P. 1
Pemberantasan Penyakit Menular

Pemberantasan Penyakit Menular

|Views: 4,901|Likes:
Published by Indi Saragi
Jilid III Pedoman Kerja Puskesmas - Pemberantasan Penyakit Menular
Jilid III Pedoman Kerja Puskesmas - Pemberantasan Penyakit Menular

More info:

Published by: Indi Saragi on Jul 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/12/2015

pdf

text

original

I.PENDAHULUAN

Di Indonesia, penyakit diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan
masyarakat yang utama. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan
karena diare serta menimbulkan banyak kematian terutama pada bayi dan anak
balita.
Hasil-hasil survey menunjukkan bahwa angka kesakitan diare untuk seluruh
golongan umur adalah berkisar antara 120-360 per 1000 penduduk dan untuk
balita menderita satu atau dua kali episode diare setiap tahunnya atau 60% dari
semua kesakitan diare. Sebagian besar (76%) kematian karena diare terjadi
pada balita. Sebesar 15,5% kematian pada bayi dan 26,4% kematian pada anak
balita disebabkan karena penyakit diare murni.
Meskipun pada akhir Repelita IV angka kematian sudah berhasil diturunkan
yaitu angka kematian bayi telah turun dari 90 menjadi 58 per 1000 kelahiran
hidup dan angka kematian anak balita dari 17,8 menjadi 10,6 per 1000 anak
balita, namun diperkirakan pada awal Repelita V masih terdapat kematian
balita karena diare murni sebesar 5 per 1000 balita atau sekurang-kurangnya
135000 kematian bayi dan anak balita karena diare murni setiap tahunnya.
Berarti rata-rata setiap 4 menit seorang balita meninggal karena diare.
Masih tingginya angka kesakitan dan kematian tersebut di atas disebabkan
karena kesehatan lingkungan yang masih belum memadai, disamping
pengaruh faktor-faktor lainnya seperti keadaan gizi, kependudukan,
pendidikan, keadaan sosial ekonomi dan perilaku masyarakat yang secara
langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi keadaan penyakit diare ini.

II.PENGERTIAN PENYAKIT DIARE

1.Definisi

Penyakit diare adalah penyakit yang ditandai dengan perubahan bentuk
dan konsistensi tinja melembek sampai mencair dan bertambahnya
frekuensi berak lebih dari biasanya (lazimnya tiga kali atau lebih dalam
sehari). Menurut banyaknya cairan dan elektrolit dari tubuh, diare
berdasarkan derajat dehidrasi dapat dibagi menjadi :

−Diare tanpa dehidrasi

−Diare dengan dehidrasi ringan (kehilangan cairan sampai 5% dari

berat badan)

−Diare dengan dehidrasi sedang (kehilangan cairan 6-10% dari berat

badan)

−Diare dengan dehidrasi berat (kehilangan cairan lebih dari 10%

dari berat badan)

2.Gejala

Tanda dan gejala diare menurut derajat dehidrasinya dapat dilihat pada
lampiran 1.
3.Cara penularan

−Kontaminasi makanan atau air tinja atau muntahan penderita yang

mengandung kuman penyebab.

−Kuman pada kotoran dapat langsung ditularkan pada orang lain

apabila melekat pada tangan dan kemudian dimasukkan ke mulut
atau dipakai untuk memegang makanan.

4.Penyebab diare

Beberapa penyebab diare dapat dibagi menjadi :
a)Karena peradangan usus oleh :

a.Bakteri (misal : Vibrio Cholerae, Shigella, Salmonella, E
Coli (ETEC), Bacillus cereus, Clostridium perfingens,
Staphylococcus aureus, Campylobacter jejuni)

b.Virus ( Rotavirus, Adenovirus, Norwalk + Norwalk like
agent)

c.Parasit :

i.Protozoa ( Entamoeba hystolitica, Giarta lablia,
Balantidium coli, Cryptosporidium).

ii.Cacing perut (Ascaris, Trichuris, Strongyloides)

iii.Jamur (Candida)

b)Karena keracunan makanan atau minuman baik yang disebabkan
oleh bakteri maupun bahan kimiawi.

c)Karena kekurangan gizi, yaitu kekurangan energi protein.

d)Karena tidak tahan terhadap makanan tertentu, misalnya intoleran
pada susu sapi.

e)Karena imuno defisiensi

f)Sebab-sebab lain.

5.Istilah-istilah

a.Diare akut ialah diare yang berlangsung kurang dari dua minggu.

b.Diare persisten ialah diare yang berlangsung lebih dari dua
minggu.

c.Disentri ialah diare yang disertai oleh darah ataupun lendir.

III.TUJUAN

1.Umum

: menurunkan angka kematian karena diare terutama pada
bayi dan anak balita serta menurunkan angka kesakitan diare.

2.Khusus:

−Petugas puskesmas mampu melakukan tatalaksana kasus diare

yang tepat dan efektif.

−Petugas puskesmas mampu melakukan penyuluhan

pemberantasan diare.

−Petugas mampu meningkatkan peran serta aktif masyarakat.

−Petugas kesehatan mampu melakukan pencatatan dan

pelaporan serta monitoring kegiatan pemberantasan diare.

IV.KEGIATAN

Tatalaksana kasus diare :
Prinsip utama tatalaksana diare akut adalah pemberian cairan dan makanan
serta pengobatan medikamentosa yang rasional yang hanya diberikan untuk
kasus tertentu yang jelas penyebabnya.
a)Pemberian cairan

Pada garis besarnya jenis cairan dibagi dalam :
1)Cairan rehidrasi oral

Cairan rehidrasi oral (oralit) diberikan kepada semua penderita
diare, kecuali bila oralit tidak ada atau diare baru mulai, cairan
rumah tangga misalnya larutan gula garam atau air tajin
diberikan untuk mencegah dehidrasi.
Pemerintah menyediakan 2 macam kemasan oralit :
a.Bungkusan 1 (satu) liter (20% dari persediaan)
digunakan untuk Rumah Sakit atau KLB dan diberikan
untuk mencegah dehidrasi.

b.Bungkusan 200 ml (80% dari persediaan) tersedia
sampai ke Posyandu dan dapat diberikan/dibawa pulang

oleh masyarakat. Cara melarutkan oralit harus
dilarutkan dengan baik agar lebih berhasil guna dan
tidak terjadi gejala sampingan.

Dosis oralit disesuaikan dengan umur penderita dan keadaan
diare atau dehidrasinya.
Dosis acuan adalah sebagai berikut :
Di bawah 1 tahun: 3 jam pertama 1,5 gelas, kemudian 0,5
gelas setiap mencret.
Di bawah 1-4 tahun

: 3 jam pertama 3 gelas, kemudian 1

gelas setiap mencret
Di bawah 5-12 tahun : 3 jam pertama 6 gelas, kemudian 1,5
gelas setiap mencret
Di atas 12 tahun: 3 jam pertama 12 gelas, kemudian 2 gelas
setiap mencret
2)Cairan rehidrasi parenteral (intravena)

Terapi cairan intravena diberikan kepada penderita diare
dengan dehidrasi berat atau keadaan menurun sangat lemah,
muntah-muntah berat sehingga penderita tidak dapat minum
sama sekali.
Untuk program pemberantasan diare maka dipakai cairan
tunggal yaitu ringer laktat.
a.Kecepatan cairan

−Pada neonatus

Jumlah cairan yang diberikan harus diperhatikan
bentuk, rehidrasi initial diberikan dalam waktu 3
jam (2-4 jam). Cairan yang diberikan 20ml/kg
berat badan/jam (variasi antara 15-25 ml/kg
berat badan/jam)

−Pada bayi dan anak

Bila terjadi syok berat, guyur secepatnya sampai
syok teratasi selanjutnya 1 jam pertama 30ml/kg
berat badan/jam.
7 jam berikutnya : 10 ml/kg berat badan/jam
Pada orang dewasa :
Rehidrasi initial :
1 jam pertama

: 60 ml/kg berat badan/jam
2 jam berikutnya: 40 ml/kg berat badan/jam
Untuk keperluan di lapangan jumlah cairan
rehidrasi initial yang diperlukan adalah 10% dari
perkiraan berat badan. Bila penderita sudah
dapat minum segera diberikan oralit.

b.Pengobatan dietetik

−Pemberian makanan seperti semula diberikan

sedini-dininya dan disesuaikan dengan
kebutuhan.

−Bagi yang mendapatkan ASI sebelumnya jangan

dihentikan.

−Bagi yang sebelumnya tidak mendapat ASI

dapat diteruskan dengan susu formula.

−Makanan tambahan diperlukan pada masa

penyembuhan.

c.Pengobatan medikamentosa

Seperti diuraikan diatas maka pengobatan
medikamentosa hanya diberikan bila ada indikasi.

−Anti diare tidak direkomendasikan.

−Antibiotika atau antimikroba hanya diberikan

kepada penderita cholera, disentri, shigella,
amoebiasis, atau antimikroba sesuai dengan
ketentuan yang ada.

b)Penyuluhan

Penyuluhan kepada perorangan dan kelompok masyarakat diarahkan
pada penyuluhan hygiene perorangan dan kesehatan lingkungan.

•Tentang gejala diare dan pengobatannya.

•Penggunaan oralit dan cairan rumah tangga misalnya larutan

gula garam, air tajin dan kuah sayur.

•Meneruskan makanan / ASI selama dan sesudah diare

Untuk pelaksanaan upaya pencegahan maka peran mengenai
pencegahan diare yang perlu disebar luaskan adalah :

•Promosi ASI

•Perbaikan makanan penyapihan atau makanan

pendamping ASI (MPASI) dari segi gizi maupun
hygienenya.

•Penggunaan air bersih, peningkatan hygiene

perorangan, penggunaan jamban perbaikan lingkungan.

•Imunisasi campak.

c)Pencatatan dan pelaporan

Semua kasus diare yang ditemukan dicatat dan dilaporkan dengan
menggunakan sistem yang sudah ada, melakukan monitoring secara
terus menerus melalui kegiatan mini lokakarya.
d)Penggerakan partisipasi masyarakat

Penggerakan partisipasi masyarakat dilakukan antara lain melalui
pendidikan kader tentang pemberantasan diare, sehingga kader mampu
melakukan penyuluhan kepada masyarakat.

•Melarutkan oralit dan memberikan.

•Mendeteksi dini, mengobati penderita diare dan melakukan

rujukan.

•Memberikan penyuluhan tentang kesehatan perseorangan dan

lingkungan.

•Penyuluhan tentang penggunaan air bersih.

Secara mendalam tentang pemberantasan diare dapat dibaca buku Program
Pemberantasan Penyakit Diare yang dikeluakan oleh Ditjen PPM & PLP
termasuk buku Pedoman Penatalaksanaan Penderita Diare untuk petugas
kesehatan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->