BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH

Undang Undang (UU) No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah merupakan langkah awal dimulainya kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah, yang merupakan sebuah pilihan perbaikan atas kelemahan sistem yang tersentralisasi selama pemerintahan orde baru. Di dalam praktiknya, kebijakan ini juga mengubah penyelenggaraan pemerintahan dari yang dahulunya bersifat terpusat/sentralisasi menjadi desentralisasi (kecuali beberapa urusan yang masih menjadi urusan pemerintah seperti politik luar negeri, pertahanan dan keamanan, peradilan, agama dan fiskal moneter) serta memberikan dampak perubahan yang signifikan terhadap penataan pemerintahan daerah di Indonesia. Revisi UU No. 22 Tahun 1999 menjadi UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, dan UU No. 25 Tahun 1999 menjadi UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, menunjukkan komitmen yang kuat dari pemerintah untuk terus memperkuat

kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah yang akhirnya bertujuan mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Dalam upaya mencapai tujuan tersebut dilakukan melalui 2 (dua) strategi utama, yaitu melalui upaya peningkatan pelayanan kepada masyarakat serta peningkatan pemberdayaan dan peran serta masyarakat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam rangka implementasi kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah, Peraturan Presiden No 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009, pada Bab 13 Bidang Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah telah mengamanatkan beberapa program yang harus dilaksanakan oleh pemerintah, yaitu (1) Program penataan peraturan perundang-undangan mengenai desentralisasi dan otonomi daerah; (2) program peningkatan kerja sama antarpemerintah daerah (pemda); (3) program peningkatan kapasitas kelembagaan pemda; (4) program peningkatan profesionalisme aparat pemda; (5) program peningkatan kapasitas keuangan pemda; serta (6) program penataan daerah otonom baru (DOB).

I.

Permasalahan yang Dihadapi

Implementasi kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah sampai dengan pertengahan tahun pelaksanaan RPJMN Tahun 2004– 2009 telah mengalami banyak kemajuan. Namun, di sisi lain masih menghadapi banyak permasalahan dan kendala terkait dengan aspek (1) penataan peraturan perundang-undangan mengenai desentralisasi dan otonomi daerah; (2) penataan kelembagaan pemda; (3) peningkatan kualitas (kapasitas dan kompetensi) aparatur pemda; (4) demokratisasi di tingkat lokal; (5) peningkatan kapasitas keuangan daerah; (6) peningkatan kerja sama antarpemda; (7) penataan DOB; serta (8) pembinaan, pengawasan, pemantauan, dan pengevaluasian penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah . Di dalam pelaksanaan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2007 bidang revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah, terkait dengan penataan peraturan perundang-undangan mengenai desentralisasi dan otonomi daerah, permasalahan utama yang 13 - 2

dihadapi adalah belum terselesaikannya sejumlah perangkat pendukung (regulasi) baik peraturan perundang-undangan maupun peraturan pelaksanaan teknis dari UU No. keuangan daerah. Beberapa peraturan perundang-undangan yang harus segera diselesaikan adalah (1) manajemen pegawai negeri sipil (PNS) daerah. Permasalahan dan kendala yang lain terkait dengan penataan perundang-undangan tersebut. kelembagaan. menghambat arus lalu lintas orang/barang. serta (5) tahapan dan tata cara penyusunan. antara lain. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. 13 . perwakilan. seperti (1) masih terjadi tumpang tindih ketentuan/aturan yang terkandung dalam UU No. mengakibatkan ekonomi biaya tinggi. penghapusan. adalah (1) perlunya penyelesaian dan penetapan landasan hukum terhadap konsep Grand Strategy Otonomi Daerah yang meliputi urusan pemerintahan. diskriminatif. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. dan pengevaluasian rencana pembangunan daerah.3 . pelayanan publik. (2) masih adanya perbedaan penafisiran dan interpretasi oleh daerah terhadap peraturan-perundang-undangan mengenai desentralisasi dan otonomi daerah. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dengan berbagai undang-undang sektoral. (3) belum memadainya mekanisme supervisi dan evaluasi terhadap peraturan-peraturan di tingkat daerah. serta tidak kondusif terhadap perkembangan dunia usaha. dan penggabungan daerah. (2) pelaksanaan kerja sama antardaerah. Beberapa permasalahan dan kendala yang perlu mendapat penanganan segera karena akan sangat mempengaruhi pelaksanaan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah ke depan. serta (2) belum diselesaikannya penyusunan Rencana Aksi Nasional (RAN) Desentralisasi sebagai penjabaran dari Grand Strategy tersebut. personil. (4) revisi pembentukan. pengendalian. (3) evaluasi penyelenggaraan Pemda. serta (4) masih banyaknya peraturan daerah yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi ataupun memberatkan kepentingan umum. dan pengawasan.

yaitu pendidikan dan kesehatan. antara lain. Hampir sebagian besar daerah belum dapat sepenuhnya menerapkan SPM untuk tiap-tiap sektor. pelayanan publik. serta (4) masih rendahnya kapasitas aparatur pemda dalam menjaga keberlanjutan investasi dan kesempatan kerja.4 . (3) belum mantapnya koordinasi antarorganisasi pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota. terkait dengan regulasi dan kebijakan pemerintah. standar.Permasalahan utama yang muncul pada aspek kelembagaan pemerintahan daerah terkait dengan belum efisiennya pelayanan umum disebabkan masih belum mantapnya pelaksanaan standar pelayanan minimal (SPM). Beberapa kendala dan permasalahan lain pada aspek kelembagaan adalah (1) masih besar dan saling tumpang tindihnya perangkat organisasi pemerintahan daerah. Permasalahan yang muncul pada aspek aparatur pemda adalah belum optimalnya kinerja/hasil kerja karena (1) belum adanya kebijakan rasio ideal jumlah aparatur dengan jumlah penduduk berdasarkan tipologi wilayah kabupaten/kota di Indonesia dan kompleksitas pekerjaan. serta mitigasi bencana dan penanganan pascabencana. (5) belum optimalnya praktik tata kepemerintahan yang baik (good governance) di tiap tingkatan pemerintahan. beberapa permasalahan dan kendala lainnya. dan prosedur pedoman perencanaan pengelolaan 13 . kependudukan. penanganan ketentraman dan ketertiban (tramtib). (2) belum lengkapnya sistem kerja/standar operasional prosedur (SOP) lembaga perangkat pemerintahan daerah di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. (4) belum terciptanya sistem koordinasi yang baik antara Pemda dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). (2) belum adanya pemisahan yang jelas antara jabatan negeri dan jabatan negara sehingga pola karier (career path) tidak terpetakan. adalah (1) belum tersusunnya norma. serta (6) sarana dan prasarana pemerintahan yang masih minim. khususnya untuk 2 (dua) sektor utama. Masih terkait dengan peningkatan kualitas aparatur pemda. Penyebabnya adalah banyak daerah yang belum mampu menyusun pencapaian SPM karena belum adanya pedoman rencana pencapaian SPM serta pedoman pengendalian pelaksanaannya untuk dijadikan Peraturan Daerah (Perda). perlindungan masyarakat (linmas). (3) belum dilakukannya penempatan aparatur pemda berdasarkan pada kompetensi.

(4) KPUD yang tidak transparan. (4) belum optimalnya pemantauan dan evaluasi formasi jabatan secara nasional. dan pedoman pengembangan karier PNS dalam jabatan struktural dan fungsional. serta (6) belum tersusunnya formula gaji yang layak dan formula tunjangan jabatan PNS berdasarkan tingkat kesulitan dan kelangkaan keahlian. (5) belum terstrukturnya pola karier PNS.5 . tidak independen. administratif. (2) meningkatnya keinginan beberapa daerah untuk melakukan pemekaran tanpa analisis komprehensif terhadap kelayakan teknis. politik dan potensi daerah. model pengembangan karier dan diklat PNS secara nasional. beberapa permasalahan dan kendala yang belum terselesaikan. dan sistem penghargaan PNS. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa permasalahan. Sebagai perwujudan demokrasi. dan prosedur pedoman sistem cuti. serta (4) belum tersedianya sarana dan prasarana kantor pemerintahan termasuk di antaranya kantor-kantor kecamatan sebagai ujung tombak pemberian pelayanan. antara lain. sistem asuransi. adalah (1) belum mantapnya peran Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD) di dalam proses pembentukan daerah dan pembangunan DOB. (2) persyaratan calon yang tidak lengkap atau tidak memenuhi persyaratan (ijazah palsu/tidak punya ijazah). pengurangan kesenjangan antarwilayah dan penyediaan pelayanan publik Terkait dengan penataan DOB. (3) belum berkembangnya budaya meneliti di bidang kepegawaian. dan memberlakukan pasangan calon adil dan setara. (5) adanya dugaan 13 .PNS. Terkait dengan kerja sama antardaerah beberapa permasalahan dan kendala yang belum terselesaikan. pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) langsung telah berjalan dengan tertib dan lancar meskipun di beberapa daerah masih terjadi berbagai protes dan ketidakpuasan para pendukung pasangan calon kepala daerah terhadap proses dan hasil Pilkada tersebut. yaitu (1) tidak akuratnya penetapan data pemilih. adalah belum optimalnya kerja sama antarpemda khususnya dalam penanganan kawasan perbatasan. (3) permasalahan internal partai politik dalam hal pengusulan pasangan calon. (2) belum tersusunnya norma. antara lain. (3) masih besarnya potensi timbulnya konflik antardaerah dalam hal sengketa aset daerah di daerah-daerah otonom baru. termasuk budaya menulis. standar.

adalah (1) konsistensi antara perencanaan dan penganggaran daerah belum sepenuhnya tercapai. serta (4) pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan daerah. Dalam upaya peningkatan kapasitas keuangan daerah. (2) pendapatan dan investasi daerah. (3) penganggaran yang masih cenderung bersifat incremental. (4) belum terlihat upaya yang signifikan dan terencana untuk mewujudkan anggaran yang berorientasi pada kinerja. dan (7) penghitungan suara yang dianggap tidak akurat. Pada aspek keuangan daerah persoalan utama yang muncul terkait dengan belum optimalnya pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Desentralisasi Fiskal (RANDF) serta masih lemahnya konsistensi antara perencanaan dan penganggaran daerah. (3) dana perimbangan. serta (7) belum optimalnya reformasi administrasi dan proses penganggaran di daerah. (2) penetapan perda mengenai pajak dan retribusi daerah masih banyak yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. antara lain. antara lain. (5) sebagian 13 . Pada aspek pendapatan dan investasi daerah. (3) pemanfaatan pinjaman daerah yang belum sesuai dengan kebutuhan. beberapa permasalahan dan kendala yang muncul. (4) peran pemerintah provinsi belum terlihat secara optimal dalam melakukan evaluasi APBD kabupaten/kota yang akan melakukan pinjaman. (2) masih terjadinya penyimpangan terhadap pelaksanaan belanja yang telah dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).terjadinya politik uang (money politics). Pada aspek administrasi anggaran daerah. (5) terbatasnya kemampuan daerah untuk membiayai seluruh urusan yang telah menjadi kewenangan daerah.6 . (6) pelanggaran kampanye. (6) masih didominasinya keuangan daerah untuk membiayai belanja aparatur. beberapa permasalahan dan kendala yang muncul. dan mengakibatkan ekonomi biaya tinggi. adalah (1) belum optimalnya pengelolaan pendapatan dan investasi kekayaan daerah sehingga ketergantungan keuangan daerah terhadap APBN masih tinggi. bertentangan dengan kepentingan umum. permasalahan yang muncul terkait dengan aspek (1) administrasi anggaran daerah. menghambat arus lalu lintas orang/barang.

besar daerah belum sepenuhnya memahami cara menerbitkan obligasi daerah. (4) belum optimalnya koordinasi pemantauan dan pengendalian terhadap penggunaan dana alokasi umum (DAU). pengawasan. dan pengevaluasian adalah belum adanya mekanisme 13 . (2) perencanaan dan penentuan pemanfaatan dana dekonsentrasi atau tugas pembantuan selama ini juga belum terkoordinasi dengan baik sehingga mengakibatkan tidak terpadunya kegiatan yang didanai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan APBD. Terkait dengan dana perimbangan. penatausahaan. (3) masih terdapat potensi konflik antara daerah induk dan daerah hasil pemekaran berkaitan dengan lokasi SDA sektor migas dan SDA lainnya. dan pengawasan. Selain itu.7 . serta (6) masih banyaknya permasalahan pelaksanaan Permendagri No. masih menghadapi berbagai permasalahan dan kendala. Terkait dengan pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan daerah. antara lain. seperti (1) belum dilibatkannya pemda dalam pengelolaan dana-dana dari kementerian/lembaga dekonsentrasi dan tugas pembantuan sehingga misi desentralisasi dan pemberdayaan pemda kurang optimal. 13 Tahun 2006 di daerah. (2) penyaluran dana bagi hasil (DBH) sumber daya alam (SDA) setiap triwulan masih sering mengalami keterlambatan. adalah (1) lemahnya peran gubernur selaku wakil pemerintah dalam menjalankan fungsi pembinaan dan pengawasan pengelolaan keuangan daerah serta (2) kualitas sumber daya manusia (SDM) aparatur di bidang pengelolaan keuangan daerah masih belum optimal sehingga tidak mampu mengantisipasi berbagai perubahan di bidang perencanaan. adalah (1) belum tersedianya sistem informasi pengelolaan keuangan daerah (SIPKD). Permasalahan dan kendala dalam pembinaan. serta (3) belum jelasnya aturan penggunaan dana dekonsentrasi sehingga masih sering digunakan untuk menangani urusan yang telah menjadi urusan pemda. beberapa permasalahan dan kendala yang muncul. pemantauan. beberapa permasalahan dan kendala yang muncul. antara lain. dalam hal pengelolaan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan. serta (5) alokasi dana alokasi khusus (DAK) yang belum sesuai dengan prioritas dan kebutuhan daerah.

Provinsi Papua. penghapusan dan penggabungan daerah.dan pelaksanaan pemantauan dan pengevaluasian penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah yang terpadu. maupun masyarakat. Langkah Kebijakan dan Hasil yang Dicapai Langkah Kebijakan Penyempurnaan kebijakan di bidang desentralisasi dan otonomi daerah telah mulai dilaksanakan. dan pengawasan. (3) menyelesaikan Grand Strategy Penataan Daerah yang meliputi pembentukan.8 . A. (4) memantapkan pelaksanaan kebijakan otonomi daerah yang berkarakter khusus dan istimewa. dan Provinsi Irian Jaya Barat. serta (3) dukungan terhadap upaya sosialisasi kebijakan desentralisasi secara sistematis. serta (5) melakukan supervisi dan evaluasi terhadap peraturan daerah bermasalah. 13 . untuk mendukung pelaksanaan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah. dan mengharmonisasikan antara rancangan peraturan perundangundangan turunan UU No. antara lain. 33 Tahun 2004. antara lain. termasuk peraturan perundang-undangan yang mengatur otonomi khusus di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Beberapa langkah kebijakan yang diambil. 32 Tahun 2004 dan UU No. personil. terutama terkait dengan upaya penataan perundang-undangan mengenai desentralisasi dan otonomi daerah. (2) menyelesaikan penjabaran masing-masing elemen Grand Strategy Otonomi Daerah menjadi RAN yang meliputi urusan pemerintahan. II. DPRD. serta penataan ibukota. 33 Tahun 2004. pengalihan status daerah pada aspek administratif dan politis. perwakilan. memantapkan. Selain itu. (2) menyelaraskan dan mengharmonisasikan peraturan perundang-undangan sektoral yang bertentangan dengan UU No. baik bagi jajaran aparatur (pusat dan daerah). keuangan daerah. penyesuaian batas daerah. adalah (1) menyelesaikan. adalah (1) menyelesaikan dan menetapkan dasar hukum Grand Strategy Otonomi Daerah sebagai kerangka besar pelaksanaan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah. 32 Tahun 2004 dan UU No. kelembagaan. beberapa langkah kebijakan yang diambil. pelayanan publik.

serta (4) meningkatkan kualitas pelayanan publik melalui pembangunan teknologi sistem informasi dan komunikasi (eservices). (2) mendorong terbentuknya kelembagaan pemda yang efektif dan efisien sesuai dengan prinsipprinsip tata kelola kepemerintahan yang baik (good governance). (2) melaksanakan pendidikan dan pelatihan dalam hal pelayanan publik. serta mitigasi bencana dan penanganan pascabencana. Dalam upaya meningkatkan sistem pengelolaan aparatur pemda yang efektif dan efisien dalam mendukung penciptaan kualitas aparatur pemda yang profesional. (3) meningkatkan peran gubernur dan pemerintah provinsi dalam menjalankan fungsi koordinasi. Selain itu. beberapa kebijakan yang diambil adalah (1) penyelesaian dan sosialisasi 13 . dan pelaksanaan penyelenggaraan prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik. langkah kebijakan yang diambil adalah (1) pengelolaan aparatur pemda yang sesuai dengan keahlian (career path). Dalam upaya meningkatkan kerja sama antardaerah. dapat mengantisipasi perubahan kondisi pada masa yang datang begitu cepat dan tuntutan masyarakat yang begitu kompleks. prinsip-prinsip organisasi modern. serta (3) penyediaan modul dan berbagai pedoman yang bertujuan membentuk kompetensi substansial dalam penyelenggaraan pemda. antara lain. beberapa langkah kebijakan yang diambil.Dalam upaya meningkatkan kapasitas kelembagaan pemerintahan daerah. berorientasi pelayanan publik. beberapa langkah kebijakan yang diambil adalah (1) mempercepat penyusunan rancangan pedoman pencegahan dan penangkalan gangguan ketentraman dan ketertiban di daerah termasuk pedoman penyidik PNS serta (2) memfasilitasi hal-hal yang berkenaan dengan tugas satuan polisi pamong praja (Satpol PP) dalam menyelenggarakan ketentraman dan ketertiban. mendukung peningkatan iklim berusaha dan investasi. dalam upaya menciptakan iklim yang kondusif dalam mendukung terwujudnya ketentraman dan ketertiban umum di seluruh daerah. pembinaan. pengawasan. adalah (1) pembenahan struktur kelembagaan pemda agar sesuai peraturan perundangan yang ada termasuk kelembagaan di daerah otonomi khusus dan istimewa. khususnya pada daerah hasil pemekaran dan daerah tertinggal dan perbatasan.9 .

(4) peningkatan peran gubernur sebagai wakil pemerintah pusat di daerah dalam mengoordinasikan pelaksanaan tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan antar kabupaten/kota. serta peningkatan pelayanan umum pemerintahan. adalah melakukan evaluasi kebijakan pembentukan daerah DOB dengan memerhatikan pertimbangan kelayakan teknis. administratif. antara lain. beberapa kebijakan yang telah diambil. upaya memperbaiki dan meningkatkan sarana dan prasarana pemerintahan juga merupakan langkah kebijakan yang diambil pemerintah. 32 Tahun 2004 dan PP No. serta (4) memperbaiki mekanisme koordinasi perencanaan.10 . penanganan disparitas antarwilayah. Dalam upaya meningkatkan kapasitas keuangan pemerintah daerah. langkah kebijakan yang diambil pemerintah adalah (1) memfasilitasi proses Pilkada berdasarkan UU No. Kebijakan yang diambil dalam upaya penataan DOB. (2) melaksanakan pengelolaan keuangan pemda secara profesional. (3) optimalisasi jaringan kerja sama antarpemda dan kemitraan dengan pihak swasta dan masyarakat. Pengesahan. dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah serta (2) melakukan evaluasi terhadap kebijakan Pilkada tahun sebelumnya untuk mendukung keamanan. Di samping itu. 25 Tahun 2007 tentang Pemilihan. dan potensi daerah dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat. (2) fasilitasi forum-forum kerja sama antardaerah dalam hal penyediaan pelayanan publik dasar. dan kelancaran pelaksanaan Pilkada tahun ini dan tahun berikutnya. transparan. politis.regulasi dan kebijakan mengenai kerja sama antardaerah. serta (5) meningkatkan kerja sama antara pemda pada bidang ekonomi dan hukum di wilayah perbatasan antarnegara. Pengangkatan. ketertiban. Dalam upaya mewujudkan demokratisasi lokal. (3) memantapkan pelaksanaan perimbangan keuangan pusat dan daerah yang menganut prinsip money follows function. adalah (1) mengoptimalkan pelaksanaan RANDF. 13 . antara lain. pelaksanaan kegiatan dekonsentrasi dan tugas pembantuan melalui gubernur provinsi sebagai kepala wilayah. dan akuntabel. peningkatan iklim usaha dan investasi. penanganan kawasan perbatasan. tertib.

beberapa langkah kebijakan yang diambil adalah (1) menyelesaikan penyempurnaan berbagai peraturan perundang-undangan dalam mendukung penyusunan standar analisis belanja (SAB). seperti melalui penerbitan obligasi daerah dan meningkatkan kerja sama dengan pihak ketiga serta (2) memfasilitasi dan memberikan pedoman kepada pemda agar dalam menggunakan dana yang bersumber dari pinjaman dapat tepat sasaran dan diprioritaskan untuk kegiatan yang dapat meningkatkan perekonomian daerah. beberapa langkah kebijakan yang diambil adalah (1) mendorong Pemda agar mampu menciptakan sumber-sumber pendapatan asli daerah (PAD) baru di luar pajak dan retribusi daerah.Selain itu. serta (3) mempercepat persetujuan terhadap Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) APBD. dalam upaya mengatasi permasalahan dalam bidang administrasi anggaran daerah. Dalam bidang pendapatan dan investasi daerah. beberapa langkah kebijakan yang diambil adalah (1) meningkatkan koordinasi dalam mekanisme penetapan dasar penghitungan DBH SDA. serta (9) terus mengupayakan pengalihan Dana Dekonsentrasi dan Tugas 13 . (6) mengupayakan penyusunan petunjuk teknis penggunaan DAK yang sejalan dengan kebutuhan daerah. (2) menyusun pedoman penyusunan APBD lebih awal. (5) menyusun dukungan materi penetapan batas wilayah untuk menghindari konflik antara daerah induk dan daerah hasil pemekaran berkaitan dengan lokasi SDA sektor migas maupun SDA lainnya. (3) mengoptimalkan peran DPOD dalam memberikan saran dan pertimbangan kepada presiden sebagai bahan pemerintah dan DPRRI dalam rangka pembahasan kebijakan alokasi dana perimbangan dalam RAPBN 2008.11 . (8) meningkatkan supervisi kepada daerah dalam rangka penyusunan perencanaan dan penganggaran DAK. (7) menyosialisasikan kepada daerah mengenai pentingnya penyampaian laporan pelaksanaan kegiatan DAK dengan tertib. Dalam bidang dana perimbangan. (2) meningkatkan koordinasi berkaitan dengan penyaluran DBH SDA setiap triwulan sehingga resiko keterlambatan dapat diminimalisir. (4) meningkatkan koordinasi dalam rangka penyusunan pedoman yang memberikan arahan prioritas pemanfaatan penggunaan DBH Pajak dan SDA.

pemantauan dan pengevaluasian penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. laporan aliran kas. (2) sinkronisasi berbagai peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pembinaan. B. 13 . beberapa langkah kebijakan yang diambil adalah (1) memberikan fasilitasi asistensi dan bimbingan kepada daerah sehingga dapat menyusun laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD terutama yang menyangkut realisasi anggaran.12 . pengawasan. neraca. dan sebagainya. dan catatan atas laporan keuangan. (5) meningkatkan kualitas SDM di bidang pengelolaan keuangan daerah melalui pendidikan formal maupun pendidikan nonformal berupa bimbingan teknis. Hasil yang Dicapai Pencapaian dalam penataan peraturan perundangan yang terkait dengan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah adalah penyelesaian seluruh peraturan pelaksana Undang-Undang No. langkah kebijakan yang diambil adalah (1) mempercepat lahirnya peraturan perundang-undangan dan peraturan pelaksana terkait dengan pemantauan dan pengevaluasian penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. serta (3) membuat panduan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah bagi kepala daerah dan pengambil kebijakan penting lainnya di daerah. sosialisasi. dan pengembangan SIPKD. Dalam bidang pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan daerah. (4) meningkatkan kemampuan pejabat penatausahaan di seluruh satuan kerja perangkat daerah (SKPD) baik provinsi maupun kabupaten/kota serta kecamatan.Pembantuan yang digunakan untuk mendanai kegiatan yang sudah menjadi urusan daerah ke DAK. melalui bimbingan teknis. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No. (3) meningkatkan kemampuan para pejabat pengelola keuangan daerah di bidang penyusunan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. asistensi. (2) memberikan dukungan materi terhadap penyusunan perangkat hukum mengenai penguatan posisi gubernur selaku wakil pemerintah. serta (6) mendorong Pemda untuk melakukan rekrutmen tenaga pengelolaan keuangan daerah Terkait dengan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah.

PP No. serta (4) 1 Rancangan Perpres sudah disampaikan ke Sekretaris Kabinet untuk difinalisasi.13 . dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. dan PP No. (2) 7 Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) yang sedang dalam proses harmonisasi dan akan segera diajukan ke Sekretaris Negara. 32 Tahun 2004 yang telah diterbitkan. dan 2 Permendagri. 1 Perpres. 21 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas PP No. 25 Tahun 2007 tentang Perubahan 13 . Pemerintahan Daerah Provinsi. Dari 6 PP yang diamanatkan oleh UU No. (3) 5 RPP yang sedang dalam proses finalisasi di tingkat Departemen. 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah. PP No. 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah (SIKD). 2 Peraturan Presiden (Perpres). Dari 15 PP sebagai pelaksanaan dari UU No. dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemda kepada masyarakat. yaitu PP No. 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. 33 Tahun 2004. yaitu PP No. 57 Tahun 2005 tentang Hibah kepada Daerah. yaitu PP No. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah . PP No.33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. pada tahun 2007 juga telah diterbitkan 2 PP sebagai penyempurnaan dari peraturan pelaksanaan UU No. dan 2 Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) yang diamanatkan oleh UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 32 Tahun 2004. (2) terdapat 1 buah draf PP yang telah disampaikan ke Departemen Hukum dan HAM dan dalam tahap finalisasi. perkembangan penyusunan peraturan pelaksana hingga saat ini adalah (1) telah diterbitkan sebanyak 15 PP. Di samping itu. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. perkembangan penyusunan peraturan pelaksana hingga saat ini adalah (1) telah diterbitkan 5 PP. PP No. Dari 27 Peraturan Pemerintah (PP). 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. serta (3) 1 draf RPP yang sedang dalam tahap pembahasan. Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD. 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD serta PP No. 3 Tahun 2007 tentang Laporan Penyelenggaraan Pemda kepada Pemerintah. dan PP No. tiga di antaranya diterbitkan pada tahun 2007.

Nias. 6 Tahun 2005 tentang Pemilihan. (3) telah difinalisasi RPP tentang Dana Dekonsentrasi. Pengangkatan. berdasarkan catatan rapat Paripurna pengesahan RUU Revisi UU No. dan Sumatera Utara. (2) 2 RPP dan 1 Rancangan Perpres yang draf finalnya sedang dikonsultasikan kepada Pemda Provinsi NAD untuk memperoleh pertimbangan Gubernur NAD. (2) berkaitan dengan pemantapan pelaksanaan otonomi khusus di Provinsi Papua. 34 Tahun 1999 dalam Rapat Pembicaraan Tingkat II DPR RI. serta (4) telah dibatalkan sekitar 600 perda dari 6. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. dari 5 PP dan 3 Perpres yang diamanatkan perkembangan penyusunannya sampai dengan semester I tahun 2007. 31 Tahun 1999 yang dilaksanakan pada minggu ketiga bulan Juli 2007. serta (3) 2 RPP dari 2 Rancangan Perpres sedang dalam proses finalisasi di tingkat interdep.Kedua atas PP No. dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.000 perda sampai akhir tahun 2006 yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.14 . yaitu PP No. saat ini sedang dilaksanakan evaluasi otonomi khusus secara komprehensif dengan melibatkan kalangan perguruan tinggi. pencapaiannya adalah (1) telah diterbitkannya 1 PP. Pengesahan. beberapa pencapaian pada tahun 2007 antara lain (1) sedang disusunnya perbaikan SPM sektoral bidang kesehatan dan pendidikan yang disesuaikan dengan PP No. 13 . Masih terkait dengan penataan perundang-undangan. pencapaian lain pada tahun 2007 adalah (1) berkaitan dengan kedudukan Jakarta sebagai daerah otonom dan sekaligus sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia. Dalam rangka pemantapan implementasi otonomi khusus di Provinsi NAD berdasarkan UU No. telah disetujui Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Negara Republik Indonesia Jakarta sebagai revisi UU No. 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan SPM serta (2) terselesaikannya beberapa bangunan kantor pemerintahan di Provinsi NAD sebagai bagian dari proses rehabilitasi dan rekonstruksi kehidupan dan wilayah NAD. Dalam upaya meningkatkan kapasitas kelembagaan pemda. 20 Tahun 2007 tentang Partai Politik Lokal di Aceh.

Bupati Bekasi. seperti Gladi Manajemen Pemerintahan Daerah. kesepakatan kerja sama antara Kabupaten dan Kota Surakarta. dan Riau) dalam rangka 13 . kabupaten dan kota. Maros dan Sungguminasa. Cilacap. (2) peningkatan koordinasi dan kerja sama antar lembaga diklat pada pemerintah provinsi.Pada aspek aparatur Pemerintah Daerah. beberapa pencapaian tahun 2007. Walikota Tangerang. dan kota. kesepakatan kerja sama antara Banjarnegara. dan Diklat Manajemen SPM. Wonogiri. Sragen. kabupaten. Gubernur Jawa Barat. Karanganyar. Sukoharjo. Walikota Depok. peningkatan kualitas penyelenggaraan. perbaikan mekanisme dan prosedur kerja. dan lembaga donor dalam dan luar negeri. dan penyelenggara diklat. (2) telah difasilitasi dan dilakukan kerja sama antardaerah dengan kesepakatan kerja sama antara Gubernur Provinsi DKI Jakarta. Diklat Kepemimpinan Pemerintahan Daerah. (3) peningkatan kapasitas personil lembaga diklat pada pemerintah provinsi. Banyumas. Walikota Bogor. kesepakatan kerja sama antarkabupaten dan kota Yogyakarta. (5) peningkatan jaringan kerja diklat dengan dengan perguruan tinggi. serta (3) telah difasilitasi dan dilakukan penandatanganan kesepakatan bersama kerja sama oleh 5 gubernur yang berbatasan di wilayah Sumatera (Sumatera Utara.15 . serta (7) melaksanakan berbagai diklat unggulan/prioritas dan diklat teknisfungsional. Bengkulu. adalah (1) bertambahnya kelengkapan data dalam penyusunan pangkalan data (database) kerja sama antardaerah. (4) peningkatan sarana dan fasilitas penyelenggaraan diklat. Jambi. dan Klaten (Subosukawonostraten). beberapa pencapaian pada tahun 2007 adalah (1) penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan (diklat) yang mendukung penyelenggaraan pemerintahan daerah. peningkatan kapabilitas pengajar. dan Kebumen (Barlingmascakeb). Sumatera Barat. Boyolali. Gianyar. Bupati Bogor. asosiasi profesi. standar dan manual yang relevan dengan tugas di bidang kediklatan. Dalam upaya meningkatkan kerja sama antarPemerintah Daerah. dan Tabanan (Sarbagita). Kabupaten dan Kota Denpasar. antara lain. dan Bantul (Karmantul). Bupati Tangerang. Gubernur Banten. Sleman. Kerja sama antara Kabupaten dan Kota Makasar. Purbalingga. (6) peningkatan standar penyelenggaraan diklat melalui penyediaan pedoman. Walikota Bekasi dan Bupati Cianjur (Jabodetabekjur).

129 kabupaten. Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dan Kota Mobagu (Provinsi Sulawesi Utara). Kota Serang di Provinsi Banten. Kabupaten Batubara (Provinsi Sumatera Utara). Kabupaten Gorontalo Utara (Provinsi Gorontalo). Disamping itu. Sebagai pelaksanaan dari UU tentang Pembentukan DOB yang diterbitkan tahun 2007 telah diresmikan dan dilantik pejabat bupati/walikota di 9 provinsi. dan aula dinas kecamatan. Untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan DOB telah dilaksanakan pembangunan sarana dan prasarana kecamatan di 65 daerah kabupaten/ kota hasil pemekaran. Kabupaten Nagekeo. Kabupaten Kayong Utara (Provinsi Kalimantan Barat). Berkaitan dengan kebijakan tentang penataan DOB. Kabupaten Minahasa Tenggara. yaitu Kabupaten Padang Lawas dan Kabupaten Padang Lawas Utara di Provinsi Sumatera Utara. Kabupaten Kubu Raya di Provinsi Kalimantan Barat.16 . yang meliputi fasilitas kantor. pengembangan jaringan ekonom regional. Kabupaten Sumba Barat Daya dan Kabupaten Sumba Tengah (Provinsi NTT). yaitu Kabupaten Empat Lawang (Provinsi Sumatera Selatan). 13 . Kabupaten Pidie Jaya dan Kota Subulussalam (Provinsi NAD). Kabupaten Manggarai Timur di Provinsi NTT.peningkatan pendayagunaan potensi perekonomian. dan pengembangan daerah perbatasan. hingga tahun 2007 telah terbentuk 165 DOB yang terdiri atas 7 provinsi. serta Kabupaten Pesawaran di Provinsi Lampung. Kabupaten Bandung Barat (Jawa Barat). saat ini penataan yang lebih komprehensif. Meskipun pemerintah telah memiliki komitmen untuk menunda pembentukan DOB dan melakukan evaluasi pemekaran daerah dan pembentukan DOB. Kabupaten Siau Tagolandang Biaro. baik yang merupakan inisiatif pemerintah maupun insiatif DPR. pencapaian lainnya pada tahun 2007 adalah telah disetujui 8 RUU tentang Pembentukan DOB. Kota Tual di Provinsi Maluku. Kabupaten Tana Tidung di Provinsi Kalimantan Timur. khususnya terkait dengan instrumen tata cara pembentukan. rumah dinas camat. Kabupaten Konawe Utara dan Kabupaten Buton Utara (Provinsi Sulawesi Tenggara). sedangkan Kabupaten Mamberamo Raya (Provinsi Papua) direncanakan pelaksanakan peresmian serta pelantikan penjabat bupati paling lambat 15 September 2007. dan 29 kota. penghapusan dan penggabungan daerah telah berada pada tahap finalisasi.

serta (4) bidang fasilitasi pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan daerah. 24 Tahun 2004 Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPR. 16 Tahun 2007 tentang Tatacara Evaluasi Raperda tentang APBD dan Rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran APBD. serta (6) Surat Edaran (SE) Mendagri No. (3) Permendagri No. (4) Permendagri No. yang meliputi 1 pemilihan gubernur dan wakil gubernur. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. bulan Juni 2005 sampai dengan Juli 2007 telah dilaksanakan 303 Pilkada dan wakil kepala daerah. 903/2429/SJ Tahun 2005 perihal Pedoman Umum Penyusunan APBD Tahun 2006 dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2005. (3) bidang fasilitasi dana perimbangan. (7) Permendagri No. (2) PP No. (2) bidang administrasi pendapatan dan investasi daerah. 13 . yang meliputi 15 pemilihan gubernur dan wakil gubernur. 37 Tahun 2006 tentang Perubahan Kedua Atas PP No. dan 46 pemilihan walikota dan wakil walikota.Dalam rangka peningkatan demokratisasi lokal. Dengan demikian. 21 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas PP No. 8 pemilihan bupati dan wakil bupati. Selanjutnya pada tahun 2008 akan direncanakan pelaksanakan Pilkada di 139 daerah yang terdiri dari 13 gubernur/ wakil gubernur. Dalam upaya meningkatkan kapasitas keuangan daerah. Terkait dengan administrasi anggaran daerah. adalah (1) PP No. dan 32 walikota/ wakil walikota. 242 pemilihan bupati dan wakil bupati. antara lain. 94 bupati/ wakil bupati. pada tahun 2007 telah dilaksanakan 12 Pilkada dan wakil kepala daerah. 24 Tahun 2004 Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD. dan 3 pemilihan walikota dan wakil walikota dari 37 rencana pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. (5) Permendagri No. 26 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyusunan APBD tahun anggaran 2007. beberapa pencapaian tahun 2007 adalah lahirnya berbagai peraturan perundang-undangan penting terkait dengan peningkatan kapasitas keuangan daerah. 30 Tahun 2007 tentang Pedoman Penyusunan APBD Tahun Anggaran 2008. beberapa pencapaian utama pada tahun 2007 dapat diklasifikasikan dalam (1) bidang administrasi anggaran daerah.17 .

(8) Evaluasi Perda tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD. serta (9) Penyusunan Kerangka Dasar Pengembangan Sistem Basis Data dan Sistem komunikasi Keuangan Daerah. (6) Fasilitasi Implementasi Media Inkubator Kapasitas Pengelolaan Keuangan Daerah. (3) deseminasi Permendagri tentang Pedoman Standarisasi Sarana dan Prasarana Kerja Pemda. (5) juknis DAK bidang prasarana pemerintahan. serta (10) pembinaan dan fasilitasi dana perimbangan. beberapa pencapaian tahun 2007 adalah lahirnya berbagai peraturan perundang-undangan terkait dengan (1) Permendagri No. (7) fasilitasi pengelolaan dana bagi hasil. (5) pembinaan dan fasilitasi Administrasi Pendapatan dan Investasi Daerah. (2) rekonsiliasi data dasar DAU dan DAK daerah pemekaran tahun 2007. (2) pembinaan dalam rangka Koordinasi Fasilitasi Administrasi Pajak dan Retribusi Daerah. (5) Pedoman Evaluasi Raperda tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD. (4) dukungan Materi Penyusunan Pedoman Investasi Daerah. (4) Pedoman Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD.18 . beberapa pencapaian pada tahun 2007 antara lain. (2) Pedoman Pelaksanaan Penatausahaan Keuangan Daerah. antara lain adalah telah tersusunnya (1) Pedoman Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah. (6) petunjuk teknis (juknis) tentang Pinjaman Daerah dan Obligasi Daerah.Terkait dengan pendapatan dan investasi daerah. Terkait dengan fasilitasi pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan daerah. (9) evaluasi kebijakan pengelolaan dana otonomi khusus. 7 Tahun 2006 tentang Standardisasi Sarana dan Prasarana Kerja Pemerintahan Daerah. adalah (1) konfirmasi data daerah dalam Penghitungan DAU tahun 2007. 13 . serta (7) kajian tentang Model Inkubator Investasi Daerah. (6) pemantauan dan pengevaluasian pengelolaan DAK tahun 2006. (7) Asistensi Penyusunan Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD. (3) Asistensi Penatausahaan dan Akuntasi Keuangan Pemda. (8) pemantauan dan pengevaluasian pengelolaan penerimaan DBH SDA dan Pajak. (4) sosialisasi Juknis DAK. (3) pemantauan dan pengevaluasian pengelolaan DAU dan program dekonsentrasi 2006. Terkait dengan fasilitasi dana perimbangan. beberapa pencapaian tahun 2007.

provinsi. dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada masyarakat. Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. seperti Provinsi NAD. kabupaten/kota) sesuai dengan PP No. beberapa tindak lanjut yang diperlukan. (3) telah difinalkannya Rancangan Peraturan Presiden tentang Kerangka Nasional Pengembangan dan Peningkatan Kapasitas dalam rangka Mendukung Desentralisasi dan Pemerintahan Daerah. 3 Tahun 2007 tentang Tata Cara Penyusunan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. III. (3) terus melakukan harmonisasi dan sinkronisasi berbagai peraturan perundang-undangan sektoral dengan peraturan perundang-undangan mengenai desentralisasi dan otonomi daerah. beberapa tindak lanjut yang diperlukan antara lain sebagai berikut.19 .Terkait dengan pembinaan. Pemerintahan Daerah Provinsi. dan daerah istimewa. adalah (1) mempercepat lahirnya berbagai PP sebagai peraturan pelaksana dari UU No. dan pengembangan kapasitas pemerintahan dan pembangunan daerah. 32 Tahun 2004 dan UU No. Terkait dengan upaya penataan perundang-undangan mengenai desentralisasi dan otonomi daerah. antara lain. pengevaluasian. adalah (1) telah diterbitkannya PP No. (2) telah difinalkanya RPP tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah untuk segera diterbikan menjadi PP. serta (4) telah disusunnya Buku Panduan (Handbook) Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah Tahun 2007. pengawasan. (4) memperkuat kebijakan dan regulasi di daerah-daerah berkarakter khusus. tugas dan tanggung jawab antartingkat pemerintahan (pusat. Provinsi Irian Jaya Barat. dalam upaya mempercepat revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah. antara lain. Provinsi Papua. 33 Tahun 2004. beberapa pencapaian pada tahun 2007. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. seperti Provinsi DKI Jakarta. (2) memastikan jelasnya kewenangan. dan 13 . Tindak Lanjut yang Diperlukan Berdasarkan permasalahan dan beberapa pencapaian diatas.

13 . adalah (1) menyusun pedoman rencana pencapaian SPM bidang pendidikan dan kesehatan berdasarkan analisis dan kemampuan daerah. penerapan. beberapa tindak lanjut yang diperlukan. (4) meningkatkan peran dan fungsi DPOD dalam upaya meningkatkan kemampuan daerah dalam memenuhi Penerapan SPM. hierarki yang pendek. pengevaluasian. antara lain adalah (1) melakukan penataan kelembagaan daerah sesuai dengan PP No. berdasarkan kebutuhan nyata daerah.20 . 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah yang merupakan revisi PP No. beberapa tindak lanjut yang perlu dilakukan adalah (1) terus menyosialisasikan konsep Grand Strategy Otonomi Daerah sebagai kerangka besar pelaksanaan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah. serta (5) memfasilitasi penyusunan SPM untuk dijadikan Perda. 8 Tahun 2003 tentang Organisasi Perangkat Daerah. pengawasan. termasuk di daerah otonomi khusus dan daerah berkarakter khusus/istimewa. Selanjutnya dalam upaya mempercepat tercapainya tujuan dari pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah tersebut. dan penyelenggaraan SPM Pemerintah Propinsi dan kabupaten/kota. ramping. bersifat jejaring. beberapa tindak lanjut yang diperlukan. antara lain. pemantauan. (2) mengembangkan modul pelatihan dan instrumen untuk pelatihan penyusunan dan penerapan SPM di tingkat Pemerintah dan pemda. fleksibel. (2) memantapkan pelaksanaan prinsipprinsip organisasi modern (proporsional. (2) menyelesaikan dan melaksanakan RAN yang merupakan penjabaran masing-masing elemen di dalam Grand Strategy tersebut. yang berorientasi pada pelayanan masyarakat. dan adaptif). Terkait dengan pencapaian SPM. Dalam upaya meningkatkan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah.Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). serta (3) memperkuat kebijakan otonomi daerah di bidang pembangunan daerah melalui penguatan partisipasi masyarakat dalam penyusunan rencana pembangunan daerah. (3) melakukan pembinaan. (5) menyiapkan UU di bidang pemerintahan umum termasuk memfasilitasi penyusunan peraturan perundang-undangan di bidang pemerintahan umum. serta (6) mendorong Pemda untuk melaporkan perda-perda yang menyangkut pajak dan retribusi daerah kepada Pemerintah agar dapat dievaluasi sesuai ketentuan peraturan yang berlaku.

(6) keterkaitan yang dijalin atas dasar saling membutuhkan. (3) analisis kependudukan. adalah (1) meningkatkan etika kepemimpinan kepala daerah dan DPRD sebagai langkah awal bagi peningkatan kompetensi aparatur pemerintah yang dipimpinnya. (3) partisipatif. ketertiban. sinergis. (2) penanganan bencana dan pengurangan resiko bencana. (6) penanganan kententraman. (4) perencanaan kesempatan kerja. (5) berorientasi kepentingan umum. Masih terkait dengan peningkatan profesionalisme aparatur pemda. serta (3) mengoptimalkan pelaksanaan penyelengaraan pemerintahan daerah di lokasi pascabencana. khususnya di wilayah Aceh. Pemda harus segera melakukan berbagai usaha peningkatan profesionalitas dan kompetensi aparaturnya guna memenuhi tuntutan kebijakan tersebut. (5) penyusunan strategi investasi. dan DIY melalui perbaikan sarana dan prasana pemerintahan daerah. dan perlindungan masyarakat. beberapa tindak lanjut yang perlu dilakukan. serta (3) memperbaiki distribusi PNS dalam mendukung otonomi daerah Untuk mengoptimalkan potensi dan meningkatkan pelayanan publik. Nias. pelatihan dan upaya peningkatan kapasitas lainnya (capacity building) diarahkan pada hal-hal berikut: (1) peningkatan kualitas pelayanan publik. (8) kepastian hukum. Peningkatan kualitas aparatur pemda akan tetap menjadi kebijakan penting dalam keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan di daerah. (2) akuntabilitas. dan saling menguntungkan terutama dalam bidang-bidang yang menyangkut kepentingan lintas wilayah. serta (7) penyelenggaraan pemerintahan daerah. antara lain. (4) saling menguntungkan dan memajukan. (7) keberadaan yang saling memperkuat. (2) menata kembali sumber daya manusia aparatur sesuai dengan kebutuhan akan jumlah dan kompetensi. 13 . Kerja sama antardaerah dilakukan sejalan dan konsisten dengan prinsipprinsip: (1) transparansi. dan (9) tertib penyelenggaraan pemda.serta perubahan jumlah penduduk dan pembangunan daerah. Dalam upaya meningkatkan kompetensi dan kapasitas aparatur pemda tersebut. Pemda diharapkan dapat bekerja sama dan mengeluarkan inovasi-inovasi yang didasarkan pada pertimbangan efisiensi dan efektivitas.21 . pendidikan.

Upaya untuk melakukan reformasi dan mengorientasikan kembali arah kebijakan dan tujuan pemanfaatan sumber daya keuangan di daerah terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan dilakukan agar pelaksanaan otonomi daerah dapat menciptakan hasil pembangunan yang nyata dan dapat dirasakan oleh semua masyarakat. Dalam rangka meminimalisasi konflik yang berkembang di masyarakat. (2) meningkatkan sosialisasi. antara lain. adalah (1) penguatan regulasi melalui lahirnya PP mengenai kerja sama antardaerah dan pedoman kemitraan dengan pihak ketiga. (3) penyelesaian penataan batas wilayah di DOB. (2) meningkatkan kapasitas keuangan pemda dengan mengarahkan penggunaan dana perimbangan terutama DAK untuk menggali sumber-sumber potensi 13 . adalah (1) menyukseskan RANDF di tingkat pusat dan daerah. dan lancar. serta (4) pengevaluasian penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan DOB. serta (3) melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pilkada langsung tahun sebelumnya. serta (3) fasilitasi kerja sama pembangunan regional dan antardaerah melalui penguatan peran gubernur dalam rangka pembinaan kerja sama wilayah. beberapa tindak lanjut yang diperlukan. guna meningkatkan kemampuan daerah dalam mengatasi keterbatasan-keterbatasan yang dimilikinya. tindak lanjut yang perlu dilakukan adalah (1) menyempurnakan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pilkada langsung. (2) penyiapan dukungan pembangunan sarana dan prasarana pemerintahan kecamatan di DOB.22 . adalah (1) penyiapan kebijakan dan peraturan di batas wilayah dan penyelesaian konflik antardaerah. (2) diseminasi modelmodel kerja sama antardaerah yang efektif. antara lain. dan pemantauan penyelenggaraan pilkada di daerahdaerah. pemerintah mendukung pilkada langsung yang aman.Dalam upaya meningkatkan kerja sama antarpemda. Dalam mendukung usaha tersebut. Untuk mengefektifkan dan mengefisienkan anggaran pelaksanaan pilkada. beberapa tindak lanjut yang diperlukan. tertib. tindak lanjut yang diperlukan. Peningkatan kapasitas keuangan daerah menjadi isu penting yang masih harus diperbaiki secara komprehensif dan berkelanjutan. Dalam upaya meningkatkan kinerja DOB. antara lain. fasilitasi.

(3) mendorong penyaluran dana DBH SDA dapat dilakukan secara tepat waktu. antara lain. (4) meningkatkan koordinasi pemantauan dan pengendalian penggunaan DAU. adalah (1) mempercepat penyelesaian pedoman penyusunan APBD tahun 2008 serta (2) memberikan asistensi dan sosialisasi agar dapat menyusun APBD secara benar dan tepat waktu. Selain itu. serta 13 . (2) mendorong Pemda untuk menggunakan dana pinjaman dan obligasi daerah untuk kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan perekonomian daerah. (3) meningkatkan kapabilitas dan kapasitas Pemda dalam menerbitkan obligasi daerah. (2) memperbaiki mekanisme penetapan DBH SDA. (6) mendorong pemda untuk mengirimkan laporan pelaksanaan kegiatan DAK dengan tertib. beberapa tindak lanjut yang diperlukan. 34 Tahun 2000. terus diupayakan langkah-langkah pengalihan bagian anggaran kementerian negara/lembaga yang selama ini di daerah sering dipersepsikan sebagai dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan.23 . Pada aspek pendapatan dan investasi daerah.daerah di dalam mengarahkan perekonomian dan menciptakan kondisi kondusif bagi dunia usaha. antara lain. beberapa tindak lanjut yang diperlukan. antara lain. adalah (1) meminimalisasi upayaupaya Pemda untuk melakukan pungutan-pungutan baik berupa perda pajak. adalah (1) mendorong agar DPOD dapat berperan lebih optimal dalam memberikan pertimbangan kepada Presiden untuk penetapan alokasi dana perimbangan. Pada aspek fasilitasi dana perimbangan. serta (4) meningkatkan peran provinsi dalam melakukan evaluasi terhadap pinjaman yang dilakukan oleh daerah kabupaten/ kota. terutama dana-dana yang digunakan untuk menangani urusan yang telah menjadi kewenangan pemda ke dalam DAK. Secara spesifik. (5) memfasilitasi pemda agar alokasi DAK sesuai dengan prioritas dan kebutuhan daerah. serta (3) melaksanakan implementasi SIPKD dan SIKD. retribusi daerah atau pungutan lainnya diluar yang ditetapkan dalam UU No. beberapa tindak lanjut yang diperlukan pada bidang administrasi anggaran daerah.

(2) mempercepat lahirnya kerangka kerja nasional dalam pembangunan kapasitas untuk mendukung desentralisasi. Pada aspek pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan daerah. serta (5) memantau dan mengevaluasi kegiatan bidang desentralisasi dan otonomi daerah yang berbantuan luar negeri.(7) mendorong pemda agar dapat meningkatkan daya serap dana dan realisasi capaian fisik pelaksanaan DAK. tindak lanjut yang dilakukan.24 . (3) meningkatkan pembinaan dan pengawasan kepada Pemda dalam hubungan kerja dengan DPRD untuk melaksanakan kemitraan. adalah (1) mempercepat penyelesaian penyempurnaan peraturan perundangundangan yang terkait dengan penyusunan laporan pertanggungjawaban dan evaluasi Raperda pertanggungjawaban pelaksanaan APBD serta (2) meningkatkan kapasitas aparatur pada SKPD dalam penatausahaan keuangan daerah. 13 . adalah (1) memastikan lahirnya PP mengenai pedoman evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah termasuk pedoman teknis pelaksanaannya. (4) melanjutkan penyusunan panduan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. antara lain. dan lembaga non pemerintah sesuai dengan peran dan fungsinya. antara lain. beberapa tindak lanjut yang diperlukan. Dalam rangka pemantauan dan pengevaluasian pelaksanaan desentralisasi dan penyelenggaraan otonomi daerah. masyarakat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful