7.

Menentukan Alokasi Waktu Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam. Di dalam Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah telah ditetapkan alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran di SD/MI. Alokasi waktu tersebut dapat dilihat dalam struktur kurikulum SD/MI yang tercantum dalam Lampiran Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 seperti tertera dalam Tabel berikut ini.

1) alokasi waktu satu jam pembelajaran tatap muka selama 35 menit; 2) jumlah jam pembelajaran per minggu untuk kelas I²III; 29²32 jam; 3) jumlah jam pembelajaran per minggu untuk kelas IV²VI 34 jam; dan 4) jumlah minggu efektif per tahun adalah 34²38 minggu. Penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur maksimal 40% dari alokasi waktu tiap mata pelajaran. Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh siswa yang dirancang oleh guru untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh guru. Misalnya: Pemberian tugas dari guru kepada siswa untuk mengerjakan Lembar Kerja

dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah.Siswa (LKS). Waktu penyelesaiannya diatur sendiri oleh siswa. Sedangkan pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Perlu dijelaskan bahwa komponen muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah. bakat. guru. bukan secara tidak kuantitatif seperti pada mata pelajaran. Satuan pendidikan dapat menyelenggarakan satu mata pelajaran muatan lokal setiap semester. Muatan lokal merupakan mata pelajaran. sehingga dimungkinkan dalam satu tahun satuan pendidikan dapat menyelenggarakan dua mata pelajaran muatan lokal. Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh siswa yang dirancang oleh guru untuk mencap standar ai kompetensi. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. Misalnya: Pemberian tugas dari guru kepada siswa untuk membaca dan mengerjakan topik tertentu dari berbagai sumber belajar yang bisa dipilih secara bebas dan dikumpulkan sesuai dengan kemampuan/kecepatan siswa. termasuk keunggulan daerah. Substansi muatan lokal dan pembelajaran terpadu ditentukan oleh satuan pendidikan. Penilaian kegiatan pengembangan diri dilakukan secara kualitatif. yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. . atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untukmengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. Kegiatan pengembangan diri dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. Jawaban dibuktikan dengan dokumen pemberian tugas mandiri tidak terstruktur. dan sebagainya yang harus ditandatangi orang tua dan dikumpulkan pada pertemuan berikutnya. dan kelompok ilmiah remaja. mengerjakan soal-soal buatan guru. kepemimpinan. belajar dan pengembangan karier peserta didik serta kegiatan kepramukaan. tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan. sehingga satuan pendidikan harus mengembangkan standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk setiap jenis muatan lokal dan pembelajaran terpadu yang diselenggarakan.

id/uploads/juknisSD.ban-sm. Jakarta : Badan Sandar Nasional Pendidikan.or.pdf . http://www.DAFTAR PUSTAKA BSNP. ( 2006). Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah.