BAB I PENGERTIAN Memberantas penyakit menular itu sebenarnya menghilangkan atau merobah cara berpindahnya penyakit menular dan

/atau infeksi. Pemindahan penyakit atau penularan itu suatu cara bagaimana orang yang rawan dapat memperoleh penyakit atau infeksi dari orang lain atau hewan yang sakit. Cara-cara itu ialah: 1. Penularan langsung dari manusia ke manusia. Ini dapat terjadi karena tetesan-tetesan halus yang terhambur dari batuk, berludah, atau bersin, misalnya tuberkulose (Gambar 1); bersentuh (persetubuhan), misalnya pada penyakit kelamin (Gambar 2). 2. Penularan tidak langsung: a) dengan perantara benda atau barangyang kotor (ada kumannya), biasanya.air, makanan dan susu segar. Sebagai contoh adalah perjalanan najis ke mulut. Manusia makan bahan makanan dan minum air yang telah dikotori dengan kuman^perlyeBaFpenyakit. Penyakit-penyakit yang ditularkan dengan cara ini antara lain ialah kolera dan disentri (lihat Gambar 3). b) dengan perantara serangga atau gigitan binatang. Orang digigit serangga atau binatang yang membawa kuman penyakit dalam saluran pencernaannya atau dalam ludahnya. Sebagai contoh: Malaria, Filariasis, Dengue demam berdarah dan Rabies (lihat gambar 4 dan 5). 3. Jika diketahui cara bagaimana penyakit itu menular, maka dapat dijalankan usaha-usaha yang jitu untuk menghilangkan sumber inieksi, dan memutuskan rantai penularan penyakit. Dengan demikian Puskesmas dapat banyak sekali mengurangi kejadian (incidence) penyakit menular. Didalam pembatasan penyakit sering dipakai istilah wabah dan kejadian luar biasa (KLB) yang artinya sebagai berikut:

a. Wabah Wabah adalah suatu peningkatan kejadian kesakitan/kematian yang telah meluas secara cepat baik jumlah kasus maupun luas daerah terjangkit. b. Kejadian Luar Biasa 1) KLB adalah: Timbulnya suatu kejadian 'kesakitan/kematian dan atau meningkatnya suatu tertentu. 2) Kriteria KLB (kriteria kerja) antara lain: a) Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada/tidak dikenal di suatu daerah. b) Adanya peningkatan kejadian kesakitan/'kematian yang dua kali atau lebih dibandingkan dengan jumlah kesakitan/kematian yang biasa terjadi pada kurun waktu sebelumnya (jam, hari, minggu) tergantung dari jenis penyakitnya. c) Adanya peningkatan kejadian kesakitan terus menerus selama 3 kurun waktu (jam, hari, minggu) berturut-turut menurut jenis penyakitnya. 3) Penyakit-penyakit menular yang dilaporkan Penyakit-penyakit menular yang dilaporkan adalah penyakit-penyakit yang memerlukan kewaspadaan ketat yaitu penyakit-penyakit wabah atau yang berpotensi wabah/atau yang dapat menimbulkan kejadian luar biasa (KLB). Penyakit-penyakit menular dikelompokkan sebagai berikut: 1) 2) Penyakit karantina atau penyakit wabah penting: Kholera, Penyakrt potensial wabah/KLB yang menjalar dalam waktu Poliomylitis, Pes, Difteri. cepat atau mempunyai mortalitas j tinggi, dan memerlukan tindakan segera: DHF, Campak, Rabies, Diare, Pertusis. kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu kelompok penduduk dalam kurun waktu

3)

Penyakit potensial wabah/KLB lainnya dan beberapa

penyakit penting: Malaria, Hepatitis, Encephalitis, Frambosia, Typhus Abdominalis, Tetanus, Influenza, Meningitis, Tetanus Neonatorum, Antrax, Keracunan. 4) Penyakit-penyakit menular yang tidak berpotensi wabah, tetapi diprogramkan, di tingkat kecamatan dilaporkan secara bulanan melalui RR Terpadu Puskesmas ke Kabupaten, dan seterusnya. Penyakit-penyakit tersebut meliputi: Cacing, Lepra, Tuberculosa, Syphilis, Gonorhoea dan Filariasis, dan lain-lain. Dari penyakit-penyakit di atas, pada keadaan tidak ada wabah secara rutin hanya yang termasuk kelompok 1 dan kelompok 2 yang perlu dilaporkan secara mingguan. Bagi penyaki kelompok 3 dan 4, secara rutine dilaporkan bulanan dan di tingkat Puskesmas dilaporkat secara terpadu pada formulir LB.1. Sistim pelaporan terpadu Puskesmas. Khusus bagi penyakit kelompok 3, jika ada wabah atau KLB, untuk pertama kalinya dilaporkan dalam waktu 24 jam dengan menggunakan lormulir W.1, sistim laporan KLB dan Wabah. Kemudian selama KLB atau wabah berlangsung, penyakit tersebut dilaporkan secara mingguan dengan menggunakan formulir W.2, sistim pelaporan KLB dan Wabah (yaitu diisikan pada salah satu kolom yang kosong). Jika peristiwa KLB atau wabah dari penyakit yang bersangkutan sudah berhenti (insiden penyakit sudah kembali pada keadaan normal), maka penyakit tersebut tidak perlu dilaporkan secara mingguan lagi. Sementara itu, laporan penyakit melalui form LB.1 Sistem Pencatatan Terpadu Puskesmas berjalan terus.

Formulir W.1, dapat juga digunakan jika terjadi KLB atau Wabah pada transmigrasi, asrama transito, di perjalanan maupun di lokasi pemukiman. BAB II TUJUAN Pemberantasan penyakit bertujuan: 1. Mencegah terjadinya penularan penyakit. 2. Mengurangi kesakitan 3. Mengurangi kematian

BAB III LANGKAH-LANGKAH PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR Rencana efektif untuk mengurangi atau memberantas penyakit menular harus diadakan pada tingka Nasional dan mengikut- sertakan tidak saja semua petugas Puskesmas tetapi juga seluruh anggotc masyarakat. Tehnik dasarnya, biasanya dinamakan "Pengamatan dan Pemberantasan" terdiri dar langkah-langkah berikut: 1. Mengumpulkan dan menganalisa data tentang penyakit. 2. Melaporkan penyakit menular 3. Menyelidiki di lapangan untuk melihat benar atau tidaknya laporan yang masuk, untuk menemukan : kasus-kasus lagi dan untuk mengetahui sumber penularan. 4. Tindakan permulaan untuk menahan penjalarannya (containment). 5. Menyembuhkan penderita, hingga ia tidak lagi menjadi sumber infeksi. 6. Pengebalan (imunisasi). 7. Pemberantasan vektor (pembawa penyakit) 8. Pendidikan Kesehatan Di bawah ini langkah-langkah tersebut akan diuraikan lebih terperinci. 1. PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA TENTANG PENYAKIT Pengamatan/surveillance berarti terus-menerus mencari dan mengumpulkan data tentang penyal dan menganalisa data itu hingga dapat diambil tindakan. Agar dapat efektif, maka data itu han lengkap dan sedapat-dapatnya up-to-date (meliputi keadaan yang paling akhir). Data itu dap diperoleh oleh petugas Puskesmas dari sumber-sumber berikut: a. Penderita yang datang di Puskesmas untuk berobat

b. Laporan kelahiran dan kematian dari Kantor Kecamatan c. Laporan dari petugas lapangan Puskesmas atau Lurah desa tentang sekonyong-konyong adan penyakit bertambah dalam suatu daerah atau desa. d. Laporan dari petugas lapangan atau Lurah desa tentang sekonyongkonyong bertambahn kematian atau kuburan dalam suatu daerah atau desa. e. Laporan tentang adanya kenaikan kematian binatang yang ada hubungannya dengan tambahr penyakit dan kematian antara manusia (yaitu seperti dalam wabah sampar, anthrax).

Tugas petugas Puskesmas yang menguniungi desa-desa harus selaiu bertanya tentang adanya penyakit dan siapa yang sakit dan siapa yang meninggal, dan bagaimana gejala-gejalanya. Data yang dikumpulkan demikian itu masih merupakan "data mentah", dalam arti untuk dapat diper-gunakan dan ditafsirkan, maka informasi ini lebih dulu harus dianalisa menurut sisteiti.

Caranya dapat dibaca dalam Bab Melihat Data. Dengan menangani data itu menurut cara yang diuraikan, maka Dinas Kesehatan di berbagai tingkat akan mengetahui tiap kejadian luar biasa, yaitu tiap perobahan yang menyolok dalam pola kesakitan dan kematian penduduk yang bertempat tinggal di masing-masing daerah. Dengan pengetahuan itu maka dengan cepat dapat diadakan usaha-usaha pembatasan (containment) hingga epidemi dapat dibatasi, dicegah atau dihentikan. Data ini apabila dianalisa secara sitimatik dapat pula membantu Puskesmas dalam menilai programnya. 2. MELAPORKAN ADANYA PENYAKIT MENULAR a. Laporkan dalam 24 jam 1) Kasus-kasus baru penyakit menular potensial wabah harus segera dilaporkan dalam waktu 24 jam kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kotamadya dengan formulir W.1. (Golongan penyakit karantina atau wabah penting). 2) Kejadian luar biasa (kenaikan morbiditas atau mortalitas di suatu daerah yang mungkin mencurigakan adanya epidemi penyakit menular) harus dilaporkan dalam waktu 24 jam kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kotamadya dengan menggunakan formulir W.1. (Semua golongan penyakit menular). b. Laporan mingguan Apabila masih terjadi kasus penyakit menular potensi wabah, maka kejadian tersebut tetap dilaporkan mingguan dengan formulir W.2. Laporan dikirim tiap hari Senin. c. Laporan bulanan Laporan bulanan sesuai dengan formulir SP2TP. Lebih lanjut lihat Buku Pedoman SP2TP (SK Menkes No. 63/Menkes/SK/ll/8 tanggal 18 Februari 1981). 3. PENYELIDIKAN LAPANGAN Ada 4 tindakan penting dalam penyelidikan lapangan.

a. Verifikasi tiap laporan tentang morbiditas atau mortalitas dalam suatu daerah. Daerah harus dikunjungi untuk menentukan apakah laporan itu benar dan jika memang demikian, ditentukan luasnya psrsoalan, seperti berapa orang yang jatuh sakit dan berapa orang dalam "keadaan terancam". b. Contoh-contoh yang tepat diambil untuk pemeriksaan laboratorium dan dikirim ke Dinas Kesehatan Kabupaten atau Propinsi untuk diperiksa. Pemeriksaan Laboratorium tertentu dapat dikerjakan di Puskesmas apabila fasilitas tersedia, yaitu pemeriksaan: 1) Sediaan darah untuk malaria 2) Dahak orang yang diduga menderita tuberculosis untuk basil tahan asam 3) Contoh kulit orang yang disangka menderita kusta, untuk basil tahan asam c. Jika laporan tentang penyakit menular dalam suatu daerah sudah dibenarkan, maka petugas lapangan harus: 1) Mencari kasus-kasus lain, ialah di dalam rumah-rumah penderita, di sekitarnya dan di antara kontak, (kontak adalah orang-orang yang ada hubungannya atau pernah mengunjungi rumah penderita sejak waktu penyakit kira-kira mulai). 2) Berusaha mencari sumber infeksi. Langkah-langkah berikut sebaiknya diikuti dalam suatu penyelidikan epidemiologi letusan/KLB.j langkah-langkah ini merupakan proses berpikir yang ada dalam ingatan seorang penyelidikj selama berlangsungnya penyelidikan epidemiologi tersebut. Langkah-langkah itu secara berurutan adalah sebagai berikut: a) Konfirmasi/menegakkan diagnosa. Kita mencoba menegakkan diagnosa dengan cara menganalisa gejala dan tanda klinik darj penderita sehingga dapat digolongkan apakah kejadian ini termasuk misalnya, karenq infekasi atau keracunan. Lakukan pemeriksaan laboratorium untuk konfirmasi

diagnosa da menentukan type organisme sebagai penyebab penyakitnya. b) Menentukan apakah peristiwa itu suatu letusan/wabah atau bukan. Kita harus membandingkan informasi yang tepat mengenai penderita-penderita tersebu dengan definisi yang sudah ditentukan tentang letusan (outbreak) atau wabah (epidemi)j Bandingkan juga jumlah penderita-penderita tersebut dengan incidence penyakit itu pac minggu/bulan/tahun sebelumnya, pada daerah dimanaterjadi peristiwa tersebut. Kedua langkah di atas merupakan cara identifikasi suatu masalah dan tujuan dad penyelidikan selanjutnya. c) Hubungan adanya letusan/wabah dengan faktor-faktor waktu, tempat, dan orang. Lakukan suatu survei yang cepatterhadap penderita-penderita yang diketahui atau dipilil| yang mengetahui tentang situasi penduduk dan daerah serta lingkungan sekitarnya Lakukan wawancara dengan penderita-penderita ini dan tentukan ada atau tida pengalaman-pengalaman yang sama di antara mereka misalnya, kapan mulai sakit (waktuj dimana mereka mendapat infeksi (tempat) dan siapa orang-orang itu (orang). Hitung jumla penderita dan hubungan ini dengan jumlah penduduk di daerah tersebut (menghitung rate! tentukan jumlah penduduk yang terancam (pop. at risk) dan kemudian hitung attack rate. Lakukan wawancara dengan orang-orang yang dianggap dapat member! informasi tentan terjadinya penyakit ini atau keadaan lingkungan yang mungkin ada hubungan/memegan peranan mengenai terjadinya letusan/wabah tersebut. d) Rumuskan suatu hipotesa sementara. Merumuskan suatu hipotesa sangat perlu untuk menerangkan adanya kemungkinan sualj penyebab, sumber infeksi dan distribusi penderita (pattern of disease). Hipotesa didasarkan pada data dan kenyataan yang telah dikumpulkan selama waktu penyelidika sifat

dan sifatnya hanya sementara belum dapat ditarik kesimpulan. Walaupun begil hipotesa ini berguna untuk mengarahkan penyelidikan lebih lanjut dan hipotesa ini har dites kebenarannya, data yang telah dan akan dikumpulkan selama penyelidikan langsung. Kembangkan beberapa hipotesa bila perlu. Beberapa hipotesa lainnya mungkin akan timb selama penyelidikan dilakukan. Pada permulaan pengumpulan data serta fakta lainnya, kita mempunyai beberapa hipotes tetapi biladata/faktaterkumpul lebih banyak, hipotesa yang lebih spesifik dapat dirumuska Kemudian diperlukan data tambahan yang lebih detail, dengan maksud untuk menti e) Laksanakan penyelidikan yang sudah direncanakan. Lakukan wawancara dengan penderita-penderita yang sudah diketahui. Wawancara dengan orang-orang yang mem-punyai pengalaman yang sama baik mengenai waktu/tempat terjadinya penyakit, tetapi merekatidak sakit (control), kumpulkandatatentang pendudukdan lingkungannya, selidiki sumber-sumber yang mungkin menjadi penyebab atau merupakan faktor yang ikut ber-peranan dalam terjadinya letusan/wabah. Ambil specimen dan sample yang diperlukan untuk diperiksa di laboratorium. Analisa dan interpretasi data. Lakukan pemeriksaan laboratorium dan buatlah ringkasan hasilhasil penyelidikan lapa-ngan. Tabulasi, analisa dan interpretasi data/informasi yang telah dikumpulkan dan pemeriksaan hasil-hasil lainnya yang sudah dibuat. Buatlah kurve epidemik, menghitung rate, buatlah label dan grafik-grafik yang diperlukan dan terapkan test statistik terhadap data yang ada serta interpretasi data secara keseluruhan. f) Test hipotesa dan rumuskan kesimpulan

Berdasarkan penyelidikan di atas, data yang tersedia serta perhitungan-perhitungan yang telah dilakukan, teslah hipotesa yang ada kemudian pilihlah satu atau dua hipotesa yang paling sesuai dan mendekati kebenaran dan menolak hipotesa lainnya. Hipotesa yang telah diterima haruslah dapat menerangkan pola penyakit yang terjadi pada penderita, yang harus sesuai dengan sifat penyebab penyakit, sumber infeksi, cara penularan dan faktor lain yang mungkin memegang peranan dalam terjadinya letusan/wabah. Bila hipotesa itu ditolak, hipotesa lain harus dikembangkan dan informasi tambahan harus dikumpulkan untuk dapat mentes hipotesa baru ini. g) Lakukan tindakan penanggulangan. Tentukan cara-cara penanggulangan yang paling efektif, yang didasarkan atas kenyataan-kenyataan yang ada dan diketahui. Gunakanlah informasi yang telah dikumpulkan selama penyelidikan, untuk melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan tidak saja dalam situasi yang sedang dihadapi, tetapi juga untuk pencegahan di masa akan datang. Lakukan kegiatan surveillance yang ketat terhadap penyakit dan faktor-faktor lainnya yang ada hubungan dengan penyakit tersebut. Bila diharapkan akan terjadi suatu bahaya, tindakan penanggulangan sudah dimulai sesudah hipotesa sementara dirumuskan, tetapi bila kemudian hipotesa ternyata salah, tindakan penanggulangan harus dihentikan dan tindakan lain yang lebih sesuai harus dilakukan pada saat itu. h) Buatlah laporan lengkap tentang penyelidikan epidemiologi tersebut. Buat laporan lengkap secara tertulis mengenai penyelidikan epidemiologi yang telah dilakukan serta penemuan-penemuan yang telah didapatkan dan kirimkanlah kepada orang-orang yang dianggap perlu untuk mengetahuinya, menurut jalur-jalur yang sudah ada.

4. TINDAKAN PERTAMA UNTUK MEMBATASI PENYEBARAN PENYAKIT Staf Puskesmas harus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk membatasi, mencegah dan memberantas penyebarluasan penyakit menular seperti yang diuraikan dalam Bab V hingga Bab XII. 5. PENGOBATAN PENDERITA a) Pengobatan penderita dan penyembuhan penderita penyakit menular yang dilaksanakan di Puskesmas, akan menghilangkan satu sumber infeksi. Petunjuk cara pengobatan dapat dilihat dalam tabel-tabel seksi 8 tentang Pengobatan atau seksi 3, Kesehatan Ibu dan Anak. b) Adalahpentingsekalibahwa pengobatan terhadap para penderita Tuberculosis, Kusta, Frambosia, dan Filariasis hendaknya dilaksanakan sesuai dengan peraturan pengobatan tanpa putus- putus, hingga mereka benar-benar sembuh dan tidak lag! merupakan sumber infeksi. Peraturan pengobatan ini dapat dilaksanakan di Puskesmas. 6. PENGEBALAN (IMUNISASI). Untuk penyakit-penyakit tertentu jika perlu dapat dilakukan pemberian imunisasi. 7. PEMBERANTASANVEKTOR. a) Nyamuk, lalat dan dalam hal rabies anjing dan kucing, merupakan penyebar penyakit yang penting. b) Penyakit seperti Malaria, Filariasis dan Dengue demam berdarah sebagian besar dapat diberar dengan carateratur dan terusnyamuk, menerus seperti menghilangkan sarang-sarang

genang air, kaleng-kaleng kosong, ban tua, dan tempat-tempat air tanpa tutup.

c) Penggunaan klambu dianjurkan di semua daerah endemi Malaria atau Filariasis. d) Jika mungkin jendela dan pintu rumah ditutup dengan kasa kawat untuk mencegah nyamuk d lalat masuk rumah. e) Jumlah seksi 5). f) Makanan harus selalu dilindungi dari lalat. g) Rabies dapat diberantas dengan menangkap dan membunuh semua anjing dan kucing liari imunisasi semua anjing dan kucing peliharaan. 8. PENYULUHAN KESEHATAN a) Usaha pendidikan kesehatan yang harus dijalankan oleh petugas-petugas Puskesmas u mencegah dan memberantas penyakit menular tertentu dapat dibaca dalam Bab V sampai XIII, yang menguraikan "Pendidikan Kesehatan". b) Akan tetapi tiap kesempatan harus dipergunakan oleh petugas-petugas Puskesmas untuk membantu memberi pengertian kepada pemimpin-pemimpin masyarakat dan penduduk akan fi fakta dasar tentang pemberantasan penyakit menular : 1. Mendapatkan dan meneruskan pengobatan menurut aturan dan menghilangkan satu su penulararu 2. Imunisasi adalah sangat manjur terhadap penyakit-penyakit cacar, Tuberkulosis, Tet Difteri dan Polio. 3. Air dan bahan makanan yang aman, sistim pembuangan kotoran/najis yang baik dan pemt tasan lalat mencegah tersebarnya penyakit lewattinja. lalat dapat dikurangi dengan cara membuang sampah dan kotoran yang baik (lihat

4. Menghilangkan sarang-sarang nyamuk di daerah akan mengurangi bahaya menu penyakit, yang disebabkan karena gigitan nyamuk. 5. Membunuh semua anjing dan kucing liar akan mengurangi bahaya Rabies.

BAB V SIFILIS RAJA SINGA 1. PENGERTIAN Sifilis adalah suatu penyakit kelamin menular, yang disebabkan oleh Treponema Pallidum, suatu jenis spirochaeta. Penularannya terutama melalui hubungan kelamin. CIRI-CIRI KHAS Penyakit ini dapat akut atau kronis dan kumat-kumatan. Masa inkubasi berselang mulai 10 hari sampai 4 bulan. Ciri perkembangannya penyakit ini mula-mula ditandai dengan suatu jenis permulaan, biasanya di kemaluan; pada taraf kedua timbul ruam menyeluruh di kulit dan selaput lendir; masa terpendam/laten yang lama dan kemudian kelainan-kelainan di kulit, tulang, bagian-bagian tubuh, sistem syaraf pusat dan sistem peredaran darah. Tabel penyakit dengan kelainan di kulit, seksi 8. Mengenali penyakitnya pada taraf permulaan dan mengobatinya akan mencegah terjadinya cacat yang tidak mungkin diperbaiki. 2. TUJUAN Tujuan pemberantasan sifilis adalah menurunkan kesakitan serendah mungkin dan mencegah penyebaran serta mencegah terjadinya kecacatan penyakit. 3. KEGIATAN a) PENGAMATAN PEMBERANTASAN i. Laporkan semua penderita baru dan laporan bulanan puskesmas baru formulir PU 1.s EPIDEMIOLOGI DAN TINDAKAN

ii.

Ambilah suatu contoh darah untuk pemeriksaan VDRL sebelum mulai memberi pengobatan kepada tiap penderita yang diduga sakit sifilis berdasar atas gejala-gejalanya, dan kepada para kontak yang tidak diketahui.

iii.

Obatilah penderita seperti apa yang diuraikan dalam Tabel Penyakit dengan kelainan di kulit.

iv.

Adakanlah

wawancara

dengan

penderita,

untuk

mengetahui siapa-siapa kontak berhubungan kelamin. v. Mintalah penderita untuk membawa kontaknya ke Puskesmas. vi. Apabila kontak tidak datang ke Puskesmas, kunjungilah mereka di rumah dan bantulah mereka untuk mengerti bahaya penyakitnya dan bujuklah mereka datang ke Puskesmas. vii. Obatilah semua kontak sama seperti pengobatan penderita. viii. Adakanlah tindakan lanjutan terhadap penderita dan kontak yang diketahui dengan mengulangi pemeriksaan VDRL sesudah 1 bulan, 3 bulan, 1 tahun dan 2 tahun. Bila saja dalam pemeriksaan tersebut, hasil VDRL positif, ulangilah pengobatan rentetan pemeriksaan VDRL. ix. Nasehatilah penderita untuk tidak berhubungan kelamin sampai ia bebas infeksi. x. Semua dokter yang berpraktek hendaknya melaporkan penderita sifilis ke puskesmas, untuk dapat dicari kontaknya.

xi. Semua penderita dengan jejas kulit yang mencurigakan Sifilis, hendaknya juga diperiksa kulitnya akan kemungkinan penyakit kusta. xii. Pemeriksaan VDRL guna sifilis hendaknya juga dilakukan sebagai pekerjaan rutin bagi orang-orang seperti tersebut dibawah :  Penderita yang datang berobat buat infeksi kelamin di luar, buat penyakit kulit yang tidak jelas dan luka-luka kulitnya membandel pengobatan.    Calon pegawai negeri dan anggota angkatan bersenjata. Calon pengantin Wanita hamil pada kunjungan pertama ke Puskesmas dan apabila hasil tadinya negatif, dalam 3 bulan terakhir kehamilan.

b) PENYULUHAN KESEHATAN 1. Penyakit kelamin disebar-luaskan dari orang ke orang terutama dengan jalan hubungan kelamin dengan orang yang menderita penyakit ini dalam taraf menular. 2. Penyakit kelamin itu termasuk penyakit yang berat. 3. Dua macam penyakit kelamin yang paling biasa ialah sifilis dan gonore. Disebabkan oleh dua macam kuman yang berlainan. 4. Benih penyakit yang menyebabkan sifilis dan gonore ini lemah; mereka hanya dapat hidup beberapa menit di luar tubuh manusia. Bahaya ketularan penyakit-penyakit itu di kakus

umum, karena pegangan pintu, mangkok minuman atau alat makan, sangat terbatas. 5. Satu orang dapat menderita penyakit kelamin berkali-kali tanpa batas. Kekebalan terhadap penyakit kelamin tidak ada. 6. Penyakit kelamin hanya dapat ditentukan dengan pemeriksaan dokter dan pemeriksaan laboratorium. 7. Setiap orang yang menduga bahwa ia mungkin menderita penyakit kelamin, misalnya karena mempunyai luka di kemaluan atau nyeri dan keluar nanah sewaktu kencing, harus segera pergi ke Puskesmas untuk diagnosa dan pengobatan. 8. Penyakit kelamin dapat disembuhkan; pengobatan sendiri berbahaya; pergilah ke Puskesmas untuk pengobatan. 9. Sifilis adalah penyakit yang dapat ditularkan oleh sang ibu kepada bayinya. Setiap wanita hamil harus diperiksa darahnya terhadap sifilis. 10. Hindarilah hubungan kelamin bebas dan halangilah pelacuran dalam masyarakat anda.

BAB VI DEMAM BERDARAH (DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER) 1. PENGAMATAN Demam berdarah ( Dengue Haemorrhagic Fever = DHF ) ialah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengan dan ditularkan melalui nyamuk Aedes Aegepty. Penyakit ini terutama menyerang anak-anak dan dapat menyebabkan kematian. a. Tanda-tanda dan gejala 1) Hari ke 1 :

i. Mula-mula timbul panas mendadak (suhu badan 38o – 40o) ii. Badan lemah dan lesu 2) Hari ke 2 atau ke 3 :

iii. Perut (ulu hati) terasa nyeri iv. Petechiae (bintik-bintik merah di kulit) pada muka, lengan, paha, perut atau dada. Kadang-kadang bintikbintik merah ini hanya sedikit sehingga sering perlu pemeriksaan yang teliti. Bintik-bintik merah ini mirip dengan bekas gigitan nyamuk. Untuk membedakannya renggangkan kulit : bila hilang, bukan demam berdarah. Untuk melihat adanya petechiae lakukan pemeriksaan dengan torniquet test. Test positif setelah pemeriksaan torniquet keluar petechiae di tangan.

v. Kadang-kadang terjadi perdarahan hidung (mimisan), mulut atau gusi dan muntah darah atau berak darah. Tanda-tanda dan gejala diatas disebabkan karena pecahnya pembuluh darah kapiler yang terjadi di semua organ tubuh. 3) Hari ke 4 s/d 7 :

vi. Bila keadaan penyakit menjadi parah, penderita gelisah, berkeringat banyak, ujung-ujung tangan dan kaki dingin (pre-shock). vii. Bila keadaan (pre-shock) ini berlanjut, maka penderita dapat mengalami shock (lemah tak berdaya, denyut nadi cepat atau sukar diraba), atau disebut dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan bila tidak segera ditolong dapat meninggal. Keadaan pre-shock dan shock ini disebabkan karena adanya gangguan pada pembuluh darah kapiler yang mengakibatkan merembesnya plasma darah keluar dari pembuluh darah. Selain itu juga oleh karena adanya perdarahan. 4) Pemeriksaan laboratorium :

Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan : a) Trombositopenia (100.000/mm3 atau kurang). Biasanya baru terjadi pada hari ke-3 atau ke-4. Dalam praktek untuk pasien-pasien luar, perhitungan kualitatif dari sediaan darah perifer dapat dilakukan. Diketahui pada orang normal 4-10 trombosit/LP (dengan rata-rata 10/LP) menunjukkan jumlah trombosit yang cukup. Rata-rata kurang dari 2-3/LP dianggap rendah (kurang

dari 100.000) hemokonsentrasi (liat Hct meningkat 20% atau lebih). b) Dari nilai sebelumnya. Biasanya juga baru terjadi pada hari ke-3 atau ke-4. (contoh : nilai Hct waktu datang pertama kali 30%, pada pemeriksaan berikutnya 38%. Nilai Hct meningkat = x 100% = 26% )

Bila tidak tersedia alat hematokrit/centrifuge dapat digunakan perhitungan Hct ini dengan hemoglobinometer sahli. b. DIAGNOSA Adanya 2 atau 3 kriteria klinik yang pertama disertai adanya trombositopenia sudah cukup untuk menegakkan diagnosa Demam Berdarah secara klinik. Bila kriteria tersebut belum/tidak dipenuhi disebut sebagai suspect Demam Berdarah. Diagnosa pasti dilakukan dengan pemeriksaan serologis spesimen akut dan konvalesens. Petunjuk lebih terperinci dapat dibaca pad buku “DEMAM BERDARAH DIAGNOSA DAN PENGELOLAAN PENDERITA” ditjen. PPM & PLP Departemen Kesehatan. c. CARA PENULARAN / PENYEBARAN Demam berdarah ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegepty. Nyamuk tersebut mendapat virus dari orang yang dalam darahnya terdapat virus itu. Orang itu (carrier) tidak harus orang yang sakit demam berdarah. Sebab, orang yang mempunyai kekebalan, tidak tampak sakit atau bahkan sama sekali tidak sakit, walaupun dalam darahnya terdapat virus dengue.

Dengan demikian orang ini kepada orang lain. Virus dengue akan berada dalam darah manusia selama ± 1 minggu. Orang dewasa biasanya kebal terhadap virus dengue. Tempat-tempat yang mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya penularan demam berdarah ialah tempat umum (Rumah sakit, Puskesmas, Sekolah, Hotel/tempat penginapan) yang kebersihan lingkungannya tidak terjaga khususnya tempat-tempat penampungan airnya (bak mandi, wc, dsb). d. AKIBAT INFEKSI VIRUS DENGUE Seseorang yang digigit nyamuk Aedes Aegepty yang infektif (mengandung virus dengue) dapat berakibat sebagai berikut : 1) Tidak sakit (karena kebal). 2) Demam ringan yang sulit dibedakan dengan penyakit infeksi lainnya (Fever Unknown Origin = FUO). 3) Demam dengue (demam lima hari = dengue fever = DF) 4) Demam berdarah (DB)  DSS  meninggal.

2. TUJUAN Tujuan pemberantasan demam berdarah dengue adalah mengusahakan penurunan angka kematian (Case Fatality Rate) dan insidensi demam berdarah dengue serendah mungkin. Selain itu juga mengusahakan agar penyebarluasan dapat dibatasi. 3. KEGIATAN a. Pengamatan Epidemiologi dan tindakan pemberantasan 1) Surveillance epidemiologi

Tujuan : Deteksi secara cepat adanya “Outbreak” atau kasus-kasus endemis, sehingga dapat dilakukan usaha penanggulangan secepatnya. Untuk mengetahu faktor-faktor terpenting yang menyebabkan atau membantu adanya penularan atau wabah. Daerah pelaksanaan : Surveillance tidak hanya dilaksanakan di desa-desa dimana sudah pernah terdapat penderita/penularan DHF saja, tetapi harus dilaksanakan juga di daerah-daerah yang receptive, yaitu daerah-daerah dimana diketahui terdapat Aedes aegepty saja yang sudah cukup untuk dinyatakan receptive. Pelaksanaan : • • Penemuan penderita Untuk hal ini perlu ditentukan kriteria yang standard guna diagnosa klinis dan konfirmasi laboratorium dari DHF. • • Pelaporan penderita. Penderita yang telah pembantu ditemukan perlu di

Puskesmas/Puskesmas

dilaporkan

kepada unit-unit surveillance epidemiologi. • Penelitian wabah Bila dicurigai adanya wabah perlu dilakukan penelitian di lapangan, maksudnya ialah : • Untuk mengetahui adanya penderita-penderita lain atau penderita-penderita tersangka DHF yang perlu dikonfirmasi laboratorium. • Menentukan luas daerah yang terkena dan luas daerah yang perlu ditanggulangi.

Penilaian sumber-sumber (inventory) mengenai keadaan umum setempat, mengenai fasilitas dan faktor-faktor yang berperanan penting pada timbulnya wabah.

Setiap kasus demam berdarah/tersangka demam berdarah perlu dilakukan kunjungan rumah oleh petugas Puskesmas untuk penyuluhan dan pemeriksaan jentik di rumah kasus tersebut dan 20 rumah di sekelilingnya. Bila terdapat jentik, masyarakat diminta melakukan pemberantasan sarang nyamuk (Pada umumnya penyemprotan / fogging, dilaksanakan oleh Dinas kesehatan Dati II. Prioritas fogging adalah pada areal dengan kasus-kasus demam berdarah yang mengelompok, dan yang meninggal).

2) Surveillance vektor Untuk tingkat Puskesmas kegiatannya membantu tim I dari Dati II atau Dati I dalam pelaksanaan surveillance vektor ini. 3) Pemberantasan vektor Perlindungan perseorangan : Memberikan anjuran untuk mencegah gigitan nyamuk Aedes Aegepty yaitu dengan meniadakan sarang nyamuknya di dalam rumah. Yaitu dengan melakukan penyemprotan dengan obat anti serangga yang dapat dibeli di toko-toko seperti baygon, raid dan lain-lain. Pemberantasan vektor jangka panjang (pencegahan) a. - Satu cara pokok untuk pemberantasan vektor jangka panjang ialah usaha peniadaan sarang nyamuk.

- Vas bunga dikosongkan tiap minggu. - Menguras bak mandi seminggu sekali yaitu dengan menggosok dinding bagian dalam dari bak mandi tersebut. - Tempat-tempat persediaan air agar dikosongkan lebih dahulu sebelum diisi kembali. maksudnya agar larvalarva dapat disingkirkan. b. Usaha jangka panjang untuk daerah dengan vektor tinggi dan riwayat wabah DHF maka kegiatan Puskesmas adalah minta untuk dilakukan kegiatan lebih lanjut yaitu : • • Abatesasi untuk membunuh larva dan nyamuk Fogging dengan malathion atau fonirothion

c. Pemberantasan vektor dalam keadaan wabah. Kegiatan Puskesmas adalah membantu : i. Tim Propinsi / Dati II untuk survay larva dan nyamuk. ii. Membantu penyiapan rumah penduduk untuk di fogging.

4) PERTOLONGAN PADA PENDERITA a. Beri penderita minum banyak-banyak (air masak, susu, the atau minuman lain). b. Beri penderita obat penurun panas dan/atau kompres dengan es.

c. Penderita dengan gejala pre-shock harus dirawat (di rumah sakit/puskesmas)

b. Penyuluhan dan pengarahan masyarakat untuk PSN (pemberantasan sarang nyamuk) • Penyuluhan / informasi tentang demam berdarah dan pencegahannya dilakukan melalui jalur-jalur informasi yang ada : o Penyuluhan kelompok PKK, organisasi sosial masyarakat lain, kelompok agama, guru, murid sekolah, pengelola tempat umum/instansi, dll. o Penyuluhan perorangan    Kepada ibu-ibu pengunjung Posyandu Kepada penderita/keluarganya di Puskesmas Kunjungan Puskesmas o Penyuluhan media massa TV, Radio, dll (oleh Dinas Kesehatan Tk I,II dan pusat) • Menggerakkan masyarakat untuk PSN terutama penting sebelum musim penularan (musim hujan) yang pelaksanaannya dikoordinasikan oleh kepala Wilayah setempat. Kegiatan PSN oleh masyaralat seyogyanya diintegrasikan ke dalam kegiatan di wilayah dalam rangka program kebersihan dan keindahan kota. rumah oleh Kader/Petugas

Di tingkat Puskesmas, usaha/kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) demam berdarah ini seyogyanya diitegrasikan dalam program sanitasi lingkungan. c. Pelaporan penderita dan pelaporan kegiatan 1. Sesuai dengan ketentuan / sistem pelaporan yang berlaku, pelaporan penderita demam berdarah dengue menggunakan formulir : W1/laporan KLB (wabah) dan W2/laporan mingguan wabah serta formulir SP2TP : LB 1/Laporan bulanan data kesakitan dan LB 2 / laporan bulanan data kematian. Sedangkan untuk pelaporan kegiatan menggunakan formulir LB3/laporan bulanan kegiatan puskesmas (SP2TP). 2. Penderita demam berdarah/suspect demam berdarah perlu diambil specimen darahnya (akut dan konvalesens) untuk pemeriksaan serologis. Specimen dikirim bersama-sama ke Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) melalui Dinas Kesehatan Dati II setempat.

BAB VII TUBERKULOSIS PARU-PARU 1. DEFINISI Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang bersifat menahun, oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini menyerang paru-paru. CIRI-CIRI KHAS Tingkat permulaan tuberkulosis paru-paru biasanya hanya dapat ditemukan melalui pemeriksaan tubekculine test (hal yang penting bagi anak di bawah 5 tahun) dan dengan sinar tembus/X. Pada tingkat lebih lanjut akan dapat diketemukan pula Mycobacterium tuberkulosis dalam dahak, disamping gejala-gejala klinis seperti batuk, terkadang dengan darah dalam dahak, sesak nafas, nyeri dalam dada, demam, berat badan menurun dan sebagainya. Dalam keadaan demikian penderita harus dianggap sebagai penderita tuberkulosis yang mengan-dung basil tuberkulosis (basil tahan asam) dalam dahaknya dan dapat menularkan penyakitnya kepada orang lain yang sehat dan menyebabkan persoalan dalam masyarakat. Makanya, penderita dengan batuk, batuk berdahak, yang lamanya lebih dari dua minggu, dahaknya harus diperiksa. Dugalah dia sebagai penderita tuberkulosis. Tuberkulosis paru-paru lebih cepat mengganas pada bayi dan anak kecil. Karena mereka biasanya tidak dapat mengeluarkan dahak, adalah lebih balk apabila pada mereka diadakan pemeriksaan cucian lam bung. 2. TUJUAN

Tujuan pemberantasan tuberkulosis paru-paru adalah mengurangi kesakitan tuberkulosis paru serendah mungkin dan mencegah penyebaran penyakit dengan BTA positif. 3. KEGIATAN Pengamatan Epidemiologi dan Tindakan pemberantasan.  Penderita tuberkulosis paru yang ditemukan baik pada kunjungan dalam gedung maupun di luar gedung Puskesmas harus dicatat dan dilaporkan sesuai dengan ketentuan pencatatan dan pelaporan Puskesmas yang berlaku.  Setiap penderita tersangka tuberkulosis paru yang berumur 15 tahun ke atas harus diperiksa dahaknya sebanyak tiga kali berturut-turut dalam seminggu.  Bila dalam pemeriksaan tiga kali berturut-turut dalam seminggu tidak ditemukan BTA, penderita tersangka itu harus selalu berada dalam pengawasan dan dianjurkan kembali sebulan kemudian untuk pemeriksaan dahak lagi.  Bila dalam dahaknya ditemukan basil tahan asam (BTA), berikanlah penjelasan tentang pengobatan yang harus dijalaninya. Penjelasan yang harus diberikan itu mencakup:  Tata cara minum obat  Lama pengobatan.  Pertu berobat secara tekun dan teratur tanpa terputus untuk kesembuhan penderita sendiri.  Bahwa berobat tidak teratur akan membahayakan dirinya sendiri dan juga akan menyebarkan penyakit kepada keluarganya, para penghuni serumah dan mereka yang sering berhubungan dengan dia.  Efek sampingan obat yang mungkin akan dialami oleh penderita selama minum obat anti TB (OAT).

 Susunlah jadwal minum obat anti TB bersama-sama dengan penderita dan pengawas pengobatan (salah seorang keluarga penderita) yang telah disepakati bersama, baik jadwal minum obat setiap hari untuk bulan pertama maupun jadwal minum obat dua kali seminggu untuk bulan kedua sampai dengan bulan keenam.  Obat anti TB yang digunakan dalam program pemberantasan TB paru merupakan kombinasi beberapa obat yang diberikan selama 6 bulan (26 minggu) dan dikenal sebagai paduan obat jangka pendek. Paduan obat tersebut dan dosisnya adalah sebagai berikut: NAMA OBAT FASE INTENSIF SETIAP FASE INTERMITEN DUA

HARI MINGGU KE1 -4 Rifampisin Etambutol I.N.H. 450 mg (1 Tablet TB 4) LOOOmg (2 tablet TB 2)

KALI SEMINGGU MINGGU KE 5 -26 600 mg (1 Kaplet TB 6) —

400 mg (1 tablet TB 4 yang 700 mg (1 tablet TB 4 dan 1 mengandung Vit B6 10 mg) tablet TB 3)

 Rifampisin dianjurkan diminum Vfc jam sebelum makan atau 2 jam sesudah (peart dalam keadaan kosong) untuk menjamin absorbs! maksimal oleh lambung/usus. Pemberian Rifampisin akan menyebabkan air liur, air mata dan air kencing penderita menjadi berwarna kemerahan.  Bila penderita mengeluh mual, pusing dan muntah sesudah minum paduan obat jangka pendek dapat ditempuh beberapa cara berikut untuk mengatasinya (lakukan urutan pertama lebih dahulu, bila masih terdapat keluhan lakukan urutan kedua, dan seterusnya):  Minum obat pada malam hari sebelum tidur = sesudah makan Minum obat

 Dosis obat dibagi dua, diberikan setengah dosis pada pagi hari dan setengah dosis lagi pada malam hari. Ingat: semua obat dibagi dua dosisnya.  Paduan obat jangka pendek boleh diberikan jangka wanita hamil atau wanita yang sedang menyusui.  Bagi wanita yang sedang mendapat pengobatan jangka pendek agar tidak menggunakan pil atau suntikan maupun susuk KB, karena keampuhan pil/suntikan/susuk KB tersebut akan berkurang. Untuk itu dianjurkan agar menggunakan metode KB yang lain.  Pengobatan harus segera dihentikan bila diketahui bahwa penderita mengalami gangguan iungsi hatj yang dapat diketahui dengan munculnya ikterus (kulit, selaput mata berwarna kuning), atau bila penderita wanita hamil dalam masa pengobatan.  Semua data penderita dicatat secara lengkap dalam kartu-kartu dan buku-buku pencatatan yang tersedia guna memantau dan pengendalian penderita agar tidak terjadi putus berobat (dropout).  Berikanlah petunjuk kepada penderita untuk mencegah penyebaran penyakit dengan :  Menutup mulutnya sewaktu batuk atau bersin.  Menggunakan wadah yang tertutup dan diisi dengan larutan lysol guna dahak yang ia keluarkan, atau apabila dalam keadaan yang tidak memungkinkan hendaknya me-ngeluarkan dahaknya di tempat yang langsung menerima sinar matahari.  Menjaga rumah selalu terbuka untuk peredaran hawa yang baik dan masuknya sinar matahari di siang hari.  Tidur di kamar tersendiri bila mungkin, dan apabila tidak mungkin terpisah dari lain-lain anggauta keluarga.  Kunjungilah semua penderita siapa saja di rumahnya, jika mereka lowong pengobatan selama satu minggu. Usahakanlah sungguh-sungguh untuk

meyakinkan penderita pentingnya pengobatan yang terus-menerus. Jika penderita gagal untuk melanjutkan pengobatan, kunjun-gilah lagi dia dalam seminggu. Apabila kunjungan ini tidak berhasil, golongkanlah penderita ini sebagai "pelalaiVdefauler". Jika penderita "pelalai" ini kemudian datang kembali ke Puskesmas untuk berobat:  Periksalah lagi dahaknya akan adanya basil tahan asam  Jika dahaknya positif, anggaplah dia sebagai penderita baru, dan mulailah lagi pengobatan.  Jika dahaknya negatif, teruskanlah pengobatan dengan melanjutkan jadwal yang telah berhenti pada saat penderita datang ke Puskesmas yang terakhir.  Penderita yang berobat secara tertib terus-menerus mengikuti petunjuk, dahaknya harus diulangi pemeriksaannya sebagai berikut:  Penderita yang mendapat Streptomycin serta I.N.H.:  Ulangan pemeriksaan dahak diadakan pada bulan ke-6, ke-9, dan ke-12 sesudah pengobatan dimulai. Teruskanlah pengobatan sampai dahaknya tetap negatif selama satu tahun.  Penderita yang hanya menerima I.N.H. saja: Ulangan pemeriksaaji dahak diadakan pada bulan ke-6, ke-9, ke-12 dan ke-18 sesudah pengobatan dimulai. Teruskanlah pengobatan sampai dahaknya tetap negatif selama satu tahun.  Kirimkanlah semua penderita yang dahaknya belum negatif pada akhir jadwal tersebut di atas (12 bulan atau 18 bulan) ke pusat pengobatan tuberkulosis (BP4).  Periksalah semua orang penghuni serumah-dengan-penderita, para tetangga yang dekat dan para kontak yang dekat, akan kemungkinan adanya tuberkulosis. Siapa saja yang mempunyai gejala tuberkulosis harus diperiksa dahaknya, dan jika dahaknya mengandung basil tuberkulosis harus diobati sebagai penderita.

 Berikan vaksinasi BCG kepada semua penghuni serumah dan kontak yang dekat di bawah umur 15 tahun, jika mereka tidak menunjukkan bekas vaksinasi BCG baru dan tidak menunjukkan gejala tuberkulosis.  Anak-anak (yang tidak mempunyai bekas vaksinasi BCG) atau penderita di bawah umur 5 tahun harus mendapatkan test Mantoux (lihattata-kerja di bawah), dan apabila terdapat positif (jarak tengah 10 mm atau lebih) harus diobati.

4. CARA MELAKSANAKAN TEST MANTOUX Tata kerja melakukan test adalah sama dengan memberikan vaksinasi BCG. Tempat suntikan : Di lengan bawah, bagian sepertiga atas, sisi belakang/dorsa, daerah kulit yang sehat, jauhan dari tubuh darah yang jelas kelihatan. Juga harus sedikitnya 5 cm berjauhan dari tempat dimana pernah dilakukan tindakan lain bertalian dengan tuberkulosis (used site phenomena/gejala tempat pernah P.P.D. Pembacaan test digunakan). : Gunakanlah 2 T U P.P.D. RT 23 + Tween 80, (0,1 ml). : Pembacaan dilakukan sesudah 72 jam, dan dalam pembacaan ini erythema/kemerahan jangan diindahkan, yang diukur hanya indurasi/penebalannya. Ini dicatat dalam milimeter sebagai garis tengah melintang dari Pencatatan : penebalan yang diukur dengan garisan tembus penglihatan. a) Garis tengah melintang penebalan dalam milimeter. Tingkat-tingkat reaksi terhadap TU PPD yang disarankan ialah: NEGATIF POSITIF POSITIF LEMAH : kurang dari 5 mm : 5 – 9 mm : 10 – 14 mm

POSITIF SEDANG : 15 mm atau lebih b) lain-lain reaksi, seperti vesikula, bulla dan sebagainya.

a)

PENILAIAN PENGOBATAN  Untuk menilai keberhasilan setiap tahap pengobatan dan setelah selesai pengobatan perlu diperiksa dahaknya pada awal bulan IV dan pada akhir masa pengobatan (selayaknya pada akhir bulan VI). Pemeriksaan dahak dilakukan tiga kali berturut-turut dalam seminggu.  Bila pada pemeriksaan dahak ini ditemukan BTA positif, harus dilakukan biakan dahak. Bila biakan tidak tumbuh berarti BTA yang ditemukan adalah Mycobacterium tuberculosis yang mati. Bila biakan tumbuh harus dilakukan pemeriksaan kekebalan kuman (tes resistensi) terhadap OAT paduan jangka yang digunakan.  Penderita dinyatakan sembuh bila pada akhir masa pengobatan tidak ditemukan BTA pada pemeriksaan dahaknya selama tiga kali berturut-turut dalam seminggu.  Bila pada akhir pengobatan pemeriksaan dahak secara mikroskopik memberikan hasil BTA positif dan biakannya tidak tumbuh, maka penderita ini dinyatakan sembuh.  Pengobatan dinyatakan gagal (penderita tidak sembuh) bila pada akhir masa pengobatan ditemukan BTA pada akhir pemeriksaan dahaknya tiga kali berturut-turut dalam seminggu.  Bila pada akhir masa pengobatan pemeriksaan dahak secara mikroskopik memberikan hasil BTA positif dan biakannya tumbuh tetapi pemeriksaan kekebalan kuman (tes resistensi) memperlihatkan kuman masih renten (sensitif) terhadap paduan obat jangka pendek, maka pengobatan diulangi kembali awal dengan menggunakan paduan obat jangka pendek tersebut.  Bila pada akhir pengobatan pemeriksaan dahak secara mikroskopik memberikan hasil BTA positif dan biakannya tumbuh dan pemeriksaan kekebalan kuman (tes resistensi) memperlihatkan kuman sudah kebal (resisten) terhadap paduan obat jangka pendek, maka pengobatan

dinyatakan gagal dan penderita harus dirujuk ke unit pelayanan kesehatan yang lebih ahli. b)  RUJUKAN PENDERITA Indikasi rujukan:  Penderita yang dalam pemeriksaan dahak berkala telah menunjukkan terjadinya konvesi namun keluhan tetap ada dan keadaan umum semakin berat.  Penderita yang mengalami kegagalan pengobatan disertai dengan kekebalan kuman terhadap salah satu atau beberapa obat anti tuberkulosis yang pernah dipakai.  Penderita tidak tahan terhadap obat (drug intolerance)

c) PENYULUHAN KESEHATAN  Peranan penyuluhan kesehatan hams dimengerti dan dipahami secara mendalam oleh petugas kesehatan, karena upaya ini berhubungan dengan perilaku manusia/masyarakat.  Kegiatan penyuluhan dalam program pemberantasan tuberkulosis paru dilakukan oleh petugas kesehatan baik di dalam maupun di luar gedung Puskesmas.  Sasaran penyuluhan adalah penderita tuberkulosis paru, keluarga Penyuluhan kepada penderita bertujuan meningkatnya kegiatan Penyuluhan kepada penderita dilakukan oleh petugas kesehatan penderita serta masyarakat.  pengendalian penderita sehingga angka putus berobat kurang dari 10%.  pada setiap kesempatan yang ada, misalnya pada waktu pemberian obat, pada waktu pemeriksaan dahak, pada waktu kunjungan rumah atau kegiatan tain yang berhubungan dengan penderita. Berikanlah penyuluhan kepada masyarakaj.'agar memperoleh kerjasamanya dalam

rencana penemuan, pengobatan dan vaksinasi BCG. Hal-hal yang harus ditandaskan adalah sebagai berikut: d) VAKSINASI B.C.G.  Sasaran a. b. c. Anak-anak : 3 -14 tahun Anak-anak : 6 - 7 tahun (usia masuk sekolah) Anak-anak : 13-14 tahun (usia keluar SD).

 Bahan dan alat yang diperlukan  Vaksin BCG (Bacilli Calmette Guerin)  Kotak logam untuk mensuci-hamakan  Dua buah semprit Omega serta cincin karetnya  Sebuah tabung Omega untuk cadangan  Empat buah jarum BCG  Sebuah semprit record 10 cc.  Dua buah jarum Hypodermic No. 1  Sebuah pinset anatomi  Sebuah lampu spiritus  Penahan angin  Tempat ampul dari kayu  Gergaji pemotong ampul  Kotak tempat kapas.  Mensuci hamakan semprit dan jarum  Rebuslah dengan air bersih (sampai mendidih) selama 15 menit  Jangan sekali-kali menggunakan bahan kimia, sebab dapat membinasakan vaksin.  Cara memasang jarum pada semprit Omega:  Pastikanlah bahwa jarum terpasang baik pada semprit untuk mencegah kebocoran

 Peganglah semprit Omega dengan tangan kiri sedemikian hingga kalibrasinya menghadap ke muka anda.  Tangan kanan mengambil pangkal jarum dengan pinset  Panasilah pangkal jarum dengan api sampai ujung jarum merah.  Pasanglah jarum pada ujung semprit sedemikian rupa hingga lobang ujung jarum terletak dalam satu garis dengan kalibrasi dan menghadap ke atas.  Pasanglah jarum pada semprit secara tekanan lurus: jangan diputar seperti pada semprit rekord biasa, sebab ujung semprit Omega yang terbuat dari kaca akan patah.  Tunggulah 1 5 detik agar jarum menjadi dingin.  Sebelum mengisi semprit, periksalah apakah jarum sudah terpasang cukup ketat pada semprit dengan menariknya dengan pinset lurus dalam jurusan poros semprit, jangan memutarnya; bila masih lepas, ulangilah.  Cara mengisi semprit:  Selama menyedot vaksin hindarkanlah pemasukan udara ke dalam semprit.  Isilah semprit penuh sampai tanda No. 1 00.  Pengamanan Vaksin BCG:  Simpanlah vaksin BCG ditempatyangterlindung dari sinar matahari atau dalam es, karena BCG lekas mati akibat sinar matahari dan cahaya cemerlang.  Janganlah memakai bahan kimia seperti alkohol untuk mensucihamakan semprit dan jarum atau untuk membersihkan kulit, sebab bahan itu membinasakan BCG.  Bila mungkin, angkutlah BCG dalam kotak berisi es (Temperatur 4 - 8°C.)  Jumlah vaksin yang diperlukan  Vaksin BCG tersedia dalam ampul @ 50 dan 20 dosis.

 Diperkirakanterpaksaterbuang

rata-rata

50%,

hingga

dapat

diharapkan setiap ampul cukup untuk 25 dan 10 suntikan.  Bawalah vaksin yang diperlukan untuk satu hari.  Ampul yang sudah terbuka harus dipergunakan isinya dalam 4 jam; vaksin BCG dalam semprit harus dihabiskan dalam 15 menit. Buanglah sisa vaksin yang kelamaan di luar.  Tata-laksana Pemberian Vaksinasi:  Isilah semprit Omega yang sucihama.  Peganglah TANGAN KANAN atas anak dengan tangan kiri. Bila lengan itu kotor, bersihkan-lah dengan kapas yang dibasahi dengan air bersih. Janganlah mempergunakan alkohol atau desinfektans sebab akan membinasakan BCG.  Tempat yang akan disuntik ialah 3 (tiga) jari di bawah send! bahu kanan di tengah-tengah daerah m. Deltoideus. Jangan terlalu tinggi agar terhindar pergeseran kulit dan pemben-tukan keloid. Jangan terlalu ke belakang atau ke muka sebab akan menjadi kotor karena keringat.  Ratakanlah kulit dalam jurusan poros lengan dengan menariknya ke atas dengan jari telunjuk dan ke bawah dengan ibu jari tangan kiri. Selama rnemasukkan jarum, kulit itu harus tetap rata (tidak boleh melipat pada tempat jarum menusuk kulit).  Jepitlah semprit Omega di antara ruas terakhir jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan seperti memegang rokok.  Letakkan ujung jarum yang runcing di tempat yang akan disuntik sedemikian rupa sehingga jarum dan semprit membentuksudut kurang lebih 1 5 derajat dengan poros lengan atas anak.  Pastikanlah bahwa lobang jarum menengadah pada sudut tusukan ke dalam kulit.  Dorongkanlah jarum ke dalam kulit ari hingga hanya 1/£ (separoh) dari jarum tinggal kelihatan di luar permukaan kulit.

 Turunkanlah pangkal semprit hingga poros semprit menjadi sejajar dengan poros lengan, dan pastikanlah bahwa ibu jari tangan kiri tidak terletak di bawah semprit, sudut yang 15° menjadi kurang dari 10°.  Doronglah kebocoran.  Dengan menggunakan ibu jari kanan menekan pangkal pengisap masukkan 5 strip vaccin (0,05 cc) untuk bayi, dan 10 strip (0,1 cc) untuk anak usia sekolah. Bila penempatan semprit betul maka akan terlihat pori-pori kulit membesar di tempat yang disuntik.  Pindahkanlah ibu jari tangan kanan ke tabung semprit sebelum menariknya dari kulit.  Sebelum menyuntik anak berikut, panasilah ujung jarum, hingga terdengar suara mende-sing.  Keluarkanlah vaksin sebanyak 5 strip agar semua vaksin yang mati di dalam jarum pasti terbuang.  Suntiklah anak berikutnya dengan cara seperti telah diuraikan di muka, dengan menggunakan vaksin 10 strip.  Tindakan pengamanan: Janganlah memberi obat anti tuberkulosis kepada anak yang baru saja divaksinasi BCG (selama 3 bulan). Catatlah dalam Kartu Kesehatan Anak. (lihat Bab XV, Immunisasi). lagi jarum pelan-pelan untuk menghindarkan

BAB VIII PATEK (FRAMBUSIA) 1. DEFINISI Patek adalah penyakit menular bukan kelamin (non-venereal), yang menahun dan tiap kambuh kembali, disebabkan oleh treponema pertenue, berciri kerusakan kulit berupa granuloma (kelompok butir-butir) atau borok (ulcera) dan yang akhirnya menyebabkan parut yang luas, dengan atau tanpa perubahan bentuk dan pembatasan gerak sebagai akibatnya. Penyakit ditularkan karena kontak/persentuhan dengan eksudat jejas dari orang yang menderita. CIRI-CIRI KHAS Patek taraf dini dan larut mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:  Taraf dini: Luka permukaan (babon) berupa papilloma, yang biasanya bertempat di lengan bawah, tungkai, pantat, telapak kaki atau tangan. (lihat gambar 22, Papilloma Patek Dini dan gambar 23, Papilloma Patek di telapak kaki.) Papilloma dini: = Timbul 3 -6 minggu sesudah kuman masuk, di tempat persetubuhan. = Dapat memborok (lihat Gambar 24 Patek Dini, Ujudnya menyerupai buah besaran, frambusia atau arbeien. = Permukaannya basah, tidak bernanah. = Dini, Borok). = Sembuh dengan sendirinya dalam beberapa bulan, tanpa parut. = Gangguan-gangguan yang sering menyertai babon adalah demam, pening, nyeri tulang dan sendi. (lihat Patek, Tabel 4. Penyakit dengan kelainan kulit, seksi 8).  Taraf Dini: Papilloma Lipat Ganda/Multiple Papillomata (lihat Gambar 26, Patek Dini, Papilloma Lipat Ganda) = Dalam waktu beberapa minggu/bulan timbul secara susul-menyusul rJam Papilloma memborok dan gambar 25, Patek

berbintil-bintil merata, (lihat Gambar 27, Patek Dini, Mikropapula). Beberapa di antara papula ini berkembang menjadi bentuk frambus khas. Setiap ruam berlangsung beberapa bulan. Antara masa-masa yang aktif, infeksi sedang tidur (taraf dini latent). = Jejas sering timbul sekitar mulut dan dubur. Luka-luka sekitar dubur dan vagina menyerupai condylomata syphilitica. = (hiperpigmentasi) pada kulit.  Taraf Dini: Bubul. Papillomata di telapak tangan dan kaki.  Semua luka permulaan (babon) tersebut di muka dapat menularkan penyakit.  Taraf Dini dan Larut: Hyperkeratosis (lihat gambar 27, Gejala Dini Patek, dan Gambar 28, Hyperkerotosis di telapak tangan). = Kerusakan dengan penebalan kapal (hyperkeratosis) dapat berbentuk lingkaran atau tak teratur. Penderita dapat mempunyai tempat yang satu meluas dan yang lain menyembuhkan. = Kulit dapat mengelupas sebagian dan menimbulkan borok dengan berbagai bentuk.  Taraf Dini dan Larut: Patek berbecak atau Hyperpigmentasi dari jejas patek dini yang sudah sembuh (lihat gambar 29, Patek Dini, Patek berbecak).  Taraf Larut: Kerusakan tulang sendi. (lihat gambar 30, Patek Larut, Kehancuran Jaringan serta Kerusakan Bentuk dan gambar 31, Kehancuran Jaringan dan Tulang Hidung dan Tenggorokan). = Tumbuh 5-10 tahun sesudah infeksi (beberapa tahun jejas-jejas dini yang terakhir). = Jejas-jejas yang merusak kulit dan tulang kebanyakan timbul di jari-jari dan tulang-tulang tungkai. = Gangosa, suatu infeksi yang merontokkan tulang hidung dan tenggorokan, tidaklah luar biasa. = Gumma, borok: Kerusakan berbentuk bonggol kecil-kecil, sering-sering memborok, dan dapat sembuh dengan parut berkembang (keloid), yang Luka-luka ini sembuh tanpa parut, meskipun mungkin meninggalkan warna kehitam-hitaman

mengakibatkan kontraktur (perpendekan, perbengkokan). Beberapa dari padanya dapat tetap begitu saja bertahun-tahun lamanya.  Jejas patek larut biasanya tidak menulari.  Antara masa-masa aktif, kemampuan menular sedang tidur (taraf larut latent). Cara menentukan Diagnosa Patek.  Dasarkan diagnosis atas jejas-jejas dan lain-lain gejala klinik seperti terurai di atas.  Periksalah anak, dalam keadaan telanjang.  Orang dewasa diperiksa dengan pakaian sedikit-dikitnya.  Periksalah setiap penderita secara teratur, dari ram but kepala sampai ujung jari kaki, depan dan belakang, dengan perhatian khusus pada lipatan ketiak, telapak tangan dan kaki.  Apabila diagnosa meragukan, ambillah darah untuk pemeriksaan VDRL, FTA (Flouresoense Treponemal Antibody Test) atau TPI (Treponema Pallida Immunization Test).  Pergunakanlah ciri-ciri yang berikut ini untuk membedakan patek dari penyakit lain: Sifilis : Patek tidak menyebabkan kerusakan selaput lendir, tidak menyerang mata, tidak merontokkan rambut. Dalam taraf larut patek tidak menyerang alat-alat tubuh dalam susunan saraf ataupun pembuluh darah. Pada sifilis dini tidak terdapat Impetigo kerusakan telapak tangan ataupun kaki. : Pada impetigo — nanah kuning/hijau. Pada patek — cairan yang keluar encer kemerahGudig merahan. : Gatal sekali. Biasanya di sela-sela jari tangan dan kaki Tidak Kusta Ulcus tripicum mengenai muka dan kepala. : Tunarasa di tempat kerukan. : Nyeri sekali dan biasanya hanya ditungkai bagian sepertiga yang bawah.

Psosiasis

: Bila keropeng diangkat, di bawahnya tampak permukaan yang halus dengan bintik-bintik kecil berdarah. : Gatal sekali, terutama pada waktu berkeringat. Tidak mempan P.A.M.

Mycosis

2. TUJUAN Tujuan pemberantasan frambusia adalah mengurangi kesakitan frambusia serendah mungkin dan mencegah terjadinya penyebaran serta mencegah terjadinya kecacatan. 3. KEGIATAN a. Pengamatan Epidemiologi dan tindakan pemberantasan penderita frambusia yang ditemukan di Puskesmas maupun di luar gedung harus dicatat dan dilaporkan sesuai dengan ketentuan pencatatan di Puskesmas yang berlaku.  Berilah pengobatan penderita patek yang menular maupun yang tidak menular.  Carilah para kontak, termasuk semua anggauta keluarga serumah, tetangga dan lain-lain orang yang berhubungan dekat dengan penderita dalam bulan terakhir. Obatilah mereka yang menunjukkan gejala yang mungkin patek (lihat Patek, seksi 8).  Obatilah para kontak tanpa gejala patek dengan suntikan tunggal PAM dengan dosis separo dari dosis untuk penderita patek atau orangorang dengan gejala patek.  Kontak yang mempunyai borok dengan garis tengah 2 cm atau lebih, meskipun tidak khas bagi patek, harus diberi suntikan RAM, yang dosisnya sama seperti penderita patek (lihat seksi 8).  Apabila dalam pencarian kontak ditemukan penderita patek baru yang menular, maka harus diperluas pencarian kontak dan pengobatan

pencegahan hingga mencakup para kontak dari penderita baru yang diketemukan.  Laporkan semua penderita patek yang ditemukan dalam pencarian dengan menggunakan formulir yang telah disediakan. b. Penyuluhan Hal-hal yang berikut perlu ditekankan dalam memberikan pendidikan kesehatan untuk mem-basmi patek:  Patek adalah penyakit menular yang disebarkan dari satu ke lain orang dengan sentuhan.  Patek disebabkan oleh kuman.  Terutama anak-anaklah yang ketularan.  Diagnosa dini dan pengobatan selekas-lekasnya akan mencegah penyebaran penyakit dan akan menyembuhkan penderita.  Pengobatan dini akan mencegah kerusakan bentuk tubuh dan cacat/ketidak sanggupan bekerja.  Puskesmas memberikan pengobatan cuma-cuma kepada penderita patek.  Jika ada borok apapun di badan, pergilah ke Puskesmas untuk penentuan penyakitnya dan pengobatannya.

BAB IX PEMBERANTASAN FILARIASIS

1. Pengertian Filariasis adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing Filaria. Di Indonesia ada tiga spesies cacing ini, yaitu Wuchereia bancofti, Brugia malayi dan Brugia timeri. Cacing muda dan cacing muda dan cacing dewasa hidup di dalam pembuluh dan kelenjar getah bening, sedangkan mikrofilarianya berada dalam pembuluh darah perifir pada waktu malam hari. Cacing dewasa dapat hidup bertahun-tahun (10-40 tahun). Penularan penyakit ini terjadi melalui gigitan nyamuk penular, dari jenis Anopheles, Culex, Mansonia dan Aedes. Daerah endemis filariasis biasanya berbentuk kantong-kantong, umumnya terdapat pada berbagai dataran rendah yang berawa dengan di sinilah terdapat hutan belukar. Daerah endemis filariasis banyak terdapat di daerah pedesaan di luar Jawa dan Bali. Ciri-ciri Khas

-

Kekhususan penyakit ini ditandai dengan demamn dan radang pembuluh serta kelenjar-kelenjar getah bening (adenolymphangitis) yang datangnya mendadak dan berulang-ulang.

-

Di antara penderita Filariasis yang lanjut terdapat pembesaran kandugn buah pelir dan kaki (kaki gajah).

2. Tujuan Tujuan pemberantasan Filariasis adalah mengurangi kesakitan serendah mungkin dan mencegah penyebaran penyakit serta mencegah terjadinya kecacatan. 3. Kegiatan a. Pengamatan Pemberantasan 1. Catat dan laporkanlah tiap penderita tersangka Filariasis baru (kaki gajah atau pembesaran kandungan buah pelir) ke Kantor dinas Kesehatan Kabupaten dalam laporan Bulanan Puskesmas untuk peristiwa baru (microfilaria positif) yang kebetulan ditemukan. 2. Pengobatan khas dengan Diethylcarbamazine hanya diberikan atas petunjuk Dokter Kabupaten, (4-6 mg tiap kg berat-badan sehari selama 6 hari untuk infeksi Brugia malayi dan “Timor micro filarial”, dan selama 12 hari untuk infeksi Wucheria bancrofti). a. Pengobatan Obat yang digunakan ialah Filarzan (Dirhyl Carbamazine Citrane atau DEC) dengan zat aktif 100 mg DEC. Ada tiga cara pemberian obat: 1) Dosis standar: 5 mg DEC/kg BB/Kali/hari: 10 hari untuk B. Malayi dan B. Timori: 15 hari untuk W. bancrofti. 2) Dosis bertahap Epidemiologi dan Tindakan

- Hari 1-4 - Hari

: Untuk penduduk yang berumur 10 tahun ke atas diberikan satu tablet DEC per hari ke-5 : Untuk B. Malayi dan B. Timor: hari ke 57 untuk W. bancofti diberikan dosis standar 5 mg DEC/kg BB/hari.

sampai ke-12

3) Dosis rendah: Untuk penduduk berumur lebih 10 tahun diberikan dosis tunggal sehari ½ tablet Filarzan (DEC) dan untuk yang berumur kurang dari 10 tahun diberikan 1/4 tablet DEC per minggu selama satu tahun. Cara mana yang dipakai tergantung dari keadaan yang akan diberi obat, tenaga Puskesmas, sarana dan keadaan masyarakat setempat. Daerah endemis dengan mf. rate > 5% diberikan pengobatan massal. Daerah endemis dengan mf. rate < 5% diberikan pengobatan selektif. Pemberian Filarzan ditangguhkan pada: a. Anak-anak yang berumur kurang dari 2 tahun b. Ibu hamil/menyusui P c. Penderita sakit berat dan orang tua yang lemah. d. Cegahlah penyebar-luasan filariasis dengan menganjurkan penderita, keluarganya dan penduduk desa untuk: 1) 2) 3) 4) Menggunakan kelambu sewaktu tidur malam Menggunakan obat nyamuk guna mencegah gigitan Menyemprot rumah dengan insektisida. Membersihkan lingkungan rumah guna mencegah

nyamuk.

gigitan nyamuk.

e. Obatilah penderita seperti yang diuraikan dalam Filariasis, Tabel 5 Penyakit dengan Demam selama beberapa hari, pada seksi 8. f. Bantulah Regu Pemberantasan Filariasis dari Kabupaten dalam: 1) Memberikan pendidikan kesehatan tentang pencegahan gigitan nyamuk. j 2) Melakukan pemeriksaan darah malam. 3) Melaksanakan program pemberantasan parasit. 4) Melaksanakan program pemberantasan vektor/pembawa penyakit. b. Penyuluhan Kesehatan b. Penyuluhan Kesehatan 1) Adanya Filariasis memberikan kesepakatan baik untuk menyelenggarakan pendidikan 1 kesehatan di tingkat desa. 2) Usaha pendidikan kesehatan hendaknya dipusatkan pada empat tujuan: a. b. c. Memberantas nyamuk dan mencegah gigitan nyamuk. Melaporkan tiap kali terdapat gejala Filariasis ke

Puskesmas. Pentingnya membantu Regu Pemberantasan Filariasis dari Dati Il/Dati I untuk mendapatkan sediaan darah malam hari dari penderita dan penghuni serumah. d. Mencegah penularan penyakit dengan mengikuti pengobatan seperti yang ditunjukkan oleh staf Puskesmas.

BAB X MALARIA 1. PENGERTIAN

Malaria adalah suatu penyakit menular disebabkan oleh parasit Plasmodium dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles yang terkena infeksi. Penyakit ini dapat menyerang semua orang, pada semua golongan umur, dari bayi, anak-anak dan orang dewasa. a) Malaria Tropika (yang disebabkan oleh P. Falciparum) b) Malaria Tertiana (yang disebabkan oleh P. Vivax) c) Malaria Kwartana (yang disebabkan oleh P. Malariae) d) Malaria Ovale (yang disebabkan oleh P. Ovale) Di Indonesia ditemukan lebih banyak P. Vivax dan P. Falciparum dengan P. Vivax yang umumnya lebih dominan. CIRI-CIRI KHAS: Penderita Malaria klinis mempunyai gejala-gejala sebagai berikut : a) Demam menggigil yang berkala biasanya disertai sakit kepala b) FenderitTyafig pucat karen a ^{jran^^TarTdanmembe^ir li m _panya , sering ditemukan pada mereka yang seringlerserang jrnalaria. c) Penderita malaria berat masih bertambah lagi dengan gejala-gejala berikut: gangguan kesadaran, kejang-kejang, diarre sampai kehilangan kesadaran (koma). d) Sebelum sakit penderita dengan merasa lemah badan, sakit kepala, tidak nafsu makan, mual muntah yang disertai perasaan dingin, demam kemudian berkeringat. 2. TUJUAN

Pemberantasan malaria bertujuan untuk menurunkan kesakitan serendah mungkin dan mencegah penyebaran~penyakft 3. KEGIATAN a. Pengamatan Epidemiologi dan tindakan pemberantasan 1) Di Jawa-Bali, dilakukan melalui kegiatan Active Case Detection (ACD) dan Passive Case Detection (PCD). a) cara: Pengambilan sediaan darah (SD) pada penderita tersangka klinis malaria dan demam yang tak diketahui sebabnya, dilaksanakan oleh JMD (Juru Malaria Desa) yang secara aktif melakukan kunjungan rumah menurut jadwal kerja yang teratur. Bagi penderita tersangka klinis malaria yang diambil SD diberikan pengobatan presumtif dengan tablet klorokuin, dosis tunggal, menurut umur dengan jumlah tablet sebagai berikut : Gol umur 0 - 1 tahun Gol umur 1 - 4 tahun Gol umur 5 - 9 tahun Gol umur 15 tahun = ½ tablet = 1 tablet = 2 tablet = 4 tablet Pencarian penderita secara aktif (ACD) dilakukan dengan

Gol umur 10 - 14 tahun = 3 tablet

Kalau dalam pemeriksaan mikroskopis SD yang diambil ternyata positif, maka diberi pengobatan radikal sesuai dengan jenis parasitnya dengan cara berikut: Plasmodium falciparum sensitive (malaria tropical) diberi pengobatan 3 hari, yaitu:

-

Vivax (malaria tertian), P. Ovale dan P. Malaria tersebut masih harus dikombinasi dengan

Pengobatan berikut:

primakuin selama 5 hari dengan cara pemakaian sebagai

Perlu dicatat bahwa

: 1 Tablet klorokuin mengandung 150 mg basa dan obat harus diminum sesudah makan (perut tidak kosong). : Tablet primakuin tidak diberikan kepada bayi dan ibu hamil. b) Penemuan penderita secara pasif (PCD) dilakukan dengan cara: Pengambilan SD pada setiap pengunjung Puskesmas Pada penderita yang diambil SD-nya diberi pengobatan Setelah SD diperiksa dan ternyata positii, penderita diberi dengan gejala klinis malaria. secara ACD yaitu pengobatan presumtif. pengobatan radikal dengan cara yang sama seperti ACD. c) Penyemprotan rumah (pemberantasan vektor)  Penyemprotan rumah dengan racun serangga dilaksanakan di desa dengan penderita > 5 per 1000 penduduk dengan ABER 10% sampai mencapai < 5 per 1000 penduduk minimal 2 tahun berturut-turut. Setiap daerah yang mempunyai 2 puncak insiden (2 musim penularan) setahun, disemprot 2 siklus yaitu: 1) 2) 1-2 bulan menjelang puncak densitas pertama, kira1-2 bulan menjelang puncak densitas kedua, kirakira bulan Januari - Maret (siklus II tahun anggaran). kira bulan Juli - September (siklus I tahun anggaran). Karena puncak insiden terjadi satu bulan sesudah puncak densitas vektor (musim penularan) maka penyemprotan harus sudah selesai 1 bulan sebelum puncak densitas. Untuk lebih lengkap lihat Buku Pedoman Malaria No. 4 tentang penyemprotan rumah. Biological Control.

Pemberantasan vektor dengan menggunakan ikan pemakan jentik. Untuk lebih lengkap lihat Buku Pedoman No. 5 tentang anti larva. - Larvaciding Pemberantasan larva dengan menggunakan larvasida misalnya Dimilin dan Temephos (lihat Buku Pedoman Malaria No. 5) d) Pengamatan dini/terhadap KLB. Ada peningkatan kasus malaria yang bermakna, baik malaria klinis maupun yang positif SD-nya di Puskesmas (lihat Buku Pedoman No. 3 tentang pengobatan). Adanya laporan dari masyarakat (misalnya murid sekolah banyak yang absen) tentang adanya peningkatan jumlah penderita panas. Ditemukan kematian dengan gejala malaria.

2) Di luar Jawa-Bali a) Penemuan penderita secara pasif (PCD) Setiap penderita yang datang ke Puskesmas/Puskesmas Pembantu dengan gejala klinis malaria diberi pengobatan malaria klinis dengan klorokuin sebelum 3 hari. Cara pemberian pengobatan Hari: Hari 1, dan hari Hari 3  Jumlah tablet per hari (tahun) 0–1 1–4 5–9 ½ 1 2 ¼ ½ 1

10 – 14 3 1½

15+ 4 2

Pengambilan SD diatur Puskesmas secara sistematis sesuai

dengan kemampuan misalnya:

Tiap-tiap minggu ditentukan 1 hari pengambilan SD bagi semua pengunjung Puskesmas dengan gejala klinis malaria. Tujuan adalah untuk: -Memantau fluktuasi SPR dan % P.f. -Menilai prevalensi -Alat bantu untuk menetapkan musim penularan dan siklus penyemprotan rumah.  Pengobatan radikal bisa dikerjakan bila dipenuhi syarat (1) Puskesmas mampu melakukan pemeriksaan SD dan berikut: hasilnya sudah diketahui sebelum penderita pulang pada hari pemeriksaan. (2) Daerah yang penularannya sudah rendah.

b) Penyemprotan rumah dengan racun serangga (DOT). Dilaksanakan pada daerah prioritas, yaitu: daerah Jtransmigrasi (PIR) baru, dan daerah prioritas lainnya yang mempunyai angka PR (Parasit Rate) > 4% misalnya daerah pembangunan sosial ekonomi, daerah perbatasan negara tetangga dan daerah KLB malaria. Penyemprotan sampai sedikit 2 tahun berturut-turut mencapai angka PR < 2%. Waktu pelaksanaan berkisar 2 bulan sebelum puncak insiden malaria dan dikerjakan 2 siklus setiaptahunnya. c) Peringatan dini terhadap KLB. sampai dengan Jawa-Bali.

4. PENYULUHAN KESEHATAN Penyuluhan kesehatan hendaknya diselenggarakan terus-menerus di tingkat desa untuk membimbing penduduk dalam mengenal malaria serta mendorong

mereka untuk segera mencari pengobatan bila terserang malaria dan menyadarkan penduduk bahwa penyakrt malaria dapat dicegah dan diberantas. Program ini hendaknya mencakup hal-hal sebagai berikut: Setiap orang atau anggota keluarga dengan gejala-gejala demam, menggigil yang berkala disertai sakit kepala dan lesu, hendaknya segera datang ke Puskesmas untuk diperiksa (termasuk pengambilan SO) dan diobati. Pertu minum obat sampai habis seperti yang ditunjukkan/dinasehati oleh petugas Puskesmas meskipun ia sudah merasa enak di badan, perlunya datang kembali ke Puskesmas, apabila penderita merasa belum sembuh meskipun sudah minum obat seperti yang disuruhkan kepadanya. Pentingnya pemberitahuan kepada Puskesmas adanya orang lain yang sakit demam di desa, khususnya bila ada yang meninggal dengan gejala malaria. Penyakit malaria dapat dicegah dan diberantas dengan cara memberantas sarang nyamuk, mencegah gigitan nyamuk, mengijinkan rumah disemprot dan segera berobat bila terserang malaria, semuanya dapat dikerjakan melalui peran serta masyarakat. Bagaimana memberantas sarang nyamuk. = tergenang. Membersihkan semak Mengalirkan air yang sekitar rumah. = belukar

Membersihkan dan merawat tambak-tambak ikan dan udang. = Merawat/membersihkan saluran air di sawah. = Melestarikan hutan bakau di rawa-rawa sepanjang pantai = Cara mencegah gigitan nyamuk:  Tidurlah di dalam kelambu  Beradalah di dalam rumah pada malam hari  Pasanglah kawat kasa pada jendela-jendela dan lobang angin.  Pasanglah/pakailah obat nyamuk.  Menanam ikan terutama ikan pemakan jentik. Menanam padi secara serentak dan diseling dengan palawija = Melipat kain yang bergantungan.

5. LAPORAN Penderita malaria dilaporkan melalui formulir LB1 (SP2TP) Kegiatan malaria sebagian dilaporkan melalui LB3 Laporan harian penyemprotan melalui OP1, OP2, OP3a.

BAB XI GONORE/KENCING-NANAH

1. PENGERTIAN Gonore adalah satu penyakit kelamin menular, yang disebabkan oleh gonokok Neisseria gonorrhoeae. Penularannya terutama melalui hubungan kelamin. CIRI-CIRI KHAS Gejala-gejala dan perkembangan sakitnya adalah berbeda antar pria dan wanita. Gejala khas agi pria adalah keluarnya nanah kental kuning dari uretra. Infeksi dapat menjalar dan menimbulkan epididymitis, prostatitis,

arthritis dan endocarditis. Pada wanita gejala pertama biasanya berbentuk salpingitis atau pelvic peritonitis, sesudah haid pertama, kedua yang datang kemudian. Dalam taraf menahun dapat timbul septicaemia, arthritis atau endocarditis. 2. TUJUAN Tujuan pemberantasan gonore adalah mengurangi kesakitan serendah mungkin dan mencegah penyebaran penyakit. 3. TINDAKAN, a. Pengamatan Epidemiologi Dan Tindakan Pemberantasan 1) Laporkan berlaku. 2) Sebelum mulai pengobatan, ambillah sediaan olesan dari urethra untuk pemeriksaan laboratorium, dan ambillah 2 ml darah untuk pemeriksaan VDRL. Akan tetapi janganlah pemberian pengobatan menunggu hasil laboratorium, apabila gejala-gejala gonore secara klinis sudah nampak. Obatilah penderita seperti yang tertera, penyakit dan kelainan dalam air kemih dan/atau gangguan mengeluarkannya pertama yang boleh. 3) Mintalah penderita menunjukkan semua kontak selama dua minggu terakhirdengan menyebut-kan nama dan alamatnya. 4) Mintalah penderita membawa semua kontak ke Puskesmas. 5) Kunjungilah kontak, yang tidak datang ke klinik, di rumahnya, dan berilah penjelasan tentang bahaya penyakitnya serta bujuklah mereka datang ke Puskesmas. 6) Berilah kepada semua kontak pengobatan yang sama seperti yang diberikan kepada penderita, dengan segera (pada hari itu juga atau esok harinya), tanpa menghiraukan ada atau tidaknya gejala. semua peristiwa baru dalam Laporan Bulanan Puskesmas untuk Peristiwa Baru, dengan formulir pelaporan yang

7) Mintalah semua kontak kembali 3 hari sesudah pengobatan selesai untuk pemeriksaan ulang-an. Bila masih ada kotoran keluar, ulangilah pemeriksaan laboratorium. Bila masih diketemukan gonokok, ulangilah pengobatan dengan dosis dua kali lipat (Penicillin 2.400.0001.U.J.M.). 8) Bila sediaan negatif dan penderita tidak mempunyai keluhan, anggaplah ia mungkin sembuh; akan tetapi mintalah penderita kembali 3 minggu kemudian untuk pemeriksaan ulangan. 9) Pada penderita lelaki, 3 minggu kemudian, buatlah satu sediaan dari saluran kemih dan periksalah di bawah mikroskop; bila negatif, anggaplah ia sembuh. 10) Pada penderita wanita, 3 bulan kemudian, beberapa hari setelah haid, buatlah sediaan dari urethra, cervix dan rectum, dan periksalah di bawah mikroskop; bila negatif, anggaplah sembuh. 11) Bila sediaan terdapat positif: a) Bilaterjadi persetubuhan sebelum saatpengobatan, anggaplah bahwa penderita mengalami infeksi baru dan ulangilah pengobatan. b) Bila sejak diberikannya pengobatan pertama tidak terjadi persetubuhan, anggaplah bahwa infeksi asli masih ada dan bahwa gonokok yang bersangkutan mungkin kebal obai; berilah antibiotik seperti yang diberikan pertama dengan dosis duakali lipat, atau berilah antibiotik lain. b. PENYULUHAN KESEHATAN 1) Penyakit kelamin disebar-luaskan dari orang dengan jalan persetubuhan dengan seorang yang menderita penyakit ini dalam taraf menular. 2) Penyakit kelamin ini termasuk berat 3) Dua macam penyakit kelamin yang paling biasa ialah sifilis dan gonore, disebabkan oleh dua macam kuman yang berlainan.

4) Benin penyakit yang disebabkan sifilis dan gonore ini lemah; mereka hanya dapat hidup beberapa menitdi luartubuh manusia. Bahaya ketularan penyakit-penyakit itu di kakus umum, karena pegangan pintu, mangkok minuman atau alat makan, sangatterbatas. 5) Satu orang dapat menderita penyakit kelamin berkali-kali tanpa batas. Kekebalan terhadap penyakit kelamin tidak ada. Penyakit kelamin hanya dapat dipastikan dengan pemeriksaan dokter dan pemeriksaan laboratorium. 6) Setiap orang yang menduga bahwa ia mungkin menderita penyakit kelamin (dengan adanya lukadi kemaluan atau keluamya nanah dari saluran kemih), harus segera pergi ke Puskesmas untuk diagnosa dan pengobatan. 7) Penyakit kelamin dapat disembuhkan; pengobatan sendiri sangat berbahaya; pergilah ke Puskesmas untuk pengobatan. 8) Hindarilah persetubuhan bebas dan halangilah p$lacuran dalam masyarakat anda.

BAB XI GONORE/KENCING-NANAH 4. PENGERTIAN Gonore gonorrhoeae. Penularannya terutama melalui hubungan kelamin. CIRI-CIRI KHAS Gejala-gejala dan perkembangan sakitnya adalah berbeda antar pria dan wanita. Gejala khas agi pria adalah keluarnya nanah kental kuning dari uretra. Infeksi dapat menjalar dan menimbulkan epididymitis, prostatitis, arthritis dan endocarditis. Pada wanita gejala pertama biasanya berbentuk adal ah satu penyakit kelamin menular, yang disebabkan oleh gonokok Neisseria

salpingitis atau pelvic peritonitis, sesudah haid pertama, kedua yang datang kemudian. Dalam taraf menahun dapat timbul septicaemia, arthritis atau endocarditis. 5. TUJUAN Tujuan pemberantasan gonore adalah mengurangi kesakitan serendah mungkin dan mencegah penyebaran penyakit. 6. TINDAKAN, a. Pengamatan Epidemiologi Dan Tindakan Pemberantasan 12) Laporkan berlaku. 13) Sebelum mulai pengobatan, ambillah sediaan olesan dari urethra untuk pemeriksaan laboratorium, dan ambillah 2 ml darah untuk pemeriksaan VDRL. Akan tetapi janganlah pemberian pengobatan menunggu hasil laboratorium, apabila gejala-gejala gonore secara klinis sudah nampak. Obatilah penderita seperti yang tertera, penyakit dan kelainan dalam air kemih dan/atau gangguan mengeluarkannya pertama yang boleh. 14) Mintalah penderita menunjukkan semua kontak selama dua minggu terakhirdengan menyebut-kan nama dan alamatnya. 15) Mintalah penderita membawa semua kontak ke Puskesmas. 16) Kunjungilah kontak, yang tidak datang ke klinik, di rumahnya, dan berilah penjelasan tentang bahaya penyakitnya serta bujuklah mereka datang ke Puskesmas. 17) Berilah kepada semua kontak pengobatan yang sama seperti yang diberikan kepada penderita, dengan segera (pada hari itu juga atau esok harinya), tanpa menghiraukan ada atau tidaknya gejala. 18) Mintalah semua kontak kembali 3 hari sesudah pengobatan selesai untuk pemeriksaan ulang-an. Bila masih ada kotoran keluar, ulangilah semua peristiwa baru dalam Laporan Bulanan Puskesmas untuk Peristiwa Baru, dengan formulir pelaporan yang

pemeriksaan

laboratorium.

Bila

masih

diketemukan

gonokok,

ulangilah pengobatan dengan dosis dua kali lipat (Penicillin 2.400.0001.U.J.M.). 19) Bila sediaan negatif dan penderita tidak mempunyai keluhan, anggaplah ia mungkin sembuh; akan tetapi mintalah penderita kembali 3 minggu kemudian untuk pemeriksaan ulangan. 20) Pada penderita lelaki, 3 minggu kemudian, buatlah satu sediaan dari saluran kemih dan periksalah di bawah mikroskop; bila negatif, anggaplah ia sembuh. 21) Pada penderita wanita, 3 bulan kemudian, beberapa hari setelah haid, buatlah sediaan dari urethra, cervix dan rectum, dan periksalah di bawah mikroskop; bila negatif, anggaplah sembuh. 22) Bila sediaan terdapat positif: c) Bilaterjadi persetubuhan sebelum saatpengobatan, anggaplah bahwa penderita mengalami infeksi baru dan ulangilah pengobatan. d) Bila sejak diberikannya pengobatan pertama tidak terjadi persetubuhan, anggaplah bahwa infeksi asli masih ada dan bahwa gonokok yang bersangkutan mungkin kebal obai; berilah antibiotik seperti yang diberikan pertama dengan dosis duakali lipat, atau berilah antibiotik lain. b. Penyuluhan Kesehatan 9) Penyakrt kelamin disebar-luaskan dari orang dengan jalan persetubuhan dengan seorang yang menderita penyakit ini dalam taraf menular. 10) Penyakit kelamin ini termasuk berat 11) Dua macam penyakit kelamin yang paling biasa ialah sifilis dan gonore, disebabkan oleh dua macam kuman yang berlainan. 12) Benin penyakit yang disebabkan sifilis dan gonore ini lemah; mereka hanya dapat hidup beberapa menitdi luartubuh manusia.

Bahaya ketularan penyakit-penyakit itu di kakus umum, karena pegangan pintu, mangkok minuman atau alat makan, sangatterbatas. 13) Satu orang dapat menderita penyakit kelamin berkali-kali tanpa batas. Kekebalan terhadap penyakit kelamin tidak ada. Penyakit kelamin hanya dapat dipastikan dengan pemeriksaan dokter dan pemeriksaan laboratorium. 14) Setiap orang yang menduga bahwa ia mungkin menderita penyakit kelamin (dengan adanya lukadi kemaluan atau keluamya nanah dari saluran kemih), harus segera pergi ke Puskesmas untuk diagnosa dan pengobatan. 15) Penyakit kelamin dapat disembuhkan; pengobatan sendiri sangat berbahaya; pergilah ke Puskesmas untuk pengobatan. 16) Hindarilah persetubuhan bebas dan halangilah p$lacuran dalam masyarakat anda.

BAB XII PEMBERANTASAN RABIES (PENYAKIT ANJING GILA) 1. PENGERTIAN

Rabies atau penyakit anjing gila adalah penyakit menular akut dari susunan syaraf pusat yang disebabkan oleh infeksi virus rabies. Sumber penularan penyakit anjing gila di Indonesia adalah anjing, kucing dan kera. Pada hewan-hewan berdarah panas dan manusia, penyakit ini selalu berakhir dengan kematian. Penularan penyakit dari manusia ke manusia sampai saat ini jarang terjadi. Sampai saat ini belum ditemukan obat yang mujarab untuk penderita rabies. Gejala-gejala yang khas dari rabies antara lain adalah a) Pada manusia Kejang-kejang,takut melihat air, peka terhadap aliran udara, sinar dan suara. Disampingitutampak adanya kesulitan menelan dan akhirnya timbul kelumpuhan yang dimulai dari kaki dan kemudian sebagian tubuh yang lain. b) Pada hewan Gejala-gejala yang mudah dikenal ialah adanya perubahan sifat dari hewan yang bersangkutan, menggigit setiap benda yang dijumpainya termasuk manusia, memakan semua benda yang ada seperti: kayu, paku, plastik, batu dan sebagainya. Sebelum hewan tersebut mati tampak adanya kelumpuhan pada rahang bawah dan kedua kaki belakang. Selama perjalanan penyakit biasanya hewan yang bersangkutan selalu mengeluarkan banyak air liur. 2. TUJUAN Tujuan pencegahan dan pemberantasan rabies di Indonesia ialah untuk menghindari kematian akibat penyakit rabies pada manusia dan menghilangkan rabies pada hewan. 3. KEGIATAN a) Laporkan tiap peristiwa Rabies pada manusia dan tiap korban gigitan binatang yang gila kepada Dinas kesehatan Kabupaten/Kotamadya dengan formulir yang berlaku.

b) Lakukan tindak pencegahan kematian manusia dengan cara: 1) Pencucian luka gigitan Luka gigitan perlu dicuci dengan air dan sabun atau detergent selama ± 10 menit, kemudian setelah itu dibersihkan dengan air bersih dan pada luka diberikan anti septik yang dapat berupa betadine, yodium atau alkohol 70%. 2) Pengobatan Pasteur Pengobatan Pasteur dapat berupa pemberian suntikan VAR atau kombinasi VAR Vaksin Anti Rabies & SAR (Serum Anti Rabies) dengan skema sebagai berikut:

CATATAN: 1. Perawatan luka gigitan: Luka dicuci dengan air dan sabun/detergent selama 5-10 menit, kemudian diberi yodium/betadine atau alkohol 70%. Pencegahan Tetanus dan infeksi bakteri lain perlu mendapat perhatian. 2. Luka parah, berbahaya: Luka gigitan multiple, luka di daerah muka, kepala, leher, jari tangan, jilatan pada mukosa

3. Luka tak berbahaya/ringan: Jilatan pada kulit, cakaran atau abrasi, gigitan di daerah tangan/kaki/badan. 4. Hentikan vaksinasi bila pada hari ke 5 hewan sehat. 5. Luka gigitan tidak dibenarkan untuk dijahit, kecuali jahitan situasi. 6. Disekitar luka gigitan yang terpaksa harus dijahit perlu disuntik SAR (Serum Anti Rabies) sebanyak mungkin dan sisanya disuntikan secara intra muskulair. 7. Macam-macam vaksin anti rabies: a. b. c. a. Sukling mouse brain (8MB) Produksi Perum BIO Farma Purified vero rabies vaccine, produksi Institute Merieux Huma Diploid Cell Produksi Institut Merieux Perancis Serum hetorolog asal dari serum kuda, Produksi Bio Farma Bandung Perancis. 8. Macam-macam serum anti rabies: Bandung, harus dilakukai skin testterlebih dahulu, Dosis: 40UI/Kg BB atau 0,55 cc/Kg BB. b. Serum homolog asal dari darah manusia Produksi: Institut Merieux Perancis : Imogram. Cutter, USA: Hyperab Dosis : 20 UI/Kg BB 9. Observasi hewan dilakukan oleh Dinas Kesehatan setempat. c. Pencatatan dan pelaporan Semua kasus gigitan hewan tersangka rabies harus dilaporkan oleh Puskesmas setempat. Adapun pencatatan yang harus dilakukan oleh Puskesmas ialah : Nama, Umur, Sex, alarmat penderita. kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten dengan menggunakan formulir yang berlaku, dan juga kepada Dinas Peternakan

Tanggal dan tempat terjadinya penggigitan, bagian tubuh yang digigit, species/jenis hewan yang menggigit, jumlah penderita lain yang digigit pada waktu yang sama, macam-macam pengobatan yang diberikan pada penderita. d. Penyuluhan Kesehatan Pendidikan kesehatan yang ditujukan pada masyarakat dititik beratkan kepada usaha-usaha pertolongan pertama. Bilamana digigit seekor hewan tersangka/hewan penderita rabies, yaitu dengan mencuci luka dengan sabun atau detergent selama ± 10-15 menit. Yang kemudian dibilas dengan air bersih sebelum dibawa ke Puskesmas untuk pengobatan lebih lanjut. Hal-hal lain yang perlu dikemukakan kepada masyarakat: Bilamana memelihara anjing hendaknya mengikuti peraturan-peraturan yang berlaku, diantaranya tidak melepas anjing di luar halaman rumah dan bila tidak mempunyai pagar hewan tersebut harus diikat, serta diva ksinasi. Bila hewan akan diajak keluar halaman perlu diikat dengan rantai yang panjangnya tidak lebih dari 2 meter dan harus dipasang brangus pada moncongnya. Hewan-hewan piaraan anjing, kucing dan kera harus divaksinasi terhadap penyakit rabies secara teratur (1 tahun sekali) di Dinas Peternakan setempat atau dokter hewan praktek. Bila dijumpai seekor hewan tersangka rabies tidak dibenarkan membunuh akan tetapi perlu dilaporkan pada Dinas Peternakan setempat untuk ditangkap dan diobservasi lebih lanjut. Bilamana Dinas Peternakan perlu bantuan untuk menangkap hewan yang bersangkutan maka perlu dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari gigitan ataupun kontak dengan air liur yang bersangkutan. BAB XIII PENYAKIT KUSTA

1. PENGERTIAN Penyakit kusta adalah salah satu penyakit menular yang menahun dan yang disebabkan oleh kuman kusta (mycobacterium leprae) yang menyerang syaraf tepi. Kulit dan jaringan tubuh lainnya. Kuman kusta. Kuman-kuman kusta berbentuk batang, biasa berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu dengan ukuran panjang 1 - 8 mic. lebar 0.2 - 0.5 mic yang bersifat tahan asam. Penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta kepada orang lain dengan cara kontak langsung, erat dan dalam jangka lama. CIRI-CIRI KHAS Kerusakan kulit (infiltasi, makula/bercak, papula/tonjolan-datar, dan nodula/tonjolan-bulat). Syaraf tepi terkena, dengan akibat tuna rasa, atrofi/pengecilan otot, lumpuh dan borok karena terganggunya peredaran zat. Untuk menetapkan diagnosa penyakit kusta perlu dicari tanda-tanda pada badan, yaitu: a. Adanya bercak keputihan pada kulit (Hipopigmentasi). b. Berkurangnya atau hilangnya perasaan pada bercak keputihan tersebut. c. Penebalansaraftepi. d. Pembengkakan kulit dengan warna kemerah-merahan (infiltraf) setempat atau tersebar. e. Adanya kuman-kuman tahan asam di dalam sediaan korekan jaringan kulit. Seseorang dinyatakan sebagai penderita kusta bilamana terdapat sekurangkurangnya dua dari tanda-tanda kardinal di atas atau bila terdapat tanda (BTA positif) diambil dari bagian kulit yang dicurigai. Bilamana terdapat hanya salah satu dari empat tanda pertama a s/d d, maka pemeriksaan laboratorium diulangi lagi terutama bila hanya terdapat tanda (infiltrat). Bila ragu-ragu orang tersebut dianggap sebagai dicurigai (suspect) dan diperiksa ulang setiap 3 bulan sampai: - Tanda-tanda tersebut menghilang atau

- Diagnose penyakit kusta menjadi tegas - Dinyatakan penyakit lain. Untuk memudahkan mendiagnose kusta lihat skema berikut:

Mendiagnosa penderita dapat dilaksanakan dengan: a. Pemeriksaan klinis Pemeriksaan saraf Pemeriksaan anaesthesia (tehnik pemeriksaan lihat bab IV Buku Pedoman Pemberantasan Penyakit Kusta). b. Pemeriksaan bakterioskopik Macam-macam klasifikasi a) Klasifikasi menurut Madrid I = Indeterminate

TT

= Tubercoloid

L/B = Lepromatous/Borderline b) Klasifikasi menurut Ridley & Jopling. I TT BT BL LL Catatan: - Dalam pelaksanaan di lapangan hanya dipergunakan klasifikasi menurut Madrid, sedangkan klasifikasi menurut Ridley & Jopling hanya dipergunakan di Pusat Pendidikan Penelitian dan Rumah Sakit. - Sesuai dengan keputusan Rapat Kerja Nasional Penyakit Kusta, Desember 1988 di ; Ciawi Bogor. Untuk memudahkan klasifikasi kusta di lapangan dalam pengobatan MDT sebagai berikut: a. b. c. d. e. Penderita baru dengan gejala klinis I/T dan BTA (-) diklasifikasikan sebagai ' penderita PB. Penderita baru dengan gejala klinis I/T tetapi BTA (-) Penderita baru dengan gejala klinis B/L dan BTA (+) Penderita baru dengan gejala klinis B/L tetapi BTA (-) Semua penderita relapse diklasifikasikan sebagai penderita MB. diklasifikasikan sebagai penderita MB. diklasifikasikan sebagai penderita MB. diklasifikasikan dengan penderita MB. Catatan: Semua penderita B/L lama yang sebelumnya telah dinyatakan In Aktif namun belum RFC. Bila hendak diberi pengobatan dengan MDT diklasifikasikan sebagai tipe MB. Tanda- tanda klinis. Laboratorium dari masing-masing Tipe. = Indeterminate = Tubercoloid - leprosy = Borderline - tubercoloid = Borderline lepromatous - leprosy = Lepromatous - leprosy

BB = Borderline - leprosy

a. Reaksi Kusta Reaksi kusta adalah suatu episode yang mendadak pada perjalanan penyakitnya, yang sebenar-nya sangat menahun. Etiologinya belum jelas. Dikenal dua macam reaksi kusta: Reaksi kusta tipe I juga disebut reaksi reversal atau reaksi up Reaksi kusta tipe II atau ENL (Erythema Nodosum Leprosum). grading. a) Reaksi Kusta tipe I Reaksi Kusta tipe I merupakan reaksi yang bersifat seluler dan terjadi pada tipe Borderline. Disini terjadi perubahan klinis ke tipe lainnya, penambahan atau perluasan lesi yang ada (bukan nodus) tanpa atau dengan gejala peradangan saraf (Neuritis) dari ringan sampai berat. b) Reaksi kusta tipe II Reaksi kusta tipe II merupakan reaksi yang sangat bersifat humoral. Reaksi ini banyak terjadi pada pengobatan dimana banyak basil kusta yang mati dan merupakan benda asing pada tubuh penderita itu. Gejala yang timbul adalah badan terasa lemah, suhu badan naik, timbul bintil-bintil merah di kulit (Erythema Nodosum Leprosum) dan pada reaksi berat suhu badan tinggi, bintil-bintil merah di seluruh atau sebagian permukaan kulit, disertai radang pada jaringan saraf (neuritis) bahkan menyerang organ tubuh lainnya seperti mata (Iridocylitis), kelenjar getah bening (Lymphadenitis), sendi (Arthritis), testis (Orchitis), ginjal (Nephritis) tanpa disertai perubahan tipe kusta. b. Pengobatan Penderita Pengobatan penderita terdiri dari: 1) Pengobatan Tunggal Dengan DOS. 2) Pengobatan Kombinasi (Rifampicin, Lampren, MDT) 3) Pengobatan Khusus Secara terinci pelaksanaan pengobatan dapat dilihat dalam Bab V Buku Pedoman Pemberantasan Penyakit Kusta.

c. Penyuluhan Kesehatan Materi penyuluhan meliputi: 1) Pengertian yang tepat dan benar mengenai penyakit kusta: - Penyakit kusta tidaklah sangat menular - Penyakit kusta dapat disembuhkan dengan berobat teratur. - Penderita kusta adalah anggota masyarakat yang kebetulan menderita sakit. - Penyakit kusta adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kuman kusta dan bukan karena kutukan Tuhan dan bukan penyakit keturunan atau karena ilmu gaib (black-magic). 2) Karena penderita kusta diberikan penjelasan tentang penyakit kusta, sehingga penderita mau berobat secara teratur, mencegah komplikasi-komplikasinya (kecacatan) dan menghilangkan rasa rendah diri di dalam jiwa penderita itu. 3) Kepada keluarga penderita diberikan penjelasan tentang penyakit kusta sehingga penderita kusta dapat diterima secara baik di dalam keluarganya dan membantu untuk pengawasan pengobatan, memeriksakan dirinya dan mampu untuk memelihara kesehatan di dalam keluarga tersebut. 4) Kepada masyarakat diberikan penjelasan tentang penyakit kusta sehingga dapat membantu pengawasan pengobatan, melaporkan kasus-kasus yang dicurigai, menerima penderita kusta dilingkungannya dan membantu petugas Puskesmas. 5) Kepada petugas kesehatan diberikan pengetahuan tentang penyakit kusta sehingga dapat melaksanakan program pemberantasan penyakit kusta dengan baik.

d. Pencatatan dan Pelaporan Semua kasus dan kegiatan yang dilaksanakan dilaporkan sesuai dengan pedoman pelaporan yang berlaku.

1) Cara memeriksa kulit. - Usahakanlah penerangan (cahaya) yang sebaik-baiknya: terang dan mantap, tetapi jangan di sinar matahari langsung. - Mintalah penderita membuka pakaian. - Silahkan penderita menghadap ke pemeriksa. - Carilah bercak-bercak (khususnya bercak kurang berwarna), tonjolan, parut, kulit menebal dan keriput (kehilangan sifat mengenyal), dengan urut-urutan sebagai berikut: = Daun telinga kanan, dahi, alls, mata, daun telinga kiri, pipi kiri, hidung, mulut, dagu, leher dan pipi kanan.  Bahu kanan, lengan bagian luar, jari (Penderita meluruskan tangan ke muka dengan telapak ke bawah, kemudian memutar telapak ke atas), telapak tangan dan lengan bagian dalam, ketiak, dada, perut sampai bahu kiri, lengan dan seterusnya. = Lengan dan tungkai, bagian luar dan dalam; tungkai kiri, luar dan dalam. - Silahkan penderita berputar dan menunjukkan punggungnya, dan periksalah bagian belakang telinga, leher, punggung, pantat, dan tungkai. - Silahkan penderita duduk dan periksalah telapak kakinya. - Bila penemuan-penemuan meragukan, amatilah dari jari jarak 2 meter seraya penderita berputar pelan-pelan. - Bila terdapat kerusakan, catatlah jenis, warna, jumlah, ukuran dan tempat letaknya masing-masing kerusakan dalam Kartu Penderita Kusta. 2) Cara memeriksa tuna-rasa - Silahkan penderita duduk. - Terangkanlah kepadanya cara pemeriksaan. - Silahkan penderita menutup mata atau tutuplah matanya dengan sehelai kertas.  Sentuhlah kulit yang normal dengan seutas lilitan kapas dan silahkan penderita menunjukkan dengan jarinya tempat kulitnya

disentuh tadi. = memahami teknik itu. -

Ulangilah beberapa kali hingga penderita

Lanjutkan pemeriksaan dengan menyentuh daerah-daerah yang mencurigakan, diselingi kadang-kadang menyentuh kulit normal. Amatilah tanggapan/reaksi terhadap tiap sentuhan dengan kapas itu. Catatlah hasil dalam Kartu Penderita Kusta. Buatlah sediaan olesan dari kulit, apabila ada dugaan kusta. 3) Cara pemeriksaan urat syaraf.

- Rabalah urat syaraf telinga, ulna dan poplitea samping, untuk mencari   Penebalan Ketidak-teraturan

- Jangan menanyakan apakah penderita merasanyerijika urat syaraf itu ditekan pelan-pelan, melainkan amatilah roman mukanya. - Catatlah hasil pemeriksaan dalam Kartu Penderita Kusta seperti berikut:

BAB XIV PEMBERANTASAN PENYAKIT DIARE I. PENDAHULUAN

Di Indonesia, penyakit diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan karena diare serta menimbulkan banyak kematian terutama pada bayi dan anak balita. Hasil-hasil survey menunjukkan bahwa angka kesakitan diare untuk seluruh golongan umur adalah berkisar antara 120-360 per 1000 penduduk dan untuk balita menderita satu atau dua kali episode diare setiap tahunnya atau 60% dari semua kesakitan diare. Sebagian besar (76%) kematian karena diare terjadi pada balita. Sebesar 15,5% kematian pada bayi dan 26,4% kematian pada anak balita disebabkan karena penyakit diare murni. Meskipun pada akhir Repelita IV angka kematian sudah berhasil diturunkan yaitu angka kematian bayi telah turun dari 90 menjadi 58 per 1000 kelahiran hidup dan angka kematian anak balita dari 17,8 menjadi 10,6 per 1000 anak balita, namun diperkirakan pada awal Repelita V masih terdapat kematian balita karena diare murni sebesar 5 per 1000 balita atau sekurang-kurangnya 135000 kematian bayi dan anak balita karena diare murni setiap tahunnya. Berarti rata-rata setiap 4 menit seorang balita meninggal karena diare. Masih tingginya angka kesakitan dan kematian tersebut di atas disebabkan karena kesehatan lingkungan yang masih belum memadai, disamping pengaruh faktor-faktor lainnya seperti keadaan gizi, kependudukan, pendidikan, keadaan sosial ekonomi dan perilaku masyarakat yang secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi keadaan penyakit diare ini. II. PENGERTIAN PENYAKIT DIARE 1. Definisi Penyakit diare adalah penyakit yang ditandai dengan perubahan bentuk dan konsistensi tinja melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi berak lebih dari biasanya (lazimnya tiga kali atau lebih dalam sehari). Menurut banyaknya cairan dan elektrolit dari tubuh, diare berdasarkan derajat dehidrasi dapat dibagi menjadi :

− Diare tanpa dehidrasi − Diare dengan dehidrasi ringan (kehilangan cairan sampai 5% dari berat badan) − Diare dengan dehidrasi sedang (kehilangan cairan 6-10% dari berat badan) − Diare dengan dehidrasi berat (kehilangan cairan lebih dari 10% dari berat badan) 2. Gejala Tanda dan gejala diare menurut derajat dehidrasinya dapat dilihat pada lampiran 1. 3. Cara penularan − Kontaminasi makanan atau air tinja atau muntahan penderita yang mengandung kuman penyebab. − Kuman pada kotoran dapat langsung ditularkan pada orang lain apabila melekat pada tangan dan kemudian dimasukkan ke mulut atau dipakai untuk memegang makanan.

4. Penyebab diare Beberapa penyebab diare dapat dibagi menjadi : a) Karena peradangan usus oleh : a. Bakteri (misal : Vibrio Cholerae, Shigella, Salmonella, E Coli (ETEC), Bacillus cereus, Clostridium perfingens, Staphylococcus aureus, Campylobacter jejuni) b. Virus ( Rotavirus, Adenovirus, Norwalk + Norwalk like agent)

c. Parasit : i. Protozoa ( Entamoeba hystolitica, Giarta lablia, Balantidium coli, Cryptosporidium). ii. Cacing perut (Ascaris, Trichuris, Strongyloides) iii. Jamur (Candida) b) Karena keracunan makanan atau minuman baik yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimiawi. c) Karena kekurangan gizi, yaitu kekurangan energi protein. d) Karena tidak tahan terhadap makanan tertentu, misalnya intoleran pada susu sapi. e) Karena imuno defisiensi f) Sebab-sebab lain. 5. Istilah-istilah a. Diare akut ialah diare yang berlangsung kurang dari dua minggu. b. Diare persisten ialah diare yang berlangsung lebih dari dua minggu. c. Disentri ialah diare yang disertai oleh darah ataupun lendir.

III.

TUJUAN 1. Umum : menurunkan angka kematian karena diare terutama pada

bayi dan anak balita serta menurunkan angka kesakitan diare. 2. Khusus :

− Petugas puskesmas mampu melakukan tatalaksana kasus diare yang tepat dan efektif. − Petugas puskesmas mampu melakukan penyuluhan

pemberantasan diare. − Petugas mampu meningkatkan peran serta aktif masyarakat. − Petugas kesehatan mampu melakukan pencatatan dan

pelaporan serta monitoring kegiatan pemberantasan diare.

IV.

KEGIATAN Tatalaksana kasus diare : Prinsip utama tatalaksana diare akut adalah pemberian cairan dan makanan serta pengobatan medikamentosa yang rasional yang hanya diberikan untuk kasus tertentu yang jelas penyebabnya. a) Pemberian cairan Pada garis besarnya jenis cairan dibagi dalam : 1) Cairan rehidrasi oral Cairan rehidrasi oral (oralit) diberikan kepada semua penderita diare, kecuali bila oralit tidak ada atau diare baru mulai, cairan rumah tangga misalnya larutan gula garam atau air tajin diberikan untuk mencegah dehidrasi. Pemerintah menyediakan 2 macam kemasan oralit : a. Bungkusan 1 (satu) liter (20% dari persediaan) digunakan untuk Rumah Sakit atau KLB dan diberikan untuk mencegah dehidrasi. b. Bungkusan 200 ml (80% dari persediaan) tersedia sampai ke Posyandu dan dapat diberikan/dibawa pulang

oleh

masyarakat.

Cara

melarutkan

oralit

harus

dilarutkan dengan baik agar lebih berhasil guna dan tidak terjadi gejala sampingan. Dosis oralit disesuaikan dengan umur penderita dan keadaan diare atau dehidrasinya. Dosis acuan adalah sebagai berikut : Di bawah 1 tahun : 3 jam pertama 1,5 gelas, kemudian 0,5 gelas setiap mencret. Di bawah 1-4 tahun gelas setiap mencret Di bawah 5-12 tahun : 3 jam pertama 6 gelas, kemudian 1,5 gelas setiap mencret Di atas 12 tahun : 3 jam pertama 12 gelas, kemudian 2 gelas setiap mencret 2) Cairan rehidrasi parenteral (intravena) Terapi cairan intravena diberikan kepada penderita diare dengan dehidrasi berat atau keadaan menurun sangat lemah, muntah-muntah berat sehingga penderita tidak dapat minum sama sekali. Untuk program pemberantasan diare maka dipakai cairan tunggal yaitu ringer laktat. a. Kecepatan cairan − Pada neonatus Jumlah cairan yang diberikan harus diperhatikan bentuk, rehidrasi initial diberikan dalam waktu 3 jam (2-4 jam). Cairan yang diberikan 20ml/kg berat badan/jam (variasi antara 15-25 ml/kg berat badan/jam) − Pada bayi dan anak : 3 jam pertama 3 gelas, kemudian 1

Bila terjadi syok berat, guyur secepatnya sampai syok teratasi selanjutnya 1 jam pertama 30ml/kg berat badan/jam. 7 jam berikutnya : 10 ml/kg berat badan/jam Pada orang dewasa : Rehidrasi initial : 1 jam pertama : 60 ml/kg berat badan/jam 2 jam berikutnya : 40 ml/kg berat badan/jam Untuk keperluan di lapangan jumlah cairan rehidrasi initial yang diperlukan adalah 10% dari perkiraan berat badan. Bila penderita sudah dapat minum segera diberikan oralit. b. Pengobatan dietetik − Pemberian makanan seperti semula diberikan sedini-dininya kebutuhan. − Bagi yang mendapatkan ASI sebelumnya jangan dihentikan. − Bagi yang sebelumnya tidak mendapat ASI dapat diteruskan dengan susu formula. − Makanan tambahan diperlukan pada masa penyembuhan. c. Pengobatan medikamentosa Seperti diuraikan diatas maka pengobatan dan disesuaikan dengan

medikamentosa hanya diberikan bila ada indikasi. − Anti diare tidak direkomendasikan.

− Antibiotika atau antimikroba hanya diberikan kepada penderita cholera, disentri, shigella, amoebiasis, atau antimikroba sesuai dengan ketentuan yang ada. b) Penyuluhan Penyuluhan kepada perorangan dan kelompok masyarakat diarahkan pada penyuluhan hygiene perorangan dan kesehatan lingkungan. • • Tentang gejala diare dan pengobatannya. Penggunaan oralit dan cairan rumah tangga misalnya larutan gula garam, air tajin dan kuah sayur. • Meneruskan makanan / ASI selama dan sesudah diare Untuk pelaksanaan upaya pencegahan maka peran mengenai pencegahan diare yang perlu disebar luaskan adalah : • • Promosi ASI Perbaikan hygienenya. • Penggunaan air bersih, peningkatan hygiene makanan penyapihan atau makanan

pendamping ASI (MPASI) dari segi gizi maupun

perorangan, penggunaan jamban perbaikan lingkungan. • Imunisasi campak.

c) Pencatatan dan pelaporan Semua kasus diare yang ditemukan dicatat dan dilaporkan dengan menggunakan sistem yang sudah ada, melakukan monitoring secara terus menerus melalui kegiatan mini lokakarya. d) Penggerakan partisipasi masyarakat

Penggerakan partisipasi masyarakat dilakukan antara lain melalui pendidikan kader tentang pemberantasan diare, sehingga kader mampu melakukan penyuluhan kepada masyarakat. • • Melarutkan oralit dan memberikan. Mendeteksi dini, mengobati penderita diare dan melakukan rujukan. • Memberikan penyuluhan tentang kesehatan perseorangan dan lingkungan. • Penyuluhan tentang penggunaan air bersih.

Secara mendalam tentang pemberantasan diare dapat dibaca buku Program Pemberantasan Penyakit Diare yang dikeluakan oleh Ditjen PPM & PLP termasuk buku Pedoman Penatalaksanaan Penderita Diare untuk petugas kesehatan.

BAB XV IMUNISASI I. PENDAHULUAN Kegiatan imunisasi yang terorganisisr sudah ada sejak abad 19 di pulau Jawa untuk mencegah cacar. Pada waktu itu dipergunakan juru cacar yang tersebar di setiap kota Kawedanan. Kemudian jumlah juru cacar bertambah dan derah yang dicacar makin meluas ke seluruh Indonesia, sehingga akhirnya terdapat satu juru cacar di tiap Kecamatan. Penderita cacar terakhir ditemukan pada tahun 1972, sehingga sejak saat itu beberapa antigen lain ditambahkan dalam kegiatan pencacaran. Pengembangan Program Imunisasi (PPI) dimulai secara resmi pada tahun

1977. Sejak tahun 1982 dimulai dengan pemberian 6 antigen yang diwujudkan dalam 4 jenis vaksin ialah BCG, DPT, Polio dan Campak. Demikian pula telah dikembangkan pula imunisasi TT. II. PENGERTIAN Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten. Jadi imunisasi adalah suatu tindakan untuk memberikan kekebalan dengan cara memasukkan vaksin ke dalam tubuh manusia. Sedangkan kebal adalah suatu keadaan dimana tubuh mempunyai daya kemampuan mengadakan pencegahan penyakit dalam rangka menghadapi serangan kuman penyakit tertentu. Kebal atau resisten terhadap suatu penyakit belum tentu kebal terhadap penyakit yang lain. III. TUJUAN − Umum Secara umum imunisasi bertujuan untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan serta mencegah akibat buruk lebih lanjut dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. − Khusus Adapun tujuan khusus imunisasi adalah : 1. 2. Memberikan kekebalan kepada bayi dan anak Memberikan kekebalan kepada ibu hamil, wanita dewasa.

IV.

SASARAN Sasaran imunisasi adalah : − Bayi umur 0-11 bulan

− Ibu hamil − Anak kelas 1 SD − Anak wanita kelas VI SD − Calon pengantin wanita −

V.

KEGIATAN Supaya program imunisasi berhasil maka Puskesmas harus melakukan kegiatan yang meliputi : 1. Menentukan besarnya sasaran dan target cakupan sasaran imunisasi bisa ketahuan dari data yang dikeluarkan oleh Biro Pusat Statistik.

Jumlah

bayi

puskesmas

tahun

ini

=

x jumlah bayi kab tahun ini Atau jumlah bayi : 5 angka kelahiran Propinsi dikalikan jumlah penduduk Puskesmas. Jumlah sasaran ibu hamil untuk TT adalah seluruh ibu hamil. Jumlah ibu hamil = 1,1 x jumlah bayi − Anak kelas 1 SD Sasaran vaksinasi adalah semua anak kelas 1 SD berdasarkan data yang diperoleh dari Kantor Dinas P & K setempat. − Anak wanita kelas VI SD

Besarnya sasaran vaksinasi TT anak sekolah adalah semua anak wanita kelas VI SD berdasarkan data yang diperoleh dari Kantor Dinas P & K setempat. − Calon pengantin wanita Sasaran vaksinasi TT bagi calon pengantin wanita adalah semua calon pengantin wanita yang akan melaksanakan akad nikah. Data diperoleh dari Kantor Urusan Agama. 2. Membuat jadwal pelayanan imunisasi di seluruh wilayah kerja puskesmas. Jadwal kerja sangat penting karena dengan jadwal kerja ini maka kegiatan imunisasi di berbagai daerah dapat ditetapkan waktunya serta siapa yang akan melaksanakan, seta dapat dipersiapkan kebutuhan saran vaksin dan lain sesuai dengan jumlah yang akan diimunisasi. 3. Merencanakan kebutuhan vaksin dan peralatan vaksinasi, cold chain dan buku pencatatan/pelaporan. Dalam rangka menyusun perencanaan vaksinasi sebaiknya diikuti dengan rencana kebutuhan vaksin, peralatan, cold chain serta buku pencatatan/pelaporan yang dibutuhkan. Hal ini penting jangan sampai pada waktu melakukan vaksinasi terjadi kekurangan vaksin dll tersebut diatas. 4. Mengelola vaksin, peralatan vaksin dan cold chain sesuai dengan petunjuk teknis. Pengelolaan vaksin secara baik sangat penting sebab pengelolaan yang kurang baik dapat menyebabkan kerusakan yang berakibat potensinya menurun. Demikian pula cold chain juga perlu dipelihara secara baik.

5. Memberikan pelayanan imunisasi secara terpadu dengan program lain dalam kegiatan Posyandu, pelayanan imunisasi di Gedung Puskesmas dan di Puskesmas Pembantu. Pemberian imunisasi dapat dilakukan di semua kesempatan dan sarana dalam memberikan pelayanan imunisasi perlu diterpadukan dengan program-program lain yang ada di Puskesmas dan hendaknya dilaksanakan secara ramah.

6. Memberikan penyuluhan dan membina peran serta masyarakat. Kegiatan penyuluhan sangat penting untuk meningkatkan

kesadaran dan pengertian masyarakat tentang pentingnya imunisasi dari penyuluhan tersebut diharapkan pula adanya peningkatan partisipasi masyarakat baik perorangan maupun secara kelompok untuk mensukseskan kegiatan imunisasi ini maka partisipasi masyarakat ini perlu dibina secara terarah. 7. Melakukan monitoring (pemantauan) Untuk melihat hasil kegiatan imunisasi maka perlu dilakykan pemantauan secara terus menerus dan teratur melalui instrumen yang ada (HAM). Dengan adanya monitoring ini maka diharapkan bahwa hasil yang dicapai sesuai dengan target yang telah ditetapkan. 8. Pencatatan dan pelaporan Hal yang tidak kalah pentingnya adalah pencatatan dan pelaporan hasil kegiatan vaksin dan lain-lain, sesuai dengan ketentuan pencatatan dan pelaporan penting sebagai salah satu alat untuk monitoring dan evaluasi hasil kegiatan.

Secara luas tentang kegiatan imunisasi dapat dilihat dari buku modul pelaksanaan petugas imunisasi dan buku petunjuk pelaksanaan pengembangan program imunisasi edisi 3.

BAB XVI PEMBERANTASAN PENYAKIT ISPA I. PENDAHULUAN Rata-rata setiap bayi dan anak akan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) 3-6 kali dalam setahun. Kasus ISPA merupakan bagian besar dari mereka yang datang berobat di Puskesmas. Di Perkotaan angka kesakitan ISPA cenderung lebih banyak dibandingkan di pedesaan. Penyakit infeksi saluran pernapasan meliputi : hidung, telinga, tenggorokan, trachea, bronchus dan paru. Tanda dan gejala penyakit saluran pernapasan bermacam-macam : − Batuk − Kesulitan pernafasan − Pilek − Demam − Sakit telinga

Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk pilek disertai atau tanpa disertai demam dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotika. Namun sebagian akan menderita radang paru (pneumonia). Bila infeksi paru ini tidak diobati dengan antibiotika dapat menyebabkan kematian. Di negara berkembang diperkirakan pneumonia merupakan penyebab kematian pada 1 dari 4 kematian anak balita; pada bayi kurang dari 2 bulan kematian akibat pneumonia lebih tinggi lagi. Karena itu pengobatan kasus pneumonia akan dapat menurunkan angka kematian balita. Untuk dapat memberikan pengobatan pada kasus-kasus pneumonia petugas kesehatan/kader kesehatan mengemban tugas untuk menemukan kasus pneumonia yang sedikit jumlahnya dari sekian banyak kasus infeksi saluran pernafasan akut. Searah dengan kebijaksanaan Program Pemberantasan Penyakit Saluran Pernafasan Akut (P2ISPA) maka infeksi saluran pernafasan akut yang akan ditanggulangi ialah penyakit pneumonia (radang paru). II. PENGERTIAN ISPA (infeksi saluran pernafasan akut) meliputi penyakit yang menyerang saluran pernafasan terutama paru termasuk penyakit tenggorokan dan telinga. Klasifikasi ISPA − ISPA BERAT (pneumonia berat) ditandai oleh adanya tarikan dada bagian bawah ke dalam pada waktu inspirasi. − ISPA SEDANG (pneumonia) bila frekuensi pernapasan menjadi cepat   Umur kurang 1 tahun : 50 kali/menit atau lebih Umur 1-4 tahun lebih : 40 kali/menit atau

− ISPA RINGAN (bukan pneumonia) ditandai dengan batuk pilek tanpa nafas cepat, tanpa tarikan dada bagian bawah ke dalam. Khusus untuk bayi dibawah 2 bulan hanya dikenal ISPA BERAT dan ISPA RINGAN ( tidak ada ISPA SEDANG). Batasan ISPA BERAT untuk bayi kurang dari 2 bulan ialah frekwensi nafasnya cepat (60 kali/menit atau lebih) atau adanya tarikan dinding dada yang kuat. III. TUJUAN − Umum : menurunkan angka kesakitan dan kematian balita akibat penyakit ISPA − Khusus :

1. Petugas mampu menemukan penderita ISPA, terutama ISPA SEDANG (pneumonia) dan ISPA BERAT (pneumonia berat). 2. Petugas mampu melakukan penatalaksanaan penderita termasuk rujukannya. 3. Petugas mampu melakukan penyuluhan dan penggerakan partisipasi masyarakat. 4. Petugas mampu melaksanakan sistem pencatatan dan pelaporan.

IV.

KEGIATAN 1. Penemuan penderita Penemuan penderita dilaksanakan ileh petugas kesehatan baik di Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Posyandu, Kader kesehatan dan masyarakat.

Penemuan penderita didasarkan atas gejala-gejala yang ada pada penderita seperti tersebut pada butir II. 2. Pengelolaan penderita Pengelolaan penderita dilakukan melalui pemeriksaan penderita (anamnesa, periksa pandang dan menghitung frekwensi nafas per menit), yang diikuti dengan pemberian obat-obatan. Sesuai dengan pedoman (modul yang ada) maka petugas Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Posyandu hanya memberikan pengobatan ISPA RINGAN dan ISPA SEDANG. Untuk kasuskasus ISPA BERAT mereka harus merujuk ke Rumah Sakit. Pengobatan ISPA BERAT (pneumonia berat) dilakukan dengan cara rawat tinggal di Rumah Sakit. ISPA SEDANG diobati dengan obat Kotrimoksasol. ISPA RINGAN tanpa pemberian obat antibiotika, bila demam diberi paracetamol, jika ada batuk dapat digunakan obat batuk yang tidak berbahaya (misal OBH atau obat batuk tradisional).

DOSIS OBAT YANG DIGUNAKAN UMUR TABLET PARASETAMOL 500mg Kurang dari 6 4 x 1/8 tablet bulan 6 bulan – 3 4 x ¼ tablet tahun 3 tahun – 5 4 x ½ tablet TABLET KOTRIMOKSASOL 480MG 2 x ¼ tablet 2 x ½ tablet 2 x 1 tablet

tahun 3. Penyuluhan dan penggerakan partisipasi masyarakat Penyuluhan diarahkan pada pesan yang isinya bahwa : − Batuk pilek biasa dapat diatasi sendiri tidak perlu dibawa ke Puskesmas. − Penanganan demam, baik dengan obat (Parasetamol) maupun kompres dingin. − Cara membersihkan hidung yang pilek. − Kebersihan di dalam rumah, terutama terhadap debu dan asap. − Pemberian ASI/ makan diusahakan tetap diteruskan seperti biasa dan beri anak minum yang lebih banyak. Adapun dalam peningkatan partisipasi masyarakat dapat

dilaksanakan oleh kader, dimana pada kader diberikan pengetahuan gejala dan penatalaksanaan penyakit ISPA RINGAN, SEDANG, dan BERAT serta usaha-usaha pencegahan ISPA.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful