P. 1
Kumpulan Membuat Pupuk Cair

Kumpulan Membuat Pupuk Cair

|Views: 9,580|Likes:
Published by Fahmi Rizal

More info:

Published by: Fahmi Rizal on Jul 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/30/2013

pdf

text

original

Cara Membuat Pupuk Cair Organik

Bahan dan Alat: 1 liter bakteri 5 kg hijau-hijauan/daun-daun segar (bukan sisa dan jangan menggunakan daun dari pohon yang bergetah berbahaya seperti karet, pinus, damar, nimba, dan yang sulit lapuk seperti jato, bambu, dan lain-lainnya) 0,5 kg terasi dicairkan dengan air secukupnya 1 kg gula pasir/merah/tetes tebu (pilih salah satu) dan dicairkan dengan air 30 kg kotoran hewan Air secukupnya Ember/gentong/drum yang dapat ditutup rapat Cara Pembuatan: Kotoran hewan dan daun-daun hijau dimasukkan ke dalam ember. Cairan gula dan terasi dimasukkan ke dalam ember. Larutkan bakteri ke dalam air dan dimasukkan ke dalam drum, kemudian ditutup rapat. Setelah 8-10 hari, pembiakan bakteri sudah selesai dan drum sudah dapat dibuka. Saring dan masukkan ke dalam wadah yang bersih (botol) untuk disimpan/digunakan. Ampas sisa saringan masih mengandung bakteri, sisakan sekitar 1 sampai 2 liter, tambahkan air, terasi, dan gula dengan perbandingan yang sama. Setelah 8-10 hari kemudian bakteri sudah berkembang biak lagi dan siap digunakan. Demikian seterusnya. Kegunaan: Mempercepat pengomposan dari 3-4 bulan menjadi 30-40 hari. Dapat digunakan langsung sebagai pupuk semprot, apabila tanah sudah diberi kompos (subur), tetapi apabila tanah kurang subur/tandus, penggunaan langsung sebagai pupuk tidak dianjurkan. Pupuk cair (larutan bakteri) ini tidak diperbolehkan untuk dicampur dengan bakteri lain, terutama bahan kimia atau bahan untuk pestisida lainnya seperti tembakau. ~ oleh petanidesa pada Februari 3, 2007. Ditulis dalam Cara Membuat Pupuk Cair Organik

Daun Sirsak untuk atasi Thrips
Daun Sirsak (Nangka Belanda) ternyata dapat digunakan sebagai bahan pestisida organik untuk mengendalikan Hama Thrips pada tanaman Cabai. Caranya : 50 – 100 lembar daun sirsak dihaluskan (boleh pake blender) dan dicampur dengan 5 liter air kemudian didiamkan selama sehari semalam, rendaman tersebut kemudian disaring dengan kain. 1 liter hasil saringan dapat dicampurkan dengan 1 tangki semprot ukuran 17 liter, dan gunakan untuk menyemprot tanaman cabe, Thrips pun akan lenyap. Selamat mencoba. ~ oleh petanidesa pada April 25, 2007. Ditulis dalam Daun Sirsak untuk atasi Hama Thrips

Cara Membuat Pupuk Hijau Organik
Pupuk Hijau: adalah pupuk organik yang terbuat dari sisa tanaman atau sampah yang diproses dengan bantuan bakteri. Bahan dan Komposisi: 200 kg hijau daun atau sampah dapur. 10 kg dedak halus. ¼ kg gula pasir/gula merah. ¼ liter bakteri. 200 liter air atau secukupnya. Cara Pembuatan: Hijau daun atau sampah dapur dicacah dan dibasahi. Campurkan dedak halus atau bekatul dengan hijau daun. Cairkan gula pasir atau gula merah dengan air. Masukkan bakteri ke dalam air. Campurkan dengan cairan gula pasir atau gula merah. Aduk hingga rata. Cairan bakteri dan gula disiramkan pada campuran hijau daun/sampah+bekatul. Aduk sampai rata, kemudian digundukkan/ditumpuk hingga ketinggian 15-20 cm dan ditutup rapat. Dalam waktu 3-4 hari pupuk hijau sudah jadi dan siap digunakan. ~ oleh petanidesa pada Februari 3, 2007. Ditulis dalam Cara Membuat Pupuk Hijau Organik

Cara Membuat Effective Microorganism (EM)
Membuat pupuk Effective Microorganisme atau EM
Pupuk EM adalah pupuk organik yang dibuat melalui proses fermentasi menggunakan bakteri (microorganisme). Sampah organik dengan proses EM dapat menjadi pupuk organik yang bermanfaat meningkatkan kualitas tanah. Beriikut langkah-langkah pembuatan pupuk menggunakan EM : Pembuatan bakteri penghancur (EM). Bahan-bahan : • Susu sapi atau susu kambing murni. • Isi usus (ayam/kambing), yang dibutuhkan adalah bakteri di dalam usus. • Seperempat kilogram terasi (terbuat dari kepala/kulit udang, kepala ikan) + 1 kg Gula pasir (perasan tebu) + 1 kg bekatul + 1 buah nanas + 10 liter air bersih. Alat-alat yang diperlukan : Panci, kompor dan blender/parutan untuk menghaluskan nanas. Cara pembuatan : • Trasi, gula pasir, bekatul, nanas (yang dihaluskan dengan blender) dimasak agar bakteri lain yang tidak diperlukan mati. • Setelah mendidih, hasil adonannya didinginkan. • Tambahkan susu, isi usus ayam atau kambing. • Ditutup rapat. Setelah 12 jam timbul gelembung-gelembung. • Bila sudah siap jadi akan menjadi kental/lengket.

Perlu diperhatikan susu jangan yang sudah basi karena kemampuan bakteri sudah berkurang. Sedangkan kegunaan nanas adalah untuk menghilangkan bau hasil proses bakteri.

~ oleh petanidesa pada Februari 3, 2007. Ditulis dalam Cara Membuat EM (Effective Microorganism)

Cara Membuat Pestisida Organik
Pestisida adalah zat pengendali hama (seperti: ulat, wereng dan kepik). Pestisida Organik: adalah pengendali hama yang dibuat dengan memanfaatkan zat racun dari gadung dan tembakau. Karena bahan-bahan ini mudah didapat oleh petani, maka pestisida organik dapat dibuat sendiri oleh petani sehingga menekan biaya produksi dan akrab denga lingkungan. Bahan dan Alat: 2 kg gadung. 1 kg tembakau. 2 ons terasi. ¼ kg jaringao (dringo). 4 liter air. 1 sendok makan minyak kelapa. Parutan kelapa. Saringan kelapa (kain tipis). Ember plastik. Nampan plastik. Cara Pembuatan: Minyak kelapa dioleskan pada kulit tangan dan kaki (sebagai perisai dari getah gadung). Gadung dikupas kulitnya dan diparut. Tembakau digodok atau dapat juga direndam dengan 3 liter air panas Jaringao ditumbuk kemudian direndam dengan ½ liter air panas Tembakau, jaringao, dan terasi direndam sendiri-sendiri selama 24 jam. Kemudian dilakukan penyaringan satu per satu dan dijadikan satu wadah sehingga hasil perasan ramuan tersebut menjadi 5 liter larutan. Dosis: 1 gelas larutan dicampur 5-10 liter air. 2 gelas larutan dicampur 10-14 liter air. Kegunaan: Dapat menekan populasi serangan hama dan penyakit. Dapat menolak hama dan penyakit. Dapat mengundang makanan tambahan musuh alami. Sasaran: Wereng batang coklat, Lembing batu, Ulat grayak, ulat hama putih palsu. Catatan: Meskipun ramuan ini lebih akrab lingkungan, penggunaannya harus memperhatikan batas ambang populasi hama. Ramuan ini hanya digunakan setelah polulasi hama berada atau

di atas ambang kendali. Penggunaan di bawah batas ambang dan berlebihan dikhawatirkan akan mematikan musuh alami hama yang bersangkutan. ~ oleh petanidesa pada Februari 3, 2007. Ditulis dalam Cara Membuat Pestisida Organik

Eceng Gondok Pemersih Polutan Logam Berat
Harian Kompas memberitakan, Sungai Citarum serta Waduk Saguling dan Cirata di Kabupaten Bandung tercemar logam berat. Dalam daging ikan mas dan nila yang hidup di waduk tersebut ditemukan kandungan merkuri (Hg), tembaga (Cu), dan seng (Zn) dengan kadar yang cukup membahayakan. Logam berat itu diketahui terkonsentrasi di perut, lemak, dan daging ikan. Temuan ini diikuti dengan imbauan agar masyarakat berhati-hati mengonsumsi ikan air tawar. Maklumlah, akumulasi logam berat di tubuh manusia, dalam jangka panjang, dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, seperti penyakit minamata, bibir sumbing, kerusakan susunan saraf, dan cacat pada bayi. Aparat terkait mengaku bahwa mereka telah berupaya untuk mencegah pencemaran tersebut dengan berbagai cara. Secara garis besar sebenarnya ada dua cara yang bisa dilakukan untuk mencegah dan mengatasi pencemaran perairan oleh logam berat, yaitu cara kimia dan biologi. Cara kimia, antara lain dengan reaksi chelating, yaitu memberikan senyawa asam yang bisa mengikat logam berat sehingga terbentuk garam dan mengendap. Namun, cara ini mahal dan logam berat masih tetap berada di waduk meski dalam keadaan terikat. UNTUNGLAH ada penanggulangan secara biologi yang bisa menjadi alternatif terhadap mahalnya penanggulangan dengan cara kimia. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan eceng gondok (Eichornia crassipes). Eceng gondok selama ini lebih dikenal sebagai tanaman gulma alias hama. Padahal, eceng gondok sebenarnya punya kemampuan menyerap logam berat. Kemampuan ini telah diteliti di laboratorium Biokimia, Institut Pertanian Bogor, dengan hasil yang sangat luar biasa. Penelitian daya serap eceng gondok dilakukan terhadap besi (Fe) tahun 1999 dan timbal (Pb) pada tahun 2000. Untuk mengukur daya serap eceng gondok terhadap Fe, satu, dua, dan tiga rumpun eceng gondok ditempatkan dalam ember plastik berisi air sumur dengan tambahan 5 ppm FeSO>jmp 2008m<>kern 199m<>h 6024m,0<>w 6024m<4>jmp 0m<>kern 200m<>h 8333m,0<>w 8333m< dan HNO>jmp 2008m<>kern 199m<>h 6024m,0<>w 6024m<3>jmp 0m<>kern 200m<>h 8333m,0<>w 8333m< untuk menjaga keasaman. Konsentrasi Fe diukur pada hari ke-0, 7, 14, dan 21 dengan menggunakan spektrofotometer serapan atom pada panjang gelombang 248,3 nm. Hasilnya terlihat pada Tabel 1. Dalam tabel itu bisa dilihat adanya penurunan kadar logam Fe secara signifikan pada hari ke-7. Kadar logam Fe menurun 3,177 ppm (65,45 persen) untuk 1 rumpun eceng gondok, 3,511 ppm (71,93 persen) untuk dua rumpun eceng gondok dan 3,686 ppm (74,47 persen) untuk tiga rumpun eceng gondok. Selanjutnya terlihat, semakin lama semakin banyak logam besi yang diserap. Pada hari ke-28, konsentrasi Fe hampir mendekati 0 untuk perlakuan dua rumpun eceng gondok dan tiga rumpun eceng gondok. Berdasarkan analisis statistik diketahui bahwa pada hari ke-7, 14, dan 21, eceng gondok memberikan respon nyata dalam menurunkan logam Fe untuk ketiga perlakuan. Namun, pada hari ke-28 eceng gondok yang berjumlah 2-3 rumpun memberikan respon yang tidak berbeda nyata dalam menurunkan logam besi. PENELITIAN untuk melihat kemampuan eceng gondok menyerap timbal (Pb) dilakukan sebagai berikut. Satu, tiga, lima rumpun eceng gondok ditempatkan di dalam ember plastik

berisi air sumur dan larutan Pb(NO3) sebesar 5 ppm. Konsentrasi Pb diukur ketika hari ke-0, 7, 14, 21, dan 28 dengan spektrofotometer serapan atom pada panjang gelombang 217 nm. Hasilnya sebagaimana tertera dalam Tabel 2. Dari tabel tersebut terlihat, ada penurunan kadar logam Pb secara signifikan pada hari ke-7. Kadar logam Pb menurun 5,167 ppm (96,4 persen) pada perlakuan satu rumpun eceng gondok, menurun 5,204 ppm (98,7 persen) pada perlakuan tiga rumpun, dan menurun 6,019 ppm (99,7 persen) pada perlakuan lima rumpun dari konsentrasi hari ke-0. Analisis pada hari-hari selanjutnya (hari ke-14, 21, dan 28) menunjukkan perubahan kadar Pb tidak terlalu jauh dengan kadar logam Pb pada hari ke-7. Eceng gondok terbukti mampu menurunkan kadar polutan Pb dan Fe. Oleh karena itu, diyakini eceng gondok juga mampu menurunkan kadar polutan Hg, Zn, dan Cu yang mencemari Waduk Saguling dan Cirata. Sebab, secara struktur kimia, atom Hg, Zn, dan Cu termasuk dalam golongan logam berat bersama Pb dan Fe. Rangkaian penelitian seputar kemampuan eceng gondok dalam menyerap logam berat juga telah dilakukan oleh para pakar. Widyanto dan Susilo (1977) melaporkan, dalam waktu 24 jam eceng gondok mampu menyerap logam kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan nikel (Ni), masingmasing sebesar 1,35 mg/g, 1,77 mg/g, dan 1,16 mg/g bila logam itu tak bercampur. Eceng gondok juga menyerap Cd 1,23 mg/g, Hg 1,88 mg/g dan Ni 0,35 mg/g berat kering apabila logam-logam itu berada dalam keadaan tercampur dengan logam lain. Lubis dan Sofyan (1986) menyimpulkan logam chrom (Cr) dapat diserap oleh eceng gondok secara maksimal pada pH 7. Dalam penelitiannya, logam Cr semula berkadar 15 ppm turun hingga 51,85 persen. SELAIN dapat menyerap logam berat, eceng gondok dilaporkan juga mampu menyerap residu pestisida, contohnya residu 2.4-D dan paraquat. Pada percobaan Chossi dan Husin (1977) diketahui eceng gondok mampu menyerap residu dari larutan yang mengandung 0,50 ppm 2.4-D sebanyak 0,296 ppm dan 2,00 ppm 2.4-D sebanyak 0,830 ppm dalam waktu 96 jam. Adapun paraquat yang diserap oleh eceng gondok dari dua kadar, yaitu 0,05 ppm dan 0,10 ppm masing-masing adalah 0,02 ppm dan 0,024 ppm. Dari hasil penelitian-penelitian itu dapat disimpulkan ternyata eceng gondok tidaklah sia-sia dicipta oleh Tuhan Yang Maha Esa, apalagi sebagai pengganggu manusia. Eceng gondok dapat dinyatakan sebagai pembersih alami perairan waduk atau danau terhadap polutan, baik logam berat maupun pestisida atau yang lain. MEMANG dilaporkan eceng gondok dapat tumbuh sangat cepat pada danau maupun waduk sehingga dalam waktu yang singkat dapat mengurangi oksigen perairan, mengurangi fitoplankton dan zooplankton serta menyerap air sehingga terjadi proses pendangkalan, bahkan dapat menghambat kapal yang berlayar pada waduk. Namun, apa arti sebuah danau yang bersih dari eceng gondok jika ternyata air dan ikan yang ada di dalamnya tercemari polutan? Bahkan, bila suatu danau polutan sangat tinggi dan tidak ada tanaman yang menyerapnya, pencemaran dapat merembes ke air sumur dan air tanah di sekitar danau. Agar danau bebas polusi namun pertumbuhan eceng gondoknya terkendali, tentu saja diperlukan pengelolaan danau secara benar. Untuk mengeliminasi gangguan eceng gondok, misalnya, caranya bisa dengan membatasi populasinya. Pembatasan dapat dilakukan dengan membatasi penutupan permukaan waduk oleh eceng gondok tidak lebih dari 50 persen permukaannya. Akan jauh lebih baik lagi bila pembatasan populasi ini dilakukan dengan melibatkan masyarakat sekitar. Sebab, dahan eceng gondok adalah serat selulosa yang dapat diolah untuk berbagai keperluan, seperti barang kerajinan maupun bahan bakar pembangkit tenaga listrik. Namun, masyarakat tidak disarankan untuk memberikan eceng gondok sebagai pakan pada ternak karena polutan yang diserapnya bisa terakumulasi dalam dagingnya.

Masyarakat sekitar bisa diberi pelatihan mengenai pengolahan eceng gondok menjadi produkproduk yang bernilai ekonomi, mulai dari anyaman dompet, tas sekolah, topi, bahkan juga mebel. Pengendalian populasi eceng gondok yang melibatkan masyarakat akan memberikan keuntungan bagi pengelola waduk sekaligus masyarakat di sekitarnya. Pengelola waduk tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk “memanen” eceng gondok karena tumbuhan air tersebut akan “dipanen” sendiri oleh masyarakat. Pengelola cukup membantu masyarakat untuk memasarkan hasil kerajinannya. Adapun masyarakat jelas tidak hanya meningkat pendapatannya, tetapi juga hidup sehat karena terbebas dari ancaman bahan makanan yang tercemar. Penulis : Dr Hasim DEA Dosen Biokimia dan Toxikologi FMIPA dan Pascasarjana IPB Sumber : Kompas

Cara Pembiakan Bakteri
Untuk menghemat biaya, bibit bakteri EM4 yang dibeli di toko atau koperasi Saprotan dapat dikembangbiakkan sendiri, sehingga kebutuhan pupuk organik untuk luas lahan yang ada dapat dipenuhi. Adapun prosedur pembiakan bakteri EM4 adalah sebagai berikut: Bahan dan Komposisi: 1 liter bakteri 3 kg bekatul (minimal) ¼ kg gula merah/gula pasir/tetes tebu (pilih salah satu) ¼ kg terasi 5 liter air Alat dan Sarana: Ember Pengaduk Panci pemasak air Botol penyimpan Saringan (dari kain atau kawat kasa) Cara Pembiakan: Panaskan 5 liter air sampai mendidih. Masukkan terasi, bekatul dan tetes tebu/gula (jika memakai gula merah harus dihancurkan dulu), lalu aduk hingga rata. Setelah campuran rata, dinginkan sampai betul-betul dingin! (karena kalau tidak betul-betul dingin, adonan justru dapat membunuh bakteri yang akan dibiakkan). Masukkan bakteri dan aduk sampai rata. Kemudian ditutup rapat selama 2 hari. Pada hari ketiga dan selanjutnya tutup jangan terlalu rapat dan diaduk setiap hari kurang lebih 10 menit. Setelah 3-4 hari bakteri sudah dapat diambil dengan disaring, kemudian disimpan dalam botol yang terbuka atau ditutup jangan terlalu rapat (agar bakteri tetap mendapatkan oksigend ari udara). Selanjutnya, botol-botol bakteri tersebut siap digunakan untuk membuat kompos, pupuk cair maupun pupuk hijau dengan komposisi campuran seperti yang akan diuraikan dibawah ini.

Catatan: Ampas hasil saringan dapat untuk membiakkan lagi dengan menyiapkan air kurang lebih 1 liter dan menambahkan air matang dingin dan gula saja. ~ oleh petanidesa pada Februari 3, 2007.

Sekilas Tentang Penyakit Trotol
Bercak Ungu atau Trotol (Purple Blotch) : Alternaria porri Morfologi dan daur penyakit Konidium dan konidiofor berwarna hitam atau coklat. Konidium berbentuk gada yang bersekat-sekat, pada salah satu ujungnya membesar dan tumpul, ujung lainnya menyempit dan agak panjang. Konidium dapat disebarkan oleh angin dan menginfeksi tanaman melalui stomata atau luka-luka yang terjadi pada tanaman. Patogen dapat bertahan dari musim kemusim pada sisa-sisa tanaman. Keadaan cuaca yang lembab, mendung, hujan rintik-rintik dapat mendorong perkembangan penyakit. Pemupukan dengan dosis N yang tinggi atau tak berimbang, keadaan drainase tanah yang tidak baik, dan suhu antara 30 – 32 °C merupakan kondisi yang menguntungkan bagi perkembangan patogen. Penyakit ini tersebar luas di daerah pertanaman bawang di Indonesia antara lain di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Irian Jaya.

Gejala serangan

Pada daun terdapat bercak melekuk, berwarna putih atau kelabu. Ukuran bercak bervariasi tergantung pada tingkat serangan. Pada serangan lanjut, bercak-bercak tampak menyerupai cincin, warna agak keunguan dengan tepi agak kemerahan atau keunguan yang dikelilingi oleh zone berwarna kuning yang dapat meluas ke bagian atas atau bawah bercak, dan ujung daun mengering. Permukaan bercak bisa juga berwarna coklat atau hitam terutama pada keadaan cuaca yang lembab. Infeksi pada umbi biasanya dapat terjadi pada saat atau setelah panen, umbi tampak membusuk dan berair dimulai dari bagian leher. Umbi yang membusuk berwarna kuning atau merah kecoklatan. Serangan lanjut menyebabkan jaringan umbi yang terserang mengering, berwarna gelap dan bertekstur seperti kertas.

~ oleh petanidesa pada Februari 5, 2007. Ditulis dalam Sekilas Penyakit Trotol

Cara Lain Membuat Pestisida Organik
Bahan yang diperlukan : - Tembakau 1 kg - air 4 liter - kapur barus 7 butir dihaluskan Cara pembuatannya : - Tembakau direndam dalam 4 liter air selama 2 (dua) hari. - Campurkan kapur barus yang telah dihaluskan. Cara implementasi : - Setiap 2 – 3 sendok makan air hasil proses rendaman tembakau dan kapur barus dicampur dengan air biasa 1 liter. – Semprotkan pada tanaman yang terserang hama/penyakit.

~ oleh petanidesa pada Maret 11, 2007. Ditulis dalam Cara Lain Membuat Pestisida Organik

Membuat Pupuk Cair Perangsang Tumbuh dan Berbuah
Filed under: Serba-serbi By Redaksi Pustakatani Selain membuat Pupuk Cair dari Sabut Kelapa, Haji Ali Mugni (65) juga membuat pupuk cair yang berfungsi merangsang tumbuh dan berbuah. Mugni menggunakan buah-buahan sebagai bahan dasar pupuk perangsang tumbuh dan berbuahnya. Berikut ini cara membuat pupuk cair perangsang tumbuh dan berbuah ala Haji Ali Mugni: Bahan -satu buah mangga -satu buah pepaya -0,4 kg tomat -dua buah pisang ambon -satu buah nenas -satu liter air Cara : 1. Semua bahan ditumbuk sampai halus, kemudian ditambahkan air dan diaduk 2. Campuran cair itu kemudian diperas. Cairan perasan ditampung ke dalam jerigen yang telah dibersihkan. Wadah kemudian ditutup rapat. 3. Diamkan cairan ramuan dalam jerigen selama seminggu 4. Setelah ramuan itu mengeluarkan aroma tape maka ramuan itu sudah jadi dan siap digunakan Cara penggunaan Setelah pupuk cair terbuat dari buah-buahan sudah bisa digunakan. Caranya pupuk cair itu disemprotkan ke tanaman. Pupuk cair ini bisa diberikan pada tanaman pada saat tanaman kurang lebih 25 hari setelah tanam untuk merangsang pertumbuhan padi. Tanaman bisa disemprot lagi ketika memasuki masa berbuah atau meretak untuk merangsang pembuahan. Mugni bercerita tanaman padinya yang disemprot pupuk cair itu berhasil baik. Padinya menjadi tumbuh subur, bulir padat berisi, dan malai tumbuh memanjang. Mugni menilai pupuk cair ciptaannya itu sama dengan pupuk ZPT buatan pabrik. Mugni berharap kepada petani lain untuk meninggalkan pupuk dan pestisida. Dulu petani mampu menghasilkan 8-10 ton gabah per hektar dengan biasa produksi rendah. Sekarang untuk lahan dengan luasan yang sama biaya prduksi hanya 4 ton gabah. (Sumber dari buku: “Angin di Hamparan Karawang,” oleh Ratam S, Solihin T, A Agus, Eno Mayono, dan Hery Prasetiyo, diterbitkan oleh Forum Petani Karawang dan Nastari)

Mengebor Bensin di Kebun Singkong
Filed under: Serba-serbi

Tujuh tahun terakhir Zaenal Arifi n rutin mengolah 1,5 ton singkong segar per hari menjadi keripik. Hasilnya 600kg keripik ia jual ke beberapa daerah di Pulau Jawa, Bali, dan Lampung. Selain keripik, singkong juga sering diolah menjadi tapai. Begitulah secara turun-temurun anggota famili Euphorbiaceae itu dimanfaatkan. Namun, setahun terakhir singkong juga mengisi tangki-tangki motor dan mobil. Kendaraan itu melaju dengan bahan bakar singkong. Singkong diolah menjadi bioetanol, pengganti premium. Menurut Dr Ir Tatang H Soerawidjaja, dari Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), singkong salah satu sumber pati. Pati senyawa karbohidrat kompleks. Sebelum difermentasi, pati diubah menjadi glukosa, karbohidrat yang lebih sederhana. Untuk mengurai pati, perlu bantuan cendawan Aspergillus sp. Cendawan itu menghasilkan enzim alfamilase dan glukoamilase yang berperan mengurai pati menjadi glukosa alias gula sederhana. Setelah menjadi gula, baru difermentasi menjadi etanol. Lalu, bagaimana cara mengolah singkong menjadi etanol? Berikut langkah-langkah pembuatan bioetanol berbahan singkong yang diterapkan Tatang H Soerawidjaja. Pengolahan berikut ini berkapasitas 10 liter per hari. Cara Tatang Membuat Bensin 1. Kupas 125 kg singkong segar, semua jenis dapat dimanfaatkan. Bersihkan dan cacah berukuran kecil-kecil. 2. Keringkan singkong yang telah dicacah hingga kadar air maksimal 16%. Persis singkong yang dikeringkan menjadi gaplek. Tujuannya agar lebih awet sehingga produsen dapat menyimpan sebagai cadangan bahan baku. 3. Masukkan 25 kg gaplek ke dalam tangki stainless steel berkapasitas 120 liter, lalu tambahkan air hingga mencapai volume 100 liter. Panaskan gaplek hingga 100oC selama 0,5 jam. Aduk rebusan gaplek sampai menjadi bubur dan mengental. 4. Dinginkan bubur gaplek, lalu masukkan ke dalam tangki sakarifi kasi. Sakarifikasi adalah proses penguraian pati menjadi glukosa. Setelah dingin, masukkan cendawan Aspergillus yang akan memecah pati menjadi glukosa. Untuk menguraikan 100 liter bubur pati singkong, perlu 10 liter larutan cendawan Aspergillus atau 10% dari total bubur. Konsentrasi cendawan mencapai 100-juta sel/ml. Sebelum digunakan, Aspergillus dikulturkan pada bubur gaplek yang telah dimasak tadi agar adaptif dengan sifat kimia bubur gaplek. Cendawan berkembang biak dan bekerja mengurai pati. 5. Dua jam kemudian, bubur gaplek berubah menjadi 2 lapisan: air dan endapan gula. Aduk kembali pati yang sudah menjadi gula itu, lalu masukkan ke dalam tangki fermentasi. Namun, sebelum difermentasi pastikan kadar gula larutan pati maksimal 17-18%. Itu adalah kadar gula maksimum yang disukai bakteri Saccharomyces untuk hidup dan bekerja mengurai gula menjadi alkohol. Jika kadar gula lebih tinggi, tambahkan air hingga mencapai kadar yang diinginkan. Bila sebaliknya, tambahkan larutan gula pasir agar mencapai kadar gula maksimum. 6. Tutup rapat tangki fermentasi untuk mencegah kontaminasi dan Saccharomyces bekerja mengurai glukosa lebih optimal. Fermentasi berlangsung anaerob alias

tidak membutuhkan oksigen. Agar fermentasi optimal, jaga suhu pada 28-32 oC dan pH 4,5-5,5. 7. Setelah 2-3 hari, larutan pati berubah menjadi 3 lapisan. Lapisan terbawah berupa endapan protein. Di atasnya air, dan etanol. Hasil fermentasi itu disebut bir yang mengandung 6-12% etanol. 8. Sedot larutan etanol dengan selang plastik melalui kertas saring berukuran 1 mikron untuk menyaring endapan protein. 9. Meski telah disaring, etanol masih bercampur air. Untuk memisahkannya, lakukan destilasi atau penyulingan. Panaskan campuran air dan etanol pada suhu 78oC atau setara titik didih etanol. Pada suhu itu etanol lebih dulu menguap ketimbang air yang bertitik didih 100oC. Uap etanol dialirkan melalui pipa yang terendam air sehingga terkondensasi dan kembali menjadi etanol cair. 10. Hasil penyulingan berupa 95% etanol dan tidak dapat larut dalam bensin. Agar larut, diperlukan etanol berkadar 99% atau disebut etanol kering. Oleh sebab itu, perlu destilasi absorbent. Etanol 95% itu dipanaskan 100oC. Pada suhu itu, etanol dan air menguap. Uap keduanya kemudian dilewatkan ke dalam pipa yang dindingnya berlapis zeolit atau pati. Zeolit akan menyerap kadar air tersisa hingga diperoleh etanol 99% yang siap dicampur dengan bensin. Sepuluh liter etanol 99%, membutuhkan 120-130 liter bir yang dihasilkan dari 25 kg gaplek. (Imam Wiguna) (sumber: trubus)

Pupuk Cair Dari Sabut Kelapa
Filed under: Serba-serbi Haji Ali Mugni (65) sadar lahan sawah yang terus-menerus ditanami akan kehilangan unsur hara. Pupuk bisa membantu menambah unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Sayangnya pupuk kimia, yang banyak digunakan terus-menerus, malah membuat tanah menjadi keras dan petani terus tergantung pupuk kimia. Ia mencoba terobosan baru yaitu membuat pupuk cair pengganti pupuk kimia KCl buatan pabrik. Hasilnya cukup memuaskan. Berbekal pengetahuan yang didapat dari berbagai pelatihan, Mugni, petani dari Desa Laban, Kecamatan Pedes, Karawang, mencoba menanam padi tanpa tanpa pupuk kimia. Mugni membuat pupuk cair spesial menggunakan sabut kelapa sebagai ganti pupuk KCl. Di benak Beliau, pupuk cair dari sabut kelapa ini kalau berhasil bisa mengurangi biaya, mengembalikan kesuburan tanah, dan mengurangi ketergantungannya pada pupuk pabrik. Berikut ini cara membuat pupuk cair sabut kelapa ala Ali Mugni: Bahan dan alat Sabut kelapa sebanyak 25 kg Satu drum bekas atau bisa juga wadah serupa lainnya Air sebanyak 40 liter

Cara pembuatan 1. 2. Sabut kelapa yang telah dibersihkan dimasukkan Tuangkan air ke dalam drum hingga separuh terisi ke dalam drum bekas

3. 4. 5.

Drum rendaman sabut kalapa harus ditutup rapat, agar tidak kemasukan air hujan atau sinar matahari langsung Diamkan rendaman itu kurang lebih 15 hari Jika air rendaman sudah berubah warna menjadi kuning kehitaman, berarti pupuk cair dari sabut kelapa sudah jadi dan siap digunakan

Aplikasi 1. 2. 3. Pupuk cair diberikan dua kali dalam satu musim tanam Pertama sebagai pupuk dasar sebelum lahan ditanami atau pada fase pengolahan tanah Kedua pupuk diberikan setelah padi memasuki masa primordia (awal tumbuh), dengan cara pupuk tanpa tambahan air disemprotkan pada batang padi.

Menurut Ali Mugni hasil panenan dari lahan yang menggunakan pupuk cair sabut kelapa sama dengan lahan yang menggunakan pupuk kimia KCl buatan pabrik. Keuntungan lahan menggunakan pupuk cair sabut kelapa, biaya produksi lebih sedikit karena tidak perlu keluar uang membeli pupuk KCl. (Sumber dari buku: “Angin di Hamparan Karawang,” oleh Ratam S, Solihin T, A Agus, Eno Mayono, dan Hery Prasetiyo, diterbitkan oleh Forum Petani Karawang dan Nastari,Pustakatani.org)

Mengusir Nyamuk
Filed under: Serba-serbi Bingung mengatasi nyamuk di rumah… nah ini ada tips bagus untuk mengusir nyamuk di rumah anda. Yaitu dengan meletakkan tanaman yang tidak disukai nyamuk di salah satu sudut rumah anda atau di pekarangan. Tanaman apa sajakan itu? Lavender Tumbuhan lavender kerap kali digunakan sebagai bahan dasar lotion anti nyamuk. Bunga lavender memiliki aroma yang sangat harum. Tak perlu diproses menjadi pelembab kulit, cukup gosokkan bunga ini ke tubuh, dijamin nyamuk tak ada yang mau nempel dengan kulitmu. Akar Wangi Tumbuhan akar wangi dapat mengendalikan populasi nyamuk deman berdarah. Nyamuk demam berdarah konon sangat takut menghadapi tumbuhan akar wangi. Bau ngengat yang keluar dari tumbuhan ini cukup mematikan untuk nyamuk jenis itu. Suren Jika anda memiliki lahan pekarangan luas dan dipenuhi dengan pepohonan, ada bagusnya anda menanam tumbuhan suren. Tanaman ini terbukti sangat ampuh mengusir nyamuk. Tumbuhan yang bentuknya pohon berukuran 20 m ini memiliki daun dan kulit kayu yang beraroma tajam. Para petani kerap menanam suren di ladang-ladang pesawahan mereka, suren dipercaya juga dapat mengusir hama serangga tanaman. Zodia

Tanaman Zodia adalah tumbuhan yang paling favorit sebagai pengusir nyamuk. Tanaman ini memiliki kandungan evodiamine dan rutaecarpine yang tak disukai serangga. Zat tersebut menghasilkan aroma yang tajam, jika tertiup angin aroma itu mudah sekali tersebar ke seluruh ruangan. Ada baiknya anda menanam zodia dalam pot dan meletakkannya di salah satu sudut ruangan anda. Ruangan anda bebas nyamuk deh. Geranium Tanaman jenis perdu ini memiliki aroma yang cukup harum namun tidak disukai serangga. Pasalnya tanaman yang memiliki kandungan zat geraniol dan sitronelol ini bersifat antiseptik. Selain berkhasiat mengusir nyamuk, tanaman ini bisa menjadi penghijau ruangan anda. Bentuknya yang indah bisa menjadikan tanaman ini sebagai media relaksasi mata. Selasih Yang terakhir adalah tanaman selasih. Selasih dipercaya mengeluarkan aroma yang cukup tajam bagi serangga. Tanaman ini paling cocok berada di dalam rumah. Letakkan sedikit lama dalam ruangan akan lebih membantu pengusiran nyamuk di rumah anda.

Budidaya Cabe di musim HUJAN
Dari bulan November sampai dengan April, sebagian besar petani cabai di Brebes akan beralih ke komoditas padi. Sebab lahan pertanian di sana akan tergenang air. Bahkan tidak jarang areal pertanian itu terlanda banjir. Petani Brebes yang pada musim penghujan tetap bertahan menanam cabai, jumlahnya hanya sedikit. Sebaliknya, pada bulan-bulan November sampai dengan April, para petani lahan kering di pegunungan, justru akan menanam cabai. Mereka adalah petani tradisional yang hasil produksinya rendah, atau petani modern yang menggunakan benih unggul dan mulsa plastik hitam perak. Tingkat kegagalan petani cabai tradisional maupun modern di dataran tinggi ini relatif besar. Penyebab utamanya adalah, kondisi cuaca musim penghujan, yang memang tidak ramah terhadap komoditas cabai. Kegagalan petani tradisional, kebanyakan disebabkan oleh rendahnya kualitas benih. Biasanya mereka menggunakan benih buatan sendiri, yang mutunya tidak sebaik benih impor. Faktor lain yang menyebabkan kegagalan petani tradisional adalah, kecilnya tingkat modal. Rata-rata petani tradisional hanya mengeluarkan modal di bawah Rp 5.000.000,- per hektar untuk satu musim tanam. Hingga input pupuk serta pestisida yang mereka berikan ke tanaman juga sangat kecil. Akibatnya, tanaman akan mudah terserang hama dan penyakit, terutama fusarium dan pseudomonas. Kelebihan para petani tradisional ini adalah, lahan yang mereka gunakan untuk bertanam cabai, umumnya masih terbebas dari cemaran cendawan fusarium dan bakteri pseudomonas. Meskipun para petani cabai modern mampu menanamkan modal antara Rp 40.000.000,sampai Rp 50.000.000,- per hektar per musim tanam, namun tingkat kegagalan mereka juga masih tinggi. Penyebab kegagalan mereka antara lain adalah, lahan yang mereka gunakan untuk bertanam cabai, umumnya berada di sekitar jalan raya. Lahan dengan lokasi demikian, kebanyakan sudah tercemar cendawan fusarium dan bakteri pseudomonas. Modal mereka yang relatif tinggi, di lain pihak juga menuntut hasil yang tinggi pula. Pada musim penghujan, umumnya intensitas sinar matahari tidak sebaik pada musim kemarau. Hingga hasil yang diperoleh dari budidaya cabai pada musim penghujan, pasti tidak akan setinggi hasil dari penanaman pada musim kemarau. Teknik budidaya para petani cabai modern umumnya sudah sesuai dengan standar agribisnis internasional. Mereka menggunakan benih impor dari Taiwan. Benih unggul ini menuntut penggunakan mulsa plastik hitam perak yang juga diproduksi oleh pengusaha Taiwan. Petani

cabai kita tidak pernah tahu, bahwa mulsa plastik hanya digunakan pada budidaya cabai musim kemarau, dengan teknik pengairan genangan maupun drip. Kalau teknik pengairannya dengan penyiraman, maka mulsa plastik justru akan menjadi penghambat budidaya. Demikian pula halnya pada budidaya musim penghujan, mulsa plastik yang berguna untuk mempertahankan kelembapan tanah (selain untuk mencegah tumbuhnya gulma), juga akan tidak berfungsi. Sebab pada musim penghujan, tanah sudah sangat lembap. Tingkat kegagalan budidaya cabai pada musim penghujan yang tinggi ini, jelas akan memicu tingginya harga cabai pada musim penghujan pula. Hingga rata-rata harga cabai antara bulan Desember sampai dengan Maret akan selalu lebih tinggi dibanding harga rata-rata antara bulan Juli sampai dengan Oktober. Itulah sebabnya apabila budidaya cabai pada musim penghujan mampu menghasilkan produksi normal, maka keuntungan yang akan diraih petani, lebih tinggi daripada budidaya pada musim kemarau. Normalnya, hasil cabai pada petani tradisional adalah 6 ons per tanaman per musim tanam (selama periode panen sekitar 3 bulan). Pada pertanian modern 1 kg. per tanaman per musim tanam. Kalau hasil ini bisa diraih, maka keuntungan petani akan cukup baik. Namun budidaya cabai pada musim penghujan juga menuntut biaya yang tinggi pula. Petani tradisional maupun modern, harus mengeluarkan biaya ekstra untuk pembelian pestisida. Terutama fungisida dan bakterisida guna menanggulangi fusarium dan pseudomonas. Intensitas penyemprotan ini pada puncak musim penghujan akan sedemikian tingginya. Apabila pagi hari sekitar pukul tujuh hujan, maka pukul sembilan harus disemprot. Kalau kemudian pada pukul sebelas kembali hujan, setelah hujan reda harus disemprot kembali. Misalnya pukul dua siang kembali hujan, maka pukul empat sore harus kembali disemprot. Andaikata hujan demikian terjadi terus-menerus selama sekitar satu minggu, maka petani akan bangkrut karena biaya pestisida tidak mungkin tertanggulangi lagi dari hasil panen. Namun sebaliknya kalau tanaman tidak disemprot juga akan mati terserang penyakit. Petani, baik petani tradisional maupun modern, menyiasati kondisi demikian dengan menaungi bedeng tanaman mereka dengan plastik bening. Caranya, mereka membuat kerangka bambu berbentuk melengkung dan memanjang sepanjang bedengan cabai. Di atas kerangka bambu itu dipasang plastik bening. Harga plastik bening demikian (lebar 1,5 m sd 2,5 m), antara Rp 1.000,- sd. Rp 15.000,- per meter tergantung kualitasnya. Petani yang rajin, akan membuat konstruksi bambu dan tudung plastik ini bisa dibuka dan ditutup. Hingga apabila hujan turun dan juga pada malam hari, tudung plastik akan ditutupkan. Sebaliknya pada siang hari ketika panas, plastik dibuka. Hal demikian juga dilakukan oleh para petani Taiwan untuk tanaman cabai dan melon. Biaya plastik dan kerangka bambu ini masih bisa tertanggulangi oleh hasil panen. Para petani tradisional, biasanya akan memilih plastik dengan harga termurah, yakni Rp 1.000,- per m. yang diperkirakan akan mempu menaungi antara 4 sd. 6 individu tanaman. Ditambah dengan biaya bambu dan tenaga kerja, biaya naungan per meternya akan mencapai Rp 1.200,- Kalau biaya ini dibagi untuk empat tanaman, maka jatuhnya per tanaman Rp 300,Kalau dibagi untuk 6 tanaman, maka jatuhnya hanya Rp 200,- Biaya ini masih bisa ditutup oleh hasil panen. Sebab dengan adanya tudung plastik, maka biaya pestisida bisa diminimalkan. Meskipun hujan turun terus sepanjang hari selama satu minggu, tanaman cukup disemprot sekali guna membebaskannya dari fusarium dan pseudomonas. Para petani modern yang biasa menggunakan mulsa plastik hitam perak, tinggal mengalihkan biaya mulsanya menjadi biaya untuk tudung. Hingga praktis para petani modern tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan. Sebab biaya untuk konstruksi bambu, bisa diambil dari selisih harga antara plastik bening yang murah, dengan mulsa hitam perak yang relatif mahal. Selain penggunaan plastik bening sebagai tudung bedeng penanaman, budidaya cabai pada musim penghujan juga masih perlu memperhatikan beberapa hal. Pertama, sebaiknya kita memilih jenis cabai yang relatif tahan terhadap kelembapan udara. Jenis cabai keriting misalnya, relatif lebih tahan kelembapan dibanding dengan cabai merah besar. Lokasi penanaman juga harus dipilih yang belum tercemar oleh fusarium dan pseudomonas. Sebagai

pedoman, petani harus tahu betul bahwa petak lahan tersebut selama paling tidak dua tahun terakhir, tidak ditanami cabai, terung, tomat, kentang dll. tanaman sejenis, yang kemungkinan bisa menjadi sumber penyakit fusarium maupun pseudomonas. Lahan juga berdrainase cukup baik. Seandainya lahan terletak di lokasi yang berlereng, juga tetap perlu dibangun terasering dan saluran air untuk menghindari genangan. Lahan yang bernaungan rumpun pisang, albisia atau tanaman keras lainnya sebaiknya dihindarkan. Sebab naungan itu akan meningkatkan kelembapan udara yang potensial memicu datangnya penyakit. Meskipun harga cabai pada musim penghujan bisa relatif lebih tinggi dibanding pada musim kemarau, namun pasokan yang berlebihan juga akan tetap menjatuhkan harga. Hingga strategi penanaman perlu dilakukan. Kalau lahan yang akan ditanami cabai pada musim penghujan ini mencapai luasan di atas dua hektare, maka penanaman tidak bisa dilakukan sekaligus. Secara bertahap lahan dibuka dan ditanami 2.000 meter per angkatan setiap minggu. Hingga panen tidak akan terjadi serentak. Meskipun periode panen cabai dari tanaman yang seumur pun, akan terjadi secara bertahap selama sekitar tiga bulan. Namun dengan pentahapan pola tanam demikian, saat mulai dan akhir panen bisa diatur hingga hasilnya tidak melimpah di pasaran. Kalau pada awal November kita membuka lahan seluas 2.000 m, kemudian disusul pada minggu berikutnya 2.000 m, maka lahan dua hektare itu akan habis tertanami pada pertengahan Januari. Areal penanaman Januari ini akan habis dipanen pada bulan Mei ketika harga cabai mulai merosot. Volume buah cabai hasil penanaman pada musim penghujan, relatif lebih kecil dibanding dengan penanaman pada musim kemarau. Namun bobotnya justru lebih tinggi. Sebab kadar air buah cabai pada musim penghujan, memang lebih tinggi dibanding buah yang dihasilkan pada penanaman pada musim kemarau. Bobot yang relatif lebih tinggi ini, akan memberikan dampak keuntungan yang lebih besar bagi para petani. Kelemahannya, daya tahan buah cabai hasil penanaman musim penghujan, lebih rendah dibanding buah cabai hasil panen musim kemarau. Hingga penanganan pasca panen mulai dari pengemasan dan pengangkutan, lebih memerlukan perhatian. Yang jelas, resiko budidaya cabai pada musim penghujan memang cukup tinggi. Namun resiko itu juga diimbangi dengan harga yang umumnya lebih baik dibanding harga cabai pada musim kemarau.

ISTILAH PERTANIAN
Agroklimat : All year round : Alternate bearing : lingkungan tumbuh yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Berbuah sepanjang btahun, tidak bermusim. Suatu keadaan dimana tanaman berbuah banyak pada suatu tahun kemudian pada tahun berikutnya tidak berbuah atau berbuah sedikit, disebut juga pembuahan berseling atau biennial bearing. Cash crop : Penanaman tanaman yang cepat menghasilkan. Daun terminal : Sepasang daun (tunggal) atau satu pasang daun (tipe Infloresensi) yang terletak pada bagian ujung pucuk (terminal). Diferensiasi sel : Proses pembesaran dan pertumbuhan sel menjadi organ-organ tertentu dalam perkembangan selanjutnya. Deversifikasi : Untuk pangan, penganekaragaman jenis tanaman. Edible portion : Porsi atau bagian yang dapat dimakan. Estate :Perkebunan besar, usaha tani yang dilakukan perusahaan besar. Floriculture : Teknis budidaya tanaman hias. Folliar spray : Aplikasi larutan tertentu melalui penyemprotan lewat daun. Fotosintat : Hasil dari proses fotosintesis atau hasil dari proses pembentukan energi pada tumbuhan berklrofil dengan bantuan sinar matahari berupa karbohidrat (teoung,gula).

Fruit forestry : Fruit set :

Hutan tanaman buah-buahan. Nisbah atau rasio antara bunga yang dihasilkan dengan buah yang dipanen. GAP : Good Agricuoture Practise, norma budidaya yang baik dan benar. Growt retardant : Zat penghambat tumbuh, yaitu inhibitor yang bersifat spesifik, menghambat perumbuhan sel pada sub-apikal meristem. Habitat : Lingkungan untuk tumbuh dan berkembang biak. Induksi : Awal dari fase reproduksi, disebut juga sebagai fase transisi dari fase vegetatif ke fase pembungaan, dimana pada tahap tersebut tunas vegetatif distimulasi secara biokimia dan berubah menjadi tunas generatif. Invesment payback : Lama waktu pengembalian investasi Juvenil : Masa sebelum menjadi dewasa atau masa sebelum tanaman menghasilkan buah. Konservasi : Kegiatan atau aktivitas untuk melestarikan. Mediculture : Tehnis budidaya tanaman obat. Off season : berbuah diluar musim, di luar masa berbuah normal. Olericulture : Tehnik budidaya tanaman sayuran. On season : Berbuah pada saat musim. Partenokarpi : Terbentuk buah tanpa penyerbukan atau polinasi. Penyerbukan : Proses bersatnya polen dengan kepala putik. Perkebunan rakyat : Usaha tani yang dilakukan oleh rakyat atau petani. Pistil : alat kelamin bunga betina. Plasma nutfah : Semua jenis tanaman yang ubuh di suatu kawasan, disebut juga sumber daya hayati. Pomology : Tehnik budidaya tanaman buah-buahan. Ringging/girding : Pencincinan, pembuangan kulit kayu dengan menguliti atau membuat pelukaan melingkar pada pangkal pohon atau cabang. Soil drenching : Aplikasi larutan tertentu dengan menyiramkannya lewat tanah disekitar pangkal batang. Stamen : Alat kelamin jantan. Strangulasi : Melilit batang atau cabang dengan kawat.

Tehnik Memproduksi Mangga di luar musim
Di Thailand, buah mangga segar tersedia sepanjang tahun. Hal ini bisa terjadi karena penerapan metode atau tehnologi modern produksi buah di luar musim melalui pengaturan waktu induksi bunga disertai dengan pengendalian hama penayakit, pembrongsongan buah, serta pemberian air dan pupuk secara seimbang. Sebelumnya musim panen mangga secara alami hanyabterjadi pada bulan April sampai Mei. Dengan tehnologi produksi diluar musim, mangga dapat di produksi dari januari sampai desember. Perkebunan mangga secara komersial talah banyak dibuka di indonesia, kendala yang dihadapi adalah sifat dari tanaman mangga yang berbuah secara musiman sehingga kontinuitasnya sulit, pada saat panen raya stok buah menumpuk sehingga harga jatuh. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan tehnik budidaya yang dapat mengatur saat pembungaan agar ketersediaan buah dapat terjamin sepanjang tahun. Tehinik produksi mangga diluar musim yang paling umum digunakan adalah dengan pemberian paklobutrazol diikuti dengan penyemprotan zat pemecah dormansi. Pada

perkebunan mangga skala komersil, ada kecenderungan bahwa pemakaian paklobutrazol sudah merupakan bagian dari kegiatan yang bersifat rutin. Induksi pembungaan mangga terjadi 2-3 bulan setelah perlakuan paklobutrazol, tergantung varietasnya. Perlakuan paklobutrazol pada mangga gadung 21 menyebabkan pembungaan terjadi 2 bulan lebih cepat dari musim normalnya. Waktu masak buah semakin cepat dan kekerasan buah semakin berkurang dengan semakin meningkatnya takaran paklobutrazol. Hasil per poho meningkat 59 %, tetapi ukuran buah rata-rata menurun. Kandungan vitamin C meningkat tetapi pH dan total padatan terlarut tidak berubah (Purnomo dan Prahardini, 1989). Dari berbagai hasil penelitian yang telah dilakukan, dosis optimum paklobutrazol untuk menginduksi pembungaan mangga dan menekan pertumbuhan vegetatif tanpa merusak pohon berkisar antara 2,5-4g bahan aktif/pohon atau setara dengan 10-16 cc cultar/ liter air / pohon. Perlakuan yang melebihi 20 cc cultar/liter air / pohon menyebabkan munculnya perubahan bentuk daun yang menandakan bahwa pada konsentrasi diatas 20 cc/ liter air /pohon terjadi efek negatif dari paklobutrazol. Hasil penelitian Poerwanto, et al., (1997) menunjukkan bahwa paklobutrazol dengan dosis 0,05 g/pohon sudah cukup efektif untuk meninduksi pembungaan mangga gadung 21, tetapi diikuti dengan aplikasi zat pemecah dormansi 1 bulan setelah penyemprotan paklobutrazol. Paklobutrazol menyebabkan bungan terinduksi, tetapi di lain pihak juga menyebabkan munculnya calon tunas generatif. Pemberian zat pemecah dormansi yang diaplikasikan pada mata tunas setelah aplikasi paklobutrazol akan memecahkan tunas dorman dan memaksa tunastunas tersebutmuncul. Dari beberapa jens dan konsentrasi zat pemecah dormansi yang digunakan, yang efektif memecahkan tunas bunga dorman yang telah terinduksi oleh pemberian paklobutrazol adalah benzil adenin 0,10 g/liter, etefon 0,40 g/l dan KNO3 40 g/l. Karena harga benzil adenin mahal dan sulit larut dalam air, untuk tujuan komersil disarankan untuk menggunkan etefon. Benzil adenin adalah zat pengatur tumbuh kelompok sitokinin yang berfungsi meningkatkan laju pembelahan sel meristem pada mata tunas sehingga memacu perkembangan dan pertumbuhan tunas tersebut. Sedangkan etefon mampu memecah dormansi mata tunas generatif karena etilen yang dilepaskan dari hasil reaksinya dalam tanaman meningkatkan permeabilitas membran sel sehingga mempermudah gerakan molekul ke sitoplasma. Kemampuan KNO3 dalam memecah dormansi mungkin berhubungan dengan peran ion k+ dalam meningkatkan translokasi sukrosa, peningkatan laju transportasi sukrosa pada apoplas dari sel mesofil daun, peningkatan laju transportasi sukrosa pada aoplas dari sel mesofil daun, peningkatan pemuatan pada floem maupun pengaruh langsung dari peningkatan tekanan osmosis ( Marschner,1986). Paklobutrazol dapat diaplikasikannpada tanaman melalui 2 cara, yaitu: dengan penyemprotan melalui daun (folliar spray) dan melalui tanah ( soil drenchhing ). Aplikasi lewat tanah lebih efektif dibanding lewat daun dan pengaruhnya dapat bertahan lebih lama. Aplikasi lewat daun akan efektif jika dilakukan beberapa kali penyemprotan dengan dosis rendah. Untuk mangga, pemberian melalui tanah dengan cara disiramkan disekitar pangkal pohon dilakukan pada tanaman yangsehat dan pucuknya tidak sedang menumbuhkan pucuk atau daun muda. Sedangkan zat pemecah dormansi disemprotkan melalui daun secara merata keseluruh permukaan tanaman satu bulan setelah pemberian paklobutrazol ( Subhadrabhandu dan Tongumpai, 1990). Selain paklobutrazol, ZPT yang lain adalah cyclosel. tetapi paklobutraol lebih efekif dibandingkan cyclosel dengan efek yang bisa bertahan sampai lebih dari satu tahun setelah perlakuan sementara retardan lain hanya mampu bertahan satu musim. Efek residu paklobutrazol pada mangga dilaporkan oleh Subhadrabandhu dan tongumpai (1990), bahwa mangga yang pada tahun pertama disemprot dengan 2 grm/ pohon kemudian pada tahun berikutnya disemprot lagi dengan 0,5;1,0;dan 1,5 gram/ pohon,dosis 0,5 dan 1,0 gram / pohon disamping menginduksi pembungaan juga meningkatkan prosentase tunas yang berbunga, sedangkan dosis 1,5 gram /pohon justru menghambat pembungaan mangga. Data tersebut

menunjukan bahwa pemberian paklobutrazol secara terus-menerus akan berdampak buruk bagi pertumbuhan dan pembungaan berikutnya. Kalium nitrat (KON3) juga dilaporkan dapat digunakan untuk merangsang produksi buah diluar musim. Keberhasilan penggunaan kalium nitrat dalam merangsang produksi buah diluar musim telah dilaporkan oleh efendi (1994) pada mangga. Di philipina penggunaan kalium nitrat pada mangga telah dilakukan sejak tahun 1979. penemuan tersebut memungkinkan Philipina memproduksi buah mangga kultivar pico,carabao dan pahutan sepanjang tahun dan menghilangkan biennial bearing (Bondad,1990). Zat pengatur tumbuh NAA (Naftalena Acetic Acid) juga dilaporkan dapat mempercepat pembungaan mangga. Pemberian dosis 25,50,dan 75 ppm dapat mempercepat tanaman berbungan 1-2 minggu dibandingkan dengan yang tidak diberi NAA. Frekwensi penyemprotan 1 minggu sekali selama 12 minggu.

Semua Produk dapat Diperoleh di PT SIGMA GLOBAL HITECHS

081318942462

Tehnik Memproduksi Rambutan di Luar Musim
Rambutan (Nephelium loppacum L.) merupakan buah asli indonesia dengan sifat berbuah musiman. Produksi buah rambutan diluar musim masih belum banyak dilakukan dalam skala usaha komersial. Pohon rambutan secara alami akan sulit untuk bisa berbuah dua kali dalam satu tahun, karena induksi pembungaan tergantung dari faktor lingkungan tumbuh. Pada saat memasuki fase rproduktif, rambutan mampu menghasilkan banyak bunga. Bungan biasanya muncul pada trubus yang terbentuk pada tahun tersebut.malai bunga memiliki banyak percabangan. Dalam setiap cabang muncul banyak bunga. Bunga tumbuh pada ujung-ujung ranting yang sering kali ditemukan tumbuh bersamaan dengan munculnya daun baru. Pohon rambutan umur 7 tahun mampu menghasilkan 600 – 800 malai bunga per pohon, dalam satu malai terdapat sekitar 17-28 anak malai. Setiap malai mengandung 500-1700 individu bunga (liferdi,2000) Induksi pembungaan rambutan dapat dilakukan dengan berbagai cara di antaranya dengan kerat batang dan stres air. Penerapan metode tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca lokal/mikroklimat dan status cadangan makanan dalam tanaman, karena kedua hal tersebut berpengaruh kuat terhadap pembungaan dan pembuahan rambutan. Di Indonesia rambutan hanya berbuah satu kali setahun, dengan musim panen berkisar antara Desember – februari. Pada daerah dengan pola musimhujan yang kontinyu, waktu pembungaan tidak teratur. Intensitas pembungaannya berhubungan erat dengan tingkat dan lamanya tanaman mengalami stres air. Pohon rambutan yang diberi perlakukan kerat batang dan diikuti dengan perlakuan penyemprotan KNO3 sebanyak 40 g/liter mampu berbunga 30 hari lebih awal di banding pohon kontrol. Keberhasilan perlakuan ini sangat dipengaruhi kapan dilakukannya kerat batang tersebut. Kerat batang yang dilakukan pada saat pohon memasuku fase lambat tumbuh, yaitu trubus aktif telah telewati, akan dapat menginduksi bunga, sedangkan kerat batang yang dilakukan pada pohon yang trubusnya masih aktif (tunas vegetatif masih muda) waktu berbunganya berdeda tidak nyata dengan pohon kontrol (Poerwanto dan Irdiastuti,2003). Perlakuan kerat batang juga dapat menginduksi pembungaan off season pada masa on year dan pembungaan rambutan off season pada masa off year. Perlakuan kerat batang hanya boleh

dilakukan pada pohon yang sehat secara fisik. Pengeatan dua kali dalam dua tahun berturutturut dapat membahayakan kelangsungan hidup pohon karena jaringan tapis didaerah bekas luka sulit terbentuk. Selain perlakuan kerat batang stres air dapat digunakan untuk merangsang pembungaan karena ramputan memberikan respon positif terhadap periode kekereingan singkat yang diperlukan untuk pembentukan bunga. Intensitas pembungaannya berhubungan dengan tingkat dan lamanya tanaman mengalami stres air. Munculnya bunga berhubungan erat dengan adanya musim kering yang diikuti turunnya hujan sekali sekali. Hasil penelitian Liferdi (2000) menunjukan bahwa rambutan memerlukan periode kering sebelum berbunga. Setelah mengalami musim kering selama satu bulan, bunga rambutan muncul sekitar dua minggu setelah mendapat pengairan atau setelah hujan turun kembali. Paklobutrazol dapat menginduksi rambutan berbunga pada mas off year. Rambutan yang diberi perlakuan paklobutrazol 1,5 g/pohon dan 3 g / pohon nyata meningkatkan jumlah tunas generatif dan meningkatkan kandungan klorofil daun yang menyokong buah dibandingkan dengan pohon kontrol. Dosis optimum untuk menginduksi bunga adalah 1,5 g / pohon karena dosis tersebut tidak menyebebkan tunas dorman, sedangkan dosis 3 g / pohon menyebabkan tunas dorman sehingga perlu diikuti dengan pemberian zat pemecah dormansi, KNO3.

Semua Produk Memproduksi Buah Rambutan diluar musim dapat di beli di PT SIGMA GLOBAL HITECHS 081318942462

Budidaya Singkong
Singkong atau ubi kayu secara intensif berpotensi mempunyai nilai ekonomi yang besar. Hasil olahan singkong sekarang ini sangat variatif dari bahan pangan sampai dengan bioetanol sebagai pengganti bahan bakar bensin. Pemupukan dilakukan dengan sistem pemupukan berimbang antara N, P, K dengan dosis Urea 180 kg, TSP 150 kg dan KCL 100 kg. Pupuk tersebut diberikan pada saat tanam dengan dosis N : P : K = 1/3 : 1 : 1/3 (pemupukan dasar) dan pada saat tanaman berumur 23 bulan yaitu sisanya dengan dosis N : P : K = 2/3 : 0 : 2/3. Sistem Budidaya Singkong dengan POC SIGMAFOLLIAR : Sistem pemupukan menggunakan POC SIGMAFOLLIAR, mengurangi kebutuhan pupuk anorganik/kimia sampai dengan 50%. Adapun salah satu cara pemupukan ubi kayu/singkong adalah sebagai berikut : 3 hari sebelum tanam berikan larutan POC SIGMAFOLLIAR (1 liter POC SIGMAFOLLIAR dilarutkan dalam 500 liter) pada lahan secara merata. 10 hari setelah tanam berikan campuran pupuk Urea sebanyak 30 kg, TSP 75kg dan KCL 17 kg pada lahan 1 ha. Asumsi bila 1 ha lahan terdapat 5000 pohon berarti 1 pohon diberikan campuran pupuk 25gram. Pemberian POC SIGMAFOLLIAR selanjutnya setiap 1 bulan sekali sebanyak 1 liter per ha sampai tanaman umur 4 bulan.

-

-

Pemberian pupuk anorganik/kimia lanjutan pada umur tanaman 60-90 hari berupa campuran pupuk urea sebanyak 60kg dan KCL sebanyak 33kg. Asumsi bila 1 ha lahan terdapat 5000 pohon berarti 1 pohon diberikan campuran pupuk ± 18gram.

Tabel Analisa budidaya singkong konvensional vs POC SIGMAFOLLIAR Jenis Pupuk Dosis Pupuk (Per Hektar/Sekali Tanam) Cara Konvensional / Petani Jml Harga /kg Total (kg) 10000 Rp 350.00 Rp 3,500,000.00 180 Rp 1,400.00 Rp 252,000.00 150 Rp 1,700.00 Rp 255,000.00 100 Rp 6,000.00 Rp 600,000.00 Jumlah Rp 4,607,00.00 Dosis Pupuk (Per Hektar/Sekali Tanam) Jml (kg) 5000 90 75 50 6 Harga /kg Total

Pupuk Kandang Urea/ZA TSP/SP-36 KCL

Jenis Pupuk

Pupuk Kandang Urea/ZA TSP/SP-36 KCL POC SIGMAFOLLIAR

Rp 350.00 Rp 1,750,000.00 Rp 1,400.00 Rp 126,000.00 Rp 1,700.00 Rp 127,500.00 Rp 6,000.00 Rp 300,000.00 Rp 80,000.00 Rp 480,000.00 Jumlah Rp 2,783,500.00

Diposkan oleh PT. SIGMA GLOBAL HITECH di 13:42:00 Kirimkan Ini lewat Email

CARA MEMBUAT LARUTAN HORMON
Cara mudah membuat larutan Hormon Langkahnya: 1. timbang Hormon sebanyak 1 gram. 2. masukkan kedalam tabung reaksi. 3. tambahkan alkohol 70% atau 90% sebanyak 20-50 ml. 4. aduk atau larutkan sampai larut sempurna.

5. tuang di tempat yang lebih besar, tambahkan air sampai volumenya mencapai 1 liter. ( jika anda menggunakan alkohol 20 ml air yang ditambahkan 980 ml). 6. Jika kemurnian hormon 90 % anda sudah mendapatkan larutan Hormon dengan konsentrasi 900 ppm 7. sekarang anda tinggal menggunakan larutan tersebut sesuai kebutuhan anda. untuk mendapatkan larutan Hormon dengan konsentrasi 90 ppm anda tinggal mengambil dari larutan induk yang sudah dibuat tadi sebanyak 10 ml dan ditambahkan air sampai volume 1 liter anda sudah mendapatkan larutan Hormon yang siap diaplikasikan.

CARA MEMBUAT LARUTAN GIBERELIN
Cara untuk melarutkan Giberelin ini sangat mudah anda tinggal menyediakan tabung reaksi, tempat dari bahan gelas atau plastik sebaiknya ukuran agak besar minimal 1,5 liter. Langkahnya: 1. timbang giberelin kadar 90 % sebanyak 1 gram. 2. masukkan kedalam tabung reaksi. 3. tambahkan alkohol 70% atau 90% sebanyak 20-50 ml. 4. aduk atau larutkan sampai larut sempurna. 5. tuang di tempat yang lebih besar, tambahkan air sampai volumenya mencapai 1 liter. ( jika anda menggunakan alhokol 20 ml air yang ditambahkan 980 ml). 6. anda sudah mendapatkan larutan giberelin dengan konsentrasi 900 ppm 7. sekarang anda tinggal menggunakan larutan tersebut sesuai kebutuhan anda. untuk mendapatkan larutan giberelin dengan konsentrasi 90 ppm anda tinggal mengambil dari larutan induk yang sudah dibuat tadi sebanyak 10 ml dan ditambahkan air sampai volume 10 liter anda sudah mendapatkan larutan giberelin yang siap diaplikasikan.

GIBERELIN
Giberelin atau asam giberelat (GA), merupakan hormon perangsang pertumbuhan tanaman yang diperoleh dari Gibberella fujikuroi atau Fusarium moniliforme, aplikasi untuk memicu munculnya bunga dan pembungaan yang serempak (Misalnya GA3 yang termasuk hormon perangsang pertumbuhan golongan gas). Beberapa fungsi giberelin pada tumbuhan sebagai berikut : 1. 2. 3. Mematahkan dormansi atau hambatan pertumbuhan tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh normal (tidak kerdil) dengan cara mempercepat proses pembelahan sel.. Meningkatkan pembungaan. Memacu proses perkecambahan biji. Salah satu efek giberelin adalah mendorong terjadinya sintesis enzim dalam biji seperti amilase, protease dan lipase dimana enzim tersebut akan merombak dinding sel endosperm biji dan menghidrolisis pati dan protein yang akan memberikan energi bagi perkembangan embrio diantaranya adalah radikula yang akan mendobrak endosperm, kulit biji atau kulit buah yang membatasi pertumbuhan/perkecambahan biji sehingga biji berkecambah Berperan pada pemanjangan sel.

4.

Peran giberelin pada pemanjangan sel melalui :

A. Peningkatan kadar auxin : giberelin akan memacu pembentukan enzim yang melunakkan dinding sel terutama enzim proteolitik yang akan melepaskan amino triptofan (prekusor/pembentuk auksin) sehingga kadar auxin meningkat. giberelin merangsang pembentukkan polihidroksi asam sinamat yaitu senyawa yang menghambat kerja dari enzim IAA oksidase dimana enzim ini merupakan enzim perusak Auxin. B. giberelin merangsang terbentuknya enzim a-amilase dimana enzim ini akanmenghidrolisis pati sehingga kadar gula dalam sel akan naik yang akan menyebabkan air lebih banyak lgi masuk ke sel sehingga sel memanjang. 5. Berperan pada proses partenokarpi. pada beberapa kasus pembentukan buah dapat terjadi tanpa adanya fertilisasi atau pembuahan, proses ini dinamai partenokarpi. =

Harga GA3 90 %

-

- Rp. 10.000 / gram - Rp. 700.000/ 100 gram - Rp. 5.750.000 / kg GA3 75 % = - Rp. 7.500/ gram Rp. 600.000/ 100 gram Rp. 4.750.000/ kg GA3 50 % = - Rp. 6.000 / gram Rp. 500.000/100 gram - Rp. 3.750.000/ kg Pemesanan Hubungi: KRISTYAN ADINATA 081318942462

Bikin Pupuk Cair (Cepat & hemat)
ternyata sangat mudah sekali membuat pupuk cair atau stater kompos yang disebut MOL (Mikro Organisme Lokal). MOL ini bisa untuk pupuk organik maupun sebagai stater kompos. Bahan & alat 1 buah botol kemasan aqua (1 liter) 5 sendok makan gula pasir 1 ons tape singkong air Cara membuatnya Masukkan tape dan gula ke dalam botol aqua. Isi dengan air hampir penuh. Kocok-kocok. Diamkan sampai 4-5 hari. Selama didiamkan biarkan botol dalam keadaan terbuka sehingga micro organisme bisa bernapas. Setiap hari kocok botol tersebut. Tanda-tanda MOL sudah jadi akan mengeluarkan bau wangi alkhohol dan kalau dikocok dalam keadaan tertutup, begitu dibuka akan mengeluarkan "ledakan". MOL yang bener juga akan jadi penghantar listrik yang baik. Silakan mencoba.....

PENGOLAHAN SAMPAH MENJADI PUPUK CAIR EM ORGANIK
Bahan baku pupuk cair yang sangat bagus yaitu bahan organic basah atau bahan organic yang mempunyai kandungan air tinggi seperti sisa buah-buah dan sisa sayuran (wortel, labu, sawi,selada, kulit jeruk, pisang, durian, kol). Semakin besar kandungan selulosa dari bahan organic (C/N ratio) maka proses penguraian oleh bakteri akan semakin lama. Selain mudah terdekomposisi, bahan ini kaya nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Sebelum membuat pupul cair EM organic yang berbahan baku sampah organic, perlu dibuatkan dahulu pembuatan molase dan pembiakan bakteri EM. 1. PEMBUATAN MOLASE Molase, yaitu: sari tetes tebu (biang gula). Atau pembuatan Molase bisa juga dengan melarutkan gula merah/putih ke dalam air bersih (tanpa kaporit) dengan perbandingan 1:1 2. PEMBIAKAN BAKTERI EM Cairan bakteri EM dapat dikembangbiakkan sendiri dengan cara: Bahan: • Cairan EM ………………………….. 1 liter • Bekatul ……………………………… 3 kg • Molase (dalam keadaan cai)...………. ¼ liter • Terasi ……………………………….. ¼ kg • Air Bersih (tanpa kaporit/tawas) ……. 5 liter Peralatan: • Ember • Pengaduk kayu • Panci pemasak air • Saringan (kain/kawat kasa) • Botol Cara pembuatan: 1) Panaskan 5 lt air air sampai mendidih 2) Masukkan bekatul, molase dan terasi, aduk hingga rata 3) Dinginkan adonan tsb hingga suhu kamar 4) Setelah dingin masukkan cairan EM, aduk hingga rata. 5) Tutup rapat selama 2 hari, jangan dibuka-buka. 6) Pada hari ke-3 dan selanjutnya, penutup jangan terlalu rapat, Aduk-aduk setia harinya selama ± 10 menit 7) Setelah 1 minggu, bakteri sudah dapat diambil dan disaring, masukkan ke dalam botol 8) Simpan botol di ruang sejuk dan tidak terkena sinar matahari langsung. Cairan EM siap digunakan untuk membuat pupuk organic Agar bakteri mendapat kebutuhan oksigen, tutup botol jangan terlalu rapat atau biarkan terbuka.

3. PEMBUATAN PUPUK EM ORGANIK Proses pembuatan pupuk cair organic berlangsung secara anaerob atau secara fermentasi tanpa bantuan sinar matahari. Bahan: • Sampah organic basah, Rajang dan padatkan ……… ½ karung uk.25 kg • Larutan media: 1. Cairan molase ……………………………………… 500 ml 2. Air bekas cucian beras (cucian pertama ……………. 1 liter 3. Air kelapa yang sudah tua ………………………….. 1 liter 4. Air bersih …………………………………………… 7 liter Peralatan: • Ember tertutup uk. 20 lt • Karung serat sintetis • Tali Cara pembuatan: 1) Masukkan sampah organic ke dalam karung dan tekan sampai padat, lalu ikat. 2) masukkan larutan media ke dalam ember. Masukkan karung (1) ke dalam ember hingga terendam seluruhnya. 3) Berikan beban diatas karung tersebut agar tidak mengapung. Tutup rapat hingga udara tidak dapat masuk. 4) Simpan selama 7-10 hari di tempat teduh dan terhindar dari sinar matahari langsung. 5) Setelah proses fermentasi selesai, angkat karung (1) dan pisahkan dari larutan media. Pupul cair organic sudah dapat digunakan: • Untuk pemupukkan daun dengan penyemprotan 100:1 (500 ml air : 5 ml pupuk cair organic). • Untuk pemupukkan akar dengan menyiramnya 500:1 (5 lt air : 10 ml pupuk cair organic). Untuk mengurangi bau khas pupuk cair organic dapat dicampur dengan persan air jeruk citrun atau daun pandan

Pembuatan EM-4 (Effective Micro-Organism 4)
Posted by: fortuneowner on: August 3, 2010 • In: coba baca baca aja • Comment! Cara bikin Effective Micro-organisms 4 (EM-4) Sediakan ember yang mempunyai tutup. Campurkan 5 liter air pencuci beras + 5 liter air kelapa ( cari di tukang jual kelapa di pasar )= cincangan sayur, klu bisa dtambah kulit jeruk + 1 butur ragi + 1 kg gula jawa yang sudah dicairkan. Aduh jadi satu dalam ember, tutup dan buka serta kacau . Perlakuan buka, aduk dan tutup kembali ini dilakukan 4 x selang waktu 4 haru=i, pas di hari ke 17 em-4 dah jadi. Sayuran bisa jadi kompos. Ok Dengan cara memperbanyak dari benih bakteri yang ada:

Cara Pembiakan Bakteri Untuk menghemat biaya, bibit bakteri EM4 yang dibeli di toko atau koperasi Saprotan dapat dikembangbiakkan sendiri, sehingga kebutuhan pupuk organik untuk luas lahan yang ada dapat dipenuhi. Adapun prosedur pembiakan bakteri EM4 adalah sebagai berikut: Bahan dan Komposisi: 1 liter bakteri 3 kg bekatul (minimal) ¼ kg gula merah/gula pasir/tetes tebu (pilih salah satu) ¼ kg terasi 5 liter air Alat dan Sarana: Ember Pengaduk Panci pemasak air Botol penyimpan Saringan (dari kain atau kawat kasa) Cara Pembiakan: Panaskan 5 liter air sampai mendidih. Masukkan terasi, bekatul dan tetes tebu/gula (jika memakai gula merah harus dihancurkan dulu), lalu aduk hingga rata. Setelah campuran rata, dinginkan sampai betul-betul dingin! (karena kalau tidak betul-betul dingin, adonan justru dapat membunuh bakteri yang akan dibiakkan). Masukkan bakteri dan aduk sampai rata. Kemudian ditutup rapat selama 2 hari. Pada hari ketiga dan selanjutnya tutup jangan terlalu rapat dan diaduk setiap hari kurang lebih 10 menit. Setelah 3-4 hari bakteri sudah dapat diambil dengan disaring, kemudian disimpan dalam botol yang terbuka atau ditutup jangan terlalu rapat (agar bakteri tetap mendapatkan oksigend dari udara). Selanjutnya, botol-botol bakteri tersebut siap digunakan untuk membuat kompos, pupuk cair maupun pupuk hijau dengan komposisi campuran seperti yang akan diuraikan dibawah ini. Catatan: Ampas hasil saringan dapat untuk membiakkan lagi dengan menyiapkan air kurang lebih 1 liter dan menambahkan air matang dingin dan gula saja.

APLIKASI EM-4 DI BIDANG PERTANIAN
Tanaman Padi, Palawija, Sayuran, bunga dan tanaman setahun lainnya. Dosis dan Perlakuan Sebagai pupuk dasar, gunakan BOKASHI sebanyak 3-5 ton per Ha. Untuk penyemprotan gunakan EM-4 sebanyak 3-10 ml per liter air dilakukan setiap satu minggu sekali, disemprotkan secara merata ke tanah dan tubuh tanaman.

APLIKASI EM-4 DI BIDANG PETERNAKAN
Manfaat : 1. Mengurangi polusi bau khususnya pada kandang ternak dan lingkungan sekitarnya. 2. Mengurangi stres pada ternak

3. Menyehatkan ternak 4. Menyeimbangkan mikroorganisme di dalam perut ternak 5. Meningkatkan nafsu makan ternak 6. Menekan penyakit pada ternak 7. Meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi ternak Cara Pemakaian : • Sebagai air minum ternak, Larutkan 1 cc EM-4 per satu liter air minum setiap hari. • Larutkan 1 cc EM-4 per satu liter air, kemudian disemprotkan ke dalam pakan ternak. Untuk mencegah bau kotoran dan kandang ternak, larutkan EM-4 dan Molas ke dalam air dengan perbandingan 1:1:100 kemudian disimpan dalam tempat yang tertutup rapat selama 1-2 hari kemudian dipergunakan untuk menyemprot kandang dan pada badan ternak dengan dosis 10 cc larutan dalamn 1 liter air. APLIKASI EM-4 DI BIDANG PERIKANAN Manfaat : 1. Memperbaiki mutu air tambak. 2. Menguraikan bahan-bahan sisa makanan, kotoran udang / ikan menjadi senyawa organik yang bermanfaat. 3. Menekan serangan mikroorganisme patogen. 4. Meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi tambak. 5. Menekan hama dan penyakit Cara Pemakaian : • Pada saat pengolahan dasar tambak diberikan Bokashi sebanyak 5 ton/ha, selanjutnya disiram larutan EM-4 sebanyak 4 liter/ha dan dibiarkan selama 2 minggu. • Pada saat masa pertumbuhan diberikan EM-4 sebanyak 16 liter per hektar. Interval waktu pemberian EM-4 adalah 1 bulan sekali atau tergantung pada kondisi air tambak

Pupuk Cair 2 – EM4
Banyak cara untuk membuat "mikroba efektif" untuk mempercepat proses pembuatan kompos. Salah satu di antaranya adalah yang kami tulis di bawah ini. Pengalaman teman-teman kami membuat EM4 dengan isi usus binatang telah menimbulkan bau yang kurang sedap sehingga kami memilih jalan pembuatan yang sifatnya vegetarian, dari bahan-bahan tanaman yang mudah dan cepat busuk. Penemuan yang sangat berharga untuk pertanian mandiri ini, -- awalnya adalah orang Jepang, bernama Teruo Higa pada tahun 1970 -- kini telah banyak diterapkan oleh para petani modern. Tapi masih banyak pula yang belum melakukannya karena lebih percaya pada pupuk kimia yang dirasa "lebih praktis" tapi sesungguhnya tidak sehat baik untuk tanah, tanaman maupun untuk kita manusia. Bahan-bahan • Sampah sayur, terutama kacang-kacangan • Kulit buah-buahan (papaya, pisang, rambutan, mangga, dsb.) • Bekatul, secukupnya • Gula merah, sedikit saja • Air beras, secukupnya

Cara membuat: 1. Sampah sayur, kulit buah-buahan dan bekatul dicampurkan. Tempatkan misalnya di dalam sebuah ember atau penampung yang lain. Tutup. Sambil kadang-kadang diaduk, biarkan selama satu minggu sampai membusuk sehingga menjadi EM1. EM singkatan dari Effective Microorganism, yaitu jasad renik "ganas" yang akan mempercepat proses pengomposan. Ditengarai dengan angka 1 karena inilah cairan mikroorganisme yang terbentuk setelah mengalami dekomposisi selama satu minggu. 2. Cairan EM1 dicampur dengan sampah sayur dan kulit buah-buahan. Kemudian didiamkan lagi selama satu minggu. Cairan baru yang terbentuk disebut dengan EM2. 3. Cairan EM2 dicampurkan dengan bekatul, gula merah dan air beras. Dan didiamkan lagi selama satu minggu sehingga menjadi EM3. 4. Diamkan lagi selama satu minggu tanpa menambahkan apa-apa. Cairan itu telah menjadi EM4.

KASIAT KETAN HITAM
TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Bila dikonsumsi teratur, ketan hitam kaya manfaat. Sst katanya, bisa membuat awet muda lho. Ketan hitam membantu pembentukkan sel darah merah sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh terhadap beberapa penyakit. Apa sebabnya? Karena ternyata ketan hitam memiliki kandungan zat besi hingga 15,52 ppm. Kandungan itu berkhasiat untuk tubuh. Khasiatnya memperbaiki kerusakan sel hati (hepatitis dan chirosis), mencegah gangguan fungsi ginjal, mencegah kanker dan tumor, memperlambat penuaan, berfungsi sebagai antioksidan, membersihkan kolesterol dalam darah, dan mencegah anemia. Nah, mengetahui khasiat itu, Tim Pastry Chef Aston Primera Pasteur Bandung pun mengolah ketan hitam menjadi penganan yang terbilang unik. Sus ketan hitam salah satu kreasinya. Bahan dasar tepung ketan hitam yang digunakan membuat black profiterole memiliki warna dominan hitam. Tentu saja berbeda dengan kue sus yang kebanyakan berwarna putih kecokelatan. Di balik kelezatan black profiterole yang ditawarkan hotel bintang empat di Jalan Dr Djunjunan, Kota Bandung ini, memang sekaligus menawarkan beragam manfaat. Kalau soal rasa jangan ditanya. Yuk nikmati dan rasakan manfaatnya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->