BAB

I

PENDAHULUAN

1.

Latar Belakang.
Karotenoid merupakan suatu kelompok pigmen organik berwarna kuning

oranye, atau merah oranye yang terjadi secara alamiah dalam tumbuhan yang berfotosintesis, ganggang, beberapa jenis jamur dan bakteri. (Gross, 1991).

Karotenoid adalah sanyawa poliena isoprenoid yang tidak larut dalam air, mudah diisomerisasi dan dioksidasi, menyerap cahaya, meredam oksigen singlet, memblok reaksi radikal bebas dan dapat berikatan dengan permukaan hidrofobik (Dutta, dkk, 2005). Saat ini lebih dari 600 karotenoid yang telah diisolasi dan dikelompokkan (Holden, 1999). Beberapa diantaranya adalah :

(Rodriguez, 1997) Gambar 1.1 Struktur beberapa senyawa karotenoid

Universitas Sumatera Utara

Beberapa manfaat β-karoten adalah sebagai provitamin A yang berguna pada pembentukan vitamin A. Sahidin.2 Struktur Poliena Universitas Sumatera Utara . 2005). memperlambat penuaan serta mencegah penyakit katarak (Roth. 1991. meningkatkan sistem daya kekebalan tubuh.2 Senyawa β-karoten merupakan suatu produk yang penting dan bernilai ekonomis karena senyawa ini berguna terhadap kesehatan. 2010).Dutta. 2001.2001) Karotenoid dalam CPO ini dapat diperkaya dengan cara mereaksikan campuran metil ester karotenoid dengan larutan urea dalam etanol 25% hingga diperoleh karotenoid dalam ester asam lemak dengan konsentrasi 3452 ppm. (Choo. 2010) Gambar 1. Hal inilah yang menyebabkan karotenoid memiliki reaktifitas kimia dan dapat menyerap cahaya sehingga karotenoid memiliki warna (Wikipedia. 1993. (Catherine. Salah satu sumber karotenoid yang utama adalah minyak sawit mentah ( Crude Palm Oil ) dengan konsentrasi karotenoid yang terkandung di dalamnya berkisar 500 – 700 ppm dan sekitar 80 % dari karotenoid tersebut adalah senyawa β-karoten. Salah satu ciri dari karotenoid adalah adanya sistem ikatan rangkap terkonjugasi dengan elektron π yang terdelokalisasi di sepanjang rantai poliena. Sahidin. menurunkan resiko penyakit kanker.

Pembuatan organoklor di laboratorium dilakukan dengan dengan mereaksikan alkohol dengan tionil klorida (SOCl2). Jika terdapat air dalam reaksi maka yang terbentuk bukan organoklor. 2010). Kebanyakan digunakan sebagai insektida. diantaranya digunakan sebagai anti depressant. Banyak senyawa organoklor yang cukup aman untuk dikonsumsi dalam makanan dan obat-obatan.3 Organoklor merupakan senyawa organik yang mengandung setidaknya satu atom klor. Pada tahun 2004. dengan fosfor triklorida (PCl3) atau fosfor pentaklorida (PCl5) sesuai dengan reaksi : R – OH R – OH + SOCl2 + PCl5 R – Cl R – Cl + SO2 + HCl + POCl3 + HCl 3 R – OH + PCl3 3 R – Cl + H3PO3 Selain dengan cara di atas. Walau demikian keberadaan klor dalam senyawa organik tidak selalu bersifat racun. untuk membuat organoklor juga dapat dilakukan dengan reaksi adisi HCl pada olefin sesuai dengan reaksi : CH3 – CH = CH2 + HCl CH3 – CHCl – CH3 Reaksi di atas dapat berlangsung jika di dalam campuran reaksi tidak terdapat air. melainkan Universitas Sumatera Utara . Dewasa ini penggunaan senyawa organoklor sangat luas. ada 165 jenis senyawa organoklor yang diperbolehkan untuk digunakan sebagai bahan farmasi dan obat-obatan seluruh dunia. (Wikipedia. Misalnya asam klor 4chloroindole-3-asetat dan pemanis Sucralose (Splenda) yang secara luas digunakan dalam produk makanan. anti-epilepsi dan juga sebagai zat anestesi.

Dapat dimengerti bahwa kadar karotenoid ini sangat rendah dibanding dengan keberadaan ester asam lemak dalam campuran tersebut. 2009) Hal ini mengindikasikan bahwa senyawa paladium dapat digunakan sebagai katalis reaksi hidroklorinasi pada ikatan rangkap. sehingga reaksi adisi berlangsung pada suhu rendah. (Mitchenko. peneliti tertarik untuk mengadisi gas HCl kering pada karotenoid berkadar tinggi (3452 ppm) yang masih tercampur dalam campuran ester asam lemak untuk mendapatkan suatu senyawa karotenil klorida dengan menggunkan katalis PdCl2.. Universitas Sumatera Utara .4 alkohol. dkk telah melaporkan reaksi hidroklorinasi asetilen yaitu dengan mengadisi HCl pada asetilen yang dikatalis oleh permukaan aktif dari K2PdCl4 yang berlangsung pada suhu kamar. sehingga reaksi adisi HCl pada krotenoid tersebut kemungkinan terganggu.dkk. Mitchenko. Berdasarkan uraian tersebut di atas. Hal ini terjadi karena H2O adalah basa yang lebih kuat dari HCl sehingga air terlebih dahulu akan menyerang ikatan rangkap dan menghasilkan alkohol sesuai dengan reaksi :  CH3 – CHOH – CH3 (Fessenden. 1982) CH3 – CH = CH2 + H2O H  Umumnya reaksi adisi berlangsung secara eksoterm.

Dapatkah reaksi adisi HCl pada karotenoid dengan menggunakan katalis PdCl2 berlangsung dimana karotenoid yang digunakan masih bercampur dengan ester asam lemak ? 1. Manfaat Penelitian.5 1. Permasalahan. Untuk pengembangan ilmu pengetahuan berupa pendalaman reaksi hidroklorinasi karotenoid yang masih bercampur dengan ester asam lemak dengan menggunakan katalis PdCl2 Universitas Sumatera Utara . Tujuan Penelitian.4.3. Untuk membuat senyawa karotenil klorida / kloro karotenoid dengan cara adisi HCl pada karotenoid yang masih bercampur dengan ester asam lemak dengan menggunakan katalis PdCl2 1. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah : 1.2.

Lokasi Penelitian 1.5. Universitas Sumatera Utara . Karakterisasi senyawa yang terbentuk dengan menghitung Bilangan Iodium (Iodine Value) hasil reaksi adisi dilakukan pada salah satu perusahaan swasta di Medan. Analisis Spektroskopi Inframerah (FT-IR) dilakukan di Laboratorium Spektroskopi FT-IR Kantor Bea dan Cukai Belawan. 2. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Anorganik FMIPA Universitas Sumatera Utara Medan. 3.6 1.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.