1.

Hubungan pengetahuan dan sikap bidan terhadap pemberian susu formula pada bayi 0-6 bulan http://www.yonokomputer.com/2011/06/hubungan-pengetahuan-dansikap-bidan.html
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 1 Pemberian ASI di Indonesia hingga saat ini masih banyak menemui kendala. Upaya meningkatkan perilaku menyusui pada ibu yang memiliki bayi khususnya ASI eksklusif masih dirasa kurang. Permasalahan yang utama adalah faktor sosial budaya, kesadaran akan pentingnya ASI, pelayanan kesehatan dan petugas kesehatan yang belum sepenuhnya mendukung PP-ASI, gencarnya promosi susu formula dan ibu bekerja. Masih saja tenaga kesehatan saat ini menghiasi kamar prakteknya dengan berbagai macam jenis susu formula, masih banyak sales promotion girl yang membujuk para ibu-ibu melalui telpon berbagai macam cara agar ibu-ibu terpengaruh mengkonsumsi susu formula (Widodo Judarwanto, 2006). Keberhasilan promosi menyusui dini di tempat pelayanan ibu bersalin, rumah sakit bergantung pada petugas kesehatan yaitu perawat, bidan, atau dokter. Mereka yang pertama-tama akan membantu ibu besalin melakukan penyusuan dini. Petugas kesehatan di kamar bersalin harus memahami tatalaksana laktasi yang baik dan benar dan selalu bersikap positif terhadap penyusuan dini. Mereka diharapkan dapat meluangkan waktu untuk memotivasi dan membantu ibu habis bersalin. Pada primipara, ASI sering keluar pada hari ke 3 dan jumlah ASI selama 3 hari pertama hanya 50 ml (kira-kira 3 sendok makan). Bila hal ini tidak dipahami, banyak ibu yang merasa ASI-nya kurang, sehingga mendorong pemberian susu formula yang mengakibatkan produksi ASI berkurang (Nuchsan Umar Lubis,2009). ASI (Air Susu Ibu), tak terbantahkan lagi merupakan makanan bayi yang terbaik dan takkan terganti dengan apapun meskipun dengan susu formula termahal sekalipun. ASI tak dapat digantikan oleh makanan atau minuman manapun, karena ASI mengandung zat gizi yang tepat, lengkap dan selalu menyesuaikan dengan kebutuhan bayi setiap saat. Untuk mendukung pemberian ASI eksklusif di Indonesia, pada tahun 1990 pemerintah Gerakan Nasional Peningkatan Pemberian ASI (PP-ASI) yang salah satu tujuanya adalah untuk membudayakan prilaku menyusui secara eksklusif kepada bayi dari lahir sampai dengan berumur 4 bulan. Pada

tahun 2004, sesuai dengan anjuran badan kesehatan dunia (WHO), pemberian ASI Eksklusif ditingkatkan menjadi 6 bulan sebagaimana dinyatakan dalam Keputusan Mentri Kesehatan Republik Indonesia No. 450/MENKES/SK/2004 tahun 2004 (Amanda Tasya, 2008). Sayangnya walaupun pemerintah telah menghimbau pemberian ASI eksklusif, angka pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih rendah. Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002, hanya 3,7% bayi yang memperoleh ASI pada hari pertama (Amanda Tasya, 2008). Jumlah bayi yang ada di Kota Bengkulu tahun 2007 sebanyak 8.390 orang. Jumlah bayi yang mendapatkan ASI eksklusif yaitu 52,50 %. Persentase cakupan menurun dari tahun sebelumnya sebesar 7,62%, karena cakupan tahun 2006 adalah 60,12% dan cakupan tahun 2005 adalah 66,94%, . Capaian cakupan ASI eksklusif di Kota Bengkulu lebih rendah dari target cakupan ASI eksklusif nasional, target nasional sebesar 80%. Rendahnya cakupan ini dikarenakan oleh berbagai faktor terutama kurangnya sosialisasi masa pemberian ASI eksklusif dari 4 bulan menjadi 6 bulan, selain itu dapat disebabkan karena kurangnya pengetahuan ibu tentang manfaat ASI eksklusif, sosial dan ekonomi keluarga yang kurang memadai. Rendahnya pemberian ASI eksklusif dapat juga disebabkan karena terjadinya perubahan jam kerja di Kota Bengkulu dari jam 7.30-14.00 Wib menjadi jam 7.30-16.00 Wib sehingga kebanyakan ibu-ibu sudah mengatur waktu untuk menyusui, sedangkan tempat menyusui dikantor-kantor belum tersedia (Profil Kesehatan Kota Bengkulu, 2007). Menurunya angka pemberian ASI dan meningkatnya pemakaian susu formula disebabkan antara lain rendahnya pengetahuan ibu mengenai manfaat ASI dan cara menyusui yang benar, kurangnya pelayanan konseling laktasi dan dukungan dari petugas kesehatan, persepsi-persepsi sosial budaya yang menentang pemberian ASI, kondisi yang kurang memadai bagi para ibu yang

tidak adanya ruang ditempat kerja untuk menyusui atau memompa ASI. asma dan eksim. dari 16 Bidan yang ada di Kota Bengkulu 13 diantarnya masih memberikan susu formula pada bayi 0-6 bulan atau lebih tepatnya beberapa jam setelah melahirkan. 2008). Dikota Bengkulu ini sendiri. dan pemasaran agresif oleh perusahaan-perusahaan formula yang tidak saja mempengaruhi para ibu. atau karena si ibu tengah sakit serius sehingga harus mengkonsumsi obat-obatan yang diduga mempengaruhi produksi ASI. pneumonia. kanker payudara dan kanker indung telur. Susu formula tersebut diberikan baik atas permintaan keluarga atau demi keuntungan pribadi bagi bidan itu sendiri dari perusahaan susu formula tersebut dengan embelembel bonus bagi bidan atau tenaga kesehatan lainnya yang dapat menjual produknya. tak semua ibu bisa mewujudkan keinginanya untuk memberikan ASI. Entah ASI-nya yang kurang memadai meski sudah dipancing dengan berbagai cara. Padahal pemberian susu formula yang terlalu dini mempunyai resiko leukimia dan limfoma pada anak. . kecendrungan ibu-ibu memberikan susu formula terkadang berawal dari tindakan bidan yang memberikan susu formula sesaat setelah melahirkan dikarenakan ASI ibunya belum keluar (Nutzer blockieren).2007). kolestrol yang lebih rendah dan obesitas pada masa kana-kanak dan masa remaja (Amanda Andono Sudarwanto. Namun berdasarkan hasil penelusuran survey awal dari peneliti selama tanggal 02-05 Maret 2009 di beberapa BPS di Kota Bengkulu. osteoporosis. belum ada data yang mengatakan seberapa banyak Bidan Praktek Swasta yang memberikan susu formula kepada bayi yang berusia 0-6 bulan.bekerja (cuti melahirkan yang terlalu singkat. Tapi. selain itu ibu kondisi ibu yang kurang memadai bagi ibu yang bekerja. namun juga para petugas kesehatan (Amanda Tasya. rematik. diabetes. meningitis. gangguan pencernaan dan diare. Sayangnya. dalam kondisi seperti ini tak ada pilihan lain kecuali memberi susu formula kepada si kecil.

Untuk mengetahui apakah ada hubungan sikap pengetahuan dan sikap bidan terhadap pemberian susu formula pada bayi 0-6 bulan.Atas dasar uraian diatas peneliti tertarik untuk meneliti bagaimanakah pengetahuan dan sikap bidan terhadap pemberian susu formula pada bayi 0-6 bulan. B. Bagi Bidan Praktek Swasta (BPS) . b. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan bidan terhadap pemberian susu formula pada bayi 0-6 bulan. Akademik Untuk menambah wawasan bagi civita akademika. 2. c. Dan pertanyaan peneliti adalah apakah ada hubungan pengetahuan dan sikap bidan terhadap pemberian susu formula pada bayi 0-6 bulan di BPS Kota Bengkulu. Khusus a. Rumusan Masalah Dari latar belakang yang telah diuraikan. C. Manfaat Penelitian 1. Umum Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap bidan terhadap pemberian susu formula pada bayi 0-6 bulan. maka masalah yang dapat dirumuskan masih tingginya penggunaan susu formula oleh bidan praktek swasta pada bayi 0-6 bulan. Untuk mengetahui gambaran sikap bidan terhadap pemberian susu formula pada bayi 0-6 bulan. D. 2. sebagai bahan informasi dan referensi bagi mahasiswa Poltekkes Bengkulu khususnya Jurusan Kebidanan.

Leya Ledi. M. Yang menggunakan variabel Independent “ Pemberian Susu Formula” dan Variabel Dependent “Kejadian Diare”. dengan hasil penelitiannya adalah “ada hubungan yang bermakna antara promosi susu formula oleh petugas kesehatan dengan pemberian ASI eksklusif dengan tingkat hubungan lemah dan OR = 3. Adapun peneliti-peneliti yang pernah meneliti tentang susu formula adalah: 1. Yaitu menggunakan variabel tunggal yaitu “ gambaran sikap bidan yang menyebabkan bidan memberikan susu formula pada bayi . 2006 “Hubungan Promosi Susu Formula oleh Petugas Kesehatan dengan Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu”. 3.250. Peneliti Lain Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan untuk referensi atau rekomendasi untuk peneliti lain yang ingin mengembangkan penelitian ini. Keaslian Penelitian Penelitian ini sebelumnya belum pernah diteliti. 2007 “Hubungan Pemberian Susu Formula Dengan Kejadian Diare pada Bayi 0-6 bulan di Puskesmas Kuala Lempuing Kota Bengkulu Tahun 2007”.Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan dan informasi bagi para Bidan dan tenaga kesehatan lainnya agar dapat dijadikan bahan informasi dan pengetahuan tentang susu formula. 2007 “Gambaran Sikap yang Menyebabkan Bidan Memberikan Susu Formula pada Bayi Baru Lahir di RSUD Dr. 2. adapun yang pernah diteliti adalah tentang susu formula tapi dikaitkan dengan penyakit dan faktor resiko. 3. dengan hasil penelitiannya adalah “Ada hubungan antara pemberian susu formula dengan kejadian diare pada bayi di Puskesmas Kuala Lempuing Kota Bengkulu”. Ningrum Wahyuni. Yunus Kota Bengkulu”. Anita Coslinda. Yang menggunakan variabel independent “promosi susu formula oleh petugas kesehatan” dan variabel dependent “ASI eksklusif”. E.

baru lahir” dengan hasil penelitian adalah faktor sikap dari paramedis merupakan penyebab dari pemberian susu formula karena sebagian besar paramedis mempunyai sikap negatif yaitu 19 orang (55. PASI merupakan sumber makanan yang sangat . yang dapat memenuhi kebutuhan gizi dan pertumbuhan serta perkembangan bayi sampai umur 4-6 bulan (Depkes RI. Susu Formula 1. Sedangkan menurut Riordan dan Auerbach (2000). 1998).Susu formula merupakan Pengganti Air Susu Ibu (PASI). Susu formula memiliki peranan yang penting dalam makanan bayi karena seringkali bertindak sebagai satu-satunya sumber gizi bagi bayi (Grup Sehat). 1998). Susu formula/PASI adalah susu komersial yang dijual dipasar atau ditoko yang terbuat dari susu sapi atau kedelai dalam bentuk cairan atau bubuk dan diperuntukkan khusus bagi bayi dan anakanak yang komposisinya menyerupai ASI (Husnaini.9%) tentang pelaksanaan sepuluh langkah keberhasilan dalam menyusui. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Mereka berfungsi sebagai pengganti ASI. Pengertian Susu formula bayi adalah cairan atau bubuk dengan formula tertentu yang diberikan pada bayi dan anak-anak. PASI/susu formula adalah makanan yang diberikan pada bayi apabila ASI tidak tersedia.

dibutuhkan oleh bayi apabila seorang ibu mempunyai masalah fisik (ketidakseimbangan dan pembedahan payudara sebelumnya). . Untuk bayi yang usianya diatas 6 bulan susu formula yang disarankan adalah yang telah mendapatkan fortifikasi zat besi karena antara usia 4-6 bulan persediaan zat besi pada tubuh bayi mulai berkurang sehingga perlu tambahan asupan dari luar. c. Alergi akibat susu sapi antara lain berupa diare. yakni susu sapi yang kandungan proteinnya sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah oleh pencernaan bayi. bayi dengan alergi susu sapi formula biasa sebaiknya diberi susu formula dengan formula hipoalergenik (hidrolisat). b. Bayi yang alergi susu kedelai harus beralih ke susu formula dengan asam amino yang sudah terhidrolisis (hipoalergenik). Jadi dapat digunakan sebagai pencegahan alergi tersier. Fungsinya sama dengan susu sapi yang proteinya telah terhidrolisis dengan sempurna. Jenis Susu Formula Menurut (liputanX. 2009) susu formula terdiri dari berbagai ragam yakni : a. Susu Formula dari Sapi Umumnya susu formula untuk bayi yang beredar dipasaran berasal dari susu sapi. 8 2. Karenanya. Susu Soya Susu yang berasal dari kedelai ini umumnya diperuntukkan bagi bayi yang alergi terhadap protein susu sapi tetapi tidak alergi terhadap protein soya. Susu Hipoalergenik Bayi-bayi yang dalam keluarganya memiliki riwayat alergi umumnya akan mengalami alergi terhadap susu sapi.

Formula yang sudah dicampur dalam kemasan kaleng formula ini sudah dicampur. e. Ini adalah bentuk susu formula yang paling mahal. Intoleransi laktosa biasanya ditandai dengan buang air terus-menerus atau diare. c. Bubuk Formula ini harus dicampur dengan air. . Susu Rendah Laktosa Susu rendah laktosa adalah susu sapi yang bebas dari kandungan laktosa (low lactose atau free lactose). Ada bayi yang memiliki gangguan penyerapan karbohidrat. f. b. Cairan Konsentrat Kita harus mengencerkan formula cair dengan air dan menuangkanya kedalam botol. salah satu keuntungannya dibandingkan formula cairan konsentrat adalah kita dapat membuat campuran dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan misalnya 1 botol saja. tetapi juga paling memudahkan. Pemberian susu formula khusus ini biasanya atas pengawasan dan petunjuk dokter. d. lemak. Sedangkan menurut Bard (2004) susu formula terdiri dari 4 jenis : a. susu formula jenis ini akan menambahkan kandungan gula jagung. Formula yang sudah dicampur dan dikemas dalam botol susu sekali pakai. protein atau zat gizi lainnya. yang perlu dilakukan hanyalah menuangnya kedalam botol.d. Tak ada perbedaan yang mencolok dalam kandungan nutrisisnya. Jumlah kalori yang dihasilkanya juga tidak terlalu jauh. Susu Formula Khusus Susu formula khusus disediakan bagi bayi yang memiliki problem dengan saluran pencernaan. Susu Formula Lanjutan Susu formula ditujukan untuk usia 6 bulan keatas. Susu ini cocok untuk bayi yang tidak mampu mencerna laktosa (intoleransi laktosa) karena gula darahnya tidak memiliki enzim untuk mengolah laktosa. Sebagai penggantinya.

Ahli kesehatan bisa juga menyarankan susu formula berbahan dasar susu sapi adalah susu sapi yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga lebih mudah dicerna.8 3 3. 4. Cara Memilih Susu Formula Susu formula yang kandungan kimiawinya meniru ASI adalah yang terbaik karena bisa dicerna dengan baik serta tidak membebani ginjal bayi. Komposisi Susu Formula Susu formula terdiri dari beberapa zat yang kandunganya dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Komposisi Energi (kcal/dl) Lemak (g/dl) Asam lemak tak jenuh rantai panjang (% total lemak) Protein (g/dl) Kasein (%) A.3 80 0.1 . Lactalbumin (g/dl) Whey (%) Laktofenin (g/dl) IgA (gr/dl) Laktosa (%) Trace 0.3. Susu formula bayi standar komposisinya dibuat meniru ASI dapat diterima bayi.003 3-4 Susu Formula 65 3.

kering. Cuci tangan dengan sabun sebelum melakukan sterilisasi. b. 3) Dot dan penutupnya terpasang dengan baik. 1) Botol harus terendam selurunhnya sehingga tidak ada udara di 2) Panci ditutup dan dibiarkan sampai mendidih selama 5-10 menit. e. Selanjutnya menyiapkan dan menyajikan susu formula. dan tertutup. Cara Menyiapkan Susu Formula 40 1440 47 0. Berikut tahapan yang dilakukan untuk membersihkan dan mensterilkan peralatan: a. sikat dot) dengan sabun dan air yang bersih. Cuci semua peralatan (botol. ikuti petunjuk yang tercantum dalam kemasan. . Bila menggunakan alat sterilitator buatan pabrik. f. sikat botol. Gunakan sikat botol untuk membersihkan bagian dalam botol dan sikat dot untuk membersihkan dot agar sisa susu yang melekat bisa dibersihkan.05 Menurut (liputanX.Vitamin A (RE)(μg/dl) Kalsium (mg/dl) Natrium (mg/dl) Fe (mg/dl) Sumber : Roesli. 3) Biarkan botol dan dot didalam panci tertutup dan air panas sampai segera akan digunakan. g. 2009) cara menyiapkan terdiri dari beberapa langkah : Langkah pertama yang dilakukan untuk menyiapkan susu formula adalah membersihkan dan mensterilisasi peralatan yang akan digunakan. d. Bila botol tidak langsung digunakan setelah direbus : 1) Keringkan botol dan dot dengan menempatkannya di rak khusus botol pada posisi yang memungkinkan air rebusan menetes. c. Bila mensterilisasi dengan cara direbus : dalam botol. 2) Setelah kering. dot. Sterilkan peralatan minum bayi. 2000 5. Bilas botol dan dot dengan air bersih yang mengalir. botol disimpan ditempat yang bersih.

