P. 1
nasionalisme 3

nasionalisme 3

|Views: 44|Likes:
Published by Ina Krsnh

More info:

Published by: Ina Krsnh on Jun 27, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/27/2011

pdf

text

original

Sekretariat Negara Republik Indonesia

Nasionalisme, Etnisitas, dan Agama di Indonesia : Tantangan Globalisasi

Azyumardi Azra Deputi Sekretaris Wakil Presiden Bidang Kesejahteraan Rakyat

Mengawali makalah ini sebuah pertanyaan yang sering diajukan orang patut kembali saya kemukakan di sini; benarkah ‘nasionalisme' sudah mati? Atau setidaknya, apakah betul ‘nasionalisme' tidak relevan lagi? Dan pertanyaan lebih lanjut; apakah hubungan antara nasionalisme dengan agama-dalam hal ini Islam-dan bahkan dengan etnisitas?

Menjawab pertanyaan pertama, menurut saya "secara imperatif tidak". Orang yang menyatakan riwayat "nasionalisme"-yang dipahami sebagai suatu ideologi-telah tamat, sering mengutip karya klasik Daniel Bell, The End of Ideology (1960); atau lebih akhir lagi, karya Francis Fukuyama, The End of History and the Last Man (1992).

Kesimpulan Bell yang secara implisit menyatakan bahwa nasionalisme, sebagai ideologi-telah berakhir adalah kekeliruan yang cukup fatal dan distortif. Pendapat Bell justru bertolak belakang. Ringkasnya, menurut Bell, ketika ideologi-ideologi intelektual lama abad ke-19-khususnya Marxisme-telah exhausted (kehabisan tenaga, lumpuh) dalam masyarakat Barat, terutama Eropa Barat dan Amerika, ideologi-ideologi "baru" semacam industrialisasi, modernisasi, Pan-Arabisme, warna kulit (etnisitas), dan nasionalisme justru menemukan momentumnya, khususnya di negaraÂ-negara yang baru bangkit di Asia Afrika seusai Perang Dunia II.3

Lebih jauh, dalam pandangan Bell, ideologi-ideologi lama sebagai sistem intelektual yang dapat mengklaim ‘kebenaran' atas pandangan dunia mereka, telah kehilangan raison d'etre-nya di tengah perubahan sosial masyarakat barat yang amat kompleks, khususnya menjelang dan terus berlanjut sampai usainya Perang Dunia II. Ideologi lama kehilangan tenaga karena lenyapnya semangat yang menyala-nyala (passion), sebagai akibat proses rasionalisasi dan antromorfisasi. Pendeknya, ideologi-ideologi lama yang dalam segi-segi tertentu bersifat universalistik, humanistik yang dikonseptualisasikan kaum intelektual, kehilangan "kebenaran" dan kekuatan untuk memikat banyak orang di barat.

Pada pihak lain, ideologi-ideologi baru yang sedang bangkit itu bersifat parokial dan instrumental. Ia dirumuskan, dikonseptualisasikan dan dibentuk para politisi. Impulsi-impulsi yang melatarbelakangi pertumbuhannya terutama adalah pembangunan ekonomi dan kekuatan nasional. Hal ini melibatkan koersi atas seluruh penduduk dan berbarengan dengan muncul dan berkuasanya elit penguasa baru yang menggiring dan memaksa rakyat atas nama kepentingan nasional. Justifikasi pun diberikan; bahwa tanpa koersi dan ‘stabilitas nasional', kemajuan ekonomi tidak bisa dicapai. Tentu saja, di sini muncul persoalan klasik: Apakah negara-negara baru dapat tumbuh dengan mengembangkan institusiinstitusi demokratis dan memberikan kesempatan kepada rakyat untuk membuat pilihan-pilihan sendiri atau apakah elit penguasa baru dengan kekuasaan yang mereka genggam sebaliknya menggunakan cara-cara otoriter memaksakan transformasi masyarakat mereka atas nama kepentingan nasional?

http://www.setneg.go.id

Sekretariat Negara Republik Indonesia

24 June, 2011, 19:59

The End of Ideology. namun. Menurutnya. Uni Soviet sedang ambruk. Pada saat yang sama. ‘nasionalisme baru' yang lebih politis kini juga sedang bangkit. http://www. Simaklah pendapat Hobsbawm. dan secara internal agresif. pada saat yang sama. Ia melihat semakin surutnya nasionalisme ‘lama' di negara-negara demokrasi paling liberal dan maju di Eropa. nasionalisme kini memang tidak lagi menjadi kekuatan utama dalam perkembangan historis masyarakat dunia. Reality (1990). dan karenanya lebih toleran. ia tidak secara khusus membahas subyek nasionalisme. mendorong akselarasi gerakan-gerakan nasionalisme yang amat kuat di berbagai wilayahnya.setneg. itu lebih bersifat kultural ketimbang politik. Dan ia akan bertahan lebih lama dibandingkan pengalaman nasionalisme di Eropa Barat dan Amerika. ini tidak berarti bahwa nasionalisme tidak lagi mengemuka dalam politik dunia sekarang ini.Sekretariat Negara Republik Indonesia Karya Bell. mungkin sudah terlalu klasik. khususnya di kalangan masyarakat yang berada dalam transisi ke arah kebudayaan industrial. ‘nasionalisme' tidak mati. Ia tidak lagi menjadi program politik global sebagaimana pernah terjadi pada abad XIX dan XX.5 Akan tetapi. saat industrialisasi datang begitu terlambat. Proses globalisasi yang berlangsung demikian cepat belakangan ini memang kelihatan cenderung melenyapkan batas-batas nasionalisme.go. Kalau pun mereka masih berpegang pada ‘nasionalisme'. pada saat Hobsbawm menulis karyanya tadi.id Sekretariat Negara Republik Indonesia 24 June. Namun. dapat diprediksikan kekuatan gelombangnya hampir sama dengan kebangkitan nasionalisme pada abad ke-19 dan 20. Kesimpulannya. ahli nasionalisme Marxis. The End of History and The Last Man (1992). Bahkan. Jerman dan Italia-dua negara paling akhir dalam proses industrialisasi dan bersatu secara politik di Eropa-merupakan tempat tumbuhnya nasionalisme radikal dalam bentuk gerakan fascist ultra-nasionalis. lagi pula. walau pun ia memang kelihatan surut di negara-negara maju. Lagi-lagi. nasionalisme tetap bergelora di banyak bagian Dunia Ketiga dan Eropa Timur. negara-negara di Timur Tengah juga mengalami gejolak nasionalisme yang lebih hebat dibandingkan masa-masa sebelumnya. Nasionalisme baru itu juga tumbuh paling kuat di wilayah-wilayah Dunia Ketiga bekas koloni Eropa yang berada dalam tahap awal modernisasi dan industrialisasi. pada saat yang sama.4 Namun penting dicatat. 2011. Ini mempunyai presedennya dalam sejarah. Tidak heran kalau nasionalisme terkuat dewasa ini juga dapat ditemukan di bekas wilayah Uni Soviet dan Eropa Timur. khususnya di wilayah-wilayah yang baru mulai atau berada pada tingkat pembangunan sosial ekonomi yang relatif rendah. Myth. dan identitas-identitas nasional begitu lama terlindas. Dengan nada mirip Bell dan Hobsbawn. Namun jelas. Semua gejala ini menjelaskan bahwa nasionalisme sedang mengalami kebangkitan kembali. Nasionalisme baru ini cenderung primitif. nasionalisme tidak lagi menjadi kekuatan signifikan dalam sejarah. chauvinistik. dalam bukunya Nations and Nationalism since 1780: Programme. yakni tidak toleran. Ini juga merupakan argumen Fukuyama dalam karya terkenalnya. 19:59 . Nasionalisme dapat menjadi satu faktor yang rumit atau katalis bagi perkembangan lain. Fukuyama menilai. dalam segi-segi tertentu. Fukuyama juga berargumen. atau bahkan di Eropa Timur secara keseluruhan. Sebagai contoh. jumlah negara-negara baru yang menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terus bertambah sebagai akibat kristalisasi nasionalisme. ia juga mendorong peningkatan nasionalisme yang diekspresikan dalam berbagai cara dan medium. atau sudah sangat berkurang dibandingkan masa sebelumnya.

Modernisme. 19:59 . Gejala ini kian menguat dengan meningkatnya globalisasi sejak 1980-an. menggantikan nasionalisme (politik) yang menjadi ideologi dominan di kawasan ini sebelum tahun 1970-an. kini semakin menyurut di Asia Tenggara. Kebutuhan dan pertimbangan-pertimbangan pragmatis untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang direncanakan seolah memaksa Indonesia dan banyak negara berkembang lainnya mengorbankan sentimen nasionalisme mereka vis-Ã -vis kekuatan-kekuatan dominan internasional. terdapat semacam kelangkaan studi tentang nasionalisme di Indonesia dalam dasawarsa terakhir. kita melihat Indonesia dan banyak negara yang termasuk ke dalam Dunia Ketiga-atau lebih baik. Indonesia-dalam krisis ekonomi dan politik 1998 dan seterusnya-bahkan juga sempat dicemaskan banyak pengamat asing sebagai segera mengalami proses Balkanisasi. sosial. Namun. Tetapi. persisnya disintegrasi. sebagaimana bisa dilihat pada kasus negara-negara bekas Uni Soviet. budaya dan seterusnya. dan Yugoslavia sampai sekarang ini. dalam beberapa dasawarsa terakhir. khususnya di Indonesia.Sekretariat Negara Republik Indonesia Nasionalisme. negara-negara tengah berkembang (developing countries)-terseret ke dalam orbit kapitalisme internasional. prediksi itu tidak terbukti. Namun. dan. globalisasi juga dengan segera mengimbas ke dalam bidang politik. Dengan meminjam teori "ketergantungan" (dependency theory). ideologi modernisasi dan developmentalism. Dalam bidang politik. globalisasi berarti liberalisasi politik yang memunculkan gelombang-gelombang demokrasi. 2011. bertolak belakang dengan argumen Fukuyama tadi. yang pada akhirnya membuat berakhirnya negara-negara dengan rejim-rejim otoriter. Masih langkanya studi tentang subyek ini mengisyaratkan bahwa umumnya para ahli tentang Asia Tenggara agaknya menganggap nasionalisme bukan lagi isu penting bagi kawasan ini.setneg.id Sekretariat Negara Republik Indonesia 24 June. Hal ini sekaligus mengindikasikan bahwa gejolak dan gemuruh nasionalisme yang begitu menyala-nyala sejak awal abad 20 sampai akhir dekade 1960-an. Pada saat yang sama. sejauhmana dampak atau pengaruh modernisasi terhadap nasionalisme? Modernisasi dan industrialisasi kelihatannya merupakan salah satu faktor penting yang bertanggung jawab bagi menyurutnya nasionalisme di Indonesia. juga memunculkan nasionalisme etnis (ethnic nationalism) dan bahkan tribalism yang bernyala-nyala. sebaliknya. Dan Indonesia pun mengalami liberalisasi politik ini sejak 1998. dan Globalisasi Bagaimana perkembangan nasionalisme kontemporer di Indonesia? Agak sulit memberikan peta yang pasti dan akurat. Harus diakui. http://www. Bermula dengan globalisasi pasar dan ekonomi yang berintikan liberalisasi pasar dan ekonomi. secara de facto. negara-bangsa Indonesia tetap bertahan hingga kini. salah satu isu sentral di kawasan ini adalah modernisasi dan industrialisasi atau pembangunan.go. secara kontradiktif globalisasi yang mendorong terjadinya liberalisasi politik. Memang.

rasa terancam dan kekhawatiran akan pelunturan nilai-nilai lokal jelas terus kian meningkat pula. Di lain pihak. baik dengan perubahan sosial. kita melihat lenyap atau semakin berkurangnya konflik-konflik yang berakar dari nasionalisme politik di Indonesia. Semua perubahan cepat ini menimbulkan disrupsi dalam keseimbangan tatanan masyarakat tradisional. antara lain mengakibatkan terjadinya kemerosotan kepemimpinan tradisional dan melonggarnya ikatanÂ-ikatan komunal dan etnis. Dalam konteks itu.id Sekretariat Negara Republik Indonesia 24 June. tidak sepenuhnya negatif. yang mengandung banyak kearifan local (local wisdom). misalnya dibandingkan nasionalisme budaya Prancis dan sejumlah negara Eropa Barat lainnya. khususnya Amerika Serikat dan Eropa Barat. pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan politik etis yang. Dalam bidang ekonomi. kolonialis Belanda di Indonesia melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan sosial dan ekonomi ‘liberal'. anomali atau malaise semacam ini di kalangan masyarakat. politik.go. dengan modernisasi dan developmentalism-seperti dikemukakan di atas-kita melihat terjadinya transisi atau pergeseran bentuk-bentuk nasionalisme. Dalam hal ini. Fase ini ditandai penyerapan gagasan nasionalisme yang selanjutnya diikuti pembentukan organisasi-organisasi yang disebut Benda dan McVey7 atau Hobsbawn8 sebagai "proto-nasionalisme". antara lain. yang mempunyai dampak meluas terhadap ekonomi tradisional. Indonesia dan negara-negara berkembang umumnya.setneg. dalam bidang sosial. Tahap pertama adalah pertumbuhan awal dan kristalisasi gagasan nasionalisme. apalagi dengan berakhirnya perang dingin. Keadaan ini justru http://www. Namun. menghasilkan ekspansi pendidikan bagi pribumi. kita melihat setidaknya tiga tahap perkembangan nasionalisme di Indonesia dan banyak negara berkembang lainnya. di tengah arus globalisasi. Sekali lagi. dan ekonomi dalam negeri maupun dengan perubahan-perubahan pada tingkat global.Sekretariat Negara Republik Indonesia Dengan bertahannya negara-bangsa Indonesia. Memang tidak seluruh sistem nilai dan budaya yang disebarkan melalui globalisasi itu memiliki dampak negatif bagi perkembangan sistem nilai budaya tradisional dan nasional Indonesia. Bahkan.6 Tiga Fase Nasionalisme Mempertimbangkan survei kasar ini. Di sini nasionalisme ekonomi Indonesia dan negara-negara berkembang harus berhadapan dengan proteksionisme negara-negara maju. Dalam periode ini. 19:59 . dalam banyak hal. Nasionalisme politik-kecuali dalam bentuk kedaulatan dan keutuhan wilayahmemang terlihat semakin menyurut. kebijaksanaan liberal mendorong pertumbuhan sektor ekonomi modern. yang sempat mengancam untuk memboikot program-program TV buatan Amerika yang semakin mendominasi tayangan TV di negara mereka. tampak masih berada dalam tahap "keterpesonaan" menyaksikan dan menerima globalisasi sistem nilai dan gaya hidup Amerika. Ia merupakan konsep dinamis yang mengalami perubahan sebagai hasil dialektika. Indonesia dengan segera dibawa ke dalam orbit ekonomi pasar. Namun. Modernisasi dan industrialisasi yang berlangsung dalam ukuran relatif cepat dan berdampak luas mengakibatkan Indonesia dan negara-negara berkembang umumnya harus menemukan dan mempertahankan pasar untuk produkproduk industri ekonomi. merupakan konsekuensi dari perubahan-perubahan cepat dan berdampak luas yang berlangsung di Indonesia dan banyak negara lain umunmya pada dekade-dekade awal abad 20. nasionalisme budaya Indonesia memang masih kalah. khususnya di negara-negara maju. Di Indonesia. Dalam kerangka itu. Kemunculan dan pertumbuhan proto-nasionalisme. globalisasi informasi dan budaya yang dikendalikan negara-negara maju semakin dirasakan mengancam budaya Indonesia dan negara-negara berkembang. 2011. kita melihat bahwa konsep nasionalisme Indonesia bukanlah sesuatu yang baku. sebagaimana kita ketahui. nasionalisme juga jelas tidak sepenuhnya berakhir di Indonesia. nasionalisme ekonomi dan kultural kelihatan menemukan momentum baru.

sosial. yang pada 2008 ini kita rayakan sebagai Seratus Tahun atau Seabad Kebangkitan Nasional. Represi dan koersi yang dilakukan pemerintah kolonial mengakibatkan dimensi politis nasionalisme dalam fase ini tidak bisa mekar secara sempurna. inilah tahapan-seperti barusan dikemukakan-sebagai Kebangkitan Nasional. inilah tahapan sejarah yang secara logis berkaitan dengan Kebangkitan Nasional 1908. Bahkan. Hal ini sekadar langkah-antara untuk memobilisasi umat Islam dari tingkat paling bawah. Hal ini dapat dilihat dari organisasi-organisasi sejak Budi Utomo. Langkah ini pada gilirannya menciptakan konflik antara kepemimpinan nasionalis dan kepemimpinan yang berakar pada sentimen keagamaan. Ia harus diciptakan dan ditumbuhkan. Jepang dengan sengaja mendorong pertumbuhan nasionalisme lokal di Indonesia dan wilayah-wilayah lainnya.id Sekretariat Negara Republik Indonesia 24 June. semacam Soekarno. sekaligus kepemimpinan baru yang mempunyai peran sentral dalam kelahiran dan pertumbuhan awal proto-nasionalisme yang pada gilirannya menjadi nasionalisme yang lebih sempurna. sebagaimana dijanjikan Jepang. 19:59 . Pendudukan Jepang otomatis menghambat kepentingan dan tujuan pemerintahan kolonial Eropa. dengan sengaja. Golongan nasionalis yang memegang kendali sejak pertumbuhan awal nasionalisme. Demikian pula berbagai suku bangsa di kepulauan Nusantara terikat dengan pengalaman sejarah yang sama sebagai "bangsa Indonesia. Jepang kembali menoleh kepada kelompok nasionalis ‘sekuler'. Pembinaan nasionalisme dalam konteks ini. dialienasikan penguasa Jepang. adalah penciptaan dan penggalangan semangat nasionalitas vis-à -vis penjajah. bertujuan mencegah dengan cara apapun kembalinya kolonialisme dan imperialisme Eropa ke berbagai wilayah Asia. nasionalisme di Indonesia dan banyak negara lain segera memasuki fase kedua. seperti bisa diduga. ‘Liberalisasi' dalam bidang pendidikan betapa pun terbatasnya. seperti dikatakan Gellner. 2011. Mereka merekat berbagai potensi yang genuine dalam masyarakat. kaum terpelajar mengambil inisiatif menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa ‘nasional' tanahair Indonesia-dalam lingkup geografis kekuasaan Belandasebagai batas-batas wilayah nasionalisme. misalnya. Melalui organisasiÂ-organisasi inilah "an imagined political community" mulai mengambil bentuknya dalam masyarakat Indonesia. Hanya beberapa saat menjelang berakhirnya pendudukan. Lagi-lagi dengan mengambil Indonesia sebagai contoh. Karena itulah yang lebih menonjol dalam pertumbuhan nasionalisme pada tahap ini adalah penggalangan dimensi-dimensi sosial dan kultural. nasionalisme sangat sarat dengan muatan politis ketimbang sosial dan kultural. sampai pada SDI dan SI. Jong Java."9 Inilah salah satu tahap paling krusial dalam pembentukan negara-bangsa Indonesia. Pendudukan Jepang menciptakan perkembangan-perkembangan yang sangat kompleks bagi pertumbuhan nasionalisme Indonesia. Jepang memberikan peluang-betapa pun terbatasnya-kepada para pemimpin lokal untuk membicarakan masa depan wilayah dan bangsa mereka masing-masing. Bahkan. Jepang lebih memberi kesempatan dan ruang gerak kepada para pemimpin agama dan ulama. dengan tantangan baru yang membutuhkan respons baru pula. pendidikan. berhasil memunculkan kelas terdidik baru. seperti bisa diduga. seperti dalam kasus Indonesia. Elit baru ini sangat berperan dalam menumbuhkan persepsi baru tentang nasionalitas berdasarkan pengalaman bersama menghadapi penjajah. Tema sentral yang sama yang dikembangkan pada fase proto-nasionalisme atau nasionalisme awal ini. dan ekonomi ketimbang politis. organisasiorganisasi proto-nasionalis yang muncul dan berkembang lebih bersifat kultural.10 Karena.11 Masa pendudukan Jepang (interregnum) yang singkat (1940-1945) merupakan periode katalis dalam mengakselerasi pertumbuhan nasionalisme di Asia Tenggara. Kepemimpinan agama pada akhirnya http://www. yakni memupuk keutuhan dan integritas negara dan bangsa yang akan segera terwujud. ‘akar rumput' (grassroot). sesuai dengan kebijakan Jepang. Selain itu.go. Dengan demikian. Jong Islamieten Bond.Sekretariat Negara Republik Indonesia mendorong munculnya kesadaran baru tentang dunia yang tengah berubah. Dengan sengaja. Tradisi mereka menjadi bagian integral nasionalisme. nasionalisme sebenarnya tidak mempunyai akar begitu kuat dalam psike manusia. kelompok ini berhasil mengkonsolidasi diri untuk kemudian memegang kendali dalam proses pembentukan ‘nation state' Indonesia. sebagai bagian dari kebijaksanaan anti-Baratnya. Dalam fase ini. Tema pokok nasionalisme di sini adalah apa yang disebut pemimpin nasionalis. sebagai "nation and character building".setneg.

Baginya.12 ‘Puncak' nasionalisme Indonesia-sesuai dengan kerangka Bell di atas-tercapai pada masa Soekarno. Dengan melakukan hal seperti itu.Sekretariat Negara Republik Indonesia harus melakukan kompromi untuk meratakan jalan bagi pembentukan negara kebangsaan Indonesia. tetapi juga dalam konteks regional Asia Tenggara. sebagaimana diungkapkan pada bagian awal. dan Old Established Forces (Oldefos). Berakhirnya kekuasaan Soekarno menyusul kegagalan kudeta berdarah PKI pada 30 September 1965 menandai berakhirnya fase kedua nasionalisme yang gegap gempita di Indonesia. konsep nasionalisme harus mampu memikat dan mengikat seluruh bagian masyarakat Indonesia. Atas nama kepentingan bangsa. yang lebih dikenal dengan istilah pembangunan (dengan ideologi ‘developmentalism'). Dalam perumusan nasionalismenya. Bangkitnya pemerintah Orde Baru di Indonesia di bawah pimpinan Jenderal Soeharto membuka kemunculan fase baru. Nekolim merupakan versi 1960-an dari sikap anti-imperialisme pada 1920-an. agama.13 Nasionalisme Soekarno yang kental dengan sikap anti-Barat (atau Nekolim) itu dicapai melalui pembangkitan sentimen dan penggalangan massa dengan menggunakan retorik dan jargon-jargon yang mempesona. Soekarno kemudian mengembalikan Irian Barat ke pelukan Indonesia dan melakukan kampanye ‘Ganyang Malaysia!'. Namun. Kecenderungan eklektiknya memungkinkan dia untuk merumuskan konsep nasionalisme semacam itu berdasarkan sejumlah sumber yang bisa bertolak belakang satu sama lain. yang dirancangnya agar cocok dengan situasi di mana kekuasaan kolonial langsung berakhir. Ia mengutuk eksklusivisme dan chauvinisme nasionalisme Eropa. dengan menerima Pancasila sebagai ideologi nasional. Soekarno memperkenalkan konsep New Emerging Forces (Nefos). ia dapat mengambil dan menerapkan ‘analisis Marxis tentang penindasan imperialisme. Di sini. ia juga menggunakan sikap permusuhan kaum Muslimin terhadap penjajah kafir. Dalam kerangka itulah pada 1960-an. Berkat kemampuan intelektual dan retorikanya. yang justru menciptakan eksploitasi terhadap bangsa-bangsa Asia Afrika. baik bagi Indonesia mau pun bagi negara-negara yang baru bebas dari cengkeraman imperialisme dan kolonialisme Barat. Konfrontasi dengan Malaysia segera ditamatkan. ia kemudian menggelindingkan konsep Nasakom untuk menyimbolkan kesatuan nasionalisme. dan Nefos. tidak hanya di Indonesia.setneg. masyarakat Indonesia jelas terlalu majemuk dalam banyak hal untuk bisa diakomodasi dalam satu konsep nasionalisme.go. dan keadilan. Soekarno bahkan bukan hanya menjadi perumus nasionalisme Indonesia yang eklektik. bahkan dalam hubungannya dengan dunia internasional lebih luas. ia dapat mengembangkan gagasan sentral tentang nasion sebagai sebuah entitas yang dapat mendamaikan berbagai elemen yang bertentangan dalam masyarakat Indonesia dan mensubordinasikannya ke bawah tujuan-tujuan jangka panjang. nasionalisme politikkhususnya dalam konteks regional Asia Tenggara dan internasional-mulai disurutkan. presiden pertama Indonesia ini berhasil menggelorakan nasionalisme Indonesia. nasionalisme merupakan konsep sentral untuk membangun Indonesia yang mandiri dan terhormat di tengah percaturan internasional. kekuatan kebebasan. Masih dalam konteks nasionalisme semacam ini. yakni fase ketiga nasionalisme. nasionalisme harus berdasarkan rasa cinta kepada seluruh manusia. melainkan juga menjadi ‘juru bicara' nasionalisme paling artikulatif. Pada saat yang sama. khususnya vis-à -vis kekuatan-kekuatan yang disebutnya sebagai neo-kolonialisme dan imperialisme (Nekolim). dengan segera melancarkan program modernisasi dan industrialisasi. penindasan. Bagi Soekarno. Slogan Soekarno yang terkenal "go to hell with your aid" dilipat ke balik lembaran sejarah. 2011. dan komunisme. Bagi Soekarno. Soeharto dan militer yang merasa traumatis dengan pengalaman politik Indonesia pada masa Soekarno. nasionalisme.id Sekretariat Negara Republik Indonesia 24 June. kekuatan lama. http://www. Penekanan kini diberikan pada nasionalisme ekonomi yang tidak jarang mengharuskan Indonesia meredam nasionalisme politiknya yang pernah berkobar-kobar. sementara kolonialisme dalam bentuk dominasi ekonomi Barat tetap berlangsung. 19:59 .

tetapi substansinya tak bisa lain kecuali sentimen etnik. yaitu sensitifitas terhadap pluralisme etnik yang dipadukan dengan sikap respek terhadap perbedaan kultural antara berbagai kelompok etnis. pembunuhan. yang pada gilirannya memunculkan nasionalisme politik yang amat kental. atau Eritrea.15 Teori tentang ‘tribalisme baru' sesungguhnya tidaklah terlalu baru. antara lain sebagai hasil dari tipografi kawasan ini. Indonesia dihuni kelompok-kelompok etnis dalam jumlah besar yang. Peta etnografis Indonesia sangat kompleks.18 Sejauh mana relevansi teori Naisbitt atau Greely dan Novak dengan pengalaman Indonesia? Negara ini tentu saja memiliki potensi etnisitas atau tribalisme yang luar biasa besar. Sisi pertama adalah politik. Etnisitas.setneg. khususnya dalam hubungan dengan etnisitas dan agama sangat kompleks. Konsep tentang ‘tribalisme baru' ini pertama kali dikembangkan Greely16 dan Novak17 dengan sebutan ‘new ethnicity'." Naisbitt memprediksikan. sejak 1970-an di Amerika Serikat terjadi semacam kebangkitan minat dan kesadaran etnisitas. yang dalam banyak segi berbeda dengan Asia Tenggara. Novak melihat adanya dua elemen dasar etnisitas atau tribalisme baru itu. .id Sekretariat Negara Republik Indonesia 24 June. dan sisi lainnya adalah etnik. tetapi tibaÂ-tiba membara untuk menghancurkan berbagai negara. Seperti dikemukakan Nodia. perkosaan. 2011. tetapi juga oleh realitas Indonesia yang sangat pluralistik.Sekretariat Negara Republik Indonesia Nasionalisme. Dan ini merupakan kecenderungan yang sangat berbahaya. Yugoslavia. yang menyatakan bahwa "virus tribalisme . seperti terlihat jelas dalam kasus Serbia. mengandung risiko menjadi AIDS politik internasional. 19:59 . Nasionalisme yang muncul merupakan perpaduan sentimen etnisitas dan politik yang kemudian beramalgamasi dengan semangat keagamaan. selain mempunyai kesamaanÂ-kesamaan fisik-biologis. Namun. dalam sejumlah kasus. Kurdistan. yang diam selama bertahun-tahun. sehingga sebutan Amerika sebagai melting pot semakin kehilangan maknanya. nasionalisme ibarat satu koin yang mempunyai dua sisi. secara tersirat menyebut etnisitas chauvinistik dan radikal itu sebagai ‘new tribalism". Tribalisme baru ini secara sempurna mewujudkan diri dalam berbagai tindak kebrutalan. bahkan sentimen keagamaan. http://www. pada masa depan kebanyakan konflik bersenjata akan bermotif etnik dan tribalisme ketimbang bermotif ekonomi dan politik. etnisitas dapat dikatakan tidak sempat sepenuhnya mengalami kristalisasi menjadi dasar nasionalisme. Yang terpenting di antara faktor-faktor itu adalah agama dan kesadaran tentang pengalaman kesejarahan yang sama. berbeda dengan ‘tribalisme baru' kontemporer yang disebut Naisbitt. harus diingat bahwa kebangkitan ‘tribalisme baru' yang relatif ‘modern' seperti terjadi di Amerika Serikat atau ‘tribalisme baru primitif' di bekas Yugoslavia mempunyai konteks sosial dan historis tertentu. Pengalaman historis Indonesia dengan nasionalisme. tumbuh berbarengan dengan peningkatan sentimen etnisitas. dan Agama Kebangkitan nasionalisme kultural dewasa ini. Tidak ada nasionalisme tanpa elemen politik. dalam pertumbuhan nasionalisme di Indonesia umumnya. dan bentuk-bentuk lain ‘ethnic cleansing' di wilayah bekas Yugoslavia. . Global Paradox (1994). dan terakhir Kosovo. Terdapat beberapa faktor yang menghalangi terjadinya kristalisasi sentimen etnisitas tersebut.go. seperti disinggung di atas. Namun. John Naisbitt dalam buku. Hasil dari perpaduan ini adalah nasionalisme yang sangat chauvinisme dan fascis. dan pengujian secara sadar terhadap warisan kultural kelompok etnis sendiri.14 Semua ini terlihat jelas melalui latar belakang kemunculan negara-negara di bekas Uni Soviet. Kompleksitas itu tidak hanya disebabkan perbedaan-perbedaan pengalaman historis dalam proses pertumbuhan nasionalisme. juga memiliki perbedaan-perbedaan linguistik dan kultural yang cukup substansial. Di sini Naisbitt mengutip laporan The Economist. baik secara etnis mau pun agama. Meski pun demikian. Hubungan elemen ini ibarat jiwa politik yang mengambil tubuhnya dalam etnisitas. Keduanya berargumen.

Di sinilah kemudian sentimen etnisitas menjadi sesuatu yang tidak relevan. Dengan demikian. Berkat Islam. Hanya ada sebuah contoh yang agak langka. Ini terlihat.setneg. ularna besar asal Palembang yang mengirim suratsurat dari Mekah kepada penguasa Jawa Mataram untuk melakukan jihad melawan Belanda. dari pandangan Fukuyama yang menganggap agama hanya menimbulkan dampak negatif terhadap nasionalisme. penjajahan Belanda mendorong berbagai kelompok etnis di Indonesia bersatu pada tingkat teologis keagamaan. penjajahan Belanda-yang secara teologis menurut ajaran Islam.21 Walau pun SI pada esensinya merupakan amalgamasi dari berbagai aspirasi-dari gagasan Ratu Adil sampai ke tandingan terhadap dominasi Cina-ia mampu menjadi organisasi yang melewati batas-batas etnisitas dan wilayah. Sebab itu. Kenyataan ini juga terlihat dari kemunculan Sarekat Islam (SI) yang merefleksikan nasionalisme keislamankeindonesiaan. http://www. Hasan Tiro mencoba mengeksploitasi sentimen lain yang menurutnya mungkin lebih ampuh. Ternyata tema "etnisitas" seperti ini tidak mendapatkan dukungan historis. Ini jelas sudah keluar dari etnisitas dalam pengertian sesungguhnya. kedatangan dan perkembangan Islam di Indonesia tidak hanya menyatukan berbagai kelompok etnis dalam pandangan keagamaan dan dunia yang sama. Islam Indonesia justru merangsang. tidak banyak orang Sumatera yang menganggap serius tema ini.go. Dalam pengertian ini. Gerakan Hasan Tiro di Aceh yang memang berusaha mengeksploitasi sentimen etnisitas Aceh vis-à -vis apa yang disebutnya sebagai ‘kolonialisme Jawa'. adalah kafir-merupakan semacam blessing in disguise. Bahkan. tetapi bahkan merendahkan nasionalisme itu sendiri. menjadi lingua franca berbagai kelompok etnis di Indonesia.Sekretariat Negara Republik Indonesia Dalam pengalaman Indonesia. sosiologis dan kultural dari kelompok-kelompok etnis lainnya. Islam juga mampu menjinakkan sentimen etnisitas untuk menumbuhkan loyalitas kepada entitas lebih tinggi. cukup bertolak belakang dengan pandangan Fukuyama. dalam kasus Indonesia. Dengan kata lain. Fukuyama benar ketika menyatakan bahwa nasionalisme awal (tepatnya proto-nasionalisme) pada abad ke-16 di Eropa yang begitu kental dengan sentimen keagamaan.22 Pengalaman pertumbuhan dan kebangkitan nasionalisme Indonesia dalam hubungannya dengan etnisitas dan agama. Anggapan ini juga mungkin benar dalam hubungannya dengan brutalitas nasionalisme Serbia beberapa tahun lalu. nasionalisme lama menjadi lebih pasif. Pada saat yang sama. misalnya. 19:59 . Bisa dipastikan.20 Dengan demikian. 2011. hanya menghasilkan fanatisme keagamaan dan perang agama. Dengan demikian. etnisitas cenderung kehilangan relevansinya sebagai sebuah tema politik. Islam menjadi unsur qenuine. bahasa Melayu yang kemudian menjadi bahasa Indonesia. dan berperan amat positif dalam pertumbuhan nasionalisme. Namun. yakni dengan mengangkat nasionalisme Sumatera melalui apa yang disebutnya sebagai "Sumatera Merdeka". seperti dikemukakan di atas. dalam kasus Islam di Indonesia. Agama dipandang tidak hanya sekadar kendala. kemajemukan etnisitas beserta potensi divisif dan konfliknya dengan segera dijinakkan faktor Islam sebagai agama yang dipeluk mayoritas penduduk Islam menjadi "supra-identity" dan fokus kesetiaan yang mengatasi identitas dan kesetiaan etnisitas. pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa etnisitas tidak menjadi faktor penghambat yang signifikan dalam pertumbuhan nasionalisme Indonesia. jinak. Saya sependapat dengan Himmelfarb. Lihatlah misalnya pengalaman Abd al-Shamad al-Palimbani (1704-1789).19 Kesetiaan pada Islam di Indonesia pada gilirannya memperkuat kesadaran pengalaman kesejarahan yang sama. adalah ironi yang pahit bagi sejarah bahwa sekarang ini ketika nasionalisme lebih baru menjadi lebih agresif dan brutal. tetapi juga dalam aspek-aspek penting-yang bahkan menjadi dasar nasionalisme-khususnya bahasa. pendorong munculnya nasionalisme Indonesia. bahkan menolak kaitannya dengan agama.id Sekretariat Negara Republik Indonesia 24 June. sekaligus sebagai respons terhadap kebangkitan nasionalisme di kalangan masyarakat Cina Hindia Belanda-baik Cina keturunan maupun Cina totok. justru kebalikannya. menumbuhkan. Dengan wajah yang lebih toleran dan ramah.

193. 266-275.J.6 Bandingkan. . H. . E. kita boleh berpikir tentang Kebangkitan Nasional kedua dalam masa-masa Milenium Kedua Kebangkitan Nasional negara-bangsa Indonesia.J. J. justru nasionalisme perlu revitalisasi-kembali digelorakan setiap anak bangsa. The End of History and the Last Man.5 Lihat. . New York: Praeger. “Japan. h. 1992. Benda. Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism.id Sekretariat Negara Republik Indonesia 24 June. Nations and Nationalism.9 Lihat. 214. .J.4 Saya hanya bisa memperoleh edisi bahasa Indonesia karya ini.setneg. 1992. 19:59 . h. lihat pula. Den Haag & Bandung: Van Hoeve. 2006. 57-93. khususnya Bab 4 sampai 8.D. -8 Lihat. Islam and the Muslim World―. . Di tengah arus globalisasi yang terus meningkat. 1990. 337-384.13 Lebih lengkap tentang nasionalisme Soekarno. 373. Daniel Bell.10 Lihat. terutama. 1960.Sekretariat Negara Republik Indonesia Revitalisasi Nasionalisme: Kebangkitan Nasional Kedua Seabad Kebangkitan Nasional pada 2008 merupakan waktu yang tepat untuk merefleksikan kembali pengalaman Indonesia dengan Kebangkitan Nasional dan nasionalisme di masa kontemporer sekarang ini. 116-156. Nasionalisme Menjelang Abad XXI. Ithaca: Cornell Modem Indonesia Project. h. The Emergence of the Modern Indonesian Elite. Azyumardi Azra.go. h. Ithaca: Cornell University Press. London: Verso. B. dalam Mega Trends 2000: Ten New Directions for the 1990’s. Illinois: The Free Press. Ernest Gellner. 31-76. Dalam pandangan saya. http://www. h. Nasionalisme Menjelang Abad 21. Yogyakarta: Tiara Wacana. jika Indonesia tetap bertahan. 34. 2011. The Crescent and the Rising Sun: Indonesian Islam under the Japanese Occupation 1942-1945. Indonesia. misalnya. .7 Lihat esai pendahuluan H.J. Lihat. nasionalisme tetap relevan. Hobsbawm. The End of Ideology. E. Francis Fukuyama.12 Lihat. h. Legge. h. Hanya dengan menggelorakan nasionalisme. Di tengah hiruk pikuk liberalisasi politik dan demokratisasi dalam satu dasawarsa terakhir-sejak 1998tema Kebangkitan Nasional dan bahkan nasionalisme bahkan tidak lagi menjadi wacana publik. “Global Lifestyles and Cultural Nationalism―. New York: Avon Books. Den Haag: van Hoeve. Benda dan Ruth McVey dalam The Communist Uprisings of 1926-1927 in Indonesia: Key Documents. Jakarta: The Japan Foundation―. Banyak kalangan menilai baik semangat Kebangkitan Nasional mau pun nasionalisme Indonesia itu sendiri tengah mengalami kemerosotan secara signifikan. New York: The Free Press.11 Lihat. Soekarno: A Political Biography. Hobsbawm. khususnya h. 1991. 1960. . . h. semangat keindonesiaan. 1960. Robert van Niel. . lihat. John Naisbitt & Patricia Aburdene. 5-7. 1983. 1958.[] ------ - 3 Lihat. Anderson. 1972.

. Dissertation.18 Novak. Azyumardi Azra. Crows Nest. 1977.1. al-Attas. dalam Studia Islamika.15 Lihat. 61. Indonesia. Religion and Nationalism in Southeast Asia: Burma. Ibid. von der Mehden. 1971). . Vol. 19:59 . 21-25.id Sekretariat Negara Republik Indonesia 24 June. Bandung: Mizan.22 Lihat. “The Dark and Bloody Crossroads: Where Nationalism and Religion Met―.16 Lihat. . Gertrude Himmelfarb.4.17 Lihat. Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu. “Nationalism and Democracy―.M. Madison: The University of Wisconsin Press. 2011. The National Interest (Summer. No.Sekretariat Negara Republik Indonesia . Why Can’t They be Like Us? New York: E. John Naisbitt. Australia. Untuk pembahasan lebih rinci tentang peran Islam dalam pertumbuhan nasionalisme Indonesia.N. Leiden: AAAS.21 Tentang ini lihat. dan KITLV Press. The Rise of the Unmeltable Ethnics. No. 1992. Global Paradox: The Bigger the World Economy. Columbia University.D. http://www. 552-558. .19 Lihat. lihat studi klasik Fred R. Ph. The National Interest. New York: William Morrow. “The Indies Chinese and the Sarekat Islam: An Account of the Anti-Chinese Riots in Colonial Indonesia―. F. Fukuyama. dalam Journal of Democracy. . “The End of History?―. Honolulu. The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia. Dutton. Cf. 1989).P. 14-15. 2005. 1975. . Azra. 3. 1. “The Transmission of Islamic Reformism to Indonesia: Networks of Middle Eastern and Malay-Indonesian ‘Ulama’ in the Seventeenth and Eighteenth Century―. New York: Macmillan. Vol. 1963.20 Lihat. 1994. Michael Novak. 1994. S. the Philippines. the More Powerful Its Smallest Players. 1992. 17. .go. h.14 Ghia Nodia. Andrew Greeley. h.setneg. . (Summer 1993). Azyumardi Azra. Hawaii University Press.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->