P. 1
pengamatan + pembahasan laporan STERIL

pengamatan + pembahasan laporan STERIL

|Views: 4,370|Likes:
Published by Bayyinah Ardian

More info:

Published by: Bayyinah Ardian on Jun 28, 2011
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/22/2015

pdf

text

original

I.

FORMULASI o Tonisitas Perhitungan tonisitas menurut Farmakope Indonesia III B= 0,52 – Ʃ b1.C b2 B : Bobot dalam gram zat yang ditambahkan dalam 100 ml hasil akhir b1 : penurunan titik beku air yang disebabkan oleh 1% b/v zat khasiat b2 : penurunan titik beku air yang disebabkan oleh penambahan 1% b/v zat tambahan C: kadar zat khasiat dalam % b/v Menurut buku Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi Terdapat 3 jenis keadaan tekanan osmosis larutan obat, yaitu : Keadaan isotonis apabila nilai B = 0, b1.C = 0,52 Keadaan hipotonis apabila nilai B positif, b1.C < 0,52 Keadaan hipertonis apabila nilai B negativ, b1. C > 0,52

Perhitungan Tonisitas dari Formulasi Didapatkan ΔTf Riboflavin untuk konsentrasi 0,5 % = 0,022 Didapatkan Acidum Citricum untuk konsentrasi 1 % = 0,09 Didapatkan Natrii Chloridum untuk konsentrasi 1 & = 0,576

b1.C = 0,027 → < 0,52 (hipotonis) B= 0,52 – Ʃ b1.C b2 = 0,52 – ( 0,022 + ( 0,09 x 0,06 ) + ( 0,576 x 0,00085 ) 0,58 = 0,492 0,58 = 0,85 gram / 100 ml = 850 mg/ 100 ml = 8,5 mg / ml

Sediaaan hipotonis dalam sediaan parenteral tidak boleh digunakan, karena akan menimbulkan hemolisa. Oleh karena itu, dalam sediaan hipotonis perlu ditambahkan zat pengisotonis seperti NaCl. Jika larutan sediaan yang dibuat sedikit hipertonis maka larutan sediaan tersebut masih diperbolehkan. Kesimpulan : Sediaan pada formulasi menghasilkan sediaan hipotonis , maka diperlukan zat pengisotonis yaitu NaCl . Dengan demikian, NaCl yang diperlukan untuk mebuat sediaan menjadi isotonis yaitu 8,5 mg/ml. o pH Penambahan larutan dapar dalam larutan hanya dilakukan larutan obat suntik dengan pH 3,5-7,5 . Untuk pH < 3 atau >1 sebaiknya tidak didapar karena sulit dinetralisasikan. pH ideal dari sediaan adalah 7,4 yang sesuai dengan pH darah , tetapi hal tersebut tidak selalu dapat dilakukan karena sediaan harus disesuaikan dengan pH stabilitas zat aktif. Kesimpulan : Pada formulasi digunakan dapar, yaitu asam sitrat . Tujuan pemakaian

dapar itu sendiri ialah meningkatkan stabilitas obat dan mencegah reaksi penguraian dari zat. o Pengawet Antimikroba/pengawet perlu ditambahkan untuk sediaan parenteral yang dipakai berulang kali (dosis terbagi/multidosis) walaupun tidak diperbolehkan pada monografi atau walaupun zat khasiat sendiri sudah bersifat bakteriostatik. Antimikroba juga kadang-kadang ditambahkan pada dosis tunggal yang tidak dilakukan sterilisasi akhir. Kesimpulan : Pada formula pustaka, pengawet yang digunakan adalah

Phenylhydrargyri Nitras. Namun, bahan pengawet tersebut tidak terdapat pada laboratorium. Oleh karena itu, pada formula akhir tidak digunakan bahan pengawet dikarenakan sehubungan dengan sediaan injeksi riboflavin yang akan dibuat merupakan dosis tunggal dan dilakukan secara sterilisasi akhir, maka tidak mutlak diperlukan suatu bahan pengawet . o Antioksidan Zat khasiat dalam larutan dapat terurai akibat oksidasi O2 atau hilangnya hydrogen(H2) dipercepat dengan adanya logam, hydrogen, gugus hidroksil. Sediaan injeksi riboflavin

menggunakan bahan pembawa air dan tidak terkandung minyak serta bahan-bahan lain yang mudah teroksidasi. Kesimpulan : Sehingga tidak diperlukan antioksidan.

II.

FORMULA AKHIR Injeksi Riboflavina Natrium Fosfat

Injeksi Vitamin B2 Komposisi : Tiap ml mengandung : Riboflavini Acidum Citricum Natrii Chloridum Aqua pro Injectione ad 3,65 mg 600 g 8,5 g 2 ml

Penyimpanan : Dalam wadah dosis tunggal atau wadah dosis ganda, terlindung dari cahaya, sebaiknya dalam wadah dosis tunggal. Dosis : Pencegahan, sekali sehari 0,4 ml Pengobatan, sekali sehari 1 sampai 2 ml Catatan :

1. pH 4,5 sampai 7,0 2. Disterilkan dengan Cara sterilisasi A atau C 3. Pada etiket harus juga tertera : Kesetaraan Riboflavina 4. Riboflavina Natrium Fosfat yang digunakan adalah anhidrat. 5. 1,37 g riboflavina Natrium Fosfat setara dengan lebih kurang 1 g riboflavin 6. Sediaan berkekuatan lain : setara dengan riboflavin 5 mg ; 35 mg ; 50 mg dan 50 mg

III.

PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN

 Perhitungan Bahan Volume yang dibuat =(n+2)v’+(2x3)ml = (3+2)2,15+(2x3)ml = 10,75 + 6 ml = 16,75 ml ~ 20 ml n : Jumlah ampul v’ : Volume berlebih yang disarankan pada farmakope   Riboflavin = 3,65mg = 0,00365 g Asam sitrat = 600 µg =0, 6 mg = 0,0006 g  Natrii Chloridum = 8,5 µg = 0,0085 mg = 0,0000085 g  Penimbangan Bahan Riboflavin yang dibutuhkan =3,65 mg x 20 ml = 70 mg Asam sitrat yang dibutuhkan = 0,6 mg x 20 ml = 12 mg Natrii Chloridum yg dibutuhkan= 0,0085 mg x 20 ml = 0,17 mg IV. STERILISASI Sterilisasi Akhir : Sterilisasi A( Dengan autoklaf pada suhu 1210C 15 menit, pada pH tidak lebih dari 6,) atau sterilisai C ( filtrasi )

V.

PROSEDUR

Cara Pembuatan API (Aqua Pro Injeksi) 1. Aqua destilata dipanaskan dalam erlenmeyer sampai air mendidih, setelah air mendidih kemudian dipanaskan lagi selama 30 menit. 2. Setelah 30 menit baru diangkat kemudian dinginkan dan digunakan untuk membuat sediaan steril. 3. Untuk air bebas O2 ditambah waktu pemanasannya selama 10 menit (40 menit totalnya). Cara Pembuatan Injeksi Vitamin B2 1. Riboflavin digerus dan ditimbang sebanyak 70 mg menggunakan kaca arloji, lalu dimasukkan ke dalam becker glass. Kaca arloji kemudian dibilas 2 kali dengan api. 2. Dituangkan sejumlah tertentu air steril untuk melarutkan zat yang ditimbang 3. Dituangkan sejumlah tertentu air steril untuk membasahi kertas saring lipat yang telah diletakkan ke dalam corong yang akan digunakan. 4. Setelah zat aktif dan semua zat tambahan terlarut, larutan tersebut dituangkan ke dalam gelas ukur, dicatat volume larutan. Cukupkan dengan air bilasan sampai tepat 12 ml 5. Corong + kertas saring dipindahkan ke erlenmeyer lain yang bersih dan kering. 6. Larutan disaring dalam gelas ukur melalui corong ke dalam erlenmeyer yang telah disiapkan ( in proses control dilakukan dengan mengukur pH sediaan pada saat sebelum ) 7. Sisa 8 ml digunakan untuk membilas becker glass berulangkali, ditampung dalam gelas ukur kemudian air bilasan tersebut disaring ke dalam erlenmeyer yang berisi filtrate larutan hingga volume total seluruh larutan genap 20 ml. 8. Larutan diisikan ke dalam wadah (ampul) dengan menggunakan spuit. Bila digunakan buret, larutan diisikan ke dalam buret steril, pasang tutup buret. 9. Jarum buret diseka kapas yang telah dibasahi dengan alkohol 70% dengan bantuan pinset steril. 10. Aliri uap air (jika perlu/dispensasi).

11. Aliri gas nitrogen (jika perlu). 12. Tutup ampul dengan API dan disterilkan dengan menggunakan autoklaf secara terbalik dalam becker glass yang telah diisi kapas ( 1120C selama 15 menit ) 13. Setelah sterilisasi akhir, lakukan evaluasi sediaan.

VI.

EVALUASI  Penampilan  Uji kejernihan secara visual  Kadar pH : larutan berwarna kuning : tidak jernih dan tidak homogen :

Vitamin B2 dalam larutan stabil pada pH 5 – 6,5 . Pengujian dilakukan dengan menggunakan kertas indicator universal didapatkan pH = 6 , pH yang di dapat sesuai dengan yang diinginkan karena masuk ke dalam range pH sediaan antara pH 5- 6,5  Kebocoran :

Uji kebocoran tidak kami lakukan karena penutupan ampul tidak dilakukan.  Uji volume terpindahkan :

Dilakukan dengan mengambil larutan injeksi yang berada pada ampul dengan menggunakan spuit(jarum suntik). Volume yang terpindahkan = 2,1 ml

}

}

VII.

PEMBAHASAN Pada praktikum steril kali ini bertujuan membuat sediaan injeksi riboflabvin ( vitamin

B2) dengan pembawa air. Sediaan injeksi merupakan sediaan parenteral volume kecil dimana sediaan parenteral adalah sediaan obat steril dapat berupa larutan atau suspense yang dikemas

sedemikian rupa sehingga cocok untuk diberikan dalam bentuk injeksi hypodermis dengan pembawa atau zat pensuspensi yang cocok. Untuk mendapatkan formula sediaan parenteral yang baik harus mempunyai data praformulasi yaitu pembawa yang tepat, zat penambah yang diperlukan dan jenis wadah yang sesuai. Pembawa yang digunakan dalam pembuatan sediaan injeksi kali ini adalah larutan air. Larutan air merupakan bentuk yang paling sederhana dan banyak digunakan dimana kompatibilitas air dengan jaringan tubuh dapat digunakan untuk semua rute pemberian. Bahan pembawa air yang digunakan adalah air pro injeksi yaitu air yang disterilisasi dan dikemas dengan cara yang sesuai, tidak mengandung bahan antimikroba atau bahan tambahan lainnya. Tujuan suatu sediaan dibuat steril yaitu karena berhubungan langsung dengan darah atau cairan tubuh dan jaringan tubuh lain yang pertahanannya terhadap zat asing tidak selengkap pada saluran cerna atau gastrointestinal. Diharapkan dengan kondisi steril dapat dihindari adanya infeksi sekunder. Dalam hal ini tidak berlaku relative steril atau setengah steril, hanya ada dua pilihan yaitu steril dan tidak steril. Dan obat injeksi merupakan sediaan yang perlu disterilkan. Dalam formula sediaan injeksi larutan riboflavin, selain bahan aktif yang digunakan maka diperlukan bahan tambahan seperti pendapar, pengawet, dan senyawa pengisotonis jika keadaan sediaan hmipotonis. Secara umum, zat tambahan pada sediaan steril digunakan untuk meningkatkan kelarutan zat aktif, menjaga stabilitas zat aktif serta mempermudah dan menjaga keamanan pemberian sediaan. Pada sediaan parenteral, tonisitas harus diperhatikan karena larutan yang dibuat harus isotonis sehingga tidak akan mengalami kerusakan jaringan dan iritasi serta mencegah hemolisa. Sediaan isotonis ini tidak selalu dapat dicapai karena mengingat kadang-kadang diperlukan zat khasiat dengan dosis tinggi untuk mendapatkan efek farmakologis yang diinginkan, yang menyebabkan isotonis terlampaui ( larutan sedikit hipertonis ). Jika larutan sediaan yag dibuat sedikit hipertonis maka larutan sediaan tersebut masih diperbolehkan karena kenyataannya kadang-kadang untuk pemberian subkutan dan intramuscular dibuat larutan yang hipertonis untuk mempermudah absorpsi obat pada jaringan. Akan tetapi, jika suatu sediaan hipotonis maka sediaan tersebut tidak diperbolehkan karena akan menyebabkan pecahnya pembuluh darah bahkan dapat menyebabkan kematian. Berdasarkan perhitungan untuk mengetahui keadaan sediaan isotonis, hipotonis atau

hipertonis maka dihasilkan untuk formulasi sediaan kami menghasilkan sediaan hipotonis. Maka dari itu, diperlukan zat pengisotonis seperti NaCl dengan tujuan agar keadaan sediaan isotonis. Dengan perhitungan tonisitas menurut FI III, maka diperoleh NaCl yang diperlukan adalah sebanyak 8,5 mg/ml. Pembuatan sediaan injeksi riboflavin dilakukan sterilisasi akhir dengan autoklaf. Cara ini merupakan cara sterilisasi umum dan paling banyak digunakan dalam pembuatan sediaan steril. Zat aktif harus stabil dengan adanya molekul air dan suhu sterilisasi. Dengan cara ini sediaan disterilkan pada tahap terakhir pembuatan sediaan. Semua alat setelah lubang-lubangnya ditutup kertas perkamen, dapat langsung digunakan tanpa perlu disterilkan lebih dahulu. Sifat dari riboflavin tahan terhadap suhu sterilisasi dilihat dari titik leleh riboflavin 280 0C dan suhu yang digunakan untuk sterilisasi adalah 1120C(autoklaf), maka sterilisasi yang dapat dilakukan adalah sterilisasi akhir dengan autoklaf. Dalam pembuatan injeksi riboflavin ini pada formula menggunakan zat tambahan seperti asam sitrat. Asam sitrat berfungsi sebagai buffering agent . Larutan dapar hanya dilakukan untuk larutan obat suntik dengan pH 5,5 - 9. Adapun tujuan pemakain dapar ialah untuk meningkatkan stabilitas obat dan mengurangi nekrosis pada saat penggunaannya. Prosedur kerja yang kami lakukan yaitu dengan cara mempersiapkan 20 ml larutan API. Wadah yang digunakan untuk sediaan injeksi biasanya adalah berupa vial atau ampul. Pada pembuatan sediaan injeksi kali ini digunakan wadah ampul, dilihat dari stabilitas dari riboflavin yaitu penyimpanan harus dalam wadah kedap udara dan terlindung dari cahaya maka seharusnya digunakan wadah berupa ampul yang gelap(berwarna coklat) dan disimpan di tempat gelap atau terlindung cahaya. Tetapi ampul yang tersedia di laboratorium steril hanya ampul bening, sehingga ampul yang digunakan ampul bening (di dispensasi). Riboflavin dalam larutan stabil pada pH 5 – 6,5. Seperti sudah diketahui bahwa pH ideal dari sediaan adalah 7,4 yang sesuai dengan pH darah, tetapi hal tersebut tidak selalu dapat dilakukan karena sediaan harus dibuat pada pH yang mendukung stabilitas dari sediaan. Rentang pH yang tidak dapat ditoleransi oleh tubuh yakni pH > 9 menyebabkan kematian jaringan dan pH < 3 akan menimbulkan rasa sakit (nyeri) dan menyebabkan flebitis. Oleh karena itu dalam proses pembuatan sediaan injeksi steril diperlukan pemeriksaan pH. Sebaiknya

pemeriksaan pH dilakukan pada saat mendekati volume akhir yang diinginkan agar jika pH belum masuk range pH yang diinginkan pengaturan pH sediaan dapat dilakukan dengan menambahkan adjust pH. Setelah pemeriksaan pH telah dilakukan dan diperoleh pH yang diinginkan maka larutan di ad kan hingga volume yang diinginkan , kemudian larutan disaring. Dalam pembuatan sediaan injeksi, penyaringan perlu dilakukan karena akan ada nantinya evaluasi kejernihan sediaan yang telah dibuat. Setelah melewati proses penyaringan maka larutan dimasukkan ke dalam ampul dengan menggunakan jarum spuit. Volume injeksi harus dilebihkan, kelebihan volume yang dianjurkan dalam FI IV adalah jika cairan encer 2 ml, maka kelebihan volume yang dianjurkan adalah 0,15 ml sehingga volume yang dimasukkan ke dalam wadah(ampul) adalah 2,15 ml per ampul. Sebelum penutupan ampul, seharusnya dialirkan gas inert seperti karbondioksida atau nitrogen ke atas permukaan. Gas inert seperti nitrogen dan karbondioksida sering digunakan untuk meningkatkan kestabilan produk dengan mencegah reaksi kimia antara oksigen dalam udara dengan obat. Tetapi ini tidak dilakukan karena ketidaktersedianya bahan. Penutupan ampul pada sediaan ini tidak dilakukan karena gas O2 ada di laboratorium telah habis sehingga uji kebocoranpun tidak dapat dilakukan. Dalam pengerjaannya kelompok kami hanya melakukan evaluasi pemeriksaan penampilan, kejernihan, pH serta uji volume terpindahkan. Dalam uji penampilan, sediaan yang dihasilkan berwarna kuning. Warna tersebut disebabkan oleh zat khasiat itu sendiri ( riboflavin ) yang memiliki warna kuning hingga kejingga-jinggaan. Pada in proses control dilakukan uji kejernihan dan pemeriksaan pH. Setiap larutan obat suntik harus jernih dan bebas dari kotoran sehingga diperlukan uji kejernihan secara visual. Dalam uji kejernihan sediaan dilakukan secara visual,sediaan yang dihasilkan tidak jernih. Hal tersebut dikarenakan bahan yang digunakan yaitu riboflavin yang sifat kelarutannya sangat sukar larut dalam air sehingga zat tersebut tidak dapat terlarut sempurna. Walaupun dalam proses pembuatan telah dilakukan penyaringan, zat yang tidak terlarutkan tersebut tetap mempengaruhi terhadap kejernihan larutan. Selanjutnya untuk pemeriksaan pH, riboflavin dalam larutan sangat stabil pada pH 5 - 6,5. Pengujian dilakukan dengan menggunakan kertas indicator universal didapatkan pH 6, pH yang di dapat sesuai dengan yang diinginkan karena masuk ke dalam range antara pH 5 – 6,5. Dalam pengujian volume terpindahkan dilakukan dengan cara mengambil kembali larutan sediaan

injeksi pada ampul dengan menggunakan spuit. Pada pembuatan, volume yang dibuat 2 ml dengan penambahan 0,15 ml sehingga volume yang dimasukkan ke dalam ampul adalah 2,15 ml. Setelah melakukan uji volume terpindahkan, volume yang terpindahkan adalah 2,1 ml. Perbedaan volume yang terpindahkan dapat disebabkan tidak seluruhnya larutan injeksi dapat terambil oleh spuit sehingga diketahui bahwa kehilangan volume sebesar 0,15 ml. Namun hal ini tidak terlalu bermasalah karena dosis yang tertera pada etiket menunjukkan 2ml. Pada praktikum kali ini, kelompok kami tidak melakukan evaluasi sediaan yang laininya seperti uji penetapan kadar/ potensi, uji sterilitas, uji pirogen, uji bahan partikulat dalam injeksi, uji keseragaman sediaan, uji endotoksin bakteri, uji penetapan volume injeksi dalam wadah, uji kebocoran. Karena keterbatasan alat – alat yang dimiliki di laboratorim serta , begitu juga singkatnya waktu sehingga yang kami lakukan hanyalah uji pemeriksaan kejernihan, pemeriksaan pH, dan uji volume terpindahkan.

2. Formulasi Standar dari Fornas : Tiap ml mengandung:
R

/ Riboflavin Natriii Phosphas setara dengan Riboflavinum Acidum Citricum Natrii Chloridum Phenylhydrargyri Nitras Aqua Pro injectiona ad 600 µg 8.5 µg

5 mg

10 µg 1 ml

Penyimpanan

: Dalam wadah dosis tunggal/wadah dosis ganda terlindung dari cahaya, sebaiknya dalam wadah dosis tunggal

Dosis

: IV atau IM Pencegahan, sekali sehari 0.4 ml. Pengobatan, sekali sehari 1 – 2 ml.

Catatan

: 1. pH 4.5 sampai 7.0

2. Disterilkan dengan cara sterilisasi A atau C 3. Pada etiket harus juga tertera : Kesetaraan Riboflavina 4. Riboflavina Natrium Fosfat yang digunakan adalah anhidrat 5. 1.37 gram Riboflavina Natrium Fosfat setara dengan lebih kurang 1 gram Riboflavina 6. Sediaan berkekuatan lain : setara dengan Riboflavina 5 mg : 35 mg : 50 mg. ( Fornas Hal. 269-270)

3. Tak Tersatukan Zat Aktif (OTT) Alkali 4. Usul Penyempurnaan Sediaan Menggunakan ampul coklat guna menghindari kontak zat aktif dengan cahaya matahari dan wadah dosis tunggal. 6. Formula Akhir
R

/ Riboflavin Natriii Phosphas setara dengan Riboflavinum Acidum Citricum Natrii Chloridum Aqua Pro injectiona ad 600 µg 8.5 µg 1 ml

5 mg

7. Perhitungan Bahan Volume = ( n+2 ) v’ + ( 2x3 ) ml = ( 2+2 ) 2,15 + 6 = 14,6 ml → dilebihkan menjadi 20 ml Perhitungan W = 0,52 - ∑ b1.c b2 Keterangan : b1 = Ϫ Tf zat yang digunakan b2 = Ϫ Tf zat pengisotonis (NaCl)

c = konsentrasi zat dalam formula

Penurunan titik beku jika larutan pengisotonis 1% = 0,9 % = 0,52 1% x

0,9 x = 0,52 x = 0,52 0,9 x = 0,58

Riboflavin Natriii Phosphas = 0,005 gr x 100% Acidum Citricum Natrii Chloridum = 0,0006 gr x 100%

= 0,5% = 0,06%

= 0,0000085 gr x 100% = 0,00085%

Ϫ Tf (Penurunan Titik Beku) Riboflavin Natriii Phosphas = Ϫ Tf = 0,022 Acidum Citricum = Ϫ Tf = 0,050 Natrii Chloridum = Ϫ Tf = 0,289 W = 0,52 - ∑ b1.c b2 = 0,52 – (0,022 + (0,09 x 0,06) + (0,576 x 0,00085) 0,58 = 0,492 0,58 = 0,85 gram / 100 ml = 850 mg / 100 ml = 8,5 mg / ml Jadi NaCl yang ditambahkan adalah 8,5 mg / ml

Penimbangan Bahan 1. Riboflavin Natrii Phosphas = 5 mg x 20 ml = 100 mg, atau Riboflavin, dimana 1,37 gram Riboflavina Natrium Fosfat setara dengan lebih kurang 1 gram Riboflavin sehingga, Riboflavin X

=
= 3.65 mg x 20 ml = 70 mg

2. Acidum Citricum = 600 g = 0,0006 gr x 20ml = 0,012 gr = 12 mg 3. Natrii Chloridum = 8,5 g = 0,0000085 gr x 20 ml = 0,00017 gr = 0,17 mg Untuk membuat isotonis maka perlu ditambahkan NaCl sebanyak = 0,0085 gr x 20 ml = 0,17 gr = 170 mg + 0.17 mg = 170,17 mg 4. API ad 20 ml

Prosedur Pembuatan Resep a) Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Mensterilisasi wadah. b) Membuat air bebas O2 Aquadest dididihkan 40 menit  tutup wadah dengan rapat dengan kapas agar tidak terkontaminasi O2 kembali  API bebas O2 c) Ditimbang zat aktif Riboflavin Na Fosfat, dimasukkan kedalam gelas piala. Lalu masukkan zat tambahan yaitu Acidum Citricum dan Natrii Chloridum (kaca arloji dibilas 2 kali dengan API bebas O2 secukupnya) d) Dituangkan API bebas O2 secukupnya untuk melarutkan zat yang ditimbang e) Dituangkan API bebas O2 secukupnya untuk membasahi kertas saring lipat yang akan digunakan. f) Larutan zat dituangkan ke dalam gelas ukur, catat volume larutan. Ad kan dengan air bilasan sampai tepat 3/5 bagiannya yaitu ad 12 ml g) Dipindahkan corong ke erlenmayer lain yang bersih dan kering. Disaring larutan dalam gelas ukur melalui corong ke dalam erlenmayer yang telah disiapkan

h) Sisa 2/5 bagiannya yaitu 8 ml digunakan untuk membilas gelas piala, ditampung dalam gelas ukur kemudian disaring ke dalam erlenmayer yang berisi filtrate larutan 12 ml i) Isikan larutan ke dalam wadah (ampul)dengan menggunakan spuit. j) Dialirkan uap air (jika perlu). Dialirkan gas nitrogen (jika perlu) k) Tutup ampul dengan api. Ampul yang sudah ditutup di sterilkan dengan metode yang sesuai.

10.

Evaluasi a. Pengecekan pH :   pH setelah intermediet ad 12 ml dan belum disaring = 3 pH setelah ad 20 ml dan sudah disaring = 4

b. Kejernihan Berwarna kuning jernih c. Volume Terpindahkan Sebelum pemindahan = 2,15 ml Setelah pemindahan = 2,0 ml

11. Pembahasan

Obat suntik didefinisikan secara luas sebagai sediaan steril bebas pirogen yang dimaksudkan untuk diberikan secara parenteral. Istilah parenteral seperti yang umum digunakan, menunjukkan pemberian lewat suntikkan seperti berbagai sediaan yang diberikan dengan disuntikkan. Sediaan parenteral adalah bentuk sediaan untuk injeksi atau sediaan untuk infus. Pada praktikum tekhnologi sediaan steril ini, dibuat sediaan injeksi yang mengandung vitamin B2 sebagai zat aktifnya. Injeksi vitamin B2 dapat diberikan secara Intravena (IV) dan Intramuscular (IM). Tetapi pada pembuatan sediaan kali ini, dibuat sediaan injeksi vitamin B2 dengan pemberian secara intravena (IV) , hal ini disebabkan karena formulasi yang dibuat

menggunakan dosis tunggal (penggunaan satu kali pakai) dengan menggunakan larutan sejati pembawa air yaitu pelarut API (Aqua Pro Injection). Pembuatan sediaan injeksi dilakukan secara steril hal ini bertujuan untuk meminimalisir terjadinya kontaminasi suatu sediaan injeksi dari mikroba. Perlu diperhatikan pada ruang white area alat-alat harus lewat pass box sedangkan praktikan harus lewat pintu. Pencampuran bahan dilakukan di ruang white area. Pada saat pencampuran bahan, hal yang harus diperhatikan adalah melakukan pembilasan pada alat yang telah dipakai dengan tujuan tidak ada nya zat yang tersisa di alat tersebut. Dan alat-alat apa saja yang harus dipegang dengan tangan atau dengan pinset. Sediaan yang sudah dicampur kemudian dimasukkan kedalam ampul dengan menggunakan spuit. Menurut aturan resmi, sediaan yang berisi volume 2 ml, perlu ditambahkan volume berlebih sebanyak 0,15 ml, sehingga volume total sediaan pada ampul menjadi 2,15 ml untuk mencegah zat yang tinggal dalam vial atau jarum suntik. karena biasanya Dokter atau perawat sebelum menyuntikkan ke pasien tidak tepat mengambilnya atau mencoba mengeluarkan sedikit sebelum akhirnya disuntikkan ke pasien . Sehingga pada saat pemberian kepada pasien, jumlah obat yang diinjeksikan tetap sesuai dosis yang diperlukan. Proses sterilisasi sangat dibutuhkan untuk mendapatkan keadaan yang steril, bebas dari mikroorganisme. Proses sterilisasi dilakukan pada pembuatan injeksi vitamin B2 adalah sterilisasi secara akhir. Hal ini disebabkan karena vitamin B2 memiliki sifat yang tahan terhadap pemanasan/rusak dengan pemanasan karena titik lebur kurang lebih 280oC. Sehingga tidak perlu dilakukan sterilisasi alat-alat sebelum digunakan pada praktikum. Namun, pada praktek pembuatan injeksi vitamin B2 tidak dilakukan sterilisasi akhir. Hal ini disebabkan karena ampul yang digunakan tidak dapat ditutup sehingga tidak dilakukan sterilisasi ahir didalam autoklav. Vitamin B2 mempunyai sifat yang tidak stabil terhadap cahaya, maka pemilihan wadah yang tepat yaitu wadah yang berwarna gelap. Namun, pada prakteknya, kami tidak menggunakan wadah ampul dengan wana yang gelap. Hal ini dikarenakan kemungkinan keterbatasan wadah yang tersedia. Penandaan obat sediaan injeksi vitamin B2 yang digunakan adalah label obat keras, karena pada umumnya pemberian sediaan injeksi perlu dilakukan oleh tenaga ahli medis dan harus dengan resep dokter untuk menghindari penyalahgunaan sediaan .

Pada praktikum kali ini kami membuat sediaan injeksi larutan dengan menggunakan zat aktif Vitamin B2 (Riboflavin Na Fosfat). Namun, pada pelaksanaan praktikum zat aktif yang digunakan tidak tersedia sehingga kami menggunakan zat aktif yang tersedia yaitu Riboflavin HCl. Riboflavin HCL adalah bentuk stabil dari riboflavin atau vitamin B2. Pada saat melarutkan riboflavin HCl, riboflavin HCl kurang larut dalam air sehingga terdapat endapan pada sediaan. Hal ini terjadi dikarenakan sifat-sifat fisikokimia riboflavin HCl hampir serupa dengan riboflavin. Baik itu sifat kelarutan, pemerian, dan sebagainya. Karena Riboflavin mempunyai sifat kelarutan yang sangat sukar larut dengan perbandingan 1000-10000 maka sifat kelarutan dari Riboflavin HCl juga sangat sukar larut sehingga ketika dilarutkan tidak dapat terdispersi sempurna sehingga membentuk endapan. Pada formulasi kami menggunakan phenylhydrargyri nitrat sebagai antimikroba sesuai dengan anjuran dari fornas yang bertujuan untuk melindungi dan menjaga kestabilan sediaan akibat masa penyimpanan dan pemakaian berulang-ulang, sehingga cenderung membuat zat aktif rentan terhadap mikroba dan zat asing. Selain itu pada formulasi, zat aktif ditambahkan dengan antioksidant yaitu asam sitrat yang bertujuan untuk mencegah terjadinya reaksi

oksidasi akibat zat aktif terdispersi di dalam larutan karena sifat vitamin B2 yang tidak stabil terhadap cahaya. Biasanya untuk pembuatan sediaan injeksi yang diberikan secara IV yaitu yang disuntikkan ke dalam pembuluh darah sebaiknya dari larutan tersebut adalah isotonis, sehingga perlu penanmbahan larutan NaCl 0.9%. Sehingga pada sediaan injeksi Vitamin B2 perlu penambahan NaCl 0.9%. Hal ini disebabkan karena pada perhitungan penurunan titik beku, larutan injeksi vitamin B2 hasilnya hipotonis, dalam sediaan parenteral volume kecil (SPVK) seperti injeksi, larutan yang bersifat hipotonis tidak diperbolehkan, dimana tidak diinginkan dalam pembuatan sediaan parenteral volume kecil (SPVK) jika larutan bersifat hipotonis, Karena konsentrasi obat larutan lebih rendah dari serum darah, sehingga menyebabkan air akan melintasi membrane sel darah merah yang semipermeabel sehingga memperbesar volume sel darah merah dan menyebabkan peningkatan tekanan dalam sel. Tekanan yang lebih besar menyebabkan pecahnya sel-sel darah merah, peristiwa ini disebut hemolisa.

Evaluasi sebaiknya dilakukan setelah sediaan disterilkan dan sebelum wadah dipasang etiket dan dikemas. Parameter yang dievaluasi untuk uji kestabilan sediaan parenteral meliputi : penetapan pH (FI IV), bahan partikulat dalam injeksi (FI IV), penetapan volume injeksi dalam wadah (FI IV), uji keseragaman sediaan (FI IV), uji kebocoran (Goeswin Agus, Larutan Parenteral), uji kejernihan dan warna (Goeswin Agus, Larutan Parenteral), uji kejernihan larutan (FI IV). Namun, dalam prakteknya kami hanya melakukan evaluasi penetapan pH, warna, kejernihan larutan dan penetapan volume injeksi wadah. Pada evaluasi penetapan pH, setelah dilakukan intermediate ad 12 ml, kami melakukan pengecekan pH dimana diperoleh pH adalah 3 dan setelah penambhan api ad 20 ml pH adalah 4. Hal ini disebabkan karena pemakaian Riboflavin HCl sebagai zat aktif. Pada evaluasi warna tidak terjadi perubahan warna pada sediaan setelah disimpan. Warna masih menunjukkan warna seperti semula yakni kuning bening. Pada evaluasi kejernihan larutan, larutan jernih bebas partikel melayang dalam sediaan injeksi vitamin B2. Pada evaluasi volume terpindahkan, volume yang diperoleh adalah 2,0 ml setelah pemindahan. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat pemberian kepada pasien, jumlah obat yang diinjeksikan tetap sesuai dosis yang diperlukan yaitu 2,0 ml. Kami tidak melakukan evaluasi uji kebocoran karena sterilisasi akhir tidak dilakukan. Sehingga belum diketahui apakah terjadi kebocoran ampul atau tidak.

a. Formula Akhir : R/ Thiamin HCl 100mg API ad 2ml m.f no III da in ampul 2ml b. Perhitungan Bahan Volume yang dibuat = (n+2) V’ + (2x3)ml = (3+2) 2,15 + 6ml = 16,75 ml → 25ml Jumlah thiamin = x 25ml

= 1250mg = 1,25gram Tonisitas : Perhitungan tonisitas menurut farmakope Indonesia III

B= B = bobot dalam gram zat yang ditambahkan dalam 100ml hasil akhir b1 = penurunan titik beku air yang disebabkan oleh 1% b/v zat berkhasiat b2 = penurunan titik beku air yang disebabkan oleh penambahan 1% b/v zat tambahan C = kadar Tonisitas thiamin HCl, dengan metode penurunan titik beku :

-

B= B= B= B = -1,5

c. Langkah Pembuatan a. Zat aktif (thiamin HCl) ditimbang dengan kaca arloji, b. Kemudiaan semua bahan dan alat di masukkan ke white area melwati passbox c. Zat aktif dimasukkan ke dalam beakerglass (jika terdapat beberapa zat aktif supaya segera dilarutkan sebelum menimbang zat berikutnya). Kaca arloji kemudian di bilas 2 kali dengan air steril (API) d. dituangkan sejumlah tertentu air steril untuk melarutkan zat aktif (thiamin HCl) yang telah ditimbang.

e. Dituangkan sejumlah tertentu air steril (API di luar yang 25ml) untuk membasahi kertas saring lipat yang akan digunakan. f. Larutan zat dituangkan ke dalam gelas ukur, catat volume larutan ad kan dengan air bilasan sampai tepat 10ml. g. Dipindahkan corong ke erlenmeyer lain yang bersih dan kering h. Disaring larutan dalam gelas ukur melalui corong ke dalam erlenmeyer yang telah disiapkan. i. Sisa 5 ml digunakan untuk membilas beakerglass berulang kali, ditampung didalam gelas ukur kemudian disaring ke dalam erlenmeyer yang berisi filtrat larutan 15ml j. l. Diisikan larutan ke dalam wadah (ampul) dengan menggunakan spuit. Sterilkan menurut metode yang sesuai. k. Tutup ampul dengan api

HASIL PENGAMATAN  pH = volume 15ml → 3-4 volume 24,5 → 4 pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan kertas indicator universal. catatan → ketika akan di adjust sesuai dengan pH sediaan yang di literature (2,8 – 3,4), indicator pH-nya sudah habis, sehingga peng-adjust-an tidak dilakukan.  Uji Kejernihan dengan visualisasi : sediaan yang di buat kurang jernih  Volume terpindahkan : 2ml  Uji kebocoran : tidak dilakukan uji kebocoran karena tidak dilakukan juga penutupan ampul.

PEMBAHASAN
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi, atau serbuk yang harus dilarutkan atau di suspensikan lebih dahulu sebelum digunakan secara parenteral,

suntikan dengan cara menembuskan atau merobek jaringan ke dalam atau melalui kulit atau selaput lendir. Bentuk obat yang dibuat sebagai obat suntik tergantung pada sifat obat sendiri dengan memrhitungkan sifat fisika dan kimia serta mempertimbangkan terapetik tertentu. Pada umumnya, bila obat tidak stabil didalam larutan, maka kita harus membuatnya sebagai serbuk kering yang bertujuan dibentuk dengan penambahan pelarut yang tepat pada saat akan diberikan. Pada praktikum kali ini dibuat sediaan injeksi thiamin HCl atau vitamin B1. Vitamin B1 mempunyai Kelarutan yang mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol 95% P, praktis tidak larut dalam eter P dan dalam benzen P, larut dalam gliserol (farmakope Indonesia edisi III), sehingga Sediaan injeksi thiamin HCl dibuat dengan injeksi pelarut dan pembawa air dan pembuatannya juga lebih stabil dengan pelarut air dengan tidak menambahkan bahan tambahan lainnya. Air merupakan pelarut yang paling banyak digunakan dalam sediaan injeksi karena sifatnya yang dapat bercampur dengan cairan fsiologis tubuh. Air mempunyai konstanta dielektrik yang tinggi sehingga dapat melarutkan senyawa anorganik seperti elktrolit. Selain itu air mempunyai kemampuan untuk membentuk ikatan hydrogen sehingga air dapat pula melarutkan sejumlah senyawa organic seperti alcohol, aldehid, keton, amin dan lain-lain. Pelarut air yang digunakan yaitu aqua pro injeksi (API), yang dibuat dengan cara aquadest dipanaskan hingga mendidih selama 30 menit, kemudian untuk bebas O2 ditambah 10 menit lagi. Formula yang digunakan yaitu mengikuti formula yang terdapat pada literature (fornas), yaitu tiap ml mengandung Thiamin HCl 100mg dengan aqua pro injeksi (API) ad 1ml dan dibuat sebanyak 3 ampul, dengan rute pemberian intravena (IV). Injeksi intra vena yaitu injeksi yang langsung disuntikkan ke dalam pembuluh darah vena. Volume pemberian secara intravena biasanya 0,5ml-1L. persyaratan dalam injeksi intravena diantaranya yaitu, biasanya larutan dengan pelarut air, tetapi dapat juga emulsi minyak dalam air dengan ukuran droplet yang dikontrol; tidak boleh emulsi air dalam minyak atau suspense; obat terlarut dan tidak mengendap dalam system sirkulasi; biasanya isotonis atau sedikit hipertonis.

Formula tersebut di sterilkan dengan sterilisasi akhir, yaitu sterilisasi A. Menurut Farmakope Indonesia Edisi Ketiga , yaitu Pemanasan dalam otoklaf. Sediaan yang akan disterilkan diisikan kedalam wadah yang cocok, kemudian ditutup kedap. Jika volume dalam tiap wadah tidak lebih dari 100ml, sterilisasi dilakukan dengan uap air jenuh pada suhu 115˚ sampai 116˚ selama 30 menit. Jika volume dalam tiap wadah lebih dari 100ml waktu sterilisasi diperpanjang, hingga seluruh isi wadah berada pada suhu 115˚ samapi 116˚ selama 30 menit. Sedangkan Menuruf Farmakope Indonesia Edisi Keempat, Sterilisasi Uap. Proses sterilisasi termal menggunakan uap jenuh dibawah tekanan berlangsung disuatu bejana yang disebut otoklaf. Prinsip dasar kerja alat adalah udara didalam bejana sterilisasi diganti dengan uap jenuh, dan hal ini dicapai dengan menggunakan alat pembuka atau penutup khusus. Untuk mengganti udara secara lebih efektif dari bejana sterilisasi dan dari dalam bahan yang disterilisasi, siklus sterilisasi dapat meliputi tahap evakuasi udara dan uap. Pada praktikum, proses sterilisasi tidak dilakukan, karena nitrogen yang digunakan untuk menutup ampul tidak ada (habis), sehingga ampul tidak ditutup dan proses sterilisasi pun tidak dilakukan. Isotonis (ekivalen dengan 0,9% NaCl), jika suatu larutan konsentrasinya sama besar dengan konsentrasi didalam darah merah sehingga tidak terjadi pertukaran cairan diantara keduanya. Jika suatu sediaan hipotonis maka sel darah akan mengembang kemudian pecah, karena air berdifusi ke dalam sel (hemolisis). Keadaan hipotonis kurang dapat toleransi, karena pecahnya sel bersifat irreversible. Sedangkan Untuk keadaan hipertosnis masih dapat di toleransi. Nilai tonisitas sedian yang dibuat yaitu -1,5 % dan termasuk pada Hipertonis, sehingga tidak dibutuhkan penambahan NaCl 0,9 % karena sudah sedikit hipertonis. Suatu sediaan perlu isotonis agar mengurangi kerusakan jaringan dan iritasi, mengurangi hemolisis sel darah, mencegah ketidak seimbangan elktrolit, dan mengurangi rasa sakit pada daerah injeksi. Dari hasil evaluasi yang dilakukan, di dapat bahwa pH dari sediaan yang kami buat yaitu 4, melebihi pH pada literature yaitu 2,8 - 3,4 (Fornas). Seharusnya sediaan tersebut di adjust agar pH sesuai dengan yang diharapkan, namun ketika akan mengadjust sediaan indicator pH sudah tidak ada (habis), sehingga pengadjust-an tidak dilakukan. pH ideal dari

sediaan adalah 7,4 yang sesuai dengan pH darah, tetapi hal tersebut tidak selalu dapat dilakukan karena sediaan harus dibuat pada pH yang mendukung stabilitass dari sediaan (disesuaikan dengan pH zat aktif, bukan pH larutan). Dapar yang ideal memiliki kapasitas dapar yang cukup untuk menjaga pH sediaan selama penyimpanan, namun memungkinkan cairan tubuh beradaptasi dengan mudah. Rentang pH yang tidak dapat di toleransi oleh tubuh : a. pH > 9 menyebabkan kematian jaringan, b. pH < 3 sangat menyakitkan dan meyebabkan feblitis. Evalusi yang lakukan selanjutnya yaitu uji kejernihan larutan, dilihat dari hasil bahwa sediaan yang dihasilkan tidak jernih atau kurang jernih. Hal tersebut disebabkan karena beberapa factor, diantranya yaitu, ketika mengeringkan alat yang telah di cuci yaitu menggunakan tissue, diduga partikel yang melayang pada larutan yaitu tissue yang menempel pada wadah. Selain itu dikarenakan juga kurangnya penyaringan, penyaringan hanya dilakukan 2x karena keterbatasanya kertas saring. Uji volume terpindahkan dilakukan dengan mengambil sediaan yang terdapat di dalam ampul dengan menggunakan spuit. Volume sediaan yang terambil ke dalam spuit yaitu sebanyak 2 ml, yang artinya terjadi pengurangan volume pada saat sudah di pindahkan. Hal tersebut disebabkan karena adanya volume yang tertinggal didalam ampul pada saat sediaan di pindahkan. I. FORMULA PUSTAKA Formula Standar dari Fornas atau Martindale R/ Thiamini Hydrochloridum Zat tambahan yang cocok Aqua pro Injectione ad 100mg qs 1 ml

II.

FORMULASI 2.1 Perhitungan volume yang dibuat : = (n+2)v’ + (2x3 ml) = (3+2) 2,15 + 6 = 16,75 ≈ 20 ml

-

Penimbangan bahan: o Thiamini HCL = 50 mg o API ad = 20 ml

Jadi thiamin HCL yang ditimbang: 50 mg x 20 ml = 1000mg=1 gram

2.2 Perhitungan tonisitas  Perhitungan tonisitas dengan cara penurunan titik beku B= Keterangan : b1 = penurunan titik beku 1% zat b2 = penurunan titik beku zat pengisotoni (NaCl) c = konsentrasi zat dalam sediaan  b1 penurunan titik beku 1% zat = 0,13 (FI 3)  b2 untuk 0.9 % NaCl = 0,52 berarti untuk 1% zat = =

0,9 x = 0,52 x = 0,58  c konsentrasi zat dalam formula = 1gram/20 ml = 5gram/100ml = 5%

maka :

B= = = -0,224 (hasil negatif maka dapat dikatakan hipertonis)

Catatan:

isotonis apabila nilai B = 0 , b1 c = 0,52 Hipotonis apabila nilai B positif, b1 c < 0,52 Hipertonis apabila nilai B negative, b1 c > 0,52

Perhitungan tonisitas dengan cara ekivalensi

NaCl yang ditambahkan agar isotonis= 0,9 – (E.jumlah zat dlm 100ml) = 0,9 – (0,25 x 5 gram) = -0,35 Nilai negative menandakan bahwa keadaan hipertonis

2.3 pengatur pH Pengaturan pH sediaan ditujukan untuk:     meningkatkan stabilitas obat mengurangi rasa nyeri, iritasi, nekrosis saat penggunaannya menghambat pertumbuhan mikroorganisme meningkatkan aktivitas fisiologi obat

pH ideal dari sediaan adalah 7,4 yang sesuai dengan pH darah, tetapi hal tersebut tidak selalu dapat dilakukan karena sediaan harus dibuat pada pH yang mendukung stabilitas dari sediaan (disesuaikan dengan pH stabilitas zat aktif bukan larutan). Dapar yang ideal memiliki kapasitas dapar yang cukup untuk menjaga pH sediaan selama penyimpanan, namun

memungkinkan cairan tubuh beradaptasi dengan mudah. Rentang pH yang tidak dapat ditoleransi oleh tubuh:  pH > 9 menyebabkan kematian jaringan  pH < 3 sangat menyakitkan dan menyebabkan flebitis Pada sediaan ini tidak ditambahkan dapar karena pH sediaan berkisar 2,73,4 dan untuk pH < 3 atau pH > 1 sebaiknya tidak didapar karena sulit dinetralisasikan. peringatan ini terutama ditujukan untuk injeksi i.m dan s.c. Selain itu pH tidak dibuat karena untuk sediaan parenteral volume kecil (<100ml) dapar dibuat bila pH stabilitas sediaan berada didalam rentang  IV (SVP) = pH 3-10,5  rute lain = pH 4-9

2.4 Antioksidan Antioksidan digunakan untuk melindun gi zat yang peka terhadap oksidasi. Dalam sediaan kali ini tidak ditambahkan antioksidan karena sediaan

teroksidasi oleh cahaya sehingga seharusnya digunakan wadah gelap untuk mencegah oksidasi oleh cahaya.

2.5 Pengawet Penambahan pengawet dapat dilakukan pada sediaan multidosis (kecuali yang dilarang oleh monografi, atau zat aktif bersifat bakteriostatik) dan untuk sediaan unit dosis jika tidak dilakukan sterilisasi akhir (pembuatan aseptic atau dengan filtrasi membran). Karena pembuatan sediaan injeksi kali ini ditujukan untuk pemakaian dosis tunggal dan dilakukan sterilisasi akhir dengan autoklaf, maka tidak ditambahkan pengawet pada sediaan kami.

III.

FORMULA AKHIR R/ Thiamini Hydrochloridum Aqua pro Injectione da in ampul 2 ml no III ad 100mg 2 ml

IV.

PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN volume yang dibuat : = (n+2)v’ + (2x3 ml) = (3+2) 2,15 + 6 = 16,75 ≈ 20 ml Penimbangan bahan: o Thiamini HCL = 50 mg o API ad = 20 ml

Jadi thiamin HCL yang ditimbang: 50 mg x 20 ml = 1000mg=1 gram

V. 

STERILISASI Sterilisasi A Menurut Farmakope Indonesia Edisi Ketiga Pemanasan dalam otoklaf. Sediaan yang akan disterilkan diisikan kedalam wadah yang cocok, kemudian ditutup kedap. Jika volume dalam tiap wadah tidak lebih dari 100ml, sterilisasi dilakukan dengan uap air jenuh pada

suhu 115˚ sampai 116˚ selama 30 menit. Jika volume dalam tiap wadah lebih dari 100ml waktu sterilisasi diperpanjang, hingga seluruh isi wadah berada pada suhu 115˚ samapi 116˚ selama 30 menit.

Menuruf Farmakope Indonesia Edisi Keempat Sterilisasi Uap. Proses sterilisasi termal menggunakan uap jenuh dibawah tekanan berlangsung disuatu bejana yang disebut otoklaf, dan mungkin merupakan proses sterilisasi yang paling banyak digunakan ( suatu siklus otoklaf yang ditetapkan dalam farmakope untuk media atau pereaksi adalah selama 15 menit pada suhu 121˚ kecuali dinyatakan lain ). Prinsip dasar kerja alat adalah udara didalam bejana sterilisasi diganti dengan uap jenuh, dan hal ini dicapai dengan menggunakan alat pembuka atau penutup khusus. Untuk mengganti udara secara lebih efektif dari bejana sterilisasi dan dari dalam bahan yang disterilisasi, siklus sterilisasi dapat meliputi tahap evakuasi udara dan uap. Desain atau pemilihan suatu siklus untuk produk atau komponen terentu tergantung kepada beberapa factor, termasuk ketakstabilan panas bahan, pengetahuan tentang penetrasi panas dalam bahan, dan factor lain yang tercantum dalam program validasi, selain deskripsi tentang parameter siklus sterilisasi dengan menggunakan suhu 121˚ untuk waktu tertentu. Otoklaf modern umumnya bekerja dengan suatu system pengendali yang secara nyata lebih responsive dari pada katup reduksi uapa jenis lama yang selama ini digunakan. Agar jenis yang lama ini dapat mencapai ketepatan dan tingkat pengendalian siklus yang dibicarakan disini, mungkin perlu memperbahatui atau memodifikasi alat pengendali dan instrument alat tersebut. Modifikasi ini dapat dibenarkan hanya jika alat sterilisasi dan mantel uap masih utuh demi keamanan penggunaan selanjutnya dan jika endapan yang dapat mengganggu distribusi panas dat dihilangkan. 

Sterilisasi C Farmakope edisi ketiga tahun 1979

Penyaringan larutan disaring melalui penyaring bakteri steril, diisikan kedalam wadah akhir steril ,kemudian ditutup kedap menurut teknik aseptic. Farmakope Indonesia edisi IV yahun 1995 Sterilisasi larutan yang labil terhadap panas sering dilakukan dengan penyaringan menggunakan bahan yang dapat menahan mikroba, hingga mikroba yang dikandung dapat dipisahkan secara fisika. Perangkat penyaring umumnya terdiri dari suatu matriks berpori bertutup kedap atau dirangkaikan pada wadah yang tidak permeable. Efektivitas suatu penyaring media atau penyaring substrat tergantung pada ukuran pori bahan dan dapat tergantung pada daya adsorpsi bakteri pada atau di dalam matriks penyaring atau bergantung pada mekanisme pengayakan. Ada beberapa bukti yang

menyatakan bahwa pengayakan merupakan komponen yang lebih penting dari mekanisme. Penyaring yang melepas serat, terutama yang mengandung asbes, harus dihindarkan penggunaannya kecuali tidak ada cara penyaringan alternatif lain yang mungkin digunakan. Jika penyaring yang melepas serat memang diperlukan, merupakan keharusan, bahwa proses penyaringan meliputi adanya penyaring yang tidak melepas serat diletakkan pada arah hilir atau sesudah langkah penyaringan awal. Kami memilih menggunakan sterilisasi akhir dengan menggunakan autoklaf dibanding sterilisasi dengan filtrasi dikarenakan ketiadaan alat filtrasi di laboratorium.

VI.

PROSEDUR a. Dibuat aqua pro injeksi bebas oksigen dan karbon dioksida dengan cara mendidihkan aquabidest selama 30 menit dalam wadah tertutup kaca arloji. Pembebasan oksigen dilakukan dengan mendidihkan lagi 10 menit dan mengganti tutup kaca arloji dengan sumbat kapas. b. Thiamin HCl digerus dan ditimbang sebanyak 1 gram menggunakan kaca arloji. Kemudian alat-alat dan bahan yang digunakan di lewatkan melalui pass box.

c. Sejumlah API dituang ke dalam beaker glass untuk melarutkan zat yang ditimbang (8ml) d. Tuang thiamin kedalam beaker glass yang telah berisi API, kaca arloji kemudian dibilas dengan API (2ml) e. Setelah zat aktif terlarut, kemudian di pindahkan kedalam gelas ukur, catat volume larutan. adkan dengan air bilasan sampai tepat 15 ml f. Tuangkan jumlah tertentu API untuk membasahi kertas saring lipat yang telah diletakkan kedalam corong yang akan digunakan, kemudian corong dan kertas saring tersebut dipindahkan ke Erlenmeyer lain yang bersih dan kering. g. Larutan dalam gelas ukur disaring melalui corong ke dalam Erlenmeyer yang telah disiapkan. (jangan lupa in process control dengan mengukur pH sediaan) h. Kekurangan API digunakan untuk membilas beaker glass berulang kali ditampung dalam gelas ukur  air bilasan tersebut kemudian disaring lagi ke dalam Erlenmeyer yang telah berisi filtrate larutan hingga volume total seluruh larutan genap 20 ml i. j. Isikan larutan kedalam wadah (ampul) dengan menggunakan spuit Aliri uap air (jika perlu)

k. Aliri gas nitrogen (jika perlu) l. Ampul ditutup dengan api dan disterilkan menggunakan autoklaf secara terbalik dalam beaker glass yang telah dilapisi kapas (121 o C selama 15 menit) m. Dilakukan evaluasi sediaan

VII.

DATA PENGAMATAN DAN EVALUASI   

pH sediaan : 3 kejernihan : jernih namun masih ada serat yang melayang volume terpindahkan: terambil 2 ml dari 2,15 ml

uji kebocoran : tidak dilakukan uji kebocoran, karena tidak dilakukan penutupan ampul.

VIII.

PEMBAHASAN Injeksi merupakan sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspense atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Pada praktikum kali ini, dilakukan pembuatan sediaan injeksi thiamin hcl. Thiamin hcl merupakan bahan yang mudah larut dalam air, sehingga dapat dibuat sediaan dengan pelarut air. Air yang digunakan dalam sediaan steril adalah aqua pro injeksi yang dibuat dengan mendidihkan aquades selama 30 menit, lalu di lakukan penambahan waktu pendidihan selama 10 menit. Menurut literature fornas tiap ml injeksi vitamin B1 mengandung thiamin HCl 100 mg dengan a.p.i ad 1 ml. Pada pembuatan dialiari karbondioksida, dengan pH 2,8 sampai 3,4 dan dilakukan sterilisasi dengan cara sterilisasi A atau C dan segera didinginkan. Sterilisasi A yaitu dengan menggunakan autoklaf sedangkan sterilisasi C yakni dengan menggunakan filtrasi. Namun pada formulasi kali ini, kami membuat sediaan kami dengan formula yang mengandung Thiamin HCl 100mg dalam api ad 2ml. Perbedaan formula kami dengan Fornas di dasarkan pada keadaan yang hipertonis pada formulasi 100mg/ml atau dengan konsentrsi 10% yakni sebesar -1,5, sehingga kami membuat pengenceran yakni dengan komposisi thiamin hcl 50mg/ml dengan konsentrasi dalam sediaan sebesar 5%. Dan hasil yang diperoleh untuk tonisitas dengan komposisi thiamin HCl 50mg/ml yakni -0,224 (hipertonis). Karena hipertonis maka kami tidak menambahkan NaCl 0.9% untuk mendapatkan isotonis sediaan dengan darah. Sediaan injeksi yang dibuat sedapat mungkin harus isotonis ataupun sedikit hipertonis. Sediaan injeksi tidak boleh hipotonis, karena keadaan hipotonis akan membuat emboli yakni gumpalan yang dapat menghalangi pembuluh darah sehingga

mengakibatkan hambatan atau sumbatan.

Pada pembuatan sediaan dilakukan dengan intermediate add, dimana setiap wadah dilakukan pembilasan ulang sehingga diperoleh kadar seperti yang telah ditentukan. Adapun in process control yang dilakukan saat praktikum yakni dengan mengecek pH dengan menggunakan kertas indicator universal. Dan diperoleh bahwa sediaan kami telah memenuhi rentang untuk sediaan injeksi vitamin B1 yakni berada disekitar 3-4 yang seharusnya menurut literature AHFS sediaan injeksi vitamin B1 memiliki pH 2.5-4.5. Sehingga dengan pH yang telah memenuhi syarat, maka sediaan kami tidak menggunakan dapar untuk mengadjust pH. Pembuatan sediaan injeksi thiamin menggunakan sterilisasi A (autoklaf) dilakukan dengan uap air jenuh pada suhu 121 oC selama 15 menit. Ampul ditutup dengan api dan disterilkan menggunakan autoklaf secara terbalik dalam beaker glass yang telah dilapisi kapas (121 o C selama 15 menit). Kami memilih teknik sterilisasi dengan menggunakan autoklaf didasarkan pada bahan yang kami gunakan yakni vitamin B1 yang tahan terhadap pemanasan sehingga dapat dilakukan sterilisasi akhir dengan autoklaf. Namun karena ketidak tersedianya oksigen di laboratorium sehingga kami tidak melakukan penutupan ampul dan tidak dapat melakukan sterilisasi dengan autoklaf. Saat evaluasi kejernihan sebelum dilakukan sterilisasi akhir, didapat bahwa sediaan kami jernih namun masih ada partikel (serat) yang melayang. Adanya partikel yang melayang seharusnya tidak boleh terjadi dalam pembuatan sediaan steril karena injeksi dilakukan ke pembuluh darah dan akan bercampur dengan darah sehingga dapat mengakibatkan penyumbatan pada peredaran darah. Adanya partikel yang melayang seharusya disaring kembali agar sediaan benar-benar jernih tanpa ada partikel yang tidak tercampur. Thiamin HCl harus disimpan dalam tempat tertutup rapat, serta terlindung dari cahaya untuk menjaga stabilitasnya. Namun pada praktikum kali ini, tidak dilakukan penggunaan ampul gelap karena ketersediaan alat di laboratorium, sehingga digunakan ampul yang transparan. Selanjutnya untuk evaluasi kebocoran tidak dapat dilakukan karena ampul yang digunakan tidak

ditutup

karena tidak adanya

alat dilaboratorium.

Untuk uji volume

terpindahkan, dilakukan dengan mengambil sediaan dari ampul dengan spuit. Sediaan dibuat dalam ampul sebanyak 2,15 ml, namun yang dapat diambil dengan spuit untuk uji evaluasi volume terpindahkan Sehingga masih ada tersisa di ampul sebanyak 0,15 ml. sebanyak 2 ml.

A. Formula Pustaka Komposisi : Tiap ml mengandung: Thiamini Hydrochloridum Zat tambahan yang cocok Aqua pro injection hingga 100 mg secukupnya 1 ml

Penyimpanan : dalam wadah dosis tunggal / wadah dosis ganda, terlindung dari cahaya. Dosis Catatan : Sc, im, sehari 25 – 100 mg : 1. pH 2,8 – 3,4 2. pada pembuatan dialiri karbondioksida 3. disterilkan dengan cara sterilisasi A atau C dan segera didinginkan 4. sediaan berkekuatan lain: 50 mg

B. Formulasi ◊ Vitamin B1 mudah larut dalam air  digunakan air sebagai pembawanya ◊ pH sediaan injeksi vitamin B1 masih berada dalam rentang pH dari vitamin B1  tidak perlu ditambahkan buffer ◊ Sediaan berupa dosis tunggal  tidak perlu pengawet ◊ Vitamin B1 stabil terhadap udara  tidak perlu ditambahkan antioksidan ◊ Vitamin B1 teroksidasi oleh cahaya  digunakan ampul berwarna cokelat ◊ Sediaan sudah hipertonis  tidak pelu ditambahkan larutan pengisotonis konsentrasi vitamin B1 = 50mg/ml  5% ΔTf vitamin B1 1% = 0,13

W= W= W = -0,224 mg/100ml Dalam hal ini nilai a > 0,52  hipertonis C. Formula akhir Tiap ml mengandung: R/ Thiamini Hydrochlorium Aqua pro injection D. Perhitungan bahan Untuk sediaan ampul 2ml (n + 2) V1 + (2 x 3) ml = (3 + 2) 2,15 + (2 x 3) ml =0,75 + 6 = 16,75 ml dibuat 25 ml 50 mg ad 1 ml

 Vitamin B1 = 50 mg x 15 = 750 mg = 0,75 gram  Aqua pro injeksi ad 25 ml Prosedur kerja 1. Vitamin B1 ditimbang, dimasukkan ke dalam beaker glass. Kaca arloji kemudian di bilas 2x dengan air steril. 2. Tuangkan sejumlah tertentu air steril untuk melarutkan vitamin B1. 3. Tuangkan sejumlah tertentu air steril untuk membasahi kertas saring lipat yang akan digunakan. 4. Larutan vitamin B1 dituangkan ke dalam gelas ukur, catat volume larutan. Ad kan dengan air bilasan sampai tepat 15 ml. 5. Pindahkan corong ke Erlenmeyer lain yang bersih dan kering. 6. Saring larutan dalam gelas ukur melalui corong ke dalam Erlenmeyer yang telah di siapkan

7. Sisa 10 ml digunakan untuk membilas gelas piala berulang kali, ditampung dalam gelas ukur ukur kemudian disaring ke dalam Erlenmeyer yang berisi filtrate larutan 9 ml. 8. Isikan larutan kedalam wadah ampul dengan menggunakan spuit 9. Tutup ampul dengan api 10. Sterilkan dengan cara sterilisasi A Pemanasan dengan autoklaf dengan uap iar jenuh pada suhu 115-116 menit. selama 30

E. Evaluasi Jenis evaluasi pH Kejernihan 3–4 Jernih Hasil Evaluasi

Volume yang diisikan dalam ampul ◊ Ampul 1 = 2,15 ml ◊ Ampul 2 = 2,15 ml ◊ Ampul 3 = 2,15 ml Volume terpendahkan ◊ Ampul 1 = 2 ml ◊ Ampul 2 = 2,1 ml ◊ Ampul 3 = 2 ml

F. Pembahasan Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspense atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan yangyang disuntikkan dengan cara merobek jaringan kedalam kulit atau melalui kulit atau selaput lender. Injeksi volume kecil adalah injeksi yang dikemas dalam wadah 100ml atau kurang. Dalam praktikum kali ini, sediaan injeksi dikemas dalam wadah ampul 2ml.

Pada praktikum kali ini, kami melakukan praktikum pembuatan sediaan steril berupa sediaan injeksi volume kecil dengan bahan aktif yaitu vitamin B1. Berdasarkan kelarutannya vitamin B1 ini mudah larut dalam air dan rute pemberian sediaan yang dibuat adalah intravena, maka dari itu pelarut yang digunakan adalah air. Air yang digunakan untuk sediaan injeksi tersebut merupakan aqua for injection (API) yang dibuat sesuai dengan yang dipersyaratkan dalam Farmakope Indonesia. Dalam formula sediaan tersebut hanya terdiri dari zat aktif dan API sebagaimana alas an telah dijelaskan sebelumnya dalam formulasi. Vitamin B1 ini tidak stabil terhadap panas, dimana berdasarkan literature yang ada cara sterilisasi untuk sediaan injeksi vitamin B1 tersebut adalah dengan cara sterilisai A atau C. Berdasarkan hal tersebut, kami membuatnya dengan cara sterilisasi akhir yaitu sterilisasi A dengan menggunakan autoklaf dengan suhu 115-116ᵒC selama 30 menit. Tujuan suatu sediaan dibuat steril, karena berhubungan langsung dengan darah atau cairan tubuh dan jaringan tubuh lain yang pertahanannya terhadap zat asing tidak selengkap pada saluran cerna atau gastrointestinal. Diharapkan dengan kondisi steril dapat dihindari adanya infeksi sekunder. Dalam hal ini tidak berlaku relative steril atau setengah steril, hanya ada dua pilihan yaitu steril dan tidak steril. Dan obat injeksi merupakan sediaan yang perlu. Dalam praktikum kali ini evaluasi sediaan injeksi volume kecil tersebut adalah pH, uji kejernihan, uji volume terpindahkan, dan uji kebocoran. Dimana pengujian pH terhadap sediaan dilakukan pada sesaat sebelum volume yang diinginkan tercapai. Berdasarkan literature pH sediaan injeksi zat aktif vitamin B1 adalah 2,8-3,5. Berdasarkan pengukuran pH dengan menggunakan kertas pH meter pada volume sediaan 15ml yang didapat yaitu pH 34 dimana pH tersebut masuk kedalam range pH seharusnya, yaitu 2,8-3,5 sehingga sediaan tersebut tidak perlu ditambahkan penadjust pH. Setelah itu dilakukan intermediate ad dengan menggunakan aqua for injection 10ml untuk membilas beaker glass dan gelas ukur tersebut kemudian disaring kedalam wadah yang sudah terdapat sediaan 15ml sebelumnya. Setelah itu larutan dilakukan uji kejernihan berdasarkan penglihatan dengan menggunakan mata. Dimana didapatkan larutan sediaan tersebut masih kurang jernih yaitu masih terdapat partikel melayang sehingga sediaan

tersebut dilakukan penyaringan kembali. Dalam hal ini seharusnya penyaringan dilakukan dengan menggunakan kertas saring yang baru yang telah dibasahi dengan aquadest for injection. Namun, dalam praktikum tersebut kami melakukan penyaringan kembali tersebut dengan menggunakan kertas saring yang telah digunakan sebelumnya. Hal tersebut dikarenakan kurangnya persiapan alat untuk digunakan. Setelah disaring kembali ternyata sediaan larutan injeksi tersebut sudah jernih apabila dilihat dengan mata. Setelah itu sediaan larutan tersebut dapat langsung dipindahkan dari dalam elenmeyer ke dalam ampul dengan menggunakan jarum spuit, dengan melebihkan sedikit volumenya sesuai dalam yang telah ditetapkan dalam Farmakope Indonesia dari yang tertera pada etiket yaitu 2 ml sehingga menjadi 2,15ml/per ampul. Vitamin B1 mudah teroksidasi oleh cahaya maka digunakan wadah berupa ampul yang gelap. Tetapi Ampul yang tersedia di laboratorium steril hanya ampul bening, sehingga digunakan ampul bening (di dispensasi). Sebelum penutupan ampul, seharusnya dialirkan gas inert seperti karbondioksida atau nitrogen ke atas permukaan.ini dimaksudkan agar tidak terjadi pengerakan pada mulut ampul. Tetapi ini tidak dilakukan karena ketidak tersedianya bahan. Penutupan ampul pada sediaan ini tidak dilakukan karena oksigen yang ada di laboratorium habis. Oleh karena itu, diberikan dispensasi pada dua perlakuan ini. Karena tidak dilakukan penutupan ampul maka dari itu, kami tidak dapat melakukan evaluasi uji kebocoran ampul. Selain itu, sediaan tersebut tidak dilakukan sterilisasi akhir karena ampul tidak ditutup. Uji volume terpindahkan dilakukan dengan menggunakan spluit (jarum suntik). Berdasarkan evaluasi volume terpindahkan dari masing-masing ampul adalah ampul 1 = 2 ml, ampul 2 = 2,1 ml, dan ampul 3 = 2 ml. Dalam hal ini volume terpindahkan sediaan tersebut telah sesuai dimana volume yang dibutuhkan berdasarkan volume yang tertera dalam etiket yaitu 2ml dan volume yang berlebih yang diperbolehkan dalam Farmakope Indonesia tersebut tertinggal dalam ampul. Sehingga walaupun volume yang diisikan adalah sebanyak 2,15ml namun volume yang terambil dapat sesuai dengan yang tertera dalam etiket yaitu 2 ml. Maka dalam hal ini, pasien dapat menerima dosis yang tepat.

IV.1 FORMULASI SEDIAAN VITAMIN B6 Berdasarkan Fornas hal 262 Komposisi: Tiap ml mengandung Pyridoxini Hydrochloridum Aqua pro injectio ad hingga 50 mg 1 ml

Persyaratan sediaan parenteral (Termasuk injeksi) : 1. Sesuai antara kandungan bahan obat yang ada didalam sediaan dengan pernyataan tertulis pada etiket dan tidak terjadi pengurangan kualitas selama penyimpanan akibat kerusakan obat secara kimiawi dan sebagainya. 2. Penggunaan wadah yang cocok , sehingga tidak hanya memungkinkan sediaan tetap steril, tetapi juga mencegah terjadinya ineraksi antara bahn obat dengan material dinding wadah. 3. Tersatukan tanpa terjadi reaksi. 4. Bebas kuman. 5. Bebas Pirogen. 6. Isotonis. 7. Isohidris. 8. Bebas partikel melayang. Tonisitas (metode turunnya titik beku): W = 0,52 – a b = 0,52 – (0,213x5)

0,58 = - 0,9397 Keterangan: W a = jumlah (gram) bahan pembantu isotonic dalam 100 ml larutan = turunnya titik beku air akibat zat terlarut, dihitung dengan memperbanyak nilai untuk larutan 1% b/v b = turunnya titik beku air yang dihasilkan oleh 1% b/v bahan pembantu isotoni

(teori sediaan dan teori analisis bab injeksi h.19)

Isohidri : pH sediaan diusahakan mendekati pH darah yaitu 7,4 ; akan tetapi karena larutan vitamin B6 stabil pada pH lebih kurang 3 dan dalam bentuk sediaan injeksi stabil pada pH 2,0 – 3,8 maka dipakai pH stabilitas zat aktif yaitu sekitar 2,0 – 3,8. Alasan – alasan :  Zat aktif larut dalam air sehingga dapat dipakai sebagai Sediaan Parentral Volume kecil karena akan dibuat sediaan injeksi dan larutan bersifat larutan sejati.  IM Karena pemberian secara IM merupakan pemberiaan yang tepat untuk sediaan kerja diperlambat yang dibuat dengan pembawa air. Dan pemberian secara IM digunakan untuk larutan < 3ml.  Autoklaf filtrasi Autoklaf Larutan disterilkan dengan cara otoklaf (115-116˚C selama 30 menit). Tidak harus cara sterilisasi dengan filtrasi karena tidak ada data ketidakstabilan pada suhu 115-116˚C. Tetap memakai formula pada fornas dan tidak menambah zat tambahan lain seperti:  Zat pengawet: karena sediaan ditujukan untuk single doses maka tidak diperlukan pengawet, pengawet juga tidak diperlukan karena sediaan dilakukan sterilisasi akhir.  Pengatur tonisitas; biasanya ditambahkan zat pengisotoni yaitu dengan tujuan mencegah ketidakseimbangan elektrolit, mengurangi kerusakan jaringan dan iritasi, hemolisa sel darah, dan mengurangi sakit pada daerah injeksi. Akan tetapi, sediaan

injeksi yang kami buat setelah dihitung tonisitasnya didapatkan hasil sedikit hipertonis. Hal ini masih ditoleransi dalam sediaan injeksi.  Antioksidan: digunakan untuk melindungi zat yang peka terhadap oksidasi, tetapi vitamin B6 tidak terlalu peka terhadap oksidasi sehingga tidak diperlukan antioksidan hanya pada penyimpanannya diletakkan pada wadah berwarna gelap.  Pengatur pH (dapar): tujuan digunakannya yaitu untuk meningkatkan stabilitas obat; mengurangi rasa nyeri, iritasi, nekrosis saat penggunaannya; menghambat

pertumbuhan mikroorganisme. Untuk sediaan parenteral volume kecil, dapar dapat dibuat bila pH stabilitas sediaan berada dalam rentang; iv (pH 3-10,5), rute lain (pH 4-9). Pada formulasi ini bisa ditambahkan dapar seperti asam sitrat/garam dengan pH 2,5-6 tujuannya mengurangi rasa nyeri, iritasi, nekrosis saat penggunaannya karena pH<3 sangat menyakitkan pada saat penyuntikan dan dapat menyebabkan flebitis. Akan tetapi, karena pada larutan vitamin B6 stabil pada pH lebih kurang 3 dan dalam bentuk sediaan injeksi stabil pada pH 2,0 – 3,8 maka dipakai pH stabilitas zat aktif yaitu sekitar 2,0 – 3,8 sehingga kami tidak memakai dapar.

IV.2 PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN Akan dibuat sediaan injeksi Vitamin B6 ampul 2 mL sebanyak 3 buah, maka volume berlebih yang akan kami masukkan ke dalam tiap ampul adalah 2,15 mL. Perhitungan volume yang akan dibuat Volume yang dibuat = (n + 2) V’ + (2 x 3) = (3 + 2) 2,15 + (2 x 3) = (5) 2,15 + 6 = 10,75 + 6 = 16,75 mL ≈ 20 mL Penimbangan bahan

Vitamin B6 = (50 mg/1 ml) X 20 mL = 1000 mg = 1,0 gram. API ad 20 ml. CARA STERILISASI ALAT NAMA ALAT Spatel logam Pinset logam Batang pengaduk gelas Kaca arloji Gelas ukur Pipet tetes tanpa karet Karet pipet Corong gelas dan kertas JUMLAH 1 1 1 1 2 1 1 1 STERILISASI Oven 170: C Oven 170: C Oven 170: C Oven 170: C Autoklaf (115-116: C) Autoklaf (115-116: C) Rebus Autoklaf (115-116: C) WAKTU 30 menit 30 menit 30 menit 30 menit 30 menit 30 menit 30 menit 30 menit

saring lipat terpasang Kapas Jarum suntik (spuit) Beacker glass Erlenmeyer Ampul berwarna gelap 1 2 3 3 Autoklaf (115-116: C) Autoklaf (115-116: C) Oven 170: C Oven 170: C Oven 170: C 30 menit 30 menit 30 menit 30 menit 30 menit

IV.5 PROSEDUR KERJA 1. Disiapkan alat - alat yang diperlukan dan lakukan sterilisasi alat pada black area (praktikan menggunakan jas lab dan sandal juga pada black area) 2. Dibuat API pada black area, masukkan aquabidest kedalam erlenmeyer tutup dengan kaca arloji, kemudian didihkan dengan penangas air setelah mendidih hitung selama 30 menit (air

bebas CO2). Setelah mendidih dipanaskan lagi selama 10 menit kemudian tutup Erlenmeyer dengan kapas yang dibungkus dengan kain kassa atau tutup yang permeable (air bebas O2). Dibuat bebas CO2 dan O2 agar pada saat penyimpanan sediaan lebih stabil dan tidak teroksidasi karena pada formulasi tidak titambahkan antioksidan. 3. Pada grey area praktikan menggunakan tutup kepala dan masker untuk lebih meminimalisasi kontaminasi mikroorganime. Disini merupakan tempat penimbangan, dimana ditimbang vitamin B6 sebanyak 1 gram dengan cawan porselin, kemudian dimasukkan ke dalam Pass Box. 4. Dalam white area (dilakukan proses pencampuran), sebagian API (Aqua Pro Injection) yang akan digunakan dalam pembuatan sediaan obat dimasukkan kedalam beacker glass. Kemudian ditambahkan sedikit demi sedikit vitamin B6, aduk ad larut. 5. Disiapkan Erlenmeyer, corong dan kertas saringnya serta membasahkan kertas saring yang akan digunakan dengan sedikit API. 6. Disaring larutan dalam gelas ukur melalui corong ke dalam erlenmeyer yang telah disiapkan. 7. Dilakukan pengukuran pH hingga sesuai dengan pH sediaan. 8. Dibilas beacker glass yang digunakan untuk melarutkan vitamin B6 dengan sisa API kemudian menyaringnya ke dalam erlenmeyer yang berisi filtrat larutan sebelumnya. 9. Diisikan larutan obat ke dalam Ampul berwarna gelap sebanyak 2,15 ml dengan menggunakan spuit. 10. Ditutup Ampul dengan panas api dari bunsen gas. 11. Disterilkan sediaan dalam Autoklaf pada suhu 115-116: C selama 30 menit. 12. Dilakukan evaluasi terhadap sediaan dan wadah.

BAB V. EVALUASI 1. Potensi/Kadar Penentuan kadar dilakukan dengan SP UV, HPLC, SP IR dll. (Evaluasi tidak dilakukan) 2. pH pH sediaan diukur dengan menggunakan kertas lakmus setelah sediaan jadi. pH sediaan kami yaitu 3. 3. Warna Warna yang terjadi pada sediaan adalah bening. 1. Kekeruhan Alat yang dipakai adalah Tyndall, karena larutan dapat menyerap dan memantulkan sinar. Idealnya larutan parenteral dapat melewatkan 92-97% pada waktu dibuat dan tidak turun menjadi 70% setelah 3-5 tahun. Terjadinya kekeruhan dapat disebabkan oleh : benda asing, terjadinya pengendapan atau pertumbuhan m.o. Evaluasi ini hanya dilihat oleh kasat mata karena tidak tersedianya alat tyndall. Secara fisik sediaan yang kami buat tergolong jernih atau bebas pirogen. (evaluasi tidak dilakukan) 5. Bau Sediaan yang kami buat tidak memiliki bau. 6. Toksisistas Lakukan uji LD 50 atau LD 0 pada sediaan parenteral selama penyimpanan. (evaluasi tidak dilakukan) 7. Evaluasi Wadah Wadah yang kami gunakan adalah ampul 1 ml dengan kepala ampul terbuka, karena tidak tersediannya alat untuk menutup ampul tersebut.

BAB VI. PEMBAHASAN Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan, atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan kedalam kulit atau melaui kulit atau selaput lender. Pada praktikum kali ini kami membuat sediaan parenteral volume kecil yaitu sediaan injeksi dengan pelarut larut air

dan sebagai zat aktifnya yaitu vitamin B6 atau Piridoksin HCl dengan rute IM. Dimana pada pemberian IM sebaiknya isotonis, kadang dibuat sediaan hipertonis untuk mempermudah absorpsi jaringan, volume yang disuntikkan 2 ml di daerah deltoid. Pada saat pengerjaan tidak banyak kendala yang kami temukan karena dari data preformulasi vitamin B6 diketahui kelarutan vitamin B6 vit B6 tergolong mudah larut dalam sehingga dibuat sediaan larutan dengan pembawa air yaitu aqua pro injeksi. pH stabilitas dari vitamin B6 yaitu pada pH 2,0-3,8 sehingga pH sediaan dibuat mendekati pH stabilitas zat aktif sehingga penguraian zat aktif dapat diminimalkan dan memberikan efek farmakologi yang optimal. Jika dihitung tonisitas sediaan kami menggunakan metode turunnya titik beku dan didapatkan sediaan kami bersifat hipertonis karena didapatkan hasil negate yaitu – 0.9397. Piridoksin HCl yang kami gunakan disterilisasi dengan sterilisasi akhir menggunakan autoklaf dan tidak harus dengan cara filtrasi karena tidak ada data ketidakstabilan pada suhu 115-116˚C. Seharusnya sebelum proses pencampuran, seluruh alat dan bahan harus disterilkan terlebih dahulu sesuai dengan cara sterilisasi masing-masing alat, namun karena keterbatasan waktu maka sterilisasi awal untuk alat dan bahan didispensasi. Air merupakan suatu pembawa utama pada sediaan parenteral. Air juga digunakan pada pencucian, pembilasan dan pada proses sterilisasi. Suplai air harus menjamin kualitas air yang sesuai dengan kebutuhan mulai dari proses awal hingga akhir. Untuk kepentingan farmaseutik, air perlu perhatian khusus seperti kontaminasi elektrolit, zat organik, partikel, gas terlarut (CO2) dan mikroorganisma. Air untuk injeksi harus memiliki kemurnian yang tinggi dan bebas pirogen. Untuk itu, API yang kami gunakan dilakukan dengan proses pendidihan yaitu aquabidest dimasukkan kedalam Erlenmeyer tutup dengan kaca arloji, kemudian dipanaskan pada penangas setelah memdidih hitung selama 30 menit. Sediaan injeksi B6 kami tidak menggunakan pengawet karena kami menggunakan dosis tunggal. Dan sesuai dengan formularium nasional, B6 juga tidak memerlukan zat pengisotoni karena sudah hipertonis. Dosis kami buat adalah 100 mg/ml yang dibuat untuk 2 ml dengan kekuatan sediaan 50mg/ml, yaitu dengan menimbang vitamin B6 sebanyak 1 gram dengan aqua pro injeksi sebanyak 20 ml.

Langkah selanjutnya adalah proses pencampuran. Proses pencampuran dilakukan dengan mencampurkan 5 ml API dengan vitamin B6 hingga larut dan kemudian 4 ml API digunakan untuk membilas kaca arloji kemudian disaring dengan menggunakan corong yang didalamnya diberi kertas saring yang telah dibasahi oleh API. Selanjutnya 5 ml API digunakan untuk membilas beker yang digunakan saat pencampuran dan disaring. Pembilas dilakukan untuk meminimalisir hilangnya zat aktif pada alat. Kemudian dilakukan pengecekan pH dengan menggunakan indicator pH universal dan didapatkan pH sediaan = 6 sedangkan pH stabilitas zat aktif = 2,0-3,8 sehingga perlu ditambahkan asam encer dalam hal ini kami menggunakan HCl 15 tetes sampai pH sediaan mendekati pH stabilitas zat aktif dan dilakukan pengecekan pH kembali, barulah didaptkan pH sediaan kami = 3. Pemindahan sediaan dari erlenmeyer kedalam ampul dilakukan dengan spuit. Setelah sediaan jadi, langkah selanjutnya adalah penutupan mulut ampul dan disterilisasi akhir dengan autoklaf. Hal ini tidak dapat dilakukan karena alat penutup ampul tidak tersedia saat itu dan waktu praktikum yang sudah habis sehingga sediaan tidak disterilisasi akhir. Selanjutnya adalah evaluasi. Hal pertama yang kami evaluasi adalah fisik sediaan yaitu bau dan warna. Sediaan kami tidak memiliki bau, karena vit B6 bersifat tidak berbau dan dihasilkan sediaan yang berwarna bening. Selanjutnya pH, pH sediaan kami adalah 3 yang sesuai dengan data praformulasi kami yaitu piridoksin HCl yang stabil pada pH 2 – 3,8.

I.

FORMULA PUSTAKA PYRIDOXINI INJECTIO Injeksi piridoksina Injeksi vitamin B6 Komposisi tiap mL mengandung: Pyridoxini Hydrochloridum 50 mg Aqua pro Injectione ad 51 mL Penyimpanan dalam wadah dosis tunggal, terlindung dari cahaya Dosis sehari 1 mL sampai 3 mL dalam dosis bagi Catatan: 1. pH 2,0 – 3,8 2. disterilkan dengan cara Sterilisasi A atau C 3. Sediaan berkekuatan lain: 100 mg

II.

FORMULASI  Perhitungan Tonisitas metode Penurunan titik beku menurut Farmakope Indonesia III (hal 192) Suatu larutan dalam air dinyatakan dalam isotonus dengan serum atau cairan mata jika membeku pada suhu -0,520C untuk memperoleh larutan isotonis dapat ditambahkan NaCl atau zat lain yang cocok dan dapat dihitung dengan rumus:

Dimana: B: bobot dalam gram zat yang ditambahkan dalam 100ml hasil akhir b1:penurunan titik beku air yang dikembalikan oleh 1% b/v zat khasiat. b2:penurunan titik beku air karena penambahan 1% b/v zat tambahan C: tetapan kadar zat khasiat dalam 1% b/v Menurut buku Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi Terdapat 3 jenis keadaan tekanan osmosis larutan obat, yaitu: 1. Keadaan isotonis apabila nilai B = nol, b1C = 0,52 2. Keadaan hipotonis apabila nilai B positif, b1C < 0,52 3. Keadaan hipertonis apabila nilai B negatif, b1C > 0,52 Perhitungan Tonisitas dari Formulasi ΔTf Piridoksin HCl 1% menurut Farmakope Indonesia III= 0,213 Maka tonisitasnya adalah:

Sediaan parenteral volume kecil, yang hipotonis tidak boleh digunakan. Karena dapat menyebabkan hemolisa. Sehingga kedalam larutan yang hipotonis ditambahkan zat peng-isotonis seperti NaCl. Sedangkan sediaan yang sedikit hipertonis boleh digunakan. Hanya diberikan perhatian bahwa penginjeksian sediaan harus dilakukan perlahan-lahan. Kesimpulan: pada formula ini, sediaan memiliki tonisitas yang hipertonis dan masih dalam kisaran yang diizinkan. Sehingga pada formulasi tidak dilakukan perubahan kekuatan sediaan, maupun penambahan zat pengisotonis.  pH

Penambahan larutan dapar dalam larutan hanya dilakukan untuk larutan obat suntik dengan pH 3,5 – 7,5. Untuk pH >1 atau <3 sebaiknya tidak didapar karena sulit dinetraliskan. Menurut literatur, sediaan injeksi sebisa mungkin dibuat sesuai dengan pH darah yaitu 7,4 (isohidri). Namun yang paling utama adalah pH sediaan yang dibuat disesuaikan dengan pH stabilitas bahan aktif. Rute pemberian Piridoksin HCl adalah melalui intra muskular (IM) atau intra vena (IV). Sehingga tidak ada ketentuan sediaan yang diberikan harus isohidri jika diberikan melalui rute IM maupun IV. pH sediaan injeksi Piridoksin HCl menurut FI III dan Fornas adalah 2,0 – 3,8, sama dengan pH larutan 5% dalam air menurut Ph. Eur. 6.2 yaitu 2,4 - 3.0. Kesimpulan: pH sediaan yang kami buat tidak diubah menyesuaikan terhadap pH stabilitas bahan aktif. pH larutan 5% dalam air sama dengan pH sediaan injeksi. Serta tidak ada ketentuan khusus untuk rute IM dan IV sediaan harus isohidri.  Antioksidan Sediaan ini menggunakan pembawa air, dan tidak terkandung minyak ataupun bahan lain yang mudah teroksidasi. Kesimpulan: Sehingga tidak diperlukan zat antioksidan. Pengawet Pengawet atau anti mikroba harus diberikaan pada sediaan injeksi bila injeksi yang dikemas dalam wadah dosis ganda dengan metode sterilisasi apapun , dan pada sediaan yang tidak dilakukan sterilisasi akhir. Kecuali dinyatakan lain dalam masingmasing monografi, atau kecuali bahan aktifnya sendiri sudah berupa bahan anti mikroba. Kesimpulan: tidak ditambahkan pengawet atau anti mikroba pada formulasi karena sediaan yang dibuat merupakan dosis tunggal dan dilakukan sterilisasi akhir, yaitu sterilisasi A atau C

III.

FORMULA AKHIR Pyridoxini Hydrochloridum Aqua pro Injectione ad

50 mg 101 mL

IV.

PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN Volume tiap ampul 1,1 mL Kelebihan volume yang dianjurkan 0,1 mL + Volume sediaan yang diisikan (v ’) 1,1 mL

Volume sediaan yang akan dibuat: V = *(n+2)v ’ + (2x3)+ mL V = [(3+2)1,1 + 6] mL V = 11,5 mL ≈ 20 mL Keterangan: V: Volume sediaan yang akan dibuat n: jumlah ampul v ’: Volume sediaan yang diisikan (2 x 3) mL : volume untuk membilas spuit Maka Pyridoxin yang ditimbang sebanyak: 50 mg x 20 = 1 gram V. PROSEDUR 1. Pyridoxin digerus dan ditimbang sebanyak 1 gram menggunakan kaca arloji 2. Tuangkan sejumlah tertentu API untuk melarutkan zat yang ditimbang (+ 5 mL). 3. Zat aktif yang telah ditimbang  dimasukkan kedalam beaker glass  Kaca arloji kemudian dibilas 2 kali dengan API. 4. Setelah zat aktif dan semua zat tambahan terlarut, larutan tersebut kemudian dituang ke dalam gelas ukur sehingga volume tertentu di bawah volume akhir  in process control dilakukan dengan mengukur pH sediaan  genapkan hingga 20 mL 5. Tuangkan jumlah tertentu API untuk membasahi kertas saring lipat yang telah diletakkan ke dalam corong yang akan digunakan  corong + kertas saring tersebut dipindahkan ke erlenmeyer lain yang bersih dan kering 6. Saring larutan dalam gelas ukur melalui corong kedalam Erlenmeyer yang telah disiapkan. 7. Isikan larutan kedalam wadah ampul, vial dengan menggunakan spuit. 8. Aliri uap air (jika perlu/dispensasi) 9. Aliri gas nitrogen (jika perlu) 10. Ampul ditutup dengan api dan disterilkan menggunakan autoklaf secara terbalik dalam beaker glass yang telah diisi kapas (121oC selama 15 menit) 11. Setelah sterilisasi akhir, dilakukan evaluasi sediaan EVALUASI  pH o volume 18 mL pH = 3 o volume 20 mL pH = 3 - 4

VI.

   VII.

Kejernihan = Jernih, tidak ada partikel melayang atau tak terlarutkan. Volume terpindahkan = 1 mL Kebocoran = tidak dilakukan uji,karena tidak dapat dilakukan penutupan ampul.

PEMBAHASAN Dalam praktikum ini, dilakukan pembuatan sediaan parenteral volume kecil dengan pembawa air. Dalam farmakope, yang dimaksud dengan injeksi volume kecil adalah injeksi yang dikemas dalam wadah bertanda volume 100 mL atau kurang. Air sebagai zat pembawa injeksi memenuhi syarat Uji Pirogen <231>, Uji Endotoksin Bakteri <201> seperti yang tertera dalam monografi. Kecuali dinyatakan lain dalam monografi, pada umumnya digunakan Air untuk Injeksi sebagai zat pembawa. Aqua Steril Pro Injectione (aqua steril untuk injeksi) adalah air untuk injeksi yang disterilkan dan dikemas dengan cara yang sesuai. Tidak mengandung bahan antimikroba atau bahan tambahan lainnya. Berbentuk cairan jernih, tidak berwarna dan tidak berbau. Zat aktif yang digunakan pada praktikum sediaan parenteral volume kecil dengan pembawa air kali ini adalah Pyridoxin HCl. Menurut American Hospital Formulary Service edisi 2004, Vitamin B6 (atau dikenal sebagai pyridoxine, pyridoxal, dan pyridoxamine) adalah vitamin larut air, merupakan komponen vitamin B kompleks yang terdapat dalam makanan, termasuk biji-bijian sereal, kacang-kacangan, sayuran, hati, daging, dan telur. Secara komersial tersedia sebagai piridoksin hidroklorida sintetis. Pyridoxine hydrochloride berbentuk kristal putih bebas larut dalam air dan sedikit larut dalam alkohol. Obat tersebut memiliki rasa pahit, sedikit asin. Natrium hidroksida dan / atau asam klorida yang ditambahkan ke tersedia secara komersial dalam injeksi piridoksin hidroklorida untuk menyesuaikan pH 2 – 3,8. Pyridoxine Hidroklorida peka terhadap cahaya dan akan terdegradasi perlahan-lahan bila terkena cahaya. Sediaan Pyridoxine hidroklorida harus terlindungi dari cahaya dan disimpan dalam wadah tertutup baik pada suhu kurang dari 40°C, pada suhu antara 15-30 ° C; pembekuan injeksi harus dihindari. Hidroklorida Pyridoxine tidak kompatibel dengan larutan alkali, garam besi, dan agen pengoksidasi. Pyridoxine hydrochloride biasanya diberikan secara oral, namun, obat bisa diberikan secara IM, IV, atau injeksi subkutan saat pemberian secara oral tidak memungkinkan. Pada bayi yang mengalami kejang, piridoksin hidroklorida harus diberikan melalui injeksi IM atau IV. Untuk pengobatan defisiensi pyridoxine pada orang dewasa, dosis lazim oral piridoksin hidroklorida adalah 2,5-10 mg sehari. Setelah tandatanda klinis defisiensi telah diobati, sediaan multivitamin yang mengandung 2-5 mg piridoksin hidroklorida harus diberikan setiap hari selama beberapa minggu. Untuk mengobati defisiensi-anemia atau neuritis, dosis oral biasa piridoksin hidroklorida adalah 100-200 mg sehari selama 3 minggu diikuti oleh profilaksis oral 25-100 mg sehari.

Untuk memperbaiki biokimia tubuh disugestikan piridoksin pada wanita yang menggunakan kontrasepsi oral, dosis lazim oral piridoksin hidroklorida adalah 25-30 mg per hari. Formula pustaka yang digunakan sebagai acuan adalah formula Injeksi Vitamin B6 dari Formularium Nasional. Dalam formula tersebut tidak ditambahakannya bahan pembantu atau zat tambahan. Zat tambahan pada sediaan steril digunakan untuk meningkatkan kelarutan zat aktif, menjaga kestabilan zat aktif, menjaga sterilitas sediaan multi dose, mempermudah dan menjaga kemanaan pemberian. Bahan pembant tersebut mempunyai persyaratan yaitu inert secara farmakologi, fisika maupun kimia; tidak toksik dalam jumlah yang diberikan dan tidak mempengaruhi pemeriksaan obat. Kerja optimal larutan obat yang diberikan secara parenteral hanya diperoleh jika memenuhi persyaratan : Sesuai antara kandungan bahan obat yang ada didalam sediaan dengan pernyataan tertulis pada etiket dan tidak terjadi pengurangan kualitas selama penyimpanan akibat perusakan obat secara kimiawi dan lain sebagainya; Penggunaan wadah yang cocok, sehingga tidak hanya memungkinkan sediaan tetap steril, tetapi juga mencegah terjadinya interaksi antara bahan obat tanpa terjadinya interaksi antara bahan obat dan wadah; Tersatukan tanpa terjadi reaksi; Bebas kuman; Bebas pirogen; sedapat mungkin Isotonis; sedapat mungkin Isohidri dan Bebas partikel melayang. Rute pemberian injeksi Piridoksin HCl adalah melalui intra muskular atau intra vena. Intramuskular (i.m.), disuntikkan kedalam jaringan otot, umumnya otot pantat dan paha. Persyaratan sediaan yang diberikan melalui intra muskular adalah larutan sebaiknya isotonis, Sediaan dapat berupa larutan, emulsi atau suspense. Sedangkan
Intravena (i.v.) cara pemberiannya yaitu disuntikkan kedalam pembuluh darah. Dengan persyaratan larutan dalam volume kecil (dibawah 5 ml) sebaiknya isotonis dan isohidri,

sedangkan volume besar (infus) Harus isotonis dan isohidri; Obat harus berada dalam larutan air, bila emulsi lemak partikel minyak tidak boleh lebih besar dari ukuran partikel eritrosit, sediaan suspensi tidak dianjurkan; Larutan hipertonis disuntikkan secara lambat, sehingga sel-sel darah tidak terpengaruh; Zat aktif tidak boleh merangsang pembuluh darah; Adanya partikel dapat menyebabkan emboli; Pada pemberian dengan volume 10 ml atau lebih sekali suntik harus bebas pirogen Dalam formulasi, tidak ditambahkan zat pengisotonis. Isotonis adalah suatu keadaan tonisitas (tekanan osmosis) larutan obat yang sama dengan tonisistas cairan tubuh kita (misalnya darah dan air mata). Suatu larutan dinyatakan isotonis jika membeku pada suhu -0,52oC. Perhitungan tonisitas dapat dilakukan dengan menggunakan rumus Penurunan Titik Beku menurut Farmakope Indonesia edisi III. Pada saat perhitungan tonisitas dari formula pustaka, terlihat bahwa larutan yang dihasilkan adalah larutan yang hipertonis. Hipertonis berarti tonisitas larutan obat lebih besar dari

pada cairan tubuh. Oleh karena sediaan injeksi volume kecil yang diberikan melalui IV dan IM tidak diharuskan dalam kondisi isotonis, maka tidak dilakukan perubahan pada formula (seperti penurunan kekuatan sediaan). Karena jika dosis diturunkan, maka tidak dapat mencapai efek terapeutik yang diharapkan. Sedangkan jika dilakukan penurunan kekuatan sediaan (volume dinaikkan) dikhawatirkan akan menimbulkan kesulitan pada pemberian karena rasa sakit yang ditimbulkan harus berlangsung lebih lama. Selain tidak digunakannya zat pengisotonis, dalam formulasi juga tidak digunakan zat pengatur pH. sediaan injeksi parenteral volume kecil yang diberikan melalui IM dan IV tidak diharuskan dalam kondisi yang isohidris. Suatu larutan dinyatakan isohidri jika pH yang dihasilkan sama dengan pH darah, yaitu 7,4. Menurut literatur, sediaan injeksi larutan 5% dalam bahan pembawa air mempunyai pH 2,4 - 3.0. pH tersebut telah sesuai dengan pH stabilitas sediaan, sehingga tidak dilakukannya perubahan pH. Selain itu penambahan larutan dapar dalam larutan hanya dilakukan untuk larutan obat suntik dengan pH 3,5 – 7,5. Untuk pH >1 atau <3 sebaiknya tidak didapar karena sulit dinetraliskan. Penambahan zat pengawet dan anti mikroba juga tidak dilakukan dalam formulasi. Pengawet atau anti mikroba harus diberikaan pada sediaan injeksi bila injeksi dikemas dalam wadah dosis ganda dengan metode sterilisasi apapun , dan pada sediaan yang tidak dilakukan sterilisasi akhir. Kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi, atau kecuali bahan aktifnya sendiri sudah berupa bahan anti mikroba. Sedangkan sediaan yang dibuat merupakan sediaan dengan dosis tunggal dan dilakukan sterilisasi akhir, yaitu sterilisasi A. Sehingga tidak memenuhi kriteria sediaan yang harus ditambahkan pengawet. Oleh karena sediaan injeksi langsung terdistribusi dalam tubuh, maka sebaiknya penambahan zat tambahan dilakukan seminimal mungkin. Bila tidak perlu sebaiknya tidak perlu dipakai. Dengan pertimbangan seperti penjelasan diatas, maka formula akhirnya sama dengan formula pustaka tanpa perubahan formulasi maupun penambahan zat apapun. Menurut Formularium Nasional, sediaan injeksi Pyridoxin disterilisasi akhir dengan menggunakan Sterilisasi A atau C. Menurut literatur, sterilisasi A adalah sterilisasi dengan menggunakan Autoklaf (panas basah). Sedangkan sterilisasi C adalah sterilisasi dengan proses Filtrasi (penyaringan). Sehingga dalam praktikum ini digunakan strilisasi A, dengan alasan kepraktisan dalam pengerjaan, dan juga karena tidak tersedianya alat unit penyaringan membran. Sterilisasi dilakukan dengan mensterilkan alat-alat yang digunakan. Alat yang tahan panas dan bukan merupakan alat yang volumetrik disterilkan dengan menggunakan oven (panas kering) pada suhu 170 oC selama 60 menit. Alat yang tahan panas, tahan lembab dan bersifat volumetrik disterilisasikan dengan menggunakan autoklaf (panas basah) 115 – 116oC. Sedangkan alat karet disterilkan dengan proses perebusan selama 30 menit.

Pembuatan Aqua Pro Injeksi Bebas Oksigen dan Kerbondioksida, dilakukan dengan pemanasan aquabidest dalam wadah erlenmeyer yang disumbat kapas pada suhu 100oC, setelah mendidih kemudian tunggu selama 30 menit untuk mendapatkan air bebas CO2. Tunggu 10 menit lagi untuk mendapatkan API bebas O2. Pada saat proses pengerjaan dilakukan In Process Control yaitu uji kejernihan larutan dan pH larutan. Kejernihan larutan injeksi Pyridoxin yang dihasilkan adalah jernih, bebas partikel yang tidak terlarutkan maupun partikel melayang. Uji pH dilakukan 2 kali, yaitu pada volume di bawah volume akhir dan ketika suhu akhir. Tujuan dilakukannya pengukuran pada volume akhir adalah jika pH yang dihasilkan tidak sesuai dengan ketentuan maka dapat ditambahkan zat peng-adjust pH seperti HCl encer atau NaOH encer. Pada saat pengujian pertama (pada saat volume 18 mL) dihasilkan larutan dengan pH 3 – 4. Sedangkan pH larutan yang diharapkan adalah 2,8 – 3. Sehingga dalam praktikum ditambahkan HCl 1 M kurang lebih 30 tetes, namun tetap tidak dicapainya pH 3. Sehingga pH larutan akhir adalah pH 3 – 4. Evaluasi akhir yang dilakukan adalah uji volume terpindahkan. Sedangkan uji kebocoran tidak dapat dilakukan, dikarenakan habisnya oksigen sehingga ampul tidak dapat ditutup. Penetapan volume injeksi yang dimasukkan dalam wadah agar volume injeksi yang digunakan tepat atau sesuai dengan yang tertera pada penandaan. Tiap wadah Injeksi diisi dengan sejumlah volume sedikit berlebih dari volume yang tertera pada etiket atau volume yang akan diambil. Kelebihan volume yang dianjurkan dalam tabel yang tertera pada Penetapan Volume Injeksi dalam Wadah <1131>, umumnya cukup untuk memenuhi volume pengambilan dan pemakain seperti yang tertera pada etiket. Kelebihan volume yang dianjurkan Volume tertera dalam penandaan Untuk cairan encer Untuk cairan kental 0,5 ml 0,10 ml 0,12 ml 1,0 ml 0,10 ml 0,15 ml 2,0 ml 0,15 ml 0,25 ml 5,0 ml 0,30 ml 0,50 ml 10,0 ml 0,50 ml 0,70 ml 20,0 ml 0,60 ml 0,90 ml 30,0 ml 0,80 ml 1,20 ml 50,0 ml atau lebih 2% 3% Volume sediaan yang dibuat adalah 1 mL dengan penambahan volume 0,1 mL. Uji volume terpindahkan dilakukan dengan cara mengambil sediaan dari dalam ampul menggunakan spuit. Dalam pengujian volume dari dalam wadah yang dapat terambil dari dalam spuit adalah 1 mL. Tujuan dari penambahan volume dalam preparasi adalah

mencegah hilangnya volume sediaan karena tertinggal dalam wadah dan hilang saat penghilangan gelembung pada spuit saat pemberian. Menurut Farmakope Indonesia ed IV, Pada etiket tertera nama sediaan, untuk sediaan cair tertera presentase atau jumlah zat aktif dalam volume tertentu, untuk sediaan kering tertera jumlah zat aktif, cara pemberian, kondisi penyimpanan dan tanggal kadaluarsa; nama pabrik pembuat dan atau pengimpor serta nomor lot atau bets yang menunjukan identitas. Nomor lot dan atau bets dapat memberikan informasi tentang riwayat pembuatan lengkap meliputi seluruh proses pengolahan, sterilisasi, pengisian, pengemasan dan penandaan. Bila formula lengkap tidak tertera lengkap pada masing-masing monografi, Penandaan mencakup informasi berikut: untuk sediaan cair, presentasi isi atau jumlah tiap komponen dalam volume tertentu, kecuali bahan yang ditambahkan untuk penyesuaian pH atau untuk membuat larutan isotonic, dapat dinyatakan dengan nama dan efek bahan tersebut. Pemberian etiket pada wadah sedemikian rupa sehingga sebagian wadah tidak tertutup oleh etiket, untuk mempermudah pemeriksaan isi secara visual. Pada praktikum kali ini penandaan pada sediaan yang dibuat (etiket) mencantumkan merk sediaan, volume sediaan, kekuatan dosis, nomer registrasi, cara penyimpanan, nama dan logo produsen, nomer batch, expired date dan logo obat keras. I. FORMULA PUSTAKA Tiap ml mengandung : Cyanocobalaminum Aqua Pro Injection hingga Catatan : 1 mg 1 ml

o Pada pembuatan ditambahkan Asam stearat atau asam klorida encer secukupnya hingga pH lebih kurang 4,5. Dapat juga ditambahakn Natrium Dihidrogenfosfat. o Ditambahkan Natrium Korida secukupnya. o Dapat ditambah fenil raksa (II) nitrat 0,001% b/v atau Benzil alcohol 1% b/v. o Disterilkan dengan cara sterilisasi a, B atau C o Sediaan berkekuatan lain : 500µg

II.

PERHITUNGAN TONISITAS

x

= 0.2175 g = 217,5 mg

III. FORMULASI AKHIR Tiap ml mengandung Cyanocobalaminum NaCl Aqua Pro Injeksi ad

: 1mg 1ml

Dibuat sediaan dalam ampul dengan volume 2ml, sehingga tiap 2 ml mengandung : Cyanocobalaminum 2mg NaCl Aqua Pro Injeksi ad 2ml IV. PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN o Volume sediaan = (n+2)V ’ + (2x3) ml = (3+2) 2.15 + 6 ml = 16,75 ml dilegihkan hingga 25 ml o Cyanocobalaminum o Aqua Pro Injeksi o NaCl V. STERILISASI ALAT o Untuk ampul sebelumnya dicuci dahulu dengan aquades yang dilewatkan saringan G3 (dispensasi) dan dikepret-kepretkan untuk mengeluarkan air dari dalam ampul. Ampul yang telah dicuci dimasukkan ke dalam wadah/kantong yang terbuat dari kertas perkamen, kemudian baru di sterilkan dalam oven dengan suhu 170 C selama 30 menit. Jika akan digunakan ampul dikeluarkan dari dalam wadah/kantong. o Sedangkan syringe sudah ada dalam keadaan steril. VI. PROSEDUR KERJA Cara Kerja Sediaan Sianokobalamin = = ad 25 ml = 217,5 mg = 25 mg = 0.025 g

o Alat - alat yang dibutuhkan disiapkan, bila perlu dicuci kembali sebelum alat-alat digunakan. Kemudian dimasukkan ke dalam satu keranjang dan di bawa ke area grey. o Bahan – bahan ditimbang di dalam grey area dan diletakkan di atas kaca arloji. o Bahan – bahan yang telah ditimbang kemudian diletakkan ke dalam keranjang bersama dengan alat – alat yang akan digunakan. Kemudian dibawa ke white area melalui pass box. o Setelah itu zat aktif dilarutkan di dalam beacker glass dengan menggunakan aqua pro injeksi sebanyak 18 ml. o Zat aktif dihomogenkan dengan menggunakan batang pengaduk o Kemudian dilakukan pengamatan kadar keasaman (pH) dari zat aktif yang telah dilarutkan. o Setelah itu bahan lain berupa NaCl dilarutkan dengan Aqua Pro Injeksi ad larut dan dicampurkan ke larutan vitamin B12 yang sudah tersedia di bezcker glass. o Dilakukan pengamatan kembali terhapad kadar keasaman (pH) dari campuran larutan tersebut. Sebagai catatan bahwa kadar pH harus berada pada rentang 4,5 – 7,0. o Setelah itu Erlenmeyer, Corong dan Kertas saring disiapkan untuk menyaring larutan. Kertas saring sebelumnya dibasahi dengan aqua pro injeksi. o Setelah itu larutan disaring dengan kertas saring dan ditambahkan 5 ml aqua pro injeksi agar volumenya menjadi 25 ml. o Ketika semua larutan telah disaring maka dilakukan pengamatan kembali terhadap kadar keasaman (pH) sediaan yang sudah dihasilkan. o Kemudian larutan sediaan diambil dengan menggunakan syringe sebanyak 2 ml dan dimasukkan ke dalam ampul. Hal ini dilakukan sebanyak 3 kali untuk 3 ampul. o Setelah itu mulut ampul ditutup dengan menggunakan sumbat kapas. (sebagai catatan seharusnya ditutup dengan pemanasan menggunakan oksigen, namun hal ini tidak dilakukan karena oksigen yang dibutuhkan tidak ada). o Sediaan yang sudah jadi diletakkan ke dalam beacker glass yang sudah diberi kapas di dalamnya. Ampul diletakkan terbalik, dimana mulut ampul menyentuh kapas yang terdapat dalam beacker glass. o Proses terakhir yaitu membawa sediaan dan peralatan yang telah digunakan keluar dari white area melalui pass box.

o Kemudian sediaan disterilkan di dalam autoklaf selama 30 menit di dalam autoklaf. o Sediaan yang telah di sterilkan diberi etiket dan dilakukan evaluasi.

VII. EVALUASI o Kejernihan : Larutan jernih dan tidak ada bahan lain yang tak larut : tidak dilakukan karena mulut ampul belum ditutup o Volume kebocoran o pH sediaan VIII. PEMBAHASAN Injeksi vitamin B12 yang beredar di pasaran lebih dikenal dengan nama injeksi sianokobalamin, yang memang berasal dari nama asli dari senyawa ini. Sediaan biasanya berwarna merah yang merupakan warna dari zat aktif dan hanya terdapat dalam bentuk sediaan parenteral volume kecil. Hal ini karena sediaan memang dimaksudkan penggunaannya untuk sekali pakai karena jika penggunaannya dilakukan berulang maka tingkat sterilitasnya akan berkurang serta dosis yang diberikan juga kecil sehingga dibuatlah sedian parenteral volume kecil. Sediaan injeksi yang beredar di pasaran berdasarkan literatur yang didapat biasanya memiliki dosis 500mcg dan 1000mcg / ml injeksi. Dengan indikasi sebagai pencegahan dan pengobatan anemia perisiosa dan anemia makrositer. Dosis awal yang diberikan yaitu 100mcg sehari selama 3xseminggu, namun setelah ada perbaikan dosis dapat dikurangi menjadi 1000mcg setiap bulan. Sediaan injeksi yang akan dilempar di pasaran harus memiliki kriteria dan persyaratan steril sesuai yang telah ditetapkan oleh Farmakope Indonesia. Pada percobaan yang akan dilakukan kali ini yaitu membuat sediaan parenteral volume kecil berupa injeksi sianokobalamin akan dilakukan langkahlangkah agar sediaan yang dihasilkan memenuhi persyaratan yang telah terstandarisasi di Farmakope Indonesia. Walaupun kondisi ruang kerja dan kerja di laboraturium terdapat hal-hal yang tidak memenuhi persyaratan

o Volume terpindahkan : tidak dilakukan : 5 (masuk ke dalam rentang 4,5 – 7,0)

standar proses sterilisasi, namun hal ini sebagai dispensasi dan tetap harus dimengerti oleh kami sebagai praktikan. Terdapat hal-hal yang memang tidaklah mengikuti prosedur standar pengerjaan pembuatan steril dan hal inilah yang menjadi evaluasi dari cara kerja yang telah dilakukan dan akan dilakukan pembahasan mengenai semuanya. Proses pembuatan sediaan steril dimulai dengan penyiapan alat-alat yang akan digunakan. Jika memang pengkerjaan yang dilakukan berupa sterilisasi awal maka alat-alat yang akan digunakan disterilkan terlebih dahulu. Proses pembuatan sediaan steril ini disebut dengan proses aseptic. Cara aseptic bukanlah suatu cara sterilisasi melainkan suatu cara kerja untuk memperoleh sediaan steril dengan mencegah kontaminasi jasad renik dalam sediaan. Proses ini dilakukan untuk zat aktif yang peka terhadap suhu tinggi dan dapat mengakibatkan penguraian dan penurunan kerja farmakologinya. Untuk sediaan yang akan dibuat pada uji coba kali ini tidak terlalu peka terhadap suhu tinggi sehingga proses sterilisasi dapat dilakukan di akhir. Cara sterilisasi akhir merupakan cara sterilisasi yang umum dan paling banyak digunakan dalam pembuatan sediaan steril. Dengan cara ini sediaan disterilkan pada tahap terakhir pembuatan sediaan. Sehingga alat-alat yang akan digunakan dapat langsung digunakan tanpa harus disterilkan terlebih dahulu. Proses sterilisasi merupakan serangkaian proses untuk memperoleh suatu sediaan steril yang bebas dari kontaminasi jasad renik dalam sediaan. Hal ini dimaksudkan karena sediaan akan langsung beredar bersama darah ke seluruh tubuh dan darah adalah medium yang paling bagus untuk tumbuhnya bakteri sehingga jika kondisi sediaan masih terdapat bakteri atau jasad renik lainnya (kurang atau tidak steril) maka bukannya mengobati penyakit tetapi justru menimbulkan penyakit baru bagi pasien. Setelah proses penyiapan alat-alat selanjutnya dilakukan penimbangan bahan di grey area yang kemudian bahan tersebut dimasukkan ke white area melalui pass box. Proses pencampuran bahan pun dilakukan disini. Proses pencampuran dimulai dengan melarutkan zat aktif dan bahan-bahan padatan lainnya dengan menggunakan Aqua Pro Injeksi. Proses penglarutan bahan dilakukan dengan memasukkan terlebih dahulu aqua pro injeksi ke dalam

beacker glass baru kemudian zat aktifnya. Setelah itu sisa zat aktif yang masih tertinggal di kaca arloji dilakukan pembilasan dengan menggunakan aqua pro injeksi. Aqua pro injeksi yang dibutuhkan untuk melarutkan zat aktif yaitu sebanyak 18 ml. Sedangkan aqua pro injeksi yang dibutuhkan untuk melarutkan NaCl hanya 2 ml. Proses pembuatan aqua pro injeksi sudah dijelaskan sebelumnya di kolom cara kerja. Setelah bahan-bahan telah larut kemudian dilakukan pencampuran di dalam beacker glass dan dicatat volume aqua pro injeksi yang digunakan. Sehingga ketika akan dilakukan peng add an dengan aqua pro injeksi didapat volume yang tepat. Setelah seluruh bahan dicampurkan kemudian dilakukan pengamatan terhadap kadar keasaman dari campuran larutan sebelum di add dengan air. Dan berdasarkan hasil pengamatan didapat pH campuran yaitu 6. Setelah itu campuran tersebut disaring menggunakan kertas saring yang sebelumnya telah dibasahi dahulu dengan aqua pro injeksi. Kemudian di add dengan aqua pro injeksi sebanyak 5 ml, dimana proses peng add an dilakukan di tempat yang sama. Jadi aqua pro injeksi pun di saring pula dengan kertas saring. Setelah itu dilakukan pengamatan ulang terhadap kadar keasaman sediaan. Dari hasil pengamatan didapatlah pH sediaan dengan nilai 5. Disini pH menjadi lebih asam dengan penambahan aqua pro injeksi. Setelah itu sediaan yang sudah jadi dimasukkan ke dalam ampul 2ml sebanyak 3 buah dengan menggunakan syringe. Hal ini dilakukan sesuai dengan resep yang didapat. Setelah itu mulut ampul disumbat dengan kapas dan tidak dilakukan penutupan dengan oksigen karena oksigen yang dibutuhkan dalam pemanasan penutupan ampul sudah habis sehingga hanya dilakukan penutupan dengan kapas saja dan sediaan belum disterilkan pula. Berikut akan dilakukan pembahasan mengenai cara kerja yang terdapat kesalahan didalamnya. Pertama dimulai dari proses penyaringan campuran yang dilakukan. Dimana sebelum proses penyaringan seharusnya volume campuran di ukur terlebih dahulu di dalam gelas ukur dan proses peng add an aqua pro injeksi pun dilakukan di gelas ukur pula sebelum campuran dilakukan penyaringan. Sedangkan apa yang kami lakukan yaitu campuran disaring terlebih dahulu baru kemudian di add dengan aqua pro injeksi. Kelemahan cara ini yaitu kita tidak bisa tepat pasti menentukan berapa volume aqua pro

injeksi yang harus di add kan. Karena aqua pro injeksi yang sudah terpakai belum tentu tepat adanya sesuai dengan perhitungan, karena bisa saja lebih besar atau lebih kecil volumenya. Oleh karenanya terdapat kesalahan prosedur dalam tahap pencampuran dalam cara kerja yang dilakukan oleh kami. Hal lain yang menjadi evaluasi yaitu kadar pH yang didapat sebelum dan sesudah proses peng add an dengan aqua pro injeksi. Dimana kadar pH sediaan sebelum di add dengan aqua pro injeksi adalah 6 sedangkan pH setelah sediaan ini di add dengan aqua pro injeksi adalah 5. Kadar keasaman jadi lebih meningkat walaupun keduanya masih dalam range antara 4,5 – 7,0 sesuai yang distandarkan oleh Farmakope Indonesia edisi IV dan USP volume II. Namun hal ini akan tetap dibahas mengapa terjadi peningkatan pH dengan hanya menambahkan aqua pro injeksi sebanyak 5 ml. Berdasarkan hipotesis yang diberikan serta hasil diskusi yang dilakukan dinyatakan bahwa kondisi pH sediaan sebenarnya tetap dan tidak berubah. Hanya kondisi pengamatan kita yang mungkin terbatas karena pengamatan pH dilaukan dengan menggunakan pH indicator bukanlah pH meter. Sehingga pengamatan visual kita terbatas dalam membedakan dan menyamakan warna di kertas pH indicator. Apalagi warna ini dipengaruhi oleh warna sediaan yang memang memiliki warna merah. Warna yang akhirnya mempengaruhi warna pada kertas ph indicator sehingga menyulitkan kami menentukan titik pH yang tepat antara 5 dengan 6. Hal inilah yang menjadi dasar mengapa kondisi pH berubah. Sebenarnya tidak berubah, hanya saja pengamatan visual kami yang terbatas dalam membedakan warna dan menentukan titik akhir pH. Hal lain yang menjadi evaluasi dari cara kerja yang kami lakukan yaitu proses pemasukkan sediaan ke ampul. Dimana sediaan yang kami masukkan sebanyak 2 ml setiap ampulnya. Seharusnya volume sediaan yang dimasukkan harus dilebihkan menjadi 2,15 ml. Hal ini dikarenakan sediaan yang akan digunakan pada saat proses pengambilan tidaklah semuanya digunakan pasti akan ada kekurangan dari tenaga medis yang mengambil sediaan. Ada yang tumpah walaupun setetes atau lain sebagainya sehingga volume memang sengaja dilebihkan untuk menghindari kekurangan volume yang hilang saat

proses

pengambilan.

Sehingga

dosis

yang

didapat

tepat

dan

dapat dari

memberikan efek farmakologi yang bagus. Evaluasi yang dilakukan lainnya mengenai tingkat kejernihan sediaan, dimana sediaan yang didapat sudah memiliki kejernihan yang bagus dan tidak terdapat partikel yang mengambang atau tidak larut lainnya.

I.

FORMULASI INJEKSI FUROSEMID BERDASARKAN FORNAS, hal 134.

FUROSEMIDI INJECTIO (Injeksi Furosemida) Komposisi. Tiap ml mengandung : Furosemidum Aqua Pro Injectione hingga 10 mg 1 ml

Penyimpanan. Dalam wadah dosis tunggal, terlindung dari cahaya, ditempat sejuk. Dosis. Im; iv, 2 ml sampai 4 ml. Setelah tidak kurang dari 2 jam jika perlu dosis dinaikkan dengan 2ml. Catatan   Ditambahkan Natrium Hidroksida secukupnya hingga pH 8,9 sampai 9,3. Disterilkan dengan Cara Sterilisasi A atau C.

II.

TAK TERSATUKAN ZAT AKTIF (OTT)  Larutan furosemid untuk injeksi bersifat alkali dan sebaiknya tidak dicampur atau diencerkan dengan injeksi glukosa atau larutan asam lainnya.  Injeksi furosemid dilaporkan secara visual tidak cocok dengan injeksi diltiazem hydrochloride, dobutamine hydrochloride, dopamine hydrochloride, labetalol hydrochloride, midazolam hydrochloride, milrinone lactate, nicardipine

hydrochloride, dan vecuronium bromide.  tidak cocok juga dengan larutan nutrisi parenteral, dengan cisatracurium besilate, levofloxacin, phenylephrine. dan dengan vasopressin

III.

USUL PENYEMPURNAAN SEDIAAN Menggunakan vial berwarna gelap karena pemaparan terhadap cahaya dapat menyebabkan perubahan warna.

IV.

FORMULA AKHIR R/ Furosemidum Aqua Pro Injectione hingga Dibuat Injeksi Furosemid No II 10 mg 1 ml

Volume yang dibuat untuk 1 vial = (n x V’) + (2 x 3) = (2 x 5,3) + 6 = 16,6 mL ≈ 25 mL Penimbangan bahan  Furosemid = (10 mg/1 ml) X 25 mL = 250 mg = 0,25 gram  NaOH 3,56% = _3,56 gram = _X_ 100ml x = 1,2 gram artinya ditimbang 1,2 gram NaOH kemudian dilarutkan dengan API ad 35 ml, NaOH yang dipakai untuk melarutkan furosemid yaitu sebanyak 10 ml.  API yang ditambahkan = 25 ml – (0,25 gram + 10 ml) = 14, 75 ml 35ml

Persyaratan sediaan parenteral (Termasuk injeksi) : 9. Sesuai antara kandungan bahan obat yang ada didalam sediaan dengan pernyataan tertulis pada etiket dan tidak terjadi pengurangan kualitas selama penyimpanan akibat kerusakan obat secara kimiawi dan sebagainya. 10. Penggunaan wadah yang cocok , sehingga tidak hanya memungkinkan sediaan tetap steril, tetapi juga mencegah terjadinya ineraksi antara bahn obat dengan material dinding wadah. 11. Tersatukan tanpa terjadi reaksi.

12. Bebas kuman. 13. Bebas Pirogen. 14. Isotonis. 15. Isohidris. 16. Bebas partikel melayang. Perhitungan pada preformulasi menggunakan ampul 2 ml dan NaCl Dibuat Injeksi Furosemid No II Volume yang dibuat = (n + 2) V’ + (2 x 3) = (2 + 2) 2,15 + (2 x 3) = (5) 2,15 + 6 = 10,75 + 6 = 14,6 mL ≈ 20 mL Penimbangan bahan  Furosemid = (10 mg/1 ml) X 20 mL = 200 mg = 0,2 gram  NaOH untuk melarukan furosemid = 10 ml x 0,2 gram = 2 ml  NaCl untuk zat pengisotonis = ∆Tf ∆Tf ∆Tf ∆Tf = Liso x Berat x 1000 BM x V = 2 x 0,2 x 1000 330,74 x 20 = 400____ 6614,8 = 0,0605

Tonisitas (metode turunnya titik beku): W = 0,52 – a b = 0,52 – (0,0605 x 1) 0,58 = 0,79 gram NaCl dalam 100 ml Keterangan:

W a

= jumlah (gram) bahan pembantu isotonic dalam 100 ml larutan = turunnya titik beku air akibat zat terlarut, dihitung dengan memperbanyak nilai

untuk larutan 1% b/v b = turunnya titik beku air yang dihasilkan oleh 1% b/v bahan pembantu isotoni

(teori sediaan dan teori analisis bab injeksi h.19) Jadi NaCl yang ditambahkan untuk volume sediaan 20 ml adalah: _0,79_= __X__ 100 20 100 X = 15,8 X = 0,158 gram NaCl  API yang ditambahkan = 20 ml – (0,2 gram + 2 ml + 0,158 gram) = 17, 642 ml

Alasan – alasan :

♫ Zat aktif mudah larut dalam NaOH sehingga dapat dipakai sebagai Sediaan Parentral
Volume kecil karena akan dibuat sediaan injeksi dan larutan bersifat larutan sejati.

♫ IM Karena pemberian secara IM merupakan pemberiaan yang tepat untuk sediaan kerja
diperlambat yang dibuat dengan pembawa air. Pemberian secara IM digunakan untuk larutan maksimal 5 ml yang disuntikkan pada daerah gluteal (di atas pantat). pada sediaan IM sebaiknya isotonis, kadang dibuat hipertonis untuk mempermudah absorpsi jaringan. digunakan dengan tujuan untuk mendapatkan efek obat yang tidak terlalu cepat tapi berlangsung lebih lama dibandingkan efek dari intravena.

♫ Autoklaf
filtrasi Autoklaf Larutan disterilkan dengan cara otoklaf (121˚C selama 15 menit

Tetap memakai formula pada fornas dan tidak menambah zat tambahan lain seperti:   Zat pengawet: pengawet tidak diperlukan karena sediaan dilakukan sterilisasi akhir. Pengatur tonisitas; biasanya ditambahkan zat pengisotoni yaitu dengan tujuan mencegah ketidakseimbangan elektrolit, mengurangi kerusakan jaringan dan iritasi,

hemolisa sel darah, dan mengurangi sakit pada daerah injeksi. Seharusnya pada formula ini ditambahkan zat pengisotoni. Akan tetapi pada praktiknya kami tidak menggunakan NaCl sebagai zat pengisotonis karena pada praktikum ini tonisitas belum diperlukan, hanya evaluasi kejernihan dan pH sediaan.Antioksidan: digunakan untuk melindungi zat yang peka terhadap oksidasi, tetapi vitamin B6 tidak terlalu peka terhadap oksidasi sehingga tidak diperlukan antioksidan hanya pada penyimpanannya diletakkan pada wadah berwarna gelap.  Pengatur pH (dapar): tujuan digunakannya yaitu untuk meningkatkan stabilitas obat; mengurangi rasa nyeri, iritasi, nekrosis saat penggunaannya; menghambat

pertumbuhan mikroorganisme. Untuk sediaan parenteral volume kecil, dapar dapat dibuat bila pH stabilitas sediaan berada dalam rentang; iv (pH 3-10,5), rute lain (pH 4-9). pH sediaan diusahakan mendekati pH darah yaitu 7,4. Akan tetapi karena larutan furosemid stabil pada pH 8 – 9,3. Untuk itu ditambahkan zat tambahan untuk adjust pH, disini kami menggunakan HCl 0,1 M dan HCl pekat.

V.

CARA KERJA

Pembuatan Aqua Pro Injectione a) Aqua bidestilata di panaskan diatas waterbath di dalam erlenmeyer sampai air mendidih. Setelah air mendidih kemudian dipanaskan lagi selama 40 menit. b) Setelah 40 menit lalu diangkat kemudian di dinginkan. API digunakan untuk membuat sediaan larutan steril. Pembuatan Sediaan 1. Disiapkan alat dan bahan yang diperlukan. 2. 0,25 gram furosemid dan 1,2 gram NaOH di timbang dengan kaca arloji. Semua bahan dan peralatan dipindahkan ke white area melalui passbox. 3. Buat NaOH 3,56%, yaitu dengan melarutkan 1,2 gram NaOH dengan 30 ml API pada beaker glass, aduk ad larut. Kemudian 5 ml API untuk membilas kaca arloji.

4. Larutkan 0,25 gram furosemid dengan 7 ml NaOH 3,56% dalam beaker glass, kemudian bilas kaca arloji dengan 3 ml NaOH. 5. Tambahkan 12 ml API sedikit demi sedikit, kemudian lakukan cek pH kembali dengan kertas indicator (pH sediaan = 14), kemudian di tambahkan 2 ml HCl 0,1 M dan 1 ml HCl pekat (pH sediaan = 9). 6. Masukkan kertas saring ke dalam corong kemudian basahi kertas saring dengan sedikit API, kemudian dilakukan penyaringan dengan erlemeyer dan corong + kertas saring yang telah dibasahi. 7. Mengisi sediaan kedalam vial, dengan setiap vial sebanyak 5,3 ml menggunakan spuit 8. Ditutup vial dengan tutup vial yang sudah disediakan. 9. Disterilkan sediaan dalam Autoklaf pada suhu 115-116: C selama 30 menit. 10. Dilakukan evaluasi terhadap sediaan dan wadah.

VI.

DATA PENGAMATAN     pH sediaan sebelum ditambah HCl = 14 pH sediaan setelah tercampur semua = 9 Uji Kejernihan = Larutan agak jernih, ada sedikit partikel yang melayang. Larutan homogen dan berwarna jernih.

VII.

PEMBAHASAN Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan, atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan kedalam kulit atau melaui kulit atau selaput lendir. Sebagian besar pembawa parenteral adalah air karena secara kimia air mempunyai konstanta dielektrik yang tinggi yang lebih mudah untuk melarutkan elektrolit (ion-ion) dan ikatan hidrogen yang memungkinkan larutan bukan air akan larut seperti alkohol, aldehid, keton atau amina. Air juga digunakan pada pencucian, pembilasan dan pada proses sterilisasi. Suplai air harus menjamin kualitas air yang sesuai dengan kebutuhan mulai dari proses awal hingga akhir.

Untuk kepentingan farmaseutik, air perlu perhatian khusus seperti kontaminasi elektrolit, zat organik, partikel, gas terlarut (CO2) dan mikroorganisma. Air untuk injeksi harus memiliki kemurnian yang tinggi dan bebas pirogen. Untuk itu, API yang kami gunakan dilakukan dengan proses pendidihan yaitu aquabidest dimasukkan kedalam Erlenmeyer tutup dengan kaca arloji, kemudian dipanaskan pada penangas setelah mendidih hitung selama 30 menit. Dosis kami buat adalah 10 mg/ml yang dibuat untuk 5 ml, yaitu dengan menimbang furosemid 0,25 gram. Pada praktikum kali ini kami membuat sediaan parenteral volume kecil yaitu sediaan injeksi dengan pelarut larut air dan sebagai zat aktifnya yaitu furosemid dengan rute IM. Dimana pada pemberian IM sebaiknya isotonis, kadang dibuat sediaan hipertonis untuk mempermudah absorpsi jaringan, volume yang disuntikkan 5 ml di daerah gluteal. Proses pencampuran dilakukan dengan membuat NaOH 3,56% yaitu dengan melarutkan 1,2 gram NaOH dengan 35 API. Kemudian mencampurkan 7 ml API dengan 0,25 gram furosemid hingga larut dan kemudian 3 ml API digunakan untuk membilas kaca arloji. Kemudian dilakukan pengecekan pH. Pada saat pengerjaan terdapat kendala yang kami temukan karena pH sediaan = 14 sedangkan pH stabilitas furosemid = 9. Kami menggunakan HCl 0,1 M sebagai adjust pH sebanyak 2 ml. Akan tetapi HCl 0,1 M tidak cukup efektif untuk menurunkan pH, sehingga kami menggunakan HCl pekat juga untuk adjust pH dan barulah pH sediaan akhir didapatkan yaitu pH = 9. Seharusnya pH sediaan mendekati pH darah = 7,4 dan pH > 9 dapat menyebabkan nekrosis pada jaringan tetapi kami menggunakan pH stabilitas zat aktif agar dapat memberikan efek farmakologi yang optimal dan mencegah terjadinya penguraian zat. Setelah didapatkan pH yang sesuai, maka larutan tersebut disaring dengan menggunakan kertas saring yang telah dipasang pada corong dan ditampung pada erlenmeyer yang lain. Jika dihitung tonisitas sediaan kami menggunakan metode Liso dan metode turunnya titik beku dan didapatkan sediaan kami bersifat hipotonis. Sehingga diperlukan NaCl sebagai zat pengisotoni karena bila larutan parenteral memiliki tekanan osmosa lebih rendah dari tekanan osmosa plasma darah (hipotonis) sel darah akan mengembang dan akhirnya pecah karena masuknya air ke dalam sel (hemolisa); karena sediaan parenteral intramuskular harus dibuat seisotonis mungkin dan larutan

hipotonis tidak boleh digunakan. Sediaan yang sudah jadi di dalam erlenmeyer kemudian larutan tersebut dimasukkan ke dalam 2 buah vial menggunakan spuit 6 ml yang masingmasing vial mempunyai volume 5,3 ml dan ditutup dengan tutup karet vial. Pada praktikum sebenarnya sediaan yang dibuat memang untuk 5 ml dan 0,3 ml merupakan volume berlebih yang direkomendasikan dari farmakope, karena pada saat pengambilan larutan dari vial biasanya masih ada cairan yang tersisa, sehingga dengan adanya volume berlebih ini diharapkan pada saat pengambilan larutan tetap 5 ml. Kemudian dilakukan evaluasi kejernihannya secara visual, dan didapatkan cairan injeksi berwarna jernih dan ada sedikit partikel yang melayang karena kurang bersihnya vial dan sisa-sisa tissue yang melayang. Sediaan injeksi furosemid yang kami gunakan disterilisasi dengan sterilisasi akhir menggunakan autoklaf dan tidak harus dengan cara filtrasi karena tidak ada data ketidakstabilan pada suhu 121˚C selama 15 menit. Seharusnya sebelum proses pencampuran, seluruh alat dan bahan harus disterilkan terlebih dahulu sesuai dengan cara sterilisasi masing-masing alat, namun karena keterbatasan waktu maka sterilisasi awal untuk alat dan bahan didispensasi.

VIII.

FORMULA PUSTAKA Fornas (134) Furosemid Injection Komposisi: tiap ml mengandung: Furosemidum 10 mg Aqua Pro Injection hingga 11 ml Penyimpanan: dalam wadah dosis tunggal, terlindung dari cahaya, di tempat sejuk. Dosis: Im, iv 2ml sampai 4ml setelah tidak kurang dari 2 jam jika perlu dosis dinaikan degan 2ml Catatan: 1. Ditambahkan natrium hidroksida secukupnya hingga PH 8,9 sampai 9,3 2. disterilkan dengan cara sterilisasi A dan C FORMULASI  Perhitungan tonisitas Karena penurunan titik beku Furosemid tidak ditemukan dalam FI, maka perhitungan nilai penurunan titik beku dicari dengan menggunakan persamaan

IX.

Keterangan: ∆Tf : Penurunan titik beku Liso : Harga tetapan, non elektrolit = 1,86; elektrolit lemah = 2; uni-univalen = 3,4 Berat : dalam gram zat terlarut BM : Berat Molekul V : volume larutan dalam mL

Maka nilai penurunan titik beku dari sediaan Furosemid yang merupakan elektrolit lemah (karena mempunyai pKa) sebanyak 0,05 gram dalam volume 5 mL, adalah:

Maka tonisitasnya adalah:

Sehingga NaCl yang perlu ditambahkan adalah:

B = 0,7931 gram NaCl dalam 100 mL (0,1586 gram ≈ 159 mg untuk 20 mL sediaan akhir) Kesimpulan: pada formula ini, sediaan memiliki tonisitas yang hipotonis. Sehingga pada formulasi diperlukan penambahan zat pengisotonis yaitu 159 mg NaCl untuk 20 mL sediaan akhir.  pH Menurut literatur, sediaan injeksi sebisa mungkin dibuat sesuai dengan pH darah yaitu 7,4 (isohidri). Namun yang paling utama adalah pH sediaan yang dibuat disesuaikan dengan pH stabilitas bahan aktif. Rute pemberian Furosemid adalah melalui intra muskular (IM) atau intra vena (IV). Sehingga tidak ada ketentuan sediaan yang diberikan harus isohidri jika diberikan melalui rute IM maupun IV. pH sediaan injeksi Furosemid menurut FI IV, USP 32 dan AHFS adalah 8,0 – 9,3. Dan dapat digunakan HCl encer untuk perubahan ke arah pH stabilitas zat aktif. Kesimpulan: pH sediaan yang kami buat tidak diubah menyesuaikan terhadap pH stabilitas bahan aktif. Namun, harus mencantumkan cara pemberian “diberikan perlahan-lahan” pada etiket. Untuk menghindari kerusakan jaringan dan untuk menjaga keefektivitasan obat. Dapat dilakukan perubahan pH, namun tidak dilakukan pendaparan Antioksidan

Sediaan ini menggunakan pembawa air dan zat yang terkandung didalamnya tahan terhadap oksidasi, serta tidak terkandung minyak ataupun bahan lain yang mudah teroksidasi. Kesimpulan: Sehingga tidak diperlukan zat antioksidan. Pengawet Pengawet atau anti mikroba harus diberikaan pada sediaan injeksi bila injeksi yang dikemas dalam wadah dosis ganda dengan metode sterilisasi apapun , dan pada sediaan yang tidak dilakukan sterilisasi akhir. Kecuali dinyatakan lain dalam masingmasing monografi, atau kecuali bahan aktifnya sendiri sudah berupa bahan anti mikroba. Kesimpulan: tidak ditambahkan pengawet atau anti mikroba pada formulasi karena sediaan yang dibuat merupakan dosis tunggal dan dilakukan sterilisasi akhir, yaitu sterilisasi A atau C Volume dan pengemasan Dalam wadah vial dengan volume 5 mL

X.

FORMULA AKHIR Furosemidum 50,75 mg NaOH 50,55 mL NaCl 39,75 mg Aqua Pro Injection hingga 5,0 mL PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN Volume tiap vial 5,3 mL Kelebihan volume yang dianjurkan 0,3 mL + Volume sediaan yang diisikan (v ’) 5,3 mL Volume sediaan yang akan dibuat: V = [nv ’ + (2x3)+ mL V = [(2 x 5,3) + 6] mL V = 16,6 mL ≈ 20 mL Keterangan: V: Volume sediaan yang akan dibuat n: jumlah vial v ’: Volume sediaan yang diisikan (2 x 3) mL : volume untuk membilas spuit

XI.

Sehingga:  Furosemid yang ditimbang sebanyak: 10 mg x 20 = 200 mg = 0,2 gram  NaOH yang dibutuhkan untuk melarutkan furosemide adalah 0,2 x 10 = 2 mL.  NaCl yang ditambahkan sebagai zat pengisotonis adalah 159 mg untuk 20 mL sediaan akhir  API ad 20 mL XII. ALAT DAN BAHAN No Nama alat 1 Spatel logam 2 Pinset logam 3 Batang pengaduk gelas 4 Kaca arloji 5 Gelas ukur 20 mL 6 Pipet tetes 7 Karet pipet 8 Corong gelas & kertas saring lipat 9 Sumbat kapas 10 Jarum suntik (spuit) 11 Beakerglass 12 Erlenmeyer

Jml 1 1 2 2 1 2 2 1 1 1 2 3

Cara sterilisasi Oven 170oC Oven 170oC Oven 170oC Oven 170oC Autoklaf (115 – 116 oC) Autoklaf (115 – 116 oC) Rebus Autoklaf (115 – 116 oC) Autoklaf Autoklaf (115 – 116 oC) Oven 170oC Oven 170oC

Waktu 120 menit 120 menit 120 menit 120 menit 30 menit 30 menit 30 menit 30 menit 30 menit 30 menit 120 menit 120 menit

XIII.

STERILISASI STERILISASI A Menurut Farmakope Indonesia Edisi Ketiga Pemanasan dalam otoklaf. Sediaan yang akan disterilkan diisikan kedalam wadah yang cocok, kemudian ditutup kedap. Jika volume dalam tiap wadah tidak lebih dari 100ml, sterilisasi dilakukan dengan uap air jenuh pada suhu 115˚ sampai 116˚ selama 30 menit. Jika volume dalam tiap wadah lebih dari 100ml waktu sterilisasi diperpanjang, hingga seluruh isi wadah berada pada suhu 115˚ sampai 116˚ selama 30 menit. Menurut Farmakope Indonesia Edisi Keempat Sterilisasi Uap. Proses sterilisasi termal menggunakan uap jenuh dibawah tekanan berlangsung disuatu bejana yang disebut otoklaf, dan mungkin merupakan proses sterilisasi yang paling banyak digunakan ( suatu siklus otoklaf yang ditetapkan dalam farmakope untuk media atau pereaksi adalah selama 15 menit pada suhu 121˚ kecuali dinyatakan lain). Prinsip dasar kerja alat adalah udara didalam bejana sterilisasi diganti dengan uap jenuh, dan hal ini dicapai dengan menggunakan alat pembuka atau penutup

khusus. Untuk mengganti udara secara lebih efektif dari bejana sterilisasi dan dari dalam bahan yang disterilisasi, siklus sterilisasi dapat meliputi tahap evakuasi udara dan uap. Desain atau pemilihan suatu siklus untuk produk atau komponen terentu tergantung kepada beberapa factor, termasuk ketakstabilan panas bahan, pengetahuan tentang penetrasi panas dalam bahan, dan factor lain yang tercantum dalam program validasi, selain deskripsi tentang parameter siklus sterilisasi dengan menggunakan suhu 121˚ untuk waktu tertentu. Otoklaf modern umumnya bekerja dengan suatu system pengendali yang secara nyata lebih responsive dari pada katup reduksi uapa jenis lama yang selama ini digunakan. Agar jenis yang lama ini dapat mencapai ketepatan dan tingkat pengendalian siklus yang dibicarakan disini, mungkin perlu memperbahatui atau memodifikasi alat pengendali dan instrument alat tersebut. Modifikasi ini dapat dibenarkan hanya jika alat sterilisasi dan mantel uap masih utuh demi keamanan penggunaan selanjutnya dan jika endapan yang dapat mengganggu distribusi panas dapat dihilangkan. XIV. PROSEDUR 12. Furosemid digerus dan ditimbang sebanyak 0,2 gram menggunakan kaca arloji 13. NaCl ditimbang sebanyak 159 mg menggunakan kaca arloji 14. Furosemid yang telah ditimbang  dimasukkan kedalam beaker glass yang telah berisi NaOH (+ 2 mL)  larutkan Furosemid dengan bantuan batang pengaduk  Kaca arloji kemudian dibilas 2 kali dengan API. 15. NaCl yang ditimbang  dimasukkan ke dalam beaker glass yang telah berisi API (+2 mL)  larutkan dengan bantuan batang pengaduk  kaca arloji dibilas 2 kali dengan API. 16. Tambahkan larutan NaCl ke dalam larutan Furosemide  aduk ad homogen  cek pH  bila belum mencapai pH 8, tambahkan NaOH. Bila pH > 9 tambahkan HCl 1N sampai pH 8,0 – 9,3. 17. Larutan tersebut kemudian dituang ke dalam gelas ukur ditambahakan API sehingga volume tertentu di bawah volume akhir (+ 15 mL)  cek pH  atur sampai pH 8,0 – 9,3. 18. Tuangkan jumlah tertentu API untuk membasahi kertas saring lipat yang telah diletakkan ke dalam corong yang akan digunakan  corong + kertas saring tersebut dipindahkan ke erlenmeyer lain yang bersih dan kering 19. Saring larutan dalam gelas ukur melalui corong kedalam Erlenmeyer yang telah disiapkan. 20. Kekurangan API digunakan untuk membilas beaker glass berulang kali  ditampung dalam gelas ukur  air bilasan tersebut kemudian disaring lagi ke dalam

erlenmeyer yang telah berisi filtrat larutan hingga volume total seluruh larutan genap 20 ml. 21. Isikan larutan kedalam wadah vial dengan menggunakan spuit. Masing-masing ampul berisi 5,3 mL larutan Furosemid. 22. Aliri uap air (jika perlu/dispensasi) 23. Aliri gas nitrogen (jika perlu) 24. Ampul ditutup dengan api dan disterilkan menggunakan autoklaf secara terbalik dalam beaker glass yang telah diisi kapas (121oC selama 15 menit) 25. Setelah sterilisasi akhir, dilakukan evaluasi sediaan

XV.

EVALUASI  pH o volume 15 mL pH = 11 o volume 20 mL pH = 8  Kejernihan = Jernih, ada sedikit partikel melayang.  Volume terpindahkan = mL  Kebocoran = tidak dilakukan LAMPIRAN FOTO Uji Keasaman Kebasaan pH sediaan awal = 11 pH sediaan akhir = 8

XVI.

Uji Kejernihan

Uji volume terpindahkan

Etiket
Furosemide® K
5 mL I.M or I.V.inj. Each vial contains: Furosemide 50 mg Reg.No ALV8920415 PRESCRIPTION ONLY Stored at 15-30°C in airtight container. and protected from light and freezing Produced by: Virdou© Jakarta-Indonesia
Batch No: 310301 EXP: 15 APR 12

XVII.

LAMPIRAN LAPORAN SEMENTARA

XVIII.

PEMBAHASAN Dalam praktikum ini, dilakukan pembuatan sediaan parenteral volume kecil dengan pembawa air. Dalam farmakope, yang dimaksud dengan injeksi volume kecil adalah injeksi yang dikemas dalam wadah bertanda volume 100 mL atau kurang. Air sebagai zat pembawa injeksi memenuhi syarat Uji Pirogen <231>, Uji Endotoksin Bakteri <201> seperti yang tertera dalam monografi. Kecuali dinyatakan lain dalam monografi, pada umumnya digunakan Air untuk Injeksi sebagai zat pembawa. Aqua Steril Pro Injectione (aqua steril untuk injeksi) adalah air untuk injeksi yang disterilkan dan dikemas dengan cara yang sesuai. Tidak mengandung bahan antimikroba atau bahan tambahan lainnya. Berbentuk cairan jernih, tidak berwarna dan tidak berbau. Zat aktif yang digunakan pada praktikum kali ini adalah Furosemid. Menurut American Hospital Formulary Service edisi 2004, Furosemide adalah sulfonamide tipe, diuretik loop. Obat tersebut berbentuk putih sampai agak kuning, tidak berbau, bubuk kristal dengan pKa 3,9. Furosemide praktis tidak larut dalam air, sedikit larut dalam alkohol, dan bebas larut dalam alkali hidroksida. Furosemide injeksi harus disimpan pada suhu 15-30 ° C dan terlindungi dari cahaya, suntikan memiliki warna kuning tidak boleh digunakan. Furosemide injeksi biasanya dapat dicampur dengan solusi darah dengan pH basa dan netral memiliki pH 7-10, seperti injeksi natrium klorida 0,9% atau Ringer injeksi, dan dengan beberapa lasrutan asam lemah memiliki kapasitas buffer yang rendah. Injeksi tidak boleh dicampur dengan larutan asam kuat (ie, pH kurang dari 5.5), seperti yang mengandung asam askorbat, tetrasiklin, epinefrin, atau norepinephrine, karena mungkin furosemide akan mengendap. Obat lain yang tidak boleh dicampur dengan furosemid injeksi termasuk beberapa garam sebagian besar basa organik termasuk anestesi lokal, alkaloid, antihistamin, hipnotik, meperidin, dan morfin. Injeksi Furosemide di mana obat ini hadir sebagai garam natrium dapat diberikan secara IM atau injeksi IV ketika onset yang cepat diuresis diinginkan atau pasien tidak dapat minum obat oral. Suntikan furosemide IV harus diberikan secara perlahan selama 1-2 menit. Ketika dosis besar furosemide parenteral diperlukan, botol vial sebaiknya digunakan. Dalam pengobatan hipertensi, furosemide diberikan dalam dosis oral 40 sampai 80 mg sehari, baik sendiri, atau dengan antihipertensi lainnya. Formula pustaka yang digunakan sebagai acuan adalah formula Injeksi Furosemid Injection dari Formularium Nasional. Dalam formula tersebut ditambahakannya bahan pembantu peningkat kelarutan yaitu NaOH. Karena furosemid praktis tidak larut dalam air namun bebas larut dalam alkali hidroksida, maka pada saat pembuatan furosemid dilarutkan dengan NaOH. Sehingga terbentuk garam furosemid yang larut dalam air.

Saat formulasi, perhitungan nilai tonisitas, diperoleh bahwa sediaan yang dihasilkan bersifat hipotonis. Dalam persyaratan sediaan injeksi volume kecil, tonisitas sediaan yang dihasilkan sedapat mungkin isotonis, boleh sedikit hipertonis namun tidak boleh hipertonis. Sehingga dalam formulasi, dilakukan penambahan zat pengisotonis yaitu NaCl. Isotonis adalah suatu keadaan tonisitas (tekanan osmosis) larutan obat yang sama dengan tonisistas cairan tubuh kita (misalnya darah dan air mata). Perhitungan nilai isotonis dilakukan dengan pertama-tama mencari nilai penurunan titik beku melalui metode Liso. Perhitungan tersebut dilakukan karena tidak terdapatnya nilai penurunan titik beku di daftar farmakope. Nilai penurunan titik beku tersebut adalah 0,06o. Nilai tersebut kemudiakan dimasukkan ke dalam rumus penurunan titik beku menurut metode farmakope, sehingga diperolehlah hasil bahwa formula sediaan mempunya tonisitas yang hipotonis, sehingga perlu ditambahakan zat pengisotonis yaitu NaCl. Suatu larutan dinyatakan isotonis jika membeku pada suhu -0,52oC. NaCl yang ditambahkan dalam formulasi adalah 159 mg untuk 20 mL sediaan akhir, atau setara dengan 39,75 mg per vial sehingga sediaan yang dihasilkan isotonis. Penambahan zat pengawet atau anti mikroba juga tidak dilakukan dalam formulasi. Pengawet atau anti mikroba harus diberikaan pada sediaan injeksi bila injeksi dikemas dalam wadah dosis ganda dengan metode sterilisasi apapun , dan pada sediaan yang tidak dilakukan sterilisasi akhir. Kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi, atau kecuali bahan aktifnya sendiri sudah berupa bahan anti mikroba. Sedangkan sediaan yang dibuat merupakan sediaan dengan dosis tunggal dan dilakukan sterilisasi akhir, yaitu sterilisasi A. Sehingga tidak memenuhi kriteria sediaan yang harus ditambahkan pengawet. Oleh karena sediaan injeksi langsung terdistribusi dalam tubuh, maka sebaiknya penambahan zat tambahan dilakukan seminimal mungkin. Bila tidak perlu sebaiknya tidak perlu dipakai. Dengan pertimbangan seperti penjelasan diatas, maka formula akhirnya sama dengan formula pustaka tanpa perubahan formulasi maupun penambahan zat apapun. Menurut Formularium Nasional, sediaan injeksi Pyridoxin disterilisasi akhir dengan menggunakan Sterilisasi A atau C. Menurut literatur, sterilisasi A adalah sterilisasi dengan menggunakan Autoklaf (panas basah). Sedangkan sterilisasi C adalah sterilisasi dengan proses Filtrasi (penyaringan). Sehingga dalam praktikum ini digunakan strilisasi A, dengan alasan kepraktisan dalam pengerjaan, dan juga karena tidak tersedianya alat unit penyaringan membran. Sterilisasi dilakukan dengan mensterilkan alat-alat yang digunakan. Alat yang tahan panas dan bukan merupakan alat yang volumetrik disterilkan dengan menggunakan oven (panas kering) pada suhu 170oC selama 60 menit. Alat yang tahan panas, tahan lembab dan bersifat volumetrik disterilisasikan dengan menggunakan autoklaf (panas basah) 115 – 116oC. Sedangkan alat karet disterilkan dengan proses perebusan selama 30 menit.

Pembuatan Aqua Pro Injeksi Bebas Oksigen dan Kerbondioksida, dilakukan dengan pemanasan aquabidest dalam wadah erlenmeyer yang disumbat kapas pada suhu 100oC, setelah mendidih kemudian tunggu selama 30 menit untuk mendapatkan air bebas CO2. Tunggu 10 menit lagi untuk mendapatkan API bebas O2. Pada saat proses pengerjaan dilakukan In Process Control yaitu uji kejernihan larutan dan pH larutan. Kejernihan larutan injeksi Furosemid yang dihasilkan adalah jernih, bebas partikel yang tidak terlarutkan namun ada sedikit partikel melayang. Partikel melayang yang terdapat pada sediaan, diduga berasal dari tutup vial yang tidak direbus (disterilisasi) sebelum pengerjaan sediaan. Uji pH dilakukan 2 kali, yaitu pada volume di bawah volume akhir dan ketika suhu akhir. Tujuan dilakukannya pengukuran pada volume akhir adalah jika pH yang dihasilkan tidak sesuai dengan ketentuan maka dapat ditambahkan zat peng-adjust pH seperti HCl encer atau NaOH encer. Pada saat pengujian pertama (pada saat volume 10 mL) dihasilkan larutan dengan pH 13. Sedangkan pH larutan yang diharapkan adalah 8 – 9,3. Sehingga dalam praktikum ditambahkan HCl 1 N kurang lebih 60 tetes, sampai dicapainya pH akhir yaitu 8. Sehingga pH larutan akhir adalah pH 8. Evaluasi akhir yang dilakukan adalah uji volume terpindahkan. Penetapan volume injeksi yang dimasukkan dalam wadah agar volume injeksi yang digunakan tepat atau sesuai dengan yang tertera pada penandaan. Tiap wadah Injeksi diisi dengan sejumlah volume sedikit berlebih dari volume yang tertera pada etiket atau volume yang akan diambil. Kelebihan volume yang dianjurkan dalam tabel yang tertera pada Penetapan Volume Injeksi dalam Wadah <1131>, umumnya cukup untuk memenuhi volume pengambilan dan pemakain seperti yang tertera pada etiket. Volume tertera dalam penandaan 0,5 ml 1,0 ml 2,0 ml 5,0 ml 10,0 ml 20,0 ml 30,0 ml 50,0 ml atau lebih Kelebihan volume yang dianjurkan Untuk cairan encer Untuk cairan kental 0,10 ml 0,12 ml 0,10 ml 0,15 ml 0,15 ml 0,25 ml 0,30 ml 0,50 ml 0,50 ml 0,70 ml 0,60 ml 0,90 ml 0,80 ml 1,20 ml 2% 3%

Volume sediaan yang dibuat adalah 5 mL dengan penambahan volume 0,3 mL. Uji volume terpindahkan dilakukan dengan cara mengambil sediaan dari dalam ampul menggunakan spuit. Dalam pengujian volume dari dalam wadah yang dapat terambil dari dalam spuit adalah mL. Tujuan dari penambahan volume dalam preparasi adalah

mencegah hilangnya volume sediaan karena tertinggal dalam wadah dan hilang saat penghilangan gelembung pada spuit saat pemberian. Menurut Farmakope Indonesia ed IV, Pada etiket tertera nama sediaan, untuk sediaan cair tertera presentase atau jumlah zat aktif dalam volume tertentu, untuk sediaan kering tertera jumlah zat aktif, cara pemberian, kondisi penyimpanan dan tanggal kadaluarsa; nama pabrik pembuat dan atau pengimpor serta nomor lot atau bets yang menunjukan identitas. Nomor lot dan atau bets dapat memberikan informasi tentang riwayat pembuatan lengkap meliputi seluruh proses pengolahan, sterilisasi, pengisian, pengemasan dan penandaan. Bila formula lengkap tidak tertera lengkap pada masing-masing monografi, Penandaan mencakup informasi berikut: untuk sediaan cair, presentasi isi atau jumlah tiap komponen dalam volume tertentu, kecuali bahan yang ditambahkan untuk penyesuaian pH atau untuk membuat larutan isotonic, dapat dinyatakan dengan nama dan efek bahan tersebut. Pemberian etiket pada wadah sedemikian rupa sehingga sebagian wadah tidak tertutup oleh etiket, untuk mempermudah pemeriksaan isi secara visual. Pada praktikum kali ini penandaan pada sediaan yang dibuat (etiket) mencantumkan merk sediaan, volume sediaan, kekuatan dosis, nomer registrasi, cara penyimpanan, nama dan logo produsen, nomer batch, expired date dan logo obat keras. I. Formula standar VITAMIN K dari Fornas atau Martindale tiap ml mengandung : menadionum 2mg 1ml

oleum pro injection hingga

II.  pH

FORMULASI

Zat aktif yang digunakan dalam membuat sediaan ini yaitu menadion, dengan menggunakan pelarut minyak nabati. Sehingga dalam sediaan ini tidak di perlukan pengukuran pH. Karena dalam pengukuran pH yang terukur itu adalah ionnya, sedangkan pada minyak tidak mempunyai ion..

Kesimpulan : tidak dilakukan pengukuran pH.  Tonisitas Sama halnya dengan pH, perhitungan tonisitas pun tidak lakukan. Karena minyak yang tidak mempunyai ion. Kesimpulan : tidak dilakukan penghitungan tonisitas.  Pengawet Antimikroba/pengawet perlu ditambahkan untuk sediaan parenteral yang dipakai berulang kali (dosis terbagi/multidosis). Tetapi dalam pembuatan sediaan yang akan di lakukan menggunakan pelarut minyak, sedangkan mikroba tidak terdapat pada minyak, hanya terdapat pada air. Maka dalam formula tidak ditambahkan pengawet. Kesimpulan : tidak di perlukan pengawet

 Antioksidan Dalam pembuatan sediaan yang akan di lakukan menggunakan pelarut minyak, maka penambahan antioksidan sangatlah penting, karena minyak mudah teroksidasi dan menjadi tengik. Kesimpulan : diperlukan antioksidan.

III. -

Usul Penyempurnaan Sediaan : Menggunakan ampul atau vial gelap, karena menadiol tidak stabil terhadap cahaya.

IV.

Formula Akhir :

R/ tiap ml mengandung : menadionum 2mg = 10mg

-

BHT corn oil pro injection hingga

0,03% 1m = 5ml

V.

Perhitungan Bahan Volume yang dibuat = n X V’ + (2x3)ml = 2 X 5,5 + 6 = 17 ml → 25ml Penimbangan bahan : menadion = x 25ml = 50 mg = 0,05 gram BHT = 0,03% X 25 = 0,015 gram

VI.

STERILISASI

sterilisasi akhir D, atau sterilisasi panas kering. Jika volume dalam tiap wadah tidak lebih dari 30 ml, panaskan pada suhu 150oC selama 1 jam. Jika volume dalam tiap wadah lebih dari 30 ml, waktu 1 jam dihitung setelah seluruh isi tiap wadah mencapai suhu 150oC. VII. PROSEDUR KERJA m. Zat aktif (menadion) dan BHT ditimbang dengan kaca arloji, n. Kemudiaan semua bahan dan alat di masukkan ke white area melwati passbox o. Zat aktif dimasukkan ke dalam beakerglass, dan BHT juga pada beakerglas yang lain, kemudian dituangkan sejumlah tertentu oleum pro injeksi untuk melarutkan zat aktif (menadion) yang telah ditimbang. p. Kemudian kaca arloji di bilas dengan menggunakan oleum pro injeksi

q. Larutan zat dituangkan ke dalam gelas ukur, kemudian ad kan dengan air bilasan sampai tepat 10ml. r. Sisa 15 ml digunakan untuk membilas beakerglass berulang kali, ditampung didalam gelas ukur. s. Kemudian di ad kan sampai volume 25ml. t. Vial di kalibrasi, sampai batas 25ml. u. Diisikan sediaan ke dalam wadah vial dengan di tuang. v. Tutup vial

VIII.

EVALUASI 1. Penampilan : sediaan berwarna kuning 2. Uji kejernihan secara visual : tidak jernih ada yang partikel yang mengendap 3. Uji volume terpindahkan : Dilakukan dengan mengambil sediaan yang terdapat didalam vial dengan menggunakan spuit (jarum suntik). Volume yang terpindahkan = 5 ml 4. pH : -

IX.

PEMBAHASAN Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi, atau serbuk yang harus

dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan secara parenteral, suntikan dengan cara menembuskan atau merobek jaringan ke dalam atau melalui kulit atau selaput lendir. Bentuk obat yang dibuat sebagai obat suntik tergantung pada sifat obat sendiri dengan memperhitungkan sifat fisika dan kimia serta mempertimbangkan terapetik tertentu. Sediaan injeksi dibagi dalam klasifikasi sebagai berikut : 1. Larutan sejati dengan pembawa air 2. Larutan sejati dengan pembawa minyak 3. Larutan sejati dengan pembawa campuran (pelarut campur)

4. Injeksi suspensi steril dengan pembawa air 5. Injeksi suspensi steril dengan pembawa minyak 6. Injeksi emulsi steril 7. Injeksi serbuk kering dilarutkan dengan air. Pada praktikum kali ini yaitu membuat sediaan injeksi dengan zat aktif menadion. Karena menadion mempunyai sifat kelarutan praktis tidak larut dalam air, larut dalam minyak nabati, agak sukar larut dalam kloroform dan dalam etanol (farmakope Indonesia edisi IV). Oleh karenanya sediaan yang dibuat yaitu sediaan larutan sejati dengan pembawa minyak, yaitu minyak nabati. Minyak harus netral secara fsiologis dan dapat diterima tubuh dengan baik. Persyaratan untuk ini adalah tingkat kemurniaan yang tinggi dan menunjukkan bilangan asam dan bilangan peroksida yang rendah. Pemakaian secara intravena tidak dimungkinkan karena tidak tercampurkannya dengan serum darah dan dapat menyebabkan terjadi emboli paru-paru. Oleh karena itu, penggunaanya hanya ditujukkan untuk injeksi intramuscular dan subkutan. Larutan atau suspense minyak mempunyai waktu kerja lama, sering sampai 1 bulan penyerapan obat dan membebaskan bahan aktifnya secara lambat. Dalam formula yang direncakan minyak yang digunakan yaitu minyak jagung (corn oil), akan tetapi dalam prakteknya karena minyak tersebut tidak tersedia dilaboratorium maka minyak yang digunakan diganti menjadi minyak zaitun (oleum olivarum. Minyak zaitun sendiri mempunyai sifat yang tidak tahan pemanasan, padahal sterilisasi yang di lakukan yaitu sterilisasi akhir D, atau sterilisasi panas kering, sterilisasi panas kering yaitu Sediaan yang akan disterilkan dimasukkan ke dalam wadah kemudian ditutup kedap atau penutupan ini dapat bersifat sementara untuk mencegah cemaran . Jika volume dalam tiap wadah tidak lebih dari 30 ml, panaskan pada suhu 150oC selama 1 jam. Jika volume dalam tiap wadah lebih dari 30 ml, waktu 1 jam dihitung setelah seluruh isi tiap wadah mencapai suhu 150oC. Wadah yang tertutup sementara, kemudian ditutup kedap menurut teknik aseptic (farmakope Indonesia edisi III). Akan tetapi dalam prakteknya di dispensasi, sehingga sterilisasi yang dilakukan yaitu pada suhu 150oC selama 15 menit. Selain itu, pada saat sterilisasi dilakukan sediaan di tutup dengan menggunakan alumunium foil, karena sifat dari menadion yang berwarna kuning,

namun karena pengaruh cahaya warna menjadi cokelat muda (farmakope Indonesia edisi IIII). Namun didiseansasi kembali dilakukan, karena tidak tersedianya alumunium foil di laboratorium. Dalam sediaan Larutan sejati dengan pembawa minyak diperlukan antioksidan. Karena minyak mempunyai sifat mudah teroksidasi, sehingga menyebabkan minyak menjadi mudah tengik. Ditambah dengan sifat dari menadion yang berwarna kuning, namun karena pengaruh cahaya warna menjadi cokelat muda (farmakope Indonesia edisi IIII). Sehingga penambahan antioksidan menjadi penting. Antioksidan yang digunakan dalam pembuatan sediaan ini yaitu BHT (Butyl Hidroksi Toluena), yang digunakan untuk penundaan atau mencegah ketengikan oksidatif lemak-lemak dan meminyaki dan untuk mencegah hilangnya aktivitas minyak vitaminvitamin dapat larut. Konsentrasi BHT yang digunakan sebagai antioksidan untuk injeksi intramuscular yaitu 0,03%. (handbook of pharmaceutical exipient edisi 5). Evaluasi yang dilakukan diantaranya yaitu evaluasi kejernihan sediaan. Uji kejernihan dilakukan dengan visual, dapat dilihat bahwa sediaan yang dihasilkan adanya endapan menadion, sehingga menjadi kurang jernih. Hal tersebut disebabkan karena tidak dilakukannya penyaringan, karena tidak tersedianya kertas saring untuk menyaring sediaan injeksi larutan sejati dengan pembawa minyak. Selain itu, penyebab tidak melarut secara sempurna dari zat aktif yaitu kemungkinan pelarut minyak yang digunakan kurang cocok untuk melarutkan menadion. Sehingga menyebabkan zat aktif tidak melarut sempurna. Evaluasi yang dilakukan selanjutnya yaitu evaluasi volume terpindahkan. Evaluasi ini dilakukan dengan mengambil sediaan dengan menggunakan spuit. Volume yang terambil dalam spuit yaitu adalah 5ml, sedangkan yang dimasukkan ke dalam vial adalah 5,5ml. pada saat melakukan uji volume terpindahkan, sediaan sangat susah di ambil dengan menggunakan spuit, sehingga ketika sediaan telah terambil sebanyak 5ml, pengambilan sediaan tidak dilanjutkan, padahal sediaan masih tersisa didalam vial. Dalam sediaan injeksi larutan sejati dengan pembawa minyak tidak dibutuhkan pengawet. Karena mikroba tidak tumpuh pada minyak, hanya terdapat pada air. Oleh

karenanya sediaan ini tidak membutuhkan pengawet. Selain tidak membutuhkan pengawet, sediaan injeksi larutan sejati dengan pembawa minyak tidak perlu dihitung tonisitasnya serta pH-nya karena dalam pengukuran pH yang terukur itu ionnya, sedangkan dalam minyak tidak mempunyai ion, sehingga tidak membutuhkan pengecekan pH.

IX.

FORMULA PUSTAKA VITAMIN K Formula Standar dari Fornas atau Martindale R/ menadionum oleum pro injection ad Penyimpanan Dosis Catatan 2mg 1ml

: Dalam wadah dosis tunggal atau wadah dosis ganda

: Diberikan secara Intra Muskular sehari 1 ml : 1. Disterilkan dengan Cara Sterilisasi D 2. Sediaan berkekuatan lain : 5 mg

X.

FORMULASI 10.1  Perhitungan volume yang dibuat : = (n).v’ + (2x3 ml) = (2) 5,5 + 6 = 17 ml ≈ 25 ml  10.2 Penimbangan bahan: menadion oleum pro injection ad = 2 mg = 25 ml

Jadi menadion yang ditimbang: 2 mg x 25 ml = 50 mg= 0,05 gram BHT = 0,03% x 25 ml x 1,117 = 0,0083 gram Antioksidan

Antioksidan digunakan untuk melindungi zat yang peka terhadap oksidasi. Dalam sediaan kali ini dibutuhkan penambahan antioksidan karena sediaan

merupakan sediaan dengan pembawa minyak dimana minyak akan mudah mengalami ketengikan (teroksidasi).

10.3

Pengawet

Penambahan pengawet dapat dilakukan pada sediaan multidosis (kecuali yang dilarang oleh monografi, atau zat aktif bersifat bakteriostatik) dan untuk sediaan unit dosis jika tidak dilakukan sterilisasi akhir (pembuatan aseptic atau dengan filtrasi membran). Karena pembuatan sediaan injeksi kali ini menggunakan pelarut bukan air, yakni pelarut minyak dan minyak tidak membutuhkan penambahan pengawet karena bakteri akan lebih mudah hidup dalam pelarut air.

XI.

FORMULA AKHIR R/ menadion BHT oleum olivae ad 2 mg 0,03% 1 ml

da in vial 5 ml no II

XII.

PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN

XIII.

ALAT DAN BAHAN Nama Alat Kaca arloji Spatula logam Pinset logam Batang pengaduk gelas Erlenmeyer Beaker glass Gelas ukur corong gelas Jumlah 1 1 1 1 2 1 1 1 Cara Sterilisasi Oven 170 oC, selama 30 menit Oven 170 oC, selama 30 menit Oven 170 oC, selama 30 menit Oven 170 oC, selama 30 menit Oven 170 oC , selama 30 menit Oven 170 oC (30’) Autoklaf 115-116 oC (30’) Autoklaf (30’)

Pipet tetes tanpa karet Karet pipet Vial Spuit

2 2 2 1

Autoklaf (30’) Rebus (30’) Autoklaf 115-116o C, 30 menit Autoklaf 115-116o C, 30 menit

XIV.

STERILISASI  Sterilisasi D menurut Farmakope Indonesia Edisi Ketiga : 18 Pemanasan Kering. Sediaan yang akan disterilkan dimasukkan ke dalam wadah kemudian ditutup kedap atau penutupan ini dapat bersifat sementara untuk mencegah cemaran . Jika volume dalam tiap wadah tidak lebih dari 30 ml, panaskan pada suhu 150oC selama 1 jam. Jika volume dalam tiap wadah lebih dari 30 ml, waktu 1 jam dihitung setelah seluruh isi tiap wadah mencapai suhu 150oC. Wadah yang tertutup sementara, kemudian ditutup kedap menurut teknik aseptik. Teknik Aseptik Proses Aseptik adalah cara pengurusan bahan steril menggunakan teknik yang dapat memperkecil kemungkinan terjadinya cemaran kuman hingga seminum mungkin. Teknik aseptik dimaksudkan untuk digunakan dalam pembuatan injeksi yang tidak dapat dilakukan sterilisasi akhir, karena ketidakmantapan zatnya. Teknik ini tidak mudah diselenggarakan dan tidaka ada kepastian bahwa hasil akhir sesungguhnya steril. Sterilitas hasil akhir hanya dapat disimpulkan, jika hasil itu telah memenuhi syarat Uji sterilitas yang tertera pada uji keamanan hayati. Teknik aseptik menjadi cara yang peting sekali diperhatikan pada waktu melakukan sterilisasi menggunakan sterilisasi C dan D sewaktu memidahkan atau memasukkan bahan steril ke dalam wadah akhir steril. Dalam hal tertentu, untuk meyakinkan terjadinya cemaran atau tidak sewaktu memindahkan atau memasukkan cairan steril ke dalam wadah steril menggunakan cara ini, perlu diuji cara berikut : Ke dalam salah satu wadah masukkan medium biakkan bakteri sebagai ganti cairan steril. Tutup wadah dan eramkan pada suhu 32 oC

selama 7 hari. Jika terjadi pertumbuhan kuman, menunjukkan adanya cemaran yang terjadi pada waktu memasukkan atau memindahkan cairan ke dalam wadah akhir. Dalam pembuatan larutan steril menggunakan proses ini, obat steril dilarutkan atau didispersikan dalam zat pembawa steril, diwadahkan dalam wadah steril, akhirnya ditutup kedap untuk melindungi terhadap cemaran kuman. Semua alat yang digunakan harus steril. Ruangan yang digunakan untuk melakukan pekerjaan ini harus disterilkan terpisah dan tekanan udaranya diatur positif dengan memasukkan udara yang telah dialirkan melalui penyaring bakteri.  Menurut Farmakope Indonesia IV Proses sterilisasi termal untuk bahan yang tertera di farmakope dengan menggunakan panas kering biasanya dilakukan dengan suatu proses dalam

suatu oven yang didesain khusus untuk tujuan tersebut. Distribusi panas dapat berupa sirkulasi atau disalurkan langsung dari suatu nyala terbuka.

XV.

PROSEDUR a. Semua peralatan disterilkan sesuai persyaratan b. Menimbang zat aktif menggunakan kaca arloji. c. Semua peralatan dan bahan yang akan digunakan di lewatkan ke white area melalui pass box d. Menadion yang telah ditimbang kemudian dimasukkan kedalam beaker glass yang telah berisi oleum olivae 25 ml. Aduk hingga larut. e. Dilakukan pengadukan dengan stirer selama 5 menit untuk melarutkan vitamin K f. Mengisi larutan injeksi ke dalam vial yang telah dikalibrasi. g. Dilakukan penutupan ampul terlebih dahulu (dispensasi) h. sediaan disterilisasi dengan cara pemanasan kering (sterilisasi D), dimana sediaan yang akan disterilkan dimasukkan ke dalam wadah kemudian di tutup kedap, atau penutupan ini dapat bersifat sementara untuk mencegah pencemaran. Jika volume dalam tiap wadah tidak lebih

dari 30 ml, panaskan pada suhu 150 oC selama 1 jam. Jika volume dalam tiap wadah lebih dari 30 ml, waktu satu jam dihitung setelah isi tiap wadah mencapai suhu 150 oC. Wadah yang tertutup sementara kemudian ditutup kedap menurut teknik aseptik. Namun pada praktikum, dilakukan sterilisasi dengan menggunakan oven dengan suhu 150 menit i. j. dilakukan pemasangan etiket lalu dilakukan evaluasi
0

C selama 5

XVI.

DATA PENGAMATAN DAN EVALUASI    kejernihan : tidak jernih, masih ada serat yang melayang volume terpindahkan: terambil 5 ml dari 5,5 ml uji kebocoran : tidak dilakukan

XVII. PEMBAHASAN Injeksi merupakan sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspense atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Pada praktikum kali ini, dilakukan pembuatan sediaan injeksi Menadion (vitamin K). Vitamin K merupakan bahan yang praktis tidak larut dalam air; larut dalam 60 bagian alcohol, dalam 50 bagian minyak nabati, sehingga dapat dibuat sediaan dengan pelarut non air yakni dengan pelarut minyak. Dalam pembuatan sediaan injeksi, formulasi yang kami gunakan terdiri dari zat aktif berupa vitamin K (Menadion) dan zat tambahan berupa Oleum Olivarum sebagasi pelarut atau pembawa dan BHT sebagai antioksidan. Dari data yang diperoleh dapat diketahui bahwa Vitamin K (Menadion) tidak larut dalam air namun larut dalam minyak, sehingga kami membuat sediaan injeksi tersebut dengan menggunakan pelarut non air berupa minyak. Minyak yang kami gunakan adalah Oleum Olivarum. Selain sebagai pembawa, Oleum

Olivarum juga memenuhi persyaratan minyak untuk sediaan injeksi serta tidak OTT. Persyaratannya yaitu Oleum Pro Injeksi berupa minyak lemak nabati/ester asam lemak tinggi, alam/sintetik, harus jernih pada suhu 100 o C, tidak berbau asin atau tengik dan harus bebas minyak mineral. Minyak yang dapat digunakan untuk pembawa sediaan injeksi adalah yang berasal dari tumbuhan seperti minyak kacang, minyak biji kapas, minyak jagung, minyak wijen, dan minyak kenari. Kadang-kadang digunakan juga minyak jarak dan minyak zaitun; Bilangan asam tidak kurang dari 0,2 dan tidak lebih dari 0,9; Bilangan iodium tidak kurang dari 79 dan tidak lebih dari 128 dan Bilangan penyabunan tidak kurang dari 185 dan tidak lebih dari 200. Dan oleum Olivarum sudah memenuhi persyaratan untuk Oleum Pro Injeksi. ‘ Menurut literature fornas tiap ml injeksi vitamin K mengandung

menadionum 2mg dan oleum pro injection ad 1ml. Pada pembuatan dilakukan sterilisasi dengan cara sterilisasi D dan segera didinginkan. Sterilisasi D (dengan pemanasan kering)
o

yakni

sterilisasi

dengan

menggunakan oven, pada praktikum dilakukan sterilisasi akhir dengan menggunakan oven pada suhu 150 C selama 10 menit (dispensasi).

Perbedaan formula kami dengan Fornas di dasarkan pada minyak yang mudah teroksidasi mengalami ketengikan. sehingga formula kami

menggunakan penambahan antioksidan yakni dengan menambahkan BHT. Pada pembuatan sediaan dilakukan tanpa intermediate add karena memikirkan akan pelarut minyak yg kental, sehingga jika di intermediate add akan mengalami volume terpindahkan. Dalam pembuatan dilakukan

pengadukan dengan menggunakan stirrer, karena saat diaduk dengan menggunakan batang pengaduk, vitamin K sulit melarut dalam minyak. Saat evaluasi kejernihan sebelum dilakukan sterilisasi akhir, didapat bahwa sediaan kami tidak jernih dan masih ada partikel (serat) yang melayang. Terjadinya sediaan yang tidak jernih karena serbuk vitamin K di laboratorium putih dengan sedikit serbuk agak kecoklatan. Adanya partikel yang melayang seharusnya tidak boleh terjadi dalam pembuatan sediaan steril karena injeksi dilakukan ke pembuluh darah dan akan bercampur

dengan darah sehingga dapat mengakibatkan penyumbatan pada peredaran darah. Adanya partikel yang melayang seharusya disaring kembali agar sediaan benar-benar jernih tanpa ada partikel yang tidak tercampur. Untuk uji volume terpindahkan, dilakukan dengan mengambil sediaan dari vial dengan spuit. Sediaan dibuat dalam vial sebanyak 5,5 ml, namun yang dapat diambil dengan spuit untuk uji evaluasi volume terpindahkan Sehingga masih ada tersisa di ampul sebanyak 0,5 ml. sebanyak 5 ml.

VIII.

FORMULA PUSTAKA Menurut Fornas : INJEKSI KORTISON / CORTISONI INJECTIO

Komposisi : Tiap ml mengandung : Cortisoni Acetas Polisorbatum 80 Carboxymethylcellulosum natricum Natrii Chloridum Benzylalcoholum Aqua Pro Injection hingga 25 mg 4 mg 5 mg 9 mg 9 mg 1 ml

Penyimpanan : Dalam wadah dosis tunggal, terlindung dari cahaya. Dosis Catatan : IM, sehari 2 ml sampai 16 ml, dalam dosis bagi. :

digunakan kortison asetat serbuk sangat halus pH 5,0 sampai 7,2 dibuat dengan cara tehknik aseptic pada etiket harus juga tertera : “tidak untuk intravenus”

IX.

FORMULASI Perhitungan Metode Liso

Benzil Alkohol

Polisorbat 80

Menurut buku Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi Terdapat 3 jenis keadaan tekanan osmosis larutan obat, yaitu : Keadaan isotonis apabila nilai B = 0, b1.C = 0,52 Keadaan hipotonis apabila nilai B positif, b1.C < 0,52 Keadaan hipertonis apabila nilai B negativ, b1. C > 0,52

Perhitungan tonisitas menurut Farmakope Indonesia III B= 0,52 – ∑ b1.C b2 B b1 b2 : Bobot dalam gram zat yang ditambahkan dalam 100 ml hasil akhir : Penurunan titik beku air yang disebabkan oleh 1% b/v zat khasiat : Penurunan titik beku air yang disebabkan oleh penambahan 1% b/v zat tambahan C : Kadar zat khasiat dalam % b/v

B = 0,52 – (0,155 – 0,00568) 0,58

B = 0,52 – 0,149 0,58 B = 0,371 0,58 B = 0,640 gr/100ml B = 640 mg/100ml B = 6,40 mg/ml Sediaaan hipotonis dalam sediaan parenteral tidak boleh digunakan, karena akan menimbulkan hemolisa. Oleh karena itu, dalam sediaan hipotonis perlu ditambahkan zat pengisotonis seperti NaCl. Jika larutan sediaan yang dibuat sedikit hipertonis maka larutan sediaan tersebut masih diperbolehkan. Kesimpulan :. Dalam formula pustaka diketahui jumlah NaCl yang harus digunakan. Namun, pada praktikum kali ini kelompok kami tidak menganggap NaCl yang ada di formula sehingga kami menghitung sendiri jumlah NaCl yang diperlukan agar sediaan isotonis. Jadi, NaCl yang diperlukan untuk mebuat sediaan menjadi isotonis yaitu 6,4 mg/ml. o pH Penambahan larutan dapar dalam larutan hanya dilakukan larutan obat suntik dengan pH 3,5-7,5 . Untuk pH < 3 atau >1 sebaiknya tidak didapar karena sulit dinetralisasikan. pH ideal dari sediaan adalah 7,4 yang sesuai dengan pH darah , tetapi hal tersebut tidak selalu dapat dilakukan karena sediaan harus disesuaikan dengan pH stabilitas zat aktif. Kesimpulan : pH sediaan yang dihasilkan dari formulasi telah mendekati pH darah

yaitu 7,4. Sehingga tidak diperlukan zat dapar. o Suspending Agent Pembuatan sediaan injeksi suspense, diperlukan suatu suspending agent. Fungsi suspending agent ialah memperlambat pengendapan, mencegah penurunan

partikel,dan menstabilkan zat yang tidak larut dalam medium pendispersi.. Suspensi yang baik mempunyai kekentalan yang sedang dan partikel yang terlindung dari gumpalan/aglomerasi. Kesimpulan : Karena bahan pembawa yang digunakan dalam sediaan injeksi suspense ini adalah air, maka kami menggunakan suspending agent golongan selulosa larut air, yaitu ; Na CMC. o Wetting Agent Dipakai jika zat aktif bersifat hidrofob. Fungsi : menurunkan tegangan permukaan bahan dengan air(sudut kontak ) dan meningkatkan disperse bahan yang tidak larut. Kesimpulan : Sehingga diperlukan bahan pembasah yaitu biasanya surfaktan untuk meningkatkan disperse bahan yang tidak larut. o Pengawet Antimikroba/pengawet perlu ditambahkan untuk sediaan parenteral yang dipakai berulang kali (dosis terbagi/multidosis) walaupun tidak diperbolehkan pada monografi atau walaupun zat khasiat sendiri sudah bersifat bakteriostatik. Antimikroba juga kadang-kadang ditambahkan pada dosis tunggal yang tidak dilakukan sterilisasi akhir. Kesimpulan : Pada formula pustaka, pengawet yang digunakan adalah Benzyl alcohol.

Diperlukan pengawet karena sediaan merupakan sediaan multidose( kemungkinan adanya kontaminasi sediaan pada saat pemakaian kembali) dan pembuatan dilakukan secara aseptis(kemungkinan kontaminasi saat pengisian,dll) o Antioksidan Zat khasiat dalam larutan dapat terurai akibat oksidasi O2 atau hilangnya hydrogen(H2) dipercepat dengan adanya logam, hydrogen, gugus hidroksil. Sediaan injeksi riboflavin menggunakan bahan pembawa air dan tidak terkandung minyak serta bahan-bahan lain yang mudah teroksidasi. Kesimpulan : Sehingga tidak diperlukan antioksidan.

X.

PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN BAHAN

o Perhitungan Bahan

Volume yang dibuat

=(n+2)v’+(2x3)ml = (2)5,3 +(2x3)ml = 10,6 + 6 ml = 16,6 ml ~ 25 ml

n : Jumlah ampul v’ : Volume berlebih yang disarankan pada farmakope

Kortison Asetat Natrium Klorida Na CMC Benzilalcohol Polisorbat 80 o Penimbangan Bahan 

= 25 mg = 0,025 gram = 6,4 mg = 0,0064 gram = 5 mg = 0,005 gram = 9 mg = 0,009 gram = 4 mg = 0,004 gram

Kortison Asetat = 25 mg x 25 ml = 625 mg = 0,625gram

Na CMC = 5 mg x 25 ml = 125 mg = 0,125 gram Air yang diperlukan untuk mengembangkan Na CMC =2,5 ml

Benzil alcohol

= 9 mg x 25 ml = 225 mg = 0,225 gram

Polisorbat 80

= 4 mg x 25 ml = 100 mg = 0,1gram

Natrium Klorida = 6,4 mg x 25 ml = 160 mg = 0,160 gram

XI.

FORMULA AKHIR INJEKSI KORTISON / CORTISONI INJECTIO

Komposisi : Tiap ml mengandung Cortisoni Acetas Polisorbatum 80 Carboxymethylcellulosum natricum Natrii Chloridum Benzyalcoholum Aqua Pro Injection hingga 25 mg 4 mg 5 mg 6,4 mg 9 mg 1 ml

Penyimpanan : Dalam wadah dosis tunggal, terlindung dari cahaya. Dosis Catatan : Im, sehari 2 ml sampai 16 ml, dalam dosis bagi. :

digunakan kortison asetat serbuk sangat halus pH 5,0 sampai 7,2 dibuat dengan cara tehknik aseptic. pada etiket harus juga tertera : “tidak untuk intravenus”

XII.

ALAT DAN CARA STERILISASI Nama Alat Batang pengaduk Kaca arloji Spatula logam Pinset logam Becker glass Gelas ukur Erlenmeyer Vial Pipet tetes Tutup karet vial Mortar & alu Cawan penguap Sudip Karet pipet Jumlah 1 3 2 1 3 3 2 2 2 2 1 2 1 1 Cara sterilisasi Oven 170oC Oven 170 C Oven 170oC Oven 170oC Oven 170oC Autoklaf (115-116oC) Oven 170oC Oven 1700C Autoklaf Autoklaf (115-116oC Oven 170oC Oven 170oC autoklaf(115-116oC) Rebus
o

Waktu 2 jam 2 jam 2 jam 2 jam 2 jam 30 menit 2 jam 2 jam 30 menit 30 menit 2 jam 2 jam 30 menit 30 menit

Corong

1

autoklaf(115-116oC)

30 menit

XIII.

PROSEDUR PEMBUATAN

Cara Pembuatan API (Aqua Pro Injeksi) 4. Aqua destilata dipanaskan dalam erlenmeyer sampai air mendidih, setelah air mendidih kemudian dipanaskan lagi selama 30 menit. 5. Setelah 30 menit baru diangkat kemudian dinginkan dan digunakan untuk membuat sediaan steril. 6. Untuk air bebas O2 ditambah waktu pemanasannya selama 10 menit (40 menit totalnya). Cara Pembuatan Injeksi Suspensi Kortison 14. Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan 15. Sterilisasi bahan dan alat-alat yang dibutuhkan sesuai dengan ketentuan sterilisasi pada masing-masing alat dan bahan 16. Timbang bahan-bahan yang dperlukan 17. Siapkan 3 wadah 18. Wadah I : Suspending Agent dikembangkan air panas( untuk Na CMC

dikembangkan dengan air panas 20 bagian air panas.) dalam lumpang (dilakukan dalam lemari LAF) 19. Wadah II : Surfaktan ( Polisorbat 80 ) dilarutkan dengan air ditambahkan kortison

asetat (dilakukan dalam lemari LAF) 20. Wadah III : NaCl dilarutkan dengan air dan Benzil alcohol dilarutkan dengan air.

Masukkan benzyl alcohol ke dalam larutan NaCl. (dilakukan dalam lemari LAF) 21. Campurkan wadah II ke dalam wadah I (dilakukan dalam lemari LAF) 22. Kemudian terakhir masukkan wadah III ke dalam wadah I (dilakukan dalam lemari LAF) 23. Pindahkan ke gelas ukur dan tambahkan bahan pembawa steril ad volume 25 ml ( sambil dilakukan pemeriksaan pH’nya ) (dilakukan dalam lemari LAF) 24. Sambil diaduk diisikan ke dalam vial steril yang telah dikalibrasi. (dilakukan dalam lemari LAF)

25. Pasang tutup karet dan alumunium, ketatkan dengan penekuk bibir aluminium. (dilakukan dalam lemari LAF) 26. Beri etiket

XIV.

EVALUASI  Penampilan  Kadar pH : Suspensi tidak terbentuk dengan baik :

Kortison Asetat dalam injeksi stabil pada pH 5 – 7 . Pengujian dilakukan dengan menggunakan kertas indicator universal didapatkan pH = 6 , pH yang di dapat sesuai dengan yang diinginkan karena masuk ke dalam range pH sediaan antara pH 5- 7  Uji volume terpindahkan :

Dilakukan dengan mengambil larutan injeksi yang berada pada ampul dengan menggunakan spuit(jarum suntik). Volume yang terpindahkan = 5 ml

XV.

PEMBAHASAN Pada praktikum steril kali ini bertujuan membuat sediaan injeksi suspensi kortison

asetat. Sediaan injeksi merupakan sediaan parenteral volume kecil dimana sediaan parenteral adalah sediaan obat steril dapat berupa larutan atau suspensi yang dikemas sedemikian rupa sehingga cocok untuk diberikan dalam bentuk injeksi hypodermis dengan pembawa atau zat pensuspensi yang cocok. Sediaan injeksi selain terdapat juga dalam bentuk larutan dengan
K pelarut non air, terdapat pula sediaan injeksi berupa suspensi maupun emulsi. Tujuan suatu

sediaan dibuat steril yaitu karena berhubungan langsung dengan darah atau cairan tubuh dan jaringan tubuh lain yang pertahanannya terhadap zat asing tidak selengkap pada saluran cerna atau gastrointestinal. Diharapkan dengan kondisi steril dapat dihindari adanya infeksi sekunder. Dalam hal ini tidak berlaku relative steril atau setengah steril, hanya ada dua pilihan yaitu steril dan tidak steril. Dan obat injeksi merupakan sediaan yang perlu disterilkan. Masing-masing zat aktif memiliki spesifikasi kelarutan berbeda berdasarkan stabilitasnya. Ada beberapa zat aktif yang tidak larut dan stabil dalam air. Namun, untuk

mengatasi masalah tersebut, dapat digunakan pelarut non air, dibuat sediaan suspensi, ataupun dibuat sediaan emulsi. Zat aktif yang disuspensikan biasanya karena zat tersebut tidak larut dalam air namun membutuhkan pembawa air. Zat aktif yang kami gunakan dalam praktikum kali ini adalah kortison . Bahan yang digunakan adalah bentuk asetat dari kortison karena kortison asetat memiliki kelarutan lebih baik dalam air sehingga lebih mudah melarut dalam air meskipun masih termasuk dalam kriteria zat yang tidak larut dalam air. Jadi, berdasarkan sifat tersebut dan informasi dari beberapa literatur, kami memilih membuat sediaan injeksi kortison asetat berupa suspensi. Kami juga menggunakan formulasi , yaitu formulasi berdasarkan FORNAS. Sebagai suspending agent, kami menggunakan CMC-Na. CMC-Na merupakan suatu suspending agent yang baik karena ia membentuk mucillago dengan penampilan baik atau lebih jelasnya ia membentuk mucillago gel bening yang tidak terlalu mengganggu terhadap warna sediaan. Suatu suspensi harus berkriteria zat-zat yang disuspensikan harus mudah tersuspensi kembali saat dilakukan pengocokan. Kortison asetat merupakan zat yang sulit dibasahi, sehingga perlu adanya tambahan zat yang mampu menurunkan tegangan permukaan antara zat aktif dengan air yang dikenal dengan istilah wetting agent. Wetting agent yang kami gunakan adalah polysorbat 80 yang merupakan suatu surfaktan. Wetting agent mempermudah partikel-partikel tersuspensi kembali setelah mengendap saat penyimpanan dalam waktu yang lama dan dapat meningkatakan dispersi bahan yang tidak larut. Selain itu, kami menggunakan bahan tambahan lain seperti benzyl alkohol yang berguna sebagai pengawet karena sediaan merupakan sediaan multidose yang dimungkinkan adanya kontaminan saat pemakaian kembali dan sediaan dibuat secara aseptis yang dapat dimungkinkan pula terdapatnya kontaminasi pada saat pengisian,dll . Pada sediaan parenteral, tonisitas harus diperhatikan karena larutan yang dibuat harus isotonis sehingga tidak akan mengalami kerusakan jaringan dan iritasi serta mencegah hemolisa. Sediaan isotonis ini tidak selalu dapat dicapai karena mengingat kadang-kadang diperlukan zat khasiat dengan dosis tinggi untuk mendapatkan efek farmakologis yang diinginkan, yang menyebabkan isotonis terlampaui ( larutan sedikit hipertonis ). Menurut buku

Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi, terdapat 3 jenis keadaan tekanan osmosis larutan obat, yaitu : Keadaan isotonis apabila nilai B = 0, b1.C = 0,52 Keadaan hipotonis apabila nilai B positif, b1.C < 0,52 Keadaan hipertonis apabila nilai B negativ, b1. C > 0,52

Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan metode perhitungan tonisitas menurut Farmakope Indonesia III untuk mengetahui keadaan sediaan isotonis, hipotonis atau hipertonis maka dihasilkan untuk formulasi sediaan kami termasuk dalam kategori hipotonis. Sediaaan hipotonis dalam sediaan parenteral tidak boleh digunakan, karena akan menimbulkan hemolisa. Oleh karena itu, dalam sediaan hipotonis perlu ditambahkan zat pengisotonis seperti NaCl. Jika larutan sediaan yang dibuat sedikit hipertonis maka larutan sediaan tersebut masih diperbolehkan. Dalam formula pustaka diketahui jumlah NaCl yang harus digunakan. Namun, pada praktikum kali ini kelompok kami tidak menganggap NaCl yang ada di formula sehingga kami menghitung sendiri jumlah NaCl yang diperlukan agar sediaan isotonis. Jadi, NaCl yang diperlukan untuk membuat sediaan menjadi isotonis yaitu 6,4 mg/ml. Proses pembuatan sediaan dilakukan dengan teknik aseptis sehingga membutuhkan sterilisasi awal. Seharusnya beberapa alat dan bahan yang digunakan dalam proses pembuatan disterilisasi terlebih dahulu menggunakan cara sterilisasi yang sesuai dengan karakteristik komponen penyusun alat dan bahan tersebut. Namun pada pembuatan suspensi ini, kami melakukan kesalahan yaitu yang disterilisasi hanya alat-alatnya saja, sedangkan untuk bahanbahan tidak disterilisasi. Hal tersebut tidak sesuai dengan prosedur yang benar, karena seharusnya bahan-bahan ditimbang dan dilarutkan dalam pelarut masing-masing yang sesuai, dan kemudian ikut disterilisasi bersama alat-alat yang akan digunakan pada proses pencampuran. Selain itu bagian atas dari kertas pembungkus alat-alat yang akan disterilisasi tidak ditutup bagian atasnya. Hal tersebut sangat fatal karena akan memungkinkan terjadinya kontaminasi kembali pada alat-alat yang sudah disterilisasi. Kortison asetat harus digerus halus telebih dahulu untuk diperoleh ukuran partikel yang sekecil mungkin dalam ukuran micron sebagai persyaratan sediaan injeksi suspensi. Ukuran

partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta daya tekan keatas cairan suspensi. Ukuran partikel berbanding terbalik dengan luas penampangnya, sedangkan antara luas penampang dengan daya tekan ke atas merupakan hubungan linear, artinya semakin besar ukuran partikel maka semakin kecil luas penampangnya. Daya tekan ke atas cairan akan mempercepat gerakan untuk mengendap, sehingga untuk memperlambat gerakan tersebut dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel. Setelah proses sterilisasi awal telah dilakukan, selanjutnya kami menimbang bahanbahan yang diperlukan. Dalam hal proses pencampuran bahan harus diketahui bahwa pengerjaannya tersebut harus berada di dalam lemari Laminar Air Flow (LAF). Ada yang perlu diperhatikan dalam tahapan persiapan mengoperasikan laminar air flow yaitu pertama kami harus menghidupkan lampu uv yang terdapat di dalam lemari LAF tersebut dengan tujuan agar kondisi di dalam lemari LAF tersebut bebas kontaminan, bebas pirogen dan dalam keadaan steril. Sinar ultraviolet merupakan pembunuh mikroba yang sangat kuat, dengan panjang gelombang efektif berkisar antara 220-280 nm (Jay, 1996). Panjang gelombang 265 nm merupakan kisaran panjang gelombang yang paling efektif untuk membunuh mikroorganisme. Mikroorganisme terutama bentuk sel vegetatifnya dapat terbunuh dengan penyinaran sinar ultraviolet. Sinar ultraviolet menyebabkan bakteri yang berada di udara atau yang berada dilapisan permukaan suatu benda yang terpapar sinar ultraviolet akan mati. Bila mikroorganisme disinari oleh sinar ultraviolet, maka ADN (Asam Deoksiribonukleat) dari mikroorganisme tersebut akan menyerap energi sinar ultraviolet. Energi itu menyebabkan terputusnya ikatan hidrogen pada basa nitrogen, sehingga terjadi modifikasi-modifikasi kimia dari nukleoprotein serta menimbulkan hubungan silang antara molekul-molekul timin yang berdekatan dengan berikatan secara kovalen . Hal ini merusak atau memperlemah fungsi-fungsi vital organisme dan kemudian akan membunuhnya. Setelah proses penghidupan lampu UV, barulah kami dapat melakukan proses pembuatan sediaan di dalam lemari LAF tersebut. Tahap pertama yaitu mengembangkan suspending agent (Na CMC) dengan API di dalam lumpang (wadah I) hingga terbentuknya mucillago. Di dalam wadah lain (wadah II), surfaktan (polisorbat 80) dilarutkan dengan air

kemudian ditambahkan dengan kortison asetat. Hal ini bertujuan agar zat aktif (kortison asetat) yang tidak larut dalam air mampu terdispersi dengan baik dalam medium pendispersinya. Campuran wadah II dimasukkan ke dalam wadah I , diaduk terus hingga homogen. Setelah itu, NaCl dan benzyl alcohol dilarutkan masing-masing dengan API. Kemudian dicampur ke dalam becker glass (wadah III). Campuran dalam wadah III dimasukkan ke dalam campuran wadah I, diaduk hingga homogen. Kemudian dipindahkan ke dalam gelas ukur dan ditambahkan sisa API tepat hingga volume yang diinginkan. Pada praktikum yang telah kami lakukan , terdapat kesalahan yaitu dimana dalam penambahan sisa API hingga volume yang diinginkan terlampau jauh sehingga sediaan suspensi yang ingin kami buat tidak terbentuk (suspensi menjadi pecah). Dalam hal ini untuk menanggulangi masalah tersebut maka dalam penambahan sisa API hingga volume yang diinginkan jangan sampai terlampau jauh sehingga diperlukan ketelitian untuk mengatur jumlah volume API yang perlu ditambahkan pada saat proses pencampuran maupun pada tahap terakhir penambahan sisa API. Perlu diingat bahwa dalam setiap tahap sebelum penambahan API hingga volume yang diinginkan, perlu dilakukan pemeriksaan pH. Seperti sudah diketahui bahwa pH ideal dari sediaan adalah 7,4 yang sesuai dengan pH darah, tetapi hal tersebut tidak selalu dapat dilakukan karena sediaan harus dibuat pada pH yang mendukung stabilitas dari sediaan. Rentang pH yang tidak dapat ditoleransi oleh tubuh yakni pH > 9 menyebabkan kematian jaringan dan pH < 3 akan menimbulkan rasa sakit (nyeri) dan menyebabkan flebitis. Oleh karena itu dalam proses pembuatan sediaan injeksi steril diperlukan pemeriksaan pH. Sebaiknya pemeriksaan pH sediaan dilakukan pada saat mendekati volume akhir yang diinginkan karena jika pH sediaan belum masuk range pH yang diinginkan, pengaturan pH sediaan dapat dilakukan dengan menambahkan adjust pH. Uji pH dilakukan dengan menggunakan indikator universal menunjukkan sediaan memiliki pH 6. Nilai pH ini masuk dalam rentang pH stabil sediaan, yaitu antara 5 dan 7. Tahap selanjutnya yaitu sediaan injeksi suspensi kortison dimasukkan ke dalam wadah. Wadah yang digunakan untuk sediaan injeksi biasanya adalah berupa vial atau ampul. Karena dosis yang digunakan sebesar 5 ml, maka pada pembuatan sediaan injeksi suspensi kali ini

digunakan wadah vial serta jumlah volume yang dimasukkan ke dalam vial adalah 5 ml. Setelah vial berisi suspensi maka dipasang tutup karet dan alumunium, diketatkan dengan penekuk bibir aluminium agar wadah tetap dalam keadaan tertutup rapat dan tidak terjadi kebocoran wadah. Tahap terakhir adalah memberi penandaan obat (label obat), untuk sediaan injeksi Kortison yang digunakan adalah label obat keras, karena pada umumnya pemberian sediaan injeksi harus dengan resep dokter dan perlu dilakukan oleh tenaga ahli medis untuk menghindari penyalahgunaan sediaan. Penggunaannya pun harus sesuai dengan indikasi dan dosis yang tepat. Sediaan injeksi suspensi ini tidak dapat diberikan secara intravena, karena persyaratan injeksi yang diberikan secara intravena harus dalam pembawa berupa larutan. Evaluasi yang dilakukan untuk sediaan injeksi suspense pada praktikum kali ini adalah volume terpindahkan. Dalam pengujian volume terpindahkan dilakukan dengan cara

mengambil kembali larutan sediaan injeksi pada ampul dengan menggunakan spuit. Pada pembuatan, volume yang dibuat 5 ml dengan penambahan 0,3 ml sehingga volume yang dimasukkan ke dalam ampul adalah 5,3 ml. Setelah melakukan uji volume terpindahkan, volume yang terpindahkan adalah 5 ml. Perbedaan volume yang terpindahkan dapat disebabkan tidak seluruhnya larutan injeksi dapat terambil oleh spuit sehingga diketahui bahwa kehilangan volume sebesar 0,3 ml. Namun hal ini tidak terlalu bermasalah karena dosis yang tertera pada etiket menunjukkan 5 ml. Injeksi Kortison No. II vial @ 5ml Formula dari Fornas: Komposisi : Tiap ml mengandung cortisoni asetat Polysorbatum-80 Carboxymethylcellulosum Natricum Natrii chloridum Benzylalcoholum 25mg 4mg 5mg 9mg 9mg

Aqua pro injectione hingga

1ml

Penyimpanan : dalam wadah dosis tunggal, terlindung dari cahaya Dosis : Catatan : Im, sehari 2ml sampai 16 ml, dalam dosis bagi. 1. Digunakan Kortison Asetat serbuk sangat halus. 2. pH 5,0-7,2. 3. dibuat dengan cara teknik aseptik 4. pada etiket harus juga tertera : “Tidak untuk intravenus”. ( Fornas : 88) Formula akhir R/ cortisoni asetat Polysorbatum-80 Carboxymethylcellulosum Natricum Natrii chloridum Benzylalcoholum Aqua pro injectione hingga Perhitungan Volume berlebih = = = Penimbangan bahan :       Kortison Asetat = 25mg x 25 ml = 625mg= 0,625 gram Na CMC = 5mg x 25 ml = 125 mg = 0,125 gram NaCl = 9mg x 25 ml = 225 mg = 0,225 gram Polisorbat 80 ( Tween 80) = 4mg x 25ml = 100mg = 0,1 gram Benzil alkohol = 9mg x 25 ml = 225 mg = 0,225 gram Aqua injeksi ad = 25ml ( n )v’ + 2 x 3 ml (2 )5,30ml + 6 ml 16,6ml ≈ 25 ml 25mg 4mg 5mg 9mg 9mg 1ml

CARA KERJA Penyiapan Aqua Pro Injeksi Aquabidest didihkan selama 30 menit dalam wadah tertutup kaca arloji atau kapas. pembebasan oksigen dilakukan dengan mendidihkan lagi 10 menit dan mengganti tutup kaca arloji dengan sumbat kapas Alat-alat disterilaisasi terlebih dahulu, sesuai dengan cara-cara sterilisasi alat-alat dengan menggunakan autoklaf dan Oven. Gerus kortison asetat sebelum ditimbang Penimbangan bahan      Kortison Asetat = 0,625 gram Na CMC = 0,125 gram NaCl = 0,225 gram Polisorbat 80 ( Tween 80) = 0,1 gram Benzil alkohol = 0,225gram Masukkan surfaktan dalam beaker glass tambahkan api diaduk dengan menggunakan stirer diatas penangas air, kemudian masukkan kortison asetat Kembangkan Na CMC dalam 2 bagian air hangat sampai membentuk mucilago dengan menggunakan stirer , di atas penangas air ad homogen. Setelah Suspending agent homogen, tambahkan campuran kortison, surfaktan dan api. Kemudian campurkan Benzil alkohol dengan Nacl, dan larutkan dengan api. Masukkan campuran NaCl, Bezil alkohol dan api kedalam campuran suspensi dan kortison. Aduk dengan stirer ad homogen. Lakukan evaluasi : cek pH Suspensi tersebut dituang ke dalam gelas ukur yang dilengkapi batang pengaduk dan volume akhir dicapai dengan penambahan aqua pro injeksi. Setelah diaduk homogen, suspensi dituang ke dalam vial steril yang telah dikalibrasi.

Evalusi sediaan injeksi suspensi steril  pH sediaan : 5,5

 warna : putih  Homogenitas : tidak homogen PEMBAHASAN Sediaan parenteral digolongkan menjadi dua berdasarkan jumlah volume yang diberikan: 1. Sediaan parenteral volume kecil (SPVK) Contohnya: injeksi 2. Sediaan parenteral volume besar (SPVB) Contohnya: infus Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan secara parenteral, suntikan dengan cara menembus, atau merobek jaringan ke dalam atau melalui kulit atau selaput lendir. Pada praktikum steril kali ini adalah membuat sediaan parenteral volume kecil yaitu injeksi pelarut air. Sampel yang digunakan adalah Kortison Asetat. Berdasarkan literatur pembuatan injeksi kortison asetat ini dilakukan secara Aseptis. Aseptic prosessing adalah metode pembuatan produk steril menggunakan saringan dengan filter khusus untuk bahan obat steril atau bahan baku steril yang diformulasikan dan diisikan kedalam kontainer steril dalam lingkungan yang terkontrol. Dimana suplai udara dan material, dan peralatan telah terkontrol sedemikian rupa sehingga kontaminasi mikroba tetap berada pada level yang dapat diterima. Kelarutan Kortison Asetat meliputi Praktis tidak larut dalam air, sukar larut dalam etanol (95%) P, mudah larut dalam Kloroform, sangat sukar larut dalam aseton , larut dalam dioksan. Karena tidak larut dalam air maka dibuat sediaan suspensi steril dengan pembawa air. Proses pembuatan sediaan dilakukan dengan teknik aseptis sehingga membutuhkan sterilisasi awal. Beberapa alat yang digunakan dalam proses pembuatan di white area disterilisasi terlebih dahulu menggunakan alat yang sesuai dengan karakteristik komponen penyusun alat. Hal ini telah diuraikan dalam tabel sebelumnya.

Pada pembuatan suspensi ini, Kortison asetat merupakan zat yang sulit dibasahi, sehingga perlu adanya tambahan zat yang mampu menurunkan tegangan permukaan antara zat aktif dengan air yang dikenal dengan istilah wetting agent. kortison asetat dilarutkan dalam wetting agent polysorbat 80 yang telah dicampurkan dengan api. Menurut literatur polysorbat 80 merupakan minyak ester yang dapat digunakan sebagai pembasah (pelarut zat aktif) dan memenuhi kriteria pelarut minyak yang disebutkan dalam buku resmi, selain itu Polysorbat 80 juga dapat digunakan sebagai surfaktan dalam pembuatan sediaan suspensi steril ini. Dimana polisorbat ini dapat menurunkan tegangan permukaan bahan dengan air yaitu kortison dengan air( sudut kontak) dan meningkatkan dispersi bahan yang tidak larut. Suspending agent yang kami gunakan adalah NaCMC. Dimana NaCMC mekanisme kerja dapat memperlambat pengendapan, mencegah penurunan partikel, dan mencegah penggumpalan resin dan bahan berlemak. Pada saat mengembangkan NaCMC, kami mengembangkan dengan 20 bagian api hangat yang diaduk dengan menggunakan magnetic stirer agar Na CMC dapat terdispersi secar sempurna dan dilakukan di atas penangas air dan dilakukan didalam laminar air flow. Pembuatan suspensi ini kami buat dengan dua proses yaitu proses pembuatan mucilago (M1) dan proses pelarutan zat aktif (M2) kemudian kedua proses tersebut kami campur dengan menambahkan M2 ke dalam M1 sedikit demi sedikit hingga terbentuk korpus. Setelah terbentuk korpus dan terdispersi sempurna, kemudian kami menambahkan

campuran Benzil alkohol yang telah ditambahkan dengan NaCl yang dilarutkan dengan api kedalam massa yang homogen. Namun, pada saat penambahan campuran benzil alkohol, NaCl dan api, langsung terbentuk aglomerat dan membentuk massa yang tidak homogen. Hal ini dimungkinkan adanya interaksi antar bahan-bahan yang digunakan pada saat penambahan campuran benzil alkohol, NaCl dan api kedalam massa M1. Berdasarkan literatur, benzil alkohol mengoksidasi perlahan di udara menjadi benzaldehid dan asam benzoat, tetapi tidak bereaksi dengan air. Berdasarkan literatur asam benzoat, apabila ditambahkan pada suspensi, asam benzoat akan memisahkan benzoat dengan mengadsorpsi anion benzoat pada partikel tersuspensi obat sehingga adsorpsi ini mengubah muatan permukaan partikel, yang pada gilirannya

mempengaruhi kestabilan fisik suspensi. Sedangkan benzaldehid memilki kelarutan larut 1 dalam 350 bagian air, kurang larut dengan alkohol, eter dan campuran minyak. Sehingga pada saat penambahan benzil alkohol yang telah teroksidasi di udara, menjadi benzaldehid dan asam benzoat, kemudian ditambahkan dengan NaCl dan dilarutkan dengan api dimasukkan kedalam massa yang homogen yaitu campuran suspending agent dan kortison yang telah terbentuk korpus akan mempengaruhi kestabilan fisik suspensi yang telah terbentuk massa yang homogen

sehingga menyebabkan adanya aglomerat yang menyebabkan sediaan injeksi suspensi kami tidak stabil. Sedangkan pada saat evaluasi pengecekan pH dengan kertas lakmus, pH sediaan kami adalah 5,5. pH ini masuk kedalam rentang pH sediaan injeksi kortison pada Formulasi nasional dan Martindale yaitu 5,2-7,0. Evalusi selanjutnya seperti evalusi bebas pirogen dan lain-lain tidak dapat dilakukan karena sediaan injeksi yang terbentuk tidak homogen.

I.

FORMULA PUSTAKA Fornas Hlm. 203 Injeksi Ringer R /Natrii Chloridum Kalii Chloridum Calcii Chloridum API ad Martindale Ed. 28 Hlm. 638 Ringer Injection R /NaCl 860 mg KCl 30 mg CaCl2 (dihydrat) 33 mg API ad 500 ml

4,3 g 150mg 2,4 g 100 ml

Penyimpanan : Dalam wadah dosis tunggal. pH 5,0 sampai 7,0. Tidak boleh mengandung bakterisida. Disterilkan dengan Cara Sterilisasi A atau C, segera setelah dibuat. Bebas pirogen. Pada etiket harus juga tertera : Banyaknya ion kalium, ion kalsium, ion klorida dan ion natrium masing-masing dalam mEq per l. Diinjeksikan secara infusi. Martindale Ed.35 Ringer Injection R / Sodium chloride 8.6 g potassium chloride 0.3 g calcium chloride 0.33 g water for injection to 100 mL Mengandung masing-masing sekitar 4,5 mEq per liter kalsium, 4 mEq per liter potassium, 156 mEq per liter chloride, and 147.5 mEq per liter sodium. pH 5.0 to 7.5.

II.

FORMULASI  Perhitungan Osmolaritas Formulasi Sediaan Steril ( Farida Sulistiawati & Nelly Suryani ) hal 55 Tekanan osmosa merupakan faktor fisologis penting yang berpengaruh pada formulasi. Definisi tekanan osmosa adalah perpindahan pelarut dan zat terlarut melalui membran permeable yang memisahkan 2 komponen. Satuan tekanan osmosa adalah osmole per kilogram disebut juga harga osmolaritas, yaitu :

M Hubungan antara Osmolaritas dan tonisitas Osmolaritas (M osmole/liter) >350 329-350 270-328 250-269 0-249 Hipertonis Sedikit hipertonis Isotonis Sedikit hipotonis Hipotonis Tonisitas

Osmolaritas Injeksi Ringer pada formula adalah Zat NaCL KCL CaCL2 BM 58,5 74,6 147 Jumlah  Perhitungan mEq Berat ion = Zat NaCL KCL CaCL2.H2O Massa (mg) 860 30 33 Mr 58,5 74,6 147 Ion Na+ ClK+ ClCa2+ ClAr 23 35,5 39,1 35,5 40 35,5 Berat Ion 338,12 521,248 15,72 14,259 11,92 10,55 Konsentrasi ( g/l) 8,6 0,3 0,33 Jumlah ion 2 2 3 Milliosmole/liter 294,01 8,04 6,74 308,79 → isotonis

mEq= Karena massa dalam formulasi adalah per 100 ml, maka mEq/L= mEq/0,1

Ion Na+ ClK+ Ca+

∑ berat ion 338,12 522,09 15,72 9 1 1 1 2

Valensi

Ar 23 35,5 39,1 40,08

mEq/L 147,5 155,5 4 4,5

pH Menurut : - Fornas : pH 5,0 sampai 7,0. - Martindale Ed.35 : pH 5.0 to 7.5. pH sediaan yang dihasilkan dari formulasi telah mendekati pH darah yaitu 7,4. Menurut buku Repetitorium Teknologi Farmasi Sediaan Steril ( Benny Logawa dan Soendani Soewandhi ) halaman 23, syarat sediaan infus adalah harus steril dan bebas pirogen. Sebaiknya isotonis dan isohidri, tetapi larutan dengan pH 4,0-7,5 masih bisa diterima. Menurut Farmakope Indonesia III hal 12, kecuali dinyatakan lain, infus intravena tidak diperbolehkan mengandung bakterisida dan zat dapar.

Antioksidan Stabilisator seperti antioksidan dan komplekson jarang ditambahkan pada sediaan parenteral volume besar.

Pengawet Menurut Farmakope Indonesia ed III hal 13, jika volume dosis tunggal lebih dari 15 ml, injeksi intravena tidak boleh mengandung bakterisida.

PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN BAHAN  Sediaan dibuat dengan melebihkan 2% untuk volume total, menjadi : 250 ml + (2% x 250 ml) = 255 ml. (FI IV hlm. 1044)  Zat aktif ditimbang dengan melebihkan 5% untuk menghindari zat aktif terserap oleh karbon adsorben. (Benny Logawa hlm.28)  Penimbangan bahan untuk 255 ml :

-

NaCl KCl

= 255/250 x 2,15 gram = 255/250 x 0,075 gram

= 2,193 gram = 0,077 gram = 0,084 gram

CaCl2 = 255/250 x 0,0825 gram

 Ditimbang dengan kelebihan 5%, NaCl = 2,193 gram + (5% x 2,193 gram) = 2,303 gram

API untuk melarutkan NaCl KCl

= 2,8 x 2,303 = 6,448 ml ≈ 20 ml = 0,081 gram

= 0,077 gram + (5% x 0,077 gram)

API untuk melarutkan KCl - CaCl2 = 0,084 + (5% x 0,084 gram) API untuk melarutkan CaCl2 Maka sisa API yang ditambahkan

= 2,8 x 0,081 = 0,227 ml ≈ 10 ml = 0,088 gram = 1,2 x 0,088 = 0,106 ml ≈ 10 ml = 255 – (20+10+10) = 215 ml

*Dalam sediaan infus, ditambahkan karbon aktif 0,1 % untuk anti pirogen. Karena dikhawatirkan karbon aktif dapat mengadsorbsi bahan sehingga dalam penimbangan dilebihkan 5%. III. FORMULA AKHIR Volume yang akan dibuat untuk sediaan infus sebesar 300 ml mengikuti acuan Formula Standar dari Martindale ed.28 hlm. 638. INJEKSI RINGER R/ NaCl 2,193 gram KCl 0,077 gram CaCl2 0,084 gram API ad 255 ml IV. ALAT DAN CARA STERILISASI UNTUK BEBAS PIROGEN (Farmakope Indonesia Hlm. 1112) Nama Alat Jumlah Cara sterilisasi Waktu

Batang pengaduk Kaca arloji Spatula logam Pinset logam Becker glass Gelas ukur Erlenmeyer Botol Infus Pipet tetes tanpa karet Karet pipet tetes Corong gelas&kertas saring Jarum suntik ( spuit ) Karet botol infus

1 3 3 1 2 1 2 1 2 2 1 1 1

Oven 250 oC Oven 250 oC Oven 250 oC Oven 250 oC Oven 250 oC Autoklaf (115-116 oC) Oven 250 oC Oven 250 oC Autoklaf (115-116 oC) Rebus Autoklaf (115-116 oC) Autoklaf (115-116 oC) Rebus

15 menit 15 menit 15 menit 15 menit 15 menit 30 menit 15 menit 15 menit 30 menit 30 menit 30 menit 30 menit 30 menit

V. Prosedur Pembuatan (Benny Logawa hlm. 29) 1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. 2. Semua bahan yang diperlukan ditimbang dengan kelebihan 5% dan bila perlu dihaluskan. 3. Siapkan karbon aktif, digerus halus kemudian disimpan di dalam oven suhu 80 0C selama 1 hari (dilakukan 1 hari sebelum praktikum dilaksanakan) 4. Ditimbang 0,1% karbon aktif. 5. NaCl, KCl, dan CaCl2 dilarutkan masing-masing dengan API di dalam wadah yang berbeda , kemudian masukkan ke dalam becker glass yang sudah dikalibrasi. 6. Kaca arloji dibilas dengan API. 7. Dilakukan pemeriksaan pH. 8. Dituangkan sisa API kedalam becker glass sampai tanda kalibrasi tercapai.

9. Kemudian dimasukkan karbon aktif yang sudah ditimbang ke dalam larutan. Gelas piala ditutup dengan kaca arloji yang disisipi batang pengaduk. 10. Larutan dihangatkan pada suhu 60-70 0C selama 15 menit sambil sesekali di aduk (dilakukan di luar lemari steril). 11. Kertas saring ganda dilipat, dibasahi dahulu dengan API bebas CO2. 12. Corong dan kertas saring dimasukkan ke dalam erlenmeyer. 13. Larutan di saring hangat-hangat ke dalam erlenmeyer, jangan lupa untuk membuang filtrat pertama. 14. Dilakukan pemeriksaan pH lagi. 15. Di ukur volume larutan dalam gelas ukur tepat 255 ml dan diisikan langsung ke dalam botol infus 255 ml yang sudah dikalibrasi sebelumnya. 16. Tutup karet botol infus dipasang, dan diikat dengan simpul champaigne. 17. Sterilkan botol yang berisi larutan dalam autoklaf 115-116 0C selama 30 menit. 18. Beri etiket.

VI.

EVALUASI  Uji Kejernihan In proses control Setelah sediaan dibuat  Kadar pH : Jernih : Jernih :

Diketahui bahwa pH sediaan antara pH 5 - 7,5. Pengujian yang dilakukan dengan menggunakan kertas indicator universal didapatkan pH = 6 , pH yang di dapat sesuai dengan pH sediaan yang diinginkan karena masuk ke dalam range pH sediaan antara pH 5 - 7,5. VII. PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini kami membuat sediaan parenteral volume besar, yaitu infus ringer. Infus Ringer adalah larutan steril Natrium klorida, Kalium klorida, dan Kalsium klorida dalam air untuk obat suntik yang diberikan melalui intravena tetes demi tetes dengan bantuan

peralatan yang cocok. Kadar ketiga zat tersebut sama dengan kadar zat-zat dalam larutan fisiologis. Rasionya dalam tubuh adalah air 57%, lemak 20,8%, protein 17,0%, serta mineral dan glikogen 6% ketika terjadi gangguan homeostatis (keseimbangan cairan tubuh), maka tubuh harus segera mendapatkan terapi untuk mengembalikan keseimbangan air dan elektrolit. Keseimbangan air dalam tubuh harus dipertahankan supaya jumlah yang diterima sama dengan jumlah yang dikeluarkan. Penyesuaian dibuat dengan penambahan/pengurangan jumlah yang dikeluarkan sebagai urin juga keringat. Ini menekankan pentingnya perhitungan berdasarkan fakta tentang jumlah cairan yang masuk dalam bentuk minuman maupun makanan dan dalam bentuk pemberian cairan lainnya. Elektrolit yang penting dalam komposisi cairan tubuh adalah Na, K, Ca, dan Cl. Bahan-bahan yang digunakan dalam sediaan infus ringer ini antara lain, Natrium Klorida, Kalium Klorida dan Kalsium Klorida. Ion natrium (Na+) dalam injeksi berupa natrium klorida dapat digunakan untuk mengobati hiponatremia, karena kekurangan ion tersebut dapat mencegah retensi air sehingga dapat menyebabkan dehidrasi. NaCl digunakan sebagai larutan pengisotonis agar sediaan infus setara dengan 0,9% larutan NaCl, dimana larutan tersebut mempunyai tekanan osmosis yang sama dengan cairan tubuh. Kalium klorida (KCl), kalium merupakan kation (positif) yang terpenting dalam cairan intraseluler dan sangat esensial untuk mengatur keseimbangan asambasa serta isotonis sel. Untuk menggantikan kalium yang hilang digunakan KCl yang lebih mudah larut dalam air. Ion kalsium (Ca2+), bekerja membentuk tulang dan gigi, berperan dalam proses penyembuhan luka pada rangsangan neuromuskuler. Jumlah ion kalsium di bawah konsentrasi normal dapat menyebabkan iritabilitas dan konvulsi. Kalsium yang dipakai dalam bentuk CaCl2 yang lebih mudah larut dalam air. Pada sediaan infus intravena tidak diperbolehkan mengandung bakterisida dan zat dapar. Karena infus diberikan dalam volume besar, maka tidak ditambahkan bakteriostatik untuk mencegah keracunan atau efek toksik yang dapat dihasilkan dari jumlah bakteriostatik yang dikandung. Parameter kualitas untuk sediaan cairan infus yang harus dipenuhi adalah steril, bebas partikel dan bebas pirogen disamping pemenuhan persyaratan yang lain. Hal

tersebut dikarenakan sediaan infus diberikan secara intravena, sehingga akan langsung menuju cairan tubuh tanpa melewati sawar membran. Pelarut yang digunakan dalam pembuatan sediaan infus kali ini adalah Air Pro Injection (API). Dalam formula, sediaan infus yang kami buat sebanyak 250 ml dibuat dengan melebihkan 2% untuk volume total sehingga menjadi 255 ml. Tetapi kami membuat sediaan infus dengan total volume 300 ml dan penimbangan bahannya pun disesuaikan dengan total volume 300 ml. Alasannya adalah agar volume sediaan yang diinginkan (255 ml) tidak berkurang ketika dilakukan pembilasan maupun evaluasi. Sediaan infus sedapat mungkin dibuat isotonis, yaitu mempunyai tekanan osmosis larutan yang sama dengan tekanan osmosis cairan tubuh. Larutan infus yang kami buat menghasilkan isotonis, yaitu 308,79 (dengan menggunakan perhitungan M osmole). Selain perhitungan isotonis, diperlukan juga perhitungan kebutuhan kation dan anion ( elektrolit ) yang terdapat dalam sediaan infus ini agar hasil yang didapatkan sesuai dengan kebutuhan anion dan kation ( elektrolit ) yang diperlukan oleh tubuh. Dari hasil perhitungan didapatkan bahwa harga mEq/l setiap elektrolit ( Na+, Cl-, K+, Ca2+ ) sesuai dengan yang diperlukan oleh tubuh dimana kebutuhan Na+, Cl-, K+, Ca2+ masing-masing ialah 142 meq/l , 102 meq/l, 4 meq/l, 5 meq/l . Proses pembuatan sediaan infus harus steril dan bebas pirogen. Infus harus bebas pirogen karena pirogen tersebut dapat menyebabkan kenaikan suhu tubuh yang nyata, demam, sakit badan, kenaikan tekanan darah arteri, kira-kira 1 jam setelah injeksi. Maka alat-alat yang digunakan juga harus bebas pirogen , dimana untuk membuat agar alat-alat bebas pirogen dapat dilakukan dengan cara mencuci semua alat dengan menggunakan air bebas pirogen, atau bisa juga dengan cara langsung dipanaskan di oven pada suhu 250 oC selama 15 menit (Farmakope Indonesia Ed. 4 hlm. 1112). Setelah dilakukan depirogenisasi alat-alat , maka dapat langsung dilakukan proses pembuatan. Bahan aktif yang digunakan dilarutkan satu persatu menggunakan API lalu dimasukkan ke dalam becker glass yang telah dikalibrasi 300 ml. Kemudian API ditambahkan hingga mencapai tanda batas kalibrasi pada becker glass tersebut. Sebelum penambahan sisa API sampai batas kalibrasi, dilakukan pemeriksaan pH sediaan terlebih dahulu. Menurut literatur, pH sediaan infus ringer yaitu pada rentang pH 5 - 7,5.

Sedangkan sediaan yang kami buat memiliki pH 5 - 6 sehingga dapat dikatakan sediaan infus yang kami buat memenuhi persyaratan pH sediaan infus berdasarkan literatur. Tujuan utama pengaturan pH dalam sediaan infus ini adalah untuk mempertinggi stabilitas obat, misalnya perubahan warna, efek terapi optimal obat, menghindari kemungkinan terjadinya reaksi dari obat tersebut, sehingga obat tersebut mempunyai aktivitas dan potensi. Selain itu, untuk mencegah terjadinya rangsangan atau rasa sakit sewaktu disuntikkan. pH yang terlalu tinggi akan menyebabkan nekrosis jaringan sedangkan pH yang terlalu rendah menyebabkan rasa sakit jika disuntikkan Untuk membebaskan sediaan dari pirogen digunakan adsorbing agent. Dalam prakteknya, kami menambahkan karbon aktif sebanyak 0,1% untuk menghilangkan pirogen tersebut. Penambahan karbon aktif dilakukan setelah volume infus sudah tepat 300 ml. Setelah ditambahkan karbon aktif kedalam becker glass berisi larutan tersebut, gelas piala ditutup dengan kaca arloji dan disisipi batang pengaduk, larutan infus dihangatkan pada suhu 60-70 0C selama 15 menit sambil sesekali diaduk. Setelah suhu konstan 60-70 0C baru penghitungan waktu dimulai, namun karena terbatasnya waktu pada saat praktikum diberikan dispensasi waktu pemanasan menjadi 5 menit. Penambahan karbon aktif berfungsi sebagai adsorben yang akan menarik partikel-partikel asing dan mempertahankan kejernihan sediaan. Campu ran yang terben tuk diangkat dari penangas air dan disaring dengan kertas sarin g ganda untuk memisahkan karbon aktif d an pengo tor-pe ngoto r dari laruta n tersebut sehingga diperoleh filtrat yang jernih. Seharusnya penyaringan ini dilakukan menggunakan penyaring G3 namun tidak dilakukan karena keterbatasan alat. Uji kejernihan in proses control perlu dilakukan yaitu pemeriksaan filtrat yang diperoleh sebelum dimasukkan ke dalam botol infus. Dari uji kejernihan dihasilkan filtrat yang jernih, tidak ditemukan partikel melayang. Kemudian filtrat yang diperoleh tersebut dimasukkan ke dalam botol infus yang telah dikalibrasi 255 ml. Bahan pembuat wadah berpengaruh terhadap kestabilan obat parenteral volume besar, jadi harus diusahakan kemasan tidak akan mempengaruhi kestabilan obat untuk sediaan parenteral volume besar. Wadah yang kami gunakan adalah botol yang terbuat dari kaca tipe II

dengan tutup yang terbuat dari karet. Botol infus ditutup dengan karet penutup, lalu diikat dengan simpul champaigne. Sediaan disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 121 oC selama 15 menit. Setelah sterilisasi akhir selesai, perlu dilakukan evaluasi uji kejernihan kembali . Hasil evaluasi menghasilkan bahwa sediaan jernih. Penandaan obat sediaan infus ringer yang digunakan adalah label obat keras, karena pada umumnya pemberian sediaan infus perlu dilakukan oleh tenaga ahli medis dan harus dengan resep dokter untuk menghindari penyalahgunaan sediaan. Pada etiket, selain dituliskan lambang obat keras, juga ada hal-hal yang perlu dicantumkan diantaranya volume sediaan, pH, osmolaritas, dan kadar elektrolit yang terkandung. Pemberian etiket pada wadah sedemikian rupa sehingga sebagian wadah tidak tertutup oleh etiket, hal ini dilakukan untuk mempermudah pemeriksaan isi secara visual.

2. Formulasi Standar :
Martindale Edisi 35 Ringer’s injection USP 29
R

/ NaCl KCl CaCl2 API ad

8.6 g 0.3 g 0.33 g 1000 ml

Catatan :   Kira-kira mengandung 4.5 mEq/L kalsium, 156 mEq/L klorida, 4 mEq/L kalium, dan 147.5 mEq/L pH 5 – 7,5

Fornas Hal. 203 Injeksi Ringer (Injeksi Natrium Klorida majemuk)

R

/ NaCl KCl CaCl2 API ad

4,3 g 150 mg 2,4 g 500 ml

Penyimpanan : Dalam wadah dosis tunggal Catatan : 1. pH 5 sampai 7.5 2. Tidak boleh mengandung bakterisida 3. Disterilkan dengan cara sterilisasi A atau C, segera setelah dibuat 4. Bebas Pirogen 5. Pada etiket harus juga tertera banyaknya ion Kalium, ion Ca, Ion Klorida dan ion Natrium masing-masing dalam mEq per liter 6. Diinjeksikan secara infusi

3. Tak Tersatukan Zat Aktif (OTT) Dengan perak, timah, garam merkuri, larutan karbonat, fosfat, sulfat, dan tartrat. Bromine triflouride dan dengan campuran asam sulfur dan permanganate kalium, asam klorida, NaCl, dan MgCl.

4. Usul Penyempurnaan Sediaan 1. Sediaan injeksi infus harus isotonis, isohidri, dan bebas pirogen 2. Tidak perlu penambahan pengawet 3. Ditambahkan karbon aktif untuk menghilangkan pirogen

4. Alat dan Cara Sterilisasinya
No. Nama Alat Jumlah Jenis Sterilisasi

Oven 180oC 1 Spatel logam 1 Selama 30 menit Autoklaf 115-116oC 2 Batang pengaduk 1 Selama 30 menit Oven 180oC selama 30 menit Oven 180o C selama 30 menit Oven 180o C selama 30 menit Oven 180o C selama 30 menit Oven 180oC selama 30 menit Autoklaff (115-116o C) selama 30 menit Autoklaff (115-116o C) selama 30 menit Autoklaff (115-116o C) selama 30 menit Autoklaff (115-116o C) selama 30 menit Oven 250o C selama 2 jam

3

Kaca arloji

3

4

Pinset

1

5

Beacker glass

2

6

Erlenmeyer

2

7

Gelas ukur

1

9

Pipet tetes tanpa karet

2

11

Karet pipet tetes dan tutup karet infus

1

12

Corong

1

13

Kertas saring lipat

3

10

Botol infus

1

Catatan : Alat suntik, jarum dan alat kaca dibebaspirogenkan dengan pemanasan pada suhu 250oC selama tidak kurang 30 menit atau dengan cara lain yang sesuai (FI 4 hal 909)

5. Perhitungan  Perhitungan Osmolaritas M osmole / liter = gram / liter zat terlarut x 1000 x jml ion BM zat terlarut

a. NaCl = 2.58 gr = 8.6 gr/L 0.3 L M osmole/L = 8.6 x 1000 x 2 = 294.02 m osmole/liter 58.5 b. KCl = 0.09 gr = 0.3 gr/L 0.3 L M osmole/L = 0.3 x 1000 x 2 = 8.04 m osmole/liter 74.6 c. CaCl2 = 0.099 gr = 0.33 gr/L 0.25 L M osmole/L = 0.33 x 1000 x 3 = 6.73 m osmole/liter 147 Total = 294.02 + 8.04 + 6.73 = ≈ 308.79 m osmole/liter (ISOTONIS)

 Perhitungan Tonisitas

Metode White –Vincent V = E x W x 111.1

X = mg (garam) x berat atom Berat molekul  NaCl = 2,58 g x 1 x 111,1  KCl = 0,09 g x 0,76 x 111,1 = 286.638 ml = 7.599 ml 5.609 ml +

 CaCl2 =0,099 g x 0,51 x 111,1 =  Perhitungan mEq Berat atom Na (+) = 23 Berat atom Cl (-) = 35.5 Berat atom Ca (2+) = 40 Berat atom K (+) = 39.1

299,846 ml ≈ 300 ml (ISOTONIS)

Berat molekul NaCl = 58.5 X mval = (mg) x valensi Berat atom Berat molekul KCl = 74.6 Berat molekul CaCl2.2H2O = 147

X = 8600 x 23 = 3381.2 mg ion Na(+) 58.5 X = 8600 x 35.5 = 5218.8 mg ion Cl(-) 58.5 X = 300 x 39.1 = 157.2 mg ion K(+) 74.6 X = 300 x 35.5 = 142.8 mg ion Cl(-) 74.6 X = 330 x 40 = 89.8 mg ion Ca(2+) 147 X = 330 x 71 = 159.14 mg ion Cl2(-) 147

Na (+) = 3381.2 x 1 = 147 mEq/L 23 K (+) = 157.2 x 1 = 4.02 mEq/L 39.1 Ca (2+) = 89.8 x 2 = 4.5 mEq/L 40 Cl (-) = (5218.8 + 142.8 + 159.14) x 1 = 155.51 mEq/L 35.5 6. Formula Akhir
R

/

NaCl KCl CaCl2 API ad

2.58

g

0.09 g 0.099 g 300 ml

7. Penimbangan Bahan Volume yang di buat 300 ml Kelebihan volume tiap wadah untuk cairan encer untuk sediaan dengan volume lebih dari 50.0 ml yaitu 2% yang dianjurkan Farmakope. → 300 ml x 2% = 5 ml Total volume = 300 ml + 6 ml = 306 ml

Maka penimbangan bahan:  NaCl  KCl = 306 ml x 2,58 gram = 2,632 g 300 ml = 306 ml x 0,09 g = 0,0918 g 300 ml  CaCl2 = 306 ml x 0,099 g = 0,100 g 300 ml

Zat ditimbang dengan melebihkan 5%, sehingga  NaCl = 2,632 x 5% = 0.1316 gram  KCl = 0,0918 x 5% = 0.0046 gram  CaCl = 0,100 x 5% = 0,005 gram Jadi, bahan yang ditimbang :  NaCl = 2.632 + 0.1316 = 2.7636 gram  KCl = 0.0918 + 0.0046 = 0.0964 gram  CaCl = 0.100 + 0.005 = 0.105 gram

Penimbangan zat karbon aktif : 0,1 % x 306 = 0.306 gram = 306 mg 8. Prosedur Pembuatan 19. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan 20. Dibuat API bebas CO2 dan dengan cara mendidihkan aquaadest diatas penangas air, setelah itu dipanaskan kembali selama 30 menit, lalu ditambahkan lagi 10 menit agar bebas dari O2. 21. Ditimbang semua bahan yang akan diperlukan, masing –masing dilarutkan dengan API dalam gelas piala yang berbeda. 22. Kemudian dimasukkan ke dalam gelas piala yang telah dikalibrasi 306 ml. Cek pHnya. 23. Dibilas kaca arloji sampai tanda kalibrasi tercapai. 24. Ditimbang 0,1% zat karbon aktif, yaitu 306 mg karbon aktif lalu dimasukkan ke dalam larutan. Gelas piala ditutup dengan kaca arloji yang disisipi batang pengaduk. 25. Larutan dihangatkan pada suhu 60-700C selama 15 menit sambil sesekali di aduk (dilakukan di luar lemari steril) 26. Kertas saring ganda dilipat, dibasahi dahulu dengan air bebas pirogen (dibuat seperti larutan bebas pirogen) 27. Corong dan kertas saring dipindahkan ke dalam erlenmeyer steril bebas pirogen 28. Larutan di saring hangat-hangat ke dalam erlenmeyer

29. Di ukur volume larutan dalam gelas ukur tepat 255 ml dan diisikan langsung ke dalam botol infus 255 ml 30. Tutup karet botol infus dipasang, dan diikat dengan simpul champaigne 31. Di sterilkan botol infus yang berisi larutan dalam autoklaf suhu 115-1160C selama 30 menit.
12. Evaluasi 1. Uji Penampilan Pengujian infus ringer meliputi warna sediaan. Selain itu juga diperiksa kelengkapan etiket, brosur dan penandaan pada kemasan. Etiket pada sediaan kami sedikit besar sehingga menutupi seluruh sediaan. 2. Uji pH Uji pH dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus pH universal. Sejumlah cairan infus diletakkan di dalam beaker glass. Lalu ambil sedikit larutan dan teteskan pada kertas lakmus pH universal dicelupkan, setelah beberapa saat dicek warna yang terbentuk pada kertas. Warna yang terbentuk pada kertas kemudian dicocokan dengan rentang warna yang terdapat pada kemasannya untuk mengetahui pH dari sediaan. pH yang diperoleh adalah 5 sebelum sediaan ditambahkan dengan karbon aktif. Dan pH di cek kembali pada saat sediaan akhir setelah penyaringan, dan pH yang diperoleh adalah antara 5 – 6. 3. Uji Kejernihan Pemeriksaan dilakukan secara visual biasanya dilakukan oleh sesorang yang memeriksa wadah bersih dari luar, di bawah penerangan cahaya yang baik, terhalang terhadap refleksi ke dalam matanya, dan berlatar belakang hitam dan putih, dengan rangkaian isi dijalankan dengan suatu aksi memutar, harus benar-benar bebas dari partikel kecil yang dapat dilihat dengan mata. Larutan kami masih terdapat partikel yang melayang.

13. Pembahasan Infus adalah larutan dalam jumlah besar terhitung mulai dari 100 mL yang diberikan melalui intravena tetes demi tetes dengan bantuan peralatan yang cocok. Asupan air dan elektrolit dapat terjadi melalui makanan dan minuman dan dikeluarkan dalam jumlah yang relative sama. Rasionya dalam tubuh adalah air 57%, lemak 20,8%, protein 17,0%;serta mineral dan glikogen 6%. Ketika terjadi gangguan homeostasis (keseimbangan cairan tubuh), maka tubuhpun harus segera mendapatkan terapi untuk mengembalikan keseimbangan air dan elektrolit.

Pada praktikum teknologi steril kali ini, kelompok kami mengerjakan sediaan parenteral volume besar yaitu infus. Infus kelompok kami adalah jenis infus ringer (Infus NaCl majemuk), yaitu salah satu infus yang diindikasikan sebagai pengganti cairan elekrolit yang dibutuhkan pada penderita diare berat. Kandungan utama dari infus ini sangat dibutuhkan oleh tubuh sebagai pengganti elektrolit tubuh yang hilang karena dehidrasi akibat diare yang diderita. Susunan formulasi sediaan infus yang kami buat adalah sebagai zat aktif sebagai pengganti cairan elektrolitnya adalah ion NaCl, ion KCl, ion CaCl, dan Aqua Pro Injeksi sebagai pelarut utamanya, karena menurut literatur FORNAS pelarut yang digunakan dalam infus ringer adalah Aqua Pro Injeksi bebas pirogen dan dari segi kelarutan bahan bahan aktifnya mudah larut dalam air bebas pirogen. Pembuatan sediaan infus dilakukan secara steril hal ini bertujuan untuk meminimalisir terjadinya kontaminasi suatu sediaan infus dari mikroba. Pencampuran bahan dilakukan di ruang white area. Pada saat pencampuran bahan, hal yang harus diperhatikan adalah melakukan pembilasan pada alat yang telah dipakai dengan tujuan tidak ada nya zat yang tersisa di alat tersebut. Pada proses pembuatan dengan mencampurkan bahan seperti NaCl, KCl dan CaCl dengan sedikit API pada gelas beaker yang berbeda, aduk sampai larut. Kemudian menambahkan volume API sampai volume kurang lebih 306 ml, sebelum ditambahkan carbon aktif, dilakukan evaluasi pH campuran zat-zat. Tahapan selanjutnya adalah proses depirogenisasi. Cara ini dilakukan dengan menambahkan karbon aktif sebesar 0,01 %. Karbon aktif yaitu bahan yang akan mengadsorpsi pirogen dari larutan. Karbon aktif bertujuan untuk memperbesar pori yaitu dengan cara memecahkan ikatan hidrokarbon atau mengoksidasi molekul-molekul permukaan sehingga karbon mengalami perubahan, baik fisika maupun kimia, yaitu luas permukaannya bertambah besar dan berpengaruh terhadap daya adsorpsi. Namun, sehari sebelumnya karbon aktif diaktifkan terlebih dahulu dengan diletakkan di dalam oven. Metoda aktifisasi yang umum digunakan dalam pembuatan karbon aktif adalah: a. Aktifasi Kimia: proses pemutusan rantai karbon dari senyawa organik dengan pemakaian bahan-bahan kimia
b.

Aktifasi Fisika: proses pemutusan rantai karbon dari senyawa organik dengan bantuan panas, uap dan CO2 Untuk aktifasi fisika, biasanya arang dipanaskan didalam furnace pada temperatur 800-

900°C. Oksidasi dengan udara pada temperatur rendah, merupakan reaksi eksoterm sehingga

sulit untuk mengontrolnya. Sedangkan pemanasan dengan uap atau CO2 pada temperatur tinggi merupakan reaksi endoterm, sehingga lebih mudah dikontrol dan paling umum digunakan. Beberapa bahan baku lebih mudah untuk diaktifasi jika diklorinasi terlebih dahulu. Selanjutnya dikarbonisasi untuk menghilangkan hidrokarbon yang terklorinasi dan akhimya diaktifasi dengan uap. Proses ini diperlukan untuk menghilangkan pirogen yang ada di dalam sediaan, pirogen merupakan salah satu hasil metabolisme dari bakteri yang bersifat toksik bila masuk ke dalam tubuh. Penambahan karbon aktif juga berfungsi sebagai adsorben yang akan menarik partikelpartikel asing dan mempertahankan kejernihan sediaan Proses depirogenisasi ini dilakukan dengan memanaskan pada suhu 60 – 700C selama 15 menit. Karena keterbatasan waktu (dispensasi) maka hanya dilakukan 5 menit saja. Dilakukan pada suhu 60°C untuk memberikan kondisi optimum bagi karbon aktif untuk mengadsorbsi partikel dan pirogen, dimana suhu optimum karbon aktif adalah 60°C (Voigt R., 1995). Setelah proses depirogenisasi selesai, selanjutnya larutan zat aktif disaring dengan menggunakan kertas saring ganda. Proses penyaringan dilakukan sebanyak tiga kali untuk memastikan sediaan yang dihasilkan benar-benar jernih dan terbebas daripengotor. Proses penyaringan dan penuangan sediaan kedalam wadah dilakukan seharusnya di dekat nyala api bunsen untuk mencegah kontaminasi Proses penyaringan larutan zat aktif langsung dimasukkan ke dalam botol infus yang sebelumnya telah dilakukan proses kalibrasi botol dengan volume 255 ml (mengalami pelebihan volume sebanyak 2% dari 250 ml). Volume dilebihkan untuk mencegah zat yang tinggal dalam wadah. Sehingga pada saat pemberian kepada pasien, jumlah obat yang diinjeksikan tetap sesuai dosis yang diperlukan. Proses penyaringan yang dilakukan langsung pada botol infus adalah dimaksudkan untuk mengurangi resiko kontaminasi dari luar, karena larutan infus ini telah dilakukan proses depirogenisasi untuk menghilangkan kontaminan dan pirogen – pirogen yang ada. Infus Ringer mempunyai pH 5 – 7,5, yaitu antara asam sampai sedikit basa, oleh karena itu wadah infus yang digunakan adalah Neutral Glass Type I dan Glass Type II (USP & Pharmacopea European) . Tipe gelas Bormioli (Type I ) adalah didefinisikan sebagai kaca borosilikat dengan tingkat stabilitas tinggi hidrolitik karena komposisi kimianya. Tipe kaca I cocok untuk wadah untuk persiapan baik untuk penggunaan parenteral dan lainnya. Wadah ini cocok untuk produk Injectable dengan asam, pH netral atau sedikit basa dapat dikemas dalam jenis kaca ini. Wadah dapat

disterilkan sebelum dan setelah mengisi dan memberikan ketahanan mekanis terhadap perubahan mendadak dalam suhu lebih baik dari tipe II dan III kaca natrium-kalsium. Sedangkan Glass type II yaitu Rocco Bormioli jenis kaca II adalah kaca natrium-kalsium dengan perawatan yang tepat dari permukaan, mencapai stabilitas hidrolitik tipe I kaca. Tipe II wadah kaca cocok untuk mempertahankan asam dan preparat netral baik untuk penggunaan parenteral dan lainnya. Setelah sediaan infus jadi, tahapan selanjutnya adalah proses sterilisasi akhir dengan menggunakan autoklaf pada suhu 115 – 116 selama 30 menit. Karena keterbatasan waktu (dispensasi) maka hanya dilakukan 10 menit saja. Pemilihan proses ini didasarkan pada kestabilan masing masing zat aktif stabil pada proses sterilisasi panas dengan autoklaf, dan menurut FORNAS, sediaan infus ringer dapat disterilisasi dengan menggunakan metode sterilisasi A, atau C. Proses sterilisasi yang dapat kami lakukan adalah proses sterilisasi akhir. Penandaan obat sediaan Infus Ringer yang digunakan adalah label obat keras, karena pada umumnya pemberian sediaan infus perlu dilakukan oleh tenaga ahli medis dan harus dengan resep dokter untuk menghindari penyalahgunaan sediaan. Evaluasi sebaiknya dilakukan setelah sediaan disterilkan dan sebelum wadah dipasang etiket dan dikemas. Sementara untuk evaluasi sediaan infus yang dapat dilakukan adalah evaluasi pH sediaan, uji penampilan dan uji kejernihan sediaan apakah sediaan yang dihasilkan jernih, bebas partikel melayang, sedangkan untuk uji sterilitas tidak dapat dilakukan. Untuk evaluasi nilai pH sediaan infus kami, didapat nilai pH 5 sebelum sediaan ditambahkan dengan karbon aktif. Dan pH di cek kembali pada saat sediaan akhir setelah penyaringan, dan pH yang diperoleh adalah antara 5 – 6. Sediaan masih terdapat partikel melayang. Hal ini kemungkinan disebabkan karena masih terdapat sisa karbon aktif yang belum tersaring seluruhnya. Sehingga masih ada partikel yang melayang di dalam sediaan.

Injeksi Ringer Injeksi Natrium Klorida Majemuk ( FORNAS hal 203) Komposisi: Tiap 500ml mengandung: Natrii chloridum Kalii chloridum 4,3 gram 150 mg

Calcii chloridum Aqua Pro injektion hingga

2,4 gram 500 ml

Penyimpanan : dalam wadah dosis tunggal. Catatan : 1. pH 5,0 sampai 7,5 2. tidak boleh mengandung bakterisid 3. disterilkan dengan cara sterilisasi A atau C, segera setelah dibuat 4. bebas pirogen 5. pada etiket harus juga tertera: Banyaknya ion kalium, ion klorida dan ion Natrium. Masing-masing dalam mEq per I 6. diinjeksikan secara infusi.

Ringer’s solution (Martindale edisi 28 hal 638) Sodium klorida Pottasium klorida Calcium chlorida Api Catatan : pH 5-7,5  Tak Tersatukan Zat Aktif (OTT) Zat Cacl2 akan bereaksi dengan gas CO2 menghasilkan endapan CaCO3 hingga 860 mg 30mg 33 mg 100ml

Usul dan Penyempurnaan Sediaan Pembawa yang digunakan harus bebas pirogen dan gas CO2

Formula Akhir R/ Natrii Chloridum Kalii Chloridum Calcii Chloridum API 2,15 gr 0,075 gr 0,0825 gr ad 250 ml

III.7

Perhitungan Bahan Volume yang akan dibuat adalah 250 ml Volume berlebih yang akan dibuat adalah300mL Maka bahan – bahan yang akan digunakan :    Natrii Chloridum Kalii Chloridum Calcii Chloridum : : :

Perhitungan Isotonis : Menggunakan rumus white vincent  V = w x E x 111,1 Dimana : V : volume larutan bahan isotonis yang dicari (ml) w : massa bahan obata (gr) E : ekivalensi NaCl 111,1 : volume larutan isotonis Maka : Natrii Chloridum : Kalii Chloridum : Calcii Chloridum : gr x 1 x 111,1 = 286,638 ml gr x 0,76 x 111,1 = 7,59924ml gr x 0,51 x 111,1 = 5,609ml

Volume total : 286,638 ml + 7,59924ml+ 5,609ml = 299,846ml (isotonis)

Atau menggunakan molaritas

1) M osmole NaCl = 2) M osmole KCl = 3) M osmole CaCl2= M osmol infus ringer = ( m osmole NaCl + m osmole KCl + m osmole CaCl2) = ( 294,017 + 8,048 + 6,734 ) = 308, 799 ≈308,8 ( isotonis ) Zat karbon aktif :

PERHITUNGAN MEQ NaCL Berat ion Na + = 860 mg X 23= 338,12 mg 58,5 Berat ion CL= 860 mg X 35,5 = 521,8 mg 58,5 KCl Berat ion K+ =30 mg X 39,1 =15,73mg 74,55 Berat ion Cl =30mg X 35,5 =14,28 mg 74,55 CaCl2 Berat ion Ca+ = 33 mg X 40 = 8,97 mg 147 Berat ion Cl= 33 mg X 35,5 =15,93 mg 147

MEQ Cl-

=552,01 x 1 / 35,5 = 15,549 mEq/ liter

MEQ K+

=15,73 X 1 = 4 meq/l 39,1

MEQ Na+

= 338,12 X 1 =147 meq/l 23

MEQ Ca+

= 9 X 2 = 4,5 meq /l 40

Penimbangan Bahan Penimbangan Bahan dilebihkan 5 % Natrii Chloridum Kalii Chloridum Calcii Chloridum Zat karbon aktif : : : : 0,3 gr

Prosedur

1) Alat dan bahan disiapkan 2) Semua alat- alat yang digunakan disterilkan dengan oven dan autoklaf sesuai petunjuk sterilisasi alat diatas. Gelas piala yang akan digunakan sebelumnya dikalibrasi menggunakankan API dengan volume 250 ml. 3) Dibuat Air pro Injectione (API) dengan cara Aquadest dididihkan diatas penangas air lalu dipanaskan lagi selama 30 menit. 4) Semua bahan yang akan digunakan ditimbang (dilebihkan 5 %) 5) Membuat aqua pro injeksi dengan mendidihkan aquadest dan terus mendidihkannya selama 30 menit. Membuat API bebas pirogen dengan menambahkan karbon aktif yang

telah digerus halus 0.1% b/v. Wadah ditutup rapat. Kemudian dipanaskan pada suhu 60-70oC selama 15 menit (setelah suhu mencapai 60-70oC. 6) Memasukkan zat aktif ke dalam beaker glass steril yang sudah dikalibrasi sejumlah volume larutan yang akan dibuat. 7) Menuangkan API untuk melarutkan zat aktif dan untuk membilas kaca arloji. 8) Melarutkan eksipien dengan sebagian dari API yang dibutuhkan lalu memasukkan larutan ini ke dalam larutan no 4). 9) Menambahkan sisa API sampai tanda batas. 10) Memasukkan karbon aktif 0.1 % b/v ke dalam larutan dan menutup beaker glass rapat (dengan kaca arloji +disisipi batang pengaduk). 11) Memanaskan larutan pada suhu 60-70oC selama 15 menit (setelah suhu mencapai 6070oC. 12) Menyiapkan erlenmeyer, corong, dan kertas saring rangkap 2 yang telah terlipat dan telah dibasahi air bebas pirogen (API bebas pirogen telah dibjuat sebelumnya). Airnya ditampung di Erlenmeyer lain (disiapkan 2 erlenmeyer). filtrate pertama dibuang sebanyak 10 ml. 13) Menyaring larutan hangat-hangat ke dalam Erlenmeyer. (Penyaringan dengan kertas saring rangkap, dapat dilakukan berkali-kali sampai tidak ada partikulat yang terikutkan). 14) Larutan yang telah disaring diukur dalam gelas ukur tepat 255 ml, diukur pH sediaan, lalu diisikan langsung kedalam botol infus 255 ml. 15) Menutup botol dengan flakon steril, kemudian mengikatnya dengan simpul champagne. 16) Sterilisasi akhir dalam autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit. 17) Memberi etiket pada kemasan sediaan dan mengemas dalam dus dan menyertakan brosur informasi obat. 18) Evalusi sediaan

EVALUASI 1. Uji pH dengan indikator pH Adanya perubahan pH mengindikasikan telah terjadi penguraian obat atau terjadi interaksi obat dengan wadah. Hasil pH sediaan infus ringer sebelum di add adalah 6. Hasil pH sediaan infus ringer setelah di add adalah : 5,5 , berada pada rentang pH sediaan yang diinginkan yaitu 5,0-7,5. 2. Uji adanya partikel melayang Dilihat secara visual terdapat partikel melayang pada sediaan infus yang dibuat.

PEMBAHASAN Asupan air dan elektrolit dapat terjadi melalui makanan dan minuman dan dikeluarkan dalam jumlah relative sama. Rasionya dalam tubuh adalah air 57%, lemak 20,8%, protein 17,0%, serta mineral dan glikogen 6% ketika terjadi gangguan homeostatis (keseimbangan cairan tubuh ), maka tubuh harus segera mendapatkan terapi untuk mengembalikan keseimbangan air dan elektrolit. Secara klinis fungsi larutan elektrolit adalah untuk mengatasi perbedaan ion atau penyimpangan jumlah normal elektrolit dalam darah. Ada dua jenis kondisi plasma darah yang menyimpang yaitu: a) Asidosis merupakan kondisi plasma darah yang terlampau asam akibat adanya ion klorida dalam jumlah berlebih. b) Alkalosis merupakan kondisi plasma darah yang terlampau basa akibat adanya ion natrium, kalium,dan kalsium dalam jumlah berlebih Penyebab kekurangan elektrolit plasma adalah kecelakaan,kebakaran, operasi atau perubahan patologis organ, gastroenteritis,demam tinggi, atau penyakit lain yang menyebabkan output dan input tidak seimbang. Kehilangan natrium disebut hipovolemia, sedangkan kekurangan H2O disebut dehidrasi. Kemudian kekurangan HCO3 disebut asidosis metabolic dan kekurangan K+ disebut hipokalemia. Keseimbangan air dalam tubuh harus dipertahankan supaya jumlah yang diterima sama dengan jumlah yang dikeluarkan. Penyesuaian dibuat dengan penambahan/pengurangan jumlah yang dikeluarkan sebagai urin juga keringat.

Ini menekankan pentingnya perhitungan berdasarkan fakta tentang jumlah cairan yang masuk dalam bentuk minuman maupun makanan dan dalam bentuk pemberian cairan lainnya. Elektrolit yang penting dalam komposisi cairan tubuh adalah Na, K, Ca, dan Cl. Dalam praktikum steril kali ini kami membuat sediaan infuse NaCl majemuk. Infus sendiri merupakan larutan dalam jumlah basar terhitung mulai dari 10 ml yang diberikan melalui intravena tetes demi tetes dengan bantuan peralatan yang cocok. Infuse Nacl Majemuk atau yang juga disebut dengan Infus Ringer adalah larutan steril Natrium klorida, Kalium klorida, dan Kalsium klorida dalam air untuk obat suntik. Kadar ketiga zat tersebut sama dengan kadar zat-zat tersebut dalam larutan fisiologis. Larutan ini digunakan sebagai penambah cairan elektrolit yang diperlukan tubuh. Bahan-bahan yang digunakan dalam sediaan infus Nacl Majemuk ini antara lain, Natrium Klorida, Kalium Klorida dan Kalsium Klorida. Ion natrium (Na+) dalam injeksi berupa natrium klorida dapat digunakan untuk mengobati hiponatremia, karena kekurangan ion tersebut dapat mencegah retensi air sehingga dapat menyebabkan dehidrasi.NaCldigunakansebagailarutanpengisotonis agar sediaaninfussetaradengan 0,9% larutanNaCl, dimana larutantersebutmempunyaitekanan osmosis yang sama dengancairantubuh. Kalium klorida (KCl), kalium merupakan kation (positif) yang terpenting dalam cairan intraseluler dan sangat esensial untuk mengatur keseimbangan asam-basa serta isotonis sel.Untuk menggantikan kalium yang hilang digunakan KCl yang lebih mudah larut dalam air. Ion kalsium (Ca2+), bekerja membentuk tulang dan gigi, berperan dalam proses penyembuhan luka pada rangsangan neuromuskuler. Jumlah ion kalsium di bawah konsentrasi normal dapat menyebabkan iritabilitas dan konvulsi.Kalsium yang dipakai dalam bentuk CaCl2 yang lebih mudah larut dalam air. Pada sediaan Infus, tidak perlu pengawet karena volume sediaan besar. Jika ditambahkan pengawet maka jumlah pengawet yang dibutuhkan besar sehingga dapat memberikan efek toksik yang mungkin disebabkan oleh pengawet itu sendiri.Sediaan infus diberikan secara intravena untuk segera dapat memberikan efek.Pelarut yang digunakan adalah Air Pro Injection (API). Sediaan infus yang kami buat sebanyak 250 ml dengan penambahan volume pada saat pembuatan sediaan menjadi 300 ml. Hal ini dilakukan karena pada saat penyaringan, filtrate pertama yang agak kehitaman akibat dari

penambahan karbon aktif, dibuang kurang lebih 10 ml. Sediaan infus sedapat mungkin dibuat isotonis terhadap darah, yaitu mempunyai tekanan osmosis larutan yang sama dengan tekanan osmosis cairan tubuh. Larutan infuse yang kami buat adalah isotonis, yaitu 299,846ml (dengan menggunakan rumus white Vincent dan kesetaraan NaCl) dari 300 ml larutan yang akan dibuat. Pembuatan sediaan infus ini harus steril dan bebas pirogen. Cara sterilisasi yang digunakan adalah dengan teknik autoklaf karena bahan-bahan yang digunakan tahan panas. Bahan aktif yang digunakan dilarutkan satu persatu menggunakan API lalu dimasukkan kedalam gelas piala yang telah dikalibrasi 300 ml setelah itu ditambahkan API hingga mencapai tanda batas kalibrasi pada gelas piala tersebut. Infuse harus bebas pirogenkarena pirogen menyebabkan kenaikan suhu tubuh yang nyata, demam, sakit badan, kenaikan tekanan darah arteri, kira-kira 1 jam setelah injeksi. Pirogen dapat dihilangkan dari larutan dengan absorbsi menggunakan absorban pilihan. Dalam prakteknya, kami menambahkan karbon aktif sebanyak 0,1% untuk menghilangkan pirogen tersebut. Mekanisme kerja dari karbon aktif ini adalah pirogen akan terserap pada karboabsorben. Setelah ditambahkan karbon aktif kedalam gelas piala berisi larutan tersebut, gelas piala ditutup dengan kaca arloji dan disisipi batang pengaduk. Setelah itu larutan infuse dihangatkan pada suhu 50700C selama 15 menit sambil sesekali diaduk. Setelah suhu konstan 50-700C baru penghitungan waktu dimulai. Karena keterbatasan waktu larutan yang dihangatkan setelah diberi karboabsorben didespensasi menjadi 5 menit. Setelah itu larutan disaring menggunakan kertas saring ganda, seharusnya penyaringan ini dilakukan menggunakan penyaring G3 namun tidak dilakukan karena keterbatasan alat. Larutan yang telah disaring diukur dalam gelas ukur tepat 250 ml kemudian diperiksa pH sediaan menggunakan indikator universal. Menurut literature, pH sediaan larutan NaCl Majemuk yaitu pada rentang pH 5 sampai 7,5. Sediaan yang kami buat memiliki pH 5,5 sehingga dapat dikatakan sediaan infus yang kami buat memenuhi persayaratan pH sediaan. Tujuan utama pengaturan pH dalam sediaan infus ini adalah untuk mempertinggi stabilitas obat, misalnya perubahan warna, efek terapi optimal obat, menghindari kemungkinan terjadinya reaksi dari obat tersebut, sehingga obat tersebut mempunyai aktivitas dan potensi. Selain itu, untuk mencegah terjadinya rangsangan atau rasa sakit sewaktu disuntikkan. pH yang terlalu tinggi akan menyebabkan nekrosis jaringan sedangkan pH yang terlalu rendah menyebabkan rasa sakit jika disuntikkan. Larutan dimasukkan kedalam wadah yang telah disediakan. Bahan pembuat wadah berpengaruh terhadap kestabilan obat parenteral volume besar jadi harus diusahakan kemasan tidak mempengaruhi kestabilan obat untuk sediaan parenteral volume besar. Wadah yang kami gunakan adalah botol yang

terbuat dari kaca dengan tutupnya terbuat dari karet. Larutan infus NaCl Majemuk dimasukkan kedalam botol, botol infuse ditutup dengan karet penutup, lalu diikat dengan simpul champagne. Kami juga melakukan evaluasi sediaan dengan melihat adanya partikel melayang atau tidak. Dilihat secara visual, dalam sedian infus yang kami buat terdapat partikel melayang. Hal ini dimungkinkan pada saat penyaringan dengan menggunakan kertas saring, kertas saring yang kami gunakan kurang tebal sehingga masih ada partikel-partikel yang dapat menembus kertas saring pada saat penyaringan larutan. Selanjutnya botol berisi larutan infus disterilkan dalam autoklaf pada suhu 115-1160C selama 10 menit. Penandaan obat sediaan infus Ringer yang digunakan adalah label obat keras, karena pada umumnya pemberian sediaan infus perlu dilakukan oleh tenaga ahli medis dan harus dengan resep dokter untuk menghindari penyalahgunaan sediaan. Pada etiket, selain dituliskan lambang obat keras, juga dicantumkan jumlah isi atau volume sediaan, dan dituliskan banyaknya ion kalium, ion klorida

dan ion Natrium. Masing-masing dalam mEq per I dari larutan. Pemberian etiket pada wadah
sedemikian rupa sehingga sebagian wadah tidak tertutup oleh etiket, hal ini dilakukan untuk mempermudah pemeriksaan isi secara visual.

G. Formula Pustaka Injeksi Glukosa Komposisi : Tiap 500 ml mengandung: Glucosum Aqua pro injection Penyimpanan Catatan 25 g ad 500 ml

: dalam wadah dosis tunggal

: 1. pH 3,5 sampai 6,5 2. Tidak boleh mengandung bakterisida 3. Disterilkan dengan cara sterilisasi A segera setelah dibuat

4. Bebas pirogen 5. Sediaan berkekuatan lain : 50 g; 100 g; 125g; 250g Injeksi Glukosa Natrium Klorida I Komposisi : Tiap 500 ml mengandung: Glucosum Natrii Chloridum Aqua pro injection Penyimpanan Dosis Catatan 25 g 2,25 g ad 500 ml

: dalam wadah dosis tunggal, ditempat sejuk : iv, sehari 1 L

: 1. pH 3,5 sampai 6,5 2. Tidak boleh mengandung bakterisida 3. Mengandung ion klorida dan ion natrium masing-masing 77 mEq per L 4. Disterilkan dengan cara sterilisasi A atau C 5. Bebas pirogen 6. Pada etiket harus juga tertera : Banyaknya ion kalium dan ion natrium masing-masing mEq per L

Injeksi Glukosa Natrium Klorida II Komposisi : Tiap 500 ml mengandung: Glucosum Natrii Chloridum Aqua pro injection 50 g 2,25 g ad 500 ml

Penyimpanan Dosis Catatan

: dalam wadah dosis tunggal, ditempat sejuk : iv, sehari 1 L

: 1. pH 3,5 sampai 6,5 setelah diencerkan denagn air untuk injeksi 2 kali volumenya 2. Tidak boleh mengandung bakterisida 3. Mengandung ion klorida dan ion natrium masing-masing 77 mEq per L 4. Disterilkan dengan cara sterilisasi A atau C 5. Bebas pirogen 6. Pada etiket harus juga tertera : Banyaknya ion kalium dan ion natrium masing-masing mEq per L

Injeksi Glukosa Natrium Klorida III Komposisi : Tiap 500 ml mengandung: Glucosum Natrii Chloridum Aqua pro injection Penyimpanan Dosis Catatan 25 g 4,5 g ad 500 ml

: dalam wadah dosis tunggal, ditempat sejuk : iv, sehari 1 L

: 1. pH 3,5 sampai 6,5 2. Tidak boleh mengandung bakterisida 3. Mengandung ion klorida dan ion natrium masing-masing 154 mEq per L 4. Disterilkan dengan cara sterilisasi A atau C

5. Bebas pirogen 6. Pada etiket harus juga tertera : Banyaknya ion kalium dan ion natrium masing-masing mEq per L Injeksi Glukosa Natrium Klorida IV Komposisi : Tiap 500 ml mengandung: Glucosum Natrii Chloridum Aqua pro injection Penyimpanan Dosis Catatan 50 g 4,5 g ad 500 ml

: dalam wadah dosis tunggal, ditempat sejuk : iv, sehari 1 L

: 1. pH 3,5 sampai 6,5 setelah diencerkan dengan air untuk injeksi 2 kali volumenya 2. Tidak boleh mengandung bakterisida 3. Mengandung ion klorida dan ion natrium masing-masing 154 mEq per L 4. Disterilkan dengan cara sterilisasi A atau C 5. Bebas pirogen 6. Pada etiket harus juga tertera : Banyaknya ion kalium dan ion natrium masing-masing mEq per L

H. Formulasi ◊ Glukosa monohidrat mudah larut dalam air  digunakan air sebagai pembawanya ◊ Sediaan hipotonis  ditambahkan NaCl sebagai pengisotonis, sebagaimana perhitungan dibawah ini :

Perhitungan osmolaritas:  Osmolaritas untuk glukosa M osmole / liter = x 1000 x jumlah ion

= Untuk isotonis 270-328

x 1000

= 252,31 (hipotonis)

Jadi NaCl yang ditambahkan adalah : M osmole / liter = x 1000 x jumlah ion

(270 s/d 328 – 252,31) =

x 1000 x 2

17,69 s/d 75,69

=

x 2000

1034,865s/d4427,865 = 258,71625s/d1106,96625 = 2000 x gr X = 0,129 s/d 0,553 gram

 Osmolaritas untuk NaCl 0,25 gram M osmole / liter = = Nama Zat Glukosa NaCl Total osmolaritas x 1000 x jumlah ion x 1000 x 2 = 34,188 Konsentrasi (gr/L) 50 1 M osmole / liter 252,31 34,19 286,5

( isotonis ) Kandungan ion klorida dan ion natrium masing-masing adalah : NaCl 1 gram 17,11 mval/liter NaCl 0,25 gram/0,25 liter 4,2775 mval/0,25 liter  17,11 mval/liter

Atau Berat atom Na+ = 23 Cl- = 35,5 Berat molekul NaCl = 58,5 X= = X= = X mval = = X mval = = = 4,2735 mval/liter Na+ = 4,2735 mval/liter Na+ = 151,70941 mg ion Cl= 98,29059 mg ion Na+

Jadi, kandungan ion klorida dan ion natrium  4,2735 mval / 0,25 L  17,094 mval / L I. Formula akhir

Tiap 250 ml mengandung: R/ Glucosum Natrii Chloridum Aqua pro injeksi 12,5 g 0,25 g ad 250ml

J. Perhitungan bahan  Glucosum  Natrii Chloridum  Aqua pro injeksi  Karbon aktif = = gram + 5% = 15,75 gram x 0,25 gram + 5% = 0,315 gram

= ad 300ml = 0,1% x 300 ml = 0,3 gram

K. Prosedur kerja 11. Glukosa, NaCl, dan karbon aktif 0,1% ditimbang. 12. Masing-masing bahan dilarutkan dengan aqua pro injection di dalam beaker glass yang telah dikalibrasi 300ml. Kaca arloji kemudian di bilas 2x dengan aqua pro injeksi 13. Tuangkan aqua pro injeksi sampai tanda kalibrasi tercapai 14. Cek pH 15. Karbon aktif dimasukkan kedalam larutan. Beakerglass ditutup kaca arloji dan disisipi batang pengaduk 16. Hangatkan larutan pada suhu 60ᵒC selama 15 menit sambil sesekali diaduk 17. Kertas saring ganda yang terlipat, dibasahi dulu dengan air bebas pirogen (dibuat seperti larutan bebas pirogen) 18. Pindahkan corong dan kertas saring ke Erlenmeyer steril bebas pirogen 19. Saring larutan hangat-hangat kedalam Erlenmeyer 20. Cek pH sediaan dan uji kejernihan (jika belum jernih dilakukan penyaringan kembali) 21. Isikan langsung kedalam botol infus 255ml 22. Pasang tutup karet botol infus steril, ikat simpul champagne 23. Sterilkan dengan cara sterilisasi A

Sediaan yang akan di sterilkan dimasukkan kedalam wadah yang cocok, kemudian ditutup kedap. Jika volume dalam tiap wadah tidak lebih dari 100 ml panaskan pada suhu 115-116 selama 30 menit. Jika volume dalam tiap wadah lebih

dari 100 ml, waktu sterilisasi diperpanjang, hingga seluruh isi wadah berada pada suhu 115-116 selama 30 menit.

L. Evaluasi Jenis evaluasi Kejernihan Ph Hasil Evaluasi Kurang jernih - Sebelum di ad  5-6

- Setelah ditambahkan karbon aktif  5-6

Volume yang diisikan dalam botol

255 ml

M. Pembahasan Sediaan parenteral volume besar diartikan sediaan cair steril yang mengandung obat yang dikemas dalam wadah minimal 100ml dan ditujukan untuk manusia. Pada praktikum steril kali ini, kami membuat sediaan parenteral volume besar dengan zat aktif yang kami gunakan adalah glucosa. Dilihat dari kelarutannya, glucosa mudah larut dalam air karena itu digunakan pembawa air. Pada dasarnya penggunaan glucose untuk sediaan parenteral volume besar tersebut dapat digunakan glucose anhidra ataupun monohidrat. Dimana pemilihan dari kedua jenis glucose tersebut tidak bermasalah. Maka dalam praktikum kali ini, glucose yang digunakan adalah glucose monohidrat. Berdasarkan FI III sediaan syarat sediaan parenteral volume besar atau infus adalah tidak

diperbolehkan menggandung bakterisida dan zat dapar. Maka dari itu dalam formula tidak boleh mengandung baktersid dan dapar. Hal tersebut dikarenakan sediaan yang dibuat merupakan sediaan dengan volume yang besar maka itu pengawet yang digunakan juga dalam jumlah yang banyak sehingga dapat menyebabkan gangguan pada metabolisme. Selain itu sediaan tersebut haruslah isotonis dengan cairan tubuh, sedapat mungkin isohidris dan harus bebas pirogen. Dalam sediaan infus karekteristik yang paling umum digunakan dan relevan secara klinik, parameter aktivitas osmotic yang dinyatakan dalam terminology osmolalitas ( jumlah osmol zat terlarut per kilogram pelarut ), osmolaritas ( jumlah osmol zat terlarut perliter larutan ) dan isotonisitas. Berdasarkan hasil perhitungan osmolaritas untuk sediaan tersebut adalah hipotonis yaitu 251,31 m osmole/L dimana nilai osmolaritas untuk isotonis haruslah 270 – 328 m osmole/L. Maka dari itu perlu ditambahakna pengisotinis, dimana pengisotonis yang ditmabahkan dalam formula adalah NaCl sebanyak 0,1% sehingga nilai osmolaritas untuk sediaan glucose tersebut adalah 286,5 m osmole/L dan nilai osmolaritas sediaan tersebut masuk kedalam rentang isotonis. Untuk persyaratan isohidris dimana pH normal darah adalah 7,35-7,45. Namun dalam pelaksanaanya hal ini sulit dikarenakan kebanyakan obat pada pH ini tidak stabil. Berdasarkan literatur sediaan parenteral volume besar dengan zat aktif glucose tersebut memiliki pH stabilitas sediaannya 3,5-6,5. Maka dari itu lebih diperhatankan sediaan tersebut pada pH stabilitasnya yaitu 3,5-6,5. Sedangkan untuk persyaratan bebas pirogen dalam pembuatannya digunakan karbon aktif dan dilakukan pemanasan pada suhu 60 selama 15 menit, namun dalam praktikum hanya dilakukan selama 5 menit ( dispensasi ). Dimana dalam penimbangan bahan yang digunakan masing-masing dilebihkan sebanyak 5%, dimana kemungkinan karbon aktif tersebut dapat menyerap bahan yang digunakan sebanyak 5%. Dalam praktikum pembuatan sediaan parenteral volume besar dari glucose yang dibuat sebanyak berlebih sebanyak 350 ml. Dalam praktikum beberapa uji yang dilakukan antara lain uji pH pada saat sebelum ditambahkan karbon aktif dan setelah ditambahkan karbon aktif dan dilakukan penyaringan. Dimana berdasarkan hasil pengujian pH yang dilakukan sebelum ditambahkan karbon aktif dan setelah ditambahkan karbon aktif dan

dilakukan penyaringan pH sediaan tersebut adalah pada rentang pH 5-6. Dimana berdasarkan hasil tersebut pH tersebut berada dalam rentangg pH sediaan parenteral volume besar glucose dalam literature yaitu 3,5 – 6,5. Selain itu, berdasarkan hasil tersebut menunjukkan bahwa penggunaan karbon aktif tersebut tidak mempengaruhi pH dari sediaan tersebut. Selain itu, dilakukan uji kejernihan tersebut sangat penting dikarenakan bila tidak jernih akan dapat menyebabkan emboli. Dalam praktikum uji kejernihan dilakukan pada saat setelah penyaringan dilakukan, karena pada saat penyaringan pertama masih terdapat partikel melayang maka dilakukan penyaringan kembali. Setelah itu, dimasukkan kedalam botol infus yang telah ditara 255ml, kemudian ditutup dengan tutup karet dan diikat dengan tali simpul champagne. Volume yang dimasukkan kedalam botol infus tersebut merupakan volume yang telah dilebihkan berdasarkan FI III. Dimana sediaan yang berisi volume lebih besar dari 50 ml, maka volumenya dilebihkan sebanyak 2%. Maka dari itu, berdasarkan literature tersebut volume yang dimasukkan kedalam botol infus tersebut adalah 250 ml + 2% = 255 ml. Penandaan obat sediaan infus glukosa yang digunakan adalah label obat keras, karena pada umumnya pemberian sediaan infus perlu dilakukan oleh tenaga ahli medis dan harus dengan resep dokter untuk menghindari penyalahgunaan sediaan. Selain itu disyaratkan untuk mencantumkan kadar osmolnya dan nilai mEq/L masing-masing kandungan ion dalam sediaan tersebut. Namun, pada saat penilaian sediaan ternyata masih terdapat partikel melayang didalam sediaan tersebut. Maka dari itu dapat dinyatakan bahwa sediaan tersebut masih kurang jernih dan dapat menyebabkan emboli. Proses sterilisasi yang kami lakukan adalah sterilisasi A, yaitu Sediaan yang akan di sterilkan dimasukkan kedalam wadah yang cocok, kemudian ditutup kedap. Jika volume dalam tiap wadah tidak lebih dari 100 ml panaskan pada suhu 115-116 selama 30 menit.

Jika volume dalam tiap wadah lebih dari 100 ml, waktu sterilisasi diperpanjang, hingga seluruh isi wadah berada pada suhu 115-116 selama 30 menit. Namun, dalam praktikum

proses sterilisasi hanya dilakukan selama 10 menit yang dihutung pada awal dimasukkan sediaan tersebut dalam autoklaf (dispensasi).

XVIII. FORMULA PUSTAKA Formula Standar dari Fornas atau Martindale R/ Injeksi Glukosa Komposisi : Tiap 500 ml mengandung : 25 ml ad 500 ml

Glucosum Aqua Pro Injection

Penyimpanan: dalam wadah dosis tunggal Catatan: 1. pH 3,5 – 6,5 2. Tidak boleh mengandung bakterisida 3. Disterilkan dengan cara sterilisasi A segera setelah dibuat 4. Bebas pirogen 5. Sediaan berkekuatan lain: 50 gr; 100 gr; 125 gr; 250 gr XIX. FORMULASI 19.1 Formula 12,5 gr ad 250 ml

R/ Glukosa API

19.2 

tonisitas Kesetaraan NaCl = 0,9 % x 250 ml = 2,25 ml = 2,25 gr =Mxe = 12,5 gr x 0,16 = 2 (sediaan hipotonis)

Isotonis NaCl Isotonis Glucosume

maka NaCl yang dibutuhkan sebanyak :

NaCl fisiologis 0,9 %

=

x 250 ml

= 2,25 gr

= 2,25 gram – 2 gram= 0,25 gr 

Cara White Vincent V = W x E x 111,1 ml = 12,5 gr x 0,16 x 111,1 ml = 222,2 larutan yang belum isotonis = 250 ml – 222,2 ml= 27,8 ml = 0,25 gr

NaCl tang ditambahkan sebanyak=

Osmolaritas Glukosa = glukosa = 12,5 gr/ 250 ml = 50 gr/l maka = = x 1000 x 1

x 1000 x jumlah ion

x 1000 x jumlah ion

= 252,3086 miliosmol/liter (sedikit hipotonis)  Osmolaritas NaCl = =  x 1000 x jumlah ion x 1000 x 2 = 34,188

Osmolaritas sediaan = osmol glukosa + osmol NaCl = 252,3086 + 34,188 = 286,4966 (isotonis)

OSMOLARITAS ( M osmole/ liter) > 350 329 – 350 270 – 328 250 – 269

TONISITAS

Hipertonis Sedikit hipertonis Isotonis Sedikit isotonis

0 – 249

Hipotonis

XX.

FORMULA AKHIR R/ glukosa NaCl API ad 12,5 g 0,25 g 250 ml

XXI.

PENIMBANGAN Volume yang dilebihkan untuk sediaan infus = 10% o Glukosa 10 % x 12,5 g = 1,25 gr, maka glukosa menjadi 12,5 g + 1,25 g = 13,75 g Untuk zat aktif, dilebihkan kembali 5 % untuk mengantisipasi zat aktif terserap oleh karbon aktif = 13,75 + 5% = 14,4375 gram o NaCl 10 % x 0,25 gr = 0.025 gr, maka NaCl menjadi 0.25g +

0.025g= 0, 275 gram NaCl juga dilebihkan kembali 5% untuk mengantisipasi zat aktif terserap oleh karbon aktif = 0,275 + 5% = 0,28875 gram o API 275 ml o Karbon aktif = 0,1% x 275 ml = 0,275 ml 10 % x 250 ml = 25 ml, maka API di add 250 ml + 25 ml =

XXII. STERILISASI  Sterilisasi A Menurut Farmakope Indonesia Edisi Ketiga Pemanasan dalam otoklaf. Sediaan yang akan disterilkan diisikan kedalam wadah yang cocok, kemudian ditutup kedap. Jika volume dalam tiap wadah tidak lebih dari 100ml, sterilisasi dilakukan dengan uap air jenuh pada suhu 115˚ sampai 116˚ selama 30 menit. Jika volume dalam tiap wadah lebih dari 100ml waktu sterilisasi diperpanjang, hingga seluruh isi wadah berada pada suhu 115˚ samapi 116˚ selama 30 menit. XXIII. PROSEDUR

n. Dibuat aqua pro injeksi bebas oksigen dan karbon dioksida dengan cara mendidihkan aquabidest selama 30 menit dalam wadah tertutup kaca arloji. Pembebasan oksigen dilakukan dengan mendidihkan lagi 10 menit dan mengganti tutup kaca arloji dengan sumbat kapas. o. zat aktif ditimbang, ditimbang 0,1% karbon aktif, dan ditimbang NaCl. p. semua peralatan dan bahan-bahan yang digunakan dilewatkan ke pass box menuju white area. q. glukosa kemudian dimasukan ke dalam beaker glass yang telah dikalibrasi 275 ml r. Tuangkan air steril untuk melarutkan zat aktif dan membilas kaca arloji sampai tanda kalibrasi tercapai s. NaCl dan karbon aktif dimasukan ke dalam larutan. Gelas piala ditutup kaca arloji, sisipkan batang pengaduk dan hangatkan larutan pada suhu 50-700C selama 15 menit (dalam praktikum hanya selama 5 menit) sambil sesekali diaduk (proses pembuatan larutan bebas pirogen) t. kertas saring ganda dan terlipat, dibasahi dulu dengan air bebas pirogen (dibuat seperti larutan bebas pirogen) u. pindahkan corong dan kertas saring ke Erlenmeyer steril bebas pirogen. Dilakukan evaluasi cek pH. v. saring larutan hangat-hangat ke Erlenmeyer. w. Mengisikan langsung ke dalam botol infuse 250 ml. x. Memasang tutup karet botol infuse steril, mengikat dengan simpul champagne. y. Mensterilkan botol infuse yang berisi larutan dalam autoklaf dengan suhu 115 – 1160C selama 30 menit (dalam prkatikum selama 5 menit).

XXIV. DATA PENGAMATAN DAN EVALUASI    pH sediaan sebelum di tambah karbon aktif = 5 pH sediaan setelah ditambah karbon aktif = 6 kejernihan : jernih

XXV. PEMBAHASAN Sediaan parenteral volume besar merupakan sediaan cairan steril mengandung obat yang dikemas dalam wadah 100 ml atau lebih dan ditujukan untuk manusia. Parenteral volume besar meliputi infuse intravena, larutan irigasi, larutan dialysis peritoneal dan bood collecting units with antikoagulan. Sediaan parenteral volume besar umumnya diberikan lewat infus intravena untuk menambah cairan tubuh, elektrolit, atau untuk memberi nutrisi. Infus intravena adalah sediaan parenteral dengan volume besar yang ditujukan untuk intravena. Pada umumnya cairan infus intravena digunakan untuk pengganti cairan tubuh dan memberikan nutrisi tambahan, untuk mempertahankan fungsi normal tubuh pasien rawat inap yang membutuhkan asupan kalori yang cukup selama masa penyembuhan atau setelah operasi. Selain itu ada pula kegunaan lainnya yakni sebagai pembawa obat-obat lain. Pada praktikum kali ini, dilakukan pembuatan sediaan infuse glukosa. Infuse glukosa digunakan untuk memenuhi kebutuhan glikogen otot kerangka, hipoglikemia dan kalorigenikum . Glukosa merupakan bahan yang mudah larut dalam air, sehingga dapat dibuat sediaan dengan pelarut air. Air yang digunakan dalam sediaan steril adalah aqua pro injeksi yang dibuat dengan mendidihkan aquades selama 30 menit, lalu di lakukan penambahan waktu pendidihan selama 10 menit. Pelarut yang digunakan dalam sediaan infus yang dibuat berupa API (Aqua Pro Injeksi) yang harus steril dan bebas pirogen. Sediaan infus memiliki persyaratan khusus yaitu dalam dosis tunggal yang harus bebas dari mikroba dan bebas pirogen untuk melindungi sediaan dari masalah-

masalah yang kemungkinan dapat timbul seperti pertumbuhan mikroba serta ketidakstabilan sediaan setelah sediaan dibuka atau digunakan. Pirogen sendiri merupakan suatu senyawa toksin yang dihasilkan dari hasil metabolisme bakteri yang dapat menyebabkan kenaikan suhu tubuh. Dalam praktikum, keadaan bebas pirogen dibuat dengan menambahkan 0,1% karbon aktif dari jumlah total volume yang dibuat,

kemudian dipanaskan larutan pada suhu 40-70oC yang selanjutnya disaring dengan menggunakan kertas saring rangkap dua. Menurut literature fornas tiap 500 ml infus glukosa mengandung Glucosum 25 ml dan Aqua Pro Injection ad 500 ml. Pada pembuatan diperoleh pH 5 sampai 6 dan dilakukan sterilisasi dengan cara sterilisasi A. Sterilisasi A yaitu dengan menggunakan autoklaf. Namun pada formulasi kali ini, kami membuat sediaan kami dengan formula yang mengandung glukosa 12,5 g, NaCl 0,25 g, dan API ad 250 ml.

Penambahan NaCl didasarkan atas perhitungan bahwa terjadi hipotonis pada sediaan sehingga perlu di tambah NaCl. Adapun in process control yang dilakukan saat praktikum yakni dengan mengecek pH dengan menggunakan kertas indicator universal. Dan diperoleh bahwa sediaan kami telah memenuhi rentang untuk sediaan infuse glukosa yakni berada disekitar 5-6 yang seharusnya menurut literature sediaan infuse glukosa memiliki pH 3,5-6,5. Sehingga pH sediaan kami dapat dikatakan telah memenuhi syarat untuk pH infuse glukosa. Pengecekan pH dilakukan saat sediaan telah dihangatkan pada suhu 60o C dengan penambahan karbon aktif. Pembuatan sediaan infus glukosa menggunakan sterilisasi A (autoklaf) dilakukan dengan uap air jenuh pada suhu 121 oC selama 5 menit pada praktikum (dispensasi). Kami memilih teknik sterilisasi dengan menggunakan autoklaf didasarkan pada bahan yang kami gunakan yakni glukosa yang tahan terhadap pemanasan sehingga dapat dilakukan sterilisasi akhir dengan autoklaf. Dan setelah dilakukan sterilisasi dengan autoklaf kemudian dilakukan evaluasi kejernihan, didapat bahwa sediaan infuse glukosan yang kami buat jernih dan tidak terdapat partikel atau benda-benda yang melayang. XIX. FORMULA PUSTAKA  Fornas (206) NATRII LACTATIS INJECTIO COMPOSITUM Injeksi Natrium Laktat majemuk Injeksi Ringer Laktat Komposisi: tiap 500 mL mengandung:

Acidum Lacticum 3001,2 mL Natrii Hydroxidum 3575,2 mg Natrii Chloridum 3000,2 mg Kalii Chloridum 3200,2 mg Calcii Chloridum 3135,2 mg Penyimpanan: dalam wadah dosis tunggal. Catatan: 1. Ditambahkan Asam Klorida 0,1 N secukupnya hingga PH 5 sampai 7 2. Mengandung ion bikarbonat dihitung sebagai laktat 29 mEq, ion kalium 5 mEq, ion kalsium 8 mEq, ion klorida 111 mEq dan ion natrium 131 mEq per 1. 3. Tidak boleh mengandung bakterisida. 4. Disterilkan dengan Cara sterilisasi A, segera setelah dibuat. 5. Bebas pirogen. 6. Pada etiket harus juga tertera: a. Banyaknya ion bikarbonat dihitung sebagai laktat, ion kalium, ion kalsium, ion klorida, dan ion natrium dalam mEq per 1. b. Daluarsa 7. Diinjeksikan secara infusi  Farmakope Indonesia ed IV hal Ringer Lactatis Injection (injeksi ringer laktat) Injeksi ringer laktat adalah larutan steril dan kalsium klorida, kalium klorida, natrium klorida dan natrium laktat dalam air untuk injeksi tiap 100ml mengandung tidak kurang dari 285,0 mg dan tidak lebih dari 315,0 mg natrium (sebagai NaCl dan C3H5NaO3), tidak kurang dari 14,1 mg dan tidak lebih dari 17,3 mg kalium (K, setara dengan tidak kurang dari 27,0 mg dan tidak lebih dari 33,0 mg KCl), tidak kurang dari 4,90 mg dan tidak lebih dari 6,00 mg kalsium (Ca, setara dengan tidak kurang dari 18,0 mg dan tidak lebih dari 22,0 mg CaCl2. 2H2O), tidak kurang dari 368,0 mg dan tidak lebih dari 408,0 mg klorida (Cl, sebagai NaCl, KCl, dan CaCl2.2H2O), dan tidak kurang dari 231,0 mg dan tidak lebih dari 261,0 mg laktat (C3H5O3, setara dengan tidak kurang dari 290,0 mg dan tidak lebih dari 330,0 mg C3H5NaO3) injeksi ringer laktat tidak boleh mengandung bahan antimikroba. (catatan injeksi ringer laktat mengandung kalsium, kalium, dan natrium berturut-turut lebih kurang 2,7; 4 dan 130 miliekuivalen per liter.) PH <1071> Antara 6,0 dan 7,5. Wadah dan penyimpanan dalam wadah kaca atau plastic dosis tunggal, sebaiknya dari kaca tipe I atau tipe II  Formula BNF 58 hal 531

Sodium Lactate Intravenous Infusion, Compound (Hartmann’s Solution for Injection; Ringer-Lactate Solution for Injection) Intravenous infusion, sodium chloride 0.6%, sodium lactate 0.32%, potassium chloride 0.04%, calcium chloride 0.027% (containing Na+ 131 mmol, K+ 5 mmol, Ca2+ 2 mmol, HCO3- (as lactate) 29 mmol, Cl- 111 mmol/litre)
In hospitals, 500- and 1000-mL packs, and sometimes other sizes, are available

 Formula Martindale 35th Lactated Ringer's Injection USP 29 Active ingredients: • Calcium chloride • potassium chloride • sodium chloride • sodium lactate NOTE: The calcium, potassium, and sodium ion contents are approximately 2.7, 4, and 130 mEq per litre respectively. pH 6.0 to 7.5. Compound Sodium Lactate Intravenous Infusion BP 2005 Compound Sodium Lactate Injection; Hartmann's Solution for Injection; RingerLactate Solution for Injection Active ingredients:  Sodium lactate 0.32%  sodium chloride 0.6%  potassium chloride 0.04%  calcium chloride dihydrate 0.027% NOTE: pH 5 to 7.  Formulasi Sediaan Steril (Farida Sulistiawati & Nelly Suryani) hal 60 Injeksi Ringer Laktat R/ NaCl 0,60 g KCl 0,03 g CaCl2 0,02 g Na Laktat anhidrat 0,31 g API ad. 100 mL

XX.

FORMULASI  Perhitungan Osmolaritas Formulasi Sediaan Steril (Farida Sulistiawati & Nelly Suryani) hal 55 Tekanan osmosa merupakan faktor fisiologis penting yang berpengaruh pada formulasi. Definisi tekana osmosa adalah perpindahan pelarut dan zat terlarut melalui membran permeable yang memisahkan 2 komponen. Satuan tekanan osmosa adalah osmols per kilogram, disebut juga harga osmolaritas, yaitu:

Hubungan antara Osmolaritas dan tonisitas Osmolaritas (m osmole / liter) Tonisitas > 350 Hipertonis 329 – 350 Sedikit hipertonis 270 – 328 Isotonis 250 – 269 Sedikit hipotonis 0 – 249 Hipotonis Osmolaritas injeksi Ringer Laktat pada formula adalah Zat BM Konsentrasi (g/l) Jmlh ion Asam Laktat 90.08 2,4 1 NaOH 40 1,15 1 NaCl 58,44 6 2 KCl 74, 6 0,4 2 CaCl2 111 0,27 3 Jumlah  Perhitungan Na Laktat yang terbentuk

Miliosmole/liter 226,64 228,75 205,34 210,72 217,3 278,75 = Isotonis

* Persamaan Stoikiometri: NaOH + Asam laktat → Na-Laktat 0,014 mol 0,016 mol 0,014 mol 0,014 mol → 0.014 mol K–k 0.002 mol 0.014 mol

+

H2O +

Perhitungan mEq

Zat Na Laktat NaCl KCl CaCl2

Massa (mg) 1568 3000 3200 3135

Mr 112 58,5 74, 6 111

Ion Na+ Laktat Na+ ClK+ ClCa2+ Cl-

Ar 23 89 23 35,5 39,1 35,5 40 35,5

Berat ion 1322 1246 1179,49 1820,51 1104,83 1195,17 1148,65 1143,18

Karena massa dalam formula adalah per 500 mL, maka mEq/L=mEq /0,5 Ion HCO3- (sebagai Laktat) Na+ ClK+ Ca+ Σ berat ion 1246 1501,49 1958,86 1104,83 1148,65 Valensi 1 1 1 1 2 Ar 89 23 35,5 39,1 40 mEq 14 65,28 55,18 52,68 51,22 mEq/L 128 130,56 110,36 115,36 112,44

Kebutuhan kation dan anion tubuh Menurut Formulasi Sediaan Steril (Farida Sulistiawati & Nelly Suryani) hal 55 Intravaskular Intersitial Intraselular Elektrolit (mEq/L) (mEq/L) (mEq/L) HCO3 27 30 8 + Na 142 145 10 Cl 102 115 2 + K 4 4 160 + Ca 5 5 2 2+ Mg 2 2 26 2HPO4 2 2 120

SO42Asam organik Protein 

1 6 16

1 7 1

20 48

pH Menurut: o FORNAS diitambahkan HCl 0,1 N secukupnya hingga PH 5 sampai 7 o FI IV PH <1071> Antara 6,0 dan 7,5. o USP 29 pH sediaan adalah 6 – 7,5. o Menurut BP 2005 pH sediaan adalah 5 – 7. pH sediaan yang dihasilkan dari formulasi telah mendekati oH darah yaitu mendekati 7,4. Menurut menurut buku Repetitorium Teknologi Farmasi Sediaan Steril (Benny Logawa dan Soendani Soewandhi) halaman 23, syarat sediaan infus adalah harus steril dan bebas pirogen. Sebaiknya isotonis dan isohidri, tetapi larutan dengan pH 4,0 – 7,5 masih bisa diterima. Menurut Farmakope Indonesia III hal 12, kecuali dinyatakan lain, Infus intravenus tidak diperbolehkan mengandung bakterisida dan zat dapar.

Antioksidan Stabilisator seperti antioksidan dan komplekson jarang ditambahkan pada sediaan parenteral volume besar. Pengawet Menurut Farmakope Indonesia ed III hal. 13, jika volume dosis tunggal lebih dari 15 mL, injeksi intravenus tidak boleh mengandung bakterisida.

XXI.

FORMULA AKHIR Acidum Lacticum Natrii Hydroxidum Natrii Chloridum Kalii Chloridum Calcii Chloridum

0,24 % 0,115 % 0,6 % 0,04 % 0,027 %

XXII.

PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN  Perhitungan Volume yang dibuat Volume yang dibutuhkan 200 mL Kelebihan volume yang dianjurkan dari FI IV adalah 2%

200 + (2% x 200 mL) = 204 mL Kelebihan volume untuk membilas 10 % 204 + (10% x 204 mL) = 224,4 mL ≈ 250 mL  Penimbangan Bahan Bahan Konsentrasi As Lacticum 0,24 % v/v NaOH 0,115 % b/v NaCl 0,6 % b/v KCl 0,04 % b/v CaCl2 0,027 % b/v

Untuk 250 mL 0,6 mL 28,75 mg 150 mg 10 mg 6,75 mg

Kelebihan 5% 0,03 mL 1,4375 mg 7,5 mg 0,5 mg 0,3375 mg

Penimbangan 0,63 mL 30,1875 mg 157,5 mg 10,5 mg 7,0875 mg

*Dalam sediaan infus ditambahkan karbon aktif 0,1 % untuk membebas pirogenkan. Dikhawatirkan, karbon aktif dapat mengadsorbsi bahan sehingga dalam penimbangan dilebihkan 5%.

XXIII.

PROSEDUR 1. Masing-masing zat aktif ditimbang 5% berlebih 2. Tuangkan air steril untuk melarutkan masing-masing zat aktif dan membilas kaca arloji. 3. Campurkan semua bahan yang telah dilarutkan ke dalam bekerglass. 4. Cek pH, adjust bila pH yang diperoleh tidak sesuai. 5. Ad dengan API di gelas ukur sampai 250 mL 6. Timbang (0,1% x 250 mL = 0,25 mg) karbon aktif, masukkan kedalam larutan diatas ke dalam beakerglass ditutup kaca arloji dan disisipi batang pengaduk dan termometer. 7. Hangatkan larutan pada suhu 60-700C selama 15menit sambil sesekali diaduk (dilakukan diluar lemari steril) 8. Kertas saring ganda dan terlipat, dibasahi dulu dengan air bebas pirogen (dibuat seperti larutan bebas pirogen) 9. Pindahkan corong dan kertas saring ke erlenmeyer steril bebas pirogen. 10. Saring larutan hangat-hangat ke Erlenmeyer. 11. Ukur volume larutan dalam gelas ukur tepat 204ml dan isikan langsung kedalam botol 204ml Atau dituangkan ke dalam kolom melalui saringan G3 dengan bantuan pompa penghisap. 12. Pasang tutup karet botol steril. Ikat dengan simpul champagne. 13. Sterilkan botol yang berisi larutan dalam autoklaf suhu 115-1160C selama 30menit. Atau uapkan air mengalir selama 10menit.

XXIV.

EVALUASI  pH o sebelum diadjust pH = 5 o setelah diadjust (sebelum ditambahkan karbon aktif) = 6 – 7 o setelah ditambahkan karbon aktif = 6 – 7  Kejernihan = Jernih  Volume terpindahkan = tidak dilakukan  Kebocoran = tidak dilakukan PEMBAHASAN Dalam praktikum ini, dilakukan pembuatan sediaan parenteral volume besar – ringer laktat. Dalam British Pharmacopoeia 2009 Volume III, yang dimaksud dengan Infus adalah larutan encer yang mengandung unsur mudah-larut obat mentah. biasanya dibuat dengan cara pengenceran satu volume dari Infus terkonsentrasi untuk volume sepuluh dengan Water. Untuk keperluan penyaluran, infus harus digunakan dalam waktu 12 jam untuk persiapan mereka. Zat aktif yang digunakan pada praktikum kali ini adalah Ringer Laktat. Menurut Farmakope Indonesia IV, Injeksi ringer laktat adalah larutan steril dan kalsium klorida, kalium klorida, natrium klorida dan natrium laktat dalam air untuk injeksi tiap 100ml mengandung tidak kurang dari 285,0 mg dan tidak lebih dari 315,0 mg natrium (sebagai NaCl dan C3H5NaO3), tidak kurang dari 14,1 mg dan tidak lebih dari 17,3 mg kalium (K, setara dengan tidak kurang dari 27,0 mg dan tidak lebih dari 33,0 mg KCl), tidak kurang dari 4,90 mg dan tidak lebih dari 6,00 mg kalsium (Ca, setara dengan tidak kurang dari 18,0 mg dan tidak lebih dari 22,0 mg CaCl2. 2H2O), tidak kurang dari 368,0 mg dan tidak lebih dari 408,0 mg klorida (Cl, sebagai NaCl, KCl, dan CaCl2.2H2O), dan tidak kurang dari 231,0 mg dan tidak lebih dari 261,0 mg laktat (C3H5O3, setara dengan tidak kurang dari 290,0 mg dan tidak lebih dari 330,0 mg C3H5NaO3) injeksi ringer laktat tidak boleh mengandung bahan antimikroba. (catatan injeksi ringer laktat mengandung kalsium, kalium, dan natrium berturut-turut lebih kurang 2,7; 4 dan 130 miliekuivalen per liter.) pH Antara 6,0 dan 7,5. Wadah dan penyimpanan dalam wadah kaca atau plastic dosis tunggal, sebaiknya dari kaca tipe I atau tipe II Formula pustaka yang digunakan sebagai acuan adalah formula Injeksi Ringer Laktat dari Formularium Nasional. Dalam formula tersebut jika perlu dlakukan penambahan Asam Klorida 0,1 N secukupnya hingga PH 5 sampai 7. Sediaan injeksi ringer laktat ini tidak boleh mengandung bakterisida, cara sterilisasinya dilakukan dengan Cara sterilisasi A (autoklaf), segera setelah dibuat. Cara administrasi ringer laktat ini adalah dengan diinjeksikan secara infusi, yang berarti harus memenuhi persyaratan sediaan infus, yaitu bebas pirogen. Menurut Farmakope Indonesia IV, cara sterilisasi alat

XXV.

bebas pirogen adalah dengan menggunakan rentang suhu khas yang dapat diterima didalam bejana sterilisasi kosong adalah lebih kurang 15, jika alat sterilisasi beroperasi pada suhu tidak kurang dari 250 0C. Sebagai tambahan pada proses bets tersebut di atas, suatu proses berkesinambungan sering digunakan untuk sterilisasi dan depirognisasi alat kaca sebagai suatu bagian dari system pengisian dan penutupan kedap secara aseptic yang berkesinambungan dan terpadu. Distribusi panas dapat beruapa sirkulasi atau disalurkan langsung dari suatu yang terbuka. Sitem berkesinambungan biasanya memperlukan suhu yang lebih tinggi yang tertera di atas untuk proses bets karena waktu menetapnya yang lebih singkat. Syarat sediaan infus menurut buku Repetitorium Teknologi Farmasi Sediaan Steril (Benny Logawa dan Soendani Soewandhi) halaman 23, adalah harus steril dan bebas pirogen. Sebaiknya isotonis dan isohidri, tetapi larutan dengan pH 4,0 – 7,5 masih bisa diterima. Sedangkan menurut Farmakope Indonesia III hal 12, kecuali dinyatakan lain, Infus intravenus tidak diperbolehkan mengandung bakterisida dan zat dapar. Saat formulasi, perhitungan nilai osmolaritas diperoleh nilainya 278,75 miliosmol / liter. Danj jika dikorelasikan ke perbandingan nilai osmolaritas dan nilai tonisitas, maka sediaan ini merupakan sediaan yang isotonis dan tidak perlu dilakukan zat pengisotonis. Menurut buku Formulasi Sediaan Steril (Farida Sulistiawati & Nelly Suryani) hal 55,Tekanan osmosa merupakan faktor fisiologis penting yang berpengaruh pada formulasi. Definisi tekana osmosa adalah perpindahan pelarut dan zat terlarut melalui membran permeable yang memisahkan 2 komponen. Satuan tekanan osmosa adalah osmols per kilogram, disebut juga harga osmolaritas Selain perhitungan nilai osmolaritas, dalam sediaan infus yang tidak kalah penting lainnya adalah menghitung nilai miliekuivalen (mEq) zat yang terkandung pada sediaan. Dalam formulasi dihitung nilai mEq per L zat yang terkandung dalam sediaan yaitu, ion Na+ 130,56 mEq/L, ion K+ 5,36 mEq/L, ion Ca++ 2,44 mEq/L, ion HCO3(sebagai Laktat) 28 mEq/L dan ion Cl- 110,36 mEq/L. Hal ini sesuai dengan ketentuan yang diperoleh dari British National Formulary volume 58 yaitu sediaan Sodium Lactate Intravenous Infusion, Compound mengandung ion: Na+ 131 mmol, K+ 5 mmol, Ca2+ 2 mmol, HCO3- (as lactate) 29 mmol, Cl- 111 mmol/litre. Pengawet atau anti mikroba harus diberikaan pada sediaan injeksi bila injeksi dikemas dalam wadah dosis ganda dengan metode sterilisasi apapun , dan pada sediaan yang tidak dilakukan sterilisasi akhir. Kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi, atau kecuali bahan aktifnya sendiri sudah berupa bahan anti mikroba. Menurut Farmakope Indonesia ed III hal. 13, jika volume dosis tunggal lebih dari 15 mL, injeksi intravenus tidak boleh mengandung bakterisida. Sediaan injeksi Ringer laktat ini merupakan sediaan injeksi volume besar (infusion) dan dilakukan sterilisasi akhir

menggunakan autoklaf oleh karena itu sesuai dengan persyaratan, maka dalam formulasi sediaan ini tidak dilakukan penambahan pengawet atau bakterisid. Zat tambahan lain seperti antioksidan juga tidak ditambahkan dalam formula ini. Selain karena sediaan stabil terhadap oksidasi menurut literatur stabilisator seperti antioksidan dan komplekson jarang ditambahkan pada sediaan parenteral volume besar. Dengan pertimbangan seperti penjelasan diatas, maka formula akhirnya sama dengan formula pustaka tanpa perubahan formulasi maupun penambahan zat apapun. Menurut Formularium Nasional, sediaan injeksi ringer laktat ini disterilisasi akhir dengan menggunakan Sterilisasi A. Menurut literatur, sterilisasi A adalah sterilisasi dengan menggunakan Autoklaf (panas basah). Menurut Farmakope Indonesia Edisi Ketiga cara mensterilisasi sediaan dengan autoklaf adalah sediaan yang akan disterilkan diisikan kedalam wadah yang cocok, kemudian ditutup kedap. Jika volume dalam tiap wadah tidak lebih dari 100ml, sterilisasi dilakukan dengan uap air jenuh pada suhu 115˚ sampai 116˚ selama 30 menit. Jika volume dalam tiap wadah lebih dari 100ml waktu sterilisasi diperpanjang, hingga seluruh isi wadah berada pada suhu 115˚ sampai 116˚ selama 30 menit. Pada praktikum proses autoklaf terjadi selama 2 menit yaitu dari pukul sampai pukul . Seharusnya proses sterilasisi akhir yang dilakukan selama 15 menit, namun pada praktikum ini dilakukan dispensasi menjadi 2 menit. Sedangkan untuk mensterilisasi alat yang digunakan dilakukan dengan cara alat yang tahan panas dan bukan merupakan alat yang volumetrik disterilkan dengan menggunakan oven (panas kering) pada suhu 170oC selama 60 menit. Alat yang tahan panas, tahan lembab dan bersifat volumetrik disterilisasikan dengan menggunakan autoklaf (panas basah) 115 – 116oC. Sedangkan alat karet disterilkan dengan proses perebusan selama 30 menit. Pembuatan Aqua Pro Injeksi Bebas Oksigen dan Kerbondioksida, dilakukan dengan pemanasan aquabidest dalam wadah erlenmeyer yang disumbat kapas pada suhu 100oC, setelah mendidih kemudian tunggu selama 30 menit untuk mendapatkan air bebas CO2. Tunggu 10 menit lagi untuk mendapatkan API bebas O2. Dalam praktikum kali ini, air yang digunakan harus bebas pirogen. Pembuatan air bebas pirogen dilakukan dengan cara mencampur air / sediaan akhir dengan karbon aktif 0,1 %. Kemudaian dipanaskan sampai suhu 60 – 70 oC selama 15 menit, kemudian disaring dengan kertas saring rangkap 2 hingga bening. Karbon aktif yang digunakan harus dipanaskan dulu dalam oven selama 1 hari, untuk mengaktivasi karbon tersebut. Pada saat proses pengerjaan dilakukan In Process Control yaitu uji kejernihan larutan dan pH larutan. Kejernihan larutan injeksi Ringer Laktat yang dihasilkan adalah jernih, bebas partikel yang tidak terlarutkan dan bebas partikel melayang. Uji pH dilakukan 3 kali, yaitu pada volume di bawah volume akhir, ketika sebelum ditambahkan karbon aktif dan setelah ditambahkan karbon aktif. Tujuan dilakukannya pengukuran

pada volume dibawah volume akhir adalah jika pH yang dihasilkan tidak sesuai dengan ketentuan maka dapat ditambahkan zat peng-adjust pH seperti HCl encer atau NaOH encer. Pada saat pengujian pertama dihasilkan larutan dengan pH 5. Sedangkan pH larutan yang diharapkan adalah 6 – 7,5. Sehingga dalam praktikum ditambahkan NaOH 0,1 M kurang lebih 63 tetes, dan NaOH 5 M 3 tetes hingga tercapainya pH 6 – 7. Pada saat sebelum dan sesudah diberikan karbon aktif, juga dilakukan pengecekan pH sediaan, untuk memastikan apakah pH berubah selama proses pembebas-pirogenan atau tidak. Dari hasil uji, diperoleh hasil bahwa tiak terjadi perubahan pH selam proses. pH sediaan tetap yaitu 6 – 7. Evaluasi akhir yang dilakukan adalah uji kejernihan. Hasil yang diperoleh sama dengan hasil uji yang dilakuakn selam in process control yaitu Kejernihan larutan injeksi Ringer Laktat yang dihasilkan adalah jernih, bebas partikel yang tidak terlarutkan dan bebas partikel melayang Menurut Farmakope Indonesia ed IV, Pada etiket tertera nama sediaan, untuk sediaan cair tertera presentase atau jumlah zat aktif dalam volume tertentu, untuk sediaan kering tertera jumlah zat aktif, cara pemberian, kondisi penyimpanan dan tanggal kadaluarsa; nama pabrik pembuat dan atau pengimpor serta nomor lot atau bets yang menunjukan identitas. Nomor lot dan atau bets dapat memberikan informasi tentang riwayat pembuatan lengkap meliputi seluruh proses pengolahan, sterilisasi, pengisian, pengemasan dan penandaan. Bila formula lengkap tidak tertera lengkap pada masing-masing monografi, Penandaan mencakup informasi berikut: untuk sediaan cair, presentasi isi atau jumlah tiap komponen dalam volume tertentu, kecuali bahan yang ditambahkan untuk penyesuaian pH atau untuk membuat larutan isotonic, dapat dinyatakan dengan nama dan efek bahan tersebut. Pemberian etiket pada wadah sedemikian rupa sehingga sebagian wadah tidak tertutup oleh etiket, untuk mempermudah pemeriksaan isi secara visual. Menurut Formularium Nasional hal 206, untuk sedian injeksi ringer laktat pada etiket harus juga tertera:Banyaknya ion bikarbonat dihitung sebagai laktat, ion kalium, ion kalsium, ion klorida, dan ion natrium dalam mEq per 1, Daluarsa Pada praktikum kali ini penandaan pada sediaan yang dibuat (etiket) mencantumkan merk sediaan, volume sediaan, banyak ion bikarbonat dihitung sebagai laktat, ion kalium, ion kalsium, ion klorida, dan ion natrium dalam mEq per 1, nomer registrasi, cara penyimpanan, nama dan logo produsen, nomer batch, expired date dan logo obat keras.

VIII.

FORMULASI INFUS RINGER LACTATE

FORMULA PUSTAKA  Farmakope Indonesia edisi keempat Injeksi Ringer Laktat Injeksi Ringer Laktat adalah larutan steril da Kalsium Klorida, Kalium Klorida, Natrium Klorida dan Natrium Laktat dalam Air untuk injeksi: Tiap 100 ml mengandung tidak kurang dari 285,0 dan tidak lebih dari 315,0 mg Natrium (sebagai NaCl dan C5H5NaO3), tidak kurang dari 14,1 mg dan tidak lebih 17,3 mg kalium (K, setara dengan tidak kurang dari 27,0 dan tidak lebih dari 33,0 mg KCl), tidak kurang dari 4,90 mg dan tidak lebih dari 6,00 mg kalsium (Ca, setara dengan tidak kurang dari 18,0 mg dan tidak lebih dari 22,0 mg CaCl2.2H2O), tidak kurang dari 368,0 mg dan tidak lebih dari 408,0 mg klorida (Cl, sebagai NaCl, KCl dan CaCl2.2H2O, dan tidak kurang dari 290,0 mg dan tidak lebih dari 330,0 mg C5H5NaO3). Injeksi ringer laktat tidak boleh mengandung bahan antimikroba. [Catatan Injeksi Ringer Laktat mengandung kalsium, kalium dan natrium berturut – turut lebih kurang 2,7; 4 dan 130 miliekuivalen per liter] Endotoksin bakteri Tidak lebih dari 0,5 unit Endotoksin FI per ml pH Antara 6,0 dan 7,5 Logam berat Tidak kurang dari 0,5 bpj; lakukan penetapan dengan menguapkan 67 ml hingga volume lebih kurang 20 ml, tambahkan 2 ml asam asetat 1N dan encerkan dengan air hingga 25 ml. 1 ml asam sulfat 0,1 N setara dengan 8,907 mg C3H5O3 Wadah dan Penyimpanan Dalam wadah kaca atau plastik dosis tunggal, sebaiknya dari kaca Tipe I atau Tipe II

 Martindale Hal: 638 Ringer Injection R/ NaCl KCl CaCl2 API ad 860 mg 30 mg 33 mg 100 ml

IX.

FORMULA AKHIR

 Fornas Hal 206 Injeksi Ringer Laktat Tiap 500 ml mengandung R/ Acidum Lacticum Natrii Hydroxydum Natrii Chloridum Kalii Chloridum Calcii Chloridum 1,2 ml 575 mg 3g 200 mg 135 mg

Penyimpanan : Dalam wadah dosis tunggal Catatan : 1. Ditambahkan Asam klorida 0,1 N hingga pH 5 sampai 7,0 2. Mengandung ion bikarbonat dihitung sebagai laktat 29 mEq, ion kalium 5mEq, ion kalsium 8 mEq, ion klorida 111 mEq dan ion natrium 131 mEq per liter. 3. Tidak boleh mengandung bakterisida 4. Disterilkan dengan cara sterilisasi A, segera setelah dibuat 5. Bebas Pirogen 6. Pada etiket harus juga tertera :  banyaknya ion bikarbonat dihitung sebagai laktat, ion Kalium, ion kalsium, Ion Klorida

dan ion Natrium masing-masing dalam mEq per liter   daluarsa Diinjeksikan secara infusi

Perhitungan dan penimbangan Tiap 500 ml mengandung : Acidum Lacticum Natrii Hydroxydum Natrii Chloridum Kalii Chloridum Calcii Chloridum 1,2 ml 575 mg 3 g 200 mg 135 mg 0,24% 0,115% 0,6% 0,04% 0,027% E = 0,44 E = 17 E= 1 E= 0,76 E = 0,7 = 17 x = 1,445

Dibuat 250 ml, jadi : Asam laktat = 0,6 ml x 1,2 gram/ml = 0,72 gram NaOH = 287,5 mg = 0,2875 gram KCl = 100 mg = 0,1 gram CaCl2 = 67,5 mg = 0,0675 gram NaCl = 1,5 gram M osmol/liter =

Asam laktat

=

= 12,4689 M osmol/liter

NaOH

=

= 83,08 M osmol/liter

KCl

=

=

8,1501 M osmol/liter

CaCl2

=

=

5,1081 M osmol/liter

NaCl

=

= 205,3388 M osmole/liter = 314,1459 M osmole/liter

+

Perhitungan mEq

Berat ion = Zat NaCl Massa (mg) 1500 58,5 Mr Na+ ClKCl 100 74,6 K+ ClCaCl2 67,5 111 Ca2+ ClNaOH 287,5 40 Na+ OHAsam laktat 720 90,08 Laktat Ion 23 35,5 39,1 35,5 40 35,5 23 17 89 Ar Berat ion 589,744 910,256 52,413 47.587 24,324 21,588 165,312 122,188 711,368

mEq =

karena massa dalam formula adalah per 250 ml maka mEq = 0,25 mEq/liter

Zat HCO3Na+ ClK+ Ca2+

Berat ion 589,744 910,256 52,413 47.587 24,324 1 1 1 1 2

Valensi 89 23 35,5 39,1 40

Ar

mEq 7,19 32,831 27,5896 1,341 1,216

mEq/liter 28,76 131,324 110,358 5,362 4,865

Volume sediaan yang akan diisikan ke dalam botol infus: 200 ml + (2% x 200 ml) = 204 ml

Volume yang dibuat berlebih: 250 ml (senilai 23%) Jadi yang ditimbang sebanyak Asam laktat = 0,9 gram NaOH = 359,375 mg = 0,359 gram KCl = 125 mg = 0,125 gram CaCl2 = 84,375 mg = 0,0844 gram NaCl = 1,5 gram

Alasan – alasan :

♫ Zat aktif mudah larut dalam air sehingga dapat dipakai sebagai Sediaan Parentral Volume
Besar karena akan dibuat sediaan infus dan larutan bersifat larutan sejati.

♫ Autoklaf
filtrasi Autoklaf Larutan disterilkan dengan cara otoklaf (121˚C selama 15 menit)

Tetap memakai formula pada fornas dan tidak menambah zat tambahan lain seperti:

 

Zat pengawet: pengawet tidak diperlukan karena sediaan dilakukan sterilisasi akhir. Pengatur tonisitas; biasanya ditambahkan zat pengisotoni yaitu dengan tujuan mencegah ketidakseimbangan elektrolit, mengurangi kerusakan jaringan dan iritasi, hemolisa sel darah, dan mengurangi sakit pada daerah injeksi. Kami menggunakan NaCl sebagai bahan pengisotoni untuk menghasilkan larutan isotonis dalam sediaan.

Pengatur pH (dapar): tujuan digunakannya yaitu untuk meningkatkan stabilitas obat; mengurangi rasa nyeri, iritasi, nekrosis saat penggunaannya; menghambat

pertumbuhan mikroorganisme. Sedangkan untuk sediaan infuse tidak digunakan dapar karena dapat menyebabkan larutan agak hipertonis.

X.

CARA KERJA

Pembuatan Aqua Pro Injectione a) Aqua bidestilata di panaskan diatas waterbath di dalam erlenmeyer sampai air mendidih. Setelah air mendidih kemudian dipanaskan lagi selama 40 menit. b) Setelah 40 menit lalu diangkat kemudian di dinginkan. API digunakan untuk membuat sediaan larutan steril. Pembuatan Sediaan 1. Disiapkan alat – alat dan bahan yang diperlukan 2. Dilakukan proses pembuatan API bebas O2 dengan cara mendidihkan aquadest diatas penangas air, setelah itu dipanaskan kembali selama 40 menit. 3. Dilakukan proses pembuatan Air bebas pirogen, yaitu : Aqua destilata dipanaskan diatas penangas air, kemudian ditambahkan karbon aktif sebanyak 0,1 % dari total air bebas pirogen yang akan dibuat. Sebelum mencapai suhu 60° C - 70° C, Karbon aktif ditambahkan ke dalam aqua destilata. Dilakukan pengadukan sesekali yang kemudian dilanjutkan pemanasan hingga suhu 60° C - 70° C. kemudian ditutup dengan kaca arloji, yang telah disisipkan dengan Termometer dan batang pengaduk. Setelah mencapai suhu 60° C - 70° C, dilanjutkan pemanasan selama 15 menit.Selanjutnya sebagian dari air bebas pirogen ini (5 – 10ml) disaring dengan

menggunakan kertas saring rangkap 2 yang sebelumnya telah dibasahi dengan air bebas pirogen (karena dispensasi, maka kertas saring dibasahi dengan API), kemudian filtrat pertama dibuang. Selanjutnya corong tersebut dipindahkan ke erlenmeyer lain, dan kembali dilakukan penyaringan hingga didapat Air bebas pirogen yang jernih. 4. Bahan berupa Zat aktif ditimbang menggunakan kaca arloji dalam black area 5. Dimasukkan kedalam beacker glass yang telah dikalibrasi 6. Disiapkan sejumlah API yang telah dibuat sebelumnya untuk melarutkan ZA dan membilas kaca arloji 7. Karbon aktif sebanyak 0,1% digerus terlebih dahulu didalam lumpang, kemudin dimasukkan ke dalam larutan 8. Tutup dengan kaca arloji yang telah disisipkan Termometer dan batang pengaduk. 9. Kemudian dilakukan pemanasan sambil sesekali diaduk, setelah suhu mencapai 60° C – 70° C dilanjutkan pemanasan selama 15 menit. 10. Dimasukkan corong yang telah berisi kertas saring rangkap 2 lipat terpasang yang sebelumnya telah dibasahi dengan Air bebas pirogen. 11. Dilakukan penyaringan sekitar 5 – 10 ml, kemudian filtrat pertama dibuang. 12. Dipindahkan corong tersebut ke erlenmeyer lain, kemudian lakukan kembali penyaringan hingga didapat sediaan yang jernih. 13. Dilakukan pengukuran menggunakan gelas ukur sesuai dengan volume yang akan dimasukkan ke dalam botol infus (204 ml) 14. Masukkan ke dalam botol infus yang sebelumnya telah ditara 15. Ditutup botol infus dengan menggunakan kain flakon, kemudian diikat dengan simpul campaigne 16. Disterilkan dengan mengggunakan autoklaf suhu 121° C selama 15 menit. 17. Diberikan etiket dan diklakukan evaluasi terhadap sediaan.

XI.

DATA PENGAMATAN   pH sediaan sebelum = 8 pH sediaan setelah = 7

 

Uji Kejernihan = Larutan jernih, tidak ada partikel yang melayang. Larutan homogen dan berwarna jernih.

XII.

PEMBAHASAN Sediaan parenteral volume besar adalah sediaan cairan steril mengandung obat yang dikemas dalam wadah 100 ml atau lebih dan ditujukan untuk manusia.Konsep dari SPVB yaitu parameter fisiologi, factor fisikokimia, dan bahan tambahan pada sediaan SPVB. Komponen penunjang fisiologi tubuh yaitu tekanan osmosa, dimana tekanan osmosa merupakan perpindahan pelarut dan zat terlarut melalui membrane permeable yang memisahkan dua komponen. Satuan tekanan osmosa adalah osmols per kilogram, disebut harga osmolaritas. Pada factor fisikokimia yaitu kelarutan, pH, pembawa, cahaya dan suhu serta factor kemasan. Sedangkan bahan tambahan yang digunakan yaitu dapar, antioksidan, komplekson, jarang digunakan pada sediaan SPVB. (Formulasi Sediaan Steril) Sediaan infuse yang kami buat yaitu infuse ringer lactate. Ringer laktat adalah sebuah larutan isotonik yang biasanya digunakan untuk mengobati atau untuk mencegah dehidrasi pada manusia dan hewan. Larutan ini mengandung natrium klorida, kalium klorida, kalsium klorida dan natrium laktat dalam air suling. Ringer laktat biasanya diberikan melalui pemberian intravena sementara itu mungkin subkutan pada hewan. Larutan ringer laktat sering digunakan untuk mengisi cairan yang hilang setelah kehilangan darah akibat trauma, operasi, atau cedera kebakaran. Di masa lalu, itu digunakan untuk menginduksi buang air kecil pada pasien dengan gagal ginjal akut. Larutan ringer laktat digunakan ketika pasien mengalami asidosis atau yang menunjukkan tanda-tanda dan gejala kondisi tersebut, karena produk sampingan dari metabolisme laktat dalam hati melawan asidosis. Asidosis adalah ketidakseimbangan kimia yang terjadi sebagai akibat dari gagal ginjal akut atau kehilangan cairan yang ekstrim. Infus larutan Ringer laktat tergantung pada jumlah kehilangan cairan dan defisit cairan. Jumlah infus biasa adalah 30 ml/kg berat badan/ jam. Namun, larutan ini tidak dianjurkan untuk terapi perawatan karena kandungan natrium dianggap terlalu tinggi sedangkan kandungan kalium terlalu rendah dibandingkan dengan persyaratan elektrolit harian tubuh. Hal ini terutama tidak

dianjurkan sebagai terapi pemeliharaan pengganti cairan pada bayi dan anak-anak, karena volume cairan yang tersedia terbesar pada bayi dan menurun dengan usia. Dalam sediaan infuse isotonis mutlak perlu dan setelah dilakukan perhitungan tonisitas sediaan kami didapatkan yaitu 314,1459 M osmole/liter, rentang ini masul ke dalam range isotonis yaitu pada 270-328 M osmole/liter. Laju pemberian normal/lazim untuk larutan isotonis dengan viskositas rendah seperti sediaan kami yaitu 125 ml/jam = 1 liter tiap 8 jam atau 2 ml/menit. Pada umumnya, obat-obat yang digunakan untuk membuat SPVB mudah larut. Akan tetapi pH juga mempengaruhi, dimana pH darah normal adalah 7,35-7,45 (isohidri) sehingga bila SPVB mempunyai pH di luar batas tersebut akan menyebabkan masalah pada tubuh. Tetapi hal ini sangat sulit karena kebanyakan obat pada pH yang tidak stabil. Pada sediaan kami pH yang didapatkan sebelum dipanaskan dengan karbon aktif yaitu 8. Akan tetapi, setelah dipanaskan dengan karbon aktif pH sediaan kami yaitu 7, pH ini masuk kedalam range pH sediaan ringer lactate menurut fornas yaitu pH 5 sampai 7,0. Sebenarnya tujuan utama pengaturan pH yaitu untuk mempertinggi stabilitas sehingga obat-obat tersebut masih mempunyai aktivitas dan potensi. Dalam sediaan infuse sebaiknya dihindari pemakaian dapar untuk adjust pH, karena seringkali penggunaan dapar dapat membuat larutan menjadi agak hipertonis, meskipun tidak begitu merugikan. Pendaparan yang jauh menyimpang dari pH 7,4 akan memperlambat dan mempersulit penyerapan obat, karena penyerapan baru akan terjadi apabila kapasitas dapar telah ditiadakan.pH larutan yang tidak didapar boleh bergeser antara 35 sedangkan untuk larutan yang didapar sebaiknya sekitar 5,5-7,5 agar waktu yang dibutuhkan untuk menghilangkan pengaruh zat pendapar tidak terlalu lama.

IX. FORMULA PUSTAKA Tiap 500 ml mengandung : Natrii Citras Aqua Pro Injeksi hingga Dosis Maksimum X. FORMULASI 15 g 500 ml : 80 mg/kg berat badan (Intra Vena)

R/ Tiap 250 ml mengandung : Natrii Citras Aqua Pro Injeksi hingga XI. PERHITUNGAN TONISITAS M osmole/L = = = 3,060 Tonisitas (E) = = = 0,1156 XII. FORMULASI AKHIR R/ Tiap 250 ml mengandung : Natrii Citras Aqua Pro Injeksi hingga 7,5 g 250 ml x 1000 x jumlah ion Na Sitrat x 1000 x 3 7,5 g 250 ml

XIII. PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN Volume sediaan = Jika sediaan >50 ml maka volume dilebihkan 2% nya = 2% x 200 ml = 204 ml ~ 250 ml Natrium Sitrat Aqua Pro Injeksi = dilebihkan 5% = 5% x 7,5 g = 7,875 g = ad 250 ml

XIV. PROSEDUR KERJA Cara Kerja Pembuatan API (Aqua Pro Injeksi) o Aquades dimasukkan ke dalam Erlenmeyer sesuai dengan kebutuhan. o Kemudian Erlenmeyer ditutup dengan kaca arloji dan dididihkan selama 30 menit.

o Jika ingin mendapatkan Aqua Pro Injeksi yang bebas Oksigen maka dilakukan pendidihan lagi selama 10 menit dan mengganti tutup kaca arloji dengan dengan sumbat kapas. Cara Kerja Pembuatan Aqua Bebas Pyrogen o Aquades dimasukkan ke dalam Erlenmeyer sesuai dengan kebutuhan. o Kemudian ditambahkan kedalamnya karbon aktif sebanyak 0,1% dari volume aquades yang dimasukkan. o Campuran tersebut dipanaskan pada suhu 60 – 70 C selama 15 menit, sesekali diaduk dan suhu tetap dipertahankan. o Setelah 15 menit maka air bebas pyrogen disaring dengan menggunakan kertas saring yang sudah dibasahi oleh air bebas pyrogen. Cara Kerja Sediaan Natrium Sitrat o Zat aktif ditimbang, dimasukkan ke dalam beackerglass yang telah dikalibrasi 500 ml. o Aqua Pro Injeksi dituangkan untuk melarutkan zat aktif dan kaca arloji dibilas hingga Aqua Pro Injeksi mencapai tanda kalibrasi tercapai. o Sebanyak 0,1 % karbon aktif ditimbang dan dimasukkan ke dalam larutan. Kemudian beackerglass ditutup kaca arloji dan disisipi batang pengaduk. o Larutan dihangatkan pada suhu 50 – 70 C selama 15 menit sambil sesekali diaduk. o Kertas saring ganda dan terlipat, dibasahi dahulu dengan air bebas pirogen (dibuat seperti larutan bebas pirogen). o Corong dan kertas saring dipindahkan ke Erlenmeyer yang sudah bebas pirogen. o Larutan disaring hangat-hangat ke dalam Erlenmeyer. o Volume larutan diukur dalam gelas ukur 500 ml dan diisikan langsung ke dalam botol infuse 500 ml. o Tutup karet botol infuse dipasang kemudian diikat dengan simpul campaigne. o Botol infuse yang berisi larutan disterilkan dalam autoklaf suhu 115 – 116 C selama 10 menit. o Sebagai catatan bahwa pembuatan infuse tidak disertai cara IAD

XV.

EVALUASI o pH sediaan :8

o Kejernihan o Etiket XVI. PEMBAHASAN

: ada partikel melayang : bagus

Sediaan parenteral volume besar adalah sediaan cairan steril mengandung obat yang dikemas dalam wadah 100 ml atau lebih dan ditujukkan untuk manusia. Contoh dari sediaan parenteral volume besar ini tidak termasuk intravne, larutan penguras, dialisat peritoneal atau darah dengan penambahan antikoagulan. Pada sediaan parenteral volume besar ni tidak termasuk obat-obatan yang ditujukkan untuk pemakaian hewan. Keperluan akan ketersediaan parenteral volume besar meningkat dikarenakan : o Kebutuhan tubuh akan air, elektrolit dan karbohidrat yang kurang harus dengan cepat diganti, o Obat banyak diberikan melalui infuse, mengingat beberapa keuntungan, misalnya tidak perlu menyuntik pasien berkali-kali, o Mudah mengatur keseimbangan antara keasaman dan kebasaan obat dalam darah, o Sebagai penambah zat makanan bila paien tidak dapat makan, o Larutan penambah zat parenteral volume besar berfungsi sebagai dialisa pada pasien gagal ginjal. Larutan infuse diberikan melalui intravena tetes demi tetes dengan bantuan peralatan yang cocok. Larutan yang termasuk katagori infuse yaitu larutan elektrolit, larutan karbohidrat, plasma expander dan emulsi lemak. Dimana persyaratan dari sediaan ini yaitu harus steril dan bebas pyrogen karena : o Sediaan diinjeksikan langsung pada aliran darah (intravena), o Sediaan ditumpahkan pada daerah gigi (larutan penguras) dan tubuh, o Sediaan langsung berhubungan dengan darah (hemofiltrasi), o Sediaan langsung ke dalam tubuh (dialisa peritoneal). Syarat berikutnya dari larutan infuse ini yaitu sebaiknya isotonic dan isohidri, tetapi larutan dengan pH 4,0 – 7,5 masih bisa diterima. Pada praktikum kali ini dibuat larutan infuse Na sitrat dengan rentang pH yaitu 6,4 – 7,5 dengan khasiat sebagai antikoagulan.

Pada pembuatan larutan infuse kali ini sedikit berbeda dari pembuatan sediaan injeksi pada praktikum sebelumnya, dimana larutan yang digunakan biasanya menggunakan aqua pro injeksi, kini ditambahkan aqua bebas pyrogen karena sediaan memang diharapkan bebas dari pyrogen. Pyrogen adalah senyawa asing dari suatu organism yang dapat mengganggu dari sediaan yang akan dibuat. Aqua bebas pyrogen dilakukan atau dibuat dengan penambahan 0,1% karbon aktif dihitung terhadap volume total larutan, kemudian dihangatkan pada suhu 60 – 70o C selama 15 menit sambil sesekali diaduk. Perhitungan waktu dilakukukan ketika suhu sudah mencapai yang diharapkan. kemudian aqua bebas pyrogen ini disaring dengan menggunakan kertas saring yang sudah dibasahi dengan aqua bebas pyrogen sebelumnya. Pada tekhnik pembuatannya aqua bebas pyrogen ini digunakan untuk membasahi kertas saring yang digunakan untuk menyaring larutan atau sediaan yang sudah jadi. Penambahan karbon aktif pada pembuatan aqua bebas pyrogen berfungsi sebagai pengabsorbsi zat-zat yang terdapat di sekitar larutan dimana karbon aktif itu berada. Karbon in iakan mengabsorbsi zat-zat atau partikel-partikel asing yang disebut sebagai pyrogen sehingga memang didapatkanlah aqua yang bebas pyrogen. Karbon ini merupakan serbuk halus yang berwarna hitam dan mulai aktif ketika dilakukan proses pemanasan pada suhu 60 – 70o C. Pada tekhnik pembuatan sediaan infuse Natrium Sitrat, karbon aktif akan ditambahkan saat seluruh bahan telah dilarutkan didalam pelarut aqua pro injeksi. Kemudian sejumlah 0,1 % karbon aktif ditambahkan kedalamnya dan dilakukan pemanasan untuk menghilangkan senyawa pyrogen di dalam larutan tersebut. Jadi karbon aktif tidak hanya dibutuhkan pada saat pembuatan aqua bebas pyrogen saja, namun dibutuhkan pula untuk menghilangkan senyawa pyrogen yang ada di dalam larutan bahan. Sehingga ketika sediaan dikemas dan hendak disterilkan, sediaan sudah bebas pyrogen. Karbon aktif ini memiliki sifat menyerap zat disekitar tempat karbon ini berada termasuk zat aktif pula. Sehingga pada perhitungan bahan, zat aktif kami lebihkan 5% sesuai dengan ketentuan yang ada dalam literatur. Sedangkan untuk sediaan yang seharusnya 200 ml kami lebihkan 2% nya menjadi 204 ml yang akan dimasukkan ke dalam wadah. Proses pembuatan dimulai dengan melarutkan bahan didalam aqua pro injeksi, dimana bahan yang digunakan yaitu Natrium Sitrat. Sejumlah aqua pro injeksi

dimasukkan ke dalam beacker glass yang sebelumnya telah dikalibrasi, kemudian zat aktif dimasukkan ke dalam beacker glass dan diaduk hingga homogen. Setelah itu dilakukan pengamatan terhadap nilai pH yang dihasilkan. Kemudian berikutnya ditambahkan karbon aktif sebanyak 0,1% dari volume sediaan, diaduk hingga karbon tersebar merata dan dilakukan pemanasan pada suhu 60 – 70o C selama 15 menit. Hasil dari pemanasan selanjutnya larutan ini disaring dengan kertas saring rangkap dua yang telah dibasahi dengan aqua bebas pyrogen pula. Dimana akhirnya hal ini dilakukan untuk benar benar mengkondisikan larutan agar bebas dari pyrogen. Setelah larutan disaring kemudian ditampung di dalam Erlenmeyer dan selanjutnya disaring kembali saat sediaan akan dimasukkan ke dalam wadah. Sebagai catatan bahwa wadah sebelumnya sudah harus dilakukan kalibrasi sebelum dimasukkan sediaan dan kalibrasi dilakukan di black area. Sediaan yang sudah ada kemudian dilakukan pengamatan ulang terhadap ph yang dihasilkan. Untuk selanjutnya dijadikan sebagai bahan evaluasi sediaan. Setelah itu botol ditutup dengan tutup karet, dilapisi dengan kertas perkamen dan diikat dengan benang kasur yang diikat dengan simpul campaigne. Selanjutnya dilakukan sterilisasi akhir dengan menggunakan autoklaf pada suhu 70o selama 15 menit dan diberi etiket. Sebagai catatan tambahan bahwa informasi yang dituliskan di dalam etiket harus mencantumkan m osmole/L. hal ini dimaksudkan agar dokter mengetahui isi dari sediaannya apakah isotonis, hipotonis atau hipertonis. Setelah sediaan didapat maka dilakukan evaluasi terhadap sediaan meliputi kejernihan dari sediaan setelah sebelumnya telah dilakukan pula evaluasi dari pH sediaan. Dimana hasil dari pH yang didapat yaitu bernilai 8, sedangkan pH sediaan yang seharusnya diinginkan yaitu 6,4 – 7,5. Sehingga masih lebih sekitar 0,5 dari rentang yang seharusnya 7,5. Hal ini bisa dipengaruhi oleh zat aktif tersebut yang memang berbentuk garam dengan pH yang lebih dari 7 karena jikalau dipengaruhi oleh aqua pro injeksi tidaklah mungkin mengingat ph dari aqua pro injeksi itu sendiri adalah 7. Kemudian hal lain yang terkait dengan evaluasi yaitu adanya partikel melayang di dalam sediaan. Sehingga dosen pembimbing pada praktikum kali ini menilai bahwa sediaan kurang jernih atau memiliki kejernihan yang kurang. Dan berdasarkan hasil diskusi kelompok kami didapatkan hipotesis bahwa partikel melayang yang didapat atau ditemukan didalam sediaan bukanlah karena zat aktif yang kurang larut atau

bukan karena penyaringan yang kurang bagus. Namun karena kondisi wadah yang kurang bersih walaupun sudah melakukan proses pencucian. Karena jikalau menyangkut zat aktif yang kurang larut sangatlah tidak mungkin, hal ini dapat dibuktikan dengan kelarutan zat aktif berdasarkan literatur didapatkan nilai kelarutan dari Natrium sitrat sangatlah tinggi. Sedangkan jikalau partikel melayang ini dikarenakan oleh proses penyaringan yang kurang baik maka ini juga tidaklah mungkin karena kami telah melakukan dua kali penyaringan dengan double kertas saring pada penyaringan yang pertama dan satu kertas saring pada penyaringan yang kedua ketika hendak dimasukkan ke dalam wadah. Hal inilah yang mendasari kami untuk menyatakan bahwa partikel melayang didapat dari botol yang memang kurang bersih walaupun sudah mengalami proses pencucian. Dimungkinkan bahwa pada saat proses pengeringan dari botol terdapat partikel yang masuk sehingga menyebabkan botol menjadi kotor kembali. Serta kami tidak pula melakukan pembilasan bata botol sehingga masih terdapat partikelpartikel asing di dalam wadah tersebut.

N. Formula standar

O. Tak Tersatukan Zat Aktif (OTT) Para aminoglikosida, furosemid, heparin, natrium bikarbonat dan beberapa larutan untuk nutrisi parenteral. Interaksi dengan persiapan yang mempunyai pH basa (seperti natrium sulfadiazin), atau obat-obatan tidak stabil pada pH asam (untuk garam misalnya eritromisin).

P. Usul penyempurnaan sediaan  Ditambahkan bahan pengawet  benzalkonium klorida Sesuai dengan literature. Dimana sediaan obat tetes mata yang dibuat merupakan sediaan obat tetes mata dosis ganda.  Ditambahkan bahan pengkhelat  sodium edetat Penambahan sodium edetat dalam larutan obat mata dapat meningkatan efektifitas pengawet benzalkonium klorida untuk melawan jenis mikroorganisme pseudomonas tertentu  Ditambahkan dapar  dapar fosfat  Na2HPO4 dan KH2PO4 pH ideal suatu obat tetes mata adalah 7,4 – 7,65. Namun sangat jarang dijumpai bahan aktif yang stabil pada pH tersebut. Dimana pH dari gentamicin sulfat adalah 3,5 – 5,5 sedangkan pH sediaan obat tetes mata gentamicin sulfat adalah 6,5 – 7,5 maka itu perlu ditambahkan dapar untuk mempertahankan pH sediaan tersebut dimana mendekati pH ideal dari pH suatu obat tetes mata yang ideal. Dimana sediaan dapat dibuat pada pH 7,4. Perhitungan dapar fosfat

Kapasitas dapar (β) yang kami gunakan = 0,01 Dapar fosfat yang digunakan merupakan kombinasi dari : KH2PO4 yang berfungsi sebagai asam, dan Na2HPO4 yang berfungsi sebagai garam. pH stabilitas sediaan obat tetes mata gentamicin sulfat = 6,5 – 7,5 yang didapar pada pH = 7,4 → *H+] = 4 x 10-8 pKa asam KH2PO4 = 7,21 pKa = - log Ka 7,21 = - log Ka Ka = 6,2 x 10-8 ◊ Kapasitas dapar
{ }

0,01 = 2,303 C 0,01 = 2,303 C 0,238 0,01 = 0,548 C C = 0,018 M ◊ Perhitungan Komposisi jumlah dapar Fosfat yang digunakan : Dari persamaan Handersen Hasselbach : pH = pKa + log 7,4 = 7,21 + log 0,19 = log

C = [garam] + [asam] 0,018 = 1,549 [asam] + [asam] 0,018 = 2,549 [asam]

[asam] = 7,06 x 10-3 mol/L = 7,06 x 10-6 mol/ml Massa KH2PO4 = mol x BM KH2PO4 = 7,06 x 10-6 x 136,09 = 9,6 x 10-4 gr = 0,96 mg [garam] = C – [asam] = 0,018 – 7,06 x 10-3 = 0,011 mol/L = 1,1 x 10-5 mol/ml Massa Na2HPO4 = mol x BM Na2HPO4 = 1,1 x 10-5 x 141,96 = 1,5 x 10-3 gr = 1,5 mg  Ditambahkan bahan pengatur osmolaritas  NaCl

= 8,28 x 10-3 Nama zat Benzalkonium klorida Dinatrium edetat Kalium fosfat anhidrat ΔTf 1% 0,09 0,13 0,26 % 0,01% 0,1% 0,096% 0,15% Hasil 9 x 10-4 0,013 0,025 0,047

Natrium fosfat anhidrat 0,30

= = 0,734 gr/100ml

= 7,34 x 10-3 gr / ml  0,734% NaCl

Q. Formula Akhir Setiap ml mengandung : Gentamicin sulfat Benzalkonium klorida Disodium edetat KH2PO4 Na2HPO4 NaCl Aqua pro injeksi R. Penimbangan Bahan Gentamicin sulfat = 0,3 % x 40 = 0,12 gram 0,3 % 0,01% 0,1% 0,096% 0,15% 0,734% ad 1ml

Benzalkonium klorida = 0,01% x 40 = 0,004 gram Disodium edetat KH2PO4 Na2HPO4 NaCl Aqua pro injeksi S. Langkah 1. Mensterilkan alat-alat yang akan digunakan = 0,1% x 40 = 0,04 gram = 0,156% x 40 = 0,0288 gram = 0,095% x 40 = 0,0468 gram = 0,738% x 40 = 0,2936 gram ad 40 ml

2. Menimbang masing-masing bahan kemudian memasukkannya kedalam masing-masing gelas piala, membilas kaca arloji dengan cairan steril sebanyak 2 kali 3. Membuat larutan dapar kemudian cek pH 4. Melarutkan semua bahan yang digunakan dengan menggunakan aqua pro injeksi, dimana benzalkonium klorida ditambahkan terakhir karena kecenderungannya menghasilkan busa. 5. Larutan disterilkan dengan cara filtrasi melalui filter membrane steril kedalam wadah steril ( sterilisasi C ) 6. Menuangkan sejumlah air steril untuk membasahi kertas saring lipat yang akan digunakan pada corong. 7. Pindahkan corong ke Erlenmeyer lain yang bersih dan kering 8. Larutan dituang kedalam gelas ukur, dan diad 40ml 9. pH larutan dicek dan diatur pada rentang 6,5-7,5 10. Larutan dalam gelas ukur tersebut disaring melalui corong kedalam Erlenmeyer yang telah disiapkan. 11. Mengkalibrasi wadah obat tetes mata 10,5 ml dengan menggunakan spuit 12. Memindahkan sediaan larutan obat tetes mata ke dalam wadah yang telah dikalibrasi. 13. Menutup wadah dan memberi etiket

T. Evaluasi

Evaluasi yang seharusnya dilakukan pada larutan obat tetes mata larutan adalah sebagai berikut:

1. Evaluasi fisika
-

Uji kejernihan Penentuan pH Penentuan bahan partikulat Penentuan volume terpindahkan uji kebocoran

2. Evaluasi kimia
Penetapan kadar Identifikasi

3. Evaluasi biologis
Uji sterilitas Uji pirogen Uji endotoksin bakteri.

4. Pengemasan dan penyimpanan Persyaratan kompendial : ◊ Farmakope Eropa dan BP mensyaratkan wadah untuk tetes mata terbuat dari bahan yang tidak menguraikan/merusak sediaan akibat difusi obat ke dalam bahan wadah atau karena wadah melepaskan zat asing ke dalam sediaan. ◊ Wadah terbuat dari bahan gelas atau bahan lain yang cocok. ◊ Wadah sediaan dosis tunggal harus mampu menjaga sterilitas sediaan dan aplikator sampai waktu penggunaan. ◊ Wadah untuk tetes mata dosis ganda harus dilengkapi dengan penetes langsung atau dengan penetes dengan penutup berulir yang steril yang dilengkapi pipet karet/plastic ◊ Penyimpanan, dalam wadah kaca atau plastik tertutup kedap, volume 10 ml, dilengkapi dengan penetes (FI III, hal 10). Penyimpanan ◊ Tetes mata disimpan dalam wadah “tamper-evident”. Kompatibilitas dari komponen plastik atau karet harus dicek sebelum digunakan. ◊ Wadah untuk tetes mata dosis ganda dilengkapi dengan dropper yang bersatu dengan wadah. Atau dengan suatu tutup yang dibuat dan disterilisasi secara terpisah. 5. Penandaan Label harus mencantumkan nama dan konsentrasi pengawet antimikroba atau senyawa lain yang ditambahkan dalam pembuatan.

Untuk wadah dosis ganda harus mencantumkan batas waktu sediaan tersebut tidak boleh digunakan lagi terhitung mulai wadah pertama kali dibuka (waktu yang menyatakan sediaan masih dapat digunakan setelah wadah dibuka). Kecuali dinyatakan lain lama waktunya tidak boleh lebih dari 4 minggu ◊ Wadah dosis tunggal karena ukurannya kecil tidak dapat memuat indikasi dan konsentrasi bahan aktif. ◊ Label harus mencantumkan nama dan konsentrasi zat aktif, kadaluarsa dan kondisi penyimpanan ◊ Untuk wadah dosis tunggal, karena ukurannya kecil hanya memuat satu indikasi bahan aktif dan kekuatan/potensi sediaan dengan menggunakan kode yang dianjurkan, bersama dengan persentasenya. Jika digunakan kode pada wadah, maka pada kemasan juga harus diberi kode ◊ Untuk wadah sediaan dosis ganda, label harus menyatakan perlakuan yang harus dilakukan untuk menghindari kontaminasi isi selama penggunaan Label harus mencantumkan : – – – Nama dan persentase zat aktif. Tanggal dimana sediaan tetes mata tidak layak untuk digunakan lagi (ED) Kondisi penyimpanan sediaan tetes mata.

◊ Untuk wadah dosis ganda, label harus menyatakan bahwa harus dilakukan perawatan tertentu untuk mencegah kontaminasi isi sediaan selama penggunaan.

Jenis evaluasi Kejernihan pH Volume yang diisikan dalam botol

Hasil Evaluasi Jernih 7-8 10,5 ml

U. Pembahasan Obat tetes mata atau Guttae Opthalmicae adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi, digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola mata. (FI III). Obat tetes mata harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: ◊ Steril ◊ Larutan tetes mata harus jernih dan bebas partikel ◊ Sedapat mungkin isohidris dengan cairan mata yaitu 7,4. sedangkan pH yang masih bisa ditolerir adalah 3,5-10,5. ◊ Sedapat mungkin isotonis. Yang masih bisa diterima adalah 0,7 – 1,5 % Pada praktikum steril ini kami membuat sediaan obat tetes mata Garamicin. Obat tetes Garamicin merupakan sediaan steril dengan zat aktif gentamicin sulfat yang larut dalam air. Berdasarkan literatur pembuatan obat tetes mata garamicin ini dilakukan dengan cara sterilisasi awal secara aseptis atau filtrasi. Dan dalam praktikum kami menggunakan cara aseptis. Formulasi yang digunakan untuk membuat obat tetes mata garamicin adalah gentamisin sulfat, benzalkonium klorida, dinatrium EDTA, dapat fosfat, dan NaCl. Dalam pembuatan obat tetes mata garamicin kami menggunakan gentamicin sulfat sebagai zat aktif. Benzalkonium klorida yang digunakan sebagai pengawet karena lebih aman dan spesifik untuk obat tetes mata dibandingkan pengawet lain. Benzalkonium klorida efektif dalam dosis kecil yang bereaksi sebagai antimikroba sangat cepat dan stabilitas tinggi. Benzalkonium klorida juga merupakan salah satu zat tambahan yang digunakan untuk menstabilkan lapisan lemak pada mata dan membran epitel kornea. Selain itu juga dapat berfungsi sebagai surfaktan, menurunkan tegangan permukaan yang dapat meningkatkan ketercampuran antara obat tetes mata dengan cairan lakrimal pada mata, dapat meningkatkan kontak zat aktif dengan kornea dan konjungtiva sehingga meningkatkan penembusan dan penyerapan obat sehingga mempercepat efek lokal yang terjadi. Dinatrium EDTA digunakan untuk mengikat logam berat yang berfungsi sebagai katalis oksidasi dan meningkatkan aktivitas benzalkonium klorida karena benzalkonium klorida

dapat dipengaruhi oleh logam. Dapar pH digunakan untuk mencegah kenaikan pH yang disebabkan oleh pelepasan lambat ion hidroksil dari wadah kaca. Kenaikan pH dapat mengganggu kelarutan dan stabilitas obat. Garam alkaloid paling efektif pada pH optimal untuk pembentukan basa bebas tidak terdisosiasi. Tetapi pada pH ini obat mungkin menjadi tidak stabil, sehingga pH harus diatur dan dipertahankan tetap dengan penambahan dapar. Air mata mempunyai kapasitas dapar yang baik. Obat mata akan merangsang pengeluaran air mata dan penetralan akan terjadi dengan cepat asalkan kapasitas dapar larutan obat tersebut kecil (jumlah mol asam dan basa konjugat dari pendapar kecil). Garam alkaloid bersifat asam lemah dan kapasitas daparnya lemah. Satu atau dua tetes larutan obat mata ini akan dinaikkan pHnya oleh air mata. Dalam menyiapkan dapar dengan pH yang diinginkan, harus dipilih sistem asam garam yang pKa-nya mendekati pH yang diinginkan agar angka banding asam terhadap garam mendekati satu dan diperoleh keefektifan maksimal terhadap penaikan dan penurunan pH. Kami menggunakan dapar fosfat untuk mempertahankan pH sediaan obat tetes mata pada pH stabil yang didasarkan pada pH sediaan yakni 6,5-7,5. Dapar fosfat merupakan dapar yang terdiri dari kalium dihidrogen fosfat yang bertindak sebagai asam dan dinatrium hidrogen fosfat yang bertindak sebagai garam dengan kapasitas dapar 0,01. Dapar fosfat dapat menstabilkan pH selama penyimpanan dan konsentrasi yang digunakan kecil sehingga secara signifikan dapat mengubah pH air mata yang artinya mudah diencerkan sehingga pH mudah dirubah sesuai dengan pH air mata. Dimana dalam praktikum pH dapar dipertahankan pada pH 7,4 sesuai dengan pH air mata. NaCl yang digunakan sebagi zat pengisotonis. Obat tetes mata dimasukkan dalam wadah plastik, volume 10 ml dan dilebihkan 0,5ml sehingga yang dimasukkan dalam wadah adalah 10,5ml. Sediaan obat tetes mata harus diberi peringatan pada etiket yang tertera “Tidak boleh digunakan lebih dari 1 bulan setelah tutup dibuka”. Hal ini dilakukan karena untuk menjamin kesterilan sediaan yang digunakan. Selain itu dalam hal pembuatan obat tetes mata kita harus memperhatikan pH sediaan karena apabila pH sediaan lebih kecil dari 5,8 dan lebih besar dari 11,4 dapat merangsang mata, oleh karena itu pH sediaan obat tetes mata harus mendekati pH air mata normal yang memiliki nilai pH lebih kurang 7,4. Kami tidak melakukan evaluasi sediaan

secara keseluruhan. Evaluasi yang kami lakukan terbatas pada evaluasi pH dan uji kejernihan. pH dan kejernihan sediaan kami termasuk baik karena sediaan tampak jernih, tidak terdapat partikel melayang, dan kadar keasamannya berada pada angka 7-8. Adapun evaluasi yang dilakukan pada sediaan OTM larutan meliputi evaluasi fisik (uji kejernihan, penentuan bobot jenis, penentuah pH, penentuan partikulat asing, penentuan volume terpindahkan), evaluasi kimia (identifikasi, penetapan kadar), dan evaluasi biologi (uji sterilitas, uji efektivitas pengawet, dan penentuan potensi untuk antibiotic). XXVI. FORMULASI 26.1 Formula 0.3% 0.01% 0.02%

R/ gentamisin sulfat benzalkonium klorida Na2EDTA dapar phospat yang terdiri dari: KH2PO4 Na2HPO4 NaCl api ad

0,1497% 0,0994% 0.761% 1 ml

26.2

Perhitungan

Perhitungan Gentamisin sulfat 0,3% → 0,3/100 x 1 ml = 3.10-3 g = 3 mg

26.3

Perhitungan Dapar Dapar yang digunakan adalah dapar phospat. Diketahui β (kapasitas dapar) = 0,01. Dapar fosfat merupakan kombinasi dari: KH2PO4 (asam) Na2HPO4 (garam)

 pKa asam KH2PO4 = 7,21 pKa = -log Ka

7,21 Ka

= -log Ka = 6,2x10-8

 pH yang diinginkan yaitu pH = 7,4 [H+] = 4x10-8  Konsentrasi masing-masing KH2PO4 dan Na2HPO4 dicari dengan persamaan : o Persamaan pertama pH = pKa + log 7,4 = 7,21 + log log = 0,19 = 1,548 M [Garam] = 1,548 [Asam]

o Persamaan kedua β 0,01 = 2,3. C. = 2,3 C (6,2x10-8). (4. 10-8) (6,2x10-8+(4. 10-8])2 0,01 = 5,704 x 10-15 C 1,0404 x 10-14 0,01 C = 0,548 C = 0,018 M

o Dari kedua persamaan diatas dapat dimasukkan ke persamaan: C = [Asam] + [Garam]

0,018 = [Asam] + 1,548 [Asam] 0,018 = 2,548 [Asam] [Asam] = 7,06 x 10-3 M [Garam]= 0,018 – 7,06 x 10-3 = 0,011 M o Dapar fosfat yang digunakan untuk 1 ml menjadi:

untuk KH2PO4 Mr KH2PO4 = 136,09 M = x

gram = = = 9,607.10-4 gr = 0,96 mg Maka konsentrasi KH2PO4 yang digunakan adalah 0,096%  untuk Na2HPO4 Mr Na2HPO4 = 141,96 M = x

gram = = = 1,56. 10-3 gr = 1,56mg Maka konsentrasi Na2HPO4 yang digunakan adalah 0,156%

26.4

Tonisitas = 673,59

BM Gentamicyn sulfat

Dengan Liso karena zat aktif dianggap elektrolit lemah : ΔTf ΔTf Gentamisin sulfat = Liso x = 1,86 x = 8,28. 10-3° Data Tf dalam 1% (FI IV) Benzalkonium klorida Dinatriun EDTA Na2HPO4 anhidrat ΔTf1% 0,09° ΔTf1% 0,13° ΔTf1% 0,30°

KH2PO4 No 1. 2. 3. 4. 5. Zat Gentamisin sulfat Benzalkonium klorida Dinatrium EDTA Na2HPO4 anhidrat KH2PO4

ΔTf1% 0,26° ΔTf1% 0,09° 0,13° 0,30° 0,26° Konsentrasi 0,01 0,02 0,156 0,096 Jumlah ΔTf1% x Konsentrasi 8,28 x 10-3° 0,0009° 0,0026° 0,047° 0,025° 0.084o

ΔTf 0,9% NaCl (isotonis) = 0,52o Agar isotonis maka perlu ditambahkan NaCl sejumlah : Selisih ΔTf = 0,52o – 0,084o = 0,436o NaCl yang ditambahkan setara dengan = (0,436o/0,52o) x 0,9gram/100 ml = 0,755 gram/100 ml = 0,755 %

XXVII. FORMULA AKHIR R/ gentamisin sulfat benzalkonium klorida Na2EDTA dapar phospat yang terdiri dari: KH2PO4 Na2HPO4 NaCl api XXVIII. PENIMBANGAN Gentamicin Sulfat = 0,3% x 40ml = 120 mg Dapar fosfat ingin dibuat 100 ml 0,096% 0,156% 0.755% ad 1 ml 0.3% 0.01% 0.02%

Na2HPO4 = 0,156% x 100ml = 156 mg KH2PO4 = 0,096% x 100 ml = 96 mg api ad 100 ml Dinatrium EDTA Benzalkonium Klorida NaCl API ad 40 ml = 0,02% x 40ml = 8 mg = 0,01% x 40 ml = 4 mg = 0,755% x 40 ml = 302 mg

XXIX. STERILISASI Sterilisasi c menurut Farmakope IV Sterilisasi larutan yang labil terhadap panas sering dilakukan dengan penyaringan dengan menggunakan bahan yang dapat menahan mikroba, sehingga mikroba yang dikandung dapat dipisahkan secara fisika. Perangkat penyaring umumnya terdiri dari suatu matriks berpori bertutup kedap atau dirangkaikan pada wadah yang tidak permeable. Efektivitas suatu penyaring media atau penyaring substrat tergantung pada ukuran pori bahan dan dapat tergantung pada daya adsorbsi bakteri pada atau di dalam matriks penyaring atau bergantung pada mekanisme pengayakan. Ada beberapa bukti yang menyatakan bahwa pengayakan merupakan komponen yang lebih penting dari mekanisme. Penyaring yang melepas serat, terutama yang mengandung asbes, harus dihindarkan penggunaannya kecuali tidak ada cara penyaringan alternative lain yang mungkin digunakan. Jika penyaring yang melepas serat memang diperlukan, merupakan keharusan, bahwa proses penyaringan meliputi adanya penyaring yang tidak melepas serat diletakkan pada arah hilir, atau sesudah langkah penyaringan awal.

XXX.

PROSEDUR a. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan b. Mensterilkan alat dan bahan yang akan digunakan

c. Membuat API bebas CO2 dengan cara mendidhkan aquadest dan kemudian dipanaskan selama 30 menit dihitung sejak mendidih ditambahkan selama 10 menit. d. Mengkalibrasi botol OTM garamicin yang akan digunakan. e. Menimbang semua bahan yang akan digunakan pada kaca arloji sesuai dengan formula. f. Seluruh alat dan bahan yang akan digunakan kemudian dibawa ke white area g. Membuat dapar fosfat sebanyak 100 ml untuk melarutkan bahan-bahan. h. Cek pH dapar : 78 i. Larutkan gentamisin sulfat, dinatrium EDTA, NaCl dengan larutan dapar. Kemudian benzalkonium klorida dimasukan terakhir untuk mencegah terjadinya busa. aduk ad larut. ad sediaan dengan dapar hingga tepat 40 ml. j. Cek pH sediaan

k. dilakukan filtrasi (dispensasi) l. Saring sediaan dengan kertas saring yang telah dibasahi dengan larutan dapar.

m. Memasukkan sediaan tersebut kedalam wadah yang telah dikalibrasi sebanyak 10,5 ml. n. Tutup botol dan beri etiket. o. Dilakukan evaluasi

XXXI. DATA PENGAMATAN DAN EVALUASI  Sediaan berupa injeksi volume kecil ( Guttae ) Volume Warna
 

: 10,5 ml : jernih

Uji pH dengan Indikator : pH sediaan obat tetes mata adalah 7-8 , berada pada rentang pH sediaan yang diinginkan 6,5-7,5. Uji Adanya Partikel Melayang: Dilihat secara visual tidak terdapat partikel melayang pada OTM yang dibuat

XXXII. PEMBAHASAN

Sediaan obat mata dalam USP didefinisikan sebagai bentuk sediaan steril yang harus bebas dari partikel-partikel asing, tercampur dengan baik dan dikemas untuk diteteskan ke dalam mata. Obat tetes mata atau Guttae Opthalmicae adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi, digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola mata. (FI III, hal 10). Dalam pembuatan sediaan obat mata, terlebih dahulu haruslah diketahui preformulasi dari sediaan yang akan dibuat. Pada praktikum kali ini akan dibuat sediaan dengan zat aktif gentamisin sulfat. Gentamycin sulfat memiliki kelarutan dalam air jauh lebih baik daripada bentuk basa bebasnya, karena sediaan obat tetes mata yang ingin kami buat adalah larutan. yang mana kelarutan gentamisisn sulfat: mudah larut dalam air; praktis tidak larut dalam etanol (95%), dalam kloroform dan dalam eter. Sediaan tetes mata garamisin yang kami buat terdiri dari gentamisin sulfat sebagai zat aktif, benzalkonium klorida sebagai pengawet, dinatrium EDTA sebagai peningkat aktivitas dari benzalkonium klorida, dapar fosfat, NaCl serta api. Dalam sediaan tetes mata gentamisin sulfat yang kami buat tidak menggunakan peningkat viskositas karena gentamisin sulaft diharapkan masuk kedalam mata sehingga tidak diperlukan adanya peningkat viskositas. Karena peningkat viskositas digunakan untuk zat aktif yang diharapkan berada pada permukaan mata seperti dalam pengobatan glaucoma. Selain itu, kami tidak menggunakan penambahan antioksidan karena bahan-bahan yang kami gunakan tidak mengalami oksidasi. Adapun syarat sediaan tetes mata: steril isotonis dengan air mata, bila mungkin isohidris dengan pH air mata

isotonis =0,9% b/v NaCl, rentang yang diterima = 0,7 – 1,4% b/v atau 0,7 – 1,5% b/v. Dimana pH air mata ialah 7,4 larutan jernih, bebas partikel asing dan serat halus tidak iritan terhadap mata

Salah satu syarat sediaan tetes mata ialah steril, dalam praktikum kali ini gentamisin sulfat dilakukan dengan cara sterilisasi C (yakni dengan filtrasi). Namun karena keterbatasan alat filtrasi di laboretorium sehingga filtrasi tidak dapat dilakukan, maka kami membuat sediaan tetes mata gentamisin sulfat sedapat mungkin dengan cara aseptis. Cara aseptis di lakukan dengan mensterilkan alat-alat yang akan digunakan. Untuk menjaga pH stabilitas zat aktif hingga sampai saat digunakan maka digunakan pendapar. Pendapar yang kami gunakan dalam sediaan tetes mata gentamisin sulfat ini ialah dapar fosfat yang terdiri dari Dinatrium phospat anhidrat dan kalium diphospat anhidrat. Adapun pada proses pembuatan tetes mata gentamisin sulfat langkah awal yang kami buat adalah membuat larutan dapar fosfat sebanyak 100 ml, yang kemudian larutan dapar ini di gunakan untuk melarutkan zat aktif dan bahan-bahan lainnya. Larutan dapar dibuat dengan melarutkan dinatrium phospat anhidrat dan kalium diphospat anhidrat dengan aqua pro injeksi. Dimana aqua pro injeksi dibuat mendidihkan aquades selama 30 menit, lalu di lakukan penambahan waktu pendidihan selama 10 menit. pH sediaan untuk sediaan obat tetes mata gentamisin sulfat ialah 6,5 – 7,5, dan kami membuat buffer pada pH 7,4 karena pH 7,4 merupakan pH alami air mata. Dibuat pH 7,4 yang sesuai pH alami mata agar membuat pasien merasa nyaman pada saat penetesan kedalam mata. Kenyamanan mata pada umumnya berhubungan dengan ketiadaan rasa pedih, rasa panas. Iritasi mata menyebabkan reflex keluarnya air mata dimana pada gilirannya mempercepat pembuangan sediaan obat mata dan menurunkan bioavailabilitasnya. In proses control dengan cara pengecekan pH diperoleh bahwa sediaan tetes mata yang kami buat berada pada range 7-8. Tidak dapat diketahui dengan pasti range sediaan kami benar tepat di 7,4 atau tidak karena pengukuran pH dilakukan dengan kertas indicator pH, bukan dengan pH meter. Pengaturan tonisitas sediaan tetes mata gentamisin sulfat juga menjadi hal yang penting untuk meminimalkan potensi ketidaknyamanan selama penetesan ke dalam mata. Dimana cairan lakrimal, seperti plasma secara normal memberikan tekanan osmotic yang setara dengan 0,9% larutan sodium klorida. Dalam praktikum kali ini kami menggunakan NaCl sebagai

pengisotoni. Adapun berdasarkan perhitungan penurunan titik beku, maka NaCl yang perlu ditambahkan agar sediaan menjadi isotonis sebanyak 0,755% atau setara dengan 302 mg untuk sediaan 40 ml. Karena sediaan tetes mata dikemas dalam wadah takaran ganda, maka diperlukan adanya pengawet. Pengawet diperbolehkan untuk menjaga sterilitas produk setelah kemasan dibuka dan selama penggunaan oleh pasien. Wadah larutan obat mata harus tertutup rapat dan disegel untuk menjamin sterilitas pada pemakaian pertama. Sedangkan untuk penggunaan pembedahan, disamping steril larutan sediaan obat mata tidak boleh mengandung antibakteri karena dapat mengiritasi jaringan mata. Karena sediaan obat tetes mata ini digunakan bukan untuk pembedahan maka dapat ditambahkan pengawet untuk mencegah terjadinya pertumbuhan bakteri. Karena kontaminasi pada sediaan mata dapat menyebabkan kerusakan yang serius, misalnya menyebabkan radang kornea mata. Kontaminan yang terbesar adalah Pseudomonas aeruginosa. Pertumbuhan bakteri gram negative ini terjadi dengan cepat pada beberapa medium dan menghasilkan zat toksin. Sumber bakteri terbesar adalah air destilasi yang disimpan secara tidak tepat yang digunakan dalam campuran. Organisme lain yang dapat menghasilkan infeksi kornea seperti golongan proteus yang telah diketahui sebagai kontaminan dalam larutan metal selulosa. Selain bakteri, fungi juga merupakan kontaminan misalnya Aspergillus fumigatu. Virus juga merupakan kontaminan seperti herpes simplex, vaksin, dan moluscum contagiosum. Mikroorganisme lain yang dapat mengkontaminasi sediaan optalmik adalah Hemophillus influenza, Hemophillus conjunctividis, Neisseria gonorrhoeae, Neisseria meningitides. Pengawet yang digunakan dalam sediaan tetes mata kami ialah benzalkonium klorida. Pengawet yang dipilih seharusnya mencegah dan membunuh pertumbuhan mikroorganisme selama penggunaan. Benzalkonium klorida lebih aman dan lebih spesifik untuk obat tetes mata dibandingkan pengawet lainnnya dan aktivitasnya dapat ditingkatkan dengan penambahan dinatrium EDTA (digunakan sebagai bahan pengkelat), dinatrium EDTA dapat mengikat logam berat yang berfungsi sebagai katalis oksidasi dan meningkatkan aktivitas benzalkonium klorida karena benzalkonium klorida dapat dipengaruhi oleh logam. Benzalkonium klorida stabil pada rentang pH dan temperature yang besar. Karena mempunyai

sifat surfaktan maka benzalkonium klorida menunjukan kemampuan meningkatkan penetrasi kornea senyawa-senyawa tertentu. Syarat lain dalam pembuatan sediaan tetes mata ialah larutan jernih bebas partikel melayang dan serat halus. Dan dalam praktikum kami melakukan penyaringan dengan kertas saring sehingga diperoleh sediaan yang jernih dan bebas partikel melayang.

I. FORMULA PUSTAKA Fornas Hlm. 246 Pilocarpini Hydrochloridi Guttae Ophthalmicae Tetes mata Pilokarpina Hidroklorida Komposisi : Tiap 10 ml mengandung : Pilocarpini Hydrochloridum Benzalkonii Chloridum Dinatrii Edetas API ad Dosis Catatan. 1. Dapat ditambahkan Dinatrium Edetat hingga 10 mg. 2. Disterilkan dengan Cara Sterilisasi A, B atau C. Martindale Ed. 28 hlm. 1045 Pilocarpine Eye Drops Komposisi : Pilocarpini Hydrochloridum Benzalkonium chloride Disodium edetate Sodium chloride API ad Catatan. 1. Disterilkan dengan autoklaf. 2. Berupa larutan steril. 3. pH 3,5-5,5. 2% 0,02% 0,05% 0,4% 100% : 2 kali sehari, 2 sampai 3 tetes. 500 mg 1 mg 5 mg 10 ml

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya.

4. Disimpan dalam wadah yang terlindung dari cahaya pada suhu 25 oC dan dapat digunakan selama 2 bulan. II. FORMULASI o Pengawet Larutan obat mata dapat dikemas dalam wadah takaran ganda bila digunakan secara perorangan pada pasien dan bila tidak terdapat kerusakan pada permukaan mata. Wadah larutan obat mata harus tertutup rapat dan disegel untuk menjamin sterilitas pada pemakaian pertama. Sedangkan untuk pembedahan, disamping steril, larutan obat tidak boleh mengandung antibakteri karena dapat mengiritasi jaringan mata. Kesimpulan : Diperlukan penggunaan pengawet o Tonisitas Karena kandungan elektrolit dan koloid didalamnya, cairan air mata memiliki tekanan osmotik, yang nilainya sama dengan darah dan cairan jaringan. Larutan yang digunakan pada mata luka atau telah yang dioperasi menggunakan larutan isotonis. Perhitungan Tonisitas Sediaan yang akan dibuat adalah OTM 10,5 ml dengan kadar Pilokarpin Hidroklorida 2% Tabel Larutan Isotonik FI IV hlm 1254 Zat Kimia Pilokarpin Hidroklorida Benzalkonium Klorida Dinatrium EDTA PVP ΔTf 2% 0,5% 0,5% 2% Kadar Pilokarpin Hidroklorida (ΔTf1) 2% b/v 0,5% b/v 0,01% b/v 0,5% b/v 0,05% b/v 2% b/v ΔTf Total = 2 gram/100 ml = 0,5 gram/100 ml = (0,01% / 0,5%) x 0,048o = 0,5 gram/100 ml = (0,05% / 0,5%) x 0,070o = 2 gram/100 ml → ΔTf = 0,26o → ΔTf = 0,048o → ΔTf = 0,00096o → ΔTf = 0,070o → ΔTf = 0,007o → ΔTf = 0,01o Kadar Benzalkonium Klorida (ΔTf2) % 0,26o 0,048o 0,070o 0,01o

Kadar Dinatrium EDTA (ΔTf3)

Kadar PVP (ΔTf4)

= ΔTf1 + ΔTf2 + ΔTf3 + ΔTf4 = 0,26o + 0,00096o + 0,007o + 0,01o = 0,27796o Menurut buku Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi Terdapat 3 jenis keadaan tekanan osmosis larutan obat, yaitu : Keadaan isotonis apabila nilai B = 0, b1.C = 0,52 Keadaan hipotonis apabila nilai B positif, b1.C < 0,52 Keadaan hipertonis apabila nilai B negative, b1. C > 0,52 ΔTf 0,9% NaCl = 0,52o

Agar ΔTf Total = ΔTf 0,9% NaCl, maka perlu ditambahkan NaCl sebanyak : ΔTf Selisih = 0,52o – 0,27796o = 0,24204o NaCl yang ditambahkan NaCl untuk kebutuhan 10,5 ml o Pendapar Secara ideal, larutan obat mata mempunyai pH dan isotonisitas yang sama dengan air mata. Hal ini tidak selalu dapat dilakukan pada pH 7,4 banyak obat yang tidak cukup larut dalam air. Sebagian besar garam alkaloid mengendap sebagai alkaloid bebas pada pH ini. Selain itu banyak obat tidak stabil secara kimiapada pH mendekati 7,4. Tetapi larutan tanpa dapar antara pH 3,5-10,5 masih dapat ditoleransi walaupun terasa kurang nyaman. Rentang pH yang masih dapat ditoleransi oleh mata ialah 3,5 – 8,5. Jika harga pH yang ditetapkan atas dasar stabilitas berada di luar daerah yang dapat diterima secara fisiologis maka wajib menambahkan larutan dapar dan melakukan pengaturan pH melalui penambahan asam dan basa. Namun untuk sediaan dengan zat aktif pilokarpin lebih stabil pada pH rendah dibanding pada pH tinggi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Gibbs dan Tuckerman, mereka mendapatkan bahwa pada pH keseimbangan 3,8 yang dicapai sesudah 120 hari, senyawa pilokarpin tersebut masih dapat ditemukan kembali sebesar 93% dari kadar pilokarpin asal yang digunakan pada formulasi. Mereka memastikan bahwa pada larutan akan terjadi pendaparan oleh dirinya sendiri lewat sistem pilokarpin/asam pilokarpat membentuk keseimbangan. (Connors, dkk. 1992. Stabilitas Kimiawi Sediaan Farmasi Edisi Kedua halaman 559. Amerika Serikat : John Wiley) = ( 0,24204o / 0,52o ) x 0,9% = 0,4189% → 0,42 gram/100 ml = (10,5 / 100) x 0,42 gram = 0,0441 gram → 44,1 mg

Kesimpulan : Tidak diperlukan pendapar o Antioksidan Zat aktif untuk sediaan mata ada yang dapat teroksidasi oleh udara. Untuk itu, kadang dibutuhkan antioksidan. Antioksidan yang sering digunakan adalah Na metabisulfit atau Na sulfit dengan konsentrasi sampai 0,3%. Kesimpulan : Tidak diperlukan antioksidan o Pengkelat Degradasi oksidatif seringkali dikatalisa oleh adanya logam berat, maka dapat ditambahkan pengkelat. Penggunaan wadah plastic yang permeable terhadap gas dapat meningkatkan proses oksidatif selama penyimpanan. Kesimpulan : Diperlukan pengkelat o Peningkat viskositas Penggunaan viskositas dimaksudkan untuk memperpanjang waktu kontak antara sediaan dengan kornea sehingga jumlah bahan aktif yang berpenetrasi dalam mata akan semakin tinggi sehingga menambah efektivitas terapinya. Kesimpulan : Diperlukan pengkhelat III. FORMULA AKHIR OTM Pilokarpin hidroklorida tiap 10,5 ml mengandung: R/ Pilokarpin hidroklorida Benzalkonium klorida Dinatrium EDTA PVP NaCl API ad IV. 2% 0,01 % 0,05 % 2% 0,42 % 10,5 ml

PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN BAHAN  Sediaan dibuat dengan melebihkan 0,5 ml untuk volume total, menjadi : 10 ml + 0,50 ml = 10,5 ml (FI IV hlm. 1044). Untuk 2 botol dibutuhkan 21 ml, tetapi kelompok kami melebihkan volume hingga 25 ml. Maka volume total yang dibuat adalah 25 ml. - Pilokarpin Hidroklorida - Benzalkonium klorida = 2% x 25 ml = 0,01% x 25 ml = 0,5 gram = 1 ml ≈ 5 ml = 2,5 mg = 0,025 ml ≈ 4 ml API untuk melarutkan Pilokarpin HCl = 2 x 0,5 API untuk melarutkan Benzalkonium Cl= 10 x (2,5x10-3)

- Dinatrium EDTA API untuk melarutkan EDTA - PVP API untuk melarutkan PVP - NaCl API untuk melarutkan NaCl Maka sisa API yang ditambahkan

= 0,05% x 25 ml = 11 x 0,0125 = 2% x 25 ml = 0,5 x 0,5 = 0,42% x 25 ml = 2,8 x 0,105 = 25 – (5+4+4+5+5) = 2 ml

= 12,5 mg = 0,1375 ml ≈ 4 ml = 0,5 gram = 0,25 ml ≈ 5 ml = 0,105 gram = 0,294 ml ≈ 5 ml

V.

ALAT DAN CARA STERILISASINYA Nama Alat Batang pengaduk Kaca arloji Spatula logam Pinset logam Becker glass Gelas ukur Erlenmeyer Pipet tetes tanpa karet Karet pipet tetes Corong gelas&kertas saring Jarum suntik ( spuit ) Botol plastik untuk OTM Jumlah 1 5 3 1 3 3 2 2 2 1 1 2 Cara sterilisasi Oven 170oC Oven 170 C Oven 170 C Oven 170oC Oven 170 C Autoklaf (115-116 C) Oven 170 C Autoklaf (115-116oC Rebus Autoklaf(115-116 C) Autoklaf(115-116oC) 70% (di white area)
o o o o o o

Waktu 60 menit 60 menit 60 menit 60 menit 60 menit 30 menit 60 menit 30 menit 30 menit 30 menit 30 menit

Direndam dalam alkohol 15 menit

VI. PROSEDUR PEMBUATAN 1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. 2. Zat aktif, NaCl, Dinatrium EDTA, dan PVP dilarutkan masing-masing dengan API di dalam wadah yang berbeda , kemudian masukkan ke dalam becker glass. 3. Terakhir masukkan benzalkonium klorida yang telah dilarutkan dengan API (karena kecenderungan menghasilkan busa). 4. Kaca arloji dibilas dengan API. 5. Dituangkan sisa API ke dalam becker glass sampai volume yang diinginkan (jangan lupa lakukan pemeriksaan pH sebelum di ad sampai volume yang diinginkan). 6. Basahi terlebih dahulu kertas saring lipat rangkap 2 dengan menggunakan API.

7. Saring larutan ke dalam erlenmeyer bersih dan steril melalui corong dan kertas saring yang telah dibasahi. 8. Bilas gelas piala dengan API, tuang hasil bilasan dan saring ke dalam erlenmeyer yang berisi filtrat larutan sebelumnya. 9. Sterilisasi akhir dilakukan, maka larutan hasil penyaringan diisikan ke dalam botol/vial yang sesuai dengan volumenya. Botol/vial ditutup dengan tutup karet, diikat dengan simpul champagne kemudian disterilkan. 10. Sterilisasi dengan autoklaf pada suhu 110 oC selama 30 menit. 11. Setelah disterilkan, larutan dituang ke dalam buret steril dan diisikan ke dalam botol tetes steril yang telah dikalibrasi. Pengisian dilakukan secara aseptik. 12. Pasang tutup botol yang telah disiapkan. 13. Beri etiket. VII. PEMBAHASAN Pada praktikum teknologi steril kali ini bertujuan membuat sediaan obat tetes mata atau Guttae Opthalmicae Pilocarpin. Pilokarpin adalah senyawa alkaloid yang berasal dari tanaman Pilocarpus jaborandi dan Pilocarpus microphyllus, termasuk obat kolinergik parasimpatomimetik yang menyebabkan miosis bila dipakai sebagai obat tetes mata. Zat aktif yang dipilih adalah bentuk garam pilokarpin yaitu pilokarpin hydrochloridum karena mempertimbangkan bahwa alkaloid bebas kurang larut air daripada bentuk garamnya sedangkan sediaan obat tetes mata yang akan dibuat berupa larutan yang harus jernih. Tidak dipilih bentuk pilokarpin nitras karena pada pemeriannya dinyatakan beracun (FI III, hal 499). Sediaan obat mata merupakan sediaan steril berupa larutan atau suspensi, digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata di sekitar kelopak mata dan bola mata (FI III, hal 10). Obat tetes mata harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: - Steril. - Larutan tetes mata harus jernih dan bebas partikel. - Sedapat mungkin isohidris dengan cairan mata yaitu pH 7,4. - Sedangkan pH yang masih bisa ditolerir adalah 3,5 – 10,5. - Sedapat mungkin isotonis, yang masih bisa diterima adalah 0,7 – 1,5 %. Dalam pembuatan larutan obat mata membutuhkan perhatian khusus dalam hal toksisitas bahan obat, nilai isotonisitas, kebutuhan akan dapar, kebutuhan akan pengawet, sterilisasi dan kemasan yang tepat. Zat tambahan yang biasa dipakai adalah dapar pH, pengatur tonisitas (NaCl), pengatur viskositas (contoh PEG, PVP), pengatur tegangan permukaan, dan pengawet. Sediaan tetes mata sebaiknya dibuat mendekati isotonis agar dapat diterima tanpa

rasa nyeri dan tidak dapat menyebabkan keluarnya air mata, yang dapat membuat bahan obat keluar kembali. Karena kandungan elektrolit dan koloid didalamnya, cairan air mata memiliki tekanan osmotik yang nilainya sama dengan darah dan cairan jaringan. Untuk membuat larutan mendekati isotonis, dapat digunakan medium isotonis atau sedikit hipotonis, umumnya digunakan natrium klorida 0,9%. Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan metode perhitungan tonisitas, NaCl yang dibutuhkan agar sediaan obat tetes mata isotonis adalah sebesar 44,1 mg untuk kebutuhan 10,5 ml. Mirip seperti darah, cairan mata menunjukan kapasitas dapar tertentu. Tujuan penggunaan dapar adalah untuk mencegah kenaikan pH yang disebabkan oleh pelepasan lambat ion hidroksil dari wadah kaca. Kenaikan pH dapat mengganggu kelarutan dan stabilitas obat. Garam alkaloid paling efektif pada pH optimal untuk pembentukan basa bebas tidak terdisosiasi. Tetapi pada pH ini obat mungkin menjadi tidak stabil, sehingga pH harus diatur dan dipertahankan tetap dengan penambahan dapar. Air mata mempunyai kapasitas dapar yang baik. Obat mata akan merangsang pengeluaran air mata dan penetralan akan terjadi dengan cepat asalkan kapasitas dapar larutan obat tersebut kecil (jumlah mol asam dan basa konjugat dari pendapar kecil). Garam alkaloid bersifat asam lemah dan kapasitas daparnya lemah. Satu atau dua tetes larutan obat mata ini akan dinaikkan pHnya oleh air mata. Dalam menyiapkan dapar dengan pH yang diinginkan, harus dipilih sistem asam garam yang pKa-nya mendekati pH yang diinginkan agar angka banding asam terhadap garam mendekati satu dan diperoleh keefektifan maksimal terhadap penaikan dan penurunan pH. Namun pada praktikum kali ini dalam pembuatan sediaan tetes mata dengan menggunakan benzalkonium klorida sebagai pengawet dapat diketahui bahwa benzalkonium klorida pada konsentrasi 0,01% menstabilkan larutan pilokarpin hidroklorida yang tidak didapar terhadap hidrolisis, dibandingkan dengan larutan yang didapar. Dengan demikian, sediaan tetes mata yang kami buat tidak perlu didapar. Pertimbangan yang lain dalam pembuatan sediaan tetes mata ini ialah penggunaan pengental. Pilihan suatu zat pengental yang kami pilih adalah PVP. Alasan tidak digunakan turunan metilselulosa sebagai bahan pengental dalam formulasi kami karena pengental ini dapat menurunkan aktivitas benzalkonium klorida dan mengkatalisis hidrolisis pilokarpin dalam larutan yang tidak didapar. Dipilih pengental PVP karena kompatibel dengan zat aktif dan tidak perlu pengembangan terlebih dahulu. Selain itu belum ditemukan pengaruh PVP terhadap stabilitas zat aktif. Konsentrasi yang dipilih adalah 2 % agar sediaan yang dihasilkan tidak terlalu kental. Obat tetes mata pilokarpin hanya untuk mengobati gejala dan bukan digunakan untuk perawatan, serta pilokarpin hanya bekerja pada permukaan mata sehingga tidak diserap masuk

ke bagian dalam mata. Jadi diharapkan obat tetes mata pilokarpin dapat bertahan lama pada permukaan mata, sehingga diperlukan penambahan PVP. Untuk meningkatkan penetrasi obat melalui kornea diperlukan suatu pengatur tegangan permukaan (surfaktan). Namun , dalam sediaan tetes mata yang kami buat tidak diperlukan lagi ditambahkan suatu surfaktan dikarenakan sudah ada surfaktan yaitu benzalkonium klorida yang juga dapat berfungsi sebagai pengawet. Untuk pengkelat dipilih dinatrium EDTA untuk mengikat logam berat yang berfungsi sebagai katalis oksidasi dan meningkatkan aktivitas benzalkonium klorida karena benzalkonium klorida dapat dipengaruhi oleh logam. Proses pembuatan sediaan tetes mata terdapat hal yang harus dketahui dimana proses pembuatan harus dikerjakan secara aseptis mungkin dan dilakukan proses sterilisasi yang sesuai. Dalam pembuatan obat tetes mata dilakukan beberapa tahapan yaitu membuat aqua pro injeksi (API) bebas O2 yang berasal dari aquabidestilata yang digunakan untuk melarutkan zat aktif dan zat tambahan, kemudian menimbang bahan-bahan yang akan digunakan yaitu pilokarpin HCl, NaCl, PVP, Dinatirum EDTA, dan benzalklonium klorida. Tahap selanjutnya yaitu melarutkan masing-masing bahan dengan API hingga larut. Dalam proses melarutkan benzalkonium klorida dengan API sebaiknya dengan pengadukan yang tidak terlalu cepat karena jika terlalu cepat maka akan terbentuk busa dalam larutan tersebut. Setelah semua bahan terlarut, campur semua bahan ke dalam becker glass hingga volume yang diinginkan. Perlu diingat bahwa sebelum penambahan API hingga volume yang diinginkan, dilakukan pemeriksaan pH. Uji pH dilakukan dengan menggunakan indikator universal menunjukkan sediaan memiliki pH 4. pH sediaan yang tidak cocok dengan air mata akan mengakibatkan iritasi yang disertai dengan keluarnya air mata. Difusi obat akan terhalang sehingga jumlah obat tidak efekti. Nilai pH tersebut masuk dalam rentang pH stabil sediaan, yaitu antara 3,5 -5,5. Setelah pemeriksaan pH telah dilakukan dan diperoleh pH yang diinginkan maka larutan di cukupkan hingga volume yang diinginkan , kemudian larutan disaring dengan menggunakan kertas saring lipat ganda yang sudah dibasahi dengan menggunakan API kedalam erlenmeyer. Setelah melewati proses penyaringan maka larutan hasil penyaringan diisikan ke dalam botol/vial yang sesuai dengan volumenya dimana volume yang diinginkan adalah 10,5 ml. Botol/vial ditutup dengan tutup karet, diikat dengan simpul champagne kemudian disterilkan. Cara sterilisasi yang sering digunakan untuk obat tetes mata adalah pemanasan dengan autoklaf, pemanasan dengan bakterisida, dan penyaringan. Sediaan tetes mata pilokarpin untuk mata yang kami buat dapat disterilisasi menggunakan autoklaf pada suhu 110-1150C selama 15 menit. Larutan pilokarpin hidroklorida masih mempunyai aktivitas 97% setelah pemanasan pada suhu 110 °C selama 30 menit dan aktivitasnya dipertahankan selama penyimpanan 12

bulan setelah sterilisasi tersebut. Setelah disterilkan, maka larutan dapat dituang ke dalam buret steril dan diisikan ke dalam wadah botol tetes steril yang telah dikalibrasi. Wadah yang biasa digunakan saat ini untuk sediaan tetes mata adalah berupa botol plastik polietilen, sekarang botol yang terbuat dari logam tidak digunakan lagi karena dikhawatirkan terdapat bahan obat yang berinteraksi dengan logam. Pengisian larutan tersebut dilakukan secara aseptik. Namun dalam praktikum diadakan dispensasi dimana pengisian dilakukan di black area.

1. Formulasi Tetes mata Pilokarpina Hidroklorida (Fornas hal. 246) Tiap 10 ml mengandung :
R

/ Pilocarpine Hydrochloridum Benzalkonium Chloridum Dinatrii Edetas Aqua Pro Injectionne ad

500 mg 1 mg 5 mg 10 ml

Penyimpanan : Dalam wadah tertutu rapat; terlindungi dari cahaya Dosis Catatan : 2 kali sehari, 2 sampai 3 tetes : 1. Dapat ditambahkan Dinatrium Edetas hingga 10 mg 2.Disterilkan dengan Cara sterilisasi A, B atau C 3. Ph sediaan antara 3,5 dan 5,5 (Martindale, 35 th Edition)

3. Tak Tersatukan Zat Aktif (OTT) Dengan aluminum, anionic surfactants, citrates, cotton, fluorescein, hydrogen peroxide, hypromellose,iodides, kaolin, lanolin, nitrates, nonionic surfactants konsentrasi tinggi, permanganates, protein, salicylates, silver salts, soaps, sulfonamides, tartrates, zinc oxide, zinc sulfate, beberapa modifikasi karet, and beberapa plastik.

4. Usul Penyempurnaan Sediaan . Dapat mengandung stabilisator yang cocok dan zat tambahan yang sesuai untuk menambah viskositas.

5. Perhitungan  Perhitungan Tonisitas W = 0,52 - ∑ b1.c b2

Keterangan : b1 = Ϫ Tf zat yang digunakan b2 = Ϫ Tf zat pengisotonis (NaCl) c = konsentrasi zat dalam formula

Penurunan titik beku jika larutan pengisotonis 1% = 0,9 % = 0,52 1% x

0,9 x = 0,52 x = 0,52 0,9 x = 0,58

Konsentrasi

1. Pilocarpin HCl = 0,2 gr x 100% = 2% 10 2. Benzalkonium Klorida = 0,001 gr x 100% = 0,01% 10 3. Dinatrium Edetat = 0,005 gr x 100% = 0,05% 10 4. PVP = 0,5 gr x 100% = 5 % (Liso = Non Elektrolit = 1.86) 10

= Ϫ Tf = 1.86 x 0.5 x 1000 2500 x 25 = 930 62500 = 0,015

Ϫ Tf (Penurunan Titik Beku) Pilocarpin HCl = Ϫ Tf = 0,26 (2 %) Benzalkonium Klorida = Ϫ Tf = 0,09 (1 %) Dinatrium Edetat = Ϫ Tf = 0,070 (1 %) PVP = Ϫ Tf = 0,015 (5 %) W = 0,52 - ∑ b1.c b2 = 0,52 – (0,26 + (0,09 x 0,01) + (0,070 x 0,05) + 0,015) 0,58 = 0,52 – (0,26 + 0,0009 + 0,0035 + 0,015) 0,58 = 0,415 gram / 100 ml = 415 mg / 100 ml = 4,15 mg / ml Jadi NaCl yang ditambahkan adalah 4,15 mg/ml

6. Formula Akhir
R

/ Pilocarpine Hydrochloridum Benzalkonium Chloridum Dinatrii Edetas PVP Natrium Klorida Aqua Pro Injectionne ad

200 mg 1 mg 5 mg 500 mg mg 10 ml

7. Penimbangan Bahan Volume yang di buat 30 ml

1. Pilocarpine HCl = 0,2 gram x 30 ml = 0,6 gram = 600 mg 10 ml 2. Benzalkonium Klorida = 0,001 gram x 30 ml = 0,003 gram = 3 mg 10 ml 3. Dinatrium Edetat = 0,005 gram x 30 ml = 0,015 gram = 15 mg 10 ml 4. HPMC = 0,5 gram x 30 ml = 1,5 gram = 1500 mg 10 ml 5. NaCl = 124,5 mg 6. Aqua Pro Injeksi ad 30 ml

8. Prosedur Pembuatan 32. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan 33. Dibuat API bebas CO2 dan dengan cara mendidihkan aquaadest diatas penangas air, setelah itu dipanaskan kembali selama 30 menit, lalu ditambahkan lagi 10 menit agar bebas dari O2. 34. Ditimbang semua bahan yang akan diperlukan, masing –masing dilarutkan dengan API dalam gelas piala yang berbeda. 35. Kemudian dimasukkan ke dalam gelas piala. Cek pHnya. 36. Dibilas kaca arloji minimal 2 kali. 37. Setelah semua bahan larut , tuang larutan tersebut ke dalam gelas ukur hingga volume tertentu di bawah volume akhir yan diinginkan, misal 20 ml. 38. Basahi terlebih dahulu kertas saring lipat rangkap 2 dengan menggunakan aquabides. Air pembasah ditempatkan dalam erlenmeyer lain. 39. Saring larutan ke erlenmeyer bersih dan steril melalui corong dan kertas saring yang telah dibasahi.

40. Pindahkan ke dalam gelas ukur dan tambah air steril sampai volume akhir dicapai yaitu 30 ml. 41. Disterilkan dengan autoklaf selama 30 menit suhu 115-116oC didalam botol vial yang ditutup dengan tutup karet lalu diikat simpul champagne. 42. Setelah itu isikan ke dalam botol tetes steril yang telah dikalibrasi. Pengisian dilakukan secara aseptik. 43. Pasang tutup botol lengkap dengan pipet steril yang telah direndam dalam alkohol 70% selama 24 jam.

9. Evaluasi a) Uji Penampilan Pengujian obat tetes mata pilokarpin meliputi warna sediaan. Selain itu juga diperiksa kelengkapan etiket, brosur dan penandaan pada kemasan. b) Uji pH Uji pH dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus pH universal. Sejumlah cairan obat tetes mata diletakkan di dalam beaker glass. Lalu ambil sedikit larutan dan teteskan pada kertas lakmus pH universal, setelah beberapa saat dicek warna yang terbentuk pada kertas. Warna yang terbentuk pada kertas kemudian dicocokan dengan rentang warna yang terdapat pada kemasannya untuk mengetahui pH dari sediaan. pH yang diperoleh adalah 4 sebelum sediaan disaring. Dan pH di cek kembali pada saat sediaan akhir setelah penyaringan, dan pH yang diperoleh adalah antara 4. c) Uji Kejernihan Pemeriksaan dilakukan secara visual biasanya dilakukan oleh sesorang yang memeriksa wadah bersih dari luar, di bawah penerangan cahaya yang baik, terhalang terhadap refleksi ke dalam matanya, dan berlatar belakang hitam dan putih, dengan rangkaian isi dijalankan dengan suatu aksi memutar, harus benarbenar bebas dari partikel kecil yang dapat dilihat dengan mata. Larutan kami bebas dari partikel melayang.

d) Uji Kebocoran Pada evaluasi uji kebocoran karena sterilisasi akhir dilakukan. Sehingga bisa diketahui apakah terjadi kebocoran wadah atau tidak. Dan ternyata wadah tidak mengalami kebocoran.

11.

Pembahasan Obat biasanya dipakai pada mata untuk maksud efek lokal pada pengobatan bagian

permukaan mata atau pada bagian dalamnya. Obat mata (optalmika) adalah tetes mata (Oculoguttae), salep mata (Oculenta), pencuci mata (Colyria), dan beberapa bentuk pemakaian khusus (lamela dan penyemprot mata) serta inserte sebagai bentuk depo yang ditentukan untuk digunakan pada mata utuh atau terluka. Karena kapasitas mata untuk menahan atau menyimpan cairan dan salep terbatas, pada umumnya obat mata diberikan dalam volume yang kecil. Preparat cairan sering diberikan dalam bentuk sediaan tetes dan salep dengan mengoleskan salep yang tipis pada pelupuk mata. Volume sediaan cair yang lebih besar dapat digunakan untuk menyegarkan atau mencuci mata. Larutan untuk mata adalah larutan steril yang dicampur dan dikemas untuk dimasukkan ke dalam mata. Selain steril preparat tersebut memerlukan pertimbangan yang cermat terhadapfaktor-faktor famasi seperti kebutuhan bahan antimikroba, isotonisita, dapar, viskositas dan pengemasan yang cocok. Semua larutan untuk mata harus dibuat steril jika diberikan dan bila mungkin ditambahkan bahan pengawet yang cocok untuk menjamin sterilitas selama pemakaian. Meskipun larutan untuk mata disterilkan dengan uap air mengalir dalam autoklaf dalam wadah akhirnya, metode yang digunakan tergantung pada sifat khusus dari sediaannya. Pada praktikum teknologi steril kali ini, kelompok kami mengerjakan sediaan obat tetes mata yaitu obat tetes mata pilokarpin HCl. Obat tetes mata kami yaitu salah satu obat yang diindikasikan untuk penderita glaukoma.

Susunan formulasi sediaan obat tetes mata yang kami buat adalah pilokarpin HCl, benzalkonium klorida, dinatrium edetas, PVP, dan NaCl serta Aqua Pro Injeksi sebagai pelarut utamanya. Walaupun obat tetes mata yang dibuat sudah steril tetapi perlu penambahan pengawet karena obat tetes mata yang dibuat digunakan dalam multiple dose sehingga besar kemungkinan terjadi kontaminasi mikroba saat obat tetes mata dibuka. Pengawet dalam obat tetes mata harus memenuhi syarat yaitu efektif dan efisien (harus aktif terhadap Pseudomonas aeruginosa), tidak berinteraksi dengan zat aktif dan eksipien lain, tidak iritan terhadap mata dan tidak toksik. Dipilih benzalkonium klorida karena efektif dalam dosis rendah (dalam obat tetes mata = 0,01 – 0,02 %), sangat aktif terhadap Pseudomonas aeruginosa, reaksi antimikrobanya cepat dan stabilitas tinggi pada rentang pH lebar; tetapi masih kompatibel dengan zat aktif dan eksipien lain. Pada obat tetes mata ini dipilih konsentrasi 0,01 %. Tidak memakai pendapar karena dari suatu percobaan diketahui bahwa benzalkonium klorida pada konsentrasi 0,01% menstabilkan larutan pilokarpin hidroklorida yang tidak didapar terhadap hidrolisis, dibandingkan dengan larutan yang didapar. (Stabilitas Kimiawi Sediaan Farmasi, hal. 565). Selain itu kemungkinan pH akan turun dengan sendirinya dengan adanya bahan-bahan tambahan yang terdapat dalam sediaan. Dalam sediaan kami ditambahkan bahan peningkat viskositas. Penambahannya bertujuan untuk meningkatkan waktu kontak sediaan dengan korneal sehingga jumlah zat aktif yang berpenetrasi ke dalam mata akan semakin tinggi sehingga dicapai harapan efek terapi. Tidak digunakan turunan metilselulosa karena pengental ini dapat menurunkan aktivitas benzalkonium klorida dan mengkatalisis hidrolisis pilokarpin dalam larutan yang tidak didapar (Stabilitas Kimiawi Sediaan Farmasi, hal 565). Dipilih pengental PVP karena kompatibel dengan zat aktif dan tidak perlu pengembangan terlebih dahulu. Selain itu, belum ditemukan pengaruh PVP terhadap stabilitas zat aktif. Konsentrasi yang dipilih adalah 5 % supaya tidak terlalu kental. Dipilih dinatrium EDTA untuk mengikat logam berat yang berfungsi sebagai katalis oksidasi dan meningkatkan aktivitas benzalkonium klorida karena benzalkonium klorida dapat dipengaruhi oleh logam. Konsentrasi yang digunakan adalah 0,05 %.

Pembuatan sediaan obat tetes mata dilakukan secara steril hal ini bertujuan untuk meminimalisir terjadinya kontaminasi suatu sediaan obat tetes mata dari mikroba. Pencampuran bahan dilakukan di ruang white area. Pada saat pencampuran bahan, hal yang harus diperhatikan adalah melakukan pembilasan pada alat yang telah dipakai dengan tujuan tidak ada nya zat yang tersisa di alat tersebut. Pada proses pembuatan dengan mencampurkan bahan seperti pilokarpin HCl, benzalkonium klorida, dinatrium edetas, PVP, dan NaCl dengan sedikit API pada gelas beaker yang berbeda, aduk sampai larut. Kemudian menambahkan volume API sampai volume kurang lebih 20 ml, sebelum dilakukan penyaringan, dilakukan evaluasi pH campuran zat-zat. Selanjutnya larutan zat aktif disaring dengan menggunakan kertas saring ganda. Proses penyaringan dilakukan sebanyak dua kali untuk memastikan sediaan yang dihasilkan benarbenar jernih dan terbebas dari pengotor. Proses penyaringan larutan zat aktif langsung dimasukkan ke dalam botol vial yang sebelumnya telah dilakukan proses kalibrasi botol dengan volume 10,5 ml (mengalami pelebihan volume sebanyak 0,5 ml (FI) ). Volume dilebihkan untuk mencegah zat yang tinggal dalam wadah. Sehingga pada saat pemberian, jumlah obat yang diteteskan tetap sesuai dosis yang diperlukan Setelah sediaan obat tetes mata jadi, tahapan selanjutnya adalah proses sterilisasi akhir dengan menggunakan autoklaf pada suhu 115 – 116 selama 30 menit. Karena keterbatasan waktu (dispensasi) maka hanya dilakukan 10 menit saja. Pemilihan proses ini didasarkan pada kestabilan masing masing zat aktif stabil pada proses sterilisasi panas dengan autoklaf, dan menurut FORNAS, sediaan obat tetes mata pilokarpin dapat disterilisasi dengan menggunakan metode sterilisasi A, B atau C. Proses sterilisasi yang dapat kami lakukan adalah proses sterilisasi akhir. Penandaan sediaan obat tetes mata yang digunakan adalah label obat keras, karena pada umumnya pemberian sediaan obat tetes mata ini harus dengan resep dokter untuk menghindari penyalahgunaan sediaan. Evaluasi sebaiknya dilakukan setelah sediaan disterilkan dan sebelum wadah dipasang etiket dan dikemas. Parameter yang dievaluasi untuk sediaan obat tetes mata meliputi :

penetapan pH, bahan partikulat dalam obat tetes mata, penetapan volume obat tetes mata dalam wadah, uji kejernihan dan warna, uji kejernihan larutan. Namun, dalam prakteknya kami hanya melakukan evaluasi penetapan pH, penampilan (warna), kejernihan larutan dan uji kebocoran wadah.

Pada evaluasi penetapan pH, sebelum dan sesudah dikemas dan disterilisasi, pH adalah 4. Hal ini disebabkan karena pemakaian Pilokarpin HCl sebagai zat aktif. Pada evaluasi penampilan (warna) tidak terjadi perubahan warna pada sediaan setelah disimpan. Warna masih menunjukkan warna seperti semula yaitu putih bening. Pada evaluasi kejernihan larutan, larutan jernih bebas partikel melayang dalam sediaan obat tetes mata Pilokarpin HCl. Pada evaluasi uji kebocoran karena sterilisasi akhir dilakukan. Sehingga bisa diketahui apakah terjadi kebocoran wadah atau tidak. Dan ternyata wadah tidak mengalami kebocoran.

Rancangan Praformulasi Menurut Fornas Pilocarpini Hydrochloridi Guttae Ophtalmicae Tiap 10 ml mengandung R/ Pilocarpini Hydrocloridum Benzalkonii Chloridum Dinatrii Edetas Aqua pro Injectione hingga 500 mg 1 mg 5 mg 10 ml

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindungi cahaya Dosis Catatan
1. Dapat ditambahkan Dinatrium Edetat hingga 10 mg 2. Disterilkan dengan Cara Sterilisasi A, B atau C

2 kali sehari, 2 sampai 3 tetes

Dalam Martindale : Tetes Mata Pilokarpin HCL, terdiri dari : Pilokarpin HCL 0,5 %, 1 %, 2 %, atau 4 %;

Larutan Benzolkonium chlorid 0,02% v/v; Disodium edetate 0,05 %; Sodium chloride 0,8 %, 0,7 %, 0,4 % dan 0 % API hingga 100%

Alasan mengguanakan dapar dan Buffer adalah: Alasan mengguanakan dapar : karena pilokarpin HCl 0,2% menunjukkan kehilangan aktivitasnya sebesra 5% setelah penyimpanan didalam ruang yang ada cahayanya selama 21 bulan, sedangkan selama penyimpanan yang sama dalam gelap tidak ditemukan adanya kehilangan aktivitas .selain itu, pilokarpin yang telah mengalami pemanasan akan terdegradasi sebesar 25% dengan kecepatan yang seperti itu berlangsung pada suhu 250C. Dan hampir seluruh larutan pilokarpin untuk mata mengandung dapar. Alasan menggunakan peningkat viskositas :untuk memperpanjang waktu kontak antara sediaan obat tetes mata pilokarpin HCl dengan kornea sehingga jumlah bahan aktif yang berpenetrasi dalam mata akan semakin tinggi sehingga menambah aktivitas terapinya. Maka, formulasi yang akan kami buat adalah:

Formula akhir R/ Pilocarpini Hydrocloridum PVP Benzalkonii Chloridum Disodium Edetas sodium citrat Natrii chloride Aqua pro Injectione hingga 2% 2% 0,02% 0,05% 0,5 % 0,4% 100% 200 mg 200 mg 2 mg 5 mg 50mg 40 mg 10 ml

Perhitungan tonisitas E Pilokarpin HCL = 0,24 E benzalkonium klorida = 0,16 E Na.edetat = 0,23 E PVP = 0,01

E natrium citrat = 0,31 E Nacl = 1

Pilokarpin HCL = 0,24 x 2% = 0,48% Benzalkonium klorida = 0,16 x 0,02 % = 0,0032% Na. edetat = 0,23 x 0,05% % = 0,0115% Natrium citrat = 0,31x 0,5%= 0,155% PVP = 0,01 x 2% = 0,02%

NaCl = 1x0,4 % = 0,4 % % Tonisitas = 0,48 % + 0,0032 % + 0,0115% + 0,155% + 0,02% + 0,4% = 1,0697 %≈ isotonis Menurut literatur : Rentang isotonis yang diterima = 0,7 – 1,5 % ( Codex) Volume yang akan dibuat adalah 10 ml Volume berlebih yang dibuat adalah sebesar: 10 ml + (5% x 10) = 10,5 ml. Maka sediaan kami lebihkan menjadi 20ml. Agar volume terpindahkan tetap 10ml untuk 2 botol. Maka bahan – bahan yang akan digunakan :  Pilocarpini Hydrocloridum  Benzalkonii Chloridum  Dinatrii Edetas  PVP  Natrium citrat  Natrii chloride : 20ml/10ml x 0,2 gr = 0,4 gr : 20ml/10ml x 0,002 gr= 0,004 gr : 20ml/10ml x 0,005 gr= 0,01gr : 20ml/10ml x 0,2 gr = 0,4 gr : 20ml/10ml x 0,05 gr= 0,1 gr : 20ml/10ml x 0,04 gr = 0,08gr

III.8

Penimbangan Bahan  Pilocarpini Hydrocloridum : 0,4 gram  Benzalkonii Chloridum  Dinatrii Edetas  PVP  Natrium citrat  Natrii chloride : 0,004 gram : 0, 01 gram : 0,4 gram : 0,1 gram : 0,08 gram

Prosedur pembuatan resep:
1. Alat dan bahan disiapkan 2. Semua alat- alat yang digunakan disterilkan dengan oven dan autoklaf sesuai petunjuk sterilisasi alat diatas. Gelas piala yang akan digunakan sebelumnya dikalibrasi menggunakankan API dengan volume 20ml. 3. Dibuat Air pro Injectione (API) dengan cara Aquadest dididihkan diatas penangas air lalu dipanaskan lagi selama 30 menit. 4. Semua bahan yang akan digunakan ditimbang

Pilocarpini Hydrocloridum Benzalkonii Chloridum Dinatrii Edetas PVP Natrium citrat Natrii chloride

: 0,4 gram : 0,004 gram : 0, 01 gram : 0,4 gram : 0,1 gram : 0,08 gram

5. Zat aktif, satu persatu dilarutkan dengan menggunakan API, lalu dimasukan kedalam gelas piala yang telah dikalibrasi dan kaca arloji yang digunakan dibilas dengan API 6. Dituang larutan kedalam gelas ukur hingga volume tertentu di bawah volume akhir yang di inginkan.( misalnya sediaan dibuat 20 ml, dituangkan sebanyak 15 ml) 7. Disiapkan kertas saring ganda yang sudah dilipat, lalu dibasahi dengan API. 8. Dipindahkan corong dan kertas saring kedalam erlenmeyer 9. Larutan disaring kedalam erlenmeyer 10. Gelas piala dibilas dengan API, hasil bilasan dituang kedalam gelas ukur hingga 5 ml kemudia disaring ke dalam erlenmeyer yang berisi filtrat larutan sebelumnya.

11. Dipipet 5 ml larutan kemudian memasukannya ke dalam botol berpipet yang khusus digunakan untuk sediaan tetes mata. 12. Diberi etiket

3. Evaluasi Sediaan 1. Penampilan Larutan berwarna bening, homogen, serta tidak ada partikel yang melayang. 2. Penetapan pH

Diuji dengan:  Kertas indikator pH, kertas dicelupkan ke dalam larutan dan hasil warna yang terbentuk dibandingkan terhadap warna standar.

PEMBAHASAN
Tujuan praktikum kali ini membuat sediaan obat tetes mata, Obat tetes mata atau Guttae Opthalmicae adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi, digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola mata.Obat tetes mata yang dibuat yaitu obat tetes mata pilokarpin, Pilokarpin adalah senyawa alkaloid yang berasal dari tanaman Pilocarpus jaborandi dan Pilocarpus microphyllus, termasuk obat kolinergik parasimpatomimetik yang menyebabkan miosis bila dipakai sebagai obat tetes mata. Zat aktif yang dipilih adalah bentuk garam pilokarpin yaitu pilokarpin hydrochloridum karena mempertimbangkan bahwa alkaloid bebas kurang larut air daripada bentuk garamnya sedangkan sediaan obat tetes mata yang akan dibuat berupa larutan yang harus jernih. Tidak dipilih bentuk pilokarpin nitras karena pada pemeriannya dinyatakan beracun. Pilokarpin HCl merupakan bahan obat yang khas digunakan pada mata (opthalmologika) dengan kerja penyempit pupil (miotika), Pilokarpin HCl dibuat sedian tetes mata karena berfungsi sebagai miotik untuk pengobatan glaucoma. Sediaan tetes mata merupakan sediaan dosis ganda sehingga diperlukan bahan pengawet seperti Benzalkonium klorida. Sediaan obat tetes mata pilokarpin mungkin menjadi tidak stabil, sehingga pH harus diatur dengan penambahan dapar. Air mata mempunyai kapasitas dapar yang baik. Obat mata akan merangsang pengeluaran air mata dan penetralan akan terjadi dengan cepat asalkan kapasitas dapar larutan obat tersebut kecil (jumlah mol asam dan basa konjugat dari pendapar kecil). Garam alkaloid bersifat asam lemah dan kapasitas daparnya lemah. Satu atau dua tetes larutan obat mata ini akan dinaikkan pHnya oleh air mata. Dalam menyiapkan dapar dengan pH yang diinginkan, harus dipilih sistem asam garam yang pKa-nya mendekati pH Pilokarpin HCL yang diinginkan agar diperoleh keefektifan maksimal terhadap penaikan dan penurunan pH.dapar yang kami gunakan adalah natrium sitrat. Zat tambahan yang dipakai dalam pembuatan sediaan obat tetes mata adalah 1. Pengawet yaitu benzalkonium klorida dengan konsentrasi 0.02 % 2. API berfungsi untuk melarutkan zat aktif dan zat tambahan

3. Tonisitas yaitu NaCL 4. Peningkat viskositas PVP

Dalam pembuatan obat tetes mata dilakukan beberapa tahapan yaitu membuat aqua pro injeksi bebas O2 yang berasal dari aquabidestilata yang digunakan untuk melarutkan zat aktif dan zat tambahan, kemudian menimbang Pilokarpin HCL sebanyak 0.4 gr, Benzilkonium klorida 0.004, NaCL 0.08 gr, API sebanyak 10 ml. Tahap selanjutnya yaitu membuat sediaan obat tetes mata dengan melarutkan pilokarpin HCL dengan API secukupnya sampai larut, melarutkan Benzilkonium klorida dengan API secukupnya sampai larut, kemudian mencampurkan campuran tersebut ke dalam beker gelas , setelah itu melakukan penyaringan dengan menggunakan kertas saring yang sudah dibasahi dengan menggunakan API kedalam erlenmeyer.pembasahan terhadap kertas saring perlu dilakukan supaya kertas saring menjadi steril. Menuangkan sedikit demi sedikit larutan tersebut kedalam gelas ukur, sebelum menacapai batas volume yang dibuat dilakuakan evaluasi cek PH terlebih dahulu. Tahap selanjutnya yaitu melakukan sterilisasi sediaan dengan menggunakan autoklaf selama 30 menit dengan suhu 121o C, tahap terakhir yaitu menuangkan sediaan yang sudah disterilisasi ke dalam botol obat tetes mata dengan menggunakan spuit sampai tanda batas kalibrasi. Kemudian kami melakukan evaluasi terhadap sediaan obat tetes mata Pilokarpin HCL, yang diperoleh dan di dapatkan data sebagai berikut : 1. Penampilan Larutan berwarna bening, homogen, serta tidak ada partikel yang melayang. 2. Derajat Keasaman Pilokarpin HCL memiliki nilai pH 3,5 – 5,5 sedangkan dari hasil pengujian yang dilakukan dengan menggunakan kertas indicator universal didapatkan pH = 3,5 Dari hasil evaluasi yaitu uji PH dengan menggunakan pH meter atau kertas indikator universal dapat diketahui bahwa pH pada sediaan berada di rentang ph pilokarpin

II.

FORMULA PUSTAKA  Fornas (65) Chlorampenicoli guttae ophthalmicae Tiap 10ml mengandung:

Chloramphenicolum 050 mg Acidum Boricum 150 mg Natrii Tertraboras 030 mg Phenylhydrargyri Nitras 200 µg Aquadest hingga 010 ml Penyimpanan: dalam wadah tertutup rapat, ditempat sejuk. Catatan: di sterilkan dengan cara sterilisasi B atau sterilisasi C. Pada etiket harus juga tertera Daluwarsa.  Farmakope Indonesia ed IV hal 191 Chloramphenicoli Guttae Ophthalimicae (tetes mata kloramfenicol) Tetes mata kloramfenicol adalah larutan steril kloramfenikol. Mengandung kloramfenikol, C11H12Cl2N2O5, tidak kurang dari 90%dan tidak lebih dari 130,0%. Dari jumlah yang tertera pada etiket. Baku Pembanding: kloramfenikol BPFI, tidak boleh dikeringkan sebelum digunakan. Sterilitas: memenuhi syarat, lakukan penetapan dengan prosedur uji menggunakan penyaringan membrane. pH: antara 7,0 dan 7,5 kecuali tetes mata tanpa larutan dapar atau digunakan untuk hewan antara 3,0 dan 6,0. Wadah dan penyimpanan: dalam wadah tertutup rapat dan disimpan dilemari pendingin sampai diserahkan. Wadah atau karbon disegel untuk menjamin sterilitas pada pemakaian pertama.  Formula BNF 58 hal 592 CHLORAMPHENICOL Dosis dan Administrasi Frekuensi aplikasi tergantung pada beratnya infeksi dan potensi kerusakan mata permanen; antibakteri mata biasanya diberikan sebagai berikut: Terapkan tetes mata 1 tetes setidaknya setiap 2 jam kemudian frekuensi dikurangi sebagai infeksi dikendalikan dan terus selama 48 jam setelah penyembuhan. Chloramphenicol (Non-proprietary) Eye drops, chloramphenicol 0.5%. Net price 10 mL = £2.31 Eye ointment, chloramphenicol 1%. Net price 4 g = £3.10 Chloramphenicol 0.5% eye drops (in max. pack size 10 mL) and 1% eye ointment (in max. pack size 4 g) can be sold to the public for treatment of acute bacterial conjunctivitis in adults and children over 2 years; max. duration of treatment 5 days  Formula Martindale 36th

Dalam pengobatan infeksi mata, kloramfenikol biasanya digunakan sebagai larutan 0,5% atau sebagai salep 1%. Untuk infeksi bakteri di otitis eksterna, kloramfenikol telah diberikan sebagai obat tetes telinga dalam kekuatan 5 atau 10%. III. FORMULASI  Totonisitas - Kloramfenikol

-

ΔTf Asam borat 1 % menurut FI IV adalah 0,28 maka ΔTf Asam borat 1,5% adalah 1,5 x 0,28 = 0,42 ΔTf Natrium borat 1% menurut FI IV adalah 0,24 maka ΔTf di formula 0,3% ΔTf= 0,07

Metode Penurunan titik beku menurut Farmakope Indonesia III (hal 192) Suatu larutan dalam air dinyatakan dalam isotonus dengan serum atau cairan mata jika membeku pada suhu -0,52oC untuk memperoleh larutan isotonis dapat ditambahkan NaCl atau zat lain yang cocok dan dapat dihitung dengan rumus:

Dimana: B= bobot dalam gram zat yang ditambahkan dalam 100ml hasil akhir b1=penurunan titik beku air yang dikembalikan oleh 1% b/v zat khasiat. b2=penurunan titik beku air karena penambahan 1% b/v zat tambahan C= tetapan kadar zat khasiat dalam 1% b/v Menurut buku Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi Terdapat 3 jenis keadaan tekanan osmosis larutan obat, yaitu: 1. Keadaan isotonis apabila nilai B = nol, b1C = 0,52 2. Keadaan hipotonis apabila nilai B positif, b1C < 0,52 3. Keadaan hipertonis apabila nilai B negatif, b1C > 0,52 Perhitungan Tonisitas dari Formulasi

(Isotonis) Kesimpulan: pada formula ini, sediaan memiliki tonisitas yang isotonis. Sehingga pada formulasi tidak dilakukan perubahan kekuatan sediaan, maupun penambahan zat pengisotonis.  pH Menurut buku Formulasi Steril (Stefanus Lukas) harga pH mata sama dengan darah, yaitu 7,4. Pada pemakaian tetesan biasa, larutan yang nyaris tanpa rasa nyeri adalah larutan dengan pH 7,3 – 9,7. Namun, daerah pH 5,5 – 11,4 masih dapat diterima. Jika pH yang ditetapkan atas dasar stabilitas berada di luar daerah yang dapat diterima secara fisiologis, maka kita wajib menambahkan larutan dapar dan melakukan pengaturan pH melalui penambahan asam atau basa. Menurut FI IV pH sediaan obat tetes mata kloramfenikol adalah antara 7,0 dan 7,5 kecuali tetes mata tanpa larutan dapar atau digunakan untuk hewan antara 3,0 dan 6,0. pH sediaan yang dihasilkan dari formulasi telah mendekati pH darah yaitu mendekati 7,4. Menurut HOPE 6th hal 68 asam borat dan boraks mempunyai kapasitas buffer yang baik dan digunakan untuk mengontrol pH, biasanya digunakan dalam sediaan external seperti eye drops.  Pengawet Menurut buku Formulasi Sediaan Steril (Farida Sulistiawati dan Nelly Suryani) hal 104 pemilihan sistem pengawet harus didasarkan pada pertimbangan kompatibilitas, keamanan dan efikasi pengawet. Yang digunakan dalam formulasi ini adalah Phenylhydrargyri Nitras dengan konsentrasi 0,002 %. Nilai tersebut memenuhi rentang yang dipersyaratkan Handbook of Pharmaceutical Excipients yaitu sebagai bakterisida dalam obat tetes mata konsentrasinya 0.001–0.002%.

IV.

FORMULA AKHIR Chloramphenicolum Acidum Boricum Natrii Tertraboras Phenylhydrargyri Nitras Aquadest hingga

25 75 015 100 0 5

mg mg mg µg ml

V.

PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN

Perhitungan Volume yang dibuat Volume tiap kemasan Kelebihan volume yang dianjurkan Volume sediaan yang diisikan (v ’) Volume sediaan yang akan dibuat: V = nv ’ + (2x3) mL V = (2x5,3) + 6 mL V = 16,6 mL ≈ 30 mL

5,0 mL 0,3 mL + 5,3 mL

Keterangan: V: Volume sediaan yang akan dibuat n: jumlah sediaan v ’: Volume sediaan yang diisikan (2 x 3) mL : volume untuk membilas spuit  Penimbangan Bahan Bahan Chloramphenicolum Acidum Boricum Natrii Tertraboras Phenylhydrargyri Nitras

Konsentrasi 0,5 % 1,5 % 0,3 % 0,002 %

Untuk 30 mL 150 mg 450 mg 90 mg 0,6 mg

STERILISASI B menurut FI III Adalah sterilisasi pemanasan dengan bakterisida Sediaan dibuat dengan melarutkan atau mensuspensikan bahan obat dalam larutan klorkresol P 0,2% b/v air untuk injeksi atau dalam larutan bakterisida yang cocok dalam air untuk injeksi. Isikan ke dalam wadah, kemudian ditutup kedap, jika volume dalam tiap wadah tidak lebih dari 30 ml, panaskan pada suhu 98 sampai 100O Selma 30 menit, jika volume lebih dari jika volume dalam wadah lebih dari 30 ml waktu sterilisasi diperpanjang hingga seluruh isi tiap wadah berada pada suhu 890C sampai 1000C selama 30 menit. Jika dosis tunggal injeksi yang digunakan secara intravenous lebih dari 15 ml, pembuatan tidak dengan cara ini. Injeksi yang digunakan secara intrateka , intrasistema, atau peridura tidak boleh dibuat dengan cara ini.

VI.

PROSEDUR

1. Timbang semua bahan pada kaca arloji sesuai dengan formula dan segera dilarutkan dengan menggunakan aquadest secukupnya.
Bahan Chloramphenicolum Acidum Boricum Natrii Tertraboras Phenylhydrargyri Nitras Konsentrasi 0,5 % 1,5 % 0,3 % 0,002 % 30 mL 150 mg 450 mg 90 mg 0,6 mg Larut dalam 400 bagian air,

larut dalam 20 bagian air,
Larut 1 dalam 600 air,

2. Masukkan semua bahan ke dalam gelas piala yang dilengkapi batang pengaduk dan tambahkan aquadest hingga larut, bilas kaca arloji dengan aquadest minimal 2 kali. 3. Setelah semua bahan larut, tuang lautan tersebut ke dalam gelas ukur hingga volume 20 mL CEK PH 4. Adjust pH bila perlu. Ad aquadest 30 mL CEK PH 5. Basahi terlebih dahulu kertas saring lipat rangkap 2 dengan menggunakan aquadest. Air pembasah ditempatkan dalam satu erlenmenyer. 6. Saring larutan dalam gelas ukur ke dalam Erlenmeyer bersih dan steril melalui corong dan kertas saring yang telah dibasahi. 7. Pengemasan dilakukan sesuai dengan proses steerilisasi sediaan: 8. Kemas botol/vial dalam dos dan beri etiket luar 9. Lakukan evaluasi mutu terhadap sediaan. VII. EVALUASI  pH o Dibawah volume akhir = o Volume akhir =  Kejernihan = Jernih  Volume terpindahkan = tidak dilakukan  Kebocoran = tidak dilakukan LAMPIRAN FOTO

VIII.

Uji Kejernihan

Sediaan Akhir

IX.

PEMBAHASAN Dalam praktikum ini, dilakukan pembuatan sediaan pbat tetes mata – Chloramphenicol. Dalam British Pharmacopoeia 2009 Volume III, yang dimaksud dengan obat tetes mata adalah tetes mata yang steri dalam bentuk larutan atau berminyak, emulsi atau suspensi suatu zat aktif lebih ditunjukan untuk diberikan ke dalam tetes mata secara bertahap. eksipiennya: untuk menyesuaikan tonisitas atau viskositas pada saat pembuatan, untuk menyesuaikan atau menstabilkan pH, untuk meningkatkan kelarutan zat aktif, atau untuk menstabilkan Zat-zat yg digunakan pada pembuatan yang tidak mempengaruhi kestabilan obat atau, pada konsentrasi yang digunakan, pada pembuatan yang tidak semestinya menyebabkan iritasi lokal Kering. dan didalam kemasan multidose yang mengandung pengawet antimikroba yang cocok dalam konsentrasi yang tepat kecuali jika pembuatan itu sendiri memiliki sifat antimikroba yang memadai. Pengawet antimikroba yang dipilih harus sesuai dengan bahan lainnya dan harus tetap efektif selama periode waktu di mana obat tetes mata masih digunakan. Jika obat tetes mata tidak mengandung bahan pengawet antimikroba dan diisi dalam wadah dosis tunggal. Dan mengandung bahan pengawet antimikroba dalam kemasan multidose untuk mencegah kontaminasi mikroba dari isi setelah pembukaan. Obat Tetes mata digunakan untuk dalam prosedur pembedahan tidak mengandung bahan pengawet antimikroba. Obat tetes mata diperiksa di bawah kondisi yang cocok visibilitas jelas, dan praktis bebas dari partikel. Obat tetes mata dalam bentuk suspensi yang dapat menunjukkan sedimen yang mudah didispersikan kembali. untuk memberikan suspensi yang cukup stabil untuk memungkinkan dosis yang tepat yaitu Multidose. dimana dalam wadah yang memungkinkan. yaitu Wadah berisi paling banyak 10 ml kecuali dinyatakan lain. Zat aktif yang digunakan pada praktikum kali ini adalah Chloramphenicol. Chloramphenicol adalah antibiotik broad spectrum yang aktif melawan sebagian besar bakteri gram-negative dan beberapa bakteri gram-positive, rickettsiae, chlamydia, mycoplasma san agen penyebab brucellosis. Menurut Farmakope Indonesia IV, Tetes mata kloramfenicol adalah larutan steril kloramfenikol. Mengandung kloramfenikol, C11H12Cl2N2O5, tidak kurang dari 90% dan tidak lebih dari 130,0% dari jumlah yang tertera pada etiket. Memenuhi syarat sterilitas, penetapan dengan prosedur uji menggunakan penyaringan membrane. pH antara 7,0 dan 7,5 kecuali tetes mata tanpa larutan dapar atau digunakan untuk hewan antara 3,0 dan 6,0. Wadah dan penyimpanan dalam wadah tertutup rapat dan disimpan dilemari pendingin sampai diserahkan. Wadah atau karbon disegel untuk menjamin sterilitas pada pemakaian pertama. Formula pustaka yang digunakan sebagai acuan adalah formula Obat tetes mata dari Formularium Nasional. Dalam formula tersebut sediaan dikemas dalam wadah

tertutup rapat, dan disimpan ditempat sejuk. Pada etiket harus juga tertera Daluwarsa. Di sterilkan dengan cara sterilisasi B atau sterilisasi C. Cara administrasi OTM Chloramphenicol ini adalah dengan meneteskan 1 – 2 tetes selama 4 kali sehari. Obat ini diindikasikan untuk Bacterial conjunctivitis, suppurative keratitis, infections yang diikuti dengan luka dari conjunctiva, cornea, dan blepharitis. Dan dikontraindikasikan kepada pasien dengan sejarah kelainan haematological san pada neonates. Chloramphenicol tidak boleh dikombinasi dengan antibiotik lain atau Sulphonamide pada sediaan ophthalmic. Saat formulasi, dilakukan perhitungan nilai tonisitas sediaan dengan menggunakan metode penurunan titik beku dan diperoleh nilainya 0 (nol) atau dengan kata lain sediaan tersebut memiliki tonisitas yang isotonis. Sehingga pada formulasi tidak dilakukan perubahan kekuatan sediaan, maupun penambahan zat pengisotonis pada formulasi sediaan tersebut. Selain perhitungan nilai tonisitas, dalam sediaan obat tetes mata yang tidak kalah penting lainnya adalah memertimbangkan pH sediaan. Menurut buku Formulasi Steril (Stefanus Lukas) harga pH mata sama dengan darah, yaitu 7,4. Pada pemakaian tetesan biasa, larutan yang nyaris tanpa rasa nyeri adalah larutan dengan pH 7,3 – 9,7. Namun, daerah pH 5,5 – 11,4 masih dapat diterima. Jika pH yang ditetapkan atas dasar stabilitas berada di luar daerah yang dapat diterima secara fisiologis, maka kita wajib menambahkan larutan dapar dan melakukan pengaturan pH melalui penambahan asam atau basa. Menurut FI IV pH sediaan obat tetes mata kloramfenikol adalah antara 7,0 dan 7,5 kecuali tetes mata tanpa larutan dapar atau digunakan untuk hewan antara 3,0 dan 6,0. pH sediaan yang dihasilkan dari formulasi telah mendekati pH darah yaitu mendekati 7,4. Dan formulasi dalam Formularium Nasional, dilakukan penambahan pendapar, yaitu kombinasi asam borat dan boraks. Menurut Handbook of Pharmaceutical Excipient edisi 6th hal 68 asam borat dan boraks mempunyai kapasitas buffer yang baik dan digunakan untuk mengontrol pH, biasanya digunakan dalam sediaan external seperti eye drops. Sehingga penggunaan pendapar tersebut telah tepat fungsi dan tepat guna. Pengawet atau anti mikroba harus diberikaan pada sediaan injeksi bila injeksi dikemas dalam wadah dosis ganda dengan metode sterilisasi apapun , dan pada sediaan yang tidak dilakukan sterilisasi akhir. Kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi, atau kecuali bahan aktifnya sendiri sudah berupa bahan anti mikroba. Menurut buku Formulasi Sediaan Steril (Farida Sulistiawati dan Nelly Suryani) hal 104 pemilihan sistem pengawet harus didasarkan pada pertimbangan kompatibilitas, keamanan dan efikasi pengawet. Yang digunakan dalam formulasi ini adalah Phenylhydrargyri Nitras dengan konsentrasi 0,002 %. Nilai tersebut memenuhi rentang

yang dipersyaratkan Handbook of Pharmaceutical Excipients yaitu sebagai bakterisida dalam obat tetes mata konsentrasinya 0.001–0.002%. Zat tambahan lain seperti antioksidan juga tidak ditambahkan dalam formula ini. Selain karena sediaan stabil terhadap oksidasi menurut literatur stabilisator seperti antioksidan dan komplekson jarang ditambahkan pada sediaan parenteral volume besar. Dengan pertimbangan seperti penjelasan diatas, maka formula akhirnya sama dengan formula pustaka tanpa perubahan formulasi maupun penambahan zat apapun. Menurut Formularium Nasional, sediaan OTM Chloramphenicol ini disterilisasi akhir dengan menggunakan Sterilisasi B atau Sterilisasi C. Dalam praktikum proses sterilisasi dilakukan dengan sterilisasi B yaitu dengan penambahan bakterisid. Menurut Farmakope Indonesia IV cara sterilisasi dengan bakterisid adalah sediaan dibuat dengan melarutkan atau mensuspensikan bahan obat dalam larutan klorkresol P 0,2% b/v air untuk injeksi atau dalam larutan bakterisida yang cocok dalam air untuk injeksi. Isikan ke dalam wadah, kemudian ditutup kedap, jika volume dalam tiap wadah tidak lebih dari 30 ml, panaskan pada suhu 98 sampai 100O Selama 30 menit, jika volume lebih dari jika volume dalam wadah lebih dari 30 ml waktu sterilisasi diperpanjang hingga seluruh isi tiap wadah berada pada suhu 890C sampai 1000C selama 30 menit. Jika dosis tunggal injeksi yang digunakan secara intravenous lebih dari 15 ml, pembuatan tidak dengan cara ini. Injeksi yang digunakan secara intrateka , intrasistema, atau peridura tidak boleh dibuat dengan cara ini. Dalam formulasi, bakterisida yang digunakan adalah Phenylhydrargyri Nitras dengan konsentrasi 0,002 %. Namun karena ketidaksediaan bahan di laboratorium, maka dalam praktikum bakterisida yang digunakan adalah benzil alkohol dengan konsentrasi yang sama, yaitu 0,002 %. Dan karena volume tiap wadah tidak lebih dari 30 mL (10 mL) maka dilakukan pemanasan pada suhu 98 -100oC sampai 40 menit, yang didalam praktikum dilakukan dispensasi dengan menggunakan autoklaf selama ??? Sedangkan untuk mensterilisasi alat yang digunakan dilakukan dengan cara alat yang tahan panas dan bukan merupakan alat yang volumetrik disterilkan dengan menggunakan oven (panas kering) pada suhu 170oC selama 60 menit. Alat yang tahan panas, tahan lembab dan bersifat volumetrik disterilisasikan dengan menggunakan autoklaf (panas basah) 115 – 116oC. Sedangkan alat karet disterilkan dengan proses perebusan selama 30 menit. Pembuatan Aqua Pro Injeksi Bebas Oksigen dan Kerbondioksida, dilakukan dengan pemanasan aquabidest dalam wadah erlenmeyer yang disumbat kapas pada suhu 100oC, setelah mendidih kemudian tunggu selama 30 menit untuk mendapatkan air bebas CO2. Tunggu 10 menit lagi untuk mendapatkan API bebas O2. Pada saat proses pengerjaan dilakukan In Process Control yaitu uji kejernihan larutan dan pH larutan. Kejernihan larutan obat tetes mata chloramphenicol yang

dihasilkan adalah jernih, bebas partikel yang tidak terlarutkan dan bebas partikel melayang. Uji pH dilakukan 2 kali, yaitu pada volume di bawah volume akhir, dan ketika volume akhir. Tujuan dilakukannya pengukuran pada volume dibawah volume akhir adalah jika pH yang dihasilkan tidak sesuai dengan ketentuan maka dapat ditambahkan zat peng-adjust pH seperti HCl encer atau NaOH encer. Pada saat pengujian pertama dihasilkan larutan dengan pH ???. Sesuai dengan pH larutan yang diharapkan yaitu 7 – 7,5. Sehingga dalam praktikum tidak dilakukan penambahan zat peng-adjust pH. Pada saat volume sediaan akhir telah tercapai, juga dilakukan pengecekan pH sediaan, untuk memastikan apakah pH berubahnya atau tidak. Dari hasil uji, diperoleh hasil bahwa tiak terjadi perubahan pH. pH sediaan tetap yaitu ???. Evaluasi akhir yang dilakukan adalah uji kejernihan. Hasil yang diperoleh sama dengan hasil uji yang dilakuakan selama in process control yaitu Kejernihan larutan OTM Chloramphenicol yang dihasilkan adalah jernih, bebas partikel yang tidak terlarutkan dan bebas partikel melayang Menurut Farmakope Indonesia ed IV, Pada etiket tertera nama sediaan, untuk sediaan cair tertera presentase atau jumlah zat aktif dalam volume tertentu, untuk sediaan kering tertera jumlah zat aktif, cara pemberian, kondisi penyimpanan dan tanggal kadaluarsa; nama pabrik pembuat dan atau pengimpor serta nomor lot atau bets yang menunjukan identitas. Nomor lot dan atau bets dapat memberikan informasi tentang riwayat pembuatan lengkap meliputi seluruh proses pengolahan, sterilisasi, pengisian, pengemasan dan penandaan. Bila formula lengkap tidak tertera lengkap pada masing-masing monografi, Penandaan mencakup informasi berikut: untuk sediaan cair, presentasi isi atau jumlah tiap komponen dalam volume tertentu, kecuali bahan yang ditambahkan untuk penyesuaian pH atau untuk membuat larutan isotonic, dapat dinyatakan dengan nama dan efek bahan tersebut. Pemberian etiket pada wadah sedemikian rupa sehingga sebagian wadah tidak tertutup oleh etiket, untuk mempermudah pemeriksaan isi secara visual. Menurut Formularium Nasional untuk sedian OTM Chloramphenicol pada etiket harus tertera tanggal Daluarsa Pada praktikum kali ini penandaan pada sediaan yang dibuat (etiket) mencantumkan merk sediaan, nomer registrasi, cara penyimpanan, nama dan logo produsen, nomer batch, expired date dan logo obat keras. I. FORMULASI STANDAR

Berdasarkan Formularium Nasional hal 65 :

Chloramphenicoli guttae opthalmicae Tetes Mata Kloramfenikol Komposisi. Tiap 10 ml mengandung Chloramphenicolum Acidum Boricum Natrii Tetraboras Phenylhydrargyri Nitras Aqua destilata hingga 50 mg 150 mg 30 mg 200 µg 10 ml

Penyimpanan. Dalam wadah tertutup rapat, di tempat sejuk. Catatan. 1. Disterilkan dengan Cara Sterilisasi B atau C

2. Pada etiket harus juga tertera : Daluwarsa USUL PENYEMPURNAAN SEDIAAN 1. Zat aktif tidak larut dalam air sehingga perlu dilarutkan dalam pelarut netral atau agak asam jadi dilarutkan dalam natrii tetraboras dan dikombinasikan dengan asam borak karena merupakan larutan asam yang tidak terlalu kuat. Asam borak ditambahkan untuk meningkatkan efektifitas natrii tetraboras. 2. Harus Isohidris digunakan dapar pH 7 Natrii tetraboras. Selain itu Natrii tetraboras juga berfungsi sebagai buffering agent 3. Air mudah ditumbuhi jamur digunakan bahan pengawet Phenylhydrargyri Nitras. II. FORMULA AKHIR R/ Kloramfenikol Acidum Boricum Natrii tetraboras 50 mg 150 mg 30 mg

API ad 10 ml PERHITUNGAN ΔTf = Liso x berat x 1000 BM x V  Kloramfenikol 0,5%

ΔTf = 1,86x 50/1000 x 1000 323,13 x 10 = 0,02878= 0,03  Acidum Boricum 1,5%

ΔTf asam borat 1% = 0,28 ΔTf asam borat 1,5% =  Natrii Boras 0,3% x 0,28 = 0,42

ΔTf natrii borat 1% = 0,24 ΔTf natrii borat 0,3% = x 0,24 = 0,07

B = 0,52 – (0,03 + 0,42 + 0,07) = 0 (isotonis) PENIMBANGAN BAHAN Volume yang dibuat = (n x v) + 6 = (2 x 10,5 ml) + 6 = 27 ml ≈ 35 ml

Volume yang dibuat untuk total sediaan tetes mata adalah 20 ml, untuk antisipasi maka volumenya dilebihkan menjadi 35 ml. Jadi bahan yang ditimbang :     Kloramfenikol Acidum Boricum Natrii tetraboras API ad 30 ml = 0,5% x 35 ml = 0,15% x 35 ml = 0,3% x 35 ml = 0,175 gram = 0,0525 gram = 0,105 gram

III. PROSEDUR KERJA 1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan 2. Disiapkan Aqua Pro Injeksi bebas O2 3. Ditimbang masing-masing bahan yang akan digunakan pada neraca timbangan dengan kaca arloji yang sebelumnya telah disterilkan secara aseptis. 4. Dikalibrasi beaker glass dan botol tetes mata yang akan digunakan (10,5 ml) 5. Dilarutkan masing-masing bahan dalam API. 6. Larutkan asam borat dan natrii borat pada masing-masing beaker. Kemudian dicampur untuk digunakan dalam melarutkan kloramfenikol sedikit demi sedikit dimasukan ke larutan tersebut. Kemudian dimasukan sisa API. Lakukan pengecekan pH (pH yang diinginkan yaitu 7). 7. Melapisi corong dengan kertas saring dan dibasahi dengan API kemudian pindahkan corong ke beaker glass yang sudah dikalibrasi. Kemudian disaring larutan ke dalam erlenmeyer. 8. Sisa 2/5 bagian API digunakan untuk membilas kemudian disaring lagi ke dalam beaker glass yang berisi filtrat. 9. Ditambahkan API sampai batas kalibrasi 10. Diambil sebanyak 10,5 ml untuk tiap wadah dan mengisikan larutan ke dalam wadah, ditutup dengan penutupnya. 11. Lakukan sterilisasi akhir. 12. Diberi etiket dan dilakukan evaluasi.

IV. PEMBAHASAN Sediaan obat mata dalam USP didefinisikan sebagai bentuk sediaan steril yang harus bebas dari partikel-partikel asing, tercampur dengan baik dan dikemas untuk diteteskan ke dalam mata. Sediaan obat mata adalah sediaan steril berupa salep, larutan atau suspensi, digunakan pada mata dengan jalan meneteskan, mengoleskan pada selaput lendir mata di sekitar kelopak mata dan bola mata. Pada formulasi pembuatan obat tetes mata ini menggunakan bahan buffer yaitu asam borat dan natrii tetraborat. Bahan pembuffer digunakan untuk meningkatkan kenyamanan mata dan stabilitas umur pakai yang cukup. Nilai pH produk obat mata cair harus dicapai pada pH 7,4 ± 0,1 yaitu nilai pH alami air mata, untuk meminimalkan ketidaknyamanan dan gangguan terhadap sistem buffer alami cairan mata. Pemilihan sistem buffer berpengaruh pada potensi iritasi. Iritasi mata menyebabkan refleks keluarnya mata dimana pada gilirannya mempercepat pembuangan sediaan obat mata dan menurunkan bioavailabilitasnya. Pemilihan sistem buffer juga tergantung pada pH bahan obat yang secara optimal stabil dan larut. Pemilihan pKa buffer harus sedekat mungkin dengan pH target karena kapasitas buffer adalah maksimum ketika pH sama dengan pKanya. Kloramfenikol adalah salah satu antibiotik yang secara kimiawi diketahui paling stabil dalam segala pemakaian dan memiliki stabilitas yang sangat baik pada suhu kamar dan kisaran pH 2 – 7, stabilitas maksimumnya dicapai pada pH 6. Pada saat yang sama, kloramfenikol juga peka terhadap katalisis asam-umum/basa-umum yang diakibatkan oleh bahan-bahan yang ada dalam dapar. Dalam kebanyakan sistem yang penting untuk farmasi, dapat digunakan untuk mempertahankan pada pH tertentu, sebagai tambahan efek pH terhadap laju reaksi, sering menjadi kemungkinan reaksi dikatalisis oleh satu atau beberapa komponen penyusun dapar. Reaksi yang demikian disebut katalis asam umum atau basa umum tergantung pada apakah komponen katalisis tersebut asam atau basa (Martin, 1993). Untuk sterilisasi larutan kloramfenikol, metode yang terpilih adalah pemanasan bersama bakterisida pada suhu 100OC selama 30 menit, diikuti dengan pendinginan cepat. Dengan metode ini berlangsungnya hidrolisis hanya terjadi sebesar 3 – 4% saja, sedangkan apabila menggunakan cara autoklaf (suhu 115oC dengan waktu yang sama) dihasilkan degradasi sebesar kira-kira 10 – 15%. Reaksi-reaksi fotolisis mudah dicegah dengan cara menghindari cahaya, hal ini dapat

dilakukan dengan pengemasan hasil obat di dalam wadah yang tidak tembus cahaya, di sini seluruh cahaya akan terhalang atau digunakan filter yang akan menghilangkan seluruh cahaya yang panjang gelombangnya dapat mengkatalisis reaksi. Botol gelas warna diketahui mampu bertindak sebagai pelindung cahaya yang paling baik, karena diketahui bahwa kloramfenikol juga peka terhadap cahaya (Connors, 1992). Pada umumnya untuk tetes mata dicantumkan pembatasan daya tahannya yang secara internasional terletak antara 4-6 minggu setelah pemakaian. Pembatasan waktu ini diperlukan, oleh karena bahan pengawet sering mengalami kehilangan aktivitasnya pada tingkat kontaminasi mikroorganisme yang tinggi (Voigt, 1994). Dengan metode sterilisasi yang menggunakan proses pemanasan dari sediaan tetes mata terjadi proses degradasi atau penurunan kadar yang lebih cepat dari kloramfenikol dibandingkan terhadap metode sterilisasi yang tidak menggunakan pemanasan (bakteri filter). Kloramfenikol mempunyai rumus kimia yang cukup sederhana yaitu 1-(p-nitrofenil)-2dikloroasetamido-1,3-propandiol.

Antibiotik ini bersifat unik diantara senyawa alam karena adanya gugus nitrobenzen dan antibiotik ini merupakan turunan asam dikloroasetat. Bentuk yang aktif secara biologis yaitu bentuk levonya. Zat ini larut sedikit dalam air (1:400) dan relatif stabil. Kloramfenikol diinaktivasi oleh enzim yang ada dalam bakteri tertentu. Disini terjadi reduksi gugus nitro dan hidrolisis ikatan amida; juga terjadi asetilasi. Berbagai turunan kloramfenikol berhasil disintesis akan tetapi tidak ada senyawa yang khasiatnya melampaui khasiat kloramfenikol. Kloramfenikol adalah salah satu antibiotik yang secara kimiawi diketahui paling stabil dalam segala pemakaian. Kloramfenikol memiliki stabilitas yang sangat baik pada suhu kamar dan kisaran pH 2 sampai 7, stabilitas maksimumnya dicapai pada pH 6. Pada suhu 25oC dan pH 6,

memiliki waktu paruh hampir 3 tahun. Yang menjadi penyebab utama terjadinya degradasi kloramfenikol dalam media air adalah pemecahan hidrolitik pada lingkaran amida. Laju reaksinya berlangsung di bawah orde pertama dan tidak tergantung pada kekuatan ionik media (Connors, 1992). Berlangsungnya hidrolisis kloramfenikol terkatalisis asam umum/basa umum, tetapi pada kisaran pH 2 sampai 7, laju reaksinya tidak tergantung pH. Spesies pengkatalisasi adalah asam umum atau basa umum yang terdapat pada larutan dapar yang digunakan; khususnya pada ion monohidrogen fosfat, asam asetat tidak terdisosiasi, serta ion asam monohidrogen dan dihidrogen sitrat dapat mengkatalisis proses degradasi. Di bawah pH 2, hidrolisis terkatalisis ion hidrogen spesifik memegang peranan besar pada terjadinya degradasi kloramfenikol. Obat ini sangat tidak stabil dalam suasana basa, dan reaksinya terlihat terkatalisis baik asam maupun basa spesifik (Connors, 1992). Jalur utama degradasi kloramfenikol adalah hidrolisis ikatan amida, membentuk amida yang sesuai dan asam dikloroasetat.

Degradasi kloramfenikol

lewat dehalogenasi

tidak menjadi bagian yang berperan dalam

gambaran degradasi total, setidaknya di bawah pH 7(Connors, 1992). Laju degradasi tergantung secara linier pada konsentrasi dapar, spesies dapar beraksi sebagai asam umum dan basa umum. Laju hidrolisis kloramfenikol tidak tergantung kekuatan ionik, dan tidak terpengaruh oleh konsentrasi ion dihidrogen fosfat, dengan

demikian aktivitas katalisisnya dianggap berasal dari aksi ion monohidrogen fosfat sebagai katalisis basa umum (Connors, 1992).

I.

FORMULA PUSTAKA
(Fornas)

DEXAMETHASONI NEOMYCINI GUTTAE OPHTALMICAE Komposisi. Tiap 10 ml mengandung : Dexamethasoni Natrii Phospas setara dengan Dexamethasoni phospas Neomycini Sulfas setara dengan Neomycinum Benzalkonii Chloridum Natrii bisulfis Zat tambahan yang cocok Aqua destilata hingga 35 mg 2 mg 32 mg secukupnya 1 ml 10 mg

Penyimpanan. Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, di tempat sejuk. Dosis. Catatan. 2 sampai 3 kali sehari 1 sampai 2 tetes. 1. Sebagai zat tambahan digunakan larutan dapar isotonis. 2. Disterilkan dengan Cara Sterilisasi C. 3. Pada etiket harus juga tertera : Daluwarsa.

(AHFS) NeoDecadron®Ocumeter® Neomicin sulfat, benzalkonium chloride and sodium bisulfite) Merck II. FORMULA AKHIR Tiap 10 ml mengandung R/ Neomisin sulfat Benzalkonium klorida Natrium metabisulfit API ad III. 0,5% (BNF 58) 0,01% 0,01% 10 ml

PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN  Perhitungan tonisitas  Menggunakan penurunan titik beku.

No 1 2 3
JUMLAH

Zat aktif Neomycin sulfat Benzalkonium klorida Natrium bisulfit

Penurunan titik beku
Konsentrasi

0,5% 0,041o 0,048o 0,186o

1% 0,06o 0,09o 0,35o

2% 0,11o 0,17o 0,5% 0,01% 0,01%

ΔTf1% x konsentrasi

0,041o 0,0009o 0,0035o 0,0454o

 Perhitungan tonisitas menurut farmakope Indonesia III Berat NaCl B=

B= B= 0,818 g/100ml  8,18mg/ml

 Volume yang dibuat

= n X V’ + 6 ml = 2 X 5,5 ml + 6 ml = 17 ml → 20 ml

 Penimbangan Bahan Neomicin sulfat Benzalkonii Chloridum Natrium metabisulfit Natrium klorida API

IV.

STERILISASI

Cara pembuatan sediaan steril ada 2 yaitu sterilisasi akhir dan aseptis. Cara sterilisasi akhir menggunakan uap panas, sehingga untuk zat yang tidak stabil dalam panas menggunakan

cara aseptis. Diazepam zat aktiv yang tahan pemanasan dan pelarut campuran yang digunakan juga tahan terhadap pemanasan pada rentan panas alat sterilisasi akhir. Pada sterilisasi akhir sediaan harus stabil dengan adanya molekul air dan tingginya suhu sterilisasi.Diazepam tersebut di serilisasi menggunakan autoclaf (suhu 121OC selama 15menit). Prinsip dasar kerja alat sterilisasi uap adalah udara i dalam bejana diganti dengan uap jenuh dalam hal ini dicapai dengan menggunakan alat pembuka atau penutup khusus. V. PROSEDUR a. Alat dan bahan disiapkan b. Alat - alat yang digunakan disterilkan dengan oven dan autoklaf sesuai petunjuk sterilisasi alat diatas. Botol yang akan digunakan sebelumnya dikalibrasi menggunakan API dengan volume 10 ml. c. Disiapkan Aqua Pro Injeksi bebas O2 dengan cara : (Catatan : Dilakukan pada White Area). 1) Dipanaskan aquades diatas hotplate sampai mendidih. 2) DIhitung waktu pemanasan selama 30 menit (waktu mulai dihitung setelah air mendidih). 3) Dipanaskan lagi selama 10 menit agar diperoleh API bebas O2. d. Ditimbang masing-masing bahan dengan neraca timbangan dengan tepat sesuai jumlah yang diperlukan. e. Zat aktif satu persatu dilarutkan dengan menggunakan API, lalu dicampur kedalam gelas piala. f. Add kan larutan dengan API sampai 48 ml. g. Menyaring larutan ke dalam Erlenmeyer bersih dan kering. Sebelumnya kertas saring dibilas dahulu dengan API. h. Dipipet 10,5 ml larutan kemudian memasukannya ke dalam botol berpipet yang khusus digunakan untuk sediaan tetes mata. i. Diberi etiket .

VI. EVALUASI 1. Kejernihan Tidak ada partikel yang mengendap dan tidak ada zat yang melayang.

2. Pemariksaaan pH  Sebelum volume akhir = 5-6  Saat volume akhir = 5-6 VII. PEMBAHASAN Tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi, digunakan untuk mata, dengan cara meneteskan obta pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola mata. Obat-obat yang digunakan pada produk optalmik dapat dikategorikan menjadi miotik, midriatik, siklopegik, antiinflamatory agent, anti glaucoma, senyawa diagnostic dan anstetik local. Sediaan obat tetes mata sendiri merupakan obat yang biasanya dipakai pada mata untuk maksud efek lokal pada pengobatan bagian permukaan mata atau pada bagian dalamnya. Menurut British Pharmacopoeia 2009 Volume III, yang dimaksud dengan obat tetes mata adalah tetes mata yang steri dalam bentuk larutan atau berminyak, emulsi atau suspensi suatu zat aktif lebih ditunjukan untuk diberikan ke dalam tetes mata secara bertahap. Dalam praktikum ini, dilakukan pembuatan sediaan obat tetes mata – Neomisin. Eksipien yang biasa digunakan dalam pembuatan obat tetes mata adalh berfungsi untuk menyesuaikan tonisitas atau viskositas pada saat pembuatan, untuk menyesuaikan atau menstabilkan pH, untuk meningkatkan kelarutan zat aktif, atau untuk menstabilkan Zatzat yg digunakan pada pembuatan yang tidak mempengaruhi kestabilan obat atau, pada konsentrasi yang digunakan, pada pembuatan yang tidak semestinya menyebabkan iritasi lokal Kering. dan didalam kemasan multidose yang mengandung pengawet antimikroba yang cocok dalam konsentrasi yang tepat kecuali jika pembuatan itu sendiri memiliki sifat antimikroba yang memadai. Pengawet yang dipilih seharusnya mencegah dan membunuh pertumbuhan mikroorganisme selama penggunaan. Pengawet yang sesuai untuk larutan obat tetes mata hendaknya memiliki sifat sebagai berikut (AOC, 234): 1. Bersifat bakteriostatik dan fungistatik. Sifat ini harus dimiliki terutama terhadap pseudomonas aeruginosa. 2. Non iritan terhadap mata (jaringan okuler yaitu kornea dan konjungtiva). 3. Kompatibel terhadap bahan aktif dan zat tambahan lain yang dipakai. 4. Tidak memiliki sifat alergen dan mensensitisasi. 5. Dapat mempertahankan aktifitasnya pada kondisi normal penggunaan sediaan Jika obat tetes mata tidak mengandung bahan pengawet antimikroba harus diisi dalam wadah dosis tunggal. Sedangkan untuk yang mengandung bahan pengawet antimikroba dikemas dalam kemasan multidose untuk mencegah kontaminasi mikroba dari isi setelah pembukaan. Obat Tetes mata digunakan dalam prosedur pembedahan tidak mengandung bahan pengawet antimikroba.

Obat tetes mata diperiksa di bawah kondisi yang cocok visibilitas jelas, dan praktis bebas dari partikel. Obat tetes mata dalam bentuk suspensi yang dapat menunjukkan sedimen yang mudah didispersikan kembali. untuk memberikan suspensi yang cukup stabil untuk memungkinkan dosis yang tepat yaitu Multidose. dimana dalam wadah yang memungkinkan. yaitu Wadah berisi paling banyak 10 ml kecuali dinyatakan lain. Pada praktikum kali ini zat aktif yang digunakan adalah Neomisin. Neomisin adalah suatu antibiotik broad spectrum yang aktif melawan sebagian besar bakteri gram-negative dan beberapa bakteri gram-positive, rickettsiae, chlamydia, mycoplasma san agen penyebab brucellosis. neomisin sulfat bisa juga digunakan untuk terapi jangka pendek infeksi okular eksternal superfisial disebabkan oleh organisme, memberi efek miotik untuk mengatasi midriasis yang disebabkan oleh atropine, dan menurunkan tekanan intraokular dan memberi efek miosis intensif sebelum pembedahan pada penanganan darurat glaukoma sudut terbuka. Pembuatan obat tetes mata ini mengacu pada formula pustaka. Formula pustaka yang digunakan sebagai acuan adalah formula Obat tetes mata dari Formularium Nasional. Dalam formula tersebut sediaan dikemas dalam wadah tertutup rapat, dan disimpan ditempat sejuk. Pada etiket harus juga tertera Daluwarsa. Di sterilkan dengan cara sterilisasi C. Penggunaan OTM Neomisin ini adalah dengan meneteskan 1 – 2 tetes selama 4 kali sehari. Obat ini diindikasikan untuk Bacterial conjunctivitis, suppurative keratitis, infections yang diikuti dengan luka dari conjunctiva, cornea, dan blepharitis. Dan dikontraindikasikan kepada pasien dengan sejarah kelainan haematological san pada neonates. Neomisin tidak boleh dikombinasi dengan antibiotik lain atau Sulphonamide pada sediaan ophthalmic. Studi formulasi, dilakukan perhitungan nilai tonisitas sediaan dengan menggunakan metode penurunan titik beku dan diperoleh sediaan hipotonis. Sehingga pada formulasi dilakukan perubahan kekuatan sediaan, maupun penambahan zat pengisotonis pada formulasi sediaan tersebut. Zat pengisotonis yang ditambahkan adalah NaCL dengan konsentrasi 8,18 mg/ml. Selain perhitungan nilai tonisitas, dalam sediaan obat tetes mata harus memertimbangkan pH sediaan. Menurut buku Formulasi Steril (Stefanus Lukas) harga pH mata sama dengan darah, yaitu 7,4. Pada pemakaian tetesan biasa, larutan yang nyaris tanpa rasa nyeri adalah larutan dengan pH 7,3 – 9,7. Namun, daerah pH 5,5 – 11,4 masih dapat diterima. Jika pH yang ditetapkan atas dasar stabilitas berada di luar daerah yang dapat diterima secara fisiologis, maka kita wajib menambahkan larutan dapar dan melakukan pengaturan pH melalui penambahan asam atau basa. Menurut FI IV pH sediaan obat tetes mata neomisin sulfat adalah antara 5,0 - 7,5. Sediaan yang dihasilkan dari formulasi tersebut adalah 5-6 maka pH tersebut masih dapat diterima dan

merupakan pH stabilitas zat aktiv tersebut . telah mendekati pH darah yaitu mendekati 7,4. Pengawet atau anti mikroba harus diberikaan pada sediaan injeksi bila injeksi dikemas dalam wadah dosis ganda dengan metode sterilisasi apapun , dan pada sediaan yang tidak dilakukan sterilisasi akhir. Kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi, atau kecuali bahan aktifnya sendiri sudah berupa bahan anti mikroba. Menurut buku Formulasi Sediaan Steril (Farida Sulistiawati dan Nelly Suryani) hal 104 pemilihan sistem pengawet harus didasarkan pada pertimbangan kompatibilitas, keamanan dan efikasi pengawet. Yang digunakan dalam formulasi ini adalah natrium metabisulfit dengan konsentrasi 0,002 %. Nilai tersebut memenuhi rentang yang dipersyaratkan Handbook of Pharmaceutical Excipients yaitu sebagai bakterisida dalam obat tetes mata konsentrasinya 0.001–0.002%. Zat tambahan lain seperti antioksidan diperlukan karena neomisin sulfat tidak stabil terhadap cahaya. Penggunaan antioksidan kali ini menggunakan natrium metabisulfit. Dengan tujuan sebagai antioksidan dan juga peningkat viskositas. Sediaan tetes mata harus mempunyai viskositas yang agak kental, agar dalam penggunaannya tidak mudah terbawa oleh air mata dan akan menjadi sedikit bioavilibilitasany. Dengan pertimbangan seperti penjelasan diatas, maka formula akhirnya sama dengan formula pustaka tanpa perubahan formulasi maupun penambahan zat apapun. Menurut Formularium Nasional, sediaan OTM Neomisin ini disterilisasi akhir dengan menggunakan Sterilisasi C. Dalam praktikum proses tidak dilakukan sterilisasi karena ketidak tersediaannya alat oleh karena itu dilakukan pengerjaan dengan proses aseptis. Sedangkan untuk mensterilisasi alat yang digunakan dilakukan dengan cara alat yang tahan panas dan bukan merupakan alat yang volumetrik disterilkan dengan menggunakan oven (panas kering) pada suhu 170oC selama 60 menit. Alat yang tahan panas, tahan lembab dan bersifat volumetrik disterilisasikan dengan menggunakan autoklaf (panas basah) 115 – 116oC. Sedangkan alat karet disterilkan dengan proses perebusan selama 30 menit. Pembuatan Aqua Pro Injeksi Bebas Oksigen dan Kerbondioksida, dilakukan dengan pemanasan aquabidest dalam wadah erlenmeyer yang disumbat kapas pada suhu 100oC, setelah mendidih kemudian tunggu selama 30 menit untuk mendapatkan air bebas CO2. Tunggu 10 menit lagi untuk mendapatkan API bebas O2. Pada saat proses pengerjaan dilakukan In Process Control yaitu uji kejernihan larutan dan pH larutan. Kejernihan larutan obat tetes mata Neomisin yang dihasilkan adalah jernih, bebas partikel yang tidak terlarutkan dan bebas partikel melayang. Uji pH dilakukan 2 kali, yaitu pada volume di bawah volume akhir, dan ketika volume akhir. Tujuan dilakukannya pengukuran pada volume dibawah volume akhir adalah jika pH

yang dihasilkan tidak sesuai dengan ketentuan maka dapat ditambahkan zat peng-adjust pH seperti HCl encer atau NaOH encer. Pada saat pengujian pertama dihasilkan larutan dengan pH 5-6. Sesuai dengan pH larutan yang diharapkan yaitu 5 – 7,5. Sehingga dalam praktikum tidak dilakukan penambahan zat peng-adjust pH. Pada saat volume sediaan akhir telah tercapai, juga dilakukan pengecekan pH sediaan, untuk memastikan apakah pH berubahnya atau tidak. Dari hasil uji, diperoleh hasil bahwa tiak terjadi perubahan pH. pH sediaan tetap yaitu 5-6. Evaluasi akhir yang dilakukan adalah uji kejernihan. Hasil yang diperoleh sama dengan hasil uji yang dilakuakan selama in process control yaitu Kejernihan larutan OTM Neomisin yang dihasilkan adalah jernih, bebas partikel yang tidak terlarutkan dan bebas partikel melayang. Kondisi ini didapat dari dua kali penyaringan. Pda penyaringan pertama masih terdapat partikel-partikel melayang sehingga harus dilakukan penyaringan 2 kali. Hasil penyaringan dua kali mengjasilkan larutan obat tetes mata yang jernih dan tidak ada partikel melayang. Menurut Farmakope Indonesia ed IV, Pada etiket tertera nama sediaan, untuk sediaan cair tertera presentase atau jumlah zat aktif dalam volume tertentu, untuk sediaan kering tertera jumlah zat aktif, cara pemberian, kondisi penyimpanan dan tanggal kadaluarsa; nama pabrik pembuat dan atau pengimpor serta nomor lot atau bets yang menunjukan identitas. Nomor lot dan atau bets dapat memberikan informasi tentang riwayat pembuatan lengkap meliputi seluruh proses pengolahan, sterilisasi, pengisian, pengemasan dan penandaan. Bila formula lengkap tidak tertera lengkap pada masing-masing monografi, Penandaan mencakup informasi berikut: untuk sediaan cair, presentasi isi atau jumlah tiap komponen dalam volume tertentu, kecuali bahan yang ditambahkan untuk penyesuaian pH atau untuk membuat larutan isotonic, dapat dinyatakan dengan nama dan efek bahan tersebut. Pemberian etiket pada wadah sedemikian rupa sehingga sebagian wadah tidak tertutup oleh etiket, untuk mempermudah pemeriksaan isi secara visual. Menurut Formularium Nasional untuk sedian OTM Neomisin pada etiket harus tertera tanggal Daluarsa Penandaan pada praktikum kali ini pada sediaan yang dibuat (etiket) mencantumkan merk sediaan, nomer registrasi, cara penyimpanan, nama dan logo produsen, nomer batch, expired date dan logo obat keras.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->