DAFTAR ISI BAB I : PENDAHULUAN………………………………………………………………2 1. 2. BAB II LATAR BELAKANG…………………………………………………….2 TUJUAN DAN MANFAAT……………………………………………..

3

: PERMASALAHAN…………………………………………………………….4 1. 2. 3. APAKAH HUKUM PERKAWINAN ITU…………………………….…4 MENGAPA PERKAWINAN PERLU HUKUM..................................4 BAGAIMANA HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA……………4

BAB III

: PEMBAHASAN MASALAH…………………………………………….…...5 1. 2. 3. PENGERTIAN HUKUM PERKAWINAN……………………….……5 PENTINGNYA HUKUM PERKAWINAN…………………………….6 PENERAPAN HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA…..……..10

BAB IV

: PENUTUP…………………………………………………………………… 1. 2. KESIMPULAN……………………………………………………….. SARAN………………………………………………………………..

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………….

1

hidup bersama itu dimulai dengan adanya sebuah keluarga. 2 . Sikap saling percaya dan saling menghargai satu sama lain merupakan syarat mutlak untuk bertahannya sebuah perkawinan. Sedemikian luhurnya anggapan tentang suatu perkawinan menyebabkan terlibatnya seluruh kerabat dan bahkan seluruh anggota masyarakat itu yang memberi petuah dan nasehat serta pengharapan agar dapat dilihat dalam kenyataan bahwa dalam kehidupan masyarakat kita. Perkawinan memerlukan pertimbangan yang matang agar dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama di dalam menjalin hubungan antara suami istri diperlukan sikap toleransi dan menempatkan diri pada peran yang semestinya. berupa hak dan kewajiban bagi kedua belah pihak suami istri atau juga pihak lain dengan siapa salah satu puhak atau kedua-duanya atau suami istri mengadakan hubungan. Suami istri harus mau menjalankan hak dan kewajibannya secara seimbang agar tidak muncul masalah dalam perkawinan. Di dalam bentuknya yang terkecil. Hidup bersama antara seorang lakilaki dan seorang perempuan yang telah memenuhi persyaratan inilah yang disebut dengan perkawinan. Perkawinan adalah suatu perbuatan hukum. sehingga suatu perkawinan yang menurut hukum dianggap tidak sah umpamanya anak yang lahir di luar pernikahan. maka anak yang dilahirkan itu akan merupakan anak yang tidak sah. Dengan demikian perkawinan itu merupakan salah satu perbuatan hukum dalam masyarakat. sehingga konsekuensi bagi setiap perbuatan hukum yang sah adalah menimbulkan akibat hukum. LATAR BELAKANG Sejak dilahirkan ke dunia manusia sudah mempunyai kecenderungan untuk hidup bersama dengan manusia lainnya dalam suatu pergaulan hidup. bahwa tidak ada suatu upacara yang paling diagungkan selain upacara perkawinan. Perkawinan merupakan suatu ikatan yang melahirkan keluarga sebagai salah satu unsur dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. yaitu peristiwa kemasyarakatan yang oleh hukum diberikan akibat-akibat. Adanya akibat hukum ini penting sekali hubungannya dengan sahnya perbuatan hukum itu.BAB I PENDAHULUAN 1. Dimana dalam keluarga gejala kehidupan umat manusia akan terbentuk paling tidak oleh seorang laki-laki dan seorang perempuan.

4. 2. 3. Mahasiswa dapat menambah pengetahuan tentang Hukum Perkawinan Mahasiswa dapat mengetahui pentingnya hukum dalam perkawinan Mahasiswa dapat mengetahui bagaimana hukum perkawinan di indonesia 3 . Untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Hukum Indonesia Untuk menambah pengetahuan tentang apa itu hukum dan perkawinan Untuk mengetahui pentingnya hukum dalam perkawinan Untuk mengetahui bagaimana hukum perkawinan di indonesia Manfaat yang didapat dari makalah ini adalah : 1. 2.2. 3. TUJUAN DAN MANFAAT Tujuan dari penyusunan makalah ini antara lain : 1.

Apakah Hukum Perkawinan itu 2. Mengapa hukum penting dalam perkawinan 3. bagaimana hukum perkawinan di indonesia 4 . agar dalam makalah ini bisa diperoleh hasil yang diinginkan maka kami mengemukakan beberapa permasalahan sebagai berikut : 1.BAB II PERMASALAHAN Dengan memperhatikan latar belakang tersebut.

antara lain di bawah ini: A. Para ahli sarjana hukum memberikan pengertian hukum dengan melihat dari berbagai sudut yang berlainan dan titik beratnya. Dengan kata lain untuk mencegah terjadinya kekacauan dan lain sebagainya dalam hidup. Menurut Wiryono Kusumo Hukum adalah merupakan keseluruhan peraturan baik yang tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur tata tertib di dalam masyarakat dan terhadap pelanggarnya umumnya dikenakan sanksi.BAB III PEMBAHASAN MASALAH A. Berbentuk tertulis maupun tidak tertulis c. keseimbangan dan keselarasan dalam hidup. Mengatur kehidupan masyarakat d. Menurut Van Kan Hukum merupakan keseluruhan peraturan hidup yang bersifat memaksa untuk melindungi kepentingan manusia di dalam masyarakat. Karena itu pengertian hukum adalah peraturan-peraturan yang dibuat oleh badan yang berwenang yang berisi perintah ataupun larangan untuk mengatur tingkah laku manusia guna mencapai keadilan. C. namun dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa hukum memiliki beberapa unsur yaitu: a. Oleh karena itu pelanggaran petunjuk hidup tersebut dapat menimbulkan tindakan dari pihak pemerintah. Berbeda-beda antara ahli yang satu dengan yang lain. PENGERTIAN HUKUM PERKAWINAN Kata “hukum” mengandung makna yang luas meliputi semua peraturan atau ketentuan tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur kehidupan masyarakat dan menyediakan sanksi terhadap pelanggarnya. Adanya peraturan/ketentuan yang memaksa b. karena itu tidak ada kesatuan atau keseragaman tentang definisi hukum. Perkawinan merupakan suatu ikatan yang melahirkan keluarga sebagai salah satu unsur dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. B. yang diatur oleh 5 . Dari pendapat para ahli hukum belum terdapat satu kesatuan mengenai pengertian hukum. Menurut Utrecht Hukum merupakan himpunan peraturan (baik berupa perintah maupun larangan) yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat dan seharusnya ditaati oleh anggota masyarakat yang bersangkutan. Mempunyai sanksi.

PENTINGNYA HUKUM PERKAWINAN Perkawinan adalah suatu proses untuk mengikat dua sejoli dalam satu ikatan yang suci. Hukum negara yang mengatur mengenai masalah perkawinan adalah Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. sebagai gerbang membina sebuah rumah tangga. Sebagai sarana untuk mewujudkan keadilan sosial lahir dan batin 6 . Begitu pula hukum dapat memaksa agar hukum itu ditaati anggota masyarakat. Menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 perkawinan dan tujuannya adalah sebagai berikut : “Ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Perkawinan dianggap sah secara hukum apabila sesuai dengan Undang-Undang Perkawinan yang telah ada. Karena itu ada beberapa persyaratan harus dipenuhi agar perkawinan tersebut sah secara agama dan sah secara hukum. Sebagai alat pengatur tata tertib hubungan masyarakat Hukum memberi petunjuk dalam hal perkawinan. b. Dalam perkembangan masyarakat fungsi hukum perkawinan adalah : a. Dengan demikian hukum perkawinan adalah peraturan-peraturan yang dibuat yang dibuat oleh badan yang berwenang yang berisi perintah ataupun larangan untuk mengatur perkawinan guna mencapai keadilan. Sedangkan pernikahan tersebut dikatakan sah secara hukum apabila sesuai dengan hukum pernikahan yang berlaku. yaitu hukum adat yang telah ada sejak jaman nenek moyang hingga sekarang ini yang merupakan hukum yang tidak tertulis. B. sehingga segala sesuatunya berjalan tertib dan teratur. Pernikahan sah secara agama apabila perkawinan tersebut sesuai dengan ajaran agama yang dianut. keseimbangan dan keselarasan dalam perkawinan. Di lain pihak hukum adat yang mengatur mengenai perkawinan dari dulu hingga sekarang tidak berubah.aturan hukum dalam hukum tertulis (hukum negara) maupun hukum tidak tertulis (hukum adat).

antara lain: 1. c. Perkawinan selanjutnya disebut pernikahan. pernikahan. maka hukum dapat memberi keadilan untuk menentukan siapa yang bersalah dan siapa yang benar. hak waris. akhirnya sangat perkawinan / pernikahan. Pasal ini memberitahukan legalisasi bahwa supaya nikah. merupakan sebuah lembaga yang memberikan legimitasi seorang pria dan wanita untuk bisa hidup dan berkumpul bersama dalam sebuah keluarga. Dalam hal nikah siri atau perkawinan yang tidak dicatatkan dalam administrasi negara mengakibatkan perempuan tidak memiliki kekuatan hukum dalam hak status pengasuhan anak. dan hak-hak lainnya sebagai istri yang pas. hukum dijadikan alat untuk membawa masyarakat ke arah yang lebih maju dalam 7 . Dalam Negara yang teratur segala hak-hak yang bersangkut pada dengan kependudukan harus dicatat. pernikahan itu harus tercatat di Kantor Urusan Agama / Catatan Sipil. Selain itu merupakan upaya perlindungan terhadap isteri maupun anak dalam memperoleh hak-hak keluarga seperti hak waris dan lain-lain. bersifat memaksa dan daya mengikat. Pada kesempatan ini kami sampaikan beberapa dasar hukum mengenai pencatatan Sebagai sarana penggerak pembangunan. diberitahukan kepada Pegawai Pencatat Nikah. UNDANG-UNDANG TENTANG NO 22 TAHUN 1946 Mengatakan : Nikah yang dilakukan menurut agama Islam. Undang-undang No I tahun 1974 Tentang Perkawinan Pasal 2 Ayat 2 menyatakan: merugikan pihak perempuan.talak.Hukum mempunyai ciri memerintah dan melarang. diawasi oleh Pegawai Pencatat Nikah yang diangkat oleh Menteri Agama atau pegawai yang ditunjuk olehnya. 2. Selain itu untuk mewujudkan fungsi hukum perkawinan. dan sebagainya lagi pada perkawinan perlu di catat ini untuk menjaga jangan sampai ada kekecauan. sebagai kelahiran. Pencacatan perkawinan pada prinsipnya merupakan hak dasar dalam keluarga. Ketenangan atau ketenteraman sebuah keluarga ditentukan salah satunya adalah bahwa pernikahan itu harus sesuai dengan dengan tuntutan syariat Islam ( bagi orang Islam ). selanjutnya disebut nikah. dan rujuk menurut agama Islam supaya dicatat agar mendapat kepastian hukum. Talak dan rujuk yang dilakukan menurut agama Islam selanjutnya disebut talak dan rujuk. kematian. perkawinan.

pencatatan perkawinan. 2. apabila salah seorang calon mempelai atau keduanya belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun. Pegawai Pencatat meneliti pula: 1. Izin Pengadilan sebagi dimaksud pasal 14 Undang-undang. Bab II Pasal 2 Ayat 1: "Pencatatan Perkawinan Agama dari mereka yang melangsungkan perkawinannya menurut Talak. Dispensasi Pengadilan / Pejabat sebagai dimaksud Pasal7 ayat (2) Undang-undang. (4). meneliti apakah syarat-syarat perkawinan telah dipenuhi dan apakah tidak terdapat halangan perkawinan menurut Undangundang. 8 . pekerjaan. 4. dan Rujuk. dan tempat tinggal orang tua calon mempelai. tata cara pencatatan perkawinan dilakukan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 3 samapai Pasal 9 Peraturan Pemerintah." Pasal 6. Ayat 1: "Pegawai Pencatat yang menerima pemberitahuan kehendak melangsungkan perkawinan. Izin kematian isteri atau suami yang terdahulu atau dalam hal perceraian surat keterangan perceraian. dilakukan oleh Pegawai Pencatat sebagaimana dimaksud dalam UU Nomor 32 tahun 1954 tentang Pencatat Nikah. 3. Dalam hal tidak ada akta kelahiran atau surat kenal lahir dapat dipergunakan surat keterangan yang menyatakan umur dan asal-usul calon mempelai yang diberikan oleh Kepala Desa atau yang setingkat dengan itu. 5. Keterangan mengenai nama. (3). agama/kepercayaan. PP NOMOR 9 TAHUN 1975 TENTANG PELAKSANAAN UU NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN. dalam hal calon mempelai adalah seorang suami yang masih mempunyai isteri."Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Izin tertulis/izin Pengadilan sebagai dimaksud dalam pasal 6 ayat (2). dan (5) Undang-undang." 3. 6." Ayat 1: "Selain penelitian terhadap hal sebagai dimaksud dalam ayat (1).Kutipan Akta Kelahiran atau surat kenal lahir calon mempelai." Ayat 3: "Dengan tidak mengurangi ketentuan-ketentuan yang khusus berlaku bagi tatacara pencatatan perkawinan berdasarkan berbagai peraturan yang berlaku." Ayat 2: "Pencatatan Perkawinan Pencatat dalam dari mereka yang melangsungkan perkawinannya menurut agamanya dan kepercayaannya itu selain agama Islam dilakukan oleh Pegawai dimaksud Perkawinan pada Kantor Catatan Sipil perundang-undangan mengenai sebagaimana berbagai Islam.

Misalnya. 9 . 5. Legalitas formal pernikahan di hadapan hukum. 2. Alasannya. Jika sang istri yang pernikahannya secara siri mengadu kepada pihak yang atau tidak dicatatkan istri yang berwajib. 7.bagi perkawinan untuk kedua kalinya atau lebih. juga hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibu atau keluarga ibu (Pasal 42 dan 43 Undang-Undang Perkawinan). Ada beberapa manfaat pencatatan pernikahan : 1. Pernikahan yang dianggap legal secara hukum adalah pernikahan yang dicatat oleh Petugas Pencatat Nikah (PPN) atau yang ditunjuk olehnya. apabila salah seorang calon mempelai atau keduanya tidak dapat hadir sendiri karena sesuatu alasan yang penting. Pencatatan ini dilakukan jika ketentuan dan peraturan sebagaimana Peraturan Menteri Agama Nomor 11 Tahun 2007 telah dipenuhi. Akta nikah akan membantu suami isteri untuk melakukan kebutuhan lain yang berkaitan dengan hukum. Terjamin keamanannya. demikian juga dengan akta kelahiran. Mendapat perlindungan hukum. Selain itu hubungan perdata dengan ayahnya tidak ada. Maka. Terjamin hak-haknya. Izin tertulis dari Pejabat yang ditunjuk oleh Menteri HANKAM / PANGAB. Surat kuasa otentik atau di bawah tangan yang disahkan Pegawai Pencatat. Karenanya. walaupun secara agama sebuah pernikahan yang tanpa dicatatkan oleh PPN. 4. seorang suami atau istri hendak memalsukan nama mereka yang terdapat dalam Akta Nikah untuk keperluan yang menyimpang. sehingga mewakilkan kepada orang lain. selain dianggap anak tidak sah. Sebuah pernikahan yang dicatatkan secara resmi akan terjamin keamanannya dari kemungkinan terjadinya pemalsuan dan kecurangan lainnya. Mengapa Perkawinan Harus Dicatat? Nikah yang sah menurut undangundang adalah nikah yang telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dan dicatat oleh Pegawai Pencatat Nikah (PPN).bukti otentik akta pernikahan yang resmi. 8. Misalnya terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). pengaduannya sebagai mendapat tindakan kekerasan tidak akan dibenarkan. apabila salah satu calon mempelai atau keduanya anggota Angkatan Bersenjata. karena sang isteri tidak mampu menunjukkan bukti . Isteri dan anak berhak memperoleh nafkah dan warisan dari suami / ayahnya. akibat hukum dari anak-anak yang dilahirkan di luar perkawinan atau perkawinan yang tidak tercatat. 3. pada dasarnya illegal menurut hukum. Memudahkan urusan perbuatan hukum lain yang terkait dengan pernikahan.

4. Aturan perkawinan yang dimaksud adalah dalam bentuk undangundang yaitu Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan peraturan pelaksanaannya dalam bentuk Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975. karena hukum materiil perkawinan keseluruhannya terdapat dalam undang-undang ini. Undang-undang ini merupakan hukum materiil dari perkawinan. PENERAPAN HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA Di Indonesia ketentuan yang berkenaan dengan perkawinan telah diatur dalam peraturan perundang-undangan negara yang khusus berlaku bagi warga negara Indonesia. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama Diantara beberapa hukum perundang-undangan tersebut di atas pembahasan diarahkan kepada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. 2. dan Rujuk di seluruh daerah luar Jawa dan Madura. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 jo. baik secara resmi dinyatakan sebagai peraturan perundang-undangan negara atau tidak. sedangkan hukum formalnya ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989. yang merupakan hukum materiil dari perkawinan. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1954 tentang penetapan berlakunya UndangUndang Republik Indonesia Tanggal 21 November 1946 Nomor 22 Tahun 1946 tentang Pencatatan Nikah.keaslian Akta Nikah itu dapat dibandingkan dengan salinan Akta Nikah tersebut yang terdapat di KUA tempat yang bersangkutan menikah dahulu. 10 . Adapun yang sudah menjadi peraturan perundang-undangan negara yang mengatur perkawinan yang ditetapkan setelah Indonesia merdeka adalah : 1. Sedangkan sebagai aturan pelengkap yang akan menjadi pedoman bagi hakim di lembaga Peradilan Agama adalah Kompilasi Hukum Islam di Indonesia yang telah ditetapkan dan disebarluaskan melalui Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006. C. Yang dimaksud dengan Undang-Undang Perkawinan adalah segala sesuatu dalam bentuk aturan yang dapat dan dijadikan petunjuk dalam hal perkawinan dan dijadikan pedoman hakim di lembaga Peradilan Agama dalam memeriksa dan memutuskan perkara perkawinan. 3. Talak.

4. 2. Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1975 terdapat 14 Bab yaitu : 1. 10. 7. 3. 13. Bab II tentang Syarat . 8. Bab I tentang Dasar Perkawinan terdiri dari pasal 1 s/d 5. 12. 6. 11. 14. 9.syarat perkawinan terdiri dari pasal 6 s/d 12 Bab III tentang Pencegahan Perkawinan terdiri dari pasal 13 s/d 21 Bab IV tentang Batalnya perkawinan terdiri dari pasal 22 s/d 28 Bab V tentang Perjanjian perkawinan terdiri dari pasal 29 Bab VI tentang Hak dan kewajiban suami isteri terdiri dari pasal 30 s/d 34 Bab VII tentang Harta benda dalam perkawinan terdiri dari pasal 35 s/d 37 Bab VIII tentang Putusnya perkawinan serta akibatnya terdiri dari pasal 38 s/d 41 Bab IX tentang Kedudukan anak terdiri dari pasal 42 s/d 44 Bab X tentang Hak dan kewajiban antara orang tua dan anak terdiri dari pasal 45 s/d 49 Bab XI tentang Perwalian terdiri dari pasal 50 s/d 54 Bab XII tentang Ketentuan . 5.ketentuan lain terdiri dari pasal 55 s/d 63 Bab XIII tentang Ketentuan peralihan terdiri dari pasal 64 s/d 65 Bab XIV tentang Ketentuan penutup terdiri dari pasal 66 s/d 67 11 .Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 hanya sekedar menjelaskan aturan pelaksanaan dari beberapa materi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 mengatur hukum acara ( formil ) dari perkawinan. sedangkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 jo.

Bilamana suatu perkawinan tidak dicatat sekalipun perkawinan itu sah menurut ajaran agama atau kepercayaan. Demi mewujudkan tujuan tersebut maka sangat penting agar perkawinan dicatat sesuai dengan ketentuan undang – undang yang berlaku. Hukum Perkawinan sesuai dalam undang undang Nomor 1 Tahun 1974 sebaiknya dijalankan dan ditaati dengan baik oleh masyarakat yang berkepentingan agar segala sesuatunya dalam perkawinan berjalan tertib dan teratur. SARAN Hukum dalam perkawinan sangatlah penting peranannya dalam kehidupan manusia dalam bermasyarakat guna mewujudkan perkawinan yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.duanya atau suami istri mengadakan hubungan. sehingga suatu perkawinan yang menurut hukum dianggap tidak sah umpamanya anak yang lahir diluar perkawinan. perkawinan tersebut tidak diakui oleh negara. Di Indonesia ketentuan yang berkenaan dengan perkawinan telah diatur dalam peraturan perundang-undangan negara yang khusus berlaku bagi warga negara Indonesia. Pencatatan perkawinan memegang peranan yang sangat penting dalam suatu perkawinan karena pencatatan termasuk suatu syarat diakui atau tidaknya suatu perkawinan oleh negara. dalam hal ini banyak membawa konsekuensi bagi yang bersangkutan. KESIMPULAN Perkawinan adalah suatu perbuatan hukum. berupa hak dan kewajiban bagi kedua belah pihak suami istri atau juga pihak lain dengan siapa salah satu pihak atau kedua . 12 . sehingga konsekuensi bagi setiap perbuatan hukum yang sah adalah menimbulkan akibat hukum. yaitu peristiwa kemasyarakatan yang oleh hukum diberikan akibatakibat. maka anak yang dilahirkan itu akan merupakan anak yang tidak sah. B. begitu pula segala akibat yang timbul dari perkawinan. Adanya akibat hukum ini penting sekali hubungannya dengan sahnya perbuatan hukum itu.BAB IV PENUTUP A. Aturan perkawinan yang dimaksud adalah dalam bentuk undangundang yaitu Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan peraturan pelaksanaannya dalam bentuk Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975. Dengan demikian perkawinan itu merupakan salah satu perbuatan hukum dalam masyarakat.

com/2011/05/14/filsafat-hukum/ 7. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1975 tentang Perkawinan.com 6. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. http://id. 3.com/2011/04/pencatatan-perkawinan-danakta-nikah_17. http://hukum11.html 9. http://id.blogspot.DAFTAR PUSTAKA 1.com/2011/04/01/dasar-dasar-ilmu-hukum/ 8.wikipedia.MAKALAH NIKAH « lathifashofi.shvoong.com/law-and-politics/family-law/2110273-dasar-dasarperkawinan/#ixzz1LSPGkjmi 5. http://prabugomong.org/ 4.wordpress. sekeluarga. http://www. 2.htm 13 . http://emil-jawwadassyaghaf.wordpress. http://www.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful