P. 1
EFEKTIVITAS METODE IQRO

EFEKTIVITAS METODE IQRO

|Views: 359|Likes:
Published by Hisan Endless

More info:

Published by: Hisan Endless on Jun 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/16/2013

pdf

text

original

EFEKTIVITAS METODE IQRO’ DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA ALQUR’AN DI TKA – TPA “AMM” KOTAGEDE YOGYAKARTA

Posted: Juli 26, 2010 Oleh: Drs. H. Mangun

Budiyanto

1. I. Pendahuluan Sebagaimana dikatakan oleh Mahmud Yunus (1979: 34) dan Kafrawi (1978: 17) secara historis pembelajaran Al-Qur’an di Indonesia tumbuh dan tersebar beriringan dengan tersebarnya agama Islam. Sebab di mana ada umat Islam, sudah dipastikan segera diikuti oleh berdirinya masjid atau mushalla, yang disamping sebagai tempat ibadah, juga sekaligus sebagai sentral pengajian, baik pengajian anakanak, remaja, dewasa, orangtua, maupun pengajian umum. Khusus untuk pengajian anak-anak, umumnya diselenggarakan tiap malam hari sesudah shalat berjama’ah maghrib, dengan materi membaca Al-Qur’an, ibadah praktis, keimanan dan akhlak. Untuk pembelajaran membaca Al-Qur’an, umumnya dipergunakan kitab “Juz ‘Amma” yang di Jawa dikenal dengan istilah “turutan” atau kaidah Baghdadiyah. Cara mengajarkannya dimulai dengan mengenalkan huruf-huruf hijaiyah, kemudian tanda-tanda bacanya dengan dieja/diurai secara pelan. Setelah menguasai barulah diajarkan membaca QS. Al-Fatehah, An-Nas, Al-Falaq, Al-Ikhlas, dan seterusnya. Setelah selesai Juz ‘Amma, maka dimulai membaca Al-Qur’an pada mushaf, dimulai juz pertama sampai tamat. Dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi, pengajian anak-anak terus menyebar dalam jumlah besar merata di seluruh pelosok tanah air. Berkat pengajian anak-anaklah maka kemudian umat Islam, dari generasi ke generasi berikutnya, mampu membaca Al-Qur’an dan mengetahui dasar-dasar keislaman. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan iptek, sistem pengajian “tradisional” dan metode pembelajaran dengan kaidah Baghdadiyah yang demikian jadi kurang menarik. Anak-anak lebih tahan duduk berjam-jam di depan TV daripada duduk setengah jam di depan guru ngaji. Akibatnya, harus dibutuhkan waktu 2 – 5 tahun untuk bisa memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an (Mahmud Yunus, 1979: 35). Akibat lebih lanjut adalah semakin banyak terlihat anak-anak muda Islam yang tidak memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an. Hal yang demikian sungguh memprihatinkan! Di tengah keprihatinan ini ternyata mendorong banyak ahli untuk mencari berbagai solusi