P. 1
ileus obstruksi

ileus obstruksi

|Views: 965|Likes:
Published by Ratna Iswari

More info:

Published by: Ratna Iswari on Jul 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/24/2013

pdf

text

original

CASE REPORT SUB BAGIAN BEDAH DIGESTIVE Ileus Obstruktif

Rabu, 3 Mei 2006

OLEH Akhmad Hidayatullah C11.050.001 Meisa Puspitasari C11.050.095

BAGIAN BEDAH RSUP. HASAN SADIKIN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNPAD 2006
Case Report Sub Bagian Bedah Digestive Rabu 3 Mei 2006 IDENTITAS Nama Usia Alamat Bandung Pekerjaan Tgl masuk RS Tgl pemeriksaan ANAMNESA KU : Tidak bisa buang air besar (BAB) AK : Kurang lebih 2 minggu SMRS Os mengeluh tidak bisa BAB. Os juga mengeluh tidak bisa buang angin. Os merasa perut sebelah kiri penuh. Keluhan disertai kembung dan juga nyeri perut yang hilang timbul. Mual dan muntah disangkal. Riwayat panas badan disangkal. Buang air kecil tak ada kelainan. Sejak ±1 tahun yang lalu os mulai merasakan perubahan pola BAB, menjadi BAB setiap 10 hari sekali. Riwayat BAB berbentuk kecil-kecil seperti kotoran kambing disertai darah berwarna merah segar diakui. Keluhan disertai penurunan berat badan sebanyak ±25 kg selama setahun ini. Karena keluhannya Os berobat ke dokter umum tetapi keluhan tidak berkurang. Kemudian os berobat ke dokter spesialis bedah dan dikatakan terkena tumor di saluran pencernaan. Lalu os datang ke UGD RSHS. Riwayat tidak pernah makan sayuran diakui. : : Rabu, 26 April 2006 : Selasa, 2 Mei 2006 : Tn. J : 26 thn : Guna Sari RT 02 RW 05, Sumedang Selatan,

2

Riwayat operasi sebelumnya disangkal. Riwayat keluarga dengan penyakit serupa disangkal. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Tensi Nadi Respirasi Suhu Kepala Konjunctiva Sklera Mulut Leher Thoraks Wheezing (-) Abdomen : lihat status lokalis Ekstrimitas Status Lokalis : a/r abdomen cembung, bising usus (+) meningkat, metallic sound (+) Dum contour (+), Dun Steiny (+) DM (-), NT(-) PS/PP (-)/(-) Hepar tidak teraba Lien tidak teraba RT : Sphingter lemah, mukosa terasa massa keras, sirkuler, berbenjol-benjol 5 cm dari anal, NT(-), sarung tangan : feses (+), darah (-) Resume : dbn : tidak anemis : tidak ikterik : mukosa kering (+) : JVP tidak meningkat, KGB tidak teraba : bentuk dan gerak simetris, VBS kiri=kanan, Ronkhi (-), : CM Tampak sakit sedang : 120/70 mmHg : 104x/ mnt : 24x/mnt : afebris

3

Seorang pria berusia 26 tahun datang dengan keluhan utama tidak bisa buang air besar (BAB). Keluhan dirasakan sejak ±2 minggu SMRS. Flatus (-),perut sebelah kiri terasa penuh, kembung (+), nyeri abdomen (+). Mual dan muntah (-). Panas badan (-). Buang air kecil tak ada kelainan. Sejak ±1 tahun yang lalu os mulai merasakan perubahan pola BAB, menjadi BAB setiap 10 hari sekali. Riwayat BAB berbentuk kecil-kecil seperti kotoran kambing disertai darah berwarna merah segar diakui. Riwayat penurunan berat badan yang drastis (+). Riwayat berobat tapi tidak ada perbaikan (+). Os berobat ke dokter spesialis bedah dan didiagnosis tumor di saluran pencernaan. Lalu os datang ke UGD RSHS. Riwayat tidak pernah makan sayuran (+). Riwayat operasi sebelumnya (-). Riwayat keluarga dengan penyakit serupa (-). Status generalis: T: 120/70, N:104x/m, R:24x/m, S:afebris. Pada pemeriksaan fisik terlihat mukosa mulut kering. Status lokalis a/r abdomen terlihat bentuk abdomen cembung, bising usus (+) meningkat, metallic sound (+), Dum contour (+), Dun Steiny (+), DM (-), NT(-), PS/PP (-)/(-), Hepar tidak teraba, Lien tidak teraba. RT: Sphingter lemah, mukosa terasa massa keras, sirkuler, berbenjolbenjol 5 cm dari anal, NT(-), sarung tangan : feses (+), darah (-). Lainlain dalam batas normal. Diagnosa Klinis: Ileus obstruksi totalis e.c suspect Carcinoma Recti 1/3 distal + dehidrasi sedang DD: Ileus obstruksi totalis e.c suspect Volvulus + dehidrasi sedang Pemeriksaan Penunjang : Darah lengkap, CEA Urinalisa BNO 3 posisi

4

Rencana pengelolaan IVFD RL rehidrasi sedang Rencana cito colostomy + biopsi PA NGT Antibiotika: Cefotaxime, Metronidazole Rantin Hasil Lab Tgl 26/4/06 Hb Leukosit Ht Trombosit CEA Ureum Kreatinin Na K Urinalisa BJ pH Protein Reduksi Bilirubin Nitrit Keton Eri Leuko ::+++ : 1-2 : 2-3 : 1,025 : 5.0 :+ : Negatif :1 :8 : 136 : 4,8 : 15 : 7900 : 45 : 350.000 : 207,5 (normal <3,4 ng/ml) : 49 : 0,88

Glukosa sewaktu :105

Urobilinogen

5

Epitel

: 1-2

Granular cast : positif Tinjauan Pustaka Ileus Obstruktif Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan aliran normal isi usus sepanjang saluran usus. Obstruksi ini dapat akut atau kronik, parsial atau total. Obstruksi usus kronik biasanya mengenai kolon sebagai akibat karsinoma dan perkembangannya lambat. Sebagian besar obstruksi mengenai usus halus. Obstruksi usus halus toal merupakan keadaan gawat yang memerlukan diagnosis dini dan tindakan pembedahan darurat. Terdapat 2 jenis obstruksi, yaitu ileus paralitik (adinamik) dan ileus obstruktif (mekanik). Pada ileus paralitik terjadi hambatan peristaltik usus karena toksin atau trauma yang mempengaruhi kontrol otonom pergerakan usus. Sedangkan pada ileus obstruktif terdapat rintangan fisik yang menghalangi proses pengeluaran isi usus. Pada orang dewasa,15% obstruksi usus terjadi dimana saja, tetapi yang tersering adalah di kolon sigmoid. Penyebabnya dapat berupa proses mekanik, inflamasi, atau keganasan. Diagnosa ileus obstruktuf dapat dilakukan dengan cara menetukan sifat dan letak sumbatan. Berdasarkan sifatnya, ileus obstruksi dibagi menjadi simple obstruction dan strangulated obstruction. Sedangkan berdasarkan letaknya dapat dibedakan menjadi letak tinggi, mulai gaster sampai ileum termina dan letak rendah mulai ileum terminal sampai anus. Pembagian obstruksi berdasarkan letaknya dapat juga dibedakan menjadi obstruksi pada usus halus, usus besar, duodenum dan closed-loop obstruction. Etiologi

6

Obstruksi usus dapat bersifat mekanis atau non mekanis. Penyebab obstruksi mekanis pada lumen dibagi menjadi (1) lesi ekstrinsik pada usus, misalnya hernia interna dan eksterna, (2) lesi instrinsik pada dinding usus, misalnya divertikulitis, karsinoma, dan (3) obstruksi lumen, misalnya batu empedu, intusepsi. Ada banyak klasifikasi obstruksi usus, diantaranya berdasarkan letak, yaitu ekstralumen (termasuk adhesi dan neoplasma), intraluminal (seperti gallstone ileus atau striktur) dan intramural (Crohn’s disease). Berdasarkan mekanisme obstruksinya dibedakan menjadi mekanik dan motilitas inadekuat. Penyebab obstruksi mekanik berhubungan dengan golongan usia yang terserang dan tempat obstruksi. Sekitar 50% terjadi karena operasi sebelumnya. Dapat disebabkan oleh obstruksi lumen (mekonium, intusepsi, batu empedu, impaksi oleh feses, barium, cacing) dan lesi pada usus (berupa kelainan congenital, trauma, inflamasi, neoplasma, volvulus). Sedangkan motilitas inadekuat dapat disebabkan oleh gangguan neuromuskular (megakolon, ileus paralitik, ileus spasme) dn oklusi vaskuler. Ileus paralitik disebabkan oleh distensi abdomen, peritonitis, toxemia, gangguan elektrolit. Meskipun demikian, secara klinis yang palinbg bermanfaat adalah mempertimbangkan apakah mekanisme obstruksi melibatkan usus kecil, duodenum, atau usus besar. Hal ini karena penyebab, gejala dan pengobatannya berbeda. Obstruksi usus halus sering disebabkan oleh hernia inkarserata atau karena adhesi. Penyebab lain obstruksi usus halus dapat karena tumor (primer atau metastase), obstruksi benda asing, Meckel,s divertikulum atau Crohn’s disease, askarisis. Volvulus usus tengah jarang terjadi. Intusepsi pada remaja dan dewasa sering disebabkan oleh tumor. Pada bayi sering disebabkan oleh mekonium usus, atresia, volvulus dan intusepsi.

7

Obstrusi usus besar disebabkan oleh tumor, divertikulitis, volvulus dan impaksi feses. Tumor meliputi kanker yang menghambat lumen dan jarang lesi jinak yang dapat menyebabkan intusepsi. Obstruksi kanker paling sering terjadi pada splenik dan flexura sigmoid.

Patofisiologi Pada prinsipnya, mekanisme obstruksi usus dengan supai darah yang baik adalah akumulasi cairan dan gas di atas titik obstruksi serta perubahan motilitas usus yang menyebabkan gangguan sistemik. Keseimbangan cairan dalam usus tergantung dari absorpsi dan sekresi. Akumulasi cairan terjadi oleh karena penurunan absorpsi dan/atau peningkatan sekresi. Distensi usus disebabkan oleh kumpulan gas dan cairan proksimal terhadap dan di dalam segmen usus yang tersumbat. Diantara 70-80% gas dalam usus terdiri atas udara yang tertelan. Udara ini terdiri dari nitrogen (70%) yang sulit diserap dari lumen usus sehingga pengeluaran udara secara berkesinambungan melalui pengisapan lambung adalah cara yang bermanfaat dalam pengobatan distensi usus. Kumpulan cairan proksimal terhadap mekanisme obstruksi tidak hanya dihasilkan dari cairan yang diminum, air liur yang ditelan, getah lambung serta sekresi empedu dan pankreas tetapi juga dari terganggunya transport normal natrium dan air. Selama 12 sampai 24 jam obstruksi pertama, terdapat penurunan aliran natrium yang disertai dengan air, dari lumen usus ke dalam darah di bagian proksimal usus yang mengalami distensi. Setelah 24 jam, terjadi perpindahan natrium dan air ke dalam lumen usus yang dapat memeperberat distensi dan cairan yang hilang. Tekanan intraluminal meningkat dari nilai normalnya 2-4 cmH2O menjadi 8

8

cmH2O. Selama peristaltik, bila ada obstruksi sederhana atau closed loop, tekanan intraluminal mencapai 30-60 cmH2O. Obstrusi closed loop pada usus halus timbul bila lumen usus tersumbat pada dua tempat yaitu pada pembuluh darah aferen dan eferen. Hal ini terjadi oleh mekanisme tunggal seperti cincin hernia, yang secara bersamaan suplai darah sering terhambat. Meskipun aliran darah pada usus besar tidak terganggu selama mekanisme obstruksi, namun distensi caecum terlihat karena diameternya yang besar (hukum LaPlace) dan terganggunya aliran darahnya intramural sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan gangrene dinding caecum, biasanya di anterior. Nekrosis usus halus dapat terjadi melalui mekanisme yang sama bila distensi sangat mencolok. Bila terjadi gangguan aliran darah, timbul invasi bakteri dan dapat berkembang peritonitis. Pada penelitian disimpulkan bahwa peningkatan sekresi merupakan penyebab utama kehilangan cairan tubuh dan distensi abdomen. Pelepasan prostaglandin sebagai respon terjadinya distensi abdomen juga meningkatkan sekresi ke lumen. Cairan dan elektrolit yang hilang dapat sangat ekstrim sehingga menimbulkan hemokonsentrasi, hipovolemi, insufisiensi ginjal, syok, dan kematian bila tidak dikoreksi.

Gejala Klinis Obstruksi mekanis usus halus ditandai dengan nyeri abdomen bagian tengah seperti kram yang bertambah berat sejalan dengan makin beratnya obstruksi. Nyeri bersifat hilang timbul. Nyeri dapat berkurang sejalan dengan bertambahnya distensi, mungkin disebabkan oleh gannguan motilitas pada usus yang membengkak. Bila terjadi strangulasi, biasanya nyeri lebih terlokalisir dan mungkin menetap. Gejala muntah paling sering ditemukan dan timbulnya lebih

9

awal pada obstruksi usus halus. Awalnya, muntahan mengandung empedu dan mukus dan menetap bila obstruksi ususnya tinggi. Pada obstruksi letak rendah, muntahannya fekulen, yaitu berwarna coklat jingga dan berbau busuk yang disebabkan oleh pertumbuhan bakteri berlebih pada bagian proksimal tempat obstruksi. Obstipasi dan kegagalan mengeluarkan gas sering ditemukan bila obstruksinya komplit, meskipun pada awalnya terjadinya obstruksi beberapa feses dan gas dapat dikeluarkan dengan spontan atau setelah pemberian enema. Diare kadang terdapat pada obstruksi parsial. Darah dalam feses jarang ditemukan, tetapi muncul pada kasus intusepsi. Obstruksi mekanik pada usus besar sering menimbulkan nyeri kolik yang tidak terlalu hebat. Muntah tidak terlalu menonjol. Muntahan fekulen jarang terjadi. Distensi abdomen tampak jelas. Riwayat perubahan kebiasaan buang air besar dan darah dalam feses sering disebabkan oleh karsinoma dan divertikulosis. Penderita tidak dapat defekasi atau flatus, dan bila penyebabnya volvulus sigmoid, perut dapat menjadi besar sekali. Bila pada colok dubur trasa massa di rektum atau terdapat darah atau lendir, maka hal itu membantu diagnosis kemungkinan karsinoma rektum. Pada ileus adinamik, tidak ada gejala kolik dan hanya rasa tidak enak yang disebabkan distensi. Muntah dapat sering terjadi tapi jarang profuse. Muntahan biasanya terdiri dari isi lambung dan empedu serta hampir tidak pernah fekulen. Obstipasi komplit dapat atau tidak diketemukan. Diagnosis Klinis Terdapat beberapa bentuk obstruksi usus, yang ditentukan dari bagaimana usus terobstruksi dan dimana letak obstruksinya. Pertamatama obstruksi dapat dibedakan menjadi simple atau strangulasi. Simple obstruction disebabkan oleh hambatan mekanik tanpa adanya gangguan aliran darah. Penebabnya dapat berupa obstruksi dari

10

cacing Ascaris atau adhesi. Simple obstruction dapat berkurang secara spontan. Diagnosis didasarkan 3 gejala: (1) kram abdomen di sekitar umbilicus atau epigastrium. Bila kram menjadi berat dan menetap mungkin tela terjadi strangulasi. (2) Muntah, merupakan gejala yang pertama timbul pada obstruksi usus halus. (3) Obstipasi, terjadi pada obstruksi komplit, sedangkan diare pada obstruksi parsial. Strangulated Obstruction. Terjadi bila ada hambatan mekanik dan adanya gangguan aliran darah. Penyebab tersering adalah hernia strangulasi dan volvulus. Dalam 6 jam setelah gangguan aliran darah, usus menjadi gangren dan bisa perforasi. Bila perforasi mencapai rongga peritoneum maka terjadi peritonitis dan bisa syok septik. Kemudian tentukan level dimana obstruksi terjadi: Obstruksi di usus halus menimbulakn pengaruh yang berbeda tergantung level dimana terjadinya. Pada obtruksi yang lebih tinggi, gejala awal berupa muntah dan dapat terjadi gangguan keseimbangan elektrolit dan jarang terjadi distensi. Obstruksi usus besar gejalanya muncul lebih lambat. Karena usus berdilatasi, maka terjadi distensi abdomen. Pada mulanya hanya terjadi dilatasi kolon, tapi kemudian katup ileosekal dapat menjadi inkompeten (pada 2/3 pasien) dan diikuti dilatasi bagian proksimal usus kecil. Gejala dehidrasi jarang berat karena kolon masih dapat mengabsorbsi cairan. Obstruksi Closed Loop dihasilkannya oleh katup ileosekal. Terjadi obstruksi di 2 tempat. Dapat terjadi pada volvulus. Dilatasi dapat menghambat aliran darah dan menimbulkan gangren dan peritonitis. Anamnesis Riwayat Nyeri Pada obstruksi usus halus, dapat terjadi nyeri periumbilikal dan kolik, menjadi spasme. Muntah dapat berkurang secara bertahap. Kadang-kadang nyeri reguler dan hilang dalam interval 2-5 menit. Jika

11

peristaltik berhenti, maka kolik juga berhenti dan merupakan tanda buruk. Obstruksi usus besar, nyeri timbul di bawah umbilikus dan menghilang dalam interval 6-10 menit. Bilatidak ada nyeri, namun terjadi gurgling dan bloating kemungkinan merupakan gejala subakut usus besar atau distal usus halus. Jika nyeri hebat dan terus menerus diduga terjadi obstruksi strangulasi. Dan bila nyeri disertai dengan demam maka diduga terjadi sepsis abdomen. Muntah Pada obstruksi lebih tinggi,m muntah lebih hebat dan sering. Setelah 3 hari obstruksi komplit, muntah menjadi fekulen. Konstipasi Jika usus halus obstruksi, maka kolon dalam sehari atau dua hari menjadi kosong. Tidak ada flatus. Pemeriksaan Fisik Distensi dan hiperesonasi Jika terjadi kolik dan muntah mungkin terjadi obstruksi. Distensi bukan merupakan gejala yang esensial. Tanda dini adalah daerah flank sedikit penuh atau peningkatan resonansi pada perkusi menjadi tympani. Bila meragukan antara distensi atau asites maka pada asites akan terjadi dullness. Bising usus Pada auskultasi terdengar borborigmus nada tinggi bersamaan dengan nyeri kolik tetapi penemuan ini sering tidak ada beberapa waktupada obstruksi strangulasi. Visible peristaltik Bila kulit tipis, maka akan terlihat gerakan peristaltik. Nyeri Tekan

12

Nyeri tekan dan kekakuan biasanya minimal dan terjadi pada obstruksi usus halus dan usus besar non-strangulasi. Teraba massa Bila teraba massa pada anak-anak, kemungkinan merupakan ascaris. Dan bila teraba gumpalan pada right lower quadran, kemungkinan tuberculosis ileosecal. Harus pula diperhatikan adanya pembesaran kelenjar limfe. Rectal Toucher Bila ditemukan darah segar dan mucus, kemungkinan strangulasi lebih tinggi atau karsinoma usus besar, atau intusepsi. Teraba massa keras feses diduga konstipasi adalah penyebabnya. Pemeriksaan Laboratorium Pada pemeriksaan lab dapat ditemukan peningkatan urea nitrogen darah, peningkatan kreatinin, hemokonsentrasi, hiponatremi, hipokalemi dan proteinuri. Gangguan asam basa terjadi akibat hipovolemia. Asidosis metabolik paling sering terjadi akibat dehidasi, kelaparan. Ketosis dan kehilangan basa. Alkalosis metabolik jarang terjadi dan merupakan akibat kehilangan gastric juice oleh karena muntah. Asidosis respiratorik terjadi karena distensi abdomen, yang menyebabkan diafragma terangkat sehingga terjadi retensi CO2. Leukositosis dengan sebagian shift to the left. Leukosit berjumlah 15.000-25.000/mm3 dengan predominan PMN dengan sel immatur mengindikasikan adanya strangulasi. Bisa tedapat peningkatan serum amilase oleh karena regurgitasi dari pankreas ke aliran darah karena backpressure dari duodenum. Pemeriksaan X-Ray Pada posisi terlentang, akan didapatka bahwa terjadi obstruksi, derajat obstruksi dan kadang dapat menentukan penyebabnya. Harus diperhatikan bahwa tidak boleh diberikan kontras. Gas pada

13

peritoneum dapat dilihat di bawah diafragma. Bila pada sekum tidak terlihat adanya banyangn udara, maka obstruksi terjadi di usus halus. Pada kolon yang distensi, gambarannya seperti bingkai yang meliputi rongga abdomen. Kolon dibedakan dari usus halus karena adanya gambaran haustra yang tidak melingkari seluruh lumen kolon yang distensi. Pada obstruksi strangulasi cairan peritoneum akan tampak sebagai celah yang melebar diantara loop usus yang berdekatan serta berdilatasi. Hal ini dapat ditemukan pula pada obstruksi simpel. Menghilangnya gambaran mukosa serta adanya gas dalam dinding usus atau cabang-cabang intrahepatik dari vena porta menunjukan adanya strangulasi. Adanya air fluid level di luar usus menunjukan adanya perforasi. Manajemen Obstruksi parsial usus dapat diobati secara konservatif selama masih ada keluarnya feses dan flatus. Pengobatan dengan menggunakan NGT menunjukan angka keberhasilan 90%. Operasi dibutuhkan bila obstruksi tetap ada dalam beberapa hari walaupun obstruksinya parsial. Resusitasi cairan harus segera dimulai dengan cairan isotonik dan gangguan elektrolit harus segera dikoreksi. Selain itu tanda vital dan penyakit sistemik lainnya harus dimonitor. Antibiotik harus segera diberikan terutama bila dicurigai adanya strangulasi. Obstruksi pada kolon bagian kiri sebaiknya diterapi dengan mereseksi segmen yang terobstruksi. Karena hal ini berguna untuk secepatnya membuang lesi (sering tumor ganas) daripada untuk menundanya berhari-hari atau beringgu-minggu setela sebelumnya dilakukan tindakan manuver dekompresi. Anastomosis biasanya ditunda dan end-colostomi dibuat untuk sementara.

14

Permasalahan 1. Apakah penegakkan diagnosis pada kasus di atas sudah tepat? Dari anamnesa didapatkan riwayat: Obstipasi atau konstipasi kronik Distensi abdomen Nyeri abdomen yang tidak terlalu hebat Mual dan muntah (-) Hematoskizis Dari riwayat tersebut merupakan gejala dari obstruksi pada kolon yang kronik. Kemudian pada pemeriksaan fisik ditemukan bising usus (+) meningkat, metallic sound (+), Dum contour (+), Dun Steiny (+), DM (-), NT(-), PS/PP (-)/(-) yang menunjukan etiologi dari obstruksi adalah mekanik yang belum perforasi. Selain itu, diagnosa obstruksi totalis didapatkan dari keluhan tidak bisa flatus dan BAB. Dari anamnesa didapatkan adanya riwayat BAB seperti kotoran kambing dan berdarah, dan riwayat penurunan berat badan yang drastis. Serta pada pemeriksaan RT ditemukan sphingter lemah, mukosa terasa massa keras, sirkuler, berbenjol-benjol 5 cm dari anal, NT(-), sarung tangan : feses (+), darah (-). Hal ini mengarahkan kita pada kecurigaan adanya keganasan pada rectum. Mukosa mulut kering dan nadi yang agak cepat menunjukkan adanya dehidrasi sedang. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penegakkan diagnosis pada kasus ini sudah benar. 2. Apakah penatalaksanaan kasus di atas sudah tepat?

15

Obstruksi pada kolon bagian kiri sebaiknya diterapi dengan mereseksi segmen yang terobstruksi. Karena hal ini berguna untuk secepatnya membuang lesi (sering tumor ganas) daripada untuk menundanya berhari-hari atau beringgu-minggu setela sebelumnya dilakukan ditunda tindakan dan manuver dekompresi. dibuat Anastomosis sementara. biasanya Tetapi end-colostomi untuk

sebelumnya harus dilakukan resusitasi cairan dan elektrolit, serta pemberian antibiotik terlebih dahulu. Pada pasien ini dilakukan : IVFD RL rehidrasi sedang Rencana cito colostomy + biopsi PA NGT Antibiotika: Cefotaxime, Metronidazole Rantin Jadi dapat disimpulkan sejauh ini pemgelolaan pada pasien ini sudah tepat. 3. Bagaimana prognosa pasien di atas? Prognosis tergantung dari umur dan keadaan pasien, luasnya gangguan vaskularisasi usus, ada/tidaknya perforasi, sebab dari obstruksi dan ketepatan dari terapi operasi. Angka kematian rata-rata 20%. Obstruksi kolon yang disebabkan oleh kanker mempunyai prognosis yang lebih buruk karena lebih cenderung menyebar secara lokal atau metastasis ke KGB atau ke tempat yang jauh.

DAFTAR PUSTAKA De Jong, Wim & Sjamsuhidajat, R. Buku Ajar Ilmu Bedah edisi 2. 2003. Jakarta: EGC.

16

Schwartz, Seymour. Principles of Surgery 7th edition.1999. Singapore: McGraw-Hill . Lange Current Surgical diagnose McGraw-Hill. Stead, Latha et al. First aid for the surgery clerkship. 2003. USA:McGraw-Hill. and therapy. 1986. Singapore:

17

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->