P. 1
Pedoman Kerja Puskesmas Jilid I

Pedoman Kerja Puskesmas Jilid I

|Views: 12,939|Likes:
Published by Indi Saragi
Bab 8 - Wilayah Kerja Puskesmas
Bab 8 - Wilayah Kerja Puskesmas

More info:

Published by: Indi Saragi on Jul 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/08/2013

pdf

text

original

1.Pendahuluan

Dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan yang lebih merata dan sedekat
mungkin kepada masyarakat terutama penduduk pedesaan dan daerah perkotaan
terutama untuk penduduk berpenghasilan rendah, maka sejak tahun 1974 pemerintah
memberikan Bantuan Pembangunan Sarana Kesehatan untuk seluruh Daerah Tingkat
II di Indonesia.

Tanda-tanda ketidaktepatan perhitungan perkiraan kebutuhan obat tersebut dapat
dilihat dari:

a)Kekurangan obat-obatan yang sering dipakai walaupun dana obat cukup tersedia.
b)Kelebihan obat yang biasa dipakai, disebabkan karena:

•Pemilihan jenis dan jumlah yang tidak tepat.

•Oat yang dipilih tidak sesuai dengan pola penyakit, atau

•Bentuk dan dosis yang tersedia tidak disukai oleh dokter atau pasien.

c)Kelebihan obat di beberapa unit-unit pelayanan sedangkan unit yang lain mengalami
kekurangan obat. Keadaan ini dapat disebabkan karena suplai obat yang tidak merata
di antara unit-unit pelayanan kesehatan. Misalnya Rumah Sakit dan unit pelayanan
kesehatan di perkotaan mendapat suplai obat lebih baik dari pada unit pelayanan di

pedesaan, atau daerah-daerah pinggiran. Apabila kesenjangan ini sering terjadi, maka
pasien biasanya akan langsung berobat ke unit-unit pelayanan dimana tersedia obat
yang lebih memadai.
d)Efektifitas penggunaan dana yang tidak memadai karena kecenderungan penggunaan
obat-obatan yang lebih mahal daripada penggunaan obta-obatan yang lebih murah
dengan efektifitas yang sama dengan obat-obatan yang mahal.
e)Penyesuaian yang tidak rasional terhadap kendala anggaran dapat menuju kepada
jumlah pesanan yang tidak rasional.
f)Preskripsi yang tidak rasional dan tidak efektif dapat juga disebabkan karena
perhitungan perkiraan obat yang tidak tepat, sehingga dapat terjadi:

•Jangka waktu pengobatan yang diperpendek agar obat yang tersedia

mencukupi kebutuhan untuk jangka waktu tertentu.

•Substitusi obat-obatan tertentu dengan obat alternatif yang dipakai secara tidak

tepat.

Untuk mengatasi masalah tersebut maka perlu diambil langkah-langkah perbaikan
antara lain dalam perhitungan perkiraan kebutuhan obat, agar obat-obatan yang
disediakan sesuai dengan kebutuhan di lapangan dan tujuan serta sasaran
pembangunan di bidang kesehatan. Agar perhitungan rencana kebutuhan obat di tiap
unit pelayanan kesehatan dapat dilaksanakan dengan lebih mudah oleh petugas di
lapangan maka dirasa perlu disusun Pedoman Perencanaan dan Pengelolaan Obat di
Puskesmas dimana aspek perencanaan diuraikan secara lebih rinci dibandingkan
aspek-aspek pengelolaan obat-obat lainnya.

Sasaran dari buku pedoman ini adalah:

-Tenaga pengelola obat di Puskesmas

-Dokter Puskesmas

2.Tujuan

a.Umum:

Memelihara dan meningkatkan penggunaan obat secara rasional dan ekonomis
melalui penyediaan obat-obatan yang tepat baik jenis maupun jumlahnya di
Puskesmas.

b.Khusus:

i.Mengetahui urutan kegiatan dalam seluruh rangkaian kegiatan
pengelolaan obat.
ii.Mengetahui maksud dan tujuan serta kegiatan masing-masing
komponen pengelolaan obat.
iii.Mengenal proses dan kriteria pemilihan jenis obat esensial.
iv.Mengenal langkah-langkah penyusunan standar pengobatan untuk
perencanaan.
v.Mengenal upaya-upaya peningkatan efisiensi penggunaan dana.
vi.Mengetahui manfaat pencatatan dan pelaporan obat.
vii.Mampu memperkirakan jumlah kebutuhan obat di berbagai tingkat unit
pelayanan kesehatan menggunakan metode konsumsi dan atau metode
epidemiologi.
Secara spesifik kemampuan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1.Mampu menilai perlunya perhitungan yang lebih sistematis dan
mampu menyusun tujuan praktis dari perkiraan kebutuhan obat.
2.Mampu memilih metode perhitugan yang paling tepat.
3.Mampu menetapkan masalah-masalah kesehatan yang akan
ditangani pada berbagai unit pelayanan.
4.Mampu mengumpulkan dan mengolah data morbiditas yang
tepat dan data penggunaan obat dari sumber-sumber rutin.
5.Mampu menghitung jumlah dan biaya obat.
6.Mampu merencanakan biaya dan mencocokkan jumlah
perkiraan agar sesuai dengan biaya yang tersedia.
7.Mampu menggunakan perkiraan kebutuhan obat yntuk
melakukan pesanan obat dan pengiriman kepada unit-unti
pelayanan kesehatan lainnya.
8.Mampu mengevaluasi efektifitas perhitungan perkiraan
kebutuhan obat.
9.Mampu memperbaiki perkiraan kebutuhan obat.

Tujuan-tujuan tersebut diatas secara tidak langsung juga akan memperbaiki
kesadaran atas:

-Biaya dan akibat daripada kebiasaan preskripsi yang sedang berlangsung

-Pentingnya memilih dan menggunakan pengobatan yang lebih rasional dan
efektif biaya

-Pentingnya mengumpulkan data yang lebih tepat dan akurat atas pola
penyakit dan penggunaan obat.

3.Pengelolaan obat

a.Pengertian

Pengelolaan obat merupakan suatu rangkaian kegiatan yang menyangkut empat
fungsi pokok yaitu PERENCANAAN, PENGADAAN, PENDISTRIBUSIAN dan
PENGGUNAAN OBAT dengan memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia,
mencakup pola/tata laksana dan perangkat lunak lainnya, tenaga, sarana dan dana
dalam rangka pencapaian tujuan.

b.Tujuan
Memelihara dan meningkatkan penggunaan obat secara rasional dan ekonomis di
unit-unit pelayanan kesehatan melalui penyediaan obat-obatan yang tepat jenis, tepat
jumlah dan tepat waktu dan tempat.

c.Kegiatan
Kegiatan utama pengelolaan obat meliputi:
Perencanaan, pengadaan, pendistribusian, dan penggunaan obat. Untuk melaksanakan
kegiatan-kegiatan tersebut antara lain diperlukan sumber-sumber tertentu yang
meliputi sistem informasi dan pembiayaan.
Uraian atas pengelolaan obat ini disusun dengan sistematika sebagai berikut:
(1)Informasi

(2)Pembiayaan
(3)Perencanaan
(4)Pengadaan
(5)Pendistribusian
(6)Penggunaan obat

1.Informasi

a.Pengumpulan data

i.

Pengertian.
Data adalah bahan baku yang dapat berupa kejadian, keterangan atau
angka yang bila diproses dapat menghasilkan suatu informasi.
Pengolahan data adalah suatu kegiatan merubah atau membuat sekian
banyak data menjadi suatu bentuk, sehingga dapat dianalisa dan ditarik
kesimpulan.
Cara pengolahan data dapat dengan menggunakan tangan (manual)
maupun secara elektronik dengan komputer. Pengolahan data baik
dengan tangan maupun elektronik, akan menghasilkan keluaran yang
dapat berbentuk tabel, grafik, atau ringkasan seperti jumlah, angka
rata-rata, persentase dan sebagainya.
Informasi adalah hasil dari proses pengolahan data setelah mengalami
validasi, pengecekan, pemilihan, perhitungan dan pembandingan
dengan data lain yang berkaitan, yang dapat digunakan/dapat
mempengaruhi tindakan/putusan berdasarkan permasalahan yang
sedang dihadapi.
Dari berbagai bentuk catatan dan laporan mengenai pengelolaan obat
dapat diperoleh berbagai informasi untuk perencanaan kebutuhan obat.
Tanpa informasi yang baik akan sering terjadi kehabisan persediaan
(stockout) atau mungkin terjadi persediaan berlebih (overstock),
kerusakan atau obat kadaluwarsa.

ii.Tujuan.

Mendapatkan informasi yang lengkap dan dapat dipercaya.

iii.Sumber data:

•Buku penerimaan dan pengeluaran obat (buku agenda dokumen obat)

•Kartu stok obat

•Catatan harian penggunaan obat di Puskesmas

•LB4

•LB1

•Buku register

•Catatan pasien (patient record).

b.Pengolahan data

Jumlah pemakaian tiap jenis obat

-Penerimaan dan pengeluaran obat selama 1 tahun

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->