CIVIL SOCIETY DAN PARTAI POLITIK DALAM DEMOKRATISASI di INDONESIA∗

Aditya Perdana∗∗

1.

Pendahuluan Selama 11 tahun paska runtuhnya kekuasaan pemerintahan Orde Baru, politik Indonesia telah mengalami perubahan dan dinamika sosial politik yang dramatis. Di awal masa Reformasi, euphoria kebebasan politik telah memberi celah munculnya kekuatan-kekuatan politik baru yang selama masa Orde Baru tidak dimungkinkan terjadi. Pembatasan jumlah partai politik di era Orde Baru telah berubah menjadi era mulitpartai pada Pemilu 1999 dan pemilu-pemilu selanjutnya.1 Kekuatan organisasi masyarakat lainnya seperti LSM ataupun organisasi yang sejenis juga meningkat jumlahnya secara drastis bila dibandingkan dengan masa Orde Baru.2 Di samping itu, perubahan kelembagaan politik setelah Reformasi juga mengalami perubahan, seperti adanya penguatan lembaga-lembaga politik (eksekutif, legislative dan yudikatif) dalam peran-perannya dan juga mekanisme procedural seperti pemilihan umum yang lebih transparan dan adil bagi semua pihak. Aspek desentralisasi juga menjadi salah satu perubahan penting dalam tatanan kehidupan social politik di Indonesia karena kekuatan dan pergeseran politik di tingkat local pun menjadi lebih dinamis. Perubahan kelembagaan dan prosedur di dalam tatanan politik telah menjadi salah satu aspek penting yang terjadi dalam masa demokratisasi di Indonesia. Namun demikian, dalam beberapa hal perubahan tersebut juga membawa dinamika yang menarik untuk diperhatikan lebih dalam, semisal yang terjadi di civil society dan juga partai politik. Kedua elemen ini dianggap oleh kalangan ilmuwan politik sebagai kekuatan yang mendorong dan mengarahkan jalannya demokratisasi di sebuah Negara.
                                                            
Makalah ini disampaikan pada Seminar Internasional ke-10 “Representasi Kepentingan Rakyat pada Pemilu Legislatif 2009”, yang diselenggarakan oleh Yayasan Percik, Salatiga – Jawa Tengah, pada tanggal 28 – 30 Juli 2009. ∗∗ Penulis adalah  Staf Pengajar Departemen Ilmu Politik FISIP UI dan Peneliti Pusat Kajian Politik FISIP UI. Dapat dikontak di: aditya.perdana@ui.ac.id  1 Peserta pemilu 1999 sebanyak 48 partai politik. Sedangkan pemilu 2004 diikuti oleh 24 partai politik dan pemilu 2009 diikuti oleh 38 partai politik dan 6 partai local di Aceh. Untuk lebih jelasnya dapat mengakses www.kpu.go.id 2 Jumlah LSM ataupun organisasi kemasyarakatan tidak pernah jelas. Kalaupun ada terdapat peningkatan jumlah Ornop sekitar 12.000 di antara tengah tahun 1990-an. Dari sejumlah itu, hanya sekitar 10-20 persen yang bisa dikonfirmasi datanya. Lihat Yumiko Sakai, Indonesia Flexible NGOs vs Inconsistent State Control dalam Shinichi Shigetomi (ed), The State and NGOs, perspective from Asia, Singapore, ISEAS, 2002, hal.165.

Percik – Seminar Internasional: “Dinamika Politik Lokal di Indonesia”, Salatiga, 28 – 30 Juli 2009 

Keterbatasan ruang dan peran yang dimiliki oleh aktor civil society dalam mendesakkan agenda-agenda perubahan yang lebih berorientasi kepentingan rakyat. civil society dan partai politik di Indonesia mulai terbangun hubungan yang saling menghargai.lsi. struktur politik yang lebih terbuka dan memberi kesempatan yang lebih luas adalah keuntungan yang dimanfaatkan oleh kelompok civil society di Indonesia. Namun belakangan. kekuatan partai politik adalah sebuah keharusan sebagai instrumen penting dalam proses-proses politik. menjadi faktor penting yang harus dipertimbangkan kembali. Bahkan citra partai politik secara keseluruhan di mata masyarakat juga tidaklah baik karena para politisinya telah menodai dengan perilaku yang buruk. Salatiga. Sebaliknya. Namun demikian.  2 Tumbuh dan kembangnya civil society setelah Orde Baru runtuh menimbulkan sebuah harapan baru yakni munculnya sebuah kekuatan yang penting dalam mendorong gerakan pembaharuan politik di Indonesia. Akibatnya arena politik seperti negosiasi dan lobi dengan penguasa politik yang dulu dianggap sebagai sesuatu hal yang dihindari oleh para aktornya. beberapa aktor civil society lebih memilih bergabung dengan partai politik dan bersedia untuk dicalonkan sebagai anggota legislative dalam pemilu 2009 yang lalu. Awalnya gerakan ekstra parlemen adalah sebuah pilihan yang dilakukan oleh para aktor civil society.id 3 Percik – Seminar Internasional: “Dinamika Politik Lokal di Indonesia”. keberadaan partai politik yang ada saat ini juga masih menyisakan banyak pertanyaan. 28 – 30 Juli 2009  . menghormati dan memahami keberadaan akan perannya dalam kehidupan politik. Sementara itu. Lihat www. telah merubah pola gerakan yang diinginkan oleh para aktivis gerakan sosial. Pada saat yang bersamaan. Pada satu sisi. perilaku para politisi dan pengurus partai yang belum menunjukkan sikap profesionalitasnya dalam hubungan dengan konstituen ataupun dalam pembuatan kebijakan adalah persoalan serius yang masih dihadapi. hubungan ini tidaklah mudah dicapai karena proses politik yang penuh negosiasi adalah penghalang utama bagi terciptanya hubungan yang kondusif. Bahkan sebanyak 63 persen responden tidak percaya bahwa partai bebas dari korupsi. para aktor civil society menyadari bahwa salah satu ketidakefektifan gerakan ini dikarenakan keterbatasan yang dimiliki oleh civil society yaitu hanya menjadi kelompok penekan bukan kelompok penentu dalam                                                              Survey nasional yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia dalam kurun waktu 8-20 September 2008 mengkonfirmasi bahwa sebagian pemilih di Indonesia (42 persen) mengaku tidak ada partai yang bagus akan program-programnya. Maka tidaklah heran bila saat ini. namun belakangan kalangan civil society menyadari bahwa keterbatasan peran dan aktivitasnya dalam mempengaruhi proses pembuatan kebijakan tidak akan berarti tanpa kehadiran partai politik yang mengisi lembaga legislatif. Meski awalnya kalangan civil society menganggap bahwa para politisi di lembaga legislatif tidak mampu menghasilkan produk perundangan yang substansial. partai politik juga memahami bahwa salah satu tugas civil society adalah memberi masukan yang konstruktif dalam proses tersebut. Namun di sisi lain.or. 3 Dalam konteks relasi pembuatan kebijakan publik.

Partai politik di Indonesia masih lemah dalam konteks penguatan kelembagaan secara internal dan juga kapasitas dalam proses pembuatan kebijakan publik. Salatiga. Namun demikian. Civil Society dan Partai Politik dalam Ranah teoritis Diskusi mengenai civil society terbagi dua pandangan. dalam masa demokratisasi ini. merupakan bagian dari konsep sebuah masyarakat politik yang dicitacitakan. Benturan Negara dan Masyarakat Sipil. civil society merupakan sebuah ranah masyarakat yang terpisah dengan ranah Negara karena dalam peran dan fungsinya yang lebih bebas dan merdeka dari intervensi Negara. Sementara itu. Sebaliknya. 2001. Fokus makalah ini adalah mendiskusikan kondisi civil society dan partai politik dalam era demokratisasi yang tengah dijalankan di Indonesia. Dalam konteks itu. Civil society dan negara adalah berasal dari definisi yang sama yakni koinomia politike (masyarakat politik) dimana setiap manusia dikenal sebagai zoon politikon (makhluk politik). Ada sebagian yang berpandangan bahwa civil society memiliki keterikatan yang erat dengan Negara. Salah satu masalah mendasar yang dihadapi dalam pelembagaan politik di Indonesia adalah penguatan akan lembaga-lembaga itu sendiri. peran civil society (terutama dari kalangan Organisasi Non Pemerintah) dan partai politik adalah penting.5 Civil society adalah kelompok masyarakat yang memiliki kemandirian yang tegas terhadap berbagai kepentingan akan kekuasaan. Yogyakarta. hal.  3 lembaga legislatif. Artinya perubahan peran dari civil society dengan fokus sebagai penekan menjadi peran kelompok yang menentukan dalam proses kebijakan yaitu partai politik. bagaimana usaha pengembangan relasi yang konstruktif antara civil society dan partai politik ke depan? Dua hal inilah yang akan dibahas dalam makalah yang singkat ini. termasuk dalam hal ini dengan partai politik. Dilihat dari arena politik yaitu dalam proses pembuatan kebijakan publik dan pertarungan di dalam pilkada.115 5 Pandangan ini diwakili oleh Hegel dimana civil society adalah momentum dimana peran transisi dari keluarga menjadi organisasi sosial dan nantinya berujung pada terbentuknya negara.176 4 2. Ibid. dalam dua pemilu terakhir (2004 dan 2009).4 Negara. bagaimana kondisi civil society dan partai politik? Kedua. 28 – 30 Juli 2009  . Oleh karenanya. baik di tingkat nasional ataupun di tingkat lokal. para aktor civil society yang ikut serta dalam pemilu DPR dan DPRD telah berpindah menjadi aktor partai politik. hal. relasi keduanya tidaklah semudah yang dibayangkan. civil society pun juga lemah dalam membangun kekuatan politik yang signifikan. terutama di kalangan civil society dan partai politik. terdapat banyak nama aktor civil society yang ikut bertarung dalam pemilu legislatif nasional (DPR dan DPD) ataupun DPRD. Ada dua pertanyaan yang ingin diarahkan dalam makalah ini: pertama. Percik – Seminar Internasional: “Dinamika Politik Lokal di Indonesia”. termasuk apparatus dan kebijakannya. Yang tidak kalah penting dalam konsep civil society adalah adanya partisipasi aktif dari                                                              Pada masa Yunani Kuno. Lihat Neera Chandhoke. beberapa aktor civil society merasa ada kebutuhan yang mendesak untuk menjadi bagian di dalam lembaga legislatif. ISTAWA. Maka.

Dalam pengertian itulah maka partai politik berbeda dengan civil society terutama dalam aspek usaha meraih kekuasaan politik melalui jalur pemilihan umum. konsep partai politik sebagai sebuah kelompok atau organisasi di dalam masyarakat berbeda dengan apa yang telah disebutkan dalam civil society. USAID.6 Sementara itu. 2004. Sebaliknya. 7 9 Ibid hal. hal. Virginia A. namun sayangnya kelompok ini tidak bisa mengimplementasikan kritik tersebut dalam hal yang kongkrit. 404 8 Gwendolyn Bevis. hal. Para politisi di DPR. 2003 7 Miriam Budiarjo. Di belahan benua Eropa. University Press of New England. dalam konteks yang lebih mikro. civil society berperan untuk menuntut dan mengkritik terhadap kebijakan pemerintah. dan Michael W.). transparan dan membuka komunikasi yang intensif dengan berbagai kelompok masyarakat. termasuk salah satunya adalah ikatan keagamaan ataupun kekeluargaan di dalam partai. partai politik memiliki fungsi untuk mengagregasikan atau merepresentasikan berbagai macam kepentingan dan menegosiasikan semua kepentingan tersebut menjadi sebuah kebijakan negara. definisi partai politik adalah suatu kelompok politik yang mengikuti pemilihan umum dan melalui pemilihan umum itu mampu menempatkan calon-calonmnya untuk menduduki jabatan publik7. Jakarta. 8 6 Percik – Seminar Internasional: “Dinamika Politik Lokal di Indonesia”. The Civil Society Reader. organisasi atau kelompok lainnya sehingga akan membentuk karakter demokratis di lembaga tersebut. Yang menarik adalah menguatnya isu-isu sosial kemasyarakatan di kalangan masyarakat yang kemudian mengikat kelompok-kelompok tersebut menjadi sebuah kepentingan bersama yang diperjuangkan. 28 – 30 Juli 2009  .8 relasi ini sebenarnya terbangun dalam membangun kepentingan akan lahirnya sebuah kebijakan publik. Dalam perjalanannya. Civil Society and Political Theory. Jean L. misalkan. Dalam kesempatan yang berbeda. Sementara itu. Occasional Papers Series.9 Indikasi melemahnya partai politik dan menguatnya civil society juga ditemukan di Amerika Latin ataupun beberapa negara Asia. Civil Society Groups and Political parties: supporting constructive relationships.  4 semua warga negara baik yang tergabung dalam berbagai perkumpulan. Meski keduanya juga memiliki kesamaan dalam usaha untuk berkontribusi terhadap kepentingan publik. kelompok ini dimungkinkan untuk menjelma sebagai partai politik seperti partai-partai Hijau di beberapa negara Eropa. Dasar-dasar Ilmu Politik. manakala civil society telah berkontribusi untuk memberi bantuan yang memadai bagi pengembangan dan                                                              Cohen. partai politik juga mengalami situasi yang tidak menguntungkan yakni ketidakpercayaan ataupun alieanasi dari publik. dalam Hodgkinson. Dalam konteks kebijakan.Foley (ed. para aktor civil society juga mendorong partai politik untuk lebih terbuka. relasi para aktor civil society dan para politisi terlihat dalam berbagai kerjasama. Dan Andrew Arato. terutama di daerah pemilihannya. mendukung apa yang disampaikan oleh civil society mengenai satu isu tertentu. Salah satu penyebabnya adalah makin melemahnya ikatan antara konstituen dengan partai politik. Menurut Sartori yang dikutip oleh Miriam Budiarjo. Gramedia. Salatiga. 2008.

Linz dan Alfred Stepan. termasuk kelompok ekonomi. kehadiran masyarakat ekonomi yang juga kondusif dan taatnya aturan terhadap hukum secara bersama-sama. hal.  5 penguatan kelembagaan partai politik. Beavis melihat ada tiga hal mendasar yaitu (1) tipe dari aktivitas yang menghubungkan partai politik dan civil society.11 3. civil society sebagai kelompok kepentingan yang akan me-lobi partai politik di DPR untuk mendorong dan mendiskusikan kepentingan yang mereka ajukan. 14 12 Beavis. Linz dan Stepan menyatakan bahwa kehadiran civil society dan partai politik adalah bagian yang penting untuk menciptakan konsolidasi demokrasi. Padahal dalam negara yang sedang mengalami transisi demokrasi.civil society memiliki keterbatasan. kehadiran partai politik dan civil society adalah bagian yang tidak bisa dianggap remeh. mengontrol aparat birokrasi dan juga menghasilkan produkproduk kerangka kebijakan bagi semua pihak. civil society juga memiliki peran untuk memonitor janji-janji kampanye para kandidat dan partai dalam masa kampanye serta juga perilaku para politisi di DPR. seperti pengembangan kader-kader partai terutama dalam berhubungan dengan konstituen atau merumuskan platform pembangunan yang akan diarahkan. Dalam konteks ini. civil society                                                              10 Linz dan Stepan menyebutkan partai politik sebagai masyarakat politik. Tugas civil society adalah menghasilkan gagasan-gagasan yang konstruktif dalam pembangunan dan juga memonitor aparat negara serta kelompok-kelompok ekonomi. (2) kekuatan dari hubungan tersebut. civil society juga memiliki kemampuan dalam memobilisasi dukungan publik menjadi sebuah kebijakan publik. tugas partai politik adalah menghasilkan dan membentuk konstitusi dan aturan-aturan perundang-undangan. Artinya. selain juga kehadiran birokrasi yang efektif. 11 Ibid.9-13 Percik – Seminar Internasional: “Dinamika Politik Lokal di Indonesia”. hal. hal. Baltimore.. terlebih dalam konteks seberapa dekat dan eksklusif hubungan tersebut dibangun. op. Sebagai organisasi yang independen dari kepentingan politik. Problems of Democratic Transition and Consolidation: Southern Europe.7-8. The John Hopkins University Press. Sayangnya.cit. Salatiga.12 Dalam model-model ini yang nantinya akan menarik akan didiskusikan secara lebih mendalam. 1996. Ada beberapa aktivitas yang dilakukan oleh civil society dan partai politik secara bersama-sama. Sementara itu. terutama untuk menghasilkan kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada masyarakat. Model Relasi Partai Politik dan Civil Society Untuk memahami relasi yang terjadi antara partai politik dan civil society. dan (3) arah dari pengaruh dalam relasi tersebut. terutama untuk mengambil peran dalam politik yaitu berada di dalam arena pemutus kebijakan. dimana lebih banyak fokus dalam konteks pembuatan kebijakan publik seperti advokasi atau lobi terhadap suatu isu yang sedang dibahas dalam proses pembuatan undang-undang.10 Kehadiran civil society yang dijamin kebebasannya juga menopang bagi keberlangsungan partai politik. South America and Post-Communist Europe. Dalam kesempatan yang berbeda. 28 – 30 Juli 2009  . Lihat Juan J.

(2) mendapat dukungan dari banyak kelompok masyarakat dalam jangka waktu yang singkat. paling tidak di kalangan civil society terhadap tiga pandangan relasi tersebut dilihat: (1) menghindari kontak dengan partai politik. Dan (4) relasi yang terputus dengan kelompok civil society. Dalam konteks kebutuhan partai politik. 28 – 30 Juli 2009  . civil society juga dapat berperan dalam mobilisasi para pemilih untuk dapat memilih pemimpin partai politik yang sesuai dengan arah dan kepentingan mereka sebagai pemilih. (3) beraliansi dengan satu partai politik. melalui berbagai bentuk pelatihan pengembangan kapasitas. hal ini disebabkan tergantung dari kepentingan seperti apa yang menjadi titik temu dari relasi tersebut. Sebaliknya. Ada yang berpandangan bahwa partai politik sebenarnya juga memiliki kelompokkelompok civil society yang punya pengaruh di dalam konstituen sehingga partai memiliki kekuasaan yang besar. hal ini dilihat dari komitmen civil society untuk mendukung partai politik berdasarkan agenda serta isu yang sama dengan kepentingan kelompok civil society tersebut. baik untuk legislatif ataupun eksekutif. dalam konteks ini sebuah kelompok civil society atau lebih menyediakan bergagai informasi dan bentuk pelatihan hanya kepada satu partai politik. Dari perspektif civil society. civil society juga berperan dalam meningkatkan kapasitas organisasi partai dalam menjalankan fungsinya. maka. Sementara itu dari arah pengaruhnya. relasi partai politik dan civil society tergantung dari konteks bagaimana kepentingan tersebut berhasil diolah dan dikelola. (2) mendukung partai politik secara menyeluruh. Beavis menyebutkan terdapat empat arah relasi yang terkait satu sama lain. kelompok serikat pekerja dan lain-lainnya. Sementara itu. situasi ini mengindikasikan bahwa partai tidak memiliki hubungan dengan civil society atau adanya kompetisi yang keras satu sama lain sehingga tidak memiliki relasi yang dekat. kelompok civil society juga memiliki Percik – Seminar Internasional: “Dinamika Politik Lokal di Indonesia”. Dari perspektif partai politik. dimana civil society berusaha untuk tidak terlibat dalam kegiatan politik sehingga mereka tidak diklaim memiliki aktivitas yang partisan. dan biasanya mereka memiliki ikatan yang kuat seperti kelompok buruh. Pada saat yang bersamaan. hal ini dimungkinkan manakala salah satu organ partai memutuskan keluar dari partai dan bertransformasi menjadi kelompok civil society dengan pertimbangan efektivitas kerja dibandingkan berada di dalam partai politik. seperti kelompok think thank. (3) memiliki hubungan jangka panjang dengan satu atau beberapa kelompok civil society. Sebagai lembaga yang memiliki sumber daya manusia yang diakui eksistensi dalam pembangunan. civil society juga menyediakan para aktor dan pimpinannya sebagai kandidat yang mumpuni dalam ajang pemilihan umum. Salatiga. hal ini diindikasi dari adanya dukungan serius dan permanen dari satu kelompok civil society kepada satu partai politik. bila kita memperhatikan hubungan kedua institusi ini dalam aspek kedekatannya.  6 juga dianggap sebagai wadah untuk berdiskusi tentang berbagai hal-hal penting terkait dengan isu-isu yang mereka (anggota DPR) butuhkan saat itu. terdapat empat pandangan yang dapat dilakukan oleh partai politik: (1) memiliki jarak jauh dengan civil society. tanpa ada keberpihakan.

28 – 30 Juli 2009  . konteks relasi ini tidaklah tunggal dan satu arah melainkan kondisi yang memiliki ketergantungan dengan apa yang terjadi dalam negara yang bersangkutan. Gambar 1: Relasi Civil Society dan Partai Politik (1) Relasi yang berjarak jauh dengan satu partai P1 C1 C2 P2 C3 C4 P3 C5 C6 (3) civil society menyebar dukungan kepada banyak partai . Salatiga.  7 tingkat independensi yang tinggi ketimbang partai politik karena dipengaruhi situasi dan lingkungan sosial politik di negara yang bersangkutan. Artinya. Secara keseluruhan model yang diungkapkan oleh Beavis ini merupakan bentuk relasi yang diasumsikan berada dalam konteks negara yang tengah mengalami transisi demokrasi. dan partai politik yang mendapat dukungan dari banyak civil society (2) P1 civil society beraliansi C1 C2 P2 C3 C4 P3 C5 C6 P1 C1 C2 (4) civil society menjelma menjadi partai (sebaliknya partai menjadi civil society) P2 C3 C4 P1 C1 C2 P3 C5 C6 P2 C3 C4 P3 C5 C6 Percik – Seminar Internasional: “Dinamika Politik Lokal di Indonesia”.

Kedua. hal.164. Ketiga. mahasiswa ataupun kelompok buruh juga semakin keras terhadap kebijakan pemerintahan Orde Baru yang semakin represif.  8 Civil Society di era Pemerintahan Orde Baru Pada masa pemerintahan Orde Baru. pertumbuhan kelompok oposisi yang memiliki pengaruh besar terjadi di akhir masa pemerintahan Orde Baru. Pada saat yang bersamaan kelompok-kelompok LSM. melainkan dominasi kelompok yang berkuasa. Bahkan partai politik pun tidak mendapat peran yang penting. Salatiga. Mendorong Demokrasi di tingkat Lokal. YAPPIKA. pemerintah juga berkeinginan untuk mendominasi berbagai hal. op. peran civil society dalam pembuatan kebijakan tidaklah signifikan. 14 Kasus yang menghebohkan dan controversial antara Negara dan civil society diantaranya adalah pembantaian Dili dan juga pembangunan KedungOmbo. Stanford University Press. 28 – 30 Juli 2009  . organisasi yang semi korporatis terhadap negara.cit. Kelompok ini memiliki keotonoman yang kuat terhadap kekuasaan negara bahkan cenderung                                                              Dalam hal ini kasus-kasus pelanggaran HAM serius dilakukan oleh pemerintah Orde Baru seperti kasus Kedung Ombo. Kalaupun ada hanya partai politik yang berkuasa penuh memiliki pengaruh dalam pembuatan undang-undang di DPR seperti Golkar. Pada saat yang bersamaan.71-72 13 4. Palo Alto. dkk Gerakan Ekstra Parlementer Baru. bila kita melihat perkembangan kekuatan civil society pada masa Orde Baru terdapat tiga kategori civil society menurut Edward Aspinall yaitu:15 pertama. Indonesia Transformation of Civil Society and Democratic Breakthrough dalam Muthiah Alagappa. dimana kelompok ini memiliki independensi dalam ide dan gagasannya namun dapat berkompromi terhadap kebijakan negara agar mereka dapat bertahan hidup serta memiliki suara dalam lembaga legislatif atau eksekutif. Jakarta. 15 Edward Aspinall. adalah fakta kekuatan politik oposisi semakin menguat. Artinya proses pembuatan kebijakan bukanlah sarana yang mempertemukan berbagai kelompok kepentingan dengan kelompok politik di DPR. Model kelompok civil society yang seperti ini memiliki loyalitas yang tinggi terhadap pemerintahan Orde Baru bahkan menjadi bagian dari kekuatan Golongan Karya. Kelompok seperti NU dan Muhammadiyah merupakan kategori yang masuk di dalamnya karena mereka sadar bahwa mereka memiliki kekuatan jaringan serta pendukung yang dapat dimanfaatkan bagi kepentingan politik penguasa.14 Secara khusus. 2004. Namun demikian. kelompok civil society yang berkembang menjadi kelompok oposisi. 2008. Civil Society and Political Change in Asia: Expanding and Contracting Democratic Space. pembunuhan aktivis buruh Marsinah dan banyak kasus lainnya. Percik – Seminar Internasional: “Dinamika Politik Lokal di Indonesia”. Munculnya partai politik alternatif seperti PUDI dan PRD yang kemudian dilarang oleh pemerintahan Orde Baru di tahun 1996-1997 dan perlawanan dari PDI pimpinan Megawati atas upaya pemerintah ikut campur dalam konflik internal PDI. organisasi yang dibentuk sebagai bagian dari kelompok fungsional pada masa awal pemerintahan Orde Baru seperti HKTI. termasuk urusan internal organisasi kemasyarakatan dan partai politik.13 Kasus-kasus pelanggaran HAM yang kontroversial disorot pula oleh komunitas internasional karena pada saat itu Indonesia memiliki ketergantungan dana pembangunan dari IGGI. hal. Lihat Yumiko Sakai. hal. Lihat Nor Hikmah.5-6.

diskusi yang panas antara para pembuat undang-undang dengan kelompok masyarakat seperti LSM ataupun universitas kerap terjadi. Masyarakat Sipil dan Kebijakan Publik: Studi Kasus Aktivitas Masyarakat Sipil dalam Mempengaruhi Kebijakan Publik.10/2004 yang didorong oleh berbagai kelompok civil society18 dan dinamika dari pembahasan paket UU politik tahun 2009 yang dikawal oleh Koalisi NGO untuk                                                              16 5. hal. Sayangnya keterbasan ruang politik serta wadah politik yang diberlakukan oleh negara mengakibatkan kelompok civil society tidak leluasa untuk dapat berkontribusi terhadap proses pembuatan kebijakan. LP3ES. Rekonstruksi Civil Society. Sementara di sisi lain. Dalam konteks itulah terlihat bahwa kelompok civil society dan partai politik pada masa Orde Baru memiliki relasi yang sulit dideskripsikan menurut model yang diajukan oleh Beavis. relasi antara partai politik dan civil society di Indonesia mulai terlihat dalam bentuk yang lebih konstruktif dikarenakan adanya keterbukaan politik serta ruang kebebasan untuk berekspresi. Di lembaga legislatif seperti DPR.165 18 Wawan Ichwanuddin. dalam HCB Dharmawan. Ihat Adi Suryadi Culla. namun keduanya tidak serta merta dapat dengan mudah menjalin komunikasi yang harmonis di arena pembuatan kebijakan. Wacana dan Aksi Ornop di Indonesia. 2006. Jakarta. Percik – Seminar Internasional: “Dinamika Politik Lokal di Indonesia”. Menyuarakan Nurani Menggapai Kesetaraan. Partai politik tumbuh bak jamur di musim hujan dan civil society pun mengalami hal yang sama. Alasannya adalah pada satu sisi. Tidaklah heran bila kemudian aparat negara juga bersikap represif terhadap kelompok ini seperti YLBHI ataupun WALHI. civil society juga merasakan perlu kehadiran akan kekuatan politik. Lembaga Swadaya Masyarakat. Jakarta.  9 mengkritik berbagai kebijakan dan tindakan dari negara. Meski tumbuh dalam ruang politik yang terbuka. Jakarta. 2004. 2006. Salatiga. termasuk pembuatan undang-undang. Aditya Perdana dan Fransisca Fitri. Studi yang khusus mendiskusikan peran dan aksi YLBHI dan WALHI dilakukan oleh Adi Suryadi Culla manakala kehadiran kedua Ornop ini berkontribusi terhadap gerakan advokasi masyarakat dalam berbagai isu lingkungan ataupun isu kemasyarakatan lainnya. Terdapat dua kasus nasional yang akan didiskusikan dalam bagian selanjutnya yaitu mengenai keberhasilan Undang-undang Pembentukan Peraturan perundang-undangan No.17 Dinamika inilah yang menjadi menarik untuk dilihat dalam konteks relasi yang nyata antara kelompok civil society dengan partai politik yang berada di DPR. kelompok civil society merupakan bagian tak terpisahkan dengan partai politik atau bahkan civil society yang memiliki keotonoman juga merasa ada ketergantungan untuk bisa hidup dari usaha mendukung negara. Kompas. YAPPIKA. Dinamika Relasi dalam Pembuatan Kebijakan Paska Orde Baru. 17 Salah satunya adalah tudingan dari anggota DPR mengenai aktivitas kelompok LSM yang dibiayai oleh Negara asing dan disinyalir akan mengganggu keamanan. Lihat Budiman Tanuredjo.16 Maka kekuatan civil society pada masa Orde Baru tidaklah signifikan karena sebagian kelompok civil society juga memiliki aliansi dengan kekuatan di lingkaran kekuasaan. 28 – 30 Juli 2009  . Ketika ‘Serangan” Muncul dari Rapat Komisi I DPR.

28 – 30 Juli 2009  . 20 Nor Hikmah.20 Undang-undang Pembentukan Peraturan perundang-undangan (P3) No. Gerakan Ekstra Parlementer Baru: Mendorong Demokrasi di Tingkat Lokal.21 Dalam kasus lokal seperti di Donggala. ada benturan kepentingan-kepentingan dalam diskusi pembahasan di antara anggota DPR yang notabene adalah partai politik dengan kalangan civil society yang tidak memiliki kepentingan politik apapun. UU Pilpres dan UU Susduk MPR/DPR/DPRD). Salah satu pertimbangan yang penting adalah ketiadaan ruang partisipasi publik dalam proses pembuatan kebijakan yang tidak terdapat dalam aturan di atasnya. undang-undang tersebut berhasil disahkan pada tahun 2004. hukumonline. Dalam pembahasan sistem pemilu saja ada dua pandangan serius di kalangan DPR yaitu sistem proporsional dengan daftar terbuka terbatas atau sistem proporsional dengan daftar terbuka murni. 2008. Jakarta. YAPPIKA.parlemen. 24 Desember 2008. Salatiga.com Percik – Seminar Internasional: “Dinamika Politik Lokal di Indonesia”. Perda Keterwakilan Perempuan: Menciptakan Bulonggo Baru di Sulawesi Tengah dalam Nor Hikmah. Sebaliknya pandangan yang memilih sistem terbuka terbatas beranggapan bahwa partai tetap memerlukan mekanisme internal untuk memberi kesempatan bagi kader-kadernya untuk dapat terpilih dengan mudah. namun atas desakan dan pengawalan yang konsisten. Dari kalangan civil society terdapat satu koalisi yang berperan sebagai pengawal dan juga pemberi informasi serta masukan yang konstruktif kepada para anggota DPR yaitu Koalisi Kebijakan partisipatif yang didirikan tahun 2002.net. Namun pembahasan sistem pemilu yang penting ini dimenangkan oleh pilihan sistem proporsional daftar terbuka terbatas. Meski dalam proses pembentukan UU P3 terbilang a lot karena beberapa partai politik menganggap adanya kekhawatiran akan bentuk partisipasi publik dalam pembuatan undang-undang. Artinya.  10 Penyempurnaan Paket UU Politik. dapat diakses di www. lahirnya Peraturan Daerah yang memberi kesempatan istimewa kepada perempuan untuk berpartisipasi di dalam forum Badan Perwakilan Desa merupakan perjuangan dari kelompok civil society                                                              19 Lihat Siaran Pers Koalisi Penyempurnaan Paket UU Politik tanggal 18 Januari 2008 tentang Pilihan Sistem Pemilu 2009.hukumonline. dapat diakses di www. 21 MK Putuskan Pemilu Gunakan Suara Terbanyak. Dalam pandangan Koalisi Penyempurnaan Paket UU Politik sebaiknya adalah sistem proporsional dengan daftar terbuka murni karena pemilih tidak akan dirugikan untuk memilih yang terbaik. meski akhirnya keputusan Mahkamah Konstitusi membatalkan tentang pasal ini yang mengakibatkan sistem pemilu adalah proporsional terbuka murni. dkk. Sementara itu.19 Sementara ada satu kasus di tingkat lokal yakni keberhasilan mendorong Peraturan Daerah terkait dengan peran dan partisipasi kelompok perempuan dalam Badan Perwakilan Desa di Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah. dalam pembahasan paket revisi UU Politik tahun 2009 (UU Partai Politik. UU Pemilu. selain ada kebutuhan partisipasi warga namun yang juga penting adalah proses pembentukan peraturan perundang-undangan yang memberi ruang adanya hal tersebut.10/2004 lahir atas dorongan dan inisiatif dari anggota DPR dan juga dukungan dari kelmpok civil society.

6. namun gagal diwujudkan. namun dukungan nyata dari para anggota DPRD. Salah satu poin yang menjadi sukses dalam mendorong perda ini adalah kemampuan mobilisasi sumber daya serta lobi-lobi untuk meyakinkan bahwa perda ini penting untuk segera dilahirkan di Donggala. 2008. seperti WALHI pernah mengusulkan untuk menjelma menjadi Partai Hijau. Maka tidaklah heran bila kelompok civil society masih kerap melakukan lobi dan advokasi kepada para pembuat kebijakan untuk mendorong serta mengawal isu-isu yang ingin mereka tekankan. Pada Pemilu 2004. bergabung atau menjelma sebagai aktivis partai politik yang sudah ada dan mapan adalah pilihan dari berbagai arena pertarungan politik lainnya. Apa yang bisa dipelajari dalam kasus-kasus tersebut? Pertama. terhadap perda ini terlihat dalam pengesahannya. DEMOS dengan berbagai risetnya mengusulkan dibentuknya sebuah Blok Politik Demokratik yang menjadi lembaga perantara kekuatan politik yang terorganisir dengan kekuatan non politik seperti gerakan sosial dan gerakan rakyat. telah muncul beberapa aktor civil society yang memutuskan menjadi calon anggota legislatif seperti Nursyahbani Kantjasungkana23                                                              22 Dalam berbagai diskusi dan aksi politik yang nyata. Sebaran dukungan ataupun tuntutan tergantung dari isu dan kepentingan apa yang ingin mereka raih nantinya sehingga ikatan dalam relasi tersebut tidaklah permanen dan bersifat sementara. pada saat yang bersamaan. Dinamika Relasi dalam Pemilihan Umum dan Pilkada Selain bertarung di luar arena pembuatan kebijakan. Dalam konteks ini bisa dikatakan bahwa civil society dan partai politik sama-sama menyebarkan dukungan secara keseluruhan. Blok Politik Demokratik. 28 – 30 Juli 2009  . Kedua. aktivitas yang terbangun antara civil society dan partai politik masih dalam kerangka membangun kebijakan publik yang berpihak kepada rakyat. Maka. Meski terdapat hambatan kultural dan sosial yaitu masih kuatnya hukum adat yang patrilineal. Salatiga. Demos. Percik – Seminar Internasional: “Dinamika Politik Lokal di Indonesia”. Panduan Pelatihan. yaitu masuk ke dalam partai dan berharap menjadi anggota legislatif. para politisi di DPR merasa bahwa mereka memiliki asupan informasi serta bahan yang memadai mengenai isu-isu yang sedang mereka bahas sehingga kebutuhan merespon tuntutan serta dukungan dari kelompok civil society adalah penting. Lihat Syafatun Kariyadi dan Willy Purna Samadhi. Salah satu pertimbangan adanya perda ini adalah mendesaknya kebutuhan keterwakilan perempuan yang nyata dalam tingkat desa. ada beberapa pilihan langkah strategis yang dilakukan oleh beberapa kelompok civil society. 23 Aktivis Ornop yang banyak bergerak dalam isu perempuan dan gender. tidak hanya satu atau dua partai atau kelompok civil society. kelompok civil society juga memikirkan strategi lain yang jauh lebih efektif yaitu menjadi bagian dari proses pembuatan kebijakan. Jakarta.  11 yang bergerak di isu pemberdayaan perempuan. termasuk yang laki-laki. terutama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.22 Tidaklah heran bila kemudian beberapa aktor dan pimpinan kelompok civil society yang memiliki pengaruh kuat di tingkat nasional dan daerah memutuskan untuk mengambil langkah ini.

Kedua. Dalam memilih jalur DPD. Hetifah Sj Sumarto (aktivis planologiGolkar). nama-nama para                                                              24 25 Aktivis pembela hukum bagi kelompok masyarakat miskin di Bengkulu. Apong Herlina (aktivis perempuan-PDIP). Diantaranya terdapat nama Ratna Bantara Mukti (aktivis perempuan-PDIP). yang resmi bertarung dalam sebagai caleg di masing-masing daerah pemilihannya. dalam Darmawan Triwibowo (ed). dan kali ini berhasil mendapatkan kursi mewakili NTT. Seperti bapaknya Andi Mariattang yang juga mantan petinggi PPP di Wajo. Kasus Lerry Mboek. 28 – 30 Juli 2009  . hal. hal. Esti Wijayanti (DPRD Provinsi Yogyakarta-PDIP) dan Eva Nurna Karmila (DPRD Kota Padang-PKS). Namun kisah kegagalan juga dialami oleh banyak aktor civil society. para aktivis civil society lebih memutuskan untuk bertarung di DPD ketimbang DPR karena bila menjadi caleg di DPR maka mereka harus menjadi anggota partai politik. Berkat perjuangan yang gigih dan tak kenal lelah mereka berhasil memenangkan pertarungan tersebut. Sugeng Bahagijo dan Darmawan Triwibowo.25 Ada beberapa pelajaran menarik yang diperoleh dari perjuangan para aktor civil society yang bertarung di kancah pemilu 2004 yang kemudian menjadi bahan refleksi dalam perjuangan politik lainnya: pertama. seperti salah satunya adalah Sarah Larry Mboeik yang gagal memenangkan kursi DPD dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur. Mereka ini adalah aktivis kelompok civil society yang dekat dengan basis konstituen dan juga secara emosional kekeluargaan. Dalam pemilu 2009 Sarah kembali bertarung dalam arena DPD. Jakarta: PUSKAPOL FISIP UI dan IRI. Membangun Kembali tradisi Demokrasi dari Akar Rumput. Namun demikian. Salatiga. Maka tidaklah heran bila beberapa aktor civil society yang dikenal dekat dengan kelompok masyarakat di desa/kampung lebih memilih partai yang juga dikenal memiliki kedekatan tersebut. Jakarta. pilihan untuk bergabung dengan partai politik lebih disebabkan alasan yang emosional yaitu berdasarkan kedekatan. 27 Hetifah berhasil memperoleh suara sebanyak 23. Indra Jaya Piliang (akademisi/peneliti-Golkar). Isti'anah ZA (DPRD Provinsi Yogyakarta-PAN). para aktivis juga beranggapan mereka memiliki keleluasaan untuk mengatur strategi pemenangan berdasarkan kekuatan mereka sendiri. LP3ES dan Perkumpulan Prakarsa. Muspani dan Imam Azis. para aktivis yang menjadi anggota partai dan tercatat sebagai caleg DPR RI semakin semarak. Beka Ulung Hapsara.26 Dalam Pemilu 2009.27 Sementara itu. Studi Kasus dan Pembelajaran Partai Politik di Indonesia. Sarah Larry Mboeik adalah aktivis PIAR di NTT. Lihat PUSKAPOL FISIP UI. tidak ada indikasi partisan tersebut.105-109.413 di Kalimantan Timur dan berada di nomor urut 2 dari perolehan suara Partai Golkar di dapil tersebut. sementara Isti'anah dekat dengan kalangan Muhammadiyah di yogyakarta.  12 yang mewakili PKB atau Muspani24 yang bertarung di jalur DPD untuk daerah pemilihan Bengkulu. Gerakan Sosial: wahana Civil Society bagi Demokratisasi. Percik – Seminar Internasional: “Dinamika Politik Lokal di Indonesia”. ataupun Binny Buchori (aktivis perempuan-Golkar). 2008. 2006. baik secara etnisitas ataupun secara garis perjuangan. diantara nama-nama tersebut hanyalah Hetifah SJ Sumarto yang sukses memperoleh kursi di Senayan dalam periode 2009-2014 nanti. Artinya menjadi anggota partai mengindikasikan bahwa mereka memiliki kepentingan yang partisan sedangkan bila menjadi anggota DPD yang notabene adalah calon perseorangan dan independen.33-90 26 Seperti anggota DPRD perempuan yang dikisahkan oleh IRI dan PUSKAPOL UI yaitu Andi Mariattang (DPRD Provinsi Sulsel-PPP).

Salah satu alasan partai politik merekrut para aktivis Ornop menjadi caleg adalah untuk memperkuat dan membuka peluang bagi non-kader partai untuk bisa bersaing dan memenangkan suara partai dalam pemilu 2009. akibat keputusan Mahkamah Konstitusi mengenai perubahan sistem pemilu mengubah arah dan strategi gerakan para caleg untuk memobilisasi dukungannya.225. Yogyakarta. 2009. 29 Aditya Perdana.29 Dalam konteks pemilu 2009. Sayangnya. Ombak. Bojonegoro (Jatim). Gianyar (Bali) dan Bone (Sulsel). dkk. Aktor Civil Society dan Pemilu 2009. Pada saat yang bersamaan.  13 aktivis yang bertarung di DPD pun juga tidak jauh berbeda dengan pemilu 2004.Siti Zuhro. namun para aktor civil society dengan kekuatan jaringannya tidak dapat memperoleh dukungan secara penuh dari kawan seprofesinya. partai politik masih beranggapan bahwa keterlibatan para tokoh civil society ini tidaklah didukung secara nyata dalam mobilisasi para pemilih lantaran kompetisi diantara caleg di masing-masing partai juga bersaing ketat. keterlibatan aktor civil society sebagai kandidat. Demokrasi Lokal. Syarat ini pun diterima dengan catatan agar mereka sebagai tokoh Ornop yang berpengaruh ditempatkan dalam nomor yang memiliki peluang yang besar keterpilihannya. meski peluang tersebut ada dalam waktu yang relatif sempit untuk bersosialisasi. Lihat R.49/September-November 2008. namun pilihan ini menjadi sesuatu yang penting diambil partai manakala citra partai tengah menurun. Sementara itu. para aktor yang berperan dalam pilkada merupakan tokoh-tokoh politisi dan birokrat. tidaklah signifikan karena memang belum ada keberhasilan para aktor tersebut memenangkan pilkada. Salatiga. Namun sayangnya. 30 Sebagai contoh yang menarik. baik di pemda ataupun dalam militer. Sebagian besar pemenang pilkada merupakan figur yang populer karena aktivitasnya di dalam birokrasi pemerintahan. Okamoto Masaaki dan Abdul Hamid menyebutkan kekuatan jawara 28 Percik – Seminar Internasional: “Dinamika Politik Lokal di Indonesia”. atau tokoh yang memiliki keterikatan yang kuat dengan jalur kekuasaan di tingkat lokal seperti jawara di Banten. Inilah yang masih menjadi masalah yang belum tertuntaskan manakala komitmen politik dari para aktor Ornop yang ingin terjun di ranah pemilu tidak mendapat dukungan yang memadai dari koleganya. hal. Peran Aktor dalam Demokratisasi.28 Meski pilihan ini menegasikan kepentingan partai politik dalam pengembangan internalnya dengan memberi kesempatan kepada kader terbaiknya. berdasarkan penelitian Siti Zuhro dan kawan-kawan di empat daerah: Solok (Sumbar). ALIANSI No. Dalam arena pertarungan di lembaga eksekutif di tingkat lokal yaitu pilkada. baik sebagai pejabat daerah atau pusat. 28 – 30 Juli 2009  .30                                                              Pernyataan ini disampaikan dalam forum berbagai diskusi terbatas PUSKAPOL UI yang mengundang beberapa orang tokoh Ornop yang bersedia bergabung dan dicalonkan sebagai caleg dengan syarat mereka ditempatkan dalam urut jadi (sekitar nomor 1-3) di dapil masing-masing. Padahal salah satu titik lemah keterlibatan para aktor civil society dalam politik adalah ketiadaan sumber daya finansial untuk dapat bersosialisasi dan memperkenalkan diri di hadapan para konstituen. baik sebagai gubernur/wakil gubernur hingga bupati/wakil bupati. pelajaran yang menarik diangkat adalah peluang politik yang terbuka bagi aktor civil society untuk terlibat dalam arena pemilu. namun kali ini Muspani gagal dan Sarah Larry berhasil.

5 juta. ISEAS. Percik – Seminar Internasional: “Dinamika Politik Lokal di Indonesia”.86. bahwa kandidat dalam pilkada diajukan oleh partai politk atau gabungan partai politik dengan kriteria tertentu. 31 Syarif Hidayat menyebutkan berdasarkan data yang dikumpulkan oleh ICW pada periode pilkada tahun 2005. Dahulu pada masa Orde Baru. Pada saat yang bersamaan. Akibatnya.109-138. Dalam era paska reformasi. kelompok civil society yang cenderung beroposisi dengan pemerintah. terutama demi menghasilkan kebijakan-kebijakan public yang menguntungkan masyarakat luas. dalam Maribeth Erb dan Priyambudi Sulistiyanto (ed). Jawara in Power 1999-2007. Lihat. termasuk pilkada. Deepening Democracy in Indonesia? Direct Elections for Local Leaders (Pilkada). civil society dan partai politik. 28 – 30 Juli 2009  . Indonesia.30 juta per orang. hegemoni Golkar yang didukung oleh penguasa Orde Baru telah mematikan langkah dan strategi partai politik lainnya seperti PPP dan PDI. Hanya saja yang perlu didiskusikan secara intensif menyangkut perbedaan perspektif                                                                                                                                                                             yang memiliki pengaruh dalam pertarungan politik di provinsi Banten. kedua institusi ini sebenarnya telah sepakat bahwa membangun demokrasi tentu memerlukan relasi yang konstruktif. Pilkada. namun Syarif Hidayat menyatakan bahwa ada banyak transaksi politik uang yang diberikan oleh kandidat kepada banyak pihak untuk memuluskan jalan kemenangannya. Money Politics and The Dangers of “Informal Governance” Practices. ada sumbangan pembangunan mesjid senilai Rp. hal. Singapore. Padahal di kalangan civil society sendiri. Pelajaran yang menarik dari keterlibatan civil society di arena pilkada adalah menyangkut kelemahan dalam hal mobilisasi dukungan sumber daya finansial untuk memaksimalkan upaya pemenangan politik. sedang berusaha menemukan arah yang konstruktif.  14 Salah satu yang menyebabkan keberatan kandidat yang berasal dari kalangan civil society adalah adanya proses transaksi ekonomi yang cukup mahal untuk “membeli” perahu politik dalam pilkada. Oktober 2008. Membangun Relasi yang Konstruktif Relasi dan dinamika yang terbangun diantara dua kelembagaan ini. 2009. Disebutkan dalam regulasi tentang pilkada sebelum munculnya calon perseorangan. Okamoto Masaaki dan Abdul Hamid. Dalam konteks ini kita tidak mampu mendiskusikan secara jelas arah relasi civil society dan partai politik. Dilema inilah yang menjadi pertimbangan sulit bagi para aktor civil society untuk bertarung dalam berbagai arena pemilu. hal. No.130-131 7. Lihat Syarif Hidayat. tidak mendapat tempat dalam konstelasi politik nasional. Salatiga. hanya kandidat yang memiliki kemauan besar dan modal yang cukup besar untuk bisa bertarung dalam pilkada. atau pembayaran untuk fungsionaris partai yang mendukung kandidat sebesar Rp. Meski tidak ada gambaran yang komprehensif mengenai jumlah uang yang dikeluarkan oleh seorang kandidat dalam pemenangan pilkada.31 Dalam konteks itulah penulis meyakini bahwa mundurnya banyak aktor civil society yang potensial menjadi calon bupati ataupun walikota dikarenakan faktor finansial. persoalan finansial bagi berlangsungnya jalan organisasi dan juga keberlanjutan program bagi kepentingan masyarakat adalah masalah yang juga tidak kalah peliknya.

dapat diakses di http://www. Salatiga. Sementara itu. Lihat Marjonie Randon Hershey. Vol. Apakah mengajak dan meminta aktor civil society ke dalam partai untuk membantu penyelesaian hal tersebut dan mendorong agar terjadi hubungan yang permanen dan saling menguntungkan di kemudian hari? Ataukah yang bersifat sementara. 2008. semisal mobilisasi dukungan financial yang dibutuhkan dalam pemenangan pemilu.528. 32 Padahal salah satu usaha untuk memenangkan pemilu adalah menyangkut mekanisme rekrutmen yang dikaitkan dengan cara pemenangan tersebut.org/downloads/1210760409_ Satu_Dekade_Reformasi-Presentasi. kebutuhan untuk terlibat dalam arena pembuatan kebijakan adalah penting.  15 mengenai hal tersebut.org/laput/article/article.149 34 Olle Tornqueist. Meski dalam konteks ini ideology bukanlah aspek yang penting namun menjadi pengikat yang memadai. July 1993. Wawan Ichwanuddin dan Miftah Sabri. semisal dalam urusan rekrutmen yang belum tertata dengan baik. partai politik juga berpandangan bahwa memenangkan pemilu ataupun memutuskan sebuah perundang-undangan tanpa dukungan nyata dari kelompok atau organisasi kemasyarakatan adalah sesuatu yang sulit dilakukan. Lihat Lili Romli. Makalah yang disampaikan oleh tim peneliti Demos dalam seminar berjudul Satu Dekade reformasi: Maju dan Mundurnya Demokrasi di Indonesia. 28 – 30 Juli 2009  . persoalan serius yang dihadapi partai adalah menyangkut keberadaan platform yang tidak dilihat secara serius.33 Dalam konteks itu kelompok civil society dan partai politik memiliki kedekatan yang jelas. Dapat diakses di: http://www. namun masih memiliki permasalahan yang harus dicari penyelesaiannya. Gagasan Blok Politik Demokratik yang disampaikan oleh DEMOS merupakan sebuah hal yang menarik.demosindonesia. Citizens’ Group and Political Parties in the United States. Hal ini bisa terjadi karena partai politik besar di Indonesia masih menghadapi persoalan serius dalam pembenahan internal organisasi. Annals of the American Academy of Political and Social Science. Kerangka Penguatan Partai Politik di Indonesia.34 Gagasan ini sebenarnya ingin memberi                                                              32 Selain persoalan rekrutmen dan kaderisasi.19-26 33 Sebagai contoh dalam konteks Amerika Serikat. Aditya Perdana. PUSKAPOL UI dan Kemitraan.php?id=327. hubungan antara kelompok warga dengan partai politik bisa saling melengkapi dengan syarat salah satunya ada kedekatan secara ideologis. Depok. Di samping juga persoalan kohesifitas konflik dalam partai yang perlu diagendakan. hal.demosindonesia. Artinya para aktor civil society yang berkeinginan untuk menjadi anggota partai politik tertentu dan menjadi caleg partai tersebut akan mempertimbangkan kembali manakala partai belum memikirkan secara serius terkait dengan aspek pemenangan tersebut. dimana kehadiran aktor civil society hanya menjadi pelengkap bagi usaha meningkatkan suara partai? Maka diskusi tentang hal ini menjadi agenda yang menarik agar tidak menimbulkan rasa curiga. Maka tidak heran bila partai politik memiliki organ dan sayap kelompok masyarakat yang berkoneksi langsung dengan kebutuhan mereka. Permasalahannya kemudian adalah bagaimana mengkoneksikan kebutuhan tersebut menjadi sebuah kenyataan manakala terdapat kendala yang masih dihadapi. Apa dan Mengapa Blok Politik Demokratik. hal. Protest and Democracy. Citizens. Bagi kelompok civil society.pdf Percik – Seminar Internasional: “Dinamika Politik Lokal di Indonesia”.

Dari keterlibatan yang bersifat ekstra parlementer dimana peran civil society menjadi kelompok kritis terhadap lembaga-lembaga pemerintah hingga menjadi bagian dari parlementer. 28 – 30 Juli 2009  8. Gagasan Blok Politik demokratik yang berusaha menyeimbangkan perbedaan kedua pandangan tersebut juga tengah dilakukan. partai politik dan civil society masih mengandalkan mobilisasi dari pihak luar untuk menjalankan organisasinya. . dalam persoalan sumber daya. kesiapan infrastruktur baik menyangkut mobilisasi sumber daya untuk mengarahkan tujuan politik masih menghadapi persoalan serius di partai politik dan civil society. Persoalannya kemudian berada dalam Percik – Seminar Internasional: “Dinamika Politik Lokal di Indonesia”. Parahnya. salah satu hal yang bisa dilakukan segera adalah membangun komitmen diantara para aktor civil society dan pimpinan partai politik untuk mendesakkan agenda pembangunan blok politik demokratik. Namun banyak pula yang menyatakan ketidaksetujuaanya dengan pertimbangan non-partisan. relasi tersebut mulai terlihat. Salatiga. bukan kelembaagaan. Oleh karena itu. sementara itu di kalangan partai politik juga tengah memikirkan hal yang sama. Sebagai contoh. Artinya di kalangan civil society memang sudah ada kebutuhan untuk bergerak dan mengambil peran-peran politik secara langsung. Namun demikian. Pada masa Orde Baru. Pada saat yang bersamaan. catatan yang perlu didiskusikan adalah bagaimana blok ini mampu secara efektif bekerja dalam mengarahkan kepentingan politik dari kelompok civil society manakala komitmen diantara para aktor (baik di dalam partai dan civil society) belum terbangun dengan utuh. terutama dalam urusan pendanaan. Artinya untuk menciptakan sebuah bangunan blok yang baik dibutuhkan kedua organ penopangnya yaitu civil society dan partai politik yang juga memiliki kesiapan yang memadai untuk menciptakan sebuah blok yang efektif. Hal yang positif pada saat ini adalah adanya kawan-kawan Ornop yang sudah bergabung di partai menjadi penghubung dalam upaya menciptakan komitmen bersama ini. Bila ini bisa dilakukan dan mendapat dukungan luas dan nyata dalam bentuk kesamaan komitmen terhadap blok-blok ini maka akan terbuka kemungkinan kerjasama ini bisa diwujudkan. meski jumlahnya belum terlalu signifikan. Berbagai gagasan untuk menjembatani kebutuhan ini sebenarnya sudah banyak didiskusikan.  16 penekanan adanya lembaga perantara diantara dua kekuatan yaitu organisasi partai politik yang punya tujuan politis dengan organisasi civil society seperti organisasi gerakan social dan organisasi kerakyatan lainnya. relasi tersebut tidak mudah dibayangkan karena memang kekuatan dan hegemoni penguasa Orde Baru mengakibatkan tidak adanya bangunan komunikasi diantara mereka. partai politik memiliki kelemahan dalam mengelola sumber daya secara baik. Ada yang berpendapat lebih baik masuk ke dalam partai dan terlibat langsung. Harapannya model blok seperti ini akan mampu menjelma sebagai sarana yang efektif untuk menjembatani kepentingan politik dari organisasi civil society dengan keterbatasan yang mereka miliki. Namun pada masa paska Orde Baru. Paling tidak ada perubahan yang lebih terlihat dalam bentuk perkawinan yan masih bersifat personal. Penutup Relasi yang terjadi antara civil society dan partai politik berada dalam kondisi yang dinamis.

masa demokratisasi di Indonesia terlihat masih panjang karena elemen-elemennya pun masih perlu berbenah diri secara serius. Padahal di kalangan internal civil society dan partai politik juga masih menyisakan banyak persoalan dalam mengelola sumber daya yang dimiliki. Oleh karenanya. -oOo- Percik – Seminar Internasional: “Dinamika Politik Lokal di Indonesia”.  17 bagaimana menciptakan situasi yang menguntungkan tersebut. 28 – 30 Juli 2009  . Salatiga.

Beka Ulung. Budiarjo. Muspani dan Imam Azis. The Civil Society Reader. Membangun Kembali tradisi Demokrasi dari Akar Rumput. Panduan Pelatihan. Hershey. Rekonstruksi Civil Society. Dapat diakses di: http://www.org/downloads/1210760409_Satu_Dekade_ReformasiPresentasi. Edward. 2003 Culla. dan Michael W. Demos. Jakarta: YAPPIKA. Marjonie Randon. 28 – 30 Juli 2009  . Perda Keterwakilan Perempuan: Menciptakan Bulonggo Baru di Sulawesi Tengah dalam Nor Hikmah. Singapore: ISEAS. Ichwanuddin. 2006. Hikmah. Neera. dkk. Chandhoke. July 1993 Hidayat.pdf Hapsara. Masyarakat Sipil dan Kebijakan Publik: Studi Kasus Aktivitas Masyarakat Sipil dalam Mempengaruhi Kebijakan Publik. Protest and Democracy. Palo Alto: Stanford University Press. 2008 Percik – Seminar Internasional: “Dinamika Politik Lokal di Indonesia”. Deepening Democracy in Indonesia? Direct Elections for Local Leaders (Pilkada). Civil Society and Political Change in Asia: Expanding and Contracting Democratic Space. Miriam. Annals of the American Academy of Political and Social Science. Jean L. Gerakan Ekstra Parlementer Baru. Civil Society and Political Theory.Foley (ed. dkk. Jakarta: Demos. Blok Politik Demokratik. Civil Society Groups and Political parties: supporting constructive relationships. 2004. Benturan Negara dan Masyarakat Sipil. Salatiga. Kariyadi. dalam Maribeth Erb dan Priyambudi Sulistiyanto (ed). Nor. Adi Suryadi. Hikmah. 2008. Occasional Papers Series. Gerakan Sosial: wahana Civil Society bagi Demokratisasi. Beavis. Jakarta: LP3ES. Dasar-dasar Ilmu Politik. Sugeng Bahagijo dan Darmawan Triwibowo. 2001. 2009. Jakarta: LP3ES dan Perkumpulan Prakarsa.Wawan. Aditya Perdana dan Fransisca Fitri. Citizens’ Group and Political Parties in the United States. 2004. Jakarta: YAPPIKA. Dan Andrew Arato. Gwendolyn. Indonesia Transformation of Civil Society and Democratic Breakthrough dalam Muthiah Alagappa. Syarif. Nor. dalam Darmawan Triwibowo (ed). Wacana dan Aksi Ornop di Indonesia.528. 2006.  18 Daftar Pustaka Aspinall. Pilkada. University Press of New England. Jakarta: Gramedia. 2008. Vol.demosindonesia. USAID. Jakarta: YAPPIKA. 2006. dalam Hodgkinson.). Virginia A. Citizens. Yogyakarta: ISTAWA. Money Politics and The Dangers of “Informal Governance” Practices. 2008. Mendorong Demokrasi di tingkat Lokal. Gerakan Ekstra Parlementer Baru: Mendorong Demokrasi di Tingkat Lokal. Syafa'atun dan Willy Purna Samadhi. Kasus Lerry Mboek. Satu Dekade reformasi: Maju dan Mundurnya Demokrasi di Indonesia. Cohen.

perspective from Asia.hukumonline.49/SeptemberNovember 2008. Tornqueist. dkk. Yogyakarta: Ombak. Menyuarakan Nurani Menggapai Kesetaraan. Demokrasi Lokal. MK Putuskan Pemilu Gunakan Suara Terbanyak. Salatiga. 24 Desember 2008. No. Jakarta: Kompas. Sakai. Aktor Civil Society dan Pemilu 2009.   Percik – Seminar Internasional: “Dinamika Politik Lokal di Indonesia”. Depok: PUSKAPOL UI dan Kemitraan. PUSKAPOL FISIP UI. 2008. Apa dan Mengapa Blok Politik Demokratik. Okamoto dan Abdul Hamid. R. Ketika ‘Serangan” Muncul dari Rapat Komisi I DPR. dalam HCB Dharmawan.net. South America and Post-Communist Europe. Romli. Perdana . 2009. dapat diakses di www. Peran Aktor dalam Demokratisasi. 2002. Oktober 2008. 1996.php?id=327 Zuhro.Siti. 2008.com . Singapore: ISEAS. Studi Kasus dan Pembelajaran Partai Politik di Indonesia. Indonesia Flexible NGOs vs Inconsistent State Control dalam Shinichi Shigetomi (ed). Olle.86. Baltimore: The John Hopkins University Press. Siaran Pers Koalisi Penyempurnaan Paket UU Politik tanggal 18 Januari 2008 tentang Pilihan Sistem Pemilu 2009. Yumiko.  19 Linz.dan Alfred Stepan. Aditya.demosindonesia.org/laput/article/article. Indonesia. ALIANSI No. Problems of Democratic Transition and Consolidation: Southern Europe. Wawan Ichwanuddin dan Miftah Sabri. Tanuredjo. Budiman. dapat diakses di www. dapat diakses di http://www. Kerangka Penguatan Partai Politik di Indonesia. Juan J. Jawara in Power 1999-2007. 2004. Masaaki. hukumonline. Lili. Aditya Perdana. The State and NGOs. Jakarta: PUSKAPOL FISIP UI dan IRI. 28 – 30 Juli 2009  .parlemen. Lembaga Swadaya Masyarakat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful