P. 1
Bab 1, 2, 3

Bab 1, 2, 3

|Views: 3,957|Likes:
Published by Ismail Andi Baso

More info:

Published by: Ismail Andi Baso on Jun 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/19/2013

pdf

text

original

Sections

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan merupakan aset yang paling berharga di dunia. Ungkapan tersebut terucap ketika orang sudah tidak sehat lagi atau dengan kata lain orang tersebut sudah jatuh sakit. Sehat tidaknya seseorang sangat tergantung pada perilaku kehidupan sehari - hari orang tersebut. Oleh karena itu, setiap orang perlu diberi kan informasi tentang kesehatan agar dapat menjalankan hidup yang sesuai dengan prinsip kesehatan. (Lutan dkk, 2000:11 - 12 dalam Basyar, 2005) Di sekolah dewasa ini banyak kita temukan/jumpai adanya Usaha Kesehatan Sekolah, namun pelaksanaan UKS di sekolah ratarata kurang maksimal dan kurang mendapatkan perhatian yang lebih. Padahal dengan adanya UKS di sekolah sangat membantu bagi siswa untuk mengerti dan belajar tentang bagaimana hidup yang sehat terutama dengan personal hygiene atau kesehatan pribadi. (Basyar, 2005) Beberapa penelitian sebelumnya tentang personal hygiene, menunjukkan rendahnya personal hygiene pada siswa sekolah. Berdasarkan penelitian di SD Negeri Kecamatan Sibolga kota Sibolga juga menunjukkan rendahnya personal hygiene pada siswa. Ini dibuktikan dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa angka infeksi kecacingan adalah 55,8% (95% c.i 46,9% ± 64,7%). Angka infeksi

2

masing-masing jenis cacing adalah infeksi cacing gelang 54,2% dan infeksi cacing cambuk 22,5 % sedangkan infeksi cacing tambang 0%. (Dly, 2008) Penelitian lain yang dilakukan untuk mengetahui tingkat pengetahuan tentang hygiene perorangan dengan kejadiaan

kecacingan di SD Banteran I Ngaglik Sleman dengan sasaran penelitian adalah anak kelas III dan IV SD dengan jumlah 60 anak. Hasil penelitian menujukkan 11 sampel (18,33%) ditemukan telur cacing terdiri 3 sampel (27,3%) telur Ascaris lumbricoides, 3 sampel (27,3%) telur Enterobius vermicularis, 5 sampel (45,4%) telur Trichuris trichiura, 49 sampel (81,77%) tidak ditemukan telur cacing dan 23 responden (38,33%) tingkat pengetahuan tidak baik, 37 responden (61,66%) tingkat pengetahuan baik. Setelah dilakukan uji statistik diketahui nlai p 0,009, cc 0,009 yang artinya ada kaitannya yang bermakna dengan kekuatan hubungan sangat lemah antara tin gkat pengetahuan dan tentang hygiene perorangan dan kecacingan dengan kejadiaan kecacingan di SD Banteran I Ngaglik Sleman. (Astuningsih, 2006 ) Perilaku sehat bagi siswa Sekolah Dasar merupakan modal menuju kearah hidup sehat yang perlu terus dibina. Belum optimalnya kesehatan termasuk kesehatan gigi dan mulut siswa SD disebabkan oleh karena perilakunya belum menunjukkan perilaku sehat. Sampai saat ini belum ditemukan ketuntasan kajian tentang perilaku sehat

3

siswa SD, dikaji dari mekanisme perubahannya akibat diberikan penguatan (reinforcement). Upaya peningkatan derajat kesehatan menjadi tanggung jawab individu, masyarakat dan pemerintah. Gangguan kesehatan gigi dan mulut siswa SD masih memprihatinkan. Pada tahun 1999 triwulan III di Kabupaten Jember ditemukan 759 kasus pada kareis gigi anak; DMF -t: 3.6. Survey Nasional tahun 1998 menemukan prevalensi karies pada anak usia 12 tahun = 81.21 %. Salah satu faktor penyebab gangguan kesehatan gigi dan mulut adalah karena kekurang tepatan atau kesalahan dalam perilaku. Untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, maka perlu dilakukan suatu tindakan yang berupa kegiatan untuk Usaha Kesehatan Masyarakat berupa pendidikan / penyuluhan kesehatan. Pendidikan kesehatan berupa penyuluhan diharapkan dapat diterima oleh masyarakat dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari agar masyarakat lebih paham dan mengerti bagaimana cara memelihara kesehatan mereka terutama untuk anak-anak. Penanaman hidup sehat harus diawali dari individu anak untuk dapat dimengerti pengetahuan ten tang personal hygiene masing masing. Kebiasaan hidup bersih di rumah dimulai dengan mencuci kedua tangan sebelum makan, pakai alas kaki bila ke luar rumah, dan pakai pakaian yang bersih. Kebiasaan hidup bersih di sekolah dimulai dengan datang di sekolah d engan tubuh yang bersih, pakaian dan alas kaki yang bersih dan pantas, dan buang sampah ketempat sampah.

4

Kebiasaan tersebut sangat tepat ditanamkan sedini mungkin karena kebiasaan-kebiasaan tersebut akan terbawa sampai dewasa nanti. (Depdikbud, 1986:6 dala m Basyar, 2005) Penyuluhan kesehatan berupa penyampaian inovasi baru yang berasal dari system kesehatan yang berbeda kepada suatu kelompok masyarakat kemungkinan akan mengalami hambatan apabila inovasi baru tersebut dapat dirasakan berbenturan dengan nila i-nilai yang mereka yakini kebenarannya karena penerimaan inovasi baru melibatkan aktivitas mental dalam diri seseorang yang memerlukan suatu proses bertahap dan bersyarat. (Munir, 1997) Berdasarkan laporan bulanan kegiatan PKM Kab.Kutai

kartanegara, Sekolah dasar yang dijaring ada 449 atau 97,82% dari jumlah sekolah dasar yang ada di Kab Kutai Kartanegara, kegiatan UKGS dari 65.197 murid SD jumlah yang melakukan pemeriksaan sebanyak 992 orang dengan jumlah total yang mendapat perawatan adalah 817 orang murid. Kegiatan pelayanan dasar gigi tahun 2008 dicatat dari 715 orang yang terlayani dirinci tumpatan gigi tetap berjumlah 55 orang dan pencabutan gigi tetap berjumlah 662 orang. Sedangkan dari 24.612 jumlah murid SD yang diperiksa ada sebanyak 4.411 anak perlu perawatan, dari jumlah tersebut anak yang sudah mendapatkan perawatan baru 589 Kukar anak (13,35%). (Profil Dinkes

2009). Dan dari data penjaringan kesehatan secara umum

untuk anak SD kelas 1 sebanyak 15.177 terdapat 2,696 (18,83%) yang mengalami gangguan kesehatan secara umum, 200 (1,40%)

5

yang mengalami gangguan pada mata, 5.160 (36,06%) mengalami gangguan pada telinga dan 5 .644 (60,41%) yang mengalami gangguan pada mulut.(Dpku.Dinkes.2009). Di dalam wilayah kerja Puskesmas Loa Duri terdapat 13 buah SD/MI, 5 buah SLTP/MTs, dan 2 buah SMU. (Profil Puskesmas Loa Duri 2010). Berdasarkan observasi awal, secara fisik dapat dikatakan bahwa personal hygiene siswa masih sangat kurang, ini terlihat dari pakaian dan sikap siswa selama disekolah. Hal terseb ut diperkuat dengan adanya data laporan 10 besar urutan penyakit anak sekolah yang menunjukkan adanya kasus kesehatan yang terkait dengan personal hygiene yaitu 76 kasus ISPA, 23 kasus penyakit kulit, 11 kasus pulpitis, 13 kasus konjungtivitis dan 2 kasus diare. (Penjaringan Kesehatan umum PKM Loa Duri 2010) Dari data diatas, dapat dilihat bahwa masih banyak terdapat berbagai penyakit yang timbul di tingkat SD be rkaitan dengan Personal hygiene. Di salah satu desa yaitu Loa Duri Ilir terdapat sebuah Sekolah Dasar yaitu SDN No.026 Loa Janan yang menjadi peringkat pertama dalam Laporan 10 besar urutan penyakit anak sekolah. (Penjaringan Kesehatan umum PKM Loa Duri 2010). Oleh karena itu, penulis memilih melakukan penelitian di wilayah Loa Duri Ilir di SDN No.026 Loa janan tentang pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap

pengetahuan, sikap dan kebiasaan siswa dalam personal hygiene.

6

B. Rumusan Masalah

Dari penjelasan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah ³adakah pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap pengetahuan, sikap dan kebiasaan siswa SDN No.026 Loa Janan dalam personal hygiene?´
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui pengaruh penyuluhan

kesehatan terhadap

pengetahuan, sikap dan kebiasaan siswa dalam Personal hygiene di SDN No.026 Loa janan, Desa Loa Duri Ilir, Kecamatan Loa Janan, Kab.Kutai Kartanegara, tahun 2 011
2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui

pengaruh

penyuluhan

kesehatan

terhadap

pengetahuan siswa SDN No.026 Loa Janan dalam personal hygiene. b. Mengetahui pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap sikap siswa SDN No.026 Loa Janan dalam personal hygiene. c. Mengetahui pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap

kebiasaan siswa SDN No.026 Loa Janan dalam personal hygiene.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Bagi Mahasiswa

a. Sebagai pengaplikasian ilmu yang telah didapat

selama

menempuh pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat.

7

b. Sebagai tambahan pengalaman dalam memperluas wawasan dan pengetahuan mengenai Personal Hygiene.
2. Manfaat Bagi Masyarakat

a. Tambahan personal kesehatan.

pengetahuan hygiene dalam

masyarakat rangka

untuk

meningkatkan derajat

meningkatkan

b. Untuk mengetahui tingkat atau kondisi personal hygiene siswa yang dapat dijadikan sebagai acuan bagi para pengajar di Sekolah Dasar untuk meningkatkan personal hygiene siswanya.
3. Manfaat Bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat

a. Sebagai

kegiatan

evaluasi

penyelenggaraan

program

pendidikan Ilmu Kesehatan Masyarakat. b. Mewujudkan program perguruan tinggi dalam rangka

pengabdian kepada masyarakat.

8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Personal Hygiene 1. Pengertian

Personal hygiene adalah kesehatan pada seseorang atau perseorangan. Sjarifudin. 1979 (dalam Basyar.2005) berpendapat bahwa personal hygiene / kesehatan pribadi yaitu usaha untuk menjaga kesehatan diri sendiri. Personal hygiene berkenaan dengan pribadi masing-masing yang bersifat individu. Setiap manusia dapat tetap hidup sehat apabila kesehatan selalu diperhatikan dan perlu berbagai usaha secara aktif. Personal hygiene atau kesehatan pribadi adalah upaya individu dalam memelihara kebersihan diri yang melip uti kebersihan rambut, telinga, gigi dan mulut, kuku, kulit, dan kebersihan dalam berpakaian dalam meningkatkan kesehatan yang optimal.

(Effendy,1997 dalam Astutiningsih, 2006) Dalam kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan karena kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu sendiri dangat dipengaruhi oleh nilai individu dan kebiasaan. Hal-hal yang sangat berpengaruh itu di antaranya kebudayaan, sosial, keluarga, pendidikan, persepsi seseorang terhadap

kesehatan, serta tingkat perkembangan.

9

Jika seseorang sakit, biasanya masalah kebersihan kurang diperhatikan. Hal ini terjadi karena kita menganggap masalah kebersihan adalah masalah sepele, padahal jika hal tersebut dibiarkan terus dapat mempengaruhi kesehatan secara umum. Karena itu hendaknya setiap orang selalu berusaha supaya personal hygienenya dipelihara dan ditingkatkan. Kebersihan dan kerapian sangat penting dan diperlukan agar seseorang disenangi dan diterima dalam pergaulan, tetapi juga karena kebersihan diperlukan agar seseorang dapat hidup secara sehat. Personal Hygiene berasal dari bahasa Yunani yaitu personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti sehat. Kebersihan seseorang adalah suatu tindakan untuk meme lihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. (www.fkm.undip.ac.id)
2. Ruang Lingkup Personal Hygiene 2.1 Kesehatan Gigi dan Mulut

Mulut beserta lidah dan gigi merupakan sebagian dari alat pencerna makanan. Mulut berupa suatu rongga yang dibatasi oleh jaringan lunak, dibagian belakang berhubungan dengan tengggorokan dan didepan ditutup oleh bibir. Lidah terdapat didasar rongga mulut terdiri dari jaringan yang lunak dan ujung-ujung syaraf pengecap. Gigi terdiri dari jaringan keras yang terdapat di rahang atas dan bawah yang tersusun rapi dalam lengkungan (Depdikbud, 1986:33).

10

Makanan

sebelum

masuk

ke

dalam

perut,

perlu

dihaluskan, maka makanan tersebut dihaluskan oleh gigi dalam rongga mulut. Lidah berperan sebagai pencampur makanan, penempatan makanan agar dapat dikunyah dengan baik dan berperan sebagai indera perasa dan pengecap. Penampilan wajah sebagian ditentukan oleh tata letak gigi. Disamping itu juga sebagai pembantu pengucapan kata -kata dengan jelas dan terang (Soenarko, 1984: 28). Seperti halnya dengan bagian tubuh yang lain, maka mulut dan gigi juga perlu perawatan yang teratur dan seyogyanya sudah dilakukan sejak kecil. Untuk pertumbuhan gigi yang sehat diperlukan sayur-sayuran yang cukup mineral seperti zat kapur, makanan dalam bentuk buah -buahan yang mengandung vitamin A atau C sangat baik untuk kesehatan gigi dan mulut. Gosok gigi merupakan upaya atau cara yang terbaik untuk perawatan gigi dan dilakukan paling sedikit dua kali dal am sehari yaitu pagi dan pada waktu akan tidur. Dengan menggosok gigi yang teratur dan benar maka plak yang ada pada gigi akan hilang. Hindari kebiasaan menggigit benda benda yang keras dan makan makanan yang dingin dan terlalu panas (Depdikbud, 1986: 30). Gigi yang sehat adalah gigi yang rapi, bersih, bercahaya, gigi tidak berlubang dan didukung oleh gusi yang kencang dan berwarna merah muda. Pada kondisi normal, dari gigi dan mulut

11

yang sehat ini tidak tercium bau tak sedap.Kondisi ini hanya dapat dicapai dengan perawatan yang tepat. Namun, oleh karena berbagai faktor (misalnya biaya dokter gigi yang relatif lebih mahal daripada dokter umum) kesehatan gigi seringkali tidak menjadi prioritas. Kita hanya pergi ke dokter gigi kalau keadaan gigi sudah parah da n rasa sakit tidak tertahankan lagi
2.2 Kesehatan Telinga

Telinga dapat dibagi dalam tiga bagian yaitu bagian paling luar, bagian tengah, dan daun telinga. Telinga bagian luar terdiri dari lubang telinga dan daun telinga. Telinga bagian tengah terdiri dari rua ng yang terdiri dari tiga buah ruang tulang pendengaran. keseimbangan Ditelinga tubuh bagian dalam dalam terdapat rumah alat siput

yang

terletak

(Depdikbud, 1986 : 30). Telinga merupakan alat pendengaran, sehingga berbagai macam bunyi- bunyi suara dapat didengar. Disamping sebagai alat pendengaran telinga juga dapat berguna sebagai alat keseimbangan tubuh. Menjaga kesehatan telinga dapat dilakukan dengan pembersihan yang berguna untuk mencegah kerusakan dan infeksi telinga. Beberapa upaya perawatan teling yaitu dengan menghindari kebiasaan mengorek telinga dengan jari kotor atau benda tajam karena dapat berakibat robeknya gendang telinga. Hindari dari bunyi-bunyian yang bernada dan benturan yang

12

keras. Bila terasa ada kelainan pada telinga segera berobat atau periksa ke dokter (S. Soenarko, 1984:22 dalam Basyar, 2005). Telinga yang sehat yaitu lubang telinga selalu

bersih,untuk mendengar jelas dan telinga bagian luar selalu bersih.
2.3 Kesehatan Rambut

Rambut berbentuk bulat panjang, makin ke ujung makin kecil dan ujungnya makin kecil. Pada bagian dalam berlubang dan berisi zat warna. Warna rambut setiap orang tidak sama tergantung zat warna yang ada didalamnaya. Rambut dapat tumbuh dari pembuluh darah yang ada disekitar rambut (Depdikbud, 1986:23). Rambut merupakan pelindung bagi kulit kepala dari sengatan matahari dan hawa dingin. Dalam kehidupan sehari hari sering nampak pemakaian alat perlindungan lain seperti topi, kain kerudung dan masih banyak lagi yang lain. Penampilan akan lebih rapi dan menarik apabila rambut dalam keadaan bersih dan sehat. Sebaliknya rambut yang dalam keadaan kotor, kusam dan tidak terawat akan terkesan jorok dan penampilan tidak menarik. Rambut dan kulit kepala harus selalu sehat dan bersih, sehingga perlu perawatan yang baik. Untuk p erawatan rambut dapat ditempuh dengan berbagai cara namun demikian cara

13

yang dilakukan adalah cara pencucian rambut. Rambut adalah bagian tubuh yang paling banyak mengandung minyak. Karena itu kotoran, debu, asap mudah melekat dengan demikian maka pencucian rambut adalah suatu keharusan. Pencucian rambut dengan shampoo dipandang cukup apabila dilakukan dua kali dalam seminggu (Depdikbud, 1986:12). Rambut yang sehat yaitu tidak mudah rontok dan patah, tidak terlalu berminyak dan terlalu kering serta tidak b erketombe dan berkutu.
2.4 Kesehatan kulit

Kulit terletak diseluruh permukaan luar tubuh. Secara garis besar kulit dibedakan menjadi 2 bagian yaitu bagian luar yang disebut kulit ari dan bagian dalam yang disebut kulit jangat. Kulit ari berlapis -lapis dan secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu lapisan luar yang disebut lapisan tanduk dan lapisan dalam yang disebut lapisan malpighi. Kulit jangat terletak disebelah bawah atau sebelah dalam dari kulit ari (Depdikbud, 1986:16). Kulit merupakan pelindung bagi tubuh dan jaringan di bawahnya. Perlindungan kulit terhadap segala rangsangan dari luar, dan perlindungan tubuh dari bahaya kuman penyakit. Sebagai pelindung kulitpun sebagai pelindung cairan -cairan tubuh sehingga tubuh tidak kekeringa n dari cairan. Melalui kulitlah rasa panas, dingin dan nyeri dapat dirasakan. Guna kulit

14

yang lain sebagai alat pengeluaran ampas -amps berupa zat yang tidak terpakai melalui keringat yang keluar lewat pori -pori (Soenarko, 1984:4). Kulit yang baik akan dapa t menjalankan fungsinya dengan baik sehingga perlu dirawat. Pada masa yang modern sekarang ini tersedia berbagai cara modern pula berbagai perawatan kulit. Namun cara paling utama bagi kulit, yaitu pembersihan badan dengan cara mandi. Perawatan kulit dilakukan dengan cara mandi 2 kali sehari yaitu pagi dan sore. Tentu saja dengan air yang bersih. Perawatan kulit merupakan keharusan yang mendasar (Depdikbud, 1986:23). Kulit yang sehat yaitu kulit yang selalu bersih, halus, tidak ada bercak-bercak merah, tidak kaku tetapi lentur (fleksibel).
2.5 Kesehatan Kuku

Kuku terdapat di ujung jari bagian yang melekat pada kulit yang terdiri dari sel -sel yang masih hidup. Bentuk kuku bermacam-macam tergantung dari kegunaannya ada yang pipih, bulat panjang, tebal dan tumpul (Depdikbud, 1986:21). Guna kuku adalah sebagai pelindung jari, alat

kecantikan, senjata , pengais dan pemegang (Depdikbud , 1986:22). Bila untuk keindahan bagi wanita karena kuku harus relatif panjang, maka harus dirawat terutama dalam hal kebersihannya.

15

Kuku jari tangan maupun kuku jari kaki harus selalu terjaga kebersihannya karena kuku yang kotor dapat menjadi sarang kuman penyakit yang selanjutnya akan ditularkan ke bagian tubuh yang lain. Perawatan kuku dapat dilakukan dengan pemotongan ujung kuku samp ai beberapa milimeter dari perlekatan antara kuku dengan kulit. Kuku yang sehat yaitu kuku yang tumbuhnya dengan baik, kuat, bersih dan memberikan keindahan ( Depdikbud, 1986:22).
2.6 Kesehatan Pakaian

Pakaian yang sudah kotor dan berbau tidak enak, juga sebagai timbulnya penyakit yang disebabkan oleh jamur misalnya panu. Oleh karena itu pakaian yang sudah kotor dan tidak layak dipakai segeralah dicuci dengan sabun cuci. Pakaian yang sudah kotor akan berakibat udara di permukaan kulit akan lembab sehingga fungsi penyerapan keringat akan terganggu. Pakaian yang sehat yaitu pakaian yang bersih dari kotoran dan debu.
3. Pentingnya Pesonal Hygiene

Masyarakat adalah terbentuk dari pribadi -pribadi sebagai anggota masyarakat. Untuk membentuk masyarakat yang sehat jasmani maka dibina terlebih dahulu kesehatan perorangan dengan sebaik- baiknya. Dalam personal hygiene selalu ada kaitannya dengan makanan, kesehatan dan mengenai kehidupan keluarga.

16

Untuk dapat hidup sesuai dengan aturan -aturan kesehatan tetapi juga dimengerti benar tentang arti pentingnya kesehatan bagi kehidupan, maka tidak akan susah untuk dapat terhindar dari penyakit. Kesenangan hidup ha nya dapat terlaksana dengan bekal kesehatan (Engkos Kosasih, 1993 dalam Basyar). Masa pertumbuhan pada anak adalah pada saat anak berusia antara 6 ± 12 tahun dan ini merupakan usia yang rawan terhadap penyakit. Pola pembinaan menuju terbentuknya perilaku hidup sehat merupakan bagian penting dari pembinaan usia sekolah dasar. Mencegah selalu lebih mudah dari pada mengobati, sebab itu penting sekali mengusahakan agar pada anak usia 6 - 12 tahun supaya orang tua dan guru dapat berbuat dan melakukan usaha pencegahan. Hidup sehat sangat didambakan oleh umat manusia karena bila kesehatannya terganggu akan berakibat pada dirinya sendiri. Kesehatan merupakan sumber kesenangan,

kenikmatan dan kebahagiaan. Oleh karena itu sangat bijaksana bila personal hygiene selalu personal hygiene adalah dipelihara dan ditingkatkan karena kesehatan pada seseorang atau

perseorangan (Depdikbud, 1983 :1). Personal hygiene berkenaan dengan pribadi masing -masing yang bersifat individu. Setiap manusia dapat tetap hidup sehat apabila personal hygiene selalu diperhatikan dan perlu berbagai usaha secara aktif. Selanjutnya yang dimaksud sehat pribadi

17

seutuhnya merupakan sehat fisik, mental dan sosial yang ketigatiganya tidak dapat dipisahkan (Mu¶rifah, 1992 :1 dalam Basyar). Segala sesuatu seperti personal hygiene pasti ada sebab dan akibatnya. Begitu pula dengan penyakit. Sebagian besar dari penyakit telah diketahui apa penyebabnya, cara penularannya, cara perawatan, dan cara pengobatannya bagi penderita. Pengetahuan tersebut telah menyelamatkan dan memperpanjang hidup berjuta juta manusia diseluruh dunia. Namun keberhasilan itu tidak selalu dicapai dengan mudah. Tujuan perawatan personal hygiene adalah : a. Menghilangkan minyak yang menumpuk , keringat , sel-sel kulit yang mati dan bakteri b. Menghilangkan bau badan yang berlebihan c. Memelihara integritas permukaan kulit d. Menstimulasi sirkulasi / peredaran darah e. Memberikan kesempatan pada perawatan untuk mengkaji kondisi kulit f. Meningkatkan percaya diri seseorang g. Menciptakan keindahan h. Meningkatkan derajat kesehatan sesorang
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Personal Hygiene

a. Body image

18

Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri misalnya karena adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli terhadap kebersihannya. b. Praktik sosial Pada anak-anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola Personal Hygiene c. Status sosial-ekonomi Personal Hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, sampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya d. Pengetahuan Pengetahuan pengetahuan Personal yang baik Hygiene dapat sangat penting karena

meningkatkan

kesehatan.

Misalnya pada pasien penderita DM ia harus menjaga kebersihan kakinya. e. Budaya Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu maka tidak boleh dimandikan. f. Kebiasaan seseorang Ada kebiasaan seseorang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan dirinya seperti penggunaan sabun, sampo, dan lain-lain. g. Kondisi fisik

19

Pada keadaan sakit tertentu kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.
5. Beberapa Penyakit akibat Personal Hygiene yang Kurang Baik

Kebersihan merupakan pangkal kesehatan, ketidak bersihan tubuh akan besar pengaruhnya terhadap kesehatan karena akan menimbulkan berbagai bibit penyakit. Oleh karena itu kebersihan tubuh perlu diperhatikan. Ketidak bersihan disebabkan oleh beberapa hal yaitu tubuh jarang dibersihkan atau tidak pernah dibersihkan. Bagian-bagian tubuh yang mudah terserang penyakit akibat ketidak bersihan diri yaitu: 1. Kulit yang kurang bersih merupakan penyebab berbagai gangguan macam penyakit kulit (kadas, kurap, kudis, panu, bisul, kusta, patek atau frambosa dan borok). 2. Kuku yang kurang terawat dan kotor sebagai tempat bibit penyakit yang masuk ke dalam tubuh. Terutama penyakit alatalat pernafasan. Disamping itu kuku yang kotor sebagai tempat bertelur cacing, dan sebagai penyakit cacing pita, cacing tambang dan penyakit perut. 3. Gigi dan mulut yang kurang terawat akan berakibat pada gigi berlubang dan penyakit gusi.(Depdikbud, 1986:22 ). Upaya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut sebaiknya dilakukan sejak usia dini. Usia sekolah dasar merupakan saat yang ideal untuk melatih kema mpuan motorik seorang anak, termasuk di antaranya menyikat gigi. Kemampuan menyikat gigi

20

secara baik dan benar merupakan faktor yang cukup penting untuk pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Keberhasilan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut juga dipengar uhi oleh faktor penggunaan alat, metode penyikatan gigi, serta frekuensi dan waktu penyikatan yang tepat. Tersedia berbagai variasi dalam desain sikat gigi, berbagai metodepenyikatan gigi, frekuensi penyikatan gigi, dan waktu penyikatan gigi. Pendidikan cara-cara penyikatan gigi bagi anak-anak perlu diberikan contoh suatu model yang baik serta dengan teknik yang sesederhana mungkin. (Riyanti. 2005) Penyampaian pendidikan kesehatan gigi dan mulut pada anak-anak harus dibuat semenarik mungkin, antara lain mel alui penyuluhan yang atraktif tanpa mengurangi isi pendidikan, demonstrasi secara langsung, program audio visual, atau melalui sikat gigi massal yang terkontrol. Perubahan yang diharapkan terjadi dalam proses pendidikan bukanlah sekadar penambahan atau pengurangan perilaku atau keterampilan, namun perubahan struktur pola perilaku dan pola kepribadian menuju pola yang makin sempurna. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan program bimbingan, pengajaran, dan latihan dalam rangka membantu siswa agar mampu

mengembangkan potensinya baik yang menyangkut aspek moral, spiritual, intelektual dan sosial. Mengenai peranan sekolah dalam

21

mengembangkan kepribadian anak menjelaskan bahwa sekolah merupakan faktor penentu bagi perkemba ngan kepribadian anak (siswa) baik dalam cara berpikir, bersikap maupun cara berperilaku.
B. Pendidikan Kesehatan

Konsep pendidikan kesehatan mempinyai visi dan misi untuk mengubah perilaku hidup yang tidak sehat menjadi perilaku hidup yang sehat. Poses pendidikan kesehatan mempunyai tujuan untuk

mendidik, membimbing siswa dalam melaksanakan tindakan - tindakan yang tidak mencerminkan hidup sehat mengarah pada tindakan tindakan perilaku hidup sehat yang dimulai dari hal - hal yang kecil sampai pada kesadaran tentang kesehatan. Dalam usaha pendidikan kesadaran masyarakat proses belajar ini berlangsung secara sadar dan terarah. Setiap anak diberi bimbingan agar menyadari bahwa hidup sehat memelihara personal hygiene dan lingkungan tempat tinggal bukan saja pent ing artinya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi keluarganya dan bagi anggota masyarakat lain. Keinginan untuk mendapatkan penghargaan, rasa puas, rasa bangga dan keuntungan pribadi adalah sebagian dari bentuk-bentuk motivasi yang kuat. Melalui pendidikan motivasi yang hanya mengejar kepentingan diri sendiri, dapat mengubah menjadi motivasi yang bertujuan untuk kepentingan masyarakat. Tujuan pendidikan kesehatan adalah : 1. Meningkatkan pengetahuan anak didik tentang ilmu kesehatan termasuk cara hidup sehat dan teratur.

22

2. Menanamkan dan membina kebiasaan hidup sehari -hari yang sesuai dengan syarat kesehatan dan meningkatkan ketrampilan anak didik dalam melaksanakan hal yang berkaitan dengan pemeliharaan, pertolongan dan perawatan kesehatan.
C. Penyuluhan Kesehatan

Penyuluhan

kesehatan

adalah

bagian

dari

pendidikan

kesehatan yang merupakan suatu proses penyampaian satu pesan atau informasi dari penyuluh kepada sasaran penyuluhan. Materi yang disalurkan tentu saja birisikan inovasi -inovasi baaru yang oleh penyuluh dianggap perlu dimiliki serta dijadikan pedoman berperilaku baru oleh sasaran.Dalam suatu proses penyuluhna ada tiga

kemungkinan yang biasa terjadi, yaitu : 1. Keberhasilan sesungguhnya. Dimana perilaku sasaran berubah persis seperti apa yang diharapkan dan berlangsung terus-menerus. 2. Keberhasilan semu. Dimana perubahan perilaku baru terjadi dalam rentang waktu terbatas saja, yaitu selama sipenyuluh masih berada bersama sasaran atau selama mereka masih merasakan manfaat dari perilaku baru tersebut. Begitu p enyuluh berpisah dengan sasaran atau sasaran tidak lagi merasakan manfaatnya, maka mereka kembali ke perilaku lama. 3. Kegagalan total. Artinya, sasran menolak secara total inovasi baru yang disampaikan oleh penyuluh. Penyuluhan yang efektif tergantung kep ada penerimaan

sasaran terhadap materi penyuluhan, dan ini merupakan proses

23

mental yang terkait dengan kondisi social dan kebudayaan masyarakat sasaran kompleks. Oleh karena itu, penyuluhan memerlukan suatu strategi dan metoda yang tepat. Tubbs dan Moss dalam Rakhmat (1986) mengemukakan, bahwa efektivitas komunikasi, tertentu juga efektivitas suatu proses penyluhan paling tidak menimbulkan lima hal, yaitu : 1. Menimbulkan kesenangan Munculnya kesenangan pada awal komunikasi sangat berhubungan dengan materi pes an atau materi penyuluhan. Kalau materi penyuluhan terasa cocok dengan kebutuhna dan tidak bertentangan dengan nilai dan norma yang dianut, maka

sipenerima atau sasaran penyuluhan terlebih dahulu akan merasa senang terhadap proses penyuluhan tersebut. Oleh karena itu, dalam mempersiapkan materi penyuluhan hendaknya memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Tetap memiliki makna dan fungsi bagi kehidupan sasaran sesuai dengan nilai-nilai yang mereka anut dan yakini. b. Tidak bertentangan secara frontal dengan norma -norma dan tradisi kehidupan sasaran. c. Mudah untuk mendapatkan materi untuk mendukung

pelaksanaan inovasi baru yang ditawarkan, baik dari segi dana maupun dari segi ketersediaannya. d. Praktis dan mudah untuk dilaksanakan.

24

2. Hubungan sosial yang baik Hubungan sosial yang baik atau persahabatab semakin akrab hanya dapat dicapai melalui pertemuan yang bersifat informal. Hal ini menyangkut proses interaksi dalam penyuluhan. Pertemuan antara inovator dan sasaran melibatkan

perasaan senang atau tidak senang dan emosi , oleh karena itu dalam melaksanakan penyuluhna perlu terlebih dahulu

menciptakan rasa senang dan persahabatan serta suasana emosi untuk dapat mendukung penerimaan inovasi baru. Untuk perlu dilakukan langkah-langkah berikut. a. Datang dan terlebih dahulu ciptakan persahabatan dengan pihak sasaran, pahami lingkungna fisik sosial budaya mereka, jangan cepat-cepat memberikan penyuluhan. b. Pancing mereka unutk bercerita. Dengarkan terlebih dahulu apa yang mereka kemukakan mengenai perilaku mereka yang bekaitan dengan materi inovasi yang akan diusulkan. c. Tangkap dengan cermat alasan-alasan mereka melakukan seperti yang mereka kemukakan. d. Perhatikan dengan cermat, adakah kesamaan kerangka berfikir mereka dengan penyuluh mengenai materi penyuluhan. e. Jika terdapat kesamaaan makna, maka bertolaklah dari kesamaan tersebut untuk memulai penyuluhan. Jangan bertolak dari hal-hal yang berbeda, apalagi yang bertentangan secara frontal.

25

f. Mengenai hal-hal yang berbeda, sedapat mungkin tunjukkan atau buktikan dengan alat peraga, bb awa apa yang mereka lakukan selama ini merugikan mereka sendiri. g. Tunjukkan kepada mereka cara-cara yang mudah dan praktis untuk dapat melakukan perilaku baru seperti apa yang disuluhkan. 3. Pengertian Bahasa merupakan unsur dan produk dari suatu

kebudayaan yang paling utama, bisa berbentuk ucapan (verbal) dan bisa berbentuk gerakan -gerakan tubuh atau bagian -bagian dari tubuh (nonverbal). Dengan bahasa orang bisa mengerti apa yang diinginkan atau dimaksudkan oleh orang lain. Oleh karena itu dalam proses penyulu han hendaklah diperhatikan hal-hal sebagai berikut. a. Gunakanlah bahasa yang mudah dimengerti oleh sasaran penyuluhan. b. Hindari penggunaan istilah -istilah yang barangkali asing bagi sasaran. c. Bicaralah sesuatu yang bisa ditangkap oleh kemampuan berpikir sasaran. d. Kemukakanlah materi secara singkat, jelas, terfokus dan terukur pencapaiannya. 4. Pengaruh pada sikap

26

Untuk dapat menimbulkan perubahan sikap diperlukan proses penyuluhan yang lama dan intensif. Penyuluhan tidak mungkin dilakukan secara hit and run atau pukul dan lari. Penyuluhan hanya bisa dilakukan secara perlahan dan memakan waktu lama, dengan gaya simpatik. Sipenyuluh perlu tinggal cukup lama bersama sasaran, atau paling tidak berupaya berkali -kali berhubungan dengan sasaran. Dengan demikian dih arapkan terjadi perubahan dari sikap menolak menjadi sikap setuju dan selanjutnya mau mengadopsi perilaku baru yang diusulkan secara permanen bukan adopsi semu. 5. Tindakan (kebiasaan) Menimbulkan tindakan (kebiasaan) adalah kebiasaan yang sesuai dengan materi penyuluhan. Untuk ini perlu adanya pemantauan dari sipenyuluh. Bukan hanya pada penerimaan materi penyuluhan oleh sasaran, akan tetapi yang lebih penting dari itu adalah evaluasi diri terhadap apa yang telah dilakukan oleh sipenyuluh sendiri dalam memberikan penyuluhan, mulai dari proses menciptakan kesenangan, keakraban atau persahabatan, pengertian dan proses perubahan pada sikap. Kelima butir diatas dapat dijadikan tolak ukur keberhasilan dari suatu proses penyuluhan. (Munir, 1997)
D. Anak Usia Sekolah Dasar

Masa usia sekolah dasar sebagai masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun hingga kira -kira usia sebelas tahun

27

atau dua belas tahun. Karakteristik utama usia sekolah dasar adalah mereka menampilkan perbedaan-perbedaan individual dalam banyak segi dan bidang, di antaranya, perbedaan dalam intelegensi, kemampuan dalam kognitif dan bahasa, perkembangan kepribadian dan perkembangan fisik anak. Perkembangan psikososial pada usia enam sampai pubertas, anak mulai memasuki dunia pengeta huan dan dunia kerja yang luas. Peristiwa penting pada tahap ini anak mulai masuk sekolah, mulai dihadapkan dengan tekhnologi masyarakat, di samping itu proses belajar mereka tidak hanya terjadi di sekolah. (Erikson) Anak sekolah dasar merupakan individu yang sedang

berkembang, barang kali tidak perlu lagi diragukan keberaniannya. Setiap anak sekolah dasar sedang berada dalam perubahan fisik maupun mental mengarah yang lebih baik. Tingkah laku mereka dalam menghadapi lingkungan sosial maupun non sosial meningkat. Anak kelas empat, memilki kemampuan tenggang rasa dan kerja sama yang lebih tinggi, bahkan ada di antara mereka yang menampakan tingkah laku mendekati tingkah laku anak remaja permulaan. (Thornburg.1984) Anak usia sekolah dasar adalah anak yang sedang mengalami pertumbuhan baik pertumbuhan intelektual, emosional maupun

pertumbuhan badaniyah, di mana kecepatan pertumbuhan anak pada masing-masing aspek tersebut tidak sama, sehingga terjadi berbagai variasi tingkat pertumbuhan dari ketiga aspek tersebut. Ini suatu faktor yang menimbulkan adanya perbedaan individual pada anak -anak

28

sekolah

dasar

walaupun

mereka

dalam

usia

yang

sama.

(Darmodjo.1992) Menurut Piaget ada lima faktor yang menunjang perkembangan intelektual yaitu : kedewasaan (maturation), pengalaman fisik (physical experience), penyalaman logika matematika (logical mathematical experience), transmisi sosial (social transmission), dan proses keseimbangan (equilibriun) atau proses pengaturan sendiri (self regulation ) Erikson mengatakan bahwa anak usia sekolah dasar tertarik terhadap pencapaian hasil belajar. Mereka mengembangkan rasa percaya dirinya terhadap

kemampuan dan pencapaian yang baik dan relevan. Meskipun anak anak membutuhkan keseimbangan antara perasaan dan kemampuan dengan kenyataan yang dapat mereka raih, namun perasaan akan kegagalan atau ketidakcakapan dapat memaksa mereka berperasaan negatif terhadap dirinya sendiri, sehingga menghambat mereka dalam belajar. Piaget mengidentifikasikan tahapan p erkembangan intelektual yang dilalui anak yaitu : (a) tahap sensorik motor usia 0-2 tahun, (b) tahap operasional usia 2 -6 tahun, (c) tahap opersional kongkrit usia 7 -11 atau 12 tahun, (d) tahap operasional formal usia 11 atau 12 tahun ke atas. Berdasarkan uraian di atas, siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional kongkrit, pada tahap ini anak mengembangkan pemikiran logis, masih sangat terikat pada fakta -fakta perseptual,

29

artinya anak mampu berfikir logis, tetapi masih terbatas pada objekobjek kongkrit, dan mampu melakukan konservasi. Bertitik tolak pada perkembangan intelektual dan psikososial siswa sekolah dasar, hal ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai karakteristik sendiri, di mana dalam proses berfikirnya, mereka belum dapat dipisahkan dari dunia kongkrit atau hal-hal yang faktual, sedangkan perkembangan psikososial anak usia sekolah dasar masih berpijak pada prinsip yang sama di mana mereka tidak dapat dipisahkan dari hal-hal yang dapat diamati, karena mereka sudah diharapkan pada dunia pengetahuan. Pada usia ini mereka masuk sekolah umum, proses belajar mereka tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah, karena mereka sudah diperkenalkan dalam kehidupan yang nyata di dalam lingkungan masyarakat. Nasution (1992) mengatakan bahwa masa kelas tinggi sekolah dasar mempunyai beberapa sifat khas sebagai berikut : (1) adanya minat terhadap kehidupan pra ktis sehari-hari yang kongkrit, (2) amat realistik, ingin tahu dan ingin belajar, (3) menjelang akhir masa ini telah ada minat terhadap hal-hal dan mata pelajaran khusus, oleh ahli yang mengikuti teori faktor ditaksirkan sebagai mulai menonjolnya faktor-faktor, (4) pada umumnya anak menghadap tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha menyelesaikan sendiri,

30

(5) pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi sekolah, (6) anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya, biasanya untuk bermain bersama-sama. Anak usia sekolah merupakan kelompok usia yang kritis karena pada usia tersebut rentan terkena berbagai masalah kesehatan. Hal ini memerlukan perhatian baik secara teknik perawatan, pengetahuan, pemberian informasi dan pemantauan personal hygiene.

Pengembangan perilaku sehat ini ditujukan untuk membiasakan hidup bersih dan sehat pada anak dan sebaiknya dilakukan sedini mungkin karena kebiasaan yang ditanamkan akan berpengaruh terhadap perilaku sehat anak tahap selanjutnya.
Tanda- Tanda Anak yang Sehat

Adapun tanda- tanda anak yang sehat sebagai berikut : 1. Pertumbuhan badannya baik dapat dilihat dari naik berat badan dan tinggi badan 2. Gerakannya tangkas , lincah dan gembira. 3. Matanya kelihatan bersih dan bersinar terang. 4. Nafsu makannya baik dan pernafasannya tidak berbau karena pencernaanya baik. 5. Senang sekali melakukan olah raga dengan teratur dan dapat beristirahat dengan baik dan secara teratur. 6. Kulit dan rambutnya bersih tidak keriput atau kering. 7. Jiwanya tidak terasa tertekan oleh siapapun.

31

8. Perkembangan jasmani dan rohaninya sesuai dengan tingkat usia yang dialaminya. (Engkos Kosasih, 1993:176 dalam Fahmi Basyar. 2005)
E. Perilaku

Dari aspek biologis perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme atau makhluk hidup yang bersangkutan. Perilaku itu

terbentuk di dalam diri seseorang dari dua faktor utama yakni : stimulus merupakan faktor dari luar diri seseorang tersebut (faktor eksternal), dan respons merupakan faktor dari dalam diri orang yang bersangkutan (faktor internal). Faktor eksternal atau stimulus adalah faktor lingkungan, baik lingkungan fisik, maupun non -fisik dalam bentuk social, budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya. Perilaku kesehatan (healthy behaviour) adalah respons

seseorang terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sehat sakit, penyakit, dan faktor-faktor yang mempengaruhi sehat-sakit (kesehatan) seperti lingkungan, makanan, minuman, dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain perilaku kesehatan adalah semua kativitas atau kegiatan seseorang, baik yang dapat diamati

(observable) maupun yang tidak dapat diamati (unobservable), yang berkaitan dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan.

(Notoatmodjo, 2005) Dalam perkembangan selanjutnya, berdasarkan pembagian domain oleh Bloom, dan untuk kepentingan pendidikan praktis, dikembangkan menjadi 3 tingkat ranah perilaku sebagai berikut :

32

1. Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap obyek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai menghasilkannya, pengetahuan

tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. (Notoatmodjo, 2005) Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang ( over behavior). Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan Soekidjo Notoatmodjo (2003:21). Menurut Rogers dalam Soekidjo Notoatmodjo (2003:21) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni: a. Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu. b. Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus. c. Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. d. Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru.

33

e. Adoption,

subjek

telah

berperilaku

baru

sesuai

dengan

pengetahuan, kesadaran, dan sikap terhadap stimulus. Namun demikian dari penelitian selanjutnya Rogers

menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap di atas. Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama. Menurut Soekidjo Notoatmodjo (2003 :122), bahwa

pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu tahu (Know), memahami (Comprehension), aplikasi (Aplication), analisis (analysis), sensitis (synthesiss), dan evaluasi (evalution). a. Tahu (know), diartikan sebagai men gingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali ( recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu merupakan t ingkat pengetahuan yang paling rendah. b. Memahami (Comprehension), memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang

34

objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. c. Aplikasi (application). Aplikasi dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi nyata atau sebenarnya. Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum hukum, metode-metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. d. Analisis (analysis). Analisis merupakan suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari bagaimana cara seseorang dapat

menggambarkan sesuatu, membuat bagan dan lain -lain. e. Sintesis (synthesiss). Tahapan sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya, dapat menyusun, merencanakan, meringkas,

menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori at au rumusan-rumusan yang telah ada. f. Evaluasi (evaluation). Evaluasi ini berkaitan dengan

kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap

35

suatu materi atau objek. Penilaian -penilaian itu berdasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
2. Sikap ( Attitude)

Sikap adalah juga respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (senang -tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik, da sebagainya). Yakni : ³ An Individual¶s attitude is syndrome of response consistency with regard to object.´ Jadi jelas, disini dikatakan bahwa sikap itu suatu sindroma atau kumpulan gejala dalam merespons stimulus atau objek, sehingga sikap itu melibatkan pikiran, perasaan, perhatian, dan gejala kejiwaan yang lain. Menurut Allport (1954) sikap itu terdiri dari 3 komponen pokok, yaitu : a. Kepercayaan atau keyakinan,ide, dan konsep terhadap objek. Artinya, bagaimana keyakinan dan pendapat atau pemikiran seseorang terhadap objek. Sikap orang terhadap pe nyakit kusta misalnya, berarti bagaimana pendapat atau keyakinan orang terhadap penyakit kusta. b. Kehidupan emosional atau evaluasi orang terhadap objek, artinya bagaimana penilaian (terkandung didalamnya faktor emosi) orang tersebut terhadap objek. c. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave), artinya sikap adalah merupakan komponen yang mendahului tindakan atau

36

perilaku terbuka. Sikap adalaha ancang -ancang untuk bertindak atau berperilaku terbuka (tindakan). Ketiga komponen tersebut secara bersama -sama

membentuk sikap yang utuh (total attitude). Dalam menentukan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting. Seperti halnya pengetahuan, sikap juga mempunyai tingkat-tingkat berdasarkan intensitasnya, sebagai berikut : a. Menerima (receiving) Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek menerima stimulus yang diberikan (objek). b. Menanggapi (responding) Menanggapi disini diartikan memberikan jawaban atau mau

tenggapan terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi . c. Menghargai (valuing) Menghargai diartikan subjek, atau seseorang memberikan nilai yang positif terhadap objek atau stimulus, dalam arti,

membahasnya dengan orang lain bahkan mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain merespons. d. Bertanggung jawab (responsible) Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab terhadap apa yang telah diyakininya. Seseorang yang telah mengambil sikap tertentu berdasarkan keyakinannya, dia

37

harus berani mengambil resiko bila ada orang lain yang mencemoohkan atau adanya resiko lain.
3. Tindakan atau Kebiasaan (Practice )

Seperti telah disebutkan diatas bahwa sikap adalah kecenderungan untuk bertindak (praktik). Sikap belum tentu terwujud dalam tindakan, sebab untuk terwujudnya tindakan perlu faktor lain, yaitu antara lain adanya fasilitas atau sarana dan prasarana. Seorang ibu hamil sudah tahu bahwa periksa hamil itu penting untuk kesehatannya dan janinnya, dan sudah ada niat (sikap) untuk periksa hamil. Agar sikap ini meningkat menjadi tindakan, maka perlu bidan Posyandu atau Puskesmas yang dekat dari rumahnya, atau fasilitas tersebut mudah dicapainya. Apabila tidak, kemungkinan ibu tersebut tidak akan memeriksakan

kehamilannya. Praktik atau tindakan ini dapat dibedakan menjadi 4 tingkatan menurut kualitasnya, yaitu : a. Persepsi (Perception) Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan tindakan yang diambil merupakan praktek tingkat pertama. b. Respon Terpimpin (Guided Respons) Dapat melakukan sesutu dengan urutan yang benar sesuai dengan contoh dan indikator prakte k tingkat dua. Misalnya, seorang ibu dapat memasak sayur dengan benar, mulai dari

38

cara

mencuci

dan

cara

memotong-motongnya,

lamanya

memasak, menutup pancinya, dan sebagainya. c. Mekanisme (Mecanism) Apabila seseorang sudah melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan maka ia mencapai praktek tingkat tiga. Misalnya seorang ibu sudah biasa mengimunisasikan bayi yang pada umur-umur tertentu, tanpa menunggu perintah atau ajakan orang lain. d. Adaptasi (Adaptation) Adaptasi adalh suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya, tindakan ini sudah

dimodifikasikan tindakannya

sendiri

tanpa

mengurangi ibu dapat

kebenaran memilih dan

tersebut.

Misalnya,

memasak makanan yang bergizi tinggi berdasarkan bahanbahan yang murah dan sederhana. Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara tidak langsung, yakni dengan wawancara terhadap kegiatan -kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari, atau bulan yang lalu ( recall). Pengukuran juga dapat dilakukan se cara langsung, yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden. Banyak teori tentang perubahan perilaku ini, antara lain akan diuraikan dibawah. 1. Teori Stimulus-Organisme-Respons (SOR)

39

Teori ini mendasarkan asumsi bahwa penyebab terjadinya perubahan perilaku tergantung kepada kualitas rangsang (stimulus) yang berkomunikasi dengan organisme. Artinya kualitas dari sumber komunikasi (sources) misalnya kredibilitas, kepemimpinan, gaya berbicara sangat menentukan keberhasilan perubahan perilaku seseorang, kelompok atau masyarakat. Hosland, et al (1953) mengatakan bahwa proses perubahan perilaku pada hakekatnya sama dengan proses belajar. Proses perubahan perilaku tersebut menggambarkan proses belajar pada individu yang terdiri dari : a. Stimulus (rangsang) yang diberikan pada organisme dapat diterima atau ditolak. Apabila stimulus tersebut tidak diterima atau ditolak berarti stimulus itu tidak efektif mempengaruhi perhatian individu dan berhenti disini. Tetapi bila stimulus diterima oleh organisme berarti ada perhatian dari individu dan stimulus tersebut efektif. b. Apabila stimulus telah mendapat perhatian dari organisme (diterima) maka ia mengerti stimulus ini dan dilanjutkan kepada proses berikutnya. c. Setelah itu organisme mengolah stimulus tersebut seh ingga terjadi kesediaan untuk bertindak demi stimulus yang telah diterimanya (bersikap).

40

d. Akhirnya. dengan dukungan fasilitas serta dorongan dari lingkungan maka stimulus tersebut mempunyai efek tindakan dari individu tersebut (perubahan perilaku). Selanjutnya teori ini mengatakan bahwa perilaku dapat berubah hanya apabila stimulus (rangsang) yang diberikan benar-benar melebihi dari stimulus semula. Stimulus yang dapat melebihi stimulus semula ini berarti stimulus yang diberikan harus dapat meyakinkan organi sme. Dalam meyakinkan organisme ini, faktor reinforcement memegang peranan penting. 2. Teori Festinger (Dissonance Theory) Finger (1957) ini telah banyak pengaruhnya dalam psikologi sosial. Teori ini sebenarnya sama dengan konsep imbalance (tidak seimbang). Hal ini berarti bahwa keadaan cognitive dissonance merupakan keadaan ketidakseimbangan psikologis yang diliputi oleh ketegangan diri yang berusaha untuk mencapai keseimbangan kembali. Apabila terjadi keseimbangan dalam diri individu maka berarti sudah tidak terjadi ketegangan diri lagi dan keadaan ini disebut consonance (keseimbangan). Dissonance

(ketidakseimbangan) terjadi karena dalam diri individu terdapat 2 elemen kognisi yang saling bertentangan. Yang dimaksud elemen kognisi adalah pengetahuan, pendapa t, atau keyakinan. Apabila individu menghadapi suatu stimulus atau objek dan stimulus tersebut menimbulkan pendapat atau keyakinan yang berbeda /

41

bertentangan

didalam

diri

individu

sendiri

maka

terjadilah

dissonance. (www.adln.lib.unair.ac.id )
F. Media

Kata media berasal dari bahasa latin Medius yang secara harafiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. namun penegertian media dalam proses pemebelajaran cenderung diartikan sebagai alat alat grafis, fotografis atau elektronis untuk menagkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. Media pendidikan kesehatan adalah media yang digunakan untuk menyampaikan pesan kesehatan karena alat-alat tersebut digunakan untuk mempermudah penerimaan pesan-pesan kesehatan bagi masyarakat yang dituju. Media promosi kesehatan adalah semua s arana atau upaya untuk menampilkan pesan atau informasi yg ingin disampaikan oleh komunikator, baik itu melalui media cetak, elektronik (TV, Radio, Komputer, dan sebagainya) dan media luar ruang, sehingga sasaran dapat meningkat pengetahuan yang akhirnya d iharapkan dapat berubah perilakunya kearah positif terhadap kesehatan. (Notoatmodjo, 2005) Adapun beberapa tujuan atau alasan mengapa media sangat diperlukan didalam pelaksanaan Promosi Kesehatan antara lain : a. Media dapat mempermudah penyampaian informasi. b. Media dapat menghindari kesalahan persepsi. c. Dapat memperjelas informasi. d. Media dapat mempermudah pengertian.

42

e. Mengurangi komunikasi yang verbalistik. f. Dapat menampilkan objek yang tidak disa ditangkap dengan mata. g. Memperlancar komunikasi, dan lain-lain. Berdasarkan fungsinya sebagai penyalur pesan -pesan

kesehatan (media), media ini dibagi menjadi 3, yakni : a) Media Cetak. Media cetak sebagai alat untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan sangat bervariasi antara lain : (1) Booklet : ialah suatu media untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan dan bentuk buku, baik tulisan maupun gambar. (2) Leaflet : ialah bentuk penyampaian informasi atau pesan -pesan kesehatan melalui lembaran yang dilipat. Isi informasi dapat dalam bentuk kalimat maupun gambar, atau kombinasi. (3) Flyer (selebaran) : ialah seperti leaflet tetapi tidak dalam bentuk lipatan. (4) Flip chart (lembar balik) : media penyampaian pesan atau informasi-informasi kesehatan dalam bentuk lembar balik. Biasanya dalam bentuk buku, di mana tiap lembar ( halaman ) berisi gambar peragaan dan lemabaran baliknya berisi kalimat sebagai pesan atau informasi yang berkaitan dengan gambar tersebut. (5) Rubrik atau tulisan -tulisan pada surat kabar atau majalah yang membahas suatu masalah kesehatan, atau hal -hal yang berkaitan dengan kesehatan.

43

(6) Poster

ialah

bentuk

media

cetak

yang

berisi

pesan-

pesan/informasi kesehatan, yang biasanya ditempel di tembok tembok, di tempat-tempat umum, atau kendaraan umum. (7) Foto yang mengungkapkan informasi-informasi kesehatan. Fungsi utama media cetak ini adalah memberikan informasi dan menghibur. Kelebihan dan Kelemahan media cetak adalah : 1. Kelebihannya : a. Tahan lama. b. Mencakup orang banyak. c. Biaya tidak tinggi. d. Tidak perlu listrik. e. Dapat dibawa kemana-mana. f. Dapat mengungkit rasa keindahan. g. Mempermudah pemahaman. h. Meningkatkan gairah belajar. 2. Kelemahannya : a. Media ini tidak dapat menstimulir efek suara dan efek gerak b. Mudah terlipat b) Media Elektronik. Media elektronik sebagai sasaran untuk menyampaikan pesan pesan atau informasi-informasi kesehatan berbeda-beda jenisnya, antara lain: (1) Televisi : Penyampaian pesan atau informasi -informasi kesehatan melalui media televisi dapat dalam bentuk

44

sandiwara, sinetron, forum diskusi atau tanya jawab sekita masalah kesehatan, pidato ( ceramah ), TV Sport, kuis atau cerdas cermat, dan sebagainya. (2) Radio : Penyampaian informasi atau pesan -pesan kesehatan melalui radio juga dapat bermacam -macam bentuknya, antara lain obrolan ( tanya jawab ), sandiwara radio, ceramah, radio spot, dan sebagainya. (3) Video : Penyampaian inf ormasi atau pesan-pesan kesehatan dapat melalui video. (4) Slide : Slide juga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi-informasi kesehatan. (5) Flim Strip : Flim strip juga dapat digunakan untuk

menyampaikan pesan-pesan kesehatan. Kelebihan dan Kele mahan media elektronik. 1. Kelebihannya : a. Sudah dikenal masyarakat. b. Mengikutsertakan semua panca indra. c. Lebih mudah dipahami. d. Lebih menarik karena ada suara dan gambar bergerak. e. Bertatap muka. f. penyajian dapat dikendalikan. g. Jangkauan relatif besar. h. sebagai alat diskusi dan dapat diulang -ulang

45

2.

Kelemahannya : a. Biaya lebih tinggi. b. Sedikit rumit. c. Perlu listrik. d. Perlu alat canggih untuk produksinya. e. Perlu persiapan matang. f. Peralatan selalu berkembang dan berubah. g. Perlu keterampilan penyimpanan.

c) Media papan ( Billboard ) Papan (Billboard) yang dipasang di tempat -tempat umum dapait diisi dengan pesan atau informasi -informasi kesehatan. Media papan disini juga mencakup pesan yang ditulis pada lembaran seng yang ditempel pada kendaraan -kendraan umum (bus atau taksi). Kelebihan dan Kelemahan media papan 1. Kelebihannya : a. Sebagai informasi umum dan hiburan. b. Mengikutsertakan semua panca indra. c. Lebih mudah dipahami. d. Lebih menarik karena ada suara dan gambar bergerak. e. Bertatap muka. f. Penyajian dapat dikendalikan. g. Jangkauan relatif lebih besar. h. Dapat menjadi tempat bertanya lebih detail.

46

i. Dapat menggunakan semua panca indra secara langsung. 2. Kelemahannya : a. Biaya lebih tinggi. b. Sedikit rumit. c. Ada yang memerlukan listrik. d. Ada yang memerlukan alat canggih untuk produksinya. e. Perlu persiapan matang. f. Peralatan selalu berkembang dan berubah. g. Perlu keterampilan penyimpanan. h. Perlu keterampilan dalam pengorganisasian.
G. Kerangka Teori
Faktor Predisposisi  Pengetahuan  Sikap  Demografi  Struktur Sosial  Persepsi

Faktor Pendukung  Ketersediaan Fasilitas  Keterjangkauan pelayanan  Ketenagaan  Sosial Ekonomi  Kemampuan petugas

Perubahan Perilaku (Behavior)

Faktor Pendorong  Anjuran  Perilaku Petugas

Bagan Kerangka Teori Berdasarkan Teori Lawrence Green Sumber : Notoatmodjo (2005)

47

Menurut Lawrence Green 1980 (dalam Notoatmodjo, 2007) berpendapat bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, dan sebagainya dari masyarakat yang bersangkutan. Di samping itu, ketersediaan fasilitas, sikap dan perilaku para petugas kesehatan terhadap kesehatan juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku.

48

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian yang dilakukan bersifat Quasi-Eksperimen Design dengan rancangan One group Pretest Postest yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap pengetahuan, sikap dan kebiasaan siswa (dengan media poster) tentang personal hygiene sebelum dan sesudah dilakukan pe nyuluhan kesehatan. Pretest 01 01 02 X = = = Nilai Pre test Nilai Post test Intervensi (Penyuluhan Kesehatan) Perlakuan X Postest 02

B. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan April tahun 2011, dan berlokasi di SDN No.026 Loa Janan, Desa Loa Duri Ilir, Kecamatan Loa Janan, Kab.Kutai Kartanegara
C. Populasi dan Sampel

1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SDN No.026 Loa Janan, Kab. Kutai Kartanegara.

49

2. Pengambilan sampel secara porposive sampling yaitu kelas IV, V dan VI dengan pertimbangan sebagai berikut. a. Siswa kelas IV, V dan VI lebih tinggi tingkat pengetahuan dan pemahamannya dibandingkan siswa kelas I, II dan III b. Siswa kelas IV, V dan VI lebih mudah diajak berkomunikasi dan berdiskusi.
D. Kerangka Konsep Penelitian

Adapun kerangka konsep dalam penelitian ini yaitu : Pre Test Post Test

Pengetahuan Siswa

Pengetahuan Siswa

Sikap Siswa

Intervensi

Sikap Siswa

Kebiasaan Siswa

Kebiasaan Siswa

Bagan Kerangka Konsep
E. Hipotesis Penelitian

Adapun hipotesis dari penelitian ini yaitu : 1. Ada pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap pengetahuan siswa dalam personal hygene di SDN No.026 Loa Janan, Kab. Kutai Kartanegara.

50

2. Ada pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap sikap siswa dalam personal hygene di Kartanegara. 3. Ada pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap kebiasaan siswa dalam personal hygene di SDN No.026 Loa Janan, Kab. Kutai Kartanegara.
F. Variabel Penelitian

SDN No.026 Loa Janan, Kab. Kutai

1. Variabel Independen Variabel mempengaruhi Independen variabel adalah variabel yang sifatnya Variabel

lain.

(Notoatmodjo,2005).

Independen dalam penelitian ini adalah : a. Pengetahuan Siswa SD b. Sikap Siswa SD c. Kebiasaan Siswa SD 2. Variabel Dependen Variabel pengaruhi oleh dependen variable adalah lain. variable yang sifatnya di

(Notoatmodjo,2005).

Variabel

Dependen dalam penelitian ini adalah personal hygiene.

51

G. Definisi operasional

Tabel 3. 1 : Definisi operasional
Skala Kriteria Perhitu- Alat ukur ngan kemampuan Guttman Lembar a. Personal Hygiene baik Observasi Baik : jika pengetahuan, responden sikap maupun memperoleh skor kebiasaan rata-rata hasil post tentang test • skor rata-rata pemeliharaan hasil pre test. b. Personal Hygiene kebersihan diri Kurang Baik : jika yang meliputi responden kesehatan memperoleh skor rambut,telinga rata-rata hasil post , gigi dan test < skor rata-rata mulut, kulit, hasil pre test. kuku, dan 1) Personal kesehatan Hygiene Cukup pakaian. =1 2) Personal Hygiene kurang =0 Definisi Operasonal

No

Variabel

1

Personal hygiene

2

Pengetahuan

Pemahaman Guttman responden untuk mengetahui tentang personal hygiene yang meliputi kesehatan rambut, telinga, gigi dan mulut, kulit, kuku, dan kesehatan pakaian.

Lembar kuisioner

a. Pengetahuan meningkat : jika responden memperoleh skor rata-rata hasil post test • skor rata-rata hasil pre test. b. Pengetahuan tidak meningkat : jika responden memperoleh skor rata-rata hasil post test < skor rata-rata hasil pre test. 1) Jawaban benar =1 2) Jawaban salah =0

52

No

Variabel

3

Sikap

4. Kebiasaan

Skala Perhitu- Alat Ukur Kriteria ngan Kecenderunga Likert Lembar a. Sikap Baik : jika n bertindak. kuisioner responden Dalam Hal ini memperoleh skor adalah setuju rata-rata hasil post atau tidak test • skor rata-rata setuju hasil pre test. terhadap b. Sikap Kurang Baik : pernyataan jika responden tentang memperoleh skor personal rata-rata hasil post hygiene yang test < skor rata-rata yang meliputi hasil pre test. kebersihan 1) Pernyataan rambut, sikap yang telinga, gigi Positif = 1 dan mulut, 2) Pernyataan kulit, kuku, sikap yang dan kesehatan Negatif = 0 pakaian. Aktivas atau Guttman Lembar a. Kebiasaan positif : kegiatan Kuisioner jika responden responden memperoleh skor terhadap halrata-rata hasil post hal yang test • skor rata-rata berkaitan hasil pre test. dengan b. Kebiasaan negative personal : jika responden memperoleh skor hygiene yang rata-rata hasil post meliputi test < skor rata-rata kesehatan hasil pre test. rambut, 1) Kebiasaan positif telinga, gigi =1 dan mulut, 2) Kebiasaan kulit, kuku, negative = 0 dan kesehatan pakaian. Definisi Operasional

53

H. Kerangka Kerja Sebelum Intervensi Sesudah

Pengetahuan Sikap Kebiasaan

Penyuluhan Kesehatan

Pengetahuan Sikap Kebiasaan

Bagan Kerangka Kerja Penyuluhan kesehatan dilakukan kepada masing-masing kelas yang telah ditentukan yaitu kelas IV, V, dan VI pada hari yang berbeda beda. Sebelum dilakukan penyuluhan kesehatan hal pertama yang dilakukan adalah observasi pertama (pretest) dengan memberikan kuisioner untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan, sikap, dan kebiasaan siswa terkait dengan personal hygiene/kesehatan pribadi. Kegiatan selanjutnya adalah memberikan penyu luhan

kesehatan tentang personal hygiene. Penyuluhan kesehatan diberikan kepada seluruh murid SD kelas IV, V dan VI pada hari yang berbeda. Dengan materi yang telah dipersiapkan yang berkaitan dengan pengertian dan pentingnya Personal Hygiene/kesehatan pri badi, cara menjaga kesehatan rambut dan telinga, kesehatan gigi dan mulut, kesehatan kulit, kuku, dan berpakaian. Media penyuluhan kesehatan yang digunakan adalah poster. Penyuluhan kesehatan diberikan 3060 menit. Dua minggu setelah diberikannya penyuluhan kesehatan

kepada masing-masing kelas, diberikan postest untuk mengukur sejauh mana pengaruh penyuluhan kesehatan yang telah diberikan

54

seminggu sebelumnya terhadap pengetahuan, sikap dan kebiasaan siswa/responden dengan alat ukur kuisioner yang sama pada saat pretest.
I. Teknik Analisa Data

1. Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan cara primer dan sekunder yaitu mendatangi ke sekolah responden di SDN No.026 Loa Janan, Kab. Kutai Kartanegara. a) Data Primer Cara pengumpulan data : 1) Observasi yaitu mengadakan pengamatan secara langsung di lokasi penelitian terhadap responden sebagai penguatan atas jawaban yang telah diberikan pada saat pre test dan post test. 2) Melakukan kuisioner. b) Data Sekunder Pengumpulan data sekunder dilakukan melalui wawancara langsung dan menggunakan

pengamatan pengkajian terhadap dokumen -dokumen yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti yaitu pengumpulan data jumlah siswa. 2. Penyajian Data Untuk membandingkan nilai pre test dengan pos t test, pengolahan dan analisa data menggunakan uji statistik untuk

55

komparasi dua sampel berpasangan,

dengan menggunakan

perangkat lunak menggunakan uji T-Test dengan tingkat derajat kesalahannya = 0.05, jika P-value < 0.05 maka Ho ditolak. Maka,

ada pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap pengetahuan, sikap dan kebiasaan siswa dalam personal hygiene di SDN No.026 Loa Janan, Kab. Kutai Kartanegara.
J. Jadwal Kegiatan

Tabel 3. 2 : Jadwal kegiatan penelitian
No Kegiatan April II III X

I

IV

1.

2.

3.

4.

5.

6.

Pretest dengan wawancara menggunakan kuisioner pada siswa dan penyuluhan mengenai Personal Hygiene pada siswa siswi kelas IV Pretest dengan wawancara menggunakan kuisioner pada siswa dan penyuluhan mengenai Personal Hygiene pada siswa siswi kelas V Pretest dengan wawancara menggunakan kuisioner pada siswa dan penyuluhan mengenai Personal Hygiene pada siswa siswi kelas VI Postest dengan tekhnik wawancara menggunakan kuisioner serta observasi langsung kepada msing-masing siswa kelas IV Postest dengan tekhnik wawancara menggunakan kuisioner serta observasi langsung kepada msing-masing siswa kelas V Postest dengan tekhnik wawancara menggunakan kuisioner serta observasi langsung kepada msing-masing siswa kelas VI

X

X

X

X

X

56

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->