Konsep Karl Marx dan Max Weber Teori Perubahan Sosial Teori perubahan social dan budaya Karl

Marx yang merumuskan bahwa perubahan soci al dan budaya sebagai produk dari sebuah produksi (materialism), sedangkan Max w eber lebih pada system gagasan, system pengetahuan, system kepercayaan yang just ru menjadi sebab perubahan. Jika dua pandangan itu digunakan sebagai asas dalam pengembangan program Pendidi kan Nonformal, akan memberikan dampak untung dan rugi, secara literature hal ter sebut disebabkan oleh: Menurut Douglas (1973), mikrososiologi mempelajari situasi sedangkan makrososiol ogi mempelajari struktur. George C. Homans yang mempelajari mikrososiologi menga itkan struktur dengan perilaku sosial elementer dalam hubungan sosial sehari-har i, sedangkan Gerhard Lenski lebih menekankan pada struktur masyarakat yang diara hkan oleh kecenderungan jangka panjang yang menandai sejarah. Talcott Parsons ya ng bekerja pada ranah makrososiologi menilai struktur sebagai kesalingterkaitan antar manusia dalam suatu sistem sosial. Coleman melihat struktur sebagai pola h ubungan antar manusia dan antar kelompok manusia atau masyarakat. Kornblum (1988 ) menyatakan struktur merupakan pola perilaku berulang yang menciptakan hubungan antar individu dan antar kelompok dalam masyarakat. Mengacu pada pengertian struktur sosial menurut Kornblum yang menekankan pada po la perilaku yang berulang, maka konsep dasar dalam pembahasan struktur adalah ad anya perilaku individu atau kelompok. Perilaku sendiri merupakan hasil interaksi individu dengan lingkungannya yang didalamnya terdapat proses komunikasi ide da n negosiasi. Pembahasan mengenai struktur sosial oleh Ralph Linton dikenal adanya dua konsep yaitu status dan peran. Status merupakan suatu kumpulan hak dan kewajiban, sedan gkan peran adalah aspek dinamis dari sebuah status. Menurut Linton (1967), seseo rang menjalankan peran ketika ia menjalankan hak dan kewajiban yang merupakan st atusnya. Tipologi lain yang dikenalkan oleh Linton adalah pembagian status menja di status yang diperoleh (ascribed status) dan status yang diraih (achieved stat us). Status yang diperoleh adalah status yang diberikan kepada individu tanpa memanda ng kemampuan atau perbedaan antar individu yang dibawa sejak lahir. Sedangkan st atus yang diraih didefinisikan sebagai status yang memerlukan kualitas tertentu. Status seperti ini tidak diberikan pada individu sejak ia lahir, melainkan haru s diraih melalui persaingan atau usaha pribadi. Social inequality merupakan konsep dasar yang menyusun pembagian suatu struktur sosial menjadi beberapa bagian atau lapisan yang saling berkait. Konsep ini memb erikan gambaran bahwa dalam suatu struktur sosial ada ketidaksamaan posisi sosia l antar individu di dalamnya. Terdapat tiga dimensi dimana suatu masyarakat terb agi dalam suatu susunan atau stratifikasi, yaitu kelas, status dan kekuasaan. Ko nsep kelas, status dan kekuasaan merupakan pandangan yang disampaikan oleh Max W eber (Beteille, 1970). Kelas dalam pandangan Weber merupakan sekelompok orang yang menempati kedudukan yang sama dalam proses produksi, distribusi maupun perdagangan. Pandangan Weber melengkapi pandangan Marx yang menyatakan kelas hanya didasarkan pada penguasaan modal, namun juga meliputi kesempatan dalam meraih keuntungan dalam pasar komod itas dan tenaga kerja. Keduanya menyatakan kelas sebagai kedudukan seseorang dal am hierarkhi ekonomi. Sedangkan status oleh Weber lebih ditekankan pada gaya hid up atau pola konsumsi. Namun demikian status juga dipengaruhi oleh banyak faktor

nam un tidak lagi menjelaskan dominasi atas dasar perbedaan kelas ekonomi semata. Status sosial pada masyarakat tradisional seringkali hanya berupa ascribed status seperti gelar kebangsawanan atau penguasaan tanah secara turun temurun. cara berfikir. Konsep ini membe rikan gambaran bagaimana tentang proses kemunculan kelas-kelas baru dalam masyar akat sehingga menimbulkan perubahan stratifikasi sosial yang tentu saja mempenga ruhi struktur sosial yang telah ada. Apabila dilihat lebih jauh. Dalam perkembangannya. Weber berhasil menunjukkan bahwa ide-ide religius dan etis ju stru memiliki pengaruh yang sangat besar dalam proses pematangan kapitalisme di tengah masyarakat Eropa. tentang kesadaran. usia dan agama (Beteille. Kritisismenya terasa pada kritik-kritik yang dilontarkan a tas ideologi-ideologi yang bersandar pada pendekatan psikolog klasik Austria. pembagian kerja dan org anisasi modern turut menyumbangkan adanya achieved status. seperti pekerjaan. dan bagaimana perada ban barat telah menyimpang dengan konsep rasionalitas yang bertujuan untuk menak lukkan dan mengatur alam semesta. Berbeda dengan Marx. Kegelisahan teoretis yang sama. Teori inkonsistensi status telah mencoba menelaah tentang adanya inkonsistensi d alam individu sebagai akibat berbagai status yang diperolehnya. 1970). Studi-studi yang mereka lakukan berlandaskan p ada hal ini. pemikir sosial Jerman. Juergen Habermas. pe ndapatan hingga pendidikan. me lainkan atas otoritas penguasa yang menghalangi kebebasan manusia. Fenomena kompetisi dan konfl ik yang muncul dapat dipahami sebagai sebuah mekanisme interaksional yang memunc ulkan perubahan sosial dalam masyarakat.. Mazhab ini terinspirasi dari pandangan-pandangan Marx. penja jahan budaya. politik. mungkin adalah orang yang di zaman nya paling merasa tertantang oleh determinisme ekonomi Marx yang memandang segal a sesuatu dari sisi politik ekonomi. Analisisnya b erkenaan dengan pembedaan antara peradaban barat dan timur. Aliran ini dikenal sebagai Mazhab Frankfurt. kemunculan kelas baru ini akan menyebabkan semakin k etatnya kompetisi antar individu dalam masyarakat baik dalam perebutan kekuasaan atau upaya melanggengkan status yang telah diraih. sosiolog Frankfurt termuda. seperti ras. dan sejarah teori sosial . mengubah ag . Sosiolog Mazhab Frankfurt Max Horkheimer (1895 1973) dan Theodor Adorno (1903-1969 ) membuat landasan instrumental agenda-agenda teoretis mazhab ini. sementara kapitalisme agak sulit mematangkan diri di du nia bagian timur oleh karena perbedaan religi dan filosofi hidup dengan yang di barat lebih dari pada sekadar faktor-faktor kegelisahan ekonomi atas penguasaan modal sekelompok orang yang lebih kaya. Kelas merupakan perwujudan sekelompok individu den gan persamaan status. maka marxisme baru bersandar pada budaya dan ideologi. Weber menggabungkan berbagai spektrum daerah penelitiannya tersebut untuk memb uktikan bahwa sebab-akibat dalam sejarah tak selamanya didasarkan atas motif-mot if ekonomi belaka. Je rman pada tahun 1923. Seiring dengan lahirnya industri modern. Kemunculan kelas -kelas sosial baru dapat terjadi dengan adanya dukungan perubahan moda produksi sehingga menimbulkan pembagian dan spesialisasi kerja serta hadirnya organisasi modern yang bersifat kompleks. Herbert Marcuse (1898-1979). diikuti oleh sosiolog Jerman-Amerika. sosiologi. Perubahan tatanan masyarakat dari yang semula tra disional agraris bercirikan feodal menuju masyarakat industri modern memungkinka n timbulnya kelas-kelas baru. ps ikoanalisisme Sigmund Freud (1856-1939). dan keinginan untuk membebaskan masyarakat dari kebohongan publik atas produk-produk budaya. bahwa ma rxisme klasik terlalu naif dengan mendasarkan segala motif tindakan atas kelas-k elas ekonomi memiliki dampak besar yang melahirkan teori kritis dan marxisme bar u. Jika fokus ma rxisme klasik adalah struktur ekonomi politik. Weber dalam karya-kary anya menyentuh secara luas ekonomi. sebuah kumpulan teori sosial yan g dikembangkan di Institute for Social Research. yang didirikan di Frankfurt. Berbagai kasus yang disajikan oleh beberapa penulis di depan dapat kita pahami s ebagai bentuk adanya peluang mobilitas sosial dalam masyarakat. Max Weber (1864-1920).

Dalam terminologi Dahrendorf. Belakangan. Dalam hal ini Simmel mungkin salah seorang sosiolog pertama yang berusaha keras untuk mengkonstruksi sistem formal dalam sosiologi yang diabstrak sikan dari sejarah dan detil pengalaman manusia. teori konflik muncul menjadi sebuah cabang teoretis oleh kar . karena konflik juga dapat memberikan keuntungan pada masyarakat lua s di mana konflik tersebut terjadi. berkaitan dengan sikap bekerja sama dal am masyarakat. Di Amerika Serikat. neo-marxisme masih terus berkembang namun tidak banyak menuai p erkembangan teoretis. dan komunikasi di samping tentu saja berusaha melakukan berbagai usaha untuk menstrukturkan konflik itu s endiri. antara lain bahwa sistem sosial itu dikoordinasi secara imp eratif melalui otoritas/kekuasaan. namun be rgerak ke kelompok sosial lain. musik. Dalam menelaah konflik antara kelas bawah dan k elas atas misalnya. Dalam teori kritis atau neo-marxisme ini. Sebelumnya. Jadi. namun masih memili ki motif yang sama yaitu upaya pembukaan tabir dan motif-motif kapitalisme di te ngah-tengah masyarakat. Teori ini sa ngat berbeda dari teori Marx karena ia menganalisis konflik tanpa memperhitungka n politik ekonomi yang ada (apakah kapitalisme atau sosialisme). Teorinya menunjukkan kekeliruan jika memandang konflik sebagai hal yang melulu merusak si stem sosial. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa teori Dahrendorf melakukan kombinasi anta ra fungsionalisme (tentang struktur dan fungsi masyarakat) dengan teori (konflik ) antar kelas sosial. Selain kemunculan teoretisi neo-marxis. pada masa pos-kapitalisme. bahwa ia tidak memandang mas yarakat sebagai sebuah hal yang tetap/statis. Dahrendorf menunjukkan bahwa kepentingan kelas bawah menanta ng legitimasi struktur otoritas yang ada. bertitik berat pada konsekuensi-konsek uensi terjadinya konflik pada sebuah sistem sosial secara keseluruhan. maka Dahrendorf bersandar pada KONTROL atas a lat produksi. Lewis Coser (1913-2003). Jika Marx bersa ndar pada PEMILIKAN alat produksi. Tradisinya hidup di studi-studi budaya. Georg Simmel (1858 1918). Sosiolog Jerman. pemikiran Mazhab Frankfurt ini telah mempengaruhi banyak sekali teor etisi sosial yang memfokuskan kritik pada obyek budaya seperti hiburan. seperti kaum radikal di kampus-kampus. Ralf Dahrendorf. sosiolog fungsionalis Jerman juga telah menc oba mendekati teori konflik dengan menunjukkan bahwa konflik merupakan salah sat u bentuk interaksi sosial yang mendasar. Kepentingan antara dua kelas yang berl awanan ditentukan oleh sifat struktur otoritas dan bukan oleh orientasi individu pribadi yang terlibat di dalamnya. ia mengembangkan beberapa termino logi dari Max Weber. dan sebagainya yang dinyatakan sebagai industri budaya. m ode. Ini menjadi keyakinan mereka merupakan agen-agen untuk melakukan transfor masi sosial di kemudian hari. Hingga hari ini. maka sosiolog konflik Amerika Serikat. Konflik justru dapat membuka peluang integra si antar kelompok. Jika Simmel membedah teori sosial berdasarkan konfliknya. ideologi. di luar Marxisme. namun senantiasa berubah oleh terj adinya konflik dalam masyarakat. Jadi bedanya dengan fungsionalisme jelas. pergulatan antar kelas ekonomi menjadi i nspirasi pula bagi lahirnya teori konflik.enda Mazhab Frankfurt menjadi upaya emanisipatoris atas rasionalisme pencerahan. Teori sosial Dahrendorf berfokus pada kelompok kepentingan konflik yang berkenaan dengan kepemimpinan. kepemilik an akan alat produksi (baik sosialis atau kapitalis) tidak menjamin adanya kontr ol atas alat produksi. men erangkan konflik kelas dalam masyarakat industrial pada tahun 1959. Analisisnya tentang efek ekonom i uang dalam perilaku manusia merupakan salah satu pekerjaannya yang penting. mulai dari proses terjadinya hingga intensitasnya dan kaitannya dengan k ekerasan. dan sebag ainya. Individu tidak harus sadar akan kelasnya unt uk kemudian menantang kelas sosial lainnya. sudah tidak ada lagi determinisme ekonomi dan tak lagi me yakini bahwa kaum miskin (proletar) akan menjadi agen perubahan sosial.

Yang menjadi dasar interaksi manusia bukanlah KONSENSUS seperi yang ditawarkan fungsionalisme. antara lain: 1. Dahrendorf. dan Coser berusaha disus un sintesisnya oleh sosiolog Amerika lain. Demikian seterusnya. 2. dan interaksionisme symbol. yang berusaha menunj ukkan dinamika konflik interaksional. Ketaksamaan dalam hal kuasa. seolah tercapai per temuan antara teori struktur-fungsionalisme. Mills lebih mirip dengan mazhab Frankfurt atas kritiknya pada media massa. Di sisi lain. Collins sangat dipengaruhi tak hanya pendahulunya dalam teori konflik. namun lebih kepada KOMPETISI. secara tak langsung dan tak mungkin dihindari adalah perubahan sosial yang besar seperti revolusi dan perubahan tata nan politik. Mikrososial berarti hubungan interaksi antar individu dalam masyarakat. ada sedikitnya empat hal yang penting dalam memahami teori konfilk s osial. 3. hanya sedikit yang memiliki kekuasaan politik. Wri ght Mills. Menurut Collins. semakin besar pula tentara mengambil bentuk hirarki ko mando. teori konflik berdasar pada asumsi dasar bahwa masyarakat atau organisasi berfungsi sedemikian di mana individu dan kelompoknya berjuang untuk memaksimumkan keuntungan yang diperolehnya. struktur sosial tidak mem punyai EKSISTENSI OBYEKTIF yang terpisah dari pola-pola interaksi yang selalu be rulang-ulang dalam sistem sosial. Salah satu contoh proposisinya yang kontroversial adalah b ahwa menurutnya di Amerika terjadi paradoks demokrasi: bentuk pemerintahannya ad alah demokrasi namun seluruh struktur organisasinya cenderung diubah ke bentuk o ligarkhi. Perubahan sosial terjadi sebagai hasil dari konflik antara keinginan (interes ) yang saling berkompetisi dan bukan sekadar adaptasi. Teori konflik ini secara umum berusaha memberikan kritiknya pada fu ngsionalisme yang meyakini bahwa masyarakat dan organisasi memainkan peran masing-masing sedemikia n seperti halnya organ-organ dalam tubuh makhluk hidup. Salah s atu contoh yang menarik adalah pendapatnya tentang alat produksi mental. sosiolog Amerika 1960-an mengecam fungsionalisme melalui kritiknya te ntang elit kekuasaan di Amerika saat itu. Perdebatan Mills dan fungsionalisme in i pada dasarnya menunjukkan bagaimana sosiologi telah berkarib dengan ideologi. namun jug a pemikiran teori kritis dan fungsionalisme dan teori pertukaran sosial. Individu dan kelompok yang ingin mendapatkan keuntungan dan berjuang untuk me ncapai revolusi. perolehan yang ada dalam struktur sosial. Semakin besar kepercayaan akan senjata-senjata mahal yang dipe gang oleh suatu kelompok. teori konflik Mills. Randall Collins. kesenangan. kompetisi (atas kelangkaan sumber daya seperti makanan. dan sebagainya. Dalam perkembangannya. misalny a pendidikan dan media massa serta alat produksi emosional seperti tradisi dan r itualisme sosial. pemer intahan. Tuduhan yang paling besar adalah uraiannya tentang karya Parsons yang bermuatan ideologis dan menurutnya sebagian besar isinya kosong/hampa. . Dalam sosiologi. Collins mulai me mbagi apa yang MIKRO dan apa yang MAKRO. C. struktur sosial memiliki EKSISTENSI SUBYEKTIF dalam pikiran individu yang menyusun masyarakat. Perubahan sosial sering t erjadi secara cepat dan revolusioner daripada evolusioner. Dalam hal ini. teori konflik. semakin besar pula kenderungan agama menekankan ritus-ritus partisipasi massa dan ideal persaudaraan kelompok. partner s eksual. sementara makrososial berarti hasil dari intera ksi antar individu dalam masyarakat tersebut. 4. semakin besar persamaan dalam kelompok disatukan secara ser emonial.ena ketidaksukaan pada sosiologi fungsionalisme yang berkembang saat itu. dan militer. Ringkasnya. Ketaksamaan struktural. Secara metodologi.

para penganut agama ini menjadi semakin makmur karena keuntungan yang mereka perolehn ya dari hasil usaha tidak dikonsumsikan. kemudian ketepatan interpretasi sejarahnya juga digugat. yang disebutnya kaum borjuis i tu. di satu pihak dan orang-orang yang tidak memiliki modal/al at-alat produksi di pihak lain.Jika seluruh teori dan pandangan Karl Marx dan Max Weber tersebut diterapkan dal am Asas pendidikan Nonformal maka akan memerikan keuntungan yang signifikan dima na setiap satuan pendidikan luar sekolah akan dimudahkan pandangannya secara soc ial budaya. melainkan untuk mengembangkan modal yang sudah mereka miliki. Sejak Weber memperkenalkannya pada tahun 1905 tesis yang memperlihatkan kemungki nan adanya hubungan antara ajaran agama dengan perilaku ekonomi. Ia dikenal sebagai seorang ilmuwan yang sangat produktif. Tesisnya dipertent angkan dengan teori Karl Marx tentang kapitalisme. M arx dalam persoalan ini mengkhususkan perhatiannya terhadap sistem produksi dan perkembangan teknologi. yang menurut beliau akibat perkembangan itu telah menimb ulkan dua kelas masyarakat. Hampir semua bukti membantahnya. bahkan ia menulis beberapa buku. da n ekonomi. ahli sejarah ekonomi Swedia. Dalam buku tersebut dikemukakan tesisnya yang sangat terkenal. yaitu kelas yang terdiri dari sejumlah kecil orang-o rang yang memiliki modal dan yang dengan modal yang sedemikian itu lalu menguasa i alat-alat produksi. Ajaran Calvinisme mewajibkan umatnya hidup sederhana dan melarang segala bentuk kemewahan. Apa yang menjadi baha n perhatian Weber dalam hal ini sesungguhnya juga sudah menjadi perhatian Karl M arx. tanpa segan-segan menolak dengan keras keseluruh an tesis Weber. Makalah-mak alahnya dimuat di berbagai majalah. Hal itu hanya dapat dicapai dengan usaha dan kerja keras dari individu itu send iri. Golongan pertama. sampai sekarang masih merangsang berbagai perdebatan dan penelitian empiris. di mana pertumbuhan kapitalisme modern pada masa itu telah menimbulkan kegu ncangan-keguncangan hebat di lapangan kehidupan sosial masyarakat Eropa Barat. demikian pula dasar asumsinya dipersoalkan. secara terus menerus berusaha untuk memperoleh untung yang lebih besar yang tidak di gunakan untuk konsumsi. melainkan ditanamkan kembali dalam usah . hukum. Dikatakannya dari penelitian sejarah tak bisa ditemukan dukungan untuk teori Weber tentang kesejajaran doktrin Protestanisme dengan kapitalisme dan konsep tentang korelasi antara agama dan tingkah laku ekonomis. tanpa harus di pusingkan dengan alasan dan peredaan. Samuelso n. dan Kontemprer? Mengenai perkembangan teori-teori sosiolog i dan antropologi dalam konteks perkembangan dunia keilmuan maupun dalam konteks penggunaan praktis! Max Weber adalah seorang sosiolog besar yang ahli kebudayaan. Situasi sedemikian ini barangkali yang mendorongnya untuk men cari sebab-sebab hubungan antar tingkah laku agama dan ekonomi. Muncul dan berkembangnya Kapitalisme di Eropa Barat berlangsung secara bersamaan dengan perkembangan Sekte Calvinisme dalam agama Protestan. tetapi ruginya akan terasa manakala program atau satuan pendidikan nonformal ini tidak dapat me njangkau dan meraih semua sasaran yang diharapkan karena perbedaan system yang b erlaku. The Protest ant Ethic and the Spirit of Capitalism (1904) merupakan salah satu bukunya yang terkenal. Argumennya adalah a jaran Calvinisme mengharuskan umatnya untuk menjadikan dunia tempat yang makmur. Dimana dan bagaimana perbedaan antara teori-teori sosiologi dan antropologi dala m kurun waktu Klasik. Akibat ajaran Kalvinisme. terutama di masy arakat Eropa Barat yang mayoritas memeluk agama Protestan. apalagi digunakan untuk berpoya-poya. yaitu m engenai kaitan antara Etika Protestan dengan munculnya Kapitalisme di Eropa Bara t. Weber sebenarnya hidup tatkala Eropa Barat sedang menjurus ke arah pertumbuhan k apitalisme modern. politik.

Pandangan lain menyatakan b ahwa kelas tidak hanya menyangkut orang-orang tertentu yang terlibat langsung da lam kegiatan ekonomi. Karena adanya keterkaitan status seorang anggota keluarga denga n status anggota yang lain maka bilamana status kepala keluarga naik. Sebaliknya penurunan status kepala keluarga akan menurunka n pula status keluarganya. Kelas. Suatu tindakan hanya dapat disebut tindakan sosial apabila tindakan tersebut dilakukan dengan m empertimbangkan perilaku orang lain dan berorientasi pada perilaku orang lain. kapitalisme di Eropa Barat berkembang.a mereka. Simmel merujuk kepada doktrin-doktrin atomisme log is yang dikemukakan oleh Fechner di mana masyarakat lebih merupakan sebuah inter aksi individu-individu dan bukan merupakan sebuah interaksi substansial. Dalam kenyataan sering terli hat bahwa sistem kelas mempunyai ciri sistem tertutup. dengan berbagai konsep d an individu-individu di dalamnya. lulus dok tor filsafat tahun 1881 dengan disertasi yang berjudul The Nature of Matter Acco rding to Kant s Physical Monadology. Dengan demikian. dalam skala yang paling luas. serta kelompok-kelompok yang kesemuanya berfun gsi sebagai suatu kesatuan. Tindakan. justru dit emukan di dalam individu-individu yang melakukan interaksi. sosiolo gi haruslah diarahkan untuk merujuk kepada konsep utamanya yang mencakup bentukbentuk sosiasi dari yang paling umum sampai yang paling spesifik. Simmel yang berupaya keras untuk memisahkan sosiologi dari psikologi mengang . tetapi mencakup pula keluarga mereka. maka kita akan memiliki pengetahuan yang lengkap mengenai masyara kat . serta teori evolusi yang dikembangkan oleh Spencer. Tida k semua tindakan manusia dapat dianggap sebagai tindakan sosial. status kel uarga akan ikut naik. Di Jerman. yang mengawali studinya di Universitas Berlin pada tahun 1876. dan Status Sosial Sosiologi menurut Weber adalah suatu ilmu yang mempelajari tindakan sosial. misalnya lebih sering terjadi antara orang-ora ng yang kelasnya sama dari pada dengan orang dan kelas lebih rendah atau lebih t inggi Simmel dan Konsep Sosiologinya Simmel. s eorang ahli sosiologi dapat memahami makna subjektif tindakan sosial mereka. Masyarakat. Bila kita dapa t menunjukkan totalitas berbagai bentuk hubungan sosial dalam berbagai tingkatan dan keragaman. sosiologi memfokuskan pada atom-atom empirik. De mikian menurut Weber. Simmel berupaya menanamkan dasar-dasar sosiologin ya di mana ia berhadapan dengan konsep sosiologi yang positivistik yang dikemban gkan oleh Comte. Kadang-kadang seorang anggota keluarga dap at memperoleh status yang sama atau bahkan melebihi status yang semula diduduki kepala keluarga. Pergaulan dan pernikahan. Bagi Simmel. yang hendak memahami makna subjektif suatu tindakan sosial harus dapat membaya ngkan dirinya di tempat pelaku untuk dapat ikut menghayati pengalamannya. Suatu tindakan adalah perilaku manusia yang mempunyai makna subjektif bagi pelak unya. sedangkan tiap tindakan mempunyai makna subjekt if bagi pelakunya. Ia tidak pernah menjadi dosen tetap di univer sitas di Jerman. Hanya dengan menempatkan diri di tempat seorang pekerja seks atau mucikari misalnya. Sosiologi bertujuan untuk memahami (verstehen) mengapa tindakan sosial mem punyai arah dan akibat tertentu. Secara ideal sistem kelas merupakan suatu sistem stratifikasi terbuka karena sta tus di dalamnya dapat diraih melalui usaha pribadi. Melalui cara seperti itulah. Weber mendefinisikan kelas sebagai sekelompok orang. mem ahami mengapa tindakan sosial tersebut dilakukan serta dampak dari tindakan ters ebut. seperti misalnya endogami kelas. Hal ini mencerminkan pandangan bahwa kedudukan seorang anggota keluarga dalam suatu kelas terkait de ngan kedudukan anggota keluarga lain. Dalam menge mbangkan konsep sosiologinya. maka ahli sosiologi yang hendak melakukan penafsiran bermakna . namun berbagai tulisannya yang brilian sangat mempengaruhi perk embangan sosiologi.

de ngan selalu mengkaji berbagai hubungan yang ada. Interaksi sebagai Konsep Dasar Sosiologi Simmel Teori yang dikemukakan Simmel mengenai realitas sosial terlihat dari konsepnya y ang menggambarkan adanya empat tingkatan yang sangat mendasar. yaitu suatu esensi dari k onsep sosio-kultural. para penulis sejarah teo ri berupaya lebih menampilkan pemikiran teori ketimbang sosok tokoh. Simmel melakukan pendekatan dialektik seperti yan g terdapat di dalam ajarannya Marx. Koentjaraningrat (1990). ruh. Sedangkan elemen ketiga adalah konsepnya mengenai sosiologi filsafat yang terkai t dengan pandangan-pandangannya menyangkut konsepsi dasariah (hukum) alam serta takdir manusia. Maka. Dengan pendekata n ini. dan untuk Indonesia. substansi).gap bahwa perlakuan ilmiah atas data psikis. Konsepnya yang dianggap bersifat mikro adalah yang menyangkut bentuk-bentuk (forms) di mana interaksi yang terjadi di dalamnya melibatkan berbagai tipe (ty pes) dan ini menyangkut individu yang terlibat di dalam interaksi itu. memfokuskan pada kurun waktu masa lalu dan m asa yang akan datang. menolak ide-ide yang memisahk an antara berbagai fenomena sosial. tidak saj a dengan berbagai interaksi sosial tetapi juga dengan berbagai pernyataan psikol ogis. mengu ngkap masalah-masalah yang menyangkut berbagai elemen sosiologis terkait dengan hubungan yang bersifat inter-personal. sebagai contoh. Elemen ke dua adalah sosiologinya yang bersifat umum dan terkait dengan produk-produk sosi o-kultural dari sejarah manusia. Garbarino (1980 ). tidak secara otomatis menjadi data psikologis manakala suatu realitas dari studi ilmiah ilmu-ilmu sosial dianggap s ebagai konsep yang berbeda. Untuk mengatasi masalah-masalah interrelasi di antara tiga tingk atan dari realitas sosial itu. Pertama. yaitu penyatuan dari ketiga unsur di atas yang me libatkan prinsip-prinsip kehidupan metafisis individu maupun kelompok. Sebagai contoh. meskipun tujuannya berbeda. sosiologi harus membatasi diri dari hal-hal yang bermakna psikologis . Pertama. Simmel berupaya menyatukan fakta dan nilai. serta sangat memperhatikan konflik dan kontradiksi. tulisan-tulisan dengan ciri intrinsik semacam itu antara lain adalah Honigmann (1976). Keempat. Elemen pertama adalah apa yang dijelaskannya sebagai sosiologi murni (pure sociology). Seperti dikemukakan di atas. tulisan Layton (1997) ini dapat dimasukkan ke dalam . Sosiologi harus jauh melampui pemikiran-pemikiran yang bermakna psikologis den gan melakukan abstraksi-abstraksinya sendiri. Narasi riwayat pemikiran teori lebi h menonjol daripada pemikiran teori itu sendiri. Kedua. Jadi. Bohannan dan Glazer (1976). dan selalu merujuk kepada konse p dualisme yang menggambarkan konflik dan kontradiksi. sehingga toko h-tokoh ini secara disadari atau tidak menjadi sosok yang lebih menonjol daripad a unsur-unsur pemikiran teoritisnya sendiri. adalah konsep-konsepnya mengenai berbagai struktur dan perubahan-perubahan yang terjadi dan terkait dengan apa ya ng dinamakannya sebagai spirit (jiwa. logika bahwasanya sejarah selalu melekat pada tokoh. Di sini. namun tak m ampu mengendalikan diri untuk tidak berpihak pada suatu arus pemikiran tertentu. Ketiga. Kebanyakan karya yang membicarakan sejarah teori antropologi terjebak dalam dua hal. struktur-struktur yang spesifik di dalam ke hidupan sosio-kultural yang sangat kompleks harus dihubungkan kembali. asumsi-a sumsinya yang merujuk kepada konsep-konsep yang sifatnya makro dan menyangkut ko mponen-komponen psikologis dari kehidupan sosial. pemikiran yang diwarnai materialisme kebudayaan kental da lam Harris (1976). ada tiga elemen yang masing-masing menempati wilayahnya sendiri di dalam sosiologi yang terkait dengan tingkatan-tingkatan realitas sosial. Kedua. Simmel mewujudkan komitmen atas konsep-konsepnya melalui cara (berpikir) dialektis. atau pemikiran Marx yang anti evolusionisme begitu kentara da lam buku Layton (1997) sendiri. di mana variabel-variabel psikologis dikombinasikan dengan bentuk-bentuk intera ksi. dalam skala luas. Menurut Simmel.

bukankah pemikir an teoritis evolusionisme ini pernah dominan dalam sejarah antropologi. Agar terhindar dari penonjolan sosok tokoh. banyak berhutang bud i pada pemikiranpemikiran evolusionisme Herbert Spencer dan Darwin. Kondisi semacam itu barangkali adalah perang antara setiap orang (every man war) . Rosaldo 1986). Marcus dan Fischer 1986. dan (tentu saja) Marx. 18. Untuk itu. ketimbang Sejarah Teori Antropologi sebagaimanakit a temukan dalam buku-buku lain. Cli fford dan Marcus 1986. Dalam buku ini. Namun. Konsekuensi logis dari proses sosial adalah menempatkan kekuasaa n sebagai konsep kunci. Mengenai kegandrungannya menempatkan setiap teori dalam konteks jelas tergambar dalam contoh ketika membicarakan pemikiran Thomas Hobbes. Ia berpendapat bah wa pemikiran Marx menjadi penting dan berpengaruh dalam antropologi tatkala para antropolog bergeser dari kajian struktur sosial Durkheim dan Radcliffe-Brown ke proses sosial. di pihak lain ia nampak kur ang setuju dengan alur pemikiran evolusionisme dan difusionisme. mengalami sendiri kekacauan a kibat Perang Sipil Inggris dan mempertanyakan apa sebenarnya yang mengikat suatu masyarakat sehingga tetap bersatu. dua tokoh yang membangun aliran pemiki ran tersebut Tak demikian halnya perlakuan Layton terhadap pemikiran Marx. Tak jelas apaka h apresiasi itu diwariskan oleh tradisi British Anthropologist. ulasan sejarah teori dari Layton termasuk langka karen a kemauan dan kesungguhannya untuk menempatkan setiap teori dan tokoh yang memba ngun dan mengembangkannya dalam konteks individual tokoh yang bersangkutan. Seperti dikemukakan di atas. 156. Bertentangan dengan komunalisme primitif dar i Levellers. 4-5]. dan pada saat yang sama menyingkirkan konsep evolusi sos ial dan struktur sosial yang statis. ada upaya maksimum untuk menempatkan analisis pada posisi yang lebih penting. Tyler 1986. 209). Karena apabila di satu pihak ia berupaya netral dalam menganalisis setiap teori. ia juga sangat concern dengan perkembangan pe nuh perdebatan dan kendala metodologis yang muncul dalam dekade terakhir mengena i kebudayaan. Akan tetapi. Layton semest inya memberikan porsi perhatian yang cukup besar pada persoalan teoritis evolusi onisme itu. Bourdieu 1977. Geertz 1988. suatu sikap yang ternyata tidak secara kons isten ia jalankan. Selain itu. Derrida 1978. Dalam hal ini Layton nampaknya cukup kuat d . Layton memberi judul bukunya An Introduc tion to Theory in Anthropology. ia justr u beberapa kali menyebutkan pentingnya bersikap netral dalam menanggapi teori (lih at misalnya. antara lain: [ Hobbes ya ng pernah menjadi penasehat calon Raja Charles II.kecenderungan yang kedua. Apalagi arus pemikiran struktural-fungsionalisme. yakni suatu persoalan yang ramai dibicarakan para ahli antropologi secara intern dalam konteks yang dinamai arus postmodernisme itu (misalnya. Crapanzano 1986. Layton tak selalu konsisten. Foucau lt 1978. atau pengaruh Ma rx yang demikian kuat. hal. khususny a pada abad lalu? Sebagai sebuah buku pengantar teori antropologi. Layton menulis satu bab khusus (Bab 7) mengenai Postmodernisme dan antropologi d engan sikap metodologis yang banyak dipengaruhi Derrida (1978). Padahal. Hal yan g sama juga dilakukannya ketika membahas Herbert Spencer (evolusionisme) yang di pertentangkan dengan Karl Marx (revolusionisme) yang dipandangnya sebagai dua to koh yang memiliki lingkungan personal berbeda dalam melihat gejala social Meski Layton berusaha bersikap netral dalam memandang teori. sebagai suatu pemi kiran teoritis besar dalam antropologi hingga tahun 1960an. Layton menempatkan setiap teori dalam konteksnya bahw a teori selalu terikat dengan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat yang bers angkutan. meski ada upaya yang keras dari penulis ini untuk tida k terlibat dalam bias perspektif itu. sehingga tema i ni kurang memperoleh perhatian sebagaimana seharusnya. Barangkali secara tidak disadari. Hobbes mengemukakan kondisi yang berlawanan terhadap kehidupan sosi al sebagai suatu ketidakteraturan yang bersifat random. di mana orang berusaha m enyelamatkan diri sendiri dengan cara mengontrol orang lain. hal. meski nama-nama tetap melekat pada pemikiran (dan memang seharusnya demikian). tak urung sekurangkur angnya secara implisit ia sangat mengapresiasi antropologi sosial. 46.

Ma rx. analisis struktural. yang tak lain adalah implikasi Marx). Bohannan 1988. nama-nama seperti P. Metode pembahasan seperti ini masih langka dalam uraian-uraian mengenai sejarah teori antropologi terdahulu. Sejak pertengahan 1950-an Indonesia mulai mengirimkan mahasiswa untuk berbagai i lmu sosial keluar negeri. divergensi. Perlu dipahami bahwa pengembangan dan perkembangan theori yang digubah pakar Sos iologi tidak terlepas dari kejadian-kejadian besar dalam masyarakat dan pengaruh -pengaruhnya kepada pemikir / ilmuwan yang kemudian menerima sejumlah assumsi ya ng mendasari theori. ia mereduksi kedu a arus pemikiran teori yang penting ini dalam pembahasan mengenai Strukturalisme (Bab 3) tanpa argumentasi metodologi yang seharusnya ada. baik dalam bentuk kelompok maupun jaringan sosial yang secara metodologis dapat diterjemahkan sebagai konkretisasi poststr ukturalis. T. pembentukan. Weber. tetapi buku-buku lai n seperti mengenai Pembagian Kerja (1966) dan Bunuh Diri sudah jelas dikarang dalam konteks makro sosiologi. Selo Soemardjan. Kelebihan inilah yang membuat buku ini menjadi pent ing bagi para pengkaji antropologi. Antropo logi Marxis. Dalam uraian me ngenai Fungsionalisme. Di berbagai tempat kita menemukan upaya yang kuat untuk menjelaskan etiologi dan epistemologi teori. etnografi. G. maupun poststrukturalisme.ipengaruhi oleh trend antropologi masa kini yang mempertanyakan dan mengevaluasi kembali beberapa persoalan mendasar dalam teori dan metodologi. Demikian keperluan pemerintah jajahan di Hindia Belanda men dorong ilmuwan menelusuri adat kebiasaan suku-suku bangsa di Nusantara. Layton menyebut bukun ya sebuah pengantar teori antropologi agar terhindar dari konsekuensi narasi ber dasarkan urutan kesejarahan. polemik dan etik dalam kajian antropologi. Sorokin. dan sebaliknya lebih mementingkan pemikiran teori. representativitas kebudayaan. Simmel. Von Wiese. jelaslah keberpihakan Layton pada pemikiran yang berorientasi pada p erubahan sosial (khususnya. Lett 1994). Strukturalisme. teta pi lebih banyak lagi yang belajar di Amerika dan menghasilkan thesis Ph. yakni jaringan sosial. tetapi ada kecenderungan lebih banyak ke Amerika Seri kat daripada ke Eropa. Sebuah tambahan yang berarti adalah semakin pent ingnya kedudukan cara pandang yang relatif baru dalam antropologi mengenai hubun gan-hubungan sosial.D. . Pengerti an yang diperoleh mengarahkan kebijaksanaan sedemikian rupa sehingga mereka yang dijajah tidak menimbulkan penolakan atau pembangkangan yang terlalu kuat. Durkheim tentang agama. model versus deskripsi. Seperti halnya evolusionisme. suatu ciri yang oleh Layton sendiri disebut paradigma baru antropolog i sosial. baik dalam konteks strukturalfungsio nalisme. Tersirat. Memang penyebaran theori-theori klasik Sosiologi di Ind onesia tidak terlalu luas. diferensiasi. dan Sosioekologi adalah pengulangan-pengulangan linear yang lazim k ita temukan dalam kebanyakan buku sejarah teori antropologi lainnya (lihatlah mi salnya. dan konvergensinya. Applebaum 1987. Znaniecki. Shanin dan banyak lagi kurang mengisi bahan kuliah para dosen. Bapak Sosiologi August Comte (1798-1857). Antara lain Soedjito Djojohardjo dikirim ke Inggris. M. Hasyah Bachtiar (hanya sebentar di Universitas Amsterdam sebelum ke Harvad) dan lain-lain. teori-teori simbolisme dan kognisi juga hilang dal am pembahasan Layton dengan alasan yang tidak jelas. perubahan yang cepat. seperti misalny a. Pengaruh sosiologi Eropa memang juga menggali dan dari pemikir-pemikir falsafah a. apresiasi terhadap Marx juga analog dengan orientasi kuat pa da dinamika hubungan-hubungan sosial. Prof. Barrett 1986. Karena itu. Pendekatan yang agak ethno-Antrop ologis tercermin juga dalam buku E. Teori Interaksionis. Mely Tan APU. Selain itu.l. pembahasan dengan contoh-contoh kekerabatan dan organisas i sosial sebagaimana lazim ditemukan dalam buku sejarah teori antropologi lain m asih ditemukan secara menonjol. Pembahasan mengenai Fungsionalisme. seper ti Prof.

Theori August Comte. Social. tetapi juga bisa lebih mikro mencakup kelompokkelompok masyarakat yang relatif lebih kecil dari satu bangsa. Jadi boleh dikatakan sosiologi Meso timbul dengan theori Parsons. but it now regards itself as responsible only for one dimension of this totality . Karena keadaan masyarakat yang berubah-ubah. (Gouldner. Theori juga mengandung sifat universalitas. seperti Max Weber. walaupun sering dibedakan atara Grand Theory da n theori yang cakupannya tidak seluas itu. tetapi dengan mengorbank an faktor dinamika (perubahan sosial makro yang ciri Sosiologi Eropa) dengan mengu nggulkan Struktur dan Fungsi . Jadi ranah sosiol ogi seakan-akan dipisah dari perkembangan ekonomi dan teknologi. artinya dapat berlaku di lain masyarakat yang mana saja. Negara-n egara baru dengan kesadaran nasional yang tinggi ingin mengatur struktur kelemba gaan dalam masyarakat masing-masing. le bih khusus dalam masyarakat Amerika Serikat. bahkan aliran tersebut kemudian mempengaruhi di luar A. dibawah pengaruh tumbuhnya kaum borjuis di Eropa dan awal industrialisasi yang menimbulkan / menyuburkan budaya utilitarianisme sosiologi se akan-akan hanya mempelajari gejala-gejala yang tersisa (unfinished business) dal am perjalanan revolusi industri. yang waktu tahun 1930-an menarik bany ak penganut pakar Sosiolog di luar AS. pema haman. but only as it is a social whole . Karl Mannheim d an lain-lain yang tidak mengesampingkan dimensi falsafah dan sejarah. Sociology thus remains concerned with society as a whole as some kind of totality. sociology is indeed. Karl Marx dan beberapa theory Max Weber dapat digolongkan k e Grand Theory. theori Sosiologi dinegara berkembang pun terpe ngaruhi. A. Ini sebanya theori tesebut juga mempen garuhi pengajaran dan pemahaman sosiologi. 19 73:94) Theori dalam ilmu sosial pun mencari keteraturan perilaku manusia serta pemahama n dan sikap yang mendasarinya. karena menekuni masalah yang tidak melampaui batas nation state .Dalam masa 1800-1825. Parsons juga mencoba mencari penyelesaian lebih prgamatis dalam zamannya yang pe mikirannya membuahkan theori Social System . concerned with so cial systems or society as a whole . Element its sphere .S . Gouldner (1973:92) mendeskripsikannya dalam kalimat Sociology made the residual. Society has been parceled out analytically (Tj. REORIENTASI SOSIOLOGI INDONESIA Baik lahirnya nation state Indonesia di pertengahan abad ke-20 dan pembangunan nas . ekonomi dan politik (Marx. Sekarang di Indonesia mulai terasa adanya dilemma. Only) among the various social sciences. Memang peruba haan sosial bisa bersifat makro. sedangkan theori Parson relatif mikro karena melepaskan diri dar i kerangka sejarah dan memfokuskan analisnya pada sistem sosial dan struktur. sikap dan perilaku warga / pelaku social pun dapat berubah. Bahkan sedemikian rupa sehingga menggusur theori-theori sosiologi dalam tradisi Eropa. karena nation state belum manta p sudah timbul Globalisasi yang pasti merubah pengelompokan dan perilaku-perilak u sosial yang lebih universal. Baru sekitar pertengahan abad ke-19 sosiologi. 1848) mulai difahami sebagai bidang-bidang ilmu yang saling terjalin. From this analytic standpoint. Seorang ahli Sosiologi Alwin Gouldner (1971) yang bersifat kritis dan menulis bu ku berjudul The Coming Crisis of Western Sociology mengungkapkan bahwa Talcott Par sons menghasilkan Academic Sosiology dimasa Amerika Serikat mengalami krisis ekono mi yang dahsyat (1930). Akibat pengaruh Amerika Serikat sebagai negara adidaya setelah 1950 yang terus m eluas setelah perang dunia kedua. atau kumpulan ban gsa-bangsa.

Jadi di Amerika Serikat setelah T. Gouldner yang menulis dan menyimpulkan bahwa Academic Soci ology semakin terjalin dengan analisa K. tetapi juga denga n negara-negara sebenua. Riesman dkk. k arena memang gejalanya sudah ada sejak zaman penjajahan sekalipun. terasa bahwa buku P. Sorokin (1928) Contempora ry Sociological Theories sudah diperluas dengan theori-theori yang sudah lebih me ngintegrasikan beberapa cabang ilmu-ilmu sosial. Sosiologi tidak dapat lagi bert ahan dengan membatasi diri dengan mempelajari residual social elements seperti pe rnah digagas oleh cendekiawan Prancis Saint Simon di awal abad ke-19. Mazhab-mazhab agama menjadi salah s atu ilustrasi jelas. Perubahan struktur sosial yang sebenarnya di I ndonesia akan dimulai tahun 1960 dengan mengatur agraria.D di Indonesia dapat diketegorik an dalam pemberontakan generasi muda seperti itu. Marx. Sering dikatakan bahwa klas menengah merupakan prasyarat untuk pertumbuhan demokrasi maupun ekono mi. Dalam arti yang lebih murni memang paradigma yang umum dianut sarjana Sosiologi di Indonesia perlu di rubah. Pemberontakan menentang tradisi dan pemikiran generasi arrive yang kolot oleh gene rasi muda selalu akan timbul dalam masyarakat manusia sebagai terjadi tahun 1945 . bukan saja yang geografis menjadi tetangga kita. bahkan di benua lain. dan ane ka elite menjadi faktor yang penting dalam usaha mecapai konsensus nasional baru . Mengingat hal-hal tersebut diatas. Gejala-gejala yang sebelumnya latent. Mungkin P. Parsons timbul mazhab-mazhab Sosiologi muda yang l ebih memahami pentingnya gejala perubahan dan konflik sosial. sehingga di Amerika misalnya meni mbulkan gerakan New Left menentang Establishment atau di Eropa (Jerman) Tentara Mer ah dengan tokoh muda Beader Meinhof. (1961 Analisa-analisa pakar-pakar tersebut diatas menunjukkan pentingnya dinamika sosi al dalam masyarakat modern yang lebih memperkaya imajinasi sosiologi kita.ional yang digalakkan selama periode pemerintahan Orde Baru merangsang tumbuhnya theori struktur dan fungsi Parsons. . Tantangan bukan h anya ada di dalam negeri. serta perjuangan untuk Hak Azasi Manusia dan Gender dapat segera difahami sebagai komunit as besar yang menjadi ciri pengelompokan Global. sekarang menjadi perhatian Rakyat. Jadi perl u reorientasi sosiologi untuk banyak ilmuwan Sosiologi dan cedekiawan yang mempe rhatikan perkembangan kebudayaan karena keadaan sudah berubah.R. tetapi juga pendukung pelestarian alam dan lingkungan. Satuan pelaku sosial bukan saja lagi nation state tetapi komunitas negara atau ban gsa yang sudah melintasi batas nation-state. Struktur feodal memang berlapis-lapis dan eksploatasi jelas sudah ada. meletus waktu krisis 19 97 dan Reformasi 1998 sampai menggoncangkan sendi-sendi masyarakat. sekarang sudah lebih bisa diterima. tetapi sekaligus juga dalam hubungan kita dengan negar a dan bangsa. Pertautan antara aspek-aspek psikologi misalnya dapat ditemukan dalam buku R. tetapi juga kurang mengu las perubahan sosial dan konflik. Pr esthus (1962) dan D. Bukan saja pragmatik (non-dinamika) yang di pentingkan karena tujuannya adalah pertumbuhan ekonomi. Kalau di Zaman Orde Baru sukar untuk menganalisa secara terbuka gejala st ratifikasi sosial dan konflik antara Klas. berhenti tetapi itu (1 965) dan kemudian andalannya adalah menumbuhkan klas menengah. yang sudah jenuh dengan elite Orde Baru di Jepang pun ada gerakan-gerakan serupa. sebentar di tahun 1965 dan dewasa ini sejak tahun 1998. antara sentralisme politik dan arus kebebasan generasi muda yang tertekan. Ini dibenarkan oleh a. Dialektika dalam masyarakat yang mengandung potensi konflik . yang pada hemat pe nulis lebih merupakan warisan dari tradisi Sosiologi Eropa.

Dengan demikian. Persetujuan yang benar-benar tulus dengan apa yang ditulis R. bukan mencerminkan (dalam arti meng. Tidak ada gunanya kalau kita terus bertanya. Dalam konteks pembangunanisme. Kristiawan sangat benar ketika mengkritik konsep hegemoni yang dikembangkan o leh Antonio Gramsci. media massa merupakan c ermin kebaikan dan keburukan masyarakat.Inilah sebabnya mengapa perlu ada reorientasi Sosiologi di Indonesia. Kedua . Kristiawan bahwa m edia massa tidak merupakan alat penguasa untuk menciptakan reproduksi ketaatan ( K UNCI 8. kenapa pemberitaan di media massa b egitu parah? Menurut Niklas Luhmann. referensi historis yang men garah kepada masa penjajahan dan hegemoni ekonomi global sebagai sebab kemacetan perkembangan di sebagian Dunia Ketiga harus dilihat sebagai hal yang sangat pro blematis. Saya pikir. dilihat tidak hanya dari perspektif model demokrasi Barat. Lalu dia be rtanya. sehingga negara berkembang terpaksa mengadopsi budaya Barat. fungsi media massa adalah memungkinkan pengamatan diri masy arakat (Marcinkowski 1993). Model-model pembangunan tersebut gagal karena empat faktor: pertama . 1998). Media di Indonesia maupun di negara lain sama parahnya dengan keadaan masyarakat. 1995). seharusnya kita bertanya. yang tidak pernah dijajah oleh negara Barat. Dalam bahasa teori sistem sosial yang terus menerus dik embangkan di Jerman.co py ) keadaan masyarakat. struktur patrimoni al dan eksploitasi di negara-negara berkembang sendiri (Servaes. terutama kesuksesan ekonomi beberapa negara b erkembang dengan menggunakan strategi yang berorientasi pada pasar dunia. 2000). konsep Gramsci memang sangat dekat dengan dasar pemikiran teori dependensi (Cardoso). tetapi sosio logi yang mengulur tangan kepada cabang-cabang ilmu Sosial lain dan Humaniora un tuk menganalisa dan memecahkan masalah kemasyarakatan secara terpadu Penggunaan Media dalam Penerapan Teori Sosiologi R. Bahkan James D. tidak. dependensi dan hegemoni. Dengan kata lain. Proses globalisasi itu memang jauh lebi h kompleks. justru menentang kesimpulan-kesimpulan utama teori hegemoni dan dependensi (Rullmann 1 996). melainkan merupakan bagian dari masyarakat. bukan ekon omi lagi yang akan bertahan sebagai The Queen of The Social Sciences . pakar jurnalistik di Universitas Gadjah Mada (Abrar 1997). termasuk imperialisme struktural (Johan Ga ltung) dan imperialisme kultural (Herbert Schiller). berpendapat bahwa riset terhadap perkembangan di Dunia Ketiga cenderung ju stru mempertajam ketergantungan negara-negara berkembang pada Barat. apakah imperialisme kultural dan imperialisme media diikuti imperialisme penelitian? (Halloran. sampai sekarang tetap tidak mampu berkembang. teori-teori tersebut memanfaatkan sebuah perspektif global dan den gan demikian tidak menyadari adanya ketidakseimbangan sosial. Gramsci menyimpulkan bahwa budaya Barat sangat dominan terhadap budaya di negara -negara berkembang. teori hegemoni dan dependensi ternyata gagal dalam mengusulkan solusi-solusi ya ng bermanfaat dalam konteks global (ibid). Fungsi media massa sebenarnya bukan merekonstruksikan realitas sosial . sebagaimana ditulis oleh Ana Nadhya Abrar. Halloran. . karena wacana Gramsci ternyata tidak membantu untuk mengert i interdependensi (bukan dependensi!) kultural antara dunia Barat dan dunia Timu r maupun antara dunia Utara dan Selatan. proses dif erensiasi di dunia ketiga sendiri. Perlu kita ingat bahwa Afghanistan misalnya. salah seorang penasehat komisi MacBride 20 tahun yang lalu. Keempat . sosiolog Jerman. Ketiga . Media massa sebenarnya tidak berdiri sendiri. tanggung jawab atas se gala kegagalan di Dunia Ketiga bisa dilempar ke negara-negara maju. Apa gunanya? Persepsi tentang Antonio Gramsci oleh pakar sosiologi di dunia ketiga yang sanga t positif itu barangkali terjadi karena mereka sering dengan mudah dan tidak kri tis mengadopsi model dan teori sosiologi Barat yang sudah ketinggalan jaman sepe rti modernisme.

seberapa parah kondisi masyarakat kita sampai kita membutuhkan cermin media sepe rti itu? (Luhmann. Douglas Kellner misalnya menuntut pendekatan metateoretis dan multiperspektifis dalam me nganalisis proses penyampaian pesan media (Kellner 1999). 2000) ia hendak menjaw ab pertanyaan bagaimana sistem operasi dari konstruksi budaya dan konstruksi sosi al itu bekerja membentuk dominasi ideologi maskulinitas lewat media massa . media juga sangat tergantung pada nilai-nilai kultural masyarakat pa da umumnya. Akan tetapi. seharusnya kita membuktikan bahwa ada kenyataan murni yang bersifat universal ( the truth out there ). Seorang wartawan mengamati realitas dengan maksud membuat berita yang re levan dan informatif buat pembacanya. . apa yang kita alami sebagai realitas itu h anya merupakan hasil konstruksi atau kognisi kita sendiri yang berdasarkan penga matan atas realitas. Pertama . faktor-faktor apa yang memungkin kan penampakan media yang kurang memuaskan. Kesimpulan kita berbeda karena cara pengamatan y ang dipakai tidak sama (Luhmann 1990). 1996) Dalam konteks ini. kenyataan Anda berbeda dengan kenyataan saya walaupun kita mengamati realitas murni. Dengan demikian muncul pertanyaan. maka posisi ilmu komunikasi atau sosiologi pada umum nya akan berada dalam posisi yang lemah. Publik tidak tinggal diam dan menerima pesan-pesan med ia massa begitu saja. Jangan kita bertanya seberapa parah pemberitaan di media massa kita masa kini. khalayak juga akt if dalam proses tersebut. Sebaliknya. Sebagian besar pakar cultural studies selama ini masih melihat konsumsi media ma ssa sebagai proses penciptaan budaya yang berkaitan dengan kuasa (Ang 1999) dan mengandung bahaya hegemoni Barat (Hepp 1999). Tentunya. Dalam tulisannya Majalah HAI dan Boyish Culture ( KUNCI 8. melainkan paling tidak memilih pesan yang layak diterima. bila kita memanfaatkan pendekatan ontologis dan nor matif dalam analisis media. Akhirnya. yaitu adanya arus informasi yang bersifat satu arah dan adanya dampak media massa yang cukup berarti terhadap pu blik. Bila kita mau menyalahkan media massa atas perkembangan masyarakat yang tidak me muaskan itu. Demikian juga pakar-pakar sosiologi yang memanfaatkan potensi teori sistem sosia l pasca-Talcott Parsons. dan kita sebagai individu dapat mengamatinya dengan hasil yang sama. bagaimana sistem i tu sebenarnya beroperasi? Kedua . Proses penyampaian pesan dalam ilmu komunikasi kini dip andang sebagai proses yang dinamis dan transaksional. suatu perubahan dalam pengertian cultural studies terhadap media massa sudah terlihat. Melainkan bertanya. maka tidak sepenuhnya kita harus setuju dengan pengertian Nur aini Juliastuti terhadap media massa dalam kajiannya terhadap majalah remaja HAI . Walaupun demikian. Kita perlu melihat media massa sebagai bagian dari masyarakat kita. apakah layak bila kita sebagai ilmuwan menunt ut media massa untuk mengkonstruksi realitas dengan cara pengamatan kita? Tentu tidak! Seorang peneliti mengamati realitas sosial dengan maksud mendapatkan kebe naran. Akan tetapi. pertanyaan Nuraini Juliastuti tampaknya mengan dung dua premis pernyataan yang belum terbukti. Walaupun demikian. Artinya. pertanyaan tersebut tetap tidak terjawab. kita sebagai peneliti tetap dapat meneliti dan terus mengkrit ik media massa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful