A.

Judul Judul penelitian ini adalah “Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Berita dengan Pembelajaran Kontekstual Komponen Pemodelan (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas X SMA Negeri 5 Cimahi Tahun Ajaran 2010/2011)”. B. Latar Belakang Kurikulum disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara nasional. Berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Mutu pendidikan yang tinggi menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka, demokratis, dan mampu bersaing sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan semua warga Negara Indonesia. Penyempurnaan kurikulum dilakukan secara responsive terhadap penyerapan hak asasi manusia, kehidupan demokratis, globalisasi, dan otonomi daerah. Pemberlakuan Kurikulum 2004 atau Kurikulum Berbasis Kompetensi oleh pemerintah menghendaki terwujudnya suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi, standar kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia berorentasi pada hakikat pembelajaran bahasa, yaitu belajar berbahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiannya ( Depdiknas 2003a:2). Standar Kompetensi Bahasa dan Sastra Indonesia SMA adalah : (1) mampu mendengarkan dan memahami beraneka ragam wacana lisan, baik sastra maupun nonsastra; (2) mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan secara lisan; (3) mampu membaca dan memahami suatu teks bacaan sastra dan nonsastra dengan kecepatan yang memadai; (4) mampu mengekspresikan berbagai pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaan dalam berbagai ragam tulisan; (5) mampu mengapresiasi berbagai ragam sastra (Depdiknas 2003b:4). 1

2 Untuk mencapai standar kompetensi di atas maka kegiatan belajar adalah lebih daripada sekedar pengajaran. Kegiatan belajar adalah kegiatan pembelajaran. Siswa belajar bukan hanya dari guru melainkan dari temanteman sekelas, sesekolah, dari sumber belajar lain. Pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh guru juga harus dapat membawa siswa ke pembelajaran yang bermakna. Pembelajar Bahasa dan Sastra Indonesia dengan materi yang disajikan secara sistematis sesuai dengan kenyataan bahasa di masyarakat, diharapkan siwa mampu menyerap materi tentang berbagai hal, mampu mecari sumber, mengumpulkan, menyaring, dan menyerap palajaran yan sebanyakbanyaknya sekaligus dapat berlatih mengenai Bahasa Indonesia, khususnya keterampilan menulis. Kurikulum Berbasis Kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia adalah salah satu program untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan berbahasa siswa, serta sikap positif terhadap Bahasa dan Sastra Indonesia. Standar Kompetensi yang disiapkan dengan bahasa nasional dan bahasa Negara serta sastra Indonesia sebagai hasil cipta intelektual dalam produk budaya, yang berkonsekuensi pada fungsi dan tujuan mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai (1) sarana pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa, (2) sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya, (3) sarana peningkatan pengetahuan, teknologi, dan seni, (4) sarana penyebarluasan pemakaian Bahasa dan sastra Indonesia yang baik untuk berbagai keperluan, (5) sarana pengembangan penalaran, dan (6) sarana pemahaman keberanekaragaman budaya Indonesia melalui kahasanah kesastraan Indonesia (Depdiknas 2003d : 2-3). Untuk itulah, tujuan pembelajaran disajikan dalam komponen kebahasaan, komponen pemahaman, dan komponen penggunaan secara terpadu. Pembelajaran menulis pada siswa SMA yang dilaksanakan selama ini kurang produktif. Guru pada umumnya menerangkan hal-hal yang berkenaan dengan teori menulis. Sementara pelatihan menulis yang sebenarnya jarang dibahas atau disampaikan, seperti penggunaan tanda baca dalam menulis, memadukan kalimat, menyatukan paragraf yang baik, kurang mendapat perhatian.

membaca. dan suasana yang empat mendukung. motivasi. di mana peristiwa itu terjadi. dan menulis. pengetahuan awal siswa.3 Padahal tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di SMA adalah mempertinggi kemahiran siswa dalam menggunakan bahasa yang meliputi kemahiran menyimak. Pengalaman selama ini menunjukan bahwa kemampuan siswa dalam menulis masih rendah. keterampilan berbicara. dan menulis teks berita. yang meliputi keterampilan memilih kosa kata. Menulis juga merupakan kemampuan puncak berbahasa seseorang. dan keterampilan menulis. Pembelajaran kontekstual merupakan konsep guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya. kapan peristiwa itu terjadi. Dari observasi di kelas. Dari keempat aspek yang dilatihkan siswa. dalam proses belajar mengajar pada mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Kemahiran bahasa merupakan proses belajar bahasa yang pada umumnya melalui hubungan yang teratur (Depdiknas 1994:1) keberhasilan belajar mengajar bergantung pada factorfaktor pendukung terjadinya pembelajaran yang efisien. . Padahal kemampuan ini sangat penting. dan bagaimana jalannya peristiwa itu). mengapa hal itu terjadi. peneliti menemukan fenomena bahwa pada saat diberi kesempatan menulis teks berita. Beberapa factor mengajar yang perlu diperhatikan supaya proses belajar berlangsung baik adalah kesempatan untuk belajar. keterampilan membaca. apa yang terjadi. para siswa tidak mementingkan isi berita. menggunakan struktur kalimat. berbicara. diharapkan dapat tercipta situasi belajar mengajar yang memungkinkan siswa melakukan aktivitas secara optimal untuk mencapai tujuan keterampilan menyimak. refleksi. Mereka lebih mementingkan dapat menyelesaikan tugas yang diberikan oleh gurunya dan terselesaikan dengan cepat. Mereka belum paham betul cara membuat teks berita dengan memperhatikan 5 W + H (siapa yang menjadi bahan berita. Oleh karena itu. menulis merupakan keterampilan yang harus mendapat perhatian secara sungguh-sungguh. menerapkan ejaan maupun tanda baca.

Pembatasan masalah . Untuk itulah. pemodelan (Modelling). yakni kontruktivisme (Contructivisme). 3) guru tidak pernah memberikan contoh konkret teks berita kepada siswa. selama ini pendekatan yang digunakan oleh guru masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan sehingga ceramah menjadi pilihan utama dalam pembelajaran tersebut. bertanya (Questioning).4 dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektifitas. faktor lain yang mempengaruhi nilai keterampilan menulis teks berita adalah 1) siswa kurang latihan menulis teks berita. 2002:5). Berdasarkan observasi dengan wawancara secara langsung kepada siswa. masyarakat belajar (Learning Community). D. Keterampilan menulis teks berita siswa SMA Negeri 5 Cimahi masih kurang memuaskan. C. 2) siswa kurangnya motivasi untuk menulis teks berita. 4) siswa kurang pengetahuan tentang contoh nyata teks berita. menemukan (Inquiry). dan penilaian sebenarnya (Authentic assessment) (Depdikbud. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor pendekatan pembelajaran yang digunakan guru dan faktor siswa. Penggunaan pembelajaran kontekstual komponen pemodelan (modelling) dalam menulis teks berita ini dapat dijadikan sebagai alat untuk mencapai salah satu tujuan pembelajaran mata pelajaran Bahsa dan Sastra Indonesia di SMA. Identifikasi Masalah Keberhasilan dalam pembelajaran bahasa Indonesia berkaitan erat dengan keterampilan menulis dan ditentukan pula oleh beberapa faktor. peneliti akan melakukan penelitian tentang peningkatan keterampilan menulis teks berita dengan pembelajaran kontekstual komponen pemodelan pada siswa kelas X SMA Negeri 5 Cimahi. 2) guru banyak menerangkan tentang teori menulis tetapi tidak banyak memberikan latihan membuat karangan teks berita. 3) ada anggapan bahwa menulis teks berita adalah kegiatan yang sulit. Hal ini disebabkan oleh faktor 1) ketidaktepatan pemilihan pendekatan pembelajaran.

Tujuan Penelitian Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mendeskripsikan hal-hal berikut : 1. Untuk meningkatkan keterampilan menulis teks berita di dalam penelitian ini. kemenarikan judul. dan ketepatan penggunaan ejaan dalam berita. Bagaimanakah peningkatan keterampilan menulis teks berita pada siswa kelas X SMA Negeri 5 Cimahi setelah mengikuti pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan ? 2. E. 2. . kosakata yang digunakan bahsa yang tepat. permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. keruntututan pemaparan ( isi urut dan jelas sehingga mudah dipahami). penggunaan kalimat (singkat dan jelas). Bagaimanakah perubahan tingkah laku siswa kelas X SMA Negeri 5 Cimahi setelah pembelajaran menulis teks berita dilaksanakan dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan ? F. Perubahan tingkah laku siswa kelas X SMA Negeri 5 Cimahi setelah pembelajaran menulis teks berita dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Peningkatan keterampilan menulis teks berita siswa kelas X SMA Negeri 5 Cimahi setelah mengikuti pembelajaran dengan pendekatan konskstual komponen pemodelan. 1.5 Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah peningkatan keterampilan menulis teks berita siswa kelas X SMA Negeri 5 Cimahi tahun ajaran 2010/2011 dengan pembelajaran pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan di atas. peneliti berupaya mengatasi kesulitan-kesulitan dalam menulis teks berita. Peneliti membatasi permasalahan karena peneliti berfokus pada peningkatan kemampuan siswa menulis teks berita dengan memperhatikan aspek kelengkapan isi berita (mengandung 5 W + H).

c. tempat. khususnya dalam menerapkan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Adapun Akhadiah (1997:9) menyatakan bahwa menulis merupakan bentuk komunikasi untuk menyampaikan gagasan penulis kepada khalayak yang dibatasi jarak. Kajian Teori 1. Widayamarta (1991:90) mengungkapkan bahwa menulis se bagai suatu proses kegiatan pikiran manusia yang hendak mengungkapkan kandungan jiwanya kepada orang lain atau kepada diri sendiri dalam tulisan. Selain itu. dan peneliti. dan waktu. Manfaat Penelitian Penelitian ini mempunyai manfaat teoretis dan praktis.21). 1986 . Manfaat bagi siswa adalah dapat meningkatkan keterampilan menulis teks berita. mengembangkan teori pembelajaran menulis teks berita melalui pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. .6 G. Manfaat bagi peneliti adalah dapat menambah wawasan mengenai penggunaan pendekatan kontekstual. Manfaat bagi guru adalah memberikan alternative pemilihan pendekatan pembelajaran menulis teks berita dan dapat mengembangkan keterampilan guru Bahasa dan Sastra Indonesia. a. Keterampilan Menulis Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dapat dipahami seseorang sehingga orang lain dapat memahami bahasa dan gambar grafik itu (Tarigan. Manfaat Praktis Manfaat praktis penelitian ini adalah bagi guru. b. 2. siswa. 1. Sementara itu. Manfaat Teoretis Manfaat teoretis penelitian ini adalah menambah khasanah pengetahuan tentang menulis teks berita. H.

Menurut Suhandang (2004:103). ddk. dapat diambil simpulan bahwa berita adalah laporan tentang kejadian atau peristiwa yang menarik atau memiliki nilai yang penting. dan ditujukan atau dipublikasikan kepada masyarakat luas melalui media massa. Who. Karena banyak kejadian atau peristiwa atau pendapat orang yang (dikira) merupakan fakta tetapi ternyata banyak mengandung kebohongan. orang menyebutnya berita pers (Suriamiharja. 2003:6). Peristiwa atau pendapat tidak dipublikasikan melalui media massa periodik. bahwa berita adalah laporan tentang peristiwa atau pendapat yang memiliki nilai yang penting. 3. masih baru dan dipublikasikan secara luas melalui media mssa periodik. menarik bagi sebagian khalayak.. masih baru. Artinya.7 2. atau dengan isyarat jika pernyataan atau pemberitahukan ini disalurkan melalui media pers. Djuroto (2003:12) menyatakan bahwa selain 5W+H+S. Where. Berita adalah pernyataan antar manusia sebagai pemberitahuan tentang peristiwa atau keadaan atau gagasan yang disampaikan secara tertulis atau lisan. yakni kebenaran. Persyaratan Berita Untuk bisa menulis berita kita harus mengetahui persyaratan berita. sebuah berita harus benar. satu lagi yang masuk dalam persyaratan berita. Hakikat Teks Berita Syarifudin (1972 dalam Djuroto 2003:6) menyatakan bahwa berita adalah suatu laporan kejadian yang ditimbulkan sebagai bahan yang menarik perhatian public massa media. yang terjadipun aktual dalam arti “baru saja” atau hangat dibicarakan orang banyak. berita adalah laporan atau pemberitahuan tentang segala peristiwa aktual yang ada di alam semesta ini. 1996/1997:64). Dari keempat pendapat tersebut di atas. . Pendapat yang senada diutarakan oleh Wahyudi (1991 dalam Djuroto. Padahal fakta merupakan data utama. When dan How): Untuk Negara kita Indonesia rumusan ini ditambah satu lagi S (Security) atau keamanan (Djuroto 2003 : 10-11). Why. Persyaratan dalam menulis berita yaitu 5W + H (What.

artinya berita yang kita buat harus mampu mengarahkan perhatian pembaca. Pengalaman belajar diperoleh melalui serangkaian kegiatan untuk mengeksplorasi secara aktif lingkungan alam. Mengarahkan. lingkungan sosial. Siregar (1987 : 138). radio. Menurut Djuroto (2003:27) tiga sifat tersebut adalah sebagai berikut. Pembelajaran Kontekstual Pendekatan apapun yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar diharapkan selalu mendudukkan siswa sebagai pusat perhatian. c. 6. dorongan. dan isi pernyataan 5. Memberi penerangan di sini maksudnya adalah memberikan penjelasan atau contoh-contoh kejadian yang tidak baik agar tidak ditiru oleh masyarakat. Ciri khas bahasa berita terletak pada kata. artinya berita harus mampu memberi penerangan kepada masyarakat. dan lingkungan buatan. pendengar atau pemirsa sehingga mengikuti alur pemikiran kita. Peranan guru dalam menentukan pola KBM di kelas bukan ditentukan oleh diktatik metodik “apa yang akan dipelajari” saja. dan semangat bagi pembacanya. 2002:1) . artinya berita harus dapat memberi rangsangan. tetapi pada “bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar anak”. kalimat. baik untuk surat kabar. Menumbuhkan atau membangkitkan semangat. Bahasa Berita Pada dasarnya bahasa berita tidak berbeda dengan bahasa Indonesia yang kita gunakan sehari-hari. Berita yang bersifat memberi penerangan. Sifat Berita Berita. b. maupun televisi memiliki tiga sifat yang harus dipenuhi. a. serta berkonsultasi dengan nara sumber lain (Depdiknas.8 4.

Karakteristik pembelajaran berbasis kontekstual adalah (1) kerja sama. (2) saling menunjang. (11) laporan kepada orang tua bukan hanya rapor. Pembelajaran kontekstual menempatkan siswa di dalam konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedang dipelajari dan sekaligus memperhatikan faktor kebutuhan individual siswa dan peranan guru (Nurhadi. dan melaksanakan observasi serta menarik kesimpulan dalam kehidupan jangka panjang (Nurhadi. Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan sehari-hari dengan melibatkan komponen kontruktivisme. humor.9 Pendekatan kontekstual merupakan suatu konsep belajar di mana menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan keluarga dan masyarakat. dan penilaian yang sebenarnya. (6) menggunakan berbagai sumber. menirukan. peta-peta. dan lain-lain. (9) siswa kritis guru kreaktif. tetapi hasil karya siswa. Dengan konsep seperti itu. (7) siswa aktif. 2003:19). berpikir kritis. Hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi anak untuk memecahkan persoalan. siswa akan menjadi peserta aktif bukan pengamat yang pasif dan bertanggung jawab terhadap belajarnya. Pembelajaran kontekstual akan menciptakan ruang kelas yang dialaminya. 2003:4). Komponen Modeling (Pemodelan) . gambar. pemodelan. (10) dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa. karangan siswa. (5) pembelajaran terintegerasi. 2001:20-21) 7. tidak membosankan. bertanya. masyarakat belajar. artikel. hasil belajar diharapkan akan lebih bermakna bagi siswa karena proses pembelajaran akan berlangsung secara alamiah. laporan hasil praktikum. (4) belajar dengan gairah. (3) menyenangkan. (8) sharing dengan teman. dan lain-lain (Depdiknas.

siswa itu dapat ditunjuk untuk mendemonstrasikan keahliannya. . hasil teks berita siswa baik dan benar. Seorang penulis asli berbahasa Inggris.10 Salah satu komponen pembelajaran kontekstual adalah komponen modelling (pemodelan). guru akan menghadirkan contoh teks berita yang diambil dari surat kabar kepada siswa saat pembelajaran sehingga sebelum mengerjakan tes menulis teks berita siswa sudah mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan teks berita. sehingga siswa dapat menmgamati atau meniru. Seorang siswa bisa ditunjuk utnuk memberi contoh temanya cara melafalkan suatu kata. cara melafalkan bahasa Ingris. Dengan demikian. model itu bisa berupa cara melempar bola dalam olahraga. Model juga dapat didatangkan dari luar. pemodelan pada dasarnya membahas gagasan yang dipikirkan. tentunya guru bukan satu-satunya model. Jika kebetulan ada siswa yang pernah lomba baca puisi atau memenangkan kontes berbahasa Inggris. Pemodelan dapat berbentuk demonstrasi. Siswa “contoh” tersebut sebagai “standar” kompetensi yang harus dicapainya. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Dalam pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Kemudian untuk pembelajaran selain menulis teks berita. Menurut Nurhadi dan Senduk (2003:49). mendemontrasikan bagaimana guru menginginkan para siswanya untuk belajar. contoh karya tulis. Komponen pemodelan pada pembelajaran maksudnya adalah bahwa dalam sebuah pembelajaran keterampilan berbahasa atau keterampilan tertentu ada model yang ditiru. cara bertutur kata. dan memenuhi syarat penulisan teks berita. dalam pembelajaran menulis teks berita misalnya. dan model dapat pula dihadirkan dari luar. gerak tubuh ketika berbicara dan sebagainya (Nurhadi dan Senduk. pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar. guru bukan satu-satunya model. sekali waktu dapat dihadirkan di kelas untuk menjadi ‘model” cara berujar. dan sebagainya. Dengan demikian. dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswa-siswanya melakukan. Namun. 2003:50). guru dapat memberi contoh cara mengerjakan sesuatu atau memberi model cara belajar sebelum melaksanakan tugas. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Dengan kata lain.

Kemudian Ardiana. tahap ini merupakan tahap pramenulis. setelah karangan diserahkan dan diperiksa guru. Akhirnya. (5) latihan menulis struktur. hipotesis dalam penelitian tindakan kelas ini adalah keterampilan menulis teks berita dan tingkah laku siswa kelas X SMA Negeri 5 Cimahi akan meningkat dan terjadi perubahan tingkah laku jika menggunakan pembelajaran kontekstual komponen pemodelan. (4) menulis karangan. dkk. Kesalahan yang sekitarnya dapat dibetulkan oleh siswa. (4) membacakan contoh karangan. Mereka mencoba mengerjakannya sendiri dan tidak diperkenankan mengutip sumber-sumber lain. (7) menulis karangan. Metode pembelajaran menulis Menurut Jupp dan Milne (1978 dalam Subyantoro dan hartono. Guru cukup memberikan tanda lingkaran pada bentuk atau kata yang dianggap sah. . pada tahap ini siswa diajak mendiskusikan topik tulisan. Hipotesis Berdasarkan uraian di atas. Setelah itu. 2003:8). guru tidak perlu membetulkannya. (2) tahap menyimak menulis. (3) latihan struktur secara lisan dan intensif.11 8. pada tahap ini siswa akan memperoleh kertas dari guru yang harus diisi tentang komentar mereka mengenai karangan temannya serta membuat koreksi yang dianggap perlu. mereka menuliskan ringkasan yang berkaitan dengan karangannya. I. sesudah diskusi kelas. 2003:8) memberikan alternatife lain untuk menulis terbimbing. dalam pengajaran menulis dalam tahap awal dapat dengan metode menulis terbimbing. Langkah-langkah pengajaran (1) memperkenalkan subjek. (2) memperkenalkan sturuktur yang akan dilatihkan. siswa melanjutkan diskusinya secara berpasangan. (5) proses penguatan. (6) meneliti karangan. guru harus memberikan penguatan. (3) diskusi berpasangan. siswa disuruh menulis karangan sesuai dengan kerangka yang telah didiskusikan. (2002 dalam Subyantoro dan Hartono. yang tahaptahapnya adalah (1) tahap berbicara menulis. mereka harus berlatih lagi tentang struktur dan kosa kata yang berkaitan dengan subjek yang ditulisnya.

Tindakan Tindakan merupakan pelaksanaan rencana pembelajaran yang telah dipersiapkan. wawancara. membuat dan menyiapkan instrument penelitian berupa lembar observasi. Prosedur Tindakan pada Siklus I a. siswa dikondisikan untuk siap mengikuti proses pembelajaran. Keempat komponen itu dipandang sebagai satu siklus. dilakukan tiga tahap proses belajar mengajar. dan model yang akan digunakan dalam pembelajaran.12 J. dan refleksi. b. Rencana kegiatan yang akan dilakukan adalah menyusun rencana pembelajaran. Jika siklus I nilai ratarata belum mencapai target yang telah ditentukan. Metodologi Penelitian 1. proses pembelajaran. Perencanaan Pada tahap perencanaan ini dilakukan persiapan pembelajaran menulis teks berita. yaitu apersepsi. menyiapkan perangkat tes yang berupa kisi-kisi soal dan pedoman penskoran. tindakan. 2. Guru memberikan penjelasan kepada siswa mengenai tujuan . yaitu perencanaan. Siklus ini terdiri atas empat komponen. Pada tahap apersepsi. Penelitian ini dilaksanakan dengan maksud untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan yang dilakukan. akan dilakukan tindakan siklus II. jurnal. Tindakan yang akan dilakukan secara garis besar adalah pembelajaran menulis teks berita dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. observasi. dan evaluasi. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research). Pada tahap ini.

keaktifan dan keseriusan siswa dalam mengikuti pembelajaran. c.13 pembelajaran serta manfaat yang akan diperoleh siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. kemudian berdiskusi dengan kelompoknya. Kegiatan selanjutnya adalah siswa secara individu diberikan model baru untuk dicari unsur-unsurnya dan menulis teks berita dengan singkat. Mereka dapat membuat teks berita dengan mengingat berita-berita yang terdapat di televise atau di surat kabar. Setelah kegiatan pembelajaran selesai. dan jelas. padat. . siswa diberikan contoh berita yang ditayangkan di televise berupa CD selama kurang lebih 15 menit untuk illustrasi. guru membagikan jurnal kepada siswa untuk mengetahui. dengan tema bebas yang sesuai dengan realita atau kenyataan yang ada. keaktifan dalam mengerjakan tugas. siswa diminta menemukan unsure-unsur yang ada dalam teks berita seperti 5W + H. Setelah siswa siap mengikuti kegiatan pembelajaran menulis teks berita dilaksanakan. membuat teks berita yang aktual. Siswa berdiskusi membahas masalah yang terjadi di dalam tayangan televise. Hasil tulisan siswa yang berupa teks berita nilai oleh guru untuk mengetahui sampai di mana keterampilan siswa dalam menulis teks berita. dan sikap/tanggapan siswa terhadap teknik pembelajaran. Dalam melakukan pengamatan peneliti dibantu oleh guru pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Siswa membentuk kelompok yang terdiri dari 2 orang . Unsur-unsur teks berita yang telah mereka temukan dari contoh atau model mereka analisis dan dituliskan pada kertas dan dipresentasikan di depan kelas untuk mendapatkan masukan dari teman dan guru. keseriusan mengamati model. Observasi Observasi adalah mengamati kegiatan dan tingkah laku siswa selama penelitian berlangsung. Langkah selanjutnya adalah guru membagikan contoh teks berita kepada masing-masing kelompok untuk diamati dan dipelajari. Sasaran yang diamati meliputi kerja sama dengan kelompoknya. Dalam mengamati model tersebut. tugas yang akan dibuat yaitu tentang unsure-unsur teks berita dan jenis-jenis berita.

baik terhadap materi. 3. Pada tahap ini guru menjelaskan kesalahan-kesalahan yang terdapat pada penulisan teks berita yang telah dibuat siswa. dan evaluasi. tanggapan dan saran siswa terhadap pembelajaran yang baru saja dilakukan. proses pembelajaran. Refleksi dilakukan dengan menganalisis hasil tes dan nontes siklus I dengan tujuan mengetahui hasil atau dampak pelaksanaan tindakan. Masalah-masalah pada kelebihan-kelebihannya dipertahankan dan ditingkatkan. sedangkan Dari hasil refleksi tersebut dapat disusun rencana untuk siklus II. teknik maupun cara mengajar guru. d. Guru memberikan penjelasan kepada siswa mengenai tujuan. Tindakan Tindakan pada siklus II adalah penyempurnaan tindakan pada siklus I. Refleksi Setelah pelaksanaan tindakan. selanjutnya peneliti melakukan refleksi. Kemudian siswa diberi bimbingan dan arahan agar dalam pelaksanaan kegiatan menulis teks berita pada siklus II akan menjadi lebih baik.14 kesan. b. siswa dikondisikan untuk siap mengikuti proses pembelajaran. Dalam tahap ini Guru juga kekurangan-kekurangan yang terjadi tahap siklus I diperbaiki. Kegiatan dalam siklus II adalah apersepsi. manfaat yang akan diperoleh siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. menyiapkan soal tes nontes untuk siklus II dan mengkoordinasikan kembali . dengan guru mata pelajaran. Perencanaan Pada tahap perencanaan dalam siklus II ini dipersiapkan rencana pembelajaran yang telah diperbaiki dan disempurnakan. Pada tahap apersepsi. Prosedur Tindakan pada Siklus II a. sikus I dicari pemecahannya.

Sasaran yang diamati meliputi kerja sama dengan kelompoknya. dengan tema bebas yang sesuai dengan realita atau kenyataan yang ada. Hasil tulisan siswa yang berupa teks berita dinilai oleh guru untuk mengetahui sampai di mana keterampilan siswa dalam menulis teks berita. siswa diminta menemukan unsur-unsur yang ada dalam teks berita seperti 5W + H pada salah satu berita. kemudian merumuskan Setiap kelompok masalah tentang apa dan bagaimana teks berita itu. keaktifaan dalam mengerjakan tugas. c. Setelah siswa siap mengikuti kegiatan pembelanjaran menulis teks berita dilaksanakan. dan sikap/tanggapan . keaktifan dan keseriusan siswa dalam mengikuti pembelajaran. keseriusan mengamati model. Siswa secara berkelompok. diwajibkan untuk mencari dan mengamati surat kabar sebagai model pembelajaran. siswa tetap diamati. kemudian berdiskusi dengan kelompoknya. Kegiatan selanjutnya adalah siswa secara individu diberikan model baru untuk dicari unsur-unsurnya dan menulis teks berita dengan singkat.15 dan memotivasi siswa untuk semakin lebih baik dalam menulis teks berita. dibantu oleh guru pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesi seperti pada siklus pertama. Observasi Pada siklus II ini selama proses pembelajaran berlangsung. padat. Dalam mengamati model surat kabar tersebut. Guru menjelaskan kesalahan-kesalahan yang telah siswa lakukan dan memberikan penjelasan tentang cara memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam menulis teks berita. Unsur-unsur teks berita yang telah mereka temukan dari contoh atau model mereka analisis dan dituliskan pada kertas dan dipresentasikan di depan kelas untuk mendapatkan masukan dari teman dan guru. siswa. Pengamatan dilakukan untuk peningkatan hasil tes dan perilaku Observasi ini adalah mengamati kegiatan dan tingkah laku siswa Dalam melakukan pengamatan peneliti selama penelitian berlangsung. Mereka dapat membuat teks berita dengan mengingat berita-berita yang terdapat di televise atau di surat kabar. dan jelas.

Refleksi Refleksi dilakukan untuk mengetahui keefektifan penggunaan model dalam pembelajaran menulis teks berita. Kelas X-9 terdiri atas 42 siswa. diadakan tes menulis teks berita. untuk melihat peningkatan keterampilan menulis teks berita dan mengetahui perubahan perilaku siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. guru membagikan jurnal kepada siswa untuk mengetahui kesan. Setelah proses pembelajaran. . d. Pada tes awal ini siswa juga menulis teks berita untuk mengetahui keterampilan siswa menulis teks berita. baik terhadap materi.16 siswa terhadap teknik pembelajaran. Tes Penelitian ini diawali dengan pelaksanaan tes awal atau pretes untuk mengetahui pengetahuan dan kemampuan siswa tentang teks berita. 1. Variabel Penelitian Variabel yang diungkap dalam penelitian ini adalah variabel peningkatan keterampilan menulis teks berita dan variabel penggunaan pembelajaran kontektual komponen pemodelan. teknik maupun cara mengajar guru. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah keterampilan menulis teks berita siswa kelas X SMA Negeri 5 Cimahi tahun ajaran 2010/2011. L. Kelas ini dipilih karena kemampuan menulis teks berita masih rendah atau nilai yang telah dicapai belum memuaskan dan kelas ini memiliki kemampuan menulis yang lebih rendah dari kelas lainnya. tanggapan dan saran siswa terhadap pembelajaran yang baru saja dilakukan. Tes ini dilaksanakan untuk mengetahui pengetahua dan kemampuan siswa tentang menulis teks berita setelah mengikuti proses pembelajaran. M. Setelah kegiatan pembelajaran selesai. K. Instrumen Penelitian Penelitian ini menggunakan bentuk instrument tes dan nontes.

dan (6) ketepatan penggunaan ejaan dalam berita (Depdiknas. sikap siswa terhadap model yang disajikan/keseriusan mengamati model. yaitu (1) kelengkapan isi berita (mengandung 5W + H). keaktifan dan keseriusan siswa dalam mengikuti pembelajaran. sikap atau tanggapan siswa terhadap teknik pembelajaran menyenangkan. keaktifan dalam mengerjakan tugas. Nontes Bentuk instrument nontes yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi. Aspek yang diamati dalam penelitian ini meliputi. (3) penggunaan kalimat (singkat dan jelas). a. sharing dengan teman. 1 2 3 4 5 6 Aspek Penilaian Kelengkapan isi berita Keruntututan pemaparan Penggunaan kalimat Kosakata yang digunakan adalah bahasa yang tepat Kemenarikan judul Ketepatan penggunaan ejaan dalam berita Jumlah Skor Maksimak 30 15 15 15 10 15 100 2. Tabel 1 Skor Penilaian No. (5) kemenarikan judul. pedoman wawancara. b. Kerja sama dengan kelompoknya atau teman. (4) kosakata yang digunakan bahasa yang tepat. dan jurnal.17 Ada enam aspek pokok yang dijadikan kreteria penilaian. (2) keruntututan pemaparan (isi urut dan jelas sehingga mudah dipahami). 2003e:67). Lembar Observasi Lembar observasi digunakan mengamati tingkah laku dan respon siswa selama proses pembelajran. Pedoman Wawancara 18 .

Jurnal siswa berisi tentang kesan dan pesan siswa.Pedoman wawancara digunakan untuk mendapatkan data tentang pembelajaran menulis teks berita. Wawancara ini untuk mengetahui minat siswa terhadap pembelajaran menulis. khususnya menulis teks berita. c. Tes akhir dilakukan dengan memberikan tugas untuk menulis berita 19 . siswa memberikan respon positif atau negatife terhadap pembelajaran menulis teks berita menggunakan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. pada akhir siklus I dan II diadakan tes akhir. Jurnal guru berisi tentang uraian pendapat dan seluruh kejadian yang dilihat dan dirasakan oleh guru selama kegiatan pembelajaran menulis berlangsung. Wawancara dilakukan terhadap siswa yang nilai tesnya tinggi. Dari wawancara ini juga digali saran siswa untuk memperbaiki pembelajaran dan saran perbaikan model. Setelah itu. N. sedang. Jurnal dibuat ada dua macam yaitu jurnal peneliti/guru. Jurnal Jurnal digunakan untuk mendapatkan data tentang respon siswa sebagai subjek penelitian selama proses pembelajaran. Tes awal dilakukan sekali pada siklus I untuk mengetahui sejauhmana pengetahuan siswa tentang teks berita dan sampai di mana keterampilan mereka menulis teks berita. dan saran pembelajaran menulis teks berita dengan pembelajaran kontekstual komponen pemodelan. sedangkan jurnal guru diisi oleh guru. keinganan siswa dalam pembelajaran menulis teks berita. Teknik Tes Teknik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes awal dan tes akhir. Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan dua teknik pengumpulan data. untuk mengetahui permasalahan/kesulitan yang dialami siswa dalam menulis teks berita. tanggapan mengenai pembelajaran. Jurnal siswa diisi oleh siswa. tanggapan mengenai model yang disajikan. 1. yaitu teknik tes dan notes. dan rendah. perasaan ketika menulis teks berita.

c. proses belajar mengajar sampai dengan siswa menulis teks berita. Adapun tahap observasinya yaitu (1) mempersiapkan lembar observasi yang berisi butir-butir sasaran amatan tentang keaktifan siswa dalam mendengarkan penjelasan guru. d. peneliti mengukur keterampilan menulis siwa berdasarkan hasil tes pada siklus I dan siklus II.secara individu. siswa ditugasi menemukan unsur-unsur dalam teks berita pada model. Observasi dilakukan oleh peneliti dibantu dengan seorang teman dan peneliti. (3) mencatat hasil observasi dengan mengisi lembar observasi yang telah dipersiapkan. dan ketepatan penggunaan ejaan dalam berita. dan jurnal. Langkah-langkah yang dilakukan di dalam pengambilan data dengan tes adalah sebagai berikut : a. b. kosakata yang digunakan bahsa yang tepat. kemenarikan judul. (2) melaksanakan observasi selama proses pembelajaran yaitu mulai dari penjelasan guru. penggunaan kalimat (singkat dan jelas). 2. keruntututan pemaparan (isi urut dan jelas sehingga mudah dipahami). a. Observasi Observasi digunakan utuk mengungkap data keaktifan siswa selama proses pembelajaran menggunakan pembelajaran kontekstual komponen pemodelan. b. menilai dan mengolah data dari hasil penelitian. Wawancara Teknik wawancara digunakan untuk mengungkap data penyebab kesulitan dan hambatan dalam pembelajaran menulis teks berita. Wawancara dilakukan pada 6 orang siswa yaitu 2 orang siswa yang mendapatkan nilai tes 20 . menyiapkan bahan tes berdasarkan model yang disajikan. wawancara. dan keaktifan siswa dalam mengerjakan tes. siswa diminta untuk menulis teks berita. Tes ini untuk mengetahui kemampuan siswa menulis teks berita dengan memperhatikan aspek kelengkapan isi berita (mengandung 5W + H). e. keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Teknik Nontes Teknik nontes yang digunakan adalah melalui observasi.

d. menghitung nilai rat-rata. pendapat mereka tentang pembelajaran menulis teks berita dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Teknik Kuantitatif Teknik kuantitatif dipakai untuk menganalisis data kuantitatif yang diperoleh dari tes menulis teks berita pada siklus I dan II. b. (2) menentukan siswa yang nilai tesnya kurang. Teknik Analisis Data Teknik analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kuantatif. Hasil tes ditulis secara persentase dengan langkah-langkah berikut ini : a. Hal ini berdasarkan nilai tes pada tiap siklus dan berdasarkan observasi yang dilakukan guru selama proses pembelajaran. merekap nilai yang diperoleh siswa. cukup. 2 orang siswa yang mendapatkan nilai tes yang sedang. Wawancara dilaksanakan peneliti setelah pembelajaran menulis teks beerita dengan pembelajaran kontekstual komponen pedoman selesai dilaksanakan. untuk kemudian diajak wawancara. dan 2 orang siswa yang mendapatkan nilai tes yang rendah. O. menghitung persentase. (3) merekam dan mencatat hasil wawancara dengan menulis tanggapan terhadap tiap butir pertanyaan. c. hal-hal yang ingin dikemukakan siswa berkaitan dengan pembelajaran menulis teks berita. 1. K P = NxS 21 x 100 % . dan baik.yang tinggi. Persentase ditulis dengan menggunakan rumus sebagai berikut. menghitung nilai komulatif dari tugas-tugas siswa. c. Adapun cara yang ditempuh peneliti dalam pelaksanaan wawancara yaitu (1) mempersiapkan lembar wawancara yang berisi daftar pertanyaan yang akan diajukan pada siswa. Jurnal Setiap akhir pembelajaran siswa menulis jurnal yang berisi kesulitan yang mereka hadapi dalam menulis teks berita.

Hasil ini sebagai dasar untuk menentukan siswa yang akan diwawancarai selain hasil nilai teks berita dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Teknik Kualitatif Teknik kualitatif dipakai untuk menganalisis data kualitatif yang diperoleh dari hasil nontes.Keterangan : P K N S : Nilai persentase : Nilai komulatif satu kelas : Nilai maksimal soal tes : Jumlah responden Hasil perhitungan dari masing-masing siklus kemudian dibandingkan yaitu antara hasil siklus I dengan hasil siklus II. Hasil analisis digunakan untuk mengetahui siswa yang mengalami kesulitan dalam menulis teks berita dengan pendekatan kontekstual komponen pemodelan. 2. Hasil analisis tersebut sebagai dasar untuk mengetahui peningkatan keterampilan menulis teks berita. 22 . Hasil ini akan memberikan gambaran mengenai persentase peningkatan keterampilan menulis teks berita dengan pendekatan kontkstual komponen pemodalan.

Skripsi pada Universitas Negeri Semarang. Manajemen Peningkatan Mutu berbasis Sekolah: Pembelajaran dan Pengajaran Kontekstual. Jakarta: Erlangga. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawitah. Astuti. 1997. Jakarta: Erlangga. dkk. 2004. 2004. Pelatihan Terintegerasi Berbasis Kompetensi Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia : Menulis. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa. Jakarta: Depdiknas. 2003 c. A. 2003 d. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.Program Peningkatan Mutu SLTP. “Peningkatan Keterampilan Menulis Teks drama dengan Teknik Modelling pada Siswa-siswi Kelas IV D PL Bernadus Semarang”.04. dkk. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003. Dari Narasi Hingga Argumentasi. Asrom. “Peningkatan Keterampilan Menulis Karangan narasi dengan Pendekatan Kontekstual Komponen Pemodelan pada Siswa Kelas II PS SMK Negeri 8 Semarang”. Bagiyo. Thomas. 1997. Ardiana. Rencana Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SLTP Kelas 2. Skripsi pada Universitas Negeri Semarang. Semarang : tidak diterbitkan. Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia. Depdiknas. Jakarta Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta : Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Jakarta: Depdiknas.Daftar Pustaka Akhadiah. Modul IND. Sabarti. Semarang: tidak diterbitkan. 23 . 2003 e. 2002. 2002. 2004. Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar dan menengah 2003 a. Dwi. Pendekatan Kontekstual : Contextual Teaching and Learning (CTL). Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. 2003 b.

Djuroto. Pembelajaran kontekstual (Cooperatif Learning di Ruang-ruang Kelas). Makalah disajikan pada Pelatihan Teritegrasi Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi. “Pengembangan Kemampuan Berbicara. 1990. 2003. Teknik Mencari & Menulis Berita. Bambang Hartono. dkk.Yogyakarta: Adi Cita Karya Nusa. 1992. dan Menulis”. Semi. Semarang : tidak diterbitkan. Menulis Efektif. Semarang: Dahar Prize Nurhadi. Tarigan. Nursito. Sukris. Semarang: tidak diterbitkan Suriamiharja. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.Penuntun Mengarang. Jakarta: Depdikbud. Siregar. Petunjuk Praktis Menulis. Jakarta : Grafikatama Jaya. PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS TEKS BERITA DENGAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL . Bahasa Pers Bahasa Indonesia Jurnalistik: Kerangka Teori Dasar. Jakarta: Gramedia Widiasarana. 2000. Henry Guntur. 2004. 1986. “Peningkatan Keterampilan Menulis Narasi dengan Teknik Modelling pada Siswa Kelas II SLTP I Sukorejo Kendal” Skripsi pada Universitas Negeri Semarang. Atar. Suryanto. “Peningkatan Keterampilan Menulis Wacana Narasi Melalui Media Rekacerita Bergambar Siswa Kelas II E SLTP N 3 Jekulo” Skripsi pada Universitas Negeri Semarang. Membaca. Padang: Angkasa Raya. Totok. 1999. 2003. Subyantoro. 1997. Bandung : Angkasa. Ras. dkk. 2003.

KOMPONEN PEMODELAN (Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa Kelas X SMA Negeri 5 Cimahi Tahun Ajaran 2010/2011) PROPOSAL PENELITIAN Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Metode Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Oleh DIAH IRAWATI NIM 0902687 JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG 2011 .

. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful