P. 1
Penemuan hukum (3)

Penemuan hukum (3)

|Views: 789|Likes:
PERAN HAKIM DALAM PENEMUAN HUKUM (RECHTSVINDING)
(Studi Kasus terhadap Hakim Pengadilan Negeri Bandung dalam Penerapan Pasal 360 ayat (1) KUHP) dengan ganti rugi menurut Pasal 1366 dan 1371 KUH Perdata atau ganti rugi menurut kebiasaan)

PENDAHULUAN Krisis multi dimensi yang melanda bangsa Indonesia saat ini, perlu segera diatasi melalui reformasi di segala bidang sehingga memungkinkan bangsa Indonesia bangkit kembali dan memperkukuh kepercayaan diri atas kemampuannya, termasuk dalam bidang huku
PERAN HAKIM DALAM PENEMUAN HUKUM (RECHTSVINDING)
(Studi Kasus terhadap Hakim Pengadilan Negeri Bandung dalam Penerapan Pasal 360 ayat (1) KUHP) dengan ganti rugi menurut Pasal 1366 dan 1371 KUH Perdata atau ganti rugi menurut kebiasaan)

PENDAHULUAN Krisis multi dimensi yang melanda bangsa Indonesia saat ini, perlu segera diatasi melalui reformasi di segala bidang sehingga memungkinkan bangsa Indonesia bangkit kembali dan memperkukuh kepercayaan diri atas kemampuannya, termasuk dalam bidang huku

More info:

Categories:Types, Business/Law
Published by: Padriadi Wiharjokusumo on Jun 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/28/2012

pdf

text

original

PERAN HAKIM DALAM PENEMUAN HUKUM (RECHTSVINDING

)
(Studi Kasus terhadap Hakim Pengadilan Negeri Bandung dalam Penerapan Pasal 360 ayat (1) KUHP) dengan ganti rugi menurut Pasal 1366 dan 1371 KUH Perdata atau ganti rugi menurut kebiasaan)

PENDAHULUAN Krisis multi dimensi yang melanda bangsa Indonesia saat ini, perlu segera diatasi melalui reformasi di segala bidang sehingga memungkinkan bangsa Indonesia bangkit kembali dan memperkukuh kepercayaan diri atas kemampuannya, termasuk dalam bidang hukum. Cita-cita reformasi secara umum dituangkan dalam GARIS-GARIS BESAR HALUAN NEGARA, yang berbunyi sebagai berikut, "Garis-Garis Besar Haluan Negara ditetapkan dengan maksud memberikan arah penyelenggaraan negara dengan tujuan mewujudkan kehidupan yang demokratis, berkeadilan sosial, melindungi Hak Azasi Manusia, menegakkan supremasi hukum dalam tatanan masyarakat dan bangsa yang beradab, berakhlak mulia, mandiri, bebas, maju dan sejahtera untuk kurun waktu lima tahun kedepan.” (TAP MPR Nomor IV/MPR/1999). Sedangkan secara khusus, cita-cita reformasi di bidang hukum terdapat dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara bidang hukum, butir kelima, keenam, dan kedelapan tentang aparat penegak hukum dan peradilan yang antara lain sasarannya disebutkan sebagai berikut, “Meningkatkan integritas moral dan keprofesionalan aparat penegak hukum (tak terkecuali bagi Hakim), untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat dengan meningkatkan kesejahteraan, dukungan sarana dan prasarana hukum, pendidikan serta pengawasan yang efektif; Mewujudkan lembaga peradilan yang mandiri dan bebas dari pengaruh penguasa dan pihak manapun; dan Menyelenggarakan proses peradilan secara cepat, mudah, murah dan terbuka, serta bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme dengan tetap menjunjung tinggi asas keadilan dan kebenaran.” (TAP MPR Nomor IV/MPR/1999). Berdasarkan uraian di atas, ternyata arah kebijakan pembangunan bidang hukum antara lain dititik beratkan pada aparat penegak hukum (Hakim) dan peradilan. Sebagaimana telah diketahui bahwa hakim adalah salah satu organ peradilan (pengadilan) yang mempunyai peranan penting dalam penegakan hukum. Menurut Sudikno Mertokusumo (1996:140), penegakan dan pelaksanaan hukum sering merupakan penemuan hukum (rechtsvinding) dan tidak sekedar penerapan hukum. Penemuan hukum merupakan kewajiban bagi hakim, sebagaimana diatur dalam Pasal 28 ayat (1) jo Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (selanjutnya disebut Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman). Pasal 28 ayat (1) menyebutkan bahwa, “Hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilainilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”. Dalam rangka penemuan hukum ini, jika isi ketentuan Pasal 28 ayat (1) dihubungkan dengan Pasal 16 ayat (1) yang berbunyi, “Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk

memeriksa dan mengadilinya". Maka, dapat disimpulkan bahwa penemuan hukum oleh hakim dilakukan apabila hukum tidak atau kurang jelas mengatur tentang perkara yang diperiksa oleh hakim, tetapi juga dapat dilakukan apabila hukum telah jelas mengatur, hal ini disebabkan karena hukum harus senantiasa mengikuti perkembangan masyarakat. Pelaksanaan tugas penemuan hukum oleh hakim, sangat berhubungan dengan fungsi hukum sebagai pengendalian sosial, dan fungsi hukum sebagai sarana perubahan masyarakat. (Achmad Ali, 1996 : 98, 100). Hukum sebagai alat pengendali sosial, tidaklah sendirian di dalam masyarakat, melainkan menjalankan fungsi itu bersama-sama dengan pranata-pranata sosial lainnya yang juga melakukan fungsi pengendalian sosial. Fungsi hukum sebagai alat pengendali sosial merupakan fungsi "pasif" di sini artinya hukum menyesuaikan diri dengan kenyataan masyarakat. Persoalannya bagaimana penyelesaian yang dilakukan oleh masyarakat apabila terjadi suatu masalah (peristiwa hukum), dalam hal ini baiknya dikemukakan contoh. Misalnya, A menabrak B, sehingga menyebabkan B luka-luka. Dalam kasus seperti ini, biasanya antara A atau keluarganya melakukan perundingan secara kekeluargaan (damai) dengan pihak B atau keluarganya, dengan cara menetapkan sejumlah uang sebagai uang penggantian pengobatan (biaya rumah sakit atau perawatan). Cara penyelesaian seperti ini merupakan kebiasaan dalam masyarakat. Cara penyelesaian seperti di atas, bersifat perdamaian dan lebih mendekati penyelesaian secara perdata, seperti tersebut dalam Pasal 1365 dan 1366 KUH Perdata tentang perbuatan melanggar hukum karena kelalaian, juga tersebut dalam Pasal 1371 tentang hak ahli waris menuntut ganti kerugian yang mengakibatkan luka-luka karena kelalaian. Di sisi lain masalah ini juga dapat dilimpahkan kepengadilan secara pidana. Hal ini terjadi apabila Polisi terlanjur mengetahui kejadian tersebut dan jaksa membuat dakwaan dengan dasar Pasal 360 ayat (1) KUHP. Seperti perkara yang diajukan ke Pengadilan Negeri Kls I Bandung, Putusan Nomor 264/ Pid/ B/ 2000/PN.Bdg. Dalam putusannya Hakim menyatakan bersalah dan menetapkan hukuman walaupun tersangka memberikan ganti rugi (tidak semuanya). Seharusnya hakim dalam rangka penemuan hukum, dalam kasus semacam ini, mengikuti kebiasaan masyarakat dengan membuat suatu keputusan/ketetapan yang akhirnya diikuti oleh masyarakat tersebut. Keputusan/ketetapan dimaksud merupakan fungsi hukum sebagai sarana perubahan masyarakat, dalam arti lain hukum berfungsi sebagai alat rekayasa sosial (Achmad Ali, Ibid, 1996 : 103).Dalam pelaksanaan tugas penemuan hukum, hakim mempunyai kemandirian artinya hakim mempunyai kebebasan dalam menegakkan hukum dan keadilan melalui penafsiran dan mencari dasar-dasar dan asas-asas yang melandasinya. Tetapi kebebasan dimaksud tidaklah mutlak karena dapat dikesampingkan oleh undang-undang.Pasal 13 UndangUndang Kekuasaan Kehakiman menyebutkan bahwa : 1) Organisasi, administrasi, dan finansial Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada dibawahnya berada di bawah kekuasaan Mahkamah Agung.” 2) ……….

3) Ketentuan mengenai organisasi, administrasi, dan finansial badan peradilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk masing-masing lingkungan peradilan diatur dalam UndangUndang sesuai dengan kekhususan lingkungan peradilan masing-masing. Ketentuan pasal di atas, memberikan peluang kepada hakim untuk dapat lebih leluasa melakukan penemuan hukum, karena pertanggung jawaban hakim tidak lagi kepada dua lembaga (Departemen Hukum dan HAM dan Mahkamah Agung), tetapi hanya kepada satu lembaga yaitu Mahkamah Agung.Ketentuan Pasal 13 Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman ini, sebelum dilakukan perubahan merupakan kendala bagi hakim untuk melakukan tugas dan kewajibannya, karena di samping ia bertanggung jawab kepada Departemen Kehakiman juga harus bertanggung jawab kepada Mahkamah Agung. Identifikasi Masalah Bagaimana sikap hakim dalam penemuan hukum (rechtsvinding), hubungannya dengan kemungkinan penghapusan sifat melawan hukum dalam perkara KARENA KESALAHAN/ KELALAIANNYA SEHINGGA ORANG LAIN LUKA-LUKA (Pasal 360 ayat (1) KUHP) dengan ganti rugi menurut Pasal 1366 dan 1371 KUH Perdata atau ganti rugi menurut kebiasaan. PEMBAHASAN Penemuan hukum Salah satu kewajiban hakim sebagai organ pengadilan adalah melakukan penemuan hukum (rechtsvinding), dimana penemuan hukum tersebut merupakan rangkaian tak terpisahkan dalam rangka penegakan hukum. Di dalam kepustakaan pengertian penemuan hukum disebutkan oleh Sudikno Mertokusumo, (Op. Cit, 1996: 142-143), bahwa “Penemuan hukum lazimnya diartikan sebagai proses pembentukan hukum oleh hakim atau petugas-petugas hukum lainnya yang diberi tugas melaksanakan hukum terhadap peristiwa-peristiwa hukum konkrit. Ini merupakan proses konkretisasi dan individualisasi peraturan hukum yang bersifat umum dengan mengingat peristiwa konkrit. Sementara orang lebih suka menggunakan “pembentukan hukum" daripada "penemuan hukum" oleh karena istilah penemuan hukum memberi sugesti seakan-akan hukumnya sudah ada.” Sudikno membicarakan penemuan hukum dalam arti luas. Lebih jauh Sudikno (Ibid) mengemukakan bahwa, “Pada dasarnya setiap orang melakukan penemuan hukum. Setiap orang selalu berhubungan dengan orang lain, hubungan mana diatur oleh hukum dan setiap orang akan berusaha menemukan hukumnya untuk dirinya sendiri, yaitu kewajiban dan wewenang apakah yang dibebankan oleh hukum padanya.” Penemuan hukum terutama dilakukan oleh hakim dalam memeriksa dan memutus suatu perkara. Penemuan hukum oleh hakim ini dianggap yang paling berwibawa. Hanya kalau hasil penemuan hukum oleh hakim adalah hukum, maka hasil penemuan hukum oleh ilmuwan bukanlah hukum, melainkan ilmu atau doktrin. Sekalipun yang dihasilkan itu bukanlah hukum, namun di sini kalau diikuti dan diambil alih oleh hakim dalam putusannya, menjadi hukum. Doktrin bukanlah hukum melainkan sumber hukum.

Pengertian penemuan hukum menurut Paul Scholten dalam bukunya Achmad Ali (Op. Cit, 1996 : 146), sebagai berikut, “Penemuan hukum adalah sesuatu yang lain daripada hanya penerapan peraturan-peraturan pada peristiwanya. Terkadang dan bahkan sangat sering terjadi peraturannya harus ditemukan, baik dengan jalan interpretasi maupun dengan jalan analogi ataupun rechtsvijning...”. Sedangkan penemuan hukum menurut Pasal 28 ayat (1) UndangUndang Kekuasaan Kehakiman menyebutkan bahwa, “Hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”.Mengacu pada berbagai pengertian tersebut, hukum berfungsi sebagai mekanisme pengendalian sosial (mechanism of social control), selain itu juga hukum berfungsi sebagai alat untuk mengubah masyarakat atau dalam bahasa inggris diistilahkan dengan law as tool of social engineering (Mochtar Kusumaatmadja, 1976: 22).Hakim dalam melakukan tugasnya dapat menjalankan kedua fungsi hukum tersebut guna mencapai tujuan hukum melalui penemuan hukum. Sudah barang tentu hakim harus mempelajari berbagai cara menemukan hukum yang memang sudah disediakan oleh ilmu hukum. Cara menemukan hukum ini dikenal dengan metode penafsiran hukum dan kontruksi hukum (Yudha Bhakti Ardhiwisastra, 2000: 1-2). Penafsiran dan kontruksi hukum Interpretasi adalah metode penemuan hukum oleh hakim dalam hal peraturannya ada tetapi tidak jelas, untuk dapat diterapkan pada peristiwanya. Sebaliknya dapat terjadi juga hakim memeriksa dan mengadili perkara yang tidak ada peraturannya yang khusus. Di sini hakim menghadapi kekosongan atau ketidak-lengkapan undang-undang yang harus diisi atau dilengkapi. Untuk mengisi kekosongan itu dipergunakanlah metode kontruksi, yang menurut Sudikno (Op.Cit, 1996: 157) disebut metode argumentum.Perlu dipisahkan antara metode interpretasi atau penafsiran dengan metode kontruksi secara tegas. Hal itu bukan hanya dibutuhkan dalam sistematika ilmu hukum, melainkan juga dalam praktek ilmu hukum di pengadilan. L.B. Curzon berpandangan bahwa, “Interpretasi hanya menentukan arti kata-kata dalam suatu teks undang-undang, sedangkan kontruksi mengandung arti pemecahan atau penguraian makna ganda, kekaburan dan ketidakpastian dari perundang-undangan.” (Achmad Ali, Ibid, 1996 : 167). Sedangkan Pitlo dalam Achmad Ali (Ibid, 1996 : 168) tidak begitu jelas membedakan atara penafsiran dan kontruksi. Seperti tampak pada apa yang dituliskannya, antara lain, “... Di luar itu, ada kegiatan hakim, yang seakan-akan bekerja secara otonom, yang menyatakan, bahwa ia tidak mempunyai pegangan dalam undang-undang dan oleh karena itu mandiri, di luar undangundang, menyusun putusannya. Dalam mencari hukum diluar undang-undang itu terasa unsur menciptanya, tetapi jelas bahwa tidak dapat ditarik batas yang tajam. Hal ini telah ternyata dari pertengkaran lama tentang dasar penalaran secara analogis. Yang satu melihat dalam hal ini semacam penafsiran ekstensif, yang lain melihat penalaran analogis justru bukan penafsiran lagi, tetapi pelepasan diri dari teks.” Achmad Ali (Ibid, 1996 : 167) membedakan antara interpretasi dan kontruksi hukum, yaitu : 1. Pada interpretasi, penafsiran terhadap teks undang-undang, masih tetap berpegang pada bunyi teks itu. 2. Pada kontruksi, hakim menggunakan penalaran logisnya untuk mengembangkan lebih lanjut

suatu teks undang-undang, di mana hakim tidak lagi berpegang pada bunyi teks itu, tetapi dengan syarat hakim tidak mengabaikan hukum sebagai suatu sistem. Pendapat Achmad Ali tersebut di atas, adalah merupakan hasil kesimpulan setelah membandingkan beberapa pendapat pakar tentang hal itu. Kemudian dalam pelaksanaan tugas hakim pada saat penemuan hukum dilakukan secara bertahap. Sementara itu metode penemuan hukum melalui kedua cara, penafsiran dan kontruksi hukum dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut : a. Penafsiran, antara lain dapat dilakukan melalui cara penafsiran gramatikal; historis; sistematis; dan teleologis (sosiologis). b. Kontruksi hukum, antara lain penafsiran analogis; a contrario; dan penghalusan hukum. Tahapan Tugas Hakim dan Saat Penemuan Hukum dilakukan Sudikno Mertokusumo (Op.Cit, 1996: 164-165) adalah yang pertama kali memperkenalkan adanya 3 tahap tugas hakim, yang dapat diringkaskan sebagai berikut : 1. Tahap konstatir: disini hakim mengkontatir benar atau tidaknya peristiwa yang diajukan. Misalnya benarkah si A telah menabrak si B, sehingga si B menderita luka-luka ? di sini para pihak (dalam perkara perdata) penuntut hukum (dalam perkara pidana) berkewajiban untuk membuktikan melalui penggunaan alat-alat bukti. Dalam tahap konstatir ini kegiatan hakim bersifat logis. Penguasaan hukum pembuktian bagi hakim, sangat dibutuhkan pada tahap ini. 2. Tahap kualifikasi: di sini hakim kemudian mengkualifisir termasuk hubungan hukum apa tindakan si A tadi ? Dalam hal ini dikualifisir sebagai perbuatan melawan hukum (Pasal 1366 jo Pasal 1371 KUH Perdata) atau Karena kesalahan /kelalaiannya sehingga orang lain luka-luka (Pasal 360 ayat (1) KUHP) atau bukan perbuatan melanggar hukum dan diselesaikan secara damai (menurut kebiasaan masyarakat). 3. Tahap konstituir: di sini hakim menetapkan hukumnya terhadap yang bersangkutan (para pihak atau terdakwa). Di sini hakim menggunakan sillogisme, yaitu menarik suatu simpulan dari premis mayor berupa aturan hukumnya dan premis minor berupa tindakan si A menabrak si B. Proses penemuan hukum oleh hakim dimulai pada tahap kualifikasi dan berakhir pada tahap konstituir. Hakim menemukan hukum melalui sumber-sumber hukum yang tersedia. Dalam hal ini kita tidak menganut pandangan legisme yang hanya menerima undang-undang saja sebagai satu-satunya hukum dan sumber hukum. Sebaliknya di sini, hakim dapat menemukan hukum melalui sumber-sumber hukum: undang-undang, kebiasaan, traktat, yurisprudensi, putusan desa, doktrin, hukum agama, dan bahkan keyakinan hukum yang dianut oleh masyarakat (Sudikno Mertokusumo, Ibid, 1996: 165).

Hal tersebut di atas sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam pasal 28 ayat (1) UndangUndang Tentang Kekuasaan Kehakiman. Sedangkan Cardozo (Sudikno Mertokusumo, Ibid, 1996: 165-166), berpandangan bahwa, “Kewajibannya sebagai hakim untuk menegakkan objektivitas melalui putusan-putusannya. Bagi Cardozo, putusan-putusannya tidaklah merupakan perwujudan aspirasi pribadinya, tidak merupakan manifestasi dari pendirian pribadinya dan tidak merupakan penerapan falsafah pribadinya; melainkan perwujudan aspirasi, pendirian dan falsafah warga masyarakat pada waktu dan dimana putusan itu dijatuhkan.” Uraian di atas menunjukkan bahwa penemuan hukum oleh hakim merupakan suatu keharusan dan penting dalam praktek di pengadilan. Kasus Posisi Dalam sistem hukum Indonesia, perbuatan seseorang yang merugikan pihak lain dapat dituntut dihadapan pengadilan, baik melalui gugatan ganti rugi secara perdata maupun secara pidana. Namun dalam penuntutannya dilakukan secara terpisah atau sendiri-sendiri. Seperti dalam perkara pidana, jika hakim menghadapi suatu kasus yang perlu di pecahkan dengan penemuan hukum. Hakim berpegang dan berpedoman pada hukum tertulis (peraturan perundang-undangan) dan hukum tidak tertulis yaitu hukum adat dan kebiasaan yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat, dimana putusan itu harus benar dan berkeadilan secara obyektif. Artinya kebebasan hakim harus dilandasi aturan hukum yang berlaku serta pengalaman dalam pelaksanaan tugas, seorang hakim selalu berusaha dengan sebaik-baiknya memutus perkara sesuai rasa keadilan hukum masyarakat.(Pendapat hakim, 2001). Misalnya dalam rangka penemuan hukum ini dapat diuraikan kasus atau perkara yang diputus oleh Pengadilan Negeri Bandung. Putusan Nomor : 264 / PID / B / 2000 / PN BDG. Ringkasan Perkara : a. Identitas terdakwa : NS BIN OA, Lahir di Bandung, umur 18 tahun, jenis kelamin laki-laki, kebangsaan Indonesia, bertempat tinggal di JL. Pagarsih Gang Holili Rt. 10/09 Kel. Jamika, Kec. Bojong Loa KalerBandung. Agama Islam, pekerjaan Tuna Karya. b. Dalam dakwaan, Jaksa Penuntut Umum menuntut hal-hal berikut : 1) Menyatakan bahwa terdakwa : NANA SUHARNA BIN OCIN AWAN bersalah melakukan tindak pidana. KARENA KESALAHAN /KEALPAANNYA MENYEBABKAN ORANG LAIN LUKA BERAT sebagaimana diatur dan diancam dalam pasal 360 ayat (1); 2) Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa tersebut, dengan pidana penjara selama 10 (sepuluh) Bulan; 3) Memerintahkan supaya terdakwa tetap berada dalam tahanan; 4) Menyatakan barang bukti berupa : 1 (satu) Unit kendaraan sepeda motor No.Pol D 2559 PA; 1 (satu) S.T.N.K - No.Pol D 2559 PA; Dikembalikan kepada pemiliknya CECEP DURAHMAN;

5) Menetapkan supaya Terdakwa dibebani biaya perkara sebesar Rp. 500,- (lima ratus rupiah). c. Pembelaan terdakwa, yang disampaikan secara lisan/tertulis, yang pada pokoknya memohon kepada Majelis Hakim agar ia/mereka dijatuhi pidana yang seringan-ringannya; d. Keterangan saksi dan terdakwa : 1) Keterangan Saksi NY. F A T I M A H, Bahwa benar, kejadiannya pada hari Minggu tanggal 08 Maret 2000, pukul 09.30 WIB dijalan Jamika depan rumah no. 130 Bandung antara kendaraan Jenis sepeda motor dengan saya selaku penyebrang jalan. Bahwa benar, sewaktu itu saya berjalan dari rumah dengan tujuan ke Gang. Oyon dengan melintasi Jl. Jamika bergerak dari arah Barat menuju arah Timur, sesaat sebelum kecelakaan situasi lalu lintas dalam keadaan sepi/ tidak ada kendaraan yang melintas, selanjutnya saya menyebrang, terjadilah tabrakan tersebut. Bahwa benar, menderita luka pada kaki sebelah kiri dan tulang rusuk sebelah kanan dan masih dirawat di R5. Rajawali Bandung (Dari 05 Maret s/d tanggal 08 Maret 2000) diruang I C U. 2) Keterangan Saksi IRWAN, Bahwa benar, terjadinya pada hari Minggu dijalam Jamika depan rumah no. 130 Bandung antara Kendaraan jenis sepeda motor No. Pol D 2559 PA dikemudikan oleh Sdr. NANA SUMARNA (Terdakwa) dengan penyebrang jalam bernama NY. FATIMAH (Saksi I)Bahwa benar, dengan pengemudinya kenal karena sering berkumpul dengan temantemannya didepan toko saya dan juga tetangga, tapi tidak ada hubungan keluarga sedangkan dengan penyebrang kenal sepintas. Bahwa, saya tidak melihat secara langsung, tetapi mendengar suara keras yang ditimbulkan dari kecelakaan itu dan pada waktu itu saya sedang memperbaiki sepeda motor saya berada didepan Toko saya sekitar 20 - 30 meter dari tempat kejadian. 3) Keterangan terdakwa, Bahwa benar, kecelakaan tersebut terjadinya pada hari Minggu tanggal 05 Maret 2000, sekitar pukul 09.30 WIB dijalan Jamika antara kendaraan jenis sepeda motor No.Pol D 2559 PA yang dikemudikan oleh saya sendiri dengan penyebrang jalan bernama Ny. FATIMAH. Bahwa benar, tidak kenal dengan penyebrang tersebut dan tidak mempunyai hubungan keluarga apapun dengannya. e. Bukti-bukti : 1 (satu) Unit sepeda motor merk SUZUKI No.Pol D 2559 PA beserta S.T.N.K nya. f. Hal yang meringankan dan memberatkan: 1) Hal yang meringankan : Terdakwa masih muda, belum pernah dihukum; mengaku bersalah dan menyesali atas perbuatannya; Telah memberikan bantuan pengobatan kepada korban. 2) Hal yang memberatkan : Perbuatan Terdakwa telah menyebabkan orang lain menderita baik fisik maupun material. g. Putusan hakim Menyatakan terdakwa : NS BIN OA yang identitasnya sepert tersebut di atas, secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana : "KARENA KESALAHAN/KEALPAANNYA MENYEBABKAN ORANG LAIN LUKA BERAT". Putusannya antara lain : Memidana Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 8 (delapan) Bulan; Menetapkan bahwa pada waktu menjalankan putusan ini, lamanya Terdakwa berada dalam tahanan sementara sebelum putusan ini menjadi tetap akan dikurangkan segenapnya dari pidana yang telah dijatuhkan; Menetapkan supaya Terdakwa tetap dalam tahanan; Menetapkan barang bukti berupa : 1 (satu) Unit kendaraan sepeda motor No.Pol D 2559 PA; 1 (satu) S.T.N.K - No.Pol D 2559 PA; Dikembalikan kepada pemiliknya CECEP DURAHMAN; Membebankan biaya perkara ini kepada Terdakwa sebesar Rp. 500,- (lima ratus

rupiah). Seperti disebutkan pada poin f ke-1) di atas, bahwa terdakwa telah memberikan bantuan pengobatan kepada korban. Sikap terdakwa ini dinilai oleh hakim sebagai unsur yang meringankan bagi terdakwa. Padahal di masyarakat kita dalam setiap kejadian atau peristiwa hukum selalu diselesaikan secara damai oleh para pihak, tanpa harus melibatkan aparat penegak hukum. Masyarakat kita secara umum mengenal asas kekeluargaan. Asas ini sangat berpengaruh bagi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, bahkan asas ini telah dianggap menjadi kebiasaan yang melekat pada sendi-sendi kehidupan masyarakat itu sendiri. Artinya asas kekeluargaan telah diterima sebagai hukum kebiasaan. Tetapi hakim PN Bandung menganggap masyarakat telah melakukan tindakan yang dapat dinilai sebagai main hakim sendiri (eigenrichting), jika masyarakat menangani sendiri setiap perkara yang dihadapi oleh masyarakat. Karena telah melanggar asas-asas hukum yang berlaku sebagai hukum positif. Lebih jauh lagi, misalnya dalam perkara di atas, A menabrak B, sehingga menyebabkan B lukaluka, menurut hukum perdata B dapat menuntut secara perdata, A dan B melakukan perdamaian, dengan cara A memberikan ganti kerugian kepada B berupa biaya perawatan sampai B sehat kembali. Bagi hakim PN Bandung tindakan A tidak dapat menghapuskan sifat melawan hukumnya, akan tetapi sangat berpengaruh dalam pertimbangan hakim untuk menjatuhkan pidana, sehingga dalam penjatuhan hukuman dapat dipertimbangkan menjadi hal-hal yang meringankan.Dengan demikian, walaupun A memberikan ganti rugi sepenuhnya kepada B, maka tindakan A pun tidak dapat menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan karena pada pokoknya dalam perkara pidana sifat melawan hukum tidak dapat hapus karena adanya ganti rugi, justru ganti rugi dibayarkan karena adanya perbuatan melawan hukum, namun dengan adanya ganti rugi maka kewajiban hukum telah terpenuhi. Menurut ketentuan hukumnya, sifat melawan hukum tidak dapat dihapus begitu saja, kecuali ada terdapat alasan pembenar dan alasan pemaaf. Berarti seseorang dapat dilepaskan dari tanggung jawab melawan hukumnya seperti dilakukan oleh misalnya : Orang gila atau over macht/keadaan terpaksa.Dalam kasus pasal 360 ayat (1) KUH Pidana, karena sifatnya kealpaan (bukan kesengajaan) apabila terjadi penyelesaian di luar pengadilan, misalnya adanya perdamaian, maka hanya berpengaruh bagi hakim dalam hal penjatuhan pidana terhadap pelaku. Jadi pada hakikatnya dalam perkara pidana tidak dikenal adanya af boop (denda damai), dalam contoh kasus ex. Pasal 360 (1) KUHP sifat melawan hukum tidak dapat dihapus walaupun ada suatu perdamaian atau pencabutan pengaduan. Menurut UU Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sifat melawan hukum dapat hapus karena : 1) Negara tidak dirugikan; 2) Kepentingan masyarakat terlayani; dan 3) Terdakwa tidak menikmati hasil perbuatannya. Dalam suatu kasus, sifat melawan hukum mungkin dapat di hapus, walaupun secara hukum (materil), ia terbukti bersalah. Artinya sifat melawan hukum itu dapat dihapus, walaupun secara hukum (materiil) ia terbukti bersalah, kalau sipelaku tidak dapat dipertanggung jawabkan menurut hukum atas perbuatannya tersebut.

Dalam hal perkara berupa delik aduan maka pengaduan dapat dicabut sesuai ketentuan hukum yang berlaku dan kasus tidak dilanjutkan sedangkan dalam perkara perdata sengketa tidak berlanjut karena perdamaian. Menurut hakim PN Bandung sifat melawan hukum dapat hapus dengan ganti kerugian menurut KUH Perdata atau ganti kerugian menurut hukum kebiasaan yang berlaku di masyarakat, jika kedua belah pihak menyatakan sudah ada penyelesaian, maka hakim akan berpendapat perkara tersebut sudah selesai dan hakim membuat putusan perdamaian. Dengan kata lain, sifat melawan hukum pidana tidak dapat hapus dengan ganti kerugian menurut KUH Perdata atau ganti kerugian menurut hukum kebiasaan yang berlaku di masyarakat, kecuali jika ada alasan "sudah ada penyelesaian". Maksudnya Dalam kasus yang di contohkan di atas, menurut Hakim Pengadilan Negeri Bandung : "tidak ada cara untuk melakukan penghapusan sifat melawan hukum." Kecuali ada pernyataan bahwa kasus tersebut sudah ada penyelesaian dan putusannya pun bersifat perdamaian. Analisis dan Hasil Pembahasan Putusan hakim yang bersifat konkrit langsung menyentuh kenyataan yang ada dan akan segera menghidupkan rasa keadilan, dibandingkan peraturan perundang-undangan yang abstrak dan masih perlu diuji keterandalannya. Hal ini sejalan dengan fungsi hakim sebagaimana diatur dalam Pasal 28 ayat (1) UU Kekuasaan Kehakiman yang menyebutkan, “Hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.” Berkaitan dengan penerapan peraturan perundang-undangan, Bagir Manan (2000: 9) menjelaskan bahwa, hakim dapat menjalankan fungsi-fungsi berikut : a. Menjamin peraturan perundang-undangan diterapkan secara benar dan adil. Apabila penerapan peraturan perundang-undangan akan menimbulkan ketidakadilan, hakim wajib berpihak kepada keadilan dan mengenyampingkan peraturan perundang-undangan; b. Sebagai "dinamisator" peraturan perundang-undangan. Hakim dengan menggunakan metode penafsiran, kontruksi, dan berbagai pertimbangan sosiokultural berkewajiban menghidupkan peraturan perundang-undangan untuk memenuhi kebutuhan nyata masyarakat; c. Melakukan "koreksi" terhadap kemungkinan kekeliruan atau kekosongan peraturan perundang-undangan. Hakim wajib menemukan hukum bahkan menciptakan hukum untuk mengoreksi atau mengisi peraturan perundang-undangan; d. Melakukan "penghalusan" terhadap peraturan perundang-undangan. Tanpa penghalusan, peraturan perundang-undangan akan begitu keras sehingga tidak mewujudkan keadilan atau tujuan tertentu secara wajar. Lebih jauh, Bagir Manan (Ibid, 2000: 9-10) menjelaskan bawa, “Kita tetap percaya dengan

pedang keadilan hakim, karena itu hakim perlu berwawasan luas untuk rnenerapkan hukum. Hakim bukan mulut undang-undang. Hakim adalah pemberi keadilan. Apabila ada pertentangan antara keadilan dan hukum, hakim wajib memihak keadilan dan mengesampingkan hukum.” Dalam rangka penerapan peraturan perundang-undangan ini, misalnya dalam sistem hukum pidana. Pembentuk undang-undang menyatakan dalam suatu aturan perundang-undangan pidana. Sebelum dinyatakannya dalam suatu aturan perundang-undangan pidana, maka perbuatan tersebut belum dapat dikatakan perbuatan pidana. Hal tersebut memenuhi ketentuan yang disebutkan dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP bahwa tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan suatu aturan pidana dalam perundang-undangan sebelum perbuatan dilakukan (Roeslan Saleh, 1987: 1). Aturan pidana adalah aturan hukum. Aturan hukum berisi penilaian tentang kelakuan-kelakuan yang berhubungan dengan aturan hukum mengenai baik atau buruk bagi masyarakat. Sehingga dengan demikian hukum dipandang sebagai keseluruhan penilaian mengenai cara bagaimana orang sepatutnya berbuat dalam masyarakat. Aturan pun dipandang sebagai aturan mengenai seharusnya.Aturan hukum bersifat umum, karena dia bukan sesuatu yang ditetapkan untuk seseorang tertentu, melainkan untuk semua orang dalam masyarakat tertentu sehingga mengakibatkan pula kesamaan hukum. Artinya aturan yang sama untuk kejadian yang sama (Roeslan Saleh, 1987: 2). Tetapi mungkin sekali terjadi terhadap suatu kejadian kongkrit yang dihadapkan kepada hakim bilamana diterapkan aturan hukum yang pada hakikatnya bersifat adil, akan menghasilkan suatu putusan yang tidak adil. Dengan dinyatakannya suatu perbuatan dapat dipidana maka pembentuk undang-undang memandang bahwa perbuatan tersebut bersifat melawan hukum. Sifat melawan hukum adalah unsur mutlak perbuatan pidana. Dalam perkara nomor 264/pid/B/2000/PN. Bdg. Yang diperiksa oleh hakim, dapat diuraikan sebagai berikut : A (terdakwa) yang mengendarai sepeda motor telah menabrak B (korban) sehingga menyebabkan korban luka-luka dan tidak dapat bekerja untuk sementara waktu dan ia menanggung kerugian materiil sebesar Rp. 20.000.000,- sebagai ongkos pengobatan dan perawatan.Sebagaimana kita ketahui bahwa apabila suatu perbuatan yang di dalam hukum tertulis tersebut sebagai delik sehingga perbuatan tersebut harus dituntut secara hukum kepengadilan di satu sisi, di sisi lain tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat kita menganut asas kekeluargaan, dimana di dalam asas tersebut terkandung suatu maksud agar di dalam masyarakat terjadi suatu kedamaian, tentunya dengan tidak mengenyampingkan rasa keadilan pada masyarakat itu sendiri. Asas tersebut di atas, digunakan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat dalam setiap kejadian (peristiwa hukum), tak terkecuali dalam perkara nomor 264/pid/B/2000/PN. Bdg. Sebelum terdakwa dituntut oleh penuntut umum, Ia telah melakukan upaya damai yaitu dengan meberikan penggantian pengobatan dan perawatan kepada korban, walaupun penggantian yang diberikan tergugat tidak sesuai dengan kerugian yang diderita oleh korban, dimana terdakwa hanya mampu memberi ganti sebesar Rp. 2.500.000,- tetapi apa yang dilakukan oleh tergugat itu merupakan cerminan masyarakat kita yang menganut asas kekeluargaan. Jika kita hubungkan dengan ajaran melawan hukum materiil dengan fungsinya yang negatif, asas

kekeluargaan sebagai suatu kebiasaan yang telah diterima oleh masyarakat secara luas dan telah memenuhi syarat-syarat sebagai hukum kebiasaan, seharusnya dapat mengesampingkan hukum tertulis atau pasal yang dituduhkan kepada tergugat, yaitu Pasal 360 ayat (1) KUHP : "Karena kesalahan atau kelalaiannya sehingga orang lain luka-luka.” Pandangan di atas, tidak dapat diterima oleh hakim Pengadilan Negeri Bandung, karena mereka cenderung berpandangan formal, sehingga dalam perkara tersebut di atas, tergugat yang dituntut 10 (sepuluh) bulan penjara, dalam putusannya hakim menetapkan hukuman selama 8 (delapan) bulan penjara. Dalam perkara di atas, aspek ganti rugi menurut kebiasaan tidak dapat menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan, tetapi ganti kerugian tersebut dipertimbangkan oleh hakim sebagai unsur yang meringankan dalam penentuan pidana. Begitupun apabila tergugat, di samping ia digugat secara pidana, juga ia dituntut secara perdata dalam bentuk ganti rugi, maka ganti rugi secara perdata pun tidak dapat menghapuskan sifat melawan hukum. Karena hakikatnya kita tidak mengenal adanya denda damai atau af boop (Pendapat Hakim, 2001). Menurut saya, seharusnya hakim dapat menerima ajaran melawan hukum materiil sehingga ganti kerugian baik menurut hukum kebiasaan maupun menurut hukum perdata dapat mengesampingkan atau menjadi alasan penghapusan sifat melawan hukumnya perbuatan. Lebih jauh lagi hakim seharusnya menerima dan menjalankan fungsinya sebagaimana yang telah diuraikan di atas. Hakim harus menjamin peraturan perundang-undangan diterapkan secara benar dan adil; Apabila penerapan peraturan perundang-undangan akan menimbulkan ketidakadilan, hakim wajib berpihak kepada keadilan dan mengenyampingkan peraturan perundang-undangan; Artinya dalam perkara Pasal 360 ayat (1) KUHP : "Karena kesalahan atau kelalaiannya sehingga orang lain luka-luka," hakim dapat mengambil sikap mengesampingkan peraturan-peraturan yang secara formil dapat menyebabkan ketidakadilan bagi masyarakat (terdakwa). Sebagai "dinamisator" peraturan perundang-undangan. Hakim dengan menggunakan metode penafsiran, kontruksi, dan berbagai pertimbangan sosiokultural berkewajiban menghidupkan peraturan perundang-undangan untuk memenuhi kebutuhan nyata masyarakat; Artinya asas kekeluargaan sebagai hukum kebiasaan seharusnya menjadi dasar bagi hakim untuk melegitimasi agar ganti rugi menurut hukum kebiasaan maupun menurut hukum perdata dapat dijadikan alasan penghapusan sifat melawan hukumnya perbuatan. Dalam fungsi “koreksi" terhadap kemungkinan kekeliruan atau kekosongan peraturan perundang-undangan. Hakim wajib menemukan hukum bahkan menciptakan hukum untuk mengoreksi atau mengisi peraturan perundangundangan; jika hakim menerima bahwa ganti rugi menurut hukum kebiasaan maupun menurut hukum perdata sebagai alasan penghapusan sifat melawan hukumnya perbuatan, maka ia telah melengkapi, mengkoreksi dan sekaligus ia telah melakukan fungsi penemuan hukum atau ia juga melakukan penghalusan hukum. Dalam hal ini, penulis berpendapat bahwa hakim PN Bandung cenderung berpandangan legistis (legalistik formal) dan menolak pandangan materiil, sehingga sulit baginya untuk menerima ajaran melawan hukum materiil yang memungkinkan terdakwa terlepas dari tuntutan hukum, karena bagi penulis menjadi tidak adil apabila terdakwa yang telah mempunyai itikad baik dengan memberikan ganti rugi, tetapi ia juga harus menjalani hukuman di dalam penjara. Dan

dalam hal ini, seharusnya hakim sebagai pemberi keadilan. Apabila ada pertentangan antara keadilan dan hukum, hakim wajib memihak keadilan dan mengesampingkan hukum. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Dari uraian di atas dapat diambil suatu simpulan bahwa ganti rugi baik menurut KUH Perdata maupun menurut hukum kebiasaan tidak dapat dijadikan alasan penghapusan sifat melawan hukumya perbuatan, tetapi hanya dapat dipertimbangkan sebagai unsur yang meringankan dalam penetapan putusan (hukuman). Hal ini disebabkan karena hakim PN Bandung berpandangan sangat legis, yaitu dengan adanya asas legalitas dan hakim menganut ajaran melawan hukum formil. Saran Dalam sistem hukum pidana, seharusnya hakim dapat menerima ajaran melawan hukum materiil, sehingga ganti rugi baik menurut KUH Perdata maupun menurut hukum kebiasaan dapat menjadi alasan penghapus sifat melawan hukum perbuatan. Utamanya terhadap perbuatan yang tidak menimbulkan kerugian pada badan atau nyawa manusia. DAFTAR PUSTAKA

A. Buku- Achmad Ali, Menguak Tabir Hukum Suatu kajian Filosofis dan Sosiologis, Cet. 1, Jakarta: Chandra Pratama, 1996. Mochtar Kusumaatmadja, Fungsi dan Perkembangan Hukum dalam Pembangunan Nasional, Bandung: Bina Cipta, tanpa tahun. Roeslan Saleh, Sifat Melawan Hukum Perbuatan Pidana, Cet. 5, Jakarta : Aksara Baru, 1987. Ronny Hanitijo Soemitro, Metode Penelitian dan Jurimetri, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1990. R. Soesilo, KUHP Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, Bogor : Politea, 1994. Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum: Suatu Tinjauan Singkat, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995. Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar. Cet. 1. Yogyakarta: Liberty, 1996. Yudha Bhakti Ardhiwisastra, Penafsiran dan Kontruksi Hukum, Cet. 1. Alumni : Bandung, 2000. B. Materi Kuliah dan Simposium Bagir Manan, 2000. Dekolonisasi Hukum, Hakim dan Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945, ( Mochtar Kusumaatmadja, 1976. Hubungan antara Hukum dan Masyarakat, (Simposium: Hubungan timbal balik antara Hukum dan Kenyataan-kenyataan Masyarakat, diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, tanggal 26-28 Februari 1976) Jakarta: Bina Cipta. C. Peraturan Perundang-undangan dan Yurisprudensi Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945.

________, Tap MPR Tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara, Tap MPR No. IV/MPR/1999. ________, Undang-Undang Tentang Kekuasaan Kehakiman. UU No. 4 Tahun 2004, LN No. 8 tahun 2004. ________, Undang-Undang Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, UU No. 1 Tahun 1946, LN No. 76 tahun 1946.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->