Pernah, sahabat Abu Dzar Ra, berkata, "Wahai Rasulullah, mengapa paduka tidak mengangkatku sebagai pejabat?

" Mendengar itu Rasulullah menepuk punggungnya seraya bersabda, "Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah, padahal sesungguhnya jabatan itu adalah amanah, yang pada hari kiamat nanti akan memunculkan cela dan penyesalan, kecuali bagi orang yang dapat melaksanakan hak amanat itu dan kewajibannya sebagai pejabat, sebagaimana seharusnya." (HR. Muslim dan Abu Daud) Petunjuk Rasulullah tadi bukan hanya dikemukakan kepada Abu Dzar saja, tetapi juga kepada Abdurrahman bin Samurah, "Wahai Abdurrahman! Janganlah kamu meminta pangkat kepemimpinan. Apabila kamu sampai diberi, maka hal itu akan menjadi suatu beban yang berat bagi dirimu. Lain halnya kalau kamu diberi tanpa meminta, maka hal itu tidak menjadi masalah bagimu". Bahkan kepada Abu Musa dan dua orang keponakannya, Rasulullah kembali menegaskan, "Demi Allah, aku tidak akan memberikan pekerjaan tersebut kepada seorang yang memintanya, apalagi kepada seseorang yang amat loba kepadanya." (HR. Muslim) Kini, Republik kita sedang mengalami krisis kepemimpinan. Imam Al Ghazali dalam risalahnya "Nasihat Bagi Penguasa" mengulas sebab-sebab seorang penguasa yang kehilangan kekuasaanya dengan menyatakan antara lain bahwa penguasa tersebut tertipu oleh kekuasaan, kekuatan dan kesenangannya akan pendapat dan pengetahuannya. Ia melupakan musyawarah, dan menyerahkan kekuasaan kepada para petugas yang tak berpengalaman, melupakan petugas senior dan berpengalaman. Ia telah menyia-nyiakan kesempatan dan peluang yang tepat, tidak banyak berpikir tentang peluang itu, dan tiada pula melaksanakan pada saat yang diperlukan. Ia kurang tanggap pada tempat yang harus siap segera, dan kurang cepat menggunakan kesempatan dan kesibukan untuk memenuhi segala keperluan. Para utusan dan pembantu yang tidak jujur serta berkhianat dalam menyampaikan risalah, hanya karena kepentingan perut mereka, menurut Al Ghazali, juga sangat menimbulkan keburukan. Betapa banyak kerajaan menjadi hancur karena ulah mereka. Islam mengajarkan sabda Rasulullah, "Apabila Allah berkenan untuk munculnya kebaikan bagi seorang pemimpin, maka Allah akan memperun tukkan baginya menteri yang jujur, yang bila ia lupa, maka ia (menteri) akan mengingatkannya, dan bila ia ingat maka menteri pun akan membantunya. Dan apabila Allah berkehendak selain itu, maka Allah akan menyediakan baginya menteri yang jahat, yang bila ia (pemimpin) lupa, maka sang menteri tidak mengingatkannya, dan bila ingat maka sang menteri tidak membantunya". (HR. Abu Daud)

“ Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-qur’an) sebagai kalimat yang benar dan adil. di awali setelah Rasulullah SAW wafat.S Al-An’am:115). Wacana kepemimpinan dalam Islam ini sudah ada dan berkembang. Wacana kepemimpinan yang berkembang ini.”(Q. Sejarah mencatat bahwa kepemimpinan Islam setelah Rasulullah SAW wafat dipimpin oleh Abu Bakar. Sehingga kaum muslim dapat melihat dan menilai apakah proposisi-proposisi yang dikeluarkan merupakan suatu kebenaran atau tidak. Tidaklah mungkin akan ada seorang nabi baru setelah Rasulullah SAW. Kelompok-kelompok Islam ini terkadang satu sama lain saling menyalahkan atau bahkan mengkafirkan. Sehingga Rasulullah SAW adalah pembawa risalah terakhir dan penyempurna dari risalah-risalah sebelumnya. Tak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Kedua kelompok ini terkadang saling berseteru satu sama lain. Kedua kelompok ini memiliki dalil dan argumentasi yang samasama menggunakan sumber Islam yaitu Al-qur’an dan Sunnah. Perihal mengenai kepemimpinan dalam Islam merupakan suatu wacana yang selalu menarik untuk didiskusikan. Sejarah setiap bangsa. Permasalahan kepemimpinan ini membuat Islam menjadi terfragmentasi dalam kelompok-kelompok. Umat Islam terpecah belah akibat perdebatan mengenai kepemimpinan dalam Islam.Syarat Kepemimpinan Dalam Islam Dan jadikanlah kami sebagai imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa” [QS Al-Furqan : 74] Dewasa ini Islam memiliki banyak pandangan atau pendapat mengenai Kepemimpinan. khususnya mengenai proses pemilihan pemimpin dalam Islam dan siapa yang berhak atas kepemimpinan Islam. dan Bani Abbas. tepatnya pasca Rasulullah SAW wafat. sehingga artinya Al-qur’an tidaklah sempurna dan Allah menjadi tidak konsisten terhadap pernyataannya yang ia sebutkan dalam ayat di atas. Dalam firman Allah SWT dikatakan bahwa Al-qur’an itu sudah bersifat final dan tidak dapat diubah-ubah lagi. merupakan himpunan peristiwa menyenangkan . dan juga ada yang sampai mengkafirkan satu sama lain. Ali Bin Abi Thalib. dan pada dasarnya sejarah umat manusia. Masyarakat Islam telah terbagi-bagi kedalam banyak kelompok atau golongan. harusnya mereka dapat berargumentasi secara rasional dan logis. Umar Bin Khattab. Kedua kelompok besar ini memiliki konsep dan pahaman kepemimpinan yang sangat jauh berbeda. Wacana kepemimpinan ini timbul karena sudah tidak ada lagi Rasul atau nabi setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Setelah dinasti Abbasyiah kepemimpinan Islam terpecah pecah ke dalam kesultan-kesultanan kecil. Karena ketika ada seorang nabi baru setelah Rasulullah SAW maka akan ada suatu risalah baru sebagai penyempurna dari risalah sebelumnya. Utsman Bin Affan. diantaranya yang terbesar adalah adanya kelompok Sunni dan Syiah. Muawiyah. Ketika Rasulullah SAW wafat. Pada dasarnya sejarah tak bersih dari peristiwa kelam. Kondisi ini sangatlah tidak sehat bagi perkembangan kaum muslimin. berdasarkan fakta sejarah dalam Islam.

umat manusia berbeda dalam hal keimanan dan kesadaran mereka akan akibat dari perbuatan dosa. maka pastilah ia tahu akan kualitas dari dunia ini yang sering menjebak manusia. Allah menciptakan manusia sedemikian sehingga manusia tidak bebas dari dosa. ”Karena keadilanlah. agar ketika menyampaikan sesuatu pesan maka ia paham betul akan makna yang sesungguhnya dari realitas (cakupan) spiritual tersebut.dan tidak menyenangkan. Kondisi ini juga akan berkonsekuensi pada pengetahuannya yang sesuai dengan realitas dari wujud atau pun suatu maujud. Kemudian seorang pemimpin haruslah juga memiliki sifat adil. Jika derajat keimanan telah mencapai intuitif (pengetahuan yang didapat tanpa melalui proses penalaran) dan pandangan bathin.[14] Saya memahami apa yang dikatakan Muthahhari derajat keimanan telah mencapai intuitif dan pandangan bathin ini adalah sebagai telah merasakan cita rasa realitas spiritual. Proses memahami sejarah tidak boleh berlandaskan suka atau tidak suka. Menurut Murtadha Muthahhari. dsb pada rakyat yang dipimpinnya. Ketika pemimpin memiliki kualitas spiritual yang sama dengan rasul maka pastilah ia terbebas dari segala bentuk dosa. politik. memiliki pengetahuan yang sesuai dengan realitas. Dengan adanya kondisi telah merasakan cita rasa realitas spiritual.” Imam Ali Bin Abi Thalib mendefiniskan keadilan sebagai menempatkan sesuatu pada tempatnya yang layak. . serta harus memiliki sifat adil. tidak terjebak dan menjauhi kenikmatan dunia. maka pastilah Rasulullah SAW dan Imam Ali Bin Abi Thalib beserta keturunannya tadi terbebas dari segala bentuk dosa. Pemimpin setelah Rasul harus memiliki kualitas spiritual yang sama dengan Rasul. Perbedaan yang terjadi pada sejarah berbagai bangsa. maka seluruh langit dan bumi ini ada. Karena pemimpin merupakan patokan atau rujukan umat Islam dalam beribadah setelah Rasul. dan juga harus siap menerima segala konsekuensi yang timbul setelah kita menelaah sejarah tersebut. maka kemungkinan melakukan dosa pada diri yang bersangkutan akan menjadi nol. merupakan pemimpin yang memiliki kualitas spiritual yang sama dengan Rasul. Oleh sebab itu ia haruslah mengetahui cita rasa spritual yang sesuai dengan realitasnya. Misalkan tidak ada diskriminasi dengan memberikan hak ekonomi (berdagang) pada yang beragama Islam. Ia suatu jalan raya yang melayani semua orang dan setiap orang. Pasti begitu. komunitas dan agama terletak pada proporsi peristiwa menyenangkan dan tidak menyenangkan. hanya memiliki peristiwa menyenangkan saja atau tidak menyenangkan saja. terbebas dari segala bentuk dosa. Ketika pemimpin tersebut mengetahui realitas dari seluruh alam. Rasulullah SAW pernah berkata bahwa. Semakin kuat iman dan kesadaran mereka akan akibat dosa. sehingga manusia mampu menghayati persamaan antara orang melakukan dosa dengan melemparkan diri dari puncak gunung atau meminum racun. Keuntungannya bersifat universal dan serba mencakup. Penerapan sifat keadilan oleh seorang pemimpin ini dapat dilihat dari cara ia membagi ruang-ruang ekonomi. budaya. Syarat-syarat Kepemimpinan Dalam Islam Kepemimpinan setelah Rasulullah SAW ini. bukan pada fakta bahwa mereka. semakin kurang mereka untuk berbuat dosa. Keadilan bak hukum umum yang dapat diterapkan kepada manajemen dari semua urusan masyarakat.

Para Nabi diutus untuk menegakkan keadilan. mencapai derajat mujtahid mutlak yang sanggup melakukan istinbath hukum dari sumber-sumbernya. Keempat. pemegang kedaulatan.. menyebutkan bahwa secara terperinci seorang faqih harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : Faqahah. dan bersih dari watak buruk. sedangkan sistem yang tidak bersumber pada kepemimpinan Ilahiyah disebut kepemimpinan Jahiliyah. yakni ketika dia bersembunyi didunia fisik. Jumlah Imam ini ada 12 (dua belas). yang sekarang dalam keadaan gaib. dan mewakilkan kepemimpinannya kepada Nawab al-Imam (wakil Imam). Kafa’ah : memiliki kemampuan untuk memimpin ummat. Kedua. al shalah. matang secara kejiwaan dan ruhani. sampai kedatangannya kembali pada akhir zaman. kepemimpinan manusia yang mewujudkan hakimiah Allah dibumi adalah Nubuwwah. maka ummat Islam sebenarnya memiliki seorang pemimpin. ada 4 dasar falsafi kepemimpinan kelompok dalam Islam (syi’ah). Dimanakah Imam Mahdi tersebut? dan siapakah yang memimpin umat Islam di zaman ini? Untuk menjawab pertanyaan ini. pertama adalah Imam Ali Bin Abi Thalin. maka datanglah zaman Imam. yaitu setelah Ali Ibn Muhammad wafat. pemilik kekuasaan. Akan tetapi sekarang ini. hingga akhir zaman tiba. pemberi hukum. Allah adalah Malik al-Nas. yaitu : Pertama. dan yang terakhir adalah Muhammad ibn Al-Hasan Al Mahdi Al Muntazhar. Ketiga. dan tadayyun. Setelah lewat zaman Nabi. Pada ghaibah kubra inilah kepemimpinan dilanjutkan oleh para faqih. yang mana akhir dari kepemimpinan tersebut adalah Imam Mahdi. Kepemimpinan Islam berdasarkan atas hukum Allah. para faqih diberikan beban menjadi khalifah. ”Seperangkat hukum saja tidak cukup untuk memperbaiki masyarakat. Hanya ada dua pilihan kepemimpinan Allah atau kepemimpinan Thagut. menyelamatkan masyarakat manusia dari penindasan. Setelah zaman Nabi berakhir dengan wafatnya Rasulullah SAW. Supaya hukum dapat menjamin kebahagiaan dan kebaikan manusia. Nabi telah menegakkan pemerintahan Islam dan Imamah keagamaan sekaligus. ’adalah : memperlihatkan ketinggian kepribadian. dan ghaibah kubra. tetapi juga pelaksana qanun itu sendiri. Kemudian dilanjutkan oleh beberapa keturunannya. Nabi tidak saja menyampaikan Al-qanun Al-Ilahi dalam bentuk kitabullah. karena alasan agama. Terkecuali memang dalam berdagang orang tersebut melakukan kecurangan maka ia diberikan hukuman. cerdas. Jalaluddin Rakhmat dalam buku Yamani yang berjudul. Manusia harus dipimpin oleh kepemimpinan Ilahiyah. garis Imamah melanjutkan garis Nubuwwah dalam memimpin ummat.sementara yang beragama kristen tidak diberikan hak ekonomi. yang disebut sebagai Imam akhir zaman. kepemimpinan ummat dilanjutkan oleh para imam yang diwasiatkan oleh Rasulullah SAW dan Ahlul Baitnya. mengetahui ilmu yang berkaitan dengan pengaturan masyarakat. yakni Imam Ali Bin Abi Thalib. diperlukan pelaksana. Dengan demikian jelas bahwa setelah Rasulullah SAW wafat. . Imam Mahdi mengalami dua ghaibah. Sistem hidup yang bersumber pada sistem ini disebut sistem Islam. Allah adalah hakim mutlak seluruh alam semesta dan segala isinya. Hal ini ditunjukkan dengan sifat istiqamah. ini berlaku bagi agama apapun. filsafat Politik Islam.” menurut Khomeini. Oleh karena seorang faqih haruslah orang yang lebih tahu tentang hukum Illahi.

Sebelum akhir zaman tiba. selain persyaratan umum seperti kecerdasan dan kemampuan mengatur (mengorganisasi). .[18] Menurut Khomeini. maka kepemimpinan Islam haruslah di pegang oleh seorang ulama (faqih) yang memenuhi syarat-syarat. Insya Allah. Manusia harus melewati proses-proses pengujian baik secara intelektual maupun spiritual. Seorang fuqaha sebenarnya adalah wujud dari hukum Islam itu sendiri. Dengan ini terlihat bahwa seorang fuqaha itu tidaklah boleh untuk berbuat salah. ada dua syarat mendasar lainnya bagi seorang fuqaha yaitu pengetahuan akan hukum dan keadilan. Tidak sembarang manusia dapat menjadi faqih (ulama). Mudah-mudahan kita selalu mendapatkan bimbingan dan hidayah-Nya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful