BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka 1.

Proses Belajar Mengajar Matematika di Sekolah Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dan individu dengan lingkungannya (Usman, 1995: 5). Belajar sebagai suatu proses, ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Winkel (1986: 36) menyatakan bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungannya, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersikap secara relatif, konstan dan berbekas. Belajar adalah kegiatan yang dilakukan untuk menguasai pengetahuan, kebiasaan, kemampuan, keterampilan dan sikap melalui hubungan timbal balik antara proses belajar dengan lingkungannya. Selanjutnya Soejanto (1997: 21) menyatakan bahwa belajar adalah segenap rangkaian aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa penambahan pengetahuan yang menyangkut banyak aspek, baik karena kematangan maupun karena latihan. Perubahan ini memang dapat diamati dan berlaku dalam waktu relatif lama. Perubahan yang relatif lama tersebut disertai dengan berbagai usaha, sehingga Hudoyo (1990: 13) mengatakan bahwa belajar itu merupakan suatu usaha yang

6

keterampilan dan sikap yang bersifat menetap. pemahaman. Hamalik (2001: 8) menyatakan bahwa mengajar adalah usaha guru untuk mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa.7 berupa kegiatan hingga terjadinya perubahan tingkah laku yang relatif lama atau tetap. sejalan dengan pendapat De Quelyu dan Gazali dalam Abdurrahman(1990: 73) mengatakan bahwa belajar adalah menanamkan pengetahuan pada seseorang dengan cara paling singkat dan tepat . Dari beberapa pendapat para ahli pada intinya belajar merupakan suatu proses untuk mencapai suatu tujuan yaitu perubahan kearah yang lebih baik. Pengertian ini mengandung makna bahwa guru dituntut untuk dapat berperan sebagai . Sejalan dengan itu. karena berhasilnya pendidikan pada siswa sangat bergantung pada pertanggungjawaban guru dalam melaksanakan tugasnya. Mengajar pada prinsipnya membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar atau mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan proses belajar (Usman. Perubahan tersebut adalah perubahan pengetahuan. Usman (1995: 6) menyatakan mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab yang cukup berat. Pengertian mengajar adalah penyerahan kebudayaan berupa pengalamanpengalaman kecakapan kepada anak didik atau usaha mewariskan nilai-nilai kebudayaan kepada generasi muda/penerus. 1995: 6).

tetapi berupa interaksi edukatif. baik yang ada di kelas maupun yang ada di luar kelas yang menunjang kegiatan belajar mengajar. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar.8 organisator kegiatan belajar siswa dan juga hendaknya mampu memanfaatkan lingkungan. dapatlah dikatakan bahwa proses belajar adalah suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam hal ini bukan hanya penyampaian pesan berupa materi pelajaran. Dari pengertian belajar dan mengajar yang telah dikemukakan oleh para ahli. pendidikan mempunyai peranan penting dan diharapkan dapat membimbing siswa agar mereka menguasai ilmu dan keterampilan yang berguna serta memiliki sifat positif. melainkan bagaimana siswa dapat mempelajari bahan pelajaran sesuai tujuan. tidak sekedar hubungan antara guru dengan siswa. Dalam proses belajar mengajar. keberhasilan guru dalam pengajaran ditentukan oleh prestasi atau hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Interaksi dalam peristiwa belajar mengajar mempunyai arti yang lebih luas. . Oleh karena itu. Menurut Rusyan (1989: 27) bahwa mengajar bukan upaya guru menyampaikan bahan pelajaran. melainkan penanaman sikap dan nilai pada diri siswa yang sedang belajar.

artinya topik matematika yang telah diajarkan merupakan prasyarat untuk topik berikutnya. Ini berarti bahwa belajar matematika akan terjadi dengan lancar bila belajar itu sendiri dilakukan secara kontinu. maka dalam mengajar guru hendaknya dapat memberikan pengetahuan prasyarat sebagai dasar untuk mempelajari topik matematika yang diajarkan agar dalam menyelesaikan soal-soal matematika tidak terlalu banyak mengalami kesulitan. sedangkan guru dalam mengajar hendaknya dapat memilih topik-topik matematika sesuai dengan urutan logis. Karena itu untuk mempelajari suatu topik matematika yang baru. di mana perubahan tingkah laku siswa diarahkan pada pemahaman konsep-konsep matematika yang akan mengantarkan siswa pada berpikir matematis berdasarkan aturan-aturan yang logis dan sistematis. .9 Dalam mengajar matematika perubahan tingkah laku diarahkan pada pemahaman konsep-konsep matematika yang akan mengarahkan individu kepada berpikir matematis berdasarkan aturan-aturan yang logis dan sistematis. Materi matematika disusun secara teratur dalam urutan yang logis dan hirarkis. Berdasarkan pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar matematika adalah proses belajar mengajar yang melibatkan guru dan siswa secara simultan. Sehubungan dengan itu. pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar matematika tersebut. Hudoyo (1988: 4) menyatakan bahwa belajar matematika yang terputus-putus akan mengganggu terjadinya proses belajar. Seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui oleh orang itu.

10 2. cita-cita. Prestasi Belajar Matematika Poerwadarminta (1974: 769) mendefinisikan bahwa prestasi merupakan hasil yang telah dicapai oleh seseorang dalam suatu usaha yang dilakukan atau dikerjakan. mengerjakan tugas. menindaklanjuti hasil ujian dan mencari sumber belajar. belajar kelompok mempersiapkan ujian. Defenisi di atas sejalan dengan pendapat Winkel (1986: 102) yang menyatakan bahwa prestasi adalah bukti usaha yang dicapai. kecerdasan. Faktor intern merupakan faktor-faktor yang berasal atau bersumber dari siswa itu sendiri. Prestasi belajar siswa ditentukan oleh dua faktor yaitu intern dan ekstren. analisis. sedangkan faktor ekstern merupakan faktor yang berasal atau bersumber dari luar peserta didik. sikap. Prestasi belajar adalah suatu nilai yang menunjukan hasil yang tertinggi dalam belajar yang dicapai menurut kemampuan siswa dalam mengerjakan sesuatu pada saat tertentu. kondisi pribadi siswa yang meliputi kesehatan. Faktor intern meliputi prasyarat belajar. sintesis. Selanjutnya Soejanto (1979: 12) menyatakan bahwa prestasi belajar dapat pula dipandang sebagai pencerminan dari pembelajaran yang ditunjukan oleh siswa melalui perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan/pemahaman. dan . membaca buku. evaluasi serta nilai dan sikap. yakni pengetahuan yang sudah dimiliki oleh siswa sebelum mengikuti pelajaran berikutnya. Istilah prestasi selalu digunakan dalam mengetahui keberhasilan belajar siswa di sekolah. keterampilan belajar yang dimiliki oleh siswa yang meliputi cara-cara yang berkaitan dengan mengikuti mata pelajaran. keterampilan.

dan kondisi sosial ekonomi keluarga (Usman. Prestasi yang dicapai oleh siswa merupakan gambaran hasil belajar siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dan merupakan interaksi antara beberapa faktor. Faktor ekstern antara lain meliputi proses belajar mengajar. yakni mempelajari materi pelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan masalah. sarana belajar yang dimiliki. Para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan.11 hubungannya dengan orang lain. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. lingkungan belajar. maka dapat dikatakan bahwa prestasi belajar matematika adalah tingkat penguasaan yang dicapai siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar matematika sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan dalam kegiatankegiatan belajar. 1995: 12). 3. Dalam hal ini sebagian besar aktifitas pembelajaran berpusat pada siswa. Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk . Berdasarkan pengertian prestasi yang dikemukakan para ahli.

. 3. mau menjelaskan ide atau pendapat. Diskusi masalah c. Hasil belajar akademik stuktural Bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Tipe ini dikembangkan oleh Kagen dalam Ibrahim (2000: 28) dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Kagen dalam Ibrahim (2000: 29). dengan tiga langkah yaitu : a. aktif bertanya. Pengembangan keterampilan sosial Bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Pengakuan adanya keragaman Bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang. Pembentukan kelompok b. Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas. bekerja dalam kelompok dan sebagainya. menghargai pendapat orang lain. Tukar jawaban antar kelompok. 2. Ibrahim mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT yaitu : 1.12 mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik.

Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari . Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan Dalam pembentukan kelompok. Langkah 2. Pembentukan kelompok Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. jenis kelamin dan kemampuan belajar. dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes awal (pre-test) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok.13 Langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan oleh Ibrahim (2000: 29) menjadi enam langkah sebagai berikut : Langkah 1. Selain itu. Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Diskusi masalah Dalam kerja kelompok. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang siswa. Langkah 3. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial. guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Persiapan Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario Pembelajaran (SP). ras. tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang diberikan oleh guru. suku. Langkah 4.

antara lain adalah : 1. guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas. Pertanyaan dapat bervariasi. Memberi kesimpulan Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan. kepekaan dan toleransi 8. Langkah 6. Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar 4. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban Dalam tahap ini. Meningkatkan kebaikan budi. Memperbaiki kehadiran 3. Konflik antara pribadi berkurang 6. Langkah 5. Pemahaman yang lebih mendalam 7.14 pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Hasil belajar lebih tinggi. . Ada beberapa manfaat pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap siswa yang hasil belajar rendah yang dikemukakan oleh Lundgren dalam Ibrahim (2000: 18). Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil 5. dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum. Rasa harga diri menjadi lebih tinggi 2.

yaitu membagi siswa dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 5 orang siswa dan setiap kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang beragam. dan ada pula yang tingkat kemampuannya kurang. Menyikapi kenyataan ini. Dalam pembelajaran matematika. karena melihat kondisi siswa yang mempunyai karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lainnya dalam menerima materi pelajaran yang disajikan guru di kelas. sedang. Kemudian setiap anggota kelompok diberikan tanggung jawab untuk memecahkan masalah atau soal dalam kelompoknya dan diberikan kebebasan mengeluarkan pendapat tanpa merasa takut salah. Oleh karena itu tidak tampak lagi mana siswa yang unggul karena semuanya berbaur dalam satu kelompok dan sama-sama bertanggung jawab terhadap kelompoknya tersebut.15 B. penulis menilai perlu digunakan model pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT. guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang optimal dengan menerapkan berbagai model pembelajaran. Dengan demikian. ada siswa yang mempunyai daya serap cepat dan ada pula siswa yang mempunyai daya tanggap yang lama. untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas VIII1 SMP Negeri 1 Batuatas khususnya pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua . Kerangka Berpikir Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa terhadap mata pelajaran matematika. ada yang pintar. salah satu hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam mengajarkan suatu pokok bahasan adalah pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan.

Hasil Penelitian yang Relevan Hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Wa Sinar (2003: 43) yang menyimpulkan bahwa melalui model pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam belajar matematika. Syamsidar (2004: 36) menyimpulkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT kemampuan siswa kelas I3 semester I SLTP Negeri 2 Raha dalam memahami konsep operasi hitung pada bilangan bulat dapat ditingkatkan. guru perlu menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam mengajarkan pokok bahasan tersebut karena daya serap siswa dalam menerima materi pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua peubah tidak sama dan diharapkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT setiap siswa akan mempunyai tingkat kemampuan yang relatif sama terhadap materi sistem persamaan linear dua peubah dan pada akhirnya prestasi belajar siswa akan lebih baik. F. E. . Hipotesis Tindakan Berdasarkan kajian teori.16 peubah. maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah: “Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) prestasi belajar matematika siswa pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua peubah siswa kelas VIII1 SMP Negeri 1 Batuatas dapat ditingkatkan”.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful