Anak di antara Guru dan Orang Tua Oleh Hendro Martono Pada suatu hari anak saya yang

baru duduk di kelas tiga sekolah dasar mengajukan protes karena hasil pekerjaan rumah (PR) yang dikerjakan semalam hanya mendapat nilai 6,9. Saya dipersalahkan dan tampak sekali si anak menuntut pertanggungjawaban orang tua yang telah membimbing belajarnya. Usut punya usut, banyak jawaban yang setelah dicocokkan di sekolah ternyata salah. Sebagai orang tua –yang kebetulan juga berprofesi sebagai guru- saya merasa perlu untuk meneliti kembali pekerjaan tersebut. Pada materi soal pelajaran bahasa daerah (bahasa Jawa) terdapat perintah “Ukaraukara ing ngisor iki urutna dadi crita kang becik!” (Urutkanlah kalimat-kalimat di bawah ini sehingga menjadi wacana yang baik). Pada wacana pertama terdapat urutan kalimat (jika dialihkan ke dalam bahasa Indonesia) : (a) Rumahnya di kota Semarang; (b) Kapalnya besarbesar sedang memuat barang beraneka ragam; (c) Ketika libur panjang aku pergi ke tempat nenek; (d) Di sana aku melihat pelabuhan Tanjung Mas. Gagasan utama pada wacana di atas cukup jelas sehingga urutan kalimatnya dengan cukup mudah disusun oleh anak saya dengan urut-urutan kalimat (c); (a); (d) dan (b). Hasil pencocokan di sekolah menunjukkan jawaban ini benar. Akan tetapi, anak saya –kemudian ternyata saya juga- keliru menjawab pada waktu menggarap soal kedua dengan materi kalimat : (a) Kebunnya dibuat berpetak-petak; (b) Tanaman di kebun itu beraneka warna; (c) Setiap hari tanaman itu dipelihara; dan (d) Kebun Pak Suta ditanami apotek hidup, buahbuahan dan sayur-sayuran (Lihat Parkin dkk., Wibawa : Widya Basa Jawa Jilid 3, Solo : PT Tri Manunggal Kurniajaya, hal. 19). Berdasarkan telaah atas hubungan antara kalimat utama dan kalimat penjelas, saya menyarankan jawaban dengan urut-urutan kalimat (d); (a); (b); dan (c). Apa yang terjadi? Hasil pencocokkan dengan guru di sekolah dasar menunjukkan jawaban anak saya tersebut

1

pada wacana kedua itu jika kalimatnya dimulai dari kalimat (a) maka hubungan antarkalimatnya kurang inheren. Jika pendapat guru benar. 2 . Berdasarkan kemungkinan ini. (c). Kedua kalimat itu akan lebih baik jika digabungkan menjadi “Tanaman di kebun Pak Suta beraneka ragam seperti : apotek hidup. Akan tetapi. tampaknya contoh kalimat pada buku pelajaran itu yang justru bermasalah. perbedaan pendapat antara guru dan orang tua di satu pihak akan memengaruhi kredibilitas keduanya.ternyata salah. jika paragraf itu dimulai dari kalimat (d). dan (b). subjek kalimat (a) merupakan kata ganti empunya yang mestinya tidak boleh mendahului subjek pada kalimat (d). Menurut versi guru. Inilah yang menjadi “bencana” bagi saya karena diomeli oleh anak. Sebagai orang tua yang telah lama tidak belajar tata-bahasa bahasa Jawa –terakhir kali belajar bahasa Jawa ketika masih duduk di Sekolah Pendidikan Guru. Akan tetapi. tamat tahun 1982. (d). *** Berdasarkan kasus tersebut beberapa pelajaran berharga dapat dipetik. kalimat utamanya dapat dirujuk pada subjek : Pak Suta. yaitu “Kebun Pak Suta…dan seterusnya” sehingga subjeknya jelas. hubungan dalam urutan kalimat (b) dan (d) sebenarnya rancu karena akan berebut urutan susunan di dalam paragraf. Kedua. Di samping itu.saya merasa tidak memiliki kompetensi lagi tentang bahasa Jawa. dan di lain pihak justru akan membingungkan anak. Atau. Pertama. buah-buahan dan sayur-sayuran” sehingga perlu ditambah satu kalimat baru. Pertama. susunan jawaban yang benar adalah berturut-turut kalimat (a). menempatkan kalimat (a) pada urutan pertama menurut pendapat saya tetap saja tidak mempunyai hubungan yang inheren dengan ketiga kalimat lain. Sebaliknya. sementara kalimat (a) tidak jelas menyebutkan subjek kalimat. berdasarkan pengalaman sebagai guru mata pelajaran. sebenarnya kalimat (a) dapat disarankan perbaikannya agar susunannya lebih baik. saya memberanikan diri memberikan tanggapan sebagai berikut.

Diperlukan kesediaan orang tua agar mau belajar. anak tidak mudah percaya pada pendapat orang tua meskipun pendapat itu benar. yaitu guru dan orang tua untuk terus belajar guna memutakhirkan pengetahuan yang dimiliki. orang tua pada dasarnya merupakan guru yang pertama dikenal oleh anak. Dalam banyak kasus. dengan demikian seperti berada dalam hubungan ketegangan antara otoritas guru dan orang tua. karena pengetahuan di luar dirinya terus berkembang. apa pun pendapat orang tua dan apa pun pendapat guru. Tugas mendidik. guru pada dasarnya merupakan orang tua di sekolah yang bertugas menggantikan peran orang tua di dalam keluarga.dengan memperlakukannya sebagai buku suci yang kedap kritik. Untuk mata pelajaran yang sama (bahasa Jawa). anak cenderung lebih tunduk pada otoritas guru di dalam kelas daripada orang tua di rumah. sebelum membelajarkan materi pada anak seyogyanya buku itu ditelaah kebenaran substansialnya agar tidak menimbulkan kebingungan. Pada kasus anak saya. Jika anak sedang belajar Matematika. Sebaliknya. Akan sangat merepotkan bila ternyata pendapat guru salah sementara si anak tidak mau atau tidak rela mengakui kesalahan itu. Jika pendapat guru di kelas benar ini tidak menjadi masalah. semestinya orang tua juga memahami materi yang tengah dipelajari anaknya. Pengetahuan yang pernah diperoleh semasa di sekolah dasar pun kini sangat tertinggal.anak akan cenderung melecehkan kredibilitas orang tua. Anak. Kedua. Maksudnya. persis seperti yang dilakukan oleh anaknya. Profesi saya sebagai guru mata pelajaran di SLTA terbukti sama sekali kurang relevan ketika membimbing anak yang masih duduk di sekolah dasar. membimbing. ini sebenarnya bukan yang pertama. mengajar dan melatih dengan demikian hendaknya tidak terdistorsi oleh buku pelajaran –yang kebetulan bukan buku paket. sang guru ini pernah memberikan pengetahuan yang menyesatkan 3 . ada kebutuhan mendesak agar kedua belah pihak. Mengikuti anjuran Andrias Harefa (2001). dan karena itu tugas orang tua tidak selesai begitu saja ketika menyerahkan pendidikan anaknya di sekolah. misalnya. Sebaliknya.

jika penyikapan guru terhadap buku pelajaran yang digunakan tetap saja seperti pada kasus di atas. Oleh sebab itu tantangan besar yang dihadapi guru adalah keberanian untuk melepaskan ketergantungan ini dengan konsekuensi kehilangan keuntungan finansial. Konsekuensi dari rekomendasi tersebut. akan ada keuntungan immateri bila guru sanggup menyusun sendiri bahan ajarnya. sementara guru memperlakukan teks buku sebagai sesuatu yang final. guru biasanya menggunakan buku terbitan Jakarta dan LKS-LKS terbitan lokal. Akan terjadi selama lima tahun. Ini menunjukkan contradicto in terminis yang jika tidak dibetulkan akan menyesatkan pengetahuan anak. Dikaitkan dengan keputusan rapat koordinasi bidang kesejahteraan rakyat oleh kabinet baru yang merekomendasikan penggunaan buku pelajaran selama lima tahun (Kompas. ada kesan masih kuatnya ketergantungan guru terhadap buku-buku pelajaran atau yang sejenis seperti Lembar Kerja Siswa (LKS). Akan tetapi.yang menganjurkan penggunaan modul seharusnya dapat memaksa setiap guru untuk membuat modul. 24/10). Ketiga.karena mengartikan “Kaline lagi bena” (Sungainya sedang banjir) dengan pengertian “Kaline lagi asat” (Sungainya sedang mengering). anak dan orang tua dibingungkan oleh isi buku yang kurang sahih. Ada alasan menarik yang perlu dikemukakan. keharusan setiap guru untuk menyusun modul benar-benar harus mendapat perhatian. Di samping nuansa komersial yang selalu menimbulkan kontroversi pada setiap awal tahun pelajaran. jika substansinya langsung diajarkan tanpa ditelaah lebih dahulu akan menimbulkan kasus seperti di atas. Meskipun maksudnya keberadaan buku-buku itu untuk memaksa anak belajar. dapat dibayangkan betapa repot anak dan orang tua dalam menelaah substansi pelajaran. *** 4 . yaitu dengan berlakunya kurikulum 2004 –setidaknya seperti yang termuat pada kurikulum SMK 2004. Di samping buku paket. keberadaan sejumlah buku dan LKS untuk setiap mata pelajaran sangat memberatkan anak.

begitu pula orang tua. Jika guru dan orang tua dapat membangun sinergi dengan terus memperbaiki kualitas peran dan fungsi masing-masing diharapkan anak tidak lagi berada dalam tarikan ketegangan antara otoritas guru dan orang tua. Ini dapat dicapai pada saat kedua belah pihak memiliki taraf kompetensi yang seimbang. anak justru akan mendapatkan iklim belajar yang sehat karena baik guru maupun orang tua memiliki kompetensi yang sepadan dalam membelajarkan anak. 5 .Jika kasus seperti yang dialami oleh anak saya ini dikemukakan di sini. sesungguhnya itu tidak berpretensi untuk mengolok-olok kinerja guru. Guru tidak alergi terhadap kritik orang tua. Untuk membangun sinergi yang positif itu masing-masing pihak harus saling terbuka terhadap kebenaran yang datang dari mana pun. tetapi untuk saling menyadarkan akan peran guru di kelas dan orang tua di rumah. Sebaliknya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful