KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASIREPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP.

220/MEN/X/2004 TENTANG SYARAT-SYARAT PENYERAHAN SEBAGIAN PELAKSANAAN PEKERJAANKEPADA PERUSAHAAN LAIN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA Menimbang : 1. bahwa sebagai pelaksanaan Pasal 65 ayat (5) Undang-undang Nomor 13 tentang Ketenagakerjaan, perlu diatur mengenai perubahan dan/atau penambahan syaratsyarat penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lain; 2. bahwa untuk itu perlu ditetapkan dengan Keputusan Menteri. Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya Undangundang Pengawasan Perburuhan Tahun 1948 Nomor 23 dari Republik Indonesia untuk Seluruh Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1951 Nomor ). 2. Undang-undang Nomor 13 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4279); 3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 228/M tahun 2001 tentang Pembentukan Kabinet Gotong Royong. Memperhatikan : 1. Pokok-pokok Pikiran Sekretariat Lembaga Kerjasama Tripartit Nasional tanggal 23 April 2004; 2. Kesepakatan Rapat Pleno Lembaga Kerjasama Tripartit Nasional tanggal 19 Mei 2004; MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA TENTANG SYARAT-SYARAT PENYERAHAN SEBAGIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN KEPADA PERUSAHAAN LAIN. Pasal 1 Dalam Keputusan Menteri ini yang dimaksud dengan : 1. Perusahaan yang selanjutnya disebut perusahaan pemberi pekerjaan adalah : y a. setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak, milik orang perseorangan, milik persekutuan, atau milik badan hukum, baik milik swasta maupun milik negara yang mempekerjakan pekerja/buruh dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain; y b. usaha-usaha sosial dan usaha-usaha lain yang mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain. 1. Perusahaan penerima pemborongan pekerjaan adalah perusahaan lain yang menerima penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan dari perusahaan pemberi pekerjaan. 2. Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja pada perusahaan penerima pemborongan pekerjaan dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Pasal 2 (1) Syarat kerja yang diperjanjikan dalam PKWT, tidak boleh lebih rendah daripada ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) Menteri dapat menetapkan ketentuan PKWT khusus untuk sektor usaha dan atau pekerjaan tertentu.

Ketentuan mengenai berbadan hukum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikecuali bagi : a. b. o c. Pekerjaan yang dapat diserahkan kepada perusahaan pemborong pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : o a. maka penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan dapat diserahkan pada perusahaan pemborong pekerjaan yang bukan berbadan hukum. dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi pekerjaan dimaksudkan untuk memberi penjelasan tentang cara melaksanakan pekerjaan agar sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh perusahaan pemberi pekerjaan. Pasal 4 1. Dalam hal perusahaan pemborong pekerjaan yang bukan berbadan hukum sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) tidak melaksanakan kewajibannya memenuhi hak-hak pekerja/buruh dalam hubungan kerja maka perusahaan yang berbadan hukum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bertanggung jawab dalam memenuhi kewajiban tersebut. perusahaan pemborong pekerjaan yang bergerak di bidang pengadaan barang. maka penyerahan tersebut dapat diberikan kepada perusahaan pemborong pekerjaan yang bukan berbadan hukum 2. Dalam hal di satu daerah tidak terdapat perusahaan pemborong pekerjaan yang berbadan hukum atau terdapat perusahaan pemborong pekerjaan berbadan hukum tetapi tidak memenuhi kualifikasi untuk dapat melaksanakan sebagian pekerjaan dari perusahaan pemberi pekerjaan. merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan. perusahaan pemborong pekerjaan yang bergerak di bidang jasa pemeliharaan dan perbaikan serta jasa konsultansi yang dalam melaksanakan pekerjaan tersebut mempekerjakan pekerja/buruh kurang dari 10 (sepuluh) orang. Pasal 5 Setiap perjanjian pemborongan pekerjaan wajib memuat ketentuan yang menjamin terpenuhinya hak-hak pekerja/buruh dalam hubungan kerja sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan. dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama baik manajemen maupun kegiatan pelaksanaan pekerjaan . 1. Dalam hal perusahaan pemberi pekerjaan akan menyerahkan sebagian pelaksanakan pekerjaan kepada perusahaan pemborong pekerjaan harus diserahkan kepada perusahaan yang berbadan hukum. Pasal 6 1. artinya kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang mendukung dan memperlancar .Pasal 3 1. Tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) harus dituangkan dalam perjanjian pemborongan pekerjaan antara perusahaan pemberi pekerjaan dengan perusahaan pemborong pekerjaan. Apabila perusahaan pemborong pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) akan menyerahkan lagi sebagian pekerjaan yang diterima dari perusahaan pemberi pekerjaan. 2. Perusahaan penerima pemborongan pekerjaan yang bukan berbadan hukum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bertanggung jawab memenuhi hak-hak pekerja/buruh yang terjadi dalam hubungan kerja antara perusahaan yang bukan berbadan hukum tersebut dengan pekerjaan/buruhnya 3. o b. 2.

pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan alur kegiatan kerja perusahaan pemberi pekerjaan. 2. 3. Perusahaan pemberi pekerjaan yang telah menyerahkan pelaksanaan sebagian pekerjaan kepada perusahaan pemborong pekerjaan sebelum ditetapkan Keputusan Menteri ini tetap melaksanakan perjanjian penyerahan sebagian pekerjaan kepada perusahaan pemborongan pekerjaan sebagaimana telah diperjanjikan sampai berakhirnya perjanjian pemborongan pekerjaan tersebut. proses pelaksanaan pekerjaan tetap berjalan sebagaimana biasanya. Perusahaan pemberi pekerjaan yang akan menyerahkan sebagian pelaksanan pekerjaannya kepada perusahaan pemborong pekerjaan wajib membuat alur kegiatan proses pelaksanaan pekerjaan. Pasal 7 1. Pasal 8 Keputusan Menteri ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Ditetapkan di jakarta pada tanggal 19 Oktober 2004 MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA JACOB NUWA WEA Sumber Asli: Download Di sini Ulasan Singkat: Keputusan Menteri Tenaga Kerja (KEP. tidak menghambat proses produksi secara langsung artinya kegiatan tersebut adalah merupakan kegiatan tambahan yang apabila tidak dilakukan oleh perusahaan pemberi pekerjaan. o d. Berdasarkan alur kegiatan proses pelaksanaan pekerjaan sebagaimana dimaks ud dalam ayat (2) perusahaan pemberi pekerjaan menetapkan jenis-jenis pekerjaan yang utama dan penunjang berdasarkan ketentuan ayat (1) serta melaporkan kepada instansi yang bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan setempat. 2. maka selanjutnya wajib menyesuaikan dengan Keputusan Menteri ini. Penyedia Jasa Pekerja (Labor Supply) Popularity: 30% [?] OUTSOURCING (ALIH DAYA) DAN PENGELOLAAN TENAGA KERJA PADA PERUSAHAAN: (Tinjauan Yuridis terhadap Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan) * . Dalam hal perjanjian pemborongan pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berakhir. 220/MEN/X/2004) ini membahas tentang OUTSOURCING Ketenagakerjaan yang mana terjadi Hubungan Kerja Tidak Langsung Melalui Perusahaan Pemborong Pekerjaan atau Perusahaan Pemborong.

Hal ini dikarenakan penggunaan outsourcing (Alih Daya) dalam dunia usaha di Indonesia kini semakin marak dan telah menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda-tunda oleh pelaku . Problematika mengenai outsourcing (Alih Daya) memang cukup bervariasi. Dalam Inpres No. Dalam iklim persaingan usaha yang makin ketat.Pengaturan tentangoutsourcing (Alih Daya) ini sendiri masih dianggap pemerintah kurang lengkap. perusahaan berusaha untuk melakukan efisiensi biaya produksi (cost of production). benefit dan lainnya. dimana dengan sistem ini perusahaan dapat menghemat pengeluaran dalam membiayai sumber daya manusia (SDM) yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan. mulai dari pengembangan karir karyawan. Pada pelaksanaannya. Outsourcing harus dipandang secara jangka panjang. organisasi.Kep.101/Men/VI/2004 Tahun 2004 tentang Tata Cara Perijinan Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja/Buruh (Kepmen 101/2004). dimana badan penyedia jasa tersebut melakukan proses administrasi dan manajemen berdasarkan definisi serta kriteria yang telah disepakati oleh para pihak.[1] Salah satu solusinya adalah dengan sistem outsourcing. Perusahaan dapat fokus pada kompetensi utamanya dalam bisnis sehingga dapat berkompetisi dalam pasar.[5] Outsourcing tidak dapat dipandang secara jangka pendek saja. 3 Tahun 2006 tentang paket Kebijakan Iklim Investasi disebutkan bahwa outsourcing (Alih Daya) sebagai salah satu faktor yang harus diperhatikan dengan serius dalam menarik iklim investasi ke Indonesia. dengan menggunakan outsourcing perusahaan pasti akan mengeluarkan dana lebih sebagai management fee perusahaan outsourcing. akan dihasilkan sejumlah produk dan jasa memiliki kualitas yang memiliki daya saing di pasaran. 65 dan 66) dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Republik Indonesia No. Bentuk keseriusan pemerintah tersebut dengan menugaskan menteri tenaga kerja untuk membuat draft revisi terhadap Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Dengan adanya konsentrasi terhadap kompetensi utama dari perusahaan.[2] Outsourcing (Alih Daya) diartikan sebagai pemindahan atau pendelegasian beberapa proses bisnis kepada suatu badan penyedia jasa.[3] Outsourcing (Alih Daya) dalam hukum ketenagakerjaan di Indonesia diartikan sebagai pemborongan pekerjaan dan penyediaan jasa tenaga kerja[4] pengaturan hukum outsourcing (Alih Daya) di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 tahun 2003 (pasal 64. dimana hal-hal intern perusahaan yang bersifat penunjang (supporting) dialihkan kepada pihak lain yang lebih profesional. Pendahuluan Persaingan dalam dunia bisnis antar perusahaan membuat perusahaan harus berkonsentrasi pada rangkaian proses atau aktivitas penciptaan produk dan jasa yang terkait dengan kompetensi utamanya. efisiensi dalam bidang tenaga kerja. pengalihan ini juga menimbulkan beberapa permasalahan terutama masalah ketenagakerjaan.I.

Bagaimana hubungan hukum antara karyawan outsourcing (Alih Daya) den perusahaan pengguna jasa outsourcing ? 3. antara lain menyebutkan bahwa outsourcing (Alih Daya) dalam bahasa Indonesia disebut sebagai alih daya. adalah pendelegasian operasi dan manajemen harian dari suatu proses bisnis kepada pihak luar (perusahaan jasa outsourcing).[8] Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Muzni Tambusai. .´ Menurut definisi Maurice Greaver. Bagaimana mekanisme penyelesaian sengketa bila ada karyawan outsource yang melanggar aturan kerja pada lokasi perusahaan pemberi kerja? II. Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang mendefinisikan pengertian outsourcing (Alih Daya) sebagai memborongkan satu bagian atau beberapa bagian kegiatan perusahaan yang tadinya dikelola sendiri kepada perusahaan lain yang kemudian disebut sebagai penerima pekerjaan. Secara garis besar permasalahan hukum yang terkait dengan penerapan outsourcing (Alih Daya) di Indonesia sebagai berikut: 1. istilah outsourcing (Alih Daya) diartikan sebagai contract (work) out seperti yang tercantum dalam Concise Oxford Dictionary. A Structured Approach to Outsourcing: Decisions and Initiatives. Bagaimana perusahaan melakukan klasifikasi terhadap pekerjaan uta (core business) dan ma pekerjaan penunjang perusahaan (non core bussiness) yang merupakan dasar dari pelaksanaan outsourcing (Alih Daya) ? 2. to draw together. From the latin contractus. Definisi Outsourcing Dalam pengertian umum. pada bukunya Strategic Outsourcing. bring about or enter into an agreement. dijabarkan sebagai berikut :[7] ³Strategic use of outside parties to perform activities. the past participle of contrahere. dimana tindakan ini terikat dalam suatu kontrak kerjasama Beberapa pakar serta praktisi outsourcing (Alih Daya) dari Indonesia juga memberikan definisi mengenai outsourcing. Outsourcing (Alih Daya) dipandang sebagai tindakan mengalihkan beberapa aktivitas perusahaan dan hak pengambilan keputusannya kepada pihak lain (outside provider). sementara mengenai kontrak itu sendiri diartikan sebagai berikut:[6] ³ Contract to enter into or make a contract. terdapat persamaan dalam memandang outsourcing (Alih Daya) yaitu terdapat penyerahan sebagian kegiatan perusahaan pada pihak lain. sementara regulasi yang ada belum terlalu memadai untuk mengatur tentang outsourcing yang telah berjalan tersebut.usaha. traditionally handled by internal staff and respurces.[9] Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas.´ (Webster¶s English Dictionary) Pengertian outsourcing (Alih Daya) secara khusus didefinisikan oleh Maurice F Greaver II.

perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja pada perusahaan lain sama dengan perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja pada perusahaan pemberi pekerjaan atau sesuai dengan peraturan perundangan (ayat 4). pekerjaan yang diserahkan pada pihak lain.13/2003. . Dalam UU No. karena lebih condong ke arah sub contracting pekerjaan dibandingkan dengan tenaga kerja. akan diuraikan terlebih dahulu secara garis besar pengaturan outsourcing (Alih Daya) dalam UU No. seperti yang dimaksud dalam ayat (1) harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : . yang menyangkut outsourcing (Alih Daya) adalah pasal 64. hubungan kerja dalam pelaksanaan pekerjaan diatur dalam perjanjian tertulis antara perusahaan lain dan pekerja yang dipekerjakannya (ayat 6) hubungan kerja antara perusahaan lain dengan pekerja/buruh dapat didasarkan pada perjanjian kerja waktu tertentu atau perjanjian kerja waktu tidak tertentu (ayat 7).[10] Pada perkembangannya dalam draft revisi Undang-Undang No.tidak menghambat proses produksi secara langsung.merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan. .[11] Untuk mengkaji hubungan hukum antara karyawan outsourcing (Alih Daya) dengan perusahaan pemberi pekerjaan. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan outsourcing (Alih Daya) mengenai pemborongan pekerjaan dihapuskan. Pengaturan Outsourcing (Alih Daya) dalam Undang-Undang No.´ Pasal 65 memuat beberapa ketentuan diantaranya adalah: y penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lain dilaksanakan melalui perjanjian pemborongan pekerjaan yang dibuat secara tertulis (ayat 1). Dalam pasal 64 dinyatakan bahwa: Perusahaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lainnya melalui perjanjian pemborongan pekerjaan atau penyediaan jasa pekerja/buruh yang dibuat secara tertulis. membagi outsourcing (Alih Daya) menjadi dua bagian. yaitu: pemborongan pekerjaan dan penyediaan jasa pekerja/buruh. y y y y y . Pasal 64 adalah dasar dibolehkannya outsourcing.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sebagai dasar hukum diberlakukannya outsourcing (Alih Daya) di Indonesia.III. (ayat 2) perusahaan lain (yang diserahkan pekerjaan) harus berbentuk badan hukum (ayat 3).dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi pekerjaan. .dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama.13 tahun 2003. dan pasal 66 (terdiri dari 4 ayat). perubahan atau penambahan syarat-syarat tersebut diatas diatur lebih lanjut dalam keputusan menteri (ayat 5). pasal 65 (terdiri dari 9 ayat). 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan UU No.

Potensi masalah yang timbul adalah apakah pembuat dan penegak undang -undang di satu pihak dan para pengusaha dan industriawan di lain pihak mempunyai pengertian dan interpretasi yang sama mengenai istilah-istilah tersebut. antara lain:[13] y y adanya hubungan kerja antara pekerja dengan perusahaan penyedia jasa tenaga kerja. yaitu bahwa yang di outsource umumnya (tidak semuanya) adalah kegiatan penunjang (non core business).13 Tahun 2003 outsourcing (Alih Daya) dibolehkan hanya untuk kegiatan penunjang. dan syarat yang menentukan bahwa perusahaan lain itu harus berbadan hukum.y bila beberapa syarat tidak terpenuhi. syarat-syarat kerja serta perselisihan yang timbul menjadi tanggung jawab perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh. antara lain. perlindungan upah.Djokopranoto dalam materi seminarnya menyampaikan bahwa : ³Dalam teks UU no 13/2003 tersebut disebut dan dibedakan antara usaha atau kegiatan pokok dan kegiatan penunjang. maka demi hukum status hubungan kerja antara pekerja/buruh dan perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh beralih menjadi hubungan kerja antara pekerja/buruh dan perusahaan pemberi pekerjaan.[12] Perusahaan penyedia jasa untuk tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi juga harus memenuhi beberapa persyaratan. maka hubungan kerja antara pekerja/bu dengan perusahaan penyedia ruh jasa tenaga kerja beralih menjadi hubungan kerja antara pekerja/buruh dengan perusahaan pemberi pekerjaan (ayat 8). Penentuan Pekerjaan Utama (Core Business) dan Pekerjaan Penunjang (Non Coree Business) dalam Perusahaan sebagai Dasar Pelaksanaan Outsourcing Berdasarkan pasal 66 UU No. kecuali untuk kegiatan jasa penunjang yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi. R.´[16] . syarat-syarat mengenai pekerjaan yang diserahkan pada pihak lain.[15] IV. perjanjian antara perusahaan pengguna jasa pekerja/buruh dan perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh dibuat secara tertulis. dan kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi. sedangkan kegiatan pokok (core business) pada umumnya (tidak semuanya) tetap dilakukan oleh perusahaan sendiri.[14] Dalam hal syaratsyarat diatas tidak terpenuhi (kecuali mengenai ketentuan perlindungan kesejahteraan). y y Penyedia jasa pekerja/buruh merupakan bentuk usaha yang berbadan hukum dan memiliki izin dari instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan. Pasal 66 UU Nomor 13 tahun 2003 mengatur bahwa pekerja/buruh dari perusahaan penyedia jasa tenaga kerja tidak boleh digunakan oleh pemberi kerja untuk melaksanakan kegiatan pokok atau kegiatan yang berhubungan langsung dengan proses produksi. perjanjian kerja yang berlaku antara pekerja dan perusahaan penyedia jasa tenaga kerja adalah perjanjian kerja untuk waktu tertentu atau tidak tertentu yang dibuat secara tertulis dan ditandatangani kedua belah pihak. Namu n ada potensi masalah yang timbul. Ada persamaan pokok antara bunyi UU tersebut dengan praktek industri. kesejahteraan.

usaha penyediaan makanan bagi pekerja/buruh catering.[19] Outsourcing (Alih Daya) untuk meraih keunggulan kompetitif ini dapat dilihat pada industriindustri mobil besar di dunia seperti Nissan. serta usaha penyediaan angkutan pekerja/buruh. Dalam penjelasan pasal 66 UU No. y Interpretasi kegiatan penunjang yang tercantum dalam penjelasan UU No. menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan perusahaan. usaha jasa penunjang di pertambangan dan perminyakan. yaitu memperoleh keunggulan kompetitif untuk menghadapi persaingan dalam rangka mempertahankan pangsa pasar. sehingga perusahaan mobil tersebut bisa meraih keunggulan kompetitif. Outsourcing (Alih Daya) pada dunia modern dilakukan untuk alasan alasan yang strategis. Kegiatan yang menciptakan keunggulan kompetitif baik sekarang maupun di waktu yang akan datang.Kesamaan interpretasi ini penting karena berdasarkan undang-undang ketenagakerjaan outsourcing (Alih Daya) hanya dibolehkan jika tidak menyangkut core business. atau peremajaan kembali. Pada awalnya dalam proses produksi mobil. Konsep dan pengertian usaha pokok atau core business dan kegiatan penunjang atau non core business adalah konsep yang berubah dan berkembang secara dinamis. pembuatan suku cadang dan perakitan. Keempat pengertian itu ialah :[18] y y y Kegiatan yang secara tradisional dilakukan di dalam perusahaan. Kegiatan yang bersifat kritis terhadap kinerja bisnis. Toyota dan Honda. inovasi.[17] Oleh karena itu tidak heran kalau Alexander dan Young (1996) mengatakan bahwa ada empat pengertian yang dihubungkan dengan core activity atau core business.13 tahun 2003.[20] Dalam hal outsourcing (Alih Daya) yang berupa penyediaan pekerja.13 tahun 2003 condong pada definisi yang pertama. dapat dilihat pada perkembangannya saat ini di Indonesia. perusahaan besar seperti Citibank banyak melakukan . disebutkan bahwa : ´Yang dimaksud dengan kegiatan penunjang atau kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi adalah kegiatan yang berhubungan di luar usaha pokok (core business) suatu perusahaan.Kegiatan tersebut antara lain: usaha pelayanan kebersihan (cleaning service). usaha tenaga pengaman (security/satuan pengamanan).´ Interpretasi yang diberikan undang-undang masih sangat terbatas dibandingkan dengan kebutuhan dunia usaha saat ini dimana penggunaan outsourcing (Alih Daya) semakin meluas ke berbagai lini kegiatan perusahaan. Kegiatan yang akan mendorong pengembangan yang akan datang. Pada akhirnya yang menjadi core business hanyalah pembuatan desain mobil sementara pembuatan suku cadang dan perakitan diserahkan pada perusahaan lain yang lebih kompeten. dimana outsourcing (Alih Daya) dicontohkan dengan aktivitas berupa pengontrakan biasa untuk memudahkan pekerjaan dan menghindarkan masalah tenaga kerja. core business nya terdiri dari pembuatan desain.

Sebagai pedoman bagi manajemen dalam melaksanakan outsourcing pada bagian-bagian tertentu di perusahaan. V. Meminimalkan risiko perselisihan dengan pekerja. namun juga harus memenuhi ketentuan ketenagakerjaan.outsource untuk tenaga-tenaga ahli[21]. 3. yaitu UU No. Pengaturan lebih lanjut untuk hal-hal semacam ini belum diakomodir oleh peraturan ketenagakerjaan di Indonesia.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Sebagai sarana sosialisasi kepada pihak pekerja tentang bagian-bagian mana saja di perusahaan yang dilakukan outsourcing terhadap pekerjanya. Suatu hal tertentu. Sepakat. Sebab yang halal. 3.13 tahun 2003. Sebagai bentuk kepatuhan perusahaan terhadap ketentuan tentang ketenagakerjaan dengan melakukan pelaporan kepada Dinas Tenaga Kerja setempat. Untuk itu batasan pengertian core business perlu disamakan lagi interpretasinya oleh berbagai kalangan. Perjanjian dalam outsourcing (Alih Daya) juga tidak semata-mata hanya mendasarkan pada asas kebebasan berkontrak sesuai pasal 1338 KUH Perdata. ada 2 tahapan perjanjian yang dilalui yaitu: . pemerintah serta pemegang saham mengenai keabsahan dan pengaturan tentang outsourcing di Perusahaan. Perjanjian dalam outsourcing (Alih Daya) dapat berbentuk perjanjian pemborongan pekerjaan atau perjanjian penyediaan jasa pekerja/buruh. mengklasifikasikan pekerjaan utama dan pekerjaan penunjang ke dalam suatu dokumen tertulis dan kemudian melaporkannya kepada instansi ketenagakerjaan setempat. yaitu: 1. 2.[22] Pembuatan dokumen tertulis penting bagi penerapan outsourcing di perusahaan. sehingga interpretasi outsource tidak lagi hanya sekadar untuk melakukan aktivitas-aktivitas penunjang seperti yang didefinisikan dalam penjelasan UU No. Perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh para pihak harus memenuhi syarat sah perjanjian seperti yang tercantum dalam pasal 1320 KUH Perdata. Dalam penyediaan jasa pekerja. 4. Perusahaan dalam melakukan perencanaan untuk melakukan outsourcing terhadap tenaga kerjanya. Kecakapan para pihak untuk membuat suatu perikatan. 2. karena alasan-alasan sebagai berikut : 1. serikat pekerja. bagi para pihak. 4. Perjanjian dalam Outsourcing Hubungan kerjasama antara Perusahaan outsourcing dengan perusahaan pengguna jasa outsourcing tentunya diikat dengan suatu perjanjian tertulis.

syarat-syarat kerja serta perselisihan yang timbul tetap merupakan tanggung jawab perusahaan penyedia jasa pekerja. perjanjian perusahaan penyedia pekerja/buruh dengan karyawan Penyediaan jasa pekerja atau buruh untuk kegiatan penunjang perusahaan hatus memenuhi syarat sebagai berikut :[24] a. c. Dalam hal penempatan pekerja/buruh maka perusahaan pengguna jasa pekerja akan membayar sejumlah dana (management fee) pada perusahaan penyedia pekerja/buruh. dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi pekerjaan. dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama. b. adanya hubungan kerja antara pekerja atau buruh dan perusahaan penyedia jasa pekerja atau buruh. tidak menghambat proses produksi secara langsung. perlindungan usaha dan kesejahteraan. Hal ini dimaksudkan apabila perusahaan pengguna jasa outsourcing hendak mengakhiri kerjasamanya dengan perusahaan outsourcing. perjanjian kerja yang berlaku dalam hubungan kerja adalah perjanjian kerja untuk waktu tertentu yang memenuhi persyaratan dan atau perjanjian kerja waktu tidak tertentu yang dibuat secara tertulis dan ditandatangani oleh kedua pihak. Bentuk perjanjian kerja yang lazim digunakan dalam outsourcing adalah Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT). c. Perusahaan dapat menyerahkan sebagian pekerjaan kepada perusahaan lain melalui perjanjian pemborongan pekerjaan atau perjanjian penyediaan jasa pekerja yang dibuat secara tertulis. b. d. Perjanjian kerja antara karyawan outsourcing dengan perusahaan outsourcing biasanya mengikuti jangka waktu perjanjian kerjasama antara perusahaan outsourcing dengan perusahaan pengguna jasa outsourcing. Bentuk perjanjian kerja ini dipandang cukup fleksibel bagi perusahaan pengguna jasa outsourcing. karyawan tersebut harus mendapatkan persetujuan dari pihak . Perjanjian antara perusahaan pemberi pekerjaan dengan perusahaan penyedia pekerja/buruh . Karyawan outsourcing walaupun secara organisasi berada di bawah perusahaan outsourcing. merupakakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan. 2. syarat-syarat kerja maupun perselisihan yang timbul menjadi tanggung jawab perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh. Pemenuhan hak-hak karyawan seperti perlindungan upah dan kesejahteraan. karena lingkup pekerjaannya yang berubah-ubah sesuai dengan perkembangan perusahaan. Pekerjaan yang dapat diserahkan kepada perusahaan lain harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :[23] a. maka pada waktu yang bersamaan berakhir pula kontrak kerja antara karyawan dengan perusahaan outsource. namun pada saat rekruitment.1. Perjanjian kerja antara karyawan dengan perusahaan outsourcing (Alih Daya) dapat berupa Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) maupun Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT)[25]. Dengan adanya 2 (dua) perjanjian tersebut maka walaupun karyawan sehari-hari bekerja di perusahaan pemberi pekerjaan namun ia tetap berstatus sebagai karyawan perusahaan penyedia pekerja.

dalam hal ini tidak ada kewenangan dari perusahaan pengguna jasa pekerja untuk melakukan penyelesaian sengketa karena antara perusahaan pengguna jasa pekerja (user) dengan karyawan outsource secara hukum tidak mempunyai hubungan kerja. Karyawan tersebut bekerja di tempat/lokasi perusahaan pemberi kerja. Sedangkan hubungan hukum yang ada adalah antara perusahaan Outsourcing (Alih Daya) dengan perusahaan pengguna jasa. Perusahaan pengguna jasa pekerja dengan karyawan tidak memiliki hubungan kerja secara langsung. Karyawan outsourcing (Alih Daya) menandatandatangani perjanjian kerja dengan perusahaan outsourcing (Alih Daya) sebagai dasar hubungan ketenagakerjaannya. sementara secara hukum tidak ada hubungan kerja antara keduanya. VI. Standard Operational Procedures (SOP) atau aturan kerja perusahaan pemberi kerja harus dilaksanakan oleh karyawan. 2. dalam hal yang menyangkut norma-norma kerja. Bukti tunduknya karyawan adalah pada Memorandum of Understanding (MoU) antara perusahaan outsource dengan perusahaan pemberi kerja. dalam hal penyediaan dan pengelolaan pekerja pada bidang-bidang tertentu yang ditempatkan dan bekerja pada perusahaan pengguna outsourcing. Hubungan Hukum antara Karyawan Outsourcing (Alih Daya) dengan Perusahaan Pengguna Outsourcing Hubungan hukum Perusahaan Outsourcing (Alih Daya) dengan perusahaan pengguna outsourcing (Alih Daya) diikat dengan menggunakan Perjanjian Kerjasama. dimana kedua pihak tersebut sama-sama terikat perjanjian kerja yang disepakati bersama. berupa perjanjian penyediaan pekerja. Dalam hal terjadi pelanggaran yang dilakukan pekerja. walaupun peraturan yang dilanggar adalah peraturan perusahaan pengguna jasa pekerja (user). Dari hubungan kerja ini timbul suatu permasalahan hukum. maka berakhir juga perjanjian kerja antara perusahaan outsourcing dengan karyawannya. dimana semua hal itu tercantum dalam peraturan perusahaan pemberi kerja. Hak dan kewajiban menggambarkan suatu hubungan hukum antara pekerja dengan perusahaan. Hal yang mendasari mengapa karyawan outsourcing (Alih Daya) harus tunduk pada peraturan perusahaan pemberi kerja adalah :[26] 1.perusahaan pengguna outsourcing. baik dalam bentuk perjanjian kerja waktu tertentu maupun perjanjian kerja . 3. Apabila perjanjian kerjasama antara perusahaan outsourcing dengan perusahaan pengguna jasa outsourcing berakhir. Dalam perjanjian kerja tersebut disebutkan bahwa karyawan ditempatkan dan bekerja di perusahaan pengguna outsourcing. Untuk benefit dan tunjangan biasanya menginduk perusahaan outsource. karyawan outsourcing (Alih Daya) dalam penempatannya pada perusahaan pengguna outsourcing (Alih Daya) harus tunduk pada Peraturan Perusahaan (PP) atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang berlaku pada perusahaan pengguna oustourcing tersebut. sehingga yang berwenang untuk menyelesaikan perselisihan tersebut adalah perusahaan penyedia jasa pekerja. waktu kerja dan aturan kerja. Peraturan perusahaan berisi tentang hak dan kewajiban antara perusahaan dengan karyawan outsourcing.

tentunya ada perbedaan antara karyawan outsourcing dengan karyawan pada perusahaan pengguna outsourcing. Penyelesaian Perselisihan dalam Outsourcing (Alih Daya) Dalam pelaksanaan outsourcing (Alih Daya) berbagai potensi perselisihan mungkin timbul. Hal-hal yang terdapat pada Peraturan Perusahaan yang disepakati untuk ditaati. Karyawan outsourcing yang ditempatkan di perusahaan pengguna outsourcing tentunya secara aturan kerja dan disiplin kerja harus mengikuti ketentuan yang berlaku pada perusahaan pengguna outsourcing. sehingga seharusnya karyawan outsourcing (Alih Daya) menggunakan peraturan perusahaan outsourcing. Sosialisasi ini penting untuk meminimalkan tuntutan dari karyawan outsourcing yang menuntut dijadikan karyawan tetap pada perusahaan pengguna jasa outsourcing.13 Tahun 2003. Apabila ditinjau dari terminologi hakikat pelaksanaan Peraturan Perusahaan. Dalam perjanjian kerjasama antara perusahaan outsourcing dengan perusahaan pengguna outsourcing harus jelas di awal. penyelesaian perselisihan yang timbul menjadi tanggung jawab perusahaan penyedia jasa pekerja. Dalam hal ini perusahaan outsource harus bisa menempatkan diri dan bersikap bijaksana agar bisa mengakomodir kepentingan karyawan. dikarenakan kurangnya informasi tentang hubungan hukum antara karyawan dengan perusahaan pengguna outsourcing. Perbedaan pemahaman tesebut pernah terjadi pada PT Toyota Astra Motor. bukan peraturan perusahaan pengguna jasa pekerja. Hubungan kerja yang terjadi adalah hubungan kerja antara karyawan outsourcing (Alih Daya) dengan perusahaan outsourcing. Hal-hal yang tercantum dalam peraturan perusahaan pengguna outsourcing sebaiknya tidak diasumsikan untuk dilaksanakan secara total oleh karyawan outsourcing. Dimana karyawan outsourcing khusus pembuat jok mobil Toyota melakukan unjuk rasa serta mogok kerja untuk menuntut dijadikan karyawan PT Toyota Astra Motor. Menurut pasal 66 ayat (2) huruf c UU No. disosialisasikan kepada karyawan outsourcing oleh perusahaan outsourcing. Hal ini dikarenakan kurangnya sosialisasi mengenai status hubungan hukum mereka dengan PT Toyota Astra Motor selaku perusahaan pengguna outsourcing. Misalkan masalah benefit. daripada perusahaan outsource itu send Ada baiknya iri. perusahaan outsource secara berkala mengirim pewakilannya untuk memantau para karyawannya di perusahaan pengguna jasa pekerja sehingga potensi konflik bisa dihindari dan performa kerja karyawan bisa terpantau dengan baik. salah satu produsen mobil di Indonesia.[27] VII. misalnya berupa pelanggaran peraturan perusahaan oleh karyawan maupun adanya perselisihan antara karyawan outsource dengan karyawan lainnya. Jadi walaupun yang dilanggar oleh karyawan outsource adalah peraturan perusahaan pemberi pekerjaan.waktu tidak tertentu. tentang ketentuan apa saja yang harus ditaati oleh karyawan outsourcing selama ditempatkan pada perusahaan pengguna outsourcing. maka peraturan perusahaan dari perusahaan pengguna jasa tidak dapat diterapkan untuk karyawan outsourcing (Alih Daya) karena tidak adanya hubungan kerja. mengingat perusahaan pengguna jasa pekerja sebenarnya adalah pihak yang lebih mengetahui keseharian performa karyawan. . yang berwenang menyelesaikan perselisihan tersebut adalah perusahaan penyedia jasa pekerja. maupun perusahaan pengguna jasa pekerja.

Dalam melakukan outsourcing perusahaan pengguna jasa outsourcing bekerjasama dengan perusahaan outsourcing. Mekanisme Penyelesaian perselisihan ketenagakerjaan diselesaikan secara internal antara perusahaan outsourcing dengan perusahaan pengguna jasa outsourcing.htm [2] ibid [3] Artikel ³Outsource dipandang dari sudut perusahaan pemberi kerja´. Dewasa ini outsourcing sudah menjadi trend dan kebutuhan dalam dunia usaha. dimana perusahaan outsourcing seharusnya mengadakan pertemuan berkala dengan karyawannya untuk membahas masalah -masalah ketenagakerjaan yang terjadi dalam pelaksanaan outsourcing. http://www. dimana hubungan hukumnya diwujudkan dalam suatu perjanjian kerjasama yang memuat antara lain tentang jangka waktu perjanjian serta bidang-bidang apa saja yang merupakan bentuk kerjasama outsourcing.apindo.com/cetak/0504/31/teropong/komenhukum. http://www. namun pengaturannya masih belum memadai. Perhitungan Pesangon. diakses tanggal 4 Agustus 2006 [4] Pasal 64 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 TentangKetenagakerjaan. yang telah memberikan sumbangan pemikiran yang sangat berharga melalui artikel yang telah ditulisnya di atas.Apa yang dimaksud dengan sistem outsourcing?. [5] Paket Kebijakan Perbaikan Iklim Investasi memuat hal-hal yang dituntut untuk dilakukan revisi dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 yaitu : Pemutusan Hubungan Kerjam Perjanjian kerja Waktu Tertentu. Catatan Kaki: [1] Wirawan.id.VIII. Ijin tenaga Kerja Asing dan istirahat panjang.or. dimana hal itu harus dicantumkan dalam perjanjian kerjasama. [6] Nur Cahyo. Rubrik Hukum Teropong. Kesimpulan Outsourcing (Alih daya) sebagai suatu penyediaan tenaga kerja oleh pihak lain dilakukan dengan terlebih dahulu memisahkan antara pekerjaan utama (core business) dengan pekerjaan penunjang perusahaan (non core business) dalam suatu dokumen tertulis yang disusun oleh manajemen perusahaan. Karyawan outsourcing menandatangani perjanjian kerja dengan perusahaan outsourcing untuk ditempatkan di perusahaan pengguna outsourcing. sehingga dapat mengakomodir kepentingan pengusaha dan melindungi kepentingan pekerja. *** Ucapan terima kasih disampaikan kepada Chandra K.pikiran-rakyat. Pengalihan Pekerjaan Penunjang perusahaan dengan Sistem Outsourcing . Karyawan outsourcing selama ditempatkan diperusahaan pengguna jasa outsourcing wajib mentaati ketentuan kerja yang berlaku pada perusahaan outsourcing. Sedapat mungkin segala kekurangan pengaturan outsourcing dapat termuat dalam revisi UU Ketenagakerjaan yang sedang dipersiapkan dan peraturan pelaksanaanya.

diselenggarakan oleh PPM. World Trade Center Jakarta. Outsourcing. [10] Tulisan ini mengkhususkan membahas outsourcing (Alih Daya) yang berupa penyediaan jasa pekerja/buruh. 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan (Studi Kasus pada Asuransi Astra Buana).13 tahun 2003 [13] Pasal 66 ayat (2) UU No.56.13 Tahun 2003 [14] Pasal 66 ayat (3) UU No. sedang outsourcing (Alih Daya) berupa pemborongan pekerjaan hanya akan diulas sekilas dari segi definisi. hal. [7] Terkutip dalam Nur Cahyo.5 [21] Berdasarkan informasi dari Bapak Ali Nursal. Outsourcing (Alih Daya) dalam No. hal. Jakarta. [11] Draft Revisi Undang-Undang No... dan dalam kaitan dengan core business. Pelaksanaan Outsourcing (Alih Daya) ditinjau dari aspek hukum ketenagakerjaan tidak mengaburkan hubungan industrial. General Manager PT. Materi Seminar disampaikan pada Seminar Outsourcing: Process and Mangement.. hal. 12 April 2006.13-14 oktober 2005.13/2003 tentang Ketenagakerjaan (Perspektif Pengusaha).8 [20] Ibid. namun pada rancangan UU Tenaga Kerja yang baru (yang kini sedang dikaji ulang).. Dalam UU No. [17] Ibid. [19] Ibid. 29 Mei 2005. Implementasi di Indonesia.Outsourcing (Alih Daya) Indonesia [22] Pelaporan dokumen tentang pekerjaan utama dan pekerjaan penunjang diatur pada . pengertian outsourcing (Alih Daya) tampaknya akan disempitkan menjadi penyediaan jasa pekerja. Elex Media Computindo. hal. sementara pemborongan pekerjaan ldiartikan sebagai sub-kontrak.(Alih Daya) Menurut Undang-undang No. istilah outsourcing (Alih Daya) dapat diartikan sebagai pemborongan pekerjaan dan penyediaan tenaga kerja. [8] Chandra Suwondo.6.Djokopranoto.13 Tahun 2003. hal 7. 2006. [9] Muzni Tambusai. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.13 Tahun 2003 [16] R. [12] Pasal 66 ayat (1) UU No. Depok. hal..13 Tahun 2003 [15] Pasal 66 ayat (4) UU No. [18] Ibid.id/arsip berita/naker/outsourcing. diakses dari Sabar Sianturi. hal 57. Hotel Aryaduta. ibid. pembicara pada Seminar tentang Outsourcing (Alih Daya) dan Permasalahannya. Tesis Magister Hukum FHUI. http://www. hal 2.nakertrans.go.5.php.

13 Tahun 2003 [27] Berdasarkan informasi dari Bpk. Yayan Hernayanto.Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor : 220/MEN/X/2004 Tentang Syarat-Syarat Penyerahan Sebagian Pelaksanaan Pekerjaan Kepada Perusahaan Lain. [23] Pasal 65 ayat (2) UU No.b dan c UU No.13 tahun 2003 [24] Pasal 66 ayat 2) butir a. Corporate Legal. 4 Agustus 2006. . PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia.13 tahun 2003 [25] Mengenai PKWT dan PKWTT lihat pasal 56-60 UU No.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful