P. 1
konsep diri lengkap2

konsep diri lengkap2

|Views: 3,444|Likes:

More info:

Published by: Nawa Johan Sii Arankaru on Jul 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/14/2013

pdf

text

original

Sections

  • 2.1 PENGERTIAN
  • 2.2 RENTANG RESPON KONSEP DIRI
  • 2.3 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSEP DIRI
  • 2.5 PEMBAGIAN KONSEP DIRI
  • 2.6 KEPRIBADIAN YANG SEHAT
  • 2.7 GANGGUAN KONSEP DIRI
  • 2.8 FAKTOR RESIKO PENYIMPANGAN KONSEP DIRI
  • 2.9 ASUHAN KEPERAWATAN
  • Keperawatan Data Subyektif Data Obyektif
  • A.Diagnosa Keperawatan
  • B.Rencana Tindakan Keperawatan
  • A.Identitas
  • B.Alasan Masuk
  • C.Faktor Predisposisi
  • D.Pemeriksaan Fisik
  • E.Psikososial
  • F.Status Mental
  • G.Kebutuhan Persiapan Pulang
  • H. Mekanisme Koping
  • I. Masalah Psikososial dan Lingkungan
  • J. Pengetahuan
  • K. Aspek Medik
  • L. ANALISA DATA No Data Fokus Masalah Keperawatan
  • M. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN
  • N. POHON MASALAH
  • O. DIAGNOSA KEPERAWATAN
  • P. RENCANA KEPERAWATAN
  • Q. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
  • Lampiran:
  • Jadwal Kegiatan di RSJD ruang IV
  • Jam Kegiatan
  • STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN ( SP I )
  • 1. Proses Keperawatan
  • STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN ( SP II)
  • STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN ( SP III)
  • STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN ( SP IV)
  • A.Kesimpulan
  • B.Saran

BAB I PENDAULUAN

A. Latar Belakang Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan di zaman global seperti sekarang ini berakibat makin kompleks kebutuhan masyarakat. Industrialisasi dan urbanisasi makin lekat pada masyarakat. Ini berakibat makin banyaknya masalah pada kehidupan tidak terkecuali problem sosial. Kurangnya adaptasi untuk mengikuti trend itu menjadi masalah baru dalam kehidupan masyarakat. Ketidakmampuan dalam beradaptasi tersebut berdampak pada kebingungan, kecemasan dan frustasi pada sebagian masyarakat, konflik batin dan gangguan emosional menjadi ladang subur bagi tumbuhnya penyakit mental. Di dalam hidup di masyarakat manusia harus dapat mengembangkan dan melaksanakan hubungan yang harmonis baik dengan individu lain maupun lingkungan sosialnya. Tapi dalam kenyataannya individu sering mengalami hambatan bahkan kegagalan yang menyebabkan individu tersebut sulit mempertahankan kestabilan dan identitas diri, sehingga konsep diri menjadi negatif. Jika individu sering mengalami kegagalan maka gangguan jiwa yang sering muncul adalah gangguan konsep diri misal harga diri rendah. Faktor psikososial merupakan faktor utama yang berpengaruh dalam kehidupan seseorang (anak, remaja, dan dewasa). Yang mana akan menyebabkan perubahan dalam kehidupan sehingga memaksakan untuk mengikuti dan mengadakan adaptasi untuk menanggulangi stressor yang timbul. Ketidakmampuan menanggulangi stressor itulah yang akan memunculkan gangguan kejiwaan. Salah satu gangguan jiwa yang ditemukan adalah gangguan konsep harga diri rendah, yang mana harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan (Keliat, 1999). Perawat akan mengetahui jika perilaku seperti ini tidak segera ditanggulangi, sudah tentu berdampak pada gangguan jiwa yang lebih berat. Beberapa tanda-tanda

1

harga diri rendah adalah rasa bersalah terhadap diri sendiri, merendahkan martabat sendiri, merasa tidak mampu, gangguan hubungan sosial seperti menarik diri, percaya diri kurang, kadang sampai mencederai diri (Townsend, 1998). B. Rumusan Masalah 1. Apa yang di maksud dengan pengertian konsep diri ? 2. Apa saja yang termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri ? 3. Apa saja pembagian konsep diri ? 4. Bagaimana kepribadian yang sehat ? 5. Apa saja gangguan konsep diri ? 6. Apa saja faktor resiko penyimpangan konsep diri ? 7. Apa saja masalah dan data yang perlu di kaji ?

C. Tujuan 1. Tujuan Umum Mahasiswa mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan dengan diagnosa gangguan diri. 2. Tujuan Khusus a. Mahasiswa mampu mengetahui tentang pengertian konsep diri. b. Mahasiswa mampu mengkaji pasien dengan konsep diri. c. Mahasiswa mampu menganalisa pasien dengan ganngguan jiwa. d. Mahasiswa mampu mendirikan diagnosa keperawatan. e. Mahasiswa mampu mengintervensikan asuhan keperawatan. f. Mahasiswa mampu mengevaluasi asuhan keperawatan.

2

BAB II KONSEP DASAR
2.1 PENGERTIAN Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain (Stuart dan Sudeen, 1998). Hal ini temasuk persepsi individu akan sifat dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan objek, tujuan serta keinginannya. Sedangkan menurut Beck, Willian dan Rawlin (1986) menyatakan bahwa konsep diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh, baik fisikal, emosional intelektual , sosial dan spiritual. Potter & Perry (1993), konsep diri adalah merefleksikan pengalaman interaksi sosial, sensasinya juga didasarkan bagaimana orang lain memandangnya. Beck William Rowles (1993), mendefinisikan konsep diri sebagai cara memandang individu terhadap diri secara utuh baik fisik, emosi, intelektual, sosial & spiritual. Secara umum, konsep diri dapat didefinisikan sebagai cara kita memandang diri kita secara utuh, meliputi: fisik, intelektual, kepercayaan, sosial, perilaku, emosi, spiritual, dan pendirian. 2.2 RENTANG RESPON KONSEP DIRI
Respon maladaptif

Respon adaptif

Aktualisasi diri

Konsep diri positif

Harga diri rendah

Keracunan identitas

Depersonalisasi

Keterangan:
1. Aktualisasi diri adalah pernyataan diri tentang konsep diri yang positif dengan latar

belakang pengalaman nyata yang sukses dan diterima 2. Konsep diri adalah apabila individu mempunyai pengalaman yang positif dalam beraktualisasi diri
3

3. Kerancuan identitas adalah kegagalan aspek individu mengintegrasikan aspek-aspek identitas masa kanak-kanak ke dalam kematangan aspek psikososial, kepribadian pada masa dewasa yang harmonis.
4. Depersonalisasi adalah perasaan yang tidak realistic dan asing terhadap diri sendiri

yang berhubungan dengan kecemasan, kepanikan serta tidak dapat membedakan dirinya dengan orang lain.

♣ Pohon Masalah
Keputusasaan Perilaku Kekerasan

Perubahan penampilan peran Gangguan Konsep diri : Harga Diri Rendah

Isolasi Sosial: Menarik Diri

Gangguan Citra Tubuh

Ideal diri tidak realistik

2.3 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSEP DIRI Menurut Stuart dan Sudeen ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri. Faktor-foktor tersebut terdiri dari teori perkembangan, Significant Other (orang yang terpenting atau yang terdekat) dan Self Perception (persepsi diri sendiri).

4

1. Teori perkembangan. Konsep diri belum ada waktu lahir, kemudian berkembang secara bertahap sejak lahir seperti mulai mengenal dan membedakan dirinya dan orang lain. Dalam melakukan kegiatannya memiliki batasan diri yang terpisah dari lingkungan dan berkembang melalui kegiatan eksplorasi lingkungan melalui bahasa, pengalaman atau pengenalan tubuh, nama panggilan, pangalaman budaya dan hubungan interpersonal, kemampuan pada area tertentu yang dinilai oleh diri sendiri atau masyarakat serta aktualisasi diri dengan merealisasi potensi yang nyata. 2. Significant Other ( orang yang terpenting atau yang terdekat ) Dimana konsep diri dipelajari melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain, belajar diri sendiri melalui cermin orang lain yaitu dengan cara pandangan diri merupakan interprestasi diri pandangan orang lain terhadap diri, anak sangat dipengaruhi orang yang dekat, remaja dipengaruhi oleh orang lain yang dekat dengan dirinya, pengaruh orang dekat atau orang penting sepanjang siklus hidup, pengaruh budaya dan sosialisasi. 3. Self Perception ( persepsi diri sendiri ) Yaitu persepsi individu terhadap diri sendiri dan penilaiannya, serta persepsi individu terhadap pengalamannya akan situasi tertentu. Konsep diri dapat dibentuk melalui pandangan diri dan pengalaman yang positif. Sehingga konsep merupakan aspek yang kritikal dan dasar dari prilaku individu. Individu dengan konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif yang dapat berfungsi lebih efektif yang dapat dilihat dari kemampuan interpersonal, kemampuan intelektual dan penguasaan lingkungan. Sedangkan konsep diri yang negatif dapat dilihat dari hubungan individu dan sosial yang terganggu.

2.5 PEMBAGIAN KONSEP DIRI Konsep diri terbagi menjadi beberapa bagian. Pembagian Konsep diri tersebut di kemukakan oleh Stuart and Sundeen ( 1991 ), yang terdiri dari :

5

Cara individu memandang dirinya mempunyai dampak yang penting pada aspek psikologinya. protesa dan lain –lain. Banyak Faktor dapat yang mempengaruhi gambaran diri seseorang. fungsi penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan pengalaman baru setiap individu (Stuart and Sundeen . Seperti : mastektomi. Sejak lahir individu mengeksplorasi bagian tubuhnya. Pandangan yang realistis terhadap dirinya manarima dan mengukur bagian tubuhnya akan lebih rasa aman. tuli dapat mengakibatkan depersonlisasi yaitu tadak mengkui atau asing dengan bagian tubuh. Demikian pula tindakan koreksi seperti operasi plastik. Seperti hemiplegi. sehingga terhindar dari rasa cemas dan meningkatkan harga diri (Keliat. realistis dan konsisten terhadap gambaran dirinya akan memperlihatkan kemampuan yang mantap terhadap realisasi yang akan memacu sukses dalam kehidupan. Stresor-stresor tersebut dapat berupa : • Operasi. Gambaran diri ( Body Image ) berhubungan dengan kepribadian. bentuk. • Kegagalan fungsi tubuh. kemudian mulai memanipulasi lingkungan dan mulai sadar dirinya terpisah dari lingkungan ( Keliat . buta. 6 . Individu yang stabil. Gambaran diri ( Body Image ) Gambaran diri adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. 1992). sering berkaitan dengan fungsi saraf.luka operasi yang semuanya mengubah gambaran diri. menerima stimulus dari orang lain. seperti. munculnya Stresor yang dapat menggangu integrasi gambaran diri.1992 ). 1991). amputsi .1. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran.

klien mempersiapkan penampilan dan pergerakan tubuh sangat berbeda dengan kenyataan.syok psikologis digunakan 7 . Ketidakpuasan juga dirasakan seseorang jika didapati perubahan tubuh yang tidak ideal. seperti : 1. • Standard sosial budaya. Seperti : klien intensif care yang memandang imobilisasi sebagai tantangan. Beberapa gangguan pada gambaran diri tersebut dapat menunjukan tanda dan gejala. makian sehingga dapat membuat seseorang menarik diri. • Perubahan tubuh berkaitan Hal ini berkaitan dengan tumbuh kembang dimana seseorang akan merasakan perubahan pada dirinya seiring dengan bertambahnya usia. seperti adanya perasaan minder. Syok Psikologis. Syok Psikologis merupakan reaksi emosional terhadap dampak perubahan dan dapat terjadi pada saat pertama tindakan. akibatnya sukar mendapatkan informasi umpan balik engan penggunaan lntensif care dipandang sebagai gangguan.• Waham yang berkaitan dengan bentuk dan fungsi tubuh Seperti sering terjadi pada klie gangguan jiwa . • Tergantung pada mesin. Tidak jarang seseorang menanggapinya dengan respon negatif dan positif. Hal ini berkaitan dengan kultur sosial budaya yang berbeda-setiap pada setiap orang dan keterbatasannya serta keterbelakangan dari budaya tersebut menyebabkan pengaruh pada gambaran diri individu. • Umpan balik interpersonal yang negatif Umpan balik ini adanya tanggapan yang tidak baik berupa celaan.

Klien menjadi sadar akan kenyataan. i) Menolak penjelasan tentang perubahan tubuh. menolak dan proyeksi untuk mempertahankan keseimbangan diri. tidak ada motivasi dan keinginan untuk berperan dalam perawatannya. d) Perasaan atau pandangan negatif terhadap tubuh. jika tampak gejala dan tanda-tanda berikut secara menetap maka respon klien dianggap maladaptif sehingga terjadi gangguan gambaran diri yaitu : a) Menolak untuk melihat dan menyentuh bagian yang berubah. tetapi karena tidak mungkin maka klien lari atau menghindar secara emosional. b) Tidak dapat menerima perubahan struktur dan fungsi tubuh. Informasi yang terlalu banyak dan kenyataan perubahan tubuh membuat klien menggunakan mekanisme pertahanan diri seperti mengingkari. 8 . Tanda dan gejala dari gangguan gambaran diri di atas adalah proses yang adaptif. h) Depersonalisasi. tergantung .sebagai reaksi terhadap ansietas. Penerimaan atau pengakuan secara bertahap. f) Mengungkapkan keputusasaan. Menarik diri. e) Preokupasi dengan bagian tubuh atau fungsi tubuh yang hilang. g) Mengungkapkan ketakutan ditolak. c) Mengurangi kontak sosial sehingga terjadi menarik diri. 3. ingin lari dari kenyataan . 2. Klien menjadi pasif. Setelah fase ini klien mulai melakukan reintegrasi dengan gambaran diri yang baru. Setelah klien sadar akan kenyataan maka respon kehilangan atau berduka muncul.

Menurut Ana Keliat ( 1998 ) ada beberapa faktor yang mempengaruhi ideal diri yaitu : 1. Faktor budaya akan mempengaruhi individu menetapkan ideal diri. Standart dapat berhubungan dengan tipe orang yang akan diinginkan atau sejumlah aspirasi. 6. Ambisi dan keinginan untuk melebihi dan berhasil. Ideal diri akan mewujudkan cita-cita. Agar individu mampu berfungsi dan mendemonstrasikan kecocokan antara persepsi diri dan ideal diri. guru dan teman. 2. Kebutuhan yang realistis.2. Harga diri . nilai. Ideal Diri. Ideal diri ini hendaknya ditetapkan tidak terlalu tinggi. tetapi masih lebih tinggi dari kemampuan agar tetap menjadi pendorong dan masih dapat dicapai (Keliat. 3. keinginan untuk mengklaim diri dari kegagalan. Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilakuberdasarkan standart. Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh prilaku memenuhi ideal diri (Stuart and Sundeen. cita-cita. perasan cemas dan rendah diri. Keinginan untuk menghindari kegagalan . 9 . Ideal diri akan mewujudkan cita–cita dan harapan pribadi berdasarkan norma sosial (keluarga budaya) dan kepada siapa ingin dilakukan. kebutuhan yang realistis. 5. Perasaan cemas dan rendah diri.1991).nilai yang ingin di capai . aspirasi. 1992 ). Ideal diri mulai berkembang pada masa kanak–kanak yang di pengaruhi orang yang penting pada dirinya yang memberikan keuntungan dan harapan pada masa remaja ideal diri akan di bentuk melalui proses identifikasi pada orang tua. 3. Kecenderungan individu menetapkan ideal pada batas kemampuannya. nilai-nilai yang ingin dicapai. tujuan atau penilaian personal tertentu (Stuart and Sundeen . 4.

Pada saat anak berkembang lebih besar. Dari hasil riset ditemukan bahwa masalah kesehatan fisik mengakibatkan harga diri rendah. Biasanya harga diri sangat rentan terganggu pada saat remaja dan usia lanjut. Ia merasa tidak adekuat karena selalu tidak dipercaya untuk mandiri. memutuskan sendiri akan bertanggung jawab terhadap prilakunya. seperti : • Perkembangan individu.1991). 10 . • Ideal Diri tidak realistis. membuat anak merasa tidak berguna. Harga diri tinggi terkait dengam ansietas yang rendah. Aspek utama adalah di cintai dan menerima penghargaan dari orang lain (Keliat. Menurut beberapa ahli dikemukakan faktor-Fator yang mempengaruhi gangguan harga diri. seperti penolakan orang tua menyebabkan anak merasa tidak dicintai dan mengkibatkan anak gagal mencintai dirinya dan akan gagal untuk mencintai orang lain. efektif dalam kelompok dan diterima oleh orang lain. Sedangkan harga diri rendah terkait dengan hubungan interpersonal yang buruk dan resiko terjadi depresi dan skizofrenia. maka cenderung harga diri rendah. 1992). Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri. Sikap orang tua yang terlalu mengatur dan mengontrol. Dan dapat di ekspresikan secara langsung atau tidak langsung (nyata atau tidak nyata). Jika individu sering gagal . Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. anak mengalami kurangnya pengakuan dan pujian dari orang tua dan orang yang dekat atau penting baginya. Faktor predisposisi dapat dimulai sejak masih bayi. Harga diri rendah dapat terjadi secara situasional ( trauma ) atau kronis ( negatif self evaluasi yang telah berlangsung lama ). Frekuensi pencapaian tujuan akan menghasilkan harga diri yang rendah atau harga diri yang tinggi.

Posisi dibutuhkan oleh individu sebagai aktualisasi diri. emosi dan seksual. sedangkan peran yang diterima adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu. kecelakan atau perampokan. Harga diri anak akan terganggu jika kemampuan menyelesaikan masalah tidak adekuat. 4. Sistim keluarga yang tidak berfungsi. Penganiayaan yang dialami dapat berupa penganiayaan fisik. Ia membuat standart yang tidak dapatdicapai. peperangan. Orang tua memberi umpan balik yang negatif dan berulang-ulang akan merusak harga diri anak.Individu yang selalu dituntut untuk berhasil akan merasa tidak punya hak untuk gagal dan berbuat kesalahan. Akhirnya anak memandang negatif terhadap pengalaman dan kemampuan di lingkungannya. bencana alam. Peran. Akibatnya koping yang biasa berkembang adalah depresi dan denial pada trauma. Peran adalah sikap dan perilaku nilai serta tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat ( Keliat. Individu merasa tidak mampu mengontrol lingkungan. Respon atau strategi untuk menghadapi trauma umumnya mengingkari trauma. Harga diri yang tinggi merupakan hasil dari peran yang memenuhi kebutuhan dan cocok dengan ideal diri. Peran yang ditetapkan adalah peran dimana seseorang tidak punya pilihan. Yang pada kenyataan tidak dapat dicapai membuat individu menghukum diri sendiri dan akhirnya percaya diri akan hilang • Gangguan fisik dan mental Gangguan ini dapat membuat individu dan keluarga merasa rendah diri. emosi. Posisi di masyarakat dapat merupakan stresor terhadap peran karena struktur sosial yang menimbulkan kesukaran. seperti cita –cita yang terlalu tinggi dan tidak realistis. respon yang biasa efektif terganggu.misalnya akibat aniaya fisik.mengubah arti trauma. Pengalaman traumatik yang berulang. Orang tua yang mempunyai harga diri yang rendah tidak mampu membangun harga diri anak dengan baik. tuntutan 11 . 1992 ).

Kesesuain dan keseimbangan antara peran yang di emban. 3. Setiap perkembangan harus di lalui individu dengan menjelaskan tugas perkembangan yang berbeda – beda. Menurut Stuart and Sunden Penyesuaian individu terhadap perannya di pengaruhi oleh beberapan faktor. Pemisahan situasi yang akan menciptakan ketidak sesuain perilaku peran.serta posisi yang tidak mungkin dilaksanakan ( Keliat. yaitu : 1. 1992 ). 1998 adalah : 1. 4. 2. 4. Pemisahan situasi yang dapat menciptakan ketidak selarasan Sepanjang kehidupan individu sering menghadapi perubahan-perubahan peran. Hal ini. seperti : • Transisi Perkembangan. Kejelasan prilaku yang sesuai dengan perannya serta pengetahuan yang spesifik tentang peran yang diharapkan . Transisi peran tersebut dapat di kategorikan menjadi beberapa bagian. Keselarasan budaya dan harapan individu terhadap perilaku peran. Kejelasan budaya dan harapannya terhadap prilaku perannya. biasanya disebut dengan transisi peran. Konsistensi respon orang yang berarti atau dekat dengan peranannya. 5. Konsisten respon orang yang berarti terhadap peran yang dilakukan . Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam menyesuaikan diri dengan peran yang harus di lakukan menurut Stuart and sundeen. baik yang sifatnya menetap atau sementara yang sifatnya dapat karena situasional. Kejelasan prilaku dengan penghargaan yang sesuai dengan peran. 12 . Setiap perkembangan dapat menimbulkan ancaman pada identitas. 3. Stress peran terdiri dari konflik peran yang tidak jelas dan peran yang tidak sesuai atau peran yang terlalu banyak. Hal ini dapat merupakan stresor bagi konsep diri. 2.

Perubahan peran seksual e. Kehilangan hubungan yang penting d. peran tidak jelas atau peran berlebihan. namun yang penting adalah persepsi klien terhadap ancaman. misalnya status sendiri menjadi berdua atau menjadi orang tua. Perubahan tubuh dapat mempengaruhi semua kompoen konsep diri yaitu gambaran diri. Individu dan lingkungan tidak mempunyai harapan peran yang selaras. Masalah konsep diri dapat di cetuskan oleh faktor psikologis. Stresor pada tubuh dapat menyebabkan gangguan gambaran diri dan berakibat diri dan berakibat perubahan konsep diri. Ketergantungan obat i. Konflik antar peran yang sekaligus di perankan 13 . Kurangnya keterampilan sosial j. c. • Transisi sehat sakit. Transisi situasi terjadi sepanjang daur kehidupan.• Transisi Situasi. bertambah atau berkurang orang yang berarti melalui kelahiran atau kematian. Perubahan kemampuan fisik untuk menampilkan peran sehubungan dengan proses menua g. identitas diri peran dan harga diri. Kurangnya kejelasan peran atau pengertian tentang peran h. Harga diri rendah l. Perubahan status menyebabkan perubahan peran yang dapat menimbulkan ketegangan peran yaitu konflik peran. sosiologi atau fisiologi. Selain itu dapat saja terjadi berbagai gangguan peran. Perbedaan budaya k. Keragu-raguan peran f. Konflik peran interpersonal. b. penyebab atau faktor-faktor ganguan peran tersebut dapat di akibatkan oleh : a. Contoh peran yang tidak adekuat.

5. 3. Identitas jenis kelamin berkembang sejak lahir secara bertahap dimulai dengan konsep laki-laki dan wanita banyak dipengaruhi oleh pandangan dan perlakuan masyarakat terhadap masingmasing jenis kelamin tersebut. percaya diri. i. Perasaan dan prilaku yang kuat akan indentitas diri individu dapat ditandai dengan: g. Kemandirian timbul dari perasaan berharga (aspek diri sendiri). Seseorang yang mempunyai perasaan identitas diri yang kuat akan yang memandang dirinya berbeda dengan orang lain. h. kemampuan dan penyesuaian diri. Identitas diri terus berkembang sejak masa kanak-kanak bersamaan dengan perkembangan konsep diri. Memandang dirinya secara unik Merasakan dirinya berbeda dengan orang lain Merasakan otonomi : menghargai diri. 1991).1992). Identitas Identitas adalah kesadarn akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri sendiri sebagai satu kesatuan yang utuh (Stuart and Sudeen. 6.Gangguan-gangguan peran yang terjadi tersebut dapat ditandai dengan tanda dan gejala. 7. 4. mampu Mengungkapkan ketidakpuasan perannya atau kemampuan Mengingkari atau menghindari peran Kegagalan trnsisi peran Ketegangan peran Kemunduran pola tanggungjawab yang biasa dalam peran Proses berkabung yang tidak berfungsi Kejenuhan pekerjaan menampilkan peran diri. Hal yang penting dalam identitas adalah jenis kelamin (Keliat. 14 . Seseorang yang mandiri dapat mengatur dan menerima dirinya. seperti : 1. 5. 2. menerima diri dan dapat mengontrol diri.

perasaan tentang ukuran. 1991) 2. Individu mengakui atau menyadari jenis seksualnya 3. seperti : 1.j. Individu mempunyai tujuan yang dapat dicapai dan di realisasikan (Meler dikutip Stuart and Sudeen. Individu mengakui dan menghargai berbagai aspek tentang dirinya. nilai dan prilaku secara harmonis 4. peran. peran dan konsep Karakteristik identitas diri dapat dimunculkan dari prilaku dan perasaan seseorang. fungsi. akan diri sendiri. Individu sadar akan hubungan masa lalu. Individu mengaku dan menghargai diri sendiri sesuai dengan penghargaan lingkungan sosialnya 5. diri Mempunyai persepsi tentang gambaran diri. 1991 ) • Gambaran diri yang positif dan akurat Kesadaran akan diri berdasarkan atas observasi mandiri dan perhatian yang sesuai dengan kesehatan diri. Individu mengenal dirinya sebagai makhluk yang terpisah dan berbeda dengan orang lain 2.6 KEPRIBADIAN YANG SEHAT Bagaiman individu berhubungan dengan orang lain merupakan inti dari kepribadian Kepribadian tidak cukup di uarikan melalui teori perkembangan dan dinamika diri sendiri. penampilan dan potensi. • Ideal diri realistis 15 . saat ini dan masa yang akan datang 6. Termasuk persepsi saat ini dan yang lalu. Berikut ini adalah pengalaman yang akan dialmi oleh individu yang mempunyai kepribadian yang sehat (stuart dan Sudden.

pikiran atau pandangan dirinya sendiri yang negatif a. Gangguan citra tubuh Gangguan citra tubuh adalah perubahan persepsi tentang tubuh yang diakibatkan oleh perubahan ukuran bentuk. Seorang yang mempunyai harga diri yang tinggi akan memandang dirinya sebagai seorang yangberarti dan bermanfaat. fungsi.Individu yang mempunyai ideal diri yang realitas akan mempuynai tujuan hidup yang dapat dicapai. perubahan citra tubuh sangat mungkin 16 . Ia memanding dirinya sangat sama dengan apa yang ia inginkan. Pada klien yang dirawat di rumah sakit umum. • Kepuasan penampilan peran Indiviu yang mempunyai kepribadian sehat akan mendapat berhubungan dengan orang lain secara intim dan mendapat kepuasan. Ia dapat mempercayai dan terbuka pada orang lain dan membina hubungan interdependen. struktur. • Identitas jelas. keterbatasan. • Harga diri tinggi. makna dan objek yang sering kontak dengan tubuh. Individu merasakan keunikan dirinya.7 GANGGUAN KONSEP DIRI 1) Pengertian Gangguan konsep diri adalah suatu kondisi dimana individu mengalami kondisi pembahasan perasaan. • Konsep diri positif Konsep diri positif menunjukkan bahwa individu akan sukses dalam hidupnya. yang memberi arah kehidupan dan mecapai keadaan 2.

makan. Tanda dan gejala yang dapat dikaji 1. tindakan invasif. Menolak penjelasan perubahan tubuh 4. Preokupasi dengan bagian tubuh yang hilang 6. Makna dan objek yang sering kotak.terjadi. fraksi. Mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi. penampilan dan dandan berubah. Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah 2. sukar dicapai dan tidak realistis ideal diri yang samar dan tidak jelas dan cenderung menuntut.Perubahan struktur. Pada klien yang dirawat di rumah sakit karena sakit maka ideal dirinya dapat terganggu. kegiatan. pemasangan alat pada tubuh klien (infus. Tidak menerima perubahan tubuh yang telah terjadi/akan terjadi 3. Sitesor pada tiap perubahan adalah Perubahan ukuran tubuh berat badan yang turun akibat penyakit Perubahan bentuk tubuh. Persepsi negatif pada tubuh 5. sama dengan perubahan bentuk tubuh di sertai degnan pemasangan alat di dalam tubuh. Mengungkapkan keputusasaan 7. 2. seperti operasi. Gangguan Harga Diri 17 . c. dan lain-lain) Tanda dan gejala gangguan citra tubuh : 1. suntik. Mengungkapkan ketakutan b. suntikan daerah pemasangan infus. respirator. Mengungkapkan keputusan akibat penyakitnya.perubahan fungsi berbagaipenyakit yang dapat merubah sistem tubuh Keterbatasan gerak. pemeriksaan tanda vital. Gangguan Ideal Diri Gangguan ideal diri adalah ideal diri yang terlalu tinggi. Atau ideal diri klien terhadap hasil pengobatan yang terlalu tinggi dan sukar dicapai.

2. dicerai suami. pemasangan misalnya kateler pemeriksaan fisik yang sembarangan pemasangan alat yang (pengukuran pubis. dituduh KKN. Privacy sopan yang kurang diperhatikan. dipenjara tiba-tiba ). tidak tercapai karena dirawat/sakit/penyakit. Kejadian sakit dan dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya.Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri. kecelakaan. Percaya diri kurang. putus hubungan kerja. Gangguan Peran 18 . putus sekolah. 5. perasaan malu karena sesuatu terjadi (korban perkosaan. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakti dan akibat tindakan terhadap penyakit. d. 4. bentuk dan fungsi tubuh yang Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai. hilang kepercayaan diri. Gangguan hubungan sosial. c. yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba. Tanda dan gejala yang dapat dikaji 1. Merendahkan martabat. 2. a. berbagai tindakan tanpa persetujuan. tidak b. misalnya harus operasi.Gangguan harga diri yang disebut sebagai harga diri rendah dan dapat terjadi secara : 1. Kronik yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama. merasa gagal mencapai keinginan. misalnya berbagai pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan. Rasa bersalah terhadap diri sendiri. 3.Situasional. pemeriksaan perincal) Harapan akan struktur. yaitu sebelum sakit/dirawat klien ini mempunyai cara berpikir yang negatif.

peran sebelumnya tidak dapat di jalankan.Pada klien yang sedang dirawat di rumah sakit otomatis peran sosialo klien berubah menjadi peran sakit. selama dirawat di rumah sakit atau setelah kembali dari rumah sakit. proses menua. Misalnya : untuk “self-care” perlu dibantu orang lain sehingga otonomi/kemandirian terganggu. putus hubungan kerja. sukar menetapkan keinginan dan tidak mampu mengambil keputusan pada klien yang dirawat di rumah sakit karena penyakit fisik maka identitas dapat terganggu. klien Tanda dan gejala yang dapat di kaji 1. Peran klien yang berubah adalah :     Peran dalam keluarga Peran dalam pekerjaan/sekolah Peran dalam berbagai kelompok Klien tidak dapat melakukan peran yang biasa dilakukan tidak mungkin melakukan perannya yang biasa. Apatis/bosan/jenuh dan putus asa e. Kurang tanggung jawab 6. Gangguan Identitas Gangguan identitas adalah kekaburan/ketidakpastian memandang diri sendiri. Kegagalan menjalankan peran yang baru 4. Penuh dengan keragu-raguan. klien menjalankan peran sakit. Tubuh klien di kontrol oleh orang lain.Gangguan penampilan peran adalah berubah atau berhenti fungsi peran yang disebabkan oleh penyakit. putus sekolah. Ketidakpuasan peran 3. Ketegangan menjalankan peran yang baru 5. karena. Perubahan peran dan fungsi. Misalnya : Pelaksanaan pemeriksaan dan pelaksanaan tindakan tanpa penjelasan dan persetujuan klien.Ketergantungan pada orang lain. Mengingkari ketidakmampuan menjalankan peran 2. 19 .

Ketergantungan 4. 2. Altered Role Peformance 20 . Body Image Disturbance • • • Kehilangan salah satu fungsi tubuh Kecacatan Perubahan perkembangan 3.Tanda dan gejala yang dapat di kaji 1. Sukar mengambil keputusan 3.8 FAKTOR RESIKO PENYIMPANGAN KONSEP DIRI 1. Masalah dalam hubungan interpersonal 5. Personal Identity Disturbance • • • • Perubahan perkembangan Trauma Ketidaksesuaian Gender Ketidaksesuaian kebudayaan 2. Projeksi (menyalahkan orang lain). Self Esteem Dusturbance • • • • • • • Hubungan interpersonal yang tidak sehat Gagal mencapai perkembangan yang penting Gagal mencpaai tujuan hidup Gagal dalam kehidupan dengan moral tertentu Perasaan tidak berdaya Gagal dalam kehidupan dengan moral tertentu Perasaan tidak berdaya 4. Ragu/ tidak yakin terhadap keinginan 6. Tidak ada percaya diri 2.

Mengungkapkan dirinya tidak berguna .Mengkritik diri sendiri . Masalah Keperawatan : Penyebab gangguan citra tubuh 21 . Gangguan citra tubuh 2.Wajah tarnpak murung .Tidak mau makan dan tidak tidur .Tampak sedih dan tidak melakukan aktivitas yang seharusnya dapat dilakukan . Masalah Keperawatan Masalah utama : Gangguan konsep diri : harga diri rendah Data Subyektif .Merusak diri sendiri .Tampak mudah tersinggung .• • • • Kehilangan nilai peran Dua harapan peran Konflik peran Ketidakmampuan menemukan peran yang diinginkan 2.Menarik diri dari hubungan sosial .9 ASUHAN KEPERAWATAN 1. Data yang perlu dikaji No 1.Merusak orang lain .Mengungkapkan tidak bisa apa-apa .Mengungkapkan malu dan tidak bisa bila diajak melakukan sesuatu .Klien terlihat lebih suka sendiri .Mengungkapkan ingin diakui jati dirinya . Masalah keperawatan a. Isolasi sosial : menarik diri b.Perasaan negatif mengenai dirinya Data Obyektif .Bingung bila disuruh memilih alternatif 2.Perasaan tidak mampu .Mengungkapkan perasaan main terhadap diri sendiri .Mengungkapkan tidak ada lagi yang peduli .Mengkritik diri sendiri . Gangguan konsep diri : harga diri rendah c.

Mengungkapkan enggan berbicara dengan orang lain . tubuh B. Diagnosa Keperawatan 1.1.Klien malu bertemu dan berhadapan dengan orang lain tindakan . Diagnosa keperawatan: Isolasi sosial menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.1 1.3. 1. Rencana Tindakan Keperawatan 1. 2. Masalah Keperawatan: Akibat Isolasi sosial : menarik diri sendiri .Tidak ada kontak mata ketika diajak bicara .Suara pelan dan tidak jelas A.Ekspresi wajah kosong .2 Sapa klien dengan ramah secara verbal dan nonverbal Perkenalkan diri dengan sopan 22 . b. Bina hubungan saling percaya dengan menerapkan prinsip komunikasi terapeutik: 1. a.1. 1) Tujuan khusus Klien dapat membina hubungan saling percaya.Mengungkapkan tidak berdaya dan tidak ingin hidup lagi .1. Tujuan umum Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah Gangguan konsep diri: harga diri rendah berhubungan dengan gangguan citra Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal.

3.1.3. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang dapat klien lakukan.6 1. 2.2. 3) Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.1. 4. 2.4 1. Diskusikan kemampuan yang masih dapat dilakukan. 3. Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya.1. Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien.3.5 1. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien. 4.3 Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien 1.2.1.1.7 2) Jelaskan tujuan pertemuan Jujur dan menepati janji Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki. 4) yang dimiliki.1. 5) Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kemampuannya.1. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari.1.2.1. Klien dapat merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan 23 . 4. 2. Utamakan memberi pujian yang realistik.

1.2. intelektual. 1) diderita.1. 6. Diagnosa keperawatan : Gangguan konsep diri harga diri rendah berhubungan dengan gangguan citra tubuh. 2. 6. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan rumah. 2) Klien menyebutkan aspek positif dan kemampuan dirinya Hasil yang diharapkan Klien mengungkapkan perasaannya terhadap penyakit yang (fisik. 5. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah. a. 6. c. 3) 4) realistik. Percaya diri klien menetapkan keinginan atau tujuan yang Klien menunjukkan peningkatan harga diri b.5. sistem pendukung). Tujuan umum Klien berperan serta dalam perawatan dirinya.3. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan. 1) percaya Tujuan khusus Klien dapat meningkatkan keterbukaan dan hubungan saling 24 . Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat. Diskusikan pelaksanaan kegiatan di rumah 6) Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.2.

1. 4. konseling dan rujukan) 2) Klien dapat mengidentifikasi perubahan citra tubuh.2. bentuk atau fungsi tubuh 2. Tingkat dukungan keluarga pada klien terutama pasangan. jujur dan empati 1. Beri pujian atas aspek positif dan kemampuan yang masih dimiliki klien. bentuk atau (tubuh. Dorong klien untuk merawat diri dan berperan serta dalam asuhan klien secara bertahap 4.5. Lakukan kontrak untuk program asuhan keperawatan (pendidikan kesehatan. Libatkan klien dalam kelompok klien dengan masalah gangguan citra tubuh 4. Beri mengungkapkan perasaan klien terhadap perubahan tubuh.2. dukungan.1. 4) fungsi tubuh.1. Klien dapat menerima realita perubahan struktur.klien yang terapeutik 1.4. Salam terapeutik 1.3.1.3.1. Sediakan waktu untuk mendengarkan klien. Bina hubungan perawat . 1. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki intelektual. Komunikasi terbuka. Diskusikan perubahan struktur. Observasi ekspresi klien pada saat diskusi 3) dimiliki 3. keluarga) oleh klien diluar perubahan yang terjadi 3.2. Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang 25 .2. kesempatan 2.

Indonesia : Islam : Kawin : SD 26 . Membantu klien mengurangi perubahan citra tubuh 6. Rehabilitasi bertahap bagi klien c. Bab III STUDI KASUS A. 6. 1) 2) 3) Hasil yang diharapkan Klien menerima perubahan tubuh yang terjadi Klien memilih beberapa cara mengatasi perubahan yang terjadi Klien adaptasi dengan cara-cara yang dipilih dan digunakan. 5. bentuk atau fungsi tubuh 5.2.N : 35 tahun : Laki-laki : Welahan.1. Dorong klien memilih cara yang sesuai 6) Klien dapat melakukan tindakan pengembalian integritas tubuh.1. Diskusikan cara-cara (booklet.5) Klien dapat menyusun rencana cara-cara menyelesaikan masalah yang dihadapi. leaflet sebagai sumber informasi) yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak perubahan struktur.2. Jepara : Jawa. Identitas Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Suku Agama Status Perkawinan Pendidikan : Tn.

45 WIB di ruang IV (Dewa Ruci) Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Klien adalah seorang pekerja keras yang bekerja sebagai pedagang. D. tidak ada keluarga yang menderita sakit jiwa seperti klien. Lima hari yang lalu pasien kalau ditanya tidak nyambung. Faktor Predisposisi Klien pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu yakni tahun 2006 di Samarinda. Aminogondohutomo Semarang Penanggung jawab Nama Umur Pendidikan Pekerjaan Alamat Hubungan dengan klien : Tn. Aminogondohutomo Semarang selama 15 hari. bingung. Tanda vital TD N RR BB : 120/80 mmHg : 88 x/mnt : 24 x/mnt : 65 kg 27 . Alasan Masuk Berbicara tidak nyambung. Terkadang klien dalam mencukupi kebutuhan hidup keluarganya harus dibantu oleh keluarga / saudara yang lain. Sedangkan 8 bulan yang lalu pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr.H : 40 tahun : Diploma III : PNS : Kedung. Menurut klien. ditanya diam saja.Nomor Register Diagnosa Medis Tanggal Masuk Tanggal Pengkajian : 041402 : Skizophrenia Katatonik : 01 Januari 2008 pukul 18. namun kadang bisnisnya sepi. dan sulit tidur. Klien adalah seorang bapak dari tiga orang anak. C. cemas. Pemeriksaan Fisik 1. Klien merasa peran sebagai ayah tidak dapat ia lakukan.45 WIB : 06 Januari 2008 pukul 14. Jepara : Kakak Ipar B.

tidak nyeri. tidak ada nafas cuping hidung bersih. klien dapat berjalan dengan baik Ekstremitas : Dari hasil pemeriksaan fisik. pendengaran baik. tidak ada septum deviasi. tidak ada penonjolan vena jugularis I : tidak ada lesi pada dada. tidak ada polip. tidak ada bekas trauma sklera tidak ikterik. tidak menggunakan alat bantu pendengaran mukosa lembab. CRT < 2 detik. tidak menunjukkan adanya kelainan / gangguan fisik pada klien. cukup bersih. konjungtiva tidak anemis bersih. E. Psikososial Genogram 28 . pergerakan regular Pa : SF kanan = kiri Pe : resonan A : vesikuler 2. gigi bersih.TB : 165 cm : : : : : : : Rambut hitam mulai memutih. bibir tidak cianosis trakea simetris. Pemeriksaan fisik Kepala Mata Hidung Telinga Mulut Leher Paru-paru Jantung : I : Ictus cordis tidak tampak Pa : Ictus Cordis teraba pada SC VI media LMCS Pe : pekak A : bunyi jantung I dan II Abdomen : I : tidak ada lesi A : peristaltik usus 17 x/mnt Pe : tympani Pa : tidak ada nyeri tekan Genetalia : tidak terpasang kateter tidak ada oedema.

mempunyai seorang istri dan tiga orang anak. namun dilakukan dengan musyawarah terlebih dahulu. 1. b. Gambaran diri Klien menyukai semua bagian tubuhnya karena tidak ada masalah / kekurangan pada tubuhnya. Yang mengambil keputusan dalam keluarga adalah klien. 29 . Peran diri Klien merupakan seorang kepala rumah tangga yang bekerja sebagai pedagang. Masalah Keperawatan : Peran diri tidak efektif d. Konsep diri a. c. Klien juga belum mempunyai rumah sendiri. Klien mengatakan ingin segera pulang dan mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Namun kadang bisnisnya itu sepi.Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Meninggal : Orang yang tinggal serumah : Orang yang terdekat : Klien Klien sudah menikah. Identitas diri Klien mengatakan bangga dan puas sebagai seorang laki-laki apalagi sudah dikaruniai tiga orang anak. Dari keluarga tidak ada yang menderita gangguan jiwa seperti klien. karena masih dalam tahap pembangunan dan belum jadi. Selama dirawat klien tidak melakukan aktivitasnya sebagai pedagang dan secara otomatis kebutuhan keluarganya terjadi masalah. Ideal diri Klien mengatakan ingin segera sembuh dari penyakitnya dan tidak mau kembali lagi ke rumah sakit dan ingin berkumpul kembali dengan keluarga.

Masalah Keperawatan : Gangguan konsep diri : harga diri rendah 2. nada suara rendah. Klien dalam kesehariannya jarang bergaul dengan tetangganya. klien juga memakai alas kaki. Spiritual a. ganti baju atas inisiatif sendiri dan dilakukan secara mandiri. yang sudah mapan dalam pekerjaannya dan mempunyai rumah sendiri. c. Status Mental a. Orang yang berarti Menurut klien orang yang sangat berarti dalam hidupnya adalah istri dan anakanaknya. Hubungan sosial a. Klien jarang bergaul. c. Kegiatan kelompok jarang klien ikuti. tidak terlalu besar dan kecil. Masalah Keperawatan : Gangguan konsep diri : harga diri rendah 3. Harga diri Klien merasa minder dengan saudara-saudara yang lain. Aktivitas motorik Klien lebih bayak tidur selama di rumah sakit. kadang kontak mata kurang dan sering menunduk. makan. Peran serta dalam kelompok atau masyarakat Klien mengatakan jarang ikut dalam kegiatan kelompok seperti arisan. b. rambut disisir rapi. Nilai dan keyakinan Klien beragama Islam dan percaya bahwa Tuhan. F. klien tetap menjalankan sholat 5 waktu dan berzikir. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain Klien mengatakan bahwa klien adalah orang yang lebih banyak diam dan mengatakan malas bertemu atau berbicara dengan orang lain. pakaian yang dikenakan sesuai. b.e. b. Kegiatan beribadah Selama sakit. aktivitas motorik tidak mengalami gangguan seperti mandi. 30 . Pembicaraan Pembicaraan klien pelan. surga dan neraka ada. Penampilan Penampilan cukup rapi.

l. Interaksi selama wawancara Klien kooperatif. klien mengatakan sholat dulu sebelum ngobrol karena nanti agar sholatnya tidak ketinggalan. daya ingat jangka panjang klien baik. h. orientasi tempat. klien dapat membedakan pagi. e. mampu mengingat kejadian masa lalu. klien dapat merespons dengan benar stimulus yang diberikan. Kemampuan penilaian Klien masih mampu mengambil keputusan sederhana. dan ejadian sekarang. Memori Klien masih ingat tahun lahir yaitu tahun .d. klien mengetahui hari. Afek Afek serasi. waktu dan orang baik. i. g. siang dan malam. Daya tilik diri 31 . jawaban koheren dengan pertanyaan yang diajukan. Klien masih dapat berhitung sederhana. Isi pikir Saat interaksi dengan perawat klien mengatakan bahwa ia merasa tidak berharga. walaupun kontak mata sulit dipertahankan selama berinteraksi. f. Tingkat kesadaran Tingkat kesadaran klien baik. karena belum mempunyai pekerjaan yang mapan. Tingkat konsentrasi dan berhitung Klien mudah berkonsentrasi. ketika diberi pertanyaan 12 + 9 + 11 = klien menjawab 32. Persepsi Saat dikaji klien mengatakan tidak ada halusinasi. selama komunikasi dengan perawat dapat diobservasi bahwa pembicaraan klien terarah. Contoh ketika diberi opsi sholat dulu sebelum ngobrol atau ngobrol dulu sebelum sholat. klien mengetahui sekarang berada di rumah sakit jiwa Semarang. klien dapat menceritakan riwayat kehidupannya secara berurutan dan konsisten. dimana klien masih mengingat tahun lahirnya dan tahun lahir anaknya. j. klien masih mampu mengingat hal-hal yang baru saja terjadi. Proses pikir Pembicaraan klien bisa dimengerti perawat. k. tanggal dan jam. dibantu orang lain. m.

sayur. kadang ada susu. Dalam buang air besar dan buang air kecil klien di kamar mandi / WC atas inisiatif sendiri. lauk dan buah. ia mengatakan belum mempunyai rumah sendiri. Kebutuhan Persiapan Pulang Selama di rumah sakit klien makan 3x sehari dengan komposisi nasi. Buang air kecil tidak mengalami masalah. klien tidak mempermasalahkan dengan pendidikan terakhirnya. Klien tidak mengalami gangguan tidur. Mekanisme Koping Klien mengatakan jika ada masalah dipendam sendiri namun kadang cerita dengan istrinya. Mengenai pekerjaan kadang ia mengeluh kadang sepi. G. H. Aspek Medik Diagnosa medik : skizophrenia kataton Therapi medik ECT konvensional 4 kali Therapi oral : Persidol 2x1 mg 32 Promactil 2x100 mg . pemeriksaan kesehatan dilakukan setiap hari oleh perawat pula. Klien mandi 2x sehari atas inisiatif sendiri. Klien memiliki sistem pendukung yaitu keluarga dan perawat selama di rumah sakit. namun klien kurang tahu mengenai obat-obatan karena kurang ada bimbingan dari perawat ruangan. Pola buang air besar klien teratur sekali sehari. J. Selama di rumah sakit klien berpakaian seragam dan terlihat sesuai tubuhnya. Selama di rumah sakit penggunaan obat klien diatur oleh perawat.Klien mengakui dan sadar bahwa dirinya sedang sakit dan ingin segera sembuh. Masalah Psikososial dan Lingkungan Klien mengatakan jarang bergaul dengan tetangganya. begitu juga membersihkan diri setelah buang air besar / buang air kecil. Mengenai masalah perumahan. I. Pengetahuan Klien mengetahui dan sadar akan sakit yang dideritanya. K. Klien berpakaian sendiri dan ganti setiap hari.

7 33 .8 – 5.Tryhexylphenidyl 2x2 mg Hasil laboratorium Nama Glukosa sewaktu Ureum Creatinin Cholesterol total Trigliserid Protein total Albumin SGOT SGPT Uric acid Hasil 127 mg/100 ml 18 mg/100 ml 1.6-1.8 mg/100 ml 204 mg/100 ml 1.5-09 150-220 s/d 150 6.3 – 8.1 L : s/d 37 P : s/d 31 L : s/d 42 P : s/d 32 L : s/d 3.1 D: 0.5-5.0 3.5-7 P : 2.5 mg/100 ml 28 mg/100 ml 35 mg/100 ml 6.53 mg/100 ml 7.7 mg/100 ml 4.4 mg/100 ml Nilai Normal < 140 mg/100 ml 10-50 mg/100 ml L: 0.

DS : menetap Klien mengatakan belum mempumyai rumah dan merasa malu sebagai seorang suami dan ayah yang tidak bisa menafkahi anak-anaknya.L. Klien mengatakan bahwa ia merasa tidak berharga rendah 2. DO : DS : Klien kooperatif Nada bicara rendah ketika sedang berinteraksi dengan perawat Klien terlihat bingung dan gelisah Gangguan konsep diri : harga diri Klien mengatakan jarang bergaul dengan tetangganya Klien mengatakan ingin pulang dan ingin bekerja selayaknya tetangga tidak mengunjunginya DO : DS : Kontak mata ada namun sulit dipertahankan Klien terlihat bingung dan gelisah Isolasi sosial menarik diri Klien mengatakan jarang ikut kegiatan masyarakat seperti arisan Klien mengatakan bergaul dengan orang 3. 34 . ANALISA DATA No 1. Klien mengatakan dagangannya kadang sepi Klien selalu memendam perasaannya ketika ada masalah Data Fokus Klien mengatakan pekerjaannya tidak Masalah Keperawatan Peran diri tidak efektif.

Klien menyilangkan tangan saat dikaji. M. DIAGNOSA KEPERAWATAN Isolasi sosial menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan peran diri tidak efektif 35 . Gangguan konsep diri : harga diri rendah 3. POHON MASALAH Isolasi sosial : menarik diri Gangguan konsep diri : harga diri rendah Peran diri tidak efektif O. nada rendah sering menunduk.tertentu saja DO : Klien berbicara lambat. Peran diri tidak efektif N. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN 1. Isolasi sosial : menarik diri 2.

N : IV (Dewa Ruci) : 041402 Perencanaan Tujuan Tujuan Umum: Klien dapat berhubungan sosial dengan orang lain secara optimal Klien dapat membina hubungan saling percaya Nama Klien Ruang No. ada kontak mata. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya ttd Tujuan Khusus 1: menyebutkan nama. mau mau menjawab salam.1.P. Keperawatan 1 Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan peran diri tidak efektif Kriteria Evaluasi 1. RM No Diagnosa No 1 Dx. mau mengutarakan masalah yang dihadapi Intervensi 1. RENCANA KEPERAWATAN : Tn. mau berjabat tangan. menunjukkan rasa senang. Jujur dan menepati janji f. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal b. 36 . klien mau duduk berdampingan dengan perawat.1 Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi terapeutik a. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien d. Jelaskan tujuan pertemuan e.1 Ekspresi wajah bersahabat. Perkenalkan diri dengan sopan c.

1.1 Setiap bertemu klien dihindarkan dari memberi penilaian negatif 2.g.1 Klien menilai kemampuan yang dapat digunakan di rumah sakit kepercayaan diri klien 3.2 Daftar positif keluarga 2.3.1. rumah dan sekolah tempat kerja 2.1 Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih 37 .1 Utamakan pada kemampuan aspek positif klien Rasionalisasi : identifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki memudahkan perawat dalam melakukan intervensi dan meningkatkan Tujuan Khusus 3 Klien dapat menilai kemampuan yang 3.1 Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki dan buat daftar 2.1 Daftar kemampuan yang dimiliki klien di rumah sakit.3 Daftar positif lingkungan klien interaksi selanjutnya 2.2. Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien Rasionalisasi : hubungan saling percaya merupakan dasar untuk hubungan Tujuan Khusus 2 Klien dapat mengklasifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki 2.

2 Bantu klien melakukannya jika perlu diberi contoh 4.2 Klien menilai kemampuan yang dapat digunakan di rumah sakit dapat digunakan selama sakit 3.2 Klien mencoba 4.1.3 Berikan pujian Rasionalisasi : upaya mengurangi efek hospitalisasi 4.1 Klien memiliki kemampuan yang akan dilatih 4.1.2 Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan di rumah sakit 3.1.3 Beri pujian atas keberhasilan klien 4.1.3 Susun jadwal harian 38 .1 Meminta klien untuk memilih satu kegiatan yang mau dilakukan di rumah sakit 4.1.digunakan 3.4 Diskusikan jadwal kegiatan harian atas kegiatan yang telah dilatih Rasionalisasi : meningkatkan penerimaan terhadap Tujuan Khusus 4 Klien dapat menetapkan dan merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki 4.1.

dengan bantuan atau tergantung) 5.1 Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien HDR 6.1.1.1 Klien melakukan yang telah dilatih (mandiri.1 Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan 5.2 Beri pujian atas keberhasilan klien 5.kemampuan yang Tujuan Khusus 5 Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya 5.1.2 Keluarga memahami jadwal kegiatan harian klien dimiliki 6.2 Klien mampu melakukan kegiatan secara mandiri dimiliki 5.1.2 Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat 39 .1.3 Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah Rasionalisasi : memberikan kesempatan pada klien untuk merasakan keberhasilan menggunakan kemampuan yang Tujuan Khusus 6 Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada 6.1 Keluarga memberi dukungan dan pujian 6.

1.1.1.3 Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah 6.4 Jelaskan cara melaksanakan jadwal kegiatan klien di rumah 6.5 Anjurkan memberi pujian pada klien setiap berhasil Rasionalisasi : dukungan keluarga meningkatkan derajat kesembuhan klien 40 .6.

Memualisasi TUK 2 b. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Nama Klien Ruang No. biasa dipanggil Tn. klien mau menceritakan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki 41 . saya berasal dari Welahan Jepara” Klien menjawab pertanyaan perawat “Hobi saya membaca Alqur’an. nama panggilan serta asal d. RM Tgl/ jam 8/1 08 08. suka tangga seperti mencuci pakaian. N : IV (Dewa Ruci) : 041402 Implementasi Keperawatan TUK 1 Membina hubungan saling percaya a.N.Q.N. nada bicara rendah/ pelan. Memperkenalkan diri dengan menyebut nama alamat dan berjabat tangan c. gelas atau sendok. mencuci piring. Menjelaskan tujuan pertemuan yaitu ingin membantu menyelesaikan masalah klien TUK 2 a.15 No Dx 1 : Tn. Tanyakan pada klien tentang kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien c. Menanyakan nama lengkap klien. duduk berdampingan dengan perawat. Tetapi kegiatan saya berdagang TTD lengkap. Memberikan reinforcement positif atas keberhasilan klien Evaluasi S : “Wa’alaikum salam…” “nama saya Tn. kontak mata cukup. Menyapa dan memberi salam b. membantu pekerjaan rumah O : Klien mau berjabat tangan dengan perawat Klien tersenyum. juga menyapu lantai. nama panggilan.

mengungkapkan segala kemampuan klien d. makannya habis. obatnya 42 .45 TUK 3 Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan Mengucapkan salam Mengajak klien untuk berbincang-bincang nama perawat S : Klien mengatakan wa’alaikum salam “Mas Fajar” Klien mengatakan tadi malam tidurnya nyenyak. Menyampaikan kontrak waktu untuk pertemuan berikutnya Klien kooperatif saat bicara dengan perawat A : TUK 1 tercapai Klien mau menyebut nama lengkap. nama yang disukai serta alamat TUK 2 tercapai Klien mau mengungkapkan kemampuan dan aspek positif P : P : optimalkan TUK 2 Lanjutkan TUK 3 dan 4 K : katakan pada klien bahwa perawat ingin membantu klien dan ingin menjadi teman klien Katakan bahwa perawat siap kapan saja klien mau bercerita tentang masalah yang dihadapi Motivasi klien untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki Anjurkan untuk mengingat 9/1 08 08.

duduk berdampingan dengan perawat. kontak mata cukup.sesuai kontrak sebelumnya Mengingatkan kembali (identitas / nama perawat) Bertanya pada klien tentang kontrak hari ini Mendiskusikan kemampuan klien yang dapat dilakukan selama di rumah sakit atau di rumah TUK 4 Klien dapat menetapkan dan merencakan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki Meminta klien untuk memilih kegiatan yang akan dilakukan di rumah sakit Memberi pujian atas keberhasilan klien Merencanakan kontrak yang akan datang Mencoba kegiatan yang dipilih sudah diminum Klien mengatakan perasaannya lebih baik dari kemarin Klien memilih menyapu O : Klien mau menjawab salam Klien mau berjabat tangan dengan perawat Klien tersenyum. nada bicara rendah Klien mau mencoba pilihannya Klien melakukan kegiatan dengan baik Klien kooperatif saat bicara dengan perawat A : TUK 3 tercapai Klien mau menilai kemampuan yang digunakan TUK 4 tercapai Klien dapat mencoba kegiatan yang dipilih P : P : optimalkan TUK 4 Lanjutkan TUK 5 dan 6 43 .

disamping perawat Klien mau berjabat tangan Klien ingat nama perawat Klien kooperatif Klien membuat jadwal kegiatan Klien tersenyum A : TUK 4 klien mampu merencanakan kegiatan yang akan dilakukan sesuai kemampuannya Klien menulis beberapa jadwal bersama perawat TUK 4 terpenuhi P : P : optimalkan TUK 4 Lanjutkan TUK 5 44 .K : katakan bahwa perawat siap kapanpun klien mau bercerita tentang masalah yang dihadapi Anjurkan klien untuk mengingat nama perawat Anjurkan klien membuat 10/1 08 09.30 TUK 4 Klien dapat menetapkan dan merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki Mengucapkan salam Mengajak klien untuk berbincang-bincang sesuai kontrak sebelumnya dengan klien Mengingatkan kembali identitas perawat Bertanya kepada klien tentang kontrak hari ini Mendiskusikan dengan klien kemampuan klien yang dapat dilakukan selama sakit atau di rumah Memberikan kertas jadwal kepada klien beserta bolpoinya Merencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan jadwal kegiatan sehari-hari S : “Wa’alaikum salam” Klien mengatakan mas Fajar Klien mengatakan akan mencuci gelas dan sendok setelah makan siang Klien mengatakan mau membuat jadwal kegiatan sehari-hari O : Klien duduk.

lanjutkan TUK 6 K : motivasi untuk melakukannya baik di rumah sakit ataupun di rumah Katakan pada klien bahwa perawat merasa senang karena mau mempraktekan 10/1 08 12.45 TUK 5 Klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan kondisi sakit dan kemampuannya Mengucapkan salam Mengajak klien berbincang sesuai kontrak sebelumnya Mengingatkan kembali identitas perawat Mengingatkan kembali topik yang akan dibahas Memberikan kesempatan kepada klien untuk mencoba kegiatan yang ada pada jadwal Memberi pujian atas keberhasilannya Mendiskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah 45 .- Mendiskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya K : motivasi klien untuk merencanakan dalam daftar / jadwal yang telah dibuat S : “Wa’alaikum salam” “mas Fajar” Klien mengatakan sudah menulis daftar / jadwal Klien mau berjabat tangan O : Klien Memperagakan apa yang ada pada daftar Klien mencuci gelas dan sendok A : TUK 5 klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya Klien mencuci gelas dan sendok di depan perawat TUK 5 terpenuhi P : P : optimalkan TUK 5.

00 TAK Makan sore Sholat maghrib Mengaji 46 .00 Makan Siang Sholat dhuhur 14.00 11.30 Mandi Olahraga 07.30 Istirahat Mandi Sholat asar 16.00 09.00 08. Bangun tidur & sholat subuh 2.00 Sarapan pagi TAK Relaksasi Cerita-cerita Nonton TV 12. Membaca Al Qur'an 06.00 Kegiatan 1 .00 17.Lampiran: Jadwal Kegiatan di RSJD ruang IV Jam 05.00 18.00 15.

Gangguan konsep diri: harga diri rendah berhubungan dengan peran diri tidak efektif c.00-14. Salam Terapeutik Assalamu'alaikum Bapak N. a. Apa yang terjadi di rumah sehingga Bapak N harus dibawa ke sini? 3). Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki. Saya pagi ini akan merawat Bapak N dari pukul 07.15 1. Proses Keperawatan 1.00 nanti. Membina hubungan salinh percaya 2. Evaluasi /Validasi Klien menjawab salam. Kontrak Topik : Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang kemampuan atau hobby atau hal-hal yang biasa Bapak N lakukan Tempat: Dimana kita akan bercakap-cakap? Bagaimana kalau di sini saja? b.00 21.19. Diagnosa : 47 . Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan ( SP ) a. nama saya Fajar Aris. TUK : 1.00 Sholat isya Tidur malam STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN ( SP I ) Masalah keperawatan : Harga diri rendah Pertemuan : 8 januari 2008 / 08. 2). biasa dipanggil fajar. Orientasi 1). 2. Kondisi : Klien mengatakan malu dan tidak berguna.

Evaluasi Subyektif : Bagaimana perasaan Bapak N setelah kita bercakapcakap? 2. 48 .30 ya! Berapa lama kita akan berbincang-bincang? Bagaimana kalau 20 menit? Baiklah. 4.Waktu : Berapa lama kita akan bercakap-cakap? Bagaimana kalau 10 menit saja? b. nanti coba Bapak N ingat lagi kemampuan yang belum disampaikan. Tempat : Kira. Rencana Tindak Lanjut : Baiklah. waktu kita sudah habis. bila ada sesuatu yang ingin disampaikan saya ada diruang perawatan. Kontrak Topik : Besok kita akan melihat kemampuan Bapak N yang masih dapat dilakukan di rumah sakit. Terminasi 1. silahkan Bapak N melanjutkan kegiatan. Kerja Apa yang biasa Bapak N dirumah? Sekarang yang biasa dilakukan di tempat kerja? Apa yang Bapak N senangi dari keluarga? Bagaimana dengan istri dan anakanak? Bagaimana pula dengan tempat tinggalnya? Apa ada yang disenangi disana? c.kira dimana kita akan bicara? Bagaimana kalau di tempat ini saja? Waktu : Kira-kira besok jam 08. Evaluasi Obyektif : Apa saja tadi kemampuan Bapak N? Bagus sekali! Apa saja tadi yang disenangi dirumah? Bagus sekali! 3.

2. Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan ( SP ) a. Proses Keperawatan a. Kontrak Topik : Masih ingat apa yang akan kita bicarakan hari ini? Betul! Hari ini kita akan melihat daftar kemampuan bapak yang dapat dikerjakan dirumah sakit.STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN ( SP II) Masalah keperawatan : Harga diri rendah Pertemuan : 9 januari 2008 / 08. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan 4.15 1. TUK : Klien telah mengetahui beberapa kemampuan dan aspek positif yang dimiliki : Gangguan konsep diri: harga diri rendah berhubungan dengan peran diri tidak efektif : 3. Kondisi b. Evaluasi /Validasi Menjawab salam. Klien dapat menetapkan dan merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. 49 . Salam Terapeutik Assalamu'alaikum Bapak N. masih ingat dengan saya? Bagus 2). Bagaimana perasaan bapak pagi ini? Kemarin kita sudah berbincang-bincang mengenai kemampuan atau hobby bapak. Diagnosa c. Orientasi 1). Masih ada kemampuan bapak yang belum diceritakan? 3).

bapak juga bisa melakukannya di rumah setelah nanti bapak pulang dari rumah sakit. Kerja Ini daftar kemampuan yang bapak miliki. waktu kita sudah habis. Rencana Tindak Lanjut : Baiklah. yang telah kita bicarakan kemaren. Bapak. Bagus! Nah.Tempat : Dimana kita akan bercakap-cakap? Bagaimana kalau di sini saja? Waktu : Berapa lama kita akan bercakap-cakap? Bagaimana kalau 20 menit saja? b. sesuai dengan pilihan bapak. 4. Kontrak Topik : Nah. sekiranya mana saja yang dapat dilakukan selama bapak di rumah sakit. yaitu menyapu. bagaimana kalau sekarang kita coba kemampuan yang tadi sudah bapak pilih? Sekarang mari kita coba. Nanti kegiatan ini bisa dilakukan apabila lantai kotor. Terminasi 1. sekarang sudah selesai. dan membuat jadwal kegiatan yang bisa bapak lakukan selama di rumah sakit.30 ya! Berapa lama kita akan berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit? Baiklah. c. Evaluasi Subyektif : Bagaimana perasaan Bapak N setelah kita melakukan kegiatan tadi? 2. apa masih ada tambahannya? Nah. besok kita akan latihan kemampuan yang lain. bagaimana? Tempat Waktu : Kira. sekarang coba kita lihat satu persatu. mari kita duduk lagi. bila ada sesuatu yang ingin disampaikan saya ada diruang perawatan 50 . silahkan Bapak N melanjutkan kegiatan. Evaluasi Obyektif : Coba sekarang sebutkan tadi bapak melakukan kegiatan apa! Terus tadi bagaiman cara mengerjakannya? Bagus! 3.kira dimana kita akan bicara? Bagaimana kalau di tempat ini saja? : Kira-kira besok jam 09.

Evaluasi /Validasi Menmjawab salam. Kontrak Topik : Masih ingat apa yang akan kita bicarakan hari ini? Betul! Hari ini kita akan membuat jadwal kegiatan sehari-hari sesuai dengan 51 . masih ingat dengan saya? Bagus 2). b. 3). Kondisi : Klien telah mengetahui beberapa kemampuan dan aspek positif yang dimiliki yang dapat dilakukan di rumah sakit. Bagaimana perasaan bapak pagi ini? Kemarin kita sudah latihan salah satu kemampuan yang dimiliki Bapak N. Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan ( SP ) a. dan telah melatih satu kemampuannya. 2. Proses Keperawatan a.45 1. Diagnosa : Gangguan konsep diri: harga diri rendah berhubungan dengan peran diri tidak efektif c. Orientasi 1). TUK : 4. menyusun jadwal kegiatan. Salam Terapeutik Assalamu'alaikum Bapak N. Klien dapat menetapkan dan merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN ( SP III) Masalah keperawatan : Harga diri rendah Pertemuan : 10 Januari 2008 / 08.

kira dimana kita akan bicara? Bagaimana kalau di tempat ini saja? Waktu : Kira-kira besok jam 12. Kontrak Topik : Nah. Evaluasi Subyektif : Bagaimana perasaan Bapak N setelah kita berbincangbincang? 2.30 ya! Berapa lama kita akan berbincangbincang? Bagaimana kalau 15 menit? Baiklah. c. Evaluasi Obyektif : Coba sekarang sebutkan tadi bapak melakukan kegiatan apa! Bagus! 3. sekarang kita buat ya pak! Bagus! Jadwal kegiatan sudah dibuat. Bagaimana? Tempat : Kira. waktu kita sudah habis. jadwal kegiatan ini bisa dilakukan mulai nanti siang ya pak! 4. Nah. silahkan Bapak N melanjutkan kegiatan. bila ada sesuatu yang ingin disampaikan saya ada diruang perawatan 52 . sesuai dengan jadwal kegiatan yang telah kita buat tadi. Kerja Ini daftar kemampuan yang bapak miliki. mulai nanti siang sudah bisa dilakukan ya pak! . Nah. tentunya sesuai dengan daftar kemampuan yang dimiliki bapak yang telah kita bicarakan beberapa waktu yang lalu. Rencana Tindak Lanjut : Baiklah. kemaren bapak telah mencoba salah satu kemampuan bapak yang bapak miliki. Tempat Waktu : Dimana kita akan bercakap-cakap? Bagaimana kalau di sini saja? : Berapa lama kita akan bercakap-cakap? Bagaimana kalau 20 menit saja? b. nanti kita akan latihan kemampuan yang lain. Terminasi 1.kemampuan bapak yang dapat dikerjakan selama di rumah sakit. sekarang kita akan membuat jadwal kegiatan bapak sehari-hari yang sekiranya dapat dilakukan selama bapak di rumah sakit.

TUK : Gangguan konsep diri: harga diri rendah berhubungan dengan peran diri tidak efektif : 5. Orientasi 1). Kontrak Topik : Masih ingat apa yang akan kita bicarakan siang ini? Betul! Siang ini kita akan melihat jadwal kegiatan siang ini sesuai dengan kemampuan bapak yang dapat dikerjakan selama di rumah sakit.45 1. Evaluasi /Validasi Menjawab salam. Kondisi : Klien telah mengetahui beberapa kemampuan dan aspek positif yang dimiliki yang dapat dilakukan di rumah sakit. Diagnosa c. Tempat : Dimana kita akan bercakap-cakap? Bagaimana kalau di sini saja? 53 . Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan ( SP ) a. 3). Bagaimana perasaan bapak siang ini? Tadi kita sudah membuat jadwal kegiatan sehari-hari selama bapak dirawat di rumah sakit. Proses Keperawatan a. masih ingat dengan saya? Bagus! 2). 2. Salam Terapeutik Assalamu'alaikum Bapak N.STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN ( SP IV) Masalah keperawatan : Harga diri rendah Pertemuan : 10 Januari 2008 / 12. dan telah melatih satu kemampuannya serta telah membuat jadwal kegiatan sehari-hari. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan kondisis sakit dan kemampuannya. b.

sekarang mari kita coba. siang ini bapak akan mencuci gelas dan sendok. Rencana Tindak Lanjut : Baiklah. Nanti coba terus selama di rumah sakit ya pak. kemampuan Bapak N yang akan kita lakukan apa? Betul! Sesuai dengan jadwal. c. . Sesuai dengan jadwal yang telah kita buat tadi. Evaluasi Subyektif : Bagaimana perasaan Bapak N setelah melakukan sendiri? Bagus sekali! 2. 4. sekarang sudah selesai. Bagaimana kalau kita latih lagi kegiatan yang ketiga! Tempat : Kira. mari kita duduk kembali. Kontrak Topik : Nah. silahkan Bapak N melanjutkan kegiatan. Evaluasi Obyektif : Jadi sudah berapa kegiatan yang sudah bapak lakukan? Bagus sekali! Sekarang sebutkan kegiatan apa saja yang bapak sudah lakukan! Bagus! 3. dan ini merupakan pekerjaan harian. Kerja Ini jadwal yang telah kita buat tadi. Bagus! Nah.kira dimana kita akan bicara? Bagaimana kalau di tempat ini saja? Waktu : Berapa lama kita akan berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit? Baiklah. Nah. sudah dua kegiatan yang dilakukan. waktu kita sudah habis.Waktu : Berapa lama kita akan bercakap-cakap? Bagaimana kalau 15 menit saja? b. Terminasi 1. bila ada sesuatu yang ingin disampaikan saya ada diruang perawatan 54 .

perlu dukungan dan motivasi dari berbagai pihak. Kesimpulan Gangguan harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif. Menolong dan mendorong klien agar mampu bersikap positif terhadap diri sendiri maupun orang lain harus dilakukan sebagai upaya peningkatan rasa optimsme terhadap diri sendiri. Bagi Perawat. Perawatan lebih lanjut oleh perawat ruangan maupun keluarga dibutuhkan dalam menunjang proses pemulihan klien walaupun saat ini kondisi klien tampak membaik.BAB IV PENUTUP A. B. Saran 1. Untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan permasalahan yang muncul pada klien. Seseorang yang mempunyai harga diri rendah biasanya seseorang tersebut akan merasa gagal mencapai keinginannya dan merupakan masalah bagi banyak orang dan diekspresikan melalui tingkat kecemasan yang sedang sampai berat. Menumbuhkan dan meningkatkan kepercayaan diri klien agar dapat memperbaiki hubungan sosial dengan orang lain serta lingkungannya merupakan upaya luhur yang harus dilakukan pada klien dengan harga diri rendah. namun sebenarnya yang paling utama adalah dukungan yang lahir dari keluarga. 55 . diperlukan pendekatan yang optimal pada klien dengan masalah harga diri rendah untuk memberikan support kepada klien agar klien mempunyai konsep diri yang lebih baik.

1993. Bagi Institusi Rumah Sakit. Sundeen SJ. Clinical Manual Of Psychiatric Nursing . Lynda Juall. Edisi 10. Untuk menunjang keberhasilan perawatan klien dengan harga diri rendah perlu ditingkatkan hubungan kerja sama antara pihak Rumah Sakit dan keluarga dalam perawatan klien baik di rumah sakit maupun sesudah klien pulang ke rumah. 1996.Gail W. Peran Serta Keluarga Dalam Perawatan Jiwa. Jakarta: EGC ----------------------. Jakarta: EGC Stuart. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. 1996. St Louis: The CV Mosby Year Company --------------------------. dengan cara inilah rasa optimisme dan perasaan positif terhadap diri sendiri akan muncul. Alih Bahasa: Yasmin Asih. Gangguan Konsep Diri. 4. Editor: Pamilih Eko Karyuni. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Mental Health Psychiatric Nursing. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Bagi Institusi Pendidikan. Edisi 3. diharapkan selalu memberi motivasi kepada klien dengan harga diri rendah. Jakarta: EGC ----------------------. agar senantiasa mengembangkan sayap melalui cara aktual dalam menyelesaikan masalah klien dengan harga diri rendah. Editor: Silvana Evi Linda. 2007. Hubungan Therapeutik Keperawatan. DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Bagi Keluarga.2. St Louis: The CV Mosby Year Company Stuart. Edisi 5. 1993. Jakarta: EGC Rawlins and Heacock. Alih Bahasa: Ramona P. Jakarta : EGC Keliat. 1994. Budi Anna. Kapoh.Gail W. 2007. Jakarta : EGC 56 . 3.

St Louis : The CV Mosby Year Book. M.Stuart. Jakarta: EGC 57 . 7th ed. St Louis: The CV Mosby Year Book Townsend. 1995 Principle and Practice of Psychiatric Nursing. (1998) Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikiatri untuk Pembuatan Rencana Keperawatan. Gail W and Sundeen SJ. Gail W and Laraia. 2001 Principle and Practice of Psychiatric Nursing. 5th ed.C. Stuart.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->