P. 1
Contoh analisa BEP (Break Even Point)

Contoh analisa BEP (Break Even Point)

|Views: 1,398|Likes:

More info:

Published by: Dicky Zulfikhar Sani on Jun 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/12/2013

pdf

text

original

Media Unika Tahun 20 No.

71 Ed/si Ke·2

Ria. Veronika Sinaga, Ana/isis Break Even Point Sebagaf Alat

ANALISIS BREAK EVEN POINT SEBAGAI ALAT PERENCANAAN PENJUALAN MINIMUM PERUSAHAAN
Ria Veronica Sinaga

ABSTRAK
Impas (Break even) dapat diartikan suatu keadaan dimana dalam operasi perusahaan, perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi (dengan kata lain laba sarna dengan nol). Suatu usaha dikatakan impas jika jumlah pendapatan (revenues) sarna denganjumlah biaya, atau apabila labakontribusi hanya dapat digunakan untuk menutup biaya tetap saja. Dari analisa tersebutjuga dapat diketahui sampai seberapa jauh volume penjualan yang direncanakan boleh turun, agar perusahaan tidak menderita kerugian. Analisa break even mampu memberikan informasi kepada pimpinan perusahaan mengenai berbagai tingkat volume penjualan, serta hubungannya dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan yang bersangkutan dengan asumsi-asumsi dasar. Apabila penjualan di atas titik break even maka perusahaan akan mendapatkan laba dan sebaliknya jika penjualan di bawah titik break even perusahaan akan menderita kerugian, Pendahuluan Salah satu fungsi manajemen adalah planning atau perencanaan, dan perencanaan ini merupakarr salah satu faktor yang sangat penting dalarn suatu perusahaan karena akan mempengaruhi secara langsung terhadap kelancaran maupun keberhasilan perusahaan dalarn mencapai tujuannya. Dengan adanya perencanaan yang baik maka akan memudahkan tugas manajemen, karena semua kegiatan perusahaan diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan dan perencanaan itu sendiri dapat digunakan sebagai d a s ar untuk melakukan pengendalian terhadap kegiatan perusahaan, sehingga dengan perencanaan yang baik maka akan memungkinkan manajemen untuk bekerja lebih efektif dan efisien. Perencanaan perusahaan dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan program budget. Sebagian besar dari program budget berisi taksiran penghasilan yang akan diperoleh dan biaya-biaya yang akan terjadi untuk memperoleh penghasilan tersebut dan akhimya menunjukkan laba

yang akan dapat dicapai. Penggunaan budget ini akan lebih bennanfaat bagi manajemen apabila disertai dengan tehnik-tehnik perencanaan atau analisa misalnya analisa break even point. . Break even dapat diartikan suatu keadaan dim ana dalam operasi perusahaan, perusahaan tidak mempero leh laba dan tidak menderita rugi (Penghasilan = Total biaya). Tetapi analisa break even tidak hanya. semata-mata untuk mengetahui 'keadaan perusahaan yang break even saja, akan tetapi analisa break even marnpu memberikan informasi kepada pimpinan perusahaan mengenai berbagai tingkat volume penjualan, serta hubungannya. dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan yang bersangkutan. Permasalahan Perencanaan Iaba merupakan taksiran hasil yang akan dicapai perusahaan selama jangka waktu tertentu. Penyusunan rencana laba harus menunjukkan sasaran dan memperhatikan berbagai faktor yang

215

.

''':''',,'

.

Media Unlka Tahun 20 No. 11 Edisi Ke-2

RIa .Vero~'.~a Sfnaga. Anafisis Break Even Point Sebagai Alai

mempengaruhinya seperti biaya, harga jual dan volume penjualan atau volume produksi. Break even point sebagai alat perencanaan laba mampu menjelaskan hubungan antara hasil penjualan dengan jumlah biaya yang dikeluarkan perusahaan. Jika p eru s a h aan menginginkan laba,_.maka penjualan harus berada di atas break even point. Sehubungan dengan uraian di atas, maka masalah yang dirumuskan dalam tulisan ini adalah bagaimana analisa break even point dapat digunakan sebagai alat perencanaan laba perusahaan? Pembahasan Pengertian dan Asumsi Dasar Break

Bven Point
Analisis break even point berhubungan dengan analisa biaya, volume dan laba merupakan salah satu dasar bagi manaj emen untuk mereacanakan laba, menentukan kebijakan dan mengambil keputusan mengenai pengalokasian sumber daya untukrnencapai tujuanperusahaan. Menurut Rudianto, (2006:49). "break even point adalah volume p enjua lan yang harus dicapai perusahaan agar perusahaan tidak mengalami kerugian tetapi juga tidak memperoleh laba sarna sekali", Hansen dan Mowen (2000:210). menyatakan bahwa "break even point adalah titik dimana total pendapatan sarna dengan total biaya, yaitu titik di mana laba sarna dengan nol". Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa titik impas menunjukkan suatu keadaan dimana perusahaan tidak mendapatkan laba dan tidak menderita kerugian. Kondisi tersebut sangat perlu diketahui perusahaan, dengan menghitung break even point.

~.;.:" Analisa{~f~ak even point membantu manajemen untukrnenetapkan sasaran atau ~~u~perusahaan di masa mendatang, hal im disebabkan karena analisis break even point menunjukkan hubungan antara biaya volume penjualan dan laba. Penetapan break even point dapat digunakan sebagai dasar perenc~naan lab a, mengendalikan biaya operasional, dasar pertimbangan penentuan harga jual dan pengambilan keputusan manajemen. Menurut Supriyono, (2000:332), dalam perencanaan laba dengan teknik break even digunakan asumsi sebagai berikut: 1. Harga jual produk per unit (satuan) yang dianggarkan tetap konstan pada berbagai tingkatan volume penjualan dalam periode tertentu, apabila anggapan ini tidak terpenuhi penghasilan penjualan tidak: dapat digambarkan dalam garis lurus. 2. Semua biaya yang dianggarkan dapat dikelompokkan ke dalam elemen biaya tetap dan biaya variabel yang mernpunyai tingkat variabilitas terhadap produk yang diproduksi atau dijual, bukan terhadap dasar kegiatan yang lain .. 3. Harga dari biaya atau masukan yang dianggarkan tetap konstan pada berbagai tingkatan kegiatan, sehingga biaya dapat digambarkan dalam garis lurus. 4. Kapasitas yang dimiliki perusahaan tidak berubah, misalnya karenaadanya ekspansi, karen a perubahan kapasitas yang dimiliki akan merubah pola hubungan biaya volume laba. 5. Tingkat efisiensi dari perusahaan tidak berubah, karena program efisiensi yang sangat berhasil atau terj adinya pemborosan yang luar biasa akan berpengaruh pada pola hubungan biayavolume-Iaba. 6. Tingkat dan metode tehnologi yang dimiliki perusahaan tidak berubah, perubahan tehnologi juga dapat mengubah pola hubungan.· biayavolume-Iaba. ~. 216

:-:.~!~:/': .

"

Media Unika Tahun 20 No, 71 Edisi Ke-2

Ria Veron{ka Sinaga, Analisis Break Even Point Sebagai AlaI

Jadi, rumus perhitungan BEP (daJam kuantitas) , '

break even dalam satuan prod uk yang dijual adalah

= .;

B_l_'a.:_y_a_te_ta_,!p _ Harga jual per satuan - Biaya variabel per satuan

Break even point dalam rupiah penjualan dapat dicari rumusnya mengalikan a cx=--c= c+b ac (c-b) a (c-b):c a (a:c)-(b.:c)

dengan cara

rumus impas tersebut di atas dengan c, yaitu hargajual per sataun produk.
= =-----

Jadi rumus perhitungan

break even point dalam rupiah penjualan adalah:

BEP (dalam R ) = .' Bia~a tetap p 1 Biaya vanabel per satuan Harga jual per satuan
______ ., ......... H..__· •__ ••

__

,

Bukti: contribution margin = pendapatan penjualan - biaya variabel = ex - bx 'buti , C ontri ution m arg m = Laba kontribusi Pendapatan penjualan

= ex -

bx

ex

= -ex - -bx = 1 -- b
ex ex c

Jadi, BEP dalam rupiah penjuaJan dapat pula dihitung dengan rumus: • am p BEP. (d a 1 R) = Biaya tetap atau Contribution margin Biaya tetap 1.:. ,_}~lia_ya.~~!_ia_b_el : .... Pendapatan penjuaJan

=----:--,,-=:--,!__--

Contoh 1. Dalam suatu pasar malam, Pak Amat akan membuka tempat penitipan

sepeda, Dia

menyewa tempat yang dapat menampung 500 sepeda. Sewa temp at terse but per malam Rp 1.500. ' Untuk menjaga sepeda dia akan mempekerjakan dua orang dengan upah Rp 1,000 semalam per orang. ditambah upah insentifRp 2,50 per orang untuk setiap sepeda yang masuk titipan. Tarif titipan yang dibebankan kepada pemakaijasa Rp 25 per sepeda semalam. Perhitungan proyeksi laba per malam apabila 500 sepeda masuk ke tempat penitipan sepeda Pak Amat adalah sebgai berikut:
'l

Jumlah Pendapatan

Persen (%) penjualan 500 x Rp 25 500 x 2 x Rp 2,50 Rp 12.500 Rp 2.500100 20 80

Biaya variabel Laba kontribusi

Rp 10.000 Rp Rp Rp 1.500 3.5006.500

Biaya tetap : Sewa tempat titipan Upah dua orang karyawan Rp 2.000 Laba bersih

28 52

218

Media Unika Tahun 20 No. 71 Edisi Ke·2

Ria Veronika Sinaga, AnaJisis Break Even Point SebagaiAlat

Pak Amat ingin memperoleh infonnasi berapa jumlah minimum sepeda yang hams masuk setiap malam ke tempat penitipan sepedanya, agar usaha titipan tersebut tidak mengalami kerugian. Jumlah 'sepeda minimum yang harus masuk setiap malam agar usaha Pak Amat dapat menutup semua biaya yang dikeluarkan sernalam adalah: Jika sepeda yang masuk titipan semalam minimum betjumlah 175 buah, maka usaha Pak Amat akan menutup semua biaya yang dikeluarkan semalam, sehingga usaha tersebut tidak mengalami kerugian. Break even point juga dapat dinyatakan dalam rupiah pendapatan dari usaha penitipan sepeda sebagai berikut: Jika suatu malam Pak Arnat telah menerima uang pendapatan penjualan jasa

penitipan sepeda sebanyak Rp 4.375,00, hatinya dapat agak tenteram, karena dari pendapatan penjualan jasa tersebut, minimum dia sudah dapat menutup semua biaya yang dikeluarkan malam terse but. Dengan kata lain, setiap sepeda yang masuk kemudian sudah mendatangkan laba 80% (contribution margin ratio) dari uang pendapatan penjualan jasa titipan sepeda yang diterimanya. Bukti bahwa pada waktu Pak Amat menerima uang pendapatan penjualan jasa . titipan sebanyak Rp 4.375 usahanya belum memperoleh laba, tetapi juga sudah tidak rugi dapat diikuti dalam perhitungan berikut:
Pendapatan penjualan Biaya variabel Laba kontribusi Biayatetap 175 x Rp 25 =Rp4.375 175 x Rp 5 =Rp 875=Rp3.500

Laba bersih

=Rp3.500=Rp 0

Contob 2.
PT. £liona memproduksi A. Rencana produksi untuk tahun anggaran 20X 1 adalah sebagai berikut: Sediaan awa1 Rencana produksi 100 kg 1.100kg 1.200kg 1.000 kg 200 kg

Rencana penjualan Sediaan akhir Biaya produk variabel standar per kg produk : Rp 10.000 Biaya bahan baku Biaya tenaga kerja variabel Rp 7.000 Rp 8.000 Biayaoverhead pabrik variabel Rp Jumlah biaya produksi variabel 25.000 Rp Biaya administrasi dan umum variabe1 10.000 Rp Biaya pemasaran variabel 8.000 Rp 43.000 Jurnlah biaya variabel Biaya pertahun terdiri dari: Biaya overhead pabrik tetap Rp 37.400.000 Biaya pemasaran tetap Rp 15.000.000 Biaya administrasi dan umum Rp 25.000.000 Jumlah biaya tetap setahun Rp 77.400.000 Dalam penyusunan anggaran tersebut manajemen puncak memerlukan infonnasi jumlah pendapatan penjualan minimum dalam tahun 20Xl yang harus dicapai, dari jumlah target penjualan tahun 20X 1, agar perusahaan tidak mengalami kerugian. 219

Media Unika Tahun 20 No. 71 Edisi Ke-2

Ria Veronika Sinaga, Analisis Break Even Point Sebagai Alat

PT.ELIONA
Laporan Rugi Laba Tahun 20Xlyang Diproyeksikan

. lumlah P:en.9apatanpenjualan Biaya variabel Sediaan awal Biaya produksi variabel 100xRp25.000 1.100xRp 25.000 Rp 2.500.000 Rp 27.500.000+ Rp 30.000.000 Sediaan akhir 200 X Rp 25.000 1.000 X Rp 172.000 Rp 172.000.000

Persen 100%

IW

5.000.000·

Rp 25.000.000 Biaya non produksi:

Biaya pemasaran variabel 1.000 xRp 8.000
Biaya adm dan umum 1.000 x Rp I0.000 Jumlah biaya variabel Laba kontribusi Biaya tetap:

Rp 8.000.000 Rp 10.000.000 Rp 43.000.000Rp 129.000.000 25% 75%

Biaya overhead pabrik tetap Biaya pemasaran tetap Biaya adm dan umum tetap Jumlah biaya tetap Lababersih

Rp 37.400.000 Rp 15.000.000 Rp 25.000.000 Rp 77.400.000· Rp 51.600.000

Informasi terse but diperoleh dengan perhitungan sebagai berikut:

Dari target pendapatan

Rp 172.000.000

kuantitas

produk

minimum

yang harus 20Xl agar

dalam tahun 20X 1 tersebut, pimpinan PT. Eliona harus dapat mencapai pendapatan penjualan usaha Rp 103.200.000, menderita agar kegiatan rugi. Jika

; dijual dalam tahun anggaran perusahaan tidak mengalami

kerugian,

maka perhitungan BEP (dalam kg) =

break even point dalam

tidak

manajemen

ingin memperoleh

informasi

Rp 77.400.000 Rp 172.00-Rp43.000

= 600 kg

Media Unika Tahun 20 No. 71 Edisi K&-2

Ria Veronika Slnaga, Ana/isis Break Even Point Sebagai Alat

Jika dalam tahun 20X I produkAyang terjual berjumlah 600 kg. maka PT. Eliona sudah tidak akan , 'nienderita kerugian lagi. Dalam setiap penjualan I kg produk A berikutnya, perusahaan akan memperoleh laba Rp 129.000 (75% x Rp 172.000), karena biaya tetap seluruhnya telah tertutup dari penjualan 600 kg te rsebut. Jika manajemen merencanakan volume penjualan yang dapat menghasilkan seperti yang diinginkanya,
"

rumus perhitungan impas tersebut di atas dapat digunakan. Misalnya dalam contoh 2, manajemen puncak memerlukan informasi pada volume penjualan berapa perusahaan harus menjual produknya dalam tahun anggaran 20X I untuk mendapatkan keuntungan misalnya Rp 90~000.000. Perencanaan volume penjualan ini dapat dihitung secara mudah dengan menggunakan

rumus:

"I .I Biaya tetap + Laba yang diinginkan vo ume penjua an = = 1.297 kg atau
127.000-43.000

"voIume penjua 1an. (R) . p

= 77.400.000+90.000.000 75%

= R P 223200000 . .

Jika dalam tahun 20XI PT. Eliona dapat mencapai tingkat penjualan 1.297 kg atau dalam rupiah Rp 223.200.000, maka laba bersili cliperkirakan Rp 90.000.000.

pertemuan antara garis pendapatan penjualan dengan garis biaya merupakan break even

point. Untuk dapat menentukan break even point, harus dibuat grafik dengan sumbu
datar menunjukkan volume penjua1an, sedangkan sumbu tegak menunjukkan biaya dan pendapatan. Untuk lebihjelasnya, grafik

• 2. Pendekatan Grafts Perhitungan break even point dapat
dilakukan juga dengan menentukan titik pertemuan antara garis pendapatan penjualan dengan garis biaya da1am suatu grafis. Titik y

break' even point disajikan pada gambar
berikut:

18


Break Even

...'.
Biaya Tetap 221

Point

120.400,000

x

Media Unika Tahun 20 No. 71 Edisi Ke-2

Ria Veronika Sinaga, Analisis Break Even Point Sebagai Alat

DAFTAR,PUSTAKA

Hansen, Don R. dan Mowen, Maryanne M., 2000. Akuntansi Manajemen, Alih Bahasa: Ancella A. Hermawan, Jilid 2, Jakarta: Erlangga. Mulyadi, 2001. Akuntansi Manajemen : Konsep, Manfaat dan Rekayasa, Edisi Ketiga, Edisi Pertama, Jakarta : Salemba Empat.

Rudianto, 2006. Akuntansi

Manajemen:

Informasi

untuk

Pengambilan

Keputusan Manajemen, Widiasarana Indonesia.

Edisi Pertama, Jakarta: PT.. Gramedia

Supriyono, RA. 2000. Akuntansl Biaya: Perencanaan dan Pengendalian Serta Pembuatan Keputusan, Buku Dna, Jakarta: Salemba Empat.

222

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->