P. 1
BAB II

BAB II

|Views: 1,066|Likes:
Published by Ismail Andi Baso

More info:

Published by: Ismail Andi Baso on Jun 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2013

pdf

text

original

Perilaku seksual remaja adalah tindakan yang dilakukan oleh remaja

berhubungan dengan dorongan seksual yang datang baik dari dalam dirinya

maupun dari luar dirinya. Adanya penurunan usia rata-rata pubertas

mendorong remaja untuk aktif secara seksual lebih dini. Adanya persepsi

bahwa dirinya memiliki resiko yang lebih rendah atau seksual, semakin

mendorong remaja memenuhi dorongan seksualnya pada saat sebelum

menikah. Banyak remaja mengira bahwa kehamilan remaja tidak akan terjadi

pada intercourse (senggama) yang pertama kali atau mereka merasakan

bahwa dirinya tidak akan pernah terinfeksi HIV/AIDS karena pertahanan

tubuhnya cukup kuat (Notoatmodjo, 2007).

17

Menurut survey remaja terhadap 8084 remaja laki-laki dan perempuan

usia 15-24 tahun di 20 kabupaten tahun 2003 pada empat propinsi (Jawa

Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Lampung) ada 2,9% remaja yang telah

seksual aktif. Persentasi remaja yang telah mempraktikkan seks pra-nikah

terdiri dari 3,4% remaja putra dan 2,3% remaja putri. Sebuah survei terhadap

pelajar SMU di Manado melaporkan persentase yang lebih tinggi yaitu 20%

pada remaja putra dan 6% pada remaja putri. Sebuah studi di Bali

menemukan bahwa 4,4% remaja putri di perkotaan telah berperilaku seksual

aktif .

Studi di Jawa Barat menemukan perbedaan an tara remaja putri di

perkotaan dan pedesaan yang telah berperilaku seksual aktif yaitu berturut-

turut 1,3% dan 1,4%. Sebuah studi kuwalitatif di perkotaan Banjarmasin dan

pedesaan Mandiair melaporkan bahwa interval 8-10 tahun adalah rata-rata

jarak antara usia pertama kali berhubungan seks dan usia pada saat menikah

pada remaja putra, sedangkan pada remaja putri interval tersebut adalah 4-6

tahun (Rokhmawati, 2004)

Seringkali terjadi perbedaan pengertian antara perilaku seksual

dengan hubungan seksual. Perilaku seksual ditanggapi sebagai sesuatu hal

yang selalu negatif. Padahal tidak demikian halnya perilaku seksual

merupakan perilaku yang bertujuan untuk menarik perhatian lawan jenis.

Perilaku seksual ini sangat luas sifatnya. Contohnya antara lain mulai dari

18

berdandan, mejeng, merayu, mengoda, bersiul sekaligus juga yang terkait

dengan aktivitas dan hubungan seksual (PKBI, 2009).

Menurut Soetjiningsih (2004) hubungan seksual yang dialami oleh

remaja dipengaruh oleh beberapa faktor yaitu sebagai berikut :

1. Waktu atau saat mengalami pubertas saat itu mereka tidak pernah

memahami tentang apa yang akan dialami

2. Kontrol sosial kurang tepat yaitu terlalu ketat atau terlalu longgar dari

sosial dan lingkungan.

3. Frekwensi pertemuan dengan pacarnya. Mereka mempunyai kesempatan

untuk melakukan pertemuan yang makin sering tanpa kontrol yng baik

sehingga hubungan akan semakin mendalam, hubungan antar mereka

akan romantis.

4. Kondisi keluarga yang tidak memungkinkan untuk mendidik anak-anak

untuk memasuki masa remaja dengan baik.

5. Kurangnya kontrol dari orang tua, orang tua terlalu sibuk sehingga

perhatian terhadap anak kurang baik.

6. Status ekonomi mereka yang hidup dengan fasilitas kecukupan akan

mudah melakukan pesiar ketempat-tempat rawan yang memungkinkan

adanya kesempatan melakukan hubungan seksual. Sebaliknya kelompok

yang ekonomi lemah tetapi banyak kebutuhan/tuntutan, mereka mencari

19

kesempatan untuk memanfaatkan dorongan seksnya demi mendapatkan

sesuatu.

7. Tekanan dari teman sebaya. Kelompok sebaya kadang-kadang saling

ingin menunjukan penampilan diri yang salah untuk menunjukan

kematanganya, misalnya mereka ingin menunjukan bahwa mereka sudah

mampu membujuk seorang perempuan untuk melayani kepuasan

seksualnya.

8. Penggunaan rokok sebagai awal dari penggunaan dan pengenalan pada

Narkotika, Psikotropika hingga zat adiktif lain.

9. Pengunaan obat terlarang dan alkohol. Peningkatan pengunaan obat

terlarang dan alkohol makin lama makin meningkat.

10. Mereka kehilangan kontrol sebap tidak tahu akan batasan-batasanya

mana yang boleh dan mana yang tidak boleh.

11. Mereka sudah merasa sudah melakukan aktifitas seksual sebab sudah

merasa matang secara fisik. Adanya keinginan untuk menunjukan cinta

pada pacarnya.

12. Penerimaan aktifitas seksual pasangannya. Sekedar menunjukan

kegagahan dan kemampuan fisiknya

13. Terjadi peningkatan rangsangan seksual akibat peningkatan kadar

hormon reproduksi/seksual.

20

Secara garis besar tingkah laku seksual dan reproduksi remaja dibagi

dalam tiga kelompok, antara lain :

1. Kelompok I adalah remaja yang ³ early sexual experience and

late marriage ³.

2. Kelompok II adalah remaja yang ³ early marriage and child-

bearing´.

3. Kelompok III adalah remaja yang termasuk kelompok transisi.

Aktivitas seksual adalah kegiatan yang dilakukan dalam upaya

memenuhi dorongan seksual atau kegiatan mendapatkan kesenangan organ

kelamin atau seksual melalui berbagai perilaku. Contohnya berfantasi,

masturbasi, nonton atau baca pornografi, cium pipi, cium bibir, petting,

berhubungan intim (intercourse). Sedangkan hubungan seksual adalah

kontak seksual yang dilakukan berpasangan dengan lawan jenis atau

sesama jenis. Contohnya pegangan tangan, cium kening, cium basah,

petting, intercourse (PKBI, 2009).

Selama ini perilaku seksual sering disederhanakan sebagai hubungan

seksual berupa penetrasi dan ejakulasi. Padahal menurut Wahyudi (2000),

perilaku seksual secara rinci dapat berupa:

1. Berfantasi : merupakan perilaku membayangkan dan mengimajinasikan

aktivitas seksual yang bertujuan untuk menimbulkan perasaan erotisme.

21

2. Pegangan Tangan : Aktivitas ini tidak terlalu menimbulkan rangsangan

seksual yang kuat namun biasanya muncul keinginan untuk mencoba

aktivitas yang lain.

3. Cium Kering : Berupa sentuhan pipi dengan pipi atau pipi dengan bibir.

4. Cium Basah : Berupa sentuhan bibir ke bibir

5. Meraba : Merupakan kegiatan bagian-bagian sensitif rangsang seksual,

seperti leher, breast, paha, alat kelamin dan lain-lain.

6. Berpelukan : Aktivitas ini menimbulkan perasaan tenang, aman, nyaman

disertai rangsangan seksual (terutama bila mengenai daerah

aerogen/sensitif)

7. Masturbasi (wanita) atau Onani (laki-laki) : perilaku merangsang organ

kelamin untuk mendapatkan kepuasan seksual.

8. Oral Seks : merupakan aktivitas seksual dengan cara memasukkan alat

kelamin ke dalam mulut lawan jenis.

9. Petting : merupakan seluruh aktivitas non intercourse (hingga

menempelkan alat kelamin).

10. Intercourse (senggama) : merupakan aktivitas seksual dengan

memasukan alat kelamin laki-laki ke dalam alat kelamin wanita.

Penelitian yang dilakukan pada tahun 1995 terhadap remaja yang

berumur antara 15-19 tahun di Amerika Serikat menunjukan hasil yaitu 55%

remaja telah melakukan seksual aktif, 53% remaja telah melakukan

22

masturbasi, 49% remaja mengalami seks oral, 39% remaja melakukan seks

oral, 11% sering melakukan seks anal. Remaja melakukan aktifitas seksual

tersebut 75% dirumah orang tuanya ( Soetjiningsih, 2004).

Menurut Djuwarno 2001 faktor-faktor pendukung perilaku seks yaitu

sebagai berikut :

a. Tekanan yang datang dari teman pergaulannya

Lingkungan pergaulan yang dimasuki oleh seorang remaja dapat

juga berpengaruh untuk menekan temannya yang belum melakukan

hubungan seks, bagi remaja tersebut tekanan dari teman-teman yaitu

dirasakan lebih kuat dari pada yang didapat dari pasangannya sendiri.

b. Adanya tekanan dari pasangan

Karena kebutuhan seorang untuk mencintai dan dicintai, seseorang

harus rela melakukan apa saja terhadap pasangannya, tanpa memikirkan

resiko yang akan dihadapinya. Dalam hal ini yang berperan bukan saja

nafsu seksual, melainkan juga sikap memberontak terhadap orang

tuanya. Remaja lebih membutuhkan suatu hubungan, penerimaan, rasa

aman, dan harga diri selayaknya orang dewasa.

c. Adanya kebutuhan badaniah

Seks menurut para ahli merupakan kebutuhan dasar yang tidak

dapat dipisahkan dari kehidupan seseorang, jadi wajar jika semua orang

tidak terkecuali remaja, menginginkan hubungan seks ini, sekalipun akibat

23

dari perbuatannya tersebut tidak sepadan dengan resiko yang akan

dihadapinya.

d. Rasa penasaran

Pada usia remaja keingintahuannya begitu besar terhadap seks,

apalagi jika teman-temannya mengatakan bahwa terasa nikmat, ditambah

lagi adanya infomasi yang tidak terbatas masuknya maka rasa penasaran

tersebut semakin mendorong mereka untuk lebih jauh lagi melakukan

berbagai macam percobaan sesuai dengan apa yang diharapkan.

e. Pelampiasan diri

Faktor ini tidak hanya datang dari diri sendiri misalnya karena

terlanjur berbuat, seorang remaja perempuan biasanya berpendapat

sudah tidak ada lagi yang dapat dibanggakan dalam dirinya maka dalam

pikirannya tersebut ia akan merasa putus asa dan mencari pelampiasan

yang akan menjerumuskannya dalam pergaulan bebas.

f. Faktor lainnya datang dari lingkungan keluarga.

Bagi seorang remaja mungkin aturan yang diterapkan oleh kedua

orang tuanya tidak dibuat berdasarkan kepentingan kedua belah pihak

(orang tua dan anak), akibatnya remaja tersebut merasa tertekan

sehingga ingin membebaskan diri dengan menunjukkan sikap sebagai

pemberontak yang salah satunya dalam masalah seks.

24

Kurangnya pemahaman tentang perilaku seksual pada masa remaja

sangat merugikan bagi remaja itu sendiri termasuk keluarga, sebap pada

masa ini remaja mengalami perkembangan yang penting yakni kognitif,

emosi, sosial dan seksual. Perkembangan ini akan berlangsung mulai sekitar

12-20 tahun. Kurangnya pemahaman ini disebabkan berbagai faktor antara

lain adat istiadat, budaya, agama dan kurangnya informasi dari sumber yang

benar (Soetjiningsih, 2004).

Dilaporkan bahwa 80% laki-laki dan 70% perempuan melakukan

hubungan seksual selama masa puberitas dan 20% mempunyai empat atau

lebih pasangan. Ada sekitar 53% perempuan berumur antara 15-19 tahun

melakukan hubungan seksual pada masa remaja. Sedangkan jumlah laki-laki

yang melakukan hubungan seksual sebanyak dua kali lipat dari pada

perempuan. Laporan ini disampaikan oleh National survey of family growth

pada tahun 1998 (Soetjiningsih, 2004).

Berdasarkan survey surveilen perilaku yang diadakan oleh pusat

penelitian kesehatan universitas Indonesia (PPK-UI) menunjukan bahwa

2,8% pelajar SMA wanita dan 7% dari pelajar SMA Pria melaporkan adanya

gejala-gejala PMS periode satu tahun yang lalu.

Pada masa remaja rasa ingin tahu terhadap masalah seksual sangat

penting dalam pembentukan hubungan yang lebih matang dengan lawan

jenis. Dengan matangnya fungsi-fungsi seksual maka timbul pula dorongan-

25

dorongan dan keinginan-keinginan untuk pemuasan seksual. Sebagian besar

dari remaja biasanya sudah mengembangkan perilaku seksualnya dengan

lawan jenis dalam bentuk pacaran atau percintaan. Bila ada kesempatan

para remaja melakukan sentuhan fisik, mengadakan pertemuan untuk

melakukan aktifitas seksual bahkan kadang-kadang remaja tersebut mencari

kesempatan untuk melakukan hubungan seksual (Soetjiningsih, 2004).

Meskipun fungsi seksual remaja perempuan lebih cepat matang dari

pada remaja laki-laki, tetapi pada perkembangannya remaja laki-laki lebih

aktif secara seksual dari pada remaja perempuan. Banyak ahli berpendapat

hal ini dikarenakan adanya perbedaan sosialisasi seksual antara remaja

perempuan dan remaja laki-laki. Remaja masa kini menganggap bahwa

ungkapan-ungkapan cinta apapun bentuknya adalah baik sejauh kedua

pasangan remaja saling tertarik.

Bahkan hubungan seks sebelum menikah dianggap ´benar´ apabila

orang-orang yang terlibat saling mencintai ataupun saling terikat. Mereka

sering merasionalisasikan tingkah laku seksual mereka dengan mengatakan

pada diri mereka sendiri bahwa mereka terhanyut cinta. Sejumlah peneliti

menemukan bahwa remaja perempuan, lebih dari pada remaja laki-laki,

mengatakan bahwa alasan utama mereka aktif secara seksual adalah karena

jatuh cinta (Soetjiningsih, 2004).

26

Perasaan bersalah atau berdosa tidak jarang dialami oleh kelompok

remaja yang pernah melakukan onani dalam hidupnya. Hal ini akibat adanya

pemahaman tentang ilmu pengetahuan yang dipertentangkan dengan

pemahaman agama, yang seharusnya saling menyokong. Pemahaman yang

benar tentang seksualitas manusia amat diperlukan khususnya untuk para

remaja demi perilaku seksualnya dimasa dewasa sampai mereka menikah

dan memiliki anak.

Sebagai kelompok remaja mengalami kebingungan untuk memahami

tentang apa yang boleh dilakukan dan apa yag tidak boleh dilakukan olehnya,

antaralain boleh atau tidaknya untuk melakukan pacaran, melakukan onani,

nonton bersama atau ciuman. Ada beberapa kenyatan-kenyataan lain yang

cukup membingungkan antara apa saja yang boleh dilakukan atau tidak.

Kebingungan ini akan menimbulkan suatu perilaku seksual yang kurang

sehat dikalangan remaja (Soetjiningsih, 2004).

Menurut Pendidikan Penelitian Kesehatan (2009). Sebuah standar

untuk mengukur strategi interpersonal heterogen perilaku dikalangan kaum

muda Adolescent Seksual Activity Indeks (ASAI) skala Guttman yaitu

sebagai berikut :

1. Berpelukan (Hugging),

2. Memegang tangan,

3. Menghabiskan waktu berduaan,

27

4. Berciuman (kissing),

5. Bermanja-manjaan (cuddling),

6. Tidur bersama-sama ,

7. Membiarkan tangan seseorang dimasukan kedalam pakaianya

8. Memasukkan tangannya kedalam pakaian

9. Melepaskan pakaiannya dan memperlihatkan organ seks

10. Terlibat dalam hubungan badan (intercouse)

Tiga (3) item tambahan yaitu sebagai berikut :

11. Frekuensi melakukan hubungan seks selama 30 hari sebelumnya,

12. Jumlah mitra seksual yang berbeda selama 30 hari

13. Jumlah pasangan seks yang berbeda selama 12 bulan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->