P. 1
BAB IV dan V

BAB IV dan V

|Views: 172|Likes:
Published by Ismail Andi Baso

More info:

Published by: Ismail Andi Baso on Jun 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/18/2013

pdf

text

original

Sections

43

Adapun keadaan penduduk berdasarkan jumlah penduduk di Kelurahan Tanah Grogot adalah sebagai berikut : Jumlah penduduk menurut jenis kelamin
Tabel 4.1 Distribusi Penduduk menurut Jenis Kelamin di Kelurahan Tanah Grogot tahun 2009
No 1 2 Jenis Kelamin Jumlah 15.205 11.114 26.319 Persentase (%) 58 42 100

.

Laki-laki Perempuan Total Sumber : BPS Kab. Paser 2010

Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk di kelurahan Tanah Grogot yang terbanyak adalah berjenis kelamin laki-laki 58,0% dibanding dengan penduduk perempuan yaitu 42,0%. Jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan Jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

.

44

Tabel 4.2

Distribusi penduduk menurut Tingkat Pendidikan di Kelurahan Tanah Grogot tahun 2009
Tingkat Pendidikan S-3 S-2 S-1 D-3 D-2 D-1 SLTA/sederajat SLTP/sederajat Tamat SD/sederajat Pernah sekolah SD tidak tamat Jumlah 13 105 1.029 1.040 1.003 378 5.205 2.558 5.029 1.005 3.520 5.120 Persentase(%) 0.05 0.40 3.96 4.00 3.86 1.45 20.02 9.84 19.34 3.86 13.54 19.69

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Usia 7-45 tahun tidak pernah sekolah Belum sekolah

Total Sumber : BPS Kab. Paser 2010

26.319

100

Berdasarkan tabel 4.2 diatas dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan yang terbesar adalah SLTA yaitu terkecil adalah S-3 yaitu 0,03 %. 20,02 % dan yang

45

2. Gambaran

Umum

Kejadian

Demam

Berdarah

Dengue

di

Kelurahan Tanah Grogot Kelurahan Tanah Grogot merupakan daerah endemis Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Paser. Hal ini disebabkan karena Kelurahan Tanah Grogot berada di pusat ibukota Kabupaten yang memiliki kepadatan penduduk yang cukup tinggi serta semakin lancarnya hubungan transportasi dengan wilayah lain di sekitarnya. Berdasarkan laporan bulanan Puskesmas Tanah Grogot kasus DBD dari tahun ke tahun cenderung berfluktuasi. Pada tahun 2007 terdapat 162 kasus (CFR 0,61%), tahun 2008 menurun 81 kasus (CFR=0,0) dan tahun 2009 meningkat tajam 208 kasus (CFR 1,11%)
Tabel 4.3 Distribusi Kejadian DBD di Kelurahan Tanah Grogot Tahun 2009
No 1 2 3 4 Periode Kejadian Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Jumlah Jumlah Penderita n 14 17 23 45 99 % 14,14 17,17 23,23 45,45 100

Sumber : Dinkes Kab. Paser 2010

Hal tersebut didukung juga dengan data yang menunjukkan bahwa pada tahun 2009 Kelurahan Tanah Grogot menjadi daerah yang memiliki jumlah kasus DBD tertinggi di Kecamatan Tanah Grogot

46

yakni 99 kasus dengan CFR 3,03% dan pada bulan Desember Kabupaten Paser dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa DBD Puskesmas Tanah Grogot melakukan berbagai kegiatan untuk menurunkan angka kejadian DBD. Upaya tersebut meliputi

Penyuluhan 3M, abatesasi, serta mengaktifkan kader jumantik. 3. Karakteristik Responden Karakteristik responden terdiri dari jenis kelamin, umur, pendidikan dan pekerjaan. a. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.4 Distribusi responden menurut jenis kelamin di Kelurahan Tanah Grogot tahun 2009
Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Kelompok Responden Kasus 24 21 45 % 53.33 46.67 100 Kontrol 16 29 45 % 35,56 64.44 100 Total 40 50 90 Persentase 44,44 55,56 100

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa persentase lakilaki pada kelompok kasus sebesar 53,33% dan 35,56% pada kelompok kontrol. Sedangkan persentase perempuan pada

47

kelompok kasus adalah 46,67% dan 64,44% pada kelompok kontrol.
b. Karakteristik responden berdasarkan umur

Karakteristik responden berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.5 Distribusi responden menurut Umur di Kelurahan Tanah Grogot tahun 2009
Kelompok Responden Umur Kasus % Kontrol % Total Persentase 3.33

20-24 tahun 25-30 tahun 31-35 tahun 36-40 tahun 41-45 tahun 45-50 tahun Di atas 50 tahun Total

1 2 5 7 12 9 9 45

2,2 4,4 11,1 15,6 26,7 20 20 50

2 4 3 10 11 4 11 45

4,4 8,9 6,7 22,2 24,4 8,9 24,4 50

3 6 8 17 23 13 20 90

6.67 8.89 18.89 25.56 14.44 22.22 100

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa umur responden terbesar pada kasus terdapat pada kelompok umur 41-45 tahun sebesar 25,56 % sedangkan responden terbesar pada kontrol pada kelompok umur 41-45 tahun dan >50 tahun yakni 24,4%.

48

c. Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan Tabel 4.6 Distribusi responden menurut Tingkat Pendidikan di Kelurahan Tanah Grogot

Kelompok Responden Tingkat Pendidikan Kasus 5 32 4 1 2 1 45 % 11.1 71.1 8.9 2.2 4.4 2.2 50 Kontrol 13 26 3 2 1 13 45 % 28.9 57.8 6.7 4.4 2.2 28.9 50 Total 18 58 7 3 3 1 90 Persentase 20.00 64.44 7.78 3.33 3.33 1.11 100

Perguruan Tinggi Tamat SMA/sederajat Tamat SMP/sederajat Tamat SD/sederajat Tidak Tamat SD/sederajat Tidak Sekolah TOTAL

49

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa persentase pendidikan responden terbesar pada kelompok kasus yakni Tamat SMA/sederajat yakni sebesar 32 % begitu pula pada kelompok kontrol yakni 57,8 %

d. Karakteristik responden berdasarkan jenis pekerjaan

50

Tabel 4.7

Distribusi responden menurut Jenis Pekerjaan di Kelurahan Tanah Grogot

Kelompok Responden Jenis Pekerjaan PNS Honorer Pegawai Swasta Dagang Buruh Bangunan Industri Rumah Tangga Petani Tidak Bekerja Total Kasus 14 5 7 5 4 3 1 6 45 % 31.1 11.1 15.6 11.1 8.9 6.7 2.2 13.3 50 Kontrol 18 5 9 3 3 1 0 6 45 % 40.0 11.1 20.0 6.7 6.7 2.2 0 13,3 50 Total 32 10 16 8 7 4 1 12 90 Persentase 35.56 11.11 17.78 8.89 7.78 4.44 1,11 13,33 100

51

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa persentase pekerjaan responden terbesar pada kelompok kasus yakni PNS sebesar 31,1% sedangkan pada kelompok kontrol yakni sebesar 40%.

4. Hasil Analisa Univariat Analisa ini dilakukan untuk memperoleh gambaran deskripsi tiap-tiap variabel yang digunakan dalam penelitian, data yang dianalisis berasal dari distribusi frekuensi. a. Kejadian DBD

52

Penyakit demam berdarah Dengue adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Dengue dan di tularkan oleh nyamuk aedes aegypti. (Depkes RI 2003)

Tabel 4.8 Distribusi kejadian DBD di wilayah Kelurahan Tanah Grogot tahun 2009
Kejadian DBD Kasus Kontrol Total Jumlah 45 45 90 % 50 50 100

Dari tabel 4.8 di atas diketahui bahwa responden yang dinyatakan terkena DBD (kasus) selama periode Oktober- Desember tahun

2009 adalah sebanyak 45 responden (50%) dan yang tidak terkena DBD (kontrol) adalah sebanyak 45 responden (50 %). Pada penelitian ini, pengambilan sampel kasus dan kontrol dilakukan dengan perbandingan 1 : 1 yaitu sampel kasus sebanyak 45 dan sampel kontrol sebanyak 45. sehingga total seluruh sampel adalah 90 responden. Adapun kriteria sampel kontrol yang diambil adalah responden yang maching lokasi dan keadaan rumahnya..

Wawancara dilakukan kepada seluruh responden dengan kriteria umur 20 tahun ke atas. b. Keadaan Rumah

Tabel 4.9 Distribusi Variabel Keadaan Rumah Responden di wilayah Kelurahan Tanah Grogot tahun 2009

53

Keadaan Rumah Tidak memenuhi syarat Memenuhi Syarat Total

Kejadian DBD Kasus DBD Kontrol DBD n % n % 34 11 45 75,6 24,4 100 18 27 45 40 60 100

Total N 52 38 90 % 57,78 42,2 100

Dari Tabel 4.9 di atas diperoleh bahwa Keadaan Rumah responden yang Memenuhi Syarat Kesehatan menurut Depkes RI 2002 yaitu untuk penderita dan kontrol keadaan rumah yang tidak memenuhi syarat sebanyak 52 (57,78%), dengan keadaan rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan tertinggi terdapat pada penderita (kasus) (75,6%) dibandingkan dengan bukan penderita DBD (kontrol) untuk keadaan rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan sebanyak (40%). Sedangkan keadaan rumah yang memenuhi syarat kesehatan tertinggi terdapat pada kontrol sebesar 60% dibandingkan dengan kasus 24,4%.

Tabel 4.10 Distribusi Keadaan Rumah responden di wilayah Kelurahan Tanah Grogot tahun 2009

54

No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Keadaan Rumah Ada terdapat Ventilasi rumah Ventilasi rumah permanen ≥ 10% luas lantai rumah Ventilasi terbuka dan dilapisi kain kasa Ada terdapat jendela Membuka dan menutup jendela rumah pada pagi dan sore hari Cahaya matahari dapat masuk ke dalam setiap ruangan rumah Jarak rumah ≥ 3 meter dari rumah tetangga

Jawaban Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak

N 90 0 52 38 15 75 90 0 37 53 18 72 75 15

% 100 0 57.78 42.22 16.67 83.33 100 0 58.89 41.11 20 80 83.33 16.67

c.

Tempat Penampungan Air dibedakan lagi

Secara fisik macam tempat penampungan air

berdasarkan bahan tempat penampungan air (logam, plastik, porselin, fiberglass, semen,tembikar, dll), warna tempat

penampungan air (putih, hijau, coklat, dll), volume tempat penampungan air (kurang dari 50 lt, 51-100 lt, 101- 200 lt, dll), letak tempat penampungan air (didalam rumah atau diluar rumah), penutup tempat penampungan air (ada atau tidak ada),

pencahayaan pada tempat penampungan air ( terang atau gelap). (Depkes RI, 2002: 3).

Tabel 4.11 Distribusi Variabel Tempat Penampungan Air Responden di wilayah Kelurahan Tanah Grogot tahun 2009

55

Tempat Penampungan Air Tidak memenuhi syarat Memenuhi Syarat Total

Kejadian DBD Kasus DBD Kontrol DBD n % n % 29 16 45 64,4 35,6 100 23 22 45 51,1 48,9 100

Total N 52 38 90 % 57,78 42,22 100

Dari Tabel 4.11 diatas diperoleh bahwa untuk kasus kejadian DBD dan kontrol dengan Tempat Penampungan Air yang Tidak memenuhi syarat kesehatan yaitu sebanyak (57,78%), Untuk tempat Penampungan air tidak memenuhi syarat kesehatan tempat penampungan air tertinggi terdapat pada responden kasus DBD (64,4%) lebih sedikit dibandingkan responden kontrol 51,1%. Sedangkan untuk yang memenuhi syarat kesehatan tempat penampungan air tertinggi terdapat pada responden kontrol sebanyak 48,9%, lebih sedikit

dibandingkan dengan responden kasus DBD (35,6%)

Tabel 4.12 Distribusi Tempat Penampungan Air responden di wilayah Kelurahan Tanah Grogot tahun 2009

56

No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Keadaan Rumah Terdapat tempat penampungan air Ukuran tempat penampungan air ≥50 liter Tempat penampungan air terkena cahaya matahari Tempat penampungan air berada di dalam rumah Tempat penampungan air yang di dalam rumah dan di luar rumah tertutup rapat Tempat penampungan air yang berada di dalam rumah berwarna terang Tempat penampungan air dibersihkan minimal 1 kali seminggu Tempat penampungan air sering diberikan bubuk larvasida/abate Memberikan bubuk larvasida/abate ≤ 3 bulan sekali

Jawaban Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak

N 90 0 62 28 37 53 88 2 16 74 15 75 18 72 14 76 14 76

% 100 0 68.89 31.11 41,11 58.89 97.78 2.22 17.78 82.22 16.67 83.33 20.00 80.00 15.56 84.44 15.56 84.44

d.

Keberadaan Jentik

Keberadaan jentik sangat berhubungan erat dengan tempat perindukan nyamuk. Berbeda halnya dengan nyamuk lain,

tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti adalah genangangenangan air yang tertampung di wadah yang biasa disebut container, bukan pada genangan- genangan air di tanah.
Tabel 4.13 Distribusi Variabel Keberadaan Jentik Responden di wilayah Kelurahan Tanah Grogot tahun 2009
Kejadian DBD Kasus DBD Kontrol DBD n % n % 33 73,3 22 48,9 12 45 26,7 100 23 45 51,1 100 Total N 55 35 90 % 61,11 39,89 100

Keberadaan Jentik Kurang Baik Baik Total

57

Dari tabel 4.13 di atas diperoleh bahwa untuk kasus kejadian DBD dan kontrol dengan Keberadaan Jentik tertinggi sebanyak (73,3%). Untuk Keberadaan Jentik yaitu

Kurang Baik

terdapat pada responden kasus DBD (73,3%) lebih sedikit dibandingkan responden kontrol (48,9%). Sedangkan untuk keberadaan jentik Baik tertinggi terdapat pada responden

kontrol (51,1%), lebih sedikit dibandingkan dengan responden kasus DBD (26,7%).
Tabel 4.14 Distribusi Keberadaan Jentik responden di wilayah Kelurahan Tanah Grogot tahun 2009
No 1. 2. 3. 4 5 6 Keadaan Rumah Terdapat jentik pada tempat penampungan air Jentik berada pada bak mandi Jentik berada pada ban bekas Jentik berada pada botol/kaleng bekas Jentik berada pada tempat minum burung Jentik berada pada lubang pohon Jawaban Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak N 55 35 42 13 3 52 8 47 1 54 1 54 % 61,11 39,89 46.67 14.44 3.33 57.78 8.89 52.22 1.11 60.00 1.11 60.00

5. Hasil Analisa Bivariat

Analisis bivariat dilakukan untuk melihat Risiko Kejadian antara variabel bebas (independent) yaitu Keadaan Rumah, Tempat

Penampungan Air dan Keberadaan Jentik (dependent) yaitu DBD.

adapun variabel terikat

58

a.

Resiko

Keadaan

Rumah dengan Kejadian Demam berdarah Dengue di wilayah Kelurahan Tanah Grogot tahun 2009. Resiko antara Keadaan Rumah dengan kejadian Demam berdarah Dengue di wilayah Kelurahan Tanah Grogot tahun 2009 dapat kita lihat pada tabel berikut :
Tabel 4.15 Resiko Keadaan Rumah dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di wilayah Kelurahan Tanah Grogot tahun 2009.
Keadaan Rumah Tidak Memenuhi Syarat Memenuhi syarat Total Responden Kasus DBD N 34 11 45 % 75,6 24,4 100 Kontrol DBD n 18 27 45 % 40 60 100 Total N 52 38 90 % 57,8 42,2 100 4,363 1.877 11.454 Odd ratio Value 95 % Cofidence Interval Lower Upper

Dari tabel di atas diperoleh bahwa responden kasus kejadian DBD yang keadaan rumah responden yang tidak memenuhi syarat kesehatan sebesar (75,6%), dibandingkan dengan kontrol keadaan rumah yang tidak memenuhi syarat (40%). Sedangkan untuk kasus DBD keadaan rumah yang memenuhi syarat kesehatan (24,4%), Sedangkan kontrol yang Memenuhi Syarat sebesar (60). Analisa selanjutnya diperoleh nilai OR = 4,363 serta diketahui untuk nilai confidence interval 95% di dapatkan nilai keadaan rumah untuk nilai lower yaitu 1,877 dan nilai uppernya yaitu 11,454 yang mana nilai ini menunjukan bahwa adanya resiko

59

keadaan rumah terhadap kejadian DBD dengan tingkat resiko 4,363 kali dalam menimbulkan kejadian DBD di wilayah Kelurahan Tanah Grogot. e. Resiko Tempat Penampungan Air dengan

Kejadian Demam Berdarah Dengue di wilayah Kelurahan Tanah Grogot tahun 2009. Resiko antara Tempat penampungan Air dengan kejadian Demam Berdarah Dengue di wilayah Kelurahan Tanah Grogot

tahun 2009 dapat dilihat pada tabel berikut.

Table 4.16 Resiko Tempat penampungan Air dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di wilayah Kelurahan Tanah Grogot tahun 2009

Tempat Penampungan Air Tidak Memenuhi Syarat Memenuhi syarat Total

Responden Kasus Kontrol DBD DBD N % n % 29 16 45 64,4 35,6 100 23 22 45 51,1 48,9 100

Total N 52 38 90 % 57,8 42,2 100

Odd Ratio value

95 % Confidence Interval lower Upper

1.734

0.745

4.036

Dari tabel 4.16 diperoleh hasil bahwa responden kasus Kejadian DBD yang dalam tempat penampungan airnya tidak memenuhi syarat (64,4%) lebih banyak dari pada responden kontrol

60

Kejadian DBD yang tempat penampungan airnya tidak memenuhi syarat (51,1%), Sedangkan untuk responden kontrol, yang dalam tempat penampungan airnya memenuhi syarat lebih banyak (48,9%) dari pada responden kasus Kejadian DBD yang tempat penampungan airnya tidak memenuhi syarat (51,1%). Analisa selanjutnya diperoleh pula nilai OR =1,734 serta

diketahui untuk nilai confidence interval 95% di dapatkan nilai tempat penampungan air untuk nilai lower yaitu 0,745 dan nilai uppernya yaitu 4,036 yang mana dari nilai ini diketahui bahwa tempat penampungan air mempunyai resiko dalam kejadian DBD 1,734 kali dalam memberikan resiko kejadian DBD di wilayah Kelurahan Tanah Grogot . c. Resiko Keberadaan Jentik dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di wilayah Kelurahan Tanah Grogot tahun 2009. Resiko antara Keberadaan Jentik dengan Penyakit Demam Berdarah Dengue di wilayah Kelurahan Tanah Grogot tahun 2009 dapat kita lihat pada tabel berikut :
Table 4.17 Resiko Keberadaan Jentik dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di wilayah Kelurahan Tanah Grogot tahun 2009
Responden Kasus Kontrol DBD DBD N % n % Odd Ratio % Value 95 % Cofidence Interval lower Upper

Keberadaan Jentik

Total N

61

Ada Tidak Ada Total

33 22 55

73,3 48,9 90

12 23 35

26,7 51,1 90

45 45 90

50 50 100 2,875 1,190 6,946

Berdasarkan tabel 4.17 diperoleh hasil bahwa responden kasus Kejadian DBD yang dalam tempat penampungan airnya ditemukan jentik (73,3%) lebih banyak dari pada responden kontrol Kejadian DBD yang dalam tempat penampungan airnya ditemukan jentik (26,7%), Sedangkan untuk responden kontrol yang dalam tempat penampungan airnya tidak ditemukan jentik lebih banyak (51,1%) dari pada responden kasus Kejadian DBD yang dalam tempat penampungan airnya ditemukan jentik (48,9%). Dari analisa selanjutnya diperoleh pula nilai OR = 2,875 serta diketahui untuk nilai confidence interval 95% di dapatkan nilai lower 1,190 dan nilai upper 6,946 yang mana dari nilai ini diketahui bahwa keberadaan jentik memberikan pengaruh dalam

menimbulkan resiko sebesar 2,875 kali dalam menimbulkan kejadian DBD di wilayah Kelurahan Tanah Grogot

B. Pembahasan Berdasarkan hasil pengolahan dan analisa data maka dilakukan pembahasan hasil penelitian sesuai dengan variabel yang di teliti.

62

1.

Resiko

Keadaan

Rumah

dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, disamping kebutuhan sandang dan pangan. Rumah berfungsi pula sebagai tempat tinggal serta digunakan untuk berlindung dari gangguan iklim dan makhluk hidup lainya. Selain itu rumah juga merupakan pengembangan kehidupan dan tempat berkumpulnya anggota keluarga untuk menghabiskan sebagian besar waktunya. Bahkan bayi, anak-anak, orang tua, dan orang sakit menghabiskan hampir seluruh waktunya dirumah. Rumah sehat merupakan sumber inspirasi penghuninya untuk berkarya, sehingga dapat meningkatkan produktivitasnya. (Depkes RI, 2002). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan tersebut terlihat dari hasil uji bahwa ada resiko sebesar 4,363 kali antara Keadaan Rumah dalam menimbulkan resiko kejadian DBD di wilayah Kelurahan Tanah Grogot. Nampak dalam analisis bahwa 75,6% responden kasus DBD mempunyai rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Dari data yang ada pada kuesioner menunjukan keadaan rumah responden kurang memenuhi syarat kesehatan karena cahaya matahari tidak dapat masuk ke dalam setiap ruangan rumah

63

(80%), sehingga hal ini memungkinkan ruangan dalam rumah responden menjadi lembab dan menjadi tempat persembunyian nyamuk Aedes Aegipty. Aedes Aegypti suka beristirahat di tempat yang gelap, lembab, tempat tersembunyi di dalam rumah atau bangunan, termasuk tempat tidur, kloset, kamar mandi dan dapur (Depkes RI, 2003). Setelah menghisap darah, nyamuk Aedes aegypti hinggap (beristirahat) di dalam atau kadang-kadang di luar rumah berdekatan dengan tempat perkembangbiakannya. Biasanya di tempat yang aga gelap dan lembab. Di tempat ini nyamuk menunggu proses pematangan telurnya (Depkes RI, 2005). Dari data juga diperoleh bahwa responden yang tidak membuka dan menutup jendela setiap pagi dan sore (41,11) dapat disebabkan karena kesibukan responden. Hal ini dapat dilihat dari profesi responden kasus yakni PNS (31,1%) Honorer (11,1%) dan Pegawai Swasta (15,6%). Jendela yang tidak terbuka menyebabkan cahaya matahari tidak dapat masuk ke dalam setiap ruangan rumah sehingga memungkinkan ruangan dalam rumah menjadi lembab dapat berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan vektor penyakit DBD.. Daud Oslan di Palu (2008), bahwa suhu dan kelembaban sangat mendukung dalam perkembangbiakan vektor penular penyakit

64

DBD yang menyebabkan peningkatan penderita DBD dari tahun ke tahun. Pada saat penelitian juga ditemukan bahwa hanya terdapat 83,33% responden tidak memiliki ventilasi yang terbuka dan dilapisi kain kasa. Hal ini memungkinkan nyamuk mudah dan menggigit penghuni rumah. Beberapa teori dan penelitian sebelumnya sejalan dengan hasil penelitian ini. Menurut Depkes RI (2002), bahwa tingkat kesadaran

masyarakat tentang bahaya demam berdarah akan mempengaruhi kesediaan masyarakat untuk memberantas demam berdarah antara lain dengan menyehatkan lingkungan, menggunakan kelambu, memasang kawat kasa pada rumah dan menggunakan obat nyamuk. Apabila kondisi dalam rumah memiliki kelembaban yang tinggi, maka akan mempengaruhi kebiasaan menggigit dan istirahat nyamuk. Hasil Penelitian Riyanti (2002), bahwa ada hubungan antara tingkat sosial budaya tingkat pendidikan, pekerjaan, penghasilan, kebiasaan menggunakan obat anti nyamuk, kebiasaan menggunakan kelambu, kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah) dengan kejadian demam berdarah. Namun demikian, hasil penelitian ini bertentangan dengan beberapa hasil penelitian lainnya ; Hasil penelitian Tamawiwy, Pratiwi dan Tarmizi (2006) di Manado bahwa tidak ada hubungan antara kondisi rumah dengan kejadian DBD. Begitu pula dengan Azhari

65

Muslim (2003) di Semarang, bahwa faktor lingkungan fisik, yaitu : luas ventilasi, intensitas pencahayaan alam ruang keluarga, suhu ruang keluarga, barang bekas berjentik dan kelembaban ruang keluarga merupakan faktor risiko yang tidak berpengaruh terhadap kejadian infeksi virus Dengue. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa terdapat 40% responden tidak menderita DBD (kontrol) padahal rumah mereka tidak memenuhi syarat kesehatan. Hal ini dapat disebabkan karena tingkat pengetahuan responden tentang DBD yang baik, respondne rutin melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) seperti melakukan 3M, melakukan abatesasi, penelitian ini berkesusaian dengan beberapa penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. Arsin dan Wahiduddin di Makassar (2003), dan Sofyan Muhammad di Balikpapan (2009) bahwa ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kejadian Demam Berdarah Dengue. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara umum adalah melakukan gerakan 3M yaitu menguras bak air, menutup tempat yang mungkin menjadi sarang berkembang biak nyamuk, mengubur barang-barang bekas yang bisa menampung air. Di tempat penampungan air seperti bak mandi diberikan insektisida yang membunuh larva nyamuk nyamuk seperti abate. Ini bisa mencegah tapi

perkembangbiakan

selama

beberapa

minggu,

66

pemberiannya

harus

diulang

setiap

periode

waktu

tertentu.

(Judarwanto 2007). Rahmawati, DwiYana Surabaya (2008) bahwa sanitasi lingkungan dan faktor alam yang mendukung perkembangan nyamuk adalah kondisi lingkungan, suhu, kelembapan, curah hujan,

kecepatan angin, topografi, keberadaan kontainer dan drainase. Karakteristik masyarakat yang mendukung pertumbuhan nyamuk adalah pengetahuan, sikap, mobilitas dan kepadatan penduduk Hasil penelitian Respati, Yunita Ken di Suarabay (2006), bahwa perilaku 3M yang baik dapat mengurangi keberadaan jentik Aedes aegypti, abatisasi dapat mengurangi keberadaan jentik Perilaku 3M yang baik dapat mengurangi keberadaan jentik Aedes aegypti, abatisasi dapat mengurangi keberadaan jentik Aedes aegypti, dan keberadaan jentik Aedes aegypti dapat meningkatkan kejadian DBD. Dengan demikian upaya 3M dapat mencegah terjadinya DBD. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa terdapat 24,4% responden yang menderita DBD (kasus) memiliki kondisi rumah yang memenuhi syarat kesehatan. Hal ini dapat disebabkan karena mereka tertular dari wilayah lain, gizi yang kurang baik atau juga karena tempat penampungan air mereka yang tidak memenuhi syarat kesehatan serta adanya jentik di rumahnya.

67

Penelitian Azhari Muslim di Semarang

(2003), bahwa anak

yang di rumahnya terdapat TPA berjentik mempunyai risiko terinfeksi virus Dengue 11,5 kali dari pada anak yang di rumahnya tidak terdapat TPA yang berjentik. Begitu pula dengan hasil penelitian Respati, Yunita Ken (2006), bahwa Keberadaan jentik Aedes aegypti memiliki hubungan bermakna dengan DBD. Atmodjo, Purwo (2006), bahwa di daerah endemis lebih banyak faktor yang berpotensi terjadinya penularan penyakit DBD daripada daerah non endemis. Hal tersebut juga berakibat pada penderita yang bertempat tinggal di daerah non endemis dan mendapat penularan di daerah endemis . Maria G Guzman dan Gustavo Kouri (2001), bahwa status gizi kurang, akan berpengaruh pada terjadinya DBD pada 2-4 % individu. Menurut Soegeng Soegijanto (2000), bahwa status gizi kurang merupakan faktor yang berpengaruh pada terjadinya infeksi virus Dengue. Berdasarkan hasil analisis penelitian ini, juga didapatkan hasil bahwa ada 60% responden yang tidak menderita DBD (kontrol) memiliki rumah yang memenuhi syarat kesehatan. Hal ini dapat dikarenakan oleh lingkungan fisik yang baik sehingga tempat perindukan dan sarana persembunyian vektor Aedes Aegipty menjadi kurang atau bahkan tidak ada.

68

Menurut Depkes RI (2002), bahwa kontruksi rumah dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor resiko sumber penularan berbagai jenis penyakit dimana penyediaan air bersih dan sanitasi lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan dapat menjadi faktor terhadap berbagai penyakit. Faktorfaktor risiko lingkungan bangunan rumah yang dapat mempengaruhi kejadian penyakit maupun kecelakaan antara lain ventilasi,

pencahayaan, kepadatan hunian ruang tidur, kelembaban ruangan, kualitas udara ruangan, binatang penular penyakit, air bersih, limbah rumah tangga, sampah, serta perilaku penghuni dalam rumah. 2. Resiko Tempat Penampungan Air dengan kejadian Demam Berdarah Dengue Penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit demam berdarah telah banyak dilakukan, tetapi faktor-faktor lainnya seperti kepadatan jentik, kepadatan vektor atau hal-hal lain yang sifatnya promotif dan preventif belum banyak dilakukan. Kepadatan jentik di suatu daerah akan berpengaruh langsung terhadap kepadatan vektor. Kepadatan vektor akan mempengaruhi tingkat resiko terjadinya penularan penyakit demam berdarah di suatu tempat. Oleh karena Tempat Penampungan Air (TPA) merupakan salah satu tempat yang paling potensial dalam perkembangbiakan

69

nyamuk Aedes aegypti, maka Tempat Penampungan Air menjadi salah satu faktor resiko munculnya kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan tersebut terlihat dari hasil uji bahwa ada resiko sebesar 1,734 kali antara Tempat Penampungan Air dalam menimbulkan resiko kejadian DBD di

wilayah Kelurahan Tanah Grogot. Hal ini sejalan dengan beberapa hasil penelitian sebelumnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Tamawiwy, Pratiwi dan Tarmizi (2006) di Manado menunjukan hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara tempat penampungan air dengan kejadian DBD dimana sebanyak 48% tempat penampungan air responden tidak memenuhi syarat menderita DBD. Hasil penelitian ini sejalan juga dengan hasil penelitian yang dilakukan Jamilah (2002) di Pare-Pare menyatakan bahwa tempat penampungan air dapat menjadi sumber timbulnya penyakit Demam Berdarah. Rosida, Mariana Eka di Surabaya (2008), bahwa tempat penampungan air yang tidak baik mendukung untuk

perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti yang menjadi vektor penularan penyakit DBD. Dalam hasil penelitian ini diperoleh hasil bahwa terdapat 64,4% responden yang menderita DBD (kasus) memiliki Tempat

70

Penampungan Air (TPA) yang tidak memenuhi syarat.

Hal ini

dikarenakan tempat penampungan air yang tidak tertutup rapat. Selain itu juga adanya resiko antara TPA dan kejadian DBD dapat dikarenakan tempat penampungan air berwarna gelap, jarang dibersihkan, jarang diberikan bubuk larvasida dan tidak terkena cahaya matahari. Dari kuesioner diperoleh data bahwa 74% responden yang memiliki TPA di dalam dan di luar rumah yang tidak tertutup rapat. menguatkan hasil penelitian bahwa tempat penampungan air yang tidak tertutup rapat berpengaruh pada kejadian DBD. Hal ini sejalan dengan beberapa penelitian sebelumnya. Penelitian Riyanti (2002) menunjukkan ada hubungan antara keberadaan tutup pada kontainer dengan kejadian penyakit Demam Berdarah. Djaffar, (2000) bahwa agar tidak tercipta habitat yang cocok bagi nyamuk untuk berkembang biak maka salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mencegah nyamuknya memperoleh jalan masuk ke air dengan menggunakan saringan atau penutup pada tempat penampungan air . Selain itu juga diperoleh data bahwa 75% responden memiliki TPA yang berwarna gelap, dan 58,8% responden memiliki TPA yang langsung terkena sinar matahari. Faktor jenis tempat penampungan air berhubungan dengan keberadaan jentik karena nyamuk aedes aegypti lebih cenderung

71

memilih kontainer berair yang berwarna gelap, terbuka, dan terutama yang terletak di tempat–tempat terlindung dari sinar matahari (Depkes RI, 2002). Secara fisik macam tempat penampungan air dibedakan lagi berdasarkan bahan tempat penampungan air (logam, plastik, porselin, fiberglass, semen,tembikar, dll), warna tempat penampungan air ( putih, hijau, coklat, dll), volume tempat penampungan air (kurang dari 50 lt, 51-100 lt, 101- 200 lt, dll), letak tempat penampungan air (didalam rumah atau diluar rumah), penutup tempat penampungan air (ada atau tidak ada), pencahayaan pada tempat penampungan air terang atau gelap. (Depkes RI, 2002). Selain dari itu data pada penelitian yang ada tidak memenuhi syarat tempat penampungan air ini dikarenakan responden dalam pemberian bubuk abate atau larvasida untuk menjaga keadaan tempat penampungan air agar tidak menjadi perkembangbiakan vektor penyakit juga masih sedikit memahami manfaatnya dari pemberian abate tersebut yaitu 76% responden yang tidak

memberikan bubuk abate/ larvasida pada TPA-nya. Enggannya dalam pemberiaan abate oleh masyarakat

diketahui sesuau dengan hasil penelitian di lapangan bahwa mereka sangat sulit mendapatkan bubuk abate karena mereka harus memintanya ke Puskesmas Tanah Grogot. Ini menandakan program dari pemerintah daerah yang memberikan dalam pemberian abate

72

secara cuma-cuma masih belum optimal pelaksanaannya khususnya masyarakat di wilayah Kelurahan Tanah Grogot. Dari kuesioner juga diperoleh data bahwa 72% responden tidak membersihkan TPA minimal 1 kali seminggu. Keadaan ini sangat memungkinkan jentik muncul di TPA dan menjadi pencetus terjadinya kasus Demam Berdarah Dengue. Sesuai teori yang ada bahwa PSN (pemberantasan sarang nyamuk) secara umum adalah melakukan gerakan 3M yaitu menguras bak air, menutup tempat yang mungkin menjadi sarang berkembang biak nyamuk, mengubur barang-barang bekas yang bisa menampung air. Di tempat penampungan air seperti bak mandi diberikan insektisida yang membunuh larva nyamuk seperti abate. Ini bisa mencegah perkembangbiakan nyamuk selama beberapa

minggu, tapi pemberiannya harus diulang setiap periode waktu tertentu. (Judarwanto 2007). Depkes RI (1992) dalam mengoptimalkan pemeriksaan Pemeriksaan (Syarifah 2007) bahwa perlunya Jentik Berkala air dan (PJB), yakni

tempat

penampungan

tempat-tempat

perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti untuk mengetahui adanya jentik nyamuk, yang dilakukan di rumah dan tempat umum secara teratur setiap bulan sekali untuk mengetahui keadaan populasi jentik nyamuk penular penyakit demam berdarah Dengue.

73

Kegiatan ini dilakukan dirumah-rumah dan tempat-tempat umum untuk memeriksa tempat penampungan air dan tempat yang menjadi perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti. Biasanya petugas selain melakukan pemeriksaan jentik berkala juga sambil memberikan penyuluhan tentang pemberantasan sarang nyamuk kepada

masyarakat atau pengelola tempat tempat umum. Dengan kunjungan yang berulang- ulang yang disertai dengan penyuluhan tersebut diharapkan masyarakat dapat termotivasi untuk melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk secara teratur, sehingga dapat mengurangi keberadaan jentik. Dalam hasil penelitian ini diperoleh hasil bahwa terdapat 51,1% responden yang memiliki Tempat Penampungan Air (TPA) yang tidak memenuhi syarat namun tidak menderita DBD (kontrol). Hal ini dapat dikarenakan tempat penampungan air mereka sering dibersihkan atau ditaburi bubuk larvasida/abate secara rutin. Dari hasil penelitian diperoleh data bahwa terdapat 20% responden yang membersihkan Tempat Penampungan Airnya minimal 1 kali seminggu dan terdapat 25,56% responden yang secara rutin menaburkan bubuk larvasida/abate pada TPA-nya. Azhari Muslim (2003) di Semarang, bahwa anak yang tinggal di dalam rumah yang mempunyai kebiasaan menguras TPA lebih dari 7 hari di antara dua kegiatan menguras TPA mempunyai risiko terkena kejadian infeksi virus dengue 11,5 kali dari pada anak yang

74

mempunyai kebiasaan menguras TPA kurang dari atau sama dengan 7 hari. Alpana Bohra et al di India (2001), bahwa frekuensi menguras TPA sekali dalam lebih dari 7 hari mempunyai kontribusi yang positif pada infeksi virus dengue. Chrisni Utami, et al di Semarang (1994), bahwa individu yang mempunyai kebiasaan menguras TPA sekali dalam lebih dari

seminggu mempunyai mempunyai risiko 3,3 kali terkena DBD dari pada individu yang mempunyai kebiasaan menguras TPA lebih dari sekali dalam seminggu. Widyana di Bantul (1997), bahwa responden yang mempunyai kebiasaan menguras TPA lebih dari 7 hari mempunyai risiko 6,4 kali terkena penyakit DBD dari pada responden yang mempunyai kebiasaan menguras TPA kurang dari atau sama dengan 7 hari. Dalam hasil penelitian ini diperoleh hasil bahwa terdapat 35,6% responden yang menderita DBD (kasus) memiliki Tempat Penampungan Air (TPA) yang memenuhi syarat. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Riyanti (2002) menunjukkan tidak ada hubungan antara frekuensi pengurasan kontainer dengan kejadain Demam Berdarah Dengue (p=0,115). Selain itu hasil ini dapat pula disebabkan karena mereka tertular dari wilayah lain, gizi yang kurang baik sebagaimana hasil penelitian Maria G Guzman dan Gustavo Kouri (2001), bahwa status gizi kurang, akan berpengaruh pada terjadinya DBD pada 2-4 %

75

individu. Menurut Soegeng Soegijanto (2000), bahwa status gizi kurang merupakan faktor yang berpengaruh pada terjadinya infeksi virus Dengue. Dapat pula diakibatkan karena mereka tertular dari wilayah lain yang merupakan daerah endemis seperti hasil penelitian Atmodjo, Purwo (2006), bahwa di daerah endemis lebih banyak faktor yang berpotensi terjadinya penularan penyakit DBD daripada daerah non endemis. Hal tersebut juga berakibat pada penderita yang bertempat tinggal di daerah non endemis dan mendapat penularan di daerah endemis . Pada hasil penelitian ini diperoleh hasil bahwa terdapat 48,9% responden yang memiliki Tempat Penampungan Air (TPA) yang memenuhi syarat tidak menderita DBD (kontrol). Hal ini dapat dikarenakan tempat penampungan air mereka memenuhi syarat menyebabkan tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti menjadi berkurang. Rahmawati, Dwi Yana Surabaya (2008) bahwa sanitasi lingkungan dan faktor alam yang mendukung perkembangan nyamuk adalah kondisi lingkungan, suhu, kelembapan, curah hujan, kecepatan angin, topografi, keberadaan kontainer dan drainase. Karakteristik masyarakat yang mendukung pertumbuhan nyamuk adalah

pengetahuan, sikap, mobilitas dan kepadatan penduduk

76

Laily, Eny dwi Rokhmatu Surabaya (2010), bahwa ada hubungan antara kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat dengan keberadaan jentik Aedes aegypti (nilai p = 0,005 (p<α)). 3. Resiko Keberadaan Jentik dengan kejadian Demam Berdarah Dengue Habitat yang sesuai untuk perkembangbiakan Nyamuk Aedes aegypti adalah Tempat Penampungan Air (TPA) yang berisi air bersih, tidak berhubungan langsung dengan tanah dan bersifat tetap atau tidak mengalir seperti bak mandi, drum, botol atau kaleng kosong dan sebagainya.

Tempat potensial untuk perindukan nyamuk Aedes aegypti adalah Tempat Penampungan Air (TPA) yang digunakan sehari-hari, yaitu drum, bak mandi, bak WC, gentong, ember dan lain- lain. Tempat perindukan lainnya yang non TPA adalah vas

bunga, ban bekas, ban bekas, botol bekas, tempat minum burung, tampat sampah dan lain-lain, serta TPA alamiah, yaitu lubang pohon, daun pisang, pelepah daun keladi, lubang batu, dan lain-lain (Soegijanto, 2004). Berdasarkan hasil analisis data diperoleh bahwa keberadaan jentik pada tempat-tempat yang potensial perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti dapat menimbulkan resiko kejadian DBD sebesar 2,875 kali di wilayah Kelurahan Tanah Grogot.

77

Data yang didapatkan dari kuesioner bahwa dari jentik yang ditemukan bak mandi (46,67%), di dalam botol/kaleng bekas (8,89%), di ban bekas (3,33%) dan tempat minum burung serta lubang pohon masing-masing (1,11%). Hasil penelitian ini diperkuat dengan

beberapa penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. Hasil penyelidikan epidemiologi Provitasari, Primery Novi di Mulyorejo, Surabaya (2006) bahwa banyaknya tempat penampungan air warga masyarakat yang ada jentiknya berhubungan dengan meningkatnya angka kejadian DBD.. Penelitian Azhari Muslim di Semarang (2003), bahwa anak

yang di rumahnya terdapat TPA berjentik mempunyai risiko terinfeksi virus dengue 11,5 kali dari pada anak yang di rumahnya tidak terdapat TPA yang berjentik. Begitu pula dengan hasil penelitian Respati, Yunita Ken (2006), bahwa Keberadaan jentik Aedes aegypti memiliki hubungan bermakna dengan DBD. Penelitian Koopman JS, et al di Mexico (1991),bahwa individu yang bertempat tinggal dimana terdapat tempat penampungan air berjentik mempunyai risiko 1,9 kali terinfeksi virus Dengue.

Sedangkan hasil penelitian Chrisni Utami, et al di Semarang (1994), bahwa individu yang bertempat tinggal dimana terdapat tempat penampungan air berjentik mempunyai risiko terkena penyakit DBD sebanyak 2,1 kali dari pada individu yang bertempat tinggal dimana tidak terdapat tempat penampungan air berjentik.

78

Menurut Jose G Rigau-Perez et al (1998), bahwa individu yang bertempat tinggal dimana terdapat tempat penampungan air berjentik berisiko terinfeksi virus Dengue.(13) Sedangkan hasil penelitian oleh Linnette Rodriguez-Figueroa et al di Puerto Rico (1995),

menunjukkan bahwa terjadinya infeksi virus Dengue berhubungan dengan adanya tempat penampungan air yang berjentik. Hasil Penelitian Arman Endika Putra di Sumenep (2006), keberadaan vektor (ada tidaknya jentik) dengan signifikasi 0,000. mempengaruhi endemisitas DBD di wilayah kerja Puskesmas Pandian and Pamolokan. Dari analisis data juga diperoleh hasil bahwa terdapat 35 % responden yang menderita DBD (kasus) meskipun tidak ditemukan jentik di Tempat Penampungan Air di rumahnya. Hal ini dapat disebabkan karena responden tersebut tertular virus Dengue di wilayah lain yang merupakan daerah endemis, atau karena tempat tinggal responden berada di lingkungan perumahan. Penyebaran Demam Berdarah Dengue erat kaitannya dengan peningkatan mobilitas penduduk sejalan dengan semakin lancarnya hubungan transportasi serta tersebar luasnya virus Dengue dan nyamuk penularnya di berbagai wilayah di Indonesia (Depkes RI, 2005). Hasil penelitian Arsunan dan Wahiduddin (2003) di kota Makassar mobilitas penduduk berperan dalam penyebaran DBD, hal

79

ini disebabkan mobilitas penduduk di kota Makassar yang relatif tinggi. bahwa penyakit biasanya menjalar dimulai dari suatu pusat sumber penularan (kota besar), kemudian mengikuti lalu-lintas (mobilitas) penduduk. Hal ini sejalan dengan pendapat Yuswulandari (2003), bahwa tempat-tempat potensial untuk terjadinya penularan DBD adalah : Wilayah yang banyak kasus DBD (rawan/endemis), tempat-tempat umum merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang datang dari berbagai wilayah memungkinkan terjadinya pertukaran beberapa tipe virus Dengue cukup besar seperti di sekolah, rumah sakit, hotel, tempat ibadah dan lain-lain), pemukiman baru di pinggiran kota. Sejalan pula dengan hasil penelitian Arum, Anggie Puspita di Surabaya (2010), ada perbedaan antara lingkungan perumahan dan perkampungan terhadap kejadian DBD, dimana kejadian DBD tahun 2005 – 2009 dimana perbedaan tersebut disebabkan karena keadaan lingkungan, tindakan penghuni rumah dan mobilitas penduduk di lingkungan perumahan. Atmodjo, Purwo (2006), bahwa di daerah endemis lebih banyak faktor yang berpotensi terjadinya penularan penyakit DBD daripada daerah non endemis. Hal tersebut juga berakibat pada penderita yang bertempat tinggal di daerah non endemis dan mendapat penularan di daerah endemis . perkampungan lebih baik daripada di lingkungan

80

Hasil Penelitian Arman Endika di Sumenep (2006), Kepadatan penghuni dengan signifikasi 0,02 mempengaruhi endemisitas DBD di wilayah kerja Puskesmas Pandian and Pamolokan. Dalam analisis juga diperoleh hasil bahwa terdapat 61,11% responden yang tidak menderita DBD (kontrol) meskipun ditemukan jentik di rumahnya. Hal ini dapat disebabkan karena faktor status gizi yang baik sehingga tidak mudah terinfeksi virus Dengue. Penelitian Azhari Muslim di Semarang (2003), bahwa anak

dengan gizi kurang mempunyai risiko terkena infeksi virus Dengue sebanyak 3,8 kali dari pada anak dengan gizi baik. Hal ini sesuai dengan rekomendasi Scientific Working on Dengue WHO yang menyatakan bahwa status gizi yang kurang berpengaruh pada terjadinya infeksi virus Dengue. Sedangkan menurut Maria G Guzman dan Gustavo Kouri (2001), bahwa status gizi kurang, akan

berpengaruh pada terjadinya DBD pada 2-4 % individu. Menurut Soegeng Soegijanto (2000), bahwa status gizi kurang merupakan faktor yang berpengaruh pada terjadinya infeksi virus dengue. Diperoleh pula hasil bahwa terdapat 39,89% responden tidak menderita DBD (kontrol) dan tidak ditemukan jentik di rumahnya. Hal ini dapat disebabkan karena kondisi lingkungan yang baik,

pengetahuan yang baik serta perilaku pencegahan DBD yang dilakukan secara berkesinambungan seperti 3 M dan abatesasi.

81

Perilaku 3M yang baik dapat mengurangi keberadaan jentik Aeries aegypti, abatisasi dapat mengurangi keberadaan jentik Aedes aegypti, dan keberadaan jentik Aedes aegypti dapat meningkatkan kejadian DBD. Laily, Eny Dwi Rokhmatu Surabaya (2010), bahwa ada hubungan antara kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat dengan keberadaan jentik Aedes Aegypti (nilai p = 0,005). Rahmawati, DwiYana Surabaya (2008) bahwa sanitasi lingkungan dan faktor alam yang mendukung perkembangan nyamuk adalah kondisi lingkungan, suhu, kelembaban, curah hujan, kecepatan angin, topografi, masyarakat keberadaan yang kontainer dan drainase. Karakteristik adalah

mendukung

pertumbuhan

nyamuk

pengetahuan, sikap, mobilitas dan kepadatan penduduk Penelitian Azhari Muslim di Semarang (2003), bahwa anak

yang tinggal di dalam rumah yang mempunyai kebiasaan menguras TPA lebih dari 7 hari di antara dua kegiatan menguras TPA mempunyai risiko terkena kejadian infeksi virus dengue 11,5 kali dari pada anak yang mempunyai kebiasaan menguras TPA kurang dari atau sama dengan 7 hari di antara dua kegiatan menguras TPA selama satu bulan terakhir Widyana di Bantul (1997), bahwa responden yang mempunyai kebiasaan menguras TPA lebih dari 7 hari mempunyai risiko 6,4 kali

82

terkena penyakit DBD dari pada responden yang mempunyai kebiasaan menguras TPA kurang dari atau sama dengan 7 hari Sedangkan hasil penelitian oleh Chrisni Utami, et al di Semarang (1994), bahwa individu yang mempunyai kebiasaan menguras TPA sekali dalam lebih dari seminggu mempunyai mempunyai risiko 3,3 kali terkena DBD dari pada individu yang mempunyai kebiasaan menguras TPA lebih dari sekali dalam seminggu. Hasil penelitian oleh Alpana Bohra et al di India (2001), menunjukkan bahwa frekuensi menguras TPA sekali dalam lebih dari 7 hari mempunyai kontribusi yang positif pada infeksi virus dengue. Namun bertentangan dengan hasil penelitian Riyanti (2002) yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara keberadaan jentik pada kontainer dengan kejadian penelitian Demam Berdarah Dengue (p=0,062) dan tidak ada hubungan antara frekuensi pengurasan kontainer dengan kejadian Demam Berdarah Dengue (p=0,115).

83

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN (TIDAK DIPRINT)

A. KESIMPULAN Dari hasil penelitian dan analisa yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Keadaan Rumah merupakan faktor resiko dalam menimbulkan

kejadian Demam Berdarah Dengue di wilayah Kelurahan Tanah Grogot 2009 sebesar 4,363 kali dengan Cofidence Interval 95% Lower = 1.877 Upper = 11.454. 2. Tempat Penampungan air merupakan faktor resiko dalam

menimbulkan kejadian Demam Berdarah Dengue di wilayah Kelurahan

84

Tanah Grogot 2009, sebesar 1.734 kali dengan Cofidence Interval 95% Lower = 0.745 Upper = 4.036. 3. Keberadaan Jentik merupakan faktor resiko dalam menimbulkan

kejadian Demam Berdarah Dengue di wilayah kerja Kelurahan Tanah Grogot 2009, sebesar 2,875 kali dengan Cofidence Interval 95% lower = 1,190 Upper = 6,946.

B. SARAN Dari hasil kesimpulan yang di kemukakan, maka ada beberapa hal yang dapat disarankan yaitu :

1.

Masyarakat hendaknya lebih menjaga keadaan ventilasi rumah

seperti jendela rumah yang hendaknya menjadi sirkulasi udara dan pencahayaan agar terhindar dari berbagai penyakit terutama DBD. 2. Masyarakat hendaknya meningkatkan pengawasan keberadaan

jentik di tempat penampungan air baik dengan memperhatikan keadaan tutup tempat penampungan air, Melakukan 3M, Memberikan bubuk abate dan ikan pemakan jentik. 3. Sampah-sampah (plastik, botol, ban bekas dan lainnya) yang dapat

menampung air hujan yang ada di sekitar rumah agar dapat dibuang ketempat sampah agar tidak menjadi tempat perkembang biakan vector (nyamuk).

85

4.

Bagi masyarakat

hendaknya lebih proaktif lagi dalam mencari

informasi baik di Puskesmas maupun lembaga kesehatan lainnya, mengenai penyakit DBD tersebut baik itu pencegahan, penyebab, gejala dan penularan penyakit DBD. 5. Bagi instansi terkait khususnya Dinas Kesehatan Kabupaten Paser

agar lebih proaktif dalam hal melakukan penyuluhan untuk menghindari perkembang penyakit DBD dan mengoptimalkan peran jumantik serta melakukan abatesasi dan fogging secara efektif

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->