P. 1
rangkuman-hukum-pidana

rangkuman-hukum-pidana

|Views: 207|Likes:
Published by Ferry Kurniawan

More info:

Published by: Ferry Kurniawan on Jul 03, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/13/2015

pdf

text

original

RANGKUMAN ASAS-ASAS HUKUM PIDANA DR.

ANDI HAMZAH,SH
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas akhir mata kuliah hukum pidana

Disusun Oleh : Gita Anggraeni C1A.08.0006

FAKULTAS ILMU HUKUM UNIVERSITAS SUBANG

Bab I PENDAHULUAN

A. Pengertian Hukum Pidana Hukum pidana materiel yang berarti isi atau substansi hukum pidana itu.Disini hukum pidana bermakna abstrak atau dalam keadaan diam. Hukum pidana formil atau hukum acara pidana bersifat nyata dan konkrit.Disini kita lihat hukum pidana dalam keadaan bergerak,atau dijalankan atau berada dalam suatu proses.Oleh karena itu disebut juga hukum acara pidana. Van Bemmelen merumuskan sebagai berikut: “Ilmu hukum acara pidana mempelajari peraturan-peraturan yang diciptakan oleh negara,karena adanya dugaan terjadi pelanggaran undang-undang pidana”. Nyatalah bahwa hukum pidana (Materiel) sebagai substansi yang dijalankan dengan kata-kata”karena adanya dugaan terjadi pelanggaran undang-undang pidana. Moeljatno,seorang ahli sarjana hukum pidana indonesia bahwa hukum pidana Formil adalah hukumpidana sebagian daripada keseluruhan hukum yang berlaku di suatu negara yang mengadakan dasar-dasar dan aturan-aturan untuk: 1. Mentukan perbuatan-perbuatan mana yang tidak boleh dilarang atau di lakukan dengan tidakdi sertai larangan atau sanksi bagi siapa yang melanggar larangan tersebut. 2. Menetrukan kapan dan dalam hal-hal apa jepada mereka yang telah melanggar larangan-larangan itu dapat di kenakan atau dijatuhkan pidana. 3. Menetukan tersebut. dengan cara bagaimana pengenaan pidana dapat dilaksanakan apabila ada orang yang disangka telah melanggar larangan

. Hukum pidana Formil (Hukum acara pidana) corak hukum publiknya lebih nyata lagi dari pada hukum pidana materil karena yang bertindak menyidik dan menuntut adalah alat negara seperit Polisi atau jaksa jika terjadi pelanggaran hukum pidana. Pembagian Hukum Pidana Umum dan Khusus Hukum pidana dapat di bagi atas hukum pidana di kodefikasikan dan yang tidak di kodefikasikan.orang yang melanggar hukum.yaitu penjatuhan sanksi berupa pidana atau tindakan.yaitu yang tersebar diluar kodifikasikan dalam perundang-undangan Tersendiri.ini adalah syarat mutlak (Condotio sine quanon). Munculah pengertian Hukum publik termasuk hukum pidana yang utama ialah kepentingan umum. Tempat dan Sifat Hukum Pidana Adagium bahasa jerman. Menrut Mackay tentang Asas Pokok pidana adalah:yang dapat dipidadana hanya pertama.sedangkan yang tidak dikodefikasikan.Ist Kein Richter.bukanlah orang yang bertindak jika terjadi pelanggaran hukum tetapi negara melalui alat-alatnyya.adalah jika tidak ada aduan maka tidak ada hakim.B.artinya yang dimuat dalam kitab Undangundang.kedua bahwa perbuatan itu melanggar hukum ancaman pidana yang berupa Ultimum remedium setiap orang yang berpikir sehat akan dapat mengerti hal tersebut tidak berarti bahwa ancaman pidana tidak diadakan dan harus menjaga jangan sampai terjadi obat yang diberikan terlalu jahat dari pada penyakit C.”Wo Kein Klager Ist.

Het Wetboek van Strafrecht voor Inlands en daarmede gelijkgestelde( Stbl.dan 131 Indische Staatsgeling.Dengan Koninklijik Besluit tanggal 12 April 1898 dibentuklah Rancangan KUHP golongan Eropa.Pada tahun 1848 dibentuk lagi Intermaire strafbepalingen. .perlu diganti dan disesuaiakan dengan KUHP baru belanda tersebut.Semula di rencanakan tetap adanya dua KUHP.mulai berlaku 1 januari 1873. Zaman VOC Di daerah Cirebon berlaku papakeum cirebon yang mendapat pengaruh VOC.maka KUHP di negeri belanda harus diberlakukan pula di daerah jajahan seperti Hindia Belanda harus dengan penyusaian pada situasi dan kondisi setempat.Bab II SEJARAH SINGKAT HUKUM PIDANA DI INDONESIA A.1872 Nomor 85).Barulah pada tahun 1866 berlakulah dua KUHP di Indonesia: 1.Berdasarkan asas konkordansi (concrodantie) menurut pasal 75 Regerings Reglement.B tanggal 15 Oktober 1995 dan diundangkan pada september 1915 Nomor 732 lahihrlah Wesboek van strafrecht voor Nederlandch Indie yang baru untuk seluruh golongann penduduk. 2.masing-masing untuk golongan Bumiputera yang baru.1866 Nomor 55) yang berlaku bagi golongan eropa mulai 1 januari 1867. Het Wetboek van Strafrecht voor Europeanen (stbl.Dengan K.Dengan Invoringsverordening berlakulah pada tanggal 1 Januari 1918 WvSI tersebut. B.kemudian dengan Ordonasi tanggal 6 mei 1872 berlaku KUHP untuk golongan Bumiputra dan timur asimg. Zaman Hindia Belanda Setelah berlakunya KUHP baru di negeri Belanda pada tahun 1886 dipikirkanlah oleh pemerintahan belanda yaitu 1866 dan 1872 yang banyak persamaanya dengan Code Penal perancis.

maka hukum acara pidana lebih banyak berubah.karena terjadi unifikasi acara dan susunan pengadilan. Zaman Pendudukan Jepang Dibandingkan dengan hukum pidana materiel. D. .Ini diatur di dalam Osamu Serei Nomor 3 tahun 1942 tanggal 20 sepetember 1942.C. Zaman Kermedekaan Ditentukandi dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 terse3but bahwa hukum pidana yang berlaku sekarang (mulai 1946) pada tanggal 8 Maret 1942 dengan pelbagai perubahan dan penambahan yang diseuakan dengan keadadn Negara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dengan nama Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch Indie di ubah menjadi Wetboek van Stafrecht yang dapat disebut kitab Undang-undanhg Hukum Pidana (KUHP).

3. Mengadakan koerksi terhadap terpidana dan dengan demikian menjadikannya orang yang baik dan berguna. Pengertian Istilah Hukuman Pidana dalam bahasa Belanda segala sering macam disebut sanksi yaitu baik Straf.dengan tersingkirnya pelanggaran hukum dari masyrakat berarti masyrakat itu akan menjadi lebih aman. B.adalah menjera atau mencegah sehingga baik melakukan kejahatan.telah diatur tentang tujuan penjatuhan pidana.adminstratif.Hukuman adalah istilah umumuntuk perdata. disiplin dan pidana. 4. c) d) Restribution adalah pembalasan terhadap pelanggaran karena telah Deterrence.memulihkan keseimbangan dan mendatangkan rasa damai dalam masyrakat. Sedangkan dalam arti sempit pidana diartikan sebagai Hukum pidana. Menyelesaikan konflik yang dityimbulkan oleh tndak pidana. Tujuan Pidana ` Dalam Rancangan KUHP Nasional. Membebaskan rasabersalah padaterpidana (Pasal 5).yaitu: 1. terdakwasebagai individual maupun orang lain yang potensial menjadi . 2.Bab III TEORI-TEORI TENTANG HUKUM PIDANA A. Mencegah dilakukannya tindak pidana menegakan norma hukum demi pengayoman masyrakat. Dalam literatur bahasa inggris tujuan pidana bisa disebutkan sebagai berikut: a) b) Reformation berarti memperbaiki atau merehabitasi penjahat Restraint maksudnya mengasingkan pelanggaran bdari menjadi orang baik dan berguna bagi masyrakat. masyarakat.

tidak ada pidana tanpa ketentua pidana yang mendahuluinya. Interfrestasi Anologi :Menjalankan undang-undangan setelah undang-undang tersebut dijelaskan. :Menjalankan kaidah yang oleh undang-undang tidak dinyatakan dengan tegas. Bab IV RUANG LINGKUP KEKUATAN BERLAKUNYA HUKUM PIDANA A. ASAS LEGALITAS Asas ini tercantum di dalam pasal 1 ayat 1 KUHP di rumuskan di dalam bahasa latin:”Nullum Delictum nulla poena sine legipoenali”yang artinya “Tidak ada delik. Ada kesimpulan dari rumus tersebut: 1) Jika sesuatu perbuatan yang dilarang atau pengabaian sesuatu yang diharuskan dan diancam dengan pidana.melihat pidana yang diojatuhkan kepada terdakwa. 2) Ketentuan tersebut tidak boleh berlaku surut. Penerapan Anologi Utrecht menarik garis pemisah antara imterprestasi eksetensi dan penerapan analogi sebagai berikut: I. Interfrestasi Anologi II.tetapi yang mengandung kesamaan dengan perkara yang disinggung oleh kaidah. . :Menjalankan kaidah tersebut untuk menyelsaikan suatu perkara yang tidak disingung oleh kaidah. :Menjelaskan suatu perkara dengan tidak menjalankan undang-undanag.penjahat akan jera atau takut untuk melakukan kejahatan.tetapi yang mengandung kesamaan dengan perkara yang disinggung kaidah tersebut.maka perbuatan atau pengabdian tersebut harusdtercantum di dalamundang-undang. B.dengan satu kekecualian yang tercantum di dalam pasal 1ayat 2 KUHP.

jika karena itu kepentingan tertentu terutama kepentingan negara dilanggar diluar wilayah kekuasaan itu. Hukum Transitoir (Peralihan) Yang menjadi masalah dalam hal ini. sehingga orang jerman menamakan asas ini .adalahketentuan perundang-undangan yang mana apakah ketentuan hukum pidana saja ataukah ketentuan hukum yang lain. Asas Nasionalitas Pasif atau Asas Perlindungan Asas ini menentukan bahwa hukum pidana suatu negara (juga Indonesia) berlaku terhadap perbuatan-perbuatan yang dilakukan di luar negeri. 7 (drt) tahun 1955 tentang tindak pidana ekonomi. yang berbunyi : “peraturan hukum pidana Indonesia berlaku terhadap tiap-tiap orang yang di dalam nilai Indonesia melakukan delik (straftbaar feit) disini berarti bahwa orang yang melakukan delik itu tidak mesti secara fisik betul-betul berada di Indonesia tetapi deliknya straftbaar feit terjadi di wilayah Indonesia II. Asas Universalitas Jenis kejahatan yang diancam pidana menurut asas ini sangat berbahaya bukan saja dilihat dari kepentingan Indonesia tapi kepentingan dunia secara universal kejahatan ini dipandang perlu dicegah dan diberantas. 4 tahun 1976 tentang kejahatan penerbangan juga oleh pasal 3 undangundang no. Berlakunya Hukum Pidana Menurut Ruang Tempat dan Orang Asas Teritorialitas atau Wilayah Asas wilayah atau teritorialitas ini tercantum didalam pasal 2 KUHP. 2 dan 4 KUHP. Asas ini tercantum di dalam pasal 4 ayat 1. asas personalitas ini diperluas dengan pasal 7 yang disamping mengandung asas nasionalitas aktif (asas personalitas)juga asas nasional pasif (asas perlindungan). perubahan perundang-undangan berarti semua ketentuan hukum material yang secara hukum pidana “Mempengaruhi penilaian perbuatan”. IV. Kemudian asas ini diperluas dengan undang-undang no. D. masih dipermasalahkan oleh para pakar sarjana hukum pidana. I. Demikianlah.Menurut Memorie van Toelichting (Memori penjelasan) WvSN (yang dapat dipakai oleh KUHP).C. III. Asas Personalitas atau Asas Nasional Aktif Inti asas ini tercantum dalam pasal 5 KUHP.

Interprestasi menurut tata bahasa Penafsiran historis Penafsiran sistematis Penafsiran sosiologis atau teleologis B. Bab V INTERPRESTASI UNDANG-UNDANG PIDANA A. Pentingnya Interprestasi Pentingnya interprestasi undang-undang pidana sehingga rumusan delik yang abstrak dapat diterjemahkan ke dalam keadaan yang konkrit penafsiran yang paling sesuai dengan ini adalah penafsiran sosiologis atau sesuai dengan kehidupan masyarakat setempat. pasal 27 UU pokok kekuasaan kehakiman mengatakan. mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. . b. C.welrechtsprinhzip (asas hukum dunia) disini kekuasaan kehakiman menjadi mutlak karena yuridiksi pengadilan tidak tergantung lagi pada tempat terjadinya delik atau nasionalitas atau domisili terdakwa. 2. Jenis-jenis Interprestasi UU Pidana 1. Interprestasi atau Penafsiran gramatika.artinya interprestasi ini didasarkan kepada kata-kata undang-undang sudah jelas. bahwa hakim sebagai penegak hukum dan keadilan wajib menggali. Penemuan Hukum Oleh Hakim Pidana Khusus Indonesia.Misalnya arrest Hoge Raad 27 juni 1898 yang memutuskan agar semua orang melakukan. c. maka harus diterapkan sesuai dengan kata-kata itu walaupun seandainya maksud pembuat undang-undang lain. Dalam hukum perdata dikenal beberapa jenis interprestasi yaitu : a. d. Interprestasi Dogmatis ini didasarkan kepada secara umum suatu aturan pidana.

interfrestasi inilah yang mestinya sering dipeergunakan di Indonesia agar unifikasi hukum pidana dapat semua golongan etnik yang beraneka ragam. 5. yang berdasarkan ilmu hukum pidana. kepada harmonni suatu peratura dengan peraturan yang lebih tinggi. 12.3. 9. 4. hukum perdata. 6.yang berdasarkan dampak tradisi yang kadang-kadang jelas. Interprestasi histories (Historia legis) Penafsiran ini didasarkan kepada maksud pembuat UU ketika diciptakan.gas. 11.yaitu penafsiran luas hal ini tujuan UU yaitu jika melampaui kata-kata UU.data komputer. waktu. Interfrestasi ini Interfrestasi Kreatif (Creatieve interpretatie) didasarkan kepada perbandingan hokum yang berlaku di pelbagi Negara. ini sering munpcul di dalam . 8. Interfrestasi Perbandingan hukum. 7. interfrestasi ini berlawanan dengan interfrestasi ekstensif. 10. Sering dipakai dalam hukum perdata belanda Intrefrestasi Rasional (Rationeele Interpretatie). telah dibicarakan di Bab III. interfrestasi Tradisionalistik. jadi dapat dilihat pada Notulen rapat-rapat komisi di DPR. berdasarkan BW.Misalnya penafsiran “barang” dilputi aliran listrik. Interprestasi Antisipasi ini didasarkan UU baru yang bahkan belum berlaku. Dalam penafsiran otentik di dalam buku I RUU KUHP telah dicantumkan hal ini.interfrestasi ini didasarkan interfrestasi droktriner ini didasarkan kepada doktrin Interfrestasi Sosiologis. Interprestasi Teleologis penafsiran ini mengenai Interfrestasi Ekstensif. 13. dalam hokum pun ada Interfrestasi Harmonisasi. dengan hubunganya dengan analogi. intreprestasi ini didasarkan kepada ratio atau akal.di sini rumusan delik dipersempit ruang lingkupnya.

Perbuatan dan Rumusan Delik dalam Undang-undang Code penal memakai istilah infraction yang terbagi atas crimes(kejahatan). Hukum pidana Inggris memakai istilah Act dan lawannya Omission.banyak penulis menyebut ini . d. Bertentangan dengan hukum. Delits(Kejahatan ringan). c.barulah seseorang diancam dengan pidana. b.kadang-kadang Delictum. Diancam dengan pidana oleh hukum.Act di baca “Tindakan” dan Omission di baca “Pengabaian” . D. C.Bab VI Perbuatan dan Rumusan Delik A. Tetapi di dalam Negara Anglo-Sexson memakai istilah Offense yang artinya perbuatan pidana atau pristiwa pidana di Indonesia meakai juga istilah “ Delik” B. Pengertian Delik Hukum pidana belanda memakai istilah Strafbaar feit. Cara Merumuskan Delik Pada umumnya rumusan suatu delik berisi “Bagian Inti” (Bestand delen) suatu delik. Rumusan Delik Simons merumuskan yang lengkap merupakan : a.Artinya.Dilakukan oleh orang yang bersalah. Orang itu bertanggung jawab atas perbuatanya. bagian-bagian inti tersebut harus sesuai dengan perbutan yang dilakukan. Menurut pendapat penulis.

E. yaitu pasal 359 dan 361 KUHP. 6. 10. fomeledelichten). seperti berikut ini: 1.tidak dipakai istilah “Unsur Delik’’. Barang yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain III. Delik Bersahaja dan Delik Berkualifikasi (Eenvoudige Delik Sengaja dan Delik Kelalaian atau Culpa (Doleuse en gequalificeerde delicten). Melawan hukum Didalam rumusan ini terdapat bagian inti “sengaja’’. Delik Politik dan Delik Komun atau Umum (Politieke Delik-delik dapat dibagi juga atas kepentingan hukum en commune delicten). yang dilindungi.delik terhadap harta benda dan lain-lain.delik kesusilan. en culpose delicten). overtredingen). seperti deloik terhadap keamanan Negara. Omissiedelicten). 2. Delik yang berdiri sendiri dan Delik yang diteruskan Delik Selesai dan Delik Berlanjut (Aflopende en Delik Tunggal dan delik berangkai (enkelvoudige en (Zelfstandige en voorgezette delicten). misalnya delik pencurian terdiri dari bagian inti (Bestand delen): I. voortdurende delicten). Dengan maksud memiliki IV. 8. 7.tetapi di sini.sebagai unsur delik. Delik Komisi dan Delik Omisi (Commissiedelicten en Delik Materiel dan delik Formel (Materiele en Delik kejahatan dan Delik pelanggaran (Misdrijven en . Mengambil II. Pembagian Delik Delik itu dapat dibedekan atas pelbagai pembagaian tertentu. 5. delik terhadap orang. 9. 3. gestelde delicten). 4. karena ada delik menghilangkan nyawa orang lain yang dilakukan dengan kealpaan (Culpa).

Bagaimana pun juga culpa itu dipandang lebih ringan disbanding .tidak mungkin suatu akibat dapat dikehendaki. kurang hati-hati Tetapi Memori mengatakan.dll. bahwa kelalaian terletak antara sengaja dan kebetulan. Sengaja “Sengaja” (opzet) berarti De (Bewuste)richting van den wil op een bepaald misdrijven.Kemudian perlu dikemukakan tentang adanya teori-teori tentang sengaja itu. seperti delik ekonomi.menurut Kitab Undang-undang hukum acara pidana pasal 284.korupsi. Untuk Indonesia. ( Kehendak yang disadari yang ditunjukan untuk melakukan kejahatan tertentu). Menurut teori ini.Pertama-tama ialah yang disebut teori kehendak. B.maka “ kehendak” merupakan hakikat sengaja itu. Kelalaian ( Culpa) Van Hamel membagi Culpa atas dua jenis : kurang melihat ke depan yang perlu.Bantahan dari teori kehendak adalah teori Membayangkan teori dikemukakan oleh frank dlm tulisan Uber den Aufbau des Schulbegriffs.subversi.11. Bab VII KESALAHAN DALAM ARTI LUAS DAN MELAWAN HUKUM A. ia mengatakan secara Piskologis.dikenal pula delik umum dan delik khusus.

F. D. Tidak adanya dasar peniadan pidana yang menghapus dapatnya dipertanggung jawabkan sesuatu perbuatan kepada pembuat. walaupun bahaya itu kecil sekali jika tidak ada bahaya demikian. Adanya kaitan piskis antara pembuat dan perbuatan yang adanya sengaja atau kesalahan dalam arti sempit (Culpa).sengaja. Unsar-unsur seperti melawan hukum dan patutnya sesuatu perbuatan pidana walaupun semua itu dimasukkan sebagai unsur delik. C. diJerman ajaran ini di ganti oleh Wesenchau pada tahun 1930. Taatbestandmassikeit dan Wesenchau Didalam hukum pidana jrrman yang diikiuti Zevenbergen di Negeri belanda. Dapatnya dipertanggung jawabkan pembuat 2. Ini adalah bahwa ajaransekali pun seuatu perbuatan telah selesai dengan rumusan delik didalam Undang-undang pidana belumlah otomatis merupakan suatu delik.yang berarti bahwa semua rumusan delik tidak perlu semua bagian inti ada. Dikenal juga di Negara Anglo-Sexson. ajaran Wesenchau mirip sekali dengan ajaran melawan hukum yang materiel. diterima adanya delik dengan syrarat Taatbestandmassikeit. Kesalahan dan Pertanggungjawban Pidana Dalam pengertian hokum pidana dapat disebut cirri atau unsure kesalahan dalam arti yang. maka biasanya dikatakan telah melawan hukum secara Formil. Perbuatan pada dasarnya “ Pada . Sebaliknya.yaitu: 1.maka unsure subsosialitas tidak ada. Melawan Hukum Melawan hukum Formil diartikan bertentangan dengan Undang-undang apabila suatu perbutan telah mencocoki rumusan delik. 3. Subsosialitas (subsocialiteit) Subsoialitas adalah tingkah laku akan penting bagi hukum pidana jika perbuatan itu mengakibatkan bahaya bagi masyarakat. E. Disebut dalam pembunuhan pada pasal 359 KUHP.

Pengertian ini sangat luas.hakikatnya” merupakan delik sesuai dengan rumusan delik yang dipandang sebagai delik. . Bab VIII DASAR PENIADAAN PIDANA A. Vos tidak dapat menerima pengertian perbuatan (fiet) dalam arti yang kedua ini. Pengertian Dua hal yang perlu dijelaskan disini ialah pertama pengertian pebuatan (fiet) dan putusan yang telah tetap. Ini terlalu sempit. Van Hamel menunjukan tiga pengertian perbuatan (Fiet): 1) Perbuatan (fiet) terjadi kejahatan (delik). 3) Perbuatan (fiet) perbuatan materil. Dengan pengertian ini maka ketidak pantasan yang ada pada kedua pengertian terdahulu dapat dihindari. jadi perbuatan itu terlepas dari akibat. maka tidak mungkin dilakukan pula penuntutan salah sati dari perbuatan-perbuatan itu kemudian dari yang lain. dan apabila dalam suatu penganiayaan dilakukan pula pencurian. 2) Perbuatan (fiet) perbuatan yang didakwakan. misalnya dalam suatu kejadian beberapa orang dianiaya.

C. Undang-undang hanya menyebut tentang tidak dipidana seseorang yang melakukan pebuatan karena dorongan keadan yang memaksa. 5. Istilah yang dipakai oleh Belanda ialah noodweer tidak terdapat dalam rumusan undang-undang tersebut: 1. Pasal 48: daya paksa 3. orang lain. Pasal 51: ayat (1) menjalankan perintah jabatan yang berwenang 7. Yang khusus tercantum di dalam pasal tertentu yang berlaku untuk rumusan-rumumusan delik itu saja. Pasal 44: tidak dapat dipertanggung jawabkan 2. sadar bahwa perbuatannnn itu tidak diperkenakan oleh masyarakat> D. Pasal 51:ayat (2) menjalankan perintha jabatan yang tdak berwenang jika bawahan itu dengan itiket baik memenadang atasan yang bersangkutan sebagai berwenang.B. Daya Paksa Daya paksa (Overmacht) tercantum di dalma pasal 48 KUHP. Pasal 49: ayat (1) pembelaan terpaksa 4. Pembagian Dasar Peniadaan Pidana yang tercantum didalam undang-undang dapat dibagi lagi atas yang umum (terdapat di dalam ketentuan umum buku I KUHP) dan berlaku atas rumusan delik. Rincian yang umum itu terdapat di dalam: 1. kehormatan kesusilan. 2. Pembelaan Terpaksa Pembelaan terpaksa ada pada setiap hukum pidana dan sama usianya dengan hukum pidana itu sendiri. E. Pembelaan itu bersifat terpaksa. . Pasal 49: ayat (2) pembelaan terpaksa yang meliampaui batas. Pasal 50: menjalankan peraturan yang sah 6. Dapat Dipertanggungjawabkan Praktek di Indonesia mengikuti pengertian luas tersebut. Yang dibela ialah diri sendiri. Kemungkinan menetukan tingkah lakunya dengan kemauanya mengerti tujuan nyata perbuatanya. atau harta benda sendiri atau orang lain.

pembuat melamapaui batas karena keguncangan jiwa yang hebat. Pembelaan Terpaksa Melampaui Batas. Menjalankan Perintah jabatan Pasal 51 KUHP menyatakan: 1. . dan harta benda. Maka perbuatan itu tetep melawan hukum. Lebih lanjut maka pembelaan terpaksa yang melampui batas menjadi dasar pemaaf.sedangkan pembelaan terpaksa merupakan dasar pembenaran. F. Perbedaanya ialah: • • • Pada pembelaan terpaksa yang melampaui batas (Noodweer exces). H. Menjalankan Ketentuan Undang-undang Sebenarnya setiap perbuatan pemerintah melalui alat-alatnya dalam menjalankan ketentuan undang-undang adalah sah dan tidak melawan hukum.tidak dipidana.hanya orangnya tidak dipidana karena keguncangan jiwa yang hebat. tidak menyebabkan hapusnya pidana.yaitu tubuh.asalkan dilakukan dengan sebenarnya dan patut. Ada serangan sekejap atau ancaman serangan yang sangat dekat pada saat itu. Serangan itu melawan hukum. kecuali jika yang diperintah. Ada persamaan antara pembelaan terpaksa (noodweer) dan pembelaan terpaksa melampaui batas yaitu. 2. 4.karena melawan hukumnya tidak ada G.3. Barangsiapa melakukan perbuatan untuk melaksankan perintah jabatanyang diberikan perintah jabatan yang diberikan oleh penguasa yang berwenang. baik diri sendirimaupun orang lain. dengan itikad baik mengira bahwa perintah diberikan dengan wwenang dan pelaksannya termasuk dalam lingkungan pekerjannya. Perintrah jabatan tanpa wewenag.kehormatan kesusilan.kedua mensyarakatkan adanya serangan yang melawan hukum yang dibela juga sama.oleh karena itu.

Teori yang mengenealisasi dapat dibagi menjadi 3.Bab IX TEORI-TEORI TENTANG SEBAB AKIBAT A. demikian seterusnya yang satu mempengaruhi yang lain sehingga merupakan satu lingkaran sebab akibat. Teori-teori Kausalitas Demikian keanekaragaman hubungan sebab akibat tersebut kadangkala menimbulkan berbagai permasalahanya yang tidak pasti.terutama apabila banyak ditemukan faktor berangkaiyang menimbulkan akibat. oleh karena tidaklah mudah untuk menentukan mana yang menjadi akibat. B. Pengertian Setiap peristiwa sosial menimbulkan satu atau beberapa peristiwa sosial yang lain.yaitu: 1. Teori adaquaat dari Von Kries . Hal inni disbut hubungan kasual yang artinya adalah sebab akibat atau kausalitas.

Tidak ada pengaduan pada delik aduan Tidak dua kali penuntutan atas orang dan perbuatan yang saaaaama tercantum dalam Pasal 76 KUHP.tercantum dalam nPasal 77 KUHP IV. Teori tersebut diberi komentar oleh van Bemmelen bahwa yang disebut dengan ini adalah disadari sebagai sesuatu yang sangat mungkin dapat terjadi. seimbamg. Teori adequaat dari Traeger Menrutnya adalah pada umumnya dapat disadari sebagai suatu yang mungkin sekali terjadi. 2. II. 3.maka perbuatan harus sepadan.tercantum dalam Pasal 78 KUHP.Adaequaat artinya adalah sebanding. Penyelsaian di luar pengadilan VI. Terdakwa berumur di bawah 18 tahun (Undang-undang peradilan anak). Terdakwa meninggal dunia. V. B. Bab X DASAR PENIADAAN PENUNTUTAN DAN PELAKSANANAAN PIDANA A. Dasar Peniadaan Penuntutan Dasar peniadaan penuntutan terdiri atas: I. Dasar Peniadaan Pelaksanaan Pidana .jadi dikaitkan dengan delik. Lewat waktu. Teori obyektif Teori Rumeling mengajarkan bahwa yang menjadi sebab atau akibat adalah faktor obyektif yang diramalkan dari rangkaian faktor2 yang berkaitan dengan terwujudnya delik setelah delik itu terjadi.sepadan. seimbang atau sebanding dengan akibat yang sebelumnya dapat diramalkan dengan pasti oleh pembuat. III.

C. C. e. Supaya si tersangka berusaha supaya barang-barang tersebut dalam pemerintah itu yang dapat disita dikumpulkan dan disimpan di tempat yang ditunjuk dalam pemerintah itu. d. b. D. Jenis-jenis Pidana . Penutupan sebagian atau seluruh perusahaan si tersangka dimana Penempatan si tersangka dibawah pengampunan. Terpidana Meninggal Dunia Lewat Waktu (Verjaring) Bab XI HUKUM PENETENSIER Dalam undang-undang di luar KUHP khususnya Undang-undang Nomor 7 (drt) tahun 1995 tentang Tindak Pidana Ekonomi disebut “tindakan tatatertib” yaitu : a. Supaya tersangka tidak melakukan perbuatan-perbuatan tertentu. c. Pencabutan seluruh atau sebagian hak-hak tersangka atau tindak pidana ekonomi itu disangka telah dilakukan pencabutan seluruh atau sebagian keuntungan yang telah atau dapat diberikan oleh pemerintah kepada si tersangka berhubungan dengan perusahaan itu.

misalnya dahulu pembuangan penjahat-penjahat Inggris ke Australia. 2. yaitu : 1. Pidana Mati Delik yang diancam dengan pidana mati di dalam KUHP sudah menjadi 9 buah. Tetapi juga berupa pengasingan. 3. b. Pidana Kurungan Menurut Vos. 4. 1. 2. berdasarkan UU Pidana Tambahan No. 3. Pidana Mati Pidana Penjara Pidana Kurungan Pidana Tutupan (KUHP terjemahan BPHN. 4. 7. 5. 3. seperti perkelahian satu lawan satu dan pailit sederhana. 3. 6. misalnya di Rusia pengasingan Siberia dan juga berupa pembuangan ke sebrang lautan. Pertama ialah sebagai custodia honesta untuk delik yang tidak menyangkut kejahatan kesusilaan yaitu delik-delik culpa dan beberapa delik dolus. 2. Pasal 104 KUHP Pasal 111 ayat (2) KUHP Pasal 124 ayat (1) KUHP Pasal 124 bis KUHP Pasal 140 ayat (30) KUHP Pasal 340 KUHP Pasal 365 ayat (4) KUHP Pasal 444 k ayat (2) dan pasal 479 o ayat (2) KUHP. 2. . 8. Pidana Penjara Pidana penjara adalah bentuk pidana yang berupa kehilangan kemerdekaan.a. 20 tahun 1946) Pencabutan hak-hak tertentu Perampasan barang-barang tertentu Pengumuman putusan hakim 1. pidana kurungan pada dasarnya mempunyai 2 tujuan. Pidana Pokok 1.

Pengumuman putusan hakim Tindakan (Maatregel) Sering dikatakan berbeda dengan piidana. Pidan Tambahan Pidan tambahan disebut dalam pasal 10 KUHP pada bagian b. suatu perampasan kemerdekaan untuk delik pelanggaran 4. berupa pelanggaran atau kejahatan ringan oleh karena itu pula. Dalam pidana bersyarat dikenal syarat umum ialah terpidana bersyarat tidak akan melaksanakan delik apapun dalam waktu yang . sedangkan pidana bertitik berat pada pengenaan sanksi pada pelaku suatu perbuatan. Pidana Denda Pada zaman modern ini pidana denda dijatuhkan terhadap delikdelik ringan. pidana denda merupakan satu-satunya pidan ayang dapat dipikul oleh orang lain selain terpidana.Yang kedua sebagai custodia simpleks. Pencabutan hak-hak tertentu 2. sukar dibedakan dengan cara demikian. Perampasan barang-barang tertentu 3. Tetapi secara teori. d. Pidana Tutupan Pidana tutupan disediakan bagi para politis yang melakukan kejahatan yang disebabkan oleh ideologi yang dianutnya tetapi dalam praktek peradilan dewasa ini tidak pernah ketentuan tersebut diterapkan. yang terdiri dari : 1. 5. maka tindakan bertujuan melindungi masyarakat. karena pidana pun sering disebut bertujuan untuk mengamankan masyarakat dan mamperbaiki terpidana. Pidana Bersyarat Pidan abersyarat yang tercatum pada pasal 14 a sampai dengan 14 f KUHP diwarisi dari Belanda tetapi dengan perkembangan zaman telah terdapat perbedaan atara keduanya.

Pelepasan bersyarat ini tidak inferatif atau otomatis. Pelepasan Bersyarat Pada pelepasan bersyarat terpidana harus telah menjalani pidananya paling kurang 2/3 nya. . Dikatakan “dapat” dierikan pelepasan bersyarat yang dikeluarkan oleh mentri kehakiman.ditentukan sedangkan syart khusus akan ditentukan oleh hakim dan ada juga yang disebut syarat khusus.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->