BAB I PENDAHULUAN

Perkawinan merupakan suatu ikatan yang sangat dalam dan kuat sebagai penghubung antara seorang pria dengan seorang wanita dalam membentuk suatu keluarga atau rumah tangga. Dalam membentuk suatu keluarga tentunya memerlukan suatu komitmen yang kuat diantara pasangan tersebut. Sehingga dalam hal ini Undang-undang Perkawinan No.1 tahun 1974 pada pasal 2 ayat 1 menyatakan bahwa suatu perkawinan dapat dinyatakan sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaan pasangan yang melakukan pernikahan. Landasan hukum agama dalam melaksanakan sebuah perkawinan merupakan hal yang sangat penting dalam UU No. 1 Tahun 1974, sehingga penentuan boleh tidaknya perkawinan tergantung pada ketentuan agama. Hal ini berarti juga bahwa hukum agama menyatakan perkawinan tidak boleh, maka tidak boleh pula menurut hukum negara. Jadi dalam perkawinan berbeda agama yang menjadi boleh tidaknya tergantung pada ketentuan agama. Perkawinan beda agama bagi masing-masing pihak menyangkut akidah dan hukum yang sangat penting bagi seseorang. Hal ini berarti menyebabkan tersangkutnya dua peraturan yang berlainan mengenai syarat-syarat dan tata cara pelaksanaan perkawinan sesuai dengan hukum agamanya masingmasing. Kenyataan dalam kehidupan masyarakat bahwa perkawinan berbeda agama itu terjadi sebagai realitas yang tidak dipungkiri. Berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku secara positif di Indonesia, telah jelas dan tegas menyatakan bahwa sebenarnya perkawinan antar agama tidak diinginkan karena bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia. Tetapi ternyata perkawinan antar agama masih saja terjadi dan akan terus terjadi sebagai akibat interaksi sosial diantara seluruh warga negara Indonesia yang pluralis agamanya. Perkawinan antar agama yang terjadi dalam kehidupan masyarakat seharusnya tidak terjadi jika dalam hal ini negara atau pemerintah secara tegas melarangnya dan menghilangkan sikap mendua dalam mengatur dan melaksanakan suatu perkawinan bagi rakyatnya. Sikap ambivalensi pemerintah dalam perkawinan beda agama ini terlihat dalam praktek bila tidak dapat diterima oleh Kantor Urusan Agama, dapat dilakukan di Kantor Catatan Sipil dan menganggap sah perkawinan berbeda agama yang dilakukan diluar negeri. Dari kenyataan yang terjadi di dalam masyarakat terhadap perkawinan berbeda agama, menurut aturan perundang-undangan itu sebenarnya tidak dikehendaki. Berangkat dari permasalahan tersebut, maka Saya mencoba untuk membuat makalah tentang Perkawinan Berbeda Agama Menurut Hukum Positif Indonesia.

1

PP No. Pengertian Perkawinan Menurut pasal 1 UU No. 1/1974 tentang Perkawinan c. Buku I KUH Perdata b. 1/1991 tentang Kompilasi Hukum Islam di Indonesia A. sedang syarat-syarat serta peraturan agama tidak diperhatikan atau dikesampingkan. 7/1989 tentang Peradilan Agama d. Instruksi Presiden Np. yang dimaksud perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. 1/1974 e. Dalam pasal 66 UU No 1 Tahun 1974 dinyatakan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan yang diatur dalam KUHPerdata. Sedangkan di dalam ketentuan pasal-pasal KUHPerdata. Hal ini berarti bahwa undang-undang hanya mengakui perkawinan perdata sebagai perkawinan yang sah. yang diakui oleh negara”. Oleh karena itu untuk memahami arti perkawinan dapat dilihat pada ilmu pengetahuan atau pendapat para sarjana. UU No. 1985 : 31). 2 . 1/1974 tentang Perkawinan. dinyatakan tidak berlaku sepanjang telah diatur dalam Undang Undang Perkawinan Nasional ini. 9/1975 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. tidak memberikan pengertian perkawinan itu. Dengan demikian dasar hukum perkawinan di Indonesia yang berlaku sekarang ini antara lain adalah : a. UU No. berarti perkawinan yang memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Soetojo Prawirohamidjojo dan Azis Safioedin. perkawinan adalah ”hubungan hukum antara seorang pria dengan seorang wanita untuk hidup bersama dengan kekal. Jadi Kitab Undang-undang Hukum Perdata memandang soal perkawinan hanya dalam hubunganhubungan perdata. Ordonansi Perkawinan Indonesia Kristen dan peraturan Perkawinan campuran. Dan menurut Scholten (R. Ali Afandi (1997 : 94) mengatakan bahwa “perkawinan adalah suatu persetujuan kekeluargaan”. 1 Tahun 1974 berarti undang-undang ini merupakan Undangundang Perkawinan Nasional karena menampung prinsip-prinsip perkawinan yang sudah ada sebelumnya dan diberlakukan bagi seluruh warga negara Indonesia.BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dengan diberlakukannya UU No.

Sedangkan menurut KUHPerdata hakikat perkawinan adalah merupakan hubungan hukum antara subyek-subyek yang mengikatkan diri dalam perkawinan. 1/1974 bahwa perkawinan adalah sah jika dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya.Sedangkan menurut Kompilasi Hukum Islam pasal 2 bahwa perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan. yaitu akad yang sangat kuat atau miitsaaqan gholiidhzan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah. Asas tersebut sejalan dengan apa yang dimaksud dengan KHI. tetapi juga ikatan batin antara pasangan yang sudah resmi sebagai suami dan isteri. Dan dalam pasal 5 KHI bahwa setiap perkawinan harus dicatat agar terjamin ketertiban perkawinan. hakikat perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri. Pada pasal 6 s/d 12 UU No. B. Hubungan tersebut didasarkan pada persetujuan di antara mereka dan dengan adanya persetujuan tersebut mereka menjadi terikat. Syarat Sahnya Perkawinan Menurut pasal 2 UU No. Sedangkan yang dimaksud dengan Hukum Perkawinan adalah hukum yang mengatur mengenai syarat-syarat dan caranya melangsungkan perkawinan. Tujuan Perkawinan Menurut Peraturan Perundang Undangan a. Hakikat. Asas Perkawinan Menurut UU No. beserta akibat-akibat hukum bagi pihak-pihak yang melangsungkan perkawinan tersebut. Kemudian dalam pasal 6 KHI bahwa perkawinan yang dilakukan di luar pengawasan pegawai pencatatan nikah tidak mempunyai kekuatan hukum. 1/1974 pasal 1. usia calon pria 3 . 1/1974 pasal 3 adalah asas monogami relatif. Setiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundangundangan yang berlaku. c. Sedangkan KUHPerdata menganut asas monogami mutlak karena ini berdasarkan kepada doktrin Kristen (Gereja). Dalam KHI pasal 2 hakikat perkawinan adalah untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakanya merupakan ibadah. 1/1974 syarat-syarat perkawinan. yaitu adanya persetujuan kedua calon mempelai. Hal ini sejalan dengan Pasal 4 KHI bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut Hukum Islam. Hakikat Perkawinan Menurut UU No. Asas. Syarat. artinya boleh sepanjang hukum dan agamanya mengizinkan. ada izin orang tua atau wali bagi calon yang belum berusia 21 tahun. Jadi perkawinan adalah suatu ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita untuk membentuk suatu keluarga yang kekal. b. Jadi hakikat perkawinan bukan sekedar ikatan formal belaka.

Tujuan Perkawinan Dalam pasal 1 UU No. Perkawinan Campuran Dalam pasal 57 UU No. larangan memperbaharui perkawinan setelah adanya perceraian jika belum lewat waktu 1 tahun. Sedangkan syarat perkawinan menurut KUHPerdata adalah syarat material absolut yaitu asas monogami. Dalam pasal 3 Kompilasi Hukum Islam tujuan perkawinan adalah untuk mewujudkan kehidupan berumah tangga yang sakinah. Hal ini berarti perkawinan campuran di Indonesia dilakukan menurut hukum perkawinan Indonesia. larangan untuk kawin dengan orang yang pernah melakukan zina. jika perkawinan dilangsungkan 4 . persetujuan kedua calon mempelai. tidak ada hubungan darah yang tidak boleh kawin. dan rahmah. Perkawinan di Luar Negeri Menurut pasal 83 KUHPerdata. Jadi unsur-unsur yang terdapat dalan perkawinan campur adalah perkawinan dilakukan di wilayah hukum Indonesia dan masing-masing tunduk pada hukum yang berlainan karena perbedaaan kewarganegaraan.berumur 19 tahun dan perempuan berumur 16 tahun. Sedangkan Kitab Undang-undang Hukum Perdata memandang soal perkawinan hanya dalam hubungan-hubungan perdata. mawaddah. dari pasal ini menunjukan prinsip Lex loci actus yaitu menunjuk dimana perbuatan hukum tersebut dilangsungkan. karena beda warga negara dan salah satu warga negaranya adalah warga negara Indonesia. d. Menurut pasal 14 KHI dalam melaksanakan perkawinan harus ada calon suami dan isteri. perkawinan yang dilangsungkan di luar Indonesia. tidak dalam waktu tunggu bagi wanita yang janda. tidak ada ikatan perkawinan dengan pihak lain. 1/1974. usia pria 18 tahun dan wanita 15 tahun. yang salah satu pihak harus warga negara Indonesia. C. tidak ada larangan kawin menurut agama dan kepercayaannya untuk ketiga kalinya. D. Sedang syarat material relatif. Dan syarat-syarat perkawinan campuran pada pasal pasal 59 ayat 2 UU No. dua orang saksi serta sighat akad nikah. yaitu larangan untuk kawin dengan orang yang sangat dekat di dalam kekeluargaan sedarah atau karena perkawinan. bagi wanita yang pernah kawin harus 300 hari setelah perkawinan yang terdahulu dibubarkan. baik antara warga negara Indonesia dan dengan warga negara lain adalah sah. 1/1974 perkawinan campuran adalah antara dua orang di Indonesia yang tunduk pada hukum yang berlainan. Sedangkan dalam KUHPerdata tidak ada satu pasalpun yang secara jelas-jelas mencantumkan mengenai tujuan perkawinan itu. 1/1974 adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. wali nikah.

baik yang dilakukan oleh sesama warga negara Indonesia di luar negeri atau salah satu pihaknya adalah warga negara Indonesia sedang yang lain adalah warga negara asing. kecuali apabila salah satunya menganut agama calon lainnya tersebut. E. 1/1974 mengatur perkawinan di luar negeri. 5 . Jika antara keduanya menganut agama yang berlainan. Kemudian dalam waktu satu tahun setelah suami-isteri tersebut kembali di wilayah Indonesia. Kedua pasangan suami isteri tersebut menganut agama yang sama.menurut cara atau aturan negara tersebut dan tidak melanggar ketentuan-ketentuan dalam KUHPerdata. surat bukti perkawinan harus didaftarkan di kantor pencatatan perkawinan tempat tinggal mereka. maka perkawinan harus dicatatkan dalam daftar pencatatan perkawinan di tempat tinggal mereka (pasal 84 KUHPerdata). maka perkawinan tidak dapat dilangsungkan. Pada pasal 56 UU No. Perkawinan Menurut Hukum Agama Perkawinan hanya sah jika dilakukan menurut hukum agama yang dianut oleh calon pasangan yang akan melaksanakan pernikahan. adalah sah bila dilakukan menurut hukum yang berlaku di negara di mana perkawinan itu berlangsung dan bagi warga negara Indonesia tidak melanggar UU ini 5 Pasal 56 ayat 2 menentukan bahwa dalam waktu satu tahun setelah suami isteri itu kembali di wilayah Indonesia.

1/1974 pasal 66. 1/1974 tentang Perkawinan 3. Dan tata cara perkawinan dilakukan menurut hukum masing-masing Agamanya dan kepercayaannya. 9/1975 tentang Peraturan Pelaksana UU No. 1/1974. 1/1974. Perkawinan Beda Agama Menurut Hukum Positif Indonesia Sebagaimana telah disebutkan diatas bahwa dasar hukum perkawinan di Indonesia yang berlaku sekarang ada beberapa peraturan. Hal ini disebabkan peraturan perundang-undangan tentang perkawinan memberikan peluang tersebut terjadi. 1/1991 tentang Kompilasi Hukum Islam di Indonesia Dalam Kompilasi Hukum Islam mengkategorikan perkawinan antar pemeluk agama dalam bab larangan perkawinan. Berdasarkan UU No. bahwa Perkawinan adalah sah.1/1974 tentang perkawinan pada pasal 2 ayat 1. kenyataan yang terjadi dalam sistem hukum Indonesia. maka semua peraturan yang mengatur tentang perkawinan sejauh telah diatur dalam UU No. Namun. karena dalam peraturan tersebut dapat memberikan beberapa penafsiran bila terjadi perkawinan antar agama. Ordonansi Perkawinan Indonesia Kristen dan peraturan perkawinan campuran. sehingga tidak ada peluang bagi orang-orang yang memeluk agama Islam untuk melaksanakan perkawinan antar agama. Pada pasal 40 point c dinyatakan bahwa dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita yang tidak beragama Islam. apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. perkawinan baru sah jika dilakukan dihadapan pegawai pencatat dan dihadiri dua orang saksi. 1/1974 5. 6 .BAB III PEMBAHASAN A. diantaranya adalah : 1. Intruksi Presiden No. PP No. Kemudian dalam pasal 44 dinyatakan bahwa seorang wanita Islam dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang pria yang tidak beragama Islam. Di sini telah terlihat bahwa telah dinyatakan dengan jelas bahwa perkawinan beda agama jelas tidak dapat dilaksanakan selain kedua calon suami isteri beragama Islam. perkawinan antar agama dapat terjadi.9/1975 dinyatakan bahwa. Buku I Kitab Undang-undang Hukum Perdata 2. UU No. Mengenai perkawinan beda agama yang dilakukan oleh pasangan calon suami isteri dapat dilihat dalam UU No. Namun dapat juga diartikan bahwa beberapa ketentuan tersebut masih berlaku sepanjang tidak diatur dalam UU No. Pada pasal 10 PP No. dinyatakan tidak berlaku lagi yaitu perkawinan yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata/BW. 7/1989 tentang Peradilan Agama 4. UU No.

maka tidak ada perkawinan di luar hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. yang berarti pasal ini mengatur perkawinan antara dua orang yang berbeda kewarganegaraan juga mengatur dua orang yang berbeda agama. karena telah tercakup dalam perkawinan campuran. Pendapat pertama menyatakan bahwa perkawinan campuran hanya terjadi antara orang-orang yang tunduk pada hukum yang berlainan karena berbeda golongan penduduknya. dan ketentuan yang dilarang oleh agama berarti dilarang juga oleh undang-undang perkawinan. B. 1996 : 17-18). Akibat kurang jelasnya perumusan pasal tersebut. dengan argumentasi pada pasal 57 tentang perkawinan campuran yang menitikberatkan pada dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan. Pendapat ketiga bahwa perkawinan antar agama sama sekali tidak diatur dalam UU No. 1/1974 maka persoalan perkawinan beda agama dapat merujuk pada peraturan perkawinan campuran. 1/1974 pasal 2 ayat 1 jo pasal 8 f. dengan argumentasi pada pasal 57 tentang perkawinan campuran yang menitikberatkan pada dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan. karena belum diatur dalam undang-undang perkawinan (Ahmad Sukarja. 1/1974. Pada pasal 1 Peraturan Perkawinan campuran menyatakan bahwa perkawinan campuran adalah perkawinan antara orang-orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan. Perbedaan Pandangan Tentang Perkawinan Beda Agama Berdasarkan pendapat yang menyatakan perkawinan beda agama merupakan pelanggaran terhadap UU No. Adapun pendapat yang menyatakan bahwa perkawinan antar agama adalah sah dan dapat dilangsungkan. Pendapat kedua.Dalam memahami perkawinan beda agama menurut undang-undang Perkawinan ada tiga penafsiaran yang berbeda. 1/1974 yang menyatakan bahwa perkawinan adalah sah. maka instansi baik KUA dan Kantor Catatan Sipil dapat menolak permohonan perkawinan beda agama berdasarkan pada pasal 2 ayat 1 jo pasal 8 f UU No. 1/1974 pasal 2 ayat 1 jo pasal 8 f. oleh karena itu berdasarkan pasal 66 UU No. jika dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. bahwa perkawinan antar agama adalah sah dan dapat dilangsungkan. yaitu tunduk pada hukum yang berlainan. Dalam penjelasan UU ditegaskan bahwa dengan perumusan pasal 2 ayat 1. Pertama. karena telah tercakup dalam perkawinan campuran. Pendapat kedua menyatakan bahwa perkawinan campuran adalah perkawinan antara orang-orang yang berlainan 7 . yang berarti pasal ini mengatur perkawinan antara dua orang yang berbeda kewarganegaraan juga mengatur dua orang yang berbeda agama. penafsiran yang berpendapat bahwa perkawinan beda agama merupakan pelanggaran terhadap UU No. Ketentuan pasal tersebut berarti bahwa perkawinan harus dilakukan menurut hukum agamanya. ada beberapa penafsiran dikalangan ahli hukum.

Berdasarkan pasal 66 UU No. 8 . maka semua peraturan yang mengatur tentang perkawinan sepanjang telah diatur dalam UU No. karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia. berarti satu kali menurut hukum agama atau kepercayaan calon dan satu kali lagi menurut hukum agama atau kepercayaan dari calon yang lainnya (Soedharyo Soimin. 1/1974. karena belum diatur dalam undang-undang perkawinan. Pendapat ketiga bahwa perkawinan campuran adalah perkawinan antara orang-orang yang berlainan asal daerahnya. maka perkawinan beda agama di Indonesia bukanlah merupakan perkawinan campuran. 1/1974. ada Kantor Catatan Sipil yang tidak mau mencatatkan perkawinan beda agama dengan alasan perkawinan tersebut bertentangan dengan pasal 2 UU No. bahwa perkawinan dilakukan menurut hukum suami. Sehingga semestinya pengajuan permohonan perkawinan beda agama baik di KUA dan Kantor Catatan Sipil dapat ditolak.agamanya. Dalam praktek perkawinan antar agama dapat dilaksanakan dengan menganut salah satu cara baik dari hukum agama atau kepercayaan si suami atau si calon isteri. Tapi jika hukum agama atau kepercayaannya berbeda. oleh karena itu berdasarkan pasal 66 UU No. Dan ada pula Kantor Catatan Sipil yang mau mencatatkan berdasarkan GHR. Oleh karenanya. maka dalam hal adanya perbedaan kedua hukum agama atau kepercayaan itu harus dipenuhi semua. C. tidak ada kesulitan. Ketidakjelasan dan ketidaktegasan Undang-undang Perkawinan tentang perkawinan antar agama dalam pasal 2 adalah pernyataan “menurut hukum masing-masing agama atau kepercayaannya”. Pendapat Hukum Terhadap Perkawinan Beda Agama Merujuk pada Undang-undang No. 1/1974 pada pasal 57 yang menyatakan bahwa perkawinan campuran adalah perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan. 1/1974.1/1974. 1/1974. Ordonansi Perkawinan Indonesia Kristen dan peraturan perkawinan campuran. 1/1974. Artinya beberapa ketentuan tersebut masih berlaku sepanjang tidak diatur dalam UU No. dinyatakan tidak berlaku lagi yaitu perkawinan yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata / BW. Berdasarkan pada pasal 57 UU No. sehingga isteri mengikuti status hukum suami. Pendapat yang menyatakan bahwa perkawinan antar agama sama sekali tidak diatur dalam UU No. 2002 : 95). Artinya salah calon yang lain mengikuti atau menundukkan diri kepada salah satu hukum agama atau kepercayaan pasangannya. 1/1974 maka persoalan perkawinan beda agama dapat merujuk pada peraturan perkawinan campuran. Artinya jika perkawinan kedua calon suami-isteri adalah sama.

Mahkamah Agung dalam memberikan solusi hukum bagi perkawinan antar agama adalah bahwa perkawinan antar agama dapat diterima permohonannya di Kantor Catatan Sipil sebagai satu-satunya instansi yang berwenang untuk melangsungkan permohonan yang kedua calon suami isteri tidak beragama Islam untuk wajib menerima permohonan perkawinan antar agama. maka akan menimbulkan dampak negatif dari segi kehidupan bermasyarakat maupun beragama berupa penyelundupan-penyelundupan nilai-nilai sosial maupun agama serta hukum positif. Maka MA berpendat bahwa tidak dapat dibenarkan terjadinya kekosongan hukum tersebut. tetapi dalam status hukum agama atau kepercayaan salah satu calon pasangannya. Dalam proses perkawinan antar agama maka permohonan untuk melangsungkan perkawinan antar agama dapat diajukan kepada Kantor Catatan Sipil. 1400 K/Pdt/1986 dapat dijadikan sebagai yurisprudensi. sehingga dalam menyelesaikan perkara perkawinan antar agama dapat menggunakan putusan tersebut sebagai salah satu dari sumber-sumber hukum yang berlaku di Indonesia. 1/1974 tidak memuat suatu ketentuan tentang perbedaan agama antara calon suami dan calon isteri merupakan larangan perkawinan. sehingga tidak sedikit terjadi perkawinan antar agama. No. Dalam pertimbangan MA adalah dalam UU No. namun putusan tersebut merupakan pemecahan hukum untuk mengisi kekosongan hukum karena tidak secara tegas dinyatakan dalam UU No. Dan hal ini sejalan dengan UUD 1945 pasal 27 yang menyatakan bahwa segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum. Dan dengan demikian pula ditafsirkan bahwa dengan mengajukan permohonan tersebut pemohon sudah tidak lagi menghiraukan status agamanya. Dari putusan MA tentang perkawinan antar agama sangat kontroversi. Putusan Mahkamah Agung Reg. Dengan demikian Kantor Catatan Sipil berkewajiban untuk menerima permohonan tersebut bukan karena kedua calon pasangan dalam kapasitas sebagai mereka yang berbeda agama. 1/1974 tidak lagi merupakan halangan untuk dilangsungkan perkawinan.Dalam mengisi kekosongan hukum karena dalam UU No. dengan anggapan bahwa kedua calon suami isteri tidak lagi beragama Islam. 1/1974. maka MA harus dapat menentukan status hukumnya. Sehingga pasal 8 point f UU No. maka asas itu adalah sejalan dengan jiwa pasal 29 UUD 1945 tentang dijaminnya oleh negara kemerdekaan bagi setiap warga negara untuk memeluk agama masing-masing. 1/1974 tidak secara tegas mengatur tentang perkawinan antar agama. tercakup di dalamnya kesamaan hak asasi untuk kawin dengan sesama warga negara sekalipun berlainan agama dan selama oleh undang-undang tidak ditentukan bahwa perbedaan agama merupakan larangan untuk perkawinan. 9 . sehingga perkawinan antar agama jika dibiarkan dan tidak diberikan solusi secara hukum. Mahkamah Agung sudah pernah memberikan putusan tentang perkawinan antar agama pada tanggal 20 Januari 1989 Nomor: 1400 K/Pdt/1986. Dan bagi orang Islam ditafsirkan atas dirinya sebagai salah satu pasangan tersebut berkehendak untuk melangsungkan perkawinan tidak secara Islam. Di samping kekosongan hukum juga dalam kenyataan hidup di Indonesia yang masyarakatnya bersifat pluralistik.

dan perkawinan antar pasangan yang berbeda agama tersebut adalah sah bila dilakukan menurut hukum yang berlaku di negara di mana perkawinan itu berlangsung. 1/1974 yang mengatur perkawinan di luar negeri.Bentuk lain untuk melakukan perkawinan antar agama dapat dilakukan dengan cara melakukan perkawinan bagi pasangan yang berbeda agama tersebut di luar negeri. Berdasarkan pada pasal 56 UU No. Setelah suami isteri itu kembali di wilayah Indonesia. paling tidak dalam jangka waktu satu tahun surat bukti perkawinan dapat didaftarkan di kantor pencatatan perkawinan tempat tinggal mereka. Artinya perkawinan antar agama yang dilakukan oleh pasangan suami isteri yang berbeda agama tersebut adalah sah karena dapat diberikan akta perkawinan. dapat dilakukan oleh sesama warga negara Indonesia. 10 .

tetapi dalam status hukum agama atau kepercayaan salah satu calon pasangannya. apabila dilakukan menurut hukum masingmasing agamanya dan kepercayaannya.1/1974. Perlu rumusan ulang atau revisi tentang perkawinan antar agama. b. bahwa perkawinan adalah sah. Dan tata cara perkawinan dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. karena dalam UU No. Dan pada pasal 10 PP No. memberikan solusi hukum bagi perkawinan antar agama adalah bahwa perkawinan antar agama dapat diterima permohonannya di Kantor Catatan Sipil sebagai satu-satunya instansi yang berwenang untuk melangsungkan permohonan yang kedua calon suami isteri tidak beragama Islam untuk wajib menerima permohonan perkawinan antar agama. Dalam revisi terhadap Undang-undang Perkawinan perlu kejelasan tentang status hukum bagi mereka yang ingin melakukan perkawinan antar agama. Saran Bahwa dengan ketidaktegasan pemerintah dalam mengatur perkawinan beda agama sebagaimana tidak adanya aturan tersebut pada UU No. maka bersama ini dapat Saya sarankan bahwa : a. tidak mengatur tentang perkawinan beda agama.1/1974. Mahkamah Agung dalam yurisprudensinya tanggal 20 Januari 1989 Nomor: 1400 K/Pdt/1986. B. Undang-Undang No. perkawinan baru sah jika dilakukan dihadapan pegawai pencatat dan dihadiri dua orang saksi. Saya dapat mengemukakan beberapa hal sebagai kesimpulan. 2. 11 . 3.1/1974 tentang Ketentuan Pokok Perkawinan.9/1975 dinyatakan bahwa. Oleh karena itu perkawinan antar agama tidak dapat dilakukan berdasarkan pada pasal 2 ayat 1 UU No.BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Dari uraian tersebut di atas. 4. Dalam mengisi kekosongan hukum karena dalam UU No. yaitu sebagai berikut : 1. Perkawinan antar agama dapat juga dilakukan oleh sesama warga negara Indonesia yang berbeda agama dengan cara melakukan perkawinan tersebut di luar negeri. 1/1974 tidak secara tegas mengatur tentang perkawinan antar agama. Dalam proses perkawinan antar agama maka permohonan untuk melangsungkan perkawinan antar agama dapat diajukan kepada Kantor Catatan Sipil yang berkewajiban untuk menerima permohonan tersebut bukan karena kedua calon pasangan dalam kapasitas sebagai mereka yang berbeda agama. 1/1974 Tentang Hukum Perkawinan belum jelas dan tuntas dalam mengatur perkawinan antar agama.

Pluralisme Dalam Perundang-undangan Perkawinan di Indonesia. Hukum Waris. PT. Jakarta. Hukum Keluarga. 1996 Ali Afandi. Bandung. Airlangga University Press. Jakarta. Jakarta. 1997 Hazairin. 1986 Soedharyo Soimin. Surabaya.duniaanggara. 1985 R.penulislepas. Jakarta. Alumni. Sinar Grafika. Hukum Pembuktian.DAFTAR PUSTAKA Ahmad Sukarja. Soetojo Prawirohamidjojo dan Azis Safioedin. 1986 R.com www. Tinjauan Mengenai Undang-undang Perkawinan No 1/1974. Perkawinan Berbeda Agama Menurut Hukum Islam. 1/1974 Kompilasi Hukum Islam www. 2002 Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan UU No.Pustaka Firdaus. Soetojo Prawirohamidjojo. SH.com www.htm 12 . Rineka Cipta. Hukum Orang dan Keluarga. Hukum Orang dan Hukum Keluarga. Tintamas.Indonesialawcenter.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful