ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN MASALAH BENIGNA HIPERTROPI PROSTAT (BPH) Oleh : Dafid Arifiyanto, 2008

A. DEFINISI BPH adalah pembesaran atau hypertropi prostat. Kelenjar prostat membesar, memanjang ke arah depan ke dalam kandung kemih dan menyumbat aliran keluar urine, dapat menyebabkan hydronefrosis dan hydroureter. Istilah Benigna Prostat Hipertropi sebenarnya tidaklah tepat karena kelenjar prostat tidaklah membesar atau hipertropi prostat, tetapi kelenjar-kelenjar periuretralah yang mengalami hiperplasia(sel-selnya bertambah banyak. Kelenjar-kelenjar prostat sendiri akan terdesak menjadi gepeng dan disebut kapsul surgical. Maka dalam literatur di benigna hiperplasia of prostat gland atau adenoma prostat, tetapi hipertropi prostat sudah umum dipakai. B. ETIOLOGI Penyebab terjadinya Benigna Prostat Hipertropi belum diketahui secara pasti. Prostat merupakan alat tubuh yang bergantung kepada endokrin dan dapat pula dianggap undangan(counter part). Oleh karena itu yang dianggap etiologi adalah karena tidak adanya keseimbangan endokrin. Namun menurut Syamsu Hidayat dan Wim De Jong tahun 1998 etiologi dari BPH adalah: o Adanya hiperplasia periuretral yang disebabkan karena perubahan keseimbangan testosteron dan estrogen. o Ketidakseimbangan endokrin. o Faktor umur / usia lanjut. o Unknown / tidak diketahui secara pasti. C. PATOLOGI ANATOMI Kelenjar prostate adalah suatu kelenjar fibro muscular yang melingkar Bledder neck dan bagian proksimal uretra. Berat kelenjar prostat pada orang dewasa kira-kira 20 gram dengan ukuran rata-rata: - Panjang 3.4 cm - Lebar 4.4 cm - Tebal 2.6 cm Secara embriologis terdiro dari 5 lobur: - Lobus medius 1 buah - Lobus anterior 1 buah - Lobus posterior 1 buah - Lobus lateral 2 buah Selama perkembangannya lobus medius, lobus anterior dan lobus posterior akan menjadi saru disebut lobus medius. Pada penampang lobus medius kadang-kadang tidak tampak karena terlalu kecil dan lobus ini tampak homogen berwarna abu-abu, dengan kista kecil berisi cairan seperti susu, kista ini disebut kelenjar prostat. Pada potongan melintang uretra pada posterior kelenjar prostat terdiri dari: - Kapsul anatomis - Jaringan stroma yang terdiri dari jaringan fibrosa dan jaringan muskuler

D. Peningkatan tekanan balik dapat menyebabkan hidronefrosis. Tonjolan ini dapat menekan uretra dari lateral sehingga lumen uretra menyerupai celah. Diuresis paska operasi dapat terjadi pada pasien dengan edema hebat dan hidronefrosis setelah dihilangkan obstruksinya. berdilatasi dan sanggup berkontraksi secara efektif. urin dan beban solutlainya meningkatkan diuresis ini. Akhirnya diperlukan peningkatan penekanan untuk mengosongkan kandung kemih. Pembesaran adenoma progresif menekan atau mendesak jaringan prostat yang normal ke kapsula sejati yang menghasilkan kapsula bedah. Karena terdapat sisi urin. konsisitensi lunak dan berbatas jelas dengan jaringan prostat yang terdesak berwarna putih ke abu-abuan dan padat. elekrolit. Pada laki-laki remaja prostat belum teraba pada colok dubur. lapisan ini disebut juga sebagai adenomatus zone Ø Di sekitar uretra disebut periuretral gland Saluran keluar dari ketiga kelenjar tersebut bersama dengan saluran dari vesika seminalis bersatu membentuk duktus ejakulatoris komunis yang bermuara ke dalam uretra. Edema ini berespon cepat dengan drainage kateter. Bagian paling dalam prostat membesar dengan terbentuknya adenoma yang tersebar. Serat-serat muskulus destrusor berespon hipertropi. dan urea dapat menimbulkan edema hebat. Apabila jaringan fibromuskuler yang bertambah tonjolan berwarna abu-abu. jaringan prostat masih baik. Sebagai akibatnya serat detrusor akan menjadi lebih tebal dan penonjolan serat detrusor ke dalam mukosa buli-buli akan terlihat sebagai balok-balok yang tampai (trabekulasi). terjadi dekompensasi kandung kemih menjadi struktur yang flasid. tetapi fibrosis jaringan kelenjar yang berangsur-angsur mendesak prostat dan kontraksi dari vesika yang dapat mengakibatkan peradangan.Jaringan kelenjar yang terbagi atas 3 kelompok bagian: Ø Bagian luar disebut kelenjar sebenarnya Ø Bagian tengah disebut kelenjar sub mukosal. Pada beberapa kasus jika obsruksi keluar terlalu hebat. Pada tahap awal terjadi pembesaran prostat sehingga terjadi perubahan fisiologis yang mengakibatkan resistensi uretra daerah prostat. maka terdapat peningkatan infeksi dan batu kandung kemih. Pertambahan unsur kelenjar menghasilkan warna kuning kemerahan. Pada awalnya air. natrium. PATOFISIOLOGI Menurut syamsu Hidayat dan Wim De Jong tahun 1998 adalah Umumnya gangguan ini terjadi setelah usia pertengahan akibat perubahan hormonal. yang menghasilkan trabekulasi di dalam kandung kemih. padat dan tidak mengeluarkan cairan sehingga batas tidak jelas. leher vesika kemudian detrusor mengatasi dengan kontraksi lebih kuat. Menurut Mansjoer Arif tahun 2000 pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan pada traktus urinarius.. Retensi progresif bagi air. Apabila tonjolan itu ditekan keluar cairan seperti susu. yang membatasi pengeluaran urin. Sedangkan pada penampang tonjolan pada proses hiperplasi prostat. sedangkan pada oran dewasa sedikit teraba dan pada orang tua biasanya mudah teraba. Terkadang juga penonjolan ini dapat menutupi lumen uretra. mukosa vesika dapat menerobos keluar di antara serat detrusor . Jika dilihat dari dalam vesika dengan sitoskopi. akhirnya kehilangan cairan yang progresif bisa merusakkan kemampuan ginjal untuk mengkonsentrasikan serta menahan air dan natrium akibat kehilangan cairan dan elekrolit yang berlebihan bisa menyebabkan hipovelemia. Kapsula bedah ini menahan perluasannya dan adenoma cenderung tumbuh ke dalam menuju lumennya. terjadi perlahan-lahan.

sehingga terbentuk tonjolan mukosa yang apabila kecil dinamakan sakula dan apabila besar disebut diverkel. E. PATHWAY Obstruksi uretra Penumpukan urin dlm VU Pembedahan/prostatektomi Kompensasi otot destrusor Spasme otot spincter Merangsang nociseptor Hipotalamus Dekompensasi otot destrusor Potensi urin Tek intravesikal Refluk urin ke ginjal Tek ureter & ginjal meningkat Gagal ginjal Retensi urin Port de entrée mikroorganisme kateterisasi Luka insisi Resiko disfungsi seksual Nyeri Resti infeksi Resiko kekurangan vol cairan Resiko perdarahan: resiko syok hipovolemik Hilangnya fungsi tbh . sehingga terjadi retensi urin total yang berlanjut pada hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas. Fase penebalan detrusor adalah fase kompensasi yang apabila berlanjut detrusor akan menjadi lelah dan akhirnya akan mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk kontraksi.

Adapun gejala dan tanda yang tampak pada pasien dengan Benigna Prostat Hipertrofi: . hal ini terjadi karena dua hal yaitu: 1. hipertrofi kandung kemih dan cystitis. tetapi tak selalu disertai gejala-gejala klinik. Retensi urin dalam kandung kemih menyebabkan dilatasi kandung kemih. MANIFESTASI KLINIS Walaupun Benigna Prostat Hipertropi selalu terjadi pada orang tua.Perub pola eliminasi Kurang informasi ttg penyakitnya Kurang pengetahuan Hyperplasia periuretral Usia lanjut Ketidakseimbangan endokrin BPH F. Penyempitan uretra yang menyebabkan kesulitan berkemih 2.

cystoscopy. foto polos abdomen. Hernia / hemoroid d. nyeri atau sekitar waktu miksi (disuria) g. Terasa panas. USG. Frekuensi kencing bertambah terutama malam hari (nocturia) e. Hematuria i. G. retrograd. tetapi kandung kemih tidak dibuka. H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Pada pasien Benigna Prostat Hipertropi umumnya dilakukan pemeriksaan: 1. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi pada waktu miksi c. Prostatektomi Retro Pubis Pembuatan insisi pada abdomen bawah. tumor dan batu (Syamsuhidayat dan Wim De Jong. hidronefrosis. 3.a. Massa pada abdomen bagian bawah h. selain untuk mengetahui pembesaran prostat ultra sonografi dapat pula menentukan volume bulibuli. 1997). Retensi kronik dapat menyebabkan refluks vesiko-ureter. mengukut sisa urine dan keadaan patologi lain seperti difertikel. Hematuria f. Anemia Kadang-kadang tanpa sebab yang diketahui. tes sensitivitas dan biakan urin 2. kreatinin. hidroureter. Karena selalu terdapat sisa urin sehingga menyebabkan terbentuknya batu e. Kolik renal l. maka mudah sekali terjadi cystitis dan selaputnya merusak ginjal. Karena urin selalu terisi dalam kandung kemih. gagal ginjal. Indikasi sistogram retrogras dilakukan apabila fungsi ginjal buruk. Kurangnya atau lemahnya pancaran kencing c. Urgency (dorongan yang mendesak dan mendadak untuk mengeluarkan urin) j. elekrolit. Radiologis Intravena pylografi. Retensi urin b. KOMPLIKASI Komplikasi yang dapat terjadi pada hipertropi prostat adalah a. hanya ditarik dan jaringan adematous prostat diangkat melalui insisi pada anterior kapsula prostat. Pada malam hari miksi harus mengejan f. FOKUS PENGKAJIAN . Miksi yang tidak puas d. Sistitis dan Pielonefritis I. pasien sama sekali tidak dapat berkemih sehingga harus dikeluarkan dengan kateter. b. 4. BNO. Berat badan turun m. ultrasonografi dapat dilakukan secara trans abdominal atau trans rectal (TRUS = Trans Rectal Ultra Sonografi). Laboratorium Meliputi ureum (BUN). Ct Scanning. sistogram. Prostatektomi Parineal Yaitu pembedahan dengan kelenjar prostat dibuang melalui perineum. Kesulitan mengawali dan mengakhiri miksi k.

Gangguan rasa nyamam: nyeri berhubungan dengan spasme otot spincter 2. . b. kening mengkerut. abdomen tegang) e. Potensial terjadinya infeksi berhubungan dengan port de entrée mikroorganisme melalui kateterisasi 5. ajarkan teknik relaksasi f.Gelisah .Secara verbal pasien mengungkapkan nyeri berkurang atau hilang . Atur posisi pasien senyaman mungkin. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit. Tujuan: Setelah dilakukan perawatan selama 5-7 hari pasien tidak mengalami retensi urin Kriteria: Pasien dapat buang air kecil teratur bebas dari distensi kandung kemih. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. teh. RENCANA KEPERAWATAN 1. Laporkan pada dokter jika nyeri meningkat 2. Anjurkan pasien untuk menghindari stimulan (kopi.Pasien dapat beristirahat dengan tenang. perawatannya.Takikardi . Disfungsi seksual berhubungan dengan hilangnya fungsi tubuh 4. Lakukan perawatan aseptik terapeutik g.Pasien mengeluh sakit pada luka insisi. b) Data Obyektif: . lokasi.Pasien selalu menanyakan tindakan yang dilakukan .Pasien mengatakan tidak bisa melakukan hubungan seksual. Observasi tanda-tanda non verbal nyeri (gelisah. Intervensi: a.Pasien mengatakan buang air kecil tidak terasa. Beri ompres hangat pada abdomen terutama perut bagian bawah d. Kriteria hasil: .Ekspresi w ajah ketakutan . durasi dan faktor pencetus serta penghilang nyeri.Dari data yang telah dikumpulkan pada pasien dengan BPH : Post Prostatektomi dapat penulis kelompokkan menjadi: a) Data subyektif: .Terpasang kateter J. Perubahan pola eliminasi urine: retensi urin berhubungan dengan obstruksi sekunder. Monitor dan catat adanya rasa nyeri.Terdapat luka insisi . Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan spasme otot spincter Tujuan: Setelah dilakukan perawatan selama 3-5 hari pasien mampu mempertahankan derajat kenyamanan secara adekuat.Tekanan darah meningkat . merokok. K. peningkatan tekanan darah dan denyut nadi) c. Perubahan pola eliminasi : retensi urin berhubungan dengan obstruksi sekunder 3. . .

Lakukan irigasi kateter secara berkala atau terus. Luka insisi semakin sembuh dengan baik Intervensi: a. anjurkan dan motivasi pasien untuk melakukannya. nyeri c. b.menerus dengan teknik steril b. Berikan latihan perineal (kegel training) 15-20x/jam selama 2-3 minggu. Lakukan irigasi kandung kemih dengan larutan steril. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan port de entrée ikroorganisme melalui kateterisasi Tujuan: Setelah dilakukan perawatan selama 1-3 hari pasien terbebas dari infeksi Kriteria hasil: a. Anjurkan pasien untuk menghindari hubungan seksual selama 1 bulan (3-4 minggu) setelah operasi. (adanya sumbatan. dispnea) d. kebocoran) c. hilangnya fungsi tubuh Tujuan: Setelah dilakukan perawatn selama 1-3 hari pasien mampu mempertahankan fungsi seksualnya Kriteria hasil: Pasien menyadari keadaannya dan akan mulai lagi intaraksi seksual dan aktivitas secara optimal. Ukur intake output cairan g. dingin) . Tidak ada bengkak. Beri penjelasan penting tentang: i. 3. Intervensi: a. Motivasi pasien untuk mengungkapkan perasaannya yang berhubungan dengan perubahannya b. Adanya kemungkinan fungsi seksual kembali normal k. Mempertahankan kesterilan sistem drainage cuci tangan sebelum dan sesudah menggunakan alat dan observasi aliran urin serta adanya bekuan darah atau jaringan e. gunakan pengikat bentuk T perineal untuk menjamin dressing e. kulit lembab. Libatkan kelurga/istri dalam perawatan pmecahan masalah fungsi seksual e. Beri kesempatan pada pasien untuk mendiskusikan perasaannya tentang efek prostatektomi dalam fungsi seksual d. Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan sumbatan saluran ejakulasi. nafas meningkat. Monitor balutan luka. takikardi. Monitor urine setiap jam (hari pertama operasi) dan setiap 2 jam (mulai hari kedua post operasi) f.Intervensi: a. aritema. Tanda-tanda vital dalam batas normal b. Monitor tanda-tanda sepsis (nadi lemah. jaga kulit sekitar kateter dan drainage d. dingin. Observasi adanya tanda-tanda shock/hemoragi (hematuria. jika tidak ada kontra indikasi h. Beri tindakan asupan/pemasukan oral 2000-3000 ml/hari. Lakukan perawatan luka insisi secara aseptik. Observasi insisi (adanya indurasi drainage dan kateter). Jawablah setiap pertanyaan pasien dengan tepat c. Atur posisi selang kateter dan urin bag sesuai gravitasi dalam keadaan tertutup c. Adanya kemunduran ejakulasi f. hipotensi. Impoten terjadi pada prosedur radikal j.

Berikan pendidikan pada pasien/keluarga tentang: a. kateter b. perawatannya Tujuan : Setelah dilakukan perawatan selama 1-2 hari Kriteria : Secara verbal pasien mengerti dan mampu mengungkapkan dan mendemonstrasikan perawatan Intervensi: a. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit.blogspot. perawat b. Adanya tanda-tanda hemoragi. infeksi SELENGKAPNYA di: Askep Klien BPH askep-askeb-kita. Motivasi pasien/ keluarga untuk mengungkapkan pernyataannya tentang penyakit.3.co. Perawatan di rumah c.cc . pemberian nutrisi. Perawatan luka.com | asuhan-keperawatankebidanan. cairan irigasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful