1

1 2
2
Melawan Penguasa
KATALOG DALAM TERBITAN
Abdul Mun’im Musthafa Halimah
Melawan Penguasa : praktik bernegara modern dalam perspektif Islam / penulis
Abdul Mun’im Musthafa Halimah, Abu Shuhaib Al-Maliki ; penerjemah, Yasir, Syarif
Baraja ; editor, Wendy Febriangga -- Solo : jazera, 2007.
152 hlm. ;20.5 cm
Judul asli : Fashlul kalam fi mas’alatil khuruj ‘alal hukkâm, bayân riddah man
baddala asy-syari’ah min al-hukkam
ISBN 979-26-6308-2
1. Islam dan kenegaraan I.Judul II. Al-Maliki, Abu Shuhaib III.Yasir
IV. Syarif Baraja V. Wendy Febriangga
297.62
Melawan
Penguasa
Penulis Abdul Mun’im Musthafa Halimah,
Abdul aziz Al-Maliki
Alih Bahasa Yasir, Syarif Baraja
Editor Wendy Febriangga
Tataletak cholique Desain sampul Arezadesign
Penerbit JAZERA Anggota SPI (Serikat Penerbit Islam) Solo
siup no: 229/11.35/pk/iv/2004
po. box 174 solo Telp. (0271) 7074155 Fax. (0271) 741297
website: www.jazera.com; e-mail : jazera@telkom.net
Cetakan I : Agustus 2007
3
Daftar Isi — iii
Kata Pengantar— v
Mukadimah — xi
Bab 1 Bab 1 Bab 1 Bab 1 Bab 1
EMPAT TIPE PENGUASA — 13 EMPAT TIPE PENGUASA — 13 EMPAT TIPE PENGUASA — 13 EMPAT TIPE PENGUASA — 13 EMPAT TIPE PENGUASA — 13
1. Penguasa Kafir — 15
Syubhat pertama: Takut tercebur ke dalam fitnah —
25
Syubhat kedua: Tidak relevan — 36
2. Penguasa Muslim yang Adil — 40
Ketaatan Terikat, Bukan Mutlak — 45
Hukum Pembangkang (Bughat) — 48
3. Penguasa Muslim yang Fasik — 51
4. Penguasa Muslim yang Sangat Fasik, Zalim, dan
Lalim — 59
BAB 2 BAB 2 BAB 2 BAB 2 BAB 2
BERBAGAI SYUBHAT DAN JAWABANNYA — 69 BERBAGAI SYUBHAT DAN JAWABANNYA — 69 BERBAGAI SYUBHAT DAN JAWABANNYA — 69 BERBAGAI SYUBHAT DAN JAWABANNYA — 69 BERBAGAI SYUBHAT DAN JAWABANNYA — 69
1. Kufrun Duna Kufrin — 71
Salah Paham terhadap Atsar Ibnu Abbas r.a. — 71
Tanggapan Ulama terhadap Propaganda Ini — 78
DAFTAR ISI
4
Melawan Penguasa
2. Seseorang Tidak Boleh Dikafirkan Hanya Karena
Melakukan Satu Dosa... — 86
3. Mengapa Para Ulama Tidak Memvonis Khalifah
Al-Ma’mun Kafir? — 89
4. Nabi Yusuf Menjadi Menteri ..................... dalam
Pemerintahan Raja Mesir — 95
5. Najasyi Tidak Memberlakukan Syariat Allah,
Tetapi Tetap Dianggap Muslim — 115
6. Pemerintahan Hari Ini Tidak Dapat Divonis
Kafir. Karena Mereka Tidak Membuat ... — 124
Syubhat-Syubhat Lain — 128
1. Pemerintahan yang Ada Tidak Dapat Dikafirkan,
Kecuali ... — 128
2. Undang-Undang yang Berlaku Saat Ini
Mengandung Hukum Syariat Islam — 129
3. Tidak Bolehnya Menerapkan Fatwa Ulama Tentang
Tartar Pada Pemerintahan Hari Ini — 130
4. Undang-Undang Selain Allah yang Diterapkan
Pemerintah Mencantumkan Syariat Islam... — 131
5. Nabi Saw Memutuskan Perkara dengan Hukum
Selain Islam, yakni Hukum Taurat... — 133
Wajib Memberontak untuk Menumbangkan
Pemerintahan Kafir — 137
Kewajiban Beri‘dad bagi Yang Masih Lemah — 141
PENUTUP — 149
5
KATA PENGANTAR
P
erbincangan tentang hukum negara dan status penguasa
merupakan tema yang tak sepi dari perdebatan. Inti
persoal annya ada pada bil amana suatu negara atau
pemerintahan disebut Islam atau kafir. Yang jelas, kepastian
hukum atas persoalan di atas membawa implikasi yang tidak
ringan, misalnya boleh atau tidaknya penguasa dilengserkan
oleh umat
Dalam khazanah fikih Islam, lembaga kekuasaan negara
(pemerintah) sering diistilahkan sebagai imamah (pemimpin;
pemerintah). Namun, imamah dalam Islam bukanlah sekadar
formalitas tanpa fungsi. Imam Al-Mawardi mengatakan,
“Imamah merupakan inti khilafah nubuwah (yang berfungsi)
untuk menjaga Agama dan mengatur urusan dunia atas dasar
Agama.” (Al-Ahkâm As-Sulthâniyyah hlm. 5). Ibnu Taimiyyah
juga menegaskan, “Kepemimpinan negara merupakan khilafah
yang berasal dari Allah, dalam rangka mengaplikasikan syariat
Allah.” (As-Siyasah Asy-Syar`iyyah hlm. 5)
Yang menarik untuk dicermati adalah fenomena global , di
mana negeri-negeri muslim tengah menjadikan sekularisme
sebagai tren dalam praktik bernegara modern. Adalah fakta
bahwa negeri-negeri muslim tidak diatur atas dasar syariat Is-
lam. Kedaulatan tertinggi diserahkan kepada masyarakat dan
6
Melawan Penguasa
bukan kedaulatan Allah. Kesimpulan ini bisa dibuktikan lewat
nukilan dari konstitusi (UUD) beberapa negeri muslim yang
mencerminkan sistem demokrasi dalam arti kedaulatan dari,
oleh, dan untuk rakyat.
Mesir
UUD Mesir terbitan September 1971, pada pasal 2
menetapkan: “Kedaulatan adalah milik rakyat sendiri. Ia adalah
sumber segal a kekuasaan. Rakyat (berkewajiban)
menyelenggarakan kedaulatan dan menjaganya serta
mempertahankan kesatuan nasional sesuai undang-undang.”
Suriah
UUD Republik Suriah yang berlaku sejak tahun 1973, pada
pasal 2 alinea 2 menetapkan: “Kedaulatan ada di tangan
rakyat. Rakyat berkewajiban menyel enggarakannya
sebagaimana diatur undang-undang.”
Libya
UUD Libya, pada pasal 1 menetapkan: “Libya adalah Republik
Arab Demokrat. Kedaulatan ada di tangan rakyat.”
Irak
UUD Irak tahun 1970, pada pasal 2 menetapkan: “Rakyat
adalah sumber kedaulatan berikut dasar hukumnya.”
Maroko
UUD Kerajaan Maroko menetapkan: “Kedaulatan di tangan
rakyat dan ditegakkan secara langsung dengan meminta fatwa,
dan bersifat tidak langsung melalui lembaga-lembaga resmi.”
7
Kuwait:
UUD Kuwait, pada pasal 6 menetapkan: “Sistem hukum Ku-
wait adalah demokratis. Kedaulatan di tangan rakyat sebagai
sumber seluruh kebijakan. Penyelenggaraan kedaulatan diatur
berdasarkan undang-undang.”
Yordania
UUD Kerajaan Yordania Hasyimiyah, pada pasal 34
menetapkan: “(1) Umat adalah sumber segala kedaulatan. (2)
Umat menjalankan kedaulatan sebagaimana diatur dalam
undang-undang.”
Tunisia
UUD Republik Tunisia, pada pasal 3 menetapkan: “Bangsa
Tunisia adalah pemilik kedaulatan, yang diselenggarakan
sebagaimana diatur dalam undang-undang.”
Sudan
UUD Republik Sudan yang berlaku mulai 1973, pada pasal 2
menetapkan: “Kedaulatan Republik Sudan Demokratik ada
di tangan rakyat dan diselenggarakan melalui lembaga-
l embaga dan organisasi-organisasi sya’biyyah dan
dusturiyyah.”
Mauritania
UUD Republik Islam Mauritania, pada pasal 7 menetapkan:
“Rakyat adalah pemilik kedaulatan. Kedaulatan tidak tercabut
atau berubah, baik sebagian maupun keseluruhan, kecuali
setelah rakyat menyetujuinya.”
Kata Pengantar
8
Melawan Penguasa
Bahrain
UUD Kerajaan Bahrain tahun 1973, alinea D pasal 1
menetapkan: “Sistem hukum Bahrain bersifat demokratis.
Kedaulatan di dalamnya ada di tangan rakyat sebagai sumber
seluruh kebijakan. Penyelenggaraannya sebagaimana diatur
undang-undang.”
Aljazair
UUD Aljazair tahun 1976, pasal 5 menetapkan: “Kedaulatan
Nasional adalah milik rakyat, yang diselenggarakan melalui
pengambilan fatwa atau melalui wakil-wakil rakyat yang
terpilih.”
Yaman
UUD Yaman Demokratik, pasal 62 menetapkan: “Kedaulatan
Negeri Republik Demokratik Rakyat Yaman hanya ada satu
dan disandarkan pada kedaulatan rakyat pekerja.” (Lihat:
Jamâ‘atul Muslimîn, Dr. Shalah Ash-Shawi, footnote hlm. 46-
47 ).
Demikian, penggalan UUD negeri-negeri muslim. Meski
selintas, namun cukup menggambarkan asas masing-masing
negara yang tak lain adalah demokrasi dalam arti menuhankan
suara rakyat.
Selanjutnya, muncullah pertanyaan-pertanyaan seperti:
Apakah penyelenggaraan pemerintahan atas dasar pemisahan
antara Agama dan Negara serta menggantinya syariat dengan
undang-undang hasil kreasi manusia (wadh‘iyyah) dapat
dinyatakan sah secara syar’i? Ataukah keberadaannya
dianggap tidak ada karena telah batal secara syar’i? Apakah
9
Solo, Juli 2007
Jazera
penguasa sekuler semacam itu masih mendapatkan “hak”
layaknya hak imam dalam Islam, seperti hak dibaiat, hak
didengar, dan hak ditaati?
Pertanyaan-pertanyaan di atas bukan dalam konteks mencari
jawab atas status iman-kafirnya pribadi tokoh-tokoh penguasa
muslim, melainkan lebih merupakan diskursus atas tren
sekularisme yang melingkupi negeri-negeri muslim tersebut, untuk
menguji sejauh mana keabsahan dan kebatalan sebuah negeri
yang ditegakkan di atas undang-undang selain Islam.
Kata Pengantar
10
Melawan Penguasa
Transliterasi Arab-Latin

=
=
=
=
=
=
=
=
a
b
t
ts
j
h
kh
d

n
h
w

=
=
=
=

=
=
=
=
=
=
=
=
zh

gh
f
q
k
l
m

=
=
=
=
=
=
=
=
dz
r
z
s
sy
sh
dh
th
a panjang= â
i panjang = î
u panjang= û
11
S
egala puji hanya milik Allah. Kepada-Nya kita memohon
pertolongan dan ampunan. Kita berlindung kepada Allah
dari kejahatan diri kita dan keburukan amal-amal kita.
Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, niscaya tidak
ada yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa yang disesatkan
oleh-Nya, niscaya tidak ada yang bisa memberinya petunjuk.
Saya bersaksi bahwa tiada Ilâh—yang berhak diibadahi—
selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Saya juga bersaksi
bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Semoga
shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau, keluarga, dan
para sahabatnya. Wa ba’du.
Permasalahan melawan penguasa dan bagaimana Islam
menyikapinya merupakan salah satu perkara penting. Dalam
hal ini, manusia terbagi dalam dua aliran yang saling
berlawanan.
Pertama, kelompok ifrath atau ghuluw (berlebih-lebihan).
Kelompok ini memilih keluar melawan penguasa hanya karena
pelanggaran ringan terhadap syariat. Perlu kita ketahui bahwa
sikap semacam ini merupakan cerminan sikap aliran Khawarij.
Atau, orang-orang yang terpengaruh dan terjebak dalam
wilayah pemikiran mereka, serta cenderung pada sikap
berlebih-lebihan.
Mu k a d i ma h
MUKADIMAH
12
Melawan Penguasa
Kedua, kelompok yang cenderung berbuat tafrith
(meremehkan) dan bersikap tak acuh. Bahkan, mereka sampai
berpendapat tidak wajib memberontak atau melakukan
perlawanan terhadap thaghut-thaghut kafir murtad.
Selain itu, mereka juga menafsirkan para penguasa secara
keliru dengan tafsiran kaum Murji’ah dan Jahmiyah, serta
mengkiyaskan keadaan para penguasa dengan keadaan Bani
Umayyah dan Abasiyah.
Namun demikian, selain kedua kelompok tersebut terdapat
kelompok ketiga yang merupakan kelompok pertengahan.
Sikap mereka dalam permasalahan ini ialah berkomitmen
menjunjung tinggi Al-Haq dan apa yang yang telah ditentukan
dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, tanpa sedikit pun ada
kecondongan kepada sikap ifrath dan tafrith. Sikap pada
mereka itulah yang merupakan cerminan dari sikap Ahlus
Sunnah wal Jamaah.
Pembahasan ini memfokuskan perhatian pada sikap
kelompok ketiga, yakni kelompok Ahlus Sunnah wal Jamaah
dalam menyikapi permasalahan ini sebagaimana yang telah
ditunjukkan nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dua kitab
yang kita yakini dan dengan keduanya kita beragama; dengan
acuan kedua kitab tersebut kita mampu melihat kebenaran.
Dengan kata lain—karena begitu pentingnya—segala yang
akan saya paparkan dalam pembahasan ini, saya usahakan
untuk selalu—insyaAllah—tegak di atas landasan dalil syar’i
dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan pendapat yang kuat dari para
ulama salaful ummah.
13
BAGIAN PERTAMA
EMPAT TIPE PENGUASA
14
Melawan Penguasa
15
D
alam pembahasan kali ini saya sampaikan bahwa
penguasa dapat terbagi menjadi empat tipe:
1. Penguasa Kafir
2. Penguasa Muslim
3. Penguasa Muslim yang Fasik
4. Penguasa Muslim yang Sangat Fasik, Fajir, dan Zalim
Dari keempat penguasa tersebut, satu sama lainnya
memiliki status hukum yang berbeda. Berikut adalah penjelasan
secara detailnya.
1. Penguasa Kafir
Penguasa tipe ini disebut kafir dengan kriteria kekafiran yang
telah ditetapkan dalam syariat. Ia menjadi kafir karena riddah
(murtad) atau memang asli (sejak lahir) kemudian ia menguasai
negeri kaum Muslimin.
Dalam menyikapinya, kaum Muslimin (berdasarkan nash
dan ijmak) wajib melawan dengan segala kekuatan, sampai
bisa menggulingkan dan menggantinya dengan penguasa
16
Melawan Penguasa
Muslim yang adil dan memerintah negara dan rakyat dengan
syariat Islam.
Allah berfirman:
⎯9´ρ Ÿ≅èg† ´!# ⎦⎪≈3=9 ’?ã ⎦⎫ΖΒσRQ# ξ‹6™ ∩⊇⊆⊇∪
“…Dan Allah sama sekali tidak akan memberi jalan kepada
orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang
beriman.” (An-Nisâ’: 141).
Salah satu bentuk “jalan kepada orang-orang kafir untuk
memusnahkan orang-orang beriman” ialah bila orang-orang
kafir menguasai dan memimpin orang–orang beriman dengan
hawa nafsu serta hukum dan perundang-undangan mereka.
Allah berfirman:
Ÿω´ρ #θ`è‹Ü? ´¯Δ& ⎦⎫ù£ϑ9# ∩⊇∈⊇∪ ⎦⎪%!# βρ‰¡`ƒ ’û
Ú¯‘{# Ÿω´ρ βθs=`Á`ƒ ∩⊇∈⊄∪
“Dan janganlah kalian menaati perintah orang-orang yang
melampai batas. Yaitu orang-orang yang berbuat
kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan
perbaikan.” (Asy-Syu’arâ’: 151-152).
Ketahuilah, tak ada orang yang lebih melampui batas dan
berbuat kerusakan daripada para thaghut kafir dan murtad yang
memerintah umat dengan undang-undang kufur lagi rusak.
Allah berfirman:
$㕃'≈ƒ š⎥⎪%!# #θ`ΨΒ#´™ β) #θ`è‹Ü? š⎥⎪%!# #ρ`.
Μ2ρ–Š`ƒ ´ ’?ã ¯Ν 37≈)ã& #θ6=)ΖFù ⎦⎪£≈z ∩⊇⊆®∪
17
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menaati or-
ang-orang kafir itu, niscaya mereka akan mengembalikan
kalian ke belakang (kepada kekafiran), lalu kalian kembali
menjadi orang-orang yang merugi.” (Ali-Imran: 149).
Seseorang tidak akan diangkat sebagai hakim kecuali untuk
ditaati dal am segal a hal yang diputuskan dan
diperintahkannya. Padahal, Allah telah menerangkan secara
jelas, akibat menaati orang-orang kafir ialah murtad (keluar
dari din).
Allah berfirman:
β)´ρ ¯ΝδθϑGèÛ& ¯Ν 3Ρ) βθ.³RQ ∩⊇⊄⊇∪
“…Dan jika kalian menaati mereka, tentulah kalian menjadi
orang-orang yang musyrik.” (Al-An’am: 121).
Dalam sebuah hadits Muttafaqun ‘alaih, dari Ubadah bin
Shamit, ia berkata, “Nabi Saw menyeru kami, lantas kami
membaiatnya. Adapun hal-hal yang beliau minta kepada kami
untuk berbaiat ialah mendengar dan taat dalam keadaan kami
senang atau benci, mudah atau susah, tidak mementingkan
diri dan tidak memberhentikan penguasa kecuali kalian melihat
kufur bawwah (kekufuran yang nyata) dengan bukti-bukti nyata
yang kalian dapatkan dari sisi Allah.”
Hadits di atas dengan jelas menunjukkan, seorang penguasa
atau hakim tidak boleh diberhentikan dari tanggungjawabnya
untuk mengelola urusan-urusan hukum dan kekuasaan, kecuali
jika kita melihat kekufuran yang nyata padanya—tanpa
mengandung penafsiran dan takwil lain. Di tambah lagi, jika
kita memiliki dalil yang nyata atas kekufurannya dengan
berdasar pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Empat Tipe Penguasa
18
Melawan Penguasa
Apabila kekufuran yang nyata benar-benar tampak pada
dirinya, tidak ada lagi kewajiban untuk mendengar dan
menaatinya. Bahkan, yang diwajibkan ial ah
memberhentikannya dari kekuasaan dan melawannya dengan
kekuatan pedang. Hal ini adalah kewajiban yang tidak bisa
dibantah.
Ibnu Hajar menyampaikan, “Jika terjadi kekufuran nyata
pada diri penguasa, kita tidak boleh menaatinya. Bahkan, bagi
siapa yang mampu wajib berjihad terhadapnya.”
1
Sementara itu, Imam An-Nawawi mengatakan, “Qadhi
Iyadh berkata, ‘Para ulama bersepakat bahwa kepemimpinan
tidak diberikan kepada orang kafir. Namun, kalau ia tiba-tiba
menjadi kafir, maka harus dilengserkan.’ Lebih lanjut Qadhi
Iyadh berkata, ‘Begitu pula jika ia meninggalkan shalat dan
mengajak orang untuk mengikutinya’.”
2
Menurut hemat saya, perkataan Qadhi Iyadh tersebut
(‘Begitu pula jika ia meninggalkan shalat dan mengajak orang
untuk mengikutinya’) merupakan isyarat dari sabda Nabi Saw
yang tercantum di dalam Shahîh Muslim.
Dalam kitab hadits itu disebutkan, Nabi Saw bersabda:
1 Fathul Bârî: XIII/7.
2 Syarh Shahîh Muslim: XII/229.
19
“Akan ada umara’ (penguasa), yang kalian ketahui
beberapa perbuatan mereka (yang sesuai syariat) dan
mengingkari (perbuatan mereka yang menyelisihi),
Barangsiapa yang membencinya, maka dia telah berlepas
diri dan barang siapa yang mengingkarinya maka dia telah
selamat. Namun (dosa) itu bagi orang yang ridha dan
mengikutinya. Para shahabat bertanya, “Tidak bolehkah
kami memerangi mereka?” Nabi menjawab, “Tidak, selama
mereka masih melaksanakan shalat”.
Hadits tersebut memberi petunjuk bahwa pada saat seorang
penguasa meninggalkan shalat dan juga tidak memerintahkan
masyarakat untuk melakukannya, berarti ia telah kafir.
Sehingga, ia wajib dilawan dan disingkirkan dengan pedang.
Jika ada pertanyaan, apabila kaum Muslimin belum mampu
melawan, apa yang harus dilakukannya? Saya jawab, kaum
Muslimin wajib melakukan tiga hal:
1. Mempersiapkan segala kekuatan semampunya.
Kaum Muslimin hendaknya mempersiapkan kekuatan—
materi dan maknawi—semampu mungkin untuk bisa melawan,
melengserkan dan membebaskan umat dari kejahatan dan
kekafirannya.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
#ρ‘‰ã&´ρ Νγ9 $Β ΟFèÜG`™# ⎯Β ο¯θ% ∅Β´ρ Þ$/¯‘ ≅‹ ⇐9#
šχθ7δ¯? ⎯μ/ ρ‰ã ´!# ¯Ν2ρ‰ã´ρ ⎦⎪z#´™´ρ ⎯Β
`ΟγΡρŠ Ÿω `ΝγΡθϑ=è ? ´!# ¯Νγϑ=èƒ
“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan
apa saja yang kalian sanggupi dan kuda-kuda yang ditambat
Empat Tipe Penguasa
20
Melawan Penguasa
untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian
menggentarkan musuh-musuh Allah, musuhmu dan selain
mereka yang kalian tidak mengetahuinya; sedang Allah
mengetahuinya …” (Al-Anfal: 60).
Sayyid Quthb r.h. berkata, “Melaksanakan i’dad yang
dimampui ialah kewajiban yang menyertai kewajiban jihad.
Sebab, nash memerintahkan I’dadul Quwwah
(mempersiapkan kekuatan) dengan berbagai macam jenis dan
sebab-sebabnya.”
3
Selanjutnya, beliau menegaskan, “Hal tersebut dilakukan
dari batasan kekuatan minimal hingga maksimal. Sehingga,
tak ada satu kelompok Muslim pun yang diam terlena dan tidak
melakukan faktor-faktor kekuatan apa pun yang sanggup
dilakukannya.”
Dengan demikian, ketidakmampuan melawan bukan
merupakan pembenaran untuk bisa duduk-duduk
meninggalkan i’dad yang sesuai kemampuan. Karena perkara
yang mudah tidak akan digugurkan oleh sebab yang sulit. Hal
ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:
#θ)?$ù ´!# $Β Λ⎢è ÜF`™#
“Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuan
kalian...” (At-Taghâbun: 16).
Nabi Saw bersabda:
“Dan apa yang aku perintahkan kepada kalian, kerjakanlah
darinya semampu kalian.”(HR Al-Bukhari dan Muslim).
3 Fî Azh-Zhilâl Al-Qur’ân: III/1543.
21
Berkaitan dengan hadits tersebut, Al-Izz bin Abdussalam
r.h. berkata, “Barangsiapa dibebani dengan suatu ketaatan,
lalu ia mampu melaksanakan sebagian dan tak sanggup pada
sebagian lain, ia harus melaksanakan apa yang dimampui dan
gugurlah apa yang tidak dimampuinya.”
4
Adapun Ibnu Taimiyah r.h. menjel askan, “Wajib
melaksanakan persiapan untuk jihad dalam wujud i‘dadul
quwwah (penyiapan kekuatan) dan menambatkan kuda-kuda
perang pada saat gugurnya kewajiban jihad karena kondisi
yang lemah. Jika suatu kewajiban tidak bisa sempurna kecuali
dengan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib.”
5
2. Kaum Muslimin hendaknya memisahkan diri dari penguasa
kafir serta tidak pula bekerja sama atau bekerja kepadanya.
Selain itu, hendaknya ia juga meninggalkan amal apa saja
yang termasuk dari urusannya atau yang menguatkan
kekuasaan serta cengkeramannya pada negeri dan rakyat.
Rasulullah Saw bersabda, “Akan datang kepada kalian para
pemimpin setelahku. Mereka mengatakan apa yang mereka
ketahui, bekerja sesuai dengan apa yang mereka ketahui. Taat
kepada mereka adalah ketaatan (dalam ibadah-edt). Kondisi
kalian akan bertahan seperti itu selama satu masa.
Kemudian akan datang kepada kalian para pemimpin
setelahku. Mereka mengatakan apa yang tidak mereka
kerjakan, mengerjakan apa yang tidak mereka mengerti.
Barangsiapa yang menasehati mereka, membantu mereka
dan menopang para penolong mereka, orang tersebut telah
4 Qawâ’idul Ahkâm: II/5.
5 Al-Fatâwâ: XVIII/259.
Empat Tipe Penguasa
22
Melawan Penguasa
binasa dan membinasakan. Pergaulilah mereka dengan jasad
kalian, tinggalkanlah mereka dengan amal kalian dan
persaksikanlah bahwa orang baik itu baik dan orang jahat itu
jahat.”
6
Rasulullah Saw bersabda:
“Sungguh akan datang kepada kalian para penguasa yang
mendekati manusia jahat dan mengakhirkan shalat dari
waktunya. Barangsiapa mendapati hal itu di antara mereka,
janganlah menjadi penasihat, polisi, penarik pajak, dan
bendahara.”
7
Rasulullah Saw bersabda:
“Dengarlah! Apakah kalian telah mendengar bahwa akan
datang setelahku para penguasa? Barangsiapa menemui
mereka lalu membenarkan kebohongan mereka dan
6 Ditakhrij Ath-Thabrani. As-Silsilah Ash-Shahîhah (457).
7 Ditakhrij Ibnu Hibban. As-Silsilah Ash-Shahîhah (360).
23
menolong mereka dalam kezalimannya, maka ia bukanlah
dari golonganku dan aku bukan dari golongannya. Ia tidak
termasuk orang yang mendatangi telagaku.
Barangsiapa yang tidak menemui mereka, tidak menolong
mereka dalam kezalimannya, tidak membenarkan
kedustaan mereka, maka ia dari golonganku dan aku dari
golongannya, dan ia termasuk orang yang mendatangi
telagaku.”
8
Rasulullah Saw bersabda, “Akan ada penguasa yang kalian
ketahui dan ingkari. Barangsiapa meninggalkan mereka, ia
selamat. Barangsiapa memisahkan diri dari mereka, ia selamat.
Barangsiapa bergaul dengan mereka, ia celaka.”
9
Selain hadits-hadits di atas, masih banyak lagi hadits yang
mengajak untuk memisahkan amal dari para thaghut yang
zalim serta menjauhi mereka.
Jika ada pertanyaan, bukankah hadits-hadits yang
disebutkan tadi khusus untuk para penguasa lalim (berdosa)?
Kita bisa menjawabnya dengan mengatakan bahwa, jika hadits
tersebut diterapkan untuk penguasa kafir dan para thaghut itu
lebih pantas dan lebih kuat, wallahu a’lam.
3. Kaum Muslimin hendaknya tidak mengakui status hukum,
keberadaan, undang-undang dan aturan mereka secara
sukarela.
Dalam hal ini, kaum Muslimin hendaknya tidak serta merta
melegitimasi status kepemimpinan, hukum, dan undang-
undang buatannya.
8 Shahîh Sunan At-Tirmidzî (1843).
9 Ditakhrij Ath-Thabrani. Shahîh Al-Jâmi` (3661).
Empat Tipe Penguasa
24
Melawan Penguasa
Bentuk-bentuknya antara lain, tidak menambahkan kepada
mereka gelar yang bisa mengarah kepada pengakuan status
mereka sebagai pemimpin umat Islam. Misalnya, kata Siyadatur
Rais (tuan pemimpin), Jalalatul Mulki (yang mulia raja), atau
selain itu yang berupa gelar-gelar pengagungan yang mengarah
pada pengakuan terhadapnya atau hukum dan aturannya.
Apabila umat bersatu dan sepakat atas hal itu—sesuatu yang
merupakan keharusan, sungguh tindakan tersebut merupakan
bagian dari faktor-faktor yang bisa mempercepat kehancuran
pengaruh kekuasaanya terhadap negara dan manusia.
Pada sisi lain, ketika kita melegitimasi kepemimpinan dan
kekuasaannya, maka bisa diartikan sebagai pengakuan dan
terhadap sahnya kekufuran dan tanda atas keridhaan atasnya.
Adapun ridha terhadap kekufuran telah disepakati sebagai
kekafiran tanpa perdebatan lagi.
Pada titik inilah kita harus waspada dari ketergelinciran
akidah yang sangat berbahaya, dan betapa banyak orang
tergelincir dalam perkara ini!
Rasulullah Saw bersabda:
“Jangan kalian katakan untuk orang munafik, ‘Tuan kami!’
Karena jika ia menjadi tuan kalian, kalian telah membuat
marah Rabb kalian.”
10
Dalam riwayat lain, “Apabila
seseorang berkata kepada orang munafik, ‘Wahai tuan!’
10 Ditakhrij Abu Dawud, Ahmad, dan selain keduanya. As-Silsilah Ash-Shahîhah
(371).
25
Maka ia telah membuat marah Rabb-nya Tabaraka wa
Ta’ala.”
Maksudnya, jika kemunduran kita mengakibatkan orang
munafik menjadi tuan atas diri kita, hal tersebut menjadi sebab
utama kemarahan Allah atas diri kita.
Saya katakan, perkara ini berkaitan dengan orang munafik
yang menampakkan keislamannya. Jika demikian, lantas
bagaimana dengan kaum Muslimin yang meninggalkan jihad
sehingga orang kafir murtad menjadi hakim dan pemimpin
atas mereka? Tak diragukan lagi, mereka lebih pantas masuk
ke dalam kemurkaan Allah.
Jika sekadar ucapan seseorang kepada orang munafik,
“Wahai Tuan” saja mengundang murka Rabb Tabaraka wa
Ta’ala, lalu bagaimana jika ia berbicara kepada para thaghut
yang kafir lagi murtad, seperti yang menimpa pada banyak
orang dengan ungkapan-ungkapan penghormatan, pemuliaan,
pujian, dan loyalnya?
Syubhat pertama: Takut tercebur ke dalam fitnah
Berbagai propaganda menyesatkan telah disebarluaskan oleh
sebagian orang untuk yang menurunkan semangat jihad
melawan para thaghut penguasa dan kafir murtad. Di
antaranya ialah ucapan mereka yang menyatakan bahwa
melawan para penguasa hanya akan menyebabkan terjadinya
fitnah, pertumpahan darah, pembunuhan, perang, menyia-
nyiakan banyak maslahat. Terdapat pula berbagai bentuk
keluhan dan alasan penolakan lainnya yang sudah secara lazim
diketahui.
Empat Tipe Penguasa
26
Melawan Penguasa
Tidaklah mereka mendengar kalimat, “melawan penguasa”,
melainkan kalian pasti akan mendapati mereka segera men-
tahdzir (memperingatkan dengan keras) dan berucap, “Fitnah,
fitnah! Fitnah itu terlelap, semoga Allah melaknat orang yang
membangunkannya!”
Segala bentuk propaganda menyesatkan (syubhat) ini lemah
dan gugur. Kami akan membantah akan hal ini ditinjau dari
beberapa segi:
1.Fitnah yang hakiki justru terdapat pada meninggalkan jihad
serta menjauhi aksi melawan para thaghut kafir dan murtad.
Orang yang meninggalkan jihad dengan alasan yang dibuat-
buat adalah orang yang lebih pantas tercebur ke dalam fitnah.
Seperti yang termaktub dalam hadits Jabir bin Abdullah, ia
berkata, “Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Hai
Judd—Judd bin Qais—mengapa kamu tidak turut melawan
Bani Ashfar?” Jud menjawab, “Apakah engkau mengizinkan
saya (untuk tidak ikut), wahai Rasulullah? Karena aku adalah
seorang laki-laki yang mudah tergoda oleh wanita. Aku takut
jika aku melihat perempuan Bani Ashfar maka aku akan
terkena fitnah.”
Rasulullah Saw menjawab—beliau berpaling darinya—,
“Aku mengizinkan kamu.” Seketika itu pula Allah menurunkan
ayat:
ΝγΖΒ´ρ ⎯Β `Αθ)ƒ β‹# ’< Ÿω´ρ ©¯_G? Ÿω& ’û π´ΖG9#
#θÜ)™
“Dan di antara mereka ada yang berkata; izinkanlah aku
dan jangan engkau ceburkan aku ke dalam fitnah.
27
Ketahuilah, bukankah mereka justru telah terjatuh ke dalam
fitnah (dosa dan maksiat)...” (At-Taubah: 49).
11
Saya katakan, mereka terjatuh ke dalam fitnah setelah
meminta izin dan telah diizinkan. Lalu, perkataan apa lagi yang
pantas bagi orang yang meninggalkan jihad tanpa izin dan
tidak mendapatkan izin? Tak diragukan lagi, ia lebih pantas
terjatuh ke dalam fitnah.
2. Fitnah kufur dan syirik yang dilakukan oleh penguasa dan
aturan-aturannya adalah bentuk fitnah yang sangat besar dan
tak tertandingi.
Kejahatannya tak terampuni, dan tak ada yang menandingi
bahaya yang ditimbulkannya. Di pihak lain, tak ada yang
melebihi keutamaan dan kemaslahatan yang diperoleh dengan
menghapuskan sebab fitnah ini, sedangkan menempuh jalan
dalam rangka menghapuskannya membuat segala bahaya dan
fitnah menjadi remeh.
Menurut nash dan ijmak, fitnah syirik dan kufur ditinjau
dari kezalimannya adalah dosa terbesar. Di samping itu, ia
juga merupakan dosa yang tak terampuni oleh Allah, kecuali
dengan pertaubatan pelakunya sebelum mati. Sementara jika
ia mati dalam kesyirikan, ia akan dimasukkan ke neraka
Jahanam, kekal selamanya.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
´χ) 8³9# ' Ο=´ à9 'ΟŠàã ∩⊇⊂∪
“Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar.”
(Luqman: 13).
11 As-Silsilah Ash-Shahîhah (2988).
Empat Tipe Penguasa
28
Melawan Penguasa
Allah berfirman:
β) ´!# Ÿω `óƒ β& 8´³„ ⎯μ/ `óƒ´ρ $Β βρŠ
79≡Œ ⎯ϑ 9 '™$±„
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni (orang) yang
menyekutukan-Nya dan Dia mengampuni selain itu bagi
siapa yang dikehendaki.” (An-Nisâ’: 48).
Sementara itu, demi menghilangkan fitnah tersebut, Allah
mensyariatkan jihad sehingga tidak ada lagi fitnah dan seluruh
din murni hanya milik Allah semata. Allah berfirman:
¯Νδθ=G≈%´ρ ©Lm Ÿω šχθ3? π´ΖGù βθ6ƒ´ρ ⎯ƒ$!#
…`&—#2 ´!
“Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah, dan
din seluruhnya hanya milik Allah.” (Al-Anfâl: 39).
Tatkala Bani Israel terjatuh ke dalam fitnah syirik dan
penyembahan anak sapi, Allah memerintahkan mereka untuk
membunuh (sebagian) mereka. Dengan serta merta, Al-
Muwahidun (orang-orang bertauhid) membunuh orang-orang
yang menyembah anak sapi, sebagaimana firman Allah:
Œ)´ρ Α$% ©›θ`Β ⎯μΒ¯θ)9 Θ¯θ)≈ƒ ¯Ν3Ρ) ¯ΝFϑ= ß
Ν6¡Ρ& `Ν.Œ$ƒB$/ Ÿ≅fè9# #θ/θGù ’<) ¯Ν3←‘$/
# θ=F%$ù ¯Ν 3¡Ρ& ¯Ν 39≡Œ ¯z ¯Ν 39
“Ketika Musa berkata kepada kaumnya; wahai kaumku,
sesungguhnya kalian telah menganiaya diri kalian sendiri
dengan menjadikan anak sapi (sebagai sembahan). Maka
29
bertaubatlah kalian kepada Rabb yang menjadikan kalian
dan bunuhlah diri kalian. Yang demikian itu lebih baik bagi
diri kalian.” (Al-Baqarah: 54).
Oleh karena itu, meskipun fitnah pembunuhan dan
peperangan itu besar, ia akan menjadi remeh. Sementara fitnah
dan kerusakan syirik adalah sebagaimana firman Allah:
π´ΖF9#´ρ ‘‰©& ´⎯Β ≅G )9#
“Dan fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.” (Baqarah:
191).
Firman Allah Ta’ala:
π´ΖG9#´ρ 92& ´⎯Β ≅F)9#
“Dan fitnah (kesyirikan) itu lebih besar (dosanya) daripada
pembunuhan.” (Al-Baqarah: 217).
Maksudnya, fitnah kufur dan syirik itu lebih kejam dan lebih
besar dosanya daripada pembunuhan dan peperangan beserta
perihal yang mengiringinya, seperti luka-luka dan rasa sakit.
Di dalam At-Tafsîr, Ibnu Katsir berkata, “Tatkala (orang
beriman menyadari-edt) dalam jihad ada pencabutan nyawa
dan pembunuhan manusia, Allah mengingatkan bahwa apa
yang diperbuat oleh musuh-musuh mereka (orang-orang kafir)
berupa kekufuran kepada Allah dan kesyirikan, menghalang-
halangi jalan-Nya, semua itu sangat lebih berbahaya daripada
pembunuhan. Karena itu, Dia berfirman:
π´ΖF9#´ρ ‘‰©& ´⎯Β ≅G)9# ∩⊇®⊇∪
Empat Tipe Penguasa
30
Melawan Penguasa
‘Dan fitnah lebih kejam daripada pembunuhan’.” (Al-
Baqarah:191)
Abul Aliyah, Mujahid, Sa’id bin Zubair, Ikrimah, Al-Hasan
Qatadah, Adh-Dhahak, dan Ar-Rabi’ bin Anas dalam
mengomentari ayat, “Dan fitnah lebih kejam daripada
pembunuhan,” mereka berkata, “Syirik lebih kejam daripada
pembunuhan.”
3. Meninggalkan jihad terhadap para thaghut yang zalim
konsekuensinya jauh lebih besar dibandingkan bahaya berjihad
dan melawan mereka. Hal tersebut berdasarkan kesaksian nash-
nash syar’i yang hanya berbicara dengan hak yang mutlak.
Begitu pula fenomena waqi’ (realitas) yang membenarkan nash-
nash tesebut.
Adapun kesaksian nash—ditambah dengan yang sudah
kita sebutkan, firman Allah:
ω) #ρ`Ζ? ¯Ν6¯/‹è`ƒ $/#‹ã $ϑŠ9& ¯Α‰¯7K`¡„´ρ
$´Β¯θ% ¯Ν2´¯î Ÿω´ρ νρ”Ò? $↔‹© ´!#´ρ ’?ã
≅2 ™`_« 'ƒ ‰% ∩⊂®∪
“Jika kalian tidak berangkat berperang, niscaya Allah akan
menimpakan azab kepada kalian dengan azab yang pedih
dan Dia akan mengganti dengan kaum selain kalian. Dan
kalian tidak bisa membahayakan-Nya sama sekali. Dan
Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (At-Taubah: 39).
Selain itu, dalam hadits shahih dari Nabi Saw, bahwa
beliau bersabda:
31
“Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad, melainkan
Allah akan menimpakan azab kepada mereka semua
(secara merata).”
12
Nabi Saw bersabda:
“Apabila kalian berjual-beli secara ‘inah (riba), mengikuti
ekor sapi (senang beternak—pnj), senang dengan
pertanian, dan kalian meninggalkan jihad, niscaya Allah
akan menimpakan kehinaan kepada kalian yang tidak akan
Dia cabut sampai kalian kembali kepada ajaran din kalian.”
13
Nabi Saw bersabda:
“Barangsiapa tidak berperang atau menyiapkan orang yang
berperang atau tidak merawat dengan baik keluarga
orang yang berperang, maka Allah akan menimpakan
bahaya yang besar kepadanya sebelum hari kiamat.”
14
Nabi Saw bersabda, “Akan datang (suatu masa) umat-umat
memperebutkan kalian—berserikat dan memusuhi dengan
terang-terang— sebagaimana makanan yang diperebutkan
dari atas nampannya. Shahabat bertanya, “Apakah minoritas
jumlah kami ketika itu?”
12 Ditakhrij oleh Ath-Thabrani. As-Silsilah Ash-Shahîhah (2663).
13 Ditakhrij oleh Abu Dawud dan selainnya As-Silsilah As-Shahîhah (11).
14 Shahîh Sunan Abû Dâwud (2185).
Empat Tipe Penguasa
32
Melawan Penguasa
Nabi Saw menjawab, “Bahkan kalian pada saat itu banyak,
tetapi kalian laksana buih air bah. Sungguh Allah akan
mencabut rasa takut dari dada-dada musuh kalian kepada
kalian, dan Allah melemparkan wahn ke dalam hati kalian.”
Shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah apakah wahn itu?”
Beliau menjawab, “ Cinta dunia dan takut mati.”
15
Demikianlah kesaksian dari nash-nash syar’i. Adapun
kesaksian yang berasal dari al am real ita (waqi’),
keberadaannya juga telah menyatakan hal yang demikian itu.
Jika masyarakat sudah condong kepada para thaghut nan
zalim, tiada berjihad dan menghalangi mereka, pasti mereka
akan menyerahkan kepada para thaghut apa saja milik mereka
yang berharga.
Mereka akan menyerahkan din, kehormatan, anak, istri,
tanah, harta, kemuliaan, dan apa saja yang berharga yang
mereka miliki. Sementara itu, para thaghut itu masih akan terus
meminta yang lebih dan yang lebih lagi dari mereka.
Wahai kaum Muslimin! mereka tidak akan pernah merasa
rela atau puas, kecuali setelah kalian tanggalkan segala apa
yang kalian miliki. Akhirnya, kalian pun menyembah dan
menaatinya dengan segala bentuk ketaatan dan fanatisme
buta.
Inilah bahayanya jika kita cenderung mencintai dunia dan
tiada berperang (berjihad) terhadap para thaghut. Adapun
konsekuensi dari jihad, meskipun besar, hanya ada dua
kemenangan; menang (nashr) atau mati syahid. Kedua
15 Ditakhrij Abu Dawud dan selainnya. As-Silsilah Ash-Shahîhah (958).
33
konsekuensi tersebut merupakan kemenangan, kemuliaan, dan
keluhuran jika kalian mengetahuinya.
Kemudian jika ada yang mengatakan—dan memang
sudah—bahwa kita harus mel ihat dampak negatif
berlangsungnya jihad di beberapa negeri, dalam menghadapi
para penguasa thaghut dan kerusakan-kerusakan yang
menimpa negara dan rakyat di sana.
Kemudian dengan realitas tersebut, mereka mengatakan
kepada kita, “Bagaimanakah pertanggungjawaban atas
perkataanmu itu ketika berhadapan dengan kenyataan ini?”
Maka, kita bisa menjawabnya dengan mengatakan bahwa
banyaknya kerusakan yang terjadi di negara-negara tersebut
tidak disebabkan oleh prinsip jihad fi sabilillah atau melawan
hukum thaghut dan kekufuran sebagaimana yang
dipersepsikan oleh sebagian orang. Namun, permasalahannya
ialah terletak pada jiwa-jiwa kita yang senantiasa menyuruh
kepada keburukan (amarah bi sû).
Dalam masalah ini, saya akan merangkumkan sebab-sebab
umum yang mengakibatkan keterpurukan pada sebagian
harakah-harakah jihad kontemporer. Adapun poin-poinnya
ialah:
1. Isti’jal (tergesa-gesa) sebelum memenuhi persiapan (i’dad)
sebagaimana mestinya. Barangsiapa tergesa-gesa terhadap
sesuatu sebelum masanya, ia akan diganjar dengan tidak
menuai hasilnya.
2. Memperluas wilayah operasi melebihi kekuatan dan
kemampuan para mujahidin. Akibatnya, terpecahlah
Empat Tipe Penguasa
34
Melawan Penguasa
kekuatan dan kemampuan mereka ke dalam berbagai
wilayah dibanding memusat pada suatu wilayah yang
terpenting.
3. Prediksi yang buruk terhadap kekuatan jahiliyah modern
dan perkara-perkara yang meliputi mereka serta bersikap
pesimis terhadapnya.
4. Banyaknya paham dan kekeliruan persepsi yang merasuki
amal jihadi, sehingga menyebabkan terjadinya
penyimpangan, penyelewengan, dan kesesatan.
5. Perilaku yang salah, terlebih lagi jika perilaku itu tumbuh
dari akidah dan pemahaman–pemahaman batil, seperti
pemahaman Khawarij yang ekstrim.
6. Perjanjian-perjanjian semu dengan pihak-pihak semu, yang
sebagiannya dari pihak kafir murtad atas dasar prinsip,
“Musuhnya musuhku ialah temanku.” Sehingga, hal itu
pun mengakibatkan perampasan hasil-hasil amal jihad
yang telah terencana, khususnya pada masa memetik buah
jihad.
7. Tidak adanya peningkatan kualitas maupun kuantitas
dalam jamaah yang bergerak baik secara qiyadah
(kepemimpinan) maupun individu dalam banyak aspek.
Sehingga, sampailah mereka pada tingkatan yang sesuai
dengan akhlak dan prinsip-prinsip dasar Islam yang
dengannya mereka mampu dan layak berjihad fi sabilillah,
sampai akhirnya mencapai tingkatan yang menyebabkan
turunnya pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya
para mujahidin.
8. Mayoritas umat Islam enggan menolong serta membantu
para mujahidin dan merasa cukup hanya dengan menonton
35
tanpa memedulikannya. Adapun di antara beberapa faktor
yang melatarbelakangi semua itu ialah:
1) Bodoh terhadap tabiat atau hakikat peperangan serta
karakter musuh.
2) Bodoh terhadap hukum-hukum Islam dan apa-apa
yang menjadi wajib atas mereka secara syar’i.
3) Rasa takut terhadap musuh.
4) Propaganda para pembius yang melemahkan jihad,
khususnya para ulama dan syaikh sû’ yang lebih
memilih hidup di bawah ketiak para penguasa dan
bergabung dalam barisan mereka. Bagi kalangan
awam, mereka itu mempunyai pengaruh yang sangat
besar.
5) Perbedaan masalah fikih yang terjadi di antara jamaah
dan beberapa tempat dalam menyusun skala prioritas.
Hal tersebut menjadikan satu pihak bergerak maju
sedangkan pihak lainnya bergerak mundur. Akibatnya,
hasil buruk yang tidak kita sukai dan tidak kita inginkan
pun terjadi.
6) Adanya sekelompok orang yang juga beramal, tetapi
memilih untuk menunggu serta mengamati pihak yang
akan menang dan menguasai pihak lain. Selanjutnya,
mereka pun menggabungkan diri dengan pihak yang
menang supaya bisa memetik hasil dan mendapatkan
bagian harta meskipun yang menang ialah thaghut.
Demikianlah gambaran global faktor paling dominan
terjadinya kegagalan pergerakan-pergerakan jihad pada hari
ini serta mengakibatkan terjadinya hal-hal salah dan negatif
Empat Tipe Penguasa
36
Melawan Penguasa
sebagaimana yang kita saksikan pada realitas kekinian.
Walaupun sebenarnya, semua itu tidak kita inginkan serta tidak
pula dibenarkan oleh akal dan din.
Kemudian, dengan segala kezaliman dan kesalahan yang
ada, kita melimpahkan seluruh kelalaian, penyimpangan, dan
kekeliruan kita kepada prinsip jihad fi sabilillah. Dengan enteng
kita mengatakan inilah konsekuensi dan resiko menempuh
jalan jihad.
Sementara itu, kita tak pernah mengintrospeksi dan
mengakui bahwa semua ini merupakan akibat kesalahan,
nafsu, penyimpangan kita terhadap manhaj yang benar, serta
penyakit hati kita yang senantiasa mengajak kepada yang buruk.
Allah berfirman:
$´ϑ9´ρ& Ν3G´;≈¹& π7ŠÁ•Β ‰% Λ⎢¯6 ¹& $κ¯=VΒ Λ⎢=% ’Τ&
#‹≈δ ¯≅% ´θδ ⎯Β ‰Ψã ¯Ν3¡Ρ& β) ´!# ’?ã
≅. ™`©« "ƒ‰% ∩⊇∉∈∪
“Dan mengapa ketika kalian ditimpa musibah (pada perang
uhud), padahal kalian telah menimpakan kekalahan dua
kali lipat kepada musuhmu (pada perang Badar, kalian
bertanya, ‘Dari mana datangnya kekalahan itu?’
Katakanlah (Muhammad), ‘Itu dari (kesalahan) diri kalian
sendiri.’ Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala
sesuatu.” (Ali Imran: 165).
Syubhat kedua: Tidak relevan
Propaganda menyesatkan yang kedua ini berbentuk ungkapan-
ungkapan yang menyatakan bahwa keluar melawan penguasa
37
dengan kekuatan—meskipun mereka kafir murtad, ialah
pilihan yang tidak relevan dan manusiawi.
Padahal, hal tersebut bisa saja diganti dengan cara lainnya
yang lebih relevan, seperti demokrasi, pemilu, oposisi,
demonstrasi damai, dan cara yang sejenisnya.
Perkataan inilah yang kami dengar dari banyak orang yang
mengaku telah mempersembahkan amal untuk din ini. Dalam
menghadapi propaganda menyesatkan seperti ini, kami akan
menjawabnya ke dalam beberapa poin:
Pertama: Perkataan ini merupakan perkataan kufur. Hal
ini sama saja maknanya bahwa metode syar’i yang Allah
perintahkan, yakni jihad dan keluar melawan thaghut kafir dan
riddah ialah metode kuno dan tidak relevan. Padahal, terdapat
metode lain yang lebih relevan, maju, dan bermanfaat.
Demikianlah makna perkataan mereka yang juga merupakan
bentuk kekufuran itu sendiri. Sebab, di dalamnya mengandung
celaan terhadap Allah, sedangkan hukum serta berbagai metode
dan jalan hidup yang bersumberkan dari makhluk, keberadaannya
lebih diutamakan daripada tuntunan syariat Allah Ta’ala.
Kedua: Pendapat ini tidak realistis atau lebih tepatnya hanya
khayalan. Terlebih lagi, jika yang dijadikan pengganti dari
penguasa atau hukum kafir yang berlaku ialah Islam.
Sungguh, mereka (thaghut) telah berusaha mati-matian
membunuh dan berperang. Pantang bagi mereka mundur dari
setiap jalan—meskipun apa yang ditempuhnya itu hina dan
keji—dalam rangka menghalangi kaum Muslimin dari proyek
isl ami serta tujuan mereka menghal au manusia dari
peribadahan hamba menuju peribadahan Rabb hamba.
Empat Tipe Penguasa
38
Melawan Penguasa
Berikut ini ayat-ayat yang menceritakan mengenai masalah
tersebut:
Ÿω´ρ βθ9#“ƒ ¯Ν3Ρθ=G≈)`ƒ ©Lm ¯Ν.ρ–Š`ƒ ⎯ã ¯Ν6ΖƒŠ
β) #θ` è≈ÜG`™#
“Mereka tiada henti-hentinya memerangi kalian sampai
kalian keluar dari din kalian (Islam). Jika mereka mampu.”
(Al-Baqarah: 217).
#‹Ÿ2 β)´ρ #ρ`γàƒ ¯Ν6‹=æ Ÿω #θ7%¯ƒ ¯Ν3‹ù
ω) Ÿω´ρ πΒŒ
“Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-
Nya dengan orang-orang musyrik), padahal jika mereka
memperoleh kemenangan terhadap kalian, mereka tidak
memelihara hubungan kekerabatan terhadap kalian dan
tidak pula (mengindahkan) perjanjian.” (At-Taubah: 8).
⎯9´ρ ©Ì¯? 7Ψã Šθ·κ´ 9# Ÿω´ρ “≈ÁΨ9# ©Lm
ì6K? ¯Ν·κ J= Β
“Sekali-kali kaum Yahudi dan Nashrani itu tidak akan rela
sehingga kalian mengikuti agama mereka …” (Al-Baqarah:
120).
Hal ini adalah realitas yang tak bisa dibantah. Oleh sebab
itu, sebutkanlah kepada kami sebuah daerah di mana kaum
Muslimin bisa merintis kehidupan secara islami, mulai dari
penguasa hingga rakyat, tingkatan politik dalam negeri atau
luar negeri, serta melalui cara kotak-kotak suara atau cara
lainnya sebagaimana yang telah disebutkan di atas.
39
Tidakkah sistem demokrasinya menjelma menjadi sistem
diktator yang nyata. Bukankah tank-tank pasukan militer
mereka turun ke jalan-jalan—dengan restu PBB dan negara-
negara adidaya di dunia— untuk menghabisi kaum Muslimin
yang bersuara terbanyak,
16
hanya karena terbetiknya kesadaran
masyarakat untuk dipimpin oleh syariat Islam?
Ketiga: Memilih jalan untuk melawan dan menggulingkan
penguasa dengan kekuatan adalah pilihan yang bersifat fitrah,
jalan ini adalah pilihan semua manusia saat keyakinan mereka
menghadapi ancaman atau perubahan dan pergantian dari
segelintir kaum revolusioner.
Bayangkanlah jika terjadi kudeta berdarah oleh segelintir
paramiliter di Amerika, Inggris, Perancis, atau negara lainnya
yang bertujuan untuk menguasai dan mengubah dasar
keyakinan masyarakatnya (kedaulatan negara)!
Pada saat yang sama, para pelaku kudeta itu tidak mau
mendengar suara politisi/pemimpin/orang-orang berilmu dan
rakyat serta juga tak mau menerima suara kotak-kotak pemilu
dan tidak ingin turun dari tampuk kekuasaan mereka.
Dalam kondisi tersebut, para pelaku kudeta ini tidak
memberi jalan bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasinya,
kecuali dengan mengadakan perlawanan. Jika kondisinya
seperti ini, apa yang akan terjadi pada negara-negara tersebut?
Apakah Anda akan melihat bahwa mereka menyerah pada
kenyataan dan tunduk di bawah kekuasaan para pelaku kudeta
16 Salah satu bentuk perjuangan lewat demokrasi yang dianggap ‘berhasil’ adalah
yang terjadi di Aljazair. Dengan kemenangan mutlak (90%), umat Islam justru
memperoleh hadiah kematian dan pembantaian oleh tentara pemerintah
Aljazair—Edt.
Empat Tipe Penguasa
40
Melawan Penguasa
militer tersebut, ataukah mereka akan melawan meski harus
dengan kekuatan senjata?
Tanpa harus berpikir panjang lagi, penduduk negeri tersebut
harus melawan dengan kekuatan senjata untuk menggulingkan
para pembangkang keyakinan dan prinsip-prinsip umum
mereka sampai seluruh urusan kembali pada jalurnya yang
benar seperti sedia kala.
Dengan demikian, pertanyaannya, “Kapankah hal ini
diperbolehkan bagi mereka dan rakyat mereka—dan memang
sudah merupakan hak mereka, atas dasar apa hal itu menjadi
tidak boleh bagi kita kaum Muslimin manakala din, negara, dan
keyakinan kita yang lengkap dan sempurna ini diperangi? Padahal,
umat manusia tak mungkin bisa bangkit kecuali dengannya.”
“Selain itu, atas dasar apa kita menyebut langkah mereka
sebagai kemajuan, kewajiban warga negara, pembelaan hak
asasi dan sederet pujian lainnya. Pada saat yang sama, jika
kaum Muslimin yang melakukannya, hal itu disebut sebagai
teror, kemunduran, tindakan tak berperikemanusiaan, tidak
relevan, serta sederet tuduhan dan celaan lainnya?
2. Penguasa Muslim yang Adil
Jika pembahasan sebelumnya khusus membahas tentang
penguasa kafir dengan predikat kekufuran yang nyata (kufrun
bawwah), maka pembahasan kali ini difokuskan pada
penguasa Muslim yang adil dan bagaimana menyikapinya.
Tentunya, pembahasan kali ini jauh berbeda dengan
pembahasan sebelumnya.
41
Berdasarkan hal tersebut, saya jelaskan bahwa penguasa
Muslim yang adil ialah penguasa yang memerintah negara dan
rakyat dengan selalu memohon kepada Allah agar menjaga
urusannya dengan Islam dan syariat Islam.
Adapun urusan yang ada tersebut ialah sampai pada
perkara keharusan individu melaksanakan kewajiban-
kewajiban, rukun-rukun din, serta menjauhi segala bentuk
perbuatan dosa baik besar maupun kecil.
Dengan demikian, penguasa yang sifat dan keadaannya
seperti ini wajib ditaati dengan cara yang makruf, baik ketika
lapang maupun sempit. Di samping itu, kita juga wajib
membela, membantu, menasihati secara lahir dan batin,
menghormati dan memuliakan, mempertahankan, serta harus
berlemah-lembut dalam menasihatinya selama hal itu masih
bisa dilakukan.
Sebaliknya, diharamkan berkhianat, menyebarkan aib, atau
menentang dirinya dan aturannya dengan perkataan ataupun
sesuatu hal yang keji. Allah berfirman:
$κš‰'≈ƒ ⎦⎪%!# #θ`ΨΒ#´™ #θ`è‹Û& ´!# #θ`è‹Û &´ρ Αθ™¯9#
’<`ρ&´ρ ¯Δ{# `Ο3ΖΒ β*ù Λ⎢ã“≈´Ζ? ’û ™`©« νρ–Š`ù
’<) ´!# Αθ™¯9#´ρ β) Λ⎢Ψ. βθ`ΖΒσ? ´!$/ Θ¯θ´‹9#´ρ
zψ# 79≡Œ ¯z ⎯¡m&´ρ ξƒρ'? ∩∈®∪
“Hai orang-orang yang beriman taatlah kepada Allah dan
taat kepada Rasul dan ulil amri di antara kalian. Jika kalian
berselisih dalam suatu hal, maka kembalikanlah kepada
Empat Tipe Penguasa
42
Melawan Penguasa
Allah dan Rasul jika kalian beriman kepada Allah dan hari
akhir. Yang demikian itu lebih baik dan sebaik-baik
keputusan.” (An-Nisâ’: 59).
Firman-Nya: “ulil amri”—menurut perkataan para mufasir
yang paling kuat—ialah para ulama dan penguasa. Adapun
firman-Nya: “minkum,” berfungsi membatasi ketaatan kepada
penguasa yang mereka berasal dari golongan kalian (minkum);
maksudnya dari penganut din, millah, dan akidah kalian. Selain
yang seperti itu, ia bukan dari golongan kalian dan kalian tidak
wajib menaatinya.
Dalam hadits shahih, Nabi saw bersabda:
“Apabila diangkat pemimpin atas kalian seorang hamba
yang mujadda’—buta, terputus telinga, atau hidung atau
yang lainnya—yang memimpin kalian dengan Kitabullah,
maka dengar dan taatlah kepadannya.” (HR Muslim).
Nabi Saw bersabda:
“Barangsiapa yang meninggalkan ketaatan (kepada
pemimpin) maka ia akan bertemu dengan Allah tanpa
memiliki hujjah (alasan). Dan barangsiapa mati tanpa ada
ikatan bai’ah dilehernya, maka ia mati seperti matinya
orang jahiliyah.”
17
(HR Muslim).
17 Mati seperti matinya orang jahiliyah: mati sebagaimana orang jahiliyah mati
pada masa jahiliyahnya. Ia tidak mengetahui siapa imam dan tiada keharusan
taat padanya.Maksudnya bukanlah mati dalam keadaan kafir sebagaimana
43
Nabi Saw bersabda:
“Sesungguhnya, orang yang mendengar lagi taat tiada
hujah atasnya,
18
dan sesungguhnya orang yang mendengar
lagi durhaka tiada alasan baginya.”
19
Nabi Saw bersabda:
“Barangsiapa keluar dari ketaatan dan meninggalkan
jamaah, kemudian mati, maka matinya sebagaimana
matinya orang jahiliyah.” (HR Muslim).
Nabi Saw bersabda:
“Setiap pengkhianat memiliki bendera pada hari kiamat
yang akan ditinggikan sesuai kadar pengkhianatannya.
Ketahuilah, tiada pengkhianatan yang lebih besar dari
berkhianat kepada pemimpin umum.” (HR Muslim).
Maksudnya adalah orang yang berkhianat kepada
pemimpin umum, yakni khalifah Muslim.
Nabi Saw bersabda, “Din itu nasihat.” Kami bertanya,
“Bagi siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-
Nya, dan pemimpin kaum Muslimin serta seluruh kaum
Muslimin.” (HR Muslim).
Empat Tipe Penguasa
orang jahiliyah mati dalam kekufuran seperti yang banyak disangka oleh
sebagian orang. Hal ini perlu dicamkan!
18 Maksudnya, orang yang mendengar lagi taat tidak akan ada beban dan
pertanyaan atasnya dan ia terbebas lagi dari segala tuduhan—Edt.
19 Ditakhrij Ahmad, Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah, dan dishahihkan Al-
Albani dalam At-Takhrîj (1056).
44
Melawan Penguasa
Nabi Saw bersabda:
“Tiga hal (yang jika dilakukan) oleh seorang mukmin, maka
hatinya tidak akan mendengki: mengikhlaskan amal untuk
Allah, nasihat kepada penguasa, dan komitmen dengan
jamaah (kepemimpinan penguasa). Sesungguhnya doa
mereka senantiasa menyertai mereka.”
20
Nabi Saw bersabda, “Barangsiapa yang hendak menasihati
penguasa, janganlah melakukannya secara terang-terangan.
Namun, hendaknya ia pegang tangannya lalu mengajaknya
menyendiri. Apabila ia menerimanya maka itulah (yang
terbaik), dan jika ia tidak menerimanya maka ia telah
menunaikan kewajibannya.”
21
Nabi Saw bersabda:
“Janganlah kalian mencaci pemimpin kalian, jangan
mengkhianati mereka dan membenci mereka. Bertakwalah
kepada Allah dan bersabarlah! Sesungguhnya urusan itu
dekat.”
22
20 Diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-
Targhîb wat Tarhîb.
21 Ditakhrij Ahmad, Al-Hakim, dan Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah, dan
dishahihkan Al-Albani dalam At-Takhrîj (1096).
22. Ditakhrij Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah, dan dishahihkan Al-Albani dalam
At-Takhrîj (1015).
45
Nabi Saw bersabda, “Barangsiapa menghinakan penguasa
(yang ditakdirkan) ol eh Al l ah, maka Al l ah akan
menghinakannya.”
23
Nabi Saw bersabda, “Barangsiapa memuliakan penguasa
Allah, maka Allah akan memuliakannya pada hari kiamat.”
24
Nabi Saw bersabda, “Lima perkara yang barangsiapa
melaksanakan salah-satu perbuatan itu akan menjadi jaminan
kepada Al l ah …” Di antara l ima perkara itu ial ah,
“Barangsiapa menemui pemimpinnya untuk membantu dan
menghormatinya.”
25
Berkaitan dengan masalah ini, yakni keharusan menaati
pemimpin Muslim dengan makruf, menghormati dan
menasihatinya, serta tidak berkhianat atau mengumbar perihal
cacatnya, dalil-dalilnya masih banyak.
Ketaatan Terikat, Bukan Mutlak
Jika ditanyakan, apakah ketaatan kepada pemimpin atau
penguasa Muslim ialah ketaatan yang mutlak ataukah ketaatan
yang terikat (terbatas)? Jawabnya ialah, jelas ketaatan itu ialah
ketaatan yang terikat dengan hal yang makruf, yakni apa saja
yang termasuk ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada
Rasul -Nya. Adapun apabil a ia memerintahkan pada
kemaksiatan atau kebatilan, maka tiada ketaatan baginya.
23 Ditakhrij At-Tirmidzi dan Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah dan dinyatakan
hasan oleh Al-Albani dalam At-Takhrîj (1018).
24 Ditakhrij Ath-Thabrani dan selainnya. Shahîh Al-Jâmi` (5951).
25 Ditakhrij Ahmad dan Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah dan dishahihkan Al-
Albani dalam At-Takhrîj (1021).
Empat Tipe Penguasa
46
Melawan Penguasa
Rasulullah Saw bersabda:
“Mendengarkan dan taat adalah wajib atas seorang Mus-
lim dalam segala hal yang disenangi dan di benci, selama
ia tidak diperintahkan kepada kemaksiatan. Apabila ia
diperintah berbuat kemaksiatan, maka tiada kewajiban
mendengar dan taat.” (Muttafaqun ‘alaih).
Nabi Saw bersabda:
“Tiada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah, ketaatan
itu hanya dalam hal yang makruf.” (Muttafaqun ‘alaih).
Nabi Saw bersabda:
“Siapa pun penguasa yang memerintahkan kalian kepada
kemaksiatan, maka janganlah kalian menaatinya.”
26
Nabi Saw bersabda, “Taat kepada imam adalah kewajiban
seorang Muslim selama ia tidak memerintahkan kemaksiatan.
Apabila ia memerintahkan kemaksiatan maka tiada ketaatan
baginya.”
27
Nabi Saw bersabda, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk
dalam hal bermaksiat kepada Al-Khaliq (Allah).”
28
26 Ditakhrij Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban. As-Silsilah Ash-Shahîhah (2324).
27 As-Silsilah Ash-Shahîhah (752).
28 Misykâtul Mashâbih dan dishahihkan Al-Albani dalam At-Tahqîq (3969).
47
Alasan yang menghalangi ketaatan secara mutlak ialah
setiap orang—selain Nabi Saw—terkadang salah dan
terkadang benar, serta perkataan dan perbuatannya bisa
diterima atau bisa juga ditolak. Dengan demikian, tak
dibolehkan mengikuti atau menaatinya dalam perkara yang
keliru atau yang menyelisihi kebenaran.
Di sisi lain, sesungguhnya Zat yang boleh ditaati secara
mutlak hanyalah Allah Ta’ala, sedangkan selain-Nya tidak boleh
ditaati karena zatnya. Ia hanya boleh ditaati karena Allah
(selama ia dalam kebenaran). Siapa saja yang ditaati karena
zatnya, maka ia telah dijadikan tandingan bagi Allah Azza wa
Jalla, telah diibadahi selain Allah, serta diserupakan dengan
hal yang paling khusus bagi Allah Ta’ala dan sifat-sifat-Nya.
Hal ini berbeda jauh dengan seluruh qanun wadh’iyyah
(undang-undang buatan manusia) yang berkuasa di dunia,
baik itu diktator lalim maupun demokrat. Sebab, seluruh
undang-undang dunia mengharuskan manusia untuk taat
kepada penguasa sebagai pembuat hukum dan aturan sendiri
(legislatif), berikut produk aturan-aturan dan hukum apa saja
yang mereka keluarkan tanpa memperhatikan hukum tersebut
sesuai ataukah tidak dengan Al-Haq serta tidak peduli benar
ataukah salah. Sama pula halnya, penguasa legislatif
terperankan oleh pribadi penguasa ataukah kumpulan anggota
majelis perwakilan yang kepada mereka dipercayakan urusan
menggodok hukum dan perundang-undangan.
Dengan demikian, maknanya semua sistem dunia (bukan
samawi—Pnj)—dengan berbagai jenis bentuk, nama, dan
benderanya—ialah meletakkan dasar peribadahan hamba
Empat Tipe Penguasa
48
Melawan Penguasa
kepada hamba. Hal ini ditinjau dari segi ketaatan mutlak
seorang hamba terhadap apa saja yang ditetapkan bagi hamba
oleh hamba lainnya, meskipun sistem ini menampakkan
kebebasan atau berdalih bahwa sistem ini berlomba demi
kebebasan manusia.
Hukum Pembangkang (Bughat)
Jika seseorang mengikuti nafsunya untuk melawan, menentang,
serta mendesak pemerintahan dan daerah kekuasaannya,
wajib bagi umat mencegahnya. Sementara kalau ia enggan
kecuali harus dengan peperangan, maka ia dan orang yang
bersamanya diperangi. Hal ini sebagaimana tercantum dalam
hadits:
“Barangsiapa membaiat imam, lalu ia serahkan akadnya
dan hatinya padanya, hendaknya ia menaatinya sekuat
tenaga. Apabila datang yang lain merebutnya (kekuasaan)
maka bunuhlah yang lain tersebut.” (HR Muslim).
Nabi Saw bersabda:
“Apabila ada dua khalifah yang dibaiat maka bunuhlah
yang terakhir dari keduanya.” (HR Muslim).
Nabi Saw bersabda:
49
“Siapa pun yang datang kepada kalian, padahal urusan
kalian terhimpun pada seorang laki-laki dan ia hendak
memecah kekuatan kalian (memberontak) atau memecah
belah jamaah kalian, maka bunuhlah ia.” (HR Muslim).
Nabi Saw bersabda:
“Sungguh akan terjadi bencana demi bencana, barangsiapa
yang hendak menceraiberaikan urusan umat ini padahal
ia terhimpun—maksudnya terkumpul pada seorang
pemimpin—maka pukullah ia dengan pedang, (bunuhlah)
siapa pun ia.” (HR Muslim).
Apabila ditanyakan, atas sebab apa para pembangkang
itu diperangi? Saya jawab, jika perlawanan mereka pada
penguasa Muslim karena syubhat din—seperti syubhat orang-
orang Khawarij ketika memberontak Ali bin Abi Thalib ra—,
mereka harus diperangi. Sebab, mereka dihukumi sebagai
pemberontak yang melawan penguasa sah (bughat).
z Jika perang dan perlawanan mereka murni karena syahwat
cinta jabatan serta ingin kekuasaan dan pemerintahan,
mereka diperangi sebagai penyamun dan perampok.
Wallâhu Ta‘âlâ a‘lam.
z Jika peperangan mereka terhadap penguasa karena Din,
keislaman penguasa, keistiqamahan, serta iltizamnya pada
penerapan hukum-hukum syariat, mereka diperangi karena
alasan zindiq murtad. Hal ini sebagaimana diperanginya
Musailamah Al-Kadzdzab dan para pengikutnya yang
murtad oleh Khalifah Abu Bakar beserta para shahabat.
Empat Tipe Penguasa
50
Melawan Penguasa
z Peringatan:
Ada sebagian syaikh masa kini, baik karena takut maupun
sukarela, yang mengalihkan nash-nash dan hukum-hukum
yang berkaitan dengan penguasa Muslim yang adil untuk
penguasa kafir, thaghut, dan murtad masa kini. Padahal,
semestinya mereka ini wajib diperangi dan dilawan
berdasarkan nash dan ijmak, sebagaimana pembicaraan
sebelumnya yang berkaitan dengan penguasa kafir.
Dengan perbuatannya tersebut, mereka membuat takut
kalangan awam kaum Muslimin dan membentuk persepsi
bahwa siapa pun yang berpikir apalagi berbuat dan
berusaha keluar melawan para thaghut penguasa, berarti
telah terkategorikan orang yang menentang dan memusuhi
para penguasa Muslim sebagaimana yang baru disebutkan.
Selain itu, mereka juga tergolong menjadi orang-orang yang
menentang nash-nash syar’i yang begitu banyak
menyebutkan perkara-perkara yang berhubungan dengan
penguasa Muslim yang adil sebagaimana di atas telah
disebutkan sebagiannya.
Lebih dari itu, di antara mereka juga ada yang tak segan-
segan menganalogikan keadaan para thaghut dengan Ali
bin Abi Thalib. Sementara keadaan orang yang keluar
melawan mereka dianalogikan dengan Khawarij yang
melawan Ali bin Abi Thalib.
Hal ini termasuk penipuan, penyesatan, dan kedustaan atas
nama Allah dan Rasul-Nya. Karena itu, setiap Muslim yang
mempunyai kecemburuan terhadap din Allah dan
kehormatannya, hendaknya menjaga dan memelihara din,
diri, saudara, dan umatnya dari kedustaan dan penyesatan
51
para syaikh tersebut, sekalipun popularitas mereka sudah
luas atau nama mereka sering disebut-sebut di berbagai
belahan dunia.
3. Penguasa Muslim yang Fasik
Penguasa Muslim yang fasik berbeda dengan penguasa Mus-
lim yang adil. Para penguasa Muslim yang fasik ialah penguasa
yang memerintah berdasarkan Islam dan syariat-syariatnya,
tetapi pada dirinya tampak beberapa pelanggaran syariat
dalam tingkatan perilaku yang bersifat individu ataupun umum.
Sehingga, hal itu pun memasukkannya pada wilayah kefasikan,
meskipun bukan dalam kategori kufur akbar.
Pada dasarnya, penguasa yang fasik tidak diangkat secara
suka rela oleh umat. Dasarnya ialah firman Allah:
Α$% ’Τ) 7=æ%` ¨$Ψ=9 $´Β$Β) Α$% ⎯Β´ρ ©L−ƒ¯‘Œ
Α$% Ÿω `Α$´Ζƒ “ ‰γã ⎦⎫ϑ=≈à9# ∩⊇⊄⊆∪
“Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu
imam bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata, ‘(Dan saya
mohon juga) dari keturunanku.’ Allah berfirman, ‘Janji-Ku
(ini) tidak mengenai orang yang zalim’.” (Al-Baqarah: 124).
Di dalam At-Tafsîr (II/108), Al-Qurthubi menukil bahwa Ibnu
Abbas berkata, “Ibrahim memohon agar keturunnya dijadikan
pemimpin (imam). Lalu, Allah memberitahukan kepadanya
bahwa di antara anak turunnya ada yang bermaksiat. Maka
Allah berfirman—yang terjemahan maknanya, “Janji-Ku ini
tidak mengenai orang-orang yang berbuat zalim.”
Berkenaan dengan hal ini, Al-Qurthubi menjelaskan,
“Sekelompok ulama berdalil dengan ayat ini, bahwa pemimpin
Empat Tipe Penguasa
52
Melawan Penguasa
haruslah dari orang yang adil, ihsan, dan memiliki keutamaan
yang diiringi kemampuan melaksanakannya. Perkara itulah
yang diperintahkan oleh Nabi agar mereka tidak mencabut
urusan dari ahlinya. Adapun orang fasik, berdosa, dan zalim,
mereka bukanlah orang yang berhak. Dasarnya ialah firman,
“Janji-Ku ini tidak mengenai orang-orang yang berbuat zalim.”
Al-Qurthubi menambahkan, “Tidak ada perselisihan di antara
umat, bahwa imamah atau kepemimpinan tidak boleh
diberikan kepada orang fasik.” (At-Tafsîr: I/270).
Namun demikian, jika ia berkuasa dan memaksa umat
menyerahkan kekuasaan dan kepemimpinan atau timbul
kefasikan padanya setelah umat mengangkatnya menjadi
pemimpin, apakah ia harus diturunkan oleh umat dan dilawan
dengan kekuatan?
Saya jawab, yang rajih ialah tidak diturunkan dari
kekuasaan. Hal ini sebagai bentuk antisipasi terjadinya
kerusakan dan bahaya yang diakibatkan melawan penguasa.
Sebab, melawan penguasa dalam keadaan seperti ini lebih
berbahaya dan lebih dahsyat jika dibandingkan bersabar atas
kefasikan dan penyimpangan yang ada padanya. Demikianlah
yang ditunjukkan nash-nash syar’i dan telah tetap di atasnya
akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah Saw bersabda,
“Barangsiapa melihat pada pemimpinnya sesuatu yang ia
benci, hendaklah ia bersabar atasnya. Sesungguhnya,
barangsiapa meninggalkan jamaah barang sejengkal saja lalu
ia mati, pasti ia mati sebagaimana matinya orang jahiliyah.”
(Muttafaqun ‘alaihi).
53
Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan bahwa Nabi Saw
bersabda, “Sesungguhnya, kalian akan melihat sifat egois dan
perkara-perkara yang kalian ingkari.” Mereka bertanya, “Lalu,
apa yang baginda perintahkan kepada kami?” Beliau
menjawab, “Tunaikanlah hak mereka dan mohonlah kepada
Allah hak kalian.” (HR Al-Bukhari).
Di dalam Fathul Bârî (VII/13), Ibnu Hajar berkata, “Ibnu
Batthal berkata, ‘Di dalam hadits tersebut terdapat hujah
tentang meninggalkan perlawanan terhadap penguasa,
meskipun ia fajir. Para ahli fikih bersepakat atas wajibnya
menaati penguasa yang menang (berkuasa), berjihad
bersamanya, serta menaatinya itu lebih baik daripada
melawannya. Sebab, hal itu melindungi pertumpahan darah
dan memberikan ketenangan kepada masyarakat luas.’
‘Mereka berhujah dengan hadits tersebut dan hadits-hadits
lain yang menopangnya. Mereka tiada mengecualikan hal itu,
kecuali jika terjadi kekufuran yang nyata dari penguasa
sehingga tak boleh menaatinya dalam perkara tersebut. Bahkan,
bagi siapa yang mampu, wajib untuk memeranginya’.”
Dari Hudzaifah bin Yaman, bahwa Nabi Saw pernah
bersabda kepadanya, “Hendaknya engkau mendengar dan taat
kepada amir, meskipun punggungmu dipukul dan hartamu
diambil. Dengar dan taatlah!” (HR Muslim).
Salamah bin Yazid Al-Ja’fi pernah bertanya kepada
Rasulullah Saw, “Wahai Nabi Allah, apa pendapatmu bila yang
berkuasa atas kami adalah para penguasa yang meminta hak
mereka dan tidak memenuhi hak kami, apakah yang baginda
perintahkan kepada kami?” Nabi Saw berpaling. Ia kemudian
Empat Tipe Penguasa
54
Melawan Penguasa
bertanya lagi dan beliau tetap berpaling. Ia pun bertanya lagi
untuk yang ketiga kali. Al-Asy’ats bin Qais kemudian menarik
Salamah. Setelah itu, Rasulullah Saw bersabda:
“Dengar dan taatlah kalian! Karena bagi mereka apa yang
mereka pikul (dibebani) dan bagi kalian apa yang kalian
pikul (dibebani).” (HR Muslim).
Beliau juga bersabda, “Ketahuilah, barangsiapa dipimpin
oleh seorang penguasa (wali), lalu ia melihatnya berbuat
maksiat kepada Allah, hendaknya ia membenci perbuatannya
yang bermaksiat kepada Allah itu dan tidak mencabut tangan
(keluar) dari ketaatan.” (HR Muslim).
Nabi Saw bersabda kepada Hudzaifah bin Yaman, “Akan
terjadi perdamaian (genjatan senjata) atas kerusakan, setelah
itu datang penyeru-penyeru sesat.” Beliau menambahkan, “Jika
hari itu engkau mendapati seorang khalifah di muka bumi,
bergabunglah! Meskipun, ia menyiksa badanmu dan merampas
hartamu.”
“Jika engkau tidak mendapatinya, beribadahlah dengan
mengasingkan diri di bumi, meskipun engkau akan mati
dengan menggigit akar pohon (bersabar atas segala kerusakan
yang terjadi dengan berpegang teguh pada kebenaran dan tidak
berpaling darinya).”
29
Ubadah bin Shamit meriwayatkan bahwa Nabi Saw
bersabda, “Dengar dan taatlah baik dalam kesusahan dan
kemudahanmu maupun bahagia dan sedihmu, meskipun
29 Ditakhrij oleh Abu Dawud dan Ahmad. As-Silsilah Ash-Shahîhah (791).
55
mereka (para pemimpin) merampas hartamu dan memukul
punggungmu.”
Nafi’ berkata, “Ketika penduduk Madinah melengserkan
Yazid bin Mu’awiyah, Ibnu Umar mengumpulkan kerabat dan
anak-anaknya kemudian berkata, ‘Sesunggguhnya, aku telah
mendengar Nabi Saw bersabda, ‘Akan dikibarkan bendera bagi
setiap pengkhianat pada hari kiamat.’ Sungguh kami telah
membaiat laki-laki ini atas baiat Allah dan Rasul-Nya. Sungguh
aku tidak mengetahui pengkhianatan yang lebih besar dari
dibaiatnya seorang laki-laki atas baiat Allah dan Rasul-Nya
kemudian ia diperangi. Aku tidak mengetahui seorang pun dari
kalian yang mencabutnya dan tidak pula berbaiat atas perkara
ini kecuali ada pemisah (yang haq dan yang bathil) antara
aku dan ia.” (HR Al-Bukhari).
Di dalam Al-Fath, Ibnu Hajar berkata, “Menurut hadits ini,
wajib menaati imam yang diikatkan padanya baiat serta
larangan keluar melawannya, meskipun ia lalim dalam
kekuasaannya, dan ia tidak dilengserkan karena kefasikan.”
Di dalam Syarh Shahih Muslim XII/229, Imam An-Nawawi
berkata, “Adapun melawan dan memerangi mereka (para
penguasa) adalah haram menurut ijmak kaum Muslimin,
meskipun mereka fasik dan zalim. Telah jelas hadits-hadits yang
semakna sebagaimana yang telah saya sebutkan. Ahlus
Sunnah pun telah bersepakat bahwa penguasa tidak
dilengserkan hanya karena ia fasik.
Para ulama berkata, ‘Sebab diharamkan dan tidak
dibolehkannya melawan dan melengserkan pemimpin ialah
apa yang ditimbulkan dari perlawanan tersebut, yang berupa
Empat Tipe Penguasa
56
Melawan Penguasa
fitnah, penumpahan darah, dan rusaknya hubungan sehingga
kerusakan yang diakibatkan dari melengserkannya lebih besar
dibanding membiarkannya (berkuasa)’.”
Di dalam Al-Fatâwâ (XIV/472), Ibnu Taimiyah berkata,
“Tidak boleh mencegah kemungkaran dengan sesuatu yang
lebih mungkar. Karena itu, diharamkan melawan penguasa
dengan pedang untuk tujuan amar makruf nahi mungkar.
Sebab, apa yang akan diperoleh dari hal itu, berupa perbuatan
haram dan meninggalkan yang wajib akan lebih besar daripada
apa yang akan diperoleh dengan melakukan yang mungkar
dan dosa.
Di samping itu, para penguasa juga tidak diperangi hanya
lantaran fasik, meskipun seseorang yang dikuasai (rakyat)
terkadang boleh dibunuh lantaran sebagian kefasikan yang
diperbuatnya, seperti zina dan selainnya. Jadi, tidak setiap
hal yang di dalamnya dibolehkan membunuh, dibolehkan pula
memerangi para penguasa karena perbuatan mereka (fasik)
yang serupa. Sebab, kerusakan perang itu lebih besar daripada
dosa besar yang diperbuat oleh penguasa.”
Saya katakan, tidak dibolehkannya melawan penguasa
bukan berarti larangan untuk beramar makruf nahi mungkar
atau menjelaskan kebenaran di hadapannya setiap kali hal itu
diperlukan dan mendesak untuk dikerjakan. Hal ini merupakan
suatu perkara tersendiri—yang Allah dan Rasul-Nya telah
perintahkan.
Adapun perkara melawan penguasa ialah urusan yang
berbeda. Rasulullah Saw bersabda:
57
“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaknya
kalian benar-benar memerintahkan kepada yang makruf
dan kalian cegah yang mungkar. Hampir saja Allah
menimpakan azab kepada kalian karenanya, lalu kalian
berdoa kepada-Nya dan Dia tidak mengabulkannya.”
30
Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah rasa takut kepada
manusia menghalangi seorang untuk mengatakan yang benar
jika ia mengetahuinya. Sesungguhnya, hal itu tidaklah
mendekatkan ajal dan menjauhkan rezeki.”
31
Beliau bersabda:
“Pemimpin para syuhada ialah Hamzah bin Abdul Muthalib
dan seorang laki-laki yang menghadap penguasa lalim lalu
ia memerintahkan (yang makruf) dan melarang (yang
mungkar) lalu penguasa itu membunuhnya.”
32
Beliau bersabda:
30 Shahîh Sunan At-Tirmidzî (1762). Al-Albani menyatakan hasan dalam Shahîh
At-Targhîb wat Tarhîb.
31 Ditakhrij Imam Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. As-Silsilah Ash-Shahîhah
(168).
32 Ditakhrij Al-Hakim. As-Silsilah Ash-Shahîhah (349).
Empat Tipe Penguasa
58
Melawan Penguasa
“Seutama-utama jihad ialah mengatakan yang hak di
hadapan penguasa lalim.”
33
Beliau bersabda:
“Jihad yang paling dicintai Allah ialah perkataan hak yang
ditujukan kepada penguasa lalim.”
34
Dari Ubadah bin Shamit, ia berkata:
“Kami membaiat Rasulullah untuk berkata benar di mana
pun kami berada, kami tidak takut di jalan Allah terhadap
celaan para pencela.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Di samping nash-nash di atas, masih banyak lagi nash-
nash syar’i yang berkaitan dengan amar makruf nahi mungkar
dan menerangkan kebenaran di hadapan para penguasa lalim.
Selain itu, sebagaimana pula yang telah dicontohkan dalam
kehidupan nyata para salafush shalih beserta sikap-sikap
mereka yang terpuji, berani, dan ikhlas terhadap para penguasa
lalim.
35
Dengan demikian, ketaatan yang ada bukanlah ketaatan
yang pasif tanpa amar makruf nahi mungkar dan penjelasan
33 Ditakhrij Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. As-Silsilah Ash-Shahihah
(491).
34 Ditakhrij Imam Ahmad dan Ath-Thabrani. Shahîh Al-Jâmi` (168).
35 Lihat: Al-Islâm baina Al-‘Ulama’ wa Al-Hukkâm karya Abdul Aziz Al-Badri.
Beliau telah mengumpulkan di dalamnya kelompok yang mulia berupa sikap-
sikap ksatria para ulama yang baik terhadap para penguasa lalim pada masa
mereka.
59
kebenaran di hadapan para penguasa lalim sebagaimana
persepsi sebagian orang. Bahkan, ia merupakan ketaatan yang
digariskan lagi bijak serta aktif tanpa merasa tunduk dan hina
terhadap kebatilan maupun takut terhadap sikap keras dari
orang-orang zalim.
4. Penguasa Muslim yang Sangat Fasik, Zalim, dan Lalim
Tipikal dari penguasa ini berbeda dengan penguasa Muslim
yang fasik. Keberadaannya sangat fasik, zalim, dan lalim. Ia
seperti yang dikatakan oleh Nabi Saw, “Sesungguhnya
seburuk-buruk pemimpin adalah yang kejam.” (HR Muslim).
Maksudnya, sangat zalim, keras sikapnya, dan kejam terhadap
rakyat.
Hanya saja, kefasikan, kezaliman, kelaliman, dan sikap
keras dari penguasa ini tidak sampai pada taraf kekufuran
yang mengeluarkan dirinya dari agama. Tipe yang demikian
ini (menurut pendapat yang rajih), hukumnya berbeda dengan
penguasa yang fasik sebagaimana pelaku kefasikan saja.
Namun, dalam keadaan yang seperti ini, saya katakan bahwa
ketika umat tengah diuji dengan penguasa yang keadaan dan
sifatnya demikian, baginya wajib menurunkannya melalui
wewenang umat yang berupa Ahlul Halli wal ‘Aqdi.
Apabila ia menolak sehingga tak ada jalan lain untuk
menurunkannya kecuali dengan peperangan, maka harus
dilakukan pencermatan lebih dahulu. Jika bahaya dan
kerusakan akibat peperangan dan perlawanan terhadapnya
lebih sedikit dibandingkan dengan kezaliman, kelaliman, dan
kerusakan yang diperbuatnya, maka wajib untuk melawannya.
Bahkan, tindakan itu merupakan keharusan. Akan tetapi, jika
Empat Tipe Penguasa
60
Melawan Penguasa
tidak seperti itu (sebaliknya), maka harus menahan diri dari
melawannya guna mengamalkan hadits-hadits yang telah
disebutkan tadi, yakni hadits-hadits yang memerintahkan untuk
menahan diri dari melawan para penguasa lalim dan fasik.
Kalau dikatakan, kami telah mengetahui nash-nash yang
melarang perlawanan terhadap para penguasa lalim, lantas
apa dalil yang membolehkan melawan mereka yang dalam
keadaan tercampur dengan kezaliman yang bertumpuk-
tumpuk sebagaimana di awal telah disampaikan?
Saya jawab, itu merupakan pertanyaan penting. Sementara
jawabannya saya simpulkan ke dalam beberapa poin berikut
ini:
1. Di antara dalil yang mengharuskan keluar melawan
penguasa yang semacam ini ialah semua dalil serta nash
yang mengharuskan mengubah kemungkaran dan
mengajak orang-orang zalim kepada kebenaran, siapa pun
mereka.
Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata setelah memuji Allah,
“Wahai manusia, sungguh kalian telah mendengar ayat ini
dan tidak meletakkan pada tempatnya. Jagalah diri kalian!
Orang yang tersesat tidak bisa membahayakan diri kalian
jika kalian telah diberi petunjuk.”
“Sungguh, kami telah mendengar Nabi Saw bersabda,
‘Sesungguhnya, jika manusia melihat orang yang zalim lalu
ia tidak mencegahnya, niscaya Allah akan menimpakan azab
secara merata kepada mereka.’ Saya juga mendengar
Rasulullah Saw bersabda, ‘Tidaklah suatu kaum yang di
tengah-tengah mereka ada kemaksiatan dan mereka mampu
61
mengubahnya, namun mereka tidak mengubahnya,
dikhawatirkan Allah akan menimpakan azab kepada mereka
semua’.”
36
2. Beramal sesuai kaidah-kaidah fikih yang ada, yakni “Tidak
boleh ada bahaya dan yang membahayakan”, “Hal yang
membahayakan harus dihilangkan”, “Menghilangkan
bahaya yang lebih besar dengan bahaya yang lebih kecil”,
dan “Mendahulukan bahaya yang lebih sedikit di antara
dua kerusakan untuk menolak kerusakan dan bahaya yang
lebih besar.”
Semua kaidah ini dan kaidah-kaidah lainnya yang
merupakan kesimpul an dari nash-nash syar’i,
mengharuskan umat menjatuhkan pilihan untuk melawan
para penguasa tipe ini sebagaimana kaidah dan syarat
yang telah disebutkan.
3. Larangan para ulama dalam melawan para penguasa fasik
dan fajir ialah dengan dasar tinjauan menolak kerusakan
yang besar dengan kerusakan yang kecil dan
mendahulukan bahaya yang lebih sedikit di antara dua
bahaya.
Adapun permasalahan kita kali ini, sama sekali berbeda
dengan apa yang yang dikatakan para ulama tentang
permasalahan orang fasik atau fajir saja, di mana bahaya
dan kerusakan yang lebih kecil ada pada pilihan
melawannya, dibandingkan kerusakan yang lebih besar
akibat membiarkan keberadaannya di balik kekuasaan.
Karena itu, kita dapati banyak dari para ulama lainnya
36 Shahîh Sunan Abû Dâwud (3644).
Empat Tipe Penguasa
62
Melawan Penguasa
yang menyuarakan wajibnya melawan penguasa yang
sekiranya bisa dikalahkan.
Di dalam Fathul Bârî (XIII/11), Ibnu Hajar berkata, “Ibnu
Tin mengutip dari Ad-Dawudi, ‘Hal yang telah menjadi
kesepakatan ulama dalam permasalahan penguasa jur (jahat)
jika mampu menurunkannya tanpa menimbulkan fitnah dan
kezaliman adalah wajib. Jika tidak, yang wajib adalah bersabar.
Selain itu, menurut sebagian Ahlul Ilmi pula, memberikan
kekuasaan kepada orang fasik sejak awal adalah tidak boleh.
Lantas, jika terjadi penyimpangan sedangkan sebelumnya ia
merupakan orang yang adil, mereka berselisih tentang bolehnya
melawan. Adapun yang benar ialah dilarang melawannya,
kecuali ia menjadi kafir sehingga wajib melawannya’.”
Hal ini sebagaimana perkataan Ibnu Taimiyah yang telah
disebutkan sebelumnya, bahwa seorang rakyat terkadang boleh
dibunuh lantaran melakukan sebagian jenis kefasikan, seperti
zina. Perhatikan! Beliau mensyaratkan adanya kemampuan.
Sementara di antara kemampuan menghil angkan
kemungkaran ial ah usaha menghil angkannya tidak
menyebabkan timbulnya kemungkaran yang lebih besar
daripadanya.
Kaidah fikih ini diambil dari sabda Nabi Saw dalam hadits
terdahulu, “Dan mereka mampu mengubahnya, namun mereka
tidak mengubahnya, pasti Allah akan menimpakan azab secara
merata kepada mereka.” Lihatlah! Nabi Saw mensyaratkan
adanya kemampuan pada tindakan mengubah, dan
mengaitkan iqab dan azab dengan tidak adanya tindakan
mengubah kemungkaran sejalan dengan adanya kemampuan
untuk itu.
63
Di dalam Ushûlul I‘tiqad, Imam Al-Juwaini berkata, “Jika
penguasa menyimpang serta kezaliman dan pengkhianatannya
telah tampak, dan ia juga tidak mengindahkan peringatan
tentang buruknya apa yang diperbuat, bagi Ahlul Halli wal
Aqdi adalah kemufakatan untuk menolaknya, meskipun harus
dengan menghunus senjata dan menetapkan perang.”
Saya katakan, apa yang terkandung dalam melawan dan
menghunus senjata terhadap penguasa adalah lebih sedikitnya
fitnah dan kerusakannya dibandingkan apa yang
ditampakkannya yang berupa kerusakan dan penyelewengan.
Adapun sebagai barometernya ialah hak Ahlul Halli wal Aqdi
dari kalangan para ulama dan mujahid umat.
Di dalam Al-Khilâfah, Syaikh Rasyid Ridha berkata,
“Permasalahan ini telah kita sebutkan lengkap dengan
beberapa hasil penelitian para peneliti yang secara ringkasnya
ialah: Ahlul Halli wal ‘Aqdi diwajibkan atas mereka melawan
kezaliman, penyelewengan, serta mengingkari pelakunya
dengan tindakan nyata dan menggulingkan penguasa mereka
yang jahat, meskipun harus dengan perang apabila telah jelas
bagi mereka maslahat dalam menggulingkan penguasa lebih
kuat (rajih) dan mafsadahnya lebih lemah (marjuh).”
Jika ada yang bertanya, Anda telah menjelaskan tentang
penguasa Muslim yang adil, berikut apa yang menjadi
kewajiban umat terhadapnya berupa penghormatan,
pemuliaan, dan lain sebagainya. Lantas, apakah semua
kewajiban ini juga berlaku terhadap penguasa fasik dan jair?
Saya jawab, apa yang dikatakan di sana tentang penguasa
Muslim yang adil tidaklah untuk penguasa jair, lalim, dan fasik.
Empat Tipe Penguasa
64
Melawan Penguasa
Telah diriwayatkan secara shahih dari Nabi Saw, bahwa beliau
bersabda, “Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian
membenci ke mereka dan mereka membenci kalian. Kalian
laknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Para shahabat
berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah kami lawan saja mereka
ketika itu?” Beliau menjawab, “Tidak, selama mereka
mendirikan shalat di tengah-tengah kalian.” (HR Muslim).
Lihatlah! Nabi Saw melarang mereka untuk melawan dan
menentang mereka (pemimpin) dengan pedang. Beliau juga
tidak melarang mereka melaknat dan membenci mereka.
Bahkan, laknat orang-orang beriman kepada mereka
dikategorikan sebagai tanda bahwa mereka ialah seburuk-
buruk pemimpin dan penguasa.
Di dalam Al-Ahkâm As-Sulthâniyyah hlm. 20, Abu Ya’la
mengutip perkataan Imam Ahmad Rhm yang berkomentar
tentang Al-Ma’mun, “Petaka apa yang lebih besar daripada
yang diperbuat oleh musuh Allah dan musuh Islam berupa
mematikan sunnah?” Apabila disebutkan nama Al-Ma’mun
di hadapan Imam Ahmad, beliau berkata, “Tidak ada
keamanan.”
37
Begitu pula apa yang telah tetap dari banyak kaum salaf
tentang makian mereka terhadap Al-Hajjaj serta celaan mereka
terhadapnya dengan sebutan thaghiyyah (yang melampui
batas). Semua ini menunjukkan bahwa menyamakan
penguasa jair dan fasik dengan para penguasa saleh nan adil,
37 Al-Ma’mun ialah nama salah seorang khalifah pada zaman Imam Ahmad,
secara harfiah kata ma’mun berarti yang merasa aman atau yang diberikan
rasa aman.
65
dan apa yang menjadi hak bagi mereka berupa penghormatan
dan pemuliaan adalah tidak boleh. Wallâhu a‘lam.
Jika ada pertanyaan, atas dasar apa Anda tidak
mengatakan wajib melawan penguasa yang fasik, padahal
terhadap penguasa yang sangat fasik lagi lalim Anda
mewajibkan melawan jika dipandang tak akan menimbulkan
fitnah atau kerusakan serta lebih sedikit kemadaratannya?
Saya jawab, hal yang membuat kami membedakan
perlakuan antara keduanya adalah bahwa perkiraan tidak
terjadinya fitnah dan kerusakan yang lebih besar dalam
melawan penguasa Muslim yang fasik hanyalah perkara yang
bersifat prediksi dan teoritis. Bahkan, hal itu mungkin hanya
khayalan belaka dan tak pernah terjadi. Sebab, tidak mungkin
kita mengangkat senjata terhadap penguasa yang Muslim
namun fasik, padahal kefasikannya masih bisa ditolerir. Selain
itu, tidak bisa diprediksikan pula fitnah dan kerusakan yang
ditimbulkan akibat pemberontakan tersebut dengan segala
konsekuensinya akan lebih ringan dibandingkan kefasikan dari
penguasa tersebut.
Di dalam Ghiyâtsul Umam hlm. 102, Al-Juwaini berkata,
“Sekiranya segala sikap yang disepakati para ulama bahwa
itu ialah kefasikan yang mewajibkan untuk melengserkan
seorang pemimpin atau perbuatan tersebut secara otomatis
melengserkan seorang penguasa, tentulah kaidah ini harus
diterapkan pada semua gerak-gerik sang pemimpin dalam
semua bentuk dan keadaannya. Hal yang akan menyebabkan
seorang pemimpin tidak pernah lepas dari pengawasan
orang-orang yang senantiasa mencari-cari alasan untuk
Empat Tipe Penguasa
66
Melawan Penguasa
melengserkannya. Selamanya pula rakyat akan bersengketa
dan berselisih dalam menentukan ada tidaknya sifat atau
perbuatan fasik tersebut pada setiap pemimpin yang berkuasa.
Dan ketaatan pada pemimpin takkan pernah terwujud
meskipun hanya sesaat.”
Lebih lanjut Al-Juwaini berkata, “Kami telah menetapkan
bahwa menolak kepemimpinan atau membatalkannya,
menafikan manfaat dan kebaikanya, tidak memercayainya dan
mengajak masyarakat untuk melawan kepemimpinannya,
merupakan bentuk atau upaya dalam rangka mencopot dan
mel engserkan seorang penguasa atas segal a
penyimpangannya.
Peringatan penting:
Mengingat pentingnya masalah ini, kami akan mengulang
kembali apa yang sebelumnya telah kami sampaikan. Saya
katakan, nash-nash yang berkaitan dengan penguasa, hak dan
kewajiban atasnya, serta bagaimana setiap tipe dari mereka
diperlakukan sangat banyak dan jauh lebih banyak dari
terbatasnya pembahasan sederhana ini. Sehingga, tak
mungkin kiranya menyampaikan hal itu dalam pembahasan
yang singkat ini.
Sungguh, pengetahuan mendalam dan sikap obyektifakan
menuntun seorang pembahas, peneliti, atau pelajar yang haus
kebenaran agar mendudukkan seluruh nash sesuai dengan
kedudukan yang diinginkan Allah dan menafsirkannya menurut
kehendak Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, apa yang
67
seharusnya diletakkan untuk penguasa Muslim yang adil,
keberadaannya tidak dipalingkan untuk penguasa yang kafir.
Tidak pula sesuatu yang semestinya dikatakan untuk penguasa
yang fasik, keberadaannya dialihkan kepada penguasa yang
sangat fasik dan nyata kelalimannya.
Begitu pula bagi yang ingin menentang pembahasan dan
fatwa dalam permasalahan penting ini, orang-orang tersebut
hendaknya memahami secara menyeluruh kumpulan nash-
nash yang berkaitan dengan masalah ini serta perkataan-
perkataan Ahlul Ilmi.
Hendaknya mereka mengamatinya satu per satu serta
mengaitkan sebagian dengan yang lainnya dengan tidak
mencampuradukkan nash yang satu dengan yang lainnya, tidak
mengkonfrontasikan sebagian dengan sebagian lainnya, atau
menampakkan kekacauan dan kontradiksi nash-nash yang
ada—dikarenakan sedikitnya ilmu dan pemahaman mereka
yang keliru. Hal ini sebagaimana kasus yang kita cermati pada
kebanyakan para syaikh dan para pelajar atau pembahas
kontemporer yang dengan beraninya mereka berbicara dan
berfatwa dalam masalah ini.
Kebanyakan orang yang melakukan kesalahan serta
terjerumus ke dalam ifrath dan tafrith dalam masalah ini adalah
karena mereka mengambil dan mengamalkan sebagian nash
serta mengabaikan sebagian yang l ain, di samping
pengetahuan yang terbatas terhadap sebagian nash. Dengan
demikian, hal itu membuat mereka tercebur ke dalam sikap
berlebih-lebihan (ghuluw) atau sikap acuh serta mengurang-
ngurangi dan terjerumus ke dalam sikap berlebih-lebihan atau
Empat Tipe Penguasa
68
Melawan Penguasa
meremehkan. Tiada daya dan upaya, kecuali hanya milik
Allah semata. Wa lâ haula walâ quwwata illa billah.
Sampai di sini akhir peringatan ini, dan berarti berakhir
pula pembahasan tentang masalah-masalah yang penting lagi
ringkas ini. Mudahan-mudahan Allah menerimanya dan
semoga dengannya bermanfaat bagi bangsa dan hamba.
Sesungguhnya, Dia Maha Mendengar, Dekat, lagi mengabulkan
doa.
Semoga Allah selalu mencurahkan shalawat dan salam
kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para shahabat
beliau.
18 Muharram 1422 H
11 April 2001 M
Abdul Mun’im Musthafa Halimah
69
Abdul Aziz Al-Maliki
BAGIAN KEDUA
BERBAGAI SYUBHAT DAN
JAWABANNYA
70
Melawan Penguasa
71
Salah Paham terhadap Atsar Ibnu Abbas r.a.
1
Munculnya propaganda sesat yang menyatakan bahwa
penguasa yang mengganti syariat Allah dengan hukum buatan
manusia, berawal dari kekeliruan ketika memahami komentar
Ibnu Abbas r.a. tentang kufrun duna kufrin atau kufur ashghar.
Lebih jelasnya, mereka berpedoman dengan riwayat Ibnu
Abbas dalam menafsirkan firman Allah:
⎯Β´ρ `Ο9 Ο3t† $ϑ/ Α“Ρ& ´!# 7×≈9`ρ'ù `Νδ βρ` ≈39# ∩⊆⊆∪
“…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang
diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang
yang kafir.” (Al-Mâ’idah: 44).
Pada waktu itu, Ibnu Abbas r.a. mengatakan
2
, “Kufrun duna
kufrin” atau, “Kufur yang bukan seperti kufur yang kalian
maksudkan.”
1 Diinukil dari Waqafâtun ma’a Asy-Syaikh Al-Albani haula Syarith “Min Manhaji
Al-Khawarij” oleh Abu Isra’ Al-Asyuthi—Edt.
2 Ibnu Abbas r.a. menyadarkan kaum Khawarij yang tersesat karena
mengafirkan Ali bin Abi Thalib r.a. yang berhukum dengan pendapat Abu
Musa Al-Asy’ari r.a. untuk berdamai dengan Mu’awiyah r.a.. Beliau
menyadarkan kaum Khawarij dengan menggunakan bahasa mereka,
sehingga menggunakan kata-kata tersebut (kufrun duna kufrin) -Edt.
Syubhat P Syubhat P Syubhat P Syubhat P Syubhat Pertama: ertama: ertama: ertama: ertama:
Kufrun Duna Kufrin
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
72
Melawan Penguasa
Sebenarnya, ada beberapa atsar dari Ibnu Abbas r.a.
mengenai ayat ini, sebagiannya memvonis kafir secara mutlak
atas orang yang berhukum dengan selain hukum Allah,
sementara sebagian atsar lainnya tidak menyebutkan demikian.
Oleh sebab itu, dalam menafsirkan ayat tersebut ada penjelasan
rinci yang sangat jelas dari sisi shahih tidaknya riwayat tersebut.
Penjelasan tersebut adalah:
1. Imam Waki’ meriwayatkan dalam Akhbarul Qudhah (I/
41): Hasan bin Abi Rabi’ Al-Jurjani menceritakan kepada kami,
“Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq dari Ma’mar
dari Ibnu Thawus dari bapaknya, ia berkata, ‘Ibnu Abbas telah
ditanya mengenai firman Allah:
⎯Β´ρ `Ο9 Ο3t† $ϑ/ Α“Ρ& ´!# 7×≈9`ρ'ù `Νδ βρ` ≈39# ∩⊆⊆∪
“…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang
diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang
yang kafir.” (Al-Mâ’idah: 44).
Beliau menjawab, ‘Cukuplah perbuatan itu menjadikannya
kafir’.”
Sanad atsar ini shahih sampai kepada Ibnu Abbas r.a. Para
perawinya adalah perawi Ash-Shahîh selain gurunya Waki’,
yaitu Hasan bin Abi Rabi’ Al-Jurjani, ia adalah Ibnu Ja’d Al-
Abdi.
3
Imam Ath-Thabari (12055) juga meriwayatkan dengan
sanad Imam Waki’, namun dengan lafal, “Dengan perbuatan
itu ia telah kafir.”
3 Ibnu Abi Hatim mengatakan perihal Ibnu Ja’d Al-Abdi, “Aku telah mendengar
darinya bersama ayahku, ia seorang yang sangat jujur (shaduq).” Ibnu Hibban
menyebutkannya dalam Ats-Tsiqat. [lihat Tahdzîbu Tahdzîb I/515], dalam At-
Taqrîb I/505. Al-Hafizh mengomentarinya, “Shaduq.”
73
Meskipun Ibnu Thawus menambahkan lafal “kekafirannya
bukan seperti orang yang kafir kepada Allah, malaikat, dan
kitab-kitab-Nya,” namun riwayat ini secara tegas menerangkan
bahwa Ibnu Abbas r.a. telah memvonis kafir orang yang
berhukum dengan selain hukum Allah tanpa merincinya.
Adapun tambahan lafal “kekafirannya bukan seperti orang
yang kafir kepada Allah, malaikat, dan kitab-kitab-Nya”
bukanlah pendapat Ibnu Abbas r.a., melainkan pendapat Ibnu
Thawus.
2. Berkaitan dengan tambahan Ibnu Thawus yang
dinisbatkan kepada Ibnu Abbas, sebenarnya tambahan ini
terdapat dalam riwayat yang lain, yaitu riwayat Ibnu Jarir Ath-
Thabari (12053).
Dalam riwayat tersebut, Ibnu Jarir Ath-Thabari mengatakan,
“Waki’ menceritakan kepada kami, Ibnu Waki’ juga telah
menceritakan kepada kami, ia meriwayatkan dari ayahnya,
dari Sufyan Ats-Tsauri, dari Muammar bin Rasyid, dari Ibnu
Thawus, dari ayahnya (Thawus bin Kisan—Edt), dari Ibnu
Abbas, ketika beliau mendapatkan pertanyaan tentang maksud
firman Allah:
⎯Β´ρ `Ο9 Ο3t† $ϑ/ Α“Ρ& ´!# 7×≈9`ρ'ù `Νδ βρ` ≈39# ∩⊆⊆∪
“…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang
diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang
yang kafir.” (Al-Mâ’idah: 44).
Ibnu Abbas r.a. berkata, ‘Dengan perbuatan itu ia telah kafir,
dan bukan kafir kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, dan rasul-
rasul-Nya.”
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
74
Melawan Penguasa
Benar, sanad atsar ini juga shahih. Para perawinya adalah
para perawi Kutubus Sittah selain Hanad dan Ibnu Waki.’
4
Hanad adalah As-Sari Al-Hafizh Al-Qudwah. Para ulama
meriwayatkan darinya kecuali Imam Al-Bukhari.
5
Berkenaan tentang profil Ibnu Waki’ dalam riwayat ini, Al-
Hafizh berkata, “Ia seorang shaduq (sangat jujur), hanya saja
ia mengambil hadits yang bukan riwayatnya. Akibatnya,
haditsnya dimasuki oleh hadits yang tidak ia riwayatkan. Ia
telah dinasihati, namun ia tidak menerima nasihat tersebut
sehingga gugurlah haditsnya.”
6
Pun demikian, kedudukan Ibnu
Waki’ tidak membahayakan riwayat ini, karena Hanad As-
Sari telah menguatkannya.
Kesimpulannya, dalam riwayat Abdurrazaq, tambahan ini
dinisbahkan kepada Thawus. Sementara dalam riwayat
Sufyan Ats-Tsauri, tambahan ini dinisbatkan kepada Ibnu
Abbas. Akan tetapi, kita perl u berhati-hati terhadap
kemungkinan percampuran riwayat ol eh Ibnu Waki’
sebagaimana disebutkan di atas.
Hal ini menimbulkan kemungkinan bahwa ini bukanlah
perkataan Ibnu Abbas r.a. Namun, kalimat tersebut sekadar
selipan dalam riwayat Sufyan Ats-Tsauri. Ini bisa saja terjadi,
apalagi dalam Akhbarul Qudhat Waki’ telah meriwayatkan
atsar ini tanpa tambahan. Namun demikian, hal ini belum
pasti. Boleh jadi, tambahan ini memang ada dan berasal dari
Thawus dan Ibnu Abbas sekaligus, dan inilah yang tampak
lebih kuat. Wallâhu a‘lam.
4 Ibnu Waki’ adalah Sufyan bin Waki’ bin Jarrah.
5 Tadzkiratul Huffâzh: II/507.
6 At-Taqrîb: I/312
75
3- Kita harus melihat atsar riwayat Al-Hakim dengan lebih
jeli. Ia telah meriwayatkan
7
dari Hisyam bin Hujair, dari
Thawus, bahwa Ibnu Abbas berkata, “Bukan kufur yang
mereka (Khawarij) maksudkan. Ia bukanlah kekufuran yang
mengeluarkan dari agama.
⎯Β´ρ `Ο9 Ο3t† $ϑ/ Α“Ρ& ´!# 7×≈9`ρ'ù `Νδ βρ` ≈39# ∩⊆⊆∪
“Dan barangsiapa tidak memutuskan perkara dengan
hukum Allah maka mereka itulah orang-orang yang kafir.”
Maksudnya adalah kufrun duna kufrin.”
Al-Hakim mengatakan, “Ini adalah atsar yang sanadnya
shahih.” Atsar ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim,
sebagaimana disebutkan dalam Tafsîr Ibnu Katsîr
8
; bahwa
beliau berkata, “Bukan kekufuran seperti yang mereka
maksudkan.”
Hisyam bin Hujair seorang perawi yang dianggap lemah
riwayatnya oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in,
dan lain-lain.
9
Ibnu Adi menyebutkannya sebagai golongan
perawi dha’if.
10
Demikian juga Al-Uqaili.
11
Tidak ada yang mentsiqahkannya (menganggapnya
periwayat terpercaya dan kuat—edt), selain ulama yang terlalu
mudah mentsiqahkan, seperti Al-Ijli dan Ibnu Saad. Bahkan,
Imam Al-Bukhari dan Muslim tidak pernah meriwayatkan dari
7 Al-Hakim: II/313
8 Tafsîr Ibnu Katsir: II/62
9 Tahdzîbu Tahdzîb: VI/25
10 Al-Kamîl fî Dhu’afâ’i Rijal: VII/2569
11 Adh-Dhu’afâ’ Al-Kabîr: IV/238
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
76
Melawan Penguasa
Ibnu Thawus, kecuali dengan menyertakan riwayat-riwayat
penguat lainnya, bukan berdiri sendiri.
Satu-satunya riwayat Imam Al-Bukhari dari Ibnu Thawus
adalah hadits dari Thawus, dari Abu Hurairah (6720), tentang
kisah Sulaiman dan perkataannya, “Aku akan mendatangi
kesembilan puluh istriku pada malam hari ini….” Beliau
meriwayatkannya dengan nomor (5224); ini pun dengan
menyertakan riwayat penguat untuk Ibnu Thawus dari ayahnya
dari Abu Hurairah.
Adapun Imam Muslim, beliau hanya meriwayatkan dua
hadits darinya. Pertama, hadits Abu Hurairah di atas dengan
nomor 1654, dari Ibnu Thawus, dari bapaknya, pada tempat
yang sama juga secara mutaba’ah. Kedua, hadits Ibnu Abbas,
“Mu’awiyah berkata kepadaku, ‘Saya diberi tahu bahwa
Mu’awiyah memendekkan rambut Rasulullah Saw di Marwah
dengan gunting…’.” Beliau meriwayatkan dengan nomor 1246
dari sanad Hisyam bin Hujair, dari Thawus, dari Ibnu Abbas.
Sanad dari Hasan bin Muslim yang diriwayatkan dari Thawus
ini pun disertai riwayat penguat dalam tempat yang sama.
Abu Hatim berkomentar, ‘Tulis dahulu haditsnya.’
12
Maksudnya, dilihat terlebih dulu apakah ada riwayat yang
memperkuatnya, sehingga haditsnya bisa diterima, atau tidak
ada riwayat penguatnya sehingga riwayatnya ditolak.
Sepanjang pengetahuan kami, hadits riwayat Al-Hakim di
atas termasuk golongan hadits-hadits yang tidak ada
penguatnya. Pada diri saya terdapat keraguan tentang
keshahihannya. Meskipun Al-Hakimmenshahihkannya, karena
12 Tahdzîbut Tahdzîb: VI/25
77
ia terkenal terlalu memudahkan dalam menshahihkan hadits.
Semoga Allah merahmatinya.
4. Ibnu Jarir Ath-Thabari meriwayatkan
13
dari sanad Ali
bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas r.a. yang berkata, “Jika ia
juhud (ingkar) terhadap apa yang diturunkan Allah, maka ia
telah kafir; dan barangsiapa mengakuinya, namun tidak
berhukum dengannya, maka ia zalim dan fasik.”
Sanad ini munqathi’ (terputus) karena Ali bin Abi Thalhah
belum mendengar dari Ibnu Abbas, riwayatnya juga masih
dipermasalahkan (hadits no. 12063).
14
Dalam sanad ini juga
terdapat periwayat bernama Abdullah bin Shalih, sekretaris
Al-Laits. Ia dipermasalahkan dan sebagian besar ulama
menganggap riwayatnya lemah.
Dengan demikian, apa yang dinisbatkan kepada Ibnu
Abbas, dalam menafsirkan firman Allah dalam surah Al-
Ma’idah: 44, jika ditinjau dari segi sanadnya ada yang bisa
diterima (shahih) dan ada pula yang tidak shahih. Sanad yang
shahih sebagian mengandung pengafiran secara mutlak
terhadap orang yang berhukum dengan selain hukum Allah
tanpa rincian.
Sebagian lain mengandung tambahan “dan bukan seperti
orang yang kafir kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, dan rasul-
rasul-Nya.” Meskipun, tambahan ini juga merupakan
perkataan Ibnu Thawus sebagaimana telah dijelaskan di atas.
Kesimpulannya, pendapat yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas
tak kosong dari kritikan, diterima, atau ditolak.
13
13 Tahdzîbut Tahdzîb: IV/213-214.
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
78
Melawan Penguasa
Tanggapan Ulama terhadap Propaganda Ini
Dr. Shalah Ash-Shawi menanggapi tuduhan yang menyebutkan
bahwa orang-orang yang melawan pemerintahan kafir murtad
adalah Khawarij:
“Para penganut kebatil an pada zaman ini biasa
mengacaukan sesuatu yang telah ditetapkan oleh dalil-dalil Al-
Qur’an, As-Sunnah, dan ijmak muslimin. Termasuk terhadap
ketetapan mengenai kafirnya orang yang mengganti syariat
atau menolak hukum-hukum Allah, dengan mengatakan bahwa
kedua perbuatan ini termasuk jenis dosa dan kemaksiatan yang
tidak menyebabkan seseorang keluar dari Islam.
Mereka beralasan bahwa kita tidak boleh mengafirkan
seorang pun yang masih shalat hanya karena satu dosa,
kecuali jika ia menganggap perbuatan dosa tersebut halal.
Selain itu, mereka mengatakan bahwa banyak—padahal
hanya sebagian saja—ulama yang menafsirkan ayat Allah:
⎯Β´ρ `Ο9 Ο3t† $ϑ/ Α“Ρ& ´!# 7×≈9`ρ'ù `Νδ βρ` ≈39# ∩⊆⊆∪
“… Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang
diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang
yang kafir.” (Al-Mâ’idah: 44), dengan berdasarkan
pendapat Ibnu Abbas, Thawus, Mujahid, dan lainnya.
Mereka mengatakan bahwa kekafiran yang dimaksud ialah
perbuatan dosa yang tidak mengeluarkan seseorang dari Is-
lam. Hukum pelakunya pun tidaklah sama dengan orang yang
kafir kepada Allah dan para malaikat-Nya.
Mereka juga mengatakan bahwa menganggap kafir hanya
karena perbuatan tersebut ialah ajaran sekte Khawarij, yakni
79
suatu sempalan yang mengafirkan seluruh kaum muslimin yang
tidak sepakat dengan mereka, dengan berdalil pada ayat-ayat
yang seperti ini, misalnya firman Allah:
... β) `Ν3⇔9# ω) ´! ... ∩⊆⊃∪
“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.” (Yusuf: 40).
Anehnya, kerancuan-kerancuan semacam ini juga telah
memasuki serambi-serambi persidangan yang menerapkan
undang-undang buatan manusia saat menghukumi pergerakan-
pergerakan Islam.
Anda akan menemukan bahwa boneka-boneka kaum kafir
yang berpakaian jaksa mengulang-ulang pendapat-pendapat
ini sembari menuduh putra-putra pergerakan Islam sebagai
penyambung lidah propaganda-propaganda kaum Khawarij.
Mereka juga beranggapan bahwa masyarakat kita hari ini tidak
mengingkari hukum Allah, juga tidak menolak peraturan-Nya.
Berdasarkan anggapan inilah, mereka tidak membenarkan
orang-orang yang menyebut para penguasa atau rakyat yang
menolak syariat Allah sebagai orang-orang kafir sebagaimana
yang dimaksudkan dalam ayat tersebut. Bahkan, mereka juga
menganggap bahwa tindakan menolak syariat Allah tersebut
tidaklah berdosa sama sekali karena kondisi umat Islam yang
ada pada hari ini.”
14
Demikianlah alasan globalnya.
Banyak ulama besar yang telah membantah alasan di atas.
Akan tetapi, agar halaman buku ini tidak terlalu banyak, saya
hanya akan menukil bantahan Syaikh Ahmad Syakir dan
kakaknya, Mahmud Syakir, secara ringkas.
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
14 Tahkîm Syarî’ah wa Shilatuhu bi Ashlid Dîn. Hlm. 41.
80
Melawan Penguasa
Dalam ‘Umdatut Tafsir, Syaikh Allamah Ahmad Syakir
mengomentari ucapan Ibnu Abbas tentang permasalahan
kufrun duna kufrin ini, “Atsar-atsar dari Ibnu Abbas dan
selainnya sering dijadikan sasaran permainan oleh para
penyesat yang mengaku sebagai ulama, dan golongan lain yang
berani terhadap agama. Mereka menjadikannya sebagai alasan
atau justifikasi untuk memperbolehkan undang-undang buatan
manusia dan diberlakukan di negeri-negeri muslim.
Berkaitan dengan hal ini, kita dapat melihat dialog antara
Abu Mijlaz dengan para pengikut sekte Khawarij Ibadhiyah
15
yang dikutip oleh Imam Ath-Thabari. Dialog tersebut
membahas perbuatan sebagian pemerintahan zalim yang
memutuskan perkara-perkara mereka dengan selain hukum
Islam pada masa itu, terlepas dari kesengajaan atau karena
benar-benar tidak tahu. Padahal, sekte Khawarij menganggap
setiap pelaku dosa besar sebagai orang kafir.
Dengan mengajak Abu Mijlaz untuk berdialog, mereka
berharap Abu Mijlaz menyepakati pendapat mereka yang
mengafirkan pemerintah pada waktu itu. Selain itu, mereka
juga berharap agar pendapatnya yang mengharuskan
pemberontakan kepada pemerintah terlegitimasi. Dialog antara
keduanya terekam dalam riwayat Imam Ath-Thabari.
16
Kemudian, kakak saya, Mahmud Syakir mengomentari
kedua riwayat ini dengan komentar yang sangat bagus, jelas,
dan tegas:
15 Salah satu cabang aliran pemikiran dan sekte Khawarij.
16 Silakan merujuk riwayat Ath-Thabari (12025, 12026).
81
“Ya Allah, saya berlepas diri dari kesesatan. Wa ba‘du,
Sesungguhnya, para tukang fitnah dan penyebar keraguan yang
berani bicara lantang pada hari ini telah mencarikan alasan
untuk membela pemerintahan yang mengatur permasalahan
tentang harta, kehormatan, dan darah dengan selain hukum
Allah yang diturunkan di dalam kitab-Nya. Mereka juga
membela tindakan pemerintahan yang memberlakukan hukum
buatan orang-orang kafir di negeri muslim.
Ketika mereka menemukan kedua riwayat Ath-Thabari ini,
mereka pun menjadikannya sebagai pendapat yang
membolehkan adanya pengadilan dalam permasalahan harta,
kehormatan, dan darah dengan selain hukum Allah. Di samping
itu, para penyesat tersebut juga berpendapat bahwa
pemberlakuan undang-undang yang menyelisihi hukum Allah
dalam peradilan umum, tidak membuat pelakunya dan orang-
orang yang rela dengannya menjadi kafir.
Jelas sekali, orang-orang Khawarij Ibadhiyah yang berdialog
dengan Abu Mijlaz hanya ingin mendesak Abu Mijlaz agar
mel egitimasi pendapat-pendapat mereka mengenai
pemerintah waktu itu karena pemerintah bisa jadi melakukan
kemaksiatan dan perbuatan yang dilarang Allah.
Oleh sebab itu, kita lihat dalam riwayat (12025), Abu Mijlaz
berkata kepada orang-orang Khawarij, “Jika mereka
meninggalkan hal itu, mereka akan mengetahui bahwa mereka
telah melakukan perbuatan dosa.” Sementara dalam riwayat
(12026), Abu Mijlaz berkata, “Orang-orang Khawarij
melakukan suatu perbuatan yang sebenarnya mereka
mengetahui bahwa perbuatan itu dosa.”
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
82
Melawan Penguasa
Jika demikian, jelaslah pertanyaan kaum Khawarij kepada
Abu Mijlaz yang juga dipakai sebagai dasar pendapat para
ahli bid’ah zaman ini, berkenaan dengan pengadilan dalam
masalah harta, darah, kehormatan yang menggunakan
undang-undang selain syariat Allah.
Juga pertanyaan mengenai pemaksaan terhadap kaum
muslimin untuk berhukum dengan selain hukum Allah yang
tercantum dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, semua ini
merupakan penolakan terhadap hukum Allah, kebencian
kepada agama-Nya, dan sikap mengutamakan hukum-hukum
orang kafir atas aturan Allah Ta’ala.
Jelas, perbuatan ini merupakan kekafiran yang tak seorang
Muslim pun ragu atas kekafiran para pelakunya, meskipun
mereka berbeda pendapat dalam permasalahan kafirnya
orang yang menggembar-gemborkan perbuatan tersebut
dengan orang yang menyeru kepadanya.
Sementara itu, fenomena yang terjadi pada diri kita hari
ini merupakan sikap meninggalkan seluruh hukum Allah tanpa
terkecuali, pengutamaan hukum-hukum selain hukum-Nya
yang tercantum dalam kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya, dan
peniadaan setiap hukum yang ada di dalam syariat Allah.
Lebih dari itu, alasan pengutamaan mereka terhadap aturan
buatan manusia atas aturan Allah dan pengakuan orang-
orang yang berhujah dengannya sampai pada tingkatan aturan-
aturan di dalam syariat Allah, hanya berlaku untuk selain
zaman kita sekarang dan karena alasan-alasan serta sebab-
sebab tertentu yang telah hilang, sehingga dengan hilangnya
83
alasan dan sebab-sebab pemberlakuan hukum, hukum-
hukumnya pun berlaku lagi.
Lantas, apa artinya pendapat orang-orang tersebut jika
dibandingkan dengan keterangan yang kita paparkan dalam
riwayat tentang dialog Abu Mijlaz dengan sekelompok orang
Khawarij dari Bani Umar bin Sadus?
Seandainya permasalahannya memang seperti yang mereka
utarakan sebagaimana dalam cerita Abu Mijlaz, bahwa mereka
bermaksud menentang pemerintah yang menyelisihi syariat,
maka kita katakan bahwa dalam sejarah Islam belum pernah
ada pemerintahan yang membuat sendiri sebuah undang-
undang lalu menjadikannya sebagai syariat yang harus
dijalankan. Hal ini kalau ditinjau dari satu sisi.
Sementara jika ditinjau dari sisi lain, pemerintah yang
menjalankan selain aturan Islam dalam sebuah permasalahan,
disebabkan karena dua hal. Pertama, bisa jadi mereka
melakukannya karena kebodohannya. Jika seperti ini, berarti
pelakunya dihukumi sebagai orang yang bodoh terhadap
syariat. Kedua, bisa jadi pula karena memperturutkan hawa
nafsu mereka. Jika yang terjadi ialah perkara yang kedua,
perkara ini merupakan dosa yang bisa diampuni oleh Allah.
Atau karena ia mempunyai penakwilan yang salah, yakni
bermaksud memberlakukan hukum Allah, tetapi keliru dalam
memahami hukum Allah tersebut dengan mengambil
kesimpulan yang tak sesuai dengan keterangan seluruh ulama.
Jika keadaannya seperti ini, ia dihukumi sebagai orang yang
salah dalam memahami syariat dengan mendasarkan
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
84
Melawan Penguasa
pemahamannya kepada sebagian dalil-dalil Al-Qur’an dan As-
Sunnah.
Atau bisa jadi keadaannya seperti yang terjadi pada zaman
Abu Mijlaz atau sebelum dan sesudahnya, yakni adanya
penguasa yang memutuskan perkara dalam keadaan
membangkang kepada hukum Allah atau mengutamakan
hukum buatan orang kafir atas hukum Islam. Jika yang
dimaksud demikian, saya katakan bahwa hal ini belum pernah
terjadi satu kali pun. Sebab, tidak mungkin dialog Abu Mijlaz
dengan kelompok Khawarij Ibadhiyah diselewengkan kepada
maksud yang terakhir ini.
Oleh karena itu, siapa saja yang menempatkan dua atsar
ini dan sel ainnya tidak pada tempatnya dan
menyelewengkannya pada makna yang tak sesuai karena ingin
membela pemerintah atau menyelewengkan pemahaman
dalam rangka membolehkan berlakunya hukum selain hukum
Allah, mereka dihukumi sebagai orang yang menentang hukum
Allah, yakni diminta bertaubat. Sementara jika mereka tetap
bersikeras serta menolak hukum Allah dan tetap dalam
sikapnya, kesombongannya, penentangannya terhadap hukum
Allah, serta ridha dengan penggantian hukum-hukum tersebut,
mereka dihukumi sebagai orang kafir yang tak terbantahkan
lagi bagi kaum muslimin.”
17
Berkenaan dengan ucapan Mahmud Syakir, Abu Isra’
Al-Asyuthi berkometar, “Ucapan Syaikh Ahmad Syakir yang
mendukung pendapat saudaranya sangat jelas sekali
menunjukkan perbedaan antara kondisi yang dimaksud Ibnu
17 ‘Umdatut Tafsîr: IV/156-158.
85
Abbas dan Abu Mijlaz dengan kondisi kita hari ini. Jelas sekali,
ucapan keduanya membahas mengenai pemerintahan jahat
yang memutuskan sebuah perkara dengan selain hukum
Allah, tetapi secara umum syariat yang mereka terapkan ialah
syariat Islam dan sama sekali tidak berkenaan dengan mereka
yang menerapkan aturan yang menyelisihi hukum Allah dan
memaksa rakyat untuk menaatinya.”
18
Sementara itu, mengomentari ucapan Syaikh Mahmud
Syakir, Dr. Shalah Ash-Shawi berkata, “Problem yang dihadapi
gerakan Islam pada hari ini bukanlah penyimpangan personal
atau penyelewengan pada sebagian perkara yang menjadikan
seorang hakim menyimpang dari kebenaran karena menuruti
hawa nafsu atau sogokan sebagaimana yang terjadi pada
pemerintahan Islam masa lalu. Namun, problemnya ialah
penyimpangan-penyimpangan pada prinsip yang pokok dalam
Islam, yang mana setiap perselisihan di dalam masalah undang-
undang yang wajib diikuti masyarakat harus dikembalikan
kepadanya: Al-Qur’an dan As-Sunnah ataukah undang-
undang positif buatan manusia yang disusun oleh parlemen
dan dewan legislatif?!
Hal ini terkait dengan jawaban atas pertanyaan: Undang-
undang apakah yang berlaku di negeri Islam? Apakah syariat
Allah ataukah undang-undang Eropa? Apakah negara
menegakkan syariat Islam ataukah hukum buatan sendiri?”
19
18 Waqafât ma‘a Asy-Syaikh Al-Albanî haula Syarîth min Manhajil Khawârij hlm.
14.
19 Tahkîmusy Syarî ‘ah wa Shilatuhâ bi Ashliddîn hlm. 45.
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
86
Melawan Penguasa
Syubhat Kedua: Syubhat Kedua: Syubhat Kedua: Syubhat Kedua: Syubhat Kedua:
Seseorang Tidak Boleh Dikafirkan Hanya
Karena Melakukan Satu Dosa, Kecuali Jika
Meyakini Kehalalannya
Kesamaran kedua adalah ungkapan yang sering keluar dari
mulut mereka yang mengatakan, “Seseorang tak boleh
dikafirkan hanya karena melakukan satu dosa, kecuali jika ia
meyakini kehalalannya.” Ulama Ahlus Sunnah baik yang hidup
pada masa lampau maupun sekarang telah membantah
pendapat ini. Di antara mereka ialah Imam Ibnu Abil Izz Al-
Hanafi.
Beliau mengatakan, “Banyak ulama yang tidak menerima
pendapat yang mengatakan secara mutlak, ‘Kita tidak
mengafirkan seseorang hanya karena satu kemaksiatan yang
dilakukannya.’ Akan tetapi, yang benar bahwa kita tidak
menganggap orang menjadi kafir setiap melakukan perbuatan
dosa besar, sebagaimana keyakinannya orang-orang
Khawarij.”
20
Terdapat perbedaan antara tidak mengafirkan orang
walaupun berbuat seluruh dosa dan tidak mengafirkan setiap
20 Catatan penerjemah: “Kaum Murji’ah tidak mengafirkan orang walaupun
melakukan seluruh maksiat, sedangkan Khawarij mengafirkan orang karena
setiap perbuatan maksiat. Ahlussunnah berada di tengah keduanya, yakni
mengafirkan setiap pelaku dosa yang menyebabkan kafir, dan tidak
mengafirkan pelaku dosa yang belum mencapai derajat kufur. Sebab,
perbuatan maksiat terbagi menjadi dua, yaitu yang menyebabkan kekafiran
dan yang tidak.”
87
pelaku maksiat dan dosa secara umum. Pendapat yang benar
ialah tidak mengafirkan setiap pelaku perbuatan maksiat, yang
hal ini tidak seperti pendapat aliran Khawarij yang menganggap
setiap pelaku dosa besar telah kafir, keluar dari Islam.”
21
Berkenaan penjelasan dari Ibnu Abil Izz, Syaikh Abu
Qatadah Al-Filistini Rhm berkomentar, “Keterangan Ibnu Abil
Izz sangatlah jelas. Bahwa sekadar menghalalkan sesuatu yang
haram, hal tersebut sudah menjadikan pelakunya kafir dan
murtad karena keyakinannya tersebut jelas merupakan
penolakan terhadap Allah. Dengan demikian, sekadar
menghalalkan sesuatu yang haram bisa mengeluarkan
pelakunya dari Islam dan termasuk salah satu perbuatan
kekafiran.
Namun, masih ada beberapa jenis kekafiran yang telah
diketahui dengan baik oleh para penuntut ilmu. Di antaranya
istihza’ (menghina Allah, Nabi-Nya, atau ayat-ayat-Nya), serta
menolak, berpaling, membangkang, dan menyombongkan diri
terhadap kebenaran. Di samping itu, kekafiran juga bisa
disebabkan karena ucapan, keyakinan hati, serta perbuatan
sebagaimana perkataan salaf dan kebanyakan ahli fikih.
Sebuah contoh yang jelas dalam kasus ini ialah orang yang
menghina Nabi Saw. Dalam perkara ini, Ahlussunnah
menganggap ia telah kafir tanpa memandang apakah ia
melakukannya dengan menganggapnya halal ataupun tidak,
atau apakah ia masih percaya atas kenabian Nabi Muhammad
ataupun tidak.
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
21 Syarh Thahawiyyah jil. II hlm. 432
88
Melawan Penguasa
Sekadar menghina Nabi Saw saja sudah termasuk
perbuatan kufur akbar yang menyebabkan pelakunya keluar
dari Islam. Sebagaimana hal itu pula, jelas bahwa mengganti
syariat Islam dan membuat undang-undang atau peraturan
yang menentang dan membangkang hukum Allah, baik dengan
mengubah karakteristik hukum yang telah ada maupun
menggantinya dari sumber aslinya (Al-Qur’an), seperti
membolehkan khamar, perzinaan, serta mengharamkan jihad
dan poligami, semua ini merupakan perbuatan kafir akbar.
Demikian pula dengan mengubah karakteristik hukum yang
telah ditetapkan syariat, seperti mengurangi hukuman atau
menambahnya, hal ini juga merupakan perbuatan kafir akbar.
Pelaku dari semua hal di atas dihukumi kafir, tanpa melihat
apakah ia menganggap halal perbuatannya ataukah tidak.
Bahkan, perbuatannya itu dianggap sebagai penghalalan atas
keharaman yang sudah disepakati dan termasuk praktik
mengubah agama Allah. Sementara itu, Ibnu Taimiyah
mengatakan bahwa perbuatan mengubah hukum Allah
menjadikan pelakunya kafir dan murtad dari Islam menurut
kesepakatan ulama. Segala puji hanya milik Allah.”
22
22 Dari artikel berjudul, “Kapan menghalalkan menjadi syarat untuk memvonis
orang menjadi kafir?”
89
Syubhat Ketiga: Syubhat Ketiga: Syubhat Ketiga: Syubhat Ketiga: Syubhat Ketiga:
Mengapa Para Ulama Tidak Memvonis
Khalifah Al-Ma’mun Kafir?
Syubhat ketiga, “Mengapa Imam Ahmad bin Hanbal tidak
menganggap Khalifah Al-Ma’mun yang berpendapat bahwa
Al-Qur’an adalah makhluk sebagai orang kafir?” Pertanyaan
ini diajukan kepada Syaikh Umar bin Mahmud Abu Umar
(Abu Qatadah Al-Filasthini), dan beliau menjawabnya dengan
jawaban sebagai berikut:
“Di antara alasan orang-orang yang tak mau memvonis
kafir pemerintah yang mengganti syariat Al l ah serta
mewajibkan pemberontakan melawan mereka dan bahkan
membolehkan berbaiat kepadanya ialah perkataan mereka,
‘Sesungguhnya para ulama dan seniornya, Imam Ahmad bin
Hanbal, tidak memvonis kafir khalifah Al-Ma’mun, meskipun
ia berpendapat Al-Qur’an adalah makhluk serta Allah tidak
memiliki sifat. Selain itu, beliau juga tidak melancarkan
pemberontakan untuk menggulingkannya.”
Kami jawab, semoga Allah memberikan petunjuk kepada
kami, “Alasan di atas tak akan dikatakan, kecuali oleh orang-
orang bodoh dan awam. Jika ia bukan orang bodoh, berarti
orang yang mempermainkan agama Allah.
Bagi yang mengerti realitas kita hari ini, mengetahui sebab
kafirnya pemerintah saat ini, serta mengetahui sikap para
Imam Ahlus Sunnah terhadap mereka yang salah dalam
menakwilkan nash, akan memahami bahwa kondisi Khalifah
Al -Ma’mun tak bisa dibandingkan dengan real itas
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
90
Melawan Penguasa
pemerintahan saat ini dari sisi mana pun. Sebab,
perbedaannya besar antara mereka yang sengaja dan
bermaksud untuk berpaling dan menolak hukum Islam dengan
mereka yang mencari kebenaran, namun salah dalam
memahaminya. Misalnya, kasus Khalifah Al-Ma’mun dan Al-
Mu’tashim yang berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah
makhluk.
Selain itu, mereka yang berpendapat demikian adalah dari
golongan Jahmiyah, yakni kelompok yang beranggapan bahwa
Allah tidak memiliki sifat dan orang-orang yang salah paham
terhadap ajaran Islam. Mazhab Ahlussunnah mempunyai sikap
tersendiri terhadap mereka yang salah dalam memahami dalil.
Kita bisa mengatakan, bahwa ulama salaf telah bersepakat
atas hukum mereka yang salah paham, meskipun terdapat
perbedaan di kalangan ulama yang lahir kemudian.
Definisi salah paham (ta’wil) ialah meyakini ayat atau hadits
sebagai dalil, sementara ayat atau hadits tersebut bukanlah
dalil dalam masalah yang dimaksudnya. Praktiknya ialah saat
seseorang berpendapat tentang sesuatu, meyakini sebuah
keyakinan, atau melakukan suatu perbuatan yang dikiranya
bahwa pendapat, keyakinan, atau perbuatan ini benar
sebagaimana yang diajarkan Nabi, sementara pada
hakikatnya hal itu tidaklah demikian. Ia ingin mencari
kebenaran, tapi tidak mendapatkannya. Keadaan ini ialah
keadaan ahlul bid’ah. Mereka sebenarnya ingin melakukan
kebenaran, tapi salah dalam penerapannya. Berkenaan dengan
bid’ah tersebut, keberadaannya bisa terjadi pada keyakinan
dan perbuatan.
91
Adapun Khalifah Al-Ma’mun dan kaum Jahmiyah,
meskipun keyakinan dan pendapat mereka menyimpang seperti
itu, namun mereka dimaafkan karena tujuan mereka yang baik.
Oleh sebab itu, para ulama melarang kita memvonis kafir bagi
mereka yang salah paham. Berkaitan dengan masalah ini pula,
Ibnu Hazm telah menuliskannya dalam Ihkamul Ahkam.
Demikianlah mazhab Ahlussunnah wal Jama’ah. Pendapat
mereka berbeda dengan pendapat Khawarij dan Mu’tazilah.
Khawarij dan Mu’tazilah memvonis kafir terhadap mereka yang
tak sependapat dengan mazhabnya, sedangkan Ahlussunnah
wal Jama’ah meskipun mereka tetap berkeyakinan ada di
antara pendapat ahlul bid’ah yang menyebabkan pelakunya
menjadi kafir seketika, tapi mereka tak langsung memvonis
kafir setiap orang yang berpendapat demikian. Sebab, ada
perbedaan besar antara vonis kafir terhadap perbuatan dengan
vonis kafir pelaku perbuatan tersebut, dan perkara ini diketahui
oleh pelajar ilmu tingkat pemula.
Ibnu Taimiyah mengatakan, ‘Ucapan yang bisa
menyebabkan orang yang mengucapkannya menjadi kafir,
bisa jadi si pengucap belum mengetahui dalil-dalil yang
membuatnya memahami kebenaran. Barangkali ia telah
mengetahui, tetapi ia beranggapan dalil itu lemah atau ia tidak
bisa memahami dalil tersebut dengan pemahaman yang benar.
Bisa jadi pula karena ia mengalami kerancuan dalam
memahami dalil tersebut, sehingga dimaafkan oleh Allah.
Siapa saja dari orang mukmin yang mencari kebenaran,
tapi ia salah dalam memahaminya, Allah akan mengampuni
semua kesalahannya dalam seluruh permasalahan, baik dalam
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
92
Melawan Penguasa
permasalahan pemahaman maupun permasalahan ibadah
praktis. Demikianlah pendapat seluruh shahabat Nabi dan
jumhur ulama kaum muslimin.
Imam Ahmad mengafirkan orang-orang Jahmiyah yang
mengingkari nama dan sifat Allah karena pendapat mereka
yang jelas-jelas menyalahi ajaran Nabi Saw. Akan tetapi, beliau
tidak mengafirkan setiap person yang berpendapat demikian.
Sebab, orang yang mengajak orang lain hukumnya lebih berat
dibandingkan dengan orang yang sekadar mengatakannya.
Sementara itu, orang yang menghukum siapa yang tak mau
mengikuti pendapatnya adalah lebih jahat dari mereka yang
sekadar mengajak orang lain.
Pada waktu itu, para pejabat pemerintahan yang menganut
pendapat kaum Jahmiyah menyeru manusia untuk menganut
pendapat mereka serta menghukum dan memvonis kafir bagi
yang tak mau mengikuti pendapat mereka. Meskipun demikian,
Imam Ahmad tetap berbuat baik dan memintakan ampunan
kepada Allah bagi mereka. Sebab, beliau tahu pasti mereka
tak sadar bahwa mereka mendustakan Nabi dan menentang
ajarannya, tetapi hanya salah dalam memahami kebenaran
dan mengikuti orang lain…’
23
Beginilah sikap para ulama terhadap orang-orang yang
salah dalam memahami nash. Karena yang mereka inginkan
sebenarnya kebenaran serta tak pernah bermaksud
mendustakan Nabi Saw dan menentang ajarannya sehingga
hal ini menjadi penghalang mereka untuk divonis kafir.
23 Nawaqidhul Iman Al Qauliyyah wal Amaliyyah. Dr Abdul Aziz Al-Abdul Lathif
hlm. 52-53.
93
Akan tetapi, bagi mereka yang cerdik pandai, mereka
mengetahui bahwa para pemerintah pada zaman kita saat ini
secara sengaja memang ingin menyelisihi syariat Islam.
Bahkan, mereka mendeklarasikannya di dalam undang-
undang dan peraturan bahwa kedaulatan berada di tangan
rakyat.
Kedaulatan yang dimaksud ialah kekuasaan pemerintahan
tertinggi secara mutlak berhak menentukan segala sesuatu.
Padahal, yang demikian ini merupakan makna kata Ar-Rabb
dalam Islam, yakni Yang Berkuasa, Yang Mahasempurna, dan
Hakim Yang Mahabijaksana. Pelaku perbuatan yang demikian
inilah yang langsung dihukumi kafir serta benar-benar
merupakan praktik penandingan hukum Al l ah,
pembangkangan, dan penolakan yang nyata terhadap hukum
Allah.
Lantas, bagaimana mungkin orang-orang buta dan bodoh
itu bisa menyamakan pemimpin yang meyakini hanya Allah
saja yang berhak melarang dan memerintah, tetapi salah dalam
memahaminya dengan pemerintah yang menolak mengakui
Allah yang berhak melarang dan memerintah, bahkan
menyatakan dirinya sendirilah yang berhak memerintah dan
melarang? Apakah dua hal ini sama? Kita berlindung kepada
Allah dari kehinaan.
Sebab itu, di antara yang menjadi ijmak ulama kita ialah
pembuatan dan penetapan undang-undang yang menyelisihi
hukum Allah adalah perbuatan kufur. Hal ini sebagaimana
dinyatakan Imam Asy-Syathibi dalam Al-I’tisham jil. I hlm. 61:
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
94
Melawan Penguasa
‘Para ulama bersepakat bahwa mengganti aturan agama
ialah perbuatan syirik dan kufur.’ Sementara Ibnu Taimiyah
mengatakan, ‘Kapan saja seseorang menganggap halal sesuatu
yang disepakati keharamannya atau mengharamkan sesuatu
yang disepakati kehalalannya atau mengganti syariat yang telah
disepakati para ulama, para ahli fikih bersepakat ia telah kafir
dan murtad.’
24
Lal u, apakah yang dil akukan para pemerintah
(menerapkan selain hukum Allah) termasuk salah ta’wil
(paham) ataukah memang mereka berniat menyingkirkan Al-
Qur’an dan As-Sunnah serta memegang erat-erat aturan Barat
dalam mengatur negara? Siapa saja yang menyangka
pemerintah yang mengganti syariat Islam sebenarnya berniat
baik, yakni ingin menerapkan syariat Islam tetapi mereka salah
memahaminya (sebagaimana Khalifah Al-Ma’mun—Pnj),
berarti ia telah berbohong tentang realitas pemerintahan
tersebut dan membohongi dirinya sendiri.
Real itas yang ada membantah dan mendustakan
anggapannya tersebut. Sebab, penyimpangan pemerintah yang
mengganti syariat Islam dengan syariat lain bukanlah karena
mereka salah memahami syariat Islam, tetapi karena mereka
memang ingin menyelisih, melawan, dan menandingi syariat
Allah.
Perkara ini merupakan sesuatu yang sangat jelas dan terang.
Namun, mereka secara terang-terangan justru menyatakan
syariat Islam tidak masuk dalam urusan politik dan perundang-
undangan. Di samping itu, mereka juga menganggap syariat
24 Majmu’ Fatawa jil. III hlm. 267.
95
Islam hanya mengatur hubungan antara hamba dan Rabb-
nya. Karena itu, orang-orang tersebut hendaknya takut kepada
Allah dan tidak membohongi masyarakat atas nama agama.”
Sampai di sini jawaban Syaikh. Kita memohon kepada
Allah agar dirinya beserta ilmunya bisa bermanfaat bagi Islam
serta kaum muslimin dan berkenan membalasnya dengan
sebaik-baik balasan. Syaikh Abu Qatadah menulis jawaban
ini pada tanggal 14 Muharram 1418 H, 21 5 1997.
Syubhat Keempat: Syubhat Keempat: Syubhat Keempat: Syubhat Keempat: Syubhat Keempat:
Nabi Yusuf Menjadi Menteri
dalam Pemerintahan Raja Mesir
Ketahuilah, alasan ini dipegang erat oleh ahlul bid’ah yang
tidak memiliki dalil yang kuat. Mereka mengatakan, “Tidakkah
kalian mengetahui bahwa Nabi Yusuf menjadi menteri dalam
pemerintahan seorang raja yang kafir dan tidak menerapkan
hukum Allah? Dengan demikian, berarti kita diperbolehkan
ikut serta menjadi menteri dalam pemerintahan kafir serta
masuk dalam majelis legislatif dan yang sejenisnya.
Kami jawab, dan hanya kepada Allah saja kita mengharap
taufik:
1. Berargumen dengan syubhat (kerancuan), seperti
memperbolehkan masuk ke dalam majelis legislatif. Hal ini
karena parlemen dan majelis legislatif musyrik ini berdiri di
atas agama selain Islam, yakni agama demokrasi, yang mana
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
96
Melawan Penguasa
hak legislatif, membuat hukum, dan menghalalkan serta
mengharamkan berada di tangan rakyat, bukannya milik
Allah. Padahal, Allah telah berfirman:
⎯Β´ρ G¯;ƒ ´¯î Ν≈=`™}# $´ΨƒŠ ⎯=ù Ÿ≅6)`ƒ μΨΒ ´θδ´ρ ’û
ο zψ# ´⎯Β ´⎯ƒ¡≈‚9# ∩∇∈∪
“Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka
sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan
ia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran:
85).
Siapa yang berani menyatakan Nabi Yusuf telah mengikuti
agama selain Islam dan din lain yang tidak diajarkan nenek
moyangnya (Nabi Ibrahim)? Siapa yang berani menyatakan
Nabi Yusuf telah bersumpah untuk menghormati agama itu?
Atau siapa yang berani menyatakan Nabi Yusuf membuat
peraturan yang sesuai dengan agama itu sebagaimana yang
dilakukan anggota parlemen?
Bagaimana mungkin Nabi Yusuf melakukan itu, padahal
beliau telah menyatakan ketika berada dalam penjara, berlepas
diri dari agama selain Islam:
... ’Τ) M.? '#Β Θ¯θ% ω βθ`ΖΒσ`ƒ ´!$/ Νδ´ρ οzψ$/ ¯Νδ
βρ`≈. ∩⊂∠∪ Mè7?#´ρ '#Β “™$ /#´™ ´ΟŠδ≡¯/) ,≈s`™)´ρ
´>θ)胴ρ $Β šχ%. $´Ζ9 β& 8³Σ ´!$/ ⎯Β ™`© «
š9≡Œ ⎯Β ≅Òù ´!# $´ΖŠ= ã ’?ã´ρ ¨$Ζ9# ´⎯3≈9´ρ ´Y2&
¨$Ζ9# Ÿω βρ`3±„ ∩⊂∇∪
97
“… Sesungguhnya, aku telah meninggalkan agama orang-
orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka
ingkar kepada hari kemudian. Dan aku pengikut agama
bapak-bapakku, yaitu Ibrahim, Ishak, dan Ya’qub. Tiadalah
patut bagi Kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu
apa pun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari
karunia Allah kepada Kami dan kepada manusia
(seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak
mensyukuri(Nya).” (Yusuf: 37 - 38).
Beliau juga menyatakan:
©<s9Á≈ƒ ⎯f¡9# '>$/¯‘ &´™ šχθ%¯G•Β ¯z Θ& ´!#
‰n≡´θ9# '‘$´γ)9# ∩⊂®∪ $Β βρ‰7è? ⎯Β ⎯μΡρŠ ω) ´™$ ϑ`™&
$δθϑGŠ´ϑ™ `ΟFΡ& Ν2τ$/#´ ™´ρ $Β Α“Ρ & ´!# $κ5 ⎯Β ⎯≈Ü=™
β) `Ν3⇔9# ω) ´! Β& ω& #ρ‰7è? ω) ν$−ƒ) 79≡Œ ⎦⎪$!#
`Ν¯‹)9# ´⎯3≈9´ρ ´Y2& ¨$Ζ9# Ÿω šχθϑ=èƒ ∩⊆⊃∪
“Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-
tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha
Esa lagi Mahaperkasa? Kamu tidak menyembah yang selain
Allah, kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu
dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak
menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama
itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah
memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia.
Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui.” (Yusuf: 39-40)
Apakah saat Nabi Yusuf menyatakan tauhid di dalam
penjara, beliau dalam keadaan tertindas, lalu setelah berkuasa
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
98
Melawan Penguasa
beliau diam dan tidak menyatakan hal itu? Jawablah kami
wahai orang-orang yang “berkepentingan”!
Wahai para penjilat politik, apakah kalian lupa bahwa
kementrian adalah kekuasaan eksekutif, sementara parlemen
adalah kekuasaan legislatif? Antara legislatif dan eksekutif
perbedaannya besar, sehingga keduanya tak bisa disamakan.
Karena itu, Anda pun tahu bahwa beralasan dengan kisah
Nabi Yusuf untuk membolehkan masuk ke dalam parlemen,
hal itu tidak dibenarkan. Akan tetapi, tidak mengapa kita
meneruskan untuk membantah argumen mereka ini, yang
dikatakan mereka ada kesamaan antara kedua jabatan
(eksekutif dan legislatif) itu saat ini.
2. Pengkiasan oleh orang-orang yang membolehkan
jabatan kementerian di bawah negara-negara thaghut yang
berhukum dengan selain hukum Allah serta memerangi wali-
wali Allah dan berwali kepada musuh-musuh Allah dengan
perbuatan Nabi Yusuf, dilihat dari beberapa segi merupakan
kiyas yang rusak lagi batil:
A. Orang-orang yang menjabat menteri pada pemerintahan
yang tak menerapkan syariat Allah, mau tak mau harus
menghormati undang-undang mereka sendiri dan
menyatakan kesetiaan kepada thaghut. Padahal Allah telah
memerintahkan untuk mengafirinya.
¯Ν9& ? ’<) š⎥⎪%!# βθϑ`㓃 ¯ΝγΡ& #θ`ΨΒ#´™ $ϑ/ Α“Ρ& 7‹9)
$Β´ρ Α“Ρ& ⎯Β 7=¯6% βρ‰ƒ`ƒ β& #θϑ.$⇔Fƒ ’<) Nθó≈Ü9#
‰%´ ρ #ρ'Δ& β& #ρ`3ƒ ⎯μ/ ‰ƒ`ƒ´ρ ⎯≈Ü‹±9# β& ¯Νγ=Ò`ƒ
ξ≈=Ê #´‰‹è/ ∩∉⊃∪
99
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang
mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan
kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu?
Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka
telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan
bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang
sejauh-jauhnya.” (An-Nisa’: 60).
Bahkan, sebelum menerima jabatan tersebut, mereka harus
bersumpah dengan kekufuran ini sebagaimana keadaan
orang-orang yang menjadi anggota parlemen. Barangsiapa
menyangka Nabi Yusuf melakukan hal yang demikian,
padahal Allah telah menyatakan Nabi Yusuf tidak seperti
itu, sebagaimana firman-Nya:
... 79≡‹Ÿ2 ∃`Ç´Ζ9 μΖã ´™θ´¡9# ´™$±`s9#´ρ …μΡ) ⎯Β
$ΡŠ$6ã š⎥⎫Á=⇐ϑ9# ∩⊄⊆∪
“…Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya
kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu
termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih
.”
(Yusuf: 24).
Berarti ia adalah orang yang paling kafir dan paling busuk
serta telah keluar dari agama. Lebih dari itu, ia lebih jelek
dari iblis terlaknat yang bersumpah untuk senantiasa
menggoda manusia:
Α$% 7?“è6ù ¯ΝγΖƒθî{ ⎦⎫è´Ηd& ∩∇⊄∪
“Iblis menjawab, ‘Demi kekuasaan Engkau aku akan
menyesatkan mereka semuanya’.” (Shad: 82).
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
100
Melawan Penguasa
Adapun Nabi Yusuf, beliau pasti termasuk mereka yang diberi
keikhlasan oleh Allah, sebagaimana yang dikisahkan-Nya.
B. Orang-orang yang menjabat sebagai menteri dalam
pemerintahan yang tidak menerapkan syariat Allah, mereka
harus melaksanakan undang-undang kafir dan tidak boleh
menyelisihinya. Karena itu, ia merupakan hamba yang
setia pada undang-undang serta menaati mereka yang
membuat undang-undang tersebut, baik mereka benar
maupun salah, kafir maupun zalim.
Apakah Nabi Yusuf Ash-Shiddiq melakukan hal yang
demikian, sehingga bisa dijadikan dalil dan alasan bolehnya
menduduki jabatan orang-orang yang mel akukan
kekufuran? Orang yang menuduh Nabi Yusuf melakukan
kekufuran ialah kafir dan zindiq. Sebab, Allah berfirman:
‰)9´ρ $´ΖWè / ’û ≅2 πΒ& ωθ™¯‘ χ& #ρ‰6ã# ´!#
#θ7⊥G_#´ρ Nθó≈Ü9# ... ∩⊂∉∪
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-
tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan
jauhilah thaghut itu’…” (An-Nahl: 36).
Ayat ini adalah pokok ajaran Islam dan kebaikan terbesar
yang ada bagi Nabi Yusuf Alaihissalam dan seluruh rasul
lainnya. Dengan demikian, masuk akalkah jika Nabi Yusuf
mengajak manusia kepada tauhid, baik ketika beliau dalam
keadaan lapang maupun sempit, tertindas maupun
berkuasa, lalu beliau melakukan tindakan yang bertolak
belakang kemudian menjadi orang musyrik. Bagaimana
yang demikian itu, sementara Allah telah menyatakan Nabi
Yusuf adalah hamba Allah yang diberi keikhlasan?
101
Para ahli tafsir mengatakan:
... $Β β%. ‹{'´Š9 ν$z& ’û ⎦⎪Š 7=ϑ9# ω) β& ´™$±„ ´!# ìù¯Ρ
M≈_´‘Š ⎯Β '™$±Σ −¯θù´ρ ≅2 “Œ Ο=æ ' ΟŠ=æ ∩∠∉∪
“…Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut
undang-undang Raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. Kami
tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas
tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha
Mengetahui.” (Yusuf: 76).
Ayat ini menjadi dalil bahwa Nabi Yusuf tidak
melaksanakan aturan-aturan raja dan undang-undangnya,
tak mau tunduk kepadanya, serta tak pula memaksa orang
lain untuk menaatinya. Lalu, apakah kondisi dunia
kementerian dan parlemen hari ini sama dengan kondisi
Nabi Yusuf saat itu, yakni kondisi adanya negara (Nabi
Yusuf sebagai penguasanya—edt) dalam negara? Kalau
tidak seperti itu, hal tersebut tak bisa dianalogikan.
C. Nabi Yusuf menduduki posisi perdana menteri karena
anugerah dari Allah. Allah berfirman:
79≡‹.´ρ $Ψ3Β #™θ`‹9 ’û Ú¯‘{# &¯θ6Gƒ $κ]Β ]‹m '™$±„
´=ŠÁΡ $´ΖF´Ηq/ ⎯Β '™$±Σ Ÿω´ρ ì‹ÒΡ _& ⎦⎫ Ζ¡`sϑ9# ∩∈∉∪
“Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf
di negeri Mesir; (ia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana
saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan
rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
102
Melawan Penguasa
tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat
baik.” (Yusuf: 56).
Jika demikian, berarti jabatan beliau tersebut merupakan
karunia Allah, sehingga raja pun tak bisa memecatnya
meskipun Nabi Yusuf tak mau tunduk pada perintah dan
keputusan raja. Lantas, apakah orang-orang hina yang
menjadi pengikut thaghut hari ini memiliki posisi sekuat
Nabi Yusuf? Pada hakekatnya, mereka adalah barang
mainan para thaghut tersebut, sehingga tak bisa
dibandingkan dengan kisah Nabi Yusuf!
D. Nabi Yusuf menduduki jabatan menteri dengan dukungan
dan kekebalan penuh yang diberikan oleh raja. Allah
berfirman:
... $´ϑ=ù …μϑ= . Α$% 7Ρ) Π¯θ´ ‹9# $´Ζƒ $! ⎦⎫ 3Β ⎦⎫ Β& ∩∈⊆∪
“…Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengannya, ia
berkata, ‘Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi or-
ang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami’.”
(Yusuf: 54).
Nabi Yusuf diberi kebebasan mutlak dalam menjalankan
pemerintahan:
“Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf
di negeri Mesir; (ia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana
saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan
rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami
tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat
baik.” (Yusuf: 56).
103
Tak ada penentang, tak ada pengontrol, serta tak ada
pengawas atas segala keputusan dan tindakan Nabi Yusuf.
Lalu, apakah kebebasan seperti ini dimiliki menteri-menteri
thaghut tersebut? Ataukah mereka memiliki kekebalan yang
bohong lagi palsu dan bisa dicabut jika si menteri berbuat
macam-macam. Menteri thaghut hanya sekadar pelaksana
bagi seluruh keputusan raja, mengikuti perintah, dan tidak
boleh melanggar larangan, serta ia tidak berhak menyelisihi
perintah raja atau garis undang-undang, meskipun undang-
undang tersebut menyelisihi perintah Allah dan agama-
Nya.
Barangsiapa menyamakan kondisi seperti ini dengan
kondisi Nabi Yusuf, berarti ia telah berbuat dusta dan telah
kafir kepada Allah. Sebab, ia mengingkari firman Allah yang
menyatakan bahwa Nabi Yusuf ialah orang yang bersih
dari syirik.
Dengan demikian, jika telah diketahui bahwa kondisi Nabi
Yusuf tidak ditemukan pada kementrian thaghut pada hari ini,
berarti tak ada tempat untuk menganalogikan lagi. Jika
demikian, para pengangguran yang mencoba melemparkan
argumen ini hendaknya berhenti mengigau.
3. Di antara sanggahan yang bisa membatalkan argumen
di atas ialah keterangan sebagian ahli tafsir bahwa raja Mesir
saat itu telah masuk Islam. Hal ini dikisahkan dalam riwayat
dari mujahid, murid Ibnu Abbas. Dengan demikian, berarti
pendapat ini mementahkan alasan bahwa Nabi Yusuf menjadi
menteri dalam pemerintahan raja yang kafir.
Berdalil dengan keumuman ayat atau makna sebuah ayat,
lebih kami utamakan daripada pendapat orang dan analisis
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
104
Melawan Penguasa
atau kesimpulan yang tak bersandar pada bukti dan dalil.
Sementara salah satu dalil bahwa raja Mesir telah masuk Is-
lam ialah:
79≡‹.´ρ $Ψ3Β #™θ`‹9 ’û Ú¯‘{# &¯θ6Gƒ $κ]Β ]‹m '™$±„
´=ŠÁΡ $´ΖF´Ηq/ ⎯Β '™$±Σ Ÿω´ρ ì‹ÒΡ _& ⎦⎫Ζ¡`sϑ9# ∩∈∉∪
“Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf
di negeri Mesir; (ia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana
saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan
rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami
tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat
baik.” (Yusuf: 56).
Makna ayat ini global dan tidak menjelaskan maksud
terperinci. Selain itu, ayat ini telah diterangkan sendiri oleh
Allah dalam ayat lain yang menceritakan karakteristik mereka
yang diberi kekuasaan Allah di muka bumi:
⎦⎪%!# β) ¯Νγ≈Ψ3Β ’û Ú¯‘{# #θ`Β$%& οθ=¯Á9# #'θ?#´™´ρ

ο θŸ2“9# #ρ`Β&´ρ ∃ρ`èϑ9$/ #¯θγ Ρ´ρ ⎯ã 3Ζϑ9# ´!´ρ π6)≈ã
‘θ`Β{# ∩⊆⊇∪
“(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan
mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat,
menunaikan zakat, menyuruh berbuat makruf dan
mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada
Allah-lah kembali segala urusan.” (Al-Hajj: 41).
Tak diragukan lagi, Nabi Yusuf termasuk dalam golongan
yang disebutkan dalam ayat di atas. Bahkan, beliau termasuk
pemimpin mereka yang bila diberi kekuasaan di muka bumi
105
memerintahkan perbuatan makruf dan melarang kemungkaran.
Selain itu, tidak diragukan pula bagi orang yang mengenal Is-
lam, kebaikan yang paling utama di dalamnya ialah tauhid
yang juga ajaran yang menjadi inti dakwah Nabi Yusuf As
beserta ayah dan kakeknya. Adapun bentuk kemungkaran
terbesar ialah syirik yang diperingatkan serta dibenci dan
dimurkai Nabi Yusuf, sementara pelakunya beliau musuhi.
Dengan demikian, hal ini menjadi bukti yang jelas dan tegas
bahwa setel ah diberi kekuasaan Nabi Yusuf tetap
mendakwahkan ajaran Islam yang juga merupakan inti
dakwah ayahnya, Ya’qub, serta kakeknya, Ishaq, dan Ibrahim;
memerintahkan manusia kepadanya, serta melarang dan
memusuhi setiap orang yang menyelisihi dan menentangnya.
Beliau tak memberlakukan selain syariat Allah. Beliau juga
tidak membantu penerapan selain syariat Allah serta para
pembuat syariat dan thaghut yang disembah selain Allah. Selain
itu, beliau juga tidak menolong dan mencintai mereka
sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang terkena
fitnah (para anggota parlemen dan para menteri) hari ini,
apalagi ikut-ikutan membuat syariat dan undang-undang
sebagaimana pekerjaan anggota parlemen tersebut.
Karenanya, bisa dipastikan bahwa Nabi Yusuf mengingkari
mereka dan mengubah kemungkarannya, berhukum dengan
tauhid dan mengajak rakyatnya kepadanya, serta
menyingkirkan dan menjauhkan orang yang memusuhi dan
menentang ajaran tauhid siapa pun mereka, sebagaimana yang
dijelaskan Allah di dalam Al-Qur’an. Barangsiapa yang tidak
menyifati Nabi Yusuf, anak dua hamba Allah yang mulia seperti
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
106
Melawan Penguasa
yang disebutkan Al-Qur’an, berarti ia telah kafir, bejat, dan
keluar dari agama yang suci lagi bersih. Adapun bukti lain
yang menguatkan pendapat kami ialah keterangan ayat:
Α$%´ρ 7=ϑ9# ’ΤθG# ⎯μ/ μ`Á=‚G`™& ©¤´Ζ9 $´ϑ=ù …μϑ=.
Α$% 7Ρ) Π¯θ´‹9# $´Ζƒ$! ⎦⎫ 3 Β ⎦⎫ Β& ∩∈⊆∪
“Dan raja berkata, ‘Bawalah Yusuf kepada-Ku, agar aku
memilih ia sebagai orang yang rapat kepadaku.’ Maka
tatkala raja telah bercakap-cakap dengan ia, ia berkata,
‘Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang
berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami’.” (Yusuf:
54).
Menurut Anda, apakah pembicaraan yang disampaikan
Nabi Yusuf kepada sang raja, sehingga raja pun terpesona
lalu memberinya kepercayaan dan jabatan kepadanya?
Apakah Anda mengira ia menceritakan kisahnya dengan istri
Al-Aziz (perdana menteri), padahal kisah tersebut sudah selesai
dan siapa yang benar sudah tampak di dalamnya? Ataukah
ia mengajaknya berbicara mengenai masalah persatuan dan
kesatuan bangsa serta masalah ekonomi? Dan, dan, atau apa?
Di dalam ayat disebutkan lafal { } yang artinya,
“Tatkala ia (Yusuf) mengajak bicara sang raja.” Adapun isi
pembicaraannya sangat jelas terlihat di dalam firman Allah:
‰)9´ρ $´ΖWè/ ’û ≅2 πΒ& ωθ™¯‘ χ& #ρ‰6ã# ´!#
#θ7⊥G_#´ρ Nθó≈Ü9# ... ∩⊂∉∪
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-
tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja),
dan jauhilah thaghut itu…” (An-Nahl: 36).
107
Selain itu, di dalam firman-Nya:
‰)9´ρ ´©rρ& 7‹9) ’<)´ρ ⎦⎪%!# ⎯Β š=¯6% ⎦⌡9 M.´°&
´⎯Ü6`s´ ‹9 7=´ Ηå ´⎯Ρθ 3 G 9´ρ ´⎯Β ´⎯ƒ£≈ƒ:# ∩∉∈∪
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan
kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. ‘Jika kamu
mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu
dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi’.”
(Az-Zumar: 65).
Allah menceritakan inti dakwah Nabi Yusuf:
Α$% Ÿω $ϑ3‹?'ƒ Π$èÛ ⎯μΡ$%—¯? ω) $ϑ3?'´6Ρ ⎯&#ƒρ' G/
Ÿ≅¯6% β& $ϑ3´‹?' ƒ $ϑ39≡Œ $´ϑΒ ©_ϑ=æ ’1´‘ ’Τ) M.? '#Β
Θ¯θ% ω βθ`ΖΒσ`ƒ ´!$/ Νδ´ρ οzψ$/ ¯Νδ βρ`≈. ∩⊂∠∪
Mè7?#´ρ '#Β “™$/#´™ ´ΟŠδ≡¯/) ,≈s`™)´ρ ´>θ)胴ρ $Β
šχ% . $´Ζ9 β& 8³Σ ´!$/ ⎯Β ™`©« š9≡Œ ⎯Β ≅Òù
´!# $´ΖŠ=ã ’?ã´ρ ¨$Ζ9# ´⎯3≈9´ρ ´Y2& ¨$Ζ9# Ÿω
βρ`3±„ ∩⊂∇∪
“Yusuf berkata, ‘Tidak disampaikan kepada kamu berdua
makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku
telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum
makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah
sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Rabb-ku.
Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang
yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
108
Melawan Penguasa
kepada hari kemudian. Dan aku pengikut agama bapak-
bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi
Kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apa pun dengan
Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada
Kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan
manusia tidak mensyukuri (Nya).” (Yusuf: 37 - 38).
Selain itu, firman Allah:
“Agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka
perselisihkan itu, dan agar orang-orang kafir itu mengetahui
bahwa mereka adalah orang-orang yang berdusta.
Sesungguhnya, perkataan Kami terhadap sesuatu apabila
Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya:
“Kun (jadilah)”, maka jadilah ia.” (Yusuf: 39-40).
Tak diragukan l agi, inil ah inti pembicaraan yang
disampaikan oleh Nabi Yusuf kepada raja. Inilah agama yang
lurus, inti dari gerakan dakwahnya, serta inti dakwah nenek
moyangnya. Jika mengajak kpada kebaikan, kebaikan yang
paling utama ialah tauhid, kalau ia mencegah kemungkaran,
kemungkaran yang terbesar ialah syirik yang tidak sesuai
dengan ajaran tauhid. Jika Anda telah memahami hal ini, maka
jawaban sang raja:
... $´ϑ=ù …μϑ=. Α$% 7Ρ) Π¯θ´ ‹9# $´Ζƒ$! ⎦⎫3Β ⎦⎫Β& ∩∈⊆∪
“…Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang
yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami.”
(Yusuf: 54).
109
Ayat ini menjadi bukti kuat bahwa sang raja telah
menyetujui dan menyepakati Nabi Yusuf, meninggalkan ajaran
kafir, serta mengikuti ajaran Nabi Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub
As. Atau kalau boleh dikatakan, “Paling tidak sang raja telah
setuju dengan agama tauhid yang dianut Nabi Yusuf, memberi
kebebasan kepada Nabi Yusuf untuk berdakwah dan mengajak
rakyat kepada tauhid, serta mencela orang yang menentang
beliau. Selain itu, sang raja juga tidak menentang Nabi Yusuf
atau membebaninya dengan sesuatu yang bertentangan
dengan beliau.
Dengan demikian, cukuplah hal ini menjadi bukti adanya
perbedaan yang sangat jauh antara kondisi Nabi Yusuf dan
para pembela thaghut berikut para menterinya hari ini atau
orang-orang yang ikut nimbrung dalam lembaga legislatif.
4. Jika Anda telah memahami keterangan di atas serta
yakin jabatan Nabi Yusuf dalam pemerintahan raja Mesir tak
menyelisihi tauhid dan bertentangan dengan millah Ibrahim,
sebagaimana jabatan kementerian pada hari ini, meskipun
raja mesir saat itu belum masuk Islam dan tetap berada dalam
kekafirannya, maka masalah jabatan Nabi Yusuf dalam
pemerintahan mesir hanya merupakan masalah furu’ (cabang)
yang tak berkaitan dengan masalah pokok dalam Islam, yakni
tauhid. Sebab, kami sebelumnya telah menjelaskan bahwa
Nabi Yusuf tak pernah melakukan kesyirikan atau kekafiran.
Selain itu, beliau juga tidak membantu kaum kafir serta
membuat undang-undang yang menyaingi undang-undang
Allah. Akan tetapi, beliau tetap berdakwah mengajak orang
untuk bertauhid dan melarang orang melakukan seluruh
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
110
Melawan Penguasa
perbuatan di atas. Berkenaan dengan masalah furu’, Allah telah
berfirman:
... ≅39 $Ψ=è _ ¯Ν3ΖΒ πã° %´`$γΨΒ´ρ ... ∩⊆∇∪
“…Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan
aturan dan jalan yang terang…” (Al-Mâ’idah: 48).
Syariat para Nabi tidak selalu sama dalam masalah furu’,
tetapi tetap sama dalam masalah tauhid. Nabi Muhammad
Saw bersabda:
“Kami para nabi bagaikan saudara dari berbagai ibu, inti
agama kami adalah satu.” (HR Al-Bukhari).
Maksudnya, saudara seayah dari ibu yang berbeda. Hadits
di atas mengisyaratkan bahwa inti ajaran para nabi ialah satu,
yakni tauhid. Sementara dalam masalah furu’, ajaran para
Nabi tidaklah selalu sama. Bisa jadi sesuatu menjadi haram
bagi syariat seorang Nabi sebelum Nabi Muhammad Saw,
tetapi halal bagi umat Muhammad, seperti ghanimah dan
lainnya. Oleh sebab itu, tidak setiap syariat nabi-nabi sebelum
Nabi kita bisa menjadi syariat kita, apalagi jika terdapat dalil
dari syariat kita yang menentangnya.
Dal am hal i ni , ada sebuah hadi t s shahi h yang
mengharamkan kita menerapkan syariat Nabi Yusuf.
Ibnu Hibban telah meriwayatkan di dalam Shahih-nya,
begitu pula Abu Ya’la dan Ath-Thabrani, bahwa Nabi
bersabda:
111
“Akan datang kepada kalian pemimpin yang bodoh,
mereka mengambil manusia yang paling jelek sebagai
teman, mereka menunda shalat hingga habis waktunya,
barangsiapa ada di antara kalian yang mendapati mereka,
maka jangan sampai menjadi pembantu, polisi, tukang
mengambil pajak, dan penjaga harta mereka.”
Pendapat terkuat menyatakan bahwa pemerintah yang
disebut dalam hadits di atas bukanlah pemerintahan kafir,
tetapi mereka ialah pendosa dan bodoh. Sebab ketika
Rasulullah mengingatkan sesuatu, beliau menyebutkan
kejelekan yang terbesar. Karena itu, jika pemimpin yang
disebutkan di dalam hadits tersebut kafir, tentulah Nabi sudah
menjelaskan. Tetapi, dosa terbesar mereka yang beliau Saw
sebutkan ialah mengambil orang terjelek sebagai pembantu
serta orang terdekat mereka dan menunda shalat hingga habis
waktunya. Berkenaan dengan pemimpin seperti itu, Nabi Saw
melarang kita menjadi penjaga harta mereka atau menteri
keuangan yang menjaga harta mereka.
Sekadar menjadi menteri keuangan pada pemerintahan
yang jahat, tapi belum sampai pada kekafiran saja dilarang,
lantas bagaimana hukum memegang jabatan menteri
keuangan pada raja yang kafir dan musyrik?
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
112
Melawan Penguasa
Α$% ©_=è_# ’?ã ⎦⎩#“z Ú¯‘{# ’Τ) áŠm 'ΟŠ=æ ∩∈∈∪
“Berkata Yusuf, ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara
(Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai
menjaga lagi berpengetahuan’.” (Yusuf: 55).
Nash ini menjadi bukti yang jelas bahwa tindakan Nabi
Yusuf merupakan syariat Nabi sebelum Nabi kita dan telah
dihapus dari syariat kita. Wallahu a’lam. Selain itu, penjelasan
ini cukup jelas bagi mereka yang benar-benar mencari
petunjuk. Namun, siapa saja yang lebih mengedepankan
analogi serta pemikirannya sendiri dan pendapat orang lain
atas dalil syar’i dan bukti-bukti, meskipun gunung runtuh di
depannya ia tetap tak akan mendapatkan petunjuk.
... ⎯Β´ρ Š`ƒ ´!# …μF⊥Fù ⎯=ù 7=ϑ? …μ9 š∅Β ´!# $↔‹© ... ∩⊆⊇∪
“Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka
sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun
(yang datang) dari Allah.” (Al-Mâ’idah: 41).
Sebelum pembahasan ini saya akhiri, saya mengingatkan
bahwa yang membolehkan kesyirikan dan kekufuran dengan
analogi mereka, serta membolehkan orang masuk ke majelis
legislatif yang musyrik dan menjabat sebagai menteri dalam
pemerintahan kafir, mereka itu mencampuradukkan ke dalam
alasan dan syubhat-syubhat mereka tentang ucapan Ibnu
Taimiyah yang membahas menjabatnya Nabi Yusuf sebagai
menteri di kerajaan Mesir.
Pada hakikatnya, hal seperti ini merupakan
pencampuradukkan antara yang haq dan batil. Sebab, Ibnu
Taimiyah tak pernah menggunakan kisah Nabi Yusuf sebagai
113
dalil untuk membolehkan keikutsertaan dalam kekafiran serta
membuat undang-undang dan berhukum dengan selain hukum
Allah.
Kita berlindung kepada Allah dari asumsi seperti itu. Kita
yakin bahwa Ibnu Taimiyah, agama, dan akalnya tak mungkin
terkotori ungkapan hina yang tak ada seorang pun berani
mengucapkannya, kecuali orang-orang yang hina pada zaman
akhir ini.
Hal demikian ini berani kami katakan, meskipun dalam
pembahasan ini kami belum pernah merujuk langsung pada
tulisan beliau. Sebab, ucapan seperti ini tak akan diucapkan
oleh orang berakal, terlebih lagi seorang ulama besar sekaliber
Ibnu Taimiyah. Bagaimana hal ini, padahal ucapan beliau
dalam pembahasan ini sangat jelas yang seluruhnya
menekankan pada pembahasan mengenai kaidah, Dar’u
A’zhamil Mafsadatain wa Tahshîlu a’lal Mashlahatain ‘Indat
Ta’ârudh (Menolak yang terbesar dari dua mafsadah dan
mencapai yang terbaik dari dua maslahat ketika muncul
bersamaan).
Selain itu, Anda juga telah mengetahui bahwa maslahat
yang terbesar di dunia adalah menegakkan tauhid. Begitu pula
sebaliknya, kejelekan yang terbesar adalah syirik. Ibnu
Taimiyah telah mengatakan bahwa Nabi Yusuf memerintah
dengan keadilan dan kebaikan semampunya.
Keterangan ini tercantum dalam pembahasan Hisbah dalam
Majmu’ Fatawa jil. XXVIII hlm. 68. Ibnu Taimiyah mengatakan,
“Nabi Yusuf melakukan kebajikan dan keadilan semampunya
dan mengerahkan seluruh daya upaya dalam mengajak mereka
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
114
Melawan Penguasa
untuk beriman.” Di samping itu, beliau juga mengatakan,
“Tetapi, Nabi Yusuf melakukan keadilan dan kebajikan
semampunya.” (Majmû‘ul Fatâwâ jil. XX hlm. 56).
Ibnu Taimiyah tak pernah mengatakan Nabi Yusuf telah
membuat undang-undang baru yang menandingi syariat
Allah, ikut-ikutan memberlakukan selain hukum Allah, atau
mengikuti sistem demokrasi dan agama-agama lain yang
menghilangkan agama Allah, sebagaimana keadaan mereka
yang mencampurkan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
dengan analogi dan alasan-alasan mereka sendiri untuk
menyesatkan orang awam, mencampuradukkan kebenaran
dengan kebatilan, serta mencampuradukkan antara cahaya
dan kegelapan.
Wahai saudaraku setauhid, pemimpin dan dalil yang kita
jadikan rujukan tatkala berselisih ialah wahyu Allah, sementara
setiap orang selain Rasulullah, perkataannya dapat diambil
dan ditolak. Sehingga, kalau benar Ibnu Taimiyah betul-betul
mengatakan seperti yang mereka maksudkan, tapi itu tak
mungkin, kami akan tetap menolaknya sekalipun yang
mengucapkan ialah dari ulama yang lebih besar kalibernya
daripada Ibnu Taimiyah sampai ia menunjukkan dalil dari
wahyu:
¯≅% $ϑΡ) Ν2'‘‹Ρ& ©`r´θ9$/
“Katakanlah (hai Muhammad), ‘Sesungguhnya Aku hanya
memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan
wahyu’.” (Al-Anbiyâ’: 45).
... ¯≅% #θ?$δ ¯Ν6´Ζ≈δ¯/ β) `ΟGΖ2 š ⎥⎫%‰≈¹ ∩⊇⊇⊇∪
115
“Katakanlah, ‘Tunjukkan kebenaranmu jika kamu adalah
orang-orang yang benar’.” (Al-Baqarah: 111).
Berhati-hatil ah serta gigitl ah tauhid dengan gigi
gerahammu. Janganlah sampai Anda terpesona oleh
kerancuan yang dibuat para pembela syirik, musuh-musuh
tauhid, serta terpengaruh dengan penyimpangan mereka.
Tetapi, bergabunglah dengan kelompok yang memegang
agama Allah, sebagaimana sabda Nabi:
“Orang-orang yang menyelisihi dan menghinakan mereka
tidak akan membahayakan mereka sampai datangnya
perkara Allah (kiamat), sedangkan mereka terus seperti itu.”
(Fathul Bârî, juz XIII, hlm. 95).
Syubhat Kelima: Syubhat Kelima: Syubhat Kelima: Syubhat Kelima: Syubhat Kelima:
Najasyi Tidak Memberlakukan Syariat
Allah, Tetapi Tetap Dianggap Muslim
Dalam rangka membela para thaghut, orang-orang yang
memperturutkan hawa nafsu beralasan dengan kisah Raja
Najasyi yang membuat agama sendiri, baik mereka itu
pemerintah maupun anggota legislatif. Mereka mengatakan,
“Setelah masuk Islam, Raja Najasyi tidak memberlakukan
hukum Allah di wilayahnya hingga akhir hayatnya, tetapi Nabi
tetap menyebutnya sebagai hamba yang saleh. Saat Raja
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
116
Melawan Penguasa
Najasyi meninggal dunia, Nabi pun menshalatkannya dan
menyuruh para shahabat untuk melakukan shalat gaib.”
Pertama, kami katakan dengan mengharap taufik dari
Allah, “Mereka yang melontarkan alasan lemah ini harus bisa
menghadirkan dalil yang valid dan jelas bahwa Najasyi tak
memberlakukan hukum Allah di wilayahnya setelah masuk Is-
lam. Saya telah menelusuri seluruh hujah mereka, tetapi yang
saya temukan bahwa hujahnya tersebut hanyalah kesimpulan
dan asumsi yang tak berdasarkan dalil yang valid dan bukti
yang nyata. Allah berfirman:
... ¯≅% #θ?$δ ¯Ν6´Ζ≈δ¯/ β) `ΟGΖ2 š ⎥⎫%‰≈¹ ∩⊇⊇⊇∪
“Katakanlah, ‘Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu
adalah orang yang benar’.” (Al-Baqarah: 111).
Jika mereka tidak bisa mendatangkan bukti, mereka
bukanlah orang yang berkata benar, tetapi mereka ialah para
pembohong besar.
Kedua, perkara yang kita sepakati dengan orang-orang yang
mendebat kita ialah bahwa Najasyi wafat sebelum syariat Is-
lam turun secara lengkap. Hal yang pasti bahwa Najasyi wafat
sebelum turunnya ayat:
... Π¯θ´‹9# M=ϑ.& ¯Ν39 ¯Ν3ΨƒŠ MϑÿC&´ρ ¯Ν3‹=æ ©LϑèΡ
MŠÊ´‘´ρ `Ν 39 ´Ν≈=`™}# $´ΨƒŠ ... ∩⊂∪
“…Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu
agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku,
dan telah Ku-ridhai Islam menjadi agama bagimu...” (Al-
Mâ’idah: 3).
117
Sebab, ayat ini turun pada saat haji Wada’, sementara
Najasyi sebagaimana dikisahkan Ibnu Katsir dan ulama
lainnya, wafat sebelum Fathu Makkah.
25
Wujud berhukum pada apa-apa yang diturunkan Allah yang
menjadi kewajibannya pada saat itu ialah mengerjakan ajaran
Islam yang telah sampai kepadanya. Sebab, pelaksanaan
kewajiban dalam perkara ini haruslah dilandasi dengan ayat
Al-Qur’an. Allah berfirman:
... ´©rρ&´ρ ´’<) #‹≈δ `β#´™¯)9# Ν.´‘‹Ρ{ ⎯μ/ ⎯Β´ρ =/ ... ∩⊇®∪
“Dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya
dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan
kepada orang-orang yang sampai Al-Qur’an (kepadanya).”
(Al-An’am: 19).
Alat komunikasi dan transportasi pada saat itu tidak
semudah sekarang. Sehingga, terkadang ajaran Islam
memerlukan beberapa tahun untuk sampai kepada sebagian
orang. Bahkan, orang tersebut baru akan mengetahuinya
setelah menempuh perjalanan jauh untuk bertemu Nabi.
Contoh konkret dalam perkara ini ialah kisah yang
diriwayatkan Al-Bukhari dan yang lainnya, “Dari Abdullah bin
Mas’ud, ia berkata, ‘Dahulu, kami memberi salam kepada Nabi
ketika sedang menunaikan shalat, dan beliau menjawab salam
kami. Akan tetapi, setelah pulang dari Habasyah, kami memberi
salam kepadanya, namun beliau Saw tidak menjawabnya, lalu
beliau bersabda (setelah shalat):
25 Al-Bidayah wan Nihayah jil. III hlm. 277.
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
118
Melawan Penguasa
“Sesungguhnya, di dalam shalat ada kesibukan”.”
Jika shahabat Nabi yang saat itu berada di Habasyah dan
paham bahasa Arab serta terus mengikuti perkembangan
berita dari Nabi saja tidak mendengar dihapuskannya hukum
bolehnya berbicara dan menjawab salam saat shalat, padahal
shalat ialah ibadah yang selalu dilakukan oleh Nabi dan
beliaulah yang mengimami shalat jamaah sehari lima waktu,
lantas bagaimana dengan ibadah dan syariat-syariat lain yang
jarang dilakukan? Berkaitan dengan hal ini pula, apakah
orang-orang yang pada hari ini menjadikan syirik demokrasi
berargumen bahwa mereka belum mendengar Al-Qur’an dan
Islam agar bisa menyamakan dirinya dengan Najasyi?
Ketiga, setelah memahami poin sebelumnya, maka wajib
dipahami bahwa Najasyi telah melaksanakan hukum Allah
yang telah sampai kepadanya. Barangsiapa tak setuju dengan
hal ini, argumen yang dimilikinya tak bisa diterima kecuali
dengan bukti yang nyata.
... ¯≅% #θ?$δ ¯Ν6´Ζ≈δ¯/ β) `ΟGΖ2 š ⎥⎫%‰≈¹ ∩⊇⊇⊇∪
“Katakanlah, ‘Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu
adalah orang yang benar’.” (Al-Baqarah: 111).
Dalil-dalil yang ditunjukkan oleh para ulama menunjukkan,
Najasyi telah memberlakukan ajaran Allah yang sampai
kepadanya saat itu.
1. Di antara kewajiban Najasyi saat itu ial ah
melaksanakan ajaran Islam, yakni memurnikan tauhid,
119
beriman kepada Nabi Muhammad, serta mengimani bahwa
Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Najasyi telah
melaksanakan hal tersebut dengan dalil yang bisa dilihat pada
surat yang dikirim oleh Najasyi kepada Nabi. Hal ini disebutkan
oleh Umar bin Sulaiman Al-Asyqar dalam kitabnya, Hukmul
Musyârakati fil Wazârati wal Majâlisin Niyâbiyyah (Hukum
bergabung ke dalam lembaga kementerian dan legislatif).
2. Selain itu, Najasyi telah berbaiat untuk taat kepada
Nabi serta menyatakan niatnya untuk berhijrah. Di dalam
suratnya kepada Nabi, Najasyi menuliskan bahwa ia telah
berbaiat pada Nabi, juga anaknya telah berbaiat kepada Ja’far
dan para shahabatnya serta masuk Islam di hadapan Ja’far.
Selain itu, Najasyi juga telah menyuruh anaknya, Ariha bin
Asham bin Abjar, untuk menghadap Rasulullah dengan
membawa surat yang berisi, “Jika Anda menyuruh saya untuk
datang kepada Anda, pastilah aku laksanakan wahai
Rasulullah. Karena sesungguhnya aku telah bersaksi bahwa
ajaranmu adalah benar.”
Bisa jadi Najasyi langsung wafat setelah menulis surat itu
atau Nabi belum membalas suratnya. Ini semua merupakan
perkara rahasia yang tidak jelas dan tampak dalam riwayat di
atas. Karenanya, tidak dapat dipastikan dan dijadikan sebagai
landasan berpendapat, apalagi untuk membantah tauhid dan
landasan agama.
3. Najasyi telah berperan dalam menolong agama Nabi
serta para shahabatnya. Najasyi telah menolong para shahabat
Nabi yang berhijrah dari Mekkah dan melindungi serta
menjamin keselamatan mereka. Najasyi tidak mengembalikan
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
120
Melawan Penguasa
mereka kepada Quraisy, tetapi menjamin keamanan mereka
dari gangguan kaum Kristen Etiopia, meskipun para shahabat
berterus terang atas keyakinan mereka tentang Nabi Isa.
Bahkan, seperti yang tercantum dalam buku Sulaiman Al-
Asyqar, Najasyi menulis sebuah surat lain kepada Nabi, bahwa
ia mengutus anaknya bersama 60 orang dari Habasyah untuk
menghadap Nabi. Semua itu menunjukkan dukungan Najasyi
kepada Nabi, bahwa ia mengikuti dan siap menolong dakwah
Islam.
Meskipun demikian, di sana Umar Al-Asyqar masih ngawur
dan memastikan dalam bukunya tersebut, di hlm. 73, bahwa
Najasyi tidak melaksanakan ajaran Islam. Dengan demikian,
hal ini sebagaimana yang Anda ketahui bersama merupakan
suatu kebohongan dan diada-adakan. Sebenarnya Najasyi
melaksanakan syariat Allah yang sampai kepadanya.
Barangsiapa yang menyangka kebalikannya, ia tak boleh
dipercaya, kecuali jika ia mendatangkan bukti yang benar dan
dalil yang pasti, serta ia termasuk orang-orang yang berdusta.
Umar Al-Asyqar tidak mendukung pendapatnya dengan
dalil yang kuat dan jelas. Namun, ia sekadar mengambil dari
literatur sejarah, lantas dijadikannya sebagai dalil. Padahal,
kita tahu bagaimana validitas kitab-kitab sejarah.
... ¯≅% #θ?$δ ¯Ν6´Ζ≈δ¯/ β) `ΟGΖ2 š ⎥⎫%‰≈¹ ∩⊇⊇⊇∪
“Katakanlah, ‘Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu
adalah orang yang benar’.” (Al-Baqarah: 111).
Al-Qahtani Al-Andalusi berkata di dalam Nuniyah-nya:
Janganlah kamu percaya setiap isi sejarah
121
Ketika para perawi mengumpulkannya dan jari-jari menulisnya
Ambillah hadits yang terjaga dari ahlinya, apalagi ulama besar
hadits
Apalagi dari orang-orang yang arif dan bijaksana
Lalu, ada orang yang berkata kepadanya dan kepada para
pengikutnya.
4. Kesimpulan yang bisa diambil dari kisah Najasyi ialah
seorang raja kafir yang baru saja masuk Islam dan ia tetap
pada jabatannya sebagai raja. Lantas, ia menunjukkan
keseriusannya dalam beriman dengan berserah diri secara total
kepada perintah Nabi. Hal ini diwujudkannya dengan cara
hendak mengirim anaknya disertai beberapa rakyatnya kepada
Nabi memintakan izin bagi Najasyi untuk berhijrah kepada
beliau Saw.
Najasyi juga menunjukkan keseriusannya dalam menolong
dakwah Nabi dan para shahabat yang berhijrah ke Habasyah.
Lebih jauh dari itu, Najasyi juga menyatakan berlepas diri
dari keyakinan-keyakinan yang menyelisihi keyakinannya serta
keyakinan kaum dan nenek moyangnya, yakni Kristen. Selain
itu, Najasyi juga berusaha untuk mencari kebenaran dan
mempelajari Islam. Ia terus berupaya dan berusaha sampai
meninggal, sebelum syariat turun secara sempurna dan sampai
kepadanya.
Demikianlah yang tergambar dalam riwayat-riwayat yang
menceritakan tentang Najasyi. Karena itu, kami menantang
orang-orang yang menentang pendapat kami untuk
menetapkan pendapat lain, tetapi mereka harus menyertakan
dalil yang jelas dan valid, bukan dalil dari buku sejarah yang
tidak memiliki sanad dan tidak bisa dibuktikan validitasnya.
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
122
Melawan Penguasa
Adapun kesimpulan yang diambil orang-orang yang ingin
menjustifikasi kedudukannya merupakan sebuah gambaran
yang sangat jelek dan menyimpang, yakni gambaran
sekelompok orang yang menyatakan (Najasyi—edt) masuk
Isl am tanpa berl epas diri dari perkara-perkara yang
membatalkannya.
Lebih dari itu, mereka menyatakan berpegang terhadap
Islam dengan perkara-perkara yang menyelisihinya dalam
waktu yang bersamaan serta berbangga dengannya. Mereka
tidak berlepas diri dari agama demokrasi, sebagaimana Najasyi
yang melepaskan diri dari ikatan agama Kristen. Tidak, mereka
tidak melakukannya. Akan tetapi, mereka tetap berbangga dan
memuji demokrasi, mengajak manusia menganutnya, dan
masuk ke dalam ideologinya yang rusak.
Selain itu, mereka juga menjadikan pemimpin mereka
sebagai rabb-rabb dan ilah-ilah yang menentukan syariat dan
hukum tanpa legalitas dari Allah. Bahkan, para menteri,
anggota legislatif, dan rakyat yang setuju dengan mereka turut
serta dalam membuat hukum yang dilegalkan dalam undang-
undang. Padahal, perbuatan ini ialah tindakan kekafiran.
Mereka juga bersikeras meneruskan perbuatan syirik ini
serta mencela dan menentang siapa saja yang tak sependapat
dan orang yang berusaha menghapuskan kesyirikan mereka.
Dan semuanya ini terjadi setelah Islam sempurna, Al-Qur’an
sampai kepada mereka, serta sunnah dan perkataan ulama
salaf telah mereka dengar.
Bersumpahlah kepada Allah. Apakah realitas kaum
muslimin yang mengikuti demokrasi hari ini sama seperti
123
seseorang yang baru masuk Islam dan tetap mencari kebenaran
serta selalu ingin menolong Islam, padahal Islam belum sampai
kepadanya secara sempurna. Sungguh kedua kondisi ini sangat
berbeda. Demi Allah, kedua kondisi ini tak akan pernah sama,
hingga burung gagak yang hitam kelam beruban.
Ya, memang terkadang keduanya bisa menjadi sama jika
ukurannya bukan kebenaran, tetapi dengan ukuran orang-
orang yang curang dan ditutup nuraninya oleh Allah. Akhirnya,
mereka pun mengikuti agama demokrasi yang bertentangan
dengan tauhid dan Islam.
≅ƒ´ρ ⎦⎫Üϑ=9 ∩⊇∪ ⎦⎪%!# #Œ) #θ9$G.# ’?ã ¨$Ζ9#
βθù¯θG`¡ „ ∩⊄∪ #Œ)´ρ ¯Νδθ9$. ρ& ¯ΝδθΡ—ρ βρ£ƒ† ∩⊂∪
Ÿω& ¯ ⎯´àƒ 7×≈9`ρ& Ν·κΞ& βθOθ`è¯6Β ∩⊆∪ Θ¯θ´‹9 Λ⎧àã ∩∈∪
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang,
(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari
orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka
menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka
mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa
sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari
yang besar.” (Al-Muthaffifin: 1-5).
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
124
Melawan Penguasa
Syubhat Keenam: Syubhat Keenam: Syubhat Keenam: Syubhat Keenam: Syubhat Keenam:
Pemerintahan Hari Ini Tidak Dapat Divonis
Kafir. Karena Mereka Tidak Membuat
Undang-Undang, Tetapi Hanya Mewarisinya
dari Pemerintahan Sebelumnya
Sebagian orang terkadang berpendapat pemerintah tak pernah
merancang penolakan hukum dan penggantian undang-
undang Islam, tetapi hanya melanjutkan pelaksanaan undang-
undang dari para pendahulu mereka dan mereka selalu
berusaha untuk mengubahnya. Tak diragukan lagi, ungkapan
ini termasuk syubhat yang dijadikan alasan oleh banyak
orang, baik mereka yang sengaja berbohong maupun mereka
yang bodoh tapi sok pintar.
Adapun jawaban untuk pernyataan ini dilihat dari dua sisi:
Pertama, telah diketahui dengan pasti bahwa di dalam Is-
lam, bahkan di dalam seluruh agama para nabi dan rasul,
tidak ada perbedaan hukum antara yang melakukan kekafiran
pertama kali dan yang melanjutkan kekafiran, tetapi ia ridha
dan menerima.
Tidak ada perbedaan antara orang-orang yang pertama
kali mengubah Taurat dan Injil dengan kaum Yahudi dan
Nashrani yang mengikuti mereka setelahnya, selama mereka
mengakui dan mengikutinya. Tidak ada perbedaan antara
orang yang mempelopori penyembahan berhala dengan
orang-orang yang mengikutinya. Tidak ada perbedaan antara
125
Amr bin Luhay Al-Khuza’i—orang pertama yang mengubah
agama Ibrahim dan memasukkan berhala ke negeri Hijaz serta
mengajak manusia untuk menyembah berhala tersebut dan
membuat syariat serta aturan agama baru tanpa seizin Allah—
dengan bangsa Arab para penyembah berhal a yang
mengikutinya.
Al-Qur’an telah mengisahkan dosa-dosa kaum Yahudi
terdahulu kepada para Ahlul Kitab pada zaman Nabi. Sebab,
mereka masih mengikuti dan setuju dengan perbuatan
pendahulu mereka. Allah berfirman:
#Œ)´ρ Ÿ≅Š% ¯Νγ 9 #θ`ΨΒ#´™ $ϑ/ Α“Ρ& ´!# #θ9$% ⎯ΒσΡ $ϑ/ Α“Ρ&
$´ΖŠ=ã šχρ`3ƒ´ρ $ϑ/ …ν´ ™#´‘´ρ ´θδ´ρ ‘,s9# $%´‰Á`Β $ϑ9
¯ΝγèΒ ¯≅% ´Ν=ù βθ=G)? ´™$´Š;Ρ & ´!# ⎯Β `≅¯6% β) ΝGΨ.
š⎥⎫ΖΒσ•Β ∩®⊇∪
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Berimanlah
kepada Al-Qur’an yang diturunkan Allah,’ mereka berkata,
‘Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada
kami.’ Dan mereka kafir kepada Al-Qur’an yang diturunkan
sesudahnya, sedang Al-Qur’an itu adalah (Kitab) yang hak;
yang membenarkan apa yang ada pada mereka.
Katakanlah, ‘Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi
Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?’.” (Al-
Baqarah: 91).
Allah berfirman kepada mereka, “Jika kalian memang
benar-benar mengaku beriman terhadap apa yang diturunkan
atas kalian, mengapa kalian membunuh para nabi yang telah
datang dengan membawa risalah untuk membenarkan Taurat,
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
126
Melawan Penguasa
padahal kalian telah diperintahkan untuk mengikuti mereka
dan beriman pada risalah mereka.”
Pernyataan ini ditujukan kepada kaum Yahudi yang hidup
pada zaman Nabi Muhammad Saw. Semua mengetahui,
bahwa saat itu tidak ada kaum Yahudi yang membunuh nabi,
tetapi perbuatan itu dilakukan oleh para pendahulu mereka.
Meskipun demikian, mereka tetap terkena celaan karena
menyetujui perbuatan tersebut. Hal seperti ini banyak
tercantum di dalam Al-Qur’an.
Kedua, sesungguhnya argumen yang menyatakan bahwa
pemerintahan ini senantiasa berusaha untuk berubah,
sehingga hal itu menghilangkan keridhaan dan persetujuan
mereka terhadap undang-undang tersebut memerlukan
penjelasan yang terperinci.
Hal itu karena tak ada perselisihan dalam prinsip yang
menyatakan bahwa penguasa yang melanjutkan undang-
undang kafir para pendahulunya, secara terang-terangan
mengumumkan pelepasan dirinya dan pengingkarannya
terhadap undang-undang tersebut. Lantas, ia juga
mengerahkan upaya untuk mengubah dan menghilangkan
undang-undang kafir itu. Karenanya, tak diragukan lagi bahwa
hukum penguasa seperti itu tak bisa disamakan dengan para
pendahul unya. Sel ain itu, ia juga tak akan dimintai
pertanggungjawaban atas kejahatan yang dil akukan
pendahulunya. Bahkan, ia di dalam usahanya tersebut benar
dan termasuk golongan mujahid.
Adapun jika ia bersilat lidah, mengatakan dirinya beriman
dan mengaku ingin mengubah keadaan kepada penerapan
127
syariat, tapi setelah itu ternyata ia malah mewujudkan
usahanya dengan membuat program basa-basi hanya demi
kepentingan propaganda, mengarahkannya kepada kebatilan
yang diwariskan para pendahul unya dal am rangka
menguatkan dan memperkokoh pondasinya, memusuhi orang
yang menentangnya, mendebat orang yang tidak setuju
dengannya, bahkan berteman dan bermusuhan karenanya,
maka statusnya berbeda.
Barangsiapa yang ridha dengan syariat Allah, ia akan
mendekat dan berwali kepadanya. Sebaliknya, barangsiapa
yang tidak senang dengannya, ia akan menjauhi dan
memusuhinya. Bahkan, ia malah merasa tercekik ketika
mendengar suara yang menyerukan kebenaran serta
penegakan agama dan berpegang teguh pada syariat.
Dalam kondisi seperti itu, kita tak boleh menghalangi
ucapan yang menerangkan kefasikan undang-undang tersebut,
ungkapan yang menjelaskan kebatilannya, dan persangkaan
yang mengungkap kedustaannya. Lebih dari itu, orang seperti
itu lebih pantas dimasukkan ke dalam golongan orang-orang
zindiq yang menurut sebagian besar ulama taubat mereka tidak
diterima.
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
128
Melawan Penguasa
Syubhat-Syubhat Lain: Syubhat-Syubhat Lain: Syubhat-Syubhat Lain: Syubhat-Syubhat Lain: Syubhat-Syubhat Lain:
1. Pemerintahan yang Ada Tidak Dapat Dikafirkan, Kecuali Jika Mereka
Menolak Hukum Allah dan Menghalalkan Bolehnya Berhukum dengan
Selain Hukum Allah
Ada tiga jawaban untuk syubhat ini:
a. Membangkang dan menghalalkan termasuk hal-hal
yang menyebabkan seseorang menjadi kafir. Akan tetapi,
keduanya tidak termasuk sebab-sebab kekafiran yang
tercantum di dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang menunjukkan
kafirnya pemerintahan (yang tidak memberlakukan hukum
Allah), seperti perbuatan meninggalkan hukum Allah atau
berhukum kepada selainnya, sebagaimana dalam ayat:
⎯Β´ρ `Ο9 Ο3t†
“Barangsiapa tidak berhukum…” (Al-Maidah: 44).
Atau menaati pemberlakuan syariat yang menyimpang dari
syariat Allah yang terdapat di dalam firman-Nya:
#ρ ‹ƒB# ¯Νδ´‘$6m& ¯Νγ´Ζ≈6δ'‘´ρ $/$/¯‘&
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib
mereka sebagai Tuhan…” (At-Taubah: 31).
Dan firman-Nya:
β)´ρ ¯ΝδθϑGèÛ & ¯Ν3Ρ) βθ.³RQ ∩⊇⊄⊇∪
“…dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu
tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (Al-An’am: 121)
129
b. Dosa-dosa yang bisa menyebabkan pelakunya menjadi
kafir dengan sendirinya, seperti berhukum dengan selain
hukum Allah, tidak mensyaratkan adanya penentangan atau
penghalalan dalam hati terhadap dosa tersebut. Bahkan, siapa
saja yang mensyaratkan adanya hal tersebut, berarti ia telah
berpendapat dengan pendapat Murji’ah ekstrim yang telah
divonis kafir oleh ulama salaf.
c. Di dalam perbuatan berhukum dengan selain hukum
Islam tersirat penghalalan yang menyebabkan seseorang
menjadi kafir.
2627
2. Undang-Undang yang Berlaku Saat Ini Mengandung Hukum Syariat
Islam
Meskipun demikian, mereka tetap tidak bisa terhindar dari
kekafiran karena ancaman yang tercantum di dalam ayat:
... ⎯Β´ρ `Ο9 Ο3t† $ϑ/ Α“Ρ& ´!# 7×≈9`ρ'ù `Νδ βρ`≈39# ∩⊆⊆∪
“…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang
diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang
yang kafir.” (Al-Mâ’idah: 44).
Ancaman kekafiran tetap berlaku atas mereka, walaupun
mereka hanya mengganti satu saja hukum Allah, seperti rajam
bagi pezina. Untuk terkena ancaman ini tidak disyaratkan
harus mengganti seluruh hukum. Hal ini sebagaimana
tercantum dalam sanggahan Abu Hayyan Al-Andalusi dan
26 Karena ia telah menyatakan bolehnya berhukum dengan selain hukum Allah
dengan perbuatannya.
27 Lihat: Mukadimah XVII dalam Al-Jâmi` fî Thalabi Al-‘Ilmi Asy-Syarîf.
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
130
Melawan Penguasa
Ibnul Qayyim atas pendapat Abdul Aziz Al-Kinani yang saya
nukil dalam akhir pembahasan keenam.
Jika Allah telah memvonis kafir siapa saja yang mengganti
satu hukum saja dari hukum-hukum-Nya, lantas bagaimana
dengan orang yang tidak memberlakukan seluruh ketentuan
hukum dan membolehkan perbuatan-perbuatan yang sudah
jelas keharamannya?
Kalau kisah dalam sababun nuzul (sebab turunnya ayat)
termasuk dalam pembahasan topik ayat—sebagaimana dalam
pengantar—maka Anda akan mendapati realitas yang terjadi
saat ini lebih berat dari kisah yang terjadi dalam sababun nuzul
ayat ini. Bahkan, keberadaannya lebih layak untuk masuk ke
dalam hukum ayat.
Hal ini masih ditambah dengan fatwa Ibnu Katsir yang
menerangkan kafirnya pemerintahan Tatar, meskipun kitab
undang-undang mereka (Al-Yasiq) memuat sebagian hukum
syariat Islam. Sebab, kedua fenomena tersebut sama,
hukumnya pun tidak berbeda. Allah berfirman:
$Β´ρ ⎯Βσ`ƒ ΝδY2& ´!$/ ω) Νδ´ρ βθ.³•Β ∩⊇⊃∉∪
“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada
Allah, kecuali dalam keadaan mempersekutukan Allah
(dengan sembahan-sembahan lain).” (Yusuf: 106).
3. Tidak Bolehnya Menerapkan Fatwa Ulama Tentang Tartar Pada
Pemerintahan Hari Ini
Jawaban pernyataan ini:
a. Alasan untuk mengafirkan pemerintah seperti itu ialah dalil-
131
dalil syar’i.
b. Rambu-rambu kekafiran yang ditabrak oleh pemerintah
hari ini lebih banyak daripada pemerintahan Tartar.
c. Kita dibolehkan mengikuti fatwa-fatwa ulama tentang
persoalan Tartar, sebagaimana yang telah kita bahas
sebelumnya bahwa kita dibolehkan mengikuti pendapat
ulama yang telah wafat. Lantas, kenapa kita tak boleh
mengikuti pendapat mereka, padahal pendapat mereka
sesuai dengan nash dan ijmak kaum muslimin? Kenapa
kita dilarang mengambil pendapat mereka, padahal
pendapat mereka bukan hanya sekadar pendapat, tapi
merupakan nukilan dari ijmak?
Kesimpulannya: Mengambil dan melaksanakan fatwa
mereka pada hakikatnya mengambil serta melaksanakan ijmak
ulama, dan bukan sekadar taklid buta yang tidak memiliki dalil
pendukung.
4. Undang-Undang Selain Allah yang Diterapkan Pemerintah
Mencantumkan Syariat Islam sebagai Sumber Utama Undang-
Undang
Jawaban masalah ini terangkum dalam tiga poin:
a. Di dalam undang-undang memang disebutkan bahwa
syariat Islam adalah sumber utama hukum. Namun,
keberadaannya bukan satu-satunya sumber, melainkan masih
ada sumber hukum lain selain aturan Allah. Atau, dengan kata
lain, masih terdapat tuhan lain yang setara dengan Allah yang
bisa mensyariatkan hukum.
Sebelumnya telah dijelaskan, bahwa pencantuman seperti
ini tetap menunjukkan kekafiran mereka dengan sangat jelas.
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
132
Melawan Penguasa
Sebab, dengan terang-terangan, berarti pencantuman itu
mengakui adanya Rabb selain Allah. Allah berfirman:
#ρ‹ƒB# ¯Νδ´‘$6m& ¯Νγ´Ζ≈6δ'‘´ρ $/$/¯‘& ⎯Β χρŠ ´!#
x‹¡ϑ9#´ρ š∅¯/# ´Νƒ¯Β $Β´ρ #ρ`Β& ω) #ρ‰6è´‹9 $´γ≈9) #´‰m≡´ρ
ω μ≈9) ω) ´θδ …μΨ≈s¯7™ $´ϑã šχθ2±„ ∩⊂⊇∪
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib
mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka
mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam; padahal
mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa;
tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci
Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At-Taubah:
31).
Mereka (orang-orang alim dan para rahib) disebut sebagai
tuhan karena telah membuat syariat sendiri dan ditaati oleh
umatnya. Di sini Allah menerangkan bahwa mengikuti mereka
dalam menaati syariat yang mereka buat adalah kesyirikan.
b. Undang-undang tidak mencantumkan bahwa syariat Is-
lam adalah satu-satunya sumber hukum, tetapi hanya
mencantumkan bahwa prinsip Islam adalah sumber hukum
utama. Padahal, di antara keduanya terdapat perbedaan.
Sudah kita ketahui bersama bahwa hukum ialah hukum-
hukum terperinci dalam semua persoalan, sedangkan prinsip
Islam ialah kaidah-kaidah umum, seperti penegakan keadilan,
asas praduga tak bersalah, dan lain sebagainya yang selalu
digembar-gemborkan para pembuat hukum positif bahwa
mereka telah menegakkan prinsip-prinsip itu. Dengan
demikian, tahulah Anda bahwa tercantumnya pasal ini dalam
133
undang-undang dasar tidak mewajibkan pemerintah untuk
melaksanakan syariat Islam.
c. Jika kita menganggap pasal ini mengharuskan
pemerintah memberlakukan syariat Islam, masih ada pasal lain
yang isinya bertolak belakang dengan pasal di atas, yakni
hukum yang berlaku di pengadilan untuk mengadili perkara
yang terjadi di masyarakat ialah undang-undang hukum
pidana, bukan syariat Islam.
Intinya, siapa yang menganggap pasal ini (prinsip syariat
sebagai sumber utama hukum) bisa menghindarkan
pemerintah dari kekafiran, berarti ia telah keliru. Bahkan, pasal
ini jelas-jelas menunjukkan kekafiran mereka karena
mengandung pernyataan mengambil sumber hukum lain selain
hukum Islam.
5. Nabi Saw Memutuskan Perkara dengan Hukum Selain Islam, yakni
Hukum Taurat. Oleh Karena Itu, Umat Islam pun Boleh Melakukannya
Orang yang melontarkan syubhat seperti ini bisa dihukumi kafir
karena ia telah menghina Nabi Saw. Ibnu Hazm menegaskan,
orang yang beranggapan Nabi telah memutus perkara
perzinaan yang terjadi antara dua orang Yahudi dengan hukum
Taurat yang telah dihapus, maka ia telah murtad keluar dari
Islam.
28
Kenapa ia murtad? Sebab pernyataan ini jelas bertentangan
dengan nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menyatakan
bahwa Nabi tidak memutuskan suatu perkara kecuali dengan
28 Al-Ihkâm fi Ushûlil Ahkâm: II/104.
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
134
Melawan Penguasa
syariat Islam, dan bahwa Al-Qur’an telah menghapus syariat
yang ada sebelumnya. Sebagaimana firman-Nya:
$´Ζ9“Ρ&´ρ 7‹9) =≈G39# ´,s9$/ $%´‰Á`Β $ϑ9 š⎥⎫/ 색ƒ
´⎯Β =≈G69# $´Ψϑ‹ γ`Β´ρ μ‹ =ã Ν6n$ù ΟγΨ / $ϑ/ Α“Ρ&
´!# ... ∩⊆∇∪
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan
membawa kebenaran, membenarkan apa yang
sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan
sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain
itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang
Allah turunkan …” (Al-Maidah: 48).
Nabi Saw bersabda:
“Seandainya Musa hidup (sekarang ini), tidak ada pilihan
baginya kecuali harus mengikutiku.” (HR Ahmad dan Ad-
Darimi).
Lantas, bagaimana bisa dikatakan Nabi mengikuti Musa,
padahal beliau telah bersabda sebagaimana dalam hadits di atas?
Allah berfirman:
Œ)´ρ ‹{& ´!# ,≈W‹ Β ´ ⎯↵¯Š;Ψ9# $ϑ9 Ν6G?#´™ ⎯Β =≈G2
πϑ3m´ρ ¯ΟO ¯Ν2´™%` Αθ™´‘ −´‰Á•Β $ϑ9 ¯Ν3èΒ ´ ⎯`ΨΒσG9
⎯μ/ …μΡ`´ÁΨG9´ρ Α$% `Ο?¯‘%&´™ Μ?‹{ &´ρ ’?ã ¯Ν39≡Œ
“¹) #θ9$% $Ρ¯‘%& Α$% #ρ‰κ−$ù $Ρ&´ρ Ν3èΒ ´ ⎯Β
⎦⎪‰γ≈±9# ∩∇⊇∪
135
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para
nabi, ‘Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu
berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu
seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu,
niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya
dan menolongnya.’ Allah berfirman, ‘Apakah kamu
mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang
demikian itu?’ Mereka menjawab, ‘Kami mengakui.’ Allah
berfirman, ‘Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan
Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu’.” (Ali Imran: 81).
Seluruh nabi telah berikrar, jika mereka hidup saat Nabi
Muhammad Saw diutus, mereka pasti akan mengikutinya.
Lalu, bagaimana mungkin Nabi Muhammad mengikuti syariat
yang diturunkan kepada Nabi Musa?
Syubhat ini berasal dari sal ah satu riwayat yang
mengisahkan dua orang Yahudi yang dirajam karena berzina.
Tentang mereka, Nabi bersabda:
“Sesungguhnya, aku menghukumi dengan hukum yang
tercantum di dalam Taurat.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).
Lalu, mereka berdua pun dirajam.
Bantahan syubhat ini dilihat dari dua arah:
1. Riwayat itu tidak bisa dijadikan dasar dal am
berpendapat. Ibnu Hajar telah menyebutkan bahwa salah satu
perawi dalam sanadnya ialah mubham (tidak diketahui
identitasnya).
29
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
29 Lihat: Al-Ihkâm fî Ushûlil Ahkâm: II/104.
136
Melawan Penguasa
2. Jika memang riwayat ini benar-benar shahih, maka
kita haruslah tetap memahami prinsip yang telah kami
sebutkan, bahwa Nabi tidak pernah menerapkan selain hukum
Islam. Sehingga, orang yang menyebarkan syubhat tersebut
keberadaannya bisa dibantah dengan kesimpulan ini. Maka,
maksud dari sabda beliau, “Sesungguhnya, saya menghukumi
kalian dengan hukum yang tercantum di dalam kitab Taurat”
ialah dengan hukuman yang sama dengan yang tercantum di
dalam kitab Taurat tentang masalah ini.
Dengan ini Nabi tidak bisa dikatakan telah mengikuti
Taurat. Akan tetapi, yang dil akukan Nabi Saw ial ah
membenarkan hukum yang tertul is di dal am Taurat.
Sebenarnya, rajam adalah hukum Allah yang (juga) berlaku
bagi kaum Yahudi yang berzina, tetapi hukum yang tercantum
di dalam Taurat telah diubah sendiri oleh kaum Yahudi.
137
I
mam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari shahabat
Ubadah bin Shamit, bahwa ia berkata, “Nabi mengajak
kami untuk masuk Islam, lalu kami membaiatnya.” Ia
meneruskan, “Salah satu isi baiat kami ialah untuk mendengar
dan taat kepada beliau, baik pada saat senang maupun susah,
dalam keadaan longgar maupun sempit, meskipun mereka tidak
memberikan hak kami. Juga, agar kita tidak memberontak
kepada pimpinan, kecuali jika melihat kekafiran yang nyata.
Ketika itulah kalian memiliki dalil yang jelas dari Allah.”
Imam An-Nawawi meriwayatkan bahwa Qadhi Iyadh
berkata, “Ulama telah berijmak bahwa seorang kafir tidak boleh
menjadi imam atau khalifah…” Sampai pada perkataannya,
“Seandainya tampak kekafiran, pengubahan syariat, atau
kebid’ahan, maka status keimamannya hilang, tidak lagi berhak
ditaati, dan bagi kaum muslimin wajib memberontak
kepadanya dan menggantinya dengan seorang imam yang adil
jika hal itu memungkinkan bagi mereka.
Wajib Memberontak untuk Menumbangkan
Pemerintahan Kafir
1
1 Dinukil dari Fathur Rahmân fî Ar-Raddi ‘alâ Bayân Al-Ikhwân karya Ahmad
Abdussalam Syahin.
138
Melawan Penguasa
Namun demikian, jika hanya ada satu kelompok saja yang
mampu memberontak, maka mereka wajib untuk memberontak
dan mengganti imam yang kafir. Adapun jika imam hanya
melakukan perbuatan bid’ah, maka tidak wajib memberontak,
kecuali jika mampu melakukannya. Akan tetapi, jika mereka
lemah dan tidak mampu memberontak, maka kewajiban
seorang Muslim ialah berhijrah meninggalkan negeri itu untuk
menyelamatkan agamanya’.”
2
Ketika Ibnu Hajar menerangkan hadits yang berbunyi:
“Kalian memiliki alasan dari Allah.”
Beliau berkata, “Yaitu berupa nash ayat Al-Qur’an atau
hadits shahih yang tidak mengandung pemahaman ganda
sehingga hal tersebut menuntut kita untuk tidak boleh
memberontak kepada seorang pemimpin, selama tindakan
kekafirannya mengandung pemahaman lain, yakni memiliki
kemungkinan untuk tidak menjadikan mereka kafir.”
Imam An-Nawawi berkata, “Maksud dari kalimat
(kekafiran) di dalam hadits tersebut ialah kemaksiatan. Adapun
maksud hadits tersebut ialah, ‘Janganlah kalian memberontak
kepada suatu pemerintahan, kecuali jika kalian melihat
kemungkaran yang nyata berdasarkan kaidah-kaidah Islam.
Apabila kalian melihat mereka berbuat kemungkaran, maka
ingkarilah perbuatan tersebut dan katakanlah yang benar di
mana pun kalian berada’.”
2 Syarh Shahîh Muslim: XII/229.
139
3 Fathul Bârî: X/13.
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
Ulama lain mengatakan, “Maksud dari (kekafiran) di
dalam hadits tersebut ialah kemaksiatan dan tindakan
kekafiran. Karena itu, kita dilarang untuk memberontak
seorang pemimpin, kecuali kalau ia telah melakukan perbuatan
yang jelas-jelas kafir...” Sampai pada perkataan Ibnu Hajar,
“Ibnut Tin menukil dari Ad-Dawudi, ‘Pendapat para ulama
tentang pemerintah yang jahat, jika terdapat kemampuan untuk
memecatnya tanpa menimbulkan fitnah dan kezaliman, wajib
untuk dipecat. Tetapi apabila tidak mampu, wajib untuk
bersabar.”
Ulama yang lain mengatakan, “Orang fasik tidak boleh
menjadi imam. Akan tetapi, jika dalam perjalanannya terjadi
kezaliman, padahal sebelumnya adil, para ulama berbeda
pendapat tentang boleh atau tidaknya memberontak. Adapun
pendapat yang benar ialah dilarang memberontak, sampai
pimpinan tersebut menjadi kafir, sehingga ketika itulah wajib
hukumnya memberontak.”
3
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Ibnu Batthal berkata, ‘Para
ulama telah bersepakat tentang wajibnya menaati pemimpin
dan berjihad bersamanya. Sesungguhnya, menaati pemimpin
seperti itu lebih baik dibandingkan keluar untuk
memberontaknya. Sebab di dalamnya terkandung kemaslahatan
yang di antaranya mencegah pertumpahan darah dan
kekacauan. Adapun dalil mereka ialah hadits di atas.
Mereka berpendapat bahwa tidak boleh memberontak
pemerintah, kecuali jika pemerintah melakukan tindakan
kekafiran yang jelas. Sehingga, ketika itulah tidak wajib
140
Melawan Penguasa
menaatinya, bahkan wajib berjihad melawan mereka bagi yang
mampu.”
4
Telah jelas bagi Anda keterangan dari para ulama yang kami
sebutkan, bahwa mereka berbeda pendapat mengenai boleh
atau tidaknya memberontak kepada pemerintah yang fasik atau
melakukan bid’ah. Berkenaan dengan masalah ini, sebagian
mereka membolehkan dengan syarat adanya kemampuan.
Qadhi Iyadh mengatakan, “Tidak wajib memberontak
kepada pemerintah yang berbuat bid’ah, kecuali jika
dipandang mampu mengalahkan mereka.”
Ibnut Tin menukil dari Ad-Dawudi, “Pendapat ulama
mengenai pemerintah yang jahat ialah jika dapat dipecat tanpa
terjadinya fitnah dan kezaliman, hal itu wajib dilakukan.”
Adapun terhadap pemimpin yang kafir, ulama tidak hanya
membolehkan pemberontakan, tetapi mewajibkannya. Ibnu
Hajar berkata, “Yang benar ialah dilarang memberontak,
kecuali pemimpin tersebut berbuat kekafiran. Pada saat itulah
wajib hukumnya memberontak kepada mereka.”
Ibnu Batthal berkata, “(Tidak boleh memberontak
pemerintah) kecuali ketika pemimpin melakukan tindakan
kekafiran yang jelas. Ketika itulah kita tidak boleh menaatinya.
Bahkan, bagi yang mampu wajib berjihad melawannya.”
Qadhi Iyadh berkata, “Jika tidak ada yang mampu
melakukannya (pemberontakan), kecuali hanya satu kelompok
saja, mereka tetap berkewajiban untuk mencopot imam yang
kafir tersebut dari jabatannya.”
4 Fathul Bârî: IX/13.
141
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
M
eskipun dalil-dalil kafirnya pemerintah-pemerintah
seperti itu dan wajibnya memberontak terhadap mereka
telah jelas, hanya saja ada orang yang terkadang mempunyai
alasan, “Kami tidak mampu memberontak dan kami juga tidak
memiliki kekuatan melawan mereka.” Allah berfirman:
Ÿω #=3`ƒ ´!# $´¡Ρ ω) $γè`™`ρ ... ∩⊄∇∉∪
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai
dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286).
Kami katakan bahwa alasan Anda benar. Allah hanya
membebani hamba sebatas kemampuannya. Akan tetapi, kita
wajib mempersiapkan diri sampai kita mampu. Kewajiban
kaum muslimin hanyalah sebatas mempersiapkan diri agar
mampu memberontak melawan pemerintahan kafir dan
menggantinya dengan pemimpin yang adil. Dalilnya:
#ρ‘‰ã&´ρ Νγ9 $Β ΟFèÜG`™# ⎯Β ο¯θ% ∅Β´ρ Þ$/¯‘ ≅‹ ⇐9#
Kewajiban Beri‘dad
1
bagi
Yang Masih Lemah
1 I‘dad ialah mempersiapkan segala hal yang menunjang tercapainya
kemenangan dalam peperangan—Edt.
142
Melawan Penguasa
šχθ7δ¯? ⎯μ/ ρ‰ã ´!# ¯Ν2ρ‰ã´ρ ⎦⎪z#´™´ρ ⎯Β
`ΟγΡρŠ Ÿω `ΝγΡθϑ=è ? ´!# ¯Νγϑ=èƒ ... ∩∉⊃∪
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa
saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang
ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu)
kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-
orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya,
sedang Allah mengetahuinya…” (Al-Anfâl: 60).
Imam Al-Qurthubi berkata, “Allah memerintahkan kaum
beriman untuk mempersiapkan kekuatan dalam rangka
menghadapi musuh.”
2
Sementara itu, perintah mengandung
arti kewajiban melaksanakan yang diperintahkan selama tidak
ada dalil yang memalingkannya, sebagaimana tercantum
dalam Ushul Fikih. Di samping itu, firman-Nya:
θ9´ρ #ρŠ#´‘& lρ``‚9# #ρ‘‰ã{ …`&! ο´‰`ã ⎯3≈9´ρ νŸ2 ´!#
¯ΝγO$è7Ρ# ¯ΝγÜ´7Vù Ÿ≅Š%´ρ #ρ‰`è%# ìΒ š⎥⎪‰è≈)9# ∩⊆∉∪
“Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka
menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi
Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah
melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada
mereka, ‘Tinggallah kamu bersama orang-orang yang
tinggal itu’.” (At-Taubah: 46).
Imam Al-Jashsash berkata ketika menafsiri ayat di atas,
“Persiapan ialah segala sesuatu yang dipersiapkan seseorang
untuk menghadapi apa yang akan datang. Ayat ini
2 Tafsîr Al-Qurthubî: VIII/35.
143
3 Ahkâmul Qur’ân: III/119-120.
4 Majmû` Fatâwâ: XXVIII/259.
5 Syarh Shahîh Muslim: XIII/69.
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
menunjukkan wajibnya mempersiapkan diri berjihad sebelum
terjadi. Ayat ini sama maksudnya dengan ayat:
#ρ‘‰ã&´ρ Νγ9 $Β ΟFèÜG`™# ⎯Β ο¯θ% ∅Β´ρ Þ$/¯‘
≅‹ ⇐9# ... ∩∉⊃∪
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa
saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang
ditambat untuk berperang...” (Al-Anfâl: 60).
3
Ibnu Taimiyah mengatakan, “Seorang Muslim wajib
mempersiapkan diri untuk berjihad dengan cara
mempersiapkan kekuatan dan kuda-kuda yang ditambat ketika
jihad belum berlangsung karena ketidakmampuan. Sebab,
suatu kewajiban yang tidak bisa sempurna kecuali dengan
sebuah sarana, maka sarana itu menjadi wajib.”
4
Imam An-Nawawi ketika menerangkan hadits Nabi yang
berbunyi:
“Barangsiapa yang pernah belajar melempar, lalu ia
meninggalkannya, maka ia bukan dari golongan kami (di
dalam riwayat lain disebutkan, ia telah bermaksiat).”
Beliau berkata, “Hadits ini mengandung ancaman yang
berat bagi siapa saja yang melupakan cara melempar yang
sebelumnya pernah ia kuasai. Hukumnya sangat makruh bagi
siapa saja yang meninggalkannya tanpa alasan syar’i.”
5
144
Melawan Penguasa
Kal au orang yang pernah bel ajar memanah dan
menguasainya tak mengulang-ulanginya lagi sehingga ia lupa
mendapatkan ancaman seperti itu, lantas bagaimana dengan
orang yang sama sekali belum pernah mempelajarinya?
Sebelumnya Anda telah memahami, bahwa kewajiban
i’dad untuk jihad dan meninggalkannya termasuk salah satu
sifat orang-orang munafik. Nabi sendiri telah menerangkan
bahwa maksud dari kata kekuatan yang harus dipersiapkan
di dalam ayat di atas adalah melempar. Ini sebagaimana hadits
riwayat Muslim, dari shahabat Uqbah bin Amir. Ia berkata,
“Saya mendengar Nabi Saw ketika berada di atas mimbar
membaca ayat:
#ρ‘‰ã&´ρ Νγ9 $Β ΟFèÜG`™# ⎯Β ο¯θ% ∅Β´ρ Þ$/¯‘
≅‹ ⇐9# ... ∩∉⊃∪
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa
saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang
ditambat untuk berperang…” (Al-Anfâl: 60).
Lalu, beliau bersabda:
“Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan adalah dengan
melempar, ketahuilah, sesungguhnya kekuatan adalah
dengan melempar, ketahuilah, sesungguhnya kekuatan
adalah dengan melempar.” (HR Muslim)
Akan tetapi, di sini saya ingin mengingatkan beberapa hal:
1. Kita tidak boleh melupakan persiapan keimanan
dengan mendidik para mujahidin untuk menaati Allah,
145
6 HR An-Nasa’i dan dishahihkan Abdul Qadir Al-Arna’uth dalam Tahqîq Zâdul
Ma‘âd.
Berbagai Syubhat dan Jawabannya
menanamkan makna-makna keikhlasan, sikap mendahulukan
kepentingan orang lain, kesabaran, pengorbanan, tawakal,
yakin, dan persiapan-persiapan kejiwaan lainnya.
Ketaatan kepada Allah dan keikhlasan merupakan sebab
datangnya kemenangan. Imam An-Nasa’i telah meriwayatkan
sebuah hadits dari shahabat Sa’ad bin Abi Waqqash ketika
beliau mengira dirinya memiliki keutamaan lebih dibandingkan
shahabat-shahabat lainnya. Ketika itu Nabi bersabda:
“Sesungguhnya, Allah hanya akan menolong umat ini
karena orang-orang lemah yang ada pada mereka, dengan
doa, shalat dan keikhlasan mereka.”
6
Hal ini sangat penting. Karena salah satu penyebab kekalahan
ialah maksiat, sebagaimana pada waktu perang Uhud. Pada
awalnya kaum muslimin mendapatkan kemenangan, tetapi
ketika pasukan pemanah menyelisihi perintah Nabi dan turun
dari posisi mereka, maka kekalahan pun menimpa mereka.
2. Ketika kita menerangkan wajibnya persiapan kekuatan
fisik, hal ini tidak berarti kita mengabaikan sisi lain dari agama
Islam. Misalnya, menuntut ilmu, berdakwah, menerangkan
kebenaran kepada manusia, beramar makruf nahi mungkar,
dan ajaran Islam lainnya.
3. Meskipun posisi kita sedang lemah, kita dilarang
berlemah-lembut kepada para thaghut dan memuji mereka,
146
Melawan Penguasa
sebagaimana perbuatan beberapa pimpinan Ikhwanul
Muslimin. Tetapi sebaliknya, kita harus mengafiri dan memusuhi
mereka karena hal ini merupakan konsekuensi dari tauhid.
Allah berfirman:
‰% ⎦⎫6? ‰©”9# ´⎯Β ¯©ö9# ⎯ϑù ¯3ƒ Nθó≈Ü9$/
∅Βσ`ƒ´ρ ´!$/ ‰)ù 7¡ϑG`™# ο´ρ``è9$/ ’+O'θ9# Ÿω
Π$ÁΡ# $λ;
“Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan
yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada
thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya
ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang
tidak akan putus…” (Al-Baqarah: 256)
Syaikh Abdul Lathif bin Abdurrahman mengatakan,
“Sesungguhnya, pokok utama ajaran Islam tidak akan tegak
dan bertahan lurus, kecuali dengan memboikot musuh Allah,
memerangi, berjihad melawan mereka, memusuhi, dan
mencari pahala Allah dengan membenci dan menjelek-jelekkan
mereka.”
7
4. Seluruh kaum muslimin terutama para anggota
gerakan Islam harus mempelajari persoalan-persoalan hukum,
menyebarkan keharusan mengingkari thaghut, wajibnya
memberontak dan melengserkan pemerintahan murtad ketika
memiliki kemampuan, serta wajibnya beri’dad ketika dalam
keadaan lemah. Sebab, menyebarkan pemahaman di atas
membuat musuh Allah marah, menyadarkan umat dari
7 Ar-Rasâ’il Al-Mufîdah hlm. 60.
147
8 Barangkali yang dimaksudkan penulis adalah semisal pengeboman dan
penculikan secara sporadis—Edt.
tidurnya, dan menjelaskan penyebab keterpurukan mereka
selama ini.
5. Dengan membahas wajibnya memberontak, kami tak
bermaksud menganjurkan pembaca melakukan perbuatan-
perbuatan yang tak bertanggungjawab,
8
yang mengakibatkan
timbulnya kerusakan yang lebih besar daripada maslahat yang
diinginkan. Akan tetapi, maksud kami ialah menyadarkan umat
akan pentingnya persiapan yang matang, planning yang bagus
terhadap segala perencanaan, kesungguhan, keikhlasan, dan
tidak bergantungnya hati pada faktor-faktor penyebab ini.
Kaum muslimin harus meyakini bahwa pertolongan
hanyalah bersumber dari Allah semata. Allah berfirman:
... $Β´ρ `ÇΖ9# ω) ⎯Β ‰Ψã ´!# “ƒ •è9# Ο‹3t:# ∩⊇⊄∉∪
“Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang
Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Ali-Imran: 126).
Namun demikian, kaum muslimin juga tidak boleh tergesa-
gesa. Perjuangan memerlukan persiapan yang panjang. Jika
kaum muslimin telah berhasil mempersiapkan kekuatan hingga
dianggap cukup oleh para pakar di bidangnya serta di atas
kertas telah terbukti musuh bisa dikalahkan, saat itulah kaum
muslimin boleh memberontak melawan pemerintahan kafir.
148
Melawan Penguasa
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka
kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan
dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang
(yang dengan persiapan itu) kamu
menggetarkan musuh Allah, musuhmu, dan
orang-orang selain mereka yang kamu
tidak mengetahuinya, sedang Allah
mengetahuinya…”
(Al-Anfâl: 60). (Al-Anfâl: 60). (Al-Anfâl: 60). (Al-Anfâl: 60). (Al-Anfâl: 60).
149
A
khirnya, kami mengharap kepada pembaca untuk
menelaah isi risalah ini dengan sebaik-baiknya supaya
hukum Allah atas pemerintah-pemerintah hari ini benar-benar
Anda pahami. Mereka ialah pemerintah kafir yang telah keluar
dari Islam. Sebab, ketika mereka memberlakukan hukum
buatan mereka sendiri dalam kehidupan, berarti mereka telah
menabrak empat rambu kekafiran, yang setiap pelanggaran
menyebabkan pelakunya menjadi kafir dengan seketika.
Adapun empat penyebab kekafiran tersebut ialah:
1. Meninggalkan penerapan hukum Allah.
2. Membuat undang-undang yang menyelisihi aturan Allah.
3. Memberlakukan hukum selain hukum Allah.
4. Menaati selain Allah dan Rasul-Nya (dalam hal yang
melanggar aturan Allah).
Jika Anda telah mengetahui hal ini, Anda juga harus
mengetahui vonis Allah terhadap mereka, yakni mereka harus
dilengserkan dari kursi kepemimpinan serta dimusuhi berikut
para pengikutnya. Maka, persiapkanlah diri kalian wahai kaum
PENUTUP
150
Melawan Penguasa
1 Tashfiyah ialah membersihkan ajaran Islam dari berbagai penyelewengan.
2 Sebuah tahapan setelah Tashfiyyah, yakni mendidik ummat dengan ajaran
Islam.
3 Kiranya penulis tidak bermaksud meremehkan sunnah “memendekkan
celana” dan “memanjangkan jenggot”, melainkan kritik terhadap orang yang
menitik beratkan perhatian pada hal-hal tersebut dan mengabaikan pengajaran
tebtang kewajiban jihad.
muslimin untuk bergabung mendukung teman kalian sesama
Muslim yang sedang berjihad dan akan selalu berjihad
memerangi para pemerintah kafir. Mereka tak akan berhenti
(dengan izin Allah) berperang, hingga meraih salah satu dari
dua kebaikan: kemenangan yang dijanjikan Allah bagi umat
Islam atau mati syahid. Dan inilah yang seharusnya menjadi
cita-cita seorang Muslim.
Mereka ialah kelompok yang menang (Tha’ifah Manshurah)
dan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang melaksanakan perintah
Allah tanpa takut dicela. Mereka tidak takut kepada para
thaghut, konco-konconya, serta kaum sekuler yang telah murtad
dan menjadi pengikut thaghut. Mereka tidak takut disiksa,
dipenjara, serta tidak pernah tawar-menawar dalam hal
prinsip, sebagaimana kondisi para ulama tashfiyah
1
dan
tarbiyah
2
yang telah membingungkan umat Islam dengan syi’ar-
syi’ar seperti itu (tashfiyah dan tarbiyah), baik sengaja maupun
tidak.
Benar, tashfiyah dan tarbiyah itu wajib, tetapi hal itu bukan
segalanya dalam Islam seperti anggapan sebagian orang.
Pentolan-pentolan kelompok ini menyangka bahwa dengan
hanya mengajarkan kepada manusia bagaimana
“memendekkan celana” dan “membiarkan jenggot” (keduanya
jelas-jelas sunnah)
3
, kekuasaan Islam akan bisa tegak tanpa
151
pertumpahan darah. Sebagaimana kondisi kita hari ini, akibat
perbuatan kaum Khawarij—merekalah yang mengarahkan
istilah Khawarij kepada para mujahidin yang mengorbankan
nyawa demi membela Islam. Padahal, para mujahidinlah yang
sebenarnya mengangkat martabat umat Isl am dan
membuktikan bahwa umat Islam akan selalu berada dalam
kebaikan selama tegaknya jihad. Ya, Allah, masukkanlah kami
dalam golongan mereka—yang merusak potensi umat Islam
akibat pemberontakan yang mereka lakukan melawan
pemerintahan Islam!
Demikianlah omong kosong mereka. Demi Allah, inilah
ucapan mereka, baik yang terucap maupun tampak dari gerak-
gerik mereka. Kami tidak berbohong.
Wahai saudaraku sesama Muslim, jangan sampai dirimu
masuk ke dalam golongan kedua. Bergabunglah dengan
golongan pertama yang tampak pada mereka kriteria yang
disabdakan Nabi Saw, yang telah menjelaskan kepada kita
sifat Tha’ifah Manshurah dari golongan Ahlus Sunnah wal
Jamaah. “Mereka adalah para mujahid yang berperang.” Ya,
mereka berperang di jalan Allah. Nabi bersabda:
“Akan selalu ada sekelompok orang yang berperang di atas
kebenaran, mereka selalu menang atas musuh, hingga
kelompok terakhir mereka yang memerangi Dajjal.”
4
4 Hadits shahih riwayat Abu Dawud, juga diriwayatkan dalam Shahih Bukhari
dan Muslim dengan berbagai macam redaksi.
Pe n u t u p
152
Melawan Penguasa
Ciri-ciri tadi hanya tampak pada mereka yang memegang
Al-Qur’an di tangan kanan dan senjata di tangan kiri.
Demikianlah sifat mereka. Kita berharap semoga Allah
berkenan memasukkan kita dalam golongan mereka. Dan kita
memohon jangan sampai kita menjadi orang-orang yang
banyak berbicara, tetapi tidak berbuat.
Wahai saudaraku sesama Muslim, hendaknya kalian segera
memegang teguh ajaran Tha’ifah Manshurah Ahlus Sunnah
wal Jamaah. Dukunglah mereka dan golongan di belakang
mereka yang mengajak manusia hanya beribadah kepada
Allah semata. Jangan sampai kalian ragu dalam bergabung
dengan mereka. Karena menyelisihi mereka hanya akan
berakibat kehinaan dan kerugian di dunia dan akhirat.
Demikianlah peringatan yang saya sampaikan kepada
diriku sendiri dan saudaraku seiman. Jika terdapat kebenaran
di dalamnya, maka itu berasal dari Allah semata. Dan jika
terdapat kesalahan dan kekeliruan, maka itu hanya berasal
dariku dan setan. Allah dan Rasul-Nya berlepas diri terhadap
kesalahanku.

Melawan
KATALOG DALAM TERBITAN Abdul Mun’im Musthafa Halimah

Penguasa

Melawan Penguasa : praktik bernegara modern dalam perspektif Islam / penulis Abdul Mun’im Musthafa Halimah, Abu Shuhaib Al-Maliki ; penerjemah, Yasir, Syarif Baraja ; editor, Wendy Febriangga -- Solo : jazera, 2007. 152 hlm. ;20.5 cm Judul asli : Fashlul kalam fi mas’alatil khuruj ‘alal hukkâm, bayân riddah man baddala asy-syari’ah min al-hukkam ISBN 979-26-6308-2 1. Islam dan kenegaraan I.Judul II. Al-Maliki, Abu Shuhaib IV. Syarif Baraja V. Wendy Febriangga III.Yasir

297.62

Melawan Penguasa
Penulis Abdul Mun’im Musthafa Halimah, Abdul aziz Al-Maliki Alih Bahasa Yasir, Syarif Baraja Editor Wendy Febriangga Tataletak cholique Desain sampul Arezadesign Penerbit JAZERA Anggota SPI (Serikat Penerbit Islam) Solo siup no: 229/11.35/pk/iv/2004 po. box 174 solo Telp. (0271) 7074155 Fax. (0271) 741297 website: www.jazera.com; e-mail : jazera@telkom.net Cetakan I : Agustus 2007

2

DAFTAR ISI

Daftar Isi — iii Kata Pengantar— v Mukadimah — xi Bab 1 EMPAT TIPE PENGUASA — 13 1. Penguasa Kafir — 15 Syubhat pertama: Takut tercebur ke dalam fitnah — 25 Syubhat kedua: Tidak relevan — 36 2. Penguasa Muslim yang Adil — 40 Ketaatan Terikat, Bukan Mutlak — 45 Hukum Pembangkang (Bughat) — 48 3. Penguasa Muslim yang Fasik — 51 4. Penguasa Muslim yang Sangat Fasik, Zalim, dan Lalim — 59
BAB 2

BERBAGAI SYUBHAT DAN JAWABANNYA — 69 1. Kufrun Duna Kufrin — 71 Salah Paham terhadap Atsar Ibnu Abbas r.a. — 71 Tanggapan Ulama terhadap Propaganda Ini — 78

3

.Melawan Penguasa 2...... Undang-Undang Selain Allah yang Diterapkan Pemerintah Mencantumkan Syariat Islam..... Undang-Undang yang Berlaku Saat Ini Mengandung Hukum Syariat Islam — 129 3.. Tetapi Tetap Dianggap Muslim — 115 6.. Karena Mereka Tidak Membuat .. Pemerintahan yang Ada Tidak Dapat Dikafirkan. — 131 5. Nabi Saw Memutuskan Perkara dengan Hukum Selain Islam... — 86 3. Nabi Yusuf Menjadi Menteri ... — 128 2. — 124 Syubhat-Syubhat Lain — 128 1.... dalam Pemerintahan Raja Mesir — 95 5... yakni Hukum Taurat.... Najasyi Tidak Memberlakukan Syariat Allah.. Mengapa Para Ulama Tidak Memvonis Khalifah Al-Ma’mun Kafir? — 89 4. — 133 Wajib Memberontak untuk Menumbangkan Pemerintahan Kafir — 137 Kewajiban Beri‘dad bagi Yang Masih Lemah — 141 PENUTUP — 149 4 ... Tidak Bolehnya Menerapkan Fatwa Ulama Tentang Tartar Pada Pemerintahan Hari Ini — 130 4.. Seseorang Tidak Boleh Dikafirkan Hanya Karena Melakukan Satu Dosa. Kecuali .. Pemerintahan Hari Ini Tidak Dapat Divonis Kafir.

5) Yang menarik untuk dicermati adalah fenomena global . Inti persoalannya ada pada bilamana suatu negara atau pemerintahan disebut Islam atau kafir. Adalah fakta bahwa negeri-negeri muslim tidak diatur atas dasar syariat Islam.” (Al-Ahkâm As-Sulthâniyyah hlm. 5).” (As-Siyasah Asy-Syar`iyyah hlm. imamah dalam Islam bukanlah sekadar formalitas tanpa fungsi. misalnya boleh atau tidaknya penguasa dilengserkan oleh umat Dalam khazanah fikih Islam. pemerintah). Yang jelas. Imam Al-Mawardi mengatakan. dalam rangka mengaplikasikan syariat Allah. kepastian hukum atas persoalan di atas membawa implikasi yang tidak ringan. Ibnu Taimiyyah juga menegaskan. di mana negeri-negeri muslim tengah menjadikan sekularisme sebagai tren dalam praktik bernegara modern. “Kepemimpinan negara merupakan khilafah yang berasal dari Allah. lembaga kekuasaan negara (pemerintah) sering diistilahkan sebagai imamah (pemimpin.KATA PENGANTAR erbincangan tentang hukum negara dan status penguasa merupakan tema yang tak sepi dari perdebatan. “Imamah merupakan inti khilafah nubuwah (yang berfungsi) untuk menjaga Agama dan mengatur urusan dunia atas dasar Agama. Kedaulatan tertinggi diserahkan kepada masyarakat dan P 5 . Namun.

dan untuk rakyat. Kedaulatan ada di tangan rakyat.” 6 . oleh.” Maroko UUD Kerajaan Maroko menetapkan: “Kedaulatan di tangan rakyat dan ditegakkan secara langsung dengan meminta fatwa. Mesir UUD Mesir terbitan September 1971. pada pasal 1 menetapkan: “Libya adalah Republik Arab Demokrat. pada pasal 2 menetapkan: “Rakyat adalah sumber kedaulatan berikut dasar hukumnya. pada pasal 2 menetapkan: “Kedaulatan adalah milik rakyat sendiri. Ia adalah sumber segala kekuasaan. Kesimpulan ini bisa dibuktikan lewat nukilan dari konstitusi (UUD) beberapa negeri muslim yang mencerminkan sistem demokrasi dalam arti kedaulatan dari. Rakyat berkewajiban menyelenggarakannya sebagaimana diatur undang-undang. dan bersifat tidak langsung melalui lembaga-lembaga resmi.” Irak UUD Irak tahun 1970. Rakyat (berkewajiban) menyelenggarakan kedaulatan dan menjaganya serta mempertahankan kesatuan nasional sesuai undang-undang.” Libya UUD Libya.” Suriah UUD Republik Suriah yang berlaku sejak tahun 1973. pada pasal 2 alinea 2 menetapkan: “Kedaulatan ada di tangan rakyat.Melawan Penguasa bukan kedaulatan Allah.

” Tunisia UUD Republik Tunisia. pada pasal 7 menetapkan: “Rakyat adalah pemilik kedaulatan. Kedaulatan di tangan rakyat sebagai sumber seluruh kebijakan. Kedaulatan tidak tercabut atau berubah. kecuali setelah rakyat menyetujuinya. pada pasal 2 menetapkan: “Kedaulatan Republik Sudan Demokratik ada di tangan rakyat dan diselenggarakan melalui lembagalembaga dan organisasi-organisasi sya’biyyah dan dusturiyyah.” Yordania UUD Kerajaan Yordania Hasyimiyah. pada pasal 6 menetapkan: “Sistem hukum Kuwait adalah demokratis.” 7 .Kata Pengantar Kuwait: UUD Kuwait. baik sebagian maupun keseluruhan. yang diselenggarakan sebagaimana diatur dalam undang-undang.” Mauritania UUD Republik Islam Mauritania. pada pasal 34 menetapkan: “(1) Umat adalah sumber segala kedaulatan. (2) Umat menjalankan kedaulatan sebagaimana diatur dalam undang-undang.” Sudan UUD Republik Sudan yang berlaku mulai 1973. Penyelenggaraan kedaulatan diatur berdasarkan undang-undang. pada pasal 3 menetapkan: “Bangsa Tunisia adalah pemilik kedaulatan.

Dr. Meski selintas.” Yaman UUD Yaman Demokratik.” Aljazair UUD Aljazair tahun 1976. penggalan UUD negeri-negeri muslim. muncullah pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah penyelenggaraan pemerintahan atas dasar pemisahan antara Agama dan Negara serta menggantinya syariat dengan undang-undang hasil kreasi manusia (wadh‘iyyah) dapat dinyatakan sah secara syar’i? Ataukah keberadaannya dianggap tidak ada karena telah batal secara syar’i? Apakah 8 . Kedaulatan di dalamnya ada di tangan rakyat sebagai sumber seluruh kebijakan. 4647 ). alinea D pasal 1 menetapkan: “Sistem hukum Bahrain bersifat demokratis. Demikian. Penyelenggaraannya sebagaimana diatur undang-undang. yang diselenggarakan melalui pengambilan fatwa atau melalui wakil-wakil rakyat yang terpilih.Melawan Penguasa Bahrain UUD Kerajaan Bahrain tahun 1973. pasal 5 menetapkan: “Kedaulatan Nasional adalah milik rakyat. Shalah Ash-Shawi. Selanjutnya. pasal 62 menetapkan: “Kedaulatan Negeri Republik Demokratik Rakyat Yaman hanya ada satu dan disandarkan pada kedaulatan rakyat pekerja. footnote hlm.” (Lihat: Jamâ‘atul Muslimîn. namun cukup menggambarkan asas masing-masing negara yang tak lain adalah demokrasi dalam arti menuhankan suara rakyat.

Kata Pengantar penguasa sekuler semacam itu masih mendapatkan “hak” layaknya hak imam dalam Islam. hak didengar. melainkan lebih merupakan diskursus atas tren sekularisme yang melingkupi negeri-negeri muslim tersebut. dan hak ditaati? Pertanyaan-pertanyaan di atas bukan dalam konteks mencari jawab atas status iman-kafirnya pribadi tokoh-tokoh penguasa muslim. Juli 2007 Jazera 9 . Solo. untuk menguji sejauh mana keabsahan dan kebatalan sebuah negeri yang ditegakkan di atas undang-undang selain Islam. seperti hak dibaiat.

Melawan Penguasa Transliterasi Arab-Latin =a =b =t = ts =j =h =kh =d = dz = r = z = s = sy = sh = dh = th = zh = ‘ = gh = f =q =k = l =m = = = = n h w ’ a panjang= â i panjang = î u panjang= û 10 .

Perlu kita ketahui bahwa sikap semacam ini merupakan cerminan sikap aliran Khawarij. Pertama. S 11 . manusia terbagi dalam dua aliran yang saling berlawanan. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal-amal kita. Permasalahan melawan penguasa dan bagaimana Islam menyikapinya merupakan salah satu perkara penting. Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. serta cenderung pada sikap berlebih-lebihan. Semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau.Mukadimah MUKADIMAH egala puji hanya milik Allah. Atau. Dalam hal ini. keluarga. dan para sahabatnya. niscaya tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. kelompok ifrath atau ghuluw (berlebih-lebihan). tiada sekutu bagi-Nya. Kelompok ini memilih keluar melawan penguasa hanya karena pelanggaran ringan terhadap syariat. Wa ba’du. Barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya. Kepada-Nya kita memohon pertolongan dan ampunan. niscaya tidak ada yang bisa menyesatkannya. Saya bersaksi bahwa tiada Ilâh—yang berhak diibadahi— selain Allah semata. orang-orang yang terpengaruh dan terjebak dalam wilayah pemikiran mereka.

selain kedua kelompok tersebut terdapat kelompok ketiga yang merupakan kelompok pertengahan. As-Sunnah. yakni kelompok Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam menyikapi permasalahan ini sebagaimana yang telah ditunjukkan nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah. tanpa sedikit pun ada kecondongan kepada sikap ifrath dan tafrith. Bahkan. Selain itu. Sikap mereka dalam permasalahan ini ialah berkomitmen menjunjung tinggi Al-Haq dan apa yang yang telah ditentukan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. kelompok yang cenderung berbuat tafrith (meremehkan) dan bersikap tak acuh. dan pendapat yang kuat dari para ulama salaful ummah. mereka sampai berpendapat tidak wajib memberontak atau melakukan perlawanan terhadap thaghut-thaghut kafir murtad. mereka juga menafsirkan para penguasa secara keliru dengan tafsiran kaum Murji’ah dan Jahmiyah. Sikap pada mereka itulah yang merupakan cerminan dari sikap Ahlus Sunnah wal Jamaah. Namun demikian. dengan acuan kedua kitab tersebut kita mampu melihat kebenaran. serta mengkiyaskan keadaan para penguasa dengan keadaan Bani Umayyah dan Abasiyah.Melawan Penguasa Kedua. Dua kitab yang kita yakini dan dengan keduanya kita beragama. Pembahasan ini memfokuskan perhatian pada sikap kelompok ketiga. saya usahakan untuk selalu—insyaAllah—tegak di atas landasan dalil syar’i dari Al-Qur’an. 12 . Dengan kata lain—karena begitu pentingnya—segala yang akan saya paparkan dalam pembahasan ini.

BAGIAN PERTAMA EMPAT TIPE PENGUASA 13 .

Melawan Penguasa 14 .

3. alam pembahasan kali ini saya sampaikan bahwa penguasa dapat terbagi menjadi empat tipe: Penguasa Kafir Penguasa Muslim Penguasa Muslim yang Fasik Penguasa Muslim yang Sangat Fasik. Fajir. 4. satu sama lainnya memiliki status hukum yang berbeda. dan Zalim Dari keempat penguasa tersebut. sampai bisa menggulingkan dan menggantinya dengan penguasa 15 . Berikut adalah penjelasan secara detailnya. Dalam menyikapinya. kaum Muslimin (berdasarkan nash dan ijmak) wajib melawan dengan segala kekuatan. 1.D 1. Ia menjadi kafir karena riddah (murtad) atau memang asli (sejak lahir) kemudian ia menguasai negeri kaum Muslimin. Penguasa Kafir Penguasa tipe ini disebut kafir dengan kriteria kekafiran yang telah ditetapkan dalam syariat. 2.

Ketahuilah. Allah berfirman: #ρã. Allah berfirman: ∩⊇⊆⊇∪ ¸ξ‹Î6y™ t⎦⎫ÏΖÏΒ÷σçRùQ$# ’n?tã t⎦⎪ÌÏ≈s3ù=Ï9 ª!$# Ÿ≅yèøgs† ⎯s9uρ “…Dan Allah sama sekali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman.” (Asy-Syu’arâ’: 151-152). tak ada orang yang lebih melampui batas dan berbuat kerusakan daripada para thaghut kafir dan murtad yang memerintah umat dengan undang-undang kufur lagi rusak.” (An-Nisâ’: 141). š⎥⎪Ï%©!$# (#θãè‹ÏÜè? βÎ) (#þθΨtΒ#u™ š⎥⎪Ï%©!$# $y㕃r'¯≈tƒ ( x x ã ∩⊇⊆®∪ t⎦⎪ÎÅ£≈yz (#θç6Î=s)ΖtFsù öΝ3Î7≈s)ôãr& ’n?tã ôΜà2ρ–Šãtƒ ä # 16 . Salah satu bentuk “jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman” ialah bila orang-orang kafir menguasai dan memimpin orang–orang beriman dengan hawa nafsu serta hukum dan perundang-undangan mereka. Yaitu orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan.Melawan Penguasa Muslim yang adil dan memerintah negara dan rakyat dengan syariat Islam. Allah berfirman: ’Îû tβρ߉šøムt⎦⎪Ï%©!$# ∩⊇∈⊇∪ t⎦⎫ÏùÎô£ßϑ9$# zöΔr& (#þθãè‹ÏÜè? Ÿωuρ ø ∩⊇∈⊄∪ tβθßsÎ=óÁムŸωuρ ÇÚö‘F{$# “Dan janganlah kalian menaati perintah orang-orang yang melampai batas.

lalu kalian kembali menjadi orang-orang yang merugi.Empat Tipe Penguasa “Wahai orang-orang yang beriman. 17 . Allah telah menerangkan secara jelas. dari Ubadah bin Shamit. niscaya mereka akan mengembalikan kalian ke belakang (kepada kekafiran). mudah atau susah. Adapun hal-hal yang beliau minta kepada kami untuk berbaiat ialah mendengar dan taat dalam keadaan kami senang atau benci. tentulah kalian menjadi orang-orang yang musyrik.” Hadits di atas dengan jelas menunjukkan. Seseorang tidak akan diangkat sebagai hakim kecuali untuk ditaati dalam segala hal yang diputuskan dan diperintahkannya. seorang penguasa atau hakim tidak boleh diberhentikan dari tanggungjawabnya untuk mengelola urusan-urusan hukum dan kekuasaan.Îô³çRmQ öΝ3¯ΡÎ) öΝèδθßϑçG÷èsÛr& ÷βÎ)uρ ( ä “…Dan jika kalian menaati mereka. akibat menaati orang-orang kafir ialah murtad (keluar dari din). jika kalian menaati orang-orang kafir itu. tidak mementingkan diri dan tidak memberhentikan penguasa kecuali kalian melihat kufur bawwah (kekufuran yang nyata) dengan bukti-bukti nyata yang kalian dapatkan dari sisi Allah.” (Al-An’am: 121). ia berkata. Di tambah lagi. Dalam sebuah hadits Muttafaqun ‘alaih.” (Ali-Imran: 149). jika kita memiliki dalil yang nyata atas kekufurannya dengan berdasar pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Allah berfirman: ∩⊇⊄⊇∪ tβθä. lantas kami membaiatnya. Padahal. kecuali jika kita melihat kekufuran yang nyata padanya—tanpa mengandung penafsiran dan takwil lain. “Nabi Saw menyeru kami.

perkataan Qadhi Iyadh tersebut (‘Begitu pula jika ia meninggalkan shalat dan mengajak orang untuk mengikutinya’) merupakan isyarat dari sabda Nabi Saw yang tercantum di dalam Shahîh Muslim.”2 Menurut hemat saya. Bahkan. Imam An-Nawawi mengatakan. Ibnu Hajar menyampaikan. bagi siapa yang mampu wajib berjihad terhadapnya. Namun. Hal ini adalah kewajiban yang tidak bisa dibantah. “Jika terjadi kekufuran nyata pada diri penguasa. 18 . “Qadhi Iyadh berkata. kalau ia tiba-tiba menjadi kafir.”1 Sementara itu. maka harus dilengserkan. kita tidak boleh menaatinya.’ Lebih lanjut Qadhi Iyadh berkata. ‘Begitu pula jika ia meninggalkan shalat dan mengajak orang untuk mengikutinya’. yang diwajibkan ialah memberhentikannya dari kekuasaan dan melawannya dengan kekuatan pedang. Syarh Shahîh Muslim: XII/229.Melawan Penguasa Apabila kekufuran yang nyata benar-benar tampak pada dirinya. Dalam kitab hadits itu disebutkan. Nabi Saw bersabda: 1 2 Fathul Bârî: XIII/7. Bahkan. ‘Para ulama bersepakat bahwa kepemimpinan tidak diberikan kepada orang kafir. tidak ada lagi kewajiban untuk mendengar dan menaatinya.

Kaum Muslimin hendaknya mempersiapkan kekuatan— materi dan maknawi—semampu mungkin untuk bisa melawan. ia wajib dilawan dan disingkirkan dengan pedang. maka dia telah berlepas diri dan barang siapa yang mengingkarinya maka dia telah selamat. “Tidak bolehkah kami memerangi mereka?” Nabi menjawab.ο§θè% ⎯ÏiΒ ΟçF÷èsÜtGó™$# $¨Β Νßγs9 (#ρ‘‰Ïãr&uρ È ø ⎯ÏΒ t⎦⎪Ìyz#u™uρ öΝ2¨ρ‰tãuρ «!$# ¨ρ߉tã ⎯ÏμÎ/ šχθç7Ïδöè? à ß 4 öΝßγßϑn=÷ètƒ ª!$# ãΝßγtΡθßϑn=÷ès? Ÿω óΟÎγÏΡρߊ “Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan kuda-kuda yang ditambat 19 . Mempersiapkan segala kekuatan semampunya. Hadits tersebut memberi petunjuk bahwa pada saat seorang penguasa meninggalkan shalat dan juga tidak memerintahkan masyarakat untuk melakukannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: ≅ø‹y⇐9$# ÅÞ$t/Íh‘ ∅ÏΒuρ . “Tidak. yang kalian ketahui beberapa perbuatan mereka (yang sesuai syariat) dan mengingkari (perbuatan mereka yang menyelisihi). Barangsiapa yang membencinya. berarti ia telah kafir. Jika ada pertanyaan. selama mereka masih melaksanakan shalat”. Namun (dosa) itu bagi orang yang ridha dan mengikutinya. apa yang harus dilakukannya? Saya jawab. kaum Muslimin wajib melakukan tiga hal: 1. Para shahabat bertanya. apabila kaum Muslimin belum mampu melawan. melengserkan dan membebaskan umat dari kejahatan dan kekafirannya.Empat Tipe Penguasa “Akan ada umara’ (penguasa). Sehingga.

3 Fî Azh-Zhilâl Al-Qur’ân: III/1543. Sayyid Quthb r.h. “Hal tersebut dilakukan dari batasan kekuatan minimal hingga maksimal. “Melaksanakan i’dad yang dimampui ialah kewajiban yang menyertai kewajiban jihad. beliau menegaskan. Sehingga. Nabi Saw bersabda: “Dan apa yang aku perintahkan kepada kalian. musuhmu dan selain mereka yang kalian tidak mengetahuinya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala: ÷Λä⎢÷èÜtFó™$# $tΒ ©!$# (#θà)¨?$$sù s “Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuan kalian..”(HR Al-Bukhari dan Muslim). tak ada satu kelompok Muslim pun yang diam terlena dan tidak melakukan faktor-faktor kekuatan apa pun yang sanggup dilakukannya.” Dengan demikian.. berkata. 20 .”3 Selanjutnya. sedang Allah mengetahuinya …” (Al-Anfal: 60). ketidakmampuan melawan bukan merupakan pembenaran untuk bisa duduk-duduk meninggalkan i’dad yang sesuai kemampuan.Melawan Penguasa untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh-musuh Allah. Sebab.” (At-Taghâbun: 16). kerjakanlah darinya semampu kalian. Karena perkara yang mudah tidak akan digugurkan oleh sebab yang sulit. nash memerintahkan I’dadul Quwwah (mempersiapkan kekuatan) dengan berbagai macam jenis dan sebab-sebabnya.

“Barangsiapa dibebani dengan suatu ketaatan. Selain itu.h.Empat Tipe Penguasa Berkaitan dengan hadits tersebut. Jika suatu kewajiban tidak bisa sempurna kecuali dengan sesuatu. Al-Izz bin Abdussalam r.h. mengerjakan apa yang tidak mereka mengerti. orang tersebut telah 4 5 Qawâ’idul Ahkâm: II/5. Al-Fatâwâ: XVIII/259.”4 Adapun Ibnu Taimiyah r. Mereka mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan. membantu mereka dan menopang para penolong mereka.”5 2. 21 . lalu ia mampu melaksanakan sebagian dan tak sanggup pada sebagian lain. ia harus melaksanakan apa yang dimampui dan gugurlah apa yang tidak dimampuinya. berkata. Kaum Muslimin hendaknya memisahkan diri dari penguasa kafir serta tidak pula bekerja sama atau bekerja kepadanya. Mereka mengatakan apa yang mereka ketahui. menjelaskan. “Wajib melaksanakan persiapan untuk jihad dalam wujud i‘dadul quwwah (penyiapan kekuatan) dan menambatkan kuda-kuda perang pada saat gugurnya kewajiban jihad karena kondisi yang lemah. Kondisi kalian akan bertahan seperti itu selama satu masa. Barangsiapa yang menasehati mereka. Taat kepada mereka adalah ketaatan (dalam ibadah-edt). bekerja sesuai dengan apa yang mereka ketahui. Rasulullah Saw bersabda. hendaknya ia juga meninggalkan amal apa saja yang termasuk dari urusannya atau yang menguatkan kekuasaan serta cengkeramannya pada negeri dan rakyat. maka sesuatu itu menjadi wajib. “Akan datang kepada kalian para pemimpin setelahku. Kemudian akan datang kepada kalian para pemimpin setelahku.

Ditakhrij Ibnu Hibban. Barangsiapa mendapati hal itu di antara mereka. dan bendahara. As-Silsilah Ash-Shahîhah (360). janganlah menjadi penasihat.”7 Rasulullah Saw bersabda: “Dengarlah! Apakah kalian telah mendengar bahwa akan datang setelahku para penguasa? Barangsiapa menemui mereka lalu membenarkan kebohongan mereka dan 6 7 Ditakhrij Ath-Thabrani.”6 Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh akan datang kepada kalian para penguasa yang mendekati manusia jahat dan mengakhirkan shalat dari waktunya. penarik pajak.Melawan Penguasa binasa dan membinasakan. polisi. As-Silsilah Ash-Shahîhah (457). tinggalkanlah mereka dengan amal kalian dan persaksikanlah bahwa orang baik itu baik dan orang jahat itu jahat. 22 . Pergaulilah mereka dengan jasad kalian.

undang-undang dan aturan mereka secara sukarela. wallahu a’lam. Barangsiapa meninggalkan mereka. tidak menolong mereka dalam kezalimannya. keberadaan. Jika ada pertanyaan. Shahîh Al-Jâmi` (3661). Barangsiapa memisahkan diri dari mereka. hukum. tidak membenarkan kedustaan mereka. Barangsiapa yang tidak menemui mereka.”8 Rasulullah Saw bersabda. Kaum Muslimin hendaknya tidak mengakui status hukum. masih banyak lagi hadits yang mengajak untuk memisahkan amal dari para thaghut yang zalim serta menjauhi mereka. ia selamat. 3. ia selamat. ia celaka. 23 . bukankah hadits-hadits yang disebutkan tadi khusus untuk para penguasa lalim (berdosa)? Kita bisa menjawabnya dengan mengatakan bahwa.Empat Tipe Penguasa menolong mereka dalam kezalimannya.”9 Selain hadits-hadits di atas. 8 9 Shahîh Sunan At-Tirmidzî (1843). maka ia bukanlah dari golonganku dan aku bukan dari golongannya. kaum Muslimin hendaknya tidak serta merta melegitimasi status kepemimpinan. “Akan ada penguasa yang kalian ketahui dan ingkari. Ia tidak termasuk orang yang mendatangi telagaku. dan ia termasuk orang yang mendatangi telagaku. jika hadits tersebut diterapkan untuk penguasa kafir dan para thaghut itu lebih pantas dan lebih kuat. dan undangundang buatannya. Dalam hal ini. Ditakhrij Ath-Thabrani. maka ia dari golonganku dan aku dari golongannya. Barangsiapa bergaul dengan mereka.

maka bisa diartikan sebagai pengakuan dan terhadap sahnya kekufuran dan tanda atas keridhaan atasnya. Pada sisi lain. “Apabila seseorang berkata kepada orang munafik. tidak menambahkan kepada mereka gelar yang bisa mengarah kepada pengakuan status mereka sebagai pemimpin umat Islam. ‘Tuan kami!’ Karena jika ia menjadi tuan kalian. dan betapa banyak orang tergelincir dalam perkara ini! Rasulullah Saw bersabda: “Jangan kalian katakan untuk orang munafik. dan selain keduanya. ‘Wahai tuan!’ 10 Ditakhrij Abu Dawud. Adapun ridha terhadap kekufuran telah disepakati sebagai kekafiran tanpa perdebatan lagi. Pada titik inilah kita harus waspada dari ketergelinciran akidah yang sangat berbahaya. kalian telah membuat marah Rabb kalian. kata Siyadatur Rais (tuan pemimpin). Apabila umat bersatu dan sepakat atas hal itu—sesuatu yang merupakan keharusan. Misalnya.” 10 Dalam riwayat lain. Ahmad. atau selain itu yang berupa gelar-gelar pengagungan yang mengarah pada pengakuan terhadapnya atau hukum dan aturannya. 24 .Melawan Penguasa Bentuk-bentuknya antara lain. sungguh tindakan tersebut merupakan bagian dari faktor-faktor yang bisa mempercepat kehancuran pengaruh kekuasaanya terhadap negara dan manusia. As-Silsilah Ash-Shahîhah (371). Jalalatul Mulki (yang mulia raja). ketika kita melegitimasi kepemimpinan dan kekuasaannya.

pujian. menyianyiakan banyak maslahat.Empat Tipe Penguasa Maka ia telah membuat marah Rabb-nya Tabaraka wa Ta’ala. pemuliaan. 25 . lalu bagaimana jika ia berbicara kepada para thaghut yang kafir lagi murtad. perkara ini berkaitan dengan orang munafik yang menampakkan keislamannya. hal tersebut menjadi sebab utama kemarahan Allah atas diri kita. Terdapat pula berbagai bentuk keluhan dan alasan penolakan lainnya yang sudah secara lazim diketahui. mereka lebih pantas masuk ke dalam kemurkaan Allah. perang. jika kemunduran kita mengakibatkan orang munafik menjadi tuan atas diri kita. lantas bagaimana dengan kaum Muslimin yang meninggalkan jihad sehingga orang kafir murtad menjadi hakim dan pemimpin atas mereka? Tak diragukan lagi. seperti yang menimpa pada banyak orang dengan ungkapan-ungkapan penghormatan. Di antaranya ialah ucapan mereka yang menyatakan bahwa melawan para penguasa hanya akan menyebabkan terjadinya fitnah. “Wahai Tuan” saja mengundang murka Rabb Tabaraka wa Ta’ala. Jika demikian. Saya katakan. pembunuhan. Jika sekadar ucapan seseorang kepada orang munafik. pertumpahan darah. dan loyalnya? Syubhat pertama: Takut tercebur ke dalam fitnah Berbagai propaganda menyesatkan telah disebarluaskan oleh sebagian orang untuk yang menurunkan semangat jihad melawan para thaghut penguasa dan kafir murtad.” Maksudnya.

ia berkata. wahai Rasulullah? Karena aku adalah seorang laki-laki yang mudah tergoda oleh wanita.Melawan Penguasa Tidaklah mereka mendengar kalimat. semoga Allah melaknat orang yang membangunkannya!” Segala bentuk propaganda menyesatkan (syubhat) ini lemah dan gugur. 26 . fitnah! Fitnah itu terlelap. “Aku mengizinkan kamu. “Fitnah. ‘Hai Judd—Judd bin Qais—mengapa kamu tidak turut melawan Bani Ashfar?” Jud menjawab. Aku takut jika aku melihat perempuan Bani Ashfar maka aku akan terkena fitnah. “Apakah engkau mengizinkan saya (untuk tidak ikut). Orang yang meninggalkan jihad dengan alasan yang dibuatbuat adalah orang yang lebih pantas tercebur ke dalam fitnah. melainkan kalian pasti akan mendapati mereka segera mentahdzir (memperingatkan dengan keras) dan berucap. “Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda. Seperti yang termaktub dalam hadits Jabir bin Abdullah. Kami akan membantah akan hal ini ditinjau dari beberapa segi: 1. “melawan penguasa”.Fitnah yang hakiki justru terdapat pada meninggalkan jihad serta menjauhi aksi melawan para thaghut kafir dan murtad.” Seketika itu pula Allah menurunkan ayat: πuΖGø9# ’Îû ωr& 4 û©Íh_ÏGøs? Ÿωuρ ’Ík< βx‹ø$# ãΑθà)tƒ ⎯¨Β Νßγ÷ΖÏΒuρ Ï ÷Ï $ Ÿ 3 (#θäÜs)y™ “Dan di antara mereka ada yang berkata.” Rasulullah Saw menjawab—beliau berpaling darinya—. izinkanlah aku dan jangan engkau ceburkan aku ke dalam fitnah.

Empat Tipe Penguasa Ketahuilah. Fitnah kufur dan syirik yang dilakukan oleh penguasa dan aturan-aturannya adalah bentuk fitnah yang sangat besar dan tak tertandingi. ia lebih pantas terjatuh ke dalam fitnah. kecuali dengan pertaubatan pelakunya sebelum mati. 11 As-Silsilah Ash-Shahîhah (2988). 2.” (Luqman: 13). Di pihak lain. Lalu. kekal selamanya.. Kejahatannya tak terampuni.” (At-Taubah: 49). Di samping itu. bukankah mereka justru telah terjatuh ke dalam fitnah (dosa dan maksiat). dan tak ada yang menandingi bahaya yang ditimbulkannya.. mereka terjatuh ke dalam fitnah setelah meminta izin dan telah diizinkan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: ∩⊇⊂∪ ÒΟŠÏàtã Οù=às9 x8÷Åe³9$# χÎ) í Ý “Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar. 27 . sedangkan menempuh jalan dalam rangka menghapuskannya membuat segala bahaya dan fitnah menjadi remeh. perkataan apa lagi yang pantas bagi orang yang meninggalkan jihad tanpa izin dan tidak mendapatkan izin? Tak diragukan lagi.11 Saya katakan. Menurut nash dan ijmak. fitnah syirik dan kufur ditinjau dari kezalimannya adalah dosa terbesar. tak ada yang melebihi keutamaan dan kemaslahatan yang diperoleh dengan menghapuskan sebab fitnah ini. ia akan dimasukkan ke neraka Jahanam. ia juga merupakan dosa yang tak terampuni oleh Allah. Sementara jika ia mati dalam kesyirikan.

Melawan Penguasa Allah berfirman: βρߊ $tΒ Ïøótƒuρ ⎯ÏμÎ/ x8ô³ç„ βr& ãÏøótƒ Ÿω ©!$# ¨βÎ) t ã u 4 â™!$t±o„ ⎯yϑ9 y7Ï9≡sŒ Ï “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni (orang) yang menyekutukan-Nya dan Dia mengampuni selain itu bagi siapa yang dikehendaki. Dengan serta merta. wahai kaumku. Allah memerintahkan mereka untuk membunuh (sebagian) mereka. 4 ¬! …ã&—#à2 Tatkala Bani Israel terjatuh ke dalam fitnah syirik dan penyembahan anak sapi. sebagaimana firman Allah: öΝçFôϑn=sß öΝä3¯ΡÎ) ÉΘöθs)≈tƒ ⎯ÏμÏΒöθs)Ï9 4©y›θãΒ tΑ$s% øŒÎ)uρ | öΝä3Í←Í‘$t/ 4’n<Î) (#þθç/θçGsù Ÿ≅ôfÏèø9$# ãΝä. Allah berfirman: ⎯ƒÏe$!$# tβθà6tƒuρ ×πuΖ÷Gù šχθä3s? Ÿω 4©®Lym öΝèδθè=ÏG≈s%uρ ß Ï “Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah. AlMuwahidun (orang-orang bertauhid) membunuh orang-orang yang menyembah anak sapi.” (An-Nisâ’: 48).ÏŒ$sƒÏkB$$Î/ Νà6¡àΡr& öΝ3©9 ×öyz öΝ3Ï9≡sŒ öΝ3|¡àΡr& (#θè=çFø%$$sù ä ä ä þ “Ketika Musa berkata kepada kaumnya.” (Al-Anfâl: 39). Sementara itu. Maka 28 . dan din seluruhnya hanya milik Allah. sesungguhnya kalian telah menganiaya diri kalian sendiri dengan menjadikan anak sapi (sebagai sembahan). demi menghilangkan fitnah tersebut. Allah mensyariatkan jihad sehingga tidak ada lagi fitnah dan seluruh din murni hanya milik Allah semata.

semua itu sangat lebih berbahaya daripada pembunuhan. Di dalam At-Tafsîr. “Tatkala (orang beriman menyadari-edt) dalam jihad ada pencabutan nyawa dan pembunuhan manusia. menghalanghalangi jalan-Nya. Oleh karena itu.Empat Tipe Penguasa bertaubatlah kalian kepada Rabb yang menjadikan kalian dan bunuhlah diri kalian. Karena itu. Firman Allah Ta’ala: 3 È≅÷Fs)ø9$# z⎯ÏΒ çt9ò2r& èπuΖ÷GÏø9$#uρ “Dan fitnah (kesyirikan) itu lebih besar (dosanya) daripada pembunuhan. meskipun fitnah pembunuhan dan peperangan itu besar. ia akan menjadi remeh. Yang demikian itu lebih baik bagi diri kalian. Dia berfirman: ∩⊇®⊇∪ 4 È≅÷Gs)ø9$# z⎯ÏΒ ‘‰x©r& èπuΖ÷FÏø9$#uρ 29 . fitnah kufur dan syirik itu lebih kejam dan lebih besar dosanya daripada pembunuhan dan peperangan beserta perihal yang mengiringinya.” (Baqarah: 191). Sementara fitnah dan kerusakan syirik adalah sebagaimana firman Allah: 4 È≅÷G)ø9$# z⎯ÏΒ ‘‰x©r& èπuΖ÷FÏø9$#uρ s “Dan fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Maksudnya.” (Al-Baqarah: 217). seperti luka-luka dan rasa sakit. Allah mengingatkan bahwa apa yang diperbuat oleh musuh-musuh mereka (orang-orang kafir) berupa kekufuran kepada Allah dan kesyirikan. Ibnu Katsir berkata.” (Al-Baqarah: 54).

Mujahid. Ikrimah. Adh-Dhahak. “Syirik lebih kejam daripada pembunuhan. Sa’id bin Zubair. dan Ar-Rabi’ bin Anas dalam mengomentari ayat. bahwa beliau bersabda: 30 .” (At-Taubah: 39). Al-Hasan Qatadah.” mereka berkata. Meninggalkan jihad terhadap para thaghut yang zalim konsekuensinya jauh lebih besar dibandingkan bahaya berjihad dan melawan mereka. Selain itu. Begitu pula fenomena waqi’ (realitas) yang membenarkan nashnash tesebut. firman Allah: öΑω7oKó¡o„ρ ö u $VϑŠÏ9r& $¹/#x‹tã öΝà6ö/Éj‹yèム(#ρãÏΖs? ωÎ) ’n?ã !$#uρ 3 $\↔ø‹x© çνρ”àÒs? Ÿωuρ öΝà2uöxî $·Βöθs% 4 t ª ∩⊂®∪ íƒÏ‰s% &™ó_x« e≅à2 È “Jika kalian tidak berangkat berperang.Melawan Penguasa ‘Dan fitnah lebih kejam daripada pembunuhan’. Dan kalian tidak bisa membahayakan-Nya sama sekali. niscaya Allah akan menimpakan azab kepada kalian dengan azab yang pedih dan Dia akan mengganti dengan kaum selain kalian.” 3. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. “Dan fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Adapun kesaksian nash—ditambah dengan yang sudah kita sebutkan.” (AlBaqarah:191) Abul Aliyah. dalam hadits shahih dari Nabi Saw. Hal tersebut berdasarkan kesaksian nashnash syar’i yang hanya berbicara dengan hak yang mutlak.

Empat Tipe Penguasa “Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad. As-Silsilah Ash-Shahîhah (2663).”14 Nabi Saw bersabda. Shahabat bertanya. senang dengan pertanian. 31 . “Apakah minoritas jumlah kami ketika itu?” 12 Ditakhrij oleh Ath-Thabrani. maka Allah akan menimpakan bahaya yang besar kepadanya sebelum hari kiamat. 14 Shahîh Sunan Abû Dâwud (2185). 13 Ditakhrij oleh Abu Dawud dan selainnya As-Silsilah As-Shahîhah (11). “Akan datang (suatu masa) umat-umat memperebutkan kalian—berserikat dan memusuhi dengan terang-terang— sebagaimana makanan yang diperebutkan dari atas nampannya. mengikuti ekor sapi (senang beternak—pnj). dan kalian meninggalkan jihad.”13 Nabi Saw bersabda: “Barangsiapa tidak berperang atau menyiapkan orang yang berperang atau tidak merawat dengan baik keluarga orang yang berperang.”12 Nabi Saw bersabda: “Apabila kalian berjual-beli secara ‘inah (riba). niscaya Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian yang tidak akan Dia cabut sampai kalian kembali kepada ajaran din kalian. melainkan Allah akan menimpakan azab kepada mereka semua (secara merata).

tiada berjihad dan menghalangi mereka. “ Cinta dunia dan takut mati. keberadaannya juga telah menyatakan hal yang demikian itu.Melawan Penguasa Nabi Saw menjawab. menang (nashr) atau mati syahid. tanah. kalian pun menyembah dan menaatinya dengan segala bentuk ketaatan dan fanatisme buta. Adapun kesaksian yang berasal dari alam realita (waqi’).”15 Demikianlah kesaksian dari nash-nash syar’i. hanya ada dua kemenangan. Jika masyarakat sudah condong kepada para thaghut nan zalim. Kedua 15 Ditakhrij Abu Dawud dan selainnya. 32 . istri. kehormatan. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut dari dada-dada musuh kalian kepada kalian. Inilah bahayanya jika kita cenderung mencintai dunia dan tiada berperang (berjihad) terhadap para thaghut. para thaghut itu masih akan terus meminta yang lebih dan yang lebih lagi dari mereka. Adapun konsekuensi dari jihad. anak. pasti mereka akan menyerahkan kepada para thaghut apa saja milik mereka yang berharga. kecuali setelah kalian tanggalkan segala apa yang kalian miliki. tetapi kalian laksana buih air bah. Sementara itu. “Wahai Rasulullah apakah wahn itu?” Beliau menjawab. meskipun besar. harta.” Shahabat bertanya. dan Allah melemparkan wahn ke dalam hati kalian. kemuliaan. Akhirnya. “Bahkan kalian pada saat itu banyak. Mereka akan menyerahkan din. Wahai kaum Muslimin! mereka tidak akan pernah merasa rela atau puas. dan apa saja yang berharga yang mereka miliki. As-Silsilah Ash-Shahîhah (958).

Memperluas wilayah operasi melebihi kekuatan dan kemampuan para mujahidin. “Bagaimanakah pertanggungjawaban atas perkataanmu itu ketika berhadapan dengan kenyataan ini?” Maka. Akibatnya. saya akan merangkumkan sebab-sebab umum yang mengakibatkan keterpurukan pada sebagian harakah-harakah jihad kontemporer. 2. Kemudian jika ada yang mengatakan—dan memang sudah—bahwa kita harus melihat dampak negatif berlangsungnya jihad di beberapa negeri. mereka mengatakan kepada kita. Kemudian dengan realitas tersebut. Barangsiapa tergesa-gesa terhadap sesuatu sebelum masanya.Empat Tipe Penguasa konsekuensi tersebut merupakan kemenangan. ia akan diganjar dengan tidak menuai hasilnya. kita bisa menjawabnya dengan mengatakan bahwa banyaknya kerusakan yang terjadi di negara-negara tersebut tidak disebabkan oleh prinsip jihad fi sabilillah atau melawan hukum thaghut dan kekufuran sebagaimana yang dipersepsikan oleh sebagian orang. dan keluhuran jika kalian mengetahuinya. kemuliaan. terpecahlah 33 . permasalahannya ialah terletak pada jiwa-jiwa kita yang senantiasa menyuruh kepada keburukan (amarah bi sû). Dalam masalah ini. Namun. Isti’jal (tergesa-gesa) sebelum memenuhi persiapan (i’dad) sebagaimana mestinya. dalam menghadapi para penguasa thaghut dan kerusakan-kerusakan yang menimpa negara dan rakyat di sana. Adapun poin-poinnya ialah: 1.

“Musuhnya musuhku ialah temanku. Mayoritas umat Islam enggan menolong serta membantu para mujahidin dan merasa cukup hanya dengan menonton 34 . sampai akhirnya mencapai tingkatan yang menyebabkan turunnya pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya para mujahidin. Sehingga. penyelewengan. dan kesesatan. 7. 8. sampailah mereka pada tingkatan yang sesuai dengan akhlak dan prinsip-prinsip dasar Islam yang dengannya mereka mampu dan layak berjihad fi sabilillah. Prediksi yang buruk terhadap kekuatan jahiliyah modern dan perkara-perkara yang meliputi mereka serta bersikap pesimis terhadapnya. Perilaku yang salah. hal itu pun mengakibatkan perampasan hasil-hasil amal jihad yang telah terencana. Perjanjian-perjanjian semu dengan pihak-pihak semu.” Sehingga. Tidak adanya peningkatan kualitas maupun kuantitas dalam jamaah yang bergerak baik secara qiyadah (kepemimpinan) maupun individu dalam banyak aspek. sehingga menyebabkan terjadinya penyimpangan. 6. yang sebagiannya dari pihak kafir murtad atas dasar prinsip. 5.Melawan Penguasa kekuatan dan kemampuan mereka ke dalam berbagai wilayah dibanding memusat pada suatu wilayah yang terpenting. 4. terlebih lagi jika perilaku itu tumbuh dari akidah dan pemahaman–pemahaman batil. 3. Banyaknya paham dan kekeliruan persepsi yang merasuki amal jihadi. seperti pemahaman Khawarij yang ekstrim. khususnya pada masa memetik buah jihad.

khususnya para ulama dan syaikh sû’ yang lebih memilih hidup di bawah ketiak para penguasa dan bergabung dalam barisan mereka. Hal tersebut menjadikan satu pihak bergerak maju sedangkan pihak lainnya bergerak mundur. 6) Adanya sekelompok orang yang juga beramal. Bagi kalangan awam. mereka pun menggabungkan diri dengan pihak yang menang supaya bisa memetik hasil dan mendapatkan bagian harta meskipun yang menang ialah thaghut. hasil buruk yang tidak kita sukai dan tidak kita inginkan pun terjadi. Akibatnya. Demikianlah gambaran global faktor paling dominan terjadinya kegagalan pergerakan-pergerakan jihad pada hari ini serta mengakibatkan terjadinya hal-hal salah dan negatif 35 . Selanjutnya. Adapun di antara beberapa faktor yang melatarbelakangi semua itu ialah: 1) Bodoh terhadap tabiat atau hakikat peperangan serta karakter musuh. 2) Bodoh terhadap hukum-hukum Islam dan apa-apa yang menjadi wajib atas mereka secara syar’i. 3) Rasa takut terhadap musuh. mereka itu mempunyai pengaruh yang sangat besar. tetapi memilih untuk menunggu serta mengamati pihak yang akan menang dan menguasai pihak lain.Empat Tipe Penguasa tanpa memedulikannya. 5) Perbedaan masalah fikih yang terjadi di antara jamaah dan beberapa tempat dalam menyusun skala prioritas. 4) Propaganda para pembius yang melemahkan jihad.

nafsu. penyimpangan kita terhadap manhaj yang benar. “Dan mengapa ketika kalian ditimpa musibah (pada perang uhud). dan kekeliruan kita kepada prinsip jihad fi sabilillah. serta penyakit hati kita yang senantiasa mengajak kepada yang buruk. kita tak pernah mengintrospeksi dan mengakui bahwa semua ini merupakan akibat kesalahan.” (Ali Imran: 165). Dengan enteng kita mengatakan inilah konsekuensi dan resiko menempuh jalan jihad. kita melimpahkan seluruh kelalaian. padahal kalian telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuhmu (pada perang Badar.’ Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Walaupun sebenarnya. semua itu tidak kita inginkan serta tidak pula dibenarkan oleh akal dan din.≈|¹& !$£ϑs9uρr& ù r 4’?ã !$# ¨βÎ) 3 öΝä3Å¡àΡr& ωΨÏã ô⎯Β uθèδ ö≅è% ( #x‹≈yδ nt © Ï ∩⊇∉∈∪ ÖƒÏ‰s% &™ó©x« Èe≅ä.Melawan Penguasa sebagaimana yang kita saksikan pada realitas kekinian. ‘Dari mana datangnya kekalahan itu?’ Katakanlah (Muhammad). dengan segala kezaliman dan kesalahan yang ada. Allah berfirman: 4’¯Τr& ÷Λä⎢=è% $pκön=÷VÏiΒ Λä⎢ö6|¹r& ô‰s% ×πt7ŠÅÁ•Β Νä3÷Gu. penyimpangan. kalian bertanya. Kemudian. ‘Itu dari (kesalahan) diri kalian sendiri. Syubhat kedua: Tidak relevan Propaganda menyesatkan yang kedua ini berbentuk ungkapanungkapan yang menyatakan bahwa keluar melawan penguasa 36 . Sementara itu.

37 . dan bermanfaat. Perkataan inilah yang kami dengar dari banyak orang yang mengaku telah mempersembahkan amal untuk din ini. dan cara yang sejenisnya. Terlebih lagi. hal tersebut bisa saja diganti dengan cara lainnya yang lebih relevan.Empat Tipe Penguasa dengan kekuatan—meskipun mereka kafir murtad. maju. di dalamnya mengandung celaan terhadap Allah. Padahal. Pantang bagi mereka mundur dari setiap jalan—meskipun apa yang ditempuhnya itu hina dan keji—dalam rangka menghalangi kaum Muslimin dari proyek islami serta tujuan mereka menghalau manusia dari peribadahan hamba menuju peribadahan Rabb hamba. Demikianlah makna perkataan mereka yang juga merupakan bentuk kekufuran itu sendiri. terdapat metode lain yang lebih relevan. kami akan menjawabnya ke dalam beberapa poin: Pertama: Perkataan ini merupakan perkataan kufur. yakni jihad dan keluar melawan thaghut kafir dan riddah ialah metode kuno dan tidak relevan. sedangkan hukum serta berbagai metode dan jalan hidup yang bersumberkan dari makhluk. Padahal. seperti demokrasi. oposisi. keberadaannya lebih diutamakan daripada tuntunan syariat Allah Ta’ala. demonstrasi damai. Sebab. Kedua: Pendapat ini tidak realistis atau lebih tepatnya hanya khayalan. Hal ini sama saja maknanya bahwa metode syar’i yang Allah perintahkan. mereka (thaghut) telah berusaha mati-matian membunuh dan berperang. Sungguh. Dalam menghadapi propaganda menyesatkan seperti ini. pemilu. ialah pilihan yang tidak relevan dan manusiawi. jika yang dijadikan pengganti dari penguasa atau hukum kafir yang berlaku ialah Islam.

Jika mereka mampu. mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kalian dan tidak pula (mengindahkan) perjanjian. mulai dari penguasa hingga rakyat. öΝä3‹Ïù #θç7%ötƒ Ÿω öΝà6ø‹n=tæ (#ρãyγôàtƒ βÎ)uρ y#ø‹Ÿ2 ( è 4 Zπ¨ΒÏŒ Ÿωuρ ~ωÎ) “Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrik).Melawan Penguasa Berikut ini ayat-ayat yang menceritakan mengenai masalah tersebut: öΝà6ÏΖƒÏŠ ⎯tã öΝä. sebutkanlah kepada kami sebuah daerah di mana kaum Muslimin bisa merintis kehidupan secara islami. 4©®Lm 3“t≈|Á¨Ψ9$# Ÿωuρ ߊθåκuø9$# y7Ψtã 4©yÌös? ⎯s9uρ y 3 öΝåκJ¯=Β yìÎ6®Ks? t Ï “Sekali-kali kaum Yahudi dan Nashrani itu tidak akan rela sehingga kalian mengikuti agama mereka …” (Al-Baqarah: 120). Hal ini adalah realitas yang tak bisa dibantah. tingkatan politik dalam negeri atau luar negeri. 38 . Oleh sebab itu.” (Al-Baqarah: 217). serta melalui cara kotak-kotak suara atau cara lainnya sebagaimana yang telah disebutkan di atas.ρ–Šãtƒ 4©®Lym öΝä3tΡθè=ÏG≈s)ムtβθä9#t“tƒ Ÿωuρ 4 (#θãè≈sÜtGó™$# ÈβÎ) “Mereka tiada henti-hentinya memerangi kalian sampai kalian keluar dari din kalian (Islam). padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kalian.” (At-Taubah: 8).

umat Islam justru memperoleh hadiah kematian dan pembantaian oleh tentara pemerintah Aljazair—Edt.16 hanya karena terbetiknya kesadaran masyarakat untuk dipimpin oleh syariat Islam? Ketiga: Memilih jalan untuk melawan dan menggulingkan penguasa dengan kekuatan adalah pilihan yang bersifat fitrah. Jika kondisinya seperti ini. para pelaku kudeta itu tidak mau mendengar suara politisi/pemimpin/orang-orang berilmu dan rakyat serta juga tak mau menerima suara kotak-kotak pemilu dan tidak ingin turun dari tampuk kekuasaan mereka. para pelaku kudeta ini tidak memberi jalan bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasinya. Dalam kondisi tersebut. Dengan kemenangan mutlak (90%). Inggris. Bayangkanlah jika terjadi kudeta berdarah oleh segelintir paramiliter di Amerika. jalan ini adalah pilihan semua manusia saat keyakinan mereka menghadapi ancaman atau perubahan dan pergantian dari segelintir kaum revolusioner. kecuali dengan mengadakan perlawanan.Empat Tipe Penguasa Tidakkah sistem demokrasinya menjelma menjadi sistem diktator yang nyata. Bukankah tank-tank pasukan militer mereka turun ke jalan-jalan—dengan restu PBB dan negaranegara adidaya di dunia— untuk menghabisi kaum Muslimin yang bersuara terbanyak. Perancis. 39 . apa yang akan terjadi pada negara-negara tersebut? Apakah Anda akan melihat bahwa mereka menyerah pada kenyataan dan tunduk di bawah kekuasaan para pelaku kudeta 16 Salah satu bentuk perjuangan lewat demokrasi yang dianggap ‘berhasil’ adalah yang terjadi di Aljazair. atau negara lainnya yang bertujuan untuk menguasai dan mengubah dasar keyakinan masyarakatnya (kedaulatan negara)! Pada saat yang sama.

ataukah mereka akan melawan meski harus dengan kekuatan senjata? Tanpa harus berpikir panjang lagi. serta sederet tuduhan dan celaan lainnya? 2. Pada saat yang sama. negara. atas dasar apa kita menyebut langkah mereka sebagai kemajuan. tindakan tak berperikemanusiaan. Penguasa Muslim yang Adil Jika pembahasan sebelumnya khusus membahas tentang penguasa kafir dengan predikat kekufuran yang nyata (kufrun bawwah). pembelaan hak asasi dan sederet pujian lainnya. tidak relevan. “Kapankah hal ini diperbolehkan bagi mereka dan rakyat mereka—dan memang sudah merupakan hak mereka. jika kaum Muslimin yang melakukannya. Tentunya. atas dasar apa hal itu menjadi tidak boleh bagi kita kaum Muslimin manakala din. kemunduran. umat manusia tak mungkin bisa bangkit kecuali dengannya. penduduk negeri tersebut harus melawan dengan kekuatan senjata untuk menggulingkan para pembangkang keyakinan dan prinsip-prinsip umum mereka sampai seluruh urusan kembali pada jalurnya yang benar seperti sedia kala. kewajiban warga negara. maka pembahasan kali ini difokuskan pada penguasa Muslim yang adil dan bagaimana menyikapinya. pertanyaannya. pembahasan kali ini jauh berbeda dengan pembahasan sebelumnya.” “Selain itu. dan keyakinan kita yang lengkap dan sempurna ini diperangi? Padahal. Dengan demikian. 40 . hal itu disebut sebagai teror.Melawan Penguasa militer tersebut.

menyebarkan aib. atau menentang dirinya dan aturannya dengan perkataan ataupun sesuatu hal yang keji. Di samping itu.Empat Tipe Penguasa Berdasarkan hal tersebut. kita juga wajib membela. baik ketika lapang maupun sempit. diharamkan berkhianat. Dengan demikian. Sebaliknya. menghormati dan memuliakan. saya jelaskan bahwa penguasa Muslim yang adil ialah penguasa yang memerintah negara dan rakyat dengan selalu memohon kepada Allah agar menjaga urusannya dengan Islam dan syariat Islam. mempertahankan. Allah berfirman: Αθß™§9$# #θãè‹ÏÛr&uρ !$# (#θãè‹ÏÛr& (#þθãΨtΒ#u™ t⎦⎪Ï%©!$# $pκš‰r'¯≈tƒ t ( © çνρ–Šãsù &™ó©x« ’Îû ÷Λä⎢ôãt“≈uΖs? βÎ*sù ( óΟä3ΖÏΒ ÍöΔF{$# ’Í<'ρé&uρ ÏΘöθu‹ø9$#uρ «!$$Î/ tβθãΖÏΒ÷σè? Λä⎢Ψä. maka kembalikanlah kepada 41 . Jika kalian berselisih dalam suatu hal. serta menjauhi segala bentuk perbuatan dosa baik besar maupun kecil. menasihati secara lahir dan batin. penguasa yang sifat dan keadaannya seperti ini wajib ditaati dengan cara yang makruf. membantu. Adapun urusan yang ada tersebut ialah sampai pada perkara keharusan individu melaksanakan kewajibankewajiban. serta harus berlemah-lembut dalam menasihatinya selama hal itu masih bisa dilakukan. βÎ) ÉΑθß™§9$#uρ «!$# ’n<Î) ÷ ∩∈®∪ ¸ξƒÍρù's? ⎯|¡ômr&uρ ×öyz 7Ï9≡sŒ 4 ÌÅzFψ$# ß y “Hai orang-orang yang beriman taatlah kepada Allah dan taat kepada Rasul dan ulil amri di antara kalian. rukun-rukun din.

17 Mati seperti matinya orang jahiliyah: mati sebagaimana orang jahiliyah mati pada masa jahiliyahnya. dan akidah kalian. maksudnya dari penganut din. atau hidung atau yang lainnya—yang memimpin kalian dengan Kitabullah. Firman-Nya: “ulil amri”—menurut perkataan para mufasir yang paling kuat—ialah para ulama dan penguasa. Ia tidak mengetahui siapa imam dan tiada keharusan taat padanya.” (HR Muslim). ia bukan dari golongan kalian dan kalian tidak wajib menaatinya.” berfungsi membatasi ketaatan kepada penguasa yang mereka berasal dari golongan kalian (minkum).Melawan Penguasa Allah dan Rasul jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Nabi Saw bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan ketaatan (kepada pemimpin) maka ia akan bertemu dengan Allah tanpa memiliki hujjah (alasan).Maksudnya bukanlah mati dalam keadaan kafir sebagaimana 42 .” (An-Nisâ’: 59).”17 (HR Muslim). Adapun firman-Nya: “minkum. Dalam hadits shahih. terputus telinga. maka ia mati seperti matinya orang jahiliyah. maka dengar dan taatlah kepadannya. Nabi saw bersabda: “Apabila diangkat pemimpin atas kalian seorang hamba yang mujadda’—buta. Dan barangsiapa mati tanpa ada ikatan bai’ah dilehernya. Selain yang seperti itu. Yang demikian itu lebih baik dan sebaik-baik keputusan. millah.

dan dishahihkan AlAlbani dalam At-Takhrîj (1056). orang yang mendengar lagi taat tiada hujah atasnya. kemudian mati. “Bagi Allah. “Din itu nasihat. 43 . maka matinya sebagaimana matinya orang jahiliyah.” (HR Muslim). yakni khalifah Muslim.” Kami bertanya. tiada pengkhianatan yang lebih besar dari berkhianat kepada pemimpin umum. dan pemimpin kaum Muslimin serta seluruh kaum Muslimin. Maksudnya adalah orang yang berkhianat kepada pemimpin umum.” (HR Muslim). “Bagi siapa?” Beliau menjawab.18 dan sesungguhnya orang yang mendengar lagi durhaka tiada alasan baginya.Empat Tipe Penguasa Nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya. 19 Ditakhrij Ahmad. Nabi Saw bersabda: “Setiap pengkhianat memiliki bendera pada hari kiamat yang akan ditinggikan sesuai kadar pengkhianatannya. orang jahiliyah mati dalam kekufuran seperti yang banyak disangka oleh sebagian orang. orang yang mendengar lagi taat tidak akan ada beban dan pertanyaan atasnya dan ia terbebas lagi dari segala tuduhan—Edt. Hal ini perlu dicamkan! 18 Maksudnya. Nabi Saw bersabda. Ketahuilah. Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah. Kitab-Nya.” (HR Muslim). RasulNya.”19 Nabi Saw bersabda: “Barangsiapa keluar dari ketaatan dan meninggalkan jamaah.

44 . dan dishahihkan Al-Albani dalam At-Takhrîj (1096). Apabila ia menerimanya maka itulah (yang terbaik). “Barangsiapa yang hendak menasihati penguasa. Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah! Sesungguhnya urusan itu dekat.”22 20 Diriwayatkan oleh Ibnu Majah. dan jika ia tidak menerimanya maka ia telah menunaikan kewajibannya. dan komitmen dengan jamaah (kepemimpinan penguasa). Al-Hakim.”21 Nabi Saw bersabda: “Janganlah kalian mencaci pemimpin kalian. maka hatinya tidak akan mendengki: mengikhlaskan amal untuk Allah. jangan mengkhianati mereka dan membenci mereka.Melawan Penguasa Nabi Saw bersabda: “Tiga hal (yang jika dilakukan) oleh seorang mukmin. nasihat kepada penguasa. 21 Ditakhrij Ahmad. 22. Sesungguhnya doa mereka senantiasa menyertai mereka. dan Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah. dan dishahihkan Al-Albani dalam At-Takhrîj (1015).”20 Nabi Saw bersabda. hendaknya ia pegang tangannya lalu mengajaknya menyendiri. janganlah melakukannya secara terang-terangan. Namun. Ditakhrij Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih AtTarghîb wat Tarhîb.

menghormati dan menasihatinya. serta tidak berkhianat atau mengumbar perihal cacatnya. “Barangsiapa menghinakan penguasa (yang ditakdirkan) oleh Allah. dalil-dalilnya masih banyak. Bukan Mutlak Jika ditanyakan. “Lima perkara yang barangsiapa melaksanakan salah-satu perbuatan itu akan menjadi jaminan kepada Allah …” Di antara lima perkara itu ialah. maka Allah akan memuliakannya pada hari kiamat. 23 Ditakhrij At-Tirmidzi dan Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam At-Takhrîj (1018). 45 . yakni apa saja yang termasuk ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasul-Nya.”25 Berkaitan dengan masalah ini. 24 Ditakhrij Ath-Thabrani dan selainnya. apakah ketaatan kepada pemimpin atau penguasa Muslim ialah ketaatan yang mutlak ataukah ketaatan yang terikat (terbatas)? Jawabnya ialah. Shahîh Al-Jâmi` (5951). yakni keharusan menaati pemimpin Muslim dengan makruf.”23 Nabi Saw bersabda. jelas ketaatan itu ialah ketaatan yang terikat dengan hal yang makruf. maka tiada ketaatan baginya. Adapun apabila ia memerintahkan pada kemaksiatan atau kebatilan.”24 Nabi Saw bersabda. maka Allah akan menghinakannya. “Barangsiapa memuliakan penguasa Allah.Empat Tipe Penguasa Nabi Saw bersabda. 25 Ditakhrij Ahmad dan Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah dan dishahihkan AlAlbani dalam At-Takhrîj (1021). “Barangsiapa menemui pemimpinnya untuk membantu dan menghormatinya. Ketaatan Terikat.

46 . selama ia tidak diperintahkan kepada kemaksiatan.” (Muttafaqun ‘alaih). “Taat kepada imam adalah kewajiban seorang Muslim selama ia tidak memerintahkan kemaksiatan. Apabila ia memerintahkan kemaksiatan maka tiada ketaatan baginya.” (Muttafaqun ‘alaih). “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal bermaksiat kepada Al-Khaliq (Allah).”27 Nabi Saw bersabda. Ibnu Hibban. Ibnu Majah. Apabila ia diperintah berbuat kemaksiatan. As-Silsilah Ash-Shahîhah (2324). maka tiada kewajiban mendengar dan taat. 27 As-Silsilah Ash-Shahîhah (752). maka janganlah kalian menaatinya.”28 26 Ditakhrij Ahmad. Nabi Saw bersabda: “Siapa pun penguasa yang memerintahkan kalian kepada kemaksiatan. 28 Misykâtul Mashâbih dan dishahihkan Al-Albani dalam At-Tahqîq (3969). Nabi Saw bersabda: “Tiada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah. ketaatan itu hanya dalam hal yang makruf.”26 Nabi Saw bersabda.Melawan Penguasa Rasulullah Saw bersabda: “Mendengarkan dan taat adalah wajib atas seorang Muslim dalam segala hal yang disenangi dan di benci.

Ia hanya boleh ditaati karena Allah (selama ia dalam kebenaran). Dengan demikian. Sama pula halnya. baik itu diktator lalim maupun demokrat. maknanya semua sistem dunia (bukan samawi—Pnj)—dengan berbagai jenis bentuk. sesungguhnya Zat yang boleh ditaati secara mutlak hanyalah Allah Ta’ala. telah diibadahi selain Allah. dan benderanya—ialah meletakkan dasar peribadahan hamba 47 . penguasa legislatif terperankan oleh pribadi penguasa ataukah kumpulan anggota majelis perwakilan yang kepada mereka dipercayakan urusan menggodok hukum dan perundang-undangan. Sebab. maka ia telah dijadikan tandingan bagi Allah Azza wa Jalla. tak dibolehkan mengikuti atau menaatinya dalam perkara yang keliru atau yang menyelisihi kebenaran. nama.Empat Tipe Penguasa Alasan yang menghalangi ketaatan secara mutlak ialah setiap orang—selain Nabi Saw—terkadang salah dan terkadang benar. Siapa saja yang ditaati karena zatnya. berikut produk aturan-aturan dan hukum apa saja yang mereka keluarkan tanpa memperhatikan hukum tersebut sesuai ataukah tidak dengan Al-Haq serta tidak peduli benar ataukah salah. Dengan demikian. Di sisi lain. Hal ini berbeda jauh dengan seluruh qanun wadh’iyyah (undang-undang buatan manusia) yang berkuasa di dunia. serta perkataan dan perbuatannya bisa diterima atau bisa juga ditolak. serta diserupakan dengan hal yang paling khusus bagi Allah Ta’ala dan sifat-sifat-Nya. sedangkan selain-Nya tidak boleh ditaati karena zatnya. seluruh undang-undang dunia mengharuskan manusia untuk taat kepada penguasa sebagai pembuat hukum dan aturan sendiri (legislatif).

Hukum Pembangkang (Bughat) Jika seseorang mengikuti nafsunya untuk melawan. maka ia dan orang yang bersamanya diperangi. Sementara kalau ia enggan kecuali harus dengan peperangan. hendaknya ia menaatinya sekuat tenaga. serta mendesak pemerintahan dan daerah kekuasaannya. lalu ia serahkan akadnya dan hatinya padanya. meskipun sistem ini menampakkan kebebasan atau berdalih bahwa sistem ini berlomba demi kebebasan manusia. Nabi Saw bersabda: “Apabila ada dua khalifah yang dibaiat maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya. Apabila datang yang lain merebutnya (kekuasaan) maka bunuhlah yang lain tersebut. Hal ini ditinjau dari segi ketaatan mutlak seorang hamba terhadap apa saja yang ditetapkan bagi hamba oleh hamba lainnya.Melawan Penguasa kepada hamba.” (HR Muslim). Nabi Saw bersabda: 48 . wajib bagi umat mencegahnya.” (HR Muslim). Hal ini sebagaimana tercantum dalam hadits: “Barangsiapa membaiat imam. menentang.

” (HR Muslim). keistiqamahan. 49 . Jika peperangan mereka terhadap penguasa karena Din. mereka harus diperangi. Sebab.Empat Tipe Penguasa “Siapa pun yang datang kepada kalian. Wallâhu Ta‘âlâ a‘lam. Hal ini sebagaimana diperanginya Musailamah Al-Kadzdzab dan para pengikutnya yang murtad oleh Khalifah Abu Bakar beserta para shahabat. Apabila ditanyakan.” (HR Muslim). mereka diperangi sebagai penyamun dan perampok. barangsiapa yang hendak menceraiberaikan urusan umat ini padahal ia terhimpun—maksudnya terkumpul pada seorang pemimpin—maka pukullah ia dengan pedang. Jika perang dan perlawanan mereka murni karena syahwat cinta jabatan serta ingin kekuasaan dan pemerintahan. padahal urusan kalian terhimpun pada seorang laki-laki dan ia hendak memecah kekuatan kalian (memberontak) atau memecah belah jamaah kalian. maka bunuhlah ia. keislaman penguasa. mereka diperangi karena alasan zindiq murtad. (bunuhlah) siapa pun ia. serta iltizamnya pada penerapan hukum-hukum syariat. atas sebab apa para pembangkang itu diperangi? Saya jawab. Nabi Saw bersabda: “Sungguh akan terjadi bencana demi bencana. jika perlawanan mereka pada penguasa Muslim karena syubhat din—seperti syubhat orangorang Khawarij ketika memberontak Ali bin Abi Thalib ra—. mereka dihukumi sebagai pemberontak yang melawan penguasa sah (bughat).

thaghut. baik karena takut maupun sukarela. Padahal. dan umatnya dari kedustaan dan penyesatan 50 . berarti telah terkategorikan orang yang menentang dan memusuhi para penguasa Muslim sebagaimana yang baru disebutkan. penyesatan. Lebih dari itu. saudara. sebagaimana pembicaraan sebelumnya yang berkaitan dengan penguasa kafir. mereka membuat takut kalangan awam kaum Muslimin dan membentuk persepsi bahwa siapa pun yang berpikir apalagi berbuat dan berusaha keluar melawan para thaghut penguasa. hendaknya menjaga dan memelihara din. dan murtad masa kini. Selain itu. mereka juga tergolong menjadi orang-orang yang menentang nash-nash syar’i yang begitu banyak menyebutkan perkara-perkara yang berhubungan dengan penguasa Muslim yang adil sebagaimana di atas telah disebutkan sebagiannya. setiap Muslim yang mempunyai kecemburuan terhadap din Allah dan kehormatannya. Karena itu.Melawan Penguasa Peringatan: Ada sebagian syaikh masa kini. semestinya mereka ini wajib diperangi dan dilawan berdasarkan nash dan ijmak. Hal ini termasuk penipuan. Dengan perbuatannya tersebut. dan kedustaan atas nama Allah dan Rasul-Nya. di antara mereka juga ada yang tak segansegan menganalogikan keadaan para thaghut dengan Ali bin Abi Thalib. Sementara keadaan orang yang keluar melawan mereka dianalogikan dengan Khawarij yang melawan Ali bin Abi Thalib. diri. yang mengalihkan nash-nash dan hukum-hukum yang berkaitan dengan penguasa Muslim yang adil untuk penguasa kafir.

bahwa pemimpin 51 .” Berkenaan dengan hal ini.” (Al-Baqarah: 124). ‘Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim’. sekalipun popularitas mereka sudah luas atau nama mereka sering disebut-sebut di berbagai belahan dunia. “Janji-Ku ini tidak mengenai orang-orang yang berbuat zalim. “Ibrahim memohon agar keturunnya dijadikan pemimpin (imam). ‘(Dan saya mohon juga) dari keturunanku. Al-Qurthubi menukil bahwa Ibnu Abbas berkata. Di dalam At-Tafsîr (II/108).’ Allah berfirman. Al-Qurthubi menjelaskan.’ Ibrahim berkata.Empat Tipe Penguasa para syaikh tersebut. ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia. penguasa yang fasik tidak diangkat secara suka rela oleh umat. Pada dasarnya. Sehingga. tetapi pada dirinya tampak beberapa pelanggaran syariat dalam tingkatan perilaku yang bersifat individu ataupun umum. “Sekelompok ulama berdalil dengan ayat ini. Allah memberitahukan kepadanya bahwa di antara anak turunnya ada yang bermaksiat. Dasarnya ialah firman Allah: ( ©ÉL−ƒh‘èŒ ⎯ÏΒuρ tΑ$s% ( $YΒ$tΒÎ) Ĩ$¨Ψ=Ï9 y7è=Ïæ%y` ’ÎoΤÎ) tΑ$s% Í ∩⊇⊄⊆∪ t⎦⎫ÏϑÎ=≈©à9$# “ωôγtã ãΑ$uΖtƒ Ÿω tΑ$s% “Allah berfirman. meskipun bukan dalam kategori kufur akbar. Lalu. Para penguasa Muslim yang fasik ialah penguasa yang memerintah berdasarkan Islam dan syariat-syariatnya. Penguasa Muslim yang Fasik Penguasa Muslim yang fasik berbeda dengan penguasa Muslim yang adil. Maka Allah berfirman—yang terjemahan maknanya. hal itu pun memasukkannya pada wilayah kefasikan. 3.

“Barangsiapa melihat pada pemimpinnya sesuatu yang ia benci. Namun demikian. Sesungguhnya.” Al-Qurthubi menambahkan. jika ia berkuasa dan memaksa umat menyerahkan kekuasaan dan kepemimpinan atau timbul kefasikan padanya setelah umat mengangkatnya menjadi pemimpin.” (Muttafaqun ‘alaihi). barangsiapa meninggalkan jamaah barang sejengkal saja lalu ia mati. 52 . dan memiliki keutamaan yang diiringi kemampuan melaksanakannya. dan zalim. pasti ia mati sebagaimana matinya orang jahiliyah. apakah ia harus diturunkan oleh umat dan dilawan dengan kekuatan? Saya jawab. Perkara itulah yang diperintahkan oleh Nabi agar mereka tidak mencabut urusan dari ahlinya. melawan penguasa dalam keadaan seperti ini lebih berbahaya dan lebih dahsyat jika dibandingkan bersabar atas kefasikan dan penyimpangan yang ada padanya. yang rajih ialah tidak diturunkan dari kekuasaan. bahwa imamah atau kepemimpinan tidak boleh diberikan kepada orang fasik. Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah Saw bersabda. Hal ini sebagai bentuk antisipasi terjadinya kerusakan dan bahaya yang diakibatkan melawan penguasa. Adapun orang fasik. mereka bukanlah orang yang berhak.” (At-Tafsîr: I/270). Sebab.Melawan Penguasa haruslah dari orang yang adil. berdosa. ihsan. Dasarnya ialah firman. hendaklah ia bersabar atasnya. “Tidak ada perselisihan di antara umat. Demikianlah yang ditunjukkan nash-nash syar’i dan telah tetap di atasnya akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. “Janji-Ku ini tidak mengenai orang-orang yang berbuat zalim.

’ ‘Mereka berhujah dengan hadits tersebut dan hadits-hadits lain yang menopangnya. “Tunaikanlah hak mereka dan mohonlah kepada Allah hak kalian. meskipun ia fajir. apakah yang baginda perintahkan kepada kami?” Nabi Saw berpaling. Dengar dan taatlah!” (HR Muslim). kalian akan melihat sifat egois dan perkara-perkara yang kalian ingkari. “Hendaknya engkau mendengar dan taat kepada amir. “Sesungguhnya.” Dari Hudzaifah bin Yaman. “Ibnu Batthal berkata. hal itu melindungi pertumpahan darah dan memberikan ketenangan kepada masyarakat luas. wajib untuk memeranginya’. “Lalu. berjihad bersamanya. Di dalam Fathul Bârî (VII/13). “Wahai Nabi Allah. Para ahli fikih bersepakat atas wajibnya menaati penguasa yang menang (berkuasa). serta menaatinya itu lebih baik daripada melawannya. Ibnu Hajar berkata. bagi siapa yang mampu. ‘Di dalam hadits tersebut terdapat hujah tentang meninggalkan perlawanan terhadap penguasa. Mereka tiada mengecualikan hal itu. apa yang baginda perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab. Bahkan. kecuali jika terjadi kekufuran yang nyata dari penguasa sehingga tak boleh menaatinya dalam perkara tersebut.” (HR Al-Bukhari). Ia kemudian 53 . Salamah bin Yazid Al-Ja’fi pernah bertanya kepada Rasulullah Saw.Empat Tipe Penguasa Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda.” Mereka bertanya. Sebab. apa pendapatmu bila yang berkuasa atas kami adalah para penguasa yang meminta hak mereka dan tidak memenuhi hak kami. bahwa Nabi Saw pernah bersabda kepadanya. meskipun punggungmu dipukul dan hartamu diambil.

barangsiapa dipimpin oleh seorang penguasa (wali). “Dengar dan taatlah baik dalam kesusahan dan kemudahanmu maupun bahagia dan sedihmu. lalu ia melihatnya berbuat maksiat kepada Allah.” (HR Muslim). beribadahlah dengan mengasingkan diri di bumi. bergabunglah! Meskipun. “Jika hari itu engkau mendapati seorang khalifah di muka bumi. Nabi Saw bersabda kepada Hudzaifah bin Yaman.” “Jika engkau tidak mendapatinya. ia menyiksa badanmu dan merampas hartamu. “Ketahuilah. Rasulullah Saw bersabda: “Dengar dan taatlah kalian! Karena bagi mereka apa yang mereka pikul (dibebani) dan bagi kalian apa yang kalian pikul (dibebani).”29 Ubadah bin Shamit meriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda. meskipun 29 Ditakhrij oleh Abu Dawud dan Ahmad. As-Silsilah Ash-Shahîhah (791). “Akan terjadi perdamaian (genjatan senjata) atas kerusakan. setelah itu datang penyeru-penyeru sesat. meskipun engkau akan mati dengan menggigit akar pohon (bersabar atas segala kerusakan yang terjadi dengan berpegang teguh pada kebenaran dan tidak berpaling darinya).Melawan Penguasa bertanya lagi dan beliau tetap berpaling. Al-Asy’ats bin Qais kemudian menarik Salamah. Beliau juga bersabda. Setelah itu. hendaknya ia membenci perbuatannya yang bermaksiat kepada Allah itu dan tidak mencabut tangan (keluar) dari ketaatan. 54 . Ia pun bertanya lagi untuk yang ketiga kali.” (HR Muslim).” Beliau menambahkan.

Sungguh aku tidak mengetahui pengkhianatan yang lebih besar dari dibaiatnya seorang laki-laki atas baiat Allah dan Rasul-Nya kemudian ia diperangi. Di dalam Al-Fath. aku telah mendengar Nabi Saw bersabda. Ibnu Hajar berkata.” Di dalam Syarh Shahih Muslim XII/229.Empat Tipe Penguasa mereka (para pemimpin) merampas hartamu dan memukul punggungmu. Ahlus Sunnah pun telah bersepakat bahwa penguasa tidak dilengserkan hanya karena ia fasik. meskipun mereka fasik dan zalim. dan ia tidak dilengserkan karena kefasikan. Ibnu Umar mengumpulkan kerabat dan anak-anaknya kemudian berkata. Para ulama berkata. Imam An-Nawawi berkata. ‘Sesunggguhnya. Aku tidak mengetahui seorang pun dari kalian yang mencabutnya dan tidak pula berbaiat atas perkara ini kecuali ada pemisah (yang haq dan yang bathil) antara aku dan ia. “Ketika penduduk Madinah melengserkan Yazid bin Mu’awiyah. yang berupa 55 . ‘Akan dikibarkan bendera bagi setiap pengkhianat pada hari kiamat.” (HR Al-Bukhari).’ Sungguh kami telah membaiat laki-laki ini atas baiat Allah dan Rasul-Nya. “Menurut hadits ini. “Adapun melawan dan memerangi mereka (para penguasa) adalah haram menurut ijmak kaum Muslimin.” Nafi’ berkata. meskipun ia lalim dalam kekuasaannya. Telah jelas hadits-hadits yang semakna sebagaimana yang telah saya sebutkan. ‘Sebab diharamkan dan tidak dibolehkannya melawan dan melengserkan pemimpin ialah apa yang ditimbulkan dari perlawanan tersebut. wajib menaati imam yang diikatkan padanya baiat serta larangan keluar melawannya.

Rasulullah Saw bersabda: 56 . berupa perbuatan haram dan meninggalkan yang wajib akan lebih besar daripada apa yang akan diperoleh dengan melakukan yang mungkar dan dosa. Sebab. penumpahan darah. Karena itu. meskipun seseorang yang dikuasai (rakyat) terkadang boleh dibunuh lantaran sebagian kefasikan yang diperbuatnya.” Di dalam Al-Fatâwâ (XIV/472). “Tidak boleh mencegah kemungkaran dengan sesuatu yang lebih mungkar. kerusakan perang itu lebih besar daripada dosa besar yang diperbuat oleh penguasa. Di samping itu.Melawan Penguasa fitnah. Hal ini merupakan suatu perkara tersendiri—yang Allah dan Rasul-Nya telah perintahkan. seperti zina dan selainnya. dan rusaknya hubungan sehingga kerusakan yang diakibatkan dari melengserkannya lebih besar dibanding membiarkannya (berkuasa)’. tidak dibolehkannya melawan penguasa bukan berarti larangan untuk beramar makruf nahi mungkar atau menjelaskan kebenaran di hadapannya setiap kali hal itu diperlukan dan mendesak untuk dikerjakan. tidak setiap hal yang di dalamnya dibolehkan membunuh. para penguasa juga tidak diperangi hanya lantaran fasik. dibolehkan pula memerangi para penguasa karena perbuatan mereka (fasik) yang serupa. Sebab. apa yang akan diperoleh dari hal itu. Jadi.” Saya katakan. diharamkan melawan penguasa dengan pedang untuk tujuan amar makruf nahi mungkar. Adapun perkara melawan penguasa ialah urusan yang berbeda. Ibnu Taimiyah berkata.

lalu kalian berdoa kepada-Nya dan Dia tidak mengabulkannya.”30 Rasulullah Saw bersabda. Sesungguhnya.”32 Beliau bersabda: 30 Shahîh Sunan At-Tirmidzî (1762). Hampir saja Allah menimpakan azab kepada kalian karenanya. At-Tirmidzi. 31 Ditakhrij Imam Ahmad. dan Ibnu Majah. 57 . 32 Ditakhrij Al-Hakim. Al-Albani menyatakan hasan dalam Shahîh At-Targhîb wat Tarhîb. hal itu tidaklah mendekatkan ajal dan menjauhkan rezeki. “Janganlah rasa takut kepada manusia menghalangi seorang untuk mengatakan yang benar jika ia mengetahuinya. As-Silsilah Ash-Shahîhah (349).Empat Tipe Penguasa “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya. hendaknya kalian benar-benar memerintahkan kepada yang makruf dan kalian cegah yang mungkar.”31 Beliau bersabda: “Pemimpin para syuhada ialah Hamzah bin Abdul Muthalib dan seorang laki-laki yang menghadap penguasa lalim lalu ia memerintahkan (yang makruf) dan melarang (yang mungkar) lalu penguasa itu membunuhnya. As-Silsilah Ash-Shahîhah (168).

dan ikhlas terhadap para penguasa lalim. 34 Ditakhrij Imam Ahmad dan Ath-Thabrani. At-Tirmidzi.”34 Dari Ubadah bin Shamit. masih banyak lagi nashnash syar’i yang berkaitan dengan amar makruf nahi mungkar dan menerangkan kebenaran di hadapan para penguasa lalim. Beliau telah mengumpulkan di dalamnya kelompok yang mulia berupa sikapsikap ksatria para ulama yang baik terhadap para penguasa lalim pada masa mereka. dan Ibnu Majah. berani. As-Silsilah Ash-Shahihah (491). sebagaimana pula yang telah dicontohkan dalam kehidupan nyata para salafush shalih beserta sikap-sikap mereka yang terpuji. ketaatan yang ada bukanlah ketaatan yang pasif tanpa amar makruf nahi mungkar dan penjelasan 33 Ditakhrij Abu Dawud. Di samping nash-nash di atas. ia berkata: “Kami membaiat Rasulullah untuk berkata benar di mana pun kami berada.35 Dengan demikian. kami tidak takut di jalan Allah terhadap celaan para pencela. 35 Lihat: Al-Islâm baina Al-‘Ulama’ wa Al-Hukkâm karya Abdul Aziz Al-Badri.Melawan Penguasa “Seutama-utama jihad ialah mengatakan yang hak di hadapan penguasa lalim.”33 Beliau bersabda: “Jihad yang paling dicintai Allah ialah perkataan hak yang ditujukan kepada penguasa lalim. 58 .” (Muttafaqun ‘alaihi). Selain itu. Shahîh Al-Jâmi` (168).

dan Lalim Tipikal dari penguasa ini berbeda dengan penguasa Muslim yang fasik. kelaliman. dalam keadaan yang seperti ini. sangat zalim. Zalim.Empat Tipe Penguasa kebenaran di hadapan para penguasa lalim sebagaimana persepsi sebagian orang. Apabila ia menolak sehingga tak ada jalan lain untuk menurunkannya kecuali dengan peperangan. maka wajib untuk melawannya. dan lalim. Tipe yang demikian ini (menurut pendapat yang rajih). dan kejam terhadap rakyat. hukumnya berbeda dengan penguasa yang fasik sebagaimana pelaku kefasikan saja. jika 59 . dan kerusakan yang diperbuatnya. saya katakan bahwa ketika umat tengah diuji dengan penguasa yang keadaan dan sifatnya demikian. Maksudnya.” (HR Muslim). kefasikan. “Sesungguhnya seburuk-buruk pemimpin adalah yang kejam. maka harus dilakukan pencermatan lebih dahulu. 4. Ia seperti yang dikatakan oleh Nabi Saw. Namun. Bahkan. baginya wajib menurunkannya melalui wewenang umat yang berupa Ahlul Halli wal ‘Aqdi. tindakan itu merupakan keharusan. dan sikap keras dari penguasa ini tidak sampai pada taraf kekufuran yang mengeluarkan dirinya dari agama. kelaliman. ia merupakan ketaatan yang digariskan lagi bijak serta aktif tanpa merasa tunduk dan hina terhadap kebatilan maupun takut terhadap sikap keras dari orang-orang zalim. Jika bahaya dan kerusakan akibat peperangan dan perlawanan terhadapnya lebih sedikit dibandingkan dengan kezaliman. Bahkan. Hanya saja. zalim. Akan tetapi. Penguasa Muslim yang Sangat Fasik. Keberadaannya sangat fasik. kezaliman. keras sikapnya.

kami telah mendengar Nabi Saw bersabda. kami telah mengetahui nash-nash yang melarang perlawanan terhadap para penguasa lalim. maka harus menahan diri dari melawannya guna mengamalkan hadits-hadits yang telah disebutkan tadi. lantas apa dalil yang membolehkan melawan mereka yang dalam keadaan tercampur dengan kezaliman yang bertumpuktumpuk sebagaimana di awal telah disampaikan? Saya jawab. Sementara jawabannya saya simpulkan ke dalam beberapa poin berikut ini: 1.Melawan Penguasa tidak seperti itu (sebaliknya). “Wahai manusia. siapa pun mereka. ‘Sesungguhnya. niscaya Allah akan menimpakan azab secara merata kepada mereka. ‘Tidaklah suatu kaum yang di tengah-tengah mereka ada kemaksiatan dan mereka mampu 60 .” “Sungguh. yakni hadits-hadits yang memerintahkan untuk menahan diri dari melawan para penguasa lalim dan fasik. sungguh kalian telah mendengar ayat ini dan tidak meletakkan pada tempatnya. Kalau dikatakan. Di antara dalil yang mengharuskan keluar melawan penguasa yang semacam ini ialah semua dalil serta nash yang mengharuskan mengubah kemungkaran dan mengajak orang-orang zalim kepada kebenaran.’ Saya juga mendengar Rasulullah Saw bersabda. jika manusia melihat orang yang zalim lalu ia tidak mencegahnya. Jagalah diri kalian! Orang yang tersesat tidak bisa membahayakan diri kalian jika kalian telah diberi petunjuk. itu merupakan pertanyaan penting. Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata setelah memuji Allah.

61 . Larangan para ulama dalam melawan para penguasa fasik dan fajir ialah dengan dasar tinjauan menolak kerusakan yang besar dengan kerusakan yang kecil dan mendahulukan bahaya yang lebih sedikit di antara dua bahaya. mengharuskan umat menjatuhkan pilihan untuk melawan para penguasa tipe ini sebagaimana kaidah dan syarat yang telah disebutkan. “Hal yang membahayakan harus dihilangkan”. dikhawatirkan Allah akan menimpakan azab kepada mereka semua’.Empat Tipe Penguasa mengubahnya. dan “Mendahulukan bahaya yang lebih sedikit di antara dua kerusakan untuk menolak kerusakan dan bahaya yang lebih besar.” Semua kaidah ini dan kaidah-kaidah lainnya yang merupakan kesimpulan dari nash-nash syar’i. sama sekali berbeda dengan apa yang yang dikatakan para ulama tentang permasalahan orang fasik atau fajir saja. di mana bahaya dan kerusakan yang lebih kecil ada pada pilihan melawannya. Karena itu. 3. kita dapati banyak dari para ulama lainnya 36 Shahîh Sunan Abû Dâwud (3644). Beramal sesuai kaidah-kaidah fikih yang ada. Adapun permasalahan kita kali ini. namun mereka tidak mengubahnya.”36 2. dibandingkan kerusakan yang lebih besar akibat membiarkan keberadaannya di balik kekuasaan. yakni “Tidak boleh ada bahaya dan yang membahayakan”. “Menghilangkan bahaya yang lebih besar dengan bahaya yang lebih kecil”.

pasti Allah akan menimpakan azab secara merata kepada mereka. kecuali ia menjadi kafir sehingga wajib melawannya’. yang wajib adalah bersabar. bahwa seorang rakyat terkadang boleh dibunuh lantaran melakukan sebagian jenis kefasikan. Adapun yang benar ialah dilarang melawannya. Di dalam Fathul Bârî (XIII/11). Ibnu Hajar berkata. Selain itu. mereka berselisih tentang bolehnya melawan.” Hal ini sebagaimana perkataan Ibnu Taimiyah yang telah disebutkan sebelumnya. ‘Hal yang telah menjadi kesepakatan ulama dalam permasalahan penguasa jur (jahat) jika mampu menurunkannya tanpa menimbulkan fitnah dan kezaliman adalah wajib. Kaidah fikih ini diambil dari sabda Nabi Saw dalam hadits terdahulu.Melawan Penguasa yang menyuarakan wajibnya melawan penguasa yang sekiranya bisa dikalahkan. namun mereka tidak mengubahnya.” Lihatlah! Nabi Saw mensyaratkan adanya kemampuan pada tindakan mengubah. dan mengaitkan iqab dan azab dengan tidak adanya tindakan mengubah kemungkaran sejalan dengan adanya kemampuan untuk itu. “Ibnu Tin mengutip dari Ad-Dawudi. Lantas. jika terjadi penyimpangan sedangkan sebelumnya ia merupakan orang yang adil. Perhatikan! Beliau mensyaratkan adanya kemampuan. menurut sebagian Ahlul Ilmi pula. Sementara di antara kemampuan menghilangkan kemungkaran ialah usaha menghilangkannya tidak menyebabkan timbulnya kemungkaran yang lebih besar daripadanya. Jika tidak. 62 . seperti zina. memberikan kekuasaan kepada orang fasik sejak awal adalah tidak boleh. “Dan mereka mampu mengubahnya.

Empat Tipe Penguasa

Di dalam Ushûlul I‘tiqad, Imam Al-Juwaini berkata, “Jika penguasa menyimpang serta kezaliman dan pengkhianatannya telah tampak, dan ia juga tidak mengindahkan peringatan tentang buruknya apa yang diperbuat, bagi Ahlul Halli wal Aqdi adalah kemufakatan untuk menolaknya, meskipun harus dengan menghunus senjata dan menetapkan perang.” Saya katakan, apa yang terkandung dalam melawan dan menghunus senjata terhadap penguasa adalah lebih sedikitnya fitnah dan kerusakannya dibandingkan apa yang ditampakkannya yang berupa kerusakan dan penyelewengan. Adapun sebagai barometernya ialah hak Ahlul Halli wal Aqdi dari kalangan para ulama dan mujahid umat. Di dalam Al-Khilâfah, Syaikh Rasyid Ridha berkata, “Permasalahan ini telah kita sebutkan lengkap dengan beberapa hasil penelitian para peneliti yang secara ringkasnya ialah: Ahlul Halli wal ‘Aqdi diwajibkan atas mereka melawan kezaliman, penyelewengan, serta mengingkari pelakunya dengan tindakan nyata dan menggulingkan penguasa mereka yang jahat, meskipun harus dengan perang apabila telah jelas bagi mereka maslahat dalam menggulingkan penguasa lebih kuat (rajih) dan mafsadahnya lebih lemah (marjuh).” Jika ada yang bertanya, Anda telah menjelaskan tentang penguasa Muslim yang adil, berikut apa yang menjadi kewajiban umat terhadapnya berupa penghormatan, pemuliaan, dan lain sebagainya. Lantas, apakah semua kewajiban ini juga berlaku terhadap penguasa fasik dan jair? Saya jawab, apa yang dikatakan di sana tentang penguasa Muslim yang adil tidaklah untuk penguasa jair, lalim, dan fasik.

63

Melawan

Penguasa

Telah diriwayatkan secara shahih dari Nabi Saw, bahwa beliau bersabda, “Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian membenci ke mereka dan mereka membenci kalian. Kalian laknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Para shahabat berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah kami lawan saja mereka ketika itu?” Beliau menjawab, “Tidak, selama mereka mendirikan shalat di tengah-tengah kalian.” (HR Muslim). Lihatlah! Nabi Saw melarang mereka untuk melawan dan menentang mereka (pemimpin) dengan pedang. Beliau juga tidak melarang mereka melaknat dan membenci mereka. Bahkan, laknat orang-orang beriman kepada mereka dikategorikan sebagai tanda bahwa mereka ialah seburukburuk pemimpin dan penguasa. Di dalam Al-Ahkâm As-Sulthâniyyah hlm. 20, Abu Ya’la mengutip perkataan Imam Ahmad Rhm yang berkomentar tentang Al-Ma’mun, “Petaka apa yang lebih besar daripada yang diperbuat oleh musuh Allah dan musuh Islam berupa mematikan sunnah?” Apabila disebutkan nama Al-Ma’mun di hadapan Imam Ahmad, beliau berkata, “Tidak ada keamanan.”37 Begitu pula apa yang telah tetap dari banyak kaum salaf tentang makian mereka terhadap Al-Hajjaj serta celaan mereka terhadapnya dengan sebutan thaghiyyah (yang melampui batas). Semua ini menunjukkan bahwa menyamakan penguasa jair dan fasik dengan para penguasa saleh nan adil,
37 Al-Ma’mun ialah nama salah seorang khalifah pada zaman Imam Ahmad, secara harfiah kata ma’mun berarti yang merasa aman atau yang diberikan rasa aman.

64

Empat Tipe Penguasa

dan apa yang menjadi hak bagi mereka berupa penghormatan dan pemuliaan adalah tidak boleh. Wallâhu a‘lam. Jika ada pertanyaan, atas dasar apa Anda tidak mengatakan wajib melawan penguasa yang fasik, padahal terhadap penguasa yang sangat fasik lagi lalim Anda mewajibkan melawan jika dipandang tak akan menimbulkan fitnah atau kerusakan serta lebih sedikit kemadaratannya? Saya jawab, hal yang membuat kami membedakan perlakuan antara keduanya adalah bahwa perkiraan tidak terjadinya fitnah dan kerusakan yang lebih besar dalam melawan penguasa Muslim yang fasik hanyalah perkara yang bersifat prediksi dan teoritis. Bahkan, hal itu mungkin hanya khayalan belaka dan tak pernah terjadi. Sebab, tidak mungkin kita mengangkat senjata terhadap penguasa yang Muslim namun fasik, padahal kefasikannya masih bisa ditolerir. Selain itu, tidak bisa diprediksikan pula fitnah dan kerusakan yang ditimbulkan akibat pemberontakan tersebut dengan segala konsekuensinya akan lebih ringan dibandingkan kefasikan dari penguasa tersebut. Di dalam Ghiyâtsul Umam hlm. 102, Al-Juwaini berkata, “Sekiranya segala sikap yang disepakati para ulama bahwa itu ialah kefasikan yang mewajibkan untuk melengserkan seorang pemimpin atau perbuatan tersebut secara otomatis melengserkan seorang penguasa, tentulah kaidah ini harus diterapkan pada semua gerak-gerik sang pemimpin dalam semua bentuk dan keadaannya. Hal yang akan menyebabkan seorang pemimpin tidak pernah lepas dari pengawasan orang-orang yang senantiasa mencari-cari alasan untuk

65

Melawan

Penguasa

melengserkannya. Selamanya pula rakyat akan bersengketa dan berselisih dalam menentukan ada tidaknya sifat atau perbuatan fasik tersebut pada setiap pemimpin yang berkuasa. Dan ketaatan pada pemimpin takkan pernah terwujud meskipun hanya sesaat.” Lebih lanjut Al-Juwaini berkata, “Kami telah menetapkan bahwa menolak kepemimpinan atau membatalkannya, menafikan manfaat dan kebaikanya, tidak memercayainya dan mengajak masyarakat untuk melawan kepemimpinannya, merupakan bentuk atau upaya dalam rangka mencopot dan melengserkan seorang penguasa atas segala penyimpangannya.

Peringatan penting: Mengingat pentingnya masalah ini, kami akan mengulang kembali apa yang sebelumnya telah kami sampaikan. Saya katakan, nash-nash yang berkaitan dengan penguasa, hak dan kewajiban atasnya, serta bagaimana setiap tipe dari mereka diperlakukan sangat banyak dan jauh lebih banyak dari terbatasnya pembahasan sederhana ini. Sehingga, tak mungkin kiranya menyampaikan hal itu dalam pembahasan yang singkat ini. Sungguh, pengetahuan mendalam dan sikap obyektifakan menuntun seorang pembahas, peneliti, atau pelajar yang haus kebenaran agar mendudukkan seluruh nash sesuai dengan kedudukan yang diinginkan Allah dan menafsirkannya menurut kehendak Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, apa yang

66

atau menampakkan kekacauan dan kontradiksi nash-nash yang ada—dikarenakan sedikitnya ilmu dan pemahaman mereka yang keliru. Begitu pula bagi yang ingin menentang pembahasan dan fatwa dalam permasalahan penting ini. Hal ini sebagaimana kasus yang kita cermati pada kebanyakan para syaikh dan para pelajar atau pembahas kontemporer yang dengan beraninya mereka berbicara dan berfatwa dalam masalah ini. Kebanyakan orang yang melakukan kesalahan serta terjerumus ke dalam ifrath dan tafrith dalam masalah ini adalah karena mereka mengambil dan mengamalkan sebagian nash serta mengabaikan sebagian yang lain.Empat Tipe Penguasa seharusnya diletakkan untuk penguasa Muslim yang adil. keberadaannya tidak dipalingkan untuk penguasa yang kafir. Tidak pula sesuatu yang semestinya dikatakan untuk penguasa yang fasik. Dengan demikian. keberadaannya dialihkan kepada penguasa yang sangat fasik dan nyata kelalimannya. Hendaknya mereka mengamatinya satu per satu serta mengaitkan sebagian dengan yang lainnya dengan tidak mencampuradukkan nash yang satu dengan yang lainnya. orang-orang tersebut hendaknya memahami secara menyeluruh kumpulan nashnash yang berkaitan dengan masalah ini serta perkataanperkataan Ahlul Ilmi. hal itu membuat mereka tercebur ke dalam sikap berlebih-lebihan (ghuluw) atau sikap acuh serta mengurangngurangi dan terjerumus ke dalam sikap berlebih-lebihan atau 67 . tidak mengkonfrontasikan sebagian dengan sebagian lainnya. di samping pengetahuan yang terbatas terhadap sebagian nash.

Melawan Penguasa meremehkan. kecuali hanya milik Allah semata. Semoga Allah selalu mencurahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad. 18 Muharram 1422 H 11 April 2001 M Abdul Mun’im Musthafa Halimah 68 . lagi mengabulkan doa. keluarga. Sesungguhnya. Mudahan-mudahan Allah menerimanya dan semoga dengannya bermanfaat bagi bangsa dan hamba. Dia Maha Mendengar. Tiada daya dan upaya. dan berarti berakhir pula pembahasan tentang masalah-masalah yang penting lagi ringkas ini. dan para shahabat beliau. Sampai di sini akhir peringatan ini. Dekat. Wa lâ haula walâ quwwata illa billah.

BAGIAN KEDUA BERBAGAI SYUBHAT DAN JAWABANNYA Abdul Aziz Al-Maliki 69 .

Melawan Penguasa 70 .

“Kufur yang bukan seperti kufur yang kalian maksudkan. untuk berdamai dengan Mu’awiyah r. sehingga menggunakan kata-kata tersebut (kufrun duna kufrin) -Edt. Ibnu Abbas r.a. maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.a.” 1 2 Diinukil dari Waqafâtun ma’a Asy-Syaikh Al-Albani haula Syarith “Min Manhaji Al-Khawarij” oleh Abu Isra’ Al-Asyuthi—Edt. tentang kufrun duna kufrin atau kufur ashghar. “Kufrun duna kufrin” atau.” (Al-Mâ’idah: 44). mereka berpedoman dengan riwayat Ibnu Abbas dalam menafsirkan firman Allah: ∩⊆⊆∪ βρãÏ≈s3ø9$# ãΝèδ 7Íׯ≈s9'ρé'sù ª!$# tΑt“Ρr& !$yϑÎ/ Οä3øts† óΟ©9 ⎯tΒuρ t y “…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah.a. Pada waktu itu. 71 .a..Berbagai Syubhat dan Jawabannya Pertama: Syubhat Pertama: Kufrun Duna Kufrin Salah Paham terhadap Atsar Ibnu Abbas r. berawal dari kekeliruan ketika memahami komentar Ibnu Abbas r. Ibnu Abbas r. mengatakan2.a. yang berhukum dengan pendapat Abu Musa Al-Asy’ari r.a.1 Munculnya propaganda sesat yang menyatakan bahwa penguasa yang mengganti syariat Allah dengan hukum buatan manusia. Lebih jelasnya. Beliau menyadarkan kaum Khawarij dengan menggunakan bahasa mereka.a. menyadarkan kaum Khawarij yang tersesat karena mengafirkan Ali bin Abi Thalib r.

Al-Hafizh mengomentarinya.” 3 Ibnu Abi Hatim mengatakan perihal Ibnu Ja’d Al-Abdi. Para perawinya adalah perawi Ash-Shahîh selain gurunya Waki’. ia adalah Ibnu Ja’d AlAbdi.” Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats-Tsiqat.Melawan Penguasa Sebenarnya. yaitu Hasan bin Abi Rabi’ Al-Jurjani. Oleh sebab itu. “Shaduq. namun dengan lafal. ia berkata. sebagiannya memvonis kafir secara mutlak atas orang yang berhukum dengan selain hukum Allah. maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. ada beberapa atsar dari Ibnu Abbas r. sementara sebagian atsar lainnya tidak menyebutkan demikian.” (Al-Mâ’idah: 44). Penjelasan tersebut adalah: 1. ‘Cukuplah perbuatan itu menjadikannya kafir’.a. ‘Ibnu Abbas telah ditanya mengenai firman Allah: ∩⊆⊆∪ tβρãÏ≈s3ø9$# ãΝèδ y7Íׯ≈s9'ρé'sù ª!$# tΑt“Ρr& !$yϑÎ/ Οä3øts† óΟ©9 ⎯tΒuρ “…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah. “Dengan perbuatan itu ia telah kafir.a. [lihat Tahdzîbu Tahdzîb I/515].” 72 . dalam AtTaqrîb I/505. “Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq dari Ma’mar dari Ibnu Thawus dari bapaknya. mengenai ayat ini. Beliau menjawab. “Aku telah mendengar darinya bersama ayahku. dalam menafsirkan ayat tersebut ada penjelasan rinci yang sangat jelas dari sisi shahih tidaknya riwayat tersebut. ia seorang yang sangat jujur (shaduq).” Sanad atsar ini shahih sampai kepada Ibnu Abbas r. Imam Waki’ meriwayatkan dalam Akhbarul Qudhah (I/ 41): Hasan bin Abi Rabi’ Al-Jurjani menceritakan kepada kami.3 Imam Ath-Thabari (12055) juga meriwayatkan dengan sanad Imam Waki’.

2. Berkaitan dengan tambahan Ibnu Thawus yang dinisbatkan kepada Ibnu Abbas. “Waki’ menceritakan kepada kami. berkata. Ibnu Waki’ juga telah menceritakan kepada kami. dari Ibnu Thawus. dan bukan kafir kepada Allah. dari Ibnu Abbas. Adapun tambahan lafal “kekafirannya bukan seperti orang yang kafir kepada Allah. Dalam riwayat tersebut. yaitu riwayat Ibnu Jarir AthThabari (12053). dari Sufyan Ats-Tsauri. ia meriwayatkan dari ayahnya. dan rasulrasul-Nya. malaikat. Ibnu Jarir Ath-Thabari mengatakan.” 73 . dari ayahnya (Thawus bin Kisan—Edt). kitab-kitab. Ibnu Abbas r. telah memvonis kafir orang yang berhukum dengan selain hukum Allah tanpa merincinya. melainkan pendapat Ibnu Thawus. ‘Dengan perbuatan itu ia telah kafir.” namun riwayat ini secara tegas menerangkan bahwa Ibnu Abbas r. malaikat. dan kitab-kitab-Nya” bukanlah pendapat Ibnu Abbas r. malaikat.a. dari Muammar bin Rasyid. dan kitab-kitab-Nya. sebenarnya tambahan ini terdapat dalam riwayat yang lain.a.” (Al-Mâ’idah: 44). maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir..a. ketika beliau mendapatkan pertanyaan tentang maksud firman Allah: ∩⊆⊆∪ βρãÏ≈s3ø9$# ãΝèδ 7Íׯ≈s9'ρé'sù ª!$# tΑt“Ρr& !$yϑÎ/ Οä3øts† óΟ©9 ⎯tΒuρ t y “…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah.Berbagai Syubhat dan Jawabannya Meskipun Ibnu Thawus menambahkan lafal “kekafirannya bukan seperti orang yang kafir kepada Allah.

Melawan

Penguasa

Benar, sanad atsar ini juga shahih. Para perawinya adalah para perawi Kutubus Sittah selain Hanad dan Ibnu Waki.’4 Hanad adalah As-Sari Al-Hafizh Al-Qudwah. Para ulama meriwayatkan darinya kecuali Imam Al-Bukhari.5 Berkenaan tentang profil Ibnu Waki’ dalam riwayat ini, AlHafizh berkata, “Ia seorang shaduq (sangat jujur), hanya saja ia mengambil hadits yang bukan riwayatnya. Akibatnya, haditsnya dimasuki oleh hadits yang tidak ia riwayatkan. Ia telah dinasihati, namun ia tidak menerima nasihat tersebut sehingga gugurlah haditsnya.”6 Pun demikian, kedudukan Ibnu Waki’ tidak membahayakan riwayat ini, karena Hanad AsSari telah menguatkannya. Kesimpulannya, dalam riwayat Abdurrazaq, tambahan ini dinisbahkan kepada Thawus. Sementara dalam riwayat Sufyan Ats-Tsauri, tambahan ini dinisbatkan kepada Ibnu Abbas. Akan tetapi, kita perlu berhati-hati terhadap kemungkinan percampuran riwayat oleh Ibnu Waki’ sebagaimana disebutkan di atas. Hal ini menimbulkan kemungkinan bahwa ini bukanlah perkataan Ibnu Abbas r.a. Namun, kalimat tersebut sekadar selipan dalam riwayat Sufyan Ats-Tsauri. Ini bisa saja terjadi, apalagi dalam Akhbarul Qudhat Waki’ telah meriwayatkan atsar ini tanpa tambahan. Namun demikian, hal ini belum pasti. Boleh jadi, tambahan ini memang ada dan berasal dari Thawus dan Ibnu Abbas sekaligus, dan inilah yang tampak lebih kuat. Wallâhu a‘lam.
4 5 6 Ibnu Waki’ adalah Sufyan bin Waki’ bin Jarrah. Tadzkiratul Huffâzh: II/507. At-Taqrîb: I/312

74

Berbagai Syubhat dan Jawabannya

3- Kita harus melihat atsar riwayat Al-Hakim dengan lebih jeli. Ia telah meriwayatkan 7 dari Hisyam bin Hujair, dari Thawus, bahwa Ibnu Abbas berkata, “Bukan kufur yang mereka (Khawarij) maksudkan. Ia bukanlah kekufuran yang mengeluarkan dari agama.

∩⊆⊆∪ tβρãÏ≈s3ø9$# ãΝèδ 7Íׯ≈s9'ρé'sù ª!$# tΑt“Ρr& !$yϑÎ/ Οä3øts† óΟ©9 ⎯tΒuρ y
“Dan barangsiapa tidak memutuskan perkara dengan hukum Allah maka mereka itulah orang-orang yang kafir.”

Maksudnya adalah kufrun duna kufrin.” Al-Hakim mengatakan, “Ini adalah atsar yang sanadnya shahih.” Atsar ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, sebagaimana disebutkan dalam Tafsîr Ibnu Katsîr8; bahwa beliau berkata, “Bukan kekufuran seperti yang mereka maksudkan.” Hisyam bin Hujair seorang perawi yang dianggap lemah riwayatnya oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, dan lain-lain.9 Ibnu Adi menyebutkannya sebagai golongan perawi dha’if.10 Demikian juga Al-Uqaili.11 Tidak ada yang mentsiqahkannya (menganggapnya periwayat terpercaya dan kuat—edt), selain ulama yang terlalu mudah mentsiqahkan, seperti Al-Ijli dan Ibnu Saad. Bahkan, Imam Al-Bukhari dan Muslim tidak pernah meriwayatkan dari

7 8 9 10 11

Al-Hakim: II/313 Tafsîr Ibnu Katsir: II/62 Tahdzîbu Tahdzîb: VI/25 Al-Kamîl fî Dhu’afâ’i Rijal: VII/2569 Adh-Dhu’afâ’ Al-Kabîr: IV/238

75

Melawan

Penguasa

Ibnu Thawus, kecuali dengan menyertakan riwayat-riwayat penguat lainnya, bukan berdiri sendiri. Satu-satunya riwayat Imam Al-Bukhari dari Ibnu Thawus adalah hadits dari Thawus, dari Abu Hurairah (6720), tentang kisah Sulaiman dan perkataannya, “Aku akan mendatangi kesembilan puluh istriku pada malam hari ini….” Beliau meriwayatkannya dengan nomor (5224); ini pun dengan menyertakan riwayat penguat untuk Ibnu Thawus dari ayahnya dari Abu Hurairah. Adapun Imam Muslim, beliau hanya meriwayatkan dua hadits darinya. Pertama, hadits Abu Hurairah di atas dengan nomor 1654, dari Ibnu Thawus, dari bapaknya, pada tempat yang sama juga secara mutaba’ah. Kedua, hadits Ibnu Abbas, “Mu’awiyah berkata kepadaku, ‘Saya diberi tahu bahwa Mu’awiyah memendekkan rambut Rasulullah Saw di Marwah dengan gunting…’.” Beliau meriwayatkan dengan nomor 1246 dari sanad Hisyam bin Hujair, dari Thawus, dari Ibnu Abbas. Sanad dari Hasan bin Muslim yang diriwayatkan dari Thawus ini pun disertai riwayat penguat dalam tempat yang sama. Abu Hatim berkomentar, ‘Tulis dahulu haditsnya.’ 12 Maksudnya, dilihat terlebih dulu apakah ada riwayat yang memperkuatnya, sehingga haditsnya bisa diterima, atau tidak ada riwayat penguatnya sehingga riwayatnya ditolak. Sepanjang pengetahuan kami, hadits riwayat Al-Hakim di atas termasuk golongan hadits-hadits yang tidak ada penguatnya. Pada diri saya terdapat keraguan tentang keshahihannya. Meskipun Al-Hakimmenshahihkannya, karena
12 Tahdzîbut Tahdzîb: VI/25

76

Sanad yang shahih sebagian mengandung pengafiran secara mutlak terhadap orang yang berhukum dengan selain hukum Allah tanpa rincian. 4. maka ia zalim dan fasik. atau ditolak.13 13 Tahdzîbut Tahdzîb: IV/213-214. dalam menafsirkan firman Allah dalam surah AlMa’idah: 44. Ibnu Jarir Ath-Thabari meriwayatkan13 dari sanad Ali bin Abi Thalhah. jika ditinjau dari segi sanadnya ada yang bisa diterima (shahih) dan ada pula yang tidak shahih. Ia dipermasalahkan dan sebagian besar ulama menganggap riwayatnya lemah. Kesimpulannya. Semoga Allah merahmatinya. riwayatnya juga masih dipermasalahkan (hadits no. “Jika ia juhud (ingkar) terhadap apa yang diturunkan Allah. yang berkata. kitab-kitab. diterima. dan barangsiapa mengakuinya. Dengan demikian.14 Dalam sanad ini juga terdapat periwayat bernama Abdullah bin Shalih. dan rasulrasul-Nya. apa yang dinisbatkan kepada Ibnu Abbas. 12063).” Meskipun. maka ia telah kafir. sekretaris Al-Laits. namun tidak berhukum dengannya. tambahan ini juga merupakan perkataan Ibnu Thawus sebagaimana telah dijelaskan di atas. Sebagian lain mengandung tambahan “dan bukan seperti orang yang kafir kepada Allah. malaikat. pendapat yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas tak kosong dari kritikan.” Sanad ini munqathi’ (terputus) karena Ali bin Abi Thalhah belum mendengar dari Ibnu Abbas.a.Berbagai Syubhat dan Jawabannya ia terkenal terlalu memudahkan dalam menshahihkan hadits. 77 . dari Ibnu Abbas r.

Mujahid. Mereka beralasan bahwa kita tidak boleh mengafirkan seorang pun yang masih shalat hanya karena satu dosa. dengan berdasarkan pendapat Ibnu Abbas. As-Sunnah. maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Shalah Ash-Shawi menanggapi tuduhan yang menyebutkan bahwa orang-orang yang melawan pemerintahan kafir murtad adalah Khawarij: “Para penganut kebatilan pada zaman ini biasa mengacaukan sesuatu yang telah ditetapkan oleh dalil-dalil AlQur’an. Selain itu. Termasuk terhadap ketetapan mengenai kafirnya orang yang mengganti syariat atau menolak hukum-hukum Allah. mereka mengatakan bahwa banyak—padahal hanya sebagian saja—ulama yang menafsirkan ayat Allah: ∩⊆⊆∪ tβρãÏ≈s3ø9$# ãΝèδ 7Íׯ≈s9'ρé'sù ª!$# tΑt“Ρr& !$yϑÎ/ Οä3øts† óΟ©9 ⎯tΒuρ y “… Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah.” (Al-Mâ’idah: 44). Thawus. dan lainnya.Melawan Penguasa Tanggapan Ulama terhadap Propaganda Ini Dr. Hukum pelakunya pun tidaklah sama dengan orang yang kafir kepada Allah dan para malaikat-Nya. yakni 78 . kecuali jika ia menganggap perbuatan dosa tersebut halal. Mereka mengatakan bahwa kekafiran yang dimaksud ialah perbuatan dosa yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam. dan ijmak muslimin. dengan mengatakan bahwa kedua perbuatan ini termasuk jenis dosa dan kemaksiatan yang tidak menyebabkan seseorang keluar dari Islam. Mereka juga mengatakan bahwa menganggap kafir hanya karena perbuatan tersebut ialah ajaran sekte Khawarij.

. agar halaman buku ini tidak terlalu banyak.. kerancuan-kerancuan semacam ini juga telah memasuki serambi-serambi persidangan yang menerapkan undang-undang buatan manusia saat menghukumi pergerakanpergerakan Islam. Anda akan menemukan bahwa boneka-boneka kaum kafir yang berpakaian jaksa mengulang-ulang pendapat-pendapat ini sembari menuduh putra-putra pergerakan Islam sebagai penyambung lidah propaganda-propaganda kaum Khawarij. Berdasarkan anggapan inilah. Bahkan. Mereka juga beranggapan bahwa masyarakat kita hari ini tidak mengingkari hukum Allah. 79 . 14 Tahkîm Syarî’ah wa Shilatuhu bi Ashlid Dîn. Banyak ulama besar yang telah membantah alasan di atas.Berbagai Syubhat dan Jawabannya suatu sempalan yang mengafirkan seluruh kaum muslimin yang tidak sepakat dengan mereka. Hlm. Anehnya. misalnya firman Allah: ∩⊆⊃∪. mereka tidak membenarkan orang-orang yang menyebut para penguasa atau rakyat yang menolak syariat Allah sebagai orang-orang kafir sebagaimana yang dimaksudkan dalam ayat tersebut. secara ringkas. ¬! ωÎ) ãΝõ3ß⇔ø9$# ÈβÎ). juga tidak menolak peraturan-Nya.”14 Demikianlah alasan globalnya. “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Mahmud Syakir. Akan tetapi.. dengan berdalil pada ayat-ayat yang seperti ini. 41.” (Yusuf: 40). mereka juga menganggap bahwa tindakan menolak syariat Allah tersebut tidaklah berdosa sama sekali karena kondisi umat Islam yang ada pada hari ini. saya hanya akan menukil bantahan Syaikh Ahmad Syakir dan kakaknya..

“Atsar-atsar dari Ibnu Abbas dan selainnya sering dijadikan sasaran permainan oleh para penyesat yang mengaku sebagai ulama. kita dapat melihat dialog antara Abu Mijlaz dengan para pengikut sekte Khawarij Ibadhiyah15 yang dikutip oleh Imam Ath-Thabari. Dialog antara keduanya terekam dalam riwayat Imam Ath-Thabari.16 Kemudian. Dengan mengajak Abu Mijlaz untuk berdialog. Mahmud Syakir mengomentari kedua riwayat ini dengan komentar yang sangat bagus. Padahal. Selain itu. Dialog tersebut membahas perbuatan sebagian pemerintahan zalim yang memutuskan perkara-perkara mereka dengan selain hukum Islam pada masa itu. dan golongan lain yang berani terhadap agama. terlepas dari kesengajaan atau karena benar-benar tidak tahu. 80 . kakak saya. dan tegas: 15 Salah satu cabang aliran pemikiran dan sekte Khawarij. 12026). mereka berharap Abu Mijlaz menyepakati pendapat mereka yang mengafirkan pemerintah pada waktu itu. sekte Khawarij menganggap setiap pelaku dosa besar sebagai orang kafir. Syaikh Allamah Ahmad Syakir mengomentari ucapan Ibnu Abbas tentang permasalahan kufrun duna kufrin ini. mereka juga berharap agar pendapatnya yang mengharuskan pemberontakan kepada pemerintah terlegitimasi. Mereka menjadikannya sebagai alasan atau justifikasi untuk memperbolehkan undang-undang buatan manusia dan diberlakukan di negeri-negeri muslim. 16 Silakan merujuk riwayat Ath-Thabari (12025.Melawan Penguasa Dalam ‘Umdatut Tafsir. jelas. Berkaitan dengan hal ini.

tidak membuat pelakunya dan orangorang yang rela dengannya menjadi kafir. Abu Mijlaz berkata kepada orang-orang Khawarij. dan darah dengan selain hukum Allah yang diturunkan di dalam kitab-Nya. kehormatan. mereka pun menjadikannya sebagai pendapat yang membolehkan adanya pengadilan dalam permasalahan harta. Oleh sebab itu. kehormatan. Sesungguhnya. “Orang-orang Khawarij melakukan suatu perbuatan yang sebenarnya mereka mengetahui bahwa perbuatan itu dosa. Di samping itu. Jelas sekali. Abu Mijlaz berkata.” Sementara dalam riwayat (12026).Berbagai Syubhat dan Jawabannya “Ya Allah. kita lihat dalam riwayat (12025). mereka akan mengetahui bahwa mereka telah melakukan perbuatan dosa. dan darah dengan selain hukum Allah. Mereka juga membela tindakan pemerintahan yang memberlakukan hukum buatan orang-orang kafir di negeri muslim. para penyesat tersebut juga berpendapat bahwa pemberlakuan undang-undang yang menyelisihi hukum Allah dalam peradilan umum. Wa ba‘du. orang-orang Khawarij Ibadhiyah yang berdialog dengan Abu Mijlaz hanya ingin mendesak Abu Mijlaz agar melegitimasi pendapat-pendapat mereka mengenai pemerintah waktu itu karena pemerintah bisa jadi melakukan kemaksiatan dan perbuatan yang dilarang Allah.” 81 . para tukang fitnah dan penyebar keraguan yang berani bicara lantang pada hari ini telah mencarikan alasan untuk membela pemerintahan yang mengatur permasalahan tentang harta. Ketika mereka menemukan kedua riwayat Ath-Thabari ini. saya berlepas diri dari kesesatan. “Jika mereka meninggalkan hal itu.

pengutamaan hukum-hukum selain hukum-Nya yang tercantum dalam kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya. alasan pengutamaan mereka terhadap aturan buatan manusia atas aturan Allah dan pengakuan orangorang yang berhujah dengannya sampai pada tingkatan aturanaturan di dalam syariat Allah. kehormatan yang menggunakan undang-undang selain syariat Allah. sehingga dengan hilangnya 82 . darah. dan peniadaan setiap hukum yang ada di dalam syariat Allah. hanya berlaku untuk selain zaman kita sekarang dan karena alasan-alasan serta sebabsebab tertentu yang telah hilang. meskipun mereka berbeda pendapat dalam permasalahan kafirnya orang yang menggembar-gemborkan perbuatan tersebut dengan orang yang menyeru kepadanya. berkenaan dengan pengadilan dalam masalah harta. fenomena yang terjadi pada diri kita hari ini merupakan sikap meninggalkan seluruh hukum Allah tanpa terkecuali. kebencian kepada agama-Nya.Melawan Penguasa Jika demikian. semua ini merupakan penolakan terhadap hukum Allah. Lebih dari itu. Juga pertanyaan mengenai pemaksaan terhadap kaum muslimin untuk berhukum dengan selain hukum Allah yang tercantum dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jelas. jelaslah pertanyaan kaum Khawarij kepada Abu Mijlaz yang juga dipakai sebagai dasar pendapat para ahli bid’ah zaman ini. perbuatan ini merupakan kekafiran yang tak seorang Muslim pun ragu atas kekafiran para pelakunya. dan sikap mengutamakan hukum-hukum orang kafir atas aturan Allah Ta’ala. Sementara itu.

Atau karena ia mempunyai penakwilan yang salah. Jika yang terjadi ialah perkara yang kedua.Berbagai Syubhat dan Jawabannya alasan dan sebab-sebab pemberlakuan hukum. Lantas. Pertama. Jika seperti ini. pemerintah yang menjalankan selain aturan Islam dalam sebuah permasalahan. bisa jadi mereka melakukannya karena kebodohannya. bahwa mereka bermaksud menentang pemerintah yang menyelisihi syariat. hukumhukumnya pun berlaku lagi. maka kita katakan bahwa dalam sejarah Islam belum pernah ada pemerintahan yang membuat sendiri sebuah undangundang lalu menjadikannya sebagai syariat yang harus dijalankan. disebabkan karena dua hal. Kedua. bisa jadi pula karena memperturutkan hawa nafsu mereka. tetapi keliru dalam memahami hukum Allah tersebut dengan mengambil kesimpulan yang tak sesuai dengan keterangan seluruh ulama. Hal ini kalau ditinjau dari satu sisi. perkara ini merupakan dosa yang bisa diampuni oleh Allah. berarti pelakunya dihukumi sebagai orang yang bodoh terhadap syariat. apa artinya pendapat orang-orang tersebut jika dibandingkan dengan keterangan yang kita paparkan dalam riwayat tentang dialog Abu Mijlaz dengan sekelompok orang Khawarij dari Bani Umar bin Sadus? Seandainya permasalahannya memang seperti yang mereka utarakan sebagaimana dalam cerita Abu Mijlaz. Sementara jika ditinjau dari sisi lain. yakni bermaksud memberlakukan hukum Allah. Jika keadaannya seperti ini. ia dihukumi sebagai orang yang salah dalam memahami syariat dengan mendasarkan 83 .

saya katakan bahwa hal ini belum pernah terjadi satu kali pun. serta ridha dengan penggantian hukum-hukum tersebut.”17 Berkenaan dengan ucapan Mahmud Syakir. Jika yang dimaksud demikian. tidak mungkin dialog Abu Mijlaz dengan kelompok Khawarij Ibadhiyah diselewengkan kepada maksud yang terakhir ini. Atau bisa jadi keadaannya seperti yang terjadi pada zaman Abu Mijlaz atau sebelum dan sesudahnya. mereka dihukumi sebagai orang kafir yang tak terbantahkan lagi bagi kaum muslimin. Oleh karena itu. “Ucapan Syaikh Ahmad Syakir yang mendukung pendapat saudaranya sangat jelas sekali menunjukkan perbedaan antara kondisi yang dimaksud Ibnu 17 ‘Umdatut Tafsîr: IV/156-158. mereka dihukumi sebagai orang yang menentang hukum Allah. Abu Isra’ Al-Asyuthi berkometar. Sebab. yakni adanya penguasa yang memutuskan perkara dalam keadaan membangkang kepada hukum Allah atau mengutamakan hukum buatan orang kafir atas hukum Islam. yakni diminta bertaubat. siapa saja yang menempatkan dua atsar ini dan selainnya tidak pada tempatnya dan menyelewengkannya pada makna yang tak sesuai karena ingin membela pemerintah atau menyelewengkan pemahaman dalam rangka membolehkan berlakunya hukum selain hukum Allah.Melawan Penguasa pemahamannya kepada sebagian dalil-dalil Al-Qur’an dan AsSunnah. Sementara jika mereka tetap bersikeras serta menolak hukum Allah dan tetap dalam sikapnya. penentangannya terhadap hukum Allah. 84 . kesombongannya.

85 . 14. 19 Tahkîmusy Syarî ‘ah wa Shilatuhâ bi Ashliddîn hlm. Shalah Ash-Shawi berkata. problemnya ialah penyimpangan-penyimpangan pada prinsip yang pokok dalam Islam. Dr. yang mana setiap perselisihan di dalam masalah undangundang yang wajib diikuti masyarakat harus dikembalikan kepadanya: Al-Qur’an dan As-Sunnah ataukah undangundang positif buatan manusia yang disusun oleh parlemen dan dewan legislatif?! Hal ini terkait dengan jawaban atas pertanyaan: Undangundang apakah yang berlaku di negeri Islam? Apakah syariat Allah ataukah undang-undang Eropa? Apakah negara menegakkan syariat Islam ataukah hukum buatan sendiri?”19 18 Waqafât ma‘a Asy-Syaikh Al-Albanî haula Syarîth min Manhajil Khawârij hlm.Berbagai Syubhat dan Jawabannya Abbas dan Abu Mijlaz dengan kondisi kita hari ini. 45. ucapan keduanya membahas mengenai pemerintahan jahat yang memutuskan sebuah perkara dengan selain hukum Allah. Namun.”18 Sementara itu. “Problem yang dihadapi gerakan Islam pada hari ini bukanlah penyimpangan personal atau penyelewengan pada sebagian perkara yang menjadikan seorang hakim menyimpang dari kebenaran karena menuruti hawa nafsu atau sogokan sebagaimana yang terjadi pada pemerintahan Islam masa lalu. Jelas sekali. mengomentari ucapan Syaikh Mahmud Syakir. tetapi secara umum syariat yang mereka terapkan ialah syariat Islam dan sama sekali tidak berkenaan dengan mereka yang menerapkan aturan yang menyelisihi hukum Allah dan memaksa rakyat untuk menaatinya.

sebagaimana keyakinannya orang-orang Khawarij. yang benar bahwa kita tidak menganggap orang menjadi kafir setiap melakukan perbuatan dosa besar. kecuali jika ia meyakini kehalalannya.’ Akan tetapi. Ahlussunnah berada di tengah keduanya. Sebab.” Ulama Ahlus Sunnah baik yang hidup pada masa lampau maupun sekarang telah membantah pendapat ini. “Banyak ulama yang tidak menerima pendapat yang mengatakan secara mutlak. Di antara mereka ialah Imam Ibnu Abil Izz AlHanafi.”20 Terdapat perbedaan antara tidak mengafirkan orang walaupun berbuat seluruh dosa dan tidak mengafirkan setiap 20 Catatan penerjemah: “Kaum Murji’ah tidak mengafirkan orang walaupun melakukan seluruh maksiat. “Seseorang tak boleh dikafirkan hanya karena melakukan satu dosa.Melawan Penguasa Syubhat Kedua: Seseorang Tidak Boleh Dikafirkan Hanya Karena Melakukan Satu Dosa. dan tidak mengafirkan pelaku dosa yang belum mencapai derajat kufur. yaitu yang menyebabkan kekafiran dan yang tidak. Kecuali Jika Meyakini Kehalalannya Kesamaran kedua adalah ungkapan yang sering keluar dari mulut mereka yang mengatakan. perbuatan maksiat terbagi menjadi dua. ‘Kita tidak mengafirkan seseorang hanya karena satu kemaksiatan yang dilakukannya. yakni mengafirkan setiap pelaku dosa yang menyebabkan kafir. Beliau mengatakan. sedangkan Khawarij mengafirkan orang karena setiap perbuatan maksiat.” 86 .

berpaling. Nabi-Nya. Bahwa sekadar menghalalkan sesuatu yang haram. atau ayat-ayat-Nya). hal tersebut sudah menjadikan pelakunya kafir dan murtad karena keyakinannya tersebut jelas merupakan penolakan terhadap Allah. yang hal ini tidak seperti pendapat aliran Khawarij yang menganggap setiap pelaku dosa besar telah kafir. II hlm.Berbagai Syubhat dan Jawabannya pelaku maksiat dan dosa secara umum. Di antaranya istihza’ (menghina Allah. Dalam perkara ini. “Keterangan Ibnu Abil Izz sangatlah jelas. Di samping itu. serta perbuatan sebagaimana perkataan salaf dan kebanyakan ahli fikih. Syaikh Abu Qatadah Al-Filistini Rhm berkomentar. sekadar menghalalkan sesuatu yang haram bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam dan termasuk salah satu perbuatan kekafiran. membangkang. Pendapat yang benar ialah tidak mengafirkan setiap pelaku perbuatan maksiat. keyakinan hati. 21 Syarh Thahawiyyah jil. Dengan demikian. dan menyombongkan diri terhadap kebenaran. keluar dari Islam. kekafiran juga bisa disebabkan karena ucapan. 432 87 . masih ada beberapa jenis kekafiran yang telah diketahui dengan baik oleh para penuntut ilmu. Ahlussunnah menganggap ia telah kafir tanpa memandang apakah ia melakukannya dengan menganggapnya halal ataupun tidak. atau apakah ia masih percaya atas kenabian Nabi Muhammad ataupun tidak. serta menolak. Namun. Sebuah contoh yang jelas dalam kasus ini ialah orang yang menghina Nabi Saw.”21 Berkenaan penjelasan dari Ibnu Abil Izz.

semua ini merupakan perbuatan kafir akbar. serta mengharamkan jihad dan poligami. “Kapan menghalalkan menjadi syarat untuk memvonis orang menjadi kafir?” 88 .”22 22 Dari artikel berjudul. perbuatannya itu dianggap sebagai penghalalan atas keharaman yang sudah disepakati dan termasuk praktik mengubah agama Allah. hal ini juga merupakan perbuatan kafir akbar. tanpa melihat apakah ia menganggap halal perbuatannya ataukah tidak. Bahkan. Segala puji hanya milik Allah. seperti mengurangi hukuman atau menambahnya. jelas bahwa mengganti syariat Islam dan membuat undang-undang atau peraturan yang menentang dan membangkang hukum Allah. Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa perbuatan mengubah hukum Allah menjadikan pelakunya kafir dan murtad dari Islam menurut kesepakatan ulama.Melawan Penguasa Sekadar menghina Nabi Saw saja sudah termasuk perbuatan kufur akbar yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Sebagaimana hal itu pula. Sementara itu. seperti membolehkan khamar. perzinaan. Pelaku dari semua hal di atas dihukumi kafir. Demikian pula dengan mengubah karakteristik hukum yang telah ditetapkan syariat. baik dengan mengubah karakteristik hukum yang telah ada maupun menggantinya dari sumber aslinya (Al-Qur’an).

Selain itu. semoga Allah memberikan petunjuk kepada kami. “Mengapa Imam Ahmad bin Hanbal tidak menganggap Khalifah Al-Ma’mun yang berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk sebagai orang kafir?” Pertanyaan ini diajukan kepada Syaikh Umar bin Mahmud Abu Umar (Abu Qatadah Al-Filasthini). “Alasan di atas tak akan dikatakan. dan beliau menjawabnya dengan jawaban sebagai berikut: “Di antara alasan orang-orang yang tak mau memvonis kafir pemerintah yang mengganti syariat Allah serta mewajibkan pemberontakan melawan mereka dan bahkan membolehkan berbaiat kepadanya ialah perkataan mereka. meskipun ia berpendapat Al-Qur’an adalah makhluk serta Allah tidak memiliki sifat. serta mengetahui sikap para Imam Ahlus Sunnah terhadap mereka yang salah dalam menakwilkan nash. Bagi yang mengerti realitas kita hari ini. tidak memvonis kafir khalifah Al-Ma’mun. Jika ia bukan orang bodoh. mengetahui sebab kafirnya pemerintah saat ini.Berbagai Syubhat dan Jawabannya Syubhat Ketiga: Mengapa Para Ulama Tidak Memvonis Khalifah Al-Ma’mun Kafir? Syubhat ketiga. berarti orang yang mempermainkan agama Allah.” Kami jawab. ‘Sesungguhnya para ulama dan seniornya. Imam Ahmad bin Hanbal. akan memahami bahwa kondisi Khalifah Al-Ma’mun tak bisa dibandingkan dengan realitas 89 . beliau juga tidak melancarkan pemberontakan untuk menggulingkannya. kecuali oleh orangorang bodoh dan awam.

keyakinan. mereka yang berpendapat demikian adalah dari golongan Jahmiyah. keberadaannya bisa terjadi pada keyakinan dan perbuatan. meskipun terdapat perbedaan di kalangan ulama yang lahir kemudian. atau perbuatan ini benar sebagaimana yang diajarkan Nabi. yakni kelompok yang beranggapan bahwa Allah tidak memiliki sifat dan orang-orang yang salah paham terhadap ajaran Islam. Misalnya. bahwa ulama salaf telah bersepakat atas hukum mereka yang salah paham. Mazhab Ahlussunnah mempunyai sikap tersendiri terhadap mereka yang salah dalam memahami dalil. Keadaan ini ialah keadaan ahlul bid’ah. 90 . Kita bisa mengatakan. namun salah dalam memahaminya. kasus Khalifah Al-Ma’mun dan AlMu’tashim yang berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. tapi salah dalam penerapannya. Ia ingin mencari kebenaran. Definisi salah paham (ta’wil) ialah meyakini ayat atau hadits sebagai dalil. atau melakukan suatu perbuatan yang dikiranya bahwa pendapat. sementara pada hakikatnya hal itu tidaklah demikian. tapi tidak mendapatkannya. Sebab. sementara ayat atau hadits tersebut bukanlah dalil dalam masalah yang dimaksudnya. Mereka sebenarnya ingin melakukan kebenaran. meyakini sebuah keyakinan. Berkenaan dengan bid’ah tersebut. Praktiknya ialah saat seseorang berpendapat tentang sesuatu.Melawan Penguasa pemerintahan saat ini dari sisi mana pun. Selain itu. perbedaannya besar antara mereka yang sengaja dan bermaksud untuk berpaling dan menolak hukum Islam dengan mereka yang mencari kebenaran.

namun mereka dimaafkan karena tujuan mereka yang baik. para ulama melarang kita memvonis kafir bagi mereka yang salah paham. Khawarij dan Mu’tazilah memvonis kafir terhadap mereka yang tak sependapat dengan mazhabnya.Berbagai Syubhat dan Jawabannya Adapun Khalifah Al-Ma’mun dan kaum Jahmiyah. sedangkan Ahlussunnah wal Jama’ah meskipun mereka tetap berkeyakinan ada di antara pendapat ahlul bid’ah yang menyebabkan pelakunya menjadi kafir seketika. sehingga dimaafkan oleh Allah. Oleh sebab itu. Bisa jadi pula karena ia mengalami kerancuan dalam memahami dalil tersebut. ‘Ucapan yang bisa menyebabkan orang yang mengucapkannya menjadi kafir. Allah akan mengampuni semua kesalahannya dalam seluruh permasalahan. Siapa saja dari orang mukmin yang mencari kebenaran. Berkaitan dengan masalah ini pula. bisa jadi si pengucap belum mengetahui dalil-dalil yang membuatnya memahami kebenaran. baik dalam 91 . Sebab. meskipun keyakinan dan pendapat mereka menyimpang seperti itu. Ibnu Taimiyah mengatakan. dan perkara ini diketahui oleh pelajar ilmu tingkat pemula. tapi mereka tak langsung memvonis kafir setiap orang yang berpendapat demikian. Barangkali ia telah mengetahui. Pendapat mereka berbeda dengan pendapat Khawarij dan Mu’tazilah. Demikianlah mazhab Ahlussunnah wal Jama’ah. tapi ia salah dalam memahaminya. tetapi ia beranggapan dalil itu lemah atau ia tidak bisa memahami dalil tersebut dengan pemahaman yang benar. Ibnu Hazm telah menuliskannya dalam Ihkamul Ahkam. ada perbedaan besar antara vonis kafir terhadap perbuatan dengan vonis kafir pelaku perbuatan tersebut.

tetapi hanya salah dalam memahami kebenaran dan mengikuti orang lain…’23 Beginilah sikap para ulama terhadap orang-orang yang salah dalam memahami nash. orang yang mengajak orang lain hukumnya lebih berat dibandingkan dengan orang yang sekadar mengatakannya. Sementara itu. Meskipun demikian. Pada waktu itu. Karena yang mereka inginkan sebenarnya kebenaran serta tak pernah bermaksud mendustakan Nabi Saw dan menentang ajarannya sehingga hal ini menjadi penghalang mereka untuk divonis kafir. Demikianlah pendapat seluruh shahabat Nabi dan jumhur ulama kaum muslimin. Imam Ahmad mengafirkan orang-orang Jahmiyah yang mengingkari nama dan sifat Allah karena pendapat mereka yang jelas-jelas menyalahi ajaran Nabi Saw. Akan tetapi. beliau tidak mengafirkan setiap person yang berpendapat demikian.Melawan Penguasa permasalahan pemahaman maupun permasalahan ibadah praktis. orang yang menghukum siapa yang tak mau mengikuti pendapatnya adalah lebih jahat dari mereka yang sekadar mengajak orang lain. para pejabat pemerintahan yang menganut pendapat kaum Jahmiyah menyeru manusia untuk menganut pendapat mereka serta menghukum dan memvonis kafir bagi yang tak mau mengikuti pendapat mereka. Sebab. Sebab. Dr Abdul Aziz Al-Abdul Lathif hlm. 92 . Imam Ahmad tetap berbuat baik dan memintakan ampunan kepada Allah bagi mereka. 23 Nawaqidhul Iman Al Qauliyyah wal Amaliyyah. 52-53. beliau tahu pasti mereka tak sadar bahwa mereka mendustakan Nabi dan menentang ajarannya.

yang demikian ini merupakan makna kata Ar-Rabb dalam Islam. bagi mereka yang cerdik pandai. Lantas. pembangkangan. Padahal. mereka mendeklarasikannya di dalam undangundang dan peraturan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Pelaku perbuatan yang demikian inilah yang langsung dihukumi kafir serta benar-benar merupakan praktik penandingan hukum Allah. 61: 93 . Hal ini sebagaimana dinyatakan Imam Asy-Syathibi dalam Al-I’tisham jil. tetapi salah dalam memahaminya dengan pemerintah yang menolak mengakui Allah yang berhak melarang dan memerintah. dan Hakim Yang Mahabijaksana. Sebab itu. Bahkan. di antara yang menjadi ijmak ulama kita ialah pembuatan dan penetapan undang-undang yang menyelisihi hukum Allah adalah perbuatan kufur. bagaimana mungkin orang-orang buta dan bodoh itu bisa menyamakan pemimpin yang meyakini hanya Allah saja yang berhak melarang dan memerintah. dan penolakan yang nyata terhadap hukum Allah. mereka mengetahui bahwa para pemerintah pada zaman kita saat ini secara sengaja memang ingin menyelisihi syariat Islam. yakni Yang Berkuasa. Kedaulatan yang dimaksud ialah kekuasaan pemerintahan tertinggi secara mutlak berhak menentukan segala sesuatu. I hlm.Berbagai Syubhat dan Jawabannya Akan tetapi. Yang Mahasempurna. bahkan menyatakan dirinya sendirilah yang berhak memerintah dan melarang? Apakah dua hal ini sama? Kita berlindung kepada Allah dari kehinaan.

Perkara ini merupakan sesuatu yang sangat jelas dan terang. mereka juga menganggap syariat 24 Majmu’ Fatawa jil. ‘Kapan saja seseorang menganggap halal sesuatu yang disepakati keharamannya atau mengharamkan sesuatu yang disepakati kehalalannya atau mengganti syariat yang telah disepakati para ulama. 267. Realitas yang ada membantah dan mendustakan anggapannya tersebut.’ Sementara Ibnu Taimiyah mengatakan. melawan. yakni ingin menerapkan syariat Islam tetapi mereka salah memahaminya (sebagaimana Khalifah Al-Ma’mun—Pnj). Di samping itu. penyimpangan pemerintah yang mengganti syariat Islam dengan syariat lain bukanlah karena mereka salah memahami syariat Islam. para ahli fikih bersepakat ia telah kafir dan murtad. berarti ia telah berbohong tentang realitas pemerintahan tersebut dan membohongi dirinya sendiri. III hlm.’24 Lalu. mereka secara terang-terangan justru menyatakan syariat Islam tidak masuk dalam urusan politik dan perundangundangan. tetapi karena mereka memang ingin menyelisih. Sebab. dan menandingi syariat Allah. Namun. apakah yang dilakukan para pemerintah (menerapkan selain hukum Allah) termasuk salah ta’wil (paham) ataukah memang mereka berniat menyingkirkan AlQur’an dan As-Sunnah serta memegang erat-erat aturan Barat dalam mengatur negara? Siapa saja yang menyangka pemerintah yang mengganti syariat Islam sebenarnya berniat baik. 94 .Melawan Penguasa ‘Para ulama bersepakat bahwa mengganti aturan agama ialah perbuatan syirik dan kufur.

Kami jawab. Hal ini karena parlemen dan majelis legislatif musyrik ini berdiri di atas agama selain Islam. 21 5 1997. Karena itu. orang-orang tersebut hendaknya takut kepada Allah dan tidak membohongi masyarakat atas nama agama. Kita memohon kepada Allah agar dirinya beserta ilmunya bisa bermanfaat bagi Islam serta kaum muslimin dan berkenan membalasnya dengan sebaik-baik balasan. seperti memperbolehkan masuk ke dalam majelis legislatif. dan hanya kepada Allah saja kita mengharap taufik: 1. yang mana 95 . berarti kita diperbolehkan ikut serta menjadi menteri dalam pemerintahan kafir serta masuk dalam majelis legislatif dan yang sejenisnya. “Tidakkah kalian mengetahui bahwa Nabi Yusuf menjadi menteri dalam pemerintahan seorang raja yang kafir dan tidak menerapkan hukum Allah? Dengan demikian. Berargumen dengan syubhat (kerancuan). Mereka mengatakan.Berbagai Syubhat dan Jawabannya Islam hanya mengatur hubungan antara hamba dan Rabbnya.” Sampai di sini jawaban Syaikh. alasan ini dipegang erat oleh ahlul bid’ah yang tidak memiliki dalil yang kuat. Syubhat Keempat: Nabi Yusuf Menjadi Menteri dalam Pemerintahan Raja Mesir Ketahuilah. Syaikh Abu Qatadah menulis jawaban ini pada tanggal 14 Muharram 1418 H. yakni agama demokrasi.

$tΒ 4 z>θà)÷èƒuρ Î t usYò2r& £⎯3≈s9uρ Ĩ$¨Ζ9$# ’n?tãuρ $uΖŠn=tã «!$# È≅ôÒsù ⎯ÏΒ šÏ9≡sŒ Å ø ∩⊂∇∪ tβρãä3ô±o„ Ÿω Ĩ$¨Ζ9$# 96 .Melawan Penguasa hak legislatif.ts? ’ÎoΤÎ).. 4 &™ó©x« ⎯ÏΒ «!$$Î/ x8ô³Σ βr& !$uΖs9 šχ%x.” (Ali Imran: 85). berlepas diri dari agama selain Islam: öΝèδ οzψ$$Î/ Νèδuρ «!$$Î/ tβθãΖÏΒ÷σムω 7Θöθ% s'©#ÏΒ àMø. bukannya milik Allah.tƒ ⎯tΒuρ u ∩∇∈∪ z⎯ƒÌÅ¡≈y‚ø9$# z⎯ÏΒ ÍοÅzFψ$# t “Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam. dan menghalalkan serta mengharamkan berada di tangan rakyat. ÍtÅ F s . maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya. dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. Allah telah berfirman: ’Îû uθèδρ çμ÷ΨÏΒ Ÿ≅t6ø)ム⎯n=sù $YΨƒÏŠ ÄΝ≈n=ó™M}$# uöxî ÆtGö. membuat hukum. padahal beliau telah menyatakan ketika berada dalam penjara.≈ysó™Î)uρ zΟŠÏδ≡tö/Î) ü“Ï™!$t/#u™ s'©#ÏΒ àMèt7¨?#uρ t ÷ $ ∩⊂∠∪ tβρãÏ≈x.. Siapa yang berani menyatakan Nabi Yusuf telah mengikuti agama selain Islam dan din lain yang tidak diajarkan nenek moyangnya (Nabi Ibrahim)? Siapa yang berani menyatakan Nabi Yusuf telah bersumpah untuk menghormati agama itu? Atau siapa yang berani menyatakan Nabi Yusuf membuat peraturan yang sesuai dengan agama itu sebagaimana yang dilakukan anggota parlemen? Bagaimana mungkin Nabi Yusuf melakukan itu. Padahal.

” (Yusuf: 37 . Ishak. dan Ya’qub. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. tuhantuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah. Itulah agama yang lurus.” (Yusuf: 39-40) Apakah saat Nabi Yusuf menyatakan tauhid di dalam penjara. Tiadalah patut bagi Kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah. tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri(Nya). tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. yaitu Ibrahim. manakah yang baik. kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada Kami dan kepada manusia (seluruhnya). aku telah meninggalkan agama orangorang yang tidak beriman kepada Allah. Beliau juga menyatakan: ª!$# ÏΘr& îöyz šχθè%ÌhtG•Β Ò>$t/ö‘r&u™ Ç⎯ôfÅb¡9$# Ä©t<Ås9|Á≈tƒ x [™!$yϑó™r& ω) ÿ⎯ÏμÏΡρߊ ⎯ÏΒ tβρ߉ç7÷ès? $tΒ H Î ∩⊂®∪ â‘$£γs)ø9$# ߉Ïn≡uθø9$# 4 ?⎯≈sÜù=ß™ ⎯ÏΒ $pκÍ5 ª!$# tΑt“Ρr& !$Β Νà2äτ!$/#u™uρ ΟçFΡr& !$yδθßϑçGøŠ£ϑy™ ¨ t ó ß⎦⎪Ïe$!$# 7Ï9≡sŒ 4 çν$−ƒÎ) HωÎ) #ÿρ߉ç7÷ès? ωr& ttΒr& 4 ¬! ω) ãΝõ3ß⇔ø9$# ÈβÎ) y ( Î ∩⊆⊃∪ šχθßϑn=ôètƒ Ÿω Ĩ$¨Ζ9$# usYò2r& £⎯Å3≈s9uρ ãΝÍh‹s)ø9$# “Hai kedua penghuni penjara. beliau dalam keadaan tertindas.Berbagai Syubhat dan Jawabannya “… Sesungguhnya.38). Dan aku pengikut agama bapak-bapakku. lalu setelah berkuasa 97 . sedang mereka ingkar kepada hari kemudian.

Anda pun tahu bahwa beralasan dengan kisah Nabi Yusuf untuk membolehkan masuk ke dalam parlemen. 2. sehingga keduanya tak bisa disamakan. tidak mengapa kita meneruskan untuk membantah argumen mereka ini. dilihat dari beberapa segi merupakan kiyas yang rusak lagi batil: A. Orang-orang yang menjabat menteri pada pemerintahan yang tak menerapkan syariat Allah. hal itu tidak dibenarkan. apakah kalian lupa bahwa kementrian adalah kekuasaan eksekutif. mau tak mau harus menghormati undang-undang mereka sendiri dan menyatakan kesetiaan kepada thaghut. Padahal Allah telah memerintahkan untuk mengafirinya. Akan tetapi. Pengkiasan oleh orang-orang yang membolehkan jabatan kementerian di bawah negara-negara thaghut yang berhukum dengan selain hukum Allah serta memerangi waliwali Allah dan berwali kepada musuh-musuh Allah dengan perbuatan Nabi Yusuf.Melawan Penguasa beliau diam dan tidak menyatakan hal itu? Jawablah kami wahai orang-orang yang “berkepentingan”! Wahai para penjilat politik. yang dikatakan mereka ada kesamaan antara kedua jabatan (eksekutif dan legislatif) itu saat ini.$y⇔tFtƒ βr& tβρ߉ƒÌムy7Î=ö6s% ⎯ÏΒ tΑÌ“Ρé& !$tΒuρ ß u öΝßγ¯=Òムβr& ß⎯≈sÜø‹¤±9$# ߉ƒÌãƒuρ ⎯ÏμÎ/ (#ρãàõ3tƒ βr& (#ÿρâÉΔé& ô‰s%ρ Å ∩∉⊃∪ #Y‰‹Ïèt/ Kξ≈n=|Ê 98 . sementara parlemen adalah kekuasaan legislatif? Antara legislatif dan eksekutif perbedaannya besar. Karena itu. y7ø‹s9Î) tΑ“Ρé& !$yϑÎ/ (#θãΨtΒ#u™ ΝßγΡr& tβθßϑãã÷“tƒ š⎥⎪Ï%©!$# ’n<Î) ts? öΝs9r& Ì ö ¯ ÏNθäó≈©Ü9$# ’n<Î) (#þθϑx.

mereka harus bersumpah dengan kekufuran ini sebagaimana keadaan orang-orang yang menjadi anggota parlemen. sebelum menerima jabatan tersebut. Berarti ia adalah orang yang paling kafir dan paling busuk serta telah keluar dari agama.Berbagai Syubhat dan Jawabannya “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut. 99 .. padahal Allah telah menyatakan Nabi Yusuf tidak seperti itu. Barangsiapa menyangka Nabi Yusuf melakukan hal yang demikian. ‘Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya’. padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu.” (Yusuf: 24). ia lebih jelek dari iblis terlaknat yang bersumpah untuk senantiasa menggoda manusia: ∩∇⊄∪ t⎦⎫ÏèuΗødr& öΝßγ¨ΖtƒÈθøî_{ y7Ï?¨“ÏèÎ6sù tΑ$s% “Iblis menjawab. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (An-Nisa’: 60). agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Lebih dari itu. Î !t $ t ∩⊄⊆∪ š⎥⎫ÅÁn=ø⇐ßϑø9$# $tΡÏŠ$t6Ïã “…Demikianlah. sebagaimana firman-Nya: ô⎯ÏΒ …çμ¯Ρ) 4 u™$±ósxø9#uρ u™þθ¡9$# çμ÷Ζã t∃ÎóÇuΖÏ9 y7Ï9≡x‹Ÿ2 . Bahkan..” (Shad: 82).

Apakah Nabi Yusuf Ash-Shiddiq melakukan hal yang demikian. Ayat ini adalah pokok ajaran Islam dan kebaikan terbesar yang ada bagi Nabi Yusuf Alaihissalam dan seluruh rasul lainnya. ia merupakan hamba yang setia pada undang-undang serta menaati mereka yang membuat undang-undang tersebut. Sebab. sebagaimana yang dikisahkan-Nya. ‘Sembahlah Allah (saja). masuk akalkah jika Nabi Yusuf mengajak manusia kepada tauhid. kafir maupun zalim. sementara Allah telah menyatakan Nabi Yusuf adalah hamba Allah yang diberi keikhlasan? 100 . Bagaimana yang demikian itu. tertindas maupun berkuasa.Melawan Penguasa Adapun Nabi Yusuf. ( |Nθäó≈©Ü9$# (#θç7Ï⊥tGô_$#uρ “Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiaptiap umat (untuk menyerukan). B. mereka harus melaksanakan undang-undang kafir dan tidak boleh menyelisihinya. beliau pasti termasuk mereka yang diberi keikhlasan oleh Allah.. Karena itu. Orang-orang yang menjabat sebagai menteri dalam pemerintahan yang tidak menerapkan syariat Allah. Dengan demikian. baik mereka benar maupun salah. baik ketika beliau dalam keadaan lapang maupun sempit. Allah berfirman: ©!$# #ρ߉ç6ôã$# Âχr& »ωθß™§‘ 7π¨Βé& Èe≅à2 ’Îû $uΖ÷Wyèt/ ô‰s)s9uρ ( ∩⊂∉∪ . sehingga bisa dijadikan dalil dan alasan bolehnya menduduki jabatan orang-orang yang melakukan kekufuran? Orang yang menuduh Nabi Yusuf melakukan kekufuran ialah kafir dan zindiq. lalu beliau melakukan tindakan yang bertolak belakang kemudian menjadi orang musyrik.. dan jauhilah thaghut itu’…” (An-Nahl: 36).

Nabi Yusuf menduduki posisi perdana menteri karena anugerah dari Allah. yakni kondisi adanya negara (Nabi Yusuf sebagai penguasanya—edt) dalam negara? Kalau tidak seperti itu.M≈y_u‘yŠ Ò “…Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang Raja. tak mau tunduk kepadanya. Allah berfirman: 4 ™$t±„ ß]ø‹ym $pκ÷]ÏΒ é&§θt6tGtƒ ÇÚö‘F{$# ’Îû y#ß™θã‹Ï9 $¨Ψ©3tΒ y7Ï9≡x‹x. Ayat ini menjadi dalil bahwa Nabi Yusuf tidak melaksanakan aturan-aturan raja dan undang-undangnya. serta tak pula memaksa orang lain untuk menaatinya. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami 101 . Lalu. kecuali Allah menghendaki-Nya. (ia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. hal tersebut tak bisa dianalogikan.” (Yusuf: 76). Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki. apakah kondisi dunia kementerian dan parlemen hari ini sama dengan kondisi Nabi Yusuf saat itu.uρ â ! o ∩∈∉∪ t⎦⎫ÏΖÅ¡ósßϑø9$# tô_r& ßì‹ÅÒçΡ Ÿωuρ ( â™!$t±®Σ ⎯tΒ $uΖÏFuΗ÷qtÎ/ Ü=ŠÅÁçΡ “Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir. C. $tΒ.Berbagai Syubhat dan Jawabannya Para ahli tafsir mengatakan: ßìsùötΡ 4 ª!$# u™!$±o„ βr& HωÎ) Å7Î=yϑø9$# È⎦⎪ÏŠ ’Îû çν$yzr& x‹è{ù'uŠÏ9 tβ%x. t ∩∠∉∪ ΟŠÎ=tæ AΟù=Ïæ “ÏŒ Èe≅à2 s−öθsùuρ 3 â™!$t±®Σ ⎯¨Β . dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui...

Melawan Penguasa tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (ia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. 102 . Nabi Yusuf diberi kebebasan mutlak dalam menjalankan pemerintahan: “Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir.” (Yusuf: 54).” (Yusuf: 56).” (Yusuf: 56). Jika demikian. apakah orang-orang hina yang menjadi pengikut thaghut hari ini memiliki posisi sekuat Nabi Yusuf? Pada hakekatnya. Allah berfirman: ∩∈⊆∪ ×⎦⎫ÏΒr& ⎦⎫Å3tΒ $uΖ÷ƒ$s! tΠöθ‹ø9$# y7¨ΡÎ) tΑ$s% …çμyϑ¯=. mereka adalah barang mainan para thaghut tersebut. sehingga tak bisa dibandingkan dengan kisah Nabi Yusuf! D. ‘Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi orang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami’. ia berkata. Nabi Yusuf menduduki jabatan menteri dengan dukungan dan kekebalan penuh yang diberikan oleh raja. î t u x “…Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengannya. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.. Lantas. berarti jabatan beliau tersebut merupakan karunia Allah. sehingga raja pun tak bisa memecatnya meskipun Nabi Yusuf tak mau tunduk pada perintah dan keputusan raja. $£ϑn=sù ..

Menteri thaghut hanya sekadar pelaksana bagi seluruh keputusan raja. berarti pendapat ini mementahkan alasan bahwa Nabi Yusuf menjadi menteri dalam pemerintahan raja yang kafir. tak ada pengontrol. Hal ini dikisahkan dalam riwayat dari mujahid. apakah kebebasan seperti ini dimiliki menteri-menteri thaghut tersebut? Ataukah mereka memiliki kekebalan yang bohong lagi palsu dan bisa dicabut jika si menteri berbuat macam-macam. 3. para pengangguran yang mencoba melemparkan argumen ini hendaknya berhenti mengigau.Berbagai Syubhat dan Jawabannya Tak ada penentang. lebih kami utamakan daripada pendapat orang dan analisis 103 . berarti ia telah berbuat dusta dan telah kafir kepada Allah. Jika demikian. Lalu. Di antara sanggahan yang bisa membatalkan argumen di atas ialah keterangan sebagian ahli tafsir bahwa raja Mesir saat itu telah masuk Islam. Sebab. meskipun undangundang tersebut menyelisihi perintah Allah dan agamaNya. dan tidak boleh melanggar larangan. berarti tak ada tempat untuk menganalogikan lagi. Dengan demikian. serta ia tidak berhak menyelisihi perintah raja atau garis undang-undang. jika telah diketahui bahwa kondisi Nabi Yusuf tidak ditemukan pada kementrian thaghut pada hari ini. murid Ibnu Abbas. ia mengingkari firman Allah yang menyatakan bahwa Nabi Yusuf ialah orang yang bersih dari syirik. serta tak ada pengawas atas segala keputusan dan tindakan Nabi Yusuf. Barangsiapa menyamakan kondisi seperti ini dengan kondisi Nabi Yusuf. Berdalil dengan keumuman ayat atau makna sebuah ayat. Dengan demikian. mengikuti perintah.

(ia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Selain itu. beliau termasuk pemimpin mereka yang bila diberi kekuasaan di muka bumi 104 . menunaikan zakat. dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. Nabi Yusuf termasuk dalam golongan yang disebutkan dalam ayat di atas. Tak diragukan lagi.” (Al-Hajj: 41). ayat ini telah diterangkan sendiri oleh Allah dalam ayat lain yang menceritakan karakteristik mereka yang diberi kekuasaan Allah di muka bumi: (#âθs?#u™uρ nο4θn=¢Á9$# (#θãΒ$s%r& ÇÚö‘F{$# ’Îû öΝßγ≈¨Ψ©3¨Β βÎ) t⎦⎪Ï%©!$# èπt6É)≈tã ¬!uρ 33 Ìs3Ζßϑø9$# Ç⎯tã (#öθyγtΡuρ Å∃ρã÷èyϑø9$$Î/ (#ρãtΒr&uρ nοθŸ2¨“9$# 4 ∩⊆⊇∪ Í‘θãΒW{$# “(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat.Melawan Penguasa atau kesimpulan yang tak bersandar pada bukti dan dalil. Sementara salah satu dalil bahwa raja Mesir telah masuk Islam ialah: 4 â™!$±o„ ]ø‹ym $pκ÷]ÏΒ é&§θt6Gtƒ ÇÚö‘F{$# ’Îû y#ß™θã‹Ï9 $¨Ψ©3tΒ y7Ï9≡x‹x.uρ t ß t ∩∈∉∪ ⎦⎫ÏΖÅ¡ósßϑø9$# tô_r& ì‹ÅÒçΡ Ÿωuρ ( â™$t±®Σ ⎯tΒ $uΖÏFuΗ÷qtÎ/ Ü=ŠÅÁçΡ t ß ! “Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir.” (Yusuf: 56). Bahkan. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Makna ayat ini global dan tidak menjelaskan maksud terperinci. menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar.

Dengan demikian. kebaikan yang paling utama di dalamnya ialah tauhid yang juga ajaran yang menjadi inti dakwah Nabi Yusuf As beserta ayah dan kakeknya. sementara pelakunya beliau musuhi. Ya’qub. Beliau juga tidak membantu penerapan selain syariat Allah serta para pembuat syariat dan thaghut yang disembah selain Allah. Karenanya. dan Ibrahim. Beliau tak memberlakukan selain syariat Allah. Selain itu. Adapun bentuk kemungkaran terbesar ialah syirik yang diperingatkan serta dibenci dan dimurkai Nabi Yusuf. apalagi ikut-ikutan membuat syariat dan undang-undang sebagaimana pekerjaan anggota parlemen tersebut. beliau juga tidak menolong dan mencintai mereka sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang terkena fitnah (para anggota parlemen dan para menteri) hari ini. serta menyingkirkan dan menjauhkan orang yang memusuhi dan menentang ajaran tauhid siapa pun mereka. Barangsiapa yang tidak menyifati Nabi Yusuf. anak dua hamba Allah yang mulia seperti 105 . berhukum dengan tauhid dan mengajak rakyatnya kepadanya. serta melarang dan memusuhi setiap orang yang menyelisihi dan menentangnya. Ishaq. tidak diragukan pula bagi orang yang mengenal Islam. serta kakeknya. Selain itu. bisa dipastikan bahwa Nabi Yusuf mengingkari mereka dan mengubah kemungkarannya. hal ini menjadi bukti yang jelas dan tegas bahwa setelah diberi kekuasaan Nabi Yusuf tetap mendakwahkan ajaran Islam yang juga merupakan inti dakwah ayahnya. sebagaimana yang dijelaskan Allah di dalam Al-Qur’an. memerintahkan manusia kepadanya.Berbagai Syubhat dan Jawabannya memerintahkan perbuatan makruf dan melarang kemungkaran.

‘Sembahlah Allah (saja). atau apa? Di dalam ayat disebutkan lafal { } yang artinya. Menurut Anda. apakah pembicaraan yang disampaikan Nabi Yusuf kepada sang raja. dan.. “Tatkala ia (Yusuf) mengajak bicara sang raja.’ Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan ia. dan keluar dari agama yang suci lagi bersih. bejat. ia berkata. dan jauhilah thaghut itu…” (An-Nahl: 36). Adapun bukti lain yang menguatkan pendapat kami ialah keterangan ayat: …çμyϑ¯=x. padahal kisah tersebut sudah selesai dan siapa yang benar sudah tampak di dalamnya? Ataukah ia mengajaknya berbicara mengenai masalah persatuan dan kesatuan bangsa serta masalah ekonomi? Dan.Melawan Penguasa yang disebutkan Al-Qur’an. sehingga raja pun terpesona lalu memberinya kepercayaan dan jabatan kepadanya? Apakah Anda mengira ia menceritakan kisahnya dengan istri Al-Aziz (perdana menteri). ( |Nθäó≈©Ü9$# (#θç7Ï⊥tGô_$#uρ “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiaptiap umat (untuk menyerukan).. agar aku memilih ia sebagai orang yang rapat kepadaku. $£ϑn=sù ( ©Å¤øuΖ9 çμóÁÎ=÷‚tGó™r& ⎯ÏμÎ/ ’ÎΤθçGø$# à7Î=yϑø9$# tΑ$s%uρ Ï ÿ ∩∈⊆∪ ×⎦⎫ÏΒr& î⎦⎫Å3tΒ $uΖ÷ƒt$s! tΠöθu‹ø9$# y7¨ΡÎ) tΑ$s% “Dan raja berkata. ‘Bawalah Yusuf kepada-Ku. berarti ia telah kafir. ‘Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami’.” Adapun isi pembicaraannya sangat jelas terlihat di dalam firman Allah: ©!$# (#ρ߉6ôã$# χr& »ωθß™§‘ 7π¨Βé& Èe≅à2 ’Îû $uΖ÷Wyèt/ ô‰s)s9uρ ç  ∩⊂∉∪.” (Yusuf: 54). 106 .

≈ysó™Î)uρ zΟŠÏδ≡tö/) ü“Ï™!$t/#u™ s'©#Β àM÷èt7¨?#uρ t Î Ï $ ≅ôÒsù ⎯ÏΒ šÏ9≡sŒ 4 &™ó©x« ⎯ÏΒ «!$$Î/ x8Îô³Σ βr& !$uΖs9 šχ%x. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah.Berbagai Syubhat dan Jawabannya Selain itu.” (Az-Zumar: 65). sedang mereka ingkar 107 . niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi’. ‘Jika kamu mempersekutukan (Tuhan).ts? ’ÎoΤÎ) 4 þ’În1‘ ©Í_yϑ¯=tæ $£ϑÏΒ $yϑä3Ï9≡sŒ 4 $yϑä3u‹Ï?ù'tƒ βr& Ÿ≅ö6s% à u ∩⊂∠∪ tβρãÏ≈x. È Ÿω Ĩ$¨Ζ9$# usYò2r& £⎯Å3≈s9ρ Ĩ$¨Ζ9$# ’n?tãuρ $uΖøŠn=tã «!$# u ∩⊂∇∪ tβρãä3ô±o„ “Yusuf berkata. sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Rabb-ku. ‘Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu.uõ°r& ÷⎦È⌡s9 Î=ö6s% ⎯ÏΒ t⎦⎪Ï%©!$# ’n<Î)uρ y7ø‹s9Î) z©Çrρé& ô‰s)s9uρ | š ∩∉∈∪ z⎯ƒÎÅ£≈sƒø:$# z⎯ÏΒ £⎯tΡθä3tG9uρ y7è=Ηxå £⎯sÜt6ós‹s9 s u u “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. di dalam firman-Nya: Mø. öΝèδ ÍοtÅzFψ$$Î/ Νèδuρ «!$$/ tβθãΖÏΒ÷σムω 7Θöθ% Î s $tΒ 4 z>θà)÷èƒuρ t. Allah menceritakan inti dakwah Nabi Yusuf: ⎯Ï&Î#ƒÍρù'tG/ $yϑä3è?ù'¬6tΡ ω) ÿ⎯ÏμÏΡ$s%y—öè? ×Π$yèsÛ $yϑä3‹Ï?ù'tƒ Ÿω tΑ$s% Î Î s'©#ÏΒ Mø.

” (Yusuf: 54). inilah inti pembicaraan yang disampaikan oleh Nabi Yusuf kepada raja.. Tiadalah patut bagi Kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah. Inilah agama yang lurus. kemungkaran yang terbesar ialah syirik yang tidak sesuai dengan ajaran tauhid. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada Kami dan kepada manusia (seluruhnya).. kebaikan yang paling utama ialah tauhid. u y “…Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami. maka jawaban sang raja: ∩∈⊆∪ ×⎦⎫ÏΒr& î⎦⎫Å3tΒ $uΖ÷ƒt$s! tΠöθ‹ø9$# 7¨ΡÎ) tΑ$s% …çμyϑ¯=x. dan agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang yang berdusta. perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya. kalau ia mencegah kemungkaran. firman Allah: “Agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu. Dan aku pengikut agama bapakbapakku yaitu Ibrahim. $£ϑn=sù.” (Yusuf: 37 .38). Ishak dan Ya’qub.Melawan Penguasa kepada hari kemudian. tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya). 108 . serta inti dakwah nenek moyangnya.” (Yusuf: 39-40). Jika mengajak kpada kebaikan. maka jadilah ia. inti dari gerakan dakwahnya. Jika Anda telah memahami hal ini. Tak diragukan lagi. Kami hanya mengatakan kepadanya: “Kun (jadilah)”. Sesungguhnya. Selain itu.

cukuplah hal ini menjadi bukti adanya perbedaan yang sangat jauh antara kondisi Nabi Yusuf dan para pembela thaghut berikut para menterinya hari ini atau orang-orang yang ikut nimbrung dalam lembaga legislatif. memberi kebebasan kepada Nabi Yusuf untuk berdakwah dan mengajak rakyat kepada tauhid. “Paling tidak sang raja telah setuju dengan agama tauhid yang dianut Nabi Yusuf. yakni tauhid. kami sebelumnya telah menjelaskan bahwa Nabi Yusuf tak pernah melakukan kesyirikan atau kekafiran. serta mengikuti ajaran Nabi Ibrahim. Dengan demikian. serta mencela orang yang menentang beliau.Berbagai Syubhat dan Jawabannya Ayat ini menjadi bukti kuat bahwa sang raja telah menyetujui dan menyepakati Nabi Yusuf. sebagaimana jabatan kementerian pada hari ini. Atau kalau boleh dikatakan. dan Ya’qub As. 4. Sebab. Akan tetapi. beliau juga tidak membantu kaum kafir serta membuat undang-undang yang menyaingi undang-undang Allah. meskipun raja mesir saat itu belum masuk Islam dan tetap berada dalam kekafirannya. Selain itu. Selain itu. meninggalkan ajaran kafir. maka masalah jabatan Nabi Yusuf dalam pemerintahan mesir hanya merupakan masalah furu’ (cabang) yang tak berkaitan dengan masalah pokok dalam Islam. beliau tetap berdakwah mengajak orang untuk bertauhid dan melarang orang melakukan seluruh 109 . Jika Anda telah memahami keterangan di atas serta yakin jabatan Nabi Yusuf dalam pemerintahan raja Mesir tak menyelisihi tauhid dan bertentangan dengan millah Ibrahim. Ishaq. sang raja juga tidak menentang Nabi Yusuf atau membebaninya dengan sesuatu yang bertentangan dengan beliau.

ajaran para Nabi tidaklah selalu sama. ada sebuah hadits shahih yang mengharamkan kita menerapkan syariat Nabi Yusuf. bahwa Nabi bersabda: 110 ..” (HR Al-Bukhari). seperti ghanimah dan lainnya. Dalam hal ini. Oleh sebab itu. begitu pula Abu Ya’la dan Ath-Thabrani. Kami berikan aturan dan jalan yang terang…” (Al-Mâ’idah: 48). Sementara dalam masalah furu’. Bisa jadi sesuatu menjadi haram bagi syariat seorang Nabi sebelum Nabi Muhammad Saw. yakni tauhid. Maksudnya. tidak setiap syariat nabi-nabi sebelum Nabi kita bisa menjadi syariat kita. Ibnu Hibban telah meriwayatkan di dalam Shahih-nya.. saudara seayah dari ibu yang berbeda. tetapi halal bagi umat Muhammad. Syariat para Nabi tidak selalu sama dalam masalah furu’. Allah telah berfirman: ∩⊆∇∪. Hadits di atas mengisyaratkan bahwa inti ajaran para nabi ialah satu. Nabi Muhammad Saw bersabda: “Kami para nabi bagaikan saudara dari berbagai ibu. Berkenaan dengan masalah furu’.. apalagi jika terdapat dalil dari syariat kita yang menentangnya. y “…Untuk tiap-tiap umat di antara kamu.Melawan Penguasa perbuatan di atas. 4 %[`$yγ÷ΨÏΒuρ Zπtã÷Å° öΝä3ΖÏΒ $oΨù=yè_ 9e≅ä3Ï9 . tetapi tetap sama dalam masalah tauhid. inti agama kami adalah satu..

dosa terbesar mereka yang beliau Saw sebutkan ialah mengambil orang terjelek sebagai pembantu serta orang terdekat mereka dan menunda shalat hingga habis waktunya. barangsiapa ada di antara kalian yang mendapati mereka. jika pemimpin yang disebutkan di dalam hadits tersebut kafir. Tetapi. Karena itu. dan penjaga harta mereka.Berbagai Syubhat dan Jawabannya “Akan datang kepada kalian pemimpin yang bodoh. lantas bagaimana hukum memegang jabatan menteri keuangan pada raja yang kafir dan musyrik? 111 . maka jangan sampai menjadi pembantu. Berkenaan dengan pemimpin seperti itu. polisi. mereka mengambil manusia yang paling jelek sebagai teman. Sebab ketika Rasulullah mengingatkan sesuatu. Nabi Saw melarang kita menjadi penjaga harta mereka atau menteri keuangan yang menjaga harta mereka. Sekadar menjadi menteri keuangan pada pemerintahan yang jahat. tapi belum sampai pada kekafiran saja dilarang. beliau menyebutkan kejelekan yang terbesar. tetapi mereka ialah pendosa dan bodoh.” Pendapat terkuat menyatakan bahwa pemerintah yang disebut dalam hadits di atas bukanlah pemerintahan kafir. tukang mengambil pajak. tentulah Nabi sudah menjelaskan. mereka menunda shalat hingga habis waktunya.

. Selain itu. Pada hakikatnya. Sebab. penjelasan ini cukup jelas bagi mereka yang benar-benar mencari petunjuk... ∩⊆⊇∪.Melawan Penguasa ∩∈∈∪ ÒΟŠÎ=tæ áŠÏym ’ÎoΤÎ) ( Úö‘F{$# ⎦É⎩!#t“yz ’n?tã ©Í_ù=yèô_$# tΑ$s% î Ç È 4 “Berkata Yusuf. Ibnu Taimiyah tak pernah menggunakan kisah Nabi Yusuf sebagai 112 . y “Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya.” (Al-Mâ’idah: 41). siapa saja yang lebih mengedepankan analogi serta pemikirannya sendiri dan pendapat orang lain atas dalil syar’i dan bukti-bukti. Namun. serta membolehkan orang masuk ke majelis legislatif yang musyrik dan menjabat sebagai menteri dalam pemerintahan kafir. saya mengingatkan bahwa yang membolehkan kesyirikan dan kekufuran dengan analogi mereka. 4 $º↔ø‹x© «!$# š∅ÏΒ …çμs9 7Î=ôϑs? ⎯n=sù …çμtFt⊥÷FÏù ª!$# ÏŠÌム⎯tΒuρ . meskipun gunung runtuh di depannya ia tetap tak akan mendapatkan petunjuk. Wallahu a’lam. maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) dari Allah. hal seperti ini merupakan pencampuradukkan antara yang haq dan batil. sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan’. ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir).” (Yusuf: 55). mereka itu mencampuradukkan ke dalam alasan dan syubhat-syubhat mereka tentang ucapan Ibnu Taimiyah yang membahas menjabatnya Nabi Yusuf sebagai menteri di kerajaan Mesir. Nash ini menjadi bukti yang jelas bahwa tindakan Nabi Yusuf merupakan syariat Nabi sebelum Nabi kita dan telah dihapus dari syariat kita.. Sebelum pembahasan ini saya akhiri.

agama. Anda juga telah mengetahui bahwa maslahat yang terbesar di dunia adalah menegakkan tauhid. Begitu pula sebaliknya. “Nabi Yusuf melakukan kebajikan dan keadilan semampunya dan mengerahkan seluruh daya upaya dalam mengajak mereka 113 . meskipun dalam pembahasan ini kami belum pernah merujuk langsung pada tulisan beliau. Kita berlindung kepada Allah dari asumsi seperti itu. 68. Hal demikian ini berani kami katakan. Sebab. Selain itu. terlebih lagi seorang ulama besar sekaliber Ibnu Taimiyah.Berbagai Syubhat dan Jawabannya dalil untuk membolehkan keikutsertaan dalam kekafiran serta membuat undang-undang dan berhukum dengan selain hukum Allah. kejelekan yang terbesar adalah syirik. ucapan seperti ini tak akan diucapkan oleh orang berakal. Bagaimana hal ini. kecuali orang-orang yang hina pada zaman akhir ini. Kita yakin bahwa Ibnu Taimiyah. Keterangan ini tercantum dalam pembahasan Hisbah dalam Majmu’ Fatawa jil. dan akalnya tak mungkin terkotori ungkapan hina yang tak ada seorang pun berani mengucapkannya. Dar’u A’zhamil Mafsadatain wa Tahshîlu a’lal Mashlahatain ‘Indat Ta’ârudh (Menolak yang terbesar dari dua mafsadah dan mencapai yang terbaik dari dua maslahat ketika muncul bersamaan). padahal ucapan beliau dalam pembahasan ini sangat jelas yang seluruhnya menekankan pada pembahasan mengenai kaidah. Ibnu Taimiyah mengatakan. Ibnu Taimiyah telah mengatakan bahwa Nabi Yusuf memerintah dengan keadilan dan kebaikan semampunya. XXVIII hlm.

mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan. sementara setiap orang selain Rasulullah. Wahai saudaraku setauhid.Melawan Penguasa untuk beriman.. beliau juga mengatakan. ‘Sesungguhnya Aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu’. kalau benar Ibnu Taimiyah betul-betul mengatakan seperti yang mereka maksudkan.” (Al-Anbiyâ’: 45). XX hlm. tapi itu tak mungkin. kami akan tetap menolaknya sekalipun yang mengucapkan ialah dari ulama yang lebih besar kalibernya daripada Ibnu Taimiyah sampai ia menunjukkan dalil dari wahyu: 4 Ä©óruθø9$$Î/ Νà2â‘É‹Ρé& !$yϑ¯ΡÎ) ö≅è% “Katakanlah (hai Muhammad). pemimpin dan dalil yang kita jadikan rujukan tatkala berselisih ialah wahyu Allah. Nabi Yusuf melakukan keadilan dan kebajikan semampunya. š 114 . “Tetapi. Sehingga.” Di samping itu.. Ibnu Taimiyah tak pernah mengatakan Nabi Yusuf telah membuat undang-undang baru yang menandingi syariat Allah. ∩⊇⊇ ∪ ⎥⎫Ï%ω≈|¹ óΟçGΖà2 βÎ) öΝà6uΖ≈yδöç/ (#θè?$yδ ö≅è% . sebagaimana keadaan mereka yang mencampurkan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan analogi dan alasan-alasan mereka sendiri untuk menyesatkan orang awam. atau mengikuti sistem demokrasi dan agama-agama lain yang menghilangkan agama Allah. ikut-ikutan memberlakukan selain hukum Allah.” (Majmû‘ul Fatâwâ jil. 56). perkataannya dapat diambil dan ditolak. serta mencampuradukkan antara cahaya dan kegelapan.

“Setelah masuk Islam.Berbagai Syubhat dan Jawabannya “Katakanlah. hlm. musuh-musuh tauhid. Tetapi Tetap Dianggap Muslim Dalam rangka membela para thaghut. Raja Najasyi tidak memberlakukan hukum Allah di wilayahnya hingga akhir hayatnya. juz XIII. sedangkan mereka terus seperti itu. Janganlah sampai Anda terpesona oleh kerancuan yang dibuat para pembela syirik.” (Al-Baqarah: 111). Saat Raja 115 . Berhati-hatilah serta gigitlah tauhid dengan gigi gerahammu. tetapi Nabi tetap menyebutnya sebagai hamba yang saleh. sebagaimana sabda Nabi: “Orang-orang yang menyelisihi dan menghinakan mereka tidak akan membahayakan mereka sampai datangnya perkara Allah (kiamat). bergabunglah dengan kelompok yang memegang agama Allah. orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu beralasan dengan kisah Raja Najasyi yang membuat agama sendiri.” (Fathul Bârî. Mereka mengatakan. serta terpengaruh dengan penyimpangan mereka. Tetapi. 95). baik mereka itu pemerintah maupun anggota legislatif. Syubhat Kelima: Najasyi Tidak Memberlakukan Syariat Allah. ‘Tunjukkan kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar’.

dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku. mereka bukanlah orang yang berkata benar.. Hal yang pasti bahwa Najasyi wafat sebelum turunnya ayat: ©ÉLϑ÷èΡ öΝ3ø‹n=tæ àMôϑoÿøCr&uρ Νä3oΨƒÏŠ öΝä3s9 àMù=yϑø. ∩⊂∪.. “Mereka yang melontarkan alasan lemah ini harus bisa menghadirkan dalil yang valid dan jelas bahwa Najasyi tak memberlakukan hukum Allah di wilayahnya setelah masuk Islam.. Allah berfirman: ∩⊇⊇ ∪ ⎥⎫Ï%ω≈|¹ óΟçGΖà2 βÎ) öΝà6uΖ≈yδöç/ (#θè?$yδ ö≅è% . Nabi pun menshalatkannya dan menyuruh para shahabat untuk melakukan shalat gaib.” (AlMâ’idah: 3). š “Katakanlah... tetapi mereka ialah para pembohong besar. kami katakan dengan mengharap taufik dari Allah. y Ï ä ö “…Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu.Melawan Penguasa Najasyi meninggal dunia.r& tΠöθu‹ø9$#. Kedua.” Pertama. Saya telah menelusuri seluruh hujah mereka.. Jika mereka tidak bisa mendatangkan bukti. dan telah Ku-ridhai Islam menjadi agama bagimu. ‘Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar’.. perkara yang kita sepakati dengan orang-orang yang mendebat kita ialah bahwa Najasyi wafat sebelum syariat Islam turun secara lengkap.” (Al-Baqarah: 111). tetapi yang saya temukan bahwa hujahnya tersebut hanyalah kesimpulan dan asumsi yang tak berdasarkan dalil yang valid dan bukti yang nyata. $YΨƒÏŠ zΝ≈n=ó™M}$# ãΝ3s9 àMŠÅÊu‘uρ ä 116 ..

kami memberi salam kepada Nabi ketika sedang menunaikan shalat. Alat komunikasi dan transportasi pada saat itu tidak semudah sekarang.25 Wujud berhukum pada apa-apa yang diturunkan Allah yang menjadi kewajibannya pada saat itu ialah mengerjakan ajaran Islam yang telah sampai kepadanya. III hlm..Berbagai Syubhat dan Jawabannya Sebab. 117 . wafat sebelum Fathu Makkah. x . Akan tetapi. ayat ini turun pada saat haji Wada’. Sehingga. 4 n=t/ ⎯tΒuρ ⎯ÏμÎ/ Νä.u‘É‹ΡT{ ãβ#u™öà)ø9$# #x‹≈yδ ¥’n<Î) z©Çrρé&uρ . “Dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Qur’an (kepadanya)... setelah pulang dari Habasyah. kami memberi salam kepadanya. ia berkata. ‘Dahulu. namun beliau Saw tidak menjawabnya. Contoh konkret dalam perkara ini ialah kisah yang diriwayatkan Al-Bukhari dan yang lainnya. Allah berfirman: ∩⊇®∪. “Dari Abdullah bin Mas’ud. lalu beliau bersabda (setelah shalat): 25 Al-Bidayah wan Nihayah jil. dan beliau menjawab salam kami. pelaksanaan kewajiban dalam perkara ini haruslah dilandasi dengan ayat Al-Qur’an. Bahkan. sementara Najasyi sebagaimana dikisahkan Ibnu Katsir dan ulama lainnya. terkadang ajaran Islam memerlukan beberapa tahun untuk sampai kepada sebagian orang. Sebab.. 277. orang tersebut baru akan mengetahuinya setelah menempuh perjalanan jauh untuk bertemu Nabi.” (Al-An’am: 19).

apakah orang-orang yang pada hari ini menjadikan syirik demokrasi berargumen bahwa mereka belum mendengar Al-Qur’an dan Islam agar bisa menyamakan dirinya dengan Najasyi? Ketiga. yakni memurnikan tauhid.. padahal shalat ialah ibadah yang selalu dilakukan oleh Nabi dan beliaulah yang mengimami shalat jamaah sehari lima waktu. ‘Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar’. 118 . argumen yang dimilikinya tak bisa diterima kecuali dengan bukti yang nyata. Dalil-dalil yang ditunjukkan oleh para ulama menunjukkan. lantas bagaimana dengan ibadah dan syariat-syariat lain yang jarang dilakukan? Berkaitan dengan hal ini pula. Di antara kewajiban Najasyi saat itu ialah melaksanakan ajaran Islam. Najasyi telah memberlakukan ajaran Allah yang sampai kepadanya saat itu.Melawan Penguasa “Sesungguhnya. Barangsiapa tak setuju dengan hal ini. š “Katakanlah. ∩⊇⊇ ∪ ⎥⎫Ï%ω≈|¹ óΟçGΖà2 βÎ) öΝà6uΖ≈yδöç/ (#θè?$yδ ö≅è% . setelah memahami poin sebelumnya.” (Al-Baqarah: 111). maka wajib dipahami bahwa Najasyi telah melaksanakan hukum Allah yang telah sampai kepadanya. 1.” Jika shahabat Nabi yang saat itu berada di Habasyah dan paham bahasa Arab serta terus mengikuti perkembangan berita dari Nabi saja tidak mendengar dihapuskannya hukum bolehnya berbicara dan menjawab salam saat shalat.. di dalam shalat ada kesibukan”.

Ini semua merupakan perkara rahasia yang tidak jelas dan tampak dalam riwayat di atas. Najasyi juga telah menyuruh anaknya. Hukmul Musyârakati fil Wazârati wal Majâlisin Niyâbiyyah (Hukum bergabung ke dalam lembaga kementerian dan legislatif). 3. untuk menghadap Rasulullah dengan membawa surat yang berisi. apalagi untuk membantah tauhid dan landasan agama. Najasyi telah melaksanakan hal tersebut dengan dalil yang bisa dilihat pada surat yang dikirim oleh Najasyi kepada Nabi. Karena sesungguhnya aku telah bersaksi bahwa ajaranmu adalah benar. Hal ini disebutkan oleh Umar bin Sulaiman Al-Asyqar dalam kitabnya. Selain itu. juga anaknya telah berbaiat kepada Ja’far dan para shahabatnya serta masuk Islam di hadapan Ja’far. Ariha bin Asham bin Abjar. Najasyi telah berbaiat untuk taat kepada Nabi serta menyatakan niatnya untuk berhijrah.Berbagai Syubhat dan Jawabannya beriman kepada Nabi Muhammad. Di dalam suratnya kepada Nabi. tidak dapat dipastikan dan dijadikan sebagai landasan berpendapat. Karenanya. Najasyi tidak mengembalikan 119 . serta mengimani bahwa Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Najasyi menuliskan bahwa ia telah berbaiat pada Nabi. Najasyi telah menolong para shahabat Nabi yang berhijrah dari Mekkah dan melindungi serta menjamin keselamatan mereka. Selain itu. Najasyi telah berperan dalam menolong agama Nabi serta para shahabatnya. pastilah aku laksanakan wahai Rasulullah. “Jika Anda menyuruh saya untuk datang kepada Anda.” Bisa jadi Najasyi langsung wafat setelah menulis surat itu atau Nabi belum membalas suratnya. 2.

ia sekadar mengambil dari literatur sejarah. ∩⊇⊇ ∪ ⎥⎫Ï%ω≈|¹ óΟçGΖà2 βÎ) öΝà6uΖ≈yδöç/ (#θè?$yδ ö≅è% .” (Al-Baqarah: 111). Najasyi menulis sebuah surat lain kepada Nabi. ia tak boleh dipercaya. di hlm. hal ini sebagaimana yang Anda ketahui bersama merupakan suatu kebohongan dan diada-adakan. ‘Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar’. 73. serta ia termasuk orang-orang yang berdusta. š “Katakanlah. Sebenarnya Najasyi melaksanakan syariat Allah yang sampai kepadanya. meskipun para shahabat berterus terang atas keyakinan mereka tentang Nabi Isa. Padahal. Namun. di sana Umar Al-Asyqar masih ngawur dan memastikan dalam bukunya tersebut. Dengan demikian.. bahwa ia mengikuti dan siap menolong dakwah Islam. bahwa Najasyi tidak melaksanakan ajaran Islam. seperti yang tercantum dalam buku Sulaiman AlAsyqar. Umar Al-Asyqar tidak mendukung pendapatnya dengan dalil yang kuat dan jelas. Bahkan.. kita tahu bagaimana validitas kitab-kitab sejarah. Meskipun demikian. Barangsiapa yang menyangka kebalikannya. kecuali jika ia mendatangkan bukti yang benar dan dalil yang pasti. lantas dijadikannya sebagai dalil.Melawan Penguasa mereka kepada Quraisy. tetapi menjamin keamanan mereka dari gangguan kaum Kristen Etiopia. Al-Qahtani Al-Andalusi berkata di dalam Nuniyah-nya: Janganlah kamu percaya setiap isi sejarah 120 . Semua itu menunjukkan dukungan Najasyi kepada Nabi. bahwa ia mengutus anaknya bersama 60 orang dari Habasyah untuk menghadap Nabi.

Lebih jauh dari itu. Ia terus berupaya dan berusaha sampai meninggal. Lantas.Berbagai Syubhat dan Jawabannya Ketika para perawi mengumpulkannya dan jari-jari menulisnya Ambillah hadits yang terjaga dari ahlinya. ada orang yang berkata kepadanya dan kepada para pengikutnya. bukan dalil dari buku sejarah yang tidak memiliki sanad dan tidak bisa dibuktikan validitasnya. 121 . sebelum syariat turun secara sempurna dan sampai kepadanya. yakni Kristen. Hal ini diwujudkannya dengan cara hendak mengirim anaknya disertai beberapa rakyatnya kepada Nabi memintakan izin bagi Najasyi untuk berhijrah kepada beliau Saw. Kesimpulan yang bisa diambil dari kisah Najasyi ialah seorang raja kafir yang baru saja masuk Islam dan ia tetap pada jabatannya sebagai raja. tetapi mereka harus menyertakan dalil yang jelas dan valid. Demikianlah yang tergambar dalam riwayat-riwayat yang menceritakan tentang Najasyi. 4. Najasyi juga menyatakan berlepas diri dari keyakinan-keyakinan yang menyelisihi keyakinannya serta keyakinan kaum dan nenek moyangnya. Najasyi juga menunjukkan keseriusannya dalam menolong dakwah Nabi dan para shahabat yang berhijrah ke Habasyah. kami menantang orang-orang yang menentang pendapat kami untuk menetapkan pendapat lain. Karena itu. Najasyi juga berusaha untuk mencari kebenaran dan mempelajari Islam. Selain itu. apalagi ulama besar hadits Apalagi dari orang-orang yang arif dan bijaksana Lalu. ia menunjukkan keseriusannya dalam beriman dengan berserah diri secara total kepada perintah Nabi.

Lebih dari itu. Bahkan. mereka menyatakan berpegang terhadap Islam dengan perkara-perkara yang menyelisihinya dalam waktu yang bersamaan serta berbangga dengannya. Mereka tidak berlepas diri dari agama demokrasi. Al-Qur’an sampai kepada mereka. anggota legislatif. mengajak manusia menganutnya. dan masuk ke dalam ideologinya yang rusak. perbuatan ini ialah tindakan kekafiran. Apakah realitas kaum muslimin yang mengikuti demokrasi hari ini sama seperti 122 . Dan semuanya ini terjadi setelah Islam sempurna. Akan tetapi. Tidak. yakni gambaran sekelompok orang yang menyatakan (Najasyi—edt) masuk Islam tanpa berlepas diri dari perkara-perkara yang membatalkannya. sebagaimana Najasyi yang melepaskan diri dari ikatan agama Kristen. Selain itu. serta sunnah dan perkataan ulama salaf telah mereka dengar. para menteri. mereka tetap berbangga dan memuji demokrasi. Padahal. mereka tidak melakukannya.Melawan Penguasa Adapun kesimpulan yang diambil orang-orang yang ingin menjustifikasi kedudukannya merupakan sebuah gambaran yang sangat jelek dan menyimpang. Mereka juga bersikeras meneruskan perbuatan syirik ini serta mencela dan menentang siapa saja yang tak sependapat dan orang yang berusaha menghapuskan kesyirikan mereka. mereka juga menjadikan pemimpin mereka sebagai rabb-rabb dan ilah-ilah yang menentukan syariat dan hukum tanpa legalitas dari Allah. dan rakyat yang setuju dengan mereka turut serta dalam membuat hukum yang dilegalkan dalam undangundang. Bersumpahlah kepada Allah.

Ya. 123 . mereka pun mengikuti agama demokrasi yang bertentangan dengan tauhid dan Islam. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.$# #sŒÎ) t⎦⎪Ï%©!$# ∩⊇∪ t⎦⎫ÏÏesÜßϑù=Ïj9 ×≅÷ƒuρ ∩⊄∪ tβθèùöθtGó¡„ o ∩⊂∪ βρçÅ£øƒä† öΝèδθçΡ—¨ρ ρr& öΝèδθä9$x. dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain. pada suatu hari yang besar. Sungguh kedua kondisi ini sangat berbeda.” (Al-Muthaffifin: 1-5). Tidakkah orang-orang itu yakin.Berbagai Syubhat dan Jawabannya seseorang yang baru masuk Islam dan tetap mencari kebenaran serta selalu ingin menolong Islam. hingga burung gagak yang hitam kelam beruban. Demi Allah. memang terkadang keduanya bisa menjadi sama jika ukurannya bukan kebenaran. padahal Islam belum sampai kepadanya secara sempurna. Akhirnya. #sŒÎ)uρ t y ∩∈∪ 8Λ⎧Ïàtã Θöθu‹Ï9 ∩⊆∪ tβθèOθãèö6¨Β Νåκ¨Ξr& y7Íׯ≈s9'ρé& ⎯Ýàtƒ Ÿωr& B  “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. tetapi dengan ukuran orangorang yang curang dan ditutup nuraninya oleh Allah. mereka mengurangi. kedua kondisi ini tak akan pernah sama. bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Ĩ$¨Ζ9$# ’n?tã (#θä9$tGø.

Melawan Penguasa Syubhat Keenam: Pemerintahan Hari Ini Tidak Dapat Divonis Kafir. Tidak ada perbedaan antara 124 . Karena Mereka Tidak Membuat Undang-Undang. baik mereka yang sengaja berbohong maupun mereka yang bodoh tapi sok pintar. Tidak ada perbedaan antara orang yang mempelopori penyembahan berhala dengan orang-orang yang mengikutinya. bahkan di dalam seluruh agama para nabi dan rasul. Adapun jawaban untuk pernyataan ini dilihat dari dua sisi: Pertama. telah diketahui dengan pasti bahwa di dalam Islam. selama mereka mengakui dan mengikutinya. tidak ada perbedaan hukum antara yang melakukan kekafiran pertama kali dan yang melanjutkan kekafiran. tetapi ia ridha dan menerima. Tidak ada perbedaan antara orang-orang yang pertama kali mengubah Taurat dan Injil dengan kaum Yahudi dan Nashrani yang mengikuti mereka setelahnya. ungkapan ini termasuk syubhat yang dijadikan alasan oleh banyak orang. tetapi hanya melanjutkan pelaksanaan undangundang dari para pendahulu mereka dan mereka selalu berusaha untuk mengubahnya. Tak diragukan lagi. Tetapi Hanya Mewarisinya dari Pemerintahan Sebelumnya Sebagian orang terkadang berpendapat pemerintah tak pernah merancang penolakan hukum dan penggantian undangundang Islam.

‘Berimanlah kepada Al-Qur’an yang diturunkan Allah. mereka masih mengikuti dan setuju dengan perbuatan pendahulu mereka. yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Allah berfirman kepada mereka. ‘Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?’. βÎ) ≅ö6s% ⎯ÏΒ «!$# u™!$uŠÎ.’ mereka berkata.” (AlBaqarah: 91).Berbagai Syubhat dan Jawabannya Amr bin Luhay Al-Khuza’i—orang pertama yang mengubah agama Ibrahim dan memasukkan berhala ke negeri Hijaz serta mengajak manusia untuk menyembah berhala tersebut dan membuat syariat serta aturan agama baru tanpa seizin Allah— dengan bangsa Arab para penyembah berhala yang mengikutinya. Al-Qur’an telah mengisahkan dosa-dosa kaum Yahudi terdahulu kepada para Ahlul Kitab pada zaman Nabi. Allah berfirman: tΑÌ“Ρé& !$yϑÎ/ ß⎯ÏΒσçΡ (#θä9$s% ª!$# tΑt“Ρr& !$yϑÎ/ (#θãΨÏΒ#u™ öΝßγs9 Ÿ≅ŠÏ% #sŒÎ)uρ ÷ $yϑj9 $]%Ïd‰|ÁΒ ‘. “Jika kalian memang benar-benar mengaku beriman terhadap apa yang diturunkan atas kalian.ysø9$# uθèδuρ …çνu™!#u‘uρ $yϑÎ/ šχρãàõ3tƒuρ $uΖøŠn=tã Ï ã ΝçGΨä. Sebab. mengapa kalian membunuh para nabi yang telah datang dengan membawa risalah untuk membenarkan Taurat.’ Dan mereka kafir kepada Al-Qur’an yang diturunkan sesudahnya. ‘Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami. Katakanlah. 125 ./Ρr& βθè=çGø)s? zΝÎ=sù ö≅è% 3 öΝßγyètΒ ã t ∩®⊇∪ š⎥⎫ÏΖÏΒ÷σ•Β “Dan apabila dikatakan kepada mereka. sedang Al-Qur’an itu adalah (Kitab) yang hak.

Hal seperti ini banyak tercantum di dalam Al-Qur’an.Melawan Penguasa padahal kalian telah diperintahkan untuk mengikuti mereka dan beriman pada risalah mereka. Lantas. bahwa saat itu tidak ada kaum Yahudi yang membunuh nabi. ia juga tak akan dimintai pertanggungjawaban atas kejahatan yang dilakukan pendahulunya. tetapi perbuatan itu dilakukan oleh para pendahulu mereka. Karenanya. sehingga hal itu menghilangkan keridhaan dan persetujuan mereka terhadap undang-undang tersebut memerlukan penjelasan yang terperinci. ia di dalam usahanya tersebut benar dan termasuk golongan mujahid. sesungguhnya argumen yang menyatakan bahwa pemerintahan ini senantiasa berusaha untuk berubah. mengatakan dirinya beriman dan mengaku ingin mengubah keadaan kepada penerapan 126 .” Pernyataan ini ditujukan kepada kaum Yahudi yang hidup pada zaman Nabi Muhammad Saw. Meskipun demikian. Bahkan. secara terang-terangan mengumumkan pelepasan dirinya dan pengingkarannya terhadap undang-undang tersebut. Semua mengetahui. Adapun jika ia bersilat lidah. ia juga mengerahkan upaya untuk mengubah dan menghilangkan undang-undang kafir itu. mereka tetap terkena celaan karena menyetujui perbuatan tersebut. tak diragukan lagi bahwa hukum penguasa seperti itu tak bisa disamakan dengan para pendahulunya. Selain itu. Hal itu karena tak ada perselisihan dalam prinsip yang menyatakan bahwa penguasa yang melanjutkan undangundang kafir para pendahulunya. Kedua.

mendebat orang yang tidak setuju dengannya. Dalam kondisi seperti itu. tapi setelah itu ternyata ia malah mewujudkan usahanya dengan membuat program basa-basi hanya demi kepentingan propaganda. memusuhi orang yang menentangnya. Sebaliknya. ungkapan yang menjelaskan kebatilannya. orang seperti itu lebih pantas dimasukkan ke dalam golongan orang-orang zindiq yang menurut sebagian besar ulama taubat mereka tidak diterima.Berbagai Syubhat dan Jawabannya syariat. Lebih dari itu. Barangsiapa yang ridha dengan syariat Allah. ia akan mendekat dan berwali kepadanya. dan persangkaan yang mengungkap kedustaannya. mengarahkannya kepada kebatilan yang diwariskan para pendahulunya dalam rangka menguatkan dan memperkokoh pondasinya. maka statusnya berbeda. Bahkan. bahkan berteman dan bermusuhan karenanya. 127 . ia malah merasa tercekik ketika mendengar suara yang menyerukan kebenaran serta penegakan agama dan berpegang teguh pada syariat. kita tak boleh menghalangi ucapan yang menerangkan kefasikan undang-undang tersebut. ia akan menjauhi dan memusuhinya. barangsiapa yang tidak senang dengannya.

Atau menaati pemberlakuan syariat yang menyimpang dari syariat Allah yang terdapat di dalam firman-Nya: $\/$t/ö‘r& öΝßγuΖ≈t6÷δâ‘uρ öΝèδu‘$t6ômr& (#ÿρ‹sƒªB$# ä “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan…” (At-Taubah: 31).Îô³çRmQ öΝä3¯ΡÎ) öΝèδθßϑçG÷èsÛr& ÷βÎ)uρ “…dan jika kamu menuruti mereka. Pemerintahan yang Ada Tidak Dapat Dikafirkan. keduanya tidak termasuk sebab-sebab kekafiran yang tercantum di dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang menunjukkan kafirnya pemerintahan (yang tidak memberlakukan hukum Allah).Melawan Penguasa Syubhat-Syubhat Lain: 1. Dan firman-Nya: ∩⊇⊄⊇∪ tβθä. Akan tetapi. Kecuali Jika Mereka Menolak Hukum Allah dan Menghalalkan Bolehnya Berhukum dengan Selain Hukum Allah Ada tiga jawaban untuk syubhat ini: a. sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. sebagaimana dalam ayat: Οä3øts† óΟ©9 ⎯tΒuρ “Barangsiapa tidak berhukum…” (Al-Maidah: 44). seperti perbuatan meninggalkan hukum Allah atau berhukum kepada selainnya.” (Al-An’am: 121) 128 . Membangkang dan menghalalkan termasuk hal-hal yang menyebabkan seseorang menjadi kafir.

walaupun mereka hanya mengganti satu saja hukum Allah. Ancaman kekafiran tetap berlaku atas mereka.. Untuk terkena ancaman ini tidak disyaratkan harus mengganti seluruh hukum. maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. c. 129 . tidak mensyaratkan adanya penentangan atau penghalalan dalam hati terhadap dosa tersebut. Hal ini sebagaimana tercantum dalam sanggahan Abu Hayyan Al-Andalusi dan 26 Karena ia telah menyatakan bolehnya berhukum dengan selain hukum Allah dengan perbuatannya.Berbagai Syubhat dan Jawabannya b. siapa saja yang mensyaratkan adanya hal tersebut.. Bahkan. seperti berhukum dengan selain hukum Allah. berarti ia telah berpendapat dengan pendapat Murji’ah ekstrim yang telah divonis kafir oleh ulama salaf. Undang-Undang yang Berlaku Saat Ini Mengandung Hukum Syariat Islam Meskipun demikian. seperti rajam bagi pezina. 27 Lihat: Mukadimah XVII dalam Al-Jâmi` fî Thalabi Al-‘Ilmi Asy-Syarîf. y “…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah. Di dalam perbuatan berhukum dengan selain hukum Islam tersirat penghalalan yang menyebabkan seseorang menjadi kafir.” (Al-Mâ’idah: 44). mereka tetap tidak bisa terhindar dari kekafiran karena ancaman yang tercantum di dalam ayat: ∩⊆⊆∪ tβρãÏ≈s3ø9$# ãΝèδ 7Íׯ≈s9'ρé'sù ª!$# tΑt“Ρr& !$yϑÎ/ Οä3øts† óΟ©9 ⎯tΒuρ . Dosa-dosa yang bisa menyebabkan pelakunya menjadi kafir dengan sendirinya.2627 2.

kedua fenomena tersebut sama.Melawan Penguasa Ibnul Qayyim atas pendapat Abdul Aziz Al-Kinani yang saya nukil dalam akhir pembahasan keenam. keberadaannya lebih layak untuk masuk ke dalam hukum ayat. meskipun kitab undang-undang mereka (Al-Yasiq) memuat sebagian hukum syariat Islam. Hal ini masih ditambah dengan fatwa Ibnu Katsir yang menerangkan kafirnya pemerintahan Tatar.” (Yusuf: 106). lantas bagaimana dengan orang yang tidak memberlakukan seluruh ketentuan hukum dan membolehkan perbuatan-perbuatan yang sudah jelas keharamannya? Kalau kisah dalam sababun nuzul (sebab turunnya ayat) termasuk dalam pembahasan topik ayat—sebagaimana dalam pengantar—maka Anda akan mendapati realitas yang terjadi saat ini lebih berat dari kisah yang terjadi dalam sababun nuzul ayat ini. Alasan untuk mengafirkan pemerintah seperti itu ialah dalil- 130 . hukumnya pun tidak berbeda. kecuali dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). Tidak Bolehnya Menerapkan Fatwa Ulama Tentang Tartar Pada Pemerintahan Hari Ini Jawaban pernyataan ini: a. Allah berfirman: ∩⊇⊃∉∪ tβθä.Îô³•Β Νèδuρ ωÎ) «!$$Î/ ΝèδçsYò2r& ß⎯ÏΒ÷σム$tΒuρ “Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah. 3. Sebab. Bahkan. Jika Allah telah memvonis kafir siapa saja yang mengganti satu hukum saja dari hukum-hukum-Nya.

masih terdapat tuhan lain yang setara dengan Allah yang bisa mensyariatkan hukum. Namun. Undang-Undang Selain Allah yang Diterapkan Pemerintah Mencantumkan Syariat Islam sebagai Sumber Utama UndangUndang Jawaban masalah ini terangkum dalam tiga poin: a. Kita dibolehkan mengikuti fatwa-fatwa ulama tentang persoalan Tartar. sebagaimana yang telah kita bahas sebelumnya bahwa kita dibolehkan mengikuti pendapat ulama yang telah wafat. c. Atau. Rambu-rambu kekafiran yang ditabrak oleh pemerintah hari ini lebih banyak daripada pemerintahan Tartar. tapi merupakan nukilan dari ijmak? Kesimpulannya: Mengambil dan melaksanakan fatwa mereka pada hakikatnya mengambil serta melaksanakan ijmak ulama. 131 . Di dalam undang-undang memang disebutkan bahwa syariat Islam adalah sumber utama hukum. 4. b. Sebelumnya telah dijelaskan. padahal pendapat mereka bukan hanya sekadar pendapat. Lantas. dan bukan sekadar taklid buta yang tidak memiliki dalil pendukung. padahal pendapat mereka sesuai dengan nash dan ijmak kaum muslimin? Kenapa kita dilarang mengambil pendapat mereka. dengan kata lain. bahwa pencantuman seperti ini tetap menunjukkan kekafiran mereka dengan sangat jelas. melainkan masih ada sumber hukum lain selain aturan Allah. keberadaannya bukan satu-satunya sumber. kenapa kita tak boleh mengikuti pendapat mereka.Berbagai Syubhat dan Jawabannya dalil syar’i.

Di sini Allah menerangkan bahwa mengikuti mereka dalam menaati syariat yang mereka buat adalah kesyirikan. dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.” (At-Taubah: 31). sedangkan prinsip Islam ialah kaidah-kaidah umum. tetapi hanya mencantumkan bahwa prinsip Islam adalah sumber hukum utama. Allah berfirman: «!$# χρߊ ⎯ÏiΒ $\/$t/ö‘r& öΝγuΖ≈t6÷δâ‘uρ öΝèδu‘$t6ômr& (#ÿρä‹sƒªB$# Â ß Ï ö ( #Y‰Ïm≡uρ $Yγ≈s9Î) (#ÿρ߉ç6÷èu‹9 ωÎ) (#ÿρãÏΒé& !$tΒuρ zΝtƒötΒ š∅/$# yx‹Å¡yϑø9$#uρ ∩⊂⊇∪ šχθà2Ìô±ç„ $£ϑtã …çμoΨ≈ysö7ß™ 4 uθèδ ωÎ) tμ≈s9Î) Hω “Mereka menjadikan orang-orang alimnya. dan lain sebagainya yang selalu digembar-gemborkan para pembuat hukum positif bahwa mereka telah menegakkan prinsip-prinsip itu. padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa. tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. di antara keduanya terdapat perbedaan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. berarti pencantuman itu mengakui adanya Rabb selain Allah. Undang-undang tidak mencantumkan bahwa syariat Islam adalah satu-satunya sumber hukum. Mereka (orang-orang alim dan para rahib) disebut sebagai tuhan karena telah membuat syariat sendiri dan ditaati oleh umatnya. tahulah Anda bahwa tercantumnya pasal ini dalam 132 . Padahal. dengan terang-terangan. dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam. Sudah kita ketahui bersama bahwa hukum ialah hukumhukum terperinci dalam semua persoalan. seperti penegakan keadilan. b. asas praduga tak bersalah. Dengan demikian.Melawan Penguasa Sebab.

Umat Islam pun Boleh Melakukannya Orang yang melontarkan syubhat seperti ini bisa dihukumi kafir karena ia telah menghina Nabi Saw. orang yang beranggapan Nabi telah memutus perkara perzinaan yang terjadi antara dua orang Yahudi dengan hukum Taurat yang telah dihapus. 133 . yakni Hukum Taurat. berarti ia telah keliru.28 Kenapa ia murtad? Sebab pernyataan ini jelas bertentangan dengan nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menyatakan bahwa Nabi tidak memutuskan suatu perkara kecuali dengan 28 Al-Ihkâm fi Ushûlil Ahkâm: II/104. masih ada pasal lain yang isinya bertolak belakang dengan pasal di atas. yakni hukum yang berlaku di pengadilan untuk mengadili perkara yang terjadi di masyarakat ialah undang-undang hukum pidana.Berbagai Syubhat dan Jawabannya undang-undang dasar tidak mewajibkan pemerintah untuk melaksanakan syariat Islam. Bahkan. bukan syariat Islam. c. maka ia telah murtad keluar dari Islam. Intinya. Oleh Karena Itu. pasal ini jelas-jelas menunjukkan kekafiran mereka karena mengandung pernyataan mengambil sumber hukum lain selain hukum Islam. Jika kita menganggap pasal ini mengharuskan pemerintah memberlakukan syariat Islam. Ibnu Hazm menegaskan. 5. Nabi Saw Memutuskan Perkara dengan Hukum Selain Islam. siapa yang menganggap pasal ini (prinsip syariat sebagai sumber utama hukum) bisa menghindarkan pemerintah dari kekafiran.

bagaimana bisa dikatakan Nabi mengikuti Musa.. maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan …” (Al-Maidah: 48). membenarkan apa yang sebelumnya. tidak ada pilihan baginya kecuali harus mengikutiku.ysø9$$Î/ |=≈tGÅ3ø9$# y7ø‹s9Î) !$uΖø9t“Ρr&uρ Ï Αt“Ρr& $ϑÎ/ ΟßγoΨt/ Νà6÷n$sù ( Ïμø‹n=tã $·ΨÏϑø‹yγãΒuρ É=≈tGÅ6ø9$# z⎯ÏΒ t !y ÷ $ ∩⊆∇∪. yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu.. Nabi Saw bersabda: “Seandainya Musa hidup (sekarang ini).≈sW‹ÏΒ ª!$# ‹s{r& øŒÎ)uρ z x £ • ⎯ãΨÏΒ÷σçGs9 öΝä3yètΒ $yϑÏj9 ×−Ïd‰|ÁΒ ×Αθß™u‘ öΝà2u™!%y` ¢ΟèO 7πyϑõ3Ïmuρ öΝä3Ï9≡sŒ 4’n?tã ôΜè?õ‹s{r&uρ óΟè?ö‘ø%r&u™ tΑ$s% 4 …çμ¯ΡãÝÁΨtGs9ρ ⎯ÏμÎ/ t u z t s ⎯ÏiΒ Νä3yètΒ O$Ρr&uρ (#ρ߉pκô−$$ù tΑ$s% 4 $tΡö‘tø%r& (#þθä9$s% ( “Ìô¹Î) ∩∇⊇∪ t⎦⎪ωÎγ≈¤±9$# 134 . Sebagaimana firman-Nya: μ÷ƒy‰tƒ š⎥÷⎫t/ $yϑÏj9 $]%Ïd‰|ÁãΒ Èd.” (HR Ahmad dan AdDarimi).Melawan Penguasa syariat Islam. dan bahwa Al-Qur’an telah menghapus syariat yang ada sebelumnya. padahal beliau telah bersabda sebagaimana dalam hadits di atas? Allah berfirman: 5=≈tGÅ2 ⎯ÏiΒ Νà6çG÷s?#u™ !$yϑs9 ⎯↵ÍhŠÎ. Lantas.¨Ψ9$# t. ( ª!$# “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran.

Bantahan syubhat ini dilihat dari dua arah: 1. Lalu. ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi.29 29 Lihat: Al-Ihkâm fî Ushûlil Ahkâm: II/104. Nabi bersabda: “Sesungguhnya.’ Allah berfirman. ‘Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?’ Mereka menjawab. Ibnu Hajar telah menyebutkan bahwa salah satu perawi dalam sanadnya ialah mubham (tidak diketahui identitasnya). mereka pasti akan mengikutinya. Lalu. ‘Kami mengakui. aku menghukumi dengan hukum yang tercantum di dalam Taurat.” (Ali Imran: 81). ‘Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu’. jika mereka hidup saat Nabi Muhammad Saw diutus. 135 .Berbagai Syubhat dan Jawabannya “Dan (ingatlah). ‘Sungguh. mereka berdua pun dirajam.” (HR Ahmad dan Abu Dawud). Riwayat itu tidak bisa dijadikan dasar dalam berpendapat.’ Allah berfirman. apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah. kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu. bagaimana mungkin Nabi Muhammad mengikuti syariat yang diturunkan kepada Nabi Musa? Syubhat ini berasal dari salah satu riwayat yang mengisahkan dua orang Yahudi yang dirajam karena berzina. Tentang mereka. Seluruh nabi telah berikrar. niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.

maksud dari sabda beliau. tetapi hukum yang tercantum di dalam Taurat telah diubah sendiri oleh kaum Yahudi.Melawan Penguasa 2. Maka. “Sesungguhnya. bahwa Nabi tidak pernah menerapkan selain hukum Islam. rajam adalah hukum Allah yang (juga) berlaku bagi kaum Yahudi yang berzina. Jika memang riwayat ini benar-benar shahih. saya menghukumi kalian dengan hukum yang tercantum di dalam kitab Taurat” ialah dengan hukuman yang sama dengan yang tercantum di dalam kitab Taurat tentang masalah ini. maka kita haruslah tetap memahami prinsip yang telah kami sebutkan. Dengan ini Nabi tidak bisa dikatakan telah mengikuti Taurat. Sehingga. Akan tetapi. Sebenarnya. 136 . orang yang menyebarkan syubhat tersebut keberadaannya bisa dibantah dengan kesimpulan ini. yang dilakukan Nabi Saw ialah membenarkan hukum yang tertulis di dalam Taurat.

kecuali jika melihat kekafiran yang nyata. 1 Dinukil dari Fathur Rahmân fî Ar-Raddi ‘alâ Bayân Al-Ikhwân karya Ahmad Abdussalam Syahin. dalam keadaan longgar maupun sempit. “Nabi mengajak kami untuk masuk Islam. agar kita tidak memberontak kepada pimpinan. Ketika itulah kalian memiliki dalil yang jelas dari Allah.W Memberontak untuk Menumbangkan ajib Pemerintahan Kafir1 I mam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari shahabat Ubadah bin Shamit. Juga. maka status keimamannya hilang.” Imam An-Nawawi meriwayatkan bahwa Qadhi Iyadh berkata. dan bagi kaum muslimin wajib memberontak kepadanya dan menggantinya dengan seorang imam yang adil jika hal itu memungkinkan bagi mereka. tidak lagi berhak ditaati. “Salah satu isi baiat kami ialah untuk mendengar dan taat kepada beliau. meskipun mereka tidak memberikan hak kami. atau kebid’ahan. pengubahan syariat. baik pada saat senang maupun susah. bahwa ia berkata.” Ia meneruskan. “Seandainya tampak kekafiran. 137 . lalu kami membaiatnya. “Ulama telah berijmak bahwa seorang kafir tidak boleh menjadi imam atau khalifah…” Sampai pada perkataannya.

” 2 Syarh Shahîh Muslim: XII/229. “Maksud dari kalimat (kekafiran) di dalam hadits tersebut ialah kemaksiatan.” Imam An-Nawawi berkata. maka ingkarilah perbuatan tersebut dan katakanlah yang benar di mana pun kalian berada’. maka kewajiban seorang Muslim ialah berhijrah meninggalkan negeri itu untuk menyelamatkan agamanya’. kecuali jika kalian melihat kemungkaran yang nyata berdasarkan kaidah-kaidah Islam. maka tidak wajib memberontak. kecuali jika mampu melakukannya. 138 .”2 Ketika Ibnu Hajar menerangkan hadits yang berbunyi: “Kalian memiliki alasan dari Allah. Apabila kalian melihat mereka berbuat kemungkaran. ‘Janganlah kalian memberontak kepada suatu pemerintahan.Melawan Penguasa Namun demikian. selama tindakan kekafirannya mengandung pemahaman lain. jika mereka lemah dan tidak mampu memberontak. “Yaitu berupa nash ayat Al-Qur’an atau hadits shahih yang tidak mengandung pemahaman ganda sehingga hal tersebut menuntut kita untuk tidak boleh memberontak kepada seorang pemimpin. yakni memiliki kemungkinan untuk tidak menjadikan mereka kafir.” Beliau berkata. Akan tetapi. Adapun maksud hadits tersebut ialah. maka mereka wajib untuk memberontak dan mengganti imam yang kafir. jika hanya ada satu kelompok saja yang mampu memberontak. Adapun jika imam hanya melakukan perbuatan bid’ah.

139 .. Karena itu. Sehingga. jika terdapat kemampuan untuk memecatnya tanpa menimbulkan fitnah dan kezaliman.” Ulama yang lain mengatakan. ‘Pendapat para ulama tentang pemerintah yang jahat. Sesungguhnya. Akan tetapi. sampai pimpinan tersebut menjadi kafir. kita dilarang untuk memberontak seorang pemimpin. Sebab di dalamnya terkandung kemaslahatan yang di antaranya mencegah pertumpahan darah dan kekacauan. padahal sebelumnya adil. Mereka berpendapat bahwa tidak boleh memberontak pemerintah.” Sampai pada perkataan Ibnu Hajar. ‘Para ulama telah bersepakat tentang wajibnya menaati pemimpin dan berjihad bersamanya. wajib untuk bersabar. “Maksud dari (kekafiran) di dalam hadits tersebut ialah kemaksiatan dan tindakan kekafiran. kecuali kalau ia telah melakukan perbuatan yang jelas-jelas kafir. sehingga ketika itulah wajib hukumnya memberontak. “Orang fasik tidak boleh menjadi imam. Tetapi apabila tidak mampu. ketika itulah tidak wajib 3 Fathul Bârî: X/13.Berbagai Syubhat dan Jawabannya Ulama lain mengatakan. wajib untuk dipecat. Adapun dalil mereka ialah hadits di atas. “Ibnu Batthal berkata. kecuali jika pemerintah melakukan tindakan kekafiran yang jelas.. menaati pemimpin seperti itu lebih baik dibandingkan keluar untuk memberontaknya. “Ibnut Tin menukil dari Ad-Dawudi. Adapun pendapat yang benar ialah dilarang memberontak.”3 Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata. jika dalam perjalanannya terjadi kezaliman. para ulama berbeda pendapat tentang boleh atau tidaknya memberontak.

Ketika itulah kita tidak boleh menaatinya. ulama tidak hanya membolehkan pemberontakan. tetapi mewajibkannya.” 4 Fathul Bârî: IX/13. Berkenaan dengan masalah ini.” Adapun terhadap pemimpin yang kafir.” Ibnu Batthal berkata.” Qadhi Iyadh berkata. mereka tetap berkewajiban untuk mencopot imam yang kafir tersebut dari jabatannya. “Tidak wajib memberontak kepada pemerintah yang berbuat bid’ah.” Ibnut Tin menukil dari Ad-Dawudi.Melawan Penguasa menaatinya.”4 Telah jelas bagi Anda keterangan dari para ulama yang kami sebutkan. “Pendapat ulama mengenai pemerintah yang jahat ialah jika dapat dipecat tanpa terjadinya fitnah dan kezaliman. bahwa mereka berbeda pendapat mengenai boleh atau tidaknya memberontak kepada pemerintah yang fasik atau melakukan bid’ah. bahkan wajib berjihad melawan mereka bagi yang mampu. “(Tidak boleh memberontak pemerintah) kecuali ketika pemimpin melakukan tindakan kekafiran yang jelas. kecuali jika dipandang mampu mengalahkan mereka. kecuali pemimpin tersebut berbuat kekafiran. kecuali hanya satu kelompok saja. sebagian mereka membolehkan dengan syarat adanya kemampuan. “Jika tidak ada yang mampu melakukannya (pemberontakan). 140 . Qadhi Iyadh mengatakan. bagi yang mampu wajib berjihad melawannya. hal itu wajib dilakukan. Ibnu Hajar berkata. Bahkan. “Yang benar ialah dilarang memberontak. Pada saat itulah wajib hukumnya memberontak kepada mereka.

Allah hanya membebani hamba sebatas kemampuannya.4 $yγyèó™ãρ ωÎ) $²¡øtΡ ª!$# ß#Ïk=s3ムŸω “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286). Kewajiban kaum muslimin hanyalah sebatas mempersiapkan diri agar mampu memberontak melawan pemerintahan kafir dan menggantinya dengan pemimpin yang adil. Akan tetapi. Dalilnya: È≅ø‹y⇐ø9$# ÅÞ$t/Íh‘ ∅ÏΒuρ . “Kami tidak mampu memberontak dan kami juga tidak memiliki kekuatan melawan mereka. kita wajib mempersiapkan diri sampai kita mampu. 141 .. hanya saja ada orang yang terkadang mempunyai alasan.Berbagai Syubhat dan Jawabannya Kewajiban Beri‘dad1 bagi Yang Masih Lemah M eskipun dalil-dalil kafirnya pemerintah-pemerintah seperti itu dan wajibnya memberontak terhadap mereka telah jelas.ο§θè% ⎯ÏiΒ ΟçF÷èsÜtGó™$# $¨Β Νßγs9 (#ρ‘‰Ïãr&uρ 1 I‘dad ialah mempersiapkan segala hal yang menunjang tercapainya kemenangan dalam peperangan—Edt. Kami katakan bahwa alasan Anda benar.” Allah berfirman: ∩⊄∇∉∪ ..

. dan orangorang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya.. ‘Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu’. 4 öΝßγßϑn=÷ètƒ ª!$# ãΝßγtΡθßϑn=÷ès? Ÿω óΟÎγÏΡρߊ “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah. Ayat ini 2 Tafsîr Al-Qurthubî: VIII/35. “Persiapan ialah segala sesuatu yang dipersiapkan seseorang untuk menghadapi apa yang akan datang. Imam Al-Jashsash berkata ketika menafsiri ayat di atas. dan dikatakan kepada mereka. tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka. “Allah memerintahkan kaum beriman untuk mempersiapkan kekuatan dalam rangka menghadapi musuh. sedang Allah mengetahuinya…” (Al-Anfâl: 60). tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu.” (At-Taubah: 46). musuhmu. sebagaimana tercantum dalam Ushul Fikih.Melawan Penguasa ⎯ÏΒ ⎦⎪Ìyz#u™uρ öΝà2¨ρ߉tãuρ «!$# ¨ρ߉tã ⎯ÏμÎ/ šχθç7Ïδöè? t ∩∉⊃∪. Di samping itu.”2 Sementara itu. maka Allah melemahkan keinginan mereka. Imam Al-Qurthubi berkata. perintah mengandung arti kewajiban melaksanakan yang diperintahkan selama tidak ada dalil yang memalingkannya. 142 . firman-Nya: ª!$# oν2 ⎯Å3≈s9uρ ãã …ã&s! (#ρ‘‰tãV{ ylρãã‚ø9$# (#ρߊ#u‘r& θs9uρ ÌŸ Z ∩⊆∉∪ š⎥⎪ωÏè≈s)ø9$# ìtΒ (#ρ߉ãèø%$# Ÿ≅ŠÏ%uρ öΝßγsܬ7sVsù öΝßγrO$yèÎ7/Ρ$# y “Dan jika mereka mau berangkat.

Berbagai Syubhat dan Jawabannya

menunjukkan wajibnya mempersiapkan diri berjihad sebelum terjadi. Ayat ini sama maksudnya dengan ayat:

ÅÞ$t/Íh‘ ∅ÏΒuρ ;ο§θè% ⎯ÏiΒ ΟçF÷èsÜtGó™$# $¨Β Νßγs9 (#ρ‘‰Ïãr&uρ ∩∉⊃∪...È≅ø‹y⇐ø9$#
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang...” (Al-Anfâl: 60).3

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Seorang Muslim wajib mempersiapkan diri untuk berjihad dengan cara mempersiapkan kekuatan dan kuda-kuda yang ditambat ketika jihad belum berlangsung karena ketidakmampuan. Sebab, suatu kewajiban yang tidak bisa sempurna kecuali dengan sebuah sarana, maka sarana itu menjadi wajib.”4 Imam An-Nawawi ketika menerangkan hadits Nabi yang berbunyi:

“Barangsiapa yang pernah belajar melempar, lalu ia meninggalkannya, maka ia bukan dari golongan kami (di dalam riwayat lain disebutkan, ia telah bermaksiat).”

Beliau berkata, “Hadits ini mengandung ancaman yang berat bagi siapa saja yang melupakan cara melempar yang sebelumnya pernah ia kuasai. Hukumnya sangat makruh bagi siapa saja yang meninggalkannya tanpa alasan syar’i.”5
3 4 5

Ahkâmul Qur’ân: III/119-120. Majmû` Fatâwâ: XXVIII/259. Syarh Shahîh Muslim: XIII/69.

143

Melawan

Penguasa

Kalau orang yang pernah belajar memanah dan menguasainya tak mengulang-ulanginya lagi sehingga ia lupa mendapatkan ancaman seperti itu, lantas bagaimana dengan orang yang sama sekali belum pernah mempelajarinya? Sebelumnya Anda telah memahami, bahwa kewajiban i’dad untuk jihad dan meninggalkannya termasuk salah satu sifat orang-orang munafik. Nabi sendiri telah menerangkan bahwa maksud dari kata kekuatan yang harus dipersiapkan di dalam ayat di atas adalah melempar. Ini sebagaimana hadits riwayat Muslim, dari shahabat Uqbah bin Amir. Ia berkata, “Saya mendengar Nabi Saw ketika berada di atas mimbar membaca ayat:

Þ$t/Íh‘ ∅ÏΒuρ ;ο§θè% ⎯ÏiΒ ΟçF÷èsÜtGó™$# $¨Β Νßγs9 (#ρ‘‰Ïãr&uρ Å ∩∉⊃∪...È≅ø‹y⇐ø9$#
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang…” (Al-Anfâl: 60).

Lalu, beliau bersabda:

“Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan adalah dengan melempar, ketahuilah, sesungguhnya kekuatan adalah dengan melempar, ketahuilah, sesungguhnya kekuatan adalah dengan melempar.” (HR Muslim)

Akan tetapi, di sini saya ingin mengingatkan beberapa hal: 1. Kita tidak boleh melupakan persiapan keimanan dengan mendidik para mujahidin untuk menaati Allah,

144

Berbagai Syubhat dan Jawabannya

menanamkan makna-makna keikhlasan, sikap mendahulukan kepentingan orang lain, kesabaran, pengorbanan, tawakal, yakin, dan persiapan-persiapan kejiwaan lainnya. Ketaatan kepada Allah dan keikhlasan merupakan sebab datangnya kemenangan. Imam An-Nasa’i telah meriwayatkan sebuah hadits dari shahabat Sa’ad bin Abi Waqqash ketika beliau mengira dirinya memiliki keutamaan lebih dibandingkan shahabat-shahabat lainnya. Ketika itu Nabi bersabda:

“Sesungguhnya, Allah hanya akan menolong umat ini karena orang-orang lemah yang ada pada mereka, dengan doa, shalat dan keikhlasan mereka.”6

Hal ini sangat penting. Karena salah satu penyebab kekalahan ialah maksiat, sebagaimana pada waktu perang Uhud. Pada awalnya kaum muslimin mendapatkan kemenangan, tetapi ketika pasukan pemanah menyelisihi perintah Nabi dan turun dari posisi mereka, maka kekalahan pun menimpa mereka. 2. Ketika kita menerangkan wajibnya persiapan kekuatan fisik, hal ini tidak berarti kita mengabaikan sisi lain dari agama Islam. Misalnya, menuntut ilmu, berdakwah, menerangkan kebenaran kepada manusia, beramar makruf nahi mungkar, dan ajaran Islam lainnya. 3. Meskipun posisi kita sedang lemah, kita dilarang berlemah-lembut kepada para thaghut dan memuji mereka,
6 HR An-Nasa’i dan dishahihkan Abdul Qadir Al-Arna’uth dalam Tahqîq Zâdul Ma‘âd.

145

kecuali dengan memboikot musuh Allah. “Sesungguhnya. memusuhi. Tetapi sebaliknya. menyebarkan keharusan mengingkari thaghut. serta wajibnya beri’dad ketika dalam keadaan lemah. menyadarkan umat dari 7 Ar-Rasâ’il Al-Mufîdah hlm.”7 4.Melawan Penguasa sebagaimana perbuatan beberapa pimpinan Ikhwanul Muslimin. 60. Sebab. menyebarkan pemahaman di atas membuat musuh Allah marah. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah. memerangi. Seluruh kaum muslimin terutama para anggota gerakan Islam harus mempelajari persoalan-persoalan hukum. 146 . tΠ$|ÁÏΡ$# “Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. pokok utama ajaran Islam tidak akan tegak dan bertahan lurus. maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus…” (Al-Baqarah: 256) Syaikh Abdul Lathif bin Abdurrahman mengatakan. Allah berfirman: Nθäó≈©Ü9$$Î/ öõ3tƒ ⎯yϑsù 4 Äc©xöø9$# z⎯ÏΒ ß‰ô©”9$# t⎦¨⎫t6¨? ‰s% Ï à Ÿω 4’s+øOâθø9$# Íοuρóãèø9$$Î/ y7|¡ôϑtG™$# ωs)sù «!$$Î/ -∅ÏΒ÷σãƒρ ó u 3 $oλm. wajibnya memberontak dan melengserkan pemerintahan murtad ketika memiliki kemampuan. berjihad melawan mereka. dan mencari pahala Allah dengan membenci dan menjelek-jelekkan mereka. kita harus mengafiri dan memusuhi mereka karena hal ini merupakan konsekuensi dari tauhid.

8 Barangkali yang dimaksudkan penulis adalah semisal pengeboman dan penculikan secara sporadis—Edt. dan tidak bergantungnya hati pada faktor-faktor penyebab ini.” (Ali-Imran: 126). keikhlasan. Namun demikian. 147 . Ï “Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. kami tak bermaksud menganjurkan pembaca melakukan perbuatanperbuatan yang tak bertanggungjawab.tidurnya. Jika kaum muslimin telah berhasil mempersiapkan kekuatan hingga dianggap cukup oleh para pakar di bidangnya serta di atas kertas telah terbukti musuh bisa dikalahkan. Kaum muslimin harus meyakini bahwa pertolongan hanyalah bersumber dari Allah semata. Dengan membahas wajibnya memberontak. kaum muslimin juga tidak boleh tergesagesa. 5. Perjuangan memerlukan persiapan yang panjang. planning yang bagus terhadap segala perencanaan.. maksud kami ialah menyadarkan umat akan pentingnya persiapan yang matang. kesungguhan. dan menjelaskan penyebab keterpurukan mereka selama ini.. saat itulah kaum muslimin boleh memberontak melawan pemerintahan kafir. Akan tetapi. Allah berfirman: ∩⊇⊄∉∪ ÉΟ‹Å3ptø:$# Í“ƒÍ•yèø9$# «!$# ‰ΨÏã ô⎯ÏΒ ωÎ) çóǨΖ9$# $tΒuρ.8 yang mengakibatkan timbulnya kerusakan yang lebih besar daripada maslahat yang diinginkan.

dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya. sedang Allah mengetahuinya…” (Al-Anfâl: 60).Melawan Penguasa “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah. musuhmu. 148 .

Memberlakukan hukum selain hukum Allah. Menaati selain Allah dan Rasul-Nya (dalam hal yang melanggar aturan Allah). yang setiap pelanggaran menyebabkan pelakunya menjadi kafir dengan seketika. ketika mereka memberlakukan hukum buatan mereka sendiri dalam kehidupan. 2. Adapun empat penyebab kekafiran tersebut ialah: 1. Sebab. Anda juga harus mengetahui vonis Allah terhadap mereka. yakni mereka harus dilengserkan dari kursi kepemimpinan serta dimusuhi berikut para pengikutnya. Maka. kami mengharap kepada pembaca untuk menelaah isi risalah ini dengan sebaik-baiknya supaya hukum Allah atas pemerintah-pemerintah hari ini benar-benar Anda pahami. Membuat undang-undang yang menyelisihi aturan Allah. Mereka ialah pemerintah kafir yang telah keluar dari Islam. Jika Anda telah mengetahui hal ini. 3. berarti mereka telah menabrak empat rambu kekafiran.PENUTUP A khirnya. Meninggalkan penerapan hukum Allah. 4. persiapkanlah diri kalian wahai kaum 149 .

150 . Mereka ialah kelompok yang menang (Tha’ifah Manshurah) dan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang melaksanakan perintah Allah tanpa takut dicela. konco-konconya. Benar. melainkan kritik terhadap orang yang menitik beratkan perhatian pada hal-hal tersebut dan mengabaikan pengajaran tebtang kewajiban jihad. baik sengaja maupun tidak. kekuasaan Islam akan bisa tegak tanpa 1 2 3 Tashfiyah ialah membersihkan ajaran Islam dari berbagai penyelewengan. yakni mendidik ummat dengan ajaran Islam. Mereka tidak takut kepada para thaghut. tetapi hal itu bukan segalanya dalam Islam seperti anggapan sebagian orang. hingga meraih salah satu dari dua kebaikan: kemenangan yang dijanjikan Allah bagi umat Islam atau mati syahid. tashfiyah dan tarbiyah itu wajib. Kiranya penulis tidak bermaksud meremehkan sunnah “memendekkan celana” dan “memanjangkan jenggot”. Pentolan-pentolan kelompok ini menyangka bahwa dengan hanya mengajarkan kepada manusia bagaimana “memendekkan celana” dan “membiarkan jenggot” (keduanya jelas-jelas sunnah)3. serta tidak pernah tawar-menawar dalam hal prinsip. Dan inilah yang seharusnya menjadi cita-cita seorang Muslim. Mereka tidak takut disiksa. serta kaum sekuler yang telah murtad dan menjadi pengikut thaghut. sebagaimana kondisi para ulama tashfiyah 1 dan tarbiyah2 yang telah membingungkan umat Islam dengan syi’arsyi’ar seperti itu (tashfiyah dan tarbiyah). Sebuah tahapan setelah Tashfiyyah.Melawan Penguasa muslimin untuk bergabung mendukung teman kalian sesama Muslim yang sedang berjihad dan akan selalu berjihad memerangi para pemerintah kafir. dipenjara. Mereka tak akan berhenti (dengan izin Allah) berperang.

Bergabunglah dengan golongan pertama yang tampak pada mereka kriteria yang disabdakan Nabi Saw. 151 . Nabi bersabda: “Akan selalu ada sekelompok orang yang berperang di atas kebenaran. baik yang terucap maupun tampak dari gerakgerik mereka. “Mereka adalah para mujahid yang berperang. mereka selalu menang atas musuh. inilah ucapan mereka. Demi Allah. mereka berperang di jalan Allah. Padahal. Wahai saudaraku sesama Muslim.”4 4 Hadits shahih riwayat Abu Dawud. Ya. masukkanlah kami dalam golongan mereka—yang merusak potensi umat Islam akibat pemberontakan yang mereka lakukan melawan pemerintahan Islam! Demikianlah omong kosong mereka. Allah. yang telah menjelaskan kepada kita sifat Tha’ifah Manshurah dari golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah. akibat perbuatan kaum Khawarij—merekalah yang mengarahkan istilah Khawarij kepada para mujahidin yang mengorbankan nyawa demi membela Islam. Kami tidak berbohong. juga diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dengan berbagai macam redaksi.Penutup pertumpahan darah. Sebagaimana kondisi kita hari ini. jangan sampai dirimu masuk ke dalam golongan kedua. hingga kelompok terakhir mereka yang memerangi Dajjal. para mujahidinlah yang sebenarnya mengangkat martabat umat Islam dan membuktikan bahwa umat Islam akan selalu berada dalam kebaikan selama tegaknya jihad.” Ya.

Jangan sampai kalian ragu dalam bergabung dengan mereka. maka itu hanya berasal dariku dan setan. Dan kita memohon jangan sampai kita menjadi orang-orang yang banyak berbicara. Wahai saudaraku sesama Muslim. 152 . Dukunglah mereka dan golongan di belakang mereka yang mengajak manusia hanya beribadah kepada Allah semata. maka itu berasal dari Allah semata. Kita berharap semoga Allah berkenan memasukkan kita dalam golongan mereka. Karena menyelisihi mereka hanya akan berakibat kehinaan dan kerugian di dunia dan akhirat. hendaknya kalian segera memegang teguh ajaran Tha’ifah Manshurah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dan jika terdapat kesalahan dan kekeliruan. Jika terdapat kebenaran di dalamnya.Melawan Penguasa Ciri-ciri tadi hanya tampak pada mereka yang memegang Al-Qur’an di tangan kanan dan senjata di tangan kiri. Demikianlah sifat mereka. tetapi tidak berbuat. Allah dan Rasul-Nya berlepas diri terhadap kesalahanku. Demikianlah peringatan yang saya sampaikan kepada diriku sendiri dan saudaraku seiman.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful