P. 1
BAB II

BAB II

|Views: 1,066|Likes:
Published by Ismail Andi Baso

More info:

Published by: Ismail Andi Baso on Jun 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2013

pdf

text

original

Keluarga mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi perkembangan

remaja karena keluarga merupakan lingkungan sosial pertama, yang

meletakan dasar-dasar keperibadian remaja. Selain orang tua, saudara

kandung dan posisi anak dalam keluarga juga berpengaruh bagi remaja. Pola

asuh orang tua sangat besar pengaruhnya bagi remaja. Pola asuh otoriter,

demokratik ataupun permisif memberikan dampak yang berbeda bagi remaja.

Orang tua yang menerapkan disiplin yang kaku dan menuntut anak untuk

mematuhi aturan-aturanya, membuat remaja menjadi frustasi.

Sebaiknya pola asuh yang permisif dimana orang tua memberikan

kebebasan kepada anak namun kurang disertai dengan adanya batasan-

batasan dalam berperilaku, akan membuat anak mengalami kesulitan dalam

38

mengendalikan keinginan-keinginan maupun dalam berperilaku menunda

pemuasan. Pola asuh demokratik yang mengutamakan adanya dialog antara

remaja dan orang tua akan lebih menguntungkan. Bagi remaja, karena selain

memberikan kebebasan kepada anak juga disertai adanya kontrol dari orang

tua sehingga apabila terjadi konflik atau perbedaan pendapat diantara

mereka dapat dibicarakan dan diselesaikan bersama-sama (Soetjiningsih,

2004 )

Dinamika dan hubungan-hubungan antara angota dalam keluarga juga

memainkan peranan yang cukup penting bagi remaja. Seperti halnya pola

asuh. Hubungan tersebut telah membentuk perilaku jauh sebelum usia

remaja. Ketika anak memasuki usia remaja dimana sangat membutuhkan

kebebasan dan mereka mulai sering meninggalkan rumah, maka orang tua

harus dapat melakukan penyesuaian terhadap keadaan tersebut. Remaja

membutuhkan dukungan yang berbeda dari masa sebelumnya, karena pada

masa ini remaja sedang mencari kebebasan dalam mengekplorasi diri

sehingga dengan sendirinya keterkaitan dengan orang tua berkurang.

Pengertian dan dukungan orang tua sangat bermanfaat bagi

perkembangan remaja. Komunikasi yang terbuka dimana masing-masing

anggota keluarga dapat berbicara tanpa adanya perselisihan akan

memberikan kekompakan dalam keluarga sehingga hal tersebut juga akan

sangat membantu anak remajanya dalam proses pencairan identitas diri.

39

Keluargapun yang berhak membicarakan masalah seksualitas kepada

remajanya. Anggapan sebagian orang tua bahwa membicarakan masalah

seks adalah hal yang tabu sebaiknya dihilangkan (Soetjiningsih,2004 )

Anggapan seperti inilah yang menghambat penyampaian pengetahuan

seks yang seharusnya sudah didapat semenjak dini. Disamping tabu

kemungkinan sebagian besar para orang tua merasa khawatir jika

mengetahui lebih banyak masalah seksualitas. Si anak akan semakin

penasaran dan keberanianya untuk memperaktekkan seks tersebut.

Pendidikan seks disini dapat membantu para remaja laki-laki dan perempuan

untuk mengetahui resiko dari sikap seksual mereka dan mengajarkan

pengambilan keputusan seksual secara dewasa sehingga tidak menimbulkan

hal-hal yang merugikan diri sendiri dan orang tuanya. (Soetjiningsih, 2004 )

Pentingnya memberikan pendidikan seks bagi remaja, sudah

seharusnya kita pahami. Karena pada dasarnya remaja merupakan masa

transisi, masa terjadi perubahan, baik fisik, emosional, maupun seksual.

Hormon seks dalam tubuhnya mulai berfungsi dan siap untuk melakukan

tugasnya, yaitu dengan berkembang biak dengan memperbanyak keturunan.

Perubahan hormon itu ditandai dengan kematangan seksual. Dorongan

tersebut akan semakin liar jika tidak diberi bimbingan yang benar tentang

perubahan ini. Akibat dorongan seksual yang meledak-ledak tadi, para

remaja biasanya melampiaskan dengan mencari bacaan atau film-film porno,

40

bahkan ada yang sengaja melakukan hubungan seksual dengan perkerja

seks komersil atau melakukan maturbasi (Dianawati, 2006).

Memberikan pendidikan seks bagi remaja, maksudnya membimbing

dan menjelaskan tentang perubahan fungsi organ seksual sebagai tahapan

yang harus dilalui dalam kehidupan manusia. Harusnya memasukan ajaran

agama dan norma-norma yang berlaku. Cara-cara yang biasa dilakukan yaitu

dengan berdiskusi masalah seks yang ingin diketahui oleh sianak. Cara

seperti itu akan menghilangkan rasa segan dalam dirinya. Lebih baik

pendidikan seks itu didapatkan dari orang tuanya, dari pada sianak

mendapatkanya dari pendapat atau khayalan sendiri, teman, buku-buku, atau

film-film porno yang kini dijual bebas.

Ciri khas dan karakteristik remaja yang cenderung keras kepala dan

berani menentang pengarahan orang tua dan gurunya. Dengan mengatas

namakan kebebasan mereka berani berdebat dan membantah, sehingga

masa remaja dianggap masa yang sulit (Dianawati, 2006).

Permasalahan yang dihadapi orang tua yang berkaitan dengan

perilaku anak-anak dan remaja bersumber dari hubungan yang keliru. Untuk

itu penyelesaian masalah dikalangan remaja separuhnya tergantung dari

hubungan antara orang tua dan remajanya. Sikap saling menghormati dan

mempercayai merupakan dasar hubungan bagi hubungan yang berdasarkan

41

atas persamaan. Ciri-ciri khas hubungan yang didasari dengan persamaan

menurut Dianawati (2006) adalah sebagai berikut :

1. Saling memperhatikan dan memperdulikan.

2. Saling memberi empati.

3. Saling mendengarkan satu sama lain.

4. Adanya rasa ketertarikan untuk ikut berkerjasama, memanfaatkan hak dan

kewajiban dalam memecahkan dan menyelesaikan konflik.

5. Lebih menekankan pada asset dari pada melihat kesalahan-kesalahan.

6. Sama-sama satu pemikiran, perasaan dan tidak menyembunyikan atau

menanggung beban sendiri.

7. Saling membantu dan menerima satu sama lain karena tidak ada orang

yang sempurna.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->