P. 1
Faktor Kimia Yang Mempengaruhi Kualitas Air Untuk Budidaya Perairan - Copy

Faktor Kimia Yang Mempengaruhi Kualitas Air Untuk Budidaya Perairan - Copy

|Views: 1,970|Likes:
Published by Ricky Mendr'fa

More info:

Published by: Ricky Mendr'fa on Jul 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/06/2013

pdf

text

original

FAKTOR KIMIA YANG MEMPENGARUHI KUALITAS AIR UNTUK BUDIDAYA PERAIRAN

DISUSUN O L E H

RICKY RINALDO MENDROFA NIM: 09310009

FAKULTAS PERIKANAN BUDIDAYA PERAIRAN UNIVERSITAS DHARMAWANGSA 2011

0

BAB I PENDAHULUAN

Budidaya perairan (akuakultur) merupakan bentuk pemeliharaan dan penangkaran berbagai macam hewan atau tumbuhan perairan yang menggunakan air sebagai komponen pokoknya. Kegiatan-kegiatan yang umum termasuk di dalamnya adalah budidaya ikan, budidaya udang, budidaya tiram, serat budidaya rumput laut (alga). Dengan batasan di atas, sebenarnya cakupan budidaya perairan sangat luas namun penguasaan teknologi membatasi komoditi tertentu yang dapat diterapkan.Budidaya perairan adalah bentuk perikanan budidaya, untuk

dipertentangkan dengan perikanan tangkap. Salah satu pendukung budidaya perairan adalah kualitas air. Faktor ± faktor kualitas air terdiri dari 3 faktor yaitu faktor kimia, fisika, dan biologi. Salah satu faktor pendukung budidaya perairan adalah kualitas air. Kualitas air terdiri dari 3 faktor, yaitu: faktor fisika , kimia dan faktor biologi.

1

BAB II PEMBAHASAN

Faktor kimia yang mempengaruhi budidaya perairan adalah salinitas, pH, 02 terlarut (DO), C02 terlarut, alkalinitas, kesadahan air (Ca dan Mg), Nitrat (NO2), Phospat (P), Amoniak, BOD, COD, Besi (Fe), Cadmium (Cd), Merkuri (Hg), Cobalt (Co), Tembaga (Cu), Timbal (Pb).

2.1

Salinitas Salinitas mengambarkan kadar garam ± garam terlarut dalam air.

Brotowidjoyo (1995) menyatakan bahwa salinitas dapat berbeda ± beda tergantung evaporasi dan transparansi, perbedaan salinitas akan mempengaruhi densitas air, tekanan osmosis didalamnya dan kelarutan gas d alam air. Salinitas air laut umumnya tinggi (35.000 mg/1), sedangkan salinitas air payau dapat lebih rendah dari air laut cukup air tawar dan dapat jauh lebih tinggi karena proses penguapan (Cholik dkk., 1989). Salinitas menimbulkan tekanan-tekanan osmotik. Pada umumnya

kandungan garam dalam sel-sel biota laut cenderung mendekati kandungan garam dalam kebanyakan air laut. Kalau sel-sel itu berada di lingkungan dengan salinitas lain maka suatu mekanisme osmoregulasi diperlukan untuk menjaga keseimbangan kepekatan antara sel dan lingkungannya. Pada kebanyakan binatang estuarin penurunan salinitas permulaan biasanya dibarengi dengan penurunan salinitas dalam sel, suatu mekanisme osmoregulasi baru terjadi setelah ada penurunan salinitas yang nyata. Cara-cara osmoregulasi meliputi perlindungan luar dari perairan sekitarnya, perlindungan membran sel, mekanisme ekskresi untuk membuang kelebihan air tawar dan sel dari badan. Kemampuan untuk menghadapi fluktuasi yang berasal

2

dari salinitas terdapat pada kelompok-kelompok bintang beraneka ragam dari protozoa sampai ikan. Biota estuarina biasanya mempunyai toleransi terhadap variasi salinitas yang besar (eury-halin). Contohnya Chanos chanos (bandeng), Mugil (belanak) dan Tilapia (mujair). Salinitas yang tak sesuai dapat menggagalkan pembiakan dan menghambat pertumbuhan. Kerang hijau, kerang darah dan tiram adalah jenis-jenis kerang yang hidup di daerah estuaria.

2.2

Derajat Keasaman (pH) Derajat keasaman (pH) sangat berperan penting dalam kehidupan ikan.

Derajat keasaman yang cocok untuk semua jenis ikan berkisar antara 6,7 ± 8,6. Ada jenis ikan yang hidup pada daerah rawa yang mempunyai ketahanan untuk tetap bertahan hidup pada kisaran pH yang sangat rendah maupun tinggi yaitu 4 ± 9, misalnya ikan sepat siam (Sutanto, 1994). Derajat keasaman (pH) merupakan logaritma negatif dari konsentrasi ionion hidrogen dalam satuan volume air. Skala pH yang digunakan berkisar dari 1 sampai 14. Air bersifat netral pada pH 7, bersifat asam pada skala kurang dari 7 dan bersifat basa pada skala lebih dari 7. Air alami mempunyai pH antara 5,5 sampai dengan 10 (sebagian besar berada pada kisaran 7 sampai dengan 9). Di luar kisaran ini, jarang ditemui ikan yang masih bisa bertahan (Templeton, 1984). Derajat Keasaman (pH) mempunyai pengaruh yang besar terhadap tumbuhtumbuhan dan hewan-hewan air, sehingga sering dipergunakan sebagai petunjuk untuk menyatakan baik buruknya keadaan air sebagai lingkungan hidup, walaupun baik buruknya suatu perairan masih tergantung pula pada faktor-faktor yang lain. Untuk menciptakan suasana yang bagus dalam suatu perairan, pH air harus sudah agak mantap atau tidak terlalu bergoncang, karena ikan hanya tahan terhadap pergoncangan pH antara 5 sampai 8. Jika keadaan ini terpenuhi, ikan-ikan dapat hidup dengan normal. Walaupun pergoncangan pH suatu perairan kecil tetapi kalau pergoncangan terjadi dalam waktu yang sangat singkat (mendadak), ikan tetap tidak dapat hidup dengan normal, bahkan kadang-kadang ikan akan mati. Seperti

3

ikan karper dan gurami, mereka tidak dapat hidup terus bila pH turun dari 7,2 menjadi 4,6 secara mendadak. Tetapi kelihatannya tidak berlaku pada ikan rawa seperti sepat siam gabus, karena mereka tahan terhadap pergoncangan pH antara 5 sampai 9 (Templeton, 1984).

2.3

O2 Terlarut (DO)

Oksigen merupakan salah satu faktor pembatas dalam budidaya ikan. Oksigen terlarut itu sendiri adalah jumlah oksigen yang terkandung dalam atmosfer bumi, yang larut pada suatu perairan. Oksigen terlarut dianggap sangat penting karena keberadaannya sangat menentukan kelangsungan hidup suatu organisme dan berkaitan dengan parameter lainnya. Seperti halnya dengan gas lain, oksigen tidaklah bereaksi dengan air tetapi molekul ini berada dalam sudut lancip yang dibentuk oleh hidrogen-hidrogen pada molekul-molekul air sehingga mudah larut dan tidak mudah lepas (Boyd, 1988). Kandungan oksigen terlarut dalam suatu perairan merupakan parameter pengubah kualitas air yang paling kritis dalam budidaya ikan, sebab dapat mempengaruhi kehidupan ikan yang dipelihara. Aktivitas organisme yang paling banyak menggunakan oksigen adalah proses pembusukan. Proses ini dapat berlangsung karena adanya aktivitas bakteri pembusuk yang menguraikan bahan bahan organik seperti sisa makanan, kotoran ikan dan bahan organik lainnya (Eddy dan Evi, 1991).

Sebagaimana diketahui bahwa oksigen berperan sebagai pengoksidasi dan pereduksi bahan kimia beracun menjadi senyawa lain yang lebih sederhana dan tidak beracun. Disamping itu, oksigen juga sangat dibutuhkan oleh

mikroorganisme untuk pernapasan. Organisme tertentu, seperti mikroorganisme, sangat berperan dalam menguraikan senyawa kimia beracun rnenjadi senyawa lain yang Iebih sederhana dan tidak beracun. Karena peranannya yang penting ini, air

4

buangan industri dan limbah sebelum dibuang ke lingkungan umum terlebih dahulu diperkaya kadar oksigennya.

Pada beberapa jenis ikan mampu bertahan hidup di perairan dengan konsentrasi oksigen 2 ppm, tetapi konsentrasi minimum pada sebagian spesies ikan untuk hidup dengan baik pada oksigen pada 5 ppm. Pada perairan dengan konsentrasi dibawah 4 ppm ikan masih mampu bertahan hidup, akan tetapi nafsu makannya rendah bahkan tidak ada sama sekali, sehingga pertumbuhanya menjadi terlambat kemudian ikan akan mati dan mengalami stress bila konsentrasi oksigen mencapai titik nol (Susanto, 1986). Menurut Templeton (1984), air mengandung sejumlah oksigen yang tertentu. Biasanya oksigen masuk ke dalam air melalui : a. Difusi langsung dari udara,

b. Aliran-aliran air yang masuk, c. Hujan yang jatuh,

d. Proses asimilasi tumbuh-tumbuhan hijau. Keberadaan oksigen merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi kehidupan di perairan selain keberadaan karbondioksida dimana tingkat kelarutannya dalam air berbeda dan jumlah terlarutnya dipengaruhi oleh temperatur. Perlu diingat juga bahwa jenis ikan yang berbeda membutuhkan tingkat kelarutan oksigen yang berbeda pula (Templeton, 1984).

2.4

CO2 Terlarut Gas karbondioksida yang disebut asam arang merupakan hasil buangan

oleh semua makhluk hidup melalui proses pernapasan. Karbondioksida merupakan salah satu komponen udara yang dihasilkan oleh proses respirasi maupun penguraian bahan organik. Pengaruh CO2 terhadap ikan sangat dipengaruhi oleh konsentrasi O2 terlarut diperairan tersebut. Jika konsentrasi O2 berada pada tingkat

5

maksimal, pengaruh gas CO2 dapat diabaikan. Karbondioksida memegang peranan penting sebagai unsur makanan bagi semua tumbuh-tumbuhan hijau yang mampu melakukan proses asimilasi. Sumber utama karbondioksida dari proses

perombakan bahan-bahan organik oleh jasad-jasad renik dan proses pernapasan hewan serta tumbuh-tumbuhan dalam air pada malam hari. Kandungan karbondioksida dalam air untuk pemeliharaan ikan di air tenang dibutuhkan dalam jumlah yang sangat banyak, melebihi daripada oksigen. Kandungan

karbondioksida maksimum dalam air yang tepat adalah 25 ppm (Sutanto, 1994). Karbondioksida memegang peranan yang penting sekali sebagai unsur makanan untuk semua tumbuhan-tumbuhan hijau yang mampu berasimilasi, baik tumbuh-tumbuhan renik yang merupakan phytoplankton dalam air maupun tumbuh-tumbuhan tingkat tinggi. Sumber utama dari gas CO2 adalah proses perombakan bahan-bahan organik oleh jasad-jasad renik dan proses pernapasan hewan serta tumbuh-tumbuhan dalam air pada malam hari (Templeton, 1984). Bagi tumbuh-tumbuhan berdaun hijau, jumlah CO2 harus tersedia dalam jumlah yang cukup banyak. Tetapi jika jumlah tersebut melampaui batas, akibatnya kehidupan hewan-hewan air akan mengalami saat kritis. Karena selain mempengaruhi pH, kadar CO2 yang terlampau tinggi dapat meracuni hewan air secara langsung. Naiknya kadar karbondioksida selalu diiringi oleh turunnya kadar oksigen yang diperlukan bagi pernapasan hewan-hewan air. Dengan demikian walaupun CO2 belum mencapai kadar tinggi yang mematikan, hewan-hewan air mati karena kekurangan oksigen. Kadar karbondioksida yang dikehendaki oleh ikan adalah tidak lebih dari 12 ppm dengan kandungan yang terendah 2 ppm. Mengemukakan bahwa kadar CO2 sebesar 50 sampai 100 ppm akan membunuh ikan dalam jangka waktu yang relatif lama. Jadi perlu kita menentukan apakah suatu perairan mengan dung CO2 yang cukup untuk tumbuh-tumbuhan air, tetapi masih belum berbahaya bagi kehidupan ikan. Kehidupan ikan adalah maksimal 15 mg/l (Brown, 1980).

6

2.5

Alkalinitas Alkalinitas adalah pengukuran kapasitas air untuk menetralkan asam ±

asam lemah, meskipun asam lemah atau basah lemah juga dapat sebagai penyebabnya. Penyusun alkalinitas perairan adalah anion bikarbonat (HCO3- ), karbonat (CO3-), dan hidroksida (OH-). Garam dari asam lemah lain seperti : borat (H2 BO3-), silikat (HsiO3-), fosfat (HPO42-/ H2PO4-), sulfida dan amonia juga memberikan kontribusi terhadap alkalinitas dalam jumlah yang sedikit. Meskipun banyak komponen penyebab alkalinitas perairan, penyebab utama dari alkalinitas tersebut adalah hidroksida, karbonat, dan bikarbonat. Pada keadaan tertentu (siang hari) adanya ganggang dan lumut dalam air dapat menyebabkan turunnya kadar karbondioksida dan bikarbonat. Dalam keadaan seperti ini kadar karbonat dan hidroksida naik, dan menyebabkan pH larutan naik.

2.6

Kesadahan Air (Ca dan Mg) Menurut Kordi (1997), kesadahan adalah banyaknya garam-garam mineral

yang larut yang kationnya bervalensi dua, dimana kation tersebut pada umumnya terdiri dari Ca dan Mg dengan anion CO-2 dan HCO3- dinyatakan dengan Mg/L CaCO3. Kordi (1997) menjelaskan kembali bahwa kalsium (Ca) di perairan berada dalam bentuk karbonat dan bikarbonat yaitu merupakan senyawa yang umumnya terdapat, bahkan sering melimpah dalam suatu perairan. Garam -garam karbonat dan bikarbonat tersebut merupakan komponen penyangga essensial di perairan yang mengganggu kadar pH dan CO2. Dengan demikian maka Ca yang terkandung didalam perairan sebagai petunjuk kesuburan perairan. Sedangkan Magnesium (Mg) biasanya terdapat dalam larutan sebagai karbonat dan sifat sifatnya menyerupai bikarbonat. Satu perbedaan terdapat antara keduanya yaitu MgCO2

7

sehingga jika CO2 diambil dari bikarbonat (misal dengan fotosintesis), maka MgCO3 tidak mudah mengendap. Jika perairan yang kadar kalsiumnya rendah, maka untuk meningkatkan kadar Ca dan Mg perlu dilakukan pengapuran. Konsentrasi total dari ion logam yang bervalensi dua terutama Ca dan Mg yang dinyatakan dalam mg/l setara CaCO3 menunjukkan tingkat kesadahan air. Total alkalinitas dan kesadahan air umumnya sama besarnya. Namun pada beberapa perairan, total alkalinitas mungkin lebih besar dari kesadahan atau sebaliknya. Tingkat total kesadahan dan total alkalinitas air yang diperlukan untuk budidaya ikan umumnya terletak pada deret 20 - 300 mg/l. Bila total alkalinitas dan total kesadahan terlalu rendah dapat ditingkatkan melalui penambahan kapur. Bila total kesadahan dan total alkalinitas lebih tinggi dari yang diperlukan maka belum ada cara yang praktis untuk usaha menurunkannya (Cholik.et.al, 1986). Menurut Templeton (1984) air hujan yang melalui udara mengabsorbsi karbondioksida dan jumlahnya bisa meningkat jika melalui tanah terutama pada daerah berkapur untuk kemudian akan bersifat asam saat terbentuk asam karbonat dan siap bercampur dengan kalsium yang terkandung dalam tanah atau bebatuan. Kesadahan air pada prinsipnya merupakan kadar kandungan kalsium bikarbonat (CaCO3) yang terlarut dalam air. Kandungan kurang dari 20 mg/l merupakan tingkat yang masih rendah sedangkan tingkat yang paling tinggi adalah jika kandungannya melebihi 300 mg/l dimana kesadahan ini dapat menyebabkan toksisitas melalui ion-ion logam tertentu bagi ikan. Menurut Templeton (1984), kesadahan pada dasarnya menggambarkan kandungan Ca, Mg dan ion-ion logam polivalen lainnya seperti Al, Fe, Mn,Sr, Zn, dan H yang terlarut dalam air. Kation-kation tersebut terutama akan berkaitan dengan anion bikarbonat, karbohidrat dan bila ada dengan sulfat. Tetapi karena hanya Ca dan Mg yang biasa terdapat dalam peairan alami dalam jumlah yang ralatif besar, sedangkan ion-ion logam lainnya ada dalam jumlah yang sedikit (dapat diabaikan). Maka biasanya kesadahan dapat dianggap hanya

menggambarkan kandungan kalsium dan magnesium yang terlarut dalam air. Klasifikasi nilai kesadahan menurut Sawyer dan Mc Carty (1967) dalam Boyd (1979) tersaji pada tabel 1 berikut ini. Tabel 1. Klasifikasi kesadahan

8

Kesadahan permanen adalah kesadahan yang disebabkan oleh garam -garam Ca dan Mg-non karbonat (CaCl2 dan MgCl3) dan garam±garam dari asam-asam Kesadahan 0-75 ppm 75-150 ppm 150-300 ppm >300 ppm Klasifikasi Rendah (soft) Agak sadah (moderately hard) Sadah (hard) Sangat sadah (very hard)

anorganik CaSO4. Kesadahan total meliputi kesadahan permanen dan kesadahan sementara untuk satuan kesadahan dinyatakan dalam ppm atau Mg/l CaCO3 (Templeton, 1984).

2.7

Nitrat Pemeriksaan kandungan nitrat sebagai kandungan hara perlu dilakukan

karena parameter tersebut termasuk parameter yang menentukan tingkat kesuburan perairan. Bila kadarnya terlalu tinggi bisa menyebabkan perairan menjadi blooming dari salah satu jenis fitoplankton yang mengeluarkan toksin (Wibisono, 2005). Muchtar (1980) dalam Simanjuntak (1995) menambahkan bahwa nitrat merupakan salah satu unsur penting untuk sintesa protein tumbuh-tumbuhan akan tetapi pada konsentrasi tinggi dapat menstimulasi pertumbuhan ganggang. Nitrat merupakan salah satu senyawa penting untuk sintesa protein tumbuh -tumbuhan dan hewan, akan tetapi nitrat pada konsentrasi yang tinggi dapat menstimulasi pertumbuhan ganggang yang tidak terbatas sehingga air akan mengalami kekurangan oksigen terlarut yang menyebabkan kematian organisme air (Alaerts

9

dan Santika, 1984). Kadar nitrat yang optimum bagi pertumbuhan plankton adalah 0,9 ± 3,5 mg/l dan kandungan nitrat yang kurang dari 0,114 mg/l dan lebih besar dari 4,5 mg/l akan mejadi faktor pembatas (Wardoyo, 1978).

2.8

Phospat Phospat merupakan unsur esensial perairan yang terdapat dalam bentuk

senyawa phospat organik dan anorganik. Ortophospat (PO4) adalah contoh senyawa phospat anorganik sedangkan senyawa phospat organik terdapat dalam tubuh organisme. Phospat sangat berguna untuk pertumbuhan organisme dan merupakan faktor yang menentukan produktifitas badan air. Phospat berada dalam sedimen dan lumpur air bersama kehidupan biologis yang berada di atas air. Phospat dapat dijadikan sebagai parameter untuk mendeteksi pencemaran air (Michael, 1994). Kadar phospat yang optimum bagi pertumbuhan plankton adalah 0,09 ± 1,80 mg/liter dan merupakan factor pembatas apabila nilainya dibawah 0,02 mg/liter (Mackentum, 1975 dalam Haryani, 1989).

2.9

Amoniak (NH 3 ) Amonia adalah senyawa kimia dengan rumus NH3. Biasanya senyawa ini

didapati berupa gas dengan bau tajam yang khas (disebut bau amonia). Walaupun amonia memiliki sumbangan penting bagi keberadaan nutrisi di suatu perairan, amonia sendiri adalah senyawa kaustik dan dapat merusak kesehatan perairan.

10

Amonia biasanya berasal dari sisa metabolisme dikeluarkan oleh koi, ikan mas dan ikan kolam lainnya. Tidak mungkin untuk sepenuhnya menghapus amonia di dalam air karena siklus dimana ikan feed dan mengeluarkannya limbah. Amonia dihasilkan dari protein yang mengandung rantai asam amino, asam amino mengandung nitrogen ± senyawa kimia berbahaya bagi ikan. Amonia dikatakan untuk hadir dalam makanan ikan dan limbah ikan. Pemberian pakan yang berlebiahan pada ikan dan filtrasi biologis yang tidak memadai dapat memperburuk masalah amoniak dalam tambak. Ada dua jenis di kolam: amonia, yang berbahaya dan amonium, yang kurang beracun. Amonium biasanya mengkonversi menjadi amonia dan ion hidrogen dan sebaliknya. Ketika ini terjadi, pH air kolam dan perubahan suhu keseimbangan kolam. Konsentrasi Amoniak dalam kondisi pH yang stabil masih bisa melampiaskan malapetaka di kolam Anda, terutama jika suhu air tinggi. Taman kolam dengan tingkat pH 9, terutama mereka dengan volume besar kolam ganggang hijau menyebabkan, alkalinitas kekurangan. Akumulasi ganggang di kolam juga memicu fluktuasi tingkat pH kolam. Ini adalah tempat sterilisasi UV mengambil di untuk memerangi tingkat amonia berlebih dari kolam Anda. Para Nitrosomonas dan bakteri menguntungkan Nitrorobacter bertanggung jawab atas kerusakan amonia menjadi nitrat umumnya dikenal sebagai proses nitrifikasi. Kolam filter biologis meniru aktivitas nitrifikasi, sehingga mengurangi tingkat amonia. Untuk membuat siklus nitrifikasi sukses, harus ada cukup oksigen dalam kolam. Biasanya kolam taman tidak mengandung oksigen melimpah itulah sebabnya dianjurkan untuk menggunakan air terjun cascading atau pompa kolam di taman Anda kolam untuk aerasi maksimal. Berikut adalah dua persamaan tentang bagaimana dan Nitrobacter bakteri Nitrosomonas mengubah amoniak menjadi nitrit dan nitrat. Bakteri Nitrosomonas: 55NH4 + + 76O2 + 109HCO3 - = C5H7O2N + 54NO2 - + 57H2O + 104H2CO3

11

Nitrobacter bakteri: 400NO2- + NH4 + + 4H2CO3 + HCO3- + 195O2 = C5H7O2N + 3H2O + 400NO3 Cara lain untuk mengatasi masalah amonia membatasi makanan yang diberikan kepada ikan. Seperti apa yang telah dikatakan berulang kali, makanan ikan merupakan sumber utama amoniak, sehingga mengurangi kuantitas makanan ikan akhirnya dapat membantu mengatur tingkat amonia di kolam. Bisa juag dengan cara pembuatan teknik aerasi dasaran dimana airdasar kolam dapat terkuras.

2.10

Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD)

Kebutuhan oksigen biologi (BOD) didefinisikan sebagai banyaknya oksigen yang diperlukan oleh organisme pada saat pemecahan bahan organik, pada kondisi aerobik. Pemecahan bahan organik diartikan bahwa bahan organik ini digunakan oleh organisme sebagai bahan makanan dan energinya dip eroleh dari proses oksidasi (PESCOD,1973).

Parameter BOD, secara umum banyak dipakai untuk menentukan tingkat pencemaran air buangan. Penentuan BOD sangat penting untuk menelusuri aliran pencemaran dari tingkat hulu ke muara. Sesungguhnya penentuan BOD merupakan suatu prosedur bioassay yang menyangkut pengukuran banyaknya oksigen yang digunakan oleh organisme selama organisme tersebut menguraikan bahan organik yang ada dalam suatu perairan, pada kondisi yang harnpir sama dengan kondisi yang ada di alam. Selama pemeriksaan BOD, contoh yang diperiksa harus bebas dari udara luar untuk mencegah kontaminasi dari oksigen yang ada di udara bebas. Konsentrasi air buangan/sampel tersebut juga harus berada pada suatu tingkat pencemaran tertentu, hal ini untuk menjaga supaya oksigen terlarut selalu ada selama pemeriksaan. Hal ini penting diperhatikan mengingat kelarutan oksigen dalam air terbatas dan hanya berkisar CARTY, 1978). 9 ppm pads suhu 20°C (SAWYER & MC

12

2.11

COD

Chemical Oxygen Demand adalah parameter kimia yang menyatakan jumlah total oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi semua bahan organik pada suatu ekosistem perairan menjadi karbondioksida dan air. Merupakan ukuran akan banyaknya zat-zat organik yang terdapat dalam suatu perairan.Zat-zat organik yang terdapat dalam air laut berasal dari alam atau buangan domestik, industri dan pertanian. ada yang mudah diuraikan dan ada yang sukar diuraikan oleh mikroorganisme umumnya bersifat toksik, sehingga membahayakan kehidupan organisme perairan.

2.12

Kandungan Chromium Pada Perairan

Dari hasil analisa kadungan Chromium pada perairan tidak terdeteksi sedangkan hasil analisa pada sedimen sebagai berikut: Pada stasiun1 diperoleh hasil kandungan Cr rata rata =1,4916 ppm, stasiun 2 =1,4632 ppm dan stasiun 3 =1,2556 ppm. Logam Chromium mempunyai penyebaran yang sangat luas di alam. Pada badan perairan Chromium dapat masuk melalui 2 cara yaitu secara alamiah dan non alamiah. Masuknya Chromium secara alamiah dapat terjadi karena beberapa faktor fisika antara lain erosi. Secara non alamiah Chromium masuk pada suatu lingkungan perairan terutama merupakan efek sampingan dari suatu aktivitas yang dilakukan manusia dari kegiatan pabrik seperti elktroplating, penyamaan kulit, pabrik tekstil, cat dan buangan limbah rumah tangga (Nanik, 1998 dan 1999 ). Berdasarkan Kriteria kuaIitas air dari Menteri Lingkungan Hidup, kadar maksimum dari Chromium pada perairan Golongan A, B dan C nilainya adaIah 0,050 ppm (P.P. R.I. No: 82 tahun 2001). Sedangkan menurut baku mutu air laut

13

untuk biota laut kandungan Chromium pada perairan laut maksimum 0.005 ppm (Kepmen LH, 2004). Atas dasar kriteria tersebut maka untuk kandungan Chromium pada perairan masih dibawah ambang batas (tidak terdeteksi). Hal tersebut diduga karena pergerakan air laut yang dinamis yang dipengaruhi oleh beberapa factor fisika seperti angin, arus, gelombang dan pasang surut sehingga terjadi pengenceran yang terus menerus yang mengakibatkan rendahnya kandungan Chromium pada daerah perairan estuari ( tidak terdeteksi). Selain hal tersebut juga dipengaruhi oleh faktor fisik kimia seperti antara lain temperatur, kedalaman, salinitas, pH dan DO. Adapun pengukuran faktor fisik kimia lingkungan perairan sebagai faktor penunjang.

14

Kesimpulan

y

Oksigen sangat dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan dan proses metabolisme, karena berperan dalam proses oksidasi den reduksi bahan kimia menjadi senyawa yang lebih sederhana sebagai nutrien yang sangat dibutuhkan organisme perairan. Sumber utama oksigen diperairan berasal dari proses difusi udara bebas dan hasil proses fotosintesis.

y

Untuk mengetahui kualitas suatu perairan, parameter oksigen terlarut (DO) dan kebutuhan oksigen biokimia (BOD) memegang peranan penting. Prinsip penentuannya bisa dilakukan dengan cara titrasi iodometri atau langsung dengan alat DO meter.

y

Suatu perairan yang tingkat pencemarannya rendah dan bisa dikatagorikan sebagai perairan yang baik, maka kadar oksigen terlarutnya (DO) > 5 ppm dan kadar oksigen biokimianya (BOD) berkisar 0 - 10 ppm.

y

Derajat Keasaman (pH) mempunyai pengaruh yang besar terhadap tumbuhtumbuhan dan hewan-hewan air, sehingga sering dipergunakan sebagai petunjuk untuk menyatakan baik buruknya keadaan air sebagai lingkungan hidup. Derajat keasaman yang cocok untuk semua jenis ikan berkisar antara 6,7 ± 8,6.

y

Kadar karbondioksida yang dikehendaki oleh ikan adalah tidak lebih dari 12 ppm dengan kandungan yang terendah 2 ppm. Mengemukakan bahwa kadar CO2 sebesar 50 sampai 100 ppm akan membunuh ikan dalam jangka waktu yang relatif lama.

y

Salinitas menimbulkan tekanan-tekanan osmotik, sehingga terdapat biota estuarina yang biasanya mempunyai toleransi terhadap variasi salinitas yang besar (eury-halin).

y

Berdasarkan hasil pengukuran untuk parameter kimia diperoleh konsentrasi Nitrat dan Phospat di perairan Laut Bungkutoko, yaitu untuk nitrat sebesar 0,359 mg/L dan Phospat sebesar 0,057 mg/L, yang artinya perairan tersebut merupakan oligotrof.

15

y

Para Nitrosomonas dan bakteri menguntungkan Nitrorobacter bertanggung jawab atas kerusakan amonia menjadi nitrat umumnya dikenal sebagai proses nitrifikasi.

y

Dari hasil pengukuran, salinitas air laut umumnya tinggi (35.000 mg/1), sedangkan salinitas air payau dapat lebih rendah dari air laut cukup air tawar dan dapat jauh lebih tinggi karena proses penguapan.

y

Berdasarkan Kriteria kuaIitas air dari Menteri Lingkungan Hidup, kadar maksimum dari Chromium pada perairan Golongan A, B dan C nilainya adaIah 0,050 ppm. Sedangkan menurut baku mutu air laut untuk biota laut kandungan Chromium pada perairan laut maksimum 0.005 ppm.

y

Kadar nitrat yang optimum bagi pertumbuhan plankton adalah 0,9 ± 3,5 mg/l dan kandungan nitrat yang kurang dari 0,114 mg/l dan lebih besar dari 4,5 mg/l akan mejadi faktor pembatas.

16

DAFTAR PUSTAKA

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air bagi Pengelola Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Penerbit Kanusius : Yogyakarta Effendi, H., 2000. Telaahan Kualitas Air. IPB Press. Bogor. Nitisupardjo Mustofa 1998. Pencemaran Hg, Cd dan Pb Pada ikan Belanak (Mugil sp), Air dan Sedimen di Perairan Pantai Pelabuhan Tanjung Emas dan Muara Sungai Babon Kotanadya Dati II Semarang Jawa Tengah. Program Pasca Sarjana, Universitas Gajag Mada. Yogyakarta. 126 hlm. Palar, H. 1994. Pencemaran & Toksikologi Logam berat. PT. Rineka Cipta. Jakarta. 152 hlm.

ANONIMOUS. 2004. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. No. 5 1 Tahun 2004. Tentang : Baku Mutu Air Laut. 2004. 11 hal. SALMIN. 2000. Kadar Oksigen Terlarut di Perairan Sungai Dadap, Goba, Muara Karang dan Teluk Banten. Dalam : Foraminifera Sebagai Bioindikator Pencemaran, Hasil Studi di Perairan Estuarin Sungai Dadap, Tangerang (Djoko P. Praseno, Ricky Rositasari dan S. Hadi Riyono, eds.) P3O - LIPI hal 42 ± 46

SWINGLE, H.S. 1968. Standardization of ChemicalnAnalysis for Water and Pond Muds. F.A.O. Fish, Rep. 44, 4 , 379 - 406 pp.

WARDOYO, S.T.H. 1978. Kriteria Kualitas Air Untuk Keperluan Pertanian dan Perikanan. Dalam : Prosiding Seminar Pengendalian Pencemaran Air. (eds Dirjen Pengairan Dep. PU.), hal 293-300.

17

http://sin9gih.wordpress.com/ .Diakses pada Jumat, 1 April 2011 Sary, 2006. Bahan Kuliah Manajemen Kualitas Air. Politehnik vedca. Cianjur

www. Nn. Elly_k55588800@ yahoo.com. Diakses pada Sabtu, 2 April 2011

www.nprihantini@hotmail.com

www. R. Eko Prihartono.blogspot@yahoo.com. Diakses pada Sabtu, 2 April 2011.

www.airminumisiulang.com/image-product/img75.JPG. Diakses pada Sabtu,2 April 2011
http://www.problogindo.com/2011/03/parameter-kimia-fisika-air/. Diakses pada Jumat, 1 April 2011 pukul 10.30.

http://ubaidillah-sevenmission.blogspot.com/2010/05/parameter-kimia.html Diakses pada 31 maret 2011

.

18

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->