9

R u q y a h
KONSEP WAKTU DAN
DASAR PERHITUNGAN JAWA
Candra Mangsa
Tradisi Jawa senang menggunakan bahasa simbol untuk menjelaskan
sesuatu. Simbol atau gegambaran tadi dicandra. Men-candra berarti
menguraikan suatu wujud atau keadaan dengan kata-kata.
1
Termasuk juga
yang dicandra adalah mangsa atau bulan dalam kalender Jawa. Misalnya
Mangsa Kapat dicandra sebagai waspa kumembeng jroning kalbu yang
bermakna hati yang sedih. Sementara Mangsa Kalima dicandra sebagai
pancuran emas sumawur ing jagad, pancuran emas yang berhamburan ke
dunia.
Dalam pencandraan mangsa ini, menunjukkan karakter musim pada
bulan tersebut (hujan atau kemarau) dan menjadi patokan bagi petani
yang akan bercocok tanam. Namun di sisi lain, candra mangsa ini juga
terkait dengan watak dan sifat serta nasib manusia yang dinaungi oleh
dewa-dewa. Misalnya Mangsa Karo dipengaruhi Batara Sakri, musimnya
kemarau sehingga tanah sampai retak-retak, dicandra sebagai Bantala
Rengka.
2
Candra Sengkala
Candra sengkala merupakan sistem kronogram Jawa yg memakai
sistem perhitungan bulan. Candrasengkala melambangkan angka dengan
kata-kata. Pemilihan kata yang tepat dipercayai memiliki kekuatan magis.
Selanjutnya kata-kata tersebut disusun menjadi kalimat yang bermakna
baru. Penyusunan kata-kata tersebut dirangkai secara terbalik urutannya.
Makna kalimat baru yang terbentuk bisa bermakna positif, dapat juga
bermakna negatif, atau bahkan hanya sekedar perlambang.
1 “Buku Wayang : Pacandra Warnane Semar Gareng Petruk oleh R. Tanojo”. Dimuat dalam
wayangpustaka.wordpress.com.
2 Purwadi, Petungan Jawa, hal. 12.
10
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Contoh: Tahun keruntuhan Kerajaan Majapahit, 1400 Saka,
sering dilambangkan dengan candrasengkala “Sirna
Ilang Kertaning Bumi”. Sirna (0), Ilang (0), Kerta
(4) dan Bumi (1). Kalangan Kejawen memaknainya
sebagai hilangnya bakti anak pada orang tua. Yaitu
hilangnya bakti Raden Patah kepada ayahnya, Raja
Brawijaya, karena mendirikan Kesultanan Demak
yang menggantikan peran Kerajaan Majapahit.
Penentuan candra sengkala relatif longgar karena setiap angka bisa
bermakna banyak.
1 : Bumi, buana, surya, candra, tunggal, ika, eka, (p)raja,
manunggal, negara
2 : dwi, tangan, sikil, kuping, mata, netra, panembah, bekti
3 : tri, krida, gebyar
4 : catur, kerta
5 : panca, astra, tumata
6 : rasa, sad, bremana, anggata,
7 : sapta, sinangga, sapi
8 : asta, naga, salira, manggala
9 : nawa, hanggatra, bunga
0 : ilang, sirna, sonya
Dengan multimakna terkandung pada setiap angka, candrasengkala
bisa bermacam-macam maknanya. Sesuai dengan keinginan dan selera
pembuatnya. Sebuah tahun bisa dimaknai baik atau jelek tergantung
pilihan kata candrasengkala yang digunakan.
11
R u q y a h
Hari
Kalender Jawa mengenal tujuh hari. Yaitu Ahad, Senin, Selasa, Rabu,
Kamis, Jum’at dan Sabtu. Masing-masing memiliki neptu (nilai) yang
berbeda. Ahad berneptu 5, Senin berneptu 4, Selasa berneptu 3, Rabu
berneptu 7, Kamis berneptu 8, Jum’at berneptu 6 sementara Sabtu berneptu
9. Penentuan neptu ini berdasarkan pandangan para ahli nujum dan
perhitungan (petungan) jawa. Gunanya untuk menjadi dasar perhitungan
dalam banyak urusan petungan.
Masing-masing hari memiliki watak sendiri-sendiri:
Ahad, berwatak samudana (pura-pura), suka pada hal-hal yang lahir
atau kelihatan.
Senin, berwatak samuwa (meriah), harus baik dalam segala
pekerjaan.
Selasa, berwatak sujana (curiga), serba tidak percaya.
Rabu, berwatak sembada (serba sanggup, kuat), mantap dalam segala
pekerjaan.
Kamis, berwatak surasa (perasa), suka berpikir dan merasakan sesuatu
dalam-dalam.
Jum’at, berwatak suci, bersih tingkah lakunya.
Sabtu, berwatak kasumbung (tersohor), suka pamer.
3
Dalam sumber lain, watak hari ini sedikit berbeda:
Ahad, berwatak uriping jagad (hidupnya dunia), baik.
Senin, berwatak mlumpat (melompat), kurang baik..
Selasa, berwatak babagan pati (terkait kematian), amat jelek.
Rabu, berwatak uriping roh (hidupnya ruh), baik.
Kamis, berwatak purbaning roh (awalnya ruh), baik.
Jum’at, berwatak rasa tunggal (rasa yang satu), baik.
3 Purwadi, P etungan Jawa, hal. 24.
12
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Sabtu, berwatak dalaning pati (jalan kematian), amat jelek.
Untuk melakukan berbagai keperluan dianjurkan pada hari-hari yang
baik, yaitu Ahad, Rabu, kamis dan Jum’at.
4
Sejarah penentuan watak hari ini tidak jelas. Bisa jadi ada nuansa
pengaruh Islam dalam pewatakan hari Jum’at (hari ibadah Jum’at bagi
Muslim) sebagai suci dan hari Sabtu (hari ibadahnya Bani Israel, Sabat)
dengan sifat sombong. Apalagi penamaan hari Ahad hingga Sabtu jelas
mengadopsi sistem panamaan dalam kalender Islam.
Jam (Sa’at)
Dalam tradisi Jawa, jam juga memiliki nilai dan makna khusus. Dalam
konsep tradisional, sebelum mengenal jam sebagai penunjuk waktu
digunakan konsep sebagai berikut:
Pagi : jam 06.00-08.00
Wisang Garu : jam 08.00-11.00
Bedug : jam 11.00-13.00
Lingsir : jam 13.00-15.00
Sore : jam 15.00-18.00
Sirep Wong : jam 20.00-23.00
Tengah Malam : jam 23.00-01.00
Lingsir Malam : jam 01.00-03.00
Bangun : jam 03.00-06.00
5
Masing-masih sa’at memiliki sifat sendiri-sendiri yang menentukan
baik-buruknya sa’at itu untuk melakukan segala sesuatu. Sifat ditentukan
oleh nilai neptu yang diperhitungkan dari hari dan pekannya. Misalnya
saja, sa’at pagi untuk neptu 7 memiliki sifat sampar, sementara wisang
garu pada neptu yang sama memiliki sifat Srilungguh.
4 Tjakraningrat, Primbon Betaljemur Adammakna, hal.123.
5 Betaljemur, hal. 119-120.
13
R u q y a h
Selengkapnya sifat-sifat tersebut adalah:
Ayu : baik
Sampar : jelek
Pacak : jelek
Kalapengaten : jelek
Srilungguh : baik
Srigumelar : baik
Kalaluweng : jelek
6
Kalender Jawa (Pranata Mangsa)
Sebelum mendapatkan pengaruh Hindu, orang Jawa sudah memiliki
kalender sendiri yang sekarang dikenal sebagai Petangan Jawi. Yaitu
perhitungan Pranata Mangsa dengan rangkaiannya berupa macam-
macam petangan seperti wuku, peringkelan, padewan, padangan dan
lain-lain. Sistem dalam pranata mangsa berdasarkan solair atau peredaran
matahari (Syamsiyah), sama dengan Kalender Saka maupun Masehi.
Nama-nama mangsa dan umurnya dalam Kalender Jawa:
Kasa (Kartika) : 22 Juni-1 Agustus : 41 hari
Karo (Pusa) : 2 Agustus-24 Agustus : 23 hari
Katelu : 25 Agustus-17 September : 24 hari
Kapat (Sitra) : 18 September-12 Oktober : 25 hari
Kalima (Manggala) : 13 Oktober-8 November : 27 hari
Kanem (Naya) : 9 November-21 Desember : 43 hari
Kapitu (Palguna) : 22 Desember-22 Februari : 43 hari
Kawolu (Wasika) : 3 Februari-28 Februari : 26/27 hari
Kasanga (Jita) : 1 Maret-25 Maret : 25 hari
Kasapuluh (Srawana): 26 Maret-18 April : 24 hari
Betaljemur, hal. 120. ٦
14
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Dhesta (Padrawana) : 19 April-11 Mei :23 hari
Sadha (Asuji) : 12 Mei-21 Juni : 43 hari
Sistem kalender Pranata Mangsa ini merupakan kalendernya kaum tani
yang memanfaatkannya sebagai pedoman bekerja. Pada awalnya jumlah
masnga hanya sepuluh, setelah mangsa kesepuluh habis pada tanggal 18
April, orang menunggu saat dimulainya mangsa pertama (Kasa) pada
tanggal 22 Juni. Mangsa menunggu ini dianggap terlalu lama sehingga
ditetapkanlah mangsa kesebelas (Dhesta) dan keduabelas (Sadha).
Sistem Pranata Mangsa berjalan seiring dengan Kalender Saka setelah
Hindu masuk ke Pulau Jawa. Meskipun Pranata Mangsa sudah berlaku
sejak dahulu, namun penetapannya baru pada tahun 1855 Masehi. Yaitu
oleh Paku Buwana VII yang memerintah di Kerajaan Surakarta. Selain
pedoman bercocoktanam, perhitungan berdasarkan Pranata Mangsa juga
membawakan watak atau pengaruh pada kehidupan manusia seperti
halnya perhitungan Jawa lainnya.
7
Masing-masing mangsa berada di bawah pancaran pengaruh para
dewa dengan intensitas yang berbeda-beda. Misalnya saja Mangsa Kasa,
di bawah pengaruh Batara Antaboga dan Nagagini. Pancarannya seperti
sotya murca ing embanan (permata yang lepas dari cincin pengikatnya).
Jatuhnya pada musim kemarau. Manusia dari kelompok mangsa ini
memiliki kelemahan pada lever dan pencernaan, namun bisa diatasi den-
gan memakai batu mulia jenis Aquamarine, Jamrud, Mutiara, mata Kuc-
ing, kristal dan Biduri Bulan. Warna bagi kelompok ini adalah kuning,
biru, hijau, cokelat dan merah anggur.
8

Kalender Sultan Agung
Kalender Saka dipakai oleh orang Jawa sampai tahun 1633 Masehi.
Pada saat Sultan Agung Hanyakrakusuma bertahta, ia mengubah
sistem kalender yang berlaku secara revolusioner. Pada saat perubahan
dilakukan, Kalender Saka sudah berlaku hingga tahun 1554 Saka. Angka
itu kemudian diteruskan dalam Kalender Sultan Agung dengan angka
tahun 1555, padahal dasar perhitungannya sama sekali berbeda.
7 Petungan Jawa, hal. 10-11.
8 Ibid.
15
R u q y a h
Kalender Saka memakai dasar peredaran matahari atau Syamsiyah.
Sementara kalender Sultan Agung memakai peredaran bulan atau Qo-
mariyah. Kalender Jawa yang baru ini dimulai dengan tanggal 1 Sura Ta-
hun Alip 1555. Tanggal itu bertepatan dengan 1 Muharram Tahun 1043
Hijriyah dan 8 Juli 1633 Masehi.
Dalam sejarahnya, perubahan sistem kalender Jawa dari Syamsiyah
ke Qomariyah menunjukkan pengaruh Islam. Namun perubahan itu juga
bernuansa politik, yaitu pengambilalihan Sultan Agung terhadap otori-
tas keagamaan Islam yang sebelumnya berpusat di Giri. Sebelum Sultan
Agung, semua raja yang bertahta di Jawa selalu memohon restu dari Su-
nan Giri. Pengaruh kuat Sunan Giri I atas Kesultanan Demak dilanjut-
kan oleh keturunannya pada raja-raja Pajang hingga Mataram. Pada saat
Sultan Agung naik tahta, Giri dipimpin oleh Sunan Giri IV. Para adipati
di Jawa Timur sampai Blambangan tunduk pada Giri dan enggan tun-
duk pada Sultan Agung.
9
Pengaruh Kesunanan Giri ini tak hanya di Jawa,
pada tahun 1629 di jaman Sultan Agung masih ada utusan Sunan Giri
yang datang ke Pulau Hitu di Kepulauan Maluku. Orang Belanda yang
saat itu berniaga di Maluku bahkan menyebut Sunan Giri sebagai “Paus
Islam” atau “Raja Imam.”
10
Untuk memperluas kekuasaannya, pengaruh Giri ini kemudian dire-
dam oleh Sultan Agung. Caranya dengan tak mau memohon restu kepada
Sunan Giri IV saat ia naik tahta. Kemudian Sultan Agung menyerang Giri
dengan bantuan Pangeran Pekik dari Surabaya yang beristrikan adik Sul-
tan, Ratu Pandansari. Setelah Giri berhasil dikalahkan, keluarganya dip-
indahkan ke Mataram agar pengaruhnya pupus dan kedaulatan Giri tak
berlanjut. Kelak para ulama pendukung Giri melakukan konsolidasi dan
perlawanan pada masa Amangkurat II, namun perlawanan ini ditumpas
habis. Sekitar 5000 hingga 6000 kiai dan santri pendukung Giri dihukum
bunuh di muka umum oleh Amangkurat II.
11

Untuk memupuskan pengaruh Giri yang bertulang punggung peran-
nya sebagai pusat Islam, Sultan Agung memusatkan kepercayaan Muslim
Jawa pada dirinya. Caranya dengan menciptakan sistem Kalender Jawa
baru yang disesuaikan dengan Kalender Hijriyah. Dengan penyesuaian
ini, maka perayaan-perayaan Islam menjadi satu dengan upacara kera-
ton.
9 Petungan Jawa, hal. 17-22.
10 HJ De Graaf dan Th Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Nusantara, hal. 173.
11 Hamka, Dari Perbendaharaan Lama, hal. 9.
16
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Nama-nama bulan dan umurnya dalam Kalender Sultan Agung:
Sura : 30 hari
Sapar : 29/30 hari
Mulud : 30/29 hari
Bakda Mulud : 29 hari
Jumadilawal : 30/29 hari
Jumadilakhir : 29 hari
Rejeb : 30 hari
Ruwah : 29 hari
Pasa : 30 hari
Syawal : 29 hari
Dulkangidah : 30 hari
Besar : 29/30 hari
Naga dan Rijalolah
Tradisi Jawa mengajarkan untuk golek dina becik (mencari hari yang baik)
untuk memulai usaha atau pencaharian. Upaya ini pada hakekatnya
mencari perpaduan hari, pasaran, tahun, windu dan mangsa yang
menghasilkan penyatuan karakter baik. Suatu hal yang dilakukan pada
hari dengan karakter jelek terganggu usaha sehingga banyak kendala,
bahkan mengalami kegagalan.
Aura pencemar tersebut dalam primbon disebut naas, sangar tahun,
sangar sasi dan sangar dina. Sedangkan anasir pencemar tersebut dikenal
sebagai naga dina, naga tahun dan sebagainya. Sebagai anasir pengganggu
dan penggagal, naga selalu mengejar rijalolah. Karenanya kedudukan
naga dan rijalolah harus selalu diperhitungkan sebelum menjalankan
sebuah karya atau usaha.
Dalam mitologi Jawa, naga tercipta dari kotoran Cupu Manik Astagina
yang menjadi wadah rahsa (darah) kama Nabi Adam dan Hawa ketika
keduanya berselisih tentang perkawinan putra-putri mereka. Nabi
Adam ingin menikahkan putra-putri kembarnya secara berselang-seling,
17
R u q y a h
sementara Hawa sebaliknya. Untuk membuktikan siapa yang lebih
benar, keduanya meletakkan rahsa kama dalam cupu dan membukanya
setelah sembilan bulan. Rahsa kama Nabi Adam berubah menjadi orok
yang kemudian disebut Baginda Sis, sementara rahsa kama Hawa tetap
menjadi darah. Cupu tersebut hilang tertiup angin.
Bersamaan dengan angin datanglah suara gaib tanpa rupa yang disebut
Rijalolah. Kemudian datang seekor naga bernama Naga Jatingarang yang
berasal dari kotoran cupu. Ia selalu mengejar dan menyerang rijalolah
yang melindungi diri dengan cupu tempat Baginda Sis. Inilah sebabnya
perhitungan Jawa memasukkan unsur naga dan rijalolah dalam penentuan
waktu yang baik dan waktu yang buruk.
Dalam kisah di atas, nampak sinkretisme Jawa yang mencampuradukkan
unsur Islam (Adam, Hawa, pernikahan anak-anak kembar mereka) dengan
unsur Hindu (kisah Cupu Manik Astagina dalam Ramayana). Rijalolah
sendiri mungkin berasal dari rijalullah, sebuah konsep dalam keyakinan
Sufi, hamba Allah yang telah memiliki pengetahuan ilmu ma’rifat secara
menyeluruh. Rijalullah dibekali ilmu sirri (rahasia) dan sulit dipahami oleh
orang awam. Ilmunya sulit terjajagi dan banyak mempunyai karomah,
karenanya Rijalullah dipilih sebagai pertahanan maupun keamanan bumi
di daerahnya masing-masing.
Di sisi lain, pengagungan dan ketakutan pada gangguan dan kesialan
dari naga dapat ditelusuri dari budaya pemujaan kepada ular. Dalam
kepercayaan Yunanai purba, ular dianggap pandai menjelma menjadi
manusia. Ular-ular kemudian diberi kurban yang khas.
12
Kepercayaan ini
menyebar di India dan berlanjut hingga sekarang, orang Hindu India biasa
memberi persembahan kepada Dewa Ular yang berwujud ular Kobra.
Mungkin pengaruh Hindu ini terbawa ke Pulau Jawa dan kemudian
mengalami sinkretisasi dengan Islam, ular tetap dihormati dan ditakuti
dengan tradisi Naga dan Rijalolah.
Neptu
Neptu adalah nilai yang disandarkan pada pasaran, hari, pekan, bulan
dan tahun. Angka nilai neptu menjadi dasar perhitungan berbagai hal.
Pada aslinya, kata neptu bermakna sesuai, sebagaimana sesuainya 2x2=4.
Namun dalam perkembangannya neptu merupakan hasil “penemuan
12 AZ Marzeqdeq, Parasit Akidah, hal.230.
18
Jin; Hakikat bukan Khurafat
para ahli nujum dan sarhana ilmu perhitungan (primbon).”
13

Nilai neptu berbeda-beda untuk hari, pasaran, pekan dan tahun.
Neptu hari:
Ahad 5
Senin 4
Selasa 3
Rabu 7
Kamis 8
Jum’at 6
Sabtu 9
Neptu pasaran:
Kliwon 8
Legi 5
Paing 9
Pon 7
Wage 4

Neptu bulan:
Sura 7 Rejeb 2
Sapar 2 Ruwah 4
Rabiulawal 3 Pasa 5
Rabiulakir 5 Sawal 7
Jumadilawal 6 Dulkangidah 1
Jumadilakir 1 Besar 3
13 Petungan Jawa, hal. 35.
19
R u q y a h
Neptu tahun
Alip 1
Ehe 5
Jimawal 3
Je 7
Dal 4
Be 2
Wawu 6
Jimakir 3
Nujum
Nujum pada dasarnya adalah ilmu ramalan bintang (astrologi). Namun
dalam perkembangannya nujum digunakan untuk menyebut semua jenis
ramalan. Dalam Primbon Betaljemur Adammakna, teknik nujum yang
digunakan menggunakan tabel yang berisi pertanyaan bernomor I-XXI
dan kode huruf bertanda A-U. Kemudian ada kumpulan jawaban yang
bernomor 1-21. Dafar pertanyaannya ada 21 buah, dari akan tercapainya
keinginan atau tidak, keuntungan dagang, orang yang pergi akan kembali
atau tidak, nasib sebuah perkawinan sampai tanda sebuah impian atau
kedutan baik atau tidak.
14
Pengguna memilih salah satu pertanyaan sesuai hajatnya. Nomor III
misalnya berisi pertanyaan “perdagangan saya akan untung atau tidak?”.
Kemudian ia harus mengheningkan cipta sesaat, kemudian mengambil
salah satu huruf dengan mata terpejam. Huruf pilihannya bertepatan
dengan nomor pertanyaan akan menunjuk nomor jawaban. Jawaban akan
menunjukkan ramalannya, misalnya huruf K akan menunjukkan nomor
13. Ramalannya adalah “tahun ini memperoleh keuntungan.”
14 Betaljemur, hal.248.
20
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Primbon
Kata primbon berasal dari “rimbu” yang bermakna simpan atau simpanan.
Primbon berisi catatan dari para leluhur berdasarkan pengalaman baik dan
buruk yang dialami oleh orang Jawa. Primbon diwariskan dari generasi
ke generasi.
15
Primbon ada bermacam-macam, antara lain:
Primbon Betaljemur Adammakna
Primbon Lukmanakim Adammakna
Primbon Atassadhur Adammakna
Primbon Bektijammal Adammakna
Primbon Shahdhatsaahthir Adammakna
Primbon Qomarrullsyamsi Adammakna
Primbon Naklassanjir Adammakna
Primbon Quraisyin Adammakna
Primbon Ajimantra
Menurut Susiyanto, peneliti dari Pusat Studi Peradaban Islam,
sejumlah primbon Jawa yang ada hingga hari ini mengambil nama dari
cerita Menak, yaitu sebuah kisah pewayangan bernuansa Islam yang
mengambil karakter dan seting Timur Tengah. Kisah Menak ini sangat
populer pada masanya. Sebagai buku yang memuat tradisi mistik
dan klenik di Jawa, kitab primbon selalu mengambil nama-nama yang
menarik sehingga mampu memikat pembaca. Maka kaum kebatinan
yang menciptakan primbon pun memberi judul primbonnya dari cerita
Menak yang populer.
Beberapa primbon mencantumkan nama Adammakna di judulnya.
Istilah “Adammakna” berasal dari nama sebuah kitab legendaris dalam
cerita Menak, yaitu Kitab Adam Makna, semacam kitab “fikih” yang memuat
makna, rahasia, dan tuntunan hidup bagi manusia agar dapat menjalani
kehidupannya dengan sempurna. Bekt Jamal dan Betal Jemur adalah nama
karakter dalam cerita Menak yang pernah menjadi pemilik Kitab Adam
Makna. Betal Jemur adalah putra dari Raden Bekti Jamal. Tokoh Amir
Ambyah pernah menjadi anak angkat sekaligus murid dari Betal Jemur.
Ada pun Lukman Hakim merupakan ayah dari Raden Bekti Jamal. Lukman
Hakim disebut-sebut sebagai tokoh yang memiliki kemampuan seperti
Petungan Jawa, hal. 23. ١٥
21
R u q y a h
Nabi Sulaiman. Sedangkan Kuraisyin adalah nama dari salah satu putri Amir
Ambyah dari istrinya yang bernama Dewi Ismayawat, putri Prabu Tamimasyar
dari kerajaan Ngajrak.
16

Weton
Weton adalah paduan hari dan pasaran saat seseorang dilahirkan,
misalnya Senin Wage atau Jum’at Pon. Weton memiliki peran sentral
dalam perhitungan dan ramalan nasib Jawa. Jodoh, rejeki, penyakit dan
banyak urusan manusia Jawa diperhitungkan dan diramalkan dengan
dasar perhitungan ini. Dalam keluarga-keluarga yang masih memegang
kukuh tradisi Jawa, sebuah perjodohan bisa jadi digagalkan karena dalam
perhitungan ternyata seorang lelaki dan seorang perempuan memiliki
weton dengan paduan angka yang diramalkan bernasib sial. Weton biasa
diperingati oleh pemiliknya setiap selapan (35) hari.
Weton adalah peringatan hari lahir seseorang yang terjadi setiap 35
hari sekali. Caranya ada dua macam
17
:
Pertama : dengan sesaji dan doa. Pada saat weton biasanya
akan dibuat semacam sesaji sederhana yang
berupa secawan bubur merah putih dan satu gelas
air hangat. Pemberian ini adalah untuk saudara-
saudara halus, dengan mengatakan: ini untuk
semua saudara halusku, aku selalu ingat kamu,
mengenali kamu, maka itu bantulah dan jagalah
aku. Sesaji sederhana ini juga untuk mengingatkan
dan bersyukur kepada ibu dan ayah, karena melalui
merekalah kamu dilahirkan dan hidup di dunia ini.
Selanjutnya untuk mengingat dan menghormati
para leluhur dan memuji Sang Pencipta.
Cara yang lengkapuntuk meyebut saudara-saudara
halus tersebut adalah : Mar marti, kakang kawah,
adi ari-ari, getih puser sedulur papat, kalimo pancer
Bantulah saya (katakan apa keperluanmu)
Jagalah saya pada waktu saya tidur

16 Susiyanto, “Cerita Menak; Warisan Budaya Islam di Indonesia.” Dimuat dalam susiyanto.
wordpress.com.
17 Puasa Weton Sedulur 4 Limo Pancer, dimuat dalam aindra.blogspot.com
22
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Nama- nama mereka harus disebut dengan lengkap
sehingga terbiasa untuk beberapa bulan. Sesudah
itu boleh memanggil mereka semua : saudara ha-
lusku.
Dalam tradisi Jawa diyakini bahwa kakang kawah
dan adi ari-ari adalah yang unsur sedulur yang
paling banyak membantu. Kakang kawah selalu
berusaha mewujudkan semua keinginan dan
usaha, sedangkan adi ari-ari selalu berusaha
menyenangkan pemiliknya. Dianjurkan pula pada
saat akan melakukan hal yang penting atau sebelum
berdoa, sesudah menyebutkan nama lengkap
mereka satu persatu, ulangi lagi dengan menyebut
kakang kawah dan adi ari-ari untuk membantu.
Kedua : dengan berpuasa dan ritual lain. Antara lain berpuasa
selama 24 jam, hanya makan buah dan sayuran;
makan nasi putih dan minum air putih ; tidur
sesudah tengah malam atau tidak tidur sama sekali.
Puasa pada hari Weton bagi orang Jawa dipercayai
dapat memberikan pencerahan spiritual. Ada juga
yang melakukan selama tiga hari berturut-turut,
yaitu satu hari sebelum weton, pada saat weton dan
sehari sesudah weton yang disebut Ngapit.
Mengenal "Sedulur Alus"
Spiritualitas Jawa meyakini bahwa dalam kiprahnya menjalani
kehidupan di bumi, manusia selalu didampingi oleh saudara-saudara
gaibnya kapan pun dan di mana pun dia berada. Para saudara
halus ini mendapatkan tugas dari Sang Pencipta Kehidupan untuk
membantu dan menjaga saudaranya yang pada saat ini menjadi
manusia dibumi.
Siapa saja saudara Gaib itu?
Sedulur alus yang tidak berbadan fisik itu menurut kepercayaan
tradisional Jawa selalu membantu saudaranya yang manusia dengan
jalan menyertai, melindungi, membantu supaya saudaranya yang
manusia menjalani kehidupannya dengan selamat, sehat, sejahtera
selama hidup dibumi ini. Tugas sedulur alus tersebut, menurut
23
R u q y a h
kepercayaan Jawa, sesuai dengan ketentuan dari Tuhan..
Saudara Gaib itu jumlahnya banyak. Di antaranya:
Mar dan Marti, biasa dipanggil Mar Marti.
Mereka adalah saudara manusia yang lebih tua. Mereka tidak ikut
dilahirkan melalui gua garba ibu. Mar yang paling tua merefleksikan
perjuangan ibu sewaktu melahirkan bayi. Dia adalah daya, kekuatan
yang kuat, hebat untuk hidup dan melindungi hidup.
Marti merefleksikan perjuangan ibu setelah melahirkan. Perjuangannya
berhasil, lega rasanya. Oleh karena itu Mar Marti tinggi pangkatnya,
sebagai Raja dan Ratu. Secara mistis warnanya berupa cahaya putih
bersih dan kuning muda jernih.
Mar Marti membantu manusia yang dikawalnya, hanya untuk hal-hal
yang penting, dalam keadaan yang benar-benar diperlukan. Karena
derajat Mar Marti adalah bagai Raja dan Ratu, maka manusia yang
meminta bantuan mereka adalah yang punya perbuatan, pikiran dan
rasa yang jernih. Menurut istilah Kejawen adalah manusia yang telah
melakukan tapabrata terlebih dahulu, yang sudah melakukan laku
spiritual yang sungguh-sungguh.
Sedulur papat kalimo pancer
Saudara empat yang kelima pancer, yaitu :
Kakang Kawah : Kakak Kawah, yang keluar dari rahim ibu, sebelum
sibayi. Warnanya putih, tempatnya di Timur.
Adi Ari-ari : Adik ari-ari, yang keluar dari rahim ibu, sesudah si bayi.
Warnanya kuning, tempatnya di Barat.
Getih : Darah yang keluar dari rahim ibu sewaktu melahirkan.
Warnanya merah, tempatnya di Selatan.
Puser : Pusar, yang dipotong sesudah kelahiran bayi. Warnanya hitam,
tempatnya di Utara.
Pancer : Pancer adalah bleger ,wujud badan jasmani yang ada ditengah
keempat saudara yang lain yang tidak punya raga fisik.
Sedulur papat kalimo pancer juga disebut Keblat papat, kalimo tengah
,artinya : Kiblat empat, yang kelima di tengah. Para saudara halus
ini mempunyai tugas untuk membantu manusia didalam menjalani
kehidupan sehari-hari.
24
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Selanjutnya ada saudara-saudara halus yang dipanggil sebagai :
Kabeh kadang ingsun kang metu saka margo ino lan kang ora metu
saka marga ino.
(Semua saudaraku, yang ada melalui rahim ibu dan yang tidak melalui
rahim ibu).
Kabeh kadang ingsun kang ora katon miwah kang ora karawatan.
(Semua saudaraku yang tidak kelihatan dan tidak terawat).
Kabeh kadang ingsun kang lahir bareng sadino sawengine karo aku.
(Semua saudaraku yang lahir siang malam bersamaku).
Jadi, memang benar saudara halus manusia itu ada banyak, mereka
juga sering disebut sedulur sinarawedi- saudara terdekat. Dari sudut
kebatinan, ada yang menyebut mereka makdum sarpin.
Perlu dikenal
Para pinisepuh Kejawen mengajarkan penganutnya supaya mengenal
dan syukur kalau mau ngerteni (memahami) saudara halus kita.
Mereka itu selalu mengawal dan membantu kita, disadari atau tidak,
karena mereka dapat tugas dari Tuhan. Tentunya, si manusia juga
harus berbuat dan berkemauan yang baik.
Perlu diketahui bahwa para saudara halus tersebut merasa senang
kalau kita mengetahui kehadiran dan keberadaan mereka, terlebih
kalau kita memperhatikan mereka. Kalau mereka merasa dianggap
dan diperhatikan tentu mereka akan lebih rajin dan giat membantu.
Mereka senang bila setiap saat diajak berpartisipasi dalam setiap
kegiatan kita, seperti : makan, minum, belajar, bekerja, menyopir,
mandi dsb.
Contoh mengajak saudara halus kita, katakan dalam batin :
“Semua saudara halusku ( secara lengkap adalah : Kakang kawah,
adi ari-ari, getih, puser, kadang ingsun papat kalimo pancer, kabeh
kadang ingsun kang metu saka margo ino lan kang ora metu saka
margo ino, kabeh kadang ingsun kang ora katon miwah kang ora
karawatan, kabeh kadang ingsun kang lahir bareng sadino sawengine
karo aku), saya mau makan, bantulah saya – Aku arep mangan, ewang-
ewangono. Artinya supaya kita dibantu bisa makan dengan selamat
dan makanan itu juga baik untuk kita.
25
R u q y a h
“Semua saudara halusku, bantulah saya menyopir mobil ini atau
naik motor ini supaya selamat dan lancar sampai ke kampus atau ke
kantor”. Artinya supaya dibantu supaya tidak ada halangan maupun
kecelakaan.
“Semua saudara halusku, bantulah saya dalam bekerja, sehingga
pekerjaan saya lancar dan benar”.
Akrab dengan saudara halus
Tradisi Jawa meyakini hubungan akrab dengan semua saudara halus
bisa dilakukan dengan biasa melakukan komunikasi. Seperti juga
dalam pergaulan antar manusia, kalau sering terjadi komunikasi,
tentu hubungannya menjadi lebih terbiasa dan bahkan menjadi akrab.
Kalau sudah akrab, bisa terjadi hubungan yang saling membantu.
Jalinan komunikasi pertama adalah : Anda sering menyebut nama
mereka secara lengkap, satu per satu. Ini anda lakukan karena Anda
perlu minta dibantu atau dilindungi. Dengan menyebut mereka dan
minta bantuan itu artinya Anda mengakui keberadaan mereka dan
bahwa mereka adalah saudara-saudara anda yang anda sayangi dan
perlukan. Jadi menyebut mereka dan minta kerjasama mereka, itu
tidak merendahkan mereka maupun Anda. Itulah kenyataan yang
digariskan Gusti, sesuai Kejawen.
Seandainya Anda tidak pernah menyapa mereka, maka sebagai sesama
makhluk mereka juga merasa bahwa keberadaan mereka tidak Anda
perhatikan dan perlukan. Mereka akan tidak antusias mendampingi,
melindungi dan membantu Anda, meskipun itu tugas alami mereka
atas kehendak Gusti. Maka jangan heran kalau kita lihat banyak
teman, kenalan kita yang hidupnya kesandhung-sandhung – banyak
menghadapi kendala, sial, nasib jelek dan sebagainya. Mungkin saja
mereka tidak dibantu secara optimal oleh saudara-saudara halusnya
sendiri, selain ada masalah karma.
(dinukil dari Saudara Ghaib, www/sisableng.wordpress.com)
26
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Wuku
Siklus tujuh harian atau mingguan dalam kalender Jawa disebut sebagai
Wuku. Siklus Wuku setiap 210 hari karena ada 30 wuku yang memiliki sifat
dan karakter sendiri-sendiri serta mempengaruhi kehidupan manusia.
Nama-nama wuku itu adalah:
1. Sinta 11. Galungan 21. Maktal
2. Landep 12. Kuningan 22. Wuye
3. Wukir 13. Langkir 23. Manail
4. Kurantil 14. Mandhasiya 24. Prangbakat
5. Tolu 15. Julungpujut 25. Bala
6. Gumbreg 16. Pahang 26. Wugu
7. Warigalit 17. Kuruwelut 27. Wayang
8. Warigagung 18. Marakeh 28. Kulawu
9. Julungwangi 19. Tambir 29. Dhukut
10. Sungsang 20. Madhangkungan 30. Watugunung
Masing-masing wuku memiliki dewa, sifat, kayu, burung, bencana,
selamatan tolak bala, slawat, candra dan jabungkalajayabumi (arah
ancaman bahaya).
Misalnya Wuku Sinta: dewanya Batara Yamadipati yang laksana
pendeta, wataknya bagaikan raja, cemburu, besar nafsu, tidak sabar, sering
kecelakaan, lembut budi, enak bicaranya, tidak percayaan, banyak rejeki
kaya harta benda. Sifatnya memanggul panji-panji: memiliki kesenangan.
Kayunya kendayakan: menjadi naungan bagi orang sakit dan melarikan
diri. Burungnya gagak: tahu gelagat, cepat dalam segala pekerjaan.
Bencananya: mati setengah umur. Selamatan penolaknya nasi pulen beras
sapitrah (kurang lebih ¼ kg) dan daging kerbau seharga 21 ketheng (mata
uang kuno senilai ½ sen)yang dibeli tanpa menawar. Slawatnya 4 ketheng.
Candranya: Indra janma nestapa. Jabungkalajayabuminya di timur laut:
tujuh hari jangan pergi ke timur laut.
18
18 Petungan jawa, hal. 27.
27
R u q y a h
Tahun
Kalender Jawa atau Kalender Sultan Agung memiliki delapan tahun dengan
nama-nama yang diambul dari huruf Arab. Yaitu Alip, Ehe, Jimawal, Je,
Dal, Be, Wawu dan Jimakir. Karenanya sistem tahun ini disebut juga
sebagai Tahun Huruf. Tahun-tahun itu terbagi dua, yaitu dalam Tahun
Wastu (pendek) dan Wuntu (panjang). Tahun Wastu berumur 354 hari,
sementara Tahun Wuntu berumur 355 hari. Dalam tahun panjang, umur
Bulan Besar bertambah 1 hari menjadi 30 hari. Penetapan ini dilakukan
pada masa Sultan Agung, menyesuaikan dengan perhitungan tahun
Hijriyah.
Mirip dengan penanggalan dan Cina yang menamai tahun dengan
Shio berlambang binatang, Kalender Jawa juga memiliki tradisi sama.
Awal tahun baru yang jatuh pada tanggal 1 Sura akan memiliki nama se-
suai beberapa jenis binatang sesuai harinya
19
:
Jika 1 Sura jatuh pada Hari Ahad, maka disebut Tahun Dite Kalaba
(kelabang), jarang hujan.
Jika 1 Sura jatuh pada Hari Senin, maka disebut Tahun Soma Wrejita
(cacing), banyak hujan.
Jika 1 Sura jatuh pada Hari Selasa, maka disebut Tahun Anggara
Wrestija (katak), banyak hujan.
Jika 1 Sura jatuh pada Hari Rabu, maka disebut Tahun Buda Wisaba
(kerbau), banyak hujan.
Jika 1 Sura jatuh pada Hari Kamis, maka disebut Tahun Respati Mintuna
(mimi), banyak hujan.
Jika 1 Sura jatuh pada Hari Jumat, maka disebut Tahun Sukra
Minangkara (udang), jarang hujan.
Jika 1 Sura jatuh pada Hari Sabtu, maka disebut Tahun Menda
(kambing), jarang hujan.
19 Petungan Jawa, hal. 28.
28
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Windu
Dalam Kalender Jawa, siklus delapan tahunan disebut satu windu. Siklus
Windu sendiri ada empat macam
20
:
Kunthara : berarti ulah atau tingkah laku. Banyak tingkah laku
orang yang aneh dan belum pernah terjadi.
Songara : artinya banjir. Banyak luapan air yang besar.
Sancaya : artinya silaturahmi, sukaria dan bersahabat. Banyak
orang saling sepakat dan rukun.
Adi : artinya unggul. Banyak bangunan baru yang
menyenangkan.
Waktu Baik dan Jelek
Anggarakasih (Selasa kliwon)
Hari Anggara Kasih adalah hari Selasa-Kliwon. Hari ini oleh orang Jawa
dan Hindu Bali dianggap keramat. Dipercaya bahwa pada hari ini, Batara
Siwa turun ke bumi. Dalam tradisi Jawa, Bulan yang tidak memiliki hari
Anggarakasih dilarang untuk melaksanakan hajat nikah dan lainnya.
21

Dalam tahun Alip : Jumadilakir dan Besar
Dalam tahun Ehe : Rejeb
Dalam tahun Jimawal : Sura dan Ruwah
Dalam tahun Je : Sapar dan Ruwah
Dalam tahun Dal : Rabiulawal dan Puasa
Dalam tahun Be : Rabiulakir
Dalam tahun Wawu : Rabiulakir dan Dulkangidah
Dalam tahun Jimakir : Jumadilawal
20 Ibid, hal. 29.
21 Betaljemur, hal. 11.
29
R u q y a h
Bangas Padewan
Adalah tanggal dalam setiap bulan yang dilarang berhajat menikahkan
dan sebagainya. Larangan tersebut diberlakukan karena menurut tradisi
Jawa, pada hari itu merupakan hari kebangkitan Dewa Bangas Padewan
yang kerap menimpakan angkara murka di muka bumi. Bangas Padewan
diidentikan dengan kesialan dan kemalangan yang akan dialami orang
yang melanggar pantangan tersebut. Jika dilanggar amat berbahaya, akan
mendatangkan kesusahan.
22
Bulan dan tanggal Bangas
1. Sura : 11 7. Rejeb : 13 dan 27
2. Sapar : 20 8. Ruwah : 4 dan 28
3. Rabiulawal :1 dan 15 9. Puasa : 7 dan 20
4. Rabiulakir : 10 dan 20 10. Sawal : 10
5. Jumadilawal : 10 dan 11 11. Dulkangidah : 2 dan 22
6. Jumadilakir : 10 dan 14 12. Besar : 6 dan 20
Bulan Baik dan Jelek
23
Dalam setiap tahun Jawa yang berjumlah delapan, ada bulan-bulan yang
baik dan jelek. Keperluan hajat nikah dianjurkan dilaksanakan pada bu-
lan baik dan dihindari pada bulan jelek.
TAHUN BULAN BAIK BULAN BURUK
Alip 1 9 dan 11
Ehe 1,2,6,7,8 dan 10 4,9,11 dan 12
Jimawal 7,8 dan 10 1,2,3,5 dan 12
Je 4,5,6,7,8,9 dan 12 1,2,3,10 dan 11
Dal 6,7,9 dan 10 2,3,8 dan 11
22 Ibid, hal. 20.
23 Ibid, hal. 10
30
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Be 6 dan 12 1,2 dan 7
Wawu 2,3,4,5 dan 9 1,10,11 dan 12
Jumakir 3,5,7,8,10 dan 12 1 dan 11
Bulan Baik dan Jelek untuk Hajat Nikah dan Akibatnya
24

Bulan jelek dalam perhitungan Jawa tak boleh untuk hajat nikah. Namun
bulan-bulan itu memiliki derajat yang berbeda-beda. Ada yang sama
sekali tak boleh dilanggar, ada yang boleh dilanggar. Konsekuensi me-
nikah pada bulan-bulan tersebut diyakini ada bermacam-macam. Rinci-
annya sebagai berikut:
Sura : Jangan dilanggar. Jika dilanggar akan mendapat
kesukaran dan selalu bertengkar.
Sapar : Boleh dilanggar, namun akan kekurangan dan
banyak hutang.
Rabiulawal : Jangan dilanggar karena salah satu akan
meninggal.
Rabiulakir : Boleh dilanggar, namun akan sering dipergunjingkan
dan dicacimaki.
Jumadilawal : Boleh dilanggar, namun akan sering tertipu,
kehilangan dan banyak musuh.
Jumadilakir : Kaya akan harta benda.
Rejeb : Selamat dan banyak anak.
Ruwah : Selamat dan selalu damai.
Puasa : Jangan dilanggar, akan mendapat kecelakaan
besar.
Sawal : Boleh dilanggar, namun akan sering kekurangan
dan banyak hutang.
Dulkangidah : Jangan dilanggar, akan sering sakit dan bertengkar
dengan teman.
Besar : Akan kaya dan mendapat kebahagiaan.
24 Ibid, hal. 21 .
31
R u q y a h
Bulan Sarju
25
Sarju sebenarnya bermakna berkenan atau setuju. Namun Bulan Sarju
dimaknai sebagai bulan sedang, tidak terlalu baik namun juga tidak
jelek untuk melangsungkan berbagai urusan. Namun harinya harus
diperhatikan. Rinciannya sebagai berikut:
Bulan Besar, Sura dan Sapar harinya Jum’at
Bulan Rabiulawal, Rabiulakir dan Jumadilawal harinya Sabtu dan
Ahad
Bulan Jumadilakir, Rejeb dan Ruwah harinya Senin dan Selasa
Bulan Puasa, Sawal dan Dulkangidah harinya Rabu dan Kamis
Hari Jelek untuk Hajat Menikah
26
Bulan Jumadilakir, Rejeb dan Ruwah harinya Jum’at
Bulan Puasa, Sawal dan Dulkangidah harinya Sabtu dan Ahad
Bulan Besar, Sura dan Sapar harinya Senin dan Selasa
Bulan Rabiulawal, Rabiulakir dan Jumadilawal harinya Rabu dan
Kamis
Hari Jelek untuk Menikah Berdasarkan Kejadian yang Dialami Para
Nabi
27
Ada hari-hari yang dianggap jelek dalam tradisi Jawa karena diyakini
merupakan hari para nabi mengalami hal yang jelek. Antara lain:
13 Sura : konon pada hari itu Nabi Ibrahim dibakar oleh Raja
Namrud
3 Rabiulawal : konon pada hari itu Nabi Adam diturunkan ke
dunia dari surga
16 Rabiulakir : konon pada hari itu Nabi Yusuf dimasukkan ke
dalam sumur
25 Ibid, hal. 10.
26 Ibid, hal. 18.
27 Ibid, hal. 19.
32
Jin; Hakikat bukan Khurafat
5 Jumadilawal : konon pada hari itu umat Nabi Nuh diterjang
banjir
12 dan 21 Puasa : konon Nabi Musa berperang dengan Fir’aun pada
hari itu
24 Dulkangidah : hari ditelannya Nabi Yunus oleh ikan paus
25 Besar : hari masuknya Nabi Muhammad ke dalam Gua
(Tsur?)
Tanggal-tanggal ini menunjukkan pengaruh Islam dalam tradisi
Jawa. Sayang, aplikasinya justru menjadi hari jelek yang dipantangkan
untuk berhajat. Maksudnya mungkin mengingat sejarah para nabi tapi
terjerumus ke dalam syirik.
Hari Sangar
28
Secara bahasa sangar berarti mendatangkan bala dan bencana, angker
atau tidak subur. Hari sangar adalah hari yang jelek, tidak boleh untuk
hajat nikah dan hajat lainnya.
Bulan Puasa, Sawal, dan Dulkangidah hari sangarnya adalah Jum’at
Bulan Besar, Sura dan Sapar hari sangarnya adalah Sabtu dan Ahad
Bulan Rabiulawal, Rabiulakir dan Jumadilawal hari sangarnya Senin
dan Selasa
Bulan Jumadilawal, rejeb dan Ruwah hari sangarnya Rabu dan Kamis
Kunarpawarsa (tahun bencana)
29
Berasal dari kata kunarpa yang bermakna bangkai atau mayat dan warsa
yang berarti tahun. Dalam tahun Kunarpawarsa hari jelek yang dilarang
untuk menikah dan hajat lainnya. Hitungannya jatuh pada setiap tanggal
29 atau 30 bulan Besar.
Tahun Alip harinya Sabtu Paing
Tahun Ehe harinya Kamis Paing
28 Ibid.
29 Ibid, hal. 9.
33
R u q y a h
Tahun Jimawal harinya Senin Legi
Tahun Je harinya Jum’at Legi
Tahun Dal harinya Rabu Kliwon
Tahun Be harinya Ahad Wage
Tahun Wawu harinya Kamis Pon
Tahun Jimakir harinya Selasa Pon
Pantangan Bulan
30

Menurut primbon, melakukan hajat nikah dan sebagainya pada bulan-
bulan yang jelek akan menimbulkan musibah-musibah tertentu.
Rinciannya sebagai berikut:
Sakit atau kena racun jika melanggar pantangan bulan Jumadilakir
dan Dulkangidah pada tahun Alip.
Sakit tulang jika melanggar pantangan bulan Rabiulawal dan Puasa
pada tahun Ehe.
Tewas atau hanyut di sungai jika melanggar pantangan bulan
Rabiulawal dan Besar pada tahun Jimawal.
Sakit lepra jika melanggar pantangan bulan Sura dan Sawal pada
tahun Je.
Sakit demam/panas jika melanggar pantangan bulan Ruwah pada
tahun Dal.
Tersangkut perkara besar jika melanggar pantangan bulan Sapar dan
Rejeb pada tahun Be.
Sakit kepala jika melanggar pantangan bulan Jumadilawal pada tahun
Wawu.
Sakit ingatan jika melanggar pantangan bulan Sura dan Dulkangidah
pada tahun Jimakir.
30 Ibid, hal. 11.
34
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Perang dan Utang Sesuai Hari dan Pasaran
31
Dengan menghitung neptu hari dan pasaran akan diketahui nasibnya orang
yang akan maju berperang, berhutang ataupun menagih hutang. Caranya
neptu hari dan pasaran dijumlahkan, kemudian hasil penjumlahannya
akan menunjukkan nasibnya sebagai berikut:
Hasil 7,11 dan 15: lambangnya Janggleng (buah jati). Jika berperang
terasa lambat, sering kembali. Berhutang atau menagih tidak
berhasil.
Hasil 8,12 dan 16: lambangnya Celeng (babi hutan). Jika berperang
bingung. Berhutang atau menagih gagal.
Hasil 9,13 dan 17: lambangnya Nyangking. Jika berperang dapat
menyelesaikan. Mudah berhutang maupun menagih.
Hasil 10, 14 dan 18: lambangnya Kithing (cacat berupa dua jari
yang menyatu). Tak akan terjadi jika mau berperang. Akan gagal jika
berhutang atau menagih.
Melihat rumitnya hitungan keberhasilan berperang serta alternatifnya
yang lebih banyak gagal (lambat dan sering kembali, bingung dan batal)
daripada yang tidak gagal (itupun sekedar “dapat menyelesaikan),
mungkin inilah sebabnya orang Jawa cenderung antikonflik apalagi
perang. Perang membutuhkan keberanian mengambil keputusan
(decisive), tidak ragu-ragu maupun was-was. Sementara hitungan dan
ramalan Jawa justru melahirkan hal-hal tadi.
Perhitungan Hari Menurut Jam
32

Barangkali untuk mengatasi kesulitan, karena banyak dan rumitnya
pantangan hari atau waktu yang tak boleh digunakan melaksanakan
hajat atau bepergian, perhitungan Jawa mencoba “mengakali” konsep
hari dengan jam. Dengan teknik ini, meskipun pada hari itu sebenarnya
termasuk hari naas atau sial, bepergian atau hajat tertentu dapat dilakukan
pada jam tertentu. Caranya dengan memasukkan jam-jam tertentu pada
hitungan hari lain.
31 Ibid, hal. 159.
32 Ibid, hal. 121.
35
R u q y a h
Contohnya Hari Ahad:
Jam 6-8 dihitung tetap masuk hari Ahad
Jam 8-10 dihitung masuk hari Senin
Jam 10-11 dihitung masuk hari Selasa
Jam 11-1 dihitung masuk hari Rabu
Jam 1-3 dihitung masuk hari Kamis
Jam 3-5 dihitung masuk hari Jum’at
Jam 5-6 dihitung masuk hari Sabtu
Misalkan Ahad itu masuk dalam bulan Sura, sebenarnya Sabtu dan
Ahad pada bulan itu termasuk hari sangar. Tapi suatu hajat bisa saja
dilakukan, misalnya bepergian, asal pada jam 8-5 karena dihitung masuk
dalam hari Senin-Jum’at.
Saat Agung
33
Teknik “mengakali” hari naas dengan memilih jam juga ada dalam bentuk
lain. Segala keperluan bisa dilakukan pada hari apa saja asal memilih jam
yang sesuai dengan Saat Agung. Sistem perhitungan Saat Agung memiliki
tujuh saat, ada yang baik dan ada yang jelek. Rinciannya sebagai berikut:
Saat yang baik terdiri dari: Saat yang buruk terdiri dari:
Wiji, bersifat aman, tenteram, suka
dan senang.
Lara
Cahya, bersifat terang, pantas, selalu
tercapai maksudnya.
Malaekat
Rejeki, bersifat menjadi tempat
perlindungan, segalanya tercapai
dan baik.
Puji
Pati

33 Ibid, hal. 121.
36
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Saat agung ini memiliki fase yang berbeda pada setiap harinya.
Misalkan pada hari Senin, rincian saat agungnya sebagai berikut:
Wiji : jam 6-8
Cahya : jam 8-10
Lara : jam 10-11
Rejeki : jam 11-13
Malaekat : jam 13-15
Puji : jam 15-17
Pati : jam 17-18
Hitungan saat agung ini akan berbeda untuk setiap harinya. Maka
mengakali hari naas pun harus melihat tabelnya dalam primbon.
Saat Tertentu yang Harus Dihindari
34

Ada saat-saat tertentu yang harus dihindari untuk mengerjakan berbagai
keperluan.
Misalnya pada hari Ahad, dihindari mengerjakan keperluan pada jam
10-11 pagi dan jam 5-6 petang.
Hal ini terlihat kontradiktif dengan konsep perhitungan jam (lihat entri
Perhitungan hari menurut Jam) yang justru memasukkan jam 10-11 hari
Ahad dalam hitungan hari Selasa sehingga boleh saja melakukan suatu
keperluan meskipun pada hari yang naas.
Samparwangke
35

Samparwangke secara harfiah bermakna tersandung bangkai. Dalam
tradisi Jawa hal ini dianggap naas. Dalam siklus wuku yang 30 (lihat
entri Wuku), ada lima wuku yang memiliki hari samparwangke (hari
naas/sengkala) yang jatuh pada ringkel Aryang. Hari samparwangke
hendaknya dihindari untuk mengerjakan sesuatu karena menjadi hari
naasnya seseorang.
34 Ibid, hal. 123.
35 Ibid, hal. 8.
37
R u q y a h
1. Wuku Warigalit samparwangkenya Senin Kliwon
2. Wuku Bala samparwangkenya Senin Legi
3. Wuku Langkir samparwangkenya Senin Paing
4. Wuku Sinta samparwangkenya Senin Pon
5. Wuku Tambir samparwangkenya Senin Wage

Sangarwarsa
36
Maknanya tahun yang sangar, dilarang berhajat menikahkan dan lainnya.
Hitungannya tetap, jatuh setiap tanggal 3 bulan Sura.
Dalam tahun Alip sangarwarsa jatuh pada Jum’at Legi
Dalam tahun Ehe sangarwarsa jatuh pada Selasa Kliwon
Dalam tahun Jimawal sangarwarsa jatuh pada Ahad Kliwon
Dalam tahun Je sangarwarsa jatuh pada Kamis Wage
Dalam tahun Dal sangarwarsa jatuh pada Senin Pon
Dalam tahun Be sangarwarsa jatuh pada Sabtu Legi
Dalam tahun Wawu sangarwarsa jatuh pada Rabu Paing
Dalam tahun Jimakir sangarwarsa jatuh pada Ahad Legi

Taliwangke
37
Secara bahasa bermakna tali bangkai, sebuah hari yang naas dan sial.
Dalam siklus wuku yang 30 (lihat entri Wuku), ada enam wuku yang
memiliki hari Taliwangke. Hari Taliwangke hendaknya dihindari untuk
mengerjakan sesuatu yang perlu. Dengan nama dan lambang khas, hari
Taliwangke memiliki rincian sebagai berikut:
1. Somaye (Wuku Wuye): Senin Kliwon, berlambang Perangkap
Burung
2. Anggarayang (Wuku Wayang): Selasa Legi, berlambang Sinar
Berjalan Matinya Sapi Hutan
36 Ibid, hal. 9.
37 Ibid, hal. 8.
38
Jin; Hakikat bukan Khurafat
3. Bodanep (Wuku Landep): Rabu Paing, berlambang Ikan Pringga
Mati
4. Warigamis (Wuku Warigalit): Kamis Pon, berlambang Manusia
Mati
5. Sukraingan (Wuku Kuningan): Jum’at Wage, berlambang Tumbuh-
tumbuhan Rontok
6. Tumpaklote (Wuku Kuruwelut): Sabtu Kliwon, berlambang Kapas
Garing
Tanggal Naas
38
Masing-masing bulan memiliki tanggal naas yang dilarang untuk
menggelar hajat nikahan dan sebagainya.
1. Sura : 6 dan 11 7. Rejeb : 2 dan 14
2. Sapar : 1 dan 20 8. Ruwah : 12 dan 13
3. Rabiulawal : 10 dan 20 9. Puasa : 9 dan 20
4. Rabiulakir : 10 dan 20 10. Sawal : 10 dan 20
5. Jumadilawal : 1 dan 11 11. Dulkangidah: 12 dan 13
6. Jumadilakir : 10 dan 14 12. Besar : 6 dan 10
Tanggal Sangar
39
Agar terhindar dari akibat buruk, segala keperluan yang penting
hendaknya menghindari bulan, tanggal dan hari taliwangke berikut.
Sura tanggal 11, 14, 17 dan 27 serta hari Rabu Paing, jika dilanggar
akan berakibat halangan lebih besar.
Sapar tanggal 1, 12, 20 dan 22 serta hari Kamis Pon, jika dilanggar
berakibat sering sakit.
Rabiulawal tanggal 10, 13, 15 dan 23 serta hari Jum’at Wage, jika
dilanggar berakibat sakit perut.
38 Ibid, hal. 19.
39 Ibid, hal. 12.
39
R u q y a h
Rabiulakir tanggal 10, 15, 20 dan 25 serta hari Sabtu kliwon, jika
dilanggar berakibat sakit tulang.
Jumadilawal tanggal 10, 11, 16 dan 26 serta hari Senin Kliwon, jika
dilanggar berakibat sakit tulang.
Jumadilakir tanggal 3, 11, 14 dan 21 serta hari Selasa Legi, jika
dilanggar berakibat sakit ingatan.
Rejeb tanggal 2, 11 dan 22 serta hari Rabu Paing, jika dilanggar
berakibat keracunan.
Ruwah tanggal 14, 19, 24 dan 28 serta hari Kamis Pon, jika dilanggar
berakibat keracunan.
Puasa tanggal 10, 15, 20 dan 25 serta hari Jum’at Wage, jika dilanggar
berakibat sakit mata.
Sawal tanggal 2, 17, 20 dan 27 serta hari Sabtu Kliwon, jika dilanggar
berakibat kena perkara.
Dulkangidah tanggal 6, 11, 12 dan 21 serta hari Senin Kliwon, jika
dilanggar berakibat di dalam rumah bergantian sakit.
Besar tanggal 1, 13, 20 dan 23 serta hari Selasa Legi, jika dilanggar
berakibat kesusahan.
40
Jin; Hakikat bukan Khurafat
41
R u q y a h
KONSEP WAKTU DALAM ISLAM
P
ada dasarnya, dalam ajaran Islam tidak dikenal waktu berpantang.
Waktu, di luar pertimbangan yang bisa diterima oleh akal sehat,
tidak dapat mempengaruhi baik-buruknya akibat sebuah perbuatan
yang dilakukan. Sebab, penentuan baik-buruknya akibat mutlak dari
Allah SWT. Sekali lagi, kecuali untuk beberapa sebab khusus yang sudah
ditegaskan oleh sabda Nabi SAW, atau pertimbangan yang bisa diterima
oleh rasio.
Bepergian, misalnya. Dapat dilakukan kapan saja. Tidak ada waktu
tertentu yang secara dzatiyah-nya memiliki nilai magis yang dapat
menimbulkan akibat baik atau buruk. Kecuali beberapa pertimbangan
logis. Seperti malam hari, tidak dianjurkan bepergian karena kegelapan
yang membatasi pandangan, sehingga dikhawatirkan akan membuat
celaka. Atau, perubahan produksi hormon di dalam tubuh pada malam
hari yang membuat bekerja di malam hari dianggap tidak baik bagi
kesehatan.
Ada juga tuntunan Nabi SAW yang menekankan keadaan khusus pada
waktu-waktu tertentu. Seperti saat menjelang malam, kita dianjurkan
untuk memasukkan anak-anak kita ke rumah dan menutup pintu.
ٍ ذِ ئ
َ
ني ِ ح
ُ
ر ِ شَ ت
ْ
نَ ت
َ
ني ِ طا
َ
ي ّ شلا
ّ
نِ
ٕ
ا
َ
ف
ْ
م
ُ
كَ نا
َ
ي
ْ
ب ِ ص او
ّ
ف
ُ
ك
َ
ف
ْ
مُ ت
ْ
ي
َ
س
ْ
م
ٔ
ا
ْ
و
ٔ
ا
ِ
ل
ْ
ي
ّ
للا
ُ
ح
ْ
ن
ُ
ج
َ
نا
َ
ك ا
َ
ذِ
ٕ
ا
ِ ه
ّ
للا
َ
م
ْ
سا او
ُ
ر
ُ
ك
ْ
ذا
َ
و
َ
با
َ
و
ْ
ب
ٔ
ا
ْ
لا او
ُ
قِ ل
ْ
غ
ٔ
ا
َ
ف
ْ
م ُ هو
ّ
ل
ُ
ح
َ
ف
ِ
ل
ْ
ي
ّ
للا
ْ
نِ م
ٌ
ة َ عا
َ
س
َ
بَ ه
َ
ذ ا
َ
ذِ
ٕ
ا
َ
ف
او
ُ
ر
ّ
م َ خ
َ
و ِ ه
ّ
للا
َ
م
ْ
سا او
ُ
ر
ُ
ك
ْ
ذا
َ
و
ْ
م
ُ
ك
َ
ب
َ
رِ ق او
ُ
ك
ْ
و
ٔ
ا
َ
و ا
ً
ق
َ
ل
ْ
غ
ُ
م ا
ً
با
َ
ب
ُ
حَ ت
ْ
ف
َ
ي
َ
ال
َ
نا
َ
ط
ْ
ي ّ شلا
ّ
نِ
ٕ
ا
َ
ف
ْ
م
ُ
ك
َ
حيِ با
َ
ص
َ
م اوُ ئ ِ ف
ْ
ط
ٔ
ا
َ
و اً ئ
ْ
ي
َ
ش ا
َ
ه
ْ
ي
َ
ل َ ع او ُ ض
ُ
ر
ْ
عَ ت
ْ
ن
ٔ
ا
ْ
و
َ
ل
َ
و ِ ه
ّ
للا
َ
م
ْ
سا او
ُ
ر
ُ
ك
ْ
ذا
َ
و
ْ
م
ُ
كَ ت
َ
يِ ن
ٓ
ا
“Jika malam sudah menjelang atau masuk waktu sore maka jagalah batita
kalian sebab setan bergentayangan pada waktu itu. Jika sudah berlalu
42
Jin; Hakikat bukan Khurafat
sesaat maka biarkanlah mereka dan tutuplah pintu-pintu (rumahmu)
serta sebutlah nama Allah, karena setan tidak dapat membuka pintu yang
tertutup. Tutuplah geriba-geriba kalian dan sebutlah nama Allah, tutuplah
wadah-wadah kalian dan sebutlah nama Allah meskipun hanya dengan
melintangkan kayu di atasnya. Dan padamkanlah lampu-lampu kalian.”
1
Rasulullah menerangkan, setan bergentayangan pada jelang malam
hari. Hal-hal yang seharusnya kita lakukan pada saat itu, telah dijelaskan
oleh beliau.
Jadi, adanya waktu tertentu yang dinilai tidak baik untuk mengerjakan
suatu perbuatan, dasarnya ada dua:
Keterangan dari dalil yang jelas (Al-Qur’an dan sabda Nabi SAW).
Pertimbangan yang rasional, logis, dan diterima oleh akal sehat.
Pertimbangan semacam ini diperbolehkan dalam Islam.
Sedangkan dalam filosofi dan tradisi Jawa, baik-buruknya waktu tidak
didasarkan kepada dua hal di atas. Rata-rata didominasi kultur Hindu
yang menganggap peran dewa-dewa tertentu yang dapat membawa man-
faat dan madharat (bahaya), atau bahkan sama sekali tidak ada keteran-
gan sebab-musababnya serta penjelasan yang bisa diterima akal sehat.
Yang penting ini hari, bulan atau musim yang baik; lalu yang itu adalah
hari, bulan atau musim yang buruk.
Pertimbangan di luar dalil naqli (keterangan dari Al-Qur’an dan Sun-
nah) dan dalil aqli (rasio) semacam itu membuat pelakunya terjebak
melakukan kesyirikan. Mempercayai adanya sosok penguasa di waktu-
waktu tertentu yang dapat memberi izin sekaligus larangan pelaksanaan
suatu hajat. Bila ada izin, pasti hajat tersebut sukses. Sebaliknya, bila me-
langgar larangan, dipastikan bakal celaka.
1 HR Bukhari: X/88, Fathul Bari, dan Muslim: XIII/185, Syarh An-Nawawi.
43
R u q y a h
Tathayyur / Thiyarah
Kepercayaan mirip semacam itu, dalam Islam dikenal dengan nama
Tathayyur / Thiyarah. Berawal dari tradisi orang-orang di masa jahiliyyah.
Sebelum bepergian, mereka melepaskan burung terbang ke udara. Nah,
ke arah mana burung tersebut terbang itulah yang menentukan keputusan
apakah mereka melanjutkan rencana bepergian, atau membatalkannya.
Bila, misalnya, burung tersebut terbang ke Barat, diartikan sebagai
kesialan. Mereka pun membatalkan. Namun bila terbanng ke Timur,
dimaknai sebagai keberuntungan. Mereka pun melaksanan rencana
bepergian tersebut, dengan tambah optimistis bahwa kepergian mereka
akan membawa keberuntungan.
Itulah yang disebut dengan Tathayyur atau akrab juga disebut Thiyarah.
Mensikapi hal tersebut, Rasulullah SAW menegaskan :
يِ ن
ُ
ب ِ ج
ْ
ع
ُ
ي
َ
و ،
َ
ل
ْ
و
َ
غ
َ
ال
َ
و
َ
ء
ْ
وَ ن
َ
ال
َ
و ،
َ
ر
َ
ف
َ
ص
َ
ال
َ
و
َ
ة
ّ
ما َ ه
َ
ال
َ
و
َ
ة
َ
ر
ْ
ي ِ ط
َ
ال
َ
و ى
َ
و ْ د َ ع
َ
ال
ُ
ل
ْ ٔ
ا
َ
ف
ْ
لا
”Tidak ada ‘Adwa (penyakit menular), tidak Thiyarah (merasa sial), tidak
ada Haamah (burung hantu), tidak ada Nau' (ramalan bintang/zodiak),
tidak ada Ghaul (nama jin), dan aku menyukai Al-Fa’l (optimistis).”
2
KETERANGAN HADITS
Adwa : penjangkitan atau penularan penyakit. Maksud sabda Nabi
di sini adalah untuk menolak anggapan mereka ketika masih
hidup di zaman jahiliyah, bahwa penyakit berjangkit atau
menular dengan sendirinya, tanpa kehendak dan takdir Allah.
Anggapan inilah yang ditolak oleh Rasulullah, bukan keberadaan
penjangkitan atau penularan, karena dalam riwayat lain, setelah
hadits ini, disebutkan:
2 HR Muslim, Kitab as-Salam, Bab La ‘Adwa, wa La Thiyaroh, wa La Haamah,wa La Nau. Da-
lam kelengkapan hadits tersebut, saat Rasulullah menyebutkan, “Tidak ada penyakit menular
(dengan sendirinya),” seorang Arab badui bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan
sekelompok unta yang sehat di padang pasir, kemudian didatangi oleh seekor unta kud-
isan, kemudian unta yang sehat itu kudisan pula semuanya?” Jawab Rasulullah SAW, “Lalu,
siapakah penular yang pertama-tama?” Penegasan beliau SAW adalah, penyakit itu tidak
menular dengan sendirinya. Ada yang membuatnya menular ke makhluk lain, yaitu Allah.
44
Jin; Hakikat bukan Khurafat
ِ د
َ
س
ٔ
الا
َ
نِ م ا
ْ
و
ّ
رِ فَ ت
َ
ا
َ
مكِ
ْ
م
ُ
و
ْ
ذ
َ
ج
ْ
ملا
َ
نِ م ا
ْ
و
ّ
رِ ف
َ
و
“… dan menjauhlah dari orang yang terkena penyakit kusta
(lepra ) sebagaimana kamu menjauh dari singa.” (HR Al-
Bukhari).
Ini menunjukkan bahwa penjangkitan atau penularan penyakit
itu tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Semuanya atas
kehendak dan takdir ilahi. Namun, sebagai insan mukmin, di
samping mengimani takdir tersebut ia harus berusaha untuk
melakukan tindakan preventif sebelum terjadi penularan
sebagaimana usahanya menjauh dari terkaman singa. Inilah
hakikat iman kepada takdir ilahi.
Thiyarah : merasa bernasib sial atau meramal nasib buruk karena melihat
burung, binatang lainnya, atau apa saja.
Hamah : burung hantu. Orang-orang jahiliyah merasa bernasib sial
dengan melihatnya. Apabila ada burung hantu hinggap di
atas rumah salah seorang di antara mereka, ia merasa bahwa
burung ini membawa berita kematian tentang dirinya sendiri
atau salah satu anggota keluarganya. Rasulullah bermaksud
untuk menolak anggapan yang tidak benar ini. Seorang muslim
jangan sampai beranggapan seperti ini. Semua adalah dari
Allah dan sudah ditentukan oleh-Nya.
Shafar : Bulan kedua dalam tahun hijriyah, yaitu bulan sesudah
Muharram. Orang-orang jahiliyah beranggapan bahwa bulan ini
membawa nasib sial atau tidak menguntungkan. Yang demikian
dinyatakan tidak ada oleh Rasulullah. Dan termasuk dalam
anggapan seperti ini : merasa bahwa hari rabu mendatangkan
sial, dan lain lain. Hal ini termasuk jenis thiyarah, dilarang
dalam Islam. Namun, ada pula yang mengartikan "Shafar" di
sini sebagai "kematian yang disebabkan oleh cacing perut."
Nau’: bintang. Arti asalnya adalah tenggelam atau terbitnya suatu
bintang. Orang-orang jahiliyah menisbatkan turunnya hujan
kepada bintang ini atau bintang itu. Islam datang mengikis
anggapan seperti ini. Tidak ada hujan turun karena suatu
bintang tertentu, tetapi semua itu adalah ketentuan dari Allah.
45
R u q y a h
Ghaul: hantu atau gendruwo, salah satu makhluk jenis jin. Mereka
beranggapan bahwa hantu ini—dengan perubahan bentuk
maupun warnanya—dapat menyesatkan seseorang dan
mencelakakannya. Adapun maksud sabda Nabi di sini bukanlah
tidak mengakui keberadaan makhluk seperti ini, tetapi menolak
anggapan mereka yang tidak baik tersebut, yang membawa
akibat takut kepada selain Allah serta tidak bertawakal kepada-
Nya. Inilah yang ditolak oleh beliau, karena itu dalam hadits
lain beliau bersabda, “Apabila hantu beraksi manakut-nakuti
kamu maka serukanlah azan.” (HR Ahmad). Maknanya, tolaklah
kejahatannya itu dengan berzikir dan menyebut Allah.
Inti hadits di atas adalah menegaskan, bahwa segala sesuatu terjadi
karena ada yang menciptakan, menyebabkan dan mengaturnya. Dia-
lah Allah, Al-Khaliq, yang mengatur segala sesuatunya. Oleh sebab itu,
mempercayai ada waktu, musim, gejala alam, kejadian tertentu yang
bersifat khusus yang memiliki pengaruh ghaib, adalah syirik. Rasulullah
SAW bersabda :

ٌ
ك
ْ
ر ِ ش
ُ
ة
َ
ر
َ
ي
ّ
طل
َ
ا
ٌ
ك
ْ
ر ِ ش
ُ
ة
َ
ر
َ
ي
ّ
طل
َ
ا
“Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik!”
Dalam kesempatan lain, beliau SAW menegaskan:

َ
ل
ْ
و
ُ
س
َ
ر ا
َ
ي
َ
كِ لذ
ُ
ة
َ
را
ّ
ف
َ
ك ا
َ
م
َ
و :ا
ْ
و
ُ
لا
َ
ق .
َ
ك
َ
ر
ْ
ش
ٔ
ا ْ د
َ
ق
َ
ف ِ هِ ت
َ
جا
َ
ح
ْ
نَ ع
ُ
ة
َ
ر
َ
ي
ّ
طلا ُ هْ ت ّ د
َ
ر
ْ
ن
َ
م
َ هلِ
ٕ
ا
َ
ال
َ
و
َ
ك
َ
ر
َ
ي ِ ط
ّ
الِ
ٕ
ا
َ
ر
ْ
ي ِ ط
َ
ال
َ
و
َ
ك
ُ
ر
ْ
ي َ خ
ّ
الِ
ٕ
ا
َ
ر
ْ
ي َ خ
َ
ال
ّ
م
ُ
ه
ّ
لل
َ
ا :
َ
ل
ْ
و
ُ
ق
َ
ي
ْ
ن
ٔ
ا :
َ
لا
َ
ق ؟ِ هللا
َ
ك
ُ
ر
ْ
ي
َ
غ
“Barang siapa yang mengurungkan/menghentikan hajatnya/keperluannya
karena thiyarah maka dia telah melakukan kesyirikan.” Sahabat bertanya,
”Wahai Rasulullah, apa kafarat (penebus) nya ?” Beliau menjawab, “(Dan
kafarat/penebusnya) adalah mengucapkan doa:
َ
ك
ُ
ر
ْ
ي
َ
غ َ هلِ
ٕ
ا
َ
ال
َ
و
َ
ك
َ
ر
َ
ي ِ ط
ّ
الِ
ٕ
ا
َ
ر
ْ
ي ِ ط
َ
ال
َ
و
َ
ك
ُ
ر
ْ
ي َ خ
ّ
الِ
ٕ
ا
َ
ر
ْ
ي َ خ
َ
ال
ّ
م
ُ
ه
ّ
لل
َ
ا
"Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan Engkau dan tidak ada
kesialan kecuali dari Engkau (yang telah engkau tetapkan) dan tidak ada
46
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Ilah yang berhak diibadahi melainkan Engkau.”
3
Beliau SAW juga bersabda:
“Apabila salah seorang di antara kalian melihat apa yang dia benci,
hendaklah ia berdoa:

َ
ل
ْ
و
َ
ح
َ
ال
َ
و َ تْ ن
ٔ
ا
ّ
الِ
ٕ
ا ِ تاَ ئ
ّ
ي
ّ
سلا
ُ
ع
َ
ف ْ د
َ
ي
َ
ال
َ
و ، َ تْ ن
ٔ
ا
ّ
الِ
ٕ
ا ِ تا
َ
ن
َ
س
َ
ح
ْ
لاِ ب يِ ت
ْ ٔ
ا
َ
ي
َ
ال
ّ
م
ُ
ه
ّ
لل
َ
ا

َ
كِ ب
ّ
الِ
ٕ
ا
َ
ة
ّ
و
ُ
ق
َ
ال
َ
و
<Ya Allah tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Engkau, dan tidak
ada yang menolak keburukan kecuali Engkau, dan tidak ada daya dan kekuatan
kecuali dengan izin-Mu>.»
4
Mencela Waktu / Musim
Dalam kepercayaan Jawa, terdapat hari, bulan atau waktu tertentu yang
memiliki pantangan. Dilarang bercocok-tanam, menikah, berdagang, atau
aktivitas lain. Bila dilanggar akan celaka. Kepercayaan seperti ini meyakini
bahwa waktu tersebutlah yang menyebaban untung atau rugi; celaka atau
bahagia—bukan Allah SWT. Ini adalah syirik akbar.
Rasulullah SAW bersabda:
َ
را
َ
ه
ّ
نلا
َ
و
َ
ل
ْ
ي
ّ
للا
ُ
ب
ّ
ل
َ
ق
ٔ
ا
ُ
ر
ْ
م
ٔ
الا يِ د
َ
يِ ب
ُ
ر ْ ه ّ دلا اَ ن
ٔ
ا
َ
و
َ
ر ْ ه ّ دلا
ّ
ب
ُ
س
َ
ي
َ
م َ د
ٓ
ا
ُ
ن
ْ
با يِ ني ِ ذْ ؤ
ُ
ي
"Anak Adam telah menyakiti-Ku dia suka mencela masa. Padahal Aku
pencipta masa. Akulah yang menggilir siang dan malam." (HR. Bukhari
Muslim).
Dalam menjelaskan makna "mencela waktu" yang terdapat dalam
sebuah hadits Nabi SAW, Syaikh Ibnu Utsaimin menerangkan:
"Mencela waktu ada tiga bentuk:
1. Memberikan kabar, tanpa ada maksud celaan. Seperti ucapan, «Kami
sangat lelah, karena hari ini sangat panas—atau sangat dingin,»
atau perkataan lain yang semisal. Yang demikian diperbolehkan,
karena panas atau dinginnya cuaca bisa membuat seseorang merasa
kelelahan.
3 HR. Ahmad, dalam musnad dari Abdullah bin Amr RA.
4 HR. Abu Dawud, Kitab ath-Thib bab Thiyaroh no. 3919
47
R u q y a h
2. Mencela waktu, karena meyakini waktu tersebutlah «pelaku.» Waktu
tersebutlah yang membuat sesuatu itu menjadi celaka atau bahagia.
Keyakinian seperti ini adalah bentuk syirik akbar! Karena meyakini
ada zat selain Allah ada Pencipta lain, dan menisbahkan terjadinya
suatu perkara kepada selain Allah.
3. Meyakini bahwa semuanya telah diatur oleh Allah.Ia mencela waktu,
karena waktu tersebut menjadi tempat terjadinya suatu kesialan,
bencana, atau hal-hal yang dibenci. Ucapan seperti ini hukumnya
haram, tidak sampai membuat pelakunya kafirTidak secara langsung
mencela Allah. Dikatakan haram, karena menafikan perintah untuk
bersabar terhadap turunnya musibah."
5

Dari uraian tentang kepercayaan Jawa terkait waktu di halaman
sebelumnya, rata-rata kepercayaan tersebut dilandasi karena memang
waktu tersebut memiliki “sesuatu” yang mampu membuat baik atau
buruknya sebuah perkara. Ini, sebagaimana paparan Syaikh Ibnu Utsaimin
di atas, adalah syirik. Bahkan syirik akbar! Na’udzubillah.
Ilmu Nujum
Salah satu pedoman yang dipakai dalam tradisi Jawa terkait dengan
penentuan waktu baik dan waktu buruk, adalah ilmu nujum/perbintangan.
Dalam Islam, praktik nujum adalah haram. Meramal nasib dengan
gerakan-gerakan bintang dan bentuknya termasuk dalam apa yang
diistilahkan dengan ilmu ta`tsir, yaitu keyakinan bahwa bintang-bintang
memberi pengaruh di alam ini. Ilmu ini haram hukumnya. Ilmu ini terbagi
tiga macam; sebagiannya lebih haram daripada yang lainnya:
Pertama : meyakini bahwa bintang-bintang itulah yang
menjadikan peristiwa-peristiwa di alam ini baik
berupa kebaikan ataupun kejelekan, sakit ataupun
sehat, paceklik ataupun panen raya, dan selainnya.
Sumber kejadian di alam ini adalah gerakan-
gerakan dan bentuk-bentuk bintang. Keyakinan
ini merupakan penentangan kepada Sang Pencipta
‘Azza wa Jalla, karena menganggap adanya pencipta
selain Dia, dan merupakan kekufuran yang nyata
berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin.
5 Fatawa Al-‘Aqidah: I/197.
48
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Kedua : seseorang tidak meyakini bahwa bintang-bintang
itu yang menjadikan peristiwa di alam ini. Tapi
menurutnya bintang-bintang itu hanya sebab yang
memberi pengaruh. Tang menciptakan tetaplah
Allah ‘Azza wa Jalla. Keyakinan ini pun batil, karena
Allah tidak pernah menjadikan bintang-bintang
itu sebagai sebab, dan bintang tersebut tidak ada
hubungannya dengan apa yang berlangsung di
alam ini.
Ketiga : menjadikan bintang-bintang sebagai petunjuk atas
kejadian yang akan datang. Ini merupakan bentuk
pengakuan terhadap ilmu gaib, masuk dalam
katagori perdukunan serta sihir. Hukumnya kafir
menurut kesepakatan kaum muslimin.
6
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
َ دا َ ز ا
َ
م َ دا َ ز ،
ِ
ر
ْ
ح
ّ
سلا
َ
نِ م
ً
ة
َ
ب
ْ
ع
ُ
ش
َ
س
َ
بَ ت
ْ
قا ِ د
َ
ق
َ
ف
ِ
م
ْ
و
ُ
ج
ّ
نلا
َ
نِ م
ً
ة
َ
ب
ْ
ع
ُ
ش
َ
س
َ
بَ ت
ْ
قا
ِ
ن
َ
م
“Barang siapa yang mempelajari sebagian dari ilmu nujum (perbintangan)
sesungguhnya dia telah mempelajari sebagian ilmu sihir. Semakin bertambah
(ia mempelajari ilmu nujum) semakin bertambah pula (dosanya).” (HR
Abu Dawud dengan sanad yang shahih)
Padahal sihir termasuk:

ِ
ر
ْ
ح
ّ
سلاِ ب
ٌ
قّ د
َ
ص
ُ
م
َ
و
ِ
م
ْ
ح
ّ
رلا
ُ
ع ِ طا
َ
ق
َ
و
ِ
ر
ْ
م َ خ
ْ
لا
ُ
نِ م ْ د
ُ
م ،
َ
ة
ّ
ن
َ
ج
ْ
لا
َ
ن
ْ
و
ُ
ل ُ خْ د
َ
ي
َ
ال
ٌ
ة
َ
ث
َ
ال
َ
ث
“Tiga orang yang tidak akan masuk surga: pecandu khamar (minuman
keras), orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan, dan orang yang
mempercayai sihir
7
”. (HR Ahmad dan Ibnu Hibban dalam Shahih-
nya).
Allah menciptakan bintang-bintang bukan untuk dijadikan sebagai
saranan untuk meramal nasib. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam
kitab Shahih-nya dari Qatadah RA, bahwa ia berkata:
6 Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, Muhammad Al-Utsaimin: II/5–6.
7 Mempercayai sihir yang di antara macamnya adalah ilmu nujum (astrologi), sebagaimana
yang telah dinyatakan dalam hadits: “Barang siapa yang mempelajari sebagian dari ilmu
nujum, maka sesungguhnya dia telah mempelajari sebagian dari ilmu sihir….”
49
R u q y a h
“Allah menciptakan bintang bintang ini untuk tiga hikmah : sebagai hiasan
langit, sebagai alat pelempar setan, dan sebagai tanda untuk petunjuk (arah
dan sebagainya). Maka barang siapa yang berpendapat selain hal tersebut
maka ia telah melakukan kesalahan, dan menyia-nyiakan nasibnya, serta
membebani dirinya dengan hal yang di luar batas pengetahuannya.”
Wallahu a’lam.
Mengapa tradisi Jawa tersebut dikategorikan syirik dan
terlarang?
No. Nama Tradisi Keterangan
Mengapa dianggap
syirik?
1 Kalender
Jawa
Ada tujuh hari. Masing-
masing memiliki makna
berbeda, berdasarkan
pandangan ahli nujum dan
petungan Jawa.
Hukum
mempraktikkan
dan mempercayai
ramalan bintang
adalah haram.
2 Jam (Sa'at) Nilai dan makna khsusus
dalam jam-jam tertentu.
Ditentukan oleh nilai neptu
yang diperhitungkan dari
hari dan pekannya
Tidak ada dalilnya
dalam Islam. Tradisi
ini mirip dengan
praktik Thiyarah.
3 Naga dan
Rijalolah
Mencari perpaduan hari,
pasaran, tahun, windu dan
mangsa yang menghasilkan
penyatuan karakter baik.
Suatu hal yang dilakukan
pada hari dengan karakter
jelek terganggu usaha
sehingga banyak kendala,
bahkan mengalami
kegagalan.
Serupa dengan
Thiyarah. Juga
merupakan celaan
terhadap waktu /
musim.
4 Neptu Nilai yang disandarkan
pada pasaran, hari,
pekan, bulan dan tahun.
Dalam perkembangannya
neptu merupakan hasil
“penemuan para ahli
nujum dan sarana ilmu
perhitungan (primbon).”
Terdapat unsur
Thiyarah dan ilmu
nujum di dalamnya.
50
Jin; Hakikat bukan Khurafat
5 Nujum Adalah ilmu ramalan
bintang (astrologi). Namun
dalam perkembangannya
nujum digunakan untuk
menyebut semua jenis
ramalan.
Ilmu nujum adalah
haram.
6 Weton Paduan hari dan pasaran
saat seseorang dilahirkan,
misalnya Senin Wage atau
Jum’at Pon. Weton memiliki
peran sentral dalam
perhitungan dan ramalan
nasib Jawa.
Mirip dengan
Thiyarah. Meyakini
bahwa waktu
tertentu memiliki
pengaruh ghaib yang
khusus.
Namun, jika
penggunaan weton
sebatas identifikasi
waktu (misalnya
penanggalan
kelahiran, undangan
dan sebagainya),
tanpa ada
keyakinan manfaat
dan madharat di
dalamnya, tidak
mengapa.
7 Wuku Siklus tujuh harian atau
mingguan dalam kalender
Jawa. Memiliki sifat dan
karakter sendiri-sendiri serta
mempengaruhi kehidupan
manusia.
Mirip dengan
Thiyarah. Meyakini
bahwa waktu
tertentu memiliki
pengaruh ghaib
yang khusus. Juga
merupakan celaan
terhadap waktu /
musim
8 Penetapan
tahun
Mirip dengan penanggalan
dan Cina yang menamai
tahun dengan Shio
berlambang binatang.
Awal tahun baru yang
jatuh pada tanggal 1 Sura
akan memiliki nama sesuai
beberapa jenis binatang
sesuai harinya.
Termasuk Thiyarah
dan pencelaan
terhadap waktu.
51
R u q y a h
9 Windu Siklus per delapan tahun.
Masing-masing windu
memiliki makna tersendiri
terkait sial atau bahagia;
untung atau celaka.
Termasuk Thiyarah
dan pencelaan
terhadap waktu.
Selama sebatas
identifikasi
waktu, tanpa ada
keyakinan manfaat
dan madharat di
dalamnya, tidak
mengapa.
10 Bulan, hari
dan waktu
yang baik dan
yang buruk
Penentuan bulan, hari dan
waktu tertentu sebagai
patokan untuk melakukan
atau menunda pekerjaan.
Seperti Anggarakasih, Bagas
Padewan, Samparwangke,
Taliwangke, Sangarwangsa,
dan sebagainya.
Termasuk Thiyarah.
Hukum Menggunakan Kalender Hijriah dibandingkan
Kalender Jawa
Hukum penggunaan kalender Hijriyah
Nash-nash (dalil-dalil) syar'i menunjukkan wajibnya menggunakan
kalender Qomariyah (berdasarkan peredaran bulan)yang kita kenal
dengan kalender Hijriyah, di antara dalil-dalil tersebut adalah firman
Allah :
...l:`.· s «\>N¦ ¯_· ´_> ·.·´.. !.ll ´~>l¦´.
"Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: 'Bulan sabit
itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji'."(Al-
Baqarah: 189)
Allah menjadikan Hilal (bulan sabit) sebagai tanda berawal dan dan
berakhirnya bulan, maka dengan munculnya Hilal dimulailah bulan baru
52
Jin; Hakikat bukan Khurafat
dan berakhirlah bulan yang telah lalu. Maka jadilah hilal-hilal itu sebagai
patokan waktu, dan ini menunjukkan bahwa hitungan bulan adalah
Qomari karena keterkaitannya dengan peredaran bulan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Maka Dia (Allah)
mengabarkan bahwa Hilal-hilal itu adalah patokan waktu bagi manusia,
dan ini umum dalam setiap urusan mereka, lalu Allah menjadikan Hilal-
hilal itu sebagai patokan waktu bagi manusia dalam hukum-hukum yang
ditetapkan oleh syari'at, baik sebagai tanda permulaan ibadah maupun
sebagai sebab diwajibkannya sebuah ibadah, dan juga sebagai patokan
waktu bagi hukum-hukm yang ditetapkan berdasarkan syarat yang
dipersyaratkan oelh seorang hamba. Maka hukum-hukum yangditetapkan
dengan syari'at atau dengan syarat maka patokan waktunya berdasarkan
Hilal, dan masuk ke dalam hal ini puasa, haji, ilaa' (sumpah dari seorang
suami untuk tidak men-jima' (berhubungan badan) istrinya dalam watu
kurang dari 40 hari), dan 'iddah (masa menunggu setelah dicerai)."
Allah SWT berfirman :
_| :´.s ¸.·.:l¦ ..s ´<¦ !..¦ ´¸:s ¦,¯.: _· ...é ´<¦ »¯.. _l>
.´...´.l¦ _¯¸N¦´.
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan,
dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi." (At-
Taubah: 36)
Allah menyifati penghitungan waktu dengan menggunakan peredaran
bulan, dan bahwasanya bulan-bulan Qomari apabila sampai pada bilangan
ini (12) dinamakan sebagai satu tahun. Dan inilah makna bilangan bulan
dalam ayat di atas.
Al-Fakhr ar-Razi berkata, "Para ulama berkata bahwa wajib bagi kaum
muslimin berdasarkan ayat ini untuk menghitung dalam perdagangan mereka,
waktu jatuh tempo utang mereka, zakat mereka, dan hukum-hukum yang lain
dengan peredaran bulan, dan tidak boleh menghitungnya dengan perhitungan
tahun selain hijriyah (masehi dan lain-lain)."
8
Dan beliau rahimahullah menyebutkan bahwa bulan-bulan yang
dianggap (diperhitungkan) di dalam syariat Islam patokanya/landasan
adalah dengan melihat bulan, dan tahunnya adalah tahun Qomariyah
8 At-Tafsir al-Kabir: XVI/53
53
R u q y a h
(hijriyah).
9

Dalil dari hadits
Adapun dalil dari hadits adalah sabda Rasulullah SAW:
ُ ه
َ
ل ا
ْ
و
ُ
ر ُ د
ْ
قا
َ
ف
ْ
م
ُ
ك
ْ
ي
َ
ل َ ع
ّ
م
ُ
غ
ْ
نِ
ٕ
ا
َ
ف ا
ْ
و
ُ
ر ِ ط
ْ
ف
ٔ
ا
َ
ف
ُ
ه
ْ
و
ُ
مُ ت
ْ
ي
ٔ
ا
َ
ر ا
َ
ذِ
ٕ
ا
َ
و ا
ْ
و
ُ
م
ْ
و
ُ
ص
َ
ف
َ
ل
َ
ال
ِ
ه
ْ
لا
ُ
مُ ت
ْ
ي
ٔ
ا
َ
ر ا
َ
ذِ
ٕ
ا
"Apabila kalian melihat hilal (awal Ramadhan) maka berpuasalah, dan
apabila kalian melihatnya (pada akhir bulan) maka berbukalah (Idul fithri).
Maka apabila kalian tertutupi mendung genapkanlah bulan dengan tiga
puluh."
10
Rasulullah SAW menjadikan akhir bulan Sya>ban dan masuknya bulan
Ramadhan dengan melihat hilal, dan diqiyaskan dengan hal ini bulan-
bulan yang lain.

Dan kesimpulan dari dalil-dalil di atas secara tegas menyatakan
bahwa yang dipraktekkan dan dijadikan perhitungan adalah kalender
Hijriyah, hal itu yang menguatkan wajibnya berpegang teguh dengannya
dan bukan dengan kalender-kalender selainnya. Dan kalender ini cocok
dengan keadaan-keadaan manusia, karena ia cocok bagi setiap bangsa
karena mudahnya dan gampang dikomusikasikan untuk masing-masing
pihak. Dan generasi awal (salaf) umat Islam dari kalangan Shahabat RA,
dan Tabi'in telah bersepakat dalam penggunaan kalender ini.
Syaikh Muhammad Al-Utsaimin rahimahullah berkata, "Perhitungan
kalender harian dimulai dari terbenamnya matahari, dan bulan dimulai dengan
munculnya hilal, dan tahun dimulai dari hijrah (hijrah Nabi), dan inilah yang
dipraktekkan oleh kaum Muslimin, yang mereka ketahui dan dijadikan perhitungan
oleh Ahli Fiqih dalam kitab-kitab mereka."
11
Dan berdasarkan pembahasan yang telah lalu, maka penggunaan
kalender Hijriyah dan masehi mempunyai beberapa keadaan:
9 At-Tafsir al-Kabir: XVII/35-36
10 HR Al-Bukhari 2/674 dan Muslim 2/762
11 Adh-Dhiya' al-Lami' min Khuthbah al-Jawami' hlm. 307
54
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Pertama: Menggunakan kalender Hijriyah saja
Hukum dari keadaan ini adalah bahwasanya petunjuk Syari'at mengarah
pada kewajiban mengamalkan kalender Hiriyah, dan bahwasanya
penghitungan waktu-waktu ibadah berdasar padanya dan itu adalah
syi'ar dan simbol Islam.
Kedua: Menggunakan kalender Hijriyah dan Jawa secara bersamaan
Telah kami sebutkan pada keadaan pertama bahwa pada asalnya
perhitungan yang harus digunakan adalah kaelender Hiriyah, dan
hukum ini mencakup seluruh idividu dan negeri-negeri Islam. Akan
tetapi tidak mengapa untuk memanfaatkan kalender masehi, akan tetapi
hanya sebagai pembantu kalender Hijriyah, yang dia (kalender masehi)
disebutkan di belakang kalender masehi ketika dibutuhkan atau ketika
ada maslahat yang kuat. Contohnya kita katakan, "Sekarang tanggal 23
Muharram 1432 bertetpatan dengan ... Suro."
Tidak mengapa kita kita mengambil—bukan mengganti—perhitungan
(kalender) umat-umat lain yang bermanfaat bagi kita dalam beberapa
kesempatan dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan perkara-
perkara dunia. Adapun yang berkaitan dengan musim yang empat,
dan penggunaannya dalam mengatur matapencaharian, pekerjaan, dan
pendidikan, maka hal ini tidak ada kaitannya dengan pembahasan kita
tentang kalender Hijriyah maupun Jawa.
Ketiga: Menggunakan kalender Jawa saja
Berdasarkan pembahasan yang telah lalu bahwasanya kalender Jawa
berkaitan dengan agama dan kebudayaan Jawa (yang belum tentu sesuai
dengan Islam). Ini tampak jelas dari nama-nama bulan yang ada dalam
kalender masehi. Maka sebagian besar nama-nama itu adalah nama
berhala yang berkaitan tuhan-tuhan Nasrani, atau nama-nama kaisar atau
nama-nama pendeta mereka. Oleh sebab itu penetapan kalender masehi
sebagai simbol bagi suatu Negara dan menggunakan perhitungan tanggal
dengannya dalam berbagai hal adalah bentuk tasyabbuh (meniru-niru)
orang Nasrani, dantelah banyak nash-nash Syar'iat yang mengharamkan
hal tersebut. Di antara nash tersebut adalah sabda Rasulullah SAW :

ْ
م
ُ
هْ ن ِ م
َ
و
ُ
ه
َ
ف
ٍ
م
ْ
و
َ
قِ ب َ ه
ّ
ب َ شَ ت
ْ
ن
َ
م
55
R u q y a h
"Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia bagian dari kaum
itu."
12

Hadits di atas mengandung larangan tasyabbuh dengan simbol-simbol
orang kafir, hari raya mereka kebiasaan-kebiasaan dan seragam-seragam
mereka serta apa-apa yang menjadi kekhususan mereka. Dan penggunaan
kalender Jawa masuk ke dalam ciri khas orang-orang yang kurang saleh
(penganut Kejawen) ataupun tradisi Hindu.
Pada era kenabian Muhammad, sistem penanggalan pra-Islam diguna-
kan. Pada tahun ke-9 setelah Hirah, turun ayat 36-37 surat At-Taubah, yang
melarang menambahkan hari (interkalasi) pada sistem penanggalan.
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan,
(sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit
dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama
yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang
empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana
mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah
beserta orang-orang yang takwa.
Sesungguhnya pengunduran (bulan haram) itu hanya menambah
kekafiran. Orang-orang kafir disesatkan dengan (pengunduran) itu, mereka
menghalalkannya suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang
lain, agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang diharamkan
Allah, sekaligus mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Oleh
setan) dijadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan buruk
mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang
kafir.”
12 HR Abu Dawud dan Ahmad 2/50, 2/92 dengan sanad yang masih diperselisihkan.
56
Jin; Hakikat bukan Khurafat
57
R u q y a h
TRADISI KEJAWEN SAAT BAYI DALAM
KANDUNGAN HINGGA LAHIR
Selamatan Wanita Hamil
Slametan berasal dari kata slamet (Arab: salamah) yang berarti selamat,
bahagia, sentausa. Selamat dapat dimaknai sebagai keadaan lepas dari
insiden-insiden yang tidak dikehendaki. Menurut Clifford Geertz, slamet
berarti gak ana apa-apa (tidak ada apa-apa), atau lebih tepat “tidak akan
terjadi apa-apa” (pada siapa pun). Konsep tersebut dimanifestasikan
melalui praktik-praktik slametan. Slametan adalah kegiatan-kegiatan
komunal Jawa yang biasanya digambarkan oleh ethnografer sebagai pesta
ritual, baik upacara di rumah maupun di desa, bahkan memiliki skala yang
lebih besar, mulai dari tedak siti (upacara menginjak tanah yang pertama),
mantu (perkawinan), hingga upacara tahunan untuk memperingati ruh
penjaga. Dengan demikian, slametan merupakan memiliki tujuan akan
penegasan dan penguatan kembali tatanan kultur umum. Di samping
itu juga untuk menahan kekuatan kekacauan (talak balak). Dalam tradisi
slametan, unsur yang dicari bukanlah makan bersama di tempat si
empunya hajat, melinkan oleh-oleh berupa berkat (berkah) yang diyakini
sebagai makanan “bertuah.”
Dalam Primbon Betaljemur Adammakna, kehamilan selalu diiringi
ritual selamatan (slametan) setiap bulannya :
Bulan I : slametan dengan bubur abor-abor (bubur sumsum).
Bulan II : slametan dengan aneka makanan:
1. Nasi tumpeng kuluban (urap). Jenis sayur kuluban
harus ganjil
2. Bubur merah (beras merah diberi gula merah)
58
Jin; Hakikat bukan Khurafat
3. Bubur putih (beras dengan santan)
4. Bubur merah putih (bubur putih di bawah, bubur
merah di atas)
5. Bubur baro-baro (bubur dedak halus diberi gula
merah dan parutan kelapa)
6. Pipis kental (tepung beras diberi garam, santan,
gula merah, dibungkus daun pisang lalu dikukus)
7. Segala macam jajan pasar dan kembang boreh
Bulan III : slametannya sama dengan Bulan II
Bulan IV : slametan dengan hidangan:
1. Nasi Punar (nasi kuning gurih) dengan lauk daging,
jeroan dan mata kerbau serta sambal goreng.
2. Apem.
3. Ketupat, dengan jenis Sinta, jago, Sidalungguh
dan Luwar.
Bulan V : slametan dengan hidangan berupa:
1. Nasi kuluban
2. Ulat-ulatan dari tepung beras yang diwarnai merah
dan hitam
3. Ketan mancawarna (aneka warna)dihidangkan
dengan enten-enten gula kelapa
Bulan VI : slametan dengan apem kocor dengan juruh gula
merah dan santan
Bulan VII : Lihat entri Slametan 7 bulan
Bulan VIII : slametan dengan hidangan bulus angrem, serabi
yang ditelungkupkan pada kelepon. Serabinya ibarat
bulus, kelepon ibarat telurnya.
Bulan IX : slametan dengan bubur procot. Jika telah lewat
sembilan bulan mendekati 10 bulan, diadakan
slametan dengan dawet plencing.
59
R u q y a h
Slametan setiap bulan kini sudah jarang dilakukan, namun khusus
slametan empat dan tujuh bulan masih membudaya di kalangan keluarga
Jawa, baik di desa maupun di kota.
Selamatan 4 Bulan (Ngupati)
Slametan bulan keempat kehamilan dipandang istimewa dalam tradisi
Jawa. Slametan ini disebut ngupati atau kupatan. Ngupati berasal dari
kata kupat atau ketupat, makanan yang terbuat dari beras dengan daun
kelapa (janur) sebagai pembungkus. Tradisi ngupati adalah slametan
yang bertujuan untuk memohon kepada Tuhan, agar anak yang masih
dalam kandungan ibu tersebut memiliki kualitas baik, sesuai dengan
harapan orangtua. Slametan ini biasanya menggunakan kupat sebagai
hidangan utama . Sebagian kalangan meyakini bahwa tradisi ngupati ini
penting karena dihubungkan dengan keyakinan Islam bahwa janin dalam
kandungan ditiupkan ruh pada umur empat bulan.
Selamatan 7 Bulan (Mitoni/Tingkeb)
Slametan tujuh bulan kandungan disebut juga mitoni, berasal dari kata
pitu (tujuh). Disebut juga Tingkeb atau tingkeban. Tingkep berarti tutup,
ada yang memaknai tingkeban ini sebagai upacara atau slametan penutup,
padahal dalam primbon ada slametan dalam setiap bulannya. Ada juga
yang memaknai tingkeban ini penutup karena setelah usia kandungan
tujuh bulan si isteri tak boleh lagi dicampuri oleh suaminya sampai masa
nifas berakhir.
Dalam slametan tujuh bulan, syaratnya cukup banyak dan padat.
Antara lain:
1. Dipilih hari Rabu atau Sabtu dengan tanggal ganjil sebelum 15ﺯ
2. Si ibu dimandikan keramas dengan air kembang setaman, tepung
beras mancawarna (tujuh macam warna), mangir, daun pandan wangi
dan daun kemuning. Yang memandikan adalah dukun atau kerabat
yang paling tua dengan siwur (gayung batok kelapa).
3. Ketika dimandikan si ibu duduk di atas tikar beralaskan daun apa-apa,
keluwih, kara, dadap srep, ilalang dan beraneka jenis kain. Kainnya
antara lain letrek, jingga, banguntalak, sindur, sembagi, selendang
lurik puluhwatu, yuyusekandang dan mori putih.
60
Jin; Hakikat bukan Khurafat
4. Sesajen berupa nasi kuluban dan jajan pasar
5. Bubur merah, putih dan procot
6. Berbagai macam ampyang (nasi kering, ketela, kacang, wijen) yang
digoreng sangan (tanpa minyak) dan dicampur gula merah
7. Emping ketan digoreng sangan dicampur gula merah dan parutan
kelapa
8. Tumpeng robyong (dalam cething nasi) berlauk telur rebus, ikan, terasi,
disertai bawang merah dan cabai yang ditusuk lidi dan diletakkan
ddi pucuknya. Di lerengnya diberi ikan, krupuk dan berbagai macam
kuluban.
9. Penyon (semacam kue lapis kue beras)
10. Sampora (kue berbentuk tempurung dari tepung beras, diisi gula
merah)
11. Pring sedapur (kue tepung beras berbentuk tumpeng kecil berjumlah 9
pasang ditanami batang kecil 7 warna dari tepung beras)
Selain itu disiapkan sebuah kelapa gading yang digambari wajah dewa
Kamajaya dan Dewi Kamaratih, atau Arjuna dan Sembadra atau Panji dan
Candrakirana. Si ibu hamil berganti kain setelah mandi, perutnya diikat
longgar dengan lawe merah, putih dan hitam. Kemudian dukun atau
mertuanya menjatuhkan teropong (alat memintal benang), diterima oleh
ibu itu sendiri/dukun. Sambil mengatakan: pria atau wanita pun mau
asalkan selamat. Lalu dijatihkan kelapa gading bergambar tadi sambil
berkata: jika pria seperti Kamajaya, Arjuna atau Panji; jika wanita seperti
Kamaratih, atau Sembadra atau Candrakirana.
Setelah itu ibu hamil tadi memakai 7 helai kain secara bergantian. Dari
kain pertama sampai ketujuh orang tuanya mengatakan: belum pantas.
Kain tadi dibiarkan berserakan dan diduduki. Setelah itu baru memakai
kain lagi sebagai kemben, tak berbaju, tak berhias maupun memahai
perhiasan apapun. Setelah itu orang tuanya berkata: sudah pantas, sudah
pantas.
Di samping hidangan-hidangan tadi, ada juga acara makan rujak
buah. Kepercayaan mitologi dari sebagian masyarakat Jawa, di saat ibu
hamil makan rujak, jika dia merasa pedas atau kepedasan, maka besar
kemungkinan bayi yang dikandung adalah laki-laki, demikian juga
sebaliknya.
61
R u q y a h
Dalam tradisi lainnya juga, hingga kini masih diamalkan di desa-desa,
setelah upacara tujuh bulan perempuan hamil selalu membawa pisau
kecil atau gunting agar tidak diganggu oleh hyang jahat. Ini merupakan
pengaruh agama Tu dan Yang yang berkembang dari Asia Asia Tengah
dan meluas sampai ke Indonesia. Beberapa tradisi di Cina, Korea hingga
Polinesia menampakkan pengaruh yang sama, termasuk dalam upacara
tujuh bulan bagi wanita hamil.
Mengetahui Jenis Kelamin Janin
Dalam primbon, jenis kelamin bayi dapat diketahui meski masih di dalam
perut ibunya. Caranya bukan dengan USG namun dengan perhitungan.
Caranya ada orang yang bertanya: jika si bayi keluar pria atau wanita.
Kemudian neptu huruf nama si penanya dijumlahkan dengan neptu hari
dan pekan ketika ia bertanya, lalu jumlahnya dibagi dengan angka 3.
Jawabannya sebagai berikut:
Jika sisa pembagiannya 1 berarti janin itu pria.
Jika sisa pembagiannya 2 maka wanita.
Jika sisa pembagiannya 3 maka jenis kelaminnya.
Waktu Kelahiran Bayi Sesuai Hari dan Jam
Primbon Betaljemur Adammakna mencatat bahwa saat bayi lahir sebagai
berikut:
Ahad pukul 6, 7, 11, 1 atau 5
Senin pukul 8, 10, 1, 3 atau 5
Selasa pukul 7, 10, 12, 2 atau 5
Rabu pukul 7, 9, 12, 2 atau 4
Kamis pukul 8, 11, 1, 3 atau 4
Jum’at 8, 10, 12, 3 atau 4
Sabtu 7, 9, 11, 2 atau 4
Tidak diterangkan waktu-waktu apa yang dimaksud. Kemungkinan
besar waktu-waktu di atas adalah waktu yang baik untuk kelahiran bayi.
62
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Padahal kelahiran bayi berlangsung secara sunatullah dan dipengaruhi
banyak faktor. Tak jelas mengapa jam-jam di atas menjadi istimewa
dibandingkan waktu-waktu lainnya.
Doa Menjelang Kelahiran
Menurut Dewi Siti Fatimah, menjelang kelahiran dibaca doa sebagai
berikut:
Ungiduhu bilwakidi samadiminsari kulidikasad
1
Sementara jika kelahiran sulit atau menunggu lama membaca:
Mani luwih retna mulya, kama putih retna gumilang, pangeran tana
gumilang, rasa mawa karsa, dat mutrat nur putih mud putih mas kerat
sukma eling rasa urip jatining ana, nur langgeng sipat urip, nur dat, nur
Mohammad.
Tak jelas siapa Dewi Siti Fatimah, mungkin yang dimaksud adalah
putri Rasulullah, Fatimah RA. Doa pertama berbau bahasa Arab, namun
artinya agak membingungkan. Sementara doa kedua lebih mirip mantera,
namun diakhiri dengan istilah yang masyhur di kalangan sufi, yaitu nur
Muhammad. Di sini nampak sinkretisasi yang kental, mencampuradukkan
konsep doa, nisbah kepada ahlul bait, mantera dan konsep sufi.
Setelah bayi lahir: adzan, iqomat dan dukun
Setelah bayi dilahirkan, sebelum diberi adzan pada telinga kanan dan
qomat pada telinga kiri, bayi tidak boleh disentuh orang lain kecuali dukun.
Dipercaya bahwa bayi yang baru lahir masih suci, terbuka hatinya, tulang-
tulang, urat, darah, daging dan dzatnya. Jika sampai tersentuh orang yang
berdosa maka akan terkejut, tulang, urat dan dzat akan tertutup rapat.
Karena itu sunat diberi adzan untuk menolak godaan iblis yang disebut
Omisijan. Menangisnya bayi pada saat dilahirkan diyakini karena digoda
iblis, ditusuk dengan jari kanan dan kirinya. Jika diberi adzan si iblis tidak
berani mengganggu. Primbon juga mengajarkan membacakan surat “Inna
anjalna..,” mungkin yang dimaksud adalah Surat Al-Qadar, pada telinga
kanan. Sementara pada telinga kiri dibacakan surat “Kulhu” (Al-Ikhlas)
tiga kali pada telinga kiri.
1 Mungkinkah maksudnya adalah: U'idzuhu bil Wahidis Shamad min kulli hasad (Aku
menjadikan Al-Wahid As-Shamad (Allah) sebagai pelindung dari segala sesuatu yang
mendengkinya) ? Wallahu A'lam.
63
R u q y a h
Memotong Usus (Ari-Ari)
Usus diurut agar darahnya terkumpul lalu dipotong memakai welat (pisau
yang terbuat dari bambu wulung. Memotongnya harus dilapisi kunyit.
Setelah dipotong, darah yang keluar disapukan ke bibir si bayi. Setelah
dipakai welat dicuci agar bisa digunakan lagi pada kelahiran berikutnya.
Penggunaan welat bergantian ini memunculkan istilah “sedulur tunggal
welat” alias saudara yang dipotong ari-arinya dengan welat yang sama.
Jika welat tidak disimpan, maka dapat ditanam bersama dengan ari-ari
dan kunyitnya.
Sedulur Papat Lima Pancer
Dalam kelahiran setiap bayi, kepercayaan Kejawen meyakini empat
sedulur (saudara) yang bersama lahir dan menyertai si bayi. Konsep ini
disebut sedulur papat lima pancer, empat saudara dan yang kelima di
tengah. Konsep ini memiliki takwil yang bermacam-macam:
Dalam pemikiran Jawa pra-Islam, konon konsep ini berasal adalah
penyelarasan antara jagad kecil (manusia-mikrokosmos) dengan jagad
besar alam semesta (makrokosmos). Empat saudara yang ada di jagad
besar adalah empat kiblat yang ada yaitu timur, selatan, barat dan utara.
Ditambah saudara pancer yaitu di tengah, tempat manusia itu berada.
Sedangkan empat saudara yang berkaitan dengan jagad kecil (manusia)
adalah apa-apa yang mengiringi kelahirannya. “Saudara Empat” itu
adalah Marmati, Kawah, Ari–ari (plasenta/ tembuni) dan Darah yang
umumnya disebut Rahsa. Semua itu berpusat di Pusar yaitu berpusat di
Bayi.
Mengapa disebut Marmati, kakang Kawah, Adhi Ari – Ari, dan Rahsa?
Marmati itu artinya Samar Mati (Takut Mati) Umumnya bila seorang ibu
mengandung sehari - hari pikirannya khawatir karena Samar Mati. Rasa
khawatir tersebut hadir terlebih dahulu sebelum keluarnya Kawah (air
ketuban), Ari – ari, dan Rahsa. Oleh karena itu Rasa Samar Mati itu lalu
dianggap Sadulur Tuwa (Saudara Tua).
Perempuan yang hamil saat melahirkan, yang keluar terlebih dahulu
adalah Air Kawah (Air Ketuban) sebelum lahir bayinya, dengan demikian
Kawah lantas dianggap Sadulur Tuwa yang biasa disebut Kakang (kakak)
Kawah.
64
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Bila kawah sudah lancar keluar, kemudian disusul dengan ahirnya si
bayi, setelah itu barulah keluar Ari – ari (placenta/ tembuni). Karena Ari
– ari keluar setelah bayi lahir, ia disebut sebagai Sedulur Enom (Saudara
Muda) dan disebut Adhi (adik) Ari-Ari.
Setiap ada wanita yang melahirkan, tentu saja juga mengeluarkan Rah
(Getih=darah) yang cukup banyak. Keluarnya Rah (Rahsa) ini juga pada
waktu akhir, maka dari itu Rahsa itu juga dianggap Sedulur Enom.
Puser (Tali pusat) itu umumnya gugur (Pupak) ketika bayi sudah
berumur tujuh hari. Tali pusat yang copot dari pusar juga dianggap
saudara si bayi. Pusar ini dianggap pusatnya Saudara Empat. Dari situlah
muncul semboyan ‘Saudara Empat Lima Pusat’
Pengertian asal ini kemudian berkembang dengan adanya pengaruh
agama Hindu. Sedulur papat (empat saudara) kemudian dimaknai sebagai
unsur alam yang menjadi pembentuk jasad manusia. Empat anasir ini
adalah bumi/tanah, air, api dan angin. Sedang yang kelima pancer adalah
diri manusia itu sendiri.
Bagi orang Jawa semua ’sedulur’ tadi harus diruwat, dirawat dan
dihormati dengan cara diselamati dengan ‘bancakan’ atau tumpengan.
Mereka semua dianggap ‘pamomong’ atau penjaga manusia. Biasanya
penyebutan untuk mereka dan sekalian untuk unsur-unsur alam semesta
disebut dengan “sedulurku sing lahir bareng sedino, sing ora lahir bareng
sedino, sing kerawatan lan sing ora kerawatan.” Artinya : “Saudaraku yang
lahir bersamaan sehari denganku (air ketuban, ari-ari, darah kelahiran,
tali plasenta,dan ruh/jiwa ), saudara yang tidak lahir bersamaan (unsur
alam semesta), yang terawat maupun yang tidak terawat.”
Konsep sedulur papat lima pancer ini kemudian berkembang lagi
dengan adanya pengaruh Islam. Konon, Sunan Kalijaga menambahkan
pengertian baru yang bernafaskan Islam. Empat saudara itu adalah empat
jenis nafsu manusia sedangkan yang kelima pancer adalah hati nurani
atau "alam rahsa / sirr." Unsur empat nafsu adalah nafsu aluamah, sufiyah,
amarah dan muthmainah. Unsur-unsur tersebut kemudian dilambangkan
dalam bentuk gunungan pada wayang.
Nafsu aluamah berkaitan dengan insting dasar manusia. Yaitu keinginan
untuk makan, minum, berpakaian, bersenggama dan sebagainya.
Dikatakan bahwa nafsu aluamah ini terjadi karena pengaruh unsur tanah
yang menjadi unsur pembentuk jasad manusia. Dalam gunungan wayang,
nafsu aluamah dilambangkan dengan binatang kera.
65
R u q y a h
Nafsu sufiyah berkaitan dengan keinginan duniawi untuk dipuji, untuk
kaya, mendapat derajad dan pangkat, loba, tamak dan lain-lain. Nafsu
ini berpadanan dengan sifat udara yang menjadi unsur pembentuk jasad.
Sifat dari udara adalah selalu ingin memenuhi ruang selagi ruang itu
kosong. Dalam gunungan wayang, nafsu sufiyah dilambangkan dengan
binatang banteng.
Nafsu amarah berkaitan dengan keinginan untuk mempertahankan
harga diri, rasa marah, dan emosi. Dikatakan nafsu ini mendapat
pengaruh dari sifat panas api yang menjadi pembentuk jasad manusia.
Dalam gunungan wayang, nafsu amarah dilambangkan dengan binatang
harimau.
Nafsu muthmainah adalah nafsu yang mengajak ke arah kebaikan.
Dikatakan bahwa nafsu ini mendapat pengaruh sifat air yang juga menjadi
pembentuk jasad manusia. Dalam gunungan wayang, nafsu muthmainah
dilambangkan dengan binatang merak.
Untuk penyebutan unsur kelima atau pancer ada bermacam-
macam penafsiran. Ada yang mengatakan Nur Muhammad, ada yang
mengartikan sebagai ‘guru sejati’, ada yang menyebut ‘roso jati sejatining
roso’ (rasa sejati, sejatinya rasa). Intinya saudara pancer yang kelima itu
adalah unsur ’super ego’ yang menjadi sumber nilai bagi manusia. Ada
pula yang mengartikan pancer sebagai “bashiroh” yaitu mata hati yang
bersumber dari kesejatian ‘min Ruhi’ yang dianugerahkan oleh ilahi.
Dalam perspektif yang mencoba mengakurkan konsep Kejawen
dengan tasawuf Islam, keempat nafsu yang ada harus ‘dirawat’, diatur,
diseimbangkan dan harus berjalan dibawah kendali akal dalam bimbingan
hidayah ilahi. Itulah makna dari ‘angaweruhi’ (merawat) sedulur papat
limo pancer.
Tatacara Membuang Ari-Ari
Pentingnya ari-ari sebagai salah satu unsur “sedulur papat” membuat ia
diperlakukan khusus dalam tradisi Jawa. Ari-ari diletakkan dalam kendil
(kuali tanah liat) dengan dialasi daun sente (talas) dan diberi kembang
boreh, minyak wangi, kunyit yang dipakai saat memotong ari-ari, garam,
jarum, benang, ikan petek, gantal (gulungan daun sirih yang diikat
dengan benang lawe) dua buah. Juga disertakan kemiri gepak jendul,
kertas bertuliskan huruf Jawa, Arab dan latin serta uang segobang.
66
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Kendil kemudian ditutup dengan lemper dan dibungkus dengan kain
mori yang baru. Setelah itu kendil bisa dihanyutkan ke sungai, digantung
di pojok rumah bagian luar atau ditanam dalam tanah. Yang melakukan
harus ayah si bayi dengan berpakaian rapi, berkeris dan mencangkul
sendiri lubang untuk menanamnya. Kemudian, pada setiap hari weton si
bayi, kubur ari-ari tersebut diberi sesaji kembang telon.
Ada kebiasaan lain terkait ari-ari tersebut. Jika bayi rewel, menangis
terus dan tak bisa dihentikan dengan berbagai cara, maka tempat
menanam ari-arinya disiram dengan air dingin.
Selamatan tedak siten (turun tanah)
Peringatan tedak-siten/tujuhlapanan atau 245 (dua ratus empat puluh
lima) hari sedikit istimewa, karena untuk pertama kali kaki si bayi
diinjakkan ke atas tanah. Untuk itu diperlukan kurungan ayam yang
dihiasi sesuai selera. Jika bayinya laki-laki, maka di dalam kurungan juga
diberi mainan anak-anak dan alat tulis menulis serta lain-lainnya (jika
si bayi ambil pensil maka ia akan menjadi pengarang, jika ambil buku
berarti suka membaca, jika ambil kalung emas maka ia akan kaya raya,
dan sebagainya) dan tangga dari batang pohon tebu untuk dinaiki si
bayi tapi dengan pertolongan orang tuanya. Kemudian setelah itu si Ibu
melakukan sawuran duwit (menebar uang receh) yang diperebutkan para
tamu dan anak-anak yang hadir agar memperoleh berkah dari upacara
tedak siten.
Tatacara menyapih bayi
Sebuah proses yang dilaksanakan untuk memisahkan bayi dari susuan
ibunya, karena dianggap sudah waktunya, biasanya setelah bayi berumur
2 tahun. Anak dikelilingkan rumah sebanyak tiga kali. Lalu ia dibawa ke
sebuah pohon pisang yang di bawahnya telah diberi jembangan berisi
air kembang setaman dan dilapisi tape ketan. Kepala si anak kemudian
dibenturkan perlahan ke pohon pisang sambil membaca mantra: “Sang
Wewe Putih, kowe tak upahi tape sepengaron nanging janji bisa nyapih si
jabang bayi, aja nganti nangis.” (Wahai Wewe Putih, kuberi upah tape satu
jembangan asalkan dapat menyapih si bayi jangan sampai menangis.
67
R u q y a h
Setelah itu si anak diminumi ramuan kunir, ketumbar, terawas yang
ditumbuk dan diberi sedikit air. Ampasnya dibuat tapel (ditempelkan di
kepala) dengan dibubuhi kapur sedikit.
Supitan (Khitanan) dan Tetesan
Supitan adalah khitan bagi anak lelaki, sementara tetesan bagi anak
perempuan. Namun tetesan hanyalah khitan simbolik, yang dipotong
adalah kunyit/kunir. Yang khas, sebagaimana ritual-ritual lainnya, selalu
ada selamatan dengan hidangan dan sesaji tertentu. Hidangan dan sesajinya
berupa bubur merah dan putih, baro-baro, tumpeng gundul (tanpa lauk),
gula merah 1 tangkep, sebuah kelapa utuh, empluk berisi: beras, kemiri,
kluwak , pisang ayu, sirih kuning, pinang dengan tangkainya, kembang
telon, kemenyan, lawe, ayam hidup dan lain-lain.
Untuk supitan sajen ditambah besi tua (gerangan) berupa sabit,
cangkul, pisau atau linggis yang diletakkan di atas nampan.
Obat-obatan untuk Ibu dan Bayi
Primbon Jawa yang bersifat ensiklopedis memuat juga beraneka resep
dan ramuan obat atau jamu. Periode kehamilan, kelahiran, menyusui dan
perkembangan bayi dilengkapi dengan beraneka obat-obatan dan jamu.
Antara lain:
Jamu untuk wanita hamil
Obat setelah bersalin
Obat memperbanyak air susu
Obat, tapel dan pupuk (bedak) bayi
Obat melahirkan prematur
Obat dan rapal melahirkan terlalu lama
Obat ari-ari tak keluar
Obat wanita agar dicintai suami
Obat ingin punya anak
Obat jika datang bulan
68
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Obat bayi sakit cacar/gabag
Obat cacar untuk bayi dan orang tua
Obat bayi sakit sawan
Obat bayi sakit kembung
Obat bayi sakit panas
Obat bayi muntaber
Yang menarik, jamu dan obat-obatan tadi dilengkapi juga dengan
rapalan, mantra dan ritual tertentu yang bersifat klenik. Hal ini didasari
anggapan bahwa gangguan kesehatan disebabkan karena godaan dan
gangguan makhluk halus. Aneka rapal dan mantra tadi berifat bujukan
agar makhluk halus tadi tak mengganggu. Biasanya juga disertai
“sogokan” berupa sesaji dan hidangan tertentu.
69
R u q y a h
SYIRIK DAN BID'AH
DALAM TRADISI SLAMETAN BAYI
D
i antara syubhat yang melanda kaum Muslimin ketika
dihadapkan kepada tradisi-tradisi non-Islam, adalah pertanyaan:
"Itu hal yang baik… kenapa dilarang? Mana sisi buruknya?"
Hal serupa pula mungkin yang hinggap di benak kita, setelah membaca
uraian tradisi Jawa di atas. "Namanya slametan, maksudnya adalah doa
dan pengharapan kepada Yang Maha Kuasa. Kok dilarang..” Dan, betapa
banyak ritual dan tradisi non-Islam yang diaku-akukan sebagai sesuatu
yang mempunyai kemiripan bentuk dan filosofinya dengan Islam. “Cara
dan ritual bisa berbeda, namun tujuannya satu, yaitu Allah,” kilah yang
sering kita dengar.
Fenomena di atas hampir mirip dengan asbabun nuzul (sebab turunnya)
ayat ke-3 surat Az-Zumar. Diriwayatkan oleh Juwaibir dari Ibnu Abbas,
bahwa ada tiga suku bangsawan (Bani Amir, Bani Kinanah dan Bani
Salamah) yang menyembah berhala. Mereka beranggapan bahwa malaikat
adalah putri-putri Allah. Mereka pun beralasan, tujuan menyembah
berhala semata-mata hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah.
1

Kemudian, turunlah firman Allah yang menampik semua klaim mereka:
N¦ ´< ..I¦ l!>'¦ _·.I¦´. ¦..>´¦ . .«..: ´.!´,l.¦ !.
¯.>..-. N| !...¯,1`.l _|| ´<¦ ´_.l`¸ _| ´<¦ `.>>´ `.±... _· !. ¯.> «.·
_.±l.>´ _| ´<¦ N _.±. . ´.> '...´ "¸!±é ¯

“Ingatlah! Hanya milik Allah-lah dien yang murni (dari syirik). Dan
orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami
tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka
mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.”
1 Al-Qur’an Miracle, hal 914.
70
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang
mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak akan memberi petunjuk kepada
pendusta dan orang yang sangat ingkar.” (Az-Zumar: 3).
Ayat tersebut menyatakan ajaran Islam sebagai sebuah ajaran mandiri,
mempunyai aturan dan tata-laksanan sendiri yang sama sekali tidak sama
dengan ajaran lain. Kalau pun ada ajaran lain yang mirip atau bahkan
sama, maka motivasi saat mengamalkannya adalah mengamalkan ajaran
Islam, bukan ajaran lain. Puasa pada hari-hari tertentu yang sudah ada
sebelum Nabi Muhammad SAW di utus, misalnya. Kalau pun kemudian
Nabi menetapkannya sebagai ajaran Islam, maka dalam melaksanakan
puasa tersebut motivasi kita adalah melaksanakan syariat Muhammad
SAW, bukan syariat sebelumnya.
Lalu, bagaimana dengan tradisi yang sama sekali berbeda, kemudian
diaku-akukan sebagai cara yang mempunyai tujuan akhir yang sama?
Islam adalah syariat. Kejawen adalah syariat lain. Masing-masing
berdiri sendiri, dan tidak ada kaitan satu dengan yang lain.
Kepada Siapa Memohon Keselamatan?
Tradisi Jawa terkait dengan bayi yang berada dalam kandungan hingga
lahir, umumnya berupa slametan. Ritual, sesajian berikut dengan
filosofi yang dikandung di dalamnya, mengacu kepada sebuah doa dan
pengharapan agar sang jabang bayi selamat selama dalam kandungan, dan
kelak lahir menjadi manusia yang baik dan berguna bagi sesama. Apalagi,
sebagaimana disebutkan di awal pembahasan, slametan juga dimaksudkan
untuk tolak balak. Masalahnya, kepada siapa kita berdoa dan berharap?
Balak dari mana yang kita khawatirkan akan turun, yang oleh karenanya
kita mengadakan slametan untuk (berharap dapat) menangkalnya?
Slametan memiliki tujuan akan penegasan dan penguatan kembali
tatanan kultur umum. Di samping itu juga untuk menahan kekuatan
kekacauan (talak balak). Dalam tradisi slametan, unsur yang dicari
bukanlah makan bersama di tempat si empunya hajat, melainkan
oleh-oleh berupa berkat (berkah) yang diyakini sebagai makanan
“bertuah.”
Berdoa kepada selain Allah untuk memenuhi kebutuhan atau menolak
bala atau untuk mencari kesembuhan dari penyakit kesemuanya dapat
71
R u q y a h
mengotori akal dan membutakan mata hati. Allah berfirman:
¯_· ¦.`s..¦ . _.: ´<¦ !. N !.`-±.. N´. !.¯¸.. :,.´. ´_ls !..!1s¦
.-. :| !´...> ´<¦ _.ll´ «.´.±.`.¦ _.L.´.:l¦ _· ¯¸N¦ _¦´¸¯.> .`«I
'..>.¦ .«..`s.. _|| _.±l¦ !...¦ ¯_· ´_| _.> ´<¦ ´.> _.±l¦
!.`¸.¦´. ´.l`..l .,l _..l.-l¦ ¯¸
"Katakanlah, 'Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu
yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak
(pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan
dikembalikan ke belakang sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita."
(Al-An'am : 71).
Berdoa kepada «sesuatu» yang tidak dapat memberikan manfaat dan
mudharat, yang tidak mampu memerintah dan melarang, tidak mampu
mendengar dan tidak mampu memperkenankan doa, baik itu dari
kalangan para nabi dan rasul, jin atau malaikat, bintang-bintang atau
benda langit lainnya, pepohonan dan bebatuan serta orang-orang yang
sudah mati, kesemuanya adalah kezhaliman yang besar, merupakan
kesesatan dari jalan yang lurus dan perbuatan syirik terhadap Allah yang
Maha Agung. Allah berfirman:
N´. ~.. . _.: ´<¦ !. N i`-±.. N´. 쯸.. _¦· ·l-· i.¦· ¦:| ´.
_..l.Ll¦ ¸¸'
"Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat
dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika
kamu berbuat (yang demikian itu) maka sesungguhnya kamu kalau begitu
termasuk orang-orang yang zhalim." (Yunus : 106).
Juga firman Allah:
.´. ´_.¦ ´.. ¦.`s.. . _.: ´<¦ . N ´..>.`.· .`«I _|| .¯.. «..´,1l¦
¯.>´. s `.±,l.: _.l±.s '
72
Jin; Hakikat bukan Khurafat
"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah
sesembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doanya)
sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka."
(Al-Ahqaaf : 5).
Berdoa kepada selain Allah adalah perbuatan syirik dan merupakan
dosa besar, bahkan dosa terbesar. Segala bentuk dosa bisa diampuni oleh
Allah bagi siapa yang Allah kehendaki, kecuali dosa syirik. Sebagaimana
firman Allah:
_| ´<¦ N `,±-. _¦ ì´¸:· .«. `,±-.´. !. _.: il: .l '.!:· .´. ì¸:·
´<!. .1· ´_´¸.·¦ !..| !.,Ls '¯
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia
mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya." (An-Nisaa: 48).
Untuk Siapa Sesajian Itu?
Kalau kita amati makanan dalam pelaksanaan slametan di atas, menu yang
wajib yang disyaratkan sangat beragam. Bahkan, beda bulan kehamilan,
beda pula menunya. Slametan dilakukan tak hanya sekali. Dilakukan setiap
bulan (sembilan kali); meski faktanya kini yang banyak dilakukan hanya
bulan ke-empat dan ke-tujuh. Sulit dimengerti, mengapa harus sebanyak
itu ritual slametan dilakukan. Sama sulitnya menjawab pertanyaan,
mengapa makanan yang disajikan harus baku seperti dafar di atas, tidak
boleh berubah?
Tradisi Jawa penuh dengan nilai mistik dan filosofis. Sekadar tedak siti
(upacara menginjak tanah yang pertama), menginjak telur saat perkawinan
dan lainnya, memiliki simbolisasi yang khusus dan kuat. Maka, ketika
harus tumpeng urap dengan jumlah sayur yang ganjil, nasi kuning lauk
jeroan dan seterusnya, bukan sekadar variasi menu layaknya sebuah
warung makan menyajikan hidangannya. Ada makna dan simbol tertentu
yang dibingkai dalam sebuah maksud utama: mengharap keselamatan,
menghindari mara-bahaya. Lalu, untuk siapa sajian khusus tersebut
dihidangkan?
Yang pasti bukan untuk Allah, karena Nabi Muhammad SAW tidak
pernah mencontohkan hal tersebut. Kalau para pelaku tradisi Jawa
73
R u q y a h
tersebut berkeyakinan semua sesajian itu ditujukan untuk Allah, maka
sekali-kali niat tersebut tidak akan pernah sampai.
¦.l->´. ´< !´.. ¦´¸: . .¯,>l¦ ..-.N¦´. !´.,.. ¦.l!1· ¦..> ´<
`.±.s,. ¦..>´. !.,l´´¸:l !.· _lé ¯.±,lé´¸:l *· `_.. _||
´<¦ !.´. _lé ´< ´.±· `_.. _|| `.±,lé´¸. ´.!. !.
_..÷`>. ¸¯'
"Dan mereka menyediakan sebagian hasil tanaman dan hewan (bagian)
untuk Allah sambil berkata menurut persangkaan mereka, 'Ini untuk Allah
dan yang ini untuk berhala-berhala kami.' Bagian yang untuk berhala-
berhala mereka tidak akan sampai kepada Allah, dan bagian yang untuk
Allah akan sampai kepada berhala-berhala mereka. Sangat buruk apa yang
telah mereka tetapkan itu." (Al-An>am : 136).
Sebab, selain mengandung unsur syirik (dengan mengharap dan
menolak sesuatu bukan kepada Allah, bahkan mempersembahkan sajian
khusus untuk selain-Nya), cara tersebut tidak pernah dicontohkan oleh
Nabi SAW. Sebuah ibadah mahdhah yang dilakukan tanpa ada contoh dari
Nabi SAW, akan sia-sia (tertolak). Rasulullah SAW bersabda :
ّ د
َ
ر
َ
و
ُ
ه
َ
ف ُ ه
ْ
ن ِ م
َ
س
ْ
ي
َ
ل ا
َ
م ا
َ
ذه اَ ن
ِ
ر
ْ
م
ٔ
ا يِ ف
َ
ثَ د
ْ
ح
ٔ
ا
ْ
ن
َ
م
"Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini yang
bukan berasal darinya, maka amalan tersebut tertolak." (HR. Bukhari
dan Muslim).
Pengaruh Agama Lain
Dalam tradisi lainnya juga, hingga kini masih diamalkan di desa-
desa, setelah upacara tujuh bulan perempuan hamil selalu membawa
pisau kecil atau gunting agar tidak diganggu oleh hyang jahat. Ini
merupakan pengaruh agama Tu dan Yang yang berkembang dari
Asia Asia Tengah dan meluas sampai ke Indonesia. Beberapa tradisi
di Cina, Korea hingga Polinesia menampakkan pengaruh yang sama,
termasuk dalam upacara tujuh bulan bagi wanita hamil.
74
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Semakin jelas, sulit untuk menganggap tradisi-tradisi Jawa di atas
sebagai bentuk kulturasi budaya Islam di Indonesia. Selain jauhnya
perbedaan ritual di antara kedua ajaran tersebut, pengaruh agama selain
Islam justru lebih menonjol—sebagaimana keterangan di atas.
Coba simak ritual berikut, yang sangat kental dengan ajaran non-
Islam:
Selain itu disiapkan sebuah kelapa gading yang digambari wajah dewa
Kamajaya dan Dewi Kamaratih, atau Arjuna dan Sembadra atau Panji
dan Candrakirana. Si ibu hamil berganti kain setelah mandi, perutnya
diikat longgar dengan lawe merah, putih dan hitam. Kemudian
dukun atau mertuanya menjatuhkan teropong (alat memintal
benang), diterima oleh ibu itu sendiri/dukun. Sambil mengatakan:
pria atau wanita pun mau asalkan selamat. Lalu dijatihkan kelapa
gading bergambar tadi sambil berkata: jika pria seperti Kamajaya,
Arjuna atau Panji; jika wanita seperti Kamaratih, atau Sembadra atau
Candrakirana.
Setelah itu ibu hamil tadi memakai 7 helai kain secara bergantian.
Dari kain pertama sampai ketujuh orang tuanya mengatakan: belum
pantas. Kain tadi dibiarkan berserakan dan diduduki. Setelah itu baru
memakai kain lagi sebagai kemben, tak berbaju, tak berhias maupun
memahai perhiasan apapun. Setelah itu orang tuanya berkata: sudah
pantas, sudah pantas.
75
R u q y a h
Mengapa Tradisi Tersebut Terlarang?
No.
Nama
Tradisi
Keterangan Penjelasan
1. Slametan
wanita
hamil.
Dalam tiap
bulan ada
ritual slametan
dengan aneka
ragam hidangan
yang sudah
ditentukan. Beda
bulan, beda jenis
hidangan.
Dalam slametan terkandung
makna memohon agar
diberi keselamatan dan
dihindarkan dari mara-
bahaya. Permohonan itu
tidak ditujukan kepada Allah.
Padahal, memohon (berdoa)
kepada Allah hukumnya syirik.
Pelakunya kadang meyakini
doa yang ditujukan dalam
slametan itu hanya kepada
Allah. Namun, cara yang
dilakukan sama sekali
keliru, karena tidak pernah
dicontohkan oleh Nabi SAW.
Islam mempunyai tuntunan
sendiri dalam hal ini.
Dalam slametan
bulan ke-
empat, sebagian
kalangan
meyakini bahwa
tradisi ngupati ini
penting karena
dihubungkan
dengan
keyakinan
Islam bahwa
janin dalam
kandungan
ditiupkan ruh
pada umur
empat bulan.
Meski tujuan yang diakukan
sama, namun cara yang
ditempuh berbeda dengan
apa yang dilakukan oleh Nabi
SAW. Beliau tidak pernah
melakukan hal seperti itu.
76
Jin; Hakikat bukan Khurafat
2. Mengetahui
jenis
kelamin bayi
Caranya ada
orang yang
bertanya: jika si
bayi keluar pria
atau wanita,
lalu neptu huruf
nama si penanya
dijumlahkan
dengan neptu
hari dan pekan
ketika ia
bertanya, lalu
jumlahnya dibagi
dengan angka 3.
Jenis kelamin janin dapat
diketahui dengan metode
ilmiah. Cara yang ditempuh
dalam tradisi Jawa ini sangat
jauh dari unsur rasio /
keilmuan. Lebih didasarkan
kepada sebuah kepercayaan
yang diterima mentah-
mentah.
Dari mana keyakinan/
kepercayaan itu berasal?
3. Hari
dan Jam
Kelahiran
Bayi
Primbon
Betaljemur
Adammakna
mencatat
ketentuan khusus
hari dan jam
kelahiran bayi.
Meski tidak
diterangkan
waktu-waktu apa
yang dimaksud.
Kemungkinan
besar waktu-
waktu di atas
adalah waktu
yang baik untuk
kelahiran bayi.
Sekali lagi, baik-buruknya
nasib seseorang sama sekali
tidak dipengaruhi oleh waktu
(hari apa dan jam berapa ia
dilahirkan). Lihat keterangan
sebelumnya tentang konsep
waktu dalam Islam.
4. Doa
menjelang
kelahiran
Lafal-lafal
tertentu yang
dipercaya bisa
membantu
proses persalinan.
Selain tidak tersebut dalam
sunnah Nabi SAW, sini
nampak sinkretisasi yang
kental, mencampuradukkan
konsep doa, nisbah kepada
ahlul bait, mantera dan
konsep sufi.
77
R u q y a h
5. Adzan dan
Iqamat yang
hanya boleh
dilakukan
oleh dukun.
Setelah bayi lahir,
dikumandangkan
adzan dan
iqamat yang
hanya boleh
dilakukan oleh
dukun. Juga
dianjurkan
membaca surat
"Inna Anzalna."
Adzan dan Iqamat untuk
bayi yang baru lahir memang
ada sunnahnya. Namun,
kenapa harus dukun yang
melakukannya? Sedangkan
pembacaan surat "Inna
Anzalna" (Al-Qadar?) tidak
ada sama sekali riwayatnya
dalam sunnah Nabi SAW.
6. Memotong
dan
Membuang
Ari-ari
Ada ritual
khusus dalam
memperlakukan
ari-ari.
Bid'ah, karena tidak pernah
diajarkan oleh Nabi SAW.
Bahkan adanya ritual khusus
dengan pakaian dan sesajian
tertentu dalam membuang
ari-ari mengindikasikan
adanya unsur syirik—
menganggapnya mampu
memberikan manfaat dan
mudharat.
7. Sedulur
Papat Lima
Pencer
Hampir mirip
dengan konsep
"Sedulur Alus."
Meyakini
bahwa manusia
mempunyai
"saudara ghaib"
yang menjaga
kehidupannya
sehari-hari.
Sejalan dengan
konsep Hindu
tentang empat
unsur alam (air,
api, bumi/tanah
dan angin).
Keyakinan adanya makhluk
lain yang menjaga manusia,
tidak sesuai dengan ajaran
Islam. Dalam Islam, ada
malaikat yang diutus oleh
Allah untuk menjaga manusia.
"Dan dialah yang mempunyai
kekuasaan tertinggi di
atas semua hamba-Nya,
dan diutus-Nya kepadamu
malaikat-malaikat penjaga,
sehingga apabila datang
kematian kepada salah
seorang di antara kamu, ia
diwafatkan oleh malaikat-
malaikat kami, dan malaikat-
malaikat kami itu tidak
melalaikan kewajibannya."
(surat Al-An'am: 61).
78
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Konon, Sunan
Kalijaga
kemudian
"mengawinkan"
dengan konsep
sufistik Islam.
Mereka, para malaikat adalah
utusan Allah. Tidak ada
tuntunan tentang perlakuan
khusus yang harus kita
berikan kepadanya.
Sementara itu, masing-masing
manusia juga diciptakan
qarin baginya. Qarin adalah
jin atau setan yang selalu
membuntuti ke manapun kita
pergi. Sesekali ia membujuk
dan merayu kita untuk jatuh
ke dalam jurang kemaksiatan.
Sesekali meninabobokkan kita
agar lalai dari kewajiban. Pada
kali lain juga membisikkan
angan-angan hingga si
korban menunda amal dan
tobatnya.
8. Tedak Siten
(turun
tanah)
Ritual ketika
pertama kali kaki
si bayi diinjakkan
ke tanah.
Pada umur 245 hari
(sebagaimana keterangan
di atas), akal bayi belum
berfungsi normal. Lalu,
darimana ditebak bakatnya
sesuai barang/mainan yang
diambil?
Sawuran duit yang
diperebutkan karena
dianggap bertuah, selain
mengandung unsur syirik,
juga bid>ah.
9. Sang Wewe
Putih
Menyapih
Bayi
Ritual dengan
sesajen makanan
dan kembang
setaman.
Mantra tentang Wewe Putih
mengindikasikan kuat bahwa
yang dimaksud adalah
jin. Sebab, sesajen yang
digunakan adalah kembang
setaman—yang diyakini
sebagai makanan jin. Ritual
semacam ini adalah bentuk
meminta pertolongan kepada
jin.
79
R u q y a h
10. Khitanan ala
Kejawen
S e b a g a i ma n a
r i t u a l - r i t u a l
lainnya, selalu ada
selamatan dengan
hidangan dan
sesaji tertentu.
Hidangan dan
sesajinya berupa
bubur merah dan
putih, baro-baro,
tumpeng gundul
(tanpa lauk),
gula merah 1
tangkep, sebuah
kelapa utuh,
empluk berisi:
beras, kemiri,
kluwak , pisang
ayu, sirih kuning,
pinang dengan
t a n g k a i n y a ,
kembang telon,
kemenyan, lawe,
ayam hidup dan
lain-lain.
Khitan memang salah satu
sunnah dalam Islam. Namun,
penyelenggaraannya tanpa
memakai ritual semacam itu.
Bentuk sesajen yang selalu
lekat dalam tradisi Kejawen
identik dengan ritual Hindu.
Apalagi, dilihat dari komposisi
"menu" sesajen (kemenyan,
ayam hidup, dan sebagainya)
identik dengan persembahan
kepada jin.
11. Obat-
obatan untk
Ibu dan Bayi
Diantaranya
dilengkapi juga
dengan rapalan,
mantra dan ritual
tertentu yang
bersifat klenik.

Mantra (dalam Islam disebut
ruqyah) bagian dari bentuk
peribadatan. Oleh karena itu,
harus ada tuntunannya dari
sunnah Nabi SAW. Di luar
mantra/ruqyah syar'iyyah,
hukumnya haram.

80
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Hukum Meminta Tolong Kepada Jin
2
Kita mengetahui bahwa Rasulullah SAW diutus kepada jin dan manusia
untuk menyeru mereka kepada jalan Allah Ta'ala dan beribadah hanya
kepada-Nya semata. Sehingga bila bangsa jin itu ingkar dan kafir kepada
Allah, menurut nash dan ijma’, mereka akan masuk ke dalam neraka. Dan
bila mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya SAW, menurut jumhur
ulama, mereka akan masuk ke dalam surga. Jumhur menegaskan pula
bahwa tidak ada seorang rasul dari kalangan jin, yang ada adalah pemberi
peringatan dari kalangan mereka.
3
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah
menjelaskan: “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan bahwa
meminta bantuan kepada jin ada tiga bentuk:
Pertama : Meminta bantuan dalam perkara ketaatan kepada
Allah Ta’ala, seperti menjadi pengganti dalam
menyampaikan ajaran agama. Contohnya, apabila
seseorang memiliki teman jin yang beriman dan
jin tersebut menimba ilmu darinya. kemudian
menjadikan jin tersebut sebagai da’i untuk
menyampaikan syariat kepada kaumnya atau
menjadikan dia pembantu di dalam ketaatan kepada
Allah Ta’ala, maka hal ini tidak mengapa.
Bahkan terkadang menjadi sesuatu yang terpuji dan
termasuk dakwah kepada Allah Ta'ala. Sebagaimana
telah terjadi bahwa sekumpulan jin menghadiri
majelis Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan
dibacakan kepada mereka Al-Qur`an. Selanjutnya,
mereka kembali kepada kaumnya sebagai pemberi
peringatan. Di kalangan jin sendiri terdapat orang-
orang yang shalih, ahli ibadah, zuhud dan ada
pula ulama, karena orang yang akan memberikan
peringatan semestinya mengetahui tentang apa
yang dibawanya, dan dia adalah seseorang yang taat
kepada Allah Ta’ala dalam memberikan peringatan
tersebut.
2 Dinukil dari voa-islam.com
3 Majmu’ Fatawa, 11/169, Tuhfatul Mujib, hal. 364
81
R u q y a h
Kedua : Meminta bantuan kepada jin dalam perkara yang
mubah. Diperbolehkan, dengan syarat wasilah
(perantara) untuk mendapatkan bantuan jin tersebut
adalah sesuatu yang mubah dan bukan perkara
yang haram. Perantara yang tidak diperbolehkan
seperti bila jin itu tidak mau memberikan bantuan
melainkan dengan mendekatkan diri kepadanya
dengan menyembelih, sujud, atau selainnya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan
sebuah riwayat bahwa ‘Umar radhiallahu ‘anhu
terlambat datang dalam sebuah perjalanan hingga
mengganggu pikiran Abu Musa radhiallahu
‘anhu. Kemudian mereka berkata kepada Abu
Musa radhiallahu ‘anhu: “Sesungguhnya di antara
penduduk negeri itu ada seorang wanita yang
memiliki teman dari kalangan jin. Bagaimana jika
wanita itu diperintahkan agar mengutus temannya
untuk mencari kabar di mana posisi ‘Umar?” Lalu
dia melakukannya, kemudian jin itu kembali dan
mengatakan: “Amirul Mukminin tidak apa-apa dan
dia sedang memberikan tanda bagi unta shadaqah
di tempat orang itu.” Inilah bentuk meminta
pertolongan kepada mereka dalam perkara yang
diperbolehkan.
Ketiga : Meminta bantuan kepada mereka dalam perkara
yang diharamkan seperti mengambil harta orang
lain, menakut-nakuti mereka atau semisalnya. Maka
hal ini sangat diharamkan dalam agama. Kemudian
bila caranya itu adalah syirik maka meminta tolong
kepada mereka adalah syirik dan bila wasilah
itu tidak syirik, maka akan menjadi sesuatu yang
bermaksiat.
Seperti bila ada jin yang fasik berteman dengan
manusia yang fasik, lalu manusia yang fasik itu
meminta bantuan kepada jin tersebut dalam perkara
dosa dan maksiat.
82
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Maka meminta bantuan yang seperti ini hukumnya
maksiat dan tidak sampai ke batas syirik.
4
Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah mengatakan: “Adapun masalah
tolong menolong dengan jin, Allah Ta’ala telah menjelaskan di dalam
firman-Nya:
¦..´.!-.´. _ls ¯¸.l¦ _´.1`.l¦´. N´. ¦..´.!-. _ls ..N¦ _´..`-l¦´.
“Dan tolong-menolonglah kalian di dalam kebaikan dan ketakwaan dan
jangan kalian saling tolong menolong di dalam perbuatan dosa dan
maksiat.” (Al-Ma` idah: 2).
Boleh ber-ta’awun (kerja sama) dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang
harus kamu ketahui dulu tentang mereka, bahwa dia bukanlah setan yang
secara perlahan membantumu namun kemudian menjatuhkan dirimu
dalam perbuatan maksiat dan menyelisihi agama Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Dan telah didapati, bukan hanya satu orang dari kalangan ulama
yang dibantu oleh jin.”
5
Al-Lajnah Ad-Da` imah (Lembaga Fatwa Kerajaan Saudi Arabia)
menjelaskan: “Meminta bantuan kepada jin dan menjadikan mereka
tempat bergantung dalam menunaikan segala kebutuhan, seperti
mengirimkan bencana kepada seseorang atau memberikan manfaat,
termasuk kesyirikan kepada Allah Ta’ala dan termasuk bersenang-senang
dengan mereka. Dengan terkabulkannya permintaan dan tertunaikannya
segala hajat, termasuk dari katagori istimta’ (bersenang-senang) dengan
mereka. Perbuatan ini terjadi dengan cara mengagungkan mereka,
berlindung kepada mereka, dan kemudian meminta bantuan agar bisa
tertunaikan segala yang dibutuhkannya. Allah Ta’ala berfirman:
»¯..´. `.>¸:>´ !´-,.- ´¸:-... ´>'¦ .· ..¸.>.`.¦ ´. .N¦ _!·´.
.>.!´,l.¦ ´. .N¦ !.`.´¸ ×...`.¦ !´..-. -.. !.-l.´. !´.l>¦ _.I¦
·l¯>¦ !´.l _!· '¸!.l¦ ¯.>.´... _·.\.> !±,· N| !. ´.!: ´<¦ _| i`.´¸
'..>> '.,l. ¸'¯
4 Al-Qaulul Mufid hal. 276-277, Fatawa ‘Aqidah Wa Arkanul Islam hal. 212, dan Majmu’
Fatawa 11/169
5 Tuhfatul Mujib, hal. 371
83
R u q y a h
“Dan ingatlah hari di mana Allah menghimpun mereka semuanya dan
Allah berfirman, ‘Wahai segolongan jin (setan), sesungguhnya kamu
telah banyak menyesatkan manusia.’ Kemudian berkatalah kawan-kawan
mereka dari kalangan manusia, ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya sebahagian
dari kami telah mendapatkan kesenangan dari sebahagian yang lain dan
kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami’.”
(Al-An’am: 128).
.«.¦´. _l´ _l>¸ ´. .N¦ _.:.`-. _l>,. ´. ´>'¦ ¯.>.:¦,· !1>´¸
“Dan bahwasanya ada beberapa orang dari laki-laki di antara manusia
meminta perlindungan kepada laki-laki di antara jin kemudian jin-jin itu
menambah kepada mereka rasa takut.” (Al-Jin: 6).
Meminta bantuan jin untuk mencelakai seseorang atau agar
melindunginya dari kejahatan orang-orang yang jahat, hal ini termasuk
dari kesyirikan. Barangsiapa demikian keadaannya, niscaya tidak akan
diterima shalat dan puasanya, berdasarkan firman Allah SWT:
.1l´._.l ·´´¸.¦ ´L.`>´.l il´.- · ''
“Jika kamu melakukan kesyirikan, niscaya amalmu akan terhapus.” (Az-
Zumar: 65).
Barangsiapa diketahui melakukan demikian, maka tidak dishalatkan
jenazahnya, tidak diringi jenazahnya, dan tidak dikuburkan di pekuburan
orang-orang Islam.”
6
Kesimpulan
Meminta bantuan kepada jin adalah boleh dalam perkara yang bukan
maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun demikian, kami
memandang agar hal itu dihindari pada zaman ini, mengingat kebodohan
yang sangat menyelimuti umat. Sehingga banyak yang tidak mengerti
perkara yang mubah dan yang tidak mengandung maksiat, atau mana
tata cara yang boleh dan tidak mengandung pelanggaran agama serta
mana pula yang mengandung hal itu. Wallahu a’lam.
6 Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah, 1/162-163
84
Jin; Hakikat bukan Khurafat
85
R u q y a h
TUNTUNAN ISLAM TERKAIT KELAHIRAN
L
ahirnya seorang bayi merupakan awal dari kehidupannya di
dunia. Dia mulai merasakan aktivitas hidup di dunia ini. Tentunya
tak patut ayah dan ibu yang menginginkan buah hatinya menjadi
anak yang shalih membiarkan hari-hari pertamanya berjalan tanpa dihiasi
tuntunan syariat yang mulia ini, bahkan dikotori oleh hal-hal yang tidak
diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Banyak hal dipandang oleh masyarakat sebagai adat untuk menyambut
kelahiran seorang bayi. Ada yang memasang lentera di kuburan ari-ari
(plasenta) bayi, ada yang memasang gunting atau senjata tajam lain di
dekat kepala bayi, ada yang meletakkan rangkaian bawang dan cabai
merah di atas kepala bayi, ada pula yang memasang gelang dari benang
untuk penangkal bala’ bagi si bayi. Bahkan sebagian orang meyakini,
kalau hal itu tidak dilakukan, maka keselamatan si jabang bayi pun
terancam. Kalau sudah begini, dikhawatirkan kesyirikan akan masuk
tanpa terhindarkan.
Sebenarnya apa yang harus dilakukan pada hari-hari pertama setelah
kelahiran telah diajarkan oleh Allah. Melalui sunnah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam kita bisa melihat dengan jelas penetapan syariat dalam
hal ini. Kita simak, apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam terhadap seorang bayi yang baru saja lahir.
Aqiqah
Imam Ahmad rahimahullâh dan mayoritas ulama juga berpendapat bahwa
apabila ditinjau dari segi syar’i maka yang dimaksud dengan aqiqah
adalah menyembelih (an-nasikah). Maksudnya, menyembelih binatang
pada hari ke-7 dari kelahiran bayi.
86
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Ada banyak hadits Nabi yang menjelaskan tuntunan ini:
1. Salman bin Amir Ad-Dhabi berkata: Rasululloh bersabda :
“Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan
dan hilangkanlah semua gangguan darinya.” (HR Al-Bukhari no. 5472).
Makna menghilangkan gangguan adalah mencukur rambut bayi atau
menghilangkan semua gangguan yang ada.
1
2. Samurah bin Jundab berkata: Rasulullah bersabda :
“Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari
ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama, dan dicukur
rambutnya.”
2
3. Aisyah berkata: Rasulullah bersabda:
“Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama (setara) dan
bayi perempuan satu kambing.”
3
4. Diriwayatkan: “Bahwasanya Rasulullah bersabda menqaqiqahi Hasan
dan Husain dengan satu kambing dan satu kambing.”
4
5. Rasulullah bersabda:
“Barang siapa di antara kalian yang ingin menyembelih (kambing)
karena kelahiran bayi, maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua
kambing yang sama (setara) dan untuk perempuan satu kambing.”
5

Memberi nama yang baik
Disyariatkan memberi nama anak yang lahir dengan nama yang pada
hari yang ketujuh sebagaimana hadits di atas atau pada saat dilahirkan
langsung karena Rasulullah SAW telah menamai putranya yang baru
lahir dengan nama Ibrahim, beliau berkata: “Tadi malam telah dilahirkan
anak laki-laki bagiku, maka saya menamainya dengan nama bapakku
Ibrahim.” (HR Muslim)
1. Fathul Bari: IX/593 dan Nailul Authar: V/35 Cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah
2 HR Abu Dawud no. 2838, At-Tirmidzi no. 1552, An-Nasa’i: VII/166, Ibnu Majah no. 3165,
Ahmad: V/7-8, 17-18, 22, dan Ad Darimi: II/81; shahih
3 HR Ahmad: II/31, 158, 251 dan At-Tirmidzi no. 1513, Ibnu Majah no. 3163, dengan sanad
yang hasan
4 HR Abu Dawud no. 2841 dengan sanad yang shahih
5 HR Abu Dawud no. 2843, An-Nasa’i: VII/162-163, dan Ahmad no. 2286, 3176, dengan
sanad hasan
87
R u q y a h
Tahnik dan Mendoakan Keberkahan
Istri beliau, Aisyah binti Abi Bakr RA menuturkan:
“Apabila didatangkan bayi yang baru lahir ke hadapan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau mendoakan barakah kepadanya
dan mentahniknya.”
6
Tahnik adalah mengunyah kurma sampai lumat hingga bisa ditelan,
kemudian menyuapkannya ke mulut bayi. Apabila tidak didapatkan
kurma, maka diganti dengan makanan manis lain yang bisa digunakan
untuk mentahnik. Para ulama bersepakat bahwa istihbab (disenangi)
melakukan tahnik pada hari kelahiran anak. Demikian dijelaskan oleh
Imam An-Nawawi rahimahullah ketika menerangkan tahnik ini.
Gambaran perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini bisa
kita lihat dalam hadits Anas bin Malik RA:
“Aku membawa Abdullah bin Abi Thalhah al Anshari kepada Rasulullah
SAW pada hari kelahirannya, dan waktu itu beliau menggunakan
mantelnya sedang mengecat untanya dengan ter. Lalu beliau bertanya:
“Apakah engkau membawa kurma?” Aku menjawab: “Ya.” Kemudian
kuberikan pada beliau beberapa buah kurma, lalu beliau masukkan ke
mulut dan mengunyahnya. Kemudian beliau membuka mulut bayi dan
meludahkan kurma itu ke mulut bayi. Mulailah bayi itu menggerak-
gerakkan lidahnya untuk merasakan kurma tersebut. Maka Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kesukaan Anshar adalah kurma,”
dan beliau memberinya nama Abdullah.”
7
Hadits Anas bin Malik di atas juga memberikan penjelasan kepada
kita bahwa tahnik dilakukan dengan menggunakan kurma, dan ini yang
disenangi. Apabila dilakukan dengan selain kurma, maka tahnik itu pun
telah terlaksana, namun kurma lebih utama. Dari sini pula kita memetik
faidah bahwa tahnik dilakukan oleh orang yang shalih, baik laki-laki
ataupun perempuan.
8
Inilah tuntunan syariat bagi setiap orang tua yang mengharap kebaikan
bagi anaknya. Tak layak semua ini dilewatkan begitu saja, karena sebaik-
baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Wallahu a’lamu bish-shawab.
6 HR Al-Bukhari no. 5468 dan Muslim no. 2147
7 HR Al-Bukhari no. 5470 dan Muslim no. 2144
8 Lihat: Syarh Shahih Muslim dan Subulus Salam: IV/194
88
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Mencukur rambut dan bersedekah
Dianjurkan agar mencukur rambutnya pada hari ketujuh dan
mengeluarkan sedekah berupa perak seberat rambut yang dicukur. Hal
ini berdasarkan hadits Abu Rafi`Radhiyallâhu 'anhu, ia berkata:
“Ketika Fathimah RS melahirkan Al-Hasan, ia berkata, ‘Wahai
Rasulullah, bolehkah aku melumuri putraku ini dengan darah hewan
aqiqah?’ ‘Tidak, tetapi cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan
perak seberat rambut yang dicukur kepada fakir miskin.’.”
Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi juga menyebutkan dalam Minhajul
Muslim (hkm. 437), kalau tidak ada perak bisa emas yang senilai atau
berupa uang.
Imam Malik Rhm meriwayatkan bahwa Fathimah RA menimbang
rambut Al-Hasan dan Al-Husain, demikian juga rambut Ummu Kultsum,
lalu menyedekahkan perak seberat rambut tersebut.
Ibnu Ishaq menyebutkan dalam Sirah-nya bahwa Rasulullah SAW
pernah berkata kepada Fathimah RA setelah melahirkan Al-Hasan,
“Wahai Fathimah, cukurlah rambutnya, lalu bersedekahlah dengan
mengeluarkan perak seberat timbangan rambutnya.” Lalu Fathimah pun
menimbangnya, dan ternyata beratnya adalah satu dirham atau kurang
sedikit.
Syaikh Waliyullah Ad-Dahlawi Rhm, ketika menjelaskan hadits di atas
mengatakan tentang sebab perintah bersedekah dengan perak tersebut:
“Sesungguhnya anak itu jika telah berpindah dari janin menjadi bayi
merupakan sebuah nikmat yang wajib disyukuri. Bentuk kesyukuran
yang terbaik adalah dengan menggantinya. Mengingat bahwa rambut
bayi merupakan bagian dari perkembangan janin, dan menghilangkannya
merupakan pertanda kemerdekaannya menuju perkembangan sebagai
anak, maka sudah seharusnya bila rambutnya itu ditimbang dengan
perak. Pengkhususan perak di sini adalah karena emas terlalu mahal, dan
hanya orang kaya yang punya, sedangkan perbendaharaan selain emas
dan perak tidak seimbang dengan timbangan rambut sang anak.”
89
R u q y a h
Mengolesi kepala dengan minyak wangi
Mengolesi kepalanya si bayi dengan minyak wangi sebagai pengganti apa
yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyyah yang mengolesi kepala bayi
dengan darah hewan aqiqah, kebiasaan mereka ini tidak benar sehingga
Islam meluruskannya dengan mengoleskan minyak wangi dikepalanya,
sebagaimana dalam hadits Buraidah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud
dan yang lainnya dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Irwa’ul Ghalil:
IV/389.
90
Jin; Hakikat bukan Khurafat
91
R u q y a h
WATAK DAN NASIB
Ramalan Watak dan Nasib
Primbon Jawa memuat berbagai ramalan watak manusia, bahkan sejak
masih jabang bayi. Ramalan-ramalan itu sesuai dengan banyak hal, antara
lain:
Menurut wuku kelahiran
Menurut hari lahir
Menurut hari dan jam lahir
Menurut pekan lahir
Menurut hari dan pekan lahir
Menurut tanggal lahir
Menurut bulan lahir
Menurut mangsa lahir
Menurut neptu hari/pekan lahir
Menurut hitungan neptu hari/pekan bagi 9
Menurut hitungan neptu hari/pekan bagi 8
Menurut hari/tanggal lahir
Sesuai letak tahi lalat
Sesuai letak toh (tanda lahir)
Sesuai hitungan huruf pertama dan terakhir namanya
Sesuai ciri fisik
Dari jatuhnya benih
92
Jin; Hakikat bukan Khurafat
Dalam ramalan-ramalan tersebut, watak dan sifat manusia dikaitkan
dengan waktu, ciri-ciri fisik dan proses pembuahannya. Di sini terlihat
filosofi tentang nasib manusia yang ditentukan oleh hal-hal di sekelilingnya,
mencermati faktor-faktor penentu ini menjadi sebuah “ngelmu” yang
biasanya dimiliki oleh para dukun dan orang pintar. Primbon merangkum
beraneka hal tadi sehingga menjadi pegangan utama para dukun Jawa.
Sengkala
Sengkala adalah rintangan hidup yang dialami oleh manusia yang
diakibatkan adanya energi negatif atau aura hitam yang ada dalam diri
seseorang sehingga mengakibatkan penderitaan lahir batin. Contohnya
adalah ada orang yang rajin bekerja dan berusaha namun selalu mengalami
kegagalan, padahal ada orang lain yang usahanya santai-santai saja selalu
saja dinaungi keberuntungan.
Pada asalnya, istilah sengkala mungkin berasal dari Sang Kala atau
Batara Kala. Dewa pembawa sial dalam mitologi Hindu yang dibuahkan
secara sumbang oleh Batara Guru (rajanya para dewa) saat bangkit
nafsunya melihat Dewi Uma. Mani Batara Guru jatuh ke laut dan menjadi
Batara Kala. Setelah besar, Kala menghadap ayahnya dan disabda bahwa
makanannya adalah orang-orang yang menyandang sengkala. Batara
Kala kemudian menebar sial di antara anak manusia yang tak beruntung
(sukerta).
Penyebab Sengkala bisa bermacam-macam. Ada sengkala yang sudah
dibawa sejak lahir (ini biasanya akibat perbuatan jelek dikehidupan/
reinkarnasi sebelumnya), ada sengkala akibat berbuat zalim/tidak baik
kepada orang lain di masa sekarang, ada sengkala yang sengaja ‘ditanam’
orang dengan tujuan jahat karena bermusuhan dengan kita, dan lain-lain
sebab.
Berbagai Jenis Sengkala dapat dikategorikan menjadi 29 yaitu:
1. Kebo kemali (sulit dapat jodoh)
2. Bahu laweyan (jika menikah, pasangan atau anak anda meninggal)
3. Jlomprong (sepanjang hidup terus menerus dirundung sakit)
4. Cluwak bodas (dengan pasangan selalu bentrok)
5. Sambit (hidup selalu susah/gagal akibat lupa bayar hutang)
93
R u q y a h
6. Cekal kendit (karir macet, jabatan tak pernah naik)
7. Gotro Pati (rejeki seret, kerja siang malam tak ada hasil)
8. Kantong bolong (sebesar apapun hasil yang didapat selalu habis,
boros)
9. Gendring bumi (usaha selalu gagal karena tanah yang ditempati
wingit, angker/keramat)
10. Ruwing (sial terus menerus karena menyakiti orang tua)
11. Rerewo bodes (sering ingkar janji, hidup jadi apes)
12. Bandor sari (hidup sial karena dikutuk/disumpah ibu)
13. Jeblak (hidup sial karena dikutuk/disumpah ayah)
14. Cengis (selalu difitnah orang)
15. Gabuk (sudah tahunan menikah belum punya anak)
16. Cluring (hidup sial, usaha gagal, sering sakit pula alias sial
multidimensi)
17. Branjang sunu (sial karena makan makanan haram)
18. Srigunting (selalu ditolak dalam urusan asmara)
19. Blunuk glontar (hidup sengsara karena menolak cinta seseorang)
20. Blorong (tidak betah kerja, selalu pindah-pindah karena berbagai
masalah)
21. Pantek jangkar (jiwa labil karena salah salah/belum siap belajar ilmu)
22. Gombak gimbal (sial karena bagian tubuh ada yang diubah misalnya
operasi plastik dll)
23. Jebluk (sering mengalami kecelakaan)
24. Borong cokro (sial karena ingkar nadzar misalnya pada makam kera-
mat)
25. Surengkala (dimana-mana dimusuhi orang)
26. Cleret timbal (kesialan karena hukum karma akibat perbuatan di masa
lalu)
27. Gendrung bedes (sial karena sering berbuat maksiat)
28. Blongkang suji (sial karena membunuh orang)
94
Jin; Hakikat bukan Khurafat
29. Birowo (sial karena disabda orang sakit)
Dalam tradisi Jawa, solusi untuk mengatasi sengkala adalah dengan
mengikuti ruwatan.
Ruwatan dan Sukerta
1
Ruwatan merupakan upacara adat yang bertujuan membebaskan
seseorang, komunitas, atau wilayah dari ancaman bahaya. Inti upacara
ini sebenarnya adalah do’a, memohon perlindungan dari ancaman bahaya
seperti bencana alam, juga do’a memohon pengampunan, dosa-dosa
dan kesalahan yang telah dilakukan yang dapat menyebabkan bencana.
Upacara ini berasal dari ajaran budaya Jawa kuno yang bersifat sinkretis,
namun sekarang diadaptasikan dengan ajaran agama.
Ruwatan bermakna mengembalikan ke keadaan sebelumnya,
maksudnya keadaan sekarang yang kurang baik dikembalikan ke keadaan
sebelumnya yang baik. Makna lain ruwatan adalah membebaskan orang
atau barang atau desa dari ancaman bencana yang kemungkinan akan
terjadi, jadi bisa dianggap upacara ini sebenarnya untuk tolak bala’.
Upacara ini berasal dari cerita Batara Kala, yaitu raksasa yang suka
makan manusia. Menurut kepustakaan “Pakem Ruwatan Murwa Kala”
Javanologi gabungan dari beberapa sumber, antara lain dari Serat Centhini
(Sri Paku Buwana V), bahwa orang yang harus diruwat disebut anak
atau orang “Sukerta” ada 60 macam penyebab malapetaka, yaitu sebagai
berikut:
1. Ontang-Anting, yaitu anak tunggal laki-laki atau perempuan.
2. Uger-Uger Lawang, yaitu dua orang anak yang kedua-duanya laki-laki
dengan catatan tidak anak yang meninggal.
3. Sendhang Kapit Pancuran, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan yang
bungsu laki-laki sedang anak yang ke 2 perempuan.
4. Pancuran Kapit Sendhang, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan yang
bungsu perempuan sedang anak yang ke 2 laki-laki.
5. Anak Bungkus, yaitu anak yang ketika lahirnya masih terbungkus oleh
selaput pembungkus bayi (placenta).
6. Anak Kembar, yaitu dua orang kembar putra atau kembar putri atau
Kebudayaan Jawa, dimuat dalam wattpad.com. ١
95
R u q y a h
kembar “dampit” yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan
(yang lahir pada saat bersamaan).
7. Kembang Sepasang, yaitu sepasang bunga yaitu dua orang anak yang
kedua-duanya perempuan.
8. Kendhana-Kendhini, yaitu dua orang anak sekandung terdiri dari
seorang laki-laki dan seorang perempuan.
9. Saramba, yaitu 4 orang anak yang semuanya laki-laki.
10. Srimpi, yaitu 4 orang anak yang semuanya perempuan.
11. Mancalaputra atau Pandawa, yaitu 5 orang anak yang semuanya laki-
laki.
12. Mancalaputri, yaitu 5 orang anak yang semuanya perempuan.
13. Pipilan, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang anak perempuan
dan 1 orang anak laki-laki.
14. Padangan, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang laki-laki dan 1
orang anak perempuan.
15. Julung Pujud, yaitu anak yang lahir saat matahari terbenam.
16. Julung Wangi, yaitu anak yang lahir bersamaan dengan terbitnya
matahari.
17. Julung Sungsang, yaitu anak yang lahir tepat jam 12 siang.
18. Tiba Ungker, yaitu anak yang lahir, kemudian meninggal.
19. Jempina, yaitu anak yang baru berumur 7 bulan dalam kandungan
sudah lahir.
20. Tiba Sampir, yaitu anak yang lahir berkalung usus.
21. Margana, yaitu anak yang lahir dalam perjalanan.
22. Wahana, yaitu anak yang lahir dihalaman atau pekarangan rumah.
23. Siwah atau Salewah, yaitu anak yang dilahirkan dengan memiliki kulit
dua macam warna, misalnya hitam dan putih.
24. Bule, yaitu anak yang dilahirkan berkulit dan berambut putih “bule”
25. Kresna, yaitu anak yang dilahirkan memiliki kulit hitam.
26. Walika, yaitu anak yang dilahirkan berwujud bajang atau kerdil.
27. Wungkuk, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung bengkok.
96
Jin; Hakikat bukan Khurafat
28. Dengkak, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung menonjol,
seperti punggung onta.
29. Wujil, yaitu anak yang lahir dengan badan cebol atau pendek.
30. Lawang Menga, yaitu anak yang dilahirkan bersamaan keluarnya
“Candikala” yaitu ketika warna langit merah kekuning- kuningan.
31. Made, yaitu anak yang lahir tanpa alas (tikar).
32. Orang yang ketika menanak nasi, merobohkan “Dandhang” (tempat
menanak nasi).
33. Memecahkan “Pipisan” dan mematahkan “Gandik” (alat landasan dan
batu penggiling untuk menghaluskan ramu-ramuan obat tradisional).
34. Orang yang bertempat tinggal di dalam rumah yang tak ada “tutup
keyongnya”.
35. Orang tidur di atas kasur tanpa sprei (penutup kasur).
36. Orang yang membuat pepajangan atau dekorasi tanpa samir atau daun
pisang.
37. Orang yang memiliki lumbung atau gudang tempat penyimpanan
padi dan kopra tanpa diberi alas dan atap.
38. Orang yang menempatkan barang di suatu tempat (dandhang -
misalnya) tanpa ada tutupnya.
39. Orang yang membuat kutu masih hidup.
40. Orang yang berdiri ditengah-tengah pintu.
41. Orang yang duduk didepan (ambang) pintu.
42. Orang yang selalu bertopang dagu.
43. Orang yang gemar membakar kulit bawang.
44. Orang yang mengadu suatu wadah/tempat (misalnya dandhang diadu
dengan dandhang).
45. Orang yang senang membakar rambut.
46. Orang yang senang membakar tikar dengan bambu (galar).
47. Orang yang senang membakar kayu pohon “kelor”.
48. Orang yang senang membakar tulang.
49. Orang yang senang menyapu sampah tanpa dibuang atau dibakar
97
R u q y a h
sekaligus.
50. Orang yang suka membuang garam.
51. Orang yang senang membuang sampah lewat jendela.
52. Orang yang senang membuang sampah atau kotoran dibawah
(dikolong) tempat tidur.
53. Orang yang tidur pada waktu matahari terbit.
54. Orang yang tidur pada waktu matahari terbenam (wayah surup).
55. Orang yang memanjat pohon disiang hari bolong atau jam 12 siang
(wayah bedhug).
56. Orang yang tidur diwaktu siang hari bolong jam 12 siang.
57. Orang yang menanak nasi, kemuadian ditinggal pergi ke tetangga.
58. Orang yang suka mengaku hak orang lain.
59. Orang yang suka meninggalkan beras di dalam “lesung” (tempat
penumbuk nasi).
60. Orang yang lengah, sehingga merobohkan jemuran “wijen” (biji-
bijian).
Itulah 60 jenis “Sukerta” yaitu jenis-jenis manusia yang telah dijanjikan
oleh Sang Hyang Betara Guru kepada Batara Kala untuk menjadi santapan
atau makanannya, bahkan menurut Pustaka Raja Purwa (jilid I halaman
194) karya pujangga R. Ng. Ranggawarsito disebutkan ada 136 macam
Sukerta. Menurut mereka yang percaya, orang-orang yang tergolong di
dalam kriteria tersebut di atas dapat menghindarkan diri dari malapetaka
(menjadi makanan Betara Kala) tersebut, jika ia mempergelarkan wayangan
atau ruwatan dengan cerita Murwakala. Ada juga lakon wayang kulit
ruwatan yang misalnya: Baratayuda, Sudamala, Kunjarakarna dan lain-
lain.
Selain Ruwat Sukerta, terdapat juga “Ruwat Sengkala atau Sang
Kala” yang artinya menjadi mangsa Sangkala yaitu jalan kehidupannya
sudah terbelenggu serta penuh kesulitan, tidak bisa sejalan dengan alur
hukum alam (ruang dan waktu) ini disebabkan oleh kesalahan-kesalahan
perbuatan atau tingkah lakunya pada masa lalu.
Adapun sesaji yang disiapakan yaitu kain tujuh warna, beras kuning,
jarum kuning, dan bunga tujuh rupa. Untuk tolak bala’ bagi orang yang
mengalami sial harus menjalani siraman air suci dan menggunting
98
Jin; Hakikat bukan Khurafat
rambut, rambut tersebut dihanyutkan ke sungai untuk menuju laut.
Prosesi ini biasanya diawali dengan pertunjukan wayang kulit dengan
lakon Murwakala yang menceritakan proses lahirnya Batara Kala dan
kesialan yang dibawanya. Lalu turunlah Batara Wisnu sebagai Dalang
Kandabuana yang meruwat para sukerta.
99
R u q y a h
PERKARA GHAIB DALAM KACAMATA ISLAM
M
asa depan adalah misteri (perkara ghaib). Bagian dari keyakinan
seorang Muslim adalah tidak ada satu pun yang mengetahui
perkara ghaib selain Allah Ta’ala.
_· N il.¦ _.±´.l !´-±. N´. ¦´¸. N| !. ´.!: ´<¦ ¯.l´. ·.´ `.ls¦
..-l¦ .¸.÷.`.N ´. ¸¯.>l¦ !.´. ´_.´.. '..´.l¦ _| !.¦ N| ",... ¸.:·´.
.¯.1l _.`..¡`. ¸¯¯
"Katakanlah, 'Aku tidak berkuasa memberi kemanfaatan bagi diriku dan
tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali sesuatu yang dikehendaki
Allah. Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku akan berbuat
kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan.
Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira
bagi orang-orang yang beriman." (Al-A’raf: 188).
_· N `.l-. . _· .´...´.l¦ ¯¸N¦´. ..-l¦ N| ´<¦ !.´. _.'¸-:· _!`.¦
_..-¯.`. ''
"Katakanlah, 'Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui
perkara yang ghaib, kecuali Allah, dan mereka tidak mengetahui kapan
mereka akan dibangkitkan'." (An-Naml : 65).
Dalam salah satu fatwanya, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
mengatakan, “Ilmu tentang perkara ghaib hanya pada Allah, dan hanya
dikhususkan baginya. Ia mengetahui apa yang telah, sedang dan akan
100
Jin; Hakikat bukan Khurafat
terjadi; Ia mengetahui bagaimana sesuatu itu akan terjadi. Mengetahui
apa yang akan terjadi di akhirat; di surga dan neraka. Mengetahui
siapa saja yang selamat (ahli surga) dan siapa yang celaka (ahli neraka).
Semua ilmu ghaib itu mutlak hanya milik Allah. Sedangkan para Rasul,
hanya mengetahui ketika telah diberitahu oleh Allah melalui wahyu.
Sebagaimana firman-Nya:
`.l.s ..-l¦ *· `,±L`. _ls .«.,s ¦.>¦ '' N| . _..¯¸¦ . _..¯¸ '¯
"(Dialah Allah) yang mengetahui yang ghaib. Ia tidak memperlihatkan
kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang
diridhai-Nya…." (Al-Jin : 26-27).
1
Sebelum Terjadi, Nasib itu Bagian dari Perkara Ghaib
Demikian pula dengan nasib seseorang. Dalam ajaran Islam, tidak dikenal
adanya cirri atau pertanda khusus yang bisa digunakan untuk menebak
nasib seseorang. Bayi yang lahir baik siang atau malam hari; mempunyai
tahi lalat di tempat tertentu atau tidak; tanggal berapapun dia lahir,
semuanya sama. Tidak ada keistimewaan kelahiran di satu tempat atau
waktu tertentu dibanding yang lain.
Bayi yang lahir ibarat secarik kertas putih. Ayah-ibunya—atau
siapapun yang mendidiknya kelak—lah yang akan mempengaruhi warna
atau tulisan di kertas tadi. Islam tidak mengenal dosa turunan, atau nasib
bawaan orang-tua. Islam memandangnya sebagai hal yang rasional, apa
adanya. Sekali lagi, tergantung siapa yang kuat memberikan pengaruh /
pendidikan kepada si bayi. Rasulullah SAW bersabda :
ِ هِ نا
َ
س
ّ
ج
َ
م
ُ
ي
ْ
و
ٔ
ا ِ هِ نا
َ
ر
ّ
ص
َ
ن
ُ
ي
ْ
و
ٔ
ا ِ هِ نا َ د
ّ
و
َ
ه
ُ
ي
ُ
ها
َ
و
َ
ب
ٔ
ا
َ
ف ِ ة
َ
ر
ْ
طِ ف
ْ
لا ى
َ
ل َ ع ُ د
َ
ل
ْ
و
ُ
ي ٍ د
ْ
و
ُ
ل
ْ
و
ُ
م
ّ
ل
ُ
ك
"Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Ayah-bundanyalah
yang akan menjadikannya seorang Yahudi, Nasrani atau Majusi.”
(Mutafaqun Alaihi).
Anak yang mempunyai sifat nasib buruk kelak di waktu dewasa, sama
sekali tidak terkait dengan bawaan orang tua. Islam tidak mengenal dosa
warisan yang diterima mutlak seorang anak dari kedua orang-tuanya.
1 http://www.binbaz.org.sa/mat/4201
101
R u q y a h
Allah berfirman:
N´. '¸,. :´¸¸¦´. ´¸¸. _,>¦ ¯
"… dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain…"
(Az-Zumar : 7).
´_´ _¸¯.¦ !.· ..´ _.>´¸ '¸
"… tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya." (At-Thur:
21).
Sekali lagi, penentuan baik-buruknya nasib seseorang tergantung
mutlak kepada kehendak Allah. Dua orang bayi kembar yang memiliki
persamaan waktu dan tempat lahir serta ciri-ciri fisik sekalipun, sangat
mungkin memiliki nasib yang bertolak-belakang satu dengan lainnya.
Bagaimana proses penetapan nasib/takdir seseorang, digambarkan
dalam sebuah sabda Nabi SAW :

ً
ة
َ
ق
َ
ل َ ع
ُ
ن
ْ
و
ُ
ك
َ
ي
ّ
م
ُ
ث ،
ً
ة
َ
ف
ْ
طُ ن
ً
ام
ْ
و
َ
ي
َ
ن
ْ
ي ِ ع
َ
ب
ْ
ر
ٔ
ا ِ ه
ّ
م
ٔ
ا
ِ
ن
ْ
ط
َ
ب يِ ف ُ ه
ُ
ق
ْ
ل َ خ
ُ
ع
َ
م
ْ
ج
ُ
ي
ْ
م
ُ
ك َ د
َ
ح
ٔ
ا
ّ
نِ
ٕ
ا
ُ خ
ُ
ف
ْ
ن
َ
ي
َ
ف
ُ
ك
َ
ل
َ
م
ْ
لا ِ ه
ْ
ي
َ
لِ
ٕ
ا
ُ
ل
َ
س
ْ
ر
ُ
ي
ّ
م
ُ
ث ،
َ
كِ ل
َ
ذ
َ
لْ ث ِ م
ً
ة
َ
غ ْ ض
ُ
م
ُ
ن
ْ
و
ُ
ك
َ
ي
ّ
م
ُ
ث ،
َ
كِ ل
َ
ذ
َ
لْ ث ِ م

ْ
و
ٔ
ا
ّ
يِ ق
َ
ش
َ
و ِ هِ ل
َ
م َ ع
َ
و ِ هِ ل
َ
ج
ٔ
ا
َ
و ِ هِ ق ْ ز
ِ
ر
ِ
بْ ت
َ
كِ ب : ٍ تا
َ
مِ ل
َ
ك
ِ
ع
َ
ب
ْ
ر
ٔ
اِ ب
ُ
ر
َ
م ْ ؤ
ُ
ي
َ
و ،
َ
ح
ْ
و
ّ
رلا ِ ه
ْ
يِ ف
. ٌ د
ْ
ي ِ ع
َ
س
"Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya
sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi
setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging
selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat
lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan
empat perkara : menetapkan rezekinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan
atau kebahagiaannya." (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin
Mas'ud RA).
Semenjak itulah, Allah telah menetapkan keadaan seseorang terkait
rezeki, ajal, amal serta nasibnya kelak (celaka atau bahagia). Dan semenjak
itu pulalah, ketetapan tersebut menjadi perkara ghaib yang hanya diketahui
oleh Allah semata. Kita sendiri yang menjalani kehidupan, tidak pernah
tahu apa yang akan terjadi esok; bagaimana nasib dan keadaan kita. Tidak
102
Jin; Hakikat bukan Khurafat
ada daya dan upaya manusia yang mampu mengubah takdir tersebut.
Rasulullah SAW menggambarkan:
ٍ ء
ْ
ي َ شِ ب
ّ
الِ
ٕ
ا
َ
ك
ْ
و
ُ
ع
َ
ف
ْ
ن
َ
ي
ْ
م
َ
ل ٍ ء
ْ
ي َ شِ ب
َ
ك
ْ
و
ُ
ع
َ
ف
ْ
ن
َ
ي
ْ
ن
ٔ
ا ى
َ
ل َ ع ْ ت
َ
ع
َ
مَ ت
ْ
جا
ْ
و
َ
ل
َ
ة
ّ
م
ٔ
ال
ْ
ا
ّ
ن
ٔ
ا
ْ
م
َ
ل ْ عا
َ
و

ّ
الِ
ٕ
ا
َ
ك
ْ
و
ّ
ر ُ ض
َ
ي
ْ
م
َ
ل ٍ ء
ْ
ي َ شِ ب
َ
ك
ْ
و
ّ
ر ُ ض
َ
ي
ْ
ن
ٔ
ا ى
َ
ل َ ع او
ُ
ع
َ
مَ ت
ْ
جا ِ نِ
ٕ
ا
َ
و ،
َ
ك
َ
ل ُ هللا ُ ه
َ
بَ ت
َ
ك ْ د
َ
ق
ِ ف
ُ
ح
ّ
صلا ِ ت
ّ
ف
َ
ج
َ
و
ُ
م
َ
ال
ْ
ق
ٔ
ال
ْ
ا ِ ت
َ
عِ ف
ُ
ر ،
َ
ك
ْ
ي
َ
ل َ ع ُ هللا ُ ه
َ
بَ ت
َ
ك ْ د
َ
ق ٍ ء
ْ
ي َ شِ ب
“Ketahuilah sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk
mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat
memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan
bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu ,
niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah
Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.”
(HR. Tirmdzi).
Pena untuk menulis takdir telah diangkat, dan lembaran tempat
tertulisnya takdir pun telah mongering. Tidak ada daya dan upaya manusia
yang mampu membuatnya lari menghindari takdir. Kalau memang nasib
mujur, bagaimanapun seisi bumi ingin menimpakan bala, niscaya tidak
bisa melebihi kadar bala yang memang Allah telah tentukan sebelumnya.
Begitupun sebaliknya.
Meski demikian, Allah SWT Maha Pengasih dan Penyayang. Takdir itu
bisa berubah dengan doa (permohonan) seorang hamba kepada Rabbnya.
Dalam satu sabdanya, Rasulullah SAW menjelaskan :

َ
ء
َ
ال
َ
ب
ْ
لا
ّ
نِ
ٕ
ا
َ
و
ْ
ل
ِ
ز
ْ
ن
َ
ي
ْ
م
َ
ل ا
ّ
مِ م
َ
و
َ
ل
َ
زَ ن ا
ّ
مِ م
ُ
ع
َ
ف
ْ
ن
َ
ي
ُ
ءا َ ع ّ دلا
َ
و
ٍ
ر ْ د
َ
ق
ْ
نِ م
ٌ
ر
َ
ذ
َ
ح
ْ
يِ ن
ْ
غ
ُ
ي
َ
ال
ِ ة
َ
ما
َ
ي ِ ق
ْ
لا
ِ
م
ْ
و
َ
ي ى
َ
لِ
ٕ
ا ِ نا
َ
جِ لَ ت
ْ
ع
َ
ي
َ
ف
ُ
ءا َ ع ّ دلا
ُ
ها
ّ
ق
َ
لَ ت
َ
ي
َ
ف
ُ
ل
ِ
ز
ْ
ن
َ
ي
َ
ل
“Kewaspadaan tidak akan terlalu berpengaruh terhadap takdir, tapi doa
bermanfaat untuk apa yang telah dan yang belum terjadi. Sesungguhnya
bala bencana itu akan turun lalu bertemu dengan doa dan keduanyapun
berkelahi sampai hari kiamat.”
2
Kita tidak pernah tahu, apakah ditakdirkan bernasib baik atau buruk.
Kalau toh kita khawatir mendapatkan nasib buruk, Islam mengajarkan
kita untuk berdoa. Untuk memulai beberapa kegiatan, banyak doa yang
2 Al-Hakim berkata, “Hadits ini sanadnya shahih dan mereka berdua (Al-Bukhari dan Muslim)
tidak mengeluarkannya.”
103
R u q y a h
disunnahkan, yang mengandung unsur perlindungan diri dari nasib
buruk.
Contoh Doa Memohon Perlindungan dari Nasib Sial
Doa memakai pakaian
ا
َ
م
ّ
ر
َ
ش
َ
و ِ ه
ّ
ر
َ
ش
ْ
نِ م
َ
كِ ب
ُ
ذ
ْ
و ُ ع
ٔ
ا
َ
و ُ ه
َ
ل
َ
و ُ ه ا
َ
م
ِ
ر
ْ
ي َ خ
َ
و ِ ه
ِ
ر
ْ
ي َ خ
ْ
نِ م
َ
ك
ُ
ل
ٔ
ا
ْ
س
ٔ
ا يّ نِ
ٕ
ا
ّ
م
ُ
ه
ّ
لل
َ
ا
ُ ه
َ
ل
َ
و ُ ه
"Ya Allah, sungguh, aku memohon kepada-Mu dari kebaikannya
serta kebaikan yang ada padanya; dan aku berlindung kepadamu dari
keburukannya dan keburukan yang ada padanya." (HR. Abu Dawud,
Tirmidzi, Hakim dan Ibnu Sunni).
Doa pagi dan petang
يِ ف ا
َ
م
ّ
ر
َ
ش
ْ
نِ م
َ
كِ ب
ُ
ذ
ْ
و ُ ع
ٔ
ا
َ
و
ُ
ه َ د
ْ
ع
َ
ب ا
َ
م
َ
ر
ْ
ي َ خ
َ
و
ِ
م
ْ
و
َ
ي
ْ
لا ا
َ
ذ َ ه يِ ف ا
َ
م
َ
ر
ْ
ي َ خ
َ
ك
ُ
ل
ٔ
ا
ْ
س
ٔ
ا
ّ
ب
َ
ر
ُ
ه َ د
ْ
ع
َ
ب ا
َ
م
ّ
ر
َ
ش
َ
و
ِ
م
ْ
و
َ
ي
ْ
لا ا
َ
ذ َ ه
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan hari ini dan setelahnya; dan
aku berlindung kepada-Mu dari keburukan hari ini dan setelahnya." (HR.
Muslim).

Menanggulangi Kejahatan yang Datang dari Luar
Dalam ajaran Islam, nasib buruk dan kesialan juga bisa dialami seseorang
karena kejahatan orang lain—baik sengaja dilakukan atau tidak. Yang
sengaja dilakukan namanya sihir, sedangkan yang tidak sengaja dikenal
dengan penyakit ain.
Sihir
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi mengatakan, sihir adalah ikatan-ikatan, jampi-
jampi, perkataan yang dilontarkan secara lisan maupun tulisan, atau
melakukan sesuatu yang mempengaruhi badan, hati atau akal orang yang
terkena sihir tanpa berinteraksi langsung dengannya. Sihir ini mempunyai
hakikat, diantaranya ada yang bisa mematikan, membuat sakit, membuat
seorang suami tidak dapat mencampuri istrinya atau memisahkan
104
Jin; Hakikat bukan Khurafat
pasangan suami istri, atau membuat salah satu pihak membenci lainnya
atau membuat kedua belah pihak saling mencintainya.
3
Cara mengatasi gangguan sihir ini adalah dengan ruqyah syar’iyyah.
Kepada korban dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk mengusir pengaruh
ghaib yang datang dari setan. Lafal ruqyah harus berasal dari ayat-ayat
Al-Qur’an atau doa-doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
4

Ain
Penyakit ain adalah penyakit ghaib yang dapat menghinggapi seseorang
melalu pandangan mata. Ada orang-orang tertentu yang memiliki
kelainan ghaib. Misalnya saja A. Nah, bila A, karena satu dan lain sebab
memandang A dengan penuh kedengkian kepada B, maka B bisa terkena
dampak penyakit ain.
Tanda-tanda anak yang terkena ‘ain di antaranya adalah menangis
secara tidak wajar (bukan karena lapar, sakit atau mengompol), kejang-
kejang tanpa sebab yang jelas, tidak mau menyusu pada ibunya tanpa
sebab, dan tanda-tanda yang tidak wajar lainnya. Umumnya tidak bisa
dijelaskan secara medis. Juga kondisi tubuh yang cenderung kurus.
Ain tidak hanya timbul oleh pandangan kedengkian. Bila A meman-
dang B dengan pandangan cinta dan kekaguman, B bisa terkena dampak-
nya. Gejalanya sama dengan yang ditimbulkan oleh pandangan kedeng-
kian.
Penyakit ‘ain itu benar-benar ada dan bukan khurafat yang dihubung-
hubungkan dengan pujian. Sebagaimana anggapan sebagian besar
masyarakat Indonesia bahwa pujian kepada seorang anak akan menyebab-
kab sakit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ُ
ن
ْ
ي
َ
ع
ْ
لا ُ هْ ت
َ
ق
َ
ب
َ
س
َ
ل
َ
ر ْ د
َ
ق
ْ
لا ُ قِ با
َ
س
ٌ
ء
ْ
ي
َ
ش
َ
نا
َ
ك
ْ
و
َ
ل
َ
و ُ ّ ق
َ
ح
ُ
ن
ْ
ي
َ
ع
ْ
ل
َ
ا
“’Ain itu benar adanya. Seandainay ada sesuatu yang bisa mendahului
takdir, tentu akan didahului oleh ‘ain.” (HR. Muslim)
Jadi, bukan pujian yang menyebabkan dampak buruk bagi anak yang
dipujinya, melainkan bermula dari pandangan mata sang pemujinya, baik
3 Al-Mughni, (X/104)
4 Banyak buku-buku tuntunan ruqyah Islami yang sudah diterbitkan dalam bahasa Indonesia.
Salah satu diantaranya adalah sebuah masterpiece karangan Syaikh Wahid Abdussalam
Bali, yang diterbitkan AQWAM dengan judul Ruqyah.
105
R u q y a h
pujian itu karena ada rasa iri atau karena benar-benar ada kekaguman.
Ada dua kondisi mengatasi penyakit ain.
A. Preventif
Melindungi diri dan anak dengan membaca ruqyah-ruqyah yang
disyariatkan Islam, di antaranya:
ٍ ة
ّ
م
ٓ
ال
ٍ
ن
ْ
ي َ ع
ّ
ل
ُ
ك
ْ
نِ م
َ
و ٍ ة
ّ
ما َ ه
َ
و ٍ نا
َ
ط
ْ
ي
َ
ش
ّ
ل
ُ
ك
ْ
نِ م ِ ة
ّ
ماّ تلا ِ هللا ِ تا
َ
مِ ل
َ
كِ ب
ُ
ذ
ْ
و ُ ع
ٔ
ا
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari se-
tiap setan, binatang berbisa, dan dari setiap mata yang jahat.” (Riwayat
Bukhari)
Atau membaca doa yang digunakan Rasulullah SAW untuk me-
lindungi Hasan dan Husain,
ٍ ة
ّ
مال
ٍ
ن
ْ
ي َ ع
ّ
ل
ُ
ك
ْ
نِ م
َ
و ٍ ة
ّ
ما َ ه
َ
و ٍ نا
َ
ط
ْ
ي
َ
ش
ّ
ل
ُ
ك
ْ
نِ م ِ ة
ّ
ماّ تلا ِ ه
ّ
للا ِ تا
َ
مِ ل
َ
كِ ب ا
َ
م
ُ
ك
ُ
ذي ِ ع
ٔ
ا
“Aku berlindung kepada Allah untukmu berdua dengan kalimat-kalimat
Allah yang sempurna, dari segala setan, binatang yang berbisa, dan pan-
dangan mata yang jahat.” (Riwayat Bukhari).
Atau bisa juga dengan membaca doa yang dibacakan oleh malaikat
Jibril AS ketika Nabi SAW mendapat gangguan setan, yaitu:
ِِ د ِ سا
َ
ح
ِ
ن
ْ
ي َ ع
َ
و
ِِ
س
ْ
فَ ن
ّ
ل
ُ
ك
ّ
ر
َ
ش نِ م
ََ
ك
ْ
ي ِ ذْ ؤ
ُ
ي ِِ ء
ْ
ي
َ
ش
ّ
ل
ُ
ك
ْ
نِ م
َ
كيِ ق
ْ
ر
ٔ
ا ِ هللا
ِ
م
ْ
سِ ب
َ
كي ِ ف ْ ش
َ
ي ُ ه
ّ
لل
َ
ا
“Dengan menyebut nama Allah, aku membacakan ruqyah untukmu dari
segala sesuatu yang menganggumu dari kejahatan setiap jiwa dan pen-
garuh ‘ain. Semoga Allah menyembuhkanmu.”
Sedangkan bila kita merasa sebagai orang yang berpotensi mem-
berikan penyakit ain, untuk mencegah penyakit ain ini, jika kita me-
lihat sesuatu yang baik ada pada diri kita, anak, harta kita atau yang
lainnya yang menakjubkan, hendaklah membaca doa:
ِ ه
ّ
للاِ ب
ّ
الِ
ٕ
ا
َ
ة
ّ
و
ُ
ق
َ
ال
َ
و
َ
ل
ْ
و
َ
ح
َ
ال ُ هللا
َ
ءا
َ
ش ا
َ
م

106
Jin; Hakikat bukan Khurafat
“ Masya Allah (atas kehendak Allah), tidak ada kekuatan melainkan hanya
dengan (pertolongan) Allah.”
B. Kuratif
Jika pelakunya diketahui, maka orang tersebut diperintahkan un-
tuk berwudhu. Bekas wudhu orang tersebut digunakan untuk me-
mandikan anak yang terkena ‘ain.
Tapi jika tidak diketahui perbanyak membaca surat Al-Ikhlas,
muawwidzatain (An-Nas dan Al-Falaq), Al-Fatihah, ayat Kursi (Al-
Baqarah: 255), 2 ayat terakhir surat Al-Baqarah, dan mendoakan
dengan doa-doa yang disyariatkan. Membaca pada air disertai tiu-
pan, kemudian diminumkan pada anak yang sakit dan sisanya di-
siramkan ke tubuhya, atau dibacakan pada minyak dan minyaknya
dioleskan ke tubuhnya. Lebih baik lagi jika bacaan itu dibacakan
pada air zam-zam.
Selain dua hal di atas, nasib kurang beruntung juga bisa berasal dari:
Nama yang Buruk
Nama adalah doa. Oleh sebab itu, Nabi SAW memerintahkan kepada para
orang-tua untuk memberikan nama yang baik bagi anaknya. Beliau juga
berkali-kali mengganti nama beberapa orang shahabat yang dinilai tidak
sesuai.
Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Nabi SAW mengganti nama (se-
orang wanita) ‘Ashiyah (pelaku maksiat) dan berkata: Engkau Jami-
lah (Cantik/Indah).
5
Muhammad bin ‘Amr bin ‘Atha’ juga meriwayatkan bahwasanya ia
pernah menemui Zainab binti Abu Salamah. Lalu Zainab bertanya
kepada Muhammad tentang nama saudara perempuannya yang
ada bersamanya.
Muhammad berkata, «Aku menjawab, ‘Namanya adalah Barrah
(yang baik/berbakti)’.”
Zainab berkata, “Gantilah namanya! karena Nabi SAW menikah
dengan Zainab binti Jahsy yang nama (sebelumnya) adalah Barrah,
5 Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad. Lihat kitab Shahih
Al-Adab Al-Mufrad oleh Al-Albani no. 630/820, hlm. 306. Lihat pula Ash-Shahihah, no. 213.
107
R u q y a h
lalu beliau menggantinya menjadi Zinab.”
Beliau pernah masuk menemui Ummu Salamah setelah menikah
dengannya, dan namaku (dahulu juga) Barrah, kemudian beliau
mendengar Ummu Salamah memanggilku, ‘Barrah’, maka beliau
bersabda:
“Janganlah kalian menganggap diri kalian suci, karena Allah lebih
mengetehui siapa di antara kalian yang barrah (yang baik) dan yang
fajiroh (tidak baik). Beri nama dia Zainab”.
Ummu Salamah berkata, “Dia (namanya sekarang) Zainab.”
Aku (Muhammad) bertanya kepadanya (Zainab binti Abu Sala-
mah), “Lantas aku beri nama apa?”
Zainab menjawab, “Gantilah (namanya) dengan nama yang telah
diberikan Rasulullah SAW, berilah dia nama Zainab (juga). (HR.
Bukhari) .
Dari Ibnu Abbas, bahwa nama Juwairiyah dahulu adalah BarrAh.
Lalu nabi mengubah namanya menjadi Juwairiyah. (HR. Bukhari)
Dari Aisyah RA, bahwa pernah disebutkan seorang laki-laki yang
bernama Syihab di sisi Rasulullah SAW, lalu Rasulullah SAW bers-
abda, “Namamu adalah Hisyam.” (HR. Bukhari).
Dari Sa’id bin Al-Musayyib dari ayahnya dari kakeknya: Bahwasan-
ya dia (kakeknya) pernah mendatangi Nabi SAW lalu beliau bertan-
ya, “Siapa namamu?” Ia menjawab, “Hazn (sedih).” Beliau berkata,
“Engkau adalah Sahl (mudah).”
Ia berkata: “Aku tidak mau mengganti naman yang telah diberikan
ayahku!”
Ibnul Musayyib berkata: Sehingga ia terus-menerus merasa sedih
setelah itu. (HR. Bukhari).
Dari Laila Istri Basyir, ia bercerita tentang Basyir bin Al-Khashay-
ishah, yang dahulu namanya adalah Zahm, lalu Nabi SAW meng-
gantinya menjadi Basyir (HR. Bukhari).
Yang harus dicatat dalam penggantian nama ini adalah, nama yang
baru harus lebih baik dariapada nama sebelumnya. Ini berbeda dengan
tradisi Jawa. Nama yang dianggap mengandung sengkala, diganti den-
gan nama lain yang belum tentu lebih baik daripada sebelumnya. Kemu-
dian, proses penggantian nama berlangsung cukup sederhana. Cukup
108
Jin; Hakikat bukan Khurafat
diumumkan, tanpa harus mengadakan ritual tertentu.

Demikianlah, peran mengubah takdir mutlak ada pada Allah—
sebagaimana peran untuk menentukan takdir sebelumnya. Manusia
hanya mampu berdoa, menggantungkan segalanya kepada keputusan
dan kebijakan Allah saja. Lalu, mengapa masih harus pakai ramal-
meramal, kemudian sibuk mengadakan berbagai ritual untuk mengusir
nasib buruk—yang akhirnya terjebak dalam kesyirikan?
Mengapa Tradisi Tersebut dikategorikan Syirik dan
terlarang?
No.
Nama
Tradisi
Keterangan Penjelasan
1. Meramal
watak dan
nasib
Nasib seseorang
bisa ditentukan
dari waktu
(jam, hari,
bulan, wuku
dan neptu
kelahiran,
ciri fisik dan
sebagainya.
Nasib masa depan termasuk
perkara ghaib. Ilmunya hanya
dimiliki oleh Allah Ta'ala.
Meramalnya, berarti sama
dengan mengaku tahu ilmu
ghaib. Di sinilah kesyirikan itu
timbul.
Agama Islam sangat keras dalam
melarang hal-hal ghaib. Di atas,
telah dikemukakan ancaman bagi
orang yang mendatangi tukang
ramal dan mempercayainya.
2. Ruwatan Sebuah
ritual untuk
menghilangkan
nasib sial yang
secara alamiah
dibawa oleh
seseorang
semenjak lahir.
Menggunakan
beraneka
sesajian, mirip
tradisi Hindu.
Ruwatan itu sendiri dilakukan
karena adanya sebuah
kepercayaan dalam agama
Hindu, yaitu tentang adanya
Betara Kala. Jadi, jelas ini bukan
tradisi Islam.
Sementara dalam ajaran Islam,
untuk menanggulangi nasib
buruk yang ditimbulkan oleh
sihir atau ain adalah dengan cara
meruqyah. Untuk nama yang
tidak cocok/buruk, cukup dengan
menggantinya.
109
R u q y a h
Telaah Islam Tentang Ramalan
Membenarkan atau percaya pada dukun dan paranormal merupakan
salah satu pintu kesyirikan. Allah berfirman:
N´. .1. !. ´,l il .«. '.l. ... ¯'
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya… " (Al-Isrâ': 36).
... ´_| ´-. ´Ll¦ '..| ... ¸'
"…Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa..." (Al-Hujurât: 12).
`.l.s ..-l¦ *· `,±L`. _ls .«.,s ¦.>¦ '' N| . _. .¯¸¦ . _..¯¸ ... '¯
"(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak
memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada
Rasul yang diridhai-Nya…" (Al-Jin: 26-27).
Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Saw bersabda:
ٍ د
ّ
م
َ
ح
ُ
م ى
َ
ل َ ع
َ
ل
ِ
زْ ن
ٔ
ا ا
َ
مِ ب
َ
ر
َ
ف
َ
ك ْ د
َ
ق
َ
ف
ُ
لو
ُ
ق
َ
ي ا
َ
مِ ب ُ ه
َ
ق ّ د
َ
ص
َ
ف ا
ً
ن ِ ها
َ
ك
ْ
و
ٔ
ا ا
ً
فا
ّ
ر َ ع ىَ ت
ٔ
ا
ْ
ن
َ
م
"Barang siapa yang mendatangi paranormal atau dukun lalu membenarkan
apa yang mereka katakan, maka ia telah mengkufuri apa yang diturunkan
kepada Muhammad.”
Kufur di sini bukan berarti kafir dengan hakikatnya. Sekiranya
kufur yang dimaksud dalam hadits di atas ialah kufur besar, maka
tertolaklah shalatnya untuk selamanya, bukan hanya empat puluh hari.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi Saw yang disampaikan oleh istri beliau.
Bahwasanya Nabi Saw bersabda:
ا
ً
م
ْ
و
َ
ي
َ
ني ِ ع
َ
ب
ْ
ر
ٔ
ا
ٌ
ة
َ
ال
َ
ص ُ ه
َ
ل
ْ
ل
َ
ب
ْ
قُ ت
ْ
م
َ
ل ُ ه
َ
ق ّ د
َ
ص
َ
ف ٍ ء
ْ
ي
َ
ش
ْ
نَ ع ُ ه
َ
ل
ٔ
ا
َ
س
َ
ف ا
ً
فا
ّ
ر َ ع ىَ ت
ٔ
ا
ْ
ن
َ
م
"Barang siapa yang mendatangi paranormal lalu menayakan sesuatu
kemudian membenarkan apa yang ia katakan, maka tidak akan diterima
shalatnya selama empat puluh hari.”

Contoh:

Tahun keruntuhan Kerajaan Majapahit, 1400 Saka, sering dilambangkan dengan candrasengkala “Sirna Ilang Kertaning Bumi”. Sirna (0), Ilang (0), Kerta (4) dan Bumi (1). Kalangan Kejawen memaknainya sebagai hilangnya bakti anak pada orang tua. Yaitu hilangnya bakti Raden Patah kepada ayahnya, Raja Brawijaya, karena mendirikan Kesultanan Demak yang menggantikan peran Kerajaan Majapahit.

Penentuan candra sengkala relatif longgar karena setiap angka bisa bermakna banyak. 1 : Bumi, buana, surya, candra, tunggal, ika, eka, (p)raja, manunggal, negara 2 : dwi, tangan, sikil, kuping, mata, netra, panembah, bekti 3 : tri, krida, gebyar 4 : catur, kerta 5 : panca, astra, tumata 6 : rasa, sad, bremana, anggata, 7 : sapta, sinangga, sapi 8 : asta, naga, salira, manggala 9 : nawa, hanggatra, bunga 0 : ilang, sirna, sonya Dengan multimakna terkandung pada setiap angka, candrasengkala bisa bermacam-macam maknanya. Sesuai dengan keinginan dan selera pembuatnya. Sebuah tahun bisa dimaknai baik atau jelek tergantung pilihan kata candrasengkala yang digunakan.

10

Jin; Hakikat bukan Khurafat

Hari
Kalender Jawa mengenal tujuh hari. Yaitu Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at dan Sabtu. Masing-masing memiliki neptu (nilai) yang berbeda. Ahad berneptu 5, Senin berneptu 4, Selasa berneptu 3, Rabu berneptu 7, Kamis berneptu 8, Jum’at berneptu 6 sementara Sabtu berneptu 9. Penentuan neptu ini berdasarkan pandangan para ahli nujum dan perhitungan (petungan) jawa. Gunanya untuk menjadi dasar perhitungan dalam banyak urusan petungan. Masing-masing hari memiliki watak sendiri-sendiri:
Ahad, berwatak samudana (pura-pura), suka pada hal-hal yang lahir atau kelihatan. Senin, berwatak samuwa (meriah), harus baik dalam segala pekerjaan. Selasa, berwatak sujana (curiga), serba tidak percaya. Rabu, berwatak sembada (serba sanggup, kuat), mantap dalam segala pekerjaan. Kamis, berwatak surasa (perasa), suka berpikir dan merasakan sesuatu dalam-dalam. Jum’at, berwatak suci, bersih tingkah lakunya. Sabtu, berwatak kasumbung (tersohor), suka pamer.3 Dalam sumber lain, watak hari ini sedikit berbeda: Ahad, berwatak uriping jagad (hidupnya dunia), baik. Senin, berwatak mlumpat (melompat), kurang baik.. Selasa, berwatak babagan pati (terkait kematian), amat jelek. Rabu, berwatak uriping roh (hidupnya ruh), baik. Kamis, berwatak purbaning roh (awalnya ruh), baik. Jum’at, berwatak rasa tunggal (rasa yang satu), baik.

3

Purwadi, P etungan Jawa, hal. 24.

Ruqyah

11

amat jelek. kamis dan Jum’at. sebelum mengenal jam sebagai penunjuk waktu digunakan konsep sebagai berikut: Pagi Wisang Garu Bedug Lingsir Sore Sirep Wong Tengah Malam Lingsir Malam Bangun : jam 06.00 : jam 11. jam juga memiliki nilai dan makna khusus. 119-120. hal. Primbon Betaljemur Adammakna.00 : jam 13.00-01.00 : jam 08. Bisa jadi ada nuansa pengaruh Islam dalam pewatakan hari Jum’at (hari ibadah Jum’at bagi Muslim) sebagai suci dan hari Sabtu (hari ibadahnya Bani Israel. yaitu Ahad.005 Masing-masih sa’at memiliki sifat sendiri-sendiri yang menentukan baik-buruknya sa’at itu untuk melakukan segala sesuatu. Hakikat bukan Khurafat .00 : jam 01.00-06. 12 Jin.00 : jam 20.00-08.4 Sejarah penentuan watak hari ini tidak jelas. berwatak dalaning pati (jalan kematian).123. Apalagi penamaan hari Ahad hingga Sabtu jelas mengadopsi sistem panamaan dalam kalender Islam.00 : jam 03. Rabu. 4 5 Tjakraningrat.00-13.00-23. hal.00-18.00 : jam 15. Dalam konsep tradisional. Sabat) dengan sifat sombong. sementara wisang garu pada neptu yang sama memiliki sifat Srilungguh. sa’at pagi untuk neptu 7 memiliki sifat sampar. Sifat ditentukan oleh nilai neptu yang diperhitungkan dari hari dan pekannya.00 : jam 23. Untuk melakukan berbagai keperluan dianjurkan pada hari-hari yang baik. Jam (Sa’at) Dalam tradisi Jawa.00-15.00-03. Betaljemur. Misalnya saja.00-11.Sabtu.

padewan. orang Jawa sudah memiliki kalender sendiri yang sekarang dikenal sebagai Petangan Jawi. sama dengan Kalender Saka maupun Masehi. 120. hal. peringkelan. Nama-nama mangsa dan umurnya dalam Kalender Jawa: Kasa (Kartika) Karo (Pusa) Katelu Kapat (Sitra) : 22 Juni-1 Agustus : 2 Agustus-24 Agustus : 25 Agustus-17 September : 18 September-12 Oktober : 41 hari : 23 hari : 24 hari : 25 hari : 27 hari : 43 hari : 43 hari : 26/27 hari : 25 hari : 24 hari Kalima (Manggala) : 13 Oktober-8 November Kanem (Naya) Kapitu (Palguna) Kawolu (Wasika) Kasanga (Jita) : 9 November-21 Desember : 22 Desember-22 Februari : 3 Februari-28 Februari : 1 Maret-25 Maret Kasapuluh (Srawana): 26 Maret-18 April Betaljemur. Yaitu perhitungan Pranata Mangsa dengan rangkaiannya berupa macammacam petangan seperti wuku.Selengkapnya sifat-sifat tersebut adalah: Ayu Sampar Pacak Kalapengaten Srilungguh Srigumelar Kalaluweng : baik : jelek : jelek : jelek : baik : baik : jelek6 Kalender Jawa (Pranata Mangsa) Sebelum mendapatkan pengaruh Hindu. padangan dan lain-lain. Sistem dalam pranata mangsa berdasarkan solair atau peredaran matahari (Syamsiyah). Ruqyah ٦ 13 .

biru. Kalender Saka sudah berlaku hingga tahun 1554 Saka. 7 8 Petungan Jawa. padahal dasar perhitungannya sama sekali berbeda. Misalnya saja Mangsa Kasa. Angka itu kemudian diteruskan dalam Kalender Sultan Agung dengan angka tahun 1555.Dhesta (Padrawana) : 19 April-11 Mei Sadha (Asuji) : 12 Mei-21 Juni :23 hari : 43 hari Sistem kalender Pranata Mangsa ini merupakan kalendernya kaum tani yang memanfaatkannya sebagai pedoman bekerja. Pada awalnya jumlah masnga hanya sepuluh. 10-11. cokelat dan merah anggur. Pada saat Sultan Agung Hanyakrakusuma bertahta. Meskipun Pranata Mangsa sudah berlaku sejak dahulu. Hakikat bukan Khurafat . setelah mangsa kesepuluh habis pada tanggal 18 April. Warna bagi kelompok ini adalah kuning. ia mengubah sistem kalender yang berlaku secara revolusioner.7 Masing-masing mangsa berada di bawah pancaran pengaruh para dewa dengan intensitas yang berbeda-beda. perhitungan berdasarkan Pranata Mangsa juga membawakan watak atau pengaruh pada kehidupan manusia seperti halnya perhitungan Jawa lainnya. hijau. Mutiara. 14 Jin. Ibid. Selain pedoman bercocoktanam. Mangsa menunggu ini dianggap terlalu lama sehingga ditetapkanlah mangsa kesebelas (Dhesta) dan keduabelas (Sadha). mata Kucing. Pancarannya seperti sotya murca ing embanan (permata yang lepas dari cincin pengikatnya).8 Kalender Sultan Agung Kalender Saka dipakai oleh orang Jawa sampai tahun 1633 Masehi. di bawah pengaruh Batara Antaboga dan Nagagini. Pada saat perubahan dilakukan. namun penetapannya baru pada tahun 1855 Masehi. namun bisa diatasi dengan memakai batu mulia jenis Aquamarine. Jamrud. kristal dan Biduri Bulan. orang menunggu saat dimulainya mangsa pertama (Kasa) pada tanggal 22 Juni. Manusia dari kelompok mangsa ini memiliki kelemahan pada lever dan pencernaan. hal. Yaitu oleh Paku Buwana VII yang memerintah di Kerajaan Surakarta. Sistem Pranata Mangsa berjalan seiring dengan Kalender Saka setelah Hindu masuk ke Pulau Jawa. Jatuhnya pada musim kemarau.

Setelah Giri berhasil dikalahkan. Kalender Jawa yang baru ini dimulai dengan tanggal 1 Sura Tahun Alip 1555. Kerajaan Islam Pertama di Nusantara.11 Untuk memupuskan pengaruh Giri yang bertulang punggung perannya sebagai pusat Islam. 173. Namun perubahan itu juga bernuansa politik. 9 Petungan Jawa. 17-22. hal.”10 Untuk memperluas kekuasaannya. hal. semua raja yang bertahta di Jawa selalu memohon restu dari Sunan Giri. pengaruh Giri ini kemudian diredam oleh Sultan Agung. Pengaruh kuat Sunan Giri I atas Kesultanan Demak dilanjutkan oleh keturunannya pada raja-raja Pajang hingga Mataram. Sekitar 5000 hingga 6000 kiai dan santri pendukung Giri dihukum bunuh di muka umum oleh Amangkurat II. Ruqyah 15 . hal. Sebelum Sultan Agung. Orang Belanda yang saat itu berniaga di Maluku bahkan menyebut Sunan Giri sebagai “Paus Islam” atau “Raja Imam. Dari Perbendaharaan Lama. namun perlawanan ini ditumpas habis. Sementara kalender Sultan Agung memakai peredaran bulan atau Qomariyah. maka perayaan-perayaan Islam menjadi satu dengan upacara keraton. Tanggal itu bertepatan dengan 1 Muharram Tahun 1043 Hijriyah dan 8 Juli 1633 Masehi. perubahan sistem kalender Jawa dari Syamsiyah ke Qomariyah menunjukkan pengaruh Islam. 10 HJ De Graaf dan Th Pigeaud. Caranya dengan tak mau memohon restu kepada Sunan Giri IV saat ia naik tahta. Kelak para ulama pendukung Giri melakukan konsolidasi dan perlawanan pada masa Amangkurat II. Pada saat Sultan Agung naik tahta. Dengan penyesuaian ini.Kalender Saka memakai dasar peredaran matahari atau Syamsiyah. Kemudian Sultan Agung menyerang Giri dengan bantuan Pangeran Pekik dari Surabaya yang beristrikan adik Sultan. Sultan Agung memusatkan kepercayaan Muslim Jawa pada dirinya. pada tahun 1629 di jaman Sultan Agung masih ada utusan Sunan Giri yang datang ke Pulau Hitu di Kepulauan Maluku. Giri dipimpin oleh Sunan Giri IV. yaitu pengambilalihan Sultan Agung terhadap otoritas keagamaan Islam yang sebelumnya berpusat di Giri. 11 Hamka. keluarganya dipindahkan ke Mataram agar pengaruhnya pupus dan kedaulatan Giri tak berlanjut. 9. Ratu Pandansari. 9 Pengaruh Kesunanan Giri ini tak hanya di Jawa. Dalam sejarahnya. Caranya dengan menciptakan sistem Kalender Jawa baru yang disesuaikan dengan Kalender Hijriyah. Para adipati di Jawa Timur sampai Blambangan tunduk pada Giri dan enggan tunduk pada Sultan Agung.

pasaran. Aura pencemar tersebut dalam primbon disebut naas. naga tercipta dari kotoran Cupu Manik Astagina yang menjadi wadah rahsa (darah) kama Nabi Adam dan Hawa ketika keduanya berselisih tentang perkawinan putra-putri mereka. windu dan mangsa yang menghasilkan penyatuan karakter baik. Upaya ini pada hakekatnya mencari perpaduan hari. bahkan mengalami kegagalan. naga tahun dan sebagainya. Jin. tahun. Nabi Adam ingin menikahkan putra-putri kembarnya secara berselang-seling. Sedangkan anasir pencemar tersebut dikenal sebagai naga dina. naga selalu mengejar rijalolah. sangar tahun. Dalam mitologi Jawa. Suatu hal yang dilakukan pada hari dengan karakter jelek terganggu usaha sehingga banyak kendala.Nama-nama bulan dan umurnya dalam Kalender Sultan Agung: Sura Sapar Mulud Bakda Mulud Jumadilawal Jumadilakhir Rejeb Ruwah Pasa Syawal Dulkangidah Besar : 30 hari : 29/30 hari : 30/29 hari : 29 hari : 30/29 hari : 29 : 30 : 29 : 30 : 29 : 30 hari hari hari hari hari hari : 29/30 hari Naga dan Rijalolah Tradisi Jawa mengajarkan untuk golek dina becik (mencari hari yang baik) untuk memulai usaha atau pencaharian. Karenanya kedudukan naga dan rijalolah harus selalu diperhitungkan sebelum menjalankan sebuah karya atau usaha. Hakikat bukan Khurafat 16 . Sebagai anasir pengganggu dan penggagal. sangar sasi dan sangar dina.

Untuk membuktikan siapa yang lebih benar.12 Kepercayaan ini menyebar di India dan berlanjut hingga sekarang. Dalam kepercayaan Yunanai purba. ular tetap dihormati dan ditakuti dengan tradisi Naga dan Rijalolah. sebuah konsep dalam keyakinan Sufi. Rijalullah dibekali ilmu sirri (rahasia) dan sulit dipahami oleh orang awam. hari. Bersamaan dengan angin datanglah suara gaib tanpa rupa yang disebut Rijalolah.sementara Hawa sebaliknya. Cupu tersebut hilang tertiup angin. Namun dalam perkembangannya neptu merupakan hasil “penemuan 12 AZ Marzeqdeq. Ia selalu mengejar dan menyerang rijalolah yang melindungi diri dengan cupu tempat Baginda Sis. Kemudian datang seekor naga bernama Naga Jatingarang yang berasal dari kotoran cupu. pengagungan dan ketakutan pada gangguan dan kesialan dari naga dapat ditelusuri dari budaya pemujaan kepada ular. nampak sinkretisme Jawa yang mencampuradukkan unsur Islam (Adam. kata neptu bermakna sesuai. keduanya meletakkan rahsa kama dalam cupu dan membukanya setelah sembilan bulan. ular dianggap pandai menjelma menjadi manusia. Hawa. hal. Angka nilai neptu menjadi dasar perhitungan berbagai hal. pekan. sementara rahsa kama Hawa tetap menjadi darah. Ruqyah 17 . Mungkin pengaruh Hindu ini terbawa ke Pulau Jawa dan kemudian mengalami sinkretisasi dengan Islam. Di sisi lain. karenanya Rijalullah dipilih sebagai pertahanan maupun keamanan bumi di daerahnya masing-masing. Pada aslinya. Rahsa kama Nabi Adam berubah menjadi orok yang kemudian disebut Baginda Sis.230. Ilmunya sulit terjajagi dan banyak mempunyai karomah. orang Hindu India biasa memberi persembahan kepada Dewa Ular yang berwujud ular Kobra. Rijalolah sendiri mungkin berasal dari rijalullah. hamba Allah yang telah memiliki pengetahuan ilmu ma’rifat secara menyeluruh. pernikahan anak-anak kembar mereka) dengan unsur Hindu (kisah Cupu Manik Astagina dalam Ramayana). bulan dan tahun. Neptu Neptu adalah nilai yang disandarkan pada pasaran. sebagaimana sesuainya 2x2=4. Parasit Akidah. Dalam kisah di atas. Inilah sebabnya perhitungan Jawa memasukkan unsur naga dan rijalolah dalam penentuan waktu yang baik dan waktu yang buruk. Ular-ular kemudian diberi kurban yang khas.

hal. Hakikat bukan Khurafat . pekan dan tahun.para ahli nujum dan sarhana ilmu perhitungan (primbon).”13 Nilai neptu berbeda-beda untuk hari. pasaran. 18 Jin. 35. Neptu hari: Ahad Senin Selasa Rabu Kamis Jum’at Sabtu 5 4 3 7 8 6 9 Neptu pasaran: Kliwon Legi Paing Pon Wage 8 5 9 7 4 Neptu bulan: Sura Sapar 7 2 Rejeb Ruwah Pasa Sawal Dulkangidah Besar 2 4 5 7 1 3 Rabiulawal 3 Rabiulakir 5 Jumadilawal 6 Jumadilakir 1 13 Petungan Jawa.

Namun dalam perkembangannya nujum digunakan untuk menyebut semua jenis ramalan.Neptu tahun Alip Ehe Jimawal Je Dal Be Wawu Jimakir 1 5 3 7 4 2 6 3 Nujum Nujum pada dasarnya adalah ilmu ramalan bintang (astrologi).248. Kemudian ada kumpulan jawaban yang bernomor 1-21. teknik nujum yang digunakan menggunakan tabel yang berisi pertanyaan bernomor I-XXI dan kode huruf bertanda A-U. keuntungan dagang. hal. nasib sebuah perkawinan sampai tanda sebuah impian atau kedutan baik atau tidak. orang yang pergi akan kembali atau tidak. Daftar pertanyaannya ada 21 buah. Huruf pilihannya bertepatan dengan nomor pertanyaan akan menunjuk nomor jawaban. Kemudian ia harus mengheningkan cipta sesaat. Jawaban akan menunjukkan ramalannya. dari akan tercapainya keinginan atau tidak. Ramalannya adalah “tahun ini memperoleh keuntungan. kemudian mengambil salah satu huruf dengan mata terpejam. Ruqyah 19 . Dalam Primbon Betaljemur Adammakna.14 Pengguna memilih salah satu pertanyaan sesuai hajatnya. misalnya huruf K akan menunjukkan nomor 13.” 14 Betaljemur. Nomor III misalnya berisi pertanyaan “perdagangan saya akan untung atau tidak?”.

Tokoh Amir Ambyah pernah menjadi anak angkat sekaligus murid dari Betal Jemur. Bekti Jamal dan Betal Jemur adalah nama karakter dalam cerita Menak yang pernah menjadi pemilik Kitab Adam Makna. sejumlah primbon Jawa yang ada hingga hari ini mengambil nama dari cerita Menak. Primbon diwariskan dari generasi ke generasi. Istilah “Adammakna” berasal dari nama sebuah kitab legendaris dalam cerita Menak. yaitu sebuah kisah pewayangan bernuansa Islam yang mengambil karakter dan seting Timur Tengah.15 Primbon ada bermacam-macam. Lukman Hakim disebut-sebut sebagai tokoh yang memiliki kemampuan seperti Petungan Jawa. 20 ١٥ Jin. Hakikat bukan Khurafat . yaitu Kitab Adam Makna.Primbon Kata primbon berasal dari “rimbu” yang bermakna simpan atau simpanan. Sebagai buku yang memuat tradisi mistik dan klenik di Jawa. dan tuntunan hidup bagi manusia agar dapat menjalani kehidupannya dengan sempurna. Betal Jemur adalah putra dari Raden Bekti Jamal. semacam kitab “fikih” yang memuat makna. Beberapa primbon mencantumkan nama Adammakna di judulnya. antara lain: Primbon Betaljemur Adammakna Primbon Lukmanakim Adammakna Primbon Atassadhur Adammakna Primbon Bektijammal Adammakna Primbon Shahdhatsaahthir Adammakna Primbon Qomarrullsyamsi Adammakna Primbon Naklassanjir Adammakna Primbon Quraisyin Adammakna Primbon Ajimantra Menurut Susiyanto. Primbon berisi catatan dari para leluhur berdasarkan pengalaman baik dan buruk yang dialami oleh orang Jawa. Kisah Menak ini sangat populer pada masanya. Ada pun Lukman Hakim merupakan ayah dari Raden Bekti Jamal. 23. peneliti dari Pusat Studi Peradaban Islam. hal. kitab primbon selalu mengambil nama-nama yang menarik sehingga mampu memikat pembaca. Maka kaum kebatinan yang menciptakan primbon pun memberi judul primbonnya dari cerita Menak yang populer. rahasia.

kakang kawah. adi ari-ari. Warisan Budaya Islam di Indonesia. Sedangkan Kuraisyin adalah nama dari salah satu putri Amir Ambyah dari istrinya yang bernama Dewi Ismayawati.com Ruqyah 21 . aku selalu ingat kamu. Jodoh. sebuah perjodohan bisa jadi digagalkan karena dalam perhitungan ternyata seorang lelaki dan seorang perempuan memiliki weton dengan paduan angka yang diramalkan bernasib sial. putri Prabu Tamimasyar dari kerajaan Ngajrak. dengan mengatakan: ini untuk semua saudara halusku. Selanjutnya untuk mengingat dan menghormati para leluhur dan memuji Sang Pencipta.com. Weton memiliki peran sentral dalam perhitungan dan ramalan nasib Jawa. mengenali kamu. kalimo pancer Bantulah saya (katakan apa keperluanmu) Jagalah saya pada waktu saya tidur 16 Susiyanto. Caranya ada dua macam17: Pertama : dengan sesaji dan doa.” Dimuat dalam susiyanto.Nabi Sulaiman. Pada saat weton biasanya akan dibuat semacam sesaji sederhana yang berupa secawan bubur merah putih dan satu gelas air hangat. getih puser sedulur papat.blogspot. karena melalui merekalah kamu dilahirkan dan hidup di dunia ini. Sesaji sederhana ini juga untuk mengingatkan dan bersyukur kepada ibu dan ayah. 17 Puasa Weton Sedulur 4 Limo Pancer. dimuat dalam aindra. misalnya Senin Wage atau Jum’at Pon. Weton adalah peringatan hari lahir seseorang yang terjadi setiap 35 hari sekali. wordpress. maka itu bantulah dan jagalah aku. Pemberian ini adalah untuk saudarasaudara halus. Weton biasa diperingati oleh pemiliknya setiap selapan (35) hari. “Cerita Menak. Cara yang lengkapuntuk meyebut saudara-saudara halus tersebut adalah : Mar marti. Dalam keluarga-keluarga yang masih memegang kukuh tradisi Jawa.16 Weton Weton adalah paduan hari dan pasaran saat seseorang dilahirkan. penyakit dan banyak urusan manusia Jawa diperhitungkan dan diramalkan dengan dasar perhitungan ini. rejeki.

Para saudara halus ini mendapatkan tugas dari Sang Pencipta Kehidupan untuk membantu dan menjaga saudaranya yang pada saat ini menjadi manusia dibumi. Puasa pada hari Weton bagi orang Jawa dipercayai dapat memberikan pencerahan spiritual. Dalam tradisi Jawa diyakini bahwa kakang kawah dan adi ari-ari adalah yang unsur sedulur yang paling banyak membantu. hanya makan buah dan sayuran. sejahtera selama hidup dibumi ini. sedangkan adi ari-ari selalu berusaha menyenangkan pemiliknya. Antara lain berpuasa selama 24 jam. manusia selalu didampingi oleh saudara-saudara gaibnya kapan pun dan di mana pun dia berada. Mengenal "Sedulur Alus" Spiritualitas Jawa meyakini bahwa dalam kiprahnya menjalani kehidupan di bumi. Sesudah itu boleh memanggil mereka semua : saudara halusku. tidur sesudah tengah malam atau tidak tidur sama sekali. sehat.nama mereka harus disebut dengan lengkap sehingga terbiasa untuk beberapa bulan. Dianjurkan pula pada saat akan melakukan hal yang penting atau sebelum berdoa. yaitu satu hari sebelum weton. pada saat weton dan sehari sesudah weton yang disebut Ngapit. membantu supaya saudaranya yang manusia menjalani kehidupannya dengan selamat. Hakikat bukan Khurafat 22 . Tugas sedulur alus tersebut. sesudah menyebutkan nama lengkap mereka satu persatu. Kedua : dengan berpuasa dan ritual lain. menurut Jin. ulangi lagi dengan menyebut kakang kawah dan adi ari-ari untuk membantu. makan nasi putih dan minum air putih . Ada juga yang melakukan selama tiga hari berturut-turut. Kakang kawah selalu berusaha mewujudkan semua keinginan dan usaha. melindungi.Nama. Siapa saja saudara Gaib itu? Sedulur alus yang tidak berbadan fisik itu menurut kepercayaan tradisional Jawa selalu membantu saudaranya yang manusia dengan jalan menyertai.

kepercayaan Jawa, sesuai dengan ketentuan dari Tuhan.. Saudara Gaib itu jumlahnya banyak. Di antaranya: Mar dan Marti, biasa dipanggil Mar Marti. Mereka adalah saudara manusia yang lebih tua. Mereka tidak ikut dilahirkan melalui gua garba ibu. Mar yang paling tua merefleksikan perjuangan ibu sewaktu melahirkan bayi. Dia adalah daya, kekuatan yang kuat, hebat untuk hidup dan melindungi hidup. Marti merefleksikan perjuangan ibu setelah melahirkan. Perjuangannya berhasil, lega rasanya. Oleh karena itu Mar Marti tinggi pangkatnya, sebagai Raja dan Ratu. Secara mistis warnanya berupa cahaya putih bersih dan kuning muda jernih. Mar Marti membantu manusia yang dikawalnya, hanya untuk hal-hal yang penting, dalam keadaan yang benar-benar diperlukan. Karena derajat Mar Marti adalah bagai Raja dan Ratu, maka manusia yang meminta bantuan mereka adalah yang punya perbuatan, pikiran dan rasa yang jernih. Menurut istilah Kejawen adalah manusia yang telah melakukan tapabrata terlebih dahulu, yang sudah melakukan laku spiritual yang sungguh-sungguh.

Sedulur papat kalimo pancer Saudara empat yang kelima pancer, yaitu : Kakang Kawah : Kakak Kawah, yang keluar dari rahim ibu, sebelum sibayi. Warnanya putih, tempatnya di Timur. Adi Ari-ari : Adik ari-ari, yang keluar dari rahim ibu, sesudah si bayi. Warnanya kuning, tempatnya di Barat. Getih : Darah yang keluar dari rahim ibu sewaktu melahirkan. Warnanya merah, tempatnya di Selatan. Puser : Pusar, yang dipotong sesudah kelahiran bayi. Warnanya hitam, tempatnya di Utara. Pancer : Pancer adalah bleger ,wujud badan jasmani yang ada ditengah keempat saudara yang lain yang tidak punya raga fisik. Sedulur papat kalimo pancer juga disebut Keblat papat, kalimo tengah ,artinya : Kiblat empat, yang kelima di tengah. Para saudara halus ini mempunyai tugas untuk membantu manusia didalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Ruqyah

23

Selanjutnya ada saudara-saudara halus yang dipanggil sebagai : Kabeh kadang ingsun kang metu saka margo ino lan kang ora metu saka marga ino. (Semua saudaraku, yang ada melalui rahim ibu dan yang tidak melalui rahim ibu). Kabeh kadang ingsun kang ora katon miwah kang ora karawatan. (Semua saudaraku yang tidak kelihatan dan tidak terawat). Kabeh kadang ingsun kang lahir bareng sadino sawengine karo aku. (Semua saudaraku yang lahir siang malam bersamaku). Jadi, memang benar saudara halus manusia itu ada banyak, mereka juga sering disebut sedulur sinarawedi- saudara terdekat. Dari sudut kebatinan, ada yang menyebut mereka makdum sarpin.

Perlu dikenal Para pinisepuh Kejawen mengajarkan penganutnya supaya mengenal dan syukur kalau mau ngerteni (memahami) saudara halus kita. Mereka itu selalu mengawal dan membantu kita, disadari atau tidak, karena mereka dapat tugas dari Tuhan. Tentunya, si manusia juga harus berbuat dan berkemauan yang baik. Perlu diketahui bahwa para saudara halus tersebut merasa senang kalau kita mengetahui kehadiran dan keberadaan mereka, terlebih kalau kita memperhatikan mereka. Kalau mereka merasa dianggap dan diperhatikan tentu mereka akan lebih rajin dan giat membantu. Mereka senang bila setiap saat diajak berpartisipasi dalam setiap kegiatan kita, seperti : makan, minum, belajar, bekerja, menyopir, mandi dsb. Contoh mengajak saudara halus kita, katakan dalam batin : “Semua saudara halusku ( secara lengkap adalah : Kakang kawah, adi ari-ari, getih, puser, kadang ingsun papat kalimo pancer, kabeh kadang ingsun kang metu saka margo ino lan kang ora metu saka margo ino, kabeh kadang ingsun kang ora katon miwah kang ora karawatan, kabeh kadang ingsun kang lahir bareng sadino sawengine karo aku), saya mau makan, bantulah saya – Aku arep mangan, ewangewangono. Artinya supaya kita dibantu bisa makan dengan selamat dan makanan itu juga baik untuk kita.

24

Jin; Hakikat bukan Khurafat

“Semua saudara halusku, bantulah saya menyopir mobil ini atau naik motor ini supaya selamat dan lancar sampai ke kampus atau ke kantor”. Artinya supaya dibantu supaya tidak ada halangan maupun kecelakaan. “Semua saudara halusku, bantulah saya dalam bekerja, sehingga pekerjaan saya lancar dan benar”.

Akrab dengan saudara halus Tradisi Jawa meyakini hubungan akrab dengan semua saudara halus bisa dilakukan dengan biasa melakukan komunikasi. Seperti juga dalam pergaulan antar manusia, kalau sering terjadi komunikasi, tentu hubungannya menjadi lebih terbiasa dan bahkan menjadi akrab. Kalau sudah akrab, bisa terjadi hubungan yang saling membantu. Jalinan komunikasi pertama adalah : Anda sering menyebut nama mereka secara lengkap, satu per satu. Ini anda lakukan karena Anda perlu minta dibantu atau dilindungi. Dengan menyebut mereka dan minta bantuan itu artinya Anda mengakui keberadaan mereka dan bahwa mereka adalah saudara-saudara anda yang anda sayangi dan perlukan. Jadi menyebut mereka dan minta kerjasama mereka, itu tidak merendahkan mereka maupun Anda. Itulah kenyataan yang digariskan Gusti, sesuai Kejawen. Seandainya Anda tidak pernah menyapa mereka, maka sebagai sesama makhluk mereka juga merasa bahwa keberadaan mereka tidak Anda perhatikan dan perlukan. Mereka akan tidak antusias mendampingi, melindungi dan membantu Anda, meskipun itu tugas alami mereka atas kehendak Gusti. Maka jangan heran kalau kita lihat banyak teman, kenalan kita yang hidupnya kesandhung-sandhung – banyak menghadapi kendala, sial, nasib jelek dan sebagainya. Mungkin saja mereka tidak dibantu secara optimal oleh saudara-saudara halusnya sendiri, selain ada masalah karma. (dinukil dari Saudara Ghaib, www/sisableng.wordpress.com)

Ruqyah

25

Madhangkungan 21. Kayunya kendayakan: menjadi naungan bagi orang sakit dan melarikan diri. cemburu. kayu. Hakikat bukan Khurafat . Kulawu 29. candra dan jabungkalajayabumi (arah ancaman bahaya). Warigagung 9. Manail 24. Marakeh 19. Burungnya gagak: tahu gelagat. selamatan tolak bala. Mandhasiya 15. Bala 26. Watugunung Masing-masing wuku memiliki dewa. Gumbreg 7. Jabungkalajayabuminya di timur laut: tujuh hari jangan pergi ke timur laut. Siklus Wuku setiap 210 hari karena ada 30 wuku yang memiliki sifat dan karakter sendiri-sendiri serta mempengaruhi kehidupan manusia. hal. Julungwangi 10. Wayang 28. Pahang 17. Misalnya Wuku Sinta: dewanya Batara Yamadipati yang laksana pendeta. enak bicaranya. burung. Wugu 27. Tolu 6. banyak rejeki kaya harta benda. Slawatnya 4 ketheng. tidak percayaan. 27. Kuningan 13. Sifatnya memanggul panji-panji: memiliki kesenangan. Maktal 22. Candranya: Indra janma nestapa. Kuruwelut 18. tidak sabar. Nama-nama wuku itu adalah: 1. sering kecelakaan. Selamatan penolaknya nasi pulen beras sapitrah (kurang lebih ¼ kg) dan daging kerbau seharga 21 ketheng (mata uang kuno senilai ½ sen)yang dibeli tanpa menawar. Bencananya: mati setengah umur. besar nafsu.Wuku Siklus tujuh harian atau mingguan dalam kalender Jawa disebut sebagai Wuku. Kurantil 5. bencana. wataknya bagaikan raja. Sungsang 11. Landep 3. Julungpujut 16. sifat. Galungan 12.18 18 Petungan jawa. Tambir 20. 26 Jin. Wuye 23. Sinta 2. slawat. Langkir 14. Warigalit 8. Dhukut 30. lembut budi. Prangbakat 25. cepat dalam segala pekerjaan. Wukir 4.

Awal tahun baru yang jatuh pada tanggal 1 Sura akan memiliki nama sesuai beberapa jenis binatang sesuai harinya19: Jika 1 Sura jatuh pada Hari Ahad. banyak hujan. Tahun Wastu berumur 354 hari. Be. banyak hujan. jarang hujan. Jika 1 Sura jatuh pada Hari Sabtu. Jimawal. Jika 1 Sura jatuh pada Hari Senin. menyesuaikan dengan perhitungan tahun Hijriyah. 28. Jika 1 Sura jatuh pada Hari Jumat.Tahun Kalender Jawa atau Kalender Sultan Agung memiliki delapan tahun dengan nama-nama yang diambul dari huruf Arab. jarang hujan. maka disebut Tahun Soma Wrejita (cacing). maka disebut Tahun Menda (kambing). sementara Tahun Wuntu berumur 355 hari. Tahun-tahun itu terbagi dua. maka disebut Tahun Dite Kalaba (kelabang). banyak hujan. Jika 1 Sura jatuh pada Hari Rabu. Ehe. Karenanya sistem tahun ini disebut juga sebagai Tahun Huruf. Jika 1 Sura jatuh pada Hari Selasa. Jika 1 Sura jatuh pada Hari Kamis. Penetapan ini dilakukan pada masa Sultan Agung. Yaitu Alip. Kalender Jawa juga memiliki tradisi sama. Mirip dengan penanggalan dan Cina yang menamai tahun dengan Shio berlambang binatang. maka disebut Tahun Buda Wisaba (kerbau). banyak hujan. jarang hujan. umur Bulan Besar bertambah 1 hari menjadi 30 hari. Ruqyah 27 . Dalam tahun panjang. maka disebut Tahun Sukra Minangkara (udang). Wawu dan Jimakir. maka disebut Tahun Respati Mintuna (mimi). maka disebut Tahun Anggara Wrestija (katak). Dal. hal. yaitu dalam Tahun Wastu (pendek) dan Wuntu (panjang). 19 Petungan Jawa. Je.

Dipercaya bahwa pada hari ini. Siklus Windu sendiri ada empat macam20: Kunthara Songara Sancaya Adi : berarti ulah atau tingkah laku. 28 Jin. siklus delapan tahunan disebut satu windu. Bulan yang tidak memiliki hari Anggarakasih dilarang untuk melaksanakan hajat nikah dan lainnya.Windu Dalam Kalender Jawa. : artinya banjir. Hakikat bukan Khurafat . Dalam tradisi Jawa. Banyak luapan air yang besar. Waktu Baik dan Jelek Anggarakasih (Selasa kliwon) Hari Anggara Kasih adalah hari Selasa-Kliwon. Banyak tingkah laku orang yang aneh dan belum pernah terjadi. 21 Betaljemur. : artinya silaturahmi. : artinya unggul. Banyak orang saling sepakat dan rukun. Hari ini oleh orang Jawa dan Hindu Bali dianggap keramat. Banyak bangunan baru yang menyenangkan. hal. hal. 29. sukaria dan bersahabat.21 Dalam tahun Alip Dalam tahun Ehe Dalam tahun Jimawal Dalam tahun Je Dalam tahun Dal Dalam tahun Be Dalam tahun Wawu Dalam tahun Jimakir : Jumadilakir dan Besar : Rejeb : Sura dan Ruwah : Sapar dan Ruwah : Rabiulawal dan Puasa : Rabiulakir : Rabiulakir dan Dulkangidah : Jumadilawal 20 Ibid. Batara Siwa turun ke bumi. 11.

3. 23 Ibid.2. Dulkangidah : 2 dan 22 12. Ruwah 9. Jumadilawal : 10 dan 11 6.5 dan 12 1. TAHUN Alip Ehe Jimawal Je Dal 22 Ibid. Sapar : 11 : 20 7.10 dan 11 2.7. Rabiulakir : 10 dan 20 5. Sura 2. Jika dilanggar amat berbahaya.8 dan 11 Ruqyah 29 . Sawal : 13 dan 27 : 4 dan 28 : 7 dan 20 : 10 3.8 dan 10 4. hal.7. Besar : 6 dan 20 Bulan Baik dan Jelek23 Dalam setiap tahun Jawa yang berjumlah delapan.6.5.3.9. akan mendatangkan kesusahan.Bangas Padewan Adalah tanggal dalam setiap bulan yang dilarang berhajat menikahkan dan sebagainya.9 dan 10 BULAN BURUK 9 dan 11 4. Rabiulawal :1 dan 15 4.7. Puasa 10. 20. ada bulan-bulan yang baik dan jelek. Bangas Padewan diidentikan dengan kesialan dan kemalangan yang akan dialami orang yang melanggar pantangan tersebut. Larangan tersebut diberlakukan karena menurut tradisi Jawa. pada hari itu merupakan hari kebangkitan Dewa Bangas Padewan yang kerap menimpakan angkara murka di muka bumi. 10 BULAN BAIK 1 1.11 dan 12 1. Jumadilakir : 10 dan 14 11.2.3.9 dan 12 6.8.8 dan 10 7. hal.2.22 Bulan dan tanggal Bangas 1. Rejeb 8.6. Keperluan hajat nikah dianjurkan dilaksanakan pada bulan baik dan dihindari pada bulan jelek.

namun akan sering dipergunjingkan dan dicacimaki.4. : Jangan dilanggar.3. Konsekuensi menikah pada bulan-bulan tersebut diyakini ada bermacam-macam. : Kaya akan harta benda. akan sering sakit dan bertengkar dengan teman. Namun bulan-bulan itu memiliki derajat yang berbeda-beda. hal. Ada yang sama sekali tak boleh dilanggar.10. akan mendapat kecelakaan besar. Hakikat bukan Khurafat .10 dan 12 1. namun akan sering tertipu. namun akan sering kekurangan dan banyak hutang. Rinciannya sebagai berikut: Sura Sapar Rabiulawal Rabiulakir Jumadilawal Jumadilakir Rejeb Ruwah Puasa Sawal Dulkangidah Besar 24 Ibid.7. : Akan kaya dan mendapat kebahagiaan.8. : Boleh dilanggar. ada yang boleh dilanggar. kehilangan dan banyak musuh. : Jangan dilanggar. : Selamat dan selalu damai. 21 . : Selamat dan banyak anak.Be Wawu Jumakir 6 dan 12 2. : Jangan dilanggar meninggal. Jika dilanggar akan mendapat kesukaran dan selalu bertengkar. : Boleh dilanggar.5. : Boleh dilanggar.5 dan 9 3. : Jangan dilanggar. karena salah satu akan : Boleh dilanggar. namun akan kekurangan dan banyak hutang. 30 Jin.11 dan 12 1 dan 11 Bulan Baik dan Jelek untuk Hajat Nikah dan Akibatnya24 Bulan jelek dalam perhitungan Jawa tak boleh untuk hajat nikah.2 dan 7 1.

hal. Sura dan Sapar harinya Jum’at Bulan Rabiulawal. 10. 27 Ibid. Rejeb dan Ruwah harinya Senin dan Selasa Bulan Puasa. Rabiulakir dan Jumadilawal harinya Sabtu dan Ahad Bulan Jumadilakir. Rabiulakir dan Jumadilawal harinya Rabu dan Kamis Hari Jelek untuk Menikah Berdasarkan Kejadian yang Dialami Para Nabi27 Ada hari-hari yang dianggap jelek dalam tradisi Jawa karena diyakini merupakan hari para nabi mengalami hal yang jelek. 26 Ibid. Rejeb dan Ruwah harinya Jum’at Bulan Puasa.Bulan Sarju25 Sarju sebenarnya bermakna berkenan atau setuju. Antara lain: 13 Sura 3 Rabiulawal 16 Rabiulakir : konon pada hari itu Nabi Ibrahim dibakar oleh Raja Namrud : konon pada hari itu Nabi Adam diturunkan ke dunia dari surga : konon pada hari itu Nabi Yusuf dimasukkan ke dalam sumur 25 Ibid. Sura dan Sapar harinya Senin dan Selasa Bulan Rabiulawal. Ruqyah 31 . Sawal dan Dulkangidah harinya Rabu dan Kamis Hari Jelek untuk Hajat Menikah26 Bulan Jumadilakir. tidak terlalu baik namun juga tidak jelek untuk melangsungkan berbagai urusan. Namun harinya harus diperhatikan. hal. hal. Namun Bulan Sarju dimaknai sebagai bulan sedang. Rinciannya sebagai berikut: Bulan Besar. 19. 18. Sawal dan Dulkangidah harinya Sabtu dan Ahad Bulan Besar.

Hari sangar adalah hari yang jelek. angker atau tidak subur. Rabiulakir dan Jumadilawal hari sangarnya Senin dan Selasa Bulan Jumadilawal. 29 Ibid. tidak boleh untuk hajat nikah dan hajat lainnya. Dalam tahun Kunarpawarsa hari jelek yang dilarang untuk menikah dan hajat lainnya. 32 Jin. rejeb dan Ruwah hari sangarnya Rabu dan Kamis Kunarpawarsa (tahun bencana)29 Berasal dari kata kunarpa yang bermakna bangkai atau mayat dan warsa yang berarti tahun. Tahun Alip harinya Sabtu Paing Tahun Ehe harinya Kamis Paing 28 Ibid. aplikasinya justru menjadi hari jelek yang dipantangkan untuk berhajat. Hakikat bukan Khurafat . Maksudnya mungkin mengingat sejarah para nabi tapi terjerumus ke dalam syirik. dan Dulkangidah hari sangarnya adalah Jum’at Bulan Besar. Sura dan Sapar hari sangarnya adalah Sabtu dan Ahad Bulan Rabiulawal. Sayang. hal. Bulan Puasa. Sawal.5 Jumadilawal : konon pada hari itu umat Nabi Nuh diterjang banjir 12 dan 21 Puasa : konon Nabi Musa berperang dengan Fir’aun pada hari itu 24 Dulkangidah : hari ditelannya Nabi Yunus oleh ikan paus 25 Besar : hari masuknya Nabi Muhammad ke dalam Gua (Tsur?) Tanggal-tanggal ini menunjukkan pengaruh Islam dalam tradisi Jawa. Hari Sangar28 Secara bahasa sangar berarti mendatangkan bala dan bencana. Hitungannya jatuh pada setiap tanggal 29 atau 30 bulan Besar. 9.

hal. 11.Tahun Jimawal harinya Senin Legi Tahun Je harinya Jum’at Legi Tahun Dal harinya Rabu Kliwon Tahun Be harinya Ahad Wage Tahun Wawu harinya Kamis Pon Tahun Jimakir harinya Selasa Pon Pantangan Bulan30 Menurut primbon. Sakit demam/panas jika melanggar pantangan bulan Ruwah pada tahun Dal. Ruqyah 33 . Sakit kepala jika melanggar pantangan bulan Jumadilawal pada tahun Wawu. Sakit lepra jika melanggar pantangan bulan Sura dan Sawal pada tahun Je. Sakit ingatan jika melanggar pantangan bulan Sura dan Dulkangidah pada tahun Jimakir. melakukan hajat nikah dan sebagainya pada bulanbulan yang jelek akan menimbulkan musibah-musibah tertentu. Tersangkut perkara besar jika melanggar pantangan bulan Sapar dan Rejeb pada tahun Be. Tewas atau hanyut di sungai jika melanggar pantangan bulan Rabiulawal dan Besar pada tahun Jimawal. 30 Ibid. Sakit tulang jika melanggar pantangan bulan Rabiulawal dan Puasa pada tahun Ehe. Rinciannya sebagai berikut: Sakit atau kena racun jika melanggar pantangan bulan Jumadilakir dan Dulkangidah pada tahun Alip.

Caranya neptu hari dan pasaran dijumlahkan. 32 Ibid. Jika berperang terasa lambat. Perang membutuhkan keberanian mengambil keputusan (decisive).13 dan 17: lambangnya Nyangking. Sementara hitungan dan ramalan Jawa justru melahirkan hal-hal tadi. Dengan teknik ini. Melihat rumitnya hitungan keberhasilan berperang serta alternatifnya yang lebih banyak gagal (lambat dan sering kembali.Perang dan Utang Sesuai Hari dan Pasaran31 Dengan menghitung neptu hari dan pasaran akan diketahui nasibnya orang yang akan maju berperang. 31 Ibid. kemudian hasil penjumlahannya akan menunjukkan nasibnya sebagai berikut: Hasil 7. 121. Mudah berhutang maupun menagih. karena banyak dan rumitnya pantangan hari atau waktu yang tak boleh digunakan melaksanakan hajat atau bepergian. Berhutang atau menagih tidak berhasil. 34 Jin. Jika berperang bingung. perhitungan Jawa mencoba “mengakali” konsep hari dengan jam. Berhutang atau menagih gagal. Perhitungan Hari Menurut Jam32 Barangkali untuk mengatasi kesulitan. tidak ragu-ragu maupun was-was. sering kembali. Akan gagal jika berhutang atau menagih. meskipun pada hari itu sebenarnya termasuk hari naas atau sial.11 dan 15: lambangnya Janggleng (buah jati). Hasil 8.12 dan 16: lambangnya Celeng (babi hutan). Hasil 9. hal. berhutang ataupun menagih hutang. Caranya dengan memasukkan jam-jam tertentu pada hitungan hari lain. 159. Jika berperang dapat menyelesaikan. 14 dan 18: lambangnya Kithing (cacat berupa dua jari yang menyatu). mungkin inilah sebabnya orang Jawa cenderung antikonflik apalagi perang. Tak akan terjadi jika mau berperang. bingung dan batal) daripada yang tidak gagal (itupun sekedar “dapat menyelesaikan). bepergian atau hajat tertentu dapat dilakukan pada jam tertentu. Hakikat bukan Khurafat . hal. Hasil 10.

Rinciannya sebagai berikut: Saat yang baik terdiri dari: Saat yang buruk terdiri dari: Wiji. Pati 33 Ibid. Rejeki.Contohnya Hari Ahad: Jam 6-8 dihitung tetap masuk hari Ahad Jam 8-10 dihitung masuk hari Senin Jam 10-11 dihitung masuk hari Selasa Jam 11-1 dihitung masuk hari Rabu Jam 1-3 dihitung masuk hari Kamis Jam 3-5 dihitung masuk hari Jum’at Jam 5-6 dihitung masuk hari Sabtu Misalkan Ahad itu masuk dalam bulan Sura. Sistem perhitungan Saat Agung memiliki tujuh saat. Cahya. ada yang baik dan ada yang jelek. hal. selalu Malaekat tercapai maksudnya. bersifat menjadi tempat Puji perlindungan. bersifat aman. bersifat terang. Ruqyah 35 . pantas. 121. misalnya bepergian. asal pada jam 8-5 karena dihitung masuk dalam hari Senin-Jum’at. Tapi suatu hajat bisa saja dilakukan. sebenarnya Sabtu dan Ahad pada bulan itu termasuk hari sangar. tenteram. segalanya tercapai dan baik. Segala keperluan bisa dilakukan pada hari apa saja asal memilih jam yang sesuai dengan Saat Agung. suka Lara dan senang. Saat Agung33 Teknik “mengakali” hari naas dengan memilih jam juga ada dalam bentuk lain.

36 Jin. hal. Dalam tradisi Jawa hal ini dianggap naas. Hari samparwangke hendaknya dihindari untuk mengerjakan sesuatu karena menjadi hari naasnya seseorang. Misalkan pada hari Senin. 8. rincian saat agungnya sebagai berikut: Wiji : jam 6-8 Cahya : jam 8-10 Lara : jam 10-11 Rejeki : jam 11-13 Malaekat Puji Pati : jam 13-15 : jam 15-17 : jam 17-18 Hitungan saat agung ini akan berbeda untuk setiap harinya. Hal ini terlihat kontradiktif dengan konsep perhitungan jam (lihat entri Perhitungan hari menurut Jam) yang justru memasukkan jam 10-11 hari Ahad dalam hitungan hari Selasa sehingga boleh saja melakukan suatu keperluan meskipun pada hari yang naas. Maka mengakali hari naas pun harus melihat tabelnya dalam primbon. ada lima wuku yang memiliki hari samparwangke (hari naas/sengkala) yang jatuh pada ringkel Aryang. 35 Ibid. Misalnya pada hari Ahad. 34 Ibid. hal. Hakikat bukan Khurafat .Saat agung ini memiliki fase yang berbeda pada setiap harinya. 123. Dalam siklus wuku yang 30 (lihat entri Wuku). dihindari mengerjakan keperluan pada jam 10-11 pagi dan jam 5-6 petang. Saat Tertentu yang Harus Dihindari34 Ada saat-saat tertentu yang harus dihindari untuk mengerjakan berbagai keperluan. Samparwangke35 Samparwangke secara harfiah bermakna tersandung bangkai.

Wuku Langkir samparwangkenya Senin Paing 4. dilarang berhajat menikahkan dan lainnya. 37 Ibid. Anggarayang (Wuku Wayang): Selasa Legi. Hitungannya tetap. Wuku Warigalit samparwangkenya Senin Kliwon 2. Wuku Sinta samparwangkenya Senin Pon 5. 9. berlambang Sinar Berjalan Matinya Sapi Hutan 36 Ibid. Wuku Tambir samparwangkenya Senin Wage Sangarwarsa36 Maknanya tahun yang sangar. Wuku Bala samparwangkenya Senin Legi 3. Ruqyah 37 . sebuah hari yang naas dan sial. Dalam tahun Alip sangarwarsa jatuh pada Jum’at Legi Dalam tahun Ehe sangarwarsa jatuh pada Selasa Kliwon Dalam tahun Jimawal sangarwarsa jatuh pada Ahad Kliwon Dalam tahun Je sangarwarsa jatuh pada Kamis Wage Dalam tahun Dal sangarwarsa jatuh pada Senin Pon Dalam tahun Be sangarwarsa jatuh pada Sabtu Legi Dalam tahun Wawu sangarwarsa jatuh pada Rabu Paing Dalam tahun Jimakir sangarwarsa jatuh pada Ahad Legi Taliwangke37 Secara bahasa bermakna tali bangkai. Somaye (Wuku Wuye): Senin Kliwon. hal.1. Hari Taliwangke hendaknya dihindari untuk mengerjakan sesuatu yang perlu. ada enam wuku yang memiliki hari Taliwangke. jatuh setiap tanggal 3 bulan Sura. berlambang Perangkap Burung 2. 8. hal. hari Taliwangke memiliki rincian sebagai berikut: 1. Dalam siklus wuku yang 30 (lihat entri Wuku). Dengan nama dan lambang khas.

Rabiulawal tanggal 10. hal. Warigamis (Wuku Warigalit): Kamis Pon. segala keperluan yang penting hendaknya menghindari bulan. Bodanep (Wuku Landep): Rabu Paing. Rabiulakir : 10 dan 20 10. Sawal : 10 dan 20 5. Hakikat bukan Khurafat . tanggal dan hari taliwangke berikut. berlambang Ikan Pringga Mati 4. 12. 17 dan 27 serta hari Rabu Paing. Puasa : 9 dan 20 4. berlambang Tumbuhtumbuhan Rontok 6. Sapar tanggal 1. 38 Ibid. 1. 38 Jin. jika dilanggar akan berakibat halangan lebih besar. Rabiulawal : 10 dan 20 9. jika dilanggar berakibat sering sakit. 20 dan 22 serta hari Kamis Pon.3. 19. Jumadilawal : 1 dan 11 11. jika dilanggar berakibat sakit perut. 15 dan 23 serta hari Jum’at Wage. hal. Sapar : 1 dan 20 8. 39 Ibid. berlambang Kapas Garing Tanggal Naas38 Masing-masing bulan memiliki tanggal naas yang dilarang untuk menggelar hajat nikahan dan sebagainya. Sura tanggal 11. Jumadilakir : 10 dan 14 12. Besar : 6 dan 10 Tanggal Sangar39 Agar terhindar dari akibat buruk. berlambang Manusia Mati 5. Rejeb : 2 dan 14 2. 13. Tumpaklote (Wuku Kuruwelut): Sabtu Kliwon. Sura : 6 dan 11 7. Sukraingan (Wuku Kuningan): Jum’at Wage. Dulkangidah: 12 dan 13 6. 14. 12. Ruwah : 12 dan 13 3.

17. 12 dan 21 serta hari Senin Kliwon. jika dilanggar berakibat keracunan. 20 dan 23 serta hari Selasa Legi. jika dilanggar berakibat sakit ingatan. Ruwah tanggal 14. jika dilanggar berakibat kena perkara. Jumadilakir tanggal 3. 15. Jumadilawal tanggal 10. 19. Rejeb tanggal 2. Besar tanggal 1. 15. 16 dan 26 serta hari Senin Kliwon. Dulkangidah tanggal 6. 11. 11. jika dilanggar berakibat sakit mata. jika dilanggar berakibat keracunan. jika dilanggar berakibat sakit tulang. 13. 14 dan 21 serta hari Selasa Legi. 20 dan 27 serta hari Sabtu Kliwon. Puasa tanggal 10. 20 dan 25 serta hari Sabtu kliwon. 11. jika dilanggar berakibat sakit tulang. jika dilanggar berakibat kesusahan. Ruqyah 39 . Sawal tanggal 2. 20 dan 25 serta hari Jum’at Wage. 24 dan 28 serta hari Kamis Pon.Rabiulakir tanggal 10. 11 dan 22 serta hari Rabu Paing. jika dilanggar berakibat di dalam rumah bergantian sakit.

Hakikat bukan Khurafat .40 Jin.

dalam ajaran Islam tidak dikenal waktu berpantang. tidak dianjurkan bepergian karena kegelapan yang membatasi pandangan. Ada juga tuntunan Nabi SAW yang menekankan keadaan khusus pada waktu-waktu tertentu. atau pertimbangan yang bisa diterima oleh rasio. kita dianjurkan untuk memasukkan anak-anak kita ke rumah dan menutup pintu. Tidak ada waktu tertentu yang secara dzatiyah-nya memiliki nilai magis yang dapat menimbulkan akibat baik atau buruk. Waktu. penentuan baik-buruknya akibat mutlak dari Allah SWT. di luar pertimbangan yang bisa diterima oleh akal sehat. Seperti saat menjelang malam. sehingga dikhawatirkan akan membuat celaka. Sebab. kecuali untuk beberapa sebab khusus yang sudah ditegaskan oleh sabda Nabi SAW. Bepergian. Sekali lagi. tidak dapat mempengaruhi baik-buruknya akibat sebuah perbuatan yang dilakukan. Kecuali beberapa pertimbangan logis.KONSEP WAKTU DALAM ISLAM P ada dasarnya. Atau. perubahan produksi hormon di dalam tubuh pada malam hari yang membuat bekerja di malam hari dianggap tidak baik bagi kesehatan. Seperti malam hari. misalnya. َّ ْ ُ ِ ُّ ُ ْ َ ‫اِ َٕذا كان ج ْنح ال َّل ْيل َٔا ْو َٔا ْمس ْي ُتم َفكفوا ص ْب َيانَكم َف ِٕان الشَّ َياطين َت ْن َتش ُر حي َن ِئذ‬ ٍ ِ ِ َ ِ ِ ُ ُ َ َ ُْ َ ْ ُ ْ ْ ُ ِ ِْ ٌ َ َ َ َ ‫َف ِٕاذا ذهَ ب ساعَ ة من ال َّل ْيل َفح ُّلوهُ م َف َٔاغ ِلقوا ال َٔا ْب َواب َواذك ُروا اسم ال َّله‬ ِ َ ْ ُ َّ ‫َف ِٕان الشَّ ْيطان لا َي ْف َتح َبا ًبا ُم ْغ َل ًقا َو َٔا ْوكوا ِق َر َبكم َواذك ُروا اسم ال َّله َوخَ م ُروا‬ ُ َ َ َ ِّ ِ َ ْ ُ ْ ْ ُ َ َ ‫آ ِن َي َتكم َواذك ُروا اسم ال َّله َو َل ْو َٔان َت ْع ُرضوا عَ َل ْيها ش ْيئًا َو َٔاطفئُوا َمصابِيحكم‬ ُ ْ ِْ ِ َ ْ ُْ ْ ُ ْ ُ َ َ “Jika malam sudah menjelang atau masuk waktu sore maka jagalah batita kalian sebab setan bergentayangan pada waktu itu. Dapat dilakukan kapan saja. Jika sudah berlalu Ruqyah 41 .

1 HR Bukhari: X/88. Pertimbangan semacam ini diperbolehkan dalam Islam.sesaat maka biarkanlah mereka dan tutuplah pintu-pintu (rumahmu) serta sebutlah nama Allah. lalu yang itu adalah hari. Bila ada izin. Sebaliknya. Sedangkan dalam filosofi dan tradisi Jawa. Fathul Bari. bulan atau musim yang buruk. logis. Yang penting ini hari. Jadi. karena setan tidak dapat membuka pintu yang tertutup. Pertimbangan yang rasional. setan bergentayangan pada jelang malam hari. dan diterima oleh akal sehat. adanya waktu tertentu yang dinilai tidak baik untuk mengerjakan suatu perbuatan. atau bahkan sama sekali tidak ada keterangan sebab-musababnya serta penjelasan yang bisa diterima akal sehat. dasarnya ada dua: Keterangan dari dalil yang jelas (Al-Qur’an dan sabda Nabi SAW). Hal-hal yang seharusnya kita lakukan pada saat itu. telah dijelaskan oleh beliau. dan Muslim: XIII/185. Dan padamkanlah lampu-lampu kalian. bila melanggar larangan. Rata-rata didominasi kultur Hindu yang menganggap peran dewa-dewa tertentu yang dapat membawa manfaat dan madharat (bahaya). 42 Jin. baik-buruknya waktu tidak didasarkan kepada dua hal di atas. dipastikan bakal celaka. Tutuplah geriba-geriba kalian dan sebutlah nama Allah. pasti hajat tersebut sukses.” 1 Rasulullah menerangkan. Mempercayai adanya sosok penguasa di waktuwaktu tertentu yang dapat memberi izin sekaligus larangan pelaksanaan suatu hajat. tutuplah wadah-wadah kalian dan sebutlah nama Allah meskipun hanya dengan melintangkan kayu di atasnya. Hakikat bukan Khurafat . bulan atau musim yang baik. Pertimbangan di luar dalil naqli (keterangan dari Al-Qur’an dan Sunnah) dan dalil aqli (rasio) semacam itu membuat pelakunya terjebak melakukan kesyirikan. Syarh An-Nawawi.

atau membatalkannya. bukan keberadaan penjangkitan atau penularan. wa La Haamah. dimaknai sebagai keberuntungan. Nah. tanpa kehendak dan takdir Allah. tidak ada Haamah (burung hantu). Kitab as-Salam. burung tersebut terbang ke Barat. karena dalam riwayat lain. Namun bila terbanng ke Timur. diartikan sebagai kesialan. bahwa penyakit berjangkit atau menular dengan sendirinya. Berawal dari tradisi orang-orang di masa jahiliyyah. penyakit itu tidak menular dengan sendirinya. Sebelum bepergian. bagaimana dengan sekelompok unta yang sehat di padang pasir. Ada yang membuatnya menular ke makhluk lain. disebutkan: 2 HR Muslim. Mereka pun membatalkan. Ruqyah 43 . yaitu Allah. Bab La ‘Adwa. tidak ada Ghaul (nama jin). setelah hadits ini. ke arah mana burung tersebut terbang itulah yang menentukan keputusan apakah mereka melanjutkan rencana bepergian. siapakah penular yang pertama-tama?” Penegasan beliau SAW adalah. kemudian didatangi oleh seekor unta kudisan.” seorang Arab badui bertanya. dalam Islam dikenal dengan nama Tathayyur / Thiyarah. kemudian unta yang sehat itu kudisan pula semuanya?” Jawab Rasulullah SAW. Mereka pun melaksanan rencana bepergian tersebut. tidak ada Nau' (ramalan bintang/zodiak). Bila. Rasulullah SAW menegaskan : َ َ َ َ ْ َ ‫لا عَ د َوى َولا ط ْي َر َة َولا هَ ام َة َولا ص َف َر، َولا َن ْو َء َولا غ ْول، َو ُي ْعجِ ُب ِني‬ ِ َ َ َ َّ َ ُ ‫ا ْل َف ْٔال‬ ”Tidak ada ‘Adwa (penyakit menular). “Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya). saat Rasulullah menyebutkan.Tathayyur / Thiyarah Kepercayaan mirip semacam itu.wa La Nau. tidak Thiyarah (merasa sial).”2 KETERANGAN HADITS Adwa : penjangkitan atau penularan penyakit. “Wahai Rasulullah. dan aku menyukai Al-Fa’l (optimistis). Itulah yang disebut dengan Tathayyur atau akrab juga disebut Thiyarah. dengan tambah optimistis bahwa kepergian mereka akan membawa keberuntungan. misalnya. mereka melepaskan burung terbang ke udara. “Lalu. wa La Thiyaroh. Anggapan inilah yang ditolak oleh Rasulullah. Maksud sabda Nabi di sini adalah untuk menolak anggapan mereka ketika masih hidup di zaman jahiliyah. Mensikapi hal tersebut. Dalam kelengkapan hadits tersebut.

Semuanya atas kehendak dan takdir ilahi." bintang. Orang-orang jahiliyah menisbatkan turunnya hujan kepada bintang ini atau bintang itu. Inilah hakikat iman kepada takdir ilahi. dilarang dalam Islam. Namun. ada pula yang mengartikan "Shafar" di sini sebagai "kematian yang disebabkan oleh cacing perut. yaitu bulan sesudah Muharram. Hal ini termasuk jenis thiyarah. Thiyarah : merasa bernasib sial atau meramal nasib buruk karena melihat burung. Rasulullah bermaksud untuk menolak anggapan yang tidak benar ini. Orang-orang jahiliyah merasa bernasib sial dengan melihatnya. Namun. Islam datang mengikis anggapan seperti ini. Shafar : Bulan kedua dalam tahun hijriyah. sebagai insan mukmin. atau apa saja. Nau’: 44 Jin. Seorang muslim jangan sampai beranggapan seperti ini. Arti asalnya adalah tenggelam atau terbitnya suatu bintang. Dan termasuk dalam anggapan seperti ini : merasa bahwa hari rabu mendatangkan sial. Hakikat bukan Khurafat .” (HR AlBukhari). Semua adalah dari Allah dan sudah ditentukan oleh-Nya. ia merasa bahwa burung ini membawa berita kematian tentang dirinya sendiri atau salah satu anggota keluarganya. dan lain lain. Apabila ada burung hantu hinggap di atas rumah salah seorang di antara mereka. Ini menunjukkan bahwa penjangkitan atau penularan penyakit itu tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Yang demikian dinyatakan tidak ada oleh Rasulullah. binatang lainnya.ْ َ ْ َ ‫َو ِف ُّر ْوا م ِ ن المجذ ُو ْم ِ كم َا َتف ُّر ْوا من ال َٔاسد‬ ِ َ َِ ِ َ “… dan menjauhlah dari orang yang terkena penyakit kusta (lepra ) sebagaimana kamu menjauh dari singa. tetapi semua itu adalah ketentuan dari Allah. di samping mengimani takdir tersebut ia harus berusaha untuk melakukan tindakan preventif sebelum terjadi penularan sebagaimana usahanya menjauh dari terkaman singa. Tidak ada hujan turun karena suatu bintang tertentu. Orang-orang jahiliyah beranggapan bahwa bulan ini membawa nasib sial atau tidak menguntungkan. Hamah : burung hantu.

yang mengatur segala sesuatunya. Mereka beranggapan bahwa hantu ini—dengan perubahan bentuk maupun warnanya—dapat menyesatkan seseorang dan mencelakakannya. gejala alam. Oleh sebab itu. mempercayai ada waktu. Maknanya. Rasulullah SAW bersabda : ٌ ِ ِّ ٌ ِ ِّ ‫َالط َي َر ُة ش ْرك َالط َي َر ُة ش ْرك‬ “Thiyarah itu syirik. “(Dan kafarat/penebusnya) adalah mengucapkan doa: َ َ َّ َ َّ ُ َ َ َ َ َّ ‫َال ّلهم لا خَ ْي َر إِلا خَ ْي ُرك َولا طِ ْي َر إِلا طِ َي َرك َولا إِل َه غ ْي ُرك‬ "Ya Allah.” (HR Ahmad). tetapi menolak anggapan mereka yang tidak baik tersebut. menyebabkan dan mengaturnya. kejadian tertentu yang bersifat khusus yang memiliki pengaruh ghaib. Al-Khaliq. Adapun maksud sabda Nabi di sini bukanlah tidak mengakui keberadaan makhluk seperti ini. thiyarah itu syirik!” Dalam kesempatan lain. adalah syirik. Dialah Allah. Inti hadits di atas adalah menegaskan. salah satu makhluk jenis jin. Inilah yang ditolak oleh beliau. beliau SAW menegaskan: َ ُ َ ْ ْ ِ َ َ ْ ِّ َّ ْ َ َّ َ ‫َمن َرد ْت ُه الط َي َر ُة عَ ن حاج ِته َف َقد َٔاش َرك. karena itu dalam hadits lain beliau bersabda. “Apabila hantu beraksi manakut-nakuti kamu maka serukanlah azan. yang membawa akibat takut kepada selain Allah serta tidak bertawakal kepadaNya.Ghaul: hantu atau gendruwo. ”Wahai Rasulullah. tidak ada kebaikan kecuali kebaikan Engkau dan tidak ada kesialan kecuali dari Engkau (yang telah engkau tetapkan) dan tidak ada Ruqyah 45 . apa kafarat (penebus) nya ?” Beliau menjawab.” Sahabat bertanya. َقا ُل ْوا: َو َما كفا َر ُة ذ ِلك َيا َرس ْول‬ َّ َ َّ ُ َ ُ ْ َ ِ َ َ ِ َّ ِ َ َ ‫الله؟ َقال: َٔان َيق ْول: َال ّلهم لا خَ ْي َر إِلا خَ ْي ُرك َولا ط ْي َر إِلا ط َي َرك َولا إِل َه‬ َ َ ‫غ ْي ُرك‬ “Barang siapa yang mengurungkan/menghentikan hajatnya/keperluannya karena thiyarah maka dia telah melakukan kesyirikan. bahwa segala sesuatu terjadi karena ada yang menciptakan. musim. tolaklah kejahatannya itu dengan berzikir dan menyebut Allah.

dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin-Mu>. 3 4 HR. hendaklah ia berdoa: َ َ َ َ َّ ِ َّ ُ ْ َ َ َّ ِ َ َ َ َّ ُ ‫َال ّلهم لا َي ْٔا ِتي بِا ْلحس َنات إِلا َٔانْت، َولا َيد َفع الس ِّيئَات إِلا َٔانْت َولا ح ْول‬ َ َّ َّ َ ‫َولا ُقو َة إِلا بِك‬ <Ya Allah tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Engkau. atau aktivitas lain. Akulah yang menggilir siang dan malam.” 3 Beliau SAW juga bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian melihat apa yang dia benci. Ini adalah syirik akbar." (HR. HR.Ilah yang berhak diibadahi melainkan Engkau. bulan atau waktu tertentu yang memiliki pantangan. karena panas atau dinginnya cuaca bisa membuat seseorang merasa kelelahan. Abu Dawud. Dilarang bercocok-tanam. berdagang. Syaikh Ibnu Utsaimin menerangkan: "Mencela waktu ada tiga bentuk: 1. Bukhari Muslim). tanpa ada maksud celaan. Seperti ucapan. Yang demikian diperbolehkan. «Kami sangat lelah. Bila dilanggar akan celaka. Ahmad. Memberikan kabar. Hakikat bukan Khurafat .» 4 Mencela Waktu / Musim Dalam kepercayaan Jawa. Padahal Aku pencipta masa. Kitab ath-Thib bab Thiyaroh no. 3919 46 Jin. terdapat hari. menikah. Dalam menjelaskan makna "mencela waktu" yang terdapat dalam sebuah hadits Nabi SAW. dan tidak ada yang menolak keburukan kecuali Engkau. karena hari ini sangat panas—atau sangat dingin. Kepercayaan seperti ini meyakini bahwa waktu tersebutlah yang menyebaban untung atau rugi. dalam musnad dari Abdullah bin Amr RA. celaka atau bahagia—bukan Allah SWT.» atau perkataan lain yang semisal. Rasulullah SAW bersabda: َّ َّ ُّ ُ َ ُ ‫ُي ْؤذي ِني ا ْبن آد َم َيسب الدهْ َر َو َٔانَا الدهْ ُر ِب َيدي ال َٔا ْم ُر ُٔا َق ِّلب ال َّل ْيل َوال َّنها َر‬ ِ ِ َ َ ُ "Anak Adam telah menyakiti-Ku dia suka mencela masa.

dan selainnya. bencana. praktik nujum adalah haram.2. Keyakinan ini merupakan penentangan kepada Sang Pencipta ‘Azza wa Jalla. adalah syirik. Meramal nasib dengan gerakan-gerakan bintang dan bentuknya termasuk dalam apa yang diistilahkan dengan ilmu ta`tsir. karena menafikan perintah untuk bersabar terhadap turunnya musibah. Ilmu Nujum Salah satu pedoman yang dipakai dalam tradisi Jawa terkait dengan penentuan waktu baik dan waktu buruk. dan menisbahkan terjadinya suatu perkara kepada selain Allah. Ilmu ini haram hukumnya. yaitu keyakinan bahwa bintang-bintang memberi pengaruh di alam ini. Bahkan syirik akbar! Na’udzubillah. tidak sampai membuat pelakunya kafirTidak secara langsung mencela Allah. 3. sakit ataupun sehat. karena menganggap adanya pencipta selain Dia. karena waktu tersebut menjadi tempat terjadinya suatu kesialan. Ruqyah 47 .Ia mencela waktu. dan merupakan kekufuran yang nyata berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin. Ucapan seperti ini hukumnya haram. Dalam Islam. Mencela waktu. Keyakinian seperti ini adalah bentuk syirik akbar! Karena meyakini ada zat selain Allah ada Pencipta lain.» Waktu tersebutlah yang membuat sesuatu itu menjadi celaka atau bahagia. adalah ilmu nujum/perbintangan. Meyakini bahwa semuanya telah diatur oleh Allah."5 Dari uraian tentang kepercayaan Jawa terkait waktu di halaman sebelumnya. 5 Fatawa Al-‘Aqidah: I/197. Sumber kejadian di alam ini adalah gerakangerakan dan bentuk-bentuk bintang. sebagiannya lebih haram daripada yang lainnya: Pertama : meyakini bahwa bintang-bintang itulah yang menjadikan peristiwa-peristiwa di alam ini baik berupa kebaikan ataupun kejelekan. rata-rata kepercayaan tersebut dilandasi karena memang waktu tersebut memiliki “sesuatu” yang mampu membuat baik atau buruknya sebuah perkara. Ini. Ilmu ini terbagi tiga macam. karena meyakini waktu tersebutlah «pelaku. atau hal-hal yang dibenci. paceklik ataupun panen raya. Dikatakan haram. sebagaimana paparan Syaikh Ibnu Utsaimin di atas.

Allah menciptakan bintang-bintang bukan untuk dijadikan sebagai saranan untuk meramal nasib. karena Allah tidak pernah menjadikan bintang-bintang itu sebagai sebab.6 Ketiga Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA. Hukumnya kafir menurut kesepakatan kaum muslimin. masuk dalam katagori perdukunan serta sihir. dan bintang tersebut tidak ada hubungannya dengan apa yang berlangsung di alam ini. : menjadikan bintang-bintang sebagai petunjuk atas kejadian yang akan datang. Hakikat bukan Khurafat .” (HR Abu Dawud dengan sanad yang shahih) Padahal sihir termasuk: ‫َثل َا َثة لا َيدخُ ُل ْون ا ْلج َّن َة، ُمدمن ا ْلخَ م ِر َو َقاطع ال َّرحم َو ُمصدق بِالسح ِر‬ ْ ِّ ٌ ِّ َ ِ ْ ُ ِ َ َ ْ َ ٌ ْ ُِْ “Tiga orang yang tidak akan masuk surga: pecandu khamar (minuman keras). Semakin bertambah (ia mempelajari ilmu nujum) semakin bertambah pula (dosanya).Kedua : seseorang tidak meyakini bahwa bintang-bintang itu yang menjadikan peristiwa di alam ini. maka sesungguhnya dia telah mempelajari sebagian dari ilmu sihir…. bahwa Rasulullah SAW bersabda: ‫َمن ا ْق َت َبس ش ْع َب ًة من ال ُّنج ْوم َف َقد ا ْق َت َبس ش ْع َب ًة من السح ِر، زَاد َما زَاد‬ َ َ ْ ِّ َ ِ ُ َ ِ ِ ُ َ ِ ُ َ ِ “Barang siapa yang mempelajari sebagian dari ilmu nujum (perbintangan) sesungguhnya dia telah mempelajari sebagian ilmu sihir. (HR Ahmad dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya). bahwa ia berkata: 6 7 Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid. orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan. Ini merupakan bentuk pengakuan terhadap ilmu gaib. Keyakinan ini pun batil. dan orang yang mempercayai sihir7”. Muhammad Al-Utsaimin: II/5–6. Tang menciptakan tetaplah Allah ‘Azza wa Jalla. Mempercayai sihir yang di antara macamnya adalah ilmu nujum (astrologi). Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya dari Qatadah RA. Tapi menurutnya bintang-bintang itu hanya sebab yang memberi pengaruh. sebagaimana yang telah dinyatakan dalam hadits: “Barang siapa yang mempelajari sebagian dari ilmu nujum.” 48 Jin.

” Mengapa dianggap syirik? Hukum mempraktikkan dan mempercayai ramalan bintang adalah haram. pekan. berdasarkan pandangan ahli nujum dan petungan Jawa. hari. Juga merupakan celaan terhadap waktu / musim. bahkan mengalami kegagalan. Ditentukan oleh nilai neptu yang diperhitungkan dari hari dan pekannya Mencari perpaduan hari. Tradisi ini mirip dengan praktik Thiyarah. dan menyia-nyiakan nasibnya. Masingmasing memiliki makna berbeda.“Allah menciptakan bintang bintang ini untuk tiga hikmah : sebagai hiasan langit. Mengapa tradisi Jawa tersebut dikategorikan syirik dan terlarang? No. 1 Nama Tradisi Kalender Jawa Keterangan Ada tujuh hari. Serupa dengan Thiyarah. Tidak ada dalilnya dalam Islam. bulan dan tahun. sebagai alat pelempar setan. Ruqyah 49 . Nilai dan makna khsusus dalam jam-jam tertentu. Suatu hal yang dilakukan pada hari dengan karakter jelek terganggu usaha sehingga banyak kendala. serta membebani dirinya dengan hal yang di luar batas pengetahuannya. tahun.” Wallahu a’lam. dan sebagai tanda untuk petunjuk (arah dan sebagainya). windu dan mangsa yang menghasilkan penyatuan karakter baik. Dalam perkembangannya neptu merupakan hasil “penemuan para ahli nujum dan sarana ilmu perhitungan (primbon). Maka barang siapa yang berpendapat selain hal tersebut maka ia telah melakukan kesalahan. pasaran. Nilai yang disandarkan pada pasaran. 2 Jam (Sa'at) 3 Naga dan Rijalolah 4 Neptu Terdapat unsur Thiyarah dan ilmu nujum di dalamnya.

misalnya Senin Wage atau Jum’at Pon. Juga merupakan celaan terhadap waktu / musim Termasuk Thiyarah dan pencelaan terhadap waktu. 6 Weton Mirip dengan Thiyarah. 7 Wuku Siklus tujuh harian atau mingguan dalam kalender Jawa. Awal tahun baru yang jatuh pada tanggal 1 Sura akan memiliki nama sesuai beberapa jenis binatang sesuai harinya. undangan dan sebagainya). Namun. Weton memiliki peran sentral dalam perhitungan dan ramalan nasib Jawa. Ilmu nujum adalah haram. Namun dalam perkembangannya nujum digunakan untuk menyebut semua jenis ramalan. 50 Jin. Meyakini bahwa waktu tertentu memiliki pengaruh ghaib yang khusus. Paduan hari dan pasaran saat seseorang dilahirkan. Hakikat bukan Khurafat . Memiliki sifat dan karakter sendiri-sendiri serta mempengaruhi kehidupan manusia. jika penggunaan weton sebatas identifikasi waktu (misalnya penanggalan kelahiran. Mirip dengan Thiyarah. tidak mengapa. 8 Penetapan tahun Mirip dengan penanggalan dan Cina yang menamai tahun dengan Shio berlambang binatang. tanpa ada keyakinan manfaat dan madharat di dalamnya.5 Nujum Adalah ilmu ramalan bintang (astrologi). Meyakini bahwa waktu tertentu memiliki pengaruh ghaib yang khusus.

di antara dalil-dalil tersebut adalah firman Allah :           "Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit.9 Windu Siklus per delapan tahun. tidak mengapa. Bagas Padewan. maka dengan munculnya Hilal dimulailah bulan baru Ruqyah 51 . Seperti Anggarakasih. hari dan waktu yang baik dan yang buruk Penentuan bulan. hari dan Termasuk Thiyarah. Hukum Menggunakan Kalender Hijriah dibandingkan Kalender Jawa Hukum penggunaan kalender Hijriyah Nash-nash (dalil-dalil) syar'i menunjukkan wajibnya menggunakan kalender Qomariyah (berdasarkan peredaran bulan)yang kita kenal dengan kalender Hijriyah. 10 Bulan."(AlBaqarah: 189) Allah menjadikan Hilal (bulan sabit) sebagai tanda berawal dan dan berakhirnya bulan. waktu tertentu sebagai patokan untuk melakukan atau menunda pekerjaan. Sangarwangsa. Samparwangke. tanpa ada keyakinan manfaat dan madharat di dalamnya. Selama sebatas identifikasi waktu. Katakanlah: 'Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji'. Taliwangke. Masing-masing windu memiliki makna tersendiri terkait sial atau bahagia. untung atau celaka. Termasuk Thiyarah dan pencelaan terhadap waktu. dan sebagainya.

waktu jatuh tempo utang mereka. dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi. dan ini menunjukkan bahwa hitungan bulan adalah Qomari karena keterkaitannya dengan peredaran bulan. dan bahwasanya bulan-bulan Qomari apabila sampai pada bilangan ini (12) dinamakan sebagai satu tahun. dan tidak boleh menghitungnya dengan perhitungan tahun selain hijriyah (masehi dan lain-lain). lalu Allah menjadikan Hilalhilal itu sebagai patokan waktu bagi manusia dalam hukum-hukum yang ditetapkan oleh syari'at. dan ini umum dalam setiap urusan mereka. dan juga sebagai patokan waktu bagi hukum-hukm yang ditetapkan berdasarkan syarat yang dipersyaratkan oelh seorang hamba. zakat mereka. Al-Fakhr ar-Razi berkata.dan berakhirlah bulan yang telah lalu." Allah SWT berfirman :                "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan. Maka jadilah hilal-hilal itu sebagai patokan waktu. ilaa' (sumpah dari seorang suami untuk tidak men-jima' (berhubungan badan) istrinya dalam watu kurang dari 40 hari). dan hukum-hukum yang lain dengan peredaran bulan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata. dan tahunnya adalah tahun Qomariyah 8 52 At-Tafsir al-Kabir: XVI/53 Jin. baik sebagai tanda permulaan ibadah maupun sebagai sebab diwajibkannya sebuah ibadah. "Maka Dia (Allah) mengabarkan bahwa Hilal-hilal itu adalah patokan waktu bagi manusia. Hakikat bukan Khurafat . haji. dan 'iddah (masa menunggu setelah dicerai). "Para ulama berkata bahwa wajib bagi kaum muslimin berdasarkan ayat ini untuk menghitung dalam perdagangan mereka."8 Dan beliau rahimahullah menyebutkan bahwa bulan-bulan yang dianggap (diperhitungkan) di dalam syariat Islam patokanya/landasan adalah dengan melihat bulan. Maka hukum-hukum yangditetapkan dengan syari'at atau dengan syarat maka patokan waktunya berdasarkan Hilal. dan masuk ke dalam hal ini puasa. Dan inilah makna bilangan bulan dalam ayat di atas." (AtTaubah: 36) Allah menyifati penghitungan waktu dengan menggunakan peredaran bulan.

Dan kalender ini cocok dengan keadaan-keadaan manusia. hal itu yang menguatkan wajibnya berpegang teguh dengannya dan bukan dengan kalender-kalender selainnya. maka penggunaan kalender Hijriyah dan masehi mempunyai beberapa keadaan: 9 At-Tafsir al-Kabir: XVII/35-36 10 HR Al-Bukhari 2/674 dan Muslim 2/762 11 Adh-Dhiya' al-Lami' min Khuthbah al-Jawami' hlm. dan inilah yang dipraktekkan oleh kaum Muslimin. karena ia cocok bagi setiap bangsa karena mudahnya dan gampang dikomusikasikan untuk masing-masing pihak.(hijriyah). dan bulan dimulai dengan munculnya hilal. 9 Dalil dari hadits Adapun dalil dari hadits adalah sabda Rasulullah SAW: ُ ْ ُ َّ ُ ْ ‫اِ َٕذا َر َٔا ْي ُتم ا ْلهل َال َفص ْو ُم ْوا َواِ َٕذا َر َٔا ْي ُتم ْو ُه َف َٔا ْفطِ ُر ْوا َف ِٕان غم عَ َل ْيكم َفا ْقد ُر ْوا َل ُه‬ ُ َ ِ ُ ُ "Apabila kalian melihat hilal (awal Ramadhan) maka berpuasalah." 10 Rasulullah SAW menjadikan akhir bulan Sya>ban dan masuknya bulan Ramadhan dengan melihat hilal. Maka apabila kalian tertutupi mendung genapkanlah bulan dengan tiga puluh. dan apabila kalian melihatnya (pada akhir bulan) maka berbukalah (Idul fithri). 307 Ruqyah 53 . yang mereka ketahui dan dijadikan perhitungan oleh Ahli Fiqih dalam kitab-kitab mereka. Dan generasi awal (salaf) umat Islam dari kalangan Shahabat RA. Dan kesimpulan dari dalil-dalil di atas secara tegas menyatakan bahwa yang dipraktekkan dan dijadikan perhitungan adalah kalender Hijriyah. dan diqiyaskan dengan hal ini bulanbulan yang lain. "Perhitungan kalender harian dimulai dari terbenamnya matahari. dan Tabi'in telah bersepakat dalam penggunaan kalender ini."11 Dan berdasarkan pembahasan yang telah lalu. dan tahun dimulai dari hijrah (hijrah Nabi). Syaikh Muhammad Al-Utsaimin rahimahullah berkata.

"Sekarang tanggal 23 Muharram 1432 bertetpatan dengan . atau nama-nama kaisar atau nama-nama pendeta mereka.. Suro. Kedua: Menggunakan kalender Hijriyah dan Jawa secara bersamaan Telah kami sebutkan pada keadaan pertama bahwa pada asalnya perhitungan yang harus digunakan adalah kaelender Hiriyah. akan tetapi hanya sebagai pembantu kalender Hijriyah. dan bahwasanya penghitungan waktu-waktu ibadah berdasar padanya dan itu adalah syi'ar dan simbol Islam. dantelah banyak nash-nash Syar'iat yang mengharamkan hal tersebut. Di antara nash tersebut adalah sabda Rasulullah SAW : ‫َمن تَشَ َّب َه ِب َق ْوم َفه َو م ْنهم‬ ْ ُْ ِ ُ ٍ 54 Jin. Adapun yang berkaitan dengan musim yang empat. dan penggunaannya dalam mengatur matapencaharian. Maka sebagian besar nama-nama itu adalah nama berhala yang berkaitan tuhan-tuhan Nasrani. Oleh sebab itu penetapan kalender masehi sebagai simbol bagi suatu Negara dan menggunakan perhitungan tanggal dengannya dalam berbagai hal adalah bentuk tasyabbuh (meniru-niru) orang Nasrani." Tidak mengapa kita kita mengambil—bukan mengganti—perhitungan (kalender) umat-umat lain yang bermanfaat bagi kita dalam beberapa kesempatan dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan perkaraperkara dunia.. maka hal ini tidak ada kaitannya dengan pembahasan kita tentang kalender Hijriyah maupun Jawa. Hakikat bukan Khurafat . Akan tetapi tidak mengapa untuk memanfaatkan kalender masehi. yang dia (kalender masehi) disebutkan di belakang kalender masehi ketika dibutuhkan atau ketika ada maslahat yang kuat. pekerjaan.Pertama: Menggunakan kalender Hijriyah saja Hukum dari keadaan ini adalah bahwasanya petunjuk Syari'at mengarah pada kewajiban mengamalkan kalender Hiriyah. Contohnya kita katakan. dan hukum ini mencakup seluruh idividu dan negeri-negeri Islam. Ketiga: Menggunakan kalender Jawa saja Berdasarkan pembahasan yang telah lalu bahwasanya kalender Jawa berkaitan dengan agama dan kebudayaan Jawa (yang belum tentu sesuai dengan Islam). Ini tampak jelas dari nama-nama bulan yang ada dalam kalender masehi. dan pendidikan.

turun ayat 36-37 surat At-Taubah. (Oleh setan) dijadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan buruk mereka. 2/92 dengan sanad yang masih diperselisihkan. Sesungguhnya pengunduran (bulan haram) itu hanya menambah kekafiran. Dan penggunaan kalender Jawa masuk ke dalam ciri khas orang-orang yang kurang saleh (penganut Kejawen) ataupun tradisi Hindu. Pada era kenabian Muhammad." 12 Hadits di atas mengandung larangan tasyabbuh dengan simbol-simbol orang kafir. di antaranya ada empat bulan haram. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa."Barang siapa yang menyerupai suatu kaum. sistem penanggalan pra-Islam digunakan. Pada tahun ke-9 setelah Hirah. dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Itulah (ketetapan) agama yang lurus. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” 12 HR Abu Dawud dan Ahmad 2/50. sekaligus mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. yang melarang menambahkan hari (interkalasi) pada sistem penanggalan. maka dia bagian dari kaum itu. mereka menghalalkannya suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain. Ruqyah 55 . hari raya mereka kebiasaan-kebiasaan dan seragam-seragam mereka serta apa-apa yang menjadi kekhususan mereka. Orang-orang kafir disesatkan dengan (pengunduran) itu. “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan. maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu. agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang diharamkan Allah. (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi.

Hakikat bukan Khurafat .56 Jin.

Menurut Clifford Geertz. Dalam tradisi slametan.TRADISI KEJAWEN SAAT BAYI DALAM KANDUNGAN HINGGA LAHIR Selamatan Wanita Hamil Slametan berasal dari kata slamet (Arab: salamah) yang berarti selamat. Dengan demikian.” Dalam Primbon Betaljemur Adammakna. Slametan adalah kegiatan-kegiatan komunal Jawa yang biasanya digambarkan oleh ethnografer sebagai pesta ritual. kehamilan selalu diiringi ritual selamatan (slametan) setiap bulannya : Bulan I Bulan II : : slametan dengan bubur abor-abor (bubur sumsum). slametan dengan aneka makanan: 1. Jenis sayur kuluban harus ganjil 2. Selamat dapat dimaknai sebagai keadaan lepas dari insiden-insiden yang tidak dikehendaki. bahkan memiliki skala yang lebih besar. slametan merupakan memiliki tujuan akan penegasan dan penguatan kembali tatanan kultur umum. melinkan oleh-oleh berupa berkat (berkah) yang diyakini sebagai makanan “bertuah. Nasi tumpeng kuluban (urap). hingga upacara tahunan untuk memperingati ruh penjaga. baik upacara di rumah maupun di desa. slamet berarti gak ana apa-apa (tidak ada apa-apa). atau lebih tepat “tidak akan terjadi apa-apa” (pada siapa pun). Bubur merah (beras merah diberi gula merah) Ruqyah 57 . unsur yang dicari bukanlah makan bersama di tempat si empunya hajat. mulai dari tedak siti (upacara menginjak tanah yang pertama). Konsep tersebut dimanifestasikan melalui praktik-praktik slametan. mantu (perkawinan). bahagia. Di samping itu juga untuk menahan kekuatan kekacauan (talak balak). sentausa.

dibungkus daun pisang lalu dikukus) 7. kelepon ibarat telurnya. Ulat-ulatan dari tepung beras yang diwarnai merah dan hitam 3. slametan dengan bubur procot. gula merah. jeroan dan mata kerbau serta sambal goreng. Pipis kental (tepung beras diberi garam. diadakan slametan dengan dawet plencing. Nasi Punar (nasi kuning gurih) dengan lauk daging. 2. Serabinya ibarat bulus. serabi yang ditelungkupkan pada kelepon. Apem. 3. santan. jago. Ketan mancawarna (aneka warna)dihidangkan dengan enten-enten gula kelapa Bulan VI Bulan VII Bulan VIII : : : slametan dengan apem kocor dengan juruh gula merah dan santan Lihat entri Slametan 7 bulan slametan dengan hidangan bulus angrem. Bubur merah putih (bubur putih di bawah. bubur merah di atas) 5. Bubur putih (beras dengan santan) 4. Jika telah lewat sembilan bulan mendekati 10 bulan. Bulan IX : 58 Jin. Ketupat. Sidalungguh dan Luwar. Segala macam jajan pasar dan kembang boreh Bulan III Bulan IV : : slametannya sama dengan Bulan II slametan dengan hidangan: 1. Bubur baro-baro (bubur dedak halus diberi gula merah dan parutan kelapa) 6. dengan jenis Sinta. Hakikat bukan Khurafat . Bulan V : slametan dengan hidangan berupa: 1. Nasi kuluban 2.3.

berasal dari kata pitu (tujuh). Dalam slametan tujuh bulan. baik di desa maupun di kota. Tingkep berarti tutup. ada yang memaknai tingkeban ini sebagai upacara atau slametan penutup. banguntalak. Tradisi ngupati adalah slametan yang bertujuan untuk memohon kepada Tuhan. Slametan ini disebut ngupati atau kupatan. sesuai dengan harapan orangtua. ilalang dan beraneka jenis kain. Ada juga yang memaknai tingkeban ini penutup karena setelah usia kandungan tujuh bulan si isteri tak boleh lagi dicampuri oleh suaminya sampai masa nifas berakhir. 3. jingga. Slametan ini biasanya menggunakan kupat sebagai hidangan utama . padahal dalam primbon ada slametan dalam setiap bulannya. Ngupati berasal dari kata kupat atau ketupat. mangir. Selamatan 7 Bulan (Mitoni/Tingkeb) Slametan tujuh bulan kandungan disebut juga mitoni. Ruqyah 59 . Selamatan 4 Bulan (Ngupati) Slametan bulan keempat kehamilan dipandang istimewa dalam tradisi Jawa. yuyusekandang dan mori putih. Kainnya antara lain letrek.Slametan setiap bulan kini sudah jarang dilakukan. dadap srep. Dipilih hari Rabu atau Sabtu dengan tanggal ganjil sebelum 15‫ﺯ‬ 2. Disebut juga Tingkeb atau tingkeban. syaratnya cukup banyak dan padat. Si ibu dimandikan keramas dengan air kembang setaman. Ketika dimandikan si ibu duduk di atas tikar beralaskan daun apa-apa. sembagi. tepung beras mancawarna (tujuh macam warna). sindur. agar anak yang masih dalam kandungan ibu tersebut memiliki kualitas baik. keluwih. kara. Antara lain: 1. Yang memandikan adalah dukun atau kerabat yang paling tua dengan siwur (gayung batok kelapa). daun pandan wangi dan daun kemuning. Sebagian kalangan meyakini bahwa tradisi ngupati ini penting karena dihubungkan dengan keyakinan Islam bahwa janin dalam kandungan ditiupkan ruh pada umur empat bulan. namun khusus slametan empat dan tujuh bulan masih membudaya di kalangan keluarga Jawa. makanan yang terbuat dari beras dengan daun kelapa (janur) sebagai pembungkus. selendang lurik puluhwatu.

Emping ketan digoreng sangan dicampur gula merah dan parutan kelapa 8. Arjuna atau Panji. perutnya diikat longgar dengan lawe merah. maka besar kemungkinan bayi yang dikandung adalah laki-laki. Bubur merah. Tumpeng robyong (dalam cething nasi) berlauk telur rebus. Dari kain pertama sampai ketujuh orang tuanya mengatakan: belum pantas. atau Arjuna dan Sembadra atau Panji dan Candrakirana. krupuk dan berbagai macam kuluban. Berbagai macam ampyang (nasi kering. Kain tadi dibiarkan berserakan dan diduduki. terasi.4. Sesajen berupa nasi kuluban dan jajan pasar 5. Si ibu hamil berganti kain setelah mandi. 9. Pring sedapur (kue tepung beras berbentuk tumpeng kecil berjumlah 9 pasang ditanami batang kecil 7 warna dari tepung beras) Selain itu disiapkan sebuah kelapa gading yang digambari wajah dewa Kamajaya dan Dewi Kamaratih. sudah pantas. Kemudian dukun atau mertuanya menjatuhkan teropong (alat memintal benang). Sampora (kue berbentuk tempurung dari tepung beras. Setelah itu orang tuanya berkata: sudah pantas. wijen) yang digoreng sangan (tanpa minyak) dan dicampur gula merah 7. Lalu dijatihkan kelapa gading bergambar tadi sambil berkata: jika pria seperti Kamajaya. Kepercayaan mitologi dari sebagian masyarakat Jawa. Penyon (semacam kue lapis kue beras) 10. Di lerengnya diberi ikan. Setelah itu baru memakai kain lagi sebagai kemben. Di samping hidangan-hidangan tadi. Setelah itu ibu hamil tadi memakai 7 helai kain secara bergantian. putih dan hitam. ikan. jika dia merasa pedas atau kepedasan. Hakikat bukan Khurafat . ada juga acara makan rujak buah. diterima oleh ibu itu sendiri/dukun. diisi gula merah) 11. 60 Jin. jika wanita seperti Kamaratih. Sambil mengatakan: pria atau wanita pun mau asalkan selamat. di saat ibu hamil makan rujak. putih dan procot 6. kacang. atau Sembadra atau Candrakirana. disertai bawang merah dan cabai yang ditusuk lidi dan diletakkan ddi pucuknya. tak berhias maupun memahai perhiasan apapun. tak berbaju. demikian juga sebaliknya. ketela.

3 atau 5 Selasa pukul 7. Ini merupakan pengaruh agama Tu dan Yang yang berkembang dari Asia Asia Tengah dan meluas sampai ke Indonesia. Beberapa tradisi di Cina. 1. setelah upacara tujuh bulan perempuan hamil selalu membawa pisau kecil atau gunting agar tidak diganggu oleh hyang jahat. Jika sisa pembagiannya 3 maka jenis kelaminnya. Kemudian neptu huruf nama si penanya dijumlahkan dengan neptu hari dan pekan ketika ia bertanya. Caranya ada orang yang bertanya: jika si bayi keluar pria atau wanita. 1. hingga kini masih diamalkan di desa-desa. jenis kelamin bayi dapat diketahui meski masih di dalam perut ibunya. 11. 10. 12. Jika sisa pembagiannya 2 maka wanita. 3 atau 4 Jum’at 8. termasuk dalam upacara tujuh bulan bagi wanita hamil. 2 atau 5 Rabu pukul 7. 2 atau 4 Tidak diterangkan waktu-waktu apa yang dimaksud. Korea hingga Polinesia menampakkan pengaruh yang sama. 10. Ruqyah 61 . 12. 7. 11. 1 atau 5 Senin pukul 8. 12. 11. lalu jumlahnya dibagi dengan angka 3. Caranya bukan dengan USG namun dengan perhitungan. Mengetahui Jenis Kelamin Janin Dalam primbon. Kemungkinan besar waktu-waktu di atas adalah waktu yang baik untuk kelahiran bayi. Jawabannya sebagai berikut: Jika sisa pembagiannya 1 berarti janin itu pria. 10. 9. 2 atau 4 Kamis pukul 8. 9.Dalam tradisi lainnya juga. Waktu Kelahiran Bayi Sesuai Hari dan Jam Primbon Betaljemur Adammakna mencatat bahwa saat bayi lahir sebagai berikut: Ahad pukul 6. 3 atau 4 Sabtu 7.

62 Jin. nur langgeng sipat urip. mencampuradukkan konsep doa. sebelum diberi adzan pada telinga kanan dan qomat pada telinga kiri. menjelang kelahiran dibaca doa sebagai berikut: Ungiduhu bilwakidi samadiminsari kulidikasad 1 Sementara jika kelahiran sulit atau menunggu lama membaca: Mani luwih retna mulya. kama putih retna gumilang. Menangisnya bayi pada saat dilahirkan diyakini karena digoda iblis. Tak jelas mengapa jam-jam di atas menjadi istimewa dibandingkan waktu-waktu lainnya. Doa pertama berbau bahasa Arab. yaitu nur Muhammad. mungkin yang dimaksud adalah putri Rasulullah. dat mutrat nur putih mud putih mas kerat sukma eling rasa urip jatining ana. pangeran tana gumilang. terbuka hatinya. Di sini nampak sinkretisasi yang kental. iqomat dan dukun Setelah bayi dilahirkan. Jika sampai tersentuh orang yang berdosa maka akan terkejut. Sementara doa kedua lebih mirip mantera. ditusuk dengan jari kanan dan kirinya. Sementara pada telinga kiri dibacakan surat “Kulhu” (Al-Ikhlas) tiga kali pada telinga kiri. Tak jelas siapa Dewi Siti Fatimah.” mungkin yang dimaksud adalah Surat Al-Qadar. Fatimah RA. Doa Menjelang Kelahiran Menurut Dewi Siti Fatimah. Primbon juga mengajarkan membacakan surat “Inna anjalna. urat dan dzat akan tertutup rapat. Hakikat bukan Khurafat . Dipercaya bahwa bayi yang baru lahir masih suci. darah. daging dan dzatnya. tulang. 1 Mungkinkah maksudnya adalah: U'idzuhu bil Wahidis Shamad min kulli hasad (Aku menjadikan Al-Wahid As-Shamad (Allah) sebagai pelindung dari segala sesuatu yang mendengkinya) ? Wallahu A'lam. nur dat. Setelah bayi lahir: adzan. pada telinga kanan. rasa mawa karsa.. nisbah kepada ahlul bait. namun artinya agak membingungkan. Karena itu sunat diberi adzan untuk menolak godaan iblis yang disebut Omisijan.Padahal kelahiran bayi berlangsung secara sunatullah dan dipengaruhi banyak faktor. tulangtulang.. mantera dan konsep sufi. nur Mohammad. urat. Jika diberi adzan si iblis tidak berani mengganggu. bayi tidak boleh disentuh orang lain kecuali dukun. namun diakhiri dengan istilah yang masyhur di kalangan sufi.

Ari–ari (plasenta/ tembuni) dan Darah yang umumnya disebut Rahsa. kakang Kawah. Penggunaan welat bergantian ini memunculkan istilah “sedulur tunggal welat” alias saudara yang dipotong ari-arinya dengan welat yang sama. dan Rahsa? Marmati itu artinya Samar Mati (Takut Mati) Umumnya bila seorang ibu mengandung sehari . “Saudara Empat” itu adalah Marmati. Ruqyah 63 . Rasa khawatir tersebut hadir terlebih dahulu sebelum keluarnya Kawah (air ketuban). Perempuan yang hamil saat melahirkan.hari pikirannya khawatir karena Samar Mati. Empat saudara yang ada di jagad besar adalah empat kiblat yang ada yaitu timur. Sedangkan empat saudara yang berkaitan dengan jagad kecil (manusia) adalah apa-apa yang mengiringi kelahirannya. Ditambah saudara pancer yaitu di tengah. Jika welat tidak disimpan. maka dapat ditanam bersama dengan ari-ari dan kunyitnya.Memotong Usus (Ari-Ari) Usus diurut agar darahnya terkumpul lalu dipotong memakai welat (pisau yang terbuat dari bambu wulung. dan Rahsa. konon konsep ini berasal adalah penyelarasan antara jagad kecil (manusia-mikrokosmos) dengan jagad besar alam semesta (makrokosmos). selatan. Setelah dipotong. yang keluar terlebih dahulu adalah Air Kawah (Air Ketuban) sebelum lahir bayinya. tempat manusia itu berada. Konsep ini disebut sedulur papat lima pancer. Mengapa disebut Marmati. Ari – ari. Semua itu berpusat di Pusar yaitu berpusat di Bayi. Oleh karena itu Rasa Samar Mati itu lalu dianggap Sadulur Tuwa (Saudara Tua). Adhi Ari – Ari. dengan demikian Kawah lantas dianggap Sadulur Tuwa yang biasa disebut Kakang (kakak) Kawah. kepercayaan Kejawen meyakini empat sedulur (saudara) yang bersama lahir dan menyertai si bayi. Konsep ini memiliki takwil yang bermacam-macam: Dalam pemikiran Jawa pra-Islam. empat saudara dan yang kelima di tengah. barat dan utara. Kawah. Setelah dipakai welat dicuci agar bisa digunakan lagi pada kelahiran berikutnya. Memotongnya harus dilapisi kunyit. darah yang keluar disapukan ke bibir si bayi. Sedulur Papat Lima Pancer Dalam kelahiran setiap bayi.

air.Bila kawah sudah lancar keluar. minum. nafsu aluamah dilambangkan dengan binatang kera." Unsur empat nafsu adalah nafsu aluamah. amarah dan muthmainah. Tali pusat yang copot dari pusar juga dianggap saudara si bayi. sing ora lahir bareng sedino. dirawat dan dihormati dengan cara diselamati dengan ‘bancakan’ atau tumpengan. Mereka semua dianggap ‘pamomong’ atau penjaga manusia. Setiap ada wanita yang melahirkan. Sunan Kalijaga menambahkan pengertian baru yang bernafaskan Islam. saudara yang tidak lahir bersamaan (unsur alam semesta). Dalam gunungan wayang. Sedang yang kelima pancer adalah diri manusia itu sendiri. Dari situlah muncul semboyan ‘Saudara Empat Lima Pusat’ Pengertian asal ini kemudian berkembang dengan adanya pengaruh agama Hindu. yang terawat maupun yang tidak terawat. Empat anasir ini adalah bumi/tanah. setelah itu barulah keluar Ari – ari (placenta/ tembuni). Puser (Tali pusat) itu umumnya gugur (Pupak) ketika bayi sudah berumur tujuh hari. sufiyah. Yaitu keinginan untuk makan. tali plasenta. Nafsu aluamah berkaitan dengan insting dasar manusia.dan ruh/jiwa ). Jin. Sedulur papat (empat saudara) kemudian dimaknai sebagai unsur alam yang menjadi pembentuk jasad manusia. Konon. Keluarnya Rah (Rahsa) ini juga pada waktu akhir. Bagi orang Jawa semua ’sedulur’ tadi harus diruwat. Dikatakan bahwa nafsu aluamah ini terjadi karena pengaruh unsur tanah yang menjadi unsur pembentuk jasad manusia. ia disebut sebagai Sedulur Enom (Saudara Muda) dan disebut Adhi (adik) Ari-Ari. Hakikat bukan Khurafat 64 . Pusar ini dianggap pusatnya Saudara Empat. Unsur-unsur tersebut kemudian dilambangkan dalam bentuk gunungan pada wayang. berpakaian. sing kerawatan lan sing ora kerawatan. kemudian disusul dengan ahirnya si bayi. darah kelahiran. bersenggama dan sebagainya.” Konsep sedulur papat lima pancer ini kemudian berkembang lagi dengan adanya pengaruh Islam. Karena Ari – ari keluar setelah bayi lahir.” Artinya : “Saudaraku yang lahir bersamaan sehari denganku (air ketuban. Empat saudara itu adalah empat jenis nafsu manusia sedangkan yang kelima pancer adalah hati nurani atau "alam rahsa / sirr. ari-ari. Biasanya penyebutan untuk mereka dan sekalian untuk unsur-unsur alam semesta disebut dengan “sedulurku sing lahir bareng sedino. api dan angin. maka dari itu Rahsa itu juga dianggap Sedulur Enom. tentu saja juga mengeluarkan Rah (Getih=darah) yang cukup banyak.

garam. Dalam gunungan wayang. Ada yang mengatakan Nur Muhammad. keempat nafsu yang ada harus ‘dirawat’. kertas bertuliskan huruf Jawa. benang. Intinya saudara pancer yang kelima itu adalah unsur ’super ego’ yang menjadi sumber nilai bagi manusia. diseimbangkan dan harus berjalan dibawah kendali akal dalam bimbingan hidayah ilahi. Nafsu amarah berkaitan dengan keinginan untuk mempertahankan harga diri. nafsu amarah dilambangkan dengan binatang harimau. ikan petek. dan emosi. Ari-ari diletakkan dalam kendil (kuali tanah liat) dengan dialasi daun sente (talas) dan diberi kembang boreh. Tatacara Membuang Ari-Ari Pentingnya ari-ari sebagai salah satu unsur “sedulur papat” membuat ia diperlakukan khusus dalam tradisi Jawa. tamak dan lain-lain.Nafsu sufiyah berkaitan dengan keinginan duniawi untuk dipuji. Dalam gunungan wayang. diatur. kunyit yang dipakai saat memotong ari-ari. Arab dan latin serta uang segobang. Sifat dari udara adalah selalu ingin memenuhi ruang selagi ruang itu kosong. nafsu sufiyah dilambangkan dengan binatang banteng. jarum. Dalam perspektif yang mencoba mengakurkan konsep Kejawen dengan tasawuf Islam. Dikatakan bahwa nafsu ini mendapat pengaruh sifat air yang juga menjadi pembentuk jasad manusia. sejatinya rasa). Ruqyah 65 . Untuk penyebutan unsur kelima atau pancer ada bermacammacam penafsiran. untuk kaya. Nafsu muthmainah adalah nafsu yang mengajak ke arah kebaikan. gantal (gulungan daun sirih yang diikat dengan benang lawe) dua buah. nafsu muthmainah dilambangkan dengan binatang merak. minyak wangi. Itulah makna dari ‘angaweruhi’ (merawat) sedulur papat limo pancer. mendapat derajad dan pangkat. Dalam gunungan wayang. ada yang mengartikan sebagai ‘guru sejati’. Juga disertakan kemiri gepak jendul. rasa marah. Ada pula yang mengartikan pancer sebagai “bashiroh” yaitu mata hati yang bersumber dari kesejatian ‘min Ruhi’ yang dianugerahkan oleh ilahi. loba. ada yang menyebut ‘roso jati sejatining roso’ (rasa sejati. Nafsu ini berpadanan dengan sifat udara yang menjadi unsur pembentuk jasad. Dikatakan nafsu ini mendapat pengaruh dari sifat panas api yang menjadi pembentuk jasad manusia.

Kepala si anak kemudian dibenturkan perlahan ke pohon pisang sambil membaca mantra: “Sang Wewe Putih. maka tempat menanam ari-arinya disiram dengan air dingin. Anak dikelilingkan rumah sebanyak tiga kali. Yang melakukan harus ayah si bayi dengan berpakaian rapi. karena dianggap sudah waktunya. kuberi upah tape satu jembangan asalkan dapat menyapih si bayi jangan sampai menangis. kowe tak upahi tape sepengaron nanging janji bisa nyapih si jabang bayi. biasanya setelah bayi berumur 2 tahun. Selamatan tedak siten (turun tanah) Peringatan tedak-siten/tujuhlapanan atau 245 (dua ratus empat puluh lima) hari sedikit istimewa. jika ambil kalung emas maka ia akan kaya raya. Jika bayinya laki-laki. Setelah itu kendil bisa dihanyutkan ke sungai.” (Wahai Wewe Putih. aja nganti nangis. Tatacara menyapih bayi Sebuah proses yang dilaksanakan untuk memisahkan bayi dari susuan ibunya. Untuk itu diperlukan kurungan ayam yang dihiasi sesuai selera. Hakikat bukan Khurafat . Ada kebiasaan lain terkait ari-ari tersebut.Kendil kemudian ditutup dengan lemper dan dibungkus dengan kain mori yang baru. dan sebagainya) dan tangga dari batang pohon tebu untuk dinaiki si bayi tapi dengan pertolongan orang tuanya. Kemudian setelah itu si Ibu melakukan sawuran duwit (menebar uang receh) yang diperebutkan para tamu dan anak-anak yang hadir agar memperoleh berkah dari upacara tedak siten. maka di dalam kurungan juga diberi mainan anak-anak dan alat tulis menulis serta lain-lainnya (jika si bayi ambil pensil maka ia akan menjadi pengarang. menangis terus dan tak bisa dihentikan dengan berbagai cara. kubur ari-ari tersebut diberi sesaji kembang telon. Lalu ia dibawa ke sebuah pohon pisang yang di bawahnya telah diberi jembangan berisi air kembang setaman dan dilapisi tape ketan. pada setiap hari weton si bayi. karena untuk pertama kali kaki si bayi diinjakkan ke atas tanah. jika ambil buku berarti suka membaca. berkeris dan mencangkul sendiri lubang untuk menanamnya. digantung di pojok rumah bagian luar atau ditanam dalam tanah. Kemudian. Jika bayi rewel. 66 Jin.

Antara lain: Jamu untuk wanita hamil Obat setelah bersalin Obat memperbanyak air susu Obat. Obat-obatan untuk Ibu dan Bayi Primbon Jawa yang bersifat ensiklopedis memuat juga beraneka resep dan ramuan obat atau jamu. selalu ada selamatan dengan hidangan dan sesaji tertentu. pisau atau linggis yang diletakkan di atas nampan. ketumbar. Untuk supitan sajen ditambah besi tua (gerangan) berupa sabit. tumpeng gundul (tanpa lauk).Setelah itu si anak diminumi ramuan kunir. Ampasnya dibuat tapel (ditempelkan di kepala) dengan dibubuhi kapur sedikit. cangkul. sebagaimana ritual-ritual lainnya. baro-baro. Hidangan dan sesajinya berupa bubur merah dan putih. pisang ayu. kemenyan. sirih kuning. kluwak . Namun tetesan hanyalah khitan simbolik. empluk berisi: beras. terawas yang ditumbuk dan diberi sedikit air. Supitan (Khitanan) dan Tetesan Supitan adalah khitan bagi anak lelaki. tapel dan pupuk (bedak) bayi Obat melahirkan prematur Obat dan rapal melahirkan terlalu lama Obat ari-ari tak keluar Obat wanita agar dicintai suami Obat ingin punya anak Obat jika datang bulan Ruqyah 67 . ayam hidup dan lain-lain. sebuah kelapa utuh. kemiri. Periode kehamilan. gula merah 1 tangkep. kembang telon. Yang khas. yang dipotong adalah kunyit/kunir. lawe. kelahiran. sementara tetesan bagi anak perempuan. pinang dengan tangkainya. menyusui dan perkembangan bayi dilengkapi dengan beraneka obat-obatan dan jamu.

Aneka rapal dan mantra tadi berifat bujukan agar makhluk halus tadi tak mengganggu. Hakikat bukan Khurafat .Obat bayi sakit cacar/gabag Obat cacar untuk bayi dan orang tua Obat bayi sakit sawan Obat bayi sakit kembung Obat bayi sakit panas Obat bayi muntaber Yang menarik. Hal ini didasari anggapan bahwa gangguan kesehatan disebabkan karena godaan dan gangguan makhluk halus. mantra dan ritual tertentu yang bersifat klenik. 68 Jin. Biasanya juga disertai “sogokan” berupa sesaji dan hidangan tertentu. jamu dan obat-obatan tadi dilengkapi juga dengan rapalan.

1 Kemudian. adalah pertanyaan: "Itu hal yang baik… kenapa dilarang? Mana sisi buruknya?" Hal serupa pula mungkin yang hinggap di benak kita. "Namanya slametan. yaitu Allah.” kilah yang sering kita dengar. “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. maksudnya adalah doa dan pengharapan kepada Yang Maha Kuasa.SYIRIK DAN BID'AH DALAM TRADISI SLAMETAN BAYI D i antara syubhat yang melanda kaum Muslimin ketika dihadapkan kepada tradisi-tradisi non-Islam. Kok dilarang.” Dan. Mereka pun beralasan. Mereka beranggapan bahwa malaikat adalah putri-putri Allah. Fenomena di atas hampir mirip dengan asbabun nuzul (sebab turunnya) ayat ke-3 surat Az-Zumar. setelah membaca uraian tradisi Jawa di atas.” 1 Al-Qur’an Miracle. tujuan menyembah berhala semata-mata hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bani Kinanah dan Bani Salamah) yang menyembah berhala. hal 914. Diriwayatkan oleh Juwaibir dari Ibnu Abbas. betapa banyak ritual dan tradisi non-Islam yang diaku-akukan sebagai sesuatu yang mempunyai kemiripan bentuk dan filosofinya dengan Islam. Ruqyah 69 . turunlah firman Allah yang menampik semua klaim mereka:                                        “Ingatlah! Hanya milik Allah-lah dien yang murni (dari syirik). “Cara dan ritual bisa berbeda. namun tujuannya satu. bahwa ada tiga suku bangsawan (Bani Amir. Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata)..

mengacu kepada sebuah doa dan pengharapan agar sang jabang bayi selamat selama dalam kandungan. kemudian diaku-akukan sebagai cara yang mempunyai tujuan akhir yang sama? Islam adalah syariat. bukan syariat sebelumnya. Sungguh. misalnya. Lalu. Kalau pun kemudian Nabi menetapkannya sebagai ajaran Islam. bagaimana dengan tradisi yang sama sekali berbeda. dan kelak lahir menjadi manusia yang baik dan berguna bagi sesama. sebagaimana disebutkan di awal pembahasan. maka motivasi saat mengamalkannya adalah mengamalkan ajaran Islam. Masing-masing berdiri sendiri. Ritual.” Berdoa kepada selain Allah untuk memenuhi kebutuhan atau menolak bala atau untuk mencari kesembuhan dari penyakit kesemuanya dapat Jin. maka dalam melaksanakan puasa tersebut motivasi kita adalah melaksanakan syariat Muhammad SAW. Kalau pun ada ajaran lain yang mirip atau bahkan sama. bukan ajaran lain. yang oleh karenanya kita mengadakan slametan untuk (berharap dapat) menangkalnya? Slametan memiliki tujuan akan penegasan dan penguatan kembali tatanan kultur umum. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar. sesajian berikut dengan filosofi yang dikandung di dalamnya. dan tidak ada kaitan satu dengan yang lain.” (Az-Zumar: 3). unsur yang dicari bukanlah makan bersama di tempat si empunya hajat. Dalam tradisi slametan. Kejawen adalah syariat lain. Masalahnya. slametan juga dimaksudkan untuk tolak balak. Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Hakikat bukan Khurafat 70 .Sungguh. mempunyai aturan dan tata-laksanan sendiri yang sama sekali tidak sama dengan ajaran lain. Di samping itu juga untuk menahan kekuatan kekacauan (talak balak). Puasa pada hari-hari tertentu yang sudah ada sebelum Nabi Muhammad SAW di utus. kepada siapa kita berdoa dan berharap? Balak dari mana yang kita khawatirkan akan turun. umumnya berupa slametan. Ayat tersebut menyatakan ajaran Islam sebagai sebuah ajaran mandiri. Kepada Siapa Memohon Keselamatan? Tradisi Jawa terkait dengan bayi yang berada dalam kandungan hingga lahir. melainkan oleh-oleh berupa berkat (berkah) yang diyakini sebagai makanan “bertuah. Apalagi.

bintang-bintang atau benda langit lainnya." (Yunus : 106). yang tidak mampu memerintah dan melarang. merupakan kesesatan dari jalan yang lurus dan perbuatan syirik terhadap Allah yang Maha Agung. sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan dikembalikan ke belakang sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita. Juga firman Allah:                    Ruqyah 71 . 'Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah. sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu) maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim. Allah berfirman:                                             "Katakanlah.mengotori akal dan membutakan mata hati. baik itu dari kalangan para nabi dan rasul. jin atau malaikat. tidak mampu mendengar dan tidak mampu memperkenankan doa. pepohonan dan bebatuan serta orang-orang yang sudah mati. Allah berfirman:                   "Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah. kesemuanya adalah kezhaliman yang besar." (Al-An'am : 71). Berdoa kepada «sesuatu» yang tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat.

"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sesembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doanya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka. Bahkan. Sebagaimana firman Allah:                        "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. meski faktanya kini yang banyak dilakukan hanya bulan ke-empat dan ke-tujuh. beda bulan kehamilan. menghindari mara-bahaya. Slametan dilakukan tak hanya sekali. Segala bentuk dosa bisa diampuni oleh Allah bagi siapa yang Allah kehendaki. beda pula menunya. untuk siapa sajian khusus tersebut dihidangkan? Yang pasti bukan untuk Allah. Ada makna dan simbol tertentu yang dibingkai dalam sebuah maksud utama: mengharap keselamatan. Lalu. Berdoa kepada selain Allah adalah perbuatan syirik dan merupakan dosa besar. menginjak telur saat perkawinan dan lainnya." (Al-Ahqaaf : 5). tidak boleh berubah? Tradisi Jawa penuh dengan nilai mistik dan filosofis. dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu. nasi kuning lauk jeroan dan seterusnya. Dilakukan setiap bulan (sembilan kali). ketika harus tumpeng urap dengan jumlah sayur yang ganjil. Sulit dimengerti." (An-Nisaa: 48). Kalau para pelaku tradisi Jawa Jin. Untuk Siapa Sesajian Itu? Kalau kita amati makanan dalam pelaksanaan slametan di atas. Sekadar tedak siti (upacara menginjak tanah yang pertama). bagi siapa yang dikehendaki-Nya. bukan sekadar variasi menu layaknya sebuah warung makan menyajikan hidangannya. bahkan dosa terbesar. memiliki simbolisasi yang khusus dan kuat. Sama sulitnya menjawab pertanyaan. mengapa harus sebanyak itu ritual slametan dilakukan. mengapa makanan yang disajikan harus baku seperti daftar di atas. Maka. Hakikat bukan Khurafat 72 . kecuali dosa syirik. menu yang wajib yang disyaratkan sangat beragam. karena Nabi Muhammad SAW tidak pernah mencontohkan hal tersebut.

Korea hingga Polinesia menampakkan pengaruh yang sama.' Bagian yang untuk berhalaberhala mereka tidak akan sampai kepada Allah.tersebut berkeyakinan semua sesajian itu ditujukan untuk Allah. maka amalan tersebut tertolak. bahkan mempersembahkan sajian khusus untuk selain-Nya). Ruqyah 73 . 'Ini untuk Allah dan yang ini untuk berhala-berhala kami. hingga kini masih diamalkan di desadesa. Ini merupakan pengaruh agama Tu dan Yang yang berkembang dari Asia Asia Tengah dan meluas sampai ke Indonesia. termasuk dalam upacara tujuh bulan bagi wanita hamil. selain mengandung unsur syirik (dengan mengharap dan menolak sesuatu bukan kepada Allah." (Al-An>am : 136). Beberapa tradisi di Cina. dan bagian yang untuk Allah akan sampai kepada berhala-berhala mereka. Rasulullah SAW bersabda : َ َ َ ْ ْ ‫َمن َٔاحدث ِفي َٔا ْم ِرنَا هذا َما َل ْيس م ْن ُه َفه َو َرد‬ ٌّ ُ ِ َ "Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal darinya. Sangat buruk apa yang telah mereka tetapkan itu. setelah upacara tujuh bulan perempuan hamil selalu membawa pisau kecil atau gunting agar tidak diganggu oleh hyang jahat. Bukhari dan Muslim). cara tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Nabi SAW. akan sia-sia (tertolak). Sebuah ibadah mahdhah yang dilakukan tanpa ada contoh dari Nabi SAW. Sebab.                                    "Dan mereka menyediakan sebagian hasil tanaman dan hewan (bagian) untuk Allah sambil berkata menurut persangkaan mereka. Pengaruh Agama Lain Dalam tradisi lainnya juga. maka sekali-kali niat tersebut tidak akan pernah sampai." (HR.

yang sangat kental dengan ajaran nonIslam: Selain itu disiapkan sebuah kelapa gading yang digambari wajah dewa Kamajaya dan Dewi Kamaratih. sudah pantas. Setelah itu orang tuanya berkata: sudah pantas. putih dan hitam. Setelah itu baru memakai kain lagi sebagai kemben. sulit untuk menganggap tradisi-tradisi Jawa di atas sebagai bentuk kulturasi budaya Islam di Indonesia. Dari kain pertama sampai ketujuh orang tuanya mengatakan: belum pantas. Lalu dijatihkan kelapa gading bergambar tadi sambil berkata: jika pria seperti Kamajaya. Arjuna atau Panji. Setelah itu ibu hamil tadi memakai 7 helai kain secara bergantian. Kemudian dukun atau mertuanya menjatuhkan teropong (alat memintal benang). Selain jauhnya perbedaan ritual di antara kedua ajaran tersebut. tak berhias maupun memahai perhiasan apapun. jika wanita seperti Kamaratih. Sambil mengatakan: pria atau wanita pun mau asalkan selamat. tak berbaju. atau Arjuna dan Sembadra atau Panji dan Candrakirana. atau Sembadra atau Candrakirana. Si ibu hamil berganti kain setelah mandi. 74 Jin. Hakikat bukan Khurafat . Coba simak ritual berikut.Semakin jelas. pengaruh agama selain Islam justru lebih menonjol—sebagaimana keterangan di atas. diterima oleh ibu itu sendiri/dukun. perutnya diikat longgar dengan lawe merah. Kain tadi dibiarkan berserakan dan diduduki.

Ruqyah 75 . Penjelasan Dalam slametan terkandung makna memohon agar diberi keselamatan dan dihindarkan dari marabahaya. Islam mempunyai tuntunan sendiri dalam hal ini.Mengapa Tradisi Tersebut Terlarang? No. beda jenis hidangan. Nama Tradisi Slametan wanita hamil. Beliau tidak pernah melakukan hal seperti itu. Pelakunya kadang meyakini doa yang ditujukan dalam slametan itu hanya kepada Allah. 1. sebagian kalangan meyakini bahwa tradisi ngupati ini penting karena dihubungkan dengan keyakinan Islam bahwa janin dalam kandungan ditiupkan ruh pada umur empat bulan. Namun. cara yang dilakukan sama sekali keliru. Keterangan Dalam tiap bulan ada ritual slametan dengan aneka ragam hidangan yang sudah ditentukan. memohon (berdoa) kepada Allah hukumnya syirik. Permohonan itu tidak ditujukan kepada Allah. Meski tujuan yang diakukan sama. Beda bulan. Padahal. karena tidak pernah dicontohkan oleh Nabi SAW. namun cara yang ditempuh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Nabi SAW. Dalam slametan bulan keempat.

lalu jumlahnya dibagi dengan angka 3. Kemungkinan besar waktuwaktu di atas adalah waktu yang baik untuk kelahiran bayi. Lihat keterangan sebelumnya tentang konsep waktu dalam Islam. mencampuradukkan konsep doa. Doa menjelang kelahiran Selain tidak tersebut dalam sunnah Nabi SAW. Lafal-lafal tertentu yang dipercaya bisa membantu proses persalinan. nisbah kepada ahlul bait. Meski tidak diterangkan waktu-waktu apa yang dimaksud. Mengetahui jenis kelamin bayi Caranya ada orang yang bertanya: jika si bayi keluar pria atau wanita. Primbon Betaljemur Adammakna mencatat ketentuan khusus hari dan jam kelahiran bayi. Cara yang ditempuh dalam tradisi Jawa ini sangat jauh dari unsur rasio / keilmuan. Hari dan Jam Kelahiran Bayi Sekali lagi. lalu neptu huruf nama si penanya dijumlahkan dengan neptu hari dan pekan ketika ia bertanya. mantera dan konsep sufi. 76 Jin. Hakikat bukan Khurafat .2. 4. Jenis kelamin janin dapat diketahui dengan metode ilmiah. sini nampak sinkretisasi yang kental. Dari mana keyakinan/ kepercayaan itu berasal? 3. baik-buruknya nasib seseorang sama sekali tidak dipengaruhi oleh waktu (hari apa dan jam berapa ia dilahirkan). Lebih didasarkan kepada sebuah kepercayaan yang diterima mentahmentah.

dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga. tidak sesuai dengan ajaran Islam. sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu. dikumandangkan adzan dan iqamat yang hanya boleh dilakukan oleh dukun.5. Bahkan adanya ritual khusus dengan pakaian dan sesajian tertentu dalam membuang ari-ari mengindikasikan adanya unsur syirik— menganggapnya mampu memberikan manfaat dan mudharat. karena tidak pernah diajarkan oleh Nabi SAW. Juga dianjurkan membaca surat "Inna Anzalna. "Dan dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya. ia diwafatkan oleh malaikatmalaikat kami. Sejalan dengan konsep Hindu tentang empat unsur alam (air. Adzan dan Iqamat yang hanya boleh dilakukan oleh dukun. Dalam Islam. bumi/tanah dan angin). api. Ruqyah 77 . dan malaikatmalaikat kami itu tidak melalaikan kewajibannya. 6. 7. ada malaikat yang diutus oleh Allah untuk menjaga manusia. Namun. Setelah bayi lahir. Sedulur Papat Lima Pencer Hampir mirip dengan konsep "Sedulur Alus. Keyakinan adanya makhluk lain yang menjaga manusia. Adzan dan Iqamat untuk bayi yang baru lahir memang ada sunnahnya." Ada ritual khusus dalam memperlakukan ari-ari." (surat Al-An'am: 61). Memotong dan Membuang Ari-ari Bid'ah. kenapa harus dukun yang melakukannya? Sedangkan pembacaan surat "Inna Anzalna" (Al-Qadar?) tidak ada sama sekali riwayatnya dalam sunnah Nabi SAW." Meyakini bahwa manusia mempunyai "saudara ghaib" yang menjaga kehidupannya sehari-hari.

Sang Wewe Putih Menyapih Bayi Ritual dengan sesajen makanan dan kembang setaman. 9. 78 Jin. Sebab. Sunan Kalijaga kemudian "mengawinkan" dengan konsep sufistik Islam. Hakikat bukan Khurafat . selain mengandung unsur syirik. Lalu. Pada umur 245 hari (sebagaimana keterangan di atas). Mantra tentang Wewe Putih mengindikasikan kuat bahwa yang dimaksud adalah jin. akal bayi belum berfungsi normal. Sesekali ia membujuk dan merayu kita untuk jatuh ke dalam jurang kemaksiatan. Tidak ada tuntunan tentang perlakuan khusus yang harus kita berikan kepadanya. Mereka. Ritual semacam ini adalah bentuk meminta pertolongan kepada jin. para malaikat adalah utusan Allah.Konon. masing-masing manusia juga diciptakan qarin baginya. 8. Sesekali meninabobokkan kita agar lalai dari kewajiban. juga bid>ah. sesajen yang digunakan adalah kembang setaman—yang diyakini sebagai makanan jin. darimana ditebak bakatnya sesuai barang/mainan yang diambil? Sawuran duit yang diperebutkan karena dianggap bertuah. Qarin adalah jin atau setan yang selalu membuntuti ke manapun kita pergi. Tedak Siten (turun tanah) Ritual ketika pertama kali kaki si bayi diinjakkan ke tanah. Pada kali lain juga membisikkan angan-angan hingga si korban menunda amal dan tobatnya. Sementara itu.

empluk berisi: beras. kluwak . mantra dan ritual tertentu yang bersifat klenik. kemenyan. ayam hidup. kemiri. Hidangan dan sesajinya berupa bubur merah dan putih. Khitanan ala Kejawen Sebagaimana ritual-ritual lainnya. Namun. pinang dengan tangkainya.10. dan sebagainya) identik dengan persembahan kepada jin. tumpeng gundul (tanpa lauk). Diantaranya dilengkapi juga dengan rapalan. Bentuk sesajen yang selalu lekat dalam tradisi Kejawen identik dengan ritual Hindu. Obatobatan untk Ibu dan Bayi Mantra (dalam Islam disebut ruqyah) bagian dari bentuk peribadatan. Khitan memang salah satu sunnah dalam Islam. hukumnya haram. penyelenggaraannya tanpa memakai ritual semacam itu. Apalagi. Ruqyah 79 . sebuah kelapa utuh. sirih kuning. 11. dilihat dari komposisi "menu" sesajen (kemenyan. Di luar mantra/ruqyah syar'iyyah. kembang telon. ayam hidup dan lain-lain. lawe. harus ada tuntunannya dari sunnah Nabi SAW. gula merah 1 tangkep. pisang ayu. selalu ada selamatan dengan hidangan dan sesaji tertentu. Oleh karena itu. baro-baro.

Contohnya. a mereka kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan. maka hal ini tidak mengapa. Sehingga bila bangsa jin itu ingkar dan kafir kepada Allah. kemudian menjadikan jin tersebut sebagai da’i untuk menyampaikan syariat kepada kaumnya atau menjadikan dia pembantu di dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala. dan dia adalah seseorang yang taat kepada Allah Ta’ala dalam memberikan peringatan tersebut. Bahkan terkadang menjadi sesuatu yang terpuji dan termasuk dakwah kepada Allah Ta'ala. 3 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan bahwa meminta bantuan kepada jin ada tiga bentuk: Pertama : Meminta bantuan dalam perkara ketaatan kepada Allah Ta’ala. 11/169. Sebagaimana telah terjadi bahwa sekumpulan jin menghadiri majelis Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan dibacakan kepada mereka Al-Qur` n. Dan bila mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya SAW. mereka akan masuk ke dalam neraka.com Majmu’ Fatawa. hal. Di kalangan jin sendiri terdapat orangorang yang shalih. ahli ibadah. karena orang yang akan memberikan peringatan semestinya mengetahui tentang apa yang dibawanya. Jumhur menegaskan pula bahwa tidak ada seorang rasul dari kalangan jin. Tuhfatul Mujib. apabila seseorang memiliki teman jin yang beriman dan jin tersebut menimba ilmu darinya. 2 3 Dinukil dari voa-islam.Hukum Meminta Tolong Kepada Jin2 Kita mengetahui bahwa Rasulullah SAW diutus kepada jin dan manusia untuk menyeru mereka kepada jalan Allah Ta'ala dan beribadah hanya kepada-Nya semata. seperti menjadi pengganti dalam menyampaikan ajaran agama. menurut jumhur ulama. mereka akan masuk ke dalam surga. menurut nash dan ijma’. 364 80 Jin. Selanjutnya. zuhud dan ada pula ulama. yang ada adalah pemberi peringatan dari kalangan mereka. Hakikat bukan Khurafat .

Bagaimana jika wanita itu diperintahkan agar mengutus temannya untuk mencari kabar di mana posisi ‘Umar?” Lalu dia melakukannya. maka akan menjadi sesuatu yang bermaksiat. Diperbolehkan. dengan syarat wasilah (perantara) untuk mendapatkan bantuan jin tersebut adalah sesuatu yang mubah dan bukan perkara yang haram. menakut-nakuti mereka atau semisalnya. lalu manusia yang fasik itu meminta bantuan kepada jin tersebut dalam perkara dosa dan maksiat. Seperti bila ada jin yang fasik berteman dengan manusia yang fasik. Kemudian bila caranya itu adalah syirik maka meminta tolong kepada mereka adalah syirik dan bila wasilah itu tidak syirik. kemudian jin itu kembali dan mengatakan: “Amirul Mukminin tidak apa-apa dan dia sedang memberikan tanda bagi unta shadaqah di tempat orang itu.” Inilah bentuk meminta pertolongan kepada mereka dalam perkara yang diperbolehkan. Maka hal ini sangat diharamkan dalam agama. sujud. Ketiga : Meminta bantuan kepada mereka dalam perkara yang diharamkan seperti mengambil harta orang lain. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan sebuah riwayat bahwa ‘Umar radhiallahu ‘anhu terlambat datang dalam sebuah perjalanan hingga mengganggu pikiran Abu Musa radhiallahu ‘anhu. Kemudian mereka berkata kepada Abu Musa radhiallahu ‘anhu: “Sesungguhnya di antara penduduk negeri itu ada seorang wanita yang memiliki teman dari kalangan jin.Kedua : Meminta bantuan kepada jin dalam perkara yang mubah. atau selainnya. Ruqyah 81 . Perantara yang tidak diperbolehkan seperti bila jin itu tidak mau memberikan bantuan melainkan dengan mendekatkan diri kepadanya dengan menyembelih.

Perbuatan ini terjadi dengan cara mengagungkan mereka. i Boleh ber-ta’awun (kerja sama) dengan mereka. Dan telah didapati. Fatawa ‘Aqidah Wa Arkanul Islam hal. termasuk kesyirikan kepada Allah Ta’ala dan termasuk bersenang-senang dengan mereka. bahwa dia bukanlah setan yang secara perlahan membantumu namun kemudian menjatuhkan dirimu dalam perbuatan maksiat dan menyelisihi agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. seperti mengirimkan bencana kepada seseorang atau memberikan manfaat. Dengan terkabulkannya permintaan dan tertunaikannya segala hajat. Allah Ta’ala telah menjelaskan di dalam firman-Nya:             “Dan tolong-menolonglah kalian di dalam kebaikan dan ketakwaan dan jangan kalian saling tolong menolong di dalam perbuatan dosa dan maksiat.Maka meminta bantuan yang seperti ini hukumnya maksiat dan tidak sampai ke batas syirik. 276-277. termasuk dari katagori istimta’ (bersenang-senang) dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang harus kamu ketahui dulu tentang mereka. Allah Ta’ala berfirman:                                         4 5 Al-Qaulul Mufid hal. dan Majmu’ Fatawa 11/169 Tuhfatul Mujib. 212.” 5 Al-Lajnah Ad-Da`mah (Lembaga Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) i menjelaskan: “Meminta bantuan kepada jin dan menjadikan mereka tempat bergantung dalam menunaikan segala kebutuhan. 371 82 Jin. hal. bukan hanya satu orang dari kalangan ulama yang dibantu oleh jin. berlindung kepada mereka. Hakikat bukan Khurafat .” (Al-Ma`dah: 2). dan kemudian meminta bantuan agar bisa tertunaikan segala yang dibutuhkannya. 4 Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah mengatakan: “Adapun masalah tolong menolong dengan jin.

1/162-163 Ruqyah 83 .” 6 Kesimpulan Meminta bantuan kepada jin adalah boleh dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia. mengingat kebodohan yang sangat menyelimuti umat.” (Al-Jin: 6). dan tidak dikuburkan di pekuburan orang-orang Islam. niscaya tidak akan diterima shalat dan puasanya. niscaya amalmu akan terhapus. maka tidak dishalatkan jenazahnya. Namun demikian. Sehingga banyak yang tidak mengerti perkara yang mubah dan yang tidak mengandung maksiat. 6 Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah.’ Kemudian berkatalah kawan-kawan mereka dari kalangan manusia. atau mana tata cara yang boleh dan tidak mengandung pelanggaran agama serta mana pula yang mengandung hal itu. sesungguhnya sebahagian dari kami telah mendapatkan kesenangan dari sebahagian yang lain dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami’. Meminta bantuan jin untuk mencelakai seseorang atau agar melindunginya dari kejahatan orang-orang yang jahat. kami memandang agar hal itu dihindari pada zaman ini. Barangsiapa diketahui melakukan demikian.“Dan ingatlah hari di mana Allah menghimpun mereka semuanya dan Allah berfirman.” (Al-An’am: 128). Wallahu a’lam. hal ini termasuk dari kesyirikan.            “Dan bahwasanya ada beberapa orang dari laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada laki-laki di antara jin kemudian jin-jin itu menambah kepada mereka rasa takut. berdasarkan firman Allah SWT:       “Jika kamu melakukan kesyirikan.” (AzZumar: 65). tidak diringi jenazahnya. Barangsiapa demikian keadaannya. ‘Ya Rabb kami. ‘Wahai segolongan jin (setan).

84 Jin. Hakikat bukan Khurafat .

menyembelih binatang pada hari ke-7 dari kelahiran bayi. Bahkan sebagian orang meyakini. Maksudnya. Melalui sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kita bisa melihat dengan jelas penetapan syariat dalam hal ini. Kalau sudah begini. Aqiqah Imam Ahmad rahimahullâh dan mayoritas ulama juga berpendapat bahwa apabila ditinjau dari segi syar’i maka yang dimaksud dengan aqiqah adalah menyembelih (an-nasikah). Sebenarnya apa yang harus dilakukan pada hari-hari pertama setelah kelahiran telah diajarkan oleh Allah. kalau hal itu tidak dilakukan. Ruqyah 85 . Banyak hal dipandang oleh masyarakat sebagai adat untuk menyambut kelahiran seorang bayi. maka keselamatan si jabang bayi pun terancam. ada pula yang memasang gelang dari benang untuk penangkal bala’ bagi si bayi. bahkan dikotori oleh hal-hal yang tidak diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ada yang memasang lentera di kuburan ari-ari (plasenta) bayi. Tentunya tak patut ayah dan ibu yang menginginkan buah hatinya menjadi anak yang shalih membiarkan hari-hari pertamanya berjalan tanpa dihiasi tuntunan syariat yang mulia ini. ada yang meletakkan rangkaian bawang dan cabai merah di atas kepala bayi.TUNTUNAN ISLAM TERKAIT KELAHIRAN L ahirnya seorang bayi merupakan awal dari kehidupannya di dunia. Dia mulai merasakan aktivitas hidup di dunia ini. Kita simak. dikhawatirkan kesyirikan akan masuk tanpa terhindarkan. ada yang memasang gunting atau senjata tajam lain di dekat kepala bayi. apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap seorang bayi yang baru saja lahir.

5472). An-Nasa’i: VII/162-163. Makna menghilangkan gangguan adalah mencukur rambut bayi atau menghilangkan semua gangguan yang ada. 17-18. 1552. Samurah bin Jundab berkata: Rasulullah bersabda : “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing). Aisyah berkata: Rasulullah bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama (setara) dan bayi perempuan satu kambing.” (HR Muslim) 1. Hakikat bukan Khurafat . 3176. Ahmad: V/7-8.” (HR Al-Bukhari no. dan Ad Darimi: II/81. maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama (setara) dan untuk perempuan satu kambing. 2286. At-Tirmidzi no. Ibnu Majah no. An-Nasa’i: VII/166. 2841 dengan sanad yang shahih HR Abu Dawud no. 251 dan At-Tirmidzi no. Rasulullah bersabda: “Barang siapa di antara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi. 3165. 158.” 3 4. Diriwayatkan: “Bahwasanya Rasulullah bersabda menqaqiqahi Hasan dan Husain dengan satu kambing dan satu kambing. 22. maka saya menamainya dengan nama bapakku Ibrahim. Ibnu Majah no. dan dicukur rambutnya.” 2 3. shahih HR Ahmad: II/31. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah HR Abu Dawud no.”4 5.Ada banyak hadits Nabi yang menjelaskan tuntunan ini: 1. diberi nama.1 2. 1513.” 5 Memberi nama yang baik Disyariatkan memberi nama anak yang lahir dengan nama yang pada hari yang ketujuh sebagaimana hadits di atas atau pada saat dilahirkan langsung karena Rasulullah SAW telah menamai putranya yang baru lahir dengan nama Ibrahim. maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gangguan darinya. dengan sanad hasan 86 Jin. dengan sanad yang hasan HR Abu Dawud no. 2838. 2843. 2 3 4 5 Fathul Bari: IX/593 dan Nailul Authar: V/35 Cet. beliau berkata: “Tadi malam telah dilahirkan anak laki-laki bagiku. Salman bin Amir Ad-Dhabi berkata: Rasululloh bersabda : “Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi. 3163. dan Ahmad no.

Wallahu a’lamu bish-shawab.” Kemudian kuberikan pada beliau beberapa buah kurma. 2144 Lihat: Syarh Shahih Muslim dan Subulus Salam: IV/194 Ruqyah 87 . Demikian dijelaskan oleh Imam An-Nawawi rahimahullah ketika menerangkan tahnik ini. “Kesukaan Anshar adalah kurma. 5470 dan Muslim no.”6 Tahnik adalah mengunyah kurma sampai lumat hingga bisa ditelan.” dan beliau memberinya nama Abdullah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda. Mulailah bayi itu menggerakgerakkan lidahnya untuk merasakan kurma tersebut. Dari sini pula kita memetik faidah bahwa tahnik dilakukan oleh orang yang shalih. namun kurma lebih utama. Kemudian beliau membuka mulut bayi dan meludahkan kurma itu ke mulut bayi. lalu beliau masukkan ke mulut dan mengunyahnya. karena sebaikbaik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. baik laki-laki ataupun perempuan. Para ulama bersepakat bahwa istihbab (disenangi) melakukan tahnik pada hari kelahiran anak. Gambaran perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini bisa kita lihat dalam hadits Anas bin Malik RA: “Aku membawa Abdullah bin Abi Thalhah al Anshari kepada Rasulullah SAW pada hari kelahirannya. 6 7 8 HR Al-Bukhari no. dan waktu itu beliau menggunakan mantelnya sedang mengecat untanya dengan ter. 2147 HR Al-Bukhari no. Lalu beliau bertanya: “Apakah engkau membawa kurma?” Aku menjawab: “Ya.8 Inilah tuntunan syariat bagi setiap orang tua yang mengharap kebaikan bagi anaknya. maka tahnik itu pun telah terlaksana. maka beliau mendoakan barakah kepadanya dan mentahniknya. Aisyah binti Abi Bakr RA menuturkan: “Apabila didatangkan bayi yang baru lahir ke hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Tahnik dan Mendoakan Keberkahan Istri beliau. dan ini yang disenangi. kemudian menyuapkannya ke mulut bayi. maka diganti dengan makanan manis lain yang bisa digunakan untuk mentahnik. Apabila dilakukan dengan selain kurma. 5468 dan Muslim no. Tak layak semua ini dilewatkan begitu saja.” 7 Hadits Anas bin Malik di atas juga memberikan penjelasan kepada kita bahwa tahnik dilakukan dengan menggunakan kurma. Apabila tidak didapatkan kurma.

dan hanya orang kaya yang punya. Hakikat bukan Khurafat . Hal ini berdasarkan hadits Abu Rafi`Radhiyallâhu 'anhu. Ibnu Ishaq menyebutkan dalam Sirah-nya bahwa Rasulullah SAW pernah berkata kepada Fathimah RA setelah melahirkan Al-Hasan. “Wahai Fathimah. ia berkata. Mengingat bahwa rambut bayi merupakan bagian dari perkembangan janin. tetapi cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak seberat rambut yang dicukur kepada fakir miskin. cukurlah rambutnya.” 88 Jin.’. 437). ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan tentang sebab perintah bersedekah dengan perak tersebut: “Sesungguhnya anak itu jika telah berpindah dari janin menjadi bayi merupakan sebuah nikmat yang wajib disyukuri. Pengkhususan perak di sini adalah karena emas terlalu mahal. lalu menyedekahkan perak seberat rambut tersebut. lalu bersedekahlah dengan mengeluarkan perak seberat timbangan rambutnya. maka sudah seharusnya bila rambutnya itu ditimbang dengan perak. ‘Wahai Rasulullah. Syaikh Waliyullah Ad-Dahlawi Rhm.” Lalu Fathimah pun menimbangnya. sedangkan perbendaharaan selain emas dan perak tidak seimbang dengan timbangan rambut sang anak. bolehkah aku melumuri putraku ini dengan darah hewan aqiqah?’ ‘Tidak.Mencukur rambut dan bersedekah Dianjurkan agar mencukur rambutnya pada hari ketujuh dan mengeluarkan sedekah berupa perak seberat rambut yang dicukur. demikian juga rambut Ummu Kultsum. Bentuk kesyukuran yang terbaik adalah dengan menggantinya. Imam Malik Rhm meriwayatkan bahwa Fathimah RA menimbang rambut Al-Hasan dan Al-Husain. dan menghilangkannya merupakan pertanda kemerdekaannya menuju perkembangan sebagai anak.” Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi juga menyebutkan dalam Minhajul Muslim (hkm. dan ternyata beratnya adalah satu dirham atau kurang sedikit. ia berkata: “Ketika Fathimah RS melahirkan Al-Hasan. kalau tidak ada perak bisa emas yang senilai atau berupa uang.

Mengolesi kepala dengan minyak wangi Mengolesi kepalanya si bayi dengan minyak wangi sebagai pengganti apa yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyyah yang mengolesi kepala bayi dengan darah hewan aqiqah. kebiasaan mereka ini tidak benar sehingga Islam meluruskannya dengan mengoleskan minyak wangi dikepalanya. Ruqyah 89 . sebagaimana dalam hadits Buraidah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Irwa’ul Ghalil: IV/389.

90 Jin. Hakikat bukan Khurafat .

bahkan sejak masih jabang bayi. Ramalan-ramalan itu sesuai dengan banyak hal. antara lain: Menurut wuku kelahiran Menurut hari lahir Menurut hari dan jam lahir Menurut pekan lahir Menurut hari dan pekan lahir Menurut tanggal lahir Menurut bulan lahir Menurut mangsa lahir Menurut neptu hari/pekan lahir Menurut hitungan neptu hari/pekan bagi 9 Menurut hitungan neptu hari/pekan bagi 8 Menurut hari/tanggal lahir Sesuai letak tahi lalat Sesuai letak toh (tanda lahir) Sesuai hitungan huruf pertama dan terakhir namanya Sesuai ciri fisik Dari jatuhnya benih Ruqyah 91 .WATAK DAN NASIB Ramalan Watak dan Nasib Primbon Jawa memuat berbagai ramalan watak manusia.

ada sengkala yang sengaja ‘ditanam’ orang dengan tujuan jahat karena bermusuhan dengan kita. Contohnya adalah ada orang yang rajin bekerja dan berusaha namun selalu mengalami kegagalan. Sengkala Sengkala adalah rintangan hidup yang dialami oleh manusia yang diakibatkan adanya energi negatif atau aura hitam yang ada dalam diri seseorang sehingga mengakibatkan penderitaan lahir batin. Setelah besar. istilah sengkala mungkin berasal dari Sang Kala atau Batara Kala. Hakikat bukan Khurafat . mencermati faktor-faktor penentu ini menjadi sebuah “ngelmu” yang biasanya dimiliki oleh para dukun dan orang pintar. Ada sengkala yang sudah dibawa sejak lahir (ini biasanya akibat perbuatan jelek dikehidupan/ reinkarnasi sebelumnya).Dalam ramalan-ramalan tersebut. ada sengkala akibat berbuat zalim/tidak baik kepada orang lain di masa sekarang. ciri-ciri fisik dan proses pembuahannya. Jlomprong (sepanjang hidup terus menerus dirundung sakit) 4. Pada asalnya. pasangan atau anak anda meninggal) 3. Batara Kala kemudian menebar sial di antara anak manusia yang tak beruntung (sukerta). Penyebab Sengkala bisa bermacam-macam. Dewa pembawa sial dalam mitologi Hindu yang dibuahkan secara sumbang oleh Batara Guru (rajanya para dewa) saat bangkit nafsunya melihat Dewi Uma. Mani Batara Guru jatuh ke laut dan menjadi Batara Kala. Berbagai Jenis Sengkala dapat dikategorikan menjadi 29 yaitu: 1. Kala menghadap ayahnya dan disabda bahwa makanannya adalah orang-orang yang menyandang sengkala. padahal ada orang lain yang usahanya santai-santai saja selalu saja dinaungi keberuntungan. Sambit (hidup selalu susah/gagal akibat lupa bayar hutang) 92 Jin. Bahu laweyan (jika menikah. dan lain-lain sebab. Primbon merangkum beraneka hal tadi sehingga menjadi pegangan utama para dukun Jawa. Cluwak bodas (dengan pasangan selalu bentrok) 5. watak dan sifat manusia dikaitkan dengan waktu. Di sini terlihat filosofi tentang nasib manusia yang ditentukan oleh hal-hal di sekelilingnya. Kebo kemali (sulit dapat jodoh) 2.

6. Cekal kendit (karir macet, jabatan tak pernah naik) 7. Gotro Pati (rejeki seret, kerja siang malam tak ada hasil) 8. Kantong bolong (sebesar apapun hasil yang didapat selalu habis, boros) 9. Gendring bumi (usaha selalu gagal karena tanah yang ditempati wingit, angker/keramat) 10. Ruwing (sial terus menerus karena menyakiti orang tua) 11. Rerewo bodes (sering ingkar janji, hidup jadi apes) 12. Bandor sari (hidup sial karena dikutuk/disumpah ibu) 13. Jeblak (hidup sial karena dikutuk/disumpah ayah) 14. Cengis (selalu difitnah orang) 15. Gabuk (sudah tahunan menikah belum punya anak) 16. Cluring (hidup sial, usaha gagal, sering sakit pula alias sial multidimensi) 17. Branjang sunu (sial karena makan makanan haram) 18. Srigunting (selalu ditolak dalam urusan asmara) 19. Blunuk glontar (hidup sengsara karena menolak cinta seseorang) 20. Blorong (tidak betah kerja, selalu pindah-pindah karena berbagai masalah) 21. Pantek jangkar (jiwa labil karena salah salah/belum siap belajar ilmu) 22. Gombak gimbal (sial karena bagian tubuh ada yang diubah misalnya operasi plastik dll) 23. Jebluk (sering mengalami kecelakaan) 24. Borong cokro (sial karena ingkar nadzar misalnya pada makam keramat) 25. Surengkala (dimana-mana dimusuhi orang) 26. Cleret timbal (kesialan karena hukum karma akibat perbuatan di masa lalu) 27. Gendrung bedes (sial karena sering berbuat maksiat) 28. Blongkang suji (sial karena membunuh orang)

Ruqyah

93

29. Birowo (sial karena disabda orang sakit) Dalam tradisi Jawa, solusi untuk mengatasi sengkala adalah dengan mengikuti ruwatan.

Ruwatan dan Sukerta1
Ruwatan merupakan upacara adat yang bertujuan membebaskan seseorang, komunitas, atau wilayah dari ancaman bahaya. Inti upacara ini sebenarnya adalah do’a, memohon perlindungan dari ancaman bahaya seperti bencana alam, juga do’a memohon pengampunan, dosa-dosa dan kesalahan yang telah dilakukan yang dapat menyebabkan bencana. Upacara ini berasal dari ajaran budaya Jawa kuno yang bersifat sinkretis, namun sekarang diadaptasikan dengan ajaran agama. Ruwatan bermakna mengembalikan ke keadaan sebelumnya, maksudnya keadaan sekarang yang kurang baik dikembalikan ke keadaan sebelumnya yang baik. Makna lain ruwatan adalah membebaskan orang atau barang atau desa dari ancaman bencana yang kemungkinan akan terjadi, jadi bisa dianggap upacara ini sebenarnya untuk tolak bala’. Upacara ini berasal dari cerita Batara Kala, yaitu raksasa yang suka makan manusia. Menurut kepustakaan “Pakem Ruwatan Murwa Kala” Javanologi gabungan dari beberapa sumber, antara lain dari Serat Centhini (Sri Paku Buwana V), bahwa orang yang harus diruwat disebut anak atau orang “Sukerta” ada 60 macam penyebab malapetaka, yaitu sebagai berikut: 1. Ontang-Anting, yaitu anak tunggal laki-laki atau perempuan. 2. Uger-Uger Lawang, yaitu dua orang anak yang kedua-duanya laki-laki dengan catatan tidak anak yang meninggal. 3. Sendhang Kapit Pancuran, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan yang bungsu laki-laki sedang anak yang ke 2 perempuan. 4. Pancuran Kapit Sendhang, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan yang bungsu perempuan sedang anak yang ke 2 laki-laki. 5. Anak Bungkus, yaitu anak yang ketika lahirnya masih terbungkus oleh selaput pembungkus bayi (placenta). 6. Anak Kembar, yaitu dua orang kembar putra atau kembar putri atau

Kebudayaan Jawa, dimuat dalam wattpad.com.
94

١

Jin; Hakikat bukan Khurafat

kembar “dampit” yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan (yang lahir pada saat bersamaan). 7. Kembang Sepasang, yaitu sepasang bunga yaitu dua orang anak yang kedua-duanya perempuan. 8. Kendhana-Kendhini, yaitu dua orang anak sekandung terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. 9. Saramba, yaitu 4 orang anak yang semuanya laki-laki. 10. Srimpi, yaitu 4 orang anak yang semuanya perempuan. 11. Mancalaputra atau Pandawa, yaitu 5 orang anak yang semuanya lakilaki. 12. Mancalaputri, yaitu 5 orang anak yang semuanya perempuan. 13. Pipilan, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang anak perempuan dan 1 orang anak laki-laki. 14. Padangan, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang laki-laki dan 1 orang anak perempuan. 15. Julung Pujud, yaitu anak yang lahir saat matahari terbenam. 16. Julung Wangi, yaitu anak yang lahir bersamaan dengan terbitnya matahari. 17. Julung Sungsang, yaitu anak yang lahir tepat jam 12 siang. 18. Tiba Ungker, yaitu anak yang lahir, kemudian meninggal. 19. Jempina, yaitu anak yang baru berumur 7 bulan dalam kandungan sudah lahir. 20. Tiba Sampir, yaitu anak yang lahir berkalung usus. 21. Margana, yaitu anak yang lahir dalam perjalanan. 22. Wahana, yaitu anak yang lahir dihalaman atau pekarangan rumah. 23. Siwah atau Salewah, yaitu anak yang dilahirkan dengan memiliki kulit dua macam warna, misalnya hitam dan putih. 24. Bule, yaitu anak yang dilahirkan berkulit dan berambut putih “bule” 25. Kresna, yaitu anak yang dilahirkan memiliki kulit hitam. 26. Walika, yaitu anak yang dilahirkan berwujud bajang atau kerdil. 27. Wungkuk, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung bengkok.
Ruqyah

95

40. Orang yang membuat kutu masih hidup. 31. 38. Dengkak. 33. Wujil. Orang yang duduk didepan (ambang) pintu. 47. Orang yang memiliki lumbung atau gudang tempat penyimpanan padi dan kopra tanpa diberi alas dan atap. 35. Orang yang gemar membakar kulit bawang. 37. Orang yang bertempat tinggal di dalam rumah yang tak ada “tutup keyongnya”. 46. 45. Hakikat bukan Khurafat 96 . 36. 41. Orang yang ketika menanak nasi. yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung menonjol. yaitu anak yang lahir dengan badan cebol atau pendek. merobohkan “Dandhang” (tempat menanak nasi). Orang yang menempatkan barang di suatu tempat (dandhang misalnya) tanpa ada tutupnya. seperti punggung onta. Orang yang senang membakar kayu pohon “kelor”. 43. 32. 48. Orang yang senang membakar tulang. Orang yang membuat pepajangan atau dekorasi tanpa samir atau daun pisang. yaitu anak yang dilahirkan bersamaan keluarnya “Candikala” yaitu ketika warna langit merah kekuning. Orang yang berdiri ditengah-tengah pintu.kuningan. Orang yang mengadu suatu wadah/tempat (misalnya dandhang diadu dengan dandhang). 30. 49. 44. Orang tidur di atas kasur tanpa sprei (penutup kasur).28. Orang yang senang menyapu sampah tanpa dibuang atau dibakar Jin. Made. Lawang Menga. 34. yaitu anak yang lahir tanpa alas (tikar). 42. Orang yang selalu bertopang dagu. 39. Orang yang senang membakar tikar dengan bambu (galar). 29. Orang yang senang membakar rambut. Memecahkan “Pipisan” dan mematahkan “Gandik” (alat landasan dan batu penggiling untuk menghaluskan ramu-ramuan obat tradisional).

54. 57. 55. tidak bisa sejalan dengan alur hukum alam (ruang dan waktu) ini disebabkan oleh kesalahan-kesalahan perbuatan atau tingkah lakunya pada masa lalu. Orang yang tidur pada waktu matahari terbenam (wayah surup). Sudamala. sehingga merobohkan jemuran “wijen” (bijibijian). 50. jika ia mempergelarkan wayangan atau ruwatan dengan cerita Murwakala. 56. Orang yang lengah. 60. 52. bahkan menurut Pustaka Raja Purwa (jilid I halaman 194) karya pujangga R. Orang yang suka membuang garam. Orang yang senang membuang sampah lewat jendela. terdapat juga “Ruwat Sengkala atau Sang Kala” yang artinya menjadi mangsa Sangkala yaitu jalan kehidupannya sudah terbelenggu serta penuh kesulitan. kemuadian ditinggal pergi ke tetangga. Orang yang senang membuang sampah atau kotoran dibawah (dikolong) tempat tidur. Orang yang memanjat pohon disiang hari bolong atau jam 12 siang (wayah bedhug). Menurut mereka yang percaya. 58. Adapun sesaji yang disiapakan yaitu kain tujuh warna. Orang yang suka mengaku hak orang lain. 53. Kunjarakarna dan lainlain. Ranggawarsito disebutkan ada 136 macam Sukerta. jarum kuning. Orang yang tidur pada waktu matahari terbit. beras kuning. Untuk tolak bala’ bagi orang yang mengalami sial harus menjalani siraman air suci dan menggunting Ruqyah 97 .sekaligus. dan bunga tujuh rupa. orang-orang yang tergolong di dalam kriteria tersebut di atas dapat menghindarkan diri dari malapetaka (menjadi makanan Betara Kala) tersebut. Ng. Orang yang menanak nasi. Selain Ruwat Sukerta. Ada juga lakon wayang kulit ruwatan yang misalnya: Baratayuda. 59. 51. Orang yang tidur diwaktu siang hari bolong jam 12 siang. Orang yang suka meninggalkan beras di dalam “lesung” (tempat penumbuk nasi). Itulah 60 jenis “Sukerta” yaitu jenis-jenis manusia yang telah dijanjikan oleh Sang Hyang Betara Guru kepada Batara Kala untuk menjadi santapan atau makanannya.

rambut. 98 Jin. Lalu turunlah Batara Wisnu sebagai Dalang Kandabuana yang meruwat para sukerta. rambut tersebut dihanyutkan ke sungai untuk menuju laut. Prosesi ini biasanya diawali dengan pertunjukan wayang kulit dengan lakon Murwakala yang menceritakan proses lahirnya Batara Kala dan kesialan yang dibawanya. Hakikat bukan Khurafat .

“Ilmu tentang perkara ghaib hanya pada Allah. kecuali Allah. Sekiranya aku mengetahui yang ghaib. dan hanya dikhususkan baginya. tentulah aku akan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan'." (Al-A’raf: 188). Ia mengetahui apa yang telah.                  "Katakanlah. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan. Bagian dari keyakinan seorang Muslim adalah tidak ada satu pun yang mengetahui perkara ghaib selain Allah Ta’ala. Dalam salah satu fatwanya. dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.PERKARA GHAIB DALAM KACAMATA ISLAM M asa depan adalah misteri (perkara ghaib). 'Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib.                                "Katakanlah." (An-Naml : 65). sedang dan akan Ruqyah 99 . 'Aku tidak berkuasa memberi kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali sesuatu yang dikehendaki Allah. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz mengatakan.

sama sekali tidak terkait dengan bawaan orang tua. 1 http://www. mempunyai tahi lalat di tempat tertentu atau tidak. Mengetahui apa yang akan terjadi di akhirat.1 Sebelum Terjadi.org. Tidak ada keistimewaan kelahiran di satu tempat atau waktu tertentu dibanding yang lain. atau nasib bawaan orang-tua. tergantung siapa yang kuat memberikan pengaruh / pendidikan kepada si bayi. di surga dan neraka. Mengetahui siapa saja yang selamat (ahli surga) dan siapa yang celaka (ahli neraka). Nasib itu Bagian dari Perkara Ghaib Demikian pula dengan nasib seseorang. tidak dikenal adanya cirri atau pertanda khusus yang bisa digunakan untuk menebak nasib seseorang.” (Muttafaqun Alaihi). Bayi yang lahir baik siang atau malam hari. Islam tidak mengenal dosa warisan yang diterima mutlak seorang anak dari kedua orang-tuanya.binbaz. apa adanya. Anak yang mempunyai sifat nasib buruk kelak di waktu dewasa. Nasrani atau Majusi.sa/mat/4201 100 Jin.terjadi. Sedangkan para Rasul. Rasulullah SAW bersabda : ُّ ُ ُ ٍ ‫كل ُم ْو ُل ْود ُي ْو َلد عَ َلى ا ْلفط َرة َف َٔا َب َوا ُه ُيهودَا ِنه َٔا ْو ُي َنص َرا ِنه َٔا ْو ُيمجسا ِنه‬ ِ ِْ ِ َ ِّ َ ِ ِّ ِ ِّ َ "Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Ayah-ibunya—atau siapapun yang mendidiknya kelak—lah yang akan mempengaruhi warna atau tulisan di kertas tadi. Sekali lagi. Bayi yang lahir ibarat secarik kertas putih. Islam memandangnya sebagai hal yang rasional. hanya mengetahui ketika telah diberitahu oleh Allah melalui wahyu. Dalam ajaran Islam. Islam tidak mengenal dosa turunan. Sebagaimana firman-Nya:               "(Dialah Allah) yang mengetahui yang ghaib. Ayah-bundanyalah yang akan menjadikannya seorang Yahudi. Semua ilmu ghaib itu mutlak hanya milik Allah. Ia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya…. semuanya sama. Hakikat bukan Khurafat . Ia mengetahui bagaimana sesuatu itu akan terjadi." (Al-Jin : 26-27). tanggal berapapun dia lahir.

sangat mungkin memiliki nasib yang bertolak-belakang satu dengan lainnya. bagaimana nasib dan keadaan kita. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rezekinya." (HR. Sekali lagi.‫سع ْيد‬ "Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari.Allah berfirman:        "… dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain…" (Az-Zumar : 7).       "… tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Dua orang bayi kembar yang memiliki persamaan waktu dan tempat lahir serta ciri-ciri fisik sekalipun. kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari. penentuan baik-buruknya nasib seseorang tergantung mutlak kepada kehendak Allah. dari Abdullah bin Mas'ud RA). Dan semenjak itu pulalah." (At-Thur: 21). Semenjak itulah. ketetapan tersebut menjadi perkara ghaib yang hanya diketahui oleh Allah semata. Bagaimana proses penetapan nasib/takdir seseorang. ajalnya. tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok. amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. digambarkan dalam sebuah sabda Nabi SAW : ْ ُ ُ َ ْ ْ ُ َ َ َّ ُ ُ َّ ‫إِن َٔاحدكم ُيجمع خَ ْلق ُه ِفي َبطن ُٔامه َٔا ْر َبع ْين َي ْوم ًا نُط َف ًة، ُثم َيك ْون عَ َل َق ًة‬ َ ِ ِ ِّ ِ ْ ُ ُ َ ِ ُ َ َّ َ َ َ ِ ْ ُ ُ َّ َ َ َ ِ ُ‫مثْل ذ ِلك، ُثم َيك ْون ُمض َغ ًة مثْل ذ ِلك، ُثم ُي ْرسل إِ َل ْيه ا ْلم َلك َف َي ْنفخ‬ ‫ِف ْيه ال ُّر ْوح، َو ُي ْؤ َم ُر ِب َٔا ْر َبع ك ِلمات: بِك ْتب ر ْز ِقه َو َٔاج ِله َوعَ م ِله َوشقي َٔا ْو‬ َ ِ ٌّ ِ َ ِ َ ِ َ ِ ِ ِ َ ٍ َ َ ِ ٌ َِ . Allah telah menetapkan keadaan seseorang terkait rezeki. amal serta nasibnya kelak (celaka atau bahagia). Kita sendiri yang menjalani kehidupan. ajal. Bukhari dan Muslim. Tidak Ruqyah 101 .

dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu . Pena telah diangkat dan lembaran telah kering. niscaya tidak bisa melebihi kadar bala yang memang Allah telah tentukan sebelumnya. Pena untuk menulis takdir telah diangkat. Begitupun sebaliknya.ada daya dan upaya manusia yang mampu mengubah takdir tersebut. Kalau toh kita khawatir mendapatkan nasib buruk. dan lembaran tempat tertulisnya takdir pun telah mongering. Islam mengajarkan kita untuk berdoa. “Hadits ini sanadnya shahih dan mereka berdua (Al-Bukhari dan Muslim) tidak mengeluarkannya. Untuk memulai beberapa kegiatan. Allah SWT Maha Pengasih dan Penyayang. Tirmdzi). Hakikat bukan Khurafat . banyak doa yang 2 Al-Hakim berkata. Sesungguhnya bala bencana itu akan turun lalu bertemu dengan doa dan keduanyapun berkelahi sampai hari kiamat. Rasulullah SAW menjelaskan : َّ ْ ْ َّ ِ َ َّ ِ ُ ُّ ٍ ْ ْ ِ ٌ َ َ ْ َ ‫لا ُي ْغ ِني حذر من َقدر َو الدعَ ا ُء َي ْن َفع مما َن َزل َو مما َلم َي ْن ِزل َو إِن ا ْل َبل َا َء‬ ُّ َّ ُ ‫َل َي ْن ِزل َف َي َت َلقا ُه الدعَ ا ُء َف َي ْع َت ِلجانِ إِ َلى َي ْوم ا ْلق َيا َمة‬ ِ ِ ِ َ “Kewaspadaan tidak akan terlalu berpengaruh terhadap takdir. Kalau memang nasib mujur. Rasulullah SAW menggambarkan: ‫َواعْ َلم َٔان ْال ُٔام َة َل ْو اج َتم َعت عَ َلى َٔان َي ْن َفع ْوك ِبشَ يء َلم َي ْن َفع ْوك إِلا ِبشَ يء‬ ٍ ْ َّ َ ُ ْ ٍ ْ َ ُ ْ ْ َ ْ َّ َّ ْ َّ َ ُ ْ ٍ ْ َ ُ ْ َ ْ َ ‫َقد ك َت َب ُه الل ُه َلك، َوإِنِ اج َتمعوا عَ َلى َٔان َيض ُّر ْوك ِبشَ يء َلم َيض ُّر ْوك إِلا‬ َُ ْ َ ْ ٍْ َ ‫ِبشَ يء َقد ك َت َب ُه الل ُه عَ َل ْيك، ُر ِف َعت ْال َٔا ْقل َا ُم َوجفت الصحف‬ ِ ُ ُّ ِ َّ َ ِ “Ketahuilah sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu. Meski demikian. Dalam satu sabdanya.” 102 Jin.”2 Kita tidak pernah tahu. bagaimanapun seisi bumi ingin menimpakan bala.” (HR. Tidak ada daya dan upaya manusia yang mampu membuatnya lari menghindari takdir. mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu. Takdir itu bisa berubah dengan doa (permohonan) seorang hamba kepada Rabbnya. niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. tapi doa bermanfaat untuk apa yang telah dan yang belum terjadi. apakah ditakdirkan bernasib baik atau buruk.

dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan hari ini dan setelahnya. Tirmidzi. yang mengandung unsur perlindungan diri dari nasib buruk. Muslim). membuat sakit. sungguh. Contoh Doa Memohon Perlindungan dari Nasib Sial Doa memakai pakaian َ ِ َ ِْ َ ُ ‫َال ّلهم إِنِّي َٔاس َٔا ُلك من خَ ْي ِره َوخَ ْي ِر َما هُ َو َل ُه َو َٔاعُ ْوذ بِك من ش ِّره َوش ِّر َما‬ ِ ِْ َ ْ َّ ُ ‫هُ َو َل ُه‬ "Ya Allah. sedangkan yang tidak sengaja dikenal dengan penyakit ain. nasib buruk dan kesialan juga bisa dialami seseorang karena kejahatan orang lain—baik sengaja dilakukan atau tidak. diantaranya ada yang bisa mematikan. sihir adalah ikatan-ikatan. atau melakukan sesuatu yang mempengaruhi badan. Abu Dawud. dan aku berlindung kepadamu dari keburukannya dan keburukan yang ada padanya." (HR. hati atau akal orang yang terkena sihir tanpa berinteraksi langsung dengannya. aku memohon kepada-Mu kebaikan hari ini dan setelahnya. membuat seorang suami tidak dapat mencampuri istrinya atau memisahkan Ruqyah 103 . Sihir ini mempunyai hakikat. aku memohon kepada-Mu dari kebaikannya serta kebaikan yang ada padanya. perkataan yang dilontarkan secara lisan maupun tulisan. Hakim dan Ibnu Sunni). Doa pagi dan petang َ َ ْ ِّ َ ِْ َ ُ َ ‫َرب َٔاس َٔا ُلك خَ ْي َر َما ِفي هَ ذا ا ْل َي ْوم َوخَ ْي َر َما َب ْعد ُه َو َٔاعُ ْوذ بِك من ش ِّر َما ِفي‬ ِ َ َ ِ َ ‫هَ ذا ا ْل َي ْوم َوش ِّر َما َب ْعد ُه‬ "Ya Allah. Menanggulangi Kejahatan yang Datang dari Luar Dalam ajaran Islam.disunnahkan." (HR. Yang sengaja dilakukan namanya sihir. jampijampi. Sihir Ibnu Qudamah Al-Maqdisi mengatakan.

3 Cara mengatasi gangguan sihir ini adalah dengan ruqyah syar’iyyah. Juga kondisi tubuh yang cenderung kurus. Sebagaimana anggapan sebagian besar masyarakat Indonesia bahwa pujian kepada seorang anak akan menyebabkab sakit. Ain tidak hanya timbul oleh pandangan kedengkian. 104 Jin. Salah satu diantaranya adalah sebuah masterpiece karangan Syaikh Wahid Abdussalam Bali. bukan pujian yang menyebabkan dampak buruk bagi anak yang dipujinya. Gejalanya sama dengan yang ditimbulkan oleh pandangan kedengkian. bila A. tentu akan didahului oleh ‘ain. kejangkejang tanpa sebab yang jelas. tidak mau menyusu pada ibunya tanpa sebab. maka B bisa terkena dampak penyakit ain. dan tanda-tanda yang tidak wajar lainnya.” (HR. Bila A memandang B dengan pandangan cinta dan kekaguman. melainkan bermula dari pandangan mata sang pemujinya. Misalnya saja A.pasangan suami istri. karena satu dan lain sebab memandang A dengan penuh kedengkian kepada B. baik 3 4 Al-Mughni. yang diterbitkan AQWAM dengan judul Ruqyah. B bisa terkena dampaknya. Muslim) Jadi. Kepada korban dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk mengusir pengaruh ghaib yang datang dari setan.4 Ain Penyakit ain adalah penyakit ghaib yang dapat menghinggapi seseorang melalu pandangan mata. Penyakit ‘ain itu benar-benar ada dan bukan khurafat yang dihubunghubungkan dengan pujian. sakit atau mengompol). Lafal ruqyah harus berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an atau doa-doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Seandainay ada sesuatu yang bisa mendahului takdir. Umumnya tidak bisa dijelaskan secara medis. (X/104) Banyak buku-buku tuntunan ruqyah Islami yang sudah diterbitkan dalam bahasa Indonesia. atau membuat salah satu pihak membenci lainnya atau membuat kedua belah pihak saling mencintainya. Hakikat bukan Khurafat . Ada orang-orang tertentu yang memiliki kelainan ghaib. Nah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‫َا ْل َع ْين حق َو َل ْو كان شيء سابِق ا ْل َقد َر َلس َب َق ْت ُه ا ْل َع ْين‬ ُُّ َ ُ ُ َ ْ ُ َ ٌْ َ َ َ “’Ain itu benar adanya. Tanda-tanda anak yang terkena ‘ain di antaranya adalah menangis secara tidak wajar (bukan karena lapar.

” Sedangkan bila kita merasa sebagai orang yang berpotensi memberikan penyakit ain. dan dari setiap mata yang jahat. dari segala setan. Preventif Melindungi diri dan anak dengan membaca ruqyah-ruqyah yang disyariatkan Islam. dan pandangan mata yang jahat. Ada dua kondisi mengatasi penyakit ain. Atau bisa juga dengan membaca doa yang dibacakan oleh malaikat Jibril AS ketika Nabi SAW mendapat gangguan setan. untuk mencegah penyakit ain ini. Semoga Allah menyembuhkanmu.” (Riwayat Bukhari). jika kita melihat sesuatu yang baik ada pada diri kita. hendaklah membaca doa: َ ‫َما شا َء الل ُه لا ح ْول َولا ُقو َة إِلا بِال ّله‬ ِ َّ َّ َ َ َ َ Ruqyah 105 .pujian itu karena ada rasa iri atau karena benar-benar ada kekaguman.” (Riwayat Bukhari) Atau membaca doa yang digunakan Rasulullah SAW untuk melindungi Hasan dan Husain. َ َ ِّ ُ ْ ِ ِ َّ ِ ِ َ َ َ ُ ُ ِ ‫ُٔاعيذكما بِك ِلمات ال َّله ال َّتامة من كل ش ْيطانٍ َوهَ امة َومن كل عَ ْين لامة‬ ٍ َّ ٍ ِّ ُ ْ ِ ٍ َّ “Aku berlindung kepada Allah untukmu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna. A. aku membacakan ruqyah untukmu dari segala sesuatu yang menganggumu dari kejahatan setiap jiwa dan pengaruh ‘ain. yaitu: ‫بِسم الله ٔا ْر ِقيك من كل شيء ُي ْؤذ ْيك من ش ِّر كل َن ْفس َو عَ ْين حاسد‬ ِ ِ َ ِ ِ ِّ ُ َ ِ َ ِ ِ ْ َ ِّ ُ ْ ِ َ ِ ِ ْ َ ِ ‫َال ّل ُه َيشْ فيك‬ “Dengan menyebut nama Allah. harta kita atau yang lainnya yang menakjubkan. binatang yang berbisa. binatang berbisa. di antaranya: َ َ ِّ ُ ْ ِ ِ َّ ِ ِ َ َ ُ ‫َٔاعُ ْوذ بِك ِلمات الله ال َّتامة من كل ش ْيطانٍ َوهَ امة َومن كل عَ ْين لامة‬ ٍ َّ ٓ ٍ ِّ ُ ْ ِ ٍ َّ “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan. anak.

“Gantilah namanya! karena Nabi SAW menikah dengan Zainab binti Jahsy yang nama (sebelumnya) adalah Barrah. Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad. Kuratif Jika pelakunya diketahui. Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Nabi SAW mengganti nama (seorang wanita) ‘Ashiyah (pelaku maksiat) dan berkata: Engkau Jamilah (Cantik/Indah). Bekas wudhu orang tersebut digunakan untuk memandikan anak yang terkena ‘ain. Muhammad berkata. 630/820. Lihat kitab Shahih Al-Adab Al-Mufrad oleh Al-Albani no. ayat Kursi (AlBaqarah: 255).” B. nasib kurang beruntung juga bisa berasal dari: Nama yang Buruk Nama adalah doa. Al-Fatihah. no. 2 ayat terakhir surat Al-Baqarah. «Aku menjawab. tidak ada kekuatan melainkan hanya dengan (pertolongan) Allah. Lihat pula Ash-Shahihah.5 Muhammad bin ‘Amr bin ‘Atha’ juga meriwayatkan bahwasanya ia pernah menemui Zainab binti Abu Salamah. Lebih baik lagi jika bacaan itu dibacakan pada air zam-zam. 213. maka orang tersebut diperintahkan untuk berwudhu. hlm. Nabi SAW memerintahkan kepada para orang-tua untuk memberikan nama yang baik bagi anaknya. Oleh sebab itu. kemudian diminumkan pada anak yang sakit dan sisanya disiramkan ke tubuhya. Hakikat bukan Khurafat .” Zainab berkata. muawwidzatain (An-Nas dan Al-Falaq). 5 Hadits ini shahih. Beliau juga berkali-kali mengganti nama beberapa orang shahabat yang dinilai tidak sesuai. Selain dua hal di atas. dan mendoakan dengan doa-doa yang disyariatkan. Lalu Zainab bertanya kepada Muhammad tentang nama saudara perempuannya yang ada bersamanya. atau dibacakan pada minyak dan minyaknya dioleskan ke tubuhnya.“ Masya Allah (atas kehendak Allah). Membaca pada air disertai tiupan. ‘Namanya adalah Barrah (yang baik/berbakti)’. 306. 106 Jin. Tapi jika tidak diketahui perbanyak membaca surat Al-Ikhlas.

Dari Laila Istri Basyir. “Siapa namamu?” Ia menjawab. Bukhari) Dari Aisyah RA. Bukhari). Dari Ibnu Abbas. bahwa nama Juwairiyah dahulu adalah BarrAh. Nama yang dianggap mengandung sengkala. Bukhari). (HR. maka beliau bersabda: “Janganlah kalian menganggap diri kalian suci.” Aku (Muhammad) bertanya kepadanya (Zainab binti Abu Salamah). Dari Sa’id bin Al-Musayyib dari ayahnya dari kakeknya: Bahwasanya dia (kakeknya) pernah mendatangi Nabi SAW lalu beliau bertanya. bahwa pernah disebutkan seorang laki-laki yang bernama Syihab di sisi Rasulullah SAW. ‘Barrah’.” (HR. karena Allah lebih mengetehui siapa di antara kalian yang barrah (yang baik) dan yang fajiroh (tidak baik). Bukhari). “Dia (namanya sekarang) Zainab. “Gantilah (namanya) dengan nama yang telah diberikan Rasulullah SAW. nama yang baru harus lebih baik dariapada nama sebelumnya. berilah dia nama Zainab (juga). proses penggantian nama berlangsung cukup sederhana. Bukhari) . Beri nama dia Zainab”.” Beliau pernah masuk menemui Ummu Salamah setelah menikah dengannya. yang dahulu namanya adalah Zahm. Ummu Salamah berkata. “Namamu adalah Hisyam. “Lantas aku beri nama apa?” Zainab menjawab. (HR. Lalu nabi mengubah namanya menjadi Juwairiyah. Kemudian. Ini berbeda dengan tradisi Jawa.lalu beliau menggantinya menjadi Zinab. Yang harus dicatat dalam penggantian nama ini adalah. ia bercerita tentang Basyir bin Al-Khashayishah. lalu Nabi SAW menggantinya menjadi Basyir (HR. lalu Rasulullah SAW bersabda.” Beliau berkata. “Hazn (sedih).” Ia berkata: “Aku tidak mau mengganti naman yang telah diberikan ayahku!” Ibnul Musayyib berkata: Sehingga ia terus-menerus merasa sedih setelah itu. diganti dengan nama lain yang belum tentu lebih baik daripada sebelumnya. kemudian beliau mendengar Ummu Salamah memanggilku. Cukup Ruqyah 107 . (HR. dan namaku (dahulu juga) Barrah. “Engkau adalah Sahl (mudah).

2. peran mengubah takdir mutlak ada pada Allah— sebagaimana peran untuk menentukan takdir sebelumnya. wuku dan neptu kelahiran. tanpa harus mengadakan ritual tertentu. Penjelasan Nasib masa depan termasuk perkara ghaib. untuk menanggulangi nasib buruk yang ditimbulkan oleh sihir atau ain adalah dengan cara meruqyah. Menggunakan beraneka sesajian. berarti sama dengan mengaku tahu ilmu ghaib. Ruwatan itu sendiri dilakukan karena adanya sebuah kepercayaan dalam agama Hindu. mengapa masih harus pakai ramalmeramal. Nama Tradisi Meramal watak dan nasib Keterangan Nasib seseorang bisa ditentukan dari waktu (jam. 108 Jin. jelas ini bukan tradisi Islam. ciri fisik dan sebagainya.diumumkan. mirip tradisi Hindu. Demikianlah. 1. bulan. yaitu tentang adanya Betara Kala. Sementara dalam ajaran Islam. Untuk nama yang tidak cocok/buruk. Meramalnya. Ilmunya hanya dimiliki oleh Allah Ta'ala. Agama Islam sangat keras dalam melarang hal-hal ghaib. menggantungkan segalanya kepada keputusan dan kebijakan Allah saja. Di atas. Manusia hanya mampu berdoa. Lalu. Jadi. hari. Hakikat bukan Khurafat . cukup dengan menggantinya. Di sinilah kesyirikan itu timbul. kemudian sibuk mengadakan berbagai ritual untuk mengusir nasib buruk—yang akhirnya terjebak dalam kesyirikan? Mengapa Tradisi Tersebut dikategorikan Syirik dan terlarang? No. Ruwatan Sebuah ritual untuk menghilangkan nasib sial yang secara alamiah dibawa oleh seseorang semenjak lahir. telah dikemukakan ancaman bagi orang yang mendatangi tukang ramal dan mempercayainya.

. bahwa Nabi Saw bersabda: َ َ َ ْ ُ ُ َ َّ َ ِ َ ‫َمن َٔاتَى عَ َّرا ًفا َٔا ْو كاه ًنا َفصد َق ُه بِما َيقول َف َقد ك َف َر بِما ُٔا ْن ِزل عَ َلى ُمحمد‬ ٍ َّ َ ْ "Barang siapa yang mendatangi paranormal atau dukun lalu membenarkan apa yang mereka katakan. Sekiranya kufur yang dimaksud dalam hadits di atas ialah kufur besar.Telaah Islam Tentang Ramalan Membenarkan atau percaya pada dukun dan paranormal merupakan salah satu pintu kesyirikan. bukan hanya empat puluh hari.        "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya… " (Al-Isrâ': 36). maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu.. maka tertolaklah shalatnya untuk selamanya.  . Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya…" (Al-Jin: 26-27)..” Ruqyah 109 ... maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari.                "(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang gaib.  . Hal ini berdasarkan sabda Nabi Saw yang disampaikan oleh istri beliau.. Dari Abu Hurairah.” Kufur di sini bukan berarti kafir dengan hakikatnya. Allah berfirman:  . "…Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa... Bahwasanya Nabi Saw bersabda: ‫َمن َٔاتَى عَ َّرا ًفا َفس َٔا َل ُه عَ ن شيء َفصد َق ُه َلم ُت ْق َبل َل ُه صل َا ٌة َٔا ْر َبعين َي ْو ًما‬ َ ْ ْ َّ َ ٍ ْ َ ْ َ ِ ْ َ "Barang siapa yang mendatangi paranormal lalu menayakan sesuatu kemudian membenarkan apa yang ia katakan..." (Al-Hujurât: 12).    . maka ia telah mengkufuri apa yang diturunkan kepada Muhammad.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful