P. 1
Ilmu Hadits

Ilmu Hadits

|Views: 797|Likes:
Published by Iqbal Abdurrahman

More info:

Published by: Iqbal Abdurrahman on Jun 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/20/2012

pdf

text

original

Ilmu Hadits

Ditulis oleh Abank Al-Barzanjiy di/pada 3 Juni 2009

y Definisi Hadits: Hadits adalah segala yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw, baik berupa perkataan (qauly), perbuatan (fi ly), maupun ketetapan (taqriry). Sunnah: segala yang diperintahkan, dilarang, dan dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw, baik berupa perkatan maupun perbuatan. Khabar adalah sesuatu yang datang dari sahabat Nabi Atsar adalah sesuatu yang berasal dari Tabi in.

y Bentuk-bentuk Hadits: Dari segi sampai tidaknya kepada Nabi, Hadits dibagi menjadi tiga: Hadits Marfu yaitu hadis yang periwayatannya sampai kepada nabi Hadits Mauquf yaitu hadis yang periwayatannya hanya sampai pada sahabat Hadits Maqtu yaitu hadis yang periwayatannya hanya sampai pada Tabi in. Berdasarkan pengertiannya, maka yang termasuk kategori hadits yang dapat digunakan sebagai sumber ajaran Islam adalah Hadits Marfu . Sedangkan Hadis Mauquf hanya menempati tingkatan Khabar dan Hadits Maqtu hanya merupakan Atsar. Ditinjau dari segi isinya, Hadits dibagi menjadi tiga: Hadits qauly: hadits yang isinya berupa perkataan atau ucapan Nabi Hadits fi ly: hadits yang isinya berupa pebuatan Nabi yang dideskripsikan oleh sahabat Hadits taqriry: hadits yang isinya berupa ketetapan tindakan Nabi Diantara ketiga bentuk hadis tersebut hadits qauly menempati kedudukan tertinggi, baru kemudian dibawahnya hadis fi ly. Hadits taqriry merupakan bentuk hadis yang terlemah. Unsur-Unsur dalam Hadits: Sanad: yaitu mata rantai periwayatan yang menghubungkan antara penulis hadis dengan generasi di atasnya hingga sampai kepada Nabi Matan: yaitu redaksi atau bunyi dari sebuah hadis Rawi: yaitu para periwayat hadis yang terdapat dalam rangkaian sanad y Kedudukan Hadits: Hadits adalah sumber ajaran Islam yang kedua setelah Al-Qur an. Artinya Hadits menjadi dasar dan dalil bagi aturan-aturan (baik dalam masalah aqidah, hukum, maupun etika) dalam ajaran Islam bersama-sama dengan al-Qur an.

Muslim. namun maknanya sama dengan yang dimaksudkan oleh Nabi. yaitu periwayatan hadits yang redaksi atau matannya persis sama dengan apa yang diucapkan oleh Nabi. Istilah dalam Periwayatan Hadits Istilah periwayatan yang sering digunakan oleh para mudawwin Hadits berbeda-beda diantaranya: Akhrajahu syaikhani. yaitu seorang guru memberi sebuah atau beberapa hadits tanpa menyuruh untuk meriwayatkannya. yaitu pemberian informasi guru kepada murid bahwa hadits dalam kitab tertentu adalah hasil periwayatan yang diproleh dari seseorang tanpa menyebut namanya. haddatsana. dan Imam Ahmad. Tirmidzi. Dalam metode ini seorang guru dapat mengoreksi hadits yang dbaca oleh muridnya. Istilah yang digunakan adalah: sami tu. Al-Ijazah. Akhrajahu Sittah. berarti hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Daud. Akhrajahu Sab ah. Al-Munawalah. yaitu seseorang yang menemukan catatan hadis seseorang tanpa ada rekomendasi untuk meriwayatkannya. membaca dari kitab. yaitu guru membaca hadits di depan para muridnya. An-Nasai. Abu Daud. yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud. tanya-jawab. Tirmidzi. berarti hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari. Tirmidzi. Bentuknya bisa membaca hafalan. Akhrajahu Jama ah. Tirmidzi. Al. . Istilah yang dipakai adalah an-ba. Muslim. artinya hadits tersebut diriwayatkan oleh banyak ulama Hadis. artinya hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim Akhrajahu tsalatsah. An-Nasai dan Ibn Majah. Tirmidzi. I lam as-Syaikh. yaitu seorang guru menulis hadis untuk seseorang. Ibn Majah.ardlu. Al-Washiyah. yaitu pemberian izin seorang guru kepada murid untuk meriwayatkan buku hadits tanpa membaca hadits tersebut satu demi satu. dan an-Nasa i.y Model Periwayatan Hadits Ada dua model yang digunakan para sahabat (rawi) dalam meriwayatkan hadits dari Nabi. yaitu periwayatan hadits yang redaksi atau matannya tidak persis sama dengan apa yang diucapkan Nabi. Abu Daud. Al-Mukatabah. Al-Wijadah. Istilah yang dipakai adalah akhbarana. yaitu: Periwayatan bil-lafzi. Ibn Majah dan Imam Ahmad. artinya hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Daud. yaitu guru mewasiatkan buku-buku hadis kepada muridnya sebelum meninggal. Metode ini merupakan metode yang paling baik. Istilah yang dipakai adalah an-ba-ana. Akhrajahu khamsah. yaitu seorang murid membaca hadits di depan guru. berarti hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari. AnNasai dan Ibn Majah. hal ini mirip dengan metode ijazah. y Metode Mempelajari Hadits (Tahammul wa Adail Hadits) Metode mempelajari/menerima Hadits yang dipakai oleh para ulama adalah: As-Sima .ana. An-Nasai. Periwayatan bil makna. Akhrajahu arba ah. dan dikte.

Ciri-cirinya: menggunakan kata-kata qalallahu ta ala .Al-Qur an memberi hukuman potong tangan bagi pencuri. Contohnya tentang wudhu . Hadits metakhsis pembunuh pewaris tidak mendapat warisan. Hadits Qudsi: Pengertian: Hadits Qudsi adalah sesuatu yang diberitakan Allah kepada Nabi selain al-Qur an. Persamaan dan Perbedaan antara hadits Qudsi dengan hadis nabawi: Persamaan: redaksinya sama-sama berasa dari Nabi sendiri. sedangkan hadits merinci bagaimana tata cara atau pelaksanaannya.y Kedudukan Hadits terhadap Al-Qur an: Bayan Tafsir yaitu menjelaskan apa yang terkandung dalam al-Qur an. seperti contoh dalam pelaksanaan shalat. c. Merinci yang mujmal. sedangkan sandaran hadis nabawi adalah Nabi. Penisbahan: hadits qudsi maknanya dari Allah redaksinya dari Nabi. . Perbedaan: Al-Qur an mukjizat sedangkan hadis qudsi bukan mukjizat. seperti ayat tentang warisan. Penjelasan tersebut berupa: a. Bayan Tasyri . AlQur an menjelaskan tentang wajibnya wudhu bagi orang yang mau shalat. seperti dalam ayat tentang pencurian. Perbedaan: Dari segi sandaran: Sandaran hadits qudsi adalah Allah. Bayan Taqrir. Makna hadits qudsi berasal dari Allah sedangkan redaksinya dari Nabi sendiri. hadis nabawi makna dan redaksinya berasal dari nabi. yaitu menetapkan berlakunya hukum baru. b. Mentakhsis yang Am. Contohnya: penetapan hukum rajam bagi pezina muhson. Membatasi yang mutlak. Al-Qur an hanya menjelaskan tentang hukum wajibnya shalat. Persamaan dan Perbedaan hadits qudsi dengan Al-Qur an: Persamaan: sama-sama bersumber dari Allah. sedangkan hadits menjelaskan hal yang sama. Al-Qur an redaksinya dari Allah sedangkan hadis qudsi redaksinya dari Nabi. yaitu menguatkan apa yang terdapat dalam al-Qur an. sedangkan hadits memberi batasan tentang jumlah barang yang dicuri yang dapat mengakibatkan diberlakukannya hukum potong tangan. Al-Qur an menjadi bacaan shalat sedangkan hadis qudsi tidak.

ceramah pada tempat terbuka (spt pada waktu haji wada ). Terjadi perbedaan pendapat tentang pemaknaan larangan menulis hadits pada masa Rasul. perbuatan langsung. Abu Bakar. dan maqtu . Basrah. Ali. dan Abdullah Ibn Mas ud (2) Ummahatul Mukminin atau istri-istri Rasul seperti Aisyah dan Ummu Salamah (3) Sahabat dekat yang menulis hadits yaitu Abdullah Amr bin al Ash (4) Sahabat yang selalu memanfaatkan waktu bersama Nabi seperti Abu Hurairah (5) Sahabat yang aktif dalam majlis ilmi dan bertanya kepada sahabat yang lain seperti Abdullah bin Umar. Dimulai dengan adanya instruksi dari khalifah Umar bin Abdul Aziz kepada Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm (gubernur Madinah) dan para ulama Madinah (Muhamad bin Syihab az-Zuhri) untuk mengumpulkan hadits dari para penghafalnya. Terjadi pada akhir abad kedua atau awal abad ketiga hijrah (masa pemerintahan al-Makmun dari bani Abbasiyah) Diadakan penyaringan terhadap hadits pada masa sebelumnya. mauquf. Namun terdapat beberapa sahabat yang menulis hadis dan disimpan sendiri seperti: Abdullah bin Amr bin Ash (as-sahifah as-sadiqah). dan Abdullah bin Abbas. Anas bin Malik. Alasan pengumpulan hadits (1) khawatir hilangnya hadits dengan meninggalnya para ulama (2) khawatir tercampurnya hadits sahih dengan yang palsu. Hadits lebih banyak dihafal karena Rasul melarang menulis hadits agar tidak bercampur dengan alQur an. Anas bin Malik. yaitu: (1) al-Jami as-Sahih karangan Bukhari (2) al-Jami as-Sahih karangan Muslim (3) AsSunan karangan Abu Daud (4) As-Sunan karangan at-Turmuzi (5) As-Sunan karangan an-Nasai dan (6) As-Sunan karangan Ibn Majah. Ali. Masa Seleksi dan Penyempurnaan Penyusunan Kitab Hadits. Sahabat yang banyak menerima hadits antara lain: (1) as-Sabiqunal awwalun yaitu: Abu Bakar. Masa ini terjadi pada awal abad kedua hijrah. . Abu Hurairah ad-Dausi (sahifah as-sahihah). Kufah. dan Khurasan. Hadits Masa Tabi in Dikenal dengan masa penyebaran riwayat. Usman. Ulama menetapkan kaidah-kaidah kesahihan hadits. Yaman. Syam. melalui sahabat tertentu. Hadits Masa Sahabat Disebut juga dengan masa pembatasan dan pengetatan riwayat karena perhatian difokuskan pada penyebaran al-Qur an. dan Mesir.y Sejarah Perkembangan Hadits Pada Masa Rasul Nabi menyampaikan hadits melalui media: majlis ilmi. Jabir bin Abdullah (sahifah Jabir). Masa Kodifikasi Hadits Disebut juga dengan masa pencatatan hadits atau pembukuan hadits. Makkah. Kitab hadits yang disusun dengan penyaringan ini dikenal dengan kutub al-sittah atau kitab induk yang enam. Kitab hadits yang berhasil ditulis dan masih ada adalah al-Muwatta karya Malik bin Anas. Terjadi perpecahan politik yang mengakibatkan munculnya hadits maudhu (hadis palsu). dan dikelompokkan menjadi hadits marfu . Sahabat sangat hati-hati dalam menerima dan meriwayatkan hadits. Terbentuk pusat-pusat pembinaan hadits seperti Madinah. Abdullah bin Abbas dan lain-lain. Al-Qur an sudah tertulis dalam mushaf sehingga perhatian terhadap hadits lebih besar. Disamping itu juga diseleksi mana yang sahih dan mana yang dha if. Maghrib dan Andalus. dan sebagainya. Setiap hadis yang diriwayatkan harus didatangkan seorang saksi.

atau 313 orang. diterima oleh orang banyak dan mustahil mereka berdusta. Syarat hadits hasan adalah: Para perawinya adil. Muhammad bin Abdullah al-Jauzaqi dan Ibn al-Furrat mengumpulkan isi kitab Bukhari Muslim. dan Ibn Atsir al-Jazari mengumpulkan kitab hadits yang enam. Ulama berbeda pendapat tentang ukuran banyaknya. Kedhabitan perawinya dibawah perawi hadits sahih. atau 70. Tidak ada cacat atau illat. Hadits Aziz. mentakhrij (mengkaji sanadnya). pemikiran atau rangkuman. Abdul Haq ibn Abdurrahman al Asybili. yaitu hadits yang diriwayatkan oleh dua orang perawi atau lebih.Masa selanjutnya ulama menyusun kitab hadits dengan sistematika jawami (mengumpulkan kitabkitab hadis menjadi satu). bukan berupa hasil perenungan. Sanadnya bersambung. Sanadnya bersambung Tidak ada cacat atau illat. kitab syarah (komentar). Hadits Hasan. Hadits Dha if. Ada keseimbangan jumlah sanad dalam setiap thabaqatnya (tingkatan generasi periwayat hadits). Ibn Hajar al-Asqalani mengumpulkan kitab-kitab hadits mengenai hukum. Pembagian Hadits Berdasakan Kualitas Rawi: Berdasarkan kualitas rawi hadits dibagi menjadi tiga yaitu: Hadits Sahih yaitu hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang adil. Kedhabitan perawinya sempurna. yaitu hadis yang tidak memenuhi syarat sebagai hadits sahih maupun hadits hasan. sempurna kedhabitannya dan bersambung sanadnya. Ad-Daruqutni. Tidak mengandung kejanggalan pada matannya. yaitu hadits yang diriwayatkan oleh satu orang rawi. ada yang berpendapat 40. Berdasarkan tanggapan pancaindera. al-Fairuz Zabdi. ada yang berpendapat minimal 4 rawi. kitab mukhtasar (ringkasan). Syarat bagi hadits mutawatir adalah diriwayatkan oleh banyak rawi. kurang kuat hafalannya dan bersambung sanadnya. yaitu hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang adil. . Matannya tidak syaz atau janggal. Hadits yang diriwayatkan harus berasal dari pengamatan pencaindera. Hadits Ahad. al-Baihaqi. y Pembagian Hadits : Pembagian Hadits Berdasarkan Kuantitas Rawi Berdasarkan sedikit banyaknya rawi yang meriwayatkan hadits dibagi menjadi tiga: Hadits Mutawatir yaitu hadits yang diriwayatkan oleh orang banyak. kitab athraf (menyusun pangkal suatu hadits sebagai petunjuk kepada materi hadits). Syarat hadits Sahih adalah: Diriwayatkan oleh perawi yang adil. Adanya keyakinan bahwa mereka tidak mungkin berdusta.

Menarik simpati kaum awam. khususnya kaidah tentang kesahihan sanadnya. Rawinya pendusta. dalam arti bertentangan dengan al-Qur an. Dasarnya adalah munculnya hadits: mn kazzaba alayya Ulama Hadits lain berpendapat bahwa munculnya hadis maudhu adalah pada tahun 40 H. dan hadits sahih. yaitu golongan yang berusaha merusak Islam dari dalam. sepeti Abdul Karim Ibn al-Auja . Kitab yang memuat tentang hadits maudhu antara lain: al-Maudhu al-Kubra yang disusun oleh Abu alFajri. pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib ketika terjadi pertikaian politik. Matannya menyebutkan janji yang besar untuk perbuatan kecil. Menjilat kepada penguasa. . Perselisihan dalam ilmu Kalam dengan tujuan untuk memperkuat pandangan kelompok masingmasing.Hadits Maudhu dan Permasalahannya Pengertian: Hadits maudhu adalah hadits yang dibuat-buat atau diciptakan atau didustakan atas nama Nabi Menurut Ahmad Amin hadits maudhu sudah ada sejak masa Rasulullah. hadis mutawatir. Usaha kaum zindiq. Cara Mengetahui Hadits Maudhu : Adanya pengakuan dari pembuatnya Maknanya rusak. Faktor Penyebab: Pertentangan politik antara Ali dan Muawiyah. Usaha Penyelamatan: Menyusun kaidah penelitian hadits. Menurut Ibnu Abi al-Hadid kelompok Syiah adalah yang pertama kali membuat hadits maudhu .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->