungsi keimigrasian yang dilaksanakannya. 39 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. A. 24 Iman Santoso. hukum keimigrasian adalah bagian dari ilmu hukum kenegaraan. Ridwan Halim . 22. Sesungguhnya. 2007. hukum agrarian. kewenangan imigrasi untuk menangkal dan mencegah orang yang hendak masuk atau keluar wilayah Indonesia. hukum lingkungan. Kebijakan yang dimaksud adalah gambaran dari perbuatan hukum pemerintah (overheads handeling). Jakarta: UKI. dan hukum keimigrasian. hukum pajak. Jika dikaitkan dengan ilmu hukum yang menjadi induknya. hlm.

hukum objek immaterial.47 Dalam ilmu pengetahuan hukum dikenal istilah pembidangan hukum. khusus mengatur penyelesaian perkara yang mengandung pertemuan antara dua atau lebih sistem hukum (HATAH intern dan HATAH ekstern). hukum benda. hal. Luas lingkup keimigrasian tidak lagi hanya mencakup pengaturan. dan hukum penyelewengan perdata dan sikap tindak lain 3) Hukum pidana b. USU Repository © 2009 25 . 2007. hukum waris. “Penggarapan Disiplin Hukum dan Filsafat Hukum bagi Pendidikan Hukum”. hukum keluarga. Pembidangan hukum tersebut dalam praktiknya dapat dijabarkan sebagai berikut: 25 a. Jakarta: Rajawali. Bidang Hukum Hubungan Antar Tata Hukum (HATAH). Bidang hukum materil. pemyelenggaraan keluar-masuk orang dari dan ke dalan wilayah Indonesia. yang secara khusus terbagi menurut fungsi pengaturannya. 1987. dan hukum administrasi negara 2) Hukum perdata yang mencakup: hukum pribadi. 15 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Bidang hukum formil 1) Hukum tata negara formil atau hukum acara tata negara 2) Hukum administrasi negara formil atau hukum acara administrasi negara 3) Hukum perdata formil atau hukum acara perdata 4) Hukum pidana formil atau hukum acara pidana c. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). hukum perjanjian. serta Purmadi Purbacaraka. terdiri atas: 1) Hukum negara yang mencakup: hukum tata negara.

pemberian izin masuk ke dalam negeri. Iman Santoso. mengatur tata cara administrasi negara (diperkenankan atau diwajibkan) yang mencampuri kehidupan masyarakat. 2007. yaitu fungsi administrasi negara dan pemerintahan. dapat dikatakan bahwa fungsi keimigrasian merupakan fungsi penyelenggaraan administrasi negara atau penyelenggaraan administrasi pemerintahan (besturr) 26. Kedua. Hukum administrasi negara mengatur tata cara menjalankan pemerintahan atau administrasi negara serta mengatur hubungan antara aparatur administrasi negara dan masyarakat yang mencakup dua hal pokok. Jakarta. disampaikan dalam Rapat Kerja Nasional Keimigrasian. Oleh karena itu. “Hukum Keimigrasian dalam Sistem Hukum Nasional”. maka Hukum Keimigrasian dapat dikatakan merupakan bagian dari bidang hukum administrasi negara 27. mengatur tata cara melindungi masyarakat da ri pelanggaran hak warga negara ataupun dari bahaya yang ditimbukan atau berkaitan dengan orang asing. 41 Bagir Manan. USU Repository © 2009 . Berhubung hukum keimigrasian harus mengikuti dan tunduk pada asasasas dan kaidah hukum administrasi negara umum (algemene administratiefrecht). hlm. penyidikan atas dugaan terjadinya tindak pidana keimigrasian. dan izin bertempat tinggal di Indonesia.48 pengawasan orang asing yang berada di wilayah Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). sebagai bagian dari penyelenggaraan kekuasaan eksekutif. Op.cit. tetapi telah bertalian juga dengan pencegahan orang keluar wilayah Indonesia dan penangkalan orang masuk wilayah Indonesia demi kepentingan umum. Maka. serta pengaturan prosedur keimigrasian dan mekanisme pemberian izin keimigrasian. seperti tata cara bepergian ke luar negeri. hal. Pertama. 14 Januari 2000. 7 27 26 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

2007. asas legalitas. sebab tindakan atau keputusan yang bertentangan dengan asas legalitas dapat mengakibatkan tindakan atau keputusan yang bersangkutan batal demi hukum. yaitu setiap tindakan pejabat administrasi negara dilaksanakan menurut ukuran hukum yang berlaku mencakup ukuran kewenangan. 9 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. asas-asas umum penyelengaraan administrasi yang baik (general principles of good administration) yang mencakup asas persamaan perlakuan. asas motivasi yang benar. Oleh karena itu setiap tindakan yang bertentangan dengan asas penyelenggaraan pemerintahan yang baik dapat dijadikan dasar tuntutan bagi koreksi dan pelaksanaan kewajiban hukum apratur keimigrasian atau ganti rugi apabila sudah tidak mungkin lagi dipulihkan. ukuran isi tindakan atau isi keputusan. 28 28 Ibid. USU Repository © 2009 . disertai ganti rugi. asas tidak sewenang-wenang. dan asas keterbukaan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2. ukuran tata cara melakukan tindakan atau membuat keputusan. asas larangan melampaui wewenang. Setiap keputusan yang bertentangan dengan asas penyelenggaraan pemerintahan yang baik dapat dijadikan dasar tuntutan atau pembatalan. hal. yaitu: 1. asas dapat dipercaya. asas keseimbangan. asas kepastian hukum.49 terdapat dua asas umum yang harus diterapkan dalam setiap implementasi peran keimigrasian.

serta kelembagaan dari setiap kegiatan interaksi ekonomi. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. izin tinggal terbatas. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). KITAS ini merupakan produk administrasi negara yang berasal dari kaidah keimigrasian. Hal yang membuktikan bahwa kaidah hukum keimigrasian merupakan bagian dari hukum ekonomi dalam arti sempit adalah ketika kepemilikan hak orang asing atas satuan rumah susun (apartemen dan kondominium) di Indonesia hanya diberikan apabila orang asing tersebut adalah pemegang KITAS (Kartu Izin Tinggal Terbatas). Karena semakin banyak peraturan yang mengatur bidang perekonomian dengan menggunakan kaidah hukum administrasi negara ini. seperti izin kunjungan.50 Dalam perspektif yang lebih besar lagi. ataupun tetap. terbentuklah bidang hukum baru yang disebut hukum ekonomi dalam arti sempit. USU Repository © 2009 . Demikian pula dengan pemberian izin keimigrasian. dapat dikatakan bahwa hukum keimigrasian merupakan bagian dari hukum ekonomi. yang diberi nama droit economique. proses. 2007. aktivitas perdagangan. sebab melalui hukum. juga diberikan kepastian mengenai subjek dan objek hukum dalam setiap kegiatan ekonomi. hukum mempunyai peranan yang penting bagi keberhasilan pembangunan ekonomi. dan pembicaraan traksaksi bisnis. Dalam perspektif pembangunan nasional. yang dikaitkan dengan investasi pekerjaan. selain ditetapkan hak dan kewajiban.

1996. hal. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian 1. Hukum Kewarganegaraan dan Keimigrasian Indonesia. 74. 29 Pasal 2 sampai 9 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) mengatur mengenai batas-batas berlakunya perundang-undangan hokum pidana menurut Koerniatmanto Soetoprawiro. Oleh karena itu. USU Repository © 2009 29 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Indonesia merasa perlu untuk mengatur permasalahan orang asing yang berada di Indonesia. 2007. yaitu warga Negara Indonesia (WNI) dan orang asing atau warga negara asing (WNA). Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Ketentuan Keberadaan Warga Negara Asing (WNA) di Indonesia Menurut Undang-undang RI No. Visa sebagai izin masuk Penduduk Indonesia pada hakikatnya terdiri atas dua golongan.51 BAB III PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PENYALAHGUNAAN IZIN KEIMIGRASIAN A. Gramedia Jakarta.

2. 31 30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Di dalam Buku Petunjuk Keimigrasian Republik Indonesia Bagian I Visa dan Izin Tinggal disebutkan: 33 Moeljatno. Buku Petunjuk Keimigrasian RI Bagian I Visa Izin Tinggal. yaitu: 30 1. 2000. Asas-asas Hukum Pidana. hal. 1982. Sesuai dengan ketentuan ketentuan Undang-undang RI Nomor 9 tahun 1992 tentang keimigrasian. 2007. dalam pasal 6 ayat 1 disebutkan bahwa “setiap orang asing yang masuk wilayah Indonesia wajib membawa Visa”. juga diluar wilayah negara (asas personal atau juga dinamakan prinsip nasional aktif). Departemen Kehakiman RI. baik dilakukan oleh warga negaranya sendiri maupun oleh negara asing (asas teritorial).52 tempat terjadinya perbuatan. Lihat Pasal 6 ayat (1) Undang-undang RI No. hal. 2. 33 Direktorat Jendral Imigrasi. 10. Jakarta. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Perundang-undangan hukum pidana berlaku bagi semua perbuatan pidana yang dilakukan oleh waraga negara. 31 Oleh karena itu setiap orang asing yang masuk wilayah Indonesia wajib memiliki visa. dimana saja. ada beberapa pengertian visa yang dapat dikemukakan. Perundang-undangan hukum pidana berlaku bagi semua perbuatan pidana yang terjadi dalam wilayah negara. Tugas Pokok dan Fungsi Direktorat Jendral Imigrasi. 1983. Rineka Cipta. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). ada dua kemungkinan pendirian. Jakarta. Jakarta. Ditinjau dari sudut negara. 38. 32 Hadi Kiswanto. hal. antara lain: Menurut Hadi Kiswanto:32 “Visa adalah izin tertulisuntuk masuk ke suatu negara yang tercantum dalam surat perjalanan”.

29. 142. WJS Poerwadarnita.53 “Visa adalah izin tertulis yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang di dalam papor kebangsaan yang menyatakan bahwa yang bersangkutan dapat mengadakan perjalanan ke negara yang dituju”. hal. M. 07. USU Repository © 2009 . 1986. Hal ini sejalan dengan tugas pokok Direktorat Jendaral Imigrasi yang tertuang dalam keputusan Menteri Kehakiman RI No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian menyebutkan: “Visa adalah izin tertulis yang diberikan oleh pejabat yang berwenang pada Perwakilan Republik Indonesia atau di tempat lainnya yang ditetapkan olah Pemerintah Republik Indonesia yang memuat persetujuan bagi orang asing untuk masuk dan melakukan perjalanan ke wilayah Indonesia. PR. 2007. 35 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Balai Pustaka. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian.04 Tahun 1981 yang menyatakan sebagai berikut: “Tugas Pokok Direktorat Jendral Imigrasi adalah mengtaur dan mengawasi lalu lintas antar Republik Indonesia dengan negara lain serta menyelenggarakan pengawasan orang asing dalam wilayah negara 34 WJS Poerwadarninta.” Sedangkan menurut Undang-undang RI No. Jakarta. Lihat Pasal 1 butir 7 Undang-Undang RI No.” 35 Maksud dan tujuan pemberian visa menurut petunjuk Pusdiklat Departemen Kehakiman Republik Indonesia yaitu untuk dapt mengendalikan serta mengawasi lalu lintas orang asing yang keluar nasuk (ke dan dari) wilayah Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan: 34 “Visa adalah izin untuk keluar atau masuk ke sesuatu negara. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Visa ini diberikan kepada orang asing yang maksud dan tujuan kedatangannya di Indonesia tidak menimbulkan gangguan terhadap ketertiban dan keamanan nasional. 2007. hal. Berdasarkan prinsip ini. 32 Tahun 1994 tentang Visa. Beberapa Pedoman dan Ketentuan Tentang Imigrasi dan Ketatalaksanaan: Bahan Penataran Administrasi Apratur Kehakiman. 37 Lihat dalam Penjelasan Umum Undang-undang RI No. ada lima jenis visa: 38 a. 37 Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. ketentraman. tetapi tugas tersebut tidak bersifat Diplomatik. bangsa dan negara Republik Indonesi serta tidak membahayakan keamanan dan ketertiban. dan keamanan nasional. Pusdiklat Pegawai Departemen Kehakiman. Visa Dinas. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). diberikan kepada orang asing pemegang Paspor Dinas yang hendak bepergian ke Indonesia untuk melaksanakan tugas resmi dari Pemerintah asing yang bersangkutan atau diutus oleh Organisasi Internasional. Izin masuk dan Izin Keimigrasian. Jakarta. 6. juga tidak bermusuhan baik terhadap rakyat. 32 Tahun 1994 tentang Visa. b.54 Republik Indonesia demi menjamin ketertiban. Visa Diplomatik. 38 Lihat Pasal 1-17 PP No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian.” 36 Menurut Undang-undang No. Hal ini sejalan dengan prinsip yang bersifat “selekrif” (selective policy). diberikan kepada orang asing pemegang Paspor Diplomatik yang hendak bepergian ke Indonesia dengan tugas Diplomatik. USU Repository © 2009 36 . Izin Masuk dan Izin Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. hanya orang asing yang dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat. maupun negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang diizinkan masuk ke wilayah Indonesia. 1982.

e. dapat diberikan kepada orang asing untuk tinggal di wilayah Negara Republik Indonesia paling lama satu tahun terhitung sejak tanggal diberikannya izin masuk di wilayah Negara Republik Indonesia. d. Bebas visa kunjungan singkat (BVKS) Pada dasarnya setiap orang yang akan memasuki suatu negara harus memiliki visa. 2. 2007. dapat diberikan kepada orang asing untuk berkunjung di wilayah Negara Republik Indonesia paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikannya Izin Masuk di wilayah Negara Indonesia.55 c. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Visa Kunjungan. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian dinyatakan: 39 “dikecualikan dari kewajiban memiliki visa bagi orang asing yang masuk wilayah Indonesia adalah: 39 Lihat Pasal 7 Undang-undang RI No. Visa ini diberikan untuk singgah di wilayah Negara Indonesia paling lama 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal diberikannya izin masuk di wilayah Negara Republik Indonesia. yaitu visa Kunjungan untuk beberapa kali melakukan perjalanan dari dan ke wilayah Negara Republik Indonesia. Visa Singgah. Dalam hal ini orang asing dapat menggunakan Multipel Visa. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Visa Tinggal Terbatas. dapat diberikan kepada orang asing untuk singgah di wilayah Negara Republik Indonesia untuk meneruskan perjalanan ke negara lain atau kembali ke negara asal. USU Repository © 2009 . tetapi dalam pasal 7 Undang-undang No.

Biasanya kemudahan ini diberikan untuk kepentingan negara tersebut yaitu agar orang asing lebih banyak masuk ke negaranya dan ini akan menghasilkan devisa. Dalam hal tertentu. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Penumpang transit di Pelabuhan atau Bandar Udara diwilayah Indonesia sepanjang tidak keluar dari tempat transit yang berada di daerah tempat Pemeriksaan Imigrasi. 2007. 9. 1984. Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. warga negara ASEAN dapat saling masuk ke negara-negara ASEAN lainnya tanpa terlebih dahulu meminta visa. Orang asing yang memiliki Ijin masuk kembali c. Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN). maka waraga negara dari negara tersebut juga mendapatkan pembebasan visa apabila akan ke negara asing tertentu. seperti yang disebutkan pada huruf (a) diatas. Kapten atau Nakoda kapal dan awak yang bertugas pada alat angkut yang berlabuh dipelabuhan atau mendarat di Bandar Udara di wilayah Indonesia d. dkk). Jakarta. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). hal. Orang asing warga negara dari negara yang berdasarkan keputusan Presiden tidak diwajibkan memilki visa b. terdapat negara-negara yang diberikan kemudahan kepada orang asing untuk masuk ke suatu negra Indonesia dengan tidak memerlukan visa. USU Repository © 2009 40 . “Analisa dan Evaluasi tentang Pengaturan Fasilitas Bebas Visa wisata bagi Orang Asing yang Berkunjung ke Indonesia” (Laporan Penelitian).56 a. 40 Selain itu juga pemberian kemudahan tersebut juga didasarkan kepada azas resiprositas yaitu negara yang memberikan kemudahan bebas visa terhadap waraga asing tertentu. Sebagai contoh.

Malta 27. Belanda 7. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Mesir 29. Arab Saudi 3. social budaya dan usaha. 2002. Direktorat Jendral Imigrasi. hal. pembicaraan bisnis dan penjajakan memperluas usaha bisinis di Indonesia. Nepai 33. 24-25 42 Berdasarkan Data Kantor Imigrasi Polonia Medan Tahun 2001. Jakarta. 44. melakukan penelitian dan kunjungan yang bersifat sosial budaya. Austria 6. Myanmar 32. Brunai Darussalam 10. Adapun negara-negara penerima BVKS. Chili 41 41 24. Kunjungan sosial budaya adalah kunjungan dalam rangak mengunjungi family. Pintu Gerbang No. Kunjungan wisata adalah perjalanan mengunjungi Indonesia untuk berlibur. sedangkan kunjungan usaha adalah kunjungan dalam rangaka membina hubungan bisnis. Brazil 9. Amerika Serikat 2. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 . adalah: 42 1. “Aspek Ilmu Perundang-undangan BVKS Bagian I”. Maldive 26. menikmati objek-objek wisata dan lain-lain. Norwegia Lukman Bratamidjaja. Orang asing yang diberikan BVKS ini dapat melakukn kegiatan-kegiatan sebagaimana tersebut diatas dengan catatan dilarang melakukan kegiatan yang sifatnya bekerja. Orang asing yang diberi fasilitas BVKS dapat melakukan kegiatan seperti kunjungan wisata.57 Pemerintah Republik Indonesia dengan peraturan perundang-undangan berupa Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No.02. Maroko 28. Mexico 30. Argentina 4. Monaco 31.01 tahun 1993 tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS). Belgia 8. Malaysia 25. 2007. memberikan kemudahan kepada waraga negara dari + 46 negara dapat masuk ke wilayah Indonesia selama 2 (dua) bulan. Australia 5.01. M.

Hungaria 15. Imigrasi. hal. Irlandia 17. USU Repository © 2009 43 . Selandia Baru 37. Singapura 39. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. 44 Lihat Pasal 1 angka 3 Undang-undang RI no. 44 Paspor berfungsi sebagai surat perjalanan yang digunakan untuk meninggalkan dan memasuki kembali negara yang bersangkutan. Hongkong 14. Luxemburg 34. Jerman 21. Philipina 36. Taiwan 42. Inggris 16.58 11. Thailand 44. 2007. Korea Selatan 23. Yunani 3. 43 Sedangkan menurut Undang-undang RI No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Italia 19. PT. Israel 18. Uni Emirat Arab 46. Swiss 41. Pabean. Jepang 20. Kanada 22. Denmark 12. Prancis 35. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian menyatakan: “surat perjalanan adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang dari suatu negara yang memuat identitas pemegangnya dan berlaku untuk melakukan perjalanan antar negara”. Turki 45. Gramedia Pustaka. 39. Surat perjalanan republik Indonesia (Paspor) Paspor adalah sebuah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh suatu badan pemerintah yang berwenang untuk bangsanya atau untuk penduduk asing. Spanyol 38. Felix Hadi Mulyatno dan Endar Sugiarto. Tanzania 43. dan memasuki dan meninggalkan negara lain yang mempunyai hubungan diplomatik dengan negara yang mengeluarkan paspor tersebut. 1997. Orang yang ingin mengunjungi negara lain harus mengetahui apakah paspornya berlaku untuk negara yang akan dituju R. dan Karantina. Swedia 40. Jakarta. Finlandia 13.

diberikan kepada warga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dalam rangka penamatan atau tugas yang bersifat diplomatik c. Kebangsaan seseorang bisa dilihat pada kartu identitasnya. dan mereka boleh menggunakan kedua paspor mereka. Ibid. 46 Dalam pasal 29 Undang-undang No. misalnya Cina dan Indonesia. Itu bukan berarti bahwa pemegang paspor dari negara yang mengeluarkan paspor tersebut adalah warga negaranya. diberikan kepada waraga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dalam rangka menunaikan inbadah haji. diberikan kepada orang asing yang pada saat diberlakukannya undang-undang ini telah memliki izin tinggal tetap akan 45 46 R. hal. b. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian disebutkan Surat Perjalanan Republik Indonesia terdiri atas: 47 a. misalnya dipaspor atau kartu penduduk. Op. Itu sebabnya kita dulu mengenal “Dwi Warga Negara”. diberikan kepada warga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar negeri (keluar wilayah Indonesia) secara normal. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). hal. Disamping itu. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 40 47 Lihat Pasal 29 Undang-undang No. Papor biasa. cit. Felix Hadi Mulyatno dan Endar Sugiarto. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. yang artinya seseorang bias mempunyai dua warga negara. 40. 2007.59 atau tidak 45. Paspor diplomatik. USU Repository © 2009 . d. Paspor Haji. kita juga harus mengetahui apakah paspor berlaku untuk negara transit yang akan disinggahi dalam perjalanan menuju ke negara tujuan atau tidak. Paspor untuk orang asing.

diberikan kepada warga negara Indonesia dalam keadaan khusus apabila tidak mendapatkan paspor dinas. 2007. Surat perjalanan laksana paspor dinas. f. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Warga negara asing (WNA) yang masuk ke Indonesia pada umumnya atau kota medan khususnya. USU Repository © 2009 . diberikan dalam keadaan khusus apabila paspor biasa tidak diberikan. e. Masa berlakunya paspor adalah 5 (lima) tahun. diberikan kepada warga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dalam rangka dinas/tugas dari pemerintah. Paspor dinas. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). dan dikenakan tindakan pengusiran atau deportasi atau dalam keadaan tertentu yang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional diberi izin untuk masuk ke wilayah Indonesia. h. yang bukan bersifat diplomatik. Sedangkan untuk WNI yang berdomisili di luar negeri masa berlakunya paspor adalah 2 tahun. Surat perjalanan laksana paspor untuk orang asing. menggunakan fasilitas BVKS maupun menggunakan visa Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Surat perjalanan laksana paspor untuk warga negara Indonesia. g.60 melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dan tidak mempunyai surat perjalanan serta dalam waktu yang dianggap layak tidak dapat memperolehnya dari negaranya atau negara lain. dapat diberikan kepada orang asing yang tidak mempunyai surat perjalanan yang sah dan atas kehendak sendiri keluar dari wilayah Indonesia sejauh dia tidak terkena pencegahan. B.

02 tahun 1993 tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS). dan pemberian tenggang waktu pada izin kunjungan wisata yang terlalu lama atau karena faktor petugas imigrasi sendiri. Hal ini dimannfaatkan oleh warga negara asing untuk menyalahgunakan izin keimigrasian. Kunjungan sosial budaya c. Penyalahgunaan tersebut bisa terjadi karena faktor-faktor ruang lingkup fasilitas bebas visa yang dinilai terlalu luas. Kunjungan wisata b. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. tetapi kenyataannya ada juga wisatawan yang menyalahgunakannya untuk keperluan lain sebagai sampingan bahkan ada juga wisatawan yang sama sekali tidak berwisata. USU Repository © 2009 . Kantor Imigrasi Polonia Medan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Kunjungan sosial budaya 48 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim.61 wisata akan mendapat izin kunjungan wisata sesuai dengan izin masuk baik dengan visa atau bebas visa. 48 1. 2007. yang meliputi: a. Di dalam izin kunjungan tersebut dijelaskan bahwa izin kunjungan digunakan penggunaannya untuk berwisata.01-12. M. Keputusan Menteri Kehakiman tersebut mengatur pelaksanaan teknis bebas visa.01. Kunjungan usaha Kunjungan wisata adalah perjalanan mengunjungi Indonesia untuk berlibur. Ruang lingkup fasilitas bebas visa Menurut Keputusan Menteri Kehakiman No. menikmati objek-objek wisata dan lain-lain.

2007. yang merupakan fasilitas untk kunjungan khusus wisata. 9 51 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim. dkk).01. 50 Oleh karena itu.01-12. Keputusan Menteri ini bertujuan memperjelas kepastian dan batasan fasilitas bebas visa. sedangkan kunjungan usaha adalah kunjungan dalam rangaka membina hubungan bisnis. Op. hal.02 tahun 1983 tentang Pelaksanaan Pembebasan Keharusan memiliki visa bagi wisatawan asing. 25 Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. M. USU Repository © 2009 .01-12. pembicaraan bisnis dan penjajakan memperluas usaha bisnis di Indonesia. cit.01. masih saja ditemukan penyalahgunaan oleh warga negara asing (WNA) yang melakukan perjalanan wisata atau yang biasa disebut wisatawan asing. tujuan pemberian fasilitas Bebas Visa Wisata (BVW) sudah diatur secara tegas. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Op. cit. 49 Keputusan Menteri Kehakiman ini merupakan suatu kebijaksanaan pemerintah yang memperluas pemberian fasilitas bebas visa jika dibandingkan dengan ketentuan yang diatur dalam Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No.62 adalah kunjungan dalam rangak mengunjungi family.02 tahun 1983 tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS). M. misalnya bekerja atau berusaha atau bahkan ada yang mengedarkan ganja atau narkotika. Hal ini yang mendasari diterbitkan Keputusan Menteri Kehakiman No. hal. 51 Hasil penelitian Timi Evaluasi dan Analisa dari Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) yang dilakukan sejak tahun 1992-1993 disejumlah daerah 49 50 Lukman Bratamidjaja. Namun. melakukan penelitian dan kunjungan yang bersifat sosial budaya. Kantor Imigrasi Polonia Medan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

01-12. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 1. Tenggang waktu fasilitas bebas visa Sebagaimana telah diketahui mengenai tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa untuk wisata telah beberapa kali diatur. kegagalan ini telah dimanfaatkan orang asing sebagai salah satu cara masuknya imigran gelap ke Indonesia. menyebutkan adanya pelanggaran terhadap pemberian fasilitas Bebas Visa Wisata (BVW) yang telah diatur dalam Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. setelah ruang lingkup fasilitas bebas visa dalam BVKS diperluas tetap saja ditemukan pelanggaran yang sama. Kemudian. Universitas Udayana dan PDII LIPI (Jakarta). Denpasar.02 tahun 1983. “Usaha Penaggulangan Tindak Pidana Imigrasi dan Imigrasi Gelap di Kota Madya Denpasar”. 1993. 52 2. 2007. 23 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. yaitu dalam: Tabel. dkk. Masa Tenggang Waktu Pemebrian Fasilitas Bebas Visa Bentuk Peraturan PP No.63 wisata di Indonesia mengenai Pengaturan Fasilitas Bebas Visa Wisata (BVW) bagi orang asing yang berkunjung ke Indonesia. M. hal. 26 tahun 1970 tentang Koordinasi Pengawasan Orang Asing yang Berkunjung ke Indonesia SKB Menteri Luar Negeri dan Menteri Kehakiman tentang Peraturan Visa Keputusan Menteri Kehakiman Bebas Visa Wisata (BVW) tentang Tahun 1970 Tenggang Waktu 7 (tujuh) hari 1979 30 (tiga puluh) hari + 15 (lima belas) hari 60 (enam puluh ) hari atau 2 (dua) bulan 60 (enam puluh) hari atau 2 (dua) bulan 1983 Keputusan Kehakiman tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS) 1993 Sumber: Hasil Investarisasi Peraturan Perundang-undangan Bebas Visa Wisata Tahun 1970-1993 I Wayan Tangun Susila. USU Repository © 2009 52 . Laporan Penelitian. Olah karena itu.01.

2007. Alasan-alasan yang dikemukakan adalah: H. 6-8. Lamanya jangka waktu ini ternyata dapat memberikan peluang bagi wisatawan asing untuk melakukan pelanggaran dengan berbagai motivasi. Sedangkan bagi orang asing yang akan bekerja di Indonesia sudah ad pengaturannya. hal. Tetapi tenggang waktu 2 (dua) bulan ini dirasakan terlalu panjang atau lam. yaitu mempunyai Izin Tinggal Terbatas dan memiliki Izin Kerja yang diberikan oleh Menteri Tenaga Kerja. 53 Berdasarkan hasil penelitian oleh Tim Evaluasi dan Analisa terhadap responden yaitu para wisatawan asing tentang waktu pemberian fasilitas bebas visa adalah sebagai berikut: 54 1. 1996.64 Perkembangan tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa bagi wisatawan dimaksudkan untuk mendukung pertumbuhan kepariwisataan dan meningkatkan arus wisatawan. S. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). seperti disalahgunakan untuk bekerja. hal. Pedoman Penggunaan Tenaga Kerja Asing di Indonesia dan Peraturanperaturannya. dkk). Sjarif. Op. Sinar Grafika. USU Repository © 2009 53 . cit. Tenggang waktu wisatawan di Indonesia selama 2 (dua) bulan merupakan pendapatan bagi pengelola wisata. Jakarta. 54 Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. Hal ini dikarenakanjarang sekali wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia selama 2 (dua) bulan untuk berwisata saja. 16-17 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa untuk wisata yang paling ideal adalah 1 (satu) bulan dan dapat diperpanjang selama 30 (tiga puluh) hari.

C. Jarang sekali wisatawan asing yang berwisata sampai 3 (tiga) bulan. Pemasukan devisa dapat memenuhi target yang diharapakan. Terutama para petugas yang bertugas di Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. d. c. Tenggang waktu pemberian fasilitas bebas visa selama2 (dua) bulan apalagi 3 (tiga) bulan dipandang tidak ideal. Terlalu lama. d. sebab objek wisata di Indonesia sangat banyak dan menarik. 2007. meskipun ataruan tentang keimigrasian telah baik. Tidak dapat dipungkiri. Pengawasan terhadap orang asing bisa terkendali. c. USU Repository © 2009 . sebab: a. 2. harus didukung oleh mental petugas yang baik pula. b. b.65 a. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Pemberian fasilitas bebas visa selam 1 (satu) bulan dirasakan masih kurang bagi sebagian besar wisatawan asing. Pengawasan terhadap orang asing memerlukan perhatian yang lebih seksama. Bisa disalahgunakan untuk tujuan lain selain berwisata. Petugas Imigrasi Peranan petugas imigrasi dalam hal pengawasan sangat besar. Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa lama masa kunjungan wisatawan asing ke Indonesia rata-rata antara 3 (tiga) sampai 4 (empat) minggu saja.

USU Repository © 2009 . Hal ini bertujuan untuk mengetahui secara dini setiap peristiwa yang dapat diduga mengandung unsureunsur pelanggaran keimigrasian. 3. System pelaporan. Op. 55 56 I Wayan Tangun Susila. cit. 25-30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. hal. maka orang asing tersebut akan leluasa berkeliaran di Indonesia. dan diadakan peninjauan ke lokasi. 55 Hasil pengawasan terhadap orang asing yang berkunjung. dan juga membuat daftar terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh orang aing yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi penindakan imigrasi. khususnya yang menggunakan fasilitas bebas visa untuk wisata menunjukkan perlu adanya pemantauan kegiatan-kegiatan yang dilakukan. kemudian saat orang asing tersebut mendarat di wilayah Republik Indonesia harus juga diperiksa dan ketika orang asing tersebut berada tinggal di Indonesia. Tahap pengawasan. cit. yaitu dilakukan mulai pada saat orang asing mengurus izin masuk ke Indonesia di luar negeri. Mekanisme pengawasan tersebut adalah sebagai berikut: 56 1. 2007. dkk).66 pintu-pintu masuknya orang asing ke Indonesia. hal. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2. apabila mereka bertindak masa bodoh. dkk. yaitu secara administrarif tentang perizinannya. wawancara/ilicting untuk mencari mengetahui kebenaran materil terhadap keberadaan orang asing yang berkunjung. sebaiknya memiliki satu sistem database diseluruh Indonesia yang dapat diakses oleh semua petugas imigrasi dimanapun berada. Tekhnik pengawasan. 21 Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. Op.

hal. 2007. Departemen Kehakiman c. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).67 4. Tenaga kerja. sepanjang yang menyangkut masalah: 57 a. karena dari segi kauntitas petugas imigrasi sangat kurang untuk mengawasi keadaan setiap oarng asing dalam segala kegiatan mereka di Indonesia. Pos dan Telekomunikasi 2) Departemen Luar Negeri 3) Departemen Dalam Negeri 4) Polri c. 19-30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. q Direktorat Jenderal Imigrasi melakukan kerja sama dengan: 1) Departemen Tenaga Kerja 2) Departemen Luar Negeri 3) Badan Koordinasi Penanaman Modal 4) Polri 5) Pemda dan Departemen Tekhnis b. Koordinasi dengan instansi terkait. Departemen Kehakiman bekerja sama dengan: 1) Departemen Pariwisata. USU Repository © 2009 . Pos dan Telekomunikasi 2) BAKIN (BIN) 57 Ibid. Tourist. Artis Asing. maka harus melakukan koordinasi dengan instansi pemerintah lainnya. maka Menteri Kehakiman sebagai yang bertanggung jawab dalam pengawasan orang asing dan dalam dalam hal ini lebih dititik beratkan kepad imigrasi. Departemen KEhakiman bekerja sama dengan: 1) Departemen Pariwisata.

68 3) Departemen Luar Negeri 4) Departemen Tenaga Kerja 5) Polri 6) Pemda/Departemen Luar Negeri d. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). namun dalam pelaksanaannya masih saja terdapar orang asing yang melakukan pelanggaran atau penyalahgunaan. misalnya mengenai Cletering house mengenai masalah izin masuk warga RRC dan lain-lain. Departemen Kehakiman bekerja sama dengan: 1) Departemen Perhubungan 2) Departemen Luar Negeri 3) Departemen Pertanian 4) TNI Angkatan Laut e. 2007. Departemen Kehakiman melakukan koordinasi dengan: 1) BAKN 2) BIN 3) Polri 4) Kejaksaan Agung 5) Departemen Tenaga Kerja 6) Pemda Meskipun pengawasan terhadap orang asing yang berkunjung ke Indonesia sudah diatur dan mekanismenya sudah sedemikian rupa. USU Repository © 2009 . Hal ini terjadi karena pengawasan yang kurang efektif dari Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Awak Kapal. Masalah khusus.

dkk. Op. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Satu diantaranya adalah penyalahgunaan izin masuk ke Indonesia yaitu izin kunjungan wisata yang pada dasarnya telah melanggar ketentuan Undang-undang keimigrasian. yaitu: 1. hal. 2007. 28 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Upaya preventif Terjadinya tindak pidana keimigrasian tidak terlepas dari masalah pengawasan orang asing.69 Petugas Imigrasi yang terbatas. Karena salah satu faktor penyebab terjadinya penyalahgunaan izin keimigrasian adalah kurangnya koordinasi petugas keimigrasian dengan instansi lain. C. sangata penting koordinasi dengan instansi lain. Upaya Penanggulangan Tindak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Penanggulangan adalah cara mengatasi terjadinya sesuatu tindak pidana keimigrasian. hal. cit. 59 58 59 I Wayan Tangun Susila. 58 Usaha penanggulangan terjadinya pelanggaran ketentuan keimigrasian dibedakan atas dua upuya. Karena itu. 28 Ibid. Pengawasan yang kurang terhadap orang asing yang masuk ke Indonesia dapat menimbulkan tindakan yang mengarah kepada kejahatan maupun pelanggaran. USU Repository © 2009 .

70

Dalam bagian Penjelasan Umum UU no. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian ditegaskan bahwa terhadap orang asing, pelayanan, dan pengawasan di bidang keimigrasian dilakukan dengan prinsip yang bersifat “selektif” (selective policy) . 60 berdasarkan prinsip ini, hanya orang asing yang diizinkan masuk ke Indonesia adalah orang asing yang memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat, bangsa dan negara Republik Indonesia serta tidak membahayakan keamanan dan ketertiban, juga tidak bermusuhan baik terhadp rakyat, maupun terhadp negra Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Dengan demikian orang asing yang ingin masuk dan menetap di wilayah Indonesia harus dipertimbangkan dari berbagai segi, baik dari segi politik, ekonomi maupun sosial budaya bangsa dan negara Indonesia. Sikap dan cara pandang seperti ini merupakan hal yang wajar, terutama bila dikaitkan dengan pembangunan nasional, kemajuan ilmu dan teknologi, perkembangan kerja sama regional meupun internasional, dan meningkatnya arus orang asing yang masuk dan keluar wilayah Indonesia. Untuk menjamin kemanfaatan orang asing tersebut dan dalam rangka menunjang tetap terpeliharanya stabilitas dan kepentingannasioanl, kedaulatan negara, keamanan dan ketertiban umum serta kewaspadaan terhadap dampak negatif yang timbul akibat perlintasan orang antar negara, keberadaan dan

Arief Rahman Kunjono, “Illegal Migrants dan Sisitem Keimigrasian Indonesia: suatu tinjauan Analisis”, Pintu Gerbang No. 44, Direktorat Jendral Imigrasi, Jakarta, 2002, hal. 27
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

60

71

kegiatan orang asing di wilayah Indonesia, dipandang perlu melakukan pengawasan bagi orang asing dan tindakan keimigrasian keimigrasian secara tepat, cepat, teliti dan terkoordinir tanpa mengabaikan keterbukaan dalam memberikan pelayanan orang asing. Makna dari pengawasan mempunyai pengertian yang luas dan mengandung pengertian yang positif. Pengawasan berarti juga mengadakan pengendalian serta bimbingan penyuluhan yang ditujukan untuk mengadakan perbaikan yang diikuti dengan pemecahannya. 61 Dapat dikatakan, proses pengamatan dan penghayatan seluruh kegiatan dilakukan sesuai dengan peraturan-peraturan, instruksi, dan kebijaksanaanyang berlaku. Di dalam pengawasan yang penting adalah mengetahui apakah dalam pelaksanaan tugas-tugas terjadi penyimpangan atau kesalahan. Hal ini secara preventif agar dilaksanakan sedini mungkin supaya tidak terjadi adanya pelanggaran-pelanggaran yang bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku. Sistem pengawasan keimigrasian adalah suatu sistem pengawasan terhadp orang asing, sisitam itu meliputi pengamatan dan pemeriksaan segala kegiatannya mulai dari rencan dan beradanya orang asing di Indonesia sampai dengan meninggalkan Indonesia (the equality of service and security.) 62 Hal ini ditegaskan Pasal 38 ayat (1), Undang-undang No. 9 tahun 1992, yaitu: 63 (1) Pengawasan terhadap orang asing di Indonesia meliputi:

61 62

I Wayan Tangun Susila, dkk, Loc, cit. Arief Rahman Kunjono, Loc, cit. 63 Lihat pasal 38 ayat (1) Undang-undang RI no. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian.
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

72

a. Masuk dan keluarnya orang asing ke dan dari wilayah Indonesia b. Keberadaan serta kegiatan orang asing di wilayah Indonesia. Perihal pengawasan orang asing diatur dalam Undang-undang no. 9 tahun 1992, seperti pada Bab VI tentang pengawasan terhadap orang asing dan tindakan keimigrasian. Pelaksanaan pengawasan terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia dilakukan oleh Menteri Kehakiman dan HAM dengan koordinasi bersama badan dan instansi yang terkait (Pasal 41 UU No. 9 tahun 1992). Dalam hal ini diadakan pemantapan mekanisme koordinasi dan operasi antara instansi yang terkait dalam rangka pengawasan orang asing, instansiinstansi tersebut akan melakukan tugas dan wewenangnya masing-masing sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Koordinasi dimaksudkan untuk memaksimalkan daya guna dan hasil guna pengawasan terhadap orang asing. Tujuan pengawasan tersebut untuk mewujudkan prinsip selective policy yang dipandang perlu dalam mengawasi orang asing. 64 Untuk kelancaran dan ketertiban dalam mengawasi orang asing, pemerintah telah menyelenggarakan pendaftaran orang asing yang berada di wilayah Indonesia sehingga dapat dihimpun data mengenai orang asing. Seperti disebutkan, Direktorat Jendral Imigrasi Departemen Kehakiman dan HAM

64

Koerniatmanto Soetoprawiro, Op. cit, hal. 90-91

Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009

13 66 Lihat pasal 39 Undang-undang no. “Imigrasi Daftar Ulang Warga Negara Asing”. perubahan status sipil dan kewarganegaraan. 2. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Masuk atau keluar wilayah negara Republik Indonesia. b. 3. Berada di wilayah negara Republik Indonesia. hal. 2007. 65 Pendaftaran ulang pada tahun 2001 lalu adalah untuk pertama kalinya sejak Undang-undang no. Memberikan segala keterangan yang perlu mengenai identitas diri dan /atau keluarganya. USU Repository © 2009 65 . Pada pasal 39 Undang-undang no. 200. 9 tahun 1992 disebutkan bahwa dalam menyelenggarakan pendaftaran orang asing yang ada di Indonesia berkewajiban untuk: 66 a. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. c. Pengumpulan data dengan cara pengawasan orang asing ini dilaksanakan bagi setiap orang asing yang: 1. serta perubahan alamatnya. Mendaftarkan diri jika berada di Indonesia lebih dari Sembilan puluh hari. 42. 9 tahun 1992 berlaku dan akan dilakukan setiap lima tahun sekaliberdasarkan peraturan keimigrasian yang berlaku. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Memperlihatkan Surat Perjalanan atau dokumen keimigrasian yang dimilikinya pada waktu diperlukan dalam angka pengawasan. Pintu Gerbang No.73 Republik Indonesia mengadakn pendaftaran ulang warga negara assign secara serentak di seluruh wilayah RI sejak tanggal 10 Agustus-31 Oktober 2001. Jakarta. Melakukan kegiatan di wilayah negara Republik Indonesia. Direktorat Jenderal Imigrasi.

serta memuttuskan apakah dapat diberikan atau tidak berdasarkan pertimbangan kepentingan Ipoleksosbudhankamnas. 29 Saleh Wiramiharja. dkk. Jakarta. Op. 45. “Langkah-langkah Baru Menunjang Peningkatan Profesionalisme Keimigrasian”. Hal itu bertujuan untuk mencegah orang asing tersebut meninggalkan Indonesia karena mereka telah menimbulkan suatu permasalahan selama berada di Indonesia. cit. cit. Direktorat Jenderal Imigrasi. 68 Tahap akhir pengawasan adalah saat meninggalkan Indonesia. 21 69 I Wayan Tangun Susila. hal. Setiap orang asing yang akan datang atau masuk ke wilayah Indonesia haruslah memiliki visa yang merupakan izin masuk ke Indonesia. 2002. 2 Pengawasan orang asing ketika berada di wilayah negara RI Pada saat orang asing sedang menuju atau sudah di pelabuhan pendaratan. 1 Pengawasan orang asing yang masuk atau keluar wilayah RI Pengawasan orang asing sebelum memasuki wilayah Indonesia berhubungan dengan konsulat atau kedutaan RI khusus atas imigrasi untuk melayani dan meneliti secara selektif setiap permohonan visa ke Indonesi.74 1. 2007. baik Bandar udara maupun pelabuhan laut. 69 1. hal. 31 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 . Op. Pintu Gerbang No. diadakan pengawasan yang dilakukan 67 68 I Wayan Tangun Susila. dkk. 67 Pengawasan terhadap orang asing sebelum memasuki Indonesia dilakukan oleh para atase imigrasi pada setiap perwakilan Indonesia di luar negeri pada saat orang asing bersangkutan mengajukan permohonan unutk mendapatkan visa. hal. Oleh karena itu sebaliknya setiap atase atau KBRI dsetiap negara terdapat aparatur imigrasi yang bertugas disana. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

Fungsi pengawasan ini sama juga dengan pengawasan sewaktu hendak mengajukan permohonan mendapatkan visa. Dengan kegiatan diatas.75 ileh petugas imigrasi. yaitu mengawasi apakah orang asing tersebut melakukan kegiatan. b. yaitu: 70 a. baik yang mendarat melalui udara maupun laut. 30 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 1. hal. yaitu pengawasan untuk mencegah masuknya orang-orang assign yang akan menimbulkan permasalahn setelah berada di Indonesia. USU Repository © 2009 . yaitu tindakan yang dilakukan dalam usaha untuk mencegah atau menjaga kemungkinan terjadinya tindak pidana imigrasi dalam hal ini yaitu tindak 70 Ibid. Dari segi Ipoleksosbudhankamnas. Pengawasan terhadap orang asing yang telah mendapatkan izin masuk di Indonesia dapat dilihat dari dua segi. yaitu mengawasi apakah kegiatan yang dilakukan oleh orang asing tersebut menimbulkan benturan-benturan yang mengganggu kepentingan ketahanan dan keamanan nasional atau tiadak. 2007. 3 Pengawasan orang asing yang melakukan kegiatan di wilayah RI Pengawasan yang dimaksudkan disini merupakan tindak lanjut dari pengawasan setelah orang asing mendapatkan izin tinggal di Indonesia. Dari segi keimigrasian. dan apakah lamanya tinggal sesuai dengan izin keimigrasian yang diberikan kepadanya. jelaslah apa yang dimaksud dengan tindakan preventif ini.

110 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). losmen atau tempat kediaman teman. Pejabat pendaftaran dibekali pengetahuan tentang kerahasian/ciri-ciri khusus dari paspor-paspor negara lain dan dilengkapi dengan alat sinar ultraviolet dan kaca pembesar maupun dengan teknologi modern.76 pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. Setiap pelabuhan pendaratan memilki contoh-contoh tanda tangan dari pejabat konsuler pada perwakilan Republik Indonesia di luar negeri. hal. 72 Dalam kaitannya dengan penggulangan terhadap orang asing yang menyalagunakan izin keimigrasian dilakukan sesudah terjadinya atau terbukti 71 72 Ibid. Melakukan pengecekan data yang diperoleh dari tempat-tempat wisatawan menginap. yang berwenang menandatangani visa. baik hotel. USU Repository © 2009 . 3. 2007. Kapita Selekta Hukum Pidana. Alumni. 2. 4. 2. 31-32 Soedarto. 1984. Meneliti setiap orang asing atau wisatawan yang hendak masuk lewat wawancara singkat di setiap tempat pemeriksaan imigrasi. Bandung. motel. hal. Upaya Represif Menurut Soedarto yang dimaksud dengan tindakan represif adalah segala tindakan yang dilakukan aparatur penegak hukum sesudah terjadi kejahatan atau tindak pidana. Beberapa usaha preventif sehubungan dengan hal tersebut antara lain sebagai berikut: 71 1.

9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 9 tahun 1992 disebutkan: 73 “orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan pemberian izin keimigrasin yang diberikan kepadanya dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. (2) Tindakan keimigrasian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa: 73 Lihat pasal 50 Undang-undang no. USU Repository © 2009 . dan bisa juga bersifat administrasi.. yaitu: (1) Tindakan keimigrasian dilakukan terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia yang melakukan kegiatan yang berbahaya dan patut akan diduga berbahaya bagi keamanan dan ketertiban umum.” Jadi tindakan yuridis adalah orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan maksud pemberian izin keimigrasian dan harus dibuktikan di pengadilan oleh hakim dan kemudian dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tindakan administrative Menurut pasal 42 Undang-undang no. Tindakan ini bisa bersifat yuridis.(dua puluh lima juta rupiah).77 adanya penyalahgunaan izn keimigrasian.000. 2.000. atau tidak menghormati atau menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2. 2007. 9 tahun 1992 tenang keimgrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 tahun 1992 yang mengatur mengenai tindakan keimigrasian terhadap orang asing di wilayah Indonesia. 25. 1. Tindakan yuridis Dalam pasal 50 undang-undang no. 2.

. begitu juga tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian yang diberikan kepadanya.000. Pengusiran atau deportasi dari wilayah Indonesia atau penolakan masuk ke wilayah Indonesia.(dua puluh lima juta rupiah). Keharusan untuk bertempat tinggal disuatu tempat tertentu di wilayah Indonesia d. USU Repository © 2009 . pengusiran (deportasi) dan memasukkan orang asing yang terlibat ke dalam daftar pencegahan dan penangkalan atau cekal (black list). 25. Larangan untuk berada di suatu atau beberapa tempat tertentu di wilyah Indonesia c. Pembatasan. Pemidanaan Fungsi pemidanaan adalah sebagai penjeraan. 2007. perubahan atau pembatalan izin keberadaan b.78 a. a. orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang 74 Lihat Pasal 10 RUU Keimigrasian. yaitu diatur pada pasal 110. Berdasarkan uraian diatas tindakan-tindakan represif yang dapat diambil adalah pemidanaan. Dengan demikian penyalahgunaan izin keimigrasian dapat dilakukan dengan 4 (empat) alternative seperti disebutkan diatas dengan alasan bahwa orang asing yang bersangkutan tidak mengindahkan peraturan yang mengatur keberadaan orang asing di wilayah Republik Indonesia.000. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. RUU keimigrasian yang berbunyi: 74 “Dipidana dengan pidana paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. pada RUU keimigrasian terdapat perubahn dalam hal ancaman sanksi pidana.

USU Repository © 2009 .” b. Menurut Sri Setianingsih bahwa: 75 “Deportasi adalah pengusiran orang asing keluar wilayah Indonesia (keluar wilayah suatu negara) dengan alasan bahwa orang asing tersebut wilayahnya tidak dikendaki oleh negara yang bersangkutan. Pengusiran Pengusiran atau deportasi (deportation) adalah suatu tindakan sepihak dari pemerintah berupa tindakan mengeluarkan orang asing dari wilayah Republik Indonesia karena berbahaya bagi ketentraman. Ketentuan mengenai deportasi ini dapat dilihat pada pasal 42 Undang-undang no. khususnya pada ayat (2) point d. Op. 2007. hal. Jadi tidak ada sangkut pautnya dengan negara asal atau negara dari mana dia semula datang. Black list (daftar cekal) Black list adalah istilah yang dipakai dalam bahasa sehari-hari untuk menggantikan daftar orang-orang yang tidak diperbolehkan meninggalkan Indonesia dan orang-orang yang tidak diperbolehkan memasuki wilayah Indonesia.” Sedangkan menurut I Wayan Parthiana. Selain itu. cit. dkk. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 9 tahun 1992. Di dalam keimigrasian daftar ini disebut “daftar pencegahan dan 75 76 I Wayan Tangun Susila. pengusiran tersebut semata-mata berdasarkan kepentingan negara itu sendiri. kesusilaan. atau kesejahteraan umum.79 bertentangan dengan maksud dan tujuan pemberian izin tinggal yang diberikan kepadanya. bahwa: 76 “Hak suatu negara untuk mengusir orang asing yang berada di negaranya dikenal dengan pengusiran atau deportasi explution. bagi orang asing yang masuk serta berada di wilayah Republik Indonesia dapat juga diusir. 37 Ibid Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.” c.

Pada saat berada di negaranya sendiri atau di negara lain bersikap bermusuhan terhadap pemerintah Indonesia atau melakukan perbuatan yang mencemarkan nama baik bangsa dan negara Indonesia. d. b. Atas permintaan suatu negara. disebutkan pengertian dari: “Pencegahan adalah larangan yang bersifat sementara terhadap orangorang tertentu untuk keluar dari wilayah Indonesia berdasarlan alasan tertentu. penangkalan terhadap orang asing dilakukan karena: a. Pernah diusir atau dideportasi dari wilayah Indonesia. 9 tahun 1992. Di dalam pasal 1 angka 13 dan 14 Undang-undang no. USU Repository © 2009 . e.” “Penangkalan adalah larangan yang bersifat sementara terhadap orangorang tertentu untuk masuk ke wilayah Indonesia berdasarkan alasan tertentu. kesusilaan. Diketahui atau diduga terlibat dengan kegitan sindikasi kejahatan internasional. Diduga melakukan perbuatan yang bertentangan dengan keamanan dan ketertiban umum. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).” Berdasarkan pasal 17 Undang-undang no. dan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. agama dan adat kebiasaan masyarakat Indonesia. c. orang asing yang berusaha menghindarkan diri dari ancaman dan pelaksanaan hukuman di suatu negara tersebut karana melakukan kejahatan yang juga diancam pidana menurut hukum yang berlaku di Indonesia.80 penangkalan”. 9 tahun 1992.

ekonomi. Sedangkan penangkalan ditujukan hanya kepada orang asing yang hendak masuk ke wilayah Indonesia. perdata dan lain sebagainya yang dapat mengganggu dan mengancam stabilitas nasional. keimigrasian. 12. orang asing mana pernah terlibat masalah-masalah sebagaimana disebutkan diatas. Mengenai pencegahan orang asing untuk memasuki wilayah RI diatur di dalam pasal 11. dan 14 Undang-undang no. pertahanan dan keamanan. Di dalam pasal disebutkan bahwa: (1) Pencegahan ditetapkan dengan keputusan tertulis. USU Repository © 2009 . Alasan-alasanlain yang berkaitan dengan keimigrasian yang diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.81 f. 2007. pidana. sosial budaya. Jangka waktu pencegahan (3) Keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan dengan surat tercatat kepada orang-orang yang terkena pencegahan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal penetapan. 9 tahun 1992. Alasan pencegahan c. baik masalah politik. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 13. Identitas orang yang terkena pencegahan b. (2) Keputusan sebagaimana didalam ayat (1) memuat sekurang-kurangnya: a. Dari uraian di atas dapat ditegaskan bahwa pencegahan ditujukan kepada orang asing yang masih memiliki masalah di Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

Dalam arti sempit. Dalam proses bekerjanya aparatur penegak hukum itu. hakim dan petugas-petugas sipir permastarakatan. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. dimulai dari saksi. penyelidikan.82 D. aparatur penegak hukum yang terlibat tegaknya hukum itu. penasehat hukum. Upaya penegakan hukum yang sistematik haruslah memperhatikan ketiga aspek itu secara simultan. jaksa. baik hukum materilnya maupun hukum acaranya. penuntutan. penyidikan. penjatuhan. sehingga proses penegakan hukum dan keadilan itu sendiri secara internal dapat terwujud secara nyata. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). polisi. pembuktian. (2) Budaya kerja yang terkait dengan aparatnya. USU Repository © 2009 . terdapat 3 (tiga) elemen penting yang mempengaruhi. Peranan Aparatur Penegak Hukum dalam Menanggulangi Tindak Pidana Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Aparatur penegak hukummencakup pengertian mengenai institusi penegak hukum dan aparat (orangnya) penegak hukum.vonis dan pemberian sanksi. yaitu: (1) Institusi penegak hukum beserta berbagai prangkat sarana dan prasarana pendukung dan mekanisme kerja kelembagaannya. dan (3) Perangkat peraturan yang mendukung baik kinerja kelembagaannya maupun yang mengatur materi hukum yang dijadikan standar kerja. serta upaya permasyarakatan kembali (resosialisasi) terpidana. Setiap aparat dan aparatur terkait mencakup pula pihak-pihak yang bersangkutan dengan tugas atau perannya yaitu terkait dengan kegiatan pelaporan atau pengaduan. termasuk mengenai kesejahteraan aparatnya.

77 Dalam mewujudkan kebijaksanaan dimaksud serta mengantisipasi era globalisasi dan informasi yang semakin meningkat selaras dengan peningkatan arus lalu lintas orang asing.: F4-IL.1044” tentang Keradaan dan Kegiatan Orang Asing Di Indonesia. Pengawasan ini tidak hanya pada saat mereka masuk. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Pengawasan keimigrasian Sesuai dengan undang-undang no. Pengawasan orang asing dimulai dari pemantauan Pengawasan baik yang Keimigrasian bersifat mencakup penegakan tindak hukum pidana administratif maupun Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian. bangsa dan Negara Indonesia serta tidak membahayakan keamanan. 10-1. 2. Berdasarkan prinsip ini hanya orang asing yang dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat. Dalam rangka mewujudkan prinsip “selective policy” diperlukan pengawasan terhadap orang asing. “Petunjuk Pemantauan Operasional Keimigrasian No. maka pelaksanaan pengawasan orang asing perlu diberikan prioritas utama. 2007. 01. hal. tetapi selama mereka berada di Wilayah Indonesia termasuk kegiatankegiatannya. keimigrasian keimigrasian. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. 1999. USU Repository © 2009 77 .83 1. ketertiban serta bermusuhan baik terhadap rakyat maupun Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 yang diizinkan masuk atau keluar wilayah Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). pelayanan dan pengawasandi bidang keimigrasiandilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip yang bersifat selektif (selective policy).

Pemantauan keimigrasian dapat berupa: 79 1) Memantau terhadap setiap peristiwa yang dapat diduga dan atau mengandung unsur-unsur terjadinya pelanggaran keimigrasian seperti penyalahgunaan izin tinggal sesuai visa yang bersangkutan. 2 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. hal. 2 Ibnu Suud. cit. 3) Mengumpulkan bahan keterangan tetnang suatu peristiwa terjadinnya pelanggaran keimgrasian. abaik mengenai keberadaan maupun kegiatan orang asing. USU Repository © 2009 . 55 80 Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian. hal. hal. 2) Menginventarisir bahan keterangan berdasarkan modus operandi terjadinya pelanggaran keimigrasian serta pembinaan teknis tempat-tempat pemeriksaan keimigrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). “Manajemen Keimigrasian”. Keberhasilan pengawasan orang asing sangat tergantung kepada berhasil tidaknya pelaksanaan pemantauan dilapangan. Operasi adalah suaru kegiatan suatu objek tertentu terhadap yang dibatasi oleh tempat. 2005. Pemantauan keimigrasian dan operasional keimigrasian Pemantauan merupakan salah saru cara atau kegiatan/upaya yang dilakukan untuk mengetahui secara dini setiap peristiwa yang diduga mengandung unsur-unsur pelanggaran/kejahatan. Op. pengumpulan dan penilaian bahan keterangan dari tempat-tempat pemeriksaan keimigrsian.84 terhadap keberadaan dan kegiatannya serta operasi-operasi baik operasi khusus maupun rutin. 78 a. waktu serta dana. 80 Unutk mengetahui setiap peristiwa yan diduga 78 79 Ibid. 2007. Amarja Press.

baik berupa pembangunan phisik maupun non phisik. sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan cermat. Upaya/ cara pemantauan dan operasi keimigrasian dapat berupa: 81 81 Ibid.85 mengandung unsur pelanggaran/kejahatan terhadap ketentuan yang berlaku dibidangkeimigrasian. hal. 2007. dapat diperoleh dari setiap bahan keterangan yang mempunyai kaitan dengan perbuatan orang asing baik lalu lintas. Dalam mencari dan menemukan keterangan yang berkaitan dengan peristiwa dimaksud agar diupayakan pelaksanaanya disesuaikan dengan jenis dan macam pelanggaran dalam bidang pembangunan. Oleh karena itu. sangat ditenteukan oleh kwalitas dan kwantitas pelaksanaan dalam menghadapi jenis dan macam pelanggaran kejahatan seperi halnya bentuk dan sifat pelanggaran politik ataupun pekerja terselubung. upaya dalam mencari dan menemukan bahan keterangan perlu perencanaan melalui mekanisme adanya perencanaan yang matang. 3 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. keberadaan maupun kegiatannya. organisasi serta pengawasan dan koordinasi dengan memperhatikan situasi dan kondisi medan. tepat. USU Repository © 2009 . dengan memperhatikan hak-hak azasi manusia dan senantiasa disertai dengan dasar hukum dalam artian dilengkapi dengan sudut perintah. Keberhasilan penyelenggaraan. berhasil guna dan berdaya guna. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

sedang atau telah terjadinya unsur pelanggaran. 2007. 2) Pembuntutan terhadp objek yang kaitan atau hubungan dengan peristiwaperistiwa yang akan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). cermat terhadap surat-surat. USU Repository © 2009 . benda dan tempat kejadian untuk dapat gambaran yang lebih jelas baik secara keseluruhan atau lebih rinci. Orang asing 1) Orang asing pemegang izin singgah 2) Orang asing pemegang izin kunjung  Wisata  Sosial budaya  Usaha/beberapa kali perjalanan 3) Orang asing pemegang izin tinggal terbatas 4) Orang asing pemegang izin tinggal tetap 5) Orang asing tanpa izin keimigrasian 6) Orang asing yang over stay 82 Ibid.86 1) Pengamatan dengan panca indera secara teliti. 5 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. hal. Adapun sasaran pemantauan adalah: 82 a. sedang dan atau telah terjadi 3) Penyusupan dalam ruang lingkup peristiwa atau golongan kegiatan peristiwa yang akan. 4) Melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang mengetahui atau patut diduga mengetahui terjadinya peristiwa pelanggaran/kejahatan keimigrasian dengan memperhatikan sumber dan nilai keterangan.

Melakukan pemerikasaan terhadap orang asing tersebut beserta dokumen yang dimilikinya selanjutnya dilanjutkan dengan pemeriksaan di lapangan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). USU Repository © 2009 . wisma. Bangunan-bangunan 1) Hotel. hostel dan sebagainya 2) Kantor-kantor/perusahaan yang mempekerjakan dan menampung tenaga kerja/orang asing 3) Rumah/asrama tempat orang asing bertempat tinggal Pelaksanaan pemantauan dilakukan baik secara terbuka maupun secara tertutup (undercover) dengan tahapan sebagai berikut:83 1. 3. 83 Ibid. Mendatangi orang/tempat yang telah ditentukan.87 7) Orang asing imigran gelap 8) Orang asing yang melakukan kegiatan tidak sesuai dengan izin yang diberikan. Alat angkut 1) Niaga 2) Non niaga 3) Alat apung c. 2007. 6 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Menindaklanjuti dari hasil pemeriksaan. 2. b. hal. apabila ditemukan bukti-bukti permulaan atau patut diduga telah terjadi pelanggaran/kejahatan keimigrasian.

Kerjasama ini secara fungsi masing-masing tanpa mengganggu dan mencampuri teknis tugas instansi masing-masing. jajaran Direktorat Jenderal Imigrasi harus bekerjasama dan berkoordinasi dengan aparat keamanan lainnya seperti pemerintah daerah. Pengawasan Mendeteksi kemungkinan terjadinya penyalahgunaan perijinan dan pemberian perijinan keimigrasian serta evaluasi dan laporan. Dan orang asing yang karena peraturan perundang-undangan telah dideportasi keluar Indonesia namun karena sesuatu dan lain hal belum dapat berangkat. 56 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. penyalahgunaan perizinan dan pemberian perizinan keimigrasian serta pengawasan atas imigran gelap. Kerjasama pengawasan Untuk mensukseskan tugas pengawasan ini. Imigran gelap Mengawasi masuknya orang asing secara gelap (illegal) ke wilayah Indonesia yagn tidak didukung oleh dokumen resmi yang sah dan masih berlaku. Op.88 4. 84 Ibnu Suud. hal. Lingkup tugas ini meliputi: 84 a. b. USU Repository © 2009 . Pengawasan yang tertuju terhadap kemungkinan terjadinya pelanggaran. cit. b. 2007. polisi atau aparat yang terkait lainnya. Melakukan pemeriksaan terhadap orang asing yang diduga melakukan pelanggaran/kejahatan yang diutangkan dalam berita Acara Pemeriksaan dan Berita Acara Pendapat. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

2007. Pengawasan perlintasan Mengawasi lau-lalangnya orang asing maupun warganegara Indonesia yang melintasi tempat (pos) lintas batas dengan tetangga atas kemungkinan terjadinya pelanggaran keimigrasian. d.89 c. Penyidikan keimigrasian Dalam pasal 47 ayat (1) Undang-undang no. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian disebutkan: 85 ”selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. tepat. USU Repository © 2009 . juga Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Departemen yang lingkup tugas dan tangung jawabnya meliputi pembinaan keimigrasian diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undangundang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Penindakan keimigrasian a. Pelaksanaan kerjasama pengawasan ini diupayakan tanpa mengurangi tugas. fungsi dan wewenang masing-masing instansi dan dilakukan dengan cepat . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2. lengkap terpadu dan aman. Pengawasan orang asing Adanya kerjasama antar instansi terkait dalam pengawasan orang asing di dalam wadah koordinasi pengawasan orang asing (SIPORA). untuk melakukan penyidikan tindak pidana keimigrasian”. 85 Lihat pasal 47 ayat (1) Undang-undang no.

aparat imigrasi juga bertugas sebagai aparat penegak hukum 86. 87 Lihat pasal 47 ayat (2) Undang-undang No. Memeriksa dan/atau menyita surat-surat. Dengan demikian disamping menjalankan tugas sebagai aparat pelayanan keimigrasian. atau benda-benda yang ada hubungannya dengan tindak pidana keimigrasian. dokumen-dokumen. hal. d. Dengan demikian penyidikan hanya dapat dilakukan oleh kedua pejabat yang telah disebutkan di atas. Menerima laporan tentang adanya tindak pidana keimigrasian. H dan Abrar Yusra. USU Repository © 2009 86 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Surat Perjalanan. 2005. Dalam pasal 47 ayat (2) disebutkan: 87 “Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang: a. c. menggeledah. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007. Memanggil. 152. menahan sesorang yang disangka melakukan tindak pidana keimigrasian. penyidikan keimigrasian adalah suatu proses penyidikan yang dilakukan oleh Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia juga PPNS imigrasi terhadap setiap orang yang melakukan perbuatan sebagai tindak pidana keimigrasian. Memanggil orang untuk didengar keterangannya sebagai saksi. b. Dirjen Imigrasi Hukum dan HAM RI. 9 tahun 1992 diatas. “Lintas Sejarah Imigrasi Indonesia”. menangkap. memeriksa.90 Di dalam Undang-undang no. Ramadhan K.

91 e. dokumen-dokumen. SKep/369/X/1985 yang menyatakan bahwa kooradinasi adalah suatu bentuk hubungan kerja antara penyidik Polri dengan Pegawai Negeri Sipil dalam rangka pelaksanaan penyidikan tindak pidana yang menyangkut bidang tertentu. f. Surat Perjalanan. Adapun wujud koordinasi dapat berupa: 1. Mengadakan rapat-rapat berkala pada waktu-waktu yang dipandang perlu. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2007. Pejabat Pegawai Negeri Sipil mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah tangan koordinasi dan pengawasan penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. 8 tahun 1981 (KUHAP) yang menyebutkan bahwa penyidik sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf b mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah koordinasi dan pengawasan penyidik tersebut dalam pasal 6 ayat (1) huruf a. Melakukan pemeriksaan di tempat-tempat tertentu yagn diduga terdapat suratsurat. Pol S. Mengambil sidik jari dan memotret tersangka. Mengatur dan menerangkan lebih lanjut dalam keputusan instansi bersama. SK Markas Besar Kepolisian RI No. USU Repository © 2009 . 2. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). atau benda-benda lain yang ada hubungannya dengan tindak pidana keimigrasian. Wewenang ini sudah sesuai dengan ketetuan dari pasal 7 ayat (2) Undangundang no.

pengevaluasian tindak pidana pelanggaran dan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Proses penyidikan ini dilakukan sebagai Pro Justisia yang akan segera diajukan ke Pengadilan untuk diadili. Sedangkan yang dimaksud dengan “pengawasan” adalah proses pengamatan pelaksanaan penyidikan yang dilakukan dapat dibenarkan secara materil maupun formal dan berjalan sesuai dengan yang berlaku. Menunjuk sesorang atau lebih pejabat dari masing-masing Departemen/instansi yang secara fungsionl dan menangani penyidik Pegawai Negeri Sipil dengan penghubung 4. 9 tahun 1992. pemilahan. Keseluruhan ini merupakan penjabaran dari pasal 7 ayat (1) UU No. USU Repository © 2009 . adapun wujud pengawasan ini meliputi: 1. Pengawasan kegiatan penyidik yang sedang dilakukan oleh penyidik Pegawai Negeri Sipil serta memberikan pengawasan teknis. 2007. 8 tahun 1981 (KUHAP) dan juga merupakan bantuan yang dapat diberikan oleh penyidik sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf a KUHAP kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil seperti yang diatur oleh pasal 47 UU No.92 3. dan bertugas melakukan identifikasi pengumpulan. Pengawasan teknis dalam rangka pembinaan dan peningkatan kemampuan penyidik Pegawai Negeri Sipil dan memberikan petunjuk bila terdapat kekurangan-kekurangan untuk disempurnakan. Menyelenggarakan pendidikan dan latihan penyidik Pegawai Negeri Sipil dengan penekanan dibidang pendidikan. 2. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. maka hal harus dilakukan oleh petuga keimigrasin adalah: a. USU Repository © 2009 . kasasi dan jika perlu grasi yang akan digunakan oleh warga negara asing yang terlibat tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. b. Membuat berkas hasil penyelidikan sesuai dengan ketentuan yagn berlaku. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Op. Mengikuti perkembangan persidangan. Sanksi hukum terhadap pelaku tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian Sanksi hukum terhadap pelaku tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian dapat dilakukan dengan cara: 1) Pro justitia Apabila kasus terhadap tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian yang ditangani oleh pihak keimigrasian ingin ditempuh dengan cara pro justitia. koordinasi dengan Lembaga Pemasyarakatan untuk proses pemulangan. Hal ini dikarenakan apabila kasus tersebut diajukan ke pengadilan akan menggunakan upaya hukum mulai dari banding. 88 b. Bila telah selesai melaksanakan keputusan Pengadilan. akan sangat 88 Ibnu Suud. Tetapi jalan ini jarang sekali ditempuh oleh pihak keimigrasian dalam kasus penyalahgunaan izin keimigrasian. Menyampaikan hasil pemberkasan kepada Penuntut Umum melalui polisi. 57 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. cit. d. hal.93 kejahatan keimigrasian yang diatur dalam Undang-undang no. c. 2007.

02-PW. serta sosial dan budaya serta kemananan. Tindakan Keimigrasian adalah tindakan administratif dibidang keimigrasian yang dilakukan oleh pejabat imigrasi berupa: 1) Pembatasan. 2007. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 3) Keharusan untuk bertempat tinggal di suatu tempat tertentu di wilayah Indonesia. Tindakan keimigrasian dilakukan sebagai sanksi administratif terhadap orang asing yang melanggar peraturan keimigrasian dan ketentuan-ketentuan lainnya mengenai orang asing sesuai dengan dimaksud dalam pasal 19 keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor: M. perubahan atau pembatalan izin keberdaan. ekonomis. 89 2) Non pro justitia Menurut pertimbangan polits.09. 4) Pengusiran atau deportasi dari wilayah Indonesia atau penolakan masuk ke wilayah Indonesia. karena dalam hal ini negara akan mengeluarkan biaya besar untuk menjalani proses pro justitia tersebut. USU Repository © 2009 . 2) Larangan untuk berada disuatu atau beberapa tempat tertentu di wilayah Indonesia. Maka akan lebih efektif apabila dilakukan dengan cara non pro justitia. Ditambah lagi orang asing tersebut tidak memiliki uang untuk membayar ongkos biaya perkara. Kantor Imigrasi Polonia Medan. maka akan lebih efektif apabila dilakukan tindakan keimigrasian.02 tanggal 14 89 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.94 merugikan negara.

yaitu: a. Pengajuan Keberatan Orang Asing dan Tindakan Keimigrasian. yaitu penanganan suatu kasus dengan cara pendeportasian tidak memakan waktu yagn lama atau berlarut-larut. Ancaman hukuman penjara maksimum Hasil wawancara dengan Kanit Pengawasan Orang Asing (POA) Poltabes Medan Sekitarnya Pada tanggal 9 Agustus 2007 Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Tindakan Keimigrasian dapat dilakukan terhadap oaring asing pemegang izin Keimigrasian atau tanpa izin keimigrasian.95 Maret tahun 1995 tentang Tata Cara Pengawasan. mulai saat masuk. 90 Pihak Kepolisian dan Keimigrasian menyebutkan beberapa alasan dan pertimbangan melakukan tindakan keimigrasian yang berupa pendeportasian yang oleh pihak keimigrasian (walupun penangkapan dilakuakn oleh pejabat imigrasi). tetapi karena kedua instansi ini lebih banyak melakukan tindakan keimigrasian yaitu berupa pendeportasian ke negara asal tanpa melalui proses pro justitia walaupun telah ada pengaturannya dalam Undang-undang no. jika dibandingkan dengan pro justitia. Hal ini bukan menandakan bahwa kasus tentang penyalahgunaan izin keimigrasian sangat sedikit. 2007. maka berdasarkan data yang diperoleh baik dari kantor kepolisian maupun kantor imigrasi sangat sedikit yang ditindaklanjuti secara pro justitia. Dalam hal terjadi tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. berada dan akan meninggalkan wilayah Indonesia. Masalah kepraktisan. USU Repository © 2009 90 .

hal ini dikarenakan tindakan tersebut sudah sangat mengancam keamanan negara serta stabilitas nasional. Selain itu jenis hukuman yang diancamkan berupa pidana alternative atau jika didenda belum tentu mereka memiliki uang. Masalah anggaran dana yang dialokasikan untuk melakukan tindakan hukum di kantor Imigrasi sangat terbatas. Tetapi apabila masalah penyalahgunaan izin keimigrasian tersebut menyangkut masalah permpokan bersenjata. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.96 hanya lima tahun sehingga hukuman akan selesai jika dikurangi dengan masa penahanan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Hal ini tentu saja menghambat tugas para pejabat imigrasi atau PPNS dalam penyidikan. peredaran narkoba. Apabila penanganan masalah ini untuk dilakukan secara pro justitia masih sedikit yang dilengkapi pengetahuan sebagai PPNS. USU Repository © 2009 . Karena itu yagn dihasilkan tidak sesuai dengan yagn diharapkan. Masalah sumber daya manusia khususnya petugas imigrasi. terorisme atau perdangan manusia (trafficking). baik dari segi kualitas maupun kwntitas yang sangat kurang. Kantor Imigrasi Polonia Medan. 2007. 91 91 Hasil wawancara dengan Pejabat Imigrasi Seksi Wasdakim. c. b. maka sanksi hukum yang harus dijalankan adalah dengan cara pro-justitia.

B/2002/PN. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).Mdn Identitas Terdakwa Pengadilan Negeri Medan yang meemriksa dan mengadili perkara-perkara Pidana Biasa/ Singkat/ Cepat telah menyatakan bahwa terdakwa : 1. Lahir Jenis Kelamin : Dr. USU Repository © 2009 . Perkara Pidana No. Mathiya HMBS als Raja : Malaysia : 59 Tahun/ 21 Desember 1943 : Laki-laki Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.97 BAB IV KASUS DAN ANALISIS KASUS A. K. 2493/Pid. 2007. Nama Lengkap Tempat Lahir Umur/ Tgl.

Dr. Nama Lengkap Tempat Lahir Umur/ Tgl.B. 47 Medan dan di Jl. Karya Wisata No. Binjai Km 5. 47 Medan : Hindu : Dokter : Sarjana : Dr. Kalimutu Kumar Marimutu secara bersama-sama atau bertindak secara sendiri-sendiri pada hari Jumat tanggal 16 Agustus 2002 sekitar pukul 14.98 Kebangsaan Tempat Tinggal Agama Pekerjaan Pendidikan 2.5 Komp. Mathiya H. Lahir Jenis Kelamin Kebangsaan Tempat Tinggal Agama Pekerjaan Pendidikan Kasus Posisi : Malaysia : Jl. K. USU Repository © 2009 . RRI Medan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. bertempat di Jl. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). RRI Medan : Hindu : Dokter Homeopati : Sarjana Bahwa mereka terdakwa I. 2007. Binjai Km 5.M.S alias Raja dan terdakwa II. Dr.30 Wib atau setidak-tidaknya pada suatu waktu dalam tahun 2002. Kali Mutu Kumar Marimutu : Kedah Malaysia : 26 Tahun/ 04 Desember 1976 : Laki-laki : Malaysia : Jl. Karya Wisata No.5 Komp.

Binjai Km 5. perbuatan mana dilakukan terdakwaterdakwa dengan cara sebagai berikut : Mula-mula terdakwa-terdakwa selaku Warga Negara Malaysia datang berkunjung ke Indonesia melakukan perjalanan kunjungan praktek yaitu terdakwa I dengan Visa Sosial Budaya sedangkan terdakwa II menggunakan Pasport Malaysia dengan Visa Turis selama 2 (dua) bulan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).(lima puluh ribu rupiah) dimana terdakwa-terdakwa dalam membuka Klinik Homeopati tersebut tidak berubah Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 . namun ternyata setelah tiba di Indonesia yaitu kota Medan ternyata terdakwa-terdakwa membuka Klinik Homeopati di Medan dan bekerja selaku Dokter Homeopati pada klinik tersebut di kota Medan. orang asing yang dengan sengaja menyalahdunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud pemberian izin keimigrasian yang diberikan kepadanya. sedangkan terdakwa-terdakwa datang ke Indonesia hanya diperbolehkan untuk wisata namun ternyata terdakwa-terdakwa bekerja maupun mengajar yang sifatnya mencari keuntungan.000. 2007.. Karya Wisata No. 50. RRI Medan telah membuka Klinik Homeopati dengan menerima pasien yang berobat dan rawat inap kliniknya dengan biaya sekali berkunjung antara Rp.5 Komp. sedangkan dalam Pasport terdakwaterdakwa menggunakan Visa hanay selama 60 (enam puluh) hari selaku Visa Turis dan Pelancong namun ternyata terdakwa-terdakwa selaku Dokter pada Klinik Homeopati di Jl. 47 Medan dan di Jl.99 atau setidak-tidaknya disuatu tempat yang masih termasuk daerah hukum Pengadilan Negeri Medan.000.(tiga puluh ribu rupiah) s/d Rp.. 30.

Sedangkan Izin Rekomendasi dari Dinas Kesehatan Tingkat I Propinsi dan Izin dari Menteri Kesehatan. yaitu : Adanya permohonan yang ditujukan ke Dinas Kesehatan Kota Medan. sedangkan waktu kuliah/belajar pada hari kamis san jumat dari pukul 19.100 Hukum dan tidak memiliki Izin dari Menteri Kesehatan sesuai dengan persyaratan mendirikan Klinik/Balai pengobatan yang harus memiliki.000. 3. 2007. Keterangan izin lokasi/ Denah. Keterangan adanya obat-obatan/alat yang dipergunakan. Adanya penanggung jawab klinik. KTP yang berdomisili di Kota Medan. selain itu terdakwa-terdakwa juga telah menerima siswa/ murid sebanyak 20 (dua puluh) orang dengan menerima biaya pendidikan selama 6 (enam) bulan sebesar Rp. oleh karena terdakwa-terdakwa dalam membuka Klinik Hemeopati tersebut tidak memiliki Badan Hukum dan tidak memiliki izin lalu kemudian terdakwa-terdakwapun ditangkap petugas Kepolisian Poltabes Medan.00 Wib s/d pukul 20. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 .(tiga juta rupiah rupiah) persiswa.000. dan terdakwa-terdakwa dalam memberikan obat-obatan kepada para pasien yang datang berobat ke Klinik Homeopati tersebut tidak memiliki izin untuk memproduksi obat-obatan dan komposisi dari obat-obatan tidak ada dibuatkan dalam labelnya..00 Wib. Adanya izin/keterangan ketenagakerjaan medis dan Para Medis. serta Izin-izin lainya yang menyangkut tentang usaha dan Bidang Kesehatan.

.101 Dalam surat tuntutannya Jaksa Penuntut Umum menguraikan berbagai tuntutannya sebagai berikut : 1. Menyatakan barang bukti berupa obat-obatan dirampas untuk dimusnahkan dan Pasport An.(seribu rupiah). 4. 2493/Pid. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2. Mathiya HMBS dkk. Mathiya HMBS dkk. K. 9 Tahun 1992 dalam dakwaan kesatu. Menetapkan supaya terpidana dibebani biaya perkara sebesar Rp. Putusan Perkara Pidana No. dengan pidana denda masing-masing Rp. 3. majelis telah menemukan adanya fakta-fakta yuridis sebagai berikut. Menyatakan terdakwa Dr.(dua puluh lima juta rupiah) subsider 3 (tiga) bulan kurungan dengan perintah terdakwa tetap ditahan/terdakwa supaya ditahan (jika terdakwa tidak ditahan). 1.B/2002/PN. K. Terdakwa-terdakwa dikembalikan kepada terdakwaterdakwa. USU Repository © 2009 .000. 2007. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 25.Mdn Hakim Pertama yang mengadili perkara ini dalam putusannya memberikan pertimbangan hukum sebagai berikut : Bahwa dari keterangan saksi-saksi dan terdakwa dihubungkan dengan barang bukti yang diajukan di persidangan.000. bersalah melakukan tindak pidana menyalahgunakan izin sebagaimana diatur dalam Pasal 50 UU RI No.000. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Dr.

K.B. Dengan Sengaja Jelas perbuatan yang dilakukan terdakwa-terdakwa Dr. c. sebagai subjek hukum yang dapat dipertanggung jawabkan perbuatannya adalah keterangan terdakwa Dr. RRI Cabang Medan.102 Terdakwa didakwakan Jaksa Penuntut Umum melakukan tindak pidana yang diatur dan diancam dalam pasal 80 ayat (2) UU RI No. Barang Siapa Berdasarkan Fakta-fakta dan keterangan para saksi serta keterangan terdakwa sendiri didukung alat bukti yang telah disita. Menyelenggarakan Kesehatan Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.Mathiya H. Kali Mutu Kumar Marimutu b. Tentang Kesehatan : 1. Kali Mutu Kumar Malimutu dengan sengaja menghimpun dana untuk kesehatan yang diambil dari para mahasiswa yang mengikuti pendidikan Homeopati yang dilakukan di Rumah Sakit Homeopati yang terletak di jalan Binjai Km 5.5 Medan atau di Komp. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).M.M.S dan Dr. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 50 UU RI No. Unsur-unsur Objektif a.S serta Dr. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian.B. Mathiya H. USU Repository © 2009 . 2007. K.

tentang pendirian Klinik Homeopati Megawati Sukarno Putri tersebut b. Mathiya H. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Tidak memiliki Izin operasional Klinik serta Rumah Sakit Homeopati Megawati Sukarno Putri tidak mempunyai izin operasionalnya.B. 2. Tidak berbentuk badan hukum Klinik serta Rumah Sakit Homeopati Megawati Sukarno Putri didirikan kedua terdakwa tersebut jelas tidak berbentuk badan hukum karena tidak mempunyai izinnya. Orang asing Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.M. 2007. USU Repository © 2009 . dan menerima pasien untuk rawat jalan serta rawat nginap bagi setiap pasien yang berobat kepada terdakwa. Unsur-unsur Objektif a. K. Unsur-Unsur Subjektif a. Dibuktikan dengan tidak adanya suratsurat yang sah tentang adanya Klinik serta Rumah Sakit Homeopati Megawati Sukarno Putri tersebut serta Rumah Sakit Keimigrasian : 1.S dan Dr. Kalimutu Kumar Marimutu telah melakukan pengobatan secara alternatif dengan cara mendirikan klinik serta Rumah Sakit Homeopati tanpa memiliki izinnya.103 Kedua terdakwa Dr.

Kalimutu Kumar Marimutu dengan sengaja datang ke Indonesia telah menyalahgunakan passport yang ada padanya. bahwa oleh karena dakwaan kesatu primair.B. Meninbang. Kalimutu Kumar Marimutu adalah orang asing atau warga Negara asing atau warga Negara Malaysia. maka ia terdakwa harus dinyatakan bersalah tentang hal ini. b.S dan Dr. USU Repository © 2009 . Mathiya H.B. K. 2007.104 Benar keduan terdakwa tersebut yaitu Dr. 2. Unsur-unsur Subjektif Melakukan kegiatan tidak sesuai izinnya Benar kedua terdakwa tersebut melakukan kegiatannya tidak sesuai dengan izin yang ada dimana ia datang ke Indonesia seharusnya hanya sebagai wisata saja akan tetapi visa tersebut ia gunakan untuk kepentingan mencari suatu pekerjaan atau keuntungan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).S dan Dr.M. Dengan Sengaja Benar kedua terdakwa tersebut yaitu Dr. dan oleh karenanya dijatuhi hukuman. Mathiya H. subsidair kedua sesuai pasal undang-undang dimaksud pasal 80 ayat (2) Sub Pasal 84 ayat (5) UU RI No. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut HUKUM.M. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. K. 23 tahun 1992 tentang kesehatan dan Pasal 50 UU RI No.

bahwa sebelum menjatuhkan hukuman . Menimbang. Menimbang.105 Menimbang bahwa oleh karena terdakwa dijatuhi hukuman maka terdakwa dihukum pula untuk membayar biaya perkara. Hal-hal yang meringankan : Ia terdakwa-terdakwa belum pernah dihukum. USU Repository © 2009 . 23 tahun 1992 tentang kesehatan jo Pasal 50 UU RI No. bahwa oleh karena terdakwa dihukum maka dipandang perlu untuk tetap menahannya. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). maka majelis akan memperimbangkan hal-hal yang memberatkan maupun yang meringankan hukumannya terdakwa sebagai berikut: Hal-hal yang memberatkan : Bahwa perbuatan dari terdakwa-terdakwa dapat merugikan pemerintah republik Indonesia. Memperhatikan ketentuan pasal 80 ayat (2) sub Pasal 84 ayat (5) UU RI No. 2007. Memberikan keterangan yang jelas dan terang dipersidangan dan menyatakan menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu dikemudian hari yang akan datang/ tobat dan mempunyai tanggungan istri dan anak yang masih memerlukan pertanggungjawaban sebagai kepala keluarganya. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian dan ketentuan perundang-undangan yang berhubungan dengan perkara ini. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

106 MENGADILI Menyatakan Terdakwa : 1. KALIMUTU KUMAR MARIMUTU tersebut diatas telah trbukti dengan sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan Menyalahgunakan Izin. K. Dr.500.M.(seribu rupiah) Menyatakan barang bukti berupa obat-obatan diarmpas untuk dimusnahkan dan pasport atas nama terdakwa dikembalikan kepada terdakwa.. 7. Kalimutu Kumar marimutu keduanya berkebangsaan Malaysia Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.000.(tujuh juta lima ratus ribu rupiah) dengan ketentuan jika denda tersebut tidak dibayar harus diganti dengan hukuman kurungan selama 2 (dua) bulan.B.S alias Raja dan Dr. Menghukum terdakwa-terdakwa lagi membayar ongkos perkara sebanyak Rp.. MATHIYA H. Mathiya H. 1. USU Repository © 2009 . Analisis Putusan Setelah penulis mempelajari dan membaca pertimbangan hukum putusan Pengadilan Negeri Medan. 2007.M. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). maka dapat diketahui bahwasannya telah terjadi suatu tindak pidana di bidang Imigrasi yakni telah terjadinya penyalahgunaan ijin keimigrasian yang dilakukan oleh Terdakwa-terdakwa Dr.S alias RAJA 2. Dr. Menghukum Terdakwa-terdakwa dengan hukuman denda sebesar Rp.B. B.000. K.

23 tahun 1992 tentang kesehatan dan Pasal 50 UU RI No. 2007. USU Repository © 2009 .00 (lima ratus juta rupiah). dikelola secara terpadu untuk tujuan meningkatkan derajat kesehatan.000. yang tidak berbentuk badan hukum dan tidak memiliki izin operasional serta tidak melaksanakan ketentuan tentang jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 Ayat (2) dan Ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. wajib dilaksanakan oleh setiap penyelenggara. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).107 yang telah mendirikan usaha atau praktek tanpa memiliki ijin untuk melakukan hal tersebut. Oleh karena itu keduanya dikenakan pidana karena telah melanggar ketentuan undang-undang yang berlaku di indonesia yakni Pasal 80 ayat (2) Sub Pasal 84 ayat (5) UU RI No. berdasarkan pemeriksaan di persidangan menunjukkan bahwa Terdakwa-terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum. 23 tahun 1992 tentang kesehatan menyatakan bahwa : ”Barangsiapa dengan sengaja menghimpun dana dari masyarakat untuk menyelenggaraakan pemeliharaan kesehatan. 500.000.” Dari ketentuan Pasal ini perbuatan terdakwa-terdakwa telah terbukti tidka memiliki izin operasional dengan demikian secara otomatis tidak melaksanakan ketentuan jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat sebagai mana yang dimaksud Pasal 66 yang menyatakan : Ayat (2) : ” Jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat merupakan cara penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan dan pembiayaannya. Pasal 80 ayat (2) UU RI No.” Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

selain merugikan keuangan negara dimana dengan adanya izin usaha seharusnya ada pemasukan kas negara baik dari pajak maupun biaya pengurusan izin pada umumnya. 23 tahun 1992 tentang kesehatan yang menyatakan Barang siapa : ”Menyelenggarakan sarana kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 Ayat (1) atau tidak memilki izin sebagaimana dimaksud dalam pasal 59 Ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp. dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 25.000. 2007.” Pasal 50 UU RI No.000.” Berdasarkan ketentuan tersebut.-“ Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 15.000.” Pasal 59 Ayat (1) menyatakan bahwa : “Semua penyelenggaraan sarana kesehatan harus memiliki izin. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian menyatakan bahwa : “Orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud pemberian izin keimigrasian yang diberikan kepadanya. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). ”Penyelenggara jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat harus berbentuk badan hukum dan memiliki izin operasional serta kepesertaannya bersifat aktif.000.108 Ayat (3) .00 (lima belas juta rupiah). Hal mana dinyatakan juga dalam sub Pasal 84 point 5 UU RI No. Dan juga bisa saja tidak ada jaminan kesehatan masyarakat di klinik yang mereka dirikan hal ini seharusnya menjadi pertimbangan hal yang memberatkan karena dapat dikatakan suatu hal yang penting jika dikaitkan dengan masalah kesehatan.” Pasal 58 Ayat (1) menyatakan bahwa : ”Sarana kesehatan tertentu yang diselenggarakan masyarakat harus berbentuk badan hukum.

“Asas – Teori – Praktik Hukum Pidana “. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2005. Hukuman yang dijatuhkan hanya sebatas denda sejumlah uang yang apabila kita lihat jumlahnya relative tidak memberatkan terdakwa-terdaka (para pelaku). USU Repository © 2009 92 .Sinar Grafika. Tuntutan yang diajukan Jaksa Penuntut Umum menurut penulis kurang menekankan kepada unsur pemidanaan terhadap tindakan pelaku demikian juga vonis majelis hakim.109 Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan hukum yang ada yang ditemukan dari keterangan para saksi dan keterangan para terdakwa telah terbukti dan meyakinkan melanggar ketentuan pasal-pasal yang dimaksud di atas. Bisa saja dilain waktu para pelaku mengulangi perbuatannya dan yang ditakutkan banyak bermunculan tindakan-tindakan serupa baik itu dibidang Leden Marpaung. 4. maka akan mengalami hukuman yang serupa (generale preventie). Jakarta. hal. yang dimaksud dengan menjerakan disini adalah dengan penjatuhan hukuman. Hal mana menurut penulis tidak memberikan sifat penjeraan terhadap tindakan semacam ini sedangkan menurut teori telatif (Doeltheorie) 92 tujuan hukum pidana salah satunya adalah menjerakan. diharapkan si pelaku atau terpidana menjadi jera dan tidak mengulangi lagi perbuatannya (speciale preventie) serta masyarakat umum mengetahui bahwa jika melakukan perbuatan sebagaimana dilakukan terpidana. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. hanya ditekankan pada pengenaan hukuman denda sejumlah uang. 2007. Menurut penulis penentuan pasal-pasal terhadap tindakan para terdakwa telah benar.

110 kesehatan atau bidang lainnya. USU Repository © 2009 . tidak hanya dalam bidang keimigrasian dan kesehatan saja tetapi juga bidang-bidang lain yang menyangkut kepentingan publik atau masyarakat luas. namun kadang kala pelaksanaan dilapangan kebanyakan tidak sejalan dengna peraturan yang ada. kesehatan maupun keamanan masyarakat. hal mana akan dapat merugikan keuangan negara. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007. Kasus-kasus semacam ini sebenarnya harus mendapat perhatian yang serius dari apart penegak hukum dengan segala kelengkapannya. Hal ini tujuannya adalah tidak lain untuk menciptakan dan membudayakan adanya sinkronisasi antara peraturan hukum yang ada dengan pelaksanaan di lapangan. Oleh karena itu sebenarnya yang perlu ditingkatkan adalah pemahaman dan kesadaran hukum serta tanggung jawab hukum para aparat penegak hukum dalam menjalankan tugasnya. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No.

USU Repository © 2009 . b. tetapi setalah pemberian fasilitas bebas visa dalam BVKS yang lebih luas ruang lingkupnya tetap ditemukan pelanggaran terhadap fasilitas bebas visa tesebut. Kesimpulan Berdasarkan uraian-uraian penulisan skripsi ini. karena fakta di Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. yang pada awalnya dimaksudkan untuk mengatur secar tegas fasilitas bebas visa.111 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. 2007. Adanya perkembangan tenggang waktu dalam pemberian fasilitas bebas visa bagi wisata. Tetapi tenggang waktu 2 (dua) bulan ini dirasakan terlalu panjang atau lama. Dimana wisatawan tersebut dapat menikmati wisata di Indonesia dalam kurun waktu 2 (dua) bulan. dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu: 1.sosial budaya dan usaha. Faktor penyebab terjadinya penyalahgunaan izin keimigrasian adalah: a. Ruang lingkup fasilitas bebas visa yang terlalu luas yang mencakup kegiatan wisata. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Sehingga maksud dan tujuan dari BVKS sebagai pengganti BVW tidak tercapai. malah dipergunakan oleh orang asing sebagi salah satu cara masuknya imigran gelap ke Indonesia.

Terutama sekali para petugas yang bertugas di pintu-pintu masuknya orang asing ke Indonesia. maka orang asing yang dapat dengan leluasanya berkeliaran di Indonesia. seperi disalahgunakan untuk bekerja. 2007. maka aturan itu tidak aka nada artinya. dan melakukan kegiatan di wilayah Negara Republik Indonesia. Panjang atau lamanya jangka waktu ini ternyata dapat memberikan peluang bagi wisatawan asing untuk melakukan pelanggaran dengan berbagi motivasi. 2. c. Penanggulangan secara preventif adalah tindakan penanggulangan yang dilakukan dalam usaha untuk mencegah atau menjga kemungkinan yang terjadinya tindak Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Peranan petugas/pejabat/aparatur imigrasi sangat besar. Penanggulangan secara preventif b. Dan tidak dipungkiri. Penanggulangan secara represif Dalam hal penanggulangan ini sangat erat kaitannya dengan hal pengawasan baik wisatawan yang masuk atau keluar wilayah Negara Republik Indonesia. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). jika para petugasnya bermental yang kurang baik. USU Repository © 2009 . Upaya menanggulangi terjadinya suatu tindakan yang melanggar ketentuan izin keimigrasian dibedakan atas dua cara yaitu: a. bahwa betapapun baiknya aturantntangkeimigrasian.112 lapangan menunjukkan bahwa wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia pada umumnya dan Medan pad khusunya jarang yang tinggal sampai 2 (dua) bulan. jika mereka bertindak masa bodoh terhadap orang asing tersebut.

khususnya penyalahgunaan izin keimgrasian. Dari data yang diperoleh. Saran Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. atau grasi yang dimiliki oleh warga negara asing apabila ditempuh dengan cara pro justitia. Kecuali masalah penyalahgunaan izin tersebut menyangkut masalah peredaran narkoba. dan perdagangan manusia (trafickking). USU Repository © 2009 . mengingata dana orasional dari negara yang sangat terbatas.113 pidana imigrasi dalam hal ini yaitu tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian. 2007. Sedangkan dalam penaggulangan represif ini dapat dilakukan dengan cara pemidanaan. 4. yang juga tidak terlepas dengan ketentuan yang diatur dalam pasal-pasal KUHAP tentang penyidikan. Dalam proses penyidikan terhadap tersangka yang melakukan tindak pidana dibidang keimigrasian. 3. B. Yang dapat berupa tindakan keimigrasian yang salah satunya pendeportasian. Hal ini tentu saja membuthkan biaya operasional yang cukup tinggi. Karena menurut politis. kasasi. maka tunduk pada Undang-undang no. Hal ini dikarenakan mengingat adanya upaya hukum banding. dan ekonomis cara tindakan keimigrasian dianggap lebih praktis dan efisien. maka jalan pro justitialah yang harus ditempuh. agar menimbulkan efek jera bagi warga negara asing yang melakukan tindak pidana di bidang keimigrasian. deportasi maupun black list. bahwa sanksi yang dijatuhkan oleh aparatur penegak hukum dalam kasus tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian adalah lebih sering bersifat non pro justitia. terorisme. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan).

agar nantinya walaupun telah disahakan menjadi Undang-undang tidak menambah kerancuan. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2. karena masih banyak celah yang memungkinkan untuk warga negara asing melakukan tindak pidana di bidang keimigrasian. sebaiknya Tim melakukan koreksi. 2007. Pada saat sekarang ini sedang disusun RUU tentang keimigrasian yang telah disosialisasikan oleh Tim dari Direktorat Jenrak Imigrasi. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. sedangkan rata-rata masa kunjungan wisatawan asing ke Indonesia pada umunya dan kota Medan khususnya adalah 3-4 (tiga sampai empat) minggu saja. hal ini juga menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya mengharapkan faktor ekonomi saja dari keunjungan wisatwan asing . Sehingga hal ini jangan sampai dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan yang lain yang tidak sesuai dengan izin keimigrasiannya. Tenggang waktu pemeberian fasilitas bebas visa untuk wisata sebaiknya adalah 1 (satu) bulan dan dapt diperpanjang selam 30 (tiga puluh) hari. dan koreksi yang patut untuk diperhatikan yaitu mengenai tata urutan peraturan-peraturan perundang-undangan tentang keimigrasian.114 1. tetapi juga menunjukkan martabat bangsa. hal ini disebabkan karena penberian fasilitas bebas visa sekarang adalah 2 (dua) bulan dan ini terlalu lama. Dan juga pemberian fasilitas tersebut sebaiknya dilakukan secara reciprocal atau prinsip timabal balik. yaitu hanya unutk wisata. Sebaiknya pemberian fasilitas bebas visa ditinjau ulang kembali dan dikembalikan kepada latar belakang pemberian fasilitas tersebut. USU Repository © 2009 . Karena Undang-undang sebelumnya dianggap masih belum sempurna. dengan adanya berbagai kritikan dan tanggapan terhadap RUU tersebut.

tidak berdasarkan kekuasaan belaka. maka peralatn komunikasi sangat diperlukan dan semua instansi dapat selalu memonitor setiap orang yang terkena daftar cekal apakah sudah habis waktunya atau belum. Dan juga dalam mengkoordinasikan tindakan cekal agar dapat dengan cepat dilaksanakan sebelum orang yang dimaksud melarkan diri. 2007. 4.115 3. Dalam hal penanggulangan tindak pidana penyalahgunaan izin keimigrasian khsusnya black list atau cekal hendaknya mencerminkan prinsip-prinsip negara yang berdasarkan hukum. karena itu perlu para petugas/pejabat imigrasi dilengkapi dengan peningkatan kemampuan sumber daya manusia baik lewat pendidikan foramal meupun pendidikan latihan mengenai pelayanan dan pengawasan bagi orang asing atau wisatawan asing yang datang. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Demikian juga yang penting adalah diperlengkapinya peralatan dengan kemajuan teknologi seperti sistem komputerisasi sehingga dapat melayani maupun memantau orang asing yang ada di wilayah Indonesia. Penegakan hukum di Indonesia terlihat lemah dan hanya mengandalkan tindakan pendeportasian. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. USU Repository © 2009 . Dan juga diadakan penindakan secara hukum bagi petugas/pejabat imigrasi sendiri yang membantu stsu melakukan tindak pidana keimigrasian.

1992. Persoalan Praktis Filsafat Hukum dalam Himpunan Distingsi. Gramedia. Rineka Cipta. Teori-teori dan Kebijakan Pidana. Pedoman Penggunaan Tenaga Kerja Asing di Indonesia dan Peraturan-peraturannya. Jakarta: Balai Pustaka. 2001 Koerniatmanto. Direktorat Jendral Imigrasi. Jakarta. Flora Liman Mangestu. Sinar Grafika. Departemen Kehakiman RI. 1982. 1983. Soetoprawiro. Asas Teori Praktik Hukum Pidana. Bandung Moeljatno. Cetakan Ke-2. Hadi Kiswanto. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). 2007. Tugas Pokok dan Fungsi Direktorat Jendral Imigrasi. Jakarta. Jakarta.116 DAFTAR PUSTAKA A. USU Repository © 2009 . Jakarta. Jakarta. 2000. S. 2005. Sinar Grafika. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. UKI: Jakarta. 1996. H. Sjarif. Kewarganegaraan dan Leden Marpaung. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Buku Petunjuk Keimigrasian RI Bagian I Visa Izin Tinggal. Muladi & Barda Nawawi Arif. 1998. Ridwan Halim . Asas-asas Hukum Pidana. Hukum Keimigrasian Indonesia. Alumni. 1996.

IZIN MASUK. Jakarta. Penggarapan Disiplin Hukum dan Filsafat Hukum bagi Pendidikan Hukum. Bandung. Bandung. DAN IZIN KEIMIGRASIAN. R. Gramedia Pustaka. Perspektif Imigrasi dalam Pembangunan Ekonomi dan Ketahanan Nasional. Ramadhan K. Pabean. Yogyakarta. 32 TAHUN 1994 TENTANG VISA. UI-Press. Jakarta : Rajawali Press.117 Nawani Arief. Jakarta. Felix Hadi Mulyatno dan Endar Sugiarto. dan Karantina. M. Politik Hukum Pidana. Jakarta. Imigrasi. Citra Aditya Bakti. 2005. Barda. 1984. Jakarta. UI Press. 1987.. 2005. Semarang. 1987. Citra Aditya Bakti. Politeia : Bogor. Soedarto. R. 2001. Soesilo. Pengantar Penelitian Hukum. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. Purbacaraka. 1983. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). “Faktor-faktor yang mempengaruhi Penegakan Hukum. USU Repository © 2009 . . 2005. 2004. Purmadi. Pustaka Pelajar. PT. H dan Abrar Yusra. 2007. Amarja Press. PT. Kapita Selekta Hukum Pidana. Manajemen Keimigrasian. 1988. Alumni. Jakarta Suud. Ibnu. Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan Hukum dan Pengembangan Hukum Pidana. Jakarta Teguh Prasetyo & Abdul Halim Barkatullah. Peraturan Perundang-undangan : KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA. 2005 “Lintas Sejarah Imigrasi Indonesia”. Rajawali. Soerjono. Dirjen Imigrasi Hukum dan HAM RI. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentar Lengkap Pasal Demi Pasal .1984. Santoso Imam. Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan. KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA PERATURAN PEMERINTAH RI NO. PT. Jakarta. Soekamto. .

Jakarta. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). “Illegal Migrants dan Sisitem Keimigrasian Indonesia: suatu tinjauan Analisis”. disampaikan dalam Rapat Kerja Nasional Keimigrasian. “Petunjuk Pemantauan Operasional Keimigrasian No. “Usaha Penanggulangan Tindak Pidana Imigrasi dan Imigrasi Gelap di Kota Madya Denpasar”. Denpasar. 42. 2002 Direktorat Jenderal Imigrasi. Pintu Gerbang No.google. Saleh Wiramiharja. Direktorat Jendral Imigrasi. 1993. Hukum Keimigrasian dalam Sistem Hukum Nasional.com Arief Rahman Kunjono. dkk. Pintu Gerbang No. 45. Jakarta. “Imigrasi Daftar Ulang Warga Negara Asing”. hlm.118 UNDANG-UNDANG NOMOR KEIMIGRASIAN.1044” tentang Keradaan dan Kegiatan Orang Asing Di Indonesia. 2007. Laporan Penelitian.: F4-IL. Jakarta. 2002. 14 Januari 2000. Universitas Udayana dan PDII LIPI (Jakarta). 44. Direktorat Jendral Imigrasi. Lukman Bratamidjaja. Jakarta. 1999. 2002.solusihukum.com http://www. 01. Direktorat Jenderal Imigrasi. I Wayan Tangun Susila. “Langkah-langkah Baru Menunjang Peningkatan Profesionalisme Keimigrasian”. 10-1. Pintu Gerbang No. 44. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 2002. 2000. Pintu Gerbang No. 7 Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian. Laporan : Bagir Manan. 9 TAHUN 1992 TENTANG Media Cetak dan Elektronik : http://www. “Aspek Ilmu Perundang-undangan BVKS Bagian I”. USU Repository © 2009 . Jakarta.

Jakarta. dkk). “Analisa dan Evaluasi tentang Pengaturan Fasilitas Bebas Visa wisata bagi Orang Asing yang Berkunjung ke Indonesia” (Laporan Penelitian).119 Pusdiklat Pegawai Departemen Kehakiman. Jakarta. 1982. 2007. Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting. Beberapa Pedoman dan Ketentuan Tentang Imigrasi dan Ketatalaksanaan: Bahan Penataran Administrasi Apratur Kehakiman. Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 1984. USU Repository © 2009 . 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan). Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->