pemecahannya. Maka sejak tahun 1980-an di Indonesia bermunculan ide-ide dan usaha untuk melakukan pembaruan sistem dan metode pembelajaran membaca Al-Qur’an ini. Diantara tokoh pembaru yang cukup menonjol adalah KH. As’ad Humam dari Kotagede Yogyakarta. KH. As’ad Humum bersama kawan-kawannya yang dihimpun dalam wadah Team Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Mushalla (Team Tadarus “AMM”) Yogyakarta, telah mencari bentuk baru bagi sistem pengelolaan pengajian anak-anak dan metode pembelajaran membaca Al-Qur’an. Setelah melalui studi banding dan ujicoba, maka pada tanggal 21 Rajab 1408 H, bertepatan dengan tanggal 16 Maret 1988, didirikanlah Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an (TKA) “AMM” Yogyakarta. Setahun kemudian, tepatnya tanggal 16 Ramadlan 1409 H (23 April 1989) didirikan pula Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) “AMM” Yogyakarta. Antara TKA dan TPA tidaklah memiliki perbedaan dalam sistem, keduanya hanya berbeda dalam hal usia anak didiknya. TKA untuk anak usia TKA (4,0 – 6,0 tahun) sedangkan TPA, untuk anak usia SD (7,0 – 12,0 tahun). (As’ad Humam, dkk, 1995: 3-4). Bersamaan dengan didirikannya TKA-TPA, KH. As’ad Humam tekun menulis dan menyusun buku Iqro’, Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur’an, yang kemudian lebih dikenal sebagai “Metode Iqro’”. Metode ini ternyata, menurut informasi berbagai pihak, telah sanggup membawa anak-anak lebih mudah dan lebih cepat dalam belajar membaca Al-Qur’an. Namun benarkah demikian? Tulisan dalam makalah ini akan mencoba menjawab pertanyaan di atas. Sejauhmana efektivitas metode Iqro’ melalui sistem TKA-TPA ini dalam mengantarkan para anak didiknya memiliki kemampuan dalam membaca Al-Qur’an? Jawabannya tentu diperlukan melihat dari dekat TKA-TPA “AMM” Kotagede Yogyakarta, yang merupakan sumber awal dari sistem dan metode baru ini. 1. II. Gambaran Umum TKA-TPA “AMM” TKA-TPA “AMM” ini terletak di Kampung Selokraman, suatu kampung di pinggiran kota Yogyakarta yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Bantul. Selokraman ini masuk wilayah Kalurahan Purbayan, Kecamatan Kotagede Yogyakarta. Di Kotagede inilah dulunya Kerajaan Islam Mataram berpusat sebelum kemudian berpindah ke tengah-tengah kota Yogyakarta yang sekarang ini. Pada awal berdirinya (1988), TKA-TPA “AMM” ini belum memiliki gedung sendiri. Mula-mula hanya menempati beberapa ruang (salah satunya adalah ruang garasi) dari rumah milik pribadi KH. As’ad Humam. Baru kemudian pada tahun 1991 bisa membangun sebuah gedung yang memiliki 15 ruang, 4

30 dan dilanjutkan shalat ashar berjama’ah. Di samping target pokok dirumuskan pula adanya target penunjang. Sebagai suatu sistem pendidikan. TKA-TPA “AMM” juga didukung oleh fasilitas gedung lain yang juga dimanfaatkan untuk kegiatan.M. Di samping memiliki gedung dengan 15 ruang di atas. 5. 25 orang guru (73. 2007: 4).00-17. TKA-TPA “AMM” telah merumuskan tujuan pendidikan yang ingin dicapainya. 8. surat-surat pendek dan ayat pilihan) : Privat (proses pembelajaran baca Al-Qur’an dengan .ruang diantaranya berada di lantai 2. pijakan hidup dan rujukan segala urusannya. Untuk TKA-TPA sebagai jenjang pertama. Di sebelah kiri ruang-ruang kelas terdapat kamar kecil dan halaman samping. c. salam. mampu dan rajin membacanya. 4. Untuk tahun ajaran 2008/2009 saat ini. Shif pertama masuk jam 14. Unit TKA TPA TKA Lanjutan TPA Lanjutan Pra TQA (Tahfidz Juz ‘Amma) TQA (Tafhim Juz ‘Amma) TQA (Maudlu’iyah) TQA (Tartibiyah) Jumlah Putra 80 34 35 32 14 15 4 214 Putri 60 41 31 19 23 14 5 193 Jumlah 140 75 66 51 37 29 9 0 407 Dari jumlah 407 anak tersebut. sedang santri TPA-nya sebanyak 75 anak. dan (6) membiasakan berinfak. (2) Wisma “AMM” yang bisa menampung 100 orang tamu. yaitu santri mampu: (1) membaca Al-Qur’an sesuai kaidah ilmu tajwid dengan baik dan benar.50%) berusia antara 21-30 tahun. Budiyanto.00 dan sebelumnya diawali dengan shalat berjama’ah ashar. Team Tadarus “AMM” memiliki 407 santri. (2) hafal 13 surat pendek. b. 3. Team Tadarus “AMM” saat ini telah menyusun 5 jenjang pendidikan. dan (5) halaman masjid yang bisa dimanfaatkan untuk parkir 75 kendaraan roda 2. yang terdiri dari 140 anak santri TKA.30-15. 7. Pembagian shif ini dilakukan atas pertimbangan keterbatasan ruang dan ustadz. (5) memiliki dasar-dasar akidah yang benar dan akhlak mulia. etika dan do’a sehari-hari. Dalam buku kecil terbarunya (H. yang terdiri dari 8 orang guru laki-laki (ustadz) dan 26 orang guru perempuan (ustadzah). Kelima jenjang itu adalah: Masing-masing jenjang diprogramkan untuk masa 1 (satu) tahun dengan target masing-masing yang telah dirumuskan secara sistematis. terus menerus mempelajari isi kandungannya. Hal ini ditandai dengan kecintaan yang mendalam terhadap Al-Qur’an. (3) hafal bacaan shalat. dkk. dan memiliki kemauan yang kuat untuk mengamalkannya secara kaffah dalam kehidupan sehari-hari. 6. yaitu (1) gedung pertemuan berlantai 2 yang bisa menampung 500 orang. do’a dan presensi) : Klassikal I (bacaan sholat. 2 ruang untuk kantor. (4) bisa menulis ayat Al-Qur’an. (2) melakukan praktek wudlu dan shalat. yaitu: (1) hafal 15 do’a sehari-hari. Sedang waktu yang 60 menit tiap hari masuk itu digunakan: Durasi (menit) a. 2. Mereka masuk tiap hari (selain Jum’at) yang terbagi dalam 2 shif. disebutkan bahwa tujuan pendidikannya adalah menyiapkan terbentuknya generasi qur’ani. sebagaimana terlihat pada tabel di atas. sedang di depan gedung terdapat halaman yang cukup luas untuk bermain dan upacara. (4) masjid yang bisa menampung 750 orang. Demi tercapainya tujuan pendidikan yang cukup ideal ini. (3) hafal 2 kelompok ayat pilihan. ada 3 target pokok yang ingin dicapai. dengan perincian sebagai berikut: No 1. 11 ruang untuk kegiatan belajar (ruang kelas). 05 15 25 Keterangan : Pembukaan (persiapan. yang masing-masing jenjang telah merumuskan target-target yang harus dicapai. sedang shif kedua masuk jam 16. saat ini diasuh oleh 34 orang guru. (3) halaman Wisma “AMM” yang bisa digunakan parkir 300 kendaraan roda 2. 1 ruang untuk sekretariat Team Tadarus “AMM” dan 1 ruang untuk sekretariat Team Tadarus “AMM” dan 1 ruang untuk ruang tamu. saat ini berjumlah 215 anak. sedang pendidikan mereka mayoritas (21 orang = 63%) berpendidikan Sarjana (S1). Khusus untuk santri TKA-TPA. yaitu generasi yang memiliki komitmen terhadap Al-Qur’an sebagai sumber perilaku.

awas. dan sebagainya. santri dikelompokkan dalam kelas-kelas. Mata Pelajaran Smt I Pembelajaran Iqro’/tadarus Al-Qur’an6 secara privat dan menulis Bacaan sholat dan surat-surat pendek 4 Etika dan do’a sehari-hari 3 Ayat-ayat pilihan 2 Hadits/mahfudzot tentang akidah akhlak3 (BCM) Praktek wudlu. 10 05 buku Iqro’ dan menulis) : Klassikal II (hadits/mahfudzot tentang akidah akhlak yang disampaikan dengan BCM) : Penutup (do’a. Bila santri keliru baca huruf. stop” dan lain sebagainya Bila dengan isyarah masih tetap keliru. Betul. setelah itu santri aktif membaca sendiri. Privat. baca ikrar. Cara mengajarkan buku Iqro’ haruslah disesuaikan dengan petunjuk pengajaran yang telah digariskan oleh KH. Baik TKA maupun TPA. 5. e. 3. Metode Pembelajaran Membaca Al-Qur’an Dari uraian di atas sudah terlihat bahwa pembelajaran membaca Al-Qur’an diberikan di jenjang TKA-TPA dengan sistem privat. 4. ada seorang wali kelas dan dibantu oleh beberapa orang ustadz/ ustadzah privat. guru sebagai penyimak saja. 7. Santri yang lebih tinggi pelajarannya dapat membantu menyimak santri lain. Yang penting santri betul bacaannya. Karena sifatnya yang individual. sedangkan ustadz hanya menerangkan pokok-pokok pelajarannya dan menyimak (memperhatikan) bacaan santri satu persatu. Ya. Ada 14 hal penting sebagai “Kunci Sukses Pengajaran Buku Iqro” (As’ad Humam. CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). jangan sampai menuntun. dkk. 6. 2. umpamanya dengan kata-kata “Eee. 2. sukun dan seterusnya. 5. setiap kelas antara 15-25 anak. Mengenai judul-judul. yaitu: 1. tetapi agar memberikan perhatian/sanjungan/penghargaan. Sebagai panduan (buku pegangan) dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an adalah buku Iqro’ yang terdiri dari jilid 1-6. Santri tidak dikenalkan istilah fathah. pesan-pesan dan berinfak) Catatan: Untuk praktek wudlu dan sholat berjamaah dilaksanakan di luar jam pelajaran Dan bila dibuat struktur kurikulum TKA-TPA tiap minggunya. guru jangan diam saja. Jumlah ustadz privat tiap kelas disesuaikan dengan jumlah santri dalam kelas tersebut. III. sholat (berjamaah) dan5 berinfak Jumlah 23 1. tanwin. 2001: 97-98). maka tingkat kemampuan dan hasil yang dicapai oleh masing-masing santri dalam satu kelas tidaklah sama. 4. berilah titian ingatan Bila masih lupa. Umpamanya dengan kata-kata: Bagus. As’ad Humam sebagai penyusun buku Iqro’. 6. guru langsung memberi contoh bacaannya. Penyimakan seorang demi seorang secara bergantian. kecuali hanya memberikan contoh saja. guru menerangkan pokok bahasan. Masing-masing ustadz mengajar para santri secara bergantian satu persatu dengan prinsip CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). maksudnya santrilah yang aktif membaca lembaran-lembaran buku Iqro’ yang telah disusun secara sistematis dan praktis. cukup betulkan huuf-huruf yang keliru saja dengan cara: Isyarah. jadi tidak perlu banyak penjelasan.d. dengan perbandingan tiap 6 santri diperlukan 1 ustadz/ustadzah. Setiap huruf/kata dibaca betul. Komunikatif. maka akan terlihat sebagai berikut: No 1. barulah ditunjukkan bacaan yang sebenarnya Smt II 6 4 3 2 3 5 23 Jml 12 8 6 4 6 10 46 . Asistensi. 3. Sekali huruf dibaca betul jangan diulang lagi. Bila klasikal (di sekolah formal atau di TPA yang kekurangan guru) menggunakan IQRO’ Klasikal yang dilengkapi dengan alat peraga IQRO’ Klasikal.

33 % 29. Semester gasal berlangsung selama 6 bulan. Karena TKA-TPA adalah jenjang pertama (jenjang Iqro’). Untuk EBTA sebaiknya ditentukan ditunjuk guru penguji khusus supaya standarnya tetap dan sama.44 % 11. sifat-sifat huruf dan sebagainya) diajarkan setelah lancar tadarus Al-Qur’an beberapa juz. 5. Saat penelitian ini dilakukan. (Wawancara dengan Muakhiroh. S. Maret 2009 TKA-TPA “AMM” baru saja melaksanakan pembagian rapor semester gasal tahun pembelajaran 2008-2009. secara bergilir membaca sekitar 2 baris sedang lainnya menyimak. Syarat kesuksesan. yang telah menyelesaikan Iqro’ 1-3 ternyata hanya separohnya..63 % 26. Efektivitas Metode Pembelajaran Iqro’ Telah disebutkan diatas bahwa pembelajaran membaca Al-Qur’an di TKA-TPA “AMM” ini sepenuhnya menggunakan buku Iqro’ lengkap dengan metodologi yang telah digariskan oleh penyusunnya.14 % 14. Senin. mesti saja guru fasih dan tartil mengajarnya. disamping menguasai/menghayati petunjuk mengajar.67 % 100 % Jumlah N=215 11 25 56 59 24 30 10 221 % 5. 6. Nah setelah selesai sehalaman. yaitu sejak tanggal 15 September 2008 s/d 15 Februari 2009. Dari 140 santri TKA. maka membacanya boleh diloncat-loncatkan.12 % 11.28 % 28.65 % 100 % Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa dalam waktu 6 bulan. Santri jangan diajari dengan irama yang berlagu walaupun dengan irama tartil. diperlukan penelitian untuk mengetahui kecepatan para santri dalam menyelesaikan buku Iqro’ jilid 1 s/d 6 di TKA-TPA “AMM” ini. maka tegurlah dengan “Membacanya putus-putus saja!” dan kalau perlu huruf didepannya ditutup dulu agar tidak berpikir. 4.I. Jadi tidak untuk pengajaran buku IQRO’. 4. sedang jilid 6 adalah sebagai tanda seorang santri telah mampu membaca Al-Qur’an. artinya santri akan bisa membaca dengan benar sesuai dengan ilmu tajwid. 6.43 % 7.05 % 27.34 % 17.95 % 4. sebab akan membebani santri yang belum saatnya diajarkan membaca irama tertentu. 7.58 % 100 % TPA N=75 1 5 16 22 13 13 5 75 % 1. membacanya tidak perlu diulang dari awal kalimat. 7. Sedangkan ilmu tajwid itu sendiri (seperti istilah idghom.86 % 12.33 % 6.Bila santri keliru baca di tengah/di akhir kalimat. 2. Pertanyaannya adalah bagaimana kondisi kemampuan para santri dalam membaca Iqro’ setelah mereka belajar selama 1 (satu) semester ini? Jawaban pertanyaan ini tentu harus melihat pada TKA-TPA. Sedangkan irama bacaan tartil dalam kaset yang dikeluarkan Team Tadarus “AMM” dimaksud untuk pengajaran MATERI HAFALAN dan ketika sudah bertadarus Al-Qur’an.Pd. pencapaian kemampuan membaca Iqro’ untuk santri TKA dengan TPA berbeda. 1. 23 Maret 2009) Klasifikasi Kemampuan Membaca Iqro’ Santri TKA-TPA “AMM” (setelah 6 bulan belajar) No 1. Jilid 1 adalah merupakan awal seorang santri memulai belajar membaca Al-Qur’an.33 % 17. ikhfa’. serta penerapannya dibimbing dan diawasi oleh Pengurus Team Tadarus “AMM”. agar mengulang pada kalimat yang ada kekeliruan tersebut.57 % 26. Direktur TKA-TPA “AMM”.14 % 3.16 % 13. IV. macam-macam mad. 1. maka betulkanlah yang keliru itu saja. Bila ada santri yang sama tingkat pelajarannya. Pengajaan buku IQRO’ (jilid 1 s/d 6) sudah dengan pelajaran tajwid yaitu tajwid praktis. 3. Bagi santri yang betul-betul menguasai pelajaran dan sekiranya mampu dipacu. 2.33 % 6.67 % 21. boleh dengan sistem tadarus. Tingkatan TKA Jilid N=140 Jilid 1 Jilid 2 Jilid 3 Jilid 4 Jilid 5 Jilid 6 Al-Qur’an Jumlah 10 20 40 37 11 17 5 140 % 7. 5. yaitu ada 70 anak (50 %) dan yang 70 anak (50 %) masih berada pada Iqro’: . Bila santri sering memanjangkan bacaan (yang semestinya pendek) karena mungkin sambil mengingat-ingat huruf di depannya. Pertanyaan berikutnya adalah sejauhmana efektivitasnya? Untuk menjawab pertanyaan ini. 3. tidak perlu utuh tiap halaman.

2. sesuai dengan target yang ditentukan. dengan sistem TPA dan metode Iqro’. bisa diprediksikan bahwa untuk TKA. 8.98 % 1.53 % 4.03 % 0% 1. 2.60 % 16. 9. Sedang untuk TPA.96 % 0% 0% 1. yang terdiri dari 35 santri putra dan 31 santri putri. 3.67 % 21. Sedang jumlah santari TPAL sekarang ini ada 51 anak. Untuk mengetahui hal ini. sudah terdapat 10 .28 % 5.73 % 23. Dari ke 11 anak ini kehadirannya tidak ada yang lebih dari 50 %.56 % 2. mayoritas santri TPA akan bisa menyelesaikan buku Iqro’: 1-6 dalam waktu 1 (satu) tahun.14 %) yang sekarang sudah memasuki Iqro’: 6.14 %) TKA dan 1 (satu) anak (1. dalam waktu 6 bulan mayoritas dari mereka (53 anak = 70. 23 Maret 2009) Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa: 1.1-3. Dengan sistem TKA-TPA dan metode Iqro’ ternyata memungkinkan seorang santri lebih cepat mampu membaca Al-Qur’an.35 % 14. namun ternyata dalam menyelesaikan buku Iqro’nya.60 % 3.30 % 7. Sehingga santri yang cerdas dan rajin masuk akan lebih cepat selesai dan tidak menunggu santri yang kurang cerdas dan kurang rajin masuk.66 %) telah bisa menyelesaikan buku Iqro’: 1-3 dan hanya 22 anak (29. Sehingga wajar kalau mereka tertinggal.92 % 0% 100 % Jumlah N=117 0 0 10 14 23 32 17 5 7 2 1 3 3 117 % 0% 0% 8.71 % 0.21 % 19. Senin. karena TKA-TPA dalam mengajarkan Iqro menggunakan sistem privat (sorogan). 10.06 % 10. untuk TKA diprediksikan masih diperlukan tambahan waktu untuk menuntaskan 140 santri (100 %) memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an. dari 75 santri yang ada. 5. Yang menarik dari data di atas.85 % 2. Hal ini sangat dimungkinkan. akan bisa diantarkan memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dalam waktu 6-12 bulan. Ada yang bisa menyelesaikan dalam waktu kurang dari 6 bulan (1 semester). ternyata telah terdapat 5 anak (3. 11. Setelah melihat kembali dokumentasi kecepatan 117 santri dalam menyelesaikan buku Iqro’: 1-6 dapat dibuat tabel sebagai berikut: Kecepatan Santri TKA-TPA Tahun 2007/2008 dalam Menyelesaikan Iqro’: 1-6 No 1.66 % 27. 6. Sehingga jumlah santri TKAL-TPAL keseluruhannya ada 117 santri. perlu melihat kembali dokumentasi yang ada pada santri yang sekarang duduk di TKAL-TPAL.67 %) yang telah mengkhatamkan Iqro’: 1-6 dan akan segera disusul oleh 13 anak (17. Namun demikian. Walaupun awal mulainya dalam waktu yang sama. ternyata masih ada 10 anak (7. 13. bisa sangat bervariasi.34 %) yang belum bisa memasuki Iqro’: 4. 4. Ini berarti. Dengan perkataan lain untuk anak usia SD. namun ada yang lebih dari 24 bulan (4 semester).06 % 10. Terbukti dalam waktu tidak lebih dari 6 bulan. 7. Tingkatan Jilid 1 – 2 bl 3 – 4 bl 5 – 6 bl 7 – 8 bl 9 – 10 bl 11 – 12 bl 13 – 14 bl 15 – 16 bl 17 – 18 bl 19 – 20 bl 21 – 22 bl 23 – 24 bl Lebih 24 bl Jumlah TKAL N=66 0 0 4 7 11 14 13 4 7 2 0 1 3 66 % 0% 0% 6.58 %) yang telah mengkhatamkan Iqro’: 1-6 dan akan segera disusul oleh 17 anak (12.76 % 13. Mengapa hal ini bisa terjadi? Setelah ditelusuri pada daftar absensi.70 % 6.96 % 3. dikutip. 12.53 % 35.55 % 11. target 1 (satu) tahun telah mampu membaca Al-Qur’an tidak akan tercapai. Bahkan terdapat 5 anak (6.97 % 19.52 % 4. ternyata ke 11 anak ini sehari-hari memang tidak begitu aktif mengikuti pelajaran.84 % 1. Dengan demikian. Berapa bulan sebenarnya.56 % 100 % (Diolah dari dokumentasi “Kartu Prestasi Iqro” tahun 2007/2008.55 % 100 % TPAL N=51 0 0 6 7 12 18 4 1 0 0 1 2 0 51 % 0% 0% 11. yang terdiri dari 32 santri putra dan 19 santri putri.33 %) TPA yang belum beranjak dari Iqro’: 1. waktu yang harus mereka habiskan untuk bisa menyelesaikan Iqro’: 1-6 pada saat mereka duduk di TKA-TPA setahun yang lalu? Jumlah santri TKAL sekarang ini ada 66 anak. Artinya.33 %) yang sekarang sudah memasuki Iqro’: 6. Di atas telah dipaparkan kondisi setelah 6 bulan santri belajar Iqro’ di TKA-TPA dan belum memberikan gambaran kecepatan santri TKA-TPA dalam menyelesaikan Iqro’: 1-6.

4.55 %) yang mampu menyelesaikan Iqro’ : 1-6. Pengurus Yayasan Team Tadarus “AMM” Yogyakarta. V. Unit TKA TPA Jumlah Rata-rata (Diolah dari Dokumentasi Daftar Presensi Kehadiran Santri TKA-TPA “AMM” Semester Gasal Tahun 2008/2009. kalau muridnya jarang hadir tentu hasilnya tidak akan optimal. Ilmu Politik. dan lain-lain. 30 Maret 2009) Tabel di atas menunjukkan bahwa dalam semester yang lalu (September 2008 s/d Pebruari 2009) keaktifan kehadiran santri TKA-TPA “AMM” hanya mencapai angka 68.0 – 9. 2.5 Nop (%) 69 65 67. 1. dan itupun tidak ada yang memiliki ijazah keguruan dibidang pendidikan Al-Qur’an. Dari 34 orang ustadz/ustadzah yang ada.91 kualifikasi akademik dibidang keguruan. mayoritas dari mereka (43 dari 51 anak/84. Para ustadz nampaknya tidak bisa “memaksa” agar para santri lebih mengutamakan TKA-TPA daripada kegiatan SD-nya. Ahad. sedang bagi anak usia SD (7. Betapapun baiknya seorang ustadz dan betapapun canggihnya suatu metode.0 tahun). dalam waktu yang sama hanya mencapai angka 54. (Wawancara dengan M.31 %) telah mampu menyelesaikan Iqro’: 1-6. (Mahmud Yunus.0 – 6. (Wawancara dengan Muakhiroh. 3. Rendahnya prosentase kehadiran para santri. Biologi. S. Sedangkan untuk anak usia TK.0 – 6. seperti Sastra Jawa. VI. 23 Maret 2009).5 Jan (%) 68 63 65. tercatat ada 6 anak dari 51 anak (11. 29 Maret 2009).0 tahun) dalam kecepatan menyelesaikan buku Iqro’. pelajaran tambahan. Berbeda dengan anak usia TK.5 Peb (%) 63 64 63. Prosentase Rata-rata Kehadiran Santri No 1.Pd.anak dari 117 anak (8.39 % (59 anak dari 66 anak).39 %).0 Des (%) 66 65 65. dikutip Senin. Bahkan tercatat ada 11 orang ustadz/ustadzah (32.76 %) yang telah bisa menyelesaikan Iqro’: 1-6.35 %) yang memiliki latar belakang pendidikan “non keagamaan”. yaitu: 1. Berikut ini disajikan tabel prosentase rata-rata kehadiran santri selama 1 (satu) semester yang lalu (September 2008 s/d Pebruari 2009). Dalam waktu 6 bulan. Senin. 10 anak tersebut. Direktur TKA-TPA “AMM”.41 %). Bahkan harus dibutuhkan waktu lebih dari 2 tahun untuk bisa menuntaskan seluruh anak usia TK tersebut bisa menyelesaikan Iqro’: 1-6. suatu usia yang oleh banyak pihak diragukan kemampuannya untuk diajar membaca. Padahal keaktifan kehadiran sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan suatu pendidikan.. yaitu dalam waktu antara 6.33 68.5 Oktt (%) 72 67 69.55 %.91 %.0 – 18.50 68. dan dibutuhkan waktu 18 bulan (3 semester) untuk bisa mencapai angka 89.0 – 12.0 tahun) dan anak usia SD (7.55 %) yang telah memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an. Najib. 1979: 35) 1.0 – 9. Kesulitan mencari ustadz/ustadzah yang fasih membaca Al-Qur’annya sekaligus memiliki Sept (%) 78 87 82. Penutup . yang memiliki ijazah keguruan hanya ada 10 orang (29. Hal ini tentu berakibat kurang optimalnya hasil yang dicapai.0 tahun) bisa lebih cepat lagi. yang memerlukan waktu antara 2 – 5 tahun. Pertanian. Melalui TK Al-Qur’an. Tata Busana dan Listrik. seperti pramuka.I.0 bulan (89. Hal ini bisa dilihat pada daftar presensi yang menunjukkan bahwa prosentase rata-rata kehadiran para santri sangat rendah. Waktu yang relatif cepat bila dibandingkan dengan metode (kaidah) Baghdadiyah melalui sistem pengajian tradisional. Ekonomi.5 Komulatif 1 smt (%) 69. Terdapat perbedaan yang signifikan antara anak usia TK (4. dalam waktu 12 bulan baru terdapat 36 anak dari 66 anak (54. Bagi anak usia TK (4. Sebab ketidakhadiran yang paling utama adalah adanya berbarengan kegiatan di SD-nya.0 bulan (84 %). Hal ini bisa dimengerti karena memang mereka masih usia TK. Hambatan Yang Dihadapi Hasil prestasi di atas. 1. 4 anak diantaranya masih usia TK sedang yang 6 anak berusia SD Kelas 1-3. Kemudian dalam waktu 12 bulan. terbukti mampu diantarkan memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dalam waktu antara 6. Dari uraian di atas dapat diketahui efektivitas metode Iqro’ melalui sistem TKA-TPA. anak usia SD ternyata lebih cepat dalam menyelesaikan Iqro’. mestinya bisa lebih ditingkatkan lagi andaikan tidak terhambat oleh 2 faktor utama.

Mahmud. 1978. Yogyakarta: Team Tadarus “AMM”. Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur’an. Yogyakarta: Team Tadarus “AMM”. Yogyakarta: Team Tadarus “AMM”. 2008. 2008. 2003. Budiyanto NIP: 150223030 DAFTAR PUSTAKA Abdussyakur. 2002. dkk. Humam. Batang: PP Al-Ikhlas. Studi Al-Qur’an Al-Karim. 1997. Humam. Metodik Khusus Bahasa Arab. Pedoman Pengelolaan Pembinaan & Pengembangan M3A. ________. 1990. Mangun. Yogyakarta: Badko TKA-TPA Prop. Jilid 1-6. Amidhan. Panduan Praktis Pengelolaan TKA-TPA-TKAL-TPAL dan TQA sesuai Kurikulum 2007.0 – 6. Waktu yang relatif cepat bila dibandingkan dengan metode (kaidah) Baghdadiyah melalui sistem pengajian “tradisional” yang memerlukan waktu 2 – 5 tahun. ________. Juknis Pengelolaan Taman Pengajian Al-Qur’an (TPA). Buku Iqro’. ________. Panduan Praktis Pengelolaan TKA-TPA-TQA DIY Kurikulum 2006. Jakarta: Hidakarya Agung. 1979. Rabu 29 April 2009. Mari Belajar Membaca Al-Qur’an. Jakarta: Hidakarya Agung. ________. ________. Metode Cepat Membaca dan Menulis Huruf Al-Qur’an 7x Belajar. ________. Yogyakarta: Team Tadarus “AMM”. 2008. Batang: PP Al-Ikhlas. 1995. 1 – 4. Menuju Terbentuknya Generasi Qur’ani. dkk. Taufik Rahman. As’ad. ________. Metodik Khusus Pendidikan Agama. 1995. Yogyakarta: Griya Informasi TKA-TPA-TQA. 28 April 2009 Drs. Jakarta: Lembaga Pendidikan Al-Qur’an Diponegoro. Fathudin. dkk. dkk. 2005. 2005. Abu Syuhbah. Amien H. terj. [*] Makalah disampaikan dalam Forum Diskusi Dosen-Dosen Kependidikan Islam Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bahasa Al-Qur’an. Ustadz Ideal.9% yang bisa diantarkan memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an. Syekh Muhamad bin Muhamad.. Qiro’ah Muyassaroh. . Ciri-Ciri Anak Sholeh dalam Al-Qur’an. Jakarta: Cemara Indah. 2007. Dalam waktu 12 bulan. Yunus. Yusa’. Prinsip-Prinsip Metodologi Buku Iqro’. dkk. 1996.31%) telah lancar membaca al-Qur’an. 1985. Batang: PP Al Ikhlas. dkk. Masyhudi.0 tahun) dalam waktu 6 – 18 bulan sudah mencapai angka 89. DIY. Yogyakarta: Team Tadarus “AMM”. Yogyakarta: LDPQ. Ringkasan Pedoman Pengelolaan. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Mempertanyakan Pembelajaran Membaca Al-Qur’an untuk Usia Taman KanakKanak. Budiyanto. 2006. ________. 2004. dkk. Bustami Said.0 – 9. ________. Tim Badko DIY. ________. 1981. ________.0 tahun) ternyata lebih cepat lagi. Habib. Bagi anak usia TK (4. Pola & Fase Awal Pendidikan Anak dalam Keluarga.S. Buku Pedoman Kerja Badan Koordinasi TKA-TPA Propinsi DIY. 2006. Pembaharuan Sistem Pendidikan Pondok Pesantren. ________. Yogyakarta: Team Tadarus “AMM”. 2003. dkk. Bandung: Pustaka Setia. 2003. Yogyakarta: Balitbang LPTQ Nasional. mayoritas dari mereka (84. Sedang untuk anak usia SD (mayoritas usia 7. Jakarta: LBIQ. Problematika Pengajaran Membaca Al-Qur’an. H. Yogyakarta. Yogyakarta: Team Tadarus “AMM”.Dari uraian di atas telah tergambar dengan jelas tingkat efektivitas metode Iqro’ dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an di TKA-TPA “AMM” Kotagede Yogyakarta. Pembinaan dan Pengembangan Gerakan M5A.M. Al-Qur’an dan Keharusan Mempelajarinya. Jakarta: Mutiara. Bolehkah Anak Usia TK Diajar Membaca?. 1990. Cara Mudah Membaca Al-Qur’an Yogyakarta: Taman Pendidikan Al-Qur’an Plus PP Krapyak. Surabaya: Kanwil Depag Jawa Timur. Batang: PP Al-Ikhlas. Kafrawi. 1965.

com/2010/07/26/efektivitas-metode-iqro%E2%80%99dalam-pembelajaran-membaca-al-qur%E2%80%99an-di-tka-%E2%80%93-tpa%E2%80%9Camm%E2%80%9D-kotagede-yogyakarta/ .http://mangunbudiyanto.wordpress.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->