Kemudian masukkan air hangat kedalam botol susu. Masukkan susu kedalam botol yang telah berisi air hangat sesuai takaran yang dianjurkan pada petunjuk pemakaian. Bila disimpan dalam kulkas dapat bertahan 24 jam. d. c.Langkah selanjutnya adalah menyiapkan dan menyajikan susu formula. Rebus air minum sampai mendidih dalam ketel atau panci tertutup. Hangatkan dengan cara merendam dalam air panas sebelum diberikan. c. Atau gunakan 1 bagaian air dingin dicampur dengan 2 bagian air panas. Tutup kembali botol susu dan kocok sampai susu larut dengan baik. h. Sedangkan menurut Kelly (2002) cara menyiapkan susu formula adalah sebagai berikut : a. Coba teteskan pada pergelangan tangan. Dalam suhu udara biasa di ruangan terbuka. kemudian keringkan dengan lap bersih. susu formula yang belum diminum dapat bertahan 3 jam. f. . Bersihkan permukaan meja yang akan digunakanuntuk menyiapkan susu formula. Tuangkan air tersebut sebanyak yang dapat dihabiskan oleh bayi (jangan berlebihan) kedalam botol susu yang telah disterilkan. Setelah mendidih. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. b. Berikut tahapan yang dapat dilakukan : a. Awali dengan mencuci tangan sebelum membuat susu formula. biarkan air tersebut didalam panci atau ketel tertutup selama 10-15 menit agar suhunya menurun menjadi kurang lebih 700C. e. Bila masih panas. jangan gunakan air mendidih atau air dingin. b. g. Sisa susu yang telah dilarutkan dalam botol sebaiknya dibuang setelah 2 jam. dinginkan segera dengan merendam sebagian badan botol susu didalam air dingin bersih sampai suhunya sesuai untuk diminum.

Tapi. b. Walaupun alergi susu formula dapat hilang secara spontan dalam waktu 1-2 tahun. Pasang cincin dan tutup botol. Efek Samping Susu Formula Menurut Soetjiningsih (1997) Air susu buatan atau formula mempunyai efek samping antara lain : a. Buka tutup botol lalu pasang dot susu. prevalensinya dilaporkan antara 0. d. Enterokolitis netrotikans Yaitu radang pada usus halus anak karena faktor alergi terhadap susu formula.5-1% tetapi tidak banyak petugas kesehatan yang menyadarinya. diare. Hipernaytremi Yaitu suatu keadaan dimana kadar natrium dalam tubuh anak berlebih. periksa suhu susu dengan meneteskannya dipunggung tangan. hal ini disebabkan karena pemberian susu formula yang terlalu kental. Buatlah susu untuk satu kali pemakaian. kehilangan protein dengan akibat hipoproteinemia dan gejala seperti sumbatan usus seperti sumbatan usus seperti muntah. konstipasi dan perut kembung tetapi adajuga gejala yang menyangkut sistem lain seperti urtikuria. Obesitas Yaitu suatu keadaan dengan berat badan yang berlebih akibat pemberian susu formula yang terlalu kental atau jumlah pemberian yang terlalu banyak. enterokolitis. kolik. 6. bukan panas. Gejala alergi tidak hanya berupa gejala gastrointestinal seperti muntah. lalu pasang cincin dot dan putar hingga rapat. dan putar erat-erat hingga tertutup rapat. e. perdarahan gastrointestinal. gejalanya kadang-kadang berat bahkan dapat mengakibatkan renjatan sehingga perlu mendapat perhatian. c. . Jangan sentuh dot dengan jari.d. Menyebabkan Alergi Kejadian alergi susu formula tidak jarang. Susu harus hangat.

Diduga kerusakan mukosa yang terjadi pada diare akut menyebabkan terjadinya diare kronis melalui mekanisme peningkatan absorbsi antigen melalui mukosa yang rusak selanjutnya terjadi sensitivitas terhadap protein susu formula dan terjadi enteropati yang akhirnya akan memperberat kerusakan mukosa. Berdasarkan indikasi. Indikasi dan Kontra Indikasi Susu Formula/PASI a.e. ibu dengan riwayat bedah sesar. b. B. maka pemberian PASI merupakan sumber makanan utama untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi (Auerbach. ibu meninggal dunia dan ibu mengalami gangguan kejiwaan). Kontraindikasi Susu formula tidak boleh diberikan pada bayi dengan ibu cukup ASI. Pengertian Menurut Notoatmodjo (2003). bayi kembar. Pengetahuan 1. pembedahan payudara sebelumnya. Indikasi Pemberian susu formula dapat diberikan pada bayi apabila ibu tidak bisa memproduksi ASI (Ketidakseimbangan hormon. hidung. bayi kuning (Depkes RI. dan . seperti pemberian susu yang lebih encer dari semestinya. Kerusakan juga menyebabkan intoleransi laktosa karena defisiensi enzim laktase. f. 7. telinga. 1997). Malnutrisi dan gangguan pertumbuhan Malnutrisi dan gangguan pertumbuhan terjadi karena kekeliruan dalm pemberian susu. Menyebabkan Diare Kronis Ada dugaan bahwa diare akut dapat melanjut kronis pada bayi yang minum susu formula. pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata. 2000).

Analisis (Analysis) Analisa adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan atau memisahkan. Memahami (Comprehersion) Memahami suatu objek bukan sekedar dapat menyebutkan. Dengan kata lain. f. sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada. e. Dengan sendirinya pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Tahu (Know) Tahu diartikan hanya sebagai recall (memenggil) memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu. b.sebagainya). Evaluasi (Evaluation) . kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui pada situasi lain. c. Tingkatan Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2003) tingkatan pengetahuan ada 6 : a. tetapi ornag tersebut harus dapat menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut. d. Sintesis (Syntesis) Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakkan suatu hubungan yang logis dari komponen-komponen yang dimiliki. 2.

sedangkan pengetahuan khusus berubah. serta menembus ruang dan waktu. Cara Memperoleh Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2003) cara memperoleh pengetahuan adalah sebagai berikut : a. dicoba kemungkinan yang lain sampai masalah tersebut dapat dipecahkan.tidak tetap dan hanya terjadi satu kali ditempat serta satu saat. 4. 3) Berdasarkan Pengalaman Pribadi . 3. Cara Tradisional atau Non Ilmiah Cara tradisional atau non ilmiah terdiri dari : 1) Cara coba-coba (Trial and Error) Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil. tak pernah berubah sama. Macam Pengetahuan Menurut Prasetya (2000) bila dilihat dari lingkup sasarannya ada 2 macam pengetahuan. tidak berubah. 2) Cara kekuasaan atau Otoritas Sumber pengetahuan diperoleh dari pemimpin-pemimpin masyarakat baik yang formal (otoritas pemerintah) maupun informal (tokoh agama). Pengetahuan umum merupakan pengetahuan budi sedangkan pengetahuan khusus adalah pengetahuan yang berhubungan dengan pengetahuan umum (budi) tetap.Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. yaitu pengetahuan umum dan pengetahuan khusus.

Kepercayaan (keyakinan). b. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas. baik melalui induksi maupun deduksi.S. b. ide dan konsep terhadap suatu objek. akan tetapi adalah merupakan “pre-disposisi” tindakan atau perilaku. Pengertian Sikap adalah merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. C. bila jawaban 56-75% berarti dalam kategori Cukup. . (1993) penilaian pengetahuan dapat dikategorikan tiga yaitu bila jawaban responden 76-100% dengan kategori Baik. Lebih dapat dijelaskan lagi bahwa sikap merupakan reaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. Allport (dalam Notoatmodjo : 2003) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok. Cara Modem atau Ilmiah Merupakan penggabungan antara proses berfikir deduktif dan induktif yang dijadikan dasar untuk mengembangkan metode penelitian yang lebih praktis. 5. dan bila responden menjawab pertanyaan ≤ 55% berarti mempunyai kategori Kurang.Pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Sikap 1. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi pada masa lalu. Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek. Kategori Pengetahuan Menurut Arikunto . 4) Melalui Jalan Pikiran Dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah menggunakan jalan pikiranya. yakni : a.

Dalam penentuan sikap yang utuh ini. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan. b. berfikir. Merespons (responding) Memberikan jawaban apabila ditanya. Untuk menilai sikap diukur dengan skala Likert. Menghargai (valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah. Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh. Untuk pernyataan positif yaitu : Sangat setuju (SS) : Nilai 5 Setuju (RR) : Nilai 3 Tidak Setuju (TS) : Nilai Sangat tidak setuju : Nilai 1 b. keyakinan dan emosional yang berperan penting. 2003). Untuk pertanyaan negative yaitu : Sangat setuju (SS) : Nilai 1 Setuju (S) : Nilai 2 Ragu(S) : Nilai 4 Ragu-ragu ragu (RR) : Nilai 3 Tidak Setuju (TS) : Nilai 4 Sangat tidak setuju : Nilai 5 Dapat diukur dengan skala model Likert T . (Notoatmodjo. . Menerima (receiving) Diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). d. mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Kecendrungan untuk bertindak (trend to behave). c. lepas pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti orang menerima ide tersebut.c. pengetahuan. Yang dijabarkan menjadi komponen yang dapat diukur dengan skor : a. Tingkatan Sikap a. Bertanggung jawab (responsible) Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko. 2.

tidak ada logo perusahaan susu formula yang ditampilkan di dalam ruang praktiknya. Menurut (Amanda Tasya. memberi informasi yang tepat tentang ASI dan seputar kegiatan menyusui. dan membimbing ibu-ibu muda agar lebih percaya diri saat menyusui. saat ibu berkonsultasi tentang menyusui. di ruang tunggu ibu dapat melihat beberapa ibu menyusui dengan tenang dan terlihat poster-poster tentang menyusui di tempel di dinding.Selanjutnya skor responden dibandingkan dengan mean skor kelompok lalu dikategorikan sesuai dengan pertimbangan penelitian sebagai berikut: Skor T ≥ mean T Skor T ≤ mean T : Favorable : Unfavorable (Azwar. Bidan atau Perawat mempunyai sikap mendukung atau peduli dengan program menyusui. Dan sesaat setelah lahir mereka akan membiarkan bayi bersama ibu. 2009) semakin tingginya pengetahuan yang dimiliki oleh bidan atau tenaga kesehatan sebaiknya memiliki sikap yang positif atau mendukung terhadap pemberian ASI dan. perawatan atau bidan akan mendiskusikan tentang menyusui dan cara menyusui yang benar. Sedangkan faktor sikap mendorong/memotivasi seseorang untuk berprilaku yang dimilikinya. 2008) ada beberapa tanda-tanda bahwa Dokter. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Bidan Terhadap Pemberian Susu Formula pada Bayi 0-6 Bulan Menurut teori Laurence Green dan Notoatmodjo (2003). tidak memberikan sample susu formula setelah ibu keluar dari rumah sakit. memberikan semangat dan dorongan agar para ibu memberikan ASI Eksklusif kepada bayi . D. Yaitu. Menurut (Yaya. 1998). bahwa pengetahuan yang diperoleh seseorang akan dapat memberikan pengaruh terhadap kemampuan dan daya pikir serta sikap seseorang yang kemudian diwujudkan kedalam prilaku dan tindakan. tidak memutarkan video atau petunjuk praktis berupa brosur dan poster yang berlogo perusahaan susu formula tertentu. saat kehamilan dokter.

mereka. dan memahami ciri-ciri tumbuh kembang bayi/anak ASI. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan survei analitik dengan Cross Sectional dimana variabel independent dan dependent atau kasus yang terjadi pada objek penelitian diukur dan dikumpulkan secara simultan atau waktu yang bersamaan (Notoatmodjo. E. dan menyusui diteruskan sampai bayi berusia 2 tahun atau lebih. 2005). . Hipotesis Ada hubungan antara pengetahuan dan sikap bidan terhadap pemberian susu formula pada bayi 0-6 bulan. BAB III METODOLOGI PENELITIAN A.

Sikap Tidak memberikan susu formula .

Sikap Kuesioner Ordinal 3.B. sedangkan variabel dependentnya adalah pemberian susu formula pada bayi 0-6 bulan yang dapat dijelaskan seperti dibawah ini : Variabel Independent Pengetahuan Sikap Pemberian susu formula pada bayi 0-6 bulan Variabel Dependent C. reaksi atau tanggapan mendukung atau tidak mendukung terhadap pemberian susu formula. Respon.2002) Dilakukan penilaian dari daftar jawaban: Unfavorable (bila T ≤ mean) = 0 dapat diukur dengan menggunakan skala likert Favorable (bila T ≥ mean) =1 0 : Memberikan susu formula Skala Ordinal 2. Definisi Operasional No 1 Variabel Pengetahuan Definisi Operasional Segala sesuatu yang diketahui bidan tentang pemberian susu formula. Alat Ukur Kuesioner Hasil Ukur Baik : Jika jawaban benar (75-100%) = 0 Cukup : Jika jawaban benar (56-74%) = 1 Kurang : Jika jawaban benar (< 55%) = 2 (Arikunto. Variabel Penelitian Variabel Independent (variabel bebas) dalam penelitian ini adalah pendidikan dan pengetahuan. Pemberian susu formula pada Tindakan bidan terhadap pemberian Check List Ordinal .

2. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April – Juni 2009 di Bidan Praktek Swasta Wilayah Kota Bengkulu. Metode Pengumpulan.bayi 0-6 bulan susu formula dengan alasan tertentu dan dengan tujuan tertentu. Pengolahan Data Pengolahan data yang dilakukan melalui beberapa tahap berikut : a. kemungkinan kesalahan dan konstitusi data. F. E. Coding Data . 1 : Tidak memberikan susu formula D. Pengumpulan Data Data yang akan digunakan adalah data primer yang diperoleh dari lembar kuesioner yang dubagikan pada responden. 2008). Sampel Pengambilan sample dalam penelitian ini adalah random sampling dengan alasan wilayah kota Bengkulu yang cukup luas dan jumlah Bidan yang cukup banyak dengan mengambil jumlah 25% dari populasi yaitu 42 orang yang menjadi sample (Saryano. 2009). Pengolahan dan Analisa Data 1. Populasi dan Sample 1. Populasi Populasi pada penelitian ini adalah semua Bidan Praktek Swasta (BPS) yang ada dikota Bengkulu yang berjumlah 166 orang (IBI. b. Editing Untuk memeriksa ulang kelengkapan.

Cleaning Data Mengecek data yang sudah diproses apakah ada kesalahan atau tidak pada masing-masing variabel yang sudah diproses sehingga dapat diperbaiki dan dinilai.05. c. Tabulating Setelah dilakukan coding. kemudian data tersebut dimasukkan kedalam master tabel menurut sifat-sifat yang dimiliki sesuai dengan tujuan penelitian dengan menggunakan program SPSS for windows. Analisa Bivariat Untuk melihat hubungan antara pengetahuan dan sikap bidan praktik swasta terhadap pemberian susu formula pada bayi umur 0-6 bulan. 2. Data analisa dengan menggunakan uji statistik (chi square) dengan tingkat kepercayaan 95% atau α = 0. Analisa Univariat Dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi masing-masing variabel penelitian antara pengetahuan dan sikap terhadap pemberian susu formula dengan menggunakan rumus : P= Keterangan : P F n : Jumlah persentase yang ingin dicapai : Frekuensi : Jumlah seluruh sampel (Arikunto. Analisa Data a. d. 1999) b. Rumus yang digunakan : .Data yang disusun dan telah diperiksa kelengkapanya kemudian dikelompokkan atau digolongolongkan berdasarkan kategori yang dibuat berdasarkan justifikasi atau pertimbangan peneliti sendiri.

X2 = Keterangan : X2 : Chi-square 0 E : Frekuensi yang diamati : frekuensi yang diharapkan Analisa Tabel Silang 3x2 pada Pengetahuan Variabel Pengetahuan Baik Cukup Kurang Jumlah Pemberian susu formula Ya Tidak A B C E A+C+E D F B+D+F Jumlah A+B C+D E+F A+B+C+D+E+F Keterangan : A = Tingkat pengetahuan baik memberikan susu formula B = Tingkat pengetahuan cukup memberikan susu formula C = Tingkat pengetahuan kurang memberikan susu formula D = Tingkat pengetahuan baik tidak memberikan susu formula E = Tingkat pengetahuan cukup tidak memberikan susu formula F = Tingkat pengetahuan kurang tidak memberikan susu formula Analisa tabel 2x2 pada sikap dapat dipergunakan sebagai berikut : Variabel sikap Unfavorable Favorable Jumlah Pemberian susu formula Ya A C A+C Tidak B D B+D Jumlah A+B C+D A+B+C+D Keterangan : A : Sikap Unfavorable memberikan susu formula B : Sikap Unfavorable tidak memberikan susu formula .

Bila X2 hitung ≥ X2 tabel dengan p ≤ 0. Untuk pertanyaan negative yaitu : Sangat setuju (SS) : Nilai 1.05 berarti tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan bidan praktik swasta dengan pemberian susu formula. Untuk pernyataan positif/tidak mendukung yaitu : Sangat setuju (SS) : Nilai 5 Setuju (S) : Nilai 4 Ragu-ragu (RR) : Nilai 3 Tidak Setuju (TS) : Nilai Sangat tidak setuju : Nilai 1.C : Sikap Favorable memberikan susu formula D : Sikap Favourable tidak memberikan susu formula Hasil chi-square dapat dianalisa sebagai berikut : 1. Setuju (S) : Nilai 2 Ragu-ragu (RR) : Nilai 3 Tidak Setuju (TS) : Nilai 4 Sangat tidak setuju : Nilai 5 Selanjutnya skor responden dibandingkan dengan mean skor kelompok lalu dikategorikan sesuai dengan pertimbangan penelitian sebagai berikut: . 2. Pengetahuan a.05 berarti ada hubungan antara tingkat pengetahuan bidan praktik swasta dengan pemberian susu formula. b. Sikap Dalam sikap digunakan skala model Likert yaitu skor T : Rumus : T = 50 + 10 Keterangan : x : Skor responden pada skala sikap yang hendak dirubah menjadi skor T : Mean skor pada kelompok S : Standar deviasi Hasil kuesioner akan diolah pada tiap butir pertanyaan. Bila X2 hitung ≥ X2 tabel dengan p ≥ 0.

. 1998).Skor T ≥ mean T : Favourable Skor T ≤ mean T : Unfavorable (Azwar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful