Konsep Karl Marx dan Max Weber Teori Perubahan Sosial Teori perubahan social dan budaya Karl

Marx yang merumuskan bahwa perubahan soci al dan budaya sebagai produk dari sebuah produksi (materialism), sedangkan Max w eber lebih pada system gagasan, system pengetahuan, system kepercayaan yang just ru menjadi sebab perubahan. Jika dua pandangan itu digunakan sebagai asas dalam pengembangan program Pendidi kan Nonformal, akan memberikan dampak untung dan rugi, secara literature hal ter sebut disebabkan oleh: Menurut Douglas (1973), mikrososiologi mempelajari situasi sedangkan makrososiol ogi mempelajari struktur. George C. Homans yang mempelajari mikrososiologi menga itkan struktur dengan perilaku sosial elementer dalam hubungan sosial sehari-har i, sedangkan Gerhard Lenski lebih menekankan pada struktur masyarakat yang diara hkan oleh kecenderungan jangka panjang yang menandai sejarah. Talcott Parsons ya ng bekerja pada ranah makrososiologi menilai struktur sebagai kesalingterkaitan antar manusia dalam suatu sistem sosial. Coleman melihat struktur sebagai pola h ubungan antar manusia dan antar kelompok manusia atau masyarakat. Kornblum (1988 ) menyatakan struktur merupakan pola perilaku berulang yang menciptakan hubungan antar individu dan antar kelompok dalam masyarakat. Mengacu pada pengertian struktur sosial menurut Kornblum yang menekankan pada po la perilaku yang berulang, maka konsep dasar dalam pembahasan struktur adalah ad anya perilaku individu atau kelompok. Perilaku sendiri merupakan hasil interaksi individu dengan lingkungannya yang didalamnya terdapat proses komunikasi ide da n negosiasi. Pembahasan mengenai struktur sosial oleh Ralph Linton dikenal adanya dua konsep yaitu status dan peran. Status merupakan suatu kumpulan hak dan kewajiban, sedan gkan peran adalah aspek dinamis dari sebuah status. Menurut Linton (1967), seseo rang menjalankan peran ketika ia menjalankan hak dan kewajiban yang merupakan st atusnya. Tipologi lain yang dikenalkan oleh Linton adalah pembagian status menja di status yang diperoleh (ascribed status) dan status yang diraih (achieved stat us). Status yang diperoleh adalah status yang diberikan kepada individu tanpa memanda ng kemampuan atau perbedaan antar individu yang dibawa sejak lahir. Sedangkan st atus yang diraih didefinisikan sebagai status yang memerlukan kualitas tertentu. Status seperti ini tidak diberikan pada individu sejak ia lahir, melainkan haru s diraih melalui persaingan atau usaha pribadi. Social inequality merupakan konsep dasar yang menyusun pembagian suatu struktur sosial menjadi beberapa bagian atau lapisan yang saling berkait. Konsep ini memb erikan gambaran bahwa dalam suatu struktur sosial ada ketidaksamaan posisi sosia l antar individu di dalamnya. Terdapat tiga dimensi dimana suatu masyarakat terb agi dalam suatu susunan atau stratifikasi, yaitu kelas, status dan kekuasaan. Ko nsep kelas, status dan kekuasaan merupakan pandangan yang disampaikan oleh Max W eber (Beteille, 1970). Kelas dalam pandangan Weber merupakan sekelompok orang yang menempati kedudukan yang sama dalam proses produksi, distribusi maupun perdagangan. Pandangan Weber melengkapi pandangan Marx yang menyatakan kelas hanya didasarkan pada penguasaan modal, namun juga meliputi kesempatan dalam meraih keuntungan dalam pasar komod itas dan tenaga kerja. Keduanya menyatakan kelas sebagai kedudukan seseorang dal am hierarkhi ekonomi. Sedangkan status oleh Weber lebih ditekankan pada gaya hid up atau pola konsumsi. Namun demikian status juga dipengaruhi oleh banyak faktor

Herbert Marcuse (1898-1979). seperti pekerjaan. nam un tidak lagi menjelaskan dominasi atas dasar perbedaan kelas ekonomi semata. Weber berhasil menunjukkan bahwa ide-ide religius dan etis ju stru memiliki pengaruh yang sangat besar dalam proses pematangan kapitalisme di tengah masyarakat Eropa. Dalam perkembangannya. dan sejarah teori sosial . sebuah kumpulan teori sosial yan g dikembangkan di Institute for Social Research. seperti ras. Status sosial pada masyarakat tradisional seringkali hanya berupa ascribed status seperti gelar kebangsawanan atau penguasaan tanah secara turun temurun. Berbeda dengan Marx. Juergen Habermas. politik. ps ikoanalisisme Sigmund Freud (1856-1939). dan bagaimana perada ban barat telah menyimpang dengan konsep rasionalitas yang bertujuan untuk menak lukkan dan mengatur alam semesta. Kemunculan kelas -kelas sosial baru dapat terjadi dengan adanya dukungan perubahan moda produksi sehingga menimbulkan pembagian dan spesialisasi kerja serta hadirnya organisasi modern yang bersifat kompleks. me lainkan atas otoritas penguasa yang menghalangi kebebasan manusia. Analisisnya b erkenaan dengan pembedaan antara peradaban barat dan timur. Berbagai kasus yang disajikan oleh beberapa penulis di depan dapat kita pahami s ebagai bentuk adanya peluang mobilitas sosial dalam masyarakat. sosiologi. Kegelisahan teoretis yang sama. Apabila dilihat lebih jauh. Konsep ini membe rikan gambaran bagaimana tentang proses kemunculan kelas-kelas baru dalam masyar akat sehingga menimbulkan perubahan stratifikasi sosial yang tentu saja mempenga ruhi struktur sosial yang telah ada. pemikir sosial Jerman. Kelas merupakan perwujudan sekelompok individu den gan persamaan status. pembagian kerja dan org anisasi modern turut menyumbangkan adanya achieved status. Je rman pada tahun 1923. sementara kapitalisme agak sulit mematangkan diri di du nia bagian timur oleh karena perbedaan religi dan filosofi hidup dengan yang di barat lebih dari pada sekadar faktor-faktor kegelisahan ekonomi atas penguasaan modal sekelompok orang yang lebih kaya. usia dan agama (Beteille. cara berfikir. penja jahan budaya. Max Weber (1864-1920). yang didirikan di Frankfurt. Studi-studi yang mereka lakukan berlandaskan p ada hal ini. Fenomena kompetisi dan konfl ik yang muncul dapat dipahami sebagai sebuah mekanisme interaksional yang memunc ulkan perubahan sosial dalam masyarakat. kemunculan kelas baru ini akan menyebabkan semakin k etatnya kompetisi antar individu dalam masyarakat baik dalam perebutan kekuasaan atau upaya melanggengkan status yang telah diraih. mungkin adalah orang yang di zaman nya paling merasa tertantang oleh determinisme ekonomi Marx yang memandang segal a sesuatu dari sisi politik ekonomi. bahwa ma rxisme klasik terlalu naif dengan mendasarkan segala motif tindakan atas kelas-k elas ekonomi memiliki dampak besar yang melahirkan teori kritis dan marxisme bar u. sosiolog Frankfurt termuda. Weber menggabungkan berbagai spektrum daerah penelitiannya tersebut untuk memb uktikan bahwa sebab-akibat dalam sejarah tak selamanya didasarkan atas motif-mot if ekonomi belaka. Aliran ini dikenal sebagai Mazhab Frankfurt. Kritisismenya terasa pada kritik-kritik yang dilontarkan a tas ideologi-ideologi yang bersandar pada pendekatan psikolog klasik Austria. Mazhab ini terinspirasi dari pandangan-pandangan Marx. dan keinginan untuk membebaskan masyarakat dari kebohongan publik atas produk-produk budaya. Weber dalam karya-kary anya menyentuh secara luas ekonomi. Teori inkonsistensi status telah mencoba menelaah tentang adanya inkonsistensi d alam individu sebagai akibat berbagai status yang diperolehnya. diikuti oleh sosiolog Jerman-Amerika. Jika fokus ma rxisme klasik adalah struktur ekonomi politik.. pe ndapatan hingga pendidikan. tentang kesadaran. 1970). Sosiolog Mazhab Frankfurt Max Horkheimer (1895 1973) dan Theodor Adorno (1903-1969 ) membuat landasan instrumental agenda-agenda teoretis mazhab ini. Seiring dengan lahirnya industri modern. mengubah ag . Perubahan tatanan masyarakat dari yang semula tra disional agraris bercirikan feodal menuju masyarakat industri modern memungkinka n timbulnya kelas-kelas baru. maka marxisme baru bersandar pada budaya dan ideologi.

Teori sosial Dahrendorf berfokus pada kelompok kepentingan konflik yang berkenaan dengan kepemimpinan. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa teori Dahrendorf melakukan kombinasi anta ra fungsionalisme (tentang struktur dan fungsi masyarakat) dengan teori (konflik ) antar kelas sosial. namun be rgerak ke kelompok sosial lain. antara lain bahwa sistem sosial itu dikoordinasi secara imp eratif melalui otoritas/kekuasaan. di luar Marxisme. Ini menjadi keyakinan mereka merupakan agen-agen untuk melakukan transfor masi sosial di kemudian hari. Tradisinya hidup di studi-studi budaya. Dalam teori kritis atau neo-marxisme ini. sosiolog fungsionalis Jerman juga telah menc oba mendekati teori konflik dengan menunjukkan bahwa konflik merupakan salah sat u bentuk interaksi sosial yang mendasar. Ralf Dahrendorf. Dahrendorf menunjukkan bahwa kepentingan kelas bawah menanta ng legitimasi struktur otoritas yang ada. neo-marxisme masih terus berkembang namun tidak banyak menuai p erkembangan teoretis. Jika Simmel membedah teori sosial berdasarkan konfliknya. m ode. pergulatan antar kelas ekonomi menjadi i nspirasi pula bagi lahirnya teori konflik. seperti kaum radikal di kampus-kampus. Kepentingan antara dua kelas yang berl awanan ditentukan oleh sifat struktur otoritas dan bukan oleh orientasi individu pribadi yang terlibat di dalamnya. sudah tidak ada lagi determinisme ekonomi dan tak lagi me yakini bahwa kaum miskin (proletar) akan menjadi agen perubahan sosial. Sebelumnya. ideologi. Sosiolog Jerman. Di Amerika Serikat. berkaitan dengan sikap bekerja sama dal am masyarakat. namun senantiasa berubah oleh terj adinya konflik dalam masyarakat. maka sosiolog konflik Amerika Serikat. Konflik justru dapat membuka peluang integra si antar kelompok. pada masa pos-kapitalisme. pemikiran Mazhab Frankfurt ini telah mempengaruhi banyak sekali teor etisi sosial yang memfokuskan kritik pada obyek budaya seperti hiburan. Teorinya menunjukkan kekeliruan jika memandang konflik sebagai hal yang melulu merusak si stem sosial. Analisisnya tentang efek ekonom i uang dalam perilaku manusia merupakan salah satu pekerjaannya yang penting. teori konflik muncul menjadi sebuah cabang teoretis oleh kar . Individu tidak harus sadar akan kelasnya unt uk kemudian menantang kelas sosial lainnya. Belakangan. Dalam terminologi Dahrendorf. Dalam hal ini Simmel mungkin salah seorang sosiolog pertama yang berusaha keras untuk mengkonstruksi sistem formal dalam sosiologi yang diabstrak sikan dari sejarah dan detil pengalaman manusia. Selain kemunculan teoretisi neo-marxis. bertitik berat pada konsekuensi-konsek uensi terjadinya konflik pada sebuah sistem sosial secara keseluruhan. Dalam menelaah konflik antara kelas bawah dan k elas atas misalnya. Jika Marx bersa ndar pada PEMILIKAN alat produksi. maka Dahrendorf bersandar pada KONTROL atas a lat produksi. dan sebag ainya. dan sebagainya yang dinyatakan sebagai industri budaya. bahwa ia tidak memandang mas yarakat sebagai sebuah hal yang tetap/statis. Jadi bedanya dengan fungsionalisme jelas. men erangkan konflik kelas dalam masyarakat industrial pada tahun 1959. Lewis Coser (1913-2003). Hingga hari ini. Georg Simmel (1858 1918). karena konflik juga dapat memberikan keuntungan pada masyarakat lua s di mana konflik tersebut terjadi. ia mengembangkan beberapa termino logi dari Max Weber. kepemilik an akan alat produksi (baik sosialis atau kapitalis) tidak menjamin adanya kontr ol atas alat produksi. Teori ini sa ngat berbeda dari teori Marx karena ia menganalisis konflik tanpa memperhitungka n politik ekonomi yang ada (apakah kapitalisme atau sosialisme).enda Mazhab Frankfurt menjadi upaya emanisipatoris atas rasionalisme pencerahan. Jadi. musik. namun masih memili ki motif yang sama yaitu upaya pembukaan tabir dan motif-motif kapitalisme di te ngah-tengah masyarakat. dan komunikasi di samping tentu saja berusaha melakukan berbagai usaha untuk menstrukturkan konflik itu s endiri. mulai dari proses terjadinya hingga intensitasnya dan kaitannya dengan k ekerasan.

semakin besar pula kenderungan agama menekankan ritus-ritus partisipasi massa dan ideal persaudaraan kelompok. kesenangan. antara lain: 1. partner s eksual. Individu dan kelompok yang ingin mendapatkan keuntungan dan berjuang untuk me ncapai revolusi. misalny a pendidikan dan media massa serta alat produksi emosional seperti tradisi dan r itualisme sosial. Collins mulai me mbagi apa yang MIKRO dan apa yang MAKRO. secara tak langsung dan tak mungkin dihindari adalah perubahan sosial yang besar seperti revolusi dan perubahan tata nan politik. yang berusaha menunj ukkan dinamika konflik interaksional. Dalam perkembangannya. Demikian seterusnya. teori konflik. . Ringkasnya. struktur sosial tidak mem punyai EKSISTENSI OBYEKTIF yang terpisah dari pola-pola interaksi yang selalu be rulang-ulang dalam sistem sosial. seolah tercapai per temuan antara teori struktur-fungsionalisme. struktur sosial memiliki EKSISTENSI SUBYEKTIF dalam pikiran individu yang menyusun masyarakat. dan militer. Di sisi lain. Yang menjadi dasar interaksi manusia bukanlah KONSENSUS seperi yang ditawarkan fungsionalisme. teori konflik Mills. Mikrososial berarti hubungan interaksi antar individu dalam masyarakat. Semakin besar kepercayaan akan senjata-senjata mahal yang dipe gang oleh suatu kelompok. dan sebagainya. Dalam hal ini. Collins sangat dipengaruhi tak hanya pendahulunya dalam teori konflik. 2. Menurut Collins. dan Coser berusaha disus un sintesisnya oleh sosiolog Amerika lain. Perubahan sosial terjadi sebagai hasil dari konflik antara keinginan (interes ) yang saling berkompetisi dan bukan sekadar adaptasi. semakin besar pula tentara mengambil bentuk hirarki ko mando. Perdebatan Mills dan fungsionalisme in i pada dasarnya menunjukkan bagaimana sosiologi telah berkarib dengan ideologi. namun jug a pemikiran teori kritis dan fungsionalisme dan teori pertukaran sosial. C. teori konflik berdasar pada asumsi dasar bahwa masyarakat atau organisasi berfungsi sedemikian di mana individu dan kelompoknya berjuang untuk memaksimumkan keuntungan yang diperolehnya. 3. kompetisi (atas kelangkaan sumber daya seperti makanan. Ketaksamaan dalam hal kuasa. Teori konflik ini secara umum berusaha memberikan kritiknya pada fu ngsionalisme yang meyakini bahwa masyarakat dan organisasi memainkan peran masing-masing sedemikia n seperti halnya organ-organ dalam tubuh makhluk hidup. sementara makrososial berarti hasil dari intera ksi antar individu dalam masyarakat tersebut. Salah satu contoh proposisinya yang kontroversial adalah b ahwa menurutnya di Amerika terjadi paradoks demokrasi: bentuk pemerintahannya ad alah demokrasi namun seluruh struktur organisasinya cenderung diubah ke bentuk o ligarkhi. Secara metodologi. perolehan yang ada dalam struktur sosial.ena ketidaksukaan pada sosiologi fungsionalisme yang berkembang saat itu. Mills lebih mirip dengan mazhab Frankfurt atas kritiknya pada media massa. Dalam sosiologi. dan interaksionisme symbol. semakin besar persamaan dalam kelompok disatukan secara ser emonial. Wri ght Mills. Perubahan sosial sering t erjadi secara cepat dan revolusioner daripada evolusioner. sosiolog Amerika 1960-an mengecam fungsionalisme melalui kritiknya te ntang elit kekuasaan di Amerika saat itu. Dahrendorf. Ketaksamaan struktural. hanya sedikit yang memiliki kekuasaan politik. Salah s atu contoh yang menarik adalah pendapatnya tentang alat produksi mental. Randall Collins. namun lebih kepada KOMPETISI. pemer intahan. Tuduhan yang paling besar adalah uraiannya tentang karya Parsons yang bermuatan ideologis dan menurutnya sebagian besar isinya kosong/hampa. ada sedikitnya empat hal yang penting dalam memahami teori konfilk s osial. 4.

apalagi digunakan untuk berpoya-poya. yaitu m engenai kaitan antara Etika Protestan dengan munculnya Kapitalisme di Eropa Bara t. tanpa segan-segan menolak dengan keras keseluruh an tesis Weber. Samuelso n. Dalam buku tersebut dikemukakan tesisnya yang sangat terkenal. di mana pertumbuhan kapitalisme modern pada masa itu telah menimbulkan kegu ncangan-keguncangan hebat di lapangan kehidupan sosial masyarakat Eropa Barat. yang disebutnya kaum borjuis i tu. dan Kontemprer? Mengenai perkembangan teori-teori sosiolog i dan antropologi dalam konteks perkembangan dunia keilmuan maupun dalam konteks penggunaan praktis! Max Weber adalah seorang sosiolog besar yang ahli kebudayaan. bahkan ia menulis beberapa buku. Hampir semua bukti membantahnya. para penganut agama ini menjadi semakin makmur karena keuntungan yang mereka perolehn ya dari hasil usaha tidak dikonsumsikan. Tesisnya dipertent angkan dengan teori Karl Marx tentang kapitalisme. tanpa harus di pusingkan dengan alasan dan peredaan.Jika seluruh teori dan pandangan Karl Marx dan Max Weber tersebut diterapkan dal am Asas pendidikan Nonformal maka akan memerikan keuntungan yang signifikan dima na setiap satuan pendidikan luar sekolah akan dimudahkan pandangannya secara soc ial budaya. Muncul dan berkembangnya Kapitalisme di Eropa Barat berlangsung secara bersamaan dengan perkembangan Sekte Calvinisme dalam agama Protestan. yang menurut beliau akibat perkembangan itu telah menimb ulkan dua kelas masyarakat. melainkan ditanamkan kembali dalam usah . tetapi ruginya akan terasa manakala program atau satuan pendidikan nonformal ini tidak dapat me njangkau dan meraih semua sasaran yang diharapkan karena perbedaan system yang b erlaku. di satu pihak dan orang-orang yang tidak memiliki modal/al at-alat produksi di pihak lain. Ia dikenal sebagai seorang ilmuwan yang sangat produktif. Makalah-mak alahnya dimuat di berbagai majalah. demikian pula dasar asumsinya dipersoalkan. hukum. Weber sebenarnya hidup tatkala Eropa Barat sedang menjurus ke arah pertumbuhan k apitalisme modern. Sejak Weber memperkenalkannya pada tahun 1905 tesis yang memperlihatkan kemungki nan adanya hubungan antara ajaran agama dengan perilaku ekonomi. melainkan untuk mengembangkan modal yang sudah mereka miliki. Situasi sedemikian ini barangkali yang mendorongnya untuk men cari sebab-sebab hubungan antar tingkah laku agama dan ekonomi. yaitu kelas yang terdiri dari sejumlah kecil orang-o rang yang memiliki modal dan yang dengan modal yang sedemikian itu lalu menguasa i alat-alat produksi. The Protest ant Ethic and the Spirit of Capitalism (1904) merupakan salah satu bukunya yang terkenal. kemudian ketepatan interpretasi sejarahnya juga digugat. Ajaran Calvinisme mewajibkan umatnya hidup sederhana dan melarang segala bentuk kemewahan. M arx dalam persoalan ini mengkhususkan perhatiannya terhadap sistem produksi dan perkembangan teknologi. sampai sekarang masih merangsang berbagai perdebatan dan penelitian empiris. Argumennya adalah a jaran Calvinisme mengharuskan umatnya untuk menjadikan dunia tempat yang makmur. terutama di masy arakat Eropa Barat yang mayoritas memeluk agama Protestan. ahli sejarah ekonomi Swedia. politik. Akibat ajaran Kalvinisme. Dimana dan bagaimana perbedaan antara teori-teori sosiologi dan antropologi dala m kurun waktu Klasik. Apa yang menjadi baha n perhatian Weber dalam hal ini sesungguhnya juga sudah menjadi perhatian Karl M arx. da n ekonomi. Hal itu hanya dapat dicapai dengan usaha dan kerja keras dari individu itu send iri. secara terus menerus berusaha untuk memperoleh untung yang lebih besar yang tidak di gunakan untuk konsumsi. Golongan pertama. Dikatakannya dari penelitian sejarah tak bisa ditemukan dukungan untuk teori Weber tentang kesejajaran doktrin Protestanisme dengan kapitalisme dan konsep tentang korelasi antara agama dan tingkah laku ekonomis.

serta kelompok-kelompok yang kesemuanya berfun gsi sebagai suatu kesatuan. Masyarakat. Kelas. Hal ini mencerminkan pandangan bahwa kedudukan seorang anggota keluarga dalam suatu kelas terkait de ngan kedudukan anggota keluarga lain. Sosiologi bertujuan untuk memahami (verstehen) mengapa tindakan sosial mem punyai arah dan akibat tertentu. yang mengawali studinya di Universitas Berlin pada tahun 1876. Suatu tindakan hanya dapat disebut tindakan sosial apabila tindakan tersebut dilakukan dengan m empertimbangkan perilaku orang lain dan berorientasi pada perilaku orang lain. Simmel merujuk kepada doktrin-doktrin atomisme log is yang dikemukakan oleh Fechner di mana masyarakat lebih merupakan sebuah inter aksi individu-individu dan bukan merupakan sebuah interaksi substansial. Bagi Simmel. lulus dok tor filsafat tahun 1881 dengan disertasi yang berjudul The Nature of Matter Acco rding to Kant s Physical Monadology. Kadang-kadang seorang anggota keluarga dap at memperoleh status yang sama atau bahkan melebihi status yang semula diduduki kepala keluarga. mem ahami mengapa tindakan sosial tersebut dilakukan serta dampak dari tindakan ters ebut. seperti misalnya endogami kelas. yang hendak memahami makna subjektif suatu tindakan sosial harus dapat membaya ngkan dirinya di tempat pelaku untuk dapat ikut menghayati pengalamannya. Pergaulan dan pernikahan. status kel uarga akan ikut naik. serta teori evolusi yang dikembangkan oleh Spencer. Ia tidak pernah menjadi dosen tetap di univer sitas di Jerman. Bila kita dapa t menunjukkan totalitas berbagai bentuk hubungan sosial dalam berbagai tingkatan dan keragaman. Dalam menge mbangkan konsep sosiologinya. dalam skala yang paling luas. Hanya dengan menempatkan diri di tempat seorang pekerja seks atau mucikari misalnya. Karena adanya keterkaitan status seorang anggota keluarga denga n status anggota yang lain maka bilamana status kepala keluarga naik. De mikian menurut Weber. Dalam kenyataan sering terli hat bahwa sistem kelas mempunyai ciri sistem tertutup. sedangkan tiap tindakan mempunyai makna subjekt if bagi pelakunya. Di Jerman. Simmel yang berupaya keras untuk memisahkan sosiologi dari psikologi mengang . Sebaliknya penurunan status kepala keluarga akan menurunka n pula status keluarganya.a mereka. misalnya lebih sering terjadi antara orang-ora ng yang kelasnya sama dari pada dengan orang dan kelas lebih rendah atau lebih t inggi Simmel dan Konsep Sosiologinya Simmel. tetapi mencakup pula keluarga mereka. maka ahli sosiologi yang hendak melakukan penafsiran bermakna . Tindakan. Suatu tindakan adalah perilaku manusia yang mempunyai makna subjektif bagi pelak unya. Weber mendefinisikan kelas sebagai sekelompok orang. Simmel berupaya menanamkan dasar-dasar sosiologin ya di mana ia berhadapan dengan konsep sosiologi yang positivistik yang dikemban gkan oleh Comte. justru dit emukan di dalam individu-individu yang melakukan interaksi. sosiolo gi haruslah diarahkan untuk merujuk kepada konsep utamanya yang mencakup bentukbentuk sosiasi dari yang paling umum sampai yang paling spesifik. Dengan demikian. dengan berbagai konsep d an individu-individu di dalamnya. s eorang ahli sosiologi dapat memahami makna subjektif tindakan sosial mereka. Pandangan lain menyatakan b ahwa kelas tidak hanya menyangkut orang-orang tertentu yang terlibat langsung da lam kegiatan ekonomi. maka kita akan memiliki pengetahuan yang lengkap mengenai masyara kat . namun berbagai tulisannya yang brilian sangat mempengaruhi perk embangan sosiologi. sosiologi memfokuskan pada atom-atom empirik. kapitalisme di Eropa Barat berkembang. Melalui cara seperti itulah. Tida k semua tindakan manusia dapat dianggap sebagai tindakan sosial. Secara ideal sistem kelas merupakan suatu sistem stratifikasi terbuka karena sta tus di dalamnya dapat diraih melalui usaha pribadi. dan Status Sosial Sosiologi menurut Weber adalah suatu ilmu yang mempelajari tindakan sosial.

para penulis sejarah teo ri berupaya lebih menampilkan pemikiran teori ketimbang sosok tokoh. memfokuskan pada kurun waktu masa lalu dan m asa yang akan datang. Koentjaraningrat (1990). atau pemikiran Marx yang anti evolusionisme begitu kentara da lam buku Layton (1997) sendiri. Pertama. logika bahwasanya sejarah selalu melekat pada tokoh. tulisan Layton (1997) ini dapat dimasukkan ke dalam . Kebanyakan karya yang membicarakan sejarah teori antropologi terjebak dalam dua hal. Interaksi sebagai Konsep Dasar Sosiologi Simmel Teori yang dikemukakan Simmel mengenai realitas sosial terlihat dari konsepnya y ang menggambarkan adanya empat tingkatan yang sangat mendasar. dan selalu merujuk kepada konse p dualisme yang menggambarkan konflik dan kontradiksi. Simmel mewujudkan komitmen atas konsep-konsepnya melalui cara (berpikir) dialektis. di mana variabel-variabel psikologis dikombinasikan dengan bentuk-bentuk intera ksi. pemikiran yang diwarnai materialisme kebudayaan kental da lam Harris (1976). Konsepnya yang dianggap bersifat mikro adalah yang menyangkut bentuk-bentuk (forms) di mana interaksi yang terjadi di dalamnya melibatkan berbagai tipe (ty pes) dan ini menyangkut individu yang terlibat di dalam interaksi itu. Simmel melakukan pendekatan dialektik seperti yan g terdapat di dalam ajarannya Marx. Sebagai contoh. tulisan-tulisan dengan ciri intrinsik semacam itu antara lain adalah Honigmann (1976). tidak secara otomatis menjadi data psikologis manakala suatu realitas dari studi ilmiah ilmu-ilmu sosial dianggap s ebagai konsep yang berbeda. yaitu suatu esensi dari k onsep sosio-kultural. sosiologi harus membatasi diri dari hal-hal yang bermakna psikologis . Pertama. Di sini. Elemen ke dua adalah sosiologinya yang bersifat umum dan terkait dengan produk-produk sosi o-kultural dari sejarah manusia. tidak saj a dengan berbagai interaksi sosial tetapi juga dengan berbagai pernyataan psikol ogis. Sedangkan elemen ketiga adalah konsepnya mengenai sosiologi filsafat yang terkai t dengan pandangan-pandangannya menyangkut konsepsi dasariah (hukum) alam serta takdir manusia. Maka. Ketiga. substansi). Kedua. Garbarino (1980 ). Sosiologi harus jauh melampui pemikiran-pemikiran yang bermakna psikologis den gan melakukan abstraksi-abstraksinya sendiri. de ngan selalu mengkaji berbagai hubungan yang ada. Dengan pendekata n ini. Elemen pertama adalah apa yang dijelaskannya sebagai sosiologi murni (pure sociology). sebagai contoh. Untuk mengatasi masalah-masalah interrelasi di antara tiga tingk atan dari realitas sosial itu. asumsi-a sumsinya yang merujuk kepada konsep-konsep yang sifatnya makro dan menyangkut ko mponen-komponen psikologis dari kehidupan sosial. Narasi riwayat pemikiran teori lebi h menonjol daripada pemikiran teori itu sendiri. Bohannan dan Glazer (1976). dan untuk Indonesia. struktur-struktur yang spesifik di dalam ke hidupan sosio-kultural yang sangat kompleks harus dihubungkan kembali. menolak ide-ide yang memisahk an antara berbagai fenomena sosial. mengu ngkap masalah-masalah yang menyangkut berbagai elemen sosiologis terkait dengan hubungan yang bersifat inter-personal. Keempat. Menurut Simmel. namun tak m ampu mengendalikan diri untuk tidak berpihak pada suatu arus pemikiran tertentu. yaitu penyatuan dari ketiga unsur di atas yang me libatkan prinsip-prinsip kehidupan metafisis individu maupun kelompok. adalah konsep-konsepnya mengenai berbagai struktur dan perubahan-perubahan yang terjadi dan terkait dengan apa ya ng dinamakannya sebagai spirit (jiwa.gap bahwa perlakuan ilmiah atas data psikis. sehingga toko h-tokoh ini secara disadari atau tidak menjadi sosok yang lebih menonjol daripad a unsur-unsur pemikiran teoritisnya sendiri. dalam skala luas. Kedua. meskipun tujuannya berbeda. Simmel berupaya menyatukan fakta dan nilai. serta sangat memperhatikan konflik dan kontradiksi. ruh. ada tiga elemen yang masing-masing menempati wilayahnya sendiri di dalam sosiologi yang terkait dengan tingkatan-tingkatan realitas sosial. Seperti dikemukakan di atas. Jadi.

dan pada saat yang sama menyingkirkan konsep evolusi sos ial dan struktur sosial yang statis. Dalam hal ini Layton nampaknya cukup kuat d . hal. Layton memberi judul bukunya An Introduc tion to Theory in Anthropology. antara lain: [ Hobbes ya ng pernah menjadi penasehat calon Raja Charles II. Geertz 1988.kecenderungan yang kedua. Layton menempatkan setiap teori dalam konteksnya bahw a teori selalu terikat dengan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat yang bers angkutan. Rosaldo 1986). Selain itu. 209). mengalami sendiri kekacauan a kibat Perang Sipil Inggris dan mempertanyakan apa sebenarnya yang mengikat suatu masyarakat sehingga tetap bersatu. sehingga tema i ni kurang memperoleh perhatian sebagaimana seharusnya. Dalam buku ini. Hobbes mengemukakan kondisi yang berlawanan terhadap kehidupan sosi al sebagai suatu ketidakteraturan yang bersifat random. Hal yan g sama juga dilakukannya ketika membahas Herbert Spencer (evolusionisme) yang di pertentangkan dengan Karl Marx (revolusionisme) yang dipandangnya sebagai dua to koh yang memiliki lingkungan personal berbeda dalam melihat gejala social Meski Layton berusaha bersikap netral dalam memandang teori. ulasan sejarah teori dari Layton termasuk langka karen a kemauan dan kesungguhannya untuk menempatkan setiap teori dan tokoh yang memba ngun dan mengembangkannya dalam konteks individual tokoh yang bersangkutan. dua tokoh yang membangun aliran pemiki ran tersebut Tak demikian halnya perlakuan Layton terhadap pemikiran Marx. Ia berpendapat bah wa pemikiran Marx menjadi penting dan berpengaruh dalam antropologi tatkala para antropolog bergeser dari kajian struktur sosial Durkheim dan Radcliffe-Brown ke proses sosial. bukankah pemikir an teoritis evolusionisme ini pernah dominan dalam sejarah antropologi. meski nama-nama tetap melekat pada pemikiran (dan memang seharusnya demikian). Agar terhindar dari penonjolan sosok tokoh. Apalagi arus pemikiran struktural-fungsionalisme. Derrida 1978. Marcus dan Fischer 1986. yakni suatu persoalan yang ramai dibicarakan para ahli antropologi secara intern dalam konteks yang dinamai arus postmodernisme itu (misalnya. Kondisi semacam itu barangkali adalah perang antara setiap orang (every man war) . Bourdieu 1977. ia juga sangat concern dengan perkembangan pe nuh perdebatan dan kendala metodologis yang muncul dalam dekade terakhir mengena i kebudayaan. dan (tentu saja) Marx. khususny a pada abad lalu? Sebagai sebuah buku pengantar teori antropologi. Mengenai kegandrungannya menempatkan setiap teori dalam konteks jelas tergambar dalam contoh ketika membicarakan pemikiran Thomas Hobbes. suatu sikap yang ternyata tidak secara kons isten ia jalankan. Konsekuensi logis dari proses sosial adalah menempatkan kekuasaa n sebagai konsep kunci. Padahal. 156. Cli fford dan Marcus 1986. Tak jelas apaka h apresiasi itu diwariskan oleh tradisi British Anthropologist. ada upaya maksimum untuk menempatkan analisis pada posisi yang lebih penting. Tyler 1986. ia justr u beberapa kali menyebutkan pentingnya bersikap netral dalam menanggapi teori (lih at misalnya. Barangkali secara tidak disadari. meski ada upaya yang keras dari penulis ini untuk tida k terlibat dalam bias perspektif itu. Bertentangan dengan komunalisme primitif dar i Levellers. 4-5]. 46. Layton tak selalu konsisten. tak urung sekurangkur angnya secara implisit ia sangat mengapresiasi antropologi sosial. Untuk itu. ketimbang Sejarah Teori Antropologi sebagaimanakit a temukan dalam buku-buku lain. Foucau lt 1978. 18. Layton semest inya memberikan porsi perhatian yang cukup besar pada persoalan teoritis evolusi onisme itu. atau pengaruh Ma rx yang demikian kuat. Seperti dikemukakan di atas. Layton menulis satu bab khusus (Bab 7) mengenai Postmodernisme dan antropologi d engan sikap metodologis yang banyak dipengaruhi Derrida (1978). hal. di pihak lain ia nampak kur ang setuju dengan alur pemikiran evolusionisme dan difusionisme. di mana orang berusaha m enyelamatkan diri sendiri dengan cara mengontrol orang lain. Karena apabila di satu pihak ia berupaya netral dalam menganalisis setiap teori. banyak berhutang bud i pada pemikiranpemikiran evolusionisme Herbert Spencer dan Darwin. sebagai suatu pemi kiran teoritis besar dalam antropologi hingga tahun 1960an. Namun. Crapanzano 1986. Akan tetapi.

baik dalam konteks strukturalfungsio nalisme. tetapi ada kecenderungan lebih banyak ke Amerika Seri kat daripada ke Eropa. tetapi buku-buku lai n seperti mengenai Pembagian Kerja (1966) dan Bunuh Diri sudah jelas dikarang dalam konteks makro sosiologi. Sorokin. G. analisis struktural. Prof. etnografi. Hasyah Bachtiar (hanya sebentar di Universitas Amsterdam sebelum ke Harvad) dan lain-lain. divergensi. Bohannan 1988. dan konvergensinya. Karena itu. Selain itu. teta pi lebih banyak lagi yang belajar di Amerika dan menghasilkan thesis Ph. Kelebihan inilah yang membuat buku ini menjadi pent ing bagi para pengkaji antropologi. Ma rx. Simmel. Metode pembahasan seperti ini masih langka dalam uraian-uraian mengenai sejarah teori antropologi terdahulu. Lett 1994). dan Sosioekologi adalah pengulangan-pengulangan linear yang lazim k ita temukan dalam kebanyakan buku sejarah teori antropologi lainnya (lihatlah mi salnya.l. apresiasi terhadap Marx juga analog dengan orientasi kuat pa da dinamika hubungan-hubungan sosial. baik dalam bentuk kelompok maupun jaringan sosial yang secara metodologis dapat diterjemahkan sebagai konkretisasi poststr ukturalis. polemik dan etik dalam kajian antropologi. Tersirat. ia mereduksi kedu a arus pemikiran teori yang penting ini dalam pembahasan mengenai Strukturalisme (Bab 3) tanpa argumentasi metodologi yang seharusnya ada. yang tak lain adalah implikasi Marx). Antropo logi Marxis. diferensiasi. Strukturalisme. . T. nama-nama seperti P. Shanin dan banyak lagi kurang mengisi bahan kuliah para dosen. Znaniecki. Durkheim tentang agama. representativitas kebudayaan. Dalam uraian me ngenai Fungsionalisme. Antara lain Soedjito Djojohardjo dikirim ke Inggris. Sebuah tambahan yang berarti adalah semakin pent ingnya kedudukan cara pandang yang relatif baru dalam antropologi mengenai hubun gan-hubungan sosial.D. Pengaruh sosiologi Eropa memang juga menggali dan dari pemikir-pemikir falsafah a. maupun poststrukturalisme. Layton menyebut bukun ya sebuah pengantar teori antropologi agar terhindar dari konsekuensi narasi ber dasarkan urutan kesejarahan. Teori Interaksionis. Seperti halnya evolusionisme. Pendekatan yang agak ethno-Antrop ologis tercermin juga dalam buku E. Di berbagai tempat kita menemukan upaya yang kuat untuk menjelaskan etiologi dan epistemologi teori. Demikian keperluan pemerintah jajahan di Hindia Belanda men dorong ilmuwan menelusuri adat kebiasaan suku-suku bangsa di Nusantara. jelaslah keberpihakan Layton pada pemikiran yang berorientasi pada p erubahan sosial (khususnya. Bapak Sosiologi August Comte (1798-1857). perubahan yang cepat. Weber. suatu ciri yang oleh Layton sendiri disebut paradigma baru antropolog i sosial. Sejak pertengahan 1950-an Indonesia mulai mengirimkan mahasiswa untuk berbagai i lmu sosial keluar negeri. Memang penyebaran theori-theori klasik Sosiologi di Ind onesia tidak terlalu luas. model versus deskripsi. seper ti Prof. Mely Tan APU. Perlu dipahami bahwa pengembangan dan perkembangan theori yang digubah pakar Sos iologi tidak terlepas dari kejadian-kejadian besar dalam masyarakat dan pengaruh -pengaruhnya kepada pemikir / ilmuwan yang kemudian menerima sejumlah assumsi ya ng mendasari theori. Selo Soemardjan. Pengerti an yang diperoleh mengarahkan kebijaksanaan sedemikian rupa sehingga mereka yang dijajah tidak menimbulkan penolakan atau pembangkangan yang terlalu kuat. teori-teori simbolisme dan kognisi juga hilang dal am pembahasan Layton dengan alasan yang tidak jelas.ipengaruhi oleh trend antropologi masa kini yang mempertanyakan dan mengevaluasi kembali beberapa persoalan mendasar dalam teori dan metodologi. yakni jaringan sosial. Barrett 1986. Von Wiese. Pembahasan mengenai Fungsionalisme. seperti misalny a. M. Applebaum 1987. pembentukan. pembahasan dengan contoh-contoh kekerabatan dan organisas i sosial sebagaimana lazim ditemukan dalam buku sejarah teori antropologi lain m asih ditemukan secara menonjol. dan sebaliknya lebih mementingkan pemikiran teori.

dibawah pengaruh tumbuhnya kaum borjuis di Eropa dan awal industrialisasi yang menimbulkan / menyuburkan budaya utilitarianisme sosiologi se akan-akan hanya mempelajari gejala-gejala yang tersisa (unfinished business) dal am perjalanan revolusi industri. Parsons juga mencoba mencari penyelesaian lebih prgamatis dalam zamannya yang pe mikirannya membuahkan theori Social System . tetapi juga bisa lebih mikro mencakup kelompokkelompok masyarakat yang relatif lebih kecil dari satu bangsa. Theori juga mengandung sifat universalitas. Gouldner (1973:92) mendeskripsikannya dalam kalimat Sociology made the residual. Karl Marx dan beberapa theory Max Weber dapat digolongkan k e Grand Theory. sociology is indeed. REORIENTASI SOSIOLOGI INDONESIA Baik lahirnya nation state Indonesia di pertengahan abad ke-20 dan pembangunan nas . atau kumpulan ban gsa-bangsa. Baru sekitar pertengahan abad ke-19 sosiologi. Karl Mannheim d an lain-lain yang tidak mengesampingkan dimensi falsafah dan sejarah. Akibat pengaruh Amerika Serikat sebagai negara adidaya setelah 1950 yang terus m eluas setelah perang dunia kedua. Karena keadaan masyarakat yang berubah-ubah. karena nation state belum manta p sudah timbul Globalisasi yang pasti merubah pengelompokan dan perilaku-perilak u sosial yang lebih universal. yang waktu tahun 1930-an menarik bany ak penganut pakar Sosiolog di luar AS. tetapi dengan mengorbank an faktor dinamika (perubahan sosial makro yang ciri Sosiologi Eropa) dengan mengu nggulkan Struktur dan Fungsi . sedangkan theori Parson relatif mikro karena melepaskan diri dar i kerangka sejarah dan memfokuskan analisnya pada sistem sosial dan struktur. Bahkan sedemikian rupa sehingga menggusur theori-theori sosiologi dalam tradisi Eropa. Element its sphere . Only) among the various social sciences. pema haman. but only as it is a social whole . (Gouldner. Social. Theori August Comte. concerned with so cial systems or society as a whole . seperti Max Weber. walaupun sering dibedakan atara Grand Theory da n theori yang cakupannya tidak seluas itu. Sociology thus remains concerned with society as a whole as some kind of totality. Jadi boleh dikatakan sosiologi Meso timbul dengan theori Parsons. From this analytic standpoint. Seorang ahli Sosiologi Alwin Gouldner (1971) yang bersifat kritis dan menulis bu ku berjudul The Coming Crisis of Western Sociology mengungkapkan bahwa Talcott Par sons menghasilkan Academic Sosiology dimasa Amerika Serikat mengalami krisis ekono mi yang dahsyat (1930). theori Sosiologi dinegara berkembang pun terpe ngaruhi. A. 1848) mulai difahami sebagai bidang-bidang ilmu yang saling terjalin. bahkan aliran tersebut kemudian mempengaruhi di luar A. Society has been parceled out analytically (Tj.S .Dalam masa 1800-1825. 19 73:94) Theori dalam ilmu sosial pun mencari keteraturan perilaku manusia serta pemahama n dan sikap yang mendasarinya. sikap dan perilaku warga / pelaku social pun dapat berubah. Sekarang di Indonesia mulai terasa adanya dilemma. artinya dapat berlaku di lain masyarakat yang mana saja. karena menekuni masalah yang tidak melampaui batas nation state . ekonomi dan politik (Marx. but it now regards itself as responsible only for one dimension of this totality . Negara-n egara baru dengan kesadaran nasional yang tinggi ingin mengatur struktur kelemba gaan dalam masyarakat masing-masing. Memang peruba haan sosial bisa bersifat makro. Jadi ranah sosiol ogi seakan-akan dipisah dari perkembangan ekonomi dan teknologi. le bih khusus dalam masyarakat Amerika Serikat. Ini sebanya theori tesebut juga mempen garuhi pengajaran dan pemahaman sosiologi.

berhenti tetapi itu (1 965) dan kemudian andalannya adalah menumbuhkan klas menengah. yang pada hemat pe nulis lebih merupakan warisan dari tradisi Sosiologi Eropa. Sorokin (1928) Contempora ry Sociological Theories sudah diperluas dengan theori-theori yang sudah lebih me ngintegrasikan beberapa cabang ilmu-ilmu sosial. Mengingat hal-hal tersebut diatas. Parsons timbul mazhab-mazhab Sosiologi muda yang l ebih memahami pentingnya gejala perubahan dan konflik sosial. k arena memang gejalanya sudah ada sejak zaman penjajahan sekalipun. sekarang sudah lebih bisa diterima. dan ane ka elite menjadi faktor yang penting dalam usaha mecapai konsensus nasional baru . sehingga di Amerika misalnya meni mbulkan gerakan New Left menentang Establishment atau di Eropa (Jerman) Tentara Mer ah dengan tokoh muda Beader Meinhof.D di Indonesia dapat diketegorik an dalam pemberontakan generasi muda seperti itu. Struktur feodal memang berlapis-lapis dan eksploatasi jelas sudah ada. Tantangan bukan h anya ada di dalam negeri. Mazhab-mazhab agama menjadi salah s atu ilustrasi jelas. Gejala-gejala yang sebelumnya latent. tetapi juga denga n negara-negara sebenua. bukan saja yang geografis menjadi tetangga kita. Pemberontakan menentang tradisi dan pemikiran generasi arrive yang kolot oleh gene rasi muda selalu akan timbul dalam masyarakat manusia sebagai terjadi tahun 1945 . Perubahan struktur sosial yang sebenarnya di I ndonesia akan dimulai tahun 1960 dengan mengatur agraria. Satuan pelaku sosial bukan saja lagi nation state tetapi komunitas negara atau ban gsa yang sudah melintasi batas nation-state.ional yang digalakkan selama periode pemerintahan Orde Baru merangsang tumbuhnya theori struktur dan fungsi Parsons. Dalam arti yang lebih murni memang paradigma yang umum dianut sarjana Sosiologi di Indonesia perlu di rubah. Dialektika dalam masyarakat yang mengandung potensi konflik . Kalau di Zaman Orde Baru sukar untuk menganalisa secara terbuka gejala st ratifikasi sosial dan konflik antara Klas. Ini dibenarkan oleh a. tetapi sekaligus juga dalam hubungan kita dengan negar a dan bangsa. antara sentralisme politik dan arus kebebasan generasi muda yang tertekan. tetapi juga pendukung pelestarian alam dan lingkungan. yang sudah jenuh dengan elite Orde Baru di Jepang pun ada gerakan-gerakan serupa. Marx. sebentar di tahun 1965 dan dewasa ini sejak tahun 1998. (1961 Analisa-analisa pakar-pakar tersebut diatas menunjukkan pentingnya dinamika sosi al dalam masyarakat modern yang lebih memperkaya imajinasi sosiologi kita. Riesman dkk. Jadi di Amerika Serikat setelah T. Bukan saja pragmatik (non-dinamika) yang di pentingkan karena tujuannya adalah pertumbuhan ekonomi. Pr esthus (1962) dan D. bahkan di benua lain. serta perjuangan untuk Hak Azasi Manusia dan Gender dapat segera difahami sebagai komunit as besar yang menjadi ciri pengelompokan Global. meletus waktu krisis 19 97 dan Reformasi 1998 sampai menggoncangkan sendi-sendi masyarakat.R. Sering dikatakan bahwa klas menengah merupakan prasyarat untuk pertumbuhan demokrasi maupun ekono mi. Pertautan antara aspek-aspek psikologi misalnya dapat ditemukan dalam buku R. Jadi perl u reorientasi sosiologi untuk banyak ilmuwan Sosiologi dan cedekiawan yang mempe rhatikan perkembangan kebudayaan karena keadaan sudah berubah. Mungkin P. sekarang menjadi perhatian Rakyat. . tetapi juga kurang mengu las perubahan sosial dan konflik. Sosiologi tidak dapat lagi bert ahan dengan membatasi diri dengan mempelajari residual social elements seperti pe rnah digagas oleh cendekiawan Prancis Saint Simon di awal abad ke-19. terasa bahwa buku P. Gouldner yang menulis dan menyimpulkan bahwa Academic Soci ology semakin terjalin dengan analisa K.

melainkan merupakan bagian dari masyarakat. proses dif erensiasi di dunia ketiga sendiri. Fungsi media massa sebenarnya bukan merekonstruksikan realitas sosial . sehingga negara berkembang terpaksa mengadopsi budaya Barat. tidak. Halloran. fungsi media massa adalah memungkinkan pengamatan diri masy arakat (Marcinkowski 1993). Lalu dia be rtanya. Proses globalisasi itu memang jauh lebi h kompleks. Tidak ada gunanya kalau kita terus bertanya. tetapi sosio logi yang mengulur tangan kepada cabang-cabang ilmu Sosial lain dan Humaniora un tuk menganalisa dan memecahkan masalah kemasyarakatan secara terpadu Penggunaan Media dalam Penerapan Teori Sosiologi R. Dengan demikian. Dalam bahasa teori sistem sosial yang terus menerus dik embangkan di Jerman. Dengan kata lain. dilihat tidak hanya dari perspektif model demokrasi Barat. Gramsci menyimpulkan bahwa budaya Barat sangat dominan terhadap budaya di negara -negara berkembang. justru menentang kesimpulan-kesimpulan utama teori hegemoni dan dependensi (Rullmann 1 996). berpendapat bahwa riset terhadap perkembangan di Dunia Ketiga cenderung ju stru mempertajam ketergantungan negara-negara berkembang pada Barat. referensi historis yang men garah kepada masa penjajahan dan hegemoni ekonomi global sebagai sebab kemacetan perkembangan di sebagian Dunia Ketiga harus dilihat sebagai hal yang sangat pro blematis. Media di Indonesia maupun di negara lain sama parahnya dengan keadaan masyarakat. bukan mencerminkan (dalam arti meng. salah seorang penasehat komisi MacBride 20 tahun yang lalu. media massa merupakan c ermin kebaikan dan keburukan masyarakat. kenapa pemberitaan di media massa b egitu parah? Menurut Niklas Luhmann. sampai sekarang tetap tidak mampu berkembang. bukan ekon omi lagi yang akan bertahan sebagai The Queen of The Social Sciences . dependensi dan hegemoni. Ketiga . teori-teori tersebut memanfaatkan sebuah perspektif global dan den gan demikian tidak menyadari adanya ketidakseimbangan sosial. Model-model pembangunan tersebut gagal karena empat faktor: pertama . sosiolog Jerman. seharusnya kita bertanya. Kristiawan bahwa m edia massa tidak merupakan alat penguasa untuk menciptakan reproduksi ketaatan ( K UNCI 8. Bahkan James D. terutama kesuksesan ekonomi beberapa negara b erkembang dengan menggunakan strategi yang berorientasi pada pasar dunia.co py ) keadaan masyarakat. Kristiawan sangat benar ketika mengkritik konsep hegemoni yang dikembangkan o leh Antonio Gramsci. sebagaimana ditulis oleh Ana Nadhya Abrar. Kedua . karena wacana Gramsci ternyata tidak membantu untuk mengert i interdependensi (bukan dependensi!) kultural antara dunia Barat dan dunia Timu r maupun antara dunia Utara dan Selatan. Saya pikir. tanggung jawab atas se gala kegagalan di Dunia Ketiga bisa dilempar ke negara-negara maju. Persetujuan yang benar-benar tulus dengan apa yang ditulis R.Inilah sebabnya mengapa perlu ada reorientasi Sosiologi di Indonesia. . 1998). struktur patrimoni al dan eksploitasi di negara-negara berkembang sendiri (Servaes. Keempat . teori hegemoni dan dependensi ternyata gagal dalam mengusulkan solusi-solusi ya ng bermanfaat dalam konteks global (ibid). pakar jurnalistik di Universitas Gadjah Mada (Abrar 1997). 1995). konsep Gramsci memang sangat dekat dengan dasar pemikiran teori dependensi (Cardoso). Dalam konteks pembangunanisme. Perlu kita ingat bahwa Afghanistan misalnya. Apa gunanya? Persepsi tentang Antonio Gramsci oleh pakar sosiologi di dunia ketiga yang sanga t positif itu barangkali terjadi karena mereka sering dengan mudah dan tidak kri tis mengadopsi model dan teori sosiologi Barat yang sudah ketinggalan jaman sepe rti modernisme. termasuk imperialisme struktural (Johan Ga ltung) dan imperialisme kultural (Herbert Schiller). apakah imperialisme kultural dan imperialisme media diikuti imperialisme penelitian? (Halloran. yang tidak pernah dijajah oleh negara Barat. Media massa sebenarnya tidak berdiri sendiri. 2000).

Kita perlu melihat media massa sebagai bagian dari masyarakat kita. pertanyaan tersebut tetap tidak terjawab. Douglas Kellner misalnya menuntut pendekatan metateoretis dan multiperspektifis dalam me nganalisis proses penyampaian pesan media (Kellner 1999). kenyataan Anda berbeda dengan kenyataan saya walaupun kita mengamati realitas murni. khalayak juga akt if dalam proses tersebut. Jangan kita bertanya seberapa parah pemberitaan di media massa kita masa kini. maka tidak sepenuhnya kita harus setuju dengan pengertian Nur aini Juliastuti terhadap media massa dalam kajiannya terhadap majalah remaja HAI . . yaitu adanya arus informasi yang bersifat satu arah dan adanya dampak media massa yang cukup berarti terhadap pu blik. Akhirnya. melainkan paling tidak memilih pesan yang layak diterima. Melainkan bertanya. apa yang kita alami sebagai realitas itu h anya merupakan hasil konstruksi atau kognisi kita sendiri yang berdasarkan penga matan atas realitas. Artinya. bila kita memanfaatkan pendekatan ontologis dan nor matif dalam analisis media. 1996) Dalam konteks ini. Bila kita mau menyalahkan media massa atas perkembangan masyarakat yang tidak me muaskan itu. 2000) ia hendak menjaw ab pertanyaan bagaimana sistem operasi dari konstruksi budaya dan konstruksi sosi al itu bekerja membentuk dominasi ideologi maskulinitas lewat media massa . kita sebagai peneliti tetap dapat meneliti dan terus mengkrit ik media massa. Akan tetapi. Sebagian besar pakar cultural studies selama ini masih melihat konsumsi media ma ssa sebagai proses penciptaan budaya yang berkaitan dengan kuasa (Ang 1999) dan mengandung bahaya hegemoni Barat (Hepp 1999). pertanyaan Nuraini Juliastuti tampaknya mengan dung dua premis pernyataan yang belum terbukti. Publik tidak tinggal diam dan menerima pesan-pesan med ia massa begitu saja. Walaupun demikian. dan kita sebagai individu dapat mengamatinya dengan hasil yang sama. suatu perubahan dalam pengertian cultural studies terhadap media massa sudah terlihat. Tentunya. maka posisi ilmu komunikasi atau sosiologi pada umum nya akan berada dalam posisi yang lemah. bagaimana sistem i tu sebenarnya beroperasi? Kedua . media juga sangat tergantung pada nilai-nilai kultural masyarakat pa da umumnya.seberapa parah kondisi masyarakat kita sampai kita membutuhkan cermin media sepe rti itu? (Luhmann. faktor-faktor apa yang memungkin kan penampakan media yang kurang memuaskan. Sebaliknya. Proses penyampaian pesan dalam ilmu komunikasi kini dip andang sebagai proses yang dinamis dan transaksional. Dengan demikian muncul pertanyaan. seharusnya kita membuktikan bahwa ada kenyataan murni yang bersifat universal ( the truth out there ). Pertama . Walaupun demikian. Dalam tulisannya Majalah HAI dan Boyish Culture ( KUNCI 8. Seorang wartawan mengamati realitas dengan maksud membuat berita yang re levan dan informatif buat pembacanya. Akan tetapi. Demikian juga pakar-pakar sosiologi yang memanfaatkan potensi teori sistem sosia l pasca-Talcott Parsons. Kesimpulan kita berbeda karena cara pengamatan y ang dipakai tidak sama (Luhmann 1990). apakah layak bila kita sebagai ilmuwan menunt ut media massa untuk mengkonstruksi realitas dengan cara pengamatan kita? Tentu tidak! Seorang peneliti mengamati realitas sosial dengan maksud mendapatkan kebe naran.