ETIKA POLITIK

3. 4. Aristoteles. Marsilius dari Padua. 5. Ibnu Khaldun. tetapi tidak secara sistematik. . 7. 2. Maka sejak abad ke-17 filsafat mengembangkan pokok-pokok etika politik seperti: Perpisahan antara kekuasaan gereja dan kekuasaan Negara (John Locke) Kebebasan berpikir dan beragama (Locke) Pembagian kekuasaan (Locke. Montesquie) Kedaulatan rakyat (Rousseau) Negara hukum demokratis / republican (Kant) Hak-hak asasi manusia (Locke. dsb) Kontrak Sosial  1. Dua pertanyaan etika politik di atas baru bisa muncul di ambang zaman modern. melainkan menentukan sendiri bentuk kenegaraan menurut ratio/nalar. dalam rangka pemikiran zaman pencerahan. Dalam tulisan para filsuf politik klasik: Plato.Filsafat Ilmu Politik  Etika politik adalah perkembangan filsafat di zaman pasca tradisional. kita menemukan pelbagai unsur etika politik. karena pencerahan tidak lagi menerima tradisi/otoritas/agama. Thomas Aquinas. 6.

J Rousseau ( 1712 – 1778) .Tokoh – tokoh Filsafat Etika Politik Thomas Hobbes (1588 -1679) John Locke (1632 – 1704) Montesquie (1689 – 1755)  J.

Oleh karena setiap manusia berusaha untuk memenuhi hasrat dan keengganannya. Dengan penciptaan ini manusia tidak lagi dalam kondisi alamiah. yang menggerakkan tindakan mereka. maka dengan akalnya manusia berusaha menghindari kondisi perangsatu-dengan-lainnya dengan menciptakan kondisi artifisial (buatan). Appetites manusia adalah akan kekuasaan. dengan menggunakan power-nya masing-masing. tetapi sudah memasuki kondisi sipil.  . satu kelompok memangsa kelompok yang lain (bellum omnium contra omnes). terdapat perjuangan manusia untuk memangsa manusia yang lain (homo homini lupus). Untuk memenuhi hasrat atau nafsu yang tidak terbatas itu.Thomas Hobbes (1588 -1679)  Hobbes menyatakan secara kodrati manusia itu sama satu dengan lainnya. Sedangkan aversions manusia adalah keengganan untuk hidup sengsara dan mati. Masing-masing mempunyai hasrat atau nafsu (appetite) dan keengganan (aversions). manusia mempunyai power. akan kekayaan. akan pengetahuan. Caranya adalah masing-masing anggota masyarakat mengadakan kesepakatan di antara mereka untuk melepaskan hak-hak mereka dan menstransfer hak-hak itu kepada beberapa orang atau lembaga yang akan menjaga kesepakatan itu agar terlaksana dengan sempurna. Hobbes menegaskan pula bahwa hasrat manusia itu tidaklah terbatas. Dalam kondisi seperti itu manusia menjadi tidak aman. Dengan demikian dalam kondisi alamiah (state of nature). dan akan kehormatan. maka yang terjadi adalah benturan power antar sesama manusia. yang meningkatkan keengganan untuk mati.

karena hanya dengan cara inilah manusia-manusia dapat mengalami ketertiban dan kebahagiaan. Pemegang kedaulatan tidak bisa digugat. karena pada prinsipnya penyerahan total kewenangan itu adalah pilihan paling masuk akal dari upaya mereka untuk lepas dari kondisi perang-satu-dengan-lainnya yang mengancam hidup mereka. tidak mempunyai hak lagi untuk menarik kembali atau menuntut atau mempertanyakan kedaulatan penguasa. Hak-hak individu sama sekali dikesampingkan sementara negara menjadi sangat mutlak dan tidak pernah salah. negara haruslah berkuasa mutlak dan ditakuti oleh semua rakyatnya. Leviathan merupakan simbol suatu sistem negara. Di lain pihak. karena pemegang kedaulatan itu tidak terikat kontrak dengan masyarakat. Tugasnya adalah menciptakan dan menjaga keselamatan rakyat (the safety of the people). pemegang kedaulatan mempunyai seluruh hak untuk memerintah dan menjaga keselamatan yang diperintah itu. Seperti Leviathan. Apa yang dipikirkan Hobbes ini adalah negara yang mutlak yang dikenal Monarki Absolut. Di dalam filsafat Hobbes.   . Masyarakat sebagai pihak yang menyerahkan hak-hak mereka. Negara berhak mutlak atas kebenaran dan kepatutan. Beberapa orang atau lembaga itulah yang memegang kedaulatan penuh.

Menurutnya keadaan alamiah adalah keadaan dimana manusia hidup dalam kedamaian. Dengan perjanjian ini. saling melindungi.John Locke (1632 – 1704)  Konsep kedaulatan rakyat merupakan buah pemikirannya yang ia tuangkan untuk menghindari penyalahgunaan kekuasaan negara absolut dan dominan tanpa ada kekuatan lain sebagai penyeimbang. penuh kebebasan.” berarti bahwa tidak ada orang tanpa persetujuannya bisa dibenarkan tunduk pada otoritas politik orang lain. Locke mengambil pola yang ada pada masanya dengan menggunakan piranti kontrak sosial.  . Locke juga dikenal sebagai peletak dasar sistem demokrasi dengan menggagas kontrak sosial sebagai sebuah pola untuk memberikan legitimasi pada negara berdasarkan hukum alam (konsep alamiah). Karena manusia bebas “adalah manusia bebas. Manusia juga tidak akan merusak kehidupan. Untuk melengkapi tesisnya. kepada komunitas yang baru terbentuk. tak ada rasa takut dan penuh kesetaraan. Locke mengatakan bahwa manusia hidup dalam keadaan alamiah (state of nature). sederajat dan merdeka. orang-orang menyerahkan kekuasaan untuk menjalankan hukum alam. dimana Locke menyatakan bahwa keadaan alamiah selalu merindukan kehidupan yang alamiah sebelum terbentuknya negara. Orang saling setuju untuk masuk ke dalam masyarakat dan membangun lembaga politik di bawah satu pemerintahan tertinggi. suatu kekuasaan yang mereka miliki secara sendiri-sendiri dalam keadaan alamiah. kebajikan. kesehatan dan hak-hak pemilikan manusia lainnya.

Pendapat John Locke inilah yang mendasari muncul teori pembagian kekuasaan sebagai gagasan awal untuk menghindari adanya pemusatan kekuasaan (absolut) dalam suatu negara. Kedua aspek ini tidak boleh dipegang oleh satu tangan agar penyalahgunaan kekuasaan dapat dihindarkan.   . John Locke. Locke bahkan menegaskan tentang pentingnya memisahkan aspek legislatif (pembuat undang-undang dan hukum) dan aspek eksekutif dan federatif (pelaksanaan undang-undang dan hukum) dalam sebuah sistem politik . Kekuasaaan Federatif (melakukan hubungan diplomatik dengan negara lain). Kekuasaan Legislatif (membuat undang-undang) 2. Deskripsi Locke tentang perjanjian sosial (kontrak sosial) menjadi landasan yang prinsipil dan filosofis dalam melihat proses pembentukan sebuah negara. Kekuasaan Eksekutif (melaksanakan undang-undang) 3. maka harus ada pembedaan pemegang kekuasaan-kekuasaan ke dalam tiga macam kekuasaan. Menurut beliau agar pemerintah tidak sewenang-wenang.yaitu: 1. dalam bukunya yang berjudul “Two Treaties of Goverment” mengusulkan agar kekuasaan di dalam negara itu dibagi dalam organ-organ negara yang mempunyai fungsi yang berbeda-beda.

Eksekutif. Hampir seluruh negara-negara di dunia menerapakan konsep ini dalam kehidupan berpolitiknya karena konsep tersebut merupakan cara-cara untuk berpolitik secara demokratis dengan harapan jalannya pemerintahan negara tidak timpang. namun apa yang dilakukan oleh Montesquieu adalah merumuskan mesin politik formal dalam struktur politik tentang teori pemisahan kekuasaan pemerintah. dan Yudikatif. dan akan memunculkan mekanisme check and balances (saling koreksi. saling mengimbangi).Montesquieu (1689 – 1755)  Pada dasarnya konsep tentang pemisahan kekuasaan telah banyak dikaji oleh para pemikir sebelum Montesquieu seperti yang serupa dengan pemikirannya yaitu John Locke. Trias Politika yang kini banyak diterapkan adalah.   . Dari ketiga lembaga itu masing-masing mempunyai peranan dan tanggungjawab tersendiri dalam mengemudikan jalannya suatu pemerintahan yang berdiri disuatu negara. terhindar dari korupsi pemerintahan oleh satu lembaga. pemisahan kekuasaan kepada 3 lembaga berbeda : Legislatif.

 Montesquieu menawarkan suatu konsep mengenai kehidupan bernegara dengan melakukan pemisahan kekuasaan yang diharapkan dapat saling lepas dan dalam tingkat yang sama. eksekutif yang bertugas sebagai pelaksana undang-udang. Karena pada dasarnya kekuasaan di suatu negara tidak bisa hanya dilimpahkan di satu lembaga yang independen saja.   . namun harus dikelola dengan beberapa lembaha independen lainnya (legislatif. eksekutif. Hal ini berarti bahwa lembaga-lembaga negara dipisahkan sehingga dapat saling mengawasi dan mengontrol satu sama lain. dan yudikatif yang bertugas sebagai pelaksana peradilan dapat saling mengawasi dan mengontrol agar jalannya kehidupan berdemokrasi dapat berlangsung. Disini dapat dilihat bagaimana lembaga-lembaga tersebut seperti legislatif yang bertugas sebagai pembuat undang-undang. Dengan melakukan pemisahan-pemisahan kekuasaan antar satu lembaga dengan lembaga lain memungkinkan kontrol dan pengawasan akan lembaga tersebut akan dapat dicapai dengan maksimal. dan yudikatif).

Pada kondisi alamiah antara manusia yang satu dengan manusia yang lain tidaklah terjadi perkelahian. maka terbentuklah organisasi sosial yang memungkinkan manusia bisa mengimbangi alam. Pada gilirannya. lebih dihormati. lebih berkuasa. tetapi alam. kecenderungan itu menjurus ke kekuasaan tunggal.  . Untuk itu mereka saling menolong. Organisasi sosial dipakai oleh yang punya hak-hak istimewa tersebut untuk menambah power dan menekan yang lain. Kenyataan itu disebabkan oleh situasi manusia yang lemah dalam menghadapi alam yang buas. Pada dasarnya manusia itu sama. Masingmasing menjaga diri dan berusaha menghadapi tantangan alam. Rousseau memulai analisisnya dengan kodrat manusia. Justru pada kondisi alamiah ini manusia saling bersatu dan bekerjasama. Muncul hak-hak istimewa yang dimiliki oleh beberapa orang tertentu karena mereka ini lebih kaya. fisik dan moral menciptakan ketidaksamaan. Walaupun pada prinsipnya manusia itu sama. dan sebagainya.

Rousseau mengajukan argumentasi yang sulit dimengerti ketika sampai pada pengoperasian kewenangan dari kehendak umum ke pemerintah. Kehendak bebas dari semua tidak harus tercipta oleh jumlah orang yang berkehendak (the quantity of the ‘subjects’). lewat kehendak umum. Untuk menghindar dari kondisi yang punya hak-hak istimewa menekan orang lain yang menyebabkan ketidaktoleranan (intolerable) dan tidak stabil. untuk memantapkan keadilan dan pemenuhan moralitas tertinggi. yang membawahi lembaga eksekutif. walaupun mungkin sulit dipahami. bisa secara total memerintah negara. argumentasi pengoperasiannya. maka masyarakat mengadakan kontrak sosial. akan tetapi harus tercipta oleh kualitas kehendaknya (the quality of the ‘object’ sought). dan tanpa perantaraan partai-partai politik. Rousseau mengedepankan konsep tentang kehendak umum (volonte generale) untuk dibedakan dari hanya kehendak semua (omnes ut singuli). sehingga apabila ada orang yang tidak setuju dengan kehendak umum itu maka perlulah ia dipaksa untuk tunduk pada kehendak umum itu.   . Pada dasarnya Rousseau menjelaskan bahwa yang memerintah adalah kehendak umum dengan menggunakan lembaga legislatif. Jadi jelas. tanpa perwakilan. Dengan demikian masyarakat. Kehendak umum menentukan yang terbaik bagi masyarakat. apa yang menjadi dasar analisa Rousseau adalah mengembangkan semangat totaliter pihak rakyat dalam kekuasaan. Walau demikian Rousseau sebenarnya menekankan pentingnya demokrasi primer (langsung). Kehendak umum (volonte generale) menciptakan negara yang memungkinkan manusia menikmati kebebasan yang lebih baik daripada kebebasan yang mungkin didapat dalam kondisi alamiah. yang dibentuk oleh kehendak bebas dari semua (the free will of all).

Pluralism mengimplikasikan pengakuan terhadap kebebasan beragama. kebebasan berpikir. toleran.  Pluralisme Dengan pluralism dimaksud kesediaan untuk menerima pluralitas. kepicikan ideologis yang mau memaksakan pandangannya kepada orang lain. damai.  Prinsip pluralism terungkap dalam Ketuhanan Yang Maha Esa yang menyatakan bahwa di Indonesia tidak ada orang yang boleh didisriminasikan karena keyakinan religiusnya. dan biasa/normal bersama warga masyarakat yang berbeda pandangan hidup. Lawan pluralism adalah intoleransi. budaya. toleransi. . Sikap ini adalah bukti keberadaban dan kematangan karakter koletif bangsa. untuk hidup dengan positif.Lima Prinsip Dasar Etika Politik Kontemporer Menurut Franz Magnis Suseno. agama. segenap paksaan dalam hal agama. adat. Pluralisme memerlukan kematangan kepribadian seseorang dan sekelompok orang. kebebasan mencari informasi. artinya.

Pelanggaran hak-hak asasi manusia tidak boleh dibiarkan (impunity). . Jadi bagaimana manusia harus diperlakukan agar sesuai dengan martabatnya sebagai manusia. di ambang modernitas di mana manusia tidak lagi dilindungi oleh adat/tradisi. jadi dari tangan Sang Pencipta. Kemanusiaan yang adil dan beradab juga menolak kekerasan dan eklusivisme suku dan ras. Generasi kedua (abad ke 19/20): hak-hak sosial Generasi ketiga (bagian kedua abad ke 20): hak-hak kolektif (misalnya minoritasminoritas etnik). melainkan karena ia manusia. HAM Jaminan hak-hak asasi manusia adalah bukti Kemanusian yang adil dan beradab. masyarakat. Karena hak-hak asasi manusia menyatakan bagaimana manusia wajib diperlakukan dan wajib tidak diperlakukan. Hak-hak asasi manusia adalah baik mutlak maupun kontekstual:   Mutlak karena manusia memilikinya bukan karena pemberian Negara. Kontekstual karena baru mempunyai fungsi dan karena itu mulai disadari. dan seblaiknya diancam oleh Negara modern. demokratis dan perlakuan wajar di depan hukum. Dibedakan tiga generasi hak-hak asasi manusia:     Generasi pertama (abad ke 17 dan 18): hak-hak liberal.

. Manusia hanya hidup menurut harkatnya apabila tidak hanya bagi dirinya sendiri. melainkan juga demi orang lain. Sosialitas manusia berkembnag secara melingkar: keluarga. kelompok agama. melainkan menyumbang sesuatu pada hidup manusia-manusia lain. kampong. Maka di sini termasuk rasa kebangsaan. Manusia menjadi seimbang apabila semua lingkaran kesosialan itu dihayati dalam kaitan dan keterbatasan masing-masing. tanggung-jawab. Korupsi bak kanker yang mengerogoti kejujuran. kelompok etnis. solidaritas sebagai manusia. sikap objektif. bahwa kita bersatu senasib sepenanggungan. Korupsi membuat mustahil orang mencapai sesuatu yang mutu. Solidaritas itu dilanggar dengan kasar oleh korupsi. Solidaritas Bangsa Solidaritas mengatakan bahwa kita tidak hanya hidup demi diri sendiri. dan kompetensi orang/kelompok orang yang korup. kebangsaan.

. atau sebuah elit. dan dalam ketaatan terhadap hokum (Negara hukum demokratis). Demokrasi hanya dapat berjalan baik atas dua dasar:   Pengakuan dan jaminan terhadap HAM. atau sekelompok pendeta/pastor/ulama berhak untuk menentukan dan memaksakan (menuntut dengan pakai ancaman) bagaimana orang lain harus atau boleh hidup. perlindungan terhadap HAM menjadi prinsip mayoritas tidak menjadi kediktatoran mayoritas. Demokrasi berdasarkan kesadaran bahwa mereka yang dipimpin berhak menentukan siapa yang memimpin mereka dan kemana mereka mau dipimpin. atau sekelompok ideology. Kekuasaan dijalankan atas dasar. Jadi demokrasi memrlukan sebuah system penerjemah kehendak masyarakat ke dalam tindakan politik. Maka kepastian hokum merupakan unsur hakiki dalam demokrasi (karena mencegah pemerintah yang sewenang-wenang). Demokrasi adalah “kedaulatan rakyat plus prinsip keterwakilan”. Demokrasi Prinsip “kedaulatan rakyat” menyatakan bahwa tak ada manusia.

suku dan budaya. semua diskriminasi atas dasar ras. Moralitas masyarakat mulai dengan penolakan terhadap ketidakadilan. Di mana perlu diperhatikan bahwa ketidakadilan-ketidakadilan itu bersifat structural. ketidakadilan tidak pertama-tama terletak dalam sikap kurang adil orang-orang tertentu (misalnya para pemimpin). keadilan sosial diusahakan dengan membongkar ketidakadilan-ketidakadilan yang ada dalam masyarakat. Struktur-struktur itu hanya dapat dibongkar dengan tekanan dari bawah dan tidak hanya dengan kehendak baik dari atas. melainkan dalam strukturstruktur politik/ekonomi/social/budaya/ideologis. Tuntutan keadilan social tidak boleh dipahami secara ideologis. Keadilan sosial adalah keadilan yang terlaksana. Ketidakadilan struktural paling gawat sekarang adalah sebagian besar segala kemiskinan. sebagai pelaksanaan ide-ide. bukan pertama-pertama individual. Ketidakadilan struktur lain adalah diskriminasi di semua bidang terhadap perempuan. Keadilan Sosial Keadilan merupakan norma moral paling dasar dalam kehidupan masyarakat. agama-agama tertentu. Keadilan social mencegah bahwa masyarakat pecah ke dalam dua bagian. Artinya. keadilan social tidak sama dengan sosialisme. Maksud baik apa pun kandas apabila melanggar keadilan. . bagian atas yang maju terus dan bagian bawah yang paling-paling bisa survive di hari berikut. Dalam kenyataan. ideology-ideologi.

27 Agustus 2007. Kebudayaan dan Politik terbitan FISIP Unair. Senin. Tahun II. Triwulan 1. Kuliah Umum Prof. Jakarta : Gramedia. 1988. 2006. Franz Magnis Suseno. No 2. Budiardjo. Di Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta. Miriam.DAFTAR PUSTAKA  Jurnal Masyarakat.   . Dasar-Dasar Ilmu Politik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful