Pengaruh AFTA Terhadap Perekonomian Indonesia

Pendahuluan Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN pada tanggal 27-28 Januari 1992 di Singapura telah menetapkan bahwa kerjasama ASEAN akan ditingkatkan menjadi ASEAN Free Trade Area (AFTA) mulai tanggal 1 Januari 1993. Proses menuju ASEAN Free Trade Area tersebut dilakukan melalui Common Effective Prefential Tariff (CEPT), yaitu penurunan tarif beberapa komoditas tertentu secara bersamaan hingga mencapai tingkat 0-5%. Penurunan tarif tersebut dilakukan secara bertahap sehingga baru akan mencapai kondisi perdagangan bebas untuk seluruh komoditas setelah lima belas tahun. Untuk tahap pertama, mulai tanggal 1 Januari 1993, penurunan tarif tersebut akan dilakukan untuk lima belas komoditas yang selanjutnya akan diperluas mencakup komoditas-komoditas lainnya. AFTA merupakan wujud dari kesepakatan dari negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia serta serta menciptakan pasar regional bagi 500 juta penduduknya.

Awalnya AFTA ditargetkan ASEAN merupakan wujud dari kesepakatan dari negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia akan dicapai dalam waktu 15 tahun (1993-2008), kemudian dipercepat menjadi tahun 2003, dan terakhir dipercepat lagi menjadi tahun 2002. Skema Common Effective Preferential Tariffs For ASEAN Free Trade Area (CEPT-AFTA) merupakan suatu skema untuk 1 mewujudkan AFTA melalui penurunan tarif hingga menjadi 0-5%, penghapusan pembatasan kuantitatif dan hambatan-hambatan non tarif lainnya. Perkembangan terakhir yang terkait dengan AFTA adalah adanya kesepakatan untuk menghapuskan semua bea masuk impor barang bagi Brunai Darussalam pada tahun 2010, Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapura dan Thailand, dan bagi Cambodia, Laos, Myanmar dan Vietnam pada tahun 2015.

Kerjasama AFTA bertujuan untuk meningkatkan daya saing produk ASEAN di pasar dunia dan menciptakan pasar seluas-luasnya untuk menstimulus peningkatan FDI (Foreign Direct Investment) di kawasan Asia Tenggara. Kerjasama ini pada awalnya hanya beranggotakan enam negara yaitu Indonesia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, dan Malaysia. Tetapi pada perkembangannya, AFTA memperluas keanggotaanya dengan masuknya anggota baru yaitu Vietnam (1995), Laos dan Myanmar (1997), serta Kamboja (1999).

yakni dari kegiatan perdagangan yang mengandalkan proteksi negara menjadi kemampuan perusahaan untuk bersaing. situasi ekonomi Indonesia sangat sulit. dan keunggulan produk menjadi salah satu kunci keberhasilan. produk otomotif. teknologi informasi. mengingat beberapa komoditas pertanian Indonesia saat ini maupun di masa yang akan datang masih akan selalu dihadapkan pada persoalan-persoalan dalam peningkatan produksi yang berkualitas. baik dalam kegiatan ekspor maupun impor. Di antaranya. banyak pula yang akan tertekan berat memasuki AFTA. peran negara dalam perdagangan sebenarnya akan direduksi secara signifikan. efisiensi. . dan garmen. nampaknya masih memerlukan perhatian serta kebijakan yang lebih serius dari pemerintah maupun para pelaku agrobisnis. mekanisme tarif yang merupakan wewenang negara dipangkas. dan sekaligus memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional maupun peningkatan pendapatan petani dan pembangunan daerah. kekuatan manajemen. Misalnya. Diharapkan dengan diberlakukannya otonomi daerah perhatian pada sektor agribisnis dapat menjadi salah satu dorongan bagi peningkatan kualitas produk pertanian sehingga lebih kompetitif di pasar lokal. Karena itu. kerjasama AFTA merupakan peluang yang cukup terbuka bagi kegiatan ekspor komoditas pertanian yang selama ini dihasilkan dan sekaligus menjadi tantangan untuk menghasilkan komoditas yang kompetitif di pasar regional AFTA. secara umum. Kondisi ekonomi makro ditambah stabilitas politik yang tidak mantab serta penegakan hukum dan keamanan yang buruk ikut mempengaruhi daya saing kita dalam perdagangan dunia. namun juga secara global. kebijakan harga dan nilai tukar serta persaingan pasar di samping iklim politis yang tidak kondusif bagi sektor pertanian. kemampuan permodalan.Kesiapan Indonesia Menghadapi AFTA Untuk Indonesia. minyak kelapa sawit. alat-alat listrik. tekstil. sepatu. Tidak saja secara nasional atau regional dalam AFTA. diperlukan perubahan paradigma yang sangat signifikan. Perdagangan Indonesia dalam kurun 20002002 melemah. Memang. Dalam AFTA. regional maupun pasar global. Karena itu. Tetapi. Secara umum. dan produk pertanian. beberapa produk kita siap berkompetisi. Upaya ke arah itu. Sebab. gas alam. permodalan.

berbeda dengan negara-negara ASEAN yang lain. Pada tahun 2001 China menguasai sekitar 6. Dan pada tahun 2005 hanya meningkat menjadi 3. Berbeda dengan anggapan kita selama ini bahwa ternyata daya penetrasi produk-produk China di Indonesia tidak setinggi daya penetrasi produk-produk negara ASEAN. Pada tahun 2005 baru mencapai 10.8 persen. Pada tahun 2000. pangsa pasar ekspor Indonesia di Malaysia mencapai 2. Sebaliknya. saat ini produkproduk dari negara ASEAN lebih menguasai pasar Indonesia dibandingkan dengan produkproduk dari China.8 persen. Akibatnya. Dan pada tahun 2005 pangsa pasar negara-negara ASEAN di Indonesia mencapai 29. Turunnya tarif impor antarnegara ASEAN membuat kegiatan ekspor-impor antarnegara ASEAN menjadi relatif lebih murah dari sebelumnya. Hal ini terlihat dari kenaikan pangsa pasar ekspor negara ASEAN ke Indonesia yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan pangsa pasar China di Indonesia. dan lebih menarik dengan pasar-pasar tradisional. pangsa pasar ASEAN di Indonesia meningkat dengan tajam.Adanya AFTA telah memberikan kemudahan kepada negara-negara ASEAN untuk memasarkan produk-produk mereka di pasar ASEAN dibandingkan dengan negara-negara non-ASEAN. Pada tahun 2001 pangsa pasar ekspor negara-negara ASEAN di Indonesia mencapai 17.0 persen dari total impor Indonesia. seperti Jepang dan Amerika Serikat. Hal ini terlihat dari pangsa pasar ekspor kita ke negara-negara ASEAN yang tidak mengalami kenaikan yang terlalu signifikan sejak AFTA dijalankan. Hal yang sama terjadi di pasar negara-negara ASEAN lainnya. kemampuan negara-negara ASEAN dalam melakukan penetrasi pasar kita bahkan masih lebih baik dari China. tampaknya belum terlalu diperhatikan potensi pasar ASEAN. Implementasi AFTA telah meningkatkan ekspor negara-negara ASEAN ke Indonesia. misalnya. Produsen internasional dapat memilih satu negara di kawasan ini untuk dijadikan basis produksinya dan memenuhi permintaan produknya di negara di sekitarnya dari negara basis tersebut. Jadi. Untuk pasar Indonesia. masih jauh lebih rendah dari pangsa pasar negara-negara ASEAN.1 persen. Tentunya negara yang dipilih sebagai negara basis suatu produk adalah yang dianggap dapat membuat produk tersebut dengan lebih efisien (spesialisasi).5 persen. Produsen internasional tidak harus mempunyai pabrik di setiap negara untuk dapat menyuplai produknya ke negara-negara tersebut.6 persen. .

1. keikutsertaan dalam pameran perdagangan internasional perlu ditingkatkan. Perlindungan Terhadap Industri Kecil . Struktur organisasi yang kuat sangat diperlukan karena AFTA harus dilaksanakan dengan baik. Keadaan tersebut terutama disebabkan oleh komoditas ekspor Indonesia belum banyak dikenal oleh negara-negara ASEAN. Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia Kualitas sumberdaya manusia Indonesia masih jauh lebih rendah dibandingkan kualitas sumberdaya manusia negara ASEAN lainnya. biaya-biaya non produksi secara keseluruhan dapat ditekan. 1. 1. usaha-usaha untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia perlu lebih ditingkatkan dengan mengembangkan sekolah kejuruan dan politeknik di masa mendatang. Di samping itu.1 persen dari seluruh perdagangan intraASEAN. dalam rangka menghadapi AFTA. Promosi dan Penetrasi Pasar Kenyataan menunjukkan bahwa volume perdagangan Indonesia dibandingkan dengan negaranegara ASEAN lainnya. Peningkatan kunjungan dagang sangat besar pula artinya dalam melakukan promosi dan penetrasi pasar hasil produksi Indonesia. Pemantapan Organisasi Pelaksanaa AFTA AFTA sebagai suatu kegiatan baru dalam kerjasama ASEAN harus didukung oleh struktur organisasi yang kuat agar pelaksanaannya dapat berjalan sebagaimana mestinya. Juga diperlukan pengawasan yang ketat untuk menjaga agar jangan sampai terjadi kecurangan dalam pelaksanaan perdagangan yang akan merugikan negara tertentu. Karena itu. adil dan terarah sehingga dapat dimanfaatkan secara maksimal dan merata. sedangkan volume perdagangan Indoensia dengan Singapura hanya 5. Oleh karena itu. adalah nomor dua terkecil setelah Filipina. kebijakan deregulasi yang telah dijalankan Pemerintah sejak beberapa tahun yang lalu perlu terus dilanjutkan dan diperluas kepada sektor-sektor riil yang langsung mempengaruhi kegiatan produksi dan selanjutnya perlu diusahakan agar pemberian fasilitas-fasilitas yang cenderung menciptakan kondisi monopoli dalam pengelolaan usaha perlu dihilangkan. Dalam kaitan ini. Peningkatan Efisiensi Produksi Dalam Negeri Untuk meningkatkan efisiensi produksi dalam negeri. perlu diciptakan kondisi persaingan yang sehat di antara sesama pengusaha agar tidak terdapat "distorsi harga" bahan baku. 1.Kesimpulan Yang harus dilakukan Indonesia agar dapat dengan baik menghadapi AFTA dan dapat bersaing dengan Negara-negara lain di dalamnya adalah : 1.

Nanang Pamuji.andriaditya. pengolahan dan pemasaran (Kartasasmita.id http://www.com .wordpress. baik pasar domestik maupun pasar internasional. Pengembangan produk-produk unggulan dilaksanakan melalui serangkaian proses yang saling terkait serta membentuk suatu sistem agribisnis yang terdiri dari sistem pra produksi. Referensi: Mugasejati.bi.bappenas. 1.go. sehingga hanya perusahaan besar yang mampu terus berkembang. Untuk melindungi industri kecil tersebut. Materi Kuliah International Political Environment. Perusahaan besar tersebut di-perkirakan terus menekan industri kecil yang pada umumnya kurang mampu bersaing dengan para konglomerat. http://www. 1996). Universitas Gadjah Mada.Pelaksanaan AFTA akan mengakibatkan tingginya tingkat persaingan.id http://www. Upaya Meningkatkan Daya Saing Sektor Pertanian Dalam upaya meningkatkan peran ekspor sektor pertanian.go. perlu dikembangkan produk-produk unggulan yang mampu bersaing di pasar. produksi. perlu diwujudkan sebuah undang-undang anti monopoli atau membentuk suatu organisasi pemersatu perusahaan-perusahaan berskala kecil.

dan produk-produk pertanian di intra-regional maupun inter-regional sampai mencapai 0-5 %. Brunei Darussalam. dalam kenyataannya pemberlakuan AFTA juga masih menemui berbagai kendala yang menghambat terciptanya interdependensi menguntungkan antar negara-negara anggota. dan Malaysia. Selain itu. Karena fenomena globalisasi yang menciptakan regionalisasi dan liberalisasi di berbagai sektor berdampak langsung terhadap sistem perekonomian dunia.[9] Hal ini dapat dilihat dari lemahnya upaya negara-negara anggota untuk memanfaatkan mekanisme yang telah ditetapkan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan intra ASEAN. Kendala itu juga disebabkan oleh kekurangselarasan .[3] Dengan perluasan keanggotaan ini diharapkan dapat mempercepat terjadinya integrasi ekonomi di kawasan Asia tenggara menjadi suatu pasar produksi tunggal dan menciptakan pasar regional bagi lebih dari 500 juta orang. yang kemudian dipercepat lagi menjadi 2002. telah mengubah keputusan tersebut menjadi 10 tahun atau 5 tahun lebih cepat dari jadwal pertama yaitu 1 Januari 2003. negara-negara anggota telah menetapkan suatu regulasi yang dikenal dengan CEPT (Common Effective Preferential Tariff). serta memberikan para konsumen kesempatan untuk memilih barangbarang berkualitas. serta Kamboja (1999). Singapura. Karena kesepakatan ini merupakan sikap ASEAN terhadap fenomena globalisasi pasca berakhirnya Perang Dingin. Sehingga jumlah keseluruhan anggota AFTA menjadi 10 negara. Filipina. pemberlakuan AFTA dapat dianggap sebagai kesepakatan yang tidak realistis. modal.IMPLEMENTASI AFTA DALAM PROSES INTEGRASI EKONOMI ASEAN BAB I PENDAHULUAN 1. Thailand. 22-23 September 1994.[8] Akan tetapi pemberlakuan AFTA merupakan pilihan dilematis bagi negara-negara anggota ASEAN. pemberlakuan AFTA dapat dilihat sebagai upaya ASEAN untuk menyelamatkan perekonomian masing-masing negara anggota. yang diadakan di Chiangmai. Karena pilihan untuk menjalankan liberalisasi perdagangan antar negara-negara di tengah-tengah masih rendahnya tingkat efisiensi produksi dan jumlah produk kompetitif masingmasing negara justru dapat merugikan. AFTA memperluas keanggotaanya dengan masuknya anggota baru yaitu Vietnam (1995).[7] Kemudian pertemuan AEM (ASEAN Economic Ministers). Tetapi pada perkembangannya.[1] Kerjasama AFTA bertujuan untuk meningkatkan daya saing produk ASEAN di pasar dunia dan menciptakan pasar seluas-luasnya untuk menstimulus peningkatan FDI (Foreign Direct Investment) di kawasan Asia Tenggara. Sehingga perdagangan intra ASEAN dianggap tidak banyak mengalami kemajuan. Sedangkan di sisi lain. Thailand.[5] Sebagai upaya untuk merealisasikan tujuan pemberlakuan AFTA.1 Latar Belakang Declaration of Singapore 1992. Laos dan Myanmar (1997).[6] Pada awalnya CEPT diberlakukan dalam jangka waktu 15 tahun.[4] Sebab penghapusan tariff bea masuk di negara-negara anggota ASEAN dianggap sebagai sebuah katalisator bagi efisiensi produk yang lebih besar dan kompetisi jangka panjang. Di satu sisi. begitu pula investasi antar negara ASEAN.[2] Kerjasama ini pada awalnya hanya beranggotakan enam negara yaitu Indonesia. Kesepakatan ini direalisasikan dalam bentuk kerjasama free trade yang dikenal dengan AFTA (ASEAN Free Trade Area). yang disepakati pada KTT ASEAN IV 27-28 Januari 1992 di Singapura. merupakan momen bersejarah bagi masa depan kawasan Asia Tenggara. CEPT merupakan kerangka kesepahaman mengenai kebijakan reduksi atas tarif dan non-tarif terhadap segala jenis barang dagang.

sebagai momen lahirnya Declaration of Singapore yang menjadi tonggak sejarah lahirnya AFTA. 1. 1. Sehingga terdapat gambaran yang jelas mengenai signifikansi pemberlakuan AFTA dalam proses integrasi ekonomi ASEAN. 1. kondisi mutual interdependency itu lahir dari kemampuan dan kondisi masing-masing negara anggota. Tetapi di satu sisi. pemberlakuan AFTA sebagai kerjasama ekonomi ASEAN masih mendapat kritik dan perhatian dari negara-negara anggota yang berupaya untuk melakukan perbaikan penting dalam proses integrasi ekonomi ASEAN. Lebih dari itu. Karena seiring usianya keempatbelas berbagai permasalahan masih sering terjadi antar negara-negara anggota AFTA yang menyebabkan terhambatnya proses integrasi ekonomi kawasan. Sehingga penulisan dapat difokuskan terhadap masalah yang diangkat dan menghindari bias dalam analisa yang disampaikan. Karena perbedaan dan perselisihan kepentingan antar negara-negara anggota akan berkurang seiring meningkatnya interdependensi dan hubungan mutualisme sebagai dampak dari kerjasama liberalisasi perdagangan kawasan. penulisan ini akan mengawali dengan melihat KTT ASEAN IV.1 Batasan Waktu Untuk mengkaji proses pemberlakuan AFTA dalam upaya untuk mengintegrasikan ekonomi negara-negara anggota ASEAN. Secara teoritis.2. Berdasarkan latar belakang sederhana ini. Hasilnya adalah output kedua negara itu akan semakin tinggi.2 Batasan Materi Sebagai batasan dalam penulisan ini.3 Permasalahan Merumuskan suatu permasalahan merupakan bagian penting dalam sebuah karya ilmiah agar penulisan dan kajian yang dilakukan lebih fokus. materi yang akan dibahas adalah implementasi yang berupa proses pemberlakuan peraturan dan kendala-kendala dalam AFTA. maka pasar akan semakin efektif ketika kedua negara itu melakukan kerjasama untuk melakukan foreign exchange. dengan judul sebagai berikut : IMPLEMENTASI AFTA DALAM PROSES INTEGRASI EKONOMI ASEAN 1. Belum lagi melemahnya komitmen beberapa negara anggota yang disebabkan oleh perbedaan kepentingan dan orientasi .2 Ruang Lingkup Pembahasan Suatu penulisan ilmiah harus memiliki ruang lingkup pembahasan yang jelas. dan negara B mampu membuat produk b secara efisien. karena kebutuhan mereka terpenuhi dengan adanya kegiatan perdagangan bilateral. penulis tertarik untuk mengeksplorasi proses liberalisasi pasar kawasan ASEAN sejak tercetusnya ide kerjasama ini yaitu pada tahun 1992.antara pilar masyarakat ekonomi ASEAN yang mencita-citakan sebuah pasar tunggal dengan masyarakat keamanan ASEAN yang masih mengedepankan prinsip non-interference.[10] Oleh karena itu. pada 27-28 Januari 1992 di Singapura. Negara-negara anggota ASEAN berharap kerjasama AFTA dapat menjadi mediasi terciptanya kondisi interdependensi yang menguntungkan bagi negara-negara anggota. kondisi ideal tersebut masih jauh dari kenyataan.[11] Berdasarkan hal inilah penulis berusaha membuat sebuah rumusan masalah yang dijadikan titik fokus analisa dan kajian dalam penulisan ini. negara-negara anggota juga berharap agar AFTA dapat memediasi pertumbuhan perekonomian dan memperkuat kohesivitas antar negara-negara anggota ASEAN. Serta implementasi penuh AFTA yang dimulai pada tahun 2002-2005. Jika negara A mampu membuat produk a secara efisien.2.

Oleh karena itu. Sehingga AFTA dianggap belum mampu menjawab tantangan global yaitu menyejahterakan negara-negara anggotanya dengan berbagai programnya. Karena free trade akan menciptakan interdependensi dan kerjasama saling menguntungkan antar negara-negara pelaku pasar. dan apa saja kendala yang dihadapi negara-negara peserta AFTA?. Permintaan ini ditanggapi dengan Protocol Regarding the Implementation of the CEPT Temporary Exclusion List yang memperbolehkan negara-negara peserta AFTA untuk menunda sementara pemasaran produk-produknya di pasar AFTA. Teori juga merupakan kerja empiris dalam mengumpulkan generalisasi yang memiliki hubungan antara satu dengan yang lainnya. [12] Di sisi lain. Maka rumusan masalah penulisan ini adalah: Sejauhmana implementasi AFTA dalam proses integrasi ekonomi ASEAN? 1.[13] Oleh karena itu penulisan ini akan memfokuskan pada permasalahan mengenai impelementasi AFTA dalam proses integrasi ekonomi ASEAN.4 Kerangka Dasar Teori Teori adalah serangkaian generalisasi yang menjelaskan atau memprediksi sebuah fenomena dalam kerangka ilmiah. seperti Indonesia. doktrin . kaum liberal juga menyatakan bahwa seluruh bentuk ekonomi yang mengakar kepada tradisi pemikiran liberal menganggap bahwa mekanisme harga dan pasar adalah media paling efektif untuk mengatur hubungan ekonomi domestik dan internasional.[16] Selain itu. terlihat jelas perbedaan minat negara-negara anggota dalam melakukan aktivitas perdagangan. Hal ini menyebabkan efek positif dari AFTA kurang dirasakan oleh negara-negara anggota. Ia mengatakan dilihat dari intensitas perdagangan beberapa negara menganggap pasar ASEAN kurang begitu penting.pasar bagi proses perdagangan masing-masing negara anggota. CEPT sebagai kerangka acuan yang digunakan dalam kerjasama AFTA juga dirancang untuk mengakomodasi kepentingan politik negara-negara anggotanya.[14] Liberalism and Economic Integration Theory Kaum liberal meyakini bahwa free trade akan membawa perdamaian dalam hubungan internasional.[15] Kaum liberal berpendapat bahwa liberalisasi dalam ekonomi akan mengarah kepada free market dan minimalisasi peran negara. di saat Malaysia menunda industri nasional otomotifnya untuk dipasarbebaskan dalam AFTA. Bahkan dalam konteks IT (Intentensity of Trade) menurut analisa Yudhi Sadewa. Sehingga dapat dilihat sejauhmana proses pemberlakuan AFTA sebagai salah satu media untuk menciptakan integrasi ekonomi ASEAN?. hal ini tidak menurunkan optimisme untuk mewujudkan pasar tunggal ASEAN yang akan memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat negara-negara anggota. Karena mekanisme CEPT yang dijadikan kerangka kerjasama AFTA merupakan bagian dari harmonisasi sistem perdagangan kawasan dan pemerataan ekonomi antar negara-negara anggota. Seperti yang terjadi pada Oktober tahun 2000. serta bagaimana kritik dan harapan negara-negara peserta terhadap masa depan AFTA?. meskipun masih banyak kendala-kendala yang menjadi hambatan dalam proses pemberlakuan AFTA. Sehingga terdapat hubungan erat antara kebebasan pasar dengan kebebasan individu untuk saling bekerjasama dan menciptakan perdamaian. Sedangkan liberalisasi dalam politik akan mengarah kepada kebebasan dan persamaan individu. Bahkan CEPT juga menyediakan mekanisme dalam penyelesaian perselisihan yang memperbolehkan negara-negara anggota untuk menarik kembali konsesinya jika terjadi penyelewengan atas kesepakatan AFTA. ekonom senior Lembaga Penelitian Danareksa. Generalisasi dalam teori disusun secara sistematis sebagai sebuah upaya untuk memberikan penjelasan atau prediksi yang saintifik dan responsible.

Karena proses tersebut akan diiringi dengan penerapan aturan dan kesepakatan antar negara-negara peserta.[20] Economic Integration Theory juga menjelaskan bahwa negara-negara akan diuntungkan dengan pemberlakuan perdagangan bebas yang mengarah kepada pembebasan tariff-barriers atau nontariff barriers. dan berdampak kepada peningkatan harga dan pendapatan dapat menciptakan suatu integrasi ekonomi antar negara-negara tersebut. Kerjasama ini . Tetapi perdagangan bebas yang dilandasi oleh sebuah keinginan bersama tidak serta merta mengeliminasi kesempatan negara-negara yang lemah secara perekonomian untuk ikut berkompetisi dan meraih keuntungan dari proses perdagangan (gains from trade). dan kesejahteraan individu. Sedangkan pendekatan kualitatif digunakan untuk menjelaskan permasalahan yang melatarbelakangi dinamika pemberlakuan AFTA hubungannya dengan proses integrasi ekonomi ASEAN.[23] Begitu pula pengertian hipotesa dalam Scope and Methods of Political Science. penulis akan mengajukan asumsi dasar secara kuantitatif dan kualitatif. negara-negara akan mendapatkan keuntungan dari keunggulan komparatif (comparative advantage) dengan menjual beberapa komoditas tertentu kepada negara lain.[24] Dalam hipotesa ini. dalam sebuah perdagangan bebas.[22] 1. hubungan perdagangan antar negara-negara yang sensitif. Sehingga hipotesa dapat ditolak atau diterima. sistem dunia harus diarahkan menuju sebuah pasar global. Bahkan. Hipotesa dapat diuji berdasarkan fakta-fakta yang didapatkan dengan menggunakan prinsip-prinsip metode ilmiah. secara alami.liberal mengenai kebebasan pasar bertujuan untuk pencapaian maximum efficiency. Sebaliknya negara-negara lain akan menjual komoditas tertentu yang tidak dimiliki oleh suatu negara sehingga terjadi pasar yang saling melengkapi dan menguntungkan. Seperti yang dijelaskan dalam Integration Economic Theory bahwa transaksi ekonomi. meskipun biasanya hanya terhadap barang dan jasa tertentu. agar terciptanya a peaceful global order. Hipotesa adalah suatu perkiraan mengenai hubungan antara konsep-konsep. fenomena free trade di beberapa kawasan dunia dapat dimaknai sebagai proses integrasi ekonomi negara-negara anggota.[18] Lebih dari itu.[19] Di sisi lain. hipothesa dibuat untuk menjelaskan suatu fakta atau menyediakan sebuah landasan dan asumsi dasar dari sebuah argumen.[21] Preferential Trade Agreements or Areas (PTA) atau Free trade Area (FTA) mensyaratkan kepada seluruh negara peserta untuk mengeliminasi atau mengurangi tarif pada masing-masing produk impor.5 Hipothesa Menurut The New Lexicon Webster’s Dictionary of The English Language. dimana barang dan jasa dapat bergerak bebas melintasi batasan-batasan negara. Tetapi negara-negara peserta diperbolehkan untuk mempertahankan pembatasanpembatasan tarif terhadap negara-negara non-peserta. a free trade area (FTA) mengarah kepada zero tariffs antara negara-negara peserta.[17] Perdagangan bebas merupakan media yang efektif dan damai dalam peningkatan kekayaan masing-masing negara. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengkuantifikasi proses implementasi AFTA sejak 1992. Kerjasama AFTA adalah upaya ASEAN dalam menghadapi international setting pasca Perang Dingin yang dianggap mampu memperkuat integrasi kawasan Asia Tenggara. pertumbuhan ekonomi. hipothesa adalah sebuah ide atau proposisi yang tidak didasarkan pada fakta dan pengalaman. Akan tetapi. Sedangkan berdasarkan tipenya. An Introduction to The Methodology of Political Inquiry. Karena negara-negara diuntungkan dengan kerjasama perdagangan yang akan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

mofa. 1 Persentase Tentative Pengurangan Tarif Pada Tingkat 0-5 persen 2004 Dalam pemberlakuanya. negara-neagara anggota AFTA telah melakukan pengurangan tarif intraregional yang signifikan melalui skema Common Effective Preferential Tariff (CEPT) dalam AFTA.ASEANSEC. dan perbedaan orientasi pasar seringkali menghambat transaksi produk dagang yang telah disepakati dalam . standarisasi dan peraturan perdagangan. masalah standarisasi yang digunakan oleh masing-masing anggota. Berdasarkan tahapan-tahapan integrasi ekonomi. Laos. 2 Sumber : http://www. Sedangkan negaranegara anggota baru.[26] Tetapi pada Tabel I. Sedangkan hal utama dalam kerjasama ini adalah keterbukaan komunikasi dan penyesuaian implementasi kebijakan yang akan memperkuat regionalisasi lewat jalur diplomasi dan ekonomi. dan biaya-biaya impor. yang menunjukkan persentase volume intra trade ASEAN yang berbanding terbalik dengan volume extra trade ASEAN baik impor maupun ekspor sejak tahun 1993 hingga tahun 2003. serta akses pasar.pdf Secara kualitatif. 1 Prosentase Volume Perdagangan ASEAN Sumber: WWW. Filipina.jp/region/asia-paci/growth.[25] Secara kuantitatif. dalam hipotesa ini penulis mengkuantifikasi beberapa indikator dalam free trade yang diantaranya adalah prosentase implementasi penghapusan ASEAN intra-tariff regional trade dan prosentase total nilai volume intra-trade ASEAN berbanding terbalik dengan total nilai volume external-trade ASEAN. telah mencapai tingkat pengurangan tarif 0-5 persen (Tabel I. Singapura dan Thailand. Sedangkan kebijakan non-tariff barriers adalah berbagai kebijakan perdagangan selain bea masuk yang dapat mempengaruhi proses perdagangan antar negara-negara anggota. Indonesia. kebijakan ini dapat berupa pembatasan spesifik (spesific limitation). belum terdapat perkembangan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini ditunjukkan dengan lebih dari 99 persen produk dalam kategori Inclusion List (IL) ASEAN-6. dalam suatu mekanisme free trade area (FTA) negara-negara harus menerapkan skema free intra trade yang terdiri dari kebijakan tarif dan non tarif.go. Dari total produk-produk tersebut.ORG. 66 persennya memiliki tarif 0-5 persen. terlihat bahwa sejak implementasi penuh AFTA pada tahun 2002. Myanmar. partisipasi pemerintah (government participation). yaitu Kamboja. 1). Umumnya. tarif sedang antara >5 persen-20 persen (biasanya dikenakan untuk barang setengah jadi). penulis lebih menyoroti pada kebijakan non-tarif negara-negara anggota yang berupa peraturan dan prosedur kepabeanan yang membatasi proses perdagangan antar anggota AFTA. Malaysia. dan Vietnam juga telah menunjukkan komitmennya dengan memasukkan 80 persen dari produknya ke dalam masing-masing Inclusion List (IL). peraturan bea cukai (customs administration rules). data diolah oleh penulis berdasarkan nilai ekspor-impor intra-extra ASEAN dengan rumus vi/ve x 100% (ket. Tabel I. Tabel I. Bahkan pada Tabel I. yang meliputi Brunei Darussalam. ve: volume extra trade ASEAN) Tabel I. 3 jumlah intra-trade ASEAN jauh lebih kecil daripada beberapa blok perdagangan lainnya. Vi : volume intra trade ASEAN.bertujuan pula untuk meningkatkan interdependensi yang mengakar kepada kepentingan ekonomi masing-masing negara. dan tarif tinggi di atas 20 persen (biasanya dikenakan untuk barang mewah. 2. Kebijakan tariff barriers itu dapat berupa pembebasan bea masuk/tarif rendah antara 0 persen-5 persen (biasanya dikenakan untuk bahan kebutuhan pokok).

United Sates. Faktor yang terakhir ini merupakan permasalahan signifikan yang sedang dihadapi oleh pasar AFTA.[29] 1.2 Metode Analisa Data dan Level Analisa Sebagai seorang pestudi ilmu sosial. Sementara itu. Departemen Luar Negeri 6.CEPT. keberadaan AFTA yang dicita-citakan sebagai magnet dari terciptanya integrasi ekonomi ASEAN justru bisa menghasilkan disintegrasi. Karena dalam kenyataannya. Perpustakaan LIPI 5.1 Metode pengumpulan data Metode pengumpulan data tidak kalah penting dalam sebuah penulisan.[27] Selain itu.6. Eropa. penulis ingin menggunakan dua metode yang keduanya bisa saling mendukung. Sekretariat Jenderal ASEAN di Indonesia 7. Perpustakaan Fisip Unej 2. Perpustakaan CSIS 4. Dan sumber-sumber relevan lainnya 1. 1.[28] Dari kedua pendekatan tersebut. Karena hal ini akan sangat berpengaruh terhadap data dan fakta yang diperoleh. bahkan cenderung berjalan lambat.[30] Level analisis dalam tulisan ini terdiri dari dua hal yang penting. Pertama adalah variabel dependen yang menjadi unit analisis yaitu regional.6 Metodologi Penggunaan metodologi dalam penulisan adalah sebuah upaya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang diperoleh secara saintifik. Maka penulis akan mengumpulkan dan menganalisa data yang diperoleh dari beberapa perpustakaan dan lembaga yang berkaitan langsung dengan permasalahan ini yaitu : 1. dapat disimpulkan sementara bahwa perdagangan bebas ASEAN sebagai salah satu tahapan dalam proses integrasi ekonomi ASEAN belum dapat dikatakan optimal. Munculnya fenomena negara-negara kuat (the major power state) yang terdiri dari UKUSA (United Kingdom. negara-negara peserta AFTA cenderung untuk memilih pasar Amerika Serikat. Sehingga pertumbuhan perdagangan ASEAN berjalan lambat. Sedangkan yang kedua adalah metode kuantitatif yang penulis gunakan sebagai salah satu cara untuk memperkuat data kualitatif yang penulis dapatkan. Sehingga. Perpustakaan Universitas Jember 3. beberapa kendala lain yang tidak kalah rumitnya adalah masalah mekanisme penyelesaian perselisihan. dan Uni Soviet adalah bagian dari pemicu . khususnya dalam ilmu hubungan internasional. dan ukuran baru guna memperkuat perdagangan dan investasi intra-ASEAN. suatu ilmu pengetahuan dapat diuji kebenarannya melalui metode-metode ilmu pengetahuan yang dibangun dalam studi ilmu hubungan internasional.[31] 1. Dengan hal ini. dan Asia Timur daripada pasar ASEAN sendiri. friksi perdagangan antar negara-negara anggota menyebabkan perselisihan baru dalam dinamika ASEAN. Pertama adalah metode kualitatif yaitu metode yang umumnya digunakan oleh para ilmuwan sosial untuk mengkaji berbagai hal terkait dengan data dan fakta non angka. and Australia).7 Pendekatan Perang Dunia II merupakan momentum penting dalam sejarah hubungan internasional. Kedua adalah variabel independen yang menjadi unit eksplanasi yaitu internasional/globalism. standar dan pencocokan. aturan asal mula.6.

ditunjukkan dengan keberadaan import substitution industrialization (ISI) sebagai bentuk dari regional autarky. dan kekuatan ekonomi. perdagangan bebas dan integrasi ekonomi kawasan dipandang sebagai pembentukan blok-blok yang justru bertujuan untuk memajukan rezim perdagangan internasional.[36] Pada dua periode itu. khususnya blok-blok perdagangan (free trade areas/FTAs). ekonomi. and a hybrid type. Maka muncullah sebuah regionalisasi baru yang bisa dikategorikan menjadi tiga macam : regional defense.[32] Regionalisme adalah sebuah bentuk kebutuhan yang menjadi tuntutan dalam era globalisasi saat ini.[37] Lebih dari itu. Dalam penulisan ini. untuk membantu mereka dalam menghadapi fenomena globalisasi. dan sebagainya. Persekutuan the major power states telah menyebabkan sebuah kekhawatiran yang mendalam akan terjadinya sebuah perebutan kekuasaan dan pengaruh dalam konstelasi politik internasional. regional economy. peningkatan hambatan tarif yang tinggi dalam perdagangan dan pembentukan mata uang regional.[35] Pada tahun 1970-an hingga 1980-an. diantara yang lainnya.[39] Kedua. mereka mengatakan bahwa regionalisme seringkali memiliki efek-efek nyata yang penting. integrasi ekonomi kawasan antar negara-negara berkembang. . Tetapi secara positif. Secara negatif. munculnya regionalisme adalah sebuah upaya untuk mencegah fenomena unilateralism Amerika Serikat dan universalism yang menembus batas-batas kehidupan suatu nation state. integrasi ekonomi kawasan dipandang sebagai suatu ancaman terhadap rezim perdagangan multilateral. dan kontribusi regionalisasi terhadap dinamika internal dan internasional yang justru cenderung lebih positif bagi masa depan liberalisasi global. serta blok perdagangan. mereka menganggap pembentukan regionalisasi mendukung perdagangan ke arah yang lebih bebas dan multilateralisme setidaknya dalam dua hal yaitu dampak positif dari perdagangan (trade creation) secara umum melebihi daripada dampak negatifnya (trade diversion)[38]. integrasi ekonomi kawasan dipandang dalam dua aspek yaitu secara negatif dan positif. Pembentukan perdagangan kawasan. Dalam pandangan yang berbeda. khususnya yang tertulis dalam Pasal 24 GATT (General Agreement on Tariffs and Trades). khususnya di Afrika dan Amerika Latin. Ketiga adalah regionalisme dianggap cenderung memilki efek politik yang lebih positif daripada negatif.[33] Bahkan negara-negara berkembang memandang regionalisme sebagai suatu alat.[34] Berdasarkan pandangan-pandangan ini. beberapa pendukung regionalisme mengungkapkan beberapa argumentasi yang mendasari keyakinan mereka mengenai hal tersebut. secara umum memiliki keterkaitan dengan sejarah keruntuhan ekonomi dunia antara masa Perang Dunia I dan II yaitu jatuhnya harga komoditas bahan pokok pada tahun 1920an diikuti dengan Great Depression pada tahun 1930an yang mengakibatkan devaluasi besar-besaran. Regionalisme ekonomi. Kekhawatiran itu terbukti dengan berkumpulnya negara-negara kecil yang lemah dalam hal persenjataan. Kebutuhan ini terdiri kebutuhan identitas dan eksistensi berdasarkan kedekatan geografis maupun budaya yang memotivasi mereka untuk bekerjasama dalam mencapai tujuan bersama (the common goals) serta upaya problem solving terhadap masalah-masalah politik. Pertama. penulis memilih pendekatan regionalisme ekonomi yang berkaitan erat dengan fenomena liberalisasi ekonomi di kawasan Asia Tenggara.terbentuknya aliansi dan pakta-pakta pertahanan kawasan. digambarkan sebagai suatu batu lompatan untuk memajukan liberalisasi internasional. maka pembentukan blok-blok ekonomi dan perdagangan dalam hubungan internasional merupakan pilihan rasional bagi negara-negara berkembang sebagai suatu upaya untuk survive. kekuatan militer. budaya. Inisiatif regional dalam memecahkan berbagai masalah dapat membiasakan pemerintahan (pemerintah dan warga negaranya) dalam proses liberalisasi dan meningkatkan kemungkinan mereka untuk bergerak ke wilayah multilateral.

New Jersey 1987.or.htm. Kemitraan strategis ASEAN+3. diakses pada tanggal 05 Juli 2005 [8] http://www.co. 32-38 [19] Dr. hal.htm. 48-49.htm. p.id/scholars_opinion_view. Theories of International Relations. 366-368.htm. Scope and Methods of Political Science. Kauppi.org/2115. hal.Cit. Realism.html.id/Ind/publikasi/djkipi/afta. [16] Ibid [17] Ibid [18] Scott Burchill and Andrew Linklater.ecsanet. Globalism. diakses pada tanggal 04 Juli 2005 [9] Kompas.26-31. diakses pada tanggal 02 Oktober 2005 [13] http://www.167-170. Ekonomi Internasional. Argentina dan Brazil telah memfungsikan Mercosur (Mercado Commun del Sur) untuk mengakhiri sejarah rivalitas keduanya dalam ketegangan nuklir. CV Tarsito. Indonesia 2001.org/conferences/ecsaworld2/tovias.com/kompas-cetak/0308/25/finansial/509774. The Princeton University Press.aseansec. Theories of Political Economy of International Relations. p.kompas. diakses pada tanggal 02 Oktober 2005 [14] Alan C.org/12375.htm. Isaak [25]Op. Bandung.[40] [1] http://www. diakses pada tanggal 05 Juli 2005 [7] http://www. Teori dan Kebijakan Perdagangan Internasional. Isaak.aseansec. http://www.org/12375.kompas.de. Viotti and Mark V.go. 65-75 [26] www. [15] Robert Gilpin. p. diakses pada tanggal 09 Januari 2005 [5] Ibid [6] http://www.org [27] http://www. diakses pada tanggal 09 Juli 2005 [2] http://www.TheTheoryOfEconomic Integration: Past And Future. Cit. St. Dasar-Dasar dan Teknik Riset : Pengantar Metodologi Ilmiah.aseansec. Hamdy Hady. diakses pada tanggal 08 Juli 2005 [3] http://www. http://www. Measuring and Explaining the level of Regional Economic Integration. diakses pada tanggal 10 Januari 2005 [28]Faustinus Andrea .htm.dprin. [12] http://www.id/berita/0307/14/eko01. the United States of America.com/kompas-cetak/0304/10/jatim/249146.org/74. [20] Paul R. Alan C.csis. p.aseansec. An Introduction to The Methodology of Political Inquiry.pdf. GHALIA. 09 Agustus 2005 [10] Ibid [11] Winarno Surachmad. The Dorsey Press. International Relations Theory.sinarharapan. Hamdy Hady.org/afta.org/1163. hal. New York 1990.aseansec. Working Paper B12 2004. 1978. Pluralism.aseansec.htm. 1996. diakses pada tanggal 09 Juli 2005 [4] http://www. Martin’s Press. DR. diakses pada tanggal 11 Agustus 2005 [23] The New Lexicon Webster’s Dictionary of The English Language [24] Op. http://www. diakses pada 10 Agustus 2005 [22] Jennifer Pedussel Wu. [21]AlfredTovias. diakses pada tanggal 03 November 2005 . Macmillan Publishing Company.asp?op_id=95&id=41&tab=1.Perdagangan dan integrasi ekonomi yang lebih luas telah membentuk European Union (EU)dimana perang antara Jerman dan Perancis mencair seiring dengan meningkatnya peran EU.htm.zei.aseansec. Illinois 1981.htm. Inc.

masing-masing negara akan memperoleh dampak positif berupa peningkatan kesejahteraan masyarakat karena memperoleh barang dengan harga yang relative lebih murah.vmi. sehingga akan digantikan dengan impor yang harganya relatif lebih mahal dari negara anggota. keuangan. Bhagwati. Op. hal . Hentz dalam Summer Research Grant Report : The Regional Dimension of Globalization: The Three Level Game – Globalization – Domestic Politics and Regionalization in South Africa and Brazil http://academics. Defining the “Asia Pasific Region”. 1990. [30] Ibid. 3-11 [33] Ibid. [31] Ibid. Fred Bergsten dalam tulisannya yang berjudul Open Regionalism dan dipublikasikan oleh Institute for International Economics (IIE). Economics and World Order From 1970’s to 1990’s: The Key Issues. tanpa mempunyai hubungan ekonomi.edu/grants_in_aid/GrantDocs/Hentz.cfm?researchid=152 . Sedangkan Trade diversion merupakan dampak negatif dari impor barang yang harganya relatif murah dari negara bukan anggota FTA atau CU. diakses pada 29 Oktober 2005 [35] Jagdish N. Indonesian and Australian Views (CSIS. 88-93 [39]Baca C. James J. Hasnan Habib. Hal. LP3ES. Hamdy Hady.com/publications/wp/wp. Dr. 1996). dalam jurnal berjudul The Role of Security and Economic Cooperation Structure in The Asia Pasific Region. maupun perdagangan internasional (ekspor dan impor) [37] Op. [34] Pendapat yang dikemukakan oleh James J. [32] A. Cit. Maxmillan Publish. 1971.[29] Mohtar Mas’oed. Jika seluruh sumber daya digunakan secara full employment dan dengan melakukan spesialisasi berdasarkan comparative advantage. 1-27 [36] regional autarky adalah negara atau kawasan yang hidup terisolasi. Jakarta.iie. 1-4. http://www. Ilmu Hubungan Internasional : Disiplin dan Metodologi.doc. hal. Washington. hal. Free Press. Hentz [38]Trade creation adalah penggantian dimana produk domestic suatu negara yang melakukan integrasi ekonomi regional melalui pembentukan FTA (Free Trade Area) atau CU (Customs Union) dengan produk impor yang lebih murah dari anggota lain.Cit.